100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan7 halaman

Contoh Konkrit

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian pengukuran, penilaian dan tes hasil belajar. Terdapat 3 aspek yang dinilai yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan). Prinsip-prinsip penilaian yang baik adalah valid, obyektif, adil, terbuka, bermakna, mendidik, menyeluruh, berkesinambungan, dan akuntabel.

Diunggah oleh

Anis Rahmawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan7 halaman

Contoh Konkrit

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian pengukuran, penilaian dan tes hasil belajar. Terdapat 3 aspek yang dinilai yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan). Prinsip-prinsip penilaian yang baik adalah valid, obyektif, adil, terbuka, bermakna, mendidik, menyeluruh, berkesinambungan, dan akuntabel.

Diunggah oleh

Anis Rahmawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama

: Anis Rahmawati

NIM

: 1401413485

Rombel

:7

No. Absen

: 26
TOPIK 1
Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Tes Hasil Belajar

Asesmen merupakan proses mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat
digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut
kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan
sekolah.
Contoh:
Guru membuat alat pengukuran berupa instrumen tes yang diberikan terhadap
siswa. Setelah diadakan tes, guru merefleksi hasil tes tersebut untuk dapat
menentukan apakah tujuan pembelajaran telah tercapai atau belum.
Pengukuran adalah kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberi angka-angka pada
suatu gejala, peristiwa atau benda sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka.
Contoh
1. Dari 100 butir soal, 80 butir dijawab dengan betul oleh Ahmad;
2. mengukur suhu badan dengan ukuran berupa thermometer: hasilnya: 360

celcius, 380 celcius, 390 celcius dan seterusnya


Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu; misalnya ; pengukuran yang
dilakukan oleh penjahit pakaian mengenai panjang lengan, panjang kaki, lebar

bahu, ukuran pinggan dan sebagainya.


Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu : misalnya ; pengukuran untuk
menguji daya tahan per baja terhadap tekanan berat, pengukuran untuk menguji

daya tahan lampu pijar, dan sebagainya.


Pengukuran untuk menilai, yang dilakukan dengan jalan menguji sesuatu ;
misalnya : mengukur kemajuan belajar peserta didik dalam rangka mengisi nilai
rapor yang dilakukan dengan menguji mereka dalam bentuk tes hasil belajar.
Pengukuran jenis ketiga inilah yang biasa dikenal dalam dunia pendidkan.

Evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan
cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu

Contoh
1. Asesmen dilakukan terhadap siswa dari serangkaian kegiatan pembelajaran
selama 1 semester, dengan berbagai pertimbangan, maka pada akhirnya datadata yang terkumpul guru untuk mengambil keputusan untuk menaikkan atau
tidak menaikkan siswa.
2. Dari 100 butir soal, 80 butir dijawab dengan betul oleh Ahmad; dengan
demikan dapat ditentukan Ahmad termasuk anak yang pandai
3. Seseorang yang suhu badannya 36Celcius termasuk orang yang normal
kesehatannya, dengan demikian orang tersebut dapat ditentukan sehat
badannya.
Prinsip-prinsip penilaian beserta penerapan/contohnya
1. Valid
Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan
menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi, sehingga penilaian
tersebut menghasilkan informasi yang akurat tentang aktivitas belajar. Penilaian
hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi yang
ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi dasar) dan
standar kompetensi lulusan. Misalnya apabila pembelajaran menggunakan
pendekatan eksperimen maka kegiatan eksperimen harus menjadi salah satu obyek
yang di nilai.
Contoh : Dalam pelajaran penjaskes, guru menilai kompetensi permainan
badminton siswa, penilaian dianggap valid jika menggunakan test praktek
langsung, jika menggunakan tes tertulis maka tes tersebut tidak valid.
2. Obyektif
Penilaian yang bersifat objektif tidak memandang dan membeda-bedakan
latar belakang peserta didik, namun melihat kompetensi yang dihasilkan oleh
peserta didik tersebut, bukan atas dasar siapa dirinya. Penilaian harus dilaksanakan
secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh subyektivitas penilai.
Contoh : Guru memberi nilai 85 untuk materi volley pada si A yang
merupakan tetangga dari guru tersebut, namun si B, yang kemampuannya lebih
baik, mendapatkan nilai hanya 80. Ini adalah penilaian yang bersifat subyektif dan
tidak disarankan. Pemberian nilai haruslah berdasarkan kemampuan siswa tersebut.
3. Adil

Peserta didik berhak memperoleh nilai secara adil, penilaian hasil belajar
tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus
serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial,
ekonomi, fisik, dan gender.
Contoh : guru penjaskes laki-laki hendaknya tidak memandang fisik dan
rupa dari murid perempuan yang cantik kemudian memberi perlakuan khusus,
semua murid berhak diperlakukan sama saat KBM maupun dalam pemberian nilai.
Nilai yang diberikan sesuai dengan kenyataan hasil belajar siswa tersebut.
4. Terbuka
Penilaian harus bersifat transparan dan pihak yang terkait harus tau
bagaimana pelaksanaan penilaian tersebut, dari aspek apa saja nilai tersebut
didapat, dasar pengambilan keputusan, dan bagaimana pengolahan nilai tersebut
sampai hasil akhirnya tertera, dan dapat diterima.
Contoh : pada tahun ajaran baru, guru Kimia menerangkan tentang
kesepakatan pemberian nilai dengan bobot masing-masing aspek, misal, Partisipasi
kehadiran diberi bobot 20%, Tugas individu dan kelompok 20%, Ujian tengah
semester 25%, ujian akhir semester 35%. Sehingga disini terjadi keterbukaan
penilaian antara murid dan guru.
5. Bermakna
Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki arti, makna, dan manfaat
yang dapat ditindaklanjuti oleh pihak lain, terutama pendidik, peserta didik, orang
tua, dan masyarakat.
Contoh : bagi guru, hasil penilaian dapat bermakna untuk melihat seberapa
besar keberhasilan metode pembelajaran yang digunakan, sebagai evaluasi untuk
perbaikan kedepan, serta memberikan pengukuran prestasi belajar kepada siswa.
6. Mendidik
Penilaian hasil belajar harus dapat mendorong dan membina peserta didik
maupun pendidik untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan cara
memperbaiki kualitas belajar mengajar.
Contoh : Budi mendapatkan nilai 60 untuk pelajaran matematika, 50 untuk
bahasa Indonesia, dan 65 untuk Fisika, namun dalam kegiatan ekstrakurikuler
futsal, ia meraih prestasi yang membanggakan. Budi sadar bahwa ia harus
menyeimbangkan prestasi akademik dan non akademiknya, Kemudian budi terpacu

untuk mengevaluasi kesalahannya dan memperbaiki kualitas belajar dan hidupnya,


memperoleh nilai yang baik, juga memperoleh prestasi yang baik.
7. Menyeluruh
Penilaian diambil dengan mencakup seluruh aspek kompetensi peserta didik
dan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, termasuk mengumpulkan
berbagai bukti aktivitas belajar peserta didik. Penilaian meliputi pengetahuan
(cognitif), keterampilan (phsycomotor), dan sikap (affectif).
Contoh : Dalam penilaian hasil akhir belajar, guru Seni Budaya
mengumpulkan berbagai bukti aktivitas siswa dalam catatan sebelumnya, penilaian
yang dikumpulkan mulai dari pengetahuan tentang seni budaya, keterampilan
menari, menggambar, bermusik, kehadiran dalam KBM, dan penilaian sikap
peserta didik, semua hal tersebut digabungkan menjadi satu dan menghasilkan
nilai.
8. Berkesinambungan
Pelaksanaan penilaian hasil belajar dilakukan secara terencana, bertahap,
dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar
peserta didik.
Contoh : guru matematika melakukan KBM secara terencana, guru
menjelaskan materi tiap pertemuan, memberikan tugas, mengadakan ulangan
harian, ujian tengah semester, serta ujian akhir semester, semua dilaksanakan
secara terus menerus dan bertahap, dan dari setiap tahap tersebut, guru
mengumpulkan informasi yang akan diolah untuk menghasilkan nilai.
9. Akuntabel
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggung jawabkan, baik
dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
Contoh : guru bahasa mandarin dapat menjelaskan secara benar kepada
pihak terkait, tentang proses penilaian, teknik penilaian, prosedur, dan hasil yang
sesuai dengan kenyataan kemampuan hasil belajar peserta didiknya.
https://missymaesih.wordpress.com/2012/09/23/prinsip-prinsip-penilaian-besertapenerapancontohnya////
Tiga aspek yang dinilai

a.
1)

(a)
(b)
(c)

2)

3)

a.
b.
c.
4)

5)

Menurut Bloom (Arikunto, 2009) ada 3 ranah atau domain besar, yang terletak
pada tingkatan ke-2 yang selanjutnya disebut taksonomi yaitu sebagai berikut.
Ranah kongnitif (cognitive domain)
Pengetahuan
Mengenal (recognition)
Dalam pengenalan siswa diminta untuk memilih satu dari dua atau lebih jawaban.
Contoh :
Hasil bumi yang terkenal dari daerah Temanggung adalah :
Padi
tebu
tembakau
Mengungkapkan / mengingat kembali (recall)
Berbeda dengan mengenal maka dalam mengingat kembali ini siswa di minta untuk
mengingat kembali satu atau lebih fakta-fakta yang sederhana.
Contoh :
Tempat keluarnya air dari dalam tanah disebut....
Mengenal dan mengungkapkan kembali, pada umumnya dikategori ini merupakan
kategori yang paling rendah tingkatannya karena tidak terlalu banyak meminta energi.
Pemahaman (comprehension)
Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami
hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep.
Untuk dapat menentukan gambar yang mana yang dapat dinamakan segitiga sikusiku maka ia harus menghubungkan konsep segitiga dan konsep siku-siku.
Penerapan atau aplikasi (application)
Untuk penerapan atau aplikasi ini siswa dituntut memiliki kemampuan untuk
menyeleksi atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan,
cara) secara tepat untuk diterapkan dal situasi baru dan menerapkannya secara benar.
Contoh:
Untuk menyelesaikan hitungan ini
51 x 40 = n
Maka paling tepat kita gunakan adalah
hukum asosiatif,
hukum komutatif,
hukum distributif.
Analisis (analysis)
Dalam tugas analisi ini siswa diminta untuk menganalisi suatu hubungan atau
situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar.
Contoh :
Siswa disuruh menerangkan apa sebab pada waktu mendung dan ada angin kencang tidak
segera turun hujan.
Sintesis (synthesis)
Apabila penyusun soal tes bermaksud meminta siswa melakukan sintesis maka
pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga meminta siswa untuk
menggabungkan atau menyusun kembali (reorganize) hal-hal yang spesifik agar dapat

mengembangkan suatu struktur baru. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dengan soal
sintesis ini siswa diminta untuk melakukan generalisai.
Contoh:
Dengan mengetahui situasi daerah dan milik dalam hal kekayaan bahan mentah serta
semangat penduduk di suatu daerah yang kini dapat berkembang pesat menjadi kota
pelabuhan yang besar maka kota-kota kecil di tepi pantai mana mempunyai potensi untuk
menjadi sebuah kota pelabuhan yang besar?
6) Evaluasi (evaluation)
Apabila menyusun soal bermaksud untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu
menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk menilai sesuatu kasus
yang diajukan oleh penyusun soal.
Mengadakan evaluasi dalam pengukuran aspek kognitif ini tidak sama dengan
mengevaluasi dalam pengukuran aspek afektif. Mengevaluasi dalam pengukuran aspek
afektif menyangkut masalah benar/salah yang didasarkan atas dalil, hukum, prinsip
pengetahuan, sedangkan mengevaluasi dalam aspek afektif menyangkut masalah
baik/buruk berdasarkan nilai atau norma yang diakui oleh subjek yang bersangkutan.

b. Ranah afektif (affective domain)


Pandangan atau pendapat (opinion)
Apabila guru mau mengukur aspek afektif yang berhubungan dengan pandangan
siswa maka pertanyaan yang disusun menghendaki respons yang melibatkan ekspresi,
perasaan atau pendapat pribadi siswa terhadap hal-hal yang relatif sederhana tetapi bukan
fakta.
contoh:
Bagaimanakah pendapat anda tentamg keputusan yang diambil oleh Bapak Lurah dalam
situasi di atas? Bagaimana tindakan Anda jika seandainya yang menjadi lurah itu anda?
Sikap atau nilai (attitude, value)
Dalam penilaian afektif tentang sikap ini, siswa ditanya mengenai responnya yang
melibatkan sikap atau nilai telah mendalam di sanubarinya, dan guru meminta dia untuk
mempertahankan pendapatnya.
Contoh :
Bagaimanakah pendapat Anda seandainya semua penjahat yang merugikan masyarakat
dan negara, baik yang proletar maupun yang elite diberi hukuman mati saja? Mengapa
pendapat anda demikian?
c.

Ranah psikomotor (psychomotor domain)

Perkataan psikomotor berhubungan dengan kata motor, sensorymotor atau perceptual-motor. Jadi, ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot
sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Yang termasuk ke dalam
klasifikasi gerak di sini mulai dari gerak yang paling sederhana yaitu melipat kertas sampai
dengan merakit suku cadang televisi serta komputer. Secara mendasar perlu dibedakan
antara dua hal yaitu keterampilan (skills) dan kemampuan (abilities).
contoh:
Seberapa terampilan para siswa menyiapkan alat-alat
Seberapa keterampilan para siswa menggunakan alat-alat
http://ekarestama.blogspot.co.id/2012/12/konsep-dasar-dan-aspek-aspekpenilaian.html

Anda mungkin juga menyukai