2010

PERENCANAAN KOTA

DALAM LINGKUP KECAMATAN PONDOK AREN
Akhmad Sururi Debrian Ruhut Saragih Firda Hapsari M. Alief Fahrizal Moh. Ali Maksum Tino Rahmat Riyadi IIC / 05 IIC / 08 IIC / 11 IIC / 19 IIC / 21 IIC / 29

DIPLOMA III PENILAI/PBB SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2010
i

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT, yang karena rahmat dan ridhoNya maka laporan perencanaan kota Kecamatan Pondok Aren ini dapat penyusun selesaikan. Laporan ini kami susun untuk memenuhi tugas dari dosen Mata Kuliah Perencanaan Kota, Bapak Kuat Santosa, untuk mencoba belajar menganalisis dan merencanakan tata ruang yang cocok untuk Kecamatan Pondok Aren dan menerapkan teori-teori Perencanaan Kota di lapangan. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada kepada Bapak Kuat Santosa yang senantiasa membimbing dengan dan memberi semangat sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada warga masyarakat di Kecamatan Pondok Aren yang telah membantu penyusun dengan memberikan data-data dan informasi yang sangat penting dalam penyusunan laporan ini. Dan tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dari Tingkat II Spesialisasi Penilai pada umumnya, dan Kelas II-C pada khususnya atas kritik, saran dan pujian yang telah dialamatkan kepada penyusun, sehingga kami dapat mengevaluasi segala kekurangan-kekurangan dalam laporan ini. Seperti kata peribahasa “tiada gading yang tak retak”, yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Demikian pula hasil karya ini, yang jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penyusun menantikan saran dan kritik dari pembaca agar penyusun dapat melakukan hal yang lebih baik di kemudian hari. Semoga laporan perencanaan kota Kecamatan Pondok Aren ini bermanfaat bagi kita semua.

Tangerang, Januari 2010

Penyusun

i

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... BAB I PEDAHULUAN A. Latar Belakang...................................................................................... B. Maksud dan Tujuan .............................................................................. C. Metode Pengumpulan Data ................................................................. D. Sistematika Penyajian ........................................................................... E. Batasan Penggunaan laporan ................................................................ 1 2 3 3 4 i ii

BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teori dari Segi Kebijakan .................................................... B. Landasan Teori dari Segi Fisik Dasar................................................... C. Landasan Teori dari Segi Fisik Terbangun........................................... D. Landasan Teori dari Segi Kependudukan ............................................. E. Landasan Teori dari Segi Jaringan dan Fasilitas .................................. 5 7 9 12 13

BAB III GAMBARAN UMUM A. KebijakanPemerintah............................................................................ B. Aspek Fisik ........................................................................................... C. Aspek Kependudukan, Sosial, dan Ekonomi ....................................... 16 17 25

BAB IV ANALISA A. Analisis Kebijakan Pemerintah ............................................................ B. Analisis Fisik Dasar .............................................................................. C. Analisis Fisik Terbangun ...................................................................... D. Analisis Kependudukan ....................................................................... E. Analisis Jaringan dan Fasilitas ............................................................. F. Analisis Transportasi ........................................................................... G. Analisis Ekonomi ................................................................................ 30 30 33 36 38 47 48

ii

BAB V RENCANA A. Rencana Kebijaksanaan ........................................................................ B. Rencana Fisik ....................................................................................... C. Rencana Jaringan .................................................................................. D. Rencana Transportasi ........................................................................... E. Rencana Kependudukan ....................................................................... F. Rencana Fasilitas .................................................................................. G. Rencana Ekonomi ................................................................................. 49 50 53 56 56 57 58

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN ....................................................................................................

59 60

iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang diciptakan dengan berbagai kelebihan. Manusia mempunyai akal dan budi yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keistimewaan inilah yang membantu manusia untuk mempertahanakan kelangsungan hidupnya dan berkembang seiring dengan perkembangan lingkungan sekitarnya. Manusiapun kemudian mulai dapat menunjukkan suatu perilaku adaptasi dengan alam sekitar dengan cara menciptakan suatu kondisi alam sekitar yang mendukung kegiatan mereka sehari-hari. Lama-kelamaan

lingkungan yang diciptakan oleh manusia itu menjadi suatu sistem yang terpadu dan terencana. Interaksi manusia dengan manusia lainnya serta interaksi manusia dengan lingkungannya mempunyai peran utama dalam hal ini. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), kehidupan manusia juga turut berkembang. Alat-alat bantu yang diciptakan manusia telah mengubah pola hidup manusia primitif menjadi manusia yang dinamis, modern, dan variatif. Selain itu, interakasi antar manusia juga menjadi semakin kompleks. Perubahan yang ada itu membuat manusia membutuhkan suatu lokasi atau tempat yang dapat mengakomodasinya. Dari sinilah kemudian tumbuh pemukiman-pemukiman sebagai tempat hidup manusia atau penduduk yang telah berkembang menjadi suatu masyarakat dengan latar belakang pendidikan sosial, budaya dan ekonomi yang beraneka ragam. Pemukiman tersebut pertama-tama berupa desa, lalu berkembang menjadi kota kecil, sedang, besar, hingga menjadi kota megapolitan. Dewasa ini, kota sebagai tempat hidup masyarakat telah berkembang dengan pesat. Kota dituntut untuk dapat menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal didalamnya. Tersedianya sarana dan prasarana pendukung yang dapat menunjang aktivitas penduduk kota, maka kota itu akan dapat

lestari.Namun,penduduk kota lama-kelamaanterusberkembang sehingga membutuhkan sarana dan prasarana yang makin meningkat pula. Peningkatan sarana dan prasarana ini kemudian akan menimbulkan masalah sosial, budaya dan ekonomi pada kota tersebut. Masalah-masalah tersebut akan menghambat suatu kota untuk berkembang ke arah yang kondusif bagi masyarakat atau penduduk dari kota itu sendiri.

1

Masalah-masalah tersebut harus dapat diatasi guna membangun suatu kota yang kondusif sebagai lingkungan tempat tinggal penduduk. Untuk dapat mengatasinya, diperlukan suatu metode yang tepat dalam mengatur penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh penduduk suatu kota dengan juga mempertimbangkan kemampuan kota tersebut. metode inilah yang kemudian dikenal dengan nama perencanaan kota. Dalam hal ini, perencanaan tersebut dilakukan meliputi pembangunan fisik maupun nonfisik kota. Perencanaan tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan yang diakibatkan oleh perkembangan kota secara keruangan. Selain itu, hal ini juga berguna bagi peninjauan kembali terhadap keseimbangan dan ketersediaan sarana dan prasarana di pemukiman penduduk yang telah telah berkembang. Dalam laporan ini, penyusun akan memaparkan kebijakan-kebijakan apa saja yang berlaku di dalam suatu wilayah kecamatan dan langkah-langkah yang diberlakukan guna mengimplentasikan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat. Selain itu, laporan ini juga akan membahas lebih lanjut sejauh mana realisasi dari kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dalam pembangunan dan perkembangan kota. Selanjutnya, memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Adapun wilayah kecamatan yang menjadi objek penelitian adalah Kecamatan Pondok Aren, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

B. Maksud dan Tujuan Maksud utama dari penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Kota II. Sedangkan tujuan utama dari penulisan laporan ini adalah 1. Mengaplikasikan teori yang telah diperoleh melalui kegiatan perkuliahan dengan mengadakan penelitian ke lapangan. 2. Membandingkan antara teori dan praktek karena apa yang ada dalam teori belum tentu sesuai dengan realita lapangan. 3. Menganalisis keadaan suatu wilayah (kecamatan) untuk jangka waktu lima tahun ke depan berdasarkan fakta di lapangan dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. 4. Menganalisis sejauh mana realisasi kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan berdasarkan fakta yang ada di lapangan. 5. Mengembangkan wawasan dan kemampuan penyusun sebagai pembelajaraan sebelum menghadapi tuntutan kerja.

2

6. Memberikan informasi bagi pembaca sebagai sarana menambah pengetahuan dan pengembangan cara berpikir.

C. Metode Pengumpulan Data Dalam upaya memperoleh data guna penyusunan laporan ini, penyusun

menggunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu: a) Metode Penilitian Kepustakaan Metode ini penyusun lakukan dengan cara membaca dan mempelajari berbagai buku dan literatur yang bersesuaian guna mencari dan mengumpulkan data penunjang penyusunan laporan ini. Kemudian, penyusunan mengambil informasi yang telah bersesuian dengan pembahasan tema laporan ini. b) Metode Penelitian Lapangan Metode ini berupa survey lapangan untuk mengamati dan memperhatikan keadaan sebenarnya di wilayah objek penelitian. c) Metode Wawancara dan atau Questioner Dalam metode ini, informasi didapat dengan cara melakukan tanya jawab formal dan informal dengan pihak-pihak yang terkait.

D. Sistematika Penyajian Penyusunan membagi isi laporan dalam lima bab. Gambaran awal secara ringkas dari materi yang akan dibahas dalam tiap bab adalah sebagai berikut: BAB I Pendahuluan, Materi dari bab ini adalah latar belakang, maksud dan tujuan penulisan, metode pengumpulan data, sistematika penyajian, dan batasan penggunaan laporan. BAB II Landasan Teori, Isi dari bab ini adalah teori-teori yang berhubungan dengan perencanaan kota dari berbagai sudut pandang. BAB III Gambaran Umum, Menguraikan data-data penelitian yang di dapat melalui survey lokasi. BAB IV Analisis, Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian tentang keadaan lapangan dari objek penelitian dan proses-proses analisis keadaan lapangan tersebut, menggunakan teori-teori perencanaan kota. BAB V Rencana Wilayah, Bab ini menguraikan kesimpulan dari penelitian dalam bentuk saran atau solusi bagi penembangan wilayah di masa yang akan datang. 3 pendukung dari objek

E. Batasan Penggunaan Laporan Penggunaan laporan ini terbatas hanya untuk kepentingan tugas mata kuliah Perencanaan Kota II. Penggunaan laporan ini selain dari batasan-batasan tersebut di luar tanggung jawab penyusun.

4

BAB II Landasan Teori
A. Landasan Teori dari Segi Kebijakan Dalam pengembangan suatu kota, pola kebijakan yang digunakan selalu didasarkan pada suatu pemikiran bahwa suatu kota merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari wilayah yang lebih luas. Suatu kecamatan sebagai bagian dari suatu kota tidak dapat menentukan kebijakan tanpa memperhatikan lingkup pemerintahan yang lebih tinggi yaitu kecamatan, kabupaten / kota (Dati II), provinsi (Dati I), dan pemerintah pusat (negara). Pola seperti ini sesuai dengan asas hukum yang berlaku di Indonesia di mana peraturan yang lebih rendah tingkatannya harus sejalan dengan peraturan dalam tingkatan yang lebih tinggi. Sebuah kota merupakan wilayah yang mempunyai peran terpenting dalam menyokong wilayah-wilayah di belakangnya. Kebijakan perencanaan wilayah kota mencakup wilayah-wilayah belakangnya mempunyai sifat saling mempengaruhi secara fungsional dan geografis. Secara geografis, wilayah kota berbatasan dengan wilayahwilayah lain di sekitarnya. Selain itu, setiap penduduk yang ada di suatu kota selalu berinteraksi dengan penduduk di kota lainnya tanpa dibatasi batas geografis atau batasbatas lainnya. Dalam menetapkan suatu kebijakan, perlu diingat bahwa kebijakan yang ditetapkan di suatu daerah akan terus mempengaruhi daerah itu dimasa-masa yang akan datang. Oleh karena itu, pemerintah sebagai pihak yang berwenang membuat kebijakan perlu memperhatikan potensi-potensi yang ada di daerah tersebut. Untuk menetapkan kebijakan di suatu wilayah, maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Pengembangan kota harus serasi secara fisik, dalam hal ini menyangkut keserasian pengembangan wilayah terbangun dengan wilayah terbuka yang merupakan penyangganya. 2. Pengembangan kota yang berdasarkan keseimbangan dan keserasian kehidupan kota, menyangkut kehidupan sosial budaya, fisik, sosial ekonomi, serta sektor informal dan formal serta sektor yang moderen dan tradisional.

5

Kebijakan perencanaan wilayah mencakup: 1. Rencana Tata Ruang Nasional Kebijakan ini merupakan strategi dan arahan pemanfaatan ruang wilayah negara yang meliputi: a) Tujuan nasional pemanfaatan ruang, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan pertahanan dan keamanan. b) Struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. c) Kriteria dan pola pengelolaan kawasan tertentu. 2. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Dati I (Regional) Merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah provinsi Dati I, yang meliputi: a) Tujuan pemanfaatan ruang wilayah provinsi Dati I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. b) Struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah provinsi Dati I. c) Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi Dati I. 3. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota Dati II Merupakan penjabaran rencana tata ruang wilayah Provinsi Dati II ke dalam Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten / kota Dati II yang meliputi: a) Tujuan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten / kota Dati II. b) Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah kabupaten / kota Dati II. c) RUTR wilayah kabupaten / kota Dati II. d) Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten / kota Dati II. 4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kecamatan Merupakan penjabaran rencana tata ruang wilayah kabupaten / kota Dati II ke dalam srategi pelaksanaan pemanfaatan ruang kecamatan (penyusunan secara rinci tata ruang kota berupa rencana detil tata ruang kota dan rencana teknis ruang kota). Pembangunan suatu kota harus terencana dengan terlebih dahulu memfokuskannya pada hubungan antara kota dengan lingkungan dan dengan pedesaan sekitarnya, dan dengan pertumbuhan kota itu sendiri. Sehingga, kebijakan yang akan ditetapkana pada suatu daerah tidak dapat ditetapkan secara sepihak saja oleh pemerintah. Penetapan kawasan lindung, kawasan budidaya, dan

6

kebijakan tersebut harus memperhatikan: a) Faktor Kepatutan, yaitu apakah sebuah kebijakan layak dan cocok ditetapkan di daerah tersebut. b) Prinsip highest and best use, yaitu apakah sebuah kebijakan akan memberikan hasil yang optimal sesuai dengan potensi tertinggi yang dimiliki daerah tersebut. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, kebijakan pemerintah seyogyanya durumuskan secara sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan kota. Kebijakan itu sendiri harus memperhatikan kondisi fisik dari wilayah yang merupakan potensi dari wilayah tersebut.

B. Landasan Teori dari Segi Fisik Dasar Fisik dari suatu wilayah pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu fisik dasar dan fisik terbangun. Fisik dasar adalah sesuatu yang terkait dengan tanah, air, dan udara tetapi tidak tampak penggunaannya. Survei karakteristik fisik dasar merupakan survei awal dalam rangka pengkajian penataan ruang. Tujuan dari survei karakteristik fisik dasar adalah: 1. Sifat alami geografis. 2. Mengenali skala dan bentuk detil lingkungan. 3. Mengetahui secara teknis aspek-aspek topografi, geologi, iklim, mineral, areal mempunyai fisik khusus, lokasi produktif, serta sumber polusi. Hasil atau informasi dari survei tersebut diimplementasikan dalam “Peta Penggunaan Tanah”, yang selanjutnya akan berfungsi mengantisipasi adanya perubahan-perubahan yang terjadi dari strutur tata ruang serta aktivitasnya. Selain itu, juga bermanfaat dalam menganalisis sifat pertumbuhan atau perkembangan kawasan serta pola pemukiman penduduk. Karakter fisik dasar dari suatu wilayah adalah : 1. Topografi Keadaan topografi merupakan bahasan tentang permukan tanah atau bentang alam, berguna untuk mengetahui/menentukan batas lereng/kemiringan tanah yang diizinkan dalam pembangunan. Rumus untuk menghitung batas kemiringan adalah:

7

a
Kemiringan = a /b x 100% b

Kriteria kemiringan lahan: a) 0 – 2% : Bagus untuk membangun, tapi mengalami masalah dengan pengairan/drainase karena terganggunya aliran air. b) 3 – 15% : Paling baik dibangun untuk perumahan, industri, dan wisata. c) 16 – 25% : Masih perlu pengelolaan. d) 26 – 40% : Pembangunan bersyarat. e) > 40% : Dilarang

Semua ini diwujudkan dalam bentuk peta keterangan wilayah. 2. Hidrologi Hidrologi membahas jalur perairan yang ada di suatu wilayah serta membahas tentang sumber air yang digunakan oleh penduduk dalam suatu wilayah. Kebijakan perencanaan wilayah mencakup hidrologi. Hidrologi membahas tentang: a) Sumber air dan keadaan air tanah, b) Pola dan arah aliran sungai untuk irigasi, c) Sistem air ke dalam untuk mencari tahu apakah air tanah di tempat itu dapat dipenuhi (identifikasi peneyediaan air), d) Pola aliran air sungai di bawah permukaan tanah, e) Irigasi, digunakan untuk pemetaan lokasi (sanitary landfill). 3. Klimatologi Membahas tentang: a) Suhu dan kelembapan udara, b) Curah hujan, untuk perhitungan dimensi saluran air hujan c) Arah angin untuk menentukan lokasi pabrik di wilayah yang rawan akan polusi udara, d) Penyinaran matahari, untuk menentukan komoditi yang akan cocok di wilayah itu,

8

e) Iklim, f) Mineral. 4. Pemanfaatan lahan Hal ini membahas tentang peruntukkan suatu lahan dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukkan : Perumahan rakyat, Permukiman/ Real Estate, Pertanian padi sawah, Pertanian padi gogo, Bangunan, pemerintahan, Kuburan, Rawa, Lapangan olahraga, Empang, Danau. 5. Kawasan terbangun dan kawasan tidak boleh terbangun Yaitu membahas tentang zoning penggunaan area yang didasarkan pada topografi, kemiringan, dan penggunaan lahan. 6. Lokasi produktif dan sumber polusi Apabila karakter-karakter topografi, geologi, hidrologi, dan klimatologi

digabungkan, maka akan dapat menghasilkan peta super impose. Selain itu, karakteristik fisik dasar lainya yang dapat di analisis berupa jalan, utilitas, etika dan lain-lain.

C. Landasan Teori dari Segi Fisik Terbangun Fisik terbangun merupakan tampilan fisik dari suatu wilayah yang berupa wilayah yang berupa bangunan-bangunan yang ada. Fisik terbangun sangat berkaitan dengan fisik dasarnya. Sebelum menentukan fisik terbangun dari suatu wilayah, maka kita harus terlebih dahulu harus diketahui jenis fisik dasarnya, agar terjadi suatu keadaan yang sinkron dalam pertumbuhan dan pembangunan kota. Pertumbuhan kota adalah perubahan fisik yang terjadi pada suatu kota/wilayah, baik yang direncanakan maupun tidak. Dalam hal fisik terbangun, suatu kota yang sedang tumbuh mempunyai fisik terbangun yang terus meningkat baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Pertumbuhan kota tidak dapat dihindari sebagai akibat dari globalisasi dan semakin kompleksnya kepentingan masyarakat di kota tersebut. Pertumbuhan suatu kota dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Pertumbuhan Horizontal, merupakan pertumbuhan kota yang berupa pemekaran fisik kota, yang biasanya berpengaruh pada Land Use suatu kota. Pemekaran tersebut terjadi pada daerah-daerah yang berpotensi ekonomi yang baik. 2. Pertumbuhan vertikal, merupakan pertumbuhan yang terjadi pada CBD berupa penambahan fungsi kegiatan komersial kota, pada prinsipnya merupakan

9

perubahan fisik dari:
➢ ➢ ➢

Bangunan (fisik terbangun) Penggunaan lahan (fisik dasar) Sarana dan Prasarana (fisik terbangun)

Agar pertumbuhan dari suatu kota dapat bermanfaat optimal bagi semua pihak, maka pemerintah harus berupaya untuk mengonrol, mengarahkan, mengubah, memperbaiki, serta mempertahankan pertumbuhan kota yang sedang berjalan. Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian dalam mengamati fisik terbangun adalah faslitas dan utilitas yang ada di suatu wilayah. Hal tersebut dapat diketahui dengan cara: 1. Survei Perumahan dan Pemukiman Data-data yang menyangkut keadaan perumahan dan pemukiman sangat perlu untuk diketahui sebagai dasar pertimbangan perencanaan pembangunan pemukiman baru, penentuan lokasi, ukuran, jenis perumahan, kebijakan, rehabilitasi, pembangunan kembali, dan lain-lain. Data yang diperlukan antara lain: a) Ukuran, umur, keadaan tingkat sewa, distribusi dan kepadatan perumahan. b) Kadar hunian (occupancy rate) dan stok rumah yang ada. c) Tingkat pertumbuhan pembangunan sektor perumahan. 2. Survei Pusat Perbelanjaan Perkotaan, pasar, pusat jajan, jenis-jenis pertokoan tertentu yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam suatu wilayah dianalisis keberadaan, jumlah dan kualitasnya. Data yang didapat akan dapat membantu dalam menentukan terpenuhi atau tidaknya kebutuhan masyarakat wilayah tersebut: a) Lokasi yang paling sesuai untuk fasilitas perkotaan. b) Hierarki pemusatan fasilitas pertokoan yang ideal. c) Megetahui pasaran serta tren yang paling diminati masyarakat pada jenis pertokoan tertentu. 3. Survei Fasilitas Pendidikan Fasilitas pendidikan merupakan kebutuhan yang mendasar di suatu masyarakat. Oleh karena itu, kebutuhan seriap masyarakat akan fasilitas pendidikan harus dapat terpenuhi. Kebutuhan tersebut menyangkut persebaran dan peruntukannya, serta analisis tren kualitas pendidikan bagi masyarakat tertentu.

10

4. Survei Sarana Transportasi Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam survei sarana transportasi di suatu wilayah adalah fungsi, kondisi, serta klasifikasi sarana transportasi. Selain itu, macam fasilitas angkutan, kemacetan lalu lintas, keadaan halte dan terminal, juga ramburambu jalan juga perlu diperhatikan. 5. Survei Fasilitas Rekreasi Masyarakat kota juga sangat memerlukan fasilitas rekreasi, sehingga fasilitas tersebut perlu ditempatkan di lokasi yang tepat dan strategis. Survei fasilitas rekreasi menyangkut tempatatau lahan terbuka sebagai tempat pembangunan fasilitas, juga sarana rekreasi yang paling ideal dalam suatu masyarakat. 6. Survei Utilitas Usur-unsur utilitas yang ada pada suatu kota adalah: a) Jaringan listrik. b) Jaringan saluran air. c) Jaringan pipa gas. d) Jaringan telepon, dll. Yang perlu diidentifikasi dalam survei utilitas ini adalah keadaan fisik umur, kondisi, optimalisasi, fungsi, dan kapasitasnya untuk rencana perbaikan dan penambahan dalam jangka waktu berikutnya agar tidak saling berbenturan. 7. Survei Pergerakan Pergerakan antar aktivitas dalam suatu kota mempunyai peranan yang sangat penting alam menentukan pola kehidupan masyarakat kota. Hal ini menjadi acuan dari sifat pembangunan kota dilihat dari aspek aksesibilitasnya. Survei ini meliputi: a) Survei keadaan dan jenis jalan. b) Survei jenis angkutan yang diperlukan dan telah disediakan di kawasan tersebut. c) Prospek pembangunan jalan baru serta pengadaan jenis angkutan baru. 8. Survei Pusat Kesehatan Pusat kesehatan juga merupakan fasilitas yang harus ada di suatu wilayah. Fasilitas tersebut dapat berupa rumah sakit, puskesmas, atau tenaga medis pemerintah maupun swasta.

11

9. Survei Tempat Ibadah Dalam suatu kota biasanya terdapat beberapa tempat ibadah. Banyak dan macam tempat ibadah tergantung jumlah masyarakat dan agamanya.

D. Landasan Teori dari Segi kependudukan Berkaitan dengan jumlah penduduk dengan tingkat pertumbuhan yang dipengaruhi oleh: a) Perilaku penduduk Membahas tentang perilaku masyarakat suatu wilayah yang didasarkan pada tingkat sosial, ekonomi, ataupun pendidikan sehingga kita dapat

menggunakannya sebagai dasar untuk mengetahui tingkat keamanan, kebutuhan fasilitas sosial, dan lain-lain. b) Proyeksi penduduk Menghitung jumlah kemungkinan penduudk dalam beberapa tahun ke depan, dengan mencari : 1. Pertumbuhan penduduk

2. Jumlah penduduk pada tahun yang dicari adalah dengan menggunakan rumus Tren Eksponensial, yaitu: Rumus Tren Eksponensial Pn = P0 (1 + i)n Ket: P0 = Jumlah penduduk tahun dasar Pn = Jumlah penduduk tahun yang dicari i = Tingkat pertumbuhan penduduk n = Selisih tahun dasar dengan tahun yang dicari c) Proyeksi distribusi kepadatan penduduk Dapat dicari dengan cara membagi jumlah penduduk pada suatu wilayah dengan luas wilayahnya.

12

E. Landasan Teori dari Segi Jaringan dan Fasilitas 1) Analisis Fasilitas a. Fasilitas Perumahan Mengacu pada standar Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota Departemen Pekerjaan Umum Tahun 1987 dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah dengan didasarkan pada fungsi bahwa 1 unit rumah terdiri dari 5 penduduk. b. Fasilitas Pendidikan Dengan menggunakan metode perbandingan antara jumlah penduduk dengan jumlah mínimum penduduk berdasarkan Petunjuk Perencanaan Perumahan Kota (Departemen Pekerjaan Umum tahun 1987) yaitu sebagai berikut:
No. Jenis Minimum Jumlah Penduduk Pendukung (Jiwa) 1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) 2. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) 3. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Madrasah Aliyah MA) 6.000 4.800 1.600

c. Fasilitas Peribadatan Didasarkan bahwa setiap kecamatan diharuskan memiliki fasilitas ibadah yang dapat digunakan oleh pemeluk agama yang dianutnya. d. Fasilitas Kesehatan Dengan menggunakan metode perbandingan antara luas tanah dengan jumlah mínimum penduduk berdasarkan Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota (Departemen Pekerjaan Umum, 1987) dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah dapat dilihat tabel berikut: No Jenis Minimum jumlah penduduk Luas tanah(m2)

pendukung (jiwa) 1 Puskesmas 30.000 1.200

e. Fasilitas Olahraga, rekreasi, dan hiburan Kebutuhan fasilitas Olahraga, rekreasi, dan hiburan harus dipehatikan guna memebuhi kebutuhan masyarakat. Pemenuhan ini berdasarkan tingkatan

13

jumlah penduduk dan usia penduduk yang ada.

2)

Analisis Jaringan a. Jaringan Air Bersih Dalam menentukan kebutuhan air bersih digunakan standar sebagai berikut: Kebutuhan domestik : Perkotaan Kota kecil Desa : 120 liter/hari : 80 liter/hari : 60 liter/hari

Kebutuhan domestik untuk kecamatan Pondok Aren tergolong kebutuhan perkotaan, sehingga kebutuhan domestik sebanyak 120 liter/hari. Kebutuhan industri Fasilitas sosial Fasilitas hidran umum Tingkat kebocoran b. Jaringan Listrik Dalam perencanaan pengembangan sarana energi listrik di Kecamatan Pondok Aren diperlukan acuan sebagai berikut : Rumah tangga memerlukan 900 watt tiap unit Industri membutuhkan 25 % dari kebutuhan rumah tangga Fasilitas sosial ekonomi membutuhkan 25 % dari kebutuhan rumah tangga Penerangan jalan dibutuhkan 40 % dari kebutuhan rumah tangga Cadangan diperkirakan 10 % c. Jaringan drainase Berdasarkan kemampuan jaringan drainase suatu wilayah dalam menyalurkan air ke dalam saluran – saluran air, maka dapat diketahui analisis jaringan drainase daerah tersebut. d. Jaringan telepon Berdasarkan jumlah pemakaian alat komunikasi yang terus meningkat dari waktu ke waktu, maka dapat diketahui analisis jaringan telepon daerah tersebut. e. Jaringan sampah Berdasarkan perhitungan standar dari Petunjuk Perencanaan Kawasan 14 : 10 % dari kebutuhan domestik : 5 % dari kebutuhan domestik : 5 % dari kebutuhan domestik : 20 % dari kebutuhan domestik.

Perumahan Kota DPU 1987) sebagai berikut : Sampah rumah tangga Sampah non domestik Tong sampah : 2 liter/ orang / hari : 50 % x sampah rumah tangga : daya tampung sampah 30-50 liter / hari

Kapasitas armada sampah : gerobak / becak sampah 2000 liter / hari, truk sampah 24.000 liter/hari.

3)

Analisis Transportasi Berdasarkan pada jumlah ketersediaan armada angkutan umum yang melayani penduduk di wilayah tersebut, maka dapat diketahui analisis jaringan transportasi daerah tersebut.

4)

Analisis Ekonomi Dengan menggunakan metode perbandingan antara jumlah penduduk dengan jumlah mínimum penduduk pendukung berdasarkan pada Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota Departemen Pekerjaan Umum tahun 1987 dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah yaitu sebagai berikut : No Jenis Pusat perbelanjaan dan niaga (pasar) Minimum Jumlah penduduk pendukung (jiwa) 120.000 Luas Tanah (m2)

1

36.000

15

BAB III GAMBARAN UMUM
Kecamatan Pondok Aren Kabupaten Tangerang
A. Kebijakan Pemerintah 1. Kebijakan Pengembangan Wilayah Jabodetabek: a. Sebagai megacity yang kompetitif dalam mewujudkan sistem kota-kota, pengelolaan tata ruang, dan transportasi yang efisien dan efektif. b. Untuk mengurangi tekanan penduduk di wilayah DKI Jakarta melalui pengembangan industri, perdagangan, dan pemukiman di daerah perbatasan untuk mempermudah iklim investasi. c. Mendorong pengembangan pusat pemukiman/kota baru dengan pengembangan pusat industri dalam kerangka peningkatan kemandirian ekonomi di kota-kota baru khususnya di Kabupaten/Kota Tangerang. d. Sebagai kawasan penyangga ibu kota negara yang berfungsi sebagai mitra pembangunan agar melalui kemandirian ekonomi dapat berfungsi sebagai counter magnet bagi ibu kota negara.

1. Kebijakan pengembangan Tata Ruang Wilayah Banten: a. Sebagai penghubung antara Pulau Jawa bagian barat dengan Pulau Sumatra. b. Sebagai penentu distribusi perekonomian dari dan ke Pulau Sumatra. c. Menetapkan Banten sebagai pintu gerbang ke dunia luar/internasional melalui Bandara Soekarno-Hatta. d. Memadukan ruang ekonomi, sosbud, dan biofisik sebagai kesatuan ruang yang mampu mendorong perkembangan ekonomi wilayah. e. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah dan keserasian antarsektor melalui pemanfaatan kawasan lindung dan budidaya secara serasi, selaras, dan seimbang. f. Penyediaan sarana dan prasarana transportasi dan fasilitas perkotaan. g. Merevitalisasi kawasan cepat tumbuh kembang dan memproteksi kawasan lindung. h. Pengembangan jaringan transportasi. 16

2. Kebijakan Wilayah Perkembangan (WKP) I Provinsi Banten: a. Wilayah kerja Pembangunan (WKP) I, meliputi: Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang dengan kegiatan utama industri, perdagangan, jasa, dan pemukiman. b. Wilayah Kerja pembangunan (WKP) II, meliputi Kota Cilegon dan Kabupaten Serang dengan kegiatan utama pariwisata, pertanian, pertambangan, industri, kehutanan, dam pendidikan c. Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) III, meliputi: Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak dengan kegiatan utama pariwisata, pertanian, pertambangan, kehutanan, perkebunan, dan pendidikan.

B. Aspek Fisik 1. Letak Geografis Kecamatan Pondok Aren adalah sebuah kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten dengan luas + 3.027 Ha. Adapun batasbatas wilayah Kecamatan Pondok Aren adalah: - Sebelah Utara - Sebelah Timur - Sebelah Selatan - Sebelah Barat : Kecamatan Ciledug : Kecamatan Pesanggrahan : Kecamatan Ciputat : Kecamatan Serpong

Kecamatan Pondok Aren terdiri dari 11 kelurahan. Rincian luas masingmasing desa/kelurahan yang berada di Kecamatan Pondok Aren adalah sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:

Tabel Luas Wilayah Kelurahan di Kecamatan Pondok Aren Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Kelurahan Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Luas (Ha) 278,96 198,81 266,00 260,10 224,40 240,00 301,20

17

8. 9. 10. 11.

Parigi Lama Parigi Baru Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat

369,90 316,82 259,20 260,60

Sumber: Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Desember 2009

1. Aspek Fisik Dasar a. Topografi Kecamatan Pondok Aren pada umumnya berupa wilayah dataran dengan tingkat kemiringan rata-rata sekitar 8%. Topografi wilayah kecamatan ini relatif datar, sehingga sesuai untuk dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman atau perumahan penduduk.

b. Hidrologi Wilayah Kecamatan Pondok Aren dilalui oleh dua buah sungai, yaitu Sungai Angke dan Sungai Ciputat. Kandungan air tanah di Kecamatan Pondok Aren secara umum masih relatif baik, walaupun terdapat gangguan pencemaran air pada daerah Pondok Kacang Timur, Pondok Jaya, serta Jurangmangu Timur. Meskipun demikian, air sumur/pompa merupakan jenis sumber air yang paling banyak digunakan selain digunakannya pula sumber air PDAM.

c. Klimatologi Sebagai daerah yang masih berada di wilayah Indonesia, Kecamatan Pondok Aren beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan. Adapun musim yang terjadi dipengaruhi oleh angin muson yaitu angin barat yang menyebabkan musim penghujan yang normalnyaterjadi selama Oktober-Maret dan angin timur yang cenderung bertiup selama AprilSeptember menyebabkan terjadi kemarau. – C, temperatur

maksimum tertinggi pada bulan Oktober yaitu 33,9 C dan temperatur minimum terendah pada bulan Agustus dan September yaitu 22, C. Rata-

rata kelembapan udara dan intensitas matahari sekitar 78,3% dan 59,3%. Keadaan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari, yaitu 486 mm,

18

sedangkan rata-rata curah hujan dalam setahun adalah 177,3 mm. Hari hujan tertinggi pada bulan Desember dengan hari hujan sebanyak 21 hari. Rata-rata kecepatan angin dalam setahun adalah 3,8m/detik dan kecepatan maksimum 12,6m/detik.

d. Kondisi Penggunaan Lahan Identifikasi terhadap kondisi fisik dan pemanfaatan lahan dilakukan sebagai dasar dalam mengetahui potensi dan permasalahan perkembangan serta pertumbuhan aktivitas penduduk, yaitu sejauh mana kondisi fisik mampu mendukung aktivitas penduduk dan bagaimana perubahan dan persebaran aktivitas penduduk karena pengaruh kondisi fisik di Kecamatan Pondok Aren. a. Fisik Terbangun Berdasarkan data Kecamatan Pondok Aren dalam Angka Tahun 2006, maka penggunaan lahan di Kabupaten Tangerang dimanfaatkan untuk menampung fungsi sawah, bangunan/ pekarangan, fungsi lainnya. Dilihat dari distribusi jenis fungsi tersebut, pemanfaatan lahan terbesar adalah fungsi bangunan dan pekarangan yang mencapai 82,65 % selanjutnya fungsi kebun, tanah kosong dan sawah yang mencapai sebesar 17,35 %. 1) Bangunan dan pekarangan 2) Sawah, kebun 3) Kolam 4) Lainnya : 2.501,7 Ha : : : 419,6 Ha 15 Ha

90,3 Ha.

Sedangkan dalam Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009, dapat dilihat bahwa rincian penggunaan lahan yang sedikit banyak mengalami perubahan. Rincian penggunaan lahan Kecamatan Pondok Aren sebagai berikut: Tabel Klasifikasi Tanah Berdasarkan Peruntukan No. 1. 2. 3. 4. Penggunaan lahan Perumahan rakyat Permukiman/ Real Estate Pertanian padi sawah Pertanian padi gogo Luas (Ha) 1.677,7 824 290, 70 97, 40 Persentase (%) 55,43 27,22 9,60 3,22

19

5. 6. 7. 8. 9. 10.

Bangunan pemerintahan Kuburan Rawa Lapangan olahraga Empang Danau

56, 50 35,40 15 13,40 12 4,50

1,87 1,17 0,50 0,44 0,41 0,15

Sumber : Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Desember 2009

1) Kawasan Perumahan Perumahan di wilayah Kecamatan Pondok Aren menyebar ke seluruh wilayah, tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja. Perumahan di Pondok Aren umumnya beragam, mulai dari perumahan rakyat biasa sampai kepada perumahan elite. Kondisi perumahan yang terbentuk pun beragam. Pada perumahan rakyat, kebanyakan kondisinya kurang rapi dan tidak teratur. Pada permukiman elite, kondisi perumahannya sudah lebih rapi dan biasanya menganut tipe linear di mana bangunan didirikan sepanjang jalan.

2) Lingkungan Kondisi lingkungan di Kecamatan Pondok Aren bervariasi berdasarkan kondisi permukimannya. Untuk kondisi lingkungan di permukiman, kebersihannya terjaga dan tersedia tempat pembuangan sampah yang cukup serta drainase yang baik. Lingkungannya cukup aman karena adanya satpam. Sedangkan di perumahan rakyat biasanya kurang rapi, tata letak bangunan kurang teratur, jalan lingkungan yang buruk dan kebersihan kurang terjaga. Warga terbiasa membuang sampah di tempat penampungan liar. Selain itu, terdapat tumpukan sampah baik di tepi jalan maupun di selokan sehingga sering mampet dan menimbulkan bau.

b. Kawasan Tidak Terbangun Kawasan yang belum terbangun di Kecamatan Pondok aren sekitar 5% dari keseluruhan luas wilayah. Lahan kosong biasanya ada di pojok-pojok

20

kompleks perumahan atau halaman rumah yang di jadikan pekarangan untuk ditanami .

c. Sarana Transportasi Sarana transportasi untuk penumpang di kawasan Kecamatan Pondok Aren dilayani oleh angkutan darat. Untuk rute antar desa/keluarahan dilayani oleh angkutan kota dan ojek, sedangkan untuk antar kota dilayani oleh bus, mikrolet dan kereta api listrik. Untuk angkutan barang dilayani oleh angkutan truk dua as, truk 3 as, dan mobil box. Jaringan transportasi dibagi menjadi dua jenis yaitu transportasi eksternal dan internal. Jaringan eksternal menghubungkan Pondok Aren – Cileduk, Pondok Aren – Kebayoran Lama, Pondok Aren – Ciputat, Pondok Aren – Serpong. Jaringan internal menghubungkan transportasi melintasi seluruh wilayah kecamatan. Berdasarkan data Potensi Kelurahan Tahun 2006, maka jaringan jalan yang ada di seluruh Kelurahan di wilayah Kecamatan Pondok Aren telah diaspal atau beton. Tetapi beberapa jalur transportasi masih cukup banyak yang rusak, terutama di jalur yang dilewati angkutan umum dan kendaraan berat. Berikut tabel prasarana transportasi per kelurahan tahun 2006. Tabel Prasarana Transportasi Per Kelurahan Tahun 2006
Jembatan No Kelurahan besi/ beton Jembatan kayu Terminal Stasiun Pelabuhan Bandara

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru

1 2 2 7 6 1 3

-

1 1 1 1 2 1 -

-

-

-

21

10 11

Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat Jumlah

11 3 37

0

7

0

0

0

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009

2. Sistem Utilitas a. Sistem Jaringan 1) Jaringan Listrik Jaringan listrik sudah mencapai semua kawasan. Beberapa kawasan di kecamatan ini sudah menggunakan jaringan listrik di bawah permukaan tanah, yaitu di kawasan permukiman elite. Kawasan perumahan rakyat kebanyakan masih menggunakan jaringan listrik di atas permukaan tanah. Hal ini terlihat dari tiang-tiang listrik di setiap jalan, baik jalan utama maupun jalan lingkungan. 2) Jaringan Air Bersih Masyarakat di Kecamatan Pondok Aren memperoleh air bersih dengan dua cara, yaitu memanfaatkan air tanah dan atau air dari PDAM. Air tanah merupakan sumber utama air bersih di Kecamatan Pondok Aren, yang dikelola baik secara individual maupun komunal oleh warga. 3) Jaringan Drainase Pada Kecamatan Pondok Aren, terdapat tiga macam drainase, yaitu drainase primer, sekunder, dan tersier. Drainase primer dilakukan oleh sungai dan anak sungai yang mengalir di wilayah kecamatan ini. Drainase sekunder dilakukan pada saluran di tepi jalan-jalan utama dan beberapa saluran yang dialirkan ke saluran primer. Drainase tersier dikembangkan pada saluransaluran dari rumah tangga dan fasilitas umum menuju saluran tepi jalan atau langsung ke saluran primer. Keadaan drainase tersebut berbeda-beda, untuk daerah kompleks perumahan relatif teratur, namun di daerah luar kompleks perumahan belum memenuhi standar lingkungan. 4) Jaringan Jalan Jalan di Kecamatan Pondok Aren umumnya dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu jalan utama, jalan arteri, dan jalan lingkungan. Jalan utama

22

merupakan sistem jaringan jalan yang menghubungkan jalan di dalam kota, termasuk pusat kota, dengan subpusat kota. Jaringan jalan arteri adalah jalan yang menghubungkan jalan dalam suatu daerah. Jalan lingkungan adalah jalan yang menghubungkan jalan-jalan di lingkungan perumahan maupun

perkampungan. Lebar jalan pada umumnya 3 meter, tapi ada juga yang kurang dari itu. Pada jalan perumahan banyak polisi tidur untuk memperlambat laju kendaraan yang lewat. Perkerasan pada jalan di kompleks perumahan biasanya berupa aspal, sedangkan pada pemukiman penduduk biasanya berupa semen, tanah biasa, plesteran, juga paving block. Kondisi jalan utama yang baik ada di sembilan kelurahan, yaitu Parigi Lama, Pondok Kacang Barat, Pondok Kacang Timur, Pondok Pucung, Pondok Aren, Jurangmangu Timur, Jurangmangu Barat, Pondok Karya, dan Pondok Betung. Kondisi jalan di Kelurahan Parigi Baru dan Pondok Jaya digolongkan dalam kategori sedang. 5) Jaringan Telepon Selain jaringan telepon kabel, jaringan telepon seluler juga telah ada di kecamatan ini. Operator GSM dan CDMA telah menjangkau wilayah ini dengan sinyal kuat, ditandai dengan terdapatnya BTS yang tersebar di beberapa titik di kecamatan ini. 1) Fasilitas Sosial a) Fasilitas Pendidikan Tabel Jumlah Fasilitas Pendidikan Berdasarkan Jenjangnya Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jenjang Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) Sekolah Dasar (SD)/ Sederajat SMP / Sederajat SMA / Sederajat Perguruan Tinggi Kursus / Pendidikan Nonformal Jumlah 74 81 28 12 3 31

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009

23

b) Fasilitas Kesehatan Tabel Jenis Fasilitas Kesehatan dan Jumlahnya

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Jenis Rumah Sakit Klinik/Balai pengobatan Rumah bersalin/Bidan Praktik dokter Puskesmas Apotek Toko Obat

Jumlah 1 29 25 37 1 20 15

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009

c) Fasilitas Peribadatan Tabel Jenis Fasilitas Peribadatan dan Jumlahnya Nomor 1. 2. 3. 4. Masjid Musholla dan Surau Gereja Vihara Jenis Jumlah 87 134 3 1

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009

d) Fasilitas Olahraga Tabel Jenis Fasilitas Olahraga dan Jumlahnya Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kolam renang Lapangan Basket Lapangan Voly Lapangan Tenis Lapangan bulutangkis Lapangan Bola Jenis Jumlah 7 25 77 13 169 43

Sumber:Katalog BPS Tahun 2006

24

C. Aspek Kependudukan, Sosial dan Ekonomi 1. Kependudukan a. Jumlah Penduduk Menurut Laporan Registrasi Kependudukan Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009, jumlah penduduk kecamatan Pondok Aren adalah sebanyak 240.368 jiwa. Dengan luas wilayah 3.027 Ha, maka kepadatan penduduk di wilayah ini adalah 79 jiwa / Ha. Tabel Jumlah Penduduk Kecamatan Pondok Aren No. Kelurahan Luas (Ha) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat 278,96 198,81 266,00 260,10 224,40 240,00 301,20 369,90 316,82 259,20 260,60 Jumlah Penduduk 26.428 28.583 23.540 29.415 19.915 21.543 15.123 14.234 9.742 27.537 16.914 Kepadatan (Jiwa/Ha) 94,74 143,77 88,49 113,09 88,75 89,76 50,21 38,48 30,75 106,24 64,90

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2008

b. Komposisi Penduduk Pembagian komposisi penduduk Kecamatan Pondok Aren adalah sebagai berikut: 1) Menurut Jenis Kelamin Tabel Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin No. 1. 2. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah (Jiwa) 124.385 115.979

Sumber: Laporan Registrasi Kependudukan Kecamatan

25

Pondok Aren Bulan Desember 2009

2) Menurut Umur Tabel Komposisi Penduduk Menurut Umur No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Umur (Tahun) 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-59 60 ke atas
Pondok Aren Bulan Desember 2009

Jumlah (Jiwa) 24.463 22.971 22.789 25.032 19.599 113.495 8.374

Sumber: Laporan Registrasi Kependudukan Kecamatan

3) Menurut Agama Tabel Komposisi Penduduk Menurut Agama No. 1. 2. 3. 4. 5. Islam Kristen Protestan Katolik Hindu Buddha
Sumber: Data Kecamatan Pondok Aren 2009

Agama

Jumlah (Jiwa) 196.677 4.530 4.500 985 622

4) Menurut Jenjang Pendidikan Tabel Komposisi Penduduk Menurut Jenjang Pendidikan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jenjang Sarjana Lengkap / S1 Sarjana Muda SMA SMP SD TK Jumlah 15.931 38.469 53.343 46.648 9.593 19.431

26

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009

5) Menurut Jenis Pekerjaan Tabel Komposisi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Petani Pedagang Industri Rakyat Buruh industri Pertukangan Pegawai Negeri Sipil ABRI Pensiun PNS Purnawirawan Pengangguran Tak Kentara Jenis Jumlah 3.514 4.384 2.126 3.338 1.942 7.896 596 717 710 2.476

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009

2.

Potensi Ekonomi a. Sektor Industri Di Kecamatan Pondok Aren, terdapat banyak sektor industri ringan yang bergerak dalam bidang makanan, kerajinan dari kayu, logam, dan kulit. Sedangkan industri sedang dan besar berupa meubel dan furniture. Jenis industri ini mendominasi dan menyerap tenaga kerja paling banyak. Akan tetapi, Kecamatan Pondok Aren secara spesifik tidak diperuntukkan sebagai kawasan perindustrian. Ini sesuai dengan RTRW Kabupaten Tangerang yaitu Kecamatan Pondok Aren sebagai wilayah permukiman dan perumahan.

b. Sektor Jasa Dalam wilayah Kecamatan Pondok Aren, fasilitas perdagangan yang ada terpusat di sepanjang koridor Jalan Ceger Raya serta pusat kegiatan seperti Desa Pondok Karya, Pondok Aren, dan Desa Pondok Pucung. Banyak terdapat usaha perdagangan jasa yang keberadaannya merupakan kebutuhan vital masyarakat.

27

Sektor jasa dibagi menjadi beberapa subsektor. Subsektor transportasi didominasi oleh ojek motor, dan terdapat alternatif berupa angkot. Subsektor pemerintahan terdiri dari jasa-jasa yang dapat digunakan masyarakat umum yang disediakan pemerintah, seperti listrik oleh PLN, telepon oleh Telkom, dan air bersih oleh PDAM. Pada subsektor non pemerintahan terdapat sektor jasa swasta profit oriented seperti wartel, TK, air minum isi ulang, notaris/PPAT, praktik dokter, salon, dll. Subsektor perdagangan terdapat banyak minimarket, wartel, toko, kios, ruko, dan gerai makanan yang tersebar di wilayah kecamatan ini.

c. Pertanian Terdapat lahan yang digunakan untuk menanam padi seluas 290,7 Ha. Untuk pertanian palawija seluas 97,4 Ha.

d. Perdagangan Kecamatan Pondok Aren sebagai salah satu pusat permukiman, tentu menjadi pangsa pasar yang menjanjikan. Maka dari itu, sektor perdagangan berkembang pesat di tengah – tengah masyarakat. Tabel Jenis Usaha Perdagangan Kecamatan Pondok Aren No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Toko Warung Rumah Makan /restoran Warung nasi Hotel Pasar Gedung bioskop Pom Bensin Bengkel Toko alat banguan Toko besi / kaca Penjahit Keterangan Jumlah 560 625 50 200 1 3 1 4 100 75 30 100

28

13. 14. 15. 16.

Konveksi
Toko alat kendaraan bermotor

25 10 20 30

Foto Copy Percetakan

Sumber:Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009

3.

Masalah Sosial Ekonomi a. Kependudukan dan Urbanisasi Laju pertumbuhan di Kecamatan Pondok Aren cenderung naik tiap tahunnya. Selain dipengaruhi oleh faktor kelahiran, pertumbuhan penduduk juga dipengaruhi oleh faktor migrasi ke daerah Kecamatan Pondok Aren. Pada Kecamatan Pondok Aren, faktor migrasi yang paling berpengaruh, karena didukung dengan pembangunan kompleks perumahan. Hal ini masih bisa diatasi dalam hal penyediaan tempat tinggal dan tempat tinggal tersebut bervariasi mulai dari sederhana sampai hanya untuk kalangan elite. b. Kesenjangan Sosial Kesenjangan ini tampak dari distribusi pendapatan, kesenjangan antarsektor ekonomi, dan kesenjangan akses. Krisis ekonomi semakin memperluas kesenjangan dan disharmoni sosial yang dapat mengarah pada konflik antargolongan. Dan pada Kecamatan Pondok Aren sangat kentara sekali, antara kompleks perumahan yang begitu tertata rapi dengan kehidupan perkampungan.

c. Ketimpangan Pendidikan dan Derajat Kesehatan Masalah ini tercermin pada kualitas kehidupan masyarakat dan wajah fisik kota. Masih banyak ditemukan masyarakat yang buta huruf dan putus sekolah. Angka partisipasi optimal dalam peningkatan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Dalam bidang kesehatan, penyediaan pelayanan kesehatan masih kurang, terutama puskesmas dan tenaga medis. Kesenjangan distribusi pendapatan warga kota berimplikasi pada aksesibilitas pendidikan dan kesehatan, sehingga berkorelasi positif terhadap masalah perkotaan.

29

BAB IV ANALISIS
A. Kebijakan Pemerintah 1. Kebijakan fisik Lahan di Kecamatan Pondok Aren pada umumnya dimanfaatkan sebagai areal permukiman. Sebagai penunjang, pembangunan permukiman harus diiringi dengan pembangunan fasilitas-fasilitas penunjang seperti sekolah, pasar, dan fasilitas pemenuhan kebutuhan lainnya bagi penduduk Kecamatan Pondok Aren. 2. Kebijakan Ekonomi Tentunya kebijakan ekonomi yang sesuai bagi Kecamatan Pondok Aren menyesuaikan dengan kebijakan ekonomi yang diperuntukan bagi Kabupaten Tangerang, yaitu pengembangan sektor perdagangan dan jasa. Kebijakan tersebut tentunya memerlukan fasilitas pendukung, sebagai contoh penyediaan tempat parkir, pos satpam, pasar traditional, ruko, bank, SPBU dan lain lain yang mendukung sektor perdagangan dan jasa 3. Kebijakan Sosial Kecamatan Pondok Aren semestinya menambah fasilitas sosial di wilayahnya dalam rangka memajukan dan mengembangkan potensi sosialnya. Fasilitas yang diperlukan seperti fasilitas pendidikan, peribadatan, kesenian, dan terutama kesehatan perlu diperhatikan mengingat pada Kecamatan Pondok Aren ketersediaan puskesmas pembantu masih terbatas, padahal Puskemas pembantu di sini sangat krusial, karena 50% dari penduduk Pondok Aren berasal dari kalangan masyarakat perkampungan.

B. Analisis Fisik Dasar 1. Topografi Dilihat dari aspek topografi, maka Kecamatan Pondok Aren memiliki kelas kemiringan lereng dari kemiringan 0 – 8 %.

30

Tabel Kelas Lereng dan Nilai Skor Kelas Lereng (%) Deskripsi Skor Desa / Kelurahan Parigi Baru Pondok Kacang Barat Pondok Kacang Timur Parigi Lama Pondok Pucung I 0–8 Datar 20 Pondok Jaya Pondok Aren Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Karya Pondok Betung II III IV V 8 – 15 15 – 25 25 – 45 > 45 Landai Agak curam Curam Sangat curam 40 60 80 100 -

Sumber : SK Mentan No. 837/KPTS/UM/11/1980 dan NO.683/KPTS/UM/8/1981; hasil analisis, 2010

2. Hidrologi Wilayah Kecamatan Pondok Aren dilalui dua sungai utama, yaitu Sungai Angke dan Sungai Ciputat dengan panjang saluran kira – kira 5.000 meter. Meski begitu, aliran sungai yang ada tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk irigasi. Ini terjadi karena memang wilayah ini bukanlah daerah

pertanian yang cukup besar. Di samping dilewati oleh beberapa sungai dan anak sungai, wilayah Kecamatan Pondok Aren juga memiliki danau seluas 4,5 Ha, empang 12,4 Ha, dan rawa seluas 15 Ha. Pencemaran air yang terjadi di Kelurahan Pondok Kacang Timur,

31

Pondok Jaya, serta Jurangmangu Timur harus menjadi perhatian dalam pengembangan dan perbaikan kondisi hidrologi Pondok Aren.

3. Klimatologi Intensitas curah hujan di Kecamatan Pondok Aren dipengaruhi oleh hujan dan musim kemarau. Besarnya curah hujan tahunan rata-rata di Kecamatan Pondok Aren adalah 1.710 mm/ tahun atau sekitar 17,62 mm/hari. Ini berarti curah hujan di wilayah ini tergolong dalam klasifikasi sedang. Implikasi dari keberadaan sungai, anak sungai dan curah hujan yang cukup berpengaruh, membuat wilayah Kecamatan Pondok Aren rawan banjir.

4. Pemanfaatan Lahan Sesuai dengan RTRW Kecamatan Pondok Aren, pemanfaatan lahan di wilayah kecamatan ini sebagian besar digunakan sebagai perumahan (82,65%). Sekitar 12,8% dari lahan yang ada digunakan untuk sektor pertanian, berupa padi dan palawija. Bisa disimpulkan dari total luas wilayah Kecamatan Pondok Aren hanya sekitar 419,6 hektare yang dimanfaatkan untuk bertani.

5. Kawasan terbangun dan Kawasan tidak boleh terbangun Masyarakat Kecamatan Pondok Aren sebagian besar pada bidang ekonomi bergerak dalam sektor perdagangan dan jasa baik dalam tingkat kecil dan menengah. Berdasarkan analisis serta pemanfaatan lahannya dapat disimpulkan bahwa di kawasan Kecamatan Pondok Aren menjadi 2 kategori yaitu: a. Kawasan boleh terbangun Untuk masalah zoning penggunaan area pada Kecamatan Pondok Aren untuk pemukiman tentunya hal ini cocok, zoning pada kecamatan ini berlaku untuk daerah dengan topografi dan kemiringan yang cocok dijadikan pemukiman, yaitu pada kemiringan 0-15% karena tingkat kemiringan pada Kecamatan Pondok Aren berkiasar kurang lebih 8 %. b. Kawasan tidak boleh terbangun Zoning yang berlaku untuk kawasan tidak boleh terbangun tentunya pada daerah rawa, empang, pertanian, danau, dan kuburan karena dilihat dari keadaan fisik tidak memungkinkan untuk dijadikan areal pemukiman. Arahan

32

perkembanganya tentunya akan lebih bagus jika kawasan sekitar rawa dan sungai tidak boleh dibangun pemukiman maupun perbelanjaan, karena ditakutkan akan membuat longsor ataupun banjir karena fungsi drainase terhenti.

C. Analisis Fisik Terbangun 1. Analisis kondisi fisik terbangun a. Bangunan permanen Di Kecamatan Pondok Aren hampir seluruh bangunan yang ada merupakan bangunan permanen (91,55%) dengan peruntukan bervariasi mulai dari perumahan, pertokoan, fasilitas umum baik komersial dan non komersial. Persentase bangunan permanen di kecamatan Pondok Aren ditunjukkan dalam tabel berikut: Tabel Persentase Bangunan Permanen Kecamatan Pondok Aren Nomor Kelurahan Bangunan permanen (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Parigi Baru Pondok Kacang Barat Pondok Kacang Timur Parigi Lama Pondok Pucung Pondok Jaya Pondok Aren Jurangmangu Barat Jurangmangu Timur Pondok Karya Pondok Betung 82 76 95 81 98 95 93 94 96 99 98

Sumber : Kecamatan Pondok Aren dalam Angka Tahun 2006

Prioritas dari arah perkembangan adalah:
1)

bangunan yang sudah permanen

Maintenance dari bangunan itu sendiri, agar

pada lima tahun

mendatang bangunan tersebut masih layak untuk dipakai, dan tidak 33

memiliki kesan sebagi daerah yang tidak terawat
2)

Perbaikan sanitasi dari lingkungan mengingat Kota Tangerang yang punya banyak kasus epidemik demam berdarah, flu burung yang banyak, kasus banjir , sanitasi yang tidak layak, terutama masalah drainase.

3)

Security mengingat masyarakat Kecamatan Pondok Aren adalah masyarakat perkotaan yang heterogen dari berbagai daerah untuk mengadu nasib dan hanya orang yang berkompeten yang mendapatkan peluang kerja, dan orang yang tidak memiliki keahlian tersisih menyebabkan angka kriminalitas tinggi. Masyarakat Pondok Aren mempunyai potensi tinggi menjadi incaran kriminalitas. Oleh karena itu, dibutuhkan pengamanan yang tinggi tidak hanya pada kompleks perumahan saja tetapi juga pada perkampungan. Angka kriminalitas memang masih tergolong rendah, tetapi perlu diwaspadai karena angka kriminalitas bisa meningkat karena semakin lama kesempatan dan peluang kerja akan semakin sedikit, sehingga angka kriminalitas akan naik.

b. Bangunan Bukan Permanen Sebagian besar bangunan bukan permanen terletak pada Pondok Kacang Barat dan Parigi Lama. Bangunan bukan permanen tersebut digunakan untuk sektor perdagangan dan jasa contohnya warung lesehan, bengkel tambal ban, ganti oli, lapak, dan lain-lain. Pemakaiannya pun bervariasi antara pagi sampai malam atau yang digunakan hanya saat malam saja. Kawasan dengan bangunan semi permanen ini harus diprioritaskan dalam perencanaan agar tidak menimbulkan daerah kumuh yang biasa disebut slum area. Diusahakan agar semua bangunan yang terletak di wilayah ini harus mempunyai IMB agar land use yang ada sesuai dengan zoning yang berlaku. Dikhawatirkan dengan bertambahnya penduduk, arus pergerakan akan semakin padat. Lama kelamaan, hal ini akan menimbulkan macet karena secara tidak langsung bangunan tidak permanen bisa menimbulkan kemacetan.

34

Tabel Persentase bangunan bukan permanen di kecamatan Pondok Aren Nomor Kelurahan Bangunan bukan permanen (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Parigi Baru Pondok Kacang Barat Pondok Kacang Timur Parigi Lama Pondok Pucung Pondok Jaya Pondok Aren Jurangmangu Barat Jurangmangu Timur Pondok Karya Pondok Betung 18 24 5 19 2 5 7 6 4 1 2

Sumber : Kecamatan Pondok Aren dalam Angka Tahun 2006

2. Analisis struktur dan fisik kota Pengelompokan fasilitas yang dapat menjadi pusat kota dan sub pusat kota diperlukan untuk mengetahui struktur fisik kota. Fasilitas yang mengelompok tentunya berada pada daerah dengan kemudahan akses yang membentuk keramaian yaitu pada daerah Jl.Ceger Raya. Pada Jl. Ceger Raya tersebut terdapat fasilitas kesehatan, perdagangan, olahraga. Fasilitas ekonomi berupa pertokoan, mini market, pabrik. Dengan fasiliatas ekonomi dan kemudahan akses sesuai dengan triangle theory maka kawasan tersebut menjadi pusat kegiatan masyarakat,

sehingga dapat dikatakan sebagai pusat kota. Sedangkan pusat pemerintahan berada jauh dari fasilitas yang ada. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong perkembangan di daerah sekitar kantor kecamatan memungkinkan untuk pembangunan. Untuk fasilitas ekonomi dan pusat perdangangan, terdapat Bintaro Plaza, Giant, Bintaro Junction. Mengenai pergerakan penduduk pergerakanya tersebar menuju kawasan

35

eksternal dan internal. Penduduk Pondok Aren sebagian besar adalah komuter. Sehingga bisa dipastikan pada jam-jam tertentu, jalanan tampak ramai lalu-lalang terutama pada jam keberangkatan dan kepulangan komuter.

3.

Analisis Kecenderungan Perkembangan Perkembangan wilayah pada Kecamatan Pondok Aren dapat diklasifikasikan

menjadi : a. Pesat Wilayah yang mengalami perkembangan pesat meliputi: 1) Pondok Pucung 2) Pondok Karya 3) Pondok Betung 4) Jurangmangu Timur b. Sedang Wilayah yang mengalami perkembangan sedang adalah Jurangmangu Barat, Pondok Kacang Barat, Pondok Kacang Timur, Pondok Jaya, Parigi Lama, dan Pondok Aren. c. Rendah Wilayah yang mengalami perkembangan rendah adalah daerah Parigi Baru dan wilayah-wilayah perkampungan, tentunya hal ini berkaitan dengan hipotesis rendahnya tingkat pertumbuhan berbanding lurus dengan tingkat ekonomi.

4. Analisis Arahan Perkembangan Arahan perkembangan Kecamatan Pondok Aren secara umum mengikuti pola sektoral. Hal ini ditandai dengan tersebarnya fasilitas yang ada mulai dari fasilitas kesehatan sampai pendidikan ada pada berbagai tempat pada Kecamatan Pondok Aren .

D. Analisis Kependudukan a) Perilaku penduduk Masyarakat Kecamatan Pondok Aren merupakan masyarakat yang beragam dari latar belakang ekonomi, pendidikan, soial dan budaya yang

36

berbeda. Tempat tinggal mempengaruhi pola hidup seseorang. Pada lingkungan kompleks perumahan mereka cenderung berpola hidup praktis dan modern, sehingga menyebabkan standar fasilitas dan utilitas kehidupan yang sangat berbeda. Pola hidup ini tercemin dalam fasilitas penunjang. Dapat kita temukan usaha laundry, makanan cepat saji, dan usaha jasa lain yang menunjang aktivitas penduduk. Selain itu, kadang usaha pengamanan yang dilakukan masyarakat penghuni kompleks sangat hati-hati. b) Proyeksi penduduk Pada akhir tahun 2005, jumlah penduduk Kecamatan Pondok Aren adalah sebesar 238.321 jiwa. Sedangkan, pada tahun 2006, jumlah penduduk sekitar 242.847 jiwa. Berdasarkan data tersebut, dapat kita hitung estimasi tingkat pertumbuhan penduduk di Kecamatan Pondok Aren:

,89 % Berdasarkan analisis Tren Eksponensial dan Tren Linier dan asumsi bahwa tingkat pertumbuhan penduduk adalah tetap, maka dihasilkan perhitungan proyeksi jumlah penduduk untuk tahun 2014 sebagai berikut :
No. Kelurahan Eksisting Des 2008 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru Pondok Kacang Timur 2010 2011 Tahun 2012 2013 2014

26.428 28.583 23.540 29.415 19.915 21.543 15.123 14.234 9.742 27.537

27,436 29,674 24,438 30,537 20,675 22,365 15,700 14,777 10,114 28,588

27,955 30,234 24,900 31,115 21,066 22,788 15,997 15,056 10,305 29,128

28,483 30,806 25,371 31,703 21,464 23,218 16,299 15,341 10,500 29,679

29,022 31,388 25,850 32,302 21,869 23,657 16,607 15,631 10,698 30,239

29,570 31,981 26,339 32,912 22,283 24,104 16,921 15,926 10,900 30,811

37

11.

Pondok Kacang Barat Jumlah

16.914

17,559

17,891

18,229

18,574

18,925

232.974 241,864 246,435 251,092 255,838 260,673 c) Proyeksi distribusi kepadatan penduduk Berdasarkan hasil proyeksi jumlah penduduk di setiap desa / kelurahan di Kecamatan Pondok Aren seperti tabel di atas, maka didapatkan hasil proyeksi distribusi kepadatan penduduk tiap – tiap kelurahan di Kecamatan Pondok Aren sebagai berikut Tabel proyeksi distribusi kepadatan penduduk kecamatan Pondok Aren (jiwa/hektar)
Eksisting No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kelurahan Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat Jumlah Des 2008 2010 2011 Tahun 2012 2013 2014

94,74 14,77 8,85 113,09 88,75 89,76 50,21 38,48 30,75 106,24 64,90 829.54

98,35 149.26 91.87 117.40 92.13 93.19 52.12 39.95 31.92 110.29 67,38 943,88

100,21 152,07 93,61 119,63 93,88 94,95 53,11 40,70 32,53 112,38 68,65 961,72

102,10 154,95 95,38 121,89 95,65 96,74 54,11 41,47 33,14 114,50 69,95 979,90

104,04 157,88 97,18 124,19 97,46 98,57 55,14 42,26 33,77 116,66 71,27 998,41

106,00 160,86 99,02 126,54 99,30 100,43 56,18 43,05 34,40 118,87 72,62 1017,28

E.

Analisis Jaringan dan Fasilitas 1. Analisis Fasilitas a. Fasilitas perumahan Mengacu pada standar Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota Departemen Pekerjaan Umum Tahun 1987 dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah dengan didasarkan pada fungsi bahwa 1 unit rumah terdiri dari 5 penduduk , maka dihasilkan table proyeksi kebutuhan rumah (unit) Kecamatan Pondok Aren tahun 2010 – 2014 adalah sebagai berikut : Kelurahan Pondok Betung 2010 5487 Kebutuhan rumah (unit) 2011 2012 2013 5591 5697 5804 2014 5914

38

Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat TOTAL b. Fasilitas pendidikan

5935 4888 6107 4135 4473 3140 2955 2023 5718 3512 48373

6047 4980 6223 4213 4558 3199 3011 2061 5826 3578 49287

6161 5074 6341 4293 4644 3260 3068 2100 5936 3646 50218

6278 5170 6460 4374 4731 3321 3126 2140 6048 3715 51168

6396 5268 6582 4457 4821 3384 3185 2180 6162 3785 52135

Mengacu pada standar yang digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan jumlah sarana pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota (Departemen Pekerjaan Umum, Tahun 1987) dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Standar Perencanaan Kebutuhan Sarana Pendidikan
No. Jenis Minimum Jumlah Penduduk Pendukung (Jiwa) Luas Tanah (m2) Standar Kebutuhan Lahan Setiap Satu Penduduk (m2/p) 1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) 2. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Madrasah (MTs) 3. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan 6.000 6.000 1 (SMP) dan 4.800 6.000 1,25 1.600 3.600 2,25

Tsanawiyah

Madrasah Aliyah MA)

Sumber: Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota DPU Tahun 1987

39

Dengan menggunakan metode perbandingan antara jumlah penduduk dan jumlah fasilitas pendidikan yang tersedia, jumlah SD/MI yang dibutuhkan sampai tahun 2014 diproyeksikan berdasarkan proyeksi penduduknya. Hasil perhitungan itu ditampilkan dalam tabel sebagai berikut:

Analisis Kebutuhan Jumlah untuk SD No. Kelurahan Eksisting 2006 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat 8 6 6 7 7 4 7 10 4 8 4 2010 17 19 15 19 13 14 10 9 6 18 11 Jumlah Kebutuhan SD/MI 2011 17 19 16 19 13 14 10 9 6 18 11 2012 18 19 16 20 13 15 10 10 7 19 11 2013 18 20 16 20 14 15 10 10 7 19 12 2014 18 20 16 21 14 15 11 10 7 19 12

Analisis Kebutuhan Jumlah untuk SMP No. Kelurahan Eksisting 2006 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru 1 5 3 3 4 2 5 1 2010 6 6 5 6 4 5 3 3 2 Jumlah Kebutuhan SMP 2011 6 6 5 6 4 5 3 3 2 2012 6 6 5 7 4 5 3 3 2 2013 6 7 5 7 5 5 3 3 2 2014 6 7 5 7 5 5 4 3 2

40

10. 11.

Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat

3 1

6 4

6 4

6 4

6 4

6 4

Analisis Kebutuhan Jumlah untuk SMA No. Kelurahan Eksisting 2006 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Pondok Betung Pondok Karya Jurangmangu Timur Jurangmangu Barat Pondok Aren Pondok Jaya Pondok Pucung Parigi Lama Parigi Baru Pondok Kacang Timur Pondok Kacang Barat 0 2 0 1 2 0 0 5 0 1 0 2010 5 5 4 5 3 4 3 2 2 5 3 Jumlah Kebutuhan SMA 2011 5 5 4 5 4 4 3 3 2 5 3 2012 5 5 4 5 4 4 3 3 2 5 3 2013 5 5 4 5 4 4 3 3 2 5 3 2014 5 5 4 5 4 4 3 3 2 5 3

Perhitungan dan perbandingan tersebut diperoleh dengan asumsi bahwa jumlah fasilitas pendidikan yang ada saat ini sudah mencukupi kebutuhan masyarakat. c. Fasilitas peribadatan Masalah fasilitas peribadatan, dapat ditilik bahwa fasilitas peribadatan di Kecamatan Pondok Aren, khusunya bagi pemeluk agama Islam, sudah cukup, karena pada setiap kompleks perumahan dan perkampungan pasti ada musholla. Untuk jumlah gereja, kami rasa tidak diperlukan tambahan unit, karena biasanya umat Kristiani dan Katholik beribadat di gereja tertentu dan tidak berpindah tempat.

d. Fasilitas kesehatan Dengan jumlah penduduk sebanyak 240.368 jiwa Kecamatan Pondok Aren telah memiliki fasilitas kesehatan umum yang cukup memadai, terdapat

berbagai macam fasilitas yaitu rumah sakit, klinik, pengobatan alternatif, bidan, apotek, dokter praktek, dan posyandu. 41

Berdasarkan Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota (Departemen Pekerjaan Umum, 1987) dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah maka standart penyediaan fasilitas kesehatan di Kecamatan Pondok aren adalah sebagai berikut: No Jenis Minimum jumlah penduduk Luas pendukung (jiwa) tanah(m2)
Standar kebuthan lahan setiap penduduk (m2/p) 1

1

Puskesmas

30.000

1.200

0,04

Puskesmas Pondok Aren yang telah ada didukung dengan kerja beberapa puskesmas pembantu di tiap-tiap kelurahan. Melihat banyaknya jumlah penduduk kurang mampu di Kecamatan Pondok Aren, perlu ditingkatkan jumlah fasilitas dan kualitas layanan puskesmas pembantu di wilayah ini untuk meng-cover kebutuhan masyarakat. Maka proyeksi jumlah kebutuhan fasilitas kesehatan untuk 5 tahun mendatang adalah sebagai berikut : No .
1. Pondok Aren

Kecamatan

Eksisting 2008
1

Jumlah Kebutuhan puskesmas 2010
8

2011
8

2012
8

2013
9

2014
9

e. Fasilitas olahraga, rekreasi, dan hiburan Dilihat dari komposisi penduduknya, jumlah penduduk laki-laki sedikit lebih banyak daripada penduduk perempuan. Selain itu, jumlah penduduk berumur muda cukup dominan. Hal ini menunjukkan perlunya banyak fasilitas olahraga, rekreasi, dan hiburan. Fasilitas olahraga yang ada saat ini kami rasa cukup memadai. Fasilitas rekreasi dan hiburan yang ada dititikberatkan bagi penduduk berumur dewasa.

2. Analisis Jaringan a. Jaringan Air Bersih Sebagian masyarakat Kecamatan Pondok Aren dalam pemenuhan kebutuhan air bersih menggunakan air tanah dan sebagian lagi menggunakan

42

PDAM. Untuk kompleks perumahan kebanyakan menggunakan sumur artesis, tentunya hal ini disebabkan oleh tingkat ekonomi yang baik dan kebutuhan yang tinggi. Keterbatasan lahan yang diikuti oleh jumlah kepadatan penduduk yang makin meningkatnya terutama daerah kompleks perumahan berpengaruh pada kapasitas keberadaan air bersih di masa yang akan datang. Pengembangan sarana sumber air dan air bersih diarahkan mencapai tujuan: 1) Berkurangnya penggunaan air tanah dan terpelihara sumber air bersih dan air permukaan 2) Terlaksananya konsekuensi air bawah tanah untuk pengendalian penurunan pemukaan taanah dan kerusakan struktur tanah 3) Terlaksananya distribusi air bersih untuk seluruh lapisan masyarakat untuk mewujuskan hal tersebut perlu dilakukan suatu pengembangan sumber air dan air bersih dengan tindak lanjut sebagai berikut: a) Perluasan jaringan pelayanan air bersih melalui peningkatan kegiatan pendistribusian dan penyediaan hydrant umum di lokasi yang belum terlayani air bersih terutama di kawasan padat penduduk b) Pelarangan pengambilan air tanah dalam zona krisis air tanah c) Perluasan kawasan resapan air melalui penambahan ruang terbuka dan hijau d) Pencegahan resapan air limbah ke dalam tanah dan pencemaran sumber air e) Pembagian zona pelayanan air bersih, prioritas pelayanan dan jaringan air ke lokasi pengolahan air dan pusat distribusi yang terencana. Dalam menentukan kebutuhan air bersih digunakan standar sebagai berikut: Kebuttuhan domestik : Perkotaan Kota kecil Desa : 120 liter/hari : 80 liter/hari : 60 liter/hsri

Kebutuhan domestik untuk kecamatan Pondok Aren tergolong kebutuhan perkotaan, sehingga kebutuhan domestic sebanyak 120 liter/hari.

43

Kebutuhan industri : 10 % dari kebutuhan domestic Fasilitas social Fasilitas hidran umum : 5 % dari kebutuhan domestik : 5 % dari kebutuhan domestik

Tingkat kebocoran : 20 % dari kebutuhan domestik. Maka kebutuhan air bagi penduduk Kecamatan Pondok Aren sampai tahun 2014 adalah : Kebutuhan standar Kebutuhan Air (liter/hari) 2010 Domestik Fasilitas industri Fasilitas sosial Fasilitas hunian sosial Kebocoran Jumlah (liter/hari) Sumber : Analisis, 2010 Mengahadapi kekurangan air bersih di masa dating, perlu 120 liter/hari 50 % 5% 5% 20 % 29.023.680 14.511.840 1.451.184 1.451.184 5.804.736
52.242.624

2014 31.280.760 15.640.380 1.564.038 1.564.038 6.256.152
56.305.368

dipertimbangkan melakukan studi dan dan rencana pengelolaan dan perluasan PDAM di seluruh kecamatan Pondok Aren secara merata.

b. Jaringan Listrik Seiring bertambahnya penduduk setempat, maka bertambah pula kebutuhan akan tempat tinggal/permukiman. Pertambahan perumahan baru tentunya menambah jumlah kebutuhan pasokan listrik. Untuk mengantisipasi perkembangan jaringan listrik, tentunya dilakukan penambahan jumlah jaringan listrik di Kecamatan Pondok Aren. Akan tetapi, dalam melakukan pertambahan jaringan listrik harus memperhatikan berbagai aspek lain,

terutama keadaan lingkungan sekitar. Dalam perenacanaan pengembangan sarana energi listrik di Kecamatan Pondok Aren diperlukan acuan sebagai berikut : Rumah tangga memerlukan 900 watt tiap unit Industri membutuhkan 25 % dari kebutuhan rumah tangga Fasilitas sosial ekonomi membutuhkan 25 % dari kebutuhan rumah

44

tangga Penerangan jalan dibutuhkan 40 % dari kebutuhan rumah tangga Cadangan diperkirakan 10 % Maka perencanaan daya listrik pada tahun 2010 dan 2014 sebagai berikut: Tabel Analisis perkiraan kebutuhan listrik (watt/hari) Tahun 2010 dan 2014 No. Tahun Jumlah Penduduk Rumah Tangga 1. 2. 2010 2014 241,864 260,673 Industri Jenis kebutuhan Fasilitas Sosial Penerangan Cadangan Jalan

43.535.700 10.883.925 10.883.925 17.414.280 4.353.570 46.921.500 11.730.375 11.730.375 18.768.600 4.692.150

Arahan perkembangan jaringan listrik dapat dikembangkan dengan cara: 1) 2) 3) 4) 5) Memperbaiki jaringan yang telah ada Memperhatikan estetika dan keamanan Meningkatkan daya transmisi Menempatkan jaringan listrik sesuai jaringan jalan Menecegah kerusakan listrik dan merawat jaringan listrik

c.

Jaringan drainase Permasalahan pokok jaringan drainase di Kecamatan Pondok Aren

adalah masih banyaknya genangan air kotor terutama pada daerah perkampungan dan genangan air pada jalan yang rusak. Genangan air berpotensi sumber penyakit. Apalagi daerah Tangerang merupakan daerah rawan demam berdarah dan flu burung. Dengan timbulnya genangan air ini juga mempercepat terjadinya kerusakan pada jalan. Untuk itu, diperlukan suatu langkah agar drainase yang ada pada lingkungan perkampungan baik dan air tidak menggenang.

d.

Jaringan telepon Menurut trend perkembangannya, jaringan telepon rumah mengalami

perkembangan yang stagnan. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya teknologi dan penggunaan jaringan telepon seluler, sehingga hand phone kini sudah bukan merupakan barang mewah lagi. 45

Dengan merambahnya penggunaan mobile phone tentunya bertambah juga jumlah operator seluler. Para operator seluler juga berusaha memperluas jaringan untuk melayani jumlah pelanggan yang semakin meningkat. Dengan memperluas jaringan diharapkan kepuasan pelanggan meningkat sehingga pelanggan bertambah. Dalam rangka mengembangkan sistem telekomunikasi yang dapat mengintregasikan pelayanan secara lokal, antarkota maupun antarnegara, seharusnya memperhatikan langkah-langkah berikut: i. Penambahan jaringan dengan mengedepankan pertimbangan ii. Penambahan sentra telepon yang baru iii. Penerapan teknologi komunikasi sesuai dengan tuntutan zaman iv. Peningkatan kualitas dan kuantitas telekomunikasi Walaupun telepon seluler merambah sehingga telepon kabel hampir tergeser kedudukannya tapi dengan pembangunan kompleks perumahan yang baru dan bertambahnya jenis layanan jasa yang ditawarkan telepon skabel, dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Pondok Aren masih berpotensi untuk penambahan jaringan telepon kabel.

e.

Jaringan sampah Untuk analisis jumlah sampah yang dihasilkan Pondok Aren tiap harinya

digunakan perhitungan

standar dari

Petunjuk Perencanaan Kawasan

Perumahan Kota (DPU 1987) sebagai berikut :
-

Sampah rumah tangga : 2 liter/ orang / hari Sampah non domestik : 50 % x sampah rumah tangga Tong sampah : daya tampung sampah 30-50 liter / hari Kapasitas armada sampah : gerobak / becak sampah 2000 liter / hari, truk sampah 24.000 liter/hari

Tabel analisis proyeksi banyaknya sampah yang dihasilkan dan kebutuhan sarana persampahan kaawasan Kecamatan Pondok Aren per hari tahun 2010 dan 2014
Produksi sampah (liter/hari) Kebutuhan Tong sampah Gerobak sampah Truk sampah

Tahun

Jumlah Penduduk

Sampah rumah tangga

Sampah non domestik

Total

46

2010 2014

241,864 260,673

483.728 521.346

241.864 260.673

725.592 782.019

14.512 15.640

363 391

30 33

F.

Analisis Transportasi Kecamatan Pondok Aren dilalui oleh berbagai kendaraan, baik pribadi maupun

umum. Kendaraan umum banyak melintasi daerah ini yang merupakan jalur trayek transportasi umum. Perencanaan jaringan transportasi tidak hanya dilihat dari wilayah dalam hal ini kecamatan tetapi juga harus dilihat dari skala makro kota tingkat provinsi maupun antarprovinsi. Daya dukung transportasi yang sesuai dengan sistem makro dapat mengurangi beban permasalahan transportasi. Terdapat banyak angkutan umum milik negara dan angkutan umum yang merupakan usaha pribadi berupa ojek kendaraan bermotor roda dua. Sarana transportasi ini walaupun tidak diadakan secara resmi, namun juga turut membantu mobilitas penduduk saat malam hari, di mana angkot sudah tidak beroperasi lagi. Sarana transportasi ini juga membantu penduduk yang bertempat tinggal di daerahdaerah yang tidak dapat dijangkau dengan angkot. Permasalahan transportasi yang sering terjadi pada kawasan perkotaan adalah kemacetan, tetapi pada Kecamatan Pondok Aren, kemacetan yang terjadi masih dapat ditolerir dan belum separah kemacetan yang terjadi di wilayah Jabodetabek lain. Kemacetan lalu lintas ini diakibatkan oleh banyaknya kendaraan umum yang berhenti dan mangkal di bahu jalan serta adanya penyempitan jalan pada titik tertentu. Permasalahan lain yang harus dihadapi Kecamatan Pondok Aren adalah kurangnya angkot untuk mencapai daerah tertentu. Hal ini dikarenakan medan yang ada kurang mendukung angkot untuk melewati ke jalan. Selain itu, pada beberapa wilayah, ada peraturan dari pihak manajemen properti yang melarang angkot melintasi jalan lingkungan kompleks perumahan untuk menghindari gangguan keamanan pada daerah kompleks tersebut. Di Kecamatan Pondok Aren, kondisi jalan yang masih baik mendekati bagus adalah di semua kompleks perumahan, sedangkan jalan yang terdapat titik kerusakan adalah Jl. Ceger Raya dan Jl. Cipadu, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan dalam menggunakan jalan tersebut. 47

G.

Analisis Ekonomi Pada Kecamatan Pondok Aren, potensi ekonomi lebih cenderung pada bidang jasa

dan perdagangan. Potensi tersebut dapat dilihat jumlah penduduk yang bergerak dalam bidang ini. Pada tempat yang strategis, usahanya mulai banyak. Untuk itu, perlu disusun rencana pengembangan untuk membentuk struktur wilayah perdagangan yang lebih rapi. Dengan menggunakan metode perbandingan antara jumlah penduduk dengan jumlah mínimum penduduk pendukung berdasarkan pada Petunjuk Perencanaan

Kawasan Perumahan Kota Departemen Pekerjaan Umum tahun 1987 dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah yaitu sebagai berikut : Minimum Jumlah No Jenis penduduk pendukung (jiwa) 1 Pusat perbelanjaan dan niaga (pasar) 120.000 Luas Tanah (m2)
Standar kebuthan lahan setiap 1 penduduk (m2/p)

36.000

0,3

Maka proyeksi jumlah kebutuhan fasilitas perbelanjaan untuk 5 tahun mendatang Kecamatan Pondok Aren adalah sebagai berikut : No Jenis Pusat perbelanjaan dan niaga (pasar) Eksisting 2009
3

Jumlah Kebutuhan pasar 2010 2011 2012 2013 2014
2 2 2 2 2

1

48

BAB V RENCANA
A. Kebijakan Pemerintah Berdasarkan kebijakan Pemerintah Provinsi Banten, wilayah Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai wilayah pemukiman, perdagangan, dan industri. Hal ini dikarenakan wilayah Kabupaten Tangerang secara geografis berbatasan dengan DKI Jakarta, sehingga perkembangan DKI Jakarta yang begitu pesat berpengaruh terhadap wilayah ini. Kabupaten Tangerang diharapkan dapat menjadi pendukung wilayah ibukota, maupun daerah lain di Provinsi Banten. Tingkat pertumbuhan dan persebaran fisik terbangun di wilayah Kecamatan Pondok Aren cukup merata dengan tingkat kepadatan penduduk yang berbeda-beda. Fisik terbangunnya sebagian besar adalah pemukiman, kemudian perdagangan dan jasa, dengan konsentrasi tertinggi di wilayah timur, tengah, dan utara. Oleh karena itu, rencana pengembangan fisik terbangun dilakukan di wilayah sebelah selatan kecamatan, yaitu wilayah Parigi Lama dan Parigi Baru.

1.

Kebijakan fisik Sebagian besar lahan di Kecamatan Pondok Aren dimanfaatkan sebagai

areal permukiman. Menurut pengamatan, daerah Parigi Baru dan Parigi Lama belum dioptimalkan pemanfaatannya, terlihat dari masih banyaknya lahan kosong yang terbengkalai. Oleh karena itu, kebijakan yang perlu diambil adalah dengan memanfaatkan lahan kosong tersebut, baik untuk dikembangkan sebagai wilyah permukiman, ruang terbuka, maupun pengembangan fasilitas umum dan fasilitas sosial bagi masyarakat. 2. Kebijakan Ekonomi Sesuai dengan kebijakan ekonomi yang diperuntukan bagi Kabupaten Tangerang, pengembangan sektor perdagangan dan jasa adalah prioritas yang akan dilakukan di Kecamatan Pondok Aren. Revitalisasi sarana perdagangan yang sudah ada, baik pasar tradisional maupun modern, serta usaha pertokoan dan jasa, harus diiringi dengan penyediaan fasilitas pendukung, seperti tempat parkir, pos satpam, ATM, serta layanan bank, SPBU, dll.

49

3.

Kebijakan Sosial Melihat fungsi utama Kecamatan Pondok Aren sebagai wilayah

permukiman, kebutuhan akan fasilitas sosial dan fasilitas umum merupakan hal yang menjadi pertimbangan dalam pengembangan wilayah ini. Fasilitas yang diperlukan antara lain fasilitas pendidikan, peribadatan, kesenian, dan terutama kesehatan. Tiap-tiap jenis fasilitas itu perlu dioptimalkan dan dikembangkan pemanfaatannya.

B.

Rencana Fisik Dilihat dari kondisi topografinya yang datar, Kecamatan Pondok Aren cocok

untuk dikembangkan menjadi area permukiman. Iklim wilayah ini pun memadai untuk dijadikan sebagai area bermukim. Rencana pengembangan fisik terbangun dari Kecamatan Pondok Aren dipaparkan dalam uraian berikut. 1. a. Analisis kondisi fisik terbangun Bangunan permanen Bangunan permanen menempati 91,55% dari seluruh bangunan di Kecamatan Pondok Aren, dengan peruntukan yang bervariasi mulai dari perumahan, pertokoan, fasilitas umum baik komersial dan non komersial. Arah perkembangan bangunan permanen direncanakan sebagai berikut:
1)

Usaha

maintenance

atau

perawatan

bagi

bangunan-bangunan

permanen yang sudah ada, agar dalam jangka lima tahun mendatang bangunan-bangunan tersebut masih dapat dimanfaatkan.
2)

Upaya memperbaiki sanitasi lingkungan, yaitu dengan menjaga pembuangan air kotor agar tidak mencemari sumber air, juga menjaga kondisi drinase (parit dan selokan) di sekitar rumah warga agar tetap bersih dan mengalir dengan lancar.

3)

Penyediaan tenaga pengaman, baik itu dengan menggiatkan ronda, hansip, atau bahkan satpam bagi lingkungan perumahan untuk menjaga keamanan lingkungan dan mengurangi kriminalitas. Hal ini tentunya perlu didukung dengan menambah kesiagaan petugas polisi dalam menangani kriminalitas yang mungkin terjadi.

b.

Bangunan Bukan Permanen Bangunan bukan permanen yang terletak di kawasan Kecamatan Pondok

50

Aren biasanya digunakan untuk sektor perdagangan dan jasa, contohnya warung lesehan, bengkel tambal ban, ganti oli, lapak, dan lain-lain. Arahan rencana pegembangan Kecamatan Pondok Aren untuk wilayah ini antara lain: 1) Penertiban wilayah ini secara fisik agar tidak menimbulkan daerah kumuh (slum area) dan agar bangunan-bangunan bukan permanen ini tidak didirikan di tempat yang tidak semestinya, seperti di bahu jalan sehingga membuat jalan menjadi sempit, karena dikhawatirkan akan menimbulkan kemacetan lalu lintas. 2) Mengusahakan agar semua bangunan yang terletak di wilayah ini harus mempunyai IMB.

2.

Rencana struktur dan fisik kota Sesuai dengan uraian sebelumnya, wilayah Kecamatan Pondok Aren

sebagai bagian dari Kabupaten Tangerang diprioritaskan sebagai wilayah permukiman serta perdagangan dan jasa. Dalam pembentukan struktur kota, Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Pondok Aren yang masih berlaku sampai sekarang membagi wilayah kecamatan ini dalam lima Bagian Wilayah Kota: 1. BWK I = Sebagai perumahan, pusat pelayanan kota bagian utara. Wilayahnya meliputi: Jurangmangu Barat, Pondok Betung, Pondok Aren, Pondok Jaya. 2. BWK II = sebagai perumahan dan sub pusat pelayanan kota bagian timur. Wilayahnya meliputi: Jurangmangu Timur, Pondok Karya bagian utara. BWK II juga merupakan pusat perdagangan skala lokal, perumahan departemental. 3. BWK III = sebagai pusat perumahan kepadatan tinggi dan pusat perbelanjaan dan perkantoran. Wilayahnya meliputi: Pondok Karya bagian selatan dan Pondok Pucung. 4. BWK IV = sebagai pusat pemerintahan kecamatan, perumahan kepadatan rendah, prasarana umum dan jalur hijau sepanjang sungai Angke. Wilayahnya meliputi kelurahan Parigi Lama dan Parigi Baru. 5. BWK V = sebagai perumahan kepadatan rendah dan ruang terbuka hijau. Wilayahnya meliputi: Pondok Kacang Barat dan Pondok Kacang Timur.

51

Selain itu, telah ditetapkan BWK Pusat Kota di wilayah Kelurahan Pondok Aren, yang fungsinya adalah sebagai pusat perdagangan, perkantoran, atau

pemerintahan, jasa, pendidikan tingkat wilayah kecamatan, pelayanan umum dan perumahan.

3.

Rencana Berdasar Kecenderungan Perkembangan Area pada Kecamatan Pondok Aren yang berkembang pesat meliputi

Kelurahan Pondok Pucung, Pondok Karya, Pondok Betung, dan Jurangmangu Timur. Untuk wilayah ini, rencana pengembangan yang sesuai adalah maintenance sarana-prasarana yang sudah ada dan pengembangan bila perlu. selain itu, perlu adanya pengawasan dari pemerintah agar daerah yang pesat berkembang tersebut tetap dibangun sesuai dengan rencana tata ruang secara umum. Selanjutnya, wilayah yang mengalami perkembangan sedang adalah Kelurahan Jurangmangu Barat, Pondok Kacang Barat, Pondok Kacang Timur, Pondok Jaya, Parigi Lama, dan Pondok Aren. Untuk wilayah-wilayah ini, perlu adanya upaya intensifikasi dan optimalisasi penggunaan lahan, agar dapat menunjang fungsi-fungsi yang sudah ada. Misalnya, wilayah yang terletak pada BWK I yang berfungsi sebagai areal perumahan, perlu dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang menunjang kebutuhan masyarakat, seperti fasilitas pendidikan, peribadatan, kesehatan, dan sebagainya. Untuk wilayah Parigi Baru yang tergolong dalam daerah yang rendah perkembangannya, perlu disusun alternatif-alternatif rencana yang cocok untuk diterapkan. Melihat kondisi wilayah Parigi Baru yang masih belum banyak terbangun, pembangunan area permukiman akan meningkatkan nilai daerah tersebut. Kemudian, dibangunnya pusat pemerintahan di sana juga akan meningkatkan perkembangannya. Selain dibangun permukiman dan perkantoran, Parigi Baru pun akan dikembangkan sebagai wilayah ruang terbuka dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong di sana. Jalanan yang rusak juga akan diperbiki untuk memperlancar arus pergerakan ke wilayah ini. Wilayah Parigi Baru juga akan dimanfaatkan sebagai Tempat Pengolahan Sampah Kecamatan Pondok Aren dengan memanfaatkan area yang sudah ada, tentu dengan memperbaiki kualitasnya agar sampah tidak menjadi sumber pencemaran udara

52

maupun air di sekitarnya.

C.

Rencana Jaringan a. Jaringan Air Bersih Penggunaan air tanah sebagai sumber air bersih oleh sebagian besar warga Kecamatan Pondok Aren, pada suatu saat nanti dikhawatirkan dapat menimbulkan krisis air tanah atau bahkan perubahan struktur lapisan tanah karena air tanah terus-menerus digunakan. Hal ini dikarenakan debit air tanah yang diambil tidak sebanding dengan jumlah resapan air optimum. Arah perencanaan untuk jaringan air bersih di kawasan Kecamatan Pondok Aren antara lain: 1) Optimalisasi penggunaan air bersih dari jaringan PDAM dan perluasan jaringan PDAM ke daerah-daerah yang memerlukan supply air yang banyak, terutama di kawasan padat penduduk. 2) Pembuatan sistem air dan drainase yang benar dan sesuai kondisi lingkungan. 3) Perluasan kawasan resapan air melalui pengembangan ruang terbuka dan ruang terbuka hijau, terutama di kawasan BWK IV dan V, juga melalui pemanfaatan sistem biopori. 4) Pembuatan sistem sanitasi yang benar agar air kotor tidak mencemari air bersih. 5) Pencegahan terjadinya pencemaran sumber air dari limbah domestik dan industri. 6) Sosialisasi tentang pemanfaatan air bersih seperlunya. Selain itu, dari hasil analisis kebutuhan air bagi penduduk Kecamatan Pondok Aren sampai tahun 2014 adalah : Kebutuhan standar Kebutuhan Air (liter/hari) 2010 Domestik Fasilitas industri Fasilitas sosial Fasilitas hunian sosial 120 liter/hari 50 % 5% 5% 29.023.680 14.511.840 1.451.184 1.451.184 2014 31.280.760 15.640.380 1.564.038 1.564.038

53

Kebocoran Jumlah (liter/hari) Sumber : Analisis, 2010

20 %

5.804.736
52.242.624

6.256.152
56.305.368

Maka untuk menghadapi kekurangan air bersih di masa datang, perlu dipertimbangkan melakukan studi dan dan rencana pengelolaan dan perluasan PDAM di seluruh kecamatan Pondok Aren secara merata.

b.

Jaringan Listrik Menurut analisis yang dilakukan, kebutuhan pasokan listrik untuk tahun

2014 adalah sejumlah 93.843 kilowatt per hari. Arahan perkembangan jaringan listrik direncanakan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Perawatan dan perbaikan jaringan listrik yang telah ada Peningkatan daya transmisi listrik Penanganan masalah keamanan dan estetika Penempatan jaringan listrik sesuai jaringan jalan Penyuluhan untuk menggunakan listrik dengan hemat dan cermat

c.

Jaringan drainase Drainase merupakan hal yang erat berkaitan dengan masalah kebersihan dan

kesehatan lingkungan. Saluran air yang tidak lancar dapat menimbulkan sarang nyamuk, kuman, dan bakteri yang dapat menyebarkan penyakit. Timbulnya genangan air juga mempercepat terjadinya kerusakan pada jalan. Untuk itu, diperlukan suatu langkah agar drainase yang ada pada lingkungan perkampungan baik dan air tidak menggenang. Arahan rencana pengembangan jaringan drainase untuk Kecamatan Pondok Aren antara lain: 1) Perawatan dan peningkatan jaringan drainase yang sudah ada dan dalam kondisi baik. 2) Perbaikan untuk drainase yang tidak sesuai standar secara berkala, mulai dari pembersihan saluran air dari sampah, memperdalam saluran air sesuai kebutuhan, dan membuat lapisan penutup sehingga dapat menghindari bau tidak sedap dan menambah keindahan lingkungan.

54

3)

Pembangunan saluran air di daerah yang belum memilikinya dengan pembangunan yang dilaksanakan mengikuti jaringan jalan dan dihubungkan dengan jaringan primer terdekat dengan memperhatikan estetika

lingkungan, pembangunan jaringan air yang telah terputus-putus dan peningkatan perawatan terutama dari swadaya masyarakat. 4) Penyuluhan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran air.

d.

Jaringan telepon Jaringan telepon kabel, meskipun kini mulai berkurang penggunaannya,

tetap memiliki peran khusus dalam kehidupan masyarakat. Dengan bertambahnya layanan yang disediakan jasa PT Telkom sebagai penyedia jaringan telepon nasional salah satunya dengan paket internet lewat jaringan telepon, membuat masyarakat tetap merasakan kebutuhan terhadap jaringan telepon ini. Arahan rencana pengembangan jaringan telepon di Kecamatan Pondok Aren antara lain: 1 2 3 Penambahan jaringan telepon untuk daerah yang belum terakomodir Penerapan teknologi komunikasi sesuai dengan tuntutan zaman Peningkatan kualitas dan kuantitas telekomunikasi Mengenai masalah jaringan telepon seluler, pembangunan tower-tower penyedia jasa telepon seluler ini diharapkan dapat meng-cover kebutuhan masyarakat akan kelancaran komunikasi, tanpa mengganggu fungsi lahan yang sudah ada.

e.

Jaringan sampah Salah satu masalah utama yang dihadapi masyarakat Kecamatan Pondok

Aren adalah mengenai kebersihan lingkungan. Selama ini, sampah yang diproduksi masyarakat dan industri belum dikelola dengan baik karena belum adanya Tempat Pengolahan Sampah yang resmi digunakan. Menurut analisis yang dilakukan, wilayah yang memungkinkan untuk menampung dan mengolah sampah adalah tempat pembuangan sampah di Parigi Baru. Sampah diolah dengan sistem tungku (dibakar), sehingga sampah yang dihasilkan dalam bentuk abu volumenya kecil. Selain itu perlu adanya penambahan tong sampah, gerobak

55

sampah, dan truk sampah sesuai hasil analisis yang mampu mengakomodasi kebutuhan pembuangan sampah yaitu diletakkan secara tersebar di seluruh kelurahan.
Produksi sampah (liter/hari) Kebutuhan Tong sampah Gerobak sampah Truk sampah

Tahun

Jumlah Penduduk 241,864 260,673

Sampah rumah tangga

Sampah non domestik

Total

2010 2014

483.728 521.346

241.864 260.673

725.592 782.019

14.512 15.640

363 391

30 33

D.

Rencana Transportasi Transportasi di Kecamatan Pondok Aren meliputi berbagai kendaraan yang

melintasi jalur perhubungan wilayah ini. Masalah klasik yang juga terjadi di wilayah ini adalah kemacetan. Kecametan ini sebagian besar disebabkan oleh penyempitan jalan dan berhentinya kendaraan umum beroda empat tidak pada tempatnya. Melihat kondisi tersebut, hal yang perlu dilakukan adalah penertiban angkutan umum yang mangkal tidak pada tempatnya. Menurut analisis, pembangunan sebuah terminal dapat membantu mengatasi munculnya terminal-terminal bayangan yang selama ini ada. Lokasi pembangunan terminal ini direncanakan terletak di perempatan Pondok Betung. Dasar pertimbangannya adalah wilayah ini cukup strategis dan tersedia lahan yang mencukupi untuk dimanfaatkan sebagai terminal. Selain pembangunan terminal, penambahan armada angkutan umum, baik kendaraan roda empat maupun roda dua pun dirasa perlu untuk mencapai daerah-daerah yang belum terjangkau. Selanjutnya, mengenai kondisi jalan di Kecamatan Pondok Aren, perlu diadakan perbaikan jalan di titik-titik tertentu. Jalan-jalan yang rusak dan memerlukan perbaikan antara lain terletak di sepanjang jalan ceger dan jalan Pondok Pucung-Pondok Jaya, serta jalan di wilayah Parigi Baru.

E.

Rencana Kependudukan Proyeksi penduduk Dengan asumsi bahwa tingkat pertumbuhan penduduk yang terjadi dari tahun 2005 ke 2006 sebesar 1,89% terjadi secara konsisten pada tahun-tahun

56

berikutnya, maka proyeksi jumlah penduduk Kecamatan Pondok Aren untuk tahun 2014 adalah sejumlah 260.673 jiwa. Peningkatan jumlah ini tentunya berpengaruh pada peningkatan kebutuhan akan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang mendukung kehidupan masyarakat.

F.

Rencana Fasilitas a)
-

Rencana kebutuhan fasilitas Fasilitas perumahan Berdasar proyeksi kebutuhan rumah tahun 2014, jumlah rumah yang

dibutuhkan adalah 52.135 unit. Dengan asumsi setiap rumah memiliki luas minimum 90m2, maka estimasi luas wilayah yang dibutuhkan untuk perumahan adalah sekitar 4,7 km2 dari total wilayah Kecamatan Pondok Aren seluas 30 km2. Meskipun kebutuhan luas lahan untuk perumahan di Kecamatan Pondok Aren rata-rata melebihi luas minimum 90m2 dan tipa rumah mungkin menampung kurang dari 5 orang, proporsi jumlah lahan yang dibutuhkan untuk perumahan dibanding dengan luas wilayah keseluruhan masih mencukupi. Arahan rencana pengembangan fasilitas perumahan Kecamatan Pondok Aren antara lain adalah perawatan dan perbaikan fasilitas perumahan yang sudah ada. Selain itu, wilayah barat daya kecamatan ini, yaitu Parigi Baru masih dapat dikembangkan menjadi wilayah perumahan.

-

Fasilitas pendidikan Mengacu pada Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota

(Departemen Pekerjaan Umum, Tahun 1987) dan Pedoman Teknis Penataan Ruang Daerah jumlah SD/MI yang dibutuhkan sampai tahun 2014 berdasarkan proyeksi penduduknya adalah 163 unit, sementara fasilitas pendidikan yang sekarang tersedia adalah 81 unit. Fasilitas SMP/MI yang tersedia 28 unit, sedangkan yang dibutuhkan menurut proyeksi adalah 54 unit. Jumlah SMA/MA yang ada 12 unit, sedangkan sekolah yang dibutuhkan menurut proyeksi adalah 43 unit. Adanya rentang yang besar antara unit sekolah yang tersedia dan yang dibutuhkan lima tahun mendatang menunjukkan kebutuhan akan penambahan jumlah fasilitas sekolah itu. Namun, untuk saat ini, kekurangan ini dipenuhi

57

dengan dukungan wilayah sekitar Kecamatan Pondok Aren dalam hal fasilitas pendidikan.

-

Fasilitas peribadatan Arahan rencana pengembangan fasilitas peribadatan Kecamatan Pondok

Aren dititikberatkan pada perbaikan dan perawatan fasilitas yang sudah ada, juga optimalisasi dari fasilitas peribadatan tersebut, karena jumlah yang ada sekarang ini tidak semuanya dimanfaatkan dengan baik.

-

Fasilitas kesehatan Dengan jumlah penduduk sebanyak 240.368 jiwa, Kecamatan Pondok

Aren memiliki fasilitas kesehatan umum yang belum mencukupi. Dari hasil analisis penambahan jumlah puskesmas, pada tahun 2014 perlu penambahan puskesmas di delapan kelurahan, yaitu di Kelurahan Parigi Baru, Parigi Lama, Pondok Betung, Pondok Karya, Jurangmangu Timur, Jurangmangu Barat, Pondok Jaya, Pondok Kacang Barat.

b)

Fasilitas olahraga, rekreasi, dan hiburan Fasilitas olahraga yang ada saat ini berupa kolam renang, lapangan basket,

lapangan volly, lapangan tenis, bulu tangkis, serta lapangan bola kami rasa cukup memadai. Rencana yang dikembangkan untuk fasilitas olahraga, rekreasi, dan hiburan yang telah ada adalah perawatan dan perbaikan.

G. Rencana Ekonomi Pada Kecamatan Pondok Aren, potensi ekonomi lebih cenderung pada bidang jasa dan perdagangan. Potensi tersebut dapat dilihat jumlah penduduk yang bergerak dalam bidang ini. Pada tempat yang strategis, usahanya mulai banyak. Untuk itu, perlu disusun rencana pengembangan untuk membentuk struktur wilayah perdagangan yang lebih rapi, akan tetapi untuk sarana pasar sudah cukup memenuhi sampai tahun 2014.

58

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang. 2006. Kecamatan Pondok Aren dalam Angka. Jakarta Kecamatan Pondok Aren. 2008. Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2008. Jakarta Kecamatan Pondok Aren. 2009. Laporan Bulanan Umum Kecamatan Pondok Aren Bulan Desember 2009. Jakarta

59

LAMPIRAN

60

Peta Persebaran Jumlah Penduduk di Kec. Pondok Aren Kab. Tangerang Tahun 2009

Peta Persebaran Jumlah Penduduk di Kec. Pondok Aren Kab. Tangerang Tahun 2014

61

Peta Persebaran Kawasan Pertokoan dan Pasar di Kec. Pondok Aren (Kini)

Peta Persebaran Kawasan Pertokoan dan Pasar di Kec. Pondok Aren (Rencana)

62

Peta Persebaran Komplek Perumahan di Kec. Pondok Aren

Peta Persebaran Sawah di Kec. Pondok Aren

63

Peta Persebaran Tanah Pemakaman di Kec. Pondok Aren

64

65

66

Foto Hasil Survey Lapangan:

Daerah belum terbangun

Jalur Hijau di desa Parigi Baru

Kondisi Jalan desa di kelurahan Pondok Aren 67

Kawasan dalam rencana pengembangan pemukiman oleh pengembang (desa Parigi Lama dan Parigi Baru)

Kondisi Tempat Pembuangan Sampah di Kelurahan Pondok Jaya

68

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful