Anda di halaman 1dari 14

EKONOMI SYARIAH DALAM

MENGENTAS KEMISKINAN

Kelompok 5
Disusun oleh :
1)

Nadhea Lulu Luqyana

(14/TT 1A)

2)

Noor Muhammad

(15/TT 1A)

3)

Putri Ardiana Pambajeng

(16/TT 1A)

PROGRAM STUDY TEKNIK TELEKOMUNIKASI


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016/2017

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Ekonomi
Syariah dalam Mengentas Kemiskinan ini dapat selesai dengan tepat pada waktunya
tanpa ada hambatan yang berarti.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Agama Islam. Untuk itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1.

BapakAbdul Chalim, S.Ag., M.Pd.I selaku dosen Mata Kuliah Umum


Agama Islam Prodi Teknik Telekomunikasi Politeknik Negeri Malang yang
telah memberikan bimbingan kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

2.

Kedua orang tua kami yang selama ini memberi dorongan motivasi dan
materi kepada kami.

Akhir kata, kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami mohon maaf atas segala
kekurangan yang ada dalam makalah ini. Kami berharap adanya kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak guna kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya
kepada kita semua.

Malang, 14 Maret 2016

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah merupakan perwujudan dari

paradigma Islam. Pengembangan ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah bukan
untuk menyaingi sistem ekonomi kapitalis atau sistem ekonomi sosialis, tetapi lebih
ditujukan untuk mencari suatu sistem ekonomi yang mempunyai kelebihan-kelebihan
untuk menutupi kekurangan-kekurangan dari sistem ekonomi yang telah ada. Islam
diturunkan ke muka bumi ini dimaksudkan untuk mengatur hidup manusia guna
mewujudkan ketentraman hidup dan kebahagiaan umat di dunia dan di akhirat sebagai
nilai ekonomi tertinggi. Umat di sini tidak semata-mata umat Muslim tetapi, seluruh
umat yang ada di muka bumi. Ketentraman hidup tidak hanya sekedar dapat memenuhi
kebutuhan hidup secara melimpah ruah di dunia, tetapi juga dapat memenuhi
ketentraman jiwa sebagai bekal di akhirat nanti. Jadi harus ada keseimbangan dalam
pemenuhan kebutuhan hidup di dunia dengan kebutuhan untuk akhirat.
(http://rosiyanti-aljihad.blogspot.co.id/2013/04/makalah-ekonomi-syariahsolusi.html)
Masalah kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya permasalahan
perekonomian masyarakat; karena definisi kemiskinan adalah lemahnya sumber
penghasilan yang mampu diciptakan individu masyarakat yang juga mengimplikasikan
akan lemahnya sumber penghasilan yang ada dalam masyarakat itu sendiri, dalam
memenuhi segala kebutuhan perekonomian dan kehidupannya. Karena itu para ahli
ekonomi senantiasa berusaha untuk mencari solusi dan pemecahan terhadap
permasalahan kemiskinan yang makin merebak dan juga merumuskan teori ekonomi,
serta penerapannya yang mampu mengentaskan kemiskinan.
Kemiskinan pun merupakan salah satu masalah yang ada dalam masyarakat,
karena kemiskinan menimpa sebagian dari aggota masyarakat yang ada serta membuat
mereka lemah dalam menjalankan peran dan partisipasi dalam membangun masyarakat.
Dari hal ini, timbullah iri dan dengki dalam diri mereka, dan juga kebencian yang
mendalam kepada orang orang yang mempunyai penghasilan yang lebih diantara
mereka. Bahkan mereka pun menebarkan kebenciannya kepada seuruh masyarakat yang
ada hingga membuatnya mampu bertindak sewenang wenang kepada nilai nilai yang

ada dalam masyarakat, serta membuatnya tidak mampu membedakan suatu yang baik
ataupun yang buruk, sesuatu terpuji atau tercela.
(http://kumpulanmakalahsyariah.blogspot.co.id/p/lembaga-perekonomiansyariah.html)

1.2

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat ditentukan rumusan
masalah sebagai berikut :

1.3

1.2.1

Bagaimana ciri - ciri ekonomi syariah di Indonesia?

1.2.2

Bagaimana cara mengentas kemiskinan yang ada di Indonesia?

1.2.3

Bagaimana penerapan Ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari ?

Tujuan Penulisan
Berdasarkan Latar Belakang yang diperoleh maka dapat disusun tujuan sebagai

berikut:
1.3.1
1.3.2
1.3.3

Untuk mengetahui ciri-ciri ekonomi syariah di Indonesia.


Untuk mengetahui cara mengentas kemiskinan yang ada di Indonesia.
Untuk menerapkan ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1

Ekonomi Syariah

2.1.1

Pengertian Ekonomi Syariah


Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari

masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam. Ekonomi syariah
berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (Welfare State).
Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik
modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Selain itu,
ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang
memiliki dimensi ibadah
2.1.2 Ciri khas Ekonomi syariah
Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al Qur'an, dan hanya prinsip-prinsip
yang mendasar saja. Karena alasan-alasan yang sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah
banyak sekali membahas tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku
sebagai produsen, konsumen dan pemilik modal, tetapi hanya sedikit tentang sistem
ekonomi. Sebagaimana diungkapkan dalam pembahasan diatas, ekonomi dalam Islam
harus mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha.
Selain itu, ekonomi syariah menekankan empat sifat, antara lain:
1. Kesatuan (unity)
2. Keseimbangan (equilibrium)
3. Kebebasan (free will)
4. Tanggungjawab (responsibility)
Islam sangat mengharamkan kegiatan riba, yang dari segi bahasa berarti
"kelebihan". Dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 275 disebutkan bahwa Orang-orang
yang makan (mengambil) riba] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang
yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila . Keadaan mereka yang
demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli
itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba...

2.1.3 Tujuan Ekonomi Islam


Ekonomi Islam mempunyai tujuan untuk memberikan keselarasan bagi
kehidupan di dunia. Nilai Islam bukan semata-semata hanya untuk kehidupan muslim
saja, tetapi seluruh mahluk hidup di muka bumi. Esensi proses Ekonomi Islam adalah
pemenuhan kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam guna mencapai pada
tujuan agama (falah).
2.1.4

Syariah Sebagai Solusi


Salah satu solusi penting yang harus diperhatikan pemerintahan dalam

merecovery ekonomi Indonesia adalah penerapan ekonomi syariah. Ekonomi syariah


memiliki komitmen yang kuat pada pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan
pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba, dan pelarangan spekulasi mata uang sehingga
menciptakan stabilitas perekonomian.
Ekonomi syariah yang menekankan keadilan, mengajarkan konsep yang unggul
dalam menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional. Fakta ini telah
diakui oleh banyak pakar ekonomi global, seperti Rodney Shakespeare (United
Kingdom), Volker Nienhaus (Jerman), dsb.
Ke depan pemerintah perlu memberikan perhatian besar kepada sistem ekonomi
Islam yang telah terbukti ampuh dan lebih resisten di masa krisis. Sistem ekonomi Islam
yang diwakili lembaga perbankan syariah telah menunjukkan ketangguhannya bisa
bertahan karena ia menggunakan sistemi hasil sehingga tidak mengalami negative
spread sebagaimana bank-bank konvensional.
Aplikasi ekonomi Islam bukanlah untuk kepentingan umat Islam saja. Penilaian
sektarianisme bagi penerapan ekonomi Islam seperti itu sangat keliru, sebab ekonomi
Islam yang konsen pada penegakan prinsip keadilan dan membawa rahmat untuk
semua orang tidak diperuntukkan bagi umat Islam saja, dan karena itu ekonomi Islam
bersifat inklusif.
2.1.5

Penerapan Hukum Ekonomi Syariah


Sebelum adanya amandemen UU No 7 tahun 1989, penegakkan hukum yang

berkaitan dengan urusan perniagaan ataupun kontrak bisnis di lembaga-lembaga


keungan syariah kita masih mengacu pada ketentuan KUH Perdata yang ternyata
merupakan hasil terjemahan dari Burgerlijk Wetbook peninggalan jajahan HindiaBelanda yang keberlakuannya sudah dikorkordansi sejak tahun 1854.. Sehingga konsep

perikatan dalam hukum-hukum syariah tidak lagi berfungsi dalam praktek legal-formal
hukum di masyarakat.
Sejalan dengan perkembangan pesat sistem ekonomi syariah dewasa ini
berbagai upaya-upaya sistematis dilakukan oleh pejuang-pejuang ekonomi syariah pada
level atas untuk kemudian memuluskan penerapan hukum ekonomi syariah secara
formal pada tatanan payung hukum yang lebih diakui pada tingkat nasional.
Tentunya upaya-upaya ini tidak lepas dari aspek politik hukum di Indonesia.
Proses legislasi hukum ekonomi syariah pun sudah sejak lama dilakukan dan relatif
belum menemui hambatan yang secara signifikan mempengaruhi proses perjalanannya.
Hanya saja kemudian upaya-upaya ini baru sampai pada tahap perumusan Undang
Undang yang mengatur aspek-aspek ekonomi syariah secara terpisah, belum kepada
pembentukkan instrument hukum yang lebih nyata layaknya KUH Pidana maupun
KUH Perdata yang lebih kuat.
2.1.6

Penerapan Ekonomi Syariah


Perkembangan sistem finansial syariah yang pesat boleh jadi mendapat

tambahan dorongan sebagai alternatif atas kapitalisme, dengan berlangsungnya krisis


perbankan dan kehancuran pasar kredit saat ini, demikian menurut pendapat para
akademisi Islam dan ulama. Dengan nilai 300 miliar dolar dan pertumbuhan sebesar 15
persen per tahun, sistem ekonomi Islam itu melarang penarikan atau pemberian bunga
yang disebut riba. Sebagai gantinya, sistem finansial syariah menerapkan pembagian
keuntungan dan pemilikan bersama.
Kehancuran ekonomi global memperlihatkan perlunya dilakukan perombakan
radikal dan struktural dalam sistem finansial global. Sistem yang didasarkan pada
prinsip Islam menawarkan alternatif yang dapat mengurangi berbagai risiko. Bank-bank
Islam tak membeli kredit, tetapi mengelola aset nyata yang memberikan perlindungan
dari berbagai kesulitan yang kini dialami bank-bank Eropa dan AS.
Dalam kehidupan ekonomi Islam, setiap transaksi perdagangan harus
dijauhkan dari unsur-unsur spekulatif, riba, gharar, majhul, dharar, mengandung
penipuan, dan yang sejenisnya. Unsur-unsur tersebut diatas, sebagian besarnya
tergolong aktifitas-aktifitas non real. Sebagian lainnya mengandung ketidakjelasan
pemilikan. Sisanya mengandung kemungkinan munculnya perselisihan. Islam telah
meletakkan transaksi antar dua pihak sebagai sesuatu yang menguntungkan keduanya;
memperoleh manfaat yang real dengan memberikan kompensasi yang juga bersifat real.
Transaksinya bersifat jelas, transparan, dan bermanfaat.

Karena itu, dalam transaksi perdagangan dan keuangan, apapun bentuknya,


aspek-aspek non real dicela dan dicampakkan. Sedangkan sektor real memperoleh
dorongan, perlindungan, dan pujian. Hal itu tampak dalam instrumen- instumen
ekonomi berikut:
Islam telah menjadikan standar mata uang berbasis pada sistem dua logam, yaitu emas
dan perak. Sejak masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik ibn Marwan, mata uang
Islam telah dicetak dan diterbitkan (tahun 77 H). Artinya, nilai nominal yang tercantum
pada mata uang benar-benar dijamin secara real dengan zat uang tersebut.
Islam telah mengharamkan aktifitas riba, apapun jenisnya; melaknat/mencela para
pelakunya. Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada
Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang
beriman QS Al Baqarah 278. Berdasarkan hal ini, transaksi riba yang tampak dalam
sistem keuangan dan perbankan konvensional (dengan adanya bunga bank), seluruhnya
diharamkan secara pasti; termasuk transaksi-transaksi derivative yang biasa terjadi di
pasar-pasar uang maupun pasar-pasar bursa. Penggelembungan harga saham maupun
uang adalah tindakan riba.
Transaksi spekulatif, kotor, dan menjijikkan, nyata-nyata diharamkan oleh Allah SWT,
sebagaimana firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minum khamr,
berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah
perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan (QS Al maidah 90).
Transaksi perdagangan maupun keuangan yang mengandung dharar/bahaya
(kemadaratan), baik bagi individu maupun bagi masyarakat, harus dihentikan dan
dibuang jauh-jauh.
Islam

melarangAl-

Ghasy,

yaitu

transaksi

yang

mengandung

penipuan,

pengkhianatan, rekayasa, dan manipulasi.


Islam melarang transaksi perdagangan maupun keuangan yang belum memenuhi
syarat-syarat keuangan yang belum sempurnanya kepemilikan seperti yang biasa
dilakukan dalam future trading.
Seluruh jenis transaksi yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya ini
tergolong ke dalam transaksi-transaksi non real atau dzalim yang dapat mengakibatkan
dharar/bahaya bagi masyarakat dan negara, memunculkan high cost dalam ekonomi,
serta bermuara pada bencana dan kesengasaraan pada umat manusia. Sifat-sifat tersebut
melekat dalam sistem ekonomi kapitalis dengan berbagai jenis transaksinya.
Konsekuensi bagi negara dan masyarakat yang menganut atau tunduk dan membebek

pada sistem ekonomi kapitalis yang dipaksakan oleh negara-negara Barat adalah
kehancuran ekonomi dan kesengsaraan hidup
http://rosiyanti-aljihad.blogspot.co.id/2013/04/makalah-ekonomi-syariah-solusi.html

2.2

Kemiskinan

2.2.1

Definisi Kemiskinan

Kemiskinan adalah keadaan penghidupan dimana orang tidak dapat memenuhi


kebutuhan dasar. Adapaun menurut Taqyuddin, kemiskinan menurut bahasa maknanya
adalah ihtiyaj (membutuhkan). Bisa dinyatakan dengan : faqara wa Iftaqara lawwanan
Kata dari istaghna (tidak membutuhkan). Sedangkan pengertian menurut syara
maknanya adalah orang yang membutuhkan plus lemah keadaannya, yang tidak bisa
dimintai apa apa.
Bambang Sudibyo, mengukur ketetapan kemiskinan dengan memakai standar
nishab zakat, apabila seorang memiliki harta di bawah ukuran zakat, maka seseorang
tersebut dikatagorikan termasuk dalam dalam wilayah miskin.
Bahaya kemiskinan antara lain :
Dekat dengan kekufuran
Kebodohan
Kemerosotan akhlak
Kekurangan keamanan masyarakat
Perpecahan umat
2.2.2 Pandangan Islam terhadap kemiskinan
Islam memandang kemiskinan merupakan satu hal yang mampu membahayakan akidah,
akhlak, kelogisan berikir, keluarga dan juga masyarakat. Islam pun menganggapnya
sebagai musibah dan bencana yang harus segera ditanggulangi. Dimana seorang muslim
harus segera memohon perlindungan kepada Allah atas kejahatan yang tersembunyi di
dalamnya. Terlebih, jika kemiskinan ini makin meraja, maka ia akan menjadi
kemiskinan yang mansiyyan (mampu membuatnya lupa kan Allah dan juga
kemanusiaannnya);, ia adalah bagaikan orang kaya yang apabila terlalu meraja, maka ia
akan menjadi kekayaan yang mathgiyyan (mampu membuat seseorang zalim; baik
kepada Allah maupun kepada manusia lainnya). Banyak sahabat Rasulullah Saw yang
meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah Saw sendiri pernah ber tawwudz (memohon
lindungan Allah) dari kemiskinan. Apabila memang kemiskinan tidak berbahaya, maka
tentunya Rasulullah tidak perlu ber taawudzi atasnya.
Diriwayatkan dari Aisyahra, bahwasannya Rasulullah Saw ber taawudz:
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada Mu dari fitnah api neraka, dan aku
berlindung kepada Mu atas fitnah kemiskinan.

(HR. Bukhari)
Tampak dari hadist ini sesungguhnya Rasulullah Saw berlindung kepada Allah
dari semua hal yang melemahkan bak secara materi ataupun secara manawi; baik
kelemahan itu karena tidak mempunyai uang (kemiskinan), atau tidak mempunyai harga
diri dan juga karena hawa nafsu (kehinaan).
Poin penting dari semua ini adalah adanya keterkaitan taawudz dengan
kekafiran. Sesungguhnya kekafiran inilah yang menjadi landasan dasar dari adanya
taawudz itu sendiri, yang kesemuanya ini akhirnya menjadi bukti akan bahaya
kemiskinan itu sendiri.
2.2.3. Faktor faktor Penyebab Kemiskinan
Timbulnya kemiskinan dalam suatu masyarakat bukanlah sesuatu yang tiba tiba,
namun dipengaruhi oleh banyak faktor :
Kurangnya pengembangan SDM

Adanya struktur yang menghambat pembangunan ekonomi rakyat kecil


Ketidakberuntungan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat miskin

Ketimpangan distribusi

2.2.4

Solusi Islam dalam Mengentaskan Kemiskinan


Islam mulai mengkonsentrasikan pada pengentasan kemiskinan dengan mencari

pemecahannya diberbagai aspek. Melepaskan manusia dari cengkraman kemiskinan


dengan mempersiapkan kehidupan yang sesuai dengan keadaan dan cocok dengan
kehormatan dirinya. Sehingga, bisa beribadah kepada Allah dan juga mampu
mengembah beban kehidupan, serta menjaganya dari segala cengkraman sesuatu yang
diharamkan, termasuk segala tipu daya.
Islam menginginkan agar setiap manusia mempersiapkan kehidupan terbaiknya.
Dimana dengan hal itu bisa menikmati kehidupannya yang dipenuhi dengan keberkahan
langit dan bumi, serta mampu mendayagunakan segala apa yang ada di dalamnya
dengan sebaik mungkin. Hingga akhirnya, manusia akan merasakan kebahagiaan di
berbagai aspek kehidupan dan juga keamanan yang meliputi hati. Dengan demikian,
manusia pun akan mampu beribadah kepada Allah dengan penuh ke khusuan dan
juga dengan persiapan yang sangat baik, dimana ia tidak akan dipermasalahkan dengan
kebutuhan perutnya yang belum terpenuhidan juga mendesak. Ia pun akan lebih mampu
mengkonsentrasikan diri untuk lebih mengenal Allah dan lebih mendekatkan diri kepada

Nya, serta lebih mengenal kehidupan lain, kehidupan akhirat yang lebih baik dan
kekal.
Dengan tujuan di atas inilah Allah mewajibkan zakat dan menjadikannya sebagai
pondasi terhadap keberlangsungan Islam di muka bumi dengan cara mengambil zakat
tersebut dari orang orang yang mampu dan kaya serta memberikannya kepada fakir
miskin, demi membantunya dalam menutupi kebutuhan materi.
Ada hak hak lain berupa harta kekayaan yang wajib ditunaikan orang muslim
karena alasan alasan tertentu menurut syariah. Semua hak ini juga menjadi sumber
pemasukan guna membantu fakir miskin dan memerangi kemiskinan dari bumi Islam.
Di antara hak haknya adalah sebagia berikut :
1. Hak tetangga
Menghormati tetangga menurut Islam merupakan bagian dari iman, sedangkan
mengganggu atau menelantarkannya, keluar dari Islam.

2. Berqurban pada hari raya


Dalam mahzab Hanafi, qurban dipandang wajib bagi yang mampu,
berdasarkan hadis:
Barang siapa yang mempunyai kelebihanharta lalu tidak berqurban, maka
jangan sekali kali mendekati tempat shalat kami.
(HR. Ahmad, Ibnu Majah)
3. Kifarat melanggar sumpah
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak
dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan
sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah
itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang
biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi Pakaian kepada
4.

mereka atau memerdekakan seorang budak (QS. Al Maidah : 89)


Kifarat zhihar
Yaitu barang siapa yang berkata kepada isterinya, kamu bagiku seperti
punggung ibuku atau punggung adik perempuanku, dan lain lain, maka
istrinya haram baginya sebelum membayar kifarat. Kifaratnya adalah
memerdekakan hamba sahaya, puasa dua bulan berturut turut, atau

memberi makan enam puluh fakir miskin.


5. Fidyah orang lanjut usia dan orang sakit berkepanjangan yang keduanya
tidak kuat lagi berpuasa ramadhan.
Kedua oarng ini diwajibkan membayar fidyah (denda), yakni setiap hari
Ramadhan yang ditinggalakn, memberi makan seorang miskin.
6. Sembelihan hadyu

Yaitu sembelihan orang yang sedang haji atau umrah berupa unta, sapi, atau
kambing, sebagai kifarat melanggar larangan ihram, melakukan tamattu, haji
qiran, dan lain lain.
7. Hak tanaman ketika panen
8. Hak mencukupi fakir miskin
2.2.5

Cara Mencapai Keberkahan


Ciri sistem Islam itu sebenarnya meningkatkan penghasilan atau produk bagi

bangsa dan melindungi kekayan dari kebangkrutan. Alasannya, Islam itu memelihara
tenaga mereka, kekayaan dan semangat mereka dari kehancuran akibat minuman keras,
poya poya, begadang malam, dan berbagai maksiat zahir maupun batin.
Sesungguhnya apa apa yang merusak tenaga dan kekayaan bangsa dalam dosa itu
dibentengi Islam dengan syariahnya, pesan pesannya, dan pendidikannnya. Islam juga
menyiapkan mereka agar tetap sehat dengan kuat untuk dapat bekerjsdan
meningkatakan penghasilan.
Demikian ciri sistem Islam itu jika dilaksanakan dengan segala kesungguhan
meningkatkan kekayaan masyarakat dan memperkecil angka pengangguran serta
kemiskinan. Maka setiap kali angka kemiskinnan ini mengecil pada suatu bangsa,
kemudian kekayaan bangsa ini meningkat dengan cepat dan kelompok kaya di
dalamnya gemar berinfak di jalan yang benar. Masalah kemiskinan di dalamnya mudah
diatsi dan mudah dicarikan solusinya. Bahkan , problem ini nyaris tidak menonjol dan
tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat luas seperti halnya di msyarakat
feodalisme dan kapitalisme yang menmbulkan berbagai revolusi yang merusak kaum
miskin. Setelah revolusi ini, kemudian lahir berbagai organisasi sesat dan jahat seperti
halnya partai komunis yang pada hakekatnya mengganti kemiskinan baru, lalu
Pembaharuannya itu menimbulkan kemiskinan secara merata di masyarakat, kecuali
segelintir orang yang selamat dari kemiskinan.
http://kumpulanmakalahsyariah.blogspot.co.id/p/lembaga-perekonomian-syariah.htm

BAB III
PENUTUP
3.1
3.1.1

Kesimpulan
Solusi Perekonomian Indonesia
Salah satu solusi penting yang harus diperhatikan pemerintahan dalam
merecovery ekonomi Indonesia adalah penerapan ekonomi syariah. Ekonomi
syariah memiliki komitmen yang kuat pada pengentasan kemiskinan,

penegakan keadilan pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba, dan pelarangan


spekulasi mata uang sehingga menciptakan stabilitas perekonomian.
Ekonomi syariah yang menekankan keadilan, mengajarkan konsep yang
unggul dalam menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional.
Fakta ini telah diakui oleh banyak pakar ekonomi global, seperti Rodney
Shakespeare (United Kingdom), Volker Nienhaus (Jerman), dsb.
3.1.2

Definisi Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan penghidupan dimana orang tidak dapat
memenuhi kebutuhan dasar.
Orang miskin ialah orang yang memilki pekerjaan atau mampu bekerja,
tetapi penghasilannnya hanya mampu memenuhi lebih dari sebagian hajat

3.1.3

kebutuhannya, tidak mencukupi seluruh hajat hidupnya.


Pandangan Islam terhadap kemiskinan
Islam memandang kemiskinan merupakan satu hal yang mampu
membahayakan akidah, akhlak, kelogisan berikir, keluarga dan juga masyarakat.
Islam pun menganggapnya sebagai musibah dan bencana yang harus segera
ditanggulangi. Dimana seorang muslim harus segera memohon perlindungan
kepada Allah atas kejahatan yang tersembunyi di dalamnya
.

3.2

Saran
Ekonomi islam atau ekonomi syariah saat ini sedang ramai di perbincangkaan,

bahkan sudah banyak masyarakat menginginkan penerapannya pada perekonomian


indonesia. Penerapan ekonomi islam sendiri menurut kelompok kami merupakan
perbaikan perekonomian Indonesia, dengan segala prinsip-prinsip yang mengaturnya.
Oleh karena itu, pemerintah hendaknya bisa menyentakkan dan membuka mata
untuk melirik dan menerapkan ekonomi syariah sebagai solusi perekonomian
Indonesia. Pemerintah harus melihat ekonomi syariah dalam konteks penyelamatan
ekonomi Nasional.
Sehubungan dengan itu, pembentukan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) perlu
kembali diwujudkan dengan memasukkan para pakar ekonomoi syariah di dalamnya.
Ekonomi syariah di Indonesia telah menunjukkan ketangguhannya di masa krisis dan
lagi pula dalam praktek perekonomian di Indonesia selama ini, Indonesia sudah
menerapkan dual system, yakni konvensional dan sistem ekonomi syariah, terutama
yang berkaitan dengan lembaga perbankan dan keuangan.

Daftar Pustaka
http://kumpulanmakalahsyariah.blogspot.co.id/p/lembaga-perekonomiansyariah.html (14-03-2016 19.00)
http://rosiyanti-aljihad.blogspot.co.id/2013/04/makalah-ekonomi-syariahsolusi.html (14-03-2016 21.00)