Anda di halaman 1dari 11

AGENDA 21

A.

SEJARAH AGENDA 21
Asal mula dimulainya penentuan kebijakan dan program agenda 21 berdasarkan

adanya komitmen global (internasional) dalam rangka mengatasi kerusakan lingkungan di


dunia. Komitmen bersama antar berbagai Negara di mulai melalui adanya konferensi,
konvensi, perhimpunan sampai adanya konvensi KTT bumi. Berikut ini adalah uraian
perjalanan panjang dari komitmen global sampai terbentuknya program agenda 21 adalah
sebagai berikut :
a.

Konferensi Stockholm (1972)


Kesadaran global untuk memperhitungkan aspek lingkungan selain aspek ekonomi

dan kelayakan teknik dalam pembangunan mencuat tahun 1972. Hal tersebut ditandai dengan
Konferensi Stockholm tahun 1972. Konferensi ini atas prakarsa negara-negara maju dan
diterima oleh Majelis Umum PBB. Hari pembukaan konferensi akhirnya ditetapkan sebagai
Hari Lingkungan Hidup Sedunia yaitu 5 Juni. Dari Konferensi ini menghasilkan resolusi-2
yang pada dasarnya merupakan kesepakatan untuk menanggulangi masalah lingkungan yang
sedang melanda dunia. Selain itu diusulkan berdirinya sebuah badan PBB khusus untuk
masalah lingkungan dengan nama : United Nations Environmental Programme (UNEP).
Dalam Konferensi juga berkembang konsep ecodevelopment atau pembangunan berwawasan
ekologi. Namun dalam perjalanan, ternyata kesepakatan kesepakatan Stockholm tidak bisa
menghentikan masalah lingkungan yang dihadapi dunia. Negara-negara maju masih
meneruskan pola hidup yang mewah dan boros dalam menggunakan energi. Laju
pertumbuhan industri, pemakaian kendaraan bermotor, konsumsi energi meningkat sehingga
limbah yang dihasilkan juga meningkat pula. Sementara negara-negara berkembang
meningkatkan exploatasi Sumber Daya Alamnya untuk meningkatkan pembangunan dan
sekaligus untuk membayar utang luar negerinya. Keterbatasan kemampuan ekonomi dan
teknologi serta kesadaran lingkungan yang masih rendah, menyebabkan peningkatan
pembangunan yang dilakukan tidak disertai dengan melindungi lingkungan yang memadai.
Maka kerusakan sumber daya alam dan Lingkungan Hidup di negara berkembang juga
semakin parah.

b.

United Nations On Environment and Development (UNCED), 1992


Lingkungan hidup dunia yang semakin baik yang menjadi harapan Konferensi

Stockholm ternyata tidak terwujud. Kerusakan lingkungan global semakin parah. Penipisan
lapisan ozon yang berakibat semakin meningkatnya penitrasi sinar ultra violet ke bumi yang
merugikan kehidupan manusia, semakin banyaknya spesies flora dan fauna yang punah,
pemanasan global dan perubahan iklim semakin nyata dan betul-betul sudah di depan mata.
Oleh karena itu masyarakat global memperbaharui kembali tekadnya untuk menanggulangi
kerusakan lingkungan global dengan mengadakan KTT Bumi di Rio de Jeneiro pada bulan
Juni 1992 dengan tema Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). KTT ini
kita kenal dengan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED).
Dalam UNCED disegarkan kembali suatu pengertian bersama bahwa pembangunan
berkelanjutan harus memenuhi kebutuhan sekarang dan generasi mendatang. Untuk mencapai
hal tersebut dalam setiap proses pembangunan harus memadukan 3 aspek sekaligus yaitu :
ekonomi, ekologi dan sosbud. Secara garis besar ada 5 hal pokok yang dihasilkan oleh KTT
Bumi di Rio de Jeneiro yaitu :
1.

Deklarasi Rio tentang lingkungan dan pembangunan. Deklarasi ini berisikan 27 prinsip
dasar yang menekankan keterkaitan antara pembangunan dan lingkungan serta

pengembangan kemitraan global baru yang adil.


2. Konvensi tentang perubahan iklim, diperlukan payung hukum guna menangani masalah
3.

pemanasan global dan perubahan iklim.


Konvensi tentang keanekaragaman hayati, diperlukan payung hukum untuk mencegah

4.

merosotnya keanekaragaman hayati.


Prinsip pengelolaan hutan, hutan mempunyai multi fungsi : sosial, ekonomi, ekologi,
kultural dan spiritual untuk generasi. Hutan untuk penyerapan CO 2serta untuk

perlindungan keanekaragaman hayati dan pengelolaan daerah aliran sungai.


5. Agenda 21, menyusun program aksi untuk terwujudnya pembangunan berkelanjutan
untuk saat ini dan abad ke 21 : biogeofisik, sosekbud, kelembagaan, LSM.
Dokumen agenda 21 global dianggap sebagai suatu hasil yang paling penting dalam KTT
bumi ini, yang berisi aksi-aksi dimana setiap pemerintah, organisasi internasional, sektor
swasta dan masyarakat luas, dapat melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan bagi
pembangunan social ekonominya. Adapun, 7 aspek yang ditekankan dalam agenda 21 global
adalah :
1.
2.
3.
4.

Kerjasama internasional
Pengentasan kemiskinan
Perubahan pola konsumsi
Pengendalian kependudukan

5.
6.
7.

B.

Perlindungan dan peningkatan kesehatan


Peningkatan pemukiman secara berkelanjutan
Pemaduan lingkungan dalam pengambilan keputusan untuk pembangunan

PERKEMBANGAN AGENDA 21 DI INDONESIA


Indonesia merupakan peserta aktif pada United Nations Conference on Environment

and Development (UNCED, juga dikenal sebagai KTT Bumi) di Rio de Janeiro, Brasil pada
tahun 1992. Pada tahun 1997, Indonesia mengeluarkan Agenda 21 Nasional yang berisikan
rujukan untuk memasukkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam
perencanaan pembangunan nasional. UNDP (United Nations Development Programme) telah
mendukung pengembangan dan peluncuran agenda 21 Indonesia yang merupakan versi lokal
dari agenda 21 global yang diluncurkan dalam KTT Rio. Agenda 21 mendiskusikan
ketergantungan pembangunan sosial dan ekonomi pada kelestarian lingkungan dan
meletakkan dasar untuk pengesahan perjanjian tentang Keanekaragaman Hayati dan
Perubahan Iklim. Setelah KTT Johannesburg yang mengkaji ulang agenda 21 global, Kantor
Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan bantuan UNDP telah melakukan tinjauan
terhadap pelaksanaan Agenda 21 Indonesia untuk meneliti konteks pembangunan
berkelanjutan setelah krisis ekonomi. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup kini
meletakkan dasar untuk merancang strategi jangka panjang menuju pencapaian tujuan-tujuan
agenda 21, terutama komitmen menurut perjanjian tentang keanekaragaman hayati dan
perubahan iklim. Proyek ini diberi nama Post UNCED Planning and Capacity Building
Activities Project dengan produk utama yaitu dokumen agenda 21 Indonesia (diselesaikan
dalam waktu 2 tahun) yang merupakan strategi nasional menuju pembangunan berkelanjutan
berwawasan lingkungan yaitu dengan mengintegrasikan pembangunan ekonomi, sosial, dan
lingkungan.
UNDP berkomitmen membantu Indonesia mengkaji dan melakukan penilaian
kapasitas yang didapat semenjak menandatangani kesepakatan agenda 21. Proyek untuk
Menilai Sendiri Kapasitas Nasional atau NCSA (National Capacity Self-Assessment) adalah
inisiatif di bawah GEF (Global Environment Facility) berupa dukungan kepada negaranegara berkembang dalam mengidentifikasi masalah dan mencari solusi inovatif agar lebih
mampu mencapai sasaran Agenda 21. Proses NCSA akan mendukung pengembangan strategi
baru ini, dengan fokus khusus pada penguatan kapasitas yang dibutuhkan untuk menetapkan

strategi

pelaksanaan

termasuk menghentikan

program-program
laju

pengelolaan

kerusakan atau

lingkungan

degradasi

yang

lingkungan.

lebih

baik,

Tekanan

untuk

merealisasikan otonomi daerah dan kecenderungan baru dalam perdagangan dan


perekonomian juga akan menentukan bentuk pendekatan nasional terhadap pengelolaan
lingkungan.
Agenda 21 Nasional ini kemudian diikuti pula oleh Agenda 21 Sektoral yang
dikeluarkan tahun 2000, meliputi sektor pertambangan, energi, perumahan, pariwisata dan
kehutanan. Baru-baru ini, beberapa pemerintah daerah telah memulai penyusunan Agenda 21
Lokal yang diharapkan dapat memberi pedoman perencanaan pembangunan di tingkat
kecamatan, dan menjadi rujukan bagi berpagai pihak untuk menyusun rencana-rencana aksi.
Pelaksanaan Agenda 21 di Indonesia dihadapkan pada berbagai masalah, mulai dari
kurangnya kesadaran publik dan pemerintah sampai kurangnya dana dan kemauan politis.
a.

Agenda 21 Di Indonesia
Tujuan pembangunan di Indonesia yaitu :
1.
2.
3.
4.

Meningkatkan produktivitas sumberdaya,


Menganekaragamkan hasil produksi,
Memperbaiki tata ruang atau sistem peruntukan sumberdaya, dan
Memasukkan fungsi konservasi.
Pembangunan berkelanjutan hanya dapat diperoleh apabila dilandasi ilmu

pengetahuan dan menjadi asas kunci bagi pencapaian pertumbuhan sosial dan ekonomi
jangka panjang. Pembangunan tidak terlepas dari agenda 21 negara Indonesia. Agenda 21
sebagai suatu advisory document yang mencangkup aspek kebijakan, pengembangan,
program dan strategi yang meliputi hamper seluruh perencanaan pembangunan bidang sosial,
ekonomi, dan lingkungan. Dalam Agenda 21 Indonesia (Kantor Menteri Negara Lingkungan
Hidup, 1997), strategi nasional untuk pembangunan berkelanjutan terdiri dari 18 bab yang
memuat empat program pokok yang saling mengisi, yaitu :
(1) pelayanan masyarakat,
(2) pengelolaan limbah,
(3) pengelolaan sumberdaya tanah, dan
(4) pengelolaan sumberdaya alam.
Tiap program pokok diatas terbagi menjadi sejumlah program. Pelayanan masyarakat
memuat program (i) pengentasan kemiskinan, (ii) perubahan pola konsumsi, (iii) dinamika
kependudukan, (iv) pengelolaan dan peningkatan kesehatan, (v) pengembangan perumahan
dan pemukiman, dan (vi) sistem perdagangan global, instrument ekonomi, neraca ekonomi,

dan lingkungan terpadu. Pengelolaan limbah memuat program (i) perlindungan atmosfer, (ii)
pengelolaan bahan kimia beracun, (iii) pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, (iv)
pengeloaan limbah radioaktif, dan (v) pengelolaan limbah padat dan cair.
Adapun pengelolaan sumberdaya tanah memuat program (i) penatagunaan sumberdaya
tanah, (ii) pengelolaan hutan, (iii) pengembangan pertanian dan pedesaan, dan (iv)
pengelolaan sumberdaya air. Sedangkan pengelolaan sumberdaya alam terdiri atas program
(i) konservasi keanekaragaman hayati, (ii) pengembangan bioteknologi, dan (iii) pengelolaan
terpadu wilayah pesisir dan lautan.
b.
1)

Implementasi Program Agenda 21 Indonesia


Pengelolaan Limbah
Berkaitan dengan upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya alam, Agenda 21

global menawarkan beberapa program aksi guna meningkatkan dan memperbaiki kondisi dan
kualitas lingkungan hidup manusia dami terlaksananya pembangunan berkelanjutan. Salah
satu program aksi pada agenda 21 adalah pengelolaan limbah. Isu pengelolaan limbah secara
langsung merasuk ke hampir semua aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu
pembahasannya ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat. Adapun pokok pembahasan
dalam pengelolaan limbah mencakup pada limbah padat dan cair, baik di lingkungan industri;
pengelolaan dan pengaturan penggunaan bahan kimia beracun dan berbahaya; pengelolaan
limbah B3, termasuk limbah rumah sakit dan radioaktif; dan pengelolaan buangan gas hasil
kegiatan yang menggunakan minyak bumi dan pembakaran biomassa.
2)

Perlindungan Atmosfir
Atmosfir memberikan perlindungan tiga fungsi utama. Pertama sebagai bahan mentah

untuk kegiatan manusia. Kedua sebagai tempat pembuangan yang menyerap dan mendaur
ulang sisa-sisa kegiatan manusia. Ketiga berfungsi mendukung kehidupan. Oleh karena itu
kualitas atmosfir merupakan aset yang harus dilindungi dan dilestarikan.
Kemampuan atmosfir memberikan fungsinya dapat terganggu dengan masuknya bahan-bahan
pencemar ke udara yang dikeluarkan oleh kegiatan manusia. Untuk mencegah dan
mengendalikan hal ini perlu sekali terjadi perubahan pandangan di pihak pemerintah, pihak
swasta maupun maupun dimasyarakat luas mengenai:
a.

Kemampuan atmosfir menerima dan mendaur ulang sisa kegiatan manusia yang
terbatas, dimana kegiatan manusia akan mengganggu kemampuan atmosfir
menjalankan fungsinya.

b.

Menurunnya kemampuan atmosfir menjalankan fungsinya akan memberi dampak


negatif yang sangat besar dan luas, seperti dapat mengurangi kesehatan, dapat
mengurangi efisiensi ekonomi, meningkatnya tekanan sebagian masyarakat guna
memperlambat laju pembangunan, dapat mengurangi permintaan barang ekspor
indonesia, dan dapat menghambat atau menurunkan tercapainya target pembangunan

ekonomi dan sosial indonesia.


c. Biaya yang diakibatkan oleh memburuknya kualitas udara ini sangat besar dan akan
d.

melonjak dengan pesat bila kualitas udara makin memburuk


Permasalahan perlindungan atmosfir selain berskala lokal dan nasional, ia juga
mempunyai skala regional dan global. Akibatnya kegiatan yang berkaitan dengan
kualitas atmosfir/ udara mempunyai efek dalam hubungan internasional baik secara
politis maupun dalam perdaganganPerlu memperhitungkan kaitan kegiatan manusia
dengan kualitas udara terutama untuk kegiatan yang diperkirakan akan memberikan
dampak yang besar pada kualitas udara.

Permasalahan di atas di jabarkan dalam uraian dan analisa empat bidang program. Bidang
program pertama menekankan masalah kualitas udara skala lokal dan nasional di mana di
bahas pertimbangan lingkungan dan energi dalam sektor-sektor pembangkit tenaga listrik,
transportasi, industri, dan rumah tangga. Bidang kedua dan ketiga berkaitan dengan isu
global, yaitu isu ozon di stratosfir dan perubahan iklim global bidang keempat berkaitan
dengan permasalahan regional, yaitu isu desposisi asam dan pecegahan kebakaran hutan.

Sumber pencemaran udara


1. Pencemaran Udara dari sumber tidak bergerak
Sumber pencemaran udara yang berasal dari sumber tidak bergerak, antara lain
industri, pemukiman/rumah tangga dan pembakaran sampah. Sedangkan sumber
pencemaran udara dari sumber bergerak, adalah dari kegiatan transportasi. Disamping
itu, kebakaran hutan dan lahan juga menjadi salah satu penyebab pencemaran Udara di
Indonesia. Bahkan kebakaran hutan dan lahan mengganggu kestabilan komposisi gas di
atmosfer. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran
Udara mengatur bahan pencemar yang perlu dipantau yaitu sulfurdioksida (SO2),
karbonmonoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), partikulat berukuran kurang dari 10
mikron (PM10) dan timah hitam (Pb).
2.

Pencemaran Udara Dari Sumber Bergerak


Kegiatan transportasi memberikan kontribusi sekitar 70% terhadap pencemaran udara

di kota-kota besar. Di Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek) jumlah kendaraan bermotor


tahun 2000 menurut Polda Metro Jaya-POLRI telah mencapai 4.159.442 unit yang

didominasi oleh jenis kendaraan mobil penumpang. Di Bandung jumlah kendaraan


bermotor untuk tahun 2000 mencapai 588.640 unit. Jumlah kendaraan tersebut belum
termasuk kendaraan yang datang ke Bandung pada setiap akhir pecan sebanyak 10-25%.
Kendaraan bermotor yang beroperasi di Indonesia sampai akhir tahun 2001 berjumlah
20,78 juta unit yang terdiri dari 3,1 juta unit mobil penumpang (15%), 684 ribu unit bis
(3%), 1,75 juta unit truck (9%), 15,2 juta unit sepeda motor (73%). Meningkatnya
jumlah kendaraan bermotor yang cukup berarti dari tahun ke tahun mengakibatkan
terjadi penurunan kualitas udara ambien yang diakibatkan gas buang yang dihasilkan
oleh kendaraan bermotor tersebut.
Faktor yang mempengaruhi tingginya pencemaran udara dari kendaraan bermotor
adalah pesatnya pertambahan jumlah kendaraan bermotor, rendahnya kualitas bahan
bakar minyak (BBM) dan masih digunakannya jenis bahan bakar minyak mengandung
Pb, penggunaan teknologi lama (sistem pembakaran) pada sebagian besar kendaraan
bermotor di Indonesia dan minimnya budaya perawatan kendaraan secara teratur.
Kondisi tersebut ditambah oleh buruknya manajemen lalu lintas yang berakibat inefisien
dalam pemakaian BBM.
Bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia didominasi oleh premium dan solar.
Bahan bakar premium sebagian besar belum ramah lingkungan karena masih
menggunakan Pb sebagai peningkat angka oktan yang menjadi penyumbang terbesar
pencemaran udara.

Upaya Pengendalian
a. Pemantauan Kualitas Udara Ambien
b. Program Langit Biru
c. Pengendalian pencemaran udara dari sarana transportasi kendaraan bermotor

d.
e.
f.
g.
3.

meliputi:
1. Pengembangan perangkat peraturan
2. Penggunaan bahan bakar bersih (cleaner fuels)
3. Pengembangan bahan bakar alternative
Pengendalian pencemaran udara dari industri
Kebijakan Antisipasi Deposisi Asam
Kebijakan Antisipasi Perubahan Iklim
Kebijakan Perlindungan Lapisan Ozon di Indonesia
Pengelolaan Bahan Kimia Beracun
Dalam pengelolaan bahan kimia dan beracun yang menuju konsep pembangunan

berkelanjutan tahap awal yang perlu dilakukan adalah menyiapkan seluruh perangkat
terkait dari mulai perangkat hukum, pelaksanaan, dan pembinaannya. Langkah
penerapannya berfokus pada penyeragaman klasifikasi bahaya, sistem pelabelan dan

simbol yang berlaku secara global, memanfaatkan pertukaran informasi secara intensif
dengan mengadopsi prosedur PIC (Prior Informed Concern) yang telah diakui secara
internasional, mengeliminasi sekecil mungkin resiko, menghindari kemungkinankemungkinan kerugian-kerugian secara ekonomik dengan bertumpu pada analisis daur
hidup, bahan-bahan kimia, dan meningkatkan kemampuan atau kapasitas nasional dalam
mendeteksi dan menekan masuknya produk dan atau bahan kimia yang berbahaya
melalui perdagangan global.
Guna tercapainya sasaran, maka terdapat empat bidang program yang diususlkan
yaitu:
1.

Peningkatan kemampuan dan kapasitas nasional dalam pengelolaan bahan-bahan

kimia.
2. Penyerasian klasifikasi dan pelabelan bahan-bahan kimia.
3. Penyebarluasan informasi tentang bahan-bahan kimia beracun dan resiko-resiko
kimia.
4. Penurunan resiko dan pencegahan lalulintas domestik maupun internasional yang
tidak sah (ilegal) dari produk-produk kimia beracun dan berbahaya
Bahan kimia beracun dikenal sebagai bahan kimia yang dalam jumlah kecil dapat
menimbulkan keracunan pada manusia atau mahluk hidup lainnya. Umumnya zat-zat
toksik masuk lewat pernapasan atau kulit, kemudian beredar ke seluruh tubuh atau ke
organ-organ tertentu. Tetapi dapat pula zat-zat tersebut berakumulasi, tergantung pada
sifatnya, ke dalam tulang, hati, darah atau cairan limpa dan organ lain sehingga akan
menghasilkan efek dalam jangka panjang.
Elemen-elemen dasar untuk pengelolaan bahan-bahan kimia yang ramah lingkungan
adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Adanya hukum yang memadai.


Pengumpulan dan penyebarluasan informasi.
Kapasitas untuk penilaian resiko dan interprestasinya.
Tersedianya kebijakan manajemen resiko.
Kapasitas untuk implementasi dan pendorong pelaksanaannya.
Kapasitas untuk rehabilitasi/ pemulihan tempat-tempat yang terkontaminasi dan

7.
8.

orang-orang yang keracunan.


Program-program pendidikan yang efektif.
Kapasitas tanggap darurat.

4.

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun


Sektor industri di bawah pertumbuhan ekonomi yang pesat memegang peranan yang

sangat besar sebagai kontributor limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) bukan saja
disebabkan oleh industri tersebut, tetapi juga akibat adanya perdagangan antar negara

yang memungkinkan memperdagangkan limbah B3 atau produk dan teknologi yang


dapat menghasilkan limbah B3. Guna menekan jumlah B3 perlu adanya reorientasi
sistem berproduksi, dari pendekatan end of pipe ke pendekatan produksi bersih
(Cleaner production) yaitu pendekatan from Craddle to grave pendekatan ini menekan
jumlah limbah yang dihasilkan dari mulkai pemrosesan bahan baku hingga barang atau
bahan tersebut tidak dapat digunakan lagi.
Dalam upaya pengelolaan limbah B3 yang berwawasan lingkungan, maka interaksi
antara pranata hukum dan sosial, kelembagaan, kemampuan sumberdaya manusia,
penguasaan teknologi dan bahkan advokasi dari LSM akan sangat menentukan
keberhasilan dari suatu upaya pengendalian dan pengolahan limbah B3 tersebut.
Guna mencapai hal tersebut di atas, maka dapat dilakukan dengan bidang program
yang mencakup:
1.

Pengembangan dan peningkatan pengelolaan limbah B3 yang berwawasan

2.

lingkungan dengan prioritas utama pada minimasi limbah.


Pencegahan lintas batas limbah B3 secara ilegal dan kerjasama dalam

pengelolaan lintas batas limbah.


3. Peningkatan dan penguatan kemampuan kelembagaan dalam pengelolaan limbah
B3.
5.

Pengelolaan Limbah Padat dan Cair


Limbah Padat dan Cair yang di maksdud pada bab ini meliputi limbah rumah tangga

atau limbah domestik dan limbah industri yang tidak beracun dan berbahaya
Pengelolaan Llimbah Padat dan cair dalam kerangka pembangunan yang
berkelanjutan mempunyai prinsip bahwa limbah tidak boleh terakumulasi di alam
sehingga mengganggu siklus materi dan nutrien, bahwa pembuangan limbah harus di
batasi pada tingkat yang tidak melebihi daya dukung lingkungan untuk menyerap
pencemaran dan sistem tertutup penggunaan materi seperti daur ulang dan pengomposan
harus dimaksimasi.
C. ANALISIS
Asal mula dimulainya penentuan kebijakan dan program agenda 21 berdasarkan
adanya komitmen global (internasional) dalam rangka mengatasi kerusakan lingkungan di
dunia. Agenda 21 global dianggap sebagai suatu hasil yang paling penting dalam KTT bumi
ini, Agenda 21 berisi aksi-aksi dimana setiap pemerintah, organisasi internasional, sektor
swasta dan masyarakat luas, dapat melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan bagi

pembangunan social ekonominya. Adapun, 7 aspek yang ditekankan dalam agenda 21 global
adalah; Kerjasama internasional; Pengentasan kemiskinan; Perubahan pola konsumsi;
Pengendalian kependudukan; Perlindungan dan peningkatan kesehatan; Peningkatan
pemukiman secara berkelanjutan; Pemaduan lingkungan dalam pengambilan keputusan untuk
pembangunan.
Indonesia merupakan peserta aktif pada United Nations Conference on Environment
and Development (UNCED, juga dikenal sebagai KTT Bumi) di Rio de Janeiro, Brasil pada
tahun 1992. Pada tahun 1997, Indonesia mengeluarkan Agenda 21 Nasional yang berisikan
rujukan untuk memasukkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam
perencanaan pembangunan nasional. Prinsip pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk ;
Meningkatkan produktivitas sumberdaya; Menganekaragamkan hasil produksi; Memperbaiki
tata ruang atau sistem peruntukan sumberdaya; dan Memasukkan fungsi konservasi.
D. KESIMPULAN
Pembangunan yang tanpa memperhatikan lingkungan hidup akan dapat menimbulkan
bermacam-macam kerusakan yang tidak hanya mengakibatkan bumi yang kita huni ini
menjadi tidak nyaman, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian ekonomis seperti :
-

Kerusakan Sumber Daya Alam (SDA)


Menurunnya kualita dan kuantitas produk pertanian
Tercemarnya air
Menipisnya sumber-sumber daya alam yang disebabkan oleh aktivitas manusia dan
Berkurangnya kualitas daya tampung lingkungan hidup

Dengan timbulnya kerugian-kerugian tersebut maka akan berpengaruh pada kualitas hidup
manusia.
Guna meningkatkan kualitas hidup, manusia memerlukan pendidikan, baik
pendidikan yang bersifat formal maupun informal. Dalam kenyataannya, manusia
menunjukkan bahwa pendidikan merupakan pembimbingan diri yang sudah berlangsung
sejak dari zaman primitif. Diperlukan keseluruhan perkembangan yang lengkap dan utuh
dalam setiap sisinya, baik dari sisi individu, sosial maupun religius untuk mencapai kualitas
hidup yang baik bagi manusia.
Pada tataran regional/global, agenda 21 menegaskan kembali posisi manusia sebagai
subyek dan sekaligus tujuan pembangunan. Jika pada awal abad ke-20 pembangunan
antarbangsa menitikberatkan pada variabel ekonomik, yang kemudian justru berdampak
marjinalisasi sebagian masyarakat, maka saat ini harus lebih menitikberatkan pada arti
penting kesetaraan (equity), keamanan (security), dan keberlanjutan (sustainability) yang

harus menjadi perhatian sentral. Sehingga lingkungan hidup dapat terus terjaga serta peroses
pembangunan dapat terus barlanjut sampai ke generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

http://wicascout.blogspot.com/2012/12/agenda-21-global-sejarah-agenda-21-asal.html
https://staff.blog.ui.ac.id/andreas.pramudianto/2009/07/29/diplomasilingkungan-hidup/