Anda di halaman 1dari 22

KEBUDAYAAN BATAK

Mata Kuliah Budaya Nusantara


Dosen : Bpk. Ichsan Pribadi

NAMA ANGGOTA (Kelas II-C) :


Andreas Martin (08330005009)
Debrian Ruhut Saragih (08330004915)
Harkita Okky Sinaga (08330004941)
Irvan Abdillah Sembiring (08330004952)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA


SPESIALISASI PENILAI/PBB

2009
DAFTAR ISI

BAB I IDENTIFIKASI .............................................................................................................................3


1.1 PENGERTIAN KEBUDAYAAN BATAK ................................................................................................3
1.2 SUKU-SUKU BATAK ....................................................................................................................4
1.3 WILAYAH BERMUKIM.................................................................................................................4
1.4 FALSAFAH BATAK ......................................................................................................................6
1.5 BATAK PADA ERA MODERN..........................................................................................................6
BAB II MATA PENCAHARIAN ..............................................................................................................7
BAB III SISTEM KEKERABATAN DAN KEMASYARAKATAN ...................................................................8
3.1 NILAI BUDAYA ..........................................................................................................................8
3.2 MARGA DAN TAROMBO .............................................................................................................8
3.2.1 Dalihan Natolu ...............................................................................................................9
3.2.2 Paratur ni parhundulon ..................................................................................................9
3.2.3 Nama-nama partuturon dan bagaimana memanggilnya.............................................. 11
BAB IV PRODUK BUDAYA .................................................................................................................14
4.1 ADAT ISTIADAT BATAK.............................................................................................................. 14
4.2 ALAT-ALAT RUMAH TANGGA YANG DIPAKAI OLEH NENEK MOYANG SUKU BATAK ................................. 18
4.3 MUSIK, PAKAIAN ADAT DAN TARIAN BATAK.................................................................................. 19
BAB V PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI ....................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................22
BAB I

IDENTIFIKASI

1.1 Pengertian Kebudayaan Batak

Batak adalah nama sebuah suku di


Indonesia. Suku ini kebanyakan bermukimdi
SumatraUtara. Mayoritas orang Batak beragama
Kristen dan Islam. Tetapi dan ada pula yang
menganut kepercayaan animisme (disebut
Parmalim).Yang dimaksud dengan kebudayaan
Batak yaitu seluruh nilai-nilai kehidupan suku
bangsa Batak diwaktu-waktumendatang
merupakan penerusan dari nilai kehidupan lampau dan menjadi faktor penentu sebagai
identitasnya. Refleksi dari nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi suatu ciri yang khas bagi suku
bangsa Batak yakni : Keyakinan dan kepercayaan bahwa ada Maha Pencipta sebagai Tuhan yang
menciptakan alam semesta beserta segala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi. Untuk
mewujudkan keseimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai mahluk sosial yang
selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, Tuhan Maha Pencipta sebagai titik orientasi
sipritualnya, alam lingkungan sebagai objek integritasnya suku bangsa Batak telah dinaungi
Patik. Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-nilai kebenaran.
Patik ditandai dengan kata Unang, Tongka, Sotung, Dang Jadi. Sebagai akibat dari penyimpangan
tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah Uhum atau Hukum.Uhum/Hukum ditandai oleh
kata; Aut, Duru, Sala, Baliksa, Hinorhon, Laos, Dando, Tolon, Bura dsb. Didalam menjalankan
kehidupan suku bangsa Batak terutama interaksi antara sesama manusia dibuatlah nilai-nilai
antara sesama, etika maupun estetika yang dinamai Adat. Suku bangsa Batak mempunyai system
kekerabatan yang dikenal dan hidup hingga kini yakni Partuturon. Peringatan untuk tidak
melanggar Patik itu ditegaskan dengan kata Sotung. Dan mengharamkan segala aturan untuk
dilanggar dikatakan dengan kata Subang.

Makna Kebudayaan Batak


Tata nilai kehidupan suku Batak di dalam proses pengembangannya merupakan pengolahan
tingkat daya dan perkebangan daya dalam satu sistem komunikasi meliputi :
a. Sikap Mental (Hadirion)
Sikap mental ini tercermin dari pepatah : babiat di harbangan, gompul di alaman.
Anak sipajoloon nara tu jolo.

3
4

b. Nilai Kehidupan (Ruhut-ruhut Ni Parngoluon)


Pantun marpangkuling bangko ni anak na bisuk. Donda marpangalaho bangkoni boru na uli.
(pantun hangoluan tois hamagoan).
Cara Berpikir (Paningaon)
Raja di jolo sipatudu dalan hangoluan. (didepan kita sebagai panutan)
Raja di tonga pangahut pangatua, pangimpal, pangimbalo (ditengah kita sebagai
pemersatu).
Raja di pudi siapul natangis sielek na mardandi. (dibelakang kita sebagai penopang orang
yang jatuh) .
Cara Bekerja (Parulan)
Mangula sibahen namangan (mengerjakan apa yang mau dimakan)
Maragat bahen siinumon (menampung apa yang mau diminum)
Logika (Ruhut, Raska, Risa)
Aut so ugari boru Napitupulu na tumubuhon au, dang martulang au tu Napitupulu (jika
masih satu keturunan/marga, maka kita akan lebih menghormatinya)
Etika (Paradaton)
Tinintip sanggar bahen huru-huruan
Nisungkun marga asa binoto partuturon
Estetika (panimbangion)
Hatian sora monggal ninggala sibola tali

1.2 Suku-suku Batak


Suku Batak terdiri dari beberapa sub suku yang berdiam di wilayah Sumatera Utara, Kota
Subulussalam, Aceh Singkil dan Aceh Tenggara. Sub suku Batak adalah: Suku Alas, Suku
Kluet,Suku Karo , Suku Toba , Suku Pakpak , Suku Dairi , Suku Simalungun , Suku Angkola ,
Suku Mandailing.

1.3 Wilayah Bermukim


Dalam tata pemerintahan Republik Indonesia yang
mengikuti tata pemerintahan Kolonial Belanda, setiap sub
suku berdiam dalam satu kedemangan yang kemudian
dirubah menjadi Kabupaten setelah Indonesia merdeka.
Sub suku Batak Toba berdiam di Kabupaten
Tapanuli Utara yang wilayahnya meliputi Ajibata
(berbatasan dengan Parapat), Pulau Samosir, Pakkat, serta
Sarulla. Empat tahun terakhir ini, Kabupaten Tapanuli
Utara sendiri telah dimekarkan menjadi beberapa
5

Kabupaten yakni Kabupaten Tapanuli Utara (ibukota Tarutung), Kabupaten Toba Samosir
(ibukota Balige), Kabupaten Samosir (ibukota Pangururan), Kabupaten Humbang (ibukota
Siborong-borong), Kabupaten Humbang Hasundutan (ibukota Dolok Sanggul).
Sub suku Batak Karo mayoritas berdiam di Kabupaten Karo dengan ibukota Kabanjahe,
namun sebagian juga tersebar di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Mereka yang bermukim di
wilayah Kabupaten Karo kerap disebut sebagai Karo Gunung, sementara yang di Kab. Langkat
dan Deli Serdang kerap disebut dengan Karo Langkat.
Sub suku Batak Alas bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam. Populasi mereka meningkat paska Perang Aceh dimana pada masa
perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda, suku Batak Toba selalu mengirimkan bala
bantuan. Setelah perang usai, mereka banyak yang bermukim di wilayah Aceh Tenggara.
Sub suku Batak Pakpak terdiri atas 5 sub Pakpak yaitu Pakpak Kelasen, Pakpak Simsim,
Pakpak Boang, Pakpak Pegagan, bermukim di wilayah Kabupaten Dairi yang kemudian
dimekarkan pada tahun 2004 menjadi dua kabupaten yakni: Kabupaten Dairi (ibukota
Sidikalang)dan Kabupaten Pakpak Bharat (ibukota Salak). Suku Batak Pakpak juga berdomisili
di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah
Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah.Suku Pakpak yang tinggal
diwalayah tersebut menamakan diri sebagai Pakpak Kelasan. Dalam jumlah yang sedikit, suku
Pakpak juga bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.
Sub suku Batak Simalungun mayoritas bermukim di wilayah Kabupaten Simalungun
(ibukota Pematang Siantar) namun dalam jumlah yang lebih kecil juga bermukim di kabupaten
Serdang Bedagai dan Kabupaten Asahan.
Sub suku Batak Mandailing dan Angkola bermukim di wilayah Kabupaten Tapanuli
Selatan (ibukota Padang Sidempuan) dan Kabupaten Mandailing Natal (sering disingkat dengan
Madina dengan ibukota Penyabungan). Kabupaten ini berdiri sejak tahun 1999 setelah dimekarkan
dari Kabupaten Tapsel. Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Tengah (ibukota Sibolga) sejak dulu
tidak didominasi oleh salah satu sub suku batak. Populasi Batak Toba cukup banyak ditemui di
daerah ini, demikian juga dengan Batak Angkola dan Mandailing. Dalam jumlah yang kecil,
Batak Pakpak juga bermukim di daerah ini khususnya Kota Barus. Hal ini dimungkinkan karena
Tapanuli Tengah terletak di tepi Samudera Hindia yang menjadikannya sebagai pintu masuk dan
keluar untuk melakukan hubungan dagang dengan dunia internasional. Salah satu kota terkenal
yang menjadi bandar internasional yang mencapai kegemilangannya sekitar abad 5 SM-7 SM
adalah Kota Barus.
6

1.4 Falsafah Batak


Secara umum, suku Batak memiliki falsafah adat Dalihan Na Tolu yakni Somba Marhula-
hula (hormat pada pihak keluarga ibu/istri) Elek Marboru (ramah pada keluarga saudara
perempuan) dan Manat Mardongan Tubu (kompak dalam hubungan semarga). Dalam kehidupan
sehari-hari, falsafah ini dipegang teguh dan hingga kini menjadi landasan kehidupan sosial dan
bermasyarakat di lingkungan orang Batak.

1.5 Batak Pada era modern


Sejarah Batak modern dipengaruhi oleh dua agama samawi yakni Islam dan Kristen. Islam
makin kuat pengaruhnya pada saat Perang Padri, melalui aktivitas dakwah yang dilakukan para
da'i dari dari negeri Minang. Perluasan penyebaran agama islam juga pernah memasuki hingga ke
daerah Tapanuli Utara dibawah pimpinan Tuanku Rao dari Sumatera Barat, namun tidak begitu
berhasil. Islam lebih berkembang di kalangan Batak Mandailing dan sebagian Batak Angkola.
Agama Kristen baru berpengaruh di kalangan Batak Angkola dan Toba setelah beberapa kali misi
Kristen yang dikirimkan mengalami kegagalan. Misionaris yang paling berhasil adalah I.L.
Nommensen yang melanjutkan tugas pendahulunya menyebarkan agama Kristen di wilayah
Tapanuli. Ketika itu, masyarakat Batak yang berada di sekitarTapanuli, khususnya Tarutung,
diberi pengajaran baca tulis, keahlian bertukang untuk kaum pria dan keahlian menjahit serta
urusan rumah tangga bagi kaum ibu. Pelatihan dan pengajaran ini kemudian berkembang hingga
akhirnya berdiri sekolah dasar dan sekolah keahlian di beberapa wilayah di Tapanuli. Nommensen
dan penyebar agama lainnya juga berperan besar dalam pembangunan dua rumah sakit yang ada
saat ini, RS Umum Tarutung dan RS HKBP Balige, yang sudah ada jauh sebelum Indonesia
merdeka. Sementara itu, perkembangan pendidikan formal juga terus berlanjut hingga dibukanya
sebuah perguruan tinggi bernama Universitas HKBP I.L. Nommensen (UHN) tahun 1954.
Universitas ini menjadi universitas swasta pertama yang ada di Sumatra Utara dan awalnya hanya
terdiri dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Theologia.
BAB II

MATA PENCAHARIAN

Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi di sawah dan ladangLahan didapat dari
pembagian yang didasarkan marga. Setiap kelurga mendapat tanah tadi tetapi tidak boleh menjualnya.
Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan. Perternakan juga salah satu mata
pencaharian suku batak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek.
Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba. Sektor kerajinan juga
berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitanya dengan
pariwisata.

7
BAB III

SISTEM KEKERABATAN DAN KEMASYARAKATAN

3.1 Nilai Budaya


1. Kekerabatan
Nilai kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian
Na Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang dalam satu
kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang menerima gadis
untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan gadis disebut Boru.
Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut
Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu
marga. Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral
keturunan pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya
nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu
kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sdah banyak hidup tersebar sehingga tidak
saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu
disertakan dibelakang nama kecilnya, Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat
prinsip yaitu: (a) perbedaan tigkat umur, (b) perbedaan pangkat dan jabatan, (c) perbedaan
sifat keaslian dan (d) status kawin.
2. Hagabeon, Nilai budaya yang bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu banyak,
dan yang baik-baik.
3. Hamoraan, Nilai kehormatan suku Batak yang terletak pada keseimbangan aspek spiritual
dan meterial.
4. Uhum dan ugari, Nilai uhum orang Batak tercermin pada kesungguhan dalam menegakkan
keadilan sedangkan ugari terlihat dalam kesetiaan akan sebuah janji.
5. Pengayoman, Pengayoman wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut
diemban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu.
6. Marsisarian, Suatu nilai yang berarti saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.

3.2 Marga dan Tarombo


MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal). Sistem
kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki.
Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan
marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam
Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu. Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah
seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

8
9

TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.Dengan tarombo


seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila orang Batak berkenalan pertama kali,
biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling
mengetahui apakah mereka saling “mardongan sabutuha” (semarga) dengan panggilan “ampara”
atau “marhula-hula” dengan panggilan “lae/tulang”. Dengan tarombo, seseorang mengetahui
apakah ia harus memanggil “Namboru” (adik perempuanayah/bibi),“Amangboru/Makela”,(suami
dariadik-ayah/Om),“Bapatua/Amanganggi/Amanguda” (abang/adik ayah),“Ito/boto”(kakak/adik),
PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri,
dst.
3.2.1 Dalihan Natolu
Salah satu contoh adat istiadat batak adalah “Dalihan Natolu”. “Dalihan Natolu” ini
melambangkan sikap hidup orang batak dalam bermasyarakat. “Dalihan Natolu” yaitu:
a. Marsomba tu Hula-Hula
“Hula-Hula” adalah Orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria, namun hula-
hula ini dapat diartikan secara luas. Semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh
seorang pria dapat disebut hula-hula. Marsomba tu hula-hula artinya seorang pria
harus menghormati keluarga pihak istrinya.
b. Elek marboru
Boru adalah anak perempuan dari suatu marga,misalnya boru gultom adalah anak
perempuan dari marga Gultom. Dalam arti luas, istilah boru ini bukan berarti anak
perempuan dari satu keluarga saja, tetapi dari marga tersebut. Elek marboru artinya
harus dapat merangkul boru. Hal ini melambangkan kedudukan seorang wanita didalam
lingkungan marganya.
c. Manat mardongan tubu
Dongan Tubu adalah saudara-saudara semarga. Manat Mardongan Tubu melambangkan
hubungan dengan saudara-saudara semarga. Dalihan Natolu ini menjadi pedoman hidup
orang Batak dalam kehidupan bermasyarakat.

3.2.2 Paratur ni parhundulon


Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu istilah dalam ritual
adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu
acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan
kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya,
kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar
nantinyamudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu,
sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan
seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Dalam kehidupan orang Batak sehari-
10

hari, kekerabatan (partuturon ) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati (
digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan
Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam
tonggakagunguntukmempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk
memperlakukan orang lain dengan baik ( nice attitude ).
Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ”. Adapun isi :
1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan
Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan
marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan „Padan na buruk‟ =sumpah Mistis
jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan
yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )
Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba =
perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita.
5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak
ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan
perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua
laki-laki yang memanggil kita „Amang‟.
Yang dimaksud dengan hulahula :
1. Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua.
2. Tulang
11

3. Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung


4. Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita. Pokoknya, semua hulahula yang
posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
5. Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari
ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita
nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
6. Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga

3.2.3 Nama-nama partuturon dan bagaimana memanggilnya


a. Dalam keluarga satu generasi :
1. Amang/Among : kepada bapak kandung
2. Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari
dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil “Amang‟ saja.
3. Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan
sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan
sebutan “Amang” atau Uda.
4. Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari
amangtua, dari marga.
5. Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan
semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk
perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau
bisa juga “Anggia”
6. Hahadoli : atau “Angkangdoli‟, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari
ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita.
7. Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang
ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi
sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung
digunakan.
8. Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil
dengan sebutan „Amang‟, maka bapak-bapak mereka adalah „Ompung‟ kita.
Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
9. Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya
“Amang‟.
10. Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita.
11. Inang/Inong : kepada ibu kandung kita.
12. Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua.
12

13. Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda.


14. Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti
“angkang‟.
15. Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan “Inang‟.
16. Ompungboru : lihat ke atas.
17. Ompungboru mangulahi : lihat ke atas.

b. Dalam hubungan par-hulahula on


1. Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita
memangilnya dengan sebutan “Amang‟.
2. Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup
memangilnya “Inang‟.
3. Tunggane : disebut juga “Lae‟, yakni kepada semua ito dari isteri kita.
4. Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil “Tulang‟.
5. Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil “Nantulang‟.
6. Tulang : kepada ito ibu kita
7. Nantulang : kepada isteri tulang kita
8. Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil „Ompung‟
9. Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada
semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
10. Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil “Ompung‟
11. Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil
12. “Amang‟, dan generasi di atasnya

c. Dalam hubungan par-boru on


1. Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang
menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya „Amanghela‟
2. Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki
yang menikahi ito kandung kita
3. Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
4. Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
5. Namboru : kepada isteri amangboru kita
6. Lae : kepada putera dari amangboru kita
7. Ito : kepada puteri dari amangboru kita
8. Lae : kepada bapak dari amangboru kita
13

9. Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita


10. Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
11. Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
12. Bere : kepada ito dari amangboru kita
Beberapa hal yang perlu di ingat :
1. Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso.
2. Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso Di daerah
seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana
sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau
di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja
aturannya.
Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya pelanggaran adat yang dimaafkan. Misalnya
begini : saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya.
Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya “Amang‟ karena pernikahan itu meletakkan posisi
saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya “Tulang rorobot‟ karena
perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya. Partuturon karena
keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap panggil saya
“Tulang‟ dan si laki-laki harus tetap memanggil saya “Bapatua/bapauda‟.
BAB IV

PRODUK BUDAYA

4.1 Adat Istiadat Batak


Upacara
Pada masyarakat suku Batak, siklus kehidupan seseorang
dari lahir kemudian dewasa, berketurunan sampai meninggal,
melalui beberapa masa dan peristiwa yang dianggap penting.
Karenanya pada saat-saat atau peristiwa penting tersebut perlu
dilakukan upacara-upacara yang bersifat adat, kepercayaan dan
agama. Upacara-upacara tersebut antara lain upacara turun
mandi, pemberian nama, potong rambut dan sebagainya pada
masa anak-anak, upacara mengasah gigi, upacara perkawinan,
upacara kematian dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Batak
dikenal upacara memberi makan enak kepada orang tua yang
sudah lanjut usia tetapi masih sehat, tujuannya untuk memberi
semangat hidup agar panjang umur dan tetap sehat. Juga kepada orang tua yang sakit
dengan maksud agar dapat sembuh kembali. Upacara ini disebut "sulang-sulang".
Meskipun kini sebagian besar penduduk sudah memeluk agama Islam atau Kristen, tapi
kepercayaan lama yang bersifat animistis masih terlihat dalam upacara-upacara yang
dilakukan.Misalnya upacara memanggil roh leluhur ke rumah keluarga yang masih hidup dengan
perantaraan Sibaso atau dukun wanita. Sibaso nanti akan kemasukan roh, sehingga setiap
ucapannya dianggap kata-kata leluhur yang meninggal. Di daerah Batak Toba upacara ini
disebut "Sigale-gale".

Rumah Adat
Rumah adat Siwaluh Jabu, rumah adat Batak Karo. Rumah ini bertiang tinggi dan satu
rumah biasanya dihuni atas satu keluarga besar yang terdiri dari 4 sampai 8 keluarga Batak. Di
dalam rumah tak ada sekatan satu ruangan lepas. Namun pembagian ruangan tetap ada, yakni di
batasi oleh garis-garis adat istiadat yang kuat, meski garis itu tak terlihat. Masing-masing
ruangan mempunyai nama dan siapa yang harus menempati ruangan tersebut, telah ditentukan
pula oleh adat. Urutan ruangan dalam rumah Siwaluh jabu adalah sebagai berikut :
Jabu bena kayu yaitu ruangan di depan sebelah kiri, didiami oleh pihak marga tanah dan
pendiri kampung. Ia merupakan pengulu atau pemimpin rumah tersebut.
Jabu sedapur bena kayu yaitu ruangan berikutnya yang satu dengan jabu bena kayu, juga
dinamai Sinenggel-ninggel. Ruang ini didiami oleh pihak Senina yakni saudara-

14
15

saudaranya yang bertindak sebagai wakil pemimpin rumah tersebut. Sedapat artinya satu
dapur, karena setaip 2 ruangan maka di depannya terdapat dapur yang dipakai untuk 2
keluarga.
Jabu ujung kayu, dinamai Jabu Sungkun Berita, didiami oleh anak Beru Toa, yang
bertugas memecahkan setiap masalah yang timbul.
Jabu sedapur ujung kayu yaitu ruangan sedapur dengan jabu ujung kayu, dinamai Jabu
Silengguri. Jabu ini didiami oleh anak beru dari jabu Sungkun Berita.
Jabu lepan bena kayu, yakni ruangan yang terletak berseberangan dengan jabu bena
kayu, dinamai jabu simengaloken didiami oleh Biak Senina.
Jabu sedapur lepan bena kayu yaitu ruangan yang sedapur dengan jabu lepan bena kayu,
didiami oleh Senina Sepemeren atau Separiban.
Jabu lepan ujung kayu, didiami oleh Kalimbuh yaitu pihak pemberi gadis, ruangan ini
disebut Jabu Silayari.
Jabu sedapur lepan ujung kayu yaitu ruangan yang sedapur dengan jabu lepan ujung
kayu. Ruangan ini didiami oleh Jabu Simalungun minum, didiami oleh Puang Kalimbuh
yaitu Kalimbuh dari jabu silayari. Kedudukan Kalimbuh ini cukup dihormati didalam
adat.
Umumnya di setiap rumah adat ini terdapat empat buah dapur yang masing-masing
digunakan oleh dua keluarga, yaitu oleh jabu-jabu yang bersebelahan. Tiap dapur terdiri dari lima
buah batu yang diletakkan sebagai tungku berbentuk dua segi tiga bertolak belakang. Segi tiga
tersebut melambangkan rukuh sitelu atau singkep sitelu yaitu tali pengikat antara tiga kelompok
keluarga. Kalimbuhu, senina dan anak beru atau Sebayak.
Dinding rumah dibuat miring, berpintu dan jendela yang terletak di atas balok keliling. Atap
rumah berbentuk segitiga dan bertingkat tiga, juga melembangkan rukut-sitelu. Pada setiap
puncak dan segitiga-segitiga terdapat kepala kerbau yang melambangkan kesejahteraan bagi keluarga
yang mendiaminya. Pinggiran atap sekeliling rumah di semua arah sama, menggambarkan
bahwa penghuni rumah mempunyai perasaan senasib sepenanggungan. Bagian atap yang
berbentuk segitiga terbuat dari anyaman bambu disebut lambe-lambe. Biasanya pada lambe-
lambe dilukiskan lambang pembuat dari sifat pemilik rumah tersebut, dengan warna tradisional
merah, putih dan hitam. Hiasan lainnya adalah pada kusen pintu masuk. Biasanya dihiasi
dengan ukiran telur dan panah. Tali-tali penginkat dinding yang miring disebut tali ret-ret,
terbuat dari ijuk atau rotan. Tali pengikat ini membentuk pola seperti cicak yang mempunyai 2
kepala saling bertolak belakang, maksudnya ialah cicak dikiaskan sebagai penjaga rumah, dan 2
kepala saling bertolak belakang melambangkan semua penghuni rumah mempunyai peranan yang
sama dan saling menghormati.
Rumah adat Siwaluh jabu yang selalu bertangga dengan jumlah anak tangga ganjil,
16

dihuni oleh keluarga di mana anak-anak tidur dengan orang tuanya sampai berumur 14 tahun. Bagi
anak laki-laki dewasa atau bujangan tidur di tempat lain yang disebut Jambur, begitu pula
tamu laki-laki. Jambur sebenarnya lumbung padi yang dipergunakan untuk tidur, bermusyawarah
dan istirahat para perempuan dan laki-laki.
Rumah adat Batak Toba yang disebut Rumah Bolon, berbentuk empat persegi panjang dan
kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki
tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang
hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang
melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah. Lantai rumah kadang-
kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi,
ayam, dan sebagainya. Dahulu pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu
yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi.
Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun
berdiam disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan, karena
dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat. Ruangan di
belakang sudut sebelah kanan disebut jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau por
jabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Ruangan ini dahulu dianggap paling
keramat. Di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong disebut Jabu Soding diperuntukkan bagi
anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Di sudut kiri depan
disebut Jabu Suhat, untuk anak laki-laki tertua yang sudah kawin dan di seberangnya disebut Tampar
Piring diperuntukkan bagi tamu.
Bila keluarga besar maka diadakan tempat di antara 2 ruang atau jabu yang
berdempetan, sehingga ruangan bertambah 2 lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu
rona. Tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan
tambahan. Di antara 2 deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral
yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah. Bangunan lain yang mirip
dengan rumah adalah sapo yakni seperti rumah yang berasal dari lumbung tempat menyimpan,
kemudian didiami. Perbedaannya dengan rumah adalah : Dopo berlantai dua, hanya mempunyai satu
baris tiang-tiang depan dan ruangan bawah terbuka tanpa dinding berfungsi untuk musyawarah,
menerima orang asing dan tempat bermain musik. Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-
hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-
adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan.
Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif
pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu
masuk.
Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang,
mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa
17

yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa
ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu
hitam, putih dan merah.
Semua rumah adat tersebut di atas bahannya dari kayu baik untuk tiang, lantai serta
kerangka rumah berikut pintu dan jendela, sedangkan atap rumah terbuat dari seng. Dianjungan
Sumatera Utara, rumah-rumah adat yang ditampilkan mengalami sedikit perbedaan dengan rumah
adat yang asli di daerahnya. Hal ini disesuaikan dengan kegunaan dari kepraktisan belaka,
misalnya tiang-tiang rumah yang seharusnya dari kayu, banyak diganti dengan tiang beton.
kemudian fungsi ruangan di samping untuk keperluan ruang kantor yang penting adalah untuk ruang
pameran benda-benda kebudayaan serta peragaan adat istiadat dari delapan puak suku di
Sumatera Utara. Benda-benda tersebut meliputi alat-alat musik tradisional, alat-alat dapur, alat-
alat perang, alat-alat pertanian, alat-alat yang berhubungan dengan mistik, beberapa contoh
dapur yang semuanya bersifat tradisional. Sedangkan peragaan adat istiadat dan sejarah
dilukiskan dalam bentuk diorama, beberapa pakaian pengantin dan pakaian adat dan sebagainya.

Rumah Adat Batak Toba


"Bolon"

Rumah Adat Batak Karo


"Siwaluh Jabu"
18

4.2 Alat-alat Rumah Tangga Yang Dipakai oleh Nenek Moyang Suku Batak
* Panutuan dan Tutu adalah alat untuk menggiling bumbu dapur. Panutuan dan
Tutu terbuat dari batu atau kayu. Panutuan adalah wadah tempat bumbu akan
digiling, sedangkan Tutu adalah batu atau kayu penggiling bumbu itu. Tutu ini
dinamai juga Papene.
* Papene adalah Sapa kecil tanpa kaki. Besarnya sekitar ± 30-40 cm.
Biasanya Papene ini digunakan pada kesempatan sehari-hari.
* Hansung atau Hiong adalah bejana untuk mengambil air dari sumber air
(sumur, pancuran atau sungai) dan sekaligus tempat penyimpanannya.
Hansung atau Hiong adalah tabung besar yang terbuat dari bambu besar
dengan ruas buku yang panjang. Kadang-kadang kulit luarnya dibuang, tetapi
kadang-kadang tidak. Kulit yang tidak dibuang sering dihiasi dengan tulisan
atau ukiran mitis. Selain untuk menampung dan menyimpan air, Hansung
atau Hiong digunakan juga untuk menampung air aren yang dikenal dengan tuak. Di tanah Karo
bejana ini disebut Kitang.
* Ompon ialah sejenis karung berbentuk silinder. Ompon terbuat dari kulit kayu
atau dari diayam dari Baion atau pandan. Besarnya dan volumenya tidak
tentu. Ada ompon yang bisa menampung padi sebanyak 20-30 porsanan atau
panuhukan. Porsanan atau Panuhukan adalah ukuran umum sebanyak orang
bisa memikul. “porsan” atau “tuhuk” berarti pikul.
* Hudon Tano atau Susuban Tano adalah bejana yang terbuat dari tanah liat.
Pada zaman dahulu bejana ini dipakai serba guna, misalnya: tempat
penyimpanan air, tempat memasak makanan dan air minum.
* Hobon atau Tambarang mengacu pada barang yang sama,
yakni sejenis tong yang terbuat dari kulit kayu yang amat
besar. Hobon atau Tambarang ini dipakai untuk tempat
menyimpan padi. Bila Hobon atau Tambarang ini berdiri akan tampak seperti
drum yang besar.
* Sapa Bolon, atau biasa disebut sapa saja, ialah piring yang terbuat dari kayu. Biasanya sapa
itu berdiameter ± 30-40 cm; tinggi ± 20-30 cm. Biasanya piring ini digunakan ketika satu
keluarga makan hasil panen pertama atau makan Dengke na hinongkoman
(ikan pelindung) untuk menolak penyakit menular. Nama ikan itu adalah
Porapora. Jumlah ikan itu mesti sebanyak jumlah anggota keluarga yang
makan, yang ditaruh pada sapa.
* Poting. Poting atau gunci terbuat dari tanah liat dan tutupnya terbuar dari
kayu. Barang ini dipakai sebagai tempat tuak.
19

* Losung adalah lumpang, yakni perkakas untuk menumbuk padi


untuk memperoleh beras. Losung dapat terbuat dari batu atau
kayu. Biasanya bentuknya seperti bidang trapesium yang terbalik.
Pada permukaan atas terdapat lubang besar ke dalamnya
dimasukkan barang yang hendak ditumbuk. Ada dua ukuran
lumpang, besar dan kecil. Lumpang besar digunakan untuk
menumbuk padi, sedangkan yang kecil dipakai untuk menumbuk padi dalam jumlah sedikit atau pun
untuk menggiling bumbu.
*Andalu adalah alat pasangan untuk menumbuk padi pada lumpang itu. Andalu adalah tongkat kayu
sebesar genggaman tangan dengan panjang ± 150-200 cm. Dengan pergesekan Andalu dan padi, kulit
padi menjadi terkelupas dan menghasilkan beras.
*Geanggeang termasuk perkakas dapur tempat penyimpanan lauk yang
sudah dimasak. Bentuknya seperti keranjang yang dianyam dari rotan
besar. Geanggeang ini tergantung setinggi ibu rumah tangga pemilik Jabu
Bona pada Ruma Batak. Perkakas itu terikat pada atap rumah. Disebut
Geanggeang karena perkakas ini tergantung dan mudah bergoyang. Di
tempat inilah disimpan lauk yang sudah dimasak sehingga tidak mudah
digapai anak-anak, kucing atau tikus
* Ampang adalah sejenis bakul yang terbuat dari
anyaman rotan yang dibelah dan dihaluskan. Bagian
bibir Ampang berbentuk bundar yang dibuat dari rotan bulat. Tetapi bagian
dasar mendapat bentuk bidang bujursangkar. Ampang ini diperkuat oleh
empat rangka dari sudut bujursangkar pada bagian dasar yang menopang
bibir Ampang yang berbentuk bundar. Ampang digunakan sebagai alat pengukur isi untuk padi.
* Parutan. Parutan yang terbuat dari kayu dan sebatang besi. Fungsinya
ialah untuk memarut kelapa.
* Keranjang. terbuat dari rotan. Fungsinya antara lain sebagai tempat
pakaian.

4.3 Musik, Pakaian Adat dan Tarian Batak


Musik tradisi masyarakat Batak Toba disebut sebagai gondang. Ada tiga arti untuk kata
“gondang”:
1. Satu jenis musik tradisi Batak toba;
2. Komposisi yang ditemukan dalam jenis musik tsb. (misalnya komposisi berjudul
Gondang Mula-mula, Gondang Haroharo)
3. Alat musik “kendang”. Ada 2 ansambel musik gondang, yaitu Gondang Sabangunan yang
20

biasanya dimainkan diluar rumah dihalaman rumah; dan gondang Hasapi yang biasanya
dimainkan dalam rumah.
Sarune Bolon adalah alat tiup double reed (obo) yang mirip alat-alat lain yang bisa
ditemukan di Jaw, India, Cina, dsb. Pemain sarune mempergunakan teknik yang disebut marsiulak
hosa (kembalikan nafas terus menerus) dan biarkan pemain untuk memainkan frase-frase yang
panjang sekali tanpa henti untuk tarik nafas.
Ogung terdiri dari empat gong yang masing-masing punya peran dalam struktur irama.
Pola irama gondang disebut doal, dan dalam konsepsinya mirip siklus gongan yang ditemukan
dimusik gamelan dari Jawa dan Bali, tetapi irama siklus doal lebih singkat.
ULOS adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih
sayang antara orang tua dan anak-anaknya atau antara seseorang dan orang lain, seperti yang
tercantum dalam filsafat batak yang berbunyi: “Ijuk pengihot ni hodong.” Ulos penghit ni halong,
yang ertinya ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan ulos pengikat kasih sayang diantara sesama.
Berdasarkan raksanya, dikenal beberapa macam ulos:
a. Ulos ragidup
yang tertinggi darjatnya, sangat sulit pembuatannya.Ulos ini terdiri atas tiga bahagian, yaitu
dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bahagian tengah yang ditenum tersendiri dengan sangat
rumit. Dalam upacara adat perkahwinan, ulos ragidup diberikan oleh orang tua pengantin
perempuan kepada ibu pengantin lelaki sebagai „ulos pargomgom‟ yang maknanya agar
besannya ini atas izin Tuhan YME tetap dapat melalui bersama sang menantu anak dari
sipemberi ulos tadi.
b. Ulos ragihotang
juga termasuk berdarjah tinggi, namun cara pembuatannya tidak serumit ulos ragidup. Dalam
upacara kematian,ulos ini dipakiuntukmembungkus jenazah, sedangkan kepada upacara
pengkuburan kedua kalinya, untuk membungkus tulang-belulangnya.
c. Ulos sibolang
semula disebut sibolang sebab dibeikan kepada orang yang berjasa untuk“mabulangbulangi‟
(menghurmati) orang tua penggantin perempuan untuk mengulosi ayah pengantin lelaki sebagai
“ulos pansaniot‟.
Tarian
Seni Tari yaitu Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat
Musik tradisional: Gong; Saga-saga.Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini
selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta
warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem
keyakinan yang diwariskan nenek moyang.
BAB V

PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI

Aspek pembangunan dari suku Batak yaitu masuknya sistem sekolah dan timbulnya
kesempatan untuk memperoleh prestise social. Terjadinya jaringan hubungan kekerabatan yang
berdasarkan adat dapat berjalan dengan baik. Adat itu sendiri bagi orang Batak adalah suci.
Melupakan adat dianggap sangat berbahaya.Pengakuan hubungan darah dan perkawinan
memperkuat tali hubungan dalam kehidupan sehari-hari. Saling tolong menolong antara kerabat
dalam dunia dagang dan dalam lapangan ditengah kehidupan kota modern umum terlihat dikalangan
orang Batak. Keketatan jaringan kekerabatan yang mengelilingi mereka itulah yang memberi
mereka keuletan yang luar biasa dalam menjawab berbagai tantangan dalam abad ini.
Kondisi Modern (Modernisasi)
Migrasi batak ke kota mulai di tahun 1910 tapi hanya setelah Indonesia merdeka migrasi
tersebut tambah besar di thn 50-an. Migrasi ke kota menyebabkan interaksi dengan suku lain di
kota-kota Indonesia yang penduduknya sebagian besar beragama Islam. Dalam lingkungan multi
etnis ini banyak orang batak ketemu rasa identitas batak yang menjadi lebih kuat terhadap suku lain.
Tetapi banyak orang batak pula dalam proses menyatukan diri dengan masyarakat Indonesia
meninggalkan banyak aspek bahasanya, kebudayaannya, dan tradisinya. Disisi lain ada bagian
orang batak kota yang menjadi lebih sadar tentang kepentingan identitas masyarakat batak dan
berusaha untuk menegaskan rasa batak dan memberikan dana untuk upacara tugu dan perayaan lain
di desanya.
Ada orang batak kota yang sudah menjadi makmur yang sering membiayai upacara. Mereka
membawa estetis kosmopolitan yang adakalanya melawan estetis tradisi. Identifikasi dengan nilai-
nilai mengenai kemoderenan, kemajuan, pendidikan dan kemakmuran sering diekspresikan
dengan afinitas kepada apa yang dianggap moderen. Misalnya sekarang di pesta atau upacara seolah-
olah musik grup keyboard yang main poco-poco lebih laris dan dihargai daripada dengan musik
gondang yang lama punya peran yang sangat penting dalam upacara adat. Pesta kawin yang
moderen tidak lagi dianggap lengkap tanpa musik keyboard atau musik tiup yang main lagu
pop batak atau pop barat, sebaliknya mungkin ansambel musik gondang dianggap kampungan
oleh orang kota kecenderungan mengindentifikasi dengan modernitas tidak salah.
Kita semua harus hidup dalam dunia modern dan harus menghadapi media global dan
periklanan, suka atau tidak makin bertambah mempengaruhi pikiran dan selera setiap orang. Kita
tidak mampu tinggal di masa dahulu dan melarikan diri dari kemajuan. Tetapi, ada ancaman
bahwa dalam generasi ini kita dapat menghilangkan sejenis musik tradisi yang disebut gondang,
yang sampai akhir-akhir ini adalah manifestasi kebudayaan batak toba yang sangat penting baik dalam
bidang masyarakat maupun bidang rohani.

21
DAFTAR PUSTAKA

Sinaga, Drs. Richard.”Leluhur Marga-marga Batak dalam Sejarah,Silsilah dan Legenda”.1997.Dian


Utama: Jakarta.
http://id.wikipedia.org
http://tanobatak.wordpress.com
http://students.ukdw.ac.id
http://www.batakpos.com
http://habatakon01.blogspot.com
http://de-kill.blogspot.com

22