Anda di halaman 1dari 353

KSSPN

i

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

KSPPN
MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

KATA SAMBUTAN

Perkembangan penduduk perkotaan Indonesia yang cukup tajam dalam
beberapa dekade belakangan ini perlu diantisipasi dan memerlukan
respon yang serius. Porsi penduduk yang tinggal di perkotaan kita
diperkirakan akan mencapai 67,7 persen pada Tahun 2025, bahkan
dapat mencapai 85 persen pada Tahun 2050.Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 (UU No. 17 Tahun 2007)
sebenarnya telah memuat arah dan kebijakan pembangunan perkotaan
nasional secara umum untuk jangka panjang hingga tahun 2025.
Demikian juga telah ada beberapa peraturan perundangan-undangan
lainnya yang menunjang seperti UU No. 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang serta turunannya yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No.
26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN) di mana telah ditetapkan sistem perkotaan nasional.
Pembangunan perkotaan kita ke depan memiliki berbagai permasalahan
dan tantangan baik lokal, nasional, maupun global, yang perlu segera
direspon dengan suatu tatanan kebijakan dan strategi yang komprehensif
sehingga pada akhirnya nanti kota-kota kita dapat berfungsi baik sebagai
tempat bermukimnya manusia dengan nyaman dan sesuai dengan
prinsip-prinsip lingkungan hidup juga berfungsi sebagai pusat penggerak
perekonomian wilayah maupun nasional.
Untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan itulah Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mengkoordinasikan
seluruh pelaku pembangunan perkotaan, baik unsur Pemerintah Pusat,
pemerintah daerah, para akademisi, pakar perkotaan, dan LSM, untuk
menyusun Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional
(KSPPN).KSPPN ini sangat diperlukan dan sudah mendesak
keberadaannya untuk menyelesaikan permasalahan dan menghadapi

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

ii

KSSPN

tantangan tersebut, sekaligus
undangan yang sudah ada.

melengkapi

peraturan

perundang-

Saya berharap KSPPN ini dapat menjadi acuan bagi para perencana
pembangunan dan pengelolaan perkotaan di pusat dan daerah, menjadi
instrumen sinkronisasi baik dalam perencanaan program dan kegiatan
Kementerian/Lembaga dan pemerintahan daerah (Gubernur, Bupati, dan
Walikota) maupun dalam sinkronisasi regulasi dan kebijakan terkait
pembangunan perkotaan.
Terima kasih atas jerih-payah semua pihak dalam menyiapkan KSPPN
ini. Kiranya bermanfaat bagi kejayaan nusa dan bangsa kita.

Jakarta,

Mei 2015

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas

Andrinof Chaniago

iii

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

KSPPN

KATA PENGANTAR
DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN REGIONAL DAN OTONOMI
DAERAH
SELAKU
KETUA TIM PENGARAH TIM KOORDINASI PEMBANGUNAN
PERKOTAAN NASIONAL
(TKPPN)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional
(KSPPN) ini disusun dan dikoordinasikan oleh Tim Koordinasi
Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN) dengan melibatkan berbagai
pemangku kepentingan yang terkait dengan pembangunan perkotaan,
yaitu unsur-unsur pemerintah pusat (kementerian dan lembaga nonkementerian), pemerintah daerah, para akademisi, dan pakar perkotaan,
wakil-wakildunia usaha dan lembaga masyarakat.
Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan (KSPPN)
merupakan
respons
terhadap
permasalahan
dan
tantangan
pembangunan perkotaan di Indonesia saat ini dengan memberikan
arahan pembangunan perkotaan yang berorientasi pada kebutuhan
manusia (warga kota) dari aspek fisik, sosial, dan ekonomi; serta
kebutuhan kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal, regional,
nasional maupun global. Kota-kota Indonesia ke depan adalah kota-kota
yang layak huni untuk tempat bermukim, kota yang hijau dan mampu
mengantisipasi perubahan iklim dan bencana, serta kota yang berdaya
saing berbasis teknologi komunikasi dan informasi (ICT), sesuai dengan
karakter geografis, sosial, dan budaya Indonesia yang sangat beragam
dari Sumatera hingga Papua. Selain itu, kota-kota Indonesia ke depan
juga dimaksudkan sebagai sentra pertumbuhan ekonomi, dan untuk
menyelesaikan masalah kesenjangan antar kota wilayah Jawa dan luar
Jawa, serta antara kawasan perkotaan dan perdesaan.
Dalam menetapkan sasarannya, KSPPN menetapkan tahapan
dan kebijakan pembangunan kota-kota berdasarkan tipologi megapolitan,
metropolitan dan kota besar, serta kota sedang dan kota kecil, termasuk
kawasan perkotaan, sebagai upaya penjabaran Undang-Undang No. 17
Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2005-2025yang telah memuat arah dan kebijakan
pembangunan perkotaan secara umum.
KSPPN ini disusun untuk rentang waktu 30 tahun dari Tahun 2015
hingga 2045 dan segera akan ditetapkan dalam bentuk peraturan.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

iv

KSSPN

KSPPN ini merupakan dokumen strategis dan grand strategy
pembangunan perkotaan Indonesia, yang akan menjadi acuan dalam
penyusunan dan sinkronisasi perencanaan RPJMN dan Renstra
Kementerian/Lembaga secara nasional. Selanjutnya dokumen ini juga
diharapkan dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai grand strategy
pembangunan perkotaan di daerah, serta menjadi acuan bagi
penyusunan RPJPD, RPJMD dan Renstra SKPD dalam pembangunan
perkotaan.
Setiap kebutuhan informasi dan pertanyaan lebih lanjut mengenai
KSPPN ini, dapat dialamatkan kepada:
Direktur Perkotaan dan Perdesaan
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS
Jalan Taman Suropati No. 2, Gedung Madiun Lantai 4, Jakarta 10310
Telp./Faks. (021) 3905643 E-mail: hparasati@bappenas.go.id;
perkotdes@bappenas.go.id

Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dan turut
berjerih-payah dalam penyusunan KSPPN ini.
Jakarta,

Mei 2015

Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Bappenas
Selaku Ketua Tim Pengarah Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan
Nasional

Dr. Ir. Imron Bulkin, MRP

v

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional

.....2..1 1................................................ Jangka Waktu................. Daftar Pustaka ..1 Perkembangan Program Perkotaan ...............2 1................................... 2..................................... Daftar Istilah ...1...................................1........................ 2........................................................2 Isu Umum Pembangunan Perkotaan di Indonesia ..3 Tipologi Perkotaan ................. 2.........................................................................................................1 Definisi Kota dan Kawasan Perkotaan di Indonesia ....3 Proyeksi Penduduk Perkotaan .........5 Pendahuluan ......................4. Daftar Isi ...........................................................4 1.................... 2................. 2...... 2...........................................2.. 2.............. Sistematika Penyajian ..................................... Daftar Tabel ........... 2........................................................................................................................4........... 2.................................3 Permasalahan Pengelolaan Perkotaan di Indonesia.....................4 Klasifikasi Daerah Perkotaan............. Daftar Singkatan ................................... 2..............1 Isu Nasional dalam Pembangunan Perkotaan ....1 Definisi Kota dan Perkotaan ...................................1..... 1 2 12 13 13 13 Bab 2 Gambaran Umum Perkotaan Indonesia ...... 2............ 17 18 18 19 20 23 24 24 26 30 33 34 36 36 48 86 92 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional vi ............................4......................... Daftar Gambar ......................4 Isu Spesifik Pembangunan Kota Sedang................2 Definisi Kawasan Perkotaan ...................KSPPN Daftar Isi Kata Sambutan .... 2. Kota Kecil dan Kawasan Perkotaan.............................................3 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan Metropolitan dan Megapolitan Jabodetabekjur ............................1....................................2.... Latar Belakang ................... Tujuan dan Sasaran ......4............2 Perkembangan Pembangunan Perkotaan di Indonesia .....2.......................................... 2............................... ii iv vi x xii xviii xxii xxvi Bab 1 1..................2 Tingkat Kecenderungan Perkembangan Kawasan Perkotaan ................ 2............................................ Kata Pengantar .................................................3 1.. 2.... 2...4 Isu Strategis Pembangunan Perkotaan .... Kedudukan .............................4 Kecenderungan Kawasan Perkotaan Metropolitan dan Megapolitan ......................

.................... Sasaran...... 4... 4................1.............................. Bab 3 Visi............. 3.............1 Permasalahan dan Tantangan ..........3 Fokus Kebijakan .........3 Sasaran Pembangunan Kota Berkelanjutan Dalam Tipologi Kota .............. Misi dan Sasaran Pembangunan Perkotaan Nasional .........................4............. 5.......... 2.............3 Kebijakan Prioritas Kota Sedang dan Kota Kecil ...... 3............. Bab 4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional ...............................KSSPN 2.................2 Prinsip Dasar .................. 4..............................................................1 Urbanisasi .................3 Kelembagaan Perkotaan Pengelolaan Kawasan Perkotaan ............. 2................. 5......4............2045 ..........2.2 Sasaran Pembangunan Kota Berkelanjutan ............4..................5.. 3....... Tantangan Pembangunan Perkotaan .. Potensi Pengembangan Perkotaan ... 3.............2... Bab 5 Kerangka Kelembagaan Perkotaan .......................... 5..2 Kelembagaan Perkotaan di Tingkat Provinsi dan Kabupaten Kota................................................. 2............................................................. Kota Metropolitan dan Kota Besar ................................1 Konsepsi Dasar Pembangunan Perkotaan Nasional ............ 3........................................5 2.................................3 Desentralisasi dan Demokratisasi .........................1 Misi.5...............1....................5. 4.......... 4........... 5..... 3.......................................7 2................1..2..... 3....... 5....................................4 Sasaran ...................................................................2 Kebijakan Prioritas Kawasan Megapolitan.................1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Tingkat Nasional .... vii Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 93 110 110 111 112 113 114 117 118 125 126 130 131 141 148 159 160 164 164 186 187 188 209 210 210 212 216 218 219 ................1 Kelembagaan Perkotaan di Tingkat Pusat .......2 Persaingan Global .........3 Visi dan Misi .............................................. 5.......................................2 Asumsi ...............2 Kebijakan dan Strategi Perkotaan Nasional ........................................ Peluang Pengembangan Perkotaan ...1 Indeks Kota Berkelanjutan: Dasar Penetapan Pembangunan Kota Berkelanjutan ......6 2....5 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota Strategis ........4............ 4.................. dan Kebijakan Kota 2015 .2.....................................4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Spesifik Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota Strategis ...........

.........1 Peraturan Pemerintah tentang Sistem Perkotaan Nasional (SPN) ..................... 7..............1 Sumber Pembiayaan .......3 Financial Intermediary ........3 Karakteristik Pembiayaan ....... Jenis.....................................2.3 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Tingkat Kabupaten/Kota ........................... 6..............................................................................................3 Peran Masyarakat . 6. 5.......................2 Peraturan Pemerintah tentang Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) ..................... 5....................................... 7......................... 5...7.5 Pembentukan Lembaga Terkait Infrastruktur Perkotaan ....2 Permasalahan dan Tantangan Pembiayaan Infrastruktur Perkotaan ..5..................5........... 6... Hubungan Kelembagaan Pembangunan Perkotaan ............................. 5...................................................1 Lembaga Fasilitasi Penyiapan Proyek Daerah (Local Project Development Facilities – LPDF) .........5........... 219 221 Bab 6 Kerangka Pembiayaan Perkotaan . Bentuk Kelembagaan Perkotaan .....................3...........2 Jenis Pembiayaan .........................................4 5.............4 Pembiayaan Perkotaan di Masa Depan.......2 Municipal Development Fund ........ 6.....................Kebijakan dan Strategi Kelembagan Perkotaan.................................... 5. 5...........................................4 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Kawasan Perkotaan ....... Peran Serta ...5..3 Sumber.......5 228 231 233 238 240 242 242 242 243 252 255 255 256 260 262 265 265 269 275 292 292 294 294 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional viii .....................1 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pusat ................ 7......................... dan Karakteristik Pembiayaan.. 7..1 Peraturan Presiden tentang KSPPN ........... 249 250 Bab 7 Kerangka Regulasi Perkotaan .. 6.................1 Gambaran Umum .5 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Sektor Prioritas .....3............3...............5...........................6 5...........2 Peraturan di Tingkat Peraturan Pemerintah .......3 Peraturan di Tingkat Peraturan Presiden ... 6........ 6...2..........1 Peran DPR dan DPRD .1 Peraturan di Tingkat Undang-Undang ...............7........5............... 5................3......................... 6......... 5...5............. 6...........7 222 KSPPN 5................................................... 287 288 292 5........................... 6...............................................................................2 Peran Swasta .......................5..... 6................2 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Tingkat Provinsi .................. 7......... 7..7....................

.............1 Peraturan Menteri tentang Mekanisme Pengembangan Kota Hijau. Mekanisme Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing ........... 7.. 7.... 7........................KSSPN 7.4 8.... Peraturan di Tingkat Peraturan Menteri ..4...... 7................... Pelaksanaan KSPPN......................4 Peraturan Menteri tentang Kerjasama Perkotaan ............. Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan .......2 8.......................... Mekanisme Pelaksanaan KSPPN .....4...........4....3.......... Transportasi Antar Moda... Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) .........................................................................2 Peraturan Presiden tentang Pembentukan Lembaga Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Perkotaan ..................1 8......... dan Kota Berdaya Saing ..................................7 8...................................................................................4...................................... Penjabaran KSPPN ............... dan Transit Oriented Development (TOD) ............. Mekanisme Perwujudan Kota Hijau ......4 7............3 Peraturan Menteri tentang Sistem Angkutan Massal....6 8...............................................................................3 8........5 Peraturan Menteri tentang Mekanisme Insentif dan Disentif Penyelenggaraan Perkotaan ....... Kota lyak Huni dan Kota Cerdas................. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 295 296 296 297 298 300 301 302 305 306 307 308 310 312 314 315 317 .......2 Peraturan Menteri tentang Ketahanan Kota Terhadap Bencana Alam dan Perubahan Iklim..........................................................................5 Bab 8 8................... Roadmap Penyusunan Peraturan Perundangan Bidang Perkotaan ............8 ix 7...........................5 8................ Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni ...........................4................................................. Mekanisme Peningkatan Tata Kelola Dan Kelembagaan Pemerintah ..... 7............

...................................... 1 Arah Kerangka Awal Pembiayaan Pembangunan Perkotaan .................... 44 Tabel 2............... 6 Nilai Tata Kelola Ekonomi Kota Tahun 2011 ........ 8 Isu Strategis Pembangunan Perkotaan Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota Stratgeis................................ 109 Tabel 3..................... 2 Struktur Kelembagaan KP3P ................................................................... 121 Tabel 3....................................................... 1 Perwujudan Kota Berkelanjutan 2045 .............KSPPN Daftar Tabel Tabel 2........................... 7 Kondisi Angkutan Umum Masal Tahun 2009 (Bus Rapid Transit) ............ 273 Tabel 6................ 50 Tabel 2....... 1 Kawasan Perkotaan Metropolitan dan Megapolitan ................. 47 Tabel 2... 234 Tabel 5...... 5 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah Maret 2012 dan September 2012 ................... 2 Daya Saing Kota-Kota Metropolitan di Indonesia Tahun 2012 -2013 .... 7 Kebijakan dan Strategi Kelembagaan Perkotaan .... 124 Tabel 4.... 33 Tabel 2......................................................................... 278 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional x ........... 161 Tabel 5... 3 Struktur Kelembagaan KP3K .. 89 Tabel 2................................. 228 Tabel 5............................................... 236 Tabel 5.... 4 Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan dalam Satu Provinsi .................... 3 Peringkat Daya Saing Indonesia dan Negara ASEAN di Tingkat Global ......... 243 Tabel 6..................................... 2 Posisi Kota Jakarta dalam Indeks Kota Hijau di .. 1 Posisi Kota Jakarta terhadap Kota Lain di Asia dalam Indeks Kota Layak Huni di Dunia Asia................... 6 Struktur Kelembagaan SKPD Kewilayahan Pengelola Kawasan Perkotaan Besar ....... 2 Kebijakan dan Strategi Pembiayaan Perkotaan ............. 123 Tabel 3............... 5 Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan Antar Provinsi ..... 3 Ketimpangan Akses Rumah Tangga Terhadap Infrastruktur Berdasarkan Tipologi Kota Tahun 2010 ........................ 4 Jumlah Kota Berdasarkan Indeks Rawan Bencana Tahun 2011 .............. 83 Tabel 2..................................... 39 Tabel 2........ 231 Tabel 5................. 237 Tabel 5....

................... 1 Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) .......... 5 Mekanisme Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing ...................... 2 Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan ..... 4 Mekanisme Perwujudan Kota Hijau ......................................................... 309 Tabel 8...................... 313 Tabel 8.1 Roadmap Penyusunan Peraturan Perundangan Bidang Perkotaan 2015-2019 .......... 3 Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni.. 302 Tabel 8........................... 316 Tabel 8......... 319 xi Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .................. 311 Tabel 8.KSSPN Tabel 7............. 6 Mekanisme Peningkatan Tata Kelola dan kelembagaan Pemerintah ...................... 315 Tabel 8.....

............................ 1 Persentase Persebaran Kota di Indonesia Berdasarkan Kepulauan Sampai Tahun 2012 . 8 Gambar 1.......... 43 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional xii ........ 38 Gambar 2........ 40 Gambar 2................................ 31 Gambar 2................................... 9 Persentase Jumlah Penduduk Bekerja Menurut Tipologi Kota Tahun 2007-2011 ............... 5 Proyeksi Persentase Penduduk Menurut Tipologi Kota Tahun 2011-2045 ......... 4 Proyeksi Persentase Penduduk yang Tinggal di Perkotaan menurut Nasional Tahun 20052045 . 2 Populasi Penduduk Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia Tahun 2005 ........................................ 12 Persentase PDRB Berdasarkan Tipologi Kota terhadap Perekonomian Tahun 20052010 ................ 32 Gambar 2........ 3 Sebaran Penduduk yang Tinggal di Kawasan Perkotaan Tahun 2011 Menurut Kabupaten/Kota (Kondisi Eksisting) ..... 4 Perbandingan Kontribusi PDRB Kota-kota di Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia ......... 32 Gambar 2............................. 27 Gambar 2........................... 7 Gambar 1.............. 8 Kontribusi PDRB Kota Berdasarkan Peran Kota terhadap Perekonomian Nasional ................. 42 Gambar 2............ 9 Gambar 2..... 28 Gambar 2.................................. 7 Persentase Kontribusi PDRB Kota terhadap Nasional Menurut Tipologi Kota Tahun 20052010 .......................... 10 Perbandingan Nilai Produk Regional Bruto Kota Indonesia Bagian Barat dan Kota Indonesia Bagian Timur ....................... 41 Gambar 2.. 11 Ketimpangan Pembangunan Ekonomi (Indeks Williamson) Antar Kota Berdasarkan Peran Kota di KBI-KTI . 37 Gambar 2.......................... 3 Perkembangan Jumlah Kota di Indonesia Tahun 1950 – 2012 ........KSPPN Daftar Gambar Gambar 1.. 6 Proyeksi Persentase Jumlah Kota Menurut Tipologi Kota Tahun 2011-2050 ............... 2 Perkembangan Jumlah Kota di Indonesia Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011 ........................... 29 Gambar 2........ 1 Populasi Penduduk Perkotaan dan Pedesaan di Dunia Tahun 1950 – 2050 .............2045 .................................. 2 Gambar 1.........

. 13 Penduduk Miskin Kota-Desa Menurut Pulau (Maret 2012) ....... 19 Penduduk Miskin Menurut Tipologi Kota Tahun 2005-2010 .... 60 Gambar 2. 14 Perbandingan PDRB Kabupaten dan PDRB Kota Tahun 2000-2011 ................................. 26 Jumlah Penduduk yang Pernah Mangalami Sakit Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis Penyakit Tahun 2008-2011 (2) .. 16 Jumlah Korban Meninggal Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 1815-2011.... 52 Gambar 2.............................. 58 Gambar 2......... 61 Gambar 2.............................................. 32 Sumber Penerangan Utama Tempat Tinggal Menurut Tipologi Kota Pada Tahun 2010 ......... 56 Gambar 2................................. 62 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .............. 59 Gambar 2........... 46 Gambar 2....... 56 Gambar 2........................ dan Penjarahan Menurut Tipologi Kota Tahun 2006........ 27 Kontribusi UMKM Nasional Tahun 20062010 ................. 54 Gambar 2............ 23 Jumlah Pengangguran Terbuka Menurut Tipologi Kota Tahun 2008-2011 .... 24 Jumlah Penyandang Cacat yang Bertempat Tinggal di Kota Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011 ...KSSPN xiii Gambar 2............................ 15 Frekuensi Terjadinya Bencana di Indonesia Tahun 1815-2011 ............... 47 Gambar 2.............. 28 Persentase Rumah Tangga Menurut Status Kepemilikan Rumah Tahun 2010 .................. 29 Jenis Lantai Terluas dari Tempat Tinggal Rumah Tangga Menurut Tipologi Kota .. 49 Gambar 2...... 51 Gambar 2.... 25 Jumlah Penduduk yang Pernah Mangalami Sakit Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis Penyakit Tahun 2008-2011 (1) ................................. 45 Gambar 2.... 44 Gambar 2.... 2011 .......................... 52 Gambar 2.. 20 Jumlah Tindak Pidana Tingkat Nasional .................................... 21 Jumlah Kelurahan yang Mengalami Tindak Pidana Pencurian Perampokan............. 59 Gambar 2.................................... 31 Jumlah Keluarga Pengguna Listrik pada Tahun 2006-2011 .................................... 2008.. 18 Perkembangan Persentase Kemiskinan di Indonesia Tahun 2004-2012 ........ 22 Penduduk yang Bekerja di Perkotaan Menurut Pendidikan ....................... 17 Sebaran Kejadian Bencana per Kabupaten/Kota Tahun 1815-2012 .. 47 Gambar 2................ 30 Jumlah Bangunan Rumah di Bantaran Sungai Tahun 2006-2011 .............................. 55 Gambar 2. 53 Gambar 2..........................................

............. 39 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar Masyarakat Kelurahan Tahun 2006-2011 ............................... 37 Proporsi Rumah Tangga dengan Akses Terhadap Air Minum Layak Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan Tahun 1993-2009 .... 49 Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi di Indonesia ............... 66 Gambar 2...................... 68 Gambar 2...... 44 Sebaran Konsentrasi Rata-Rata NO2 dan SO2 di 248 Kota/Kabupaten Indonesia .............. 77 Gambar 2... 73 Gambar 2.. 71 Gambar 2.................. 41 Persentase Rumah Tangga Terhadap Status Kepemilikan Prasarana Sanitasi Tahun 2010 ... Pemilikan.... 75 Gambar 2...... 74 Gambar 2................ 36 Akses Rumah Tangga Terhadap Internet Menurut Tipologi Kota Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 ... 46 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Permukiman Tahun 2011 ................. 34 Jumlah Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sarana Prasarana Telekomunikasi Menurut Tipologi Kota Tahun 2010 ..... 78 xiv ...................................................Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional KSPPN Gambar 2...... 47 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Komersial Tahun 2011 ...................................... 63 Gambar 2........................................... 38 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar Masyarakat Kelurahan ............................. 48 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Industri Tahun 2011 . 43 Rata-Rata Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Menurut Tipologi Kota Tahun 2008 ....... 69 Gambar 2.Pemanfaatan Dan Penggunaan Tanah (P4T) ...... 77 Gambar 2............................................ 35 Keberadaan Sinyal Telepon Genggam di Kota Menurut Tipologi KotaTahun 20062011 ....... 76 Gambar 2...................................... 67 Gambar 2...... 40 Persentase Akses Rumah Tangga Terhadap Sarana Prasarana Sanitasi Menurut Tipologi Kota Tahun 2010 ....... 64 Gambar 2.......... 42 Inventarisasi Penguasaan.................. 73 Gambar 2. 65 Gambar 2........................... 64 Gambar 2.. 45 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Transportasi Tahun 2011 ....... 75 Gambar 2....... 50 Ancaman Bencana Gunung Api di Indonesia .................... 67 Gambar 2........ 33 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Telepon Kabel Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011 .... 51 Banyaknya Bencana Alam yang Terjadi Menurut Tipologi Kota ....................

......................... 85 Gambar 2...................................... 58 Rekapitulasi Penindakan Pidana Korupsi per 28 Februari 2013 .... 1 Kerangka Pembangunan Perkotaan Nasional Indonesia........................ 89 Gambar 2....................................... 145 Gambar 3.... 130 Gambar 3........................... 55 Rata-Rata Nilai Tata Kelola Ekonomi Daerah Menurut Tipologi Kota Tahun 2011 ................... 139 Gambar 3...... 52 Perbandingan Trend konsentrasi CO2 Tahun 2004-2012 .............................. 53 Pola Curah Hujan bulanan di Denpasar Januari 1979 .....................................Desember 2010 ........................... 134 Gambar 3... 87 Gambar 2..... 56 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota Berdasarkan Aspek (1) ...... 139 Gambar 3............... 84 Gambar 2..................................... 2 Rata-Rata Capaian Aspek SPN Menurut Wilayah Kepulauan .......................... 79 Gambar 2................ 6 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks Lingkungan ... 79 Gambar 2........ 141 Gambar 3....................... 7 Rata-Rata Capaian Aspek Tata Kelola Perkotaan Berdasarkan Wilayah Kepulauan .... 59 Perkembangan Kawasan Perkotaan di Jabodetabek Tahun 1992-2005...... 8 Tahapan Pencapaian Perwujudan Pelayanan Perkotaan Nasional ............................... 88 Gambar 2............ 54 Permasalahan Tata Kelola dan Kelembagaan Pembangunan Kota dan Kawasan Perkotaan .. 142 Gambar 3...........3 Rata-Rata Capaian Aspek Sosial Budaya Berdasarkan Tipologi Kota .... 4 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks Ekonomi .... 91 Gambar 3........ 81 Gambar 2............................................. 135 Gambar 3...KSSPN Gambar 2....................... 147 xv Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional ............... 57 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota Berdasarkan Aspek (2) ...... 61 Pertumbuhan Kendaraan dan Luas Jalan di Kota Jakarta .................... 9 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional . 62 Bentuk Struktur Organisasi BKSP Jabodetabekjur ...... 5 Rata-Rata Capaian Aspek Lingkungan Berdasarkan Tipologi Kota ................................... 137 Gambar 3............. 85 Gambar 2. 60 Perubahan Moda Transportasi Penduduk Jabodetabek Tahun 2002-2010......10 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Peningkatan Tata Kelola dan Kelembagaan PemerintahTahun 2015 – 2045 ...................................... 83 Gambar 2...............

............... 222 Gambar 5.......... 157 Gambar 5..................................... 241 Gambar 5..... 1 Roadmap Pengembangan Kelembagaan Perkotaan . 2 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan Nasional ......... 12 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan Pelayanan Kota Metropolitan Tahun 2015 ..... 1 Sumber Pembiayaan Pembangunan Perkotaan ........................................... 230 Gambar 5..................................................................... 2 Jenis Pembiayaan Pembangunan Perkotaan ....................... 241 Gambar 6..... 3 Roadmap Pembentukan Lembaga PDF di Indonesia ....... 268 Gambar 7................................. 1 Kedudukan Undang-Undang tentang Perkotaan ... 228 Gambar 5.2045 . 155 Gambar 3.............. 256 Gambar 6...................... 11 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan Pelayanan Kawasan/Kota Megapolitan Tahun 2015 –2045 ............. 239 Gambar 5...................... 5 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Kabupaten/Kota (KP3K) ... 260 Gambar 6......Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional KSPPN Gambar 3............................................ 6 Struktur Badan Otoritas Sektor Prioritas Pembangunan Perkotaan................................... 221 Gambar 5..... 303 xvi ....................... 3 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Nasional (KP3N) .......... 13 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan Pelayanan Kota Besar Tahun 2015 – 2045 ..................... 8 Hubungan Kelembagaan dan Peranan Stakeholders Non Pemerintah ............... 4 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi (KP3P).. 149 Gambar 3........... 14 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan Pelayanan Kota Sedang Tahun 2015 – 2045 ................. 153 Gambar 3........................................................ 15 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan Pelayanan Kota Kecil Tahun 2015 – 2045 ..... 151 Gambar 3.......... 7 Hubungan Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pusat............... Provinsi dan Kabupaten/Kota .............................. 226 Gambar 5..................................

000.000.000 (satu juta) jiwa. Kota sedang adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 100.000. Daerah otonom. 4. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 6. Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. 3. yang penetapannya mempertimbangkan baik aspek administratif maupun fungsional. 7. selanjutnya disebut daerah. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang secara aktual dan potensial mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan.000 (seratus ribu) jiwa. serta tetap mampu manjaga kualitas lingkungan. serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan.000 (sepuluh juta) jiwa. 9. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Kota laya khuni adalah Kota yang dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup warganya sehingga dapat mencapai kesejahteraan dengan lebih mudah. 8. 2. xvii Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .000 (sepuluh juta) jiwa.KSSPN Daftar Istilah 1. Kawasan megapolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan paling sedikit 10. Kota kecil adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk kurang dari 100.000 (lima ratus ribu) sampai dengan 1.000.000 (lima ratus ribu) jiwa.000 (seratus ribu) sampai dengan 500. Kota besar adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 500. 5. serta membutuhkan pengelolaan secara terintegrasi antar sektor baik dalam daerah otonom maupunantar daerah otonom. Kota metropolitan adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 1.000 (satu juta) sampai dengan 10.

dan kualitas prasarana kota untuk menjawab isu perubahan iklim melalui tindakan mitigasi. dan infrastruktur telekomunikasi modern (ICT) untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan tinggi. xviii . Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah Pusat Kegiatan Wilayah adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat kegiatan yang mampu melayani lintas kabupaten/kota dalam provinsi maupun antar provinsi yang berdekatan. melainkan terus memupuk sumber daya alam. Pemerintah pusat. modal sosial. 18. Kota berkelanjutan adalah kota sebagai entitas sosial spasial dan keseimbangan antara masa kini dan masa depan merupakan faktor penting untuk menjamin adanya keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia. Pusat Kegiatan Global yang selanjutnyadisebut PKG adalah Pusat Kegiatan Global adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat kegiatan yang mampu melayani lintas negara dalam skala regional (ASEAN) maupun global. atau Walikota. Pemerintah daerah adalah Gubernur. 12. lingkungan. 13. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bupati. adaptasi dan pemulihan.Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional KSPPN 10. 19. 20. dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah 16. Kota cerdas dan berdayasaing adalah kota yang mampu menggunakan SDM. 11. Kota hijau adalah kota yang dibangun dengan tidak mengorbankan asetnya. 14. selanjutnya disebut Pemerintah. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 15. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah Pusat Kegiatan Nasional adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat kegiatan yang mampu melayani lintas provinsi dalam skala nasional. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah Pusat Kegiatan Lokal adalah tugas yang diemban kota sebagai pusat kegiatan yang mampu melayani wilayah-wilayah disekitarnya maupun lintas kabupaten/kota yang berdekatan. tanpa mengurangi peluang generasi yang akan datang untuk menikmati kondisi yang sama. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia 17.

serta memiliki struktur 24. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. memiliki norma. memiliki tujuan tertentu.KSSPN xix 21. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Penghubung Desa-Kota yang selanjutnya disebut PKD adalah tugas yang diemban kawasan perkotaan yang menghubungkan antara kota kecil/pusat pertumbuhan/pasar dengan desa sebagai pusat produksi. Standar Pelayanan Perkotaan yang selanjutnya disebut SPP adalah standar mutu pelayanan dasar perkotaan yang merupakan urusan wajib daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial ekonomi dan pemerintahan. Kelembagaan adalah sekumpulan jaringan dan relasi sosial yg melibatkan orang. 23. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali. 22.

KSPPN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional xx .

KSSPN xxi Daftar Singkatan ADB ALKI APBD : : : APBN BKSP BKSPAD BLU BRT BUMN DED FI FP3 FS IBRD : : : : : : : : : : : IKB KAD KBI KEK KP3K : : : : : KP3N : KP3P KPBPB KPPN KPRP KPS KSN KSPPD : : : : : : : KSPPN : KTI : Asian Development Bank Alur Laut Kegiatan Internasional Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Badan Kerjasama Pembangunan Badan Kerja Sama Pembangunan Antar Daerah Badan Layanan Umum Bus Rapid Transport Badan Usaha Milik Negara Detailed Engineering Design Financial Intermediary Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan Feasibility Study International Bank for Reconstruction and Development Indeks Kota Berkelanjutan Kerjasama Antar Daerah Kawasan Barat Indonesia Kawasan Ekonomi Khusus Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Kabupaten/Kota Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Nasional Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Komite Pembangunan Perkotaan Nasional Komite Pembangunan Perkotaan Region Pulau Kerjasama Pemerintah – Swasta Kawasan Strategis Nasional Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Daerah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Kawasan Timur Indonesia Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

: : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Local Development Funds Local Project Development Facilities Masyarakat Berpenghasilan Rendah Municipal Development Fund Mass Rapid Transport Norma Standar Pedoman dan Kriteria National Urban Development Strategy Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu Pendapatan Asli Daerah Produk Domestik Bruto Project Development Facility Produk Domestik Regional Bruto Pre-Feasibility Study Pembangunan Jangka Panjang Pusat Kegiatan Global Pusat Kegiatan Lokal Pusat Kegiatan Nasional Pusat Kegiatan Strategis Nasional Pusat Kegiatan Wilayah Penanaman Modal Asing Penanaman Modal Dalam Negeri Ruang Terbuka Hijau Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Sumber Daya Manusia Satuan Kerja Perangkat Daerah Subsidiary Loan Agreement Sistem Penyediaan Air Minum Standar Pelayanan Minimum Sistem Perkotaan Nasional Standar Pelayanan Perkotaan Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Daerah Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional Transit Oriented Development Urban Development Project Usaha Mikro. Kecil. dan Menengah United Nations Development Programme Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional KSPPN LDF LPDF MBR MDF MRT NSPK NUDS P3KT PAD PDB PDF PDRB PFS PJP PKG PKL PKN PKSN PKW PMA PMDN RTH RTRWN SDM SKPD SLA SPAM SPM SPN SPP TKPPD TKPPN TOD UDP UMKM UNDP xxii .

BAB 1 0 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

BAB 1 PENDAHULUAN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 1 .

telah terjadi di seluruh belahan dunia.42 Milyar juta penduduk..1 di bawah ini.1 Latar Belakang Urbanisasi. angka urbanisasi tersebut akan meningkat menjadi 60% pada Tahun 2050 atau sekitar 6. Hasil proyeksi juga menunjukkan urbanisasi pada masa mendatang paling tinggi akan terjadi di negaranegara berkembang. Gambar 1.29 Milyar penduduk yang terkonsentrasi tinggal di perkotaan. 1 Populasi Penduduk Perkotaan dan Pedesaan di Dunia Tahun 1950 – 2050 Sumber: United Nations. namun angka tersebut meningkat pesat menjadi hampir 14% pada Tahun 1900. sebagai bentuk migrasi internal penduduk dari perdesaan ke perkotaan. 2009 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Menurut perkiraan.BAB 1 PENDAHULUAN 1. terdapat 47% dari penduduk dunia tinggal di perkotaan atau mencapai 3. Secara rinci data mengenai perkembangan urbanisasi yang menunjukkan populasi penduduk yang tinggal di perkotaan dan perdesaan di negara maju dan berkembang dapat dilihat pada Gambar 1. sejarah mencatat bahwa pada Tahun 1800 hanya 3% penduduk dunia tinggal di perkotaan. Urbanisasi terjadi semakin cepat dengan indikasi pada Tahun 2009. Menurut data dari United Nations (2009).

Kondisi tersebut terjadi hampir merata di tingkat global. ADB juga memperkirakan kota-kota di Asia juga akanmenghasilkan lebih dari 80 persen dari output ekonomi global dan akan menjadi pusat pengembangan pendidikan. Selain itu. pada Tahun 2050.6 Miliar jiwa (2010) menjadi 3. wilayah Asia akan berubah dengan semakin banyaknya populasi penduduk yang tinggal di perkotaan. meningkatnya arus urbanisasi di perkotaan juga disebabkan oleh faktor kebijakan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Dengan demikian. wilayah Asia juga diperkirakan akan memiliki posisi yang sangat dominan dalam perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan PDB negara-negara Asia secara agregat yang meningkat pesat. maka wilayah-wilayah tersebut juga semakin lama akan menjadi faktor penarik bagi Sumber Daya Manusia di wilayah sekitarnya sekaligus Sumber Daya Alamnya sehingga proses urbanisasi di wilayah-wilayah yang lebih maju tersebut akan semakin cepat (backwash effects). Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 3 . yaitu dari sebesar $16 Triliun pada Tahun 2010 menjadi $ 148 Triliun pada Tahun 2050. Kebijakan pembangunan yang lebih diarahkan pada wilayah-wilayah tertentu menyebabkan terjadinya wilayah-wilayah tersebut lebih maju dibandingkan wilayah-wilayah lainnya yang pada akhirnya mengaikbatkan terjadinya ketimpangan antar wilayah. terutama dinegara-negara berkembang khususnya di Benua Asia dan Afrika. tingginya tingkat urbanisasi di Benua Asia apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan dampak yang positif. yaitu meningkat hampir dua kali lipat dari 1. Eropa dan Asia Timur yang penduduknya diperkirakan relatif tumbuh lebih lambat hingga mencapai 1 milyar jiwa. Menurut proyeksi ADB (2010). Urbanisasi yang terjadi di kedua benua tersebut diperkirakan akan tumbuh menjadi 2 (dua) kali lipat dari Tahun 2000 ke Tahun 2030. Dengan berkembangnya wilayahwilayah yang menjadi orientasi dari kebijakan pembangunan pemerintah. Sementara itu. perkembangan jumlah penduduk di perkotaan diseluruh dunia tersebut tentu akan memberikan pengaruh.BAB 1 Selain laju pertumbuhan penduduk perkotaan yang terjadi secara alamiah. urbanisasi di negara-negara Amerika Latin dan Karibia akan tetap terjadi. sehingga harus diantisipasi agar dampak positif urbanisasi dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan. Hal yang sama juga terjadi di negara-negara maju di Amerika Utara. namun pertumbuhannya akan lebih lambat. Secara lebih spesifik.1 Miliar jiwa (2050). baik positif maupun negatif terhadap perkembangan seluruh sektor kehidupan di tingkat global.

Agenda 21 yang diluncurkan pada KTT Bumi. seperti air. hemat energi. (ii) Istanbul Declaration and Habitat Agenda (1996). Building the Resilence of Nations and Communities to Disasters. mengamanatkan target-target yang terkait dengan bidang perkotaan. (iii) Millenium Development Goals (MDGs) (2000). aman dan layak huni. 4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Subnational Governments and Other Local Authorities for Biodiversity (2011 – 2020).1. Meningkatkan penyediaan infrastruktur lingkungan yang terhubung antara satu dengan lainnya. kota-kota di Asia harus mampu memanfaatkan momentum tingginya tingkat urbanisasi tersebut melalui promosi kota yang hijau. Respon ini semakin menguat mengingat urbanisasi selanjutnya menjadi migrasi eksternal yang berkaitan antara negara satu dengan negara lainnya yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi sosial ekonomi suatu negara. Agenda 21 yang dikeluarkan oleh UN Habitat merupakan forum yang pertama yang mengamanatkan transformasi konsep pembangunan berkelanjutan untuk menjadi komitmen negara-negara di dunia dalam memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.BAB 1 inovasi dan teknologi tinggi. sehingga menjadi perhatian utama dalam beberapa forum internasional. antara lain: (i) Agenda 21 (1992). 66/207 on Implementation of the Outcome of the United Nations Conference on Human Settlements Programme (2012). (iv) Johannesburg Plan of Implementation (JPOI) (2002). drainase dan manajemen pengelohan limbah. khususnya di perkotaan. sehingga menjadi kota-kota yang berkelanjutan. 1. terdapat berbagai respon dari dunia internasional yang telah dilakukan sejak Tahun 1992 sampai dengan sekarang. (vii) Plan of Action on Cities. sanitasi. dan (viii) Hyogo Frameawork for Action 2005 – 2015: International Strategy for Disaster Reduction. 2. (v) Reports of the Commission on Sustainable Development.1 Agenda Internasional Dalam Pembangunan Perkotaan Untuk mengantisipasi gejala urbanisasi dan berbagai isu perkotaan. Meningkatkan pembangunan sumberdaya manusia dan capacity building untuk pengembangan hunian. Diantara sekian forum internasional yang membahas tentang isu-isu perkotaan. 1992 di Brazil dengan tema Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). sebagai berikut : 1. (vi) Annual UN GA Resolution No. Oleh karena itu.

termasuk melalui perencanaan perkotaan dan kota yang tepat untuk mempersiapkan kota menghadapi tantangan ke depan. dan 6. Kota seharusnya dapat mengoptimalkan peran yang sangat penting sebagai penggerak pertumbuhan (engine of growth) ekonomi di tingkat lokal. Disamping itu. dalam pelaksanaannya. organisasi lokal lain (non-pemerintah) juga pihak swasta dan masyarakat dalam pengambilan setiap keputusan. 66/2007. 2. Peran penting teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology) untuk memperluas keterlibatan masyarakat dan meningkatkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan perkotaan.Hal Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 5 . Perlindungan dan promosi kesehatan masyarakat yang harus dapat menjawab tantangan kesehatan perkotaan. kota-kota di dunia diarahkan untuk dapat mengantisipasi perkembangan urbanisasi dan memanfaatkan dampak-dampaknya. Memastikan terjaminnya pengembangan lingkungan yang berkelanjutan serta memberantas kemiskinan. 2012 terdapat beberapa pesan kunci dari UN Habitat dalam rangka mencapai Agenda 21. Dengan tidak tercapainya target-target tersebut. 4. 5. Isu-isu yang terkait tentang Pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. banyak target diatas yang belum tercapai. peran penting perkotaan tersebut masih belum berjalan dengan semestinya. Akan tetapi. dalam Annual UN GA Resolution No.nasional dan global. Kebijakan Kota Nasional (National Urban Policy) perlu disiapkan sebagai tool bagi peningkatan kondisi perkotaan. Namun. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya masih banyak target dari Agenda 21 yang berjalan secara sektoral atau terpisah. Pengembangan kelembagaan lokal yang mendukung Agenda 21. maka terdapat pesan yang sangat penting bagi pemerintah kota untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan perkotaan melalui pendekatan partisipasi sebagaimana tertuang dalam Chapter 28 dari Agenda 21 yang menerapkan prinsip kemitraan dan pembinaan antara pemerintah daerah. wilayah. sebagai berikut: 1. dan 3.BAB 1 3. Melalui berbagai forum internasional. baik limbah padat dan limbah cair. Perlunya penguatan pendekatan partisipatif (participatory approach) guna memastikan adanya inclusive ownership di dalam proses pembangunan kota.

Tingkat urbanisasi dan jumlah penduduk perkotaan akan meningkat tajam pada tahun-tahun mendatang yang diperkirakan mencapai 67. Berbagai masalah yang diakibatkan seperti terjadinya kemacetan lalu lintas. khususnya di Indonesia harus diarahkan untuk menciptakan kotaberkelanjutan dan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. 2012). minimnya pelayanan perkotaan terhadap masyarakat.BAB 1 ini dapat ditinjau dari pertambahan penduduk yang cepat serta tuntutan kebutuhan pelayanan perkotaan yang tinggi yang tidak disertai dengan kesiapan pengelolaan perkotaan dalam menghadapi perkembangan masalah yang pesat dan cepat tersebut merupakan faktor pelemah peran dan fungsi kota. perlu adanya pengelolaan perkotaan yang mampu mengatasi berbagai permasalahan yang sedang terjadi sekaligus menghadapi tantangan perkotaan kedepan. Oleh karena itu. kemiskinan perkotaan.2 di halaman berikut. 6 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .7% pada Tahun 2025 dan mencapai 82%pada Tahun 2045 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.75% pertahun yang melebihi rata-rata pertumbuhan penduduk nasional yaitu sebesar 1.17% pertahun (BPS.2 Urbanisasi dan Kebijakan Perkotaan di Indonesia Pada tahun 2010. Pengelolaan perkotaan di masa depan.1. dengan tingkat pertumbuhan penduduk 2. komposisi penduduk perkotaan di Indonesia yang mencapai lebih dari 50%. 1. dan degradasi lingkungan yang selanjutnya menyebabkan menurunnya kualitas hidup di perkotaan.

BPS dan UNPF 2008 dan Analisis 2013. keterbatasan lapangan pekerjaan. nilai tambah produk perdesaan yang masih rendah serta kehidupan perdesaan yang dianggap kurang modern yang membuat masyarakat perdesaan lebih tertarik untuk tinggal di perkotaan. terutama sarana pendidikan. kualitas kehidupan yang lebih baik. kondisi di perdesaan belum dapat mengimbangi perkembangan pembangunan perkotaan yang begitu pesat. dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak dan beragam dibandingkan di perdesaan. Faktor pendorong tersebut menjadikan masyarakat di perdesaan berpindah ke perkotaan untuk mencari kesempatan dalam rangka memperbaiki taraf hidup menjadi lebih baik. Dampak tersebut terlihat dari perubahan karakteristik desa menjadi karakteristik Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 7 . seperti kurang tersedianya prasarana dan sarana. Sementara itu. Faktor pendorong yang terjadi di perdesaan. yaitu faktor penarik (pull factor) dan faktor pendorong (push factor). namun juga bagi kawasan di sekitarnya. 2 Populasi Penduduk Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia Tahun 2005 .2045 Sumber : Bappenas. ketersediaan prasarana dan sarana yang lebih lengkap dan berkualitas. Tingginya tingkat urbanisasi diatas disebabkan oleh dua faktor utama. Urbanisasi yang pesat memberikan dampak tidak hanya bagi kota dan kawasan perkotaan. kehidupan yang lebih modern.BAB 1 Gambar 1. seperti berkumpulnya kegiatan ekonomi. Faktor penarik urbanisasi yang terjadi di perkotaan terjadi karena pesatnya perkembangan berbagai hal.

Kondisi ini juga terjadi di Indonesia dalam bentuk peningkatan jumlah kota otonom. terlihat bahwa pertumbuhan jumlah kota otonom di Indonesia semakin cepat setelah dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah pada Tahun 2001. Dari grafik dibawah. pertumbuhan PDRB kotakota besar dan metropolitan saat ini masih terpusat di KBI.4. maka seiring waktu desa juga mengalami proses menjadi kota. atau dikenal dengan reklasifikasi. Ketimpangan wilayah tersebut terjadi antar kota serta antara desa dan kota. Sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. 3 Perkembangan Jumlah Kota Otonom di Indonesia Tahun 1950 – 2014 Sumber : KementerianPU. The State of Indonesian Cities.Salah satu bukti terjadinya ketimpangan antar kota dapat diukur dari pertumbuhan ekonomi kota-kota yang terletak di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Gambar 1.3 yang mencatat bahwa pada Tahun 1950 hanya terdapat 4 kota otonom di Indonesia dan angka tersebut meningkat tajam menjadi 73 kota pada Tahun 1990 dan menjadi dua kali lipat sebanyak 98 kota pada Tahun 2014. sedangkan 8 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .BAB 1 kota. 2010 Perkembangan kawasan perkotaan yang masif dan mandiri yang kurang ditunjang oleh pola keterkaitan antar kawasan menyebabkan ketimpangan antar wilayah. Apabila kegiatan-kegiatan yang bercirikan perkotaan terjadi di kawasan perdesaan.

(5) tidak mandiri dan tidak terarahnya pembangunan kawasan-kawasan permukiman baru sehingga menjadi tambahan beban bagi kota inti (kota otonom).khususnya antara kota-kota yang terletak di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. khususnya dalam konteks terbentuknya kawasan metropolitan dan megapolitan. (6) terbentuknya kawasan metropolitan dan megapolitan yang membutuhkan peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur serta menuntut manajemen perkotaan yang lebih baik. 2012 Ketimpangan wilayah antar kawasan tersebut membawa dampak negatif tidak hanya bagi kota-kota besar dan metropolitan. 4 Perbandingan Kontribusi PDRB Kota-kota di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia KTI) Sumber : Hasil Analisis Dit. antara lain: (1) terjadinya eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya alam di sekitar kota untuk mendukung dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. serta bagi kota-kota sedang dan kecil. Dampak negatif yang ditimbulkan urbanisasi di kotakota besar dan metropolitan. mengindikasikan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 9 .BAB 1 pertumbuhan PDRB kota-kota sedang dan kecil yang sebagian besar berlokasi di KTI. (2) terjadinya perkembangan kota (urban sprawl) yang tidak terkendali dan secara terus menerus mengkonversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan terbangun. (4) menurunnya kualitas hidup masyarakat di perkotaan. Gambar 1. Perkotaan dan Perdesaan Bappenas. Berbagai permasalahan tersebut. (3) menurunnya kualitas lingkungan fisik perkotaan. cenderung stagnan dan berjalan lambat sehingga menimbulkan kesenjangan wilayah antarkota.

menjadikan kota-kota tersebut semakin kesulitan dalam pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) yang pada akhirnya menjadi kurang optimal dalam melaksanakan peran dan fungsi kota. SDM. CAFTA dan IJEPA. dan modal. Akan tetapi. tsunami dan banjir rob. Indonesia juga terikat dengan beberapa kerjasama perdagangan bebas lainnya. Disamping AEC. seperti G20.Disamping itu. negara kepulauan dan berada di jalur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). kota dan kawasan perkotaan Indonesia merupakan pusat pertumbuhan terdepan nasional yang sudah dan akan menghadapi perekonomian global dan perdagangan bebas pasca disepakatinya berbagai perjanjian perdagangan bebas. para Kepala Negara dan Pemerintahan dari negara-negara ASEAN telah bersepakat untuk melaksanakan integrasi ekonomi di wilayah ASEAN atau yang disebut dengan ASEAN Economic Community (AEC) pada Tahun 2015.Di tingkat ASEAN. AFTA. AEC ini berupa liberalisasi komprehensif dari 5 (lima) unsur. jasa. yaitu: barang. banjir. baik bilateral maupun multilateral. Dengan jumlah pulau sekitar 17. Dalam pelaksanannya. Dilain pihak. Selain kebutuhan mendasar dalam bentuk pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP).serta keterbatasan kapasitas tata kelola. kota-kota di Indonesia juga rawan terhadap bencana alam.BAB 1 telah terjadinya diseconomies of scale karena terlalu besarnya jumlah penduduk perkotaan dan terlalu luasnya wilayah yang harus dikelola secara terpadu.000 ribu serta posisi geografis Indonesia yang terletak di daerah tropis dengan garis pantai terpanjang ke-2 di dunia menyebabkan kota-kota yang terletak di kawasan pesisir rentan terhadap dampak negatif dari perubahan iklim. investasi. rendahnya investasi. kurang berpihaknya kebijakan pembangunan dan investasi pembangunan dari pemerintah di kota-kota sedang dan kecil. rendahnya kualitas tenaga kerja dan SDM. Sementara itu. serta masih buruknya infrastruktur. antara lain kenaikan muka air laut. dan tanah longsor. gempa bumi. tenaga kerja. tantangan terbesar yang dihadapi oleh kotakota di Indonesia adalah kondisi geografis Indonesia sebagai negara tropis. teknologi dan inovasi yang semakin bersaing. globalisasi dan perdagangan bebas ini membawa konsekuensi positif maupun negatif. seperti gunung meletus. yang semakin menuntut kesiapan dan 10 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . seperti arus informasi.dan keuangan. terdapat permasalahan utama bagi kota-kota di Indonesia yaitu rendahnya daya saing yang disebabkan oleh kurang terolahnya produk unggulan lokal.

Indonesia juga menghadapi tantangan lain berupa dampak perubahan iklim dan bencana alam. Akan tetapi. tidak saja transparan. 177 PKW dan 26 PKSN. terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang lain. Pengendalian pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan. 3. dan 4. 38 PKN. namun juga inovatif. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2050 telah memuat arah dan kebijakan pembangunan perkotaan secara umum untuk jangka panjang. Penyeimbangan pertumbuhan antar kota metropolitan-besarmenengah-kecil. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) telah menetapkan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) yang meliputi 7 KSN Perkotaan. arah dan kebijakan diatas masih bersifat umum dan belum spesifik menyentuh akar permasalahan yang terjadi di kota-kota di Indonesia. Selain itu. serta mampu bekerjasama serta membangun komunikasi dan kolaborasi dengan semua pelaku pembangunan perkotaan. Berbagai permasalahan yang sedang terjadi dan tantangan pembangunan perkotaan Indonesia di masa mendatang sebagaimana tersebut diatas belum direspon secara baik oleh kebijakan dan peraturan perundangan yang ada.Selain globalisasi dan perdagangan bebas. yaitu Peraturan Pemerintah No. dan partisipatif. Percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah terutama di luar Pulau Jawa. Penetapan tersebut juga telah disertai Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 11 . BAB 1 daya saing kota sebagai pintu masuk utama terjadinya perdagangan bebas. Kedua hal tersebut akan mempengaruhi wilayah kota-kota pesisir Indonesia. Hal ini mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan resiko tsunami serta gempa dan banjir yang termasuk tertinggi di dunia. Di tingkat nasional terdapat Undang-Undang No. seperti UU No. Para pengelola perkotaan akan dituntut semakin tanggap dan bertanggung jawab dalam era desentralisasi. yaitu: 1. kreatif. 2. yang menuntut tingginya ketahanan suatu kota dari bencana. Peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaanperdesaan.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang serta turunannya. akuntabel.

2. Meskipun arahan. Memberikan payung hukum yang mengikat bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam pembangunan perkotaan. Terdapat juga UU No. Menjadi dasar dalam sinkronisasi regulasi dan kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang terkait pembangunan perkotaan. diperlukan suatu pendekatan pembangunan perkotaan yang tepat dan dituangkan dalam kebijakan dan strategi yang mampu menyelesaikan berbagai isu strategis dalam pembangunan perkotaan. Oleh karena itu. namun sampai dengan saat ini hirarki system kota-kota di Indonesia masih belum jelas. Sedangkan sasaran dari yang diharapkan dapat dicapai melalui pelaksanaan KSPPN. pesan Agenda 21 serta UN Resolution No. Meskipun secara umum pembangunan perkotaan sudah diatur dalam berbagai peraturan dan perundangan. dan 12 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . disusunlah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN). mengantisipasi berbagai tantangan serta sekaligus menyiapkan kota-kota di Indonesia menuju kota masa depan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan. 1. 3. namun saat ini belum ada kebijakan dan peraturan yang secara khusus dan strategis mengatur dan mengarahkan pembangunan kota-kota di Indonesia di masa depan.BAB 1 dengan arahan peran dan fungsi masing-masing sistem perkotaan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah namun belum mengatur secara spesifik mengatur kelembagaan yang dibutuhkan untuk mengelola kawasan perkotaan dan hal-hal lainnya sesuai dinamika yang terjadi di perkotaan.2 Tujuan dan Sasaran KSPPN disusun dengan tujuan sebagai acuan yang strategis dan antisipasif dalam pembangunan perkotaan di Indonesia dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. peran dan fungsi kawasan perkotaan telah jelas diatur. Mengatur dan memantapkan peran dan fungsi kota sesuai tipologinya untuk pembangunan perkotaan di Indonesia secara berkelanjutan. 66/207 tersebut diatas juga perlu segera direspon untuk menghadapi tantangan urbanisasi serta pengelolaan perkotaan menuju pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu. Disamping itu. yaitu: 1. serta perwujudan SPNbelum berjalan sesuai dengan arahan dan belum menunjang antara satu kawasan perkotaan dengan kawasan perkotaan yang lainnya secara bertingkat sesuai dengan tipologinya.

4 Kedudukan KSPPN pada dasarnya merupakan sebuah dokumen perencanaan di tingkat nasional yang akan ditetapkan dalam bentuk peraturan. 5. mulai dari Tahun 2015 sampai dengan Tahun 2045.sebagai berikut: Bab 1 Pendahuluan Bab ini menguraikan mengenai latar belakang penyusunan KSPPN. jangka waktu serta kedudukan KSPPN terhadap berbagai dokumen perencanaan yang telah tersedia yang terkait dengan pembangunan perkotaan di Indonesia.1. Jangka Waktu Dalam rangka menyelesaikan berbagai isu strategis yang sedang terjadi sekaligus menyiapkan kota-kota di Indonesia menuju kota masa depan. 1.5 Sistematika Penyajian Sistematika dalam penyajian KSPPN) diuraikan. maupun dokumen penganggaran yang telah disusun oleh Kementerian/Lembaga yang lain dan Pemerintah Daerah 1. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 13 . maka KSPPN akan menjadi acuan pembangunan perkotaan di Indonesia untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun. diuraikan pula berbagai isu strategis perkotaan. Disamping itu. Menjadi instrumen perencanaan bagi Kementerian/Lembagadan Pemerintah Daerah dalam penyusunan program dan kegiatan pembangunan perkotaan. KSPPN merupakan grand design dan dokumen kebijakan dan strategi bagi pembangunan perkotaan nasional yang diharapkan menjadi acuan bagi dokumen perencanaan strategis daerah maupun perencanaan pembangunan perkotaan lainnya antara lain dokumen penataan ruang. Mendorong dunia usaha dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan perkotaan di tingkat nasional dan daerah.3 BAB 1 4. Bab 2 Gambaran Umum Perkotaan Indonesia Bab ini menjelaskan perkembangan kota dan kawasan perkotaan di Indonesia. yang dilanjutkan dengan uraian mengenai tujuan dan sasaran penyusunan KSPPN.

sistem dan peraturan. dan sasaran pembangunan perkotaan di Indonesia. Misi. dan sasaran pembangunan perkotaan. konsep dan prinsip dasar tersebut. Selanjutnya masing-masing arah kebijakan diuraikan kedalam strategi yang lebih operasional sehingga memudahkan untuk diturunkan kedalam program dan kegiatan baik di pusat maupun di daerah. dan Sasaran Pembangunan Perkotaan Bab ini diawali dengan gambaran mengenai cara membangun kota masa depan di Indonesia dalam bentuk uraian tentang teori-teori dan konsep dasar pembangunan perkotaan serta prinsip-prinsip yang menjadi dasar dalam pembangunan perkotaan secara nasional. misi. Bab 6 Kerangka Pembiayaan Perkotaan Bab ini menguraikan tentang sumber-sumber dan mekanisme pembiayaan yang telah tersedia. misi.BAB 1 tantangan pembangunan perkotaan. Berdasarkan teori. potensi yang dimiliki oleh kota-kota di Indonesia serta peluang yang ada dan bisa dimanfaatkan dalam pembangunan perkotaan pada masa yang akan datang. data dan informasi. baik di tingkat pusat. Khusus untuk kelembagaan perkotaan. serta kepemimpinan. baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. 14 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . kelembagaan. Selanjutnya dijelaskan mengenai arahan dan bentuk lembaga pembiayaan yang perlu dibangun kedepan dalam rangka mewujudkan pembangunan perkotaan di Indonesia. Selanjutnya sasaran pembangunan perkotaan dijabarkan kedalam tahapan untuk masingmasing tipologi perkotaan. Bab 4 Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Bab ini menguraikan arah kebijakan pembangunan perkotaan yang disusun berdasarkan visi. diuraikan mengenai kelembagaan yang sudah ada dan bentuk kelembagaan yang diusulkan untuk dibangun dalam mempercepat pembangunan perkotaan. Bab 5 Kerangka Kelembagaan Perkotaan Bab ini menguraikankondisi sekarang dan arahan kedepan dari tata kelola pembangunan perkotaan di Indonesia. Bab 3 Visi. Tata kelola mencakup analisis terhadap SDM dan aparatur. maka dirumuskan visi. provinsi dan kabupaten/kota.

perencanaan dan penganggaran. pengendalian. BAB 1 Bab 7 Kerangka Regulasi Perkotaan Bab 8 Mekanisme Pelaksanaan KSPPN Bab ini menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh masingmasing pelaku pembangunan perkotaan dalam melaksanakan KSPPN berdasarkan tingkatan pemerintahan.Bab ini menguraikan tentang peraturan perundangan yang telah tersusun dan dibutuhkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dalam pembangunan perkotaan di Indonesia serta untuk menuju kota yang berkelanjutan. yaitu mulai dari tahapan penyusunan kebijakan. Penjelasan kerangka regulasi perkotaan diuraikan sesuai tingkatannya. mulai dari Kementerian/Lembaga di tingkat pusat sampai ke SKPD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. sampai dengan tahapan pembinaan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 15 . mulai dari tingkat Undang-Undang hingga tingkat Peraturan Menteri. Mekanisme pelaksanaan KSPPPN disusun berdasarkan tahapan pembangunan perkotaan.

BAB 2 16 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

BAB 2 GAMBARAN UMUM PERKOTAAN INDONESIA Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 17 .

yang kedua yaitu disebut dengan istilah urban (di Indonesia dikenal dengan istilah „perkotaan‟).1. 2003a. Firman. yang sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Hugo. Perlu diperhatikan dalam pendefinisian perkotaan-perdesaan bahwa ada ketidakjelasan dalam perbedaan karakteristik perkotaanperdesaan di dalam konteks Indonesia.1 Definisi Kota Indonesia dan Kawasan Perkotaan di 2. penentuan tersebut didasarkan pada aspek administratif dan fungsional3. 1997a. Ada dua definisi alternatif mengenai „perkotaan‟ di Indonesia yaitu: pertama menyangkut wilayah administratif dan kedua menyangkut fungsional wilayah1. Dua istilah ini terkadang rancu digunakan dalam kalimat untuk menggambarkan kota/perkotaan. 1995. Secara administratif. 1997.1 Definisi Kota dan Perkotaan Para ahli kota memberikan definisi kota dengan dua sudut pandang. 1996. Kedua dilihat dari fungsional wilayahnya. Gardiner. di Indonesia sendiri disebut dengan istilah „kota‟. 1991. 1995.Gambaran Umum Perkotaan Indonesia BAB 2 2. yaitu pertama kota dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan istilah city (di Indonesia dikenal dengan istilah „kota‟). b. 1994. dimana setiap unit administratif terkecil (yaitu desa) diberi status fungsional sebagai „perkotaan‟ atau „perdesaan‟ berdasarkan karakteristik dan kriteria tertentu. 1 Gardiner (2006) McGee. 1995. Terdapat dua kriteria untuk menentukan apakah suatu wilayah dapat dikatakan sebagai kota atau bukan. 2 3 18 Steven pinch (1985) Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Firman & Dharmapatni. McGee & Robinson. dimana sebagian karakteristik „kota‟ juga muncul di banyak desa di Indonesia2. dimana „perkotaan‟ menyangkut wilayah administratif pemerintah lokal.

serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. pemusatan dan distribusi Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 19 . Fungsional Berdasarkan pendekatan fungsional.1. juga sebagai pemusatan koleksi dan distribusi pelayanan jasa pemerintah dan pelayanan sosial.2 Definisi Kawasan Perkotaan Dalam UU No. yang secara sah memiliki kewenangan dan tanggung jawab memberikan pelayanan sebagai kota otonom yang dipimpin oleh seorang walikota (dalam konteks definisi kota di Indonesia). Dalam konteks pengertian perkotaan di Indonesia. BAB 2 Berdasarkan pendekatan administratif. 2.1. Secara fungsionalkota merupakan tempat konsentrasi permukiman penduduk. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan PP No. PP No. kegiatan sosial ekonomi yang beragam dan bukan pertanian. definisi ini berkaitan dengan dominasi penduduk suatu wilayah yang bekerja di sektor non-pertanian. Pengertian kota yang dimaksud disini adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Administratif 2. perkotaan diartikan sebagai wilayah yang bercirikan non-agraris sebagai pusat permukiman yang melewati batasbatas administrasi. Suatu kota yang ditetapkan sebagai kota otonom. Suatu wilayah dapat dikatakan menjadi kota jika secara legal telah dinyatakan sebagai kota yang dikelola oleh sebuah pemerintah kota dengan yurisdiksinya. kawasan perkotaan didefinisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. Penggunaan istilah kota di Indonesia lebih kepada wilayah permukiman yang terbatas pada daerah administrasi sedangkan perkotaan pengertiannya lebih luas dari batas-batas administrasi dan menekankan pada ciri-ciri fungsional suatu wilayah. definisi ini berkaitan dengan upayapembuatan batas wilayah kota. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Sedangkan istilah perkotaan adalah kawasan permukiman yang meliputi kota induk dan daerah pengaruh di luar batas administrasinya yang berupa kawasan pinggiran/suburban.

yaitu kawasan perkotaan berdasarkan ukuran jumlah penduduk.1. serta membutuhkan pengelolaan secara terintegrasi antar sektor baik dalam daerah otonom maupun antar daerah otonom. pelayanan sosial.000 (seratus ribu) jiwa dan paling banyak 500. atau b) Kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota pada satu atau lebih wilayah provinsi. perkotaan dan kawasan perkotaan di atas. Tipologi berdasarkan ukuran ini telah diformalkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. adalah kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit 500.3 Tipologi Perkotaan Berdasarkan pengertian kota. yang penetapannya mempertimbangkan baik aspek administratif maupun fungsional.pelayanan jasa pemerintahan. adalah kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit 50.  Kawasan perkotaan besar. 20 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 2. tipologi yang dimaksud yaitu:  Kawasan perkotaan kecil.000.  Kawasan perkotaan sedang.000 (lima ratus ribu) jiwa dan paling banyak 1. BAB 2 Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kawasan perkotaan dalam konteks Indonesia adalah wilayah yang secara aktual dan potensial mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan.000 (lima ratus ribu) jiwa. Dengan begitu. maka secara umum model tipologi kawasan perkotaan yang ada di Indonesia. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.000 (satu juta) jiwa. kawasan perkotaan di Indonesia dapat berbentuk: a) Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari wilayah kabupaten. dan kegiatan ekonomi.000 (seratus ribu) jiwa. adalah kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani paling sedikit 100. Tipologi pertama.000 (lima puluh ribu) jiwa dan paling banyak 100. dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1.

Kota agromarine. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 21 . Tipologi ketiga.000 (satu juta) jiwa. Kota agrowisata. yaitu kawasan perkotaan yang dikelompokkan berdasarkan fungsi utama atau ciri khas kegiatan kawasan perkotaan yang menonjol. dan Kawasan perkotaan sebagai ibukota kecamatan.000. Kawasan perkotaan sebagai ibukota kota otonom. bahkan sampai Peraturan Daerah yang diamanatkan oleh UndangUndang. Kawasan metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang . Kawasan megapolitan. Peraturan Pemerintah. yaitu kawasan perkotaan didasarkan pada ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. baik dalam bentuk Undang-Undang. Dalam hal ini kawasan perkotaan dapat dikelompokkan menjadi:      3. yaitu kawasan yang terbentuk dari dua atau lebih kawasan metropolitan yang memiliki hubungan fungsional dan membentuk sebuah sistem. Kota minapolitan. Tipologi kedua. Kota pariwisata. Kota industri. Kawasan perkotaan sebagai ibukota kabupaten. Kota perdagangan dan jasa. 2.kurangnya 1. Kota agropolitan. Kawasan perkotaan sebagai ibukota provinsi. Dalam hal ini kawasan perkotaan dikelompokkan sebagai berikut:          Kota pendidikan. BAB 2  Kawasan Perkotaan sebagai ibukota negara. dan sebagainya.

000 sampai dengan 100.Dalam hal ini kawasan perkotaan dikelompokkan sebagai berikut:  Kota Pesisir.000 jiwa. yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk berkisar antara 100. 2. yang dibagi kedalam 6 (enam) kelompok yaitu: 1. Kota Sedang. Dalam hal ini kawasan perkotaan dikelompokkan sebagai berikut:    Kawasan perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Untuk memudahkan dalam pengelolaan pembangunan kawasan perkotaan di Indonesia melalui KSPPN.000 jiwa.  Kota Air. 22 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kota Kecil.000 sampai dengan 500. dengan batasan jumlah penduduk antara 50. Kawasan perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Kawasan perkotaan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). kawasan perkotaan yang dimaksud disini adalah ibukota kabupaten atau bagian dari 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten pada satu atau lebih wilayah provinsi yang memiliki ciri perkotaan. tipologi kawasan perkotaan yang digunakan disusun berdasarkan pendekatan kota otonom dan kawasan perkotaan serta pengelompokannya berdasarkan jumlah penduduk. (2) pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Ciri perkotaan yang dimaksud yaitu: (1) sebagai tempat permukiman. yaitu kawasan perkotaan yang dikelompokkan berdasarkan letak geografis atau karakteristik wilayah. yaitu kawasan perkotaan yang dikelompokkan berdasarkan peran kawasan perkotaan tersebut kepada wilayah Negara Kesatuan Republik indonesia.000 jiwa. (4) kegiatan ekonomi.  Kota Pegunungan.  Kota Perbatasan. 3. Kawasan Perkotaan.4. (3) pelayanan sosial.  dan sebagainya Tipologi kelima. BAB 2 5. yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk sampai dengan 100. Tipologi keempat.

yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk berkisar antara 1.000 jiwa. Kota Metropolitan. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 23 . jumlah keluarga pertanian dan jumlah keluarga yang ada anggota keluarganya menjadi buruh tani. akademi/perguruan tinggi sederajat.000 jiwa. kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan paling sedikit 10. Banyaknya fasilitas pendidikan (TK/sederajat. SMK/sederajat.4 Klasifikasi Daerah Perkotaan Penentuan suatu desa atau kelurahan digolongkan daerah perkotaan atau perdesaan di Indonesia didasarkan pada Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 37 Tahun 2010 tentang Klasifikasi Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia. jumlah keluarga.000 sampai dengan 1.000. dan seminari/sejenisnya) dan jarak ke fasilitas pendidikan terdekat yang tidak ada di wilayah tersebut. Kota Besar. Penduduk dan keluarga (tidak termasuk yang sudah tidak tinggal di desa/kelurahan). yaitu kota otonom dengan jumlah penduduk berkisar antara 500.000. Kawasan Perkotaan Megapolitan. poliklinik/balai pengobatan. rumah sakit bersalin. nonpemerintah atau bahkan nonlistrik.1. jumlah penduduk perempuan. 3.000. SMU/sederajat. dan 6. SMP/sederajat. Keluarga pengguna listrik baik itu yang menggunakan jasa PLN maupun Non PLN.000 (sepuluh juta) jiwa. madrasah diniah. puskesmas pembantu. 4.BAB 2 4. sekolah luar biasa (SLB). Banyaknya fasilitas kesehatan (rumah sakit. 2.000. 5. puskesmas.000 jiwa sampai dengan 10. 5. Kriteria ini yang digunakan dalam pendefinisian perkotaan. Pendataan klasifikasi perkotaan ini didasarkan pada skor yang dihitung dari kriteria sebagai berikut: 1. meliputi: jumlah penduduk laki-laki. SD/sederajat. pondok pesantren. Keberadaan penerangan di jalan utama Desa/Kelurahan dan jenis penerangannya apakah diusahakan oleh pemerintah. 2.

Pub/diskotik/tempat karaoke dan jarak ke fasilitas hiburan terdekat yang tidak ada di wilayah tersebut. dsb). Keberadaan wartel/kiospon/warpostel/warparpostel. kolam/tebat/empang. Urbanisasi di Indonesia mulai marak sejak tahun 1960-an yang diindikasikan dengan berubahnya 24 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . kantor. lapangan. apotek dan toko khusus obat/jamu). tambak.2 tempat praktek dokter. Keberadaan lapangan olah raga (sepak bola. jalan. dan Banyaknya koperasi yang masih aktif/beroperasi. meliputi: koperasi unit desa. ladang/huma. Keberadaan kelompok pertokoan dan pasar dengan bangunan permanen/semi permanen serta jarak ke kelompok pertokoan dan pasar terdekat yang tiada ada di wilayah tersebut. polindes. Keberadaan dan jumlah keluarga yang berlangganan telepon kabel.2. Keberadaan minimarket. tempat praktek bidan. dan renang) dan kelompok kegiatannya termasuk tenis meja. 2. 9. perkebunan. BAB 2 7. tenis (lapangan). koperasi industri kecil dan kerajinan rakyat. 12. 10. jarak dan kemudahan untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat yang tidak ada di wilayah tersebut. poskesdes.1 Perkembangan Program Perkotaan Dekade Indonesia telah mengalami urbanisasi yang pesat. industri. 8. peternakan. futsal. pertanian nonsawah (tegal/kebun. bola voli. hutan rakyat. 14. dan koperasi lainnya. prasarana umum. dsb) dan lahan nonpertanian (perumahan. Ada tidaknya fasilitas hiburan seperti gedung bioskop. Luas wilayah Desa/Kelurahan. 15. koperasi simpan pinjam. bulu tangkis. dan proses tersebut masih terus berlanjut hingga kini. 11. Keberadaan telepon umum koin/kartu yang masih aktif/berfungsi. 13.6. Perkembangan Indonesia Pembangunan Perkotaan di 2. bola basket. bela diri. Jumlah lahan yang digunakan untuk pertanian sawah (sawah irigasi dan sawah nonirigasi). dan bilyard. posyandu. hotel dan penginapan.

KIP dikritik karena kurang mempertimbangakan rencana tata ruang yang lebih makro serta kurang terintegrasi dengan program pembangunan prasarana perkotaan di wilayah lain. Bandung. Awal Tahun 1980-an. 5-7 tahun. perekonomonian Indonesia tumbuh dengan cepat akibat eksploitasi minyak dan gas bumi sehingga mendorong berkembangnya kota-kota besar menjadi kota-kota metropolitan. P3KT mengubah pendekatan pembangunan prasarana kota dari sektoral dan terpusat menjadi pendekatan keterpaduan dan desentralisasi. pengelolaan air limbah dan persampahan. Medan. yang diimplementasikan dalam “Program Perbaikan Kampung” atau Kampong Improvement Program (KIP). Pada tahun 1973 untuk mengatasi kemiskinan perkotaan maka Pemerintah menerapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan prasarana dasar seperti jalan setapak. Sejak Tahun 1960 permasalahan dan tantangan perkotaan berbeda dari waktu ke waktu yang menyebabkan upaya perencanaan pembangunannya pun berbeda.BAB 2 beberapa kota kecil menjadi sedang dan sedang menjadi besar. dimana migrasi dari desa ke kota terus meningkat sehingga memberi dampak buruk terhadap perkotaan seperti meningkatnya kemiskinan. air minum. Namun dalam prakteknya. Perkembangan kota yang sangat pesat saat itu semakin membuat kesenjangan antara kota-desa. Pemerintah melalui dana APBN membangun prasarana dasar kota secara sektoral seperti jalan. Oleh karena itu. Pada awal Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I). pengangguran. kawasan kumuh dan tumbuhnya sektor informal. Pada tahun 1960-an maraknya urbanisasi yang disertai perkembangan kegiatan industri dan perdagangan menyebabkan beberapa kota kecil dan sedang mulai berubah menjadi kota besar sehingga tuntutan akan kebutuhan prasarana dasar meningkat. dimana kegiatan perkotaan di kota-kota besar saat itu melampaui batas wilayah administrasi. maka pada tahun 1974-1984 Pemerintah dibantu IBRD dan ADB menerapkan pendekatan baru yaitu “Program Pembangunan Kota” atau Urban Development Project (UDP) yang diterapkan di Jakarta. Semarang dan Solo. pelaksanaan UDP diperluas secara nasional dengan bantuan UNDP melalui National Urban Development Strategy (NUDS) yang dilakukan melalui “Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT) dengan jangka waktu menengah. pembuangan air limbah dan sampah. Surabaya. air minum. P3KT Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 25 .

4% di Bali dan Nusa tenggara.1). Namun Indonesia belum sepenuhnya mengecap keuntungan ekonomi dari proses urbanisasi yang sudah terjadi (1% urbanisasi menghasilkan 2% pertumbuhan PDB di Indonesia. sedangkan pertumbuhan kotakota sedang dan kecil. terutama di luar Jawa. berjalan lambat dan tertinggal. namun pembangunan tersebut ternyata menimbulkan kesenjangan perkembangan antar wilayah. Kecenderungan perkembangan semacam ini berdampak negatif baik terhadap kota-kota besar dan metropolitan maupun kota-kota sedang dan kecil di wilayah lain. dan 10% di Thailand). dan hanya 2% di Papua (Gambar 2. urbanisasi sangat berkaitan dengan pertumbuhan produktifitas. kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia Timur. 4% di Kepulauan Maluku.2% per tahun). 11% di Sulawesi. Bahkan selama periode 1996-2007 telah terjadi peningkatan pola pertumbuhan perkotaan yang menyebar (urban sprawl) dimana pertumbuhan penduduk tertinggi di 21 metropolitan atau kota terbesar terjadi di daerah pinggiran perkotaan. 8% di Vietnam. sisanya tersebar 9% di Kalimantan. BAB 2 Berbagai program pembangunan dan perbaikan lingkungan perkotaan yang sudah berjalan sejak tahun 1960-an lebih difokuskan pada penyediaan prasarana dan sarana perkotaan. jumlah penduduk perkotaan mengalami peningkatan 39% (4. Dampak negatif yang dirasakan kota- 26 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Program-program tersebut tidak secara langsung mengurangi arus urbanisasi yang menjadi akar isu permasalahan di perkotaan. 2. Walaupun pembangunan perkotaan secara umum telah mampu meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.2. Kota-kota tumbuh berkembang sebagian besar (67%) di Pulau Jawa dan Sumatera. Pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan saat ini masih terpusat di pulau Jawa dan Bali. Urbanisasi terus meningkat dari tahun ke tahun. dibandingkan dengan 6% di China.2 Tingkat Kecenderungan Perkotaan Perkembangan Kawasan Secara global. permasalahan dan tantangan baru bagi perkotaan. peningkatan pendapatan.dikembangkan dan diperluas menjadi “Program Pembangunan Kota Terpadu” atau Intergrated Urban Development Program. dan perbaikan akses kepada kebutuhan dasar. Selama periode 1995-2005. Bertambahnya proporsi penduduk tentunya memberi berbagai perubahan.

khususnya di kota Metropolitan Jabodetabek. Gambar 2.1 Persentase Persebaran Kota di Indonesia Berdasarkan Kepulauan Sampai Tahun 2014 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 27 . menurunnya kualitas hidup masyarakat di perkotaan karena permasalahan sosial-ekonomi. dan tidak sinergisnya pengembangan peran dan fungsi kota-kota dalam mendukung perwujudan sistem kota-kota nasional. menurunnya kualitas lingkungan fisik kawasan perkotaan. Sedangkan dampak negatif yang dirasakan kota-kota di wilayah yang ditinggalkan antara lain tidak meratanya penyebaran penduduk perkotaan. dan penurunan kualitas pelayanan kebutuhan dasar perkotaan. antara lain terjadinya eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam di sekitar kota-kota besar dan metropolitan. Tidak optimalnya fungsi ekonomi terutama di kota-kota sedang dan kecil dalam menarik investasi.BAB 2 kota besar dan metropolitan. terjadinya konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan terbangun. tidak optimalnya peranan kota dalam memfasilitasi pengembangan wilayah.

hal ini menandakan bahwa beberapa desa mengalami reklasifikasi menjadi kota yang disebabkan berubahnya karakteristik kegiatan ekonomi di desa. dengan kecenderungan membentuk 1 (satu) kawasan perkotaan megapolitan.3). Berdasarkan persebarannya di Indonesia menurut kabupaten/kota. dan 2) jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan berdasarkan data 28 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Jumlah kota secara keseluruhan juga semakin bertambah. Perhitungan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan ini didasarkan olah data Podes Tahun 2011 melalui pendekatan dengan asumsi: 1) dalam setiap kabupaten terdapat 1 kawasan perkotaan. Jumlah kota tersebut diperkirakan akan terus bertambah. dimana semakin berkembangnya kegiatan ekonomi dan kemajuan teknologi informasi akan membuat masyarakat lebih memilih tinggal di perkotaan. kecenderungan aglomerasi kawasan perkotaan masih berada di Pulau Jawa dan Sumatera (Gambar 2.2). sejak Tahun 2006 hingga Tahun 2011 telah terjadi penambahan sebanyak 7 kota. Sedangkan untuk kota kecil dan kota metropolitan cenderung tetap (Gambar 2. urbanisasi juga berpengaruh secara fisik yang ditandai dengan peningkatan status kota. 2 Perkembangan Jumlah Kota di Indonesia Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011 BAB 2 Sumber: Diolah dari Kota Dalam Angka 2007-2012 Selain ketimpangan persebaran kota.Gambar 2. Tahun 2011 di Indonesia teridentifikasi memiliki 8 (delapan) kawasan perkotaan metropolitan. Telah terjadi pergeseran status kota dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (2006-2011) terutama pada kota sedang yang jumlahnya berkurang karena berubah tipologi menjadi kota besar.

dan gubernur dalam menyelenggarakan pemerintahannya. 3 Sebaran Penduduk yang Tinggal di Kawasan Perkotaan Tahun 2011 Menurut Kabupaten/Kota (Kondisi Eksisting) Selain pendekatan jumlah penduduk diatas yang dapat mengalami bias ketika menentukan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan (tipologi kota). pendekatan lainnya yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah kawasan perkotaan di Indonesia yaitu melalui pendekatan ibukota kabupaten/provinsi. walikota. Karena keterbatasan data deliniasi kawasan perkotaan kabupaten yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten sehingga perhitungan jumlah dan tipologi kawasan perkotaan belum dapat dilakukan. Diasumsikan bahwa hanya terdapat 1 kawasan perkotaan dalam setiap kabupaten/provinsi yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten. Pada saat ini (Tahun 2014) terdapat 98 kota. Penentuan jumlah kawasan perkotaan beserta tipologinya ini sangat berguna untuk menentukan dasar jumlah kota pada sub bab di bab 3 (roadmap pembangunan perkotaan). 413 kabupaten dan 34 provinsi. Terdapat 399 kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten yang nantinya diperlukan pengelolaan.Podes 2011 dalam setiap kabupaten diasumsikan terpusat disatu titik yang membentuk satu kawasan perkotaan. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 29 . BAB 2 Gambar 2. Ibukota sendiri diartikan sebagai tempat kedudukan bupati.

17 kota besar. 8 kawasan metropolitan.5 dan Gambar 2.2. mampu memetik keuntungan urbanisasi secara optimal serta mampu mempersiapkan kota-kota dan kawasan perkotaan untuk dapat mengatasi masalah akibat urbanisasi yang telah ditimbulkannya dengan cepat. sedangkan.6). Jika dibiarkan kedepannya kota dan kawasan perkotaan di Indonesia tumbuh secara alaminya maka akan banyak muncul kawasan metropolitan yang hanya terjadi di Pulau Jawa. Pada Tahun 2045 tersebut. 30 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kondisi proyeksi perkembangan urbanisasi antar tipologi kota ini sangat timpang. sebesar 40% penduduk perkotaan akan beraglomerasi di kawasan megapolitan dan sebesar 29% penduduk perkotaan akan beraglomerasi di kawasan metropolitan sedangkan sisanya sebesar 31% tinggal di kota.4).3 Proyeksi Penduduk Perkotaan BAB 2 Hasil proyeksi sementara pada tahun 2045 penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan di Indonesia sebesar 82% (gambar 2. Dua kawasan megapolitan dan delapan kawasan metropolitan diproyeksikan akan menyerap sumber daya manusia yang sangat besar yaitu sebesar 69% dari total penduduk yang tinggal di kota. Manajemen urbanisasi ini diharapkan mampu mengarahkan perkembangan urbanisasi secara merata yang terjadi kedepan. 7 kota metropolitan. oleh karena itu diperlukan manajemen urbanisasi untuk mengelola perkembangan dan arah urbanisasi kedepan. kota sedang dengan jumlah kota yang paling banyak terbentuk di Tahun 2045 hanya menyerap sumber daya manusia sebesar 9% dari total penduduk yang tinggal di kota.2. Sampai dengan Tahun 2045 diprediksikan terbentuk 2 kawasan megapolitan di Indonesia yaitu kawasan megapolitan Jabodetabek dan Gerbangkertosusila. 43 kota sedang dan 6 kota kecil (Gambar 2.

sedangkan kota sedang dan kota kecil cenderung mengalami pertumbuhan yang lamban dan tidak terlalu banyak berdampak pada penyerapan sumber daya manusia. 2012. yaitu (a) kawasan perkotaan pinggiran (suburban). Kedua. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus guna membendung arus urbanisasi dari tipologi kota yang lebih rendah ke tipologi kota yang lebih tinggi. sisanya 52% tinggal di kawasan perkotaan). Masalah besar dalam pembangunan perkotaan di Indonesia adalah pertama. 4 Proyeksi Persentase Penduduk yang Tinggal di Perkotaan menurut Nasional Tahun 2005-2045 Sumber: hasil analisis. tipologi kota metropolitan bertambah dengan cepat. akan banyak muncul perkotaan baru. (b) munculnya wilayah baru dengan karakteristik perkotaan (eksisting Tahun 2011.BAB 2 Gambar 2. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 31 . 48% penduduk perkotaan tinggal di desa.Ketiga. kota metropolitan dan kota besar menyerap banyak sumber daya manusia jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah sosial. dan (c) perkotaan baru yang dikelola oleh swasta.

Sedangkan untuk menentukan proyeksi jumlah penduduk menurut tipologi kota. Gambar 2. 5 Proyeksi Persentase Penduduk4 Menurut Tipologi Kota Tahun 2011-2045 BAB 2 Sumber: hasil analisis. 32 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . dan kota metropolitan sebesar 9% tiap lima tahunnya.75% per tahun.75% per tahun diperoleh dari nilai pertumbuhan (r) dalam rumus metode geometrik dari data proyeksi BPS Tahun 2005-2025. kota sedang sebesar 5%. 6 Proyeksi Persentase Jumlah Kota Menurut Tipologi Kota Tahun 2011-2050 Sumber: hasil analisis. 2012. Data yang digunakan hasil proyeksi penduduk BPS pada Tahun 2005-2025 dengan asumsi tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan sebesar 2.Gambar 2. 2012. digunakan metode geometrik namun dengan skenario penurunan tingkat pertumbuhan penduduk (r) setiap lima tahun. kota besar sebesar 7%. Penurunan skenario pertumbuhan penduduk di kota kecil diasumsikan sebesar 3% tiap lima tahun. 4 Penentuan proyeksi penduduk yang tinggal di perkotaan pada tahun 2050 menggunakan metode proyeksi geometrik. Angka pertumbuhan 2.

Tangerang 5. Kota Palembang 2. Karo Kawasan Perkotaan Palembang: 1. 1. Dari 8 kawasan perkotaan metropolitan tersebut 4 diantaranya terdapat di Pulau Jawa. Kab.2. Bogor 3. Banyuasin 3.4 Kecenderungan Kawasan Perkotaan Metropolitan dan Megapolitan BAB 2 Saat ini di Indonesia terdapat 8 kawasan perkotaan metropolitan dan 1 kawasan perkotaan megapolitan. Bekasi 8. Kota Tangerang 6. Dalam hal ini kebutuhan kebijakan pembangunan perkotaan kedepan adalah pembangunan perkotaan di luar Pulau Jawa guna menyeimbangkan pembangunan perkotaan antar wilayah dalam sebuah sistem perkotaan nasional yang efisien. Kab. Tabel 2. 2 di Pulau Sumatera. Kab.580. Kota Cimahi 5. 2. Bandung 3. 5.777. Sumedang Kawasan Perkotaan Gerbang Kota Inti Pulau Tipologi Kawasan Perkotaan Jumlah Penduduk Tahun 2011 Status Hukum Medan Sumatera Metropolitan 3.2.837 - Surabaya Jawa Metropolitan 3. Kab. Kota Depok 7. Kota Tangerang Selatan 9.039 - Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 33 . Langkat) 3. Kota Bandung 2.168. Kota Bogor Kawasan Perkotaan cekungan Bandung: 1. 4. Kab.458 Perpres 54/2008 Bandung Jawa Metropolitan 6. Kab.1 Kawasan Perkotaan Metropolitan dan Megapolitan No. Deli Serdang 4. 4. Kab. Majalengka 6. Kab. 1 Pulau Bali. 2. Kab.244. dan 1 di Pulau Sulawesi. Kota Medan 2. 3. Kab. Kota Bekasi 4. Bandung Barat 4.567. Binjai (Ibukota Kab. Kota Jakarta 2. Kawasan Perkotaan Mebidangro: 1. Kab.746 Perpres 62/2011 Palembang Sumatera Metropolitan 1. 1. Musi Banyuasin Jabodetabek: 1.384 - Jakarta Jawa Megapolitan 24. 3.

716 - Bali Metropolitan 1.716. Kab. Sidoarjo 3. Mojekerto 5. Grobogan) Kawasan Perkotaan Yogyakarta: 1. Gianyar 4. Kota Mojekerto Kawasan Perkotaan Kedung Sepur: 1. Kab. 7. Kota Semarang 2.373 - Jawa Metropolitan 2. Kab. 1976) Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .054. Kota Makassar 2. Sleman Yogyakarta 2. Kab. 9. Unggaran (Ibukota Semarang Kab. Kab.No.052 Perpres 55/2011 Pengelolaan Perkotaan di Dinamika perkembangan kota dan kawasan perkotaan sangat tinggi mengikuti tingginya tingkat urbanisasi. Bantul 3. Kab. Gresik 4.3 Permasalahan Indonesia Pulau Tipologi Kawasan Perkotaan Jumlah Penduduk Tahun 2011 Status Hukum Jawa Metropolitan 2. Takalar Sumber: hasil analisis 2012. Urbanisasi ini dapat terjadi karena5 (1) migrasi penduduk dari wilayah desa ke perkotaan. Kota Denpasar Denpasar 2.588 Perpres 45/2011 Sulawesi Metropolitan 1. gowa) 3. Kab. Badung 3.589. Sungguminasa Makassar (Ibukota Kab. Tabanan Kawasan Perkotaan Maminasata: 1. (2) migrasi 5 34 (Shryock dan Siegel. Bangkalan 7. Kab. Kota Yogyakarta Kawasan Perkotaan Sarbagita: 1. Purwodadi (Ibukota Kab. Maros 4. Kendal 3. Kab. Lamongan 6. Semarang) 5. Kab. Kota Surabaya 2.650. Kota Salatiga 4. Kawasan Perkotaan Kota Inti Kertosusila: 1. 8. BAB 2 6. Kab. Kab. Kab. Kab. 2. Demak 6.

dalam hal penataan ruang dan penyediaan fasilitas pelayanan umum tertentu.Para pengelola kota dan kawasan perkotaan dituntut untuk bisa cepat tanggap dan respon terhadap perubahan dinamika tersebut. 2. Semakin kompleks masalah perkotaan yang berkembang serta harapan visi-misi pembangunan perkotaan masa depan yang lebih baik mendesak adanya perbaikan-perbaikan dalam tata kelola dan kelembagaan pembangunan perkotaan. Arahan pengelolaan kota yang memberikan ruang bagi perkembangan dinamika masalah-masalah perkotaan belum secara optimal dapat direspon oleh peraturan perundangan yang ada. 3. Munculnya kawasan perkotaan baru melalui inisiasi pihak swasta. Bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan dikelola oleh daerah atau lembaga pengelola yang dibentuk dan bertanggungjawab kepada pemerintah kabupaten. (3) terjadinya kelahiran di perkotaan. maupun perubahan konsep/batasan/definisi perkotaan. BAB 2 penduduk ke perkotaan dari kota atau negara lain. Bab X Kawasan Perkotaan Pasal 199. perkembangan sosial ekonomi wilayah. Adanya Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) Jabodetabek. 2. menyatakan bahwa pengelolaan kawasan perkotaan terbagi kedalam: 1. 32 tentang Pemerintah Daerah Tahun 2004. dan (4) terjadinya perluasan wilayah perkotaan akibat perubahan batas wilayah. seperti: 1. menyisakan persoalan pengelolaan yang terkait dengan pemeliharaan kota.dan Bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan langsung dan memiliki ciri perkotaan. yang diharapkan mampu menyelesaikan konflik-konflik pembangunan perkotaan lintas wilayah di kawasan perkotaan Jabodetabek masih menyisakan banyak persoalan yang memerlukan inovasi penyelesaian masalah pembangunan lintas daerah di Jabodetabek. Pengelolaan kawasan perkotaan lintas daerah di Indonesia belum bekerja dengan baik sesuai tujuan dibentuknya. dikelola bersama oleh daerah terkait. Kota sebagai daerah otonom dikelola oleh pemerintah kota. Menurut UU No. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 35 .

B.4. 2. Sedangkan isu spesifik adalah isu yang secara khusus dihadapi tiap tipologi kota dan memerlukan penanganan yang berbeda untuk tiap tipologinya.4 Isu Strategis Pembangunan Perkotaan Perkembangan perkotaan yang sangat pesat menyisakan berbagai isu permasalahan yang mempengaruhi kelangsungan hidup penduduk di perkotaan. kota sedang. sedangkan isu umum merupakan isu yang dihadapi di semua tipologi kota baik itu di kota kecil. handal dan terkini yang dapat digunakan sebagai bahan referensi perencanaan pembangunan perkotaan. maupun kota metropolitan. Rendahnya daya saing kota dalam lingkup regional . Isu nasional adalah isu yang muncul di tingkat nasional sehingga memerlukan keterlibatan pemerintah pusat dalam penanganannya. Belum optimalnya peran kota sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi regional dan nasional. sedangkan isu nasional diperlukan intervensi dan keikutsertaan pemerintah pusat dalam penanganannya.1 Isu Nasional dalam Pembangunan Perkotaan Menurut perspektif nasional. Selain itu hingga saat ini belum ada data dan informasi yang akurat. Isu yang berkembang diperkotaan secara garis besar dikelompokkan kedalam tiga kelompok yaitu isu nasional. C. Adanya perbedaan definisi kawasan perkotaan di atas akan memberikan pengaruh sangat kuat terhadap perkembangan dan/atau arahan pengembangan perkotaan. 2. terutama data penyediaan sarana prasarana. isu pembangunan perkotaan di Indonesia dikelompokkan menjadi 4 (empat) isu strategis yaitu: A. kondisi lingkungan kota dan sosial budaya kota. Pengembangan infrastruktur dan sumber pembiayaannya akan sangat tergantung pada pengertian dan fokus landasan penentuan tipologi kawasan perkotaan tersebut. dan isu spesifik. kota besar. Baik isu umum maupun isu spesifik perkotaan memerlukan keterlibatan pemerintah kota khusususnya dalam penanganannya. 36 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Ketimpangan pembangunan antarwilayah.BAB 2 Pengelompokan kawasan perkotaan dalam tipologi kota menjadi sangat dibutuhkan dalam merumuskan berbagai kebijakan strategis dan program kegiatan pembangunan kawasan perkotaan khususnya terkait pengelolaan dan pelaksanaannya. isu umum.

terutama terhadap perkembangan ekonomi kota. Dengan bertambahnya penduduk. belum dapat berperan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi bagi kota sedang dan kota kecil begitu juga keterkaitannya dengan desa secara maksimal. Namun pada kenyataannya secara nasional. kota sedang dan kota kecil. Kontribusi ekonomi kota metropolitan terhadap perekonomian nasional sangat tinggi dibandingkan dengan kontribusi kota besar. Pendorong Perkembangan jumlah penduduk yang pesat di kota dan kawasan perkotaan tentunya berpengaruh pada berbagai aspek. 7 Persentase Kontribusi PDRB Kota terhadap Nasional Menurut Tipologi Kota Tahun 2005-2010 Sumber:Hasil Analisis 2012 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 37 . Rendahnya ketahanan kota terhadap bencana & perubahan iklim. maka diharapkan kegiatan perekonomian di kota dan kawasan perkotaan semakin berkembang sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara regional maupun nasional. Belum Optimalnya Peran Kota Sebagai Pertumbuhan Ekonomi Regional dan Nasional Gambar 2.D. BAB 2 A. khususnya kota metropolitan dan kota besar.

sebagaimana telah ditegaskan dalam RTRWN (Tahun 2008-2028). Kota metropolitan memberikan kontribusi paling besar rata-rata sebesar 27% dalam kurun waktu 2005-2010 dengan jumlah kota hanya 15% dari jumlah kota yang ada. Sedangkan kota sedang yang memiliki jumlah kota terbanyak yaitu sebesar 56% dari seluruh kota hanya mampu memberikan sumbangan ekonomi sebesar 7% dan terlihat juga mengalami penurunan dalam kurun waktu 2009-2010. Diperlukan upaya yang strategis guna meningkatkan peran kota sebagai 38 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . ini terlihat dari nilai kontribusi terhadap perekonomian nasional masih di bawah 1% begitu juga kota besar masih berada di angka 5%. BAB 2 Rata-rata Tahun 2005-2010 kota hanya mampu memberikan kontribusi ekonomi terhadap nasional sebesar 40% terhadap total PDRB sedangkan jika dilihat proses urbanisasi dalam kurun waktu 2000-2010 sebesar 2. Kota kecil belum memberikan peran pertumbuhan yang baik.12%. 8 Kontribusi PDRB Kota Berdasarkan Peran Kota terhadap Perekonomian Nasional Sumber: Hasil Analisis 2012 Jika diperhatikan dari sudut pandang peran kota yang ditetapkan oleh RTRWN. Gambar 2. kota yang berperan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 36% sedangkan kota yang berperan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 5% bagi perekonomian nasional.Salah satu alasan kota harus memberikan dampak perekonomian yang signifikan terhadap perekonomian nasional adalah peran kota yang ditetapkan sebagai pusat pertumbuhan (engine of growth).

Kota-kota besar di Indonesia mempunyai peran strategis dalam pembangunan wilayah sebagai simpul jasa. koleksi dan distribusi. Konsep daya saing umumnya dikaitkan dengan kemampuan suatu perusahaan. yaitu lingkungan usaha produktif.pusat pertumbuhan nasional. 2 Daya Saing Kota-Kota Metropolitan di IndonesiaTahun 2012 -2013 Kota Metropolitan Bandung Jakarta Makassar Medan Semarang Surabaya BAB 2 B. Daya saing daerah menjadi salah satu isu utama dalam pembangunan perkotaan.2. Faktor-faktor utama pembentuk daya saing terdiri dari 5 indikator utama. Tabel 2. perbankan dan lembaga keuangan. sumberdaya alam dan lingkungan. 2000. infrastruktur. Daya saing kota-kota besar dan metropolitan di Indonesia masih rendah terlihat dari ranking yang ditunjukkan pada tabel 2. wilayah atau negara dalam mempertahankan atau meningkatkan keunggulan kompetitif secara berkelanjutan . juga hubungan ke depan dengan kotakota besar lainnya. perekonomian daerah. kota. Rendahnya Daya Saing Perkotaan dalam Lingkup Regional Wilayah Ranking Kemudahan untuk Memulai Usaha Ranking Kemudahan untuk Perijinan 12 8 17 19 4 14 8 19 11 6 8 16 Ranking Kemudahan untuk Pendaftaran Kepemilikan 1 1 9 7 19 11 Sumber: Doing Business 2012-2013 Daya saing menentukan sejauh mana kinerja sebuah kota yang dapat diukur dari faktor-faktor utama (input) dan kinerja perekonomian (output). Ketenagakerjaan dan sumberdaya manusia. sesuai harapan yang tertuang dalam kebijakan pembangunan perkotaan RPJMN 2009-2014. yang mempunyai hubungan ke belakang dengan kota-kota kecil dan daerah pinggir kota (hinterland). daerah. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 39 . 6 Porter.

dimana sebagian wilayah masih dapat dikategorikan kurang maju atau tertinggal. kota sedang. Secara alami. kegiatan sosial dan ekonomi. kota dan kawasan perkotaan tumbuh dengan kecepatan yang jauh meninggalkan wilayah perdesaan. dan PDRB per kapita. tingkat kesempatan kerja. terlebih lagi di kota kecil dimana daya saing kota metropolitan jauh lebih tinggi daripada kota lainnya. menyisakan persoalan disparitas tingkat perkembangan wilayah. Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah Kota merupakan pusat peradaban manusia yang berkembang secara dinamis dan merupakan konsentrasi penduduk. C.Sedangkan kinerja perekonomian (output) mencakup produktivitas tenaga kerja. Salah satu faktor utama pengukur daya saing kota adalah jumlah penduduk bekerja yang dipisahkan menurut tipologi kota. 9 Persentase Jumlah Penduduk Bekerja Menurut Tipologi KotaTahun 2007-2011 Sumber: Diolah dari Data Ketenagakerjaan. Terjadi ketimpangan yang tinggi antara penduduk bekerja di kota metropolitan dibandingkan kota besar. sedang dan kecil adalah meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesempatan bekerja bagi penduduknya. Salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing bagikota-kota besar.9. prasarana-sarana. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tahun 2008-2011. BAB 2 Gambar 2. Indonesia masih menghadapi fenomena disparitas wilayah yang ditunjukkan oleh belum meratanya pembangunan. yang terlihat pada Gambar 2. 40 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

juga antar desa-kota. BAB 2 Meskipun secara umum pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ketimpangan antar wilayah Barat dan Timur Indonesia Terjadinya pemusatan kegiatan ekonomi di kawasan barat Indonesia. antar kabupaten/kota. Pemusatan kegiatan ekonomi pada satu wilayah tersebut menyebabkan lemahnya keterkaitan ekonomi antar wilayah. 2012. antar provinsi. ketimpangan kota-kota PKN dan PKW di Indonesia Bagian Barat lebih tinggi dibandingkan Indonesia bagian timur. menyebabkan lemahnya keterkaitan ekonomi antar wilayah barat dan timur Indonesia. namun pada kenyataannya kegiatan ekonomi masih terpusat di Kawasan Barat Indonesia. bila ditambahkan Jakarta dalam perhitungan nilai ketimpangannya semakin tinggi. Begitu juga melihat nilai indeks ketimpangannya sangat besar. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 41 . 10 Perbandingan Nilai Produk Regional Bruto Kota Indonesia Bagian Barat dan Kota Indonesia Bagian Timur Sumber: Hasil analisis. baik antara wilayah jawa dengan luar jawa.1. Berdasarkan hasil kajian ketimpangan pembangunan ekonomi kota-kota bagian barat dan kota-kota bagian timur Indonesia. Gambar 2. Ketimpangan kegiatan ekonomi ini semakin meningkat dari 6 kali lipat di Tahun 2005 menjadi 7 kali lipat di Tahun 2010. Jika dibandingkan ketimpangan kota Indonesia bagian barat dengan kota Indonesia bagian timur maka ketimpangan menjadi sangat tinggi.

Jakarta memberikan kontribusi ketimpangan yang sangat besar. Gambar 2.Kota metropolitan dan kota-kota besar belum berfungsi untuk mendorong pertumbuhan kota sedang dan kecil sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan perkembangan antar kota. meninggalkan kota-kota lainnya.BAB 2 Jika mengacu pada hasil analisis Indeks Williamson bahwa ketimpangan antar kota di Indonesia yang berperan sebagai PKN mengalami peningkatan dari 9. 2. namun kurang ditunjang oleh pola keterkaitan dengan kota-kota lain.57 di Tahun 2008 menjadi 4.Ketimpangan antar kota terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang digambarkan dengan perbandingan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tiap-tiap 42 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Sedangkan antara kota-kota PKW juga sangat tinggi yaitu sebesar 4. Ketimpangan antar kota Ketimpangan antar kota terjadi karena pesatnya pembangunan di kota metropolitan dan kota-kota besar.13 meningkat menjadi 2.24 di Tahun 2008 menjadi 9.16 di Tahun 2010. Jakarta tumbuh menjadi kota dengan pembangunan yang cepat. 11 Ketimpangan Pembangunan Ekonomi (Indeks Williamson) Antar Kota Berdasarkan Peran Kota di KBI-KTI Sumber: Hasil Analisis 2012 Ket: nilai indeks ketimpangan lebih besar dari 1 maka ketimpangan sangat tinggi.71 di Tahun 2010.67 di Tahun 2010. tanpa Jakarta indeks ketimpangan di Tahun 2008 sebesar 2.

23 dan terendah antar kota metropolitan sebesar 7. Berdasarkan analisis data sensus penduduk Tahun 2010 standar deviasi komponen pelayanan infrastruktur antar kota kecil rata-rata sangat tinggi yaitu sebesar 17. untuk kota besar sebesar 9.4.78. sedangkan kota besar dan kota sedang cenderung mengalami peningkatan yang relatif kecil sehingga terjadi ketimpangan pertumbuhan ekonomi yang tinggi antara kota metropolitan dengan kota-kota lainnya akibat dari belum berfungsinya kota metropolitan sebagai pendorong kegiatan ekonomi bagi kota-kota lain. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 43 . untuk kota sedang sebesar 11. Kecenderungan ini tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu Tahun 2005-2010 Gambar 2. Kota metropolitan mengalami peningkatan PDRB yang jauh lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain.75.3). Ini menunjukkan bahwa penyediaan pelayanan sarana prasarana di kota metropolitan dan kota besar relatif lebih merata ketimbang penyediaan sarana-prasarana di kota kecil dan kota sedang. 12 Persentase PDRB Berdasarkan Tipologi Kota terhadap Perekonomian Tahun 2005-2010 Sumber: Diolah dari kabupaten/kota dalam angka 2006-2011 Ketimpangan akses pelayanan infrastruktur juga terjadi antar tipologi kota (Tabel 2.BAB 2 kota berdasarkan tipologi kota.

02 2.4 litan Sumber: hasil analisis 2012 diolah dari data BPS.03 31.09 1. Gambar 2.96 Besar 7.44 20.8 Metropo 5.9 Sedang 11.75 14.Tabel 2.53 9. pembangunan prasarana-sarana dan fasilitas pendukung kehidupan lainnya yang menjadi daya tarik masyarakat yang tidak ditemukan di desa.1 12.09 14. 3 BAB 2 Tipologi Kota 2011 Ketimpangan Akses Rumah Tangga Terhadap Infrastruktur Berdasarkan Tipologi Kota Tahun 2010 Pelayanan Panjang Jalan Pelayana n Akses Listrik Pelayanan Akses Telekomunika si Pelayanan Akses Air Bersih Pelayanan Akses Persampaha n Pelayan an Akses Sanitasi Standard Deviation Kecil 26. 44 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .03 14. sensus penduduk 2010 14.82 3.11 4. Kota semakin berkembang dengan teknologi.95 12.02 4. 13 Penduduk Miskin Kota-Desa Menurut Pulau (Maret 2012) Sumber: Diolah dari BPS-Berita Resmi Statistik Kemiskinan 2012. Ketimpangan antar desa-kota Ketimpangan kota-desa terjadi karena belum adanya hubungan timbal balik yang saling mendukung satu sama lain.36 7.43 2.54 16.99 6.36 23.34 6.86 6.

rendahnya pembangunan di desa dibandingkan di kota. sedangkan desa dengan karakteristik kegiatan yang sebagian besar pertanian.14 Perbandingan PDRB Kabupaten dan PDRB Kota Tahun 2000-2011 Sumber: BPS.15 menunjukkan adanya peningkatan frekuensi bencana yang terjadi di Indonesia dari Tahun 1815-2011. Gambar 2. mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena tidak dapat mengimbangi daya tarik yang diberikan kota. terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi kota jauh lebih baik dibandingkan PDRB kabupaten.13 menunjukkan persentase perbandingan penduduk miskin di kota dan desa menurut pulau. Gambar 2. D. dan tingginya ketergantungan desa terhadap kota. Gambar 2. 2000-2012. Rendahnya Ketahanan Perubahan Iklim Kota Terhadap Bencana dan Kota-kota Indonesia akan menghadapi bencana dengan frekuensi yang semakin meningkat. Ketimpangan antara kota dan desa ditunjukkan oleh rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat desa. khususnya dari Tahun 1998-2011 frekuensi bencana meningkat secara Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 45 . Gambar 2.BAB 2 Kota dengan daya tarik kegiatan ekonominya.14 menunjukkan perbandingan PDRB kabupaten dan PDRB kota.

BAB 2 Secara geografis.15 Frekuensi Terjadinya Bencana di Indonesia Tahun 1815-2011 Sumber: BNPB. baik bencana sebagai akibat posisi geografis Indonesia pada ring of fire ’ maupun sebagai akibat perubahan iklim. Sumatera serta Sulawesi memiliki kerentanan terhadap bencana yang sangat tinggi.tajam. Sebagian besar korban bencana diakibatkan oleh gempa bumi yang disertai tsunami. kemudian disebabkan oleh letusan gunung berapi. kota-kota di Indonesia berada pada kondisi rawan bencana (Gambar 2. Sebesar 82% kota di Indonesia memiliki indeks rawan bencana dengan tingkat tinggi sedangkan sisanya sebesar 18% kota di Indonesia dengan indeks rawan bencana sedang (Tabel 2.16).4). Kota-kota yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dengan jumlah penduduk tinggi akan menjadi kota-kota yang sangat rentan daya tahannya terhadap berbagai bencana tersebut.17). Kota-kota di Pulau Jawa-Bali dan Nusa Tenggara. banjir serta gempa bumi (Gambar 2. Gambar 2. 2012 46 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

BAB 2 Gambar 2. 2012 Tabel 2. Gambar 2. 16 Jumlah Korban Meninggal Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 1815-2011 Sumber: BNPB. 17 Sebaran Kejadian Bencana per Kabupaten/Kota Tahun 1815-2012 Sumber: BNPB. Indeks Rawan Bencana Indonesia 2011. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 47 . 2012. 4 Jumlah Kota Berdasarkan Indeks Rawan Bencana Tahun 2011 Tipologi Kota 2011 Indeks Rawan Bencana Tahun 2011 Sedang Tinggi Metropolitan 1 10 Besar 0 16 Sedang 13 43 Kecil 3 8 Jumlah 17 77 Sumber: Diolah dari BNPB.

Ketergantungan terhadap produk dan jasa dari luar semakin tinggi.2 Isu Umum Pembangunan Perkotaan di Indonesia BAB 2 Isu umum pembangunan perkotaan merupakan permasalahan yang dihadapi oleh seluruh tipologi kota di Indonesia. khususnya pada kota dan kawasan perkotaan dipengaruhi oleh perkembangan perekonomian nasional dan global. mitigasi dan adaptasi bencana serta perubahan iklim dalam pengelolaan perkotaan belum menjadi acuan pengarusutamaan dalam pembangunan perkotaan. 3) Pengembangan ekonomi lokal perkotaan yang belum mampu meningkatkan perekonomian kota.2. 5) Penyelenggaraan penataan ruang dan penatagunaan tanah perkotaan yang belum efisien. seperti kualitas perumahan dan permukiman yang jauh dibawah standar kelayakan. Namun tidak semua masyarakat merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi tersebut.4. prasarana dan sarana perkotaan.6) Pengelolaan lingkungan.yang pada akhirnya menimbulkan pola hidup konsumtif dan mudah terpengaruh oleh tekanan kekuatan pasar global yang pada gilirannya mengikis kemandirian masyarakat. Kondisi kemiskinan di Indonesia. Masyarakat miskin tidak memiliki akses terhadap prasarana dan sarana dasar lingkungan yang memadai. A.Tujuh isu umum dalam pembangunan perkotaan di Indonesia adalah 1) Kemiskinan perkotaan. Kemiskinan Perkotaan Tingginya laju urbanisasi serta globalisasi dunia menyebabkan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada peningkatan pendapatan penduduk Indonesia. 48 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Globalisasi yang seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat belum dapat diimbangi dengan kekuatan ekonomi lokal Indonesia yang disebabkan oleh ketidakmampuan bersaing dalam pasar global. 4) Belum optimalnya penyediaan perumahan. 7) Tata kelola dan kelembagaan belum dapat mengantisipasi dinamika dan tuntutan pembangunan perkotaan yang sangat tinggi. 2) Modal sosial masyarakat perkotaan yang belum dapat dikembangkan untuk mendukung pembangunan perkotaan. rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dan meningkatnya masyarakat perkotaan yang bekerja di sektor informal di perkotaan.

Mulai tahun 2007 sampai 2012 jumlah maupun persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan hingga terakhir sejumlah 10. jumlah dan persentase penduduk miskin menurun dari tahun 2004 ke 2005.18. Kemiskinan tidak boleh dibiarkan berlangsung terus karena akan menjadi beban yang semakin berat dalam kemajuan pembangunan secara nasional.95 persen. Kemiskinan bersifat multi dimensional dan cenderung membentuk siklus yang secara berkesinambungan dan terus berlanjut sehingga sulit diputus pada fase manapun yang dilalui. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 49 .51 juta orang (September 2012). 18 Perkembangan Persentase Kemiskinan di IndonesiaTahun 2004-2012 Sumber: BPS.BAB 2 Gambar 2. Namun. pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan karena harga barangbarang kebutuhan pokok saat itu naik tinggi yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 17. Perkembangan kemiskinan di Indonesia dari tahun 2004-2012 telah ditunjukkan pada Gambar 2. angka kemiskinan mengalami penurunan yang cenderung melambat. Meskipun angka kemiskinan terus menurun.2012 Kemiskinan masyarakat di perkotaan merupakan realita sosial yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait. Berdasarkan data terakhir.

keahlian. seperti kreativitas. kota sedang 10%. belum diimbangi oleh kesempatan dan kapasitas yang sama oleh setiap individu untuk meningkatkan tarap hidup di kota. 50 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota sangat terkait dengan daya saing masyarakat. dimana daya serap kota bagi masyarakat untuk mencari penghidupan di kota yang sangat tinggi. kota besar 43%. Pertumbuhan perekonomian di kota belum mampu menyelesaikan masalah kemiskinan secara signifikan. pendidikan.Tabel 2. dan hal lainnya yang menunjang tingkat produktivitas individu. 5 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah Maret 2012 dan September 2012 BAB 2 Sumber: BPS.19) menggambarkan bahwa penduduk miskin mengalami peningkatan dari Tahun 2005-2010 di kota metropolitan yaitu sebesar 39%. 2012 Jumlah penduduk miskin menurut tipologi kota pada tahun 2005 hingga tahun 2010 (Gambar 2. sedangkan kota kecil 91%. inovasi.

Jejaring sosial masyarakat kota belum mampu menciptakan peluang baik sosial maupun ekonomi masyarakat. seperti pencurian. normanorma dan kepercayaan sosial yang memungkinkan efektif dan efisiennya koordinasi dan kerjasama untuk keuntungan dan kebaikan bersama. 19 Penduduk Miskin Menurut Tipologi Kota Tahun 20052010 Sumber:Diolah dari Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2010. Modal sosial sebagai suatu rangkaian proses hubungan antar manusia yang ditopang oleh jaringan. Gaya hidup di perkotaan saat ini telah menurunkan modal sosial yang ada di masyarakat. Lunturnya modal sosial masyarakat perkotaan antara lain ditunjukkan sebagai berikut: 1. B. BPS.20). Tingginya tingkat kriminalitas di perkotaan yang ditandai dengan meningkatnya kasus pidana. Belum Optimalnya Pengembangan Modal Sosial Masyarakat Perkotaan Dalam pengembangan ekonomi kota. Peningkatan tertinggi terjadi dalam 7 Eva Cox (1995) Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 51 . perampokan dan penjarahan Jumlah tindak pidana secara nasional terlihat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak Tahun 2002 sampai Tahun 2012 (Gambar 2.BAB 2 Gambar 2. unsur yang tidak kalah penting adalah norma-norma sosial masyarakat sebagai satu komunitas yang dikenal dengan modal sosial.

khususnya di kota metropolitan dan kota besar akan mengganggu kenyamanan kehidupan penduduk di perkotaan. Gambar 2. 2008. 2008. dan Penjarahan Menurut Tipologi Kota Tahun 2006. 2002-2012 Meningkatnya kasus pidana. Gambar 2. Gambar 2. 20 Jumlah Tindak Pidana Tingkat Nasional BAB 2 Sumber: BPS. hingga tahun 2012 belum ada tanda signifikan dan progresif terkait penurunan angka kriminalitas secara nasional.kurun waktu 2005-2007. 21 Jumlah Kelurahan yang Mengalami Tindak Pidana Pencurian Perampokan. Podes 2006. 2008 dan 2011 berdasarkan tipologi kota.21 menunjukkan beberapa kasus pidana yang terjadi pada tahun 2006. 2011 52 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 2011 Sumber: BPS.

2. produktivitas tenaga kerja penduduk perkotaan akan dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. produktif berbasiskeahlian. 22 Penduduk yang Bekerja di Perkotaan Menurut Pendidikan Sumber: Kemenakertrans. Meningkatnya kapasitas sumber daya manusia yang tinggal diperkotaan juga akan memberikan dampak positif terhadap menurunnya jumlah pengangguran di perkotaan. Kurang optimalnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Tenaga kerja dengan lulusan SMTA kejuruan dan perguruan tinggi masih sangat rendah. BAB 2 Peningkatan kasus yang cukup signifikan di kota-kota metropolitan. Dengan tingkat pengangguran terbuka yang sangat tinggi di kota metropolitanmerupakan tantangan bagi kota metropolitan untuk peningkatan kualitas SDM untuk sepenuhnya dikontribusikan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 53 . kreatif. besar dan sedang. Padahal untuk meningkatkan daya saing kota sangat diperlukan kemampuan SDM untuk berinovasi. Gambar 2. 2012 Dalam upaya pengembangan usaha daya saing kota. menunjukkan sudah sangat diperlukan peningkatan sistem keamanan dan penegakan hukum yang perlu memberikan kenyamanan hidup penduudk perkotaan. Berdasarkan perkembangan Tahun 2008-2012 sebagian besar penduduk yang bekerja di kota-kota ternyata berpendidikan Sekolah Dasar (SD).

Selain penyandang cacat. Pembangunan kota sedang. 2012 3. 54 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . kota besar sampai dengan kota metropolitan seyogyanya sudah menyediakan fasilitas yang memadai bagi kelompok disable dan lanjut usia.bagi pembangunan perkotaan disatusisi. 23 Jumlah Pengangguran Terbuka Menurut Tipologi Kota Tahun 2008-2011 BAB 2 Sumber: Kemenakertrans. serta menjaga kualitas SDM dalam konteks urbanisasi. Belum diperhatikannya kebutuhan kelompok disable dan lanjut usia dalam pelayanan publik perkotaan Jumlah penyandang cacat yang tinggal di perkotaan mengalami peningkatan yang sangat berpengaruh terhadap penyediaan dan pelayanan perkotaan kedepan dalam rangka memberikan kesempatan yang sama serta membangun masyarakat kota yang sehat. sedangkan untuk penyandang tuna daksa meningkat sebesar 26% dalam kurun waktu yang sama. Gambar 2. keduanya meningkat tajam di kota metropolitan dan kota sedang. pembangunan kota kedepannya juga perlu memperhatikan pembangunan kota untuk semua kalangan umur mulai dari balita hingga lansia. Penduduk kota yang menyandang cacat tuna netra mengalami peningkatan sebesar 71% kurun waktu Tahun 2006-2011.

kota sedang dan kota kecil menyebabkan lingkungan kota tidak nyaman untuk dihuni oleh penduduknya. sedangkan di kota kecil sebagian besar terjangkit penyakit malaria. serta juga perlu pengembangan asuransi kesehatan pagi penduduk perkotaan juga perlu dilakukan. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 55 . demam berdarah. Untuk meningkatkan hidup sehat masyarakat perkotaan maka diperlukan penerapan budaya sehat masyarakat kota disamping itu juga diperlukan sistem kesehatan kota yang terjangkau bagi semua penduduk dengan kualitas pelayanan yang baik. Penyakit diare. Menurunnya kualitas dan kebersihan lingkungan di perkotaan baik kota metropolitan. Rendahnya kesehatan di perkotaan Kondisi lingkungan yang kurang baik merupakan salah satu penyebab penyakit bagi penduduk di perkotaan. TBC dan ISPA sebagian besar terjadi di kota metropolitan. Podes 2006-2011 4. kota besar dan kota sedang. 24 Jumlah Penyandang Cacat yang Bertempat Tinggal di Kota Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011 Sumber: BPS.BAB 2 Gambar 2. kota besar.

Podes 2006-2011 56 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 26 Jumlah Penduduk yang Pernah Mengalami Sakit Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis Penyakit Tahun 2008-2011 (2) Sumber: BPS.Gambar 2. Podes 2006-2011 Gambar 2. 25 Jumlah Penduduk yang Pernah Mengalami Sakit Berdasarkan Tipologi Kota dan Jenis Penyakit Tahun 2008-2011 (1) BAB 2 Sumber: BPS.

Investasi disektor UMKM terus mengalami peningkatan dengan kontribusi positif dari tahun ke tahun serta unit usaha dan tenaga kerja semakin meningkat ( Gambar 2. Belum kuatnya keberpihakan pemerintah daerah terhadap investasi yang memperkuat ekonomi lokal. Namun.Kemajuan kota dan kawasan perkotaan dilihat dari perkembangan ekonomi dan kapasitas fiskal daerah. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 57 .27). Belum optimalnya penanganan dan perencanaan terhadap sektor informal. 4. Perkembangan ekonomi dan kapasitas fiskal menandakan kota dan kawasan perkotaan tersebut maju dan berdaya saing. pengembangan potensi unggulan dan kemampuan keuangan daerah yang baik pula. Beberapa isu dalam pengembangan ekonomi lokal perkotaan antara lain: BAB 2 C. 2. Momentum ini sangat baik untuk dimanfaatkan dalam perkembangan ekonomi kota yang dapat menyerap tenaga kerja produktif untuk pengembangan daya saing kota. Belum Optimalnya Pembinaan dan Pengembangan Ekonomi Lokal Perkotaan 1. pada kenyataannya. 3. serta alokasi dana publik yang belum memadai. banyak kota dan kawasan perkotaan di Indonesia yang kurang dapat bersaing dalam lingkup nasional maupun global. kota dan kawasan perkotaan harusstabil yang didukung oleh manajemen perkotaan yang baik. Pertumbuhan UMKM di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Untuk dapat berdaya saing. Belum optimalnya manajemen perkotaan untuk mendukung kinerja perekonomian kota yaitu regulasi yang belum efisien dan efektif. UMKM sebagai salah satu indikator ekonomi lokal di perkotaan merupakan potensi besar perekonomian kota. Belum optimalnya pengembangan dan pembinaan terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terutama pengembangannya pada tingkat hulu (upstream).

Kebutuhan akan tempat tinggal. menjadi tantangan khususnya kota metropolitan. Beberapa permasalahan yang dihadapi perkotaan di Indonesia terkait perumahan. Bertambahnya penduduk berarti bertambahnya kebutuhan akan ruang dan prasarana-sarana. prasarana dan sarana seperti transportasi dan listrik menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi demi kenyamanan kehidupan penduduk kota. Prasarana dan Sarana Perkotaan Tingginya jumlah penduduk di kota dan kawasan perkotaan perlu diimbangi dengan kemampuan kota dalam memfasilitasi kebutuhan semua penduduknya. Belum optimalnya penyediaan perumahan dan permukiman yang layak dan terjangkau Kewajiban pemerintah kota adalah menyediakan lingkungan permukiman yang aman. 27 Kontribusi UMKM Nasional Tahun 2006-2010 BAB 2 Sumber: Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Memperhatikan bahwa masih besarnya proporsi penduduk yang belum memenuhi tempat tinggal. 2006-2010 D.Gambar 2. Belum Optimalnya Penyediaan Perumahan. kota besar dan kota sedang untuk memenuhi hal tersebut menjadi 58 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . sehat dan terjangkau serta ramah untuk kaum lansia dan disable. Saat ini pelayanan di kota dan kawasan perkotaan di Indonesia belumdapat memenuhi kebutuhan penduduk yang selalu bertambah sehingga menimbulkan banyak permasalahan yang apabila tidak segera ditangani akan berdampak negatif terhadap kegiatan di perkotaan. prasarana dan sarana antara lain: 1.

2010 Gambar 2. 28 Persentase Rumah Tangga Menurut Status Kepemilikan RumahTahun 2010 BAB 2 perhatian. maka penyediaan rumah vertikal seperti rumah susun merupakan solusi tepat untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang layak dan terjangkau bagi penduduk perkotaan khususnya di kota metropolitan dan kota besar. Sumber: Sensus Penduduk. 2010 Kondisi rumah di kota yang belum layak ditunjukkan dengan masih tingginya penggunaan bambu. 29 Jenis Lantai Terluas dari Tempat Tinggal Rumah Tangga Menurut Tipologi Kota Sumber: Sensus Penduduk. tanah dan papan sebagai Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 59 . kota besar dan kota sedang yang sangat tinggi. serta memperhatikan tingkat pertumbuhan penduduk kota metropolitan.Gambar 2.

lantai tempat tinggal serta luas lantai bangunan tempat tinggal rumah tangga di kota dibawah 39 m2 masih tinggi yaitu sebesar 38% rumah tangga khususnya di kota metropolitan. maka revitalisasi kawasan tersebut perlu diprioritaskan di kawasan ini. Berbagai permasalahan tersebut diantaranya: 60 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . BAB 2 Memperhatikan adanya upaya revitalisasi kawasan permukiman kumuh di perkotaan. kota besar dan kota sedang. Podes 2006-2011 2. Jumlah bangunan yang berada di bantaran sungai terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu Tahun 2006-2011 yaitu sebesar 28%. 30 Jumlah Bangunan Rumah di Bantaran Sungai Tahun 2006-2011 Sumber: BPS. Gambar 2. khususnya paling banyak terjadi di kota besar dan kota metropolitan yang masing-masing tumbuh sebesar 48% dan 24%. Kualitas dan kuantitas sarana prasarana umum belum dapat memenuhi kebutuhan warga kota Perkembangan kawasan perkotaan yang sedemikian cepat tidak diimbangi dengan penyediaan prasarana dan sarana lingkungan permukiman sehingga mempengaruhi peningkatan kualitas kehidupan perkotaan.

Gambar 2.31). 2008. 31 Jumlah Keluarga Pengguna Listrik pada Tahun 20062011 Sumber: BPS.Penyediaan Listrik Peningkatan jumlah keluarga yang tinggal di kota tidak diimbangi dengan pertumbuhan penyediaan pelayanan listrik oleh pemerintah kota (Gambar 2. Jika diperhatikan berdasarkan data sensus penduduk 2010 masih terdapat keluarga yang menggunakan sumber penerangan bukan listrik begitu juga tingkat penggunaan listrik ilegal masih tinggi. Suplai PLN untuk rumah tangga di kota belum mencukupi. BAB 2 a. Pelayanan listrik terendah berada di kota sedang dan kota kecil. 2011. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 61 . Podes 2006. Hal tersebut terlihat dari persentase keluarga pengguna listrik di kota mengalami peningkatan kurun waktu 20062008dan mengalami penurunan dalamkurun waktu 2008-2011.

32 Sumber Penerangan Utama Tempat Tinggal Menurut Tipologi Kota Pada Tahun 2010 BAB 2 Sumber: BPS. 62 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .Gambar 2. Mudahnya akses keluarga terhadap telepon genggam menyebabkan turunnya jumlah keluarga pengguna telepon kabel. perbaikan terhadap prasarana telekomunikasi terutama telepon genggam mengalami peningkatan. Penyediaan Telekomunikasi Persentase keluarga pengguna telepon kabel di kota semakin menurun dari tahun ke tahun.34 terlihat bahwa dalam kurun waktu 2006-2011. Sensus penduduk 2010 b. Peralihan teknologi ini menyebabkan konsumen beralih menggunakan alat yang lebih mudah dan murah. Pada Gambar 2.

33 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Telepon Kabel Menurut Tipologi Kota Tahun 2006-2011 Sumber: BPS.BAB 2 Gambar 2. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin cepat seyogyanya dimanfaatkan oleh kota-kota di Indonesia untuk meningkatkan kinerja perekonomian kota dengan tingkat efisiensi energi dan sektor lainnya semakin membaik. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 63 . Podes 2006-2011 Selain telepon genggam.35% rumah tangga di kota dapat mengakses internet pada tahun 2010. akses rumah tangga di kota terhadap internet masih rendah hanya sebesar 29. telekomunikasi yang sangat umumnya digunakan di perkotaan adalah internet. Namun pada kenyataannya.

Sensus Penduduk 2010 Gambar 2. Podes 2006-2011 64 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 35 Keberadaan Sinyal Telepon Genggam di Kota Menurut Tipologi KotaTahun 2006-2011 Sumber: BPS. 34 Jumlah Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sarana PrasaranaTelekomunikasi Menurut Tipologi Kota Tahun 2010 BAB 2 Sumber: BPS.Gambar 2.

maka persoalan air bersih perlu mendapat penanganan yang cepat oleh pemerintah. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 65 . Memperhatikan bahwa disatu sisi bahwa air sebagai kebutuhan pokok bagi masyarakat.37). 36 Akses Rumah Tangga Terhadap Internet Menurut Tipologi Kota Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 Sumber: BPS. Penyediaan air bersih Akses pelayanan air bersih untuk wilayah perkotaan secara keseluruhan sampai dengan Tahun 2009 masih dibawah 50% (Gambar 2. namun dilain pihak jumlah penduduk yang besar serta pertumbuhan penduduk yang cepat di perkotaan. Sensus Penduduk 2010 c.BAB 2 Gambar 2.

Persampahan Tingkat pelayanan pengelolaan sampah di kota kecil dan kota sedang masih sangat rendah dibandingkan kota besar dan kota metropolitan. 66 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Walaupun sebagian kota-kota telah memiliki fasilitas Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) namun pengelolaan sampah masih belum memadai.Gambar 2. 37 Proporsi Rumah Tangga dengan Akses Terhadap Air Minum Layak Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan Tahun 1993-2009 BAB 2 d. Kota metropolitan dan kota besar menghadapi tantangan penyediaan TPS. TPA serta pengelolaannya mewujudkan kota tanpa sampah no waste dalam upaya meningkatkan kenyamanan hunian kota. Sebagian besar kota-kota sudah memiliki TPS dan mekanisme pengangkutan tersendiri namun buang sampah disungai serta proses penimbunan dan pengolahan tradisional masih menjadi fenomena di kota-kota Indonesia.

38 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar Masyarakat Kelurahan Sumber: BPS. Podes 2006-2011. Podes 2006-2011 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 67 .BAB 2 Gambar 2. 39 Tempat Buang Sampah Sebagian Besar MasyarakatKelurahan Tahun 2006-2011 Sumber: BPS. Gambar 2.

Pengembangan upaya preventif dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan perkotaan perlu dimulai dari penyediaan dan kualitas pelayanan sanitasi perkotaan yang baik.e. Gambar 2. 40 Persentase Akses Rumah Tangga Terhadap Sarana Prasarana Sanitasi Menurut Tipologi Kota Tahun 2010 Sumber: BPS. Jika dibandingkan dengan tipologi kota yang lainnya akses terhadap sanitasi di kota kecil masih dibawah 60%. Sanitasi BAB 2 Ketersediaan sarana prasarana sanitasi akan sangat memberikan dampak terhadap kesehatan lingkungan. Sensus Penduduk 2010 68 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Pelayanan sanitasi terutama di kota kecil masih belum baik.

Beberapa isu penyelenggaraan penataan ruang dan penatagunaan tanah di perkotaan antara lain: a. Sensus Penduduk 2010 Angka rumah tangga yang tidak memiliki terhadap sanitasi masih terlihat tinggi di kota kecil dan kota sedang. Pengendalian tata ruang belum mampu mengatasi perluasan pembangunan permukiman perkotaan ke kawasan pinggiran kota (urban sprawl). Belum Efisiennya Penyelenggaraan Penataan Ruang dan Penatagunaan Tanah perkotaan Penyelenggaraan penataan ruang merupakan bagian penting dalam mewujudkan tata ruang kota yang diharapkan. Sarana prasarana sanitasi dikota saat ini masih sebagian besar menggunakan sistem on site padahal penerapan sistem off site bagi kota-kota besar dan metropolitan penting diterapkan untuk menjaga kualitas lingkungan terutama antisipasi terhadap pencemaran air tanah yang berlebihan. 41 Persentase Rumah Tangga Terhadap Status Kepemilikan Prasarana Sanitasi Tahun 2010 Sumber: BPS.BAB 2 Gambar 2. b. Dalam perkembangan penyelenggaraan penataan ruang perkotaan masih banyak ditemukan berbagai persoalan. Belum efisiennya pemanfaatan lahan kota. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 69 . E.

42 menunjukkan inventarisasi pertanahan masih rendah. dan d. Belum terbentuk Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang yang mencukupi untuk meningkatkan fungsi pengawasan dalam penataan ruang yang didukung oleh SDM dan ketersediaan Norma Standar Pedoman dan Kriteria (NSPK). pemanfaatan dan penggunaan tanah (P4T). 70 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .31% dari luas wilayah Indonesia. pemilik tanah cenderung mempertahankan kondisi yang ada dibandingkan bekerjasama dengan pemerintah dalam revitalisasi kawasan. Gambar 2. pemilikan. Selain penyelenggaraan penataan ruang juga muncul masalah terhdap inventarisasi penguasaan. Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal. mekanisme perizinan yang mengacu kepada RTRW. dan petunjuk pelaksanaan pemberian sanksi terhadap pelanggaran RTRW menambah berbagai permasalahan yang muncul diperkotaan. BAB 2 Penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dicerminkan dari tingkat kesesuaian penggunaan tanah terhadap RTRW provinsi baru mencapai 68. Pemanfaatan ruang kota belum memperhatikan lanskap perkotaan (urban design) dan identitas kota sesuai potensi budaya lokal.c. Belum memadainya kinerja administrasi pertanahan dan belum kuatnya kepastian hukum hak atas tanah (secure tenure). Salah satu persoalan rumit dihadapi dalam revitalisasi tata ruang kota adalah ketidakjelasan kepemilikan hak atas tanah terutama di kawasan-kawasan kumuh atau bantaran sungai di kota.

Belum optimalnya Pengelolaan Lingkungan. Review Pelaksanaan RPJMN 2010-2014 Bidang Pertanahan.Pemilikan. Pencemaran lingkungan yang kerap terjadi di kota yaitu menurunnya kualitas lingkungan udara kota. 17 2013. Beberapa indikator yang terkait dalam pengelolaan lingkungan. mitigasi bencana dan perubahan iklim dijelaskan sebagai berikut. Pemanfaatan dan Penggunaan Tanah (P4T) Sumber: Bappenas. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 71 . 42 Inventarisasi Penguasaan. Mitigasi dan Adaptasi Bencana Serta Perubahan Iklim dalam pengelolaan perkotaan Pertumbuhan perekonomian kota yang cepat berkecenderungan akan menurunkan kualitas lingkungan kota akibat kegiatan permukiman kota. serta pencemaran suara akibat kebisingan transportasi kota. kota-kota di Indonesia juga dihadapkan pada kondisi geografis yang rawan bencana serta meningkatkan dampak perubahan iklim.BAB 2 Gambar 2. F. Selain masalah pengelolaan lingkungan kota. pencemaran limbah baik yang disebabkan oleh limbah industri maupun dari limbah rumah tangga.

dari hasil kajian Kementerian Lingkungan Hidup Tahun 2012. kota metropolitan memiliki indeks kualitas lingkungan hidup yang paling rendah jika dibandingkan dengan tipologi kota yang lainnya. Hal ini menandakan bahwa tekanan lingkungan lebih tinggi terjadi di kota metropolitan dibandingkan dengan tekanan lingkungan akibat kegiatan perkotaan di tipologi kota yang lainnya. Pencemaran lingkungan perkotaan BAB 2 Kondisi lingkungan yang buruk menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang timbul di perkotaan.44 selain pembandingan kualitas udara antarkota/kabupaten secara umum. Selama kurun waktu Tahun 2006-2012 menunjukkan konsentrasi NO2 di perkotaan cenderung naik.43 menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di kota metropolitan paling rendah disusul kota besar kemudian kota sedang. hasil pemantauan pasif juga memberi informasi perbandingan relatif kualitas udara tiap tata guna lahan yang dipantau. Indikator pencemar udara yang dapat ditunjukkan oleh konsentrasi NO2 dan SO2 di udara. Gambar 2. kegiatan permukiman. terutama dari kendaraan bermotor (Kementerian Lingkungan Hidup. Gambar 2.48 menunjukkan bahwa kota-kota yang padat penduduknya mempunyai konsentrasi NO2 lebih besar. 72 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Salah satu penyebabnya adalah terjadinya pencemaran udara perkotaan yang disebabkan oleh polusi kendaraan bermotor. sedangkan kota dengan aktivitas industri menunjukkan konsentrasi SO2 relatif tinggi dibandingkan kota-kota lainnya. dan hasil kegiatan ekonomi. hal ini disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil yang terus meningkat. Gambar 2. 2012).45 sampai dengan Gambar 2.a.

44 Sebaran Konsentrasi Rata-Rata NO2 dan SO2 di 248 Kota/Kabupaten Indonesia Kota-kota dengan penduduk yang padat memiliki konsentrasi NO2 lebih besar jika dibandingkan dengan kota-kota yang kurang padat. Sedangkan kotadengan aktivitas industri yang padat menunjukkan konsentrasi SO2 relatif tinggi dibandingkan kota-kota.BAB 2 Gambar 2. 2008. Gambar 2. 43 Rata-Rata Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Menurut Tipologi Kota Tahun 2008 Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup. Pemantauan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 73 .

BAB 2 udara jalan raya sejumlah kota besar pada 2012 memberikan informasi beberapa pencemar udara meningkat. yang berdampak buruk bagi kesehatan. bau tidak sedap. hingga melebihi 50 persen. Di kota metropolitan dan kota besar. Dapat dilihat pada studi Asian Development Bank (ADB) pada 2002 yang mengidentifikasikan. pertumbuhan hutan. dampak kesehatan karena udara tercemar di Jakarta menelan biaya Rp 1. Jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar sempurna dan zat hidrokarbon lain. produktivitas kerja menurun. mengurangi jarak pandang. iritasi mata dan infeksi pernafasan. Gambar 2. NO2 akan membentuk ozon rendah atau smogkabut coklat kemerahan yang telah menyelimuti beberapa kota lain di dunia. 45 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Transportasi Tahun 2011 Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup. dan gangguan produksi pertanian. SO2 dan CO di udara. kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar konsentrasi NO2. Jika gas NO2 terhirup.8 triliun. dan merusak bangunan karena hujan asam. Halini berarti kualitas udara menurun. akan merusak paru-paru. Selain menimbulkan asap hitam. 2012 74 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . pencemaran udara juga memicu risiko kematian dini.

46 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Permukiman Tahun 2011 Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup. 2012 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 75 .BAB 2 Gambar 2. 2012 Gambar 2. 47 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Komersial Tahun 2011 Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup.

Rendahnya integrasi antara adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim terhadap sistem perencanaan. 2.Gambar 2. dan 3. 2012 b. Rendahnya perhatian pemangku kepentingan terhadap upaya mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. 76 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Mitigasi dan adaptasi bencana Dampak buruk bencana alam dan perubahan iklim di perkotaan bertambah parah dengan strategi mitigasi (pengurangan dampak kerusakan lingkungan) dan adaptasi (penyesuaian diri dengan lingkungan) yang rendah. pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan. Rendahnya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak bencana alam dan perubahan iklim terlihat dari (Kementerian Lingkungan Hidup. Rendahnya ketahanan sosial ekonomi masyarakat sebagai akibat dari perubahan iklim. 2012): 1. 48 Konsentrasi SO2 dan NO2 dari Sektor Industri Tahun 2011 BAB 2 Sumber: Diolah dari data pemantauan passive sampler Kementerian Lingkungan Hidup.

50 Ancaman Bencana Gunung Api di Indonesia Sumber: BNPB. 2013 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 77 . 49 Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi di Indonesia Sumber: BNPB. 2013 Gambar 2.BAB 2 Gambar 2.

gempa bumi dan tanah longsor yang paling tinggi. gempa dan sebagainya. Perubahan iklim Kawasan perkotaan merupakan salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca sebagai konsekuensi dari tingginya populasi dan intensitas kegiatan yang berbanding lurus dengan pemanfaatan energi. BAB 2 Gambar 2. sebagai akibat dari pemanasan global fluktuasi curah hujan bergeser hampir sepanjang tahun (Gambar 2. 2011 c. Begitu juga dengan pengamatan curah hujan dan temperatur beberapa kota di Indonesia. 78 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .52). yang akan menurunkan daya saing kota serta kenyamanan penduduk untuk tinggal dan berkegiatan. Hasil pengamatan BMKG menyatakan bahwa gas penyebab pemanasan global di Indonesia kecenderungan meningkat (Gambar 2. contohnya Kota Denpasar. Podes 2006. 2008. 51 Banyaknya Bencana Alam yang Terjadi Menurut Tipologi Kota Sumber: BPS.Saat ini kota-kota sedang menghadapi frekuensi bencana banjir.53). Namun kerentanan kota-kota besar dan kota metropolitan akan meningkat dengan meningkatnya frekuensi banjir.

* CO2Global (garis biru). Informasi Gas Rumah Kaca. 52 Perbandingan Trend konsentrasi CO2 Tahun 2004-2012 Sumber: BMKG. 2013. Mauna Loa (garis merah) dan Stasiun GAW Bukit Kototabang (garis hijau) Gambar 2. 2013.BAB 2 Gambar 2. Kajian Perubahan Iklim Wilayah Pulau Bali. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 79 . 53 Pola Curah Hujan bulanan di Denpasar Januari 1979Desember 2010 Sumber: BMKG.

terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Belum optimalnya kerjasama pusat-daerah. namun perkembangan permasalahan pengelolaan perkotaan justru muncul pada pengelolaan kawasan perkotaan lintas wilayah yang membutuhkan kerjasama antar pihak. 2. Beberapa permasalahan yang dapat mengganggu keberlanjutan kota antara lain: 1. penerapan rekayasa bangunan hemat energi.BAB 2 Hal ini dapat dikurangi dengan penerapan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang mengatur peruntukan ruang yang lebih efisien. 80 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Pada kenyataannya. air tanah. Isu pembangunan kawasan perkotaan Metropolitan Jabodetabek. serta meminimalkan sampah melalui gerakan 3R (reduce. antarwilayah dan antar-pihak. dan meningkatnya emisi gas rumah kaca. kerjasama ekonomi antara pemerintah-swasta yang mampu melindungi kepentingan publik. Menurunnya kualitas lingkungan permukiman perkotaan seperti pencemaran udara. penerapan pembangunan yang berkelanjutan tersebut masih sulit diterapkan perkotaan di Indonesia. dan beberapa kawasan metropolitan yang lainnya (Tabel 2. recycle). Sarbagita. Tingginya kerentanan sosial ekonomi masyarakat terhadap dampak bencana dan perubahan iklim. 3. Isu ini ditunjukkan sedikitnya kesepakatan sebagai resolusi konflik dalam pembangunan perkotaan. Belum ada upaya optimal peningkatan pemanfaatan sumber daya terbarukan dan pengelolaan lingkungan. G. penyediaan transportasi umum yang berkualitas baik. Pengelolaan kota otonom oleh pemerintah kota sudah jelas. Gerbangkertosusila. reuse.1) hanya sedikit mampu menyelesaikan permasalahan pembangunan kota antar wilayah. Mitigasi dan adaptasi bencana serta dampak perubahan iklim masih belum terintegrasi kedalam sistem perencanaan. dan 4. Belum optimalnya tata kelola dan kelembagaan pemerintah daerah dalam pembangunan dan pengelolaan perkotaan Isu tata kelola dan kelembagaan pemerintahan perkotaan menjadi isu penting dalam perkembangan perkotaan yang sangat cepat. pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan.

kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah lebih ditekankanpada fasilitasi pemerintah daerah agar dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Tiga hal yang dibutuhkan pemerintah kota dalam pembangunan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 81 . pada kenyataannya di Indonesia. mampu menerjemahkan peraturan dan perundangan terkait tata ruang dengan baik sehingga penataan dan pemanfaatan ruang juga penatagunaan lahan dapat dikendalikan.BAB 2 Hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pembangunan kota dan kawasan perkotaan adalah ruang dan pelaku dalam pengelolaan ruang tersebut. Namun.Pada awal era pembangunan. Pemerintah daerah melalui kelembagaannya sebagai salah satu pelaku pembangunan perkotaan mempunyai wewenang untuk mengarahkan dan mengendalikan pembangunan kota dan kawasan perkotaan. Gambar 2. sedangkan saat ini. 54 Permasalahan Tata Kelola dan Kelembagaan Pembangunan Kota dan Kawasan Perkotaan Dalam era desentralisasi dan otonomi daerah. peran Pemerintah dalam pembangunan perkotaan secara langsung semakin berkurang. Pemerintah cenderung merencanakan dan melaksanakan berbagai unsur pembangunan kota. penataan ruang dan penatagunaan lahan perkotaan belum secara efisien tertata dengan baik sehingga diperlukan perbaikan baik dari segi ruang maupun tata kelola dan kelembagaan pemerintah kota. Pemerintah kota yang handal.

kolusi dan nepotisme (KKN) akan sangat mempengaruhi kemampuan kota untuk membangun kota bagi kesejahteraan masyarakat perkotaan saat ini dan generasi mendatang. Belum optimalnya upaya pemberdayaan masyarakat kota. Secara spesifik. Kapasitas kelembagaan masih belum memadai untuk menerjemahkan visi misi pembangunan kota kedalam tindakan nyata. Langkanya kepemimpinan kota yang visioner dan berorientasi kepada kepentingan masyarakat luas. akuntablitas. Terbatasnya kapasitas pemerintahan daerah dalam penerapan good governance dan good public management. SDM dan efisiensi dalam pengelolaan kota. Terbatasnya kapasitas pemerintah kota dalam penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) yang meliputi transparansi. 82 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . partisipasi dan efisien serta efektivitas. serta belum terwujudnya Community Self-Government di kota. d. isu-isu yang terkait dengan tata kelola pemerintah antara lain: BAB 2 a.perkotaan adalah pendanaan. b. c. terkait dengan terbatasnya upaya pencegahan terhadap kemungkinan munculnya praktek korupsi.

Program Pengembangan Usaha Swasta (51) 3.BAB 2 Gambar 2. Kondisi tata kelola ekonomi beberapa kota besar dan kota metropolitan masih rendah.Pengelolaan kota terendah rata-rata di kota metropolitan dengan aspek pengelolaan ekonomi kota terendah rata-rata dengan indeks di bawah 60. 6 Nilai Tata Kelola Ekonomi Kota Tahun 2011 Nama Kota Blitar Probolinggo Batu Solok Padang Panjang Metro Kediri Sawahlunto Tipologi Kota Sedang Sedang Sedang Kecil Indeks Total 81 79 76 73 1 2 3 9 Kupang Bau-Bau Temate Surabaya Tipologi Kota Sedang Sedang Sedang Metropolitan Ranking Nama Kota Indeks Total 65 65 65 64 Ranking 98 106 106 110 Kecil 73 10 Cilegon Sedang 64 113 Sedang Sedang Kecil 73 73 72 11 15 20 Malang Ambon Banjarmasin Besar Sedang Besar 64 63 63 117 125 133 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 83 . Kapasitas dan Integritas Wali Kota (50) 2. Hal ini menunjukkan belum optimalnya tata kelola ekonomi kota khususnya untuk kota besar dan kota metropolitan padahal kontribusi ekonomi terbesar berada di dua tipologi kota ini. Interaksi Pemda dengan Pelaku Usaha (53) Tabel 2. Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011. yaitu: 1. 55 Rata-Rata Nilai Tata Kelola Ekonomi Daerah Menurut Tipologi Kota Tahun 2011 Sumber: KPPOD.

Mojokerto Bukittinggi Payakumbuh Padang Madiun Banjarbaru Tipologi Kota Sedang Sedang Sedang Besar Sedang Sedang Bengkulu Sedang 69 59 Sedang 68 63 Kecil Sedang Sedang Sedang 68 68 67 66 Kecil Besar Nama Kota BAB 2 Palangka Raya Pariaman Jayapura Palu Pasuruan Tidore Kepulauan Bandar Lampung Indeks Total 70 70 70 69 69 69 Ranking Nama Kota 31 40 47 49 54 55 Mataram Pangkalpinang Kendari Bima Pontianak Singkawang Tangerang Selatan Tipologi Kota Sedang Sedang Sedang Sedang Besar Sedang Indeks Total 62 62 62 61 60 59 139 142 143 157 167 180 Metropolitan 59 182 Jambi Besar 59 185 68 72 76 82 Tangerang Serang Sungai Penuh Sorong Metropolitan Besar Kecil Sedang 58 58 58 58 187 188 197 199 66 92 Tual Kecil 54 213 65 97 Sumber: KPPOD. 84 Ranking Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 56 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota Berdasarkan Aspek (1) Sumber: KPPOD. Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011. Gambar 2. Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011.

kpk. Tata Kelola Ekonomi Daerah Tahun 2011.go. 57 Indeks Tata Kelola Ekonomi Kota Berdasarkan Aspek (2) Sumber: KPPOD.BAB 2 Gambar 2. Gambar 2.id Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 85 . 58 Rekapitulasi Penindakan Pidana Korupsi per 28 Februari 2013 Sumber: acch.

4. Seperti halnya isu spesifik yang berkembang di kota metropolitan dan megapolitan. Pertambahan jumlah penduduk memberikan dampak bagi pembangunan kota dan kawasan perkotaan. yaitu: 1. 3. dan 4. Belum optimalnya kerjasama antarkota dan antara kotakabupaten dalam hal pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan.2. serta pemanfaatan sumber daya lokal (alam dan manusia). 2. meningkatkan kerentanan sosial kota serta ketidakamanan hunian dan lingkungan kota metropolitan Empat hal tersebut diatas merupakan isu yang khas muncul dan diprioritaskan penanganannya dalam pengelolaan perkotaan di kota metropolitan dan kawasan perkotaan megapolitan. Terjadinya urban sprawl dan belum terintegrasinya pusat-pusat kegiatan di dalam kota dengan jaringan transportasi umum. Hal tersebut 86 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Penyebaran penduduk yang begitu cepat di perkotaan memberikan dampak terjadinya perkembangan kota yang tidak terkendali (urban sprawl) dan konurbasidi kawasan perkotaan. Perkembangan kota dan kawasan perkotaan di Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk dan fisik yang cepat. Belum beroperasinya sistem angkutan massal antarmoda/multimoda dan belum terciptanya sistem transportasi yang nyaman dan aman bagi penghuni kota yang mendorong meningkatnya kemacetan serta belum adanya keberpihakan bagi pengguna jalan sepeda. Masalah sosial dan kriminalitas yang semakin meningkat yang dapat menurunkan daya saing kota.3 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan Metropolitan dan Megapolitan Jabodetabekjur BAB 2 Selain isu umum muncul juga isu-isu spesifik yang hanya dominan dan menjadi fokus perhatian pemerintah kota untuk kota tipologi tertentu. pejalan kaki dan kaum disable yang dapat mendorong peningkatan kenyamanan transportasi yang inklusif dan pengurangan polusi sebagai dampak dari kendaraan bermotor. Terjadinya urban sprawl dan belum terintegrasinya pusat-pusat kegiatan di dalam kota dengan jaringan transportasi umum. A.

dan masih luasnya kawasan permukiman Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 87 . memunculkan masalah sinergi dan sinkronisasi dalam pelayanan sarana prasarana permukiman dan lingkungan perkotaan Sementara kepadatan hunian yang semakin tinggi.Kecenderungan pergerakan hunian penduduk ke kawasan pinggiran kota dengan persentase pertumbuhan yang sangat tinggi disatu sisi. 59 Perkembangan Kota JakartaBerimflikasi Terhadap Wilayah Sekitarnya BAB 2 menyebabkan pelayanan perkotaan menjadi tidak seimbang dan akhirnya menyebabkan penurunan kinerja kota. Gambar 2. Antisipasi oleh pengembang dengan permukiman-permukiman skala besar serta kota baru. sementara pusat-pusat kegiatan masih terbesar di pusat kota mengakibatkan kegiatan komuter dengan kepadatan yang tinggi terjadi di Jakarta. 2009 (disampaikan di hadapan dewan pertimbangan presiden/wantimpres tentang pengendalian banjir. kecenderungan pergerakan kebutuhan hunian penduduk metropolitan ke pinggiran kota menyebabkan inefisiensi pelayanan sarana prasarana perkotaan. penanganan transportasi dan pelayanan publik) Dilain pihak. Sumber: Pemerintah DKI Jakarta. keterbatasan ketersediaan lahan dalam kota. rasio luas ruang publik terhadap jumlah penduduk yang masih rendah.

1 juta jiwa dari 743 ribu 88 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . B. Depok.kumuh menjadi masalah ibukota. Gambar 2. 60 Perubahan Moda Transportasi Penduduk Jabodetabek Tahun 2002-2010 Sumber: STRAMP Person Trip Survey. BAB 2 Perkembangan Kota Jakarta sebagai kota inti dalam konstelasi kawasan perkotaan Jabodetabek memberikan pengaruh yang sangat besar bagi wilayah sekitarnya. Belum beroperasinya sistem angkutan massal antarmoda/multimoda dan belum terciptanya sistem transportasi yang nyaman dan aman berakibat semakin meningkatnya kemacetan. Tingginya volume pergerakan dari dan menuju DKI Jakarta khususnya komuter dari permukiman di kawasan pinggiran kota ke pusat-pusat kegiatan perekonomian belum diimbangi dengan sarana prasarana transportasi yang memadai. Kurun waktu Tahun 1992 sampai dengan Tahun 2005 perkembangan fisik wilayah disekitar Kota Jakarta berkembang sangat cepat. Tangerang dan Bekasi menuju DKI Jakarta meningkat menjadi 1. JUTPI Commuter Survey Pada Tahun 2010 pergerakan pelaju dari Bogor. kota-kota metropolitan dan kota besar yang masih belum terselesaikan.

Gambar 2.35 Km (8 Koridor) 142halte 426 bus(403 single + 23 articulated) 6 perusahaan 7 pool Sumber: Pemerintah DKI Jakarta. Sumber: Pemerintah DKI Jakarta. Sementara terjadi perubahan perilaku pengguna transportasi yang sebelumnya pada Tahun 2002 pengguna bus sebesar 38% menurun tajam hanya menjadi 17% di Tahun 2010. 2009. 2009. 7 Kondisi Angkutan Umum Masal Tahun 2009 (Bus Rapid Transit) Panjang Koridor Jumlah halte Jumlah Bus Jumlah Operator Jumlah Pool Bus 143. Sedangkan pengguna speda motor meningkat tajam dari 21% di Tahun 2002 menjadi 41% di Tahun 2010. 61 Pertumbuhan Kendaraan dan Luas Jalan di Kota Jakarta BAB 2 pada Tahun 2002. Tabel 2. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 89 .

Kabupaten Bogor. Bekasi dan Cianjur dan Peraturan Bersama Tahun 2010 tentang Badan Kerjasama Pembangunan (BKSP) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kabupaten Tangerang. Kota Depok. Bogor. Depok. Dalam upaya menyelesaikan permasalahan antar kota. 90 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Belum optimalnya kerjasama antarkota/Kabupaten pembangunan kawasan perkotaan megapolitan dalam Berbagai permasalahan yang muncul dalam pengelolaan pembangunan di kawasan perkotaan Jabodetabekjur memberikan implikasi terhadap banyak hal. telah direspon melalui pembentukan badan kerjasama melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Badan Kerjasama Pembangunan Jakarta. dan Kabupaten Cianjur. Kota Tangerang Selatan. wilayah dan kota-kabupaten yang melibatkan banyak stakeholder (3 pemerintah provinsi dan 9 pemerintah kab/kota). Kota Bekasi. Provinsi banten. Provinsi Jawa Barat. Kota Tangerang. Tangerang. Kabupaten Bekasi.Wajah transportasi umum di Jakarta BAB 2 C.

integrasi. Hasil evaluasi optimalisasi fungsi dan kelembagaan BKSP Jabodetabekjur (Lokakarya dalam Rangka Fasilitasi Penyusunan Kebijakan Revitalisasi BKSP Jabodetabekjur. dan simplikasi seluruh aspek Jabodetabekjur dan merupakan representasi daerah yang bekerjasama dalam melakukan konsultasi ke pemerintah pusat. f) Industri. kebersihan dan lingkungan hidup. perdagangan. ketentraman dan ketertiban. ruang lingkup kerjasama yang dibentuk yaitu di bidang a) penataan ruang. e) Agribisnis. h) Kesehatan dan pendidikan. 2012) menunjukkan bahwa Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 91 . b) Permukiman. 62 Bentuk Struktur Organisasi BKSP Jabodetabekjur BKSP memiliki peransebagai alat koordinasi. perhubungan dan pariwisata. c) Sumber daya air. sarana dan prasarana. koperasi dan usaha kecil menengah. sinkronisasi.BAB 2 Gambar 2. Berdasarkan Peraturan Bersama Gubernur Provinsi DKI Jakarta. g) Kependudukan. dan i) Sosial dan tenaga kerja. Gubernur Jawa Barat. d) Transportasi. pertambangan dan investasi. Gubernur Banten dan Bupati/Walikota Bodetabekjur.

yaitu: BAB 2 1. Belum siapnya pemerintah dalam merencanakan dan membiayai program yang integral antar wilayah. 6. kepentingan dan prioritas bersama mengenai pentingnya penanganan wilayah Jabodetabekjur sebagai kawasan strategis nasional. Minimnya kewenangan dan dukungan perangkat kebijakan kordinasi. Belum optimalnya dukungan dana APBN untuk menopang kerjasama pembangunan kawasan Jabodetabekjur.4. termasuk keterkaitannya dengan ekonomi wilayah perdesaan. Belum adanya kesamaan persepsi.BKSP belum dapat berfungsi secara optimal dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan lintas sektor dan lintas pemerintah di Jabodetabek. 92 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Perbedaan kepentingan antar daerah di kawasan Jabodetabekjur. 4. 2. 3. Kota-kota megapolitan dan metropolitan ke depan akan menghadapi tantangan permasalahan antar kota. Belum optimalnya pengembangan ekonomi lokal. Belum optimalnya fungsi BKSP ini disebabkan oleh beberapa hal. 2. Namun demikian masih terdapat beberapa hal yang memerlukan perhatian kota-kota sedang dan kota-kota kecil yaitu: Isu-isu spesifik yang dominan dan menjadi fokus perhatian pemerintah kota untuk perkotaan kecil dan sedang yang terdiri dari: 1. Kota Kecil dan Kawasan Perkotaan Kota sedang dan kota kecil merupakan pusat pertumbuhan terdekat dengan kawasan perdesaan. Kesenjangan desa-kota dapat didekati melalui penguatan kota-kota ini agar dapat mendorong daya tarik kawasan perdesaan dan produktivitas di perdesaan.4 Isu Spesifik Pembangunan Kota Sedang. Lemahnya koordinasi dalam pelaksanaan kerjasama. Belum optimalnya follow up keputusan-keputusan bersama tentang prioritas program dan kegiatan kerja sama oleh pemangku kepentingan antar wilayah di lingkungan Jabodetabekjur. antar kota dan kabupaten serta antar wilayah yang berdekatan. dan 7. 5. serta berbagai potensi konflik antar wilayah.

4. karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbagi atas 5 pulau besar dengan karakteristik yang berbeda untuk setiap pulaunya dan terdapat kota-kota strategis yang akan dikembangkan sesuai dengan peran dan karateristik yang ditetapkan. yakni lintas tengah. maka isu spesifik yang terdapat pada setiap pulau perlu diperhatikan sebagai masukan dalam kebijakan KSPPN. Kota-kota di pulau Sumatera dihubungkan oleh tiga ruas jalan lintas. lintas timur. Berikut merupakan penjabaran isu strategis pembangunan perkotaan wilayah pulau besar dan kota-kota strategis: A. dan laut yang mendukung kelancaran arus barang dari pusat produksi di perdesaan ke pusat pasar di kota menengah dan kecil. Belum memadainya sarana pemasaran produk perdesaan di pusat-pusat pasar di kota menengah dan kecil. sungai. 2. Untuk mendukung Kebijakan Strategis Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) secara komprehensif yang mencakup perkotaan dan hierarki yang lebih besar diatasnya yaitu Pulau.Selatan Sumatera. dan drainase. Belum optimalnya kerjasama antarkota dan antara kabupaten-kota dalam pengembangan produk unggulan. dan b. Sumatera Wilayah Pulau Sumatera merupakan pulau yang kaya dengan hasil bumi dan memiliki kota perniagaan yang cukup penting. Belum memadainya transportasi darat. dan b. air bersih. Belum memadainya prasarana permukiman listrik.5 Isu Spesifik Pembangunan Perkotaan Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota Strategis Kebijakan pengembangan perkotaan tidak lepas dari mengenali karakteristik wilayah guna mencapai tujuan dan sasaran pembangunan. namun Peran kota sebagai pusat pertumbuhan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 93 . dan lintas barat. yang melintang dari Utara . 3. Belum optimalnya penciptaan lapangan kerja melalui pengembangan sektor informal di kota menengah dan kecil. Belum memadainya prasarana permukiman di kota sedang dan kota kecil a. Dalam konteks pengembangan perkotaan Pulau Sumatera memiliki peran strategis. 2.BAB 2 a.

dan Kota Tanjung Pinang (52. (Medan. dan Kota Dumai. Kota Pekanbaru (56. Kota Batam.77%. Batam.6%). dan pertambangan. dibandingkan dengan Kota-Kota di Pulau Jawa.20%. Hal ini mengakibatkan interaksi antara Kota-Desa sangat lemah dalam wilayah Pulau Sumatera dan belum termanfaatkannya SDA unggulan secara optimal yang banyak terdapat di daerah-daerah pedesaan berasal dari sektor pertanian. disebabkan kondisi infrastuktur dan fasilitas publik masih tertinggal. Kota Lampung (33. seperti ke Kota Medan. Adanya kesenjangan pertumbuhan antara Kota-kota di kawasan wilayah timur Sumatera. Berikut merupakan isu spesifik pembangunan wilayah Pulau Sumatera dan kota-kota strategis di dalamnya yaitu: BAB 2 1. Hal ini ditunjukan dengan persentase penduduk daerah perkotaan Kota Medan (50. dan ke Kota-Kota yang berkatagori cepat tumbuh seperti Kota Pekanbaru. 4. perikanan. Tingginya tingkat urbanisasi akibat lemahnya peran Kota sebagai penggerak ekonomi pedesaan telah menyebabkan meningkatnya urbanisasi ke kota. Lampung. dan Ranai) dikatagorikan cepat tumbuh dengan kota-kota dibelahan barat tumbuh lambat (Padang dan Bengkulu). Kota Tanjung Pinang. Tingginya tingkat kesenjangan Kawasan Wilayah Timur Sumatera dan Kawasan Wilayah Barat Sumatera. Dengan letak geografis wilayah Sumatera yang berada di jalur pelayaran internasional sangat berpotensi menjadi lokasi kegiatan lintas negara. Kondisi infrastruktur dan fasilitas publik apabila dibandingkan dengan Kota-Kota di Pulau Jawa dan kota-kota di kawasan ASEAN seperti Kota Johor Bahru Malaysia. Kesenjangan Penanaman Modal Dalam Negeri/PMDN 2008. Kurang optimalnya kondisi Infrastruktur dan fasilitas publik. Pekanbaru. sedangkan di Sumatera hanya 23.3%). 2. Tanjung Pinang. Kota Jambi. 94 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 3. di Pulau Jawa dan Bali mencapai 60. Kota Palembang (42.2%).1%). Tingkat Urbanisasi yang tinggi menuju kota cepat tumbuh Pulau Sumatera. Kota Narathiwat Thailand masih ada gap yang besar.5%). Kota Jambi (36.9%).pembangunan wilayah masih terasa sangat kurang. Rendahnya tingkat investasi Pulau Sumatera. Palembang.

Secara nasional angka kemiskinan tersebut masih berada dibawah rata-rata nasional yakni 16. Belum optimalnya kesiapan dan pengetahuan mitigasi bencana dari masyarakat tercermin ketika bencana tsunami tahun 2004 dan gempa aceh Tahun 2009 yang merupakan bencana besar Pulau Sumatera. akan memberikan multiplier effects yang sangat besar bagi pertumbuhan perekonomian dan kota-kota di wilayah pulau sumatera. Jika dibandingkan antara Desa dan Kota maka jumlah penduduk miskin hampir sama yaitu 13. Tingginya tingkat kemiskinan di pulau Sumatera pada skala nasional.4 % menurun menjadi 13. Tingkat kemiskinan di Pulau Sumatera rata-rata 14. Contoh perbedaan pendapatan per kapita penduduk tahun 2009 di kota Johor Baru Malaysia USD 31. Peluang tumbuh bagi kota Sabang sebagai pelabuhan bebas pengganti peran pelabuhan Singapura. Terdapatnya kawasan strategis sebagai pusat perniagaan.800/tahun. Serdang Badagai. seperti: kota Sabang.500/tahun.77%. 7. Pulau ini Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 95 . Batam-Bintan-Tanjung Pinang. Kesenjangan kesejahteraan penduduk pada kota-kota perbatasan. Pulau Sumatera memiliki beberapa titik wilayah perbatasaan terhadap kota-kota diwilayah negara tetangga.1 %. Ranai (KEPRI). dan sisanya tersebar diwilayah pulau-pulau besar lainnya.5. Indragiri Hulu-Indragiri Hilir (SUMSEL).79%. di Sumatera hanya 6. Dumai-Rokan HilirBengkalis (Riau).2 % dan 14. Pulau Sumatera berada di kawasan rawan bencana. wilayah Sumatera berada pada pertemuan lempeng bumi dan lintasan gunung api aktif (ring of fire). sedangkan di kota Medan hanya USD 8. BAB 2 Untuk PMA di Jawa Bali mencapai 91. 6. Jawa – Bali Pulau Jawa Bali memiliki peran strategis yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.5 % di Kota dan 14. B. 8. Secara geologis. Karimun.2 % pada tahun 2009.8% di Desa pada tahun yang sama. Terdapat kesenjangan kesejahteraan penduduk yang cukup signifikan di kawasan tersebut.

Pengembangan Pulau Jawa selain harus merupakan satu kesatuan dalam konsepsi pembangunan Indonesia juga harus memiliki sinergi dan pengembangan pulau-pulau besar terdekat (Sumatera. BAB 2 Sebagai pusat kegiatan ekonomi dan kepadatan penduduk tertinggi dalam pengembangannya juga harus dilakukan dengan keterpaduan program untuk mendukung alokasi sumberdaya yang efisien dan pertumbuhan yang lebih seimbang. tingkat urbanisasi Pulau Jawa-Bali merupakan pulau yang memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi. logam. 2. Permasalahan yang menjadi hambatan adalah lemahnya dukungan teknologi dan kapasitas SDM untuk menunjang 96 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Penyebab lainnya adalah lemahnya akses modal untuk masyarakat. Jawa dan Bali masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto/PDRB (sekitar 59 %). kimia. karet). Adanya perubahan transformasi perekonomian. sosial kependudukan. sumber-sumber modal kurang memadai untuk dapat diakses oleh masyarakat maupun para investor. Provinsi Banten. Tidak meratanya pembangunan dan perekonomian desa-kota dan intraregional Wilayah Pulau Jawa-Bali. Berikut merupakan isu spesifik Pulau Jawa Bali dan Kota-Kota Strategis di dalamnya: 1. makanan. Pembangunan dan perekonomian antara perdesaan dengan perkotaan serta intraregional Pulau Jawa-Bali belum merata. Provinsi JawaTengah dan Provinsi Jawa Timur. Hal ini disebabkan sistem informasi mengenai potensi ekonomi. Lemahnya aksesbilitas menyebabkan rendahnya produktivitas perekonomian di kawasan perdesaan dan wilayah selatan Pulau Jawa dibandingkan dengan wilayah utara. Kalimantan dan Sulawesi) terutama dalam menjaga ketersediaan sumberdaya pendukung pertumbuhan ekonomi di Jawa. Selain itu. dan lemahnya rantai kegiatan hulu-hilir dari aktivitas ekonomi. infrastruktur dan lingkungan. secara ekonomi. dengan meningkatnya sektor sekunder (industri pengolahan) seperti di Provinsi Jawa Barat. Belum optimalnya pengembangan kegiatan industri inovatif yang berbasis teknologi dan berbasis potensi lokal (industri tekstil. Isu-isu spesifik yang ada di Wilayah Pulau Jawa-Bali tidak terlepas dari isu mengenai ekonomi.menampung sekitar 60% penduduk Indonesia.

Menurunnya daya dukung lingkungan. seperti Provinsi Banten. Hal tersebut ditunjukkan dengan rendahnya penyerapan tenaga kerja dan perkembangan aktivitas ekonomi terutama wilayah yang telah bertransformasi ekonomi ke arah industri. 4. Selain itu.3. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pengembangan produk unggulan. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pengembangan aktivitas ekonomi yang mampu mendorong penyerapan tenaga kerja. Selain itu.akan tetapi ekonomi kreatif masih lemah. Hal ini disebabkan rendahnya pengendalian terhadap pengelolaan kawasan hutan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 97 . Luas RuangTerbuka Hijau di pusat-pusat kota Wilayah Jawa-Bali berada di bawah 30%. Selain itu. sistem informasi mengenai produk unggulan dan lemahnya promosi produk. kondisi Daerah Aliran Sungai yang berstatus prioritas utama (kritis) cukup banyak. Belum memadainya kualitas tenaga kerja berkeahlian. seperti industri unggulan yang memiliki keterkaitan dengan industri sekitarnya atau keterkaitan hulu hilir. Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Timur. Belum optimalnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. penelitian serta inovasi menjadi salah satu masalah. BAB 2 pengembangan sektor industri. kualitas dan kuantitas SDM kreatif masih rendah serta minimnya tempattempat kreatif. Pengembangan pusat perdagangan yang belum optimal di Wilayah PulauJawa-Bali ditunjukkan dengan rendahnya ekspor produk yang bernilai tambah. kualitas dan kuantitas infrastruktur yang belum memadai dan investasi. 5. Sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari ekonomi kreatif. Belum optimalnya pengembangan potensi pusat perdagangan. Hal ini disebabkan minimnya akses informasi potensi pariwisata dan ekonomi kreatif. lemahnya koneksi (linkage) antara kawasan industri dengan industri pendukung sekitarnya dan pusat-pusat pendidikan tinggi . 6. dan belum optimalnya pemanfaatan jalur-jalur perdagangan internasional. Wilayah Pulau Jawa-Bali memiliki banyak lokasi potensi untuk dijadikan objek pariwisata.

Posisi Wilayah Pulau Kalimantan sangat strategis mengingat dalam konteks keterkaitan antar wilayah. longsor dan banjir. sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia. BAB 2 7. sangat penting dalam mendukung peningkatan kinerja pembangunan nasional.dan daerah aliran sungai. Rawan akan bencana alam. seperti kebakaran hutan. longsor. Pulau Jawa-Bali. Kalimantan Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan. banjir. Wilayah Pulau Kalimantan berpotensi besar sebagai pusat pertumbuhan di kawasan Indonesia dan subregional ASEAN. Adanya penebangan pohon di hutan tanpa adanya upaya reboisasi hutan dan pengalihan fungsi lahan hutan menjadi lahan permukiman. insentif dan disinsentif untuk mengurangi deforestasi dan mendukung pembangunan berbasis lingkungan berkelanjutan belum atau kurang diterapkan secara optimal. Di sisi lain. gunung merapi merupakan bencana-bencana yang sering terjadi di wilayah pulau ini. Tingginya tingkat kerusakan hutan dan luasan lahan kritis. minimnya kegiatan-kegiatan rehabilitasi dan revitalisasi. industri atau kegiatan ekonomi lainnya juga merupakan penyebab utama yang signifikan. Dengan demikian. 2. Kurang optimalnya kesiapan mitigasi dan adaptasi bencana. Hal tersebut disebabkan oleh adanya eksploitasi hutan untuk 98 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Gempa bumi. Bencana yang terjadi di Wilayah Pulau Kalimantan sebagian diantaranya merupakan pengaruh dari kerusakan alam. Wilayah Pulau Kalimantan memiliki posisi geografis yang relatif strategis di wilayah barat dan tengah Indonesia dan berbatasan dengan negara tetangga. Malaysia. C. Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan secara posisi berhadapan langsung dengan pulau-pulau besar di Indonesia. Wilayah Pulau Jawa-Bali merupakan salah satu wilayah yang berada dikawasan rawan bencana. Berikut merupakan isu strategis yang adalah sebagai berikut: terdapat di pulau Kalimantan 1.

wilayah ini mengalami masalah terhadap pasokan tenaga listrik yag belum menjangkau seluruh wilayah dan daya lsitrik yang kurang memadai. 6. Kualitas sumber daya manusia di Wilayah Pulau Kalimantan menunjukkan bahwa untuk Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Kalimantan Selatan memiliki Indeks Pembangunan Manusia dengan posisi 10 besar. baik jalan negara. Kurangnya pasokan daya listrik dapat menganggu kegiatan perekonomian masyarakat dan kegiatan investasi di kegiatan industri. pertambangan dan perkebunan. Sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari kegiatan ekonomi kreatif. Tidak meratanya kualitas Sumber Daya Manusia. jalan provinsi dan jalan kabupaten di wilayah ini. Sarana dan prasarana dasar tersebut adalah energy listrik dan sumber daya air. Belum optimalnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif secara optimal.3. Wilayah Pulau Kalimantan masih dilayani jaringan jalan darat yang terbatas dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan jaringan transportasi lain. Keterbatasan sarana dan prasarana dasar menjadi salah satu isu masalah di Wilayah Pulau Kalimantan. Seperti yang telah diketahui. Wilayah Pulau Kalimantan memiliki banyak potensi-potensi objek wisata alam yang belum terjelajahi. 5. BAB 2 dialihfungsikan menjadi lahan pertambangan. Terbatasnya aksesbilitas terhadap sarana dan prasarana dasar (energi dan sumber daya air). perkebunan atau pertanian. ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta kesehatan yang belum optimal. Terlebih lagi dengan minimnya kegatan reboisasi dan rehabilitasi lahan sisa tambang. Minimnya akses informasi mengenai objek wisata pun menjadi kendala lain selain rendahnya kualitas dan kuantitas SDM kreatif. Hal ini disebabkan infrastruktur pendukung seperti sarana prasarana transportasi belum memadai yang menyebabkan rendahnya investasi sektor pariwisata di Wilayah Pulau Kalimantan. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 99 . 4. Tingginya presentase jalan dalam kondisi rusak berat dan ringan. berbeda dengan provinsi lainnya. Terbatasnya konektivitas antar wilayah. Ketidakmerataan ini disebabkan oleh adanya distribusi penduduk yang tidak merata.

Infrastruktur transportasi yang kurang memadai dan tidak merata. Tingkat pertumbuhan penduduk di Wilayah Pulau Kalimantan cukup tinggi. Kerusakan hutan juga mengancam keanekaragaman hayati di Wilayah Pulau Kalimantan. Kurang tersedianya lapangan Pekerjaan. 8. Wilayah Pulau Kalimantan memiliki kawasan hutan yang luas. dan menurunnya fungsi sungai sebagai salah satu jaringan transportasi wilayah. Selain itu. jalur sungai tersebut belum digunakan secara optimal. Sarana dan prasarana transportasi sungai masih kurang memadai. degradasi kualitas lingkungan seperti kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS). seperti pertambangan dan perkebunan masih memiliki nilai tambah yang rendah. Di samping transportasi darat. masih belum ditunjang infrastruktur transportasi yang kapasitasnya belum memadai sebagai penunjang kegiatan. praktik pembalakan hutan secara liar juga terjadi untuk pembukaan lahan pertambangan. terutama masyarakat lokal. Sumber daya manusia di Wilayah Pulau Kalimantan juga belum mumpuni secara kualitas. Akan tetapi. akan tetapi laju konversi lahan hutan menjadi perkebunan dan pertanian tergolong tinggi.BAB 2 7.Wilayah Pulau Kalimantan memiliki potensi untuk menggunakan transportasi sungai. Menurunnya daya dukung lingkungan. 9. namun tidak disertai dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Hal tersebut ditunjukkan dengan rendahnya kapasitas jalan (lebar jalan dan kekuatan tekanan jalan) terutama di wilayah menuju daerah pertambangan maupun perkebunan serta belum optimalnya penggunaan kereta api sebagai alat pengangkut khususnya batubara. Kegiatan perekonomian seperti perkebunan dan pertambangan. Dampak konversi lahan adalah terjadinya bencana alam. Sektor-sektor ekonomi. seperti pelabuhan pengumpul atau kapal (perahu) sungai yang dapat digunakan untuk mengangkut barang atau penumpang. 100 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Hal ini dikarenakan rantai industri hulu-hilir menuju industri pengolahan belum optimal yang menyebabkan minimnya lapangan kerja yang berkualitas.

pertanian. Sayangnya. Sulawesi merupakan penghasil nikel (sekitar 500. Di sisi lain. Oleh karena itu diperlukan pengendalian agar urbanisasi tidak berlebihan yang berdampak negatif terhadap kepadatan penduduk dan dampak sosial lainnya 2. Diketahui bahwa produksi perikanan tangkap di Sulawesi adalah 19. BAB 2 D. Mengendalikan arus urbanisasi terutama di kota metropolitan dan kota besar.000 ton). sementara produksi perikanan budidayanya adalah 33% dari total produksi nasional. Sulawesi juga memiliki kawasan perbatasan negara dengan 14 pulau kecil terluar dan 46 pintu gerbang internasional memiliki posisi yang strategis dengan dengan Negara Filipina dan Malaysia. serta deposit aspal yang diperkirakan sekitar 660 juta ton (JICA. dan pariwisatanya. dan kakao dalam skala besar.2% dari total produksi nasional. terutama di luar Jawa Kota kecil dan sedang di Pulau Sulawesi tidak mampu bersaing dengan kota-kota di Jawa. Berikut merupakan isu strategis yang terdapat di Pulau Sulawesi adalah sebagai berikut: 1. Sulawesi juga dikenal sebagai produsen jagung. Makassar dan kota besar di Pulau Sulawesi menjadi magnet yang menarik untuk melakukan urbanisasi. cadangan minyak bumi 51. padahal kota tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi. 2008). Yang pertama adalah kekayaan potensi perikanan.Sulawesi Ada beberapa isu strategis yang menyangkut Pulau Sulawesi.95 MMSTB dan cadangan gas bumi 2. Tingkat pertumbuhan kota di Pulau Sulawesi hanya sebesar 11% dari total pertumbuhan kota di Indonesia. Kurangnya kemampuan masyarakat menyebabkan rendahnya daya saing dan pada Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 101 . Mempercepat pembangunan kota sedang dan kota kecil. Tingginya tingkat kemiskinan. Selain itu Sulawesi juga memiliki akses transportasi lintas pulau yang menghubungkan kawasan budidaya dengan outlet dengan arus peti kemas sangat tinggi. lebih dari 35% prasarana jalannya dalam kondisi rusak.68 TSCF. Dari segi pertambangan. Pulau Sulawesi merupakan kawasan rawan bencana gunung api serta rawan gempa bumi/tsunami. beras. 3. pertambangan.

akhirnya menyebabkan masyarakat tidak mampu menjangkau kebutuhan. dan global. Papua Wilayah Pulau Papua memiliki posisi yang cukup strategis baik itu di koridor nasional. Kurang optimalnya tata kelola pembangunan perkotaan menuju good and clean governance. Peran wilayah Pulau Papua dalam hal energi bagi nasional didasarkan atas potensi dari cadangan pertambangan terutama tembaga. Kota-kota di Manado belum memiliki tata kelola yang baik sehingga belum mampu menyediakan pelayanan prima untuk masyarakat. Wilayah Pulau Papua merupakan lumbung pangan dan energi di Kawasan Timur Indonesia. Sedangkan dalam hal pangan didasarkan pada potensi kelapa sawit. yaitu bahwa industri kelapa sawit (kontribusi MIFE) Pulau Papua menjadi devisa negara terbesar. Di Bitung misalnya. Belum optimalnya pemenuhan kebutuhan prasarana sarana perkotaan. Salah satu bencana yang terjadi pada tahun 2013 adalah banjir bandang yang menyerang di Manado. Beberapa bencana yang sering terjadi perlu diantisipasi dan perlu peningkatan upaya upaya mitigasi bencana dan rekonstruksi pasca bencana. yaitu sebesar 45 % cadangan tembaga nasional. Di pulau Sulawesi terdapat beberapa kota yang masih perlu ditingkatkan penyediaan sarana prasarananya untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu diperlukan usaha preventif dan kuratif dalam membangun kota pasca bencana. indeks penyediaan sarana prasarana belum memadai. Hal ini perlu dilakukan mengingat kebutuhan masyarakat di kota sedang dan kecil di luar pulau Jawa yang sangat tinggi untuk mengembangkan kawasannya. dan potensi tebu lahan untuk produksi tebu 102 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kurang optimalnya penanganan polusi lingkungan dan mitigasi bencana dalam pengelolaan perkotaan. sehingga perlu disediakan 5. Dalam konteks nasional. Salah satu indikator adalah waktu dan mekanisme perijinan yang belum efisien E. Oleh karena itu muncullah kemiskinan masyarakat. regional ASEAN. dalam hal ini di Manado 6. BAB 2 4.

hal yang perlu dipahami adalah isu strategis yang sedang terjadi dan dihadapi oleh masyarakat pulau Papua. Dalam pengembangan wilayah Papua. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat (rata-rata lama sekolah belum mencapai target wajib belajar 9 tahun dan belum semua penduduk usia sekolah dapat bersekolah. Tingginya persentase kemiskinan dan masih sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan mengakibatkan tingginya persentase penduduk miskin di Provinsi Papua Barat adalah 35. Interkonektivitas antar wilayah yang rendah. 3. dan kondisi keamanan yang kurang mendukung selama proses pembangunan infrastruktur. 1. Namun demikian potensi tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pembangunan perekonomian Wilayah Pulau Papua. Rendahnya Kualitas sumber daya manusia. yaitu: pembebasan lahan untuk pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang mahal. Kuatnya peranan masyarakat adat dan hak ulayat. Selain keterbatasan kemampuan dana dari pemerintah daerah untuk pengembangan infrastruktur transportasi terdapat beberapa permasalahan yang seringkali dijumpai.7 % dan Provinsi Papua 37. Program pembangunan jalan arteri terutama untuk menjangkau daerah perdesaan dan/atau daerah terpencil masih sangat terbatas. Kesulitan masyarakat Wilayah Pulau Papua untuk menjangkau dari satu daerah ke daerah lain salah satunya akibat terbatasnya jaringan transportasi antar wilayah. Kurang adanya pelibatan dan pemberdayaan masyarakat adat baik dalam struktur pemerintahan daerah maupun dalam hal pengelolaan potensi sumber daya Wilayah Pulau Papua. Tingginya tingkat kemiskinan. Peran masyarakat adat Wilayah Pulau Papua sangat kuat terutama terkait dengan kesukuan.terluas di luar Jawa. mengingat masyarakat adat Wilayah Pulau Papua sangat menjunjung suku adat masing-masing.5 %. 4. angka rata-rata lama sekolah di Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 103 . masalah kepemilikan tanah terutama terkait hak ulayat. BAB 2 Adapun isu strategis yang terdapat di Pulau Papua adalah sebagai berikut: 2.

budaya dan bahari serta kepariwisataan yang berbasis UKM. berdasarkan potensi sumber daya alam yang dimiliki. sosial kependudukan. mengingat kondisi geografisnya sebagai wilayah kepulauan yang dikelilingi lebih banyak sumber air laut. infrastruktur dan lingkungan.52 tahun dan angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Papua Barat adalah 7. Belum adanya pemetaan potensi sumber daya perikanan dan kelutan. petualangan. 104 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 1. Nusa Tenggara BAB 2 Wilayah Pulau Nusa Tenggara memiliki posisi yang cukup strategis baik itu di koridor nasional maupun global. dalam konteks global. terbatasnya kualitas-kuantitas infrastruktur penunjang dan rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan beberapa faktor penyebab belum berkembangnya komoditas unggulan terutama dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sektor perikanan dan kelautan merupakan komoditas unggulan bagi Wilayah Pulau Nusa Tenggara. Berdasarkan fakta.Isu-isu strategis yang ada di Wilayah Pulau Nusa Tenggara tidak terlepas dari isu mengenai ekonomi. yaitu sebesar 73%. Wilayah Pulau Nusa Tenggara merupakan lahan potensial produksi garam yang luas di Kawasan Timur Indonesia. potensi dan permasalahan yang ada dapat ditarik beberapa isu penting yang ada di Wilayah Pulau Nusa Tenggara.Provinsi Papua adalah 6. di samping itu nilai hasil produksi sektor tersebut masih tergolong rendah. Meskipun demikian. Dalam konteks nasional. kurangnya pemanfaatan teknologi. Rendahnya nilai hasil produksi komoditas unggulan (perikanan dan kelautan) dan kurangnya kontribusi sektor unggulan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Wilayah Pulau Nusa Tenggara dapat menjadi pengekspor perikanan yang terbesar Indonesia. Wilayah Pulau Nusa Tenggara juga diharapkan menjadi destinasi pariwisata tingkat global.67 tahun). Dalam hal ini Wilayah Pulau Nusa Tenggara diharapkan menjadi etalase wisata ekologis. pemanfaatan potensi sumber daya laut dan perikanan belum optimal. F. Tidak hanya dalam koridor nasional saja. rendahnya investasi.

BAB 2 2. ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara terutama masyarakat lokal masih terbatas. aksesibilitas ke kawasan-kawasan potensial pariwisata masih terbatas. mengingat besarnya biaya yang diperlukan untk pengembangan dan pembangunan jaringan transportasi terutama laut untuk menghubungkan pulaupulau kecil dengan pulau-pulau utama. Keterbatasan kemampuan dana dari pemerintah daerah untuk pengembangan infrastruktur transportasi menjadi permasalahan yang seringkali dijumpai. Selain itu. Belum optimalnya pengembangan potensi di sektor pariwisata Terdapat banyak potensi pariwisata di Kepulauan Nusa Tenggara. 4. Sebagian masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara terutama di wilayah perdesaan dan pulau terpencil sulit menjangkau fasilitas pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. fasilitas dasar lain seperti pendidikan dan kesehatan juga masih tergolong memprihatinkan. Jika ditinjau dari ketersediaan prasarana dan sarana dasar seperti listrik dan air bersih. baik keterbatasan ketersediaan maupun keterbatasan jaringan penghubung antara masyarakat dengan prasarana dan sarana tersebut. Kesulitan masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara untuk menjangkau dari satu daerah ke daerah lain salah satunya akibat terbatasnya jaringan transportasi antar wilayah. Program pembangunan jalan arteri terutama untuk menjangkau daerah perdesaan dan/atau daerah terpencil masih sangat terbatas. Kurang optimalnya konektivitas antar wilayah didalam atau diluar Pulau Nusa Tenggara. Kondisi masyarakat di Wilayah Pulau Nusa Tenggara memiliki kesejahteraan yang relatif rendah. kurangnya investasi di sektor pariwisata dan kualitas Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 105 . Sedangkan jika ditinjau dari segi pekerjaan. 3. meskipun demikian pengembangan potensi pariwisata tersebut belum optimal. aksesibilitas masyarakat terhadap prasarana dan sarana tersebut masih sulit terutama di wilayah perdesaan dan pulau terpencil karena berbagai keterbatasan. Berbagai hal yang menjadi penyebab belum optimalnya pengembangan potensi di sektor pariwisata yaitu terkait dengan infrastruktur yang belum memadai. Masih rendahnya kesejahteraan dan daya saing masyarakat. Hal tersebut beberapa diantaranya terkait kualitas sumber daya manusia di Kepulauan Nusa Tenggara yang masih tergolong rendah.

yaitu kerawanan untuk distribusi sumber daya secara ilegal ke negara tetangga. BAB 2 5. mengingat potensi sumber daya alam dan mineral yang cukup tinggi di Kepulauan Nusa Tenggara dengan daya jual yang relative tinggi. Selain itu kegiatan perhutanan juga cukup berperan dalam menurunnya daya dukung lingkungan. Adapun konflik sosial yang terjadi pada umumnya sebagai akibat ketidakmerataan sumber daya ekonomi dan politik bagi masyarakat Nusa Tenggara. terutama terkait bertambahnya lahan-lahan kritis akibat kerusakan lahan dan adanya illegal logging. Kegiatan pertambangan di Wilayah Pulau Nusa Tenggara telah berlangsung selama puluhan tahun. Kurangnya pengamanan di wilayah perbatasan (laut) dan rawan konflik. Konflik sosial yang seringkali terjadi mengurangi rasa aman baik masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang. isu keamanan juga berkaitan dengan kerawanan Kepulauan Nusa Tenggara yang berbatasan negara tetangga. 6. Namun demikian. 7. Kawasan-kawasan potensial pariwisata beberapa diantaranya justru belum dikembangkan akibat belum adanya pemetaan potensi pariwisata secara rinci untuk Wilayah Pulau Nusa Tenggara menjadi penyebab adanya kawasan potensial pariwisata yang belum dikembangkan. Selain itu. Kurangnya pengendalian dari pemerintah 106 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Menurunnya daya dukung lingkungan. Masalah keamanan Wilayah Pulau Nusa Tenggara merupakan salah satu isu yang paling disoroti. terutama kegiatan pertambangan. hal tersebut tidak membuat masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara (terutama lokal) berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya karena pengelolaan potensi tambang lebih didominasi oleh pihak-pihak di luar Kepulauan Nusa Tenggara ditambah peluang lapangan kerja di sektor pengolahan pertambangan juga sangat terbatas bagi masyarakat lokal. Daya dukung lingkungan di Kepulauan Nusa Tenggara semakin menurun akibat kegiatan ekonomi masyarakat. serta kerawanan akibat adanya potensi klaim oleh negara tetangga atas pulau Nusa Tenggara. Belum optimalnya penyerapan tenaga kerja pada sektor pertambangan dan penggalian (emas).sumber daya manusia yang kurang mumpuni untuk mengembangkan sektor ini.

kurangnya investasi di sektor pariwisata dan kualitas sumber daya manusia yang kurang mumpuni untuk mengembangkan sektor ini. aksesibilitas ke kawasan-kawasan potensial pariwisata masih terbatas. Belum meratanya tingkat kesejahteraan masyarakat. Berbagai hal yang menjadi penyebab belum optimalnya pengembangan potensi di sektor pariwisata yaitu terkait dengan infrastruktur yang belum memadai. meskipun demikian pengembangan potensi pariwisata tersebut belum optimal. Pengembangan wilayah di Pulau Maluku masih tergolong rendah. Kondisi masyarakat di Wilayah Pulau Maluku memiliki kesejahteraan yang Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 107 . dan sekaligus membangun keterkaitan antarwilayah pulau dalam satu kesatuan tata ruang wilayah pulau dan laut. 1. 2. potensi sumber daya perikanan laut yang sangat besar belum dikelola secara optimal. BAB 2 G. Kawasan-kawasan potensial pariwisata beberapa diantaranya justru belum dikembangkan akibat belum adanya pemetaan potensi pariwisata secara rinci untuk Wilayah Pulau Maluku menjadi penyebab adanya kawasan potensial pariwisata yang belum dikembangkan.terhadap kegiatan eksploitasi sumber daya alam di Kepulauan Nusa Tenggara juga menyumbang semakin menurunnya daya dukung lingkungan Wilayah Pulau Nusa Tenggara. Tantangan terbesar adalah memberikan perhatian yang sama terhadap seluruh wilayah pulau. apalagi jika dilihat dari kondisi infrastruktur yang masih sangat terbatas baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Terdapat banyak potensi pariwisata di Kepulauan Maluku. Belum optimalnya pengembangan potensi di sektor pariwisata. merupakan salah satu wilayah kepulauan di Indonesia yang memiliki potensi pengembangan yang sangat besar berbasis sumber daya alam terutama perikanan dan wisata bahari. Maluku Wilayah Pulau Maluku. hutan dan perkebunan juga cukup besar sehingga masih ada peluang pengelolaan sumber daya tersebut untuk pengembangan ekonomi wilayah. Meskipun demikian. Wilayah Pulau Maluku memiliki permasalahan yang sangat kompleks terutama sebagai akibat ketertinggalan dan keterisoliran. Potensi sumber daya lahan.

BAB 2

relatif rendah. Jika ditinjau dari ketersediaan prasarana dan
sarana dasar seperti listrik dan air bersih, aksesibilitas masyarakat
terhadap prasarana dan sarana tersebut masih sulit. Sebagian
masyarakat Kepulauan Maluku terutama di wilayah perdesaan
dan pulaupulau terpencil sulit menjangkau fasilitas pendidikan dan
kesehatan yang berkualitas. Sedangkan jika ditinjau dari segi
pekerjaan, ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas bagi
masyarakat Kepulauan Maluku terutama masyarakat lokal masih
terbatas. Hal tersebut beberapa diantaranya terkait kualitas
sumber daya manusia di Kepulauan Maluku yang masih tergolong
rendah.
3. Kurang optimalnya konektivitas antar wilayah. Kesulitan
masyarakat Kepulauan Maluku untuk menjangkau dari satu
daerah ke daerah lain salah satunya akibat terbatasnya jaringan
transportasi antar wilayah. Program pembangunan jalan arteri
terutama untuk menjangkau daerah perdesaan dan/atau daerah
terpencil masih sangat terbatas. Keterbatasan kemampuan dana
dari pemerintah daerah untuk pengembangan infrastruktur
transportasi menjadi permasalahan yang seringkali dijumpai,
mengingat besarnya biaya yang diperlukan untk pengembangan
dan pembangunan jaringan transportasi terutama laut untuk
menghubungkan pulau-pulau kecil dengan pulau-pulau utama.
4. Kurangnya pengamanan di wilayah perbatasan (laut) dan
rawan konflik. Masalah keamanan Wilayah Pulau Maluku
merupakan salah satu isu yang paling disoroti. Konflik sosial yang
seringkali terjadi mengurangi rasa aman baik masyarakat lokal
maupun masyarakat pendatang. Adapun konflik sosial yang terjadi
pada umumnya sebagai akibat ketidakmerataan sumber daya
ekonomi dan politik bagi masyarakat Maluku. Selain itu, isu
keamanan juga berkaitan dengan kerawanan Kepulauan Maluku
yang berbatasan negara tetangga, yaitu kerawanan untuk
distribusi sumber daya secara ilegal ke negara tetangga, serta
kerawanan akibat adanya potensi klaim oleh negara tetangga atas
pulau Maluku.

108

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

No
1

2

3

4
5

6
7
8
9
10

11

12

13

Isu Strategis Pembangunan Perkotaan Wilayah Pulau
Besar dan Kota-kota Stratgeis

Isu Strategis
Tingkat
urbanisasi yang
tinggi
Ketertinggalan
kondisi
Infrastruktur dan
fasilitas publik
Tingginya tingkat
kesenjangan
antar
wilayah
dalam 1 pulau
Rendahnya
tingkat investasi
Tingginya
Tingkat Rawan
Bencana
Rendahnya
Kesejahteraan
Penduduk
Rendahnya
kualitas SDM
Tingginya tingkat
kemiskinan
Rendahnya
Konektivitas
Rendahnya
Daya
Dukung
Lingkungan
Belum
optimalnya
pengembangan
kegiatan industri
inovatif
yang
berbasis
teknologi
dan
berbasis potensi
lokal
Belum
optimalnya
pengembangan
potensi
pusat
perdagangan
Belum
optimalnya
sektor pariwisata

Pulau
Sumatera

JawaBali

V

V

V

V

Kalimantan

Sulawesi

Maluku

NTT

Papua

V

V

BAB 2

Tabel 2. 8

V

V

V

V
V

V

V

V

V

V

V

V

V
V

V
V

V

V
V

V

V

V

V

V

V

V

V

V

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

109

No

Isu Strategis

Pulau
Sumatera

BAB 2

dan
ekonomi
kreatif
Belum
memadainya
14
kualitas tenaga
kerja berkeahlian
Tingginya tingkat
15
pengangguran
Meningkatkan
tata
kelola
pembangunan
16 perkotaan
menuju
good
and
clean
governancev
Kuatnya
peranan
17
masyarakat adat
dan hak ulayat
Kurangnya
pengamanan di
wilayah
18
perbatasan (laut)
dan
rawan
konflik
Sumber: Hasil Analisis, 2013

2.5

JawaBali

Kalimantan

Sulawesi

Maluku

NTT

Papua

V

V

V

V

V

V

Tantangan Pembangunan Perkotaan

Perkotaan di Indonesia menghadapi berbagai isu permasalahan internal
akibat perkembangan yang cepat dari urbanisasi namun belum didukung
dengan pengelolaan perkotaan yang baik. Selain isu permasalahan
internal, perkotaan juga dihadapkan pada tantangan dari luar yang
meliputi persaingan global, desentralisasi dan demokratisasi dan bencana
serta perubahan iklim. Tantangan perkotaan perlu menjadi perhatian
serius dalam pengelolaan perkotaan agar tidak menjadi permasalahan
yang dapat melemahkan kondisi perkotaan di masa yang akan datang.

2.5.1 Urbanisasi
Urbanisasi menjadi tantangan utama yang dihadapi kota dan kawasan
perkotaan. Semakin bertambahnya penduduk yang mengakibatkan
semakin bertambah pula kegiatan di kota dan kawasan perkotaan
seharusnya memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi.

110

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Ruang kota dan kawasan perkotaan yang semakin padat;
2. Penurunan kualitas lingkungan; dan
3. Permasalahan sosial.

BAB 2

Namun yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya, dimana urbanisasi
menjadi beban yang semakin bertambah dari tahun ke tahun dan
memberi dambak negatif bagi keberlanjutan kehidupan di kota dan
kawasan perkotaan. Pemusatan penduduk di kota dan kawasan
perkotaan tertentu memberi kesenjangan taraf kehidupan antar kota dan
kawasan perkotaan juga antara kota dan desa. Tantangan yang akan
dihadapi dari terus berkembangnya urbanisasi antara lain:

Urbanisasi memang tidak dapat dicegah, namun dapat dikendalikan
dengan berbagai strategi pembangunan perkotaan dan juga perdesaan.
Untuk menjawab tantangan utamadi kota dan kawasan perkotaan
tersebut perlu dilakukan antara lain:
1. Mengendalikan laju urbanisasi melalui pembangunan yang merata
dan terpadu di berbagai wilayah di Indonesia;
2. Menjadikan perkembangan jumlah penduduk sebagai potensi
untuk mengembangkan kegiatan perekonomian di kota dan
kawasan perkotaan; dan
3. Memperkuat ketahanan kota di berbagai bidang untuk
mengendalikan dampak buruk yang ditimbulkan oleh urbanisasi.

2.5.2 Persaingan Global
Negara-negara di dunia terus bersaing untuk meningkatkan taraf
kehidupannya di berbagai bidang antara lain ekonomi, teknologi, sosial
dan lingkungan. Persaingan global secara langsung mempengaruhi
perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi sebuah negara, dimana
globalisasi menuntut agar setiap negara dapat mewujudkan kotayang
mampu berperan sebagai tempat beraktivitas yang kompetitif dan bertaraf
internasional.

Tantangan dalam persaingan global yang dihadapi kawasan perkotaan
antara lain persaingan ekonomi yang meliputi pelayanan jasa dan
perdagangan yang berskala internasional yang perlu didukung dengan
kualitas, prasarana dan sarana, simpul transportasi dan distribusi yang

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

111

baik, juga persaingan sosial dan lingkungan yang menuntut peran aktif
perkotaan dalam kegiatan internasional.

BAB 2

Persaingan global menuntut kota agar mampu berperan sebagai tempat
beraktivitas yang kompetitif dan bertaraf internasional, yaitu kota yang :
a. Mampu berpartisipasi aktif dan menjadi bagian dalam kegiatan
internasional;
b. Mampu menjadi simpul transporasi dan distribusi internasional;
c. Mampu mengembangkan diri menjadi pusat investasi, jasa,
perdagangan, budaya dan komunitas berskala internasional.

2.5.3 Desentralisasi dan Demokratisasi
Pelaksanaan pembangunan perkotaan saat ini dilakukan dengan sistem
desentralisasi sebagai konsekuensi dari otonomi daerah dan juga
menerapkan demokratisasi dalam menetapkan wujud dan arah
pembangunan yang juga melibatkan rakyat. Desentralisasi yang berarti
penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah untuk mengurus urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan
kondisi dan potensi daerahnya masing-masing,diharapkan akan memberi
dampak positif pada pembangunan daerah-daerah tertinggal agar mandiri
dan dapat memajukan pembangunan nasional. Namun dalam
pelaksanaannya, desentralisasi tidak dapat berjalan secara ideal
khususnya desentralisasi fiskal yang merupakan tantangan dalam
manejemen ekonomi makro Indonesia. Desentralisasi yang tidak optimal
ini berpengaruh terhadap efektifitas kebijakan di kawasan perkotaan yang
akibatnya dirasakan pada program-program yang tidak terlaksana sesuai
rencana.
Berbagai tantangan yang akan dihadapi perkotaan dengan adanya
desentralisasi dan demokrasi tata pemerintahan yang tidak optimal antara
lain:
a. Perbedaan orientasi kebijakan ekonomi antara pemerintah pusat
dan daerah;
b. Kewenangan pemerintah yang penuh terhadap daerahnya
membuat kota tumbuh secara sendiri-sendiri tanpa ada
keterikatan satu kota dengan lainnya sehingga menyebabkan
ketimpangan;

112

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut maka hal yang perlu
dilakukan antara lain:
a. Meningkatkan kapasitas teknis dan keuangan daerah, terutama
pada kota-kota yang diarahkan untuk menjadi pusat
pertumbuhan wilayah;
b. Memperkuat kerjasama antar kota maupun antar kota dengan
daerah di sekitarnya; dan
c. Meningkatkan peran pemerintah provinsi sebagai wakil
pemerintah pusat dalam mendorong pembangunan perkotaan.

2.6

BAB 2

c. Pemekaran wilayah yang tidak terkendali tanpa disertai
efektifitas dan efisiensi pembangunan untuk kesejahteraan
masyarakat; dan
d. Pelaksanaan program yang tidak terlaksana dengan baik akibat
struktur pemerintahan yang berubah-ubah.

Potensi Pengembangan Perkotaan

Pembangunan kota dan kawasan perkotaan perlu memperhatikan
potensi-potensi yang dimiliki oleh kota dan kawasan sekitarnya dalam
menunjang terlaksananya pembangunan yang diinginkan. Indonesia
memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam yang sangat
berlimpah, antara lain:
a. Panjang garis pantai yang merupakan terpanjang ke-2 di dunia
(81.000 km);
b. Pulau terbanyak di dunia dengan 17.504 pulau (luas daratan :
1.826.440 km2; dan luas perairan : 93.000 km2); dan
c. Keanekaragaman hayati atau Megadiverse Country (Balai Kliring
Keanekaragaman Hayati Nasional, Kementerian Lingkungan
Hidup).
Sumber daya alam ini merupakan potensi dalam pengembangan
perkotaan, karena selain dapat dipergunakan sendiri, sumber daya alam
ini dapat diekspor. Selain itu, sumber daya alam juga dapat menjadi ciri
khas suatu kotauntuk meningkatkan daya saingnya.
Potensi pengembangan kota dan kawasan perkotaan lainnya adalah
kekayaan dan keanekaragaman budaya.Potensi ini dapat dikembangkan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

113

sebagai komoditas pariwisata. Beragam kebudayaan yang tersebar di
Indonesia memiliki daya tarik khusus bagi wisatawan khususnya
wisatawan mancanegaradan menjadi ciri khas yang akan menjadi citra
atau keunikan kota tersebut untuk meningkatkan daya saingnya terhadap
kota-kota lain.

BAB 2

Letak geografis sebuah kota pun dapat menjadi potensi pengembangan
perkotaan.Letak geografis yang strategis dapat menguntungkan dalam
hal mobilitas perdagangan dan distribusi komoditas. Kota dengan letak
yang strategis pada jalur lintas perdagangan menjadi kekuatan utama
dalam pelayanan perdagangan.

2.7

Peluang Pengembangan Perkotaan

Potensi-potensi yang terdapat pada berbagai kota di Indonesia
memberikan peluang dalam melaksanakan pengembangan perkotaan.
Peluang dalam pengembangan perkotaan dapat berupa kerjasama antar
daerah, baik dalam lingkup nasional maupun global. Dengan kerjasama,
maka potensi-potensi yang ada dapat dikelola menjadi lebih efektif,
efisien dan saling memberi keuntungan antara satu daerah dengan
lainnya.
Era desentralisasi mendorong adanya kerjasama antar daerah,
khususnya perkotaan, agar konflik lintas wilayah berubah menjadi potensi
yang saling menguntungkan.Kerjasama dalam pengembangan perkotaan
antara lainterkait penyelenggaraan pelayanan publik, penyediaan
prasarana-sarana, pariwisata, perdagangan, keamanan di kawasan
perbatasan, penanggulangan bencana dan laiinya.
Berbagai bentuk kerjasama sudah berkembang di beberapa kota di
Indonesia. Salah satu kerjasama di lingkup nasional adalah kerjasama
dalam mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Beberapa kota saling bekerja
sama dalam mengembangkan potensi wilayahnya, sebagai contoh Kota
Pati yang menggalang kerja sam dengan Semarang dalam bidang
pendidikan. Selain lingkup nasional, MP3EI juga mendorong kerjasama
tingkat global, misalnya dengan Jepang, kerjasama difokuskan dalam hal
ekonomi, transportasi, infrastruktur dan industri kreatif. Kerjasama tingkat
global lain dalam perkembangan kota adalah penerapan sistem kota

114

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

Setiap negara akan dipacu lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan sektor-sektor ekonomi dan industri yang mampu berdaya saing. Asean Economic Community (AEC) pada tahun 2015 yang menajadikan negara-negara Asean sebagai sebuah komunitas ekonomi. IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle).BAB 2 kembar (sister city). Kota kembar merupakan konsep kerjasama dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik untuk peningkatan perekonomian. Asean Economic Community (AEC) merupakan sebuah tantangan juga peluang untuk memperluas pasar bagi produk industrinasional. Pertukaran pelajar antar kota serta pembangunan prasarana dan sarana sangat menguntungkan bagi perkembangan kota Bandung. Indonesia yang merupakan bagian dari kawasan Asia Tenggara akan menghadapi sebuah perubahan besar dalam rangka peningkatan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara. seperti IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle). bidang ekonomi. Seperti contohnya hubungan kota kembar antara Kota Bandung dan Kota Suwon (Korea Selatan) yang dirintis pada 1997 dalam meningkatkan bidang pendidikan. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 115 . BIMP-EAGA (Brunei-Indonesia-Malaysia-Philipines EA Growth Area) dapat dikembangkan secara lebih proaktif untuk membangun kerjasama antar kota antar wilayah. Kerjasama ekonomi sub regional. mempromosikan kebudayaan dan menjalin kerjasama di berbagai bidang secara lebih erat. Persaingan khususnya di bidang perekonomian akan memberi dampak yang besar bagi kehidupan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu. bidang seni budaya dan bidang pariwisata.

BAB 3 116 116 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Nasional .

dan SASARAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN NASIONAL 117 117 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .BAB 3 VISI. MISI.

serta tempat perputaran uang yang bergerak dengan cepat dan dalam volume yang tinggi. 1989). ekonomi. sumber inovasi dan kreasi.Visi.2002). Ketiga. Keempat. pendekatan ekonomis memandang kota sebagai pusat peningkatan produktivitas dan produksi barang dan jasa. Kedua. Perkembangan kota secara historis dipandang sebagai penyebab dan solusi untuk perbaikan sosial. dan utilitas yang memadai. pusat kebudayaan. dalam perkembangannya. dan sosial relatif lebih tinggi dibandingkan kawasan non-perkotaan. Urbanisasi menjadi tidak terkendali ketika peningkatan kepadatan dan kompleksitas aktivitas penduduk di kota yang tidak diimbangi dengan penyediaan prasarana. lambang peradaban kehidupan manusia. Berbagai definisi tentang kota diklasifikan kedalam 4 (empat) kelompok menurut peran dan fungsi kota (Brundtland. pendekatan fisik memandang kota sebagai pusat dan sistem berbagai prasarana dan sarana yang menunjang kehidupan dan kreativitas warganya. Pertama. pendekatan geografis-demografis memandang kota sebagai lokasi pemusatan penduduk yang tinggal bersama dalam ruang wilayah tertentu dengan pola hubungan yang rasional dan cenderung individualistik berdasarkan ciri demografis penduduk yang memiliki status pendidikan. serta wahana untuk peningkatan kualitas hidup. Misi dan Sasaran Pembangunan Perkotaan Nasional 3. Namun. kota mengalami perubahan lingkungan yang sebagian besar dipengaruhi oleh urbanisasi. ekonomi.1 Konsepsi Dasar Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 3 Konsepsi pembangunan perkotaan nasional dilandasi oleh pengertian kota dan kawasan perkotaan yang telah ada. pertemuan lalu-lintas perdagangan dan kegiatan industri. politik dan budaya (McCarthy. Kondisi tersebut mengakibatkan kota menjadi tempat yang kurang layak untuk 118 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . sarana. pendekatan sosiologis-antropologis memandang kota sebagai pemusatan penduduk dengan latar belakang yang heterogen.

serta pengembangan kelembagaan lokal dan pendekatan partisipatif (inclusive ownership). dan kerentanan terhadap berbagai bencana alam dan perubahan iklim. kota yang hijau untuk kenyamanan dan mengantisipasi degradasi lingkungan. bencana alam dan perubahan iklim dan kota yang berdaya saing untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonominya. transformasi sistem pemerintahan dan kelembagaan. Asia 2050 telah mengagendakan beberapa tantangan yang dapat ditangani hingga 2050 dalam rangka perkembangan ekonomi yang pesat dan fenomena urbanisasi di kota – kota Asia. masyarakat kota membutuhkan kota yang layak huni untuk tempat bermukim. Pembangunan kota yang berkelanjutan kemudian menjadi solusi dimana. mendorong pertumbuhan dan efisiensi ekonomi. tanpa mengurangi peluang generasi yang akan datang untuk menikmati kondisi yang sama. pembangunan perkotaan berkelanjutan merupakan upaya untuk mengintegrasikan secara sinergis dari tiga kepentingan utama dalam pembangunan perkotaan yang meliputi keadilan sosial. terjadinya degradasi lingkungan.Agenda 21 dari UN Habitat telah menggalang komitmen negara-negara didunia untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan di perkotaan dengan mengedepankan penyediaan infrastruktur lingkungan yang terintegrasi. jaminan keamanan hidup. aksi nyata perubahan iklim. sebuah kota sebagai entitas sosial. Menurut Haughton and Hunter (1994) menekankan 3 (tiga) prinsip dasar pembangunan kota berkelanjutan. pengembangan lingkungan yang berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan. kurang optimalnya pertumbuhan ekonomi kota. pembangunan SDM dan perlindungan kesehatan perkotaan. Penanganan tersebut meliputi inovasi dalam transformasi keuangan. pengurangan intensitas penggunaan energi. pengembangan kewirausahaan dan inovasi dalam bidang ekonomi. dan perlindungan terhadap kelestarian lingkungan. Secara konseptual. dan kerjasama antar wilayah. sebagai berikut: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 119 . peran penting teknologi informasi dan komunikasi. Dengan kondisi ini. Melalui Reallizing The Asia Century. entitas spasial dan keseimbangan antara masa kini dan masa depan merupakan faktor penting untuk menjamin adanya keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia. BAB 3 digunakan sebagai tempat hunian dan berpengaruh pada menurunnya daya saing kota.

tanggap adaptasi dan mitigasi bencana. Menurut Economist Intelligence Unit (EIU). prasarana dan sarana perkotaan. Menurut Evan (2002). lingkungan terbangun. tidak hanya terfokus kepada perwujudan fisik. serta menjaga sumber daya energi untuk masa depan dan ketiga adalah kota yang cerdas dan berdaya saing sehingga mampu mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan inovasi di bidang ekonomi dan keuangan. Pembangunan Kota Layak Huni dan menjamin kenyamanan dan keamanan untuk semua warga masyarakat. kota layak huni merupakan gambaran sebuah lingkungan dan suasana kota yang nyaman dan aman sebagai tempat tinggal dan sekaligus sebagai tempat beraktifitas masyarakat yang dilihat dari berbagai aspek. Prinsip keadilan sosial (social justice) dalam kesenjangan akses dan distribusi sumberdaya alam secara intragenerasi untuk mengurangi kemiskinan yang dianggap sebagai faktor degradasi lingkungan. tetapi juga non fisik. BAB 3 Konteks pembangunan kota berkelanjutan di Indonesia diimplementasikan dalam 3 (tiga) bentuk perwujudan antara lain pertama adalah kota yang layak sebagai tempat bermukim dan menjamin keamanan hidup bagi masyarakat kota. Prinsip kesetaraan antar generasi (intergeneration equity) yang menjadi asas pembangunan berkelanjutan dengan orientasi masa mendatang. terdapat 5 (lima) aspek yang merupakan tolok ukur Kota Layak Huni yaitu: 120 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . maupun aspek non-fisik. 1997). Dengan demikian. baik aspek fisik. kedua adalah kota hijau sehingga mampu menjaga sistem lingkungan alami. Kota layak huni (liveable city) merupakan kota yang dapat menampung seluruh kegiatan masyarakat kota dan aman bagi seluruh masyarakat (Hahlweg. konsep kota layak huni digunakan untuk mewujudkan gagasan pembangunan kota sebagai peningkatan dalam kualitas hidup masyarakat yang membutuhkan infrastruktur fisik dan habitat sosial. 3. seperti struktur ruang. perubahan iklim. lingkungan sosial yang sudah ada. Prinsip tanggung-jawab (transfrontier) yang menjamin pergeseran geografis dampak lingkungan yang minimal dengan upaya-upaya kompensasi. seperti hubungan sosial dan aktivitas ekonomi didalamnya.1. 2.

Pendidikan (akses dan kualitas pendidikan) 5. 1 Posisi Kota Jakarta terhadap Kota Lain di Asia dalam Indeks Kota Layak Huni di Dunia BAB 3 1. Budaya dan Lingkungan (tingkat korupsi dan pengawasan sosial. China 102 Bangkok. Jepang 18 Tokyo. Melalui konsep kota hijau. berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dilihat dari aspek lingkungan. dimana Jakarta menempati peringkat ke-119.Kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia. makanan. Hong Kong 52 Singapore. sosial dan ekonomi secara seimbang. Filipina 119 Jakarta. air. Infrastruktur (kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana pendukung kehidupan perkotaan) Most Livable City Index 2012 – Economist Intelligence Unit (EIU) Peringkat Kota. diharapkan dapat mewujudkan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 121 . dan polusi udara (emisi CO2. mengurangi limbah. China 78 Kuala Lumpur. Stabilitas (tingkat keamanan) 2. Kesehatan (akses dan kualitas kesehatan) 3. Kuala Lumpur dan Bangkok. Singapore 72 Beijing. dan mensinergikan lingkungan alami dan buatan. Tabel 3. Malaysia 79 Shanghai. Vietnam 124 Ho Chi Minh City. Hal ini terlihat dari penilaian yang dilakukan Economist Intelligence Unit (EIU). Indonesia 122 Hanoi. polusi air. gas metan). (EIU) Pembangunan kota hijau (green city) pada dasarnya adalah menjaga dan menambah asupan kota seperti energi. serta mengurangi keluaran kota seperti polusi suhu. Pembangunan Kota Hijau memanfaatkan secara efektif dan efisien sumberdaya air dan energi. dinilai masih rendah dalam perwujudan Kota Layak Huni. Jepang 31 Hong Kong. menjamin kesehatan lingkungan. jauh dibawah negara Asia Timur dan bahkan dibawah Singapura. Vietnam Sumber: Most Livable City Index 2012. menerapkan sistem transportasi terpadu. Thailand 105 Manila. Negara 12 Osaka. juga fasilitas rekreasi sebagai bentuk perwujudan lingkungan yang nyaman) 4.

kawasan perkotaan yang secara struktural memiliki kelayakan sebagai
kawasan hunian.Penerapan Kota Hijau dapat dilakukan melalui 6 (enam)
atribut, yaitu:

BAB 3

1. Green Openspace
Taman dan ruang terbuka hijau adalah elemen penting untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan dan sebagai
kontributor terhadap kebelanjutan kota-kota. Penghijauan perkotaan
menjadi salah satu pendekatan mitigasi untuk mengantisipasi
dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia (Bowler,
2010)
2. Green Waste
Usaha untuk melaksanakan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R)
yaitu mengurangi sampah/limbah, mengembangkan proses daur
ulang dan meningkatkan nilai tambah, adalah untuk mengurangi
pencemaran dan polusi terhadap lingkungan.
3. Green Transportation
Pengembangan sistem transportasi yang berkelanjutan dan ramah
lingkungan, misal : transportasi publik, jalur sepeda, dsb, adalah
merupakan sebuah sistem transportasi yang dibuat untuk
menurunkan tingkat polusi kota yang disebabkan oleh penggunaan
kendaraan bermotor.
4. Green Water
Pemanfaatan sumber daya air secara efisien, juga melakukan
proses untuk mengurangi polusi terhadap kondisi air di lingkungan
kota.
5. Green Energy
Pemanfaatan energi dengan seminimal mungkin, juga dengan
menggunakan alternatif energi yang ramah lingkungan, serta
kontribusi kota terhadap persediaan energinya sendiri, antara lain
dengan menggunakan panel surya, biogas, atau pembangkit listrik
ramah lingkungan lainnya.
6. Green Building (bangunan hemat energi)
Green building adalah bangunan yang dalam penggunaannya
memperhatikan pemanfaatan sumber daya alam. Hal tersebut
berarti mengakibatkan intervensi seminimal mungkin terhadap
lingkungan (Bauer, Mosle, Schwarz, 2007).
Berdasarkan Asian Green City Index 2011 – Economist Intelligence Unit
(EIU), dalam perwujudan Kota Hijau, kota Jakarta menduduki peringkat

122

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

rata-rata (average) yaitu peringkat ke-11 (sebelas) dibawah kota-kota di
negara-negara Asia Timur. Kategori yang dinilai dalam perwujudan Kota
Hijau ini meliputi energi dan CO2, transportasi, kualitas udara, kualitas
air, pemanfaatan guna lahan, limbah, sanitasi dan lingkungan
pemerintahan.
Tabel 3. 2 Posisi Kota Jakarta dalam Indeks Kota Hijau di Asia
Asian Green City Index 2011 – Economist Intelligence Unit (EIU)
Penilaian
Well above average

Above average

BAB 3

Perin
Kota
gkat
1
Singapore
2
Hong Kong
3
Osaka
4
Seoul
5
Taipei
6
Tokyo
7
Yokohama
8
Bangkok
9
Beijing
10
Delhi
11
Jakarta
12
Kuala Lumpur
13
Shanghai
14
Hanoi
15
Kolkata
16
Manila
17
Karachi
Sumber: Asian Green City Index 2011, (EIU)

Average

Below average
Well below average

Di era globalisasi seperti saat ini, menjadi kota yang layak huni atau
hanya kota hijau di masa depan belum mencerminkan bahwa kota-kota di
Indonesia akan mampu bersaing dengan kota-kota lainnya di negara
maju. Global Competitiveness Index yang dikeluarkan oleh World
Economic Forum (2012), menunjukkan daya saing Indonesia yang masih
berada di peringkat 46 dari 142 negara. Sebagaimana dilihat pada Tabel
3.3, diantara negara-negara anggota ASEAN, Indonesia berada masih
jauh dibawah Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand, dan hanya
diatas Vietnam, Filipina, dan Kamboja. Untuk mengoptimalkan potensi
dan pertumbuhan ekonomi, maka kota harus mampu bersaing baik dalam
lingkup regional, nasional maupun global yang mencakup berbagai
bidang seperti perdagangan, industri, pelayanan jasa, teknologi dan lainlain. Kota dituntut untuk menjadi lebih cerdas, lebih efisien (smart city)

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

123

serta mampu meningkatkan daya saingnya melalui inovasi secara terus
menerus dengan dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Tabel 3.3

BAB 3

Negara
Singapura
Malaysia
Brunei
Thailand
Indonesia
Vietnam
Filipina
Kamboja

2006-2007
8
19
n/a
28
54
64
75
106

2007-2008
7
21
n/a
28
54
68
71
110

2008-2009
5
21
39
34
54
70
71
109

2009-2010
3
24
32
36
54
75
87
110

2010-2011
3
26
28
38
44
59
85
109

2011-2012
2
21
28
39
46
65
75
97

Sumber: World Economic Forum, 2012

Konsep Smart City telah banyak dituangkan di dalam konsep
pembangunan perkotaan. Kota cerdas dan berdaya saing (smart city)
merupakan salah satu konsep pembangunan perkotaan yang
pengelolaannya memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi
untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang ada dan
meningkatkan pelayanan kota secara lebih efisien dan efektif, serta
meningkatkan kapasitas daya saing kota. Perwujudan konsep smart city di
wilayah Asia, telah dikembangkan secara masif di Cina, melalui pilot proyek di
90 (sembilan puluh) kota, diantaranya : Shanghai, Wuhan, dan Nanjing.
Meskipun titik awal pengembangan smart city berangkat dari penyiapan
dan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi, namun kota juga
dituntut untuk terbuka terhadap perkembangan inovasi dan kreativitas
masyarakatnya. Smart City juga diarahkan kepada peningkatan edukasi
terhadap masyarakat, kehidupan sosial/budaya, dan kelestarian
hubungan antara ekonomi dan lingkungan dalam rangka mendorong
pertumbuhan kota. Dengan demikian perwujudan konsep Smart City
meliputi 6 (enam) dimensi, yaitu:
1.

124

Peringkat Daya Saing Indonesia dan Negara ASEAN di
Tingkat Global

Smart Living
Merupakan
kenyamanan
hidup
dengan
kemudahan
memperoleh berbagai informasi dan mendapatkan berbagai
kebutuhan dengan mudah dan cepat, dengan ditunjang oleh
teknologi informasi dan komunikasi.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3.

4.

5.

6.

Smart Environment
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam
manajemen sumber daya alam dan lingkungan.
Smart Economy
Kapasitas SDM untuk inovasi, kreasi, dan kewirausahaan yang
ditunjang dengan adanya teknologi informasi komunikasi.
Smart People
Masyarakat paham terhadap teknologi informasi komunikasi,
yang dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja, pendapatan
masyarakat.
Smart Governance
Jaringan komunikasi pemerintah-masyarakat, swasta berbasis
teknologi informasi komunikasi untuk mempermudah kerjasama
antar pelaku pembangunan, serta kerjasama antar daerah
Smart Mobility
Kemudahan akses informasi nasional dan sistem transportasi
inovatif yang terintegrasi oleh adanya teknologi informasi
komunikasi.

BAB 3

2.

.

3.2

Prinsip Dasar

Berdasarkan uraian konsepsi dasar di atas, maka pembangunan
perkotaan Indonesia dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip,
sebagai berikut :
1. Kemandirian. Dengan adanya kebijakan otonomi daerah, maka
perwujudan kota masa depan dilaksanakan untuk membangun
identitas, peradaban, dan kemampuan kota dalam memenuhi
kebutuhan penduduknya berdasarkan karakter fisik, keunggulan
ekonomi, dan budaya lokal.
2. Bertahap dan Terukur. Perwujudan kota masa depan
dilaksanakan secara terencana dan bertahap dengan sasaran
yang terukur dan mengacu pada indikator pencapaian yang telah
disusun.
3. Kesetaraan dan keadilan. Perwujudan kota masa depan
dilaksanakan
secara
inklusif
dengan
mengutamakan
keseimbangan hak dan kewajiban dari seluruh masyarakat
Indonesia dan dilaksanakan di setiap tipologi kota.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

125

BAB 3

4. Partisipatif. Perwujudan kota masa depan dilaksanakan dengan
melibatkan dunia usaha, organisasi/lembaga non pemerintah, dan
masyarakat secara keseluruhan.
5. Kolaborasi dan Sinergi. Dalam perwujudan kota masa depan
diperlukan pembagian peran dan fungsi serta koordinasi yang baik
antar tingkatan pemerintah dan antar sektor.
6. Tata kelola yang baik. Perwujudan kota masa depan
dilaksanakan dengan dukungan pemerintahan yang transparan
dan akuntabel serta kepemimpinan yang inovatif dan visioner.
7. Keberlanjutan. Perwujudan kota masa depan dilaksanakan
dengan memperhatikan keselamatan dan keseimbangan antara
pembangunan ekonomi dengan daya dukung dan kapasitas
sosial, lingkungan dan kelestarian sumberdaya alam, serta
lingkungan sosial dan kapasitas SDM perkotaan.
Terwujudnya kota berkelanjutan dengan prinsip – prinsip dasar
pembangunan perkotaan tersebut, hanya dapat terwujud, dengan
perubahan pola pikir (mind set) dari seluruh pelaku pembangunan kota.
Perubahan pola pikir (mind set) akan menjadi dasar untuk perubahan
kultur masyarakat, dan juga menjadi dasar dalam proses pembangunan
menuju kota masa depan Indonesia.
3.3

Visi dan Misi

Kota di Indonesia perlu dibangun secara berkelanjutan dimana kawasan
perkotaan yang didesain, dibangun, dan dikelola untuk memenuhi
kebutuhan warga kota dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, tanpa
mengancam keberlanjutan sistem lingkungan alami, lingkungan
terbangun, dan lingkungan sosial.
Namun demikian, memperhatikan karakter dan potensinya, Indonesia
perlu membangun identitas perkotaan berbasis karakteristik fisik,
keunggulan ekonomi dan budaya lokal. Karakter geografis serta isu
urbanisasi yang menimbulkan kesenjangan antar kota maka Indonesia
perlu membangun keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota
dalam sistem perkotaan nasional berbasis kewilayahan.
Dengan mempertimbangkan berbagai isu strategis, peluang dan
tantangan, serta konsepsi dasar yang telah diuraikan sebelumnya, maka

126

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

visi pembangunan kota masa depan Indonesia, yaitu:
“Kota berkelanjutan dan berdaya saing untuk kesejahteraan
masyarakat”
Kota berkelanjutan diterjemahkan menjadi 5 pilar :
Pilar 1 :Kota yang aman, nyaman dan layak huni

Kota yang aman diterjemahkan menjadi stabilitas kota yang selalu
terjaga dalam rangka memberikan pelayanan rasa aman dan
tentram bagi masyarakat kota melalui : penegakan hukum,
pencegahan kriminalitas dan konflik, serta pemberdayaan modal
sosial masyarakat perkotaan.

BAB 3

Kota yang dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup
warganya sehingga dapat mencapai kesejahteraan dengan lebih
mudah serta tetap mampu menjaga kualitas lingkungan kota.

Kota yang nyaman, diterjemahkan menjadi kota yang dapat
memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup masyarakat
perkotaan untuk mencapai kesejahteraan tanpa mengurangi
kualitas kota, melalui penyediaan prasarana sarana lingkungan
hunian, ekonomi, kesehatan dan pendidikan dan prioritas
penyediaan transportasi umum multimoda dan antarmoda, ruang
bagi pejalan kaki dan pesepeda.
Kota layak huni, diterjemahkan sebagai kota dengan pelayanan
sarana prasarana permukiman, sesuai dengan kebutuhan hidup
warganya yang mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat
kota serta mampu menjaga kualitas lingkungan kota, melalui
penyediaan prasarana sarana lingkungan hunian kota, ruang yang
berkeadilan bagi pelaku ekonomi formal dan informal, kesehatan
dan pendidikan dan menjamin kualitas kesehatan lingkungan
perkotaan.
Pilar 2 :Kota Hijau yang berketahanan iklim dan bencana
Kota yang dibangun dengan memanfaatkan secara efektif dan
efisien sumberdaya air, energi dan ruang kota yang
memperhatikan dan menjamin kesehatan lingkungan kota serta
menyinergikan lingkungan alami dan lingkungan buatan kota untuk

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

127

dapat mengembangkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim
melalui penggunaan sumberdaya terbarukan, pemanfaatan
infrastruktur hijau, pemanfaatan ruang dan kegiatan perkotaan
yang efisien dan berkeadilan, pengelolaan lingkungan,
perlindungan lingkungan perkotaan.
Pilar 3 : Kota Cerdas dan berdaya saing berbasis teknologi dan ICT

BAB 3

Kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial Teknologi
Informasi dan Komunikasi untuk mewujudkan pertumbuhan
ekonomi berkelanjutan, keunggulan ekonomi yang kompetitif serta
kualitas kehidupan yang tinggi dengan manajemen sumberdaya
yang bijaksana melalui pengembangan ekonomi yang produktif,
kreatif dan inovatif, tata kelola pemerintahan kota dan pelayanan
publik, kota yang memiliki pelayanan prasarana sarana hunian,
kesehatan, pendidikan dan keamanan, pengelolaan sumber daya
lingkungan kota dan pembangunan masyarakat kota cerdas yang
inovatif, kreatif dan produktif.
Pilar 4 :Membangun identitas perkotaan Indonesia berbasis karakter fisik,
keunggulan ekonomi dan budaya lokal
Memperkuat karakter perkotaan nasional dengan membangun
ketahanan sosial budaya yang memperhatikan keunggulan
keaneragaman hayati dan sosial budaya lokal, keunggulan
geografis dan iklim tropis, serta memperhatikan bentuk kota dan
bentuk fisik kota baik alami maupun buatan, melalui keunggulan
ekonomi yang dimiliki suatu kota baik berasal dari faktor produksi
maupun non faktor produksi secara kompetitif sehingga
mendorong daya saing suatu kota dan kota yang mampu
mengelola dan mengangkat budaya masyarakatnya sebagai
pencitraan kota dan untuk kepentingan lainnya, sehingga mampu
memberikan identitas tertentu.
Pilar 5 : Membangun keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota
dalam Sistem Perkotaan Nasional berbasis kewilayahan.
Mengurangi kesenjangan pembangunan. Dengan membangun
keterkaitan ekonomi antar kota dengan wilayah sekitarnya
khususnya wilayah pedesaan, serta pembagian fungsi dan peran
kota dalam sistem perkotaan nasional yang efisien, melalui

128

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1 dibawah ini. Secara keseluruhan kerangka pembangunan perkotaan nasional dapat dilihat pada Gambar 3. dan inovatif.Untuk mencapai visi pembangunan kota berkelanjutan di masa depan melalui 5 pilarnya maka ditetapkan misi yang akan dilaksanakan adalah: 1. Mengembangkan sarana prasarana dalam memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) 3. aman. Mengendalikan ruang dan kegiatan pembangunan kota dengan menjaga daya dukung lingkungan 5. dan budaya yang beragam 4. hubungan timbal balik antar kota dan desa. efisien serta berbasis ICT. Perwujudan tata kelola dan kelembagaan pemerintah yang lebih transparan. Mewujudkan pemerataan pembangunan kota sesuai peran dan fungsinya pada Sistem Perkotaan. dan 6. maka ditetapkan sasaran yang lebih operasional dan dilaksanakan melalui kebijakan dan strategi dengan target keberhasilan berupa indikator dan parameter tertentu. Untuk mewujudkan visi dan misi diatas. maupun tenaga kerja dalam sistem perkotaan nasional yang dihubungkan melalui prasarana sarana. sosial. dan partisipatif. akuntable. Membangun hunian yang kota yang layak. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 129 . kreatif. baik logistik. dan nyaman berbasis lingkungan. sumber daya maupun tenaga kerja dalam sistem keterkaitan kota dengan wilayah perdesaan yang terintegrasi serta hierarki fungsi dan peran kota dalam sistem pelayanan perkotaan nasional yang efisien dalam bentuk pusatpusat kegiatan yang berbasis pada wilayah kepulauan. BAB 3 hubungan timbal balik antar kota baik logistik. 2. Membangun kegiatan perekonomian dan masyarakat kota berdaya saing yang produktif. sumber daya.

130 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 2014 3. serta 3. yaitu: 1.Gambar 3. Peningkatan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan. mulai dari Tahun 2015 sampai dengan Tahun 2045. perwujudan kota cerdas yang berdaya saing.4 Sasaran Sasaran pembangunan perkotaan nasional mencakup 63 (enamtiga) bagian. perwujudan standar kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana. Perwujudan sistem perkotaan nasional. Pemenuhan pelayanan perkotaan sekaligus perwujudan kota layak huni yang aman dan nyaman. Perwujudan 3 (tiga) sasaran tersebut direncanakan dapat tercapai dalam kurun waktu 30 tahun. 1 Kerangka Pembangunan Perkotaan Nasional Sasaran BAB 3 Sumber: Bappenas. 2.

Keberlanjutan Lingkungan dan Keberlanjutan kelembagaan serta pembiayaan. dan Peningkatan Tata Kelola perkotaan. Aspek dan variabel dalam Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) didasarkan pada sasaran pembangunan perkotaan yang diamanatkan dalam KSPPN yang dilaksanakan melalui: Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN). digunakan suatu alat ukur yang menjadi dasar penentuan pembangunan yang juga sebagai alat monitoring dan evaluasi pembangunan berkelanjutan kota-kota di Indonesia. Keberlanjutan Ekonomi. Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) memiliki manfaat sebagai (1) alat ukur (baseline) pembangunan kota dan kawasan perkotaan di Indonesia. (4) sebagai dasar pemberian penghargaan atas kinerja pemerintah dalam membangun kota atau kawasan kotanya. Alat ukur tersebut bernama Indeks Kota berkelanjutan (IKB). 3 (tiga) diantaranya merupakan aspek/dimensi utama dalam pembangunan berkelanjutan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 131 .4. Perwujudan kota berkelanjutan melalui penerapan Kota Hijau untuk aspek lingkungan.Untuk menentukan sasaran pembangunan perkotaan nasional. Pemenuhan Pelayanan Perkotaan (SPP). Sehingga. Kota Layak Huni untuk aspek sosial budaya. yaitu Sistem Perkotaan. Keberlanjutan Pelayanan Perkotaan. serta sebagai alat evaluasi dan intervensi pemerintah terhadap pembangunan perkotaan di Indonesia. 3. Keberlanjutan Sosial Budaya. (2) alat ukur gap kondisi eksisting pembangunan perkotaan dengan sasaran maupun target pembangunan perkotaan di Indonesia. dengan demikian IKB secara keseluruhan dibangun dari 6 (enam) aspek pembangunan perkotaan. (3) sebagai alat pembanding (benchmark/ranking/posisi) perkembangan pembangunan kota dan kawasan perkotaan di Indonesia. serta Kota Cedas dan Berdaya Saing untuk aspek ekonomi. IKB juga berfungsi sebagai alat ukur dan pemetaan perkembangan pembangunan kota-kota di Indonesia untuk menuju pembangunan kota yang berkelanjutan.1 Indeks Kota Berkelanjutan: Dasar Penetapan Sasaran Pembangunan Kota Berkelanjutan BAB 3 IKB terdiri dari aspek-aspek pembangunan kota berkelanjutan yang sesuai dengan sasaran KSPPN.

serta pembagian fungsi dan peran kota. infrastruktur pelayanan simpul transportasi. 132 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . membangun keterkaitan ekonomi antar kota dengan wilayah sekitarnya khususnya wilayah pedesaan. Sedangkan nilai SPN kota sedang dan kota kecil belum mampu memberikan peran sebagai pusat kegiatan ekonomi lokal. dan c) aspek sosialbudaya. Arus migrasi yang selama ini terjadi menuju Jawa dan Sumatera dapat dikelola. wilayah dan nasional untuk kota besar dan kota metropolitan memberikan kontribusi dan pelayanan lebih baik. Dengan penguatan infrastruktur SPN di luar Pulau Jawa dan di Kawasan Timur Indonesia diharapkan kota-kota di luar jawa khususnya Kawasan Timur Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan bagi wilayah sekitarnya. Sedangkan aspek pendukung terdiri dari: a) aspek sistem perkotaan nasional. 2) pusat pertumbuhan ekonomi wilayah. kinerja sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal. Aspek Sistem Perkotaan Nasional BAB 3 Aspek sistem perkotaan nasional memiliki tujuan untuk mengurangi kesenjangan pembangunan. sehingga kota-kota di Kawasan Timur Indonesia dapat tumbuh dengan baik. wilayah maupun nasional secara optimal. b) aspek standar pelayanan perkotaan. dan 3) peran kota dalam rencana tata ruang wilayah nasional. Indikator utama aspek sistem perkotaan nasional meliputi: 1) simpul transportasi. Pembangunan infrastruktur pendukung SPN seperti infrastruktur pelayanan kegiatan industri. Aspek utama terdiri dari : a) aspek lingkungan. 1. Penguatan SPN dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah di Indonesia baik kesenjangan antara Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia maupun antara kota dengan desa. Rata-rata capaian indeks aspek SPN di kota metropolitan dan kota besar lebih baik dibandingkan capaian SPN di kota sedang dan kota kecil. Sasaran yang paling strategis adalah dengan mengembangkan dan menguatkan kota-kota sedang di luar Pulau Jawa sebagai penyangga urbanisasi menuju kota-kota besar dan metropolitan. dan c) aspek tata kelola perkotaan. b) aspek ekonomi. Peran kota sedang ini sangat penting dalam pengelolaan urbanisasi kedepan.sedangkan tiga lainnya merupakan aspek/dimensi pendukung untuk memperkuat keberhasilan pembangunan berkelanjutan.

akses informasi kondisi lingkungan. akses energi. akses informasi kondisi lingkungan. penyediaan RTH. Berdasarkan wilayah kepulauan. prasarana dan sarana transportasi massal. BAB 3 Aspek pelayanan perkotaan bertujuan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup masyarakat perkotaan untuk mencapai kesejahteraan tanpa mengurangi kualitas kota. 4) pelayanan kegiatan ekonomi. akses energi. akses pusat pelayanan sosial. Penyediaan prasarana sarana perkotaan merupakan kewajiban pemerintah dalam memenuhinya. jaringan drainase kota.2. jaringan drainase. Aspek Pelayanan Perkotaan Rata-rata capaian aspek pelayanan perkotaan untuk kota besar dan metropolitan masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata capaian pelayanan perkotaan kota sedang dan kota kecil (Gambar 3. 3) pelayanan sosial. melalui penyediaan prasarana sarana lingkungan hunian. ekonomi.5). akses jaringan air limbah. kesehatan dan pendidikan dan prioritas penyediaan transportasi umum multimoda dan antarmoda. prasarana peribadatan. sesuai dengan kebutuhan hidup warganya yang mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota. Indikator utama aspek pelayanan perkotaan berkelanjutan meliputi: 1) pelayanan permukiman. urbanisasi menuju kota-kota besar dan metropolitan akan terus meningkat jika tidak diantisipasi dengan cara penyediaan dan pemenuhan SPP terutama untuk kota-kota sedang dan kecil di luar Pulau Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 133 . akses prasarana kesehatan. Beberapa pelayanan perkotaan yang perlu ditingkatkan di kota besar dan kota metropolitan yaitu: akses terhadap air bersih. serta industri kecil dan mikro. hotel dan penginapan. akses air bersih. pusat perdagangan dan jasa. akses pejalan kaki. penyediaan RTH. akses pejalan kaki. rata-rata capaian pelayanan perkotaan kota-kota di Pulau Jawa dan Bali jauh lebih baik dibandingkan di pulau lainnya. akses fasilitas olahraga dan rekreasi. pengelolaan sampah. akses jaringan air limbah. akses pengelolaan sampah.dan akses pusat kesenian. 2) pelayanan pemerintahan. akses pusat kesenian. jasa keuangan. Sedangkan fokus pengembangan aspek pelayanan perkotaan untuk kota sedang dan kecil yaitu dalam penyediaan dan akses terhadap perumahan. akses pusat pelayanan sosial. akses prasarana peribadatan. akses fasilitas olahraga dan rekreasi.

Jawa. 2014. selain memenuhi kelayakan. Untuk menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat kota terdapat indikator utama aspek sosial-budaya meliputi: 1) kota layak huni. Rata-Rata Capaian SPP Berdasarkan Wilayah Kepulauan BAB 3 Sumber: Hasil Analisis.2. Aspek Sosial Budaya Aspek sosial-budaya masyarakat kota. 3. menjadi tujuan dalam pembangunan kota layak huni yang aman dan nyaman. Pembangunan kota layak huni yang aman dan nyaman ini diharapkan mampu mendukung dan menggerakan kegiatan sosial dan budaya masyarakat kota sehingga menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan kota dalam membentuk karakter dan ciri khas sebuah kota. keamanan. 134 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Pelayanan perkotaan menuju kota yang berkelanjutan perlu memenuhi standar pelayanann perkotaan yang berkelanjutan. Gambar 3. lansia maupun penduduk disabel. dan kenyamanan juga memperhatikan kualitas infrastruktur serta dapat diakses oleh semua warga dan kelompok kalangan masyarakat baik anak-anak. Tersedianya pelayanan perkotaan yang aman dan nyaman di kota sedang dan kota kecil ini akan menghambat urbanisasi menuju kota-kota besar dan metropolitan.

kenyamanan. Sulawesi dan Papua masih di bawah rata-rata nasional. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 135 . Capaian aspek sosial-budaya di Jawa. antara lain kegiatan kebudayaan masyarakat kota dan modal sosial masyarakat yang masih rendah. (2) kota yang dikembangkan dengan transportasi umum multimoda dan terintegrasi antarmoda yang efisien dan nyaman serta memberikan ruang yang layak bagi pejalan kaki. Beberapa variabel yang masih rendah.Kota kecil dan kota sedang sebenarnya memiliki potensi yang lebih baik dalam aspek sosial budaya dibandingkan kota besar dan kota metropolitan. kaum lansia dan disabel. pendidikan yang dibangun atas dasar kebutuhan keamanan. Kota kecil dan kota sedang merupakan kota-kota masa depan yang potensial dibangun dan dikelola untuk kesejahteraan masyarakat. BAB 3 2) identitas kota. pesepeda. kota yang didesain seperti ini diharapkan: (1) prasarana sarana lingkungan kota. (3) kota dengan stabilitas keamanan yang terjaga dalam rangka memberikan pelayanan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat kota. budaya. Kalimantan. Oleh karena itu. efisiensi serta mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota. 3) modal sosial. 3 Rata-Rata Capaian Aspek Sosial Budaya Berdasarkan Tipologi Kota Sumber: Hasil Analisis. ekonomi. kesehatan. 2014. Gambar 3.

Pembangunan ekonomi kota yang cerdas dan berdaya saing diharapkan mampu meningkatkan perekonomian kota sehingga memperkuat peran kota sebagai pusat pertumbuhan baik sebagai pusat pertumbuhan lokal. Kota Sedang berjumlah 56% dari seluruh kota. Pada tahun 2013 capaian aspek ekonomi kota tertinggi masih terpusat di kota metropolitan dan kota besar sangat jauh dengan capaian ekonomi kota sedang dan kota kecil . dan 2) kota berdaya saing yang didalamnya menggambarkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. kreatif dan produktif.4. wilayah dan nasional. yang mendominasi peta perkotaan di Indonesia. Aspek Ekonomi Dalam rangka pencapaian aspek ekonomi kota yang berkelanjutan. inovatif berbasis teknologi dan IT. khususnya di Pulau Jawa. Kota cerdas dan berdaya saing ini didesain dan diharapkan: (1) dalam pengembangan ekonomi yang cerdas (smart economy) dengan mengintegrasikan kegiatan perekonomian yang produktif. Sedangkan kota metropolitan dan megapolitan hanya 15% dari seluruh kota menguasai 136 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Pengembangan infrastruktur cerdas (smart infrastructure) dalam upaya peningkatan efisiensi dan daya saing kota melalui pelayanan yang cepat dan tepat. Pembangunan ekonomi di kota sedang dan kota kecil harus dilakukan untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antar kota dan antar kota-desa. dan nilainya ada kecenderungan semakin menurun. serta mampu memanfaatkan potensi keragaman sosial-budaya untuk membangun daya saing kota. (3) Pengembangan lingkungan kota yang cerdas (smart environment) melalui pengelolaan sumber daya lingkungan kota berbasis teknologi. BAB 3 Indikator utama dalam aspek ekonomi kota berkelanjutan meliputi: 1) kota cerdas. implementasi pembangunan di kota diarahkan dalam pembangunan ekonomi kota yang cerdas dan berdaya saing. serta efisien dalam pemanfatan sumberdaya untuk membangun daya saing kota. (4) Pengembangan kecerdasan masyarakat kota (smart people) yang inovatif. saat ini hanya berperan 20% pada PDRB Nasional. (2) Pengembangan tata kelola pemerintahan yang cerdas (smart governance) dalam pengelolaan perkotaan yang inovatif. dan (5) Pengembangan hunian cerdas (smart living) dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat kota berbasis informasi dan teknologi. kreatif. peryumbuhan ekonomi kota dan investasi dalam suati kota. efisien dan berbasis ICT.

Sebaran kota-kota yang memiliki nilai capaian indeks ekonomi dibawah rata-rata dapat dilihat pada Gambar 3.sekitar 66% PDRB Nasional. Beberapa indikator utama aspek lingkungan perkotaan meliputi: 10 kualitas Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 137 . implementasi pembangunan di kota diarahkan mewujudkan kota hijau yang berketahanan iklim dan adaptif terhadap bencana. Sumber: Hasil Analisis. kesehatan dan pengelolaan lingkungan juga masih rendah. Aspek Lingkungan Dalam rangka pencapaian aspek lingkungan kota yang berkelanjutan. Kep.4. Maluku dan Papua memiliki nilai capaian ekonomi yang masih rendah. begitu juga dalam pelayanan pemerintah. 2014. pendidikan. Sulawesi. dan ada kecenderungan semakin meningkat. transportasi. Gambar 3. Penggunaan ICT masih rendah dalam upaya peningkatan nilai tambah ekonomi kota. 5. 4 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks Ekonomi BAB 3 Sedangkan kota-kota di Sumatera.

Indeks kota berkelanjutan pada aspek lingkungan kota. 3) Kota Berketahanan Iklim dan Adaptif terhadap Bencana.lingkungan perkotaan. dengan demikian. dan (5) adanya pengembangan green economy yang memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumbaer daya. Daya tampung dan daya dukung lingkungan perkotaan di kota sedang dan kota kecil masih lebih baik dibandingkan di kota besar dan kota metropolitan. (4) adanya pengembangan green infrastructure yang memperhatikan daya tahan dan daya dukung lingkungan dan sumber daya yang terbarukan. Ketiga indikator besar ini menggambarkan dampak lingkungan kota. capaian lingkungan kota metropolitan dan kota besar lebih rendah dibandingkan dengan capaian lingkungan kota sedang dan kota kecil (Gambar 3. pengetahuan masyarakat serta kesiapsiagaan pemerintah kota terhadap bencana dan perubahan iklim.5). seluruh kelompok masyarakat serta daya dukung dan daya tampung lingkungan kota yang berkelanjutan. yang dapat disebabkan oleh kegiatan perekonomian kota besar dan kota metropolitan belum berorientasi pada green economy. rendah karbon. 138 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . (3) adanya peningkatan ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana. fokus pembangunan kota hijau diarahkan pada pembangunan lingkungan kota besar dan kota metropolitan. 2) kota hijau. BAB 3 Kota hijau yang berketahanan iklim dan adaptif terhadap bencana didesain dan diharapkan: (1) Pemanfaatan ruang dan kegiatan perkotaan yang efisien dan berkeadilan. zero waste. (2) Peningkatan Pengelolaan lingkungan kota.

BAB 3 Gambar 3. 6 Sebaran Kota-Kota Berdasarkan Indeks Lingkungan Sumber: Hasil Analisis. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 139 . 5 Rata-Rata Capaian Aspek Lingkungan Berdasarkan Tipologi Kota Sumber: Hasil Analisis. 2014. Gambar 3. 2014.

(7) terwujudnya Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dalam pengelolaan kota berkelanjutan yang layak dan nyaman. 140 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . (2) adanya pengembangan tata kelola pemerintahan yang cerdas dan kompetitif. Arah capaian pembangunan tata kelola perkotaan kedepan adalah meningkatkan kualitas penyelenggaraan pengelolaan perkotaan yang berkelanjutan secara transparan.7. kurangnya kerjasama baik antar kota maupun antar daerah. efisien. Namun berdasarkan wilayah pulau. akuntabel. dan partisipatif. masih lemahnya kelembagaan pembangunan perkotaan. Aspek Tata kelola Perkotaan Aspek tata kelola perkotaan merupakan aspek kunci dalam keberhasilan pencapaian kota berkelanjutan. (3) adanya pengembangan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota berkelanjutan. dan berbasis ICT. BAB 3 Gambaran ideal pencapaian aspek tata kelola dalam rangka mewujudkan pembangunan kota berkelanjutan yaitu melalui: (1) terwujudnya sistem. sebagian besar indeks masih berada dibawah rata-rata angka indeks 50 kecuali beberapa kota di Pulau Jawa yang agak lebih baik. (8) munculnya kepemimpinan kota yang visioner dan berkeadilan dalam pembangunan perkotaan. (4) adanya pengembangan kelembagaan dan kerjasama pembangunan Perkotaan. Indeks kota berkelanjutan untuk aspek menggambarkan tata kelola kota metropolitan dan besar lebih baik dibandingkan dengan capaian tata kelola perkotaan di kota sedang dan kota kecil. Masalah yang dihadapi di kota sedang dan kecil yaitu: kapasitas aparatur masih rendah. Melalui tata kelola perkotaan yang baik pembangunan kota dapat diarahkan sesuai dengan target pembangunan kota berkelanjutan yang ingin dicapai. masih buruknya sistem pelayanan dan tata kelola pemerintahan. (5) adanya pengembangan pembiayaan dan kerjasama pembangunan perkotaan. Sebaran kota-kota yang memiliki nilai indeks di bawah 50 ditunjukkan pada Gambar 3. hijau serta cerdas.6. partisipasi masyarakat dan swasta masih sangat rendah. peraturan dan prosedur dalam birokrasi Pemerintah Daerah yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. inovatif. kapasitas pemimpin kota yang masih rendah terkait dalam pengelolaan pembangunan perkotaan. dan masih rendahnya pemeliharaan infrastruktur kota. (6) terwujudnya ketersediaan yang mutakhir dalam melakukan pembangunan perkotaan.

BAB 3 Gambar 3. Sasaran ketiga yaitu peningkatan kapasitas tata kelola. Sasaran kedua adalah perwujudan sistem perkotaan nasional yang menggambarkan keterkaitan antar kota serta bertujuan untuk mengurangi kesenjangan. Sasaran ini merupakan sasaran kunci dalam mewujudkan pembangunan kota berkelanjutan. pemenuhan standar pelayanan perkotaan (SPP). memiiki berdasarkan pada potensi geografis. 3. Kota Hijau. potensi sosial. dan Kota Cerdas Berdaya Saing. 7 Sebaran Kota Otonom Berdasarkan Indeks Tata Kelola Perkotaan Sumber: Hasil Analisis.4. 2014. Perwujudan kota layak huni tersebut. Target nasional kota berkelanjutan masa depan: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 141 . Standar pelayanan perkotaan ini merupakan instrumen dalam mewujudkan kota masa depan seperti Kota Layak Huni.2 Sasaran Pembangunan Kota Berkelanjutan Pembangunan kota berkelanjutan diwujudkan melalui 3 (tiga) sasaran yaitu: pertama. budaya lokal dan potendi ekonomi.

Pemenuhan 100% indikator tata kelola kota berkelanjutan yang harus dipenuhi diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2025 Secara keseluruhan seluruh target nasional kota berkelanjutan 2045 digambarkan dalam peta jalan berikut (gambar 3. Pemenuhan 100% indikator sistem perkotaan nasional terwujud diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2045 3. Pemenuhan 100% indikator standar pelayanan perkotaan sekaligus perwujudan kota masa depan terwujud diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2025 2.8) BAB 3 Gambar 3.1.8 Tahapan Pencapaian Perwujudan Pelayanan Perkotaan Nasional Sumber : Bappenas. 2014 142 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

Namun suatu kota dapat dikatakan Kota Berkelanjutan apabila kota tersebut dapat membangun ataupun mengembangkan Kota Layak Huni. 1. kota diberi kebebasan untuk menentukan target perwujudan kota masa depan mana yang terlebih dahulu dapat dipenuhi. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 143 . Pemenuhan 100% indikator kota layak huni diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2025. dan Kota Cerdas yang berdaya saing sebagai satuan kota yang terintegrasi. Dengan kata lain.A. serta Kota Cerdas dan Berdaya Saing. pelayanan sosial. Pemenuhan Pelayanan Perkotaan. SPP mencakup aspek pelayanan permukiman. Jika kota-kota telah mampu untuk memenuhi SPP. Pemenuhan 100% indikator kota hijau diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2035 4.20 diatas. Kota Hijau. maka akan lebih mudah untuk mengembangkan kota berkelanjutan yang terdiri dari Kota Layak Huni. Kota Hijau. Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) merupakan syarat utama untuk dipenuhi kota-kota di Indonesia. maupun pelayanan kegiatan ekonomi. Kota Layak Huni. dan Kota Cerdas Berdaya Saing Perwujudan kota berkelanjutan yang dikembangkan setelah pemenuhan SPP. dapat dipenuhi sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh kota. Pemenuhan 100% indikator kota cerdas berdaya saing diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2045 Peta jalan pemenuhan SPP sekaligus perwujudan aspek inti kota berkelanjutan telah digambarkan pada Gambar 3. Kota Hijau. Pemenuhan 100% indikator standar pelayanan perkotaan sekaligus perwujudan kota masa depan terwujud diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2025 2. pelayanan pemerintahan. 3. Target yang diharapkan antara lain : BAB 3 Sebagai dasar perwujudan Kota Masa Depan yang Berkelanjutan.

3. Terpenuhinya 100% fungsi fungsi dan peran kota metropolitan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) pada tahun 2025. 4. dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. BAB 3 Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) diharapkan dapat tercapai di seluruh kota Indonesia. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kota besar sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) pada tahun 2030. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kawasan metropolitan dan megapolitan sebagai Pusat Kegiatan Global (PKG) pada tahun 2025. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kota sedangl sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) pada tahun 2030. 2. sehingga sasaran pembangunan kota-kota di Indonesia dalam Sistem Perkotaan Nasional. Terpenuhinya 100% fungsi dan peran kota kecil sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) pada tahun 2035. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional ini bertujuan untuk menyeimbangkan pembangunan Kawasan Timur Indonesia dengan Kawasan Barat Indonesia serta mengembangkan peran kota sedang – kecil sebagai buffer urbanisasi dan mengurangi kesenjangan antara desa dengan kota. pada tahun 2045.B. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional diperlukan untuk membangun kota masa depan secara berkelanjutan melalui kemampuanya dalam menjalankan fungsi dan perannya dengan baik dan mampu berkoordinasi dengan kota-kota lainnya. 5. 144 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

dan meningkatkan kapasitas pemeliharaan infrastruktur kota. partisipatif dan profesional dalam rangka perwujudan kota masa depan yaitu:   Terwujudnya sistem. 2014 C. Sasaran peningkatan tata kelola dan kelembagaan pemerintah yang lebih transparan. Perwujudan Tata Kelola Kota Berkelanjutan Perwujudan tata kelola kota berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pengelolaan perkotaan yang berkelanjutan secara transparan. dan partisipatif dan sebagai aspek kunci dalam pembangunan dalam keberhasilan pencapaian kota berkelanjutan Perwujudan tata kelola kota berkelanjutan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas aparatur. memperkuat kelembagaan pembangunan perkotaan. memperbaiki kerjasama antar kota maupun antar daerah. meningkatkan partisipasi masyarakat dan swasta . Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 145 . akuntabel. Terwujudnya peningkatan kualitas SDM dan aparatur. memperbaiki sistem pelayanan dan tata kelola pemerintahan.BAB 3 Gambar 3. akuntabel.9 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional Sumber : Bappenas. kebijakan dan peraturan perundangan. meningkatkan kapasitas pemimpin kota dalam pengelolaan pembangunan perkotaan.

dan swasta Terwujudnya penguatan kapasitas Kelembagaan. serta Peningkatan kualitas kepemimpinan kota. Terwujudnya peningkatan kapasitas Pembiayaan. Tersedianya Data dan Informasi untuk pembangunan perkotaan.     Meningkatnya partisipasi masyarakat. lemabaga profesional. BAB 3 146 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Perwujudan tata kelola kota berkelanjutan diharapkan dapat dipenuhi 100% indikator tata kelola kota berkelanjutan yang harus dipenuhi diseluruh kota di Indonesia pada tahun 2025.

2014. 10 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Peningkatan Tata kelola dan Kelembagaan Pemerintah Tahun 2015 .BAB 3 Gambar 3. 147 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .2045 Sumber: Bappenas.

Terwujudnya kawasan megapolitantropolitan yang layak huni dari aspek sosial budaya dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045 . kawasan megapolitan harus menjadi kawasan hijau. Terwujudnya kawasan megapolitantropolitan yang hijau dan berketahanan iklim dan bencana. oleh karena itu. yang menjadi tolak ukur pembangunan negara di mata internasional. 5. Kota Berkelanjutan Dalam Perkotaan Megapolitan BAB 3 Kawasan Megapolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan paling sedikit 10. dalam kurun waktu 30 sampai dengan tahun 2045 . Kawasan Megapolitan merupakan kawasan yang ditargetkan menjadi Pusat Kegiatan Global. layak huni. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025. dalam kurun waktu 20 tahun sampai dengan tahun 2035 . 148 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Sasaran yang ingin dicapai berdasarkan IKB antara lain: 1.3. 2.3 Sasaran Pembangunan Tipologi Kota A. 3.4. Terwujudnya kawasan megapolitan yang berdaya saing ditingkat global dalam kurun waktu 5 tahun sampai dengan tahun 2020.000 (sepuluh juta) jiwa. Terwujudnya Sistem Perkotaan Nasional yang dapat menjadi simpul jaringan dan pelayanan baik untuk transportasi maupun ekonomi secara global serta sebagai penghubung antara PKN dengan PKG. serta cerdas dan berdaya saing. 4.000.

2014.BAB 3 Gambar 3. 11 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kawasan Megapolitan Tahun 2015 2045 Sumber: Bappenas. 149 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

2.. Terwujudnya kota metropolitan yang hijau dan berketahanan iklim maupun bencana dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan tahun 2045. Kawasan metropolitan diarahkan mampu berperan sebagai Pusat Kegiatan Nasional harus memenuhi kriteria kota masa depan yang direncanakan. 4.B. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .000 (satu juta) jiwa.000. 3. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025. Terwujudnya kota metropolitan yang layak huni dari aspek sosial budaya dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan tahun 2045. Terwujudnya kota metropolitan yang berdaya saing ditingkat global dalam kurun waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025. Sasaran yang ingin dicapai antara lain: BAB 3 150 1. Kota Metropolitan Kota metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kota inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional dan dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi yang ditetapkandengan jumlah penduduk secara keseluruhan paling sedikit 1. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKN dan PKW dalam kurun waktu 15 tahun sampai dengan tahun 2030. karena akan menjadi acuan bagi pembangunan kota-kota lainnya di seluruh Indonesia. 5.

2014.BAB 3 Gambar 3. 12 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kawasan/Kota Metropolitan Tahun 2015 2045 Sumber: Bappenas. 151 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

Kota besar menurut fungsinya diarahkan menjadi Pusat Kegiatan Nasional atau Wilayah. Sasaran yang ingin dicapai antara lain: BAB 3 152 1. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kota Besar Kota besar adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 500. Terwujudnya kota besar yang layak huni dari aspek sosial budaya dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan tahun 2045. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKN dan PKW dalam kurun waktu 15 tahun sampai dengan tahun 2030. 2. 3.000 (satu juta) jiwa. Terwujudnya kota besar yang berdaya saing ditingkat global dalam kurun waktu 15 tahun sampai dengan tahun 2035.000.C. sehingga kota besar harus memenuhi sasaran kota masa depan yang telah dirancang. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025. 4. 5. Terwujudnya kota besar yang hijau dan berketahanan iklim maupun bencana dalam kurun waktu 35 tahun sampai dengan tahun 2045.000 (lima ratus ribu) sampai dengan 1.

2014.BAB 3 Gambar 3. 13 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kota Besar Tahun 2015 2045 Sumber: Bappenas. 153 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .000 (lima ratus ribu) jiwa. 2. Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025. 5. desa.000 (seratus ribu) sampai dengan 500. ditargetkan memenuhi fungsi dan perannya sebagai Pusat Kegiatan Wilayah. 4. Terwujudnya kota sedang yang berdaya saing ditingkat global dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045. Kota Sedang Kota sedang adalahkota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk lebih dari 100. Terwujudnya kota sedang yang layak huni dari aspek sosial budaya dalam kurun waktu 25 tahun sampai dengan tahun 2035. PKL dan Keterkaitan Desa Kota dalam kurun waktu 25 tahun sampai dengan tahun 2040. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKW. Target yang menjadi sasaran pembangunan kota sedang antara lain: BAB 3 154 1. dan menjadi pusat bagi kota-kota kecil. Terwujudnya kota sedang yang hijau dan berketahanan iklim maupun bencana dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045. 3. dan kawasan perkotaan di sekitarnya. Kota sedang.D.

2014. 155 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .BAB 3 Gambar 3. 14 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kota Sedang Tahun 2015 2045 Sumber: Bappenas.

000 (seratus ribu) jiwa.Kota dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045. 4. Terwujudnya Sistem perkotaan nasional yang meningkatkan kualitas jaringan dan pelayanan baik dari sektor transportasi maupun ekonomi sebagai penghubung antar wilayah PKW dan Keterkaitan Desa . Sasaran yang ingin dicapai antara lain: BAB 3 156 1. 3. Terwujudnya kota yang hijau dan berketahanan iklim maupun bencana dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045. Kota Kecil Kota Kecil adalah kota otonom yang ditetapkan dengan kriteria jumlah penduduk kurang dari 100. Kota kecil diharapkan mampu menjadi tolak ukur bagi desa dan kawasan perkotaan di sekitarnya dalam mencapai sasaran pembangunan kota masa depan. Terwujudnya kota yang berdaya saing ditingkat global dalam kurun waktu 30 tahun sampai dengan tahun 2045.E. 5. Terwujudnya kota yang layak huni dalam kurun waktu 20 tahun sampai dengan tahun 2040. 2. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Tersedianya prasarana dan sarana dasar perkotaan yang memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dalam kurun waktu 10 tahun sampai dengan tahun 2025.

2014.BAB 3 Gambar 3. 157 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 15 Target Pencapaian Sasaran (Roadmap) Pembangunan Kota Kecil Tahun 2015 2045 Sumber: Bappenas.

BAB 4 158 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

BAB 4 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN PERKOTAAN NASIONAL Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 159 .

Kelompok kebijakan pertama adalah untuk mewujudkan sistem sasaran perkotaan nasional. dan kelompok kebijakan bagian keenam mewujudkan sasaran tata kelola dan kelembagaan pemerintah yang lebih transparan.2045 Untuk mencapai visi terwujudnya Kota Berkelanjutan pada tahun 2045.1 BAB 4 160 Misi. kreatif dan inovatif. efisien serta berbasis IT. dan Kebijakan Kota 2015 . Misi dan Sasaran Kota Berkelanjutan Tahun 2045 dapat dilihat seperti berikut : Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . maka kebijakan pembangunan perkotaan Indonesia mengacu kepada dari 6 (enam) misi besar Kota Berkelanjutan. akuntabel. berbasis lingkungan. dan nyaman. kelompok kelima mewujudkan sasaran perwujudan kota berdaya saing yang produktif. Sasaran. kelompok kebijakan kedua adalah untuk mewujudkan sasaran pelayanan perkotaan. kelompok ke-empat adalah untuk mewujudkan pembangunan kota yang menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan kota. kelompok ketiga adalah untuk mewujudkan hunian di kota yang layak. dan partisipatif. sosial. serta responsif dan adaptif terhadap perubahan iklim dan bencana . aman. dan budaya.Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 4.

sosial. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) Pemenuhan SPP    Perwujudan Kota Layak Huni. dan nyaman berbasis lingkungan. dan inovatif. dan budaya yang beragam 4 Mengendalikan ruang dan kegiatan pembangunan kota dengan menjaga daya dukung lingkungan 5 Membangun kegiatan perekonomian dan masyarakat kota berdaya saing yang produktif. Sasaran Perwujudan tata kelola kota berkelanjutan Sedangkan secara umum. kreatif. efisien serta berbasis ICT 6 Perwujudan tata kelola dan kelembagaan pemerintah yang lebih transparan.1. Aman. penjabaran Misi dan kebijakan pembangunan perkotaan nasional dijabarkan sebagai berikut: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 161 .Perwujudan Kota Berkelanjutan 2045 Misi 2 Mengembangkan sarana prasarana dalam memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) 3 Membangun hunian yang kota yang layak.Tabel 4. akuntable. dan partisipatif. dan Nyaman Perwujudan Kota Hijau yang Berketahanan Iklim dan Bencana Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing BAB 4 1 Mewujudkan pemerataan pembangunan kota sesuai peran dan fungsinya pada Sistem Perkotaan. aman.

BAB 4 162 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

BAB 4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 163 .

antar wilayah. Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan tingkat nasional. Kebijakan pembangunan perkotaan di tingkat nasional terdiri sebagai berikut: BAB 4 Misi Pertama (M1) meningkatkan pemerataan pembangunan kota-kota sesuai peran dan fungsinya dalam rangka mengurangi kesenjangan antar kota. keterbukaan informasi dan sistem perdagangan tanpa ada batas administrasi telah merubah sistem yang ada. Kebijakan dijabarkan melalui strategi berikut : 164 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan spesifik di wilayah pulau besar dan kota-kota.4.2. yaitu: a. b. 4.2 Kebijakan dan Strategi Perkotaan Nasional Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan dibagi tiga tingkatan sesuai dengan tingkatan wilayahnya. Kebijakan 1: Mempercepat pengembangan 7 (tujuh) KSN perkotaan (metropolitan dan megapolitan) sebagai pusat kegiatan global dan mengembangkan pengembangan 8 (delapan) Kawasan Perkotaan Metropolitan diluar Pulau Jawa Globalisasi telah menjadi fenomena yang harus dihadapi oleh seluruh negara di dunia. antar kota-desa. persaingan antar negara untuk mendapatkan pangsa pasar dan meningkatkan produktivitas produksi sangat tinggi dan ini menuntut kota-kota didunia untuk bersaing lebih ketat untuk meningkatkan kualitasnya. Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan spesifik kota metropolitan dan kota besar serta kota sedang dan kota kecil. c.Peningkatan kualitas kota ditekankan pada bagaimana kota dapat melayani atau memenuhi kebutuhan persaingan global sebagai pusat pertumbuhan sehingga dapat mengambil manfaat dari era keterbukaan ini.1 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Tingkat Nasional Kebijakan dan strategi pembangunan di tingkat nasional terdiri dari 31 (tiga puluh satu) kebijakan yang masing-masing terbagi ke dalam beberapa strategi serta dilengkapi dengan indikator.

nyaman. 4. diharapkan kota dapat mewadahi kegiatan yang ada didalamnya. Peningkatan fungsi dan peran kota dengan percepatan pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan sesuai dengan tipologi kota. cepat.1. dan PKL sesuai tipologi kota dan tingkat pelayanannya. Prioritas pemenuhan simpul transportasi dalam memenuhi fungsi dan peran kota sebagai dasar pengembangan kegiatan perkotaan. Penciptaan keamanan kota sebagai pusat kegiatan global. Perwujudan lingkungan kawasan perkotaan aman. 5. aksesibel. Pengembangan pusat jasa dan perdagangan yang efisien dan inklusif. 2. nyaman.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut : BAB 4 Kebijakan 2: 1. Penyediaan dan pengelolaan transportasi massal aman. 3. 6. 2. Pengembangan kelembagaan dan tata kelola kota yang berorientasi pada pelayanan internasional. sehingga dapat meningkatkan inefisiensi pada pelayanan perkotaan. dengan menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pengembangan kerjasama antarkota antarwilayah untuk menciptakan sinergi peran wilayah secara nasional. 8. responsif dan adaptif terhadap bencana dan perubahan iklim. efisien dan terintegrasi antar wilayah. Mempercepat perwujudan peran kota sebagai PKN. Pengembangan potensi unggulan kota dalam mengembangkan peran kota dalam wilayah yang lebih luas. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 165 . 4. Dengan memantapkan peran dan fungsi kawasan perkotaan. 3. Kebijakan ini berupaya meningkatkan pelaksanaan Sistem Perkotaan Nasional secara menyeluruh. PKW. 7. dan terintegrasi dengan infrastruktur pendukung dan transportasi. nyaman. Pengembangan kawasan industri sesuai dengan daya dukung lingkungan. sehat. Penyediaan hunian aman. Penyiapan kota yang berdaya saing dalam skala global.

3. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik yang ada di kawasan pinggiran perkotaan maupun pedesaan. Pengembangan ekonomi hijau melalui agro industri dan sektor informal perkotaan. Penyediaan fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk peningkatan produksi dan distribusi barang jasa desa-kota dan antarkota. keamanan maupun kelembagaan.Kebijakan tersebut dijabarkan melalui strategi berikut : 166 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . dan menghubungkan antara pasar dengan kawasan produksi. 6. Peningkatan pendidikan formal dan informal untuk memperkuat kemampuan inovasi dan kreatifitas lokal serta potensi keragaman sosial budaya untuk membangun daya saing kota. modal dan informasi antar wilayah. Kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan peran kawasan strategis dalam mendorong peningkatan perekonomian kota melalui kegiatan ekspor impor maupun investasi dengan menguatkan infrastruktur baik fisik maupun non fisik. 2. keberadaan kota kecil/kota sedang dapat meningkatkan nilai dari komoditas barang dan jasa dari kawasan hinterland perkotaan. Percepatan pemenuhan standar pelayanan perkotaan terutama pembangunan infrastruktur dan jaringan komunikasi untuk memperlancar arus barang. penduduk.Kebijakan 3: Mengembangkan kota kecil (PKW) dan kota sedang (PKN dan PKW) untuk dapat mewujudkan keterkaitan desa-kota Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengembangkan hubungan kota dengan desa dalam kegiatan ekonomi. jasa. Pengembangan pusat pertumbuhan baru untuk mendorong percepatan pembangunan perdesaan di sekitar kota.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut : BAB 4 1. 4. Peningkatan kapasitas perencanaan dan penyelenggaraan kerjasama antarkota dan antar kota-desa Kebijakan 4: Mengembangkan kota-kota yang menjadi kawasan strategis KEK dan KPBPB/Kawasan Berikat menjadi pusat kegiatan industri dan perdagangan berskala regional dan global. yang dapat menambah nilai produk dan jasa dari desa. 5.

dan sumberdaya manusia. hukum.1. sosial. perpajakan dan kepabean. 5. pelabuhan. perlu adanya suatu percepatan pemenuhan pelayanan perkotaan. Percepatan perwujudan kemudahan akses antarwilayah pada kota-kota perbatasan dengan sarana dan prasarana transportasi. airport. dan listrik. Meningkatkan pelayanan investasi berkualitas global kelas dunia. Kebijakan 5: Kota-kota di kawasan perbatasan merupakan garda depan dalam meningkatkan kesejahteraan. Menguatkan kelembagaan kawasan strategis agar dapat bersaing secara global. keamanan. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan kerjasama antar wilayah serta kerjasama bilateral dengan negara tetangga di bidang politik. Oleh karena itu. baik melalui perijinan satu atap. Mensinergikan pengembangan kegiatan ekonomi lokal untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di kotakota kawasan perbatasan. 2. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 167 . dan terluar. Penataan batas negara di darat dan di laut termasuk di pulaupulau terkecil. serta ekonomi. baik dari sisi kualitas maupun kuantitas serta dukungan pendanaan. transportasi. 2. baik untuk fasilitas jalan raya. mengurangi kemiskinan dan kesenjangan wilayah sekaligus untuk menguatkan pertahanan dan keamanan negara. Kebijakan tersebut dijabarkan melalui strategi berikut : BAB 4 Percepatan pembangunan kota-kota perbatasan (PKSN) menjadi pusat pertumbuhan baru di beranda depan negara 1. serta kemudahan insentif. 3. kelembagaan. telekomunikasi. menyediakan infrastruktur berkualitas global. dan budaya. serta penguatan hukum di kawasan perbatasan. 4. Menciptakan integrasi industri kawasan strategis dengan industri jasa dan perdagangan pada kawasan sekitarnya. 3. 4. Pemenuhan standar pelayanan perkotaan sarana prasarana permukiman dan infrastruktur sosial ekonomi pada kota-kota perbatasan prioritas.

serta swasta lain. Kebijakan diatas dilaksanakan dengan strategi: BAB 4 1. Oleh karena itu. Memfasilitasi Pemerintah Daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan Kota Berkelanjutan Mengembangkan proses komunikasi dan pengembangan jejaring (networking) dalam pelibatan peran aktif masyarakatuntuk berinovasi dalam pemenuhan SPP dan Kota Berkelanjutan. pedoman dalam rangka pemenuhan SPP dan pembangunan Kota Berkelanjutan. lembaga keuangan perbankan dan non perbankan. kebijakan. 2. Menyusun dan mengembangkan Indeks Kota Berkelanjutan untuk melakukan monitoring dan evaluasi capaian pemenuhan SPP pembangunan Kota Berkelanjutan. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . termasuk skema coorporate social responsibility (CSR). 3. slum dan sprawl.Misi Kedua (M2): Mengembangkan prasarana dan sarana dalam memenuhi Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) berdasarkan tipologi dan karakteristik kota Kebijakan 1: Percepatan penerapan dan pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) di kota dan kawasan perkotaan sekaligus memenuhi standar Kota Berkelanjutan Dengan kondisi sarana dan prasarana infrastruktur perkotaan Indonesia yang masih dibawah standar baik dalam hal kualitas maupun kuantitas dibandingkan dengan pertumbuhan dan kebutuhan masyarakat perkotaan. sehingga kota menjadi tidak efisien. Mengembangkan skema peran aktif BUMN. 168 Mempersiapkan perundang-undangan. 5. serta kerjasama dalam penyediaan dan pengelolaan sarana prasarana perkotaan berkelanjutan melalui insentif dan disinsentif. perlu adanya suatu percepatan pemenuhan pelayanan perkotaan yang sesuai standar baik dari segi kualitas maupun kuantitas. 4.

5. difabel. dan kesehatan. serta ramah untuk kaum lansia dan difabel. nyaman. Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 169 . Kebijakan ini. listrik. Penyediaan sarana prasarana perekonomian kota yang nyaman dan berkeadilan adalah untuk mendorong pengembangan investasi dan kewirausahaan. aman dan nyaman. 2. sehingga meningkatkan produktivitas kota dan pertumbuhan ekonomi kota. sampah dan limbah antar kawasan yang terintegrasi dengan pengelolaan dan distribusi di dalam kawasan perkotaan. sistem sanitasi. dan anak. BAB 4 Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: Kebijakan 2: Peningkatan pelayanan prasarana sarana ekonomi kota yang layak.Misi Ketiga (M3): Membangun hunian di kota yang layak. aman. sampah dan drainase) skala kawasan dan kota yang layak dan aman. sehat. Pengelolaan air baku. aman. 4. Meningkatkan penyediaan hunian masyarakat kota yang layak. Meningkatkan penyediaan sistem sanitasi (air limbah. berbasis lingkungan . efisien serta mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota termasuk kebutuhan kelompok lansia. mudah diakses dan terjangkau. nyaman. dan efisien dan terjangkau. Meningkatkan penyediaan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) yang layak. air bersih. pendidikan. 3. Kebijakan 1: Peningkatan pelayanan prasarana sarana lingkungan kota yang aman. aman. terjangkau. Meningkatkan penyediaan fasilitas penerangan dan telekomunikasi yang layak. sosial dan budaya yang beragam. nyaman serta mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota. wanita. 1. terutama ditujukan untuk untuk meningkatkan akses pada seluruh lapisan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti air minum.

4. layak. makanan dan minuman. Menyediakan akses terhadap penyedia jasa keuangan bagi pengembangan kegiatan ekonomi kota yang berkeadilan. dan kesehatan perorangan masyarakat perkotaan. 3. Meningkatkan kemudahan masyarakat terhadap akses pelayanan kesehatan dengan cepat dan efisien.1. Mengembangkan upaya preventif dan kuratif untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan perkotaan. serta membutuhkan integrasi dari berbagai. serta pencemaran limbah perkotaan. nyaman. penyakit menular dan hewan yang menularkannya. Menyediakan ruang yang layak dan nyaman bagi pelaku kegiatan UMKM. 2. Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. dan nyaman serta dapat terintegrasi dengan kegiatan industri dan pariwisata secara menarik. Mengembangkan sistem jaminan kesehatan yang berkeadilan dan kelembagaan yang memberikan akses dan menjamin terlaksananya perlindungan sosial dan kesehatan termasuk jiwa bagi semua kalangan masyarakat kota. sanitasi. efisien serta mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota. 2. 3. Menyediakan sarana perdagangan yang aman. BAB 4 Kesehatan lingkungan melalui upaya keseimbangan ekologi antara manusia dan lingkungan di perkotaan agar dapat tercapai kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia. Meningkatkan akses informasi peluang kerja di perkotaan. kesehatan permukiman. antara lain: air bersih. Kebijakan 3: Peningkatan pelayanan prasarana sarana kesehatan kota yang aman. 170 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . perekonomian informal dan pasar tradisional di kota yang berpihak pada potensi lokal. Kesehatan lingkungan perkotaan juga terkait dengan dampak negatif yang dihasilkan dari kegiatan perkotaan dan bagaimana kebijakan insentif dan disinsentif dalam kegiatan tersebut dapat menanggulangi dampak negatif dari kegiatan perkotaan untuk kesejahteraan semua lapisan masyarakat. termasuk kelompok lansia dan difabel. kesehatan makanan.

Mengembangkan sistem pendidikan yang terintegrasi dengan kebutuhan dunia kerja di kota. Mengembangkan sistem pendidikan keahlian dan spesialisasi. nyaman dan cepat. meningkatkan kualitas lingkungan kota dan mengurangi kemacetan dengan meningkatkan akses bagi pejalan kaki dan pesepeda serta Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 171 . (yang terkait dengan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. pesepeda. serta penyediaan laboratorium riset yang menunjang pembangunan kota berkelanjutan di masa depan. nyaman. terintegrasi serta memadahi untuk kegiatan mobilitas masyarakat kota. Pengembangan transportasi umum dengan pola terintegrasi akan lebih memudahkan masyarakat kota untuk bermobilisasi dan lebih efisien. BAB 4 Kebijakan penyediaan pendidikan yang berkualitas seyogyannya menyiapkan sekolah-sekolah dengan kualitas dengan kualitas terbaik dalam kota yang memberikan banyak kesempatan bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan keahlian sehingga berdampak pada kualitas tenaga kerja perkotaan dan mengurangi jumlah pengangguran perkotaan. efisien serta mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: Kebijakan 5: Pengembangan transportasi umum yang efisien. serta wanita dan anak Kebijakan ini dimaksudkan untuk mendorong pengembangan transportasi umum diperkotaan yang aman. nyaman dan berkualitas serta memberikan kemudahan masyarakat terhadap akses pendidikan di kota dan keterampilan yang bervariasi. nyaman. 1. 2. aman. 3.Kebijakan 4: Peningkatan pelayanan prasarana dan sarana pendidikan kota yang aman. Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang layak. dan ramah bagi pejalan kaki. akses kepada pendidikan termasuk pembiayaan pendidikan bagi semua lapisan masyarakat. Kebijakan ini terkait dengan masalah belum tersedianya sumberdaya manusia terbaik di perkotaan. kelompok lansia dan disabel.

efisien. Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. olahraga. nyaman. 172 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . aman. kuliner. seni budaya. Menguatkan interaksi dan komunikasi serta kepedulian antar warga serta meningkatkan modal sosial masyarakat kota (budaya gotong royong) 2. mewakili jati diri sosial budaya Indonesia. BAB 4 Kebijakan 6: Peningkatan pelayanan prasarana sarana sosial budaya di kota yang aman. 3. serta menyediakan ruang parkir dan berkendara (park and ride) yang kompak di setiap terminal. kaum lansia dan disabel. Menyediakan ruang terbuka dan ruang publik yang layak dan nyaman sebagai tempat interaksi sosial masyarakat perkotaan (fasilitas rekreasi. 3. Pengendalian penggunaan kendaraan pribadi. Menyediakan ruang dan fasilitas khusus yang aman dan nyaman sesuai kebutuhan pejalan kaki dan pesepeda. 4. 6. Meningkatkan penegakan hukum dalam penindakan dan pencegahan serta membangun budaya anti korupsi. serta mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota Kebijakan ini dimaksudkan untuk memperkuat kerukunan sosial dan kelestarian budaya lokal Indonesia sehingga diperlukan ruang yang dapat menampung kegiatan sosial – budaya para masyarakat perkotaan. Mengembangkan transportasi umum multimoda dan terintegrasi antarmoda yang efisien. Membangun terminal multimoda sesuai dengan hirarki kota. Mengembangkan sistem tiket terpadu antarmoda transportasi umum yang terjangkau bagi seluruh masyarakat kota.memberikan kemudahan bagi kaum lansia dan difabel. Meningkatkan peran aktif lembaga sosial masyarakat dan mengembangkan kelompok – kelompok masyarakat dalam pengawasan kehidupan sosial masyarakat dan pembangunan perkotaan. 5.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. Menetapkan kelembagaan pengelolaan terpadu transportasi antarwilayah. 2. dll). wanita dan anak. dan nyaman.

Melestarikan dan memanfaatkan warisan dan nilai budaya dalam mempertahankan kearifan lokal dan karakteristik wilayah setempat. masyarakat merasa tidak aman baik untuk tinggal maupun berkegiatan. Penyediaan fasilitas keamanan kota yang terjangkau dan dapat diakses semua kelompok masyarakat kota. kejahatan dan kriminalitas. 4. kedisiplinan. 5. Meningkatkan kesadaran hukum. 173 . dan memprioritaskan pencegahan kejadian kriminalitas dan konflik sosial antar kelompok masyarakat perkotaan. serta petugas kesehatan. Penguatan partisipasi masyarakat dalam kebersamaan sosial dan pengawasan lingkungan. Membangun dan mengembangkan sistem penanganan keamanan secara terintegrasi terhadap penanganan bencana dan konflik sosial. 5. 3. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 4 Mengurangi tingginya tingkat kriminalitas di kota saat ini menjadi fokus utama dalam isu strategis pembangunan kota. kriminalitas. dan penegakan hukum dalam pencegahan dan penindakan serta membangun budaya taat aturan dan anti korupsi Kebijakan 7: Peningkatan keamanan kota dalam rangka memberikan pelayanan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat kota Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1.4. Penegakan hukum dalam penindakan. Penguatan sumber daya manusia terintegrasi antara petugas penanganan bencana. Ketika tingkat kriminalitas kota sangat tinggi. sehingga kota tidak dapat berkembang dengan baik atau bahkan ditinggalkan penduduknya. 2.

yang menyebabkan pembangunan fisik melebihi daya dukung dan daya tampung kota. Menerapkan konsep kota padat lahan (compact city) dalam penataan ruang dengan memperhatikan karakter kota dan kegiatan penduduk kota. 5. 3. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memaksa para pemerintah daerah untuk menaati rencana tata ruang wilayah yang telah disahkan melalui peraturan daerah. 2.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: BAB 4 1. serta responsif dan adaptif terhadap perubahan iklim dan bencana Kebijakan 1: Penerapan pemanfaatan ruang dan kegiatan perkotaan yang efisien dan berkeadilan.Rencana tata ruang wilayah yang belum menjadi acuan dalam pembangunan wilayah mengakibatkan pembangunan kota menjadi tidak terarah.Misi Keempat (M4): Mengendalikan ruang dan kegiatan pembangunan kota. berbagai upaya pengelolaan lingkungan telah dilakukan namun tidak selalu berhasil. Menetapkan aturan dan prosedur pemanfaatan ruang kota yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan melalui land use planning dan building regulation sebagai dasar perijinan dan pemanfaatan lahan. Selama ini. Mengembangkan pengawasan dan penegakan hukum dalam pemanfaatan ruang kota. inefisiensi dalam pembangunan. 4. Kebijakan 2: Peningkatan Pengelolaan Lingkungan Kota. Kegagalan dalam mengelola lingkungan kota akan menyebabkan memburuknya kualitas lingkungan dan kehidupan kota. Menerapkan instrumen perpajakan (insentif-disinsentif) untuk mengatasi pertumbuhan kota yang tidak terkendali. salah satu penyebabnya adalah tidak terpadunya 174 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . dengan menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan kota. Menyediakan lahan kota untuk pelayanan kebutuhan masyarakat kota (bank lahan) serta meningkatkan kualitas pelayanan pertanahan dan jaminan hukum hak atas tanah.

Melaksanakan upaya pengurangan pencemaran udara. Mengembangkan green building di kota.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. 2. Kebijakan 3: Perubahan iklim merupakan masalah yang akan semakin berkembang. menjadi fokus utama kota dalam pencegahan dan penanggulangan bencana ini. Meningkatkan kapasitas masyarakat kota melalui pendidikan dan pengetahuan masyarakat kota dalam merespon resiko bencana dan pemeliharaan infrastruktur penanggulangan bencana serta membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana alam (urban resilience). Mengembangkan teknologi. BAB 4 Peningkatan ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. Merevitalisasi lingkungan kota yang terdegradasi akibat kegiatan penduduk kota dan menerapkan rekayasa lingkungan. informasi.Banjir dikawasan perkotaan karena kurangnya ruang terbuka hijau sebagai kawasan peresapan air alami. Mengembangkan mekanisme insentif dan disinsentif dalam pengelolaan lingkungan kota. dan suara. perubahan suhu yang ekstrem. dan budaya dalam suatu ekosistem yang terpadu. 4. rekreasi. air. Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan kota. komunikasi. kawasan yang rawan longsor.berbagai upaya pengelolaan kota yang cenderung parsial dan tidak sinergis. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 175 . Kebijakan ini memaksa pemerintah untuk mempersiapkan infrastruktur perkotaan dalam menghadapi perubahan iklim. dan infrastruktur mitigasi dalam mengantisipasi bencana dan perubahan iklim. 3. 5. Mengembangkan perlindungan lingkungan perkotaan terhadap bencana dan perubahan iklim yang terintegrasi dengan kegiatan perekonomian. yang harus dihadapi kota-kota ke depan. 3. 2. Kebijakan ini juga mendorong masyarakat agar lebih tanggap akan perubahan iklim dan bencana serta pencegahan dan penanggulangannya.

7. Mengembangkan transportasi publik perkotaan berbasis energi terbarukan (green transportation). Menyiapkan anggaran bagi penyiapan masyarakat dan teknologi dan infrastruktur adaptasi dan mitigasi terhadap bencana. 3. 4. dan jaminan berlangsungnya fungsi pendidikan dan kesehatan pasca bencana. Menyiapkan jaminan sosial resiko bencana dan perubahan iklim. 5. Kebijakan 4: Pengembangan green economy dan green infrastructure yang memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumber daya. 5.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. seluruh kelompok masyarakat serta daya dukung. Mengembangkan kegiatan perekonomian berdasarkan green building. Mengembangkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan (zero waste) untuk kegiatan ekonomi kota. recycle (3R). Mengembangkan perlindungan terhadap public services. Mengembangkan pengelolaan sampah dan limbah secara komunal dan mengurangi dampaknya melalui reduce. 2. reuse. Membangun perumahan dan lingkungan permukiman yang sehat dan adaptif terhadap bencana. 6. dan green waste. 7. green transportation. Membangun dan mengembangkan energi terbarukan. Mengembangkan pengelolaan pengolahan limbah rumah tangga dan industri tanpa pencemaran sebagai sumber daya kota yang berkelanjutan. rendah karbon. 176 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . daya tampung lingkungan kota yang berkelanjutan dan sumber daya yang terbarukan. Meningkatkan kualitas air bersih dan air minum serta pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dan berkelanjutan. 6. 8. BAB 4 Kebijakan ini merupakan upaya mendorong pemerintah dan stakeholder untuk menggunakan energi alternatif atau terbarukan dan mendorong masyarakat untuk menggunakan pedestrian dan kendaraan umum serta mengurangi emisi gas karbon dalam perkotaan.4. zero waste. Menguatkan kapasitas pemerintah dalam mengarusutamakan bencana dan perubahan iklim dalam perencanaan dan pengendalian pembangunan kota berkelanjutan.

kreatif dan inovatif. Kunci dari keberhasilan dari smart economy adalah pada pemanfaatan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebijakan 1: Tuntutan akan perekonomian yang lebih efisien menyebabkan kebutuhan akan inovasi semakin besar. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 177 . produk dan pasar dalam meningkatkan nilai tambah perekonomian kota (e-commerce). Dalam smart economy terutama ekonomi kreatif. Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kegiatan ekonomi hijau. 3. 4. sehingga dikembangkanlah konsep ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari smart economy. kreatif. Meningkatkan produktivitas tenaga kerja di kota. Mengembangkan pencitraan kota (city branding) berbasis produk unggulan. dengan mengintegrasikan kegiatan perekonomian yang produktif. 2. dimana konsep ini mengandalkan kreativitas individu dalam mengoptimalkan daya saing yang dimiliki. 1. Mengembangkan peran layanan sistem informasi industri. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan inovasi SDM dalam kewirausahaan. serta berbasis ICT.9. berbasis teknologi dan ICT. SDM unggulan dan karakter sosial-budaya lokal.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: BAB 4 Pengembangan perekonomian kota yang cerdas dan berdaya saing. ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan input utama dalam mendorong pembangunan ekonomi dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik. produktif. Misi Kelima (M5): Membangun kegiatan perekonomian. efisien. pemerintah. dan masyarakat kota yang pintar dan berdaya saing. dan inovatif. Sumberdaya ini yang terus dipacu dan didorong untuk menghasilkan inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas agar ekonomi dapat tumbuh dan kesesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.

Kebijakan 2:
Pengembangan pemerintahan yang cerdas dan kompetitif, inovatif,
efisien, dan berbasis ICT
Tata kelola kepemerintahan selama ini masih dihadapkan pada persoalan
aparatur yang kurang responsif terhadap keluhan masyarakat, belum
adanya data dasar pelayanan publik yang pasti dan sama, tolok ukur
capaian kinerja masih belum jelas dan masih tingginya angka korupsi.
Untuk menanggulangi permasalahan itu, tata kelola pemerintah diarahkan
untuk menjadi smart governance dengan pengembangan sistem dan
mekanisme pelayanan publik yang memanfaatkan teknologi informasi,
yaitu e-governance, e-procurement, e-office, e-business dan penerapan
single identification untuk setiap urusan masyarakat yang diharapkan
mampu mengurangi peluang penyalahgunaan dan mudah mudah diawasi
dalam pelaksanaannya.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi
berikut:

BAB 4

1. Membangun jaringan komunikasi pemerintah swasta dan
masyarakat berbasis ICT;
2. Meningkatkan penggunaan e-governance dalam pengelolaan
pemerintahan (kebijakan dan penganggaran) serta sistem
pelayanan publik yang ramah masyarakat;
3. Meningkatkan partisipasi dan menjembatani inovasi masyarakat
dalam perencanaan dan pembangunan perkotaan.
Kebijakan 3:
Pengembangan infrastruktur dalam upaya peningkatan efisiensi dan
daya saing kota melalui pelayanan yang cepat dan tepat
Kebijakan ini mendorong pemerintah untuk meningkatkan aksesibilitas
infrastruktur kepada seluruh masyarakat dan logistik barang dan jasa
dengan menggunakan informasi dan teknologi yang dapat
mengembangkan inftrastruktur secara tepat dan tepat baik dalam
pembangunan, pemeliharaan maupun pelayanan.Permasalahan yang
ada selama ini adalah inefisiensi infrastruktur yang disebabkan oleh
kurangnya informasi, pendanaan dan kelembagaan dalam pembangunan
infrastruktur.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Mengembangkan akses dan jaringan informasi berbasis teknologi
secara luas;

178

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

2. Mengembangkan sarana dan prasarana sistem pengelolaan
transportasi berbasis ICT secara cepat dan tepat;
3. Mengembangkan sarana prasarana, sistem manajemen dan
informasi pendidikan, serta keterkaitannya dengan sektor lain
berbasis ICT;
4. Mengembangkan sarana prasarana, sistem manajemen dan
informasi kesehatan, serta keterkaitannya dengan sektor lain
berbasis ICT;
5. Mengembangkan sistem manajemen keamanan perkotaan
berbasis ICT.

Kebijakan 4:

Pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan isu yang terjadi diseluruh
perkotaan dunia, dengan tingginya pertumbuhan penduduk di perkotaan,
juga diikuti oleh pertumbuhan ekonomi dan sejumlah dampak negatif
lainnya seperti tumbuhnya kawasan kumuh, polusi udara, sulitnya
mendapatkan air bersih, pengolahan limbah, dan pasokan energi, serta
kemacetan lalu intas. Dalam membangun smart city, perlu ada kebutuhan
untuk mempertimbangkan efisiensi dan langkah-langkah seperti
pengenalan teknologi.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

Pengembangan lingkungan kota yang cerdas dan berdaya saing
melalui pengelolaan sumber daya lingkungan kota berbasis
teknologi.

1. Mengembangkan networking informasi perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan antara pemerintah,
swasta, dan masyarakat;
2. Mengembangkan pengelolaan lingkungan udara dan air perkotaan
berbasis teknologi;
3. Mengembangkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya
dan hasil kegiatan perkotaan secara berkelanjutan (zero waste);
4. Mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya energi
terbarukan, dengan mendorong seluruh potensi dalam negeri.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

179

Kebijakan 5:
Pengembangan masyarakat kota yang pintar dan inovatif, kreatif,
produktif, serta mampu memanfaatkan potensi keragaman sosialbudaya untuk membangun daya saing kota
Menciptakan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dan ilmu
pengetahuan yang baik dalam proses pekerjaan, dapat memberikan
output yang lebih baik dibandingkan dengan keahlian dan ilmu
pengetahuan yang rendah. Sumber daya manusia yang lebih terdidik
dengan skill yang dapat diandalkan, lebih dapat melakukan inovasi dalam
bekerja dengan mengoptimalkan kekayaan sosial budaya.Kebijakan
diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

1. Mengembangkan pendidikan dan pengembangan sumber daya
manusia yang kreatif, inovatif, dan produktif berbasis keahlian;
2. Membangun kreativitas dan inovasi masyarakat dalam
pembangunan perkotaan melalui dukungan penelitian dan
pengembangan;
3. Membangun partisipasi dan keterlibatan aktif masyarakat kota
dengan semangat keterbukaan dan kerjasama untuk membangun
daya saing kota;
4. Mengembangkan karakter sosial-budaya masyarakat untuk
meningkatkan modal sosial masyarakat kota.
Kebijakan 6:
Pengembangan hunian cerdas dalam upaya peningkatan kualitas
hidup masyarakat kota berbasis informasi dan teknologi
Kebijakan ini mendorong agar masyarakat, pemerintah maupun
pengembang permukiman dan hunian untuk dapat mengembangkan
hunian yang efisien dan optimal dalam memanfaatkan energi dan
mengurangi limbah dengan memanfaatkan teknologi dan informasi yang
ada secara optimal.Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:
1. Meningkatkan kemudahan akses terhadap pelayanan pendidikan,
informasi, dan pengetahuan yang berkualitas bagi semua
masyarakat perkotaan;
2. Meningkatkan kemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan,
informasi, dan pengetahuan hidup sehat dan berkualitas bagi
semua masyarakat perkotaan;

180

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

3. Mengembangkan peran media dalam memberikan informasi
tentang perilaku hidup sehat dan cerdas di kota;
4. Meningkatkan kemudahan akses untuk berkreasi, dan
mengembangkan karakter sosial budaya di perkotaan;
5. Meningkatkan kemudahan akses untuk mendapatkan jaminan
keamanan dan keselamatan terhadap kriminalitas, bencana dan
masalah kesehatan.
Misi Keenam (M6): Meningkatkan kualitas penyelenggaraan
pengelolaan perkotaan yang berkelanjutan secara transparan,
akuntabel, dan partisipatif

Mewujudkan sistem, peraturan dan prosedur dalam birokrasi
kepemerintahan kota yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat
kota berkelanjutan
Untuk meingkatkan kualitas penyelenggaraan pengelolaan perkotaan
yang berkelanjutan, dibutuhkan sistem kepemerintahan yang menunjang.
Selain dari kualitas aparatur yang baik, sistem serta peraturan dan
prosedur dalam biroksasi kepemerintahan kota yang tanggap terhadapa
kebutuhan masyarakat diperlukan untuk mewujudkan kota yang
berkelanjutan. Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

Kebijakan 1:

1. Menyiapkan perundangan khusus pembangunan perkotaan
tingkat nasional sebagai pedoman pembangunan perkotaan
tingkat pusat
2. Mewujudkan pelaksanaan tata kelola perkotaan yang transparan,
akuntabel, partisipatif dan profesional, serta cepat dan tanggap
terhadap kebutuhan masyarakat, melalui pengembangan sistem
dan peraturan serta budaya kerja;
3. Mereview dan mengkoordinasikan peraturan perundangan yang
saling terkait dalam pembangunan dan pengelolaan kota
berkelanjutan;
4. Mengidentifikasi sumber-sumber pendapatan serta menggali
inovasi
pembiayaan,
serta
melakukan
penyempurnaan
pengelolaan keuangan, untuk pembangunan kota berkelanjutan;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

181

5. Mengembangkan data dan informasi, perencanaan perkotaan,
pembangunan, dan pengelolaan pelayanan publik berbasis
teknologi; dan
6. Mengembangkan sistem pengelolaan aset perkotaan yang
sistematis, jelas, efisien, dan terintegrasi untuk sarana dan
prasarana umum dalam kerangka terpenuhinya kebutuhan
masyarakat perkotaan secara berkelanjutan.
Kebijakan 2:
Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam
pengelolaan kota berkelanjutan yang layak dan nyaman, hijau serta
cerdas melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan secara
bersikenambungan.

BAB 4

Permasalahan yang dihadapi dalam kapasitas aparat pemerintah secara
umum adalah (1) belum meratanya kemampuan SDM aparat pemda, baik
antar satuan kerja maupun antar daerah, (2) belum memadainya
kemampuan teknis dan fungsional SDM aparat dibandingkan masyarakat
dan dunia usaha, (3) belum memadainya pemahaman dan etika
kepemimpinan daerah, (4) belum memadainya pelaksanaan prinsip
pemerintahan yang baik, (5) belum optimalnya Pelibatan masyarakat dan
stakeholder lainnya dalam pembangunan perkotaan dilakukan dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Dalam tahap perencanaan
perlu dilakukan sistem perencanaan yang melibatkan peran serta seluruh
stakeholder kota.

Sedangkan tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan aparatur
adalah (1) meningkatkan kemampuan teknis dan fungsional yang
berbasis kinerja dan pelayanan prima bagi SDM aparat pemda di seluruh
daerah, (2) meningkatkan pemahaman; (3) meningkatkan pelaksanaan
prinsip kepemerintahan yang baik; (3) meningkatkan rneningkatkan peran
serta masyarakat dan stakeholder lainnya dalam pelaksanaan
pembangunan.
Proses ini dilakukan agar terjadi kerjasama yang harmonis diantara
berbagai stakeholder dalam pembangunan kota. Dalam pelaksanaan
pembangunan kota, peran serta masyarakat juga penting karenanya
perlu dikembangkan berbagai model program pelibatan masyarakat.
Peran serta masyarakat dalam pemeliharaan prasarana dan sarana kota

182

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

1. Meningkatkan pemahaman dan pembelajaran antar daerah dan
antar negara tentang perencanaan, pembangunan, pengelolaan
perkotaan yang profesional, efisien dan efektif;
2. Meningkatkan kualitas aparatur pemerintah melalui pembinaan,
pelatihan
dan
penilaian
kinerja
dalam
perencanaan,
pembangunan, dan pengelolaan kota berkelanjutan yang efisien,
efektif, dan profesional;
3. Mengembangkan aparatur pemerintah yang transparan,
akuntabel, mampu membangun partisipasi masyarakat, serta
profesional, melalui budaya kerja berbasis pengetahuan;
4. Meningkatkan kapasitas aparatur dalam menciptakan inovasi, baik
dalam pembiayaan pembangunan, menciptakan prosedur
pengelolaan yang efektif, pelibatan masyarakat secara luas, dan
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
5. Mengembangkan partisipasi masyarakat, kepedulian, kreativitas
dan inovasi dalam mengembangkan lingkungan permukiman yang
berkelanjutan;
6. Mengembangkan peran panutan masyarakat sebagai contoh,
pembimbing, pendamping, dan agent of change dalam
mendorong perubahan pemahaman masyarakat menuju kota
yang berkelanjutan;
7. Meningkatkan peran media sosial dalam memperkenalkan dan
menanamkan
serta
memperluas
pengetahuan
dalam
pembangunan perkotaan berkelanjutan kepada masyarakat;
8. Mengembangkan peran aktif masyarakat dalam penyusunan
kebijakan, strategi, dan rencana aksi, serta mengawasi tujuan dan
arah pembangunan kota berkelanjutan.

BAB 4

merupakan salah satu keterlibatan yang secara aktif harus dilaksanakan.
Dengan berbagai masalah dan tantangan yang ada diatas, maka
kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aparatur
pemerintah yang menyangkut mekanisme kerja, struktur organisasi dan
peraturan perundang-undangan yang memadai guna menjamin
pelaksanaan kota berkelanjutan. Kebijakan diatas dijabarkan melalui
strategi berikut:

Kebijakan 3:
Mewujudkan
Pengembangan
pembangunan perkotaanyang
berkelanjutan

kelembagaan
dan
kerjasama
mendukung pembangunan kota

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

183

Pembangunan perkotaan selama ini cenderung bersifat sektoral dan
kurang adanya koordinasi antar daerah sehingga menyebabkan
kesenjangan wilayah. Kebijakan ini mendorong pemerintah agar
melakukan suatu kerjasama dan koordinasi agar pembangunan menjadi
komprehensif dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.
Pembangunan wilayah yang terpadu akan mewujudkan pembiayaan
pembangunan yang efisien karena dengan adanya kerjasama dan
koordinasi akan mengurangi adanya duplikasi dan tumpang tindih
(overlapping) antarsektor dengan daerah sehingga pembiayaan
pembangunan dapat efisien.
Kerjasama yang dimaksud bukan hanya kerjasama antar pemerintah
namun juga kerjasama antar stakeholder yang lainnya.Kebijakan diatas
dijabarkan melalui strategi berikut:

BAB 4

184

1. Meningkatkan kapasitas koordinasi dan sinergi dalam
perencanaan dan pembangunan perkotaan berkelanjutan melalui
kelembagaan koordinasi pembangunan perkotaan yang kuat;
2. Meningkatkan kerjasama antarkota, antarkota-kabupaten dan
antar daerah dalam upaya pembangunan perkotaan yang
terintegrasi dan berkelanjutan;
3. Meningkatkan peran pemerintah provinsi dalam memfasilitasi
kerjasama antar pemerintah kota maupun kota-kabupaten untuk
mewujudkan pembangunan perkotaan yang efisien;
4. Mengembangkan pengelolaan infrastruktur strategis lintas daerah
yang terintegrasi antar daerah, melalui kelembagaan yang kuat
dalam standardisasi, pembangunan dan pengelolaan, yang
terintegrasi antar daerah;
5. Meningkatkan kerjasama pemerintah, dunia usaha, dan
masyarakat, untuk percepatan penyediaan dan pengelolaan
pembangunan perkotaan secara efisien dan berkeadilan;
6. Mengembangkan forum kota dan pengembangan mekanisme
penyelesaian konflik dalam rangka meningkatkan proses
komunikasi publik untuk perencanaan pembangunan, dan
pengelolaan kota berkelanjutan;
7. Membangun kerjasama lintas negara (sister city, symbio city)
untuk percepatan pembangunan kota dan peningkatan kapasitas
SDM.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

sharing of power. kelembagaan dan pembiayaan. tantangan pembangunan dan perkembangan kota pada masa mendatang.000 dan 1:5000 untuk penyusunan rencanan tata ruang. Mengembangkan data dan informasi. ekonomi. Menyediakan peta 1:25. pelayanan perkotaan dan sistem perkotaan) untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi pembangunan kota. perencanaan perkotaan. ditengah-tengah lingkungan yang strategis yang terus berubah seperti reinviting government. kepala daerah diharapkan dapat mampu menerapkan dan menyesuaikan perencanaan maupun pelaksanaan dengan paradigma baru otonomi daerah. Penyediaan dan pemutakhirkan data (sosial budaya. 3. untuk pembangunan kota berkelanjutan. dan pengelolaan pelayanan publik berbasis teknologi. Mengidentifikasi sumber-sumber pendapatan serta menggali inovasi pembiayaan. dan 4. sehingga kepala daerah dengan diwajibkan dapat melihat arah. akuntabilitas dan aspek-aspek lainnya yang memenuhi kriteria Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 185 . serta melakukan penyempurnaan pengelolaan keuangan. BAB 4 Kebijakan 5: Pengembangan dan penyediaan data informasi pembangunan perkotaan Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: Kebijakan 6: Mendorong berkembangnya kepemimpinan kota yang visioner dan berkeadilan Pemimpin kota atau seorang kepala daerah adalah posisi sentral dan strategis dalam sistem pemerintahan daerah. Dengan pola kepemimpinan yang efektif. Pengembangan lembaga pembiayaan infrastruktur perkotaan 3. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pembangunan kota.Kebijakan 4: Pengembangan pembiayaan pembangunan mendukung pembangunan kota berkelanjutan perkotaanyang Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. peluang. Mengembangkan skema pendanaan pemerintah pusat untuk pengelolaan lintas kawasan/lintas sektor 2. lingkungan. pembangunan. 2. 1.

Meningkatkan kapasitas pimpinan/calon pimpinan kota dalam pembangunan kota yang berkelanjutan. Kebijakan 7: Menciptakan kehidupan masyarakat kota yang nyaman. Memberikan insentif dan disinsentif dalam percepatan standar pelayanan perkotaan yang menuju pembangunan kota berkelanjutan. pusat kota dan pusat antar lintas wilayah yang inklusif dan efisien. aman. dengan menyesuaikan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan perkotaan. Kebijakan 1: Membangun pusat jasa dan perdagangan bertaraf international pada kawasan pusat bisnis.2. 4. sehat. 7. Kebijakan 4: Memanfaatkan air permukaan menjadi air yang dapat dipakai untuk kegiatan masyarakat perkotaan dalam mengatasi permasalahan krisis air bersih melalui kerjasama antar daerah. 3. disabel. aman. efisien. wanita dan anak-anak. dan terintegrasi antar wilayah. efisien. Kebijakan 2: Membangun kawasan industri bertaraf internasional yang terpadu. Kota 1.2 Kebijakan Prioritas Kawasan Metropolitan dan Kota Besar BAB 4 186 Megapolitan. 2. 3. cepat. Kebijakan 3: Mengembangkan penyediaan dan pengelolaan sarana dan prasarana transportasi massal yang aman. Kebijakan 5: Mengembangkan jaringan sanitasi yang terpusat untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan 6. Mengembangkan sistem seleksi calon pimpinan kota yang berpihak kepada pembangunan kota berkelanjutan.good and clean government. kreatif dan produktif serta mampu menjaga keragaman sosial dan budaya untuk membangun daya saing kota di tingkat global Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .Kebijakan diatas dijabarkan melalui strategi berikut: 1. 4. mudah diakses dan terjangkau bagi seluruh penduduk dan layak bagi kaum lansia. 2. Kebijakan 6: Menyediakan hunian yang nyaman. inovatif. 5. Sosialisasi pembangunan kota berkelanjutan kepada partai politik yang akan melahirkan calon pemimpin. 5. cerdas. 4. Memberikan penghargaan nasional kepada pimpinan kota yang berinovasi dalam pembangunan dan penyelesaian masalah bagi kota secara berkelanjutan.

Kebijakan 4: Pengembangan ekonomi lokal yang hijau (green economy) dan sektor informal perkotaan melalui penguatan modal. Kebijakan 5: Pengembangan ekonomi lokal yang hijau (green economy) dan sektor informal perkotaan melalui penguatan modal. Kebijakan 10: Mengembangkan kelembagaan dan tata kelola yang efektif. didukung infrastruktur dan suprastruktur yang kuat dan efektif.8. perbaikan iklim investasi serta memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumber daya. serta daya dukung dan daya tampung lingkungan kota yang berkelanjutan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 4 4. 9.2. Kebijakan 8: Menciptakan keamanan kawasan perkotaan terhadap kejahatan melalui pengembangansistem keamanan cepat. penciptaan produk unggulan. rendah karbon. serta daya dukung dan daya tampung lingkungan kota yang berkelanjutan 5. Kebijakan 1: Pengembangan dan peningkatan peran pusat pertumbuhan baru yang dapat menyediakan lapangan kerja dan berkembang menjadi kota-kota sedang dan kecil untuk mendorong percepatan pembangunan perdesaan di sekitar kota 2. Kebijakan 9: Menciptakan lingkungan kawasan perkotaan yang nyaman dan aman dengan menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan kota. penciptaan produk unggulan. serta responsif dan adaptif terhadap bencana alam dan perubahan iklim 10. efisien dan terintegrasi dengan wilyaha disekitarnya serta berorientasi pada pelayanan bertaraf internasional. rendah karbon. perbaikan iklim investasi serta memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumber daya.3 Kebijakan Prioritas Kota Sedang dan Kota Kecil 187 . 1. zero waste. Kebijakan 2: Penyediaan kualitas dan kuantitas fasilitas pendukung ekonomi lokal untuk meningkatkan produksi dan distribusi barang dan jasa antara desa ke kota-kota sedang/kecil dan antara kota-kota sedang ke kota-kota besar 3. zero waste. Kebijakan 3: Percepatan penerapan dan pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) di kota dan kawasan perkotaan sedang dan kecil 4. terintegrasi lintas sektor dan lintas wilayah.

2. antara kota dengan desa/kawasan sekitarnya. Kebijakan 6: Pengendalian pemanfaatan ruang dan kegiatan perkotaan yang efisien dan berkeadilan untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap bencana alam dan perubahan iklim 7. Kebijakan 7: Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dalam perencanaan kota dan penyelenggaraan kerjasama antar kota.com/ Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan memiliki kekayaan sumber daya alam yang masih banyak dan 188 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kebijakan dan strategi pembangunan di tingkat wilayah dibagi berdasarkan lima wilayah pulau besar yaitu: A.6. dan hal tesebut sangat mempengaruhi kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan di setiap wilayah pulau.4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Spesifik Wilayah Pulau Besar dan Kota-kota Strategis BAB 4 Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai pulau dengan karakteristik yang berbeda.nationalgeographic. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Sumatera Sumber : http://photography. untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas penyediaan dan pengelolaan infrastruktur kota 4.

yang melintang dari Utara . Padang – Jambi serta Padang . Arah kebijakan pembangunan perkotaan di Pulau Sumatera. Kota-kota di Pulau Sumatera dihubungkan oleh tiga ruas jalan lintas. Ecological”.Pulau Sumatera juga berada pada posisi geografis yang strategis dalam kontek lalu lintas perdagangan internasional kerena dekat dengan negara-negara anggota “Association South East Asian Nations (ASEAN) yaitu Singapura. dengan luas wilayahnya 480. seperti ruas Bengkulu . Selain itu terdapat pula ruas jalan yang melintang dari Barat . Di tengah pulau Sumatera. yakni lintas tengah. Humane. jalur kereta api bermula dari pelabuhan Panjang (Lampung) hingga Lubuk Linggau dan Palembang (Sumatera Selatan).615. kereta api merupakan sarana transportasi alternatif.489 km2 dan berpenduduk 49. BAB 4 potensial. dikelompokkan berdasarkan “wilayah pertumbuhan” yaitu: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 189 .Timur. Di bagian selatan.Selatan Sumatera. lintas timur.400 jiwa adalah kedua terbanyak setelah Pulau Jawa. Jalur ini menghubungkan antara kota Padang dengan Sawah Lunto dan kota Padang dengan kota Pariaman. berada pada posisi geografis paling dekat dengan Pulau Jawa sehingga perekonomian wilayah ini berinteraksi sangat intensif dengan pulau Jawa. jalur kereta api hanya terdapat di Sumatera Barat. membentuk jalur pelayaran antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Selat Melaka yang terkenal sebagai wilayah kawasan Alur Laut Kegiatan Internasional (ALKI) dibagian timur Pulau Sumatera merupakan kawasan laut terpenting di dunia.Dumai. Di beberapa bagian Pulau Sumatera. Malaysia dan Thailand dan berhadapan langsung dengan kawasan negara-negara Asia Timur (Jepang. dan lintas barat. China dan India) yang merupakan belahan dunia dengan ekonominya bertumbuh dan berkembang cepat. berada diantara dua negara yang jumlah penduduk terbesar di dunia dan ekonominya tumbuh cepat yaitu India dan RRC. Arah Kebijakan umum perkotaan di wilayah Pulau Sumatera adalah mewujudkan kondisi wilayah pulau Sumatera agar menjadi wilayah kepulauan yang kota-kotanya memiliki indikasi: “Smart growth.Palembang.

h. Pengembangan kota-kota yang termasuk dalam koridor ekonomi di sepanjang pantai timur Sumatera daan pengembangan kota-kota dalam wilayah rawan bencana di pantai barat Sumatera. f. sebagai kawasan pusat pariwisata kelautan. sebagai kawasan pusat pariwisata paska penambangan. Karo) sebagai kawasan perkotaan yang mampu bersaing ditingkat global. kebijakan pengembangan perkotaan di Pulau Sumatera diarahkan kepada : 1. sebagai kawasan pusat pengolahan hasil pertanian. Bandar Lampung. sebagai kawasan pusat pendidikan. Kebijakan Pembangunan Perkotaan di Pulau Sumatera : Secara umum. b. d. sebagai kawasan pusat pariwisata kelautan. Palembang. Sawahlunto. 2) Perwujudan percepatan pembangunan kota Sabang (PKSN/PKW) menuju kota yang berdaya saing tinggi. 190 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 4) Perwujudan kota-kota yang berpotensi dan sedang berkembang seperti: a. sebagai kawasan pusat budaya dan pariwisata. e.BAB 4 1) Perwujudan Kota Batam (PKSN/PKN) menjadi kota yang berdaya saing terhadap Singapura dan Jorhor Bahru. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan sedang 2. Binjai. sebagai kawasan pusat perdagangan dan jasa. Pekanbaru. Bengkulu. g. c. Pengembangan kota-kota di kawasan perbatasan 3. Sibolga. Deli Serdang. Lhokseumawe. sebagai kawasan pusat pengolahan hasil pertanian dan kelautan. 3) Perwujudan Kawasan Mebidangro (Medan. Padang. budaya dan pariwisata.

Hal ini pada akhirnya. Meskipun kesuburan tanah di Jawa untuk tanaman padi jauh lebih subur dibanding Sumatera dan kalimantan. pulau Jawa dan Bali semakin kritis dan terancam. Hal ini dapat terjadi karena proses perkembangan tata ruang yang cenderung dikontrol oleh pasar dan kapital.000 Ha/tahun. Di Jawa. BAB 4 Sumber : http://paketwisatayogyakarta. dimana terlalu banyak sumber daya dan perhaitan diberikan ke jawa dan Bali. lingkungan.B. sementara intervensi atau pengendalian oleh pemerintah cenderung kurang efektif. dan sumber daya.com/ Dari sisi tata ruang. menyebabkan situasi dimana perkembangan perkotaan di Jawa dan Bali terjadi begitu pesat.wordpress. Yang terjadi adalah berbagai eksternalitas yang muncul dalam bentuk kerusakan lingkungan dan ketidak-adilan sosial. terus terjadi pengurangan tanah pertanian yang signifikan. dan kurang untuk wilayah-wilayah di luar Jawa dan Bali.files. penyusutan lahan sawah terjadi sebesar 36. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Jawa-Bali Fakta bahwa wilayah Jawa dan Bali masih menjadi tumpuan kehidupan dan perekonomian nasional ini menggambarkan bahwa selama ini telah terjadi bias dalam pembangunan nasional. dimana pasar cenderung bekerja sangat kuat. sementara pemerintah tidak cukup mampu mengendalikannya. Penyusutan ini terjadi baik karena pembangunan perumahan maupun industri. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 191 .

Kebijakan dan strategi perkotaan Jawa dan Bali berorientasi pada bagaimana menyeimbangkan antara posisi dan peran pembangunan pulau Jawa dan Bali secara nasional dengan kondisi keterbatasan dan kerentanan lingkungan pulau Jawa dan Bali. b. Yogyakarta dan sekitarnya (Kartamantul). Mengendalikan peran ekonomi megapolitan Jabodetakbekjur. 192 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Semarang dan sekitarnya (Kedungsepur). 2) Meningkatan efisiensi jaringan sarana-prasarana untuk mendukung kelancaran kegiatan ekonomi dan sosial Pulau Jawa-Bali. Surabaya dan sekitarnya (Gerbangkartasusila). yaitu: 1) Pengendalian pembangunan perkotaan yang lebih ketat dan tegas untuk tidak semakin menekan daya dukung Pulau Jawa-Bali: a.Secara umum. Mengontrol secara ketat perkembangan kota-kota metropolitan lain di Pulau Jawa yakni Bandung dan sekitarnya (Bandung Raya). Pemerataan pembangunan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat melalui keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan keterkaitan hubungan Klaster Utara – klaster Tengah dan Klaster Selatan Pulau Jawa Arah kebijakan pembangunan perkotaan di Pulau Jawa – Bali. Perumusan kebijakan dan strategi perkotaan Jawa dan Bali juga diharapkan agar tidak terjadi „bias‟ Jawa dalam konteks perumusan kebijakan dan strategi perkotaan nasional sebagaimana selama ini sering terjadi. Pengendalian pertumbuhan ekonomi kawasan megapolitan 3. sesuai dengan karakteristik perkembangan pembangungunan kota-kota di jawa dan bali. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan sedang 2. maka Kebijakan Perkotaan Pulau Jawa Bali diarahkan pada : BAB 4 1. serta Denpasar dan sekitarnya (Sarbagita).

walaupun sebenarnya Pulau Kalimantan masih memiliki potensi sumber daya alam yang tinggi. Klaster tengah (kota-kota di bagian tengah). Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Kalimantan Sumber : http://cdn0. termasuk Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 193 .com/ Pulau Kalimantan. Pengembangan kawasan perkotaan yang mempertimbangkan keseimbangan hubungan antar kluster. meliputi: Klaster utara (kota-kota di pesisir utara). sangat kecil jika dibandingkan dengan penduduk Pulau Jawa yang mencapai 120 juta jiwa (lihat bab KSPN Jawa Bali).a. c. b. Mengoptimalkan peran kota-kota menengah dan kecil. Peningkatan efisiensi dan kualitas lingkungan kota-kota di Jawa-Bali sebagai prasyarat peningkatan kualitas kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia.harperhotels. dengan luas wilayah 743. BAB 4 C. e. Peningkatan kerjasama antar kota dan wilayah-wilayah perkotaan. Peningkatan kapasitas pengelola kota dan tata kelola kota.330 km2 merupakan pulau terbesar di Indonesia hanya mempunyai jumlah penduduk sekitar 16 juta di tahun 2000. dan Klaster selatan (kota-kota di pesisir selatan Pulau Jawa). d.

terutama dengan menggunakan pesawat terbang. 3) Mengembangkan sistem kota-kota untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah : a. mempunyai posisi yang strategis. yaitu: 1) Mempertahankan tutupan hutan dan memperhatikan dampak perubahan iklim. terutama jika dikaitakan dengan keberadaan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang melalui selat Kalimantan dan Selat Karimata.Pulau Kalimantan. memperhatikan karakteristik lokal: transportasi sungai 194 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kota-kota di Pulau Kalimantan belum terhubung dengan baik dengan jaringan transportasi darat maupunudara. Mengembangkan kota-kota kecil dan keterkaitan antar kota di kawasan perbatasan dengan pengembangan transportasi sungai dan kota-kota pada jalur ALKI sebagai pusat kegiatan perdagangan. Mempertahankan luasan hutan produksi dan hutan lindung sedikitnya 45% dan memperhatikan dampak perubahan iklim 3. ALKI yang dipakai oleh kapal-kapal internasional memungkinkan sisi barat dan timur Kalimantan untuk membuka pelabuhan internasional. BAB 4 2.hutan dan sungai yang besar mengelilingi kota dan kawasan perkotaannya. kebijakan pembangunan kota-kota di Pulau Kalimantan : 1. 2) Mengembangkan perkotaan di kawasan perbatasan: Pengembangan kota-kota kecil di perbatasan (Sangata dan semua PKSN). Berdasarkan karakteristik dan isu strategi yang ada di Pulau Kalimantan. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan sedang. Arah kebijakan pembangunan perkotaan di Pulau Kalimantan. Kota-kota besar di Kalimantan lebih mudah dicapai dari kota di luar Kalimantan. terutama kota-kota di pesisir barat dan timur. sebagai pusat pertumbuhan yang mampu meningkatkan ekonomi lokal di kawasan perbatasan.

Selanjutnya. 5) Mengembangkan kota-kota pada jalur ALKI sebagai pusat kegiatan perdagangan internasional: Pengembangan kota-kota besar Pontianak. yaitu cluster wilayah potensial maju. Masing-masing cluster dikembangkan indikasiindikasi kebijakan yang relevan dalam mendukung keterkaitan PKN-PKW-PKL. kemiripan karakteristik sosial. Banjarmasin. dikembangkan struktur kota-kota di Sulawesi dengan tiga (3) cluster utama. sebagai pusat pertumbuhan yang mampu bersaing ditingkat internasional BAB 4 D. pertahanan dan keamanan. cluster wilayah strategis. sebagai pusat pertumbuhan yang mampu bersaing ditingkat nasional 4) Mengembangkan keterkaitan antar kota-kota perbatasan (PKSN) untuk dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan penduduknya.b. fisik geografis. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Sulawesi Sumber : http://faktaunik. Samarinda dan Balikpapan. Palangkaraya.com/ Prinsip dasar struktur kota-kota di Sulawesi dikembangkan berdasarkan cluster geografis. Bontang. cluster wilayah berkembang.wordpress. serta keterkaitan PKN-PKW-PKL. ekonomi. Pengembangan kota-kota menengah: Singkawang. Tarakan. dengan arahan yang spesifik pada tipologi kota- Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 195 .files.

dan posisi strategis kota-kota dalam jalur ALKI: Pengembangan peran kawasan perkotaan Maminasata untuk mendorong pertumbuhan kota-kota dan wilayah di sekitarnya 2) Pengembangan pusat pelayanan pemeriksaan lintas batas negara. Barat dan Gorontalo. 2. KEK). Terakhir. Dari tahap-tahap tersebut. disusun kebijakan umum yang diambil untuk mengatasi permasalahan dan tantangan pembangunan perkotaan di Pulau Sulawesi adalah : 1. Pada prinsipnya. perdagangan-jasa dan transhipment point. indikasi kebijakan pada cluster wilayah strategis fokus pada percepatan pertumbuhan kota-kota kecil di perbatasan dalam rangka meminimalisasi kesenjangan sosial ekonomi dengan wilayah perbatasan. Tengah. pusat perdagangan-jasa lintas batas. indikasi kebijakan pada cluster wilayah berkembang adalah mendorong pertumbuhan kota-kota sedang dan kecil untuk menghindarikesenjangan wilayah. Pemerataan konektivitas wilayah dan antar wilayah dengan pengembangan angkutan udara dan laut dalam rangka mengurangi kesenjangan wilayah kota-kota menengah dan kecil di Sulawesi bagian Utara. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan sedang Optimalisasi potensi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan penguatan peran kota-kota dalam jalur ALKI melalui pengembangan peran kawasan perkotaan Maminasata dan wilayah sekitarnya. pusat administrasi pelintas batas negara. indikasi kebijakan pada cluster wilayah potensial maju adalah fokus pada pengendalian pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan untuk menghindari primasi kota. BAB 4 3. 196 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . terutama pada PKSN di Sulut (Melonguane dan Tahuna) dan kota-kota dalam jalur ALKI. Kebijakan yang lebih khusus untuk pembangunan kota-kota di Pulau Sulawesi diarahkan pada : 1) Memanfaatkan potensi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi (KAPET. Kemudian.kota yang termasuk di dalam cluster tersebut.

melalui pemantapan fungsi dan peran pelabuhan serta bandara di kota-kota menengah dan kecil bagian barat Sulawesi dalam rangka memanfaatkan peluang dibukanya akses perdagangan baru melalui Selat Makassar: a. Pengurangan kesenjangan wilayah. Pengurangan kesenjangan wilayah. Kepulauan Nusa Tenggara Kepulauan Nusa Tenggara merupakan kepulauan yang terletak di selatan wilayah Indonesia. b. melalui pengembangan kota-kota menengah dan kecil di Sulawesi bagian utara. barat.adventure-lombok. melalui pengembangan kota-kota menengah dan kecil di Sulawesi bagian utara. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Kepulauan Nusa Tenggara Sumber : http://www. b) Pengembangan pariwisata yang berbasis pelestarian warisan budaya. barat.393.BAB 4 3) Optimalisasi potensi ekonomi lokal. tengah. E. tengah. dan Gorontalo 6) Pengelolaan kota (pesisir) berbasis mitigasi bencana di seluruh kota. Kepulauan Nusa Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 197 . 4) Pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana. 5) Peningkatan konektivitas wilayah.674 (2011). melalui pendayagunaan instrumen Corporate Social Responsibility (CSR) yang berbasis pelestarian lingkungan hidup pada kawasan pertambangan. dan Gorontalo. melalui a) Pengembangan ekonomi kota berbasis sumberdaya kelautan dan sektor pertanian dan perkebunan (padi – jagung –kakao).com/ Dengan jumlah penduduk sebanyak 9.

sesuai dengan isu strategis dalam penanganan permasalahan dan tantangan yang ada. Sedangkan untuk kebijakan khusus pembangunan perkotaan di Pulau Nusa Tenggara adalah : 1) Peningkatan layanan infrastruktur dalam mendukung kegiatan perekonomian di seluruh kota. yang dahulu merupakan bagian dari negara Republik Indonesia. Kepulauan Nusa Tenggara berbatasan langsung juga dengan Timor Timur. 2) Pengembangan pusat pelayanan pemeriksaan lintas batas negara dan pusat perdagangan-jasa lintas batas.kebijakan umum pengembangan kota-kota di Kepulauan Nusa Tenggara adalah : BAB 4 1. 198 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . pengendalian alih fungsi lahan dan integrasi mitigasi bencana dalam pembangunan kotakota pesisir. 4) Pengembangan potensi ekonomi lokal dan pengendalian alih fungsi lahan di Kupang dan Mataram. Pengelolaan lingkungan. Kepulauan Nusa Tenggara menjadi batas selatan Indonesia karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Kekayaan alam yang menjadi komoditas utama Kepulauan Nusa Tenggara di antaranya keindahan pantai Pulau Lombok.Tenggara merupakan kepulauan yang kaya dengan keindahan alam. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan kota sedang 2. dan penyediaan perumahan layak huni terutama di perbatasan. serta pengembangan potensi ekonomi dan sosial budaya di PKSN di NTT. 3. peningkatan pertahanan keamanan melalui pembangunan batas wilayah. Terdiri atas dua provinsi. 3) Pengelolaan lingkungan dan integrasi mitigasi bencana dalam pembangunan kota-kota pesisir. dan juga wisata alam Pulau Komodo. yaitu Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan ekonomi lokal untuk mengurangi kemiskinan dan menguatkan posisi kawasan perbatasan di pulau-pulau kecil.

Sumber : http://jelajah. diarahkan pada : 1.com/ Kepulauan Maluku adalah sekelompok pulau yang terletak di lempeng Australia. 3. Maluku dikenal sebagai kepulauan Rempahrempah. BAB 4 F. kepulauan Maluku terdiri dari ribuan pulau tropis yang sangat cantik. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan sedang 2. kebijakan pembangunan kota-kota di Pulau Maluku. serta keramahan warga-nya menjadikan Maluku sebagai tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun Internasional. Terletak di bagian timur Indonesia. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Kepulauan Maluku Secara umum. Pengembangan Ternate dan Ambon sebagai pusat pertumbuhan nasional di kawasan kepulauan Maluku Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 199 . pantai-pantai yang indah. Pengembangan interkonektivitas antar kota-kota pesisir antarwilayah melalui jaringan transportasi antarpulau dan pengembangan pulau-pulau kecil. dan telah menarik pedagang dan petualang dari seluruh dunia.valadoo. Kekayaan alam berupa flora dan fauna yang unik.

Ilwaki. 2) Pengembangan kawasan perbatasan di pulau-pulau kecil terluar. 3) Pengembangan kota Ternate dan Ambon sebagai pusat pertumbuhan nasional di kawasan kepulauan Maluku. melalui peningkatan infrastruktur perhubungan laut dan udara. dalam rangka menanggapi isu strategis kewilayahan. 4) Pengembangan kota Sofifi sebagai pusat pemerintahan Maluku Utara sekaligus pusat pertumbuhan di pulau Halmahera.Dari kebijakan tersebut. arah kebijakanlebih didetailkan untuk menjawb tantangan pembangunan kota-kota di Pulau Maluku.com/ 200 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .bp. Dobo (Maluku) dan Daruba (Maluku Utara). yaitu : 1) Pengembangan interkonektivitas antar wilayah melalui pengembangan pulau-pulau kecil dengan memperhatikan daya dukung lingkungannya serta berbasis mitigasi bencana.blogspot. Kebijakan dan Strategi Perkotaan Pulau Papua Sumber : http://1. bertujuan untuk mengatasi kesenjangan antara Maluku dan Maluku Utara. BAB 4 G. meliputi Saumlaki.

pertanian dan pertambangan. Kondisi alam yang bergunung-gunung selama ini menyebabkan sulitnya pembangunan infrastruktur dan perkotaan di pulau Papua. Pulau ini terbagi menjadi dua wilayah. dan bagian timurnya merupakan negara Papua Nugini. kebijakan dan strategi pengembangannya antara lain : 1) Pengelolaan berbasis mitigasi bencana di seluruh kota. Pengelolaan kota berbasis mitigasi bencana di semua wilayah perkotaan 4. Papua merupakan Pulau yang kaya dengan komoditas bahan galian seperti minyak dan gas bumi. perlu juga diberikan beberapa contoh kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan di tingkat kota yang mewakili setiap pulau dan lebih spesifik sesuai karakteristik fisik. Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan di kota kecil dan sedang 2. wilayah Papua dan sekitarnya melalui linta penyeberangan di Sulawesi – Maluku – Papua BAB 4 Pulau Papua. emas. Pengembangan kawasan perbatasan dengan Papua New Guinea (PNG) 3. adalah pulau terbesar kedua di dunia. Merauke. Manokwari.1. Wamena sebagai pusat-pusat pertumbuhan wilayah yang berbasis pada pengembangan ekonomi lokal. dll. Kebijakan pembangunan untuk kotakota di Pulau Papua adalah dengan : Sebagai arahan yang lebih mikro untuk pengembangan kota-kota di Pulau Papua. Biak. 3) Pengembangankota-kota Timika. perkebunan. dan juga batu kapur. tembaga. Nabire. Disamping kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan di tingkat pulau. potensi ekonomi dan budaya localsebagai berikut: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 201 . Peningkatan jaringan penghubung baik infrastruktur maupun ekonomi antar pulau. yang bagian baratnya merupakan wilayah Indonesia. Fak Fak. yang dahulu disebut dengan Pulau Irian. marmer. 2) Pengembangan kota Sorongdan Jayapura dalam meningkatkan interkonektivitas antar wilayah di kepulauan Papua.

A. 2) Percepatan pengembangan sektor pariwisata melalui pelestarian aset dan situs/kawasan bersejarah kota Sabang sebagai bagian dari kekayaan daerah dan nasional dan dikelola sebagai tujuan wisata 3) Pengintegrasian sistem pencegahan. 1) 202 2) Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 3) . penanggulangan bencana alam dan pelestarian lingkungan dalam semua dokumen perencanaan pembangunan dari tingkat kota sampai hirarki permukiman terkecil (kampung) BAB 4 B. Kota Sabang.Kota Pertambangan 1) Peningkatan kualitas pariwisata kota tambang sebagai basis ekonomi Kota Sawahlunto 2) Peningkatan kesiapan dalam tanggap bencana alam secara terpadu 3) Peningkatan kualitas kinerja kelembagaan daerah.Kota Perikanan 1) Pembangunan kota Sabang melalui pengembangan ekonomi dengan menggunakan infrastruktur pelabuhan serta pengembangan kerjasama yang efektif dalam pengelolaan kota Sabang masa depan. Kota Sawahlunto.

yang mampu menjaga habitat sungai dan hunian penduduk. serta peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan. serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. D. agribisnis.C. Kota Pontianak-Kota Perbatasan 1) Pengembangan kawasan perkotaan dengan sungai sebagai halaman depan kota melalui revitalisasi kawasan sepanjang sungai. dan jasa. 2) Pengendalian banjir secara terpadu melalui pengelolaan drainase terintegrasi 3) Pengelolaan sampah kota yang semakin meningkat volumenya. namun kapasitas angkutnya semakin rendah. 2) Memacu pemenuhan kebutuhan prasarana sarana dan utilitas kota. 3) Mengembangkan industri kreatif dan IT sehubungan dengan keterbatasan lahan kota dan menghadapi persaingan global. 4) Mengedepankan pengembangan sumber daya manusia dan sosial-budaya dalam pembangunan perkotaan yang dapat mendukung industri. regional dan nasional. Kota Cimahi – Kota Teknologi BAB 4 1) Memantapkan fungsi kota sebagai kota jasa dan meningkatnya peran kota sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi lokal. dan meningkatkan pengawasan pembuangan air limbah. serta penyediaan perumahan dan permukiman yang layak dan terjangkau serta terintegrasi dengan kawasan metropolitan Bandung Raya dan mengembangkan konsep kota padat lahan (Compact City) yang didukung oleh pemanfaatan ruang kota yang efisien dan berkeadilan. 4) Kampanye dan pengembangan program penghijauan kota Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 5) 6) 203 . pariwisata.

Kota Surabaya-Kota Perdagangan dan Industri 1) Pengendalian investasi pembangunan kota dengan tetap mempertahankan kekhasan perkotaan Surabaya. Pemanfaatan ruang kota yang efisien serta berkeadilan dan pemanfaatan perlindungan di pelestarian kawasan lindung. Mengembangkan rumah bagi masyarakat menengah ke bawah dan menengah ke atas atas secara berimbang dan berwawasan lingkungan. Mendorong terciptanya SDM perkotaan metropolitan yang berintegritas dan berbudaya dan menurunkan laju pertumbuhan angka kemiskinan di perkotaan. penataan dan pengendalian untuk sektor informal sebagai aset perekonomian masyarakat perkotaan. 2) 3) 4) 5) 6) BAB 4 204 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Mengembangkan sistem transportasi massal yang didukung dengan regulasi dan kebijakan dalam mengurangi kemacetan kota Surabaya.E. Mengembangkan kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah perkotaan yang mampu mendukung perekonomian masyarakat perkotaan dan penyediaan.

5) Peningkatan peran dan fungsi lembaga-lembaga sosial dan keagamaan dalam upaya mengantisipasi bahaya Narkoba dan HIV/ AIDS.F. bagi masyarakat berpenghasilan rendah 4) Peningkatan kesadaran masyarakat tentang kelestarian lingkungan.Kota Wisata 205 . dan penyediaan perumahan/ pemukiman yang layak huni. 2) Mendorong Kota Parepare dan wilayah sekitarnya agar mampu mengembangkan ekonomi lokal. 3) Meningkatkan kapasitas fiskal sesuai dengan potensi dan kekayaan alam di kota dan kawasan sekitar Pare Pare. terutama. 3) Penyediaan sarana untuk proses interaksi sosial masyarakat kota. Kota Sorong. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 4 G. peningkatan kapasitas dan daya dukung air bersih. sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. 1) Pemberdayaan masyarakat lokal/putra daerah (Papua) yang tertinggal jauh dibandingkan dengan masyarakat pendatang dan perluasan kesempatan kerja dan peningkatan keterampilan tenaga kerja bagi warga lokal 2) Pengembangan sistem nilai budaya dan kearifan lokal sebagai basis pembangunan kota. Kota ParePare – Kota Pelabuhan 1) Mengedepankan pembangunan manusia dan sosial-budaya dalam pembangunan kota Pare Pare.

BAB 4 206 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . nyanyian dan budaya setempat. keindahan alam. kuliner. pengembangan klaster ekonomi lokal. wisata agama) dan pengembangan SDM pendukung pariwisata di perkotaan yang menghasilkan tenaga yang mampu berinovasi dalam pengembangan pelayanan pariwisata kota Ambon. dan pengembangan produk-produkunggulan kota.H. Pengembangan produk2 pendukung pariwisata kota Ambon (souvenir. Kota Ambon-Kota Pesisir 1) 2) 3) 4) 5) Pengembangan “Water Front City“ yang mengedepankan karakter kota yang berbasis pesisir dan pantai sesuai kondisi lingkungan Peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan perkotaan. Pencegahan bahaya laten konflik dengan komunikasi efektif antara masyarakat perkotaan dengan generasi muda perkotaan. Pengembangan dan pengendalian ruang publik dengan menerapkan sistem perpajakan insentif dan disinsentif yang adil dan berkelanjutan. serta membangun forum-forum kota yang efektif untuk pembangunan kota Ambon. melalui peningkatan usaha ekonomi lokal. tarian.

BAB 4 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 207 .

BAB 5 Kebijakandan danStrategi StrategiPembangunan PembangunanPerkotaan PerkotaanNasional Nasional 208 2Kebijakan .

BAB 5 KERANGKA KELEMBAGAAN PERKOTAAN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 209 .

1.KELEMBAGAAN PERKOTAAN 5. Dalam hal ini. baik Pusat maupun Daerah dalam penyelesaian berbagai isu dan masalah pembangunan perkotaan tersebut. belum optimalnya kelembagaan pembangunan dan pengelolaan perkotaan Indonesia saat ini yang ditandai dengan berbagai macam masalah yang berdampak pada kurang optimalnya pelayanan terhadap masyarakat. dan akuntabel. kapasitas kelembagaan dan aparatur. transparan. serta tata kelola yang belum berjalan secara partisipatif. Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh Pemerintah. Belum ada lembaga di tingkat pusat yang secara khusus menangani pembangunan perkotaan. Berbagai isu dan masalah pembangunan perkotaan muncul seiring dengan perkembangan perkotaan tersebut. Struktur Kelembagaan 1. antara lain: A. 5. salah satunya dalam bentuk penguatan dan pembentukan kelembagaan. BAB 5 Fakta dilapangan.1 Permasalahan dan Tantangan Perkotaan di Indonesia telah berkembang dengan sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir. Permasalahan kelembagaan dan pengelolaan pembangunan perkotaan antara lain terkait degan struktur kelembagaan. baik untuk memonitor maupun mengkoordinasikan pembangunan perkotaan sehingga pengelolaan pembangunan perkotaan secara nasional belum berjalan dengan optimal. 210 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . diasumsikan bahwa kelembagaan perkotaan akan menjadi faktor kunci dalam melakukan penanganan isu dan tantangan pembangunan perkotaan.1 Kelembagaan Perkotaan di Tingkat Pusat Permasalahan kelembagaan perkotaan di tingkat pusat. termasuk didalamnya melalui penyiapan berbagai kerangka regulasi dan kerangka pembiayaan yang dibutuhkan sehingga dapat mempercepat penyelesaian berbagai isu dan masalah pembangunan perkotaan.

Tumpang tindih tugas dan fungsi antar lembaga yang saat ini menangani pembangunan perkotaan. 211 . baik kementerian maupun lembaga pemerintah non departemen. Belum adanya institusi yang secara intensif menangani pemeliharaan infrastruktur. Belum adanya lembaga dan mekanisme anggaran yang dapat membangun infrastruktur perkotaan secara terintegrasi serta menjamin kondisi pelayanan dapat berjalan dengan baik. Kapasitas Kelembagaan dan Aparatur 1. 2.B. 4. paperless. Belum ada bentuk kerjasama antar kota terutama untuk kawasan metropolitan yang berhasil. Kenyataannya pelayanan publik bagi masyarakat perkotaan khususnya di kawasan perkotaan lintas administrasi pemerintahan baik antar provinsi maupun kabupaten memerlukan kerjasama antar daerah dalam rangka Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 5 2. Rendahnya kapasitas kelembagaan dan aparatur terkait pembangunan perkotaan Masalah ini dapat dilihat dari perilaku aparat yang lambat. terutama di kawasan perkotaan yang melibatkan lintas administrasi pemerintahan yang memerlukan pelayanan yang sama. sarana. 5. Pengelolaan pembangunan perkotaan secara sektoral belum mampu meningkatkan pelayanan publik di perkotaan secara efektif dan efisien. serta pola kerja yang kompetitif. efisiensi kerja. Dalam hal pengelolaan perkotaan. Pemerintah pun cenderung sulit untuk menggerakkan partisipasi masyarakat serta menciptakan iklim yang kondusif guna merangsang peran swasta dalam penyediaan pelayanan publik yang tidak dapat dipenuhi sendiri oleh pemerintah. egovernement. pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota saat ini hanya bekerja pada batas administrasi semata yang pada akhirnya pelayanan publik bagi masyarakat perkotaan hanya terbatas pada lingkup administrasi yang telah ditetapkan. terutama dalam mengikuti perkembangan teknologi. Terbatasnya radius pelayanan pemerintah dalam pengelolaan kawasan perkotaan Terdapat jenis pelayanan publik perkotaan yang tidak dapat dipisahkan hanya pada batas administrasi. dan prasarana perkotaan. 6. 3.

Berbagai permasalahan kelembagaan perkotaan yang terjadi di daerah antara lain: A.pengelolaan berbagai pelayanan yang ada untuk meningkatkan efisiensi pelayanan. dan 3. Belum dimilikinya visi dan misi untuk mengarahkan pembangunan perkotaan secara nasional oleh kementerian/lembaga yang terkait. 212 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. ketidakmerataan pelayanan. 2. fungsi. pengusaha swasta dan BUMD.2 Kelembagaan Perkotaan Kabupaten/Kota di Tingkat Provinsi dan BAB 5 Tidak hanya di tingkat pusat. belum ada kesepakatan tentang kelembagaan fungsi pemerintah serta kriterianya akibatnya terjadi kekaburan tugas dan tanggung jawab instansi pemerintah dalam pengelolaan kawasan perkotaan. perguruan tinggi.1. overhead cost yang tinggi.Inefisiensi. 5. Penyusunan struktur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hanya mengikuti pembagian urusan pemerintahan dan belum mencerminkan prinsip efektivitas dan efisiensi pemerintah 1 Kelembagaan daerah adalah unsur-unsur pelaku pembangunan daerah yang terdiri dari aparatur pemerintah daerah. Hal ini terjadi sejak dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah dan munculnya berbagai peraturan perundangan yang merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang No.Peranan pelaku pembangunan tersebut sangat penting untuk menciptakan hubungan koordinasi yang efektif dan efisiensi sesai dengan tugas. Kurangnya sinergi dan koordinasi antara lembaga di tingkat pusat dengan lembaga di tingkat daerah yang terkait pengelolaan pembangunan perkotaan. Struktur Kelembagaan 1. serta kewenangannya masing-masing. kelembagaan perkotaan di daerah1(provinsi dan kabupaten/kota) juga mengalami banyak permasalahan. C. Rendahnya manajemen pelayanan perkotaan Sampai sejauh ini. Tata Kelola 1. kelambatan. lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat dalam arti luas. serta ketidakpastian biaya yang harus dikeluarkan masyarakat menjadi masalah manajemen pelayanan perkotaan.

Pemerintahan Daerah Provinsi. inkonsistensi pembagian bidang. namun kenyataan dilapangan. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Pembagian urusan di beberapa sektor masih kurang jelas dan bahkan membingungkan menimbulkan konsekuensi potensi tarik menarik kepentingan atau tolak menolak kewajiban pada urusan bersama. dan akuntabilitas yang membagi kewenangan pemerintahan dalam urusan yang sifatnya mutlak dan urusan bersama. konflik pengaturan organik serta hambatan kapasitas daerah dalam menerapkan pembagian urusan tersebut. Hal ini terjadi pada instansi-instansi yang terkait dengan pembangunan perkotaaan dimana kompleksitas dan dinamika perkotaan tidak diimbangi dengan adanya kelembagaan yang secara khusus menangani dan memiliki analisis beban kerja yang optimal. Seharusnya UU 23 tahun 2014 dapat mendorong perangkat daerah yang porposional dengan kebutuhan pembangunan dan pelayanan publik. efisiensi. sehingga anggaran untuk pembangunan infrastruktur serta pelayanan publik yang lain sangat kurang. Kapasitas Kelembagaan dan Aparatur 1. b. 213 . Pembagian urusan tersebut didasarkan atas kriteria eksternalitas. UU No 23 tahun 2014 menyebutkan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) tidak harus dialokasikan kepada pegawai terlebih dahulu. Penataan Kewenangan Antar Tingkat Pemerintahan Pembagian urusan antara Pemerintah Pusat dan Daerah diatur dalam PP Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Belum tersedianya lembaga yang secara khusus menangani pembangunan perkotaan di tingkat kabupaten/kota yang melibatkan SKPD. Di sisi lain. Restrukturisasi Organisasi Perangkat Daerah Permasalahan dan tantangan yang dihadapi adalah mayoritas struktur organisasi masih gemuk atau tidak sesuai dengan PP 41/2007. 2. Kapasitas Kelembagaan a. banyak daerah yang menggunakan DAU untuk gaji pegawai. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 5 daerah.B.

Termasuk diberikan kewenangan untuk menyusun regulasinya sendiri sesuai dengan tata urutan penyusunan peraturan perundangan. RPJMD ataupun RKPD. sehingga kurang menarik untuk diusahakan.c. Sampai sekarang. ditemukan masih banyak ketidakharmonisan dan ketidaksinkronan berbagai peraturan perundangan antara sektor dengan daerah. baik melalui pajak maupun retribusi daerah (taxing power). (2) UU Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan terkait dengan kewenangan provinsi/kab/kota dalam pengukuhan kawasan hutan. Salah satu penyebabnya adalah ego daerah. Kerjasama Daerah Pemerintah Daerah masih belum cukup mempertimbangkan Kerjasama Antar Daerah sebagai salah satu inovasi dalam penyelenggaraan pembangunan. dimana konsep otonomi daerah dipandang dengan menggunakan sudut pandang yang sempit. (3) UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan. pemerintah daerah diberikan kesempatan untuk meningkatkan penerimaan daerahnya. Harmonisasi Peraturan Perundangan Sejak ditetapkan UU Nomor 32 Tahun 2004 tantang Pemerintah Daerah. BAB 5 e. antara lain : (1) UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) terkait dengan penetapan RPJPD. terutama untuk infrastruktur perkotaan. Penataan Daerah d. terkait dengan kewenangan perizinan pertambangan. sehingga Pemerintah Daerah lebih memilih bekerja sama dengan swasta. namun sayangnya pelayanan publik yang diusahakan melalui Kerjasama Antar Daerah lebih banyak merugi dan disubsudi oleh APBD. Seharusnya Kerjasama Daerah lebih memberikan keuntungan dalam penyediaan pelayanan publik karena memenuhi skala ekonomi. Di sisi lain. 214 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Peran Pemerintah dalam Kerjasama Daerah adalah dengan menyusun PP No 50 tahun 2007 tentang Tata Cara Kerjasama Antar Daerah.

(ii) sistem prosedur yang efektif dan efisien. Peningkatan Pelayanan Publik Dalam menciptakan pelayanan publik yang berkualitas dan memberikan kepuasan bagi masyarakat. 215 . (iv) kurang responsifnya Pemerintah Daerah terhadap berbagai masalah perkotaan yang terjadi. (2) mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. maka diharapkan tingkat kepercayaan masyarakat akan meningkat. selain tanggungjawab pemerintah kepada masyarakat. 2. Masih rendahnya kapasitas kelembagaan dan aparatur di instansi-instansi yang saat ini menangani bidang perkotaan. Perda dianggap bermasalah jika: (1) bertentangan menyangkut kepentingan umum. juga menjadi dasar konsep good governance. Dengan demikian perda bermasalah akan menyebabkan daya saing serta iklim usaha daerah semakin rendah dan berimplikasi pada investasi di daerah dari sektor swasta. Pelayanan publik. Kondisi ini dicerminkan dari beberapa hal. maka banyak aspek yang harus dibenahi antara lain (i) Peningkatan kualitas aparatur. di dalam masa transisi banyak ditemukan Peraturan Daerah (Perda) bermasalah meskipun saat ini telah diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. seperti: (i) kurangnya pemahaman para penyusun dokumen perencanaan daerah yang berakibat pada tidak jelasnya visi dan misi perwujudan kota masa depan yang ideal. (iii) tidak terintegrasinya perencanaan dengan penganggaran. Kapasitas Aparatur a. (iii) fasilitas yang menunjang kinerja pelayanan publik. Jika pelayanan publik yang diberikan pemerintah daerah itu memiliki kualitas yang baik. (v) minimnya koordinasi antar instansi pemerintah. serta Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 5 Meski demikian.f. (3) bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. (ii) rendahnya kualitas manajemen penanganan masalah dan pembangunan perkotaan secara keseluruhan.

permasalahan yang sering muncul dalam menejemen keuangan adalah tingkat keterbukaan dalam distribusi dan pertanggungjawaban keuangan.1. Tata Kelola BAB 5 1. Kualitas aparatur negara masih merupakan permasalahan serius jika dikaitkan dengan kinerja pemerintah daerah yang secara umum dipandang masih rendah. Dalam era otonomi daerah. permasalahan pengelolaan pembangunan juga telah berkembang pada level lebih dari satu administrasi pemerintah baik antar pemerintah provinsi. Manajemen keuangan masih menunjukkan kecenderungan pada sentralisasi. baik dalam maupun luar negeri.(vi) kurangnya pelibatan pelaku perkotaan non pemerintah dalam setiap tahapan pembangunan perkotaan.3 Kelembagaan Perkotaan Perkotaan Pengelolaan Kawasan Selain pada level pemerintahan. Kurangnya pemahaman Pemerintah Daerah dalam hal kerjasama dengan pelaku perkotaan non pemerintah dan dengan daerah lain. obyektivitas pemerintah daerah dalam penempatan pegawai sesuai dengan kompetensi dasar dan bidang masing-masing pegawai. kelembagaan perkotaan di tingkat daerah dituntut untuk kreatif dalam membangun jaringan kerjasama (networking) yang diperlukan dalam membangun perkotaan maupun menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. 2. Tidak adanya kebutuhan kelembagaan yang disebabkan peran pelayanan bersama (Share Service Based) karena tidak ada yang mengerjakannya. 5. Masih sedikit jumlah pemerintah daerah yang secara serius melakukan tes kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) dalam rangka penempatan ataupun promosi pegawai. b. antar kabupaten/kota maupun kawasan perkotaan baru yang dikelola swasta. Manajemen keuangan. C. 216 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . c. Distribusi aparatur negara.

antara lain sebagai berikut: Kawasan Perkotaan dalam Kabupaten 1. hal ini disebabkan karena sistem pemerintahan di Indonesia tidak memberikan peluang untuk variasi bentuk kecamatan. Sebagai contoh. Pembentukan kelembagaan dalam pengelolaan pembangunan perkotaan megapolitan dapat melibatkan peran pemerintah pusat untuk kasus lintas provinsi. Pada tingkat kecamatan. dinas tata kota karena memang karakter sistem kelembagaan kabupaten lebih pada menangani permasalahan regional. Padahal kabupaten merupakan sistem kelembagaan pemerintahan yang melayani dengan karakter regional. pada kabupaten tidak mungkin untuk dikembangkan dinas pertamanan.dinas kebersihan. tekanan permasalahan ada pada penanganan permasalahan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 5 Kawasan Metropolitan dan Megapolitan Dalam upaya pengelolaan kawasan perkotaan megapolitan dan metropolitan di Indonesia. Sistem kelembagaan kawasan perkotaan kecil yang rata-rata terletak hanya pada satu kecamatan dan tidak mempunyai kelengkapan untuk menangani masalah perkotaan. Pengelolaan pembangunan kawasan megapolitan dan metropolitan dapat melibatkan lebih dari satu provinsi. Semua kebutuhan pelayanan pada kecamatan dilayani pada tingkat kabupaten. 2. 217 . pemerintah telah membentuk Badan Kerjasama Pembangunan (BKSP) dalam pengelolaan pembangunannya. Untuk lebih jelasnya. dan kota. Sebagai akibatnya kelengkapan perangkat dalam kecamatan baik itu di daerah pedesaan dengan daerah yang sudah bersifat perkotaan diciptakan sama. artinya permasalahan yang ditangani adalah dalam kacamata regional. kelengkapan dalam SKPD sektor pekerjaan umum di kabupaten tidak akan dibagi dalam konteks perkotaan karena jika dibagi maka bentuk kelembagaan akan menjadi sangat “gemuk”. dan pemerintah daerah untuk kasus satu provinsi namun lintas kabupaten/kota.Permasalahan kelembagaan pada pengelolaan kawasan perkotaan. kabupaten. Begitu juga hal yang sama untuk kawasan perkotaan besar dan perkotaan sedang.

218 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .2 Asumsi Untuk mewujudkan Kota Berkelanjutan 2045 yang merupakan visi perwujudan kota masa depan di Indonesia. kelembagaan perkotaan juga harus mampu menyelesaikan berbagai siu strategis yang sedang terjadi sekaligus memberikan pelayanan publik dengan optimal. Kelembagaan tersebut harus dapat bersinergi dari tingkat pusat hingga tingkat daerah dalam setiap tahapan pembangunan mulai dari tahap penyusunan kebijakan. kelembagaan perkotaan yang eksisting perlu diperkuat dan ditata kembali. Oleh karena itu. perencanaan dan penganggaran. Kawasan perkotaan baru Berkembang pesatnya permukiman baru sebagai bagian dari urbanisasi menciptakan kawasan-kawasan permukiman baru. yang dapat menangani isu strategis.Dampak munculnya kawasan perkotaan baru tanpa intervensi pemerintah ini adalah permasalahan siapa yang nantinya mengelola sarana prasarana publik kawasan perkotaan kedepannya. pelaksanaan sampai dengan tahap evaluasi. Kelembagaan tersebut harus dapat bersinergi dari tingkat pusat hingga tingkat daerah dalam setiap tahapan pembangunan mulai dari tahap penyusunan kebijakan.Kawasan permukiman baru ini dapat terbentuk karena keterlibatan swasta maupun dari masyarakat. diperlukan kelembagaan perkotaan yang lebih baik. adalah kelembagaan yang dapat meminimalisir permalahan yang terjadi di perkotaan. Untuk mewujudkan Kota Berkelanjutan 2045 yang merupakan visi perwujudan kota masa depan di Indonesia. pelaksanaan sampai dengan tahap evaluasi. BAB 5 Kelembagaan Perkotaan Masa Depan Bentuk kelembagaan perkotaan masa depan yang diharapkan. Selain itu. perencanaan dan penganggaran.Selain itu.penyediaan prasarana dan sarana perkotaan yang tidak lagi sama dengan wilayah pedesaan. 5. memberikan pelayanan publik secara optimal dan mendukung pembangunan perkotaan sehingga dapat bersaing secara global dengan kota-kota di negara maju. diperlukan kelembagaan perkotaan yang lebih baik.

5. dan 3. Otonomi daerah akan tetap berjalan dan mendorong kemandirian daerah. Pembentukan lembaga khusus sektor prioritas dan/atau badan kerjasama pengelola kawasan metropolitan dan megapolitan.kelembagaan perkotaan juga harus mampu menyelesaikan berbagai isu strategis yang sedang terjadi sekaligus memberikan pelayanan publik dengan optimal. provinsi. dan kabupaten/kota dalam rangka implementasi kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan dari tingkat pusat ke tingkat daerah.4 BAB 5 Untuk mengembangkan pembangunan perkotaan nasional.3 Fokus Kebijakan 1. pengembangan ekonomi. Hal yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan kelembagaan yaitu: 1. Kerjasama daerah harus berprinsip efisiensi dan menguntungkan bagi penyediaan pelayanan bersama. 3. Pembentukan komite atau tim koordinasi pembangunan perkotaan dari tingkat pusat. dan 4. pengelolaan lingkungan perkotaan. 2. Strategi: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 219 . pengembangan kemitraan dengan swasta. langkah yang akan ditempuh antara lain : Kebijakan dan Strategi Kelembagaan Perkotaan Kebijakan kelembagaan pembangunan perkotaan diarahkan menjadi dua kebijakan yaitu: A. Regulasi di pusat dan daerah dapat mengakomodasi perubahan dan/atau penguatan kelembagaan. dan pengelolaan aset daerah. 2. Pembentukan lembaga khusus pengelola kawasan perkotaan dalam kabupaten dan lintas kabupaten/kota. Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dalam pelayanan publik. 5. Peningkatan kerjasama antar daerah dalam pengelolaan kawasan perkotaan.

B. Pembentukan badan kerjasama pembangunan perkotaan yang sifatnya lintas daerah/lintas administrasi pemerintahan dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah pembangunan perkotaan lintas administrasi pemerintahan. 2. dan 4. BAB 5 Dari kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan diatas. Pembentukan SKPD Kewilayahan untuk pembangunan perkotaan di kawasan perkotaan Besar. Strategi: 1. 3. dan 3. Pembentukan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat provinsi. Pembentukan badan kerjasama pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan antar provinsi.1. Pembentukan badan kerjasama pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan dalam satu provinsi. Pembentukan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat Kabupaten/kota. 2. Forum Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pulau. perkotaan sedang dan perkotaan kecil. Penguatan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat pusat. maka roadmap pengembangan kelembagaan perkotaan dapat dilihat seperti dibawah ini : 220 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

2014. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 221 . Bentuk kelembagaan pembangunan perkotaan dari tingkat pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota dapat dilihat padatabel dan gambar diagram seperti dibawah ini.1 Roadmap Pengembangan Kelembagaan Perkotaan 5.5 Bentuk Kelembagaan Perkotaan BAB 5 Sumber: Bappenas.Gambar 5.

222 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Pusat 2. Jangka pendek dengan menguatkan peranan TKPPN. Kabupaten/Kota 4.2 Bentuk Kelembagaan Jangka Pendek : penguatan TKPPN Jangka Menengah : Pembentukan Komite Pembangunan Perkotaan Nasional. Kawasan Perkotaan Wilayah Gambar 5. 2.1 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pusat Strategi kelembagaan pembangunan perkotaan ditingkat pusat.1 o Posisi Kota Jakarta dalam Indeks Kota Hijau di Asia N Tingkat 1. dibagi menjadi tiga tahap yaitu: 1. Jangka menengah dengan membentukan Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Nasional (KP3N).5. Jangka Panjang : Kementrian Perkotaan Komite Pembangunan Perkotaan Provinsi Komite Pembangunan Perkotaan Provinsi Kabupaten/Kota Badan Kerjasama Antar Daerah Forum Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pulau Kelembagaan Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 5 5. Provinsi 3.Tabel 5. 5.

Pedoman tersebut bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja TKPPN dengan cara membangun sistem kelembagaan dan mendeskripsikan kerja dari setiap anggota TKPPN untuk melaksanakan tugas dan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 223 . Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. perlu disusun Pedoman Mekanisme dan Tata Kerja TKPPN. Badan Pusat Statistik (BPS). 4. 2. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kementerian Kesehatan. 3. Kementerian Sosial. 1. 5. yaitu terdiri dari: 1. Penguatan Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN) Sejak Tahun 2010 di tingkat pusat telah dibentuk Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN) melalui Surat Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kementerian PPN/Bappenas. Kementerian Keuangan. Kementerian Perhubungan. Badan Informasi Geospasial (BIG). Kementerian Dalam Negeri. 4. 2. 8.3. Kementerian Pekerjaan Umum. sebagai berikut: Selanjutnya dalam rangka memperkuat koordinasi dan sinergi antar Kementerian/Lembaga yang tergabung dalam TKPPN. 7. BAB 5 Dalam rangka memperkuat TKPPN kedepan diperlukan tambahan pelibatan dari beberapa instansi di tingkat pusat kedalam TKPPN. Jangka panjang dengan Pembangunan Perkotaan. pembentukan Kementerian Pengembangan kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat pusat dijelaskan sebagai berikut. Tim ini terdiri atas kementerian/lembaga yang terkait dengan pembangunan perkotaan. 3. 1. 5. Kementerian Perumahan Rakyat. Badan Pertanahan Nasional (BPN). 6.

Pembentukan Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Nasional (KP3N) Untuk mengurangi kelemahan TKPPN. Mensosialisasikan konsep-konsep kebijakan dan aturan.tanggung jawabnya dengan optimal. BAB 5 Kelemahan TKPPN saat ini yaitu ditetapkan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas sehingga TKPPN beranggotakan para pejabat eselon I. pendekatan penyelesaian permasalahan. Tugas dan tanggungjawab TKPPN antara lain: a. c. eselon II. Melakukan pelaporan hasil pemantauan dan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan perkotaan. dan contoh-contoh pembelajaran dalam pembangunan perkotaan. d. kekuatan politik TKPPN perlu ditingkatkan dengan cara membentuk Komite Pembangunan Perkotaan Nasional (KP3N) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres).Dengan demikian. Mengembangkan indikator. dari sisi politis TKPPN ini tidak kuat dalam pengambilan keputusan yang melibatkan banyak sektor. kriteria. b. Melakukan koordinasi perencanaan program dan kegiatan dalam rangka pelaksanaan KSPPN. e. Melaksanakan evaluasi dan reviu kebijakan-kebijakan perkotaan. contoh-contoh pembelajaran dan konsep-konsep kebijakan pembangunan perkotaan. Melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan perkotaan. dan konsep-konsep pembangunan perkotaan yang diperlukan untuk mengembangkan pengelolaan perkotaan. 2. Diharapkan pengambilan keputusan lintas sektoral dapat dilakukan dengan cepat dan kuat di tingkat menteri. tata aturan dan kesepakatan bersama dalam rangka menyelesaikan masalah pembangunan perkotaan. Tugas KP3N: a. dan f. 224 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Melaksanakan dan mengembangkan sumber data dan informasi pembangunan perkotaan. eselon III dan pejabat perencana. menyusun kebijakan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. BAB 5 Anggota KP3N: Struktur KP3N dapat dilihat pada Gambar dibawah ini. i. Kementerian Perumahan Rakyat. Kementerian PPN/Bappenas. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 225 . Mengoordinasikan seluruh anggota KP3N untuk menjabarkan KSPPN kedalam dokumen perencanaan yang lebih operasional bagi pembangunan perkotaan nasional. g. Kementerian Perhubungan. Kementerian Sosial. e. Menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan pembangunan perkotaan dan hambatan dalam pelaksanaan KSPPN. b. Badan Pusat Statistik (BPS). Kementerian Dalam Negeri. f. Fungsi KP3N: a. Mengkoordinasikan dan memantau pelaksanaan KSPPN oleh menteri terkait dan pemerintah daerah.b. Mensinergikan peraturan antar kementerian/lembaga agar tidak terjadi tumpang tindih peraturan. j. h. k. m. Kementerian Pekerjaan Umum. Badan Pertanahan Nasional (BPN). d. d. c. b. Badan Informasi Geospasial (BIG). dan Kementerian Koordinator Perekonomian Kementerian Keuangan. a. c. Kementerian Kesehatan. l. Merumuskan kebijakan pelaksanaan percepatan pemenuhan SPP dan kota masa depan.

yang dapat ditangani secara terpisah tanpa adanya keterpaduan dan berbasis kewilayahan. manajemen transportasi oleh Kementerian Perhubungan. Ditjen Bina Pembangunan Daerah.Gambar 5. Pendekatan sektoral diatas menjadikan pembangunan perkotaan kurang berjalan dengan efektif. Ditjen Penataan Ruang. BAB 5 Di tingkat pusat.Dalam pelaksanaannya TKPPN juga masih belum efektif mengingat kompleksitas permasalahan di bidang perkotaan baik tugas dan kewenangan dari masing-masing anggota TKPPN. perencanaan jaringan telekomunikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan pariwisata oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pembinaan penataan ruang.3 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Nasional (KP3N) 3. Kementerian Dalam Negeri dalam hal pembinaan dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. peran pemerintah pusat dalam penanganan pembangunan perkotaan masih dilakukan secara sektoral dan bersifat parsial. Ditjen Cipta Karya. Kementerian PPN/Bappenas melakukan pengembangan kebijakan. Pembangunan perkotaan sebenarnya bukan merupakan pembangunan sektoral. pembangunan perumahan rakyat oleh Kementerian Perumahan Rakyat. sementara itu hal-hal lainnya ditangani oleh K/L yang lain.Sebagai contoh 226 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pembangunan prasarana dan sarana dasar perkotaan. Pembentukan Kementerian Pembangunan Perkotaan Saat ini.

Pembentukan Susunan Organisasi Tugas Pokok dan Fungsi Kewenangan Hubungan kerja secara internal Hubungan kerja dengan instansi terkait Sumber Pembiayaan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 227 . sebelum dibentuk. perencanaan. dalam konteks perkotaan. Namun. dan efisien. termasuk tugas dan kewenangan K/L di tingkat pusat eksisting. pembangunan. pembangunan perkotaan juga merupakan pembangunan lintas sektor yang membutuhkan koordinasi dan sinergi antar sektorsektor terkait dalam suatu kesatuan pembangunan perkotaan.Disamping itu. Pembentukan lembaga baru diatas perlu memperhatikan peraturan perundangan yang sudah ada. tetapi saat ini penanganannya masih dilakukan secara terpisah serta belum terkait dengan pembangunan perkotaan secara menyeluruh. Oleh karena itu. penyediaan prasarana dan sarana perkotaan merupakan kewenangan dan tanggung jawab pemerintah daerah. kedepan perlu dibentuk sebuah lembaga di tingkat pusat yang dapat mengoordinasikan pembangunan sektor-sektor perkotaan tersebut secara terpadu. Berbagai kendala serta kurang efektif dan efisien dalam pembangunan perkotaan menimbulkan berbagai masalah baru dalam perkembangannya. dalam rangka mewujudkan pembangunan perkotaan yang lebih baik. perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam terhadap hal-hal berikut:        BAB 5 penanganan perumahan yang sebenarnya merupakan bagian dari komponen perkotaan. serta penyusunan peraturan dan koordinasi pelaksanaan pembangunan perkotaan. dan pembiayaan. Kementerian ini merupakan lembaga khusus yang mengoordinasikan sektor-sektor perumahan mulai dari penyusunan kebijakan. lembaga ini bukan sebagai penyedia prasarana dan sarana perkotaan mengingat sejak era otonomi daerah.Oleh karena itu. penganggaran. efektif.Salah satu bentuk yang dapat dipilih adalah Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan/Kemen PPP (contohnya adalah Ministry of Housing and Urban Development/HUD).

Berasal dari lembaga riset ataupun praktisi Tenaga Ahli : yang fokus dalam bidang perkotaan.2 Struktur Kelembagaan KP3P Struktur Lembaga Ketua Sekretaris : : Anggota : Anggota Gubernur Kepala Bappeda Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kepala Dinas Cipta Karya Kepala Dinas Perdagangan 228 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .5. Struktur Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) Tingkat Nasional Berasal dari beberapa akademisi di Akademisi : seluruh provinsi yang fokus dalam bidang perkotaan. Dalam pelaksanakan pembangunan perkotaan di tingkat nasional dibantu oleh Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) Tingkat Nasional sehingga diharapkan kelembagaan pembangunan perkotaan menjadi lebih kuat perannya yang melibatkan stakeholder non-pemerintah.2 Kelembagaan Provinsi Pembangunan Perkotaan di Tingkat Dalam melaksanakan pembangunan perkotaan di tingkat provinsi. kebijakan. perbankan non pemerintah. Kementerian Perkotaan ini merupakan badan yang menyusun perencanaan. BAB 5 5. Tabel 5. program strategis.Dalam tugasnya. kegiatan sampai pada bagian teknis. Seluruh masyarakat kota di Indonesia Masyarakat : yang diwakili oleh DPR atau LSM. Pembentukan KP3P dibentuk melalui surat keputusan gubernur yang beranggotakan kepala SKPD terkait.Sehingga tugas pemerintah daerah lebih mudah mendetailkan perencanaan pembangunan perkotaan di daerahnya sesuai dengan isu strategis masing-masing daerah. Berasal dari para pembangun infrastruktur Swasta : perkotaan. Struktur lembaga KP3P digambarkan sebagai berikut. maka dibentuklah Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi (KP3P).

menyusun kebijakan. Menyusun Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Daerah (KSPPD) Provinsi sebagai pedoman dalam melaksanakan pembangunan perkotaan di daerah. Seluruh masyarakat kota di Indonesia Masyarakat : yang diwakili oleh DPR atau LSM. Sinergi pembangunan antar kota/kabupaten dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi. f. pendekatan penyelesaian masalah dan contoh-contoh pembelajaran dalam pembangunan perkotaan. e. perbankan non pemerintah. c. b. dan g. Berasal dari lembaga riset ataupun Tenaga Ahli : praktisi yang fokus dalam bidang perkotaan. tata aturan dan kesepakatan bersama Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 5 Kepala Dinas Perhubungan Kepala Dinas Pendidikan Kepala Dinas Kesehatan Kepala Dinas Penanaman Modal Kepala Dinas Pendapatan Badan Pusat Statistik Provinsi Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) Berasal dari beberapa akademisi di Akademisi : seluruh provinsi yang fokus dalam bidang perkotaan. Berasal dari para pembangun Swasta : infrastruktur perkotaan.Struktur Lembaga Anggota Tugas KP3P: a. d. Mengawal pembentukan Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) perkotaan yang selanjutnya akan ditetapkan dalam Peraturan Presiden jika kawasan perkotaan terdiri lebih dari satu provinsi (terutama kawasan megapolitan dan metropolitan). Melaksanakan dan mengembangkan sumber data dan informasi pembangunan perkotaan. Melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan dan pembangunan nasional. 229 . Melaksanakan evaluasi dan reviu kebijakan perkotaan. Mensosialisasikan konsep-konsep kebijakan dan aturan.

dan e. Merumuskan kebijakan dan strategi dalam rangka koordinasi pelaksanaan pembangunan perkotaan ditingkat nasional dan pemerintah daerah. d. BAB 5 Gambar 5. Mengoordinasikan dan memantau pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional pembangunan perkotaan oleh menteri terkait dan pemerintah daerah. Struktur KP3P dapat dilihat pada Gambar dibawah ini. Merumuskan kebijakan pelaksanaan kewajiban pemenuhan SPP dan perwujudan kota masa depan di kota dan kawasan perkotaan. b.4 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi (KP3P) 230 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . c. Mengoptimalkan peran serta badan usaha swasta di daerah dalam pembangunan perkotaan daerah. Fungsi KP3P: a.dalam rangka menyelsaikan masalah pembangunan perkotaan daerah. Mengoordinasikan upaya pemecahan berbagai masalah yang terkait dengan percepatan penyediaan infrastruktur perkotaan di daerah.

Seluruh masyarakat kota di Indonesia Masyarakat : yang diwakili oleh DPRD atau LSM. BAB 5 Struktur Lembaga Tim Pelaksana Ketua Sekretaris Tugas KP3K: a. Struktur lembaga KP3K digambarkan sebagai berikut: Tabel 5. Menangani permasalahan kawasan perkotaan yang lintas batas administratif kecamatan dalam satu wilayah kabupaten. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan KPPN dan KP3P. perbankan non pemerintah. b. Berasal dari lembaga riset ataupun Tenaga Ahli : praktisi yang fokus dalam bidang perkotaan.3 Kelembagaan Pembangunan Kabupaten/Kota Perkotaan di Tingkat Pembentukan Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Kabupaten/Kota (KP3K) dibentuk melalui surat keputusan bupati/walikota yang beranggotakan kepala SKPD terkait. Mengelola kawasan perkotaan dan mengoptimalkan peran serta masyarakat dan badan usaha swasta.3 Struktur Kelembagaan KP3K Anggota : Bupati : Kepala Bappeda Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kepala Dinas Cipta Karya Kepala Dinas Perdagangan Kepala Dinas Perhubungan Anggota : Kepala Dinas Pendidikan Kepala Dinas Kesehatan Kepala Dinas Penan Modal Kepala Dinas Pendapatan Badan Pusat Statistik Provinsi Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) Berasal dari beberapa akademisi di kota Akademisi : yang fokus dalam bidang perkotaan. c.5.5. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 231 . Berasal dari para pembangun Swasta : infrastruktur perkotaan.

BAB 5 232 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . dan g. Membantu Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan perkotaan. Mengawal pembentukan Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) perkotaan lintas kabupaten/kota. Memberi pertimbangan kepada bupati dalam kebijakan operasional. b. Merusumuskan dan memberikan rekomendasi terhadap perencanaan. Terlibat dalam monitoring dan evaluasi pembangunan perkotaan.5 dibawah ini. pelaksanaan dan pengendalian pembangunan serta isu strategis kawasan perkotaan. Struktur KP3P dapat dilihat pada Gambar 5. e. c.d. Memberikan konsultasi kepada Walikota. implementasi kebijakan dan pemberdayaan masyarakat. Koordinasi antara KP3N dan KP3P. dan d. Melaporkan kegiatan pembangunan perkotaan di wilayahnya kepada KP3N. Fungsi KP3K: a. f.

Gambar 5.5 Struktur Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan
Kabupaten/Kota (KP3K)

Badan Kerjasama Pembangunan Perkotaan merupakan badan teknis
yang berwenang untuk melakukan kerjasama antar daerah untuk
menyelesaikan permasalahan lintas daerah maupun melakukan
pembangunan antar wilayah.Badan kerjasama antar daerah ini dibentuk
melalui keputusan Kepala Daerah, namun perjanjian kerjasama tersebut
dapat dilakukan oleh SKPD yang terkait dan bertanggungjawab kepada
Komite Pembangunan Perkotaan Daerah. Badan Kerjasama
Pembangunan Daerah, menurut PP No 50 Tahun 2007, daerah yang
bekerjasama harus memiliki kesamaan isu, kebutuhan maupun
permasalahan dan ditunjang oleh adanya pendanaan, permintaan dari
masyarakat dan komitmen dari pemerintah daerah yang terkait. Kepala
Daerah dapat menerbitkan Surat Kuasa untuk penyelesaian rancangan
bentuk kerjasama dengan sepengetahuan Komite Pembangunan
Perkotaan dan pelaksanaan perjanjian kerjasama dapat dilakukan oleh
SKPD yang terkait.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

BAB 5

5.5.4 Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Kawasan
Perkotaan

233

A. Badan
Kerjasama
Pembangunan
Kawasan
Megapolitan dan Metropolitan dalam Satu Provinsi

Perkotaan

Bentuk badan kerjasama pembangunan kawasan perkotaan megapolitan
dan metropolitan dalam satu provinsi akan melibatkan lebih dari satu
pemerintah kabupaten/kota maka dari itu diperlukan satu badan
kerjasama dalam pengelolaan kawasan perkotaan megapolitan dan
metropolitan.
Tabel 5.4

Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan Perkotaan
Megapolitan dan Metropolitan dalam Satu Provinsi

Struktur Lembaga
Ketua
Sekretaris

BAB 5

Keterangan
: Eselon IA
: Eselon IB
Kepala Dinas Pekerjaan Umum
Kepala Dinas Cipta Karya
Kepala Dinas Perdagangan
Kepala Dinas Perhubungan
Anggota
: Kepala Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Penanaman Modal
Kepala Dinas Pendapatan
Badan Pusat Statistik Provinsi
Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3)
Berasal dari beberapa akademisi di
Akademisi
: provinsi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal dari praktisi yang fokus dalam
Tenaga Ahli
:
bidang perkotaan.
Berasal dari para pembangun infrastruktur
Swasta
:
perkotaan, perbankan non pemerintah.
Seluruh masyarakat kota di Indonesia yang
Masyarakat
:
diwakili oleh DPRD atau LSM.

Tugas BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan dalam
Satu Provinsi:
a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
kerjasama secara tepat dan berhasil;

234 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam
pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan dan
metropolitan;
c. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan nasional;
d. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus
antara
pihak-pihak pelaksana pembangunan kawasan
megapolitan dan metropolitan;
e. Mengembangkan
dan
mengendalikan
pelaksanaan
pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan dan
metropolitan;
f. Merencanakan dan mengendalikan pengembangan jangka
panjang wilayah megapolitan beserta prasarananya dalam
kerjasama dengan instansi yang bersangkutan;
g. Melakukan koordinasi pembentukan Bank Tanah Regional
(Ragional Land Banking) dalam bentuk Badan Layanan Umum
(BLU) serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya; dan
h. Melakukan
koordinasi
dan
pengendalian
Pemilikan,
Penguasaan, Penggunaan dan Pemanfaatan (P4T) dalam skala
besar oleh pihak swasta.

a. Melaksanakan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan
nasional;
b. Pengelolaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, hukum
dan hubungan masyarakat;
c. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan
kegiatan pembangunan kawasan perkotaan; dan
d. Pelaksanaan penjaminan dan pemeliharaan kelestarian
lingkungan.

BAB 5

Fungsi BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan dalam
Satu Provinsi:

B. Badan Kerjasama Pembangunan Perkotaan Megapolitan dan
Metropolitan Antar Provinsi
Bentuk badan kerjasama pembangunan perkotaan megapolitan dan
metropolitan antar provinsi sedikit lebih kompleks jika dibandingkan
dengan hanya satu provinsi.Badan kerjasama antar provinsi melibatkan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

235

lebih dari satu
kabupaten/kota.
Tabel 5.5

provinsi

dan

juga

lebih

dari

satu

pemerintah

Struktur Kelembagaan BKSP Kawasan Perkotaan
Megapolitan dan Metropolitan Antar Provinsi

Struktur Lembaga
Ketua
Sekretaris

Anggota
Eselon IIA
Eselon IIB
Kepala Dinas Pekerjaan Umum
Kepala Dinas Cipta Karya
Kepala Dinas Perdagangan
Kepala Dinas Perhubungan
Anggota
: Kepala Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Penanaman Modal
Kepala Dinas Pendapatan
Badan Pusat Statistik Provinsi
Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3)
Berasal dari beberapa akademisi di
Akademisi
: provinsi yang fokus dalam bidang
perkotaan.
Berasal dari praktisi yang fokus dalam
Tenaga Ahli
:
bidang perkotaan.
Berasal dari para pembangun infrastruktur
Swasta
:
perkotaan, perbankan non pemerintah.
Seluruh masyarakat kota di Indonesia
Masyarakat
:
yang diwakili oleh DPRD atau LSM.
:
:

BAB 5

Tugas BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan Antar
Provinsi:
a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
secara tepat dan berhasil;
b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam
pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan dan
metropolitan;
c. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan nasional;
d. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus
antara pihak-pihak pelaksana pembangunan kawasan
megapolitan dan metropolitan lintas pemerintah;
e. Mengembangkan
dan
mengendalikan
pelaksanaan
pembangunan perkotaan di kawasan megapolitan;

236 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

f.

Merencanakan dan mengendalikan pengembangan jangka
panjang wilayah megapolitan beserta prasarananya dalam
kerjasama dengan instansi yang bersangkutan;
g. Melakukan koordinasi pembentukan Bank Tanah Regional
(Ragional Land Banking) dalam bentuk badan layanan umum
(BLU) serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya; dan
h. Melakukan
koordinasi
dan
pengendalian
Pemilikan,
Penguasaan, Penggunaan dan Pemanfaatan (P4T) dalam skala
besar oleh pihak swasta.
Fungsi BKSP Kawasan Perkotaan Megapolitan dan Metropolitan Antar
Provinsi:
a. Pelaksanaan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan
nasional;
b. Pengelolaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, hukum
dan hubungan masyarakat; dan
c. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan
kegiatan pembangunan kawasan perkotaan.

Pengelolaan pembangunan kawasan perkotaan besar yang meliputi lebih
dari satukecamatan, termasuk didalamnya pengelolaan ibukota
kabupaten dan kawasan sekitarnya.SKPDkewilayahan pengelola
pembangunan kawasan perkotaan besarini masuk menjadi anggota dari
Komite Pembangunan Kabupaten/Kota (KP3K) yang dibentuk melalui
keputusan bupati/walikota.

BAB 5

C. SKPD Kewilayahan Pengelola Kawasan Perkotaan Besar,
Perkotaan Sedang dan Perkotaan Kecil

Tabel 5.6 Struktur KelembagaanSKPD Kewilayahan Pengelola
Kawasan Perkotaan Besar
Struktur
Lembaga
Kepala SKPD
Sekretaris

:
:

Bidang

:

Keterangan
Eselon IIB
Eselon IIIA
Infrastruktur Perkotaan
Manajemen Perkotaan
Sosial Budaya Perkotaan

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

237

Tugas SKPD Kewilayahan Pengelola Kawasan Perkotaan Besar,
Perkotaan Sedang dan Perkotaan Kecil, sebagai berikut:
a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
secara tepat dan berhasil terkait pembangunan perkotaan;
b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam
pembangunan perkotaan di kawasan perkotaan besar,
perkotaan sedang dan perkotaan kecil;
c. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan daerah
(KSPPD);
d. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus
antara pihak-pihak pelaksana pembangunan kawasan perkotaan
besar, perkotaan sedang dan perkotaan kecil;
e. Mengembangkan
dan
mengendalikan
pelaksanaan
pembangunan perkotaan di kawasan perkotaan besar,
perkotaan sedang dan perkotaan kecil;
Fungsi SKPD Kewilayahan Pengelola Kawasan Perkotaan Besar,
Perkotaan Sedang dan Perkotaan Kecil, sebagai berikut:

BAB 5

a. Pelaksanaan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan
daerah (KSPPD); dan
b. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan
kegiatan pembangunan kawasan perkotaan.
D. Penguatan SKPD Camat Pengelola Perkotaan Sedang dan
Perkotaan Kecil
Pengelolaan pembangunan kawasan perkotaan sedang dan kecil yang
meliputi hanya 1 kecamatan, maka akan dilakukan penguatan SKPD
Camat dengan cara penambahan unit kerja yang khusus menangani
perkotaan, yaitu Seksi Infrastruktur Perkotaan dan Seksi Manajemen
Perkotaan.

5.5.5 Kelembagaan
Prioritas

Pembangunan

Perkotaan

di

Sektor

Dalam melaksanakan pembangunan perkotaan di sektor prioritas,
kelembagaan yang perlu dibentuk berupa Badan Otoritas.Badan Otorita
Sektor Prioritas merupakan badan teknis yang berwenang untuk

238 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

melakukan koordinasi dengan semua instansi Pemerintah, baik di tingkat
Pusat maupun di tingkat daerah serta pihak ketiga lainnya yang
berhubungan dengan pembangunan dan pengembangan pada sektor
prioritas pembangunan Perkotaan.Badan otorita sektor prioritas ini
dibentuk
melalui
Undang-Undang
atau
melalui
Keputusan
Presiden/Keputusan Menteriterkait sektor yang diprioritaskan.Badan
Otorita bertanggung jawab kepada Presiden RI melalui Menteri yang
menaungi sektor yang diprioritaskannya.Badan otorita ini nantinya akan
terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan dalam
pelaksanaanya dapat dibantu oleh pihak swasta dan profesional.
Pelibatan
pihak
swasta
dan profesional
diharapkan dapat
menyumbangkan kontribusi dalam hal investasi dan melakukan
kajian.Struktur
organisasinya
dapat
dilihat
pada
Gambar
5.5.Pembentukan Badan Otorita ini diharapkan mampu memfokuskan
penyelesaian masalah dan pembangunan perkotaan pada sektor-sektor
prioritas.
Struktur
Badan
Otoritas
Pembangunan Perkotaan

Sektor

Prioritas

BAB 5

Gambar 5.6

Tugas Badan Otoritassektor Prioritas:
a. Memberikan tugas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan
secara tepat dan berhasil;
b. Mengamankan kepentingan-kepentingan pemerintah dalam
pembangunan perkotaan pada sektor yang menjadi prioritas;

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional

239

c. pengendalian dan pengawasan kegiatan pembangunan sektor prioritas perkotaan. 5. Mengawasi jalannya pembangunan perkotaan di dalam batasbatas kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan nasional. f. Pengelolaan urusan tata usaha. Merencanakan dan mengendalikan pengembangan jangka panjang wilayah sektor prioritas beserta prasarananya dalam kerjasama dengan instansi yang bersangkutan.6 Hubungan Kelembagaan Pembangunan Perkotaan BAB 5 Adapun bentuk Kelembagaan Pembangunan Perkotaan Nasional dapat dilihat pada gambar dibawah ini : 240 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Pelaksanaan pengaturan. d. b. hukum dan hubungan masyarakat. dan c. Mengembangkan dan mengendalikan pelaksanaan pembangunan perkotaan sektor prioritas. Fungsi Badan OtoritasSektor Prioritas: a. keuangan. kepegawaian. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus menerus antara pihak-pihak pelaksana pembangunan perkotaan sektor prioritas. e. Pelaksanaan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan nasional.

7 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 241 . Provinsi dan Kabupaten/Kota Gambar 5.8 Hubungan Kelembagaan dan Peranan Stakeholders Non Pemerintah BAB 5 Gambar 5.Hubungan Kelembagaan Pembangunan Perkotaan di Tingkat Pusat.

Selain itu segala bentuk kebijakan pembangunan perkotaan di daerah diawasi dan dievaluasi oleh DPRD. dan 3. 242 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Perkotaan Kota dan DPRD. Memberi masukan kepada Pemerintah Daerah terkait isu.7. BAB 5 Seperti halnya kelembagaan di tingkat nasional. yang saling berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Perkotaan Provinsi. 2. kebijakan dan program yang akan dilaksanakan dalam pembangunan perkotaan.1 Peran DPR dan DPRD Proses politik pembangunan perkotaan diimplementasikan melalui peran DPRD dalam pembangunan perkotaan yaitu sebagai monitoring. 5. Dalam melaksanakan pembangunan perkotaan. Membantu Pemerintah Daerah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan perkotaan.2 Peran Swasta Peran swasta yaitu ikutserta dalam program dan kegiatan pembangunan perkotaan baik dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.7. evaluasi dan penganggaran program dan kegiatan pembangunan perkotaan. DPR berperan dalam: 1. Terlibat dalam monitoring dan evaluasi pembangunan perkotaan. kelembagaan pembangunan perkotaan di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota juga melibatkan stakeholder lain selain pemerintah yaitu Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3).5.7 Peran Serta 5. Komite Percepatan Pembangunan Perkotaan Nasional berkoordinasi dengan Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).Peran serta swasta dapat berbentuk Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) dalam penyediaan sarana-prasarana perkotaan maupun dalam pengelolaan sarana-prasarana perkotaan yang telah disediakan oleh pemerintah.

kembali jangka tanggungjawab kelembagaan atau Pendek dan penentuan instansi sehingga (2015 – standar pelayanan menjadi lebih 2018) perkotaan efektif dan efisien. pelayanan publik.7. Masyarakat juga berperan dalam merawat dan berkewajiban membayar retribusi terhadap sarana prasana kota yang digunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Mengatur Menstrukturkan Dimulai dari kewenangan. 1.Penyediaan maupun pengelolaan sarana prasarana perkotaan tersebut dapat berbasis masyarakat mandiri. Pusat Penelitian. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Meningkatkan Mendorong jaringan kerjasama Dimulai dari perwujudan good Peningkatan yang efektif antar jangka governance iklim kerjasama pemerintah daerah pendek melalui peraturan antar daerah dalam (2015 – dan perundangmengembangkan 2018) undangan. ASPEK DAN KEBIJAKAN Kebijakan dan Strategi Kelembagaan Perkotaan STRATEGI Pemerintah Pemerintah Daerah Jangka Waktu Kerjasama Antar Daerah (Bappenas dan Kemenkeu dengan melibatkan Universitas.7 243 . menilai Dimulai dari bagi hasil atas detail sektor yang jangka pemanfaatan akan Pendek sumber daya alam dikerjasamakan (2015 – dan sumber daya dan 2018) lainnya. Pengalokasian pendanaan dan Dimulai dari fasilitasi Pengelolaan jangka pelaksanaan perizinan bersama Pendek Peningkatan kerjasama antar dalam bidang (2015 – kualitas pemerintah pelayanan umum 2018) kelembagaan daerah dalam perkotaan.5. No. mengembangkan program Memonitor dan Dimulai dari Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 5 Tabel 5.3 Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam pembangunan perkotaan dapat terlibat dalam program dan kegiatan penyediaan dan pengelolaan sarana prasarana perkotaan. Kadin. pelayanan umum Mengembangkan Pengalokasian strategi.

2. ASPEK DAN KEBIJAKAN STRATEGI Pemerintah Pemerintah Daerah Jangka Waktu jangka Pendek (2015 – 2018) BAB 5 mengevaluasi perkembangan kerjasama antar daerah Peningkatan Kapasitas Kelembagaan (Bappenas. Kadin.No. aparatur negara. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Perencanaan Mengidentifikasi Mengidentifikasi Dimulai dari dan merumuskan dan merumuskan jangka kebutuhan kebutuhan Pendek pengembangan pengembangan (2015 – dan peningkatan dan peningkatan 2018) kapasitas kapasitas kelembagaan dan kelembagaan dan aparatur negara aparatur negara Mengidentifikasi Mengidentifikasi Dimulai dari dan merumuskan dan merumuskan jangka prioritas bagi prioritas bagi Pendek pengembangan pengembangan (2015 – dan peningkatan dan peningkatan 2018) kapasitas kapasitas kelembagaan dan kelembagaan dan aparatur negara. Pelaksanaan Pengembangan Dimulai dari peraturan jangka perundangan Pendek (2015 – 2018) Pengembangan Dimulai dari personil aparatur jangka negara Pendek (2015 – 244 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Menetapkan Menetapkan action Dimulai dari action plan plan jangka pengembangan pengembangan Pendek dan peningkatan dan peningkatan (2015 – kapasitas kapasitas 2018) kelembagaan kelembagaan Menyediakan Dimulai dari acuan atau jangka rujukan dalam Pendek proses (2015 – peningkatan 2018) kapasitas kelembagaan. Pusat Penelitian. dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas.Kemenkeu.

dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas. Kemenkeu. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Pembentukan Penguatan Pembentukan Dimulai dari kelembagaan TKPPN dengan Komite jangka untuk manambah jumlah Pembangunan Pendek kemudahan anggota.2022 Perkotaan Nasional dengan Peraturan Presiden. STRATEGI Pemerintah Pemerintah Daerah Jangka Waktu 2018) Dimulai dari jangka Pendek (2015 – 2018) Dimulai dari jangka Pendek (2015 – 2018) Memberikan bantuan teknis kepada pemerintah daerah. ASPEK DAN KEBIJAKAN Dalam pelaksanaanya. kompeten dan berdedikasi dalam Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 245 . Jangka Panjang : Dimulai dari pembentukan jangka Kementrian panjang Perkotaan (2022 – 2027) BAB 5 No.3. Pusat Penelitian.Oleh karena itu. Perkotaan Daerah (2015 – koordinasi 2018) antara pusat Penguatan Badan Dimulai dari dan daerah Kerjasama Antar jangka Daerah Pendek (2015 – 2018) Jangka menengah Dimuali dari : pembentukan jangka Komite menegah Pembangunan (2018 . Pemerintah Daerah harus aparatur pemerintah yang profesional. KemenPU. Kadin. Pengendalian Monitoring dan Monitoring dan evaluasi evaluasi peningkatan peningkatan kapasitas kapasitas kelembagaan kelembagaan. Pembentukan Kelembagaan Pengelolaan Perkotaan (Bappenas. kelembagaan sangat berkaitan erat dengan kapasitas aparatur pemerintah.

BAB 5 246 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . aspek kelembagaan dan kapasitas aparatur pemerintah akan menentukan kemampuan Pemerintah Daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan fungsi pembangunan dan perlindungan masyarakat.rangka mempercepat pembangunan perkotaan didaearhanya. Dengan demikian.

BAB 5 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 247 .

BAB 6 222 1 248 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 KERANGKA PEMBIAYAAN PERKOTAAN 249 249 223 .

sehingga membawa konsekuensi terhadap kapasitas keuangan daerah dan pengelolaannya. percepatan pembangunan ekonomi. Hal ini mengingat kewenangan dan tanggung jawab dalam pembangunan sebagian besar telah dilimpahkan dari Pemerintah kepada Pemerintah Kota. Pemerintah Daerah. BAB 6 6. Pembiayaan pembangunan perkotaan tersebut dapat dilaksanakan oleh Pemerintah. termasuk yang berasal dari APBN 2013 sebesar Rp 193.1 Selama Tahun 2013.9% dari PDB).1 Gambaran Umum Indonesia merupakan salah satu negara dengan infrastruktur yang tertinggal dibanding negara lain. 250 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Disamping itu. khususnya untuk pembangunan infrastruktur.KERANGKA PEMBIAYAAN PERKOTAAN Pembiayaan merupakan aspek penting dalam implementasi pembangunan perkotaan. dibangun dan dikelola dengan baik. sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah.8 triliun (42% dari total investasi). maka pembahasan juga lebih difokuskan pada pembiayaan pembangunan di tingkat kota.51 persen dari produk domestik bruto (PDB). Green City. total investasi infrastruktur di Indonesia diperkirakan hanya sebesar Rp 457 triliun (4. Angka tersebut sangat kecil 1 Pada tahun 2012 total investasi infrastruktur di Indonesia baru mencapai Rp 385. Sektor Swasta. Ruang lingkup pembahasan pembiayaan pembangunan perkotaan dalam pembangunan perkotaan ini difokuskan pada pembiayaan untuk pembangunan sektor-sektor strategis perkotaan. dalam rangka pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP). dan perwujudan Kota Berkelanjutan 2045 (Liveable City.2 triliun atau 4. Secara lebih spesifik. dan Smart City) membutuhkan berbagai sumber pembiayaan yang harus direncanakan. Masyarakat maupun Lembaga Donor.

dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi. Washington. Indonesia perlu mendorong pembangunan infrastruktur. dan Servén. 2011. Kesenjangan pembiayaan ini diharapkan dapat 251 . Dengan demikian.co. sedangkan di Cina sejak Tahun 2005 sudah mencapai 9-11 persen dari PDB.3 Hal ini menunjukkan pentingnya pembangunan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara. Pemerintah Daerah termasuk hanya mampu membelanjakan sekitar 22-29% dari Anggaran Pendapatan & Belanja Daerah (APBD) untuk belanja modal. Namun. 26 November 2012 (www..2 Padahal berbagai studi telah menunjukkan tingginya elastisitas pembangunan infrastruktur terhadap perubahan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu wilayah atau negara. Louis.kppod. Disamping kecilnya porsi untuk belanja modal dalam APBD.10. 3 Serven. Senin. yakni berkisar antara 0.php/en/berita/berita-media/149-daerahboros-belanja-pegawai pada Tanggal 6 September. www.apabila dibandingkan dengan investasi infrastruktur yang dilakukan oleh 2 (dua) negara lain dengan populasi yang besar yaitu India dan Cina. World Bank. DC. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 Tantangan yang lebih berat dalam pembangunan infrastruktur dihadapi oleh kota-kota di Indonesia adalah Pemerintah Kota mendapatkan tekanan yang besar untuk menyediakan infrastruktur dalam upaya melayani warga kota ataupun untuk mempercepat pembangunan ekonomi kota akibat tingkat urbanisasi yang tinggi.4 Angka yang sangat kecil apabila dibandingkan persentase biaya pegawai yang rata-rata lebih dari 50%. tantangan utama pembangunan infrastruktur selama ini adalah ketersediaan pembiayaan. Dengan demikian. terjadi kesenjangan pembiayaan (financing gap) antara pembiayaan yang berasal dari Pemerintah dibandingkan kebutuhan pembangunan perkotaan. Menurut data dari Kemendagri. investasi infrastruktur India sudah di atas 7 persen dari PDB.imf.tempo. 2010. Sejak Tahun 2009.org/index. 2013.” Policy Research Working Paper 5682. Enrique Moral-Benito. “Infrastructure Investment and Growth”.id ). Luis. “Is Infrastructure Capital Productive? A Dynamic Heterogeneous Approach. 2 Menteri PPPN/Kepala Bappenas dalam diskusi “Solusi Pembiayaan Infrastruktur Mendukung Pelaksanaan MP3EI" di Hotel Borobudur.07 hingga 0. Pemerintah Daerah selama ini lebih banyak mengandalkan sumber pembiayaan ‘konvensional’ yang berasal dari Pemerintah (APBN) yang sangat terbatas jumlahnya. 4 Diunduh dari http://www.org dan César Calderón.

desentralisasi yang terjadi sejak Tahun 2001 juga belum disertai dengan kebijakan desentralisasi fiskal yang menyeimbangkan antara tanggung jawab dengan ketersediaan dana yang dikelola oleh Pemerintah Daerah. Disamping itu. sebagai berikut: A. kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur sangat besar. Pemerintah Kota diharuskan lebih inovatif dalam mencari berbagai sumber pembiayaan yang berasal dari non pemerintah (APBN dan APBD). Secara umum. Hampir setiap kota masih bergantung pada Dana Perimbangan dari Pemerintah yang persentasenya mencapai 70% – 80% dari total APBD. Oleh karena itu. masyarakat dan lembaga donor. dilihat dari komposisi pengeluaran.ditutup oleh sumber lain diluar APBN dan APBD. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keterbatasan akses tersebut dan dapat dilihat dari 2 (dua) sisi. 252 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Hanya sebagian kecil dari APBD yang digunakan untuk biaya modal dalam bentuk pembangunan infrastruktur untuk pelayanan publik. sebagian besar dari APBD digunakan untuk pengeluaran rutin. Kementerian atau sektor belum secara sukarela memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah. yaitu berasal dari sektor swasta. sampai dengan saat ini keuangan publik juga masih dikelola oleh Pemerintah. 6. Padahal seperti dijelaskan sebelumnya. Sementara itu. seperti biaya pegawai dan biaya operasional dan pemeliharaan. Salah satu faktor dari rendahnya kapasitas fiskal kota adalah terbatasnya sumber-sumber yang dapat dijadikan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).2 Permasalahan dan Tantangan Pembiayaan Infrastruktur Perkotaan Pemerintah Kota masih mengalami banyak keterbatasan dalam mengakses pembiayaan pembangunan perkotaan yang berasal dari non APBN dan APBD. Internal Pemerintah Kota 1) Kesenjangan Keuangan BAB 6 Kapasitas fiskal kota di Indonesia secara rata-rata masih sangat terbatas.

namun kegagalan dalam pelaksanaan masih merupakan kelemahan utama dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Selain keterbatasan kapasitas fiskal. Kenyataannya. hanya sedikit Pemerintah Kota yang memiliki kapasitas dalam menentukan prioritas infrastruktur berdasarkan proses dan pertimbangan yang jelas. terutama dari aspek keuangan. Sebaliknya. kelemahan dalam pelaksanaan pembangunan. Dalam pembangunan infrastruktur. namun kesulitan menyebutkan secara pasti mana infrastruktur yang akan menjadi prioritas untuk dibangun dan alasannya (short list). pembiayaan pembangunan infrastruktur tidak hanya terbatas pada kapasitas dalam perencanaan. namun juga harus dapat memperhitungkan dampak dan arus kas dari suatu proyek infrastruktur. sehingga pembiayaan infrastruktur tidak menjadi beban bagi Pemerintah Kota. Disamping itu. disamping kebutuhan akan pemenuhan prosedur dan mekanismenya. Dengan demikian. Meskipun sudah direncanakan dengan baik. Pelaksanaan. Pemerintah Kota juga harus dapat memperhitungkan risiko yang terkait dengan suatu proyek agar dapat memitigasinya dari awal. Pembangunan infrastruktur membutuhkan perencanaan strategis dalam menentukan infrastruktur perkotaan yang akan dibangun.2) Kesenjangan Manajemen Pengelolaan Keuangan. Penyusunan prioritas infrastruktur menjadi sebuah keharusan mengingat jumlah pembiayaan yang terbatas. banyak Pemerintah Kota yang hanya dapat menunjukkan daftar panjang (wish list) proyek infrastruktur potensial. Penyusunan prioritas tersebut juga memerlukan kapasitas dari Pemerintah Kota untuk memilah infrastruktur yang strategis dan pada saat bermaan juga sesuai dengan kapasitas keuangan dan manajemen yang dimiliki ataupun potensi sumber dan jenis pembiayaan yang tersedia. Terlepas dari regulasi yang rumit. Pemerintah Kota dituntut tidak hanya mampu memperhitungkan secara akurat pendapatan dan pengeluaran dari APBD. namun juga kapasitas pengelolaan keuangan yang memadai. antara lain disebabkan oleh lemahnya kelembagaan dan terbatasnya kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Keberhasilan penyediaan jenis pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur di daerah akan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 253 . BAB 6 Perencanaan. Pemerintah Kota juga memiliki keterbatasan dalam pengelolaan keuangan.

254 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Akibat tingginya risiko ini. seringkali menimbulkan interpretasi yang kurang tepat akibat dari keterbatasan kapasitas SDM. akses Pemerintah Kota terhadap data dan informasi yang masih terbatas menyebabkan ketidaktahuan terhadap berbagai alternatif sumber dan jenis pembiayaan maupun ketentuan dan prosedur yang diaturnya.sangat bergantung tidak hanya pada perencanaan yang baik. ketidakpastian akibat perubahan peraturan (regulatory risk). Eksternal Pemerintah Kota 1) Persepsi resiko BAB 6 Secara umum. 3) Ketersediaan dan akses terhadap data dan informasi Data dan informasi terkait sumber. jenis serta prosedur dan persyaratan yang dibutuhkan dalam pembiayaan pembangunan perkotaan memegang peranan yang sangat penting. 5 Istilah “investasi” adalah dari sudut pandang investor sementara “pembiayaan” adalah dari sudut pandang Pemerintah Kota. risiko pasar. tingginya korupsi akan membuat biaya investasi menjadi tinggi dan ‘mengusir’ investor yang potensial tapi hanya mau bermain bersih. Dalam banyak hal. B. dan lain-lain tetap ada. Informasi yang tersedia. namun juga pada ketersediaan dan kapasitas lembaga dan SDM didalamnya. Di samping risiko ini. investasi5 yang terkait dengan Pemerintah Daerah masih dipandang oleh sektor swasta sebagai investasi yang berisiko tinggi antara lain karena ketidakpastian terkait prosedur atau birokrasi. risiko suku bunga. jika ada dan dapat diakses. Ketidaktersediaan data dan informasi yang memadai dan menyeluruh akan menyebabkan terjadinya informasi yang asimetris (assymetric information). Selain itu. Dengan situasi tersebut. swasta mengharapkan pengembalian yang tinggi dari investasi atas infrastruktur perkotaan. pada akhirnya Pemerintah Kota mengambil keputusan berupa pendekatan yang pasif dalam bentuk menunggu kebijakan dari Pemerintah ataupun pendekatan yang konservatif dengan tidak membangun infrastruktur perkotaan. risiko lain yang secara umum terdapat dalam investasi seperti risiko kredit. risiko akibat perubahan politik atau pimpinan daerah (political risk) dan tata kelola yang tidak transparan dan akuntable.

Masalah lain yang tidak kalah pentingnya terkait regulasi adalah penegakan dari regulasi itu sendiri. Jenis. prosedur perizinan yang berbelit-belit sampai tidak adanya proteksi bagi investor. Begitu juga halnya dengan periode pembiayaan infrastruktur yang belum tentu sinkron dengan periode Walikota. hal ini juga terkait dengan karakter dari instrumen pembiayaan infrastruktur itu sendiri yang pada umumnya masih merupakan investasi jangka panjang. Penetapan tarif seringkali bukan berdasarkan pertimbangan kelayakan ekonomis atau finansial melainkan keputusan politik. 3) Instrumen investasi BAB 6 Meskipun instrumen investasi bagi sektor swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur perkotaan sudah cukup memadai. Beberapa isu yang terkait dengan regulasi misalnya adalah soal penetapan tarif penggunaan fasilitas infrastruktur yang tidak menutupi biaya (cost recovery). Namun.2) Peraturan perundangan Regulasi terkait prosedur pembiayaan infrastruktur perkotaan belum cukup untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur. Meskipun saat ini telah dikeluarkan undang-undang mengenai pengadaan lahan. terutama apabila melibatkan sektor swasta. instrumen investasi yang ada saat ini masih perlu dikembangkan sesuai dengan profil risiko dari investor yang ditargetkan. Selain karena faktor regulasi dan persepsi risiko diatas.3. Pemerintah Kota dapat mengakses dana dari berbagai sumber baik dari dalam negeri maupun luar negeri. namun implementasinya masih belum jelas.1 Sumber Pembiayaan Berdasarkan sumbernya. 6. kondisi yang ada sekarang ini berdasarkan peraturan perundangan yang Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 255 .3 Sumber . sulitnya pengadaan lahan. dan Karakteristik Pembiayaan 6. Regulasi yang ada belum diarahkan untuk membuat investasi yang menarik bagi sektor swasta tanpa membahayakan posisi keuangan Pemerintah Kota. namun minat investor masih sangat kurang. Oleh karena itu.

untuk pembiayaan yang berasal dari dalam negeri. Hibah daerah Pemberian dengan pengalihan hak atas sesuatu dari Pemerintah atau pihak lain kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya yang 256 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Skema tersebut berarti pembiayaan luar negeri yang diterima oleh Pemerintah untuk suatu proyek infrastruktur diteruskan sebagai pinjaman atau hibah kepada daerah tertentu. pembiayaan pembangunan perkotaan yang dapat diakses oleh Pemerintah Kota. Pemerintah Pusat (APBN). pembiayaan dari luar negeri hanya dapat diterima oleh Pemerintah Kota melalui skema Penerusan Pinjaman (Subsidiary Loan Agreement) atau juga dikenal dengan Two Step Loan) atau Penerusan Hibah. lembaga keuangan (bank dan bukan bank). dibawah ini Gambar 6.ada.2 Jenis Pembiayaan Berdasarkan jenisnya.3. perusahaan swasta maupun dari masyarakat umum. Sementara itu. terdiri dari: a. sumber pembiayaan dapat berasal dari pendapatan daerah sendiri (PAD yang menjadi bagian dari APBD). Secara lebih rinci mengenai berbagai sumber pembiayaan pembangunan dapat dilihat pada Gambar 6.1. 2012) BAB 6 6. atau pinjaman dari Pemerintah Daerah lain.1 Sumber Pembiayaan Pembangunan Perkotaan Sumber: Hasil Analisis (YIPD.

lembaga keuangan. Pemerintah Kota dapat meminjam dari Pemerintah. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah. Pemerintah telah mengaturnya melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. yaitu: Pemerintah. disebutkan bahwa Hibah Daerah dapat berasal dari beberapa sumber. c. atau organisasi dalam negeri. 257 . Obligasi daerah Merupakan Pinjaman Daerah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. hibah luar negeri. barang. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. b.secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya dan dilakukan melalui perjanjian. dan Pinjaman Luar Negeri yang dilakukan melalui Pemerintah Pusat. 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah. Pinjaman daerah dapat berupa Pinjaman Dalam Negeri dan Pinjaman Luar Negeri. Hibah Daerah merupakan salah satu jenis pembiayaan yang dapat berbentuk uang. Selain Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 d. lembaga. Dalam PP tersebut.Hibah yang bersumber dari Pemerintah (APBN) dapat berbentuk penerimaan dalam negeri. dan/atau kekurangan arus kas. pengeluaran pembiayaan. dan/atau kelompok masyarakat atau perorangan dalam negeri. Untuk jenis pembiayaan berupa pinjaman daerah. dan/atau jasa. dinyatakan bahwa Pinjaman Daerah merupakan alternatif pendanaan APBD yang digunakan untuk menutup defisit APBD. Pinjaman daerah Semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. badan. Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Merupakan alternatif pembiayaan yang melibatkan unsur pemerintah dan swasta yang bekerjasama dengan berbagai skema tertentu. pemerintah daerah lain dan masyarakat. Pemberian Hibah Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah diprioritaskan untuk penyelenggaraan Pelayanan Publik dan pengelolannya dapat diteruskan kepada badan usaha milik daerah.

B. Perhitungan pokok dan bunga setiap Obligasi Daerah pada saat jatuh tempo. 10 Dr. Pengenaan biaya penalti apabila Pemerintah Daerah melakukan pelunasan lebih awal Pinjaman Daerah yang bersumber dari masyarakat disebut sebagai Obligasi Daerah. pinjaman daerah juga mencakup pinjaman dari luar negeri yang diberikan melalui Pemerintah sebagai penerusan pinjaman atau hibah sebagaimana telah dijelaskan diatas. Potensi Penyediaan Pinjaman Lunak ke Daerah untuk Pembangunan Infrastruktur. Pembatasan masa pinjaman daerah sesuai dengan masa kerja kepala daerah d. antara lain: a.Sos. 2012 258 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .Sc. Tim Asistemsi Kementerian Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal. akan tetapi sampai dengan sakarang ini. c. Rencana penerbitan Obligasi Daerah yang telah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) b. maka beberapa hal yang wajib diatur. Tingkat bunga pinjaman relatif tinggi b. Meskipun telah diatur dengan jelas. Berbagai pertimbangan Pemerintah Daerah untuk tidak melakukan pinjaman daerah. Sebagaimana juga diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. Raksaka Mahi. Belum adanya tenggat waktu (grace period)10 c. Fauziah Zen. Prosedur dan mekanisme pinjaman yang rumit dan lama f. khususnya untuk membangun infrastruktur. pinjaman daerah belum menjadi pilihan dan prioritas utama bagi Pemerintah Daerah untuk membiayai pembangunan perkotaan. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah. Keharusan pembahasan dan persetujuan dari DPRD g. dinyatakan bahwa Obligasi Daerah merupakan efek yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah melalui pasar modal domestik dan dalam mata uang Rupiah. Obligasi Daerah tidak dijamin oleh Pemerintah dan diterbitkan diterbitkan dalam bentuk Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasarmodal. antara lain: BAB 6 a. Denda atas keterlambatan kewajiban pembayaran pokok dan bunga Obligasi Daerah.sumber-sumber tersebut. Apabila Pemerintah Daerah akan mengeluarkan Obligasi Daerah. Dr. Jangka waktu pengembalian yang pendek e. Masrizal M.

dimana Pemerintah melakukannya melalui Dana Investasi Pemerintah. Akan tetapi. KPS juga dapat dilakukan secara langsung antara sektor swasta dengan Pemerintah Kota. pemerintah diatasnya dan lembaga donor. FI di beberapa negara tersebut merupakan lembaga keuangan yang dapat berbentuk lembaga bank maupun bukan bank dan mendapatkan sumber pendanaan dari masyarakat. Segala biaya yang timbul dari penerbitan Obligasi Daerah. Hampir semua jenis pembiayaan untuk Pemerintah Kota disediakan oleh Pemerintah. antara lain: Columbia (FINDETER). seperti misalnya sekarang dilaksanakan melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Dalam pembangunan perkotaan.d. permasalahan utama dalam pelaksanaan Obligasi Daerah ini adalah belum adanya lembaga khusus di daerah yang berperan sebagai Perantara Keuangan (Financial Intermediary . sektor swasta juga memegang peranan yang sangat penting. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 Salah satu hal yang juga diatur dalam PP tersebut adalah penerbitan Obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan Pelayanan Publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD yang diperoleh dari pungutan atas penggunaan prasarana dan/atau sarana tersebut. Dengan demikian. beberapa negara telah memiliki lembaga khusus sebagai FI tersebut. hanya dapat menjadi sumber pembiayaan bagi pembangunan infrastruktur kota melalui skema KPS. Dalam berbagai bentuk.FI) dan menjalankan pengumpulan dana masyarakat melalui penerbitan Obligasi Daerah dan khusus digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur. dapat disimpulkan bahwa berbagai jenis pembiayaan paling banyak berasal dari Pemerintah. 259 . persyaratan tersebut sangat penting dan relevan dengan kebutuhan pembiayaan pembangunan perkotaan. PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dan PT Indonesia Infrastructure Finance (PT IIF). India (TNUDF). kecuali obligasi daerah. Berbagai jenis pembiayaan tersebut diatas berbeda sesuai dengan sumber dananya. sektor swasta yang yang bukan lembaga keuangan. Namun. dan Afrika Selatan (INCA). Filipina (LGUGC). Sebagaimana terlihat dalam Gambar 6.2 dibawah ini. Skema KPS hanya dapat dilakukan antara Pemerintah dengan sektor swasta.

3. terdapat berbagai sumber pembiayaan pembangunan perkotaan yang dapat diakses oleh Pemerintah Kota. obligasi daerah ataupun KPS. jangka waktu.3 Karakteristik Pembiayaan BAB 6 Berbagai sumber dan jenis pembiayaan sebagaimana telah dijelaskan diatas memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini dikarenakan karakteristik pembiayaan juga akan menentukan resiko atas suatu jenis pembiayaan 260 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . seperti hibah daerah. pinjaman daerah. masih belum banyak dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota. prasyarat serta prosedurnya. Jenis-jenis pembiayaan. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari jumlah. Pemerintah Kota perlu mengenali karakteristik dari masing-masing jenis pembiayaan sehingga dapat menentukan jenis pembiayaan yang tepat untuk pembangunan infrastruktur perkotaan tertentu maupun pembangunan sektor-sektor strategis perkotaan lainnya. Namun pada kenyataannya Pemerintah Kota masih lebih banyak mengandalkan APBN dan APBD sebagai sumber utama untuk pembangunan perkotaan. 6. suku bunga ataupun tingkat pengembalian yang diharapkan.Gambar 6. 2012) Meskipun berdasarkan peraturan sebagaimana telah dijelaskan dalam kedua gambar diatas.2 Jenis Pembiayaan Pembangunan Perkotaan Sumber: Hasil Analisis (YIPD.

Tingkat suku bunga Terdapat jenis pembiayaan yang tidak dikenakan bunga. berdasarkan tipologi kota. Namun pada umumnya. dapat meliputi belasan milyar sampai trilyunan rupiah. Pembiayaan yang tidak dikenakan bunga umumnya berasal dari Pemerintah Pusat dalam bentuk hibah. Jumlah Jenis pembiayaan sangat bervariasi dilihat dari jumlahnya. jenis pembiayaan yang ada di Indonesia. kebutuhan pembiayaan infrastruktur dilihat dari skalanya seringkali merupakan pembiayaan dalam jangka panjang. d. Padahal. Kota Kecil maupun Kawasan Perkotaan. dikenakan bunga rendah atau dikenakan bunga tinggi. Berikut diuraikan beberapa karakteristik yang mempengaruhi sumber dan jenis pembiayaan yang telah disebutkan diatas. terutama yang bersumber dari lembaga keuangan bank. Jumlah pembiayaan mencapai trilyunan rupiah biasanya hanya dapat diberikan oleh konsorsium lembaga keuangan berbentuk bank konvensional. pembiayaan dalam jumlah besar akan lebih banyak dibutuhkan oleh Kota Metropolitan dan Kota Besar dibandingkan Kota Sedang. semakin besar tingkat suku bunga yang dikenakan oleh pemberi pembiayaan. Besarnya jumlah pembiayaan ini pada dasarnya bergantung dari sumber pembiayaan.a. 261 . b. bank pembangunan multinasional seperti Bank Dunia (World Bank) atau Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank) atau bilateral. dan jangka panjang (di atas 5 tahun). Semakin besar resiko dari pembiayaan. Pembiayaan dari lembaga pembiayaan baik bank atau non-bank biasanya mengenakan bunga yang relatif lebih tinggi dibanding pembiayaan dari Pemerintah atau badan layanan yang ditunjuk seperti PIP. Disamping itu. jangka menengah (3 – 5 tahun). Tinggi rendahnya suku bunga berbanding lurus dengan besar kecilnya resiko. c. Dengan demikian jumlah pembiayaan yang besar akan lebih terbatas sumbernya dibandingkan dengan jumlah pembiayaan yang kecil. Prasyarat dan prosedur Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 tertentu. Jangka waktu Terdapat pembiayaan yang memiliki jangka pendek (kurang dari 1 tahun). serta melalui obligasi. saat ini memiliki jangka waktu pendek dan menengah.

2008. 2005. KfW Entwicklungsbank. namun kecenderungan atau trend yang terjadi menunjukkan bahwa peran sumber pembiayaan non-APBN dan APBD akan semakin besar di masa depan.Pembiayaan yang berasal dari Pemerintah secara umum lebih rumit. perusahaan swasta ataupun masyarakat biasanya lebih terfokus pada pertimbangan kesesuaian resiko dan pengembalian dari investasi. pembiayaan lebih banyak dilakukan melalui bank pembangunan. London.4 Pembiayaan Perkotaan di Masa Depan Pembiayaan perkotaan yang seperti apa yang diperlukan di masa depan? Meskipun APBN dan APBD tetap akan menjadi salah satu sumber pembiayaan infrastruktur perkotaan. sedangkan di Perancis 75% modal investasi pemerintah daerah dibiayai dari pinjaman. 15 Venkatachalam. September. Syarat dan prosedur jenis-jenis pembiayaan yang berasal dari lembaga keuangan. London School of Economics and Political Science. Financing Urban Infrastructure – Innovative Financial Instruments for Cities. Prita. Sebagai contoh pemerintah daerah di Amerika Serikat dapat meminjam sekitar 20% dari pendapatan mereka. India” Policy Working Paper Series No. lama dan bersifat administratif apabila dibandingkan dengan pembiayaan yang bersumber dari sektor swasta atau lembaga keuangan. Di lihat dari jenis pembiayaannya. 262 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Peter. sementara di Eropa. Sumber Pembiayaan 1) Pembiayaan dari Pemerintah Pusat (APBN) dan Pemerintah Daerah (APBD) tetap akan menjadi salah satu sumber pembiayaan penting untuk pembangunan perkotaan terutama pembangunan infrastruktur perkotaan tertentu seperti 14 Hartig. Hal ini juga terjadi di negara berkembang lainnya14. pembiayaan infrastruktur perkotaan banyak dilakukan melalui penerbitan obligasi daerah. “Innovative Approaches to Municipal Infrastructure Financing: A Case Study on Tamil Nadu. antara lain: BAB 6 A. di Amerika Serikat. 6.15 Beberapa asumsi yang digunakan untuk menentukan arah kebijakan dalam pembiayaan pembangunan perkotaan pada masa yang akan datang. Pembiayaan pembangunan di berbagai kota di negara-negara maju telah mampu mengurangi beban anggaran nasional melalui pembentukan skema kerjasama dengan pihak swasta dan optimalisasi sumber pendanaan yang berasal dari pasar modal seperti obligasi daerah dan lainnya. 05-68.

Peran sektor swasta dan masyarakat dalam pembiayaan pembangunan perkotaan akan semakin besar. transparan dan akuntabel. BAB 6 D. Tata Kelola dan Kapasitas Pemerintah Kota Berdasarkan asumsi diatas. lembaga. pinjaman daerah. terutama melalui badan. Pemerintah Kota yang memiliki tata kelola pemerintahan dan kapasitas keuangan yang baik juga akan lebih mudah mengakses pembiayaan yang bersumber dari non pemerintah. dalam skala besar. diperlukan upaya-upaya khusus yang mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan atau enabling Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 263 . Dengan demikian. B. Besaran Pembiayaan Pertimbangan efisiensi akan menjadi faktor penting sehingga Kota Sedang dan Kota Kecil perlu melakukan Kerjasama Antar Daerah (KAD) dalam rangka menentukan jenis infrastruktur yang menarik dan mengakses sumber pembiayaan dari sektor swastasehingga mencapai skala keekonomian yang memadai jumlahnya. atau organisasi luar negeri. seperti hibah daerah. proses pengadaan barang dan jasa yang lebih efisien. Pembiayaan pembangunan perkotaan ke depan. Pemanfaatan jenis-jenis pembiayaan. Jenis dan Instrumen Pembiayaan Instrumen pembiayaan akan semakin bervariasi sesuai dengan jenis infrastruktur dan profil risiko pemilik dana. C. membutuhkan teknologi tinggi. Penerimaan dari PAD akan tumbuh seiring dengan berjalannya desentralisasi fiskal yang memberikan kewenangan pada Pemerintah Daerah untuk menggali dan mengoptimalkan sumber-sumber yang dapat dijadikan PAD. diharapkan akan lebih banyak memanfaatkan sumber dari luar negeri dibandingkan dari dalam negeri. tidak menghasilkan pendapatan. Pembiayaan yang bersumber dari non pemerintah (APBN dan APBD) akan menuntut dan mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan (good governance) termasuk pengelolaan keuangan. obligasi daerah ataupun KPS.2) 3) 4) misalnya yang bersifat strategis bagi kepentingan nasional. akan semakin banyak dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota. dan sebagainya.

menarik dan inovatif. mulai dari aspek perencanaan. baik perseorangan ataupun badan dan organisasi dalam memutuskan investasinya. Oleh karena itu. Perlunya upaya jangka pendek yang dapat memperluas alternatif jenis pembiayaan yang bersumber dari non pemerintah. khususnya untuk investasi infrastruktur perkotaan yang menarik. Perlunya peningkatan kapasitas Pemerintah Kota dalam pembiayaan pembangunan perkotaan. Perlunya membentuk lembaga fasilitasi penyiapan proyek infrastruktur daerah (local infrastructure development facilities) dan lembaga pembiayaan infrastruktur daerah (local infrastructure development funds). antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) BAB 6 Perlunya kebijakan dan peraturan perundangan jangka menengah dan panjang yang dapat mendorong terciptanya berbagai jenis atau instrumen pembiayaan yang baru. serta memberi jaminan dan kepastian hukum bagi sektor swasta dan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan perkotaan di Indonesia. beberapa hal yang akan menjadi arah dalam penyediaan pembiayaan pembangunan perkotaan di masa depan.environment bagi munculnya berbagai jenis pembiayaan pembangunan perkotaan. pelaksanaan sampai dengan pengelolaan investasi dan keuangan. 264 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Perlunya penilaian kelayakan kredit (credit worthiness) sebagai indikator untuk menentukan kapasitas Pemerintah Kota dalam mengelola keuangannya dan bagi pemilik modal. Kedua lembaga tersebut akan diuraikan dalam subbab terpisah dibawah ini. Pentingnya Kerjasama Antar Daerah (KAD) bagi kota dan daerah yang berdekatan untuk mencapai skala keekonomian dalam menentukan prirotas infrstruktur yang dapat dibiayai bersama dan dalam mengakses sumber pembiayaan yang jumlahnya lebih besar.

persampahan dan sanitasi. Dari total 93 kota otonom di Indonesia. perencanaan (project structuring) sampai dengan mengidentifikasi jenis pembiayaan yang akan digunakan dalam pembangunannya (linking to finance).78. Dengan demikian.4. data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa standar deviasi komponen pelayanan infrastruktur antar kota kecil rata-rata sangat tinggi yaitu sebesar 17.1 Lembaga Fasilitasi Penyiapan Proyek Daerah (Local Project Development Facilities – LPDF) Berbagai permasalahan dan tantangan dalam penyediaan infrastruktur perkotaan tersebut sudah sangat penting dan mendesak untuk segera diatasi. air bersih. lembaga PDF disini tidak menyediakan pembiayaan ataupun melaksanakan pembangunan infrastruktur [tidak terbatas pada proyek yang pembangunannya dibiayai melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (Public Private Partnership – PPP)].6. 265 . Dengan demikian. listrik. Salah satu solusi yang dapat diambil oleh Pemerintah Pusat adalah pembentukan lembaga yang memfasilitasi pengembangan proyek (Project Development Facility – PDF). seperti jalan. mulai tahap prioritisasi dan pemrograman (project prioritization and programming). Manfaat jangka panjang yang diharapkan dari terbentuknya lembaga PDF adalah membantu Pemerintah Daerah dalam mempersiapkan infrastruktur Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 Selain rendahnya kapasitas pembiayaan dalam internal sebuah kota.23 dan terendah antar kota metropolitan sebesar 7.5. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyediaan pelayanan perkotaan bagi masyarakat di kota metropolitan dan kota besar relatif lebih merata jika dibandingkan pelayanan perkotaan di kota kecil dan kota sedang. untuk kota sedang sebesar 11. PDF yang dimaksud pada dasarnya merupakan sebuah lembaga yang menyediakan layanan khusus yang ditujukan untuk membantu Pemerintah Daerah dalam menyiapkan proyek infrastruktur perkotaan.5 Pembentukan Lembaga Terkait Infrastruktur Perkotaan 6. untuk kota besar sebesar 9. masyarakat yang tinggal di kota metropolitan dan kota besar lebih mudah dalam mengakses infrastruktur perkotaan yang terletak di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. permasalahan dalam penyediaan infrastruktur perkotaan juga terjadi dalam bentuk ketimpangan kondisi pelayanan perkotaan antar tipologi kota di Indonesia.75.

 Identifikasi skema pendanaan dan menghubungkan antara proyek dengan Lembaga Pembiayaan. sebagai berikut: BAB 6          Jaringan air bersih Pengelolaan sampah Pengelolaan air limbah domestik Transportasi kota Revitalisasi kawasan kumuh dan tua Penanggulangan banjir (drainase) Energi dan energi alternatif Infrastruktur ekonomi Infrastruktur sosial Dengan luasnya cakupan kegiatan dan misi yang harus dilaksanakan oleh lembaga PDF. lembaga PDF yang potensial untuk dibentuk di Indonesia memiliki ruang lingkup kegiatan. Feasibility Study (FS). Ruang Lingkup dan Persyaratan Pembentukan Lembaga PDF di Indonesia Secara lebih spesifik. dan dokumen pengadaan.  Membantu Pemerintah Daerah dalam penyusunan proyek infrastruktur prioritas. maka usulan jenis sarana prasarana atau sektor-sektor yang harus dibantu oleh lembaga PDF di Indonesia. identifikasi kebijakan. antara lain: 266 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . program dan daftar proyek infrastruktur. Dengan mempertimbangkan kewenangan yang saat ini dimiliki oleh Pemerintah Daerah di tingkat kabupaten/kota dan kompeksitas permasalahan pembangunan infrastruktur perkotaan harus segera ditangani oleh Pemerintah Daerah.  Penyiapan Pre-Feasibility (PFS).  Perjanjian kerjasama dengan lembaga penyedia keuangan.  Penyiapan dan penilaian Credit Worthiness. antara lain:  Mempersiapkan data dan informasi dalam bentuk isu strategi. maka dibutuhkan berbagai desain kebijakan dan persyaratan dasar yang mampu mendorong dan mempercepat terentuknya lembaga PDF di Indonesia. A.perkotaan prioritas sehingga dapat mempercepat penyediaan pelayanan perkotaan secara nasional yang efektif dan efisien.

seperti perbankan. maka lembaga PDF diharapkan sudah mulai mengenakan iuran layanan (service fee) untuk bantuan teknis yang disediakan bagi Pemerintah Daerah. pemberian layanan kepada Pemerintah Daerah tersebut harus dilakukan berdasarkan usulan dari Pemerintah Daerah dan dilakukan seleksi yang kompetitif. lembaga ventura. sehingga proposal proyek infrastruktur yang sudah disiapkan oleh lembaga PDF dapat langsung dilakukan due diligence oleh lembaga-lembaga tersebut. Terdapat beberapa lembaga PDF yang sudah berdiri. PDF dapat diberikan beberapa insentif yang diberikan dalam bentuk fiskal dan non-fiskal. Pemerintah perlu memberikan akses kepada lembaga PDF untuk bekerjasama dengan lembaga-lembaga pembiayaan. dan sebagainya. Desain Insentif Dalam operasionalisasinya. Akses Terhadap Lembaga Sejenis dan Lembaga Pembiayaan Dalam rangka penyediaan bantuan teknis kepada Pemerintah Daerah dan efisiensi dalam operasionalisasinya. PDF dituntut untuk menyediakan layanan kegiatan kepada Pemerintah Daerah secara gratis. Dengan demikian. seperti dalam bentuk mandat khusus yang diatur dalam peraturan perundangan. 267 . Dalam jangka waktu tertentu setelah beroperasi dan sudah memiliki permintaan yang tetap (captive demand). independen dan efisien. Disamping itu. Insentif fiskal dapat diberikan dalam bentuk subsidi modal dan biaya operasional. maka lembaga PDF perlu diberikan kemudahan dalam menjalin kerjasama dengan lembaga sejenis. tidak semua usulan dari Pemerintah Daerah disetujui oleh lembaga PDF. bantuan pemenuhan kebutuhan pengembangan dan manajemen SDM yang diperlukan oleh lembaga PDF. baik dalam negeri maupun luar negeri. Model Pengelolaan Pengelolaan PDF harus bersifat profesional. Sedangkan insentif non fiskal dapat disediakan. Pada awal pembentukannya. Vietnam. dan lembaga donor. 2. Cina dan India. antara lain di Pakistan.1. misalnya 5 (lima) tahun. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 3. dengan catatan bahwa Pemerintah Daerah tersebut memiliki kapasitas fiskal yang memadai. Meskipun tanpa dipungut biaya.

Penyatuan ini akan menjadi sangat menarik bagi Pemerintah Daerah karena bantuan teknis yang disediakan dapat menjadi stimulant awal bagi Pemerintah Daerah untuk meminjam dana ke lembaga LDF. 2014 B. Kendala Peningkatan Infrastruktur Kendala dalam peningkatan infrastruktur adalah penyediaan sumber pembiayaan bagi Pemerintah Daerah. Dengan demikian. terutama dalam bentuk hibah (grant) dan bantuan teknis (Technical Assistances . bantuan teknis yang disediakan bisa merupakan satu paket dengan pinjaman yang disediakan oleh lembaga LDF tersebut.TA). antara lain : 268 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Sumber Pembiayaan Mengingat lembaga PDF dalam operasionalisasinya tidak mengenakan biaya bagi Pemerintah Daerah. sumber pembiayaan juga dapat berasal dari kontribusi kota-kota yang telah dibantu sebelumnya serta berbagai hubungan kerjasama. maka APBN merupakan sumber utama pembiayaan terutama ketika lembaga ini sudah beroperasi. Disamping itu. lembaga PDF didorong untuk melakukan pengumpulan dana (pool of funds) dari berbagai lembaga donor bilateral dan multilateral. Selain itu. misalnya dalam bentuk sister city.3 Roadmap Pembentukan Lembaga PDF di Indonesia BAB 6 Sumber : Analisis Bappenas. Gambar 6.4. Potensi pembiayaan yang lainnya adalah ketika lembaga PDF menjadi satu kesatuan dengan lembaga LDF (Local Development Funds).

jumlahnya relatif terbatas dan akses pinjamannya tidak terbuka bagi semua Pemerintah Daerah.  Sangat tidak mudah bagi Pemerintah Daerah untuk menemukan sumber pinjaman jangka panjang. b. yang sering disebut sebagai MDF (Municipal Development Fund). Belum ada mekanisme untuk menampung dana dari lembagalembaga pendanaan nasional maupun internasional yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan strategi. BAB 6 Di berbagai negara. prioritas dan kebutuhan pembangunan perkotaan. Pemerintah Daerah memerlukan sumber pembiayaan tidak saja dari dana perimbangan maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD). 6. Saat ini sebagian besar pinjaman daerah adalah warisan masa lalu dari Pemerintah Pusat melalui mekanisme penerusan pinjaman (Subsidiary Loan Agreement). IIF. Bentuk infrastruktur yang saat ini sangat diperlukan oleh Pemerintah Daerah adalah infrastruktur lingkungan (environmental infrastructure) yang umumnya tidak memberikan pendapatan proyek yang menjanjikan (non-revenue generating project). Skema pinjaman SLA masih bersifat supply-driven. Belum ada ‘keranjang’ dana terpusat untuk membiayai berbagai macam proyek infrastruktur perkotaan secara efektif dan efisien. PIP dan lain sebagainya secara terpadu. kebutuhan pembiayaan infrastruktur jangka panjang ini dapat dipertemukan dengan berbagai sumber dana melalui sebuah lembaga perantara pembiayaan.  Untuk membiayai infrastruktur ini. ataupun dengan menerbitkan surat utang. Belum ada instansi yang dapat memproses usulan pembiayaan proyek dari berbagai sumber seperti PT SMI. Sedangkan pinjaman demanddriven melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang oleh Pemerintah Daerah dikeluhkan sulitnya persyaratan yang harus dipenuhi dan tingginya besaran bunga. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 269 .5. baik dengan meminjam dari Pemerintah Pusat maupun lembaga keuangan. tetapi juga dari pinjaman daerah. Terdapat tiga alasan mengapa Indonesia memerlukan kehadiran MDF dalam pembiayaan infrastruktur daerah: c.2 Municipal Development Fund a.

1. dan (3) Membuat BLU Baru. bukan yang memberikan hibah. Untuk melaksakanakan kewajiban ini. proteksi pinjaman. manajemen. Dengan kondisi saat ini. SMI dapat melakukan intercept DAU (Dana Alokasi Umum). permodalan. Berdasarkan analisa kelembagaan menggunakan 12 (dua belas) aspek berikut ini: pertanggungjawaban (liability). (2) Transisi melalui BLU yang ada saat ini. Selain itu. keputusan untuk memberikan pinjaman. peraturan pendirian. yaitu (1) Transisi melalui BUMN yang ada saat ini. koordinasi. dan bukanlah MDF yang menyalurkan pinjaman daerah melalui lembaga keuangan lain (second-tier). pasar modal. SMI dapat meminta jaminan aset dari Pemerintah Daerah. investasi. SMI (Sarana Multi Infrastruktur) sebagai BUMN yang bergerak dalam pembiayaan infrastruktur nasional dan daerah. PT. SMI diminta melaksanakan fungsi MDF tersebut. orientasi perusahaan. PT. dan juga tidak bertindak sebagai Bank Obligasi yang membeli obligasi dari Pemerintah Daerah. Transisi melalui BUMN yang ada BAB 6 Saat ini terdapat PT.  PT. Selain itu institusi MDF Indonesia adalah MDF yang memberikan pinjaman langsung kepada Pemerintah Daerah (first-tier). bentuk MDF yang optimal untuk Indonesia adalah institusi yang memberikan pinjaman kepada daerah.  PT. SMI memiliki kepentingan menjaga credit ratingnya. dapat disimpulkan bahwa bentuk terbaik untuk institusi MDF di Indonesia adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara). terutama melalui mekanisme PPP (Public Private Partnership). maka MDF ini akan menjadi unit di bawah PT. SMI yang khusus melakukan pinjaman infrastruktur kepada Pemerintah Daerah. SMI memerlukan peningkatan instrumen keamanan pinjaman. dan pengawasan.Bentuk MDF yang optimal bagi Indonesia adalah MDF yang menyalurkan Pinjaman daerah secara langsung kepada Pemerintah Daerah (first-tier) dan memiliki kelembagaan berbentuk BUMN. yang dapat diusulkan kepada Pemerintah:  PT. Penyertaan Modal Negara (PMN) sebagai modal awal MDF 270 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Apabila PT. Terdapat 3 (tiga) opsi kelembagaan MDF dalam jangka pendek. SMI dapat meminta komitmen dari DPRD melalui penerbitan Perda. sumber pendanaan.

yang hanya dapat dilakukan oleh BUMN. maka diperlukan juga sebuah tahapan. Namun pada akhirnya harus tetap diingat bahwa secara konteks tujuan besar. maka diperlukan sebuah mekanisme transisi dari bagian BLU menjadi BUMN yang harus dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun. bila opsi membentuk BLU baru ini yang akan dipilih. Jadi. yang memungkinkan bahwa bentuk BLU ini akan menjadi bentuk BUMN di dalam jangka menengah. yaitu untuk menjadi sebuah MDF potensial dalam jangka menengah dan jangka panjang. MDF yang ideal haruslah berbentuk BUMN. maka pengalaman internasional membuktikan bahwa bentuk BLU baru inipun bukanlah bentuk optimal untuk sebuah pendirian MDF. setidaknya perlu dibuat sebuah desain kebijakan yang meliputi 7 (tujuh) kebijakan strategis: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 271 . karena untuk mencapai tujuan efektif MDF perlu dalam format BUMN. Sebagai pengelola kekayaan negara untuk diinvestasikan (sovereign wealth fund) (PP 1/2008). yang memerlukan penyesuaian yang tidak sederhana untuk mencapai tujuan MDF. Transisi melalui BLU yang ada Saat ini BLU yang telah aktif melakukan pinjaman daerah adalah PIP (Pusat Investasi Pemerintah). maka ada tambahan tugas baru untuk PIP. karena langsung mempengaruhi Debt-to-Equity Ratio (DER). Mendirikan BLU baru adalah sebuah opsi dengan maksud tidak mengganggu sistem di PIP sebagai pilihan transisi. mengingat bahwa menjadi MDF yang kompetitif haruslah MDF yang dapat mengakses pasar modal secara leluasa.lebih baik dicatatkan sebagai hibah ekuitas dibandingkan dengan utang. aktivitas MDF juga dapat dicatatkan dalam buku terpisah (sub-ledger). Seandainya MDF dimasukkan ke dalam PIP. Selain itu. Momen pentahapan ini sangat penting. mengingat bahwa dalam jangka menengah. tujuan dan skala MDF sangat spesifik tetapi memerlukan keleluasaan ruang gerak yang sulit dilakukan jika masuk dalam sistem birokrasi. BAB 6 3. PIP memiliki mandat yang sangat luas baik dalam skala maupun cakupan tujuan manfaat. Transisi dengan mendirikan BLU baru Untuk menjadi MDF yang potensial. Di lain pihak. 2.

Sistem reward and punishment juga harus mengacu pada pasar. Proteksi Pinjaman Pinjaman selalu mengandung risiko gagal bayar (Non-Performing Loan. 4. walaupun opportunity cost dari alokasi tersebut harus dipertimbangkan dari sisi kebijakan fiskal. dan efisien. solusi ideal mengerucut pada 272 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Desain Insentif Insentif dapat diberikan dalam bentuk fiskal dan non-fiskal. dari berbagai bentuk institusi yang telah dielaborasi. Model Pengelolaan Pengelolaan MDF harus bersifat independen. Pinjaman diberikan hanya pada daerah yang mempunyai kapasitas untuk membayar pinjaman dengan kriteria meminjam yang jelas dan transparan. 5. Lembaga pinjaman harus mempunyai cara untuk meminimasi risiko gagal ini. Dewan direksi dipagari oleh prinsip hard budget constraint sehingga tidak ada dana tambahan Pemerintah untuk menutup kerugian karena kesalahan manajemen. Insentif fiskal dapat diberikan dalam bentuk subsidi modal. Desain dari proteksi pinjaman akan memerlukan beberapa perubahan dalam Undang-undang maupun cukup berupa peraturan Menteri. atau NPL). untuk membentuk MDF yang independen. 6. profesional. Kelembagaan MDF Dari uraian sebelumnya. Struktur Modal Struktur modal awal MDF dapat berupa 100% modal atau dengan komposisi modal-utang. Sumber modal murni dapat berasal dari swasta atau non-swasta 3. maka seharusnya mendapatkan sumber pembiayaan lain seperti hibah. profesional. subsidi bunga pinjaman.1. jika dipandang dari sisi neraca keuangan institusi karena tanpa cost of funds. atau masa tenggang waktu memulai cicilan pembayaran. Kriteria Pemerintah Daerah yang Berhak Meminjam BAB 6 Jika Pemda memang belum mampu meminjam. dan efisien. 2. Modal murni dapat menekan biaya pinjaman.

Percepatan pemenuhan SPP. 7. PKN. Akses terhadap pasar modal yang lebih luas dan kompetitif sepenuhnya tergantung dari peringkat kredit yang diperoleh MDF yang ditentukan oleh kinerja keuangannya. terutama untuk prasarana dasar. PKN. Percepatan pemenuhan SPP. terutama untuk prasarana dasar. terutama untuk prasarana dasar. PKW) Kawasan Metropolitan dan Kota Besar :  Penataan dan pemenuhan Kawasan Metropolitan dan Kota Besar :  Penataan dan pemenuhan Kawasan Metropolitan dan Kota Besar :  Penataan dan pemenuhan BAB 6 No Fokus nasional dalam pembiayaan Kawasan Metropolitan dan Kota Besar :  Penataan Kawasan Metropolitan dan Kota Besar :  Penataan dan pemenuhan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 273 . PKW) Percepatan perwujudan peran dan fungsi kota sebagai pusat-pusat kegiatan (PKG. Percepatan pemenuhan SPP. Tabel 6. terutama untuk prasarana dasar. PKN. Dalam jangka pendek telah diuraikan beberapa opsi yang dapat dipilih oleh Pemerintah. PKW) Percepatan perwujudan peran dan fungsi kota sebagai pusat-pusat kegiatan (PKG. PKW) 2 2016 Percepatan pemenuhan SPP. Kinerja keuangan ini juga ditentukan oleh baik tidaknya penerapan disiplin pasar dan rendahnya kredit macet.pembentukan sebuah BUMN baru. Percepatan perwujudan peran dan fungsi kota sebagai pusatpusat kegiatan (PKG. Memastikan bahwa Pemerintah Daerah yang meminjam dana mampu membayar angsuran kreditnya dengan lancar adalah aspek yang paling utama untuk mencapai peringkat kredit yang baik. Percepatan perwujudan peran dan fungsi kota sebagai pusat-pusat kegiatan (PKG. PKN.1 Arah Kerangka Awal Pembiayaan Pembangunan Perkotaan 1 2015 2017 2018 2019 Pengembangan profil investasi dalam pembangunan kota-kota Percepatan pemenuhan SPP. PKN. terutama untuk prasarana dasar. PKW) Percepatan perwujudan peran dan fungsi kota sebagai pusat-pusat kegiatan (PKG. Kerjasama dengan Entitas Lain MDF perlu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk penyediaan Technical Assistance dan Capacity Building ke Pemerintah Daerah APBN adalah sumber dana awal yang standar bagi operasional awal MDF karena seringkali MDF dibentuk atas inisiatif pemerintah.

Pembentukan Sekretariat Urban Infrastructure Project Development Facilities. Pembiayaan untuk sekretariat akan dibantu oleh lembaga donor dan APBN Finalisasi Peraturan Menteri tentang Pembentukan Sekretariat Urban Infrastructure Project Development Facilities.No 3 2015 2016 2017 2018 2019 dan pemenuhan standar pusat kegiatan Nasional  Penanganan dan pengendalia n isu lintas wilayah Kota Sedang dan Kecil  Pemenuhan SPP  Percepatan koneksi desa. Penyiapan Peraturan Menteri tentang Pembentukan Sekretariat Urban Infrastructure Project Pengembangan kerangka kelembagaan dan Peraturan PDF di Indonesia Penyiapan pembentukan Sekretariat Urban Infrastructure Project Development Facilities. Pembiayaan untuk sekretariat akan dibantu 274 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .kota standar pusat kegiatan Nasional  Penanganan dan pengendalian isu lintas wilayah Kota Sedang dan Kecil  Pemenuhan SPP  Percepatan koneksi desakota standar pusat kegiatan Nasional  Penanganan dan pengendalian isu lintas wilayah Kota Sedang dan Kecil  Pemenuhan SPP  Percepatan koneksi desakota standar pusat kegiatan Nasional  Penanganan dan pengendalian isu lintas wilayah Kota Sedang dan Kecil  Pemenuhan SPP  Percepatan koneksi desakota standar pusat kegiatan Nasional  Penanganan dan pengendalian isu lintas wilayah Kota Sedang dan Kecil  Pemenuhan SPP  Percepatan koneksi desakota APBN Peran Swasta APBD APBN Peran Swasta APBD Lembaga Donor APBN Peran Swasta APBD Lembaga Donor Operasionalisasi tahap I dari PDF Operasionalisasi tahap I dari PDF Pembiayaan untuk sekretariat akan dibantu oleh lembaga donor dan APBN Pembiayaan untuk sekretariat akan dibantu oleh lembaga donor dan APBN Kerangka pembiayaan APBN Peran Swasta APBD 4 APBN Peran Swasta APBD Pengembangan Kelembagaan Pembiayaan Melakukan kajian. menyusun kebijakan dan mengeluarkan peraturan perundangan BAB 6 Penyiapan pembentukan Sekretariat Urban Infrastructure Project Development Facilities.

World Bank. I9SNSPOVW90 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 275 . 2016 2017 2018 2019 oleh lembaga donor dan APBN Workshop Pembentukan PDF di Indonesia Pembiayaan untuk sekretariat akan dibantu oleh lembaga donor dan APBN Sumber: Bappenas. 2014. pembangunan infrastruktur. Permasalahan utama yang dihadapi pemerintah kota adalah (1) keterbatasan pendanaan dari pemerintah lokal (2) masih bergantung pada pemerintah pusat untuk belanja modal (3) manajemen pengelolaan keuangan yang belum kuat 16 BAB 6 Financial intermediaries atau perantara keuangan merupakan sebuah lembaga yang dapat menjadi alternatif untuk pengembangan pembiayaan pembangunan perkotaan terutama untuk investasi infrastruktur lokal yang didalamnya menangani obligasi. Dari tahun 2001 dimana desentralisasi fiskal dilaksanakan sampai sekarang.5. 6. terutama infrastruktur perkotaan belum dapat menunjukkan hasil yang signifikan. Namun. namun sayangnya masih banyak permasalahan yang ada karena pengelolaan keuangan bukan hanya masalah pengaturan sistem namun juga menyangkut masalah kelembagaan dan kapasitas aparatur negara.16 Role of Financial Intermediation for Local Governments. Proses sentralistik yang dulu dijalankan oleh pemerintah Indonesia sebelum reformasi tahun 1997/1999 belum dapat memenuhi keinginan daerah yang ingin berkembang secara mandiri. infrastruktur perkotaan memerlukan biaya yang besar dalam pembangunannya.3 Financial Intermediary Infrastruktur perkotaan perlu ditingkatkan untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia. sehingga terciptalah proses desentrasilsasi fiskal.No 2015 Development Facilities. dana pembangunan kota yang berasal dari pajak maupun dana perimbangan dari pusat.

Pakistan18 dan IMF menekankan pada 3 isu pokok sektor perkotaan : 1. Membantu mengawasi penggunaan hibah daerah. Pemerintah Daerah membutuhkan bantuan investasi jangka panjang yang tidak dapat diberikan oleh pemerintah pusat sehingga kemungkinan akan meminjam dari daerah atau lembaga lain. b. Menyediakan dana pembangunan infrastruktur perkotaan yang dapat meningkatkan standar hidup masyarakat perkotaan. d. Douglas Wilder School of Government and Public Affairs. Pengalaman India17. Adanya konsesus politik dan penataan kegiatan pembangunan secara partisipatif yang dalam perubahan tarif untuk mendanai pembangunan. 18 Pakistan 10 Years Strategy Paper for Banking Sector Reforms. BAB 6 Kekuatan inti dari Financial intermediaries adalah : 1. Ketiga komponen tersebut akan membentuk dasar bagi rencana kerja pembangunan perkotaan di masa mendatang. Waiping. Urban Infrastructure Financing and Economic Performance in China. 4. Memfasilitasi partisipasi sektor swasta dan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur perkotaan. Mengingat kebutuhan investasi. Tujuan dari dibentuknya Financial intermediaries adalah : a. e. Menyusun prioritas infrastruktur perkotaan yang strategis dan menilai kelayakannya dari berbagai aspek. 2009 276 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . c. 2. 3. State Bank of Pakistan. 3. Kebutuhan pembangunan kapasitas pemerintahan yang efisien dan responsif akan kebutuhan masyarakat dan pembangunan. Virginia Commonwealth University. 2010. Mengembangkan proyek pembangunan Penailaian proyek Penataan keuangan Akses ke pasar modal 17 Lu.sehingga perlu adanya reformasi pengelolaan infrastruktur perkotaan. 2. Meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah dalam mengakses pembiayaan yang berasal dari Pasar Modal dan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.

sebagaimana diuraikan dalam Tabel 6.FI) khusus di daerah yang merencanakan. Dalam rangka melaksanakan berbagai arah penyediaan pembiayaan pembangunan perkotaan tersebut diatas. mengelola dan mengembangkan berbagai jenis pembiayaan pembangunan perkotaan yang terdiri dari: pinjaman daerah. pengolahan limbah.5. 4) Bantuan teknis untuk persiapan dan pengawasan proyek (project preparation facility) 5) Manejemen proyek. termasuk peningkatan biaya operasional. 277 . KPS. obligasi daerah. pinjaman dan dana bagi hasil yang akan digunakan untuk mengembangkan investasi perkotaan yang berkelanjutan seperti penyediaan air bersih. benchmarking kinerja dan meningkatkan transparansi serta akuntabilitas. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 6 b. Fleksibilitas dalam pengoperasiannya. Komponen Pengembangan Kelembagaan: a. Komponen pengembangan kelembagaan akan digunakan untuk : 1) Pengembangan kapasitas aparatur negara melalui program pelatihan untuk meningkatkan pembangunan manajerial dan teknis. dibawah ini. jaringan transportasi dan lain sebagainya. 2) Mengembangkan dan memperluas e-governance dan jaringan teknologi informasi. Komponen Investasi Perkotaan Terdiri dari hibah. 3) Menguatkan monitoring utang untuk menjaga kestabilan fiskal dan moneter. memperkuat kerangka monitoring kegiatan pemerintah. Perantara keuangan (Financial Intermediaries . sistem drainase. maka disusun kebijakan dan strategi pembiayaan pembangunan perkotaan Tahun 2015 – 2050 yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). MDF maupun dana hibah yang berasal dari Pemerintah.2.

pembiayaan perundangan yang dapat berdasarkan tipologi kota terutama untuk yang baru. Daerah (PAD) perundangan yang yang pemerintah memberi kewenangan daerah diberi yang lebih besar kepada kewenangan Pemerintah Daerah 278 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Pusat Penelitian. dan yang masyarakat) KPS diharapkan. 1. kondisi dengan pemilik dana Pinjaman Daerah.Tabel 6. BAB 6 STRATEGI ASPEK DAN KEBIJAKAN Pemerintah Pemerintah Daerah Jangka Waktu Kebijakan dan Peraturan Perundangan (Bappenas dan Kemenkeu dengan melibatkan Universitas. kebijakan dan dalam jangka dan instrumen mengeluarkan peraturan peraturan perundangan pendek. pasar (likuiditas dan instrumen).2 Kebijakan dan Strategi Pembiayaan Perkotaan No. dan sebagainya Memberi  Mengeluarkan  Menyusun Peraturan  Jaminan dan jaminan dan peraturan perundangan Daerah atau instrumen kepastian kepastian hukum yang menjamin hukum lainnya yang hukum memiliki keberlangsungan memberi jaminan dan peranan yang investasi oleh sektor kepastian hukum bagi sangat besar swasta dan investasi di daerah dalam investasi masyarakat dan daya saing  Mengurangi peran DPRD daerah. mendorong terciptanya kajian dan menarik dan alternatif jenis dan penyusunan inovatif instrumen pembiayaan kebijakan. Kadin. pembangunan perkotaan  Dimulai dari yang menarik baik dari jangka pendek aspek proses (2015 – 2018) (penyederhanaan). risiko kredit.  Dalam era basis sumber menyusun kebijakan dan desentralisasi Pendapatan Asli mengeluarkan peraturan fiskal. dilakukan mekanisme resolusi pelaksanaan dan secepatnya jika terjadi gagal bayar pengelolaan investasi di untuk atau dispute antara daerah terutama untuk mendorong Pemerintah Kota skema Hibah daerah. Terlibat dalam penyusunan  Dilakukan munculnya jenis menyusun kebijakan dan kajian. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Mendorong Melakukan kajian. perekonomian (sektor swasta dan Obligasi Daerah.  Dimulai dari jangka pendek (2015 – 2018) Memperluas Melakukan kajian.  Mempersiapkan dalam proses sehingga harus standar dan perencanaan.

termasuk namun harus menstrukturkan jangka identifikasi terhadap ada kajian waktu pinjaman. Pusat Penelitian. melakukan pinjaman daerah. dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas. dan ditawarkan dalam bentuk dalam tata cara sebagainya pinjaman daerah dan pinjaman kemungkinan pemaketan daerah. ASPEK DAN KEBIJAKAN Pemerintah untukmenggali dan mengoptimalkan sumbersumber alternatif untuk PAD STRATEGI Pemerintah Daerah Jangka Waktu untuk mengelola keuangan dan mengoptimalka n sumber fiskalnya. investasinya yang tepat  Meningkatkan kelayakan  Dalam kasus ini. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Pinjaman daerah  Menyusun kajian untuk  Terlibat dalam  Dalam kasus menentukan kriteria penyusunan kajian dan pinjaman proyek-proyek kebijakan berdasarkan daerah. pinjaman kreditPemerintah Daerah daerah dilakukan proses two stage loan agar BAB 6 No. mulai dari daerah untuk enhancement bagi perencanaan. misalnya: pengelolaan. sehingga harusnya telah dilakukan sejak kebijakan tersebut dilakukan.  Dimulai dari jangka pendek (2015 – 2018) Sumber dan Jenis Pembiayaan (Bappenas.  Mengidentifikasi proyek sebagai salah menurunkan bunga infrastruktur yang dapat satu syarat pinjaman. sudah infrastruktur yang tipologi kota banyak dapat ditawarkan paraturan yang  Menyusun profil dalam bentuk pinjaman mengatur tata kapasitas dalam daerah cara dan pelaksanaan pinjaman ketentuan  Memberikan credit daerah.Kemenkeu. resiko dan tentang credit meningkatkan manajemennya worthiness peringkat kredit. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 279 .2. Kadin. pelaksanaan dan pinjaman.

termasuk identifikasi terhadap resiko dan manajemennya  Mengidentifikasi proyek infrastruktur yang dapat ditawarkan dalam bentuk obligasi daerah dan kemungkinan pemaketan investasinya yang tepat  Meningkatkan kelayakan kredit Pemerintah Daerah  Menyusun profil kapasitas dalam pelaksanaan KPS. termasuk identifikasi terhadap resiko dan manajemennya  Mengidentifikasi proyek infrastruktur yang cost recovery. misalnya: adanya jaminan bailout yang disertai sanksi keras. namun dari banyak kasus yang ada. hanya beberapa kota besar atau metropolitan yang telah .2018) Jangka menengah (2018-2022)  KPS sudah sering dilakukan oleh pemerintah daerah. bankable dan 280 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Jangka Waktu dana pinjaman lebih udah dimonitoring dalam penggunaanny a  Dimulai dari jangka menengah ( 2015 . bebas pajak penghasilan untuk obligasi jangka panjang. mulai dari perencanaan. ASPEK DAN KEBIJAKAN Pemerintah BAB 6 Obligasi daerah  Meningkatkan likuiditas obligasi daerah di pasar modal dengan kebijakan repurchase agreement untuk mengatasi kesenjangan periode investasi/pembiayaan pembiayaan infrastruktur yang bersifat jangka panjang  Memberikan credit enhancement bagi pemanfaatan obligasi daerah. pelaksanaan dan pengelolaan. pelaksanaan dan pengelolaan. mulai dari perencanaan. misalnya melalui monetizable STRATEGI Pemerintah Daerah  Mengidentifikasi proyek infrastruktur yang dapat ditawarkan dalam bentuk obligasi daerah dan kemungkinan pemaketan investasinya yang tepat  Menyusun profil kapasitas dalam pelaksanaan obligasi daerah. dan sebagainya Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS)  Menyusun kajian dan kebijakan dalam rangka memperluas skema KPS untuk proyek infrastruktur skala kecil dan menengah  Menyusun kajian dan kebijakan dalam rangkamengembangka n KPS.No.

Kadin.dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas.  Dimulai dari jangka pendek (2015 – 2018)  Dalam beberapa contoh instrumen pembiayaan lainnya. pendirian SPV. belum dapat dilaksanakan jangka pendek karena belum ada kebijakan yang mengatur tentang ini. beberapa kota kecil atau sedang dapat join dan bekerjasama dengan swasta untuk suatu sektor tertentu. dan intrumen pembiayaan lainnya STRATEGI Pemerintah Daerah marketableuntuk dikerjasamakan dengan pihak swasta melalui skema KPS Terlibat dalam penyusunan kajian dan kebijakan berdasarkan tipologi kota Jangka Waktu melakukannya.  Dimulai dari jangka menengah (2018 – 2022) BAB 6 No. Program CSR. Pemerintah model. Pusat Penelitian. land value capture. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 281 . seperti Municipal Development Funds (MDF). dan sebagainya Menyusun kajian dan kebijakan dalam rangka pengembangan sumber dan jenis pembiayaan lain. sebagai alternatif. Kemenkeu. KemenPU.ASPEK DAN KEBIJAKAN Instrumen pembiayaan pembangunan lainnya 3. Program Kerjasama Daerah (Sister City). Besaran Pembiayaan (Bappenas. namun belum banyak kota sedang atau tipologi kota lain yang melakukannya karena alasan skala ekonomi. Municipal development funds. pemanfaatan aset daerah dalam bentuk tanah (land value capture).

tentang monitoring dan evaluasi penilaian kelayakan kredit ini belum ada (selain dari Kemetrian Keuangan). melalui pinjaman daerah. khususnya bagi dari identifikasi area dilaksanakan kota-kota otonom untuk perbaikan.No. obligasi daerah ataupun KPS Jangka Waktu Dimulai dari jangka pendek (2015 – 2018) BAB 6 Kelayakan Kredit (Bappenas. Pusat Penelitian. STRATEGI Pemerintah Daerah Melakukan kerjasama dengan kota/daerah yang berdekatan untuk menyusun prioritas infrastruktur yang dapat dibangun dan dikelola bersama serta menarik untuk ditawarkan kepada sektor swasta. yang terdiri kredit harus daerah. implementasi. peningkatan karena kajian kapasitas. Disisi lain. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Mengembangkan sistem Penilaian  Menyusun profil dan  Penilaian meningkatkan kelayakan kelayakan Kelayakan Kredit penilaian kelayakan kredit bagi seluruh kredit Kota. rencana secepatnya kerja. penilaian kelayakan kredit ini merupakan bagian yang 282 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kemenkeu dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas. Kadin. 4. ASPEK DAN KEBIJAKAN Skala Keekonomian Pemerintah  Mendorong Kerjasama Antar Daerah (KAD) bagi Kota Sedang dan Kecil untuk mencapai skala keekonomian mengakses pembiayaan terutama dari sektor swasta  Menyusun kajian dan kebijakan dan mengeluarkan peraturan perundangan untuk mengembangkan instrumen investasi seperti pooled fund atau Municipality Development Funds (MDF) bagi daerahdaerah yang telah bekerjasama  Memberikan credit enhancement bagi pemanfaatan MDF.

keuangan mengelola. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 283 . memonitor BAB 6 No. Kadin. obligasi daerah pendanaan ataupun KPS dan program untuk pengembanga n wilayahnya.5. ASPEK DAN KEBIJAKAN Pemerintah STRATEGI Pemerintah Daerah Jangka Waktu penting dari proses pinjaman daerah. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Meningkatkan kapasitas Perencanaan  Mengidentifikasi sektor Perencanaan Pemerintah Kota dalam sektor dan infrastruktur dalam menyusun prioritas prioritas dan strategis identifikasi infrastruktur yang berdasarkan dokumen sektor dan strategis strategi pembangunan infrastruktur daerah (KSPPD) dan prioritas daftar perencanaan infrastruktur pembangunan daerah harus (RPJMD) dilakukan secepatnya  Menyusun daftar agar infrastruktur yang pemerintah bankable dan dapat daerah dapat ditawarkan (marketable) menentukan dalam bentuk pinjaman prioritas daerah.  Dimulai dari jangka pendek (2015 – 2018) Meningkatkan kapasitas dari Pelaksanaan  Mempersiapkankelompok Dimulai Kota dalam jangka pendek kerja atau tim khusus melaksanakan (2015 – 2018) lintas SKPD yang pembangunan bertanggungjawab infrastruktur merencanakan dan mencari sumber dan jenis pembiayaan pembangunan dari Pengelolaan  Meningkatkan  Mempersiapkankelompok Dimulai jangka pendek kapasitas Pemerintah kerja atau tim khusus investasi dan (2015 – 2018) Kota dalam mengelola lintas SKPD yang keuangan investasi dan merencanakan.  Dimulai dari jangka pendek (2015 – 2018) Peningkatan Kapasitas (Bappenas. Pusat Penelitian. Kemenkeu dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas.

memperluas dan mengoptimalkan sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan mempertimbangkan ilim investasi dan daya saing daerah Jangka Waktu BAB 6 Lembaga Keuangan Perantara (Bappenas.No. Pusat Penelitian. ASPEK DAN KEBIJAKAN Pemerintah  Meningkatkan kapasitas Pemerintah Kota dalam peningkatan kelayakan kredit  Meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah dalam menggali. 5. Kemenkeu dan Kemendagri dengan melibatkan Universitas. Kadin.  Terlibat dalam  Dimulai dari lembaga menyusun kebijakan dan penyusunan kajian dan jangka pendek perantara mengeluarkan peraturan kebijakan berdasarkan (2015 – 2018) keuangan perundangan yang dapat tipologi kota khusus sebagai mendorong terciptanya  Mempersiapkankelompok pengelola lembaga perantara kerja atau tim khusus berbagai jenis keuangan di daerah lintas SKPD yang pembiayaan merencanakan pembangunan di pembentukan lembaga daerah yang perantara keuangan di berasal dari daerah beserta Pemerintah dan kelengkapan peraturan Non Pemerintah perundangannya Sumber: Hasil Analisis (2013) 284 2 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . memperluas dan mengoptimalkan sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) STRATEGI Pemerintah Daerah dan mengevaluasi berbagai pembiayaan pembangunan perkotaan yang bersumber dari non pemerintah  Mengembangkan skema pembebanan biaya pemakaian fasilitas infrastruktur (user charges atau tarif) yang lebih realistis dan inovatif kepada masyarakat  Menggali. Sektor Swasta Lainnya dan Lembaga Donor) Membentuk Melakukan kajian.

BAB 6 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 285 .

BAB 7 Kebijakan dandan Strategi Strategi Pembangunan Pembangunan Perkotaan Perkotaan Nasional Nasional 286 286 2Kebijakan .

BAB 7 KERANGKA REGULASI PERKOTAAN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 287 287 .

baik yang bersifat generalis (umum) ataupun yang bersifat spesialis (sektoral). 7. ekonomi. antar wilayah dan multidimensi. Kondisi tersebut diperparah dengan ketidak-jelasan kerangka kelembagaan pengelolaan perkotaan bagi kawasan perkotaan yang bukan berstatus daerah otonom.Kerangka Regulasi Perkotaan BAB 7 Berbagai permasalahandan tantangan perkotaan di Indonesia masih belum seluruhnya diatur dan diantisipasi oleh berbagai peraturan perundangan yang sudah ada. dan lokasi dari permasalahan dan tantangan pembangunan perkotaan juga semakin bervariasi mulai dari kota metropolitan sampai dengan kawasan perkotaan kecil yang berada dalam sebuah kabupaten. Apabila ditinjau dari berbagai peraturan perundangan yang sudah ada. kenyataannya memang tidak cukup mengakomodir dan memberikan solusi bagi permasalahan dan tantangan perkotaan yang semakin kompleks dan dinamis. Sasaran pembangunan perkotaan di masa yang akan datang adalah pembangunan berkelanjutan yang memberikan keseimbangan antara pembangunan fisik. Hal ini disebabkan karena peraturan yang ada belum mampu menyelesaikan permasalahan perkotaan yang multisektor. dalam hal ini adalah Kota Administratif. 288 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Kebutuhan akan adanya peraturan perundangan yang khusus bidang perkotaan menjadi semakin penting dan genting ketika kita harus mulai mempertimbangkan perlunya pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dalam menentukan arah dan bentuk kota-kota di Indonesia pada masa yang akan datang. sosio-spasial.1 Peraturan di Tingkat Undang-Undang Permasalahan regulasi terkait dengan perkotaan sekarang adalah belum tersedianya peraturan setingkat Undang-Undang yang khusus mengatur bidang perkotaan secara multisektor. Tantangan multisektoral.

Perubahan kebijakan ini dapat menjadi masalah stabilitas ekonomi makro berkepanjangan apabila kurang tepat dalam mengelola pelaksanaan desentralisasi fiskal. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. belum tertata secara utuh. Sejak Tahun 2001. 2. dan menyeluruh untuk mewakili entitas sebuah kota sekaligus untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya. UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Peraturan Presiden (Perpres) dan Peraturan Menteri (Permen). Pemerintah daerah lebih menghadapi masalah keterbatasan keuangan (financial constraints) daripada keterbatasan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 289 . termasuk dalam menghadapi tantangan pembangunan perkotaan kedepannya. Keberadaan regulasi yang khusus mengatur tentang perkotaan di tingkat undang-undang dapat secara lebih khusus diperlukan karena berbagai faktor. Salah satu akar permasalahan ini adalah perbedaan orientasi kebijakan ekonomi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.lingkungan dan sumber daya manusia. yaitu perubahan iklim dan tingginya bencana alam. seperti Peraturan Pemerintah (PP). Beberapa peraturan yang terkait dengan perkotaan. Indonesia telah menerapkan kebijakan pelaksanaan desentralisasi fiskal yang kemudian menjadi tantangan baru dalam manajemen ekonomi makro Indonesia. antara lain: Belum ada undang-undang yang secara khusus mengatur tentang kota otonom dan non otonom Pada saat ini telah tersedia regulasi-regulasi yang terkait dengan perkotaan namun sifatnya masih bersifat sektoral. Namun sayangnya ketiga undang-undang tersebut masih belum cukup. Selanjutnya peraturan perkotaan yang lain lebih banyak pada tingkatan yang lebih rendah. sehingga diperlukan aturan yang lebih spesifik dan solid dalam mengelola kompleksitas pembangunan dan pengelolaan perkotaan sebagai sebuah entitas sosio-ekonomi-spasial. yang merupakan penjabaran dari ketiga undang-undang tersebut. Pelaksanaan sistem desentralisasi dan otonomi yang belum optimal BAB 7 1. antara lain: UU no 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. dan UU No.

ketahanan pangan. Selain itu pemerintah daerah lebih menaruh perhatian pada masalah alokasi daripada stabilisasi. Kota-kota metropolitan dan besar di Indonesia akan menghadapi tantangan persaingan global yang semakin kuat. yang dianggap sebagai beban pemerintah pusat. kota industri. serta kerangka kerjasama antar wilayah inti (kota) dengan wilayah penyangganya (hinter land). telah terjadi urban sprawl yang menyebabkan perkembangan tingkat urbanisasi di kawasan perdesaan. Akibat yang terjadi adalah kawasan pinggiran dan kawasan perdesaan menjadi sumber (supplier) bagi sumber daya yang dibutuhkan untuk meng-operasionalkan kota. dan sebagainya Dengan adanya berbagai permasalahan perkotaan yang sudah ada. Belum ada pengaturan terhadap kota-kota yang dibangun oleh pihak swasta seperti: kota mandiri. 4. yaitu trickle-down effect.ekonomi (economic constraints) yang menjadi perhatian pemerintah pusat. khususnya untuk kotakota yang bukan berstatus otonom. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan tidak adanya pembagian peran antara kota dan desa dalam berbagai aspek. 3. Perkembangan perkotaan juga perlu didudukkan dalam konstelasi yang lebih luas dalam skala global. seperti lingkungan. kota terpadu. Kedepan dibutuhkan pengaturan role sharing dan pemberian insentif dan disinsentif. terutama di 290 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . pengelolaan kawasan perumahan besar dan kota-kota baru yang cepat berkembang menjadi lebih kompleks dan rentan konflik sehingga diperlukan pengaturan kerangka kelembagaan pengelolaan perkotaan. Perkembangan perkotaan sangat berpengaruh dan resiprokal dengan daerah sekitarnya BAB 7 Kecenderungan pembangunan yang ada menunjukkan bahwa kota telah menimbulkan back-wash effect dibandingkan kondisi ideal yang diharapkan. Dilain pihak. dan mempengaruhi keseimbangan anggaran bila efek multiplier dari pengeluaran daerah jauh melebihi multiplier rata-rata pendapatannya. Anggaran belanja pemerintah daerah yang meningkat dapat mendorong permintaan domestik.

Persaingan tersebut bisa berbentuk persaingan ekonomi yang meliputi pelayanan jasa dan perdagangan maupun persaingan sosial dan lingkungan yang menuntut peran aktif perkotaan dalam berbagai kegiatan internasional. akan mengatur bagaimana permasalahan dan tantangan pembangunan perkotaan harus diselesaikan sekaligus memberikan landasan dan arahan yang kuat untuk pembangunan perkotaan kedepan. sehingga kota-kota di Indonesia memiliki arah yang jelas sesuai kaidah pembangunan yang berkelanjutan. Penyusunan UndangUndang tentang Perkotaan menuntut adanya kerjasama yang sinergis antar Kementerian/Lembaga.wilayah ASEAN. pengelolaan lingkungan perkotaan. 2013 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 291 . kelembagaan sampai dengan pembiayaan. kedudukan Undang-Undang tentang Perkotaan akan menjadi strategis dalam kerangka mengisi kekosongan (gap) antara undang-undang yang mengatur tentang perencanaan dan rencana pembangunan nasional dan penataan ruang. dalam penyusunannya perlu dipertimbangkan peraturan perundangan yang sudah ada sehingga tidak terjadi tumpang tindih.1. Dengan demikian. mulai dari pembangunan fisik. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 7.1 Kedudukan Undang-Undang tentang Perkotaan Sumber : Analisis Bappenas. ke depan diperlukan undang-undang tentang Perkotaan yang disusun. Disamping itu. BAB 7 Gambar 7. penyediaan tanah.

Disamping itu. 26/2008 tentang RTRWN belum cukup jelas untuk mengatur tipologi dan peran kota. Peraturan pemerintah harus disesuaikan oleh kebijakan dan isu strategis yang ada 292 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . kota-kota tersebut belum dapat memenuhi standar pelayanan untuk menjadi kota global bahkan dari sisi jumlah penduduk itu sendiri masih belum memenuhi standar minimum yang diperlukan. BAB 7 Harmonisasi peraturan perundang-undangan adalah salah satu cara yang digunakan untuk menyelaraskan antara perundang-undangan dengan peraturan lainnya sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun inkonsestensi dalam pengaturan. pemerintah dapat mengontrol pembangunan melalui peraturan yang dibentuk sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan fisik. Contoh paling mudah adalah pembangunan bandara.1 Peraturan Pemerintah Nasional (SPN) tentang Sistem Perkotaan Pengaturan tentang Sistem Perkotaan Nasional belum spesifik. termasuk Peraturan Daerah. Peraturan Pemerintah No.7. diperlukan kebijakan yang lebih signifikan dalam mengurangi kesenjangan wilayah antara KBI dan KTI. Pemerintah harus dapat mengendalikan pembangunan. melalui SPN. Indonesia akan menghadapi kerjsama ekonomi regional di tingkat ASEAN (MEA) dan Asia Pasifik (APEC). lingkungan dengan sumberdaya manusia dan akhirnya mengarah pada pembangunan yang berkelanjutan (sustainable city). terutama dalam infrastruktur yang memiliki radius pelayanan. Dalam Undang-Undang No 10 Tahun 2004 terdapat aturan yang membahas tentang pentingnya harmonisasi peraturan perundangan-undangan untuk semua aturan. Peraturan yang kurang jelas tersebut berdampak kepada pembangunan infrastruktur. terutama dalam waktu dekat ini.2 Peraturan di Tingkat Peraturan Pemerintah 7. akibatnya terjadi adalah inefisiensi dalam pembangunan dan pelayanan publik. karena pemerintah memiliki fungsi alokasi. karena banyaknya daerah yang menginginkan kotanya menjadi kota internasional.2. distribusi dan stabilisasi. Dengan fungsi yang dimiliki pemerintah tersebut. Disatu sisi. maka banyak dari kota-kota tersebut membangun bandara internasional. Padahal terdapat kota-kota yang harus disiapkan menjadi Kota Global dalam rangka menghadapi globalisasi.

diperlukan revisi substansial supaya mampu relevan dengan kebutuhan dan perkembangan khususnya yang terkait dengan perkotaan. sehingga Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) harus menangani pembentukan peraturan ini.2 Peraturan Pemerintah Perkotaan (SPP) Kurangnya pemahaman Pemerintah Daerah dalam hal kerjasama dengan pelaku perkotaan non pemerintah dan dengan daerah lain.2. Dalam pelaksanaannya. Sehingga terjadi kesesuaian antara kebijakan di tingkat pusat. Untuk itu diperlukan kerjasama antar daerah dalam rangka pengelolaan berbagai pelayanan yang ada sehingga manfaatnya bisa dirasakan bersama. pihak yang terkait dalam bentuk Pembiayaan Pembangunan Perkotaan ini antara lain Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).di wilayahnya. ii) tidak adanya target waktu pencapaian SPP. terutama di kota/daerah yang sulit dibatasi secara administrasi pemerintahan. kondisi ini tercermin dari: i) banyaknya daerah yang belum menyusun SPP yang sesuai dengan kondisi wilayah dan penduduk yang harus dilayani. Salah satu permasalahan tersebut adalah Belum adanya Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) yang secara terintegrasi dan komprehensif mengatur dan mengikat Pemerintah Daerah untuk memenuhinya. iii) banyaknya jenis pelayanan perkotaan yang tidak dipenuhi karena mencakup beberapa wilayah yang lintas batas administratif. BAB 7 7. Peraturan yang mengatur tentang pembiayaan pembangunan perkotaan sampai sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan kerangka regulasi ini harus segera ditangani. Untuk penyusunannya. Dalam kelembagaan perkotaan Indonesia saat ini masih ditemukan berbagai masalah yang mengakibatkan belum optimalnya pelayanan terhadap masyarakat. pada akhirnya menyulitkan administrasi pelayanan dan koordinasi pembangunan. baik dalam Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 293 . Kementerian Keuangan dan Lembaga lain yang terkait dengan pembiayaan. Direktorat Perkotaan dan Perdesaan akan menjadi kunci utama yang akan dibantu oleh Direktorat Kerjasama Pemerintah dan Swasta. kebijakan di tingkat Provinsi dan di tingkat daerah. tentang Standar Pelayanan Banyaknya jenis pelayanan. Terkait nomenklatur yang belum termuat dalam PP no 26 tahun 2008. seperti PT SMI.

Tidak adanya kebutuhan kelembagaan yang disebabkan peran pelayanan bersama (Share Service Based) karena tidak ada yang mengerjakannya. Saat ini masing-masing Kementerian/Lembaga telah menyusun dan mengeluarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang sifatnya sektoral dan tidak mencantumkan target waktu pencapaiannya. terutama dalam penataan ruang. pengaturan fungsi dan tipologi kota serta pembangunan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP).3. Dalam era otonomi daerah. maka diperlukanlah suatu landasan hukum yang mengatur pembangunan perkotaan.3 57 tahun 2010 tentang pedoman diperkuat menjadi Peraturan yang lebih berfungsi sebagai berdasarkan amanat undang- Peraturan di Tingkat Peraturan Presiden 7.Kota-kota di Indonesia dengan berbagai tipologi (metropolitan. Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) merupakan suatu alat ukur yang mencoba untuk menyeleraskan antara SPM-SPM yang ada di masing-masing kementerian/ lembaga. BAB 7 Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor standar pelayanan perkotaan perlu Pemerintah agar memiliki kekuatan landasan operasional pembangunan undang perkotaan 7. maka dibutuhkanlah adanya suatu pedoman dalam penyusunan Standar Pelayanan Perkotaan yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur capaian pembangunan pelayanan publik perkotaan dalam pembangunan perkotaan menurut peran dan tipologinya. kelembagaan perkotaan di tingkat daerah dituntut untuk kreatif dalam membangun jaringan kerjasama (networking) yang diperlukan dalam membangun perkotaan maupun menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. sekaligus mempersiapkan kota-kota 294 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .1 Peraturan Presiden tentang KSPPN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional sebagai acuan yang strategis dan antisipatif bagi pembangunan perkotaan dalam rangka meningkatkan kondisi perkotaan. sedang. Dengan adanya permasalahan pembangunan perkotaan. besar. kecil dan kawasan perkotaan) belum memiliki standar pelayanan yang seragam dan dapat dijadikan pedoman. Dari permasalahan diatas.maupun luar negeri.

membuat pemerintah daerah masih bergantung pada pemerintah pusat yang sangat terbatas jumlahnya yang akhirnya berdampak pada rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur perkotaan. KSPPN diperlukan untuk mengisi kebutuhan akan arah kebijakan dan perencanaan kota masa depan yang saat ini belum tersedia. KSPPN menjadi acuan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan yang mengikat para pelaku pembangunan perkotaan. membutuhkan dana yang tidak sedikit. iv. yaitu Pemerintah Pusat (K/L). maka Perpres KSPPN akan melebur bersama Undang-Undang Perkotaan dan beberapa turunan landasan hukum lainnya. Pemerintah Daerah. membuat pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik di daerah. KSPPN menjadi dasar sinkronisasi peraturan dan kebijakan terkait pembangunan perkotaan. Dunia Usaha. dan lintas daerah. Kedudukan Raperpres dalam peraturan hukum yang berlaku dalam pembangunan penataan ruang dan perkotaan sebagai salah satu peraturan yang akan diacu sebelum Undang-Undang Perkotaan tersebut terbentuk. dan Masyarakat. lintas K/L. Peraturan Presiden tentang KSPPN diperlukan untuk mengatur kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan saat ini. 7.2 Peraturan Presiden tentang Pembentukan Lembaga Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Perkotaan BAB 7 i. berdasarkan : ii. Setelah undang-undang perkotaan terbentuk. Pemerintah Daerah. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 295 .3. Agar KSPPN menjadi acuan. Keterbatasan pendanaan dari pemerintah daerah dan lemahnya kapasitas dalam manajemen keuangan derah. Pembangunan perkotaan. Kebutuhan akan KSPPN menjadi kekuatan hukum. untuk pembangunan perkotaan.menghadapi tantangan ke depan. khususnya tentang infrastruktur dan pelayanan publik.tersebut diatas diperlukan bentuk hukum tertentu dalam bentuk Peraturan Presiden. iii. KSPPN menjadi acuan instrumen perencanaan bagi K/L. sekaligus menyiapkan kota-kota di Indonesia menuju kota berkelanjutan di masa depan.

Kota Layak Huni yang mengakomodir kepetingan sosial budaya serta Kota Cerdas yang berorientasi pada penggunaan teknologi. seperti sekolah ataupun pelayanan kesehatan. Kota Layak Huni dan Kota Cerdas. baik yang menghasilkan penerimaan atau tidak. antara lain Kota Hijau yang berketahanan iklim dan bencana. Kota cerdas dan berdaya saing. diperlukanlah suatu lembaga perantara yang dapat berperan sebagai pengelola berbagai jenis pembiayaan pembangunan di daerah yang berasal dari pemerintah dan non-pemerintah. dan Kota Berdaya Saing BAB 7 Kota-kota di Indonesia perlu mulai diarahkan menuju kota yang berkelanjutan di masa yang akan datang.Regulasi tentang Skema dan Lembaga Pembiayaan Pembangunan yang menyediakan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur dan non infrastruktur di daerah serta peran dan mekanisme Pemerintah Pusat dalam memberikan bantuan infrastruktur perkotaan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah. ketika itu merupakan hal yang paling strategis untuk dibangun dan merupakan prioritas dalam pembangunan perkotaan. kota ini dapat maju 296 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .Sedangkan kota layak huni. Dengan berbagai macam peraturan tersebut. karena banyak dari pembangunan dan pertumbuhan kota yang ada belum terencana dengan baik. Beberapa bentuk kota masa depan. Kota hijau yang mengedepankan bagaimana kesesuaian antara pembangunan fisik dengan lingkungan. bukan hanya bagaimana memenuhi pelayana publik kepada masayarakat yang adil. RTH ini menjadi indikator paling dasar dalam pembangunan Kota Hijau.4 Peraturan di Tingkat Peraturan Menteri 7.4. Belum ada lembaga yang menyediakan pembiayaan alternatif kepada Pemerintah Daerah untuk membangun infrastruktur perkotaan. tidak semua pembangunan infrastruktur perkotaan menghasilkan penerimaan bagi pemerintah daerah. 7.1 Peraturan Menteri tentang Mekanisme Pengembangan Kota Hijau. masyarakat golongan bawah namun juga memiliki keseimbangan terhadap alam. Dengan banyaknya kegiatan pembangunan di daerah. sampai sekarang hanya sedikit kota yang mampu memenuhi RTH 30% dari total luas kotanya. termasuk untuk kaum difable.

upaya saat ini masih berkutat pada penanganan bencana (mitigasi bencana) setelah bencana. dan lain sebagainya. sehingga pembangunan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. belum terkait dengan pencegahan untuk mengurangi kerugian dan jumlah korban yang timbul karena bencana alam. maka pembangunan fisik akan mengalami penundaan. yaitu musim hujan dan musim kemarau. namun juga stakeholder yang lain. yang tentu saja memanfaatkan layanan Informasi. BAB 7 Seperti yang terlah dijelaskan pada bab sebelumnya. Dengan adanya bencana alam.2 Peraturan Menteri tentang Ketahanan Kota Terhadap Bencana Alam dan Perubahan Iklim Untuk menghadapi bencana alam. sehingga cuaca sangat sulit diprediksi. pengurangan atau pembebanan pajak. ketika musim hujan yang terjadi adalah banjir besar dan ketika musim kemarau. kekeringan sangat parah melanda di beberapa tempat.dengan kekutan internal yang dimiliki dan dapat memanfaatkan peluang dan tantangan untuk maju menjadi kota yang dapat bersaing secara internasional. Penanganan tentang bencana alam dan perubahan iklim. Peraturan yang mengatur tentang kota yang berkelanjutan sampai sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan kerangka regulasi ini harus segera ditangani. kemudahan administrasi pembangunan. tantangan di Indonesia salah satunya adalah kondisi Indonesia yang terletak di kawasan rawan bencana dan perubahan iklim yang sangat mengkhawatirkan. 7. terjadi akibat pembangunan fisik dan ekonomi yang sering melupakan lingkungan. Komunikasi dan Teknologi dalam pembangunannya. Insentif disinsentif diperlukan agar stakeholder pembangunan dapat tertarik dalam melakukan pembangunan. bukan hanya menambah luas dan besaran drainase untuk mengurangi banjir dan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 297 .Karena Indonesia hanya memiliki 2 (dua) musim. beberapa aset akan hilang atau bahkan dapat memumculkan kegiatan yang baru. Perubahan iklim juga menjadi topik yang hangat dibicarakan. Mekanisme ini dapat berupa peraturan yang meringankan.4.

mulai dari rendahnya pelayanan. Peraturan yang mengatur tentang Resilient City sampai sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan kerangka regulasi ini harus segera ditangani. lebih murah dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum.4.3 Peraturan Menteri tentang Sistem Angkutan Massal. memberikan bantuan dan rehabilitasi bagi kawasan yang terkena bencana alam. buruknya sistem drainase sampai pada tata guna lahan yang sprawl. Hal ini dibutuhkan agar kota-kota tersebut tidak tertinggal dibandingkan kota-kota sejenis di luar negeri serta terlambat dalam menghadapi arus urbanisasi yang sangat pesat. bukan hanya kemacetan namun juga polusi yang ditimbulkan. sangat kompleks. Untuk itu. Kota metropolitan. menyebabkan tingginya eksternalitas negatif yang harus ditangani. namun juga bagaimana kota bertahan menghadapi permasalahan tersebut dan dapat kembali seperti kondisi sedia kala. apalagi ditambah dengan rendahnya suku bunga bagi kredit kendaraan bermotor sehingga masyarakat perkotaan memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi yang terkadang jika dihitung secara ekonomi. sehingga banyak kawasan permukiman maupun perumahan yang tidak dapat terjangkau dan dilayani oleh kendaraan umum. kota besar dan kota sedang sudah memasuki tahapan yang mendesak untuk memiliki sistem transportasi yang terintegrasi dan kompak. dan Transit Oriented Development (TOD) BAB 7 Peraturan Menteri tentang Sistem Angkutan Massal. Transportasi Antar Moda dan Transit Oriented Development (TOD) dalam kota dan antar kota yang terintegrasi sangat diperlukan terutama untuk meningkatkan efisiensi pergerakan orang dan barang.manajemen air. rendahnya kualitas jalan. Indonesia berada di jalur bencana alam dan di daerah tropis yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Permasalahan transporasi di kota-kota Indonesia. manajemen serta sistem transportasi umum. Transportasi Antar Moda. Kebijakan yang tumpang tindih antara eknomi dengan lingkungan. 7. diperlukan pendekatan yang holistik dan berbasis kewilayahan untuk menyiapkan kota-kota agar lebih tahan terhadap bencana alam dan dampak perubahan iklim. 298 2Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

Keputusan Gubernur. dan Keputusan Bupati/Walikota.Untuk level kepresidenan. Bupati. sehingga sering menimbulkan konflik kepentingan dalam kebijakan dan peraturan. yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Prencanaan Kawasan Perkotaan. Gubernur. Kementerian Keuangan. Peraturan Menteri dalam pembangunan perkotaan di Indonesia. pihak yang terkait Sistem Angkutan Massal.Peraturan yang mengatur tentang Sistem Angkutan Massal. Transportasi Antar Moda dan Transit Oriented Development (TOD)perkotaan sampai sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan kerangka regulasi ini harus segera ditangani.Permasalahan terjadi ketika sistem birokrasi di Indonesia. sehingga Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) harus menangani pembentukan peraturan ini. Kemeterian Perhubungan. Untuk penyusunannya. tidak jarang juga Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) yang sering dipakai oleh Menteri. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pekerjaan Umum. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah. Peraturan Pembangunan Perkotaan dalam tataran Menteri Dalam Negeri telah mengatur pembangunan perkotaan mulai dari perencanaan sampai pada pembangunan sektoral. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Transportasi Antar Moda dan Transit Oriented Development (TOD) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). dalam pembangunan perkotaan. sudah terbentuk mulai dari perencanaan pembangunan perkotaan. permasalahan yang sering dihadapi adalah peraturan perundang-undangan dapat menjadi dasar terbitnya Keputusan Menteri. Dalam pelaksanaannya. Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Pertanahan Nasional. dan Walikota sebagai pembenaran mengambil kebijakan dan tindakan di bidangnya.Peraturan Menteri dalam pembangunan perkotaan terdiri dari peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah. Direktorat Perkotaan dan Perdesaanakan menjadi kunci utama yang akan dibantu oleh Direktorat Transportasi. melakukan pembangunan sektoral. BAB 7 Dalam implementasi. tertuang dalam beberapa peraturan antara lain Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 299 .

Kementerian Keuangan. Ekonomi. Serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang. Kerjasama antar kota diharapkan untuk menjadi satu jembatan untuk meminimalisir potensi konflik menjadi sebuah potensi pembangunan yang saling menguntungkan antar kota. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 41 /PRT/M/2007 Tentang Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budi Daya. sehingga Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional BAB 7 (Bappenas) harus menangani pembentukan peraturan ini. Peraturan kerjasama Perkotaan dalam tataran Menteri Dalam Negeri telah mengatur kerjasama antar daerah mulai dari perencanaan sampai pada peningkatan kapasitas daerah. Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Pertanahan Nasional. Direktorat Perkotaan dan Perdesaan akan menjadi kunci utama yang akan dibantu oleh Direktorat Otonomi Daerah. 300 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 7. maka kerjasama antar perkotaan menjadi salah satu alternatif dan inovasi melalui pertimbangan efisiensi dan efektivitas dan saling menguntungkan terutama di bidang yang terkait dengan pelayanan publik. Kemeterian Perhubungan. Untuk penyusunannya. Peraturan terkait dengan kerjasama sampai sekarang belum tersedia sehingga pengembangan peraturan dan kerangka regulasi ini harus segera ditangani.4 Peraturan Menteri Tentang Kerjasama Perkotaan Kebijakan desentralisasi yang telah dilaksanakan sejak tahun 2001 memberikan kesempatan kepada daerah untuk melakukan inovasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik serta meningkatkan kemandirian pemerintah kota dalam melaksanakan pembangunan. yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 tentang petunjuk teknis tata cara kerjasama antar daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2009 tentang pedoman peningkatan kapasitas pelaksana kerjasama daerah.Dalam pelaksanaannya. Utuk mengoptimalkan potensiya..Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan.4. pihak yang terkait kerjasama antar daerah adalah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 /PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik Dan Lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa maju mundurnya suatu kota juga bergantung kepada daerah lain khususnya kabupaten/kota yang saling berdekatan.

Pemberian insentif dan disinsentif memegang peran penting dalam menjamin terwujudnya penyelenggaraan perkotaan sesuai dengan rencana tata ruang. pemberian insentif dan disinsentif juga dilakukan untuk memfasilitasi kegiatan perkotaan agar sejalan dengan rencana tata ruang dan meningkatkan kemitraan semua pemangku kepentingan dalam rangka pengembangan perkotaan yang telah sejalan dengan rencana tata ruang. dan/atau dari pemerintah dan/atau pemerintah kota kepada masyarakat. Namun demikian dalam penyelenggaraannya sering ditemukan permasalahan terkait dengan pemberian insentif dan disinsentif dalam penyelenggaraan perkotaan. non fiskal dan disinsentif fiskal. diperlukan pedoman proses dan prosedur pemberian insentif dan disinsentif. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Hal ini didukung pula dengan belum jelasnya pengaturan terkait insentif dan disinsentif sehingga pemerintah pusat dan pemerintah kota menghadapi kesulitan dalam mengimplementasikan ketentuan pemberian insenitif dan disinsentif sebagai perangkat pengendalian pemanfaatan ruang. non fiskal dapat diberikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah kota. 301 .5 Peraturan Menteri Tentang Mekanisme Insentif dan Disentif Penyelenggaraan Perkotaan Insentif dan disinsentif merupakan salah satu instrumen pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana di atur dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Salah satu permasalahan yang terjadi yaitu belum jelasnya proses dan prosedur pemberian insentif dan disinsentif yang diberikan untuk kegiatan penyelenggaraan perkotaan.7. Dengan demikian. dari pemerintah kota kepada pemerintah kota lainnya. sedangkan disinsentif diberikan untuk kegiatan perkotaan pada kawasan yang dibatasi pemanfaatannya. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 7 Insentif diberikan untuk kegiatan perkotaan yang didorong pengembangannya.4. Baik insentif fiskal.

5 Roadmap Penyusunan Peraturan Perundangan Bidang Perkotaan Dalam pelaksanaan pembangunan perkotaan diperlukan sarana pendukung yang berupa peraturan perundangan terkait dengan entitas kota tersebut yakni yang meliputi seluruh aspek perkotaan baik secara fisik maupun non fisik. Kota Layak Huni dan Kota Cerdas Bentuk Peraturan Undang Undang Peraturan Pemerinta h (PP) Peraturan Pemerinta h (PP) Peraturan Presiden (Perpres) Peraturan Presiden (Perpres) Peraturan Menteri (Permen) Kegiatan Penyusunan naskah akademis Penyusunan rancangan peraturan Pembahasan antar K/L Pengesahan dan penomoran peraturan Penyusunan kajian peraturan Penyusunan rancangan peraturan Pembahasan antar K/L Pengesahan dan penomoran peraturan Penyusunan kajian peraturan 2 0 1 5 v 2 0 1 6 2 0 1 8 2 0 1 9 v Instansi Penanggung Jawab Kementerian Dalam Negeri v v v v Kementerian Dalam Negeri v v v Penyusunan rancangan peraturan v Kementerian Pekerjaan Umum v Pembahasan antar K/L Pengesahan dan penomoran peraturan Penyusunan kajian peraturan Penyusunan rancangan peraturan Pembahasan antar K/L Pengesahan dan penomoran peraturan Penyusunan kajian peraturan Penyusunan rancangan peraturan Pembahasan antar K/L Pengesahan dan penomoran peraturan Penyusunan kajian peraturan Penyusunan rancangan peraturan 2 0 1 7 v v Bappenas v v v v Kementerian Keuangan v v v v Bappenas Pengesahan dan penomoran peraturan v 302 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .1 Roadmap Penyusunan Peraturan Perundangan Bidang Perkotaan 2015 – 2019 Tahun N o Jenis Peraturan Undang – 1 Undang Perkotaan Peraturan Pemerintah Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) 2 BAB 7 Peraturan Pemerintah Sistem Perkotaan Nasional (SPN) Peraturan Presiden 4 KSPPN Peraturan Presiden 5 Pembiayaan Infrastruktur Permen Mekanisme Pengembanga 6 n Kota Hijau. Tabel 7. Berikut merupakan roadmap penyusunan peraturan perundangan terkait dengan perkotaan.7.

2014 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 303 .Tahun N o Jenis Peraturan Bentuk Peraturan Permen Ketahanan Kota Terhadap 7 bencana alam dan perubahan iklim Peraturan Menteri (Permen) Permen 8 kerjasama perkotaan Peraturan Menteri (Permen) Permen Mekanisme insentif dan 9 disentif pemenuhan penyelenggara an perkotaan Peraturan Menteri (Permen) Kegiatan Penyusunan kajian peraturan Penyusunan rancangan peraturan 2 0 1 5 v 2 0 1 6 2 0 1 7 2 0 1 8 2 0 1 9 Instansi Penanggung Jawab v Bappenas Pengesahan dan penomoran peraturan v Penyusunan kajian peraturan Penyusunan rancangan peraturan Pengesahan dan penomoran peraturan v Penyusunan kajian peraturan Penyusunan rancangan peraturan v Pengesahan dan penomoran peraturan Kementerian Dalam Negeri v v v Kementerian Dalam Negeri v BAB 7 Sumber: Bappenas.

BAB 8 Kebijakan dandan Strategi Strategi Pembangunan Pembangunan Perkotaan Perkotaan Nasional Nasional 304 304 3Kebijakan http://jelajahsejarah.com/wp-content/uploads/2013/07/jelajahsejarah-Sejarah-Museum-Fatahillah.jpg .

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 8 MEKANISME PELAKSANAAN KSPPN 305 305 .

Mekanisme Pelaksanaan KSPPN 8. ditetapkan kaidah-kaidah yang dapat menjadi acuan untuk berbagai pihak dalam melaksanakan KSPPN. pihak swasta dan masyarakat. Sebagai acuan. Titik berat peran pemerintah provinsi dalam KSPPN adalah pengaturan KSPPD yang memuat pengembangan perkotaan dalam wilayah provinsi didorong dan dikendalikan secara integral untuk kepentingan semua masyarakat provinsi dan mendapatkan masukan dari pemerintah Kabupaten/Kota yang berada didalamnya. antara lain: BAB 8 1. Pemerintah Provinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota wajib menyusun Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Daerah (KSPPD) yang dilakukan secara ilmiah dari penelitian situasi yang nyata dan berdasarkan masukan dari swasta dan masyarakat luas serta dengan memperhatikan KSPPN. 5.1 Penjabaran KSPPN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) baik dalam kerangka regulasi maupun pelayanan umum ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden yang mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi yang terkait dalam pembangunan perkotaan di Indonesia. Sehubungan dengan itu. menengah dan panjang bagi Kementerian/Lembaga di tingkat pusat. Titik berat peran Pemerintah Kabupaten/Kota adalah pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP). perwujudan Kota Masa 306 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . 2. 3. lembaga pemerintahan non departemen. lembaga internasional maupun lembaga non pemerintahan. Kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan dalam KSPPN untuk jangka menengah akan menjadi prioritas nasional dan bahan utama dalam penyusunan kebijakan dan strategis sektoral dalam RPJMN. yang dimulai dengan RPJMN 2015 – 2019. yaitu pemerintah. 4. KSPPN dijabarkan dalam program dan anggaran pembangunan perkotaan dalam jangka pendek.

BAB 8 8. Mekanisme Pembiayaan Pembangunan 7. Langkah-langkah tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan sasaran pembangunan perkotaan yang diamanatkan dalam KSPPN yang dilaksanakan melalui 7 (tujuh) mekanisme. KSPPD dimaksudkan sebagai panduan dalam mengarahkan pembangunan kota di masa yang akan datang serta dalam menyusun program dan anggaran pembangunan perkotaan yang selanjutnya dijabarkan kedalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota. Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan 3. 4. provinsi maupun kabupaten/kota. 2. dan 8. Khusus di tingkat kota. Setiap kebijakan dan strategi dalam KSPPD provinsi yang bertentangan dengan kebijakan dalam KSPPN perlu dibahas dan disepakati terlebih dahulu dengan TKPPN. Mekanisme Perwujudan Kota Hijau 4. 7. Setiap kebijakan dan strategi dalam KSPPN yang bertentangan dengan kebijakan dalamKSPPD Provinsi perlu dibahas dan disepakati terlebih dahulu dengan TKPPD Provinsi. 3. monitoring dan evaluasi Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 307 . Mekanisme Perwujudan Kota Cedas dan Berdaya Saing 6. Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni 5. baik di tingkat pusat. 6.2 Penyusunan kebijakan Perencanaan dan penganggaran Pelaksanaan Pengendalian. Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) 2. yaitu: 1. Pelaksanaan KSPPN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) sebagai dokumen perencanaan perlu dijabarkan kedalam langkahlangkah operasional dari masing-masing pelaku perkotaan.Depan dan penyediaan layanan publik yang semakin baik bagi masyarakatnya. Mekanisme Peningkatan Tata Kelola Dan Kelembagaan Pemerintah Masing-masing dari mekanisme tersebut diatas dilaksanakan dalam seluruh tahapan pembangunan. terdiri dari: 1.

Sementara itu.5. 3. maka akan dilakukan pengendalian. 2. Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Dalam mengukur pencapaian kota sesuai tipologi. untuk PKD dan PKL akan masuk ke dalam prioritas KSPPD Kabupaten/Kota. peran dan fungsi yang telah ditetapkan dalam Sistem Perkotaan Nasional (SPN). PKN dan PKG yang merupakan pusat kegiatan dengan cakupan pelayanan lintas kabupaten/kota. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). maka akan masuk ke dalam prioritas KSPPD Provinsi. Pembinaan 8. Dalam KSPPN (sebagian besar telah termuat dalam RTRW Nasional) telah ditetapkan target pencapaian seluruh tipologi kota untuk mewujudkan peran dan fungsi kota sebagai Pusat Kegiatan Global (PKG). Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) dilakukan melalui pembentukan berbagai kebijakan yang terkait penguatan tipologi. 308 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Untuk PKW. monitoring dan evaluasi yang merupakan tanggungjawab TKPPN bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Menteri Dalam Negeri. peran dan fungsi kota di tingkat pusat dalam KSPPN yang disusun oleh Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN) untuk selanjutnya dijabarkan kedalam KSPPD Provinsi oleh Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Daerah (KSPPD) Provinsi dan kedalam KSPPD kabupaten/kota oleh TKPPD Kabupaten/kota. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan Penghubung Desa Kota (PKD) yang selanjutnya akan dijabarkan ke dalam KSPPD kabupaten/kota melalui pencapaian masing-masing tipologi berdasarkan potensi dan kemampuan tiap-tiap kabupaten/kota.3 Mekanisme Perwujudan Nasional (SPN) Sistem Perkotaan BAB 8 Dalam mewujudkan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai berikut: 1. Sedangkan di tingkat daerah dilakukan oleh TKPPD Provinsi bersama Gubernur dan TKPPD Kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota.

Tabel 8. Dalam mendukung tercapainya Sistem Perkotaan Nasional (SPN) maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku pembangunan perkotaan di tingkat daerah. yang berupa: a. peran dan fungsi kota dan kawasan perkotaan dalam Sistem perkotaan Nasional (SPN) beserta kriteria dan indikatornya Penyusunan KSPPD di Tingkat Provinsi dan tingkat kabupaten/kota dan penetapan melalui Peraturan Gubernur atau Peraturan Bupati/Walikota Sinkronisasi KSPPN dan RTRWN dalam pembagian tipologi. b. Pendampingan dan bimbingan teknis penyusunan rencana pencapaian Sistem Perkotaan Nasional (SPN). Pembentukan badan kerjasama dalam pengelolaan Kawasan Megapolitan yang berbentuk Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) di tingkat provinsi. c. peran dan fungsi kota Penetapan target dan roadmap capaian (jumlah) kota-kota per 5 (lima) tahun di setiap tipologi kota Pendampingan dan bimbingan teknis penyusunan rencana pencapaian Sistem Perkotaan Nasional (SPN) Monitoring dan evaluasi pencapaian peran dan fungsi kota sesuai dengan ketetapan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) TAHAPAN PELAKSANA JANGKA WAKTU Penyusunan Kebijakan  Menteri PPN  TKPPN 2015-2017 Penyusunan Kebijakan  Menteri PPN  Mendagri  TKPPD 2017-2019 Perencanaan dan Penganggaran Perencanaan dan Penganggaran  Menteri PPN  TKPPN  Menteri PPN  TKPPN Pembinaan  Menteri PPN  TKPPN 2015-2020 Pengendalian.1 Mekanisme Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) 1 2 3 4 5 6 BENTUK KEGIATAN Penetapan dan penguatan tipologi. Secara lebih rinci mekanisme perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN) dan peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan dalam mewujudkannya disajikan pada tabel di bawah ini.4. Monitoring dan Eavaluasi  Menteri PPN  TKPPN  Gubernur  TKPPD 2015-2045 2015-2020 2015-2020 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 8 NO 309 . Peningkatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKKPN) dan Daerah (TKPPD) sebagai pengawas dan penjamin terwujudnya Sistem Perkotaan Nasional sesuai dengan arahan KSPPN dan RTRWN.

4 TAHAPAN Pembinaan Pembinaan PELAKSANA Provinsi  Bupati/Wali kota  TKPPD Kabupaten/ Kota  Menteri Dalam Negeri  Menteri PPN  Gubernur  Menteri PPN  Menteri Dalam Negeri JANGKA WAKTU 2017-2019 2015-2019 Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan BAB 8 Dalam memenuhi pelayanan perkotaan dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai berikut: 1. Pemenuhan pelayanan perkotaan dilakukan melalui pembentukan kebijakan yang terkait Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan indikator Kota Berkelanjutan di tingkat pusat yang selanjutnya akan menjadi panduan bagi daerah untuk menyusun SPP di masing-masing kota sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerahnya. 2. 3.NO BENTUK KEGIATAN 7 Pembentukan badan kerjasama dalam pengelolaan Kawasan Megapolitan yang berbentuk Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) di tingkat provinsi 8 Peningkatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKKPN) dan Daerah (TKPPD) sebagai pengawas dan penjamin terwujudnya Sistem Perkotaan Nasional sesuai dengan arahan KSPPN dan RTRWN 8. Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan indikator Kota Berkelanjutan menjadi prioritas dalam rencana program jangka pendek (RKP dan RKPD) dan rencana jangka menengah (RPJMN dan RPJMD) berikut alokasi dan skema anggarannya. evaluasi dan 310 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) untuk kawasan megapolitan dan metropolitan yang terdiri dari beberapa kota dan kabupaten akan diatur dalam RPJMD Provinsi. Dalam mengukur pencapaian prasarana dan sarana sesuai Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan indikator Kota Berkelanjutan maka dilakukan pengendalian.

monitoring dan eavaluasi Gubernur Bupati/Walikota TKPPD Provinsi TKPPD Kab/Kota  Menteri Dalam Negeri  Menteri PU  Menteri Perumahan Rakyat BAB 8 Tabel 8. yang berupa: a. sosialisasi dan diseminasi draft RPP tentang SPP di Tingkat Pusat dan Daerah Penyusunan rencana program dan kegiatan serta penganggaran di dokumen rencana jangka menengah (RPJMN & RPJMD) dan jangka pendek (RKP & RKPD) Penyusunanmekanisme pengganggaran lain diluar APBN dan APBD dalam membiayai prasarana dan sarana perkotaan Monitoring dan evaluasi pencapaian Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan pemenuhan indikatorindikator Kota Berkelanjutan di daerah TAHAPAN PELAKSANA JANGKA WAKTU Penyusunan Kebijakan  Menteri Dalam Negeri  Bappenas 2015-2016 Perencanaan dan Penganggaran  TKPPN  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota 2015-2016 Perencanaan dan Penganggaran     2015-2017 Pengendalian. juga di tingkat daerah yang merupakan tanggung jawab TKPPD Provinsi bersama gubernur dan TKPPD Kabupaten/kota bersama bupati/walikota.monitoring yang merupakan tanggung jawab TKPPN bersama Menteri di tiap K/L terkait pelayanan dasar perkotaan. b. Pendampingan dan bimbingan teknis penyusunan rencana pencapaian Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) di daerah dan mekanisme pembiayaan SPP. NO 1 2 3 4 BENTUK KEGIATAN Penyusunan RPP tentang SPP. 2 Mekanisme Pemenuhan Pelayanan Perkotaan 2015-2025 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 311 . 4. Dalam mendukung tercapainya pemenuhan pelayanan perkotaan maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku pembangunan perkotaan di tingkat daerah. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKKPN) dan Daerah (TKPPD) sebagai pengendali pemenuhan SPP. Secara lebih rinci mekanisme pemenuhan pelayanan perkotaan dan peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan dalam mewujudkannya disajikan pada tabel di bawah ini.

Perwujudan Kota Layak Huni diatur dalam KSPPN yang menetapkan kriteria. evaluasi dan monitoring yang merupakan tanggung 312 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . Dalam mengukur perwujudan Kota Layak Huni maka dilakukan pengendalian.NO BENTUK KEGIATAN 5 Pendampingan dan bimbingan teknis penyusunan rencana pencapaian Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) dan indikator-indikator Kota Berkelanjutan di daerah dan mekanisme pembiayaannya 6 Peningkatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKKPN) dan Daerah (TKPPD) sebagai pengendali pemenuhan SPP 8. 3. penyusunan target dan roadmap capaian Kota Layak Huni yang selanjutnya diterjemahkan kedalam KSPPD sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing kota. Dalam merencanakan Kota Layak Huni. Setelah itu. dilakukan penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah dalam mewujudkan tipe kota sesuai potensinya dan mengalokasikan anggaran APBN dan APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan Kota Layak Huni.5 TAHAPAN Pembinaan Pembinaan PELAKSANA  Menteri Perhubungan  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota  Menteri Dalam Negeri  Menteri PU  Menteri Perumahan Rakyat  Menteri Perhubungan  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota  Menteri PPN  Menteri Dalam Negeri  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota JANGKA WAKTU 2015-2019 2015-2019 Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni BAB 8 Dalam mewujudkan Kota Layak Huni dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai berikut: 1. 2. yang perlu dilakukan adalah menyusun baseline study di masing-masing kota untuk mengetahui posisi awal kota-kota tersebut dalam rangka mewujudkan Kota Layak Huni.

2016 5 Monitoring dan evaluasi pencapaian Kota Layak Huni Pengendalian  TKPPN  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota 2015-2025 6 Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam Pembinaan  Menteri Dalam Negeri 2015-2017 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 8 NO 313 . 3 Mekanisme Perwujudan Kota Layak Huni BENTUK KEGIATAN TAHAPAN PELAKSANA JANGKA WAKTU 1 Penetapan kriteria. Secara lebih rinci mekanisme perwujudan kota layak huni dan peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan dalam mewujudkannya disajikan pada tabel di bawah ini. 4. juga di tingkat daerah yang merupakan tanggung jawab TKPPD Provinsi bersama gubernur dan TKPPD Kabupaten/kota bersama bupati/walikota.jawab TKPPN. yang berupa peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Layak Huni melalui pelatihan dan sosialisasi. Tabel 8. Dalam mendukung tercapainya perwujudan Kota Layak Huni maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku pembangunan perkotaan di tingkat daerah. penyusunan target dan radmap capaian perwujudan Kota Layak Huni Penyusunan kebijakan  Menteri Dalam Negeri  Bappenas 2015 -2016 2 Penyusunan baseline studi terhadap seluruh kota otonom dan kawasan perkotaan untuk mengetahui posisi awal kotakota tersebut untuk merujudkan Kota Layak Huni Perencanaan dan penganggaran  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota 2015 -2016 3 Penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah untuk mewujudkan tipe kota sesuai potensinya Perencanaan dan penganggaran  TKPPN  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota 2015 -2017 4 Alokasi anggaran APBN dan APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan Kota Layak Huni Perencanaan dan penganggaran  Menteri Keuangan  Menteri PPN  TKPPN  Gubernur  Bupati/Walikota 2015 .

penyusunan target dan roadmap capaian Kota Hijau yang selanjutnya diterjemahkan kedalam KSPPD sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing kota. Perwujudan kota hijau diatur dalam KSPPN yang menetapkan kriteria. 314 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . evaluasi dan monitoring yang merupakan tanggung jawab TKPPN. dilakukan penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah dalam mewujudkan tipe kota sesuai potensinya dan mengalokasikan anggaran APBN dan APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan Kota Hijau. Dalam mengukur perwujudan Kota Hijau maka dilakukan pengendalian. yang perlu dilakukan adalah menyusun baseline studi di masing-masing kota untuk mengetahui posisi awal kota-kota tersebut dalam rangka mewujudkan Kota Hijau.NO BENTUK KEGIATAN penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Layak Huni melalui pelatihan dan sosialisasi 8. Dalam mendukung tercapainya perwujudan Kota Hijau maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku pembangunan perkotaan di tingkat daerah. 3.6 TAHAPAN PELAKSANA JANGKA WAKTU  Menteri PPN  Gubernur  Bupati/Walikota Mekanisme Perwujudan Kota Hijau BAB 8 Dalam mewujudkan Kota Hijau dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai berikut: 1. juga di tingkat daerah yang merupakan tanggung jawab TKPPD Provinsi bersama gubernur dan TKPPD Kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. 2. Secara lebih rinci mekanisme perwujudan kota hijau dan peran masingmasing pelaku pembangunan perkotaan dalam mewujudkannya disajikan pada tabel di bawah ini.Setelah itu. 4. yang berupapeningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Hijau melalui pelatihan dan sosialisasi. Dalam merencanakan Kota Hijau.

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 8 NO 315 . penyusunan target dan radmap capaian perwujudan Kota Hijau Penyusunan baseline study terhadap seluruh kota otonom dan kawasan perkotaan untuk mengetahui posisi awal kota-kota tersebut untuk merujudkan Kota Hijau Penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah untuk mewujudkan tipe kota sesuai potensinya PELAKSANA Penyusunan kebijakan  Menteri Dalam Negeri  Bappenas 2014 –2016 Perencanaan dan penganggaran  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota 2014 –2015 Perencanaan dan penganggaran  TKPPN  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota 2014 –2015 4 Alokasi anggaran APBN dan APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan Kota Hijau Perencanaan dan penganggaran 5 Monitoring dan evaluasi pencapaian Kota Hijau Pengendalian 6 Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Hijau melalui pelatihan dan sosialisasi 8. Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing diatur dalam KSPPN yang menetapkan kriteria.7 JANGKA WAKTU TAHAPAN Pembinaan Mekanisme Perwujudan Berdaya Saing  Menteri Keuangan  Menteri PPN  TKPPN  Gubernur  Bupati/Walikota  TKPPN  TKPPD Provinsi  TKPPD Kab/Kota  Menteri Dalam Negeri  Menteri PPN  Gubernur  Bupati/Walikota Kota 2014 –2025 2015 –2035 2015 –2027 Cerdas dan Dalam mewujudkan Kota Cerdas dan Berdaya Saing dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai berikut: 1. penyusunan target dan roadmap capaian Kota Cerdas dan Berdaya Saing yang selanjutnya diterjemahkan kedalam KSPPD sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing kota. 4 Mekanisme Perwujudan Kota Hijau 1 2 3 BENTUK KEGIATAN Penetapan kriteria.Tabel 8.

yang berupa peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing melalui pelatihan dan sosialisasi. 5 Mekanisme Perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing NO 1 BAB 8 2 BENTUK KEGIATAN TAHAPAN Penetapan kriteria. juga di tingkat daerah yang merupakan tanggung jawab TKPPD Provinsi bersama Gubernur dan TKPPD Kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. 3.2. Dalam mendukung tercapainya perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing maka dilakukan pembinaan khususnya kepada para pelaku pembangunan perkotaan di tingkat daerah. Setelah itu. Dalam merencanakan Kota Cerdas dan Berdaya Saing. Dalam mengukur perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing maka dilakukan pengendalian. dilakukan penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah dalam mewujudkan tipe kota sesuai potensinya dan mengalokasikan anggaran APBN dan APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing. Tabel 8. evaluasi dan monitoring yang merupakan tanggung jawab TKPPN. yang perlu dilakukan adalah menyusun baseline studi di masingmasing kota untuk mengetahui posisi awal kota-kota tersebut dalam rangka mewujudkan Kota Cerdas dan Berdaya Saing. Secara lebih rinci mekanisme perwujudan kota cerdas dan berdaya saing serta peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan akan disajikan pada tabel di bawah ini. 4. penyusunan target dan radmap capaian perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing Penyusunan kebijakan Penyusunan baseline studi terhadap seluruh kota otonom dan kawasan perkotaan untuk mengetahui posisi awal kota-kota tersebut untuk merujudkan Kota Cerdas Perencanaan dan penganggaran PELAKSANA     JANGKA WAKTU Menteri Dalam Negeri Bappenas 2034-2035 TKPPD Provinsi TKPPD Kab/Kota 2035-2037 316 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional .

Peningkatan tata kelola dan kelembagaan pemerintah dilakukan melalui salah satunya adalah peraturan yang berkaitan dengan peningkatan kelembagaan pemerintah melalui UU No 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan PP No 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah serta peraturan tentang kapasitas pemerintah daerah melalui PP No 59 tahun 2012 tentang Kerangka Nasional Pengembangan Kapasitas Pemerintah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional BAB 8 6 Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyamarataan konsep dan kriteria perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing melalui pelatihan dan sosialisasi 317 .8  Pembinaan Mekanisme Peningkatan Kelembagaan Pemerintah    Menteri Dalam Negeri Menteri PPN Gubernur Bupati/Wal ikota Tata 2036-2037 Kelola Dan Dalam meningkatkan tata kelola dan kelembagaan pemerintah dibutuhkan beberapa mekanisme sebagai berikut: 1.NO BENTUK KEGIATAN TAHAPAN PELAKSANA JANGKA WAKTU dan Berdaya Saing 3 Penyusunan Indeks Kota Berkelanjutan (IKB) untuk mengetahui kebutuhan daerah untuk mewujudkan tipe kota sesuai potensinya Perencanaan dan penganggaran     4 Alokasi anggaran APBN dan APBD dalam penerapan kriteria-kriteria perwujudan Kota Cerdas dan Berdaya Saing Perencanaan dan penganggaran     TKPPN TKPPD Provinsi TKPPD Kab/Kota 2015-2026 Menteri Keuangan Menteri PPN TKPPN Gubernur Bupati/Wal ikota 2035-2036  KPPN 5 Monitoring dan evaluasi pencapaian Kota Cerdas dan Berdaya Saing  KPPD Provinsi Pengendalian 2035-2045  KPPD Kab/Kota 8.

telah dibentuk Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Nasional (TKPPN). Regulasi mengenai Sistem Angkutan Massal Antar Modadan Transit Oriented Development (TOD) dalam kota dan antar kota yang terintegrasi dan menjamin efisiensi pergerakan orang dan barang. f. Regulasi mengenai Pengembangan Ekonomi Lokal yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya setempat. b. i. h. Regulasi mengenai kebijakan dan strategi pembinaan dan pengembangan perkotaan. j. 2. Selain itu. g. Dalam menunjang tercapainya Kota Berkelanjutan. Untuk mendukung kerja TKPPN maka di setiap kota 318 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional . maka perlu dibentuk lembaga yang dapat bertanggung jawab mulai dari perencanaan hingga evaluasi pembangunan perkotaan di tingkat nasional. e. c. dalam rangka peningkatan tata kelola pemerintah khususnya dalam pembangunan perkotaan. Di tingkat nasional. d. Regulasi mengenai mekanisme insentif-disintensif yang mampu menumbuhkan kinerja dan inovasi pembangunan perkotaan.BAB 8 Daerah. Regulasi mengenai upaya peningkatan ketahanan kota dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim. provinsi dan kabupaten/kota. Regulasi mengenai Standar Pelayanan Perkotaan (SPP) yang mampu menunjukkan kinerja pelayanan pemerintah kota. maka pemerintah perlu tanggap dengan kebutuhan peraturan dan perundangan yang menunjang pembangunan perkotaan yaitu dengan mengidentifikasi peraturan dan perundangan yang terkait pembangunan perkotaan seperti: a. Regulasi mengenai Skema Pembiayaan Pembangunan yang menyediakan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur dan non infrastruktur di daerah. Regulasi mengenai peran kota-kota yang akan disiapkan untuk mampu berdaya saing global. Regulasi mengenai Percepatan Penyediaan Perumahan bagi masyarakat menengah kebawah di perkotaan. Regulasi mengenai peran dan mekanisme Pemerintah Pusat dalam memberikan bantuan infrastruktur di daerah.

Secara lebih rinci mekanisme peningkatan kelembagaan dan tata kelola pemerintah serta peran masing-masing pelaku pembangunan perkotaan disajikan pada tabel di bawah ini.perlu dibentuk Tim Koordinasi Pembangunan Perkotaan Daerah (TKPPD) di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. Selain itu. Dalam mendukung tercapainya peningkatan tata kelola dan kelembagaan maka dilakukan pembinaan terhadap aparatur pemerintah daerah sesuai dengan PP No 59 tahun 2012 tentang Kerangka nasional Pengembangan Kapasitas Pemda. property valuer. monitoring dan evaluasi pembangunan perkotaan dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan di berbagai tingkatan. NO 1 Mekanisme Peningkatan Tata Kelola dan Kelembagaan Pemerintah BENTUK KEGIATAN Identifikasi peraturan dan perundangan yang terkait pembangunan perkotaan TAHAPAN Penyusunan kebijakan Pembentukan TKPPD 3 Pelibatan Forum Pelaku Pembangunan Perkotaan (FP3) dan DPR (di tingkat Pusat) serta DPRD (di tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota)   Perencanaan dan penganggaran Pembinaan JANGKA WAKTU Menteri Dalam Negeri Gubernur Bupati/Walikota 2015-2016     Gubernur TKPPD Provinsi Bupati/Walikota TKPPD Kab/Kota 2015-2018     Menteri PPN TKPPN TKPPD Provinsi TKPPD Kab/Kota 2015-2019    Penyusunan Kebijakan 2 PELAKSANA BAB 8 Tabel 8. municipal engineer. 6 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 319 . polisi pamong praja. 4. transportation planner. Pengendalian. dan lain-lain. untuk membanti kerja pemerintah daerah. provinsi dan kabupaten/kota bersama dengan swasta dan lembaga non pemerintah lainnya. seperti urban planner. 3. nasional. maka perlu dilakukan pembinaan berupa pendampingan dan bimbingan teknis terhadap pengembangan profesi yang dibutuhkan untuk pengelolaan pembangunan perkotaan. quantity surveyor. urban economist.

NO BENTUK KEGIATAN 4 Pelaksanaan konsultasi public di tingkat pusat dan daerah terkait RUU tentang perkotaan. polisi pamong praja. seperti urban planner. dsb 6 Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah TAHAPAN Pembinaan PELAKSANA   Menteri PPN TKPPN JANGKA WAKTU 2015-2017   Penyusunan Kebijakan  Pengendalian. transportation planner. urban economist. RPP tentang SPP dan Raperpres tentang KSPPN 5 Pendampingan dan bimbingan teknis terhadap pengembangan profesi yang dibutuhkan untuk pengelolaan pembangungan perkotaan. municipal engineer. asosiasi profesi Pembinaan    TKPPN TKPPD Provinsi TKPPD Kab/Kota BAB 8 320 3Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 2015-2025 . monitoring dan evaluasi enteri PPN  ubernur  2015-2025 upati/Walikota  ihak akademisi. quantity surveyor. property valuer.

BAB 8 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional 321 .

KSSPN dan Strategi Pembangunan Perkotaan xxvKebijakan Nasional .

BPS. 2011. BNPB. Indeks Rawan Bencana Indonesia.1. Bappenas. Sakernas 2005 BPS. Provinsi dalam Angka 2006-2011. 2010. 2011. Bappenas. Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025. Public-Private Partnerships: Infrastructure Project In Indonesia. Bappenas. 2010. 2007. Potensi Desa 2008 BPS. 2008. Indeks Pembangunan Manusia 2005-2006. Potensi Desa 2009 BPS. BPS. Data dan Informasi Kemiskinan 2006-2011 BPS. 2006. Susenas 2008 BPS. BPS. 2010. 2008. Analisis Kesenjangan Antarwilayah 2011 Bappenas. Potensi Desa 2003 BPS. Susenas 2011 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional KSPPN Daftar Pustaka xxvi . BPS. Profil Kota Indonesia 2012. 2006. Sakernas 2008 BPS. Asia 2050: Realizing the Asian Century. Sakernas 2007 BPS. 2009 Profil Kesenjangan Antardaerah 2009 Bappenas. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008. Susenas 2010 BPS. 2011. 2007. 2011. 2012. Sakernas 2009 BPS. Bappenas. Indeks Pembangunan Manusia 2008-2009. 2009. Sakernas 2006 BPS. 2009. 2008. Profil Kota Indonesia 2010. 2005. 2005-2009. Profil Kota Indonesia 2011. 2010. Sakernas 2010 BPS. Bappenas. 2010. UNPF. Buku/Laporan ADB. Indeks Pembangunan Manusia 2005-2006. 2011. 2003. 2011. 2011. BNPB. BPS. Bappenas. BPS. Susenas 2007 BPS. 2010. Susenas 2009 BPS. Potensi Desa 2006 BPS. BPS. 2007. Bappenas. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota di Indonesia 2005-2009 BPS. Indeks Pembangunan Kota. 2008. 2012. Kabupaten Kota dalam Angka 2006-2011. Bappenas. 2008. BPS. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana 2010-2012. Rencana Aksi Nasional Program Penanggulangan Kemiskinan Tahun 2012-2014. 2009.

Statistik Perhubungan 2009. EIU. 2010. KPPOD. Kementerian Lingkungan Hidup. Ministry of Economic AffairsThe Republic of Indonesia. Kemendagri. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2005-2012 (Seris). 2007.2010 Economist Intelligence Unit. 2010-2012. Kementerian Perhubungan. Kementerian Lingkungan Hidup. Sustainable Cities Volume 1. Kementerian Lingkungan Hidup. Arena Printing: Australia. Kecil. 2010. Kementerian ingkungan hidup. Statistik Perhubungan 2008. 2010. JABODETABEK Urban TransportationPolicy Integration dan Strategi Pembangunan Perkotaan xxviiKebijakan Nasional .KSSPN BPS. Emisi Gas Rumah Kaca dalam Angka. Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB)TAHUN 2006 . 2010. 2010. 10 Principles for Liveable High-Density Cities: Lessons from Singapore. Daftar Daerah Otonom BaruPembentukan Tahun 19992009(205 DAERAH) KPPOD. Smart Cities Benchmarking in China. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2001-2011. Kementerian Lingkungan Hidup. Seris 2001-2011. Centre for Liveable Cities and Urban Land Institute. Liveable and Sustainable Cities for the future (World Cities Summit 2010 Conference Proceedings). Mike Douglass. 2002. 2012. 2012. 2009. Kementerian Perhubungan. China Academy of Telecommunication Research(CATR). Statistik Persampahan Indonesia Tahun 2008. From global intercitycompetition to cooperation forlivable cities and economicresilience in Pacific Asia. 2008-2011. IAP. Daftar Nama Provinsi/Kabupaten/Kota Menurut Dasar Hukum Pembentukan Wilayah Centre for Liveable Cities Singapore. Profil Bank Sampah 2012. 2013. 2011. Japan International Cooperation Agency (JICA). A Summary of the Liveability Ranking and Overview EIU. 2011. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2010-2012. Indeks Lingkungan Hidup 2008-2011. Perkembangan Data Usaha Mikro. Liveable Ciries: Challenges and Opportunities for Policymakers. 2008. 2012. 2005-2012. Kementerian Perhubungan. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup. 2009. Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. 2010. Indonesia Most liveable City Indeks 2011. Depkopnas. 2010. Daftar Jumlah Provinsi. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Asian Green City Index: Assessing the environmental performance of Asia’s major cities. 2011. 2011. Global Compact Cities Programme.

University of Melbourne. SlimCity World Economic Forum. 2006. 2009. Vancouver Working GroupDiscussion Paper: the Liveable City. 2011. 2012. The Global Competitiveness Report 20102011 World Economic Forum. The World Urban Forum. 2009. 2011. ICLEI. U. The Global Competitiveness Report 20112012 World Bank. Doing Business 2010 World Bank. LiveableCities: Thebenefits ofUrbanenvironmentalPlanning UNEP. Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden No. Liveable Melbourne. State of the World’s Cities 2012/2013Prosperity of Cities USDRP. 2012. 2009. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. 2011.S Department of Transportation. 2012. 2011. Global Urban Indicators – Selected statistics UN Habitat. UNEP. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata ruang Wilayah Nasional Peraturan Presiden No. 2008. 2010. Laporan Akhir: Urban Strategy and Policy Development dan Urban Institutional Development Program (UIDP) UN. 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional. 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 Peraturan Pemerintah No. 2011. 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Jangka Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-2014 Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional xxvii . UN Habitat. Sustainable Cities: Building Cities for the Future. Peraturan Perundang-Undangan Undang Undang No. Livability Literature Review: A Synthesis of Current Practice WEF. The Smart City an Introduction 2. Peraturan Presiden No.KSPPN OECD. Cities Allience. Compact city policies:a comparative assessment. World development Indicators Wood Holmes. 2010. Menguak Risiko. Cities and Green Growth: A Conceptual Framework Tadhasi Matsumoto. Doing Business 2011 World Bank. Menggagas Makna Baru Pembangunan (Laporan Pengkajian Global tentang Pengurangan Risiko Bencana 2011). 2007. Doing Business 2012 World Bank.

07/2012 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2013.id www.bnpb.depkop.id dan Strategi Pembangunan Perkotaan xxixKebijakan Nasional .id www.sp2010.go.go.go.id www.id www.bps. Website www.KSSPN Peraturan Menteri Perhubungan No.id www. 3.id www.go. 54/PMK.bps.go.id www. KM.bmkg. Peraturan Menteri Keuangan No.id www.pu.go.49 Tahun 2005 tentang Sistem Transportasi Nasional.bappenas.kemenlh.go.go.go.kemenakertrans.

KSPPN Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional xxx .