Anda di halaman 1dari 20

Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

Hepatitis B

Ujian Take Home Pada Mata Kuliah Tumbuh Kembang Anak

Dosen Mata Kuliah :


dr. Iskandar Syarif, Sp. A (K)

Oleh:
Yosha Putri Wahyuni
1420312023

PROGRAM PASCASARJANA ILMU BIOMEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas


limpahan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
judul Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Hepatitis B). Makalah ini
disusun untuk memenuhi Tugas individu pada mata kuliah Tumbuh Kembang
Anak yang diampu oleh dr. Iskandar Syarif, Sp.A (K), pada Program Pascasarjana
Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima saran
dan kritikan yang sifatnya membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua, khususnya bagi mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Biomedik.
Akhir kata hanya kepada Allah penulis memohon agar semua keikhlasan
yang telah diberikan dibalas oleh-Nya.

Padang,

April 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang....................................................................................1
1.2 Tujan Penulisan..................................................................................3
1.3 Manfaat .............................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Defenisi Kontrasepsi Hormonal........................................................5
2.2 Perubahan-perubahan yang terjadi selama penggunaan
Kontrasepsi........................................................................................6
2.3 Jenis-jenis Pil ..................................................................................8
2.2.1 Pil Oral Kombinasi (POK).......................................................9
2.2.2 Pil Mini....................................................................................16
2.2.3 Pil Sekuensial...........................................................................22
2.2.4 Pil Pascasanggama...................................................................22
2.4 Mekanisme kerja pil..........................................................................24
2.5 Efikasi Accetabiliti............................................................................26
2.6 Safety ...............................................................................................26
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..........................................................................................27
3.2 Saran....................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat didunia
termasuk Indonesia, yang terdiri dari Hepatitis A, B, C, D dan E. Hepatitis A
dan C sering muncul sebagai kejadian luar biasa, ditularkan melalui feses, oral
dan biasanya berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat, bersifat
akut dan sembuh dengan baik. Sedangkan Hepatitis B, dan C (jarang
ditularkan secara parenteral, dapat menjadi kronis dan menimbulkan cirrhosis
dan kanker hati. Virus hepatitis B telah menginfeksi sejumlah 2 milyar orang
di dunia dan sekitar 240 juta merupakan pengidap virus Hepatitis B kronis,
sedangkan untuk penderita Hepatitis C di dunia diperkirakan 170 juta orang
dan sekitar 1.5 juta penduduk dunia meninggal setiap tahunnya disebabkan

oleh infeksi VHB dan VHC (Tjandra, 2012 dalam Panduan Pengendalian
Hepatitis Virus).
Prevalensi pengidap Hepatitis B tertinggi ada di Afrika dan Asia.
Indonesia merupakan negara dengan endemisitas Hepatitis B tinggi nomor 2
terbesar sesudah Myanmar diantara negara-negara anggota WHO SEAR
(South East Asian Region). Sekitar 23 juta penduduk Indonesia telah terinfeksi
Hepatitis B dan 2 juta orang terinfeksi Hepatitis C. Hasil Riset Kesehatan
Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 menunjukkan bahwa Hepatitis klinis
terdeteksi di seluruh propinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0,6%
(rentang: 0,2%-1,9%). Hasil Riskesdas Biomedis tahun 2007 dengan jumlah
sampel 10.391 menunjukkan bahwa persentase HBsAg positif 9,4%.
Persentase Hepatitis B tertinggi pada kelompok umur 45-49 tahun (11,92%),
umur >60 tahun (10.57%) dan umur 10-14 tahun (10,02%). HBsAg positif
pada kelompok laki-laki dan perempuan hampir sama (9,7% dan 9,3%). Hal
ini menunjukkan bahwa 1 dari 10 penduduk Indonesia telah terinfeksi virus
Hepatitis B Besaran masalah tersebut tentunya akan berdampak sangat besar
terhadap masalah kesehatan masyarakat, produktivitas, umur harapan hidup,
dan dampak sosial ekonomi lainnya (Riskesdas 2007).
Dari data yang telah terkumpul, angka prevalensi HBsAg pada donor
darah di Indonesia tahun 1981 dengan metode pemeriksaan RPHA (Reverse
Passive Haemaglutination) menunjukkan rata-rata 5,2% (rentangan 2,4-9,1%),
dan tahun 1993 dengan metode pemeriksaan ELISA rata-rata 9,4%, rentangan
2,5 -36,1% (Sulaiman et al., 1998).
Angka penularan secara vertikal dari ibu pengidap Hepatitis B kepada
bayinya cukup tinggi. Berdasarkan penelitian beberapa rumah sakit di

Indonesia, prevalensi HBsAg pada ibu hamilberkisar 2,15,2% (Soewignyo,


1992).
Melihat kenyataan bahwa hepatitis merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang serius baik di tingkat nasional maupun global, maka pada
tanggal 20 Mei 2010 World Health Assembly (WHA) dalam sidangnya yang
ke 63 di Geneva telah menyetujui untuk mengadopsi Resolusi WHA 63.18
tentang Hepatitis Virus, yang menyerukan semua negara anggota WHO untuk
melaksanakan pencegahan dan penanggulangan hepatitis virus secara
komprehensif. Sebagai pemrakarsa resolusi ini adalah tiga negara anggota
WHO, yaitu Indonesia, Brazil dan Columbia. Dalam resolusi ini, ditetapkan
tanggal 28 Juli menjadi Hari Hepatitis Sedunia atau World Hepatitis Day.
Peringatan hari Hepatitis Sedunia bermaksud untuk meningkatkan kepedulian
pemerintah, masyarakat dan semua pihak terhadap pengendalian penyakit
Hepatitis. Dalam resolusi tersebut, WHO akan menyediakan bantuan bagi
negara berkembang dalam pengembangan strategi nasional, program
surveilans yang efektif, pengembangan vaksin dan pengobatan yang efektif.
Memperhatikan pentingnya isu ini dan telah diterimanya resolusi Hepatitis
virus oleh WHO, dalam pertemuan WHA ke 63 tersebut di atas, maka
diperlukan kerjasama internasional yang erat diantara negara-negara di dunia
dalam upaya menanggulangi Hepatitis virus. Indonesia bersama Brazil
merupakan sponsor utama yang berjuang untuk melahirkan resolusi WHO
tersebut sehingga peranan yang penting tersebut dapat dipakai sebagai
landasan yang kokoh bagi terwujudnya Pengembangan Program Pengendalian
Hepatitis di Indonesia.

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini masih menjadi


masalah kesehatan di negara berkembang. Penyakit infeksi
merupakan penyebab utama kematian anak. Penyakit infeksi
yang

cukup

satunya

tinggi

adalah

memerlukan

dengan

upaya

pemeberian

pencegahan,

imunisasi.

salah

Termasuk

penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan imunisasi, atau


biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah dengan
Imunisasi),

penyakit-penyakit

tersebut

adalah

Tuberculosis,

Hepatitis B, Difteri, Pertusis, Tetanus, Campak, dan Polio.


Cakupan imunisasi secara global pada anak meningkat 5% menjadi 80%

dari sekitar 130 juta anak yang lahir setiap tahun sejak penetapan The
Expanded Program on Immunization (EPI) tahun 1974 oleh WHO. Menurut
perkiraan WHO, lebih dari 12 juta anak berusia kurang dari 5 tahun yang
meninggal setiap tahun, sekitar 2 juta disebabkan oleh penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Serangan penyakit tersebut akibat status imunisasi
dasar yang tidak lengkap pada sekitar 20% anak sebelum ulang tahun yang
pertama (WHO dan UNICEF, 2008)
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008, cakupan imunisasi
Hepatitis B (0-7 hari) di Indonesia sebesar 59,19%, pada Tahun 2009 cakupan
imunisasi Hepatitis B (0-7 hari) di Indonesia sebesar 48,30%. angka ini belum
maksimal dalam mendekati Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk
Universal Child Immunization (UCI) sebesar 100 % (Depkes RI, 2010).
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui, memahami, mengaplikasikan penyakit-penyakit yang


dapat di cegah dengan imunisasi salah satu diantaranya adalah Hepatitis
1.2.2

B
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui dan memahami defenisi Hepatitis B
2. Untuk mengetahui dan memahami tentang Etiologi Hepatitis B
3. Untuk mengetahui, memahami tentang Tanda dan gejala Hepatitis B
4. Untuk mengetahui dan memahami tentang masa Inkubasi Hepatitis B
5. Untuk mengetahui dan memahami tentang Diagnosis Hepatitis B
6. Untuk mengetahui, memahami, dan mengaplikasikan Pencegahan
Hepatitis B diantaranya dalam bentuk pencegahan non spesifik dan
spesifik (imunisasi)
7. Untuk mengetahui dan memahami tentang Penanganan penderita,
kontak dan lingkungan sekitar.

1.3 Manfaat
1.3.1 Bidang Instansi dan Tenaga Kesehatan
Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan
(penyuluhan, ketersediaan alat dan fasilitas kesehatan) yang diberikan
kepada penderita Hepatitis B terutama tentang pencapaian pelaksanaan
1.3.2

program imunisasi Hepatitis B pada bayi.


Bagi Masyarakat
Menimbulkan kesadaran pada masyarakat khususnya ibu-ibu yang
mempunyai bayi agar ikut berperan serta dan mau membawa bayinya ke
posyandu/pustu/polindes/puskemas/pelayanan kesehatan yang lain untuk
diberikan imunisasi, sehingga dapat dicapai keberhasilan pemberian
imunisasi pada bayi khususnya imunisasi Hepatitis B.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Hepatitis B
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh berbagai
sebab seperti bakteri, virus, proses autoimun, obat-obatan, perlemakan,
alkohol dan zat berbahaya lainnya (Tjandra, 2012 dalam Panduan
Pengendalian Hepatitis Virus).
Bakteri, virus dan parasit merupakan penyebab infeksi terbanyak, diantara
penyebab infeksi tersebut. Infeksi karena virus Hepatitis A, B, C, D atau E
merupakan

penyebab

tertinggi

dibanding

penyebab

lainnya,

seperti

mononucleosis infeksiosa, demam kuning atau sitomegalovirus. Sedangkan


penyebab Hepatitis non virus terutama disebabkan oleh alkohol dan obatobatan.
2.2 Hepatitis B
2.2.1 Etiologi
Virus hepatitis B merupakan kelompok virus DNA dan tergolong
dalam famili Hepadnaviridae. Nama famili Hepadnaviridae ini disebut
demikian karena virus bersifat hepatotropis dan merupakan virus dengan
genom DNA. Termasuk dalam family ini adalah virus hepatitis
Woodchuck (sejenis marmot dari Amerika Utara) yang telah diobservasi
dapat menimbulkan karsinoma hati, virus hepatitis B pada bebek Peking
dan bajing tanah (ground squirrel).
Penyebab penyakit adalah virus Hepatitis B (VHB) yang termasuk
famili Hepadnavirus dan berukuran sangat kecil (42 nm). Virus Hepatitis B
merupakan virus DNA dan sampai saat ini terdapat 8 genotip VHB yang

telah teridentifikasi, yaitu genotip AH. VHB memiliki 3 jenis morfologi


dan mampu mengkode 4 jenis antigen, yaitu HBsAg, HBeAg, HBcAg, dan
HBxAg. Virus Hepatitis B yang menginfeksi manusia bisa juga
menginfeksi simpanse. Virus dari Hepadnavirus bisa juga ditemukan pada
bebek, marmut dan tupai tanah, namun virus tersebut tidak bisa
menginfeksi manusia.

Gambar 1. Virus Hepatitis B


2.2.2

Cara penularan
Virus Hepatitis B dapat ditemukan pada cairan tubuh penderita
seperti darah dan produk darah, air liur, cairan serebrospinalis, peritonea,
pleural, cairan amniotik, semen, cairan vagina dan cairan tubuh lainnya.
Namun tidak semuanya memiliki kadar virus yang infeksius. Ada 2 cara
penularan infeksi virus hepatitis B yaitu penularan vertikal dan penularan
horizontal.
1. Vertikal
Penularan infeksi HBV dari ibu hamil kepada bayi yang dilahirkannya.
Dapat terjadi pada masa sebelum kelahiran atau prenatal, selama
persalinan atau perinatal dan setelah persalinan atau postnatal. Penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar bayi yang tertular VHB secara

vertikal mendapat penularan pada masa perinatal yaitu pada saat terjadi
proses persalinan. Karena itu bayi yang mendapat penularan vertikal
sebagian besar mulai terdeteksi HBsAg pada usia 3-6 bulan yang sesuai
dengan masa tunas infeksi VHB yang paling sering didapatkan. Penularan
yang terjadi pada masa perinatal dapat terjadi melalui cara maternofetal
micro infusion yang terjadi pada waktu terjadi kontraksi uterus.
Jika seorang ibu hamil karier Hepatitis B dan HBeAg positif maka

bayi yang di lahirkan 90% kemungkinan akan terinfeksi dan menjadi


karier juga. Kemungkinan 25% dari jumlah tersebut akan meninggal
karena Hepatitis kronik atau kanker hati. Transmisi perinatal ini
terutama banyak terjadi di negara-negara Timur dan negara
berkembang. Infeksi perinatal paling tinggi terjadi selama proses
persalinan dan diduga tidak berhubungan dengan proses menyusui
2. Horizontal
Transmisi horizontal adalah penularan dari satu individu ke individu
lainnya. Selain lewat hubungan seksual tidak aman, transmisi
horizontal Hepatitis B juga bisa terjadi lewat penggunaan jarum suntik
bekas penderita Hepatitis B, transfusi darah yang terkontaminasi virus
Hepatitis B, pembuatan tato, penggunaan pisau cukur, sikat gigi, dan
gunting kuku bekas penderita Hepatitis B. Sementara itu, berpelukan,
berjabatan tangan, atau berciuman dengan penderita Hepatitis B belum
terbukti mampu menularkan virus ini.
2.2.3

Tanda dan gejala


Seseorang yang terinfeksi VHB bisa mengalami Hepatitis B akut.
Penderita yang mengalami Hepatitis B akut akan mengalami gejala
prodromal yang sama dengan Hepatitis akut umumnya, yaitu kelelahan,

kurangnya nafsu makan, mual, muntah, dan nyeri sendi. Gejala-gejala


prodromal ini akan membaik ketika peradangan hati, yang umumnya
ditandai dengan gejala kuning timbul. Walaupun begitu, 70% penderita
Hepatitis akut ternyata tidak mengalami kuning. Sebagian dari penderita
Hepatitis B akut lalu akan mengalami kesembuhan spontan, sementara
sebagian lagi akan berkembang menjadi Hepatitis B kronik. Kemungkinan
menjadi Hepatitis B kronik ini menurun seiring bertambahnya usia saat
terinfeksi, pada neonatus kemungkinan menjadi kronis mencapai 90% dan
pada orang dewasa 5%. Hepatitis kronis umumnya tidak menimbulkan
gejala apa-apa. Sekitar 0,1-0,5% penderita dengan Hepatitis akut akan
berkembang menjadi Hepatitis fulminan. Penyebab dan faktor risiko
Hepatitis fulminan ini sampai sekarang masih belum diketahui dengan
2.2.4

jelas.
Masa inkubasi
Masa inkubasi VHB berkisar antara 30180 hari dengan rata-rata 6090
hari. Lama masa inkubasi tergantung banyaknya virus yang ada dalam
tubuh penderita, cara penularan dan faktor pejamu. Jumlah virus dan usia
merupakan faktor penting yang berhubungan dengan keparahan akut atau
kronik Hepatitis B.

2.2.5

Diagnosis
Sampai saat ini terdapat beberapa indikator laboratoris yang bisa
digunakan untuk menilai infeksi Hepatitis B. Pada infeksi akut, antibodi
terhadap HBcAg adalah yang paling pertama muncul, diikuti dengan
munculnya HBsAg dan HBeAg serum. Bila penderita mengalami
kesembuhan spontan setelah Hepatitis B akut, maka akan terjadi

serokonversi HBsAg dan HBeAg, yang ditandai kadar kedua penanda


tersebut tidak akan dapat terdeteksi lagi di serum sementara anti-HBs dan
anti-HBe justru mulai terdeteksi. Sebaliknya, pada Hepatitis B kronik,
HBsAg dan HBeAg akan terus terdeteksi di serum penderita. Pada
penderita dengan Hepatitis B kronik, DNA VHB sebaiknya diperiksa
untuk memantau perjalanan penyakit. Pada beberapa jenis virus mutan,
HBeAg bisa tidak terdeteksi di serum walaupun proses peradangan hati
masih terjadi dan kadar DNA VHB serum masih tinggi.
2.2.6

Pencegahan
Seperti pada penyakit infeksi lainnya, pencegahan infeksi Hepatitis
B bisa berupa pencegahan primordial, primer, sekunder, dan tersier.
1. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial adalah upaya untuk memberikan kondisi
pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak mendapat
dukungan dari kebiasaan, gaya hidup, maupun kondisi lain yang
merupakan faktor risiko untuk munculnya suatu penyakit. Pencegahan
primordial yang dapat dilakukan adalah :
a. Konsumsi makanan berserat seperti buah dan sayur serta konsumsi
makanan dengan gizi seimbang.
b. Bagi ibu agar memberikan ASI pada bayinya karena ASI
mengandung antibodi yang penting untuk melawan penyakit.
c. Melakukan kegiatan fisik seperti olah raga dan cukup istirahat.
2. Pencegahan Primer

Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan


kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum terjadi penyakit ketika
seseorang sudah terpapar faktor resiko. Pencegahan primer yang
dilakukan antara lain :
a. Program Promosi Kesehatan
Memberikan penyuluhan dan pendidikan khususnya bagi
petugas kesehatan dengan menerapkan pencegahan universal yang

baik dan dengan melakukan penapisan pada kelompok risiko


tinggi.

Prinsip-prinsip

kewaspadaan

universal,

seperti

menggunakan sarung tangan ketika bekerja dengan cairan tubuh


penderita, penanganan limbah jarum suntik yang benar, sterilisasi
alat dengan cara yang benar sebelum melakukan prosedur invasif,
dan mencuci

tangan sebelum menangani

penderita dapat

mengurangi risiko penularan, terutama pada tenaga medis, salah


satu kelompok yang paling berisiko tertular Hepatitis B. Selain itu,
penapisan pada kelompok risiko tinggi (orang yang lahir di daerah
dengan endemisitas VHB tinggi, orang dengan pasangan seksual
multipel, homoseksual, semua wanita hamil, penderita HIV dan
Hepatitis C, pengguna jarum suntik, penderita hemodialisis,
penderita dengan terapi imunosupresan, serta orang dengan kadar
ALT/AST yang tinggi dan menetap) sebaiknya dilakukan.
Penderita yang terbukti menderita Hepatitis B sebaiknya diberi
edukasi perubahan perilaku untuk memutus rantai infeksi Hepatitis
B.

Edukasi yang bisa diberikan mencakup:

Perlu dilakukan imunisasi pada pasangan seksual

Perlunya penggunaan kondom selama berhubungan seksual


dengan pasangan yang belum diimunisasi

Tidak diperbolehkan bertukar sikat gigi ataupun pisau cukur

Menutup luka yang terbuka agar darah tidak kontak dengan


orang lain

Tidak diperbolehkan mendonorkan darah, organ, ataupun


sperma.

b. Program Imunisasi
Bagi orang yang tidak diimunisasi dan terpajan dengan
Hepatitis B, pencegahan postexposure berupa kombinasi HBIG
(untuk mencapai kadar anti-HBs yang tinggi dalam waktu singkat)
dan vaksin Hepatitis B (untuk kekebalan jangka panjang dan
mengurangi gejala klinis) harus diberikan. Untuk pajanan perinatal
(bayi yang lahir dari ibu dengan Hepatitis B), pemberian HBIG
single dose, 0,5 mL secara intra muskular di paha harus diberikan
segera setelah persalinan dan diikuti 3 dosis vaksin Hepatitis B
(imunisasi), dimulai pada usia kurang dari 12 jam setelah
persalinan. Pemberian HBIG dan Vaksin Hepatitis B dilakukan
pada paha yang berbeda. Untuk mereka yang mengalami inokulasi
langsung atau kontak mukosa langsung dengan cairan tubuh
penderita Hepatitis B, maka profilaksis yang digunakan adalah

HBIG single dose 0,06 mL/kg BB, yang diberikan sesegera


mungkin. Penderita lalu harus menerima imunisasi Hepatitis B,
dimulai dari minggu pertama setelah pajanan. Bila pajanan yang
terjadi adalah kontak seksual, maka pemberian dosis HBIG 0,06
mL/kg BB harus diberikan sebelum 14 hari setelah pajanan, dan
tentu diikuti dengan imunisasi. Pemberian vaksin Hepatitis B dan
HBIG bisa dilakukan pada waktu bersamaan, namun di lokasi
injeksi yang berbeda.

Gambar 1. Vaksin Hepatitis B


Pencegahan spesifik pre-exposure dapat dilakukan dengan
memberikan vaksin Hepatitis B pada kelompok risiko tinggi.
Vaksin Hepatitis B yang tersedia saat ini merupakan vaksin
rekombinan HBsAg yang diproduksi dengan bantuan ragi. Vaksin
diberikan sebanyak 4 kali dengan cara injeksi intra muskular (di
deltoid, bukan gluteus) pada 0, 2,3 dan 4 bulan (program imunisasi
nasional). Indonesia telah memasukkan imunisasi Hepatitis B

dalam program imunisasi rutin Nasional pada bayi baru lahir pada
tahun 1997.
Imunisasi Hepatitis B mampu memberikan perlindungan
terhadap infeksi Hepatitis B selama lebih dari 20 tahun.
Keberhasilan imunisasi dinilai dari terdeteksinya anti-HBs di
serum penderita setelah pemberian imunisasi Hepatitis B lengkap
(3-4 kali). Tingkat keberhasilan imunisasi ditentukan oleh faktor
usia penderita, dengan lebih dari 95% penderita mengalami
kesuksesan imunisasi pada bayi, anak dan remaja, kurang dari 90%
pada usia 40 tahun, dan hanya 65-70% pada usia 60 tahun.
Penderita dengan sistem imun yang terganggu juga akan
memberikan respons kekebalan yang lebih rendah. Bayi dari ibu
dengan HBsAg (-) tidak akan terpajan virus Hepatitis B selama
proses persalinan, namun risiko bayi tersebut untuk terpajan virus
Hepatitis B tetap tinggi, mengingat endemisitas penyakit ini di
Indonesia. Seperti telah disebutkan di atas, infeksi virus Hepatitis
B pada anak memiliki risiko perkembangan kearah Hepatitis B
kronis yang lebih besar. Maka setiap bayi yang lahir di Indonesia
diwajibkan imunisasi Hepatitis B. Vaksin yang digunakan adalah
vaksin rekombinan yang mengandung HBsAg yang diproduksi
ragi.
Vaksin ini diberikan secara intramuskular pada saat bayi
lahir dan dilanjutkan minimal pada bulan ke-1 dan ke-6. Namun
panduan imunisasi yang berlaku di Indonesia menyarankan

pemberian imunisasi pada saat bayi lahir, pada bulan ke-2, bulan
ke-3, dan bulan ke-4. Pemberian imunisasi dilakukan oleh tenaga
medis terlatih di masing-masing daerah.
c. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan upaya yang dilakukan
terhadap orang yang sakit agar lekas sembuh dan menghambat
progresifitas penyakit melalui diagnosis dini dan pengobatan yang
tepat.
d. Pencegahan Tersier
Sebagian besar pencegahan penderita hepatitis B akut akan
membaik atau sembuh sempurna tanpa meninggalkan bekas. Tetapi
sebagian kecil akan menetap dan menjadi kronis, kemudian
menjadi buruk atau mengalami kegagalan faal hati. Biasanya
penderita dengan gejala seperti ini akan berakhir dengan meninggal
dunia. Usaha yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut maka
perlu diadakan pemeriksaan berkala. Sebelum dilaksanakan
pembedahan, pada waktu pembedahan, dan pasca pembedahan.

2.2.7

Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar


1. Monitoring secara berkala terhadap penderita yang belum memerlukan
pengobatan.

2. Pegobatan dengan Interferon, Lamivudin, Adefovir, Telbivudin,


Entecavir, atau Tenofovir bagi penderita yang telah memenuhi kriteria
terapi, dari hasil pemeriksaan DNA VHB, HBeAg dan ALT.
3. Disinfeksi terhadap bekas cairan tubuh dari penderita.
4. Isolasi tidak diperlukan
5. Imunisasi pasif pada orang yang terpajan cairan tubuh penderita
6. Pencatatan dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku (STP dan
SIRS)

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Hepatitis adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh berbagai


sebab seperti bakteri, virus, proses autoimun, obat-obatan, perlemakan,
alkohol dan zat berbahaya lainnya
2. Penyebab penyakit adalah virus Hepatitis B (VHB)
3.
3.2 Saran
1. Perlu dilakukan pemahaman tentang penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi khususnya penyakit Hepatitis B
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dengan memberikan pelatihan
kepada petugas kesehatan agar mampu memberikan KIE yang efektif
tentang pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi , serta
bermanfaat bagi masyarakat.
3. Diharapkan kesadaran pada masyarakat khususnya ibu-ibu yang
mempunyai bayi agar ikut berperan serta dan mau membawa bayinya ke
posyandu/pustu/polindes/puskemas/pelayanan kesehatan yang lain untuk
diberikan imunisasi, sehingga dapat dicapai keberhasilan pemberian
imunisasi pada bayi khususnya imunisasi Hepatitis B.

DAFTAR PUSTAKA