Anda di halaman 1dari 9

KOLONIALISME DAN IMPERIALISME PORTUGIS DI INDONESIA

Portugis merupakan negara Eropa pertama yang berusaha mencari jalan


laut ke dunia timur. Bartholomeus Diaz berhasil mencapai Tanjung
Harapan pada tahun 1486 dan Vasco da Gamma menginjakkan kaki di
Calicut

tahun

1498.

Tiga

belas

tahun

kemudian, Alfonso

d'Albuquerque dapat menguasai pelabuhan Malaka. Penaklukan Malaka


merupakan langkah strategis Portugis dalam upaya menguasai wilayah
perdagangan dan pelayaran di Asia Tenggara.
Ketika Portugis menduduki malaka kegiatan para pedagang muslim
beralih ke Aceh. Keadaan tersebut sangat merugikan Portugis. Karena
secara ekonomis wilayah Aceh menjadi lebih pesat perkembangan
ekonominya dari pada mereka. Portugis kemudian berusaha membuat
kekacauan di Aceh, tetapi usaha tersebut berhasil digagalkan oleh
kesultanan Aceh.

Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia

Kolonialisme adalah penguasaan dan pendudukan atas suatu wilayah negara


oleh

negara

lain.

Daerah

koloni

sama

artinya

dengan

negeri

jajahan. Pemerintah kolonial adalah pemerintah penjajahan.


Imperialisme adalah nafsu untuk memperluas wilayah dengan menguasai
negara

lain.

Berdasarkan

perkembangannya

paham

imperialisme

dapat

dibedakan menjadi dua, yaitu imperiaiismen kunodan imperialisme modern.


Imperialisme kuno disebut juga imperialisme perdagangan. Tujuannya untuk
menguasai perdagangan atas suatu wilayah dengan cara monopoli dan paksaan.
Imperialisme kuno didukung semangat gold, gospel, glory. Kegiatan Portugis
dan VOC termasuk imperialisme perdagangan, yaitu menguasai perdagangan
dengan

aturan

monopoli

dan

paksaan.

Imperialisme

modern

bertujuan

memperluas daerah jajahan untuk dimanfaatkan sebagai daerah penanaman


modal (kapital), sebagai daerah pasar hasil industri, dan sebagai daerah sumber
tenaga buruh yang murah. Imperialisme modern berkembang di dunia sejak
abad ke-19. Imperialisme dimulai sekitar pertengahan abad ke-16. Ketika itu

negara-negara Eropa, yang dipelopori Portugis dan Spanyol, bernafsu mencari


daerah jajahan untuk menggali kekayaan, menyebarkan agama Nasrani, dan
sebagai lambang kejayaan.

Masa Pemerintahan Herman Willem Daendels (1808-1811)

Sejak tahun 1906, Belanda diperintah oleh orang Perancis yang bernama Napoleon
Bonaparte. Otomatis, Bepanda merupakan sekutu dari Perancis. Di Eropa, Inggris merupakan
musuh besar bagi bangsa perancis. Oleh sebab itu, raja Napoleon Bonaparte menunjuk
seorang Gubernur Jenderal untuk memerintah di Indonesia. Hal ini karena dengan
dikuasainya wilayah Indonesia, maka wilayah kekuasaan perancis akan bertambah kuat.
untuk itu, Raja Napoleon memberikan tugas kepada Herman Willem Daendels untuk
memperkuat dan menpertahankan kekuasaan di Indonesai dari serangan Inggris,
mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk biaya perang melawan Inggris, dan
memperbaiki kondisi keuangan pemerintah yang telah kosong.

Masa Pemerintahan Jan Willem Janssen (1811)

Setelah masa pemerintahan Herman Willem Daendels berakhir dan diperintahkannya Jan
Willem Janssen menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia, pengaruh Belanda dan Perancis
perlahan-lahan mulai surut. Itu dikarenakan pola pemerintahan pada mas ini kurang taktis dan
sangat lemah, sehingga Jan Willem Janssen menyerah kepada Inggris. Hal ini bermula saat
Inggris menyerang Indonesia, Jan Willem Janssen tidak dapat berbuat banyak. Maka diapun
menyetujui perjanjian yang dinamakan perjanjian Kapitulasi Tuntang pada tahun 1811. Isi
perjanjian ini diantaranya militer Belanda yang ada di Asia Timur jatuh ke tangan militer
Inggris. Lalu, utang pemerintah Belanda juga tidak diakui oleh Inggris. Ditambah dengan
wilayah Pulau Jawa dan Madura serta semua pelabuhan milik Belanda di wilayah
kekuasaannya menjadi sepenuhnya hak milik Inggris. Maka oleh sebab itu, Indonesia
sepenuhnya jatuh ke tangan penjajahan Inggris yang dipimpin oleh seorang Gubernur
Jenderal bernama Thomas Stamford Raffless.

Masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffless

Terjadi perbedaan yang snagat mencolok diantara masa pemerintahan yang dipimpin oleh
Belanda dengan system pemerintahan yang dipimpin oleh Inggris. Pada masa Thomas
Stamford Raffless, dia menghapuskan beberapa kebijakan yang dibuat oleh Daendel dalam
segi ekonomi. Diantara kebijakannya yaitu :
1.

Penghapusan system penyerahan sebagian hasil bumi pada masa Belanda


(contingenten) menjadi system sewa tanah (landrente).

2.

Penghapusan system kerja rodi

3.

Penghapusan system monopoli

4.

Penghapusan pajak dan system wajib menyerahkan sebagian hasil bumi

Masa Pemerintahan Van Den Bosch

Setelah pemerintah Belanda menguasai Indonesia, maka ditunjuklah Van Den Bosch sebagai
Gubernur Jenderal di Indonesia oleh pemerintah Belanda. Van Den Bosch membuat beberapa
kebijakan yang snagat merugikan Indonesia. Dia membuat system tanam paksa, yaitu
kewajiban bagi setiap peilik lahan untuk menanami tanaman yang laku di pasar internasional,
seperti teh, kina, lada, dan lain-lain. System tanam paksa yang dibuat didasarkan oleh
mengejar pemasukan pendapatan sebanyak-banyaknya untuk menebus hutang dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya. Perintah untuk tanam paksa ini termuat di dalam Staatblat
(lembaran Negara) no.22 tahun 1834.

Perlawanan terhadap Portugis

Perlawanan terhadap bangsa Portugis dimulai dengan diangkatnya senjata oleh Malaka dan
Demak pada tahun 1512. Malaka yang saat itu dipimpin oleh Pate Kadir, melangsungkan
perlawanan sengit kepada pemerintah Portugis. Di samping itu, perlawanan juga
dinampakkan oleh Demak yang dipimpin oleh Pati Unus.

Perlawanan Terhadap VOC

Oleh karena kebijakan-kebijakan kongsi dagang Belanda yang memonopoli perdagangan di


wilayah Indonesia, maka dimulailah berbagai perlawanan terhadap VOC di berbagai wilayah.
Perlawanan terhadap VOC dimulai dari perlawanan rakyat Maluku. Lalu diikuti oleh
perlawanan rakyat Makassar (kerajaan Gowa), dan terakhir oleh pemberontakan Trunajaya
yang dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom.

Perlawanan terhadap Kolonial Belanda

Rakyat Maluku kembali bergolak melihat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan pada
saat pemerintahan Belanda menguasai Indonesia. System wajib menyerahkan hasil bumi
kepada pemerintah, membuat Pattimura memimpin rakyat Saparua melakukan perlawanan
terhadap pemerintah Belanda. Mereka membakar kapal-kapal milik Belanda di pelabuhan.
Namun, perlawanan ini tidak berlangsung lama, karena Pattimura berhasil ditangkap oleh
Belanda dan dihukum gantung.