Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH KIMIA UNSUR

GOLONGAN VI B: Kromium, Molibdenum, Wolfram, dan Seaborgium


Dosen Pengampu: Susi Khalifah , M. Si.

Oleh:
Yani Triastutik(09630005)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012

GOLONGAN VIB
Kromium (Cr)
1.1.

Sejarah
Kromium

sebagai

unsur

logam

pertama

kali

ditemukan dua ratus tahun yang lalu, pada 1797. Namun


sejarah kromium benar-benar dimulai beberapa dekade
sebelum ini. Kromium ditemukan pada tahun 1797 oleh
Louis-Nicholas Vauquelin seorang profesor kimia dan
analis di School of Mines di Paris, yang menerima
beberapa sampel bijih crocoites untuk dianalisis sehingga ia
mengungkapkan adanya unsur baru yang ia sebut
Kromium.
Nama Kromium berasal dari kata Yunani kroma yang berarti warna, dinamakan
demikian karena banyaknya macam warna dalam senyawanya. Namun sebelumnya, Vauquelin
menganalisis zamrud dari Peru dan menemukan bahwa warna hijau adalah karena adanya unsur
baru, yaitu kromium. Satu atau dua tahun kemudian seorang kimiawan dari Jerman, Tassaert
yang bekerja di Paris menemukan kromium dalam bijih Kromit, Fe(CrO 2)2, yang merupakan
sumber utama kromit hingga sekarang.
Pada pertengahan abad ke-18 seorang analisis dari Siberia menunjukkan bahwa kromium
terdapat cukup banyak dalam senyawa PbCrO 4, tetapi juga terdapat dalam senyawa lain. Ini
akhirnya diidentifikasi sebagai kromium oksida. Kromium oksida ditemukan pada 1797 oleh
Louis-Nicholas Vauquelin.
1.2.

Sifat Fisika dan Sifat Kimia


Kromium merupakan unsur yang berwarna perak atau abu-abu baja, berkilau dan keras

sehingga memerlukan proses pemolesan yang cukup tinggi. Kromium tidak ditemukan sebagai
logam bebas di alam. Kromium ditemukan dalam bentuk bijih kromium, khususnya dalam
senyawa PbCrO4 yang berwarna merah. PbCrO4 dapat digunakan sebagai pigmen merah untuk
cat minyak. Kromium merupakan logam masif, berwarna putih perak dan lunak jika dalam
keadaan murni dengan titik leleh kira-kira 1900 0C dan titik didih kira-kira 2690 0C.
1.2.1. Keterangan Umum Unsur

Nama, Lambang, Nomor atom


Deret kimia
Golongan, Periode, blok
Penampilan

Kromium, Cr, 24
Logam transisi
VIB, 4, d
Perak metalik

Massa atom
Konfigurasi elektron
Jumlah elektron tiap kulit

51,9961 (6) g/mol


[Ar] 3d5 4s1
2,8,13,1

1.2.2. Sifat Fisika


Fase
Massa Jenis (sekitar suhu kamar)
Titik Lebur
Titik Didih
Entalpi Peleburan
Panas Penguapan
Entalpi Atomisasi
Kapasitas Kalor (250C)
Konduktivitas Termal
Koefisien ekspansi termal linier
Kepadatan
Volum Molar
Sifat Resistivitas listrik

Padat
7,15 g/cm3 (25 oC)
2180 K, 19070C, 3465 F
2944 K, 26710C, 4840 F
20,5 kJ mol -1
339 kJ mol -1
397 kJ mol -1
23,25 J/mol.K
94 W m -1 K -1
4,9 x 10 -6 K -1
7,140 kg m -3
7,23 cm 3
12,7 10 -8 m

1.2.3. Sifat Kimia


Struktur Kristal
Bilangan oksidasi
Elektronegativitas
Afinitas electron
Energy Ionisasi
Jari-jari atom
Jari-jari atom (terhitung)
Jari-jari kovalen
Ikatan energi dalam gas
Panjang Ikatan Cr-Cr
Senyawa beracun dan mudah terbakar
1.2.4. Isotop Kromium

Cubic body centered


+2, +3, +4, +6 (oksida asam kuat)
1,66 (skala Pauling)
64,3 kJ / mol -1
E1: 652,9 kJ/mol
E2: 1590,6 kJ/mol
E3: 2987 kJ/mol
128 pm
166 pm
127 pm
142,9 5,4 kJ / mol -1.
249 pm

Isotop
48

Cr
49
Cr
50
Cr
51
Cr
52
Cr
53
Cr
54
Cr
55
Cr
56
Cr
1.3.

Massa Atom

Waktu paruh

Kelimpahan

Momen magnetik

47,95404
48,951341
49,9460464
50,944772
51,09405098
52,9406513
53,9388825
54,940844
55,94065

21,6 hari
42,3 menit
27,70 detik
3,497 menit
5,9 menit

di alam (%)
4.345
83,789
9,501
2,365
-

nuklir
0,476
-0,934
-0,47454
-

Sumber Kromium
Logam kromium relatif jarang ditemukan dan kandungannya dalam kerak bumi

diperkirakan hanya 0,0122 % atau 122 ppm, lebih rendah daripada vanadium (136 ppm) dan
klorin (126 ppm). Sumber kromium yang terpenting dalam perdagangan adalah bijih kromit
(chromite), FeCrO4, yang banyak terdapat di Rusia dan Afrika Selatan (kira-kira 96 % cadangan
kromium dunia), Pilipina, Brazil, Amerika Serikat, dan Tasmania. Selain itu, kromium juga dapat
ditemukan di matahari, meteorit, kerak batu dan air laut. Sumber kromium lainnya yang lebih
sedikit jumlahnya adalah krokoit (crocoites), PbCrO4, dan oker kroma (chrome), Cr2O3.Batubatuan permata seperti zamrud (emerald) yang berwarna hijau dan merah ruby yang
mengandung sekelumit kromium sebagai pengotor.
Tabel berikut merupakan kelimpahan dari unsur kromium dalam berbagai lingkungan.
Nilai-nilai yang diberikan dinyatakan dalam satuan ppb (bagian per miliar; 1 miliar = 10 9), baik
dalam hal berat maupun dalam hal jumlah atom. Nilai kelimpahan sulit untuk ditentukan dengan
pasti, sehingga semua nilai harus diperlakukan dengan hati-hati, khususnya bagi unsur-unsur
yang kurang umum.
Tempat
Alam semesta
Matahari
Meteorit (karbon)
Kerak batu
Air laut
Arus
manusia
1.4.

Kegunaan

Ppb berat
15000
20000
3100000
140000
0.6
1
30

Ppb oleh atom


400
400
1200000
55000
0.071
0.02
4

a. Logam kromium sangat tahan terhadap korosi, karena reaksinya dengan udara menghasilkan
lapisan Cr2O3 yang bersifat non-pori sehingga mampu melindungi logam yang terlapisi oleh
kromium dari reaksi lebih lanjut. Dengan sifat logam yang tahan korosi, manfaat utama dari
logam kromium adalah untuk pelapis logam atau baja. Selain itu, lapisan kromium juga
menghasilkan warna yang mengkilat sehingga logam ini memberikan manfaat tambahan
sebagai alat dekoratif.
b. Pelapisan krom adalah suatu perlakuan akhir menggunakan elektroplating oleh kromium.
Pelapisan dengan krom dapat dilakukan pada berbagai jenis logam seperti besi, baja, atau
tembaga. Pelapisan krom juga dapat dilakukan pada plastik atau jenis benda lain yang bukan
logam, dengan persyaratan bahwa benda tersebut harus dicat dengan cat yang mengandung
logam sehingga dapat mengalirkan listrik. Pelapisan krom menggunakan bahan dasar
kromium oksida(III) oksida, Cr2O3, yang dilarutkan dalam asam sulfat, H2SO4 sebagai bahan
pemicu arus atau elektrolit. Ion Cr3+ akan tereduksi menjadi logam lain yang dipasang
sebagai katoda. Jika suatu logam langsung dilapisi dengan kromium, biasanya hasil lapisan
ini mudah retak. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil lapisan yang baik, kuat dan tidak
retak maka logam yang akan dilapisi dengan kromium harus terlebih dahulu dilapisi dengan
tembaga atau nikel. Bahan dasar Cr2O3 dan asam sulfat tersebut dicampur dengan
perbandingan tertentu. Perbandingan yang umum bisa 100:1 sampai 400:1. Jika
perbandingannya menyimpang dari ketentuan biasanya akan menghasilkan lapisan yang
tidak sesuai dengan yang diharapkan. Faktor lain yang sangat berpengaruh pada proses
pelapisan krom ini adalah temperatur cairan dan besar arus listrik yang mengalir sewaktu
melakukan pelapisan. Temperatur pelapisan bervariasi antara 35 C sampai 60 C dengan
besar perbandingan besar arus 18 A/dm2 sampai 27 A/dm2.
c. Stainless steel yang biasanya mengandung kromium dan sedikit nikel banyak digunakan pada
industri alat-alat dapur.
d. Digunakan sebagai katalis. seperti K2Cr2O7 merupakan agen oksidasi dan digunakan dalam
analisis kuantitatif dan juga dalam penyamakan kulit. Dalam proses penyamakan, kulit yang
akan disamak dibasahi dengan larutan dikromat, kemudian direduksi dengan gas SO 2
sehingga terbentuk kromi sulfat basa, Cr(OH)SO4.
e. Dikromat, Na2Cr2O7, dapat digunakan sebagai oksidan dalam industri kimia.
f. Digunakan dalam industri tekstil sebagai mordants atau penguat warna.
g. Industri refraktori menggunakan kromit untuk membentuk batu bata karena memiliki titik
lebur yang tinggi, pemuaian yang relatif rendah, dan kestabilan struktur kristal.

h. Beberapa dari isotop kromium digunakan untuk aplikasi medis. Misalnya, Cr-50 yang
digunakan untuk produksi radioisotop Cr-51 yang digunakan untuk mengukur volume darah
dan kelangsungan hidup sel darah merah. Cr-53 dan Cr-54 digunakan untuk kajian
metabolisme dan diagnosa diabetes.
i. Digunakan sebagai pigmen merah untuk cat minyak, khususnya senyawa PbCrO4.
j. Digunakan dalam pembuatan batu permata yang berwarna. Warna yan kerap digunakan
adalah warna merah, yang diperoleh dari kristal aluminium oksida yang didalamnya
dimasukkan kromium.
k. Bahan baku dalam pembuatan kembang api. Hal ini diperoleh dari Hasil pembakaran
amonium dikromat, (NH4)2Cr2O7, yang berisi pellet dari raksa tiosianat (HgCNS).
1.5.

Ekstraksi Logam Kromium


Berdasarkan penggunaannya ada dua macam cara ekstraksi logam kromium, yaitu

sebagai paduan ferokrom (Cr-Fe), dan sebagai logam murni kromium.


a. Sebagai paduan, ferokrom dibuat dari reduksi kromit dengan batubara (coke) dalam
tanur listrik. Ferokrom dengan kandungan karbon rendah dapat diperoleh dari reduksi
kromit dengan menggunakan ferosilikon sebagai pengganti batubara. Hasil paduan
Cr-Fe ini dapat digunakan lagsung sebagai bahan aditif pada baja kromium stainless.
Persamaan reaksinya adalah:
FeCr2O4 (s) + 4C

2 Cr + Fe + 4 CO(g)
ferokrom

b. Kromium murni berada dalam bentuk persenyawaan kromit. Apabila diperlukan, ada
beberapa cara untuk mendapatkannya. Pertama, kromit direaksikan dengan lelehan
NaOH dan O2 untuk mengubah CrIII menjadi CrO42-. Selanjutnya lelehan dilarutkan
dalam air dan natrium bikromat kemudian diendapkan lalu direduksi. Reaksi yang
terjadi adalah:

2Fe2Cr2O4 + 8NaOH + 31/2O2

1100 C

4Na2[CrO4] + Fe2O3 + 4H2O

Fe2O3 tidak larut akan tetapi natrium kromat larut, oleh karena itu natrium kromat
dihilangkan dengan cara dilarutkan dalam air kemudian diasamkan untuk
menghasilkan natrium dikromat. Natrium dikromat kurang larut dan dapat
diendapkan. Natrium dikromat direduksi terhadap Cr2O3 dengan dipanaskan
menggunakan C.

Na2[Cr2O7] + 2C

Cr2O3 + Na2CO3 + CO

Langkah terakhir yakni Cr2O3 direduksi terhadap logam menggunakan Al.

Cr2O3 + 2Al

2Cr + Al2O3

Oleh karena logam tersebut rapuh, maka logam (murni) tersebut jarang digunakan.
c. Cara yang kedua tidak jauh berbeda dengan cara yang di atas, yaitu dengan mereduksi
Cr2O3 dengan silikon. Tahapan-tahapan ekstraksinya adalah:
Tahap pertama, bijih kromit dalam lelehan alkali karbonat dioksidasi dengan udara
untuk memperoleh natrium kromat, Na2CrO4. Tahap kedua, adalah peluluhan dan
pelarutan Na2CrO4 dalam air yang dilanjutkan dengan pengendapan sebagai dikromat,
Na2Cr2O7. Tahap ketiga, adalah reduksi dikromat yang diperoleh dengan karbon
menjadi oksidanya, Cr2O3. Tahap akhir, adalah reduksi Cr2O3 dengan aluminium
melalui proses alumino termik atau dengan silikon. Persamaan reaksinya adalah:

FeCr2O4 (s) + 2 Na2CO3 + O2(g)


2 Na2CrO4 (aq) + 2 CO2 (g) + Fe (s)

2 Na2CrO4 (aq) + H2O


Na2Cr2O7 (s) + 2 NaOH

Na2Cr2O7 (s) + 2 C
Cr2O3 + Na2CO3 + CO (g)

Cr2O3 + 2 Al
2 Cr (l) + Al2O3 (s)

2 Cr2O3 + 3 Si
4 Cr (l) + 3 SiO2 (s)
d. Kromium Oksida
Kromium(III) oksida, Cr2O3, dapat diperoleh dari dekomposisi termal amonium
dikromat menurut persamaan berikut:
(NH4)2Cr2O7(s)
Cr2O3(s) + N2(g) + 4H2O
Kromium(III) oksida merupakan oksida kromium yang paling stabil mengadopsi
struktur corundum, dan digunakan untuk pigmen hijau. Oksida ini menunjukkan sifat
semikonduktor dan antiferomagnetik pada temperatur di bawah 35 oC (Sugiyarto dan
Suyanti, 2010).
Kromium(IV) oksida, CrO2, dapat diperoleh dari reduksi CrO3 secara hidrotermal
menurut persamaan reaksi berikut:
CrO3(s) + H2(g)
CrO2(s) + H2O(g)
Kromium(VI) oksida, CrO3, dapat diperoleh dari penambahan asam sulfat pada
larutan pekat alkali dikromat dengan persamaan sebagai berikut:
K2Cr2O7(aq) + H2SO4(aq)
2CrO3(s) + K2SO4(aq) + H2O(l)
merah
1.6.

Persenyawaan Kromium
Reaksi dan senyawa kromium yang penting hanya menyangkut kromium dengan
bilangan oksidasi +2, +3, dan +6.

Oksida Kromium
Table karakterisasi beberapa oksida dan ion kromium
Tingkat

Oksida

Hidroksida

Sifat

Ion

Nama

Warna

Oksidasi
+2

(a)
CrO

Cr(OH)2

Basa

Cr2+ (b)

Kromo

Ion
Biru

atau

muda

kromium
+3

Cr2O3

Cr(OH)3 (c)

Cr3+ atau

amfoterik

[Cr(H2O)6]3+
[Cr(OH)4]-

hijau

(d)
+6

CrO3
merah

CrO2(OH)2
Cr2O5(OH)2

Asam

CrO42Cr2O72-

tua

(II)
Kromi

Violet

atau

hijau

kromium
(III)
Kromat

Kuning

atau

oranye

dikromat

(a): kromium(IV) dikenal oksida sebagai CrO2; (b): ion ini dalam air sebagai [Cr(H2O)6]2+ ; (c): formula
lain adalah [Cr(H2O)3(OH)3] ; (d): formula lain adalah [Cr(H2O)2(OH)4]-

Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel di atas, oksida kromium bersama ion-ionnya yang
penting adalah Cr2O3, hijau dan CrO3, merah tua. Kromium (IV) oksida, CrO 2, coklat kehitaman,
juga dikenal dan sangat bermanfaat karena bersifat feromagnetik yang sangat baik untuk bahan
pembuat pita rekaman megnetik seperti pita kaset atau video, namun hanya sedikit senyawa
krommium (IV) yang dikenal.
Sifat basa oksida dan hidroksida kromium menurun (atau sifat asam naik) dengan
naiknya tingkat oksidasi. Oleh karena itu, Cr 2O3 dan Cr(OH)3 bersifat amfoterik, dan CrO3 yang
mempunyai tingkat oksidasi lebih tinggi bersifat asam. Hal ini dapat dipahami bahwa Cr(VI)
mempunyai jari-jari ionik lebih pendek dan rapatan muatan lebih tinggi spesies ini mempunyai
kecenderungan yang lebih besar sebagai akseptor pasangan electron dan dengan demikian
bersifat asam.
Kromium (+2)
Logam kromium melarut dalam larutan asam klorida atau asam sulfat membentuk larutan
[Cr(H2O)6]2+, berwarna biru langit.
Cr (s) + 2H+ (aq)

Cr2+ (aq) + H2 (g)

Ion kromium (II), Cr2+, dapat juga terjadi jika larutan kromium (VI) (misalnya kromat atau
dikromat) atau ion kromium (III) direduksi oleh seng dan asam klorida. Pembentukan dari
dikromat (VI) disertai perubahan warna yang menarik.
Cr2O72- (aq)
Jingga

Cr3+ (aq)
hijau/ungu

Cr2+ (aq)
biru langit

Di dalam larutan air, ion kromium (II) adalah reduktor kuat dan mudah dioksidasi di udara
menjadi senyawa kromium (III).
Cr3+ (aq) + e

Cr2+ (aq)

E = -0,41 V

Oleh karena itu, ion ini mudah dioksidasi oleh udara


2Cr2+ (aq) + 4H+ (aq) + O2 (g)

2Cr3+ (aq) + 2H2O (l)

Ion Cr2+ (aq) dapat juga bereaksi dengan H+ (aq) dan juga dengan air jika terdapat katalis berupa
serbuk logam
2Cr2+ (aq) + 2H2O (l)

2Cr3+ (aq) + 2OH- (aq) + H2 (g)

2Cr2+ + 2H+ (aq)

2Cr3+ (aq) + H2 (g)

Kromium (+3)
Ion kromium (III) adalah ion yang paling stabil di antara kation logam transisi yang
mempunyai bilangan oksidasi +3. Dalam larutan, ion ini terdapat sebagai [Cr(H 2O)6]3+ dan
berwarna ungu. Jika H2O diganti dengan ion klorida misalnya, akan terjaid perubahan warna :
Ion [Cr(H2O)5Cl]2+ berwarna hijau muda, ion [Cr(H2O)4Cl2]+ berwarna hijau tua.
Dengan basa terjadi suatu gel Cr2O3.x H2O berwarna hijau muda.
[Cr(H2O)6]3+

OH- (aq)

Cr2O3.x H2O (s)

(dapat ditulis juga sebagai Cr((H2O)3(OH)3)


Dalam basa berlebih terjadi [Cr(OH)6]3Cr2O3.x H2O (s)

OH- (aq) berlebih

[Cr(OH)6]3- (aq)

Kompleks Cr (III) umumnya berwarna hijau, dapat berupa kompleks anion atau kation.
[Cr(H2O)6]3+ , [Cr(NH3)6]3+, [CrCl6]3+, dan [Cr(CN)6]3Kompleks-komples ini adalah kompleks octahedral dan bersifat paramagnetik.
Kromium (+6)
Kromium (VI) oksida, CrO3, bersifat asam sehingga dapat bereaksi dengan basa
membentuk ion kromat (VI).
CrO3 (s) + 2OH- (aq)

CrO42- (aq) + H2O (l)

Kromium (III) hidroksida dapat juga dioksidasi dengan Na2O2 menghasilkan ion kromat yang
berwarna kuning.
2Cr(OH)3 + 3Na2O2 + 2H+ (aq)

2CrO42- (aq) + 6Na+ (aq) + 4H2O (l)

Jika larutan ion kromat diasamkan akan dihasilkan ion dikromat yang berwarna jingga.
2CrO42- (aq) + 2H+ (aq)

Cr2O72- (aq) + H2O (l)

Ion CrO42- mempunyai struktur tetrahedral dan ion Cr2O72- mempunyai struktur tetrahedron
dengan rangkap dimana dua atom oksigen bersambungan.
Di dalam lautan terjadi kesetimbangan antara CrO42- dan Cr2O72- yang bergantung pada pH
larutan
2CrO42- (aq) + 2H+ (aq)

asam

Cr2O72- (aq) + H2O (l)

Dalam larutan asam, ion kromat atau ion dikromat adalah oksidator kuat.
1. dalam larutan asam
Cr2O72- (aq) + 14H+ (aq) + 6e
2. dalam larutan basa
CrO42- (aq) + 4H2O (l) + 3e

2Cr3+ (aq) + 7H2O (l)

E= + 1,33 V

Cr(OH)4- (aq) + 4OH- (aq)

E= -0,13 V

1.7.Reaksi-reaksi Yang Terjadi Pada Kromium


1)

Reaksi kromium dengan udara

Logam kromium tidak bereaksi dengan udara atau oksigen pada suhu kamar.
2) Reaksi kromium dengan air
Logam kromium tidak bereaksi dengan air pada suhu kamar.
3) Reaksi kromium dengan halogen
a) Fluorida
Kromium bereaksi langsung dengan fluorin, F2, pada suhu 400C, dan 200-300 atmosfer untuk
membentuk kromium (VI) fluorida, CrF6.
Cr (s) + 3F2 (g) CrF6 (s)

[kuning]

Di bawah kondisi ringan, kromium (V) bereaksi dengan fluorida, membentuk CRF5
2Cr (s) + 5F2 (g) 2CrF5 (s)

[merah]

2Cr (s) + 3F2 (g) 2CrF3 (s)

[hijau]

Selain membentuk kromium heksafluorida, CrF6, kromium trifluorida, CrF3 dan kromium
pentafluorida, CrF5, reaksi kromium dengan fluorida juga dapat membentuk kromium difluorida,
CrF2, dan kromium tetrafluorida, CrF4.

b) Klorida
Di bawah kondisi yang masih ringan, logam kromium dapat bereaksi dengan unsur klorin, Cl 2
membentuk CrCl3.
2Cr (s) + 3Cl2 (g) 2CrCl3 (s)

[merah-violet]

Selain membentuk kromium triklorida, CrCl 3, reaksi kromium dengan klorida juga dapat
membentuk kromium diklorida, CrCl2 dan kromium tetraklorida, CrCl4
c) Bromida
Di bawah kondisi yang masih ringan, logam kromium dapat bereaksi dengan unsur bromida, Br 2
membentuk CrBr3.
2Cr (s) + 3Br2 (g) 2CrBr3 (s)

[sangat hijau]

Selain membentuk kromium tribromida, CrBr3, reaksi kromium dengan bromida juga dapat
membentuk kromium dibromida, CrCl2 dan kromium tetrabromidaa, CrCl4
d) Iodida
Di bawah kondisi yang masih ringan, logam kromium dapat bereaksi dengan unsur iodida, I 2
membentuk CrI3
2Cr (s) + 3I2 (g) 2CrI3 (s)

[hijau gelap]

Selain membentuk kromium triiodida, CrI3, reaksi kromium dengan iodida juga dapat
membentuk kromium diiodida, CrI2 dan kromium tetraiodida, CrI4
4) Reaksi kromium dengan asam
Logam kromium larut dalam asam klorida encer membentuk larutan Cr(II) serta gas hidrogen,
H2. Dalam keadaan tertentu, Cr(II) hadir sebagai ion kompleks [Cr(OH 2)6]2+. Hasil yang sama
terlihat untuk asam sulfat, tetapi kromium murni tahan terhadap serangan. Logam kromium tidak
bereaksi dengan asam nitrat, HNO3.
Contoh reaksi kromium dengan asam klorida:
Cr (s) + 2HCl (aq) Cr 2+ (aq) + 2Cl - (aq) + H2 (g)

5) Oksida

Reaksi kromium dengan oksida dapat membentuk beberapa senyawa, diantanya: Kromium
dioksida, CrO2, Kromium trioksida, CrO3, Dikromium trioksida, Cr2O3 dan Trikromium
tetraoksida, Cr3O4.
6) Sulfida
Reaksi kromium dengan sulfida dapat membentuk beberapa senyawa, diantanya : kromium
sulfida, CrS dan dikromium trisulfida, Cr2S3
7) Nitrida
Reaksi kromium dengan nitrida dapat membentuk senyawa kromium nitrida, CrN.
8) Karbonil
Reaksi kromium dengan karbonil dapat membentuk senyawa kromium heksakrbonil, Cr(CO)6.
Kromium juga dapat bereaksi dengan unsur tertentu membentuk senyawa kompleks, misalnya
reaksi kromium dengan kompleks nitrat membentuk nitrat hexaaquakromium trihidrat,
[Cr(NO3)3.9H2O].
1.8.Efek Kesehatan Kromium
Logam krom (Cr) adalah salah satu jenis polutan logam berat yang bersifat toksik, dalam
tubuh logam krom biasanya berada dalam keadaan sebagai ion Cr 3+. Krom dapat menyebabkan
kanker paru-paru, kerusakan hati (liver) dan ginjal. Jika kontak dengan kulit menyebabkan iritasi
dan jika tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah. Usaha-usaha yang dilakukan untuk
mengurangi kadar pencemar pada perairan biasanya dilakukan melalui kombinasi proses biologi,
fisika dan kimia. Pada proses fisika, dilakukan dengan mengalirkan air yang tercemar ke dalam
bak penampung yang telah diisi campuran pasir, kerikil serta ijuk. Hal ini lebih ditujukan untuk
mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran kasar dan penyisihan lumpur. Pada proses
kimia, dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan kimia untuk mengendapkan zat pencemar
misalnya persenyawaan karbonat.
Kromium (III) adalah esensial bagi manusia dan kekurangan dapat menyebabkan kondisi
jantung, gangguan dari metabolisme dan diabetes. Tapi terlalu banyak penyerapan kromium (III)
dapat menyebabkan efek kesehatan juga, misalnya ruam kulit.
Kromium (VI) adalah bahaya bagi kesehatan manusia, terutama bagi orang-orang yang
bekerja di industri baja dan tekstil. Orang yang merokok tembakau juga memiliki kesempatan
yang lebih tinggi terpapar kromium.

Kromium (VI) diketahui menyebabkan berbagai efek kesehatan. sebuah senyawa dalam
produk kulit, dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti ruam kulit. Pada saat bernapas ada krom
(VI) dapat menyebabkan iritasi dan hidung mimisan. Masalah kesehatan lainnya yang
disebabkan oleh kromium (VI) adalah:
- sakit perut dan bisul
- Masalah pernapasan
- Sistem kekebalan yang lemah
- Ginjal dan kerusakan hati
- Perubahan materi genetik
- Kanker paru-paru
- Kematian
Bahaya kesehatan yang berkaitan dengan kromium bergantung pada keadaan oksidasi.
Bentuk yang hexavalent beracun. Efek samping dari bentuk hexavalent pada kulit mungkin
termasuk dermatitis, dan reaksi alergi kulit. Gejala pernafasan termasuk batuk, sesak napas, dan
hidung gatal.

Molibdenum (Mo)
2.1.Sejarah

Pada tahun 1778 seorang ahli kimia terkenal Swedia,


C. W. Scheele telah berhasil membuat suatu oksida unsur baru
dari mineral molibdenit, MoS2, dengan demikian ia mampu
membedakan mineral ini dengan grafit yang pada waktu itu
diduga identik. Kemudian setelah 3 tahun kemudian, P.J. Helm
berhasil mengisolasi molibdenum dari pemanasan molibdenit
dengan batubara. Nama molibdenum berasal dari bahasa
Yunani, molibdos, yang artinya mengandung makna
kebingungan ketika menghadapi mineral-mineral lunak hitam yang dapat dipakai untuk menulis,
yaitu grafit yang disebut timbel hitam dan plumbako (Sugiyarto dan Suyani, 2010).
2.2.Sifat Fisika dan Sifat Kimia
Logam molibdenum merupakan logam golongan 6, dimana logam ini cenderung
memiliki tingkat oksidasi rendah sehingga membuat unsure ini semakin tidak stabil dengan
naiknya nomor atom. Seperti halnya kromium, konfigurasi elektron molibdenum menyimpang
dari diagram aufbau (Sugiyarto dan sugiyani, 2010). Konfigrasi elektron tingkat dasar
Molibdenum adalah d5s1, dengan sebuah konfigurasi terisi setengah d5 yang stabil. Apabila
dilihat dari struktur elektronnya, Molibdenum diharapkan untuk membentuk senyawa-senyawa
dengan tingkat oksidasi dari (+1) sampai (+6).
Tingkat oksidasi Molibdenum yang paling penting adalah (+5) dan (+6). Mo(+6) bersifat
stabil, sedangkan Mo(+3) bersifat sangat mereduksi. Hal ini sesuai dengan kecenderungan bahwa
semakin menurun posisi unsur dalam satu golongan maka semakin tinggi tingkat oksidasi
menjadi lebih stabil dan tingkat oksidasi lebih lemah menjadi kurang stabil.
2.2.1. Keterangan Umum Unsur
Nama, Lambang, Nomor atom
Deret Kimia
Golongan, periode, Blok
Penampilan

Molibdenum, Mo, 42
Logam transisi
VIB, 5, d
abu-abu

Massa atom
Konfigurasi Elektron
Jumlah elektron tiap kulit

95,94(2) g/mol
[Kr] 4d5 5s1
2, 8, 18, 13, 1

2.2.2. Sifat Fisika

Fase
Massa jenis (sekitar suhu kamar)
Titik lebur
Titik didih
Kalor peleburan
Kalor penguapan
Kapasitas kalor
Resistivitas listrik
Konduktivitas termal
Ekspansi termal

Padat
10,28 g/cm3
2896 K, 2623 oC, 4753 oF
4912 K, 4639 oC, 8382 oF
37,48 kJ/mol
617 kJ/mol
(25 oC) 24,06 J/(mol.K)
(20 C) 53.4 nm
(300 K) 138 W/(mK)
(25 C) 4.8 m/(mK)

2.2.3. Sifat Kimia


Struktur Kristal
Bilangan oksidasi
Elektronegativitas
Energi Ionisasi

Cubic body centered


+3, +4, +5, +6 (oksida asam kuat)
1,8 (skala Pauling)
E1: 684,3 kJ/mol
E2: 1560 kJ/mol

Jari-jari atom
Jari-jari atom (terhitung)
Jari-jari kovalen

E3: 2618 kJ/mol


139 pm
190 pm
145 pm

2.3. Sumber dan Ekstraksi Molibdenum


Sumber molibdenum yang terpenting adalah molibdenit sulfida, MoS 2, dan yang lainnya
adalah bijih wulfenit, PbMoO4, dan powelit, Ca(Mo,W)O4 (Sugiyarto dan Suyani, 2010). Logam
molibdenum diproduksi sebagai hasil utama maupun hasil sampingan dalam pengolahan
tembaga. Pada proses tersebut, bijih molibdenit terlebih dahulu dipisahkan dengan teknik flotasi,
kemudian dipanggang untuk memperoleh oksidanya, MoO 3. Jika ingin digunakan langsung
sebagai paduan logam seperti pada pabrik baja, oksidasi ini diubah menjadi feromolibdenum
dengan proses aluminotermik. Untuk memperoleh logam yang lebih murni, molibdenum oksida
dilarutkan dalam larutan amonia untuk dikristalkan sebagai amonium molibdat, kadang-kadang
sebagai dimolibdat, [NH4]2[Mo2O7], atau sebagai paramolibdat, [NH4]6[Mo7O24].4H2O dengan
bergantung pada kondisinya. Molibdat ini kemudian dapat direduksi dengan gas H 2 menjadi
serbuk logam molibdenum yang berwarna abu-abu. Selain itu, MoO 3 dapat dibuat dengan
memanaskan logamnya atau sulfidanya dalam oksigen. Oksida-oksida ini tidak bereaksi dengan
asam, tetapi larut dalam larutan basa membentuk larutan molibdat.

MoO2 dapat diperoleh dari reduksi MoO3 dengan H2 atau NH3 pada temperatur di bawah
470 oC, diatas temperatur ini terjadi reduksi lebih lanjut menjadi logamnya. Selain itu, MoO 2
juga dapat diperoleh dari reaksi molibdenum dengan uap air panas pada suhu ~800 oC.
Mo2O5 dapat diperoleh dari reduksi MoO3 dengan serbuk molibdenum pada ~750 oC.
Penambahan amonia ke dalam larutan yang mengandung Mo(V) hasil reduksi tersebut akan
diperoleh endapan coklat MoO(OH)3 dan apabila endapan ini dipanaskan akan menghasilkan
Mo2O5.
2.4. Kegunaan
Sekitar 75 persen dari molibdenum yang digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1996
dijadikan campuran untuk baja dan besi. Hampir setengah dari campuran ini digunakan untuk
membuat stainless dan baja tahan panas. Hasilnya dapat digunakan dalam pesawat terbang,
pesawat ruang angkasa, dan rudal bagian. Penggunaan penting lainnya adalah campuran
molibdenum dalam produksi alat-alat khusus, seperti: busi, shaft baling-baling, senapan barel,
peralatan listrik digunakan pada temperatur tinggi, dan boiler pelat.
Penggunaan penting lainnya adalah sebagai katalis molibdenum. Katalis adalah zat yang
digunakan untuk mempercepat atau memperlambat suatu reaksi kimia. Katalis tidak mengalami
perubahan wujud selama reaksi. Katalis molybdenum digunakan dalam berbagai operasi kimia,
dalam industri minyak bumi, dan dalam produksi polimer dan plastik. Pada jumlah yang kecil,
molibdenum efektif untuk mengeraskan baja. Molibdenum digunakan pada komponen pesawat
terbang, peluru, filamen pada pemanas elektrik dan lapisan pelindung pada ketel. Molibdenum
orange merupakan pigmen antara merah-kuning ke merah-orange terang dan digunakan pada cat,
tinta, plastik, dan senyawa-senyawa karet.
Molibdenum disulfida merupakan pelumas yang baik, terutama pada suhu tinggi.
Molibdenum juga digunakan pada beberapa aplikasi elektronik, sebagai pelapis logam konduktif
pada transistor film-tipis.
Molibdenum merupakan salah satu bahan paduan baja yang menjadikan baja bersifat
keras dan kuat. Selain itu, molibdenum digunakan dalam oksida dan sistem lain sebagai katalis
untuk berbagai reaksi, salah satu contoh adalah amonoksidasi akrilonitril menurut persamaan
reaksi (Cotton dan Wilkinson, 2001) :

H2C

CHCH3 + NH3 + 3/2O2

H2C

CHCN + 3H2O

MoS2 digunakan sebagai pelumas padat yang ditambahkan ke oli dan digunakan sebagai
katalis dalam reaksi hidrogenasi.
2.5. Persenyawaan
Oksida molibdenum banyak yang sudah dikenal, yaitu MoO 3, Mo2O5, dan MoO2. Oksida
MoO2 berupa padatan coklat violet, tidak larut dalam asam nitrat pekat dan terjadi oksidasi lebih
lanjut menjadi Mo(VI). MoO2 mengadopsi struktur rutil (TiO2).

Gambar Struktur Rutil (TiO2)


(Geocities, 2012)
2.6.

Reaksi-reaksi Yang Terjadi


Molibdenum tidak dapat bereaksi dengan air pada suhu kamar. Molibdenum juga tidak

dapat bereaksi dengan udara atau oksigen pada suhu kamar, akan tetapi pada suhu tinggi (di atas
suhu 790 oC) akan membentuk molibdenum(VI) trioksida:
2Mo (s) + 3O2 (g)
2MoO3 (s)
Reaksi dengan halogen akan membentuk molibdenum halida, misalnya jika molibdenum
direaksikan dengan fluorin, maka akan membentuk molibdenum(VI) fluorida.
Mo (s) + 3F2 (g)
MoF6 (l)
Molibdenum(VI) biasanya membentuk spesies dioksida dengan kedua ikatan Mo = O adalah cis.
Jadi, MoO3 dalam 12MHCl membentuk kompleks [MoO2Cl4]2-. Selain itu, molibdenum(VI) juga
membentuk kompleks molibdenum pentaklorida [MoCl5] (= Mo2Cl10).

2-

Cl
Cl

Mo
Cl

Cl

Gambar 2.6 Struktur Kompleks [MoO2Cl4]2-

Gambar 2.7 Struktur kompleks molibdenum pentaklorida [MoCl5] (Saito, 2008)


Selain itu, kompleks yang mudah didapatkan yang digunakan untuk sintesis kompleks
lain adalah ion pentaklorooksomolibdat(V) yang berwarna hijau jambrut, [MoOCl 5]2-. Senyawa
kompleks ini dapat diperoleh dengan reduksi MoO 42- dalam larutan HCl atau dengan pelarutan
Mo2Cl10 dalam larutan akua pekat HCl.

2-

O
Cl

Cl

Mo
Cl

Cl

Cl

Gambar 2.8 Struktur ion pentaklorooksomolibdat(V)


2.7.

Efek Kesehatan
Molybdenum relatif aman bagi manusia dan hewan. Penelitian telah menunjukkan bahwa

Moblydenum merupakan zat yang tidak beracun. Bahkan, Molybdenum digunakan untuk
pertumbuhan tanaman sebagai nutrisi, walaupun intensitas kebutuhannya masih sangat kecil
(Anonymous, 2010).
2.8.

Molibdenum Dalam Tubuh Manusia


Pada manusia, molybdenum dikenal berfungsi sebagai kofaktor untuk tiga enzim:

Sulfit oksidase mengkatalisis transformasi sulfit ke sulfat, reaksi yang diperlukan untuk
metabolisme kandungan asam amino (metionin dan sistein).
Xanthine oksidase mengkatalisis pemecahan nukleotida (prekursor untuk DNA dan RNA)
untuk membentuk asam urat, yang berkontribusi terhadap kapasitas antioksidan plasma
darah.
Oksidase Aldehyde dan xanthine oksidase mengkatalisis reaksi hidroksilasi yang
melibatkan beberapa molekul yang berbeda dengan struktur kimia yang sama. oksidase
Xanthine dan oksidase aldehida juga berperan dalam metabolisme obat dan racun.
Nilai ambang batas Mo dalam tubuh manusia
o Anak-anak 1-3 tahun 300 g / hari
o Anak-anak 4-8 tahun 600 g / hari
o Anak-anak 9-13 tahun 1.100 g / hari (1,1 mg / hari
o Remaja 14-18 tahun 1.700 g / hari(1,7 mg / hari
o Dewasa 19 tahun dan lebih tua 2.000 (2,0 mg / hari)
Molibdenum diperlukan untuk oksidasi belerang, suatu komponen dari
protein. Molibdenum terdapat dalam susu, buncis, roti dan gandum.
Kekurangan Molibdenum
Kekurangan molibdenum yang disebabkan karena asupan yang tidak memadai pada
orang yang sehat, belum pernah diteliti. Tetapi kekurangan molibdenum terjadi pada keadaan
tertentu misalnya jika seorang malnutrisi yang menderita penyakit Chron mendapatkan
makanan parenteral dalam waktu yang lama tanpa tambahan molibdenum.
Gejalanya berupa:
- denyut jantung yang cepat
- sesak nafas
- mual
- muntah
- disorientasi
- koma.
Penyembuhan total bisa diperoleh dengan pemberian molibdenum.
Kelebihan Molibdenum
Orang yang mengkonsumsi molibdenum dalam jumlah besar dapat mengalami gejala
yang menyerupai penyakit gout, termasuk peningkatan kadar asam urat dalam darah dan
nyeri sendi. Penambang yang terpapar debu molibdenum bisa mengalami gejala-gejala yang
tidak spesifik.

Wolfram (W)
3.1. Sejarah
Tungsten ditemukan oleh Juan Jose dan Fausto de Elhuyar
pada tahun 1783 di Vergara, Spain. Dalam bahasa Swedia, tung
sten berarti batu berat. Nama lain dari tungsten adalah wolfram
(bahasa Jerman) yang disimbolkan dengan W. Pada tahun 1779,
Peter Woulfe menguji mineral yang sekarang dikenal sebagai
tungstenit dan menyimpulkan bahwa terdapat zat baru dalam
tungstenit. Scheele, pada tahun 1781, menemukan bahwa asam
yang baru dapat dibuat dari tungsten (nama yang diberikan pada tahun 1758 untuk mineral yang
sekarang dikenal sebagai scheelite). Scheele dan Bergman mengusulkan adanya kemungkinan
untuk mendapatkan logam yang baru dengan mereduksi asam ini. De Elhuyar menemukan
bahwa asam dalam tungstenit pada tahun 1783 adalah sama dengan asam tungsten (asam
tungstat) yang dibuat Scheele, dan pada tahun yang sama, mereka berhasil memperoleh unsur
tungsten dengan mereduksi asam tungstat dengan arang. Pada tahun 1781, Scheele dan T.
Bergmann mengisolasi oksida baru yang lain dari mineral yang kemudian disebut skelit, CaWO 4.
Hasilnya disebut tungsten yang artinya batu berat. Dua tahun kemudian dua bersaudara, J.J dan
F. De Elhuyar dari Spanyol menunjukkan bahwa oksida yang sama merupakan konstituen dari
mineral wolframit, dan pemanasan oksida ini dengan batubara berhasil mereduksinya menjadi
logam yang kemudian diberi nama wolfram dengan simbol W. Nama ini direkomendasi oleh

IUPAC, namun komunikasi bahasa Inggris memilih memakai nama tungsten (Sugiyarto dan
Sugiyani, 2010).
3.2. Sifat Fisika dan Sifat Kimia
3.2.1. Keterangan Umum Unsur
Tungsten murni adalah logam yang berwarna putih timah hingga abu-abu baja. Tungsten
yang sangat murni dapat dipotong dengan gergaji besi dan bisa dibentuk dengan mudah. Dalam
keadaan tidak murni, tungsten rapuh dan membutuhkan usaha keras untuk bisa membentuknya.
Logam transisi yang sangat keras ini ditemukan pada mineral seperti wolframit dan schelit.
Wolfram memiliki titik lebur yang lebih tinggi dari semua unsure logam dan pada suhu 1650 oC
memiliki kekuatan regang tertinggi. Bentuk murni Wolfram digunakan terutama pada perangkat
elektronik. Senyawa dan aloy-nya digunakan secara luas untuk banyak hal, yang paling dikenal
adalah sebagai filamen bola lampu, tabung sinar-x, dan superaloy.
Nama, Lambang, Nomor atom
Deret kimia
Golongan, Periode, blok
Penampilan

Wolfram, W, 74
Logam transisi
VIB, 6, d
Putih keabu-abuan dan
mengkilap

Massa atom
Konfigurasi electron
Jumlah elektron tiap kulit

183,948 g/mol
[Xe] 4f14 5d4 6s2
2, 8, 18, 32, 12, 2

3.2.2. Sifat Fisika


Fase
Massa jenis (sekitar suhu kamar)
Titik lebur
Titik didih
Kalor peleburan
Kalor penguapan
Kapasitas kalor
Resistivitas listrik
Konduktivitas termal
Ekspansi termal

Padat
19,25 g/cm3
3695 K, 3422 oC, 6192 oF
5828 K, 5555 oC, 10031 oF
35,3 kJ/mol
806,7 kJ/mol
24,27 J/(mol.K)
(20 C) 52,8 nm
(300 K) 173 W/(mK)
(25 C) 4,5 m/(mK)

3.2.3. Sifat Kimia


Struktur Kristal
Bilangan oksidasi

Cubic body centered (kubus berpusat muka)


+2, +3, +4, +5, +6 (oksida asam lemah)

Elektronegativitas
Energi Ionisasi

1,7 (skala Pauling)


E1: 770 kJ/mol
E2: 1700 kJ/mol
E3: 2300 kJ/mol
139 pm
162 (7) pm

Jari-jari atom
Jari-jari kovalen
3.2.4. Isotop Wolfram
Isotop
180

W
W
183
W
184
W
186
W
182

Massa Atom

Waktu paruh

179,9
181,9
183
184
186

18

1,8x10 tahun
8,3x1018 tahun
29x1018 tahun
13x1018 tahun
27x1018 tahun

Kelimpahan
di alam (%)
0,10
26,3
14,3
0
28,6

3.3. Sumber Wolfram (Tungsten)


Tungsten, terdapat dalam mineral tungstenit wolframit Fe(Mn)WO 4, scheelit CaWO4,
huebnerit MnWO4, dan ferberit FeWO4 (Cotton dan Wilkinson, 1989). Tempat penambangan
tungsten yang penting adalah di Kalifornia, Kolorado, Korea Selatan, Bolivia, Russia dan
Portugal. Bahkan China, dilaporkan memiliki persediaan 75% tungsten di dunia. Unsur tungsten
diperoleh secara komersial dengan mereduksi tungsten oksida dengan hydrogen atau karbon.
Proses pembuatannya adalah mineral tungsten dihancurkan secara mekanik dan direaksikan
dengan lelehan NaOH. Lelehannya dilarutkan dalam air untuk memperoleh Na-tungsenat yang
kemudian diasamkan untuk mendapatkan WO3 kemudian direduksi dengan hydrogen dan
diperoleh logamnya.
Kelimpahan tungsten di alam sebesar 0,0005 ppm, matahari sebesar 0,004 ppm, meteorit
sebesar 0,12 ppm, kerak bumi sebesar 1,1 ppm, dan air laut sebesar 1,2x10 -4 ppm (Anonymous,
2001).
3.4. Kegunaan
Tungsten dan alloynya digunakan secara besar-besaran untuk pembuatan filament lampu
pijar, tabung electron, dan televisi, untuk titik kontak pada distributor mobil, unsure windings
(proses pencarian logam dalam tungku listrik), pemanas pada tungku listrik, paduan logam untuk
alat pemotong bersuhu tinggi dan pada pesawat luar angkasa. Alloy yang digunakan untuk
peralatan berkecepatan tinggi seperti Hastelloy, Stellite mengandung tungsten.

Tungsten karbida sangat pentinng digunakan dalam proses penempaan logam,


penambangan logam dan industry minyak bumi. Tungsten karbida juga digunakan sebagai bahan
anti gores untuk perhiasan termasuk arloji dan cincin perkawinan. Selain itu, tungsten karbida
belum lama ini digunakan dalam mode intan permata sesuai sifat hypoallergenic-nya, kenyataan
bahwa kekerasannya ekstrim (tinggi), dan berkilau seperti logam gosok lain. Kalsium dan
magnesium tungstat sangat luas digunakan dalam pencahayaan fluorosens, dan garam tungsten
lainnya digunakan dalam industry pewarna dan kimia. Tungsten disulfide adalah pelumas yang
kering dan stabil pada suhu setinggi 500 oC. perunggu tungsten dan senyawa lainnya digunakan
dalam industry cat.
Diinformasikan pula, bahwa dalam pembuatan bola lampu OSRAM (didirikan pada
tahun 1906 oleh tiga perusahaan Jerman yang menggabungkan fasilitas produksi lampu mereka).
Nama dari bola lampu yang diproduksi diambil dari unsur penyusunnya yaitu OSmium dan
wolfRAM (tungsten).
3.5. Ekstraksi Wolfram
Logam wolfram dapat diperoleh dengan pemanasan langsung campuran bijih, tungstat
scheelit, CaWO4 dan wolframit, Fe(Mn)WO4 (hingga meleleh) dengan alkali, kemudian
diendapkan dalam air sebagai WO3 dengan penambahan asam. Reduksi oksida ini dengan H2
pada ~850 oC akan menghasilkan serbuk logam wolfram berwarna abu-abu. Pengubahan serbuk
logam menjadi padatan masif dapat dilakukan dengan kompresi tinggi menggunakan gas H 2
(Sugiyarto dan Sugiyani, 2010).

3.6. Persenyawaan Wolfram


a. Oksida, beberapa oksida yang umum adalah WO 3 (kuning) dan WO2. Trioksida dibuat dengan
memanaskan logam wolfram dengan senyawa lain seperti sulfide dalam oksigen. Oksida tersebut
tidak bereaksi dengan asam tetapi larut dalam basa membentuk larutan wolframat. WO 3 padatan
kuning lemon dengan titik leleh ~1200 oC. Dioksida (WO2) dibuat dengan mereduksi trioksida
dengan hydrogen atau NH3 pada suhu 470 oC.

b. Halida, WF6 dibuat dengan reaksi fluorinasi terhadap logam wolfram. Halide tersebut mudah
terhidrolisis. Untuk WCl6 dibuat melalui reaksi klorinasi logam wolfram.

3.7. Reaksi-reaksi yang Terjadi


1. Reaksi dengan air
Pada suhu ruangan, tungsten tidak bereaksi dengan air.
2. Reaksi dengan udara
Pada suhu ruangan, tungsten dapat bereaksi dengan udara atau O2. Pada suhu yang meningkat,
akan terbentuk tungsten(VI) oksida atau trioksida . Persamaan reaksinya sebagai berikut :
2W (s) + 3 O2

2WO3 (s)

3. Reaksi dengan halogen


Pada suhu ruangan, tungsten beraksi langsung dengan fluorin membentuk tungsten(VI) fluoride.
Persamaan reaksinya sebagai berikut :
W (s) + 3F2 (g)

3F6 (g)

Tungsten bereaksi secara langsung dengan klorin atau bromine (pada 250C) masing-masing
membentuk tungsten(VI) klorida atau tungsten(VI) bromide. Persamaan reaksinya sebagai
berikut :
W (s) + 3Cl2 (g)

WCl6 (s)

W (s) + 3Br2 (g)

WBr6 (s)

Pada kondisi terkontrol, tungsten(V) klorida terbentuk dari reaksi antara logam tungsten dan
klorin, persamaan reaksinya sebagai berikut:
2W (s) + 5Cl2 (g)

2WCl5 (s)

4. Reaksi dengan asam


Secara umum, logam tungsten tidak terpengaruh oleh kebanyakan asam. Menurut Cotton dan

Wilkinson (1989) wolfram tidak diserang oleh asam selain HF. Artinya logam tungsten tidak
dapat bereaksi dengan asam selain HF.
5. Reaksi dengan basa
Logam tungsten tidak bereaksi dengan larutan basa lemah.

3.8. Pembentukan Ikatan dan Senyawa Kompleks


WO3 mengadopsi struktur geometri yang dikenal sebagai struktur renium trioksida
(ReO3). Struktur ini dapat dipandang sebagai suatu kubus yang setiap sudutnya ditempati oleh
atom W dan pada pertengahan dari setiap sisinya ditempati oleh atom O. Suatu kubus yang
tersusun oleh 8 atom W pada titik-titik sudutnya akan diselingi oleh 12 atom pada tiap
pertengahan sisinya, sehingga setiap atom W akan mengikat 6 atom O dan pada tiap atom O ini
mengikat 2 atom W untuk menghasilkan formula WO3 (Sugiyarto dan Sugiyani, 2010).
Dihalida W6Cl12 dapat dioksidasi oleh Cl2 pada suhu tinggi. Satuan-satuan (M6X8)4+ dapat
mengkoordinasi enam donor pasangan electron, masing-masing pada setiap atom logam
sepanjang seperempat sumbu octahedron (Cotton dan Wilkinson, 1989). Gugus berjembatan
dalam satuan M6X84+ dapat melangsungkan reaksi pertukaran hanya secara lambat, sedangkan
keenam ligan luar adalah labil. Dalam larutan akua satuan M 6X84+ adalah tidak stabil terhadap
gugus nukleofilik yang lebih kuat seperti OH-, CN-, atau SH- (Cotton dan Wilkinson, 1989).

3.9. Efek Kesehatan


Karena tungsten jarang dan senyawanya umumnya inert, efek tungsten pada lingkungan
cukup terbatas (Anonymous, 2012).
Tungsten mudah terbakar dan dapat bertindak sebagai iritan pernapasan (Zulaiha, 2011).

Seaborgium (Sb)
4.1. Sejarah
Seaborgium, unsur 106. Nama lain unsur ini adalah
Unnilhexium (Eh), Rutherfordium (Rf), Seaborgium
(Sg). Seaborgium pertama kali diproduksi oleh sebuah tim
ilmuwan yang dipimpin oleh Albert Ghiorso bekerja di
Lawrence Berkeley Laboratory di Berkeley, California,
pada tahun 1974. Mereka menciptakan Seaborgium dengan
membombardir atom Californium-249 dengan ion Oksigen18 dengan menggunakan mesin yang disebut Super-Heavy

Ion Linear Accelerator. Benturan atom dihasilkan Seaborgium-263 dan kemudian emisi alfa
menjadi Nobelium, dilanjutkan dengan peluruhan alfa antara Seaborgium dan Nobelium. Unsur
ini diidentifikasi memiliki energi alfa 9.06 dan 9.25MeV dengan masa paruh waktu sekitar 0.9+/0.2 detik.. Seaborgium-263 adalah isotop seaborgium dengan paruh sekitar 1 detik.
Tiga bulan sebelum kelompok Berkeley mengumumkan penemuan mereka, sebuah tim
ilmuwan yang bekerja di Institut Bersama untuk Penelitian Nuklir di Dubna, Rusia, mengklaim
telah menghasilkan seaborgium. Metode mereka yaitu dengan membombardir atom Timah-207
dan memimpin Timah-208 dengan ion Chromium-54 menggunakan alat yang disebut siklotron.
Mereka percaya bahwa mereka telah menghasilkan atom Seaborgium-259. Kelompok Berkeley
dikonfirmasi pada tahun 1993 dan mereka dinobatkan sebagai penemu Seoborgium.
Nama Seaborgium, dengan simbol kimia "Sg," diumumkan pada hari Minggu, 13 Maret
di 207 pertemuan nasional American Chemical Society di San Diego. Pengumuman ini dibuat
oleh Kenneth Hulet, pensiunan ahli kimia dari Lawrence Livermore National Laboratory
(LLNL) dan salah satu darinya menemukan Seaborgium. Hulet membuat pengumuman
sementara menerima Penghargaan ACS Nuklir Kimia untuk hidupnya prestasi di lapangan.
Seaborgium adalah nama terbaru yang akan ditambahkan kepada keluarga unsur
"transuranium". Unsur transuranium dapat dibuat dalam akselerator partikel. Seaborgium
memiliki paruh kurang dari satu detik. Ini pertama kali dibuat dan diidentifikasi pada 1974 dalam
sebuah percobaan yang dilakukan di LBL oleh tim peneliti LBL dan LLNL dipimpin oleh
fisikawan Hulet dan LBL Albert Ghiorso.
Menurut kriteria yang diusulkan oleh peneliti ilmu pengetahuan nuklir pada 1970-an,
penamaan unsur baru merupakan hak prerogatif penemuan asli tim, namun usulan nama
independen harus menunggu konfirmasi dari penemuan.
Seaborgium akhirnya dikukuhkan pada tahun 1993 dalam sebuah percobaan di LBL's 88Inch siklotron yang dirancang oleh Ken Gregorich, sebuah divisi sesama di LBL's Nuclear
Science Division, dan dilaksanakan oleh sebuah tim termasuk fakultas Gregorich dan LBL
ilmuwan senior Darleane Hoffman, ditambah doktoral dan mahasiswa dari LBL dan UC
Berkeley Departemen Kimia. Konfirmasi diumumkan pada September lalu '93 Aktinida
konferensi di Santa Fe, New Mexico.

Nama Seaborgium dipilih untuk menghormati orang yang berbagi Penghargaan Nobel
1951 di bidang kimia dengan mantan Direktur LBL Edwin McMillan untuk "penemuan mereka
dalam kimia dari unsur transuranium."
Lahir pada tahun 1912 di Ishpeming, Michigan, Seaborg menerima Ph.D. dalam kimia
dari UC Berkeley pada tahun 1937. Ia bergabung dengan UCB fakultas pada tahun 1939 dan
menjabat sebagai kanselir 1958-1961. Dari tahun 1961 sampai 1971 ia menjabat sebagai ketua
Komisi Energi Atom (pendahulu dari US Department of Energy) di bawah Presiden AS
Kennedy, Johnson, dan Nixon. Ia kemudian kembali ke riset di Berkeley, di mana ia terus
berlanjut hingga kini dalam mencari elemen-elemen baru dan isotop. Selain tugas-tugasnya di
LBL, Seaborg sekarang menjabat sebagai Profesor Universitas (UC posisi akademis tertinggi),
dan ketua Lawrence Hall of Science. Seaborg cukup terkenal karena perannya dalam penemuan
plutonium. Ini terjadi pada tahun 1940, ketika Seaborg, McMillan, Joseph Kennedy, dan
Arthur Wahl, menggunakan Siklotron 60-inci yang dibangun oleh Ernest Lawrence,
dibombardir sampel Uranium dengan deuteron dan ditransmutasikan menjadi Plutonium.
Seaborg dan rekan-rekan kerjanya menggunakan penemuan plutonium sebagai batu loncatan
untuk penciptaan serangkaian unsur transuranium - amerisium, kurium, berkelium,
californium, einsteinium, fermium, mendelevium, nobelium, dan sekarang seaborgium.
Seaborg menampung lebih dari 40 paten, termasuk satu-satunya yang untuk unsur kimia
(amerisium dan kurium). Ia adalah penulis banyak buku dan lebih dari 500 artikel ilmiah. Dia
telah dianugerahi 50 gelar doktor kehormatan dan diakui sebagai advokat nasional untuk
pendidikan sains dan matematika. Pimentel Award Pendidikan Kimia untuk "kontribusinya yang
besar terhadap pendidikan warga dunia." Penghargaan ini dinamai untuk LBL dan UCB ACS
kimiawan dan mantan presiden yang meninggal pada 1989 setelah karir yang luar biasa dalam
penelitian dan pendidikan.
4.2. Sifat Fisika dan Sifat Kimia
4.2.1. Keterangan Umum Unsur
Nama, Lambang, Nomor atom
Deret kimia
Golongan, Periode, blok
Penampilan

Seaborgium, Sg, 106


Logam transisi
VIB, 7, d
Tidak diketahui, kemungkinan putih keperakan
atau abu-abu metalik

Massa atom
Konfigurasi electron
Jumlah elektron tiap kulit

269 g/mol
Diperkirakan [Rn] 7s2 5f14 6d4
2, 8, 18, 32, 32, 12, 2

4.2.2. Sifat Fisika


Seaborgium merupakan Sebuah logam radioaktif yang tidak terjadi secara alami dan
hanya untuk kepentingan penelitian saja. Hanya beberapa atom yang pernah dibuat dan bentuk
kimia menyerupai tungsten (Anonymous, 2011).
Fase
Massa jenis (sekitar suhu kamar)
Titik lebur
Titik didih
Kalor peleburan
Kalor penguapan
Kapasitas kalor
Resistivitas listrik
Konduktivitas termal
Ekspansi termal

Dianggap Padat
35 g/cm3
-

4.2.3. Sifat Kimia


Sifat kimia Seaborgium mirip dengan Wolfram. Dikarenakan unsur ini memiliki nomor
atom lebih tinggi daripada Uranium, sehingga Seaborgium memiliki sejumlah sifat kimia yaitu
ketidakstabilan dan radioaktivitas (Anonymous, 2011).
Struktur Kristal
Bilangan oksidasi
Elektronegativitas
Energi Ionisasi
Jari-jari atom (terhitung)
Jari-jari kovalen
4.2.4. Isotop Seaborgium

Cubic body centered (kubus berpusat muka)


-1, +1, +2, +3, +4, +5, +6 (oksida asam lemah)
132 pm
63 pm

Isotop

Massa Atom

Waktu paruh

Kelimpahan

1,9 min

di alam (%)
-

271

Sg

4.3.

Sumber

Seaborgium
269

Sg
267
Sg

2,1 min
1,4 min

266

0,36 s

265b

Sg

16,2 s

265a

Sg

8,9 s

264

Sg

68 ms

263m

0,9 s
0,3 s
15 ms
9 s
0,18 s
3,6 ms
0,48 s
2,9 ms

Sg

Sg
263g
Sg
262
Sg
261m
Sg
261g
Sg
260
Sg
259
Sg
258
Sg

Seaborgium
adalah

unsur

yang

sangat

tidak

stabil,

dengan

isotop

yang

memiliki waktu paruh


(kebanyakan)

diukur

dalam

detik.

Ketidakstabilan

ini

membuat

seaborgium

mustahil

untuk

ditemukan

di

alam,

tetapi harus disintesis di


laboratorium oleh para

peneliti yang akan mempelajarinya, seaborgium memancarkan sinar alfa. Seperti elemen berat
sintetis lain, seaborgium tidak memiliki nilai komersial karena sangat mahal untuk
memproduksinya dan waktu paruhnya terlalu pendek untuk menjadi sangat produktif.
4.4. Kegunaan Seaborgium
Manfaat dan kegunaan seaborgium belum diketahui aplikasinya secara pasti
(Annonymous, 2009).
4.5. Ekstraksi Seaborgium (Pembuatan Seaborgium)
Pembuatan unsur ini diperoleh melalui penembakan inti, sedikit atom yang terbentuk dan
karakteristik seaborgium kurang begitu dimengerti. Persamaan reaksinya sebagai berikut
(Anonymous, 2004) :
249

Cf + 18O

263

Sg + 4n

Unsur 106 dibuat dengan reaksi

249

Cf(18O,4n)263X, yang memancarkan alfa menjadi

rutherfordium, kemudian emisi alfa menjadi nobelium, dilanjutkan dengan peluruhan alfa antara
rutherfordium dan nobelium. Unsur ini diidentifikasi memiliki energi alfa 9.06 dan 9.25 MeV
dengan masa waktu paruh 0,90,2 detik (Anonymous, 2008).
Di Dubna, ion 54Cr berkekuatan 280 MeV dari siklotron 310 cm digunakan untuk
menghantam target

206

Pb,

207

Pb, dan

208

Pb pada waktu yang berbeda. Foil digunakan pada

lempeng target untuk mendeteksi aktivitas fisi spontan. Diketahui kemudian, bahwa foil teretsa
dan secara mikroskopi terdapat sejumlah jejak reaksi fisi dan aktivitas fisi waktu paruh.
Percobaan lainnya dibuat untuk memperoleh kepastian tentang penemuan unsur ini (Anonymous,
2008).
4.6. Reaksi dan Persenyawaan Seaborgium
Sedikit penelitian yang dilakukan tentang seaborgium secara kimia yaitu menyatakan
bahwa seaborgium cenderung memilih bilangan oksidasi +6 dan membentuk oksi-anion SgO 42dan senyawa SgO2Cl2 yang sesuai dengan posisinya yang terletak pada golongan VI B dalam
tabel periodik (Anonymous, 2009).
4.7. Bahaya Seaborgium
Bahaya unsur seaborgium belum diketahui. Karena sangat tidak stabil, nilai yang
terbentuk akan terurai menjadi unsur-unsur lainnya sangat cepat sehingga tidak ada alasan untuk
mempelajari pengaruh terhadap kesehatan manusia. Karena sangat singkat-setengah hidupnya
(21 detik), tidak ada alasan untuk mempertimbangkan efek seaborgium di lingkungan.

Kecenderungan Logam-logam Golongan VIB


Karakteristik logam-logam golongan VIB dapat dilihat pada Tabel berikut:
Beberapa sifat unsur-unsur transisi golongan VIB
No.
1.
2.

Karakteristik
Fase
Kelimpahan

24Cr
Padat
122

42Mo
Padat
1,2

74W
Padat
1,2

106Sg
Dianggap Padat
-

3.

(ppm)
Densitas (g/cm3)

7,15 (25 oC)

10,28 (25 oC)

19,25 (25 oC)

35 (25 oC)

4.
5.
6.

Titik leleh (oC)


Titik didih (oC)
Jari-jari atom

1907
2671
128

2623
4639
139

3422
5555
139

(perkiraan)
132 (terhitung)

7.

(pm) (BK=12)
Konfigurasi

[18Ar] 3d5 4s1

[36Kr] 4d5 5s1

[54Xe] 4f14 5d4 6s2

Diperkirakan

elektronik

[86Rn] 7s2 5f14

8.

Elektronegativita

1,66 (skala

1,8 (skala

1,7 (skala

6d4
-

9.

s
Energi ionisasi

Pauling)
E1: 652,9 kJ/mol
E2:1590,6 kJ/mol
E3: 2987 kJ/mol

Pauling)
E1: 684,3 kJ/mol

Pauling)
E1: 770 kJ/mol

E2: 1560 kJ/mol

E2: 1700 kJ/mol

10.

Bilangan

+2, +3, (+4), +6

E3: 2618 kJ/mol


+3, +4, +5, +6

E3: 2300 kJ/mol


(+2), (+3), +4,

-1, +1, +2, +3,

Oksidasi

(oksida asam

(oksida asam

+5, +6 (oksida

+4, +5, +6

kuat)

kuat)

asam lemah)

(oksida asam

lemah)
(dalam tanda kurung adalah bilangan oksidasi yang tidak umum).
a. Fase unsur golongan VIB seluruhnya adalah padat.
b. Titik didih dan titik leleh dari unsur Cr sampai W semakin besar nilainya.

c. Jari-jari atom
Telah diketahui dari tabel Sistem Periodik Unsur bahwa semakin banyak Nomor Atom maka
semakin banyak kulit yang dimiliki atom tersebut sehingga semakin besar jari-jarinya. Jadi
dapat dikatakan bahwa dari unsur Cr sampai Sg, jari-jari makin besar.
d. Densitas
Dari data yang terlihat di atas, kerapatan dari unsure Cr sampai Sg semakin besar.
e. Elektronegativitas
Besarnya keelektonegativitas unsure golongan VIB dari atas ke bawah (Cr sampai W) tidak
linier. Dimana unsur Molibdenum yang mempunyai harga keelektonegativitas yang paling
besar diantara unsur golongan VIB.
f. Energi Ionisasi
Besarnya Energi Ionisasi dari atas ke bawah (Cr sampai W), cenderung naik harganya.
g. Bilangan Oksidasi
Bilangan oksidasi yang umumnya dimiliki unsur-unsur golongan VIB adalah +3, +4, +6.
Logam golongan VIB pada tingkat oksidasi rendah semakin tidak stabil dengan naiknya
nomor atom. Konfigurasi electron untuk kromium dan molybdenum menyimpang dari diagram
aufbau.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2001. Tungsten. http://www.lenntech.com. Diakses tanggal 22 April 2012.
Anonymous. 2004. Seaborgium-Jurnal. http://www.rsc.org. Diakses tanggal 22 April 2012.
Anonymous. 2009. Seaborgium-Sg. Diakses tanggal 22 April 2012.
Anonymous, 2011. Sejarah Seaborgium. http://chemistryoche.blogspot.com. Diaskses tanggal 22
April 2012.
Anonymous, 2012. Periodic Table Tungsten. http://ptable.com. Diakses tanggal 22 April 2012.
Cotton dan Wilkinson dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI Press.
Hiskia, A. 2001. Kimia Unsur dan Radiokimia. Bandung : Citra Adia Bakti.
Redaksi chem.-is-try.org. 2008. Seaborgium. http://www.chem-is-try.org. Diakses tanggal 22
April 2012.
Saito, T. 2008. Kimia Anorganik. Alih bahasa: Ismunandar, Prof. Dr. http//oke.co.id. Diakses
tanggal 22 April 2012.
Sugiyarto dan Sugiyani. 2010. Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Zulaiha, Zila. 2011. Unsur-unsur Golongan VIB. http://blogspot.com. Diakses tanggal 22 April
2012.