Anda di halaman 1dari 16

TUGAS REVIEW JURNAL

PENDIDIKAN GIZI DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN


PROMOSI INTERVENSI PENDIDIKAN GIZI DI PEDESAAN DAN
PERKOTAAN PADA SEKOLAH DASAR DAERAH MACHAKOS, KENYA
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Pendidikan Gizi
Dosen Pengampu : Dr. Sapja Anantanyu SP, M. Si

Disusun oleh :
APRILLINDA FITRI WD
S 531 508 053

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU GIZI


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

A. JUDUL: Promotion Of Nutrition Education Interventions In Rural And Urban


Primary Schools In Machakos District, Kenya
B. ABSTRAK
Latar belakang: Pendidikan gizi merupakan proses melalui seseorang
memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk
mengembangkan kebiasaan makanan yang baik
Tujuan Penelitian: Pengetahuan gizi di antara anak-anak sekolah dasar di
Kenya membutuhkan perbaikan karena cakupan gizi dalam silabus telah
menurun sejak kemerdekaan.
Metode: Sebuah survei dasar dilakukan di antara 350 siswa di kelas 5 dan 6 di
15 sekolah dari 23 sekolah. Dua sekolah sebagai kelompok eksperimental dan
dua kontrol dipilih dari pedesaan dan perkotaan untuk berpartisipasi dalam
intervensi 9 bulan pendidikan gizi dilakukan untuk mengatasi masalah dalam
pengetahuan gizi anak-anak sekolah di Machakos District. Penelitian
menggunakan kuesioner terstruktur, fokus diskusi kelompok, pra-tes dan pascates digunakan untuk mengumpulkan data. SPSS dan Nutri-Survey yang
digunakan untuk menganalisis data dalam statistik deskriptif dan inferensial.
Hasil: Pengetahuan makanan di antara murid-murid meningkat secara signifikan
di sekolah pedesaan dan perkotaan sebagai kelompok eksperimental
dibandingkan pada sekolah kelompok kontrol. Meskipun tidak signifikan secara
statistik, underweight, stunting dan wasting sebelum intervensi berkurang dari
masing-masing 14,5, 28,9 dan 3,9% menjadi 11,8, 21 dan 2,6% setelah
intervensi.
Kesimpulan: Ada peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan makanan
dan praktek di kedua sekolah eksperimental pedesaan dan perkotaan. Transfer
informasi gizi dan keterampilan yang dipelajari di sekolah ke masyarakat juga
dicatat. Meskipun kekurangan pangan mungkin penyebab utama gizi buruk,
kurangnya pendidikan gizi merupakan faktor yang sama pentingnya yang harus
ditangani dalam menanggulangi gizi buruk, gizi kurang, obesitas, stunting.
Pendidikan gizi bisa efisien tersedia di lingkungan memungkinkan disediakan
oleh sekolah menggunakan sumber daya yang terjangkau dan mudah tersedia
seperti kebun sekolah. lebih banyak usaha harus dilakukan untuk memperkuat
pendidikan gizi antara anak-anak sekolah di negara berkembang.
1

C. LATAR BELAKANG
Pembangunan nasional sebagai landasan kemajuan suatu bangsa.
Pembangunan nasional tidak terlepas dari sumber daya manusia (SDM) yang
berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas sebaiknya dipersiapkan sejak
usia dini dan usia sekolah (Dewi, 2011). Usia sekolah (usia 5 sampai 14 tahun),
merupakan salah satu masa yang mengalami tumbuh kembang yang cepat. Pada
usia ini aktifitas fisik terus meningkat seperti, bermain, berolah raga atau
membantu orang tua dalam bekerja (Nuryanto, 2014).
Kelompok anak usia sekolah merupakan salah satu kelompok rentan gizi.
Meskipun kelompok umur ini mempunyai kesehatan yang lebih baik
dibandingkan kesehatan anak balita, tetapi kelompok ini dapat timbul masalahmasalah kesehatan, seperti: berat badan rendah, defisiensi zat besi, dan defisiensi
vitamin E (Roedjito 1989; Sebataraja 2014).
Asupan gizi yang baik dari segi kuantitas maupun kualitas diperlukan
agar tumbuh kembang anak dapat optimal. Pemberian gizi pada usia ini biasanya
tidak berjalan secara sempurna, karena banyak faktor lingkungan sangat
mempengaruhi perilaku makanannya (Jukes 2008). Kebiasaan makan yang salah
pada anak sekolah dapat mengakibatkan masalah gizi yang serius, seperti
obesitas bagi mereka yang kelebihan kalori (Nuryanto 2014). Kekurangan
pangan adalah penyebab utama malnutrisi dan kesehatan yang buruk di berbagai
bagian Afrika. Namun, berdasarkan analisis situasi telah mengungkapkan bahwa
faktor-faktor lain termasuk kebodohan dan buta huruf, sikap tradisional dan
takhayul memainkan peran penting dalam terjadinya malnutrisi (David 2008).
Anak usia sekolah dengan kondisi ekonomi keluarga baik yang
bersekolah di pusat kota memungkinkan anak memiliki status kesehatan yang
lebih baik dibandingkan dengan anak yang bersekolah dan tinggal di pinggiran
kota. Pusat kota merupakan tempat yang memiliki pusat pelayanan yang tinggi
untuk memenuhi kebutuhan, seperti: fasilitas pertokoan, perbelanjaan, fasilitas
untuk mengakses informasi dan kesehatan. Sedangkan, anak yang bersekolah
dan tinggal di daerah pinggiran kota dengan segala fasilitas yang tersedia dan
kondisi sosial ekonomi keluarga yang terbatas memungkinkan anak mempunyai
status kesehatan dan gizi yang buruk dibandingkan dengan anak yang tinggal di
pusat kota (Sebataraja, 2014).

Salah satu faktor yang mempengaruhi gizi seseorang adalah kurangnya


pengetahuan tentang gizi. Berkurangnya pengetahuan tersebut juga akan
mengurangi kemampuan seseorang untuk menerapkan informasi gizi dalam
kehidupan sehari-hari. Salah satu cara untuk meningkatka pengetahuan
seseoarang yaitu dengan cara memberikan pendidikan gizi sedini mungkin.
Pendidikan gizi ini dapat diberikan melalui penyuluhan, pemberian poster,
leaflet atau booklet pada anak sekolah (Suhardjo 2003; Nuryanto 2014).
Pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang, dengan adanya
peningkatan pengetahuan maka diharapkan akan terjadi perubahan perilaku yang
lebih baik terhadap gizi dan kesehatan (Machfoedz, 2007). Program pendidikan
kesehatan dan gizi pada anak sekolah merupakan salah satu cara untuk
menerapkan intervensi kesehatan global secara sederhana dan efektif untuk
memperoleh pendidikan yang labih luas (Jukes MCH, 2008), serta sebagai
proses dimana orang mendapatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang
diperlukan untuk mengembangkan kebiasaan makan yang baik (Lungile, 1996;
David 2008).
Berdasarkan peneltian Sartika (2012) komunikasi, informasi, dan edukasi
(KIE) gizi bagi anak sekolah dapat membentuk kebiasaan makan anak sejak dini
agar tercapai keadaan individu yang lebih baik di masa yang akan datang. Selain
untuk meningkatkan pengetahuan, KIE gizi juga diharapkan dapat mengubah
sikap dan perilaku anak yang tidak rutin sarapan menjadi terbiasa sarapan setiap
hari.
Metode pendidikan gizi diantaranya bisa berupa Pendidikan Gizi tentang
Pengetahuan Pemilihan Jajanan Sehat antara Metode Ceramah dan Metode
Komik (Hartono, 2015), Niat dan Perilaku Pemilihan Jajanan Anak Sekolah
yang Mendapat Pendidikan Gizi Metode Ceramah dan TGT (Maduretno, 2014).
Sedangkan media pendidikan gizi seperti Pengaruh Pendidikan Gizi Dengan
Media Buku Cerita Terhadap Peningkatan Pengetahuan Anemia Dan Perubahan
Perilaku Makan Pada Remaja Putri (Nugraheni, 2015), Pendidikan Gizi
Dengan Media Booklet Terhadap Pengetahuan Gizi (Zulaekah,
2012), Peningkatan Pengetahuan Gizi Anak Usia Sekolah Melalui
Pengoptimalan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan (Penjaskes)
Menggunakan Media Ular Tangga (Dewi, 2011).

D. METODE DAN BAHAN


Berdasarkan penelitian David (2008) menggunakan desain penelitian
eksperimental didahului oleh survei dasar (rancangan cross sectional dilakukan
di SD di Machakos District. Kabupaten tersebut sengaja dipilih karena tingginya
malnutrisi dan rawan pangan. Intervensi diberikan kepada dua sekolah
dipedesaan dan diperkotaan sebagai kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Sekolah yang dipilih adalah sekolah yang memiliki kelas rata-rata
ukuran 40 murid, memiliki area hampir sama untuk berkebun sekolah dan
fasilitas air, tersedianya jamban yang memadai / toilet dan dengan jarak 7 km
antara sekolah. Penelitian ini dirancang untuk menilai dan mengatasi
kesenjangan dalam pengetahuan gizi, menggunakan kebun sekolah dan sumber
daya lain untuk mempromosikan gizi untuk anak-anak sekolah dasar melalui
partisipatif berbasis pendekatan kepada masyarakat.
Sedangkan penelitian Nuryanto (2014) desain penelitian yang digunakan
adalah penelitian quasi experimental dengan rancangan non-randomized one
group pre-post test design. Penelitian dilakukan di 2 SD di Semarang, yaitu SDN
05 Pandean Lamper Kecamatan Semarang Tengah dan SDN 01 Tembalang
Kecamatan Tembalang Kota Semarang, dengan pertimbangan banyak ditemukan
penjaja makanan di kedua SD tersebut. Sekolah Dasar Negeri 01 Tembalang
dianggap mewakili daerah pinggir kota dan SDN 05 Pandean Lamper dianggap
mewakili tengah Kota.
Subjek dalam penelitian adalah anak SD kelas 4, 5 dan 6, dipilih karena
anak pada usia tersebut mudah diajak untuk berkomunikasi. Pengambilan
sampel dilakukan menggunakan multistage random sampling. Intervensi
dilakukan dengan pendekatan KIE mengenai Gizi Seimbang pada Anak Sekolah,
dalam bentuk buku saku, poster gizi seimbang dan penyuluhan kelompok kepada
anak SD serta memberikan buku gizi seimbang kepada orang tua. Pengetahuan
didapatkan dari wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, baik sebelum
dan setelah pendidikan gizi. Data dianalisis dengan uji paired t-test dan
wilcoxon.
Sartika (2012) desain studi yang digunakan dalam penelitiannya adalah
studi kuasi eksperimental, pre-post intervention. Besar sampel dihitung dengan
rumus ukuran sampel minimal untuk uji hipotesis diperlukan sampel sebanyak
80 responden yang terdiri atas 1 sekolah dasar negeri (SDN) dan 1 sekolah dasar
4

swasta (Sekolah Dasar Islam Terpadu, SDIT). Data primer dikumpulkan dengan
metode wawancara menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah diuji coba.
Kuesioner meliputi pengetahuan, sikap tentang kebiasaan sarapan pagi; form
food frequency untuk mengetahui frekuensi sarapan pagi; form food recall 1 x
24 jam untuk mengetahui total asupan energi yang bersumber dari karbohidrat,
protein, lemak, sayur, dan buah. Materi penyuluhan gizi yang akan disampaikan
meliputi pengertian dan manfaat sarapan, dampak tidak sarapan; makanan
sumber tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur; pemilihan sarapan sehat serta
menyusun menu sarapan dan makanan jajanan. Materi ini apabila dikembangkan
secara tepat dapat memberikan informasi secara efektif serta mengarahkan dan
memotivasi perubahan perilaku responden. Materi diberikan dalam bentuk
media kartu bergambar, kartu kuartet, ular tangga, tebak gambar, TTS, leaflet,
poster, dan lomba cerdas cermat.
Kegiatan dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, studi awal (baseline data).
Kedua, kegiatan intervensi dalam bentuk kegiatan KIE gizi sebanyak 4 modul
yang diterapkan selama 8 minggu berturut-turut. Kegiatan evaluasi dilakukan
pada setiap saat awal dan akhir modul diberikan. Ketiga, adalah penilaian di
akhir kegiatan (endline).
Metode pendidikan gizi berdasarkan penelitian Hartono (2015) Penelitian
ini merupakan quasy experimental study dengan pre-test and post-test design.
Sumber variabel yang diteliti adalah tingkat pengetahuan pada kelompok
ceramah dan kelompok komik berdasarkan nilai pre-test, post-test pertama, dan
nilai post-test kedua. Sasaran penelitian semua siswa kelas 5A dari SDN
Tumpakrejo 1 sebagai kelompok yang diberi pendidikan gizi dengan metode
komik dan seluruh siswa kelas 5 SDN Tumpakrejo 2 sebagai kelompok yang
diberi pendidikan gizi dengan metode ceramah. Jumlah masing-masing siswa
SD tersebut yaitu 16 orang pada kelompok ceramah dan 25 orang pada
kelompok komik sehingga total sampel berjumlah 41 orang.
Seminggu sebelum dilakukan perlakuan, kelompok ceramah dan
kelompok komik diberi pre-test. Setelah satu minggu, kelompok ceramah dan
kelompok komik diberikan pendidikan gizi sebanyak 3 kali pertemuan dengan
materi yang sama pada kedua kelompok. Pemberian intervensi pada kedua
sekolah tersebut dilakukan pada hari yang sama. Pada kelompok ceramah
intervensi dilakukan pada pukul 07.00 WIB, kemudian pada pukul 09.00 WIB
5

intervensi dilakukan pada kelompok komik. Pelaksanaan intervensi pada kedua


kelompok perlakuan tersebut dilakukan dengan durasi kurang lebih selama 30
menit. Pada intervensi yang terakhir kali baik pada kelompok ceramah maupun
kelompok komik, siswa diberi post-test menggunakan kuesioner yang sama
dengan pre-test.
Serupa dengan penelitian yang dilakukan Maduretno (2014) Desain
penelitian yang digunakan adalah quasy experimental study dengan pre-test and
post-test design. Pengambilan responden penelitian dilaksanakan di dua sekolah
yaitu SDN Tumpakrejo 1 dan 2 Kabupaten Malang. Pelaksanaan penelitian
dilakukan selama 3 bulan, yaitu bulan Agustus-Oktober 2013. Jumlah masingmasing siswa SD tersebut adalah 16 orang pada kelompok ceramah dan 26 orang
pada kelompok Team Game Tournament (TGT). Penelitian ini dibagi menjadi
dua tahap kegiatan utama, meliputi studi pendahuluan menggunakan metode
observasi dan wawancara untuk mengetahui pola konsumsi makanan gizi. Uji
Independent T-Test untuk melihat perbedaan selisih nilai perilaku pemilihan
jajanan di sekolah sebelum dan sesudah diberi pendidikan gizi antara kedua
kelompok.
E. HASIL PENELITIAN
1. Pre-test dan post-test pendidikan gizi dengan membandingkan
eksperimental dan sekolah kontrol di Kabupaten Machakos, Kenya
(David, 2008).
Pre-test

Post-test

2. Pengetahuan dan Sikap Gizi Anak SD Sebelum dan Setelah Pendidikan


(Nuryanto, 2014)

3. Hasil Rata-rata Skor Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa Sebelum


dan Sesudah Intervensi (Sartika, 2012)

4. Hasil Pengetahuan Responden Sebelum Dan Sesudah Diberi Pendidikan


Gizi Dengan Metode Ceramah dan Komik (Hartono, 2014)

5. Pengaruh Niat dan Perilaku Pemilihan Jajanan Anak Sekolah yang


Mendapat Pendidikan Gizi Metode Ceramah dan TGT (Maduretno,
2015)

F. PEMBAHASAN
1. Pengaruh Pendidikan Gizi di Pedesaan Dan Perkotaan
8

Hasil dari data dasar dari penelitian David (2008) sebagai tes
intervensi pra-dan pasca menunjukkan bahwa murid tidak memiliki
pengetahuan

gizi

dan

mengidentifikasi

perlu

meningkatkan

upaya

pendidikan gizi di Kabupaten Machakos. Kebun sekolah dan sumber lainnya,


misalnya tersedianya air dan toilet, bisa digunakan sebagai alat bantu
mengajar untuk pendidikan gizi.
Prevalensi penyakit sebelum intervensi adalah tinggi namun itu
terdokumentasi dengan baik bahwa pengetahuan gizi, baik kebiasaan makan
dan kebersihan bisa mengurangi prevalensi penyakit. Perbaikan yang
signifikan dalam pengetahuan gizi dan praktek yang diamati di kedua
sekolah eksperimental pedesaan dan perkotaan sedangkan sekolah kelompok
kontrol meningkat tetapi tidak signifikan.
Perubahan dalam praktek setelah intervensi menunjukkan efektivitas
program intervensi gizi dalam meningkatkan gizi, baik di kalangan murid
sekolah dan rumah tangga anggota. Murid dari kelompok sekolah
eksperimental di pedesaan mengadopsi teknik produksi pangan baru, setelah
sekolah atau selama liburan mungkin karena didaerah tersebut banyak
pertanian. Relatif, murid dari perkotaan sekolah eksperimental dipamerkan
perbaikan pilihan makanan bergizi dan lebih baik makanan kemasan,
mungkin karena mereka lebih terbuka untuk membeli siap saji atau kemasan
makanan. Murid dari perkotaan juga memiliki pilihan yang lebih luas untuk
memilih improvisasi makanan sementara sekolah di pedesaan tidak memiliki
banyak improvisasi makanan.
2. Pengaruh Pendidikan Gizi Terhadap Pengetahuan dan Sikap Gizi Anak
Sekolah Dasar
Hasil penelitian tentang pengaruh pendidikan gizi terhadap
pengetahuan dan sikap anak tentang gizi menunjukkan bahwa ada perbedaan
median persen sikap gizi anak antara sebelum dengan setelah pendidikan
gizi. Pendidikan gizi didefinisikan sebagai upaya menerjemahkan apa yang
telah diketahui tentang gizi dan kesehatan ke dalam perilaku yang diinginkan
dari perorangan ataupun masyarakat melalui proses pendidikan. Pendidikan
gizi dapat dilakukan dengan metode penyuluhan, ceramah, dengan
menggunakan media pemberian poster, booklet, komik dll. Untuk merubah
perilaku konsumsi makanan jajanan mungkin yang paling berkaitan adalah
9

dengan memberikan pendidikan gizi. Karena dengan adanya pendidikan gizi,


sesuai dengan batasan WHO (1954), pendidikan gizi dapat mengubah
perilaku orang atau masyarakat dari perilaku yang tidak sehat menjadi
perilaku yang sehat (Shield, 2002).
Meningkatnya sikap anak tentang gizi mungkin juga disebabkan oleh
meningkatnya pengetahuan anak. Meningkatnya pengetahuan gizi pada anak
melalui pendidikan gizi akan membantu sikap anak dan akan mempengaruhi
kebiasaan anak dalam memilih makanan dan snack yang menyehatkan
(Nuryanto, 2014).
3. Pengaruh Penerapan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Gizi (KIE)
terhadap Perilaku Sarapan Siswa Sekolah Dasar
Pendidikan gizi dalam bentuk KIE merupakan upaya meningkatkan
status kesehatan khususnya status gizi melalui perubahan pengetahuan dan
praktik atau perilaku gizi ke arah yang lebih baik. Kebiasaan jajan anak
dipengaruhi oleh pengetahuan gizi, kebiasaan membawa bekal makanan,
uang jajan, sarapan pagi, pekerjaan, dan pendidikan orang tua, kebosanan
(Khomsan, 2007).
Sarapan pagi bagi anak usia sekolah sangat penting karena waktu
sekolah adalah penuh aktivitas yang membutuhkan energi dan kalori yang
cukup besar. Sarapan harus memenuhi total kalori kebutuhan anak setiap
hari. Peningkatan skor pengetahuan diikuti peningkatan sikap terhadap
sarapan pagi dan kesukaan terhadap makanan/minuman tertentu.
Setelah dilakukan intervensi KIE gizi terjadi peningkatan skor ratarata pengetahuan dan perilaku siswa terhadap kebiasaan sarapan pagi (nilai p
< 0,050). Media yang digunakan untuk kegiatan KIE gizi seperti kartu
bergambar, kartu kuartet, ular tangga, tebak gambar, TTS, leaflet, poster, dan
lomba cerdas cermat dinilai cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan
dan perilaku siswa. Peran ibu sebagai penyedia sarapan pagi bagi siswa
sangat penting terutama dalam menghindari kebosanan.
4. Pengaruh Pendidikan Gizi tentang Pengetahuan Pemilihan Jajanan
Sehat antara Metode Ceramah dan Metode Komik
Pada kelompok ceramah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan tentang pengetahuan pemilihan jajanan sehat sebelum dan
sesudah diberi pendidikan gizi dengan metode ceramah. Penelitian ini juga
sejalan dengan penelitian Wulandari yaitu skor pengetahuan gizi pada anak
10

sekolah yang mendapat pendidikan gizi dengan metode ceramah mengalami


peningkatan secara signifikan (p<0,005) (Wulandari, 2005).
Pada pendidikan gizi yang diberikan dengan metode ceramah terjadi
komunikasi dua arah dimana dilakukan secara tatap muka sehingga penyuluh
dapat secara langsung mengetahui respon murid yang diberikan pendidikan
gizi, disamping itu juga, terjadi interaksi antara guru dan murid. Pada metode
ini, kelompok perlakuan diberi pendidikan gizi dengan metode ceramah
dalam waktu 20 30 menit dan dilakukan secara berkelanjutan yaitu
sebanyak 3 kali pertemuan. Oleh karena itu, materi yang disampaikan pada
saat intervensi dapat diingat dalam waktu jangka panjang oleh siswa tersebut
(Hartono, 2015).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan tentang pengetahuan pemilihan jajanan sehat sebelum dan sesudah
diberi pendidikan gizi dengan metode komik. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Widajanti yaitu terdapat peningkatan pengetahuan yang
signifikan

(p<0,01)

pada

siswa

SD

yang

diberi

komik

tentang

keanekaragaman makanan jajanan dan keamanan makanan jajanan


(Widajanti, 2009). Pada anak kelas 5 yang dijadikan sebagai responden
penelitian, cocok menggunakan metode komik dikarenakan anak-anak usia
10 12 tahun mulai menyukai cerita yang bersifat kritis dibandingkan
dengan anak usia 6 8 tahun yang lebih tertarik untuk membaca dan
mendengar dongeng fantasi (Arimurti, 2012). Pada metode ini, kelompok
perlakuan diberi pendidikan gizi dengan metode komik secara berkelanjutan
sebanyak 3 kali. Oleh karena itu, komik yang digunakan dalam metode
pendidikan gizi ini menarik bagi siswa dan materi di dalamnya mudah
diingat serta bertahan pada jangka waktu yang panjang.
5. Pengaruh Niat dan Perilaku Pemilihan Jajanan Anak Sekolah yang
Mendapat Pendidikan Gizi Metode Ceramah dan TGT
Kebiasaan seseorang berkaitan dengan karakteristik personal dan
faktor lingkungan. Dalam hal ini lingkungan yang paling berpengaruh pada
perilaku jajajan anak adalah keluarga. Selain itu faktor lain yang
mempengaruhi pemilihan jajanan sehat adalah ketersediaan jajanan di rumah
dan di lingkungan sekitar rumah serta adanya kesempatan untuk membeli

11

(Chi-Ming, 2007). Anak cenderung lebih memilih dan membeli jajanan yang
tersedia paling dekat dengan keberadaannya (Aprilia, 2011). Selain itu
keterlibatan orang tua juga dapat mempengaruhi perilaku anak dalam
memilih jajanan (Taylor, 2005). Anak-anak belum memiliki kontrol yang
baik dalam membedakan jajanan yang sehat dan tidak sehat sehingga
membutuhkan pendampingan dan pengawasan yang baik dari orangtua
dalam memilih jajanan (Aprilia, 2011). Di samping itu, faktor perilaku
pemilihan jajanan orang tua juga berperan sebagai faktor penentu perilaku
anak dalam memilih jajanan. Penelitian lain menunjukkan adanya hubungan
yang kuat antara jenis jajanan yang dikonsumsi orang tua dengan jenis
jajanan yang dikonsumsi oleh anak (Brown,2004).
Niat pemilihan jajanan sehat pada siswa kelas 5 SDN Tumpakrejo 2
meningkat setelah pemberian pendidikan gizi dengan metode ceramah.
Begitu pula dengan SDN Tumpakrejo 1 mengalami peningkatan niat
pemilihan jajanan sehat setelah diberi pendidikan gizi dengan metode TGT.
Kedua metode tersebut efektif dalam merubah niat tetapi metode ceramah
memberikan hasil perubahan niat yang lebih baik dibandingkan TGT.
Selain itu, baik metode ceramah maupun TGT juga sama-sama
efektif dalam merubah perilaku pemilihan jajanan di sekolah walaupun pada
kelompok ceramah lebih banyak responden yang mengalami peningkatan
nilai. Peningkatan nilai responden pada kelompok TGT lebih tinggi
dibandingkan kelompok ceramah. Namun, pendidikan gizi dengan
menggunakan metode ceramah dan TGT ini kurang efektif dalam mengubah
perilaku jajanan di rumah. Beberapa faktor diduga mempengaruhinya.
G. KESIMPULAN
Pendidikan gizi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
kesadaran akan pentingnya memperhatikan asupan makanan. Tingkat pendidikan
gizi berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan
gizi maka dapat meningkatkan pengetahuan, sikap seseorang akan pentingnya
nilai gizi sehingga dapat mengkonsumsi zat gizi dengan baik.
Keberhasilan pendidkan gizi dipedesaan dan perkotaan semua ditentukan
dengan bagaimana cara, tehnik, metode serta media dalam penyampaian
pendidikan gizi. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah,
12

dan pelaku pendidikan sebagai sarana dalam memberikan pengetahuan gizi


kepada anak usia sekolah. Bagi masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai
pendidikan kesehatan pada anak, bagi pemerintah dapat dimanfaatkan sebagai
alternatif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan bagi pelaku
pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dalam meningkatkan
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak khususnya dalam hal yang
terkait gizi, kesehatan, serta perilaku hidup bersih dan sehat.
Melalui pendidikan gizi dengan cara memperhatikan tehnik, metode,
media dalam penyampaian pendidikan gizi dengan baik dan terstruktur maka
diharapkan anak-anak dapat dengan mudah mengerti dan mengimplementasikan
pengetahuan gizi dan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kesehariannya.
Selanjutnya dapat meningkatkan sikap kritis dan kehati-hatian siswa terkait
pangan dan menjaga kesehatannya.

DAFTAR PUSTAKA
Anita Lusiya Dewi, Sumi Arrofi, Erwin Angga Setya. 2011. Peningkatan
Pengetahuan Gizi Anak Usia Sekolah Melalui Pengoptimalan Pendidikan
Jasmani Dan Kesehatan (Penjaskes) Menggunakan Media Ular Tangga.
Institut Pertanian Bogor. Bogor
Aprilia BA. 2011. Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Makanan Jajanan
pada Anak Sekolah Dasar [Skripsi]. Semarang: Universitas Diponegoro.
Semarang.
Arimurti DI. 2012. Pengaruh Pemberian Komik Pendidikan Gizi Seimbang
Terhadap Pengetahuan Gizi Siswa Kelas V SDN Sukasari 4 Kota Tangerang
Tahun 2012. [Skripsi]. Depok: Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Brown R, Ogden J. Childrens Eating Attitudes and Behaviour: A Study of the
Modelling and Control Theories of Parental Influence. Health and Education
Research. 2004; 19 (3): 261-271.
13

Chi-Ming,Wei L, Hsiao-Chi Y, Wen-Harn P. The Relationship between Snack


Intake and Its Availability of 4th-6th Graders in Taiwan. Asia Pasific Journal
of Clinical Nutrition. 2007; 16 (S2): 547-553.
Dorcus Mbithe David, Judith O. Kimiywe, Judith N. Waudo1 and John A. Orodho.
2008. Promotion Of Nutrition Education Interventions In Rural And Urban
Primary Schools In Machakos District, Kenya. Journal of Applied
Biosciences (2008), Vol. 6: 130 - 139. ISSN 1997 5902.
Ida Sri Maduretno, Nanik Setijowati dan Nia Novita Wirawan. 2014. Niat dan
Perilaku Pemilihan Jajanan Anak Sekolah yang Mendapat Pendidikan Gizi
Metode Ceramah dan TGT. Indonesian Journal of Human Nutrition, Juni
2015, Vol.2 No.1 : 23 37.
Jukes MCH, Drake LJ dan Bundy DAP 2008 School Health, Nutrition and
Education For All Levelling the Playing Field. CABI Internasional. USA.
p.3-29
Khomsan A. 2006. Solusi makanan sehat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Lisbet Rimelfhi Sebataraja, Fadil Oenzil, Asterina.Hubungan Status Gizi dengan
Status Sosial Ekonomi Keluarga Murid Sekolah Dasar di Daerah Pusat dan
Pinggiran Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(2).
Lungile Bengu, 1996. To Feed and Empower or Simply Teach Positive Role of the
Community Nutritionists. Bulletin of Infant Feeding and Maternal Nutrition
14 (1): 9 -10.
Machfoedz I dan Suryani S 2007 Pendidikan Kesehatan bagian dari Promosi
Kesehatan, Fitramaya, Yogyakarta, p.8-73
Nur Pratiwi Hartono, Catur Saptaning Wilujeng, Sri Andarini. 2015. Pendidikan
Gizi tentang Pengetahuan Pemilihan Jajanan Sehat antara Metode Ceramah
dan Metode Komik. Indonesian Journal of Human Nutrition, Desember 2015,
Vol.2 No.2 : 76 - 84 76.
Nuryanto., Adriyan Pramono, Niken Puruhita, Siti Fatimah Muis. 2014. Pengaruh
pendidikan gizi terhadap pengetahuan dan sikap tentang gizi anak Sekolah
Dasar. Jurnal Gizi Indonesia. ISSN : 1858-4942.
Ratu Ayu Dewi Sartika. 2012. Penerapan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Gizi
terhadap Perilaku Sarapan Siswa Sekolah Dasar. Kesmas, Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional Vol. 7, No. 2.
Rista Nugraheni. 2015. Pengaruh Pendidikan Gizi Dengan Media Buku Cerita
Terhadap Peningkatan Pengetahuan Anemia Dan Perubahan Perilaku Makan
Pada Remaja Putri. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
14

Roedjito D. Kajian penelitian gizi. Edisi ke-1. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa;
1989. hlm. 1-43.
Shield J, Nullen MC 2002 The American Dietetic Association Guide to Healthy
Eathing For Kids. How Your Children Can Eat Smart From Five Twelve.
John Wiley & Sons. Inc. USA.. P.10-15, 49-53.
Siti Zulaekah . 2010. Pendidikan Gizi Dengan Media Booklet Terhadap
Pengetahuan Gizi. Universitas Negeri Semarang. Jurnal Kesehatan
Masyarakat.
Suhardjo 2003 Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Bumi Aksara, Jakarta
Taylor JP, Evers S, McKenna M. Determinants of Healthy Eating in Children and
Youth. Canadian Journal of Public Health. 2005; 96 (3): 20-26 .
Widajanti L, Chriswardani S, dan Anung S. Pengaruh Komik Makanan Jajanan
Sehat dan Bergizi untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Anak Sekolah
Dasar. [Online]. The Indonesian Journal of Public Health, Vol. 6, No. 1; 2009:
19 - 23. (Diunduh 8 April 2013).
Wulandari A. Peningkatan Pengetahuan Gizi Pada Anak Sekolah dengan Metode
Ceramah dan Role Play. [Skripsi]. Semarang: Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro Semarang; 2007.

15