Anda di halaman 1dari 24

Prospek Otonomi Daerah terhadap Pembangunan Jiwa Nasionalisme

Untuk memenuhi tugas mata kuliah NI (National Ideology)

disusun oleh : Kelompok 2

1. Sita Ángela Diwanti (0710720002)


2. Dian Bekti S. (0710720010)
3. Pertiwi P. (0710720019)
4. Wahidyanti Rahayu H. (0710270036)

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2009/2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
terselesaikannya makalah kami yang berjudul ”Prospek Otonomi Daerah terhadap
Pembangunan Jiwa Nasionalisme”. Makalah ini kami buat untuk memenuhi Tugas
Terstuktur Mata Kuliah NI (National Ideology), selain itu kami juga mengharapkan
makalah ini dapat berguna bagi para pembaca sebagai tambahan pengetahuan tentang
Prospek Otonomi Daerah terhadap Pembangunan Jiwa Nasionalisme bangsa
Indonesia.
Kami selaku penyusun makalah ini ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah ikut berperan serta dalam penyelesaian makalah ini. Tidak
lupa kami juga berterima kasih kepada Dosen Mata Kuliah NI (National Ideology)
yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata kami ingin memohon maaf apabila dalam makalah ini terdapat
kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian serta apabila makalah
ini kurang sempurna karena ada pepatah mengatakan “Tak Ada Gading yang Tak
Retak”. Selamat membaca.

Malang, 12 Oktober 2009


Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER ................................................................................. i


KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI.............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................1
1.3 Tujuan.......................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian................................................................................. 3
2.2 Otonomi Daerah Saat Ini.......................................................... 3
2.3 Otonomi Daerah dan Prospeknya di Masa Mendatang............ 5
2.4 Nasionalisme Indonesia Saat Ini.............................................. 8
2.4 Kisah Semangat Nasionalisme dan Patriotisme....................... 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...............................................................................13
3.2 Saran.........................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Beberapa waktu belakangan semenjak bergulirnya gelombang reformasi,
otonomi daerah menjadi salah satu topik sentral yang banyak dibicarakan. Otonomi
Daerah menjadi wacana dan bahan kajian dari berbagai kalangan, baik pemerintah,
lembaga perwakilan rakyat, kalangan akademisi, pelaku ekonomi bahkan
masayarakat awam. Semua pihak berbicara dan memberikan komentar tentang
“otonomi daerah” menurut pemahaman dan persepsinya masing-masing. Perbedaan
pemahaman dan persepsi dari berbagai kalangan terhadap otonomi daerah sangat
disebabkan perbedaan sudut pandang dan pendekatan yang digunakan.
Sebenarnya “otonomi daerah” bukanlah suatu hal yang baru karena semenjak
berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, konsep otonomi daerah sudah
digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Bahkan pada masa
pemerintahan kolonial Belanda, prinsip-prinsip otonomi sebagian sudah diterapkan
dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Semenjak awal kemerdekaan sampai sekarang telah terdapat beberapa
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kebijakan Otonomi Daerah.
UU 1/1945 menganut sistem otonomi daerah rumah tangga formil. UU 22/1948
memberikan hak otonomi yang seluas-luasnya kepada Daerah. Selanjutnya UU
1/1957 menganut sistem otonomi ril yang seluas-luasnya. Kemudian UU 5/1974
menganut prinsip otonomi daerah yang nyata dan bertanggung. Sedangkan saat ini di
bawah UU 22/1999 dianut prinsip otonomi daerah yang luas, nyata dan
bertanggungjawab.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari otonomi daerah dan nasionalisme?
2. Bagaimana otonomi daerah saat ini ?
3. Bagaimana otonomi daerah dan prospeknya di masa mendatang ?
4. Bagaimana nasionalisme Indonesia saat ini ?
5. Dampak apa saja yang ditimbulkan oleh otonomi daerah?
6. Apa faktor-faktor yang berpengaruh pada otonomi daerah dan
hubungannnya dengan jiwa nasionalisme?
7. Bagaimana hubungan adanya otonomi daerah dengan pembangunan jiwa
nasionalisme?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari otonomi daerah dan nasionalisme.
2. Mengetahui otonomi daerah saat ini.
3. Mengetahui otonomi daerah dan prospeknya di masa mendatang.
4. Mengetahui bagaimana nasionalisme saat ini.
5. Mengetahui dampak apa saja yang ditimbulkan oleh otonomi daerah.
6. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada otonomi daerah dan
hubungannnya dengan jiwa nasionalisme.
7. Mengetahui hubungan otonomi daerah dengan pembangunan jiwa
nasionalisme.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Menurut Sarundajang (1998) otonomi (autonomy) berasal dari bahasa Yunani,
auto berarti sendiri dan namous berarti hukum atau peraturan. Menurut Encyclopedia
of social science, otonomi dalam pengertian orisinal adalah the legal self
sufficientcyof sociall body an is actual independence. Sedangkan menurut Undang-
Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, otonomi daerah diartikan
sebagai kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Nasionalisme memiliki banyak arti, tergantung dari penekanan dan sudut
pandang yang dipakai. Nasionalisme dapat diartikan kesadaran diri suatu bangsa.
Nasionalisme berkaitan dengan gagasan dan sentimen terhadap identitas nasional
bersamaan dengan identitas seperti agama, suku, kelas, gender, dan lain-lain.
Nasionalisme juga merupakan gerakan untuk meraih dan memelihara otonomi kohesi
dan individualitas bagi suatu kelompok.

2.2 Otonomi Daerah Saat Ini


Otonomi Daerah yang dilaksanakan saat ini adalah Otonomi Daerah yang
berdasarkan kepada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah Menurut UU ini, otonomi daerah dipahami sebagai kewenangan daerah
otonom untuk menatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
Sedangkan prinsip otonomi daerah yang digunakan adalah otonomi daerah
yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Kewenangan otonomi yang luas adalah
keleluasaan daerah untuk menyelengarakan pemerintahan yang mencakup
kewenangan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik luar
negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan
bidang lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Yang dimaksud dengan
otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan
pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh
hidup, dan berkembang di daerah. sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang
bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung-jawaban sebagai
konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan
kewajiban yang dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi,
berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semkain baik,
pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, serta pemeliharaan
hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antara Daerah dalam rangka
menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah dalam UU 22/1999 adalah :
1. Penyelengaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek
demokrasi, keadilan, pemerataan, serta potensi dan keanekaragaman Daerah.
2. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan
bertangung jawab.
3. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah
Kabupaten dan Daerah Kota.
4. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga
tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antara
Daerah.
5. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah
Otonom, dan karenanya dalam daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada
lagi wilayah administratif.
6. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi
badan legislatif Daerah, baik sebagai fungsi legislatif, fungsi pengawas
maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
7. Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam
kedudukannya sebagai Wilayah Administratis untuk melaksanakan
pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil
Pemerintah.
8. Pelaksanaan azas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari
Pemerintah kepada Daerah, tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada
Desa yang disertai dengan pembiayaan sarana dan prasarana, serta sumber
daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan
mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.
Dalam implementasi kebijakan Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999
yang dilaksanakan mulai 1 Januari 2001 terdapat beberapa permasalahan yang perlu
segera dicarikan pemecahannya. Namun sebagian kalangan beranggapan timbulnya
berbagai permasalahan tersebut merupakan akibat dari kesalahan dan kelemahan yang
dimiliki oleh UU 22/1999, sehingga merekapun mengupayakan dilakukannya revisi
terhadap UU 22/1999 tersebut.
Jika kita mengamati secara obyektif terhadap implementasi kebijakan
Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999 yang baru berjalan memasuki bulan
kesepuluh bulan ini, berbagai permasalahan yang timbul tersebut seharusnya dapat
dimaklumi karena masih dalam proses transisi. Timbulnya berbagai permasalahan
tersebut lebih banyak disebabkan karena terbatasnya peraturan pelaksanaan yang bisa
dijadikan pedoman dan rambu-rambu bagi implementasi kebijakan Otonomi Daerah
tersebut. Jadi bukan pada tempatnya jika kita langsung mengkambinghitamkan
bahkan memvonis bahwa UU 22/1999 tersebut keliru.

2.3 Otonomi Daerah dan Prospeknya di Masa Mendatang


Sebagian kalangan menilai bahwa kebijakan Otonomi Daerah di bawah UU
22/1999 merupakan salah satu kebijakan Otonomi Daerah yang terbaik yang pernah
ada di Republik ini. Prinsip-prinsip dan dasar pemikiran yang digunakan dianggap
sudah cukup memadai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat dan daerah
Kebijakan Otonomi Daerah yang pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan dan
pendemokrasian kehidupan masyarakat diharapkan dapat memenuhi aspirasi berbagai
pihak dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan negara serta hubungan Pusat dan
Daerah.
Jika kita memperhatikan prinsip-prinsip pemberian dan penyelenggaraan
Otonomi Daerah dapat diperkirakan prospek ke depan dari Otonomi Daerah tersebut.
Untuk mengetahui prospek tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
pendekatan. Salah satu pendekatan yang kita gunakan disini adalah aspek ideologi,
politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
Dari aspek ideologi , sudah jelas dinyatakan bahwa Pancasila merupakan
pandangan, falsafah hidup dan sekaligus dasar negara. Nilai-nilai Pancasila
mengajarkan antara lain pengakuan Ketuhanan, semangat persatuan dan kesatuan
nasional, pengakuan hak azasi manusia, demokrasi, dan keadilan dan kesejahteraan
sosial bagi seluruh masyarakat. Jika kita memahami dan menghayati nilai-nilai
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan Otonomi Daerah dapat diterima
dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui Otonomi
Daerah nilai-nilai luhur Pancasila tersebut akan dapat diwujudkan dan dilestarikan
dalam setiap aspek kehidupan bangsa Indonesia .
Dari aspek politik , pemberian otonomi dan kewenangan kepada Daerah
merupakan suatu wujud dari pengakuan dan kepercayaan Pusat kepada Daerah.
Pengakuan Pusat terhadap eksistensi Daerah serta kepercayaan dengan memberikan
kewenangan yang luas kepada Daerah akan menciptakan hubungan yang harmonis
antara Pusat dan Daerah. Selanjutnya kondisi akan mendorong tumbuhnya dukungan
Derah terhadap Pusat dimana akhirnya akan dapat memperkuat persatuan dan
kesatuan bangsa. Kebijakan Otonomi Daerah sebagai upaya pendidikan politik rakyat
akan membawa dampak terhadap peningkatan kehidupan politik di Daerah.
Dari aspek ekonomi , kebijakan Otonomi Daerah yang bertujuan untuk
pemberdayaan kapasitas daerah akan memberikan kesempatan bagi Daerah untuk
mengembangkan dan meningkatkan perekonomiannya. Peningkatan dan
pertumbuhan perekonomian daerah akan membawa pengaruh yang signifikan
terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di Daerah. Melalui kewenangan yang
dimilikinya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat, daerah akan
berupaya untuk meningkatkan perekonomian sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan
kemampuan. Kewenangan daerah melalui Otonomi Daerah diharapkan dapat
memberikan pelayanan maksimal kepada para pelaku ekonomi di daerah, baik lokal,
nasional, regional maupun global.
Dari aspek sosial budaya, kebijakan Otonomi Daerah merupakan pengakuan
terhadap keanekaragaman Daerah, baik itu suku bangsa, agama, nilai-nilai sosial dan
budaya serta potensi lainnya yang terkandung di daerah. Pengakuan Pusat terhadap
keberagaman Daerah merupakan suatu nilai penting bagi eksistensi Daerah. Dengan
pengakuan tersebut Daerah akan merasa setara dan sejajar dengan suku bangsa
lainnya, hal ini akan sangat berpengaruh terhadap upaya mempersatukan bangsa dan
negara. Pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal akan dapat
ditingkatkan dimana pada akhirnya kekayaan budaya lokal akan memperkaya
khasanah budaya nasional.
Selanjutnya dari aspek pertahanan dan keamanan, kebijakan Otonomi Daerah
memberikan kewenangan kepada masing-msing daerah untuk memantapkan kondisi
Ketahanan daerah dalam kerangka Ketahanan Nasional. Pemberian kewenangan
kepada Daerah akan menumbuhkan kepercayaan Daerah terhadap Pusat. Tumbuhnya
hubungan dan kepercayaan Daerah terhadap Pusat akan dapat mengeliminir gerakan
separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia .
Memperhatikan pemikiran dengan menggunakan pendekatan aspek ideologi,
politik, sosal budaya dan pertahanan keamanan, secara ideal kebijakan Otonomi
Daerah merupakan kebijakan yang sangat tepat dalam penyelenggaraan pemerintahan
di Daerah. Hal ini berarti bahwa kebijakan Otonomi Daerah mempunyai prospek
yang bagus di masa mendatang dalam menghadapi segala tantangan dalam
penyelenggaraan kehidupan bermasya-rakat, berbangsa dan bernegara.
Namun demikian prospek yang bagus tersebut tidak akan dapat terlaksana jika
berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi tidak dapat diatasi dengan baik. Untuk
dapat mewujudkan prospek Otonomi Daerah di masa mendatang tersebut diperlukan
suatu kondisi yang kondusif diantaranya yaitu :
• Adanya komitmen politik dari seluruh komponen bangsa terutama pemerintah
dan lembaga perwakilan untuk mendukung dan memperjuangkan
implementasi kebijakan Otonomi Daerah.
• Adanya konsistensi kebijakan penyelenggara negara terhadap implementasi
kebijakan Otonomi Daerah.
• Kepercayaan dan dukungan masyarakat serta pelaku ekonomi dalam
pemerintah dalam mewujudkan cita-cita Otonomi Daerah.
Dengan kondisi tersebut bukan merupakan suatu hal yang mustahil Otonomi Daerah
mempunyai prospek yang sanat cerah di masa mendatang. Kita berharap melalui
dukungan dan kerjasama seluruh komponen bangsa kebijakan Otonomi Daerah dapat
diimplementasikan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah.

2.4 Nasionalisme Indonesia Saat Ini


Nasionalisme Indonesia saat ini mengalami kecenderungan yang menurun
sehingga berpotensi mengancam keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) dan menghambat pembangunan manusia. Indikasi gejala adalah :
1. Masuknya globalisasi yang tidak terkendali telah berpengaruh terhadap pelunturan
identitas atau jati diri bangsa
2. Praktik penyelenggaraan di otonomi daerah di banyak tempat telah memicu
ekslusivisme berbasis primordialisme sehingga nasionalisme berbasis kerakyatan
masih sulit diwujudkan.
3. Globalisasi yang membawa nilai budaya pasar bebas, yang pada giliranya hal ini
telah mendorong terjadinya beberapa kesenjangan khususnya di bidang ekonomi.
4. Penyebaran pembangunan yang tidak merata, hal ini membawa akibat terjadinya
disparitas.
5. Akumulasi dan polarisasi ekonomi yang berlangsung bertahun-tahun
mengakibatkan terjadinya polarisasi sosial, politik dan budaya.
6. Polarisasi ekonomi, sosial-budaya, dan politik telah mengarah terjadinya
ekslusivisme pada bidang kehidupan, hal ini sangat potensial terjadinya
disintegrasi bangsa.

2.5 Dampak Positif dan Negatif Otonomi Daerah

Jika kita tinjau lebih jauh penerapan kebijakan otonomi daerah atau
desentralisasi sekarang ini, cukup memberikan dampak positif bagi perkembangan
bangsa indonesia. Dengan adanya otonomi daerah ini pemerintahan daerah diberi
wewenang dan tanggung jawab untuk mengatur daerahnya, karena dinilai
pemerintahan daerah lebih mengetahui kondisi daerahnya masing-masing. Disamping
itu dengan diterapkannya sistem desentralisasi diharapkan biaya birokrasi yang lebih
efisien. Hal ini merupakan beberapa pertimbangan mengapa otonomi daerah harus
dilakukan.

Dalam setiap kebijakan atau keputusan yang diambil pasti ada sisi positif dan
sisi negatifnya. Begitu juga dengan penerapan sistem desentaralisasi ini, memiliki
beberapa kelemahan dan kelebihan. Secara terperinci mengenai dampak dampak
positif dan negatif dari otonomi daerah dapat di uraikan sebagai berikut :

Segi sosial budaya


Dari segi sosial budaya banyak sekali salah satunya dapat memperkuat ikatan
sosial budaya pada suatu daerah. Karena dengan diterapkannya sistem otonomi
daerah atau desentralisasi ini pemerintahan daerah akan dengan mudah untuk
mengembangkan kebudayaan yang dimiliki oleh daerah tersebut. Bahkan
kebudayaan tersebut dapat dikembangkan dan di perkenalkan kepada daerah lain.
Yang nantinya merupakan salah satu potensi daerah tersebut.
Selain dipandang dari ke dua segi di atas, otonomi daerah juga dapat menjadi
sebuah motivasi bagi daerah-daerah tertinggal untuk lebih memajukan daerahnya,
sehingga antar daerah bisa saling memotivasi dan memberi contoh positif untuk
perkembangan daerahnya.

Segi Ekonomi

Dari segi ekonomi banyak sekali keutungan dari penerapan sistem


desentralisasi ini dimana pemerintahan daerah akan mudah untuk mengelola sumber
daya alam yang dimilikinya, dengan demikian apabila suber daya alam yang dimiliki
telah dikelola secara maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat
akan meningkat. Seperti yang diberitakan pada majalah Tempo Januari 2003
“Desentralisasi: Menuju Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Berbasis
Komunitas Lokal” disebutkan :

“Sebagaimana telah diamanatkan oleh Deklarasi Rio dan Agenda 21,


pengelolaan sumberdaya alam berbasis komunitas merupakan salah satu strategi
pengelolaan yang dapat meningkatkan efisiensi dan keadilan dalam pemanfaatan dan
pengelolaan sumberdaya alam. Selain itu strategi ini dapat membawa efek positif
secara ekologi dan dan sosial. Pengelolaan sumberdaya alam khususnya sumberdaya
kelautan berbasis komunitas lokal sangatlah tepat diterapkan di indonesia, selain
karena efeknya yang positif juga mengingat komunitas lokal di Indonesia memiliki
keterikatan yang kuat dengan daerahnya sehingga pengelolaan yang dilakukan akan
diusahakan demi kebaikan daerahnya dan tidak sebaliknya……………………dsb

Namun demikian, sejak dicapainya kemerdekaan Indonesia, kecenderungan


yang terjadi adalah sentralisasi kekuasaan. Sejak orde lama sampai berakhirnya orde
baru, pemerintah pusat begitu dominan dalam menggerakkan seluruh aktivitas negara.
Dominasi pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah telah menghilangkan
eksistensi daerah sebagai tatanan pemerintahan lokal yang memiliki keunikan
dinamika sosial budaya tersendiri, keadaan ini dalam jangka waktu yang panjang
mengakibatkan ketergantungan kepada pemerintah pusat yang pada akhirnya
mematikan kreasi dan inisiatif lokal untuk membangun lokalitasnya…………dsb

Pelaksanaan desentralisasi mempunyai dua efek yang sangat berlawanan


terhadap pengelolaan sumber daya kelautan tergantung dari pendekatan dan
penerapannya. Desentralisasi akan mengarah pada over eksploitasi dan kerusakan
tanpa adanya pendekatan yang baik, namun sebaliknya dapat memaksimalkan potensi
sumberdaya kelautan dengan tetap mengindahkan aspek kelestarian dan
kelangsungan. prasyarat diperlukan demi tercapainya pengelolaan sumberdaya
kelautan berbasis komunitas lokal.

Kewenangan pemerintah daerah untuk melakukan pengelolaan sumberdaya


kelautan dan terdapatnya akuntabilitas otoritas lokal merupakan prasyarat utama demi
tercapainya pengelolaan sumberdaya kelautan dalam kerangka pelaksanaan
desentralisasi (Ribbot 2002)……………”

Dari artikel diatas telah jelas betapa perlunya suatu otonomi daerah dilakukan,
masyarakat merindukan adanya suatu kemandirian yang diberikan kepada mereka
untuk merusaha mengembangkan sumber daya alam yang mereka miliki, karena
mereka lebih mengetahui hal-hal apa saja yang terbaik bagi mereka.

Artikel diatas cukup memberikan gambaran betapa pentingnya otonomi


daerah, tetapi disamping itu dengan tidak menutup mata ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, dengan adanya penerapan sistem ini membukan peluang yang sebesar-
besarnya bagi pejabat daerah (pejabat yang tidak benar) untuk melalukan praktek
KKN. Seperti yang dimuat pada majalah Tempo Kamis 4 November 2004
(www.tempointeraktif.com) “Desentralisasi Korupsi Melalui Otonomi Daerah”
2.6 Beberapa hal lain yang mendasari perubahan paradigma pembangunan regional
adalah faktor-faktor internal dan eksternal yang diperkirakan dapat mempengaruhi
jalannya pembangunan regional masa kini dan masa yang akan datang, faktor yang
dimaksud antara lain disebabkan oleh adanya factor-faktor intern sebagaimana
tersebut di bawah ini.
Faktor Internal
Faktor-faktor internal wilayah adalah factor-faktor yang berpengaruh baik secara
langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan pembangunan wilayah yang
ada dan ditemukenali serta yang bersumber di dalam wilayah otoritas yang
bersangkutan. Faktor-faktor tersebut disajikan melalui uraian didalam subbab
sebagaimana tersebut di bawah ini.

Faktor Sumberdaya Wilayah

Sumberdaya wilayah merupakan anasir penting dalam pelaksanaan otonomi daerah.


Sumberdaya wilayah dimaksud adalah sumberdaya lahan yang terkait dengan
potensi fisik wilayah. Kiat manajemen/pengelolan yang berimbang dan
berkelanjutan merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam peningkatan
produksivitasnya. Keberhasilan pengelolaan dengan berpijak pada kaidah kelestarian
lingkungan dan berkelanjutan akan dapat menjamin terhadap meningkatnya masukan
daerah yang telah lama dieksploitasi dengan tanpa mempertimbangkan kelestarian
lingkungan secara optimal. Sebagaimana diketahui bersama bahwa keadaan daerah
saat ini telah banyak yang mengalami perubahan sebagai akibat kurangnya pelibatan
dan pemberdayaan masyarakat dalam melakukan pembangunan di wilayah yang
bersangkutan, sehingga dalam rangka mengantisipasi terhadap pengaruh negatif
berkepanjangan maka perlu segera diupayakan adanya sinkronosasi dan peningkatan
hubungan koordinasi dan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat, serta daerah
dan pusat dalam rangka peningkatan potensi di wilayah yang bersangkutan, oleh
sebab itu, melalui Undang-undang No 22 tahun 1999 diharapkan dapat dibangun
sebuah sistem yang mampu memperkuat institusi pengelolaan sumberdaya daerah.
Institusi ini diharapkan akan menjadi wadah bagi para profesional dalam rangka
menerapkan profesi sumberdaya manusia sebagai pelaku pembangunan di tingkat
regional. Selain itu, persepsi tentang pembangunan daerah yang akan dibangun
melalui kebijakan ini, adalah daerah sebagai satu kesatuan sistem wilayah
pembangunan, bukan saja berkonsentrasi pada kelangsungan hidup manusia dalam
kepentingan sesaat tetapi juga menciptakan habitat bagi tumbuh dan
berkembangnya makhluk lain dalam rangka mempersiapkan sistem yang mendukung
kelestarian kehidupan secara berkesinambungan. Dengan demikian, daerah tidak lagi
dipersepsikan sebagai daerah yang masing-masing terpisah, tetapi tetap memiliki
interaksi dan interdependensi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Keterkaitan
sumberdala lahan atau sumberdaya fisikal antara satu daerah dengan daerah lainya
tidak akan dapat dipisahkan dalam pengelolaannya. Oleh karenanya, diperlukan
wadah yang berupa institusi untuk mengakomodasikan keterpaduan perencanaan,
pelaksanaannya sampai dengan evaluasi dan monitoringnya.

Faktor Sumberdaya Manusia

Manusia adalah kunci keberhasilan pembangunan. Sumberdaya manusia merupakan


kunci sukses dalam setiap pelaksanaan pembangunan baik dalam skala kecil,
menengah maupun sedang. Dalam rangka peningkatan keberhasilan pelaksanaan
pembangunan tersebut maka diperlukan kualitas sumberdaya manusia yang
memadai. Peningkatan kualitas yang dibarengi oleh peningkatan kuantitas
sumberdaya manusia yang berkualitas di tingkat regional untuk masa-masa sekarang
dan yang akan datang perlu dilakukan dan perlu memperoleh/mendapatkan perhatian
yang serius dalam penanganannya sehingga potensinya dapat dimanfaatkan secara
baik dan benar. Pembangunan regional bukanlah membangun fisik daerah semata-
mata, melainkan inti pembangunan daerah adalah membangun sumberdaya manusia.
Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya, aspek pemberdayaan masyarakat perlu
mendapat perhatian yang serius. Dalam rangka ini pula, diwajibkan kepada daerah
untuk mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi pengembangan
sumberdaya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu
memberikan dukungan terhadap dilaksanakannya paradigma pembangunan
berkelanjutan dan mampu membangun daerah berdasarkan aspirasi daerah yang
bersangkutan.

Faktor Kedudukan Geografis

Letak wilayah secara geografis memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap
perkembangan wilayah baik dari segi ekonomi, budaya, social, politik dan fisikal.
Letak geografis memiliki pengaruh pula terhadap letak strategis wilayah dalam
pelbagai aspek kehidupan. Kedudukan strategis wilayah yang bersangkutan dan
dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pasar produksi pembangunan
baik sektoral maupun non-sektoral dan bahkan mungkin dapat menjadi salah satu
produsen handal yang mampu memasok terhadap daerah lain disekitarnya, dengan
demikian kedudukan geografi memiliki peran yang penting dan dapat menjadi factor
pengaruha yang sangat kuat terhadap perkembangan wilayah yang bersangkutan dan
sekitarnya. Disamping itu, dengan letak geografi tersebut dapat dijadikan sebagai
dasar “setting” terhadap kegiatan yang prospektif dimasa depan termasuk penentuan
pola konservasi dan preservasi serta pola eksploatasinya. Rancangan yang
didasarkan pada letak geografis akan mampu memberikan hasil yang optimal
termasuk dapat mengakomodasi terhadap jiwa rancangan pembangunan daerah yang
searah (compatible) dengan Undang-Undang tentang otonomi daerah dan tata
lingkungannya, sehingga dalam pemanfaatan setiap sumberdaya perlu senantiasa
mempertimbangkan “where, what, when, why, how and by whom”?.

Dalam kerangka ini pula, Undang-undang menekankan pentingnya pendekatan


keruangan yang secara geografis akan memberikan dukungan secara lebih detil
melalui pendekatan kewilayahan sehingga persebaran keruangannya dapat
dipertanggung jawabkan secara akademis dan praktis.

Faktor Perkembangan Penduduk dan Demografi

Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dimasa yang akan datang disatu sisi
merupakan salah satu modal dasar pembangunan nasional, sedangkan disisi lain akan
merupakan masalah, hal ini akan besar pengaruhnya terhadap laju dan
kecenderungan pembangunan regional. Sumberdaya daerah akan menanggung beban
yang lebih besar dalam rangka menyediakan lingkunan hidup yang berkualitas baik.
Proyek pembangunan regional dan bersifat lintas administratif yang pada saat ini
sedang dilaksanakan, dibangun dengan kesadaran penuh, akan pentingnya kualitas
lingkungan hidup, oleh sebab itu, salah satu indikatobr yang akan dipergunakan
dalam mengukur kinerja pengelolaan sumberdaya daerah adalah neraca sumberdaya
daerah.

Faktor Peningkatan Kebutuhan

Sebagai akibat dari keberhasilan pembangunan maka secara logis kebutuhan


masyarakat akan barang dan jasa yang berasal dari sumberdaya daerah akan semakin
meningkat sehinga perlu didukung dan diantisipasi dalam pengelolaan sumberdaya
alam dan pemanfaatan sumberdaya manusia, sehingga dapat terjaminnya kebutuhan
di masa yang akan datang.

Faktor Perkembangan Persepsi Masyarakat


Dengan semakin meningkatnya wawasan masyarakat akan arti penting pelestarian
sumberdaya alam, menumbuhkan sikap masyarakat yang kritis tentang
pembangunan daerah sehingga persepsi masyarakat tentang sumberdaya tersebut
mulai bergeser dari aspek ekonomis ke aspek ekologis. Oleh sebab itu, didalam
pelaksanaan SRRP ini, mulai ditekankan perubahan pendekatan dari pendekatan top
down menjadi community base development.
Faktor Pembangunan Sektoral dan Daerah

Pembangunan daerah dan regional sebagai bagian dari pembangunan nasional perlu
diselaraskan dan dilaksanakan secara terpadu dengan pembangunan sektor lain dan
pembangunan daerah secara holistik. Namun demikian, mengingat bahwa
sumberdaya alam sebagai sistem penyanggga kehidupan yang memiliki kedudukan,
fungsi dan peran yang sangat penting bagi hidup dan kehidupan, maka pembangunan
sektor lain yang menyebabkan perubahan peruntukan dan pemanfaatan sumberdaya
yang berdampak penting, bercakupan luas, atau bernilai strategis, harus dilakukan
secara cermat dan koordinatif .

Khusus hubungannya dengan pembangunan daerah, penyelenggaraan otonomi


dibidang pembangunan regional perlu memperoleh perhatian yang semestinya.
Untuk itu perlu dikembangkan kegiatan yang bersifat “local specific” berdasarkan
potensi dan keadaan setempat.

Faktor Kesenjangan

Pelaksanaan pembangunan daerah khususnya dalam pelaksanaan pembangunan


sektoral, telah menimbulkan ekses terjadinya kesenjangan antara penanam modal
dengan masyarakat.

Ekses tersebut tidak jarang menimbulkan kerawanan sosial yang berdampak negatif
terhadap pengelolaan sumberdaya. Oleh karena itu perlu diusahakan terlaksananya
keterlibatan masyarakat di daerah dalam setiap pelaksanaan pembangunan daerah
melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pembangunan kelembagaan yang
mendukung.
2. Faktor Eksternal

a. Faktor Era Globalisasi

Berkembangnya kerjasama Regional Asia Pasific dan pengaruh globalisasi pada


gilirannya akan mempengaruhi perkembangan pembangunan regional dan nasional
di Indonesia. Pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia bukan semata-mata
menjadi tanggung jawab bangsa Indonesia tetapi juga sudah dianggap sebagai
tanggung jawab semua umat manusia di dunia. Globalisasi yang terjadi meliputi
globalisasi ekonomi, demokrasi, lingkungan dan globalisasi sosial.

b. Faktor Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan peningkatan pelayanan yang layak maka
sudah waktunya apabila IPTEK yang semula hanya sebagai pendukung
pembangunan, dimasa yang akan datang harus dapat berfungsi sebagai penggerak
perkembangan pembangunan daerah dan regional.

c. Faktor Persepsi Masyarakat Internasional


<!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
Perhatian masyarakat Internasional akan arti pentingnya keberadaan dan kelestarian
sumberdaya alam daerah terutama yang mendukung terhadap kepentingan manusia
baik dalam skala lokal, regional, nasional dan bahkan internasional dalam dasa warsa
terakhir semakin meningkat. Hal ini telah menimbulkan isu global yang dapat
mengakibatkan dampak yang bersifat positif dan negatif. Sehingga terbuka
kemungkinan disinformasi yang mangakibatkan timbulnya isu global yang bersifat
negatif semakin deras. Untuk itu, perlu adanya kehati-hatian dalam setiap
kebijaksanaan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam tersebut.
Faktor internal dan eksternal tersebut di atas perlu diperhatikan dan dijadikan
sebagai pertimbangan utama dalam setiap pelaksanaan proyek pembangunan di
Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Tujuan pembangunan nasional adalah
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia sehingga terciptanya
kondisi yang adil dan makmur berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dan
Pancasila.
Pendekatan yang dilakukan dalam proyek ini adalah pedekatan kewilayahan
(regional approach) yang dalam pelaksanaannya kita harus melibatkan masyarakat,
melalui pemberdayaan masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaan proyek. Dalam
rangka pencapaian hasil proyek secara optimal maka “Good Governance” bagi
semua pihak baik Eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun private dan masyarakat
merupakan faktor pendukung utama yang diberdayakan bersama-sama dan saling
memberikan kontrol, serta masing-masing beraktivitas sesuai dengan hak dan
kewajibannya. Guna mendukung terhadap dilaksanakannya proyek tersebut secara
baik dan tepat waktu maka “Role of Local Government” perlu didiskusikan “face to
face” antara pusat dan daerah (provinsial dan central).

2.7 Hubungan otonomi daerah dengan pembangunan jiwa nasionalisme


Otonomi daerah mempunyai pengaruh terhadap identitas atau perilaku sumber
daya manusia yang menjalani konsep otonomi daerah tersebut, terutama pada
penduduk daerah yang bersangkutan. Hal itulah yang memicu atau menurunkan jiwa
Nasionalisme penduduk terhadap bangsa Indonesia. Padahal konsep otonomi daerah
itu adalah konsep administrasi, yang bermaksud hanya mendesentralisasi supaya
administrasi pemerintahan daerah itu tidak birokratik, menumpuk di satu titik,
sentralisme, sehingga menjadi efisien dengan sistem desentralisasi. Tetapi
kenyataannya ketika konsep itu dikeluarkan, konsep otonomi yang merupakan
konsep administrasi dengan cepat berbalik menjadi changing of identity, perubahan
identitas. Padahal kita masih punya persoalan dalam membangun identitas Indonesia.
Banyak yang mengartikan otonomi kembali ke identitas etnis dengan kata lain rasa
nasionalisme menjadi luntur.
Pemerintah daerah cenderung sibuk mengembangkan potensi di daerahnya
dengan seluas-luasnya, dan seolah-olah sudah memposisikan diri sebagai raja-raja
kecil yang berkuasa secara mutlak tanpa adanya kontrol dari pemerintah pusat.
Ditambah lagi dengan keadaan masyarakat yang menunjukkan perubahan yang
signifikan tentang rasa nasionalisme, sehingga korelasinya terhadap otonomi daerah
sendiri dapat mengarah pada lunturnya rasa bangga sebagai bangsa yang ber-bhineka
tunggal ika.
Banyak hal yang bisa kita ambil contoh sebagai pelajaran terhadap persolan ini.
Seperti, maraknya pertentangan antarsuku, budaya atau bahkan konflik yang berbau
SARA(1). Otonomi daerah sebenarnya berpeluang banyak meningkatkan kemandirian
sebuah daerah secara luas. Sehingga, dari sana sebuah daerah berpeluang
mengembangkan, memperkuat SDM dan SDA-nya. Sementara sewaktu disinggung
dengan munculnya perda-perda yang bersifat etnis, pihaknya menegaskan, hal itu
adalah salah satu contoh kekeliruan dalam menafsirkan otonomi daerah. Semua itu
sangat kentara dengan ego sentris daerah dan dampaknya yang terjadi adalah urusan-
urusan yang bersifat nasional menjadi agak tersingkir dengan sendirinya. Namun,
pihak pemerintah daerah masih mengelak bahwa rasa nasionalisme bangsa sudah
luntur di tengah arus globalisasi ini bukan karena persepsi otonomi daerah yang
salah.

1
SARA: Suku, Agama, Ras dan Budaya
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

1. Cristanto, Joko. Otonomi Daerah dan Skenario Indonesia 2010 dalam Konteks
Pembangunan Daerah dengan Pendekatan Kewilayahan (Regional Development
Approach). http://www.rudytc.com/PPS702-ipd/03112/joko_cristanto.htm.
Diakses tanggal 08 Oktober 2009. Pukul 18.00.
2. Jadid, Ruhul. 2008. Dampak Positif dan Negatif Otonomi Daerah
Terhadap Kemajuan Bangsa Indonesia.
http://majidbsz.wordpress.com/2008/06/30/dampak-positif-dan-negatif-
otonomi-daerah-terhadap-kemajuan-bangsa-indonesia-dilihat/. Diakses
tanggal 9 Oktober 2009. Pukul 10.00.
3. Galih, Joko. 2009. Analisis Nasionalisme Negara Bangsa dan
Kewarganegaraan dan Pemikiran Kewarganegaraan Indonesia Dalam
Sidang BPUPKI dan UUD1. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-
makalah-tentang/analisis-nasionalisme-negara-bangsa-dan-
kewarganegaraan-dan-pemikiran-. Diakses tanggal 8 Oktober 2009. Pukul
18.00.
4. Ali, Fachry. 2008. Dunia Masyarakat Tanpa Peta : Rakyat, Nasionalisme,
dan Globalisasi . http://www.setneg.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=1684&Itemid=195. Diakses tanggal
8 Oktober 2009. Pukul 18.00.