Anda di halaman 1dari 3

Panduan Praktik Klinis

SMF : ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RSUD SIDOARJO, SIDOARJO
2012 - 2014

DERMATITIS KONTAK ALERGI


1. Pengertian (Definisi)

2. Anamnesis

3. Pemeriksaan Fisik

4. Kriteria Diagnosis

5. Diagnosis

6. Diagnosis Banding

7. Pemeriksaan Penunjang

8. Terapi

Dermatitis yang terjadi akibat pajanan dengan bahan allergen di


luar tubuh.
1. Didapatkan keluhan gatal sangat/ringan bila terpajan
bahan tertentu
2. Didapatkan keluhan timbul bintik-bintik merah
3. Orang sekitar tidak mengalami hal yang serupa
Kelainan yang terjadi dapat berupa dermatitis akut, sub akut,
dan kronis. Lesi yang akut berupa lesi yang polimorf yaitu
tampak macula yang erimatus, batas tidak tegas dan diatas
macula yang erimatus terdapat papul, vesikel, bula yang bila
pecah menjadi lesi yang eksudatif.
Bentuk yang kronis gambarannya lebih sederhana berupa
macula hiperpigmentasi disertai likenifikasi dan ekskoriasi.
1. Riwayat terpajan dengan bahan alergen
2. Terjadi reaksi berupa dermatitis, setelah pajanan ulang
dengan alergen yang sama
3. Bila pajanan dihentikan, lesi membaik dan bila pajanan
berulang, lesi memberat.
4. Gejala subyektif berupa gatal
5. Terdapat tanda dermatitis (akut, sub kronis, kronis )
6. Lesi bersifat lokalisata, berbatas tegas, bentuk sesuai
dengan bahan penyebabnya.
7. Pada DKA sistemik lesi dapat tersebar luas/generalisata
8. Efloresensi polimorf
a. Anamnesis yang cermat
b. Gejala klinis
c. Uji tempel (patch test) dengan menggunakan bahan
standart atau menggunakan bahan yang dicurigai.
1.
2.
3.
4.

Dermatitis kontak iritan


Dermatitis numularis ( bila berbentuk bulat/lonjong )
Dermatitis seboroika ( bila dikepala )
Dishidrosis (bila mengenai telapak tangan dan kaki )

a. Tes kulit (tes tempel) untuk mencari penyebab


b. Pada DKA kosmetika, apabila tes tempel negatif dapat
dilanjutkan dengan tes pakai (use test), tes pakai berulang
(repeated open application test ROAT)
1. Non Medikamentosa
a. Hentikan pajanan alergi tersangka
b. Penilaian identifikasi allergen ( tes tempel lanjut

dengan bahan-bahan yang lebih spesifik )


c. Anjuran penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang
sesuai sarung tangan, krim barrier.

2. Medikamentosa
a. Sistemik : simtomatis sesuai gejala dan gambaran klinis
b. Gatal
: beri antihistamin generasi kedua
c. DKA akut derajat sedang berat,
Refrakter : dapat ditambah kortikosteroid oral setara
dengan prednisone 20 mg/hari dalam jangka pendek (3
hari)
d. Siklosporin oral
e. Topical : sesuai dengan sajian klinis
1. Basah (madidans) : beri kompres terbuka (2 -3
lapis kain kasa ) dengan larutan Nacl 0,9%
2. Vesikuler akut : aluminium sulfat/kalsium asetat
topical
3. Kering/kronik/likenifikasi : beri krim
kortikosteroid sedang ( flusinolon asetonid ),
emolien, inhibitor kalsineurin : takrolimus,
pimekrolimus
f. Refrakter/ tidak dapat menghindari faktor-faktor
pencetus : fototerapi shortwave UVB
9. Edukasi

a. Menghindari bahan yang dicurigai


b. Menjaga kebersihan

10. Prognosis

Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

11. Tingkat Evidens

I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi


13. Penelaah Kritis

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

A/B/C
1. dr. Myrna Safrida, SpKK
2. dr. Rudy Wartono, SpKK
3. dr. Dhita Karina, SpKK
1. Bintik merah
2. Keluhan rasa gatal
1.

Panduan pelayanan medis Dokter Spesialis Kulit dan


Kelamin
2. Pedoman Diagnostik dan Terapi Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin tahun 2005
Sidoarjo, 1 Desember 2012

Ketua Komite Medik

Ketua SMF Kulit & Kelamin

dr. M. Tauhid Rafii, SpM

dr. Myrna Safrida, SpKK

NIP. 19580505 198610 1 005

NIP. 19620405 198901 2 002

Direktur RSUD Sidoarjo

dr. Eddy Koestantono M., MM


NIP. 19551008 198801 1 001