Anda di halaman 1dari 46

1

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS

NO. DOKUMEN
SOP/LANTAS/RES-GTO/01

NO. REVISI
00

TANGGAL TERBIT:

DIBUAT OLEH
KANIT LAKA
TTD
KOMANG SAPTAPRAMANA SIK
IPDA NRP 91100466

1.

HALAMAN
1-8
2016

DIPERIKSA OLEH
KASAT LANTAS
TTD
WAWAN ANDI S. SH.SIK
AKP NRP 82051524

DISAHKAN OLEH
KAPOLRES GORONTALO
TTD
HERRI RIO PRASETYO SIK.

AKBP NRP 70020380

TUJUAN
Disusunnya Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan kecelakaan lalu lintas
ini bertujuan untuk memberikan pedoman bagi anggota lalu lintas khususnya unit laka
lantas dalam rangka penanganan kecelakaan lalu lintas, Polri khususnya unit laka lantas
diharapkan dapat lebih meningkatkan dan memantapkan perannya dalam memberikan
perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga dalam
pelaksanaan tugas dilapangan tidak ada keragu-raguan dalam melakukan penanganan laka
lantas guna terwujudnya pelayanan prima dijalan terutama pada saat terjadinya kecelakaan
lalu lintas lintas di jalan.

2
2.

3.

PEDOMAN/ACUAN
2.1

Undang-Undang No.8 tahun 1981 tentang KUHAP (pasal 221 s/d 216).

2.2

Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik


Indonesia.

2.3

Undang- Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan.

2.4

PP No. 41 s/d PP No. 44 tahun 1993.

PENGERTIAN
3.1

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disengaja
melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya, mengakibatkan
korban manusia atau kerugian harta.

3.2

Penyidikan laka lantas yaitu cepat dalam penanganan laka lantas, cepat menolong
korban dan amankan barang bukti.

3.3

Korban mati adalah korban yang dipastikan mati sebagai akibat kecelakaan lalu
lintas dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari ( Pasal 93 ayat 3 PP 43
th.1993).

3.4

Jalan umum adalah jalan yang diperuntukan untuk lalu lintas jalan umum.

3.5

Jalan khusus adalah jalan selain daripada jalan umum (jalan inspeksi, pengairan,
minyak dan perkebunan,pertambangan,kehutanan, dan jl.komplek).

3.6

Ranmor adalah kendaraan yang digerakkan dengan peralatan tekhnik yang berada
pada kendaraan itu.

3.7

TKP adalah tempat dimana suatu kecelakaan lalu lintas terjadi dengan segala akibat
yang ditimbulkan serta tempat-tempat lain dimana korban atau barang bukti
sehubungan dengan kecelakaan lalu lintas diketemukan.

3.8

Penanganan TKP laka lantas adalah kegiatan dan tindakan kepolisian di TKP laka
lantas yang dilakukan oleh penyelidik atau penyidik

4.

3.9

Tindakan pertama di TKP kecelakaan lalu lintas adalah tindakan kepolisian yang
diharuskan dilakukan segera setelah terjadinya suatu kecelakaan lalu
lintas,
dalam bentuk penutupan dan pengamanan TKP untuk kepentingan penyidikan
selanjutnya dan mencegah terjadinya kemacetan ataupun kecelakaan lalu lintas lain
di TKP tersebut serta terciptanya keamanan bagi petugas,korban dan barang bukti
serta pemakai jalan lainnya.

3.10

Pengolahan TKP lantas berupa tindakan atau kegiatan setelah tindakan


pertama
di TKP dilakukan dengan maksud untuk mencari, mengumpulkan,
menganalisa,
mengevaluasi bukti petunjuk, keadaan keterangan serta identitas tersangka
menurut teori bukti segi tiga guna memberi arah bagi penyidikan selanjutnya.

Alat
4.1

Alat perlengkapan yang digunakan dalam penanganan TKP kecelakaan lalu lintas
4.1.1

Alat pengaman TKP


4.1.1.1
10 buah kerucut lalu lintas
4.1.1.2
2 buah lampu peringatan
4.1.1.3
2 buah senter
4.1.1.4
rambu-rambu lalu lintas seperti petunjuk arah, batas
kecepatan dan sebagainya
4.1.1.5
2 buah segi tiga pengaman

4.1.2

Kelengkapan petugas seperti:


4.1.1.1
jas hujan/rompi lalu lintas
4.1.1.2
sarung tangan
4.1.1.3
pluit/sempritan
4.1.1.4
tongkat polri
4.1.1.5
senjata api,borgol

4.1.3
4.1.4
4.1.5

kotak P2GD
alat tulis dan klip board untuk membuat sketsa/gambar TKP
Alata pengukur jarak (meteran) dan alat-alat untuk membuat tandatanda dipermukaan jalan.
alat pemecah kaca
alat pemotong sabuk pengaman
alat pemotong rangka kendaraan bermotor

4.1.6
4.1.7
4.1.8

4
4.1.9
4.1.10
4.1.11
4.1.12
4.1.13
4.1.14
4.1.15
4.1.16
5.

alat pengungkit/dongkrak kendaraan bermotor


alat penarik kendaraan bermotor
alat pemadam kebakaran
alat pemotret
kaca pembesar
garis polisi /police line
kompas
dll.

Prosedur Pelaksanaan
5.1

Tahap persiapan
5.1.1 Personil
Terdiri dari anggota Polantas minimal 2 orang dan anggota Sabhara 2 orang
serta unsur bantuan tekhnis
5.1.2 kendaraan
Persiapkan kendaraan dan alat komunikasi untuk kecepatan bertindak dan
memelihara hubungan petugas dengan markas kesatuan, selanjutnya
adakan pengecekan kembali terhadap peralatan kendaraan seperti rem,
lampu rotator, ban lampu-lampu, sirine serta pealatan lain yang dianggap
penting
5.1.3 Segera hubungi instansi terkait bilamana diperlukan seperti ambulance,
pemadam kebakaran mobil derek dll.
5.1.4 Setelah persiapan selesai maka langkah selanjutnya memberikan app pada
petugas yang akan ke TKP mengenai peristiwa kecelakaan lalu lintas itu
sendiri, pembagian tugas dan lain-lain.

5.2

Tahap pelaksanaan
5.2.1 Mendatangi TKP kecelakaan lalu lintas
a.
tentukan rute yang terpendek dengan memperhatikan situasi lalu
lintas
b.
bergerak dengan cepat tetapi tetap memperhatikan keselamatan
c.
apabila situasi lalu lintas padat dan melewati persimpangan agar
menggunakan sirene dan rotator
d.
upayakan seminimal mungkin melakukan pelanggaran lalu lintas

5
e.
f.

perhatikan arus lalu lintas selama perjalanan menuju TKP, bilamana


ada kendaraan yang dicurigai melarikan diri
Tiba di TKP

5.2.2 Tindakan pertama di TKP kecelakaan lalu lintas


a.
Mengamankan TKP kecelakaan lalu lintas
b.
Melarang setiap orang yang tidak berkepentingan masuk ke TKP yang
telah di beri batas (police line)
c.
Mengamankan tersangka dan saksi serta mengumpulkan pada tempat
diluar batas yang telah ditentukan
d.
Memisahkan saksi dan tersangka dengan maksud untuk tidak saling
mempengaruhi
e.
Membuat tanda di TKP kecelakaan lalu lintas
f.
Penanganan korban terhadap kecelakaan lalu lintas
5.2.3 Pengolahan TKP kecelakaan lalu lintas
a.
Pengamatan umum
b.
Pemeriksaan terhadap kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas
c.
Pemeriksaan terhadap jalan dan kelengkapannya
d.
Pemeriksaan terhadap tersangka
5.2.4 Pengakhiran penanganan TKP kecelakaan lalu lintas
a.
Konsolidasi
b.
Pembukaan TKP
c.
Permintaan visum et repertum
d.
Pembuatan bap di TKP
e.
Adakan koordinasi dengan pihak jasa raharja dalam rangka
mempercepat klaim asuransi bagi korban luka maupun meninggal
dunia
5.2.5 Taktik dan tekhnik pemeriksaan
a.
Persiapan pemeriksaan
b.
Hasil pemeriksaan dibuat dalam berita acara
5.2.6 Administrasi penyidikan
a. Penyidikan kecelakaan lalu lintas perlu didukung dengan sistim administrasi
yang baik meliputi :
1). Kelengkapan berkas perkara kecelakaan meliputi :
a)
Sampul berkas perkara

6
b)
Daftar isi berkas perkara
c)
Resume
d)
Laporan polisi
2). Berita acara pemeriksaan di tkp
1). Surat pemberitahuan di mulainya penyidikan
2). Bap saksi
3). Bap / surat keterangan saksi / ahli
4). Berita acara penyumpahan saksi / ahli
5).
Bap tersangka
6). Surat perintah penyitaan barang bukti
7). Berita acara penyitaan barang bukti
8). Surat panggilan
9). Surat perintah penangkapan
10). Surat perintah penahanan
11). Berita acara rekontruksi
12). Berita acara penangkapan
13). Berita acara pengembalian barang bukti
14). Berita acara pembungkusan dan penegelan barang bukti
15). Surat perintah penangguhan penahanan
16). Surat perintah pengalihan jenis penahanan
17). Surat permintaan perpanjangan penahanan kepada kepala
kejaksaan negeri
18). Surat permintaan perpanjangan penahanan kepada ketua
pengadilan negeri
19). Surat permintaan perpanjangan penahanan
20). Surat permintaan ijin penetapan penyitaan barang bukti pada
ketua pengadilan negeri
(3). Kelengkapan administrasi penyidikan bentuk buku register meliputi :
1). Buku register laporan polisi
2). Buku register kejahatan / pelanggaran
3). Buku register surat panggilan
4). Buku register surat perintah penangkapan
5). Buku register surat perintah penyitaan
6). Buku register surat perintah tugas
7). Buku register tahanan
8). Buku register berkas perkara
9). Buku register barang bukti
10). Buku register pencarian orang dan kendaraan

7
11). Buku register permintaan VER
12). Jurnal kecelakaan lalu lintas
13). Daftar recidivist
6. Pengawasan dan pengendalian
1. Pengawasan
a.
b.
c.
d.
e.

Analisa dan evaluasi hasil laporan.


Gelar perkara
Sprin penyidikan
Sp2hp
Mengontrol langsung.

2. Pengendalian
a.
b.
c.

Melalui pelaporan hasil pelaksanaan tugas.


Langsung dan tidak langsung
Dalam pelaksanaan Penyidikan laka Lantas sesuai dengan standar waktu dan
dilarang :
1)
Menyimpang dari Pelaksanaan tugas pokok
2)
Menerima segala bentuk imbalan dan atau pungli.
3)
Melepas atribut atau perlengkapan yang ada pada perorangan.
4)
Melakukan tindakan tercela yang dapat merugikan masyarakat, profesi dan
kesatuan.

7.

PENUTUP
1.
2.
3.

Ketentuan perubahan dan berlakunya Standard Operation Procedur ini ada pada Dit
Lantas Polda Gorontalo yang pelaksanaan dan pembinaan / bimbingan teknis
dilakukan oleh Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Gorontalo.
Ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan prosedur Ur Langgar yang telah
ada dan tidak bertentangan dengan Petunjuk Pelaksanaan ini tetap berlaku
sebagaimana mestinya.
Buku Standard Operation Procedure (SOP) berlaku sejak ditetapkan.
Ditetapkan di
Pada tanggal

:
:

Gorontalo
2016

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO


WAKA
u.b
KASAT LANTAS
TTD
WAWAN ANDI S. SH. SIK.
AJUN KOMISARIS POLISI NRP 82051524

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENANGANAN PELANGGARAN LALU LINTAS

NO. DOKUMEN
SOP/LANTAS/RES-GTO/02

NO. REVISI
00
TANGGAL TERBIT:

DIBUAT OLEH
BAUR TILANG
TTD
MAUDY SASAMU
BRIPKA NRP 85030188

1.

HALAMAN
9-16
2016

DIPERIKSA OLEH
KASAT LANTAS
TTD
WAWAN ANDI S. SH.SIK
AKP NRP 82051524

DISAHKAN OLEH
KAPOLRES GORONTALO
TTD
HERRI RIO PRASETYO SIK.

AKBP NRP 70020380

Tujuan
Disusunnya Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pelanggaran lalu lintas
ini bertujuan untuk memberikan pedoman dalam rangka penanganan pelanggaran lalu
lintas, Polri diharapkan dapat lebih meningkatkan dan memantapkan perannya dalam
memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga
dalam pelaksanaan tugas dilapangan tidak ada keragu-raguan dalam melakukan tindakan
penegakan hukum agar terwujud kepatuhan pengguna lalu lintas yang patuh terhadap
peraturan lalu lintas sehingga terwujud situasi kamseltibcarlantas di jalan..

2.

Pedoman/Acuan
2.1
Undang-Undang. No.8 tahun 1981 tentang KUHAP (pasal 221 s/d 216)
2.2
Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2.3
Undang- Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan.

10
2.4

PP No. 41 s/d PP No. 44 tahun 1993.

2. Pengertian
3.1

Lalu lintas adalah gerak kendaraan dan orang dan Ruang lalu lintas dijalan.

3.2

Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang
berada pada kendaraan itu.

3.3

Pelanggaran Lalu lintas adalah perbuatan yang bertentangan dengan perundangundangan lalu lintas dan atau peraturan lalu lintas yang menimbukan kerugian jiwa
atau benda tetapi dapat mengganggu Kamseltibcar Lantas.

3.4

Quick Respon Sat Lantas adalah tindakan nyata personil lalu lintas berupa upaya,
kegiatan dan pekerjaan secara cepat, tepat, menangani kejadian atau masalah yang
berhubungan dengan kemacetan arus lalu lintas, pengawalan, kecelakaan lalu lintas,
baik yang diketahui, didengar atau dilihat langsung oleh petugas maupun laporan
masyarakat kepada petugas atau call centre dengan TPTKP, Pengaturan,
Pertolongan dan Penyelamatan, represif tahap awal serta tindakan kepolisian lain
yang tidak bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang.

3.5

Pelanggaran adalah penyimpangan terhadap ketentuan undang-undang yang


berlaku.

3.6

Penindakan Pelanggaran Lalu lintas adalah tindakan hukum yang ditunjukan kepada
pelanggar peraturan perundang-undangan lalu lintas, yang dilakukan oleh petugas
Kepolisian Republik Indonesia baik secara Edukatif maupun Yuridis.

3.7

Tindakan Edukatif adalah bentuk tindakan yang diberikan oleh petugas Kepolisian
Republik Indonesia kepada pelanggar secara simpatik dalam bentuk
teguran/peringatan, tindakan ini hanya ditujukan terhadap pelanggaran lalu lintas
yang sifatnya ringan dan terhadap pelanggar yang masih asing dengan suatu wilayah
(pendatang baru).

3.8

Tindakan Yuridis adalah bentuk tindakan yang diberikan oleh petugas Kepolisian
Republik Indonesia kepada pelanggar secara Yuridis (Acara Pemeriksaan Cepat /

11
Tilang, Acara Pemeriksaan Singkat). Tindakan ini ditujukan kepada para pelanggar
peraturan perudang-undangan lalu lintas.
3.9

Tilang adalah bukti pelanggaran lalu lintas yang meliputi pelanggaran secara kasat
mata mudah diketahui, tidak perlu alat untuk membuktikan dan tidak perlu
keterangan ahli.

3.10

Dakgar Lantas adalah suatu tindakan yang dilaksanakan oleh Anggota Polri
khususnya personil lantas sebagai Penyidik/penyidik pembantu dalam hal dan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk menindak kepada semua
elemen masyarakat yang melanggar peraturan undang-undang yang telah
ditetapkan, yang bermuara menimbulkan kemacetan serta potensial menyebabkan
terjadinya laka lantas.

3.11 Tabel denda adalah kesepakatan perkiraan denda bagi jenis-jenis pelanggaran yang
ditetapkan oleh Surat Keputusan Ketua Pengadilan Negeri. Selanjutnya tabel ini
dipergunakan oleh Penyidik untuk mencantumkan besarnya denda yang harus
dibayar ke Bank.
4.

Alat
4.1

4.2
4.3
4.4
5.

Alat perlengkapan penindakan pelanggaran lalu lintas yang digunakan


4.1.1 Blangko Tilang / BAP Singkat.
4.1.2 Surat Perintah Tugas.
4.1.3 Papan Petunjuk adanya pemeriksaan.
4.1.4 Label Barang Bukti.
Piranti pendukung lainnya;
Perundang-undangan, buku-buku dan referensi yang berkaitan dengan produk
hukum;
Jalan yang digunakan sebagai tempat untuk dilakukan penindakan terhadap
pelanggaran lalu lintas.

Prosedur Pelaksanaan
5.1
Tahap persiapan
Untuk penindakan pelanggaran lalu lintas administrasi pendukung yang perlu
disiapkan antara lain :
5.1.1 Blangko Tilang / BAP Singkat.
Bentuk dan Administrasi Tilang

12
a.

Tilang
bentuk dan formatnya merupakan Berita Acara yang
disederhanakan sehingga dalam Tilang tercantum catatan Polisi tentang :
1). Identitas pelanggar
2). Jenis pelanggaran
3). Lokasi pelanggarannya
4). Barang bukti yang diminta
5). Waktu pelaksanaan sidang
6). Dan pada sebaliknya catatan untuk Pengadilan dan Kejaksaan
7). Data penindakan lengkap dengan tanda tangan

b. Tilang terdiri dari 5 lembar dan masing masing berlainan warna :


(1). Merah dan atau Biru untuk Pelanggar
(2). Hijau untuk Pengadilan
(3). Putih untuk Kejaksaan
(4). Kuning untuk Polri
c. Fungsi Tilang :
(1). Sebagai surat panggilan ke Pengadilan Negeri
(2). Sebagai pengantar untuk pembayaran denda ke Bank /
Panitera
(3). Sebagai tanda penyitaan atas barang bukti yang di sita
( SIM, STNK, Kendaraan Bermotor ).
5.1.2 Surat Perintah Tugas.
5.1.3 Papan Petunjuk adanya pemeriksaan
5.1.4 Label Barang Bukti.
5.2

Tahap Pelaksanaan
5.2.1 Pelaksanaan penindakan pelanggaran lalu lintas digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Penindak bergerak / Hunting yaitu cara menindak pelanggar
sambil
melaksanakan patroli (bersifat insidentil). Sifat penindakan ofensif
terhadap pelanggaran yang tertangkap tangan ( Pasal 111 KUHAP) bagi
petugas tidak perlu dilengkapi Surat Perintah Tugas
2. Penindakan ditempat / stationer yaitu cara melaksanakan pemeriksaan
kendraan bermotor sebagaimana yang diatur dalam pasal 2 huruf a, pasal
3 (1), pasal 7, pasal 1a2, pasal 13 (1,2), pasal 14, pasal 15, pasal 18. PP
42 tahun 1993.

13
5.2.2

Dalam pelaksanaannya harus dilengkapi dengan Surat Perintah Tugas dan


dipimpin oleh Perwira.pada setiap lokasi pelaksanaan pemeriksaan kendraan
bermotor petugas dibagi dalam kelompok-kelompok:
1. Petugas yang beri isyarat mengurangi kecepatan.
2. Petugas yang menghentikan.
3. Petugas yang memeriksa
4. Petugas yang melaksanakan penilangan
5. Petugas yang mengamankan Barang bukti
6. Petugas yang siap sedia melakukan tindakan lain
(pengajaran,
mengantisipasi kalau ada perlawanan Fisik).
5.2.3 semua Pelanggaran ditindak denganTilang Alternatif I, kecuali bagi pelanggar
yang tidak mengakui kesalahannya/tidak mau tanda tangan, ditindak dengan
alternatif III.
5.2.4 Proses Acara Pemeriksaan Pelanggaran Lalu lintas menggunakan Tilang
sebagaimana diatur dalam Pasal 211 KUHAP
5.3

Kelengkapan Tugas
5.3.1 Pakaian petugas menggunakan PDL Sus Lantas lengan panjang dilengkapi
sabuk dan manshet.
5.3.2 Alkomlek yang bisa digelar ke mako dan induk / pos-pos.
5.3.3 Kendaraan bermotor secukupnya.

5.4

Tehnik Penindakan.
a. Penindakan bergerak dilaksanakan pada saat petugas sedang melakukan :
1). Patroli lalu lintas.
2). Pengaturan dan penjagaan pada PH Lantas (persimpangan, ruas jaln dll).
b. Penindakan ditempat pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
1). Direncanakan terlebih dahulu.
2). Dilengkapi dengan Surat Perintah Tugas
3). Harus dipimpin oleh Perwira.
4). Lokasinya ditetapkan.
5). Sasaran diprioritaskan.
6). Dapat dilaksanakan secara gabungan dengan instansi terkait (Pemda, DLLAJ,
Jasa Raharja dll).
c. Sistem penindakan
(1). Alternatif penindakan
Pelaksanaan penindakan dengan Tilang ada 2 alternatif

14
yaitu :
(a). Alternatif I diperuntukan :
- Terhadap pelanggar yang mengakui
Kesalahannya
- Pelanggar bersedia bayar denda ke Bank dan diwakili
petugas yang ditunjuk Polri
- Formulir Tilang yang disampaikan warna biru
(b).

oleh

Alternatif II diperuntukkan :
Terhadap pelanggar yang tidak mengakui
kesalahan, menentang
petugas dengan cara tidak mau tanda tangan dan atau pelanggar
yang melakukan pelanggaran pada ruas jalan yang ditetapkan sebagai
Pilot Proyek Tertib Lalu Lintas( PPKTL ).

(2). Prosedur dan Mekanisme Tilang


Polri selaku penyidik bertugas :
(a). Menindak pelanggar baik dengan alternatif I
maupun alternatif III.
(b). Pelaksanaan Tilang alternatif I :

Polri
menindak
dengan
menggunakan
Formulir warna biru

Menyarankan pelanggar dalam


kesempatan pertama bayar
denda ke Bank ( Maksimal dalam batas waktu 5 hari ).

Setelah pelanggar bayar denda ke Bank dan Bank telah


memberikan validasi berupa Cap Registrasi, segera Polri
mengembalikan Barang Bukti yang di sita.

Berkas Tilang akan diajukan secara


kumulatif oleh petugas
Ba Tilang ke PN sedangkan sidang dihadiri oleh wakil yang
ditunjuk.
(c). Pelaksanaan tilang alternatif III.
- Polri menindak dengan menggunakan Folmulir warna merah.
- Dalam penetapan hari sidang harus memperhatikan ketetapan
yang telah ditentukan oleh Pengadilan.
- Jelaskan kapan dimana pelanggar harus menghadiri sidang.
- Bilamana pelanggar tidak hadir, Penyidik berkewajiban sampai
dengan 2 kali memanggil dan untuk ke 3 kalinya langsung
melakukan penangkapan ( Pasal 20 (2) KUHAP).

15
-

6.

Pengembalian barang bukti menunggu selesainya sidang dan


dengan bukti setelah pelanggar membayar denda kepada
Panitera Pengadilan.

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


1. Pengawasan
a. Analisa dan evaluasi hasil laporan.
b. Mengecek pelaksanaan melalui alat komunikasi (Telepon / HT).
c. Mengontrol langsung.
2. Pengendalian
a. Melalui pelaporan hasil pelaksanaan tugas.
b. Langsung dan tidak langsung
c. Dalam pelaksanaan Penindakan pelanggar Lantas dilarang:
1. Menyimpang dari Pelaksanaan tugas pokok
2. Menerima segala bentuk imbalan dan atau pungli.
3. Melepas atribut atau perlengkapan yang ada pada perorangan.
4. Melakukan tindakan tercela yang dapat merugikan masyarakat, profesi dan
kesatuan.

16
7.

PENUTUP
1.
2.
3.

Ketentuan perubahan dan berlakunya Standard Operation Procedur ini ada pada Dit
Lantas Polda Gorontalo yang pelaksanaan dan pembinaan / bimbingan teknis
dilakukan oleh Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Gorontalo.
Ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan prosedur Ur Langgar yang telah
ada dan tidak bertentangan dengan Petunjuk Pelaksanaan ini tetap berlaku
sebagaimana mestinya.
Buku Standard Operation Procedure (SOP) berlaku sejak ditetapkan.
Ditetapkan di
Pada tanggal

:
:

Gorontalo
2016

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO


WAKA
u.b
KASAT LANTAS
TTD
WAWAN ANDI S. SH.SIK.
AJUN KOMISARIS POLISI NRP 82051524

17
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO
STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR PENGATURAN,
PENGAWALAN, PATROLI (
TURWALI ) LANTAS
NO DOKUMEN

NO REVISI

HALAMAN

SOP/LANTAS/RES-GTO/03

00

17-29

TANGGAL TERBIT :
DIBUAT OLEH
KANIT TURWALI

DIPERIKSA OLEH
KASAT LANTAS

IPDA NRP 91020215

1.

DISAHKAN OLEH
KAPOLRES GORONTALO

TTD

T TD
BAYU R. FELINDRA SIK

2016

TTD

WAWAN ANDI S. SH.SIK


AKP NRP 82051524

HERRI RIO PRASETYO SIK.

AKBP NRP 70020380

Tujuan
Disusunnya Standar Operasional Prosedur (SOP) turjawali lantas ini bertujuan untuk
memberikan pedoman dalam rangka pelaksanaan tugas seorang polisi lalu lintas dalam
bidang pengaturan, penjagan, pengawalan dan patroil lalu lintas. Diharapkan dengan adanya
Standar

Operasional

Prosedur

turjawali

lantas

ini

dapat

lebih

meningkatkan

dan

18
memantapkan perannya dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan tugas di lapangan tidak ada keragu-raguan
dalam melaksanakan tugas pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli lalu lintas,
sehingga tercipta situasi kamseltibcarlantas yang baman dan kondusif.
2.

Pedoman / Acuan
2.1 Undang-Undang No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP (pasal 221 s/d 216)
2.2 Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2.3 Undang Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan.
2.4 Undang- Undang no 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

3.

PENGERTIAN
3.1

Lalu lintas adalah gerak kendaraan dan orang dan ruang Lalu lintas di jalan

3.2

Pengaturan adalah pemberitahuan kepada pengguna jalan bagaimanan dan dimana


dapat atau tidak dapat bergerak terutama pada waktu macet atau darurat dalam arti
luas semua aktivitas dari kepolisian dalam mengatur lalulintas dijalan umum.

3.3

Penjagaan adalah suatu kegiatan Kepolisian dalam rangka memberikan pelayanan


masyarakat guna mewujudkan rasa aman baik fisik maupun psikis dengan cara
menempatkan personil Unit Turjawali di pos-pos baik pos tetap maupun pos
sementara.

3.4

Pengawalan adalah suatu kegiatan Kepolisian dalam rangka memberikan pelayanan


pejabat, masyarakat maupun barang lainnya untuk kemudahan di jalan raya tanpa
ada hambatan.

19
3.5

Patroli adalah suatu bentuk kegiatan bergerak dari suatu tempat ke tempat tertentu
yang dilakukan oleh anggota Unit Turjawali Lantas Polri guna mencegah terjadinya
tindak kriminal, memberikan rasa aman, perlindungan dan pengayoman kepada
masyarakat serta melaksanakan patroli didaerah rawan laka,langgar dan macet

3.6

Turjawali adalah suatu kegiatan pengaturan, penjagan, pengawalan dan patroli


lalu lintas yang bertujuan untuk menciptakan Kamseltibcar Lantas dan menekan
angka kecelakaan.

4.

ALAT/ PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN


4.1 Alat/ perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan turjawali lantas sebagai
berikut:
4.1.1

4.1.2

Kelengkapan perorangan
a.

Gampol yang berlaku sesuai ketentuan

b.

Tanda pengenal anggota bisa berupa KTA, KTP, SIM, dll

c.

Sabuk Lantas

d.

Rompi

e.

Pet/Helm/Topi lapangan (sesuai kegiatan)

f.

Borgol

g.

Peluit

h.

Manset

i.

Senter pengatur lalu lintas

j.

Persenjataan ( sesuai kebutuhan )

Kelengkapan secara umum :


a.

Surat perintah tugas

b.

Blangko tilang

c.

Papan operasi

20
4.1.3

Perundang-undangan, buku-buku dan referensi yang berkitn dengan


turjawali

4.1.4

Alat komunikasi ( HT, HP, dll )

4.1.5

Kendaraan patroli ( R2 dan R4 ) serta bahan bakar


Perlengkapan mobil patroli
1)
2)
3)
4)
5)

5.

Perangkat pengeras suara


Lampu rotator
Public Adress
Senter
P3K

PROSEDUR PELAKSANAAN
5.1. a. Tahap persiapan pengaturan
1. Menyiapkan Surat perintah tugas
2. Memperhatikan sikap tampang, rapi, bersih dan penampilan personel.
3. mengecek kelengkapan perorangan yg dimiliki anggta antara lain : tutup kepala
(pet/helm), sempritan & manset, termasuk kartu anggota.
4. mengecek kelengkapan lapangan antara lain; tongkat lantas, senter serba guna
(untuk kegiatan malam hari), rompi lantas, jas hujan.
5. Memberikan app sebelum melaksanakan tugas.
6. Setiap petugas pengaturan lantas dilengkapi buku tilang & blanko teguran.
7. Petugas pengaturan lalulintas sudah harus berada di lapangan sebelum
masyarakat melakukan aktivitas.
b. Tahap pelaksanaan
1. Petugas menempatkan diri pada tempat yg mudah dilihat oleh pemakai jalan &
terjamin keamanan dalam pelaksanaan tugas.
2. Petugas menguasai 12 sikap dasar pengaturan lalulintas.

21
3. Mengambil posisi

sedemikian rupa sehingga mudah melakukan

gerakan

pengaturan lantas
4. Petugas

yang

melaksanakan

pengaturan

lalulintas

tidak

dibenarkan

menggunakan rompi yg menutup identitas petugas (nama/pangkat/kesatuan).


5. Bila arus lalulintas dalam keadaan normal, petugas melaksanakan penjagaan
lalulintas & kegiatan2 sebagai berikut :
a. Melakukan pengamatan & mencari faktor2 penyebab timbulnya masalah
lalulintas serta menjadikan prioritas untuk penyelesaiannya.
b. Mengadakan pembinaan & pendekatan terhadap potensi masyarakat yg ada
disekitar lokasi & bila diperlukan diminta untuk berperan serta dalam
membantu pengaturan lalulintas.
c. Bila temukan pelanggar yang dilakukan oleh pengemudi / pengendara yangg
dilihat dengan kasat mata (tidak menggunakan helm sesuai ketentuan, (tali
helm tidak diikat

& bukan helm yg memenuhi standar), kendaran tidak

penuhi syarat laik jalan, pengemudi / pengendara tidak menggunakan lajur


paling kiri pada jalan yang memiliki lajur lebih dari 1 terutama sepeda motor
& angkutan berat, petugas harus melakukan tindakan sebagai berikut :
1. berhentikan kendaraan pelanggar pada tempat yang memiliki ruang yang
cukup untuk berhenti & tidak mengganggu arus lalulintas. (usahakan di
bahu jalan).
2. menyuruh pelanggar ke bahu jalan.
3. memerintahkan pelanggar untuk mematikan kendaraan.
4. memberitahukan kapada pelanggar tentang pelanggaran yang dilakukan.
5. memberi penjelasan kepada pelanggar tentang pentingnya perlengkapan
kendaraan / sopan santun pengemudi.

22
6. petugas menanyakan surat-surat kendaraan / pengemudi dari pelanggar,
& bila salah satu tidak ada, dapat dilakukan tilang (tidak dapat
menunjukan sim & atau stnk).
7. mengamankan barang bukti yang disita termasuk berkas tilang &
menyerahkan kepada baur tilang pada hari itu juga, bila baur tilang tidak
ada, barang bukti diserahkan kepada petugas jaga / piket pada hari itu
(petugas piket mencatat dalam buku mutasi penjagaan).
8. memberikan pelayanan kepada pengguna jalan yang perlu bantuan.
9. petugas

dapat

melakukan

tindakan

diskresi

kepolisian

terhadap

pengemudi yang melakukan pelanggaran (teguran lisan / tertulis).


10. membantu masyarakat yang akan menyeberang.
11. menegur angkot yang menurunkan / menaikkan penumpang pada badan
jalan / tempat terlarang (rambu larangan berhenti, tikungan, traffic light,
jembatan, marka garis tidak terputus dan lain - lain).
12. apabila terjadi kepadatan arus lalu lintas, aggota yang bertugas pada
traffic light wajib melaksanakan pengaturan & tidak memfungsikan
sementara traffic light sebelum arus lalu lintas kembali normal.
d.

Hal-hal yg Dilarang pada saat Pengaturan


1.

Pada saat melaksanakan

pengaturan lalu lintas dilarang ngobrol sesama

petugas.
2.

dilarang berdiri dengan cara-cara yang tidak sesuai ketentuan seperti


istrahat kuda / membelakangi arus lalu lintas.

3.

dilarang pegang ht dengan tangan kanan & penghormatan pada saat


melaksanakan pengaturan yang dapat akibatkan tidak jelas perintah /
larangan yang diberikan kepada pengguna jalan.

23
4.

pada saat melaksanakan pengaturan petugas dilarang menggunakan hp.

5.

petugas dilarang memarkir kendaraan pada tempat larangan parkir /


berhenti termasuk marka chevron.

6.

petugas dilarang ambil sekecil apapun untuk kepentingan pribadi / orang


lain dari barang bukti yang disita.

7.

petugas dilarang terima uang titipan denda tilang di jalan.

8.

petugas dilarang terima imbalan dalam bentuk apapun yang terkait dengan
kasus pelanggaran & kecelakaan lalulintas.

9.

dilarang istrahat (duduk) di pinggir jalan

5.2.a. Tahap persiapan penjagaan


1.

Menentukan jenis penjagaan, meliputi pos tetap, pos sementara, dan pos yang
diperkuat.

2.

Mengecek kesiapan personil yang akan melaksanakan penjagaan (kesehatan,


kerapihan dan sikap tampang).

3.

Mengecek peralatan perlengkapan perorangan.

4.

Mendata lokasi/daerah yang dilengkapi/tidak Apil.

5.

Mengecek lokasi/daerah yang perlu dilakukan pengawasan/tdidak secara terus


menerus.

6.

Menentukan jumlah personel yang dilibatkan berdasar kerawanan

7.

Melaksanakan APP tentang:


a. lokasi rawan laka/macet
b. Cara bertindak
c. Hal khusus yang perlu diatensi

24
b. Tahap pelaksanaan
1.

kegiatan penjagaan lalu lintas dengan pola jaga = 2 kelompok pengertian pola
dilaksanakan 1 hari.

2.

posisi petugas jaga aman, mudah melihat/dilihat & menghadap arah lantas
berada di luar jalan/jalur, pada kondisi tertentu dapat di badan jalan.

3.

pola waktu pengaturan jam dinas disesuaikan dengan anatomi karakteristik


ancaman/ kerawanan

4.

konsolidasi & analisa selesai tugas jaga dengan laksanakan apel cek kuat
personel & perlengkapan jaga serta membuat laporan dalam buku mutasi

5.

pengawasan pengendalian & alat arus lalu lintas.

6.

menemukan & menindak pelanggar (peringatan/ditindak )

7.

melakukan TPTKP

8.

memberi pelayanan kepada pengguna jalan

5.3.a Tahap persiapan pengawalan


1.

adakan survey route perjalanan utama & alternatif sebelum dilaksanakan


pengawalan.

2.

cek sikap tampang & kerapihan.

3.

cek kelengkapan perorangan & kelengkapan lapangan.

4.

cek kelengkapan kendaraan.

5.

siapkan sprin pengawalan.

6.

melaksanakan app sebelum melaksanakan tugas.

7.

cek air accu, angin, ban, oli mesin, rem, power stering, lampu, segitiga
pengaman, traffic cone, meteran, alat tulis, kapur, accident kit dan lain lain.

25
b. Tahap pelaksanaan
1.

menentukan formasi pengawalan sesuai prosedur kawal kehormatan, kawal


pengamanan & pengawalan pemantauan dengan mempertimbangkan obyek
yang dikawal.

2.

petugas harus menguasai kendaraan yang digunakan, route pengawalan &


keadaan cuaca sebelum melakukan pengawalan.

3.

melaksanakan koordinasi melalui alat komunikasi dengan unsure-unsur /


petugas pam yg ada di sepanjang route perjalanan.

4.

mampu melakukan prosedur teknis escape dengan mempertimbangkan


keamanan obyek pengawalan sebagai prioritas & mencari jalan terdekat dalam
keadaan darurat.

5.

operator pengawalan / pengemudi harus tahu persis kondisi ranmor yang


dikawal, sehingga pelaksanaan pengawalan berjalan lancar (tidak terjadi yang
dikawal tertinggal/ terpisah).

6.

menjamin keamanan dan keselamatan obyek pengawalan sampai tujuan.

c. hal hal yang dilarang


1.

pada

saat

meminta

jalan

untuk

mendahului

kendaraan

tidak

boleh

menggunakan tangan terbuka, tetapi cukup dg jempol diangkat keatas


2.

menggunakan sirine hanya dengan skala prioritas seperti pada jalur tikungan,
terjadi kepadatan & kemacetan arus lalulintas

3.

dilarang menggunakan jalur lain yang berlawanan untuk mendahului, kecuali


dalam situasi aman

4.

melaksanakan kegiatan lain di luar tugas mengawal

26
5.4.a Tahap persiapan Patroli
1.

cek sikap tampan & kerapihan.

2.

cek kelengkapan perorangan.

3.

siapkan surat perintah pelaks patroli.

4.

melaks app sebelum melaksanakan tugas.

5.

Siapkan kendaraan dan kelengkapannya.

6.

cek air accu, angin ban, oli mesin, rem, power stering, lampu, segitiga
pengaman, traffic cone, meteran, alat tulis, kapur, accident kit ,lampu signe, dll.

b. Tahap pelaksanaan
1.

mengemudikan ranmor dengan kecepatan rata-rata maksimal 30 km/jam

2.

jalan di jalur paling kiri

3.

melakukan pengamatan di route patroli

4.

mencatat hal-hal yang menonjol

5.

dipandang perlu minggir / berhenti & yang satu keluar kendaraan sedang
pengemudi tetap di atas kendaraan

6.

lakukan dikmas lantas

7.

selalu komunikasi dengan induk kesatuan, pos yg dilewati

8.

penggunaan sirene sesuaikan dengan kebutuhan

9.

melakukan pelayanan masyarakat & kepolisian tugas umum.

10. setiap melaksanakan patroli lampu rotator senantiasa menyala.


11. saat patroli kaca samping pengemudi & pendamping senantiasa terbuka kecuali
hujan.
12. saat melaksanakan patroli, petugas mengamati & mencermati situasi arus
lalulintas, mengintai & menemukan pelanggar, membuntuti dari belakang

27
dengan cara yang aman, mendahului dengan kecepatan diatas rata-rata &
mengambil tindakan sesuai prosedur.
13. mengemudi kendaraan patroli dalam kecepatan rata2 max 40 km / jam sehingg
mudah mengawasi situasi yang dilalui.
14. mencatat masalah yang menonjol, bila ada yang mencurigakan segera minta
informasi kepada kesatuan terdekat.
15. melaporkan situasi lalulintas pada pos / kesatuan polri terdekat.
16. membantu petugas gatur untuk melakukan pengaturan lantas bila terjadi
macet / semrawut lalulintas.
17. pada lokasi2 tertentu petugas patroli melakukan penerangan lalulintas dengan
menggunakan public adress.
18. bila menemukan pelanggar lalulintas segera melakukan tindakan sesuai proses
penindakan, bila dalam tindakan tersebut harus disita barang bukti agar
melakukan koordinasi dengan sat lantas pada kesatuan setempat utk
penindakan lebih lanjut (untuk patroli antar wilayah).
19. bila menemukan laka lantas & kasus kejahatan lain segera ambil tindakan
pertama di TKP & hubungi kesatuan polri setempat untuk penyelesaian proses
lanjut.
20. melihat iring-iringan pengantar jenazah, lakukan pengawalan terhadap
rombongan jenazah.
21. pada saat melaksanakan patroli melihat mobil berhenti, maka harus berhenti di
belakang mobil tersebut & menyapa pengemudi serta berikan bantuan yang
diperlukan tanpa harapkan imbalan dari masyarakat, dengan motto bisa
membantu merupakan kebahagiaan kami.
22. pada saat melaksanakan patroli posisi ranmor berada pada lajur paling kiri.
23. membuat laporan hasil pelaksanaan patroli.

28

c. hal-hal yang dilarang


1. mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi kecuali dalam keadaan
tertentu yg butuh penindakan dengan cepat (bawa korban laka lantas).
2. melaksanakan pembiaran terhadap terjadinya kemacetan & pelanggaran lalulintas.
3. tidak melaksanakan tindakan pertama di TKP apabila menemukan kasus laka
lantas / kejahatan lain yang terjadi di jalan.
4.

pada saat melakukan patroli dilarang melaksanakan razia kendaraan dengan dalih
apapun kecuali atas perintah untuk menangkap pelaku kejahatan yang melarikan
diri.

6.

5.

dilarang melakukan tindakan penilangan di dalam kendaraan.

6.

dilarang membuka pet & merokok dalam mobil.

7.

memberhentikan ranmor secara mendadak.

8.

dilarang memasang kaca film lebih dari 40 persen.

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


1. Pengawasan
a.

Analisa dan evaluasi hasil laporan.

b.

Mengecek pelaksanaan melalui alat komunikasi (Telepon / HT).

c.

Mengontrol langsung di route pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli lalu


lintas yang sudah ditentukan.

d.

Survey secara langsung kepada masyarakat dalam route yang telah ditentukan dan
menanyakan respon masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan pengaturan,
penjagaan, pengawalan dan patroli lalu lintas.

29
2. Pengendalian
a.

Melalui pelaporan hasil pelaksanaan tugas.

b.

Langsung dan tidak langsung

c.

Dalam pelaksanaan kegiatan turjawali dilarang:


1.

Menyimpang dari route daerah yang telah ditentukan.

2.

Menerima segala bentuk imbalan dan atau pungli.

3.

Melepas atribut atau perlengkapan yang ada pada perorangan.

4.

Melakukan tindakan tercela yang dapat merugikan masyarakat, profesi dan


kesatuan.

7.

PENUTUP
1. Ketentuan perubahan dan berlakunya Standard Operation Prosedur ini ada pada Dit
Lantas Polda Gorontalo yang pelaksanaan dan pembinaan / bimbingan teknis dilakukan
oleh Kasubdit Bin Ops Ditlantas Polda Gorontalo.
2. Ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan prosedur Unit Turjawali yang telah ada
dan tidak bertentangan dengan Petunjuk Pelaksanaan ini tetap berlaku sebagaimana
mestinya.
3. Buku Standard Operation Prosedur (SOP) berlaku sejak ditetapkan.
Ditetapkan di
Pada tanggal

:
:

Gorontalo
2016

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO


WAKA
u.b
KASAT LANTAS
TTD
WAWAN ANID S. SH.SIK.
AJUN KOMISARIS POLISI NRP 82051524

30

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR
PELAYANAN SIM

NO. DOKUMEN
SOP/LANTAS/RES-GTO/04

NO. REVISI
00
TANGGAL TERBIT:

DIBUAT OLEH
KANIT REG IDENT
TTD
SUPOMO
IPDA NRP 77080010
1.

HALAMAN
30-46
2016

DIPERIKSA OLEH
KASAT LANTAS
TTD
WAWAN ANDI S. SH.SIK
AKP NRP 82051524

DISAHKAN OLEH
KAPOLRES GORONTALO
TTD
HERRI RIO PRASETYO SIK.

AKBP NRP 70020380

Tujuan.
Tujuan dibuatnya standar operasional prosedur pelayanan SIM ini agar dapat
digunakan sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pelayanan publik secara
professional serta meningkatkan citra dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri
khususnya Polantas, serta guna persamaan persepsi petugas pelaksana pelayanan publik di
SATPAS, yang sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku.

31
2.

3.

Dasar
2.1
Undang Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang
Indonesia;

Kepolisian Negara Republik

2.2

Undang Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan;

2.3

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 44 tahun 1993 tentang kendaraan


dan pengemudi, pada pasal 216, dinyatakan bahwa pemberian surat ijin mengemudi
sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lalu lintas dan angkutan jalan
dilaksanakan oleh unit pelaksana penerbitan surat ijin mengemudi kendaraan
bermotor Satuan Lalu Lintas Negara Republik Indonesia yang selanjutnya dalam
peraturan pemerintah ini disebut Pelaksana Penerbitan Surat Ijin Mengemudi SIM);

2.3

Peraturan Pemerintah Nomor 31 tahun 2004 tentang tariff dan jenis Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada POLRI;

2.4

Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2012 tentang Surat Ijin Mengemudi.

2.5

Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor: 63 / KEP/M.PAN/7/2003


tanggal 10 Juli 2003 tentang Pedoman Umum Pelayanan Publik;

Pengertian
Satpas adalah Satuan Penyelenggara administrasi surat ijin mengemudi (SIM) dan
merupakan satu unit / seksi organisasi di bawah Kepolisian Resor (Polres) yang dibentuk
berdasarkan peraturan Kapolri Nomor 23 tahun 2010 tanggal 30 September 2010 tentang
susunan organisasi dan tata kerja pada tingkat Kepolisian Resor (Polres) dan Kepolisian
Sektor (Polsek);
3.1

SATPAS memiliki tugas pokok sebagai berikut :


a. menyelenggarakan bimbingan teknik latihan dalam pelaksanaan Registrasi dan
Identifikasi Pengemudi (SIM);
b. mengatur penyelenggaraan pengadaan, pendistribusian dan penyimpanan
formulir blangko serta kelengkapan lain yang diperlukan dalam pelaksanaan
Regident Pengemudi;

32
c.

menjamin bahwa sarana Regident pengemudi yang diterbitkan


dipertanggung jawabkan, baik secara formal maupun material;

dapat

d. menerbitkan SIM beserta administrasinya bagi pemohon yang telah memenuhi


persyaratan sesuai ketentuan yang beriaku;
e. melaksanakan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data di bidang SIM;
f.

melaksanakan uji ulang, pembatalan SIM dan administrasi, pencabutan SIM oleh
Hakim serta sistem Rencana pelanggaran / Hukuman yang dijatuhkan kepada
pemegang SIM;

g. menyelenggaraan administrasi dari hasil kegiatan penerbitan SIM;


h. penyelenggaraan kegiatan yang bersifat penelitian dan pengembangan dalam
bidang SIM;
i.

mengkoordinir pengawasan dan pengendalian kegiatan sekolah mengemudi;

j.

menunjang instansi samping yang terkait dalam penerbitan SIM;

k. menyelenggarakan hubungan lintas fungsional Polri, maupun lintas sektoral


dengan instansi lain berkaitan dengan pelaksanaan registrasi mengemudi;
4.

PELAKSANAAN
4.1

Waktu, metode, obyek dan subyek pelayanan.


1. Waktu pelayanan.
Waktu pelayanan SIM dilaksanakan setiap hari kerja (Senin s/d Jumat) kecuali
hari libur nasional, yaitu jam 08.00 WIB s/d selesai;
2. Metode pelayanan.
Metode pelayanan publik dilaksanakan secara tidak rumit, tidak berbelit - belit,
efektif, efisien, dan transparan dalam hal prosedur, biaya dan waktu dengan
tetap mengedepankan aspek akurasi dan keamanan;

33
3. Obyek Pelayanan.
Obyek pelayanan Satpas adalah pemohon yang telah memenuhi persyaratan
sesuai ketentuan yang berlaku baik permohonan SIM baru, perpanjangan,
mutasi masuk, SIM rusak dan peningkatan golongan;
4. Subyek Pelayanan.
Penerbitan SIM dilaksanakan oleh Unit pelaksana penerbitan surat ijin
mengemudi kendaraan bermotor Satuan Lalu Lintas Negara Republik
Indonesia;
4.2

Pelayanan Satpas
Mekanisme Pembuatan SIM pada Satpas Polres Limboto :
1.

Loket Bank;

2.

Permohonan Baru;

3.

Permohonan Perpanjangan;

4.

Permohonan Hilang;

5.

Permohonan Rusak;

6.

Permohonan Mutasi masuk;

7.

Prosedur :
a.

Petugas loket BRI menerima beamin SIM dari pemohon sesuai dengan
PNBP (Baru = SIM A : Rp. 120.000, Baru SIM B = Rp. 120.000,- Baru SIM
C = Rp. 100.000,- Perpanjangan SIM A = Rp. 80.000,- Perpanjangan SIM
B = Rp. 80.000,-Perpanjangan SIM C = Rp. 75.000);

b.

Petugas mencatat pada buku register beamin SIM dan mencatat identitas
pemohon pada kwitansi pembayaran beamin SIM;

34
c.
8.

Petugas memberikan kwitansi pembayaran kepada pemohon warna


kuning, warna merah untuk berkas dan warna hijau untuk arsip;

Loket Pendaftaran
a.

b.

Identifikasi persyaratan pendaftaran permohonan SIM, meliputi :


1)

Permohonan SIM Baru;

2)

Permohonan SIM Perpanjangan;

3)

Permohonan SIM Hilang;

4)

Permohonan SIM Rusak;

5)

Permohonan surat rekomendasi peningkatan Gol SIM;

6)

Permohonan mutasi masuk;

7)

Permohonan surat rekomendasi mutasi keluar;

Tanggung jawab petugas pendaftaran terdiri dari :


1)

Mengecek kelengkapan persyaratan administrasi;

2)

Memilah berkas sesuai dengan permohonan;

3)

Mengembalikan berkas ke pemohon apabila tidak lengkap untuk


dilengkapi;

4)

Mencatat dan memberi nomor registerasi;

5)

Memberikan nomor antrian;

6)

Menyerahkan berkas pemohon ke loket entri data;

7)

Mengarahkan
selanjutnya;

pemohon

untuk

duduk

menunggu

panggilan

35
8)

Melakukan panggilan kepada pemohon SIM yang akan


melaksanakan Ujian Teori baik pemohon SIM baru ataupun
pemohon SIM perpanjangan yang masa berlakunya sudah habis;

9)

Menyerahkan berkas ke loket uji teori;

10)

Menyerahkan surat pengantar berkas mutasi / peningkatan golongan


SIM;

Prosedur :
Petugas loket pendaftaran menerima dan memeriksa kelengkapan berkas
administrasi dari pemohon berupa :
a.

b.

Permohonan baru :
1)

Formulir permohonan;

2)

Fotocopy KTP ( usia 17 tahun ke atas);

3)

Fotocopy Surat keterangan dari kelurahan bagi yang belum


mempunyai KTP;

4)

Fotocopy paspor dan Kartu Ijin Menetap Sementara (KIMS) bagi


orang asing (bisa ditambah kartu tanda lapor diri);

5)

Fotocopy Surat keterangan tentang ganti nama atau ketetapan ganti


kewarga negaraan bagi yang diperlukan;

6)

Surat keterangan sehat dari dokter;

Permohonan perpanjangan :
1)

Formulir permohonan;

2)

Fotocopy KTP / Jati diri;

3)

Asli SIM lama;

36

c.

d.

4)

Surat keterangan sehat dari dokter;

5)

Bagi SIM yang telah habis masa berlakunya lebih dari 1 tahun, harus
mengikuti ujian teori dan praktek;

Peningkatan golongan
1)

Formulir permohonan;

2)

Fotocopy KTP / Jati diri;

3)

Fotocopy paspor dan Kartu Ijin Menetap Sementara (KIMS) bagi


orang asing (bisa ditambah kartu tanda lapor diri);

4)

Fotocopy Surat keterangan tentang ganti nama atau ketetapan ganti


kewarganegaraan bagi yang diperlukan;

5)

Surat keterangan sehat dari dokter;

6)

Sertifikat klipeng (klinik pengemudi) untuk Sim A Umum dan Sim B;

Permohonan SIM Hilang / Rusak.


1)

Formulir permohonan;

2)

Surat keterangan hilang dari kepolisian setempat / SIM yang dimiliki


(SIM rusak);

3)

Fotocopy KTP / Jati diri;

4)

Mutasi masuk;

5)

Formulir permohonan;

6)

Surat rekomendasi dari SATPAS yang menerbitkan SIM;

7)

Foto copy KTP domisili yg baru;

37
e.

9.

Mutasi Keluar.
1)

Fotocopy KTP domisili yang baru;

2)

SIM asli / fotocopy;

3)

Petugas loket pendaftaran mencatat dan memberi nomor registerasi


berkas pemohon SIM;

4)

Petugas loket pendaftaran menyerahkan dan menerima kembali


berkas setelah dientri oleh petugas entri data;

5)

Petugas loket pendaftaran melakukan panggilan kepada pemohon


SIM yang akan melaksanakan ujian teori;

6)

Petugas loket pendaftaran memanggil dan menyerahkan berkas


surat pengantar bagi pemohon SIM yang mutasi atau meningkatkan
golongan SIM nya;

Loket Entri Data


a. Tanggung jawab petugas loket entri data adalah :
1) Menerima berkas pemohon dari loket pendaftaran;
2) Mengentri data-data pemohon SIM baru, perpanjangan dan mutasi;
3) Memilah berkas pemohon setelah dientri, berkas perpanjangan dan
mutasi diserahkan ke loket produksi untuk panggilan foto, berkas baru
dan perpanjangan kadaluarsa diserahkan ke loket pendaftaran untuk
dilakukan panggilan pelaksanaan ujian teori;
4) Menyiapkan surat pengantar berkas pemohon mutasi dan peningkatan
golongan SIM;
b. Prosedur :
1) Petugas loket entri data menerima berkas pemohon dari loket
pendaftaran dan selanjutnya dientrikan datanya ke dalam komputer;

38
2) Setelah berkas dientri petugas loket entri data memilah berkas
pemohon, berkas perpanjangan dan mutasi diserahkan ke loket
produksi untuk panggilan foto, berkas baru dan perpanjangan
kadaluarsa diserahkan ke loket pendaftaran untuk dilakukan panggilan
pelaksanaan ujian teori;
3) Berkas surat pengantar mutasi atau pengingkatan golongan SIM yang
telah disiapkan diserahkan ke loket pendaftaran untuk diserahkan
kepada pemohon;
4) Loket Ujian Teori;
c. Ujian teori SIM, meliputi :
1) Permohon SIM baru;
2) Permohonan perpanjangan SIM yang habis masa berlakunya lebih dari
1 (satu) tahun;
d. Tanggung jawab petugas ujian teori terdiri dari :
1) Petugas memasukan data pemohon SIM yang akan melaksanakan ujian
teori ke dalam buku registerasi;
2) Petugas memberikan arahan kepada peserta ujian mengenai sistem
ujian;
3) Petugas mengawasi dan menilai pelaksanaan ujian teori;
4) Petugas mengumumkan hasil ujian teori;
e. Prosedur :
1) Petugas penguji teori menerima berkas dari petugas loket pendaftaran;
2) Petugas penguji teori memasukkan data peserta ujian ke dalam buku
register;

39
3) Petugas penguji teori menyiapkan lembar soal ujian teori;
4) Petugas penguji teori memberikan arahan kepada pemohon SIM
tentang system ujian yang akan dilaksanakan;
5) Petugas peguji teori melakukan pengawasan pelaksanaan ujian teori;
6) Petugas penguji teori mengoreksi hasil ujian dan mengumumkan hasil
kelulusan yang disaksikan oieh peserta ujian secara transparan;
7) Petugas penguji teori mengarahkan peserta ujian yang telah lulus untuk
menuju loket uji praktek dengan membawa tanda bukti lulus;
8) Petugas penguji teori mengarahkan peserta ujian yang tidak lulus ujian
teori untuk mengikuti ujian teori ulang, dengan waktu yang telah
ditentukan;
9) Petugas penguji teori mengarahkan peserta ujian yang tidak lulus ujian
teori 3 (tiga) kali berturut-turut, untuk mengikuti pelatihan
pengetahuan pemohon SIM (dilakukan oleh POLRI bersama
Akademisi);
f.

Loket Ujian Praktek.


1) Ujian praktek SIM, meliputi :
a) Permohon SIM baru;
b) Pemohon SIM perpanjangan yang kadaluarsa;
2) Tanggung jawab petugas ujian praktek terdiri dari :
a)

Petugas penguji praktek memasukan data peserta ujian praktek


ke dalam buku register;

b)

Petugas penguji praktek menyerahkan lembar ujian praktek


kepada peserta ujian untuk diisi;

c)

Petugas penguji praktek mengarahkan peserta ujian mengenai


sistem ujian;

40
d)

Petugas penguji praktek mengawasi dan menilai pelaksanaan


ujian praktek;

e)

Petugas penguji praktek mengumumkan hasil ujian praktek;

3) Prosedur :

10.

a)

Petugas penguji praktek mencatat berkas dari pemohon SIM yang


telah lulus ujian teori pada buku register ujian praktek;

b)

Petugas penguji praktek memberikan blanko ujian praktek pada


peserta ujian untuk diisi identitas pemohon sesuai dengan
permohonan;

c)

Petugas penguji praktek memberikan arahan


pelaksanaan ujian praktek pada peserta ujian;

d)

Petugas penguji praktek melakukan pengawasan dan penilaian


ujian praktek;

e)

Petugas penguji praktek mengumumkan hasil ujian praktek yang


disaksikan langsung oleh pemohon SIM;

f)

Petugas penguji praktek mengarahkan peserta ujian praktek yang


telah lulus ujian praktek untuk menunggu panggilan foto dari loket
produksi;

g)

Petugas penguji praktek mengarahkan peserta ujian praktek yang


tidak lulus ujian praktek untuk mengulang ujian pada waktu yang
telah ditentukan;

Loket Produksi SIM.


a. Meliputi :
1)

Pemohon SIM yang lulus ujian teori dan ujian praktek;

2)

Pemohon SIM perpanjangan;

dan

contoh

41
3)
b.

c.

Pemohon SIM mutasi;

Tanggung jawab.
1)

Petugas melakukan panggilan kepada pemohon SIM yang akan


melaksanakan foto;

2)

Petugas melakukan pencatatan di buku register foto pemohon SIM


yang akan melaksanakan foto;

3)

Petugas melakukan pengambilan gambar pemohon SIM;

4)

Petugas mencetak SIM;

5)

Petugas menyerahkan SIM kepada pemohon SIM;

6)

Petugas menyerahkan berkas pemohon SIM yang telah difoto ke


gudang arsip dan dokumentasi;

Prosedur.
1)

Petugas memanggil pemohon SIM untuk melaksanakan foto dan


sebelumnya mengarahkan untuk mengisi buku registerasi foto
terlebih dulu;

2)

Petugas membacakan data - data pemohon SIM sebelum


pengambilan gambar dan memberikan kesempatan untuk
memperbaiki datanya bila terdapat kekeliruan/ salah entri data;
Petugas melakukan pengambilan gambar pemohon SIM dengan
posisi yang telah ditentukan;

3)
4)

Petugas mencetak SIM pemohon setelah pengambilan gambar;

5)

Petugas memanggil dan


kepada pemohon SIM;

6)

Selesai produksi SIM, berkas pemohon diserahkan ke bagian gudang


arsip dan dokumen;

menyerahkan SIM yang telah tercetak

42
7)
11.

Gudang Arsip dan Dokumen;

Pelayanan pada gudang arsip, meliputi :


a. Ruang penyimpanan arsip dan dokumentasi.
b. Rak-rak arsip :
1) Arsip berkas permohonan SIM baru;
2) Arsip berkas permohonan SIM perpanjangan;
3) Arsip berkas Permohonan mutasi masuk;
4) Arsip berkas pengantar peningkatan golongan SIM;
5) Arsip berkas pengantar mutasi keluar;

12.

Durasi Pelayanan.
a. Permohonan Baru :
1) Loket

: 5 Menit

2) Loket Entri Data

: 5 Menit

3) Loket ujian teori

: 30 Menit

4) Loket ujian praktek

: 10 Menit

5) Loket Produksi

: 15 Menit

b. Perpanjangan / hilang / rusak :


1) Loket Pendaftaran

: 5 Menit

2) Loket Entri Data

: 5 Menit

43
3) Loket Produksi

:15 Menit

c. Mutasi SIM keluar :


1) Loket Pendaftaran
2) Minops
13.

: 5 Menit
: 10 Menit

Penggunaan Golongan SIM (pasal 80 undang undang Nomor 22 tahun 2009


):
a. Golongan SIM A : Untuk Ranmor dengan berat yang diperbolehkan tidak
lebih dari 3.500 Kg;
b. Golongan SIM BI : Untuk Ranmor dengan berat yang diperbolehkan tidak
lebih dari 3.500 Kg;
c. Golongan SIM BII : Untuk Ranmor yang menggunakan kereta tempelan
dengan berat yang diperbolehkan lebih dari
1.000 Kg;
d. Golongan SIM C : Untuk mengemudikan sepeda motor;
e. Golongan SIM D : Untuk Ranmor khusus bagi pengendara cacat;

14.

Persyaratan umum dalam permohonan SIM ( pasal 81 undang undang Nomor


22 tahun 2009 ) :
a. Permohonan tertulis;
b.

Tidak buta aksara / bisa baca tulis;

c.

Memiliki pengetahuan peraturan lalu lintas jalan dan teknik dasar


kendaraan bermotor;

d.

Batas usia :
1)

17 (tujuh belas tahun) untuk SIM Golongan A, C, dan D;

2)

20 (dua puluh tahun) untuk SIM Golongan B I;

3)

21 (dua puluh satu tahun) untuk SIM Golongan B II;

44

15.

16.

e.

Syarat administratif;

f.

Sehat jasmani dan rohani;

g.

Lulus uji teori dan praktek;

h.

SIM dilengkapi dengan hasil uji simulator;

Kriteria peningkatan SIM (pasal 83 undang undang Nomor 22 tahun 2009);


a.

SIM A, telah 12 (dua belas) bulan untuk SIM BI / A Umum;

b.

SIM BI / A Umum, telah 12 (dua belas) bulan untuk SIM BII / SIM BI
Umum;

c.

SIM BII / BI Umum telah 12 (dua belas) bulan untuk SIM BII Umum;

Biaya Pelayanan.
Penerbitan SIM oleh POLRI dipungut biaya melalui Petugas BRI, besarnya
biaya untuk penerbitan SIM sejak diberlakukannya PP No. 50 tahun 2010
tentang jenis tarif PNBP yang berlaku di POLRI dan dijabarkan melalui Surat
Keputasan Kapolri No. Pol. : Skep /1008 / XII / 2004 tanggal 29 Desember
2004 tentang Petunjuk Administrasi pengelolaan PNBP dilingkungan POLRI
biaya penerbitan / pembuatan SIM :
a.

b.

c.

Pembuatan SIM baru :


1)
SIM A
: Rp. 120.000,2)
SIM B
: Rp. 120.000,3)
SIM C
: Rp. 100.000,Perpanjangan SIM :
1)
SIM A
: Rp. 80.000,2)
SIM B
: Rp. 80.000,3)
SIM C
: Rp. 75.000,Pemeriksaan dokter bisa dilakukan oleh Dokter Polri atau Dokter Umum.

45
5.

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


1. Pengawasan
a. Analisa dan evaluasi hasil laporan.
b. Mengontrol langsung.
2. Pengendalian
a. Melalui pelaporan hasil pelaksanaan tugas.
b. Langsung dan tidak langsung
c. Dalam pelaksanaan penerbitan sim dilarang:
1. Menyimpang dari Pelaksanaan tugas pokok
2. Menerima segala bentuk imbalan dan atau pungli.
3. Melepas atribut atau perlengkapan yang ada pada perorangan.
4. Melakukan tindakan tercela yang dapat merugikan masyarakat, profesi dan
kesatuan.

46
6.

PENUTUP
a.

Demikian Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan SIM SATPAS Polres Limboto
dibuat dengan tujuan dapat dipergunakan sebagai pedoman di dalam pelaksanaan
pelayanan penerbitan SIM secara lebih profesional, proporsional, transparan dan
akuntabel sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

b.

Hal-hal yang belum diatur dalam Standar Operasional Prosedur ini akan ditentukan
kemudian.

c.

SOP ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di
pada tanggal

: Gororntalo
:
2016

KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO


WAKAPOLRES
U.b
KASATLANTAS

TTD
WAWAN ANDI S. SH. SIK.
AJUN KOMISARIS POLISI NRP 82051524