Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

INTERAKSI OBAT
PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2

Disusun oleh:

Kelompok 5
Erna Erliawati
Ade Hikmawati
Nanci Sitorus
Aditya Hadi Kencana
Anggit Dea Ramaswara
Tjatur Djoko Wibowo
Renggo Saputra Rahman
Rizky Alfiani Chasanah
Alin Nailul Muna

10334036
11334748
12334718
12334724
12334730
12334731
12334733
12334743
12334748

Dosen Pembimbing :
Dra. Refdanita, MSi, Apt

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI FARMASI

2013

DAFTAR ISI

halaman
DAFTAR ISI..............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................

BAB III HASIL......................................................................................... 23


BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................ 25
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 30
A. Simpulan.................................................................................. 30
B. Saran....................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain
(interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain.
Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan
bersama-sama.
Interaksi obat dan efek samping obat perlu mendapat perhatian. Sebuah studi
di Amerika menunjukkan bahwa setiap tahun hampir 100.000 orang harus masuk
rumah sakit atau harus tinggal di rumah sakit lebih lama dari pada seharusnya, bahkan
hingga terjadi kasus kematian karena interaksi dan/atau efek samping obat. Pasien
yang dirawat di rumah sakit sering mendapat terapi dengan polifarmasi (6-10 macam
obat) karena sebagai subjek untuk lebih dari satu dokter, sehingga sangat mungkin
terjadi interaksi obat terutama yang dipengaruhi tingkat keparahan penyakit atau usia.
Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas
dan/atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila
menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah),
misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu juga perlu
diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersama-sama.
Kejadian interaksi obat dalam klinis sukar diperkirakan karena :
a. dokumentasinya masih sangat kurang
b. seringkali lolos dari pengamatan, karena kurangnya pengetahuan akan
mekanisme dan kemungkinan terjadi interaksi obat. Hal ini mengakibatkan
interaksi obat berupa peningkatan toksisitas dianggap sebagai reaksi
idiosinkrasi terhadap salah satu obat, sedangkan interaksi berupa penurunakn
efektivitas dianggap diakibatkan bertambah parahnya penyakit pasien
c. kejadian atau keparahan interaksi obat dipengaruhi oleh variasi individual, di
mana populasi tertentu lebih peka misalnya pasien geriatric atau berpenyakit
parah, dan bisa juga karena perbedaan kapasitas metabolisme antar individu.
4

Selain itu faktor penyakit tertentu terutama gagal ginjal atau penyakit hati
yang parah dan faktor-faktor lain (dosis besar, obat ditelan bersama-sama,
pemberian kronik).

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolic kronik yang mengenai


segala lapis masyarakat dunia. Penyakit ini sering disebut the great imitator karena
penyakit ini dapat mengenai semua ogan dan menimbulkan berbagai macam keluhan.
Penyakit ini tidak dapat sembuh meskipun dapat diatasi. Berdasarkan klasifikasi yang
baru diabetes dibagi menjadi beberapa kelas dan yang termasuk dalam kelas utama
ialah diabetes tipe I dan diabetes tipe II. Sebanyak lebig dari 85 % kasus DM adalah
DM tipe 2. DM dapat menimbulkan berbagai komplikasi baik akut maupun
komplikasi kronik. Oleh karena itu perlu penanganan serius terhadap diabetes yang
dilakukan melalui Panca Usaha Pengolahan Diabetes yaitu edukasi, pengaturan
makan, latihan jasmani, penggunaan obat serta mengatasi gangguan dan komplikasi
juga perubahan pola hidup penderita diabetes mellitus.
Dalam makalah ini penulis tertarik untuk menulis mengenai interaksi obat dan
makanan terhadap penderita diabetes mellitus tipe II.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DIABETES MELLITUS
A. Definisi
Diabetes Mellitus adalah kelainan yang bersifat kronik yang ditandai
oleh gangguan metabolism karbohidrat, protein, dan lemak yang diikuti oleh
komplikasi mikrovaskuler maupun makrovaskuler, dan telah diketahui
berkaitan dengan faaktor genetik dengan gejala klinik yang paling utama
adalah intoleransi glukosa (Wilson,2000).
Diabetes Mellitus tipe 2 terdiri dari berbagai macam kelainan dengan
karakteristik yang sama yaitu insufisiensi kerja insulin untuk mempertahankan
kadar glukosa darah dalam batas normal. Insufisiensi kerja insulin merupakan
kombinasi dari resistensi insulin dan sekresi insulin yang abnormal
(Darmono,2000).
B. Epidemiologi
Jumlah penderita diabetes diseluruh dunia, menurut data tahun 1993 adalah
100 juta, yang berarti suatu kenaikan 3 kali lipat dibandingkan tahun 1987. Di
Indonesia, angka kejadian diabetes berkisar 1-2 % berarti satu di antara 50 100
penduduk Indonesia menderita diabetes. Salah satu factor yang diduga meningkatkan
kejadiannya di Asia dan Afrika adalah adanya perubahan yang nyata dalam pola
makan, yaitu yang banyak nerlemak dengan kurang sayur, kegemukan, dan hidup
yang sangat santai (Hartati,2002).
C. Etiologi dan Patogenesis
Ada bukti yang menunjukkan bahwa etiologi diabetes mellitus bermacam
macam. Akan tetapi, penyakit ini sering dihubungkan dengan faktor genetik yang
autosomal dominan di mana factor lingkungan memiliki kontribusi pada
manifestasinya terutama pada orang orang dengan predisposisi genetik. Dari
penelitian diketahui bahwa pada kembar monozigot kejadian DM tipe 2 meningkat
hingga 91 % dan tidak berubah meskipun perbedaan berat badan telah dihitung.
Besarnya resiko terkena DM tipe 2 adalah sebesar 14 % jika tak satu pun orang tua
6

menderita DM, 25 % jika salah satu orang tua menderita DM dan 45 % jika kedua
orang tua menderita DM (Darmono,2000).
a. Sekresi Insulin
Selain faktor genetik, patogenesis DM tipe 2 juga dihubungkan dengan
gangguan sekresi insulin. Semua penelitian menunjukkan bahwa pada fase
awal penderita dengan DM tipe 2 memiliki kadar insulin yang normal atau
meningkat, yang kemudian dihubungkan dengan terjadinya obesitas meski
obesitas tidak selalu terjadi. Peningkatkan kadar insuli ini menunjukkan
bahwa pada saat itu lebih banyak insulin harus disekresikan untuk
mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas normal. Selanjutnya
kadar insulin menjadi normal, baik dalam proporsi proinsulin maupun
bioaktivitasnya. Meski kadar insulin normal, abnormalitas sekresi insulin
dapat diidentifikasi setelah stimulasi sel

pankreas dengan cara

memberikan glukosa intra vena. Di mana kadar insulin meningkat akan


tetapi glukosa darah tetap normal, menunjukkan adanya resistensi insulin.
Pada fase kedua, resistensi insulin cenderung memburuk sehingga
meskipun konsentrasi insulin meningkat, tampak bentuk intoleransi
glukosa dalam bentuk hiperglikemia setelah makan. Bagi beberapa
penderita intoleransi glukosa ini dapat bertahan bertahun tahun
berkembang menjadi DM, tapi bagi sebagian penderita, ini adalah fase
intermediate sebelum menjadi diabetes. Umumnya pasien tidak memiliki
keluhan, akan tetapi perubahan makroangiopati dan lesi lesi vaskuler
telah dapat ditemukan dalam fase ini. Akhirnya pada fase ketiga, resistensi
insulin tidak berubah tetapi sekresi insulin menurun dengan akibat kadar
glukosa darah yang sangat tinggi menyebabkan hiperglikemia puasa dan
diabetes yang nyata (Sylvia,1995).
b. Resistensi Insulin
Kadar insulin plasma yang normal atau meningkat pada penderita DM tipe
2 menunjukkan resistensi insulin yang muncul sebagai akibat adanya defek
pada beberapa tehapan kerja insulin. Dalam keadaan normal, insulin
terikat pada resepto di membrane sel yang selanjutnya mentransmisikan
second messenger untuk memulai perubahan metabolism glukosa didalam
sel. Pada DM tipe 2 ddefek pertama adalah adanya penurunan jumlah
respetor insulin, sedangkan defek kedua adalah adanya defek pada
7

pengiriman sinyal/ pesan intraseluler yang diduga terkait dengan


abnormalitas metabolism karbohidrat (Sylvia,1995).
D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis diabetes mellitus dikaitkan dengan konsekuensi metabolic
defisiensi insulin. Pasien pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat
mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal, atau toleransi glukosa
sesudah makan karbohidrat. Jika hiperglikemianya parah dan melebihi ambang ginjal,
maka timbul glukosuria. Dlukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotic yang
meningkatkan diuresis osmotic yang meningkatkan pengeluaran kemih (poliuri) dan
timbul rasa haus (polidipsia). Karena glukosa hilang bersama kemih, maka pasien
mengalami keseimbangan kalori negative dan berat badan berkurang. Polifagi akan
timbul sebagai akibat kehilangan kaloi. Pasien mengeluh lelah dan mengantuk. Pada
pasien NIDDM(non insulin dependent diabetes mellitus) mungkin sama sekali tidak
memperlihatkan gejala apapun, dan diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan
darah di laboratorium dan melakukan tes toleransi glukosa. Pertolongan medis paling
sering dicari karena gejala yang berkaitan dengan hiperglikemia, tetapi kejadian
pertama mungkin berupa dekompensasi metabolic akut yang menyebabkan koma
diabetik. Kadang kadang penampakan awal berupa penyulit degenerative seperti
neuropati tanpa hiperglikemia bergejala (Kapita Selekta,2001).
Gambaran klinis yang khas dari NIDDM:
Umur awitan >40
Bentuk tubuh gemuk atau tidak gemuk
Insulin plasma nomal hingga tinggi
Penyulit akut koma hiperosmolar
Responsive hingga resisten terhadap terapi insulin
Responsive terhadap terapi sulfonylurea
E. Diagnosis
Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuri,
polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
Keluhan lain yang mungkin dikemukakan pasien adalah kelemahan, kesemuten, gatal,
mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada pasien wanita. Jika
keluhan khas, pemeriksaan glukosa darah sewaktu 200 mg/dl sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis DM. untuk kelompok tanpa keluhan khas DM, hasil pemeriksaan
glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal, belum cukup kuat untuk menegakkan
8

diagnosis DM. diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapat sekali lagi angka
abnormal, baik kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl, kadar glukosa darah sewaktu
200 mg/dl pada hari ini, atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTOG) didapatkan
kadar glukosa darah pasca pembebanan 200 mg/dl (Perkeni,2006).
F. Komplikasi Diabetes Mellitus
Komplikasi komplikasi diabetes mellitus dapat dibagi menjadi dua kategori:
(1) komplikasi metabolic akut, dan (2) komplikasi komplikasi vascular jangka
panjang.
Komplikasi metabolic diabetes merupakan akibat perubahan yang relative akut
dari kadar glukosa plasma. Komplikasi metabolic yang paling serius, adalah
ketoasidosis diabetik. Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami
hiperglikemia dan glukosuria berat, penurunan lipogenesis, peningkatkan lipolisis,
dan peningkatkan oksidasi asam lemak bebas disertai pembentukan badan keton
(asetoasetat,

hidroksi

butirat,

dan

aseton).

Peningkatkan

dalam

plasma

mengakibatkam ketosis, peningkatan beban ion hydrogen dan asidosis metabolic.


Glukosuria dan ketosuria yang jelas juga dapat mengakibatkan diuresis osmotic
dengan hasil akhir dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Pasien dapat menjadi hipotensi
dan mengalami syok. Akhirnya akibat penuunan penggunaan oksigen otak, pasien
akan mengalami koma dan meninggal. Koma dan kematian akibat ketoasidosis saat
ini jarang terjadi, karena pasien maupun tenaga kesehatan telah menyadari potensi
bahaya komplikasi ini dan pengobatan ketoasidosis dapat dilakukan sedini mungkin.
Ketoasidosis diabetic ditangain dengan (1) perbaikan kekacauan metabolic
akibat kekurangan insulin, (2) pemulihan keseimbangan air dan elektrolit, dan (3)
pengobatan keadaan yang mungkin mempercepat ketoasidosis. Pengobatan dengan
insulin regular masa kerja singkat diberikan melalui infuse intravena kontinu atau
suntikan intramuscular yang sering dan infuse glukosa dalam air atau salin akan
meningkatkan penggunaan glukosa, mengurangi lipolisis dan pembentukan badan
keton, serta pemulihan keseimbangan asam basa. Selain itu pasien juga memerlukan
penggantian kalium. Karena infeksi berulang dapat meningktkan kebutuhan insulin
pada penderita diabetes, maka tidak mengherankan kalau infeksi dapat mempercepat
terjadinya dekompensasi diabetic akut dan ketoasidosis. Dengan demikian, pasien
dalam keadaan ini mungkin perlu diberikan pengobatan antibiotika.
Komplikasi metabolic lain dari diabetes yang sering terjadi adalah
hipoglikemia. Gejala gejala hipoglikemia disebabkan oleh pelepasan epinefrin

( berkeringat, gemetar, sakit kepala, dan palpitasi); juga akibat kekurangan glukosa
dalam otak( tingkah laku yang aneh, sensorium yang tumpul dan koma).
Komplikasi vascular jangka panjang dari diabetes melibatkan pembuluh
pembuluh kecil mikroangiopati dan pembuluh pembuluh sedang dan besar
makroangiopati. Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang
kapiler dan arteriola retina( retinopati diabetic), glomerulus ginjal ( nefropati diabetic)
dan saraf saraf perifer (neuropati diabetic), otot otot dan kulit. Dipandang dari
sudut histokimia, penebalan ini disertai oleh peningkatkan penimbunan glikoprotein.
Selain itu, karena senyawa kimia dari membrane dasar berasal dari glukosa, maka
hiperglikemia menyebabkan bertambahnya kecepatan pembentukkan sel sel
membrane dasar. Penggunaan glukosa dari sel sel ini tidak membutuhkan insulin
(Perkeni,2006).

FARMAKOLOGI
A. Farmakokinetik
1. Absorpsi
Absorpsi adalah proses masuknya obat dari tempat pemberian ke
dalam darah. Bergantung dari cara pemberiannya, tempat pemberian
obat adalah saluran cerna ( mulut sampai dengan rectum), kulit, paru,
otot, dan lain lain. Yang terpenting adalah cara pemberian obat per
oral, dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus karena
memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas.
Pemberia obat dibawah lidah hanya untuk obat yang larut dalam
lemak, karena luas absorpsinya kecil, sehingga obat harus melarut dan
diabsorpsi dengan sangat cepat, misalnya nitroglisin.
Absorbsi sebagian besar obat secara difusi pasif, maka sebagian barier
absorpsi adalah membrane sel epitel saluran cerna, yang seperti halnya
semua membrane sel tubuh kita, merupakan lipid bilayer. Dengan
demikian, agar dapat melintasi membrane sel tersebut, molekul obat
harus memiliki kelarutan lemak(setelah terlebih dahulu larut dalam
air). Kecepatan difusi berbanding lurus dengan derajat kelarutan lemak
molekul obat ( selain dengan perbedaan kadar obat lintas membrane,

10

yang merupakan driving force proses difusi, dan dengan luasnya area
permukaan membrane difusi).
Kebanyakan obat merupakan elektolit lemah, yakni asam lemah atau
basa lemah. Dalam air, elektolit lemah ini akan terionisasi menjadi
bentuk ionnya. Derajat ionisasi obat tergantung pada konstanta ionisasi
obat dan pH larutan di mana obat berada.
2. Distribusi
Dalam darah, obat akan diikat oleh protein plasma dengan
berbagai ikatan lemah. Ada bebrapa macam protein plasma:
Albumin : mengikat obat obat asam dan obat obat netral serta

bilirubin dan asam asam lemak.


-glikoprotein: mengikat obat obat basa
CBG ( corticosteroid-binding globulin): khusus mengikat

kortikosteroid
SSBG ( sex steroid-binding globulin): khusus mengikat hormone
kelamin.

Obat obat pada protein plasma akan dibawa oleh darah ke seluruh
tubuh. Komplek obat protein terdisosiasi dengan sangat cepat. Obat
bebas akan keluar ke jaringan: ke tempat kerja obat, ke jaringan tempat
depotnya, ke hati ( dimana obat mengalami metabolism menjadi
metabolit yang dikeluarkan melalui empedu atau masuk kembali ke
darah), dan ke ginjal ( dimana obat/ metabolitnya diekskesi ke dalam
urin).
Interaksi pergeseran protein. Obat obat asam akan bersaing untuk
berikatan dengan albumin di tempat ikatan yang sama, dan obat - obat
akan bersaing untuk berikatan dengan -glikoprotein. Karena tempat
ikatan pada protein plasma tersebut terbatas, maka obat yang pada
dosis terapi telah menyebabkan jenuhnya ikatan akan menggeser obat
lain yang terikat pada tempat ikatan yang sama sehingga obat yang
bergeser ini akan lebih banyak yang bebas. Selanjutnya obat yang
bebas ini akan keluar dari pembuluh darah dan menimbulkan
efekfarmakologik atau dieliminasi dari tubuh. Interaksi pergeseran
11

protein akan bermakna secara klinik jika obat yang digeser memenuhi
3 syarat berikut:

Ikatan protein tinggi: 85%, sehingga kadar obat bebas rendah,


akibatnya pergeseran sedikit saja sudah meningkatkan jumlah obat

bebas secara bermakna.


Volume distribusi kecil ( 0,15 L/kg), sehingga peningkatan
jumlah obat bebas tidak habis terdistribusi tapi memberikan

peningkatan kadar plasma yang cukup bermakna


Margin of safety ( batas keamanan) sempit, sehingga peningkatan
kadar plasma yang relative kecil sudah bermakna secara klinis.

3. Metabolisme
Metabolisme obat terutama terjadi di hati, yakni di membrane
endoplasmic reticulum (mikrosom) dan di cytosol . tempat
metabolism yang lain ( ekstrahepatik) adalah: dinding usus, ginjal,
paru, darah, otak, dan kulit, juga di lumen kolon (oleh flora usus).
Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang nonpolar
(larut lemak) menjadi polar ( larut air) agar dapat diekskresi melalui
ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umumnya iubah
menjadi inaktif, tapi sebagian berubah menjadi lebih aktif (jika
asalnya prodrug), kurang aktif, atau menjadi toksik.
Eaksi metabolism terdiri dari reaksi fase I dan reaksi fase II.
Reaksi fase I terdiri dari oksidasi, reduksi, dan hidrolisis, yang
mengubah obat menjadi lebih polar, dengan akibat menjadi inaktif,
lebih aktif, atau kurang aktif. Sedangkan reaksi II merupakan reaksi
konjungasi dengan substrat endogen: asam glukoronat, asam sulfat,
asam asetat, atau asam amino, dan hasilnya menjadi sangat polar,
dengan demikian hampir selalu tidak aktif. Obat dapat mengalami
reaksi fase I saja, atau reaksi fase II saja, atau reaksi I yang diikuti
reaksi fase II. Pada reaksi fase I, obat dibubuhi gugus polar seperti
gugus hidroksil, gugus amino, karboksil, sulfihidril, dsb, untuk dapat
bereaksi dengan substrat endogen pada reaksi fase II. Karena itu obat
yang sudah mempunyai gugus gugus tersebut langsung bereaksi
dengan substrat endogen (reaksi fase II). Hasil eaksi fase I dapat juga

12

sudah cukup polar untuk langsung diekskresikan lewat ginjal tanpa


harus melalui reaksi fase II lebih dulu.
Reaksi metabolism yang terpenting adalah oksidasi oleh enzim
cytochrome P450 ( CYP), yang disebut juga enzim mono
oksigenase, atau MFO( mixed- function oxidase), dalalm endoplasmic
reticulum ( mikrosom) hati.
Interaksi dalam metabolisme obat berupa induksi atau inhibisi
enzim metabolism, terutama enzim CYP. Induksi berarti peningkatan
sintesis enzim metabolisme pada tingkat transkrispsi sehingga terjadi
peningkatan kecepatan metabolisme obat yang menjadi substrat enzim
yang bersangkutan, akibatnya diperlukan peningkatan dosis obat
tersebut, berarti terjadi toleransi farmokinetik. Karena melibatkan
sintesis enzim maka diperlukan waktu pajanan beberapa hari sebelum
dicapai efek yang maksimal. Induksi dialami oleh semua enzim
mikrosomal. Jadi enzim CYP dan UGT.
Inhibisi enzim metabolisme : hambatan terjadi secara langsung,
dengan akibat peningkatkan kadar obat yang menjadi substrat dari
enzim yang dihambat juga terjadi secara langsung. Untuk mencegah
terjadinya

toksisitas,

bersangkutan

atau

diperlukan
bahkan

tidak

penurunan

dosis

obat

boleh

ddiberikan

yang

bersama

penghambatnya.
Metabolisme obat akan terganggu pada pasien penyakit hati
seperti sirosis, hati berlemak, dan kanker hati. Pada sirosis yang
parah, metabolisme obat berkurang antara 30 50 %, ini dapat
meningkatkan bioavailabilitas 2-4 kali pada obat obat yang
mengalami metabolisme lintas pertama. Enzim enzim CYP lebih
terpengaruh dibanding reaksi reaksi fase II seperti glukuronidasi.
Metabolisme obat juga terganggu oleh adanya penyakit yang
mengurangi perfusi hati seperti gagal jantung dan syok.
Enzim enzim metabolisme fase I dan fase II mencapai
kematangan setelah tahun pertama kehidupan, kecuali enzim UGT
untuk bilirubin mencapai nilai dewasa pada decade kedua kehidupan.
4. Ekskresi
Organ terpenting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat
diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk
13

metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan


cara eliminasi obat melalui ginjal. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3
proses, yakni filtrasi glomerulus, sekresi aktif tubulus proksimal dan
reabsorbsi pasif di sepanjang tubulus. Fungsi ginjal mengalami
kematangan pada usia 6-12 bulan, dan setelah dewasa menurun 1% per
tahun.
Ekskresi melalui ginjal akan berkurang jika terdapat gangguan
fungsi ginjal.
Ekskresi obat yang kedua penting adalah melalui empedu ke
dalam usus dan keluar bersama feses. Obat dan metabolit yang larut
lemak dapat direabsorbsi kembali ke dalam tubuh dari lumen usus.
Metabolit dalam bentuk glukuronat dapat dipecah dulu oleh enzim
glukuronidase yang dihasilkan oleh flora usus menjadi bentuk obat
awalnya yang mudah diabsosrpsi kembali. Akan tetapi, bentuk
konjugat juga dapat langsung diabsorpsi melalui transporter membrane
OATP di dinding usus, dan baru dipecah dalam darah oleh enzim
esterase. Siklus enterohepatik ini dapat memperpangjang efek obat,
misalnya estrogen dalam kontrasepsi oral.
Ekskresi melalui paru terutama untuk eliminasi gas anestetik
umum.
B. Farmakodinamik
Farmakodinamik

ialah

subdisiplin

farmakologi

yang

mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat, serta mekanisme


kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat adalah untuk meneliti
efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui
urutan peristiwa serta spectrum efek dan respons yang terjadi. Pengetahuan
yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi rasional dan berguna
dalam sintesis obat baru.

Mekanisme Kerja obat


Kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi
dengan reseptornya pada sel organism. Interaksi obat dengan reseptornya
ini mencetuskan perubahan biokimia dan fisiologi yang merupakan
14

respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan komponen


makromolekul fungsional; hal ini mencakup 2 konsep penting. Pertama,
obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, obat tidak
menimbulkan fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah
ada. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini
masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul
fungsional dapat berperan sebagai reseptor fisiologis untuk ligand endigen.
Obat yang menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya. Obat
yang tidak mempunyai aktivitas instinsik sehingga menimbulkan efek
yang menghambat kerja suatu agonis disebut antagonis. Disamping itu,
ada obat yang jika berikatan dengan reseptor fisiologis menimbulkan efek
instrinsik yang berlawanan dengan efek agonis, disebut agonis negative.
INSULIN DAN OBAT DIABETIK ORAL

INSULIN
Insulin masih merupakan obat utama untuk DM tipe I dan beberapa jenis DM
tipe II, tetapi memang masih banyak pasien DM yang enggan disuntik, kecuali dalam
keadaan terpaksa. Karenanya terapi edukasi pasien DM sangatlah penting, agar pasien
sadar akan perlunya terapi insulin meski diberikan secara suntikan. Suntikan insulin
dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: intravena, intramuskuler, dan
umumnya pada penggunaan jangka panjanglebih disukai pemberian secara subkutan.
Indikasi dan Tujuan Terapi
Insulin subkutan terutama diberikan pada DM tipe I. DM tipe II yang tidak
dapat diatasi hanya dengan diet atau antidiabetik oral, pasien DM pascapankeatomi
atau DM dengan kehamilan, DM dengan ketoasidosis, koma nonketosis, atau
komplikasi lain, sebelum tindakan operasi. Tujuan insulin pada keadaan tersebut
bukan saja untuk menormalkan glukosa darah tetapi juga memperbaiki semua aspek
metabolism, dan yang terakhir inilah umumnya sukar dicapai. Hasil terapi yang

15

optimal membutuhkan pendekatan dokter pada pasien dan keluarganya, agar ada
koordinasi antara diet, latihan fisik, dan pemberian insulin.
Efek Samping
1. Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan efek samping paling sering terjadi dan terjadi akibat
dosis insulin yang terlalu besar, tidak tepatnya waktu makan dengan waktu
tercapainya kadar puncak insulin, atau karena adanya factor yang dapat
meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, misalnya insufisiensi adrenal atau
pituari, ataupun akibat kerja fisik yang berlebihan.
2. Reaksi alergi dan resistensi
Penggunaan insulin rekombinan dan insulin yang lebig murni, telah dapat
menurunkan insiden reaksi alergi dan resistensi. Meski demikian,

kadang

kadangreaksi tersebut masih dapat terjadiakibat adanya bekuan atau terjadinya


denaturasi preparat insulin, atau kontaminan, atau akibat pasien sensitive terhadap
senyawa yang ditambahkan pada proses formulasi preparat insulin. Reaksi alergi
local pada kulit yang sering terjadi akibat IgE atau resistensi akibat timbulnya
antibody IgG.
Interaksi
Beberapa hormone bersifat antagonis terhadap efek hipoglikemia insulin antara
lain, hormone pertumbuhan, kortikotropin, glukokortikoid, tiroid, esterogen,
progestin, dan glucagon. Adrenalin menghambat sekresi insulin dan merangsang
glikogenolisis. Peningkatan kadar hormone ini perlu diperhitungkan dalam terapi
insulin.

Salisilat

meningkatkan

sekresi

insulin,

mungkin

menyebabkan

hipoglikemia. Hipoglikemia cenderung terjadi pada pasien dengan penghambat


adrenoseptor akibat penghambatan efek katekolamin pada glukoneogenesis dan
glikogenolisis, obat ini juga mengkaburkan takikardi akibat hipoglikemia. Potensi
efek hipoglikemia insulin terjadi dengan penghambat MAO, steroid anabolic dan
fenfluramin (FK UI,2007).
OBAT ANTIDIABETIK ORAL
Ada 5 golongan antidiabetik oral ( ADO) yang dapat digunakan untuk DM dan
telah dipasarkan di Indonesia yakni golongan: sulfonylurea, meglitinid, biguanid,
penghambat -glikosidase, dan tiazolidineson. Kelima golingan ini dapat

16

diberikan pada DM tipe II yang tidak dapat dikontrol hanya dengan diet dan
latihan fisik saja.

Golongan Sulfonilurea
Dikenal 2 generasi sulfonylurea, generasi 1 terdiri dari tolbutamid, asetoheksimid
dan klopropamid. Generasi II yang potensi hipoglikemik lebih besar antara lain
gliburid ( glibenklamid), glipizid, glikazid dan glimepirid.
Mekanisme kerja
Golongan obat ini disebut sebagai insulin secretagogeus, kerjanya merangsang
sekresi insulin dari granul sel sel Langerhans pankreas. Rangsangan melalui
interaksinya dengan ATP- sensitive K channel pada membrane sel sel yang
menimbulkan depolarisasi membrane dan keadaan ini akan membuka kanal Ca.
Dengan terbukanya kanal Ca maka ion Ca++ akan masuk sel , merangsang
granula yang berisi insulin dan akan terjadi sekresi insulin dengan jumlah yang
ekuivalen dengan peptide C. kecuali itu, sulforilurea dapat mengurangi kliren
insulin di hepar.
Pada penggunaan jangka panjang atau dosis yang besar dapat menyebabkan
hipoglikemia.
Efek samping
Insiden efek samping generasi I sekitar 4 %, insidensnya lebih rendah lagi untuk
generasi II. Hipoglikemia, bahkan sampai koma tentu dapat timbul. Reaksi ini
sering terjadi pada pasien usia lanjut dengan gangguan fungsi hepar dan ginjal,
terutama yang menggunakan sediaan dengan masa kerja panjang.
Efek samping lain, reaksi alergi jarang sekali terjadi , mual,muntah, diare, gejala
hematologic, susunan saraf pusat, mata, dan sebagainya.
Interaksi
Obat yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu penggunaan
sulfonylurea adalah insulin, alcohol, feniformin, sulfonamide, salisilat dosis besar,
fenibutazon, oksifenbutazon, probenezid, dikumarol, kloramfenikol, penghambat
MAO, guanetidin, anabolic steroid, fenfluramin dan klofibrat.
Propranolol dan penghambat adrenoreseptor lainnya menghambat reaksi
takikardia, berkeringat dan tremor pada hipoglikemia oleh berbagai sebab
termasuk oleh ADO, sehingga keadaan hipoglikemia menjadi hebat tanpa
diketahui. Sulfonylurea terutama klorpropamid dapat menurunkan toleransi
terhadap alcohol, hal ini ditunjukkan dengan kemerahan terutama dimuka dan
leher.
17

Meglitinid
Repaglinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid, mekanisme kerjanya
sama dengan sulfonylurea tetapi struktur kimianya sangat berbeda. Golongan
AOD ini merangsang insulin dengan menutup kanal K yang ATP- independent di
sel pankreas.
Pada pemberian oral absorpsinya cepat dan kadar puncaknya dicapai dalam kurun
waktu 1 jam. Masa paruhnya 1 jam, karenanya harus diberikan beberapa kali
sehari, sebelum makan. Metabolism utamaya di hepar dan metabolitnya tidak
aktif. Sekitar 10 % dimetabolisme di ginjal. Pada pasien dengan gangguan fungsi
hati atau ginjal harus diberikan secara hati hati. Efek samping utamanya
hipoglikemia dan gangguan saluran cerna. Reaksi alergi juga pernah dilaporkan.
Biguanid
Sebenarnya dikenal 3 jenis ADO dai golongan biguanid: fenformin, buformin, dan
metformin, tetapi yang pertama telah ditarik dari peredaran karena sering
menyebabkan asidosis laktat. Sekaang yang banyak digunakan adalah metformin.
Mekanisme kerja
Biguanid sebenarnya bukan obat hipoglikemia, tetapi antihiperglikemia, tidak
menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan umumnya tidak menyebabkan
hipoglikemia.

Metformin menurunkan produksi glukosa di hepar dan

meningkatkan sensivitas jaringan otot dan adipose terhadap insulin.


Efek samping
Hampir 20% pasien dengan metformin mengalami mual, muntah, diare serta
kecap logam, tetapi dengan menurunkan dosis keluhan keluhan tersebut dapat
hilang. Pada beberapa pasien yang mutlak bergantung pada insulin eksogen,
kadang kadang biguanid menimbulkan ketosis yang tidak disertai hiperglikemia.
Hal ini harus dibedakan dengan ketosis karena defisiensi insulin.
Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau system kardiovaskuler,
pemberian biguanid dapat menimbulkan peningkatan kadar asam laktat dalam
darah, sehingga hal ini sapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam cairan
tubuh.
Golongan Tiazolidinedion
Makanisme kerja dan efek metabolic
Telah diterangkan diatas, insulin merangsang pembentukan dan translokasi GLUT
ke membrane sel organ perifer. Ini terjadi karena insulin merangsang Peroxisome
proliferators-activated reseptor- (PPAR) di inti sel dan mengaktivasi insulinresponsive genes, gen yang berperan dalam metabolism karbohidrat dan lemak.
18

PPAR terdapat di target insulin, yakni di jaringan adipose, pankreas, hepar,


keberadaannya di otot skelet masih meragukan.
Tiazolidinedion merupakan agonist potent dan selektif PPAR membentuk
kompleks PPAR-RXR dan terbentuklah GLUT baru. Di jaringan adipose PPAR
mengurangi keluarnya asam lemak ke otot, dan karenanya dapat mengurangi
resistensi insulin.
Efek samping antara lain, peningkatkan berat badan , edema, menambah volume
plasma dan memperburuk gagal jantung kongesif. Edema sering terjadi pada
penggunaannya bersama insulin. Kecuali heap, tidak dianjurkan pada gagal ginjal
kelas 3 dan 4 menurut New York Heart Association. Hipoglikemia pada
penggunaan monoterapi jarang terjadi.

Penghambat Enzim -Glikosidase


Obat golongan penghambat enzim -glikosidase ini dapat memperlambat absorpsi
polisakarida, dekstrin, dan disakarida di intestine. Dengan menghambat kerja
enzim -glikosidase di brush border intestine, dapat mencegah peningkatan
glukosa plasma pada orang normal dan pasien DM.
Karena kerjanya tidak mempengaruhi sekresi insulin, maka tidak akan
menyebabkan efek samping hipoglikemia. Akarbose dapat digunakan sebagai
monoterapi pada DM usia tipe lanjut atau DM yang glukosa postprandialnya
sangat tinggi. Di klinik sering digunakan bersama antidiabetik oral lain dan atau
insulin.
Obat golongan ini diberikan pada waktu mulai makan; dan absorspsi buruk.
Akarbose merupakan oligosakaida yang berasal dari mikroba, dan migitol suatu
derivate desoksinojirimisin, secara kompetitif juga menghambat glukoamilase dan
sukrase, tetapi efeknya pada -amilase pankreas lemah.
Efek samping yang bersifat dose- dependent antara lain malabsorbsi, flatulen,
diare, dan abdominal bloating. Untuk mengurangi efek samping ini sebaiknya
dosis dititrasi (FK UI,2007).

OBAT HERBAL ANTIDIABETIK


1. batang brotowali / Tinosporae caulis (mengandung alkaloid , zat pahit,
tinosporidine, berefek menurunkan kadar gula darah)

19

2. buah pare/ Momordicae fructus (mengandung alkaloid momordin berefek


menurunkan kdar gula darah dan tekanan darah)
3. Daun sambiloto / Andrographii folium (mengandung andrographolide berefek
menurunkan gula darah, tekanan darah, meningkatkan stamina)

20

BAB III
HASIL
IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Alamat
Agama
Suku Bangsa
Pendidikan
Pekerjaan

: Ny Toasah
: 46 tahun
: Perempuan
: Kawin
: Suradadi - Tegal
: Islam
: Jawa
:
:

RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH


DILAKUKAN
Anamnesis
Pasien datang untuk kontrol gula darah
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan gula darah sewaktu 240 mg/dl
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat tekanan darah tinggi disangkal
Riwayat kencing manis sejak 7 tahun yang lalu, kontrol teratur
Riwayat sakit kuning disangkal
Riwayat sakit jantung disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga sakit disangkal

Riwayat keluarga sakit darah tinggi, asma, sakit kuning, dan jantung
disangkal
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umun : baik
Kesadaran : baik
Tanda vital:
Tensi: 120/70 mmHg
Nadi: 70 x/menit
Frekuensi nafas: 32 x/menit
Suhu: 36,1 derajat celcius aksila (ketiak)
Status gizi:
BB: 54 kg
TB: 160 cm
BMI: 21,1
Kesan : normal
Diagnosis Kerja
21

Diabetes Melitus tipe 2


Penatalaksaan
Farmakologi
Glibenklamid
Cara kerja meningkatkan sekresi insulin
Metformin
Cara kerja menekan produksi glukosa hati
Nonfarmakologi
Diet diatur: kurangi manis manis dan batasi makanan yang
banyak karbohidrat.
Olahraga teratur 3 4 kali seminggu kurang lebih 30 menit (
jalan santai, sepeda santai, jogging, berenang)
Pemahaman tentang penyakit DM, hipoglikemia, makna dan
perlunya pengendalian dan pemantauan DM.

BAB IV
PEMBAHASAN
Interaksi

diklasifikasikan

berdasarkan

keterlibatan

dalam

proses

farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan


perubahan kadar plasma obat, area di bawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paro
dsb. Interaksi farmakokinetik diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi,
distribusi,

metabolisme

dan

ekskresi.

Interaksi

farmakodinamik

biasanya

dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek obat lain tanpa
mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya. Interaksi farmakodinamik meliputi aditif
(efek obat A =1, efek obat B = 1, efek kombinasi keduanya = 2), potensiasi (efek A =
0, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 2), sinergisme (efek A = 1, efek B = 1, efek
kombinasi A+B = 3) dan antagonisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B =
0). Mekanisme yang terlibat dalam interaksi farmakodinamik adalah perubahan efek
pada jaringan atau reseptor.
Interaksi farmakokinetik

22

1. Absorpsi
Obat-obat yang digunakan secara oral bisaanya diserap dari saluran cerna ke
dalam sistem sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi selama obat
melewati saluran cerna. Absorpsi obat dapat terjadi melalui transport pasif maupun
aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi secara pasif. Proses ini melibatkan difusi
obat dari daerah dengan kadar tinggi ke daerah dengan kadar obat yang lebih rendah.
Pada transport aktif terjadi perpindahan obat melawan gradien konsentrasi (contohnya
ion-ion dan molekul yang larut air) dan proses ini membutuhkan energi. Absorpsi obat
secara transport aktif lebih cepat dari pada secara tansport pasif. Obat dalam bentuk
tak-terion larut lemak dan mudah berdifusi melewati membran sel, sedangkan obat
dalam bentuk terion tidak larut lemak dan tidak dapat berdifusi. Di bawah kondisi
fisiologi normal absorpsinya agak tertunda tetapi tingkat absorpsinya biasanya
sempurna.
Bila kecepatan absorpsi berubah, interaksi obat secara signifikan akan lebih
mudah terjadi, terutama obat dengan waktu paro yang pendek atau bila dibutuhkan
kadar puncak plasma yang cepat untuk mendapatkan efek. Mekanisme interaksi
akibat gangguan absorpsi antara lain :
a. Interaksi langsung
Interaksi secara fisik/kimiawi antar obat dalam lumen saluran cerna sebelum
absorpsi dapat mengganggu proses absorpsi. Interaksi ini dapat dihindarkan atau
sangat dikuangi bila obat yang berinteraksi diberikan dalam jangka waktu minimal
2 jam.
b. perubahan pH saluran cerna
Cairan saluran cerna yang alkalis, misalnya akibat adanya antasid, akan
meningkatkan kelarutan obat yang bersifat asam yang sukar larut dalam saluran
cerna, misalnya aspirin. Dengan demikian dipercepatnya disolusi aspirin oleh basa
akan mempercepat absorpsinya. Akan tetapi, suasana alkalis di saluran cerna akan
mengurangi kelarutan beberapa obat yang bersifat basa (misalnya tetrasiklin)
dalam cairan saluran cerna, sehingga mengurangi absorpsinya. Berkurangnya

23

keasaman lambung oleh antasida akan mengurangi pengrusakan obat yang tidak
tahan asam sehingga meningkatkan bioavailabilitasnya.
Ketokonazol yang diminum per oral membutuhkan medium asam untuk
melarutkan sejumlah yang dibutuhkan sehingga tidak memungkinkan diberikan
bersama antasida, obat antikolinergik, penghambatan H 2, atau inhibitor pompa
proton (misalnya omeprazol). Jika memang dibutuhkan, sebaiknya abat-obat ini
diberikan sedikitnya 2 jam setelah pemberian ketokonazol.
c. pembentukan senyawa kompleks tak larut atau khelat, dan adsorsi
Interaksi antara antibiotik golongan fluorokinolon (siprofloksasin, enoksasin,
levofloksasin, lomefloksasin, norfloksasin, ofloksasin dan sparfloksasin) dan ionion divalent dan trivalent (misalnya ion Ca2+ , Mg2+ dan Al3+ dari antasida dan obat
lain) dapat menyebabkan penurunan yang signifikan dari absorpsi saluran cerna,
bioavailabilitas dan efek terapetik, karena terbentuknya senyawa kompleks.
Interaksi ini juga sangat menurunkan aktivitas antibiotik fluorokuinolon. Efek
interaksi ini dapat secara signifikan dikurangi dengan memberikan antasida
beberapa jam sebelum atau setelah pemberian fluorokuinolon. Jika antasida benarbenar dibutuhkan, penyesuaian terapi, misalnya penggantian dengan obat-pbat
antagonis reseptor H2 atau inhibitor pompa proton dapat dilakukan.
Beberapa obat antidiare (yang mengandung atapulgit) menjerap obat-obat lain,
sehingga menurunkan absorpsi. Walaupun belum ada riset ilmiah, sebaiknya
interval pemakaian obat ini dengan obat lain selama mungkin.
d. obat menjadi terikat pada sekuestran asam empedu (BAS : bile acid sequestrant)
Kolestiramin dan kolestipol dapat berikatan dengan asam empedu dan mencegah
reabsorpsinya, akibatnya dapat terjadi ikatan dengan obat-obat lain terutama yang
bersifat asam (misalnya warfarin). Sebaiknya interval pemakaian kolestiramin
atau kolestipol dengan obat lain selama mungkin (minimal 4 jam).
e. perubahan fungsi saluran cerna (percepatan atau lambatnya pengosongan lambung,
perubahan vaksularitas atau permeabilitas mukosa saluran cerna, atau kerusakan
mukosa dinding usus).
24

Analisis kasus
Penderita bernama Ny Toasah, berumur 46 tahun menderita diabetes tipe 2 sejak 7
tahun yang lalu. Penderita selalu rutin kontrol pengobatan diabetes mellitus dan rutin
melakukan cek kadar gula darah.
Penderita makan teratur dengan mengurangi makanan yang manis manis sesuai
petunjuk dokter untuk menjaga kadar gula darahnya. Untuk gula, penderita biasa
menggunakan gula rendah kalori.
Penalaksaan farmakologi yang diberikan kepada penderita adalah glibenklamid dan
metformin.

Interaksi obat glibenklamid dan metformin


Metformin
Mekanisme kerja metformin menurunkan glukosa darah melalui pengaruhnya
terhadap kerja insulin pada tingkat selular, distal reseptor insulin dan menurunkan
produksi glukosa hati. Metformin meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel usus
sehingga menurunkan glukosa darah dan juga diduga menghambat absorbs glukosa di
usus sesudah asupan makan. Setelah dibeikan oral, metformin akan mencapai kadar
tertinggi dalam darah setelah 2 jam dan diekskresikan lewat urin dalam keadaan utuh
dangan waktu paruh 2,5 jam.
Metformin dapat menurunkan glukosa darah tetapi tidak akan menyebabkan
hipoglikemia sehingga tidak dianggap sebagai obat hipoglikemia. Pada pemakaian
kombinasi dengan sulfonylurea, hipoglikemia dapat terjadi akibat pengauh
sulfonillureanya. Pada pemakaian tunggal metformin dapat menurunkan glukosa
darah sampai 20 % dan konsentrasi insulin plasma pada keadaan basal juga turun.
Metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan seperti pada pemakaian
sulfonylurea.
25

Gliblenklamid
Mekanisme kerja glibenklamid adalah dengan merangsang kanal K yang
tergantung pada ATP dari sel beta pankreas. Bila silfonilurea terikat reseptor kanal
tersebut maka akan terjadi penutupan. Keadaan ini akan menyebabkan terjadinya
penurunan permeabilitas K pada membrane sel beta, terjadi depolarisasi membrane
dan membuka kanal Ca tergantung voltase, dan menyebabkan peningkatan Ca
intrasel. Ion Ca akan terikat pada Calmodulin, dan menyebabkan eksositosis granul
yang mengandung insulin.
Obat ini bekerja dengan merangsang sel beta pankreas untuk melepaskan
insulin yang tersimpan.
Penggunaan dalam klinik. Pada pemakaian sulfonylurea, umumnya selalu
dimulai dengan dosis rendah, untuk menghindari kemungkinan hipoglikemia. Pada
keadaan tertentu di mana kadar glukosa darah sangat tinggi, dapat digunakan dalam
dosis besar.
Kombinasi glibenklamid dan metformin saat ini merupakan kombinasi yang
rasional karena mempunyai cara kerja sinergis sehingga kombinasi ini dapat
menurunkan glukosa darah lebih banyak daripada pengobatan tunggal masing
masing, baik pada dosis maksimal keduanya maupun pada dosis rendah. Kombinasi
dengan dosis maksimal dapat menurunkan glukosa darah yang lebih banyak.
Kombinasi metformin dengan insulin juga dapat dipertimbangkan pada psien
gemuk dengan glikemi yang sukar dikendalikan. Kombinasi gliblenklamid dengan
metformin lebih baik daripada kombinasi metformin dengan insulin.
Kombinasi gliblenklamid dengan insulin didasarkan bahwa rerata kadar
glukosa darah sepanjang hari terutama ditentukan oleh kadar glukosa darah puasanya.
Umumnya kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan kurang lebih sama, tidak
tergantung dari kadar glukosa darah pada keadaan puasa. Dengan memberikan insulin
keja sedang pada malam hari, produksi glukosa hati malam hari dapat dikurangi

26

sehingga kadar glukosa darah puasa dapat turun. Selanjutnya kadar glukosa darah
siang hari diatur dengan pemberian sulfonylurea seperti biasanya.
Kombinasi sufonilurea dan insulin ternyata lebih baik daripada insulin sendiri
dan dosis insulin yang diperlukan ternyata lebih rendah. Dan cara kombinasi ini lebih
dapat diterima pasien daripada penggunaan insulin multiple.

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Diabetes Mellitus adalah kelainan yang bersifat kronik yang ditandai oleh
gangguan metabolism karbohidrat, protein, dan lemak yang diikuti oleh komplikasi
mikrovaskuler maupun makrovaskuler, dan telah diketahui berkaitan dengan faaktor
genetik dengan gejala klinik yang paling utama adalah intoleransi glukosa
(Wilson,2000).
Diabetes Mellitus tipe 2 terdiri dari berbagai macam kelainan dengan
karakteristik yang sama yaitu insufisiensi kerja insulin untuk mempertahankan kadar
glukosa darah dalam batas normal. Insufisiensi kerja insulin merupakan kombinasi
dari resistensi insulin dan sekresi insulin yang abnormal (Darmono,2000).
Interaksi diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam

proses

farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan


perubahan kadar plasma obat, area di bawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paro
dsb. Interaksi farmakokinetik diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi,
distribusi,

metabolisme

dan

ekskresi.

Interaksi

farmakodinamik

biasanya
27

dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek obat lain tanpa
mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya
Kombinasi glibenklamid dan metformin saat ini merupakan kombinasi yang
rasional karena mempunyai cara kerja sinergis sehingga kombinasi ini dapat
menurunkan glukosa darah lebih banyak daripada pengobatan tunggal masing
masing, baik pada dosis maksimal keduanya maupun pada dosis rendah. Kombinasi
dengan dosis maksimal dapat menurunkan glukosa darah yang lebih banyak.
Terjadi interaksi sinergis antara obat diabetes oral yaitu glibleklamid dan
metformin.

B. Saran
1. Penderita selalu rutin untuk kontrol gula darah.
2. Penderita mengkonsumsi obat anti diabetik oral sesuai anjuran dokter
sehingga dapat terjadi interaksi yang sinergis antar obat anti diabetik oral
sehingga tidak terjadi hipoglikemia.
3. Penderita menjaga pola makan sehingga didapatkan efek interaksi obat
dan makanan yang saling sinergis sehingga tidak terjadi terjadi
hipoglikemia.

28

DAFTAR PUSTAKA
Darmono.1991.Seri Kuliah endokrinologi-metabolik.FK UNDIP.
Hartati,Sri.2002.Mengapa diabetes banyak mengakibatkan kerusakan organ tubuh dan
bagaimana kejadiannya.Semarang:Balai Penerbit FK UNDIP.
Sylvia.1995.Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit.Jakarta:ECC.
FK UI.2007.Farmakologi Dan Terapi.Jakarta:FKUI.

29

30