Laporan Kasus All
Laporan Kasus All
Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus leukemia limfoblastik akut pada
seorang anak laki-laki berusia 3 tahun 6 bulan yang dirawat di ruang anak Rumah
Sakit Umum Ulin Banjarmasin.
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS
1. Identitas penderita
Nama penderita
: An. MH
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Umur
: 3 tahun 6 bulan
: Nama
: Tn . S
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
Alamat
IBU
: Nama
: Ny. TN
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
Alamat
II. ANAMNESIS
Aloanamnesis dengan
Tanggal/jam
1. Keluhan Utama
: Pucat
menjalani serangkaian
pemeriksaan dikatakan oleh dokter limpa anak membesar dan oleh dokter disarankan
untuk dilakukan pemeriksaan cairan sumsum tulang. Dari pemeriksaan cairan
sumsum tulang tersebut didapatkan hasil positif anak menderita leukemia dan oleh
dr.Sp.A yang menangani anak di RS. Suaka Insan anak dirujuk Ke RS. Ulin pada
tanggal 24 Nopember 2007. Perjalanan anak bersifat cepat sekitar 6 bulan anak sudah
mulai bisa berjalan karena anak mengeluh sakit kaki dan kaki anak mulai
mengecil.anak juga bernapas cepat, jantung berdebar, demam, batuk pilek , perut
anak bengkak, ada bercak-bercak hitam ditungkai, ptikie tidak ada.
3. Riwayat Penyakit dahulu
Pada bulan oktober tahun 2007 , anak sudah didiagnosis menderita leukemia.
Riwayat penyakit keluarga: Leukemia (-) keganasan (-)
4. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Riwayat antenatal :
Selama hamil menurut pengakuan ibu, Ibu rajin memeriksakan kehamilannya ke
puskesmas dan mendapatkan suntikan TT 2 kali dan tablet 1x/ hari tapi pada saat
hamil ibu memang sering sakit-sakitan dan sempat dirawat ke RS karena menderita
asma dan pernah dilakukan rontgen paru, ibu tidak pernah tinggal didaerah
pertambangan/ daerah sumber listrik.
Riwayat Natal :
Spontan/tidak spontan
: Spontan
Nilai APGAR
: 3200 g
: 50 cm
Lingkar kepala
Penolong
: Bidan
Tempat
: Di rumah
Riwayat Neonatal
: Anak
lahir
langsung
menangis,
kulit
kemerahan dan gerak aktif. Anak tidak pernah sakit dalam 1 bulan setelah kelahiran.
5. Riwayat Perkembangan
Tiarap
: 3 bulan
Merangkak
: 6
bulan
Duduk
: 8
bulan
Berdiri
: 9 bulan
Berjalan
: 12 bulan
Saat ini
Nama
Dasar
Ulangan
BCG
Polio
Hepatitis B
DPT
Campak
7. Makanan
0 -3
bulan
3 - 9 bulan
29 bln 1, 5 tahun
Keterangan :
: Perempuan sehat
: Laki-laki sehat
: Sakit
Susunan keluarga :
No
1
2
3
4
Nama
Tn. S
Ny. T
An. R
An. H
Umur
30 tahun
27 tahun
9 tahun
3 tahun
6 bulan
L/P
L
P
L
L
Keterangan
Sehat
Sehat
Sakit
Sakit
III.PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Kesadaran
: Komposmentis
GCS
: 456
2. Pengukuran
Tanda vital : Tensi
Nadi
: 100/60 mmHg
Suhu
: 37,3C (aksila)
Respirasi
: 58 x/menit
Berat badan
: 12 Kg
Panjang/tinggi badan
: 99 cm
: - cm
Lingkar Kepala: 49 cm
3. Kulit : Warna
: Sawo matang
Sianosis
: Tidak ada
Hemangiom
: Tidak ada
Turgor
: Cepat kembali
Kelembaban
: Cukup
Lain-lain
4. Kepala : Bentuk
: Mesosefali
UUB
: Sudah menutup
UUK
: Sudah menutup
Rambut : Warna
: Hitam, lurus
Tebal/tipis
: Tebal
Distribusi
: Merata
Alopesia
: Tidak ada
Mata
: Palpebra
: Anemis
Sklera
: Cukup
Pupil
: Diameter
Simetris
: 3 mm / 3mm
: Isokor
: Simetris
Sekret
: Tidak ada
Serumen
: Minimal
Nyeri
: Tidak ada
Hidung : Bentuk
: Jernih
Lokasi : -
: Normal, simetris
Mulut
Epistaksis
: Tidak ada
Sekret
: Tidak ada
: Bentuk
: Simetris
Bibir
Gusi
: Mudah berdarah
Lidah
Faring
: Bentuk
: Lengkap
: Normal
Pucat/tidak
: Pucat
Tremor/tidak
: Tidak tremor
Kotor/tidak
: Tidak kotor
Warna
: Merah muda
: Hiperemi
Edem
: Tidak ada
: Tidak ada
Tonsil
: Warna
: Merah muda
Pembesaran
: Tidak ada
Abses/tidak
: Tidak ada
Pulsasi
: Tidak terlihat
Tekanan
: Tidak meningkat
: Tidak ada
- Kaku kuduk
: Tidak ada
- Massa
: Tidak ada
- Tortikolis
: Tidak ada
6. Toraks :
a. Dinding dada/paru :
Inspeksi
: Bentuk
: Simetris
Retraksi
: Tidak ada
Dispnea
: Tidak ada
Pernafasan
: Thorakal
Palpasi
: Fremitus fokal
Perkusi
: Sonor / sonor
Lokasi : -
b. Jantung :
Inspeksi
: Iktus
: Tidak terlihat
Palpasi
: Apeks
: Tidak teraba,
Thrill + / Perkusi
: Batas kanan
Lokasi : -
: Tidak ada
: ICS II LPS Kanan-IV LPS Kanan
Batas kiri
Batas atas
Auskultasi : Frekuensi
Suara Dasar
: S1 dan S2 Tunggal
Bising
: Tidak ada,
Derajat
: -
Lokasi
: -
: -
7. Abdomen :
Inspeksi
: Bentuk
: Supel
Palpasi
: Hati
Perkusi
Lien
: Teraba Schufner 4
Ginjal
: Tidak teraba
Massa
: Tidak ada
Nyeri
: Tidak ada
: Timpani/pekak : Timpani
Asites
: Asites
Ekstremitas bawah : Akral hangat, tidak ada edem dan tidak ada
parese
Neurologis :
Tanda
Gerakan
Tonus
Trofi
Klonus
Refleks
Fisiologis
Refleks
patologis
Sensibilitas
Tanda
meningeal
Lengan
Kanan
Kurang aktif
Eutoni
Eutrofi
Tidak ada
Sde
Kiri
Kurang aktif
Eutoni
Eutrofi
Tidak ada
Sde
Tungkai
Kanan
Kurang aktif
Atoni
Atrofi
Tidak ada
sde
Kiri
Kurang aktif
Atoni
Atrofi
Tidak ada
sde
Tidak ada
Susunan Saraf
Tidak ada
Tidak ada
: N I sde. NVIII
NIII N IV N VI NV NVII NIXNX NXI NXII
Dalam batas normal
Genitalia
Anus
Hasil
29/03/08
Hasil
31/03/08
Hasil
2/04/08
Hb
3,5
4,8
8,9
Eritrosit
1,49
1,5
Leukosit
2200
Hematokrit
Trombosit
Hasil
3/04/08
Hasil
9/04-08
Nilai Normal
13.3
12,3
11-15 g/dl
3.25
4.77
4.13
4,5-6 juta/l
1,75
2000
1800
1500
4.000-10.500 l
11
13
25
38
33
40-50 vol%
21
7000
14000
22000
150-450 ribu/l
MCV
70,5
74,3
77.5
80.1
79.9
80-97 fl
MCH
23,5
27,4
27.4
27.9
29.8
27-32 pg
MCHC
33,3
36,9
35.3
34.8
37.3
32-38 %
RDW-CV
12,5
13.2
13.7
13.4
11,5-14,7 %
2,6
2,8
0,0-1,0 %
HEMATOLOGI
HITUNG JENIS
Basofil %
Eosinofil %
2,1
1,0-3,0 %
Neutrofil %
84,4
0.0
19,8
50,0-70,0 %
14,7
0,04
88.5
83.7
74.5
25,0-40,0 %
Monosit %
0,16
4.8
3,0-9,0 %
Basofil #
2,6
0.04
Eosinofil #
10,4
0.03
Neutrofil #
1,3
0.00
0.23
2,5-7,0 ribu/l
1,9
1.80
1.50
1.08
1,25-4,0 ribu/l
Lymphosit %
Lymphosit #
: Normokromik normositik
Lekosit
: Diff Count
Basofil 0/ esionofil 0/ batang 0/ segmen 10/ limfosit 90/ monosit 0
Kesan jumlah menurun. Sel muda (-)
DD
: DHF
Infeksi viral lain
Saran
V. RESUME
Nama
: An. MH
Jenis kelamin
: Laki-laki
Umur
: 3 tahun 6 Bulan
Berat badan
: 12 Kg
Keluhan Utama
: Pucat
Uraian
serta kuku dan mulut. demam (+) naik turun. panas dapat turun dengan obat
penurun panas tetapi tidak mencapai suhu normal. Batuk (+), gusi berdarah
(+), Pingsan (-), kejang (-), sesak (+), mengigil (-), sakit-sakit pada seluruh
tubuh terutama pada kaki (+) dan mengigau. Anak menjadi malas makan.
BAK dan ,BAB lancar
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Kesadaran
: Komposmentis,
Tensi
: 100/60 mmHg
Denyut Nadi
: 120 kali/menit
Pernafasan
: 32 kali/menit
Suhu
: 37,3 C
Kulit
GCS : 4 - 5 - 6
kelembaban cukup.
Kepala
: Mesosefali
Mata
: Anemis (+)
Telinga
Hidung
Mulut
Toraks/Paru
Jantung
Abdomen
Susunan saraf
N I sde. NVIII
NIII N IV N VI NV NVII NIXNX NXI NXII
Anus
VI. DIAGNOSIS
Diagnosis Banding
Diagnosasis Kerja
Status Gizi
: Mild Malnutrition
WHO-NCHS
CDC 2000
= BB sekarang x 100%
BB ideal
=
12 x 100 %
15
= 80 % (moderate malnutrition)
VII. PENATALAKSANAAN
-
IVFD RL 10 tetes/menit
IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam
: Dubia
Quo ad functionam
: Dubia
Quo ad sanationam
: Dubia
X. FOLLOW UP
Follow up (29 Maret 2008 12 April 2008)
Hari kePemeriksaan
Subyektif
Demam
Batuk
Muka bengkak
BAK/BAB
Makan/ Minum
Obyektif
HR (x/menit)
RR (x/menit)
T (0C)
Assesment
Planing
IVFD RL 10 tetes/menit
Sanmol Syr 3x1 cth
Sanvita Syr 3x1 cth
Dumin supp (k/p)
Ceftriaxon 1x1 gr (IV)
Transfusi PCR 50 cc,
+
+
+
+/<-/+
+
<
+
+/</+
+
<
<
+/</+
+
<
<
+/+/+
104
28
38,0
LLA
100
26
37,5
LLA
110
24
37.0
LLA
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
1 kantong
<
<
<
+/+
+/+
<
_
_
+/\+/+
_
_
+/+
+/+
105
24
37,6
LLA
103
28
37,7
LLA
98
26
37.4
LLA
88
24
36.0
LLA
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
Pro PRC
+
150 cc
USG
Mild
-
hepatomegali
-
10
11
12
Demam
Batuk
<
<
<
<
Muka bengkak
BAK/BAB
+/-
++-
+/+
+/+
+/+
Makan/ Minum
<-/+
</+
+/+
+/+
+/+
HR (x/menit)
114
116
110
115
123
RR (x/menit)
38
48
54
50
58
Pemeriksaan
Subyektif
Obyektif
T (0C)
37,0
37,5
37.0
37,1
37.0
Assesment
LLA
LLA
LLA
LLA
LLA
IVFD RL 10 tetes/menit
Dexametason
Planing
kemo Hb>10
DISKUSI
sel darah tepi hingga mencapai 88,5%. Hal ini sesuai dengan diagnosis pada
leukemia akut dimana didapati tiga komplikasi yakni anemia, trombositopenia,
dan leukopenia pada darah tepi. 4,5
Walaupun penyebab leukemia belum diketahui. Penyakit ini multifaktorial.
Kelainan genetik, menurunnya daya tahan tubuh, infeksi virus, serta faktor-faktor
lingkungan lain bisa berinteraksi menimbulkan leukemia. "Cuma yang paling
banyak adalah akibat faktor genetik, yakni cacat kromosom, sekitar 50% dari
kasus leukemia anak Leukemia akibat cacat kromosom ini terjadi karena tidak
berfungsinya kontrol yang mengatur sampai seberapa jauh sel-sel darah bisa
memperbanyak diri, serta mengatur kapan sel-sel itu menjadi tua dan mati. Pada
penderita leukemia, sel-sel darah itu tidak pernah menjadi tua, serta bisa
memperbanyak diri tidak terkendali. Leukemia merupakan penyakit sistemik.
Yakni, tidak adanya stadium-stadium penyakit, namun langsung menyebar dan
menjadi akut.
Gejala awal yang sering muncul pada anak yang kena leukemia adalah pucat
yang tidak hilang-hilang serta lemas. Ini akibat terdesak dan menurunnya jumlah sel
darah merah (ditandai turunnya Hb). Karena darah putih juga terdesak, penderita jadi
mudah mengalami infeksi sehingga sering demam. Gejala ini mirip dengan penyakit
infeksi pada umumnya. Namun bila dilakukan pemeriksaan hemoglobin, Hb anak
sangat rendah. Sementara itu, kadar sel darah putih meningkat menjadi 40.000.
Padahal normalnya jumlah sel darah putih anak mencapai 15.000. Itupun pada
kondisi saat mereka terkena infeksi. Jumlah trombosit, yakni keping darah atau
platelet, yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari perdarahan serta menjaga
integritas pembuluh darah juga menurun, sehingga mudah terjadi perdarahan.
sejumlah faktor terbukti berpengaruh dan dapat menyebabkan leukemia, baik faktor
intrinsik (host) ataupun faktor ekstrinsik (lingkungan). 4,8,9
Faktor intrinsik seperti keturunan, kelainan kromosom, defisiensi imun.
Keturunan
Leukemia tidak diwariskan, tetapi sejumlah individu memiliki faktor predisposisi
untuk mendapatkannya. Risiko terjadinya leukemia meningkat pada kembar identik
penderita leukemia akut, demikian pula, pada saudara lainnya walaupun jarang. 4
Kelainan kromosom
Kejadian leukemia meningkat pada penderita dengan kelainan fragilitas kromosom
(Sindrom Bloom dan Anemia Fanconi) atau pada penderita dengan jumlah kromosom
yang abnormal seperti pada Sindrom Down, Klinefelter, dan Turner. 4
Defisiensi imun
Sistim imunitas tubuh kita memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi sel yang
berubah menjadi sel ganas. Gangguan pada sistim tersebut dapat menyebabkan
beberapa sel ganas lolos dan selanjutnya berproliferasi hingga menimbulkan
penyakit.
Disfungsi
sumsum
tulang,
seperti
sindrom
mielodisplastik,
memiliki latar belakang radiasi. Bukti yang kuat adalah tingginya insidens leukemia
setelah peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki.
Faktor ekstrinsik
walaupun ada beberapa penelitian yang menyokong teori tersebut antara lain dengan
ditemukannya enzim reverse transcriptase dalam darah penderita leukemia . Kelainan
paling mendasar dalam proses terjadinya keganasan adalah kelainan genetik sel.
Proses transformasi menjadi sel ganas dimulai saat DNA gen suatu sel mengalami
perubahan. Perlu diingat bahwa adanya gangguan pada beberapa tingkatan dan
aktifitas faktor-faktor yang diperlukan dalam granulopoesis yang normal, merupakan
faktor yang diperlukan untuk perkembangan dan progresifitas dari leukemia akut dan
menahun. Kejadian leukemia
kelangsungan hidup dan respons terhadap pengobatan. Hal ini disebabkan adanya
variasi respons pejamunya. 4,5,6
Pada kasus ini faktor instrinsik yang berperan kemungkinan dikarenakan defisiensi
umin, Menurut pengakuan ibu sejak anak lahir sampai sekarang anak sering sakitsakitan dan sewaktu ibu mengandung Os (pada kehamilan trimester I) ibu sempat
dirawat di rumah sakit karena ibu juga sering sakit-sakitan. Tapi ibu menyangkal
bahwa ada riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti Os serta ibu
juga mengaku bahwa dalam tumbuh kembang Os selama ini tidak ada kelainan
seperti keterbelakangan tumbuh kembang.
Leukemia dapat diklasifikasikan atas dasar4,5,12,13
1. Perjalanan alamiah penyakit: akut dan kronis
Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat,
mematikan, dan memburuk. Apabila tidak diobati segera, maka penderita dapat
meninggal dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis
memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan
hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun.
2. Tipe sel predominan yang terlibat: limfoid dan mieloid
3. Kemudian, penyakit diklasifikasikan dengan jenis sel yang ditemukan pada
sediaan darah tepi.
Leukemia leukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah lebih dari normal,
terdapat sel-sel abnormal
Leukemia aleukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah kurang dari normal,
tidak terdapat sel-sel abnormal
Leukemia mielositik akut (LMA) lebih sering terjadi pada dewasa daripada
anak-anak.Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
Leukemia limfositik kronis (LLK) sering diderita oleh orang dewasa yang
berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda,
dan hampir tidak ada pada anak-anak
Leukemia mielositik kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa. Dapat
juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit
Tipe yang sering diderita orang dewasa adalah LMA dan LLK, sedangkan LLA sering
terjadi pada anak-anak. Pada kasus ini Os seorang anak yang berumur 3 tahun 6
bulan perjalanan penyakutnya bersifat akut dan dari hasil morfologi darah tepi
didapatkan leukemia mempengaruhi limfosit atau sel limfoid, maka disebut leukemia
limfositik
Patogenesis
Leukemia akut dan kronis merupakan suatu bentuk keganasan atau maligna
yang muncul dari perbanyakan klonal sel-sel pembentuk sel darah yang tidak
terkontrol. Mekanisme kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja dengan baik
akibat adanya perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung jawab atas
pengaturan pertubuhan sel dan diferensiasi. 5,6
Sel-sel leukemia menjalani waktu daur ulang yang lebih lambat dibandingkan
sel normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak lengkap dan lanbat dan
bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel sejenis yang normal. 5,11
Gejala Klinis
Pada dasarnya sukar membedakan gejala klinis penderita leukemia akut yang
satu dengan yang lainnya, kecuali beberapa gejala spesifik seperti hipertropi gusi tapi
pada kasus ini tidak didapatkan hipertropi gusi. Pembesaran kelenjar getah bening
ditemukan terutama pada leukemia akut limfoblastik. Perasaan lelah, pucat, demam
dan perdarahan seperti gusi berdarah adalah gejala utama pada penderita leukemia
akibat terdesaknya hemopoesis sel normal di dalam sumsum tulang. 4 pada kasus ini
hampir semua gejala diatas ditemukan hanya saja pada Os tidak ada pembesaran
kelenjar getah bening.
Perdarahan gusi,epistaksis, ataupun perdarahan saluran cema, cepat menarik
perhatian dan tak jarang merupakan gejala utama yang menyebabkan penderita
memeriksakan diri. Penderita leukemia progranulositik akut umumnya mengalami
perdarahan sedang sampai berat dengan adanya ekimosis yang luas di kulit serta
cenderung
mengalami
koagulasi
intravaskular
diseminata.
Pada
leukemia
limfoblastik akut perdarahan biasanya ringan. Infeksi, seperti abses piogenik dan atau
adanya septikemia, biasanya sering terjadi, dan merupakan keadaan yang harus
segera diatasi. Hal ini berhubungan dengan terjadinya neutropeni dan adanya
defisiensi imun. Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi saluran napas atas dan
bawah, selulitis, paronikia, dan otitis media.
4,5
Trombositopenia yang berat (< 20.000/mm3), sering dijumpai pada penderita dengan
leukemia akut non limfoblastik. 4 ,7
Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan hiperseluler, dengan penurunan
jumlah eritrosit dan granulosit. Dapat juga ditemukan keadaan hiposeluler seperti
pada pendcrita leukemia non limfoblastik yang berkembang dari anemia aplastik atau
nokturnal naroksismal haemoglobinuria atau setelah pengobatan dengan radiasi atau
kemoterapi. Umumnya terdapat peningkatan enzim LDH dan asam urat serum.
Hal terpenting dalam menegakkan diagnosis leukemia , terutama pada jenis
akut, adalah mengenal dan membedakan leukemia limfoblastik akut atau leukemia
non limfoblastik akut, karena keduanya berbeda pengobatannya. Penentuan jenis
leukemia dapat melalui interpretasi gambaran morfologi sel dan reaksi pewarnaan
histokimia. Aktifitas Tdt pada inti sel leukemia sangat membantu, mendiagnosis
leukemia limfoblastik akut. Leukemia dapat didiagnosis melalui pemeriksaan dan
pewamaan sediaan darah tepi pada sebagian besar kasus, namun pemeriksaan aspirasi
sumsum tulang selalu dilakukan pada penderita leukemia yang baru untuk
mengetahui klasifikasi dan subklasifikasinya. Hal ini sehubungan dengan banyaknya
obat atau regimen baru dengan spesifikasi tertentu. 1,4
Khusus pada penderita leukemia limfoblastik akut perlu diperiksa petanda sel
B dan T pada permukaannya. Bila hal ini memungkinkan, lakukan pewarnaan
fosfatase asam sediaan sumsum tulang. Hal ini periling untuk mengidentifikasikan
adanya leukemia associated antigen yaitu B ALL, T ALL, Non B Non T, yang sangat
berguna untuk mengetahui harapan hidup dan prognosis penderita. 7
CALLA positif, baik pada anak atau dewasa, memiliki prognosis yang baik. 4
Penatalaksanaan leukemia
penyakit (remisi sempurna), untuk waktu yang cukup lama. Bila mungkin dicapai
kesembuhan sempuma. Di antara penderita yang mencapai remisi sempurna 15
sampai 30 persen diharapkan akan sembuh, sedangkan di antara penderita yang telah
berada dalam keadaan remisi sempurna selama lima tahun, 40 sampai 50%
diharapkan akan sembuh. 1,4
Protokol pengobatan5
Protokol pengobatan menurut IDAI ada 2 macam yaitu :
Pengobatan suportif
Terapi suportif misalnya transfusi komponen darah, pemberian antibiotik, nutrisi,
dan psikososial.
Faktor yang berperan dalam keberhasilan pengobatan pada penderita 4,6:
Usia penderita.
Jenis leukemia .
Induksi
Kombinasi
vinkristin,
daunorubisin,
prednisone,
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
Arifin Z. Pola leukemia limfoblastika akut. Bagian Ilmu kesehatan anak FKUSU/RS. Dr. Pirngadi. Medan, 2004
3.
4.