Anda di halaman 1dari 125

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan


Kepala Sekolah

PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
2011

SAMBUTAN
KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

Dalam rangka pelaksanaan program penguatan kemampuan


kepala sekolah yang merupakan amanat Inpres No 1 tahun 2010,
2

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan


dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP) telah
menyusun materi pelatihan untuk penguatan kemampuan kepala
sekolah. Pengembangan materi tersebut telah mengacu pada
standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam
Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala
Sekolah/Madrasah. Saya memberikan penghargaan yang tinggi
kepada Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan atas
dihasilkannya materi penguatan kemampuan kepala sekolah
dalam rangka meningkatkan kompetensi kepala sekolah.
Materi pelatihan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi
individu kepala sekolah dan lembaga yang terkait dalam
penguatan kemampuan kepala sekolah di propinsi dan
kabupaten/kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi
terhadap program penguatan kepala sekolah dapat memperkaya
dengan berbagai referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk
mewujudkan kepala sekolah yang profesional dan akuntabel.
Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan
kepala sekolah sesuai dengan standar kepala sekolah
sebagaimana diamanahkan dalam Permendiknas No. 13 Tahun
2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah dapat
diwujudkan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di
sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang cerdas, kreatif,
inovatif, berpikir kritis, cakap menyelesaikan masalah, dan
bernaluri kewirausahaan.
Jakarta, Maret 2011
Kepala Badan PSDMP dan
PMP

Prof. Dr.
M.Pd

Syawal

Gultom,

NIP.196202031987031002

KATA PENGANTAR

Materi pelatihan yang telah disusun merupakan bagian dari


rencana pelaksanaan program penguatan kepala sekolah,
program kedua dari delapan program 100 hari Mendiknas.
Program penguatan kemampuan kepala sekolah sangat penting
mengingat peran strategis kepala sekolah di dalam proses
peningkatan mutu pendidikan.
Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di
dalam mendorong guru untuk melakukan proses pembelajaran
yang mampu menumbuhkan berpikir kritis, kreatif, inovatif,
cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan
bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi
pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi
peningkatan
kompetensi
kepala
sekolah
sesuai
yang
diamanahkan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah.
Kami menyadari bahwa materi pelatihan ini masih jauh dari
sempurna. Namun kami perlu menyampaikan penghargaan
kepada tim penyusun yang telah berusaha dan berhasil
menyiapkan materi pelatihan yang dapat dijadikan bahan bacaan
bagi usaha peningkatan kompetensi kepala sekolah. Berbagai
pihak yang terkait dengan penguatan kemampuan kepala
sekolah dapat memperkaya dengan materi yang lain sepanjang
mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kompetensi

kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas No 13 Tahun 2007


tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.
Semoga materi pelatihan ini bermanfaat bagi usaha
penguatan
kemampuan
kepala
sekolah
di
seluruh
kabupaten/kota di Indonesia.
Jakarta, Maret 2011
Kepala Pusat Pengembangan
Tenaga Kependidikan

Dr. Abi Sujak


NIP. 19621011 198601 1 001

DAFTAR ISI
Halaman

SAMBUTAN .................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................

ii

DAFTAR ISI.................................................................................

iii

PENDAHULUAN............................................................................

A.

Latar Belakang .....................................................................

B.

Kompetensi yang Diharapkan ................................................

C.

Ruang Lingkup Materi............................................................

D.

Langkah-langkah Pembelajaran..............................................

KEGIATAN BELAJAR 1

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH .....................................


A.

Pengantar ............................................................................

B.

Materi Pokok ..........................................................................

C.

Kasus

....

.............
D.

Rangkuman

.......

............

14

15

KEGIATAN BELAJAR 2
PELAKSANAAN MBS ......................................................................
..............................................................................

D.

16
16

Materi Pokok.........................................................................

17

Latihan...................................................................................

23

Rangkuman.............................................................................

24

KEGIATAN BELAJAR 3
TATA KELOLA YANG BAIK .............................................................

25

A.

Pengantar ...........................................................................

25

B.

Materi Pokok........................................................................

25

C.

Kasus .....................................................................................

31

D.

Rangkuman.............................................................................

36

KEGIATAN BELAJAR 4
MONITORING DAN EVALUASI ........................................................
A. Pengantar ............................................................................
..
Materi Pokok..........................................................................

37
37
38

D.

Kasus.....................................................................................

42

Rangkuman.............................................................................

42

REFLEKSI ....................................................................................

43

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................

44

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007
tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah menyatakan bahwa seorang
kepala sekolah/madrasah harus memiliki lima dimensi kompetensi
minimal yaitu kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan
sosial. Untuk mencapai lima kompetensi tersebut, lima materi pelatihan
telah

disusun

yaitu:

(1)

Manajemen

Berbasis

Sekolah/MBS,

(2)

Kepemimpinan Pembelajaran, (3) Kewirausahaan, (4) Supervisi Akademik,


dan (5) Penelitian Tindakan Sekolah.
B. Kompetensi yang Diharapkan
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan belajar MBS, peserta penguatan
kepala

sekolah

berikut:memahami

diharapkan
konsep

memiliki

MBS,

kompetensi-kompetensi

mengidentifikasi

tahap-tahap

pelaksanaan MBS, menerapkan tata kelola yang baik dalam MBS,


danmelaksanakan monitoring dan evaluasi MBS.
C. Ruang Lingkup Materi
Untuk mencapai empat kompetensi MBS terdapat empat bahan pelatihan
(kegiatan belajar), yaitu: Konsep MBS; Pelaksanaan MBS;Tata Kelola yang Baik;
dan Monitoring dan Evaluasi.

D. Langkah-langkah Pembelajaran
Materi

pelatihan

ini

dirancang

untuk

dipelajari

oleh

kepala

sekolah/madrasah dalam pelatihan. Oleh karena itu langkah-langkah


yang harus dilakukan dalam mempelajari materi pelatihan ini mencakup
aktivitas individual dan kelompok. Aktivitas individual meliputi: (1)
membaca materi pelatihan, (2) melakukan latihan/mengerjakan tugas,
menyelesaikan masalah/kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat
rangkuman, dan (4) melakukan refleksi. Sedangkan aktivitas kelompok
meliputi: (1) mendiskusikan materi pelatihan, (2) bertukar pengalaman
(sharing) dalam melakukan latihan menyelesaikan masalah/kasus, dan
(3)

Aktivitas Individu
membuat
rangkuman.

Aktivitas pembelajaran
Kelompok
Langkah-langkah

digambarkan
seperti
berikut.
Membaca Materi
Pelatihan

dapat

Mendiskusikan
Materi Pelatihan

Sharing dalam latihan menyelesaikan masalah/kasus


Melaksanakan Latihan/Tugas/ Studi Kasus

Membuat Rangkuman

Melakukan Refleksi

Membuat Rangkuman

Gambar : Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan

KEGIATAN BELAJAR 1
KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!


A. Pengantar
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan. Berbagai upaya
telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan
nasional,

misalnya

pengembangan

delapan

standar

nasional

pendidikan, alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN dan APBD,


sertifikasi pendidik beserta tunjangan profesinya, penerapan ujian
nasional, peningkatan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, dan
sejumlah terobosan baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
9

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


B. Materi Pokok
Pada bagian ini akan diuraikan seperlunya mengenai topik-topik
berikut: (1) pola baru manajemen pendidikan masa depan, (2) arti MBS,
(3) tujuan MBS, (4) karakteristik MBS, dan (5) urusan-urusan yang
menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah.
1. Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan
Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional
dan

digulirkannya

otonomi

daerah

telah

mendorong

dilakukannya

penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru.

Tabel Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan


Pola Lama

Menuju

Pola Baru

Subordinasi

Otonomi

Pengambilan

Pengambilan keputusan

keputusan terpusat

2. Arti
MBS

partisipatif

Ruang gerak kaku

Ruang gerak luwes

Pendekatan

Pendekatan professional

Sentralistik

Desentralistik

Diatur

Motivasi diri

Overregulasi

Deregulasi

Mengontrol

Mempengaruhi

Mengarahkan

Memfasilitasi

Menghindari resiko

Mengelola resiko

Gunakan uang

Gunakan uang seefisien

MBS

birokratik

semuanya

mungkin

Teamwork yang cerdas

Informasi terpribadi

Informasi terbagi

Pendelegasian

Pemberdayaan

Organisasi herarkis

Organisasi datar

Individual yang
cerdas

dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi, dan


keluwesan (fleksibilitas) yang lebih besar kepada sekolah, dan

10

mendorongpartisipasiaktif langsung warga sekolah dan masyarakat untuk


meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Anonim, 2007).

3. Tujuan MBS

MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian


kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang
dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang baik
yaitu

partisipasi,

transparansi,

dan

akuntabilitas.

Peningkatan

kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas, efektivitas,


efisiensi, produktivitas, dan inovasi pendidikan. Prinsip MBS menurut PP
19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, pasal 54 adalah
mandiri, efisien, efektif, dan akuntabel.
4. Karakteristik MBS
MBS memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan
menerapkannya.Pendekatan sistem yaitu input-proses-outputdigunakan
sebagai panduan dalam menguraikan karakteristik MBS.

a. Output yang Diharapkan


Sekolah memiliki output yang diharapkan. Output sekolah adalah
prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan
manajemen di sekolah. Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu prestasi akademik (academic achievement) dan
prestasi non-akademik (non-academic achievement).

b. Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki 15 karakteristik
proses sebagai berikut.
(1) Proses Pembelajaran yang Efektivitasnya Tinggi
Sekolah yang

menerapkan

MBS

memiliki

efektivitas

proses pembelajaran yang tinggi. Ini ditunjukkan oleh sifat


proses pembelajaran yang menekankan pada pemberdayaan
peserta didik. Proses pembelajaran yang efektif juga lebih
menekankan pada belajar mengetahui (learning to know),
belajar

bekerja

(learning

to

do),

belajar

hidup

bersama

(learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri


(learning to be).

(2) Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Kuat


Kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat
mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan,
11

dan

sasaran

sekolahnya

melalui

program-program

yang

dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu,


kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan
kepemimpinan

yang

tangguh

agar

mampu

mengambil

keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu


sekolah.
(3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib
Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman,
tertib, dan nyaman sehingga proses pembelajaran dapat
berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning).
Pengelolaan

tenaga

kependidikan,

mulai

dari

analisis

kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja,


hubungan kerja sehingga sampai pada imbal jasa, merupakan
garapan penting bagi seorang kepala sekolah.
(4) Sekolah Memiliki Budaya Mutu
Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut:

(a)

informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan, bukan


untuk mengadili/mengontrol orang; (b) kewenangan harus
sebatas tanggungjawab; (c) hasil harus diikuti penghargaan
(rewards) atau sanksi (punishment); (d) kolaborasi dan sinergi,
bukan kompetisi, harus merupakan basis untuk kerjasama; (e)
warga

sekolah

merasa

aman

terhadap

pekerjaannya;

(f)

atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan; (g) imbal jasa


harus sepadan dengan nilai pekerjaannya; dan (h) warga
sekolah merasa memiliki sekolah.
(5) Sekolah Memiliki Teamwork yang Kompak, Cerdas, dan Dinamis
Budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah, antar
individu dalam sekolah, harus merupakan kebiasaan hidup
sehari-hari warga sekolah.
(6) Sekolah Memiliki Kewenangan
Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang
terbaik bagi sekolahnya sehingga dituntut untuk memiliki
kemampuan

dan

kesanggupan

kerja

yang

tidak

selalu

menggantungkan pada atasan.


(7) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat
Sekolah yang menerapkan MBS memiliki karakteristik
bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan
bagian kehidupannya.
12

(8) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen


Keterbukaan
keputusan,

ini

ditunjukkan

perencanaan

dan

dalam

pengambilan

pelaksanaan

kegiatan,

penggunaan uang, dan sebagainya, yang selalu melibatkan


pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol.
(9) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan Fisik)
Perubahan
menyenangkan
merupakan

harus
bagi

merupakan

semua

peningkatan,

psikologis.Hasil

warga

baik

perubahan

sesuatu
sekolah.

bersifat

diharapkan

Perubahan

fisik
lebih

yang
maupun

baik

dari

sebelumnya.
(10)Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan
Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan
untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta
didik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan
hasil

evaluasi

belajar

tersebut

untuk

memperbaiki

dan

menyempurnakan proses pembelajaran di sekolah.


(11) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan
Sekolah selalu tanggap (responsif) terhadap berbagai
aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu, serta mampu
mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi.
(12) Memiliki Komunikasi yang Baik
Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang
baik, terutama antar warga sekolah, dan antar sekolah dan
masyarakat, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
masing-masing warga sekolah dapat diketahui.
(13) Sekolah Memiliki Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang
harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang
telah dilaksanakan. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi
yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah, orangtua
siswa, dan masyarakat.
(14) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus
Sekolah efektif melaksanakan manajemen lingkungan
hidup sekolah secara efektif. Sekolah melakukan upaya-upaya
untuk

meningkatkan

pengetahuan,

keterampilan

dan

kesadaran warga sekolah tentang nilai-nilai lingkungan hidup


dan mampu mengubah perilaku dan sikap warga sekolah untuk
13

menuju lingkungan hidup yang sehat.


(15) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas
Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk
menjaga

kelangsungan

hidupnya

(sustainabilitasnya)

baik

dalam program maupun pendanaannya.


c. Input Pendidikan
(1)

Memiliki Kebijakan, Tujuan, dan Sasaran Mutu yang


Jelas
Secara formal, sekolah menyatakan dengan jelas tentang
keseluruhan kebijakan, tujuan, dan sasaran sekolah yang
berkaitan dengan mutu. Kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu
tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah. Kebijakan, tujuan,
dan sasaran mutu tersebut disosialisasikan kepada semua
warga

sekolah,

sehingga

tertanam

pemikiran,

tindakan,

kebiasaan, hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu


oleh warga sekolah.
(2)

Sumberdaya Tersedia dan Siap


Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan
untuk

berlangsungnya

Sumberdaya

dapat

sumberdaya

manusia

proses

pendidikan

dikelompokkan
dan

di

menjadi

sumberdaya

sekolah.

dua,

lainnya

yaitu
(uang,

peralatan, perlengkapan, bahan, dan sebagainya).


Secara umum, sekolah yang menerapkan MBS harus
memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk
menjalankan proses pendidikan. Oleh sebab itu, diperlukan
kepala sekolah yang mampu memobilasi sumberdaya yang
ada di sekitarnya.
(3)

Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi


Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang
mampu

(kompeten)

dan

berdedikasi

tinggi

terhadap

sekolahnya.
(4)

Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi


Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan
harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta
didik dan sekolahnya. Harapan tinggi dari kepala sekolah,
guru, dan peserta didik di sekolah merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu
menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya.

(5)

Fokus pada Pelanggan (Khususnya Siswa)


14

Pelanggan, terutama siswa, harus merupakan fokus dari


semua kegiatan sekolah.
(6)

Input Manajemen
Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan
membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan
efektif. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang
jelas, rencana yang rinci dan sistematis, program yang
mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuan-ketentuan
(aturan main) yang jelas.
5.

Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggung Jawab


Sekolah

Desentralisasi urusan-urusan pendidikan di sekolah tidak semua urusan


dilimpahkan
kewenangan

ke

sekolah,

dan

tetapi

sebagian

tanggungjawab

urusan

Pemerintah,

masih

merupakan

pemerintah

propinsi,

pemerintah kabupaten/kota, dan sebagian urusan lainnya diserahkan ke


sekolah. Urusan-urusan pendidikan yang sebagian menjadi kewenangan dan
tanggungjawab sekolah, yaitu: (1) proses belajar mengajar, (2) perencanaan
dan evaluasi program sekolah, (3) pengelolaan kurikulum, (4) pengelolaan
ketenagaan, (5) pengelolaan peralatan dan perlengkapan, (6) pengelolaan
keuangan, (7) pelayanan siswa, (8) hubungan sekolah-masyarakat, dan (9)
pengelolaan kultur sekolah.
(1)Pengelolaan Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah.


Secara umum, strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran
yang dipilih harus pro-perubahan.
(2) Perencanaan dan Evaluasi

Sekolah diberi kewenangan untuk menyusun rencana


pengembangan sekolah (RPS) atau school-based plan sesuai dengan
kebutuhannya.

Sekolah

harus

membuat

rencana

peningkatan

pemerataan, mutu, relevansi dan efisiensi sekolah.Untuk itu, sekolah


harus melakukan evaluasi, khususnya evaluasi yang dilakukan
secara internal.
(3) Pengelolaan Kurikulum

Pengelolaan kurikulum yang dimaksud dinamakan Kurikulum Tingkat


Satuan Pendidikan (KTSP). Pemerintah Pusat hanya menetapkan
standar dan sekolah diharapkan mengoperasionalkan standar yang
ditetapkan oleh pemerintah pusat. Selanjutnya sekolah berhak
mengembangkan

KTSP

ke

15

dalam

silabus,

materi

pokok

pembelajaran, proses pembelajaran, indikator kunci kinerja, sistem


penilaian, dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
(4)Pengelolaan Ketenagaan (Pendidik dan Tenaga Kependidikan)

Pengelolaan ketenagaan, mulai dari analisis kebutuhan,


perencanaan,

rekrutmen,

pengembangan,

hadiah

dan

sanksi

(reward and punishment), hubungan kerja, sampai evaluasi kinerja


tenaga kerja sekolah (guru, tenaga administrasi, laboran, dan
sebagainya) dapat dilakukan oleh sekolah, kecuali pengupahan dan
rekrutmen pegawai negeri.
(5) Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan)
Pengelolaan fasilitas sekolah meliputi pengadaan, pemeliharaan
dan perbaikan, hingga pengembangan.
(6) Pengelolaan Keuangan
Pengelolaan dan penggunaan keuangan menjadi kewenangan
sekolah sesuai kebutuhannya. Sekolah juga harus diberi kebebasan
untuk

melakukan

penghasilan

(income

kegiatan-kegiatan
generating

yang

activities),

mendatangkan

sehingga

sumber

keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.


(7)Pelayanan Siswa

Pelayanan siswa, mulai dari penerimaan siswa baru,


pengembangan/pembinaan/pembimbingan,

penempatan

untuk

melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja, hingga


sampai pada pengurusan alumni.
(8) Hubungan Sekolah-Masyarakat
Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan
keterlibatan,

kepedulian,

kepemilikan,

dan

dukungan

dari

optimisme

dan

masyarakat terutama dukungan moral dan finansial.


(9)Pengelolaan Kultur Sekolah

Lingkungan

sekolah

yang

aman

dan

tertib,

harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan


sekolah, dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (studentcentered activities).

16

Uraian di atas dapat digambarkan sebagai berikut.


Input

Proses

Output

Perencanaan dan evaluasi


Pengelolaan Kurikulum
Pengelolaan Ketenagaan
Proses
Pengelolaan peralatan dan perlengkapan
Belajar
Pengelolaan Keuangan
Mengajar
Pelayanan siswa
Humas
Pengelolaan kultur sekolah

Prestasi Siswa

Gambar 1. Urusan-urusan yang Didesentralisasikan

C. Kasus

Kasus untuk semua Kepala Sekolah

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Buat powerpointnya! Sajikan di


depan kelompok lainnya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran
sebagai umpan balik!

17

Kemajuan Sekolah, sebenarnya tidak hanya berada di pundak kepala


sekolahnya saja, melainkan tim kerja yang terdiri guru, karyawan, siswa, dan
komite sekolah. Kepedulian para guru terhadap materi yang diajarkan,
kepedulian para orang tua terhadap mutu pendidikan yang telah diterima
anaknya, dan juga kepedulian komite sekolah terhadap kualitas sekolah yang
turut mereka kelola. Disamping itu terbuka kemungkinan untuk membuat jalur
hubungan

dengan

pihak

di

luar

dinas

pendidikan

setempat,

misalnya

mendorong pihak swasta untuk menyelenggarakan pendidikan yang tidak jauh


dari wilayah kerjanya.
Kontribusi pihak swasta bisa kita masukkan pada aneka aspek. Mulai dari
kontribusi fisik sampai pada peningkatan mutu guru dan kepala sekolah melalui
penyelenggaraan pelatihan. Sponsor-sponsor utamanya dapat ditarik dari pihak
swasta. Dalam kenyataannya, semua cerita diatas belum terjadi secara
maksimal (dimodifikasi dari cerita Ade Hidayat, Guru SD Cipayung, Bogor).
Upaya-upaya apa yang harus dilakukan agar teamwork yang kompak, cerdas,
dinamis, harmonis, dan lincah, baik di dalam sekolah maupun dengan pihak di
luar sekolah dapat diwujudkan secara ikhlas dan amanah?
D. Rangkuman
MBS dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi,
dan

keluwesan

(fleksibilitas)

mendorongpartisipasiaktif

yang

lebih

besar

kepada

sekolah,

dan

langsung warga sekolah dan masyarakat untuk

meningkatkan mutu sekolah.MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja

sekolah.mandiri, efisien, efektif, dan akuntabel.Karakteristik MBS meliputi: (1)


input,(2) proses, dan (3) input pendidikan.

KEGIATAN BELAJAR 2
PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!


A. Pengantar
Pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan idiograpik
(membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi
menggunakan pendekatan nomotetik (cara melaksanakan MBS yang cenderung
seragam/konformitas untuk semua sekolah). Oleh karena itu, dalam arti yang
sebenarnya,

tidak

ada

satu

resep

pelaksanaan

MBS

yang

sama

untuk

diberlakukan ke semua sekolah. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa
mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis
sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot
and quick-fix), akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus
menerus dan melibatkan semua pihak yang berwenang dan bertanggungjawab
dalam penyelenggaraan sekolah. Paling tidak, proses menuju MBS memerlukan
perubahan empat hal pokok berikut.

18

(1) Perlu

penyempurnaan

peraturan-peraturan,

ketentuan-ketentuan,

dan

kebijakan-kebijakan bidang pendidikan yang ada di daerah yang menjadikan


sekolah bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai unit utama.
(2) Kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah

perlu

disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku baru


yang mandiri, kreatif, proaktif, sinergis, koordinatif/kooperatif, integratif,
sinkron, luwes, dan professional.
(3) Peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan
oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasidiri tinggi (self-motivator).
(4) Hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah, dengan instansi terkait.

B. Materi Pokok
1. Tahap-tahap Pelaksanaan
a. Melakukan Sosialisasi MBS
Sosialisasi konsep MBS dilakukan oleh sekolah kepada semua
warga/unsur sekolah (guru, siswa, wakil kepala sekolah, guru BK,
karyawan, orangtua siswa, pengawas, pejabat Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota,

pejabat

Dinas

Pendidikan

Provinsi,

dan

sebagainya) melalui berbagai mekanisme.


b. Memperbanyak Mitra Sekolah
Kemitraan dalam sekolah meliputi: kepala sekolah dengan
guru, guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa.
Kemitraan

sekolah

dengan

masyarakat

sekitarnya

meliputi:

kepala sekolah dengan komite sekolah, guru dengan orangtua


siswa, kepala sekolah dengan instansi terkait.
c. Merumuskan

Kembali

Aturan

Sekolah,

Peran

Unsur-unsur

Sekolah,Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah


Aturan sekolah perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan
tuntutan

MBS

yaitu

otonomi,

fleksibilitas,

dan

partisipasi.

Demikian juga, peran masing-masing unsur sekolah perlu ditinjau


kembali

sesuai

dengan

tuntutan

MBS

yaitu

demokratisasi

sekolah. Ini berarti bahwa peran-peran yang semula lebih bersifat


otoriter perlu diubah agar menjadi egaliter.
d. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik
Prinsip-prinsip

tata

kelola

yang

baik

meliputi:

partisipasi,

transparansi, tanggung jawab, akuntabilitas, wawasan kedepan,


penegakan

hukum,

keadilan,

demokrasi,

prediktibilitas,

kepekaan, profesionalisme, efektivitas, efisiensi, dan kepastian


jaminan hukum.

19

e. Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah


Manajemen

sekolah

merupakan

pengelolaan

sekolah

yang

dilakukan dengan dan melalui pendidik dan tenaga kependidikan


untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien.Fungsifungsi manajemen dan urusan-urusan sekolah (digabung menjadi
manajemen sekolah) perlu diklarifikasi secara bersama-sama
untuk menemukan pembagian urusan-urusan tentang fungsifungsi manajemen dan urusan-urusan pendidikan yang menjadi
kewenangan

dan

tanggungjawab

sekolah,

termasuk

komite

sekolah.
Matrik Manajemen Berbasis Sekolah
Pengorgani-sasian
Pengkoor-dinasian
Pengontrolan
Perenca-naan
Pelaksa-naan
Fungsi
Aspek
PBM

Kurikulum

Penilaian

Pendidik & TK

Kesiswaan

Sarpras

Dana

Humas

f. Meningkatkan Kapasitas Sekolah

Keberhasilan MBS sangat tergantung pada kesiapan


kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) sekolah. Makin tinggi
tingkat kesiapan kapasitas sekolah dalam melaksanakan MBS,
makin tinggi pula tingkat keberhasilan MBS di sekolah yang
bersangkutan.
g. Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab
Dalam MBS, kewenangan dan tanggung jawab tidak lagi
terpusat

pada

kepala

sekolah,

kepada

para

pemangku

tetapi

kepentingan

disebar/didistribusikan
pendidikan

sekolah.

Kekuatan di sekolah tidak lagi semata-mata di satu pundak


kepala sekolah, melainkan menjadi kekuatan kolektif (team
work).
h. Menyusun

Rencana

Pengembangan

Sekolah

(RPS/RKAS),

Melaksanakan, dan Memonitor serta Mengevaluasinya


Sekolah pelaksana MBS diharapkan menyusun desain,
melaksanakan dan melakukan evaluasi RPS/RKAS secara berkelanjutan
setiap 5 tahun (renstra) dan rencana tahunan seperti gambar berikut.
Desain
RPS

Implementasi
RPS

Evaluasi
RPS

20
Kepatuhan
Desain
RPS
- Cakupan Isi
RPS Implementasi dengan
Kesesuaian
Hasil
dengan Desain RPS
- Kualitas RPS

Feed Back
Gambar 2. Disain, Implementasi, dan Evaluasi RPS
2. Penyusunan RPS/RKAS berdasarkan tuntutan MBS
a.

Menyusun Desain RPS/RKAS


RPS/RKAS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar
perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai
dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil; (2)
mendukung

koordinasi

antar

pelaku

sekolah;

(3)

menjamin

terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi, baik antar pelaku


sekolah, antar sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota, dan
antar waktu; (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; (5)
mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat, dan
(6) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien,
efektif, dan berkeadilan dan berkelanjutan.
b.

Melaksanakan RPS/RKAS
Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan,
maka

sekolah

mewujudkan

perlu

mengambil

sasaran-sasaran

yang

langkah
telah

proaktif

untuk

ditetapkan.

Kepala

sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam


menjalankan program-program yang diproyeksikan supaya dapat
mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
c.

Melakukan Monitoring dan Evaluasi RPS/RKAS


Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program, sekolah perlu
mengadakan

evaluasi

pelaksanaan

program

jangka

pendek

maupun jangka panjang. Dalam melaksanakan evaluasi, kepala


sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat dalam
program, khususnya guru dan tenaga lainnya. Demikian pula,
orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai pihak eksternal
harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah
dilaksanakan. Hasil evaluasi pelaksanaan MBS perlu dibuat laporan
yang terdiri dari teknis dan keuangan.
d.

Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi


Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38
21

Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan (Bidang Pendidikan) antara


Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota
(selanjutnya disingkat PP 38/2007), maka tugas dan fungsi
masing-masing

jajaran

birokrasi

pendidikan

dalam

penyelenggaraan MBS dapat dituliskan sebagai berikut.


1) Direktorat Pembinaan Sekolah (SD, SMP, SMA, SMK)
Direktorat Pembinaan Sekolah (SD, SMP, SMA, SMK, selanjutnya
disingkat Direktorat Pembinaan) mempunyai tugas dan fungsi
menyusun

norma-norma

(peraturan

perundang-undangan),

standar, kriteria, prosedur, dan kebijakan, baik pada tataran


formulasi/penetapan, implementasi, maupun evaluasinya pada
tingkat nasional.
2) Dinas Pendidikan Provinsi
Tugas

dan

fungsi

Dinas

Pendidikan

Provinsi

adalah

menjabarkan kebijakan dan strategi MBS yang telah digariskan


oleh Direktorat Pembinaan untuk diberlakukan di Provinsi
masing-masing.
3) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan
fungsi utamanya memberikan pelayanan dalam pengelolaan
satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masing-masing yang
menjalankan MBS.
4) Sekolah
Tugas

dan

fungsi

utama

sekolah

adalah

mengelolapenyelenggaraan MBS di sekolah masing-masing.


Sekolah

menjalankan

tugas

dan

fungsinya

sebagai

berikut:Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS


dengan melibatkan pemangku kepentingan, antara lain: wakil
sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, tata
usaha),

wakil

organisasi

siswa

(OSIS),

profesi,

wakil

masyarakat;Melaksanakan

wakil

MBS

orangtua

pemerintah,
secara

efektif

siswa,

wakil

dan

tokoh

dan

efisien

dengan menerapkan prinsip-prinsip total quality management


(fokus pada pelanggan, perbaikan secara terus-menerus, dan
keterlibatan total warga sekolah dalam meningkatkan mutu
sekolah) dan berpikir sistem (berpikir holistik/tidak parsial,
saling terkait, dan terpadu); Melaksanakan pengawasan dan
pembimbingan dalam pelaksanaan MBS sehingga implementasi
dapat

dijamin

untuk

mencapai
22

sasaran

MBS;Melakukan

evaluasi untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran program


MBS yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi
menentukan

sasaran

baru

digunakan untuk

program

MBS

tahun

berikutnya;Menyusun laporan penyelenggaraan MBS beserta


hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak
terkait; danMempertanggung jawabkan hasil penyelenggaraan
MBS kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah.
5) Komite Sekolah
Tugas dan fungsi utama Komite Sekolah dalam
pelaksanaan MBS di sekolah adalah: (1) memberi masukan,
pertimbangan, dan rekomendasi kepada sekolah mengenai
kebijakan dan program pendidikan, RAPBS, kriteria kinerja
sekolah, kriteria pendidik dan tenaga kependidikan, kriteria
fasilitas pendidikan, dan hal-hal lain yang terkait dengan
pendidikan; (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat
untuk berpartisipasi dalam pendidikan, (3) menggalang dana
masyarakat

dalam

pendidikan,

(4)

rangka

mendorong

pembiayaan

penyelenggaraan

tumbuhnya

perhatian

dan

komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan


yang bermutu tinggi, (5) melakukan evaluasi dan pengawasan
terhadap

kebijakan/program/penyelenggaraan

dan

keluaran

pendidikan, (6) melakukan kerjasama dengan masyarakat, dan


(7) menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan
berbagai

kebutuhan

pendidikan

yang

diajukan

oleh

masyarakat.
C. Latihan
Untuk semua kepala sekolah
(1)

Diskusikan sistematika RKS/RKAS menurut Panduan ESDM!

(2)

Tuliskan garis besar isi setiap komponen RKS/RKAS!

(3)

Lengkapi isi RKS/RKASdi atas

pada saat on the job learning dan

kumpulkan pada saat in the job learning2!

D. Rangkuman
Pelaksanaan MBS memerlukandelapan tahapan. Agar pelaksanaan MBS
dapat berhasil dengan baik, masing-masing jajaran birokrasi pendidikan
tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah melakukan kegiatan
sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Pembagian tugas
23

dan fungsi jajaran birokrasi pendidikan dalam penyelenggaraan MBS


mengikuti PP 38/2007.

KEGIATAN BELAJAR 3
TATA KELOLA YANG BAIK

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!


A. Pengantar
Sekolah diberi otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) yang lebih
besar untuk mengelola sekolahnya. Namun, kewenangan dan tanggung jawab
yang lebih besar hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila sekolah
menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik yaitu partisipasi, transparansi,
akuntabilitas, efektivitas, efisiensi, berwawasan ke depan, hukum dilaksanakan
dengan baik, keadilan, demokrasi/egaliterisme, prediktif, peka terhadap aspirasi
stakeholders, dan pasti dalam penjaminan mutu. Berikut uraian singkat tentang
partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas.
B. Materi Pokok
1. Partisipasi

24

a. Latar Belakang
MBS mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari semua pihak yang
terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (stakeholders),
baik warga sekolah seperti guru, kepala sekolah, siswa, dan tenaga-tenaga
kependidikan lainnya, maupun warga di luar sekolah seperti orang tua
siswa, akademisi, tokoh masyarakat,dan pihak-pihak lain yang mewakili
masyarakat yang diwadahi melalui komite sekolah. Saat ini, Komite
Sekolah merupakan wadah formal bagi stakeholdersuntuk berpartisipasi
secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan sekolah.
b. Arti Partisipasi
Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga sekolah dan
masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif, secara
langsung

maupun

pembuatan

tidak

kebijakan,

pengevaluasian

langsung,

dalam

perencanaan,

pendidikan

sekolah.

pengambilan

pelaksanaan,
Diharapkan,

keputusan,
pengawasan/

partisipasi

dapat

mendorong warga sekolah dan masyarakat sekitar untuk menggunakan


haknya dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan
keputusan,

pembuatan

kebijakan,

perencanaan,

pelaksanaan,

pengawasan/pengevaluasian yang menyangkut kepentingan sekolah, baik


secara

individual

maupun

kolektif,

secara

langsung

maupun

tidak

langsung.
c. Tujuan Partisipasi
Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1) meningkatkan
dedikasi/ kontribusi stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di
sekolah, baik dalam bentuk jasa (pemikiran/intelektualitas, keterampilan),
moral, finansial, dan material/barang; (2) memberdayakan kemampuan
yang ada pada stakeholders bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan

nasional;

(3)

meningkatkan

peran

stakeholders

dalam

penyelenggaraan pendidikan di sekolah, baik sebagai advisor, supporter,


mediator, controller, resource linker, and education provider, dan (4)
menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang diambil benar-benar
mencerminkan aspirasi stakeholders dan menjadikan aspirasi stakeholders
sebagai panglima bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
d. Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi
Upaya-upaya

yang

perlu

dilakukan

oleh

sekolah

dalam

rangka

meningkatkan partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut.


(1) Menyediakan

sarana

partisipasi

atau

saluran

komunikasi

stakeholders dapat mengutarakan pendapatnya, keinginannya,

agar
dan

aspirasinya melalui pertemuan umum, temu wicara, konsultasi, dan


penyampaian pendapat secara tertulis.
(2) Melakukan advokasi, publikasi, komunikasi, dan transparansi kepada
stakeholders.
e. Indikator Keberhasilan Partisipasi

25

Keberhasilan peningkatan partisipasi

stakeholders dalam

penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan enam


indikator berikut.
(1) Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal jasa (pemikiran,
keterampilan), finansial, moral, dan material/barang.
(2) Meningkatnya kepercayaan stakeholders kepada sekolah, terutama
menyangkut kewibawaan dan kebersihan.
(3)

Meningkatnya

tanggungjawab

stakeholders

terhadap

penyelenggaraan

(4)

pendidikan di sekolah.
Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan saran) untuk
peningkatan mutu pendidikan.
(5) Meningkatnya kepedulian stakeholders terhadap setiap langkah yang
dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan mutu.
(6) Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah

benar-benar

mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan mampu


meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Transparansi
a. Latar Belakang
Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh publik
untuk menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Mengingat sekolah
adalah organisasi pelayanan publik, maka sekolah harus transparan
kepada publik mengenai proses dan hasil pendidikan yang dicapai.
Transparansi dicapai melalui kemudahan dan kebebasan publik untuk
memperoleh informasi dari sekolah.Pengembangan transparansi sangat
diperlukan untuk membangun keyakinan dan kepercayaan publik kepada
sekolah.Dengan transparansi yang tinggi, publik tidak lagi curiga terhadap
sekolah dan karenanya keyakinan dan kepercayaan publik terhadap
sekolah juga tinggi.
b. Arti Transparansi
Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang yang
terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil
pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Dalam konteks pendidikan,
istilah transparansi sangatlah jelas yaitu kepolosan, apa adanya, tidak
bohong, tidak curang, jujur, dan terbuka terhadap publik tentang apa yang
dikerjakan oleh sekolah. Ini berarti bahwa sekolah harus memberikan
informasi yang benar kepada publik. Transparansi menjamin bahwa data
sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas.
c. Tujuan Transparansi
Pengembangan transparansi bertujuan untuk membangun
kepercayaan dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah
organisasi pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa. Bersih dalam
arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti profesional.
d. Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi

26

Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi


sekolah dan dengan demikian mempermudah publik untuk berpartisipasi
dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Upaya-upaya yang perlu
dilakukan dalam kerangka meningkatkan transparansi sekolah kepada
publik antara lain melalui pendayagunaan berbagai jalur komunikasi, baik
secara langsung melalui temu wicara, maupun secara tidak langsung
melalui jalur media tertulis (brosur, leaflet, newsletter, pengumuman
melalui surat kabar) maupun media elektronik (radio dan televisi lokal),
serta handphone.
e. Indikator Keberhasilan Transparansi
Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa indikator
berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan publik kepada
sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa, (2) meningkatnya
partisipasi publik terhadap penyelenggaraan sekolah, (3) bertambahnya
wawasan dan pengetahuan publik terhadap penyelenggaraan sekolah, dan
(4) berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan
yang berlaku di sekolah.

3. Akuntabilitas
a. Latar Belakang
MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada penyelenggara
sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan mengurus sekolah,
mengambil keputusan, mengelola, memimpin, dan mengontrol sekolah.
Agar

penyelenggara

menyelenggarakan
terhadap

apa

sekolah

sekolah,

yang

tidak

maka

dikerjakan.

sewenang-wenang

sekolah
Untuk

harus

itu,

dalam

bertanggungjawab

sekolah

berkewajiban

mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan


sebagai konsekwensi dari mandat yang diberikan oleh publik/ masyarakat.
b. Arti Akuntabilitas
Akuntabilitas

adalah

kewajiban

untuk

memberikan

pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan


tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau
berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.
Akuntabilitas
sekolah

yang

meliputi
diwujudkan

pertanggungjawaban

melalui

transparansi

penyelenggara
dengan

cara

menyebarluaskan informasi dalam hal: (a) pembuatan dan pelaksanaan


kebijakan serta perencanaan, (b) anggaran pendapatan dan belanja
sekolah, (c) pengelolaan sumberdaya pendidikan di sekolah, dan (d)
keberhasilan

atau

kegagalan

pelaksanaan

rencana

sekolah

dalam

mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.


Menurut jenisnya, akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4: (1)
akuntabilitas kebijakan, yaitu akuntabilitas pilihan atas kebijakan yang

27

akan

dilaksanakan,

(2)

akuntabilitas

kinerja

(product/quality

accountability), yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pencapaian


tujuan

sekolah,

(3)

akuntabilitas

proses,

yaitu

akuntabilitas

yang

berhubungan dengan proses, prosedur, aturan main, ketentuan, pedoman,


dan sebagainya., dan (4)akuntabilitas keuangan (kejujuran) atau sering
disebut (financial accountability), yaitu akuntabilitas yang berhubungan
dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and cash out). Sering
kali istilah cost accountability juga digunakan untuk kategori akuntabilitas
ini.
c. Tujuan Akuntabilitas
Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya
akuntabilitas
terciptanya

kinerja
sekolah

sekolah
yang

sebagai

baik

dan

salah

satu

terpercaya.

prasyarat

Selain

itu,

untuk
tujuan

akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik


terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah, untuk
mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan, dan
untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada
publik.
Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan hasil kinerja
sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya.
d. Indikator Keberhasilan Akuntabilitas
Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator
berikut, yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik
terhadap sekolah, (b) tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk
menilai

terhadap

berkurangnya

penyelenggaraan

kasus-kasus

KKN

di

pendidikan
sekolah,

dan

di

sekolah,

(c)

(d)

meningkatnya

kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang


berkembang di masyarakat.
C. Kasus

Kasus untuk Kepala SD


Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Selesaikan kasus

tersebut

dengan menggunakan pendekatan MBS. Buat powerpointnya untuk disajikan di


depan kelompok lain! Kelompok lain memberi komentar-komentar dan saransaran untuk masukan!

Kurangnya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan sekolah


antara lain disebabkan tidak berjalannya mekanisme pengawasan. Agar
pengawasan dapat berjalan, maka komite sekolah yang sesungguhnya dibentuk
untuk

melaksanakan

fungsi

kontrol

diberdayakan.

28

atas

sekolah

harus

diperkuat

dan

Selain itu, peran supervisi atau pengawas sekolah perlu ditingkatkan


kompetensinya, kata Unifah Rosyidi, dosen manajemen pendidikan dari
Universitas Negeri Jakarta, Kamis (1/9).
Diingatkan bahwa munculnya konsep komite sekolah antara lain dilandaskan
pada kebutuhan untuk mengontrol penyelenggara sekolah di era otonomisasi
pendidikan. Kontrol ini menjadi penting karena akuntabilitas merupakan bukti
keotonomian sekolah, termasuk dalam hal pertanggungjawaban keuangan
kepada stakeholder pendidikan.
Selama ini, sulitnya mewujudkan transparansi pengelolaan keuangan sekolah
terjadi karena komite dan penyelenggara sekolah belum memahami tugasnya
masing-masing di era otonomi sekolah. Selain itu, pengangkatan anggota dan
pengurus belum sepenuhnya terbuka.
Ada kecenderungan anggota komite sekolah yang dipilih merupakan orang
yang punya jabatan dan hidup mapan sehingga secara finansial tidak kesulitan
atau tidak terlalu peduli. Sementara waktu, mereka bekerja sebagai anggota
komite sekolah juga terbatas, kata Unifah.
Kendala lain, anggota komite sekolah dipilih dari antara orang tua murid yang
anaknya menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Akibatnya, anggota komite
sekolah enggan atau tak mampu menjalankan fungsi kontrolnya.

Kasus untuk Kepala SMP

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Selesaikan kasus tersebut


dengan menggunakan pendekatan MBS! Buat powerpointnya untuk disajikan di
depan kelompok lain. Kelompok lain memberi komentar-komentar dan saransaran untuk masukan.

Pak Nanang (nama samaran) adalah salah satu orang tua murid SMP XXX
di salah satu kabupaten di Indonesia. Ia mengetahui bahwa sesuai dengan yang
disosialisasikan pemerintah, pemakaian dana Biaya Operasional Sekolah (BOS)
harus dibicarakan dengan seluruh orang tua/wali murid. Tetapi saya dan orang
tua/wali murid lainnya sampai saat ini tidak pernah mendapat undangan
mengenai

penggunaan

dana

BOS

tersebut.

Besarnya

pun

kami

tidak

mengetahui, apalagi penggunaannya. Hanya dua pihak yang mengetahui detail


penggunaan dana BOS yakni kepala sekolah dan Tuhan. Demikian keluhan
orang tua/wali murid dan wakil kepala sekolah.Kenyataannya, meski pun
katanya sekolah mendapatkan BOS, kami sebagai orang tua/wali murid masih
saja dibebani untuk membeli LKS dan buku paket yang katanya untuk
membantu murid dalam belajar. Namun, LKS anak saya tidak pernah sekali pun
diperiksa guru.Pada hal hasil pemeriksaan guru sangat penting bagi anak saya
dan saya sebagai umpan balik membimbing dan memotivasi belajar anak saya
agar prestasi belajarnya meningkat secara berkelanjutan.Satu hal lagi yang
membuat saya bertanya, Mengapa masih ada pungutan sekolah dan berapa
anggaran pembelian buku pelajaran? sering tidak dijawab oleh Pak Nanang.

29

Apakah pungutan untuk membeli LKS dan buku paket sudah mendapat
persetujuan Dinas Pendidikan setempat?Sebaliknya, orang tua/wali murid dan
guru justru mendapat ancaman jika sering bertanya mengenai pengelolaan
BOS, dari anak dikeluarkan sampai kenaiakan pangkat guru yang dihambat.

Kasus untuk Kepala SMA


Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Selesaikan kasus tersebut dengan
menggunakan pendekatan MBS! Buat powerpointnya untuk disajikan di depan
kelompok lain! Kelompok lain memberi komentar-komentar dan saran-saran
untuk masukan.

Selain komite sekolah, yang harus disegarkan adalah peran para


pengawas sekolah. Para pengawas sekolah harus diperhatikan dan
ditingkatkan kompetensinya agar mereka dapat menjalankan fungsinya
dengan benar, kata Unifah. Para pengawas sekolah seharusnya mampu
mengawasi

sekolah

secara

keseluruhan.

Unifah

mengatakan,

ada

sembilan komponen di sekolah yang harus berjalan dengan baik sehingga


perlu diawasi. Komponen itu mulai dari sarana, proses pembelajaran
sampai

dengan

masalah

keuangan

yang

harus

memenuhi

asas

transparansi dan akuntabilitas.


Sayangnya, pengawas sekolah cenderung mengawasi sekolah secara
normatif saja dan tidak mendetail. Termasuk dalam hal transparansi dan
akuntabilitas pengelolaan keuangan sekolah.
Ketua

Federasi

mengatakan,

Guru

Independen

ketidaktransparan

Indonesia

pengelolaan

(FGII)

Suparman

keuangan

sekolah

merupakan kebiasaan buruk kepala sekolah yang akhirnya menjadi


budaya. Untuk menciptakan mekanisme pengawasan, perlu keterlibatan
pengurus komite sekolah, orang tua, dan guru. Pengawasan tidak hanya
cukup oleh komite sekolah karena usianya masih terbilang baru dan
masih membutuhkan pencerahan.
Keterlibatan stakeholder pendidikan itu harus dilandasi keterbukaan
kepala

sekolah.

Kalau

tidak

demikian

maka

tidak

akan

terjadi

perubahan. Sulit mengandalkan pengawasan dari birokrasi, katanya.


Ketidakterbukaan penyelenggaraan kepala sekolah kerap menciptakan
kecurigaan di kalangan guru. Iklim kecurigaan tentu tidak kondusif,
kata Suparman.

30

Kasus untuk Kepala SMK

Diskusikan

kasus

di

atas

selama

10

menit!

Selesaikan

dengan

pendekatan MBS! Hasilnya tuliskan di powerpoint. Sajikan di depan kelompok


lainnya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan
balik!

Ani (nama samaran), orang tua siswa di SMK berpendapat bahwa SMK
menggunakan standar ganda. Di satu pihak, Kepala SMK mengklaim bahwa
seluruh usaha di Unit Produksi Sekolah (UPS) sebagai usaha untuk menunjang
biaya operasional sekolah dan tempat proses menjadikan lulusan sebagai
wirausahawan/wirausahawati.

Tetapi,

di

pihak

lain,

Kepala

SMK

yang

bersangkutan tidak mau menggunakan keuntungan usaha UPS untuk biaya


operasional sekolah. Menurut Ani, Kalau ada keuntungan diambil oleh Kepala
SMK dan kroni-kroninya saja. Ada kecenderungan pengelolaan keuangan tidak
transparan. Akibatnya, timbul kecemburuan dan kecurigaan bagi mereka yang
tidak

termasuk

kroni-kroni.

Selanjutnya,

Ani

berkata,

jika

UPS

ingin

dibisniskan, harus jelas dasar hukumnya dan juga aturan mainnya.

D. Rangkuman

MBS dapat dilaksanakan dengan baik apabila sekolah menerapkan


prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik
meliputi partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efektivitas, efisiensi,
berwawasan ke depan, hukum dilaksanakan dengan baik, keadilan,
demokrasi/egaliterisme, prediktif, peka terhadap aspirasi stakeholders,
dan pasti dalam penjaminan mutu. Dalam materi pelatihan ini hanya
diuraikan tiga tata kelola yang baik yaitu partisipasi, transparansi, dan
akuntabilitas.

31

KEGIATAN BELAJAR 4
MONITORING DAN EVALUASI

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat


A. Pengantar
Monitoring dan Evaluasi (ME) merupakan bagian integral dari pengelolaan
pendidikan,

baik

di

tingkat

mikro

(sekolah),

meso

(dinas

pendidikan

kabupaten/kota, dinas pendidikan provinsi), maupun makro (kementerian).


Monitoring adalah suatu

proses pemantauan untuk mendapatkan informasi

tentang pelaksanaan MBS. Jadi, fokus monitoring adalah pemantauan pada


pelaksanaan MBS, bukan pada hasilnya. Tepatnya, fokus monitoring adalah
pada komponen proses MBS, baik menyangkut proses pengambilan keputusan,
pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, maupun pengelolaan proses
belajar mengajar. Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan
informasi tentang hasil MBS. Jadi, fokus evaluasi adalah pada hasil MBS.
Informasi

hasil

ini

kemudian

dibandingkan

dengan

sasaran

yang

telah

ditetapkan.
ME pada MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat
digunakan untuk pengambilan keputusan. Hasil monitoring dapat digunakan
untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS.
Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk
memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS, baik pada konteks,
input, proses, output, maupun outcomenya. Masukan-masukan dari hasil
monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan.

B. Materi Pokok

1. Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi


MBS sebagai sistem, memiliki komponen-komponen yang saling terkait
secara sistematis satu sama lain, yaitu konteks, input, proses, output, dan
outcome.
Konteks

adalah

eksternalitas

sekolah

berupa

demand

and

support(permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah.


Dalam istilah lain, konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan. Dengan
demikian, evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. Alat yang

32

tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (needs


assessment).
Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia dan siap karena
dibutuhkan untuk berlangsungnya proses.Secara garis besar, input dapat
diklasifikasikan
manajemen.

menjadi

tiga,

yaitu

harapan,

sumberdaya,

dan

input

Harapan-harapan terdiri dari visi, misi, tujuan, sasaran.

Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya


selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan). Input manajemen terdiri
dari

tugas,

rencana,

program,

regulasi

(ketentuan-ketentuan,

limitasi,

prosedur kerja, dan sebagainya), dan pengendalian atau tindakan turun


tangan. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi
tentang

ketersediaan

dan

kesiapan

input

sebagai

prasyarat

untuk

berlangsungnya proses.
Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dalam MBS
sebagai sistem, proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan, proses
pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar
mengajar, proses evaluasi sekolah, dan proses akuntabilitas. Dengan
demikian, fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring)
implementasi MBS, sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi
atau inkonsistensi antara rancangan/disain

MBS semula dengan proses

implementasi yang sebenarnya. Dengan didapatkan informasi inkonsistensi


tersebut, segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan.
Outputadalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. Hasil nyata yang dimaksud
dapat berupa prestasi akademik (academic achievement), misalnya, nilai
NUN, dan peringkat lomba karya tulis, maupun prestasi non-akademik (nonacademic achievement), misalnya, IMTAQ, kejujuran, kedisiplinan, dan
prestasi olahraga, kesenian, dan kerajinan. Fokus evaluasi pada output
adalah mengevaluasi sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang
diharapkan (kualitas, kuantitas, waktu) telah dicapai oleh MBS. Dengan kata
lain, sejauhmana hasil nyata sesaat sesuai dengan hasil/sasaran yang
diharapkan. Tentunya makin besar kesesuaiannya, makin besar pula
kesuksesan MBS.
Outcome adalah hasil MBS jangka panjang, yang berbeda dengan
output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka pendek. Karena itu,
fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang, baik
dampak individual (siswa), institusional (sekolah), dan sosial (masyarakat).
Untuk melakukan evaluasi ini, pada umumnya digunakan analisis biayamanfaat (cost-benefit analysis).ME dilakukan untuk mengetahui apakah ada
perubahan konteks, input, proses, output, dan outcome pada waktu sebelum
dan sesudah melaksanakan MBS. Selain memonitor dan mengevaluasi
komponen-komponen konteks, input, proses, output, dan outcome sekolah,
yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan dievaluasi adalah pelaksanaan
prinsip-prinsip MBS yang baik (tata pengelolaan yang baik), seperti disebut

33

sebelumnya

yaitu

meliputi:

partisipasi,

transparansi,

tanggungjawab,

akuntabilitas, wawasan ke depan, penegakan hukum, keadilan, demokrasi,


prediktif, kepekaan, profesionalisme, efektivitas dan efisiensi, dan kepastian
jaminan hukum. Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum
dan sesudah MBS ada perubahan tata pengelolaan sekolah.Berikut adalah
visualisasi ME pada saat sebelum dan pada saat sesudah melaksanakan MBS.

PRA & PASCA MPMBS ?

MBS

SEBELUMSESUDAH

Konteks
Input
Proses
Output
Outcome
Tata Pengelolaan yang Baik
(Good Governance)

Gambar 3: Monitoring dan Evaluasi MBS

2. Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal


Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah, yaitu internal dan
eksternal. Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring
dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri. Pada umumnya, pelaksana
monitoring dan evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala
sekolah, guru, siswa, orangtua siswa, guru bimbingan dan penyuluhan, dan
warga sekolah lainnya. Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal
sekolah adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah)
sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Sedang yang
dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan evaluasi
yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution), misalnya
Dinas Pendidikan, Pengawas, dan Perguruan tinggi, atau gabungan dari
ketiganya. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk:
rewards system terhadap individu sekolah, meningkatkan iklim kompetisi
antar sekolah, kepentingan akuntabilitas publik, memperbaiki sistem yang
ada secara keseluruhan, dan membantu sekolah dalam mengembangkan
dirinya.

3. Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan MBS


Untuk mengevaluasi keberhasilan MBS, sekolah-sekolah yang
melaksanakan MBS harus membuat tonggak-tonggak kunci keberhasilan
untuk kurun waktu tertentu. Tonggak-tonggak kunci keberhasilan MBS
merupakan target-target hasil MBS yang akan dicapai dalam jangka

34

menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun). Target-target tersebut


bersumber dari pemerataan kualitas pendidikan, dan tata kelola sekolah yang
baik

(good

governance)

tanggungjawab,

yang

akuntabilitas,

meliputi:

wawasan

partisipasi,

kedepan,

transparansi,

penegakan

hukum,

keadilan, demokrasi, prediktif, kepekaan, profesionalisme, efektivitas dan


efisiensi, dan kepastian jaminan hukum. Sebaiknya, tonggak-tonggak kunci
keberhasilan dibuat tabuler yang terdiri dari program-program strategis dan
tonggak-tonggak kunci keberhasilan dari setiap program strategis.

C. Kasus
Tugas Individu untuk semua Kepala Sekolah

SMP Perdana menetapkan sasaran kinerja tahun 2014 antara lain:


a. Nilai UN = 7,50 ; b. Juara Olimpiade dan c. Guru Teladan Nasional
Susunlah Rencana Kerja berbasis MBS untuk mewujudkan sasaran
tersebut!, Gunakan format program berbasis Target, untuk dua tahun
yakni tahun 2012 dan tahun 2013
Tugas Kelompok untuk semua kepala sekolah
1) Rumuskan pokok permasalahan dalam kasus di atas.
2) Tuliskan 3 rencana kegiatan pokok dalam menyelesaiakan masalah
3) Susun uraian dari masing masing dari tiga rencana kegiatan sebagai tahapan
penyelesaian!

D. Rangkuman
Monitoring dan evaluasi (monev) merupakan bagian integral dari
pengelolaan pendidikan, baik di tingkat mikro, meso maupun makro. Monev
dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah, dinas
pendidikan kabupaten/kota, dinas pendidikan propinsi, dan kementerian.
Dengan

monev,

kita

dapat

menilai

apakah

MBS

benar-benar

mampu

meningkatkan mutu pendidikan. Monev MBS bertujuan untuk mendapatkan


informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki/mengembangkan MBS. Ada
dua jenis monev sekolah, yaitu internal dan eksternal. Untuk mengevaluasi
keberhasilan MBS, sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS harus membuat
tonggak-tonggak kunci keberhasilan untuk kurun waktu tertentu. Tonggaktonggak kunci keberhasilan MBS merupakan target-target hasil MBS yang akan
dicapai dalam jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun).

35

REFLEKSI
Mata Diklat

: Manajemen Berbasis Sekolah

Nama

:_____________,Tanggal: _______________

Peserta

Setelah kegiatan berakhir saudara dapat melakukan refleksi dengan menjawab


pertanyaan berikut ini!
1. Apa yang Saudara pahami setelah mempelajari materi ini?

2. Pengalaman penting apa yang Saudara peroleh setelah mempelajari materi ini?

3. Apa manfaat materi ini terhadap tugas Saudara sebagai kepala sekolah?

4. Apa rencana tindak lanjut yang akan Saudara lakukan setelah kegiatan ini?

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Pertama, Ditjen Mandikdasmen. Depdiknas (rujukan utama
dari materi pelatihan ini).

BACAAN YANG DIANJURKAN


Dornseif, A. 1996.Pocket Guide to School-Based Management.
Association for Supervision and Curriculum Development.

36

Alexandria:

E.Mulyasa. 2004.Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT.Remaja


Rosda.

Ibtisam Abu & Duhou. 2002. School-Based Management (Manajemen


Berbasis Sekolah) (terjemahan: Noryamin Aini, Suparto & Abas AlJauhari). Jakarta: Logos.

Odden,A.1994. School-Based Management Organizing for High Performance.San


Francisco: Jossey-Bass Publishers.

Reynold, Larry. 1997. Successful Site-Based Management. Thousand


Oaks, California: Corwin Press, Inc.

Rutmini & Jiyono. 1999. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep dan


Kemungkinan Strategi Pelaksanaannya di Indonesia. Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan.Juni Tahun Ke-5.No.017. h.77-107.

Wohlstetter, P., Kirk, A.N.V., Robertson, P.J. & Mohrman (1997). Succesful
School-Based Management.Alexandria: Association for Supervision and Curriculum
Development.

Zuldan K.Prasetyo & Slamet.2003. Manajemen Berbasis Sekolah dalam


Mengembangkan dan Mewujudkan Budaya Mutu dalam Pendidikan.Cakrawala
pendidikan.Juni, Th.XXII.No. h.17.

37

VISI KELEMBAGAAN PROFESIONAL DAN MANAJEMEN


BERBASIS SEKOLAH

A. VISI BARU MANAJEMEN SEKOLAH


Di Indonesia, MBS relatif baru diperkenalkan sebagai sebuah para digma
manajemen sekolah. Spirit MBS makin kencang karena pada tataran internasional MBS
ini makin menampakan kemapanan.
Visi pada intinya adalah pandangan jauh ke depan, mendalam, dan luas yang
merupakan daya pikir abstrak yang memiliki kekuatan dahsyat dan dapat menerobos
segala batas batas fisik, waktu, dan tempat ( Gaffar, 1995).
Dilihat dari perspektif waktu, visi pada intinya menyoal tentang masa depan, dengan
rentang waktu (Time frame) tertentu. Visi merupakan komponen sentral dari semua
great leadership. Terminology leadership merujuk pada dua hal. Pertama adalah orang
orang yang duduk pada posisi pimpinan yang benar benar piawai dalam
menjalankan tugas pokok dan fungsinya untuk mencapai tujuan organisasi secara
efektif, efisien, dan dengan akuntabilitas tertentu. Kedua adalah posisi posisi strategis
yang diduduki oleh manusia organisasional, seperti eksekutif puncak, rektor perguruan
tinggi, direktur akademi.
Visi adalah suatu inovasi didalam dunia manajemen modem, terutama manajemen
srategik. Istilah strategik ini merujuk pada posisi pimpinan puncak sebuah organisasi,
termasuk organisasi pendidikan, juga sekolah. Visi merupakan atribut kunci
kepemimpinan, termasuk kepemimpinan akademik sekolah.
Visi sekolah pada intinya adalah statemen paling fundamental (fundamental
statement) mengenai nilai, aspirasi, dan tujuan institute persekolahan. Oleh karena itu.
Visi sekolah meupakan kunci keberhasilan sebuah lembaga sekolah yang dikelola
secara profesional.
Visi yang baik dirumuskan secara sederhana dan terfokus, dapat ditangkap
maknanya oleh staf atau tenaga pelaksana, menggambarkan kepastian, dapat
dilaksanakan, serta realistis. Visi macam apa yang diperlukan oleh mereka?
1. Visi yang mampu merangsang kreativitas dan bermakna secara fisik psikologis
bagi kepala sekolah, guru, staf tat usaha, dan anggota komite sekolah.

38

2. Visi yang dapat menumbuhkan kebersamaan dan pencarian kolektif bagi kepala
sekolah, guru, staf tata usaha, dan anggota komite sekolah untuk tumbuh secara
profesional
3 Visi yang mampu mereduksi sikap egoistik - unit ke format berpikir kolegialitas,
kompreshensif, dan bekerja dengan cara cara yang dapat diterima oleh orang
lain.
4. Visi yang mampu merangsang kesamaa sikap dan sifat dalam aneka perbedaan
pada diri kepala sekolah,

guru, staf tata usaha, dan anggota komite sekolah,

sekaligus menghargai perbedaan dan menjadikan perbedaan itu sebagai potensi


untuk maju secara sinergis.
5. Visi yang mampu merangsang seluruh anggota, dari haya bekerja secara proforma
ke kinerja riil yang bermaslahat, efektif, efesien, dan dengan akuntabilitas tertentu.
B. STANDAR MUTU LAYANAN PERSEKOLAHAN
Pada format pengelolaan pendidikan yang sentralistik, sekolah menjadi unit birokrasi
dan guru sering diposisikan sebagai bagian dari karyawan birokrasi pemerintahan.
Birokrat pendidikan dan unsur birokrasi terkait seperti Dinas Diknas dan pemerintah
daerah kabupaten / kota, mendelegasikan kepada kepala sekolah untuk menjalankan
tugas pokok dan funginya secara otonom. Selanjutnya, kepala sekolah dapat
mengatur atau mengelola sekolahnya dengan prakarsa pemberdayaan tertentu.
Proses desentralissi di level kompleks sekolah (school building) ini sering kali
menimbulkan banyak masalah yang berhubungan dengan peran individu guru.
Masalah itu berkisar sebagai berikut:
1. Pemahaman Konsep Manajemen Partisipatif
Konsep adanya perlibatan semua anggota komunitas dalam proses perbuatan
keputusan sekolah. Keputusan sekolah.
2. Aplikasi Konsep Manajemen Partisipatif
Keiklhasan kepada sekolah untuk berbagi kewenangan dan kematangan
komunitas sekolah menerima delegasi tugas menjadi prasyarat bagi berfungsinya
semua komponen dalam mendukung usaha pendidikan dan pembelajaran.
3. Pemahaman Akan Konsep Pendidikan dan Pembelajaran
Lembaga pendidikan tidak hanya menjalankan fungsi reproduksi dan desiminasi
ilmu pengetahuan, teknologi , dan seni, tetapi juga yang utama adalah
pembentukan kesejatian anak didik sebagai manusia masa depan yang tumbuh
secara dewasa.
4. Tradisi Ketergantungan yang Sudah Berlangsung Lama
MBS meniscayakan adanya kemandirian dalam merencanakan, melaksanakan,
dan mengevaluasi program.
5. Profesionalisme Pendidikan dan Keguruan

39

Hal ini merupakan kunci utama bagi kepala sekolah dan guru dalam
menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran secara efektif, baik
didalam maupun didalam kelas.

6. Etos Kerja Komunitas Sekolah


Satu penyakit yang paling sulit disembuhkan di lingkungan sekolah adalah etos
kerja kepala sekolah dan guru yang untuk sebagian masih rendah.
7. Rasa Saling Percaya
Ada kalanya menjadi tabiat (nature) manusia, termasuk komunitas sekolah,
bersifat curiga pada seseorang yang lain, merasa pintar dan benar sendiri, iri atas
kemampuan dan prestasi sejawat, tidak siap bersaing, dan sebagainya.
8. Dukungan Kerja Ketatalaksanaan Sekolah
Di lembaga sekolah, selayaknya pada organisasi apa pun, tenaga tata laksana
menjalankan tugas sebagai pendukung

(supporting system) yang dapat

memperlancar roda kerja organisasi.


9. Dimensi Faslitatif atau Sarana dan Prasarana
Sekolah yang kompeten umumnya didukung oleh sumber daya pembelajaran dan
instrumen teknologi yang memadai.
10.Dukungan Masyarakat
Sekolah yang bermutu bukanlah untuk sekolah, melainkan untuk anak didik dan
masyarakat.
Standar mutu layanan minimum ( SMLM), terutama berhubungan dengan hal
hal sebagai berikut :
a. SMLM kinerja kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan tugas kepemimpinan
dan keadministrasian.
b. SMLM etos dan kinerja guru berkaitan dengan disiplin kerja, proses pembelajran dan
evaluasi, capaian kegiatan pengajaran, pemberian umpan balik kepada anak didik
untuk kepentingan akademik dan nonakademik, layanan bimbingan konseling
kepada siswa, kegiatan pengembangan profesional, administrasi kelas, dan tugas
nonakademik lainnya.
c. SMLM kinerja tat usaha berkaitan dengan kearsipan, pengetikan, penggandaan,.
Ketatalaksanaan keuangan, penyampaian surat menyurat, dan pelayanan batu
lainnya.
d. SMLM

partisipasi

masyarakat

akan

pendidikan

anak,

terutama

di

bidang

pembiayaan, pendidikan anak dirumah, pengawasan belajar anak. Memberi


masukan demi kebaikan dan perbaikan kinerja sekolah, dan lain lain.
e. SMLM

daya dukung pembelajaran, seperti alat peraga pembelajaran, alat

laboraturium, perpustakaan, buku, tata lingkungan sekolah, dll

40

f. SMLM etos belajar anak didik, berkaitan dengan disiplin umum sekolah, disiplin
belajar, ketertiban siswa secara pribadi, kegiatan yang bersifat partisipatif, program
ekstrakulikuler, dll

g. SMLM prestasi belajar anak didik, khususnya prestasi belajar kulikuler dan ekstra,
termasuk prestasi untuk program yang bersifat kompetisi atau lomba.
11. Etos Belajar Siswa
Siswa adalah subyek utama layanan pendidikan dan pembelajaran. Sebagai
bagian dari anggota komunitas sekolah, guru harus memegang dan menjunjung
tinggi tanggung jawab ketika dia diberi kewenangan.
Bagi komunitas dari sekolah yang si berikan kekuasaan mengelola institusinya
secara otonom, keputusan tentang kualitas lingkungan belajar harus dibuat oleh
kelompok kerja atau dengan menggunakan pendekatan partisipatif.
Guru harus bertanggung jawab lebih besar dari sekedar menyelenggarakan
kegiatan pendidikan dan pembelajaran, tanpa harus mengorbankan tugas utama
mereka. Guru harus menyuplai energinya lebih besar bagi kegiatan pendidikan dan
pembelajaran dikelas. Tugas tambahan yang diembankan kepadanya, karenanya harus
relevan dengan kebutuhan dan keinginan mereka sebagai guru.
C. MULTI KELOMPOK KERJA DALAM KERANGKA MBS
Kelompok kerja ini diberi tambahan tanmggung jawab dan umumnya hal itu
berdampak pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kerja mereka. Esensi
penugasan kelompok ini adalah agar anggotanya dapat merangsang loyalitas dan
berfungsi memberikan dorongan secara psikologis, sebagai perluasan atas tugas
profesional kelompok.
Berkaitan dengan KKG, Djaman Satori (1989) antara lain menggariskan beberapa
fungsi dominanya, seprti :
(1). Sebagai ajang pertemuan atau silaturahmi antarsesama guru, karena
forum ini mereka dapat saling mengenal dan memupuk rasa
kekeluargaan diantara rekan sejawat;
(2). Sebagai wadah bertukar pikiran dan pengalaman antar sesama guru;
(3). Sebagai wadah pemecahan masalah dalam kehidupan sehari hari
(4). Sebagai wadah peningkatan kemampuan profesional
(5) Sebagai wadah menimba pengalaman dari guru senior
(6). Sebagai wadah kerjasama untuk memecahkan masalah yang dihadapi
oleh guru dalam keseharian tugasnya
(7).Memupuk sikap kritis dan terbuka terhadap perubahan perubahan atau
inovasi baru dalam bidang pendidikan, terutama pembelajaran.

41

melalui

(8). Sebagai wahana bagi guru untuk mengoreksi atau menyadarkan diri atas
kelemahannya.
(9). Menambah pengetahuan dan kecakapan baru
(10). Mengembangkan kreativitas
(11). Memupuk rasa ingin tahu
(12). Membangun kepercayaan pada diri sendiri dan sejawat
(13). Mengembangkan sikap saling menghargai terhadap orang lain
(14). Membina rasa persatuan dan kesatuan sesama guru
(15). Mengembangkan kemampuan pemimpin
(16). Megurangi kebosanan kerja
(17). Menumbuhkan rasa cinta dan menghargai profesi; dan lain lain.
Kelompok kerja berpotensi untuk menciptakan konflik, program pengembangan staf
dapat ditawarkan mungkin untuk menolong guru mengatasi konflik, mengatasi stres,
dan menggunakan teknik resolusi konflik untuk memajukan kelompok.
Sebagai masyarakat sipil, tenaga guru di optimalkan dengan kewajibannya untuk
tetap menumbuhkan persatuan dan kesatuan secara profesional di sekolah.
Ketika MBS diterapkan, jaminan sepihak dari sekolah yang otonom dapat saja
melahirkan bencana besar. Sejarah, budaya, dan kontruksi bangunan sekolah
mendorong terjadinya pengisolasian guru. Mungkin konsep isolasi ini muncul dari suatu
ruangan atau akibat dari desain ruangan di sekolah,
Keadaan masyarakat sekarang yang rumit dan berbagai hal yang biasa. Terjadi di
sekolah mendorong guru sebagai tenaga profesional harus sering berdiskusi dengan
para koleganya. Beberapa pilihan dari cara yang ada untuk memerangi isolasi guru
yang sudah sukses diterapkan bertahun tahun di beberapa tempat berbeda,
dikemukakan oleh Snyder dan Anderson (1986), yaitu sebagai berikut:
a. Tim pengajar,
b. Sistem tidak bertingkat
c. Banyak tingkat/bermacam tingkatan kelas (3 4 5 6)
d. Taman pendidikan
e. Pengelompokan pengajaran yang berbeda yang bersifat sementara
f. Penataan staf ( staffing ) yang berbeda beda
g. Perencanaan system administrative kerumahtanggaan sekolah
h. Sekolah alternative
i. Sekolah mini
j. Sekolah yang menarik
k. Sekolah dengan pilihan atau derayonisasi
l. Pengajaran yang terprogram
m.Pengajaran yang berbasis computer
n. Belajar mandiri
o. Kelompok belajar dan koomperatif
p. Pusat sumber belajar
42

q. Pedidikan individual yang terarah


r. Pusat media
s. Perencanaan

yang

matang,

kelompok

kecil,

kelompok

besar,

dan

pembelajaran individu
t. Pembelajaran yang bersifat tuntas
u.Sekolah diruangan terbuka
v. Teknologi
Jika sekolah mampu mengorganisasikan beberapa diantaranya, berarti hal ini
adalah suatu penerapan menejemen sekolah yang istimewa. Penelitian Snyder dan
Anderson (1986) telah menciptakan beberapa prinsip pengorganisasian sekolah yang
efektif. Di sini pengguna harus terlibat dalam perencanaan pada proses pertumbuhan
apapun. Secara normatif beberap prinsip yang dimaksud disajikan berikut ini
.
1. Iklim sekolah yang produktif, dimana tidak ada masalah berapa besar yang
muncul dari keberagamaan hasil dialog kelompok, pengambilan keputusan dan
tindakan yang ada.
2. Insiatif memacu produktivitas akan lebih mudah diwujudkan oleh kelompok yang
bekerja sama dalam menyelesaikan tugas tertentu daripada usaha individual,
kecuali kalau pekerjaan itu sangat spesifik dan keahlian tunggal.
3. Perlibatan kelompok kecil cenderung menghasilkan kejelasan tujuan yang lebih,
usaha koordinasi yang lebih besar dan keprcayaan yang lebih besar untuk
bekerja sama secara produktif.
4. Mengorganisasikan
dimaksudkan untuk

sekolah

menjadi

pengelompokan

yang

permanent

mencapai tujuan pengembangan khusus yang bersifat

jangka panjang.
5. Keanggotaan lima sampai tujuh ukuran kecil yang optimal
Kelompok kerja ini dapat di kategorikan menjadi tiga jenis atau tipe yaitu tim
pengajar permanen. Kelompok kerja sementara dapat berupa satuan tugas untuk
mendesain atau menyelesaikan persoalan khusus. Kelompok kepemimpinan misalnya,
kepala sekolah dan wakil kepala sekolah atau kelompok tertentu yang dikader sebagai
calon pimpinan sekolah.
Meski kelompok kerja guru itu bersifat permanen, dalam artian setiap orang bekerja
melalui kelompok dan akan terus berlangsung selama tahun ajaran, pengelompokan itu
akan bersifat cukup fleksibel untuk diadakan peubahan personaliannya dan /atau
perubahan tugas saat doibutuhkan.
Produktivitas kelompok berdasarkan pada bagian berikut ini:
1.Kepemimpinan yang efektif
2.Kejelasan tanggung jawab
43

3.Kelompok menyediakan status dan penghargaan


4.Perlindungan yang sukses atas serangan dari luar akan meningkatkan hubungan
5.Evaluasi yang memuaskan oleh orang luar
6. Ketertarikan personal dari satu anggota terhadap anggota yang lain
7. Pembagian nilai
8. Kompetisi antar kelompok dapat membawa kedekatan antaranggota
9. Penyediaan kesempatan bertambahnya interaksi
10. Menjaga kelompok tetap kecil
11. Memahami siapa bertanggung jawab atas apa
12. Memahami dan membuat keputusan tentang cara / gaya membuat keputusan
13. Melapor proses pada pimpinan/ kepala sekolah
D.HUBUNGAN ANTARIDIVIDU DAN URAIAN TUGAS
Inti kegiatan manajemen adalah proses penggerakan sumber daya untuk mencapai
tujuan yang dikehendaki. Satu hal umum tentang masalah manajemen lingkungan
sekolah harus berkaitan dengan produktivitas sekolah berbasis MBS itu beroperasi.
Prinsip umum evaluasi guru dengan menggunakan pendekatan manajemen by
objectives (MBOs) sebagaimana pernah disarankan agaknya layak diikuti. Apa yang
perlu dikuatkan disini adalah hubungan antara individu dan tujuan kelompok kerja.
Disamping dimaksudkan untuk menjelaskan peran guru peryataan tentang uraian
tugas ini menguatkan proses pengawasan dari kelompok kerja. Konsep dasarnya
disajikan seperti berikut ini.
1. Individu menentukan jenis satuan tujuan jangka panjang dan tujuan jangka
pendek, termasuk tujuan tahunan yang menerangkan misi pembentukan
kelompok kerja mereka.
2. Kelompok

kerja

bersama

sama

menentukan

tujuan

tahunan

yang

menerangkan strategi utama yang akan diharapkan oleh kelompok kerja agar
unit ini dapat membantu sekolah memenuhi tujuan jangka panjangnya.
3. Beberapa bentuk pengawasan dilembagakan. Ini dapat dijadikan sebagai
pemenuhan opsi, seperti observasi terbimbing, pelatian sejawat, umpan balik
siswa, rekaman audio visual untuk kritik, presentasi portofolio (posisi kewajiban).
4. Proses peninjauan sumatif pekerjaan tahunan dilaksanakan oleh kepala atau
perancangnya berdasarkan aktivitas sebelumnya. Sebagai hasilnya, yaitu
rekomendasi pembaruan kontrak, perpanjangan waktu, pensiunan, tanpa
program tugas kelompok kerja, tindakan remedial, dan promosi.
E.PERTEMUAN GURU DAN PEMECAHAN MASALAH
Kelompok kerja guru berskala kecil efektif untuk memecakan masalah atau
mengadakan pertemuan bagi aneka keperluan. Jika ada prodedur internal yang
membunuh atau merintangi pemberdayaan, pertemuan kelompok kecil biasanya efektif
untuk mengatasinya. Rintangan partisipasi pada kelompok kecil pun lebih memahami

44

hal hal yang yang harus mereka kerjakan daripada anggota kelompok besar yang
partisipasinya cenderung semu.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah menyewa konsultan dari luar (outsourching)
ke sekolah untuk menolong seluruh staf dalam proses kelompok dari luar dengan pola
kerja (biasanya) secara kontrak atau menurut skedul kerja.

Dengan merangkum pendapat Benyamin (1978), Leland (1976), dan fox (1987),
berikut ini disajiakan beberapa saran berkaitan dengan imteraksi kelompok kecil.
1. Pada perspektif sosial atau psikologikal, pertemuan secara keseluruhan harus
berorientasi kelompok.
2. Semua sumber menekankan bahwa seluruh partisipan harus menjadi pendengar
aktif.
3. Proses pengambilan keputusan yang terencana sangat diperlukan.
4. Waktu dan lamanya pertemuan harus diatur sesingkat mungkin.
5. Agenda yang disiapkan lebih disukai
6.Baik proses pertemuan maupun kualitas keputusan perlu diawasi
7. Partisipasi harus waspada terhadap masalah yang dipikirkan oleh kelompok.
8. Menentukan tujuan pertemuan dengan hati hati
9. Gunakan brainstorming dengan benar, yaitu dengan menunda evaluasi dan
pemutusan tentang suatu pemikiran sampai beberapa waktu kemudian.
10.Kelompok biasanya membutuhkan beberapa jenis rekaman data atau untuk
informasi dari sekretaris.
11.Aturan yang muncul seketika mendapat tempat, tetapi pada sebagian besar hal
itu dihindari.
F. GURU DAN PERAN PERAN BARU
Umunya, ada sedikit pelayanan guru yang dimaksudkan mempersiapkan mereka
untuk menerima peran baru sebagai profesional yang memberi pemberdayaan atau
menerima delegasi tugas tertentu.
Peran baru (new roles) dapat saja bervariasi antar sekolah, antar guru, dan antar
kelompok. Meski berbeda beda diharapkan guru dapat menerima peran baru, seperti
berikut ini.
1. Menentukan tujuan individu dan tujuan profesional yang tertulis dengan baik,
dapat diukur dan dapat diterapkan pada tujuan unit, sekolah, dan daerah.
2. Membicarakan dengan kepala sekolah tentang tujuan ini dapat meyakinkannya
bahwa tujuan lebih dilaksanakan.
3. Menjadi kontak personal (orang utama dihubungi ) oleh orang tua anak di
unitnya.
4. Menjadi juru bicara untuk pekerjaan sekolah atau menjadi penghubung antara
sekolah dan public.
45

5. Bersiap untuk duduk dalam pertemuan tim yang efektif dan efisien, selain
berpartisipasi pada proses saling berbagai pekerjaan.
6. Membantu tim membuat keputusan di sekolah dan berlatih dalam membuat
keputusan kelompok dengan berbagai metode.
7. Menjadi tim penilai atau juri yang cakap atas materi kurikulum mengetahui cara
menyeleksi, menjalankan, dan mengevaluasi materi pengajaran.
8. Bertindak sebagai pasangan pelatih atau conterpart pelatihan tertentu.
9. Bertidak sebagai pasangan evaluator yang memanfaatkan system evaluasi
sekolah dan teknik observasi, selain memiliki sikap yan g objektif

dan

profesional.
10.Pembiasaan atas variasi teknik pengajaran, termasuk mengetahui teknik yang
terbaik bagi siswa dan mengetahui waktu menggunakan teknik ini,
11.Dapat meyakinkan peran baru ini secara objektif dan cerdas pada orang tua
siswa.
12.Mendalami pemahaman tes yang standar, waktu menggunakannya, dan proses
enginterprestasikan atau menerjemahkan.
13. Menjadi spesilis masalah mata pelajaran pada satu atau lebih bidang
14. Menjadi pendidik umum
15. Menyusun tes in house untuk pencapaian mata pelajaran
16. Menulis tujuan pengajaran untuk memenuhi subjek (mata pelajaran) utama.
17. Mengelola anggaran unit
18. Mengawasi guru guru siswa
19. Bertindak sebagai metor bagi guru baru
20. Menyewa guru baru sebagai bagian tim pemeriksa
21. Pandai menggunakan computer
22. Dapat melaksanakan dan mengajarkan penelitian keputakaan
23. Membelah kayu untuk pembakaran ( hanya ingin melihat jika anda
memperhatikan).
24. Menjaga pendidikan pengajaran dan kecerdasan kebijakan pendidikan dalam
status yang tidak ketinggalan zaman.
Sepuluh bumbu penting bagi rencana pengenbangan profesional yang produktif
adalah sebagai berikut.
1.Merumuskan tujuan pengembangan profesi seluruh sekolah.
2.Membangun tujuan tim dan bidang keahlian tahunan
3.Menerapkan system evaluasi yang mengembangkan orientasi
4.Merencanakan program pengembangan profesional yang berinteraksi dalam
program evaluasi
5.Melibatkan tenaga akademik dalam prosesnya
6.Berekperimen dengan aktivitas pasangan pelatihan. Jika tercapai, kemudian
menyatukannya salam program jangka panjang.
7.Mengadakan sistem mentor dan dorongan bagi guru yang bermasalah.
46

8.Mengadakan sistem pendorongan yang berkelanjutan bagi guru bermasalah.


9.Meyakinkan adanya komitmen anggaran yang cukup
10. Memperoleh komitmen dan penghargaan dari kantor dinas diknas.
Kondusivitas dan rangsangan manajemen sekolah menjadi penting bagi guru yang
akan menerima tanggung jawab lebih banyak daripada sebelumnya. Agar mereka
mampu mengaplikasikannya, sekolah harus menyedikan hal hal seperti berikut ini.
1. Ada diskripsi kerja ( job description) yang biasanya memuat peryataan yang
menggambarkan tentang siapa melakukan apa.
2. Guru harus mengetahui kemajuan tentang apa dan bagaimana mereka
mengevaluasi. Didasarkan pada uraian tugas itu, baik tugas akademik maupun
administrative.
3. Harus ada filosofi pengajaran bagi sekolah dan taktik guru untuk unit kerja
konsep ini harus secara jelas dipahami oleh seluruh anggota yang berpartisipasi.
4. Jika berbagai macam observasi terjadi, apakah itu berpasangan.
5. Harus ada sistem pengecekan (checkpoint) pada pengetahuan guru terhadap
mata pelajaran utama yang ditugaskan.
6. Saat guru memiliki segala bentuk pengawasan dan peran kepemimpinan seperti
pemimpin tim atau departemen, perlu ada klarifikasi peran itu, kekuasaan apa
(jika ada) yang telah diberikan atau dideligasikan
G.KONTINUASI PROFESIONALISME
Deskripsi ringkas mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan istilah porofesi
disajikan berikut ini. Kata profesional merujuk kepada dua hal. Pertama adalah orang
yang menyandang suatu profesi, seperti Ali seorang profesional . Orang yang
profesional biasanya melakukan pekerjaan secara otonom dan dia mengabdikan diri
pada pengguna jasa disertai dengan rasa tanggung jawab atas kemampuan
profesionalnya. Istilah otonom disini bukan menafikan kolegialitas, melainkan harus
diberi makna bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh seorang penyandang profesi itu
benar benar sesuai dengan keahliannya. Otonomi itu adakalanya berseri, misalnya
seorang dosen melakukan pekerjaan mulai dari mempersiapkan bahan ajar, melakukan
tugas tugas pembelajaran, hingga melakukan evaluasi, dan menetapkan nilai akhir
untuk mahasiswanya.
Kedua adalah kinerja atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan
yang sesuai dengan profesinya.
Profesionalisme berasal dari kata bahasa Inggris profesionalism yang secara
leksikal berarti sifat profesional.
Orang profesional memiliki sikap yang berbeda dengan orang yang tidak
berprofesional, mesti mereka mengerjakan pekerjaan yang sama atau katakanlah
berada pada satu ruang kerja.
Profesionalisme merupakan proses peningkatan kualifikasi atau kemampuan para
anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai criteria standar ideal dari
47

penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu. Yaitu peningkatan
status dan peningkatan status dan peningkatan kemampuan pektis. Hasil studi
beberapa ahli mengenai sifat atau karakteristik profesi itu disimpulkan sebagai berikut.

1. Akademik Intelektual yang Diperoleh Melalui Pendidikan Akademik


Pendidikan yang dimaksud adalah jenjang pendidikan tinggi. Selain itu,
kemampuan intelektual didapat pula dari pelatihan khusus yang berkaitan dengan
keilmuan yang dimiliki oleh seorang penyandang profesi.
2. Memiliki Pengetahuan Spesialisasi
Pengetahuan spesialisasi adaiah sebuah kekhususan penguasaan bid.ang.
keilmuan tertentu
3.Memiliki Pengetahuan Praktis yang Dapat Digunakan Langsung oleh
Orang Lain atau Klien
Pegetahuan khusus itu bersifat aplikatif. Aplikasi ini didasari atas kerangka teori yaug
jelas dan teruji. Makin spesialis seseorang, makin mendalam pengetahuannya di
bidang itu, dan makin akurat pula layanannya kepada klien.
4.Memiliki Teknik Kerja yang Dapat Dikomunikasikan (Communicable)
Seorang guru haras mampu berkomunikasi sebagai gum, dalam makna apa yang
disampaikannya dapat dipahami oleh peserta didik.
5.Memiliki

Kapasitas

Mengorganisasikan

Kerja

Secara

Mandiri(Self-

Organization)
Istilah mandiri di sini berarti kewenangan akademiknya melekat pada dirinya.
Pekerjaan yang dia lakukan dapat dikelola sendiri, tanpa bantuan orang lain, raeski
tidak berarti menafikan bantuan atau mereduksi semangat kolegialitas.
6.Mementingkan Kepentingan Orang Lain (Altruism)
Seorang guru harus siap memberikan layanan kepada anak didiknya pada saat
bantuan itu diperlukan, baik di kelas, di lingkungan sekolah, maupun di luar sekolah.
7. Memiliki Kode Etik
Kode etik ini merupakan norma-norma yang mengikat guru dalam bekerja
Asumsi berikut menjelaskan pandangan bahwa pendidik akan diperlakukan dengan
hormat jika hal-hal berikut diterapkan
1. Secara relatifmereka dibayar lebih baik daripada apa yang mereka dapatkan
sekarang di mana pun mereka dipekerjakan.
2. Mereka mempunyai pilihan untuk mengaktualkan kemampuan profe sionalnya
dengan bekerja secara memandu sendiri.
3. Mereka mempunyai peluang untuk menyuarakan secara lebih besar
mengenai peran dalam tugas mereka.
4. Adanya kejelasan mengenai alur puncak karier yang tersedia bagi mereka.
48

5. Mereka mengawasi peran mereka sendiri


6 . Mereka membuat keputusan tentang siswa pada level unit kerja mereka.
7. Mereka memiliki rencana pembayaran jasa yang dibedakan antara guru yang
mampu dan yang kurang mampu.
8. Aktualisasi diri dalam kerangka membangun relasi dengan yang lain.
9. Pemberian tanggung jawab dan tambahan kesejahteraan dalam aneka
bentuknya.
10. Lingkungan memberikan suplai di mana disiplin tidak lagi menjadi tokus utama
perilaku guru.
11. Adanya perlindungan kebebasan
H.MENUJU ARAH PROFESIONALISME KEPALA SEKOLAH
Secara konseptual menerima realitas mengenai perlunya peningkatan kinerja institusi
persekolahan sebagai salah satu instrumen pengembangan sumber daya manusia.
Realitas dimaksud adalah sebagai berikut.
Pertama adalah pergeseran norma sosial dari abad industri ke abad informasi yang
ikut memberi tekanan kuat terhadap perubahan kinerja institusi pendidikan.
Kedua adalah migrasi pekerja pada tataran internasional yang kian terbuka dan
memberi "tekanan" pada tenaga kerja lokal. Ini berarti bahwa lembaga sekolah harus
mampu menyiapkan anak didik untuk menjadi masyarakat yang memiliki kemampuan
dan keterampilan tertentu agar siap' bersaing.
Ketiga adalah tuntutan akan kemitraan antarwarga sejagat, bersamaan dengan
keharusan untuk siap berkompetisi pada aneka sektor, termasuk di sektor pendidikan.
Keempat adalah pendidikan makin memasuki era massal, mulat dari tingkat dasar
sampai dengan pendidikan tersier.
Di Indonesia, ada kecenderungan bahwa pengangkatan kepala sekolah lebih banyak
didasarkan pada aspek loyalitas, senioritas, kinerja sebagai guru dan atau sebagai wakil
kepala sekolah, ketimbang melihat aspek kompetensi, kualifikasi akademis, dan
profesionalitas. Kondisi seperti ini tidak dapat dipcrtahankan lagi dengan pelbagai
alasan berikut ini.
Pertama, kepala sekolah adalah suatu profesi yang menuntut penguasaan sejumlan
kemampuan atau kompetensi.
Kedua, pelbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu aspek paling lemah
dari penyelenggaraan. sekolah kita dewasa ini ialah aspek manajemen.
Ketiga tatangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan (termasuk sekolah) untuk saat
ini terutama pada masa mendatang, sangat berat seiring dengan kemajuan dibidang
lainnya.
Keempat, kemampuan pemerintah untuk menyediakan anggaran penyeleng-garaan
pendidikan di sekolah semakin terbatas, sedangkan tuntutan dana di sekolah
semakin meningkat.
Pendidikan prajabatan bagi jabatan kepala sekolah dipandang sebagai salah satu
solusi utama dalam upaya semua pihak untuk memberdayakan sekolah sehingga
49

mampu menghadapi pelbagai perkembangan bahkan terhadap pelbagai gejolak,


baik secara langsung maupun tidak langsung menerpa dunia pendidikan.
.

Tujuan program pendidikan khusus kekepala sekolahan disajikan berikut ini.


Pertama, program ini mendidik kepala sekolah untuk tampil secara lebih profesional
daripada kemampuan yang mereka miliki sekarang, yaitu mampu mengantisipasi dan
menghadapi perubahan yang cepat, khususnya di bidang pendidikan dan mampu
memberikan solusi yang tepat dalam rangka rrember-dayakan sekolah menjadi
center of excellent dengan menggunakan meiode ilmiah yang bersandar pada
pendekatan manajemen modern.
Kedua, program ini mendidik kepala sekolah yang memiliki:
(a) Kompetensi dalarfi merumuskan visi, misi, tujuan, program, dan strategi
sekolah;
(b) Kompetensi dalam pengelolaan program sekolah secara menyeluruh;
(c) Kompetensi dalam pengelolaan program pengajaran;
(d) Kompetensi dalam pengelolaan murid;
(e) Kompetensi dalam pengelolaan personel sekolah:
(f) Kompetensi dalam pengelolaan keuangan sekolah;
(g) Kompetensi dalam pengelolahan sarana dan prasarana;
(h) Kompetensi dalam pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat.

50

MONITORING, EVALUASI, KOORDINASI DAN SUPERVISI MANAJEMEN BERBASIS


SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Kualitas Pendidikan sebagai salah satu pilar Pengembangan Sumber Daya
Manusia, sangat penting maknanya bagi Pembangunan Nasional, yaitu dalam rangka
membangun masyarakat yang kokoh dan ekonomi yang kompetitif di masa depan.
Pendidikan merupakan landasan vital pembentuk karakter bangsa atau dapat sebagai
masa depan bangsa. Dibutuhkan manusia yang sadar akan haknya sebagai jiwa
terdidik dengan moral serta perannya dalam kehidupan yang beradab. Salah satu
masalah pendidikan yang kita hadapi dewasa ini adalah rendahnya mutu pendidikan
pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan
menengah. Berbagai usaha telah dilakukan, antara lain melalui berbagai pelatihan dan
peningkatan kualifikasi guru, penyediaan dan perbaikan sarana/prasarana pendidikan,
serta peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu
pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Sebagian sekolah, terutama
di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu yang cukup menggembirakan, namun
sebagian lainnya masih memprihatinkan.

Dengan berlakunya Undang undang Otonomi daerah, dimana akan terjadi


desentralisasi Pemerintahan, maka setiap daerah dituntut untuk memiliki sumber daya
masyarakat yang berkualitas dalam menghadapi persaingan dan mampu menyerap
arus informasi yang terus mengalir begitu cepatnya. Undang-Undang Pendidikan
20/2003 telah memberikan tanggung jawab lebih besar dan otoritas langsung kepada
sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah (Schools Based Management/SBM). SBM yang
merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat, orang tua, para praktisi yang
teoritisi pendidikan dapat dibentuk untuk meningkatkan kualitas sekolah dengan
51

pengelolaan bersama antara sekolah dan masyarakat. Dengan begitu diharapkan


sekolah serta masyarakat dapat ikut berkonstribusi dalam peningkatan mutu pendidikan
dasar secara signifikan. Meski demikian terdapat keragaman yang besar dalam
kemampuan sekolah di setiap daerah untuk melaksanakan otoritas yang telah diberikan
tersebut. Guna mencapai tujuan desentralisasi pendidikan tersebut, pemerintah
melakukan restrukturisasi dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama yang
berkenaan dengan struktur kelembagaan pendidikan, mekanisme pengambilan
keputusan dan manajemen pendidikan di pusat dan daerah

B.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
1.Bagaimana Monitoring dan Evaluasi dalam Manajemen Berbasis Sekolah?
2. Bagaimana Koordinasi dalam Manajemen Berbasis Sekolah?
3. Bagaimana Supervisi dalam Manajemen Berbasis Sekolah?

C.Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan makalah ini, yaitu:
1.Mengetahui Monitoring dan Evaluasi dalam Manajemen Berbasis Sekolah.
2.Mengetahui Koordinasi dalam Manajemen Berbasis Sekolah.
3.Mengetahui Supervisi dalam Manajemen Berbasis Sekolah.

52

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Monitoring dan Evaluasi

1.

Pengertian Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dan Evaluasi (ME) merupakan bagian integral dari pengelolaan
pendidikan, baik di tingkat mikro (sekolah), meso (dinas pendidikan kabupaten/kota,
dinas pendidikan provinsi), maupun makro (kementerian).
Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi
tentang pelaksanaan MBS. Jadi, fokus monitoring adalah pemantauan pada
pelaksanaan MBS, bukan pada hasilnya. Tepatnya, fokus monitoring adalah pada
komponen proses MBS, baik menyangkut proses pengambilan keputusan, pengelolaan
kelembagaan, pengelolaan program, maupun pengelolaan proses belajar mengajar.
Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil
MBS. Jadi, fokus evaluasi adalah pada hasil MBS. Informasi hasil ini kemudian
dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan.
ME pada MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan
untuk pengambilan keputusan. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi
masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS. Sedang hasil evaluasi dapat
memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap
keseluruhan komponen MBS, baik pada konteks, input, proses, output, maupun
outcomenya. Masukan-masukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan
untuk pengambilan keputusan.

2.
a.

Tujuan Monitoring dan Evaluasi


ME pada MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk
pengambilan keputusan.

b.
3
Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi
perbaikan pelaksanaan MBS. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang
dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS, baik
pada konteks, input, proses, output, maupun outcomenya.
3.

Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi


MBS sebagai sistem, memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara
sistematis satu sama lain, yaitu konteks, input, proses, output, dan outcome.
a. Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand and support (permintaan dan
dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah. Dalam istilah lain, konteks sama
artinya dengan istilah kebutuhan. Dengan demikian, evaluasi konteks berarti evaluasi
tentang kebutuhan. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian
kebutuhan (needs assessment).
b. Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk
berlangsungnya proses. Secara garis besar, input dapat diklasifikasikan menjadi tiga,
yaitu harapan, sumberdaya, dan input manajemen. Harapan-harapan terdiri dari visi,
misi, tujuan, sasaran. Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan
sumberdaya selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan). Input manajemen
terdiri dari tugas, rencana, program, regulasi (ketentuan-ketentuan, limitasi, prosedur
53

kerja, dan sebagainya), dan pengendalian atau tindakan turun tangan. Esensi evaluasi
pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang ketersediaan dan kesiapan
input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses.
c. Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dalam MBS sebagai
sistem, proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan
kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, proses evaluasi
sekolah, dan proses akuntabilitas. Dengan demikian, fokus evaluasi pada proses
adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS, sehingga dapat ditemukan
informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan/disain MBS semula
dengan proses implementasi yang sebenarnya. Dengan didapatkan informasi
inkonsistensi tersebut, segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap
pelaksanaan.

d. Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. Hasil nyata yang dimaksud
dapat berupa prestasi akademik (academic achievement), misalnya, nilai UN, dan
peringkat lomba karya tulis, maupun prestasi non-akademik (non-academic
achievement), misalnya, IMTAQ, kejujuran, kedisiplinan, dan prestasi olahraga,
kesenian, dan kerajinan. Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi
sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan (kualitas, kuantitas,
waktu) telah dicapai oleh MBS. Dengan kata lain, sejauhmana hasil nyata sesaat
sesuai dengan hasil/sasaran yang diharapkan. Tentunya makin besar
kesesuaiannya, makin besar pula kesuksesan MBS.
e. Outcome adalah hasil MBS jangka panjang, yang berbeda dengan output yang
hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka pendek. Karena itu, fokus evaluasi
outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang, baik dampak individual (siswa),
institusional (sekolah), dan sosial (masyarakat). Untuk melakukan evaluasi ini, pada
umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis). ME dilakukan
untuk mengetahui apakah ada perubahan konteks, input, proses, output, dan
outcome pada waktu sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. Selain memonitor
dan mengevaluasi komponen-komponen konteks, input, proses, output, dan
outcome sekolah, yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan dievaluasi adalah
pelaksanaan prinsip-prinsip MBS yang baik (tata pengelolaan yang baik), seperti
disebut sebelumnya yaitu meliputi: partisipasi, transparansi, tanggungjawab,
akuntabilitas, wawasan ke depan, penegakan hukum, keadilan, demokrasi, prediktif,
kepekaan, profesionalisme, efektivitas dan efisiensi, dan kepastian jaminan hukum.
Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum dan sesudah MBS ada
perubahan tata pengelolaan sekolah.Berikut adalah visualisasi ME pada saat
sebelum dan pada saat sesudah melaksanakan MBS.

4.

Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal


Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah, yaitu internal dan eksternal.
Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring dan evaluasi
yang dilakukan oleh sekolah sendiri. Pada umumnya, pelaksana monitoring dan
evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah, guru, siswa,
orangtua siswa, guru bimbingan dan penyuluhan, dan warga sekolah lainnya. Tujuan
utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk mengetahui tingkat
kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan.
Sedang yang dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring
dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution),
misalnya Dinas Pendidikan, Pengawas, dan Perguruan tinggi, atau gabungan dari
ketiganya. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk: rewards

54

system terhadap individu sekolah, meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah,


kepentingan akuntabilitas publik, memperbaiki sistem yang ada secara
keseluruhan, dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya.
5.

Indikator Monitoring dan Evaluasi


Indikator Monitoring dan Evaluasi biasanya mengacu pada 8 standar nasional
pendidikan. Untuk indikatornya, terlampir.

6.

Waktu Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dilaksanakan secara berkesinambungan selama pelaksanaan
program, misalnya setiap tahun atau catur wulan. Sedangkan evaluasi biasanya
dilakukan setelah program dilaksanakan secara tuntas.

7.

Bagaimana Cara Melakukan Monitoring dan Evaluasi

a. Internal
1) Mendiskusikan dengan pihak terkait (orang tua, siswa, masyarakat, dll) tentang
langkah-langkah yang dan lain-lain dilakukan dalam monitoring dan evaluasi
2) Merumuskan tujuan monitoring dan evaluasi
3) Membuat kisi-kisi monitoring dan evaluasi
4) Merumuskan kriteria keberhasilan
5) Mengembangkan alat ukur yang sesuai dengan tujuan dan indicator
6) Melakukan pengumpulan data secara periodik
7) Menganalisis data sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan
8) Menginterpretasikan data berdasarkan standar/criteria yang ditetapkan
9) Mengembangkan usulan yang perlu diterapkan / dilaksanakan lebih lanjut
b. Eksternal
Monitoring dan evaluasi disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan
penyelenggara
8.

Tindak Lanjut Monitoring dan Evaluasi


Hasil monitoring dan evaluasi perlu diinformasikan ke pihak yang
berkepentingan dengan sekolah dan selanjutnya digunakan untuk penyempurnaan
program.

9.

Cara Menyusun Laporan Monitoring dan Evaluasi


Penyusunan suatu laporan merupakan kegiatan yang perlu dilakukan
berkaitan dengan kegiatan monitoring dan atau evaluasi. Hasilnya perlu
dikomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan. Tujuannya antara lain untuk
perbaikan
program,
pertanggungjawaban,
pembuktian,
penyelidikan,
pendokumentasian, perolehan dukungan, dan promosi pada masyarakat. Bentuk
laporan (out line) sangat beragam tergantung peran / keperluan, obyek atau
konteks yang dievaluasi. Contoh umum bentuk laporan sebagai berikut.
a. Laporan Lengkap (Teknis), yaitu laporan yang secara lengkap berisi tentang
pelaksanaan program beserta hasilnya. Adapun isi laporan lengkap dapat
dijabarkan sebagai berikut.
1) Pendahuluan
a) Latar belakang
b) Ruang Lingkup
c) Gambaran umum sekolah
d) Program-program sekolah
2) Hasil
a) Keterlaksanaan program
b) Pekembangan aspek-aspek monitoring dan evaluasi
i) Input

55

Kurikulum
Anak didik
Ketenagaan
Sarana dan prasarana
Organisasi
Pembiayaan
Manajemen sekolah
Peran serta masyarakat
ii) Proses
Proses manajerial
Proses belajar mengajar
iii) Output
Prestasi akademik (NEM, hasil Ebta, rapor, karya tulis)
Prestasi Non Akademik (prestasi olah raga, keterampilan)
c) Ketercapaian sasaran
d) Kesimpulan dan saran
e) Lampiran-lampiran
b. Ringkasan
Laporan ringkasan diperuntukan bagi para pihak yang berkepentingan.
Laporan ringkas dapat berupa laporan tersendiri atau bagian dari laporan lengkap.
Laporan ringkas berisi informasi singkat tentang tujuan, prosedur, temuan-temuan,
pertimbangan-pertimbangan, dan usulan-usulan (rekomendasi).
10. Mekanisme Pengiriman Laporan Monitoring dan Evaluasi
Pelaporan merupakan suatu kegiatan yang perlu dilakukan mengingat
sekolah merupakan bagian dari sistim pendidikan. Adapun pihak-pihak yang perlu
mengetahui pekembangan sekolah antara lain Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota,
Dinas Kecamatan, BP3/Komite Sekolah/Badan Peran Serta Masyarakat, dan
masyarakat yang lebih luas. Dinas Pendidikan Propinsi dan Depdiknas pusat dapat
melakukan koordinasi dan tugas-tugas perbantuan pada Kab/kota dan sekolah
sehingga dapat mengetahui penyelenggaraan pendidikan di daerah dalam rangka
pendidikan nasional.

B.
1.

Koordinasi dalam Manajemen Berbasis Sekolah.


Pengertian Koordinasi
Tiga dimensi utama yang akan menentukan keberhasilan, efektivitas, efisiensi,
dan produktivitas dalam Manajemen Berbasis Sekolah adalah koordinasi,
komunikasi dan supervisi. Koordinasi dalam Bahasa Inggris coordination, berasal
dari bahasa Latin, yakni cum yang artinya berbeda-beda dan ordinare yang berarti
penyusunan atau penempatan sesuatu pada seharusnya (Westra, 1983). Dalam
kamus besar bahasa Indonesia, koordinasi diartikan sebagai perihal mengatur suatu
organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yg akan dilaksanakan
tidak saling bertentangan atau simpang siur. Teori koordinasi menurut berbagai ahli
seperti berikut :
a) Hadari Nawawi dalam bukunya Administrasi Pendidikan: Koordinasi adalah kegiatan
mengatur dan membawa personal, metode, bahan, buah pikiran, saran-saran, citacita dan alat-alat dalam lingkungan kerja yang harmonis, saling isi mengisi dan
saling menunjang sehingga pekerjaan berlangsung efektif dan seluruhnya terarah
pada pencapaian tujuan yang sama.
b) Flavio Soares Correa da Silva dan Jaume Agusti-Cullell dalam bukunya, Knowledge
Coordination : coordination is at the heart of the concept of an organization,
together with the concepts of agent and agency.
c) Sedangkan menurut Merriam-Webster Collegiate English Dictionary, koordinasi
atau coordination bermakna the harmonious functioning of part for effective
result..
d) E. F. L. Brech dalam bukunya, The Principle and Practice of Management :
Koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi
kegiatan pekerjaan yang cocok kepada masing-masing dan menjaga agar kegiatan
itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu
sendiri.
G. R. Terry dalam bukunya, Principle of Management : Koordinasi adalah suatu
usaha yang sinkron / teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat dan

56

2.
a.

b.
c.
d.

e.

f.

3.

a.
b.
c.
d.
e.
4.
a.
b.
c.
d.
5.
a.
b.
c.
6.

mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan


harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.
Koordinasi adalah proses penyatupaduan sasaran-sasaran dan kegiatankegiatan dari unit-unit lembaga untuk mencapai tujuan lembaga secara efektif dan
efisien. Jadi koordinasi merupakan proses penyatupaduan kegiatan yang dilakukan
pegawai dan berbagai satuan lembaga sehingga dapat berjalan selaras dan serasi.
Koordinasi dalam MBS berkaitan dengan penempatan berbagai kegiatan yang
berbeda-beda pada keharusan tertentu, sesuai dengan aturan yang berlaku untuk
mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya melalui proses yang tidak membosankan.
Perbedaan antara kerjasama dan koordinasi sebagai berikut, kerjasama
merupakan kegiatan kolektif dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama
sedangkan koordinasi merupakan bentuk kerjasama yang di dalamnya terdapat
sinkronisasi. Sehingga kerjasama belum tentu koordinasi, tetapi koordinasi pasti ada
upaya untuk menciptakan kerjasama. Terdapat lima pokok pikiran yang merupakan
intisari koordinasi, yakni kesatuan tindakan atau kesatuan usaha, penyesuaian
antarbagian, keseimbangan antarsatuan, kesearasan, dan sinkronisasi.
Karakteristik Koordinasi
Karakteristik koordinasi menurut Handayadiningrat (1992) antara lain:
Tanggung jawab koordinasi terletak pada pimpinan. Oleh karena itu koordinasi
menjadi wewenang dan tanggung jawab pimpinan sehingga dapat dikatakan bahwa
pimpinan bisa berhasil jika melakukan koordinasi.
Koordinasi adaah bentuk kerjasama yang didalamnya terdapat sinkronisasi. Hal ini
disebabkan kerjasama merupakan syarat mutlak terseenggaranya koordinasi.
Koordinasi merupakan proses yang terus menerus (continue process), dan
berkesinambungan daam rangka mewujudkan tujuan lembaga.
Pengaturan usaha kelompok secara teratur. Hal ini disebabkan koordinasi adalah
konsep yang diterapkan di dalam kelompok, bukan usaha individu melainkan
sejumah individu yang bekerjasama di dalam kelompok untuk mencapai tujuan
bersama.
Kesatuan tindakan merupakan inti koordinasi. Pimpinan merupakan pengatur
usaha-usaha dan tindakan-tindakan setiap individu sehingga diperoleh keserasian
dalam mencapai hasil bersama.
Tujuan koordinasi adalah tujuan bersama (common purpose). Kesatuan usaha yang
meminta kesadaran semua pihak untuk berpartisipasi secara aktif melaksanakan
tujuan bersama sebagai kelompok tempat mereka bekerja.
Karakteristik koordinasi diatas menunjukkan bahwa keselarasan tindakan perlu
selalu diupayakan untuk mencapai tujuan bersama, dan koordinasi yang memadai
tidak datang begitu saja, tetapi perlu dikondisikan, dibina, dijaga, serta
dikembangkan secara terus menerus dan berkesinambungan.
Prinsip dalam Koordinasi
Koordinasi dilaksanakan secara berkesinambungan dan dapat berjalan dengan
baik apabila memperhatikan lima prinsip di bawah ini:
Koordinasi harus mulai dari tahap perencanaan awal.
Hal pertama yang harus diperhatikan daam koordinasi adalah menciptakan iklim
yang kondusif bagi kepentingan bersama.
Koordinasi merupakan proses yang terus-menerus dan berkesinambungan.
Koordinasi merupakan pertemuan-pertemuan bersama untuk mencapai tujuan.
Perbedaan pendapat harus diakui sebagai pengayaan dan harus dikemukakan
secara terbuka dan diselidiki dalam kaitannya dengan situasi secara keseluruhan.
Syarat-syarat Koordinasi
Syarat-syarat koordinasi antara lain:
Sense of Cooperation, perasaan untuk saling bekerja sama, dilihat per-bagian.
Rivalry adanya persaingan antar bagian, agar saling berlomba untuk kemajuan.
Team Spirit, satu sama lain per bagian harus saling menghargai.
Esprit de Corps, bagian yang saling menghargai akan makin bersemangat.
Sifat-sifat Koordinasi
Koordinasi adalah dinamis, bukan statis.
Koordinasi menekankan pandangan menyeluruh oleh seorang manajer dalam
kerangka mencapai sasaran.
Koordinasi hanya meninjau suatu pekerjaan secara keseluruhan.
Manfaat Koordinasi

57

Koordinasi sangat diperlukan dalam MBS terutama untuk menyatukan


kesamaan pandangan antara berbagai pihak yang berkepentingan dengan kegiatan
dan tujuan sekolah, baik guru, kepala sekoah, orang tua, maupun masyarakat.
Manfaat koordinasi yaitu untuk melakukan gerak sentrifugal yaitu gerakan untuk
mengembalikan kegiatan-kegiatan yang terpisah-pisah ke dalam kesatuan kegiatan
induknya. Melalui koordinasi setiap bagian yang menjalankan fungsi dengan
spesialisasi tertentu dapat disatupadukan dan dihubungkan satu sama lain
sehingga dapat menjalankan peranannya secara selaras dalam mewujudkan tujuan
bersama. Dengan demikian manfaat koordinasi dalam MBS antara lain:
a. Menghilangkan dan menghindarkan perasaan terpisahkan satu sama lain antara
pengawas, kepala sekoah, guru, dan para petugas atau personalia sekolah.
b. Menghindarkan perasaan atau pendapat bahwa dirinya atau jabatannya paling
penting.
c. Mengurangi dan menghindarkan kemungkinan timbulnya pertentangan antar
sekolah atau antara pejabat dan pelaksana.
d. Menghindarkan timbulnya rebutan fasilitas.
e. Menghindarkan terjadinya peristiwa menunggu yang membutuhkan waktu lama.
f. Menghindarkan kemungkinan terjadinya kekembaran pekerjaan sesuatu kegiatan
oleh sekolah.
g. Menghindarkan kemungkinan kekosongan pekerjaan sesuatu program oleh
sekolah-sekolah atau kekosongan pengerjaan tugas oleh kepala sekolah.
h. Menumbuhkan kesadaraan para kepala sekolah untuk saling memberikan bantuan
satu sama lain terutama bagi mereka yang berada dalam wilayah yang sama.
i. Menumbuhkan kesadaran para kepala sekolah untuk saling memberitahu masalah
yang dihadapi bersama dan bekerja sama daam memecahkannya.
j. Memberikan jaminan tentang kesatuan langkah di antara para kepala sekolah atau
para guru.
k. Menjamin adanya kesatuan langkah dan tindakan di antara kepala sekolah.
l. Menjamin kesatuan sikap di antara kepala sekolah.
m. Menjamin kesatuan kebijaksanaan di antara kepaa sekoah daam wiayah tertentu.
n. Mencegah pertengkaran antarlembaga karena berebut kekuasaan atau wewenang.
o. Menghindari saling lempar kewajiban dan tanggung jawab dalam pelaksanaan
tugas.
p. Mencegah terjadinya kesimpangsiuran.
q. Mengembangkan prakarsa dan daya improvisasi para petugas.
Manfaat utama koordinasi dalam MBS adalah untuk menumbuhkan sikap
egaiter, serta meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan di antara kepala sekolah
maupun guru-guru dengan tetap menghargai kewajiban dan wewenang masingmasing sehingga dapat menjalankan perannya secara efektif dan efisien dalam
mencapai tujuan sekolah secara kafah.
7.
Macam-macam Koordinasi
Koordinasi dalam pendidikan dapat dilaksanakan pada setiap jenjang
manajemen pendidikan, mulai dari pusat, tingkat nasional (makro), sampai tingkat
lembaga (mikro) yakni sekolah-sekolah. Koordinasi berjalan dengan baik ditandai
dengan kegiatan-kegiatan para kepala sekolah dan guru, serta pegawai lain yang
terpadu, selaras dalam mencapai suatu tujuan. Berdasarkan ruang lingkupnya
koordinasi dapat diidentifikasi ke dalam koordinasi intern dan ekstern. Koordinasi
intern adalah koordinasi antarpejabat atau antarunit di dalam suatu lembaga,
sedangkan koordinasi ekstern adalah koordinasi antara pejabat dari berbagai
lembaga atau antalembaga
Berdasarkan arah kegiatannya yaitu, koordinasi vertikal, horisontal, fungsional,
diagonal. Koordinasi vertikal terjadi antara para pejabat dengan bagian-bagian, subsub bagian dan berbagai staf lembaga yang di bawahnya. Koordinasi horisontal
yaitu koordinasi yang terjadi antarpejabat yang memiliki tingkat hierarki yang sama
dalam suatu lembaga dan antarpejabat dari berbagai lembaga yang sederajat atau
satu level. Koordinasi fungsional adalah koordinasi yang terjadi antarpejabat,
antarunit, atau antarlembaga, atas dasar kesamaan fungsi dan kepentingan.
Koordinasi diagonal adalah koordinasi antarpejabat atau unit yang memiliki
perbedaan baik dalam fungsi maupun tingkat hierarkinya.

58

Menurut Handayaningrat (1982) mengemukakan koordinasi berdasarkan


hubungan antara pejabat yang mengkoordinasikan dan pejabat yang
dikoordinasikan sebagai berikut:
a. Koordinasi intern, terbagi menjadi tiga antara lain:
1) Koordinasi vertikal (struktural) antara yang mengkoordinasikan dengan yang
dikoordinasikan secara struktural terdapat hubungan hierarkis karena satu dengan
yang lainnya berada pada satu garis komando.
2) Koordinasi horisontal yaitu koordinasi fungsional, kedudukan antara yang
mengkoordinasikan dan yang dikoordinasikan setingkat eselonnya. Menurut tugas
dan fungsinya keduanya mempunyai kaitan satu sama lain sehingga perlu dilakukan
koordinasi.
3) Koordinasi diagona, yaitu koordinasi ungsiona yang mengkoordinasikan mempunyai
kedudukan yang ebih tinggi eseonnya dibandingkan yang dikoordinasikan, tetapi
satu dengan ainnya tidak berada pada satu garis komando.
b. Koordinasi ekstern, termasuk koordinasi fungsional. Dalam koordinasi ekstern yang
bersifat fungsional, koordinasi itu hanya bersifat horisontal dan diagonal.
Menurut Siagian (1979) mengelompokkan koordinasi menjadi tiga antara lain:
a.
Koordinasi menjadi atasan dan bawahan yang disebut koordinasi vertikal.
b.
Koordinasi di antara sesama pejabat yang setingkat dalam suatu instansi disebut
koordinasi horisontal
c.
Koordinasi fungsional yaitu koordinasi antarinstansi, tiap-tiap instansi mempunyai
tugas dan fungsi daam satu bidang tertentu. Dengan begitu setiap instansi
berkewajiban untuk mengkoordinasikan kegiatannya dengan instansi lain yang
mempunyai hubungan fungsional dengannya, sehingga terwujud suatu sistem dari
berbagai komponen itu bekerja sebagai satu kesatuan utuh.
8.
Cara Melakukan Koordinasi.
Koordinasi dapat dilakukan secara formal dan informal melalui konferensi
lengkap, pertemuan berkala, pembentukan panitia gabungan, pembentukan badan
koordinasi staff, wawancara dengan bawahan, memorandum berantai, buku
pedoman lembaga, tata kerja dsb. Menurut Sutarto (1983) cara-cara koordinasi
antara lain:
a. Mengadakan pertemuan informal di antara para pejabat.
b. Mengadakan pertemuan formal (rapat).
c. Membuat edaran berantai kepada pejabat yang diperlukan.
d. Membuat penyebaran kartu kepada pejabat yang perlu dilakukan.
e. Mengangkat koordinator.
f. Membuat buku pedoman lembaga, buku pedoman tata kerja, dan buku kumpulan
peraturan.
g. Berhubungan memaluli alat perhubungan.
h. Membuat tanda-tanda.
i. Membuat simbol.
j. Membuat kode.
k. Bernyanyi bersama.
Koordinasi formal diwujudkan dalam bentuk upaya-upaya impersonal seperti
daam kehidupan birokrasi, membuat peraturan atau pedoman, mengangkat pejabat
atau panitia bersama dan dokumen resmi lainnya. Sementara cara-cara informal
dapat dilakukan dengan pembicaraan dan konsutasi pada saat bertemu diluar
kepentingan dinas. Koordinasi dalam MBS mencakup seluruh program terhadap
setiap subyek, objek, dan bidang garapan sekolah.
Koordinasi MBS akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh komunikasi
yang baik. Kominikasi dalam MBS terbagi menjadi dua yaitu, komunikasi intern dan
ekstern.
a. Komunikasi Intern
i.
Dasar, Tujuan, dan Manfaat
Dasar komunikasi yang baik antara berbagai personil harus dikembangkan
untuk mencapai hasil seoptimal mungkin. Kurang komunikasi akan mengakibatkan
kurangnya hasil yang dapat diwujudkan, bahkan sering gagal mencapai tujuan.
Tujuan : menciptakan kondisi menarik dan hangat, personil dapat bekerja terdorong
untuk berprestasi lebih baik dan mengerjakan tugas mendidik dengan penuh
kesadaran. Manfaat : mudah dalam memecahkan / menyelesaikan masalah dengan
bantuan orang (diskusi).
ii.
Prinsip Komunikasi

59

Karakteristik hubungan professional antara lain dipengaruhi tata karma


professional, terbuka untuk mengemukakan pendapat, keputusan diambil
berdasarkan pertukaran pendapat dan memberikan keputusan yang bersifat
pedoman, bukan sesuatu yang tegas dan praktis. Kepala sekolah perlu
memperhatikan prinsip dibawah ini :
a) Bersikap terbuka, tidak memaksakan kehendak tetapi bertindak sebagai fasilitator
(demokratis dan kekeluargaan).
b) Mendorong guru untuk mau dan mampu memecahkan masalah, serta mendorong
aktivitas dan kreativitas guru.
c) Mengembangkan kebiasaan untuk berdiskusi secara terbuka dan mendidik guru
untuk mau mendengar pendapat orang lain secara objektif.
d) Mendorong untuk mengambil keputusan yang baik dan mentaatinya.
e) Berlaku sebagai pengarah, pengatur pembicaraan, perantara dan pengambil
kesimpulan secara redaksional.
iii.
Memecahkan Masalah Bersama di Sekolah
a) Kegiatan pertemuan yang bersifat teratur dan berkala.
b) Guru bergiliran mengemukakan pendapat.
c) Peningkatan pengetahuan dan kemampuan professional dengan mengungkapkan
pengetahuan yang diperoleh dengan guru lain (diskusi).
b. Komunikasi Ekstern
1) Hubungan Sekolah dengan Orang Tua
Tujuan saling membantu dan saling isi mengisi mengenai bantuan keuangan
dan barang-barang, untuk mencegah perbuatan yang kurang baik, dan bersamasama membuat rencana yang baik untuk sang anak. Cara menjalin hubungan
sekolah dengan orang tua :
a) Melalui dewan sekolah : tujuannya untuk membantu menyukseskan kelancaran
proses
belajar
mengajar
di
sekolah
baik
menyangkut
perencanaan,
pelaksanaan,dan penilaian.
b) Melalui BP3 : memberi bantuan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (masalah
sarana prasarana penunjang KBM).
c) Melalui pertemuan penyerahan buku laporan pendidikan : pemberian penjelasan
tentang kegiatan belajar mengajar serta prestasi peserta didik dan kelemahan yang
perlu ditingkatkan.
d) Melalui ceramah ilmiah : menghadirkan ahli untuk menyampaikan permasalahan
dan pemecahannya dalam forum tersebut.
Hubungan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti ;
(a) proses belajar mengajar : memberi bantuan dan kemudahan belajar kepada
peserta didik; (b) bidang pengembangan bakat : pembinaan dan pengembangan
bakat agar berkembang optimal; (c) bidang pendidikan mental : untuk menghadapi
peserta didik dengan masalah kesulitan belajar karena kondisi yang kacau; (d)
bidang kebudayaan : penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar,
penanaman cinta terhadap budaya dan produk dalam negeri.
Memecahkan Masalah Bersama masalah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
masalah yang berhubungan dengan tubuhnya, mentalnya, dan belajarnya. Bila
masalah tidak dapat diselesaikan / dilayani di sekolah, guru perlu menyarankan ke
SLB/A : tuna netra, SLB/B : tuna rungu-bicara, SLB/C : mental, SLB/D : cacat tubuh,
SLB/E : tuna laras. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, guru menanamkan
pengertian agar anak tersebut tidak menjadi cemoohan. Guru secara santun
memberitahukan kondisi tersebut kepada orang tuanya agar dapat memahami dan
menerima kondisi tersebut. Adanya kerjasama humois agar tidak ada salah
pengertian dan kerjasama dalam menyelesaikan dan mencari jalan pemecahannya.
2) Hubungan Sekolah dengan masyarakat
Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat antara lain:
a) Kepentingan sekolah : memelihara kelangsungan hidup sekolah, meningkatkan
mutu pendidikan di sekolah, memperlancar kegiatan belajar mengajar, memperoleh
bantuan dan dukungan dari masyarakat dalam rangka pengembangan dan
pelaksanaan program sekolah.
b) Kebutuhan sekolah : memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
memperoleh kemajuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang

60

dihadapi masyarakat, menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan


perkembangan masyarakat, memperoleh kembali anggota masyarakat yang
terampil dan makin meningkatkan kemampuannya.
c) Saling membantu, mengisi dan menggalang bantuan keuangan serta barang
d) Program kegiatan luar sekolah, waktu libur, pengisi waktu luang.
e) Membantu pengadaan alat peraga, perpustakaan sekolah, beasiswa / orang tua
asuh.
Bidang kerjasama yang dikembangkan misalnya pendidikan kesenian yaitu
pengembangan / pembinaan bakat seni dengan membentuk perkumpulan
kemudian dikembangkan. Pendidikan olahraga misalnya manusia berkualitas yang
dicita-citakan adalah yang sehat jasmani dan rohani. Proses keterampilan yaitu
kerjasama dengan lembaga dan yayasan di masyarakat untuk menekan dana yang
dikeluarkan. Pendidikan anak berkelainan : membentuk lembaga penyelenggara
sekolah luar biasa / memberi bantuan khusus bagi anak yang memerlukan.
Hubungan dapat dijalin dengan melalui dewan sekolah, melalui rapat BP3, melalui
rapat bersama, konsultasi, radio, tv, surat, telepon, pameran sekolah (pameran
hasil karya peserta didik, pementasan,dan mencari dana) , serta melalui ceramah.

C. Supervisi
1.
Pengertian Supervisi
a. Secara Etimologi
Supervisi berasal dari kata superdan visi yang mengandung arti melihat dan
meninjau dari atas dan menilai yang dilakukan oleh pihak terhadap aktivitas,
kreativitas, dan kenerja bawahan.
b. Secara Morfologis
Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti
diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan
dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan
orang yang berposisi diatas, pimpinan terhadap hal-hal yang ada dibawahnya.
Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human,
manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak
mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi
dapat diketahui kekurangannya (bukan semata - mata kesalahannya) untuk dapat
diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
c. Secara Semantik
Supervisi merupakan pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah
perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan
belajar dan belajar pada khususnya.
d. Menurut Beberapa Ahli
1) Good Carter
Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam
memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran,
termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guruguru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode
mengajar dan evaluasi pengajaran. God Carter melihatnya sebagai usaha
memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar.
2) Boardman
Menyebutkan supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan
membimbing secara kontinu pertumbuhan guru- guru di sekolah baik secara
indivisual maupun secara kolektif / kelompok, agar lebih mengerti dan lebih efektif
dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran. Dengan demikian mereka dapat
menstimulis dan membimbing tiap- tiap pertumbuhan peserta didik secara kontinu,
serta lebih mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokratisasi
modern.
3) Wilem Mantja
Supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisior (jabatan resmi) yang dilakukan
untuk perbaikan proses belajar- mengajar (PBM).
4) Kimball Wiles

61

Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut: Supervision is assistance in


the development of a better teaching learning situation.
5) Mulyasa
Supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperab
sebagai supervisor, tetapi dalam system organisasi modern diperlukan supervisor
lebih khusus yang lebih independen dan dapat meningkatkan objektivitas dalam
peningkatan dan pembinaan tugas.
6) Ross L
Supervisi adalah pelayanan kepada guru- guru yang bertujuan menghasilkan
perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Ross L memandang supervisi
sebagai pelayanan kepada guru- guru yang menghasilkan perbaikan.
7) Purwanto
Supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para
guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi
merupakan beberapa kegiatan
diantarannya pembinaan yang kontinu,
pengembangan kemampuan professional personal, perbaikan situasi belajar
mengajar, dengan sasaran akhir pencapaian tujuan pendidikan dan pertumbuhan
pribadi peserta didik (siswa).Dalam kata lain makana supervisi adalah peroses
pelayanan yang bertujuan membina guru-guru, dan mengembangkan kemampuan
yang di miliki seorang guru agar guru tersebut menjadi guru yang profesional.
2.
Tujuan Dan Fungsi Supervisi
Berdasarkan kajian pengertian dapat disimpulkan bahwa supervisi bertujuan
mengembangkan iklim yang kondusif dan lebih baik dalam kegiatan belajar
mengajar, melalui pembinaan dn peningkatan profesi mengajar. Dengan kata lain,
tujuan supervisi pengajaran adalah membantu dan memberikan kemudahan kepada
para guru untuk belajar bagaimana meningkatkan kemampuan mereka guna
mewujudkan tujuan belajar peserta didik.
Sementara
menurut
Ametembum
(dalam
mengungkapkan bahwa tujuan supervisi adalah:

Mulyasa

2012:

157

):

1) Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk lebih memahami tujuan pendidikan
yang sebenarnya dan peranan sekolah dalam merealisasikan tujuan tersebut.
2) Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru untuk mempersiapkan
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif.
3) Membantu kepala sekolah dan guru mengadakan diagnosis secara kritis terhadap
aktivitas-aktivitasnya dan kesulitan-kesulitan belajar mengajar serta menolong
mereka merencanakan perbaikan.
4) Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru serta warga sekolah lain
terhadap cara kerja yang demokratis dan komprehensif serta memperbesar
kesediaan untuk tolong menolong.
5) Memperbesar semangat guru-guru dan meningkatkan motivasi berprestasi untuk
mengoptimalkan kinerja secara maksimal dalam profesinya,
6) Membantu kepala sekolah untuk mempopulerkan pengembangan program
pendidikan disekolah kepada masyarakat.
7) Melindungi orang-orang yang disupervisi terhadap tuntutan-tuntutan yang tidak
wajar dan kritik-kritik yang tidak sehat dari masyarakat.
8) Membantu kepala sekolah dan guru dalam mengevaluasi aktivitasnya untuk
mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.
9) Mengembangkan Rasa persatuan dan kesatuan (kolegiatas) di antara guru.
Secara umum,fungsi dari supervisi pendidikan adalah:
1) Penelitian (research) merupakan kegiatan untuk memperoloeh gambaran yang
jelas dan objektif tentang situasi pendidikan.
2) Penilaian (evaluation) merupakan tindak lanjut untuk mengetahui hasil penelitian
lebih jauh, yaitu untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi situasi
pendidikan dan pengajaran yang telah diteliti sebelumnya. Penilaian menekankan
pada aspek positif yang dapat dikembangkan daripada aspek negative atau
kekurangan dan kelemahan dari orang yang disupervisi

62

3) Perbaikan (improvement) dilakukan berdasarkan hasil penelitian dan penilaian.


Dalam hal ini, supervisor dapat mengetahui dan memahami kondisi pendidikan
pada umumnya dan proses belajar mengajar.
4)
Pengembangan merupakan upaya untuk senantiasa mempertahankan
meningkatkan kondisi- kondisi yang sudah baik yang ditemukan dari hasil penelitian
dan penilaian.
3.
Macam- macam Supervisi
Ditinjau dari objek yang disupervisi ada tiga macam supervisi, yaitu:
a. Supervisi Akademik, yang menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalahmasalah akademik, yaitu hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan kegiatan
pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu.
b. Supervisi Administrasi yang menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspekaspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksannya
pembelajaran.
c. Supervisi Lembaga yang menebarkan atau menyebarkan objek pengamatan
supervisor pada aspek-aspek yang berada di seluruh sekolah. Jika supervisi
akademik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka supervisi
lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah
secara keseluruhan.
4.
Sasaran Supervisi
Adapun sasaran utama dari pelaksanaan kagiatan supervisi tersebut adalah
peningkatan kemampuan professional guru (Depniknas, 1986;1994 & 1995).
Sasaran supervisi ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk
supervisi, antara lain:
a)

Supervisi Akademik, Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalahmasalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan
kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari
sesuatu.
b) Supervisi Administrasi, Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek
administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya
pembelajaran.
c) Supervisi Lembaga, Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek
yang berada di sekolah. Supervisi ini dimaksudskan untuk meningkatkan nama baik
sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit
Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.
5.
Prinsip- Prinsip Supervisi
Secara
sederhana
prinsipprinsip
Supervisi
http://www.sarjanaku.com/2011/05/supervisi-pendidikan.html)
adalah
berikut:

(dalam
sebagai

a) Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi


b) Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif
c)
Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan
sebenarnya.
d) Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana
e) Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan professional, bukan
didasarkan atas hubungan pribadi
f) Supervisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi dan
sikap pihak yang disupervisi
g) Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh sendiri tidak tergantung
pada kepala sekolah
6.
Tipe- Tipe Supervisi
a) Tipe Inspektur
Tipe seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan yang
otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak
sebagai Inspektur yang bertugas mengawasi pekerjaan guru. Supervisi ini
dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan
petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta
ditentukan oleh atasannya.

63

b) Tipe Laisses Faire


Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan
diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses
Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk
yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan
baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran.
c) Tipe Coersive
Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya memaksakan
kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak
cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja
dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya
mengapa harus demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat
untuk hal-hal yang bersifat awal. Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang
baru mulai mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak
tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah
yang pasti.
d) Tipe Training dan Guidance
Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal yang positif dari
supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan
bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya
kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri
tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.
e) Tipe Demokratis
Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi
dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang
memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau
warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.
7.
Teknik Supervisi
Supervisor hendaknya dapat memilih teknik- teknik supervisi yang tepat,
sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Untuk kepentingan tersebut, berikut
diuraikan beberapa teknik supervisi yang dapat dipilih dan digunakan supervisor
pendidikan, baik yang bersifat kelompok maupun individual. Teknik-teknik tersebut,
antara lain
a. Teknik supervisi bersifat kelompok
Teknik Supervisi yang bersifat kelompok ialah teknik supervisi yang dilaksanakan
dalam pembinaan guru secara bersama sama oleh supervisor dengan sejumlah
guru dalam satu kelompok (Sahertian 2008 : 86). Teknik supervisi yang bersifat
kelompok antara lain (Sagala 2010: 210-227):
1) Pertemuan Orientasi bagi guru baru
Pertemuan orientasi adalah pertemuan antara supervisor dengan supervisi
(terutama guru baru) yang bertujuan menghantar supervisi memasuki suasana
kerja yang baru.
2) Rapat Guru
Rapat Guru adalah teknik supervisi kelompok melalui rapat guru yang dilakukan
untuk membicarakan proses pembelajaan, dan upaya atau cara meningkatkan
profesi guru.
3) Diskusi
Diskusi adalah pertukaran pikiran atau pendapat melalui suatu percakapan tentang
suatu masalah untuk mencari alternatif pemecahannya. Diskusi merupakan salah
satu teknik supervisi kelompok yang digunakan supervisor untuk mengembangkan
berbagai ketrampilan pada diri para guru dalam mengatasi berbagai masalah atau
kesulitan dengan cara melakukan tukar pikiran antara satu dengan yang lain.
4) Workshop
Workshop adalah suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah
pendidik yang sedang memecahkan masalah melalui percakapan dan bekerja
secara kelompok.
b. Teknik Individual
Teknik Individual Menurut Sahertian yang dikutip oleh Sagala (2010 : 216) adalah
teknik pelaksanaan supervisi yang digunakan supervisor kepada pribadi pribadi
guru guna peningkatan kualitas pengajaran disekolah. Teknik teknik individual
dalam pelaksanaan supervisi antara lain:

64

1) Teknik Kunjungan Kelas


Kunjungan dan observasi kelas sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi
tentang peroses belajar mengajar secara langsung, baik yang menyangkut
kelebihan, maupun kekurangan dan kelemahannya. Kepala sekolah mengamati
langsung guru saat melaksanakan tugas, mengajar, penggunaan alat, metode,
teknik mengajar, secara keseluruhan dengan berbagai factor yang mempengaruhi.
Ada tiga pola yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini, yaitu tanpa memberitahu
guru, memberi tahu lebih dahulu, dan kunjungan atas undangan guru.
2) Pembicaraan individual
Merupakan alat supervisi yang penting karena dalam kesempatan tersebut
supervisor dapat bekerja secara individu dengan guru dalam memecahkan masalah
pribadi yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
3) Demonstrasi mengajar
Proses belajar mengajar yang yang dilakukan oleh seorang guru yang memiliki
kemampuan dalam hal mengajar sehingga guru lain dapat mengambil hikmah dan
manfaatnya. Tujuannya memberi contoh bagaimana cara melaksanakan proses
belajar mengajar yang baik dalam menyajikan materi, menggunakan pendekatan,
metode, dan media pembelajaran.
Selain teknik-teknik diatas, ada teknik lain yang bisa digunakan antara lain
diskusi panel, seminar, symposium, demonstrasi mengajar, bulletin supervisi
bahkan penilaian diri sendiri berkaiatan dengan pelaksanaan tugas oleh para guru.

65

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan

1.

Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi


tentang pelaksanaan MBS. evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan
informasi tentang hasil MBS. MBS sebagai sistem, memiliki komponen-komponen
yang saling terkait secara sistematis satu sama lain, yaitu konteks, input, proses,
output, dan outcome. Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah, yaitu internal
dan eksternal.
2.
Koordinasi merupakan penempatan berbagai kegiatan yang berbeda-beda pada
keharusan tertentu, sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan
dengan sebaik-baiknya melalui proses yang tidak membosankan. Karakteristik
koordinasi menunjukkan bahwa keselarasan tindakan perlu selalu diupayakan untuk
mencapai tujuan bersama, dan koordinasi yang memadai tidak datang begitu saja,
tetapi perlu dikondisikan, dibina, dijaga, serta dikembangkan secara terus menerus
dan berkesinambungan. Koordinasi dapat berjalan dengan baik apabila
memperhatikan prinsip koordinasi. Manfaat koordinasi untuk mengembalikan
kegiatan-kegiatan yang terpisah-pisah ke dalam kesatuan kegiatan induknya.
Berdasarkan ruang lingkupnya koordinasi dibagi dua, yaitu koordinasi intern dan
ekstern.
3.
Supervisi yaitu suatu kegiatan yang menekankan pada pembinaan dan
peningkatan kemampuan serta kinerja tenaga kependidikan di sekolah dalam
melaksanakan tugas. Tujuan supervisi adalah membantu dan memberikan
kemudahan kepada para guru untuk belajar bagaimana meningkatkan kemampuan
mereka guna mewujudkan tujuan belajar peserta didik. Supervisor hendaknya dapat
memilih teknik- teknik supervisi yang tepat, sesuai dengan tujuan yang akan
dicapai. Teknik-teknik tersebut, antara lain kunjungan dan observasi kelas,
pembicaraan
individual, diskusi
kelompok,
demonstrasi
mengajar,
dan
perpustakaan professional.
29

B.
1.

Saran
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi hendaknya selalu dilaksanakan secara
konsisten dan terjadwal, sehingga proses dari MBS dapat berjalan dengan baik dan
hasilnya dapat maksimal.
2.
Agar koordinasi berjalan maksimal, maka perlu ditingkatkan rasa kesatuan dan
persatuan di antara kepala sekolah maupun guru-guru dengan tetap menghargai
kewajiban dan wewenang masing-masing sehingga dapat menjalankan perannya
secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan sekolah secara kafah.
3.
Agar menghasilkan pembelajaran yang efesien dan efektif maka sterategi
manajemen berbasis sekolah harus diterapkan oleh supervisor guna meningkatkan
keunggulan suatu lembaga sekolah tersebut.

66

67

STUDI KASUS

SD XX mempunyai Kepala Sekolah bernama Supardjo. Beliau menjabat di SD


tersebut baru sekitar setahun, karena mutasi dari SD YY. Selama dipimpin oleh
beliau SD tersebut mengalami penurunan baik dari segi akademis maupun nonakdemis. Hal tersebut terlihat dari tingkat kelulusan yang menurun dan tidak
prenah menjuarai bidang olahraga maupun seni. Guru- guru di SD tersebut juga
tidak dapat bekerjasama dan hanya mementingkan kelas yang diampunya. Masalah
lain yang timbul yaitu banyaknya guru tidak tetap (GTT) yang mengisi kelas di SD
tersebut. Dari segi koordinasi, kepala Sekolah tersebut jarang mengadakan rapat
yang terkait dengan evaluasi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Masalah- masalah yang timbul karena kurangnya pengawasan dan koordinasi yang
dilakukan oleh Kepala Sekolah. Bagaimana cara menyelesaikan permasalahan
tersebut agar sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan?
Solusi yang ditawarkan adalah sebagai berikut.

Kepala Sekolah tersebut dimutasi dan diganti dengan yang baru dengan alasan
kinerja dan kepemimpinannya kurang baik. Dan apabila dipertahankan
kemungkinan mutu pendidikan di SD tersebut akan semakin menurun
Pengawas meninjau SD tersebut karena prestasi SD tergolong rendah. Pengawas
memberikan arahan dan bimbingan supaya memperbaiki kinerja dan
kepemimpinannya dan Kepala Sekolah disarankan untuk mengikuti kegiatan yang
dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinnannya. Selain itu, Kepala Sekolah
meningkatkan koordinasi dengan melakukan rapat satu minggu sekali untuk
mengevaluasi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Guru- guru tidak menghiraukan perintah dari Kepala Sekolah dengan alasan
Kepala Sekolah tidak dapat menjadi teladan yang baik sehingga mereka berfikiran
akan lebih baik jika melakukan tindakan dengan inisiatif dari guru- guru tersebut.

68

DAFTAR PUSTAKA

Boediono, dkk. 2001. Manajemen Berbasis Sekolah untuk Sekolah Dasar. Jakarta:
Direktorat TK dan SD.
Depdiknas, 2001. Panduan Monitoring dan Evaluasi dalam Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah. Jakarta: Dikmenum
http://adisujai.wordpress.com/2010/08/15/manajemen-berbasis-sekolah-solusipeningkatan-kualitas-pendidikan-bagian-3/
http://heru-moerdhani.blogspot.com/2012/06/supervisi-dalam-manajemen-berbasis.html
Sujak, Abi, dkk. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Kemendiknas
Iskandar Uray. 2012. Macam- macam Supervisi. Di akses dari http://urayiskandar.blogspot.com/2012/09/macam-macam-supervisi.html pada tanggal 30 Mei
2013
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
0 komentar:
Poskan Komentar
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Social Profiles

Search

Popular

Tags

Blog Archives

Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats)


BAB I PENDAHULUAN A.
Latar Belakang .Analisis SWOT ( Strengths,
Weaknesses, Opportunities, and Threats ) telah menjadi salah ...

MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN


MODEL PEMBELAJARAN I.
PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN Metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk ...

MODEL PEMBELAJARAN TERPADU YANG DIKEMBANGKAN DI PGSD / SD


BAB I PENDAHULUAN A.
LATAR BELAKANG Pembelajaran terpadu
merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaj...

KEPRIBADIAN DAN PROFESIONALISME GURU


BAB I PENDAHULUAN A.
LATAR BELAKANG
Era globalisasi
memberikan dampak positif sekaligus negatif bagi dunia pendid...

69

MENYUSUN KALIMAT TANTANGAN, VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN


MANAJEMEN BERBASISI SEKOLAH
BAB I PENDAHULUAN A.
Latar Belakang Salah satu aspek penting dalam
implementasi MBS adalah perencanaan. Perencanaan merupak...

PERBEDAAN PENDIDIKAN INKLUSI, SEGREGASI DAN REGULER


BAB I PENDAHULUAN A.
LATAR BELAKANG Berdasarkan Undang Undang
Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang Undang Nomor 20 tahun ...

STRATEGI PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS GURU


BAB I PENDAHULUAN A.
Latar Belakang Sejak tahun 2005, isu mengenai
profesionalitas guru gencar dibicarakan di Indonesia . P...

KONSEP PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


BAB I PENDAHULUAN A.
Latar Belakang Peningkatan kualitas, efektifitas
dan efesiensi tidak hanya tergantung pada teknologi m...

ORGANISASI PROFESI
MAKALAH ORGANISASI PROFESI Mata Kuliah
Pengampu
: Warsiti , S.Pd., M.Pd.

: Profesi Kependidikan
...

PENDIDIKAN INDONESIA DARI MASA KE MASA


BAB I PENDAHULUAN A.
Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pros...

Digital clock
Profil

syukron zahidi
Lihat profil lengkapku

Categories

Global

Ilmu Pendidikan

Kebudayaan

Kesenian

Manajemen Berbasis Sekolah

Media Pembelajaran

Metodologi Penelitian

Pembelajaran Terpadu

Pendidikan Inklusi

70

Profesi Kependidikan

Psikologi

Strategi Pembelajaran

Copyright 2016 Perpus Kecilku | Powered by Blogger


Design by FThemes | Blogger Theme by Lasantha - Free Blogger Themes |
NewBloggerThemes.com

71

Pengertian MBS
Manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model
pengelolaan
yang
memberikan otonomi
(kewenangan dan
tanggungjawab) lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/
keluwesan
keluwesan
kepada
sekolah,
dan
mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa,
kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh
masyarakat,
ilmuwan,
pengusaha,
dan
sebagainya.),
untuk
meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan
nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan
otonomi tersebut, sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab
untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan,
kemampuan
dan
tuntutan
sekolah
serta
masyarakat
atau stakeholder yang
ada.
(Catatan:
MBS
tidak
dibenarkan
menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku).

Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian dalam


mengatur dan mengurus dirinya sendiri, kemandirian dalam program
dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah.
Pada gilirannya, kemandirian yang berlangsung secara terus menerus
akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah
(sustainabilitas). Istilah otonomi juga sama dengan istilah swa,
misalnya swasembada, swakelola, swadana, swakarya, dan swalayan.
Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan
mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan
72

perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Tentu saja


kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah
kemampuan, yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik,
kemampuan
berdemokrasi/menghargai
perbedaan
pendapat,
kemampuan memobilisasi sumberdaya, kemampuan memilih cara
pelaksanaan yang terbaik, kemampuan berkomunikasi dengan cara
yang efektif, kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah,
kemampuan adaptif dan antisipatif, kemampuan bersinergi dan
berkolaborasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri.
Dengan otonomi yang lebih besar, sekolah memiliki kewenangan dan
tanggungjawab yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya,
sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan kemandiriannya, sekolah lebih
berdaya dalam mengembangkan program-program yang, tentu saja,
lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi yang dimiliki.
Dengan fleksibilitas/keluwesan-keluwesannya, sekolah akan lebih
lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah
secara optimal.
Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan
yang terbuka dan demokratik, di mana warga sekolah (guru, siswa,
karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat,
ilmuwan, usahawan, dan sebagainya.) didorong untuk terlibat secara
langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari pengambilan
keputusan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan yang diharapkan
dapat meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini dilandasi oleh keyakinan
bahwa
jika
seseorang
dilibatkan
(berpartisipasi)
dalam
penyelenggaraan pendidikan, maka yang bersangkutan akan
mempunyai rasa memiliki terhadap sekolah, sehingga yang
bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi
sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. Singkatnya: makin besar
tingkat partisipasi, makin besar pula rasa memiliki; makin besar rasa
memiliki, makin besar pula rasa tanggungjawab; dan makin besar rasa
tanggungjawab, makin besar pula dedikasinya.
Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah
harus mempertimbangkan keahlian, batas kewenangan, dan
relevansinya dengan tujuan partisipasi. Peningkatan partisipasi warga
sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu
menciptakan keterbukaan, kerjasama yang kuat, akuntabilitas, dan
demokrasi
pendidikan.
Keterbukaan
yang
dimaksud
adalah
keterbukaan dalam program dan keuangan. Kerjasama yang dimaksud
adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif
untuk meningkatkan mutu sekolah. Kerjasama sekolah yang baik
ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat, hubungan
sekolah dan masyarakat erat, dan adanya kesadaran bersama
bahwa output sekolah
merupakan
hasil
kolektif teamwork yang
kompak, cerdas dan dinamis. Akuntabilitas sekolah adalah
pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya, masyarakat
dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan
secara terbuka. Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang
73

terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai


perbedaan, hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk
meningkatkan mutu pendidikan.
Partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan sekolah telah diatur
dalam
suatu
kelembagaan
yang
disebut
dengan
Komite
Sekolah. Secara resmi keberadaan Komite Sekolah ditunjukkan melalui
Surat Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan
Pendidikan dan Komite Sekolah. Dalam hal pembentukannya, Komite
Sekolah menganut prinsip transparansi, akuntabilitas, dan demokrasi.
Komite Sekolah diharapkan menjadi mitra sekolah yang dapat
mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam
melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah.
Tugas dan fungsi Komite Sekolah antara lain mendorong tumbuhnya
perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu; mendorong orangtua dan masyarakat
berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu
dan pemerataan pendidikan; dan menggalang dana masyarakat dalam
rangka
pembiayaan
penyelenggaraan
pendidikan
di
satuan
pendidikan.
Selain itu, Komite Sekolah juga dapat memberikan masukan dan
pertimbangan kepada sekolah tentang kebijakan dan program
pendidikan, rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah.
Pendeknya, Komite Sekolah diharapkan berperan sebagai pendukung,
pemberi pertimbangan, mediator dan pengontrol penyelenggaraan
pendidikan di sekolah.
Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang
diberikan kepada sekolah untuk mengelola, memanfaatkan dan
memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk
meningkatkan mutu sekolah. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih
besar diberikan kepada sekolah, maka sekolah akan lebih lincah dan
tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola,
memanfaatkan dan memberdayakan sumberdayanya. Dengan cara ini,
sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala
tantangan yang dihadapi. Namun demikian, keluwesan-keluwesan
yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan
perundang-undangan yang ada.
Dengan pengertian di atas, maka sekolah memiliki kemandirian lebih
besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan
mutu, menyusun rencana peningkatan mutu, melaksanakan rencana
peningkatan mutu, dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan
mutu), memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah, dan
memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang
berkepentingan dengan sekolah. Dengan kepemilikan ketiga hal ini,
maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses
pendidikan, sedang unit-unit di atasnya (Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Departemen

74

Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan


sekolah, khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu.
Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: sifat
ketergantungan
rendah;
kreatif
dan
inisiatf,
adaptif
dan
antisipatif/proaktif terhadap perubahan; memiliki jiwa kewirausahaan
tinggi (inovatif, gigih, ulet, berani mengambil resiko, dan sebagainya);
bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah; memiliki kontrol yang
kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya; memiliki kontrol
yang kuat terhadap kondisi kerja; komitmen yang tinggi pada dirinya;
dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. Selanjutnya, bagi
sumberdaya manusia sekolah yang berdaya, pada umumnya, memiliki
ciri-ciri:
pekerjaan
adalah
miliknya,
dia
bertanggungjawab,
pekerjaannya memiliki kontribusi, dia tahu posisinya di mana, dia
memiliki kontrol terhadap pekerjaannya, dan pekerjaannya merupakan
bagian hidupnya.
Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan
warga
sekolah
adalah:
pemberian
kewenangan,
pemberian
tanggungjawab, pekerjaan yang bermakna, pemecahan masalah
sekolah secara teamwork, variasi tugas, hasil kerja yang terukur,
kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri, tantangan,
kepercayaan, didengar, ada pujian, menghargai ide-ide, mengetahui
bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah, kontrol yang luwes,
dukungan, komunikasi yang efektif, umpan balik bagus, sumberdaya
yang dibutuhkan ada, dan warga sekolah diberlakukan sebagai
manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi.

Tujuan MBS
MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian
kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah
yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang
baik yaitu partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Peningkatan
kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas,
efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan inovasi pendidikan.
Dengan MBS, sekolah diharapkan makin mampu dan berdaya dalam
mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada
koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. Perlu digarisbawahi
bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsipprinsip tata kelola yang baik (partisipasi, transparansi, akuntabilitas,
dan sebagainya)

.
Karakteristik MBS
75

Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu


dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. Dengan kata lain,
jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MBS, maka sejumlah
karakteristik MBS berikut perlu dimiliki. Berbicara karakteristik MBS
tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. Jika MBS
merupakan wadah/kerangkanya, maka sekolah efektif merupakan
isinya. Oleh karena itu, karakteristik MBS berikut memuat secara
inklusif elemen-elemen sekolah efektif, yang dikategorikan menjadi
input, proses, dan output.
Dalam menguraikan karakteristik MBS, pendekatan sistem yaitu inputproses-output digunakan untuk memandunya. Hal ini didasari oleh
pengertian bahwa sekolah merupakan sistem sehingga penguraian
karakteristik MBS (yang juga karakteristik sekolah efektif)
mendasarkan pada input, proses, dan output. Selanjutnya, uraian
berikut
dimulai
dari output dan
diakhiri input, mengingat output memiliki
tingkat
kepentingan
tertinggi, sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat
lebih rendah dari output, dan input memiliki tingkat kepentingan dua
tingkat lebih rendah dari output.

a. Output yang Diharapkan


Sekolah memiliki output yang diharapkan. Output sekolah adalah
prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan
manajemen di sekolah. Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic
achievement) dan
output
berupa
prestasi
non-akademik (nonacademic achievement). Output prestasi akademik misalnya,
NUN/NUS, lomba karya ilmiah remaja, lomba (Bahasa Inggris,
Matematika, Fisika), cara-cara berpikir (kritis, kreatif/ divergen, nalar,
rasional, induktif, deduktif, dan ilmiah). Output non-akademik,
misalnya keingintahuan yang tinggi, harga diri, akhlak/budipekerti,
perilaku sosial yang baik seperti misalnya bebas narkoba, kejujuran,
kerjasama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama,
solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi
olahraga, kesenian, dan kepramukaan.

b. Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik
proses sebagai berikut:
1) Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi
2) Kepemimpinan Sekolah yang Kuat
3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib
4) Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif
76

5) Sekolah Memiliki Budaya Mutu


6) Sekolah Memiliki Teamwork yang Kompak, Cerdas, dan Dinamis
7) Sekolah Memiliki Kewenangan
8) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat
9) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen
10) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik)
11) Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan
12) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan
13) Memiliki Komunikasi yang Baik
14) Sekolah Memiliki Akuntabilitas
15) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus
16) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas
c. Input Pendidikan
1) Memiliki Kebijakan, Tujuan, dan Sasaran Mutu yang Jelas
2) Sumberdaya Tersedia dan Siap
3) Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi
4) Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi
5) Fokus pada Pelanggan (Khususnya Siswa)
6) Input Manajemen

Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggungjawab Sekolah


Secara
umum,
pergeseran
dimensi-dimensi
pendidikan
dari
manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah telah
diuraikan pada Butir A. Secara lebih spesifik, pertanyaannya
adalah: Urusan-urusan apa sajakah yang perlu menjadi kewenangan
dan tanggungjawab sekolah? Pada dasarnya Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urutan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah kabupaten/Kota harus digunakan sebagai acuan
dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan demikian, desentralisasi
urusan-urusan pendidikan harus dalam koridor peraturan perundangundangan yang berlaku. Perlu dicatat bahwa desentralisasi bukan
berarti semua urusan di limpahkan ke sekolah. Artinya, tidak semua
urusan di desentralisasikan sepenuhnya ke sekolah, sebagian urusan
masih merupakan kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah,
pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan sebagian urusan
lainnya diserahkan ke sekolah. Berikut adalah urusan-urusan
77

pendidikan yang sebagian menjadi kewenangan dan tanggungjawab


sekolah, yaitu: (a) proses belajar mengajar, (b) perencanaan dan
evaluasi program sekolah, (c) pengelolaan kurikulum, (d) pengelolaan
ketenagaan, (e) pengelolaan peralatan dan perlengkapan, (f)
pengelolaan keuangan, (g) pelayanan siswa, (h) hubungan sekolahmasyarakat, dan (i) pengelolaan kultur sekolah.

Pelaksanaan MBS
Esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah, peningkatan
partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan, dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumberdaya
sekolah. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS
sudah
sepantasnya
menerapkan
pendekatan
idiograpik
(membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan
bukan lagi menggunakan pendekatan nomotetik (cara melaksanakan
MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah). Oleh
karena itu, dalam arti yang sebenarnya, tidak ada satu resep
pelaksanaan MBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah.
Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan
manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah
bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot
and quick-fix), akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara
terus menerus dan melibatkan semua pihak yang berwenang dan
bertanggungjawab dalam penyelenggaraan sekolah. Paling tidak,
proses menuju MBS memerlukan perubahan empat hal pokok berikut:
Pertama, perlu penyempurnaan peraturan-peraturan, ketentuanketentuan, dan kebijakan-kebijakan bidang pendidikan yang ada di
daerah saat ini yang masih mendudukkan sekolah sebagai subordinasi
birokrasi dinas pendidikan dan kedudukan sekolah bersifat marginal,
menjadi sekolah yang bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai
unit utama.
Kedua, kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah
perlu disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan
berperilaku
baru
yang
mandiri,
kreatif,
proaktif,
sinergis,
koordinatif/kooperatif, integratif, sinkron, luwes, dan professional.
Ketiga, peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang
diputuskan oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi sekolah
yang bermotivasi-diri tinggi (self-motivator). Perubahan peran ini
merupakan konsekuensi dari perubahan peraturan perundangundangan bidang pendidikan, baik undang-undang, peraturan
pemerintah, peraturan presiden,dan peraturan menteri.
Keempat, hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah, antara
sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas
Pendidikan Provinsi perlu diperbaiki atas dasar jiwa otonomi. Karena itu
struktur organisasi pendidikan yang ada saat ini perlu ditata kembali
78

dan kemudian dianalisis hubungan antar unsur/pihak untuk


menentukan sifat hubungan (direktif, koordinatif atau fasilitatif).

Tahap-tahap Pelaksanaan MBS


1. Melakukan Sosialisasi MBS
Secara umum, garis-garis besar kegiatan sosialisasi/pembudayaan MBS
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Baca dan pahamilah sistem, budaya, dan sumberdaya yang ada di
sekolah secara cermat dan refleksikan kecocokannya dengan sistem,
budaya, dan sumberdaya baru yang diharapkan dapat mendukung
penyelenggaraan MBS;
b. Identifikasikan sistem, budaya, dan sumberdaya yang perlu diperkuat
dan yang perlu diubah, dan kenalkan sistem, budaya, dan sumberdaya
baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MBS;
c. Buatlah komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang
bertanggungjawab, jika terjadi perubahan sistem, budaya, dan
sumberdaya yang cukup mendasar;
d. Bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasikan
visi, misi, tujuan, sasaran, rencana, dan program-program
penyelenggaraan MBS;
e.

Hadapilah status quo (resistensi) terhadap perubahan, jangan


menghindar dan jangan menarik darinya serta jelaskan mengapa
diperlukan perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi MBS;

f.

Garisbawahi prioritas sistem, budaya, dan sumberdaya yang belum


ada sekarang, akan tetapi sangat diperlukan untuk mendukung visi,
misi, tujuan, sasaran, rencana, dan program-program penyelenggaraan
MBS dan doronglah sistem, budaya, dan sumberdaya manusia yang
mendukung penerapan MBS serta hargailah mereka (unsur-unsur) yang
telah memberi contoh dalam penerapan MBS; dan

g. Pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi,


misi, tujuan, sasaran, rencana, dan program-program MBS yang telah
disepakati.
2.

Memperbanyak Mitra Sekolah

3. Merumuskan
Kembali
Aturan
Sekolah,
Peran
Unsur-unsur
Sekolah, Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah
4. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik
5. Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah
6. Meningkatkan Kapasitas Sekolah
7. Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab
79

8. Menyusun
Rencana
Pengembangan
Sekolah
Melaksanakan, dan Memonitor serta Mengevaluasinya

(RPS/RKAS),

Konsep Partisipasi
Salah satu alasan penerapan MBS adalah untuk membuat
kebijakan/keputusan
sekolah
lebih
dekat
dengan stakeholders sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan
aspirasi stakeholders. Untuk itu, MBS mensyaratkan adanya partisipasi
aktif dari semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan
pendidikan di sekolah (stakeholders), baik warga sekolah seperti guru,
kepala sekolah, siswa, dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya,
maupun warga di luar sekolah seperti orang tua siswa, akademisi,
tokoh masyarakat, dan pihak-pihak lain yang mewakili masyarakat
yang diwadahi melalui komite sekolah. Saat ini, Komite Sekolah
merupakan wadah formal bagi stakeholders untuk berpartisipasi
secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan
sekolah.
Peningkatan partisipasi dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi
tingkat partisipasi, makin besar rasa memiliki; makin besar rasa
memiliki, makin besar pula rasa tanggungjawab; dan makin besar rasa
tanggungjawab, makin besar pula tingkat dedikasi/kontribusinya
terhadap sekolah. Inilah pentingnya partisipasi bagi sekolah.

Arti Partisipasi
Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga sekolah dan
masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif,
secara langsung maupun tidak langsung, dalam pengambilan
keputusan,
pembuatan
kebijakan,
perencanaan,
pelaksanaan,
pengawasan/ pengevaluasian pendidikan sekolah. Diharapkan,
partisipasi dapat mendorong warga sekolah dan masyarakat sekitar
untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan pendapat dalam
proses pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan, perencanaan,
pelaksanaan,
pengawasan/pengevaluasian
yang
menyangkut
kepentingan sekolah, baik secara individual maupun kolektif, secara
langsung maupun tidak langsung.
Pergeseran lokus kebijakan dari pemerintah pusat dan dari
dinas pendidikan ke sekolah diharapkan proses pengambilan
keputusan, pembuatan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan/ pengevaluasian pendidikan lebih partisipatif dan benarbenar mengabdi kepada kepentingan publik dan bukan pada
kepentingan elite birokrasi dan politik. Dengan partisipasi aktif
80

diharapkan
mampu
menjadikan
aspirasi stakeholders sebagai
panglima karena dengan MBS diharapkan mampu mengalirkan
kekuasaan dari pemerintah pusat dan dinas pendidikan ke tangan para
pengelola sekolah, yang sebenarnya sangat strategis karena pada
level inilah keputusan dapat memperbaiki mutu pendidikan.

Tujuan Partisipasi
Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1) meningkatkan
dedikasi/
kontribusi stakeholders terhadap
penyelenggaraan
pendidikan
di
sekolah,
baik
dalam
bentuk
jasa
(pemikiran/intelektualitas, keterampilan), moral, finansial, dan
material/barang; (2) memberdayakan kemampuan yang ada
pada stakeholders bagi
pendidikan
untuk
mewujudkan
tujuan
pendidikan nasional; (3) meningkatkan peran stakeholders dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah, baik sebagai advisor,
supporter, mediator, controller, resource linker, and education
provider, dan (4) menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang
diambil
benar-benar
mencerminkan
aspirasi stakeholders dan
menjadikan
aspirasi stakeholders sebagai
panglima
bagi
penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi


Untuk mencapai tujuan tersebut, upaya-upaya yang perlu dilakukan
oleh
sekolah
dalam
rangka
meningkatkan
partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut.
(1)
Membuat peraturan dan pedoman sekolah yang dapat
menjamin hak stakeholders untuk menyampaikan pendapat dalam
segala proses pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan,
perencanaan,
pelaksanaan,
dan
pengawasan/pengevaluasian
pendidikan di sekolah.
(2)
Menyediakan sarana partisipasi atau saluran komunikasi
agar stakeholders dapat mengutarakan pendapatnya atau dapat
mengekspresikan keinginan dan aspirasinya melalui pertemuan umum,
temu wicara, konsultasi, penyampaian pendapat secara tertulis,
partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan,
pembuatan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan/
pengevaluasian pendidikan di sekolah.
(3)
Melakukan advokasi, publikasi, komunikasi, dan transparansi
kepada stakeholders.
(4)
Melibatkan stakeholders secara
proporsional
dengan
mempertimbangkan relevansi pelibatannya, batas-batas yurisdiksinya,
kompetensinya, dan kompatibilitas tujuan yang akan dicapainya.

81

Indikator Keberhasilan Partisipasi


Keberhasilan
peningkatan
partisipasi stakeholders dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan beberapa
indikator berikut:
(1)
Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal
(pemikiran, keterampilan), finansial, moral, dan material/barang.
(2)
Meningkatnya
kepercayaan stakeholders kepada
terutama menyangkut kewibawaan dan kebersihan.

jasa

sekolah,

(3) Meningkatnya
tanggungjawab stakeholders terhadap
penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
(4) Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan saran)
untuk peningkatan mutu pendidikan.
(5)
Meningkatnya kepedulian stakeholders terhadap setiap langkah
yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan mutu.
(6)
Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar
mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan mampu
meningkatkan kualitas pendidikan.

Konsep Transparansi
Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh publik
untuk menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Mengingat
sekolah adalah organisasi pelayanan publik, maka sekolah harus
transparan kepada publik mengenai proses dan hasil pendidikan yang
dicapai. Transparansi dicapai melalui kemudahan dan kebebasan publik
untuk memperoleh informasi dari sekolah. Bagi publik, transparansi
bukan lagi merupakan kebutuhan tetapi hak yang harus diberikan oleh
sekolah sebagai organisasi pelayanan pendidikan.
Hak publik atas informasi yang harus diberikan oleh sekolah antara
lain: hak untuk mengetahui, hak untuk menghadiri pertemuan sekolah,
hak untuk mendapatkan salinan informasi, hak untuk diinformasikan
tanpa harus ada permintaan, dan hak untuk menyebarluaskan
informasi. Oleh karena itu, sekolah harus memberikan jaminan kepada
publik terhadap akses informasi sekolah atau kebebasan memperoleh
informasi sekolah. Kebebasan memperoleh informasi sekolah dapat
dicapai jika dokumentasi informasi sekolah tersedia secara mutakhir,
baik kualitas maupun kuantitas
Pengembangan transparansi sangat diperlukan untuk membangun
keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah. Dengan
transparansi yang tinggi, publik tidak lagi curiga terhadap sekolah dan
karenanya keyakinan dan kepercayaan publik terhadap sekolah juga
tinggi. .

82

Arti Transparansi
Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang yang
terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan
hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Dalam konteks
pendidikan, istilah transparansi sangatlah jelas yaitu kepolosan, apa
adanya, tidak bohong, tidak curang, jujur, dan terbuka terhadap publik
tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah. Ini berarti bahwa sekolah
harus memberikan informasi yang benar kepada publik. Transparansi
menjamin bahwa data sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas.
Jika terdapat perubahan pada status data dalam laporan suatu sekolah,
transparansi penuh menyaratkan bahwa perubahan itu harus
diungkapkan secara sebenarnya dan dengan segera kepada semua
pihak yang terkait (stakeholders).

Tujuan Transparansi
Pengembangan transparansi ditujukan untuk membangun kepercayaan
dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah organisasi
pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa. Bersih dalam arti
tidak KKN dan berwibawa dalam arti profesional. Transparansi
bertujuan untuk menciptakan kepercayaan timbal balik antara sekolah
dan publik melalui penyediaan informasi yang memadai dan menjamin
kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat.
Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi
Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi
sekolah dan dengan demikian mempermudah publik untuk
berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Upayaupaya yang perlu dilakukan dalam kerangka meningkatkan
transparansi sekolah kepada publik antara lain melalui pendayagunaan
berbagai jalur komunikasi, baik secara langsung melalui temu wicara,
maupun secara tidak langsung melalui jalur media tertulis (brosur,
leaflet, newsletter, pengumuman melalui surat kabar) maupun media
elektronik (radio dan televisi lokal).
Upaya lain yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan
transparansi adalah menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara
mendapatkan informasi, bentuk informasi yang dapat diakses oleh
publik ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia, bagaimana cara
mendapatkan informasi, durasi waktu untuk mendapatkan informasi,
dan prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada publik.
Sekolah perlu mengupayakan peraturan yang menjamin hak publik
untuk mendapatkan informasi sekolah, fasilitas database, sarana
informasi dan komunikasi, dan petunjuk penyebarluasan produkproduk dan informasi yang ada di sekolah maupun prosedur
pengaduan.
Indikator Keberhasilan Transparansi
83

Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa indikator


berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan publik kepada
sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa, (2) meningkatnya
partisipasi
publik
terhadap
penyelenggaraan
sekolah,
(3)
bertambahnya
wawasan
dan
pengetahuan
publik
terhadap
penyelenggaraan sekolah, dan (4) berkurangnya pelanggaran terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku di sekolah.

Konsep Akuntabilitas
MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada penyelenggara
sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan mengurus sekolah,
mengambil keputusan, mengelola, memimpin, dan mengontrol
sekolah. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam
menyelenggarakan sekolah, maka sekolah harus bertanggungjawab
terhadap apa yang dikerjakan. Untuk itu, sekolah berkewajiban
mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan
sebagai konsekwensi dari mandat yang diberikan oleh publik/
masyarakat. Ini berarti, akuntabilitas publik akan menyangkut hak
publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara
sekolah. Publik sebagai pemberi mandat dapat memberi penilaian
terhadap penyelenggara sekolah apakah pelaksanaan mandat
dilakukan secara memuaskan atau tidak. Dalam kaitannya dengan
akuntabilitas, publik mempunyai hak untuk memberikan masukan, hak
diinformasikan, hak untuk komplain, dan hak untuk menilai kinerja
sekolah.

Arti Akuntabilitas
Akuntabilitas
adalah
kewajiban
untuk
memberikan
pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja
dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki
hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau
pertanggjawaban. Pertanggung jawaban penyelenggara sekolah
merupakan akumulasi dari keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas
pokok dan fungsi sekolah yang perlu disampaikan kepada
publik/stakeholders. Akuntabilitas kinerja sekolah adalah perwujudan
kewajiban
sekolah
untuk
mempertanggungjawabkankeberhasilan/kegagalan
pelaksanaan
rencana sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah
ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik.
Akuntabilitas meliputi
pertanggungjawaban
penyelenggara
sekolah yang diwujudkan melalui transparansi dengan cara
menyebarluaskan informasi dalam hal: (a) pembuatan dan
pelaksanaan kebijakan serta perencanaan, (b) anggaran pendapatan
dan belanja sekolah, (c) pengelolaan sumberdaya pendidikan di
sekolah, dan (d) keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan rencana
sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
84

Menurut jenisnya, akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4: (1)


akuntabilitas kebijakan, yaitu akuntabilitas pilihan atas kebijakan yang
akan
dilaksanakan,
(2)
akuntabilitas
kinerja (product/quality
accountability), yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan
pencapaian tujuan sekolah, (3) akuntabilitas proses, yaitu akuntabilitas
yang berhubungan dengan proses, prosedur, aturan main, ketentuan,
pedoman, dan sebagainya., dan (4) akuntabilitas keuangan (kejujuran)
atau sering disebut (financial accountability), yaitu akuntabilitas yang
berhubungan dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and
cash out). Sering kali istilah cost accountability juga digunakan untuk
kategori akuntabilitas ini.

Tujuan Akuntabilitas
Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya
akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu prasyarat untuk
terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. Penyelenggara sekolah
harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan
hasil kerja kepada publik. Selain itu, tujuan akuntabilitas adalah untuk
menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan
pendidikan
yang
diselenggarakan
oleh
sekolah,
untuk
mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan,
dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan
kepada publik.
Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator
yang jelas. Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil evaluasi
harus dipublikasikan dan apabila terdapat kesalahan harus diberi
sanksi. Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan
hasil kinerja sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan sebelumnya.

Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas


Agar sekolah memiliki akuntabilitas
diupayakan hal-hal sebagai berikut.

yang

tinggi,

maka

perlu

a) Sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas


termasuk mekanisme pertanggungjawaban. Ini perlu diupayakan untuk
menjaga kepastian tentang pentingnya akuntabilitas.
b) Sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem
pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan
dengan sanksi yang jelas dan tegas.
c) Sekolah
menyusun
menyampaikan kepada
anggaran.

rencana
pengembangan
sekolah
dan
publik/stakeholders di awal setiap tahun

85

d) Menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah


dan disampaikan kepada stakeholders.
e) Melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan
dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders di akhir
tahun.
f) Memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau pengaduan
publik.
g) Menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan
memperoleh pelayanan pendidikan.
h) Memperbarui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan
komitmen baru.
e. Indikator Keberhasilan Akuntabilitas

Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator


berikut, yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik
terhadap sekolah, (b) tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk
menilai terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah, (c)
berkurangnya kasus-kasus KKN di sekolah, dan (d) meningkatnya
kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang
berkembang di masyarakat.

86

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dengan diberlakukannya otonomi daerah sebagai perwujudan Undang-Undang
No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka sebagian besar kewenangan
Pemerintah Pusat dilimpahkan ke Pemerintah Daerah. Dengan otonomi dan
desentralisasi, diharapkan masing-masing daerah termasuk masyarakatnya akan lebih
terpacu untuk mengembangkan daerah masing-masing agar dapat bersaing.
Konsekuensi dari otonomi dan desentralisasi juga terjadi di bidang pendidikan. Muara
tujuan dari otonomi di bidang pendidikan adalah peningkatan mutu pendidikan di
Indonesia.
Ada sejumlah hal yang mendasari perubahan paradigma penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia dari sentralistik menjadi desentralistik. Pertama, sistem
penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan secara sentralistik menyebabkan tingginya
ketergantungan kepada keputusan birokrasi. Akibatnya, sekolah pun menjadi
kehilangan kemandirian, inisiatif, dan kreativitas yang pada akhirnya berdampak pada
kurangnya motivasi untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan dan
tata layanan pendidikan di sekolah. Kedua, kebijakan penyelenggaraan pendidikan
terlalu berorientasi pada keluaran pendidikan (output) dan masukan (input), sehingga
kurang memperhatikan proses pendidikan itu sendiri. Ketiga, peran serta masyarakat
terutama orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan masih kurang.
Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut di atas, perlu dilakukan reorientasi
penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik menuju desentralistik melalui penerapan
87

Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep MBS merupakan salah satu kebijakan nasional
yang dituangkan dalam Undang-Undang No 25 Tahun 2000 tentang Rencana Strategis
Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004, dan termuat secara jelas dalam UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka penulis
mendapatkan rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa tujuan dan manfaat MBS ?
2. Bagaimana konsep dasar MBS ?
3. Apa fungsi-fungsi MBS ?
1.3. Tujuan Makalah
Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :
1. Memahami tujuan dan manfaat MBS.
2. Memahami konsep dasar MBS.
3. Memahami fungsi-fungsi MBS.

88

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Tujuan dan Manfaat MBS
Tujuan

MBS

bermuara

pada

peningkatan

mutu

pendidikan,

efisiensi

pengelolaan, relevansi pendidikan baik menyangkut mutu pembelajaran, sumber daya


manusia, kurikulum yang dikembangkan, serta tata pelayanan pendidikan. MBS
memberikan kewenangan yang besar kepada sekolah dalam pengambilan suatu
keputusan.
Dalam konteks pengambilan keputusan, tujuan MBS mempunyai makna bahwa
pengambilan keputusan yang diambil di sekolah terhadap pendidikan menjadi lebih
berkualitas, karena kewenangan dalam pengambilan keputusan tersebut dilakukan oleh
orang-orang yang mengenal dan mengetahui betul tentang sumber daya yang ada di
sekolah dan kebutuhan siswa ke depan. Konteks perencanaan menjadi bagian penting
dalam kerangka MBS. Dengan perencanaan, sekolah akan manjadi lebih siap dan
terencana dalam melaksanakan visi dan misi sekolah serta manjalankan program dan
kegiatan sesuai dengan yang telah dilaksanakan.
Dikaitkan dengan pengelolaan sumber daya sekolah, MBS mempunyai makna
bahwa pengelolaan sumber daya sekolah dilakukan dan dilaksanakan oleh sekolah.
Demikian halnya dengan konteks pengelolaan kurikulum. Dengan mengacu pada
perangkat ketentuan nasional tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
warga sekolah baik dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan pemangku kepentingan sekolah. Faktor penting lainnya, MBS diterapkan di
sekolah tidak lain untuk meningkatkan tata layanan pendidikan bagi warga sekolah itu
sendiri, siswa, orang tua, dan masyarakat.

Keseluruhan konteks yang ada tersebut dilakukan secara partisipatif, transparan,


dan akuntabel. Artinya, semua keputusan, perencanaan, pengorganisasian, dan fungsifungsi

manajemen

lainnya

dilakukan

dengan

melibatkan

pihak-pihak

yang

berkepentingan. Dilakukan secara transparan dan akuntabel, baik dari sisi program,
kegiatan, dan keuangan, kepada semua warga sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
Menurut Slamet PH (2001), MBS bertujuan untuk "memberdayakan" sekolah,
terutama sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua
siswa, dan masyarakat sekitarnya) melalui pemberian kewenangan, fleksibilitas, dan
sumber daya lain untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh sekolah yang
bersangkutan.

89

Manajemen berbasis sekolah di Indonesia yang menggunakan model MPMBS


(Depdiknas, 2001:5) bertujuan untuk:
1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam
mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2) Partisipatif, yakni meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan melaui pengambilan keputusan bersama;
3) Akuntabilitas, yaitu meningkatkan pertanggungjawaban sekolah kepada orang tua,
masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.
4) Meningkatkan kompetisi yang sehat antarsekolah tentang pendidikan yang akan
dicapai.
Selanjutnya, menurut Nurkholis (2003:25), penerapan MBS mempunyai
beberapa manfaat atau keuntungan.
1) Secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang
yang bekerja di sekolah. Keahlian dan kemampuan personil sekolah itu
dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan
kualitas pembelajaran.

2) Meningkatkan moral guru. Moral guru meningkat karena adanya komitmen


dan tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah.
3) Keputusan yang diambil sekolah memiliki akuntabilitas. Hal ini terjadi karena
konstituen sekolah memiliki andil yang cukup dalam setiap pengambilan
keputusan. Akhirnya, mereka dapat menerima konsekuensi atas keputusan yang
diambil dan memiliki komitmen untuk mencapai tujuan yang ditetapkan bersama.
4)

Menyesuaikan

sumber

keuangan

terhadap

tujuan

instruksional

yang

dikembangkan di sekolah. Keputusan yang diambil pada tingkat sekolah akan


lebih rasional karena mereka tahu kekuatannya sendiri, terutama kekuatan
keuangannya.
5) Mendorong munculnya pemimpin baru di sekolah. Pengambilan keputusan di
sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpin.
Dalam MBS pemimpin akan muncul dengan sendirinya tanpa menunggu
penunjukan dari birokrasi pendidikan.
6) Meningkatkan kualitas, kuantitas, dan fleksiblitas komunikasi setiap komunitas
sekolah dalam rangka pencapaian kebutuhan sekolah. Kebersamaan dalam
setiap pemecahan masalah di sekolah telah memper-lancar alur komunikasi di
antara warga sekolah.

90

Myers dan Stonehill (1993:2) mengemukakan bahwa manfaat MBS adalah


sebagai berikut:
1). Memperkenankan orang-orang yang berkompeten di sekolah untuk mengambil
keputusan yang akan dapat meningkatkan pembelajaran;
2)

Memberikan kesempatan kepada komunitas sekolah dalam keterlibatan


mengambil keputusan kunci (prioritas);

3) Memfokuskan akuntabilitas pada keputusan;


4) Mengarah pada kreativitas yang lebih besar dalam mendesain program;

5)

Mengatur ulang sumber daya untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di


sekolah;

6)

Mengarahkan pada penganggaran yang realistik, yang mendorong orang tua


dan guru semakin menyadari akan status keuangan sekolah, batasan
pembelanjaan, dan biaya dari setiap program; serta

7) Meningkatkan moril para guru dan memelihara kepemimpinan baru pada setiap
tingkat.
Selanjutnya, Kubick & Kathelin (1988:2) mengungkapkan bahwa kelompok kerja
The American Association of School Administrators, the National Association of
Elementary School Principals, and the National Association of Secondary School
Principals (1988) mengidentifikasi sembilan manfaat dari MBS.
1) Secara formal MBS dapat mengenali keahlian dan kompetensi orang-orang yang
bekerja di sekolah dalam rangka membuat keputusan untuk meningkatkan
pembelajaran.
2) Melibatkan guru, staf sekolah, dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
3) Meningkatkan moral para guru.
4) Menfokuskan pada akuntabilitas pengambilan keputusan.
5) Membawa keuangan dan sumber daya pembelajaran dalam mengembangkan
tujuan pembelajaran di setiap sekolah.
6) Memelihara dan merangsang pemimpin baru di semua tingkatan.
7) Meningkatkan kuantitas dan kualitas komunikasi.
8) Masing-masing sekolah lebih fleksibel dalam mendesain program menuju
kreativitas yang lebih besar dan dalam memenuhi kebutuhan para siswanya;
9) Penganggaran menjadi nyata dan lebih realistik.

91

Sementara itu, situs program Managing Basic Education (MBE) mengungkapkan


bahwa manfaat MBS bagi sekolah adalah menciptakan rasa tanggung jawab melalui
administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota
masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan
Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara
terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan,
motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah
yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah.
Di samping itu, pelaksanaan PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan)

atau

pembelajaran

kontekstual

dalam

MBS,

mengakibatkan

peningkatan kehadiran anak di sekolah, karena mereka senang belajar.


2.2. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah
2.2.1. Pola Baru Manajemen Pendidikan
Perubahan dalam manajemen pendidikan disebabkan oleh lemahnya pola lama
manajemen pendidikan nasional yang selama ini bersifat sentralistik. Otonomi daerah
telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama menuju pola baru
manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih
demokratis. Kebijakan ini diterapkan pemerintah dalam kerangka meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia. Salah satu bentuk kebijakan itu adalah perubahan dalam
manajemen pendidikan.
Di dalam MPMBS disebutkan bahwa terdapat beberapa dimensi perubahan pola
manajemen pendidikan dari pola lama menuju pola baru manajemen pendidikan, yang
ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1.
92

Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan


Pola Lama
Subordinasi
Pengambilan keputusan

Menuju

Pola Baru
Otonomi
Pengambilan keputusan

terpusat
Ruang gerak kaku
Pendekatan birokratik
Sentralistik
Diatur
Overregulasi
Mengontrol
Mengarahkan
Menghindari resiko
Gunakan uang semuanya

partisipatif
Ruang gerak luwes
Pendekatan professional
Desentralistik
Motivasi diri
Deregulasi
Mempengaruhi
Memfasilitasi
Mengelola resiko
Gunakan uang seefisien

Individu yang cerdas


Informasi terpribadi
Pendelegasian
Organisasi hierarkis

mungkin
Teamwork yang cerdas
Informasi terbagi
Pemberdayaan
Organisasi datar

Terdapat perbedaan yang mendasar antara pola lama dengan pola baru
manajemen pendidikan. Pada pola lama manajemen pendidikan, tugas dan fungsi
sekolah lebih pada melaksanakan program daripada mengambil inisiatif merumuskan
dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah.
Sementara itu, pada pola baru manajemen pendidikan sekolah memiliki wewenang
lebih besar. sebagaimana diilustrasikan pada Tabel 1 di atas.

2.2.2. MBS dan Peningkatan Mutu Pendidikan


Beberapa penelitian dan kajian MBS di beberapa negara menunjukkan bahwa
MBS tidak serta merta menjamin peningkatan mutu pendidikan, terutama apabila MBS
dilaksanakan secara sempit atau dilaksanakan secara parsial. Namun demikian, bukan
berarti MBS tidak ada kaitannya sama sekali dengan peningkatan mutu pendidikan.
Mutu, dalam pengertian umum dapat diartikan sebagai derajat keunggulan suatu
produk atau hasil kerja, baik berupa barang atau jasa. Mutu dapat bersifat abstrak,
namun dapat dirasakan, baik itu berupa barang atau jasa. Oleh karena itu makna mutu
akan berbeda antara orang yang satu dengan orang lainnya, tergantung dari sudut
pandang dan kebutuhannya (Sallis, 1993). Dalam konteks pendidikan banyak pendapat
tentang mutu. Namun demikian, kajian tentang mutu dalam pendidikan dapat ditinjau
dari aspek input, proses, output dan dampak serta manfaat. Pendidikan yang bermutu
mengacu pada berbagai input seperti tenaga pengajar, peralatan, buku, biaya
pendidikan, teknologi, dan input-input lainnya yang diperlukan dalam proses
pendidikan.
93

Menurut Sallis (1993), terdapat tiga pengertian konsep mutu.


1) Mutu sebagai konsep yang absolut (mutlak)
Dalam pengertian absolut, sesuatu disebut bermutu jika memenuhi standar yang
tertinggi dan tidak dapat diungguli, sehingga mutu dianggap sesuatu yang ideal yang
tidak dapat dikompromikan, seperti kebaikan, keindahan, kebenaran.
2) Mutu dalam konsep yang relative
Dalam pengertian relatif, mutu bukanlah suatu atribut dari suatu produk atau
jasa, tetapi sesuatu yang berasal dari produk atau jasa itu sendiri. Artinya, sesuatu
dikatakan bermutu apabila suatu produk atau jasa telah memenuhi persyaratan atau
kriteria, atau standar yang ada.
3) Mutu menurut pelanggan.
Menurut pengertian pelanggan (kalau di bidang pendidikan bisa juga disebut
dengan pemakai jasa pendidikan), mutu adalah sesuatu yang didefinisikan oleh
pelanggan. Pelanggan adalah penilai utama terhadap mutu. Pelanggan dianggap
penentu akhir tentang mutu suatu produk atau jasa, karena tanpa mereka, suatu
lembaga tidak dapat hidup atau tidak akan ada.
Berdasarkan uraian tentang konsep mutu di atas, maka ada tiga hal penting
yang perlu diperhatikan oleh satuan pendidikan dalam kerangka peningkatan mutu
pendidikan.
1) Setiap penyelenggara dan pengelola pendidikan perlu memahami makna mutu
pendidikan.
2) Konsep mutu dalam pengertian standar dalam penyelenggaraan pendidikan terdapat
3 aspek penting yaitu input, proses, dan output.
3) Menurut Sallis (1993), istilah pelanggan mengacu pada konsumen eksternal dan
konsumen internal.
2.2.3. Prinsip-Prinsip MBS
Pada dasarnya prinsip MBS yaitu otonomi sekolah, fleksibilitas, dan partisipasi
untuk mencapai sasaran mutu sekolah.
1) Otonomi Sekolah
Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur
dan mengurus dirinya sendiri (pengelolaan mandiri). Kemandirian dalam program dan
pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. Istilah otonomi juga
sama dengan istilah swa, misalnya swasembada, swakelola, swadana, swakarya, dan
swalayan. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan
mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional
yang berlaku.
2) Fleksibilitas
Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan
kepada sekolah untuk mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumber daya
sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan prinsip

94

fleksibilitas ini, sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala
tantangan yang dihadapi.

3) Partisipasi
Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang
terbuka dan demokratik. Warga sekolah (guru, siswa, karyawan) dan masyarakat
(orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, usahawan, dan sebagainya) didorong
untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari
pengambilan keputusan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat
meningkatkan mutu pendidikan.
Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan
sekolah akan mampu menciptakan:
a) Keterbukaan (transparansi);
Transparansi (keterbukaan) yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program
dan keuangan. Kerja sama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah
kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah.
b) Kerja sama yang kuat;
Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antarwarga sekolah
yang erat, hubungan sekolah dan masyarakat erat, dan adanya kesadaran bersama
bahwa output sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kuat dan cerdas.
c) Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya,
masyarakat, dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara
terbuka.
d) Demokrasi pendidikan.
Demokrasi

pendidikan

adalah

kebebasan

yang

terlembagakan

melalui

musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan, hak asasi manusia, serta
kewajibannya dalam meningkatkan mutu pendidikan. Jadi, peningkatan partisipasi
warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu
menciptakan keterbukaan (transparansi), kerjasama yang kuat, akuntabilitas, dan
demokrasi pendidikan.

95

Menurut Nurkholis (2003:52) terdapat empat prinsip untuk mengelola sekolah


dengan menggunakan MBS, yaitu :
1) Prinsip Ekuifinalitas
Prinisip ekuifinalitas didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi
bahwa terdapat cara yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan. MBS
menekankan fleksibilitas sehingga sekolah harus dikelola oleh warga sekolah menurut
kondisi mereka masing-masing.
2) Prinsip Desentralisasi
Prinsip desentralisasi dilandasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan
aktivitas pengajaran tak dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan. Pendidikan
adalah masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan desentralisasi dalam
pelaksanaannya.
3) Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri
Pada prinsip pengelolaan mandiri, MBS memberikan kewenangan kepada
sekolah menjadi sistem pengelolaan secara mandiri, di bawah kebijakannya sendiri.
Dengan prinsip pengelolaan secara mandiri maka sekolah lebih memiliki inisiatif dan
tanggung jawab.
4) Prinsip Inisiatif Sumber Daya Manusia.
Pada prinsip inisiatif manusia mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya
yang statis, melainkan dinamis. Oleh karena itu, potensi suber daya manusis harus
selalu digali, ditemukan, dan kemudian dikembangkan.
2.2.4. Karakteristik MBS
Menurut Nurkholis (2003:56), MBS memiliki 8 karakteristik.
1) Sekolah dengan MBS memiliki misi atau cita-cita menjalankan sekolah untuk
mewakili sekelompok harapan bersama, keyakinan dan nilai-nilai sekolah, membimbing
warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan memberi arah kerja.
2) Aktivitas pendidikan dijalankan berdasarkan karakteristik kebutuhan dan situasi
sekolah.

3) Terjadinya proses perubahan strategi manajemen yang menyangkut hakikat


manusia, organisasi sekolah, gaya pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan,
penggunaan kekuasaan, dan keterampilan-keterampilan manajemen.
4) Keleluasaan dan keweangan dalam pengelolaan sumber daya yang efektif untuk
mencapai tujuan pendidikan, guna memecahkan masalah-masalah pendidikan yang
dihadapi, baik tenaga kependidikan, keuangan dan sebagainya.
5) MBS menuntut peran aktif sekolah, adiministrator sekolah, guru, orang tua, dan
pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan di sekolah.
6) MBS menekankan hubungan antarmanusia yang cenderung terbuka, bekerja sama,
semangat tim, dan komitmen yang saling menguntungkan.
96

7) Peran administrator sangat penting dalam kerangka MBS, termasuk di dalamnya


kualitas yang dimiliki administrator.
8) Dalam MBS, efektivitas sekolah dinilai menurut indikator multitingkat dan multisegi.
Sedangkan menurut MPMBS, karakteristik MPMBS dikategorikan menjadi input,
proses, dan output (Depdiknas, 2002).
1) Output yang diharapkan Sekolah harus memiliki output yang diharapkan. Output
sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan
manajemen sekolah. Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi
non-akademik (non-academic achievement).
2) Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses
sebagai berikut:
a. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi
b. Kepemimpinan sekolah yang kuat
c. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
d. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif

e. Sekolah memiliki budaya mutu


f. Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis
g. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian)
h. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat
i. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen
j. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan pisik)
k. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
l. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
m. Memiliki komunikasi yang baik
n. Sekolah memiliki akuntabilitas
o. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas atau keberlanjutan.
3) Input pendidikan
Beberapa karakteristik MBS daitinjau dari aspek input pendidikan adalah (a)
memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas; (b) sumber daya tersedia dan
siap; (c) staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi; (d) memiliki harapan prestasi yang
tinggi; (e) fokus pada pelanggan (khususnya siswa); serta (f) input manajemen.
2.3. Fungsi-Fungsi Manajemen Berbasis Sekolah
97

2.3.1. Fungsi-Fungsi Manajemen


Wohlstetter dan Mohrman, dkk. (1997) mengemukakan, ada empat hal penting
yang didesentralisasikan atau kewenangannya diberikan kepada sekolah. Pertama,
kekuasaan

(power)

untuk

mengambil

keputusan.

Kedua,

pengetahuan

dan

keterampilan, termasuk untuk mengambil keputusan yang baik dan pengelolaan secara
profesional.

Ketiga, informasi yang diperlukan oleh sekolah untuk mengambil keputusan. Semula
informasi harus dikirim ke pusat untuk pengambilan keputusan di tingkat pusat.
Sekarang sekolah mengumpulkan informasi terutama untuk dijadikan pertimbangan
dalam pengelolaan sekolah yang bersangkutan. Keempat, penghargaan atas prestasi,
yang harus ditangani oleh masing-masing sekolah.
Mereka juga menambahkan tiga elemen yang dianggap prasyarat yang bersifat
organisasional, yaitu: (1) panduan instruksional (pembelajaran), seperti rumusan visi
dan misi sekolah, panduan dari distrik yang menfokuskan pada peningkatan mutu
pembelajaran; (2) kepemimpinan yang mengupayakan kekompakan (kohesif) dan fokus
pada upaya perbaikan/perubahan; (3) sumber daya yang mendukung pelaksanaan
perubahan.
Secara eksplisit, MPMBS (2004) menyatakan bahwa fungsi-fungsi yang
sebagian porsinya dapat digarap oleh sekolah dalam kerangka MPMBS ini meliputi: (1)
proses belajar mengajar, (2) perencanaan dan evaluasi program sekolah, (3)
pengelolaan kurikulum, (4) pengelolaan ketenagaan, (5) pengelolaan peralatan dan
perlengkapan, (6) pengelolaan keuangan, (7) pelayanan siswa, (8) hubungan sekolahmasyarakat, dan (9) pengelolaan iklim sekolah.
Pemberian kewenangan pengelolaan (manajemen) pendidikan di tingkat sekolah
dapat dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, dari aspek fungsinya, yang mencakup:
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan (planning, organizing,
actuating, controlling), dan

kepemimpinan (leading). Fungsi-fungsi ini dilaksanakan

oleh sekolah, baik oleh kepala sekolah, guru, dan atau komite sekolah. Kedua, bidang
teknis yang dikelola oleh sekolah dengan fungsi-fungsi tersebut, yaitu: (a) perencanaan
dan evaluasi, (b) pengembangan kurikulum, (c) proses pembelajaran, (d) personil
(ketenagaan), (e) keuangan, (f) fasilitas sekolah (sarana-prasarana), (g) pelayanan
siswa, (h) hubungan sekolah masyarakat, serta (i) iklim sekolah.

98

2.3.2. Desentralisasi Fungsi-Fungsi Manajemen


1). Perencanaan dan evaluasi
Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan
kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud, misalnya, kebutuhan untuk meningkatkan
mutu sekolah. Oleh karena itu, sekolah harus melakukan analisis kebutuhan mutu, yang
hasilnya akan digunakan sebagai dasar dalam membuat rencana peningkatan mutu
sekolah. Sekolah diberi wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya evaluasi yang
dilakukan secara internal. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk
memantau proses pelaksanaan dan hasil program-program yang telah dilaksanakan.
Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Evaluasi diri harus jujur dan
transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya.
2). Pengembangan Kurikulum
Pada saat ini, pengembangan kurikulum sepenuhnya diserahkan kepada
masing-masing satuan pendidikan, dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan,
standar isi, kerangka dan struktur kurikulum, serta panduan penyusunan kurikulum
yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Kebijakan tersebut memungkinkan setiap
satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuannya.

Sekolah

berkewenangn

mengembangkan

(memperdalam,

memperkaya, memodifikasi) kurikulum, namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum


yang berlaku secara nasional. Sekolah dibolehkan memperdalam kurikulum, artinya,
apa yang diajarkan boleh dipertajam dengan aplikasi yang bervariasi. Sekolah juga
dibolehkan memperkaya apa yang diajarkan, artinya, apa yang diajarkan boleh
diperluas dari yang harus, yang seharusnya, dan yang dapat diajarkan. Demikian juga,
sekolah dibolehkan memodifikasi kurikulum, artinya, apa yang diajarkan boleh
dikembangkan agar lebih kontekstual dan selaras dengan karakteristik peserta didik.
Selain itu, sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan
lokal.

3). Pengelolaan Proses Pembelajaran


Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Sekolah diberi
kebebasan memilih strategi, metode, dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran
yang paling efektif, sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa,
karakteristik guru, dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Secara
99

umum, strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang berpusat pada siswa


(student centered) lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa. Yang dimaksud
dengan pembelajaran berpusat pada siswa adalah pembelajaran yang menekankan
pada keaktifan belajar siswa, bukan pada keaktifan mengajar guru.
Desentralisasi pengelolaan melalui MBS memberikan kewenangan kepada
sekolah untuk melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi

sekolah.

Di

samping

itu

dengan

KTSP, sekolah

atau

guru

dapat

mengembangkan secara mandiri materi ajar dan kegiatan belajar yang diperlukan untuk
mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan, serta
meningkatkan mutu sekolah sesuai dengan karakteristik sekolah masing-masing.
4). Pengelolaan ketenagaan
Selama ini peran sekolah hanya sebatas mengusulkan kebutuhan tenaga (guru
dan non guru), memproses/mengusulkan angka kredit, dan mengusulkan pensiun.
Dalam rangka MBS peran kewenangan atau peran sekolah masih akan sangat terbatas
pada mengelola ketenagaan yang sudah ada di sekolah, dan sebatas mengelola
pemanfaatan tenaga yang sudah diangkat oleh pemerintah/pemerintah daerah, kecuali
untuk tenaga honorer yang insentifnya sebagian besar dapat dibayarkan melalui dana
BOS dan/atau melalui sumbangan orang tua (Komite Sekolah).

Terbatasnya kewenangan sekolah, khususnya sekolah negeri dalam pengelolaan


bidang ketenagaan tentu tidak membuat MBS kehilangan makna dalam hal ini. Dalam
mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia sebagai bagian dari sumber daya
pendidikan kunci yang sangat penting, satuan pendidikan (dengan kepemimpinan yang
kuat) harus dapat memotivasi, menggalang kerja sama, menyamakan visi, menyadari
misi, serta mengembangkan staf pada level sekolah/madrasah yang belum ditangani
oleh birokrasi di atasnya. Satuan pendidikan juga melakukan penggalian sumber daya
manusia dari luar (out sourcing) melalui kerja sama dengan berbagai pihak, karena
keterbatasan tenaga, belum tercukupinya tenaga yang diperlukan, atau memang
tenaga tersebut tidak mungkin diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah
karena sifat keahliannya yang khas, yang tidak diperlukan secara terus-menerus
sepanjang tahun ajaran. Sebagai contoh, misalnya pengangkatan guru honorer atau
kontrak di sekolah seperti guru komputer, bahasa Inggris, dan sebagainya.
5). Pengelolaan Fasilitas Sekolah
Pengelolaan fasilitas sekolah (sarana dan prasarana) sudah seharusnya
dilakukan oleh sekolah, mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga
sampai pengembangan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling
100

mengetahui

kebutuhan

fasilitas,

baik

kecukupan,

kesesuaian,

maupun

kemutakhirannya, terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung


dengan proses belajar mengajar.
6). Pengelolaan Keuangan
Salah satu jabaran kebijakan pemerintah berkenaan dengan dana pendidikan
direalisasikan dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang besarannya
tergantung dari jumlah siswa.

Walaupun kebijakan BOS ini menguntungkan bagi sekolah dalam mengelola pendidikan
di tingkat satuan pendidikan, namun bagi sekolah yang jumlah siswanya sedikit,
kebijakan ini dirasakan masih kurang adil, karena kebutuhan biaya operasional sekolah
tidak mencukupi. Namun demikian dengan pendanaan pendidikan seperti BOS ini,
dalam kerangka MBS, penyelenggara pendidikan diberikan kewenangan untuk
mengelola dana tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, yang
muaranya adalah peningkatan mutu pendidikan. Di samping itu, dengan MBS
penyelenggara pendidikan dapat melakukan inovasi pengalokasian sumber dana
pendidikan, yang tidak hanya tergantung pada hibah dari pemerintah, tetapi bersamasama dengan komite sekolah dapat menghimpun pendanaan dari masyarakat, dunia
usaha, dan dunia industri (DUDI).
7). Pelayanan Siswa
Pelayanan siswa meliputi penerimaan siswa baru, pengembangan/pembinaan/
pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia
kerja, hingga sampai pada pengurusan alumni. Hal itu sebenarnya dari dahulu sudah
didesentralisasikan. Karena itu, yang diperlukan saat ini adalah peningkatan intensitas
dan ekstensitasnya. Seperti yang dikemukakan oleh Sutisna (1991:46), tugas kepala
sekolah dalam manajemen siswa adalah menyeleksi siswa baru, menyelenggarakan
pembelajaran, mengontrol kehadiran murid, melakukan uji kompetensi akademik/
kejuruan, melaksanakan bimbingan karier serta penelusuran lulusan. Uji kompetensi
yang dilakukan bersama oleh sekolah dan asosiasi profesi memudahkan penyaluran
dan pemasaran lulusan sekolah ke dunia kerja, ataupun menciptakan lapangan kerja
sendiri untuk berwiraswasta. Kepala sekolah harus menyadari bahwa kepuasan peserta
didik dan orang tuanya serta masyarakat, merupakan indikator keberhasilan sekolah
(Sallis, 1993). Mereka adalah external customers. Keberhasilan ini adalah konsep dasar
yang harus menjadi acuan kepala sekolah dalam mengukur keberhasilan sekolahnya.
101

8). Hubungan Sekolah dan Masyarakat


Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan,
kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan
finansial. Dalam arti yang sebenarnya, hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu
sudah didesentralisasikan. Oleh karena itu, sekali lagi, yang dibutuhkan adalah
peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolah-masyarakat.
Singkatnya, lingkungan dan masyarakat sekitar sekolah adalah ekosistem
pendidikan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Esensi hubungan sekolahmasyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan dan
dukungan moral-finansial dari masyarakat. Betapapun hubungan tersebut sudah
terdesentralisasikan sejak dahulu, namun peningkatan intensitas dan ekstensitas
hubungan sekolah-masyarakat perlu mendapat perhatian yang lebih dari sebelumnya.
Karena sesungguhnya, tujuan pendidikan kecakapan hidup akan berorientasi pada
kebutuhan

lingkungan

Demikian

juga

halnya

dengan

pembelajaran

berbasis

kompetensi haruslah berwawasan lingkungan (contextual learning). Mayarakat


lingkungan juga merupakan sumber daya pendidikan, baik dalam arti sumber dana,
sumber tenaga kependidikan, laboratorium pendidikan, maupun sebagai penasehat
pendidikan (advisory council). Di sisi lain, masyarakat sebagai pelanggan luar perlu
diupayakan agar mereka merasa puas dengan proses dan hasil pendidikan yang
dihasilkan oleh sekolah.
9). Iklim Sekolah
Iklim sekolah (fisik dan nonfisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat
bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. Lingkungan sekolah yang
aman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan
sekolah, dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (student-centered activities)
adalah contoh-contoh iklim sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa.
Iklim sekolah sudah merupakan kewenangan sekolah, sehingga yang diperlukan adalah
upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstentif (Depdiknas, 2002).

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
102

Manajemen Berbasis Sekolah bukanlah semata-mata masalah teknis edukatif.


Tetapi justru lebih cenderung pada pembagian kewenangan atau kekuasaan (power
sharing) di dalam pengelolaan pendidikan. Seperti lazimnya proses power sharing,
selalu terjadi tarik-menarik kepentingan antarberbagai pihak (stakeholders) sampai
terjadi keseimbangan yang memuaskan pihak-pihak yang bersangkutan.
Fungsi-fungsi manajemen yang didesentralisasikan di sekolah pada dasarnya
dibagi menjadi dua bagian yaitu fungsi manajemen yang sudah dilakukan sekolah
sebelum MBS diterapkan dan fungsi manajemen yang baru didesentralisasikan ke
sekolah, yang selama ini kewenangannya dimiliki pusat, propinsi ataupun daerah.
3.2. Saran
Dengan adanya MBS diharapkan akan memberi peluang dan kesempatan
kepada kepala sekolah, guru dan siswa untuk melakukan inovasi pendidikan. Dengan
adanya MBS maka ada beberapa keuntugan dalam pendidikan yaitu, kebijakan dan
kewenangan sekolah mengarah langsung kepada siswa, orang tua dan guru, sumber
daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal, pembinaan peserta didik dapat
dilakukan secara efektif, dapat mengajak semua pihak untuk memajukan dan
meningkatkan pelaksanaan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah (MPMBS). Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen, Jakarta.
Fattah, Nanang. 2004. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan
Sekolah. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
103

Nurkholis. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi. Grasindo:
Jakarta.
Slamet PH, 2001. Manajemen Berbasis Sekolah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
No. 27. http//www.pdk.go.id/jurnal/27/manajemen-berbasis-sekolah.htm

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah pendidikan yang kita hadapi dewasa ini adalah rendahnya mutu
pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan
menengah. Berbagai usaha telah dilakukan, antara lain memlalui berbagai pelatihan dan
peningkatan kualifikasi guru, penyediaan dan perbaikan sarana/prasarana pendidikan, serta
peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan
belum menunjukkan peningkatan yang merata. Sebagaian sekolah, terutama di kota-kota,
menunjukkan peningkatan mutu yang cukup menggembirakan. Namun, sebagian lainnya masih
memprihatinkan. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang
menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.
Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan
educational production function yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini
melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipilih semua
input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan
menghasilkan output yang dikehendaki. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan
tidak terjadi, mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan education production
function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses
pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.
Kedua, penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik, sehingga sekolah sebagai
penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi, yang kadang-kadang
kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Dengan demikian,
sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan
lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan
nasional.
Ketiga, peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan
pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi masyarakat pada umumnya selama ini lebih
banyak bersifat dukungan dana, bukan pada proses pendidikan (pengambilan keputusan,
monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas). Berkaitan dengan akunfabilitas, sekolah tidak
104

mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada


masyarakat, khususnya orang tua siswa, sebagai salah satu pihak utama yang berkepentingan
dengan pendidikan.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan, salah
satunya yang sekarang sedang dikembangkan adalah reorientasi penyelenggaraan pendidikan,
melalui manajemen sekolah (School Based Management).
B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah yang menjadi landasan MBS ?
2. Bagaimanakah konsep dasar manajemen berbasis sekolah ?
3. Bagaimanakah latar belakang adanya MBS ?
C.

Tujuan
1. Mengetahui landasan-landasan MBS
2. Memahami konsep dasar manejemen berbasis sekolah.
3. Mengetahui latar belakang adanya MBS.

105

BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Manajemen Berbasis Sekolah
1.

Landasan Filosofis
Landasan filosofis MBS secara umum adalah cara hidup masyarakat. Maksudnya jika
ingin reformasi pendidikan itu sukses maka reformasi tersebut harus berakar pada cara dan
kebiasaan hidup warganya. Seandainya reformasi itu peduli terhadap cara dan kebiasaan
warganya maka reformasi tersebut akan mendapat dukungan dari segenap lapisan masyarakat.
Penyelenggaraan pendidikan melalui proses mencerdaskan kehidupan bangsa dalam konteks idiil
negara kita merupakan tanggung jawab pemerintah, sedangkan menurut praktisnya merupakan
tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Tanggung jawab tersebut,
dilandasi oleh peran secara profesional.
Artinya, pelayanan pendidikan tidak dapat dihindarkan dari batas-batas tanggung jawab
mengingat masing-masing mempunyai posisi dan keterbatasan. Keluarga dalam arti biologis
merupakan orang tua langsung (ibu dan bapak), mempunyai tugas dan wewenang untuk
melakukan pendidikan kepada anak anaknya di rumah tangga, dari mulai hal yang bersifat
sederhana dan pribadi sampai pada hal yang komplek dan bermasyarakat. Tugas dan wewenang
ini, bersifat alamiah dan mendasar untuk membangun individu yang bertanggung jawab. Akan
tetapi sebagai orang tua, terdapat berbagai keterbatasan dalam pelayanan pendidikan yang
bersifat normatif dan terukur, baik yang bersifat keilmuan maupun keterampilan tertentu. Oleh
sebab orang tua tidak dapat melayani kebutuhan pendidikan anaknya, maka orang tua
mempercayakan kepada sekolah baik yang diselenggarakan oleh masyarakat (yayasan
pendidikan) maupun pemerintah.
Konsekuensinya orang tua wajib memberikan dukungan kepada sekolah sesuai dengan
batas kemampuan dan kesepakatan. Oleh sebab itu tujuan penyelanggaraan pelayanan
pendidikan hanya bisa dicapai apabila terjadinya sinerjik dan integrasi dukungan dari berbagai
sumber daya, untuk terjadinya sinerjik dan integrasi dukungan dari berbagai sumber daya
pendidikan, perlu adanya suatu badan yang bersifat independen dengan asas keadilan dan
kemanusiaan.
Landasan munculnya MBS yang berasal dari kehidupan masyarakat (dalam modul UT)
diantaranya:
a. Pendidikan nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat yaitu nilainilai kebersamaan yang
bersumber dari nilai sosial budaya yang terdapat di lingkungan keluarga dan masyarakat serta
pada pendidikan agama.
MBS merupakan salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengakomodasi pendidikan
nilai. Pendidikan kewarganegaraan dan agama sangat penting untuk menumbuhkembangkan
tanggung jawab bersama di dalam kehidupan suatu masyarakat (baik secara lokal, nasional,
regional, global). Nilai-nilai spiritual diperlukan untuk menyempurnakan kesejahteraan manusia
di dunia dan alam sesudahnya sehingga kehidupan lebih bermakna. Nilai-nilai lokal tercermin
dalam nilai sosial budaya setempat yang diwujudkan dalam bentuk tata krama pergaulan, model
pakaian, dan seni. Nilai-nilai nasional berkaitan erat dengan penerapan kaidah-kaidah sebagai
106

warga Negara yang baik yang menjunjung tinggi kebangsaan. Kedua nilai tersebut membentuk
budi pekerti dan keperibadian yang kuat, hanya dapat dikembangkan melalui manajemen yang
berbasis sekolah dengan dukungan masyarakat. Manajemen berbasis sekolah dengan dukungan
masyarakat berupaya memperkuat jati diri peserta didik dengan nilai sosial budaya setempat,
mensinergikannya dengan nilai-nilai kebangsaan serta nilai-nilai agama yang dianut.
b. Kesepakatan-kesepakatan yang diberlakukan dalam kehidupan masyarakat.
Maksudnya adalah kesepakatan atas pranata sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dengan kata
lain segala bentuk perubahan harus melibatkan masyarakat setempat agar semuanya lancar sesuai
harapan. Tuntutan penerapan MBS semakin nyata seiring dengan perubahan karakteristik
masyarakat. Perubahan dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, pertahanan, keamanan, secara
nasional, regional, maupun global, mendorong adanya perubahan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang dimiliki siswa. Artinya telah terjadi perubahan kebutuhan siswa sebagai bekal
untuk terjun ke masyarakat luas dimasa mendatang dibandingkan dengan masa lalu. Oleh karena
itu, pelayanan terhadap siswa, program pengajaran, dan jasa yang diberikan kepada siswa juga
harus sesuai dengan tuntutan baru tersebut. Secara umum perubahan lingkungan menuntut
adanya pola kebiasaan dan tingkah laku baru oleh semua pihak. Untuk menyesuaikan keadaan
tersebut dibutuhkan adanya reformasi dalam pendidikan, salah satunya dengan MBS.
2.

Landasan Yuridis
Dasar Hukum Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu:
a. Dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN), pemerintah mengupayakan keunggulan masyarakat
bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Hal ini diharapkan dapat dijadikan landasan dalam
pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan, baik secara makro,
meso maupun mikro. Aspek makro erat kaitannya dengan desentralisasi kewenangan dari
pemerintah pusat ke daerah, aspek meso berkaitan dengan kebijakan daerah provinsi sampai
tingkat kabupaten sedangkan aspek mikro melibatkan sekolah yaitu seluruh sektor dan lembaga
pendidikan yang paling bawah serta terdepan dalam pelaksanaannya.
b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS)
Tahun 2000-2004 pada bab VII tentang bagian program pembangunan bidang pendidikan
khususnya sasaran terwujudnya manajemen pendidikan yang berbasis pada sekolah dan
masyarakat (school/ community based management).
c. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan
Provinsi Sebagai Daerah Otonom.
d. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang
terkait dengan MBS adalah Bab XIV, Pasal 51, Ayat (1), pengelolaan satuan pendidikan anak
usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar
pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/ madrasah.
e. Kepmendiknas nomor 087 tahun 2004 tentang standar akreditasi sekolah, khususnya tentang
manajemen berbasis sekolah.
f. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan
(khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II, Pasal 3); Badan hukum pendidikan
bertujuan memajukan pendidikan nasional dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/
madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dan otonomi perguruan tinggi pada
jenjang pendidikan tinggi.
107

B. Konsep Dasar MBS


1. Pengertian
Manajemen berbasis sekolah atau School Based Management merupakan penyerasian
sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok
kepentingan yang terkait dengan sekolah yang dilakukan secara langsung dalam proses
pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah.
2. Konsep dasar Manajemen Berbasis Sekolah
Manajemen Berbasis Sekolah merupakan manajemen yang bernuansa otonomi,
kemandirian dan demokratis.
a. Otonomi
Merupakan kewenangan sekolah dalam mengatur dan mengurus kepentingan sekolah dalam
mencapai tujuan sekolah untuk menciptakan mutu pendidikan yang baik.
b. Kemandirian
Merupakan langkah dalam pengambilan keputusan. Dalam mengelola sumber daya yang ada,
mengambil kebijakan, memilih strategi dan metode dalam memecahkan persoalan tidak
tergantung pada birokrasi yang sentralistik sehingga mampu menyesuaikan dengan kondisi
lingkungan dan dapat memanfaatkan peluang-peluang yang ada.
c. Demokratif
Merupakan keseluruhan elemen-elemen sekolah yang dilibatkan dalam menetapkan, menyusun,
melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan untuk mencapai tujuan sekolah demi terciptanya
mutu pendidikan yang akan memungkinkan tercapainya pengambilan kebijakan yang mendapat
dukungan dari seluruh elemen-elemen sekolah.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memahami Konsep Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) diantaranya adalah:
a. Pengkajian Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) terutama yang menyangkut kekuatan
desentralisasi, kekuasaan atau kewenangan di tingkat sekolah, dalam system keputusan harus
dikaitkan dengan program dan kemampuan dalam peningkatan kinerja sekolah.
b. Penelitian tentang program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berkenaan dengan
desentralisasi kekuasaan dan program peningkatan partisipasi (local stake holders).
Pendelegasian otoritas pengambilan keputusan dalam kaitannya dengan pemberdayaan sekolah,
perlu dibangun dengan efektifitas programnya.
c. Strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) harus lebih menekankan kepada elemen
manajemen partisipatif. Kemampuan, informasi dan imbalan yang memadai merupakan elemenelemen yang sangat menentukan efektifitas program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam
meningkatkan kinerja sekolah.
3.

Esensi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


Esensi dari MBS adalah otonomi dan pengambilan keputusan partisipasi untuk mencapai
sasaran mutu sekolah. Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan (kemandirian) yaitu
kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Jadi, otonomi sekolah adalah
kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah sesuai dengan
dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku.
108

Kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan, yaitu kemampuan
untuk mengambil keputusan yang terbaik, kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan
pendapat, kemampuan memobilisasi sumber daya, kemampuan memilih cara pelaksanaan yang
terbaik, kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif, kemampuan memecahkan
persoalan-persoalan sekolah, kemampuan adaftif dan antisipatif, kemampuan bersinergi danm
berkaborasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri.
Pengambilan keputusan partisipatif adalah suatu cara untuk mengambil keputusan melalui
penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, di mana warga sekolah (guru, karyawan,
siswa,orang tua, tokoh masyarakat) dkjorong untuk terlibatsecara langsung dalam proses
pengambilankeputusan yang akan dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah.
Pengambilan keputusan partisipasi berangkat dari asumsi bahwa jika seseorang dilibatkan
dalam proses pengambilan keputusan tersebut, sehingga yang bersangkutan akan merasa
memiliki keputusan tersebut, sehingga yang bersangkutan akan bertanggung jawab dan
berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. Singkatnya makin besar tingkat
partisipasi, makin besar pula rasa memiliki, makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa
tanggung jawab, dan makin besar rasa tanggung jawab makin besar pula dedikasinya.
Dengan pola MBS, sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) yang lebih besar dalam
mengelola manajemennya sendiri. Kemandirian tersebut di antaranya meliputi penetapan sasaran
peningkatan mutu, penyusunan rencana peningkatan mutu, pelaksanaan rencana peningkatan
mutu dan melakukan evaluasi peningkatan mutu. Di samping itu, sekolah juga mmiliki
kemandirian dalam menggali partisipasi kelompok yang brekepentingan dengan sekolah. Di
sinilah letak ciri khas MBS.
Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas, maka perlu dilakukan penyesuaian
dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan-masa depan
yang lebih bernuansa otonomi yang demokratis. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen
dari yang lama menuju yang baru tersebut, dewasa ini secara konseptual maupun praktik tertera
dalam MBS.
Perubahan dimensi pola manajemen pendidikan dari yang lama ke pola yang baru menuju
MBS dapat digambarkan sebagai berikut:

Pola lama
- Subordinasi
- Pengambilan keputusan terpusat
- Ruang gerak kaku
- Pendekatan birokratik
- Sentralistik
- Diatur
- Overregulasi
- Mengontrol
- Mengarahkan
- Menghindar Resiko
- Gunakan uang semuanya
- Individu yang cerdas
109

- Informasi terpribadi
- Pendelegasian
- Organisasi hirarkis
Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut, sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam
pengelolaan lembaganya. Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dengan
mengikutsertakan peran masyarakat sebesar-besarnya. Selanjutnya, melalui penerapan MBS
akan nampak karakteristik lainnya dari profil sekolah mandiri, di antaranya sebagai berikut:
a.

Pengelolaan sekolah akan lebih desentralistik

b.

Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah.

c.

Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana.

d.

Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi, dari mengarahkan
menjadi memfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko.

e.

Akan mengalami peningkatan manajemen.

f.

Dalam bekerja, akan menggunakan team work.

g.

Pengelolaan informasi akan lebih mengarah ke semua kelompok kepentingan sekolah.

h.

Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih
datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien.

4.

Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah


Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan
sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan, dan sumber daya untuk meningkatkan mutu
sekolah. Dengan kemandiriannya, maka:
a.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman bagi dirinya dibanding dengan lembaga-lembaga lainnya. Dengan demikian sekolah
dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya.

b.

Sekolah lebih mengetahui sumber daya yang dimilikinya dan input pendidikan yang akan
dikembangkan serta didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

c.

Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah,
orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga sekolah akan berupaya
semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah
direncanakan.

d.

Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan
mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik,
masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.

e.

Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan


melalui pengambilan keputusan bersama.

f.

Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada masyarakat.

g.

Meningkatkan persaingan yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang ingin dicapai.
Dengan demikian, secara bertahap akan terbentuk sekolah yang memiliki kemandirian
tinggi. Secara umum, sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a.

Tingkat kemandirian tinggi sehingga tingkat ketergantungan menjadi rendah.

110

b.

Bersifat adaptif dan antisipatif memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani
mengambil resiko).

c.

Bertanggung jawab terhadap input manajemen dan sumber dayanya.

d.

Memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja.

e.

Komitmen yang tinggi pada dirinya.

f.

Prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya.


Selanjutnya dilihat dari sumber daya manusia sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:

a.

Pekerjaan adalah miliknya

b.

Bertanggung jawab

c.

Memiliki kontribusi terhadap pekerjaannya

d.

Mengetahui posisi dirinya dan memiliki kontrol terhadap pekerjaannya

e.

Pekerjaan merupakan bagian hidupnya.


Dalam upaya menuju sekolah mandiri, terlebih dahulu kita perlu menciptakan sekolah
yang efektif. Ciri sekolah yang efektif adalah sebagai berikut:

a.

Visi dan misi yang jelas dan target mutu yang harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
secara lokal.

b.

Sekolah memiliki output yang selalu meningkat setiap tahun.

c.

Lingkungan sekolah aman, tertib, dan menyenangkan bagi warga sekolah.

d.

Seluruh personil sekolah memiliki visi, misi, dan harapan yang tinggi untuk berprestasi secara
optimal.

e.

Sekolah memiliki sistem evaluasi yang kontinyu dan komprehensif terhadap berbagai aspek
akademik dan non akademik.

5.

Faktor- faktor yang di perhatikan


Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management) adalah bentuk alternative
sekolah dari program desentralisasi dalam bidang pendidikan. Faktor terpenting dalam penentu
kinerja sekolah yaitu kurikulum. Tujuan kurikulum yang akan dicapai dalam jangka panjang dari
kurikulum yang dirancang berdasar MBS yaitu:
a.

Penguasaan ketrampilan dasar dan proses fundamental

b. Pengembangan intelektual
c.

Pendidikan karir & pendidikan vokasional

d. Pemahaman interpersonal
e.

Moral & karakter etika

f.

Keadaan emosional dan fisik

g.

Kreativitas & ekspresi estetika

h.

Perwujudan diri.

i.

Proses belajar mengajar yang relevan

111

C. Alasan Mengapa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


Pertimbangan mengapa diadakan MBS, yaitu:
1. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran atau hasil
pendidikan terlalu memusatkan pada masukan dan kurang memperhatikan proses
pendidikan.
2. Penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya
ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan
kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di
samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah
kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya
untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi
kurang termotivasi.
3. Peran serta masyarakat terutama orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini
hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses
pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.
Ada beragam alasan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menurut
Depdiknas (2007), sebagai berikut:
1. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah, maka sekolah akan lebih insiatif/
kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah.
2. Dengan pemberian fleksibilitas/ keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk
mengelola sumber dayanya, maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan
memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah.
3. Sekolah lebih mengetahui kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dia
dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.
4. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan
dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan
kebutuhan peserta didik.
5. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan
sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.
6. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh
masyarakat setempat.
7. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah
menciptakan transparansi dan akuntabilitas sekolah.
8. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah,
orang tua, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan mencapai sasaran
mutu pendidikan yang telah direncanakan.
9. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain dalam peningkatan
mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif yang didukung oleh orang tua siswa, masyarakat
sekitar, dan pemerintah daerah setempat.
10.
Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah
dengan cepat.
Alasan-alasan diterapkannya MBS yang diungkapkan oleh Mulyasa (2009) antara lain:
1. Adanya berbagai program pendidikan yang pengelolaannya terlalu kaku dan sentralistik
sehingga tidak memberikan dampak positif.
2. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya.
3. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.
4. Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
112

5. Angka partisipasi pendidikan nasional maupun kualitas pendidikan tetap menurun.


Maka muncullah pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan
kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas yang disebut
manajemen berbasis sekolah (MBS).
Alasan
lain
diterapkannya

MBS

menurut

Nurkolis,

2003

dalam

http://edukasi.kompasiana.com yaitu:
1. MBS di Indonesia yang menggunakan model MPMBS muncul karena alasan:
a. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman bagi dirinya sehingga
sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan
sekolahnya.
b. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.


Menurut Bank Dunia, alasan diterapkannya MBS:
Alasan ekonomis
Politis
Profesional
Efisiensi administrasi
Finansial
Prestasi siswa
Akuntabilitas
Evektivitas sekolah
Menurut Suryo Subroto, 2010 dalam http://edukasi.kompasiana.com menyatakan tentang
alasan diterapkannya MBS, bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang
wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota (Pasal 1 Ayat 2). Untuk dapat melaksanakan
kewajiban ini secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
penduduk daerah yang bersangkutan, maka diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang
tepat dan mengedepankan kerja sama yang lebih dikenal dengan istilah collaborative
schoolmanagement yang

selanjutnya

menjadi

model

pengelolaan

sekolah

yang

dinamakan school based management atau manajemen berbasis sekolah (MBS)


Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa alasan diterapkannya Manajemen
Berbasis Sekolah adalah karena adanya berbagai program pendidikan yang pengelolaannya
terlalu kaku dan sentralistik, pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib
dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota, dan untuk dapat melaksanakan kewajiban ini,
maka diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang tepat dan mengedepankan kerja sama,
sekolah mempunyai otonomi atau wewenang untuk merencanakan, mengatur, mengambil
keputusan, melaksanakan dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang ada di sekolah dan
lingkungan sekolah dengan keterlibatan warga sekolah serta masyarakat sekitar sehingga sasaran
mutu pendidikan yang telah direncanakan dapat tercapai, pada dasarnya sekolahlah yang lebih
mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman, serta kebutuhannya termasuk dalam hal
finansial, prestasi siswa, akuntabilitas, keefektifan sekolah, keefisienan administrasi,
profesionalitas, politis dan keekonomian.

113

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan
yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. Bahkan dalam kasus-kasus
tertehtu, manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada
satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Untuk mengatasi terjadinya
stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan.
Seiring dengan bergulirnya era dtonomi daerah, terbukalah peluang untuk melakukan
reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. Peluang
tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan
melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS. MBS bukan sekedar
mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis, tetapi lebih
dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah.
Melalui penerapan MBS, kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga
kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Dengan demikian
kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang
memadai.
Dasar hukum yang melandasi adanya Managemen Berbasis Sekolah meliputi landasan
secara filosofis dan landasan yuridis. Landasan filosofis MBS secara umum adalah cara hidup
masyarakat. Maksudnya jika ingin reformasi pendidikan itu sukses maka reformasi tersebut
harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya. Seandainya reformasi itu peduli terhadap
cara dan kebiasaan warganya maka reformasi tersebut akan mendapat dukungan dari segenap
lapisan masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan melalui proses mencerdaskan kehidupan
bangsa dalam konteks idiil negara kita merupakan tanggung jawab pemerintah, sedangkan
menurut praktisnya merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan
pemerintah. Tanggung jawab tersebut, dilandasi oleh peran secara profesional.
Garis Besar Haluan Negara (GBHN) pemerintah mengupayakan keunggulan masyarakat
bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) Tahun 2000-2004 pada bab VII tentang bagian
program pembangunan bidang pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya
yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV, Pasal 51, Ayat (1), Kepmendiknas nomor 087 tahun
2004 tentang standar akreditasi sekolah, khususnya tentang manajemen berbasis sekolah. Dan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan
(khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II, Pasal 3).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa alasan diterapkannya Manajemen
Berbasis Sekolah adalah karena adanya berbagai program pendidikan yang pengelolaannya
terlalu kaku dan sentralistik, pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib
dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota, dan untuk dapat melaksanakan kewajiban ini,
maka diperlukan strategi pengelolaan pendidikan yang tepat dan mengedepankan kerja sama,
sekolah mempunyai otonomi atau wewenang untuk merencanakan, mengatur, mengambil
114

keputusan, melaksanakan dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang ada di sekolah dan
lingkungan sekolah dengan keterlibatan warga sekolah serta masyarakat sekitar sehingga sasaran
mutu pendidikan yang telah direncanakan dapat tercapai, pada dasarnya sekolahlah yang lebih
mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman, serta kebutuhannya termasuk dalam hal
finansial, prestasi siswa, akuntabilitas, keefektifan sekolah, keefisienan administrasi,
profesionalitas, politis dan keekonomian.
B. Saran
Manajemen sekolah sangat berpengaruh terhadap keefektifan kurikulum karena dengan
pengelolaan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula (mutu pendidikan akan lebih
meningkat).

115

PERTANYAAN DAN JAWABAN


1. Ahmad Fahmi
Esensi MBS yaitu sekolah mandiri. Tetapi tidak semua sekolah mandiri. Apakah MBS masih bisa
diterapkan mengingat banyak sekolah yang hanya copy paste saja?
Justru hal itu terjadi karena mungkin tidak diberlakukannya MBS pada sekolah itu, ataupun
lemahnya managemen dalm sekolah tersebut, sehingga lemahnya kontrol yang mengontrol
kinerja guru dalam menjalankan tugasnya, baik dari pihak kepala sekolah, komite sekolah,
teman sejawatnya maupun masyarakat dan wali murid. Dengan lemahnya kontrol pengawasan
atau regulasi dari pemerintah dan lingkungan sekolah. Jadi justru akan baik jika MBS yang ketat
dan dikelola dengan baik akan memberikan hasil managemen yang optimal dalam segala aspek.
2. Ani Yuliani
Tentang nuansa MBS salah satunya sekolah mandiri. Bentuk Kemandirian seperti apa?
Kemandirian MBS meliputi penetapan sasaran peningkatan mutu, penyusunan rencana
peningkatan mutu, pelaksanaan rencana peningkatan mutu dan melakukan evaluasi peningkatan
mutu. Di samping itu, sekolah juga memiliki kemandirian dalam menggali partisipasi kelompok
yang brekepentingan dengan sekolah.
3. Endro Prasetyo
Bentuk partisipasi masyarakat apa saja yang bisa diberikan kepada sekolah?
Partisipasi masyarakat bukan hanya sekedar dana tetapi masyarakat juga mendukung dalam
pelaksanaan program-program yang dibuat sekolah dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pada
evaluasi.
4. Didit Wisnu P
Komponen apa yang paling berpengaruh dalam pelaksanaan MBS?
Komponen yang berpengaruh dalam pelaksanaan MBS:
a.

Professional kepala sekolah dan guru

b. Administrasi
c.

Tokoh masyarakat

d. Wali siswa
e.

Siswa

f.

Dunia industri

g.

alumni

116

DAFTAR PUSTAKA
Laeli Fajriah. 2011. Yuk, Belajar Manajemen Berbasis Sekolah. Diakses dari
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/23/yuk-belajar-manajemen-berbasis-sekolah-1350888.html. pada tanggal 15 Maret 2013
Mulyasa. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Umaedi, dkk. 2008. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ada beberapa tujuan pendidikan diantaranya yaitu bersifat mendatar artinya
bahwa adanya pendidikan yaitu untuk mempersiapkan manusia untuk menghadapi
masa depan agar hidup lebih sejahtera, baik sebagai individu maupun secar kolektif
sebagai warga masyarakat, bangsa maupun antar bangsa. Tujuan dan fungsi
pendidikan lainnya adalah peradaban, artinya pendidikan bermanfaat untuk mencapai
117

suatu tingkat peradaban. Peradaban adalah hasil karya manusia yang semula
dimaksudkan untuk mendukung kesejahteraan manusia.
MBS atau manajement berbasis sekolah adalah suatu proses kerja komunitas
sekolah dengan menerapkan kaidah-kaidah otonomi akuntabilitas. Partisipasi untuk
mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara terpadu. Tujuan penerapan MBS
itu sendiri adalah untuk memaksimalkan dan efesiensi pengelolaan bermutu serta
relafansi pendidikan. Manajemen berbasis sekolah pada intinya adalah memberikan
kewenangan terhadap sekolah untuk melakukan pengelolaan dan perbaikan kualitas
secara terus menerus.
MBS merupakan salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk
mengakomodasi pendidikan nilai. Pendidikan kewarganegaraan dan agama sangat
penting untuk menumbuhkembangkan tanggungjawab bersama didalam kehidupan
suatu masyarakat(baik secara local, nasional, regional, global). Nilai-nilai spiritual
diperlukan untuk menyempurnakan kesejahteraan manusia di dunia dan alam
sesudahnya sehingga kehidupan lebih bermakna. Nilai-nilai lokal tercermin dalam nilai
social budaya setempat yang diwujudkan dalam bentuk tata krama pergaulan, model
pakaian, seni. Nilai-nilai nasional berkaitan erat dengan penerapan kaidah-kaidah
sebagai warga Negara yang baik yang menjunjung tinggi kebangsaan. Kedua nilai
tersebut membentuk budi pekerti dan keperibadian yang kuat, hanya dapat
dikembangkan melalui manajemen

yang

berbasis sekolah dengan dukungan

masyarakat.

Manajemen
memperkuat

jati

berbasis
diri

sekolah

peserta

didik

dengan
dengan

dukungan
nilai

masyarakat

social

budaya

berupaya
setempat,

mensinergikannya dengan nilai-nilai kebangsaan serta nilai-nilai agama yang dianut.


Landasan filosofis MBS secara umum adalah cara hidup masyarakat. Landasan
munculnya MBS yang berasal dari kehidupan masyarakat diantaranya:
a. Pendidikan nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat yaitu nilai nilai
kebersamaan yang bersumber dari nilai sosial budaya yang terdapat di lingkungan
keluarga dan masyarakat serta pada pendidikan agama.
b. Kesepakatan-kesepakatan yang diberlakukan dalam kehidupan masyarakat .
B. Rumusan Masalah
Di dalam makalah ini terdapat beberapa rumusan masalah, diantaranya :
1.

Apa hal-hal yang menjadikan landasan MBS ?

2.

Apa definisi landasan filosofis MBS ?

3.

Apa saja landasan yang bersifat filosofis ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari pembuatan makalah ini adalah :
-

Menyebutkan hal-hal yang menjadikan landasan MBS.


118

Mendefinisikan landasan filosofis MBS.

Menyebutkan landasan yang bersifat filosofis.

Menambah pengetahuan tentang landasan filosofis MBS.

D. Kajian pustaka
Bahan-bahan makalah ini kami ambil dari referensi buku dan situs-situs internet
yang berbeda-beda supaya data yang kami kumpulkan tentang landasan filosofis
MBS . Untuk lebih jelasnya kami akan lampirkan pada daftar pustaka sumbersumber yang kami ambil.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Manajemen Berbasis Sekolah
MBS sebagai bentuk upaya alternatif dalam pendidikan akan berjalan
dengan baik jika lingkungan mendukung untuk diadakannya reformasi. Akar
reformasi merupakan landasan filosofis yang tak lain bersumber dari cara
hidup(way of life) masyarakatnya. Oleh karena itu, untuk suksesnya reformasi
pendidikan harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya. Tanpa
mempedulikan cara dan kebiasaan hidup warganya maka reformasi pendidikan
tidak akan mendapat sambutan apalagi dukungan dari segenap lapisan
masyarakat. Maksudnya jika ingin reformasi pendidikan itu sukses maka reformasi
tersebut harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya. Seandainya
reformasi itu peduli terhadap cara dan kebiasaan warganya maka reformasi
tersebut akan mendapat dukungan dari segenap lapisan masyarakat.
Unsur lain dari reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua siswa dan
keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi sekolah yang dapat diterima dan
bernilai bagi masyarakat setempat. Segala keputusan yang diambil oleh pihak
sekolah harus melibatkan atau memusyawarahkan keputusan tersebut kepada
orang tua siswa atau masyarakat. Hal ini dikarenakan agar siswa dapat mencapai
kompetensi yang ditetapkan dan dapat merespon dengan tepat dan cepat
keinginan masyarakat, baik yang menyangkut pengembangan dan pengayaan
kognitif siswa, keterampilan maupun sikap sesuai dengan aspirasi yang
berkembang dilingkungannya. Dalam mewujudkan hal itu maka sekolah harus
diberi kewenangan yang lebih luas untuk mengambil keputusan yang didukung oleh
masyarakat(diantaranya orang tua murid). Pemberian kewenangan kepada sekolah
didalam pengambilan keputusan itulah yang merupakan hakikat MBS.
119

Oleh karena itu, pelaksanaan MBS seyogyanya benar-benar melibatkan


masyarakat dan memberdayakan peranserta masyarakat sekitar.
Dr. E. Mulyasa, M.Pd dalam bukunya Manajemen Berbasis Sekolah menyatakan
hal-hal yang menjadi landasan MBS sebagai berikut:
1.

Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) pemerintah mengupayakan


keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Hal ini
diharapkan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan pendidikan di
Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan, baik secara makro, meso
maupun mikro.
Aspek

makro

erat

kaitannya

dengan

desentralisasi

kewenangan

dari

pemerintah pusat ke daerah, aspek meso berkaitan dengan kebijakan daerah


provinsi sampai tingkat kabupaten sedangkan aspek mikro melibatkan sekolah
yaitu seluruh sektor dan lembaga pendidikan yang paling bawah serta terdepan
dalam pelaksanaannya.
2.

Undang-undang Pasal 51 UU no 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan


Nasional yang mengatur secara murni dan konsekuen.
Landasan MBS dalam buku Depdiknas 2007 :
1.

UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 51 ayat 1


pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan
minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/ madrasah.

2.

UU no 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional tahun 20002004 pada bab VII tentang bagian program pembangunan bidang
pendidikan khususnya sasaran terwujudnya manajemen pendidikan yang
berbasis pada sekolah dan masyarakat.

3.

Keputusan Mendiknas nomor 044 tahun 2002 tentang pembentukan dewan


pendidikan dan komite sekolah.

4.

Kepmendiknas nomor 087 tahun 2004 tentang standar akreditasi sekolah,


khususnya tentang manajemen berbasis sekolah.

5.

Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional


pendidikan, khususnya standar pengelolaan sekolah yaitu manajemen
berbasis sekolah.
120

B. Landasan Filosofis MBS


Landasan MBS Menurut Drs. Nurkolis, MM dalam bukunya yang berjudul
Manajemen Berbasis Sekolah:
1. Landasan filosofis
Landasan filosofis MBS adalah cara hidup masyarakat. Maksudnya jika ingin
reformasi pendidikan itu sukses maka reformasi tersebut harus berakar pada cara
dan kebiasaan hidup warganya. Seandainya reformasi itu peduli terhadap cara dan
kebiasaan warganya maka reformasi tersebut akan mendapat dukungan dari
segenap lapisan masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan melalui proses
mencerdaskan kehidupan bangsa dalam konteks idiil negara kita merupakan
tanggung

jawab

tanggungjawab

pemerintah,
bersama

sedangkan

antara

menurut

keluarga,

praktisnya

masyarakat

dan

merupakan
pemerintah.

Tanggungjawab tersebut, dilandasi oleh peran secara profesional.


Artinya,

pelayanan

pendidikan

tidak

dapat

dihindarkan

dari

batas-batas

tanggungjawab mengingat masing-masing mempunyai posisi dan keterbatasan.


Keluarga

dalam

arti

biologis

merupakan

orang

tua

langsung

(ibu

dan

bapak),mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pendidikan kepada anak


anaknya dirumah tangga, dari mulai hal yang bersifat sederhana dan pribadi
sampai pada hal yang komplek dan bermasyarakat. Tugas dan wewenang ini,
bersifat alamiah dan mendasar untuk membangun individu yang bertanggung
jawab. Akan tetapi sebagai orang tua, terdapat berbagai keterbatasan dalam
pelayanan pendidikan yang bersifat normatif dan terukur, baik yang bersifat
keilmuan maupun keterampilan tertentu.

Oleh sebab orang tua tidak dapat melayani kebutuhan pendidikan anak nya, maka
orang tua memperca yakan kepada sekolah baik yang diselenggarakan oleh
masyarakat (yayasan pendidikan) maupun pemerintah.
Konsekkuensinya orang tua wajib memberikan dukungan kepada sekolah sesuai
dengan

batas

kemampuan

dan

kesepakatan.

Oleh

sebab

itu

tujuan

penyelanggaraan pelayanan pendidikan hanya bisa dicapai apabila terjadinya


sinerjik dan integrasi dukungan dari berbagai sumber daya, untuk terjadinya sinerjik
dan integrasi dukungan dari berbagai sumber daya pendidikan, perlu adanya suatu
badan yang bersifat independen dengan asas keadilan dan kemanusiaan.
Landasan MBS Menurut Modul UT:
1. Landasan yang Bersifat Filosofis
a. Nilai - nilai kebersamaan yang bersumber dari nilai sosial budaya yang terdapat di
lingkungan keluarga dan masyarakat serta pada pendidikan agama

121

b. Kesepakatan atas pranata sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dengan kata
lain maka segala bentuk perubahan harus melibatkan masyarakat setempat agar
semuanya lancar sesuai harapan.
2. Landasan yang Berdasarkan Hukum atau Peraturan Perundangan
a. UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas
b. UU Sisdiknas No 2 tahun 1989 Pasal 25 ayat 1 butir 1 bahwa pendidikan adalah
tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah:
Kepmendiknas No 044/U/2002 :
a. PP No 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan
Provinsi Sebagai Daerah Otonom. Dari beberapa pendapat tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa landasan MBS adalah sebagai berikut:
1. Landasan Filosofis
Melibatkan semua pihak secara optimal yaitu keluarga, masyarakat, dan
pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan.

2. Landasan Yuridis atau Undang- Undang


a. UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 51 ayat 1
pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan
minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/ madrasah
b. UU no 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional tahun
2000-2004 pada bab VII tentang bagian program pembangunan bidang
pendidikan khususnya sasaran terwujudnya manajemen pendidikan yang
berbasis pada sekolah dan masyarakat
c. Keputusan Mendiknas nomor 044 tahun 2002 tentang pembentukan
dewan pendidikan dan komite sekolah.
d. Kepmendiknas nomor 087 tahun 2004 tentang standar akreditasi sekolah,
khususnya tentang manajemen berbasis sekolah.
e. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional
pendidikan, khususnya standar pengelolaan sekolah yaitu manajemen
berbasis sekolah.
f. UU Sisdiknas No 2 tahun 1989 Pasal 25 ayat 1 butir 1 bahwa pendidikan
adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan
pemerintah.
Sejak diberlakukannya otonomi daerah, tampaknya sangat berpengaruh
terhadap

penyelanggaraan

tatanan

pemerintahan

termasuk

dalam

pelayanan

pendidikan yang dikenal dengan pendekatan ke arah desentralisasi. Secar, politis,


kebijakan desentralisasi ini dimulai pada januari 2001, diawali dengan pelimpahan
122

sebagian besar kewenangan pemerintah kepada pemerintah daerah kebupaten dan


kota yang membawa konsekuensi adanya restruktur-isasi kelembagaan pemerintahan,
termasuk di bidang pendidikan.

Desentralisasi pendidikan diharaokan akan mendorong meningkatkan pelayanan


dibidang pendidikan kepada masyarakat, yang bermuara pada upaya peningkatan
kualitas pengelolaan pendidikan dalam tataran yang paling bawah (at the bottom) yaitu
sekolah melalui penerapan manajemen berbasis sekolah.
MBS sebagai suatu model implementasi kebijakan desentralisasi pendidikan
merupakan suatu konsep inovatif, yang bukan hanya dikaji sebagai wacana baru dalam
pengelolaan pendidikan tetapi sebaiknya juga dipertimbangkan sebagai langkah inovatif
dan strategi ke arah peningkatan pendidikan melalui pendekatan manajemen yang
bercirikan akar rumput.
Salah satu wujud konkrit dari konteks ini adalah adanya keterlibatan
stakeholders dalam membantu peningkatan pemerataan, relavansi, kualitas efektifitas
dan efesiensi penyelenggaraan pendidikan.
Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya jalur
sekolah, diatur dengan UU No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional: PP.
No. 39 tahun 1992 tentang peran serta masyrakat dalam penyelenggaraan pendidikan
di sekolah dan UU No. 22 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.
Pertimbangan yang dikemukakan diatas, dapat dijadikan rambu-rambu dalam
memposisikan Dewan Pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah.
Dengan demikian posisi dewan pendidikan dan dinas pendidikan mengacu pada
wewenang (otonomi), yang mengarah kepada landasan hukum yang berlaku pada
setiap daerah.
UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 bagian ketiga, pasal 56, mengisyaratkan
bahwa :
1. Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi
perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan
pendidikan dan komite sekolah.
2. Dewan pendidikan sebagai lembaga mendiri dibentuk dan berperan dalam
peningkatan mutu, dukungan, dan pengawasan pendidikan di tingkat nasional,
provinsi, dan kabupaten atau kota yang tidak mempunyai hubungan hieraksis.

123

3. Komite sekolah sebagai lembaga mandiri, dibentuk untuk memberikan arahan,


dukungan dan pengawasan pada tingkat satuan pendidikan.
4. Ketentuan mengenai pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah
sebagaimana dimaksud ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.
Sebelum ada peraturan pemerintah lebih lanjut, yang dapat dijadikan landasan
hukum pembentukan dewan pendidikan dapat ditetapkan berdasarkan:
a.

Peraturan daerah (perda).

b.

SK wali kota atau bupati.

c.

Akta notaris.

BAB III
PENUTUP
I. Kesimpulan
Menurut pendapat kami bahwa kesimpulan dari Landasan filosofis MBS adalah
cara hidup masyarakat. Maksudnya jika ingin reformasi pendidikan itu sukses maka
reformasi tersebut harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya.
Seandainya reformasi itu peduli terhadap cara dan kebiasaan warganya maka
reformasi tersebut akan mendapat dukungan dari segenap lapisan masyarakat.
124

Penyelenggaraan pendidikan melalui proses mencerdaskan kehidupan bangsa


dalam konteks idiil negara kita merupakan tanggung jawab pemerintah, sedangkan
menurut praktisnya merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, masyarakat
dan pemerintah. Tanggungjawab tersebut, dilandasi oleh peran secara profesional.
Kemudian Nilai - nilai kebersamaan yang bersumber dari nilai sosial budaya yang
terdapat di lingkungan keluarga dan masyarakat serta pada pendidikan agama.
Kesepakatan atas pranata sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dengan kata lain
maka segala bentuk perubahan harus melibatkan masyarakat setempat agar semuanya
lancar sesuai harapan.

DAFTAR PUSTAKA
Laeli Fajriah. 2011. Yuk, Belajar Manajemen Berbasis

Sekolah. Diakses dari

http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/23/yuk-belajar-manajemen-berbasis-sekolah-1350888.html. pada tanggal 15 Maret 2013


Mulyasa. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Umaedi, dkk. 2008. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka.

125