Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian ibu
(AKI) di Indonesia telah berhasil diturunkan dari angka 307 per 100.000 kelahiran hidup
pada tahun 2002/2003 menjadi 270 pada tahun 2004, 262 pada tahun 2005, dan 248 pada
tahun 2007. Menurut Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga
(KSPK) BKKBN DR Sudibyo Alimoesa berdasarkan data dan penelitian tentang kualitas
penduduk Indonesia 2011 tercatat Angka Kematian Ibu (AKI atau MMR) masih sebesar
228/100.000 kelahiran hidup. Akan tetapi apabila dilihat dari angka target Millennium
Development Goals (MDGs) 2015 yakni 102 per 100.000 kelahiran hidup, maka AKI
saat ini masih belum memenuhi target atau perlu diturunkan lagi. Terlebih bila
dibandingkan dengan AKI di negara-negara ASEAN, AKI di Indonesia 3-6 kali lipat
jumlahnya. Sedangkan bila dibandingkan dengan AKI di Negara maju, jumlah AKI di
Indonesia 50 kali lipatnya. (Depkes RI, 2009 )
Oleh karena itu upaya penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu
tetap merupakan salah satu prioritas utama dalam penanganan bidang kesehatan.
Departemen Kesehatan pada tahun 2000 telah menyusun Rencana Strategis (Renstra)
jangka panjang dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi baru lahir.
Dalam Renstra ini difokuskan pada kegiatan yang dibangun atas dasar sistem kesehatan
yang mantap untuk menjamin pelaksanaan intervensi dengan biaya yang efektif
berdasarkan bukti ilmiah yang dikenal dengan nama "Making Pregnancy Safer (MPS)".
Strategi MPS ini mengacu pada 3 pesan kunci yaitu : 1) Setiap persalinan ditolong oleh
tenaga bidan terlatih, 2) Setiap komplikasi obstetrik neonatal mendapat pelayanan yang
adekuat, dan 3) Setiap wanita usia subur dapat akses terhadap pencegahan kehamilan
serta penanganan aborsi yang tidak aman. (Depkes RI, 2009 )
Salah satu program untuk menurunkan angka kematian ibu dan menekan angka
pertumbuhan penduduk yakni melalui program Keluarga Berencana (KB). Program KB
memiliki peranan dalam menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan
kehamilan, penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan dengan sasaran
utama adalah Pasangan Usia Subur (PUS). Sesuai dengan tuntutan perkembangan
program, maka program KB telah berkembang menjadi gerakan Keluarga Berencana
1

Nasional yang mencakup gerakan masyarakat. Gerakan Keluarga Berencana Nasional


disiapkan untuk membangun keluarga sejahtera dalam rangka membangun sumber daya
manusia yang optimal, dengan ciri semakin meningkatnya peran serta masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan KB. Salah satu strategi dari
pelaksanaan program KB sendiri seperti tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 adalah meningkatnya penggunaan metode
kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD (Intra Uterine Device), implant (susuk)
dan sterilisasi. IUD merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi non hormonal dan
termasuk alat kontrasepsi jangka panjang yang ideal dalam upaya menjarangkan
kehamilan. Keuntungan pemakaian IUD yakni hanya memerlukan satu kali pemasangan
untuk jangka waktu yang lama dengan biaya yang relatif murah, aman karena tidak
mempunyai pengaruh sistemik yang beredar ke seluruh tubuh, tidak mempengaruhi
produksi ASI dan kesuburan cepat kembali setelah IUD dilepas. (BKKBN, 2009 )
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007), bahwa kontrasepsi
yang banyak digunakan adalah metode suntik (31,8%), pil (13,2%), IUD (4,9%), MOW
(3%), kondom (1,3%), dan MOP (0,2%). Dapat dilihat bahwa prosentase peserta KB
MKJP masih tergolong rendah yang berarti pencapaian target program dan kenyataan di
lapangan masih berjarak lebar. Bahkan prevalensi peserta IUD menurun selama 20 tahun
terakhir, dari 13 % pada tahun 1991 menjadi 5 % pada tahun 2007. (BPS,2009)
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk membuat laporan
yang berjudul Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana pada Calon Akseptor KB IUD
(Ganti Cara) di Poli KB Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. Penulis berharap dapat
mempelajari dan memahami penerapan asuhan yang tepat sehingga dapat mendukung
tercapainya tujuan Gerakan Keluarga Berencana Nasional.
1.2 Tujuan
1.2.1

Tujuan umum
Mahasiswa diharapkan mampu melakukan asuhan kebidanan pada keluarga berencana
pada calon akseptor KB IUD (ganti cara) dengan menerapkan pola pikir kompetensi
bidan dan pendokumentasian menggunakan SOAP.

1.2.2

Tujuan khusus
Diharapkan mahasiswa Pendidikan Bidan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
mampu melakukan:
1. Pengkajian data subjektif dan data objektif pada calon akseptor KB IUD (ganti
cara).
2

2. Identifikasi diagnosa dan masalah aktual, diagnosa potensial dan antisipasinya


serta identifikasi kebutuhan tindakan segera pada calon akseptor KB IUD (ganti
cara).
3. Rencana asuhan kebidanan pada calon akseptor KB IUD (ganti cara).
4. Intervensi sesuai dengan rencana asuhan kebidanan pada calon akseptor KB IUD
(ganti cara).
5. Evaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan pada calon akseptor KB IUD
(ganti cara).
6. Pendokumentasian asuhan kebidanan dalam bentuk SOAP.
1.3 Pelaksanaan
Laporan asuhan kebidanan ini disusun berdasarkan pada praktek klinik yang dilaksanakan
di Poli KB Rumkital Dr. Ramelan Surabaya pada tanggal 15 s/d 28 Desember 2012.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Asuhan Kebidanan pada calon akseptor KB IUD (ganti cara) di
Poli KB Rumkital Dr. Ramelan Surabaya adalah:
BAB 1 Pendahuluan
Menguraikan tentang latar belakang, tujuan, pelaksanaan, serta sistematika
penulisan.
BAB 2 Tinjauan Teori
Menguraikan tentang konsep dasar IUD dan konsep dasar asuhan kebidanan
pada calon akseptor KB IUD.
BAB 3 Tinjauan Kasus
Merupakan pendokumentasian asuhan kebidanan pada calon akseptor KB IUD
dalam bentuk SOAP.
BAB 4 Pembahasan
Menguraikan tentang perbandingan antara kasus pada tinjauan kasus dengan
konsep teori yang telah dibuat pada tinjauan teori.
Bab 5

Penutup
Merupakan simpulan dan saran.

Daftar Pustaka

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar IUD
2.1.1 Pengertian
IUD/AKDR adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim
terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya konsepsi atau
kehamilan (BKKBN, 2003).

Gambar 1.1 Posisi IUD


2.1.2 Penggolongan IUD
Hartanto (2004) membedakan AKDR atau IUD ke dalam 2 golongan besar, yaitu:
2.1.2.1 Un-Medicated Devices (Inert Devices atau First Generation Devices)
Yang termasuk dalam golongan ini antara lain:
1) Grafenberg ring
2) Ota ring
3) Margulies coil
4) Saf-T-Coil
5) Delta Loop: Modified Lippes Loop D dengan penambahan benang chromic catgut
pada lengan atas, terutama untuk insersi post partum.
6) Lippes Loop (dianggap sebagai IUD standart)
Lippes Loop terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf
S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya.
Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari
4

pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka
atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Yang banyak
dipergunakan dalam program KB nasional adalah IUD jenis ini. Lippes loop dapat
dibiarkan in-utero untuk selama-lamanya sampai menopause, sepanjang tidak ada
keluhan bagi akseptor.
Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian
atasnya :
a. Tipe A panjang 26,2 mm, lebar 22,2 mm, benang biru, satu titik pada pangkal IUD
dekat benang ekor
b. Tipe B panjang 25,2 mm dan lebar 27,4 mm, memiliki 2 benang hitam, dan
bertitik 4
c. Tipe C panjang 27,5 mm dan lebar 30 mm, memiliki 2 benang kuning, dan bertitik
3
d. Tipe D panjang 27,5 mm dan lebar 30 mm, tebal, memiliki 2 benang putih, dan
bertitik 2.
2.1.2.2 Medicated Devices (Bio-Active Devices atau Second Generation Devices)
1) Mengandung logam
a. AKDR-Cu generasi pertama (First Generation Copper Devices), yang
termasuk dalam kelompok ini adalah:

CuT-200 (Tatum-T)
Memiliki panjang 36 mm dan lebar 32 mm, dengan luas permukaan Cu
200 mm2 dan daya kerja selama 3 tahun.

Cu-7 (Gravigard)
Berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis
ini mempunyai ukuran panjang 36 mm, lebar 26 mm dan ditambahkan
gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm 2
dengan daya kerja selama 3 tahun. Jenis IUD ini memiliki tabung inserter
dengan diameter paling kecil dibandingkan lainnya, sehingga dapat
dianjurkan untuk nulligravida.

MLCu-250 (Multiload Cu 250)


Terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan
berbentuk sayap yang fleksibel. Batangnya diberi gulungan tembaga
5

dengan luas permukaan 250 mm2 dan memiliki daya kerja 3 tahun. Ada 3
ukuran, yaitu standar, short, dan mini.
b. AKDR-Cu generasi kedua (Second Generation Copper Devices), yang
termasuk dalam kelompok ini adalah :

CuT-380 A (Paragard)
Panjang 36 mm dan lebar 32 mm dengan 314 mm 2 lilitan tembaga
mengelilingi batang vertikal dan 2 selubung Cu seluas 33 mm2 pada
masing-masing lengan horizontal. Daya kerjanya 8 tahun, tetapi
rekomendasi FDA adalah 10 tahun.

CuT-380Ag
Seperti CuT-380A, hanya saja dengan tambahan inti Ag di dalam kawat
Cu-nya dan memiliki daya kerja selama 5 tahun.

Nova T (Novagard)
panjang 32 mm dan lebar 32 mm, 200 mm 2 luas permukaan Cu dengan inti
Ag di dalam kawat Cu-nya dan memiliki daya kerja selama 5 tahun.

CuT-220C
panjang 36 mm dan lebar 32 mm, dengan 220 mm2 Cu di dalam tujuh
selubung, 2 pada lengan dan 5 pada batang vertikalnya. Jenis ini memiliki
daya kerja selama 3 tahun.

Delta T
Modified CuT-220C dengan penambahan benang chromic catgut pada
lengan atas, terutama untuk insersi post partum.

MLCu-375 (Multiload Cu 375)


Terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan
berbentuk sayap yang fleksibel. Batangnya diberi gulungan tembaga
dengan luas permukaan 375 mm2 dan memiliki daya kerja 5 tahun. Ada 3
ukuran, yaitu standar, short, dan SL.

2) Mengandung hormon
Disebut juga IUS (Intra Uterine System) yaitu bingkai berbentuk T yang terbuat
dari plastik dan memiliki sebuah reservoir steroid yang mengelilingi batang tegak
lurus yang berisi hormon progesteron atau levonorgestrel. Beberapa jenis IUS :

Progestasert (Alza-T)
Alat ini memiliki panjang 36 mm dan lebar 32 mm dengan 2 benang ekor
berwarna hitam. Mengandung 38g progesteron dan barium sulfat dalam dasar
6

silicon. Alat ini melepaskan 65 mcg progesteron per hari dengan daya kerja 18
bulan.

LNG-20
Serupa progestasert, tetapi mengandung levonorgestrel. Alat ini melepaskan
levonorgestrel ke dalam uterus dengan kecepatan relatif konstan 20 g
levonorgestrel selama 24 jam.

Mirena
Mempunyai panjang 32 mm dan diameter 4,8 mm. Mirena diperkaya dengan
barium sulfat yang mengeluarkan radio-opaqnya sendiri. Mirena memiliki
masa hidup 3 tahun, tetapi durasi pemakaian yang dianjurkan selama 5 tahun.

Gambar 2.1 Jenis-Jenis IUD

Gambar 2.2 Jenis-Jenis IUD ; a) Lippes-Loop, b) Saf-T-Coil, c) Dana-Super,


d) Copper-T (Gyne-T), e) Copper-7 (Gravigard), f) Multiload,
g) Progesterone IUD
7

2.1.3 Mekanisme Kerja IUD


1) IUD merupakan benda asing dalam rahim, sehingga menimbulkan reaksi radang lokal
yang non spesifik di dalam cavum uteri dengan timbunan leuosit PMN, makrofag,
foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma. Keadaan ini

dapat

mengakibatkan lysis dari spermatozoa, ovum, dan blastocyst atau mungkin


mengganggu implantasi sel telur yang telah dibuahi.
2) Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menghambat implantasi.
3) Mencegah sperma dan ovom bertemu, IUD membuat sperma sulit masuk ke dalam alat
reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
(mencegah fertilisasi). Hal ini terbukti dari penelitian di Chili : diambil ovum dari 14
wanita pemakai IUD dan 20 wanita tanpa menggunakan kontrasepsi. Semua wanita
telah melakukan senggama sekitar waktu ovulasi. Ternyata ovum dari wanita
akseptor IUD tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda fertilisasi maupun
perkembangan embrionik normal; sedangkan setengah dari jumlah ovum wanita
yang tidak menggunakan kontrasepsi menunjukkan tanda-tanda fertilisasi dan
perkembangan embrionik yang normal.
4) Untuk IUD yang mengandung Cu :

Antagonis kationik yang spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam enzim


carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genatalia wanita,
dimana

Cu

menghambat

reaksi

carbonic

anhydrase

sehingga

tidak

memungkinkan terjadinya implantasi; dan mungkin juga menghambat aktivitas


alkali phosphatase.

Mengganggu pengambilan estrogen endogenous oleh mucosa uterus

Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium

Mengganggu metabolise glikogen

Penambahan Ag pada IUD yang mengandung Cu mempunyai maksud untuk


mengurangi fragmentasi dari Cu sehingga Cu lebih lama habisnya.

5) Untuk IUD yang mengandung hormon progesteron :

Gangguan proses pematangan proliferatif-sekretoir sehingga timbul penekanan


terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi (endometrium tetap
berada dalam fase desidual/progestasional).

Lendir serviks yang menjadi lebih kental/tebal karena pengaruh progestin.


8

(dr. Hanafi Hartanto, 2004, hal: 205-206)


2.1.4 Keuntungan dan Keterbatasan IUD
2.1.4.1 Keuntungan IUD
1) Sebagai kontrasepsi, efektifitas tinggi
Sangat efektif, 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1
kegagalan dalam 125-170 kehamilan).
2) IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.
3) Metode jangka panjang
4) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.
5) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
6) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
7) Tidak ada efek samping hormonal (pada jenis IUD non hormonal)
8) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
9) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak
terjadi infeksi).
10) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau setelah haid terakhir).
11) Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
2.1.4.2 Keterbatasan IUD
1) Efek samping yang umum terjadi :
-

Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang
setelah 3 bulan)

Haid lebih lama dan banyak

Perdarahan (spotting) antar menstruasi

Saat haid lebih sakit

2) Komplikasi lain :
-

Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan

Perdarahan hebat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan


penyebab anemia

Perforasi dinding uterus (jarang).

3) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.


4) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering
berganti pasangan.
9

5) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan IUD.


Seringkali perempuan takut selama pemasangan.
6) Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan IUD.
Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.
7) Klien tidak dapat melepas IUD oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang
harus melepaskan IUD.
8) Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila IUD
dipasang segera setelah melahirkan).
9) Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi IUD untuk mencegah
kehamilan normal.
10) Perempuan harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu. Untuk
melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya kedalam vagina, sebagian
perempuan tidak mau melakukan ini.
(Saifuddin, 2010, hal : MK-75-76)
2.1.5

Persyaratan Pengguna IUD

2.1.5.1 Yang dapat menggunakan IUD


1) Usia produktif
2) Keadaan nulipara
3) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
4) Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
5) Setelah melahirkan
6) Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
7) Risiko rendah dari IMS
8) Tidak menghendaki metode hormonal
9) Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari
10) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama
Pada umumnya ibu dapat menggunakan IUD Cu dengan aman dan efektif. IUD dapat
digunakan pada ibu dalam segala hal kemungkinan keadaan, misalnya:

Perokok

Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya infeksi

Sedang memakai antibiotika atau anti kejang

Gemuk ataupun yang kurus


10

Sedang menyusui

Begitu juga Ibu dalan keadaan seperti di bawah ini dapat menggunakan IUD :

Penderita tumor jinak payudara

Penderita kanker payudara

Pusing-pusing, sakit kepala

Tekanan darah tinggi

Varises di tungkai atau di vulva

Penderita penyakit jantung (termasuk penyakit jantung katup dapat diberi antibiotika
sebelum pemasangan IUD)

Pernah menderita stroke

Penderita diabetes

Penderita penyakit hati atau empedu

Malaria

Skistosomiasis (tanpa anemia)

Penyakit tiroid

Epilepsi

Nonpelvik TBC

Setelah kehamilan aktopik

Setelah pembedahan pelvik

2.1.5.2 Yang Tidak Diperkenankan Menggunakan IUD


1) Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)
2) Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluai)
3) Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
4) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus
septik
5) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat
mempengaruhi kavum uteri
6) Penyakit trofoblas yang ganas
7) Diketahui menderita TBC pelvik
8) Kanker alat genital
11

9) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm


(Saifuddin, 2010, hal : MK-77)

2.1.6 Waktu Pemasangan IUD


1) Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil
2) Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
3) Segera setelah melahirkan, selama 48 njam pertama atau setelah 4 minggu
pascapersalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi
(MAL). Perlu diingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama
48 jam pascapersalinan.
4) Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada
gejala infeksi
5) Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi
(Saifuddin, 2010, hal : MK-80)
2.1.7 Langkah Pemasangan IUD
Siapkan peralatan dan instrumen yang diperlukan sebelum melakukan tindakan, agar
dapat menghemat waktu. Bila alat-alat berada dalam paket yang telah disterilisasi
maupun di DTT, jangan membuka paket sebelum pemeriksaan panggul selesai dan
keputusan akhir untuk pemasangan dilakukan.
Peralatan dan instrumen yang dianjurkan untuk pemasangan yaitu:
a. Bivalve spekulum (kecil, sedang, atau besar)
b. Tenakulum
c. Sonde uterus
d. Forsep/korentang
e. Gunting
f. Mangkuk untuk larutan antiseptik
g. Sarung tangan (yang telah di DTT atau sterilisasi atau sarung tangan periksa yang
baru)
h. Cairan antiseptik (mis: povidon iodin) untuk membersihkan serviks
i. Kain kasa atau kapas
j. Sumber cahaya yang cukup untk menerangi serviks (lampu senter sudah cukup),
dan
k. Copper T 380A IUD yang masih belum rusak dan terbuka
12

(Saifuddin, 2010, hal : PK-3)

Langkah-langkah pemasangan IUD Copper T380A


A. Konseling Pra Pemasangan

Jelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan dan mempersilakan klien
mengajukan pertanyaan. Hal ini membantu klien tenang dan memudahkan
pemasangan serta mengurangi rasa sakit. Hindari percakapan seperti "ini tidak sakit"
pada saat mela-kukan langkah yang mungkin menimbulkan rasa sedikit sakit atau
"hampir selesai" pada saat baru akan mulai memasang.

Sampaikan kepada klien kemungkinan akan merasa sedikit sakit pada beberapa
langkah waktu pemasangan dan nanti akan diberitahu biia sampai pada langkahlangkah tersebut. Hal ini untuk menambah kepercayaan dan percaya diri. Ajaklah
klien bercakap-cakap se-panjang pemasangan.

Inform Consent
Setiap pemakaian kontrasepsi memperhatikan hak-hak reproduksi individu dan
pasangan, setiap tindakan medis yang mengandung resiko harus dilakukan
persetujuan tertulis yang di tandatangani oleh klien yang bersangkutan dalam
keadaan sadar dan siap mental.

B. Persiapan
1. Pastikan klien telah mengosongkan kandung kemihnya.
Hal ini akan membantu klien tenang dan pemeriksaan panggul menjadi lebih mudah.
2. Periksa genitalia eksterna.
Untuk memeriksa adanya ulkus, pembengkakan kelenjar getah bening (bubo), pembengkakan kelenjar Bartolin dan kelenjar Skene.
3. Lakukan pemeriksaan spekulum.
Untuk memeriksa adanya cairan vagina, servisitis.
4. Ambil spesimen pemeriksaan dari vagina dan serviks (bila ada indikasi).
Untuk memeriksa adanya jamur, trikomonas, bakterial vaginosis (preparat basah
Saline dan KOH serta untuk memeriksa adanya gonorea atau klamidia pemeriksaan
pH).
5. Keluarkan spekulum dan letakkan kembali pada tempat yang telah disediakan.
6. Lakukan pemeriksaan bimanual.
13

Untuk menentukan besar, posisi, konsistensi, dan mobilitas uterus. Untuk memeriksa
adanya nyeri goyang serviks dan tumor pada adneksa atau kuvum Douglasi.
7. Lakukan pemeriksaan rektovaginal (bila ada indikasi).
C. Pencegahan Infeksi
D. Pemasangan
1. Masukkan lengan IUD di dalam kemasan sterilnya.
Jangan memasukkan lengan IUD lebih dari 5 menit sebelum pemasangan, karena
lengan IUD tidak kembali seperti bentuk semula (lurus) setelah dipasang.
2. Pakai kembali sarung tangan yang baru.
3. Pasang spekulum vagina untuk menampilkan serviks.
4. Lakukan tindakan aseptik-antiseptik (secara benar) pada vagina dan serviks.
5. Secara hati-hati, jepit bibir atas serviks dengan tenakulum.
Tenakulum untuk stabilisasi uterus dan mengurangi risiko perforasi. Pasang
tenakulum secara hati-hati pada posisi vertikal (jam 11 atau jam 1) jepit dengan pelan
hanya pada satu tempat untuk mengurangi sakit.
6. Masukkan sonde uterus
Untuk menentukan posisi uterus dan kedalaman kavum uteri. Memasukkan sonde
sekali masuk (teknik tanpa sentuh) dimaksudkan untuk mengurangi risiko infeksi
7. Atur letak leher biru pada tabung inserter sesuai dengan kedalaman kavum uteri.
8. Masukkan IUD ke kanalis servisis dengan teknik tanpa sentuh, kemudian dorong ke
dalam kavum uteri hingga mencapai fundus.
9. Tahan pendorong (plunger) dan tarik selubung (inserter) ke bawah sehingga lengan
IUD bebas.
10. Setelah pendorong ditarik ke luar, baru keluarkan selubung.
11. Gunting benang IUD, keluarkan tenakulum dan spekulum dengan hati-hati.
E.

Dekontaminasi dan Pencegahan Infeksi Pasca Tindakan

F.

Konseling dan Instruksi Pascainsersi


1. Buat rekam medik.
2. Ajarkan klien cara pemeriksaan mandiri benang IUD.
3. Jelaskan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami efek samping.
4. Informasikan bahwa klien dapat menghentikan penggunaan IUD apabila memang
diinginkan atau dengan pertimbangan lain
5. Lakukan observasi selama 15 menit sebelum memperbolehkan klien pulang.
14

(Prof. Dr. Abdul Bari Saifuddin, 2010, hal : PK-4 s/d 7;Anggraeni, Yetti,2012, hal:185-187;
Prawirohardjo, 2007)

2.1.8 Penanganan Efek Samping yang Umum dan Permasalahan Lain


Efek Samping
Amenorea

Penanganan
Pastikan apakah sedang hamil, apabila tidak, jangan lepas
IUD, lakukan konseling dan selidiki penyebab amenorhea
apabila dikehendaki. Apabila hamil, jelaskan dan sarankan
untuk melepas IUD apabila talinya terlihat dan kehamilan
kurang dari 13 minggu. Apabila benang tidak terlihat atau
kehamilan lebih dari 13 minggu, IUD jangan dilepaskan.
Apabila klien sedang hamil dan ingin mempertahankan
kehamilannya tanpa melepas IUD, jelaskan adanya resiko
kemungkinan terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi
serta perkembangan kehamilan harus lebih diamati dan

diperhatikan.
Rasa nyeri dan Kejang Rasa nyeri atau kejang di perut dapat terjadi segera setelah
di perut

pemasangan IUD, biasanya rasa nyeri ini berangsur-angsur


hilang dengan sendirinya. Pastikan dan tegaskan adanya PRP
dan penyebab lain dari kekejangan. Tanggulangi penyebabnya
apabila ditemukan. Apabila tidak ditemukan penyebabnya beri
analgetik

untuk

sedikit

meringankan.

Apabila

klien

mengalami kejang yang berat, lepaskan IUD dan bantu klien


Perdarahan

menentukan metode kontrasepsi yang lain.


vagina Pastiakn dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan

yang hebat dan tidak ektopik. Apabila tidak ada kelainan patologis, perdarahan
teratur

berkelanjutan serta perdarahan hebat, lakukan konseling dan


pemantauan. Beri Ibuprofen (800 mg, 3x sehari selama 1
minggu) untuk mengurangi perdarahan dan berikan tablet besi
(1 tablet setiap hari selama 1-3 bularn). IUD memungkinkan
dilepas apabila klien menghendaki. Apabila klien telah
memakai IUD selama lebih dari 3 bulan dan diketahui
menderita anemia (Hb<7 g%) anjurkan untuk melepas IUD
dan bantulah memilih metode lain yang sesuai.
15

Benang yang hilang

Pastikan adanya kehamilan atau tidak. Tanyakan apakah IUD


terlepas. Apabila tidak hamil dan IUD tidak terlepas, berikan
kondom. Periksa talinya di dalam saluran endoserviks dan
kavum uteri (apabila memungkinkan adanya peralatan dan
tenaga terlatih) setelah masa haid berikutnya. Apabila tidak
ditemukan

rujuklah

ke

dokter,

lakukan

X-ray

atau

pemeriksaan USG. Apabila tidak hamil dan IUD yang hilang


tidak ditemukan, pasanglah IUD baru atau bantulah klien
Adanya
cairan

menentukan metode lain.


pengeluaran Pastikan pemeriksaan Untuk IMS. Lepaskan IUD apabila
dari

vagina/ ditemukan

dicurigai adanya PRP

menderita

atau

sangat

dicurigai

menderita

gonorhoe atau infeksi klamidial, lakukan pengobatan yang


memadai. Bila PRP, obati dan lepas IUD sesudah 48 jam.
Apabila

IUD

dikeluarkan,

beri

metode

lain

sampai

masalahnya teratasi.
(Saifuddin, 2010, hal : MK-79)
2.1.9 Petunjuk Bagi Klien
1) Kembali memeriksakan diri setelah 1 minggu pasca pemasangan dan kunjungan
berikutnya 4 sampai 6 minggu pemasangan IUD
2) Selama bulan pertama mempergunakan IUD, periksalah benang IUD secara rutin
terutama setelah haid.
3) Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa keberadaan benang
setelah haid apabila mengalami :
-

Kram/kejang di perut bagian bawah.

Perdarahan (spotting) di antara haid atau setelah senggama

Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama
melakukan hubungan seksual

4) Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilakukan
lebih awal apabila diinginkan.
5) Kembali ke klinik apabila :
-

Tidak dapat meraba benang IUD

Merasakan bagian yang keras dari IUD

IUD terlepas

Siklus terganggu/meleset
16

Tertjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan

Adanya infeksi (Prof. Dr. Abdul Bari Saifuddin, 2010, hal : MK-80)

2.1.10 Informasi Umum


1) IUD bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan
2) IUD dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama beberapa bulan
pertama.
3) Kemungkinan terjadi perdarahan atau spotting beberapa hari setelah pemasangan
4) Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih lama dan lebih banyak
5) IUD mungkin dilepas setiap saat atas kehendak klien
6) Jelaskan pada klien jenis IUD apa yang digunakan, kapan akan dilepas dan berikan
kartu tentang semua informasi ini
7) IUD tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk virus AIDS. Apabila
pasangannya berisiko, mereka harus menggunakan kondom seperti halnya IUD
(Prof. Dr. Abdul Bari Saifuddin, 2010, hal : MK-80)
2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Calon Akseptor KB IUD
Tanggal pengkajian/ pukul
Tempat

: untuk mengetahui waktu pengkajian data

: untuk mengetahui tempat pengkajian data

Oleh

: untuk mengetahui orang yang mengkaji data

No.Reg.

: untuk memudahkan mencari riwayat kesehatan klien

2.2.1 Pengkajian Data


2.2.1.1 Data Subjektif
1) Identitas (Suami dan Istri)
-

Nama yang jelas dan lengkap


Digunakan untuk mengidentifikasi klien dan membantu menciptakan
hubungan baik.

Umur
Untuk mengetahui apakah ibu termasuk dalam WUS (20-45 tahun) atau PUS
(20-35 tahun)

Agama

17

Untuk mengetahui pandangan agama terhadap metode kontrasepsi yang


digunakan serta memberikan asuhan yang berkaitan dengan kebiasaan yang
dilakukan klien sesuai dengan agama.

Suku/Bangsa
Memberikan asuhan yang berkaitan dengan kebiasaan yang dilakukan klien
sesuai dengan suku/ bangsa (penggunaan bahasa dalam berkomunikasi)

Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan sehingga mempermudah dalam
pemberian informasi.

Pekerjaan dan penghasilan


Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi klien

Alamat
Digunakan untuk mengetahui suku, adat, daerah, budaya dan memudahkan
komunikasi.

2) Alasan Kunjungan

Klien merupakan akseptor KB baru yang datang untuk mendapatkan pelayanan


kontrasepsi jangka panjang/ kontrasepsi non hormonal untuk menunda/
menjarangkan kehamilan

Klien merupakan akseptor KB lama yang berencana ganti cara metode


kontrasepsi (ingin menggunakan kontrasepsi jangka panjang/ kontrasepsi non
hormonal untuk menunda/ menjarangkan kehamilan).

3) Keluhan Utama
Keluhan utama biasanya dialami oleh akseptor KB lama dari pengalamannya
menggunakan metode kontrasepsi yang sebelumnya (mengalami efek samping,
komplikasi).
4) Riwayat Menstruasi
Untuk mengetahui riwayat menstruasi klien yang meliputi : siklus menstruasi,
lama menstruasi, banyak darah yang dikeluarkan, sifat darah, nyeri perut
(dismenore), keluhan keputihan (fluor albus) dan HPHT. Hal ini terkait dengan
prinsip pemasangan IUD dapat dilakukan setiap waktu selama siklus haid apabila
telah dipastikan pasien tidak hamil. Untuk klien dengan riwayat menstruasi yang
panjang dan banyak serta riwayat dismenorea berat, sebaiknya dipertimbangkan
untuk menggunakan metode kontrasepsi lain, karena salah satu efek samping dari
18

penggunaan metode IUD adalah kemungkinan dapat memperberat keluhan


perdarahan banyak dan dismenore yang sudah dimiliki klien.

5) Riwayat Kontrasepsi
Untuk mengetahui penggunaan kontrasepsi apa saja yang pernah digunakan, lama
pemakaian, keluhan/ efek samping/ komplikasi yang pernah dialami, serta alasan
mengganti cara (bagi klien akseptor lama yang ingin ganti cara kontrasepsi).
6) Riwayat Obstetri
Untuk mengetahui jumlah anak, umur anak, serta riwayat kehamilan, persalinan
dan abortus (komplikasi yang pernah dialami, yang memungkinkan untuk
dilakukan

upaya

penundaan

kehamilan

dengan

menggunakan

metode

kontrasepsi).
7) Riwayat Kesehatan Klien
Untuk mengetahui riwayat kesehatan klien yang menjadi kontra indikasi
pemasangan IUD, seperti klien menderita tumor, kanker atau infeksi pada alat
reproduksi, dan penyakit tropoblas ganas.
8) Riwayat Psikososial
Sikap pandangan dan keluarga terhadap metode kontrasepsi yang digunakan klien
(setuju/tidak)
2.2.1.2 Data Obyektif
1) Pemeriksaan Umum
Kesadaran : compos mentis (idealnya klien dilakukan pemasangan IUD dalam
keadaan kesadaran penuh)
TD

: Tidak ada kontra indikasi untuk tekanan darah pada pengguna IUD

Suhu

: normalnya 36 oC 37 oC , (untuk mengetahui tanda infeksi, idealnya


apabila ditemukan tanda infeksi maka dilakukan penanganan terlebih
dahulu sebelum dilakukan pemasangan IUD)

Nadi

: normalnya 60 100 kali/menit, reguler/ ireguler

RR

: normalnya 16 24 kali/menit.

2) Pemeriksaan Fisik
19

Wajah

: apakah klien tampak pucat, warna conjungtiva

merah/merah muda/pucat dan sclera putih/kuning, (klien dengan


riwayat haid panjang dan pengeluaran darah haid yang banyak
dan sampai menyebabkan anemi, perlu dipertimbangkan untuk
menggunakan metode kontrasepsi lain)

Abdomen

: apakah teraba massa, nyeri, pembesaran uterus

(untuk memastikan tidak adanya tanda-tanda kehamilan, dan


PRP).
Genetalia

:
-Genetalia eksterna

apakah

tampak

tanda

infeksi seperti kemerahan,bengkak, pus pada organ


genetalia eksterna, memeriksa apakah ada pembengkakan kelenjar Bartolin dan kelenjar Skene.
-Inspekulo

: memeriksa bagaimana keadaan porsio

(licin/ada erosi), pengeluaran keputihan, dan apabila


diperlukan dapat dilakukan pengambilan sediaan
untuk pemeriksaan mikroskopis bila ada indikasi.
-Pemeriksaan Bimanual

: untuk menentukan besar,

posisi, konsistensi, dan mobilitas uterus, memeriksa


adanya nyeri goyang serviks dan tumor pada
adneksa atau kavum Douglasi.
3) Pemeriksan Penunjang
Plano test : untuk memastikan klien tidak hamil
2.2.2 Diagnosa dan Masalah Aktual, Diagnosa Potensial dan Antisipasinya, Identifikasi
Kebutuhan Tindakan Segera
Diagnosis

Diagnosis : calon akseptor KB IUD , bila sejak setelah melahirkan klien belum pernah
menggunakan KB apapun.
Diagnosis : calon akseptor KB IUD (ganti cara), bila sejak setelah melahirkan klien
sudah pernah menggunakan KB selain KB IUD
Masalah

: hal-hal yang menjadi keluhan atau ketidaknyamanan yang


dirasakan klien

20

Identifikasi diagnosa atau masalah potensial dibuat apabila kemungkinan terjadi


komplikasi apabila diagnosa aktual atau masalah klien tidak teratasi dengan baik.
Langkah ini membutuhkan antisipasi dan bila mungkin dilakukan pencegahan.
Diberikan apabila diperlukan tindakan segera yang berkaitan dengan diagnose
potensial apakah kolaborasi atau rujukan. Tindakan segera merupakan cerminan
kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan dalam kondisi emergensi
berdasarkan hasil analisa data, bahwa klien membutuhkan tindakan segera untuk
penyelamatan jiwa. Tindakan yang ditetapkan harus sesuai dengan prioritas masalah/
kebutuhan yang dihadapi klien.
2.2.3 Perencanaan
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya. Informasi atau
data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua
belah pihak sehingga asuhan yang diberikan dapat efektif karena sebagian dari asuhan
akan dilaksanakan oleh klien. Rencana asuhan pada calon akseptor KB IUD adalah
sebagai berikut :

Jelaskan hasil pemeriksaan


R/ klien mengetahui kondisinya saat ini

Lakukan konseling pra pemasangan IUD meliputi jenis IUD dan masa kerjanya,
efek samping penggunaan IUD, prosedur pemasangan IUD
R/ konseling pra pemasangan bertujuan untuk memberikan informasi yang benar
tentang metode kontrasepsi yang akan digunakan klien, sehingga klien dapat
memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya
(kemungkinan tetap akan menggunakan IUD atau ingin beralih ke metode
kontrasepsi lain).

Lakukan inform consent


R/ setiap pemakaian kontrasepsi memperhatikan hak-hak reproduksi individu dan
pasangan, setiap tindakan medis yang mengandung resiko harus dilakukan
persetujuan tertulis yang di tandatangani oleh klien yang bersangkutan dalam
keadaan sadar dan siap mental.

Lakukan pemasangan IUD (tahap persiapan dan pemasangan IUD)


R/ memenuhi kebutuhan klien untuk memasang IUD

Lakukan konseling pasca pemasangan IUD meliputi: keluhan pasca pemasangan


yang mungkin dialami dan penanganannya serta cara memeriksa benang.
21

R/ agar klien tidak khawatir tentang posisi IUD pasca pemasangan dan lebih siap
apabila mengalami keluhan pasca pemasangan IUD.

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik


R/ pasca pemasangan IUD klien mungkin akan merasakan nyeri yang dapat
diantisipasi dengan memberikan terapi analgesic.

Informasikan untuk kembali kontrol 1 minggu kemudian (tanggal) atau jika ada
keluhan yang dirasakan
R/ follow up 1 minggu pasca pemasangan dilakukan untuk memastikan posisi IUD
tetap baik pada cavum uteri, dan mengetahui keluhan yang dirasakan klien pasca
pemasangan IUD sehingga lebih cepat dapat diatasi.

2.2.4 Pelaksanaan
Disesuaikan dengan rencana asuhan kebidanan yang telah dibuat dan memungkinkan
untuk dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan klien.
2.2.5 Evaluasi
Disesuaikan dengan implementasi asuhan kebidanan yang dilakukan terhadap klien.

22

BAB 3
TINJAUAN KASUS
Tanggal pengkajian

: 19 Desember 2012

Pukul

: 09.15 WIB

Tempat

: Poli KB Rumkital Dr. Ramelan

Oleh

: Kelompok I

No.Reg.

: 21xx/12

3.1 Data Subyektif


3.1.1

Biodata
Nama Ibu

: Ny. Y

Nama Suami : Tn. E

Umur

: 31 tahun

Umur

: 35 tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Suku/ bangsa

: Jawa/Indonesia

Suku/ bangsa : Jawa/Indonesia

Pendidikan

3.1.2

: S1

Pekerjaan

: Swasta

Alamat rumah

: Kapas gading madya

No.Telp

: 08153xxx

Pendidikan
Pekerjaan

: Bintara

: TNI/Serka

Alasan Kunjungan :
Melepas IUD dan rencana pemasangan IUD lagi

3.1.3

Keluhan Utama
Tidak ada

3.1.4

Riwayat Menstruasi
23

Siklus teratur (30 hari), lama 7 hari, hari pertama dan kedua 3 x ganti pembalut,
haid hari ketiga-ketujuh 2x ganti pembalut dan hanya flek, sifat darah encer dan
berwarna merah, tidak mengalami nyeri saat menstruasi, tidak keputihan, HPHT
17 Desember 2012.

3.1.5

Riwayat Kontrasepsi
Setelah kelahiran anak kedua menggunakan KB suntik 3 bulan selama 1 tahun.
Kemudian ibu ganti cara menggunakan KB IUD selama 5 tahun dan hari ini
waktunya melepas IUD.

3.1.6

Riwayat Obstetri
Anak I :

9 bln/ SptB/ Bidan/ Perempuan/ 3250 g/ 5,5 tahun, tidak ada


komplikasi kehamilan, persalinan, nifas

Anak II : 9 bln/ SptB/ Bidan/ Perempuan/ 3000 g/ 18 bulan, tidak ada


komplikasi kehamilan, persalinan, nifas
3.1.7

Riwayat Kesehatan Klien


Tidak ada riwayat tumor, kanker atau infeksi pada alat reproduksi, tidak ada
penyakit tropoblas ganas.

3.1.8

Riwayat psikososial
Suami setuju dengan rencana ibu untuk pemasangan IUD lagi

3.2 Data Obyektif


3.2.1

Pemeriksaan Umum
Kesadaran

: compos mentis

Tanda-tanda vital :

Tekanan Darah : 100/60 mmHg

Nadi : 78 x/menit

Berat Badan
3.2.2

: 80 kg

Pemeriksaan Fisik
24

Wajah

: tidak pucat, conjungtiva merah muda, sklera putih

Abdomen

: tidak ada nyeri, tidak ada massa, tidak ada pembesaran uterus
Genetalia

vulva

dan

vagina

bersih,

tidak

ada

pembengkakan kelenjar skene dan bartolin.


Inpekulo : porsio licin, tampak darah menstruasi sedikit
Pemeriksaan bimanual: tidak ada nyeri goyang, adneksa tidak
teraba massa, uterus posisi antefleksi, tidak ada perlunakan
pada servik, sonde 7 cm.
3.3 Analisis
Diagnosis

: akseptor KB IUD (ganti cara)

Masalah

: tidak ada

3.4 Penatalaksanaan
1) Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada klien oleh mahasiswa Dora
2) Melakukan konseling pra pemasangan IUD oleh bidan Anyk meliputi jenis IUD
dan masa kerjanya, efek samping penggunaan IUD, prosedur pemasangan IUD;
klien memutuskan untuk menggunakan IUD CuT 380A.
3) Melakukan inform consent oleh mahasiswa; klien menandatangi pernyataan
inform consent
4) Melakukan pemasangan IUD CuT 380A oleh mahasiswa Dora.
5) Melakukan konseling pasca pemasangan IUD oleh bidan Anyk meliputi: keluhan
pasca pemasangan yang mungkin dialami dan penanganannya serta cara
memeriksa benang; klien dapat memperagakan cara memeriksa benang.
6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi pasca pemasangan IUD; ibu
mendapat resep obat dari dokter untuk ditukar di apotik (amoxicillin 3x1, Antalgin
3x1 dan dexa 2x1).
7) Mengingatkan ibu untuk kontrol 1 minggu lagi (tanggal 26-12-12) atau apabila
mengalami keluhan oleh bidan Anyk; ibu bersedia kontrol sesuai jadwal atau jika
ada keluhan.

25

BAB 4
PEMBAHASAN

Kasus Ny Y dengan calon akseptor KB IUD (ganti cara) didapatkan bahwa :


Pada data subyektif didapatkan bahwa klien sedang menstruasi hari ketiga. Hal ini
sesuai dengan tinjauan pustaka yang menyebutkan bahwa pemasangan IUD dapat dilakukan
pada hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid (Saiffudin, 2010).
Pada data obyektif tinjauan kasus setelah dilakukan pemeriksaan, semua persyaratan
pemasangan IUD telah terpenuhi dan sesuai dengan tinjauan pustaka, antara lain :
pemasangan dilakukan setiap saat selama siklus haid (pada kasus pemasangan dilakukan pada
hari ke-3 menstruasi), dan ibu tidak memiliki ada tumor, kanker, kelainan ataupun infeksi
pada pelvik dan genetalia, pada pemeriksaan inspekulo ukuran rongga rahim ibu 7 cm dan
porsio tidak ada erosi. (Saiffudin, 2010).
Berdasarkan hasil pengkajian data, dilakukan interpretasi data. Dalam hal ini tidak
didapatkan adanya kesenjangan antara teori dan kenyataan yang ada. Diagnosa yang
didapatkan yaitu calon akseptor KB IUD (ganti cara) karena sejak setelah melahirkan klien
sudah pernah menggunakan KB selain KB IUD yaitu KB suntik 3 bulan.
Pada kasus didapatkan penatalaksanaan asuhan calon akseptor KB IUD telah sesuai
dengan teori, mulai dari konseling pra pemasangan IUD, inform consent, tindakan pelepasan
dan pemasangan, konseling pasca pemasangan dan informasi kunjungan ulang (Hanifa, 2007).
Pada penatalaksanaan kasus Ny Y dilakukan pemberian terapi amoxicillin 3x1,
antalgin 3x1 dan dexa 2x1, sebagai tindakan antisipasi untuk peradangan dan pengurangan
rasa nyeri pasca pemasangan IUD, hal ini kurang sesuai dengan tinjauan pustaka yang
menyebutkan terapi pasca pemasangan IUD cukup diberikan analgesik saja (Saiffudin, 2010).
26

BAB 5
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari kasus Ny Y akseptor KB IUD ganti cara dapat disimpulkan bahwa :
1) Penatalaksanaan kasus sudah sesuai dengan teori pada tinjauan teori sehingga
tidakditemukan kesenjangan yang berarti.
2) Dalam melakukan pengkajian baik melalui anamnesa maupun pemeriksaan fisik untuk
menilai keadaan klien secara menyeluruh petugas tidak mengalami kesulitan karena
pasien kooperatif.
5.2 Saran
1) Bagi Petugas
Petugas harus senantiasa melaksanakan tindakan yang sesuai dengan protap
dalam menatalaksana suatu kondisi pada pasien, serta berupaya untuk tanggap terhadap
masalah dan keluhan ibu. Pada kasus ini, protap telah dilaksanakan dengan baik dan hal
ini harus tetap dipertahankan agar bisa menatalaksana masalah pasien dengan hasil
yang optimal. Selain itu, pemberian motivasi dan penjelasan kepada ibu dan suami
mutlak diperlukan pada pelayanan KB, terutama untuk persetujuan tindakan medis
(informed consent).
2) Bagi Klien dan Keluarga
Diharapkan klien dan keluarga lebih kooperatif dalam melaksankan anjuran
yang diberikan oleh dokter/bidan/perawat agar dapat mendukung asuhan yang
diberikan, sehingga asuhan yang diperoleh optimal.
27

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Yetti. 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta:Yogyakarta:Rohima Press


Benny.2012.Angka

Kematian

Ibu,228/100.000

Kelahiran

Hidup.

Diunduh

dari

http://regional.kompas.com/read/2012/01/31/22093816/Angka.Kematian.Ibu.228100.0
00.Kelahiran.Hidup pada tanggal 18 Desember 2012 jam 21.00 WIB
BKKBN. 2003. Kamus Istilah Kependudukan, KB dan Keluarga Sejahtera.Jakarta : BKKBN.
BKKBN. 2003. Umpan Balik Laporan Pencapaian Program KB Nasional Propinsi
Jawa Timur. Surabaya : BKKBN.
Dorland, Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 29. Jakarta : EGC.
Hartanto, Hanafi. 2004. KB dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Iswarati. 2003. KB, KP, Gender dan Pembangunan Kependudukan. Jakarta : BKKBN.
Manuaba, IBG. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan
Bidan. Jakarta : EGC
Prawirohardjo.2007.Buku

Acuan

Nasional

Pelayanan

Kesehatan

Maternal

dan

Neonatal.Jakarta:YBP-SP
Syaifudin,AB.2010.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi 2. Jakarta:PTBPSP
28

29