Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dahulu prosedur operasi tidak selalu dilakukan dalam lingkungan khusus rumah
sakit. Ahli bedah melakukan kunjungan rumah kalau dipanggil untuk memeriksa pasien.
Di awal tahun 1900an, perawat kamar operasi diminta untuk menyiapkan kamar atau
ruangan yang sesuai yaitu ruangan dengan lalu-lintas yang minimal dan sedikit suara
untuk prosedur operasi -biasanya ruang makan, tetapi kadang-kadang di dapur. Segalanya
dikeluarkan dari kamar, terutama karpet, gantungan, gambar, dan juga mebel. Kamar
diasapi dengan sulfur dioksida selama 12 jam jika sudah waktunya mau dipakai. Ini
dilakukan dengan membakar 3 pon sulfur di periuk terbuat dari besi untuk tiap-tiap 1000
kaki kubik ruangan. Jendela dan pintu ditutup serapat mungkin. Ketika pengasapan telah
selesai, tembok dan permukaan disikat dengan karbol 5% atau larutan soda panas. Von
Esmarch menggambarkan pembersihan dinding meliputi proses penggosokan permukaan
dengan roti halus. Dia mendasarkan tindakan ini pada eksperimen pribadi. Jika waktu
tidak cukup untuk dilakukan proses pengasapan / penyikatan, ruangan seharusnya telah di
penuhi dengan uap dari ceret.
Linen dan handuk yang akan dipakai direbus selama 5 menit di larutan soda untuk
digunakan sebagai spon. Kompor dan oven berguna sebagai alat sterilisasi. Batu bata
tetap di oven untuk digunakan sebagai alat penghangat bagi pasien anak yang
kedinginan. Meja dapur atau ruang makan telah dialasi untuk digunakan sebagai meja
operasi dan ditempatkan di bawah tempat lilin, dengan kepala mengarah ke jendela.
Untuk kerahasiaan, kertas tisu yang berwarna putih digunakan di dekat jendela dengan
memakai adonan tepung. Banyak ahli bedah mempunyai lampu portable untuk digunakan
didalam rumah yang mempunyai listrik. Ini sangat berguna di malam hari. Seprai tempat
tidur putih dipaku ke semua tembok sebagai lapisan pelindung.
Lingkungan fisik sangat penting untuk ahli bedah. Suhu kamar harus dijaga pada
suhu di 75 80 F dan tambahan alat untuk menghangatkan ruangan, seperti selimut
hangat, botol air panas, dan batu bata hangat dibungkus dengan kain flanel. Disamping
menyiapkan lingkungan, perawat kamar operasi diharuskan mempunyai 10 galon air steril
yang panas dan 10 galon air steril yang dingin yang siap untuk digunakan.
Termasuk tugas perawat yaitu menyiapkan larutan garam steril dengan mendidihkan
sebuah wadah besar yang berisi air dan menambahkan 2 sendok teh garam meja.
1

Campuran direbus selama 30 menit kemudian disaring dengan menggunakan kapas yang
sudah dipanggang sampai berwarna kecoklatan ke dalam botol steril. Gabus dipergunakan
untuk menutup lubang. Terutama bila larutan disimpan untuk penggunaan yang akan
datang, botol yang telah ditutup direbus selama 20 menit selama 3 hari berurutan. Ini
dipercaya untuk mencegah tumbuhnya spora.
Sebagai kesimpulan dari prosedur pembedahan bahwa perawat kamar operasi
diperlukan untuk membongkar, mendidihkan, mengeringkan, dan mengepak instrumen
ahli bedah ke dalam tasnya. Ruangan dikembalikan ke keadaan semula dengan melepas
atau mebuang lembaran-lembaran dari dinding dan mengeluarkannya untuk dicuci dan
mengembalikan kembali karpet dan mebel ke posisi semula. Akhirnya perawat kamar
operasi meninggalkan ruangan, keadaanya seperti waktu dia mau menggunakannya.
B.

Ruang Lingkup
1. Falsafah Kamar Operasi
Kamar Operasi adalah ruangan khusus memberikan pelayanan berkualitas kepada
pasien saat sebelum, selama, dan sesaat sesudah dilakukan pembedahan.
2. Pengertian Kamar operasi
Suatu unit khusus di rumah sakit, tempat untuk melakukan tindakan pembedahan,
baik elektif maupun akut, yang membutuhkan keadaan suci hama (steril).
3. Tujuan Kamar Operasi
Menyediakan pelayanan kesehatan tindakan bedah bagi masyarakat yang memadai
sesuai kebutuhan.

C. Batasan Operasional
1. Area bebas terbatas (unrestricted area)
Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar
operasi.
2.

Area semi ketat (semi restricted area)


Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri
atas topi, masker, baju dan celana operasi.

3.

Area ketat / terbatas (restricted area).


Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan
melaksanakan prosedur aseptic.

D. Landasan Hukum
1. Undang undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan
2. Undang undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
3. SK Menkes Nomor 436/93 menyatakan berlakunya Standar Pelayanan Rumah Sakit
dan Standar Pelayanan Medis
4. SK Dirjen Yanmed Nomor YM.02.03.3.5.2626 Tentang Komisi Akreditasi Rumah
Sakit dan Sarana Kesehatan Lainnya

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM IBS adalah :
Nomor
1

Kualifikasi

Nama Jabatan
As Men Pelayanan

Formal
SKp / SKM /

Keperawatan

Setingkat
D III

Ka Ru Intalasi Bedah Sentral

Keperawatan

Ka Instalasi Bedah Sentral

Dokter Umum
D III

Perawat Pelaksana IBS

Keperawatan

Dokter Bedah

Dokter Spesialis

Keterangan
Bersertifikat
BLS/BTCLS/PPGD
Bersertifikat
BLS/BTCLS/PPGD/Sertifikat
Pelatihan Bedah
Bersertifikat ACLS/ATLS
Bersertifikat
BLS/BTCLS/PPGD/
Sertifikat Pelatihan Bedah
Bersertifikat ACLS/ATLS

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan di Instalasi Bedah Sentral yaitu :
1. Untuk Dinas Pagi dan Dinas Sore:
Yang bertugas sejumlah 1 ( satu ) orang

dengan standar minimal bersertifikat

Pelatihan Bedah.
2. Untuk Tim Bedah :
Ketenagaan berasal dari Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy yang mempunyai SIP
sesuai dengan kompotensinya.

C. Prosedur Rekrutmen dan Seleksi

1. Semua yang berminat untuk mengajukan permohonan menjadi perawat di IBS harus
melengkapi persyaratan dasar :
Sehat jasmani dan rohani.
Berpendidikan formal dan berijazah minimal D-III keperawatan.
Ada minat, mempunyai kemampuan, keterampilan dan ilmu pengetahuan.
Pengenalan tugas disetiap program spesisalisasi masing-masing selama 3 bulan.
Sanggup menyesuaikan dengan tim dan lingkungan IBS.
2. Yang bersangkutan harus menyampaikan permohonan ke Direktur RS dengan
tembusan kepada Kepala IBS dan Manajer GBST, dengan melampirkan bukti
persyaratan dasar tsb di atas.
3. Rekomendasi dari Kepala IBS.
4. Bukti kebutuhan tenaga perawat di IBS.
5. Rekomendasi dari Keperawatan.
6. Bersedia wawancara dengan Tim Kredensial Keperawatan.

BAB III
5

STANDAR FASILITAS
A. Denah ruang
1. Kamar operasi umum menyediakan lingkungan yang steril untuk melakukan tindakan
bedah dengan pembiusan lokal, regional atau total. Kamar operasi umum dapat
dipakai untuk pembedahan umum dan spesialistik termasuk untuk ENT, Urology,
Ginekolog, Opthtamologi, bedah plastik dan setiap tindakan yang tidak membutuhkan
peralatan yang mengambil tempat banyak.
Area yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembedahan umum minimal 42 m 2,
dengan ukuran panjang x lebar x tinggi adalah 7mx6mx3m.
2. Peralatan kesehatan utama minimal yang berada di kamar ini antara lain :
a) 1 (satu) meja operasi (operation table),
b) 1 (satu) set lampu operasi (Operation Lamp), terdiri dari lampu utama
c) 2 (dua) set Peralatan Pendant (digantung), masing-masing untuk pendan anestesi
dan pendan bedah.
d) 1 (satu) mesin anestesi,
e) Film Viewer.
f) Jam dinding.
g) Instrument Trolley untuk peralatan bedah.
h) Tempat sampah klinis.
i) Tempat linen kotor.
j) dan lain-lain.
B. Standar fasilitas
1. Ruang persiapan
Ruang yang digunakan untuk mempersiapkan pasien bedah sebelum memasuki ruang
operasi. Area ruang induksi (preoperatif) yang dibutuhkan sekurang-kurangnya 15 m2.
2. Ruang pemulihan
Ruang pemulihan ditempatkan berdekatan dengan ruang operasi dan diawasi oleh
perawat. Pasien operasi yang ditempatkan di ruang pemulihan secara terus menerus
dipantau karena pembiusan normal atau ringan. Daerah ini memerlukan perawatan
berkualitas tinggi yang dapat secara cepat menilai pasien tentang status : jantung,
pernapasan dan physiologis, selanjutnya melakukan tindakan dengan memberikan
pertolongan yang tepat.
3. Ruang Resusitasi Bayi / Neonatus
6

Ruangan yang dipergunakan untuk menempatkan bayi baru lahir melalui operasi
caesar, untuk dilakukan tindakan resusitasi terhadap bayi.
Pada ruangan ini dilengkapi dengan tempat tidur bayi dan inkubator perawatan bayi.
Pada tiap incubator harus dilengkapi dengan 1 (satu) outlet oksigen dan vacuum. Di
ruang ini bayi hanya tinggal sementara dan akan dipindahkan ke ruang bayi bersama
ibunya setelah bayi tersebut stabil ke ruang perawatan. Ruangan ini terletak di dekat
ruang operasi.
4. Ruang Operasi
a) Ruang operasi digunakan sebagai ruang untuk melakukan tindakan operasi dan
atau pembedahan. Luas ruangan harus cukup untuk memungkinkan petugas
bergerak sekeliling peralatan operasi/bedah. Ruang operasi harus dirancang
dengan faktor keselamatan yang tinggi.
b) Di ruang operasi, pasien dipindahkan dari stretcher khusus Ruang Operasi Rumah
Sakit ke meja operasi/bedah.
c) Di ruang ini pasien operasi dilakukan pembiusan (anestesi).
d) Setelah pasien operasi tidak sadar, selanjutnya proses operasi dimulai oleh Dokter
Ahli Bedah dibantu petugas medik lainnya.
5. Ruang Cuci / Scrub Station
Scrub station, adalah bak cuci tangan bagi Dokter ahli bedah dan petugas medik yang
akan mengikuti langsung pembedahan di dalam ruang operasi.
a) Bagi petugas medik yang tidak terlibat tidak perlu mencuci tangannya di scrub
station.
b) Scrub station sebaiknya berada disamping atau di depan ruang operasi.
c) Beberapa persyaratan dari scrub station yang harus dipenuhi, antara lain :
Terdapat kran siku atau kran dengkul, minimal untuk 2 (dua) orang.
Aliran air pada setiap kran cukup.
Dilengkapi dengan tempat cairan desinfektan.
6. Ruang Ganti Pakaian
Ruang ganti pakaian digunakan untuk Dokter dan petugas medik mengganti pakaian
sebelum masuk ke lingkungan ruang operasi.
7. Ruang Dokter

Pada ruang kerja harus dilengkapi dengan beberapa peralatan dan furnitur. Sedangkan
pada ruang istirahat diperlukan sofa. Ruang Dokter perlu dilengkapi dengan bak cuci
tangan (wastafel) dan toilet.
8. Ruang Linen
Ruang linen berfungsi menyimpan linen, antara lain duk operasi dan pakaian bedah
petugas/dokter pada Ruang Operasi Rumah Sakit.
9. Ruang Penyimpanan Perlengkapan Bedah
Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan. Instrumen berada dalam
Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrumen. Bahan-bahan lain seperti
kasa steril dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini.
10. Ruang Penyimpanan Peralatan Kebersihan
Ruang untuk menyimpan peralatan kebersihan dan ruang tempat menempatkan
barang-barang kotor di dalam kontainer tertutup yang berasal dari ruang-ruang di
dalam bangunan (sarana) Ruang Operasi Rumah Sakit untuk selanjutnya dibuang ke
tempat pembuangan di luar bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit.

BAB IV
8

TATA LAKSANA PELAYANAN


A. Penjadwalan Operasi
Durasi operasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Emergensi

: Prosedur yang mengancam nyawa atau tungkai dan harus selesai dikerjakan
dalam 30 menit

2. Prioritas

: Prosedur yang harus dikerjakan dalam 30 menit sampai 4 jam

3. Urgent

: Prosedur yang harus dikerjakan dalam 4 jam sampai 24 jam

4. Non-urgent : Prosedur yang bisa dikerjakan setelah 24 jam


Dalam kaitannya dengan kamar operasi yang diperuntukkan untuk kejadian urgent, hanya kasus
emergensi, prioritas, dan urgent yang diperkenankan menggunakan kamar tersebut. Untuk itu,
petugas penjadwalan kamar operasi perlu dibekali pengetahuan khusus / pelatihan mengenai hal
ini.

B. Penerimaan dan Penyerahan Pasien


1. Alur Pasien
a. Pintu masuk pasien pre dan pasca bedah berbeda.
b. Pintu masuk pasien dan petugas berbeda.
2. Alur Petugas
Pintu masuk dan keluar petugas melalui satu pintu.
3. Alur Peralatan
Pintu keluar masuknya peralatan bersih dan kotor berbeda.
C. Persiapan Operasi
1. Persiapan operasi (pemeriksaan penunjang, puasa, resep) dilakukan sebelum tindakan
operasi, kecuali kasus emergency.
2. Menandatangani persetujuan tindakan operasi setelah mendapat penjelasan tentang
tindakan yang akan dilakukan beserta resikonya.
3. Penentuan jadwal operasi ditetapkan sehari sebelum operasi, kecuali kasus
emergency.
4. Pasien diantar ke ruang operasi oleh petugas dimana ia dirawat.
5. Post operasi pasien dirawat di ruang pulih sadar, sampai kondisinya memungkinkan
dipindah rawat ke ruang rawat inap atau langsung pulang
D. Kerjasama Antar Disiplin
a. Pre operasi
9

Merupakan ijin tertulis yang ditandatangani oleh klien untuk melindungi


dalam proses operasi yang akan dilakukan. Prioritas pada prosedur pembedahan yang
utama adalah inform consent yaitu pernyataan persetujuan klien dan keluarga tentang
tindakan yang akan dilakukan yang berguna untuk mencegah ketidaktahuan klien
tentang prosedur yang akan dilaksanakan dan juga menjaga rumah sakit serta petugas
kesehatan dari klien dan keluarganya mengenai tindakan tersebut. Pada periode pre
operatif yang lebih diutamakan adalah persiapan psikologis dan fisik sebelum operasi.
b. Durante operasi
Dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau ruang bedah dan berakhir saat pasien
dipindahkan ke ruang pemulihan. Lingkup aktifitas keperawatan, memasang infus,
memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh
sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.
c. Post operasi
Dimulai pada saat pasien masuk ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi
tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktifitas keperawatan,
mengkaji efek agen anestesi, membantu fungsi vital tubuh, serta mencegah
komplikasi. Peningkatan penyembuhan pasien dan penyuluhan, perawatan tindak
lanjut, rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti
dengan pemulangan.
E. Pelayanan anestesi
a. Pra anestesi
1)

Konsultasi dan pemeriksaan oleh dokter spesialis anestesiologi harus dilakukan


sebelum tindakan anestesia untuk memastikan bahwa pasien berada dalam
kondisi yang layak untuk prosedur anestesi.

2)

Dokter spesialis anestesiologi bertanggung jawab untuk menilai dan menentukan


status medis pasien pra-anestesia berdasarkan prosedur sebagai berikut :
Anamnesis dan pemeriksaan pasien.
Meminta dan/atau mempelajari hasil-hasil pemeriksaan dan konsultasi yang
diperlukan untuk melakukan anestesia.
Mendiskusikan dan menjelaskan tindakan anestesia yang akan dilakukan.
Memastikan bahwa pasien telah mengerti dan menandatangani
persetujuan tindakan.
10

Mempersiapkan dan memastikan kelengkapan alat anesthesia dan obat-obat


yang akan dipergunakan.
3) Pemeriksaan penunjang pra-anestesia dilakukan sesuai Standar Profesi dan
Standar Prosedur Operasional.
4) Tersedianya oksigen dan gas medik yang memenuhi syarat dan aman.
Pelayanan pra-anestesia ini dilakukan pada semua pasien yang akan menjalankan
tindakan anestesia. Pada keadaan yang tidak biasa, misalnya gawat darurat yang
ekstrim, langkah-langkah pelayanan praanestesia sebagaimana diuraikan di atas,
dapat diabaikan dan alasannya harus didokumentasikan di dalam rekam medis
pasien.
b. Durante anestesi
1) Dokter spesialis anestesiologi dan tim pengelola harus tetap berada di kamar
operasi selama tindakan anestesia umum dan regional serta prosedur yang
memerlukan tindakan sedasi.
2) Selama pemberian anestesia harus dilakukan pemantauan dan evaluasi secara
kontinual terhadap oksigenasi, ventilasi, sirkulasi, suhu dan perfusi jaringan, serta
didokumentasikan pada catatan anestesia.
3) Pengakhiran anestesia harus memperhatikan oksigenasi, ventilasi, sirkulasi, suhu
dan perfusi jaringan dalam keadaan stabil.
c. Pasca anestesi
1) Setiap pasien pasca tindakan anestesia harus dipindahkan ke ruang pulih (Unit
Rawat Pasca-anestesia/PACU) atau ekuivalennya kecuali atas perintah khusus
dokter spesialis anestesiologi atau dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien
tersebut, pasien juga dapat dipindahkan langsung ke unit perawatan kritis
(ICU/HCU).
2) Fasilitas, sarana dan peralatan ruang pulih harus memenuhi persyaratan yang
berlaku.
3) Sebagian besar pasien dapat ditatalaksana di ruang pulih, tetapi beberapa
diantaranya memerlukan perawatan di unit perawatan kritis (ICU/HCU).
4) Pemindahan pasien ke ruang pulih harus didampingi oleh dokter spesialis
anestesiologi atau anggota tim pengelola anestesia. Selama pemindahan, pasien
harus dipantau/dinilai secara kontinual dan diberikan bantuan sesuai dengan
kondisi pasien.
11

5) Setelah tiba di ruang pulih dilakukan serah terima pasien kepada perawat ruang
pulih dan disertai laporan kondisi pasien.
6) Kondisi pasien di ruang pulih harus dinilai secara kontinual.
7) Tim pengelola anestesi bertanggung jawab atas pengeluaran pasien dari ruang
pulih.
F. Laporan operasi dan anestesi
Kegiatan, perubahan-perubahan dan kejadian yang terkait dengan persiapan dan
pelaksanaan pengelolaan pasien selama pra-anestesia, pemantauan durante anestesia dan
pasca anestesia di ruang pulih dicatat secara kronologis dalam catatan anestesia yang
disertakan dalam rekam medis pasien.
Catatan anestesia ini dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan, diverifikasi dan
ditandatangani oleh dokter spesialis anestesiologi yang melakukan tindakan anestesia dan
bertanggung jawab atas semua yang dicatat tersebut.
Penyelenggaraan pelaporan pelayanan anestesiologi di rumah sakit dilaporkan secara
berkala kepada pimpinan rumah sakit sekurangkurangnya meliputi:
1. Teknik anestesia dan jumlahnya:
a. umum
b. regional
c. blok saraf
d. MAC
2. Alat jalan napas :
a. intubasi
b. LMA
3. ASA : 1, 2, 3, 4, 5, 6
4. Kasus emergensi : Ya/Tidak
5. Monitoring tambahan
6. Komplikasi : Ada/ Tidak
7. Jenis pembedahan : bedah saraf, bedah anak, bedah THT-KL, bedah kebidanan, bedah
digestif, bedah thoraks, bedah urologi, dan lain-lain.
8. Tindakan anestesia diluar kamar bedah: penatalaksanaan nyeri, endoskopi, radiologi,
resusitasi, pemasangan kateter vena sentral.

12

BAB V
LOGISTIK
Penatalaksanaan

barang-barang

IBS

meliputi

inventarisasi,

pemeliharaan,

perbaikan dan pengadaan kembali barang-barang IBS berupa alat medis, instrument, dan
bahan medis habis pakai.
IBS selalu berusaha memenuhi memenuhi kebutuhan berupa alat-alat medis,
instrument, dan bahan medis habis pakai untuk menjamin kelancaran tindakan operasi,
diagnostic di IBS dan kelancaran operasi sesuai standart Rumah Sakit.

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. Pengertian
13

Keselamatan Pasien ( Patient Safety ) Adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman.
Sistem tersebut meliputi :

Asessmen resiko

Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien

Pelaporan dan analisis insiden

Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya

Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :

Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan

Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil

B. Tujuan

Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit

Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat

Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di rumah sakit

Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan


Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )

STANDAR KESELAMATAN PASIEN


1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD )
ADVERSE EVENT :

14

Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil,
dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh
kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat dicegah
KTD yang tidak dapat dicegah
Unpreventable Adverse Event :
Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan
mutakhir
KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KNC )
Near Miss :
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission ) atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil ( omission ), yang dapat mencederai
pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :

Karena keberuntungan

Karena pencegahan

Karena peringanan

KESALAHAN MEDIS
Medical Errors:
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien
KEJADIAN SENTINEL
Sentinel Event :
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius; biasanya
dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima, seperti :
operasi pada bagian tubuh yang salah.
Pemilihan kata

sentinel terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi ( seperti,

amputasi pada kaki yang salah ) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini
mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.
15

C. Tata Laksana Keselamatan Pasien


Pelaksanaan atau aplikasi patient safety dalam kamar operasi dapat berupa hal sebagai
berikut :
1. Semua peralatan yang ada di dalam kamar operasi harus beroda dan mudah
dibersihkan.
2. Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaaanya harus menempel pada alat tersebut agar
mudah dibaca.
3. Sistem pelistrikan harus aman dan dilengkapi dengan elektroda untuk memusatkan
arus listrik mencegah bahaya gas anestesi.
4. Air yang tersedia dalam kamar operasi harus bersih, yaitu air yang tidak berwarna,
tidak berbau, tidak berasa, tidak mengandung kuman pathogen, tidak mengandung zat
kimia, dan tidak mengandung zat beracun.
5. Setiap petugas medis yang akan melakukan tindakan operasi wajib mengenakan
pakaian khusus operasi.
6. Petugas medis wajib melaksanakan prosedur aspetik, salah satu contohnya adalah
mencuci tangan.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
A.

Pendahuluan
16

HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV menjadi
lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejala. Setiap hari ribuan anak
berusia kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 - 49 tahun terinfeksi HIV.
Dari keseluruhan kasus baru 25% terjadi di Negara - negara berkembang yang belum
mampu menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang memadai.
Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan kasus
yang sangat bermakna. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat masuknya kasus
secara langsung ke masyarakat melalui penduduk migran, sementara potensi penularan
dimasyarakat cukup tinggi (misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa pelingdung,
pelayanan kesehatan yang belum aman karena belum ditetapkannya kewaspadaan
umum dengan baik, penggunaan bersama peralatan menembus kulit : tato, tindik, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular melalui
tindakan pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut data
PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,08% pada tahun
1998 dan angka kesakitan hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan WHO adalah
2,10%. Kedua

penyakit ini sering tidak dapat dikenali secara klinis karena tidak

memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat keinginan
untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi semua pihak
dari penyebaran infeksi. Upaya pencegahan penyebaran infeksi dikenal melalui
Kewaspadaan Umum atau Universal Precaution yaitu dimulai sejak dikenalnya
infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman bagi Petugas Kesehatan.
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan kontak
langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya mempunyai
resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan
keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit agar dapat bekerja maksimal.

B.

Tujuan
1.

Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi


diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.

17

2.

Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai


resiko tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat kerjanya, untuk
menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas harus menerapkan prinsip
Universal Precaution.

C.

D.

Tindakan Yang Beresiko Terpajan


1.

Cuci tangan yang kurang benar.

2.

Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.

3.

Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.

4.

Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.

5.

Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.

6.

Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja adalah
menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan.
Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
1.

Cuci tangan guna mencegah infeksi silang

2.

Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah


kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.

3.

Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai

4.

Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan

5.

Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

18

Prinsip dasar upaya peningkatan mutu pelayanan adalah pemilihan aspek yang akan
ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria serta standar yang digunakan untuk
mengukur mutu pelayanan Rumah Sakit yaitu :
Defenisi Indikator adalah:
Adalah ukuran atau cara mengukur sehingga menunjukkan suatu indikasi.

Indikator

merupakan suatu variabel yang digunakan untuk bisa melihat perubahan. Indikator yang baik
adalah yang sensitif tapi juga spesifik.
Kriteria :
Adalah spesifikasi dari indikator.
Standar :

Tingkat performance atau keadaan yang dapat diterima oleh seseorang yang
berwenang dalam situasi tersebut, atau oleh mereka yang bertanggung jawab untuk
mempertahankan tingkat performance atau kondisi tersebut.

Suatu norma atau persetujuan mengenai keadaan atau prestasi yang sangat baik.

Sesuatu ukuran atau patokan untuk mengukur kuantitas, berat, nilai atau mutu.

Dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu pelayanan maka harus memperhatikan prinsip
dasar sebagai berikut:
1. Aspek yang dipilih untuk ditingkatkan

Keprofesian

Efisiensi

Keamanan pasien

Kepuasan pasien

Sarana dan lingkungan fisik

2. Indikator yang dipilih


a. Indikator lebih diutamakan untuk menilai output daripada input dan proses
b. Bersifat umum, yaitu lebih baik indikator untuk situasi dan kelompok daripada untuk
perorangan.
c. Dapat digunakan untuk membandingkan antar daerah dan antar Rumah Sakit
d. Dapat mendorong intervensi sejak tahap awal pada aspek yang dipilih untuk
dimonitor
e. Didasarkan pada data yang ada.
3. Kriteria yang digunakan

19

Kriteria yang digunakan harus dapat diukur dan dihitung untuk dapat menilai indikator,
sehingga dapat sebagai batas yang memisahkan antara mutu baik dan mutu tidak baik.
4. Standar yang digunakan
Standar yang digunakan ditetapkan berdasarkan :
a. Acuan dari berbagai sumber
b. Benchmarking dengan Rumah Sakit yang setara
c. Berdasarkan trend yang menuju kebaikan

BAB IX PENUTUP

20

Panduan ini merupakan acuan bagi seluruh staf rumah sakit, dan bukan buku
standar yang bersifat mutlak oleh karena itu untuk pelaksanaan di lapangan dapat
dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing masing di rumah sakit.

21