Anda di halaman 1dari 4

JURNAL ELEKTRO AKUSTIK 2015 (1-4)

Uji Kelayakan Klakson Beberapa Jenis Sepeda Motor


Berdasarkan Sound Preasure Level
Asrofi Khoirul H, Cahyaning Fajar K.M, Pambayun Purbandini, Badri Gigih S, Vinda Zakiyatuz Z,
Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
Abstrak Telah dilakukan percobaan Sound Pressure Level
dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jarak terhadap
pengukuran tingkat tekanan bunyi, untuk membandingkan hasil
penjumlahan decibel berdasarkan teori dan percobaan, dan
untuk mengetahui kelayakan klakson beberapa jenis sepeda
motor berdasarkan tingkat tekanan bunyi. Prinsip yang
digunakan dalam percobaan ini yaitu SLM dan intensitas bunyi.
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan
bahwa semakin jauh jarak sumber maka nilai SPLnya semakin
kecil, Hasil penjumlahan decibel untuk dua motor Jupiter tidak
sesuai antara perhitungan dan percobaan, sedangkan untuk dua
motor mio sesuai dengan perhitungan, Nilai SPL klakson yang
sesuai dengan kelayakan SNI adalah pada motor mio tahun 2010
dan motor Jupiter tahun 2007
Kata Kunci Sound Level Meter, Sound Pressure Level, Tingkat
Tekanan Bunyi

I. PENDAHULUAN
Perkembangan perekonomian di Indonesia, diiringi dengan
berkembangnya
jaringan
transportasi
yang
pesat
mengakibatkan jumlah atau volume lalu lintas terus meningkat
dari waktu ke waktu. Saat ini, pastinya perkembangan
kendaraan semakin pesat mengingat di zaman modern
mobilitasnya semakin tinggi. Setiap kendaraan sendiri pasti
memiliki standarisasi yang berasal dari perusahaan pembuat
kendaraan. Namun, seiring berjalannya waktu, standarisasi
kendaraan tersebut akan semakin berkurang. Oleh karena itu,
pada percobaan ini dilakukan pengukuran dengan
membandingkan standarisasi kendaraan yang dimaksud.
Bunyi terjadi karena adanya benda yang bergetar yang
dapat menimbulkan gesekan dengan zat disekitarnya. Getaran
objek atau udara yang menyentuh partikel zat yang ada
didekatnya yaitu berupa gas, cairan, ataupun padatan,
tergantung letak obyek yang bergetar. Keras lemahnya bunyi
sangat dipengaruhi oleh sensasi yang ditimbulkan pada
pendengaran seseorang. Keras buyi bertambah jika intensitas
meningkat, tetapi pertambahan ini tidak terjadi secara linier.
Semakin besar amplitudo maka keras bunyi yang dihasilkan
akan semakin besar. Hal ini dengan sesuai dengan energi
getaran.

1
2
E= k A
2
(1)
Bising adalah suara yang tidak diinginkan. Pada umumnya
kebisingan sangat berkaitan dengan ketergangguan
(annoyance). Kebisingan ada dimana-mana dan ketergangguan
adalah salah satu reaksi yang paling umum terhadap bising [1].
Menurut teori yang telah di pelajari, dalam upaya

pengendalian kebisingan dapat melibatkan tiga elemen yaitu


pengendalian bising pada sumber kebisingan, lintasan atau
jalur rambat kebisingan dan penerima kebisingan. Jika ketiga
elemen tersebut belum bisa menggendalikan kebisingan maka
ada cara lain yaitu pengendalian kebisingan secara
administratife yaitu pengendalian kebisingan dengan cara
mengatur pola kerja, dan upaya terakhir dengan penggunaan
alat pelindung diri yaitu penyumbat telinga (ear plug) dan
pelindung telinga (ear muff).
Definisi resmi mengenai kebisingan tercantum di dalam
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik
Indonesia Nomor 48/MenLH/Tahun 1996, yaitu bising adalah
bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan
dalam tingkat waktu tertentu yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan. KepMenLH
No.48 tahun 1996 tersebut juga merupakan standar baku mutu
tingkat kebisingan lingkungan yang berlaku di Indonesia.
Energi ekivalen merupakan nilai tertentu dari pengukuran
kebisingan yang berubah-ubah atau befluktuasi selama waktu
tertentu yang setara dengan tingkat kebisingan dari kebisingan
yang steady pada selang waktu yang sama.[2]
Kekuatan bunyi atau tekanan bunyi tidak menyediakan unitunit yang praktis untuk pengukuran bunyi atau kebisingan
untuk dua alasan dasar. Yang pertama suatu jarak yang sangat
besar dari kekuatan bunyi dan tekanan dapat dihasilkan.
Ditunjukkan dalam mikrobar (1 juta dari tekanan 1 atm),
jaraknya dari 0,0002 hingga 10.000 bar untuk puncak bising
di dalam 100ft dari mesin jet yang besar atau dari alat
peluncur roket. Yang kedua telinga manusia tidak dapat
merespon secara linear pada peningkatan dalam tekanan
bunyi. Respon nonlinear adalah pada dasarnya logaritmik.
Untuk itu pengukuran kebisingan ditunjukkan oleh istilah
Sound Pressure Level (SPL), yaitu perbandingan rasio
logaritmik dari tekanan bunyi pada tekanan referensi, dan
perbandingan tersebut ditunjukkan dalam unit dari daya tanpa
dimensi, yaitu desibel (dB). Referensi tingkatannya adalah
0,0002 bar, batasan pendengaran manusia. Persamaan untuk
SPL impulsif. [5]
Perilaku bunyi yang merambat di udara atau airborne yang
berasal dari sumber bunyi yang bergetar, gelombang bunyi
akan terus merambat ke segala arah, menempuh jarak tertentu,
melemah kemudian menghilang. Adakalahnya gelombang
bunyi mengenai bidang-bidang dalam ruang, sehingga dapat
berubah menjadi structurborne, kemudian diserap atau
diteruskan/ditransmisikan. Bila perambatan gelombang bunyi
ini mengenai lubang/celah ataupun penghalang, maka akan
terjadi duplikasi sumber atau dengan kata lain akan terjadi
penguatan bunyi. Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah
resonansi bunyi, yaitu bila frekuensi bunyi sama dengan
frekuensi bidang yang dikenainya. Bila frekuensi bunyi adalah

JURNAL ELEKTRO AKUSTIK 2015 (1-4)

rendah (berarti gelombang pajang atau getarannya hebat)


maka kemungkinan perambatan bunyi kembali berubah
menjadi airborne.

mewakili tingkat bunyi yang mengandung jangkauan


frekuensi yang luas serta mewakili respon manusia, adalah
perlu untuk menimbang frekuensi rendah dan tinggi
berkenaan dengan frekuensi menengah. Hasil SPL adalah
pembobotan A, dan unitnya adalah dBA. Pembobotan A
tingkat bunyi disebut juga tingkat bising[7]. Berikut adalah
diagram karakteristik respon frekuensi dari skala standard
berat untuk Sound Level Meter.[6]

Gambar 2. Gambar Karakteristik Respon Frekuensi.

Gambar 1. Gambar bunyi mengenai bidang ruang, terpantul, diserap,


diteruskan atau difraksi.[3]

Energi getaran bergantung pada amplitudo dan amplitude


juga bergantung frekuensi yang diberikan. Semakin besar
energy getaran maka semakin kuat kesan pendengaran yang
tertangkap oleh telinga. Intensitas adalah jumlah energi bunyi
tiap detiknya menembus tegak lurus bidang seluas satuan luas.
Karena luasnya daerah bunyi yang dapat diterima telinga
manusia, dan penggunaan skala logaritma akan mempermudah
pembacaan harga intensitas bunyi. Hubungan intensitas (I)
dengan tingkat intensitas suara dinyatakan sebagaimana
berikut

L=10 log

I
I0

(2)
Pada pengukuran intensitas bunyi dengan menggunakan
dikenal dengan istilah sound pressure level (SPL), yaitu nilai
yang menunjukkan perubahan pada tekanan didalam udara
karena ada perambatan gelombang bunyi.[4]
Tingkat tekanan bunyi diukur oleh meter tingkat bunyi
(sound level meter) yang terdiri dari mikrofon, penguat, dan
instrumen keluaran (output) yang mengukur tingkat tekanan
bunyi efektif dalam desibel.[6]
Pembobotan A sound level digunakan. Skala ini sesuai
karena telinga manusia tidak sama responnya pada semua
frekuensi suara, kurang efisien dalam frekuensi rendah dan
tinggi dari pada respon pada frekuensi menengah atau
frekuensi bicara. Untuk memperoleh angka tunggal yang

Tingkat tekanan suara (SPL) pada frekuensi gelombang 1800


Hz-3550 Hz harus lebih besar dari SPL frekuensi diatas 3550
Hz.tingkat tekanan suara (SPL) pada frekuensi gelombang
1800 Hz-3550 Hz harus lebih besar atau sama dengan:
a. 86.4 dB, bagi klakson yang diperuntukkan sepeda motor
dengan daya kurang dari 7kW
b. 92.4 dB, bagi klakson yang diperuntukkan sepeda motor
kategori M,N dan sepeda motor dengan daya lebih dari
7kW.[5]
II.

METODE

Peralatan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah


Sound Level Meter(SLM) Rion tipe NL-20 merupakan alat
ukur untuk mengukur besarnya SPL, kalibrator untuk
mengkalibrasi alat , tripot untuk meletakkan SLM agar tetap
tegak lurus terhadap bidang, meteran untuk mengukur jarak, 5
motor merk berbeda sebagai sumber bunyi klakson.
Digunakan dua metode pada percobaan kali ini yaitu
mengukur tingkat tekanan bunyi(SPL) pada beberapa klakson
motor,dan mengukur nilai tekanan bunyi pada dua motor
.Langkah kerja yang dilakukan pada percobaan kali ini adalah
pertama disiapkan alat kemudian dikalibrasi alat SLM yang
digunakan untuk percobaan.Kemudian pada percobaan
pertama mengukur nilai SPL pada setiap motor, dilakukan
pengambilan data pada jarak dua meter. Sebelum mengambil
data pada klakson motor, dicatat terlebih dahulu nilai
background noise. Setelah dicatat nilai background noise,
kemudian dinyalakan klakson motor secara terus menerus
sampai data tekanan bunyi yang didapat sebanyak lima kali.
Percobaan ini dilakukan pada jarak 2 meter dan 4 meter
dengan variasi motor yang berbeda. Pada percobaan kedua
yaitu disiapkan dua motor dengan jarak 0 meter dari SLM.
Kemudian sebelum diambil data, dicatat terlebih dahulu nilai
background noise untuk mengetahui tingkat kebisingan suatu
tempat. Setelah diambil nilai background noise, kemudian

JURNAL ELEKTRO AKUSTIK 2015 (1-4)

dinyalakan klakson kedua motor secara bersamaan dan dicatat


nilai yang tertera pada alat SLM. Hal ini dilakukan terhadap
kedua motor yang lain.
III.

94.2
94.4
94
93.9

HASIL DAN PEMBAHASAN

97.7

Data yang diperoleh dari percobaan yang telah dilakukan,


adalah sebagai berikut:
A. Analisa Data
Dari percobaan yang dilakukan,
sebagaimana pada tabel berikut.

didapatkan

data

Tabel 1. Tabel Pengukuran SPL Klakson dengan variasi jarak.


Background Noise

SPL

Jenis Motor

2m

4m

2m

4m

77.22

78.74

Mio Putih

92.38

87.66

78

72.36

84.8

82.72

74.9

76.22

91.1

84.32

76.94

74.94

Mio Merah
Jupiter
Merah
Jupiter
Orange

87.12

86.96

Tabel 2. Tabel Penjumlahan Desibel Klakson Motor Dua


Jupiter
Jenis Motor

SPL
96.4
96.7
97

Jupiter Hitam

97.28

97.1
99.2
85.5
84.5
Jupiter Orange

84.1

84.48

84.3
84
94.3
96
Jupiter Hitam+Jupiter Orange

95.9

95.54

95.7
95.8

Tabel 3. Tabel Penjumlahan Desibel Klakson Dua Motor Mio


Jenis Motor

SPL
94.8
95.9

Mio Merah

95

95.2

94.9
Mio Putih

95.4
93.6

97.6
Mio Merah+Mio Putih

94.02

97.4

97.52

97.6
97.3

B. Perhitungan
Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk percobaan kedua,
yaitu antara SPL pada dua motor Jupiter dan SPL pada dua
motor mio, didapatkan data sebagaimana pada tabel berikut.
Tabel 4. Tabel SPL Penjumlahan Desibel.
Jenis Motor
SPL Pengukuran
95.54
Jupiter
97.52
Mio

SPL Perhitungan
97.28
98.2

C. Pembahasan
Pada percobaan ini, didapatkan data berupa nilai tekanan
bunyi klakson pada empat jenis motor. Untuk motor pertama
dan kedua menggunakan motor jenis mio tahun 2010,
sedangkan untuk motor ketiga menggunakan motor jupiter Z
tahun 2010, dan untuk motor keempat menggunakan motor
jupiter Z tahun 2007. Dari variasi jarak yang telah dilakukan
yaitu sebesar 2 meter dan 4 meter, diperoleh data bahwa
semakin jauh sumber bunyi terhadap alat ukur, maka akan
semakin kecil nilai tekanan bunyi yang ditangkap oleh alat
tersebut. Hal ini berlaku untuk semua jenis motor. Dan pada
data yang telah diperoleh pada percobaan pertama, dapat
dicari tekanan bunyi pada keempat klakson yang masuk dalam
uji kelayakan Standar Nasional Indonesia. Nilai kelayakan
untuk bunyi klakson yang terdapat pada SNI adalah sebesar
86,4 dB bagi motor dengan daya kurang dari 7kW. Digunakan
nilai ini karena keempat motor yang digunakan pada
percobaan, dayanya kurang dari 7kW. Pada motor pertama,
yaitu mio merah nilai tekanan bunyi klaksonnyanya yaitu
sebesar 84,8 dB, untuk motor kedua yaitu mio putih diperoleh
nilai tekanan bunyi klaksonnyanya sebesar 92,38 dB, untuk
motor ketiga yaitu jupiter Z tahun 2010 nilai tekanan bunyi
klaksonnyanya yaitu sebesar 84,32 dan untuk motor keempat
yaitu motor jupiter tahun 2007 nilai tekanan bunyi
klaksonnyanya yaitu sebesar 87,12. Dari keempat data ini
dapat diketahui bahwa nilai SPL klakson motor yang
memenuhi Standard Nasional Indonesia yaitu nilai klakson
motor mio putih tahun 2010 dan motor jupiter tahun 2007.
Intensitas bunyi suatu klakson bergantung pada aki yang
terpasang pada motor tersebut. Pada percobaan ini, diketahui
bahwa motor yang memiliki intensitas bunyi paling besar
yaitu motor mio putih sebesar 92,38 dB kualitas akinya masih
baik karena masih digunakan dua bulan. Sedangkan untuk
nilai intensitas paling rendah yaitu terdapat pada motor jupiter
Z tahun 2010, karena akinya sudah lama digunakan. Untuk
kedua motor yaitu motor mio merah tahun 2010 dan motor

JURNAL ELEKTRO AKUSTIK 2015 (1-4)


jupiter Z tahun 2010 nilai tekanan klaksonnya hanya berbeda
sedikit dari nilai SPL yang telah ditentukan oleh Standar
Nasional Indonesia.
Pada percobaan kedua diperoleh nilai tekanan bunyi
klakson sebesar 95,54 dB untuk dua jupiter yang klaksonnya
dibunyikan secara bersamaan. Hasil percobaan ini berbeda
dengan hasil perhitungan yang diperoleh nilai sebesar 97,28
dB. Peerbedaan ini disebabkan karena pada saat percobaan,
salah satu motor jupiter mengalami penurunan intensitas bunyi
pada klakson ditengah pengambilan data. Selain itu
perbandingan juga dapat diakibatkan oleh background noise
yang berubah pada saat jalannya percobaan. Sedangkan untuk
percobaan penjumlahan desibel pada dua motor mio diperoleh
data SPL sebesar 97,52 dB dan untuk perhitungannya sebesar
98,2 dB. Nilai ini hanya berbeda sedikit dengan nilai
percobaan, hal ini dapat diakibatkan karena perbedaan
background noise pada setiap percobaan berbeda dan akan
mengakibatkan berbedanya nilai pada setiap pengambilan data
dengan sumber yang sama.
IV.

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil


kesimpulan :
1. Semakin jauh jarak sumber maka nilai SPLnya semakin
kecil.
2. Hasil penjumlahan decibel untuk dua motor Jupiter tidak
sesuai antara perhitungan dan percobaan, sedangkan untuk dua
motor mio sesuai dengan perhitungan.

4
3. Nilai SPL klakson yang sesuai dengan kelayakan SNI
adalah pada motor mio tahun 2010 dan motor Jupiter tahun
2007
.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada asisten
percobaan Elektro Akustik yang mau mengarahkan pada saat
praktikum kami. Dan terima kasih kepada teman-teman atas
kerjasamanya dalam melakukan praktikum ini sehingga dapat
terselesaikannya laporan praktikum ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1]

Michaud, D.S.2005.Annoyance in Canada.Noise and Health 7:27, page 3947


[2]
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 48 Tahun 1996.Baku
Tingkat Kebisingan.
[3]
Mediastika.2005.p.48.
[4]
Plant, Malcolm & Stuart, Jan.1985.Pengantar Ilmu Teknik
Instrumentasi.Ignatinus hartono, Penerjemah. Jakarta: PT. Gramedia
[5]
Parmeggiani, Luigi.1983.Encyclopedia of Occupational Health and Safety
third edition.Geneva: International Labour Organization.
[6]
Doelle, Leslie L. oleh Prasetio.1993.Akustik Lingkungan.ITS.Jakarta:
Penerbit Erlangga.
[7]
Canter, Larry W.2005.Environmental Impact Assesment.Mc Graw Hill Book
Company.