Anda di halaman 1dari 353

KSSPN

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN
MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

KATA SAMBUTAN

Perkembangan penduduk perkotaan Indonesia yang cukup tajam dalam


beberapa dekade belakangan ini perlu diantisipasi dan memerlukan
respon yang serius. Porsi penduduk yang tinggal di perkotaan kita
diperkirakan akan mencapai 67,7 persen pada Tahun 2025, bahkan
dapat mencapai 85 persen pada Tahun 2050.Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 (UU No. 17 Tahun 2007)
sebenarnya telah memuat arah dan kebijakan pembangunan perkotaan
nasional secara umum untuk jangka panjang hingga tahun 2025.
Demikian juga telah ada beberapa peraturan perundangan-undangan
lainnya yang menunjang seperti UU No. 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang serta turunannya yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No.
26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN) di mana telah ditetapkan sistem perkotaan nasional.
Pembangunan perkotaan kita ke depan memiliki berbagai permasalahan
dan tantangan baik lokal, nasional, maupun global, yang perlu segera
direspon dengan suatu tatanan kebijakan dan strategi yang komprehensif
sehingga pada akhirnya nanti kota-kota kita dapat berfungsi baik sebagai
tempat bermukimnya manusia dengan nyaman dan sesuai dengan
prinsip-prinsip lingkungan hidup juga berfungsi sebagai pusat penggerak
perekonomian wilayah maupun nasional.
Untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan itulah Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mengkoordinasikan
seluruh pelaku pembangunan perkotaan, baik unsur Pemerintah Pusat,
pemerintah daerah, para akademisi, pakar perkotaan, dan LSM, untuk
menyusun Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional
(KSPPN).KSPPN ini sangat diperlukan dan sudah mendesak
keberadaannya untuk menyelesaikan permasalahan dan menghadapi

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

ii

KSSPN

tantangan tersebut, sekaligus


undangan yang sudah ada.

melengkapi

peraturan

perundang-

Saya berharap KSPPN ini dapat menjadi acuan bagi para perencana
pembangunan dan pengelolaan perkotaan di pusat dan daerah, menjadi
instrumen sinkronisasi baik dalam perencanaan program dan kegiatan
Kementerian/Lembaga dan pemerintahan daerah (Gubernur, Bupati, dan
Walikota) maupun dalam sinkronisasi regulasi dan kebijakan terkait
pembangunan perkotaan.
Terima kasih atas jerih-payah semua pihak dalam menyiapkan KSPPN
ini. Kiranya bermanfaat bagi kejayaan nusa dan bangsa kita.

Jakarta,

Mei 2015

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas

Andrinof Chaniago

iii

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

KATA PENGANTAR
DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN REGIONAL DAN OTONOMI
DAERAH
SELAKU
KETUA TIM PENGARAH TIM KOORDINASI PEMBANGUNAN
PERKOTAAN NASIONAL
(TKPPN)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional


(KSPPN) ini disusun dan dikoordinasikan oleh Tim Koordinasi
Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN) dengan melibatkan berbagai
pemangku kepentingan yang terkait dengan pembangunan perkotaan,
yaitu unsur-unsur pemerintah pusat (kementerian dan lembaga nonkementerian), pemerintah daerah, para akademisi, dan pakar perkotaan,
wakil-wakildunia usaha dan lembaga masyarakat.
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan (KSPPN)
merupakan
respons
terhadap
permasalahan
dan
tantangan
pembangunan perkotaan di Indonesia saat ini dengan memberikan
arahan pembangunan perkotaan yang berorientasi pada kebutuhan
manusia (warga kota) dari aspek fisik, sosial, dan ekonomi; serta
kebutuhan kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal, regional,
nasional maupun global. Kota-kota Indonesia ke depan adalah kota-kota
yang layak huni untuk tempat bermukim, kota yang hijau dan mampu
mengantisipasi perubahan iklim dan bencana, serta kota yang berdaya
saing berbasis teknologi komunikasi dan informasi (ICT), sesuai dengan
karakter geografis, sosial, dan budaya Indonesia yang sangat beragam
dari Sumatera hingga Papua. Selain itu, kota-kota Indonesia ke depan
juga dimaksudkan sebagai sentra pertumbuhan ekonomi, dan untuk
menyelesaikan masalah kesenjangan antar kota wilayah Jawa dan luar
Jawa, serta antara kawasan perkotaan dan perdesaan.
Dalam menetapkan sasarannya, KSPPN menetapkan tahapan
dan kebijakan pembangunan kota-kota berdasarkan tipologi megapolitan,
metropolitan dan kota besar, serta kota sedang dan kota kecil, termasuk
kawasan perkotaan, sebagai upaya penjabaran Undang-Undang No. 17
Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2005-2025yang telah memuat arah dan kebijakan
pembangunan perkotaan secara umum.
KSPPN ini disusun untuk rentang waktu 30 tahun dari Tahun 2015
hingga 2045 dan segera akan ditetapkan dalam bentuk peraturan.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

iv

KSSPN

KSPPN ini merupakan dokumen strategis dan grand strategy


pembangunan perkotaan Indonesia, yang akan menjadi acuan dalam
penyusunan dan sinkronisasi perencanaan RPJMN dan Renstra
Kementerian/Lembaga secara nasional. Selanjutnya dokumen ini juga
diharapkan dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai grand strategy
pembangunan perkotaan di daerah, serta menjadi acuan bagi
penyusunan RPJPD, RPJMD dan Renstra SKPD dalam pembangunan
perkotaan.
Setiap kebutuhan informasi dan pertanyaan lebih lanjut mengenai
KSPPN ini, dapat dialamatkan kepada:
Direktur Perkotaan dan Perdesaan
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS
Jalan Taman Suropati No. 2, Gedung Madiun Lantai 4, Jakarta 10310
Telp./Faks. (021) 3905643 E-mail: hparasati@bappenas.go.id;
perkotdes@bappenas.go.id

Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dan turut
berjerih-payah dalam penyusunan KSPPN ini.
Jakarta,

Mei 2015

Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Bappenas


Selaku Ketua Tim Pengarah Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan
Nasional

Dr. Ir. Imron Bulkin, MRP

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

Daftar Isi

Kata Sambutan ...........................................................................


Kata Pengantar ..........................................................................
Daftar Isi .....................................................................................
Daftar Tabel ................................................................................
Daftar Gambar ............................................................................
Daftar Istilah ...............................................................................
Daftar Singkatan .........................................................................
Daftar Pustaka ............................................................................

ii
iv
vi
x
xii
xviii
xxii
xxvi

Bab 1
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5

Pendahuluan ..................................................................
Latar Belakang ................................................................
Tujuan dan Sasaran ........................................................
Jangka Waktu..................................................................
Kedudukan ......................................................................
Sistematika Penyajian .....................................................

1
2
12
13
13
13

Bab 2 Gambaran Umum Perkotaan Indonesia .......................


2.1
Definisi Kota dan Kawasan Perkotaan di Indonesia .........
2.1.1 Definisi Kota dan Perkotaan ...................................
2.1.2 Definisi Kawasan Perkotaan ...................................
2.1.3 Tipologi Perkotaan .................................................
2.1.4 Klasifikasi Daerah Perkotaan..................................
2.2 Perkembangan Pembangunan Perkotaan di Indonesia .....
2.2.1 Perkembangan Program Perkotaan .......................
2.2.2 Tingkat Kecenderungan Perkembangan Kawasan
Perkotaan ...............................................................
2.2.3 Proyeksi Penduduk Perkotaan ...............................
2.2.4 Kecenderungan Kawasan Perkotaan
Metropolitan dan Megapolitan ................................
2.3
Permasalahan Pengelolaan Perkotaan di Indonesia........
2.4
Isu Strategis Pembangunan Perkotaan ...........................
2.4.1 Isu Nasional dalam Pembangunan Perkotaan ........
2.4.2 Isu Umum Pembangunan Perkotaan di Indonesia ..
2.4.3 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan
Metropolitan dan Megapolitan
Jabodetabekjur .......................................................
2.4.4 Isu Spesifik Pembangunan Kota Sedang,
Kota Kecil dan Kawasan Perkotaan........................

17
18
18
19
20
23
24
24
26
30
33
34
36
36
48

86
92

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

vi

KSSPN

2.5

2.6
2.7

2.4.5 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan


Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota
Strategis .................................................................
Tantangan Pembangunan Perkotaan ..............................
2.5.1 Urbanisasi ..............................................................
2.5.2 Persaingan Global ..................................................
2.5.3 Desentralisasi dan Demokratisasi ..........................
Potensi Pengembangan Perkotaan .................................
Peluang Pengembangan Perkotaan ................................

Bab 3 Visi, Misi dan Sasaran Pembangunan


Perkotaan Nasional .......................................................
3.1
Konsepsi Dasar Pembangunan Perkotaan Nasional .......
3.2
Prinsip Dasar ...................................................................
3.3
Visi dan Misi ....................................................................
3.4
Sasaran ...........................................................................
3.4.1 Indeks Kota Berkelanjutan: Dasar Penetapan
Pembangunan Kota Berkelanjutan .........................
3.4.2 Sasaran Pembangunan Kota Berkelanjutan ...........
3.4.3 Sasaran Pembangunan Kota Berkelanjutan
Dalam Tipologi Kota ...............................................
Bab 4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan
Perkotaan Nasional .......................................................
4.1
Misi, Sasaran, dan Kebijakan Kota 2015 - 2045 ..............
4.2
Kebijakan dan Strategi Perkotaan Nasional .....................
4.2.1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan
Perkotaan Tingkat Nasional ...................................
4.2.2 Kebijakan Prioritas Kawasan Megapolitan,
Kota Metropolitan dan Kota Besar ..........................
4.2.3 Kebijakan Prioritas Kota Sedang dan Kota
Kecil .......................................................................
4.2.4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan
Perkotaan Spesifik Wilayah Pulau Besar dan
Kota-kota Strategis .................................................
Bab 5 Kerangka Kelembagaan Perkotaan ..............................
5.1
Permasalahan dan Tantangan ........................................
5.1.1 Kelembagaan Perkotaan di Tingkat Pusat ..............
5.1.2 Kelembagaan Perkotaan di Tingkat Provinsi
dan Kabupaten Kota...............................................
5.1.3 Kelembagaan Perkotaan Pengelolaan
Kawasan Perkotaan ...............................................
5.2
Asumsi ............................................................................
5.3
Fokus Kebijakan ..............................................................

vii

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

93
110
110
111
112
113
114
117
118
125
126
130
131
141
148
159
160
164
164
186
187

188
209
210
210
212
216
218
219

Kebijakan dan Strategi Kelembagan Perkotaan...............


Bentuk Kelembagaan Perkotaan .....................................
5.5.1 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di
Tingkat Pusat .........................................................
5.5.2 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di
Tingkat Provinsi ......................................................
5.5.3 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di
Tingkat Kabupaten/Kota .........................................
5.5.4 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di
Kawasan Perkotaan ...............................................
5.5.5 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di
Sektor Prioritas .......................................................
Hubungan Kelembagaan Pembangunan Perkotaan ........
Peran Serta .....................................................................
5.7.1 Peran DPR dan DPRD ...........................................
5.7.2 Peran Swasta .........................................................
5.7.3 Peran Masyarakat ..................................................

219
221

Bab 6 Kerangka Pembiayaan Perkotaan ................................


6.1
Gambaran Umum ............................................................
6.2
Permasalahan dan Tantangan Pembiayaan Infrastruktur
Perkotaan ........................................................................
6.3
Sumber, Jenis, dan Karakteristik Pembiayaan.................
6.3.1 Sumber Pembiayaan ..............................................
6.3.2 Jenis Pembiayaan ..................................................
6.3.3 Karakteristik Pembiayaan .......................................
6.4
Pembiayaan Perkotaan di Masa Depan...........................
6.5
Pembentukan Lembaga Terkait Infrastruktur Perkotaan ..
6.5.1 Lembaga Fasilitasi Penyiapan Proyek
Daerah (Local Project Development
Facilities LPDF) ...................................................
6.5.2 Municipal Development Fund .................................
6.5.3 Financial Intermediary ............................................

249
250

Bab 7 Kerangka Regulasi Perkotaan ......................................


7.1
Peraturan di Tingkat Undang-Undang .............................
7.2
Peraturan di Tingkat Peraturan Pemerintah .....................
7.2.1 Peraturan Pemerintah tentang Sistem
Perkotaan Nasional (SPN) .....................................
7.2.2 Peraturan Pemerintah tentang Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP) ...................................
7.3
Peraturan di Tingkat Peraturan Presiden .........................
7.3.1 Peraturan Presiden tentang KSPPN .......................

287
288
292

5.6
5.7

222

KSPPN

5.4
5.5

228
231
233
238
240
242
242
242
243

252
255
255
256
260
262
265

265
269
275

292
292
294
294

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

viii

KSSPN

7.4

7.5

Bab 8
8.1
8.2
8.3
8.4
8.5
8.6
8.7
8.8

ix

7.3.2 Peraturan Presiden tentang Pembentukan


Lembaga Pembiayaan Pembangunan
Infrastruktur Perkotaan ...........................................
Peraturan di Tingkat Peraturan Menteri ...........................
7.4.1 Peraturan Menteri tentang Mekanisme
Pengembangan Kota Hijau, Kota lyak Huni
dan Kota Cerdas, dan Kota Berdaya Saing ............
7.4.2 Peraturan Menteri tentang Ketahanan Kota
Terhadap Bencana Alam dan Perubahan
Iklim........................................................................
7.4.3 Peraturan Menteri tentang Sistem Angkutan
Massal, Transportasi Antar Moda, dan
Transit Oriented Development (TOD) .....................
7.4.4 Peraturan Menteri tentang Kerjasama
Perkotaan ...............................................................
7.4.5 Peraturan Menteri tentang Mekanisme
Insentif dan Disentif Penyelenggaraan
Perkotaan ...............................................................
Roadmap Penyusunan Peraturan Perundangan Bidang
Perkotaan ........................................................................

Mekanisme Pelaksanaan KSPPN .................................


Penjabaran KSPPN .........................................................
Pelaksanaan KSPPN.......................................................
Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional
(SPN) ..............................................................................
Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan ...............
Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni .......................
Mekanisme Perwujudan Kota Hijau .................................
Mekanisme Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing
........................................................................................
Mekanisme Peningkatan Tata Kelola Dan Kelembagaan
Pemerintah ......................................................................

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

295
296

296

297

298
300

301
302

305
306
307
308
310
312
314
315
317

KSPPN

Daftar Tabel

Tabel 2. 1 Kawasan Perkotaan Metropolitan dan


Megapolitan .......................................................... 33
Tabel 2. 2 Daya Saing Kota-Kota Metropolitan di
Indonesia Tahun 2012 -2013 ................................ 39
Tabel 2. 3 Ketimpangan Akses Rumah Tangga
Terhadap Infrastruktur Berdasarkan Tipologi
Kota Tahun 2010 .................................................. 44
Tabel 2. 4 Jumlah Kota Berdasarkan Indeks Rawan
Bencana Tahun 2011 ........................................... 47
Tabel 2. 5 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
Menurut Daerah Maret 2012 dan September
2012 ..................................................................... 50
Tabel 2. 6 Nilai Tata Kelola Ekonomi Kota Tahun 2011 ......... 83
Tabel 2. 7 Kondisi Angkutan Umum Masal Tahun 2009
(Bus Rapid Transit) ............................................... 89
Tabel 2. 8 Isu Strategis Pembangunan Perkotaan
Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota Stratgeis..... 109
Tabel 3. 1 Posisi Kota Jakarta terhadap Kota Lain di Asia
dalam Indeks Kota Layak Huni di Dunia Asia...... 121
Tabel 3. 2 Posisi Kota Jakarta dalam Indeks Kota Hijau
di ........................................................................ 123
Tabel 3. 3 Peringkat Daya Saing Indonesia dan Negara
ASEAN di Tingkat Global .................................... 124
Tabel 4. 1 Perwujudan Kota Berkelanjutan 2045 ................. 161
Tabel 5. 2 Struktur Kelembagaan KP3P .............................. 228
Tabel 5. 3 Struktur Kelembagaan KP3K .............................. 231
Tabel 5. 4 Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan
Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan
dalam Satu Provinsi ............................................ 234
Tabel 5. 5 Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan
Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan
Antar Provinsi ..................................................... 236
Tabel 5. 6 Struktur Kelembagaan SKPD Kewilayahan
Pengelola Kawasan Perkotaan Besar ................. 237
Tabel 5. 7 Kebijakan dan Strategi Kelembagaan
Perkotaan ........................................................... 243
Tabel 6. 1 Arah Kerangka Awal Pembiayaan
Pembangunan Perkotaan ................................... 273
Tabel 6. 2 Kebijakan dan Strategi Pembiayaan
Perkotaan ........................................................... 278
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

KSSPN

Tabel 7.1 Roadmap Penyusunan Peraturan


Perundangan Bidang Perkotaan 2015-2019 ....... 302
Tabel 8. 1 Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan
Nasional (SPN) ................................................... 309
Tabel 8. 2 Mekanisme Pemenuhan Pelayanan
Perkotaan ........................................................... 311
Tabel 8. 3 Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni........... 313
Tabel 8. 4 Mekanisme Perwujudan Kota Hijau .................... 315
Tabel 8. 5 Mekanisme Perwujudan Kota Cerdas dan
Berdaya Saing .................................................... 316
Tabel 8. 6 Mekanisme Peningkatan Tata Kelola dan
kelembagaan Pemerintah ................................... 319

xi

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

Daftar Gambar

Gambar 1. 1 Populasi Penduduk Perkotaan dan


Pedesaan di Dunia Tahun 1950 2050 ............. 2
Gambar 1. 2 Populasi Penduduk Perkotaan dan
Perdesaan di Indonesia Tahun 2005 - 2045 ....... 7
Gambar 1. 3 Perkembangan Jumlah Kota di Indonesia
Tahun 1950 2012 ............................................ 8
Gambar 1. 4 Perbandingan Kontribusi PDRB Kota-kota di
Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan
Timur Indonesia ................................................. 9
Gambar 2. 1 Persentase Persebaran Kota di Indonesia
Berdasarkan Kepulauan Sampai Tahun
2012 ................................................................. 27
Gambar 2. 2 Perkembangan Jumlah Kota di Indonesia
Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011 ......... 28
Gambar 2. 3 Sebaran Penduduk yang Tinggal di
Kawasan Perkotaan Tahun 2011 Menurut
Kabupaten/Kota (Kondisi Eksisting) ................. 29
Gambar 2. 4 Proyeksi Persentase Penduduk yang Tinggal
di Perkotaan menurut Nasional Tahun 20052045 ................................................................. 31
Gambar 2. 5 Proyeksi Persentase Penduduk Menurut
Tipologi Kota Tahun 2011-2045 ....................... 32
Gambar 2. 6 Proyeksi Persentase Jumlah Kota Menurut
Tipologi Kota Tahun 2011-2050 ....................... 32
Gambar 2. 7 Persentase Kontribusi PDRB Kota terhadap
Nasional Menurut Tipologi Kota Tahun 20052010 ................................................................. 37
Gambar 2. 8 Kontribusi PDRB Kota Berdasarkan Peran
Kota terhadap Perekonomian Nasional ............ 38
Gambar 2. 9 Persentase Jumlah Penduduk Bekerja
Menurut Tipologi Kota Tahun 2007-2011 ......... 40
Gambar 2. 10 Perbandingan Nilai Produk Regional Bruto
Kota Indonesia Bagian Barat dan Kota
Indonesia Bagian Timur ................................... 41
Gambar 2. 11 Ketimpangan Pembangunan Ekonomi
(Indeks Williamson) Antar Kota Berdasarkan
Peran Kota di KBI-KTI ...................................... 42
Gambar 2. 12 Persentase PDRB Berdasarkan Tipologi
Kota terhadap Perekonomian Tahun 20052010 ................................................................. 43
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

xii

KSSPN

xiii

Gambar 2. 13 Penduduk Miskin Kota-Desa Menurut Pulau


(Maret 2012) .................................................... 44
Gambar 2. 14 Perbandingan PDRB Kabupaten dan PDRB
Kota Tahun 2000-2011 .................................... 45
Gambar 2. 15 Frekuensi Terjadinya Bencana di Indonesia
Tahun 1815-2011 ............................................. 46
Gambar 2. 16 Jumlah Korban Meninggal Berdasarkan
Jenis Bencana Tahun 1815-2011..................... 47
Gambar 2. 17 Sebaran Kejadian Bencana per
Kabupaten/Kota Tahun 1815-2012 .................. 47
Gambar 2. 18 Perkembangan Persentase Kemiskinan di
Indonesia Tahun 2004-2012 ............................ 49
Gambar 2. 19 Penduduk Miskin Menurut Tipologi Kota
Tahun 2005-2010 ............................................. 51
Gambar 2. 20 Jumlah Tindak Pidana Tingkat Nasional .......... 52
Gambar 2. 21 Jumlah Kelurahan yang Mengalami Tindak
Pidana Pencurian Perampokan, dan
Penjarahan Menurut Tipologi Kota Tahun
2006, 2008, 2011 ............................................. 52
Gambar 2. 22 Penduduk yang Bekerja di Perkotaan
Menurut Pendidikan ......................................... 53
Gambar 2. 23 Jumlah Pengangguran Terbuka Menurut
Tipologi Kota Tahun 2008-2011 ....................... 54
Gambar 2. 24 Jumlah Penyandang Cacat yang Bertempat
Tinggal di Kota Menurut Tipologi Kota Tahun
2006-2011 ........................................................ 55
Gambar 2. 25 Jumlah Penduduk yang Pernah Mangalami
Sakit Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis
Penyakit Tahun 2008-2011 (1) ......................... 56
Gambar 2. 26 Jumlah Penduduk yang Pernah Mangalami
Sakit Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis
Penyakit Tahun 2008-2011 (2) ......................... 56
Gambar 2. 27 Kontribusi UMKM Nasional Tahun 20062010 ................................................................. 58
Gambar 2. 28 Persentase Rumah Tangga Menurut Status
Kepemilikan Rumah Tahun 2010 ..................... 59
Gambar 2. 29 Jenis Lantai Terluas dari Tempat Tinggal
Rumah Tangga Menurut Tipologi Kota ............. 59
Gambar 2. 30 Jumlah Bangunan Rumah di Bantaran
Sungai Tahun 2006-2011 ................................. 60
Gambar 2. 31 Jumlah Keluarga Pengguna Listrik pada
Tahun 2006-2011 ............................................. 61
Gambar 2. 32 Sumber Penerangan Utama Tempat Tinggal
Menurut Tipologi Kota Pada Tahun 2010 ......... 62

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

Gambar 2. 33 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki


Telepon Kabel Menurut Tipologi Kota Tahun
2006-2011 ........................................................ 63
Gambar 2. 34 Jumlah Rumah Tangga yang Memiliki Akses
Terhadap Sarana Prasarana Telekomunikasi
Menurut Tipologi Kota Tahun 2010 .................. 64
Gambar 2. 35 Keberadaan Sinyal Telepon Genggam di
Kota Menurut Tipologi KotaTahun 20062011 ................................................................. 64
Gambar 2. 36 Akses Rumah Tangga Terhadap Internet
Menurut Tipologi Kota Hasil Sensus
Penduduk Tahun 2010 ..................................... 65
Gambar 2. 37 Proporsi Rumah Tangga dengan Akses
Terhadap Air Minum Layak Berdasarkan
Perkotaan dan Perdesaan Tahun 1993-2009 ... 66
Gambar 2. 38 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar
Masyarakat Kelurahan ..................................... 67
Gambar 2. 39 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar
Masyarakat Kelurahan Tahun 2006-2011 ........ 67
Gambar 2. 40 Persentase Akses Rumah Tangga Terhadap
Sarana Prasarana Sanitasi Menurut Tipologi
Kota Tahun 2010 ............................................. 68
Gambar 2. 41 Persentase Rumah Tangga Terhadap Status
Kepemilikan Prasarana Sanitasi Tahun 2010 ... 69
Gambar 2. 42 Inventarisasi Penguasaan,
Pemilikan,Pemanfaatan
Dan Penggunaan Tanah (P4T) ........................ 71
Gambar 2. 43 Rata-Rata Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
Menurut Tipologi Kota Tahun 2008 .................. 73
Gambar 2. 44 Sebaran Konsentrasi Rata-Rata NO2 dan
SO2 di 248 Kota/Kabupaten Indonesia ............ 73
Gambar 2. 45 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor
Transportasi Tahun 2011 ................................. 74
Gambar 2. 46 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor
Permukiman Tahun 2011 ................................. 75
Gambar 2. 47 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor
Komersial Tahun 2011 ..................................... 75
Gambar 2. 48 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor
Industri Tahun 2011 ......................................... 76
Gambar 2. 49 Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi di
Indonesia ......................................................... 77
Gambar 2. 50 Ancaman Bencana Gunung Api di Indonesia ... 77
Gambar 2. 51 Banyaknya Bencana Alam yang Terjadi
Menurut Tipologi Kota ...................................... 78

xiv

KSSPN

Gambar 2. 52 Perbandingan Trend konsentrasi CO2 Tahun


2004-2012 ........................................................ 79
Gambar 2. 53 Pola Curah Hujan bulanan di Denpasar
Januari 1979 - Desember 2010 ........................ 79
Gambar 2. 54 Permasalahan Tata Kelola dan
Kelembagaan Pembangunan Kota dan
Kawasan Perkotaan ......................................... 81
Gambar 2. 55 Rata-Rata Nilai Tata Kelola Ekonomi Daerah
Menurut Tipologi Kota Tahun 2011 .................. 83
Gambar 2. 56 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota
Berdasarkan Aspek (1) .................................... 84
Gambar 2. 57 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota
Berdasarkan Aspek (2) .................................... 85
Gambar 2. 58 Rekapitulasi Penindakan Pidana Korupsi per
28 Februari 2013 .............................................. 85
Gambar 2. 59 Perkembangan Kawasan Perkotaan di
Jabodetabek Tahun 1992-2005........................ 87
Gambar 2. 60 Perubahan Moda Transportasi Penduduk
Jabodetabek Tahun 2002-2010........................ 88
Gambar 2. 61 Pertumbuhan Kendaraan dan Luas Jalan di
Kota Jakarta ..................................................... 89
Gambar 2. 62 Bentuk Struktur Organisasi BKSP
Jabodetabekjur ................................................ 91
Gambar 3. 1 Kerangka Pembangunan Perkotaan
Nasional Indonesia......................................... 130
Gambar 3. 2 Rata-Rata Capaian Aspek SPN Menurut
Wilayah Kepulauan ........................................ 134
Gambar 3.3 Rata-Rata Capaian Aspek Sosial Budaya
Berdasarkan Tipologi Kota ............................. 135
Gambar 3. 4 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks
Ekonomi ......................................................... 137
Gambar 3. 5 Rata-Rata Capaian Aspek Lingkungan
Berdasarkan Tipologi Kota ............................. 139
Gambar 3. 6 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks
Lingkungan .................................................... 139
Gambar 3. 7 Rata-Rata Capaian Aspek Tata Kelola
Perkotaan Berdasarkan Wilayah Kepulauan .. 141
Gambar 3. 8 Tahapan Pencapaian Perwujudan
Pelayanan Perkotaan Nasional ...................... 142
Gambar 3. 9 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap)
Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional ........ 145
Gambar 3.10 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap)
Peningkatan Tata Kelola dan Kelembagaan
PemerintahTahun 2015 2045 ...................... 147

xv

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

Gambar 3. 11 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap)


Perwujudan Pelayanan Kawasan/Kota
Megapolitan Tahun 2015 2045 ..................... 149
Gambar 3. 12 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap)
Perwujudan Pelayanan Kota Metropolitan
Tahun 2015 - 2045 ......................................... 151
Gambar 3. 13 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap)
Perwujudan Pelayanan Kota Besar Tahun
2015 2045 ................................................... 153
Gambar 3. 14 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap)
Perwujudan Pelayanan Kota Sedang Tahun
2015 2045 ................................................... 155
Gambar 3. 15 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap)
Perwujudan Pelayanan Kota Kecil Tahun
2015 2045 ................................................... 157
Gambar 5. 1 Roadmap Pengembangan Kelembagaan
Perkotaan ..................................................... 221
Gambar 5. 2 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan
Nasional ......................................................... 222
Gambar 5. 3 Struktur Komite Percepatan Pembangunan
Perkotaan Nasional (KP3N) ........................... 226
Gambar 5. 4 Struktur Komite Percepatan Pembangunan
Perkotaan Provinsi (KP3P)............................. 228
Gambar 5. 5 Struktur Komite Percepatan Pembangunan
Perkotaan Kabupaten/Kota (KP3K) ................ 230
Gambar 5. 6 Struktur Badan Otoritas Sektor Prioritas
Pembangunan Perkotaan............................... 239
Gambar 5. 7 Hubungan Kelembagaan Pembangunan
Perkotaan di Tingkat Pusat, Provinsi dan
Kabupaten/Kota ............................................. 241
Gambar 5. 8 Hubungan Kelembagaan dan Peranan
Stakeholders Non Pemerintah ....................... 241
Gambar 6. 1 Sumber Pembiayaan Pembangunan
Perkotaan ...................................................... 256
Gambar 6. 2 Jenis Pembiayaan Pembangunan Perkotaan . 260
Gambar 6. 3 Roadmap Pembentukan Lembaga PDF di
Indonesia ....................................................... 268
Gambar 7. 1 Kedudukan Undang-Undang tentang
Perkotaan ...................................................... 303

xvi

KSSPN

Daftar Istilah

1. Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang


mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan
perundangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan watak
dan ciri kehidupan perkotaan.
2. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang secara aktual dan potensial
mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan
distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan
kegiatan ekonomi; yang penetapannya mempertimbangkan baik
aspek administratif maupun fungsional, serta membutuhkan
pengelolaan secara terintegrasi antar sektor baik dalam daerah
otonom maupunantar daerah otonom.
3. Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
4. Kota metropolitan adalah kota otonom yang ditetapkan dengan
kriteria jumlah penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) sampai
dengan 10.000.000 (sepuluh juta) jiwa.
5. Kota besar adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria
jumlah penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu) sampai dengan
1.000.000 (satu juta) jiwa.
6. Kota sedang adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria
jumlah penduduk lebih dari 100.000 (seratus ribu) sampai dengan
500.000 (lima ratus ribu) jiwa.
7. Kota kecil adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah
penduduk kurang dari 100.000 (seratus ribu) jiwa.
8. Kawasan megapolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas
sebuah kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling
memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan sistem
jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah
penduduk secara keseluruhan paling sedikit 10.000.000 (sepuluh juta)
jiwa.
9. Kota laya khuni adalah Kota yang dapat memenuhi berbagai macam
kebutuhan hidup warganya sehingga dapat mencapai kesejahteraan
dengan lebih mudah, serta tetap mampu manjaga kualitas
lingkungan.

xvii

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

10. Kota hijau adalah kota yang dibangun dengan tidak mengorbankan
asetnya, melainkan terus memupuk sumber daya alam, lingkungan,
dan kualitas prasarana kota untuk menjawab isu perubahan iklim
melalui tindakan mitigasi, adaptasi dan pemulihan.
11. Kota cerdas dan berdayasaing adalah kota yang mampu
menggunakan SDM, modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi
modern (ICT) untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan
dan kualitas kehidupan tinggi, dengan manajemen sumber daya yang
bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat.
12. Kota berkelanjutan adalah kota sebagai entitas sosial spasial dan
keseimbangan antara masa kini dan masa depan merupakan faktor
penting untuk menjamin adanya keberlanjutan dalam pemanfaatan
sumber daya alam yang tersedia, tanpa mengurangi peluang generasi
yang akan datang untuk menikmati kondisi yang sama.
13. Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan
Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
14. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan
oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem
dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945
15. Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah
16. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia
17. Pusat Kegiatan Global yang selanjutnyadisebut PKG adalah Pusat
Kegiatan Global adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat
kegiatan yang mampu melayani lintas negara dalam skala regional
(ASEAN) maupun global.
18. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah Pusat
Kegiatan Nasional adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat
kegiatan yang mampu melayani lintas provinsi dalam skala nasional.
19. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah Pusat
Kegiatan Wilayah adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat
kegiatan yang mampu melayani lintas kabupaten/kota dalam provinsi
maupun antar provinsi yang berdekatan.
20. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah Pusat
Kegiatan Lokal adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat
kegiatan yang mampu melayani
wilayah-wilayah disekitarnya
maupun lintas kabupaten/kota yang berdekatan.

xviii

KSSPN

xix

21. Penghubung Desa-Kota yang selanjutnya disebut PKD adalah tugas


yang diemban kawasan perkotaan yang menghubungkan antara kota
kecil/pusat pertumbuhan/pasar dengan desa sebagai pusat produksi.
22. Standar Pelayanan Perkotaan yang selanjutnya disebut SPP adalah
standar mutu pelayanan dasar perkotaan yang merupakan urusan
wajib daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
kehidupan sosial ekonomi dan pemerintahan.
23. Kelembagaan adalah sekumpulan jaringan dan relasi sosial yg
melibatkan orang, memiliki tujuan tertentu, memiliki norma, serta
memiliki struktur
24. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

xx

KSSPN

xxi

Daftar Singkatan
ADB
ALKI
APBD

:
:
:

APBN
BKSP
BKSPAD
BLU
BRT
BUMN
DED
FI
FP3
FS
IBRD

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

IKB
KAD
KBI
KEK
KP3K

:
:
:
:
:

KP3N

KP3P
KPBPB
KPPN
KPRP
KPS
KSN
KSPPD

:
:
:
:
:
:
:

KSPPN

KTI

Asian Development Bank


Alur Laut Kegiatan Internasional
Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah
Daerah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Badan Kerjasama Pembangunan
Badan Kerja Sama Pembangunan Antar Daerah
Badan Layanan Umum
Bus Rapid Transport
Badan Usaha Milik Negara
Detailed Engineering Design
Financial Intermediary
Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan
Feasibility Study
International Bank for Reconstruction and
Development
Indeks Kota Berkelanjutan
Kerjasama Antar Daerah
Kawasan Barat Indonesia
Kawasan Ekonomi Khusus
Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan
Kabupaten/Kota
Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan
Nasional
Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas
Komite Pembangunan Perkotaan Nasional
Komite Pembangunan Perkotaan Region Pulau
Kerjasama Pemerintah Swasta
Kawasan Strategis Nasional
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Daerah
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional
Kawasan Timur Indonesia

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Local Development Funds


Local Project Development Facilities
Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Municipal Development Fund
Mass Rapid Transport
Norma Standar Pedoman dan Kriteria
National Urban Development Strategy
Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu
Pendapatan Asli Daerah
Produk Domestik Bruto
Project Development Facility
Produk Domestik Regional Bruto
Pre-Feasibility Study
Pembangunan Jangka Panjang
Pusat Kegiatan Global
Pusat Kegiatan Lokal
Pusat Kegiatan Nasional
Pusat Kegiatan Strategis Nasional
Pusat Kegiatan Wilayah
Penanaman Modal Asing
Penanaman Modal Dalam Negeri
Ruang Terbuka Hijau
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Sumber Daya Manusia
Satuan Kerja Perangkat Daerah
Subsidiary Loan Agreement
Sistem Penyediaan Air Minum
Standar Pelayanan Minimum
Sistem Perkotaan Nasional
Standar Pelayanan Perkotaan
Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Daerah
Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional
Transit Oriented Development
Urban Development Project
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
United Nations Development Programme

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

LDF
LPDF
MBR
MDF
MRT
NSPK
NUDS
P3KT
PAD
PDB
PDF
PDRB
PFS
PJP
PKG
PKL
PKN
PKSN
PKW
PMA
PMDN
RTH
RTRWN
SDM
SKPD
SLA
SPAM
SPM
SPN
SPP
TKPPD
TKPPN
TOD
UDP
UMKM
UNDP

xxii

BAB 1

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

PENDAHULUAN

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Urbanisasi, sebagai bentuk migrasi internal penduduk dari perdesaan ke


perkotaan, telah terjadi di seluruh belahan dunia. Menurut data dari
United Nations (2009), sejarah mencatat bahwa pada Tahun 1800 hanya
3% penduduk dunia tinggal di perkotaan, namun angka tersebut
meningkat pesat menjadi hampir 14% pada Tahun 1900.. Urbanisasi
terjadi semakin cepat dengan indikasi pada Tahun 2009, terdapat 47%
dari penduduk dunia tinggal di perkotaan atau mencapai 3,42 Milyar juta
penduduk. Menurut perkiraan, angka urbanisasi tersebut akan meningkat
menjadi 60% pada Tahun 2050 atau sekitar 6,29 Milyar penduduk yang
terkonsentrasi tinggal di perkotaan. Hasil proyeksi juga menunjukkan
urbanisasi pada masa mendatang paling tinggi akan terjadi di negaranegara berkembang. Secara rinci data mengenai perkembangan
urbanisasi yang menunjukkan populasi penduduk yang tinggal di
perkotaan dan perdesaan di negara maju dan berkembang dapat dilihat
pada Gambar 1.1 di bawah ini.
Gambar 1. 1 Populasi Penduduk Perkotaan dan Pedesaan di Dunia
Tahun 1950 2050

Sumber: United Nations, 2009

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

Selain laju pertumbuhan penduduk perkotaan yang terjadi secara


alamiah, meningkatnya arus urbanisasi di perkotaan juga disebabkan
oleh faktor kebijakan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Kebijakan pembangunan yang lebih diarahkan pada wilayah-wilayah
tertentu menyebabkan terjadinya wilayah-wilayah tersebut lebih maju
dibandingkan wilayah-wilayah lainnya yang pada akhirnya mengaikbatkan
terjadinya ketimpangan antar wilayah. Dengan berkembangnya wilayahwilayah yang menjadi orientasi dari kebijakan pembangunan pemerintah,
maka wilayah-wilayah tersebut juga semakin lama akan menjadi faktor
penarik bagi Sumber Daya Manusia di wilayah sekitarnya sekaligus
Sumber Daya Alamnya sehingga proses urbanisasi di wilayah-wilayah
yang lebih maju tersebut akan semakin cepat (backwash effects). Kondisi
tersebut terjadi hampir merata di tingkat global, terutama dinegara-negara
berkembang khususnya di Benua Asia dan Afrika.
Urbanisasi yang terjadi di kedua benua tersebut diperkirakan akan
tumbuh menjadi 2 (dua) kali lipat dari Tahun 2000 ke Tahun 2030.
Sementara itu, urbanisasi di negara-negara Amerika Latin dan Karibia
akan tetap terjadi, namun pertumbuhannya akan lebih lambat. Hal yang
sama juga terjadi di negara-negara maju di Amerika Utara, Eropa dan
Asia Timur yang penduduknya diperkirakan relatif tumbuh lebih lambat
hingga mencapai 1 milyar jiwa. Dengan demikian, perkembangan jumlah
penduduk di perkotaan diseluruh dunia tersebut tentu akan memberikan
pengaruh, baik positif maupun negatif terhadap perkembangan seluruh
sektor kehidupan di tingkat global, sehingga harus diantisipasi agar
dampak positif urbanisasi dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan.
Secara lebih spesifik, tingginya tingkat urbanisasi di Benua Asia apabila
dimanfaatkan dengan baik akan memberikan dampak yang positif.
Menurut proyeksi ADB (2010), pada Tahun 2050, wilayah Asia akan
berubah dengan semakin banyaknya populasi penduduk yang tinggal di
perkotaan, yaitu meningkat hampir dua kali lipat dari 1,6 Miliar jiwa (2010)
menjadi 3,1 Miliar jiwa (2050). Selain itu, wilayah Asia juga diperkirakan
akan memiliki posisi yang sangat dominan dalam perekonomian global
yang ditandai dengan peningkatan PDB negara-negara Asia secara
agregat yang meningkat pesat, yaitu dari sebesar $16 Triliun pada Tahun
2010 menjadi $ 148 Triliun pada Tahun 2050. ADB juga memperkirakan
kota-kota di Asia juga akanmenghasilkan lebih dari 80 persen dari output
ekonomi global dan akan menjadi pusat pengembangan pendidikan,

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

inovasi dan teknologi tinggi. Oleh karena itu, kota-kota di Asia harus
mampu memanfaatkan momentum tingginya tingkat urbanisasi tersebut
melalui promosi kota yang hijau, hemat energi, aman dan layak huni,
sehingga menjadi kota-kota yang berkelanjutan.
1.1.1

Agenda Internasional Dalam Pembangunan Perkotaan

Untuk mengantisipasi gejala urbanisasi dan berbagai isu perkotaan,


terdapat berbagai respon dari dunia internasional yang telah dilakukan
sejak Tahun 1992 sampai dengan sekarang. Respon ini semakin
menguat mengingat urbanisasi selanjutnya menjadi migrasi eksternal
yang berkaitan antara negara satu dengan negara lainnya yang pada
akhirnya mempengaruhi kondisi sosial ekonomi suatu negara, sehingga
menjadi perhatian utama dalam beberapa forum internasional, antara
lain: (i) Agenda 21 (1992); (ii) Istanbul Declaration and Habitat Agenda
(1996); (iii) Millenium Development Goals (MDGs) (2000); (iv)
Johannesburg Plan of Implementation (JPOI) (2002); (v) Reports of the
Commission on Sustainable Development; (vi) Annual UN GA Resolution
No. 66/207 on Implementation of the Outcome of the United Nations
Conference on Human Settlements Programme (2012); (vii) Plan of
Action on Cities, Subnational Governments and Other Local Authorities
for Biodiversity (2011 2020); dan (viii) Hyogo Frameawork for Action
2005 2015: International Strategy for Disaster Reduction, Building the
Resilence of Nations and Communities to Disasters.
Diantara sekian forum internasional yang membahas tentang isu-isu
perkotaan, Agenda 21 yang dikeluarkan oleh UN Habitat merupakan
forum yang pertama yang mengamanatkan transformasi konsep
pembangunan berkelanjutan untuk menjadi komitmen negara-negara di
dunia dalam memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat,
khususnya di perkotaan. Agenda 21 yang diluncurkan pada KTT Bumi,
1992 di Brazil dengan tema Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable
Development), mengamanatkan target-target yang terkait dengan bidang
perkotaan, sebagai berikut :
1. Meningkatkan penyediaan infrastruktur lingkungan yang terhubung
antara satu dengan lainnya, seperti air, sanitasi, drainase dan
manajemen pengelohan limbah;
2. Meningkatkan pembangunan sumberdaya manusia dan capacity
building untuk pengembangan hunian;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

3. Perlindungan dan promosi kesehatan masyarakat yang harus dapat


menjawab tantangan kesehatan perkotaan;
4. Isu-isu yang terkait tentang Pengelolaan limbah yang ramah
lingkungan, baik limbah padat dan limbah cair;
5. Pengembangan kelembagaan lokal yang mendukung Agenda 21; dan
6. Memastikan
terjaminnya
pengembangan
lingkungan
yang
berkelanjutan serta memberantas kemiskinan.
Namun, dalam pelaksanaannya, banyak target diatas yang belum
tercapai. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya masih banyak target
dari Agenda 21 yang berjalan secara sektoral atau terpisah. Dengan tidak
tercapainya target-target tersebut, maka terdapat pesan yang sangat
penting bagi pemerintah kota untuk berkontribusi langsung dalam
pembangunan perkotaan melalui pendekatan partisipasi sebagaimana
tertuang dalam Chapter 28 dari Agenda 21 yang menerapkan prinsip
kemitraan dan pembinaan antara pemerintah daerah, organisasi lokal lain
(non-pemerintah) juga pihak swasta dan masyarakat dalam pengambilan
setiap keputusan. Disamping itu, dalam Annual UN GA Resolution No.
66/2007, 2012 terdapat beberapa pesan kunci dari UN Habitat dalam
rangka mencapai Agenda 21, sebagai berikut:
1. Kebijakan Kota Nasional (National Urban Policy) perlu disiapkan
sebagai tool bagi peningkatan kondisi perkotaan, termasuk melalui
perencanaan perkotaan dan kota yang tepat untuk mempersiapkan
kota menghadapi tantangan ke depan;
2. Perlunya penguatan pendekatan partisipatif (participatory approach)
guna memastikan adanya inclusive ownership di dalam proses
pembangunan kota; dan
3. Peran penting teknologi informasi dan komunikasi (Information and
Communication Technology) untuk memperluas keterlibatan
masyarakat dan meningkatkan kerja sama seluruh pemangku
kepentingan perkotaan.
Melalui berbagai forum internasional, kota-kota di dunia diarahkan untuk
dapat mengantisipasi perkembangan urbanisasi dan memanfaatkan
dampak-dampaknya. Kota seharusnya dapat mengoptimalkan peran
yang sangat penting sebagai penggerak pertumbuhan (engine of growth)
ekonomi di tingkat lokal, wilayah,nasional dan global. Akan tetapi, peran
penting perkotaan tersebut masih belum berjalan dengan semestinya.Hal

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

ini dapat ditinjau dari pertambahan penduduk yang cepat serta tuntutan
kebutuhan pelayanan perkotaan yang tinggi yang tidak disertai dengan
kesiapan pengelolaan perkotaan dalam menghadapi perkembangan
masalah yang pesat dan cepat tersebut merupakan faktor pelemah peran
dan fungsi kota. Berbagai masalah yang diakibatkan seperti terjadinya
kemacetan lalu lintas, kemiskinan perkotaan, dan degradasi lingkungan
yang selanjutnya menyebabkan menurunnya kualitas hidup di perkotaan,
minimnya pelayanan perkotaan terhadap masyarakat. Oleh karena itu,
perlu adanya pengelolaan perkotaan yang mampu mengatasi berbagai
permasalahan yang sedang terjadi sekaligus menghadapi tantangan
perkotaan kedepan. Pengelolaan perkotaan di masa depan, khususnya di
Indonesia harus diarahkan untuk menciptakan kotaberkelanjutan dan
sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat.
1.1.2

Urbanisasi dan Kebijakan Perkotaan di Indonesia

Pada tahun 2010, komposisi penduduk perkotaan di Indonesia yang


mencapai lebih dari 50%, dengan tingkat pertumbuhan penduduk 2,75%
pertahun yang melebihi rata-rata pertumbuhan penduduk nasional yaitu
sebesar 1,17% pertahun (BPS, 2012). Tingkat urbanisasi dan jumlah
penduduk perkotaan akan meningkat tajam pada tahun-tahun mendatang
yang diperkirakan mencapai 67,7% pada Tahun 2025 dan mencapai
82%pada Tahun 2045 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.2 di
halaman berikut.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

Gambar 1. 2 Populasi Penduduk Perkotaan dan Perdesaan di


Indonesia Tahun 2005 - 2045

Sumber : Bappenas, BPS dan UNPF 2008 dan Analisis 2013.

Tingginya tingkat urbanisasi diatas disebabkan oleh dua faktor utama,


yaitu faktor penarik (pull factor) dan faktor pendorong (push factor).
Faktor penarik urbanisasi yang terjadi di perkotaan terjadi karena
pesatnya perkembangan berbagai hal, seperti berkumpulnya kegiatan
ekonomi, kualitas kehidupan yang lebih baik, ketersediaan prasarana dan
sarana yang lebih lengkap dan berkualitas, kehidupan yang lebih modern,
dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak dan beragam dibandingkan di
perdesaan. Sementara itu, kondisi di perdesaan belum dapat
mengimbangi perkembangan pembangunan perkotaan yang begitu
pesat. Faktor pendorong yang terjadi di perdesaan, seperti kurang
tersedianya prasarana dan sarana, terutama sarana pendidikan,
keterbatasan lapangan pekerjaan, nilai tambah produk perdesaan yang
masih rendah serta kehidupan perdesaan yang dianggap kurang modern
yang membuat masyarakat perdesaan lebih tertarik untuk tinggal di
perkotaan. Faktor pendorong tersebut menjadikan masyarakat di
perdesaan berpindah ke perkotaan untuk mencari kesempatan dalam
rangka memperbaiki taraf hidup menjadi lebih baik.
Urbanisasi yang pesat memberikan dampak tidak hanya bagi kota dan
kawasan perkotaan, namun juga bagi kawasan di sekitarnya. Dampak
tersebut terlihat dari perubahan karakteristik desa menjadi karakteristik

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

kota. Apabila kegiatan-kegiatan yang bercirikan perkotaan terjadi di


kawasan perdesaan, maka seiring waktu desa juga mengalami proses
menjadi kota, atau dikenal dengan reklasifikasi. Kondisi ini juga terjadi di
Indonesia dalam bentuk peningkatan jumlah kota otonom. Sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 1.3 yang mencatat bahwa pada Tahun 1950
hanya terdapat 4 kota otonom di Indonesia dan angka tersebut meningkat
tajam menjadi 73 kota pada Tahun 1990 dan menjadi dua kali lipat
sebanyak 98 kota pada Tahun 2014. Dari grafik dibawah, terlihat bahwa
pertumbuhan jumlah kota otonom di Indonesia semakin cepat setelah
dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah pada Tahun 2001.
Gambar 1. 3 Perkembangan Jumlah Kota Otonom di Indonesia Tahun
1950 2014

Sumber : KementerianPU, The State of Indonesian Cities, 2010

Perkembangan kawasan perkotaan yang masif dan mandiri yang kurang


ditunjang oleh pola keterkaitan antar kawasan menyebabkan
ketimpangan antar wilayah. Ketimpangan wilayah tersebut terjadi antar
kota serta antara desa dan kota.Salah satu bukti terjadinya ketimpangan
antar kota dapat diukur dari pertumbuhan ekonomi kota-kota yang
terletak di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia
(KTI). Sebagaimana terlihat pada Gambar 1.4, pertumbuhan PDRB kotakota besar dan metropolitan saat ini masih terpusat di KBI, sedangkan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

pertumbuhan PDRB kota-kota sedang dan kecil yang sebagian besar


berlokasi di KTI, cenderung stagnan dan berjalan lambat sehingga
menimbulkan kesenjangan wilayah antarkota,khususnya antara kota-kota
yang terletak di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.
Gambar 1. 4 Perbandingan Kontribusi PDRB Kota-kota di Kawasan
Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia
KTI)

Sumber : Hasil Analisis Dit. Perkotaan dan Perdesaan Bappenas, 2012

Ketimpangan wilayah antar kawasan tersebut membawa dampak negatif


tidak hanya bagi kota-kota besar dan metropolitan, serta bagi kota-kota
sedang dan kecil. Dampak negatif yang ditimbulkan urbanisasi di kotakota besar dan metropolitan, antara lain: (1) terjadinya eksploitasi yang
berlebihan terhadap sumberdaya alam di sekitar kota untuk mendukung
dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi; (2) terjadinya perkembangan
kota (urban sprawl) yang tidak terkendali dan secara terus menerus
mengkonversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan terbangun; (3)
menurunnya kualitas lingkungan fisik perkotaan; (4) menurunnya kualitas
hidup masyarakat di perkotaan; (5) tidak mandiri dan tidak terarahnya
pembangunan kawasan-kawasan permukiman baru sehingga menjadi
tambahan beban bagi kota inti (kota otonom); (6) terbentuknya kawasan
metropolitan dan megapolitan yang membutuhkan peningkatan kuantitas
dan kualitas infrastruktur serta menuntut manajemen perkotaan yang
lebih baik. Berbagai permasalahan tersebut, khususnya dalam konteks
terbentuknya kawasan metropolitan dan megapolitan, mengindikasikan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 1

telah terjadinya diseconomies of scale karena terlalu besarnya jumlah


penduduk perkotaan dan terlalu luasnya wilayah yang harus dikelola
secara terpadu. Dilain pihak, kurang berpihaknya kebijakan
pembangunan dan investasi pembangunan dari pemerintah di kota-kota
sedang dan kecil,serta keterbatasan kapasitas tata kelola, SDM,dan
keuangan, menjadikan kota-kota tersebut semakin kesulitan dalam
pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) yang pada akhirnya
menjadi kurang optimal dalam melaksanakan peran dan fungsi kota.
Selain kebutuhan mendasar dalam bentuk pemenuhan Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP), tantangan terbesar yang dihadapi oleh kotakota di Indonesia adalah kondisi geografis Indonesia sebagai negara
tropis, negara kepulauan dan berada di jalur Cincin Api Pasifik (Pacific
Ring of Fire). Dengan jumlah pulau sekitar 17.000 ribu serta posisi
geografis Indonesia yang terletak di daerah tropis dengan garis pantai
terpanjang ke-2 di dunia menyebabkan kota-kota yang terletak di
kawasan pesisir rentan terhadap dampak negatif dari perubahan iklim,
antara lain kenaikan muka air laut, tsunami dan banjir rob.Disamping itu,
kota-kota di Indonesia juga rawan terhadap bencana alam, seperti
gunung meletus, gempa bumi, banjir, dan tanah longsor.
Sementara itu, kota dan kawasan perkotaan Indonesia merupakan pusat
pertumbuhan terdepan nasional yang sudah dan akan menghadapi
perekonomian global dan perdagangan bebas pasca disepakatinya
berbagai perjanjian perdagangan bebas.Di tingkat ASEAN, para Kepala
Negara dan Pemerintahan dari negara-negara ASEAN telah bersepakat
untuk melaksanakan integrasi ekonomi di wilayah ASEAN atau yang
disebut dengan ASEAN Economic Community (AEC) pada Tahun 2015.
AEC ini berupa liberalisasi komprehensif dari 5 (lima) unsur, yaitu:
barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal. Akan tetapi, terdapat
permasalahan utama bagi kota-kota di Indonesia yaitu rendahnya daya
saing yang disebabkan oleh kurang terolahnya produk unggulan lokal,
rendahnya investasi, rendahnya kualitas tenaga kerja dan SDM, serta
masih buruknya infrastruktur. Disamping AEC, Indonesia juga terikat
dengan beberapa kerjasama perdagangan bebas lainnya, baik bilateral
maupun multilateral, seperti G20, AFTA, CAFTA dan IJEPA. Dalam
pelaksanannya, globalisasi dan perdagangan bebas ini membawa
konsekuensi positif maupun negatif, seperti arus informasi, teknologi dan
inovasi yang semakin bersaing, yang semakin menuntut kesiapan dan

10

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Selain globalisasi dan perdagangan bebas, Indonesia juga menghadapi


tantangan lain berupa dampak perubahan iklim dan bencana alam.
Kedua hal tersebut akan mempengaruhi wilayah kota-kota pesisir
Indonesia. Hal ini mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dan
negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan resiko tsunami
serta gempa dan banjir yang termasuk tertinggi di dunia, yang menuntut
tingginya ketahanan suatu kota dari bencana. Para pengelola perkotaan
akan dituntut semakin tanggap dan bertanggung jawab dalam era
desentralisasi, tidak saja transparan, akuntabel, dan partisipatif, namun
juga inovatif, kreatif, serta mampu bekerjasama serta membangun
komunikasi dan kolaborasi dengan semua pelaku pembangunan
perkotaan.

BAB 1

daya saing kota sebagai pintu masuk utama terjadinya perdagangan


bebas.

Berbagai permasalahan yang sedang terjadi dan tantangan


pembangunan perkotaan Indonesia di masa mendatang sebagaimana
tersebut diatas belum direspon secara baik oleh kebijakan dan peraturan
perundangan yang ada. Di tingkat nasional terdapat Undang-Undang No.
17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2005-2050 telah memuat arah dan kebijakan pembangunan
perkotaan secara umum untuk jangka panjang, yaitu:
1. Penyeimbangan pertumbuhan antar kota metropolitan-besarmenengah-kecil;
2. Pengendalian pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan;
3. Percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah terutama di
luar Pulau Jawa; dan
4. Peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaanperdesaan.
Akan tetapi, arah dan kebijakan diatas masih bersifat umum dan belum
spesifik menyentuh akar permasalahan yang terjadi di kota-kota di
Indonesia. Selain itu, terdapat beberapa peraturan perundang-undangan
yang lain, seperti UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang serta
turunannya, yaitu Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) telah menetapkan
Sistem Perkotaan Nasional (SPN) yang meliputi 7 KSN Perkotaan, 38
PKN, 177 PKW dan 26 PKSN. Penetapan tersebut juga telah disertai

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

11

BAB 1

dengan arahan peran dan fungsi masing-masing sistem perkotaan.


Meskipun arahan, peran dan fungsi kawasan perkotaan telah jelas diatur,
namun sampai dengan saat ini hirarki system kota-kota di Indonesia
masih belum jelas, serta perwujudan SPNbelum berjalan sesuai dengan
arahan dan belum menunjang antara satu kawasan perkotaan dengan
kawasan perkotaan yang lainnya secara bertingkat sesuai dengan
tipologinya. Terdapat juga UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah namun belum mengatur secara spesifik mengatur kelembagaan
yang dibutuhkan untuk mengelola kawasan perkotaan dan hal-hal lainnya
sesuai dinamika yang terjadi di perkotaan.
Meskipun secara umum pembangunan perkotaan sudah diatur dalam
berbagai peraturan dan perundangan, namun saat ini belum ada
kebijakan dan peraturan yang secara khusus dan strategis mengatur dan
mengarahkan pembangunan kota-kota di Indonesia di masa depan.
Disamping itu, pesan Agenda 21 serta UN Resolution No. 66/207 tersebut
diatas juga perlu segera direspon untuk menghadapi tantangan
urbanisasi serta pengelolaan perkotaan menuju pembangunan
berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan
pembangunan perkotaan yang tepat dan dituangkan dalam kebijakan dan
strategi yang mampu menyelesaikan berbagai isu strategis dalam
pembangunan perkotaan, mengantisipasi berbagai tantangan serta
sekaligus menyiapkan kota-kota di Indonesia menuju kota masa depan
dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu,
disusunlah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional
(KSPPN).

1.2

Tujuan dan Sasaran

KSPPN disusun dengan tujuan sebagai acuan yang strategis dan


antisipasif dalam pembangunan perkotaan di Indonesia dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan sasaran dari yang
diharapkan dapat dicapai melalui pelaksanaan KSPPN, yaitu:
1. Memberikan payung hukum yang mengikat bagi Pemerintah dan
Pemerintah Daerah dalam pembangunan perkotaan;
2. Menjadi dasar dalam sinkronisasi regulasi dan kebijakan Pemerintah
dan Pemerintah Daerah yang terkait pembangunan perkotaan;
3. Mengatur dan memantapkan peran dan fungsi kota sesuai tipologinya
untuk pembangunan perkotaan di Indonesia secara berkelanjutan; dan

12

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1.3

BAB 1

4. Menjadi instrumen perencanaan bagi Kementerian/Lembagadan


Pemerintah Daerah dalam penyusunan program dan kegiatan
pembangunan perkotaan;
5. Mendorong dunia usaha dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam
pembangunan perkotaan di tingkat nasional dan daerah.

Jangka Waktu

Dalam rangka menyelesaikan berbagai isu strategis yang sedang terjadi


sekaligus menyiapkan kota-kota di Indonesia menuju kota masa depan,
maka KSPPN akan menjadi acuan pembangunan perkotaan di Indonesia
untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun, mulai dari Tahun 2015 sampai
dengan Tahun 2045.

1.4

Kedudukan

KSPPN pada dasarnya merupakan sebuah dokumen perencanaan di


tingkat nasional yang akan ditetapkan dalam bentuk peraturan. KSPPN
merupakan grand design dan dokumen kebijakan dan strategi bagi
pembangunan perkotaan nasional yang diharapkan menjadi acuan bagi
dokumen perencanaan strategis daerah maupun perencanaan
pembangunan perkotaan lainnya antara lain dokumen penataan ruang,
maupun dokumen penganggaran yang telah disusun oleh
Kementerian/Lembaga yang lain dan Pemerintah Daerah

1.5

Sistematika Penyajian

Sistematika dalam penyajian KSPPN) diuraikan,sebagai berikut:


Bab 1 Pendahuluan
Bab ini menguraikan mengenai latar belakang penyusunan KSPPN, yang
dilanjutkan dengan uraian mengenai tujuan dan sasaran penyusunan
KSPPN, jangka waktu serta kedudukan KSPPN terhadap berbagai
dokumen perencanaan yang telah tersedia yang terkait dengan
pembangunan perkotaan di Indonesia.
Bab 2 Gambaran Umum Perkotaan Indonesia
Bab ini menjelaskan perkembangan kota dan kawasan perkotaan di
Indonesia. Disamping itu, diuraikan pula berbagai isu strategis perkotaan,

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

13

BAB 1

tantangan pembangunan perkotaan, potensi yang dimiliki oleh kota-kota


di Indonesia serta peluang yang ada dan bisa dimanfaatkan dalam
pembangunan perkotaan pada masa yang akan datang.
Bab 3 Visi, Misi, dan Sasaran Pembangunan Perkotaan
Bab ini diawali dengan gambaran mengenai cara membangun kota masa
depan di Indonesia dalam bentuk uraian tentang teori-teori dan konsep
dasar pembangunan perkotaan serta prinsip-prinsip yang menjadi dasar
dalam pembangunan perkotaan secara nasional. Berdasarkan teori,
konsep dan prinsip dasar tersebut, maka dirumuskan visi, misi, dan
sasaran pembangunan perkotaan di Indonesia. Selanjutnya sasaran
pembangunan perkotaan dijabarkan kedalam tahapan untuk masingmasing tipologi perkotaan.
Bab 4 Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Bab ini menguraikan arah kebijakan pembangunan perkotaan yang
disusun berdasarkan visi, misi, dan sasaran pembangunan perkotaan.
Selanjutnya masing-masing arah kebijakan diuraikan kedalam strategi
yang lebih operasional sehingga memudahkan untuk diturunkan kedalam
program dan kegiatan baik di pusat maupun di daerah.
Bab 5 Kerangka Kelembagaan Perkotaan
Bab ini menguraikankondisi sekarang dan arahan kedepan dari tata
kelola pembangunan perkotaan di Indonesia, baik di tingkat pusat,
provinsi dan kabupaten/kota. Tata kelola mencakup analisis terhadap
SDM dan aparatur, sistem dan peraturan, kelembagaan, data dan
informasi, serta kepemimpinan. Khusus untuk kelembagaan perkotaan,
diuraikan mengenai kelembagaan yang sudah ada dan bentuk
kelembagaan yang diusulkan untuk dibangun dalam mempercepat
pembangunan perkotaan.
Bab 6 Kerangka Pembiayaan Perkotaan
Bab ini menguraikan tentang sumber-sumber dan mekanisme
pembiayaan yang telah tersedia, baik yang berasal dari dalam maupun
luar negeri. Selanjutnya dijelaskan mengenai arahan dan bentuk lembaga
pembiayaan yang perlu dibangun kedepan dalam rangka mewujudkan
pembangunan perkotaan di Indonesia.

14

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Bab ini menguraikan tentang peraturan perundangan yang telah tersusun


dan dibutuhkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dalam
pembangunan perkotaan di Indonesia serta untuk menuju kota yang
berkelanjutan. Penjelasan kerangka regulasi perkotaan diuraikan sesuai
tingkatannya, mulai dari tingkat Undang-Undang hingga tingkat Peraturan
Menteri.

BAB 1

Bab 7 Kerangka Regulasi Perkotaan

Bab 8 Mekanisme Pelaksanaan KSPPN


Bab ini menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh masingmasing pelaku pembangunan perkotaan dalam melaksanakan KSPPN
berdasarkan tingkatan pemerintahan, mulai dari Kementerian/Lembaga di
tingkat pusat sampai ke SKPD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Mekanisme pelaksanaan KSPPPN disusun berdasarkan tahapan
pembangunan perkotaan, yaitu mulai dari tahapan penyusunan
kebijakan, perencanaan dan penganggaran, pengendalian, sampai
dengan tahapan pembinaan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

15

BAB 2

16

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

GAMBARAN UMUM
PERKOTAAN
INDONESIA
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

17

Gambaran Umum Perkotaan Indonesia

BAB 2

2.1

Definisi Kota
Indonesia

dan

Kawasan

Perkotaan

di

2.1.1 Definisi Kota dan Perkotaan


Para ahli kota memberikan definisi kota dengan dua sudut pandang, yaitu
pertama kota dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan istilah city (di
Indonesia dikenal dengan istilah kota); yang kedua yaitu disebut dengan
istilah urban (di Indonesia dikenal dengan istilah perkotaan). Dua istilah
ini terkadang rancu digunakan dalam kalimat untuk menggambarkan
kota/perkotaan, yang sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Ada
dua definisi alternatif mengenai perkotaan di Indonesia yaitu: pertama
menyangkut wilayah administratif dan kedua menyangkut fungsional
wilayah1. Secara administratif, dimana perkotaan menyangkut wilayah
administratif pemerintah lokal, di Indonesia sendiri disebut dengan istilah
kota. Kedua dilihat dari fungsional wilayahnya, dimana setiap unit
administratif terkecil (yaitu desa) diberi status fungsional sebagai
perkotaan atau perdesaan berdasarkan karakteristik dan kriteria
tertentu. Perlu diperhatikan dalam pendefinisian perkotaan-perdesaan
bahwa ada ketidakjelasan dalam perbedaan karakteristik perkotaanperdesaan di dalam konteks Indonesia, dimana sebagian karakteristik
kota juga muncul di banyak desa di Indonesia2. Terdapat dua kriteria
untuk menentukan apakah suatu wilayah dapat dikatakan sebagai kota
atau bukan, penentuan tersebut didasarkan pada aspek administratif dan
fungsional3.

Gardiner (2006)
McGee, 1991, 1994, 1995; McGee & Robinson, 1995; Firman & Dharmapatni, 1995; Hugo, 1996;
Firman, 1997, 2003a; Gardiner, 1997a, b.
2

18

Steven pinch (1985)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1.

Administratif

2.

Fungsional

Berdasarkan pendekatan fungsional, definisi ini berkaitan dengan


dominasi penduduk suatu wilayah yang bekerja di sektor non-pertanian.
Secara fungsionalkota merupakan tempat konsentrasi permukiman
penduduk, kegiatan sosial ekonomi yang beragam dan bukan pertanian,
juga sebagai pemusatan koleksi dan distribusi pelayanan jasa pemerintah
dan pelayanan sosial.

BAB 2

Berdasarkan pendekatan administratif, definisi ini berkaitan dengan


upayapembuatan batas wilayah kota. Suatu wilayah dapat dikatakan
menjadi kota jika secara legal telah dinyatakan sebagai kota yang dikelola
oleh sebuah pemerintah kota dengan yurisdiksinya.

Pengertian kota yang dimaksud disini adalah pusat permukiman dan


kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang
diatur dalam peraturan perundangan, serta permukiman yang telah
memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. Suatu kota yang
ditetapkan sebagai kota otonom, yang secara sah memiliki kewenangan
dan tanggung jawab memberikan pelayanan sebagai kota otonom yang
dipimpin oleh seorang walikota (dalam konteks definisi kota di Indonesia).
Sedangkan istilah perkotaan adalah kawasan permukiman yang meliputi
kota induk dan daerah pengaruh di luar batas administrasinya yang
berupa kawasan pinggiran/suburban. Dalam konteks pengertian
perkotaan di Indonesia, perkotaan diartikan sebagai wilayah yang
bercirikan non-agraris sebagai pusat permukiman yang melewati batasbatas administrasi. Penggunaan istilah kota di Indonesia lebih kepada
wilayah permukiman yang terbatas pada daerah administrasi sedangkan
perkotaan pengertiannya lebih luas dari batas-batas administrasi dan
menekankan pada ciri-ciri fungsional suatu wilayah.

2.1.2 Definisi Kawasan Perkotaan


Dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, PP No. 26
Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
dan PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang,
kawasan perkotaan didefinisikan sebagai wilayah yang mempunyai
kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan
sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

19

pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.


Dengan begitu, kawasan perkotaan di Indonesia dapat berbentuk: a)
Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari wilayah kabupaten;
atau b) Kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah
kabupaten/kota pada satu atau lebih wilayah provinsi.

BAB 2

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kawasan perkotaan dalam


konteks Indonesia adalah wilayah yang secara aktual dan potensial
mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan
distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan
ekonomi; yang penetapannya mempertimbangkan baik aspek
administratif maupun fungsional, serta membutuhkan pengelolaan secara
terintegrasi antar sektor baik dalam daerah otonom maupun antar daerah
otonom.

2.1.3 Tipologi Perkotaan


Berdasarkan pengertian kota, perkotaan dan kawasan perkotaan di atas,
maka secara umum model tipologi kawasan perkotaan yang ada di
Indonesia, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Tipologi pertama, yaitu kawasan perkotaan berdasarkan ukuran
jumlah penduduk. Tipologi berdasarkan ukuran ini telah
diformalkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, tipologi yang dimaksud
yaitu:
Kawasan perkotaan kecil, adalah kawasan perkotaan
dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit
50.000 (lima puluh ribu) jiwa dan paling banyak 100.000
(seratus ribu) jiwa.
Kawasan perkotaan sedang, adalah kawasan perkotaan
dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit
100.000 (seratus ribu) jiwa dan paling banyak 500.000
(lima ratus ribu) jiwa.
Kawasan perkotaan besar, adalah kawasan perkotaan
dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit
500.000 (lima ratus ribu) jiwa dan paling banyak 1.000.000
(satu juta) jiwa.

20

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2.

Tipologi kedua, yaitu kawasan perkotaan didasarkan pada


ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, baik
dalam bentuk Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, bahkan
sampai Peraturan Daerah yang diamanatkan oleh UndangUndang. Dalam hal ini kawasan perkotaan dapat dikelompokkan
menjadi:

3.

Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang


terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri
atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di
sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang
dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah
yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara
keseluruhan sekurang - kurangnya 1.000.000 (satu juta)
jiwa.
Kawasan megapolitan, yaitu kawasan yang terbentuk dari
dua atau lebih kawasan metropolitan yang memiliki
hubungan fungsional dan membentuk sebuah sistem.

BAB 2

Kawasan Perkotaan sebagai ibukota negara;


Kawasan perkotaan sebagai ibukota provinsi;
Kawasan perkotaan sebagai ibukota kabupaten;
Kawasan perkotaan sebagai ibukota kota otonom; dan
Kawasan perkotaan sebagai ibukota kecamatan.

Tipologi ketiga, yaitu kawasan perkotaan yang dikelompokkan


berdasarkan fungsi utama atau ciri khas kegiatan kawasan
perkotaan yang menonjol. Dalam hal ini kawasan perkotaan
dikelompokkan sebagai berikut:

Kota pendidikan;
Kota pariwisata;
Kota industri;
Kota agrowisata;
Kota agromarine;
Kota minapolitan;
Kota agropolitan;
Kota perdagangan dan jasa;
dan sebagainya.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

21

4.

BAB 2

5.

Tipologi keempat, yaitu kawasan perkotaan yang dikelompokkan


berdasarkan letak geografis atau karakteristik wilayah.Dalam hal
ini kawasan perkotaan dikelompokkan sebagai berikut:
Kota Pesisir;
Kota Pegunungan;
Kota Perbatasan;
Kota Air;
dan sebagainya
Tipologi kelima, yaitu kawasan perkotaan yang dikelompokkan
berdasarkan peran kawasan perkotaan tersebut kepada wilayah
Negara Kesatuan Republik indonesia. Dalam hal ini kawasan
perkotaan dikelompokkan sebagai berikut:

Kawasan perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Nasional


(PKN),
Kawasan perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah
(PKW) dan
Kawasan perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL).

Untuk memudahkan dalam pengelolaan pembangunan kawasan


perkotaan di Indonesia melalui KSPPN, tipologi kawasan perkotaan yang
digunakan disusun berdasarkan pendekatan kota otonom dan kawasan
perkotaan serta pengelompokannya berdasarkan jumlah penduduk, yang
dibagi kedalam 6 (enam) kelompok yaitu:
1. Kawasan Perkotaan, kawasan perkotaan yang dimaksud disini
adalah ibukota kabupaten atau bagian dari 2 (dua) atau lebih
wilayah kabupaten pada satu atau lebih wilayah provinsi yang
memiliki ciri perkotaan. Ciri perkotaan yang dimaksud yaitu: (1)
sebagai tempat permukiman; (2) pemusatan dan distribusi
pelayanan jasa pemerintahan; (3) pelayanan sosial; (4) kegiatan
ekonomi; dengan batasan jumlah penduduk antara 50.000 sampai
dengan 100.000 jiwa;
2. Kota Kecil, yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk sampai
dengan 100.000 jiwa;
3. Kota Sedang, yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk
berkisar antara 100.000 sampai dengan 500.000 jiwa;

22

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

4. Kota Besar, yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk berkisar


antara 500.000 sampai dengan 1.000.000 jiwa;
5. Kota Metropolitan,yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk
berkisar antara 1.000.000 jiwa sampai dengan 10.000.000 jiwa;
dan
6. Kawasan Perkotaan Megapolitan, kawasan perkotaan yang terdiri
atas sebuah kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang
saling memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan
sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan
jumlah penduduk secara keseluruhan paling sedikit 10.000.000
(sepuluh juta) jiwa.

2.1.4 Klasifikasi Daerah Perkotaan


Penentuan suatu desa atau kelurahan digolongkan daerah perkotaan
atau perdesaan di Indonesia didasarkan pada Peraturan Kepala Badan
Pusat Statistik Nomor 37 Tahun 2010 tentang Klasifikasi Perkotaan dan
Perdesaan di Indonesia. Kriteria ini yang digunakan dalam pendefinisian
perkotaan. Pendataan klasifikasi perkotaan ini didasarkan pada skor yang
dihitung dari kriteria sebagai berikut:
1.

Penduduk dan keluarga (tidak termasuk yang sudah tidak tinggal


di desa/kelurahan), meliputi: jumlah penduduk laki-laki, jumlah
penduduk perempuan, jumlah keluarga, jumlah keluarga pertanian
dan jumlah keluarga yang ada anggota keluarganya menjadi
buruh tani;

2.

Keluarga pengguna listrik baik itu yang menggunakan jasa PLN


maupun Non PLN;
Keberadaan penerangan di jalan utama Desa/Kelurahan dan jenis
penerangannya apakah diusahakan oleh pemerintah, nonpemerintah atau bahkan nonlistrik;
Banyaknya fasilitas pendidikan (TK/sederajat, SD/sederajat,
SMP/sederajat,
SMU/sederajat,
SMK/sederajat,
akademi/perguruan tinggi sederajat, sekolah luar biasa (SLB),
pondok pesantren, madrasah diniah, dan seminari/sejenisnya)
dan jarak ke fasilitas pendidikan terdekat yang tidak ada di wilayah
tersebut;
Banyaknya fasilitas kesehatan (rumah sakit, rumah sakit bersalin,
poliklinik/balai pengobatan, puskesmas, puskesmas pembantu,

3.

4.

5.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

23

6.

BAB 2

7.

8.
9.
10.
11.
12.

13.

14.
15.

2.2

tempat praktek dokter, tempat praktek bidan, poskesdes, polindes,


posyandu, apotek dan toko khusus obat/jamu), jarak dan
kemudahan untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat yang
tidak ada di wilayah tersebut;
Ada tidaknya fasilitas hiburan seperti gedung bioskop,
Pub/diskotik/tempat karaoke dan jarak ke fasilitas hiburan terdekat
yang tidak ada di wilayah tersebut;
Keberadaan lapangan olah raga (sepak bola, bola voli, bulu
tangkis,
bola
basket,
tenis
(lapangan),
futsal,
dan renang) dan kelompok kegiatannya termasuk tenis meja, bela
diri, dan bilyard;
Keberadaan dan jumlah keluarga yang berlangganan telepon
kabel;
Keberadaan telepon umum koin/kartu yang masih aktif/berfungsi;
Keberadaan wartel/kiospon/warpostel/warparpostel;
Luas wilayah Desa/Kelurahan;
Jumlah lahan yang digunakan untuk pertanian sawah (sawah
irigasi dan sawah nonirigasi), pertanian nonsawah (tegal/kebun,
ladang/huma, tambak, kolam/tebat/empang, hutan rakyat,
perkebunan,
peternakan,
dsb)
dan lahan
nonpertanian
(perumahan, industri, kantor, jalan, prasarana umum, lapangan,
dsb);
Keberadaan kelompok pertokoan dan pasar dengan bangunan
permanen/semi permanen serta jarak ke kelompok pertokoan
dan pasar terdekat yang tiada ada di wilayah tersebut;
Keberadaan minimarket, hotel dan penginapan; dan
Banyaknya koperasi yang masih aktif/beroperasi, meliputi:
koperasi unit desa, koperasi industri kecil dan kerajinan rakyat,
koperasi simpan pinjam, dan koperasi lainnya.

Perkembangan
Indonesia

Pembangunan

Perkotaan

di

2.2.1 Perkembangan Program Perkotaan


Dekade Indonesia telah mengalami urbanisasi yang pesat, dan proses
tersebut masih terus berlanjut hingga kini. Urbanisasi di Indonesia mulai
marak sejak tahun 1960-an yang diindikasikan dengan berubahnya

24

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

beberapa kota kecil menjadi sedang dan sedang menjadi besar. Sejak
Tahun 1960 permasalahan dan tantangan perkotaan berbeda dari waktu
ke waktu yang menyebabkan upaya perencanaan pembangunannya pun
berbeda. Pada tahun 1960-an maraknya urbanisasi yang disertai
perkembangan kegiatan industri dan perdagangan menyebabkan
beberapa kota kecil dan sedang mulai berubah menjadi kota besar
sehingga tuntutan akan kebutuhan prasarana dasar meningkat. Oleh
karena itu, Pemerintah melalui dana APBN membangun prasarana dasar
kota secara sektoral seperti jalan, air minum, pembuangan air limbah dan
sampah.
Pada awal Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I), perekonomonian
Indonesia tumbuh dengan cepat akibat eksploitasi minyak dan gas bumi
sehingga mendorong berkembangnya kota-kota besar menjadi kota-kota
metropolitan, dimana kegiatan perkotaan di kota-kota besar saat itu
melampaui batas wilayah administrasi. Perkembangan kota yang sangat
pesat saat itu semakin membuat kesenjangan antara kota-desa, dimana
migrasi dari desa ke kota terus meningkat sehingga memberi dampak
buruk terhadap perkotaan seperti meningkatnya kemiskinan,
pengangguran, kawasan kumuh dan tumbuhnya sektor informal.
Pada tahun 1973 untuk mengatasi kemiskinan perkotaan maka
Pemerintah menerapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan prasarana
dasar seperti jalan setapak, air minum, pengelolaan air limbah dan
persampahan, yang diimplementasikan dalam Program Perbaikan
Kampung atau Kampong Improvement Program (KIP). Namun dalam
prakteknya, KIP dikritik karena kurang mempertimbangakan rencana tata
ruang yang lebih makro serta kurang terintegrasi dengan program
pembangunan prasarana perkotaan di wilayah lain, maka pada tahun
1974-1984 Pemerintah dibantu IBRD dan ADB menerapkan pendekatan
baru yaitu Program Pembangunan Kota atau Urban Development
Project (UDP) yang diterapkan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan,
Semarang dan Solo.
Awal Tahun 1980-an, pelaksanaan UDP diperluas secara nasional
dengan bantuan UNDP melalui National Urban Development Strategy
(NUDS) yang dilakukan melalui Program Pembangunan Prasarana Kota
Terpadu (P3KT) dengan jangka waktu menengah, 5-7 tahun. P3KT
mengubah pendekatan pembangunan prasarana kota dari sektoral dan
terpusat menjadi pendekatan keterpaduan dan desentralisasi. P3KT

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

25

dikembangkan dan diperluas menjadi Program Pembangunan Kota


Terpadu atau Intergrated Urban Development Program.

BAB 2

Berbagai program pembangunan dan perbaikan lingkungan perkotaan


yang sudah berjalan sejak tahun 1960-an lebih difokuskan pada
penyediaan prasarana dan sarana perkotaan. Program-program tersebut
tidak secara langsung mengurangi arus urbanisasi yang menjadi akar isu
permasalahan di perkotaan. Urbanisasi terus meningkat dari tahun ke
tahun. Selama periode 1995-2005, jumlah penduduk perkotaan
mengalami peningkatan 39% (4.2% per tahun), kenaikan ini lebih tinggi
dibandingkan negara-negara lain di Asia Timur. Bahkan selama periode
1996-2007 telah terjadi peningkatan pola pertumbuhan perkotaan yang
menyebar (urban sprawl) dimana pertumbuhan penduduk tertinggi di 21
metropolitan atau kota terbesar terjadi di daerah pinggiran perkotaan.
Bertambahnya proporsi penduduk tentunya memberi berbagai
perubahan, permasalahan dan tantangan baru bagi perkotaan.

2.2.2 Tingkat Kecenderungan


Perkotaan

Perkembangan

Kawasan

Secara global, urbanisasi sangat berkaitan dengan pertumbuhan


produktifitas, peningkatan pendapatan, dan perbaikan akses kepada
kebutuhan dasar. Namun Indonesia belum sepenuhnya mengecap
keuntungan ekonomi dari proses urbanisasi yang sudah terjadi (1%
urbanisasi menghasilkan 2% pertumbuhan PDB di Indonesia,
dibandingkan dengan 6% di China, 8% di Vietnam, dan 10% di Thailand).
Walaupun pembangunan perkotaan secara umum telah mampu
meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, namun
pembangunan
tersebut
ternyata
menimbulkan
kesenjangan
perkembangan antar wilayah.
Kota-kota tumbuh berkembang sebagian besar (67%) di Pulau Jawa dan
Sumatera, sisanya tersebar 9% di Kalimantan, 11% di Sulawesi, 4% di
Bali dan Nusa tenggara, 4% di Kepulauan Maluku, dan hanya 2% di
Papua (Gambar 2.1). Pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan saat
ini masih terpusat di pulau Jawa dan Bali, sedangkan pertumbuhan kotakota sedang dan kecil, terutama di luar Jawa, berjalan lambat dan
tertinggal. Kecenderungan perkembangan semacam ini berdampak
negatif baik terhadap kota-kota besar dan metropolitan maupun kota-kota
sedang dan kecil di wilayah lain. Dampak negatif yang dirasakan kota-

26

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

kota besar dan metropolitan, antara lain terjadinya eksploitasi yang


berlebihan terhadap sumber daya alam di sekitar kota-kota besar dan
metropolitan, terjadinya konversi lahan pertanian produktif menjadi
kawasan terbangun, menurunnya kualitas lingkungan fisik kawasan
perkotaan, menurunnya kualitas hidup masyarakat di perkotaan karena
permasalahan sosial-ekonomi, dan penurunan kualitas pelayanan
kebutuhan dasar perkotaan. Sedangkan dampak negatif yang dirasakan
kota-kota di wilayah yang ditinggalkan antara lain tidak meratanya
penyebaran penduduk perkotaan, khususnya di kota Metropolitan
Jabodetabek; Tidak optimalnya fungsi ekonomi terutama di kota-kota
sedang dan kecil dalam menarik investasi; tidak optimalnya peranan kota
dalam memfasilitasi pengembangan wilayah; dan tidak sinergisnya
pengembangan peran dan fungsi kota-kota dalam mendukung
perwujudan sistem kota-kota nasional.
Gambar 2.1 Persentase Persebaran Kota di Indonesia Berdasarkan
Kepulauan Sampai Tahun 2014

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

27

Gambar 2. 2 Perkembangan Jumlah Kota di Indonesia Menurut


Tipologi Kota Tahun 2006-2011

BAB 2
Sumber: Diolah dari Kota Dalam Angka 2007-2012

Selain ketimpangan persebaran kota, urbanisasi juga berpengaruh


secara fisik yang ditandai dengan peningkatan status kota. Telah terjadi
pergeseran status kota dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (2006-2011)
terutama pada kota sedang yang jumlahnya berkurang karena berubah
tipologi menjadi kota besar. Sedangkan untuk kota kecil dan kota
metropolitan cenderung tetap (Gambar 2.2). Jumlah kota secara
keseluruhan juga semakin bertambah, sejak Tahun 2006 hingga Tahun
2011 telah terjadi penambahan sebanyak 7 kota, hal ini menandakan
bahwa beberapa desa mengalami reklasifikasi menjadi kota yang
disebabkan berubahnya karakteristik kegiatan ekonomi di desa. Jumlah
kota tersebut diperkirakan akan terus bertambah, dimana semakin
berkembangnya kegiatan ekonomi dan kemajuan teknologi informasi
akan membuat masyarakat lebih memilih tinggal di perkotaan.
Tahun 2011 di Indonesia teridentifikasi memiliki 8 (delapan) kawasan
perkotaan metropolitan, dengan kecenderungan membentuk 1 (satu)
kawasan perkotaan megapolitan. Berdasarkan persebarannya di
Indonesia menurut kabupaten/kota, kecenderungan aglomerasi kawasan
perkotaan masih berada di Pulau Jawa dan Sumatera (Gambar 2.3).
Perhitungan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan ini
didasarkan olah data Podes Tahun 2011 melalui pendekatan dengan
asumsi: 1) dalam setiap kabupaten terdapat 1 kawasan perkotaan; dan 2)
jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan berdasarkan data

28

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Podes 2011 dalam setiap kabupaten diasumsikan terpusat disatu titik


yang membentuk satu kawasan perkotaan;

BAB 2

Gambar 2. 3 Sebaran Penduduk yang Tinggal di Kawasan


Perkotaan Tahun 2011 Menurut Kabupaten/Kota
(Kondisi Eksisting)

Selain pendekatan jumlah penduduk diatas yang dapat mengalami bias


ketika menentukan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan
(tipologi kota); pendekatan lainnya yang dapat digunakan untuk
menentukan jumlah kawasan perkotaan di Indonesia yaitu melalui
pendekatan ibukota kabupaten/provinsi. Diasumsikan bahwa hanya
terdapat 1 kawasan perkotaan dalam setiap kabupaten/provinsi yang
berfungsi sebagai ibukota kabupaten. Ibukota sendiri diartikan sebagai
tempat
kedudukan
bupati,
walikota,
dan
gubernur
dalam
menyelenggarakan pemerintahannya. Pada saat ini (Tahun 2014)
terdapat 98 kota, 413 kabupaten dan 34 provinsi. Terdapat 399 kawasan
perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten yang nantinya
diperlukan pengelolaan. Karena keterbatasan data deliniasi kawasan
perkotaan kabupaten yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten
sehingga perhitungan jumlah dan tipologi kawasan perkotaan belum
dapat dilakukan. Penentuan jumlah kawasan perkotaan beserta
tipologinya ini sangat berguna untuk menentukan dasar jumlah kota pada
sub bab di bab 3 (roadmap pembangunan perkotaan).

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

29

2.2.3 Proyeksi Penduduk Perkotaan

BAB 2

Hasil proyeksi sementara pada tahun 2045 penduduk yang tinggal di


kawasan perkotaan di Indonesia sebesar 82% (gambar 2.4). Pada Tahun
2045 tersebut, sebesar 40% penduduk perkotaan akan beraglomerasi di
kawasan megapolitan dan sebesar 29% penduduk perkotaan akan
beraglomerasi di kawasan metropolitan sedangkan sisanya sebesar 31%
tinggal di kota. Sampai dengan Tahun 2045 diprediksikan terbentuk 2
kawasan megapolitan di Indonesia yaitu kawasan megapolitan
Jabodetabek dan Gerbangkertosusila, 8 kawasan metropolitan, 7 kota
metropolitan, 17 kota besar, 43 kota sedang dan 6 kota kecil (Gambar 2.5
dan Gambar 2.6). Dua kawasan megapolitan dan delapan kawasan
metropolitan diproyeksikan akan menyerap sumber daya manusia yang
sangat besar yaitu sebesar 69% dari total penduduk yang tinggal di kota.
sedangkan, kota sedang dengan jumlah kota yang paling banyak
terbentuk di Tahun 2045 hanya menyerap sumber daya manusia sebesar
9% dari total penduduk yang tinggal di kota.
Kondisi proyeksi perkembangan urbanisasi antar tipologi kota ini sangat
timpang. Jika dibiarkan kedepannya kota dan kawasan perkotaan di
Indonesia tumbuh secara alaminya maka akan banyak muncul kawasan
metropolitan yang hanya terjadi di Pulau Jawa, oleh karena itu diperlukan
manajemen urbanisasi untuk mengelola perkembangan dan arah
urbanisasi kedepan. Manajemen urbanisasi ini diharapkan mampu
mengarahkan perkembangan urbanisasi secara merata yang terjadi
kedepan, mampu memetik keuntungan urbanisasi secara optimal serta
mampu mempersiapkan kota-kota dan kawasan perkotaan untuk dapat
mengatasi masalah akibat urbanisasi yang telah ditimbulkannya dengan
cepat.

30

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 4 Proyeksi Persentase Penduduk yang Tinggal di


Perkotaan menurut Nasional Tahun 2005-2045

Sumber: hasil analisis, 2012.

Masalah besar dalam pembangunan perkotaan di Indonesia adalah


pertama, kota metropolitan dan kota besar menyerap banyak sumber
daya manusia jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah
sosial. Kedua, tipologi kota metropolitan bertambah dengan cepat,
sedangkan kota sedang dan kota kecil cenderung mengalami
pertumbuhan yang lamban dan tidak terlalu banyak berdampak pada
penyerapan sumber daya manusia. Hal ini perlu mendapat perhatian
khusus guna membendung arus urbanisasi dari tipologi kota yang lebih
rendah ke tipologi kota yang lebih tinggi.Ketiga, akan banyak muncul
perkotaan baru, yaitu (a) kawasan perkotaan pinggiran (suburban), (b)
munculnya wilayah baru dengan karakteristik perkotaan (eksisting Tahun
2011, 48% penduduk perkotaan tinggal di desa, sisanya 52% tinggal di
kawasan perkotaan), dan (c) perkotaan baru yang dikelola oleh swasta.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

31

Gambar 2. 5 Proyeksi Persentase Penduduk4 Menurut Tipologi Kota


Tahun 2011-2045

BAB 2
Sumber: hasil analisis, 2012.

Gambar 2. 6 Proyeksi Persentase Jumlah Kota Menurut Tipologi


Kota Tahun 2011-2050

Sumber: hasil analisis, 2012.


4

Penentuan proyeksi penduduk yang tinggal di perkotaan pada tahun 2050 menggunakan metode
proyeksi geometrik. Data yang digunakan hasil proyeksi penduduk BPS pada Tahun 2005-2025
dengan asumsi tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan sebesar 2,75% per tahun. Angka
pertumbuhan 2,75% per tahun diperoleh dari nilai pertumbuhan (r) dalam rumus metode geometrik
dari data proyeksi BPS Tahun 2005-2025. Sedangkan untuk menentukan proyeksi jumlah penduduk
menurut tipologi kota, digunakan metode geometrik namun dengan skenario penurunan tingkat
pertumbuhan penduduk (r) setiap lima tahun. Penurunan skenario pertumbuhan penduduk di kota
kecil diasumsikan sebesar 3% tiap lima tahun, kota sedang sebesar 5%, kota besar sebesar 7%, dan
kota metropolitan sebesar 9% tiap lima tahunnya.

32

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2.2.4 Kecenderungan Kawasan Perkotaan Metropolitan dan


Megapolitan

BAB 2

Saat ini di Indonesia terdapat 8 kawasan perkotaan metropolitan dan 1


kawasan perkotaan megapolitan. Dari 8 kawasan perkotaan metropolitan
tersebut 4 diantaranya terdapat di Pulau Jawa, 2 di Pulau Sumatera, 1
Pulau Bali, dan 1 di Pulau Sulawesi. Dalam hal ini kebutuhan kebijakan
pembangunan perkotaan kedepan adalah pembangunan perkotaan di
luar Pulau Jawa guna menyeimbangkan pembangunan perkotaan antar
wilayah dalam sebuah sistem perkotaan nasional yang efisien.
Tabel 2.1 Kawasan Perkotaan Metropolitan dan Megapolitan
No.

1.

2.

3.

4.

5.

Kawasan Perkotaan
Mebidangro:
1. 1. Kota Medan
2. 2. Binjai (Ibukota
Kab. Langkat)
3. 3. Kab. Deli
Serdang
4. 4. Kab. Karo
Kawasan Perkotaan
Palembang:
1. Kota Palembang
2. Kab. Banyuasin
3. Kab. Musi
Banyuasin
Jabodetabek:
1. Kota Jakarta
2. Kab. Bogor
3. Kota Bekasi
4. Kab. Tangerang
5. Kota Tangerang
6. Kota Depok
7. Kab. Bekasi
8. Kota Tangerang
Selatan
9. Kota Bogor
Kawasan Perkotaan
cekungan Bandung:
1. Kota Bandung
2. Kab. Bandung
3. Kab. Bandung
Barat
4. Kota Cimahi
5. Kab. Majalengka
6. Kab. Sumedang
Kawasan Perkotaan
Gerbang

Kota Inti

Pulau

Tipologi
Kawasan
Perkotaan

Jumlah
Penduduk
Tahun 2011

Status
Hukum

Medan

Sumatera

Metropolitan

3.777.746

Perpres
62/2011

Palembang

Sumatera

Metropolitan

1.580.384

Jakarta

Jawa

Megapolitan

24.567.458

Perpres
54/2008

Bandung

Jawa

Metropolitan

6.244.837

Surabaya

Jawa

Metropolitan

3.168.039

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

33

No.

BAB 2
6.

7.

8.

9.

Kawasan Perkotaan

Kota Inti

Kertosusila:
1. Kota Surabaya
2. Kab. Sidoarjo
3. Kab. Gresik
4. Kab. Mojekerto
5. Kab. Lamongan
6. Kab. Bangkalan
7. Kota Mojekerto
Kawasan Perkotaan
Kedung Sepur:
1. Kota Semarang
2. Kab. Kendal
3. Kota Salatiga
4. Unggaran (Ibukota
Semarang
Kab. Semarang)
5. Kab. Demak
6. Purwodadi
(Ibukota Kab.
Grobogan)
Kawasan Perkotaan
Yogyakarta:
1. Kab. Sleman
Yogyakarta
2. Kab. Bantul
3. Kota Yogyakarta
Kawasan Perkotaan
Sarbagita:
1. Kota Denpasar
Denpasar
2. Kab. Badung
3. Kab. Gianyar
4. Kab. Tabanan
Kawasan Perkotaan
Maminasata:
1. Kota Makassar
2. Sungguminasa
Makassar
(Ibukota Kab.
gowa)
3. Kab. Maros
4. Kab. Takalar
Sumber: hasil analisis 2012.

2.3

Permasalahan
Indonesia

Pulau

Tipologi
Kawasan
Perkotaan

Jumlah
Penduduk
Tahun 2011

Status
Hukum

Jawa

Metropolitan

2.589.373

Jawa

Metropolitan

2.054.716

Bali

Metropolitan

1.650.588

Perpres
45/2011

Sulawesi

Metropolitan

1.716.052

Perpres
55/2011

Pengelolaan

Perkotaan

di

Dinamika perkembangan kota dan kawasan perkotaan sangat tinggi


mengikuti tingginya tingkat urbanisasi. Urbanisasi ini dapat terjadi karena5
(1) migrasi penduduk dari wilayah desa ke perkotaan, (2) migrasi
5

34

(Shryock dan Siegel, 1976)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Para pengelola kota dan kawasan perkotaan dituntut untuk bisa cepat
tanggap dan respon terhadap perubahan dinamika tersebut. Menurut UU
No. 32 tentang Pemerintah Daerah Tahun 2004, Bab X Kawasan
Perkotaan Pasal 199, menyatakan bahwa pengelolaan kawasan
perkotaan terbagi kedalam:
1.
2.

3.

BAB 2

penduduk ke perkotaan dari kota atau negara lain, (3) terjadinya kelahiran
di perkotaan, dan (4) terjadinya perluasan wilayah perkotaan akibat
perubahan batas wilayah, perkembangan sosial ekonomi wilayah,
maupun perubahan konsep/batasan/definisi perkotaan.

Kota sebagai daerah otonom dikelola oleh pemerintah kota;


Bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan dikelola
oleh daerah atau lembaga pengelola yang dibentuk dan
bertanggungjawab kepada pemerintah kabupaten;dan
Bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan langsung
dan memiliki ciri perkotaan, dalam hal penataan ruang dan
penyediaan fasilitas pelayanan umum tertentu, dikelola
bersama oleh daerah terkait.

Arahan pengelolaan kota yang memberikan ruang bagi perkembangan


dinamika masalah-masalah perkotaan belum secara optimal dapat
direspon oleh peraturan perundangan yang ada, seperti:
1.

2.

Pengelolaan kawasan perkotaan lintas daerah di Indonesia


belum bekerja dengan baik sesuai tujuan dibentuknya. Adanya
Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) Jabodetabek, yang
diharapkan
mampu
menyelesaikan
konflik-konflik
pembangunan perkotaan lintas wilayah di kawasan perkotaan
Jabodetabek masih menyisakan banyak persoalan yang
memerlukan inovasi penyelesaian masalah pembangunan
lintas daerah di Jabodetabek.
Munculnya kawasan perkotaan baru melalui inisiasi pihak
swasta, menyisakan persoalan pengelolaan yang terkait
dengan pemeliharaan kota. Semakin kompleks masalah
perkotaan yang berkembang serta harapan visi-misi
pembangunan perkotaan masa depan yang lebih baik
mendesak adanya perbaikan-perbaikan dalam tata kelola dan
kelembagaan pembangunan perkotaan.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

35

BAB 2

Pengelompokan kawasan perkotaan dalam tipologi kota menjadi sangat


dibutuhkan dalam merumuskan berbagai kebijakan strategis dan program
kegiatan pembangunan kawasan perkotaan khususnya terkait
pengelolaan dan pelaksanaannya. Selain itu hingga saat ini belum ada
data dan informasi yang akurat, handal dan terkini yang dapat digunakan
sebagai bahan referensi perencanaan pembangunan perkotaan, terutama
data penyediaan sarana prasarana, kondisi lingkungan kota dan sosial
budaya kota. Adanya perbedaan definisi kawasan perkotaan di atas akan
memberikan pengaruh sangat kuat terhadap perkembangan dan/atau
arahan pengembangan perkotaan. Pengembangan infrastruktur dan
sumber pembiayaannya akan sangat tergantung pada pengertian dan
fokus landasan penentuan tipologi kawasan perkotaan tersebut.

2.4

Isu Strategis Pembangunan Perkotaan

Perkembangan perkotaan yang sangat pesat menyisakan berbagai isu


permasalahan yang mempengaruhi kelangsungan hidup penduduk di
perkotaan. Isu yang berkembang diperkotaan secara garis besar
dikelompokkan kedalam tiga kelompok yaitu isu nasional, isu umum, dan
isu spesifik. Isu nasional adalah isu yang muncul di tingkat nasional
sehingga
memerlukan
keterlibatan
pemerintah
pusat
dalam
penanganannya, sedangkan isu umum merupakan isu yang dihadapi di
semua tipologi kota baik itu di kota kecil, kota sedang, kota besar,
maupun kota metropolitan. Sedangkan isu spesifik adalah isu yang
secara khusus dihadapi tiap tipologi kota dan memerlukan penanganan
yang berbeda untuk tiap tipologinya. Baik isu umum maupun isu spesifik
perkotaan memerlukan keterlibatan pemerintah kota khusususnya dalam
penanganannya, sedangkan isu nasional diperlukan intervensi dan
keikutsertaan pemerintah pusat dalam penanganannya.

2.4.1 Isu Nasional dalam Pembangunan Perkotaan


Menurut perspektif nasional, isu pembangunan perkotaan di Indonesia
dikelompokkan menjadi 4 (empat) isu strategis yaitu:
A. Belum optimalnya peran kota sebagai pendorong pertumbuhan
ekonomi regional dan nasional;
B. Rendahnya daya saing kota dalam lingkup regional ;
C. Ketimpangan pembangunan antarwilayah;

36

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

D. Rendahnya ketahanan kota terhadap bencana & perubahan


iklim.

Pendorong

Perkembangan jumlah penduduk yang pesat di kota dan kawasan


perkotaan tentunya berpengaruh pada berbagai aspek, terutama
terhadap perkembangan ekonomi kota. Dengan bertambahnya
penduduk, maka diharapkan kegiatan perekonomian di kota dan kawasan
perkotaan semakin berkembang sehingga akan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi secara regional maupun nasional. Kontribusi
ekonomi kota metropolitan terhadap perekonomian nasional sangat tinggi
dibandingkan dengan kontribusi kota besar, kota sedang dan kota kecil.
Namun pada kenyataannya secara nasional, khususnya kota
metropolitan dan kota besar, belum dapat berperan sebagai pendorong
pertumbuhan ekonomi bagi kota sedang dan kota kecil begitu juga
keterkaitannya dengan desa secara maksimal.

BAB 2

A. Belum Optimalnya Peran Kota Sebagai


Pertumbuhan Ekonomi Regional dan Nasional

Gambar 2. 7 Persentase Kontribusi PDRB Kota terhadap Nasional


Menurut Tipologi Kota Tahun 2005-2010

Sumber:Hasil Analisis 2012

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

37

Salah satu alasan kota harus memberikan dampak perekonomian yang


signifikan terhadap perekonomian nasional adalah peran kota yang
ditetapkan sebagai pusat pertumbuhan (engine of growth), sebagaimana
telah ditegaskan dalam RTRWN (Tahun 2008-2028).

BAB 2

Rata-rata Tahun 2005-2010 kota hanya mampu memberikan kontribusi


ekonomi terhadap nasional sebesar 40% terhadap total PDRB sedangkan
jika dilihat proses urbanisasi dalam kurun waktu 2000-2010 sebesar
2,12%. Kota metropolitan memberikan kontribusi paling besar rata-rata
sebesar 27% dalam kurun waktu 2005-2010 dengan jumlah kota hanya
15% dari jumlah kota yang ada. Sedangkan kota sedang yang memiliki
jumlah kota terbanyak yaitu sebesar 56% dari seluruh kota hanya mampu
memberikan sumbangan ekonomi sebesar 7% dan terlihat juga
mengalami penurunan dalam kurun waktu 2009-2010. Kota kecil belum
memberikan peran pertumbuhan yang baik, ini terlihat dari nilai kontribusi
terhadap perekonomian nasional masih di bawah 1% begitu juga kota
besar masih berada di angka 5%.
Gambar 2. 8 Kontribusi PDRB Kota Berdasarkan Peran Kota
terhadap Perekonomian Nasional

Sumber: Hasil Analisis 2012

Jika diperhatikan dari sudut pandang peran kota yang ditetapkan oleh
RTRWN, kota yang berperan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 36% sedangkan kota yang
berperan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) hanya mampu
memberikan kontribusi sebesar 5% bagi perekonomian nasional.
Diperlukan upaya yang strategis guna meningkatkan peran kota sebagai

38

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

pusat pertumbuhan nasional, sesuai harapan yang tertuang dalam


kebijakan pembangunan perkotaan RPJMN 2009-2014.

Daya saing daerah menjadi salah satu isu utama dalam pembangunan
perkotaan. Konsep daya saing umumnya dikaitkan dengan kemampuan
suatu perusahaan, kota, daerah, wilayah atau negara dalam
mempertahankan atau meningkatkan keunggulan kompetitif secara
berkelanjutan . Kota-kota besar di Indonesia mempunyai peran strategis
dalam pembangunan wilayah sebagai simpul jasa, koleksi dan distribusi,
yang mempunyai hubungan ke belakang dengan kota-kota kecil dan
daerah pinggir kota (hinterland), juga hubungan ke depan dengan kotakota besar lainnya. Daya saing kota-kota besar dan metropolitan di
Indonesia masih rendah terlihat dari ranking yang ditunjukkan pada tabel
2.2.
Tabel 2. 2

Daya Saing Kota-Kota Metropolitan di IndonesiaTahun


2012 -2013

Kota
Metropolitan
Bandung
Jakarta
Makassar
Medan
Semarang
Surabaya

BAB 2

B. Rendahnya Daya Saing Perkotaan dalam Lingkup Regional


Wilayah

Ranking
Kemudahan
untuk Memulai
Usaha

Ranking
Kemudahan
untuk Perijinan

12
8
17
19
4
14

8
19
11
6
8
16

Ranking
Kemudahan
untuk
Pendaftaran
Kepemilikan
1
1
9
7
19
11

Sumber: Doing Business 2012-2013

Daya saing menentukan sejauh mana kinerja sebuah kota yang dapat
diukur dari faktor-faktor utama (input) dan kinerja perekonomian (output).
Faktor-faktor utama pembentuk daya saing terdiri dari 5 indikator utama,
yaitu lingkungan usaha produktif, perekonomian daerah, Ketenagakerjaan
dan sumberdaya manusia, infrastruktur, sumberdaya alam dan
lingkungan, perbankan dan lembaga keuangan.

Porter, 2000.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

39

Sedangkan kinerja perekonomian (output) mencakup produktivitas tenaga


kerja, tingkat kesempatan kerja, dan PDRB per kapita. Salah satu faktor
utama pengukur daya saing kota adalah jumlah penduduk bekerja yang
dipisahkan menurut tipologi kota, yang terlihat pada Gambar 2.9.

BAB 2

Gambar 2. 9 Persentase Jumlah Penduduk Bekerja Menurut


Tipologi KotaTahun 2007-2011

Sumber: Diolah dari Data Ketenagakerjaan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Tahun 2008-2011.

Terjadi ketimpangan yang tinggi antara penduduk bekerja di kota


metropolitan dibandingkan kota besar, kota sedang, terlebih lagi di kota
kecil dimana daya saing kota metropolitan jauh lebih tinggi daripada kota
lainnya. Salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing bagikota-kota
besar, sedang dan kecil adalah meningkatkan lapangan pekerjaan dan
kesempatan bekerja bagi penduduknya.
C. Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah
Kota merupakan pusat peradaban manusia yang berkembang secara
dinamis dan merupakan konsentrasi penduduk, prasarana-sarana,
kegiatan sosial dan ekonomi. Secara alami, kota dan kawasan perkotaan
tumbuh dengan kecepatan yang jauh meninggalkan wilayah perdesaan,
menyisakan persoalan disparitas tingkat perkembangan wilayah.
Indonesia masih menghadapi fenomena disparitas wilayah yang
ditunjukkan oleh belum meratanya pembangunan, dimana sebagian
wilayah masih dapat dikategorikan kurang maju atau tertinggal.

40

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Ketimpangan antar wilayah Barat dan Timur Indonesia


Terjadinya pemusatan kegiatan ekonomi di kawasan barat
Indonesia, menyebabkan lemahnya keterkaitan ekonomi antar
wilayah barat dan timur Indonesia. Berdasarkan hasil kajian
ketimpangan pembangunan ekonomi kota-kota bagian barat dan
kota-kota bagian timur Indonesia, ketimpangan kota-kota PKN dan
PKW di Indonesia Bagian Barat lebih tinggi dibandingkan
Indonesia bagian timur. Begitu juga melihat nilai indeks
ketimpangannya sangat besar, bila ditambahkan Jakarta dalam
perhitungan nilai ketimpangannya semakin tinggi. Jika
dibandingkan ketimpangan kota Indonesia bagian barat dengan
kota Indonesia bagian timur maka ketimpangan menjadi sangat
tinggi. Ketimpangan kegiatan ekonomi ini semakin meningkat dari
6 kali lipat di Tahun 2005 menjadi 7 kali lipat di Tahun 2010.

BAB 2

Meskipun secara umum pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami


peningkatan setiap tahunnya, namun pada kenyataannya kegiatan
ekonomi masih terpusat di Kawasan Barat Indonesia. Pemusatan
kegiatan ekonomi pada satu wilayah tersebut menyebabkan lemahnya
keterkaitan ekonomi antar wilayah, baik antara wilayah jawa dengan luar
jawa, antar provinsi, antar kabupaten/kota, juga antar desa-kota.

Gambar 2. 10 Perbandingan Nilai Produk Regional Bruto Kota


Indonesia Bagian Barat dan Kota Indonesia Bagian
Timur

Sumber: Hasil analisis, 2012.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

41

BAB 2

Jika mengacu pada hasil analisis Indeks Williamson bahwa


ketimpangan antar kota di Indonesia yang berperan sebagai PKN
mengalami peningkatan dari 9,24 di Tahun 2008 menjadi 9,67 di
Tahun 2010. Jakarta memberikan kontribusi ketimpangan yang
sangat besar, tanpa Jakarta indeks ketimpangan di Tahun 2008
sebesar 2,13 meningkat menjadi 2,16 di Tahun 2010. Jakarta
tumbuh menjadi kota dengan pembangunan yang cepat,
meninggalkan kota-kota lainnya. Sedangkan antara kota-kota
PKW juga sangat tinggi yaitu sebesar 4,57 di Tahun 2008 menjadi
4,71 di Tahun 2010.
Gambar 2. 11 Ketimpangan Pembangunan Ekonomi (Indeks
Williamson) Antar Kota Berdasarkan Peran Kota di
KBI-KTI

Sumber: Hasil Analisis 2012


Ket: nilai indeks ketimpangan lebih besar dari 1 maka ketimpangan sangat tinggi.

2. Ketimpangan antar kota


Ketimpangan antar kota terjadi karena pesatnya pembangunan di
kota metropolitan dan kota-kota besar, namun kurang ditunjang
oleh pola keterkaitan dengan kota-kota lain.Kota metropolitan dan
kota-kota besar belum berfungsi untuk mendorong pertumbuhan
kota sedang dan kecil sehingga menyebabkan terjadinya
kesenjangan perkembangan antar kota.Ketimpangan antar kota
terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang digambarkan dengan
perbandingan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tiap-tiap

42

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

kota berdasarkan tipologi kota. Kota metropolitan mengalami


peningkatan PDRB yang jauh lebih tinggi dibandingkan kota-kota
lain, sedangkan kota besar dan kota sedang cenderung
mengalami peningkatan yang relatif kecil sehingga terjadi
ketimpangan pertumbuhan ekonomi yang tinggi antara kota
metropolitan dengan kota-kota lainnya akibat dari belum
berfungsinya kota metropolitan sebagai pendorong kegiatan
ekonomi bagi kota-kota lain. Kecenderungan ini tidak mengalami
perubahan dalam kurun waktu Tahun 2005-2010
Gambar 2. 12 Persentase PDRB Berdasarkan Tipologi Kota terhadap
Perekonomian Tahun 2005-2010

Sumber: Diolah dari kabupaten/kota dalam angka 2006-2011

Ketimpangan akses pelayanan infrastruktur juga terjadi antar


tipologi kota (Tabel 2.3). Berdasarkan analisis data sensus
penduduk Tahun 2010 standar deviasi komponen pelayanan
infrastruktur antar kota kecil rata-rata sangat tinggi yaitu sebesar
17,75; untuk kota sedang sebesar 11,78; untuk kota besar
sebesar 9,23 dan terendah antar kota metropolitan sebesar 7,4.
Ini menunjukkan bahwa penyediaan pelayanan sarana prasarana
di kota metropolitan dan kota besar relatif lebih merata ketimbang
penyediaan sarana-prasarana di kota kecil dan kota sedang.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

43

Tabel 2. 3

BAB 2

Tipologi
Kota
2011

Ketimpangan Akses Rumah Tangga Terhadap


Infrastruktur Berdasarkan Tipologi Kota Tahun 2010

Pelayanan
Panjang
Jalan

Pelayana
n Akses
Listrik

Pelayanan
Akses
Telekomunika
si

Pelayanan
Akses Air
Bersih

Pelayanan
Akses
Persampaha
n

Pelayan
an Akses
Sanitasi

Standard Deviation

Kecil

26,86

6,95

12,03

14,03

31,75

14,9

Sedang

11,53

9,34

6,36

7,36

23,1

12,96

Besar
7,02
4,99
6,02
2,44
20,8
Metropo
5,11
4,43
2,09
1,54
16,4
litan
Sumber: hasil analisis 2012 diolah dari data BPS, sensus penduduk 2010

14,09
14,82

3. Ketimpangan antar desa-kota


Ketimpangan kota-desa terjadi karena belum adanya hubungan
timbal balik yang saling mendukung satu sama lain. Kota semakin
berkembang dengan teknologi, pembangunan prasarana-sarana
dan fasilitas pendukung kehidupan lainnya yang menjadi daya
tarik masyarakat yang tidak ditemukan di desa.
Gambar 2. 13 Penduduk Miskin Kota-Desa Menurut Pulau (Maret
2012)

Sumber: Diolah dari BPS-Berita Resmi Statistik Kemiskinan 2012.

44

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Kota dengan daya tarik kegiatan ekonominya; sedangkan desa


dengan karakteristik kegiatan yang sebagian besar pertanian,
mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena tidak dapat
mengimbangi daya tarik yang diberikan kota. Ketimpangan antara
kota dan desa ditunjukkan oleh rendahnya tingkat kesejahteraan
masyarakat desa, rendahnya pembangunan di desa dibandingkan
di kota, dan tingginya ketergantungan desa terhadap kota.
Gambar 2.13 menunjukkan persentase perbandingan penduduk
miskin di kota dan desa menurut pulau. Gambar 2.14
menunjukkan perbandingan PDRB kabupaten dan PDRB kota,
terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi kota jauh lebih baik
dibandingkan PDRB kabupaten.
Gambar 2.14 Perbandingan PDRB Kabupaten dan PDRB Kota Tahun
2000-2011

Sumber: BPS, 2000-2012.

D. Rendahnya Ketahanan
Perubahan Iklim

Kota

Terhadap

Bencana

dan

Kota-kota Indonesia akan menghadapi bencana dengan frekuensi yang


semakin meningkat. Gambar 2.15 menunjukkan adanya peningkatan
frekuensi bencana yang terjadi di Indonesia dari Tahun 1815-2011,
khususnya dari Tahun 1998-2011 frekuensi bencana meningkat secara

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

45

tajam. Sebagian besar korban bencana diakibatkan oleh gempa bumi


yang disertai tsunami, kemudian disebabkan oleh letusan gunung berapi,
banjir serta gempa bumi (Gambar 2.16).

BAB 2

Secara geografis, kota-kota di Indonesia berada pada kondisi rawan


bencana (Gambar 2.17). Kota-kota di Pulau Jawa-Bali dan Nusa
Tenggara, Sumatera serta Sulawesi memiliki kerentanan terhadap
bencana yang sangat tinggi. Sebesar 82% kota di Indonesia memiliki
indeks rawan bencana dengan tingkat tinggi sedangkan sisanya sebesar
18% kota di Indonesia dengan indeks rawan bencana sedang (Tabel
2.4).
Kota-kota yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dengan jumlah
penduduk tinggi akan menjadi kota-kota yang sangat rentan daya
tahannya terhadap berbagai bencana tersebut, baik bencana sebagai
akibat posisi geografis Indonesia pada ring of fire maupun sebagai
akibat perubahan iklim.
Gambar 2.15 Frekuensi Terjadinya Bencana di Indonesia Tahun
1815-2011

Sumber: BNPB, 2012

46

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 16 Jumlah Korban Meninggal Berdasarkan Jenis Bencana


Tahun 1815-2011

Sumber: BNPB, 2012.

Gambar 2. 17 Sebaran Kejadian Bencana per Kabupaten/Kota Tahun


1815-2012

Sumber: BNPB, 2012

Tabel 2. 4

Jumlah Kota Berdasarkan Indeks Rawan Bencana


Tahun 2011
Tipologi Kota
2011

Indeks Rawan Bencana Tahun 2011

Sedang
Tinggi
Metropolitan
1
10
Besar
0
16
Sedang
13
43
Kecil
3
8
Jumlah
17
77
Sumber: Diolah dari BNPB, Indeks Rawan Bencana Indonesia 2011.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

47

2.4.2 Isu Umum Pembangunan Perkotaan di Indonesia

BAB 2

Isu umum pembangunan perkotaan merupakan permasalahan yang


dihadapi oleh seluruh tipologi kota di Indonesia.Tujuh isu umum dalam
pembangunan perkotaan di Indonesia adalah 1) Kemiskinan perkotaan;
2) Modal sosial masyarakat perkotaan yang belum dapat dikembangkan
untuk mendukung pembangunan perkotaan; 3) Pengembangan ekonomi
lokal perkotaan yang belum mampu meningkatkan perekonomian kota; 4)
Belum optimalnya penyediaan perumahan, prasarana dan sarana
perkotaan; 5) Penyelenggaraan penataan ruang dan penatagunaan tanah
perkotaan yang belum efisien;6) Pengelolaan lingkungan, mitigasi dan
adaptasi bencana serta perubahan iklim dalam pengelolaan perkotaan
belum menjadi acuan pengarusutamaan dalam pembangunan perkotaan;
7) Tata kelola dan kelembagaan belum dapat mengantisipasi dinamika
dan tuntutan pembangunan perkotaan yang sangat tinggi.
A. Kemiskinan Perkotaan
Tingginya laju urbanisasi serta globalisasi dunia menyebabkan
peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada peningkatan
pendapatan penduduk Indonesia. Namun tidak semua masyarakat
merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Masyarakat
miskin tidak memiliki akses terhadap prasarana dan sarana dasar
lingkungan yang memadai, seperti kualitas perumahan dan permukiman
yang jauh dibawah standar kelayakan, rendahnya tingkat pendidikan
masyarakat dan meningkatnya masyarakat perkotaan yang bekerja di
sektor informal di perkotaan.
Kondisi kemiskinan di Indonesia, khususnya pada kota dan kawasan
perkotaan dipengaruhi oleh perkembangan perekonomian nasional dan
global. Globalisasi yang seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan
seluruh masyarakat belum dapat diimbangi dengan kekuatan ekonomi
lokal Indonesia yang disebabkan oleh ketidakmampuan bersaing dalam
pasar global. Ketergantungan terhadap produk dan jasa dari luar semakin
tinggi,yang pada akhirnya menimbulkan pola hidup konsumtif dan mudah
terpengaruh oleh tekanan kekuatan pasar global yang pada gilirannya
mengikis kemandirian masyarakat.

48

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 18 Perkembangan Persentase Kemiskinan di


IndonesiaTahun 2004-2012

Sumber: BPS,2012

Kemiskinan masyarakat di perkotaan merupakan realita sosial yang


memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait. Kemiskinan
bersifat multi dimensional dan cenderung membentuk siklus yang secara
berkesinambungan dan terus berlanjut sehingga sulit diputus pada fase
manapun yang dilalui. Berdasarkan data terakhir, jumlah dan persentase
penduduk miskin menurun dari tahun 2004 ke 2005. Namun, pada tahun
2006 jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan karena harga barangbarang kebutuhan pokok saat itu naik tinggi yang digambarkan oleh
inflasi umum sebesar 17,95 persen. Mulai tahun 2007 sampai 2012
jumlah maupun persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan
hingga terakhir sejumlah 10,51 juta orang (September 2012).
Perkembangan kemiskinan di Indonesia dari tahun 2004-2012 telah
ditunjukkan pada Gambar 2.18. Meskipun angka kemiskinan terus
menurun, angka kemiskinan mengalami penurunan yang cenderung
melambat. Kemiskinan tidak boleh dibiarkan berlangsung terus karena
akan menjadi beban yang semakin berat dalam kemajuan pembangunan
secara nasional.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

49

Tabel 2. 5

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut


Daerah Maret 2012 dan September 2012

BAB 2
Sumber: BPS, 2012

Jumlah penduduk miskin menurut tipologi kota pada tahun 2005 hingga
tahun 2010 (Gambar 2.19) menggambarkan bahwa penduduk miskin
mengalami peningkatan dari Tahun 2005-2010 di kota metropolitan yaitu
sebesar 39%, kota besar 43%, kota sedang 10%, sedangkan kota kecil
91%. Pertumbuhan perekonomian di kota belum mampu menyelesaikan
masalah kemiskinan secara signifikan, dimana daya serap kota bagi
masyarakat untuk mencari penghidupan di kota yang sangat tinggi, belum
diimbangi oleh kesempatan dan kapasitas yang sama oleh setiap individu
untuk meningkatkan tarap hidup di kota. Kesempatan yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat kota sangat terkait dengan daya saing
masyarakat, seperti kreativitas, inovasi, keahlian, pendidikan, dan hal
lainnya yang menunjang tingkat produktivitas individu.

50

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 19 Penduduk Miskin Menurut Tipologi Kota Tahun 20052010

Sumber:Diolah dari Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2010, BPS.

B. Belum Optimalnya Pengembangan Modal Sosial Masyarakat


Perkotaan
Dalam pengembangan ekonomi kota, unsur yang tidak kalah penting
adalah norma-norma sosial masyarakat sebagai satu komunitas yang
dikenal dengan modal sosial. Modal sosial sebagai suatu rangkaian
proses hubungan antar manusia yang ditopang oleh jaringan, normanorma dan kepercayaan sosial yang memungkinkan efektif dan
efisiennya koordinasi dan kerjasama untuk keuntungan dan kebaikan
bersama. Jejaring sosial masyarakat kota belum mampu menciptakan
peluang baik sosial maupun ekonomi masyarakat. Gaya hidup di
perkotaan saat ini telah menurunkan modal sosial yang ada di
masyarakat. Lunturnya modal sosial masyarakat perkotaan antara lain
ditunjukkan sebagai berikut:
1. Tingginya tingkat kriminalitas di perkotaan yang ditandai dengan
meningkatnya kasus pidana, seperti pencurian, perampokan dan
penjarahan
Jumlah tindak pidana secara nasional terlihat mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun sejak Tahun 2002 sampai
Tahun 2012 (Gambar 2.20). Peningkatan tertinggi terjadi dalam
7

Eva Cox (1995)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

51

kurun waktu 2005-2007, hingga tahun 2012 belum ada tanda


signifikan dan progresif terkait penurunan angka kriminalitas
secara nasional.
Gambar 2. 20 Jumlah Tindak Pidana Tingkat Nasional

BAB 2
Sumber: BPS, 2002-2012

Meningkatnya kasus pidana, khususnya di kota metropolitan dan


kota besar akan mengganggu kenyamanan kehidupan penduduk
di perkotaan. Gambar 2.21 menunjukkan beberapa kasus pidana
yang terjadi pada tahun 2006, 2008 dan 2011 berdasarkan
tipologi kota.
Gambar 2. 21 Jumlah Kelurahan yang Mengalami Tindak Pidana
Pencurian Perampokan, dan Penjarahan Menurut
Tipologi Kota Tahun 2006, 2008, 2011

Sumber: BPS, Podes 2006, 2008, 2011

52

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2. Kurang optimalnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)


Tenaga kerja dengan lulusan SMTA kejuruan dan perguruan
tinggi masih sangat rendah. Padahal untuk meningkatkan daya
saing kota sangat diperlukan kemampuan SDM untuk berinovasi,
kreatif, produktif berbasiskeahlian. Meningkatnya kapasitas
sumber daya manusia yang tinggal diperkotaan juga akan
memberikan dampak positif terhadap menurunnya jumlah
pengangguran di perkotaan.

BAB 2

Peningkatan kasus yang cukup signifikan di kota-kota


metropolitan, besar dan sedang, menunjukkan sudah sangat
diperlukan peningkatan sistem keamanan dan penegakan
hukum yang perlu memberikan kenyamanan hidup penduudk
perkotaan.

Gambar 2. 22 Penduduk yang Bekerja di Perkotaan Menurut


Pendidikan

Sumber: Kemenakertrans, 2012

Dalam upaya pengembangan usaha daya saing kota,


produktivitas tenaga kerja penduduk perkotaan akan dipengaruhi
oleh tingkat pendidikannya. Berdasarkan perkembangan Tahun
2008-2012 sebagian besar penduduk yang bekerja di kota-kota
ternyata berpendidikan Sekolah Dasar (SD).
Dengan tingkat pengangguran terbuka yang sangat tinggi di kota
metropolitanmerupakan tantangan bagi kota metropolitan untuk
peningkatan kualitas SDM untuk sepenuhnya dikontribusikan
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

53

bagi pembangunan perkotaan disatusisi, serta menjaga kualitas


SDM dalam konteks urbanisasi.
Gambar 2. 23 Jumlah Pengangguran Terbuka Menurut Tipologi Kota
Tahun 2008-2011

BAB 2
Sumber: Kemenakertrans, 2012

3. Belum diperhatikannya kebutuhan kelompok disable dan lanjut


usia dalam pelayanan publik perkotaan
Jumlah penyandang cacat yang tinggal di perkotaan mengalami
peningkatan yang sangat berpengaruh terhadap penyediaan dan
pelayanan perkotaan kedepan dalam rangka memberikan
kesempatan yang sama serta membangun masyarakat kota
yang sehat. Selain penyandang cacat, pembangunan kota
kedepannya juga perlu memperhatikan pembangunan kota untuk
semua kalangan umur mulai dari balita hingga lansia. Penduduk
kota yang menyandang cacat tuna netra mengalami peningkatan
sebesar 71% kurun waktu Tahun 2006-2011, sedangkan untuk
penyandang tuna daksa meningkat sebesar 26% dalam kurun
waktu yang sama, keduanya meningkat tajam di kota
metropolitan dan kota sedang. Pembangunan kota sedang, kota
besar sampai dengan kota metropolitan seyogyanya sudah
menyediakan fasilitas yang memadai bagi kelompok disable dan
lanjut usia.

54

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 24 Jumlah Penyandang Cacat yang Bertempat Tinggal di


Kota Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011

Sumber: BPS, Podes 2006-2011

4. Rendahnya kesehatan di perkotaan


Kondisi lingkungan yang kurang baik merupakan salah satu
penyebab penyakit bagi penduduk di perkotaan. Penyakit diare,
demam berdarah, TBC dan ISPA sebagian besar terjadi di kota
metropolitan, kota besar dan kota sedang, sedangkan di kota
kecil sebagian besar terjangkit penyakit malaria. Menurunnya
kualitas dan kebersihan lingkungan di perkotaan baik kota
metropolitan, kota besar, kota sedang dan kota kecil
menyebabkan lingkungan kota tidak nyaman untuk dihuni oleh
penduduknya. Untuk meningkatkan hidup sehat masyarakat
perkotaan maka diperlukan penerapan budaya sehat masyarakat
kota disamping itu juga diperlukan sistem kesehatan kota yang
terjangkau bagi semua penduduk dengan kualitas pelayanan
yang baik, serta juga perlu pengembangan asuransi kesehatan
pagi penduduk perkotaan juga perlu dilakukan.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

55

Gambar 2. 25 Jumlah Penduduk yang Pernah Mengalami Sakit


Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis Penyakit Tahun
2008-2011 (1)

BAB 2
Sumber: BPS, Podes 2006-2011

Gambar 2. 26 Jumlah Penduduk yang Pernah Mengalami Sakit


Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis Penyakit Tahun
2008-2011 (2)

Sumber: BPS, Podes 2006-2011

56

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Kemajuan kota dan kawasan perkotaan dilihat dari perkembangan


ekonomi dan kapasitas fiskal daerah. Perkembangan ekonomi dan
kapasitas fiskal menandakan kota dan kawasan perkotaan tersebut maju
dan berdaya saing. Untuk dapat berdaya saing, kota dan kawasan
perkotaan harusstabil yang didukung oleh manajemen perkotaan yang
baik, pengembangan potensi unggulan dan kemampuan keuangan
daerah yang baik pula. Namun, pada kenyataannya, banyak kota dan
kawasan perkotaan di Indonesia yang kurang dapat bersaing dalam
lingkup nasional maupun global. Beberapa isu dalam pengembangan
ekonomi lokal perkotaan antara lain:

BAB 2

C. Belum Optimalnya Pembinaan dan Pengembangan Ekonomi


Lokal Perkotaan

1. Belum kuatnya keberpihakan pemerintah daerah terhadap


investasi yang memperkuat ekonomi lokal;
2. Belum optimalnya penanganan dan perencanaan terhadap sektor
informal;
3. Belum optimalnya pengembangan dan pembinaan terhadap
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terutama
pengembangannya pada tingkat hulu (upstream);
4. Belum optimalnya manajemen perkotaan untuk mendukung
kinerja perekonomian kota yaitu regulasi yang belum efisien dan
efektif, serta alokasi dana publik yang belum memadai.
UMKM sebagai salah satu indikator ekonomi lokal di perkotaan
merupakan potensi besar perekonomian kota. Pertumbuhan UMKM di
Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Investasi disektor
UMKM terus mengalami peningkatan dengan kontribusi positif dari tahun
ke tahun serta unit usaha dan tenaga kerja semakin meningkat ( Gambar
2.27). Momentum ini sangat baik untuk dimanfaatkan dalam
perkembangan ekonomi kota yang dapat menyerap tenaga kerja produktif
untuk pengembangan daya saing kota.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

57

Gambar 2. 27 Kontribusi UMKM Nasional Tahun 2006-2010

BAB 2
Sumber: Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, 2006-2010

D. Belum Optimalnya Penyediaan Perumahan, Prasarana dan


Sarana Perkotaan
Tingginya jumlah penduduk di kota dan kawasan perkotaan perlu
diimbangi dengan kemampuan kota dalam memfasilitasi kebutuhan
semua penduduknya. Bertambahnya penduduk berarti bertambahnya
kebutuhan akan ruang dan prasarana-sarana. Kebutuhan akan tempat
tinggal, prasarana dan sarana seperti transportasi dan listrik menjadi
kebutuhan yang harus dipenuhi demi kenyamanan kehidupan penduduk
kota. Saat ini pelayanan di kota dan kawasan perkotaan di Indonesia
belumdapat memenuhi kebutuhan penduduk yang selalu bertambah
sehingga menimbulkan banyak permasalahan yang apabila tidak segera
ditangani akan berdampak negatif terhadap kegiatan di perkotaan.
Beberapa permasalahan yang dihadapi perkotaan di Indonesia terkait
perumahan, prasarana dan sarana antara lain:
1.

Belum optimalnya penyediaan perumahan dan permukiman yang


layak dan terjangkau
Kewajiban pemerintah kota adalah menyediakan lingkungan
permukiman yang aman, sehat dan terjangkau serta ramah
untuk kaum lansia dan disable. Memperhatikan bahwa masih
besarnya proporsi penduduk yang belum memenuhi tempat
tinggal, menjadi tantangan khususnya kota metropolitan, kota
besar dan kota sedang untuk memenuhi hal tersebut menjadi

58

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Gambar 2. 28 Persentase Rumah Tangga Menurut Status


Kepemilikan RumahTahun 2010

BAB 2

perhatian, serta memperhatikan tingkat pertumbuhan penduduk


kota metropolitan, kota besar dan kota sedang yang sangat
tinggi, maka penyediaan rumah vertikal seperti rumah susun
merupakan solusi tepat untuk memenuhi kebutuhan tempat
tinggal yang layak dan terjangkau bagi penduduk perkotaan
khususnya di kota metropolitan dan kota besar.

Sumber: Sensus Penduduk, 2010

Gambar 2. 29 Jenis Lantai Terluas dari Tempat Tinggal Rumah


Tangga Menurut Tipologi Kota

Sumber: Sensus Penduduk, 2010

Kondisi rumah di kota yang belum layak ditunjukkan dengan


masih tingginya penggunaan bambu, tanah dan papan sebagai

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

59

lantai tempat tinggal serta luas lantai bangunan tempat tinggal


rumah tangga di kota dibawah 39 m2 masih tinggi yaitu sebesar
38% rumah tangga khususnya di kota metropolitan, kota besar
dan kota sedang.

BAB 2

Memperhatikan adanya upaya revitalisasi kawasan permukiman


kumuh di perkotaan. Jumlah bangunan yang berada di bantaran
sungai terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu Tahun
2006-2011 yaitu sebesar 28%, khususnya paling banyak terjadi
di kota besar dan kota metropolitan yang masing-masing tumbuh
sebesar 48% dan 24%, maka revitalisasi kawasan tersebut perlu
diprioritaskan di kawasan ini.
Gambar 2. 30 Jumlah Bangunan Rumah di Bantaran Sungai Tahun
2006-2011

Sumber: BPS, Podes 2006-2011

2. Kualitas dan kuantitas sarana prasarana umum belum dapat


memenuhi kebutuhan warga kota
Perkembangan kawasan perkotaan yang sedemikian cepat tidak
diimbangi dengan penyediaan prasarana dan sarana lingkungan
permukiman sehingga mempengaruhi peningkatan kualitas
kehidupan perkotaan. Berbagai permasalahan tersebut
diantaranya:

60

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Penyediaan Listrik

Peningkatan jumlah keluarga yang


tinggal di kota tidak diimbangi
dengan pertumbuhan penyediaan
pelayanan listrik oleh pemerintah
kota (Gambar 2.31). Hal tersebut
terlihat dari persentase keluarga
pengguna listrik di kota mengalami
peningkatan kurun waktu 20062008dan mengalami penurunan dalamkurun waktu 2008-2011.

BAB 2

a.

Gambar 2. 31 Jumlah Keluarga Pengguna Listrik pada Tahun 20062011

Sumber: BPS, Podes 2006, 2008, 2011.

Suplai PLN untuk rumah tangga di kota belum mencukupi.


Pelayanan listrik terendah berada di kota sedang dan kota kecil.
Jika diperhatikan berdasarkan data sensus penduduk 2010
masih terdapat keluarga yang menggunakan sumber
penerangan bukan listrik begitu juga tingkat penggunaan listrik
ilegal masih tinggi.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

61

Gambar 2. 32 Sumber Penerangan Utama Tempat Tinggal Menurut


Tipologi Kota Pada Tahun 2010

BAB 2
Sumber: BPS, Sensus penduduk 2010

b.

Penyediaan Telekomunikasi

Persentase keluarga pengguna telepon


kabel di kota semakin menurun dari
tahun ke tahun. Mudahnya akses
keluarga terhadap telepon genggam
menyebabkan turunnya jumlah keluarga
pengguna telepon kabel. Peralihan
teknologi ini menyebabkan konsumen
beralih menggunakan alat yang lebih
mudah dan murah. Pada Gambar 2.34 terlihat bahwa dalam
kurun waktu 2006-2011, perbaikan terhadap prasarana
telekomunikasi terutama telepon genggam mengalami
peningkatan.

62

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 33 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Telepon


Kabel Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011

Sumber: BPS, Podes 2006-2011

Selain telepon genggam, telekomunikasi yang sangat umumnya


digunakan di perkotaan adalah internet. Namun pada
kenyataannya, akses rumah tangga di kota terhadap internet
masih rendah hanya sebesar 29,35% rumah tangga di kota
dapat mengakses internet pada tahun 2010. Perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi yang semakin cepat
seyogyanya dimanfaatkan oleh kota-kota di Indonesia untuk
meningkatkan kinerja perekonomian kota dengan tingkat
efisiensi energi dan sektor lainnya semakin membaik.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

63

Gambar 2. 34 Jumlah Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap


Sarana PrasaranaTelekomunikasi Menurut Tipologi
Kota Tahun 2010

BAB 2
Sumber: BPS, Sensus Penduduk 2010

Gambar 2. 35 Keberadaan Sinyal Telepon Genggam di Kota Menurut


Tipologi KotaTahun 2006-2011

Sumber: BPS, Podes 2006-2011

64

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 36 Akses Rumah Tangga Terhadap Internet Menurut


Tipologi Kota Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010

Sumber: BPS, Sensus Penduduk 2010

c.

Penyediaan air bersih

Akses pelayanan air bersih untuk wilayah


perkotaan secara keseluruhan
sampai
dengan Tahun 2009 masih dibawah 50%
(Gambar 2.37). Memperhatikan bahwa
disatu sisi bahwa air sebagai kebutuhan
pokok bagi masyarakat, namun dilain pihak
jumlah penduduk yang besar serta
pertumbuhan penduduk yang cepat di
perkotaan, maka persoalan air bersih perlu
mendapat penanganan yang cepat oleh pemerintah.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

65

Gambar 2. 37 Proporsi Rumah Tangga dengan Akses Terhadap Air


Minum Layak Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan
Tahun 1993-2009

BAB 2
d.

Persampahan

Tingkat pelayanan pengelolaan sampah di kota kecil dan kota


sedang masih sangat rendah dibandingkan kota besar dan kota
metropolitan. Walaupun sebagian kota-kota telah memiliki
fasilitas Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) namun pengelolaan sampah masih
belum memadai.
Sebagian besar kota-kota sudah memiliki TPS dan mekanisme
pengangkutan tersendiri namun buang sampah disungai serta
proses penimbunan dan pengolahan tradisional masih menjadi
fenomena di kota-kota Indonesia. Kota metropolitan dan kota
besar menghadapi tantangan penyediaan TPS, TPA serta
pengelolaannya mewujudkan kota tanpa sampah no waste
dalam upaya meningkatkan kenyamanan hunian kota.

66

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 38 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar Masyarakat


Kelurahan

Sumber: BPS, Podes 2006-2011.

Gambar 2. 39 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar


MasyarakatKelurahan Tahun 2006-2011

Sumber: BPS, Podes 2006-2011

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

67

e.

Sanitasi

BAB 2

Ketersediaan sarana prasarana sanitasi akan sangat


memberikan
dampak
terhadap
kesehatan
lingkungan.
Pengembangan upaya preventif dalam rangka meningkatkan
kualitas kesehatan lingkungan perkotaan perlu dimulai dari
penyediaan dan kualitas pelayanan sanitasi perkotaan yang
baik. Pelayanan sanitasi terutama di kota kecil masih belum baik.
Jika dibandingkan dengan tipologi kota yang lainnya akses
terhadap sanitasi di kota kecil masih dibawah 60%.
Gambar 2. 40 Persentase Akses Rumah Tangga Terhadap Sarana
Prasarana Sanitasi Menurut Tipologi Kota Tahun 2010

Sumber: BPS, Sensus Penduduk 2010

68

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 41 Persentase Rumah Tangga Terhadap Status


Kepemilikan Prasarana Sanitasi Tahun 2010

Sumber: BPS, Sensus Penduduk 2010

Angka rumah tangga yang tidak memiliki terhadap sanitasi masih


terlihat tinggi di kota kecil dan kota sedang. Sarana prasarana
sanitasi dikota saat ini masih sebagian besar menggunakan
sistem on site padahal penerapan sistem off site bagi kota-kota
besar dan metropolitan penting diterapkan untuk menjaga
kualitas lingkungan terutama antisipasi terhadap pencemaran air
tanah yang berlebihan.
E. Belum Efisiennya Penyelenggaraan Penataan Ruang dan
Penatagunaan Tanah perkotaan
Penyelenggaraan penataan ruang merupakan bagian penting dalam
mewujudkan tata ruang kota yang diharapkan. Dalam perkembangan
penyelenggaraan penataan ruang perkotaan masih banyak ditemukan
berbagai persoalan. Beberapa isu penyelenggaraan penataan ruang dan
penatagunaan tanah di perkotaan antara lain:
a. Pengendalian tata ruang belum mampu mengatasi perluasan
pembangunan permukiman perkotaan ke kawasan pinggiran kota
(urban sprawl);
b. Belum efisiennya pemanfaatan lahan kota;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

69

c. Pemanfaatan ruang kota belum memperhatikan lanskap


perkotaan (urban design) dan identitas kota sesuai potensi
budaya lokal; dan
d. Belum memadainya kinerja administrasi pertanahan dan belum
kuatnya kepastian hukum hak atas tanah (secure tenure).

BAB 2

Penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang


dicerminkan dari tingkat kesesuaian penggunaan tanah terhadap RTRW
provinsi baru mencapai 68,31% dari luas wilayah Indonesia. Belum
tersedianya instrumen pengendalian yang optimal, mekanisme perizinan
yang mengacu kepada RTRW, dan petunjuk pelaksanaan pemberian
sanksi terhadap pelanggaran RTRW menambah berbagai permasalahan
yang muncul diperkotaan. Belum terbentuk Penyidik Pegawai Negeri Sipil
(PPNS) Penataan Ruang yang mencukupi untuk meningkatkan fungsi
pengawasan dalam penataan ruang yang didukung oleh SDM dan
ketersediaan Norma Standar Pedoman dan Kriteria (NSPK).
Selain penyelenggaraan penataan ruang juga muncul masalah terhdap
inventarisasi penguasaan, pemilikan, pemanfaatan dan penggunaan
tanah (P4T), Gambar 2.42 menunjukkan inventarisasi pertanahan masih
rendah. Salah satu persoalan rumit dihadapi dalam revitalisasi tata ruang
kota adalah ketidakjelasan kepemilikan hak atas tanah terutama di
kawasan-kawasan kumuh atau bantaran sungai di kota, pemilik tanah
cenderung mempertahankan kondisi yang ada dibandingkan
bekerjasama dengan pemerintah dalam revitalisasi kawasan.

70

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 42 Inventarisasi Penguasaan,Pemilikan, Pemanfaatan dan


Penggunaan Tanah (P4T)

Sumber: Bappenas, Review Pelaksanaan RPJMN 2010-2014 Bidang Pertanahan,


17
2013.

F. Belum optimalnya Pengelolaan Lingkungan, Mitigasi dan


Adaptasi Bencana Serta Perubahan Iklim dalam pengelolaan
perkotaan
Pertumbuhan perekonomian kota yang cepat berkecenderungan akan
menurunkan kualitas lingkungan kota akibat kegiatan permukiman kota.
Pencemaran lingkungan yang kerap terjadi di kota yaitu menurunnya
kualitas lingkungan udara kota, pencemaran limbah baik yang
disebabkan oleh limbah industri maupun dari limbah rumah tangga, serta
pencemaran suara akibat kebisingan transportasi kota. Selain masalah
pengelolaan lingkungan kota, kota-kota di Indonesia juga dihadapkan
pada kondisi geografis yang rawan bencana serta meningkatkan dampak
perubahan iklim. Beberapa indikator yang terkait dalam pengelolaan
lingkungan, mitigasi bencana dan perubahan iklim dijelaskan sebagai
berikut.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

71

a. Pencemaran lingkungan perkotaan

BAB 2

Kondisi lingkungan yang buruk menyebabkan berbagai masalah


kesehatan yang timbul di perkotaan. Salah satu penyebabnya adalah
terjadinya pencemaran udara perkotaan yang disebabkan oleh polusi
kendaraan bermotor, kegiatan permukiman, dan hasil kegiatan
ekonomi. Indikator pencemar udara yang dapat ditunjukkan oleh
konsentrasi NO2 dan SO2 di udara, dari hasil kajian Kementerian
Lingkungan Hidup Tahun 2012, kota metropolitan memiliki indeks
kualitas lingkungan hidup yang paling rendah jika dibandingkan
dengan tipologi kota yang lainnya. Hal ini menandakan bahwa
tekanan lingkungan lebih tinggi terjadi di kota metropolitan
dibandingkan dengan tekanan lingkungan akibat kegiatan perkotaan
di tipologi kota yang lainnya.
Gambar 2.43 menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di kota
metropolitan paling rendah disusul kota besar kemudian kota sedang.
Selama kurun waktu Tahun 2006-2012 menunjukkan konsentrasi
NO2 di perkotaan cenderung naik, hal ini disebabkan oleh
pembakaran bahan bakar fosil yang terus meningkat, terutama dari
kendaraan bermotor (Kementerian Lingkungan Hidup, 2012).
Gambar 2.44 selain pembandingan kualitas udara antarkota/kabupaten secara umum, hasil pemantauan pasif juga memberi
informasi perbandingan relatif kualitas udara tiap tata guna lahan
yang dipantau. Gambar 2.45 sampai dengan Gambar 2.48
menunjukkan bahwa kota-kota yang padat penduduknya mempunyai
konsentrasi NO2 lebih besar, sedangkan kota dengan aktivitas
industri menunjukkan konsentrasi SO2 relatif tinggi dibandingkan
kota-kota lainnya.

72

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 43 Rata-Rata Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Menurut


Tipologi Kota Tahun 2008

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2008.

Gambar 2. 44 Sebaran Konsentrasi Rata-Rata NO2 dan SO2 di 248


Kota/Kabupaten Indonesia

Kota-kota dengan penduduk yang padat memiliki konsentrasi NO2


lebih besar jika dibandingkan dengan kota-kota yang kurang padat.
Sedangkan kotadengan aktivitas industri yang padat menunjukkan
konsentrasi SO2 relatif tinggi dibandingkan kota-kota. Pemantauan
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

73

BAB 2

udara jalan raya sejumlah kota besar pada 2012 memberikan


informasi beberapa pencemar udara meningkat. Halini berarti
kualitas udara menurun, yang berdampak buruk bagi kesehatan,
pertumbuhan hutan, mengurangi jarak pandang, dan merusak
bangunan karena hujan asam. Selain menimbulkan asap hitam, bau
tidak sedap, iritasi mata dan infeksi pernafasan, pencemaran udara
juga memicu risiko kematian dini, produktivitas kerja menurun, dan
gangguan produksi pertanian. Dapat dilihat pada studi Asian
Development Bank (ADB) pada 2002 yang mengidentifikasikan,
dampak kesehatan karena udara tercemar di Jakarta menelan biaya
Rp 1,8 triliun.
Di kota metropolitan dan kota besar, kendaraan bermotor menjadi
penyumbang terbesar konsentrasi NO2, SO2 dan CO di udara, hingga
melebihi 50 persen. Jika gas NO2 terhirup, akan merusak paru-paru.
Jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar sempurna dan
zat hidrokarbon lain, NO2 akan membentuk ozon rendah atau smogkabut coklat kemerahan yang telah menyelimuti beberapa kota lain di
dunia.
Gambar 2. 45 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Transportasi
Tahun 2011

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup,
2012

74

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 46 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Permukiman


Tahun 2011

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup,
2012

Gambar 2. 47 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Komersial Tahun


2011

Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup,
2012

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

75

Gambar 2. 48 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Industri Tahun


2011

BAB 2
Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup,
2012

b. Mitigasi dan adaptasi bencana


Dampak buruk bencana alam dan perubahan iklim di perkotaan
bertambah parah dengan strategi mitigasi (pengurangan dampak
kerusakan lingkungan) dan adaptasi (penyesuaian diri dengan
lingkungan) yang rendah. Rendahnya mitigasi dan adaptasi terhadap
dampak bencana alam dan perubahan iklim terlihat dari
(Kementerian Lingkungan Hidup, 2012):
1. Rendahnya integrasi antara adaptasi dan mitigasi bencana
serta perubahan iklim terhadap sistem perencanaan,
pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan;
2. Rendahnya ketahanan sosial ekonomi masyarakat sebagai
akibat dari perubahan iklim; dan
3. Rendahnya perhatian pemangku kepentingan terhadap upaya
mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global dan
perubahan iklim.

76

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 49 Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi di Indonesia

Sumber: BNPB, 2013

Gambar 2. 50 Ancaman Bencana Gunung Api di Indonesia

Sumber: BNPB, 2013

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

77

Saat ini kota-kota sedang menghadapi frekuensi bencana banjir, gempa


bumi dan tanah longsor yang paling tinggi. Namun kerentanan kota-kota
besar dan kota metropolitan akan meningkat dengan meningkatnya
frekuensi banjir, gempa dan sebagainya, yang akan menurunkan daya
saing kota serta kenyamanan penduduk untuk tinggal dan berkegiatan.

BAB 2

Gambar 2. 51 Banyaknya Bencana Alam yang Terjadi Menurut


Tipologi Kota

Sumber: BPS, Podes 2006, 2008, 2011

c. Perubahan iklim
Kawasan perkotaan merupakan salah satu sumber utama emisi gas
rumah kaca sebagai konsekuensi dari tingginya populasi dan
intensitas kegiatan yang berbanding lurus dengan pemanfaatan
energi. Hasil pengamatan BMKG menyatakan bahwa gas penyebab
pemanasan global di Indonesia kecenderungan meningkat (Gambar
2.52). Begitu juga dengan pengamatan curah hujan dan temperatur
beberapa kota di Indonesia, contohnya Kota Denpasar, sebagai
akibat dari pemanasan global fluktuasi curah hujan bergeser hampir
sepanjang tahun (Gambar 2.53).

78

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 52 Perbandingan Trend konsentrasi CO2 Tahun 2004-2012

Sumber: BMKG, Informasi Gas Rumah Kaca, 2013.


* CO2Global (garis biru), Mauna Loa (garis merah) dan Stasiun GAW Bukit Kototabang
(garis hijau)

Gambar 2. 53 Pola Curah Hujan bulanan di Denpasar Januari 1979Desember 2010

Sumber: BMKG, Kajian Perubahan Iklim Wilayah Pulau Bali, 2013.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

79

BAB 2

Hal ini dapat dikurangi dengan penerapan prinsip-prinsip


pembangunan berkelanjutan yang mengatur peruntukan ruang yang
lebih efisien, penyediaan transportasi umum yang berkualitas baik,
penerapan rekayasa bangunan hemat energi, serta meminimalkan
sampah melalui gerakan 3R (reduce, reuse, recycle). Pada
kenyataannya, penerapan pembangunan yang berkelanjutan
tersebut masih sulit diterapkan perkotaan di Indonesia. Beberapa
permasalahan yang dapat mengganggu keberlanjutan kota antara
lain:
1. Menurunnya kualitas lingkungan permukiman perkotaan
seperti pencemaran udara, air tanah, dan meningkatnya emisi
gas rumah kaca;
2. Belum ada upaya optimal peningkatan pemanfaatan sumber
daya terbarukan dan pengelolaan lingkungan;
3. Mitigasi dan adaptasi bencana serta dampak perubahan iklim
masih belum terintegrasi kedalam sistem perencanaan,
pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan; dan
4. Tingginya kerentanan sosial ekonomi masyarakat terhadap
dampak bencana dan perubahan iklim, terutama bagi
masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
G. Belum optimalnya tata kelola dan kelembagaan pemerintah
daerah dalam pembangunan dan pengelolaan perkotaan
Isu tata kelola dan kelembagaan pemerintahan perkotaan menjadi isu
penting dalam perkembangan perkotaan yang sangat cepat. Pengelolaan
kota otonom oleh pemerintah kota sudah jelas, namun perkembangan
permasalahan pengelolaan perkotaan justru muncul pada pengelolaan
kawasan perkotaan lintas wilayah yang membutuhkan kerjasama antar
pihak. Belum optimalnya kerjasama pusat-daerah, antarwilayah dan
antar-pihak, kerjasama ekonomi antara pemerintah-swasta yang mampu
melindungi kepentingan publik. Isu ini ditunjukkan sedikitnya kesepakatan
sebagai resolusi konflik dalam pembangunan perkotaan. Isu
pembangunan kawasan perkotaan Metropolitan Jabodetabek, Sarbagita,
Gerbangkertosusila, dan beberapa kawasan metropolitan yang lainnya
(Tabel 2.1) hanya sedikit mampu menyelesaikan permasalahan
pembangunan kota antar wilayah.

80

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pembangunan kota


dan kawasan perkotaan adalah ruang dan pelaku dalam pengelolaan
ruang tersebut. Pemerintah daerah melalui kelembagaannya sebagai
salah satu pelaku pembangunan perkotaan mempunyai wewenang untuk
mengarahkan dan mengendalikan pembangunan kota dan kawasan
perkotaan. Pemerintah kota yang handal, mampu menerjemahkan
peraturan dan perundangan terkait tata ruang dengan baik sehingga
penataan dan pemanfaatan ruang juga penatagunaan lahan dapat
dikendalikan. Namun, pada kenyataannya di Indonesia, penataan ruang
dan penatagunaan lahan perkotaan belum secara efisien tertata dengan
baik sehingga diperlukan perbaikan baik dari segi ruang maupun tata
kelola dan kelembagaan pemerintah kota.
Gambar 2. 54 Permasalahan Tata Kelola dan Kelembagaan
Pembangunan Kota dan Kawasan Perkotaan

Dalam era desentralisasi dan otonomi daerah, peran Pemerintah dalam


pembangunan perkotaan secara langsung semakin berkurang.Pada awal
era pembangunan, Pemerintah cenderung merencanakan dan
melaksanakan berbagai unsur pembangunan kota, sedangkan saat ini,
kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah lebih ditekankanpada fasilitasi
pemerintah daerah agar dapat menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi. Tiga hal yang dibutuhkan pemerintah kota dalam pembangunan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

81

perkotaan adalah pendanaan, SDM dan efisiensi dalam pengelolaan


kota.
Secara spesifik, isu-isu yang terkait dengan tata kelola pemerintah antara
lain:

BAB 2

a. Kapasitas kelembagaan masih belum memadai untuk


menerjemahkan visi misi pembangunan kota kedalam tindakan
nyata;
b. Terbatasnya kapasitas pemerintahan daerah dalam penerapan
good governance dan good public management;
c. Langkanya kepemimpinan kota yang visioner dan berorientasi
kepada kepentingan masyarakat luas;
d. Belum optimalnya upaya pemberdayaan masyarakat kota, serta
belum terwujudnya Community Self-Government di kota.
Terbatasnya kapasitas pemerintah kota dalam penerapan prinsip-prinsip
tata pemerintahan yang baik (good governance) yang meliputi
transparansi, akuntablitas, partisipasi dan efisien serta efektivitas, terkait
dengan terbatasnya upaya pencegahan terhadap kemungkinan
munculnya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) akan sangat
mempengaruhi kemampuan kota untuk membangun kota bagi
kesejahteraan masyarakat perkotaan saat ini dan generasi mendatang.

82

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 55 Rata-Rata Nilai Tata Kelola Ekonomi Daerah Menurut


Tipologi Kota Tahun 2011

Sumber: KPPOD, Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011.

Kondisi tata kelola ekonomi beberapa kota besar dan kota metropolitan
masih rendah. Hal ini menunjukkan belum optimalnya tata kelola
ekonomi kota khususnya untuk kota besar dan kota metropolitan padahal
kontribusi ekonomi terbesar berada di dua tipologi kota ini.Pengelolaan
kota terendah rata-rata di kota metropolitan dengan aspek pengelolaan
ekonomi kota terendah rata-rata dengan indeks di bawah 60, yaitu:
1. Kapasitas dan Integritas Wali Kota (50)
2. Program Pengembangan Usaha Swasta (51)
3. Interaksi Pemda dengan Pelaku Usaha (53)
Tabel 2. 6 Nilai Tata Kelola Ekonomi Kota Tahun 2011
Nama Kota
Blitar
Probolinggo
Batu
Solok
Padang
Panjang
Metro
Kediri
Sawahlunto

Tipologi
Kota
Sedang
Sedang
Sedang
Kecil

Indeks
Total
81
79
76
73

1
2
3
9

Kupang
Bau-Bau
Temate
Surabaya

Tipologi
Kota
Sedang
Sedang
Sedang
Metropolitan

Ranking

Nama Kota

Indeks
Total
65
65
65
64

Ranking
98
106
106
110

Kecil

73

10

Cilegon

Sedang

64

113

Sedang
Sedang
Kecil

73
73
72

11
15
20

Malang
Ambon
Banjarmasin

Besar
Sedang
Besar

64
63
63

117
125
133

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

83

Mojokerto
Bukittinggi
Payakumbuh
Padang
Madiun
Banjarbaru

Tipologi
Kota
Sedang
Sedang
Sedang
Besar
Sedang
Sedang

Bengkulu

Sedang

69

59

Sedang

68

63

Kecil
Sedang
Sedang
Sedang

68
68
67
66

Kecil
Besar

Nama Kota

BAB 2

Palangka
Raya
Pariaman
Jayapura
Palu
Pasuruan
Tidore
Kepulauan
Bandar
Lampung

Indeks
Total
70
70
70
69
69
69

Ranking

Nama Kota

31
40
47
49
54
55

Mataram
Pangkalpinang
Kendari
Bima
Pontianak
Singkawang
Tangerang
Selatan

Tipologi
Kota
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Besar
Sedang

Indeks
Total
62
62
62
61
60
59

139
142
143
157
167
180

Metropolitan

59

182

Jambi

Besar

59

185

68
72
76
82

Tangerang
Serang
Sungai Penuh
Sorong

Metropolitan
Besar
Kecil
Sedang

58
58
58
58

187
188
197
199

66

92

Tual

Kecil

54

213

65

97

Sumber: KPPOD, Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011.

Gambar 2. 56 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota Berdasarkan Aspek


(1)

Sumber: KPPOD, Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011.

84

Ranking

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 57 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota Berdasarkan Aspek


(2)

Sumber: KPPOD, Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011.

Gambar 2. 58 Rekapitulasi Penindakan Pidana Korupsi per 28


Februari 2013

Sumber: acch.kpk.go.id

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

85

2.4.3 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan Metropolitan dan


Megapolitan Jabodetabekjur

BAB 2

Selain isu umum muncul juga isu-isu spesifik yang hanya dominan dan
menjadi fokus perhatian pemerintah kota untuk kota tipologi tertentu.
Seperti halnya isu spesifik yang berkembang di kota metropolitan dan
megapolitan, yaitu:
1. Terjadinya urban sprawl dan belum terintegrasinya pusat-pusat
kegiatan di dalam kota dengan jaringan transportasi umum;
2. Belum
beroperasinya
sistem
angkutan
massal
antarmoda/multimoda dan belum terciptanya sistem transportasi
yang nyaman dan aman bagi penghuni kota yang mendorong
meningkatnya kemacetan serta belum adanya keberpihakan bagi
pengguna jalan sepeda, pejalan kaki dan kaum disable yang
dapat mendorong peningkatan kenyamanan transportasi yang
inklusif dan pengurangan polusi sebagai dampak dari kendaraan
bermotor;
3. Belum optimalnya kerjasama antarkota dan antara kotakabupaten dalam hal pengelolaan dan pembangunan sarana dan
prasarana perkotaan, serta pemanfaatan sumber daya lokal (alam
dan manusia); dan
4. Masalah sosial dan kriminalitas yang semakin meningkat yang
dapat menurunkan daya saing kota, meningkatkan kerentanan
sosial kota serta ketidakamanan hunian dan lingkungan kota
metropolitan
Empat hal tersebut diatas merupakan isu yang khas muncul dan
diprioritaskan penanganannya dalam pengelolaan perkotaan di kota
metropolitan dan kawasan perkotaan megapolitan.
A.

Terjadinya urban sprawl dan belum terintegrasinya pusat-pusat


kegiatan di dalam kota dengan jaringan transportasi umum.

Perkembangan kota dan kawasan perkotaan di Indonesia mengalami


pertumbuhan penduduk dan fisik yang cepat. Pertambahan jumlah
penduduk memberikan dampak bagi pembangunan kota dan kawasan
perkotaan. Penyebaran penduduk yang begitu cepat di perkotaan
memberikan dampak terjadinya perkembangan kota yang tidak terkendali
(urban sprawl) dan konurbasidi kawasan perkotaan. Hal tersebut

86

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Kecenderungan pergerakan hunian penduduk ke kawasan pinggiran kota


dengan persentase pertumbuhan yang sangat tinggi disatu sisi,
sementara pusat-pusat kegiatan masih terbesar di pusat kota
mengakibatkan kegiatan komuter dengan kepadatan yang tinggi terjadi di
Jakarta.
Gambar 2. 59 Perkembangan Kota JakartaBerimflikasi Terhadap
Wilayah Sekitarnya

BAB 2

menyebabkan pelayanan perkotaan menjadi tidak seimbang dan akhirnya


menyebabkan penurunan kinerja kota.

Sumber: Pemerintah DKI Jakarta, 2009 (disampaikan di hadapan dewan pertimbangan


presiden/wantimpres tentang pengendalian banjir, penanganan transportasi dan
pelayanan publik)

Dilain pihak, kecenderungan pergerakan kebutuhan hunian penduduk


metropolitan ke pinggiran kota menyebabkan inefisiensi pelayanan
sarana prasarana perkotaan. Antisipasi oleh pengembang dengan
permukiman-permukiman skala besar serta kota baru, memunculkan
masalah sinergi dan sinkronisasi dalam pelayanan sarana prasarana
permukiman dan lingkungan perkotaan
Sementara kepadatan hunian yang semakin tinggi, keterbatasan
ketersediaan lahan dalam kota, rasio luas ruang publik terhadap jumlah
penduduk yang masih rendah, dan masih luasnya kawasan permukiman

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

87

kumuh menjadi masalah ibukota, kota-kota metropolitan dan kota besar


yang masih belum terselesaikan.

BAB 2

Perkembangan Kota Jakarta sebagai kota inti dalam konstelasi kawasan


perkotaan Jabodetabek memberikan pengaruh yang sangat besar bagi
wilayah sekitarnya. Kurun waktu Tahun 1992 sampai dengan Tahun 2005
perkembangan fisik wilayah disekitar Kota Jakarta berkembang sangat
cepat.
B.

Belum
beroperasinya
sistem
angkutan
massal
antarmoda/multimoda
dan
belum
terciptanya
sistem
transportasi yang nyaman dan aman berakibat semakin
meningkatnya kemacetan.

Tingginya volume pergerakan dari dan menuju DKI Jakarta khususnya


komuter dari permukiman di kawasan pinggiran kota ke pusat-pusat
kegiatan perekonomian belum diimbangi dengan sarana prasarana
transportasi yang memadai.
Gambar 2. 60 Perubahan Moda Transportasi Penduduk Jabodetabek
Tahun 2002-2010

Sumber: STRAMP Person Trip Survey, JUTPI Commuter Survey

Pada Tahun 2010 pergerakan pelaju dari Bogor, Depok, Tangerang dan
Bekasi menuju DKI Jakarta meningkat menjadi 1,1 juta jiwa dari 743 ribu

88

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Gambar 2. 61 Pertumbuhan Kendaraan dan Luas Jalan di Kota


Jakarta

BAB 2

pada Tahun 2002. Sementara terjadi perubahan perilaku pengguna


transportasi yang sebelumnya pada Tahun 2002 pengguna bus sebesar
38% menurun tajam hanya menjadi 17% di Tahun 2010. Sedangkan
pengguna speda motor meningkat tajam dari 21% di Tahun 2002 menjadi
41% di Tahun 2010.

Sumber: Pemerintah DKI Jakarta, 2009.

Tabel 2. 7

Kondisi Angkutan Umum Masal Tahun 2009 (Bus


Rapid Transit)

Panjang Koridor
Jumlah halte
Jumlah Bus
Jumlah Operator
Jumlah Pool Bus

143,35 Km (8 Koridor)
142halte
426 bus(403 single + 23 articulated)
6 perusahaan
7 pool

Sumber: Pemerintah DKI Jakarta, 2009.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

89

Wajah transportasi umum di Jakarta

BAB 2
C.

Belum optimalnya kerjasama antarkota/Kabupaten


pembangunan kawasan perkotaan megapolitan

dalam

Berbagai permasalahan yang muncul dalam pengelolaan pembangunan


di kawasan perkotaan Jabodetabekjur memberikan implikasi terhadap
banyak hal. Dalam upaya menyelesaikan permasalahan antar kota,
wilayah dan kota-kabupaten yang melibatkan banyak stakeholder (3
pemerintah provinsi dan 9 pemerintah kab/kota), telah direspon melalui
pembentukan badan kerjasama melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 6 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat
Badan Kerjasama Pembangunan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,
Bekasi dan Cianjur dan Peraturan Bersama Tahun 2010 tentang Badan
Kerjasama Pembangunan (BKSP) Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi banten, Kabupaten Bogor, Kota
Depok, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang
Selatan, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, dan Kabupaten Cianjur.

90

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

Gambar 2. 62 Bentuk Struktur Organisasi BKSP Jabodetabekjur

BKSP memiliki peransebagai alat koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan


simplikasi seluruh aspek Jabodetabekjur dan merupakan representasi
daerah yang bekerjasama dalam melakukan konsultasi ke pemerintah
pusat. Berdasarkan Peraturan Bersama Gubernur Provinsi DKI Jakarta,
Gubernur Jawa Barat, Gubernur Banten dan Bupati/Walikota
Bodetabekjur; ruang lingkup kerjasama yang dibentuk yaitu di bidang a)
penataan ruang, b) Permukiman, sarana dan prasarana, c) Sumber daya
air, kebersihan dan lingkungan hidup, d) Transportasi, perhubungan dan
pariwisata, e) Agribisnis, koperasi dan usaha kecil menengah, f) Industri,
perdagangan, pertambangan dan
investasi, g) Kependudukan,
ketentraman dan ketertiban, h) Kesehatan dan pendidikan, dan i) Sosial
dan tenaga kerja.
Hasil evaluasi optimalisasi fungsi dan kelembagaan BKSP
Jabodetabekjur (Lokakarya dalam Rangka Fasilitasi Penyusunan
Kebijakan Revitalisasi BKSP Jabodetabekjur, 2012) menunjukkan bahwa

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

91

BKSP belum dapat berfungsi secara optimal dalam menyelesaikan


permasalahan pembangunan lintas sektor dan lintas pemerintah di
Jabodetabek. Belum optimalnya fungsi BKSP ini disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu:

BAB 2

1. Lemahnya koordinasi dalam pelaksanaan kerjasama;


2. Perbedaan kepentingan antar daerah di kawasan Jabodetabekjur;
3. Belum optimalnya follow up keputusan-keputusan bersama
tentang prioritas program dan kegiatan kerja sama oleh pemangku
kepentingan antar wilayah di lingkungan Jabodetabekjur;
4. Minimnya kewenangan dan dukungan perangkat kebijakan
kordinasi, serta berbagai potensi konflik antar wilayah;
5. Belum siapnya pemerintah dalam merencanakan dan membiayai
program yang integral antar wilayah;
6. Belum adanya kesamaan persepsi, kepentingan dan prioritas
bersama
mengenai
pentingnya
penanganan
wilayah
Jabodetabekjur sebagai kawasan strategis nasional; dan
7. Belum optimalnya dukungan dana APBN untuk menopang
kerjasama pembangunan kawasan Jabodetabekjur.
Kota-kota megapolitan dan metropolitan ke depan akan menghadapi
tantangan permasalahan antar kota, antar kota dan kabupaten serta antar
wilayah yang berdekatan.

2.4.4 Isu Spesifik Pembangunan Kota Sedang, Kota Kecil dan


Kawasan Perkotaan
Kota sedang dan kota kecil merupakan pusat pertumbuhan terdekat
dengan kawasan perdesaan. Kesenjangan desa-kota dapat didekati
melalui penguatan kota-kota ini agar dapat mendorong daya tarik
kawasan perdesaan dan produktivitas di perdesaan. Namun demikian
masih terdapat beberapa hal yang memerlukan perhatian kota-kota
sedang dan kota-kota kecil yaitu:
Isu-isu spesifik yang dominan dan menjadi fokus perhatian pemerintah
kota untuk perkotaan kecil dan sedang yang terdiri dari:
1. Belum optimalnya pengembangan ekonomi lokal, termasuk
keterkaitannya dengan ekonomi wilayah perdesaan.

92

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

a. Belum memadainya sarana pemasaran produk perdesaan di


pusat-pusat pasar di kota menengah dan kecil; dan
b. Belum optimalnya penciptaan lapangan kerja melalui
pengembangan sektor informal di kota menengah dan kecil.
2. Belum memadainya prasarana permukiman di kota sedang dan
kota kecil
a. Belum memadainya transportasi darat, sungai, dan laut yang
mendukung kelancaran arus barang dari pusat produksi di
perdesaan ke pusat pasar di kota menengah dan kecil; dan
b. Belum memadainya prasarana permukiman listrik, air bersih,
dan drainase.
3. Belum optimalnya kerjasama antarkota dan antara kabupaten-kota
dalam pengembangan produk unggulan.

2.4.5 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan Wilayah Pulau


Besar dan Kota-kota Strategis
Kebijakan pengembangan perkotaan tidak lepas dari mengenali
karakteristik wilayah guna mencapai tujuan dan sasaran pembangunan,
karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbagi atas 5 pulau
besar dengan karakteristik yang berbeda untuk setiap pulaunya dan
terdapat kota-kota strategis yang akan dikembangkan sesuai dengan
peran dan karateristik yang ditetapkan. Untuk mendukung Kebijakan
Strategis Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) secara
komprehensif yang mencakup perkotaan dan hierarki yang lebih besar
diatasnya yaitu Pulau, maka isu spesifik yang terdapat pada setiap pulau
perlu diperhatikan sebagai masukan dalam kebijakan KSPPN.
Berikut merupakan penjabaran isu strategis pembangunan perkotaan
wilayah pulau besar dan kota-kota strategis:
A.

Sumatera

Wilayah Pulau Sumatera merupakan pulau yang kaya dengan hasil bumi
dan memiliki kota perniagaan yang cukup penting. Kota-kota di pulau
Sumatera dihubungkan oleh tiga ruas jalan lintas, yakni lintas tengah,
lintas timur, dan lintas barat, yang melintang dari Utara - Selatan
Sumatera. Dalam konteks pengembangan perkotaan Pulau Sumatera
memiliki peran strategis, namun Peran kota sebagai pusat pertumbuhan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

93

pembangunan wilayah masih terasa sangat kurang, disebabkan kondisi


infrastuktur dan fasilitas publik masih tertinggal, dibandingkan dengan
Kota-Kota di Pulau Jawa. Dengan letak geografis wilayah Sumatera yang
berada di jalur pelayaran internasional sangat berpotensi menjadi lokasi
kegiatan lintas negara. Berikut merupakan isu spesifik pembangunan
wilayah Pulau Sumatera dan kota-kota strategis di dalamnya yaitu:

BAB 2

1. Tingkat Urbanisasi yang tinggi menuju kota cepat tumbuh


Pulau Sumatera. Tingginya tingkat urbanisasi akibat lemahnya
peran Kota sebagai penggerak ekonomi pedesaan telah
menyebabkan meningkatnya urbanisasi ke kota, seperti ke Kota
Medan, Palembang, Lampung, dan ke Kota-Kota yang berkatagori
cepat tumbuh seperti Kota Pekanbaru, Kota Jambi, Kota Batam,
Kota Tanjung Pinang, dan Kota Dumai. Hal ini ditunjukan dengan
persentase penduduk daerah perkotaan Kota Medan (50,1%),
Kota Palembang (42,9%), Kota Lampung (33,3%), Kota
Pekanbaru (56,6%), Kota Jambi (36,5%), dan Kota Tanjung
Pinang (52,2%).
2. Kurang optimalnya kondisi Infrastruktur dan fasilitas publik.
Kondisi infrastruktur dan fasilitas publik apabila dibandingkan
dengan Kota-Kota di Pulau Jawa dan kota-kota di kawasan
ASEAN seperti Kota Johor Bahru Malaysia, Kota Narathiwat
Thailand masih ada gap yang besar. Hal ini mengakibatkan
interaksi antara Kota-Desa sangat lemah dalam wilayah Pulau
Sumatera dan belum termanfaatkannya SDA unggulan secara
optimal yang banyak terdapat di daerah-daerah pedesaan berasal
dari sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan.
3. Tingginya tingkat kesenjangan Kawasan Wilayah Timur
Sumatera dan Kawasan Wilayah Barat Sumatera. Adanya
kesenjangan pertumbuhan antara Kota-kota di kawasan wilayah
timur Sumatera, (Medan, Pekanbaru, Batam, Tanjung Pinang, dan
Ranai) dikatagorikan cepat tumbuh dengan kota-kota dibelahan
barat tumbuh lambat (Padang dan Bengkulu).
4. Rendahnya tingkat investasi Pulau Sumatera. Kesenjangan
Penanaman Modal Dalam Negeri/PMDN 2008, di Pulau Jawa dan
Bali mencapai 60,20%, sedangkan di Sumatera hanya 23,77%.

94

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

5. Pulau Sumatera berada di kawasan rawan bencana. Secara


geologis, wilayah Sumatera berada pada pertemuan lempeng
bumi dan lintasan gunung api aktif (ring of fire). Belum optimalnya
kesiapan dan pengetahuan mitigasi bencana dari masyarakat
tercermin ketika bencana tsunami tahun 2004 dan gempa aceh
Tahun 2009 yang merupakan bencana besar Pulau Sumatera.

BAB 2

Untuk PMA di Jawa Bali mencapai 91,77%, di Sumatera hanya


6,79%, dan sisanya tersebar diwilayah pulau-pulau besar lainnya.

6. Kesenjangan kesejahteraan penduduk pada kota-kota


perbatasan. Pulau Sumatera memiliki beberapa titik wilayah
perbatasaan terhadap kota-kota diwilayah negara tetangga,
seperti: kota Sabang; Serdang Badagai, Dumai-Rokan HilirBengkalis (Riau), Batam-Bintan-Tanjung Pinang, Karimun, Ranai
(KEPRI); Indragiri Hulu-Indragiri Hilir (SUMSEL). Terdapat
kesenjangan kesejahteraan penduduk yang cukup signifikan di
kawasan tersebut, Contoh perbedaan pendapatan per kapita
penduduk tahun 2009 di kota Johor Baru Malaysia USD
31,500/tahun, sedangkan di kota Medan hanya USD 8,800/tahun.
7. Terdapatnya kawasan strategis sebagai pusat perniagaan.
Peluang tumbuh bagi kota Sabang sebagai pelabuhan bebas
pengganti peran pelabuhan Singapura, akan memberikan
multiplier effects yang sangat besar bagi pertumbuhan
perekonomian dan kota-kota di wilayah pulau sumatera.
8. Tingginya tingkat kemiskinan di pulau Sumatera pada skala
nasional. Tingkat kemiskinan di Pulau Sumatera rata-rata 14,4 %
menurun menjadi 13,2 % pada tahun 2009. Jika dibandingkan
antara Desa dan Kota maka jumlah penduduk miskin hampir sama
yaitu 13,5 % di Kota dan 14,8% di Desa pada tahun yang sama.
Secara nasional angka kemiskinan tersebut masih berada
dibawah rata-rata nasional yakni 16,2 % dan 14,1 %.

B.

Jawa Bali

Pulau Jawa Bali memiliki peran strategis yang tidak dapat dipisahkan dari
pembangunan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau ini

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

95

menampung sekitar 60% penduduk Indonesia, secara ekonomi, Jawa


dan Bali masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional
Bruto/PDRB (sekitar 59 %). Selain itu, tingkat urbanisasi Pulau Jawa-Bali
merupakan pulau yang memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi.

BAB 2

Sebagai pusat kegiatan ekonomi dan kepadatan penduduk tertinggi


dalam pengembangannya juga harus dilakukan dengan keterpaduan
program untuk mendukung alokasi sumberdaya yang efisien dan
pertumbuhan yang lebih seimbang. Pengembangan Pulau Jawa selain
harus merupakan satu kesatuan dalam konsepsi pembangunan
Indonesia juga harus memiliki sinergi dan pengembangan pulau-pulau
besar terdekat (Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi) terutama dalam
menjaga ketersediaan sumberdaya pendukung pertumbuhan ekonomi di
Jawa. Isu-isu spesifik yang ada di Wilayah Pulau Jawa-Bali tidak terlepas
dari isu mengenai ekonomi, sosial kependudukan, infrastruktur dan
lingkungan.
Berikut merupakan isu spesifik Pulau Jawa Bali dan Kota-Kota Strategis
di dalamnya:
1. Tidak meratanya pembangunan dan perekonomian desa-kota
dan intraregional Wilayah Pulau Jawa-Bali. Pembangunan dan
perekonomian antara perdesaan dengan perkotaan serta intraregional Pulau Jawa-Bali belum merata. Lemahnya aksesbilitas
menyebabkan rendahnya produktivitas perekonomian di kawasan
perdesaan dan wilayah selatan Pulau Jawa dibandingkan dengan
wilayah utara. Penyebab lainnya adalah lemahnya akses modal
untuk masyarakat, dan lemahnya rantai kegiatan hulu-hilir dari
aktivitas ekonomi. Hal ini disebabkan sistem informasi mengenai
potensi ekonomi, sumber-sumber modal kurang memadai untuk
dapat diakses oleh masyarakat maupun para investor.
2. Belum optimalnya pengembangan kegiatan industri inovatif
yang berbasis teknologi dan berbasis potensi lokal (industri
tekstil, logam, kimia, makanan, karet). Adanya perubahan
transformasi perekonomian, dengan meningkatnya sektor
sekunder (industri pengolahan) seperti di Provinsi Jawa Barat,
Provinsi Banten, Provinsi JawaTengah dan Provinsi Jawa Timur.
Permasalahan yang menjadi hambatan adalah lemahnya
dukungan teknologi dan kapasitas SDM untuk menunjang

96

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3. Belum
optimalnya
pengembangan
potensi
pusat
perdagangan. Pengembangan pusat perdagangan yang belum
optimal di Wilayah PulauJawa-Bali ditunjukkan dengan rendahnya
ekspor produk yang bernilai tambah, dan belum optimalnya
pemanfaatan jalur-jalur perdagangan internasional. Hal ini
disebabkan oleh lemahnya pengembangan produk unggulan,
sistem informasi mengenai produk unggulan dan lemahnya
promosi produk.

BAB 2

pengembangan sektor industri. Selain itu, lemahnya koneksi


(linkage) antara kawasan industri dengan industri pendukung
sekitarnya dan pusat-pusat pendidikan tinggi , penelitian serta
inovasi menjadi salah satu masalah.

4. Belum optimalnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.


Sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari ekonomi kreatif.
Wilayah Pulau Jawa-Bali memiliki banyak lokasi potensi untuk
dijadikan objek pariwisata,akan tetapi ekonomi kreatif masih
lemah. Hal ini disebabkan minimnya akses informasi potensi
pariwisata dan ekonomi kreatif, kualitas dan kuantitas infrastruktur
yang belum memadai dan investasi. Selain itu, kualitas dan
kuantitas SDM kreatif masih rendah serta minimnya tempattempat kreatif.
5. Belum memadainya kualitas tenaga kerja berkeahlian. Hal
tersebut ditunjukkan dengan rendahnya penyerapan tenaga kerja
dan perkembangan aktivitas ekonomi terutama wilayah yang telah
bertransformasi ekonomi ke arah industri, seperti Provinsi Banten,
Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Timur. Hal ini disebabkan
oleh lemahnya pengembangan aktivitas ekonomi yang mampu
mendorong penyerapan tenaga kerja, seperti industri unggulan
yang memiliki keterkaitan dengan industri sekitarnya atau
keterkaitan hulu hilir.
6. Menurunnya daya dukung lingkungan. Luas RuangTerbuka
Hijau di pusat-pusat kota Wilayah Jawa-Bali berada di bawah
30%. Selain itu, kondisi Daerah Aliran Sungai yang berstatus
prioritas utama (kritis) cukup banyak. Hal ini disebabkan
rendahnya pengendalian terhadap pengelolaan kawasan hutan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

97

dan daerah aliran sungai, minimnya kegiatan-kegiatan rehabilitasi


dan revitalisasi.

BAB 2

7. Kurang optimalnya kesiapan mitigasi dan adaptasi bencana.


Wilayah Pulau Jawa-Bali merupakan salah satu wilayah yang
berada dikawasan rawan bencana. Gempa bumi, banjir, longsor,
gunung merapi merupakan bencana-bencana yang sering terjadi
di wilayah pulau ini.

C.

Kalimantan

Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan, sebagai salah satu pulau


terbesar di Indonesia, sangat penting dalam mendukung peningkatan
kinerja pembangunan nasional. Wilayah Pulau Kalimantan memiliki posisi
geografis yang relatif strategis di wilayah barat dan tengah Indonesia dan
berbatasan dengan negara tetangga, Malaysia. Posisi Wilayah Pulau
Kalimantan sangat strategis mengingat dalam konteks keterkaitan antar
wilayah, Pulau Kalimantan secara posisi berhadapan langsung dengan
pulau-pulau besar di Indonesia, Pulau Jawa-Bali, Pulau Sumatera dan
Pulau Sulawesi. Dengan demikian, Wilayah Pulau Kalimantan berpotensi
besar sebagai pusat pertumbuhan di kawasan Indonesia dan subregional ASEAN.
Berikut merupakan isu strategis yang
adalah sebagai berikut:

terdapat di pulau Kalimantan

1. Tingginya tingkat kerusakan hutan dan luasan lahan kritis.


Adanya penebangan pohon di hutan tanpa adanya upaya
reboisasi hutan dan pengalihan fungsi lahan hutan menjadi lahan
permukiman, industri atau kegiatan ekonomi lainnya juga
merupakan penyebab utama yang signifikan. Di sisi lain, insentif
dan disinsentif untuk mengurangi deforestasi dan mendukung
pembangunan berbasis lingkungan berkelanjutan belum atau
kurang diterapkan secara optimal.
2. Rawan akan bencana alam. Bencana yang terjadi di Wilayah
Pulau Kalimantan sebagian diantaranya merupakan pengaruh dari
kerusakan alam, seperti kebakaran hutan, longsor dan banjir. Hal
tersebut disebabkan oleh adanya eksploitasi hutan untuk

98

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3. Belum optimalnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif


secara optimal. Sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan ekonomi kreatif. Wilayah Pulau Kalimantan memiliki
banyak potensi-potensi objek wisata alam yang belum terjelajahi.
Hal ini disebabkan infrastruktur pendukung seperti sarana
prasarana transportasi belum memadai yang menyebabkan
rendahnya investasi sektor pariwisata di Wilayah Pulau
Kalimantan. Minimnya akses informasi mengenai objek wisata pun
menjadi kendala lain selain rendahnya kualitas dan kuantitas SDM
kreatif.

BAB 2

dialihfungsikan menjadi lahan pertambangan, perkebunan atau


pertanian. Terlebih lagi dengan minimnya kegatan reboisasi dan
rehabilitasi lahan sisa tambang.

4. Terbatasnya aksesbilitas terhadap sarana dan prasarana


dasar (energi dan sumber daya air). Keterbatasan sarana dan
prasarana dasar menjadi salah satu isu masalah di Wilayah Pulau
Kalimantan. Sarana dan prasarana dasar tersebut adalah energy
listrik dan sumber daya air. Seperti yang telah diketahui, wilayah
ini mengalami masalah terhadap pasokan tenaga listrik yag belum
menjangkau seluruh wilayah dan daya lsitrik yang kurang
memadai. Kurangnya pasokan daya listrik dapat menganggu
kegiatan perekonomian masyarakat dan kegiatan investasi di
kegiatan industri, pertambangan dan perkebunan.
5. Terbatasnya konektivitas antar wilayah. Wilayah Pulau
Kalimantan masih dilayani jaringan jalan darat yang terbatas dan
belum sepenuhnya terintegrasi dengan jaringan transportasi lain.
Tingginya presentase jalan dalam kondisi rusak berat dan ringan,
baik jalan negara, jalan provinsi dan jalan kabupaten di wilayah ini.
6. Tidak meratanya kualitas Sumber Daya Manusia. Kualitas
sumber daya manusia di Wilayah Pulau Kalimantan menunjukkan
bahwa untuk Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Kalimantan
Selatan memiliki Indeks Pembangunan Manusia dengan posisi 10
besar, berbeda dengan provinsi lainnya. Ketidakmerataan ini
disebabkan oleh adanya distribusi penduduk yang tidak merata,
ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta kesehatan
yang belum optimal.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

99

BAB 2

7. Kurang tersedianya lapangan Pekerjaan. Tingkat pertumbuhan


penduduk di Wilayah Pulau Kalimantan cukup tinggi, namun tidak
disertai dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.
Sektor-sektor ekonomi, seperti pertambangan dan perkebunan
masih memiliki nilai tambah yang rendah. Hal ini dikarenakan
rantai industri hulu-hilir menuju industri pengolahan belum optimal
yang menyebabkan minimnya lapangan kerja yang berkualitas.
Sumber daya manusia di Wilayah Pulau Kalimantan juga belum
mumpuni secara kualitas, terutama masyarakat lokal.
8. Menurunnya daya dukung lingkungan. Wilayah Pulau
Kalimantan memiliki kawasan hutan yang luas, akan tetapi laju
konversi lahan hutan menjadi perkebunan dan pertanian tergolong
tinggi. Selain itu, praktik pembalakan hutan secara liar juga terjadi
untuk pembukaan lahan pertambangan. Dampak konversi lahan
adalah terjadinya bencana alam, degradasi kualitas lingkungan
seperti kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), dan menurunnya
fungsi sungai sebagai salah satu jaringan transportasi wilayah.
Kerusakan hutan juga mengancam keanekaragaman hayati di
Wilayah Pulau Kalimantan.
9. Infrastruktur transportasi yang kurang memadai dan tidak
merata. Kegiatan perekonomian seperti perkebunan dan
pertambangan, masih belum ditunjang infrastruktur transportasi
yang kapasitasnya belum memadai sebagai penunjang kegiatan.
Hal tersebut ditunjukkan dengan rendahnya kapasitas jalan (lebar
jalan dan kekuatan tekanan jalan) terutama di wilayah menuju
daerah pertambangan maupun perkebunan serta belum
optimalnya penggunaan kereta api sebagai alat pengangkut
khususnya batubara. Di samping transportasi darat,Wilayah Pulau
Kalimantan memiliki potensi untuk menggunakan transportasi
sungai. Akan tetapi, jalur sungai tersebut belum digunakan secara
optimal. Sarana dan prasarana transportasi sungai masih kurang
memadai, seperti pelabuhan pengumpul atau kapal (perahu)
sungai yang dapat digunakan untuk mengangkut barang atau
penumpang.

100

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Sulawesi

Ada beberapa isu strategis yang menyangkut Pulau Sulawesi. Yang


pertama adalah kekayaan potensi perikanan, pertanian, pertambangan,
dan pariwisatanya. Diketahui bahwa produksi perikanan tangkap di
Sulawesi adalah 19,2% dari total produksi nasional, sementara produksi
perikanan budidayanya adalah 33% dari total produksi nasional. Sulawesi
juga dikenal sebagai produsen jagung, beras, dan kakao dalam skala
besar. Dari segi pertambangan, Sulawesi merupakan penghasil nikel
(sekitar 500.000 ton), cadangan minyak bumi 51,95 MMSTB dan
cadangan gas bumi 2,68 TSCF, serta deposit aspal yang diperkirakan
sekitar 660 juta ton (JICA, 2008).

BAB 2

D.

Sulawesi juga memiliki kawasan perbatasan negara dengan 14 pulau


kecil terluar dan 46 pintu gerbang internasional memiliki posisi yang
strategis dengan dengan Negara Filipina dan Malaysia. Selain itu
Sulawesi juga memiliki akses transportasi lintas pulau yang
menghubungkan kawasan budidaya dengan outlet dengan arus peti
kemas sangat tinggi. Sayangnya, lebih dari 35% prasarana jalannya
dalam kondisi rusak. Di sisi lain, Pulau Sulawesi merupakan kawasan
rawan bencana gunung api serta rawan gempa bumi/tsunami.
Berikut merupakan isu strategis yang terdapat di Pulau Sulawesi adalah
sebagai berikut:
1. Mengendalikan arus urbanisasi terutama di kota metropolitan
dan kota besar. Makassar dan kota besar di Pulau Sulawesi
menjadi magnet yang menarik untuk melakukan urbanisasi. Oleh
karena itu diperlukan pengendalian agar urbanisasi tidak
berlebihan yang berdampak negatif terhadap kepadatan penduduk
dan dampak sosial lainnya
2. Mempercepat pembangunan kota sedang dan kota kecil,
terutama di luar Jawa Kota kecil dan sedang di Pulau Sulawesi
tidak mampu bersaing dengan kota-kota di Jawa, padahal kota
tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi. Tingkat pertumbuhan
kota di Pulau Sulawesi hanya sebesar 11% dari total pertumbuhan
kota di Indonesia.
3. Tingginya tingkat kemiskinan. Kurangnya kemampuan
masyarakat menyebabkan rendahnya daya saing dan pada

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

101

akhirnya menyebabkan masyarakat tidak mampu menjangkau


kebutuhan. Oleh karena itu muncullah kemiskinan masyarakat.

BAB 2

4. Belum optimalnya pemenuhan kebutuhan prasarana sarana


perkotaan. Hal ini perlu dilakukan mengingat kebutuhan
masyarakat di kota sedang dan kecil di luar pulau Jawa yang
sangat tinggi untuk mengembangkan kawasannya. Di pulau
Sulawesi terdapat beberapa kota yang masih perlu ditingkatkan
penyediaan sarana prasarananya untuk memenuhi kebutuhan. Di
Bitung misalnya, indeks penyediaan sarana prasarana belum
memadai, sehingga perlu disediakan
5. Kurang optimalnya penanganan polusi lingkungan dan
mitigasi bencana dalam pengelolaan perkotaan. Beberapa
bencana yang sering terjadi perlu diantisipasi dan perlu
peningkatan upaya upaya mitigasi bencana dan rekonstruksi
pasca bencana. Salah satu bencana yang terjadi pada tahun 2013
adalah banjir bandang yang menyerang di Manado. Oleh karena
itu diperlukan usaha preventif dan kuratif dalam membangun kota
pasca bencana, dalam hal ini di Manado
6. Kurang optimalnya tata kelola pembangunan perkotaan
menuju good and clean governance. Kota-kota di Manado
belum memiliki tata kelola yang baik sehingga belum mampu
menyediakan pelayanan prima untuk masyarakat. Salah satu
indikator adalah waktu dan mekanisme perijinan yang belum
efisien

E.

Papua

Wilayah Pulau Papua memiliki posisi yang cukup strategis baik itu di
koridor nasional, regional ASEAN, dan global. Dalam konteks nasional,
Wilayah Pulau Papua merupakan lumbung pangan dan energi di
Kawasan Timur Indonesia. Peran wilayah Pulau Papua dalam hal energi
bagi nasional didasarkan atas potensi dari cadangan pertambangan
terutama tembaga, yaitu sebesar 45 % cadangan tembaga nasional.
Sedangkan dalam hal pangan didasarkan pada potensi kelapa sawit,
yaitu bahwa industri kelapa sawit (kontribusi MIFE) Pulau Papua menjadi
devisa negara terbesar, dan potensi tebu lahan untuk produksi tebu

102

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

terluas di luar Jawa. Dalam pengembangan wilayah Papua, hal yang


perlu dipahami adalah isu strategis yang sedang terjadi dan dihadapi oleh
masyarakat pulau Papua.

1. Interkonektivitas antar wilayah yang rendah. Kesulitan


masyarakat Wilayah Pulau Papua untuk menjangkau dari satu
daerah ke daerah lain salah satunya akibat terbatasnya jaringan
transportasi antar wilayah. Program pembangunan jalan arteri
terutama untuk menjangkau daerah perdesaan dan/atau daerah
terpencil masih sangat terbatas. Selain keterbatasan kemampuan
dana dari pemerintah daerah untuk pengembangan infrastruktur
transportasi terdapat beberapa permasalahan yang seringkali
dijumpai, yaitu: pembebasan lahan untuk pembangunan sarana
dan prasarana transportasi yang mahal, masalah kepemilikan
tanah terutama terkait hak ulayat, dan kondisi keamanan yang
kurang mendukung selama proses pembangunan infrastruktur.

BAB 2

Adapun isu strategis yang terdapat di Pulau Papua adalah sebagai


berikut:

2. Kuatnya peranan masyarakat adat dan hak ulayat. Peran


masyarakat adat Wilayah Pulau Papua sangat kuat terutama
terkait dengan kesukuan, mengingat masyarakat adat Wilayah
Pulau Papua sangat menjunjung suku adat masing-masing.
Namun demikian potensi tersebut tidak dimanfaatkan secara
optimal untuk mempercepat pembangunan perekonomian Wilayah
Pulau Papua. Kurang adanya pelibatan dan pemberdayaan
masyarakat adat baik dalam struktur
pemerintahan daerah
maupun dalam hal pengelolaan potensi sumber daya Wilayah
Pulau Papua.
3. Tingginya tingkat kemiskinan. Tingginya persentase kemiskinan
dan masih sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan
pendidikan mengakibatkan tingginya persentase penduduk miskin
di Provinsi Papua Barat adalah 35,7 % dan Provinsi Papua 37,5
%.
4. Rendahnya Kualitas sumber daya manusia. Rendahnya tingkat
pendidikan masyarakat (rata-rata lama sekolah belum mencapai
target wajib belajar 9 tahun dan belum semua penduduk usia
sekolah dapat bersekolah, angka rata-rata lama sekolah di
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

103

Provinsi Papua adalah 6,52 tahun dan angka rata-rata lama


sekolah di Provinsi Papua Barat adalah 7,67 tahun).

F.

Nusa Tenggara

BAB 2

Wilayah Pulau Nusa Tenggara memiliki posisi yang cukup strategis baik
itu di koridor nasional maupun global. Dalam konteks nasional, Wilayah
Pulau Nusa Tenggara merupakan lahan potensial produksi garam yang
luas di Kawasan Timur Indonesia, mengingat kondisi geografisnya
sebagai wilayah kepulauan yang dikelilingi lebih banyak sumber air laut.
Dalam hal ini Wilayah Pulau Nusa Tenggara diharapkan menjadi etalase
wisata ekologis, petualangan, budaya dan bahari serta kepariwisataan
yang berbasis UKM. Tidak hanya dalam koridor nasional saja, dalam
konteks global, berdasarkan potensi sumber daya alam yang dimiliki,
Wilayah Pulau Nusa Tenggara dapat menjadi pengekspor perikanan yang
terbesar Indonesia, yaitu sebesar 73%. Wilayah Pulau Nusa Tenggara
juga diharapkan menjadi destinasi pariwisata tingkat global.Isu-isu
strategis yang ada di Wilayah Pulau Nusa Tenggara tidak terlepas dari
isu mengenai ekonomi, sosial kependudukan, infrastruktur dan
lingkungan. Berdasarkan fakta, potensi dan permasalahan yang ada
dapat ditarik beberapa isu penting yang ada di Wilayah Pulau Nusa
Tenggara.
1. Rendahnya nilai hasil produksi komoditas unggulan
(perikanan dan kelautan) dan kurangnya kontribusi sektor
unggulan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sektor perikanan dan kelautan merupakan komoditas unggulan
bagi Wilayah Pulau Nusa Tenggara. Meskipun demikian,
pemanfaatan potensi sumber daya laut dan perikanan belum
optimal, di samping itu nilai hasil produksi sektor tersebut masih
tergolong rendah. Belum adanya pemetaan potensi sumber daya
perikanan dan kelutan, kurangnya pemanfaatan teknologi,
rendahnya investasi, terbatasnya kualitas-kuantitas infrastruktur
penunjang dan rendahnya kualitas sumber daya manusia
merupakan beberapa faktor penyebab belum berkembangnya
komoditas unggulan terutama dalam upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat.

104

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

2. Kurang optimalnya konektivitas antar wilayah didalam atau


diluar Pulau Nusa Tenggara. Kesulitan masyarakat Kepulauan
Nusa Tenggara untuk menjangkau dari satu daerah ke daerah lain
salah satunya akibat terbatasnya jaringan transportasi antar
wilayah. Program pembangunan jalan arteri terutama untuk
menjangkau daerah perdesaan dan/atau daerah terpencil masih
sangat terbatas. Keterbatasan kemampuan dana dari pemerintah
daerah untuk pengembangan infrastruktur transportasi menjadi
permasalahan yang seringkali dijumpai, mengingat besarnya
biaya yang diperlukan untk pengembangan dan pembangunan
jaringan transportasi terutama laut untuk menghubungkan pulaupulau kecil dengan pulau-pulau utama.
3. Masih rendahnya kesejahteraan dan daya saing masyarakat.
Kondisi masyarakat di Wilayah Pulau Nusa Tenggara memiliki
kesejahteraan yang relatif rendah. Jika ditinjau dari ketersediaan
prasarana dan sarana dasar seperti listrik dan air bersih,
aksesibilitas masyarakat terhadap prasarana dan sarana tersebut
masih sulit terutama di wilayah perdesaan dan pulau terpencil
karena berbagai keterbatasan, baik keterbatasan ketersediaan
maupun keterbatasan jaringan penghubung antara masyarakat
dengan prasarana dan sarana tersebut. Selain itu, fasilitas dasar
lain seperti pendidikan dan kesehatan juga masih tergolong
memprihatinkan. Sebagian masyarakat Kepulauan Nusa
Tenggara terutama di wilayah perdesaan dan pulau terpencil sulit
menjangkau fasilitas pendidikan dan kesehatan yang berkualitas.
Sedangkan jika ditinjau dari segi pekerjaan, ketersediaan
lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat Kepulauan Nusa
Tenggara terutama masyarakat lokal masih terbatas. Hal tersebut
beberapa diantaranya terkait kualitas sumber daya manusia di
Kepulauan Nusa Tenggara yang masih tergolong rendah.
4. Belum optimalnya pengembangan potensi di sektor
pariwisata Terdapat banyak potensi pariwisata di Kepulauan
Nusa Tenggara, meskipun demikian pengembangan potensi
pariwisata tersebut belum optimal. Berbagai hal yang menjadi
penyebab belum optimalnya pengembangan potensi di sektor
pariwisata yaitu terkait dengan infrastruktur yang belum memadai,
aksesibilitas ke kawasan-kawasan potensial pariwisata masih
terbatas, kurangnya investasi di sektor pariwisata dan kualitas

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

105

sumber daya manusia yang kurang mumpuni untuk


mengembangkan sektor ini. Kawasan-kawasan potensial
pariwisata beberapa diantaranya justru belum dikembangkan
akibat belum adanya pemetaan potensi pariwisata secara rinci
untuk Wilayah Pulau Nusa Tenggara menjadi penyebab adanya
kawasan potensial pariwisata yang belum dikembangkan.

BAB 2

5. Belum optimalnya penyerapan tenaga kerja pada sektor


pertambangan dan penggalian (emas). Kegiatan pertambangan
di Wilayah Pulau Nusa Tenggara telah berlangsung selama
puluhan tahun, mengingat potensi sumber daya alam dan mineral
yang cukup tinggi di Kepulauan Nusa Tenggara dengan daya jual
yang relative tinggi. Namun demikian, hal tersebut tidak membuat
masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara (terutama lokal)
berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya karena
pengelolaan potensi tambang lebih didominasi oleh pihak-pihak di
luar Kepulauan Nusa Tenggara ditambah peluang lapangan kerja
di sektor pengolahan pertambangan juga sangat terbatas bagi
masyarakat lokal.
6. Kurangnya pengamanan di wilayah perbatasan (laut) dan
rawan konflik. Masalah keamanan Wilayah Pulau Nusa Tenggara
merupakan salah satu isu yang paling disoroti. Konflik sosial yang
seringkali terjadi mengurangi rasa aman baik masyarakat lokal
maupun masyarakat pendatang. Adapun konflik sosial yang terjadi
pada umumnya sebagai akibat ketidakmerataan sumber daya
ekonomi dan politik bagi masyarakat Nusa Tenggara. Selain itu,
isu keamanan juga berkaitan dengan kerawanan Kepulauan Nusa
Tenggara yang berbatasan negara tetangga, yaitu kerawanan
untuk distribusi sumber daya secara ilegal ke negara tetangga,
serta kerawanan akibat adanya potensi klaim oleh negara
tetangga atas pulau Nusa Tenggara.
7. Menurunnya daya dukung lingkungan. Daya dukung
lingkungan di Kepulauan Nusa Tenggara semakin menurun akibat
kegiatan ekonomi masyarakat, terutama kegiatan pertambangan.
Selain itu kegiatan perhutanan juga cukup berperan dalam
menurunnya daya dukung lingkungan, terutama terkait
bertambahnya lahan-lahan kritis akibat kerusakan lahan dan
adanya illegal logging. Kurangnya pengendalian dari pemerintah

106

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

terhadap kegiatan eksploitasi sumber daya alam di Kepulauan


Nusa Tenggara juga menyumbang semakin menurunnya daya
dukung lingkungan Wilayah Pulau Nusa Tenggara.

Maluku

Wilayah Pulau Maluku, merupakan salah satu wilayah kepulauan di


Indonesia yang memiliki potensi pengembangan yang sangat besar
berbasis sumber daya alam terutama perikanan dan wisata bahari.
Meskipun demikian, potensi sumber daya perikanan laut yang sangat
besar belum dikelola secara optimal. Potensi sumber daya lahan, hutan
dan perkebunan juga cukup besar sehingga masih ada peluang
pengelolaan sumber daya tersebut untuk pengembangan ekonomi
wilayah. Pengembangan wilayah di Pulau Maluku masih tergolong
rendah, apalagi jika dilihat dari kondisi infrastruktur yang masih sangat
terbatas baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Wilayah Pulau Maluku
memiliki permasalahan yang sangat kompleks terutama sebagai akibat
ketertinggalan dan keterisoliran. Tantangan terbesar adalah memberikan
perhatian yang sama terhadap seluruh wilayah pulau, dan sekaligus
membangun keterkaitan antarwilayah pulau dalam satu kesatuan tata
ruang wilayah pulau dan laut.

BAB 2

G.

1. Belum optimalnya pengembangan potensi di sektor


pariwisata. Terdapat banyak potensi pariwisata di Kepulauan
Maluku, meskipun demikian pengembangan potensi pariwisata
tersebut belum optimal. Berbagai hal yang menjadi penyebab
belum optimalnya pengembangan potensi di sektor pariwisata
yaitu terkait dengan infrastruktur yang belum memadai,
aksesibilitas ke kawasan-kawasan potensial pariwisata masih
terbatas, kurangnya investasi di sektor pariwisata dan kualitas
sumber daya manusia yang kurang mumpuni untuk
mengembangkan sektor ini. Kawasan-kawasan potensial
pariwisata beberapa diantaranya justru belum dikembangkan
akibat belum adanya pemetaan potensi pariwisata secara rinci
untuk Wilayah Pulau Maluku menjadi penyebab adanya kawasan
potensial pariwisata yang belum dikembangkan.
2. Belum meratanya tingkat kesejahteraan masyarakat. Kondisi
masyarakat di Wilayah Pulau Maluku memiliki kesejahteraan yang
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

107

BAB 2

relatif rendah. Jika ditinjau dari ketersediaan prasarana dan


sarana dasar seperti listrik dan air bersih, aksesibilitas masyarakat
terhadap prasarana dan sarana tersebut masih sulit. Sebagian
masyarakat Kepulauan Maluku terutama di wilayah perdesaan
dan pulaupulau terpencil sulit menjangkau fasilitas pendidikan dan
kesehatan yang berkualitas. Sedangkan jika ditinjau dari segi
pekerjaan, ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas bagi
masyarakat Kepulauan Maluku terutama masyarakat lokal masih
terbatas. Hal tersebut beberapa diantaranya terkait kualitas
sumber daya manusia di Kepulauan Maluku yang masih tergolong
rendah.
3. Kurang optimalnya konektivitas antar wilayah. Kesulitan
masyarakat Kepulauan Maluku untuk menjangkau dari satu
daerah ke daerah lain salah satunya akibat terbatasnya jaringan
transportasi antar wilayah. Program pembangunan jalan arteri
terutama untuk menjangkau daerah perdesaan dan/atau daerah
terpencil masih sangat terbatas. Keterbatasan kemampuan dana
dari pemerintah daerah untuk pengembangan infrastruktur
transportasi menjadi permasalahan yang seringkali dijumpai,
mengingat besarnya biaya yang diperlukan untk pengembangan
dan pembangunan jaringan transportasi terutama laut untuk
menghubungkan pulau-pulau kecil dengan pulau-pulau utama.
4. Kurangnya pengamanan di wilayah perbatasan (laut) dan
rawan konflik. Masalah keamanan Wilayah Pulau Maluku
merupakan salah satu isu yang paling disoroti. Konflik sosial yang
seringkali terjadi mengurangi rasa aman baik masyarakat lokal
maupun masyarakat pendatang. Adapun konflik sosial yang terjadi
pada umumnya sebagai akibat ketidakmerataan sumber daya
ekonomi dan politik bagi masyarakat Maluku. Selain itu, isu
keamanan juga berkaitan dengan kerawanan Kepulauan Maluku
yang berbatasan negara tetangga, yaitu kerawanan untuk
distribusi sumber daya secara ilegal ke negara tetangga, serta
kerawanan akibat adanya potensi klaim oleh negara tetangga atas
pulau Maluku.

108

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

No
1

4
5

6
7
8
9
10

11

12

13

Isu Strategis Pembangunan Perkotaan Wilayah Pulau


Besar dan Kota-kota Stratgeis

Isu Strategis
Tingkat
urbanisasi yang
tinggi
Ketertinggalan
kondisi
Infrastruktur dan
fasilitas publik
Tingginya tingkat
kesenjangan
antar
wilayah
dalam 1 pulau
Rendahnya
tingkat investasi
Tingginya
Tingkat Rawan
Bencana
Rendahnya
Kesejahteraan
Penduduk
Rendahnya
kualitas SDM
Tingginya tingkat
kemiskinan
Rendahnya
Konektivitas
Rendahnya
Daya
Dukung
Lingkungan
Belum
optimalnya
pengembangan
kegiatan industri
inovatif
yang
berbasis
teknologi
dan
berbasis potensi
lokal
Belum
optimalnya
pengembangan
potensi
pusat
perdagangan
Belum
optimalnya
sektor pariwisata

Pulau
Sumatera

JawaBali

Kalimantan

Sulawesi

Maluku

NTT

Papua

BAB 2

Tabel 2. 8

V
V

V
V

V
V

V
V

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

109

No

Isu Strategis

Pulau
Sumatera

BAB 2

dan
ekonomi
kreatif
Belum
memadainya
14
kualitas tenaga
kerja berkeahlian
Tingginya tingkat
15
pengangguran
Meningkatkan
tata
kelola
pembangunan
16 perkotaan
menuju
good
and
clean
governancev
Kuatnya
peranan
17
masyarakat adat
dan hak ulayat
Kurangnya
pengamanan di
wilayah
18
perbatasan (laut)
dan
rawan
konflik
Sumber: Hasil Analisis, 2013

2.5

JawaBali

Kalimantan

Sulawesi

Maluku

NTT

Papua

Tantangan Pembangunan Perkotaan

Perkotaan di Indonesia menghadapi berbagai isu permasalahan internal


akibat perkembangan yang cepat dari urbanisasi namun belum didukung
dengan pengelolaan perkotaan yang baik. Selain isu permasalahan
internal, perkotaan juga dihadapkan pada tantangan dari luar yang
meliputi persaingan global, desentralisasi dan demokratisasi dan bencana
serta perubahan iklim. Tantangan perkotaan perlu menjadi perhatian
serius dalam pengelolaan perkotaan agar tidak menjadi permasalahan
yang dapat melemahkan kondisi perkotaan di masa yang akan datang.

2.5.1 Urbanisasi
Urbanisasi menjadi tantangan utama yang dihadapi kota dan kawasan
perkotaan. Semakin bertambahnya penduduk yang mengakibatkan
semakin bertambah pula kegiatan di kota dan kawasan perkotaan
seharusnya memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi.

110

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Ruang kota dan kawasan perkotaan yang semakin padat;


2. Penurunan kualitas lingkungan; dan
3. Permasalahan sosial.

BAB 2

Namun yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya, dimana urbanisasi


menjadi beban yang semakin bertambah dari tahun ke tahun dan
memberi dambak negatif bagi keberlanjutan kehidupan di kota dan
kawasan perkotaan. Pemusatan penduduk di kota dan kawasan
perkotaan tertentu memberi kesenjangan taraf kehidupan antar kota dan
kawasan perkotaan juga antara kota dan desa. Tantangan yang akan
dihadapi dari terus berkembangnya urbanisasi antara lain:

Urbanisasi memang tidak dapat dicegah, namun dapat dikendalikan


dengan berbagai strategi pembangunan perkotaan dan juga perdesaan.
Untuk menjawab tantangan utamadi kota dan kawasan perkotaan
tersebut perlu dilakukan antara lain:
1. Mengendalikan laju urbanisasi melalui pembangunan yang merata
dan terpadu di berbagai wilayah di Indonesia;
2. Menjadikan perkembangan jumlah penduduk sebagai potensi
untuk mengembangkan kegiatan perekonomian di kota dan
kawasan perkotaan; dan
3. Memperkuat ketahanan kota di berbagai bidang untuk
mengendalikan dampak buruk yang ditimbulkan oleh urbanisasi.

2.5.2 Persaingan Global


Negara-negara di dunia terus bersaing untuk meningkatkan taraf
kehidupannya di berbagai bidang antara lain ekonomi, teknologi, sosial
dan lingkungan. Persaingan global secara langsung mempengaruhi
perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi sebuah negara, dimana
globalisasi menuntut agar setiap negara dapat mewujudkan kotayang
mampu berperan sebagai tempat beraktivitas yang kompetitif dan bertaraf
internasional.

Tantangan dalam persaingan global yang dihadapi kawasan perkotaan


antara lain persaingan ekonomi yang meliputi pelayanan jasa dan
perdagangan yang berskala internasional yang perlu didukung dengan
kualitas, prasarana dan sarana, simpul transportasi dan distribusi yang

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

111

baik, juga persaingan sosial dan lingkungan yang menuntut peran aktif
perkotaan dalam kegiatan internasional.

BAB 2

Persaingan global menuntut kota agar mampu berperan sebagai tempat


beraktivitas yang kompetitif dan bertaraf internasional, yaitu kota yang :
a. Mampu berpartisipasi aktif dan menjadi bagian dalam kegiatan
internasional;
b. Mampu menjadi simpul transporasi dan distribusi internasional;
c. Mampu mengembangkan diri menjadi pusat investasi, jasa,
perdagangan, budaya dan komunitas berskala internasional.

2.5.3 Desentralisasi dan Demokratisasi


Pelaksanaan pembangunan perkotaan saat ini dilakukan dengan sistem
desentralisasi sebagai konsekuensi dari otonomi daerah dan juga
menerapkan demokratisasi dalam menetapkan wujud dan arah
pembangunan yang juga melibatkan rakyat. Desentralisasi yang berarti
penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah untuk mengurus urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan
kondisi dan potensi daerahnya masing-masing,diharapkan akan memberi
dampak positif pada pembangunan daerah-daerah tertinggal agar mandiri
dan dapat memajukan pembangunan nasional. Namun dalam
pelaksanaannya, desentralisasi tidak dapat berjalan secara ideal
khususnya desentralisasi fiskal yang merupakan tantangan dalam
manejemen ekonomi makro Indonesia. Desentralisasi yang tidak optimal
ini berpengaruh terhadap efektifitas kebijakan di kawasan perkotaan yang
akibatnya dirasakan pada program-program yang tidak terlaksana sesuai
rencana.
Berbagai tantangan yang akan dihadapi perkotaan dengan adanya
desentralisasi dan demokrasi tata pemerintahan yang tidak optimal antara
lain:
a. Perbedaan orientasi kebijakan ekonomi antara pemerintah pusat
dan daerah;
b. Kewenangan pemerintah yang penuh terhadap daerahnya
membuat kota tumbuh secara sendiri-sendiri tanpa ada
keterikatan satu kota dengan lainnya sehingga menyebabkan
ketimpangan;

112

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut maka hal yang perlu


dilakukan antara lain:
a. Meningkatkan kapasitas teknis dan keuangan daerah, terutama
pada kota-kota yang diarahkan untuk menjadi pusat
pertumbuhan wilayah;
b. Memperkuat kerjasama antar kota maupun antar kota dengan
daerah di sekitarnya; dan
c. Meningkatkan peran pemerintah provinsi sebagai wakil
pemerintah pusat dalam mendorong pembangunan perkotaan.

2.6

BAB 2

c. Pemekaran wilayah yang tidak terkendali tanpa disertai


efektifitas dan efisiensi pembangunan untuk kesejahteraan
masyarakat; dan
d. Pelaksanaan program yang tidak terlaksana dengan baik akibat
struktur pemerintahan yang berubah-ubah.

Potensi Pengembangan Perkotaan

Pembangunan kota dan kawasan perkotaan perlu memperhatikan


potensi-potensi yang dimiliki oleh kota dan kawasan sekitarnya dalam
menunjang terlaksananya pembangunan yang diinginkan. Indonesia
memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam yang sangat
berlimpah, antara lain:
a. Panjang garis pantai yang merupakan terpanjang ke-2 di dunia
(81.000 km);
b. Pulau terbanyak di dunia dengan 17.504 pulau (luas daratan :
1.826.440 km2; dan luas perairan : 93.000 km2); dan
c. Keanekaragaman hayati atau Megadiverse Country (Balai Kliring
Keanekaragaman Hayati Nasional, Kementerian Lingkungan
Hidup).
Sumber daya alam ini merupakan potensi dalam pengembangan
perkotaan, karena selain dapat dipergunakan sendiri, sumber daya alam
ini dapat diekspor. Selain itu, sumber daya alam juga dapat menjadi ciri
khas suatu kotauntuk meningkatkan daya saingnya.
Potensi pengembangan kota dan kawasan perkotaan lainnya adalah
kekayaan dan keanekaragaman budaya.Potensi ini dapat dikembangkan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

113

sebagai komoditas pariwisata. Beragam kebudayaan yang tersebar di


Indonesia memiliki daya tarik khusus bagi wisatawan khususnya
wisatawan mancanegaradan menjadi ciri khas yang akan menjadi citra
atau keunikan kota tersebut untuk meningkatkan daya saingnya terhadap
kota-kota lain.

BAB 2

Letak geografis sebuah kota pun dapat menjadi potensi pengembangan


perkotaan.Letak geografis yang strategis dapat menguntungkan dalam
hal mobilitas perdagangan dan distribusi komoditas. Kota dengan letak
yang strategis pada jalur lintas perdagangan menjadi kekuatan utama
dalam pelayanan perdagangan.

2.7

Peluang Pengembangan Perkotaan

Potensi-potensi yang terdapat pada berbagai kota di Indonesia


memberikan peluang dalam melaksanakan pengembangan perkotaan.
Peluang dalam pengembangan perkotaan dapat berupa kerjasama antar
daerah, baik dalam lingkup nasional maupun global. Dengan kerjasama,
maka potensi-potensi yang ada dapat dikelola menjadi lebih efektif,
efisien dan saling memberi keuntungan antara satu daerah dengan
lainnya.
Era desentralisasi mendorong adanya kerjasama antar daerah,
khususnya perkotaan, agar konflik lintas wilayah berubah menjadi potensi
yang saling menguntungkan.Kerjasama dalam pengembangan perkotaan
antara lainterkait penyelenggaraan pelayanan publik, penyediaan
prasarana-sarana, pariwisata, perdagangan, keamanan di kawasan
perbatasan, penanggulangan bencana dan laiinya.
Berbagai bentuk kerjasama sudah berkembang di beberapa kota di
Indonesia. Salah satu kerjasama di lingkup nasional adalah kerjasama
dalam mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Beberapa kota saling bekerja
sama dalam mengembangkan potensi wilayahnya, sebagai contoh Kota
Pati yang menggalang kerja sam dengan Semarang dalam bidang
pendidikan. Selain lingkup nasional, MP3EI juga mendorong kerjasama
tingkat global, misalnya dengan Jepang, kerjasama difokuskan dalam hal
ekonomi, transportasi, infrastruktur dan industri kreatif. Kerjasama tingkat
global lain dalam perkembangan kota adalah penerapan sistem kota

114

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 2

kembar (sister city). Kota kembar merupakan konsep kerjasama dua kota
yang berbeda lokasi dan administrasi politik untuk peningkatan
perekonomian, mempromosikan kebudayaan dan menjalin kerjasama di
berbagai bidang secara lebih erat. Seperti contohnya hubungan kota
kembar antara Kota Bandung dan Kota Suwon (Korea Selatan) yang
dirintis pada 1997 dalam meningkatkan bidang pendidikan, bidang
ekonomi, bidang seni budaya dan bidang pariwisata. Pertukaran pelajar
antar kota serta pembangunan prasarana dan sarana sangat
menguntungkan bagi perkembangan kota Bandung.
Selain itu, Indonesia yang merupakan bagian dari kawasan Asia
Tenggara akan menghadapi sebuah perubahan besar dalam rangka
peningkatan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara. Kerjasama ekonomi
sub regional, seperti IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth
Triangle), IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle),
BIMP-EAGA (Brunei-Indonesia-Malaysia-Philipines EA Growth Area)
dapat dikembangkan secara lebih proaktif untuk membangun kerjasama
antar kota antar wilayah. Asean Economic Community (AEC) pada tahun
2015 yang menajadikan negara-negara Asean sebagai sebuah komunitas
ekonomi. Asean Economic Community (AEC) merupakan sebuah
tantangan juga peluang untuk memperluas pasar bagi produk
industrinasional. Setiap negara akan dipacu lebih kreatif dan inovatif
dalam menciptakan sektor-sektor ekonomi dan industri yang mampu
berdaya saing. Persaingan khususnya di bidang perekonomian akan
memberi dampak yang besar bagi kehidupan perkotaan sebagai pusat
pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

115

BAB 3

116
116

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional


Nasional

BAB 3

VISI, MISI,
dan SASARAN
PEMBANGUNAN
PERKOTAAN
NASIONAL

117
117

Kebijakan
dan Strategi
Pembangunan
Perkotaan
Nasional
Kebijakan
dan Strategi
Pembangunan
Perkotaan
Nasional

Visi, Misi dan Sasaran Pembangunan


Perkotaan Nasional

3.1

Konsepsi Dasar Pembangunan Perkotaan


Nasional

BAB 3

Konsepsi pembangunan perkotaan nasional dilandasi oleh pengertian


kota dan kawasan perkotaan yang telah ada. Berbagai definisi tentang
kota diklasifikan kedalam 4 (empat) kelompok menurut peran dan fungsi
kota (Brundtland, 1989). Pertama, pendekatan geografis-demografis
memandang kota sebagai lokasi pemusatan penduduk yang tinggal
bersama dalam ruang wilayah tertentu dengan pola hubungan yang
rasional dan cenderung individualistik berdasarkan ciri demografis
penduduk yang memiliki status pendidikan, ekonomi, dan sosial relatif
lebih tinggi dibandingkan kawasan non-perkotaan. Kedua, pendekatan
ekonomis memandang kota sebagai pusat peningkatan produktivitas dan
produksi barang dan jasa, pertemuan lalu-lintas perdagangan dan
kegiatan industri, serta tempat perputaran uang yang bergerak dengan
cepat dan dalam volume yang tinggi. Ketiga, pendekatan fisik
memandang kota sebagai pusat dan sistem berbagai prasarana dan
sarana yang menunjang kehidupan dan kreativitas warganya. Keempat,
pendekatan sosiologis-antropologis memandang kota sebagai pemusatan
penduduk dengan latar belakang yang heterogen, lambang peradaban
kehidupan manusia, pusat kebudayaan, sumber inovasi dan kreasi, serta
wahana untuk peningkatan kualitas hidup.
Perkembangan kota secara historis dipandang sebagai penyebab dan
solusi untuk perbaikan sosial, ekonomi, politik dan budaya
(McCarthy,2002). Namun, dalam perkembangannya, kota mengalami
perubahan lingkungan yang sebagian besar dipengaruhi oleh urbanisasi.
Urbanisasi menjadi tidak terkendali ketika peningkatan kepadatan dan
kompleksitas aktivitas penduduk di kota yang tidak diimbangi dengan
penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas yang memadai. Kondisi
tersebut mengakibatkan kota menjadi tempat yang kurang layak untuk

118

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Agenda 21 dari UN Habitat telah menggalang komitmen negara-negara


didunia untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan di perkotaan
dengan mengedepankan penyediaan infrastruktur lingkungan yang
terintegrasi, pembangunan SDM dan perlindungan kesehatan perkotaan,
pengembangan lingkungan yang berkelanjutan dan pengentasan
kemiskinan, peran penting teknologi informasi dan komunikasi, serta
pengembangan kelembagaan lokal dan pendekatan partisipatif (inclusive
ownership). Melalui Reallizing The Asia Century, Asia 2050 telah
mengagendakan beberapa tantangan yang dapat ditangani hingga 2050
dalam rangka perkembangan ekonomi yang pesat dan fenomena
urbanisasi di kota kota Asia. Penanganan tersebut meliputi inovasi
dalam transformasi keuangan, pengurangan intensitas penggunaan
energi, jaminan keamanan hidup, aksi nyata perubahan iklim,
pengembangan kewirausahaan dan inovasi dalam bidang ekonomi,
transformasi sistem pemerintahan dan kelembagaan, dan kerjasama
antar wilayah.

BAB 3

digunakan sebagai tempat hunian dan berpengaruh pada menurunnya


daya saing kota, kurang optimalnya pertumbuhan ekonomi kota,
terjadinya degradasi lingkungan, dan kerentanan terhadap berbagai
bencana alam dan perubahan iklim. Dengan kondisi ini, masyarakat kota
membutuhkan kota yang layak huni untuk tempat bermukim, kota yang
hijau untuk kenyamanan dan mengantisipasi degradasi lingkungan,
bencana alam dan perubahan iklim dan kota yang berdaya saing untuk
mengoptimalkan pertumbuhan ekonominya.

Pembangunan kota yang berkelanjutan kemudian menjadi solusi dimana,


sebuah kota sebagai entitas sosial, entitas spasial dan keseimbangan
antara masa kini dan masa depan merupakan faktor penting untuk
menjamin adanya keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam
yang tersedia, tanpa mengurangi peluang generasi yang akan datang
untuk menikmati kondisi yang sama. Secara konseptual, pembangunan
perkotaan berkelanjutan merupakan upaya untuk mengintegrasikan
secara sinergis dari tiga kepentingan utama dalam pembangunan
perkotaan yang meliputi keadilan sosial, mendorong pertumbuhan dan
efisiensi ekonomi, dan perlindungan terhadap kelestarian lingkungan.
Menurut Haughton and Hunter (1994) menekankan 3 (tiga) prinsip dasar
pembangunan kota berkelanjutan, sebagai berikut:

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

119

1. Prinsip kesetaraan antar generasi (intergeneration equity) yang


menjadi asas pembangunan berkelanjutan dengan orientasi masa
mendatang;
2. Prinsip keadilan sosial (social justice) dalam kesenjangan akses
dan distribusi sumberdaya alam secara intragenerasi untuk
mengurangi kemiskinan yang dianggap sebagai faktor degradasi
lingkungan;
3. Prinsip tanggung-jawab (transfrontier) yang menjamin pergeseran
geografis dampak lingkungan yang minimal dengan upaya-upaya
kompensasi.

BAB 3

Konteks
pembangunan
kota
berkelanjutan
di
Indonesia
diimplementasikan dalam 3 (tiga) bentuk perwujudan antara lain pertama
adalah kota yang layak sebagai tempat bermukim dan menjamin
keamanan hidup bagi masyarakat kota, kedua adalah kota hijau sehingga
mampu menjaga sistem lingkungan alami, lingkungan terbangun,
lingkungan sosial yang sudah ada, perubahan iklim, tanggap adaptasi
dan mitigasi bencana, serta menjaga sumber daya energi untuk masa
depan dan ketiga adalah kota yang cerdas dan berdaya saing sehingga
mampu mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan
inovasi di bidang ekonomi dan keuangan.
Pembangunan Kota Layak Huni dan menjamin kenyamanan dan
keamanan untuk semua warga masyarakat, tidak hanya terfokus kepada
perwujudan fisik, tetapi juga non fisik. Kota layak huni (liveable city)
merupakan kota yang dapat menampung seluruh kegiatan masyarakat
kota dan aman bagi seluruh masyarakat (Hahlweg, 1997). Menurut Evan
(2002), konsep kota layak huni digunakan untuk mewujudkan gagasan
pembangunan kota sebagai peningkatan dalam kualitas hidup
masyarakat yang membutuhkan infrastruktur fisik dan habitat sosial.
Dengan demikian, kota layak huni merupakan gambaran sebuah
lingkungan dan suasana kota yang nyaman dan aman sebagai tempat
tinggal dan sekaligus sebagai tempat beraktifitas masyarakat yang dilihat
dari berbagai aspek, baik aspek fisik, seperti struktur ruang, prasarana
dan sarana perkotaan, maupun aspek non-fisik, seperti hubungan sosial
dan aktivitas ekonomi didalamnya.
Menurut Economist Intelligence Unit (EIU), terdapat 5 (lima) aspek yang
merupakan tolok ukur Kota Layak Huni yaitu:

120

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia, dinilai masih rendah dalam


perwujudan Kota Layak Huni. Hal ini terlihat dari penilaian yang dilakukan
Economist Intelligence Unit (EIU), dimana Jakarta menempati peringkat
ke-119, jauh dibawah negara Asia Timur dan bahkan dibawah Singapura,
Kuala Lumpur dan Bangkok.
Tabel 3. 1

Posisi Kota Jakarta terhadap Kota Lain di Asia dalam


Indeks Kota Layak Huni di Dunia

BAB 3

1. Stabilitas (tingkat keamanan)


2. Kesehatan (akses dan kualitas kesehatan)
3. Budaya dan Lingkungan (tingkat korupsi dan pengawasan
sosial, juga fasilitas rekreasi sebagai bentuk perwujudan
lingkungan yang nyaman)
4. Pendidikan (akses dan kualitas pendidikan)
5. Infrastruktur (kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana
pendukung kehidupan perkotaan)

Most Livable City Index 2012 Economist Intelligence Unit (EIU)


Peringkat
Kota, Negara
12
Osaka, Jepang
18
Tokyo, Jepang
31
Hong Kong, Hong Kong
52
Singapore, Singapore
72
Beijing, China
78
Kuala Lumpur, Malaysia
79
Shanghai, China
102
Bangkok, Thailand
105
Manila, Filipina
119
Jakarta, Indonesia
122
Hanoi, Vietnam
124
Ho Chi Minh City, Vietnam
Sumber: Most Livable City Index 2012, (EIU)

Pembangunan kota hijau (green city) pada dasarnya adalah menjaga dan
menambah asupan kota seperti energi, air, makanan, serta mengurangi
keluaran kota seperti polusi suhu, polusi air, dan polusi udara (emisi CO2,
gas metan). Pembangunan Kota Hijau memanfaatkan secara efektif dan
efisien sumberdaya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan
sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, dan
mensinergikan lingkungan alami dan buatan, berdasarkan perencanaan
dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan dilihat dari aspek lingkungan, sosial dan ekonomi secara
seimbang. Melalui konsep kota hijau, diharapkan dapat mewujudkan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

121

kawasan perkotaan yang secara struktural memiliki kelayakan sebagai


kawasan hunian.Penerapan Kota Hijau dapat dilakukan melalui 6 (enam)
atribut, yaitu:

BAB 3

1. Green Openspace
Taman dan ruang terbuka hijau adalah elemen penting untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan dan sebagai
kontributor terhadap kebelanjutan kota-kota. Penghijauan perkotaan
menjadi salah satu pendekatan mitigasi untuk mengantisipasi
dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia (Bowler,
2010)
2. Green Waste
Usaha untuk melaksanakan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R)
yaitu mengurangi sampah/limbah, mengembangkan proses daur
ulang dan meningkatkan nilai tambah, adalah untuk mengurangi
pencemaran dan polusi terhadap lingkungan.
3. Green Transportation
Pengembangan sistem transportasi yang berkelanjutan dan ramah
lingkungan, misal : transportasi publik, jalur sepeda, dsb, adalah
merupakan sebuah sistem transportasi yang dibuat untuk
menurunkan tingkat polusi kota yang disebabkan oleh penggunaan
kendaraan bermotor.
4. Green Water
Pemanfaatan sumber daya air secara efisien, juga melakukan
proses untuk mengurangi polusi terhadap kondisi air di lingkungan
kota.
5. Green Energy
Pemanfaatan energi dengan seminimal mungkin, juga dengan
menggunakan alternatif energi yang ramah lingkungan, serta
kontribusi kota terhadap persediaan energinya sendiri, antara lain
dengan menggunakan panel surya, biogas, atau pembangkit listrik
ramah lingkungan lainnya.
6. Green Building (bangunan hemat energi)
Green building adalah bangunan yang dalam penggunaannya
memperhatikan pemanfaatan sumber daya alam. Hal tersebut
berarti mengakibatkan intervensi seminimal mungkin terhadap
lingkungan (Bauer, Mosle, Schwarz, 2007).
Berdasarkan Asian Green City Index 2011 Economist Intelligence Unit
(EIU), dalam perwujudan Kota Hijau, kota Jakarta menduduki peringkat

122

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

rata-rata (average) yaitu peringkat ke-11 (sebelas) dibawah kota-kota di


negara-negara Asia Timur. Kategori yang dinilai dalam perwujudan Kota
Hijau ini meliputi energi dan CO2, transportasi, kualitas udara, kualitas
air, pemanfaatan guna lahan, limbah, sanitasi dan lingkungan
pemerintahan.
Tabel 3. 2 Posisi Kota Jakarta dalam Indeks Kota Hijau di Asia
Asian Green City Index 2011 Economist Intelligence Unit (EIU)
Penilaian
Well above average

Above average

BAB 3

Perin
Kota
gkat
1
Singapore
2
Hong Kong
3
Osaka
4
Seoul
5
Taipei
6
Tokyo
7
Yokohama
8
Bangkok
9
Beijing
10
Delhi
11
Jakarta
12
Kuala Lumpur
13
Shanghai
14
Hanoi
15
Kolkata
16
Manila
17
Karachi
Sumber: Asian Green City Index 2011, (EIU)

Average

Below average
Well below average

Di era globalisasi seperti saat ini, menjadi kota yang layak huni atau
hanya kota hijau di masa depan belum mencerminkan bahwa kota-kota di
Indonesia akan mampu bersaing dengan kota-kota lainnya di negara
maju. Global Competitiveness Index yang dikeluarkan oleh World
Economic Forum (2012), menunjukkan daya saing Indonesia yang masih
berada di peringkat 46 dari 142 negara. Sebagaimana dilihat pada Tabel
3.3, diantara negara-negara anggota ASEAN, Indonesia berada masih
jauh dibawah Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand, dan hanya
diatas Vietnam, Filipina, dan Kamboja. Untuk mengoptimalkan potensi
dan pertumbuhan ekonomi, maka kota harus mampu bersaing baik dalam
lingkup regional, nasional maupun global yang mencakup berbagai
bidang seperti perdagangan, industri, pelayanan jasa, teknologi dan lainlain. Kota dituntut untuk menjadi lebih cerdas, lebih efisien (smart city)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

123

serta mampu meningkatkan daya saingnya melalui inovasi secara terus


menerus dengan dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Tabel 3.3

BAB 3

Negara
Singapura
Malaysia
Brunei
Thailand
Indonesia
Vietnam
Filipina
Kamboja

2006-2007
8
19
n/a
28
54
64
75
106

2007-2008
7
21
n/a
28
54
68
71
110

2008-2009
5
21
39
34
54
70
71
109

2009-2010
3
24
32
36
54
75
87
110

2010-2011
3
26
28
38
44
59
85
109

2011-2012
2
21
28
39
46
65
75
97

Sumber: World Economic Forum, 2012

Konsep Smart City telah banyak dituangkan di dalam konsep


pembangunan perkotaan. Kota cerdas dan berdaya saing (smart city)
merupakan salah satu konsep pembangunan perkotaan yang
pengelolaannya memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi
untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang ada dan
meningkatkan pelayanan kota secara lebih efisien dan efektif, serta
meningkatkan kapasitas daya saing kota. Perwujudan konsep smart city di
wilayah Asia, telah dikembangkan secara masif di Cina, melalui pilot proyek di
90 (sembilan puluh) kota, diantaranya : Shanghai, Wuhan, dan Nanjing.
Meskipun titik awal pengembangan smart city berangkat dari penyiapan
dan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi, namun kota juga
dituntut untuk terbuka terhadap perkembangan inovasi dan kreativitas
masyarakatnya. Smart City juga diarahkan kepada peningkatan edukasi
terhadap masyarakat, kehidupan sosial/budaya, dan kelestarian
hubungan antara ekonomi dan lingkungan dalam rangka mendorong
pertumbuhan kota. Dengan demikian perwujudan konsep Smart City
meliputi 6 (enam) dimensi, yaitu:
1.

124

Peringkat Daya Saing Indonesia dan Negara ASEAN di


Tingkat Global

Smart Living
Merupakan
kenyamanan
hidup
dengan
kemudahan
memperoleh berbagai informasi dan mendapatkan berbagai
kebutuhan dengan mudah dan cepat, dengan ditunjang oleh
teknologi informasi dan komunikasi.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3.

4.

5.

6.

Smart Environment
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam
manajemen sumber daya alam dan lingkungan.
Smart Economy
Kapasitas SDM untuk inovasi, kreasi, dan kewirausahaan yang
ditunjang dengan adanya teknologi informasi komunikasi.
Smart People
Masyarakat paham terhadap teknologi informasi komunikasi,
yang dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja, pendapatan
masyarakat.
Smart Governance
Jaringan komunikasi pemerintah-masyarakat, swasta berbasis
teknologi informasi komunikasi untuk mempermudah kerjasama
antar pelaku pembangunan, serta kerjasama antar daerah
Smart Mobility
Kemudahan akses informasi nasional dan sistem transportasi
inovatif yang terintegrasi oleh adanya teknologi informasi
komunikasi.

BAB 3

2.

3.2

Prinsip Dasar

Berdasarkan uraian konsepsi dasar di atas, maka pembangunan


perkotaan Indonesia dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip,
sebagai berikut :
1. Kemandirian. Dengan adanya kebijakan otonomi daerah, maka
perwujudan kota masa depan dilaksanakan untuk membangun
identitas, peradaban, dan kemampuan kota dalam memenuhi
kebutuhan penduduknya berdasarkan karakter fisik, keunggulan
ekonomi, dan budaya lokal.
2. Bertahap dan Terukur. Perwujudan kota masa depan
dilaksanakan secara terencana dan bertahap dengan sasaran
yang terukur dan mengacu pada indikator pencapaian yang telah
disusun.
3. Kesetaraan dan keadilan. Perwujudan kota masa depan
dilaksanakan
secara
inklusif
dengan
mengutamakan
keseimbangan hak dan kewajiban dari seluruh masyarakat
Indonesia dan dilaksanakan di setiap tipologi kota.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

125

BAB 3

4. Partisipatif. Perwujudan kota masa depan dilaksanakan dengan


melibatkan dunia usaha, organisasi/lembaga non pemerintah, dan
masyarakat secara keseluruhan.
5. Kolaborasi dan Sinergi. Dalam perwujudan kota masa depan
diperlukan pembagian peran dan fungsi serta koordinasi yang baik
antar tingkatan pemerintah dan antar sektor.
6. Tata kelola yang baik. Perwujudan kota masa depan
dilaksanakan dengan dukungan pemerintahan yang transparan
dan akuntabel serta kepemimpinan yang inovatif dan visioner.
7. Keberlanjutan. Perwujudan kota masa depan dilaksanakan
dengan memperhatikan keselamatan dan keseimbangan antara
pembangunan ekonomi dengan daya dukung dan kapasitas
sosial, lingkungan dan kelestarian sumberdaya alam, serta
lingkungan sosial dan kapasitas SDM perkotaan.
Terwujudnya kota berkelanjutan dengan prinsip prinsip dasar
pembangunan perkotaan tersebut, hanya dapat terwujud, dengan
perubahan pola pikir (mind set) dari seluruh pelaku pembangunan kota.
Perubahan pola pikir (mind set) akan menjadi dasar untuk perubahan
kultur masyarakat, dan juga menjadi dasar dalam proses pembangunan
menuju kota masa depan Indonesia.
3.3

Visi dan Misi

Kota di Indonesia perlu dibangun secara berkelanjutan dimana kawasan


perkotaan yang didesain, dibangun, dan dikelola untuk memenuhi
kebutuhan warga kota dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, tanpa
mengancam keberlanjutan sistem lingkungan alami, lingkungan
terbangun, dan lingkungan sosial.
Namun demikian, memperhatikan karakter dan potensinya, Indonesia
perlu membangun identitas perkotaan berbasis karakteristik fisik,
keunggulan ekonomi dan budaya lokal. Karakter geografis serta isu
urbanisasi yang menimbulkan kesenjangan antar kota maka Indonesia
perlu membangun keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota
dalam sistem perkotaan nasional berbasis kewilayahan.
Dengan mempertimbangkan berbagai isu strategis, peluang dan
tantangan, serta konsepsi dasar yang telah diuraikan sebelumnya, maka

126

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

visi pembangunan kota masa depan Indonesia, yaitu:


Kota berkelanjutan dan berdaya saing untuk kesejahteraan
masyarakat
Kota berkelanjutan diterjemahkan menjadi 5 pilar :
Pilar 1 :Kota yang aman, nyaman dan layak huni

Kota yang aman diterjemahkan menjadi stabilitas kota yang selalu


terjaga dalam rangka memberikan pelayanan rasa aman dan
tentram bagi masyarakat kota melalui : penegakan hukum,
pencegahan kriminalitas dan konflik, serta pemberdayaan modal
sosial masyarakat perkotaan.

BAB 3

Kota yang dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup


warganya sehingga dapat mencapai kesejahteraan dengan lebih
mudah serta tetap mampu menjaga kualitas lingkungan kota.

Kota yang nyaman, diterjemahkan menjadi kota yang dapat


memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup masyarakat
perkotaan untuk mencapai kesejahteraan tanpa mengurangi
kualitas kota, melalui penyediaan prasarana sarana lingkungan
hunian, ekonomi, kesehatan dan pendidikan dan prioritas
penyediaan transportasi umum multimoda dan antarmoda, ruang
bagi pejalan kaki dan pesepeda.
Kota layak huni, diterjemahkan sebagai kota dengan pelayanan
sarana prasarana permukiman, sesuai dengan kebutuhan hidup
warganya yang mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat
kota serta mampu menjaga kualitas lingkungan kota, melalui
penyediaan prasarana sarana lingkungan hunian kota, ruang yang
berkeadilan bagi pelaku ekonomi formal dan informal, kesehatan
dan pendidikan dan menjamin kualitas kesehatan lingkungan
perkotaan.
Pilar 2 :Kota Hijau yang berketahanan iklim dan bencana
Kota yang dibangun dengan memanfaatkan secara efektif dan
efisien sumberdaya air, energi dan ruang kota yang
memperhatikan dan menjamin kesehatan lingkungan kota serta
menyinergikan lingkungan alami dan lingkungan buatan kota untuk

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

127

dapat mengembangkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim


melalui penggunaan sumberdaya terbarukan, pemanfaatan
infrastruktur hijau, pemanfaatan ruang dan kegiatan perkotaan
yang efisien dan berkeadilan, pengelolaan lingkungan,
perlindungan lingkungan perkotaan.
Pilar 3 : Kota Cerdas dan berdaya saing berbasis teknologi dan ICT

BAB 3

Kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial Teknologi


Informasi dan Komunikasi untuk mewujudkan pertumbuhan
ekonomi berkelanjutan, keunggulan ekonomi yang kompetitif serta
kualitas kehidupan yang tinggi dengan manajemen sumberdaya
yang bijaksana melalui pengembangan ekonomi yang produktif,
kreatif dan inovatif, tata kelola pemerintahan kota dan pelayanan
publik, kota yang memiliki pelayanan prasarana sarana hunian,
kesehatan, pendidikan dan keamanan, pengelolaan sumber daya
lingkungan kota dan pembangunan masyarakat kota cerdas yang
inovatif, kreatif dan produktif.
Pilar 4 :Membangun identitas perkotaan Indonesia berbasis karakter fisik,
keunggulan ekonomi dan budaya lokal
Memperkuat karakter perkotaan nasional dengan membangun
ketahanan sosial budaya yang memperhatikan keunggulan
keaneragaman hayati dan sosial budaya lokal, keunggulan
geografis dan iklim tropis, serta memperhatikan bentuk kota dan
bentuk fisik kota baik alami maupun buatan, melalui keunggulan
ekonomi yang dimiliki suatu kota baik berasal dari faktor produksi
maupun non faktor produksi secara kompetitif sehingga
mendorong daya saing suatu kota dan kota yang mampu
mengelola dan mengangkat budaya masyarakatnya sebagai
pencitraan kota dan untuk kepentingan lainnya, sehingga mampu
memberikan identitas tertentu.
Pilar 5 : Membangun keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota
dalam Sistem Perkotaan Nasional berbasis kewilayahan.
Mengurangi kesenjangan pembangunan. Dengan membangun
keterkaitan ekonomi antar kota dengan wilayah sekitarnya
khususnya wilayah pedesaan, serta pembagian fungsi dan peran
kota dalam sistem perkotaan nasional yang efisien, melalui

128

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Untuk mencapai visi pembangunan kota berkelanjutan di masa depan


melalui 5 pilarnya maka ditetapkan misi yang akan dilaksanakan adalah:
1. Mewujudkan pemerataan pembangunan kota sesuai peran dan
fungsinya pada Sistem Perkotaan;
2. Mengembangkan sarana prasarana dalam memenuhi Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP)
3. Membangun hunian yang kota yang layak, aman, dan nyaman
berbasis lingkungan, sosial, dan budaya yang beragam
4. Mengendalikan ruang dan kegiatan pembangunan kota dengan
menjaga daya dukung lingkungan
5. Membangun kegiatan perekonomian dan masyarakat kota
berdaya saing yang produktif, kreatif, dan inovatif, efisien serta
berbasis ICT; dan
6. Perwujudan tata kelola dan kelembagaan pemerintah yang lebih
transparan, akuntable, dan partisipatif.

BAB 3

hubungan timbal balik antar kota baik logistik, sumber daya,


maupun tenaga kerja dalam sistem perkotaan nasional yang
dihubungkan melalui prasarana sarana, hubungan timbal balik
antar kota dan desa, baik logistik, sumber daya maupun tenaga
kerja dalam sistem keterkaitan kota dengan wilayah perdesaan
yang terintegrasi serta hierarki fungsi dan peran kota dalam sistem
pelayanan perkotaan nasional yang efisien dalam bentuk pusatpusat kegiatan yang berbasis pada wilayah kepulauan.

Untuk mewujudkan visi dan misi diatas, maka ditetapkan sasaran yang
lebih operasional dan dilaksanakan melalui kebijakan dan strategi dengan
target keberhasilan berupa indikator dan parameter tertentu. Secara
keseluruhan kerangka pembangunan perkotaan nasional dapat dilihat
pada Gambar 3.1 dibawah ini.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

129

Gambar 3. 1 Kerangka Pembangunan Perkotaan Nasional Sasaran

BAB 3
Sumber: Bappenas, 2014

3.4

Sasaran

Sasaran pembangunan perkotaan nasional mencakup 63 (enamtiga)


bagian, yaitu:
1. Perwujudan sistem perkotaan nasional;
2. Pemenuhan pelayanan perkotaan sekaligus perwujudan kota
layak huni yang aman dan nyaman; perwujudan standar kota hijau
yang berketahanan iklim dan bencana; perwujudan kota cerdas
yang berdaya saing; serta
3. Peningkatan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan.
Perwujudan 3 (tiga) sasaran tersebut direncanakan dapat tercapai dalam
kurun waktu 30 tahun, mulai dari Tahun 2015 sampai dengan Tahun
2045.

130

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Untuk menentukan sasaran pembangunan perkotaan nasional,


digunakan suatu alat ukur yang menjadi dasar penentuan pembangunan
yang juga sebagai alat monitoring dan evaluasi pembangunan
berkelanjutan kota-kota di Indonesia. Alat ukur tersebut bernama Indeks
Kota berkelanjutan (IKB).

3.4.1 Indeks Kota Berkelanjutan: Dasar Penetapan Sasaran


Pembangunan Kota Berkelanjutan

BAB 3

IKB terdiri dari aspek-aspek pembangunan kota berkelanjutan yang


sesuai dengan sasaran KSPPN, yaitu Sistem Perkotaan, Keberlanjutan
Pelayanan Perkotaan, Keberlanjutan Sosial Budaya, Keberlanjutan
Ekonomi, Keberlanjutan Lingkungan dan Keberlanjutan kelembagaan
serta pembiayaan.

Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) memiliki manfaat sebagai (1) alat ukur
(baseline) pembangunan kota dan kawasan perkotaan di Indonesia, (2)
alat ukur gap kondisi eksisting pembangunan perkotaan dengan sasaran
maupun target pembangunan perkotaan di Indonesia, (3) sebagai alat
pembanding (benchmark/ranking/posisi) perkembangan pembangunan
kota dan kawasan perkotaan di Indonesia, (4) sebagai dasar pemberian
penghargaan atas kinerja pemerintah dalam membangun kota atau
kawasan kotanya.
IKB juga berfungsi sebagai alat ukur dan pemetaan perkembangan
pembangunan kota-kota di Indonesia untuk menuju pembangunan kota
yang berkelanjutan, serta sebagai alat evaluasi dan intervensi pemerintah
terhadap pembangunan perkotaan di Indonesia.
Aspek dan variabel dalam Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) didasarkan
pada sasaran pembangunan perkotaan yang diamanatkan dalam KSPPN
yang dilaksanakan melalui: Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional
(SPN); Pemenuhan Pelayanan Perkotaan (SPP); Perwujudan kota
berkelanjutan melalui penerapan Kota Hijau untuk aspek lingkungan,
Kota Layak Huni untuk aspek sosial budaya, serta Kota Cedas dan
Berdaya Saing untuk aspek ekonomi; dan Peningkatan Tata Kelola
perkotaan. Sehingga, dengan demikian IKB secara keseluruhan dibangun
dari 6 (enam) aspek pembangunan perkotaan. 3 (tiga) diantaranya
merupakan aspek/dimensi utama dalam pembangunan berkelanjutan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

131

sedangkan tiga lainnya merupakan aspek/dimensi pendukung untuk


memperkuat keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Aspek utama
terdiri dari : a) aspek lingkungan; b) aspek ekonomi; dan c) aspek sosialbudaya. Sedangkan aspek pendukung terdiri dari: a) aspek sistem
perkotaan nasional; b) aspek standar pelayanan perkotaan; dan c) aspek
tata kelola perkotaan.
1.

Aspek Sistem Perkotaan Nasional

BAB 3

Aspek sistem perkotaan nasional memiliki tujuan untuk mengurangi


kesenjangan pembangunan, membangun keterkaitan ekonomi antar kota
dengan wilayah sekitarnya khususnya wilayah pedesaan, serta
pembagian fungsi dan peran kota. Indikator utama aspek sistem
perkotaan nasional meliputi: 1) simpul transportasi, 2) pusat pertumbuhan
ekonomi wilayah, dan 3) peran kota dalam rencana tata ruang wilayah
nasional.
Rata-rata capaian indeks aspek SPN di kota metropolitan dan kota besar
lebih baik dibandingkan capaian SPN di kota sedang dan kota kecil.
Pembangunan infrastruktur pendukung SPN seperti infrastruktur
pelayanan kegiatan industri, infrastruktur pelayanan simpul transportasi,
kinerja sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal, wilayah dan nasional
untuk kota besar dan kota metropolitan memberikan kontribusi dan
pelayanan lebih baik. Sedangkan nilai SPN kota sedang dan kota kecil
belum mampu memberikan peran sebagai pusat kegiatan ekonomi lokal,
wilayah maupun nasional secara optimal.
Penguatan SPN dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan antar
wilayah di Indonesia baik kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia
dengan Kawasan Timur Indonesia maupun antara kota dengan desa.
Dengan penguatan infrastruktur SPN di luar Pulau Jawa dan di Kawasan
Timur Indonesia diharapkan kota-kota di luar jawa khususnya Kawasan
Timur Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan bagi wilayah
sekitarnya. Arus migrasi yang selama ini terjadi menuju Jawa dan
Sumatera dapat dikelola, sehingga kota-kota di Kawasan Timur Indonesia
dapat tumbuh dengan baik. Sasaran yang paling strategis adalah dengan
mengembangkan dan menguatkan kota-kota sedang di luar Pulau Jawa
sebagai penyangga urbanisasi menuju kota-kota besar dan metropolitan.
Peran kota sedang ini sangat penting dalam pengelolaan urbanisasi
kedepan.

132

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2.

Aspek Pelayanan Perkotaan

Rata-rata capaian aspek pelayanan perkotaan untuk kota besar dan


metropolitan masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata capaian
pelayanan perkotaan kota sedang dan kota kecil (Gambar 3.5).
Penyediaan prasarana sarana perkotaan merupakan kewajiban
pemerintah dalam memenuhinya. Beberapa pelayanan perkotaan yang
perlu ditingkatkan di kota besar dan kota metropolitan yaitu: akses
terhadap air bersih, jaringan drainase, akses pengelolaan sampah, akses
jaringan air limbah, akses energi, penyediaan RTH, akses informasi
kondisi lingkungan, akses pejalan kaki, prasarana dan sarana
transportasi massal, akses pusat pelayanan sosial, akses fasilitas
olahraga dan rekreasi, prasarana peribadatan,dan akses pusat kesenian.

BAB 3

Aspek pelayanan perkotaan bertujuan untuk memenuhi berbagai macam


kebutuhan hidup masyarakat perkotaan untuk mencapai kesejahteraan
tanpa mengurangi kualitas kota, melalui penyediaan prasarana sarana
lingkungan hunian, ekonomi, kesehatan dan pendidikan dan prioritas
penyediaan transportasi umum multimoda dan antarmoda, sesuai dengan
kebutuhan hidup warganya yang mudah diakses bagi seluruh kalangan
masyarakat kota.
Indikator utama aspek pelayanan perkotaan
berkelanjutan meliputi: 1) pelayanan permukiman, 2) pelayanan
pemerintahan, 3) pelayanan sosial, 4) pelayanan kegiatan ekonomi.

Sedangkan fokus pengembangan aspek pelayanan perkotaan untuk kota


sedang dan kecil yaitu dalam penyediaan dan akses terhadap
perumahan, akses air bersih, jaringan drainase kota, pengelolaan
sampah, akses jaringan air limbah, akses energi, penyediaan RTH, akses
informasi kondisi lingkungan, akses pejalan kaki, akses prasarana
kesehatan, akses pusat pelayanan sosial, akses fasilitas olahraga dan
rekreasi, akses prasarana peribadatan, akses pusat kesenian, pusat
perdagangan dan jasa, jasa keuangan, hotel dan penginapan, serta
industri kecil dan mikro.

Berdasarkan wilayah kepulauan, rata-rata capaian pelayanan perkotaan


kota-kota di Pulau Jawa dan Bali jauh lebih baik dibandingkan di pulau
lainnya, urbanisasi menuju kota-kota besar dan metropolitan akan terus
meningkat jika tidak diantisipasi dengan cara penyediaan dan
pemenuhan SPP terutama untuk kota-kota sedang dan kecil di luar Pulau

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

133

Jawa. Tersedianya pelayanan perkotaan yang aman dan nyaman di kota


sedang dan kota kecil ini akan menghambat urbanisasi menuju kota-kota
besar dan metropolitan.
Gambar 3.2. Rata-Rata Capaian SPP Berdasarkan Wilayah
Kepulauan

BAB 3
Sumber: Hasil Analisis, 2014.

Pelayanan perkotaan menuju kota yang berkelanjutan perlu memenuhi


standar pelayanann perkotaan yang berkelanjutan, selain memenuhi
kelayakan, keamanan, dan kenyamanan juga memperhatikan kualitas
infrastruktur serta dapat diakses oleh semua warga dan kelompok
kalangan masyarakat baik anak-anak, lansia maupun penduduk disabel.
3.

Aspek Sosial Budaya

Aspek sosial-budaya masyarakat kota, menjadi tujuan dalam


pembangunan kota layak huni yang aman dan nyaman. Pembangunan
kota layak huni yang aman dan nyaman ini diharapkan mampu
mendukung dan menggerakan kegiatan sosial dan budaya masyarakat
kota sehingga menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dalam
perkembangan kota dalam membentuk karakter dan ciri khas sebuah
kota. Untuk menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat kota
terdapat indikator utama aspek sosial-budaya meliputi: 1) kota layak huni,

134

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Kota kecil dan kota sedang sebenarnya memiliki potensi yang lebih baik
dalam aspek sosial budaya dibandingkan kota besar dan kota
metropolitan. Kota kecil dan kota sedang merupakan kota-kota masa
depan yang potensial dibangun dan dikelola untuk kesejahteraan
masyarakat. Capaian aspek sosial-budaya di Jawa, Kalimantan, Sulawesi
dan Papua masih di bawah rata-rata nasional. Beberapa variabel yang
masih rendah, antara lain kegiatan kebudayaan masyarakat kota dan
modal sosial masyarakat yang masih rendah.

BAB 3

2) identitas kota, 3) modal sosial. Oleh karena itu, kota yang didesain
seperti ini diharapkan: (1) prasarana sarana lingkungan kota, ekonomi,
budaya, kesehatan, pendidikan yang dibangun atas dasar kebutuhan
keamanan, kenyamanan, efisiensi serta mudah diakses bagi seluruh
kalangan masyarakat kota; (2) kota yang dikembangkan dengan
transportasi umum multimoda dan terintegrasi antarmoda yang efisien
dan nyaman serta memberikan ruang yang layak bagi pejalan kaki,
pesepeda, kaum lansia dan disabel; (3) kota dengan stabilitas keamanan
yang terjaga dalam rangka memberikan pelayanan rasa aman dan
tenteram bagi masyarakat kota.

Gambar 3. 3 Rata-Rata Capaian Aspek Sosial Budaya Berdasarkan


Tipologi Kota

Sumber: Hasil Analisis, 2014.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

135

4.

Aspek Ekonomi

Dalam rangka pencapaian aspek ekonomi kota yang berkelanjutan,


implementasi pembangunan di kota diarahkan dalam pembangunan
ekonomi kota yang cerdas dan berdaya saing. Pembangunan ekonomi
kota yang cerdas dan berdaya saing diharapkan mampu meningkatkan
perekonomian kota sehingga memperkuat peran kota sebagai pusat
pertumbuhan baik sebagai pusat pertumbuhan lokal, wilayah dan
nasional.

BAB 3

Indikator utama dalam aspek ekonomi kota berkelanjutan meliputi: 1) kota


cerdas, dan 2) kota berdaya saing yang didalamnya menggambarkan
penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi, peryumbuhan ekonomi
kota dan investasi dalam suati kota. Kota cerdas dan berdaya saing ini
didesain dan diharapkan: (1) dalam pengembangan ekonomi yang cerdas
(smart economy) dengan mengintegrasikan kegiatan perekonomian yang
produktif, kreatif, inovatif berbasis teknologi dan IT, serta efisien dalam
pemanfatan sumberdaya untuk membangun daya saing kota; (2)
Pengembangan tata kelola pemerintahan yang cerdas (smart
governance) dalam pengelolaan perkotaan yang inovatif, efisien dan
berbasis ICT; Pengembangan infrastruktur cerdas (smart infrastructure)
dalam upaya peningkatan efisiensi dan daya saing kota melalui
pelayanan yang cepat dan tepat; (3) Pengembangan lingkungan kota
yang cerdas (smart environment) melalui pengelolaan sumber daya
lingkungan kota berbasis teknologi; (4) Pengembangan kecerdasan
masyarakat kota (smart people) yang inovatif, kreatif dan produktif, serta
mampu memanfaatkan potensi keragaman sosial-budaya untuk
membangun daya saing kota; dan (5) Pengembangan hunian cerdas
(smart living) dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat kota
berbasis informasi dan teknologi.
Pada tahun 2013 capaian aspek ekonomi kota tertinggi masih terpusat di
kota metropolitan dan kota besar sangat jauh dengan capaian ekonomi
kota sedang dan kota kecil , khususnya di Pulau Jawa. Pembangunan
ekonomi di kota sedang dan kota kecil harus dilakukan untuk mengurangi
ketimpangan pembangunan antar kota dan antar kota-desa. Kota Sedang
berjumlah 56% dari seluruh kota, yang mendominasi peta perkotaan di
Indonesia, saat ini hanya berperan 20% pada PDRB Nasional, dan
nilainya ada kecenderungan semakin menurun. Sedangkan kota
metropolitan dan megapolitan hanya 15% dari seluruh kota menguasai

136

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

sekitar 66% PDRB Nasional, dan ada kecenderungan semakin


meningkat.

Gambar 3. 4 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks Ekonomi

BAB 3

Sedangkan kota-kota di Sumatera, Sulawesi, Kep. Maluku dan Papua


memiliki nilai capaian ekonomi yang masih rendah. Sebaran kota-kota
yang memiliki nilai capaian indeks ekonomi dibawah rata-rata dapat
dilihat pada Gambar 3.4. Penggunaan ICT masih rendah dalam upaya
peningkatan nilai tambah ekonomi kota, begitu juga dalam pelayanan
pemerintah, transportasi, pendidikan, kesehatan dan pengelolaan
lingkungan juga masih rendah.

Sumber: Hasil Analisis, 2014.

5.

Aspek Lingkungan

Dalam rangka pencapaian aspek lingkungan kota yang berkelanjutan,


implementasi pembangunan di kota diarahkan mewujudkan kota hijau
yang berketahanan iklim dan adaptif terhadap bencana. Beberapa
indikator utama aspek lingkungan perkotaan meliputi: 10 kualitas

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

137

lingkungan perkotaan, 2) kota hijau, 3) Kota Berketahanan Iklim dan


Adaptif terhadap Bencana. Ketiga indikator besar ini menggambarkan
dampak lingkungan kota, pengetahuan masyarakat serta kesiapsiagaan
pemerintah kota terhadap bencana dan perubahan iklim.

BAB 3

Kota hijau yang berketahanan iklim dan adaptif terhadap bencana


didesain dan diharapkan: (1) Pemanfaatan ruang dan kegiatan perkotaan
yang efisien dan berkeadilan; (2) Peningkatan Pengelolaan lingkungan
kota; (3) adanya peningkatan ketahanan kota terhadap perubahan iklim
dan bencana; (4) adanya pengembangan green infrastructure yang
memperhatikan daya tahan dan daya dukung lingkungan dan sumber
daya yang terbarukan; dan (5) adanya pengembangan green economy
yang memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumbaer daya, rendah
karbon, zero waste, seluruh kelompok masyarakat serta daya dukung dan
daya tampung lingkungan kota yang berkelanjutan.
Indeks kota berkelanjutan pada aspek lingkungan kota, capaian
lingkungan kota metropolitan dan kota besar lebih rendah dibandingkan
dengan capaian lingkungan kota sedang dan kota kecil (Gambar 3.5),
yang dapat disebabkan oleh kegiatan perekonomian kota besar dan kota
metropolitan belum berorientasi pada green economy. Daya tampung dan
daya dukung lingkungan perkotaan di kota sedang dan kota kecil masih
lebih baik dibandingkan di kota besar dan kota metropolitan. dengan
demikian, fokus pembangunan kota hijau diarahkan pada pembangunan
lingkungan kota besar dan kota metropolitan.

138

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 5 Rata-Rata Capaian Aspek Lingkungan Berdasarkan


Tipologi Kota

Sumber: Hasil Analisis, 2014.


Gambar 3. 6 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks Lingkungan

Sumber: Hasil Analisis, 2014.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

139

6.

Aspek Tata kelola Perkotaan

Aspek tata kelola perkotaan merupakan aspek kunci dalam keberhasilan


pencapaian kota berkelanjutan. Melalui tata kelola perkotaan yang baik
pembangunan kota dapat diarahkan sesuai dengan target pembangunan
kota berkelanjutan yang ingin dicapai. Arah capaian pembangunan tata
kelola
perkotaan
kedepan
adalah
meningkatkan
kualitas
penyelenggaraan pengelolaan perkotaan yang berkelanjutan secara
transparan, akuntabel, dan partisipatif.

BAB 3

Gambaran ideal pencapaian aspek tata kelola dalam rangka mewujudkan


pembangunan kota berkelanjutan yaitu melalui: (1) terwujudnya sistem,
peraturan dan prosedur dalam birokrasi Pemerintah Daerah yang
tanggap terhadap kebutuhan masyarakat; (2) adanya pengembangan tata
kelola pemerintahan yang cerdas dan kompetitif, inovatif, efisien, dan
berbasis ICT; (3) adanya pengembangan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan kota berkelanjutan; (4) adanya pengembangan
kelembagaan dan kerjasama pembangunan Perkotaan; (5) adanya
pengembangan pembiayaan dan kerjasama pembangunan perkotaan; (6)
terwujudnya ketersediaan yang mutakhir dalam melakukan pembangunan
perkotaan; (7) terwujudnya Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah
dalam pengelolaan kota berkelanjutan yang layak dan nyaman, hijau
serta cerdas; (8) munculnya kepemimpinan kota yang visioner dan
berkeadilan dalam pembangunan perkotaan.
Indeks kota berkelanjutan untuk aspek menggambarkan tata kelola kota
metropolitan dan besar lebih baik dibandingkan dengan capaian tata
kelola perkotaan di kota sedang dan kota kecil. Masalah yang dihadapi di
kota sedang dan kecil yaitu: kapasitas aparatur masih rendah, kurangnya
kerjasama baik antar kota maupun antar daerah, masih lemahnya
kelembagaan pembangunan perkotaan, masih buruknya sistem
pelayanan dan tata kelola pemerintahan, kapasitas pemimpin kota yang
masih rendah terkait dalam pengelolaan pembangunan perkotaan,
partisipasi masyarakat dan swasta masih sangat rendah, dan masih
rendahnya pemeliharaan infrastruktur kota.
Namun berdasarkan wilayah pulau, sebagian besar indeks masih berada
dibawah rata-rata angka indeks 50 kecuali beberapa kota di Pulau Jawa
yang agak lebih baik. Sebaran kota-kota yang memiliki nilai indeks di
bawah 50 ditunjukkan pada Gambar 3.7.

140

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 7 Sebaran Kota Otonom Berdasarkan Indeks Tata Kelola


Perkotaan

Sumber: Hasil Analisis, 2014.

3.4.2 Sasaran Pembangunan Kota Berkelanjutan


Pembangunan kota berkelanjutan diwujudkan melalui 3 (tiga) sasaran
yaitu: pertama, pemenuhan standar pelayanan perkotaan (SPP). Standar
pelayanan perkotaan ini merupakan instrumen dalam mewujudkan kota
masa depan seperti Kota Layak Huni, Kota Hijau, dan Kota Cerdas
Berdaya Saing. Perwujudan kota layak huni tersebut, memiiki
berdasarkan pada potensi geografis, potensi sosial, budaya lokal dan
potendi ekonomi. Sasaran kedua adalah perwujudan sistem perkotaan
nasional yang menggambarkan keterkaitan antar kota serta bertujuan
untuk mengurangi kesenjangan. Sasaran ketiga yaitu peningkatan
kapasitas tata kelola. Sasaran ini merupakan sasaran kunci dalam
mewujudkan pembangunan kota berkelanjutan. Target nasional kota
berkelanjutan masa depan:

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

141

1. Pemenuhan 100% indikator standar pelayanan perkotaan


sekaligus perwujudan kota masa depan terwujud diseluruh kota di
Indonesia pada tahun 2025
2. Pemenuhan 100% indikator sistem perkotaan nasional terwujud
diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2045
3. Pemenuhan 100% indikator tata kelola kota berkelanjutan yang
harus dipenuhi diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2025
Secara keseluruhan seluruh target nasional kota berkelanjutan 2045
digambarkan dalam peta jalan berikut (gambar 3.8)

BAB 3

Gambar 3.8 Tahapan Pencapaian Perwujudan Pelayanan Perkotaan


Nasional

Sumber : Bappenas, 2014

142

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

A.

Pemenuhan Pelayanan Perkotaan, Kota Layak Huni,


Kota Hijau, dan Kota Cerdas Berdaya Saing

Perwujudan kota berkelanjutan yang dikembangkan setelah pemenuhan


SPP, dapat dipenuhi sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh kota.
Namun suatu kota dapat dikatakan Kota Berkelanjutan apabila kota
tersebut dapat membangun ataupun mengembangkan Kota Layak Huni,
Kota Hijau, dan Kota Cerdas yang berdaya saing sebagai satuan kota
yang terintegrasi. Dengan kata lain, kota diberi kebebasan untuk
menentukan target perwujudan kota masa depan mana yang terlebih
dahulu dapat dipenuhi. Target yang diharapkan antara lain :

BAB 3

Sebagai dasar perwujudan Kota Masa Depan yang Berkelanjutan,


Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) merupakan syarat utama untuk
dipenuhi kota-kota di Indonesia. SPP mencakup aspek pelayanan
permukiman, pelayanan pemerintahan, pelayanan sosial, maupun
pelayanan kegiatan ekonomi. Jika kota-kota telah mampu untuk
memenuhi SPP, maka akan lebih mudah untuk mengembangkan kota
berkelanjutan yang terdiri dari Kota Layak Huni, Kota Hijau, serta Kota
Cerdas dan Berdaya Saing.

1. Pemenuhan 100% indikator standar pelayanan perkotaan


sekaligus perwujudan kota masa depan terwujud diseluruh kota di
Indonesia pada tahun 2025
2. Pemenuhan 100% indikator kota layak huni diseluruh kota di
Indonesia pada tahun 2025;
3. Pemenuhan 100% indikator kota hijau diseluruh kota di Indonesia
pada tahun 2035
4. Pemenuhan 100% indikator kota cerdas berdaya saing diseluruh
kota di Indonesia pada tahun 2045
Peta jalan pemenuhan SPP sekaligus perwujudan aspek inti kota
berkelanjutan telah digambarkan pada Gambar 3.20 diatas.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

143

B.

Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional

Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional diperlukan untuk membangun


kota masa depan secara berkelanjutan melalui kemampuanya dalam
menjalankan fungsi dan perannya dengan baik dan mampu berkoordinasi
dengan kota-kota lainnya.
Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional ini bertujuan untuk
menyeimbangkan pembangunan Kawasan Timur Indonesia dengan
Kawasan Barat Indonesia serta mengembangkan peran kota sedang
kecil sebagai buffer urbanisasi dan mengurangi kesenjangan antara desa
dengan kota.

BAB 3

Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) diharapkan dapat tercapai


di seluruh kota Indonesia, pada tahun 2045, sehingga sasaran
pembangunan kota-kota di Indonesia dalam Sistem Perkotaan Nasional,
dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kawasan metropolitan dan
megapolitan sebagai Pusat Kegiatan Global (PKG) pada tahun
2025;
2. Terpenuhinya 100% fungsi fungsi dan peran kota metropolitan
sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) pada tahun 2025;
3. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kota besar sebagai Pusat
Kegiatan Nasional (PKN) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)
pada tahun 2030;
4. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kota sedangl sebagai Pusat
Kegiatan Wilayah (PKW) pada tahun 2030;
5. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kota kecil sebagai Pusat
Kegiatan Lokal (PKL) pada tahun 2035;

144

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3.9 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan


Sistem Perkotaan Nasional

Sumber : Bappenas, 2014

C.

Perwujudan Tata Kelola Kota Berkelanjutan

Perwujudan tata kelola kota berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan


kualitas penyelenggaraan pengelolaan perkotaan yang berkelanjutan
secara transparan, akuntabel, dan partisipatif dan sebagai aspek kunci
dalam pembangunan dalam keberhasilan pencapaian kota berkelanjutan
Perwujudan tata kelola kota berkelanjutan ini bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas aparatur, memperbaiki kerjasama antar kota
maupun antar daerah, memperkuat kelembagaan pembangunan
perkotaan, memperbaiki sistem pelayanan dan tata kelola pemerintahan,
meningkatkan
kapasitas
pemimpin
kota
dalam
pengelolaan
pembangunan perkotaan, meningkatkan partisipasi masyarakat dan
swasta , dan meningkatkan kapasitas pemeliharaan infrastruktur kota.
Sasaran peningkatan tata kelola dan kelembagaan pemerintah yang lebih
transparan, akuntabel, partisipatif dan profesional dalam rangka
perwujudan kota masa depan yaitu:

Terwujudnya sistem, kebijakan dan peraturan perundangan;


Terwujudnya peningkatan kualitas SDM dan aparatur;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

145

Meningkatnya partisipasi masyarakat, lemabaga profesional, dan


swasta
Terwujudnya penguatan kapasitas Kelembagaan;
Terwujudnya peningkatan kapasitas Pembiayaan;
Tersedianya Data dan Informasi untuk pembangunan perkotaan;
serta
Peningkatan kualitas kepemimpinan kota.

Perwujudan tata kelola kota berkelanjutan diharapkan dapat dipenuhi


100% indikator tata kelola kota berkelanjutan yang harus dipenuhi
diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2025.

BAB 3

146

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 10 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Peningkatan Tata kelola dan Kelembagaan
Pemerintah Tahun 2015 - 2045

Sumber: Bappenas, 2014.

147

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3.4.3 Sasaran Pembangunan


Tipologi Kota

A.

Kota

Berkelanjutan

Dalam

Perkotaan Megapolitan

BAB 3

Kawasan Megapolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas


sebuah kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling
memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan sistem jaringan
prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara
keseluruhan paling sedikit 10.000.000 (sepuluh juta) jiwa. Kawasan
Megapolitan merupakan kawasan yang ditargetkan menjadi Pusat
Kegiatan Global, yang menjadi tolak ukur pembangunan negara di mata
internasional, oleh karena itu, kawasan megapolitan harus menjadi
kawasan hijau, layak huni, serta cerdas dan berdaya saing. Sasaran yang
ingin dicapai berdasarkan IKB antara lain:
1. Terwujudnya Sistem Perkotaan Nasional yang dapat menjadi
simpul jaringan dan pelayanan baik untuk transportasi maupun
ekonomi secara global serta sebagai penghubung antara PKN
dengan PKG, dalam kurun waktu 20 tahun sampai dengan tahun
2035 ;
2. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang
memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun
waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025;
3. Terwujudnya kawasan megapolitantropolitan yang hijau dan
berketahanan iklim dan bencana, dalam kurun waktu 30 sampai
dengan tahun 2045 ;
4. Terwujudnya kawasan megapolitantropolitan yang layak huni dari
aspek sosial budaya dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan
tahun 2045 ;
5. Terwujudnya kawasan megapolitan yang berdaya saing ditingkat
global dalam kurun waktu 5 tahun sampai dengan tahun 2020;

148

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 11 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kawasan Megapolitan Tahun 2015 2045

Sumber: Bappenas, 2014.

149

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

B.

Kota Metropolitan

Kota metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah


kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki
keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan sistem jaringan
prasarana wilayah yang terintegrasi yang ditetapkandengan jumlah
penduduk secara keseluruhan paling sedikit 1.000.000 (satu juta) jiwa.
Kawasan metropolitan diarahkan mampu berperan sebagai Pusat
Kegiatan Nasional harus memenuhi kriteria kota masa depan yang
direncanakan, karena akan menjadi acuan bagi pembangunan kota-kota
lainnya di seluruh Indonesia. Sasaran yang ingin dicapai antara lain:

BAB 3

150

1. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan


kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi
maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKN dan
PKW dalam kurun waktu 15 tahun sampai dengan tahun 2030;
2. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang
memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun
waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025;
3. Terwujudnya kota metropolitan yang hijau dan berketahanan iklim
maupun bencana dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan
tahun 2045.;
4. Terwujudnya kota metropolitan yang layak huni dari aspek sosial
budaya dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan tahun 2045;
5. Terwujudnya kota metropolitan yang berdaya saing ditingkat global
dalam kurun waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 12 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kawasan/Kota Metropolitan Tahun 2015 2045

Sumber: Bappenas, 2014.

151

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

C.

Kota Besar

Kota besar adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah
penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu) sampai dengan 1.000.000
(satu juta) jiwa. Kota besar menurut fungsinya diarahkan menjadi Pusat
Kegiatan Nasional atau Wilayah, sehingga kota besar harus memenuhi
sasaran kota masa depan yang telah dirancang. Sasaran yang ingin
dicapai antara lain:

BAB 3

152

1. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan


kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi
maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKN dan
PKW dalam kurun waktu 15 tahun sampai dengan tahun 2030;
2. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang
memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun
waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025;
3. Terwujudnya kota besar yang hijau dan berketahanan iklim
maupun bencana dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan
tahun 2045;
4. Terwujudnya kota besar yang layak huni dari aspek sosial budaya
dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan tahun 2045;
5. Terwujudnya kota besar yang berdaya saing ditingkat global dalam
kurun waktu 15 tahun sampai dengan tahun 2035;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 13 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kota Besar Tahun 2015 2045

Sumber: Bappenas, 2014.

153

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

D.

Kota Sedang

Kota sedang adalahkota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah


penduduk lebih dari 100.000 (seratus ribu) sampai dengan 500.000 (lima
ratus ribu) jiwa. Kota sedang, ditargetkan memenuhi fungsi dan perannya
sebagai Pusat Kegiatan Wilayah, dan menjadi pusat bagi kota-kota kecil,
desa, dan kawasan perkotaan di sekitarnya. Target yang menjadi sasaran
pembangunan kota sedang antara lain:

BAB 3

154

1. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan


kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi
maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKW, PKL
dan Keterkaitan Desa Kota dalam kurun waktu 25 tahun sampai
dengan tahun 2040;
2. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang
memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun
waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025;
3. Terwujudnya kota sedang yang hijau dan berketahanan iklim
maupun bencana dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan
tahun 2045;
4. Terwujudnya kota sedang yang layak huni dari aspek sosial
budaya dalam kurun waktu 25 tahun sampai dengan tahun 2035;
5. Terwujudnya kota sedang yang berdaya saing ditingkat global
dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 14 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kota Sedang Tahun 2015 2045

Sumber: Bappenas, 2014.

155

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

E.

Kota Kecil

Kota Kecil adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah
penduduk kurang dari 100.000 (seratus ribu) jiwa. Kota kecil diharapkan
mampu menjadi tolak ukur bagi desa dan kawasan perkotaan di
sekitarnya dalam mencapai sasaran pembangunan kota masa depan.
Sasaran yang ingin dicapai antara lain:

BAB 3

156

1. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan


kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi
maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKW dan
Keterkaitan Desa - Kota dalam kurun waktu 30 tahun sampai
dengan tahun 2045;
2. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang
memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun
waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025;
3. Terwujudnya kota yang hijau dan berketahanan iklim maupun
bencana dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045;
4. Terwujudnya kota yang layak huni dalam kurun waktu 20 tahun
sampai dengan tahun 2040;
5. Terwujudnya kota yang berdaya saing ditingkat global dalam kurun
waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 3

Gambar 3. 15 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kota Kecil Tahun 2015 2045

Sumber: Bappenas, 2014.

157

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4

158

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4

KEBIJAKAN DAN STRATEGI


PEMBANGUNAN
PERKOTAAN NASIONAL

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

159

Kebijakan dan Strategi Pembangunan


Perkotaan Nasional

4.1

BAB 4

160

Misi, Sasaran, dan Kebijakan Kota 2015 - 2045

Untuk mencapai visi terwujudnya Kota Berkelanjutan pada tahun 2045,


maka kebijakan pembangunan perkotaan Indonesia mengacu kepada
dari 6 (enam) misi besar Kota Berkelanjutan. Kelompok kebijakan
pertama adalah untuk mewujudkan sistem sasaran perkotaan nasional;
kelompok kebijakan kedua adalah untuk mewujudkan sasaran pelayanan
perkotaan; kelompok ketiga adalah untuk mewujudkan hunian di kota
yang layak, aman, dan nyaman, berbasis lingkungan, sosial, dan budaya;
kelompok ke-empat adalah untuk mewujudkan pembangunan kota yang
menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan kota, serta
responsif dan adaptif terhadap perubahan iklim dan bencana ; kelompok
kelima mewujudkan sasaran perwujudan kota berdaya saing yang
produktif, kreatif dan inovatif, efisien serta berbasis IT; dan kelompok
kebijakan bagian keenam mewujudkan sasaran tata kelola dan
kelembagaan pemerintah yang lebih transparan, akuntabel, dan
partisipatif. Misi dan Sasaran Kota Berkelanjutan Tahun 2045 dapat
dilihat seperti berikut :

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Tabel 4.1.Perwujudan Kota Berkelanjutan 2045

Misi

Mengembangkan sarana
prasarana dalam memenuhi
Standar Pelayanan Perkotaan
(SPP)

Membangun hunian yang kota


yang layak, aman, dan nyaman
berbasis lingkungan, sosial, dan
budaya yang beragam

Mengendalikan ruang dan


kegiatan pembangunan kota
dengan menjaga daya dukung
lingkungan

Membangun kegiatan
perekonomian dan masyarakat
kota berdaya saing yang
produktif, kreatif, dan inovatif,
efisien serta berbasis ICT

Perwujudan tata kelola dan


kelembagaan pemerintah yang
lebih transparan, akuntable, dan
partisipatif.

Perwujudan Sistem Perkotaan


Nasional (SPN)

Pemenuhan SPP

Perwujudan Kota Layak


Huni, Aman, dan Nyaman
Perwujudan Kota Hijau yang
Berketahanan Iklim dan
Bencana
Perwujudan Kota Cerdas
dan Berdaya Saing

BAB 4

Mewujudkan pemerataan
pembangunan kota sesuai peran
dan fungsinya pada Sistem
Perkotaan;

Sasaran

Perwujudan tata kelola kota


berkelanjutan

Sedangkan secara umum, penjabaran Misi dan kebijakan pembangunan


perkotaan nasional dijabarkan sebagai berikut:

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

161

BAB 4

162

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

163

4.2

Kebijakan dan Strategi Perkotaan Nasional

Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan dibagi tiga tingkatan


sesuai dengan tingkatan wilayahnya, yaitu:
a. Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan tingkat nasional;
b. Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan spesifik kota
metropolitan dan kota besar serta kota sedang dan kota kecil.
c. Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan spesifik di
wilayah pulau besar dan kota-kota.

4.2.1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Tingkat


Nasional
Kebijakan dan strategi pembangunan di tingkat nasional terdiri dari 31
(tiga puluh satu) kebijakan yang masing-masing terbagi ke dalam
beberapa strategi serta dilengkapi dengan indikator. Kebijakan
pembangunan perkotaan di tingkat nasional terdiri sebagai berikut:

BAB 4

Misi Pertama (M1) meningkatkan pemerataan pembangunan kota-kota


sesuai peran dan fungsinya dalam rangka mengurangi kesenjangan
antar kota, antar wilayah, antar kota-desa.
Kebijakan 1:
Mempercepat pengembangan 7 (tujuh) KSN perkotaan (metropolitan
dan
megapolitan)
sebagai
pusat
kegiatan
global
dan
mengembangkan pengembangan 8 (delapan) Kawasan Perkotaan
Metropolitan diluar Pulau Jawa
Globalisasi telah menjadi fenomena yang harus dihadapi oleh seluruh
negara di dunia, keterbukaan informasi dan sistem perdagangan tanpa
ada batas administrasi telah merubah sistem yang ada, persaingan antar
negara untuk mendapatkan pangsa pasar dan meningkatkan
produktivitas produksi sangat tinggi dan ini menuntut kota-kota didunia
untuk bersaing lebih ketat untuk meningkatkan kualitasnya.Peningkatan
kualitas kota ditekankan pada bagaimana kota dapat melayani atau
memenuhi kebutuhan persaingan global sebagai pusat pertumbuhan
sehingga dapat mengambil manfaat dari era keterbukaan ini. Kebijakan
dijabarkan melalui strategi berikut :

164

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Pengembangan pusat jasa dan perdagangan yang efisien dan


inklusif.
2. Pengembangan kawasan industri sesuai dengan daya dukung
lingkungan.
3. Penyediaan dan pengelolaan transportasi massal aman, nyaman,
cepat, efisien dan terintegrasi antar wilayah.
4. Penyediaan hunian aman, nyaman, sehat, aksesibel, dan
terintegrasi dengan infrastruktur pendukung dan transportasi.
5. Penyiapan kota yang berdaya saing dalam skala global.
6. Penciptaan keamanan kota sebagai pusat kegiatan global.
7. Perwujudan lingkungan kawasan perkotaan aman, nyaman,
dengan menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan,
responsif dan adaptif terhadap bencana dan perubahan iklim.
8. Pengembangan kelembagaan dan tata kelola kota yang
berorientasi pada pelayanan internasional.

Mempercepat perwujudan peran kota sebagai PKN, PKW, dan PKL


sesuai tipologi kota dan tingkat pelayanannya.
Kebijakan ini berupaya meningkatkan pelaksanaan Sistem Perkotaan
Nasional secara menyeluruh, sehingga dapat meningkatkan inefisiensi
pada pelayanan perkotaan. Dengan memantapkan peran dan fungsi
kawasan perkotaan, diharapkan kota dapat mewadahi kegiatan yang ada
didalamnya.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut :

BAB 4

Kebijakan 2:

1. Peningkatan fungsi dan peran kota dengan percepatan


pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan sesuai dengan tipologi
kota.
2. Prioritas pemenuhan simpul transportasi dalam memenuhi fungsi
dan peran kota sebagai dasar pengembangan kegiatan
perkotaan.
3. Pengembangan potensi unggulan kota dalam mengembangkan
peran kota dalam wilayah yang lebih luas.
4. Pengembangan kerjasama antarkota antarwilayah untuk
menciptakan sinergi peran wilayah secara nasional.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

165

Kebijakan 3:
Mengembangkan kota kecil (PKW) dan kota sedang (PKN dan PKW)
untuk dapat mewujudkan keterkaitan desa-kota
Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengembangkan hubungan kota
dengan desa dalam kegiatan ekonomi, dan menghubungkan antara pasar
dengan kawasan produksi. keberadaan kota kecil/kota sedang dapat
meningkatkan nilai dari komoditas barang dan jasa dari kawasan
hinterland perkotaan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat baik yang ada di kawasan pinggiran perkotaan maupun
pedesaan.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut :

BAB 4

1. Percepatan pemenuhan standar pelayanan perkotaan terutama


pembangunan infrastruktur dan jaringan komunikasi untuk
memperlancar arus barang, jasa, penduduk, modal dan informasi
antar wilayah;
2. Pengembangan pusat pertumbuhan baru untuk mendorong
percepatan pembangunan perdesaan di sekitar kota;
3. Penyediaan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk peningkatan
produksi dan distribusi barang jasa desa-kota dan antarkota;
4. Pengembangan ekonomi hijau melalui agro industri dan sektor
informal perkotaan, yang dapat menambah nilai produk dan jasa
dari desa;
5. Peningkatan pendidikan formal dan informal untuk memperkuat
kemampuan inovasi dan kreatifitas lokal serta potensi keragaman
sosial budaya untuk membangun daya saing kota.
6. Peningkatan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan
kerjasama antarkota dan antar kota-desa
Kebijakan 4:
Mengembangkan kota-kota yang menjadi kawasan strategis KEK
dan KPBPB/Kawasan Berikat menjadi pusat kegiatan industri dan
perdagangan berskala regional dan global.
Kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan peran kawasan strategis
dalam mendorong peningkatan perekonomian kota melalui kegiatan
ekspor impor maupun investasi dengan menguatkan infrastruktur baik
fisik maupun non fisik, keamanan maupun kelembagaan.Kebijakan
tersebut dijabarkan melalui strategi berikut :

166

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Menciptakan integrasi industri kawasan strategis dengan industri


jasa dan perdagangan pada kawasan sekitarnya;
2. Menguatkan kelembagaan kawasan strategis agar dapat bersaing
secara global;
3. Meningkatkan pelayanan investasi berkualitas global kelas dunia,
baik melalui perijinan satu atap, perpajakan dan kepabean, serta
kemudahan insentif;
4. menyediakan infrastruktur berkualitas global, baik untuk fasilitas
jalan raya, pelabuhan, airport, transportasi, telekomunikasi, dan
listrik.
Kebijakan 5:

Kota-kota di kawasan perbatasan merupakan garda depan dalam


meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan
wilayah sekaligus untuk menguatkan pertahanan dan keamanan negara.
Oleh karena itu, perlu adanya suatu percepatan pemenuhan pelayanan
perkotaan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas serta dukungan
pendanaan, kelembagaan, dan sumberdaya manusia. Kebijakan tersebut
dijabarkan melalui strategi berikut :

BAB 4

Percepatan pembangunan kota-kota perbatasan (PKSN) menjadi


pusat pertumbuhan baru di beranda depan negara

1. Percepatan perwujudan kemudahan akses antarwilayah pada


kota-kota perbatasan dengan sarana dan prasarana transportasi;
2. Pemenuhan standar pelayanan perkotaan sarana prasarana
permukiman dan infrastruktur sosial ekonomi pada kota-kota
perbatasan prioritas;
3. Mensinergikan pengembangan kegiatan ekonomi lokal untuk
mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di kotakota kawasan perbatasan;
4. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan kerjasama antar
wilayah serta kerjasama bilateral dengan negara tetangga di
bidang politik, hukum, keamanan, serta ekonomi, sosial, dan
budaya;
5. Penataan batas negara di darat dan di laut termasuk di pulaupulau terkecil, dan terluar, serta penguatan hukum di kawasan
perbatasan.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

167

Misi Kedua (M2): Mengembangkan prasarana dan sarana dalam


memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) berdasarkan tipologi
dan karakteristik kota
Kebijakan 1:
Percepatan penerapan dan pemenuhan Standar Pelayanan
Perkotaan (SPP) di kota dan kawasan perkotaan sekaligus
memenuhi standar Kota Berkelanjutan
Dengan kondisi sarana dan prasarana infrastruktur perkotaan Indonesia
yang masih dibawah standar baik dalam hal kualitas maupun kuantitas
dibandingkan dengan pertumbuhan dan kebutuhan masyarakat
perkotaan, sehingga kota menjadi tidak efisien, slum dan sprawl. Oleh
karena itu, perlu adanya suatu percepatan pemenuhan pelayanan
perkotaan yang sesuai standar baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Kebijakan diatas dilaksanakan dengan strategi:

BAB 4

1.

2.

3.
4.

5.

168

Mempersiapkan perundang-undangan, kebijakan, pedoman


dalam rangka pemenuhan SPP dan pembangunan Kota
Berkelanjutan;
Menyusun dan mengembangkan Indeks Kota Berkelanjutan untuk
melakukan monitoring dan evaluasi capaian pemenuhan SPP
pembangunan Kota Berkelanjutan;
Memfasilitasi Pemerintah Daerah dalam menyusun kebijakan
pembangunan Kota Berkelanjutan
Mengembangkan proses komunikasi dan pengembangan jejaring
(networking) dalam pelibatan peran aktif masyarakatuntuk
berinovasi dalam pemenuhan SPP dan Kota Berkelanjutan;
Mengembangkan skema peran aktif BUMN, lembaga keuangan
perbankan dan non perbankan, serta swasta lain, termasuk
skema coorporate social responsibility (CSR), serta kerjasama
dalam penyediaan dan pengelolaan sarana prasarana perkotaan
berkelanjutan melalui insentif dan disinsentif.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Misi Ketiga (M3): Membangun hunian di kota yang layak, aman dan
nyaman, berbasis lingkungan , sosial dan budaya yang beragam.
Kebijakan 1:
Peningkatan pelayanan prasarana sarana lingkungan kota yang
aman, nyaman, efisien serta mudah diakses bagi seluruh kalangan
masyarakat kota termasuk kebutuhan kelompok lansia, difabel,
wanita, dan anak.
Kebijakan ini, terutama ditujukan untuk untuk meningkatkan akses pada
seluruh lapisan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti air
minum, sistem sanitasi, listrik, pendidikan, dan kesehatan.

1. Meningkatkan penyediaan hunian masyarakat kota yang layak,


aman, nyaman, sehat, terjangkau, serta ramah untuk kaum lansia
dan difabel;
2. Meningkatkan
penyediaan
fasilitas
penerangan
dan
telekomunikasi yang layak, aman, mudah diakses dan terjangkau;
3. Meningkatkan penyediaan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM)
yang layak, aman, dan efisien dan terjangkau;
4. Meningkatkan penyediaan sistem sanitasi (air limbah, sampah
dan drainase) skala kawasan dan kota yang layak dan aman;
5. Pengelolaan air baku, air bersih, sampah dan limbah antar
kawasan yang terintegrasi dengan pengelolaan dan distribusi di
dalam kawasan perkotaan.

BAB 4

Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

Kebijakan 2:
Peningkatan pelayanan prasarana sarana ekonomi kota yang layak,
nyaman serta mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat
kota.
Penyediaan sarana prasarana perekonomian kota yang nyaman dan
berkeadilan adalah untuk mendorong pengembangan investasi dan
kewirausahaan, sehingga meningkatkan produktivitas kota dan
pertumbuhan ekonomi kota.
Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

169

1. Menyediakan ruang yang layak dan nyaman bagi pelaku kegiatan


UMKM, perekonomian informal dan pasar tradisional di kota yang
berpihak pada potensi lokal;
2. Menyediakan akses terhadap penyedia jasa keuangan bagi
pengembangan kegiatan ekonomi kota yang berkeadilan;
3. Meningkatkan akses informasi peluang kerja di perkotaan;
4. Menyediakan sarana perdagangan yang aman, layak, dan
nyaman serta dapat terintegrasi dengan kegiatan industri dan
pariwisata secara menarik.
Kebijakan 3:
Peningkatan pelayanan prasarana sarana kesehatan kota yang
aman, nyaman, efisien serta mudah diakses bagi seluruh kalangan
masyarakat kota, termasuk kelompok lansia dan difabel.

BAB 4

Kesehatan lingkungan melalui upaya keseimbangan ekologi antara


manusia dan lingkungan di perkotaan agar dapat tercapai kualitas hidup
manusia yang sehat dan bahagia, serta membutuhkan integrasi dari
berbagai, antara lain: air bersih, sanitasi, kesehatan permukiman,
penyakit menular dan hewan yang menularkannya, makanan dan
minuman, serta pencemaran limbah perkotaan.
Kesehatan lingkungan perkotaan juga terkait dengan dampak negatif
yang dihasilkan dari kegiatan perkotaan dan bagaimana kebijakan insentif
dan disinsentif dalam kegiatan tersebut dapat menanggulangi dampak
negatif dari kegiatan perkotaan untuk kesejahteraan semua lapisan
masyarakat.
Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Meningkatkan kemudahan masyarakat terhadap akses pelayanan
kesehatan dengan cepat dan efisien;
2. Mengembangkan upaya preventif dan kuratif untuk meningkatkan
kualitas kesehatan lingkungan perkotaan, kesehatan makanan,
dan kesehatan perorangan masyarakat perkotaan;
3. Mengembangkan sistem jaminan kesehatan yang berkeadilan dan
kelembagaan yang memberikan akses dan menjamin
terlaksananya perlindungan sosial dan kesehatan termasuk jiwa
bagi semua kalangan masyarakat kota.

170

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Kebijakan 4:
Peningkatan pelayanan prasarana dan sarana pendidikan kota yang
aman, nyaman, efisien serta mudah diakses bagi seluruh kalangan
masyarakat kota.
Kebijakan ini terkait dengan masalah belum tersedianya sumberdaya
manusia terbaik di perkotaan, (yang terkait dengan kualitas sarana dan
prasarana pendidikan, akses kepada pendidikan termasuk pembiayaan
pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.

1. Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang


layak, nyaman dan berkualitas serta memberikan kemudahan
masyarakat terhadap akses pendidikan di kota dan keterampilan
yang bervariasi;
2. Mengembangkan sistem pendidikan yang terintegrasi dengan
kebutuhan dunia kerja di kota;
3. Mengembangkan sistem pendidikan keahlian dan spesialisasi,
serta
penyediaan laboratorium
riset
yang menunjang
pembangunan kota berkelanjutan di masa depan.

BAB 4

Kebijakan penyediaan pendidikan yang berkualitas seyogyannya


menyiapkan sekolah-sekolah dengan kualitas dengan kualitas terbaik
dalam kota yang memberikan banyak kesempatan bagi masyarakat untuk
melanjutkan pendidikan dan mengembangkan keahlian sehingga
berdampak pada kualitas tenaga kerja perkotaan dan mengurangi jumlah
pengangguran perkotaan.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi
berikut:

Kebijakan 5:
Pengembangan transportasi umum yang efisien, aman, nyaman,
dan ramah bagi pejalan kaki, pesepeda, kelompok lansia dan
disabel, serta wanita dan anak
Kebijakan ini dimaksudkan untuk mendorong pengembangan transportasi
umum diperkotaan yang aman, nyaman dan cepat, terintegrasi serta
memadahi untuk kegiatan mobilitas masyarakat kota.
Pengembangan transportasi umum dengan pola terintegrasi akan lebih
memudahkan masyarakat kota untuk bermobilisasi dan lebih efisien,
meningkatkan kualitas lingkungan kota dan mengurangi kemacetan
dengan meningkatkan akses bagi pejalan kaki dan pesepeda serta

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

171

memberikan kemudahan bagi kaum lansia dan difabel.Kebijakan diatas


dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Mengembangkan transportasi umum multimoda dan terintegrasi
antarmoda yang efisien, aman, dan nyaman;
2. Menyediakan ruang dan fasilitas khusus yang aman dan nyaman
sesuai kebutuhan pejalan kaki dan pesepeda, kaum lansia dan
disabel, wanita dan anak;
3. Membangun terminal multimoda sesuai dengan hirarki kota, serta
menyediakan ruang parkir dan berkendara (park and ride) yang
kompak di setiap terminal;
4. Mengembangkan sistem tiket terpadu antarmoda transportasi
umum yang terjangkau bagi seluruh masyarakat kota;
5. Menetapkan kelembagaan pengelolaan terpadu transportasi
antarwilayah;
6. Pengendalian penggunaan kendaraan pribadi.

BAB 4

Kebijakan 6:
Peningkatan pelayanan prasarana sarana sosial budaya di kota yang
aman, nyaman, efisien, serta mudah diakses bagi seluruh kalangan
masyarakat kota
Kebijakan ini dimaksudkan untuk memperkuat kerukunan sosial dan
kelestarian budaya lokal Indonesia sehingga diperlukan ruang yang dapat
menampung kegiatan sosial budaya para masyarakat perkotaan,
mewakili jati diri sosial budaya Indonesia. Kebijakan diatas dijabarkan
melalui strategi berikut:
1. Menguatkan interaksi dan komunikasi serta kepedulian antar
warga serta meningkatkan modal sosial masyarakat kota (budaya
gotong royong)
2. Meningkatkan peran aktif lembaga sosial masyarakat dan
mengembangkan kelompok kelompok masyarakat
dalam
pengawasan kehidupan sosial masyarakat dan pembangunan
perkotaan;
3. Menyediakan ruang terbuka dan ruang publik yang layak dan
nyaman sebagai tempat interaksi sosial masyarakat perkotaan
(fasilitas rekreasi, olahraga, seni budaya, kuliner, dll);
Meningkatkan penegakan hukum dalam penindakan dan
pencegahan serta membangun budaya anti korupsi;

172

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

4. Melestarikan dan memanfaatkan warisan dan nilai budaya dalam


mempertahankan kearifan lokal dan karakteristik wilayah
setempat;
5. Meningkatkan kesadaran hukum, kedisiplinan, dan penegakan
hukum dalam pencegahan dan penindakan serta membangun
budaya taat aturan dan anti korupsi

Kebijakan 7:
Peningkatan keamanan kota dalam rangka memberikan pelayanan
rasa aman dan tenteram bagi masyarakat kota

Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:


1. Penegakan hukum dalam penindakan, dan memprioritaskan
pencegahan kejadian kriminalitas dan konflik sosial antar
kelompok masyarakat perkotaan;
2. Penyediaan fasilitas keamanan kota yang terjangkau dan dapat
diakses semua kelompok masyarakat kota;
3. Membangun dan mengembangkan sistem penanganan keamanan
secara terintegrasi terhadap penanganan bencana dan konflik
sosial, kriminalitas;
4. Penguatan sumber daya manusia terintegrasi antara petugas
penanganan bencana, kejahatan dan kriminalitas, serta petugas
kesehatan;
5. Penguatan partisipasi masyarakat dalam kebersamaan sosial dan
pengawasan lingkungan.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4

Mengurangi tingginya tingkat kriminalitas di kota saat ini menjadi fokus


utama dalam isu strategis pembangunan kota. Ketika tingkat kriminalitas
kota sangat tinggi, masyarakat merasa tidak aman baik untuk tinggal
maupun berkegiatan, sehingga kota tidak dapat berkembang dengan baik
atau bahkan ditinggalkan penduduknya.

173

Misi Keempat (M4): Mengendalikan ruang dan kegiatan pembangunan


kota, dengan menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan
kota, serta responsif dan adaptif terhadap perubahan iklim dan
bencana
Kebijakan 1:
Penerapan pemanfaatan ruang dan kegiatan perkotaan yang efisien
dan berkeadilan.
Kebijakan ini dimaksudkan untuk memaksa para pemerintah daerah
untuk menaati rencana tata ruang wilayah yang telah disahkan melalui
peraturan daerah.Rencana tata ruang wilayah yang belum menjadi acuan
dalam pembangunan wilayah mengakibatkan pembangunan kota menjadi
tidak terarah, inefisiensi dalam pembangunan,yang menyebabkan
pembangunan fisik melebihi daya dukung dan daya tampung
kota.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

1. Menerapkan konsep kota padat lahan (compact city) dalam


penataan ruang dengan memperhatikan karakter kota dan
kegiatan penduduk kota;
2. Menetapkan aturan dan prosedur pemanfaatan ruang kota yang
sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan
melalui land use planning dan building regulation sebagai dasar
perijinan dan pemanfaatan lahan;
3. Menyediakan lahan kota untuk pelayanan kebutuhan masyarakat
kota (bank lahan) serta meningkatkan kualitas pelayanan
pertanahan dan jaminan hukum hak atas tanah;
4. Mengembangkan pengawasan dan penegakan hukum dalam
pemanfaatan ruang kota;
5. Menerapkan instrumen perpajakan (insentif-disinsentif) untuk
mengatasi pertumbuhan kota yang tidak terkendali.
Kebijakan 2:
Peningkatan Pengelolaan Lingkungan Kota.
Kegagalan dalam mengelola lingkungan kota akan menyebabkan
memburuknya kualitas lingkungan dan kehidupan kota. Selama ini,
berbagai upaya pengelolaan lingkungan telah dilakukan namun tidak
selalu berhasil, salah satu penyebabnya adalah tidak terpadunya

174

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

berbagai upaya pengelolaan kota yang cenderung parsial dan tidak


sinergis.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Merevitalisasi lingkungan kota yang terdegradasi akibat kegiatan
penduduk kota dan menerapkan rekayasa lingkungan;
2. Melaksanakan upaya pengurangan pencemaran udara, air, dan
suara;
3. Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
lingkungan kota;
4. Mengembangkan mekanisme insentif dan disinsentif dalam
pengelolaan lingkungan kota;
5. Mengembangkan green building di kota.
Kebijakan 3:

Perubahan iklim merupakan masalah yang akan semakin berkembang,


yang harus dihadapi kota-kota ke depan.Banjir dikawasan perkotaan
karena kurangnya ruang terbuka hijau sebagai kawasan peresapan air
alami, perubahan suhu yang ekstrem, kawasan yang rawan longsor,
menjadi fokus utama kota dalam pencegahan dan penanggulangan
bencana ini. Kebijakan ini memaksa pemerintah untuk mempersiapkan
infrastruktur perkotaan dalam menghadapi perubahan iklim.

BAB 4

Peningkatan ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana.

Kebijakan ini juga mendorong masyarakat agar lebih tanggap akan


perubahan
iklim
dan
bencana
serta
pencegahan
dan
penanggulangannya.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Meningkatkan kapasitas masyarakat kota melalui pendidikan dan
pengetahuan masyarakat kota dalam merespon resiko bencana
dan pemeliharaan infrastruktur penanggulangan bencana serta
membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan
bencana alam (urban resilience);
2. Mengembangkan
teknologi,
informasi,
komunikasi,
dan
infrastruktur mitigasi dalam mengantisipasi bencana dan
perubahan iklim;
3. Mengembangkan perlindungan lingkungan perkotaan terhadap
bencana dan perubahan iklim yang terintegrasi dengan kegiatan
perekonomian, rekreasi, dan budaya dalam suatu ekosistem yang
terpadu;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

175

4. Menguatkan kapasitas pemerintah dalam mengarusutamakan


bencana dan perubahan iklim dalam perencanaan dan
pengendalian pembangunan kota berkelanjutan;
5. Menyiapkan anggaran bagi penyiapan masyarakat dan teknologi
dan infrastruktur adaptasi dan mitigasi terhadap bencana;
6. Menyiapkan jaminan sosial resiko bencana dan perubahan iklim;
7. Mengembangkan perlindungan terhadap public services, dan
jaminan berlangsungnya fungsi pendidikan dan kesehatan pasca
bencana.
Kebijakan 4:
Pengembangan green economy dan green infrastructure yang
memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumber daya, rendah karbon,
zero waste, seluruh kelompok masyarakat serta daya dukung, daya
tampung lingkungan kota yang berkelanjutan dan sumber daya yang
terbarukan.

BAB 4

Kebijakan ini merupakan upaya mendorong pemerintah dan stakeholder


untuk menggunakan energi alternatif atau terbarukan dan mendorong
masyarakat untuk menggunakan pedestrian dan kendaraan umum serta
mengurangi emisi gas karbon dalam perkotaan.Kebijakan diatas
dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Membangun dan mengembangkan energi terbarukan;
2. Mengembangkan transportasi publik perkotaan berbasis energi
terbarukan (green transportation);
3. Mengembangkan pengelolaan sampah dan limbah secara
komunal dan mengurangi dampaknya melalui reduce, reuse,
recycle (3R);
4. Meningkatkan kualitas air bersih dan air minum serta pengelolaan
sumber daya air yang terintegrasi dan berkelanjutan;
5. Mengembangkan pengelolaan pengolahan limbah rumah tangga
dan industri tanpa pencemaran sebagai sumber daya kota yang
berkelanjutan;
6. Membangun perumahan dan lingkungan permukiman yang sehat
dan adaptif terhadap bencana;
7. Mengembangkan kegiatan perekonomian berdasarkan green
building, green transportation, dan green waste;
8. Mengembangkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya
secara berkelanjutan (zero waste) untuk kegiatan ekonomi kota;

176

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

9. Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan


kegiatan ekonomi hijau.
Misi Kelima (M5): Membangun kegiatan perekonomian, pemerintah,
dan masyarakat kota yang pintar dan berdaya saing, produktif, kreatif,
dan inovatif, efisien, serta berbasis ICT.
Kebijakan 1:

Tuntutan akan perekonomian yang lebih efisien menyebabkan kebutuhan


akan inovasi semakin besar, sehingga dikembangkanlah konsep ekonomi
kreatif yang menjadi bagian dari smart economy, dimana konsep ini
mengandalkan kreativitas individu dalam mengoptimalkan daya saing
yang dimiliki. Dalam smart economy terutama ekonomi kreatif, ilmu
pengetahuan dan teknologi merupakan input utama dalam mendorong
pembangunan ekonomi dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang
baik.
Kunci dari keberhasilan dari smart economy adalah pada pemanfaatan
sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sumberdaya ini yang terus dipacu dan didorong untuk menghasilkan
inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas agar ekonomi dapat
tumbuh dan kesesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.Kebijakan
diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

Pengembangan perekonomian kota yang cerdas dan berdaya saing,


dengan mengintegrasikan kegiatan perekonomian yang produktif,
kreatif dan inovatif, berbasis teknologi dan ICT.

1. Mengembangkan pencitraan kota (city branding) berbasis produk


unggulan, SDM unggulan dan karakter sosial-budaya lokal;
2. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan inovasi SDM dalam
kewirausahaan;
3. Meningkatkan produktivitas tenaga kerja di kota;
4. Mengembangkan peran layanan sistem informasi industri, produk
dan pasar dalam meningkatkan nilai tambah perekonomian kota
(e-commerce).

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

177

Kebijakan 2:
Pengembangan pemerintahan yang cerdas dan kompetitif, inovatif,
efisien, dan berbasis ICT
Tata kelola kepemerintahan selama ini masih dihadapkan pada persoalan
aparatur yang kurang responsif terhadap keluhan masyarakat, belum
adanya data dasar pelayanan publik yang pasti dan sama, tolok ukur
capaian kinerja masih belum jelas dan masih tingginya angka korupsi.
Untuk menanggulangi permasalahan itu, tata kelola pemerintah diarahkan
untuk menjadi smart governance dengan pengembangan sistem dan
mekanisme pelayanan publik yang memanfaatkan teknologi informasi,
yaitu e-governance, e-procurement, e-office, e-business dan penerapan
single identification untuk setiap urusan masyarakat yang diharapkan
mampu mengurangi peluang penyalahgunaan dan mudah mudah diawasi
dalam pelaksanaannya.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi
berikut:

BAB 4

1. Membangun jaringan komunikasi pemerintah swasta dan


masyarakat berbasis ICT;
2. Meningkatkan penggunaan e-governance dalam pengelolaan
pemerintahan (kebijakan dan penganggaran) serta sistem
pelayanan publik yang ramah masyarakat;
3. Meningkatkan partisipasi dan menjembatani inovasi masyarakat
dalam perencanaan dan pembangunan perkotaan.
Kebijakan 3:
Pengembangan infrastruktur dalam upaya peningkatan efisiensi dan
daya saing kota melalui pelayanan yang cepat dan tepat
Kebijakan ini mendorong pemerintah untuk meningkatkan aksesibilitas
infrastruktur kepada seluruh masyarakat dan logistik barang dan jasa
dengan menggunakan informasi dan teknologi yang dapat
mengembangkan inftrastruktur secara tepat dan tepat baik dalam
pembangunan, pemeliharaan maupun pelayanan.Permasalahan yang
ada selama ini adalah inefisiensi infrastruktur yang disebabkan oleh
kurangnya informasi, pendanaan dan kelembagaan dalam pembangunan
infrastruktur.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Mengembangkan akses dan jaringan informasi berbasis teknologi
secara luas;

178

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2. Mengembangkan sarana dan prasarana sistem pengelolaan


transportasi berbasis ICT secara cepat dan tepat;
3. Mengembangkan sarana prasarana, sistem manajemen dan
informasi pendidikan, serta keterkaitannya dengan sektor lain
berbasis ICT;
4. Mengembangkan sarana prasarana, sistem manajemen dan
informasi kesehatan, serta keterkaitannya dengan sektor lain
berbasis ICT;
5. Mengembangkan sistem manajemen keamanan perkotaan
berbasis ICT.

Kebijakan 4:

Pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan isu yang terjadi diseluruh


perkotaan dunia, dengan tingginya pertumbuhan penduduk di perkotaan,
juga diikuti oleh pertumbuhan ekonomi dan sejumlah dampak negatif
lainnya seperti tumbuhnya kawasan kumuh, polusi udara, sulitnya
mendapatkan air bersih, pengolahan limbah, dan pasokan energi, serta
kemacetan lalu intas. Dalam membangun smart city, perlu ada kebutuhan
untuk mempertimbangkan efisiensi dan langkah-langkah seperti
pengenalan teknologi.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

Pengembangan lingkungan kota yang cerdas dan berdaya saing


melalui pengelolaan sumber daya lingkungan kota berbasis
teknologi.

1. Mengembangkan networking informasi perlindungan dan


pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan antara pemerintah,
swasta, dan masyarakat;
2. Mengembangkan pengelolaan lingkungan udara dan air perkotaan
berbasis teknologi;
3. Mengembangkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya
dan hasil kegiatan perkotaan secara berkelanjutan (zero waste);
4. Mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya energi
terbarukan, dengan mendorong seluruh potensi dalam negeri.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

179

Kebijakan 5:
Pengembangan masyarakat kota yang pintar dan inovatif, kreatif,
produktif, serta mampu memanfaatkan potensi keragaman sosialbudaya untuk membangun daya saing kota
Menciptakan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dan ilmu
pengetahuan yang baik dalam proses pekerjaan, dapat memberikan
output yang lebih baik dibandingkan dengan keahlian dan ilmu
pengetahuan yang rendah. Sumber daya manusia yang lebih terdidik
dengan skill yang dapat diandalkan, lebih dapat melakukan inovasi dalam
bekerja dengan mengoptimalkan kekayaan sosial budaya.Kebijakan
diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

1. Mengembangkan pendidikan dan pengembangan sumber daya


manusia yang kreatif, inovatif, dan produktif berbasis keahlian;
2. Membangun kreativitas dan inovasi masyarakat dalam
pembangunan perkotaan melalui dukungan penelitian dan
pengembangan;
3. Membangun partisipasi dan keterlibatan aktif masyarakat kota
dengan semangat keterbukaan dan kerjasama untuk membangun
daya saing kota;
4. Mengembangkan karakter sosial-budaya masyarakat untuk
meningkatkan modal sosial masyarakat kota.
Kebijakan 6:
Pengembangan hunian cerdas dalam upaya peningkatan kualitas
hidup masyarakat kota berbasis informasi dan teknologi
Kebijakan ini mendorong agar masyarakat, pemerintah maupun
pengembang permukiman dan hunian untuk dapat mengembangkan
hunian yang efisien dan optimal dalam memanfaatkan energi dan
mengurangi limbah dengan memanfaatkan teknologi dan informasi yang
ada secara optimal.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Meningkatkan kemudahan akses terhadap pelayanan pendidikan,
informasi, dan pengetahuan yang berkualitas bagi semua
masyarakat perkotaan;
2. Meningkatkan kemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan,
informasi, dan pengetahuan hidup sehat dan berkualitas bagi
semua masyarakat perkotaan;

180

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3. Mengembangkan peran media dalam memberikan informasi


tentang perilaku hidup sehat dan cerdas di kota;
4. Meningkatkan kemudahan akses untuk berkreasi, dan
mengembangkan karakter sosial budaya di perkotaan;
5. Meningkatkan kemudahan akses untuk mendapatkan jaminan
keamanan dan keselamatan terhadap kriminalitas, bencana dan
masalah kesehatan.
Misi Keenam (M6): Meningkatkan kualitas penyelenggaraan
pengelolaan perkotaan yang berkelanjutan secara transparan,
akuntabel, dan partisipatif

Mewujudkan sistem, peraturan dan prosedur dalam birokrasi


kepemerintahan kota yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat
kota berkelanjutan
Untuk meingkatkan kualitas penyelenggaraan pengelolaan perkotaan
yang berkelanjutan, dibutuhkan sistem kepemerintahan yang menunjang.
Selain dari kualitas aparatur yang baik, sistem serta peraturan dan
prosedur dalam biroksasi kepemerintahan kota yang tanggap terhadapa
kebutuhan masyarakat diperlukan untuk mewujudkan kota yang
berkelanjutan. Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

Kebijakan 1:

1. Menyiapkan perundangan khusus pembangunan perkotaan


tingkat nasional sebagai pedoman pembangunan perkotaan
tingkat pusat
2. Mewujudkan pelaksanaan tata kelola perkotaan yang transparan,
akuntabel, partisipatif dan profesional, serta cepat dan tanggap
terhadap kebutuhan masyarakat, melalui pengembangan sistem
dan peraturan serta budaya kerja;
3. Mereview dan mengkoordinasikan peraturan perundangan yang
saling terkait dalam pembangunan dan pengelolaan kota
berkelanjutan;
4. Mengidentifikasi sumber-sumber pendapatan serta menggali
inovasi
pembiayaan,
serta
melakukan
penyempurnaan
pengelolaan keuangan, untuk pembangunan kota berkelanjutan;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

181

5. Mengembangkan data dan informasi, perencanaan perkotaan,


pembangunan, dan pengelolaan pelayanan publik berbasis
teknologi; dan
6. Mengembangkan sistem pengelolaan aset perkotaan yang
sistematis, jelas, efisien, dan terintegrasi untuk sarana dan
prasarana umum dalam kerangka terpenuhinya kebutuhan
masyarakat perkotaan secara berkelanjutan.
Kebijakan 2:
Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam
pengelolaan kota berkelanjutan yang layak dan nyaman, hijau serta
cerdas melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan secara
bersikenambungan.

BAB 4

Permasalahan yang dihadapi dalam kapasitas aparat pemerintah secara


umum adalah (1) belum meratanya kemampuan SDM aparat pemda, baik
antar satuan kerja maupun antar daerah, (2) belum memadainya
kemampuan teknis dan fungsional SDM aparat dibandingkan masyarakat
dan dunia usaha, (3) belum memadainya pemahaman dan etika
kepemimpinan daerah, (4) belum memadainya pelaksanaan prinsip
pemerintahan yang baik, (5) belum optimalnya Pelibatan masyarakat dan
stakeholder lainnya dalam pembangunan perkotaan dilakukan dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Dalam tahap perencanaan
perlu dilakukan sistem perencanaan yang melibatkan peran serta seluruh
stakeholder kota.

Sedangkan tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan aparatur


adalah (1) meningkatkan kemampuan teknis dan fungsional yang
berbasis kinerja dan pelayanan prima bagi SDM aparat pemda di seluruh
daerah, (2) meningkatkan pemahaman; (3) meningkatkan pelaksanaan
prinsip kepemerintahan yang baik; (3) meningkatkan rneningkatkan peran
serta masyarakat dan stakeholder lainnya dalam pelaksanaan
pembangunan.
Proses ini dilakukan agar terjadi kerjasama yang harmonis diantara
berbagai stakeholder dalam pembangunan kota. Dalam pelaksanaan
pembangunan kota, peran serta masyarakat juga penting karenanya
perlu dikembangkan berbagai model program pelibatan masyarakat.
Peran serta masyarakat dalam pemeliharaan prasarana dan sarana kota

182

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Meningkatkan pemahaman dan pembelajaran antar daerah dan


antar negara tentang perencanaan, pembangunan, pengelolaan
perkotaan yang profesional, efisien dan efektif;
2. Meningkatkan kualitas aparatur pemerintah melalui pembinaan,
pelatihan
dan
penilaian
kinerja
dalam
perencanaan,
pembangunan, dan pengelolaan kota berkelanjutan yang efisien,
efektif, dan profesional;
3. Mengembangkan aparatur pemerintah yang transparan,
akuntabel, mampu membangun partisipasi masyarakat, serta
profesional, melalui budaya kerja berbasis pengetahuan;
4. Meningkatkan kapasitas aparatur dalam menciptakan inovasi, baik
dalam pembiayaan pembangunan, menciptakan prosedur
pengelolaan yang efektif, pelibatan masyarakat secara luas, dan
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
5. Mengembangkan partisipasi masyarakat, kepedulian, kreativitas
dan inovasi dalam mengembangkan lingkungan permukiman yang
berkelanjutan;
6. Mengembangkan peran panutan masyarakat sebagai contoh,
pembimbing, pendamping, dan agent of change dalam
mendorong perubahan pemahaman masyarakat menuju kota
yang berkelanjutan;
7. Meningkatkan peran media sosial dalam memperkenalkan dan
menanamkan
serta
memperluas
pengetahuan
dalam
pembangunan perkotaan berkelanjutan kepada masyarakat;
8. Mengembangkan peran aktif masyarakat dalam penyusunan
kebijakan, strategi, dan rencana aksi, serta mengawasi tujuan dan
arah pembangunan kota berkelanjutan.

BAB 4

merupakan salah satu keterlibatan yang secara aktif harus dilaksanakan.


Dengan berbagai masalah dan tantangan yang ada diatas, maka
kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aparatur
pemerintah yang menyangkut mekanisme kerja, struktur organisasi dan
peraturan perundang-undangan yang memadai guna menjamin
pelaksanaan kota berkelanjutan. Kebijakan diatas dijabarkan melalui
strategi berikut:

Kebijakan 3:
Mewujudkan
Pengembangan
pembangunan perkotaanyang
berkelanjutan

kelembagaan
dan
kerjasama
mendukung pembangunan kota

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

183

Pembangunan perkotaan selama ini cenderung bersifat sektoral dan


kurang adanya koordinasi antar daerah sehingga menyebabkan
kesenjangan wilayah. Kebijakan ini mendorong pemerintah agar
melakukan suatu kerjasama dan koordinasi agar pembangunan menjadi
komprehensif dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.
Pembangunan wilayah yang terpadu akan mewujudkan pembiayaan
pembangunan yang efisien karena dengan adanya kerjasama dan
koordinasi akan mengurangi adanya duplikasi dan tumpang tindih
(overlapping) antarsektor dengan daerah sehingga pembiayaan
pembangunan dapat efisien.
Kerjasama yang dimaksud bukan hanya kerjasama antar pemerintah
namun juga kerjasama antar stakeholder yang lainnya.Kebijakan diatas
dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

184

1. Meningkatkan kapasitas koordinasi dan sinergi dalam


perencanaan dan pembangunan perkotaan berkelanjutan melalui
kelembagaan koordinasi pembangunan perkotaan yang kuat;
2. Meningkatkan kerjasama antarkota, antarkota-kabupaten dan
antar daerah dalam upaya pembangunan perkotaan yang
terintegrasi dan berkelanjutan;
3. Meningkatkan peran pemerintah provinsi dalam memfasilitasi
kerjasama antar pemerintah kota maupun kota-kabupaten untuk
mewujudkan pembangunan perkotaan yang efisien;
4. Mengembangkan pengelolaan infrastruktur strategis lintas daerah
yang terintegrasi antar daerah, melalui kelembagaan yang kuat
dalam standardisasi, pembangunan dan pengelolaan, yang
terintegrasi antar daerah;
5. Meningkatkan kerjasama pemerintah, dunia usaha, dan
masyarakat, untuk percepatan penyediaan dan pengelolaan
pembangunan perkotaan secara efisien dan berkeadilan;
6. Mengembangkan forum kota dan pengembangan mekanisme
penyelesaian konflik dalam rangka meningkatkan proses
komunikasi publik untuk perencanaan pembangunan, dan
pengelolaan kota berkelanjutan;
7. Membangun kerjasama lintas negara (sister city, symbio city)
untuk percepatan pembangunan kota dan peningkatan kapasitas
SDM.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Kebijakan 4:
Pengembangan
pembiayaan
pembangunan
mendukung pembangunan kota berkelanjutan

perkotaanyang

Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:


1. Mengembangkan skema pendanaan pemerintah pusat untuk
pengelolaan lintas kawasan/lintas sektor
2. Pengembangan lembaga pembiayaan infrastruktur perkotaan
3. Mengidentifikasi sumber-sumber pendapatan serta menggali
inovasi
pembiayaan,
serta
melakukan
penyempurnaan
pengelolaan keuangan, untuk pembangunan kota berkelanjutan;

1. Menyediakan peta 1:25.000 dan 1:5000 untuk penyusunan


rencanan tata ruang;
2. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pembangunan kota;
3. Mengembangkan data dan informasi, perencanaan perkotaan,
pembangunan, dan pengelolaan pelayanan publik berbasis
teknologi; dan
4. Penyediaan dan pemutakhirkan data (sosial budaya, ekonomi,
lingkungan, kelembagaan dan pembiayaan, pelayanan perkotaan
dan sistem perkotaan) untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi
pembangunan kota.

BAB 4

Kebijakan 5:
Pengembangan dan penyediaan data informasi pembangunan
perkotaan
Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

Kebijakan 6:
Mendorong berkembangnya kepemimpinan kota yang visioner dan
berkeadilan
Pemimpin kota atau seorang kepala daerah adalah posisi sentral dan
strategis dalam sistem pemerintahan daerah, sehingga kepala daerah
dengan diwajibkan dapat melihat arah, peluang, tantangan pembangunan
dan perkembangan kota pada masa mendatang. Dengan pola
kepemimpinan yang efektif, kepala daerah diharapkan dapat mampu
menerapkan dan menyesuaikan perencanaan maupun pelaksanaan
dengan paradigma baru otonomi daerah, ditengah-tengah lingkungan
yang strategis yang terus berubah seperti reinviting government, sharing
of power, akuntabilitas dan aspek-aspek lainnya yang memenuhi kriteria

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

185

good and clean government.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi


berikut:
1. Sosialisasi pembangunan kota berkelanjutan kepada partai politik
yang akan melahirkan calon pemimpin;
2. Meningkatkan kapasitas pimpinan/calon pimpinan kota dalam
pembangunan kota yang berkelanjutan;
3. Mengembangkan sistem seleksi calon pimpinan kota yang
berpihak kepada pembangunan kota berkelanjutan;
4. Memberikan penghargaan nasional kepada pimpinan kota yang
berinovasi dalam pembangunan dan penyelesaian masalah bagi
kota secara berkelanjutan;
5. Memberikan insentif dan disinsentif dalam percepatan standar
pelayanan perkotaan yang menuju pembangunan kota
berkelanjutan.

4.2.2 Kebijakan Prioritas Kawasan


Metropolitan dan Kota Besar

BAB 4

186

Megapolitan,

Kota

1. Kebijakan 1: Membangun pusat jasa dan perdagangan bertaraf


international pada kawasan pusat bisnis, pusat kota dan pusat
antar lintas wilayah yang inklusif dan efisien.
2. Kebijakan 2: Membangun kawasan industri bertaraf internasional
yang terpadu, aman, efisien, dengan menyesuaikan pada daya
dukung dan daya tampung lingkungan perkotaan;
3. Kebijakan 3: Mengembangkan penyediaan dan pengelolaan
sarana dan prasarana transportasi massal yang aman, cepat,
efisien, dan terintegrasi antar wilayah;
4. Kebijakan 4: Memanfaatkan air permukaan menjadi air yang dapat
dipakai untuk kegiatan masyarakat perkotaan dalam mengatasi
permasalahan krisis air bersih melalui kerjasama antar daerah.
5. Kebijakan 5: Mengembangkan jaringan sanitasi yang terpusat
untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan
6. Kebijakan 6: Menyediakan hunian yang nyaman, sehat, aman,
mudah diakses dan terjangkau bagi seluruh penduduk dan layak
bagi kaum lansia, disabel, wanita dan anak-anak.
7. Kebijakan 7: Menciptakan kehidupan masyarakat kota yang
nyaman, cerdas, inovatif, kreatif dan produktif serta mampu
menjaga keragaman sosial dan budaya untuk membangun daya
saing kota di tingkat global

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

8. Kebijakan 8: Menciptakan keamanan kawasan perkotaan


terhadap kejahatan melalui pengembangansistem keamanan
cepat, terintegrasi lintas sektor dan lintas wilayah, didukung
infrastruktur dan suprastruktur yang kuat dan efektif.
9. Kebijakan 9: Menciptakan lingkungan kawasan perkotaan yang
nyaman dan aman dengan menjaga daya dukung dan daya
tampung lingkungan kota, serta responsif dan adaptif terhadap
bencana alam dan perubahan iklim
10. Kebijakan 10: Mengembangkan kelembagaan dan tata kelola
yang efektif, efisien dan terintegrasi dengan wilyaha disekitarnya
serta berorientasi pada pelayanan bertaraf internasional.

1. Kebijakan 1: Pengembangan dan peningkatan peran pusat


pertumbuhan baru yang dapat menyediakan lapangan kerja dan
berkembang menjadi kota-kota sedang dan kecil untuk
mendorong percepatan pembangunan perdesaan di sekitar kota
2. Kebijakan 2: Penyediaan kualitas dan kuantitas fasilitas
pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan produksi dan
distribusi barang dan jasa antara desa ke kota-kota sedang/kecil
dan antara kota-kota sedang ke kota-kota besar
3. Kebijakan 3: Percepatan penerapan dan pemenuhan Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP) di kota dan kawasan perkotaan
sedang dan kecil
4. Kebijakan 4: Pengembangan ekonomi lokal yang hijau (green
economy) dan sektor informal perkotaan melalui penguatan
modal, penciptaan produk unggulan, perbaikan iklim investasi
serta memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumber daya, rendah
karbon, zero waste, serta daya dukung dan daya tampung
lingkungan kota yang berkelanjutan
5. Kebijakan 5: Pengembangan ekonomi lokal yang hijau (green
economy) dan sektor informal perkotaan melalui penguatan
modal, penciptaan produk unggulan, perbaikan iklim investasi
serta memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumber daya, rendah
karbon, zero waste, serta daya dukung dan daya tampung
lingkungan kota yang berkelanjutan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4

4.2.3 Kebijakan Prioritas Kota Sedang dan Kota Kecil

187

6. Kebijakan 6: Pengendalian pemanfaatan ruang dan kegiatan


perkotaan yang efisien dan berkeadilan untuk meningkatkan
ketahanan kota terhadap bencana alam dan perubahan iklim
7. Kebijakan 7: Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dalam
perencanaan kota dan penyelenggaraan kerjasama antar kota,
antara kota dengan desa/kawasan sekitarnya, untuk peningkatan
efisiensi dan efektivitas penyediaan dan pengelolaan infrastruktur
kota

4.2.4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Spesifik Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota Strategis

BAB 4

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai pulau dengan


karakteristik yang berbeda, dan hal tesebut sangat mempengaruhi
kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan di setiap wilayah pulau.
Kebijakan dan strategi pembangunan di tingkat wilayah dibagi
berdasarkan lima wilayah pulau besar yaitu:

A. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Sumatera

Sumber : http://photography.nationalgeographic.com/

Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan


memiliki kekayaan sumber daya alam yang masih banyak dan

188

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Pulau Sumatera juga berada pada posisi geografis yang strategis


dalam kontek lalu lintas perdagangan internasional kerena dekat
dengan negara-negara anggota Association South East Asian
Nations (ASEAN) yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand dan
berhadapan langsung dengan kawasan negara-negara Asia Timur
(Jepang, China dan India) yang merupakan belahan dunia dengan
ekonominya bertumbuh dan berkembang cepat. Selat Melaka
yang terkenal sebagai wilayah kawasan Alur Laut Kegiatan
Internasional (ALKI) dibagian timur Pulau Sumatera merupakan
kawasan laut terpenting di dunia, membentuk jalur pelayaran
antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, berada diantara dua
negara yang jumlah penduduk terbesar di dunia dan ekonominya
tumbuh cepat yaitu India dan RRC.
Kota-kota di Pulau Sumatera dihubungkan oleh tiga ruas jalan
lintas, yakni lintas tengah, lintas timur, dan lintas barat, yang
melintang dari Utara - Selatan Sumatera. Selain itu terdapat pula
ruas jalan yang melintang dari Barat - Timur, seperti ruas
Bengkulu - Palembang, Padang Jambi serta Padang - Dumai. Di
beberapa bagian Pulau Sumatera, kereta api merupakan sarana
transportasi alternatif. Di bagian selatan, jalur kereta api bermula
dari pelabuhan Panjang (Lampung) hingga Lubuk Linggau dan
Palembang (Sumatera Selatan). Di tengah pulau Sumatera, jalur
kereta api hanya terdapat di Sumatera Barat. Jalur ini
menghubungkan antara kota Padang dengan Sawah Lunto dan
kota Padang dengan kota Pariaman.

BAB 4

potensial, dengan luas wilayahnya 480.489 km2 dan berpenduduk


49.615.400 jiwa adalah kedua terbanyak setelah Pulau Jawa,
berada pada posisi geografis paling dekat dengan Pulau Jawa
sehingga perekonomian wilayah ini berinteraksi sangat intensif
dengan pulau Jawa.

Arah Kebijakan umum perkotaan di wilayah Pulau Sumatera


adalah mewujudkan kondisi wilayah pulau Sumatera agar menjadi
wilayah kepulauan yang kota-kotanya memiliki indikasi: Smart
growth, Humane, Ecological. Arah kebijakan pembangunan
perkotaan di Pulau Sumatera,
dikelompokkan berdasarkan
wilayah pertumbuhan yaitu:

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

189

BAB 4

1) Perwujudan Kota Batam (PKSN/PKN) menjadi kota yang


berdaya saing terhadap Singapura dan Jorhor Bahru;
2) Perwujudan percepatan pembangunan
kota Sabang
(PKSN/PKW) menuju kota yang berdaya saing tinggi;
3) Perwujudan Kawasan Mebidangro (Medan, Binjai, Deli
Serdang, Karo) sebagai kawasan perkotaan yang mampu
bersaing ditingkat global.
4) Perwujudan kota-kota yang berpotensi dan sedang
berkembang seperti:
a. Sibolga, sebagai kawasan pusat pariwisata
kelautan;
b. Sawahlunto, sebagai kawasan pusat pariwisata
paska penambangan;
c. Lhokseumawe,
sebagai
kawasan
pusat
perdagangan dan jasa;
d. Pekanbaru, sebagai kawasan pusat pengolahan
hasil pertanian dan kelautan;
e. Palembang, sebagai kawasan pusat pendidikan,
budaya dan pariwisata;
f. Padang, sebagai kawasan pusat budaya dan
pariwisata;
g. Bengkulu, sebagai kawasan pusat pariwisata
kelautan;
h. Bandar Lampung, sebagai kawasan pusat
pengolahan hasil pertanian.

Kebijakan Pembangunan Perkotaan di Pulau Sumatera :


Secara umum, kebijakan pengembangan perkotaan di Pulau
Sumatera diarahkan kepada :
1. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan
sedang
2. Pengembangan kota-kota di kawasan perbatasan
3. Pengembangan kota-kota yang termasuk dalam koridor
ekonomi di sepanjang pantai timur Sumatera daan
pengembangan kota-kota dalam wilayah rawan bencana di
pantai barat Sumatera.

190

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

B. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Jawa-Bali

Fakta bahwa wilayah Jawa dan Bali masih menjadi tumpuan


kehidupan dan perekonomian nasional ini menggambarkan bahwa
selama ini telah terjadi bias dalam pembangunan nasional,
dimana terlalu banyak sumber daya dan perhaitan diberikan ke
jawa dan Bali, dan kurang untuk wilayah-wilayah di luar Jawa dan
Bali. Hal ini pada akhirnya, menyebabkan situasi dimana
perkembangan perkotaan di Jawa dan Bali terjadi begitu pesat,
dimana pasar cenderung bekerja sangat kuat, sementara
pemerintah tidak cukup mampu mengendalikannya. Yang terjadi
adalah berbagai eksternalitas yang muncul dalam bentuk
kerusakan lingkungan dan ketidak-adilan sosial.

BAB 4

Sumber : http://paketwisatayogyakarta.files.wordpress.com/

Dari sisi tata ruang, lingkungan, dan sumber daya, pulau Jawa
dan Bali semakin kritis dan terancam. Meskipun kesuburan tanah
di Jawa untuk tanaman padi jauh lebih subur dibanding Sumatera
dan kalimantan, terus terjadi pengurangan tanah pertanian yang
signifikan. Di Jawa, penyusutan lahan sawah terjadi sebesar
36.000 Ha/tahun. Penyusutan ini terjadi baik karena
pembangunan perumahan maupun industri. Hal ini dapat terjadi
karena proses perkembangan tata ruang yang cenderung
dikontrol oleh pasar dan kapital, sementara intervensi atau
pengendalian oleh pemerintah cenderung kurang efektif.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

191

Kebijakan dan strategi perkotaan Jawa dan Bali berorientasi pada


bagaimana menyeimbangkan antara posisi dan peran
pembangunan pulau Jawa dan Bali secara nasional dengan
kondisi keterbatasan dan kerentanan lingkungan pulau Jawa dan
Bali. Perumusan kebijakan dan strategi perkotaan Jawa dan Bali
juga diharapkan agar tidak terjadi bias Jawa dalam konteks
perumusan kebijakan dan strategi perkotaan nasional
sebagaimana selama ini sering terjadi.Secara umum, sesuai
dengan karakteristik perkembangan pembangungunan kota-kota
di jawa dan bali, maka Kebijakan Perkotaan Pulau Jawa Bali
diarahkan pada :

BAB 4

1. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan


sedang
2. Pengendalian pertumbuhan ekonomi kawasan megapolitan
3. Pemerataan pembangunan perekonomian dan kesejahteraan
masyarakat melalui keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan
meningkatkan keterkaitan hubungan Klaster Utara klaster
Tengah dan Klaster Selatan Pulau Jawa
Arah kebijakan pembangunan perkotaan di Pulau Jawa Bali,
yaitu:
1) Pengendalian pembangunan perkotaan yang lebih ketat dan
tegas untuk tidak semakin menekan daya dukung Pulau
Jawa-Bali:
a. Mengendalikan
peran
ekonomi
megapolitan
Jabodetakbekjur;
b. Mengontrol secara ketat perkembangan kota-kota
metropolitan lain di Pulau Jawa yakni Bandung dan
sekitarnya (Bandung Raya), Semarang dan sekitarnya
(Kedungsepur),
Yogyakarta
dan
sekitarnya
(Kartamantul),
Surabaya
dan
sekitarnya
(Gerbangkartasusila), serta Denpasar dan sekitarnya
(Sarbagita).
2) Meningkatan efisiensi jaringan sarana-prasarana untuk
mendukung kelancaran kegiatan ekonomi dan sosial Pulau
Jawa-Bali.

192

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

a.

b.
c.
d.

e.

Peningkatan efisiensi dan kualitas lingkungan kota-kota


di Jawa-Bali sebagai prasyarat peningkatan kualitas
kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia.
Peningkatan kerjasama antar kota dan wilayah-wilayah
perkotaan.
Peningkatan kapasitas pengelola kota dan tata kelola
kota.
Pengembangan
kawasan
perkotaan
yang
mempertimbangkan keseimbangan hubungan antar
kluster, meliputi: Klaster utara (kota-kota di pesisir
utara), Klaster tengah (kota-kota di bagian tengah), dan
Klaster selatan (kota-kota di pesisir selatan Pulau
Jawa).
Mengoptimalkan peran kota-kota menengah dan kecil.

BAB 4

C. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Kalimantan

Sumber : http://cdn0.harperhotels.com/

Pulau Kalimantan, dengan luas wilayah 743.330 km2 merupakan


pulau terbesar di Indonesia hanya mempunyai jumlah penduduk
sekitar 16 juta di tahun 2000, sangat kecil jika dibandingkan
dengan penduduk Pulau Jawa yang mencapai 120 juta jiwa (lihat
bab KSPN Jawa Bali), walaupun sebenarnya Pulau Kalimantan
masih memiliki potensi sumber daya alam yang tinggi, termasuk

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

193

hutan dan sungai yang besar mengelilingi kota dan kawasan


perkotaannya.
Kota-kota di Pulau Kalimantan belum terhubung dengan baik
dengan jaringan transportasi darat maupunudara, Kota-kota besar
di Kalimantan lebih mudah dicapai dari kota di luar Kalimantan,
terutama dengan menggunakan pesawat terbang.Pulau
Kalimantan, terutama kota-kota di pesisir barat dan timur,
mempunyai posisi yang strategis, terutama jika dikaitakan dengan
keberadaan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang melalui
selat Kalimantan dan Selat Karimata. ALKI yang dipakai oleh
kapal-kapal internasional memungkinkan sisi barat dan timur
Kalimantan untuk membuka pelabuhan internasional.
Berdasarkan karakteristik dan isu strategi yang ada di Pulau
Kalimantan, kebijakan pembangunan kota-kota di Pulau
Kalimantan :
1. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil

dan sedang.

BAB 4

2. Mempertahankan luasan hutan produksi dan hutan

lindung sedikitnya 45% dan memperhatikan dampak


perubahan iklim
3. Mengembangkan kota-kota kecil dan keterkaitan antar

kota di kawasan perbatasan dengan pengembangan


transportasi sungai dan kota-kota pada jalur ALKI
sebagai pusat kegiatan perdagangan.
Arah kebijakan pembangunan perkotaan di Pulau Kalimantan,
yaitu:
1) Mempertahankan tutupan hutan dan memperhatikan
dampak perubahan iklim.
2) Mengembangkan perkotaan di kawasan perbatasan:
Pengembangan kota-kota kecil di perbatasan (Sangata
dan semua PKSN), sebagai pusat pertumbuhan yang
mampu meningkatkan ekonomi lokal di kawasan
perbatasan.
3) Mengembangkan sistem kota-kota untuk mengurangi
ketimpangan pembangunan antar wilayah :
a. memperhatikan karakteristik lokal: transportasi
sungai

194

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

b. Pengembangan kota-kota menengah: Singkawang,


Tarakan, Bontang, Palangkaraya, sebagai pusat
pertumbuhan yang mampu bersaing ditingkat
nasional
4) Mengembangkan keterkaitan antar kota-kota perbatasan
(PKSN) untuk dapat meningkatkan kualitas hidup dan
kesejahteraan penduduknya.
5) Mengembangkan kota-kota pada jalur ALKI sebagai pusat
kegiatan perdagangan internasional:
Pengembangan kota-kota besar Pontianak, Banjarmasin,
Samarinda dan Balikpapan, sebagai pusat pertumbuhan
yang mampu bersaing ditingkat internasional

BAB 4

D. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Sulawesi

Sumber : http://faktaunik.files.wordpress.com/

Prinsip dasar struktur kota-kota di Sulawesi dikembangkan


berdasarkan cluster geografis, kemiripan karakteristik sosial,
ekonomi, fisik geografis, pertahanan dan keamanan, serta
keterkaitan PKN-PKW-PKL. Selanjutnya, dikembangkan struktur
kota-kota di Sulawesi dengan tiga (3) cluster utama, yaitu cluster
wilayah potensial maju, cluster wilayah berkembang, cluster
wilayah strategis. Masing-masing cluster dikembangkan indikasiindikasi kebijakan yang relevan dalam mendukung keterkaitan
PKN-PKW-PKL, dengan arahan yang spesifik pada tipologi kota-

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

195

kota yang termasuk di dalam cluster tersebut. Pada prinsipnya,


indikasi kebijakan pada cluster wilayah potensial maju adalah
fokus pada pengendalian pertumbuhan kota-kota besar dan
metropolitan untuk menghindari primasi kota. Kemudian, indikasi
kebijakan pada cluster wilayah berkembang adalah mendorong
pertumbuhan
kota-kota
sedang
dan
kecil
untuk
menghindarikesenjangan wilayah. Terakhir, indikasi kebijakan
pada cluster wilayah strategis fokus pada percepatan
pertumbuhan kota-kota kecil di perbatasan dalam rangka
meminimalisasi kesenjangan sosial ekonomi dengan wilayah
perbatasan. Dari tahap-tahap tersebut, disusun kebijakan umum
yang diambil untuk mengatasi permasalahan dan tantangan
pembangunan perkotaan di Pulau Sulawesi adalah :
1.
2.

BAB 4

3.

Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan


sedang
Optimalisasi potensi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan
penguatan peran kota-kota dalam jalur ALKI melalui
pengembangan peran kawasan perkotaan Maminasata dan
wilayah sekitarnya.
Pemerataan konektivitas wilayah dan antar wilayah dengan
pengembangan angkutan udara dan laut dalam rangka
mengurangi kesenjangan wilayah kota-kota menengah dan
kecil di Sulawesi bagian Utara, Tengah, Barat dan Gorontalo.

Kebijakan yang lebih khusus untuk pembangunan kota-kota di


Pulau Sulawesi diarahkan pada :
1) Memanfaatkan potensi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
(KAPET, KEK), dan posisi strategis kota-kota dalam jalur
ALKI:
Pengembangan peran kawasan perkotaan Maminasata untuk
mendorong pertumbuhan kota-kota dan wilayah di sekitarnya
2) Pengembangan pusat pelayanan pemeriksaan lintas batas
negara, pusat perdagangan-jasa lintas batas, pusat
administrasi pelintas batas negara, perdagangan-jasa dan
transhipment point, terutama pada PKSN di Sulut
(Melonguane dan Tahuna) dan kota-kota dalam jalur ALKI.

196

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4

3) Optimalisasi potensi ekonomi lokal, melalui a) Pengembangan


ekonomi kota berbasis sumberdaya kelautan dan sektor
pertanian dan perkebunan (padi jagung kakao); b)
Pengembangan pariwisata yang berbasis pelestarian warisan
budaya.
4) Pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana, melalui
pendayagunaan instrumen Corporate Social Responsibility
(CSR) yang berbasis pelestarian lingkungan hidup pada
kawasan pertambangan.
5) Peningkatan konektivitas wilayah, melalui pemantapan fungsi
dan peran pelabuhan serta bandara di kota-kota menengah
dan kecil bagian barat Sulawesi dalam rangka memanfaatkan
peluang dibukanya akses perdagangan baru melalui Selat
Makassar:
a. Pengurangan
kesenjangan
wilayah,
melalui
pengembangan kota-kota menengah dan kecil di
Sulawesi bagian utara, tengah, barat, dan Gorontalo.
b. Pengurangan
kesenjangan
wilayah,
melalui
pengembangan kota-kota menengah dan kecil di
Sulawesi bagian utara, tengah, barat, dan Gorontalo
6) Pengelolaan kota (pesisir) berbasis mitigasi bencana di
seluruh kota.
E. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Kepulauan Nusa Tenggara

Sumber : http://www.adventure-lombok.com/

Dengan jumlah penduduk sebanyak 9.393.674 (2011), Kepulauan


Nusa Tenggara Kepulauan Nusa Tenggara merupakan kepulauan
yang terletak di selatan wilayah Indonesia. Kepulauan Nusa

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

197

Tenggara merupakan kepulauan yang kaya dengan keindahan


alam. Kepulauan Nusa Tenggara menjadi batas selatan Indonesia
karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Terdiri
atas dua provinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara
Timur. Kekayaan alam yang menjadi komoditas utama Kepulauan
Nusa Tenggara di antaranya keindahan pantai Pulau Lombok, dan
juga wisata alam Pulau Komodo. Kepulauan Nusa Tenggara
berbatasan langsung juga dengan Timor Timur, yang dahulu
merupakan bagian dari negara Republik Indonesia, sesuai dengan
isu strategis dalam penanganan permasalahan dan tantangan
yang ada,kebijakan umum pengembangan kota-kota di Kepulauan
Nusa Tenggara adalah :

BAB 4

1. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil


dan kota sedang
2. Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan
ekonomi lokal untuk mengurangi kemiskinan dan
menguatkan posisi kawasan perbatasan di pulau-pulau
kecil.
3. Pengelolaan lingkungan, pengendalian alih fungsi lahan
dan integrasi mitigasi bencana dalam pembangunan kotakota pesisir.
Sedangkan untuk kebijakan khusus pembangunan perkotaan di
Pulau Nusa Tenggara adalah :
1) Peningkatan layanan infrastruktur dalam mendukung kegiatan
perekonomian di seluruh kota, dan penyediaan perumahan
layak huni terutama di perbatasan.
2) Pengembangan pusat pelayanan pemeriksaan lintas batas
negara dan pusat perdagangan-jasa lintas batas, peningkatan
pertahanan keamanan melalui pembangunan batas wilayah,
serta pengembangan potensi ekonomi dan sosial budaya di
PKSN di NTT.
3) Pengelolaan lingkungan dan integrasi mitigasi bencana dalam
pembangunan kota-kota pesisir.
4) Pengembangan potensi ekonomi lokal dan pengendalian alih
fungsi lahan di Kupang dan Mataram.

198

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Sumber : http://jelajah.valadoo.com/

Kepulauan Maluku adalah sekelompok pulau yang terletak di


lempeng Australia. Maluku dikenal sebagai kepulauan Rempahrempah, dan telah menarik pedagang dan petualang dari seluruh
dunia. Terletak di bagian timur Indonesia, kepulauan Maluku
terdiri dari ribuan pulau tropis yang sangat cantik. Kekayaan alam
berupa flora dan fauna yang unik, pantai-pantai yang indah, serta
keramahan warga-nya menjadikan Maluku sebagai tujuan wisata
yang menarik bagi wisatawan lokal maupun Internasional.

BAB 4

F. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Kepulauan Maluku

Secara umum, kebijakan pembangunan kota-kota di Pulau


Maluku, diarahkan pada :
1. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil
dan sedang
2. Pengembangan interkonektivitas antar kota-kota pesisir
antarwilayah melalui jaringan transportasi antarpulau dan
pengembangan pulau-pulau kecil.
3. Pengembangan Ternate dan Ambon sebagai pusat
pertumbuhan nasional di kawasan kepulauan Maluku

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

199

Dari kebijakan tersebut, dalam rangka menanggapi isu strategis


kewilayahan, arah kebijakanlebih didetailkan untuk menjawb
tantangan pembangunan kota-kota di Pulau Maluku, yaitu :
1) Pengembangan interkonektivitas antar wilayah melalui
pengembangan pulau-pulau kecil dengan memperhatikan
daya dukung lingkungannya serta berbasis mitigasi
bencana.
2) Pengembangan kawasan perbatasan di pulau-pulau kecil
terluar, meliputi Saumlaki, Ilwaki, Dobo (Maluku) dan
Daruba (Maluku Utara), melalui peningkatan infrastruktur
perhubungan laut dan udara.
3) Pengembangan kota Ternate dan Ambon sebagai pusat
pertumbuhan nasional di kawasan kepulauan Maluku,
bertujuan untuk mengatasi kesenjangan antara Maluku dan
Maluku Utara.
4) Pengembangan kota Sofifi sebagai pusat pemerintahan
Maluku Utara sekaligus pusat pertumbuhan di pulau
Halmahera.

BAB 4

G. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Papua

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/

200

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil


dan sedang
2. Pengembangan kawasan perbatasan dengan Papua New
Guinea (PNG)
3. Pengelolaan kota berbasis mitigasi bencana di semua
wilayah perkotaan
4. Peningkatan jaringan penghubung baik infrastruktur
maupun ekonomi antar pulau, wilayah Papua dan
sekitarnya melalui linta penyeberangan di Sulawesi
Maluku Papua

BAB 4

Pulau Papua, yang dahulu disebut dengan Pulau Irian, adalah


pulau terbesar kedua di dunia. Pulau ini terbagi menjadi dua
wilayah, yang bagian baratnya merupakan wilayah Indonesia, dan
bagian timurnya merupakan negara Papua Nugini. Papua
merupakan Pulau yang kaya dengan komoditas bahan galian
seperti minyak dan gas bumi, emas, tembaga, dan juga batu
kapur, marmer, dll. Kondisi alam yang bergunung-gunung selama
ini menyebabkan sulitnya pembangunan infrastruktur dan
perkotaan di pulau Papua. Kebijakan pembangunan untuk kotakota di Pulau Papua adalah dengan :

Sebagai arahan yang lebih mikro untuk pengembangan kota-kota di


Pulau Papua, kebijakan dan strategi pengembangannya antara lain :
1) Pengelolaan berbasis mitigasi bencana di seluruh kota.
2) Pengembangan kota Sorongdan Jayapura dalam
meningkatkan interkonektivitas antar wilayah di kepulauan
Papua.
3) Pengembangankota-kota Timika, Fak Fak, Manokwari,
Nabire, Biak, Merauke, Wamena sebagai pusat-pusat
pertumbuhan wilayah yang berbasis pada pengembangan
ekonomi lokal, perkebunan, pertanian dan pertambangan.
Disamping kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan di tingkat
pulau, perlu juga diberikan beberapa contoh kebijakan dan strategi
pembangunan perkotaan di tingkat kota yang mewakili setiap pulau dan
lebih spesifik sesuai karakteristik fisik, potensi ekonomi dan budaya
localsebagai berikut:

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

201

A. Kota Sabang- Kota Perikanan


1) Pembangunan kota Sabang melalui pengembangan ekonomi dengan menggunakan
infrastruktur pelabuhan serta pengembangan kerjasama yang efektif dalam pengelolaan
kota Sabang masa depan.
2) Percepatan pengembangan sektor pariwisata melalui pelestarian aset dan situs/kawasan
bersejarah kota Sabang sebagai bagian dari kekayaan daerah dan nasional dan dikelola
sebagai tujuan wisata
3) Pengintegrasian sistem pencegahan, penanggulangan bencana alam dan pelestarian
lingkungan dalam semua dokumen perencanaan pembangunan dari tingkat kota sampai
hirarki permukiman terkecil (kampung)

BAB 4
B. Kota Sawahlunto- Kota Pertambangan
1) Peningkatan kualitas pariwisata
kota tambang sebagai basis
ekonomi Kota Sawahlunto
2) Peningkatan kesiapan dalam
tanggap bencana alam secara
terpadu
3) Peningkatan kualitas kinerja
kelembagaan daerah.

1)

202

2)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3)

C. Kota Cimahi Kota Teknologi

BAB 4

1) Memantapkan fungsi kota sebagai kota jasa dan meningkatnya peran kota sebagai
pendorong pertumbuhan ekonomi lokal, regional dan nasional, serta peningkatan
kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan.
2) Memacu pemenuhan kebutuhan prasarana sarana dan utilitas kota, serta
penyediaan perumahan dan permukiman yang layak dan terjangkau serta
terintegrasi dengan kawasan metropolitan Bandung Raya dan mengembangkan
konsep kota padat lahan (Compact City) yang didukung oleh pemanfaatan ruang
kota yang efisien dan berkeadilan.
3) Mengembangkan industri kreatif dan IT sehubungan dengan keterbatasan lahan
kota dan menghadapi persaingan global.
4) Mengedepankan pengembangan sumber daya manusia dan sosial-budaya dalam
pembangunan perkotaan yang dapat mendukung industri, agribisnis, pariwisata,
dan jasa, serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

D.

Kota Pontianak-Kota Perbatasan

1) Pengembangan kawasan perkotaan


dengan sungai sebagai halaman depan
kota melalui revitalisasi kawasan
sepanjang sungai, yang mampu menjaga
habitat sungai dan hunian penduduk.
2) Pengendalian banjir secara terpadu melalui
pengelolaan drainase terintegrasi
3) Pengelolaan sampah kota yang semakin
meningkat volumenya, namun kapasitas
angkutnya semakin rendah, dan
meningkatkan pengawasan pembuangan
air limbah.
4) Kampanye dan pengembangan program
penghijauan kota

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional


5)
6)

203

E.

Kota Surabaya-Kota Perdagangan dan Industri

1)

Pengendalian investasi pembangunan kota dengan tetap mempertahankan


kekhasan perkotaan Surabaya.
Mengembangkan sistem transportasi massal yang didukung dengan regulasi
dan kebijakan dalam mengurangi kemacetan kota Surabaya.
Mengembangkan rumah bagi masyarakat menengah ke bawah dan menengah
ke atas atas secara berimbang dan berwawasan lingkungan.
Mengembangkan kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah
perkotaan yang mampu mendukung perekonomian masyarakat perkotaan dan
penyediaan, penataan dan pengendalian untuk sektor informal sebagai aset
perekonomian masyarakat perkotaan.
Mendorong terciptanya SDM perkotaan metropolitan yang berintegritas dan
berbudaya dan menurunkan laju pertumbuhan angka kemiskinan di perkotaan.
Pemanfaatan ruang kota yang efisien serta berkeadilan dan pemanfaatan
perlindungan di pelestarian kawasan lindung.

2)
3)
4)

5)
6)

BAB 4

204

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

F. Kota ParePare Kota Pelabuhan


1) Mengedepankan
pembangunan
manusia
dan
sosial-budaya
dalam
pembangunan kota Pare Pare.
2) Mendorong Kota Parepare dan wilayah sekitarnya agar mampu
mengembangkan ekonomi lokal.
3) Meningkatkan kapasitas fiskal sesuai dengan potensi dan kekayaan alam di kota
dan kawasan sekitar Pare Pare.

1) Pemberdayaan masyarakat lokal/putra daerah (Papua) yang tertinggal jauh


dibandingkan dengan masyarakat pendatang dan perluasan kesempatan kerja
dan peningkatan keterampilan tenaga kerja bagi warga lokal
2) Pengembangan sistem nilai budaya dan kearifan lokal sebagai basis
pembangunan kota.
3) Penyediaan sarana untuk proses interaksi sosial masyarakat kota, peningkatan
kapasitas dan daya dukung air bersih, sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan
masyarakat, dan penyediaan perumahan/ pemukiman yang layak huni; terutama,
bagi masyarakat berpenghasilan rendah
4) Peningkatan kesadaran masyarakat tentang kelestarian lingkungan.
5) Peningkatan peran dan fungsi lembaga-lembaga sosial dan keagamaan dalam
upaya mengantisipasi bahaya Narkoba dan HIV/ AIDS.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4

G. Kota Sorong- Kota Wisata

205

H. Kota Ambon-Kota Pesisir


1)
2)

3)

4)
5)

Pengembangan Water Front City yang mengedepankan karakter kota yang


berbasis pesisir dan pantai sesuai kondisi lingkungan
Peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan perkotaan,
melalui peningkatan usaha ekonomi lokal, pengembangan klaster ekonomi lokal,
dan pengembangan produk-produkunggulan kota.
Pengembangan produk2 pendukung pariwisata kota Ambon (souvenir, kuliner,
keindahan alam, tarian, nyanyian dan budaya setempat, wisata agama) dan
pengembangan SDM pendukung pariwisata di perkotaan yang menghasilkan
tenaga yang mampu berinovasi dalam pengembangan pelayanan pariwisata kota
Ambon.
Pengembangan dan pengendalian ruang publik dengan menerapkan sistem
perpajakan insentif dan disinsentif yang adil dan berkelanjutan.
Pencegahan bahaya laten konflik dengan komunikasi efektif antara masyarakat
perkotaan dengan generasi muda perkotaan, serta membangun forum-forum
kota yang efektif untuk pembangunan kota Ambon.

BAB 4

206

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 4
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

207

BAB 5
Kebijakandan
danStrategi
StrategiPembangunan
PembangunanPerkotaan
PerkotaanNasional
Nasional
208 2Kebijakan

BAB 5

KERANGKA
KELEMBAGAAN
PERKOTAAN

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

209

KELEMBAGAAN PERKOTAAN

5.1

Permasalahan dan Tantangan

Perkotaan di Indonesia telah berkembang dengan sangat cepat dalam


beberapa dekade terakhir. Berbagai isu dan masalah pembangunan
perkotaan muncul seiring dengan perkembangan perkotaan tersebut.
Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh Pemerintah, baik Pusat
maupun Daerah dalam penyelesaian berbagai isu dan masalah
pembangunan perkotaan tersebut, salah satunya dalam bentuk
penguatan dan pembentukan kelembagaan. Dalam hal ini, diasumsikan
bahwa kelembagaan perkotaan akan menjadi faktor kunci dalam
melakukan penanganan isu dan tantangan pembangunan perkotaan,
termasuk didalamnya melalui penyiapan berbagai kerangka regulasi dan
kerangka pembiayaan yang dibutuhkan sehingga dapat mempercepat
penyelesaian berbagai isu dan masalah pembangunan perkotaan.

BAB 5

Fakta dilapangan, belum optimalnya kelembagaan pembangunan dan


pengelolaan perkotaan Indonesia saat ini yang ditandai dengan berbagai
macam masalah yang berdampak pada kurang optimalnya pelayanan
terhadap masyarakat. Permasalahan kelembagaan dan pengelolaan
pembangunan perkotaan antara lain terkait degan struktur kelembagaan,
kapasitas kelembagaan dan aparatur, serta tata kelola yang belum
berjalan secara partisipatif, transparan, dan akuntabel.

5.1.1 Kelembagaan Perkotaan di Tingkat Pusat


Permasalahan kelembagaan perkotaan di tingkat pusat, antara lain:
A. Struktur Kelembagaan
1. Belum ada lembaga di tingkat pusat yang secara khusus
menangani pembangunan perkotaan, baik untuk memonitor
maupun
mengkoordinasikan
pembangunan
perkotaan
sehingga pengelolaan pembangunan perkotaan secara
nasional belum berjalan dengan optimal;

210 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

B. Kapasitas Kelembagaan dan Aparatur


1. Rendahnya kapasitas kelembagaan dan aparatur terkait
pembangunan perkotaan
Masalah ini dapat dilihat dari perilaku aparat yang lambat,
terutama dalam mengikuti perkembangan teknologi, egovernement, paperless, efisiensi kerja, serta pola kerja yang
kompetitif.
Pemerintah
pun
cenderung
sulit
untuk
menggerakkan partisipasi masyarakat serta menciptakan iklim
yang kondusif guna merangsang peran swasta dalam
penyediaan pelayanan publik yang tidak dapat dipenuhi sendiri
oleh pemerintah.
2. Terbatasnya radius pelayanan pemerintah dalam pengelolaan
kawasan perkotaan
Terdapat jenis pelayanan publik perkotaan yang tidak dapat
dipisahkan hanya pada batas administrasi, terutama di
kawasan perkotaan yang melibatkan lintas administrasi
pemerintahan yang memerlukan pelayanan yang sama. Dalam
hal pengelolaan perkotaan, pemerintah provinsi maupun
kabupaten/kota saat ini hanya bekerja pada batas administrasi
semata yang pada akhirnya pelayanan publik bagi masyarakat
perkotaan hanya terbatas pada lingkup administrasi yang telah
ditetapkan. Kenyataannya pelayanan publik bagi masyarakat
perkotaan khususnya di kawasan perkotaan lintas administrasi
pemerintahan baik antar provinsi maupun kabupaten
memerlukan kerjasama antar daerah dalam rangka

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

2. Pengelolaan pembangunan perkotaan secara sektoral belum


mampu meningkatkan pelayanan publik di perkotaan secara
efektif dan efisien;
3. Tumpang tindih tugas dan fungsi antar lembaga yang saat ini
menangani pembangunan perkotaan, baik kementerian
maupun lembaga pemerintah non departemen;
4. Belum adanya institusi yang secara intensif menangani
pemeliharaan infrastruktur, sarana, dan prasarana perkotaan;
5. Belum adanya lembaga dan mekanisme anggaran yang dapat
membangun infrastruktur perkotaan secara terintegrasi serta
menjamin kondisi pelayanan dapat berjalan dengan baik;
6. Belum ada bentuk kerjasama antar kota terutama untuk
kawasan metropolitan yang berhasil.

211

pengelolaan berbagai pelayanan yang ada untuk meningkatkan


efisiensi pelayanan; dan
3. Belum dimilikinya visi dan misi untuk mengarahkan
pembangunan
perkotaan
secara
nasional
oleh
kementerian/lembaga yang terkait.
C. Tata Kelola
1. Rendahnya manajemen pelayanan perkotaan
Sampai sejauh ini, belum ada kesepakatan tentang
kelembagaan fungsi pemerintah serta kriterianya akibatnya
terjadi kekaburan tugas dan tanggung jawab instansi
pemerintah dalam pengelolaan kawasan perkotaan.Inefisiensi,
kelambatan, ketidakmerataan pelayanan, overhead cost yang
tinggi, serta ketidakpastian biaya yang harus dikeluarkan
masyarakat menjadi masalah manajemen pelayanan
perkotaan.
2. Kurangnya sinergi dan koordinasi antara lembaga di tingkat
pusat dengan lembaga di tingkat daerah yang terkait
pengelolaan pembangunan perkotaan.

5.1.2 Kelembagaan Perkotaan


Kabupaten/Kota

di

Tingkat

Provinsi

dan

BAB 5

Tidak hanya di tingkat pusat, kelembagaan perkotaan di daerah1(provinsi


dan kabupaten/kota) juga mengalami banyak permasalahan. Hal ini
terjadi sejak dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah dan munculnya
berbagai peraturan perundangan yang merupakan pelaksanaan dari
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Berbagai permasalahan kelembagaan perkotaan yang terjadi di daerah
antara lain:
A. Struktur Kelembagaan
1. Penyusunan struktur Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
hanya mengikuti pembagian urusan pemerintahan dan belum
mencerminkan prinsip efektivitas dan efisiensi pemerintah
1

Kelembagaan daerah adalah unsur-unsur pelaku pembangunan daerah yang terdiri dari
aparatur pemerintah daerah, pengusaha swasta dan BUMD, perguruan tinggi, lembaga
swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat dalam arti luas.Peranan pelaku
pembangunan tersebut sangat penting untuk menciptakan hubungan koordinasi yang
efektif dan efisiensi sesai dengan tugas, fungsi, serta kewenangannya masing-masing.

212 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

B. Kapasitas Kelembagaan dan Aparatur


1. Kapasitas Kelembagaan
a. Restrukturisasi Organisasi Perangkat Daerah
Permasalahan dan tantangan yang dihadapi adalah
mayoritas struktur organisasi masih gemuk atau tidak
sesuai dengan PP 41/2007. Di sisi lain, UU No 23 tahun
2014 menyebutkan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU)
tidak harus dialokasikan kepada pegawai terlebih dahulu,
namun kenyataan dilapangan, banyak daerah yang
menggunakan DAU untuk gaji pegawai, sehingga
anggaran untuk pembangunan infrastruktur serta
pelayanan publik yang lain sangat kurang. Seharusnya UU
23 tahun 2014 dapat mendorong perangkat daerah yang
porposional dengan kebutuhan pembangunan dan
pelayanan publik.
b. Penataan Kewenangan Antar Tingkat Pemerintahan
Pembagian urusan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
diatur dalam PP Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan
Daerah
Provinsi,
dan
Pemerintahan
Daerah
Kabupaten/Kota. Pembagian urusan tersebut didasarkan
atas kriteria eksternalitas, efisiensi, dan akuntabilitas yang
membagi kewenangan pemerintahan dalam urusan yang
sifatnya mutlak dan urusan bersama. Pembagian urusan di
beberapa sektor masih kurang jelas dan bahkan
membingungkan menimbulkan konsekuensi potensi tarik
menarik kepentingan atau tolak menolak kewajiban pada
urusan bersama, inkonsistensi pembagian bidang, konflik
pengaturan organik serta hambatan kapasitas daerah
dalam menerapkan pembagian urusan tersebut.
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

daerah. Hal ini terjadi pada instansi-instansi yang terkait


dengan pembangunan perkotaaan dimana kompleksitas dan
dinamika perkotaan tidak diimbangi dengan adanya
kelembagaan yang secara khusus menangani dan memiliki
analisis beban kerja yang optimal.
2. Belum tersedianya lembaga yang secara khusus menangani
pembangunan perkotaan di tingkat kabupaten/kota yang
melibatkan SKPD.

213

c. Penataan Daerah
d. Kerjasama Daerah
Pemerintah
Daerah
masih
belum
cukup
mempertimbangkan Kerjasama Antar Daerah sebagai
salah satu inovasi dalam penyelenggaraan pembangunan,
terutama untuk infrastruktur perkotaan. Salah satu
penyebabnya adalah ego daerah, dimana konsep otonomi
daerah dipandang dengan menggunakan sudut pandang
yang sempit, sehingga Pemerintah Daerah lebih memilih
bekerja sama dengan swasta.
Seharusnya Kerjasama Daerah lebih memberikan
keuntungan dalam penyediaan pelayanan publik karena
memenuhi skala ekonomi, namun sayangnya pelayanan
publik yang diusahakan melalui Kerjasama Antar Daerah
lebih banyak merugi dan disubsudi oleh APBD, sehingga
kurang menarik untuk diusahakan.
Sampai sekarang, Peran Pemerintah dalam Kerjasama
Daerah adalah dengan menyusun PP No 50 tahun 2007
tentang Tata Cara Kerjasama Antar Daerah.

BAB 5

e. Harmonisasi Peraturan Perundangan


Sejak ditetapkan UU Nomor 32 Tahun 2004 tantang
Pemerintah
Daerah,
ditemukan
masih
banyak
ketidakharmonisan
dan
ketidaksinkronan
berbagai
peraturan perundangan antara sektor dengan daerah,
antara lain : (1) UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) terkait
dengan penetapan RPJPD, RPJMD ataupun RKPD. (2)
UU Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan terkait
dengan kewenangan provinsi/kab/kota dalam pengukuhan
kawasan hutan; (3) UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan, terkait dengan kewenangan perizinan
pertambangan. Di sisi lain, pemerintah daerah diberikan
kesempatan untuk meningkatkan penerimaan daerahnya,
baik melalui pajak maupun retribusi daerah (taxing power).
Termasuk diberikan kewenangan untuk menyusun
regulasinya sendiri sesuai dengan tata urutan penyusunan
peraturan perundangan.

214 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

f.

Peningkatan Pelayanan Publik


Dalam menciptakan pelayanan publik yang berkualitas dan
memberikan kepuasan bagi masyarakat, maka banyak
aspek yang harus dibenahi antara lain (i) Peningkatan
kualitas aparatur, (ii) sistem prosedur yang efektif dan
efisien, (iii) fasilitas yang menunjang kinerja pelayanan
publik.
Pelayanan publik, selain tanggungjawab pemerintah
kepada masyarakat, juga menjadi dasar konsep good
governance. Jika pelayanan publik yang diberikan
pemerintah daerah itu memiliki kualitas yang baik, maka
diharapkan tingkat kepercayaan masyarakat akan
meningkat.

2. Kapasitas Aparatur
a. Masih rendahnya kapasitas kelembagaan dan aparatur di
instansi-instansi yang saat ini menangani bidang
perkotaan. Kondisi ini dicerminkan dari beberapa hal,
seperti: (i) kurangnya pemahaman para penyusun
dokumen perencanaan daerah yang berakibat pada tidak
jelasnya visi dan misi perwujudan kota masa depan yang
ideal; (ii) rendahnya kualitas manajemen penanganan
masalah
dan
pembangunan
perkotaan
secara
keseluruhan; (iii) tidak terintegrasinya perencanaan dengan
penganggaran; (iv) kurang responsifnya Pemerintah
Daerah terhadap berbagai masalah perkotaan yang terjadi;
(v) minimnya koordinasi antar instansi pemerintah; serta

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

Meski demikian, di dalam masa transisi banyak ditemukan


Peraturan Daerah (Perda) bermasalah meskipun saat ini
telah diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Perda dianggap
bermasalah
jika:
(1)
bertentangan
menyangkut
kepentingan umum; (2) mengakibatkan ekonomi biaya
tinggi; (3) bertentangan dengan peraturan perundangan
yang lebih tinggi. Dengan demikian perda bermasalah
akan menyebabkan daya saing serta iklim usaha daerah
semakin rendah dan berimplikasi pada investasi di daerah
dari sektor swasta.

215

(vi) kurangnya pelibatan pelaku perkotaan non pemerintah


dalam setiap tahapan pembangunan perkotaan.
b. Kurangnya pemahaman Pemerintah Daerah dalam hal
kerjasama dengan pelaku perkotaan non pemerintah dan
dengan daerah lain, baik dalam maupun luar negeri. Dalam
era otonomi daerah, kelembagaan perkotaan di tingkat
daerah dituntut untuk kreatif dalam membangun jaringan
kerjasama
(networking)
yang
diperlukan
dalam
membangun perkotaan maupun menyelesaikan berbagai
permasalahan yang terjadi.
c. Kualitas aparatur negara masih merupakan permasalahan
serius jika dikaitkan dengan kinerja pemerintah daerah
yang secara umum dipandang masih rendah.
Distribusi aparatur negara, obyektivitas pemerintah daerah
dalam penempatan pegawai sesuai dengan kompetensi dasar
dan bidang masing-masing pegawai. Masih sedikit jumlah
pemerintah daerah yang secara serius melakukan tes kelayakan
dan kepatutan (fit and proper test) dalam rangka penempatan
ataupun promosi pegawai.
C. Tata Kelola

BAB 5

1. Tidak adanya kebutuhan kelembagaan yang disebabkan peran


pelayanan bersama (Share Service Based) karena tidak ada
yang mengerjakannya.
2. Manajemen keuangan, permasalahan yang sering muncul
dalam menejemen keuangan adalah tingkat keterbukaan dalam
distribusi dan pertanggungjawaban keuangan. Manajemen
keuangan
masih
menunjukkan
kecenderungan
pada
sentralisasi.

5.1.3 Kelembagaan
Perkotaan

Perkotaan

Pengelolaan

Kawasan

Selain pada level


pemerintahan,
permasalahan pengelolaan
pembangunan juga telah berkembang pada level lebih dari satu
administrasi pemerintah baik antar pemerintah provinsi, antar
kabupaten/kota maupun kawasan perkotaan baru yang dikelola swasta.

216 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Permasalahan kelembagaan pada pengelolaan kawasan perkotaan,


antara lain sebagai berikut:

Kawasan Perkotaan dalam Kabupaten


1. Sistem kelembagaan kawasan perkotaan kecil yang rata-rata
terletak hanya pada satu kecamatan dan tidak mempunyai
kelengkapan untuk menangani masalah perkotaan, hal ini
disebabkan karena sistem pemerintahan di Indonesia tidak
memberikan peluang untuk variasi bentuk kecamatan. Sebagai
akibatnya kelengkapan perangkat dalam kecamatan baik itu di
daerah pedesaan dengan daerah yang sudah bersifat
perkotaan diciptakan sama. Begitu juga hal yang sama untuk
kawasan perkotaan besar dan perkotaan sedang.
2. Semua kebutuhan pelayanan pada kecamatan dilayani pada
tingkat kabupaten. Padahal kabupaten merupakan sistem
kelembagaan pemerintahan yang melayani dengan karakter
regional, artinya permasalahan yang ditangani adalah dalam
kacamata regional. Sebagai contoh, kelengkapan dalam SKPD
sektor pekerjaan umum di kabupaten tidak akan dibagi dalam
konteks perkotaan karena jika dibagi maka bentuk
kelembagaan akan menjadi sangat gemuk. Untuk lebih
jelasnya, pada kabupaten tidak mungkin untuk dikembangkan
dinas pertamanan,dinas kebersihan, dinas tata kota karena
memang karakter sistem kelembagaan kabupaten lebih pada
menangani permasalahan regional. Pada tingkat kecamatan,
tekanan permasalahan ada pada penanganan permasalahan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

Kawasan Metropolitan dan Megapolitan


Dalam upaya pengelolaan kawasan perkotaan megapolitan dan
metropolitan di Indonesia, pemerintah telah membentuk Badan
Kerjasama
Pembangunan
(BKSP)
dalam
pengelolaan
pembangunannya.
Pengelolaan
pembangunan
kawasan
megapolitan dan metropolitan dapat melibatkan lebih dari satu
provinsi, kabupaten, dan kota. Pembentukan kelembagaan dalam
pengelolaan pembangunan perkotaan megapolitan dapat
melibatkan peran pemerintah pusat untuk kasus lintas provinsi,
dan pemerintah daerah untuk kasus satu provinsi namun lintas
kabupaten/kota.

217

penyediaan prasarana dan sarana perkotaan yang tidak lagi


sama dengan wilayah pedesaan.
Kawasan perkotaan baru
Berkembang pesatnya permukiman baru sebagai bagian dari
urbanisasi
menciptakan
kawasan-kawasan
permukiman
baru.Kawasan permukiman baru ini dapat terbentuk karena
keterlibatan swasta maupun dari masyarakat.Dampak munculnya
kawasan perkotaan baru tanpa intervensi pemerintah ini adalah
permasalahan siapa yang nantinya mengelola sarana prasarana
publik kawasan perkotaan kedepannya.

BAB 5

Kelembagaan Perkotaan Masa Depan


Bentuk kelembagaan perkotaan masa depan yang diharapkan,
adalah kelembagaan yang dapat meminimalisir permalahan yang
terjadi di perkotaan, yang dapat menangani isu strategis,
memberikan pelayanan publik secara optimal dan mendukung
pembangunan perkotaan sehingga dapat bersaing secara global
dengan kota-kota di negara maju.
Untuk mewujudkan Kota Berkelanjutan 2045 yang merupakan visi
perwujudan kota masa depan di Indonesia, diperlukan
kelembagaan perkotaan yang lebih baik. Kelembagaan tersebut
harus dapat bersinergi dari tingkat pusat hingga tingkat daerah
dalam setiap tahapan pembangunan mulai dari tahap penyusunan
kebijakan, perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan sampai
dengan tahap evaluasi. Selain itu, kelembagaan perkotaan juga
harus mampu menyelesaikan berbagai siu strategis yang sedang
terjadi sekaligus memberikan pelayanan publik dengan optimal.
Oleh karena itu, kelembagaan perkotaan yang eksisting perlu
diperkuat dan ditata kembali.

5.2

Asumsi

Untuk mewujudkan Kota Berkelanjutan 2045 yang merupakan visi


perwujudan kota masa depan di Indonesia, diperlukan kelembagaan
perkotaan yang lebih baik. Kelembagaan tersebut harus dapat bersinergi
dari tingkat pusat hingga tingkat daerah dalam setiap tahapan
pembangunan mulai dari tahap penyusunan kebijakan, perencanaan dan
penganggaran, pelaksanaan sampai dengan tahap evaluasi.Selain itu,

218 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

kelembagaan perkotaan juga harus mampu menyelesaikan berbagai isu


strategis yang sedang terjadi sekaligus memberikan pelayanan publik
dengan optimal. Hal yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan
kelembagaan yaitu:
1. Regulasi di pusat dan daerah dapat mengakomodasi perubahan
dan/atau penguatan kelembagaan;
2. Kerjasama daerah harus berprinsip efisiensi dan menguntungkan
bagi penyediaan pelayanan bersama; dan
3. Otonomi daerah akan tetap berjalan dan mendorong kemandirian
daerah.

5.3

Fokus Kebijakan

1. Peningkatan kerjasama antar daerah dalam pengelolaan kawasan


perkotaan;
2. Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dalam
pelayanan
publik,
pengelolaan
lingkungan
perkotaan,
pengembangan kemitraan dengan swasta, pengembangan
ekonomi, dan pengelolaan aset daerah;
3. Pembentukan lembaga khusus pengelola kawasan perkotaan
dalam kabupaten dan lintas kabupaten/kota; dan
4. Pembentukan lembaga khusus sektor prioritas dan/atau badan
kerjasama pengelola kawasan metropolitan dan megapolitan.

5.4

BAB 5

Untuk mengembangkan pembangunan perkotaan nasional, langkah yang


akan ditempuh antara lain :

Kebijakan dan Strategi Kelembagaan Perkotaan

Kebijakan kelembagaan pembangunan perkotaan diarahkan menjadi dua


kebijakan yaitu:
A. Pembentukan komite atau tim koordinasi pembangunan perkotaan
dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam rangka
implementasi kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan dari
tingkat pusat ke tingkat daerah.
Strategi:

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

219

1. Penguatan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat


pusat;
2. Pembentukan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat
provinsi;
3. Pembentukan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat
Kabupaten/kota; dan
4. Forum Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pulau.
B. Pembentukan badan kerjasama pembangunan perkotaan yang
sifatnya lintas daerah/lintas administrasi pemerintahan dalam
rangka
menyelesaikan
masalah-masalah
pembangunan
perkotaan lintas administrasi pemerintahan.
Strategi:
1. Pembentukan badan kerjasama pembangunan perkotaan di
kawasan megapolitan dalam satu provinsi;
2. Pembentukan badan kerjasama pembangunan perkotaan di
kawasan megapolitan antar provinsi; dan
3. Pembentukan SKPD Kewilayahan untuk pembangunan
perkotaan di kawasan perkotaan Besar, perkotaan sedang dan
perkotaan kecil.

BAB 5

Dari kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan diatas, maka


roadmap pengembangan kelembagaan perkotaan dapat dilihat seperti
dibawah ini :

220 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Gambar 5.1

Roadmap Pengembangan Kelembagaan Perkotaan

5.5

Bentuk Kelembagaan Perkotaan

BAB 5

Sumber: Bappenas, 2014.

Bentuk kelembagaan pembangunan perkotaan dari tingkat pusat sampai


ke tingkat kabupaten/kota dapat dilihat padatabel dan gambar diagram
seperti dibawah ini.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

221

Tabel 5.1
o

Posisi Kota Jakarta dalam Indeks Kota Hijau di Asia

N
Tingkat

1.

Pusat

2.

Provinsi

3.

Kabupaten/Kota

4.
5.

Kawasan Perkotaan
Wilayah

Gambar 5.2

Bentuk Kelembagaan
Jangka Pendek : penguatan TKPPN
Jangka Menengah : Pembentukan Komite Pembangunan
Perkotaan Nasional.
Jangka Panjang : Kementrian Perkotaan
Komite Pembangunan Perkotaan Provinsi
Komite
Pembangunan
Perkotaan
Provinsi
Kabupaten/Kota
Badan Kerjasama Antar Daerah
Forum Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pulau

Kelembagaan Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5
5.5.1 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pusat
Strategi kelembagaan pembangunan perkotaan ditingkat pusat, dibagi
menjadi tiga tahap yaitu:
1. Jangka pendek dengan menguatkan peranan TKPPN;
2. Jangka menengah dengan membentukan Komite Percepatan
Pembangunan Perkotaan Nasional (KP3N);

222 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3. Jangka
panjang
dengan
Pembangunan Perkotaan.

pembentukan

Kementerian

Pengembangan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat pusat


dijelaskan sebagai berikut.
1.

Penguatan Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional


(TKPPN)

Sejak Tahun 2010 di tingkat pusat telah dibentuk Tim Koordinasi


Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN) melalui Surat Keputusan
Menteri
Perencanaan
Pembangunan
Nasional/Kepala
Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Tim ini terdiri atas
kementerian/lembaga yang terkait dengan pembangunan perkotaan, yaitu
terdiri dari:
1.
2.
3.
4.
5.

Kementerian PPN/Bappenas;
Kementerian Pekerjaan Umum;
Kementerian Dalam Negeri;
Kementerian Perumahan Rakyat;
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian;

1. Kementerian Keuangan;
2. Kementerian Perhubungan;
3. Kementerian Sosial;
4. Kementerian Kesehatan;
5. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
6. Badan Pertanahan Nasional (BPN);
7. Badan Informasi Geospasial (BIG);
8. Badan Pusat Statistik (BPS).

BAB 5

Dalam rangka memperkuat TKPPN kedepan diperlukan tambahan


pelibatan dari beberapa instansi di tingkat pusat kedalam TKPPN,
sebagai berikut:

Selanjutnya dalam rangka memperkuat koordinasi dan sinergi antar


Kementerian/Lembaga yang tergabung dalam TKPPN, perlu disusun
Pedoman Mekanisme dan Tata Kerja TKPPN. Pedoman tersebut
bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja TKPPN
dengan cara membangun sistem kelembagaan dan mendeskripsikan
kerja dari setiap anggota TKPPN untuk melaksanakan tugas dan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

223

tanggung jawabnya dengan optimal. Tugas dan tanggungjawab TKPPN


antara lain:
a. Melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan
pembangunan perkotaan;
b. Melaksanakan dan mengembangkan sumber data dan informasi
pembangunan perkotaan, contoh-contoh pembelajaran dan
konsep-konsep kebijakan pembangunan perkotaan;
c. Mengembangkan indikator, kriteria, dan konsep-konsep
pembangunan
perkotaan
yang
diperlukan
untuk
mengembangkan pengelolaan perkotaan;
d. Mensosialisasikan konsep-konsep kebijakan dan aturan,
pendekatan penyelesaian permasalahan, dan contoh-contoh
pembelajaran dalam pembangunan perkotaan;
e. Melaksanakan evaluasi dan reviu kebijakan-kebijakan perkotaan,
menyusun kebijakan, tata aturan dan kesepakatan bersama
dalam rangka menyelesaikan masalah pembangunan perkotaan;
dan
f. Melakukan pelaporan hasil pemantauan dan evaluasi terhadap
kebijakan-kebijakan perkotaan.

BAB 5

Kelemahan TKPPN saat ini yaitu ditetapkan oleh Menteri PPN/Kepala


Bappenas sehingga TKPPN beranggotakan para pejabat eselon I, eselon
II, eselon III dan pejabat perencana.Dengan demikian, dari sisi politis
TKPPN ini tidak kuat dalam pengambilan keputusan yang melibatkan
banyak sektor.
2.

Pembentukan Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan


Nasional (KP3N)

Untuk mengurangi kelemahan TKPPN, kekuatan politik TKPPN perlu


ditingkatkan dengan cara membentuk Komite Pembangunan Perkotaan
Nasional (KP3N) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres).
Diharapkan pengambilan keputusan lintas sektoral dapat dilakukan
dengan cepat dan kuat di tingkat menteri.
Tugas KP3N:
a. Melakukan koordinasi perencanaan program dan kegiatan dalam
rangka pelaksanaan KSPPN;

224 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

b.

c.
d.

Menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka


penyelesaian permasalahan pembangunan perkotaan dan
hambatan dalam pelaksanaan KSPPN;
Mengkoordinasikan dan memantau pelaksanaan KSPPN oleh
menteri terkait dan pemerintah daerah;
Merumuskan kebijakan pelaksanaan percepatan pemenuhan
SPP dan kota masa depan.

Fungsi KP3N:
a.

b.

Mengoordinasikan seluruh anggota KP3N untuk menjabarkan


KSPPN kedalam dokumen perencanaan yang lebih operasional
bagi pembangunan perkotaan nasional;
Mensinergikan peraturan antar kementerian/lembaga agar tidak
terjadi tumpang tindih peraturan.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Kementerian PPN/Bappenas;
Kementerian Pekerjaan Umum;
Kementerian Dalam Negeri;
Kementerian Perumahan Rakyat; dan
Kementerian Koordinator Perekonomian
Kementerian Keuangan;
Kementerian Perhubungan;
Kementerian Sosial;
Kementerian Kesehatan;
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
Badan Pertanahan Nasional (BPN);
Badan Informasi Geospasial (BIG);
Badan Pusat Statistik (BPS).

BAB 5

Anggota KP3N:

Struktur KP3N dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

225

Gambar 5.3 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan


Nasional (KP3N)

3.

Pembentukan Kementerian Pembangunan Perkotaan

Saat ini, peran pemerintah pusat dalam penanganan pembangunan


perkotaan masih dilakukan secara sektoral dan bersifat parsial.Dalam
pelaksanaannya TKPPN juga masih belum efektif mengingat
kompleksitas permasalahan di bidang perkotaan baik tugas dan
kewenangan dari masing-masing anggota TKPPN.

BAB 5

Di tingkat pusat, Kementerian PPN/Bappenas melakukan pengembangan


kebijakan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum melakukan
pembangunan prasarana dan sarana dasar perkotaan, Ditjen Penataan
Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pembinaan penataan
ruang, pembangunan perumahan rakyat oleh Kementerian Perumahan
Rakyat, Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri
dalam hal pembinaan dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah,
manajemen transportasi oleh Kementerian Perhubungan, perencanaan
jaringan telekomunikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika
dan pariwisata oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,
sementara itu hal-hal lainnya ditangani oleh K/L yang lain.
Pendekatan sektoral diatas menjadikan pembangunan perkotaan kurang
berjalan dengan efektif. Pembangunan perkotaan sebenarnya bukan
merupakan pembangunan sektoral, yang dapat ditangani secara terpisah
tanpa adanya keterpaduan dan berbasis kewilayahan.Sebagai contoh

226 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Disamping itu, pembangunan perkotaan juga merupakan pembangunan


lintas sektor yang membutuhkan koordinasi dan sinergi antar sektorsektor terkait dalam suatu kesatuan pembangunan perkotaan.Oleh
karena itu, dalam rangka mewujudkan pembangunan perkotaan yang
lebih baik, kedepan perlu dibentuk sebuah lembaga di tingkat pusat yang
dapat mengoordinasikan pembangunan sektor-sektor perkotaan tersebut
secara terpadu, efektif, dan efisien.Salah satu bentuk yang dapat dipilih
adalah Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan/Kemen
PPP (contohnya adalah Ministry of Housing and Urban
Development/HUD). Kementerian ini merupakan lembaga khusus yang
mengoordinasikan sektor-sektor perumahan mulai dari penyusunan
kebijakan,
perencanaan,
penganggaran,
pembangunan,
dan
pembiayaan, serta penyusunan peraturan dan koordinasi pelaksanaan
pembangunan perkotaan. Namun, dalam konteks perkotaan, lembaga ini
bukan sebagai penyedia prasarana dan sarana perkotaan mengingat
sejak era otonomi daerah, penyediaan prasarana dan sarana perkotaan
merupakan kewenangan dan tanggung jawab pemerintah daerah.
Pembentukan lembaga baru diatas perlu memperhatikan peraturan
perundangan yang sudah ada, termasuk tugas dan kewenangan K/L di
tingkat pusat eksisting. Oleh karena itu, sebelum dibentuk, perlu
dilakukan kajian yang lebih mendalam terhadap hal-hal berikut:

BAB 5

penanganan perumahan yang sebenarnya merupakan bagian dari


komponen perkotaan, tetapi saat ini penanganannya masih dilakukan
secara terpisah serta belum terkait dengan pembangunan perkotaan
secara menyeluruh. Berbagai kendala serta kurang efektif dan efisien
dalam pembangunan perkotaan menimbulkan berbagai masalah baru
dalam perkembangannya.

Pembentukan
Susunan Organisasi
Tugas Pokok dan Fungsi
Kewenangan
Hubungan kerja secara internal
Hubungan kerja dengan instansi terkait
Sumber Pembiayaan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

227

Dalam tugasnya, Kementerian Perkotaan ini merupakan badan yang


menyusun perencanaan, kebijakan, program strategis, kegiatan sampai
pada bagian teknis.Sehingga tugas pemerintah daerah lebih mudah
mendetailkan perencanaan pembangunan perkotaan di daerahnya sesuai
dengan isu strategis masing-masing daerah.
Dalam pelaksanakan pembangunan perkotaan di tingkat nasional dibantu
oleh Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) Tingkat Nasional
sehingga diharapkan kelembagaan pembangunan perkotaan menjadi
lebih kuat perannya yang melibatkan stakeholder non-pemerintah.
Struktur Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) Tingkat
Nasional
Berasal dari beberapa akademisi di
Akademisi
: seluruh provinsi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal dari lembaga riset ataupun praktisi
Tenaga Ahli
:
yang fokus dalam bidang perkotaan.
Berasal dari para pembangun infrastruktur
Swasta
:
perkotaan, perbankan non pemerintah.
Seluruh masyarakat kota di Indonesia
Masyarakat
:
yang diwakili oleh DPR atau LSM.

BAB 5

5.5.2 Kelembagaan
Provinsi

Pembangunan

Perkotaan

di

Tingkat

Dalam melaksanakan pembangunan perkotaan di tingkat provinsi, maka


dibentuklah Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi
(KP3P). Pembentukan KP3P dibentuk melalui surat keputusan gubernur
yang beranggotakan kepala SKPD terkait. Struktur lembaga KP3P
digambarkan sebagai berikut.
Tabel 5.2 Struktur Kelembagaan KP3P
Struktur
Lembaga
Ketua
Sekretaris

:
:

Anggota

Anggota
Gubernur
Kepala Bappeda
Kepala Dinas Pekerjaan Umum
Kepala Dinas Cipta Karya
Kepala Dinas Perdagangan

228 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Struktur
Lembaga

Anggota

Tugas KP3P:
a. Menyusun Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Daerah
(KSPPD)
Provinsi
sebagai
pedoman
dalam
melaksanakan pembangunan perkotaan di daerah;
b. Sinergi pembangunan antar kota/kabupaten dengan jangkauan
pelayanan dalam provinsi;
c. Melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan dan
pembangunan nasional;
d. Melaksanakan dan mengembangkan sumber data dan informasi
pembangunan perkotaan;
e. Mengawal pembentukan Badan Kerja Sama Pembangunan
(BKSP) perkotaan yang selanjutnya akan ditetapkan dalam
Peraturan Presiden jika kawasan perkotaan terdiri lebih dari satu
provinsi (terutama kawasan megapolitan dan metropolitan);
f. Mensosialisasikan konsep-konsep kebijakan dan aturan,
pendekatan penyelesaian masalah dan contoh-contoh
pembelajaran dalam pembangunan perkotaan; dan
g. Melaksanakan evaluasi dan reviu kebijakan perkotaan,
menyusun kebijakan, tata aturan dan kesepakatan bersama

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

Kepala Dinas Perhubungan


Kepala Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Penanaman Modal
Kepala Dinas Pendapatan
Badan Pusat Statistik Provinsi
Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3)
Berasal dari beberapa akademisi di
Akademisi
: seluruh provinsi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal dari lembaga riset ataupun
Tenaga Ahli
: praktisi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal
dari
para
pembangun
Swasta
: infrastruktur perkotaan, perbankan non
pemerintah.
Seluruh masyarakat kota di Indonesia
Masyarakat
:
yang diwakili oleh DPR atau LSM.

229

dalam rangka menyelsaikan masalah pembangunan perkotaan


daerah.

Fungsi KP3P:
a. Merumuskan kebijakan dan strategi dalam rangka koordinasi
pelaksanaan pembangunan perkotaan ditingkat nasional dan
pemerintah daerah;
b. Mengoordinasikan dan memantau pelaksanaan kebijakan dan
strategi nasional pembangunan perkotaan oleh menteri terkait
dan pemerintah daerah;
c. Merumuskan kebijakan pelaksanaan kewajiban pemenuhan SPP
dan perwujudan kota masa depan di kota dan kawasan
perkotaan;
d. Mengoordinasikan upaya pemecahan berbagai masalah yang
terkait dengan percepatan penyediaan infrastruktur perkotaan di
daerah; dan
e. Mengoptimalkan peran serta badan usaha swasta di daerah
dalam pembangunan perkotaan daerah.
Struktur KP3P dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

BAB 5

Gambar 5.4 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan


Provinsi (KP3P)

230 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

5.5.3 Kelembagaan Pembangunan


Kabupaten/Kota

Perkotaan

di

Tingkat

Pembentukan
Komite
Percepatan
Pembangunan
Perkotaan
Kabupaten/Kota (KP3K) dibentuk melalui surat keputusan bupati/walikota
yang beranggotakan kepala SKPD terkait. Struktur lembaga KP3K
digambarkan sebagai berikut:
Tabel 5.3 Struktur Kelembagaan KP3K
Anggota

: Bupati
: Kepala Bappeda
Kepala Dinas Pekerjaan Umum
Kepala Dinas Cipta Karya
Kepala Dinas Perdagangan
Kepala Dinas Perhubungan
Anggota
: Kepala Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Penan Modal
Kepala Dinas Pendapatan
Badan Pusat Statistik Provinsi
Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3)
Berasal dari beberapa akademisi di kota
Akademisi
:
yang fokus dalam bidang perkotaan.
Berasal dari lembaga riset ataupun
Tenaga Ahli
: praktisi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal
dari
para
pembangun
Swasta
: infrastruktur perkotaan, perbankan non
pemerintah.
Seluruh masyarakat kota di Indonesia
Masyarakat
:
yang diwakili oleh DPRD atau LSM.

BAB 5

Struktur Lembaga
Tim Pelaksana
Ketua
Sekretaris

Tugas KP3K:
a. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan KPPN dan KP3P;
b. Menangani permasalahan kawasan perkotaan yang lintas batas
administratif kecamatan dalam satu wilayah kabupaten;
c. Mengelola kawasan perkotaan dan mengoptimalkan peran serta
masyarakat dan badan usaha swasta;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

231

d. Memberi pertimbangan kepada bupati dalam kebijakan


operasional, implementasi kebijakan dan pemberdayaan
masyarakat;
e. Merusumuskan dan memberikan rekomendasi terhadap
perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan serta
isu strategis kawasan perkotaan;
f. Terlibat dalam monitoring dan evaluasi pembangunan perkotaan;
dan
g. Mengawal pembentukan Badan Kerja Sama Pembangunan
(BKSP) perkotaan lintas kabupaten/kota.
Fungsi KP3K:
a. Koordinasi antara KP3N dan KP3P;
b. Memberikan konsultasi kepada Walikota;
c. Membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pembangunan perkotaan; dan
d. Melaporkan kegiatan pembangunan perkotaan di wilayahnya
kepada KP3N.
Struktur KP3P dapat dilihat pada Gambar 5.5 dibawah ini.

BAB 5

232 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Gambar 5.5 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan


Kabupaten/Kota (KP3K)

Badan Kerjasama Pembangunan Perkotaan merupakan badan teknis


yang berwenang untuk melakukan kerjasama antar daerah untuk
menyelesaikan permasalahan lintas daerah maupun melakukan
pembangunan antar wilayah.Badan kerjasama antar daerah ini dibentuk
melalui keputusan Kepala Daerah, namun perjanjian kerjasama tersebut
dapat dilakukan oleh SKPD yang terkait dan bertanggungjawab kepada
Komite Pembangunan Perkotaan Daerah. Badan Kerjasama
Pembangunan Daerah, menurut PP No 50 Tahun 2007, daerah yang
bekerjasama harus memiliki kesamaan isu, kebutuhan maupun
permasalahan dan ditunjang oleh adanya pendanaan, permintaan dari
masyarakat dan komitmen dari pemerintah daerah yang terkait. Kepala
Daerah dapat menerbitkan Surat Kuasa untuk penyelesaian rancangan
bentuk kerjasama dengan sepengetahuan Komite Pembangunan
Perkotaan dan pelaksanaan perjanjian kerjasama dapat dilakukan oleh
SKPD yang terkait.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

5.5.4 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Kawasan


Perkotaan

233

A. Badan
Kerjasama
Pembangunan
Kawasan
Megapolitan dan Metropolitan dalam Satu Provinsi

Perkotaan

Bentuk badan kerjasama pembangunan kawasan perkotaan megapolitan


dan metropolitan dalam satu provinsi akan melibatkan lebih dari satu
pemerintah kabupaten/kota maka dari itu diperlukan satu badan
kerjasama dalam pengelolaan kawasan perkotaan megapolitan dan
metropolitan.
Tabel 5.4

Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan Perkotaan


Megapolitan dan Metropolitan dalam Satu Provinsi

Struktur Lembaga
Ketua
Sekretaris

BAB 5

Keterangan
: Eselon IA
: Eselon IB
Kepala Dinas Pekerjaan Umum
Kepala Dinas Cipta Karya
Kepala Dinas Perdagangan
Kepala Dinas Perhubungan
Anggota
: Kepala Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Penanaman Modal
Kepala Dinas Pendapatan
Badan Pusat Statistik Provinsi
Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3)
Berasal dari beberapa akademisi di
Akademisi
: provinsi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal dari praktisi yang fokus dalam
Tenaga Ahli
:
bidang perkotaan.
Berasal dari para pembangun infrastruktur
Swasta
:
perkotaan, perbankan non pemerintah.
Seluruh masyarakat kota di Indonesia yang
Masyarakat
:
diwakili oleh DPRD atau LSM.

Tugas BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan dalam


Satu Provinsi:
a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
kerjasama secara tepat dan berhasil;

234 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam


pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan dan
metropolitan;
c. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan nasional;
d. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus
antara
pihak-pihak pelaksana pembangunan kawasan
megapolitan dan metropolitan;
e. Mengembangkan
dan
mengendalikan
pelaksanaan
pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan dan
metropolitan;
f. Merencanakan dan mengendalikan pengembangan jangka
panjang wilayah megapolitan beserta prasarananya dalam
kerjasama dengan instansi yang bersangkutan;
g. Melakukan koordinasi pembentukan Bank Tanah Regional
(Ragional Land Banking) dalam bentuk Badan Layanan Umum
(BLU) serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya; dan
h. Melakukan
koordinasi
dan
pengendalian
Pemilikan,
Penguasaan, Penggunaan dan Pemanfaatan (P4T) dalam skala
besar oleh pihak swasta.

a. Melaksanakan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan


nasional;
b. Pengelolaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, hukum
dan hubungan masyarakat;
c. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan
kegiatan pembangunan kawasan perkotaan; dan
d. Pelaksanaan penjaminan dan pemeliharaan kelestarian
lingkungan.

BAB 5

Fungsi BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan dalam


Satu Provinsi:

B. Badan Kerjasama Pembangunan Perkotaan Megapolitan dan


Metropolitan Antar Provinsi
Bentuk badan kerjasama pembangunan perkotaan megapolitan dan
metropolitan antar provinsi sedikit lebih kompleks jika dibandingkan
dengan hanya satu provinsi.Badan kerjasama antar provinsi melibatkan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

235

lebih dari satu


kabupaten/kota.
Tabel 5.5

provinsi

dan

juga

lebih

dari

satu

pemerintah

Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan Perkotaan


Megapolitan dan Metropolitan Antar Provinsi

Struktur Lembaga
Ketua
Sekretaris

Anggota
Eselon IIA
Eselon IIB
Kepala Dinas Pekerjaan Umum
Kepala Dinas Cipta Karya
Kepala Dinas Perdagangan
Kepala Dinas Perhubungan
Anggota
: Kepala Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Penanaman Modal
Kepala Dinas Pendapatan
Badan Pusat Statistik Provinsi
Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3)
Berasal dari beberapa akademisi di
Akademisi
: provinsi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal dari praktisi yang fokus dalam
Tenaga Ahli
:
bidang perkotaan.
Berasal dari para pembangun infrastruktur
Swasta
:
perkotaan, perbankan non pemerintah.
Seluruh masyarakat kota di Indonesia
Masyarakat
:
yang diwakili oleh DPRD atau LSM.
:
:

BAB 5

Tugas BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan Antar


Provinsi:
a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
secara tepat dan berhasil;
b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam
pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan dan
metropolitan;
c. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan nasional;
d. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus
antara pihak-pihak pelaksana pembangunan kawasan
megapolitan dan metropolitan lintas pemerintah;
e. Mengembangkan
dan
mengendalikan
pelaksanaan
pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan;

236 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

f.

Merencanakan dan mengendalikan pengembangan jangka


panjang wilayah megapolitan beserta prasarananya dalam
kerjasama dengan instansi yang bersangkutan;
g. Melakukan koordinasi pembentukan Bank Tanah Regional
(Ragional Land Banking) dalam bentuk badan layanan umum
(BLU) serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya; dan
h. Melakukan
koordinasi
dan
pengendalian
Pemilikan,
Penguasaan, Penggunaan dan Pemanfaatan (P4T) dalam skala
besar oleh pihak swasta.
Fungsi BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan Antar
Provinsi:
a. Pelaksanaan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan
nasional;
b. Pengelolaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, hukum
dan hubungan masyarakat; dan
c. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan
kegiatan pembangunan kawasan perkotaan.

Pengelolaan pembangunan kawasan perkotaan besar yang meliputi lebih


dari satukecamatan, termasuk didalamnya pengelolaan ibukota
kabupaten dan kawasan sekitarnya.SKPDkewilayahan pengelola
pembangunan kawasan perkotaan besarini masuk menjadi anggota dari
Komite Pembangunan Kabupaten/Kota (KP3K) yang dibentuk melalui
keputusan bupati/walikota.

BAB 5

C. SKPD Kewilayahan Pengelola Kawasan Perkotaan Besar,


Perkotaan Sedang dan Perkotaan Kecil

Tabel 5.6 Struktur KelembagaanSKPD Kewilayahan Pengelola


Kawasan Perkotaan Besar
Struktur
Lembaga
Kepala SKPD
Sekretaris

:
:

Bidang

Keterangan
Eselon IIB
Eselon IIIA
Infrastruktur Perkotaan
Manajemen Perkotaan
Sosial Budaya Perkotaan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

237

Tugas SKPD Kewilayahan Pengelola Kawasan Perkotaan Besar,


Perkotaan Sedang dan Perkotaan Kecil, sebagai berikut:
a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
secara tepat dan berhasil terkait pembangunan perkotaan;
b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam
pembangunan perkotaan di kawasan perkotaan besar,
perkotaan sedang dan perkotaan kecil;
c. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan daerah
(KSPPD);
d. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus
antara pihak-pihak pelaksana pembangunan kawasan perkotaan
besar, perkotaan sedang dan perkotaan kecil;
e. Mengembangkan
dan
mengendalikan
pelaksanaan
pembangunan perkotaan di kawasan perkotaan besar,
perkotaan sedang dan perkotaan kecil;
Fungsi SKPD Kewilayahan Pengelola Kawasan Perkotaan Besar,
Perkotaan Sedang dan Perkotaan Kecil, sebagai berikut:

BAB 5

a. Pelaksanaan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan


daerah (KSPPD); dan
b. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan
kegiatan pembangunan kawasan perkotaan.
D. Penguatan SKPD Camat Pengelola Perkotaan Sedang dan
Perkotaan Kecil
Pengelolaan pembangunan kawasan perkotaan sedang dan kecil yang
meliputi hanya 1 kecamatan, maka akan dilakukan penguatan SKPD
Camat dengan cara penambahan unit kerja yang khusus menangani
perkotaan, yaitu Seksi Infrastruktur Perkotaan dan Seksi Manajemen
Perkotaan.

5.5.5 Kelembagaan
Prioritas

Pembangunan

Perkotaan

di

Sektor

Dalam melaksanakan pembangunan perkotaan di sektor prioritas,


kelembagaan yang perlu dibentuk berupa Badan Otoritas.Badan Otorita
Sektor Prioritas merupakan badan teknis yang berwenang untuk

238 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

melakukan koordinasi dengan semua instansi Pemerintah, baik di tingkat


Pusat maupun di tingkat daerah serta pihak ketiga lainnya yang
berhubungan dengan pembangunan dan pengembangan pada sektor
prioritas pembangunan Perkotaan.Badan otorita sektor prioritas ini
dibentuk
melalui
Undang-Undang
atau
melalui
Keputusan
Presiden/Keputusan Menteriterkait sektor yang diprioritaskan.Badan
Otorita bertanggung jawab kepada Presiden RI melalui Menteri yang
menaungi sektor yang diprioritaskannya.Badan otorita ini nantinya akan
terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan dalam
pelaksanaanya dapat dibantu oleh pihak swasta dan profesional.
Pelibatan
pihak
swasta
dan profesional
diharapkan dapat
menyumbangkan kontribusi dalam hal investasi dan melakukan
kajian.Struktur
organisasinya
dapat
dilihat
pada
Gambar
5.5.Pembentukan Badan Otorita ini diharapkan mampu memfokuskan
penyelesaian masalah dan pembangunan perkotaan pada sektor-sektor
prioritas.
Struktur
Badan
Otoritas
Pembangunan Perkotaan

Sektor

Prioritas

BAB 5

Gambar 5.6

Tugas Badan Otoritassektor Prioritas:


a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
secara tepat dan berhasil;
b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam
pembangunan perkotaan pada sektor yang menjadi prioritas;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

239

c. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan nasional;
d. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus
antara pihak-pihak pelaksana pembangunan perkotaan sektor
prioritas;
e. Mengembangkan
dan
mengendalikan
pelaksanaan
pembangunan perkotaan sektor prioritas;
f. Merencanakan dan mengendalikan pengembangan jangka
panjang wilayah sektor prioritas beserta prasarananya dalam
kerjasama dengan instansi yang bersangkutan;
Fungsi Badan OtoritasSektor Prioritas:
a. Pelaksanaan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan
nasional;
b. Pengelolaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, hukum
dan hubungan masyarakat; dan
c. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan
kegiatan pembangunan sektor prioritas perkotaan.

5.6

Hubungan Kelembagaan Pembangunan


Perkotaan

BAB 5

Adapun bentuk Kelembagaan Pembangunan Perkotaan Nasional


dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

240 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Hubungan Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di


Tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota

Gambar 5.8

Hubungan Kelembagaan dan Peranan Stakeholders


Non Pemerintah

BAB 5

Gambar 5.7

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

241

5.7

Peran Serta

5.7.1 Peran DPR dan DPRD


Proses politik pembangunan perkotaan diimplementasikan melalui peran
DPRD dalam pembangunan perkotaan yaitu sebagai monitoring, evaluasi
dan
penganggaran
program
dan
kegiatan
pembangunan
perkotaan.Selain itu segala bentuk kebijakan pembangunan perkotaan di
daerah diawasi dan dievaluasi oleh DPRD.
Dalam melaksanakan pembangunan perkotaan, Komite Percepatan
Pembangunan Perkotaan Nasional berkoordinasi dengan Forum Pelaku
Pembangunan Perkotaan (FP3) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
DPR berperan dalam:
1. Memberi masukan kepada Pemerintah Daerah terkait isu,
kebijakan dan program yang akan dilaksanakan dalam
pembangunan perkotaan;
2. Membantu Pemerintah Daerah dalam meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan perkotaan;
dan
3. Terlibat dalam monitoring dan evaluasi pembangunan perkotaan.

BAB 5

Seperti halnya kelembagaan di tingkat nasional, kelembagaan


pembangunan perkotaan di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota
juga melibatkan stakeholder lain selain pemerintah yaitu Forum Pelaku
Pembangunan Perkotaan (FP3), yang saling berkoordinasi dengan Tim
Koordinasi Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi,
Tim
Koordinasi Percepatan Pembangunan Perkotaan Kota dan DPRD.

5.7.2 Peran Swasta


Peran swasta yaitu ikutserta dalam program dan kegiatan pembangunan
perkotaan baik dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah.Peran serta swasta dapat berbentuk Kerjasama Pemerintah
Swasta (KPS) dalam penyediaan sarana-prasarana perkotaan maupun
dalam pengelolaan sarana-prasarana perkotaan yang telah disediakan
oleh pemerintah.

242 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

5.7.3 Peran Masyarakat


Peran masyarakat dalam pembangunan perkotaan dapat terlibat dalam
program dan kegiatan penyediaan dan pengelolaan sarana prasarana
perkotaan.Penyediaan maupun pengelolaan sarana prasarana perkotaan
tersebut dapat berbasis masyarakat mandiri. Masyarakat juga berperan
dalam merawat dan berkewajiban membayar retribusi terhadap sarana
prasana kota yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

No.
1.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

Kebijakan dan Strategi Kelembagaan Perkotaan


STRATEGI
Pemerintah

Pemerintah
Daerah

Jangka
Waktu

Kerjasama Antar Daerah


(Bappenas dan Kemenkeu dengan melibatkan Universitas, Pusat
Penelitian, Kadin, Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)
Meningkatkan
Mendorong
jaringan kerjasama Dimulai dari
perwujudan good
Peningkatan
yang efektif antar
jangka
governance
iklim kerjasama
pemerintah daerah pendek
melalui peraturan
antar daerah
dalam
(2015
dan perundangmengembangkan
2018)
undangan.
pelayanan publik.
Mengatur
Menstrukturkan
Dimulai dari
kewenangan,
kembali
jangka
tanggungjawab
kelembagaan atau
Pendek
dan penentuan
instansi sehingga
(2015
standar pelayanan menjadi lebih
2018)
perkotaan
efektif dan efisien.
Pengalokasian
pendanaan dan
Dimulai dari
fasilitasi
Pengelolaan
jangka
pelaksanaan
perizinan bersama
Pendek
Peningkatan
kerjasama antar
dalam bidang
(2015
kualitas
pemerintah
pelayanan umum
2018)
kelembagaan
daerah dalam
perkotaan.
pelayanan umum
Mengembangkan
Pengalokasian
strategi, menilai
Dimulai dari
bagi hasil atas
detail sektor yang
jangka
pemanfaatan
akan
Pendek
sumber daya alam dikerjasamakan
(2015
dan sumber daya
dan
2018)
lainnya.
mengembangkan
program
Memonitor dan
Dimulai dari

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

Tabel 5.7

243

No.

2.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

STRATEGI
Pemerintah

Pemerintah
Daerah

Jangka
Waktu
jangka
Pendek
(2015
2018)

BAB 5

mengevaluasi
perkembangan
kerjasama antar
daerah
Peningkatan Kapasitas Kelembagaan
(Bappenas,Kemenkeu, dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas,
Pusat Penelitian, Kadin, Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)
Perencanaan
Mengidentifikasi
Mengidentifikasi
Dimulai dari
dan merumuskan
dan merumuskan
jangka
kebutuhan
kebutuhan
Pendek
pengembangan
pengembangan
(2015
dan peningkatan
dan peningkatan
2018)
kapasitas
kapasitas
kelembagaan dan kelembagaan dan
aparatur negara
aparatur negara
Mengidentifikasi
Mengidentifikasi
Dimulai dari
dan merumuskan
dan merumuskan
jangka
prioritas bagi
prioritas bagi
Pendek
pengembangan
pengembangan
(2015
dan peningkatan
dan peningkatan
2018)
kapasitas
kapasitas
kelembagaan dan kelembagaan dan
aparatur negara.
aparatur negara.
Menetapkan
Menetapkan action
Dimulai dari
action plan
plan
jangka
pengembangan
pengembangan
Pendek
dan peningkatan
dan peningkatan
(2015
kapasitas
kapasitas
2018)
kelembagaan
kelembagaan
Menyediakan
Dimulai dari
acuan atau
jangka
rujukan dalam
Pendek
proses
(2015
peningkatan
2018)
kapasitas
kelembagaan.
Pelaksanaan
Pengembangan
Dimulai dari
peraturan
jangka
perundangan
Pendek
(2015
2018)
Pengembangan
Dimulai dari
personil aparatur
jangka
negara
Pendek
(2015

244 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3.

STRATEGI
Pemerintah

Pemerintah
Daerah

Jangka
Waktu
2018)
Dimulai dari
jangka
Pendek
(2015
2018)
Dimulai dari
jangka
Pendek
(2015
2018)

Memberikan
bantuan teknis
kepada
pemerintah
daerah.
Pengendalian
Monitoring dan
Monitoring dan
evaluasi
evaluasi
peningkatan
peningkatan
kapasitas
kapasitas
kelembagaan
kelembagaan.
Pembentukan Kelembagaan Pengelolaan Perkotaan
(Bappenas, Kemenkeu, KemenPU,dan Kemendagri dengan melibatkan
Universitas, Pusat Penelitian, Kadin,
Sektor Swasta Lainnya dan
Lembaga Donor)
Pembentukan
Penguatan
Pembentukan
Dimulai dari
kelembagaan
TKPPN dengan
Komite
jangka
untuk
manambah jumlah Pembangunan
Pendek
kemudahan
anggota.
Perkotaan Daerah
(2015
koordinasi
2018)
antara pusat
Penguatan Badan
Dimulai dari
dan daerah
Kerjasama Antar
jangka
Daerah
Pendek
(2015
2018)
Jangka menengah
Dimuali dari
: pembentukan
jangka
Komite
menegah
Pembangunan
(2018 - 2022
Perkotaan
Nasional dengan
Peraturan
Presiden.
Jangka Panjang :
Dimulai dari
pembentukan
jangka
Kementrian
panjang
Perkotaan
(2022
2027)

BAB 5

No.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

Dalam pelaksanaanya, kelembagaan sangat berkaitan erat dengan


kapasitas aparatur pemerintah.Oleh karena itu, Pemerintah Daerah harus
aparatur pemerintah yang profesional, kompeten dan berdedikasi dalam

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

245

rangka mempercepat pembangunan perkotaan didaearhanya. Dengan


demikian, aspek kelembagaan dan kapasitas aparatur pemerintah akan
menentukan kemampuan Pemerintah Daerah untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan fungsi pembangunan
dan perlindungan masyarakat.

BAB 5

246 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

247

BAB 6

222 1
248
2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional


Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

KERANGKA
PEMBIAYAAN
PERKOTAAN

249
249
223

KERANGKA PEMBIAYAAN PERKOTAAN

Pembiayaan
merupakan
aspek
penting
dalam
implementasi
pembangunan perkotaan. Secara lebih spesifik, dalam rangka
pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP), percepatan
pembangunan ekonomi, dan perwujudan Kota Berkelanjutan 2045
(Liveable City, Green City, dan Smart City) membutuhkan berbagai
sumber pembiayaan yang harus direncanakan, dibangun dan dikelola
dengan baik. Pembiayaan pembangunan perkotaan tersebut dapat
dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Sektor Swasta,
Masyarakat maupun Lembaga Donor. Ruang lingkup pembahasan
pembiayaan pembangunan perkotaan dalam pembangunan perkotaan ini
difokuskan pada pembiayaan untuk pembangunan sektor-sektor strategis
perkotaan, khususnya untuk pembangunan infrastruktur. Disamping itu,
sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, maka pembahasan juga
lebih difokuskan pada pembiayaan pembangunan di tingkat kota. Hal ini
mengingat kewenangan dan tanggung jawab dalam pembangunan
sebagian besar telah dilimpahkan dari Pemerintah kepada Pemerintah
Kota, sehingga membawa konsekuensi terhadap kapasitas keuangan
daerah dan pengelolaannya.

BAB 6

6.1

Gambaran Umum

Indonesia merupakan salah satu negara dengan infrastruktur yang


tertinggal dibanding negara lain.1 Selama Tahun 2013, total investasi
infrastruktur di Indonesia diperkirakan hanya sebesar Rp 457 triliun
(4,9% dari PDB), termasuk yang berasal dari APBN 2013 sebesar Rp
193,8 triliun (42% dari total investasi). Angka tersebut sangat kecil
1

Pada tahun 2012 total investasi infrastruktur di Indonesia baru mencapai Rp 385,2
triliun atau 4,51 persen dari produk domestik bruto (PDB).

250 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

apabila dibandingkan dengan investasi infrastruktur yang dilakukan oleh 2


(dua) negara lain dengan populasi yang besar yaitu India dan Cina. Sejak
Tahun 2009, investasi infrastruktur India sudah di atas 7 persen dari PDB,
sedangkan di Cina sejak Tahun 2005 sudah mencapai 9-11 persen dari
PDB.2 Padahal berbagai studi telah menunjukkan tingginya elastisitas
pembangunan infrastruktur terhadap perubahan Produk Domestik Bruto
(PDB) suatu wilayah atau negara, yakni berkisar antara 0,07 hingga
0,10.3 Hal ini menunjukkan pentingnya pembangunan infrastruktur
terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara. Dengan
demikian, dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi, Indonesia
perlu mendorong pembangunan infrastruktur. Namun, tantangan utama
pembangunan infrastruktur selama ini adalah ketersediaan pembiayaan.

Menteri PPPN/Kepala Bappenas dalam diskusi Solusi Pembiayaan Infrastruktur


Mendukung Pelaksanaan MP3EI" di Hotel Borobudur, Senin, 26 November 2012
(www.tempo.co.id ).
3
Serven, Louis. Infrastructure Investment and Growth. 2010. www.imf.org dan Csar
Caldern, Enrique Moral-Benito, dan Servn, Luis. 2011. Is Infrastructure Capital
Productive? A Dynamic Heterogeneous Approach. Policy Research Working Paper
5682, World Bank, Washington, DC.
4
Diunduh dari http://www.kppod.org/index.php/en/berita/berita-media/149-daerahboros-belanja-pegawai pada Tanggal 6 September, 2013.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

Tantangan yang lebih berat dalam pembangunan infrastruktur dihadapi


oleh kota-kota di Indonesia adalah Pemerintah Kota mendapatkan
tekanan yang besar untuk menyediakan infrastruktur dalam upaya
melayani warga kota ataupun untuk mempercepat pembangunan
ekonomi kota akibat tingkat urbanisasi yang tinggi,. Menurut data dari
Kemendagri, Pemerintah Daerah termasuk hanya mampu membelanjakan
sekitar 22-29% dari Anggaran Pendapatan & Belanja Daerah (APBD)
untuk belanja modal.4 Angka yang sangat kecil apabila dibandingkan
persentase biaya pegawai yang rata-rata lebih dari 50%. Disamping
kecilnya porsi untuk belanja modal dalam APBD, Pemerintah Daerah
selama ini lebih banyak mengandalkan sumber pembiayaan konvensional
yang berasal dari Pemerintah (APBN) yang sangat terbatas jumlahnya.
Dengan demikian, terjadi kesenjangan pembiayaan (financing gap) antara
pembiayaan yang berasal dari Pemerintah dibandingkan kebutuhan
pembangunan perkotaan. Kesenjangan pembiayaan ini diharapkan dapat

251

ditutup oleh sumber lain diluar APBN dan APBD, yaitu berasal dari sektor
swasta, masyarakat dan lembaga donor.

6.2

Permasalahan dan Tantangan Pembiayaan


Infrastruktur Perkotaan

Pemerintah Kota masih mengalami banyak keterbatasan dalam


mengakses pembiayaan pembangunan perkotaan yang berasal dari non
APBN dan APBD. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap
keterbatasan akses tersebut dan dapat dilihat dari 2 (dua) sisi, sebagai
berikut:
A. Internal Pemerintah Kota
1) Kesenjangan Keuangan

BAB 6

Kapasitas fiskal kota di Indonesia secara rata-rata masih sangat


terbatas. Hampir setiap kota masih bergantung pada Dana
Perimbangan dari Pemerintah yang persentasenya mencapai 70%
80% dari total APBD. Salah satu faktor dari rendahnya kapasitas
fiskal kota adalah terbatasnya sumber-sumber yang dapat dijadikan
sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Disamping itu,
desentralisasi yang terjadi sejak Tahun 2001 juga belum disertai
dengan kebijakan desentralisasi fiskal yang menyeimbangkan antara
tanggung jawab dengan ketersediaan dana yang dikelola oleh
Pemerintah Daerah.
Secara umum, sampai dengan saat ini
keuangan publik juga masih dikelola oleh Pemerintah. Kementerian
atau sektor belum secara sukarela memberikan kewenangan kepada
Pemerintah Daerah. Sementara itu, dilihat dari komposisi
pengeluaran, sebagian besar dari APBD digunakan untuk
pengeluaran rutin, seperti biaya pegawai dan biaya operasional dan
pemeliharaan. Hanya sebagian kecil dari APBD yang digunakan
untuk biaya modal dalam bentuk pembangunan infrastruktur untuk
pelayanan publik. Padahal seperti dijelaskan sebelumnya, kebutuhan
pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur sangat besar. Oleh
karena itu, Pemerintah Kota diharuskan lebih inovatif dalam mencari
berbagai sumber pembiayaan yang berasal dari non pemerintah
(APBN dan APBD).

252 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2) Kesenjangan Manajemen

Pengelolaan Keuangan. Selain keterbatasan kapasitas fiskal,


Pemerintah Kota juga memiliki keterbatasan dalam pengelolaan
keuangan. Dalam pembangunan infrastruktur, Pemerintah Kota
dituntut tidak hanya mampu memperhitungkan secara akurat
pendapatan dan pengeluaran dari APBD, namun juga harus dapat
memperhitungkan dampak dan arus kas dari suatu proyek
infrastruktur. Disamping itu, Pemerintah Kota juga harus dapat
memperhitungkan risiko yang terkait dengan suatu proyek agar dapat
memitigasinya dari awal, terutama dari aspek keuangan. Dengan
demikian, pembiayaan pembangunan infrastruktur tidak hanya
terbatas pada kapasitas dalam perencanaan, namun juga kapasitas
pengelolaan keuangan yang memadai, sehingga pembiayaan
infrastruktur tidak menjadi beban bagi Pemerintah Kota.

BAB 6

Perencanaan.
Pembangunan
infrastruktur
membutuhkan
perencanaan strategis dalam menentukan infrastruktur perkotaan
yang akan dibangun. Kenyataannya, hanya sedikit Pemerintah Kota
yang memiliki kapasitas dalam menentukan prioritas infrastruktur
berdasarkan proses dan pertimbangan yang jelas. Sebaliknya,
banyak Pemerintah Kota yang hanya dapat menunjukkan daftar
panjang (wish list) proyek infrastruktur potensial, namun kesulitan
menyebutkan secara pasti mana infrastruktur yang akan menjadi
prioritas untuk dibangun dan alasannya (short list). Penyusunan
prioritas infrastruktur menjadi sebuah keharusan mengingat jumlah
pembiayaan yang terbatas, disamping kebutuhan akan pemenuhan
prosedur dan mekanismenya. Penyusunan prioritas tersebut juga
memerlukan kapasitas dari Pemerintah Kota untuk memilah
infrastruktur yang strategis dan pada saat bermaan juga sesuai
dengan kapasitas keuangan dan manajemen yang dimiliki ataupun
potensi sumber dan jenis pembiayaan yang tersedia.

Pelaksanaan. Meskipun sudah direncanakan dengan baik, namun


kegagalan dalam pelaksanaan masih merupakan kelemahan utama
dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Terlepas dari regulasi
yang rumit, kelemahan dalam pelaksanaan pembangunan, antara
lain disebabkan oleh lemahnya kelembagaan dan terbatasnya
kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Keberhasilan penyediaan
jenis pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur di daerah akan
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

253

sangat bergantung tidak hanya pada perencanaan yang baik, namun


juga pada ketersediaan dan kapasitas lembaga dan SDM
didalamnya.
3) Ketersediaan dan akses terhadap data dan informasi
Data dan informasi terkait sumber, jenis serta prosedur dan
persyaratan yang dibutuhkan dalam pembiayaan pembangunan
perkotaan
memegang
peranan
yang
sangat
penting.
Ketidaktersediaan data dan informasi yang memadai dan menyeluruh
akan menyebabkan terjadinya informasi yang asimetris (assymetric
information). Dalam banyak hal, akses Pemerintah Kota terhadap
data dan informasi yang masih terbatas menyebabkan ketidaktahuan
terhadap berbagai alternatif sumber dan jenis pembiayaan maupun
ketentuan dan prosedur yang diaturnya. Informasi yang tersedia, jika
ada dan dapat diakses, seringkali menimbulkan interpretasi yang
kurang tepat akibat dari keterbatasan kapasitas SDM. Dengan situasi
tersebut, pada akhirnya Pemerintah Kota mengambil keputusan
berupa pendekatan yang pasif dalam bentuk menunggu kebijakan
dari Pemerintah ataupun pendekatan yang konservatif dengan tidak
membangun infrastruktur perkotaan.
B. Eksternal Pemerintah Kota
1) Persepsi resiko

BAB 6

Secara umum, investasi5 yang terkait dengan Pemerintah Daerah


masih dipandang oleh sektor swasta sebagai investasi yang berisiko
tinggi antara lain karena ketidakpastian terkait prosedur atau
birokrasi, ketidakpastian akibat perubahan peraturan (regulatory risk),
risiko akibat perubahan politik atau pimpinan daerah (political risk)
dan tata kelola yang tidak transparan dan akuntable. Selain itu,
tingginya korupsi akan membuat biaya investasi menjadi tinggi dan
mengusir investor yang potensial tapi hanya mau bermain bersih.
Di samping risiko ini, risiko lain yang secara umum terdapat dalam
investasi seperti risiko kredit, risiko suku bunga, risiko pasar, dan
lain-lain tetap ada. Akibat tingginya risiko ini, swasta mengharapkan
pengembalian yang tinggi dari investasi atas infrastruktur perkotaan.
5

Istilah investasi adalah dari sudut pandang investor sementara pembiayaan


adalah dari sudut pandang Pemerintah Kota.

254 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2) Peraturan perundangan
Regulasi terkait prosedur pembiayaan infrastruktur perkotaan belum
cukup untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur.
Regulasi yang ada belum diarahkan untuk membuat investasi yang
menarik bagi sektor swasta tanpa membahayakan posisi keuangan
Pemerintah Kota.
Beberapa isu yang terkait dengan regulasi
misalnya adalah soal penetapan tarif penggunaan fasilitas
infrastruktur yang tidak menutupi biaya (cost recovery), sulitnya
pengadaan lahan, prosedur perizinan yang berbelit-belit sampai tidak
adanya proteksi bagi investor. Penetapan tarif seringkali bukan
berdasarkan pertimbangan kelayakan ekonomis atau finansial
melainkan keputusan politik. Meskipun saat ini telah dikeluarkan
undang-undang
mengenai
pengadaan
lahan,
namun
implementasinya masih belum jelas. Begitu juga halnya dengan
periode pembiayaan infrastruktur yang belum tentu sinkron dengan
periode Walikota. Masalah lain yang tidak kalah pentingnya terkait
regulasi adalah penegakan dari regulasi itu sendiri.
3) Instrumen investasi

BAB 6

Meskipun instrumen investasi bagi sektor swasta untuk berpartisipasi


dalam pembangunan infrastruktur perkotaan sudah cukup memadai,
namun minat investor masih sangat kurang. Selain karena faktor
regulasi dan persepsi risiko diatas, hal ini juga terkait dengan
karakter dari instrumen pembiayaan infrastruktur itu sendiri yang
pada umumnya masih merupakan investasi jangka panjang. Oleh
karena itu, instrumen investasi yang ada saat ini masih perlu
dikembangkan sesuai dengan profil risiko dari investor yang
ditargetkan, terutama apabila melibatkan sektor swasta.

6.3

Sumber , Jenis, dan Karakteristik Pembiayaan

6.3.1 Sumber Pembiayaan


Berdasarkan sumbernya, Pemerintah Kota dapat mengakses dana dari
berbagai sumber baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun,
kondisi yang ada sekarang ini berdasarkan peraturan perundangan yang

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

255

ada, pembiayaan dari luar negeri hanya dapat diterima oleh Pemerintah
Kota melalui skema Penerusan Pinjaman (Subsidiary Loan Agreement)
atau juga dikenal dengan Two Step Loan) atau Penerusan Hibah. Skema
tersebut berarti pembiayaan luar negeri yang diterima oleh Pemerintah
untuk suatu proyek infrastruktur diteruskan sebagai pinjaman atau hibah
kepada daerah tertentu. Sementara itu, untuk pembiayaan yang berasal
dari dalam negeri, sumber pembiayaan dapat berasal dari pendapatan
daerah sendiri (PAD yang menjadi bagian dari APBD), Pemerintah Pusat
(APBN), atau pinjaman dari Pemerintah Daerah lain, lembaga keuangan
(bank dan bukan bank), perusahaan swasta maupun dari masyarakat
umum. Secara lebih rinci mengenai berbagai sumber pembiayaan
pembangunan dapat dilihat pada Gambar 6.1. dibawah ini
Gambar 6.1 Sumber Pembiayaan Pembangunan Perkotaan

Sumber: Hasil Analisis (YIPD, 2012)

BAB 6

6.3.2 Jenis Pembiayaan


Berdasarkan jenisnya, pembiayaan pembangunan perkotaan yang dapat
diakses oleh Pemerintah Kota, terdiri dari:
a. Hibah daerah
Pemberian dengan pengalihan hak atas sesuatu dari Pemerintah
atau pihak lain kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya yang

256 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya dan dilakukan


melalui perjanjian.
b. Pinjaman daerah
Semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah
uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain
sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar
kembali. Pinjaman daerah dapat berupa Pinjaman Dalam Negeri
dan Pinjaman Luar Negeri.
c. Obligasi daerah
Merupakan Pinjaman Daerah yang ditawarkan kepada publik
melalui penawaran umum di pasar modal.

Hibah Daerah merupakan salah satu jenis pembiayaan yang dapat


berbentuk uang, barang, dan/atau jasa. Sebagaimana diatur dalam
Peraturan Pemerintah (PP) No. 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah,
disebutkan bahwa Hibah Daerah dapat berasal dari beberapa sumber,
yaitu: Pemerintah, badan, lembaga, atau organisasi dalam negeri;
dan/atau kelompok masyarakat atau perorangan dalam negeri.Hibah
yang bersumber dari Pemerintah (APBN) dapat berbentuk penerimaan
dalam negeri, hibah luar negeri; dan Pinjaman Luar Negeri yang
dilakukan melalui Pemerintah Pusat. Pemberian Hibah Pemerintah Pusat
kepada Pemerintah Daerah diprioritaskan untuk penyelenggaraan
Pelayanan Publik dan pengelolannya dapat diteruskan kepada badan
usaha milik daerah.
Untuk jenis pembiayaan berupa pinjaman daerah, Pemerintah telah
mengaturnya melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 30 Tahun 2011
tentang Pinjaman Daerah. Dalam PP tersebut, dinyatakan bahwa
Pinjaman Daerah merupakan alternatif pendanaan APBD yang digunakan
untuk menutup defisit APBD, pengeluaran pembiayaan; dan/atau
kekurangan arus kas. Pemerintah Kota dapat meminjam dari Pemerintah,
lembaga keuangan, pemerintah daerah lain dan masyarakat. Selain

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

d. Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS)


Merupakan alternatif pembiayaan yang melibatkan unsur
pemerintah dan swasta yang bekerjasama dengan berbagai
skema tertentu.

257

sumber-sumber tersebut, pinjaman daerah juga mencakup pinjaman dari


luar negeri yang diberikan melalui Pemerintah sebagai penerusan
pinjaman atau hibah sebagaimana telah dijelaskan diatas. Meskipun telah
diatur dengan jelas, akan tetapi sampai dengan sakarang ini, pinjaman
daerah belum menjadi pilihan dan prioritas utama bagi Pemerintah
Daerah untuk membiayai pembangunan perkotaan, khususnya untuk
membangun infrastruktur. Berbagai pertimbangan Pemerintah Daerah
untuk tidak melakukan pinjaman daerah, antara lain:
a. Tingkat bunga pinjaman relatif tinggi
b. Belum adanya tenggat waktu (grace period)10
c. Pembatasan masa pinjaman daerah sesuai dengan masa kerja
kepala daerah
d. Jangka waktu pengembalian yang pendek
e. Prosedur dan mekanisme pinjaman yang rumit dan lama
f. Keharusan pembahasan dan persetujuan dari DPRD
g. Pengenaan biaya penalti apabila Pemerintah Daerah melakukan
pelunasan lebih awal
Pinjaman Daerah yang bersumber dari masyarakat disebut sebagai
Obligasi Daerah. Sebagaimana juga diatur dalam Peraturan Pemerintah
(PP) No. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah, dinyatakan bahwa
Obligasi Daerah merupakan efek yang diterbitkan oleh Pemerintah
Daerah melalui pasar modal domestik dan dalam mata uang Rupiah.
Obligasi Daerah tidak dijamin oleh Pemerintah dan diterbitkan diterbitkan
dalam bentuk Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang pasarmodal. Apabila Pemerintah Daerah
akan mengeluarkan Obligasi Daerah, maka beberapa hal yang wajib
diatur, antara lain:

BAB 6

a. Rencana penerbitan Obligasi Daerah yang telah terlebih dahulu


mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD)
b. Perhitungan pokok dan bunga setiap Obligasi Daerah pada saat
jatuh tempo;
c. Denda atas keterlambatan kewajiban pembayaran pokok dan
bunga Obligasi Daerah;
10

Dr.B. Raksaka Mahi, Masrizal M.Sos.Sc, Dr. Fauziah Zen. Potensi Penyediaan Pinjaman
Lunak ke Daerah untuk Pembangunan Infrastruktur, Tim Asistemsi Kementerian
Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal, 2012

258 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

d. Segala biaya yang timbul dari penerbitan Obligasi Daerah.

Dalam pembangunan perkotaan, sektor swasta juga memegang peranan


yang sangat penting. Akan tetapi, sektor swasta yang yang bukan
lembaga keuangan, hanya dapat menjadi sumber pembiayaan bagi
pembangunan infrastruktur kota melalui skema KPS. Skema KPS hanya
dapat dilakukan antara Pemerintah dengan sektor swasta, dimana
Pemerintah melakukannya melalui Dana Investasi Pemerintah, seperti
misalnya sekarang dilaksanakan melalui Pusat Investasi Pemerintah
(PIP), PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dan PT Indonesia
Infrastructure Finance (PT IIF), KPS juga dapat dilakukan secara
langsung antara sektor swasta dengan Pemerintah Kota.
Berbagai jenis pembiayaan tersebut diatas berbeda sesuai dengan
sumber dananya. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 6.2 dibawah ini,
dapat disimpulkan bahwa berbagai jenis pembiayaan paling banyak
berasal dari Pemerintah. Hampir semua jenis pembiayaan untuk
Pemerintah Kota disediakan oleh Pemerintah, kecuali obligasi daerah.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

Salah satu hal yang juga diatur dalam PP tersebut adalah penerbitan
Obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan
investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan
Pelayanan Publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD yang
diperoleh dari pungutan atas penggunaan prasarana dan/atau sarana
tersebut. Dengan demikian, persyaratan tersebut sangat penting dan
relevan dengan kebutuhan pembiayaan pembangunan perkotaan.
Namun, permasalahan utama dalam pelaksanaan Obligasi Daerah ini
adalah belum adanya lembaga khusus di daerah yang berperan sebagai
Perantara Keuangan (Financial Intermediary - FI) dan menjalankan
pengumpulan dana masyarakat melalui penerbitan Obligasi Daerah dan
khusus digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Dalam
berbagai bentuk, beberapa negara telah memiliki lembaga khusus
sebagai FI tersebut, antara lain: Columbia (FINDETER), India (TNUDF),
Filipina (LGUGC), dan Afrika Selatan (INCA). FI di beberapa negara
tersebut merupakan lembaga keuangan yang dapat berbentuk lembaga
bank maupun bukan bank dan mendapatkan sumber pendanaan dari
masyarakat, pemerintah diatasnya dan lembaga donor.

259

Gambar 6.2 Jenis Pembiayaan Pembangunan Perkotaan

Sumber: Hasil Analisis (YIPD, 2012)

Meskipun berdasarkan peraturan sebagaimana telah dijelaskan dalam


kedua gambar diatas, terdapat berbagai sumber pembiayaan
pembangunan perkotaan yang dapat diakses oleh Pemerintah Kota.
Namun pada kenyataannya Pemerintah Kota masih lebih banyak
mengandalkan APBN dan APBD sebagai sumber utama untuk
pembangunan perkotaan. Jenis-jenis pembiayaan, seperti hibah daerah,
pinjaman daerah, obligasi daerah ataupun KPS, masih belum banyak
dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota.

6.3.3 Karakteristik Pembiayaan

BAB 6

Berbagai sumber dan jenis pembiayaan sebagaimana telah dijelaskan


diatas memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik tersebut dapat
dilihat dari jumlah, jangka waktu, suku bunga ataupun tingkat
pengembalian yang diharapkan, prasyarat serta prosedurnya. Pemerintah
Kota perlu mengenali karakteristik dari masing-masing jenis pembiayaan
sehingga dapat menentukan jenis pembiayaan yang tepat untuk
pembangunan infrastruktur perkotaan tertentu maupun pembangunan
sektor-sektor strategis perkotaan lainnya. Hal ini dikarenakan karakteristik
pembiayaan juga akan menentukan resiko atas suatu jenis pembiayaan

260 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

a. Jumlah
Jenis pembiayaan sangat bervariasi dilihat dari jumlahnya, dapat
meliputi belasan milyar sampai trilyunan rupiah. Besarnya jumlah
pembiayaan ini pada dasarnya bergantung dari sumber
pembiayaan. Jumlah pembiayaan mencapai trilyunan rupiah
biasanya hanya dapat diberikan oleh konsorsium lembaga
keuangan berbentuk bank konvensional, bank pembangunan
multinasional seperti Bank Dunia (World Bank) atau Bank
Pembangunan Asia (Asian Development Bank) atau bilateral,
serta melalui obligasi. Dengan demikian jumlah pembiayaan yang
besar akan lebih terbatas sumbernya dibandingkan dengan jumlah
pembiayaan yang kecil. Disamping itu, berdasarkan tipologi kota,
pembiayaan dalam jumlah besar akan lebih banyak dibutuhkan
oleh Kota Metropolitan dan Kota Besar dibandingkan Kota
Sedang, Kota Kecil maupun Kawasan Perkotaan.
b. Tingkat suku bunga
Terdapat jenis pembiayaan yang tidak dikenakan bunga,
dikenakan bunga rendah atau dikenakan bunga tinggi.
Pembiayaan yang tidak dikenakan bunga umumnya berasal dari
Pemerintah Pusat dalam bentuk hibah. Tinggi rendahnya suku
bunga berbanding lurus dengan besar kecilnya resiko. Semakin
besar resiko dari pembiayaan, semakin besar tingkat suku bunga
yang dikenakan oleh pemberi pembiayaan. Pembiayaan dari
lembaga pembiayaan baik bank atau non-bank biasanya
mengenakan bunga yang relatif lebih tinggi dibanding pembiayaan
dari Pemerintah atau badan layanan yang ditunjuk seperti PIP.
c. Jangka waktu
Terdapat pembiayaan yang memiliki jangka pendek (kurang dari 1
tahun), jangka menengah (3 5 tahun), dan jangka panjang (di
atas 5 tahun). Namun pada umumnya, jenis pembiayaan yang ada
di Indonesia, terutama yang bersumber dari lembaga keuangan
bank, saat ini memiliki jangka waktu pendek dan menengah.
Padahal, kebutuhan pembiayaan infrastruktur dilihat dari skalanya
seringkali merupakan pembiayaan dalam jangka panjang.
d. Prasyarat dan prosedur

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

tertentu. Berikut diuraikan beberapa karakteristik yang mempengaruhi


sumber dan jenis pembiayaan yang telah disebutkan diatas.

261

Pembiayaan yang berasal dari Pemerintah secara umum lebih


rumit, lama dan bersifat administratif apabila dibandingkan dengan
pembiayaan yang bersumber dari sektor swasta atau lembaga
keuangan. Syarat dan prosedur jenis-jenis pembiayaan yang
berasal dari lembaga keuangan, perusahaan swasta ataupun
masyarakat biasanya lebih terfokus pada pertimbangan
kesesuaian resiko dan pengembalian dari investasi.

6.4

Pembiayaan Perkotaan di Masa Depan

Pembiayaan perkotaan yang seperti apa yang diperlukan di masa depan?


Meskipun APBN dan APBD tetap akan menjadi salah satu sumber
pembiayaan infrastruktur perkotaan, namun kecenderungan atau trend
yang terjadi menunjukkan bahwa peran sumber pembiayaan non-APBN
dan APBD akan semakin besar di masa depan. Hal ini juga terjadi di
negara berkembang lainnya14. Pembiayaan pembangunan di berbagai
kota di negara-negara maju telah mampu mengurangi beban anggaran
nasional melalui pembentukan skema kerjasama dengan pihak swasta
dan optimalisasi sumber pendanaan yang berasal dari pasar modal
seperti obligasi daerah dan lainnya. Sebagai contoh pemerintah daerah di
Amerika Serikat dapat meminjam sekitar 20% dari pendapatan mereka,
sedangkan di Perancis 75% modal investasi pemerintah daerah dibiayai
dari pinjaman. Di lihat dari jenis pembiayaannya, di Amerika Serikat,
pembiayaan infrastruktur perkotaan banyak dilakukan melalui penerbitan
obligasi daerah, sementara di Eropa, pembiayaan lebih banyak dilakukan
melalui bank pembangunan.15 Beberapa asumsi yang digunakan untuk
menentukan arah kebijakan dalam pembiayaan pembangunan perkotaan
pada masa yang akan datang, antara lain:

BAB 6

A. Sumber Pembiayaan
1) Pembiayaan dari Pemerintah Pusat (APBN) dan Pemerintah
Daerah (APBD) tetap akan menjadi salah satu sumber
pembiayaan penting untuk pembangunan perkotaan terutama
pembangunan infrastruktur perkotaan tertentu seperti
14

Hartig, Peter. Financing Urban Infrastructure Innovative Financial Instruments for


Cities. KfW Entwicklungsbank. September, 2008.
15
Venkatachalam, Prita. 2005. Innovative Approaches to Municipal Infrastructure
Financing: A Case Study on Tamil Nadu, India Policy Working Paper Series No. 05-68,
London School of Economics and Political Science, London.

262 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2)
3)

4)

misalnya yang bersifat strategis bagi kepentingan nasional,


dalam skala besar, tidak menghasilkan pendapatan,
membutuhkan teknologi tinggi, dan sebagainya;
Peran sektor swasta dan masyarakat dalam pembiayaan
pembangunan perkotaan akan semakin besar;
Penerimaan dari PAD akan tumbuh seiring dengan
berjalannya
desentralisasi
fiskal
yang
memberikan
kewenangan pada Pemerintah Daerah untuk menggali dan
mengoptimalkan sumber-sumber yang dapat dijadikan PAD;
Pembiayaan pembangunan perkotaan ke depan, diharapkan
akan lebih banyak memanfaatkan sumber dari luar negeri
dibandingkan dari dalam negeri, terutama melalui badan,
lembaga, atau organisasi luar negeri.

B. Jenis dan Instrumen Pembiayaan


Instrumen pembiayaan akan semakin bervariasi sesuai dengan
jenis infrastruktur dan profil risiko pemilik dana. Pemanfaatan
jenis-jenis pembiayaan, seperti hibah daerah, pinjaman daerah,
obligasi daerah ataupun KPS, akan semakin banyak dimanfaatkan
oleh Pemerintah Kota.
C. Besaran Pembiayaan
Pertimbangan efisiensi akan menjadi faktor penting sehingga Kota
Sedang dan Kota Kecil perlu melakukan Kerjasama Antar Daerah
(KAD) dalam rangka menentukan jenis infrastruktur yang menarik
dan mengakses sumber pembiayaan dari sektor swastasehingga
mencapai skala keekonomian yang memadai jumlahnya.

Pembiayaan yang bersumber dari non pemerintah (APBN dan


APBD) akan menuntut dan mendorong terciptanya tata kelola
pemerintahan (good governance) termasuk pengelolaan
keuangan, proses pengadaan barang dan jasa yang lebih efisien,
transparan dan akuntabel. Dengan demikian, Pemerintah Kota
yang memiliki tata kelola pemerintahan dan kapasitas keuangan
yang baik juga akan lebih mudah mengakses pembiayaan yang
bersumber dari non pemerintah.

BAB 6

D. Tata Kelola dan Kapasitas Pemerintah Kota

Berdasarkan asumsi diatas, diperlukan upaya-upaya khusus yang


mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan atau enabling
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

263

environment bagi munculnya berbagai jenis pembiayaan


pembangunan perkotaan, khususnya untuk investasi infrastruktur
perkotaan yang menarik. Oleh karena itu, beberapa hal yang akan
menjadi arah dalam penyediaan pembiayaan pembangunan
perkotaan di masa depan, antara lain:
1)

2)

3)

4)

5)

6)

BAB 6

Perlunya kebijakan dan peraturan perundangan jangka


menengah dan panjang yang dapat mendorong terciptanya
berbagai jenis atau instrumen pembiayaan yang baru,
menarik dan inovatif, serta memberi jaminan dan kepastian
hukum bagi sektor swasta dan masyarakat untuk ikut
berpartisipasi dalam pembangunan perkotaan di Indonesia;
Perlunya upaya jangka pendek yang dapat memperluas
alternatif jenis pembiayaan yang bersumber dari non
pemerintah;
Pentingnya Kerjasama Antar Daerah (KAD) bagi kota dan
daerah yang berdekatan untuk mencapai skala keekonomian
dalam menentukan prirotas infrstruktur yang dapat dibiayai
bersama dan dalam mengakses sumber pembiayaan yang
jumlahnya lebih besar;
Perlunya penilaian kelayakan kredit (credit worthiness)
sebagai indikator untuk menentukan kapasitas Pemerintah
Kota dalam mengelola keuangannya dan bagi pemilik modal,
baik perseorangan ataupun badan dan organisasi dalam
memutuskan investasinya;
Perlunya peningkatan kapasitas Pemerintah Kota dalam
pembiayaan pembangunan perkotaan, mulai dari aspek
perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pengelolaan
investasi dan keuangan;
Perlunya membentuk lembaga fasilitasi penyiapan proyek
infrastruktur daerah (local infrastructure development
facilities) dan lembaga pembiayaan infrastruktur daerah (local
infrastructure development funds). Kedua lembaga tersebut
akan diuraikan dalam subbab terpisah dibawah ini.

264 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

6.5

Pembentukan Lembaga Terkait Infrastruktur


Perkotaan

6.5.1 Lembaga Fasilitasi Penyiapan Proyek Daerah (Local


Project Development Facilities LPDF)

Berbagai permasalahan dan tantangan dalam penyediaan infrastruktur


perkotaan tersebut sudah sangat penting dan mendesak untuk segera
diatasi. Salah satu solusi yang dapat diambil oleh Pemerintah Pusat
adalah pembentukan lembaga yang memfasilitasi pengembangan proyek
(Project Development Facility PDF). PDF yang dimaksud pada
dasarnya merupakan sebuah lembaga yang menyediakan layanan
khusus yang ditujukan untuk membantu Pemerintah Daerah dalam
menyiapkan proyek infrastruktur perkotaan, mulai tahap prioritisasi dan
pemrograman (project prioritization and programming), perencanaan
(project structuring) sampai dengan mengidentifikasi jenis pembiayaan
yang akan digunakan dalam pembangunannya (linking to finance).
Dengan demikian, lembaga PDF disini tidak menyediakan pembiayaan
ataupun melaksanakan pembangunan infrastruktur [tidak terbatas pada
proyek yang pembangunannya dibiayai melalui skema Kerjasama
Pemerintah dan Swasta (Public Private Partnership PPP)]. Manfaat
jangka panjang yang diharapkan dari terbentuknya lembaga PDF adalah
membantu Pemerintah Daerah dalam mempersiapkan infrastruktur

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

Selain rendahnya kapasitas pembiayaan dalam internal sebuah kota,


permasalahan dalam penyediaan infrastruktur perkotaan juga terjadi
dalam bentuk ketimpangan kondisi pelayanan perkotaan antar tipologi
kota di Indonesia. Dari total 93 kota otonom di Indonesia, data pada Tabel
1 menunjukkan bahwa standar deviasi komponen pelayanan infrastruktur
antar kota kecil rata-rata sangat tinggi yaitu sebesar 17,75; untuk kota
sedang sebesar 11,78; untuk kota besar sebesar 9,23 dan terendah antar
kota metropolitan sebesar 7,4. Kondisi ini menunjukkan bahwa
penyediaan pelayanan perkotaan bagi masyarakat di kota metropolitan
dan kota besar relatif lebih merata jika dibandingkan pelayanan perkotaan
di kota kecil dan kota sedang. Dengan demikian, masyarakat yang tinggal
di kota metropolitan dan kota besar lebih mudah dalam mengakses
infrastruktur perkotaan yang terletak di lingkungan sekitar tempat
tinggalnya, seperti jalan, listrik, air bersih, persampahan dan sanitasi.

265

perkotaan prioritas sehingga dapat mempercepat penyediaan pelayanan


perkotaan secara nasional yang efektif dan efisien.
A. Ruang Lingkup dan Persyaratan Pembentukan Lembaga PDF di
Indonesia
Secara lebih spesifik, lembaga PDF yang potensial untuk dibentuk di
Indonesia memiliki ruang lingkup kegiatan, antara lain:
Mempersiapkan data dan informasi dalam bentuk isu strategi,
identifikasi kebijakan, program dan daftar proyek infrastruktur;
Membantu Pemerintah Daerah dalam penyusunan proyek
infrastruktur prioritas;
Penyiapan Pre-Feasibility (PFS), Feasibility Study (FS), dan
dokumen pengadaan;
Identifikasi skema pendanaan dan menghubungkan antara proyek
dengan Lembaga Pembiayaan;
Penyiapan dan penilaian Credit Worthiness;
Perjanjian kerjasama dengan lembaga penyedia keuangan.
Dengan mempertimbangkan kewenangan yang saat ini dimiliki oleh
Pemerintah Daerah di tingkat kabupaten/kota dan kompeksitas
permasalahan pembangunan infrastruktur perkotaan harus segera
ditangani oleh Pemerintah Daerah, maka usulan jenis sarana prasarana
atau sektor-sektor yang harus dibantu oleh lembaga PDF di Indonesia,
sebagai berikut:

BAB 6

Jaringan air bersih


Pengelolaan sampah
Pengelolaan air limbah domestik
Transportasi kota
Revitalisasi kawasan kumuh dan tua
Penanggulangan banjir (drainase)
Energi dan energi alternatif
Infrastruktur ekonomi
Infrastruktur sosial

Dengan luasnya cakupan kegiatan dan misi yang harus dilaksanakan


oleh lembaga PDF, maka dibutuhkan berbagai desain kebijakan dan
persyaratan dasar yang mampu mendorong dan mempercepat
terentuknya lembaga PDF di Indonesia, antara lain:

266 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1.

Model Pengelolaan
Pengelolaan PDF harus bersifat profesional, independen dan efisien.
Pada awal pembentukannya, PDF dituntut untuk menyediakan
layanan kegiatan kepada Pemerintah Daerah secara gratis.
Meskipun tanpa dipungut biaya, pemberian layanan kepada
Pemerintah Daerah tersebut harus dilakukan berdasarkan usulan
dari Pemerintah Daerah dan dilakukan seleksi yang kompetitif.
Dengan demikian, tidak semua usulan dari Pemerintah Daerah
disetujui oleh lembaga PDF. Dalam jangka waktu tertentu setelah
beroperasi dan sudah memiliki permintaan yang tetap (captive
demand), misalnya 5 (lima) tahun, maka lembaga PDF diharapkan
sudah mulai mengenakan iuran layanan (service fee) untuk bantuan
teknis yang disediakan bagi Pemerintah Daerah, dengan catatan
bahwa Pemerintah Daerah tersebut memiliki kapasitas fiskal yang
memadai.

2.

Desain Insentif
Dalam operasionalisasinya, PDF dapat diberikan beberapa insentif
yang diberikan dalam bentuk fiskal dan non-fiskal. Insentif fiskal
dapat diberikan dalam bentuk subsidi modal dan biaya operasional.
Sedangkan insentif non fiskal dapat disediakan, seperti dalam bentuk
mandat khusus yang diatur dalam peraturan perundangan, bantuan
pemenuhan kebutuhan pengembangan dan manajemen SDM yang
diperlukan oleh lembaga PDF, dan sebagainya.
Akses Terhadap Lembaga Sejenis dan Lembaga Pembiayaan
Dalam rangka penyediaan bantuan teknis kepada Pemerintah
Daerah dan efisiensi dalam operasionalisasinya, maka lembaga PDF
perlu diberikan kemudahan dalam menjalin kerjasama dengan
lembaga sejenis, baik dalam negeri maupun luar negeri. Terdapat
beberapa lembaga PDF yang sudah berdiri, antara lain di Pakistan,
Vietnam, Cina dan India. Disamping itu, Pemerintah perlu
memberikan akses kepada lembaga PDF untuk bekerjasama dengan
lembaga-lembaga pembiayaan, seperti perbankan, lembaga ventura,
dan lembaga donor, sehingga proposal proyek infrastruktur yang
sudah disiapkan oleh lembaga PDF dapat langsung dilakukan due
diligence oleh lembaga-lembaga tersebut.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

3.

267

4.

Sumber Pembiayaan
Mengingat lembaga PDF dalam operasionalisasinya tidak
mengenakan biaya bagi Pemerintah Daerah, maka APBN
merupakan sumber utama pembiayaan terutama ketika lembaga ini
sudah beroperasi. Disamping itu, lembaga PDF didorong untuk
melakukan pengumpulan dana (pool of funds) dari berbagai lembaga
donor bilateral dan multilateral, terutama dalam bentuk hibah (grant)
dan bantuan teknis (Technical Assistances - TA). Selain itu, sumber
pembiayaan juga dapat berasal dari kontribusi kota-kota yang telah
dibantu sebelumnya serta berbagai hubungan kerjasama, misalnya
dalam bentuk sister city. Potensi pembiayaan yang lainnya adalah
ketika lembaga PDF menjadi satu kesatuan dengan lembaga LDF
(Local Development Funds). Dengan demikian, bantuan teknis yang
disediakan bisa merupakan satu paket dengan pinjaman yang
disediakan oleh lembaga LDF tersebut. Penyatuan ini akan menjadi
sangat menarik bagi Pemerintah Daerah karena bantuan teknis yang
disediakan dapat menjadi stimulant awal bagi Pemerintah Daerah
untuk meminjam dana ke lembaga LDF.
Gambar 6.3 Roadmap Pembentukan Lembaga PDF di Indonesia

BAB 6
Sumber : Analisis Bappenas, 2014

B. Kendala Peningkatan Infrastruktur


Kendala dalam peningkatan infrastruktur adalah penyediaan sumber
pembiayaan bagi Pemerintah Daerah, antara lain :

268 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Bentuk infrastruktur yang saat ini sangat diperlukan oleh


Pemerintah Daerah adalah infrastruktur lingkungan (environmental
infrastructure) yang umumnya tidak memberikan pendapatan
proyek yang menjanjikan (non-revenue generating project).
Untuk membiayai infrastruktur ini, Pemerintah Daerah
memerlukan sumber pembiayaan tidak saja dari dana
perimbangan maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga
dari pinjaman daerah, baik dengan meminjam dari Pemerintah
Pusat maupun lembaga keuangan, ataupun dengan menerbitkan
surat utang.
Sangat tidak mudah bagi Pemerintah Daerah untuk menemukan
sumber pinjaman jangka panjang. Saat ini sebagian besar
pinjaman daerah adalah warisan masa lalu dari Pemerintah Pusat
melalui mekanisme penerusan pinjaman (Subsidiary Loan
Agreement). Skema pinjaman SLA masih bersifat supply-driven,
jumlahnya relatif terbatas dan akses pinjamannya tidak terbuka
bagi semua Pemerintah Daerah. Sedangkan pinjaman demanddriven melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang oleh
Pemerintah Daerah dikeluhkan sulitnya persyaratan yang harus
dipenuhi dan tingginya besaran bunga.

6.5.2 Municipal Development Fund

a. Belum ada keranjang dana terpusat untuk membiayai berbagai


macam proyek infrastruktur perkotaan secara efektif dan efisien.
b. Belum ada mekanisme untuk menampung dana dari lembagalembaga pendanaan nasional maupun internasional yang dapat
dimanfaatkan sesuai dengan strategi, prioritas dan kebutuhan
pembangunan perkotaan.

BAB 6

Di berbagai negara, kebutuhan pembiayaan infrastruktur jangka panjang


ini dapat dipertemukan dengan berbagai sumber dana melalui sebuah
lembaga perantara pembiayaan, yang sering disebut sebagai MDF
(Municipal Development Fund). Terdapat tiga alasan mengapa Indonesia
memerlukan kehadiran MDF dalam pembiayaan infrastruktur daerah:

c. Belum ada instansi yang dapat memproses usulan pembiayaan


proyek dari berbagai sumber seperti PT SMI, IIF, PIP dan lain
sebagainya secara terpadu.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

269

Bentuk MDF yang optimal bagi Indonesia adalah MDF yang menyalurkan
Pinjaman daerah secara langsung kepada Pemerintah Daerah (first-tier)
dan memiliki kelembagaan berbentuk BUMN.
Dengan kondisi saat ini, bentuk MDF yang optimal untuk Indonesia
adalah institusi yang memberikan pinjaman kepada daerah, bukan yang
memberikan hibah, dan juga tidak bertindak sebagai Bank Obligasi yang
membeli obligasi dari Pemerintah Daerah. Selain itu institusi MDF
Indonesia adalah MDF yang memberikan pinjaman langsung kepada
Pemerintah Daerah (first-tier), dan bukanlah MDF yang menyalurkan
pinjaman daerah melalui lembaga keuangan lain (second-tier).
Berdasarkan analisa kelembagaan menggunakan 12 (dua belas) aspek
berikut ini: pertanggungjawaban (liability), orientasi perusahaan, investasi,
permodalan, keputusan untuk memberikan pinjaman, sumber pendanaan,
proteksi pinjaman, peraturan pendirian, koordinasi, manajemen, pasar
modal, dan pengawasan, dapat disimpulkan bahwa bentuk terbaik untuk
institusi MDF di Indonesia adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara).
Terdapat 3 (tiga) opsi kelembagaan MDF dalam jangka pendek, yaitu (1)
Transisi melalui BUMN yang ada saat ini, (2) Transisi melalui BLU yang
ada saat ini, dan (3) Membuat BLU Baru.
1. Transisi melalui BUMN yang ada

BAB 6

Saat ini terdapat PT. SMI (Sarana Multi Infrastruktur) sebagai


BUMN yang bergerak dalam pembiayaan infrastruktur nasional
dan daerah, terutama melalui mekanisme PPP (Public Private
Partnership). Apabila PT. SMI diminta melaksanakan fungsi MDF
tersebut, maka MDF ini akan menjadi unit di bawah PT. SMI yang
khusus melakukan pinjaman infrastruktur kepada Pemerintah
Daerah. Untuk melaksakanakan kewajiban ini, PT. SMI
memerlukan peningkatan instrumen keamanan pinjaman, yang
dapat diusulkan kepada Pemerintah:
PT. SMI dapat melakukan intercept DAU (Dana Alokasi
Umum),
PT. SMI dapat meminta jaminan aset dari Pemerintah
Daerah,
PT. SMI dapat meminta komitmen dari DPRD melalui
penerbitan Perda.
Selain itu, PT. SMI memiliki kepentingan menjaga credit ratingnya, Penyertaan Modal Negara (PMN) sebagai modal awal MDF

270 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

lebih baik dicatatkan sebagai hibah ekuitas dibandingkan dengan


utang, karena langsung mempengaruhi Debt-to-Equity Ratio
(DER), aktivitas MDF juga dapat dicatatkan dalam buku terpisah
(sub-ledger).
2. Transisi melalui BLU yang ada
Saat ini BLU yang telah aktif melakukan pinjaman daerah adalah
PIP (Pusat Investasi Pemerintah). Sebagai pengelola kekayaan
negara untuk diinvestasikan (sovereign wealth fund) (PP 1/2008),
PIP memiliki mandat yang sangat luas baik dalam skala maupun
cakupan tujuan manfaat. Di lain pihak, tujuan dan skala MDF
sangat spesifik tetapi memerlukan keleluasaan ruang gerak yang
sulit dilakukan jika masuk dalam sistem birokrasi. Seandainya
MDF dimasukkan ke dalam PIP, maka ada tambahan tugas baru
untuk PIP, yang memerlukan penyesuaian yang tidak sederhana
untuk mencapai tujuan MDF. Selain itu, mengingat bahwa dalam
jangka menengah, MDF yang ideal haruslah berbentuk BUMN,
maka diperlukan sebuah mekanisme transisi dari bagian BLU
menjadi BUMN yang harus dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga)
tahun. Momen pentahapan ini sangat penting, mengingat bahwa
menjadi MDF yang kompetitif haruslah MDF yang dapat
mengakses pasar modal secara leluasa, yang hanya dapat
dilakukan oleh BUMN.

Mendirikan BLU baru adalah sebuah opsi dengan maksud tidak


mengganggu sistem di PIP sebagai pilihan transisi, karena untuk
mencapai tujuan efektif MDF perlu dalam format BUMN. Namun
pada akhirnya harus tetap diingat bahwa secara konteks tujuan
besar, yaitu untuk menjadi sebuah MDF potensial dalam jangka
menengah dan jangka panjang, maka pengalaman internasional
membuktikan bahwa bentuk BLU baru inipun bukanlah bentuk
optimal untuk sebuah pendirian MDF. Jadi, bila opsi membentuk
BLU baru ini yang akan dipilih, maka diperlukan juga sebuah
tahapan, yang memungkinkan bahwa bentuk BLU ini akan
menjadi bentuk BUMN di dalam jangka menengah.

BAB 6

3. Transisi dengan mendirikan BLU baru

Untuk menjadi MDF yang potensial, setidaknya perlu dibuat sebuah


desain kebijakan yang meliputi 7 (tujuh) kebijakan strategis:
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

271

1. Desain Insentif
Insentif dapat diberikan dalam bentuk fiskal dan non-fiskal. Insentif
fiskal dapat diberikan dalam bentuk subsidi modal, subsidi bunga
pinjaman, atau masa tenggang waktu memulai cicilan
pembayaran.
2. Struktur Modal
Struktur modal awal MDF dapat berupa 100% modal atau dengan
komposisi modal-utang. Modal murni dapat menekan biaya
pinjaman, jika dipandang dari sisi neraca keuangan institusi
karena tanpa cost of funds; walaupun opportunity cost dari alokasi
tersebut harus dipertimbangkan dari sisi kebijakan fiskal. Sumber
modal murni dapat berasal dari swasta atau non-swasta
3. Model Pengelolaan
Pengelolaan MDF harus bersifat independen, profesional, dan
efisien. Dewan direksi dipagari oleh prinsip hard budget constraint
sehingga tidak ada dana tambahan Pemerintah untuk menutup
kerugian karena kesalahan manajemen. Sistem reward and
punishment juga harus mengacu pada pasar.
4. Proteksi Pinjaman
Pinjaman selalu mengandung risiko gagal bayar (Non-Performing
Loan, atau NPL). Lembaga pinjaman harus mempunyai cara untuk
meminimasi risiko gagal ini. Desain dari proteksi pinjaman akan
memerlukan beberapa perubahan dalam Undang-undang maupun
cukup berupa peraturan Menteri.
5. Kriteria Pemerintah Daerah yang Berhak Meminjam

BAB 6

Jika Pemda memang belum mampu meminjam, maka seharusnya


mendapatkan sumber pembiayaan lain seperti hibah. Pinjaman
diberikan hanya pada daerah yang mempunyai kapasitas untuk
membayar pinjaman dengan kriteria meminjam yang jelas dan
transparan.
6. Kelembagaan MDF
Dari uraian sebelumnya, untuk membentuk MDF yang
independen, profesional, dan efisien, dari berbagai bentuk institusi
yang telah dielaborasi, solusi ideal mengerucut pada

272 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

pembentukan sebuah BUMN baru. Dalam jangka pendek telah


diuraikan beberapa opsi yang dapat dipilih oleh Pemerintah.
7. Kerjasama dengan Entitas Lain
MDF perlu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk
penyediaan Technical Assistance dan Capacity Building ke
Pemerintah Daerah
APBN adalah sumber dana awal yang standar bagi operasional awal
MDF karena seringkali MDF dibentuk atas inisiatif pemerintah. Akses
terhadap pasar modal yang lebih luas dan kompetitif sepenuhnya
tergantung dari peringkat kredit yang diperoleh MDF yang ditentukan oleh
kinerja keuangannya. Kinerja keuangan ini juga ditentukan oleh baik
tidaknya penerapan disiplin pasar dan rendahnya kredit macet.
Memastikan bahwa Pemerintah Daerah yang meminjam dana mampu
membayar angsuran kreditnya dengan lancar adalah aspek yang paling
utama untuk mencapai peringkat kredit yang baik.
Tabel 6.1 Arah Kerangka Awal Pembiayaan Pembangunan Perkotaan

2015

2017

2018

2019

Pengembangan profil investasi dalam pembangunan kota-kota


Percepatan
pemenuhan
SPP, terutama
untuk
prasarana
dasar.
Percepatan
perwujudan
peran dan
fungsi kota
sebagai pusatpusat kegiatan
(PKG, PKN,
PKW)

2016

Percepatan
pemenuhan
SPP, terutama
untuk prasarana
dasar.

Percepatan
pemenuhan
SPP, terutama
untuk prasarana
dasar.

Percepatan
pemenuhan
SPP, terutama
untuk prasarana
dasar.

Percepatan
pemenuhan
SPP, terutama
untuk prasarana
dasar.

Percepatan
perwujudan
peran dan fungsi
kota sebagai
pusat-pusat
kegiatan (PKG,
PKN, PKW)

Percepatan
perwujudan
peran dan fungsi
kota sebagai
pusat-pusat
kegiatan (PKG,
PKN, PKW)

Percepatan
perwujudan
peran dan fungsi
kota sebagai
pusat-pusat
kegiatan (PKG,
PKN, PKW)

Percepatan
perwujudan
peran dan fungsi
kota sebagai
pusat-pusat
kegiatan (PKG,
PKN, PKW)

Kawasan
Metropolitan dan
Kota Besar :
Penataan dan
pemenuhan

Kawasan
Metropolitan dan
Kota Besar :
Penataan dan
pemenuhan

Kawasan
Metropolitan dan
Kota Besar :
Penataan dan
pemenuhan

BAB 6

No

Fokus nasional dalam pembiayaan


Kawasan
Metropolitan
dan Kota
Besar :
Penataan

Kawasan
Metropolitan dan
Kota Besar :
Penataan dan
pemenuhan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

273

No

2015

2016

2017

2018

2019

dan
pemenuhan
standar
pusat
kegiatan
Nasional
Penanganan
dan
pengendalia
n isu lintas
wilayah
Kota Sedang
dan Kecil
Pemenuhan
SPP
Percepatan
koneksi
desa- kota

standar pusat
kegiatan
Nasional
Penanganan
dan
pengendalian
isu lintas
wilayah
Kota Sedang
dan Kecil
Pemenuhan
SPP
Percepatan
koneksi desakota

standar pusat
kegiatan
Nasional
Penanganan
dan
pengendalian
isu lintas
wilayah
Kota Sedang
dan Kecil
Pemenuhan
SPP
Percepatan
koneksi desakota

standar pusat
kegiatan
Nasional
Penanganan
dan
pengendalian
isu lintas
wilayah
Kota Sedang
dan Kecil
Pemenuhan
SPP
Percepatan
koneksi desakota

standar pusat
kegiatan
Nasional
Penanganan
dan
pengendalian
isu lintas
wilayah
Kota Sedang
dan Kecil
Pemenuhan
SPP
Percepatan
koneksi desakota

APBN
Peran Swasta
APBD

APBN
Peran Swasta
APBD
Lembaga Donor

APBN
Peran Swasta
APBD
Lembaga Donor

Operasionalisasi
tahap I dari PDF

Operasionalisasi
tahap I dari PDF

Pembiayaan
untuk sekretariat
akan dibantu
oleh lembaga
donor dan APBN

Pembiayaan
untuk sekretariat
akan dibantu
oleh lembaga
donor dan APBN

Kerangka pembiayaan
APBN
Peran Swasta
APBD

APBN
Peran Swasta
APBD

Pengembangan Kelembagaan Pembiayaan


Melakukan
kajian,
menyusun
kebijakan dan
mengeluarkan
peraturan
perundangan

BAB 6

Penyiapan
pembentukan
Sekretariat
Urban
Infrastructure
Project
Development
Facilities.
Penyiapan
Peraturan
Menteri
tentang
Pembentukan
Sekretariat
Urban
Infrastructure
Project

Pengembangan
kerangka
kelembagaan
dan Peraturan
PDF di
Indonesia
Penyiapan
pembentukan
Sekretariat
Urban
Infrastructure
Project
Development
Facilities.

Pembentukan
Sekretariat
Urban
Infrastructure
Project
Development
Facilities.
Pembiayaan
untuk sekretariat
akan dibantu
oleh lembaga
donor dan APBN

Finalisasi
Peraturan
Menteri tentang
Pembentukan
Sekretariat
Urban
Infrastructure
Project
Development
Facilities.
Pembiayaan
untuk sekretariat
akan dibantu

274 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

No

2015
Development
Facilities.

2016

2017

2018

2019

oleh lembaga
donor dan APBN

Workshop
Pembentukan
PDF di
Indonesia
Pembiayaan
untuk
sekretariat
akan dibantu
oleh lembaga
donor dan
APBN

Sumber: Bappenas, 2014.

6.5.3 Financial Intermediary

Infrastruktur perkotaan perlu ditingkatkan untuk memfasilitasi


pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia. Namun, infrastruktur
perkotaan memerlukan biaya yang besar dalam pembangunannya.
Proses sentralistik yang dulu dijalankan oleh pemerintah Indonesia
sebelum reformasi tahun 1997/1999 belum dapat memenuhi keinginan
daerah yang ingin berkembang secara mandiri, sehingga terciptalah
proses desentrasilsasi fiskal, namun sayangnya masih banyak
permasalahan yang ada karena pengelolaan keuangan bukan hanya
masalah pengaturan sistem namun juga menyangkut masalah
kelembagaan dan kapasitas aparatur negara.
Dari tahun 2001 dimana desentralisasi fiskal dilaksanakan sampai
sekarang, pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur perkotaan
belum dapat menunjukkan hasil yang signifikan. Permasalahan utama
yang dihadapi pemerintah kota adalah (1) keterbatasan pendanaan dari
pemerintah lokal (2) masih bergantung pada pemerintah pusat untuk
belanja modal (3) manajemen pengelolaan keuangan yang belum kuat
16

BAB 6

Financial intermediaries atau perantara keuangan merupakan sebuah


lembaga yang dapat menjadi alternatif untuk pengembangan pembiayaan
pembangunan perkotaan terutama untuk investasi infrastruktur lokal yang
didalamnya menangani obligasi, dana pembangunan kota yang berasal
dari pajak maupun dana perimbangan dari pusat.16

Role of Financial Intermediation for Local Governments, World Bank, I9SNSPOVW90

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

275

sehingga perlu adanya reformasi pengelolaan infrastruktur perkotaan.


Pengalaman India17, Pakistan18 dan IMF menekankan pada 3 isu pokok
sektor perkotaan :
1.
2.

3.

Kebutuhan pembangunan kapasitas pemerintahan yang efisien


dan responsif akan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.
Mengingat
kebutuhan
investasi,
Pemerintah
Daerah
membutuhkan bantuan investasi jangka panjang yang tidak dapat
diberikan oleh pemerintah pusat sehingga kemungkinan akan
meminjam dari daerah atau lembaga lain.
Adanya konsesus politik dan penataan kegiatan pembangunan
secara partisipatif yang dalam perubahan tarif untuk mendanai
pembangunan.

Ketiga komponen tersebut akan membentuk dasar bagi rencana kerja


pembangunan perkotaan di masa mendatang. Tujuan dari dibentuknya
Financial intermediaries adalah :
a.

Menyediakan dana pembangunan infrastruktur perkotaan yang


dapat meningkatkan standar hidup masyarakat perkotaan;

b.

Memfasilitasi partisipasi sektor swasta dan masyarakat dalam


pembangunan infrastruktur perkotaan;

c.

Menyusun prioritas infrastruktur perkotaan yang strategis dan


menilai kelayakannya dari berbagai aspek;

d.

Membantu mengawasi penggunaan hibah daerah;

e.

Meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah dalam mengakses


pembiayaan yang berasal dari Pasar Modal dan Pinjaman dan
Hibah Luar Negeri.

BAB 6

Kekuatan inti dari Financial intermediaries adalah :


1.
2.
3.
4.

Mengembangkan proyek pembangunan


Penailaian proyek
Penataan keuangan
Akses ke pasar modal

17

Lu, Waiping. Urban Infrastructure Financing and Economic Performance in China.


Douglas Wilder School of Government and Public Affairs, Virginia Commonwealth
University, 2010.
18
Pakistan 10 Years Strategy Paper for Banking Sector Reforms, State Bank of Pakistan,
2009

276 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

5.

Fleksibilitas dalam pengoperasiannya.

Komponen Pengembangan Kelembagaan:


a.

Komponen pengembangan kelembagaan akan digunakan untuk :


1) Pengembangan kapasitas aparatur negara melalui program
pelatihan untuk meningkatkan pembangunan manajerial dan
teknis.
2) Mengembangkan dan memperluas e-governance dan
jaringan teknologi informasi.
3) Menguatkan monitoring utang untuk menjaga kestabilan fiskal
dan moneter.
4) Bantuan teknis untuk persiapan dan pengawasan proyek
(project preparation facility)
5) Manejemen proyek, termasuk peningkatan biaya operasional;
memperkuat kerangka monitoring kegiatan pemerintah;
benchmarking kinerja dan meningkatkan transparansi serta
akuntabilitas.

Dalam rangka melaksanakan berbagai arah penyediaan


pembiayaan pembangunan perkotaan tersebut diatas, maka
disusun kebijakan dan strategi pembiayaan pembangunan
perkotaan Tahun 2015 2050 yang akan dilaksanakan oleh
Pemerintah
dan
Pemerintah
Daerah
(Provinsi
dan
Kabupaten/Kota), sebagaimana diuraikan dalam Tabel 6.2.
dibawah ini.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6

b. Komponen Investasi Perkotaan


Terdiri dari hibah, pinjaman dan dana bagi hasil yang akan
digunakan untuk mengembangkan investasi perkotaan yang
berkelanjutan seperti penyediaan air bersih, pengolahan limbah,
sistem drainase, jaringan transportasi dan lain sebagainya.
Perantara keuangan (Financial Intermediaries - FI) khusus di
daerah yang merencanakan, mengelola dan mengembangkan
berbagai jenis pembiayaan pembangunan perkotaan yang terdiri
dari: pinjaman daerah, obligasi daerah, KPS, MDF maupun dana
hibah yang berasal dari Pemerintah.

277

Tabel 6.2 Kebijakan dan Strategi Pembiayaan Perkotaan


No.
1.

BAB 6

STRATEGI
ASPEK DAN
KEBIJAKAN
Pemerintah
Pemerintah Daerah
Jangka Waktu
Kebijakan dan Peraturan Perundangan
(Bappenas dan Kemenkeu dengan melibatkan Universitas, Pusat Penelitian, Kadin, Sektor
Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)
Mendorong
Melakukan kajian,
Terlibat dalam penyusunan Dilakukan
munculnya jenis
menyusun kebijakan dan kajian, kebijakan dan
dalam jangka
dan instrumen
mengeluarkan peraturan
peraturan perundangan
pendek,
pembiayaan
perundangan yang dapat berdasarkan tipologi kota
terutama untuk
yang baru,
mendorong terciptanya
kajian dan
menarik dan
alternatif jenis dan
penyusunan
inovatif
instrumen pembiayaan
kebijakan.
pembangunan perkotaan
Dimulai dari
yang menarik baik dari
jangka pendek
aspek proses
(2015 2018)
(penyederhanaan), pasar
(likuiditas dan
instrumen), risiko kredit,
dan sebagainya
Memberi
Mengeluarkan
Menyusun Peraturan
Jaminan dan
jaminan dan
peraturan perundangan
Daerah atau instrumen
kepastian
kepastian hukum
yang menjamin
hukum lainnya yang
hukum memiliki
keberlangsungan
memberi jaminan dan
peranan yang
investasi oleh sektor
kepastian hukum bagi
sangat besar
swasta dan
investasi di daerah
dalam investasi
masyarakat
dan daya saing
Mengurangi peran DPRD
daerah,
Mempersiapkan
dalam proses
sehingga harus
standar dan
perencanaan,
dilakukan
mekanisme resolusi
pelaksanaan dan
secepatnya
jika terjadi gagal bayar
pengelolaan investasi di
untuk
atau dispute antara
daerah terutama untuk
mendorong
Pemerintah Kota
skema Hibah daerah,
kondisi
dengan pemilik dana
Pinjaman Daerah,
perekonomian
(sektor swasta dan
Obligasi Daerah, dan
yang
masyarakat)
KPS
diharapkan.
Dimulai dari
jangka pendek
(2015 2018)
Memperluas
Melakukan kajian,
Dalam
era
basis sumber
menyusun kebijakan dan
desentralisasi
Pendapatan Asli mengeluarkan peraturan
fiskal,
Daerah (PAD)
perundangan yang yang
pemerintah
memberi kewenangan
daerah diberi
yang lebih besar kepada
kewenangan
Pemerintah Daerah

278 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

Pemerintah
untukmenggali dan
mengoptimalkan sumbersumber alternatif untuk
PAD

STRATEGI
Pemerintah Daerah

Jangka Waktu
untuk
mengelola
keuangan dan
mengoptimalka
n
sumber
fiskalnya,
sehingga
harusnya telah
dilakukan sejak
kebijakan
tersebut
dilakukan.
Dimulai
dari
jangka pendek
(2015 2018)

Sumber dan Jenis Pembiayaan


(Bappenas,Kemenkeu, dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas, Pusat Penelitian,
Kadin, Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)
Pinjaman daerah Menyusun kajian untuk Terlibat dalam
Dalam kasus
menentukan kriteria
penyusunan kajian dan
pinjaman
proyek-proyek
kebijakan berdasarkan
daerah, sudah
infrastruktur yang
tipologi kota
banyak
dapat ditawarkan
paraturan yang
Menyusun profil
dalam bentuk pinjaman
mengatur tata
kapasitas dalam
daerah
cara dan
pelaksanaan pinjaman
ketentuan
Memberikan credit
daerah, mulai dari
daerah untuk
enhancement bagi
perencanaan,
melakukan
pinjaman daerah,
pelaksanaan dan
pinjaman,
misalnya:
pengelolaan, termasuk
namun harus
menstrukturkan jangka
identifikasi terhadap
ada kajian
waktu pinjaman,
resiko dan
tentang credit
meningkatkan
manajemennya
worthiness
peringkat kredit,
Mengidentifikasi proyek
sebagai salah
menurunkan bunga
infrastruktur yang dapat
satu syarat
pinjaman, dan
ditawarkan dalam bentuk
dalam tata cara
sebagainya
pinjaman daerah dan
pinjaman
kemungkinan pemaketan
daerah.
investasinya yang tepat
Meningkatkan kelayakan Dalam kasus
ini, pinjaman
kreditPemerintah Daerah
daerah
dilakukan
proses two
stage loan agar

BAB 6

No.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

279

No.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

Pemerintah

BAB 6

Obligasi daerah

Meningkatkan likuiditas
obligasi daerah di
pasar modal dengan
kebijakan repurchase
agreement untuk
mengatasi
kesenjangan periode
investasi/pembiayaan
pembiayaan
infrastruktur yang
bersifat jangka panjang
Memberikan credit
enhancement bagi
pemanfaatan obligasi
daerah, misalnya:
adanya jaminan bailout
yang disertai sanksi
keras, bebas pajak
penghasilan untuk
obligasi jangka
panjang, dan
sebagainya

Kerjasama
Pemerintah
Swasta (KPS)

Menyusun kajian dan


kebijakan dalam
rangka memperluas
skema KPS untuk
proyek infrastruktur
skala kecil dan
menengah
Menyusun kajian dan
kebijakan dalam
rangkamengembangka
n KPS, misalnya
melalui monetizable

STRATEGI
Pemerintah Daerah

Mengidentifikasi proyek
infrastruktur yang dapat
ditawarkan dalam bentuk
obligasi daerah dan
kemungkinan pemaketan
investasinya yang tepat
Menyusun profil
kapasitas dalam
pelaksanaan obligasi
daerah, mulai dari
perencanaan,
pelaksanaan dan
pengelolaan, termasuk
identifikasi terhadap
resiko dan
manajemennya
Mengidentifikasi proyek
infrastruktur yang dapat
ditawarkan dalam bentuk
obligasi daerah dan
kemungkinan pemaketan
investasinya yang tepat
Meningkatkan kelayakan
kredit Pemerintah Daerah
Menyusun profil
kapasitas dalam
pelaksanaan KPS, mulai
dari perencanaan,
pelaksanaan dan
pengelolaan, termasuk
identifikasi terhadap
resiko dan
manajemennya
Mengidentifikasi proyek
infrastruktur yang cost
recovery, bankable dan

280 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Jangka Waktu
dana pinjaman
lebih udah
dimonitoring
dalam
penggunaanny
a
Dimulai dari
jangka
menengah (
2015 - 2018)
Jangka
menengah
(2018-2022)

KPS sudah
sering
dilakukan oleh
pemerintah
daerah, namun
dari banyak
kasus yang
ada, hanya
beberapa kota
besar atau
metropolitan
yang telah

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

Instrumen
pembiayaan
pembangunan
lainnya

3.

Pemerintah
model, land value
capture, pendirian
SPV, dan sebagainya

Menyusun kajian dan


kebijakan dalam rangka
pengembangan sumber
dan jenis pembiayaan
lain, seperti Municipal
Development Funds
(MDF), Program CSR,
Program Kerjasama
Daerah (Sister City),
pemanfaatan aset
daerah dalam bentuk
tanah (land value
capture), dan intrumen
pembiayaan lainnya

STRATEGI
Pemerintah Daerah
marketableuntuk
dikerjasamakan dengan
pihak swasta melalui
skema KPS

Terlibat dalam penyusunan


kajian dan kebijakan
berdasarkan tipologi kota

Jangka Waktu
melakukannya,
namun belum
banyak kota
sedang atau
tipologi kota
lain yang
melakukannya
karena alasan
skala ekonomi,
sebagai
alternatif,
beberapa kota
kecil atau
sedang dapat
join dan
bekerjasama
dengan swasta
untuk suatu
sektor tertentu.
Dimulai
dari
jangka pendek
(2015 2018)
Dalam
beberapa
contoh
instrumen
pembiayaan
lainnya,
Municipal
development
funds, belum
dapat
dilaksanakan
jangka pendek
karena belum
ada kebijakan
yang mengatur
tentang ini.
Dimulai
dari
jangka
menengah
(2018 2022)

BAB 6

No.

Besaran Pembiayaan
(Bappenas, Kemenkeu, KemenPU,dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas, Pusat
Penelitian, Kadin, Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

281

No.

4.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN
Skala
Keekonomian

Pemerintah
Mendorong Kerjasama
Antar Daerah (KAD)
bagi Kota Sedang dan
Kecil untuk mencapai
skala keekonomian
mengakses
pembiayaan terutama
dari sektor swasta
Menyusun kajian dan
kebijakan dan
mengeluarkan
peraturan perundangan
untuk mengembangkan
instrumen investasi
seperti pooled fund
atau Municipality
Development Funds
(MDF) bagi daerahdaerah yang telah
bekerjasama
Memberikan credit
enhancement bagi
pemanfaatan MDF.

STRATEGI
Pemerintah Daerah
Melakukan kerjasama
dengan kota/daerah yang
berdekatan untuk
menyusun prioritas
infrastruktur yang dapat
dibangun dan dikelola
bersama serta menarik
untuk ditawarkan kepada
sektor swasta, melalui
pinjaman daerah, obligasi
daerah ataupun KPS

Jangka Waktu
Dimulai
dari
jangka
pendek
(2015 2018)

BAB 6

Kelayakan Kredit
(Bappenas, Kemenkeu dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas, Pusat Penelitian,
Kadin, Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)
Mengembangkan sistem
Penilaian
Menyusun profil dan
Penilaian
meningkatkan kelayakan
kelayakan
Kelayakan Kredit penilaian kelayakan
kredit bagi seluruh
kredit Kota, yang terdiri
kredit harus
daerah, khususnya bagi
dari identifikasi area
dilaksanakan
kota-kota otonom
untuk perbaikan, rencana
secepatnya
kerja, peningkatan
karena kajian
kapasitas, implementasi,
tentang
monitoring dan evaluasi
penilaian
kelayakan
kredit ini belum
ada (selain dari
Kemetrian
Keuangan).
Disisi lain,
penilaian
kelayakan
kredit ini
merupakan
bagian yang

282 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

5.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

Pemerintah

STRATEGI
Pemerintah Daerah

Jangka Waktu
penting dari
proses
pinjaman
daerah.
Dimulai
dari
jangka pendek
(2015 2018)

Peningkatan Kapasitas
(Bappenas, Kemenkeu dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas, Pusat Penelitian,
Kadin, Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)
Meningkatkan kapasitas
Perencanaan
Mengidentifikasi sektor Perencanaan
Pemerintah Kota dalam
sektor dan infrastruktur
dalam
menyusun prioritas
prioritas dan strategis
identifikasi
infrastruktur yang
berdasarkan dokumen
sektor dan
strategis
strategi pembangunan
infrastruktur
daerah (KSPPD) dan
prioritas daftar
perencanaan
infrastruktur
pembangunan daerah
harus
(RPJMD)
dilakukan
secepatnya
Menyusun daftar
agar
infrastruktur yang
pemerintah
bankable dan dapat
daerah dapat
ditawarkan (marketable)
menentukan
dalam bentuk pinjaman
prioritas
daerah, obligasi daerah
pendanaan
ataupun KPS
dan program
untuk
pengembanga
n wilayahnya.
Dimulai
dari
jangka pendek
(2015 2018)
Meningkatkan kapasitas
dari
Pelaksanaan
Mempersiapkankelompok Dimulai
Kota dalam
jangka
pendek
kerja atau tim khusus
melaksanakan
(2015 2018)
lintas SKPD yang
pembangunan
bertanggungjawab
infrastruktur
merencanakan dan
mencari sumber dan
jenis pembiayaan
pembangunan
dari
Pengelolaan
Meningkatkan
Mempersiapkankelompok Dimulai
jangka
pendek
kapasitas
Pemerintah
kerja
atau
tim
khusus
investasi
dan
(2015 2018)
Kota dalam mengelola
lintas SKPD yang
keuangan
investasi dan
merencanakan,
keuangan
mengelola, memonitor

BAB 6

No.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

283

No.

5.

ASPEK DAN
KEBIJAKAN

Pemerintah
Meningkatkan
kapasitas Pemerintah
Kota dalam
peningkatan kelayakan
kredit
Meningkatkan
kapasitas Pemerintah
Daerah dalam
menggali, memperluas
dan mengoptimalkan
sumber-sumber
Pendapatan Asli
Daerah (PAD)

STRATEGI
Pemerintah Daerah
dan mengevaluasi
berbagai pembiayaan
pembangunan perkotaan
yang bersumber dari non
pemerintah
Mengembangkan skema
pembebanan biaya
pemakaian fasilitas
infrastruktur (user
charges atau tarif) yang
lebih realistis dan inovatif
kepada masyarakat
Menggali, memperluas
dan mengoptimalkan
sumber-sumber
Pendapatan Asli Daerah
(PAD) dengan
mempertimbangkan ilim
investasi dan daya saing
daerah

Jangka Waktu

BAB 6

Lembaga Keuangan Perantara


(Bappenas, Kemenkeu dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas, Pusat Penelitian,
Kadin, Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor)
Membentuk
Melakukan kajian,
Terlibat dalam
Dimulai
dari
lembaga
menyusun kebijakan dan
penyusunan kajian dan
jangka pendek
perantara
mengeluarkan peraturan
kebijakan berdasarkan
(2015 2018)
keuangan
perundangan yang dapat
tipologi kota
khusus sebagai
mendorong terciptanya
Mempersiapkankelompok
pengelola
lembaga perantara
kerja atau tim khusus
berbagai jenis
keuangan di daerah
lintas SKPD yang
pembiayaan
merencanakan
pembangunan di
pembentukan lembaga
daerah yang
perantara keuangan di
berasal dari
daerah beserta
Pemerintah dan
kelengkapan peraturan
Non Pemerintah
perundangannya
Sumber: Hasil Analisis (2013)

284 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 6
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

285

BAB 7
Kebijakan
dandan
Strategi
Strategi
Pembangunan
Pembangunan
Perkotaan
Perkotaan
Nasional
Nasional
286
286 2Kebijakan

BAB 7

KERANGKA REGULASI
PERKOTAAN

Kebijakan
dan
Strategi
Pembangunan
Perkotaan
Nasional
Kebijakan
dan
Strategi
Pembangunan
Perkotaan
Nasional

287
287

Kerangka Regulasi Perkotaan

BAB 7

Berbagai permasalahandan tantangan perkotaan di Indonesia masih


belum seluruhnya diatur dan diantisipasi oleh berbagai peraturan
perundangan yang sudah ada. Apabila ditinjau dari berbagai peraturan
perundangan yang sudah ada, baik yang bersifat generalis (umum)
ataupun yang bersifat spesialis (sektoral), kenyataannya memang tidak
cukup mengakomodir dan memberikan solusi bagi permasalahan dan
tantangan perkotaan yang semakin kompleks dan dinamis. Tantangan
multisektoral, sosio-spasial, dan lokasi dari permasalahan dan tantangan
pembangunan perkotaan juga semakin bervariasi mulai dari kota
metropolitan sampai dengan kawasan perkotaan kecil yang berada dalam
sebuah kabupaten. Kondisi tersebut diperparah dengan ketidak-jelasan
kerangka kelembagaan pengelolaan perkotaan bagi kawasan perkotaan
yang bukan berstatus daerah otonom, dalam hal ini adalah Kota
Administratif. Kebutuhan akan adanya peraturan perundangan yang
khusus bidang perkotaan menjadi semakin penting dan genting ketika kita
harus mulai mempertimbangkan perlunya pembangunan perkotaan yang
berkelanjutan dalam menentukan arah dan bentuk kota-kota di Indonesia
pada masa yang akan datang.

7.1

Peraturan di Tingkat Undang-Undang

Permasalahan regulasi terkait dengan perkotaan sekarang adalah belum


tersedianya peraturan setingkat Undang-Undang yang khusus mengatur
bidang perkotaan secara multisektor, antar wilayah dan multidimensi. Hal
ini disebabkan karena peraturan yang ada belum mampu menyelesaikan
permasalahan perkotaan yang multisektor. Sasaran pembangunan
perkotaan di masa yang akan datang adalah pembangunan berkelanjutan
yang memberikan keseimbangan antara pembangunan fisik, ekonomi,

288 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

lingkungan dan sumber daya manusia, termasuk dalam menghadapi


tantangan pembangunan perkotaan kedepannya, yaitu perubahan iklim
dan tingginya bencana alam.
Keberadaan regulasi yang khusus mengatur tentang perkotaan di tingkat
undang-undang dapat secara lebih khusus diperlukan karena berbagai
faktor, antara lain:
Belum ada undang-undang yang secara khusus mengatur
tentang kota otonom dan non otonom
Pada saat ini telah tersedia regulasi-regulasi yang terkait
dengan perkotaan namun sifatnya masih bersifat sektoral,
belum tertata secara utuh, dan menyeluruh untuk mewakili
entitas sebuah kota sekaligus untuk menyelesaikan berbagai
permasalahan yang ada di dalamnya. Beberapa peraturan
yang terkait dengan perkotaan, antara lain: UU no 23 tahun
2014 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang, dan UU No. 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman. Selanjutnya peraturan
perkotaan yang lain lebih banyak pada tingkatan yang lebih
rendah, seperti Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden
(Perpres) dan Peraturan Menteri (Permen), yang merupakan
penjabaran dari ketiga undang-undang tersebut. Namun
sayangnya ketiga undang-undang tersebut masih belum cukup,
sehingga diperlukan aturan yang lebih spesifik dan solid dalam
mengelola kompleksitas pembangunan dan pengelolaan
perkotaan sebagai sebuah entitas sosio-ekonomi-spasial.
2.

Pelaksanaan sistem desentralisasi dan otonomi yang belum


optimal

BAB 7

1.

Sejak Tahun 2001, Indonesia telah menerapkan kebijakan


pelaksanaan desentralisasi fiskal yang kemudian menjadi
tantangan baru dalam manajemen ekonomi makro Indonesia.
Perubahan kebijakan ini dapat menjadi masalah stabilitas
ekonomi makro berkepanjangan apabila kurang tepat dalam
mengelola pelaksanaan desentralisasi fiskal. Salah satu akar
permasalahan ini adalah perbedaan orientasi kebijakan
ekonomi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah lebih menghadapi masalah keterbatasan
keuangan (financial constraints) daripada keterbatasan
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

289

ekonomi (economic constraints) yang menjadi perhatian


pemerintah pusat. Selain itu pemerintah daerah lebih menaruh
perhatian pada masalah alokasi daripada stabilisasi, yang
dianggap sebagai beban pemerintah pusat. Anggaran belanja
pemerintah daerah yang meningkat dapat mendorong
permintaan domestik, dan mempengaruhi keseimbangan
anggaran bila efek multiplier dari pengeluaran daerah jauh
melebihi multiplier rata-rata pendapatannya.
3.

Belum ada pengaturan terhadap kota-kota yang dibangun oleh


pihak swasta seperti: kota mandiri, kota terpadu, kota industri,
dan sebagainya
Dengan adanya berbagai permasalahan perkotaan yang sudah
ada, pengelolaan kawasan perumahan besar dan kota-kota
baru yang cepat berkembang menjadi lebih kompleks dan
rentan konflik sehingga diperlukan pengaturan kerangka
kelembagaan pengelolaan perkotaan; khususnya untuk kotakota yang bukan berstatus otonom.

4. Perkembangan perkotaan sangat berpengaruh dan resiprokal


dengan daerah sekitarnya

BAB 7

Kecenderungan pembangunan yang ada menunjukkan bahwa


kota telah menimbulkan back-wash effect dibandingkan kondisi
ideal yang diharapkan, yaitu trickle-down effect. Akibat yang
terjadi adalah kawasan pinggiran dan kawasan perdesaan
menjadi sumber (supplier) bagi sumber daya yang dibutuhkan
untuk meng-operasionalkan kota. Dilain pihak, telah terjadi
urban sprawl yang menyebabkan perkembangan tingkat
urbanisasi di kawasan perdesaan. Kondisi ini sangat
dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan tidak
adanya pembagian peran antara kota dan desa dalam berbagai
aspek, seperti lingkungan, ketahanan pangan. Kedepan
dibutuhkan pengaturan role sharing dan pemberian insentif dan
disinsentif, serta kerangka kerjasama antar wilayah inti (kota)
dengan wilayah penyangganya (hinter land).
Perkembangan perkotaan juga perlu didudukkan dalam
konstelasi yang lebih luas dalam skala global. Kota-kota
metropolitan dan besar di Indonesia akan menghadapi
tantangan persaingan global yang semakin kuat, terutama di

290 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

wilayah ASEAN. Persaingan tersebut bisa berbentuk


persaingan ekonomi yang meliputi pelayanan jasa dan
perdagangan maupun persaingan sosial dan lingkungan yang
menuntut peran aktif perkotaan dalam berbagai kegiatan
internasional.
Dengan demikian, ke depan diperlukan undang-undang tentang
Perkotaan yang disusun, akan mengatur bagaimana permasalahan dan
tantangan pembangunan perkotaan harus diselesaikan sekaligus
memberikan landasan dan arahan yang kuat untuk pembangunan
perkotaan kedepan, mulai dari pembangunan fisik, pengelolaan
lingkungan perkotaan, penyediaan tanah, kelembagaan sampai dengan
pembiayaan, sehingga kota-kota di Indonesia memiliki arah yang jelas
sesuai kaidah pembangunan yang berkelanjutan. Penyusunan UndangUndang tentang Perkotaan menuntut adanya kerjasama yang sinergis
antar Kementerian/Lembaga. Disamping itu, dalam penyusunannya perlu
dipertimbangkan peraturan perundangan yang sudah ada sehingga tidak
terjadi tumpang tindih. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 7.1,
kedudukan Undang-Undang tentang Perkotaan akan menjadi strategis
dalam kerangka mengisi kekosongan (gap) antara undang-undang yang
mengatur tentang perencanaan dan rencana pembangunan nasional dan
penataan ruang.

BAB 7

Gambar 7.1 Kedudukan Undang-Undang tentang Perkotaan

Sumber : Analisis Bappenas, 2013

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

291

7.2

Peraturan di Tingkat Peraturan Pemerintah

7.2.1 Peraturan Pemerintah


Nasional (SPN)

tentang

Sistem

Perkotaan

Pengaturan tentang Sistem Perkotaan Nasional belum spesifik. Padahal


terdapat kota-kota yang harus disiapkan menjadi Kota Global dalam
rangka menghadapi globalisasi, terutama dalam waktu dekat ini,
Indonesia akan menghadapi kerjsama ekonomi regional di tingkat ASEAN
(MEA) dan Asia Pasifik (APEC). Peraturan Pemerintah No. 26/2008
tentang RTRWN belum cukup jelas untuk mengatur tipologi dan peran
kota. Disamping itu, diperlukan kebijakan yang lebih signifikan dalam
mengurangi kesenjangan wilayah antara KBI dan KTI, melalui SPN.
Peraturan yang kurang jelas tersebut berdampak kepada pembangunan
infrastruktur, terutama dalam infrastruktur yang memiliki radius
pelayanan. Contoh paling mudah adalah pembangunan bandara, karena
banyaknya daerah yang menginginkan kotanya menjadi kota
internasional, maka banyak dari kota-kota tersebut membangun bandara
internasional. Disatu sisi, kota-kota tersebut belum dapat memenuhi
standar pelayanan untuk menjadi kota global bahkan dari sisi jumlah
penduduk itu sendiri masih belum memenuhi standar minimum yang
diperlukan, akibatnya terjadi adalah inefisiensi dalam pembangunan dan
pelayanan publik.

BAB 7

Harmonisasi peraturan perundang-undangan adalah salah satu cara yang


digunakan untuk menyelaraskan antara perundang-undangan dengan
peraturan lainnya sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun
inkonsestensi dalam pengaturan. Dalam Undang-Undang No 10 Tahun
2004 terdapat aturan yang membahas tentang pentingnya harmonisasi
peraturan perundangan-undangan untuk semua aturan, termasuk
Peraturan
Daerah.
Pemerintah
harus
dapat
mengendalikan
pembangunan, karena pemerintah memiliki fungsi alokasi, distribusi dan
stabilisasi. Dengan fungsi yang dimiliki pemerintah tersebut, pemerintah
dapat mengontrol pembangunan melalui peraturan yang dibentuk
sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan fisik, lingkungan
dengan sumberdaya manusia dan akhirnya mengarah pada
pembangunan yang berkelanjutan (sustainable city). Peraturan
pemerintah harus disesuaikan oleh kebijakan dan isu strategis yang ada

292 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

di wilayahnya. Sehingga terjadi kesesuaian antara kebijakan di tingkat


pusat, kebijakan di tingkat Provinsi dan di tingkat daerah.
Peraturan yang mengatur tentang pembiayaan pembangunan perkotaan
sampai sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan
kerangka regulasi ini harus segera ditangani, sehingga Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) harus menangani
pembentukan peraturan ini. Untuk penyusunannya, Direktorat Perkotaan
dan Perdesaan akan menjadi kunci utama yang akan dibantu oleh
Direktorat Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Dalam pelaksanaannya,
pihak yang terkait dalam bentuk Pembiayaan Pembangunan Perkotaan
ini antara lain Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional
(Bappenas), Kementerian Keuangan dan Lembaga lain yang terkait
dengan pembiayaan, seperti PT SMI.
Terkait nomenklatur yang belum termuat dalam PP no 26 tahun 2008,
diperlukan revisi substansial supaya mampu relevan dengan kebutuhan
dan perkembangan khususnya yang terkait dengan perkotaan.

tentang

Standar

Pelayanan

Banyaknya jenis pelayanan, terutama di kota/daerah yang sulit dibatasi


secara administrasi pemerintahan, pada akhirnya menyulitkan
administrasi pelayanan dan koordinasi pembangunan. Untuk itu
diperlukan kerjasama antar daerah dalam rangka pengelolaan berbagai
pelayanan yang ada sehingga manfaatnya bisa dirasakan bersama.
Dalam kelembagaan perkotaan Indonesia saat ini masih ditemukan
berbagai masalah yang mengakibatkan belum optimalnya pelayanan
terhadap masyarakat. Salah satu permasalahan tersebut adalah Belum
adanya Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) yang secara terintegrasi dan
komprehensif mengatur dan mengikat Pemerintah Daerah untuk
memenuhinya, kondisi ini tercermin dari: i) banyaknya daerah yang belum
menyusun SPP yang sesuai dengan kondisi wilayah dan penduduk yang
harus dilayani; ii) tidak adanya target waktu pencapaian SPP; iii)
banyaknya jenis pelayanan perkotaan yang tidak dipenuhi karena
mencakup beberapa wilayah yang lintas batas administratif.

BAB 7

7.2.2 Peraturan Pemerintah


Perkotaan (SPP)

Kurangnya pemahaman Pemerintah Daerah dalam hal kerjasama dengan


pelaku perkotaan non pemerintah dan dengan daerah lain, baik dalam
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

293

maupun luar negeri. Dalam era otonomi daerah, kelembagaan perkotaan


di tingkat daerah dituntut untuk kreatif dalam membangun jaringan
kerjasama (networking) yang diperlukan dalam membangun perkotaan
maupun menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Tidak
adanya kebutuhan kelembagaan yang disebabkan peran pelayanan
bersama (Share Service Based) karena tidak ada yang mengerjakannya.
Saat ini masing-masing Kementerian/Lembaga telah menyusun dan
mengeluarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sifatnya sektoral
dan tidak mencantumkan target waktu pencapaiannya.Kota-kota di
Indonesia dengan berbagai tipologi (metropolitan, besar, sedang, kecil
dan kawasan perkotaan) belum memiliki standar pelayanan yang
seragam dan dapat dijadikan pedoman. Dari permasalahan diatas, maka
dibutuhkanlah adanya suatu pedoman dalam penyusunan Standar
Pelayanan Perkotaan yang dapat digunakan sebagai alat untuk
mengukur capaian pembangunan pelayanan publik perkotaan dalam
pembangunan perkotaan menurut peran dan tipologinya. Indeks Kota
Berkelanjutan (IKB) merupakan suatu alat ukur yang mencoba untuk
menyeleraskan antara SPM-SPM yang ada di masing-masing
kementerian/ lembaga.
Dengan adanya permasalahan pembangunan perkotaan, terutama dalam
penataan ruang, pengaturan fungsi dan tipologi kota serta pembangunan
Standar Pelayanan Perkotaan (SPP), maka diperlukanlah suatu landasan
hukum yang mengatur pembangunan perkotaan.

BAB 7

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor


standar pelayanan perkotaan perlu
Pemerintah agar memiliki kekuatan
landasan operasional pembangunan
undang perkotaan

7.3

57 tahun 2010 tentang pedoman


diperkuat menjadi Peraturan
yang lebih berfungsi sebagai
berdasarkan amanat undang-

Peraturan di Tingkat Peraturan Presiden

7.3.1 Peraturan Presiden tentang KSPPN


Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional sebagai acuan
yang strategis dan antisipatif bagi pembangunan perkotaan dalam rangka
meningkatkan kondisi perkotaan, sekaligus mempersiapkan kota-kota

294 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

menghadapi tantangan ke depan. Peraturan Presiden tentang KSPPN


diperlukan untuk mengatur kebijakan dan strategi pembangunan
perkotaan saat ini, sekaligus menyiapkan kota-kota di Indonesia menuju
kota berkelanjutan di masa depan. Kebutuhan akan KSPPN menjadi
kekuatan hukum, berdasarkan :

ii.

iii.

iv.

KSPPN diperlukan untuk mengisi kebutuhan akan arah


kebijakan dan perencanaan kota masa depan yang saat ini
belum tersedia;
KSPPN menjadi acuan kebijakan dan strategi pembangunan
perkotaan yang mengikat para pelaku pembangunan
perkotaan, yaitu Pemerintah Pusat (K/L), Pemerintah Daerah,
Dunia Usaha, dan Masyarakat;
KSPPN menjadi acuan instrumen perencanaan bagi K/L, lintas
K/L, Pemerintah Daerah, dan lintas daerah, untuk
pembangunan perkotaan;
KSPPN menjadi dasar sinkronisasi peraturan dan kebijakan
terkait pembangunan perkotaan.

Agar KSPPN menjadi acuan,tersebut diatas diperlukan bentuk hukum


tertentu dalam bentuk Peraturan Presiden. Kedudukan Raperpres dalam
peraturan hukum yang berlaku dalam pembangunan penataan ruang dan
perkotaan sebagai salah satu peraturan yang akan diacu sebelum
Undang-Undang Perkotaan tersebut terbentuk. Setelah undang-undang
perkotaan terbentuk, maka Perpres KSPPN akan melebur bersama
Undang-Undang Perkotaan dan beberapa turunan landasan hukum
lainnya.

7.3.2 Peraturan Presiden tentang Pembentukan Lembaga


Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Perkotaan

BAB 7

i.

Pembangunan perkotaan, khususnya tentang infrastruktur dan pelayanan


publik, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Keterbatasan pendanaan
dari pemerintah daerah dan lemahnya kapasitas dalam manajemen
keuangan derah, membuat pembangunan infrastruktur dan pelayanan
publik di daerah, membuat pemerintah daerah masih bergantung pada
pemerintah pusat yang sangat terbatas jumlahnya yang akhirnya
berdampak pada rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur
perkotaan.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

295

Regulasi tentang Skema dan Lembaga Pembiayaan Pembangunan yang


menyediakan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan dalam
pembangunan infrastruktur dan non infrastruktur di daerah serta peran
dan mekanisme Pemerintah Pusat dalam memberikan bantuan
infrastruktur perkotaan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah.
Belum ada lembaga yang menyediakan pembiayaan alternatif kepada
Pemerintah Daerah untuk membangun infrastruktur perkotaan.
Dengan berbagai macam peraturan tersebut, tidak semua pembangunan
infrastruktur perkotaan menghasilkan penerimaan bagi pemerintah
daerah, seperti sekolah ataupun pelayanan kesehatan. Dengan
banyaknya kegiatan pembangunan di daerah, baik yang menghasilkan
penerimaan atau tidak, ketika itu merupakan hal yang paling strategis
untuk dibangun dan merupakan prioritas dalam pembangunan perkotaan,
diperlukanlah suatu lembaga perantara yang dapat berperan sebagai
pengelola berbagai jenis pembiayaan pembangunan di daerah yang
berasal dari pemerintah dan non-pemerintah.

7.4

Peraturan di Tingkat Peraturan Menteri

7.4.1 Peraturan Menteri tentang Mekanisme Pengembangan


Kota Hijau, Kota Layak Huni dan Kota Cerdas, dan Kota
Berdaya Saing

BAB 7

Kota-kota di Indonesia perlu mulai diarahkan menuju kota yang


berkelanjutan di masa yang akan datang, karena banyak dari
pembangunan dan pertumbuhan kota yang ada belum terencana dengan
baik. Beberapa bentuk kota masa depan, antara lain Kota Hijau yang
berketahanan iklim dan bencana, Kota Layak Huni yang mengakomodir
kepetingan sosial budaya serta Kota Cerdas yang berorientasi pada
penggunaan teknologi.
Kota hijau yang mengedepankan bagaimana kesesuaian antara
pembangunan fisik dengan lingkungan, sampai sekarang hanya sedikit
kota yang mampu memenuhi RTH 30% dari total luas kotanya. RTH ini
menjadi
indikator
paling
dasar
dalam
pembangunan
Kota
Hijau.Sedangkan kota layak huni, bukan hanya bagaimana memenuhi
pelayana publik kepada masayarakat yang adil, termasuk untuk kaum
difable, masyarakat golongan bawah namun juga memiliki keseimbangan
terhadap alam. Kota cerdas dan berdaya saing, kota ini dapat maju

296 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

dengan kekutan internal yang dimiliki dan dapat memanfaatkan peluang


dan tantangan untuk maju menjadi kota yang dapat bersaing secara
internasional, yang tentu saja memanfaatkan layanan Informasi,
Komunikasi dan Teknologi dalam pembangunannya.
Insentif disinsentif diperlukan agar stakeholder pembangunan dapat
tertarik dalam melakukan pembangunan, sehingga pembangunan tidak
hanya dilakukan oleh pemerintah, namun juga stakeholder yang lain.
Mekanisme ini dapat berupa peraturan yang meringankan, kemudahan
administrasi pembangunan, pengurangan atau pembebanan pajak, dan
lain sebagainya.
Peraturan yang mengatur tentang kota yang berkelanjutan sampai
sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan
kerangka regulasi ini harus segera ditangani.

7.4.2 Peraturan Menteri tentang Ketahanan Kota Terhadap


Bencana Alam dan Perubahan Iklim

Untuk menghadapi bencana alam, upaya saat ini masih berkutat pada
penanganan bencana (mitigasi bencana) setelah bencana, belum terkait
dengan pencegahan untuk mengurangi kerugian dan jumlah korban yang
timbul karena bencana alam. Dengan adanya bencana alam, maka
pembangunan fisik akan mengalami penundaan, beberapa aset akan
hilang atau bahkan dapat memumculkan kegiatan yang baru.

BAB 7

Seperti yang terlah dijelaskan pada bab sebelumnya, tantangan di


Indonesia salah satunya adalah kondisi Indonesia yang terletak di
kawasan rawan bencana dan perubahan iklim yang sangat
mengkhawatirkan.

Perubahan iklim juga menjadi topik yang hangat dibicarakan, terjadi


akibat pembangunan fisik dan ekonomi yang sering melupakan
lingkungan, sehingga cuaca sangat sulit diprediksi.Karena Indonesia
hanya memiliki 2 (dua) musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau,
ketika musim hujan yang terjadi adalah banjir besar dan ketika musim
kemarau, kekeringan sangat parah melanda di beberapa tempat.
Penanganan tentang bencana alam dan perubahan iklim, bukan hanya
menambah luas dan besaran drainase untuk mengurangi banjir dan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

297

manajemen air, memberikan bantuan dan rehabilitasi bagi kawasan yang


terkena bencana alam, namun juga bagaimana kota bertahan
menghadapi permasalahan tersebut dan dapat kembali seperti kondisi
sedia kala. Indonesia berada di jalur bencana alam dan di daerah tropis
yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Untuk itu,
diperlukan pendekatan yang holistik dan berbasis kewilayahan untuk
menyiapkan kota-kota agar lebih tahan terhadap bencana alam dan
dampak perubahan iklim.
Peraturan yang mengatur tentang Resilient City sampai sekarang belum
tersedia sehingga pengembangan peraturan dan kerangka regulasi ini
harus segera ditangani.

7.4.3 Peraturan Menteri tentang Sistem Angkutan Massal,


Transportasi Antar Moda, dan Transit Oriented
Development (TOD)

BAB 7

Peraturan Menteri tentang Sistem Angkutan Massal, Transportasi Antar


Moda dan Transit Oriented Development (TOD) dalam kota dan antar
kota yang terintegrasi sangat diperlukan terutama untuk meningkatkan
efisiensi pergerakan orang dan barang. Permasalahan transporasi di
kota-kota Indonesia, sangat kompleks, mulai dari rendahnya pelayanan,
manajemen serta sistem transportasi umum, rendahnya kualitas jalan,
buruknya sistem drainase sampai pada tata guna lahan yang sprawl,
sehingga banyak kawasan permukiman maupun perumahan yang tidak
dapat terjangkau dan dilayani oleh kendaraan umum, apalagi ditambah
dengan rendahnya suku bunga bagi kredit kendaraan bermotor sehingga
masyarakat perkotaan memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi
yang terkadang jika dihitung secara ekonomi, lebih murah dibandingkan
dengan menggunakan kendaraan umum. Kebijakan yang tumpang tindih
antara eknomi dengan lingkungan, menyebabkan tingginya eksternalitas
negatif yang harus ditangani, bukan hanya kemacetan namun juga polusi
yang ditimbulkan.
Kota metropolitan, kota besar dan kota sedang sudah memasuki tahapan
yang mendesak untuk memiliki sistem transportasi yang terintegrasi dan
kompak. Hal ini dibutuhkan agar kota-kota tersebut tidak tertinggal
dibandingkan kota-kota sejenis di luar negeri serta terlambat dalam
menghadapi arus urbanisasi yang sangat pesat.

298 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Peraturan yang mengatur tentang Sistem Angkutan Massal, Transportasi


Antar Moda dan Transit Oriented Development (TOD)perkotaan sampai
sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan
kerangka regulasi ini harus segera ditangani, sehingga Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) harus menangani
pembentukan peraturan ini. Untuk penyusunannya, Direktorat Perkotaan
dan Perdesaanakan menjadi kunci utama yang akan dibantu oleh
Direktorat Transportasi. Dalam pelaksanaannya, pihak yang terkait
Sistem Angkutan Massal, Transportasi Antar Moda dan Transit Oriented
Development (TOD) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional
(Bappenas), Kementerian Keuangan, Kemeterian Perhubungan,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Pertanahan Nasional.

Peraturan Menteri dalam pembangunan perkotaan di Indonesia, sudah


terbentuk mulai dari perencanaan pembangunan perkotaan.Peraturan
Menteri dalam pembangunan perkotaan terdiri dari peraturan Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Pekerjaan Umum.

BAB 7

Dalam implementasi, permasalahan yang sering dihadapi adalah


peraturan perundang-undangan dapat menjadi dasar terbitnya Keputusan
Menteri, Keputusan Gubernur, dan Keputusan Bupati/Walikota.Untuk
level kepresidenan, tidak jarang juga Presiden mengeluarkan Instruksi
Presiden (Inpres) yang sering dipakai oleh Menteri, Gubernur, Bupati, dan
Walikota sebagai pembenaran mengambil kebijakan dan tindakan di
bidangnya.Permasalahan terjadi ketika sistem birokrasi di Indonesia,
melakukan pembangunan sektoral, sehingga sering menimbulkan konflik
kepentingan dalam kebijakan dan peraturan.

Peraturan Pembangunan Perkotaan dalam tataran Menteri Dalam Negeri


telah mengatur pembangunan perkotaan mulai dari perencanaan sampai
pada pembangunan sektoral, yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Prencanaan Kawasan
Perkotaan, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009
Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah, Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, dalam pembangunan perkotaan,
tertuang dalam beberapa peraturan antara lain Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

299

Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan,


Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 /PRT/M/2007 tentang
Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik Dan Lingkungan, Ekonomi, Serta
Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang, Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 41 /PRT/M/2007 Tentang Pedoman
Kriteria Teknis Kawasan Budi Daya.

7.4.4 Peraturan Menteri Tentang Kerjasama Perkotaan


Kebijakan desentralisasi yang telah dilaksanakan sejak tahun 2001
memberikan kesempatan kepada daerah untuk melakukan inovasi dalam
penyelenggaraan pelayanan publik serta meningkatkan kemandirian
pemerintah kota dalam melaksanakan pembangunan. Tidak dapat
dipungkiri bahwa maju mundurnya suatu kota juga bergantung kepada
daerah lain khususnya kabupaten/kota yang saling berdekatan. Utuk
mengoptimalkan potensiya, maka kerjasama antar perkotaan menjadi
salah satu alternatif dan inovasi melalui pertimbangan efisiensi dan
efektivitas dan saling menguntungkan terutama di bidang yang terkait
dengan pelayanan publik. Kerjasama antar kota diharapkan untuk
menjadi satu jembatan untuk meminimalisir potensi konflik menjadi
sebuah potensi pembangunan yang saling menguntungkan antar kota.
Peraturan terkait dengan kerjasama sampai sekarang belum tersedia
sehingga pengembangan peraturan dan kerangka regulasi ini harus
segera ditangani., sehingga Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional

BAB 7

(Bappenas) harus menangani pembentukan peraturan ini. Untuk penyusunannya,


Direktorat Perkotaan dan Perdesaan akan menjadi kunci utama yang akan
dibantu oleh Direktorat Otonomi Daerah.Dalam pelaksanaannya, pihak yang
terkait kerjasama antar daerah adalah Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas), Kementerian Keuangan, Kemeterian Perhubungan,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Pertanahan Nasional.

Peraturan kerjasama Perkotaan dalam tataran Menteri Dalam Negeri


telah mengatur kerjasama antar daerah mulai dari perencanaan sampai
pada peningkatan kapasitas daerah, yaitu Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 22 Tahun 2009 tentang petunjuk teknis tata cara
kerjasama antar daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19
Tahun 2009 tentang pedoman peningkatan kapasitas pelaksana
kerjasama daerah.

300 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

7.4.5 Peraturan Menteri Tentang Mekanisme Insentif dan


Disentif Penyelenggaraan Perkotaan
Insentif dan disinsentif merupakan salah satu instrumen pengendalian
pemanfaatan ruang sebagaimana di atur dalam Undang-undang Nomor
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pemberian insentif dan
disinsentif memegang peran penting dalam menjamin terwujudnya
penyelenggaraan perkotaan sesuai dengan rencana tata ruang.
Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, pemberian insentif dan
disinsentif juga dilakukan untuk memfasilitasi kegiatan perkotaan agar
sejalan dengan rencana tata ruang dan meningkatkan kemitraan semua
pemangku kepentingan dalam rangka pengembangan perkotaan yang
telah sejalan dengan rencana tata ruang.

Namun demikian dalam penyelenggaraannya sering ditemukan


permasalahan terkait dengan pemberian insentif dan disinsentif dalam
penyelenggaraan perkotaan. Salah satu permasalahan yang terjadi yaitu
belum jelasnya proses dan prosedur pemberian insentif dan disinsentif
yang diberikan untuk kegiatan penyelenggaraan perkotaan. Hal ini
didukung pula dengan belum jelasnya pengaturan terkait insentif dan
disinsentif sehingga pemerintah pusat dan pemerintah kota menghadapi
kesulitan dalam mengimplementasikan ketentuan pemberian insenitif dan
disinsentif sebagai perangkat pengendalian pemanfaatan ruang. Dengan
demikian, diperlukan pedoman proses dan prosedur pemberian insentif
dan disinsentif.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 7

Insentif diberikan untuk kegiatan perkotaan yang didorong


pengembangannya, sedangkan disinsentif diberikan untuk kegiatan
perkotaan pada kawasan yang dibatasi pemanfaatannya. Baik insentif
fiskal, non fiskal dan disinsentif fiskal, non fiskal dapat diberikan dari
pemerintah pusat kepada pemerintah kota, dari pemerintah kota kepada
pemerintah kota lainnya, dan/atau dari pemerintah dan/atau pemerintah
kota kepada masyarakat.

301

7.5

Roadmap Penyusunan Peraturan Perundangan


Bidang Perkotaan

Dalam pelaksanaan pembangunan perkotaan diperlukan sarana


pendukung yang berupa peraturan perundangan terkait dengan entitas
kota tersebut yakni yang meliputi seluruh aspek perkotaan baik secara
fisik maupun non fisik. Berikut merupakan roadmap penyusunan
peraturan perundangan terkait dengan perkotaan.
Tabel 7.1 Roadmap Penyusunan Peraturan Perundangan Bidang
Perkotaan 2015 2019
Tahun
N
o

Jenis
Peraturan

Undang
1 Undang
Perkotaan
Peraturan
Pemerintah
Standar
Pelayanan
Perkotaan
(SPP)
2

BAB 7

Peraturan
Pemerintah
Sistem
Perkotaan
Nasional
(SPN)

Peraturan
Presiden
4 KSPPN

Peraturan
Presiden
5 Pembiayaan
Infrastruktur
Permen
Mekanisme
Pengembanga
6 n Kota Hijau,
Kota Layak
Huni dan Kota
Cerdas

Bentuk
Peraturan

Undang Undang

Peraturan
Pemerinta
h (PP)

Peraturan
Pemerinta
h (PP)

Peraturan
Presiden
(Perpres)

Peraturan
Presiden
(Perpres)

Peraturan
Menteri
(Permen)

Kegiatan

Penyusunan naskah akademis


Penyusunan rancangan
peraturan
Pembahasan antar K/L
Pengesahan dan penomoran
peraturan
Penyusunan kajian peraturan
Penyusunan rancangan
peraturan
Pembahasan antar K/L
Pengesahan dan penomoran
peraturan
Penyusunan kajian peraturan

2
0
1
5
v

2
0
1
6

2
0
1
8

2
0
1
9

Instansi
Penanggung
Jawab

Kementerian
Dalam
Negeri

v
v
v
v

Kementerian
Dalam
Negeri

v
v
v

Penyusunan rancangan
peraturan

Kementerian
Pekerjaan
Umum

Pembahasan antar K/L


Pengesahan dan penomoran
peraturan
Penyusunan kajian peraturan
Penyusunan rancangan
peraturan
Pembahasan antar K/L
Pengesahan dan penomoran
peraturan
Penyusunan kajian peraturan
Penyusunan rancangan
peraturan
Pembahasan antar K/L
Pengesahan dan penomoran
peraturan
Penyusunan kajian peraturan
Penyusunan rancangan
peraturan

2
0
1
7

v
v
Bappenas

v
v
v
v

Kementerian
Keuangan

v
v
v
v

Bappenas

Pengesahan dan penomoran


peraturan

302 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Tahun
N
o

Jenis
Peraturan

Bentuk
Peraturan

Permen
Ketahanan
Kota Terhadap
7 bencana alam
dan
perubahan
iklim

Peraturan
Menteri
(Permen)

Permen
8 kerjasama
perkotaan

Peraturan
Menteri
(Permen)

Permen
Mekanisme
insentif dan
9 disentif
pemenuhan
penyelenggara
an perkotaan

Peraturan
Menteri
(Permen)

Kegiatan

Penyusunan kajian peraturan


Penyusunan rancangan
peraturan

2
0
1
5
v

2
0
1
6

2
0
1
7

2
0
1
8

2
0
1
9

Instansi
Penanggung
Jawab

v
Bappenas

Pengesahan dan penomoran


peraturan

Penyusunan kajian peraturan


Penyusunan rancangan
peraturan
Pengesahan dan penomoran
peraturan

Penyusunan kajian peraturan


Penyusunan rancangan
peraturan

Pengesahan dan penomoran


peraturan

Kementerian
Dalam
Negeri

v
v

Kementerian
Dalam
Negeri

BAB 7

Sumber: Bappenas, 2014

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

303

BAB 8
Kebijakan
dandan
Strategi
Strategi
Pembangunan
Pembangunan
Perkotaan
Perkotaan
Nasional
Nasional
304
304 3Kebijakan
http://jelajahsejarah.com/wp-content/uploads/2013/07/jelajahsejarah-Sejarah-Museum-Fatahillah.jpg

Kebijakan
dan
Strategi
Pembangunan
Perkotaan
Nasional
Kebijakan
dan
Strategi
Pembangunan
Perkotaan
Nasional

BAB 8

MEKANISME
PELAKSANAAN KSPPN

305
305

Mekanisme Pelaksanaan KSPPN

8.1

Penjabaran KSPPN

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) baik


dalam kerangka regulasi maupun pelayanan umum ditetapkan
berdasarkan Peraturan Presiden yang mempunyai kekuatan hukum
mengikat bagi yang terkait dalam pembangunan perkotaan di Indonesia,
yaitu pemerintah, pihak swasta dan masyarakat. Sehubungan dengan itu,
ditetapkan kaidah-kaidah yang dapat menjadi acuan untuk berbagai pihak
dalam melaksanakan KSPPN, antara lain:

BAB 8

1. Sebagai acuan, KSPPN dijabarkan dalam program dan anggaran


pembangunan perkotaan dalam jangka pendek, menengah dan
panjang bagi Kementerian/Lembaga di tingkat pusat, lembaga
pemerintahan non departemen, lembaga internasional maupun
lembaga non pemerintahan;
2. Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan dalam KSPPN
untuk jangka menengah akan menjadi prioritas nasional dan
bahan utama dalam penyusunan kebijakan dan strategis sektoral
dalam RPJMN, yang dimulai dengan RPJMN 2015 2019;
3. Pemerintah Provinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota wajib
menyusun Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Daerah (KSPPD) yang dilakukan secara ilmiah dari penelitian
situasi yang nyata dan berdasarkan masukan dari swasta dan
masyarakat luas serta dengan memperhatikan KSPPN;
4. Titik berat peran pemerintah provinsi dalam KSPPN adalah
pengaturan KSPPD yang memuat pengembangan perkotaan
dalam wilayah provinsi didorong dan dikendalikan secara integral
untuk kepentingan semua masyarakat provinsi dan mendapatkan
masukan dari pemerintah Kabupaten/Kota yang berada
didalamnya;
5. Titik berat peran Pemerintah Kabupaten/Kota adalah pemenuhan
Standar Pelayanan Perkotaan (SPP), perwujudan Kota Masa

306 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Depan dan penyediaan layanan publik yang semakin baik bagi


masyarakatnya;
6. Setiap kebijakan dan strategi dalam KSPPD provinsi yang
bertentangan dengan kebijakan dalam KSPPN perlu dibahas dan
disepakati terlebih dahulu dengan TKPPN;
7. Setiap kebijakan dan strategi dalam KSPPN yang bertentangan
dengan kebijakan dalamKSPPD Provinsi perlu dibahas dan
disepakati terlebih dahulu dengan TKPPD Provinsi; dan
8. Khusus di tingkat kota, KSPPD dimaksudkan sebagai panduan
dalam mengarahkan pembangunan kota di masa yang akan
datang serta dalam menyusun program dan anggaran
pembangunan perkotaan yang selanjutnya dijabarkan kedalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kota;

Pelaksanaan KSPPN

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN)


sebagai dokumen perencanaan perlu dijabarkan kedalam langkahlangkah operasional dari masing-masing pelaku perkotaan, baik di tingkat
pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Langkah-langkah tersebut
dimaksudkan untuk mewujudkan sasaran pembangunan perkotaan yang
diamanatkan dalam KSPPN yang dilaksanakan melalui 7 (tujuh)
mekanisme, yaitu:
1. Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)
2. Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan
3. Mekanisme Perwujudan Kota Hijau
4. Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni
5. Mekanisme Perwujudan Kota Cedas dan Berdaya Saing
6. Mekanisme Pembiayaan Pembangunan
7. Mekanisme Peningkatan Tata Kelola Dan Kelembagaan
Pemerintah
Masing-masing dari mekanisme tersebut diatas dilaksanakan dalam
seluruh tahapan pembangunan, terdiri dari:
1.
2.
3.
4.

BAB 8

8.2

Penyusunan kebijakan
Perencanaan dan penganggaran
Pelaksanaan
Pengendalian, monitoring dan evaluasi

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

307

5. Pembinaan

8.3

Mekanisme Perwujudan
Nasional (SPN)

Sistem

Perkotaan

BAB 8

Dalam mewujudkan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) dibutuhkan


beberapa mekanisme sebagai berikut:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) dilakukan melalui
pembentukan berbagai kebijakan yang terkait penguatan tipologi,
peran dan fungsi kota di tingkat pusat dalam KSPPN yang disusun
oleh Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN)
untuk selanjutnya dijabarkan kedalam KSPPD Provinsi oleh Tim
Koordinasi Pembangunan Perkotaan Daerah (KSPPD) Provinsi
dan
kedalam
KSPPD
kabupaten/kota
oleh
TKPPD
Kabupaten/kota.
2. Dalam KSPPN (sebagian besar telah termuat dalam RTRW
Nasional) telah ditetapkan target pencapaian seluruh tipologi kota
untuk mewujudkan peran dan fungsi kota sebagai Pusat Kegiatan
Global (PKG), Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW), Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan Penghubung
Desa Kota (PKD) yang selanjutnya akan dijabarkan ke dalam
KSPPD kabupaten/kota melalui pencapaian masing-masing
tipologi berdasarkan potensi dan kemampuan tiap-tiap
kabupaten/kota. Untuk PKW, PKN dan PKG yang merupakan
pusat kegiatan dengan cakupan pelayanan lintas kabupaten/kota,
maka akan masuk ke dalam prioritas KSPPD Provinsi. Sementara
itu, untuk PKD dan PKL akan masuk ke dalam prioritas KSPPD
Kabupaten/Kota.
3. Dalam mengukur pencapaian kota sesuai tipologi, peran dan
fungsi yang telah ditetapkan dalam Sistem Perkotaan Nasional
(SPN), maka akan dilakukan pengendalian, monitoring dan
evaluasi yang merupakan tanggungjawab TKPPN bersama
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Menteri
Dalam Negeri. Sedangkan di tingkat daerah dilakukan oleh
TKPPD Provinsi bersama Gubernur dan TKPPD Kabupaten/kota
bersama Bupati/Walikota.

308 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

4. Dalam mendukung tercapainya Sistem Perkotaan Nasional (SPN)


maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku
pembangunan perkotaan di tingkat daerah, yang berupa:
a. Pembentukan badan kerjasama dalam pengelolaan Kawasan
Megapolitan
yang
berbentuk
Badan
Kerja
Sama
Pembangunan (BKSP) di tingkat provinsi;
b. Pendampingan dan bimbingan teknis penyusunan rencana
pencapaian Sistem Perkotaan Nasional (SPN);
c. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi Tim
Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKKPN) dan
Daerah (TKPPD) sebagai pengawas dan penjamin
terwujudnya Sistem Perkotaan Nasional sesuai dengan
arahan KSPPN dan RTRWN.
Secara lebih rinci mekanisme perwujudan Sistem Perkotaan Nasional
(SPN) dan peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan dalam
mewujudkannya disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 8.1 Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN)

BENTUK KEGIATAN
Penetapan dan penguatan
tipologi, peran dan fungsi kota dan
kawasan perkotaan dalam Sistem
perkotaan Nasional (SPN) beserta
kriteria dan indikatornya
Penyusunan KSPPD di Tingkat
Provinsi dan tingkat
kabupaten/kota dan penetapan
melalui Peraturan Gubernur atau
Peraturan Bupati/Walikota
Sinkronisasi KSPPN dan RTRWN
dalam pembagian tipologi, peran
dan fungsi kota
Penetapan target dan roadmap
capaian (jumlah) kota-kota per 5
(lima) tahun di setiap tipologi kota
Pendampingan dan bimbingan
teknis penyusunan rencana
pencapaian Sistem Perkotaan
Nasional (SPN)
Monitoring dan evaluasi
pencapaian peran dan fungsi kota
sesuai dengan ketetapan Sistem
Perkotaan Nasional (SPN)

TAHAPAN

PELAKSANA

JANGKA
WAKTU

Penyusunan
Kebijakan

Menteri
PPN
TKPPN

2015-2017

Penyusunan
Kebijakan

Menteri
PPN
Mendagri
TKPPD

2017-2019

Perencanaan
dan
Penganggaran
Perencanaan
dan
Penganggaran

Menteri
PPN
TKPPN
Menteri
PPN
TKPPN

Pembinaan

Menteri
PPN
TKPPN

2015-2020

Pengendalian,
Monitoring
dan Eavaluasi

Menteri
PPN
TKPPN
Gubernur
TKPPD

2015-2045

2015-2020

2015-2020

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 8

NO

309

NO

BENTUK KEGIATAN

Pembentukan badan kerjasama


dalam pengelolaan Kawasan
Megapolitan yang berbentuk
Badan Kerja Sama Pembangunan
(BKSP) di tingkat provinsi

Peningkatan kapasitas
kelembagaan dan koordinasi Tim
Koordinasi Pembangunan
Perkotaan Nasional (TKKPN) dan
Daerah (TKPPD) sebagai
pengawas dan penjamin
terwujudnya Sistem Perkotaan
Nasional sesuai dengan arahan
KSPPN dan RTRWN

8.4

TAHAPAN

Pembinaan

Pembinaan

PELAKSANA
Provinsi
Bupati/Wali
kota
TKPPD
Kabupaten/
Kota
Menteri
Dalam
Negeri
Menteri
PPN
Gubernur
Menteri
PPN
Menteri
Dalam
Negeri

JANGKA
WAKTU

2017-2019

2015-2019

Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan

BAB 8

Dalam memenuhi pelayanan perkotaan dibutuhkan beberapa mekanisme


sebagai berikut:
1. Pemenuhan pelayanan perkotaan dilakukan melalui pembentukan
kebijakan yang terkait Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan
indikator Kota Berkelanjutan di tingkat pusat yang selanjutnya
akan menjadi panduan bagi daerah untuk menyusun SPP di
masing-masing kota sesuai dengan potensi dan kebutuhan
daerahnya.
2. Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan indikator Kota
Berkelanjutan menjadi prioritas dalam rencana program jangka
pendek (RKP dan RKPD) dan rencana jangka menengah (RPJMN
dan RPJMD) berikut alokasi dan skema anggarannya. Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP) untuk kawasan megapolitan dan
metropolitan yang terdiri dari beberapa kota dan kabupaten akan
diatur dalam RPJMD Provinsi.
3. Dalam mengukur pencapaian prasarana dan sarana sesuai
Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan indikator Kota
Berkelanjutan maka dilakukan pengendalian, evaluasi dan

310 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

monitoring yang merupakan tanggung jawab TKPPN bersama


Menteri di tiap K/L terkait pelayanan dasar perkotaan, juga di
tingkat daerah yang merupakan tanggung jawab TKPPD Provinsi
bersama gubernur dan TKPPD Kabupaten/kota bersama
bupati/walikota.
4. Dalam mendukung tercapainya pemenuhan pelayanan perkotaan
maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku
pembangunan perkotaan di tingkat daerah, yang berupa:
a. Pendampingan dan bimbingan teknis penyusunan rencana
pencapaian Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) di daerah
dan mekanisme pembiayaan SPP;
b. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi Tim
Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKKPN) dan
Daerah (TKPPD) sebagai pengendali pemenuhan SPP;
Secara lebih rinci mekanisme pemenuhan pelayanan perkotaan dan
peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan dalam
mewujudkannya disajikan pada tabel di bawah ini.

NO

BENTUK KEGIATAN
Penyusunan RPP tentang
SPP, sosialisasi dan
diseminasi draft RPP
tentang SPP di Tingkat
Pusat dan Daerah
Penyusunan rencana
program dan kegiatan serta
penganggaran di dokumen
rencana jangka menengah
(RPJMN & RPJMD) dan
jangka pendek (RKP &
RKPD)
Penyusunanmekanisme
pengganggaran lain diluar
APBN dan APBD dalam
membiayai prasarana dan
sarana perkotaan
Monitoring dan evaluasi
pencapaian Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP)
dan pemenuhan indikatorindikator Kota Berkelanjutan
di daerah

TAHAPAN

PELAKSANA

JANGKA
WAKTU

Penyusunan
Kebijakan

Menteri Dalam
Negeri
Bappenas

2015-2016

Perencanaan
dan
Penganggaran

TKPPN
TKPPD Provinsi
TKPPD
Kab/Kota

2015-2016

Perencanaan
dan
Penganggaran

2015-2017

Pengendalian,
monitoring dan
eavaluasi

Gubernur
Bupati/Walikota
TKPPD Provinsi
TKPPD
Kab/Kota
Menteri Dalam
Negeri
Menteri PU
Menteri
Perumahan
Rakyat

BAB 8

Tabel 8. 2 Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan

2015-2025

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

311

NO

BENTUK KEGIATAN

Pendampingan dan
bimbingan teknis
penyusunan rencana
pencapaian Standar
Pelayanan Perkotaan (SPP)
dan indikator-indikator Kota
Berkelanjutan di daerah dan
mekanisme pembiayaannya

Peningkatan kapasitas
kelembagaan dan
koordinasi Tim Koordinasi
Pembangunan Perkotaan
Nasional (TKKPN) dan
Daerah (TKPPD) sebagai
pengendali pemenuhan
SPP

8.5

TAHAPAN

Pembinaan

Pembinaan

PELAKSANA
Menteri
Perhubungan
TKPPD Provinsi
TKPPD
Kab/Kota
Menteri Dalam
Negeri
Menteri PU
Menteri
Perumahan
Rakyat
Menteri
Perhubungan
TKPPD Provinsi
TKPPD
Kab/Kota
Menteri PPN
Menteri Dalam
Negeri
TKPPD Provinsi
TKPPD
Kab/Kota

JANGKA
WAKTU

2015-2019

2015-2019

Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni

BAB 8

Dalam mewujudkan Kota Layak Huni dibutuhkan beberapa mekanisme


sebagai berikut:
1. Perwujudan Kota Layak Huni diatur dalam KSPPN yang
menetapkan kriteria, penyusunan target dan roadmap capaian
Kota Layak Huni yang selanjutnya diterjemahkan kedalam KSPPD
sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing kota.
2. Dalam merencanakan Kota Layak Huni, yang perlu dilakukan
adalah menyusun baseline study di masing-masing kota untuk
mengetahui posisi awal kota-kota tersebut dalam rangka
mewujudkan Kota Layak Huni. Setelah itu, dilakukan penyusunan
Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) untuk mengetahui kebutuhan
daerah dalam mewujudkan tipe kota sesuai potensinya dan
mengalokasikan anggaran APBN dan APBD dalam penerapan
kriteria-kriteria perwujudan Kota Layak Huni.
3. Dalam mengukur perwujudan Kota Layak Huni maka dilakukan
pengendalian, evaluasi dan monitoring yang merupakan tanggung

312 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

jawab TKPPN, juga di tingkat daerah yang merupakan tanggung


jawab TKPPD Provinsi bersama gubernur dan TKPPD
Kabupaten/kota bersama bupati/walikota.
4. Dalam mendukung tercapainya perwujudan Kota Layak Huni
maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku
pembangunan perkotaan di tingkat daerah, yang berupa
peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam
penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Layak Huni
melalui pelatihan dan sosialisasi.
Secara lebih rinci mekanisme perwujudan kota layak huni dan peran
masing-masing pelaku pembangunan perkotaan dalam mewujudkannya
disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 8. 3 Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni
BENTUK KEGIATAN

TAHAPAN

PELAKSANA

JANGKA
WAKTU

Penetapan kriteria, penyusunan


target dan radmap capaian
perwujudan Kota Layak Huni

Penyusunan
kebijakan

Menteri Dalam
Negeri
Bappenas

2015 -2016

Penyusunan baseline studi


terhadap seluruh kota otonom
dan kawasan perkotaan untuk
mengetahui posisi awal kotakota tersebut untuk merujudkan
Kota Layak Huni

Perencanaan
dan
penganggaran

TKPPD Provinsi
TKPPD Kab/Kota

2015 -2016

Penyusunan Indeks Kota


Berkelanjutan (IKB) untuk
mengetahui kebutuhan daerah
untuk mewujudkan tipe kota
sesuai potensinya

Perencanaan
dan
penganggaran

TKPPN
TKPPD Provinsi
TKPPD Kab/Kota

2015 -2017

Alokasi anggaran APBN dan


APBD dalam penerapan
kriteria-kriteria perwujudan Kota
Layak Huni

Perencanaan
dan
penganggaran

Menteri
Keuangan
Menteri PPN
TKPPN
Gubernur
Bupati/Walikota

2015 - 2016

Monitoring dan evaluasi


pencapaian Kota Layak Huni

Pengendalian

TKPPN
TKPPD Provinsi
TKPPD Kab/Kota

2015-2025

Peningkatan kapasitas aparatur


pemerintah daerah dalam

Pembinaan

Menteri Dalam
Negeri

2015-2017

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 8

NO

313

NO

BENTUK KEGIATAN
penyamarataan konsep dan
kriteria perwujudan Kota Layak
Huni melalui pelatihan dan
sosialisasi

8.6

TAHAPAN

PELAKSANA

JANGKA
WAKTU

Menteri PPN
Gubernur
Bupati/Walikota

Mekanisme Perwujudan Kota Hijau

BAB 8

Dalam mewujudkan Kota Hijau dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai


berikut:
1. Perwujudan kota hijau diatur dalam KSPPN yang menetapkan
kriteria, penyusunan target dan roadmap capaian Kota Hijau yang
selanjutnya diterjemahkan kedalam KSPPD sesuai dengan potensi
dan kebutuhan masing-masing kota.
2. Dalam merencanakan Kota Hijau, yang perlu dilakukan adalah
menyusun baseline studi di masing-masing kota untuk mengetahui
posisi awal kota-kota tersebut dalam rangka mewujudkan Kota
Hijau.Setelah itu, dilakukan penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan
(IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah dalam mewujudkan tipe
kota sesuai potensinya dan mengalokasikan anggaran APBN dan
APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan Kota Hijau.
3. Dalam mengukur perwujudan Kota Hijau maka dilakukan
pengendalian, evaluasi dan monitoring yang merupakan tanggung
jawab TKPPN, juga di tingkat daerah yang merupakan tanggung
jawab TKPPD Provinsi bersama gubernur dan TKPPD
Kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota.
4. Dalam mendukung tercapainya perwujudan Kota Hijau maka
dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku
pembangunan
perkotaan
di
tingkat
daerah,
yang
berupapeningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam
penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Hijau melalui
pelatihan dan sosialisasi.
Secara lebih rinci mekanisme perwujudan kota hijau dan peran masingmasing pelaku pembangunan perkotaan dalam mewujudkannya disajikan
pada tabel di bawah ini.

314 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Tabel 8. 4 Mekanisme Perwujudan Kota Hijau

BENTUK KEGIATAN
Penetapan kriteria,
penyusunan target dan
radmap capaian
perwujudan Kota Hijau
Penyusunan baseline
study terhadap seluruh
kota otonom dan kawasan
perkotaan untuk
mengetahui posisi awal
kota-kota tersebut untuk
merujudkan Kota Hijau
Penyusunan Indeks Kota
Berkelanjutan (IKB) untuk
mengetahui kebutuhan
daerah untuk mewujudkan
tipe kota sesuai potensinya

PELAKSANA

Penyusunan
kebijakan

Menteri Dalam
Negeri
Bappenas

2014 2016

Perencanaan
dan
penganggaran

TKPPD Provinsi
TKPPD Kab/Kota

2014 2015

Perencanaan
dan
penganggaran

TKPPN
TKPPD Provinsi
TKPPD Kab/Kota

2014 2015

Alokasi anggaran APBN


dan APBD dalam
penerapan kriteria-kriteria
perwujudan Kota Hijau

Perencanaan
dan
penganggaran

Monitoring dan evaluasi


pencapaian Kota Hijau

Pengendalian

Peningkatan kapasitas
aparatur pemerintah
daerah dalam
penyamarataan konsep
dan kriteria perwujudan
Kota Hijau melalui
pelatihan dan sosialisasi

8.7

JANGKA
WAKTU

TAHAPAN

Pembinaan

Mekanisme Perwujudan
Berdaya Saing

Menteri
Keuangan
Menteri PPN
TKPPN
Gubernur
Bupati/Walikota
TKPPN
TKPPD Provinsi
TKPPD Kab/Kota
Menteri Dalam
Negeri
Menteri PPN
Gubernur
Bupati/Walikota

Kota

2014 2025

2015 2035

2015 2027

Cerdas

dan

Dalam mewujudkan Kota Cerdas dan Berdaya Saing dibutuhkan


beberapa mekanisme sebagai berikut:
1. Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing diatur dalam KSPPN
yang menetapkan kriteria, penyusunan target dan roadmap
capaian Kota Cerdas dan Berdaya Saing yang selanjutnya
diterjemahkan kedalam KSPPD sesuai dengan potensi dan
kebutuhan masing-masing kota.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 8

NO

315

2. Dalam merencanakan Kota Cerdas dan Berdaya Saing, yang


perlu dilakukan adalah menyusun baseline studi di masingmasing kota untuk mengetahui posisi awal kota-kota tersebut
dalam rangka mewujudkan Kota Cerdas dan Berdaya Saing.
Setelah itu, dilakukan penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan
(IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah dalam mewujudkan
tipe kota sesuai potensinya dan mengalokasikan anggaran
APBN dan APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan
Kota Cerdas dan Berdaya Saing.
3. Dalam mengukur perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing
maka dilakukan pengendalian, evaluasi dan monitoring yang
merupakan tanggung jawab TKPPN, juga di tingkat daerah yang
merupakan tanggung jawab TKPPD Provinsi bersama Gubernur
dan TKPPD Kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota.
4. Dalam mendukung tercapainya perwujudan Kota Cerdas dan
Berdaya Saing maka dilakukan pembinaan khususnya kepada
para pelaku pembangunan perkotaan di tingkat daerah, yang
berupa peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah
dalam penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota
Cerdas dan Berdaya Saing melalui pelatihan dan sosialisasi.
Secara lebih rinci mekanisme perwujudan kota cerdas dan berdaya saing
serta peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan akan
disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 8. 5 Mekanisme Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing
NO

BAB 8
2

BENTUK KEGIATAN

TAHAPAN

Penetapan kriteria,
penyusunan target dan
radmap capaian perwujudan
Kota Cerdas dan Berdaya
Saing

Penyusunan
kebijakan

Penyusunan baseline studi


terhadap seluruh kota
otonom dan kawasan
perkotaan untuk
mengetahui posisi awal
kota-kota tersebut untuk
merujudkan Kota Cerdas

Perencanaan
dan
penganggaran

PELAKSANA

JANGKA
WAKTU

Menteri
Dalam
Negeri
Bappenas

2034-2035

TKPPD
Provinsi
TKPPD
Kab/Kota

2035-2037

316 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

NO

BENTUK KEGIATAN

TAHAPAN

PELAKSANA

JANGKA
WAKTU

dan Berdaya Saing

Penyusunan Indeks Kota


Berkelanjutan (IKB) untuk
mengetahui kebutuhan
daerah untuk mewujudkan
tipe kota sesuai potensinya

Perencanaan
dan
penganggaran

Alokasi anggaran APBN dan


APBD dalam penerapan
kriteria-kriteria perwujudan
Kota Cerdas dan Berdaya
Saing

Perencanaan
dan
penganggaran

TKPPN
TKPPD
Provinsi
TKPPD
Kab/Kota

2015-2026

Menteri
Keuangan
Menteri
PPN
TKPPN
Gubernur
Bupati/Wal
ikota

2035-2036

KPPN
5

Monitoring dan evaluasi


pencapaian Kota Cerdas
dan Berdaya Saing

KPPD
Provinsi

Pengendalian

2035-2045

KPPD
Kab/Kota

8.8

Pembinaan

Mekanisme Peningkatan
Kelembagaan Pemerintah

Menteri
Dalam
Negeri
Menteri
PPN
Gubernur
Bupati/Wal
ikota

Tata

2036-2037

Kelola

Dan

Dalam meningkatkan tata kelola dan kelembagaan pemerintah


dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai berikut:
1. Peningkatan tata kelola dan kelembagaan pemerintah dilakukan
melalui salah satunya adalah peraturan yang berkaitan dengan
peningkatan kelembagaan pemerintah melalui UU No 12 tahun
2008 tentang Perubahan Kedua atas UU No 32 tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah dan PP No 41 tahun 2007 tentang
Organisasi Perangkat Daerah serta peraturan tentang kapasitas
pemerintah daerah melalui PP No 59 tahun 2012 tentang
Kerangka Nasional Pengembangan Kapasitas Pemerintah
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 8

Peningkatan kapasitas
aparatur pemerintah daerah
dalam penyamarataan
konsep dan kriteria
perwujudan Kota Cerdas
dan Berdaya Saing melalui
pelatihan dan sosialisasi

317

BAB 8

Daerah. Selain itu, dalam rangka peningkatan tata kelola


pemerintah khususnya dalam pembangunan perkotaan, maka
pemerintah perlu tanggap dengan kebutuhan peraturan dan
perundangan yang menunjang pembangunan perkotaan yaitu
dengan mengidentifikasi peraturan dan perundangan yang terkait
pembangunan perkotaan seperti:
a. Regulasi mengenai Standar Pelayanan Perkotaan (SPP)
yang mampu menunjukkan kinerja pelayanan pemerintah
kota.
b. Regulasi mengenai Skema Pembiayaan Pembangunan
yang menyediakan sumber-sumber pembiayaan yang
dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur dan non
infrastruktur di daerah.
c. Regulasi mengenai Pengembangan Ekonomi Lokal yang
mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya
setempat.
d. Regulasi mengenai Sistem Angkutan Massal Antar
Modadan Transit Oriented Development (TOD) dalam
kota dan antar kota yang terintegrasi dan menjamin
efisiensi pergerakan orang dan barang.
e. Regulasi mengenai upaya peningkatan ketahanan kota
dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.
f. Regulasi mengenai kebijakan dan strategi pembinaan
dan pengembangan perkotaan.
g. Regulasi mengenai mekanisme insentif-disintensif yang
mampu menumbuhkan kinerja dan inovasi pembangunan
perkotaan.
h. Regulasi mengenai Percepatan Penyediaan Perumahan
bagi masyarakat menengah kebawah di perkotaan.
i. Regulasi mengenai peran dan mekanisme Pemerintah
Pusat dalam memberikan bantuan infrastruktur di daerah.
j. Regulasi mengenai peran kota-kota yang akan disiapkan
untuk mampu berdaya saing global.
2. Dalam menunjang tercapainya Kota Berkelanjutan, maka perlu
dibentuk lembaga yang dapat bertanggung jawab mulai dari
perencanaan hingga evaluasi pembangunan perkotaan di tingkat
nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Di tingkat nasional, telah
dibentuk Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional
(TKPPN). Untuk mendukung kerja TKPPN maka di setiap kota

318 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

perlu dibentuk Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Daerah


(TKPPD) di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota.
3. Pengendalian, monitoring dan evaluasi pembangunan perkotaan
dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan di berbagai
tingkatan, nasional, provinsi dan kabupaten/kota bersama dengan
swasta dan lembaga non pemerintah lainnya.
4. Dalam mendukung tercapainya peningkatan tata kelola dan
kelembagaan maka dilakukan pembinaan terhadap aparatur
pemerintah daerah sesuai dengan PP No 59 tahun 2012 tentang
Kerangka nasional Pengembangan Kapasitas Pemda. Selain itu,
untuk membanti kerja pemerintah daerah, maka perlu dilakukan
pembinaan berupa pendampingan dan bimbingan teknis terhadap
pengembangan profesi yang dibutuhkan untuk pengelolaan
pembangunan perkotaan, seperti urban planner, urban economist,
property valuer, quantity surveyor, transportation planner,
municipal engineer, polisi pamong praja, dan lain-lain.
Secara lebih rinci mekanisme peningkatan kelembagaan dan tata kelola
pemerintah serta peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan
disajikan pada tabel di bawah ini.

NO

Mekanisme Peningkatan Tata Kelola dan Kelembagaan


Pemerintah

BENTUK KEGIATAN
Identifikasi peraturan dan
perundangan yang terkait
pembangunan perkotaan

TAHAPAN
Penyusunan
kebijakan

Pembentukan TKPPD

Pelibatan Forum Pelaku


Pembangunan Perkotaan
(FP3) dan DPR (di tingkat
Pusat) serta DPRD (di
tingkat
Provinsi/Kabupaten/Kota)

Perencanaan
dan
penganggaran

Pembinaan

JANGKA
WAKTU

Menteri Dalam
Negeri
Gubernur
Bupati/Walikota

2015-2016

Gubernur
TKPPD Provinsi
Bupati/Walikota
TKPPD
Kab/Kota

2015-2018

Menteri PPN
TKPPN
TKPPD Provinsi
TKPPD
Kab/Kota

2015-2019

Penyusunan
Kebijakan

PELAKSANA

BAB 8

Tabel 8. 6

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

319

NO

BENTUK KEGIATAN

Pelaksanaan konsultasi
public di tingkat pusat dan
daerah terkait RUU tentang
perkotaan, RPP tentang
SPP dan Raperpres tentang
KSPPN

Pendampingan dan
bimbingan teknis terhadap
pengembangan profesi yang
dibutuhkan untuk
pengelolaan pembangungan
perkotaan, seperti urban
planner, urban economist,
property valuer, quantity
surveyor, transportation
planner, municipal engineer,
polisi pamong praja, dsb

Peningkatan kapasitas
aparatur pemerintah daerah

TAHAPAN

Pembinaan

PELAKSANA

Menteri PPN
TKPPN

JANGKA
WAKTU

2015-2017

Penyusunan
Kebijakan

Pengendalian,
monitoring dan
evaluasi

enteri PPN

ubernur

2015-2025
upati/Walikota

ihak akademisi,
asosiasi profesi

Pembinaan

TKPPN
TKPPD Provinsi
TKPPD
Kab/Kota

BAB 8

320 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2015-2025

BAB 8
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

321

KSSPN
dan Strategi Pembangunan Perkotaan
xxvKebijakan
Nasional

1.
Buku/Laporan
ADB. 2011. Asia 2050: Realizing the Asian Century.
Bappenas. 2010. Profil Kota Indonesia 2010.
Bappenas. 2011. Profil Kota Indonesia 2011.
Bappenas. 2012. Profil Kota Indonesia 2012.
Bappenas. 2009 Profil Kesenjangan Antardaerah 2009
Bappenas. 2011. Analisis Kesenjangan Antarwilayah 2011
Bappenas. 2010. Public-Private Partnerships: Infrastructure Project In
Indonesia.
Bappenas. 2011. Indeks Pembangunan Kota.
Bappenas. 2012. Rencana Aksi Nasional Program Penanggulangan
Kemiskinan Tahun 2012-2014.
Bappenas, BNPB. 2010. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko
Bencana 2010-2012.
Bappenas, BPS, UNPF. 2008. Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025.
BNPB. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia.
BPS. 2005-2009. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di
Indonesia 2005-2009
BPS. Kabupaten Kota dalam Angka 2006-2011.
BPS. Provinsi dalam Angka 2006-2011.
BPS. 2010. Indeks Pembangunan Manusia 2008-2009.
BPS. 2007. Indeks Pembangunan Manusia 2005-2006.
BPS. 2008. Indeks Pembangunan Manusia 2005-2006.
BPS. 2009. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008.
BPS. Data dan Informasi Kemiskinan 2006-2011
BPS. 2003. Potensi Desa 2003
BPS. 2006. Potensi Desa 2006
BPS. 2008. Potensi Desa 2008
BPS. 2011. Potensi Desa 2009
BPS. 2005. Sakernas 2005
BPS. 2006. Sakernas 2006
BPS. 2007. Sakernas 2007
BPS. 2008. Sakernas 2008
BPS. 2009. Sakernas 2009
BPS. 2010. Sakernas 2010
BPS. 2007. Susenas 2007
BPS. 2008. Susenas 2008
BPS. 2009. Susenas 2009
BPS. 2010. Susenas 2010
BPS. 2011. Susenas 2011

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

KSPPN

Daftar Pustaka

xxvi

KSSPN

BPS. 2007. Daftar Nama Provinsi/Kabupaten/Kota Menurut Dasar Hukum


Pembentukan Wilayah
Centre for Liveable Cities Singapore. 2010. Liveable and Sustainable
Cities for the future (World Cities Summit 2010 Conference
Proceedings).
Centre for Liveable Cities and Urban Land Institute. 2013. 10 Principles
for Liveable High-Density Cities: Lessons from Singapore.
China Academy of Telecommunication Research(CATR). Smart Cities
Benchmarking in China.
Depkopnas. 2010. Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah
(UMKM) dan Usaha Besar (UB)TAHUN 2006 - 2010
Economist Intelligence Unit. 2011. Asian Green City Index: Assessing the
environmental performance of Asias major cities.
EIU. 2011. A Summary of the Liveability Ranking and Overview
EIU. 2010. Liveable Ciries: Challenges and Opportunities for
Policymakers.
Global Compact Cities Programme. 2010. Sustainable Cities Volume 1,
2010. Arena Printing: Australia.
IAP. 2011. Indonesia Most liveable City Indeks 2011.
Kemendagri. 2012. Daftar Jumlah Provinsi, Kabupaten/Kota seluruh
Indonesia.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2005-2012. Status Lingkungan Hidup
Indonesia 2005-2012 (Seris).
Kementerian Lingkungan Hidup. 2008-2011. Indeks Lingkungan Hidup
2008-2011.
Kementerian ingkungan hidup. 2010-2012. Status Lingkungan Hidup
Indonesia 2010-2012.
Kementerian Perhubungan. 2010. Statistik Perhubungan 2009.
Kementerian Perhubungan. 2009. Statistik Perhubungan 2008.
Kementerian Perhubungan.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 2011. Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
Kementerian Lingkungan Hidup. 2008. Statistik Persampahan Indonesia
Tahun 2008.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2012. Profil Bank Sampah 2012.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2009. Emisi Gas Rumah Kaca dalam
Angka.
KPPOD. 2010. Daftar Daerah Otonom BaruPembentukan Tahun 19992009(205 DAERAH)
KPPOD. Seris 2001-2011. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2001-2011.
Mike Douglass. 2002. From global intercitycompetition to cooperation
forlivable cities and economicresilience in Pacific Asia.
Ministry of Economic AffairsThe Republic of Indonesia, Japan
International Cooperation Agency (JICA). 2012. JABODETABEK
Urban TransportationPolicy Integration

dan Strategi Pembangunan Perkotaan


xxviiKebijakan
Nasional

KSPPN

OECD. 2011. Cities and Green Growth: A Conceptual Framework


Tadhasi Matsumoto. 2012. Compact city policies:a comparative
assessment.
The World Urban Forum. 2006. Vancouver Working GroupDiscussion
Paper: the Liveable City.
University of Melbourne. 2008. Liveable Melbourne.
UNEP, Cities Allience, ICLEI. 2007. LiveableCities: Thebenefits
ofUrbanenvironmentalPlanning
UNEP, Sustainable Cities: Building Cities for the Future.
UN Habitat. 2009. Global Urban Indicators Selected statistics
UN Habitat. 2012. State of the Worlds Cities 2012/2013Prosperity of
Cities
USDRP. 2011. Laporan Akhir: Urban Strategy and Policy Development
dan Urban Institutional Development Program (UIDP)
UN. 2011. Menguak Risiko, Menggagas Makna Baru Pembangunan
(Laporan Pengkajian Global tentang Pengurangan Risiko
Bencana 2011).
U.S Department of Transportation. Livability Literature Review: A
Synthesis of Current Practice
WEF. 2009. SlimCity
World Economic Forum. 2010. The Global Competitiveness Report 20102011
World Economic Forum. 2011. The Global Competitiveness Report 20112012
World Bank. 2009. Doing Business 2010
World Bank. 2010. Doing Business 2011
World Bank. 2011. Doing Business 2012
World Bank. 2012. World development Indicators
Wood Holmes. The Smart City an Introduction
2.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025
Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata ruang
Wilayah Nasional
Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014.
Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru
Pengembangan Sistem Logistik Nasional.
Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional
Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca.
Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Jangka Panjang
Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-2014

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan


Nasional

xxvii

KSSPN

Peraturan Menteri Perhubungan No. KM.49 Tahun 2005 tentang Sistem


Transportasi Nasional.
Peraturan Menteri Keuangan No. 54/PMK.07/2012 tentang Indeks Fiskal
dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan
Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk
Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2013.
3.
Website
www.bappenas.go.id
www.bps.go.id
www.bnpb.go.id
www.bmkg.go.id
www.depkop.go.id
www.kemenlh.go.id
www.kemenakertrans.go.id
www.pu.go.id
www.sp2010.bps.go.id

dan Strategi Pembangunan Perkotaan


xxixKebijakan
Nasional

KSPPN
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

xxx