Anda di halaman 1dari 6

Panduan Praktik Klinis

SMF : ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RSUD SIDOARJO, SIDOARJO
2012 - 2014

DERMATOFITOSIS
1. Pengertian (Definisi)

Merupakan penyakit jamur superfisialis yang disebabkan oleh


kelompok dermatofita ( Trichophyton sp, epidermophyton,
microsporum sp.)
Terminology tinea atau ringworm secara tepat
menggambarkan dermato-mikosis dan dibedakan berdasarkan
lokasi anatomi infeksi.
Klasifikasi menurut lokasi :
Tinea Kapitis
Tinea Korporis
Tinea kruris
Tinea unguium
Tinea manum
Tinea pedis
1.

2.

3.

4.

5.

6.

2. Anamnesis

3. Pemeriksaan Fisik

a. Didapatkan keluhan gatal sangat/ringan


b. Didapatkan bintik-bintik merah
c. Didapatkan keluhan perubahan warna rambut menjadi
keabuan
d. Didapatkan rambut rontok
1. Tinea kapitis
Infeksi dermatofit pada kepala, alis dan bulu mata.
a. Infeksi ektothrik : miselium menjadi arthokonidia
disekitar batang rambut/bawah kutikula dan dekstruksi
kutikula ada 2 bentuk :
1) Gray patch (antropofilik : M ferrugineum)
Berskuama, disertai radang ringan, gatal
ringan/sangat, rambut keabuan, kusut, rapuh
terpotong beberapa millimeter diatas kepala
menyebabkan alopesia, dengan lapu wood positif
hijau terang.
2) Kerion (zoofilik)
a) Karena M.canis
Keradangan berat, dengan lampu wood positif
hijau terang
b) Karena T. metagrophytes dan T. verrucosum
Kaerion celsi (+), nyeri, rambut mudah putus,
dengan lampu wood (-)
b. Infeksi endothrik : miselium menjadi arthokonidia
didalam batang rambut, selalu antropofilik (T.
violaceum), lesi multiple, banyak, terpencar, tidak
semua rambut dilesi terkena menyebabkan alopesia.
Black dot : rambut putus tepat di orifisum folikel
rambut, kronis, dapat berlangsung sampai dewasa,
dengan lapu wood (-).
2. Tinea korporis
Infeksi dermatofit pada kulit halus (glabrous skin)

2 bentuk tersering : bentuk anular dan bentuk iris.


Macula eritematous berbatas jelas, tepi polisiklis, aktif
(meninggi, ada papul, vesikel, meluas), sembuh
ditengah tertutup skuama.
3. Tinea kruris
Infeksi dermatofit pada sela paha, perineum dan daerah
perianal dapat meluas kedaerah gluteus dan pubis,
efloresensinya = tinea korporis, bilateral tetapi tidak
simetris, paha dimana sisi skrotum yang lebih turun,
lesinya lebih luas. Skrotum dan penis tidak terkena,
skrotum sebagai reservoir dapat menyebabkan kambuhkambuhan.
4. Tinea unguium
Infasi dermatofit ke lempeng kuku.
5. Tinea pedis
Infeksi dermatofit pada kaki, mengenai sela jari dan
telapak kaki
a. Intertriginosa kronis :bentuk tersering
Kulit mengelupas, maserasi dan pecah-pecah,
tersering antar jari kaki IV dan V serta III dan IV,
tertutup epidermis dan debris mati, putih, maserasi,
meluas ketelapak kaki, tumit& dorsum pedis, khas
hiperhidrosis dan bau khas tidak enak.
b. Bentuk hiperkeratotik papuloskuamosa kronis
Khas daerah kulit merah muda, tertutup skuama
putih keperakan, bilateral, berupa bercak-bercak.
Moccasin foot : bila mengenai seluruh kaki
c. Bentuk vesikula
Khan lesi vesikel, vesikulopustula dan dapat bula,
jarang pada tumit dan daerah depan, seperti
erisepelas, sering positif reaksi id
d. Bentuk ulseratif akut
Proses eksematoid vesikulopustula dan penyebaran
cepat disertai infeksi sekunder bakteri.
6. Tinea manum
Infeksi dermatofit pada daerah interdigitalis, permukaan
palmar dan dorsum manus. Bentuk tersering adalah
hyperkeratosis difusa. Unilateral, dapat disertai satu
atau dua kaki terkena (Tinea pedis), kuku tidak/dapat
terkena.
4. Kriteria Diagnosis

1. Tinea kapitis
bergantung pada etiologinya
Non inflamatory, human, epidemic type (gray patch)
inflamasi minimal, rambut pada daerah terkena berubah
warna menjadi abu-abu dan tidak mengkilap, mudah
patah di permukaan scalp.
Lesi tampak berskuama, hyperkeratosis, batas tegas
karena rambut yang patah. Berfluoresensi dengan lampu
wood
Inflammatory type (kerion)
Biasa disebabkan oleh pathogen zoofilik atau geofilik.
Spectrum inflamasi berkisar mulai dari folikulitis pustular
sampai kerion. Sering terjadi alopesia sikatrisial.
Lesi biasanya gatal, dapat disertai nyeri, demam,

limfadenopati servikal posteriordan lesi lain pada kulit


glabrosa.
Black Dot
Disebabkan oleh mikroorganisme endotriks antropofilik.
Rambut mudah patah pada permukaan
scalpmeninggalkan kumpulan titik hitam pada daerah
alopesia (black dot). Kadang masih terdapat sisa rambut
normal diantara alopesia. Dapat bervariasi, hanya skuama
difus dengan sedikit rambut rontok.
2. Tinea korporis.
Mengenai kulit tidak berambut, keluhan gatal terutama
bila berkeringat, dan secara klinis tampak lesi berbatas
tegas, polisiklik, tepi aktif oleh karena tanda radang
lebih jelas dan polimorfi yang terdiri atas eritema,
skuama,dan kadang papul atau vesikel ditepi,
penyembuhan ditengah (central healing)
3. Tinea kruris
Lesi serupa tinea korporis, terletak didaerah inguinal dan
dapat meluas ke suprapubis, perineum dan bokong.
Meskipun relative jarang, genetalia dapat kena.
Sering disertai gatal dengan maserasi atau infeksi sekunder.
4. Tinea pedis
Tipe interdigital ( kronic interdigital type )
Bentuk klinis paling banyak. Dimulai dengan skuamasi,
erosi dan eritema pada daerah interdigital dan subdigital
kaki, terutama pada tiga jari lateral.
Pada kondisi tertentu infeksi dapat menyebar ke telapak
kaki yang berdekatan dan bagian kura-kura kaki. Jarang
mengenai dorsum kaki.
Oklusi dan ko-infeksi dengan bakteri segera
menyebabkan maserasi, pruritus, dan malodor
(dermatofitosis kompleks atau athletes foot)
Tipe hiperkeratotik kronis
Klinis tampak skuama difus atau setempat,bilateral, pada
kulit yang tebal (telapak kaki, aspek lateral dan medial
kaki) dikenal sebagai moccasin type. Dapat timbul
sedikit vesikel,meninggalkan skuama kolaret dengan
diameter kurang dari 2 mm.
Tinea manum unilateral umumnya terjadi berhubungan
dengan tinea pedis hiperkeratotik sehingga terjadi twofeet-one hand syndrome
Tipe visoko bulosa
Klinis tampak vesikel tegang dengan diameter lebih dari
3 mm, vesikopustula, atau bula pada kulit tipis telapak
kaki dan periplantar.
Jarang dilaporkan pada anak-anak
Tipe ulseratif akut
Terjadi ko-infeksi dengan bakteri gram negative
menyebabkan vesikopustul dan daerah luas dengan
ulserasi purulen pada permukaan plantar. sering diikuti
selulitis, limfangitis, limfadenopati dan demam.
5. Tinea manum.
Biasanya unilateral, terdapat dua bentuk :
Dishidrotik : lesi segmental atau anular berupa vesikel
dengan skuama di tepi pada telapak tangan, jari tangan

dan tepi lateral tangan.


Hiperkeratotik : vesikel mongering dan membentuk lesi
sirkuler atau ireguler, eritematosa dengan skuama. Lesi
kronik dapat mengenai seluruh telapak tangan dan jari
siertai fisur.

6. Tinea Unguium
Onikomikosis merujuk pada semua infeksi pada kuku yang
disebabkan oleh jamur dermatofita, nondermatofita atau ragi
(yeasts).
Dapat mengenai kuku tangan maupun kuku kaki, dengan
bentuk klinis :
Onikomikosis subungual proksimal
Onikomikosis subungual distal
Onikomikosis superficial putih
Onikomikosis lateral distal
Distropik totalis
Klinis dapat ditemui distrofi, hyperkeratosis,onikolisis,
debris subungual, perubahan warna kuku, dengan lokasi
sesuai bentuk klinis.
5. Diagnosis

1. Anamnesis dan gejala klinis khas


2. Laboratorium :
a. Pemeriksaan langsung dengan KOH 10-20% / dapat +
tinta parker
1) Dari kerokan kulit /skuama/kuku terihat
a) Hifa bersepta : gambaran double contour (2
garis lurus sejajar, transparan) bersepta/sekat
dan dikhotomi (cabang dua-dua)
b) Arthrokonidia/arthrospora
Spora berderet, merupakan pecahan-pecahan
ujung hifa
2) Dari rambut, terlihat salah satu
a) Arthrokonidia kecil-kecil/besar pada
ektothriks (diluar rambut)
b) Arthrokonidiabesar pada endothriks (didalam
rambut)
3) Hasil KOH negative : tidak menyingkirkan
diagnosis dermatofitosis
b. Kultur
Dengan media :
Sabourauds dextrose agar (SDA) + kloramphenicol +
cyclohexamide (actidion) : mycobiotik mycosel,
tumbuh rata-rata 10 14 hari.
c. Pemeriksaan lampu wood
Pada tinea kapitis
Fluoresensi positif : warna hijau terang menunjukan
spesies microsporum.
Fluoresensi negative : karena spesiens trycophyton,
atau memang bukan karena tinea kapitis.

6. Diagnosis Banding

1. Tinea kapitis :
Dermatitis seboroik, psoriasis, dermatitis atopic, liken
simpleks kronis, alopesia areata.
2. Tinea manus dan pedis
Dermatitis kontak, psoriasis, sifilis sekunder, keratoderma.

3. Tinea korporis
Psoriasis, ptiriasis rosea
4. Tinea kruris
Eritrasma dan kandidiosis
5. Tinea unguium
Onikolisis, 20-naik dystrophy
7. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit atau kuku


menggunakan mikroskop dan KOH 20% : tampak hifa
panjang dan atau atrospora.
kultur dengan agar sabouraud plus : pada suhu 28oC selama 14 minggu. (tidak harus selalu dikerjakan, kecuali pada tinea
unguium) lampu wood hanya berfluoresensi pada tinea kapitis
yang disebabkan oleh mycrosporum.

8. Terapi

Medikamentosa
a. Topical
1) Obat pilihan : golongan alilamin sekali sehari selama
1-2 minggu
2) Alternatif : golongan azol
a) Siklopiroksolamin
b) Asam undesilinat
c) Tolnaftat (1 - 2 kali sehari selama 2 - 4 minggu)
b. Sistemik (bila lesi kronik atau luas)
1) Griseofulvin oral 10 25 mg/kgBB/hari,
Ketokonazole 200 mg/hari atau itrakonazole 2 x 100
mg/hari.
2) Terbinafine oral 1x250 mg/hari sampai klinis membaik
dan hasil pemeriksaan laboratorium negatif.
Catatan : hati-hati efek samping obat sistemik.
Pengobatan khusus untuk :
a. Tinea kapitis
1) Sistemik :
Obat pilihan : griseofulvin fine-partikel 10 25
mg/kgBB/hari, 6-8 minggu.
Alternatif : itrakonazol 3-5 mg/hari, 3-6 minggu
Terbinafine 62,5-250 mg/hari (bergantung berat
badan), selama 2-4 minggu
2) Rambut dicuci dengan sampo antimikotik 2-4
x/minggu.
b. Tinea unguium
Bila mengenai 1-2 kuku dengan keterlibatan <2/3
bagian kuku :
Obat pilihan : siklopiroksolamin topical (cat kuku)
Alternatif : obat golongan azole (tingtura/losio, krim)
Bila mengenai > 2 kuku dan melibatkan >2/3 bagian
kuku :
Obat pilihan :itrakonazole 2x200 mg/hari selama
seminggu setiap bulan selama 2-3 bulan.\
Alternative : terbinafine 1 x 250 mg/hari selama 3
bulan.
c. Tinea pedis.
Khusus bentuk moccasin foot : itrakonazole 2x100
mg/hari atau terbinafine 1x250 mg/hari selama 4 6

minggu.
9. Edukasi

1. Menjaga daerah-daerah predileksi tetap kering dan


lembab
2. Menghindari kontak dengan air dalam waktu lama
3. Menjaga kebersihan.

10. Prognosis

Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

11. Tingkat Evidens

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi


13. Penelaah Kritis

14. Indikator Medis


15. Kepustakaan

A/B/C
1. dr. Myrna Safrida, SpKK
2. dr. Rudy Wartono, SpKK
3. dr. Dhita Karina, SpKK

a. Bintik Merah
b. Keluhan rasa gatal
1. Panduan pelayanan medis Dokter Spesialis Kulit dan
Kelamin
2. Pedoman Dignostik dan Terapi Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin tahun 2005

Sidoarjo, 1 Desember 2012


Ketua Komite Medik

Ketua SMF Kulit & Kelamin

dr. M. Tauhid Rafii, SpM

dr. Myrna Safrida, SpKK

NIP. 19580505 198610 1 005

NIP. 19620405 198901 2 002

Direktur RSUD Sidoarjo

dr. Eddy Koestantono M., MM


NIP. 19551008 198801 1 001