Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini diuraikan beberapa konsep yang mendasari penelitian ini,
yaitu tentang : pengetahuan, post partum dan perawatan vulva hygiene.

2.1. Pengetahuan (Knowledge)


2.1.1. Pengertian
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang
melakukan penginderaan suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indera manusia, yakni : penglihatan, pendengaran, penciuman, raba dan rasa.
Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,
1997 :127 128 ).
Bila pengetahuan telah dipahami, maka akan timbul suatu sikap dan
perilaku untuk berpartisipasi, selain itu tingkat pengetahuan seseorang juga
mempengaruhi perilaku individu. Makin tinggi pendidikan atau pengetahuan
kesehatan seseorang maka semakin tinggi untuk berperan serta (Depkes RI,
1990:7).
Menurut Sudarmayati (2000) pada umumnya orang yang mempunyai
pendidikan tinggi akan mempunyai wawasan dan pemahaman yang lebih luas
terutama terhadap obyek atau materi yang diberikan.

2.1.2. Komponen Pengetahuan


Pengetahuan dari yang sederhana sampai yang kompleks dibagi menjadi 6
tingkatan (Notoatmodjo. S, 1997 : 128 - 130) antara lain :
1.

Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari suatu bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan
tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa
orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

2.

Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpetasikan materi
tersebut secara benar.

3.

Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip-prinsip siklus pemecahan
masalah (Problem Solving Sycle) di dalam pemecahan masalah.

4.

Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek
ke dalam komponen-komponen tetapi masih satu struktur organisasi tersebut
dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5.

Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagianbagian ke dalam suatu bentuk yang baru. Dengan kata lain sintesis ini suatu
kemampuan untuk menyusun formasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6.

Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu materi atau obyek dengan menggunakan kriteria-kriteria sendiri atau
kriteria yang sudah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang ingi diukurdari subyek penelitian atau
responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat
kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas.

2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


1.

Faktor Eksternal
a.

Pendidikan Formal / Informal


Dalam arti luas, pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan dan
segala bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, secara formal /
informal. Pendidikan sangat besar terhadap tingkah laku (Kusmiyati,
1990). Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah
menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang
dimiliki. (Notoatmodjo, 1997)

b.

Pergaulan / Lingkungan Sosial


Pergaulan lingkungan sosial memberikan dampak positif dan negatif bagi
seseorang (Hasmi. F, 2000). Lingkungan sosial sangat berpengaruh
terhadap pengetahuan dan juga kebiasaan sehari-hari. Dengan lingkungan
yang bersih dan aman, akan mencipatakan suasana yang kondusif sehingga
memudahkan proses belajar.

c.

Sarana informasi
Semakin banyak panca indera yang digunakan manusia untuk menerima,
semakin banyak dan semakin jelas pengertian atau pengetahuan yang
diperoleh (Notoamtmodjo.S, 1997). Pengetahuan tidak hanya dapat
diperoleh dari bangku sekolah tetapi dapat pula diperoleh dari media
informasi baik media cetak maupun elektronik.

d.

Sosial Ekonomi
Seseorang dengan derajat ekonomi menengah ke atas tentunya akan
mengenyam pendidikan yang lebih tinggi bila merupakan kemauan dari
individu tersebut. Ini berarti pula pengetahuan yang dimiliki akan semakin
banyak pula.

e.

Latar Belakang Pendidikan Keluarga


Semakin tinggi latar belakang pendidikan keluarga seseorang, maka
semakin banyak pula pengetahuaanya, karena pengaruh dari anggota
keluarga tersebut. (Notoatmodjo.S, 1997). Seseorang yang berasal dari
keluarga yang berpendidikan tinggi tentu akan berusaha untuk
memperoleh pendidikan yang tinggi pula.

10

2.

Faktor Internal
a.

Usia
Keadaan seseorang yang masih berusia muda maka orang itu bisa lebih
cepat menerima suatu berita atau cepat lebih paham dibanding usia yang
lebih tua. (Notoatmodjo, 1998). Semakin tua usia seseorang maka akan
mengalami proses kemunduran fisik maupun mental sehingga juga akan
mengalami hambatan dalam proses menerima informasi/pengetahuan.

b.

Intelegensia
Daya membuat reaksi atau penyelesaian yang tepat dan cepat, baik secara
fisik maupun mental terhadap pengalaman baru, membuat pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada
fakta-fakta atau kondisi-kondisi baru. Semakin tinggi intelegensia
seseorang maka akan semakin mudah menerima informasi/pengetahuan
baru, jika dibandingkan orang yang memiliki intelegensia lebih rendah.

c.

Pemahaman
Kemampuan seseorang untuk menyelesaikan secara benar tentang obyek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar
(Notoatmodjo.S, 1997). Semakin paham seseorang tentang sesuatu hal
maka semakin besar pula pengetahuan yang dimiliki tentang hal tersebut.

d.

Keyakinan
Kepercayaan yang sungguh-sungguh, kepastian, ketentuan bagian agama /
religi

yang

terwujud

konsep-konsep

yang

menjadi

(kepercayaan) dan penganutnya. (Notoatmodjo.S, 1997).

keyakinan

11

e.

Gaya Hidup
Gaya hidup di jaman modern seperti ini banyak sarana hiburan yang
memberikan contoh model pergaulan modern, biasanya mendorong
mereka kepada pemukiman berkelompok (Hasmi F, 2000).

2.2.

Konsep Post Partum (Masa Nifas)

2.2.1. Pengertian
Post partum (masa nifas) terjadi setelah kelahiran bayi atau persalinan
(Dorland. 1995). Post partum adalah masa dimulai setelah plasenta lahir dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, post
partum berlangsung selama 6 minggu (Helen Farrer, 2001:225).
Ibu post partum primipara adalah ibu yang mengalami proses persalinan
dan post partum untuk pertama kali.
Menurut Rustam (1992) post partum dibagi dalam 3 periode, yaitu :
1.

Puerperium Dini, yaitu : masa kembali pulih dimana ibu telha boleh
berdiri dan berjalan-jalan.

2.

Puerperium Intermedial, yaitu : masa kembali pulih secara menyeluruh


alat-alat gentalia yang lamanya 6 8 minggu.

3.

Remote Puerperium, yaitu : waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi.

12

2.2.2. Perubahan-perubahan pada post partum


Perubahan-perubahan pada post partum (Sarwono, 2005) diantaranya :
1.

Involusi Rahim
Setelah plasenta lahir, uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan
rektraksi otot-ototnya. Fundus Uteri 3 jari bawah pusat. Selama 2 hari
berikutnya, besarnya tidak seberapa berkurang tetapi sesudah 2 hari ini uterus
mengecil dengan cepat, sehingga pada hari ke-10 tidak teraba lagi dari luar.
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan
kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini
mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3 4 cm dan pada akhir nifas
tinggal 1 2 cm.

2.

Perubahan Pembuluh Darah Rahim


Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang
besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah
yang banyak, maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas.

3.

Perubahan pada Genetalia Interna dan Eksterna


Setelah involusi selesai, ostium externum tidak serupa dengan keadaannya
sebelum hamil, pada umumnya lebih besar, ada retak-retak dan robekanrobekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. Vagina yang
sangat diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran yang normal.
Pada minggu ke-3 post partum rugae mulai tampak kembali.

4.

Dinding Perut dan Peritonium


Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi
biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.

13

5.

Saluran Kencing
Dinding kandung kencing memperlihatkan oedema dan hyperemia. Dilatasi
ureter dan pyelum normal kembali dalam waktu 2 minggu.

6.

Laktasi
Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam
kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung susu, melainkan
colostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat aerola mammae. Pada kirakira hari ke-3 post partum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini
menandai permulaan sekresi air susu dan apbila aerola mammae dipijat
keluarlah cairan putih dari puting susu.

2.3.

Konsep Perawatan Vulva Hygiene.

2.3.1. Pengertian
Vulva hygiene adalah membersihkan alat kelamin wanita bagian luar dan
sekitarnya. (Perry Potter, 2000 : 301).

2.3.2. Tujuan
Adapun tujuan dari perawatan vulva hygiene (Perry Potter, 2000 : 301
-308) antara lain :
1.

Mencegah dan mengontrol penyebaran infeksi.

2.

Mencegah kerusakan jaringan kulit.

3.

Meningkatkan kenyamanan.

4.

Mempertahankan kebersihan.

14

2.3.3. Cara perawatan Vulva Hygiene


Perawatan vulva pada post partum sangatlah berpengaruh dalam
kesembuhan luka. Adapun cara perawatan itu sendiri meliputi :
1.

Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.


Perawatan terhadap ibu post partum dilaksanakan berdasarkan upaya
untuk mempertahankan kebersihan serta kenyamanan, mencegah infeksi dan
membantu mengurangi sumber infeksi. Karena dengan kebersihan tubuh yang
terjaga maka ibu akan merasakan segar pada tubuhnya, maka kemungkinan
infeksi akan terhindar. (Perry Potter, 2000 : 303)

2.

Mengajarkan pada ibu membersihkan daerah sekitar vulva.


Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptur atau laserasi merupakan
daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih dan kering.
Membersihkan daerah kelamin dengan menggunakan sabun dan air, pastikan
bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih
dahulu, dari depan ke belakang baru kemudian membersihkan daerah sekitar
anus. (Perry Potter, 2000 : 307)
Walaupun prosedurnya bervariasi dari satu rumah sakit ke rumah sakit
lainnya tetapi prinsip-prinsip dasarnya adalah universal, yaitu : mencegah
kontaminasi dari rectum, menangani dengan lembut pada jaringan yang
terkena trauma dan membersihkan semua keluaran yang menjadi sumber
bakteri dan bau. Dengan cara membersihkan yang benar maka kesembuhan
akan lebih cepat dan terhindar dari infeksi.

15

3.

Mengganti Pembalut / kain pembalut.


Menyarankan ibu untuk mengganti pembalut / kain pembalut
setidaknya dua kali sehari atau setiap selesai buang air kecil dan buang air
besar. Prosedur yang dapat dilakukan yaitu membuang pembalut yang telah
penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum lalu letakkan pembalut
tersebut ke dalam kantung plastik, semprotkan air ke seluruh perineum,
kemudian keringkan perineum dari depan ke belakang dan pasang pembalut
dari depan ke belakang. (Dir.Jen.Yan.Kes. Dep.Kes, 1997 : 72)

4.

Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.


Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum
dan sesudah membersihakn daerah kelamin. Cara yang paling efektif untuk
mencegah infeksi dengan ibu belajar kebersihan diri yang baik, terutama
tehnik mencuci tangan dimana sumber infeksi terbesar bagi ibu post partum
adalah tangan, hidung dan mulut. (Perry Potter, 2000 : 308)

5.

Anjurkan ibu untuk tidak menyentuh daerah vulva.


Luka pada vulva sangatlah rawan terkena infeksi, sebab itu ibu
dianjurkan tidak menyentuh daerah vulva yang terluka. Mengingat tangan
merupakan salah satu sumber terbesar dari kuman yang menyebabkan infeksi.

2.3.4. Resiko Tidak Dilakukan Perawatan Vulva Hygiene


Perlukaan jalan lahir dan lokea merupakan media yang ideal bagi
pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi. Bila pada masa nifas tidak
dilakukan perawatan vulva hygiene yang benar, maka resiko terjadi infeksi nifas
sangat tinggi.

16

Infeksi oleh kuman patogen terutama Streptococcus Haemolyticus


golongan A sangat berbahaya dan merupakan 50 % penyebab kematian karena
infeksi nifas. (Sarwono, 2005 : 693). Infeksi nifas ringan terjadi pada genetalia
eksterna dengan gambaran klinis : demam dengan suhu 38 oC selama 2 hari, rasa
nyeri dan panas pada tempat infeksi dan rasa perih bila kencing. Infeksi nifas
terberat adalah terjadinya sepsis dengan gambaran klinis : suhu mendadak naik
tinggi (39 40oC) disertai menggigil, nadi cepat (140 160 x/menit), keadaan
umum cepat memburuk, pasien dapat meninggal dalam 6 -7 hari post partum
(Sarwono, 2005 : 695).
Sepsis Puerperalis penyebab terpenting ke-2 kematian ibu, mencapai 15 %
dari kematian ibu di negara-negara berkembang karena kurangnya hygiene selama
persalinan dan post partum (Safe Motherhood, 2001).

17

2.4.

Kerangka Konseptual
Faktor Eksternal :
Pendidikan Formal / Informal
Pergaulan / Lingkungan Sosial
Sarana informasi
Sosial, ekonomi, budaya
latar belakang pendidikan
keluarga

Faktor Internal :
Usia
Intelegensia
Pemahaman
Keyakinan
Sistem Nilai / Kepercayaan
Gaya Hidup

Pengetahuan Ibu Post Partum tentang


Perawatan Vulva Hygiene, meliputi :
Pengertian, tujuan dan cara perawatan
vulva hygiene serta Resiko tidak
dilakukan perawatan vulva hygiene

Baik

Cukup

Kurang

Keterangan :
: Diteliti
: Tidak diteliti

Sumber : Notoatmodjo, 2002