Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PERAWATAN DOUBLE LUMEN


Pokok bahasan

: Perawatan Akses Hemodialisa pada klien Gagal Ginjal Kronis

Sub Pokok Bahasan

: Perawatan Double Lumen

Sasaran

: Klien dan keluarga

Waktu

: Pukul 09:00-09:30 (selama 30 menit)

Hari, Tanggal

: Senin, 11 Mei 2015

Tempat

: Ruang Rawat Inap

Nama Penyuluh
A.

: Catur Nurma Praharsi

Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan kesehatan selama 30 menit, diharapkan klien dan
keluarga mampu memahami tentang perawatan double lumen.

B.

Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan, klien dan keluarga dapat :
1.

Menjelaskan pengertian Double Lumen.

2.

Menjelaskan kembali tujuan Perawatan Double Lumen.

3.

Menyebutkan aktivitas yang harus di hindari untuk Perawatan Double Lumen.

4.

Menjelaskan kembali perawatan kateter Double Lumen saat di rumah.

5.

Menjelaskan ketika keadaan seperti apa yang diharuskan konsultasi dengan


dokter.

6.

Menyebutkan komplikasi yang terjadi pada Perawatan Double Lumen.

7.

Mempraktikkan teknik relaksasi nafas dalam dan distraksi, untuk pertimbangan


psikososial klien.

C.

Materi Penyuluhan (Terlampir)


1.

Pengertian Perawatan Double Lumen.

2.

Tujuan Perawatan Double Lumen.

3.

Aktivitas yang harus dihindari saat Perawatan Double Lumen.

4.

Perawatan Double Lumen di rumah.

5.

Konsultasi Perawatan Double Lumen.

6.

Komplikasi Perawatan Double Lumen.


1

7.

Pertimbangan psikososial.

D.

Metode Penyuluhan
1.
Ceramah
2.
Tanya jawab
3.
Demonstrasi

E.

Media Penyuluhan
1.
Leaflet
2.
Lembar balik

F.

Kegiatan Penyuluhan/ Strategi Penyuluhan :

No.

1.

2.

Tahap
Kegiatan/waktu

Pembukaan :
2 menit

Pelaksanaan :
20 menit

KegiatanPenyuluh

Kegiatan Sasaran

1. Memberikan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan kontrak;
waktu, topik, dan tujuan
penyuluhan

1. Menjawab salam
2. Memperhatikan dan
mendengarkan
3. Memperhatikan dan
mendengarkan

1. Mengkaji pengetahuan
klien tentang pengertian
Kateter Double Lumen.
2. Memberi reinforcement
positif pada klien.
3. Menjelaskan pengertian
Double Lumen.
4. Menjelaskan tujuan
Perawatan Double Lumen.
5. Menanyakan kepada klien
apakah sudah memahami
penjelasan sebelumnya

1. Mengemukakan pendapat

6. Menjelaskan aktivitas yang


harus di hindari pada
Perawatan Double Lumen.
7. Menjelaskan Perawatan
Double Lumen.
8. Menjelaskan harus

6. Memperhatikan dan
mendengarkan

2. Memperhatikan dan
mendengarkan
3. Memperhatikan dan
mendengarkan
4. Memperhatikan dan
mendengarkan
5. Klien merespon dan
mengatakan sudah paham

7. Memperhatikan dan
mendengarkan

konsultasi.
9. Menjelaskan komplikasi
Perawatan Double Lumen.
10. Melatih teknik relaksasi
nafas dalam dan distraksi.
11. Menanyakan kepada klien
apakah sudah memahami
penjelasan sebelumnya

3.

G.

Evaluasi/
Penutup :
8 menit

1. Menyimpulkan materi
penyuluhan bersama
dengan klien.
2. Melakukan evaluasi;
Menanyakan kembali pada
klien tentang materi yang
telah diberikan, dan
mengajukan pertanyaan
secara lisan.
3. Menutup penyuluhan;
Mengucapkan terimakasih
atas peran serta klien, dan
mengucapkan salam

8. Memperhatikan dan
mendengarkan
9. Memperhatikan dan
mendengarkan
10. Memperhatikan dan
mengikuti
11. Merespon dan mengatakan
sudah paham

1. Menyimak, memperhatikan
dan mendengarkan
2. Merespon dan menjawab
pertanyaan yang akan
diberikan
3. Menyimak dan menjawab
salam

Evaluasi
a.

Klien mampu menjelaskan kembali pengertian tentang Double Lumen 70 %


jawaban klien benar.

b.

Klien mampu menjelaskan kembali tujuan Perawatan Double Lumen 80 %


jawaban klien benar.

c.

Klien mampu menyebutkan kembali 5 dari 6 aktivitas yang harus dihindari pada
Perawatan Double Lumen.

d.

Klien mampu menyebutkan kembali 7 dari 8 cara Perawatan Double Lumen di


rumah.

e.

Klien 80 % mampu menjelaskan kembali ketika keadaan seperti apa yang di


haruskan untuk konsultasi.

f.

Klien mampu 85 % menyebutkan kembali komplikasi Perawatan Double Lumen.

g.

Klien mampu mempraktikkan teknik relaksasi nafas dalam dan teknik distraksi.
3

H.

Lampiran Materi
PERAWATAN AKSES HEMODIALISA (DOUBLE LUMEN)
1.

Pengertian
Kateter double lumen adalah sebuah alat yang terbuat dari bahan plastik
PVC mempunyai 2 cabgan, selang merah (arteri) untuk keluarnya darah dari
tubuh ke mesin dan selang biru (vena) untuk masuknya darah dari mesin ke tubuh
(Allen R, 2004).
Double lumen atau temporary catheters, kateter sementara ini dipasang
pada pasien di vena jugularis, vena femoralis atau vena subklavia. Akses sirkulasi
yang di pasang secara temporer pada vena jugularis dan subclavia terdiri dari dua
lumen untuk menghubungkan sirkulasi darah (sirkulasi ekstraporeal) dengan
tubuh (sirkulasi sistemik). Komplikasi yang sangat sering terjadi pada
pemasangan kateter ini adalah infeksi. Berikut gambar letak pemasangan double
lumen catheter :

Sumber http://www.vygon.co.uk/images/upload/Body.jpg
Lama penggunaan kateter-kateter tipe ini bervariasi sesuai dengan tempat
insersi. Batasang usia penggunaan biasanya disebabkan oleh karena infeksi.
Secara umum, kateter jugularis interna dapat digunakan selama 2 sampai 3
minggu, sedangkan kateter femoral biasanya digunakan sekali ( pasien-pasien
rawat jalan) atau selama 3 sampai 7 hari pada pasien rawat inap. Kateter dialisis
4

cuffed tunneled merupakan suatu kateter lumen ganda yang menggunakan bahan
silikon/silastik atau polimer lunak lainnya dan dilengkapi dengan balon biasanya
digunakan untuk akses vaskular jangka menengah. Kateter vena sentral ini dapat
dimasukkan ke dalam vena subklavia, jugularis interna, jugularis eksterna atau
femoralis dan dapat digunakan sampai 6 bulan atau lebih lama. Kekurangan
utama dari penggunaan kateter ini adalah diperlukannya fluoroskopi dalam insersi
untuk memastikan lokasi ujung yang ideal serta beberapa tide kateter harus
dimasukkan secara bedah
2.

Tujuan Dilakukan Perawatan Kateter Double Lumen


a.
Untuk melancarkan proses hemodialisa
b.
Mencegah terjadinya infeksi
c.
Mencegah adanya bekuan diselang kateter double lumen
d.
Penggunaan kateter double lumen dapat digunakan dalam waktu tertentu

3.

Aktivitas Yang Harus Dihindari


a.
Hindari olahraga air seperti ; berenang, dan arum jeram.
b.
Hindari menggaruk atau menarik-narik kateter. Kateter harus tertempel
c.
d.

pada kulit.
Hindari mengangkat benda berat dan melakukan pekerjaan berat.
Pada saat tidur jaga daerah kateter double lumen jangan sampai tertekan.
Disaat melakukan aktifitas atau saat tidur kateter double lumen dapat
terlepas atau tercabut paksa karena tertekan dan hal tersebut dapat
menyebabkan pendarahan. Kateter double lumen yang bersifat temporer
(sementara) tentu lebih mudah lepas dibandingkan dengan kateter double

e.
f.
4.

lumen yang long term dengan tunneling di daerah dada.


Hindari aktifitas terlalu banyak seperti berjalan dan berlari.
Hindari jongkok yang terlalu lama.

Perawatan Kateter Double Lumen di Rumah


a.
Mencuci tangan sesering mungkin.
b.
Jaga kateter dan balutan luka selalu dalam keadaan bersih dan kering untuk
c.

menghindari terjadinya infeksi.


Balutan luka tidak perlu diganti setiap hari, cukup diganti 3 hari sekali atau

d.
e.
f.
g.
h.

ketika terlihat kotor.


Jika balutan luka kotor/basah segera pergi ke Rumah Sakit terdekat.
Pastikan kateter double lumen terpasang dengan benar pada kulit.
Berikan tekanan pada exit site kateter jika kateter keluar.
Perhatikan adanya perdarahan pada kateter double lumen.
Ketika keramas, kateter ditutup dengan plastik agar tidak terkena air.
5

5.

Lakukan Konsultasi
Harus segera lakukan konsultasi ke dokter apabila :

6.

a.
b.

Adanya rasa nyeri pada tempat keluarnya kateter atau exit site.
Perdarahan atau keluar darah/cairan dari daerah exit site (kateter double

c.
d.

lumen).
Terjadi demam, suhu tubuh mencapai 380C atau lebih.
Kateter keluar dari tempat penusukan.

Komplikasi
Komplikasi paling umum adalah trombosis dan infeksi. Akses vena
subklavia adalah yang paling jarang digunakan karena risiko pneumotorak.
Infeksi pada daerah pemasangan dan penggumpalan adalah komplikasi yang
sering mengharuskan kateter untuk dilepas. Masalah lain yang terjadi adalah
dislogment, perdarahan, dan erosi kulit. Masalah kateter termasuk salah
penempatan dan obstruksi. Obstruksi mungkin karena malposisi, pelekatan ujung
kateter ke omentum, atau infeksi. Konstipasi dapat dikurangi dengan aliran
kateter, mungkin karena peristaltis membantu aliran keluar. Kebocoran cairan
mengindikasikan fungsi kateter yang tidak tepat, penyembuhan daerah
pemasangan yang tidak sempurna, atau instilasi berlebih. Perdarahan yang
mengalir biasanya tidak jelas dan hilang secara spontan. Heparin ditambahkan
pada dialisat untuk mencegah formasi penggumpalan fibrin pada kateter baru atau
setelah pengobatan peritonitis.
a.
Pendarahan
Komplikasi tersering dan kerap kali terjadi pada awal dilakukan
tindakan, dimana penderita masih mendapat obat-obatan untuk pengencer
darah. Begitu juga pendarahan dari daerah bekas sayatan operasi yang
langsung mengenai pembuluh besar pada dada jika terjadi rembasan akan
terjadi dalam jumlah yang cukup banyak pemahaman terhadap keadaan ini
tentu sangat membantu agar keluarga tidak panik disaat terjadi pendarahan
pada penderita. Jika terjadi hal demikian yang pertama kali dapat dilakukan
adalah menekan daerah diatas lokasi tempat alat terpasang ditekan dengan
kuat dan menekan dengan kassa dalam jumlah yang cukup tebal.
Selanjutnya dilakukan dengan membawa penderita segera mungkin ke
UGD.
b.

Infeksi
6

Infeksi komplikasi yang sering juga terjadi pada penderita yang


menggunakan kateter double lumen ini, terutama pada kateter yang masa
pakainya

pendek

seperti

short

time

kateter

double

lumen

(temporer/sementara). Dimana tempat masuk dari alat tersebut langsung


diatas dari pembuluh darah besar sehingga infeksi sangat mengancam
penderita, maka toleransi pemakaian hanya diizinkan untuk 1 bulan saja.
Sebab jika infeksi melibatkan pembuluh darah maka vaskulitis akan
mengancam dimana penderita akan demam bolak balik dan selalu
mengkonsumsi obat antibiotik. Pada tahap lanjut akan terjadi endapan dan
trombosis atau bekuan-bekuan darah pada lumen pembuluh darah sehingga
jika dibiarkan akan menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah vena
besar.

Sebaiknya menggunakan kateter double lumen yang tunneling


sehingga pemakaian dapat lebih lama dan resiko infeksi juga lebih rendah
karena tempat masuk kuman lebih jauh dari pembuluh darah. Biasanya
kateter double lumen long term dapat digunakan maksimal sampai 1 tahun,
tentu jika perawatan alat dilakukan dengan baik.
c.

Sumbatan pada pembuluh vena central


Jika terjadi infeksi yang berulang dan terus menerus akan terbentuk
plak dan lama kelamaan akan terjadi sumbatan pada pembuluh vena besar
terutama dilengan dan terpasang vena yang berasal dari lengan karena satusatunya maka akan menyebabkan lengan akan membengkak dan muncul
pembuluh darah baru dipermukaan kulit sebagai pembuluh darah balik baru
yang dibuat oleh tubuh kita untuk mencegah kerusakan yang lebih lanjut
akibat sumbatan.

d.

Sakit atau nyeri pada daerah leher dan dada


Sering terjadi juga setelah pemasangan kateter double lumen. Hal ini
bisa terjadi akibat terjepit atau tertekannya jaringan saraf yang cukup
banyak yang ada didaerah bahu atau sering disebut pleksus brachialis. Jika
kondisi ini sangat mengganggu dan menimbulkan nyeri yang hebat maka
kateter tersebut mesti dibuka kembali oleh dokter yang menangani atau
memasang kateter double lumen tersebut.
7

7.

Pertimbangan Psikososial
Seseorang yang menjalani dialisa dengan terpasangnya alat-alat medis yang
harus dibenar-benar dirawat dan di jaga biasanya merasa tertekan, sehingga
banyak penderita bahkan keluarganya yang mengalami depresi dan stress. Adanya
konseling, memberikan motivasi, dan penanganan teknik untuk mengatasi cemas
cukup perlu dan penting, seperti halnya dengan mengajarkan teknik relaksasi
nafas dalam, dan teknik distraksi.

I.

Sumber
Burrnert, Suddart. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. EGC: Jakarta.
Corwin, J. 2000. Buku Saku Pathofisiologi. EGC: Jakarta.
Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran FKUI. Media Aesculapius:
Jakarta.
Nissenson, Allen. 2004. Nephrologi Secrets. Philadelphia: Mosby Elsevier.
Smeltzer, Suzanne. 2002. Buku Ajar Medikal Bedah Brunner & Sudarth Vol II. Jakarta:
EGC.
https://www.google.co.id/search?
newwindow=1&biw=1280&bih=655&tbm=isch&sa=1&q=hemodialisis&oq=hem
odialisis&gs_l=img.3...45135.45135.0.45402.1.1.0.0.0.0.0.0..0.0.msedr...0...1c.1.6
4.img..1.0.0.kPFgVVN2C-I. Availabel Online. Diakses pada tanggal 05 Mei 2015.