Anda di halaman 1dari 46

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN

APRIL 2016

UNIVERSITAS HASANUDDIN

ODS COMPOUND MIOP ASTIGMAT

DISUSUN OLEH :
Tri Kurniawan (C 111 11 323)

PEMBIMBING :
dr. Rani Yunita Patong

SUPERVISOR :
dr. Ririn Nislawati, SpM, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Tri Kurniawan

NIM

: C111 11 323

Judul Kasus dan Referat

: Compound Miop Astigmat / Kelainan Refraksi

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu
Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, April 2016


Supervisor

Pembimbing

dr. Ririn Nislawati, SpM, M.Kes

dr. Rani Yunita P

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHANi
DAFTAR ISIiii
BAB I LAPORAN KASUS
I.

Identitas Pasien .....................................................................................1

II.

Anamnesis .............................................................................................1

III.

Status Generalis .....................................................................................2

IV.

Foto Klinis .............................................................................................2

V.

Pemeriksaan Oftalmologi.......................................................................3

VI.

Non-Contact Tonometri ........................................................................4

VII.

Pemeriksaan Visus ................................................................................4

VIII.

Penyinaran Oblik ...................................................................................4

IX.

Color Sense ...........................................................................................4

X.

Light Sense ............................................................................................4

XI.

Campus Visual ......................................................................................5

XII.

Slit Lamp ...............................................................................................5

XIII.

Funduskopi ............................................................................................5

XIV.

Pemeriksaan Laboratorium ...................................................................5

XV.

Resume ..................................................................................................5

XVI. Diagnosis Kerja .....................................................................................6


XVII. Diagnosis Banding ................................................................................6
XVIII. Penatalaksanaan ....................................................................................6
XIX. Prognosis ...............................................................................................6
XX.

Diskusi ..................................................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA9


A. Latar Belakang ..............................................................................................9
B. Definisi dan Klasifikasi10
C. Fisiologi Refraksi pada Mata dan Kerja Lensa11
D. Miopia..........................................................................................................18
E. Hipermetropia .............................................................................................28
F. Astigmatisme...............................................................................................33

DAFTAR PUSTAKA39

BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. F. W

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 24 tahun

Agama

: Islam

Suku/Bangsa

: Makassar/Indonesia

Pekerjaan

: Pegawai honorer

Alamat

: Perum Citra Daya Permai Makassar

No. Register

: 0589xx

Tanggal pemeriksaan

: 21 April 2016

Tempat pemeriksaan

: RSP Unhas

II. ANAMNESIS
Keluhan utama

: Penglihatan kabur kedua mata

Anamnesis terpimpin :
Penglihatan kabur dialami sejak 2 tahun lalu secara perlahan saat melihat
jauh. Riwayat pusing ada, sakit kepala kadang-kadang. Mata merah tidak ada,
nyeri tidak ada, gatal tidak ada, air mata berlebih tidak ada, produksi kotoran
1

berlebih tidak ada, mata seperti berpasir tidak ada. Riwayat menggunakan
kacamata sejak 1 tahun lalu, namun keluhan di atas berulang kembali sejak 6
bulan lalu.
Riwayat trauma pada mata disangkal, riwayat hipertensi disangkal, riwayat
diabetes melitus disangkal. Riwayat bekerja di depan komputer sekitar 7 jam
sehari sejak 3 tahun lalu. Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga ada.
Riwayat operasi mata sebelumnya disangkal

III. STATUS GENERALIS


Keadaan Umum : Sakit sedang, gizi cukup, Composmentis
Tanda vital : Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi: 84 x/menit
Pernafasan: 18 x/menit
Suhu : 36,5 C

IV. FOTO KLINIS

Oculus Bilateral

Oculus Dextra

Oculus Sinistra

V. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
Inspeksi
Pemeriksaan
Palpebra

OD
edema (-)

OS
edema (-).

hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Apparatus lakrimalis

hiperlakrimasi (-)

hiperlakrimasi (-)

Silia

sekret (-)

sekret (-)

Konjungtiva

hiperemis (-)

hiperemis (-)

Bola Mata

Kesan intak

Kesan intak

Kesegala arah

Kesegala arah

Kornea

Jernih

Jernih

Bilik Mata Depan

Kesan Normal

Kesan Normal

Iris

Coklat, kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat,

Mekanisme muscular

sentral,

Refleks Bulat,

sentral,

Cahaya (+)

Cahaya (+)

Jernih

Jernih

Palpasi

OD

OS

Tensi Okuler

Kesan Tn

Kesan Tn

Nyeri Tekan

(-)

(-)

Massa Tumor

(-)

(-)

Glandula Preaurikuler

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Lensa

Refleks

Palpasi

VI. NON-CONTACT TONOMETRI


Tidak dilakukan pemeriksaan

VII. PEMERIKSAAN VISUS


Pemeriksaan

OD

OS

Visus

20/400

20/400

Kacamata lama

S: -1,50 20/150

S: -1,50 20/150

Koreksi

S: -2,75 C: -0,50 AX 90

S: -2,75 C: -0,50 AX 180

Visus hasil koreksi

20/20

20/20

VIII. PENYINARAN OBLIK


Pemeriksaan

OD

OS

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Kornea

Jernih

Jernih

Bilik Mata Depan

Normal

Normal

Iris

Coklat, kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat, sentral, RC (+)

Bulat, sentral, RC (+)

Lensa

jernih

Jernih

IX. COLOR SENSE


Tidak dilakukan pemeriksaan

X. LIGHT SENSE

Tidak dilakukan pemeriksaan

XI. CAMPUS VISUAL


Tidak dilakukan pemeriksaan.

XII. SLIT LAMP


SLOD : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD kesan normal, iris
coklat, krypte (+), pupil bulat central, RC (+), lensa jernih
SLOS : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD kesan normal, iris
coklat krypte (+), pupil bulat central, RC (+), lensa jernih

XIII. FUNDUSKOPI
Tidak dilakukan pemeriksaan
XIV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tidak dilakukan pemeriksaan
XV. RESUME
Seorang laki-laki berumur 24 tahun datang berobat ke poli mata dengan
keluhan visus menurun pada oculus bilateral. Keluhan dialami sejak 2 tahun lalu
secara perlahan, terutama ketika melihat objek yang jauh. Keluhan kadang-kadang
disertai pusing dan sakit kepala. Riwayat menggunakan kacamata sejak 1 tahun
6

lalu, namun keluhan berulang kembali sejak 6 bulan lalu. Riwayat operasi mata
sebelumnya disangkal. Riwayat trauma pada mata disangkal. Ada riwayat bekerja
di depan komputer selama sekitar 7 jam sehari. Riwayat keluarga dengan keluhan
yang sama ada.
Dari pemeriksaan

oftalmologi, VOD : 20/400, VOS : 20/400. Visus

dengan kacamata pasien OD S: -1,50 yaitu 20/150 dan OS S:-1,50 yaitu 20/150.
Dikoreksi dengan OD : S -2,75 C -0,50 x 90 ; OS : S -2,75 C -0,5 x180. Visus
hasil koreksi VOD 20/20, VOS 20/20. Pada pemeriksaan oftalmologi lainnya
dalam batas normal.

XVI. DIAGNOSIS KERJA


ODS Compound Miop Astigmat

XVII. DIAGNOSIS BANDING


Miopia
Hipermetropia
Simpel Astigmat

XVIII. PENATALAKSANAAN
Kacamata monofocal
OD S: -2,75 C: -0,50 AX 90
OS S: -2,75 C: -0,50 AX 180
DP 62/60 mm
XIX. PROGNOSIS
7

Quo ad Vitam
Quo ad Visam
Quo ad Sanationam
Quo ad Comesticam

: Bonam
: Bonam
: Bonam
: Bonam

XX. DISKUSI
Pasien usia laki-laki usia 24 tahun datang dengan keluhan pandangan
kabur pada kedua mata dialami sejak 2 tahun lalu. Mata merupakan organ visual
yang membutuhkan cahaya untuk menjalankan fungsinya dalam melihat. Keluhan
pandangan kabur berarti terjadi gangguan pada proses refraksi cahaya atau proses
penerimaan cahaya di retina. Tidak ada keluhan seperti mata merah, nyeri, riwayat
kemasukan benda asing, bengkak, berair banyak, kotoran berlebih, mata seperti
berpasir, menyingkirkan kelainan penglihatan yang disebabkan oleh infeksi, benda
asing, atau peradangan pada mata. Tidak ada riwayat trauma juga menyingkirkan
kemungkinan gangguan visus akibat trauma.
Setelah anamnesis, maka langkah pertama selanjutnya adalah memeriksa
ketajaman penglihatan pasien (visus). Dari hasil pemeriksaan visus didapatkan
VOD : 20/400, VOS : 20/400. Visus dengan kacamata pasien OD S: -1,50 yaitu
20/150 dan OS S:-1,50 yaitu 20/150. Dikoreksi dengan OD : S -2,75 C -0,50 x
90 ; OS : S -2,75 C -0,5 x180. Visus hasil koreksi VOD 20/20, VOS 20/20.
Pemeriksaan lainnya seperti dalam batas normal. Hal ini menunjukkan
pasien mengalami kelainan refraksi dengan diagnosis compound miop astigmat.
Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada
retina, dimana terjadi ketidakseimbangan sistem penglihatan pada mata sehingga
menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi
dapat di depan atau di belakang retina dan/ atau tidak terletak pada satu titik
fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan
kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata.
Kelainan refraksi dapat dengan mudah dideteksi, diobati dan dievaluasi
dengan pemberian kaca mata. Namun demikian kelainan refraksi menjadi masalah
serius jika tidak cepat ditanggulangi. Oleh karena itu setiap pasien wajib
dilakukan pemeriksaan visus sebagai bagian dari pemeriksaan fisik mata umum.

Pemeriksaan

visus

merupakan

pengukuran

obyek

terkecil

yang

dapat

diidentifikasi terhadap seseorang dalam jarak yang ditetapkan dari mata


Pasien ini didiagnosis sebagai compound miop astigmat. Astigmatisme
merupakan salah satu kelainan refraksi di mana derajat kelengkungan media
refrakta yang tidak sama pada tiap sumbu (aksis) visual menyebabkan bayangan
jatuh pada banyak titik, baik itu di depan, atau di belakang retina. Sedangkan
miop adalah kelainan refraksi di mana bayangan yang dihasilkan jatuh di depan
retina. Jadi compound myop astigmat adalah salah satu kelainan refraksi di mana
bayangan yang dihasilkan terletak di depan retina dan terdapat beberapa titik.
Gejala-gejala yang terjadi pada pasien adalah pandangan kabur, sakit
kepala, pusing, mata cepat lelah, bahkan kadang-kadang terjadi mual muntah. Hal
ini disebabkan karena adanya bayangan yang tidak sesuai jatuh di retina membuat
persepsi pada otak juga terganggu dan akomdasi oleh mata terus menerus. Pada
pemeriksaan visus didapatkan kemunduran visus dan visus membaik dengan pin
hole, selain itu tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan oftalmologi lainnya.
Tatalaksana kasus gangguan refraksi adalah dengan menetralisir gangguan
refraksinya atau mengkoreksi kausalitas gangguan refraksinya. Untuk menetralisir
gangguan refraksinya digunakan kacamata yang sesuai dengan tipe kelainan
refraksinya.

Jika

pasien

mengalami

myopia,

maka

diberikan

lensa

cekung/negative/divergen untuk mengurangi kekuatan media refraksinya agar


bayangan jatuh dari depan menuju tepat ke retina. Sedangkan pada kasus
hipermetropia diberikan lensa cembung/positif/konvergen untuk memperkuat
kekuatan refraksi sehingga bayangan yang tadinya jatuh di belakang retina
bergeser tepat di retina. Pada kasus astigmatisme, di mana terdapat berbagai letak
titik fokus bayangan, maka kita perlu mengetahui dulu lensa cylinder yang tepat
(positif/negatif) lalu kemudian menemukan aksis yang tepat yang memberikan
gambaran yang terjelas bagi pasien. Dapat juga dilakukan intervensi untuk
memperbaiki langsung media refraksi yang mengalami kelainan, seperti operasi
LASIK

(laser

in-situ

keratomileusis),

Radial

Keratotomy

atau

PRK

(photorefractive keratectomy.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. LATAR BELAKANG
Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak
terkoreksi dapat memberikan konsekuensi baik jangka pendek maupun
jangka

panjang

pada

anak-anak

dan

orang

dewasa,

seperti

berkurangnya produktivitas, kurangnya peluang mendapatkan karier


yang baik di pendidikan dan pekerjaan, dan berkurangnya kualitas
hidup. Berbagai faktor berpengaruh terhadap gangguan refraksi yang
tidak terkoreksi, seperti kurangnya perhatian dan pengenalan terhadap
masalah ini pada tiap individu, kurang tersedianya pelayanan untuk
pemeriksaan gangguan refraksi, kurang terjangkaunya biaya lensa
koreksi terutama pada negara-negara dengan mayoritas status ekonomi
penduduk kategori menengah ke bawah.(1)

10

Gambar 1. Penyebab Kebutaan di Dunia(1)

Menurut WHO (2004) diperkirakan terdapat sekitar 153.000.000


orang setiap 5 tahunnya yang terganggu penglihatannya akibat
gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, di mana 8.000.000 jiwa
tergolong dalam kategori buta. Sebanyak 12,8 juta jiwa pada kelompok
usia 5-15 tahun terganggu penglihatannya akibat gangguan refraksi,
dengan prevalensi tertinggi pada Asia Tenggara dan China. Pada
kelompok usia 16-39 tahun terdapat 27 juta jiwa gangguan refraksi, di
mana prevalensi myopia tertinggi pada usia 13-18 tahun. Sedangkan
pada kelompok usia 50 tahun ke atas, terdapat 95 juta jiwa mengalami
gangguan refraksi, di mana 6,9 juta jiwa diantaranya mengalami
kebutaan. Data lain menunjukkan sekitar 1,3 juta jiwa pada kelompok
usia 40-49 tahun mengalami kebutaan akibat gangguan refraksi.(1)
B. DEFINISI DAN KLASIFIKASI
Cahaya dapat didefinisikan sebagai bagian dari spectrum
gelombang elektromagnetik di mana mata sensitive terhadapnya.
Bagian yang dapat dilihat dari spektrum ini terletak pada panjang
gelombang 390 nm sampai 760 nm. Agar mata dapat menghasilkan
informasi visual yang akurat, cahaya harus difokuskan dengan tepat di
retina. Fokus harus disesuaikan untuk menghasilkan pandangan yang
jelas untuk objek dekat maupun jauh. Kornea, atau lebih tepatnya titik
pertemuan udara/air pada mata bertanggung jawab untuk 2/3 kekuatan
fokus mata, sedangkan lensa kristal dan media lainnya adalah 1/3nya.(2)

11

Ketika sinar cahaya paralel dari objek yang jauh jatuh pada fokus
di

retina

dengan

mata

dalam

keadaan

beristirahat

(tidak

berakomodasi), keadaan ini disebut emetropia. Individu dengan mata


emetrop dapat melihat jarak jauh dengan jelas tanpa berakomodasi.
Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi
sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus
yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam
bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan
astigmat.(2)
Pada gambar 2 di bawah, terlihat berbagai jenis klasifikasi
ametropia. Pada bagian (a) merupakan sketsa cahaya normal, di mana
sinar-sinar parallel difokuskan pada retina, membentuk gambaran yang
tajam.. Pada (b) yaitu myopia di mana sinar-sinar sejajar sumbu utama
yang memasuki mata dikonvergensikan di anterior dari retina,
menghasilkan bayangan yang kabur (warna biru pada gambar), dan
kondisi ini dikoreksi dengan lensa minus (cekung) yang menghasilkan
divergensi

dari

berkas

cahaya

yang

masuk

ke

mata

dan

memfokuskannya tepat di retina (warna merah pada gambar). Pada


bagian (c) hypermetropia terjadi di mana sinar-sinar sejajar sumbu
utama difokuskan dibelakang retina (biru), kondisi ini dikoreksi
dengan lensa positif/konvergen untuk menambah kekuatan refraksi dan
memfokuskan bayangan jatuh di retina (merah). Sedangkan pada
kondisi (d) astigmatisme terjadi ketika sinar-sinar yang masuk
difokuskan pada dua bidang/axis yang berbeda akibat dari kurvatura
dari kornea atau lensa yang berbeda tiap sumbunya (biasanya sumbu
yang saling tegak lurus). Kondisi ini dikoreksi dengan lensa silindris.(3)

12

Gambar 2.Jenis-jenis Ametropia. (a)Normal (b)Myopia (c)Hipermetropia (d)Astigmat (3)

C. FISIOLOGI REFRAKSI PADA MATA DAN KERJA LENSA


1. Fisiologi Refraksi
Refraksi cahaya adalah fenomena perubahan/pembelokan berkas
cahaya ketika melalui dua medium dengan kerapatan yang berbeda.
Penyebab dasar dari refraksi adalah perubahan kecepatan cahaya pada
medium yang dilaluinya. Hukum refraksi yaitu :
1. Sinar datang, sinar refrakta berada pada sisi yang berlawanan
dan kedua tersebut bersama garis normal berada dalam satu
bidang.(4)
2. Perbandingan sinus sudut sinar datang terhadap sinar refrakta
adalah tetap bergantung pada medium cahaya. Besaran ini
disimbolkan dengan n disebut sebagai indeks bias. Indeks bias
udara (vakum) adalah satu. Hukum snellius tentang refraksi
yaitu : sin i/ sin r = n2/n1. Ketika cahaya memasuki medium
yang lebih padat maka arah biasnya mendekati sumbu normal,
sedangkan jika memasuki medum yang lebih renggang maka
arahnya menjauhi garis normal.(4)

13

Gambar 3. Fenomena refraksi cahaya(4)

Proses refraksi juga terjadi pada mata, yang berfungsi agar


bayangan objek yang dilihat dapat jatuh di retina dengan tepat. Oleh
karena itu, komponen mata yang berfungsi sebagai media refrakta
yaitu kornea, humor aquous, lensa kristalina, dan badan vitreus harus
berfungsi dengan baik dan optimal. Telah dijelaskan di atas bahwa
gangguan refraksi disebut sebagai ametropia. Ametropia dapat terjadi
oleh karena adanya ketidakcocokan/ketidakseimbangan antara panjang
axis (sumbu utama) dengan kekuatan media refrakta, baik itu itu
perbandingan axis terhadap kekuatan refraksi terlalu besar atau kecil,
sehingga secara umum ametropia dapat dibagi dua berdasarkan
etiologi utamanya, yaitu ametropia aksial (tersering) atau ametropia
refraktif.(5)

14

Gambar 4. Perbandingan letak fokus bayangan pada emetrop dan ametrop(5)

Gambar 5. Indeks refraksi masing-masing media refraksi pada mata(5)

Kekuatan suatu media dalam merefraksikan cahaya disebut dalam


satuan dioptri, yang merupakan satuan unit internasional. Kekuatan
refraksi dihitung berdasarkan hokum optika geometri. Berdasarkan
hokum snells, bahwa refraksi pada cahaya yang memasuki suatu
medium yang berbeda dtentukan oleh sudut masuknya dan perdeaan
indeks bias dari masing-masing medum. Aplikasi hukum ini pada mata
yaitu sudut masuknya sinar datang itu ditentukan oleh kelengkungan
kurvatura lensa atau kornea dan indeksi bias masing-masing media
refrakta ditentukan oleh komponen kimiawi (kepadatan jaringan) pada
media refraksi seperti pada gambar 5 di atas.(5)
Kekuatan refraksi total pada mata yang emetrop adalah 63 dioptri
pada panjang sumbu (axis) 23,5 mm. Kekuatan kornea sekitar 43
dioptri, sedangkan lensa berkisar antara 10-20 doptri, bergantung pada
apakah sedang berakomodasi atau tidak.(5)

15

Telah dijelaskan pada paragraph di atas bahwa kekuatan refraksi


mata

tidak

konstan,

melainkan

harus

berubah-ubah

untuk

memungkinkan terjadinya visualisasi yang jelas baik pada objek yang


jauh maupun dekat. Proses fisiologis yang mengatur mekanisme
perubahan kekuatan refraksi inilah yang disebut sebagai akomodasi.
Mekanisme akomodasi melibatkan lensa, zonula ciliaris, dan otot
siliaris.(5)

Gambar 6. Proses refraksi pada mata emetrop(5)

Pada gambar 6, bagian a menunjukkan sinar-sinar sejajar sumbu


utama masuk ke mata dari jarak tak hingga difokuskan ke retina pada
mata yang tidak berakomodasi. Pada bagian b, proses akomodasi
memfokuskan cahaya pada sinar yang berasal dari objek yang dekat
tepat di retina untuk menghasilkan bayangan yang tajam. Pada bagian
c, ketika proses akomodasi tidak adekuat, misalkan pada usia tua,
objek yang dekat tampak kabur, Pada bagian d, lensa dibutuhkan untuk
mengoreksi proses akomodasi yang tidak adekuat tersebut untuk
melihat objek dekat pada usia tua. Proses akomodasi terjadi ketika
otot-otot siliaris berkontraksi menyebabkan zonula merenggang, hal ini

16

membuat lensa menjadi lebih globular (bulat) sehingga kekuatan


refraksinya bertambah, hal ini dibutuhkan untuk memfokuskan
penglihatan melihat objek dekat. Seperti yang terlihat pada gambar
berikut.(5)

Gambar 7. Proses akomodasi(5)

2. Mekanisme Kerja Lensa


Lensa

adalah

media

transparan

yang

berufngsi

dalam

merefraksikan cahaya, terdiri dari dua permukaan yang dapat


membentuk bola (sferis) atau silinder/torus. Lensa sferis terdiri dari
dua permukaan dengan kelengkungan berbentuk seperti bola, yang
bentuk

permukaanya

terdiri

dari

dua

yaitu

lensa

konveks

(cembung/positif) atau lensa konkaf (cekung/negatif). (4)

Gambar 8. Jenis-jenis lensa sferis konveks (A)bikonveks (B)Plano-Konveks (C)


Konkavokonveks(4)

Lensa konveks atau lensa positif adalah lensa yang bersifat


konvergen yaitu mengumpulkan cahayayang masuk dapat berbentuk
bikonveks, planokonveks, atau konkavokonveks. Lensa konveks tebal

17

pada bagian tengah tipis pada bagian perifer, objek yang berada dekat
dengan lensa cembung akan tampak membesar, dan ketika digerakkan
maka bayangan objek yang tampak bergerak berlawanan arah dari
gerakan lensa. Lensa ini digunakan dalam mengoreksi kelainan
hipermetropia, afakia, dan presbyopia, selain itu berfungsi dalam
iluminasi oblik, atau oftalmoskopi indirek.(4)

Gambar 9. Sifat-sifat bayangan pada lensa konveks(4)

Lensa konkaf adalah termasuk lensa sferis namun berisfat divergen


(menghamburkan

cahaya),

bentuknya

terdiri

dari

bikonkaf,

planokonkaf, konveksokonkaf (meniscus). Ciri-cirinya tipis di bagian


tengah dan tebal di perifer, bayangan objek yang ada di depannya
tampak mengecil, ketika digerakkan, bayangan objek yang terlihat
bergerak searah dengan lensa. Adapun kegunaannya adalah untuk
mengoreksi kelainan refraksi seperti myopia dan sebagai lensa Hruby
dalam pemeriksaan fundus dengan slit-lamp. Gambar yang terbentuk
dari lensa cekung ini selalu bersifat maya, tegak dan diperkecil.(4)

18

Gambar 10. Jenis-jenis lensa cekung (A) bikonkaf (B)Plano-konkaf (C) Konveksokonkaf (4)

Gambar 11. Sifat bayangan pada lensa cekung(4)

Lensa silinder merupakan lensa yang berbentuk seperti tabung,


bekerja maksimal hanya pada satu axis/sumbu tertentu dan axis yang
tegak lurus dari axis utamanya memiliki kekuatan refraksi 0 dioptri.
Terdiri dari dua, yaitu lensa silinder konveks (positif) atau konkaf
(negatif). Lensa cylindris terutama digunakan untuk mengkoreksi
astigmatisme, di mana terdapat perbedaan indeks refraksi pada axis
tertentu di kornea sehingga sesuai dengan mekanisme kerja lensa ini
yaitu bekerja pada axis tertentu, untuk menyatukan titik fokus
bayangan akibat perbedaan kekuatan refraksi tersebut. (4)

Gambar 12. Jenis lensa silinder (A) Positif (B)Negatif(4)

19

Gambar 13. Sifat bayangan pada Lensa cylindris(4)

D. MIOPIA
1. Definisi(4, 6)
Miopia adalah salah satu bentuk kelainan refraksi dimana
sinar yang datang sejajar dari jarak yang tak berhingga difokuskan
di depan retina saat mata tidak berakomodasi. Pasien dengan
miopia akan menyatakan melihat lebih jelas bila dekat sedangkan
melihat jauh kabur atau pasien adalah rabun jauh
2. Klasifikasi Etiologi(4)
a. Axial miopi; terjadi karena pertambahan panjang diameter
antero-posterior bola mata, ini penyebab yang paling banyak.
b. Kurvatural miopi ; karena peningkatan kelengkungan kornea
dan atau lensa.
c. Positional miopi; terjadi karena pergeseran lensa ke bagian
anterior.
d. Index myopia; tipe ini terjadi karena peningkatan index refraksi
lensa, misal pada nuklear sclerosis.
e. Miopi yang berhubungan dengan akomodasi yang berlebihan.

20

Gambar 14. Sifat refraksi cahaya pada Miopia(6)

3. Variasi Klinis Miopi(4)


a. Miopia Kongenital
Miopi yang sudah terjadi sejak lahir,namun biasanya
didiagnosa saat usia 2-3 tahun, kebanyakan unilateral dan
bermanifestasi anisometropia. Jarang terjadi bilateral.
Miopi kongenital sering berhubungan dengan kelainan
congenital lain seperti katarak congenital, mikrophtalmus,
aniridia,

megalokornea.

Miopi

congenital

sangat

perlu

dikoreksi lebih awal.


b. Miopi simplek
Jenis miopi ini paling banyak terjadi, jenis ini berkaiatan
dengan gangguan fisiologi, tidak berhubungan dengan penyakit
mata lainnya. Miopi ini meningkat 2 % pada usia 5 tahun
sampai 14 % pada usia 15 tahun. Kerena banyak ditemukan
pada anak usia sekolah maka disebut juga dengan school
Myopia.
Etiologi
Suatu

variasi biologi normal dari perkembangan mata,

yang mana bisa berhubungan maupun

tidak berhubungan

dengan genetik.

21

a. Tipe axial
Variasi fisiologis dari perkembangan bola mata atau dapat
berhubungan dengan neurologi prekok pada masa anakanak.
b. Tipe kurvatural
Terjadi karena variasi perkembangan bola mata. Hal ini
dikarenakan kebiasaan diet pada masa anak-anak ada
dilaporkan tanpa kesimpulan yang belum terbukti.
c. Genetik
Genetik berperan dalam variasi biologis pada pertumbuhan
bola mata, dengan faktor resiko, jika kedua orang tua miopi
prevalensi terjadinya miopi pada anaknya sekitar 20 %, jika
salah satu dari orang tua menderita miopi maka prevalensi
anaknya menderita miopi sekitar

10%., jika salah satu

orang tua tidak ada menderita miopi,prevalensi miopi pada


anak sekitar 5 %.
d. Teori bekerja dengan penglihatan yang sangat dekat.
Teori ini mengatakan bahwa, miopi dapat terjadi karena
kebiasaan kerja dengan pandangan yang sangat dekat,
namun pada kenyataannya teori ini belum terbukti secara
pasti.
Gejala Klinis
Gejala Subjektif:
a. Penglihatan jauh kabur merupakan gejala utama.
b. Gejala astenopia pada pasien miopi derajat ringan
c. Anak sering menyipitkan mata,merupakan hal yang sering
dikeluhkan oleh orang tua.
Gejala Objektif:
a. bola mata yang besar dan menonjol.
b. Kamera okuli anterior lebih dalam dari normal.
22

c. Fundus Normal, namun miopi kresen temporal jaran terjadi.


d. Biasanya terjadi saat usia 5 10 tahun dan meningkat
sampai usia 18-20 tahun. Dengan rata rata 0.5 0.3 per
tahun.
C. Miopi patologis/ degeneratif
Miopi yang terjadi karena kelainan pada bagian mata lain
seperti, adanya pendarahan pada badan kaca, pigmentasi pada
retina dan peripapil. Miopi patologi sudah terjadi saat usia 5
10 tahun, yang berefek saat usia dewasa muda yang mana hal ini
berhubungan dengan perubahan degenerasi pada mata.

Gambar 15. Elongasi axis bola mata(4)

Miopi patologis suatu hasil dari pertumbuhan yang cepat


dari panjang axial bola mata. Untuk menerangkan terjadinya
kelainan aksial

bola mata banyak teori yang dikemukakan,

namun belum ada hipotesis memuaskan yang bisa menerangkan


terjadinya

patologi

itu.

Namun

demikian

patologi

ini

berhubungan dengan herediter dan pertumbuhan bola mata.


1. Herediter
Sekarang telah dipastikan bahwa genetik merupakan faktor
mayor sebagai etiologi kelainan ini. Progresif miopi yang
bersifat familial, banyak terjadi pada bangsa cina, arab dan
jepang. Namun jarang ditemukan pada bangsa negro dan sudan.

23

Ini menunjukkan

hubungan herediter yang mempengaruhi

pertumbuhan retina dalam perkembangan miopi.


2. Proses Pertumbuhan secara umum
Proses pertumbuhan ini merupakan faktor minor pada
perkembangan miopi, Perpanjangan dari segmen posterior bola
mata terjadi hanya sepanjamg masa pertumbuhan aktif dan
diperkirakan berhenti saat pertumbuhan aktif berhenti. Disini
ada beberapa faktor seperti nutrisi, defisiensi, gangguan
hormon, dan

penyakit yang terjadi saat pertumbuhan aktif

sehingga mempengaruhi perkembangan miopi.


Gejala Klinis
Gejala subjektif :
a. Kabur bila melihat jauh, penurunan visus umumnya lebih
parah dibanding dengan miopi simplek.
b. Keluhan lain seperti melihat sesuatu berwarna hitam
melayang pada penglihatannya, hal ini berhubungan dengan
degenerasi vitreus.
c. Rabun pada malam hari dapat dikeluhkan pada penderita
dengan miopi tinggi.
Gejala objektif :
a)

Gambaran pada segmen anterior serupa dengan myopia


simpleks

b)

Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa


kelainan-kelainan pada
1. Badan

kaca

dapat

ditemukan

kekeruhan

berupa

pendarahan atau degenarasi yang terlihat sebagai floaters,


atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca.
Kadang-kadang

ditemukan

ablasi

badan

kaca

yang

dianggap belum jelas hubungannya dengan keadaan myopia

24

2. Papil saraf optic : terlihat pigmentasi peripapil, kresen


myopia, papil terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke
bagian temporal. Kresen myopia dapat ke seluruh lingkaran
papil sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid
yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur.

Gambar 16. Myopic Crescent(4)

3.

Degenerasi pada retina dan koroid yang terjadi pada miopi


tinggi. Ditandai dengan plak berwarna keputihan pada
makula dengan sedikit pigmen yang mengelilinginya.

4.

Lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid


dan retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid
tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid.

Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat terjadi yaitu ablasio retina,
katarak komplikata, perdarahan vitreus, perdarahan koroid,
strabismus konvergensi terfiksasi.
4. Diagnosis(5, 6)
Upaya dalam

mendiagnosis

miopia

bermacam-macam,

bergantung konteks dalam subjek bentuknya populasi atau


personal. Miopia dapat dideteksi pada anak-anak usia sekolah

25

melalui skrining di sekolah, adanya gangguan dalam pemeriksaan


visus yang signifikan dapat menjaring anak-anak untuk diperiksa
lebih lanjut. Dalam konteks personal, curiga miopia jika terdapat
keluhan pandangan mata kabur terutama melihat jauh. Selanjutnya,
dalam mmmendiagnosis miopia dapat dilakukan secara subjektif
atau objektif, untuk memeriksa visus pasien.
Pemeriksaan secara subjektif dapat dilakukan dengan snellen
chart, kemudian melakukan trial and error dengan memasangkan
lensa yang cocok di trial frame sampai didapatkan visus terbaik
(20/20). Pemeriksaan ini paling baik dengan menggunakan
sikloplegik agar koreksinya tepat.
Pemeriksaan secara objektif

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan retinoskop. Alat ini dapat melihat refleks retina


melalui berkas cahaya yang diberikan, setelah itu sumber cahaya
digerakkan dan dilihat bagimana refleks cahaya dari retina, apakah
mengikuti pergerakan atau berlawananarah. Pada kasus miopia
akan terdapat refleks yang arahnya berlawanan dari sumber cahaya.
Metode lainnya dengan menggunakan refraktometer manual atau
automatis, yang juga dapat mendeteksi kelainan refraksi.

Gambar 17. Pemeriksaan objektif dengan retinoskop(5)

E. Penatalaksanaan(4, 6)
Prinsip penatalaksaan dari kelainan refraksi adalah dengan
melakukan berbagai upaya agar bayangan jatuh di tepat di retina,
dengan melakukan netralisasi kelainan kekuatan refraksi baik yang

26

relatif karena axis atau yang absolut yang terjadi atau dengan
memodifikasi indeksi refraksi pada media refrakta.
1. Netralisasi ketidakseimbangan kekuatan refraksi dengan
menggunakan lensa cekung (konkaf) baik dalam bentuk
kacamata atau lensa kontak. Lensa yang digunakan
sebaiknya yang terkecil yang memberikan visus terbaik
untuk menghindari akomodasi mata pada kasus-kasus
overkoreksi,

karena

dapat

menyebabkan

mata

lelah/astenopia.

Gambar 18. Mekanisme kerja lensa cekung dalam mengoreksi


miopia(4)

2. Mengubah/memodifikasi Media Refraksi


Merupakan prosedur operasi gangguan refraksi
biasa disebut keratorefractive surgery karena operasi ini
mengubah kelengkungan kornea sehingga mempengaruhi
pula kekuatan refraksinya, jika operasi berhasil maka
pasien dapat memiliki visus yang baik tanpa perlu
menggunakan kacamata atau lensa kontak lagi. Jenisjenisnya adalah:
1. Radial Keratotomy (4)
Untuk membuat insisi radial yang dalam pada pinggir
kornea dan ditinggalkan 4 mm sebagai zona optik.Pada
penyembuhan insisi ini terjadi pendataran dari permukaan
kornea sentral sehingga menurunkan kekuatan refraksi.
Prosedur ini sangat bagus untuk miopi derajat ringan dan
sedang. Kelemahannya kornea menjadi lemah, bisa
27

terjadi ruptur bola mata jika terjadi trauma setelah RK,


terutama bagi penderita yang berisiko terjadi trauma
tumpul, seperti atlet, tentara. Bisa terjadi astigmat
irreguler

karena

penyembuhan

luka

yang

tidak

sempurna,namun jarang terjadi. Pasien Post RK juga


dapat merasa silau saat malam hari.

Gambar 19. Radial Keratotomy(4)

2. Photorefractive Keratectomy (PRK) (4)


Pada teknik ini zona optik sentral pada stroma kornea
anterior difotoablasi dengan menggunakan laser excimer
(193 nm sinar UV) yang bisa menyebabkan sentral
kornea menjadi flat. Sama seperti RK, PRK bagus untuk
miopi

-2

sampai

dioptri.4 Kelemahan

-6

PRK:

Penyembuhan postoperatif yang lambat, keterlambatan


penyembuhan

epitel

menyebabkan

keterlambatan

pulihnya penglihatan dan pasien merasa nyeri dan tidak


nyaman selama beberapa minggu, dapat terjadi sisa
kornea yang keruh yang mengganggu penglihatan , PRK
lebih mahal dibanding RK

28

Gambar 20. PRK(4)

3. Laser in-situ Keratomileusis (LASIK)(4)


Pada teknik ini, pertama sebuah flap setebal 130-160
mikron

dari kornea anterior diangkat. Setelah Flap

diangkat, jaringan midstroma secara langsung diablasi


dengan tembakan sinar excimer laser , akhirnya kornea
menjadi flat. Sekarang teknik ini digunakan pada
kelainan miopi yang lebih dari - 12 dioptri. Kriteria
pasien untuk LASIK yaitu umur lebih dari 20 tahun.,
memiliki refraksi yang stabil,minimal 1 tahun., motivasi
pasien,tidak ada kelainan kornea dan ketebalan kornea
yang tipis merupakan kontraindikasi absolut LASIK.

Gambar 21. Prosedur LASIK(4)

29

F. HYPERMETROPIA
1. Definisi
Hipermetropia atau penglihatan jauh adalah kondisi kelainan
refraksi di mana sinar yang berasal dari jarak tak hingga yang
parallel dengan sumbu utama difokuskan di belakang retina, tanpa
berakomodasi.(7)

Gambar 22. Sifat bayangan pada hipermetropia(4)

2. Etiologi(4)
Hipermetropia dapat disebabkan:
a. Hipermetropia Aksial, merupakan kelainan refraksi akibat bola
mata yang terlalu pendek
b. Hipermetropia Refraktif, dimana daya pembiasan mata terlalu
lemah
c. Hipermiopia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa
kurang sehingga bayangan terfokus di belakang retina
3. Klasifikasi(4)
Berdasarkan kemampuan akomodasi, dibagi menjadi :
a. Hipermetropia manifes adalah hipermetropia yang dapat
dikoreksi dengan kacamata positif maksimal yang dapat
memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropia ini
terdiri atas:
b. Hipermetropia absolut, dimana kelainan refraksi tidak
diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif
untuk melihat jauh. Biasanya hipermetropia laten berakhir
dengan hipermetropia ini.
c. Hipermetropia fakultatif, dimana kelainan hipermetropia
dapat diimbangi dengan akomodasi ataupun kacamata positif.
30

d. Hipermetropia laten, dimana kelainan hipermetropia tanpa


sikloplegia

diimbangi

seluruhnya

dengan

akomodasi.

Hipermetropia laten hanya dapat diukur bila diberikan


sikloplegia.
e. Hipermetropia total adalah hipermetropia yang ukurannya
didapatkan sesudah diberikan sikloplegia.
4. Gejala(4)
Pada pasien dengan hipermetropia, gejala dapat bervariasi dari
umur pasien dan derajat gangguan refraksinya, gejalanya adalah
sebagai berikut :
a. Asimptomatik. Tingkat kelainan refraksi minimal pada anakanak biasanya dapat dikoreksi sendiri dengan mudah oleh
upaya akomodasi tanpa gejala.
b. Gejala astenopia. Kondisi ini terjadi ketika hipermetropia telah
terkoreksi dengan baik, tetapi karena adanya adanya usaha
akomodasi terus-menerus sehingga menimbulkan mata lelah
(astenopia), yang terdiri dari : sakit kepala, mata berair, dan
fotofobia ringan. Gejala ini terutama sering muncul pada
pekerjaan dengan jarak pandang dekat atau pada malam hari.

Gambar 23. (a) Gambaran berkas cahaya pada hipermetrop (b) kondisi laten di mana
keluhan tidak ada akibat adanya proses akomodasi(5)

31

c. Gangguan penglihatan dengan gejala astenopia. Ketika derajat


hipermetorpia tidak dapat sepenuhnya dikoreksi dengan upaya
akomodasi, sehingga pasien mengeluh tidak dapat melihat
dengan jelas objek dekat disertai dengan gejala mata lelah
akibat usaha akomodasi.
d. Gangguan penglihatan saja. Kondisi ini terjadi ketika
hipermetropia sangat tinggi, dan pasien biasanya tidak lagi
melakukan upaya akomodasi (terutama pada orang dewasa)
dan terdapat keluhan yang berarti pada visus untuk objek dekat
dan kejauhan.
5. Tanda(4)
a. Ukuran bola mata cenderung kecil.
b. Kornea mungkin agak lebih kecil dari normalnya.
c. BMD relative dangkal.
d. Pemeriksaan fundus didapatkan diskus optic yang kecil yang
lebih vascular namun batas tidak jelas (pseudopapilitis). Retina
tampak lebih bercahaya akibat pantulan cahaya (shot silk
appearance).
e. Pemeriksaan USG ocular (biometri) didapatkan panjang axis
6.

antero-posterior dari bola mata lebih pendek.


Komplikasi(4)
Jika kondisi hipermetropia tidak dikoreksi dalam waktu lama,
maka dapat terjadi komplikasi berikut :
a. Hordeolum, blefaritis, atau kalazion yang berulang, disebabkan
oleh infeksi akibat menggosok mata berulang akibat dari
kelelahan mata
b. Konvergensi akomodatif akibat proses akomodasi yang
berlebihan
c. Ambliopia dapat terjadi pada kasus tertentu. Dapat bersifat
anisometropik ( pada hipermetrop unilateral), strabismus (pada
hipermetrop akomodatif), atau ametropik (pada hipermetropik
tinggi bilateral)
d. Predisposisi menjadi glaucoma primer sudut sempit. Mata pada
hipermetrop ukurannya kecil dengan BMD yang dangkal.

32

Akibat dari perbesaran lensa seiring dengan usia, mata menjadi


cenderung untuk terkena serangan glaucoma sudut sempit
7. Diagnosis(5, 8)
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk
mendiagnosis kelainan refraksi dibutuhkan pemeriksaan visus
(tajam penglihatan). Gold standar diagnosis adalah dengan
menggunakan snellen chart tanpa dan dengan agen sikloplegik.
Pemeriksaan tanpa sikloplegik untuk mencari hipermetrop
manifesnya sedangkan pemeriksaan dengan sikloplegik untuk
mencari total hipermetropnya. Selisih antara total dan manifest
adalah laten hipermetrop. Pemeriksaan ini dilakukan secara trial
and error sampai mendapatkan visus terbaik. Jika terdapat dua
jenis lensa yang menghasilkan visus 20/20 maka yang diambil
adalah yang tertinggi.
Pemeriksaan refraksi secara subjektif dengan snellen chart
diukur pada jarak 6 meter atau 20 kaki. Sedangkan pemeriksaan
objektifnya dengan retinoskopi atau mesin autorefraktif.
8. Penatalaksanaan(5, 8)
Kelainan refraksi hipermetorp dapat dikoreksi dengan
kacamata, kontak lensa atau operasi refraktif. Lensa yang
dibutuhkan

yaitu

mengkonvergensikan

lensa

cembung

cahaya

yang

sehingga

berfungsi

dalam

diharapkan

dapat

memajukan titik fokus bayangan ke retina.


Kacamata cocok diberikan pada pasien anak, sedangkan
lensa kontak tidak direkomendasikan kecuali jika usia sudah
mulai dewasa.
Operasi refraktif pada umumnya tidak direkomendasikan
hingga kelainan refraksi sudah stabil dan pertumbuhan mata sudah
berhenti yang biasanya terjadi pada decade kedua. Pilihan
operasinya yaitu TLK (Thermal Laser Keratoplasty), CK
(Conductive Keratoplasty), Spiral Hexagonal Keratotomy, Laser
eksimer, Ekstraksi lensa dengan implantasi lensa intraokuler.

33

Gambar 24. Gambaran sinar pada hipermetrop yang dikoreksi dengan lensa
konveks(4)

G. ASTIGMATISME
1. Definisi(4)
Astigmatisme adalah salah satu kelainan refraksi yang
terjadi akibat ketidakseimbangan/ adanya perbedaan kekuatan
refraksi pada setiap meridian/axis sehingga mengakibatkan cahaya
jatuh tidak pada satu titik fokus. Hal ini disebabkan oleh adanya
iregularitas kurvatur baik itu pada kornea atau lensa.

Gambar 25. Skema pembentukan bayangan pada astigmatisme(9)

34

2. Etiologi(4)
a. Astigmat korneal, diakibatkan oleh abnormalitas kurvatura
kornea, faktor ini menjadi penyebab paling banyak dari
astigmatisme
b. Astigmat lenticular, bersifat jarang, diakibatkan oleh kelainan
pada lensa, baik itu kurvaturanya, posisi, dan indeks biasnya
c. Astigmat retinal, akibat dari perubahan posisi pada retina,
sangat jarang terjadi
3. Jenis-jenis astigmat(4)
a. Astigmatisma Reguler
Astigmatisma
memperlihatkan

regular

merupakan

kekuatan

astigmatisma

pembiasan

bertambah

yang
atau

berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian ke


meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi dengan bentuk
yang teratur dapat berbentuk garis, lonjong atau lingkaran.10,11
Astigmatisma reguler dapat diklasifikasikan sebagai berikut:11

Simple astigmatism, dimana satu dari titk fokus di retina. Fokus


lain dapat jatuh di dapan atau dibelakang dari retina, jadi satu
meridian adalah emetropik dan yang lainnya hipermetropi atau
miop. Yang kemudian ini dapat di rumuskan sebagai Simple
hypermetropic astigmatism dan Simple myopic astigmatism.

Gambar 26. Simple miop astigmat(4)

35

Gambar 27. Simpel hipermetrop astigmat(4)

Compound astigmatism, dimana tidak ada dari dua focus yang


jatuh tepat di retina tetapi keduanya terletak di depan atau
dibelakang retina. Bentuk refraksi kemudian hipermetropi atau
miop. Bentuk ini dikenal dengan compound hypermetropic
astigmatism dan compound miopic astigmatism.

36

Gambar 28. Compound Astigmat(4)

Mixed Astigmatism, dimana salah satu fokus berada didepan


retina dan yang lainnya berda dibelakang retina, jadi refraksi
berbentuk hipermetrop pada satu arah dan miop pada yang
lainnya.

Gambar 29. Astigmat campuran(4)

Apabila meridian-meridian utamanya saling tegak lurus dan sumbusumbunya terletak di dalam 20 derajat horizontal dan vertical, maka astigmatisme
ini dibagi menjadi astigmatism with the rule (astigmatisme direk), dengan daya
bias yang lebih besar terletak di meridian vertical, dan astigmatism against the

37

rule (astigmatisma inversi) dengan daya bias yang lebih besar


terletak dimeridian horizontal. Astigmatisme lazim lebih sering
ditemukan pada pasien berusia muda dan astigmatisme tidak lazim
sering pada orang tua.
b. Astigmatisma irreguler
Astigmatisma yang terjadi tidak memiliki 2 meridian saling
tegak lurus. Astigmat ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan
kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan
menjadi ireguler. Pada keadaan ini daya atau orientasi meridian
utamanya berubah sepanjang bukaan pupil.
Astigmatisma ireguler bisa terjadi akibat infeksi kornea, trauma
dan distrofi atau akibat kelainan pembiasan
4. Diagnosis Astigmat(4, 5, 7)
Untuk menegakkan diagnosis astigmat, dibutuhkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis
didapatkan gejala melihat objek ganda dan objek tersebut tidak
jelas baik pada melihat dekat ataupun jauh, pandangan kabur, serta
sering disertai gejala-gejala astenopia (mata lelah), karena berusaha
memicingkan mata dan berakomodasi untuk melihat objek di
depan mata yang terus menerus sehingga kelelahan.
Selanjutnya, pada pemeriksaan visus, seperti pada kelainan
refraksi lainnya, dapat dilakukan trial and error sampai didapatkan
visus terbaik. Dengan menggunakan juring atau kipas astigmat,
garis berwarna hitam yang disusun radial dengan bentuk
semisirkular dengan dasar yang putih merupakan pemeriksaan
subyektif untuk menilai ada dan besarnya derajat astigmat.
Keadaan dari astigmatisma irregular pada kornea dapat dengan
mudah di temukan dengan melakukan observasi adanya distorsi
bayangan pada kornea. Cara ini dapat dilakukan dengan
menggunakan Placidos Disc di depan mata. Bayangan yang
terlihat melalui lubang di tengah piringan akan tampak mengalami
perubahan bentuk.

38

Karena sebagian besar astigmatisma disebabkan oleh kornea,


maka dengan mempergunakan keratometer, derajat astigmat dapat
diketahui, sehingga pada saat dikoreksi untuk mendapatkan tajam
penglihatan terbaik hanya dibutuhkan lensa sferis saja.
5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan astigmatisme tergantung pada jenisnya. Untuk
astigmat regular dapat diterapi dengan kacamata lensa sinlinder,
sedangkan untuk yang ireguler dibutuhkan operasi pada mata yang
mengalami gangguan.
a. Tatalaksana pada astigmat reguler(4, 5)
Tujuan koreksi pada jenis ini adalah membawa garis fokus
pada tiap meridian/axis menjadi satu titik fokus saja. Hal ini
membutuhkan lensa yang hanya bekerja pada satu meridian
saja. Lensa silinder dibutuhkan pada kasus ini. Ketika salah
satu dari dua titik fokus tadi sudah disatukan dalam satu titik,
dibutuhkan lensa sferis untuk membawa titik fokus ini ke retina
jika dibutuhkan (pada kasus compound dan mixed astigmat).
Pada astigmatism againts the rule, koreksi dengan silender
negatif dilakukan dengan sumbu tegak lurus (60-120 derajat)
atau dengan selinder positif dengan sumbu horizontal (30 150
derajat). Sedangkan pada astigmatism with the rule diperlukan
koreksi silinder negatif dengan sumbu horizontal (30-150
derajat) atau bila dikoreksi dengan silinder positif sumbu
vertikal (60-120 derajat).
b. Tatalaksana pada astigmat irregular(5)
Kasus ini tidak dapat ditatalaksanai dengan kacamata,
untuk astigmat yang eksternal akibat kelainan kurvatur kornea,
dapat diberikan kontak lensa rigid, keratoplasti, atau koreksi
bedah. Pada kasus astigmat ireguler yang kelainannya dari
lensa (internal) dapat dilakukan ekstraksi lensa dan implantasi
lensa buatan.

39

C
Gambar 30. (A)

Astigmat tanpa

koreksi (B)

Astigmat sudah

dikoreksi dengan lensa sferis (C) Astigam sudah dikoreksi dengan lensa sferis dan silinder (10)

DAFTAR PUSTAKA
1.

Resnikoff S, et al. Global magnitude of visual impairment caused by

uncorrected refractive errors in 2004. USA: World Health Organization; 2004.


2.
James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes Oftalmologi Ed.9. Jakarta:
Penerbit Erlangga; 2006.
3.
Maria A, et al. Primary Care Ophthalmology. Philadelphia: Mosbi
Elsevier; 2005.
4.
Khurana A. Comprehensive Ophthalmology 4th Ed. India: New Age
International; 2007.
5.
Lang G K. Ophthalmology. A Pocket textbook Atlas 2nd Ed. New York:
Thieme; 2006.
6.
Gregory I. Ostrow LK, CO. Myopia2014 [cited 2016 April, 28th].
Available from: http://eyewiki.aao.org/Myopia#Diagnostic_procedures.
7.
Riordan-Eva P, Whitcer J. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum Ed. 17.
Jakarta: EGC; 2010.

40

8.

Carpenter N, Grigorian AP. Hyperopia2015 [cited 2016 April 28th].

Available from: http://eyewiki.aao.org/Hyperopia.


9.
David D. Astigmatism of the Eye. USA: Encyclopedia of Sciences; 2012
[cited

2016

April

28th];

Available

from:

http://www.daviddarling.info/encyclopedia/A/astigmatism.html.
10.
Anonym. Astigmatic Refractive Error. USA: Kinetic Website; 2011 [cited
2016 April 29th]; Available from: http://www.antelopemalloptometry.com/learnabout-astigmatism-and-astigmatic-refractive-error.php.

41