Anda di halaman 1dari 17

PEMBELAJARAN 1

MEMBERI PAKAN LARVA IKAN

Tujuan Akhir pembelajaran / Terminal Performance Objective (TPO) setelah


mempelajari kompetensi ini peserta diklat Memeberi pakan larva ikan sesuai
persyaratan bila disediakan larva, pakan larva,

Sub. Kompetensi Pemberian Pakan


Larva Ikan
A. Tujuan Antara / Enabling Objective (EO)
Peserta mampu memberi pakan Larva Ikan

B. Materi Memberi Pakan Larva Ikan

Pada kegiatan pembenihan ikan dimulai dari proses pemijahan ikan air tawar
yang akan dihasilkan telur, larva dan benih ikan. Fase larva sangat menentukan
keberhasilan suatu usaha pembenihan. Pada fase ini larva ikan mulai
mengkonsumsi pakan yang diberikan pada media pemeliharaan karena kantong
kuning telur yang terdapat pada tubuh larva ikan air tawar ini hanya dapat
memasok energi bagi larva sekitar 2-3 hari, Selanjutnya agar dapat bertahan
hidup pada media pemeliharaan larva ikan air tawar ini harus sudah mulai belajar
makan makanan yang berasal dari luar tubuhnya. Apakah larva itu? Bagaimana
cara memberi makan larva dan pakan jenis apa yang tepat diberikan pada larva
yang mempunyai ukuran bukaan mulut sangat kecil? Mari kita diskusikan dan
carilah referensi dari melakukan browsing internet, buku dan majalah lainnya.
Dalam modul ini hanya akan dibahas secara singkat tentang jenis-jenis pakan
larva, kandungan gizi pakan larva dan jenis pakan yang sesuai dengan bukaan
mulut larva.
Larva adalah anak ikan yang baru menetas dari telur berukuran sangat kecil dan
membawa cadangan makanan pada tubuhnya berupa kuning telur dan butiran
minyak. Pada fase larva organ –organ tubuhnya belum sempurna karena masih
dalam proses perkembangan. Pada fase ini jika larva tidak menemukan
makanan dari luar pada saat cadangan makanan didalam tubuhnya habis maka
larva tersebut akan mati. Oleh karena itu pada fase ini harus dapat diberikan
pakan yang tepat jenisnya, tepat ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva
dan mempunyai kandungan gizi yang tinggi karena pada fase larva masih dalam
prose perkembangan seluruh organ-organ tubuh larva.
Pada fase larva pakan yang dikonsumsi oleh larva digunakan untuk proses
morfogenesis, organogenesis dan metamorfosis. Oleh karena itu pakan yang
diberikan pada larva harus benar-benar sesuai dengan ukuran bukaan mulut
larva, mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Pada fase larva belum banyak
terjadi pertumbuhan karena seluruh energi yang diperoleh digunakan untuk
ketiga proses tersebut.
Organ pencernaan pada fase larva belum sempurna dimana saluran pencernaan
dan mulut belum terbuka secara sempurna. Oleh karena itu dalam menentukan
jenis pakan yang tepat harus diperhatikan tentang :
1. Perkembangan bukaan mulut larva agar dapat menetapkan pakan yang
tepat, pada umur berapa, jenis pakan dan ukuran pakan. Bukaan mulut larva
ini berkaitan dengan kemampuan larva untuk memangsa pakan yang berasal
dari luar. Ukuran pakan yang dapat dimangsa aoleh larva biasanya adalah
berkisar antara 30 – 50% dari bukaan mulut larva, misalnya ukuran bukaan
mulut larva adalah 1 cm, maka pakan yang dapat dimangsa oleh larva ikan
maksimal berukuran 3 - 5 mm.
2. Kemampuan mencerna larva sangat dipengaruhi oleh enzim pencerna,
produksi enzim dalam tubuh larva tubuh larva yang ditentukan oleh kelenjar
enzim belum sempurna, oleh karena itu larva belum mampu mencerna
pakan yang masuk kedalam tubuhya. Berdasarkan hasil penelitian larva
ikan lele, lambungnya baru terbentuk pada usia 12 hari oleh karena itu pada
usia larva belum ada enzim yang dapat mencerna makanan didalam
tubuhnya dan pada fase tersebut pakan yang tepat diberikan adalah pakan
alami yang didalam tubuh pakan alami terdapat enzim yang dapat
mencerna makanan.
3. Pada fase larva mata belum berkembang secara sempurna sehingga
untuk mendeteksi keberadaan pakan didalam media pemeliharaan sangat
terbatas. Oleh karena itu pada fase larva sebaiknya dipelihara pada wadah
yang ukurannya terbatas dan kepadatan pakan alami didalam media
pemeliharaan cukup tinggi, agar larva dapat mengkonsumsi pakan.
Berdasarkan uraian diatas maka jenis pakan yang tepat diberikan kepda larva
ikan air tawar adalah pakan alami karena pakan alami :
1. Mempunyai bentuk dan ukuran yang kecil sesuai dengan bukaan mulut
larva.
2. Kandungan gizinya lengkap dan cukup tinggi sangat dibutuhkan untuk
proses perkembangan tubuh larva.
3. Isi selnya padat dan mempunyai dinding sel yang tipis sehingga mudah
diserap, karena pada fase larva belum ada enzim yang akan mencerna
pakan sehingga pakan alami mudah dicerna dalam saluran pencernaan
larva dan didalam tubuh pakan alami terdapat enzim yang dapat
melakukan autolisis sendiri sehingga dapat mudah dicerna oleh larva.
4. Tidak menyebabkan penurunan kualitas air, karena pakan alami selama
berada dalam media pemeliharaan larva tidak mengeluarkan senyawa
beracun.
5. Pergerakan pakan alami relatif tidak terlalu aktif sehingga sangat mudah
untuk ditangkap oleh larva.
6. Meningkatkan daya tahan larva terhadap penyakit dan perubahan kualitas
air
7. Ketersediaan pakan alami relatif mudah dilakukan pembudidayaan karena
cepat perkembangbiakannya dan mudah membudidayakannya.
Oleh karena itu jenis pakan yang tepat diberikan kepada larva ikan air tawar
adalah pakan alami dari kelompok zooplankton . Jenis-jenis pakan alami yang
biasa diberikan kepada larva ikan air tawar antara lain adalah Artemia salina,
Daphnia, moina dan rotifer. Ukuran nauplii Artemia salina kurang lebih adalah
500 μm, Daphnia berukuran 2 kali lipat dari Moina, ukuran Moina dewasa adalah
700 – 1000 μm, sedangkan Moina muda berukuran kurang dari 400 μm, ukuran
rotifer air tawar adalah 130 – 340 μm.
Materi tentang jenis-jenis pakan alami yang dapat dikonsumsi oleh ikan air tawar
dapat anda pelajari pada modul pembelajaran tersendiri yang membahas secara
rinci tentang bagaimana membudidayakan mulai dari identifikasi sampai
pemanenan.

1. Sampling Larva
Larva ikan yang baru menetas mempunyai ukuran yang relatif sangat kecil.
Larva merupakan suatu fase pada ikan air tawar yang mempunyai umur mulai
dari menetas sampai maksimal berumur 20 hari, setelah waktu tersebut maka
larva akan mengalami perkembangan menjadi benih ikan. Fase larva yang
hanya kurang lebih tiga minggu ini merupakan fase yang sangat sulit dalam
pemeliharaannya. Pada fase ini akan sangat menentukan keberhasilan dari
suatu usaha pembenihan. Bagaimana cara melakukan pemeliharaan larva pada
fase ini agar dihasilkan kelangsungan hidup yang tinggi? Ada beberapa faktor
yang sangat menentukan antara lain adalah kualitas larva itu sendiri, jenis pakan
alami yang tepat dan kualitas air didalam wadah pemeliharaan. Bagaimana kita
mengetahui ketiga faktor tersebut dalam suatu suatu usaha pemeliharaan larva.
Jawabannya adalah melakukan sampling terhadap faktor-faktor tersebut Apakah
sampling itu? Bagaimanakah cara melakukan sampling? Carilah beberapa
literatur dari buku bacaan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut atau
melalui browsing internet. Didalam modul ini akan dipelajari secara ringkas
tentang sampling dan cara melakukan sampling terhadap larva ikan air tawar.
Sampling adalah suatu kegiatan mengambil beberapa contoh/sampel ikan untuk
diukur dan dihitung. Data yang diperoleh sangat bergantung kepada tujuan
utama dari sampling. Sampling biasanya dilakukan secara berkala untuk
megetahui pertumbuhan ikan yang dipelihara pada wadah budidaya, untuk
mengetahui bobot ikan rata-rata, menghitung biomassa dan dapat digunakan
untuk emnghitung jumlah pakan yang akan diberikan selama pemeliharaan dan
penyesuaia jumlah pakan berdasarkan bobot ikan dalam wadah pemeliharaan
(biomasa). Sampling yang dilakukan pada fase pemeliharaan larva hanya dapat
dilakukan satu atau dua kali. Hal ini dikarenakan fase pemeliharaan larva ini
biasanya maksimal hanya empat minggu. Sedangkan pelaksanaan sampling
pada suatu usaha budidaya agar dapat diketahui perubahan yang terjadi selama
pemeliharaan adalah dua sampai empat minggu sekali. Hal ini dilakukan agar
ikan yang dipelihara tidakmengalami gangguan/stres karena proses sampling.
Oleh karena itu pada fase pemeliharaan larva sampling sebaiknya dilakukan
pada saat larva aman dan suda terbiasa mengkonsumsi makanan yang berasal
dari luar tubuhnya. Berdasarkan hal tersebut, maka sampling pada
pemeliharaan larva hanya dapat dilakukan pada saat larva berumur dua minggu.
Pelaksanaan sampling pada larva harus dilakukan secara hati-hati, karena
sampling akan sangat mempengaruhi larva ikan yang ada didalam wadah
pemeliharaan. Waktu yang tepat jika akan melakukan sampling dilakukan pada
pagi atau sore hari disaat kondisi suhu media pemeliharaan stabil. Sampling
dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa seser yang sangat halus agar
larva tidak mati. Sampling larva bertujuan untuk mengetahui perkembangan yang
terjadi pada larva ikan, berat rata-rata larva pada umur sampling untuk
memprediksi jumlah pakan dan menghitung jumlah larva yang hidup agar dapat
diketahui nilai kelangsungan hidup larva.
Sampling larva ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar larva yang akan
dilakukan pengukuran tidak mati. Jumlah larva yang diambil sebagai sampling
sebaiknya maksimal 30% dari jumlah populasi untuk mengetahui perkembangan
larva secara akurat.
2. Menghitung kebutuhan pakan Larva
Bagaimanakah anda melakukan penghitungan kebutuhan pakan larva ikan ?
Apakah dosis pemberian pakan itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari
kita diskusikan dan pelajari hand out ini atau mencari referensi lain dari buku,
internet , majalah dan sebagainya.
Dosis pemberian pakan adalah jumlah pakan yang diberikan kepada larva ikan
yang dibudidayakan dan biasanya dinyatakan dalam persen . Perisitilahan ini
dalam dunia perikanan disebut dengan feeding rate yang berarti jumlah
pemberian pakan perhari berdasarkan persentase dari bobot biomas. Biasanya
feeding rate pada ikan akan semakin besar jika ukuran ikannya semakin kecil
jadi feeding rate untuk larva ikan berbeda dengan feefing rate untuk benih ikan.
Pemberian pakan pada larva ikan biasanya tidak diperhitungkan dosis
pemberian pakannya jika diberikan pakan alami, tetapi hanya frekuensi
pemberian pakannya diberikan tiga sampai empat kali sehari.
Dosis pemberian pakan larva ikan dengan metode ad libitum biasanya
diterapkan pada pemeliharaan larva untuk mengurangi mortalitas larva didalam
wadah pemeliharaan. Seperti telah dibahas sebelumnya larva itu mempunyai
gerakan yang lambat dan mata belum sempurna penglihatannya sehingga
pemberian pakan alami akan membantu larva ikan untuk memangsa pakan yang
diberikan. Kepadatan atau densitas pakan alami didalam wadah pemeliharaan
larva akan meningkatkan pemangsaan larva terhadap pakan alami sehingga
kelangsungan hidup larva di dalam media pemeliharaan cukup tinggi.
Ada juga beberapa jenis ikan diberikan pakan buatan, jenis pakan buatan yang
dapat diberikan kepada larva ikan adalah suspensi kuning telur atau emulsi
kuning telur dan pakan buatan dalam bentuk tepung. Dosis pakan buatan yang
diberikan pada fase pemeliharaan larva ini biasanya cukup tinggi yaitu berkisar
antara 20 – 30%, tetapi hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas air didalam
wadah pemeliharaan karena banyaknya hasil eksresi yang dikeluarkan oleh larva
dan sisa-sisa pakan yang tidak dapat dikonsumsi oleh larva akan mengotori
wadah budidaya.
Dalam pemberian pakan, secara berkala jumlah pakan harian ini disesuaikan
dengan berat biomassa ikan didalam wadah budidaya. Hal ini dapat dilakukan
jika kita secara berkala pula melakukan sampling larva ikan. Fungsi sampling
sudah dijelaskan pada pembelajaran sebelumnya. Maka dengan data yang
di[peroleh dari hasil sampling ini dapat dibuat jumlah pakan yang harus diberikan
pada larva ikan. Tahapan dalam melakukan penyesuaian pakan setelah
dilakukan sampling adalah sebagai berikut :
1. Menghitung bobot biomassa larva ikan
Dari data sampling diketahui berat rata-rata larva ikan yang dipelihara pada
wadah pemeliharaan dan jumlah larva yang ditebar pada awal pemeliharaan.
Untuk menghitung bobot biomasa larva ikan dilakukan dengan rumus sebagai
berikut :
BM = Nt X Wt
dimana : BM = bobot biomasa (gr/kg)
Nt = populasi (ekor)
Wt = Bobot rata-rata (gr/kg)
2. Menentukan jumlah populasi (Nt) dengan cara menghitung ikan yang mati
dengan rumus :
Nt = No – D
dimana Nt = populasi waktu t (ekor)
No = jumlah ikan yang ditebarkan (ekor)
D = jumlah ikan yang mati (ekor)
3. Menentukan bobot rata-rata dari hasil sampling
4. Menetapkan feeding rate (FR)
5. Menetukan jumlah pakan harian, yang dapat dihitung dengan rumus :

Jumlah pakan harian (kg) = FR X BM ,


dimana FR = Feeding rate (%)
BM = Bobot biomassa (kg)
Dengan dilakukan penyesuaian jumlah pemberian pakan secara berkala akan
sangat menguntungkan dari segi efisiensi pakan yang diberikan selama
pemeliharaan larva.
3. Melakukan pemberian pakan larva ikan
Frekuensi pemberian pakan adalah berapa kali pakan akan diberikan kepada
larva ikan yng dipelihara dalam waktu satu hari. Frekuensi pemberian pakan
pada larva berkaitan erat dengan waktu pemberian pakan. Frekuensi pemberian
pakan pada ikan yang berukuran kecil biasanya lebih banyak dibandingkan
dengan frekuensi pemberian pakan untuk ikan yang berukuran besar. Pada ikan
air tawar frekuensi pemberian pakan ini sangat bergantung kepada laju
pengosongan lambung pada ikan dimana biasanya sangat bergantung kepada
ukuran dan jenis ikan yang dibudidayakan serta kualitas air didalam media
pemeliharaan.
Frekuensi pemberian pakan pada larva ikan air tawar biasanya dilakukan 3-4 kali
perhari dengan waktu pemberian pakan disesuaikan dengan jenis ikan yang
dipelihara. Ikan air tawar yang mempunyai aktivitas makan lebih sering pada
malam hari yaitu kelompok ikan nocturnal seperti lele, patin, lobster air tawar
sebaiknya waktu pemberian pakannya lebihbanyak dilakukan pada hari gelap
yaitu subuh dan malam hari. Sedangkan jenis ikan air tawar yang aktivitas
makanannya lebih banyak pada siang hari, waktu pemebrian pakannya
disesuaikan dengan kebiasaan ikan tersebut.
Frekuensi pemberian pakan pada beberapa ikan budidaya dikaitkan dengan
ukuran ikan yang dibudidayakan dan waktu pemebrian pakannya perhari.
Adapaun data tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Frekuensi, waktu dan proporsi pemberian pakan dalam satu hari
untuk jenis ikan air tawar yang aktivitas makannya pada siang hari

Ukuran Frekuensi Proporsi


ikan pemberian Waktu pemberian pakan (WIB) pemberian pakan
(gram) pakan (%)
10 5 06.00,09.00,12.00,15.00,18.00 15, 20,20,30,15
20 4 07.00, 11.00, 15.00, 19.00 20,30,30,20
50 3 07.00, 12.00, 17.00 30,40,30

Frekuensi pemberian pakan pada larva ikan air tawar dapat disesuaikan dengan
jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan dan kualitas air pada media
pemeliharaan. Larva ikan air tawar yang dipelihara biasanya hanya
membutuhkan waktu sekitar 20 – 30 hari, setelah waktu tersebut sudah masuk
kedalam fase pembenihan ikan. Oleh karena itu pada fase pemeliharaan larva
pada beberapa jenis ikan air tawar yang bersifat nocturnal frekuensi pemberian
pakannya dilakukan dua jam sekali untuk jenis ikan patin. Pada fase ini larva
ikan patin membutuhkan pakan alami yang tepat jumlah ,ukuran dan kualitas.
Pada fase ini larva ikan patin merupakan fase kritis jika pakan alami tidak
diberikan dengan selang waktu dua jam sekali dalam satu hari maka larva ikan
patin akan memakan temannya sendiri karena larva ikan patin mempunyai sifat
kanibal.
Oleh karena itu frekuensi pemberian pakan pada larva ikan air tawar akan
sangat berbeda untuk setiap jenis ikan yang dibudidayakan. Dalam menetukan
frekuensi pemberian pakan pada larva harus memperhatikan kebiasaan makan
dan cara makan ikan yang akan dipelihara. Selain frekuensi dan waktu
pemebrian pakan yang tepat juga harus diperhatikan tentang bagaimana cara
memberikan pakan kepada larva yang kita pelihara. Cara pemberian pakan pada
larva yang pada umumnya pakan yang diberikan adalah pakan alami maka
pakan alami tersebut dimasukkan kedalam wadah pemeliharaan larva ikan air
tawar dengan jumlah pakan alami yang disesuaikan dengan jumlah larva yang
dipelihara pada wadah budidaya.
Cara pemberian pakan kepada larva yang dipelihara jika menggunakan pakan
buatan adalah dengan cara menaburkannya secara sedikit demi sedikit kedalam
wadah budidaya. Hal ini dikarenakan pakan buatan yang diberikan kepada larva
ikan air tawar belum tentu dimakan semuanya oleh larva, jika pakan buatan yang
diberikan kepada larva tidak dimakan oleh larva ikan akan mengotori wadah
pemeliharaan. Jumlah pakan buatan yang akan diberikan kepada larva ikan air
tawar telah dibahas pada pembelajaran sebelumnya. Sedangkan frekuensi
pemberian pakannya disesuaikan dengan jenis dan ukuran larva.

4. Kultur Pakan Alami


Artemia salina merupakan salah satu zooplankton sebagai sumber pakan alami
yang sangat cocok bagi larva ikan konsumsi maupun ikan hias. Jenis pakan
alami ini dapat diperoleh dengan cara membudidayakan Artemia di lahan
budidaya/ tambak atau hanya menetaskan cyst/siste Artemia yang dibeli dalam
bentuk kemasan kaleng berisi 450 gram dan ditetaskan dalam wadah budidaya
yang sesuai sampai dipelihara sesuai dengan kebutuhan.
Dalam menetaskan cyst/siste artemia ada beberapa tahapan yang harus
dilakukan antara lain adalah memantau proses penetasan cyst artemia. Cyst
artemia yang ditetaskan dalam wadah budidaya berbentuk kerucut dan bening
akan sangat mudah untuk memantau proses penetasannya. Proses penetasan
artemia akan berlangsung selama 24 -48 jam. Cyst Artemia yang
diperdagangkan merupakan cyst yang telah dikeringkan dengan kadar air kurang
dari 10%. Oleh karena itu dalam proses penetasan dapat dilakukan dengan dua
metoda yaitu metoda Dekapsulasi dan metoda tanpa dekapsulasi. Dari kedua
metoda tersebut akan terjadi proses penetasan yang berbeda.
Proses penetasan dengan menggunakan metoda dekapsulasi, cyst artemia pada
tahap awal dilakukan perendaman dengan air tawar selama satu jam yang
berfungsi untuk meningkatkan kadar air pada cyst artemia dan cyst artemia
tersebut akan menggembung karena air masuk kedalam cyst, Cyst yang
menggembung akan mulai terjadi proses metabolisme. Setelah satu jam
direndam dan cyst sudah mengandung kadar air kurang lebih 65% maka cyst
artemia tersebut disaring dengan menggunakan kain saringan 120 mikron serta
dicuci dengan air tawar atau air laut sampai bersih. Kemudian dimasukkan
kedalam larutan hipoklorit yang telah disiapkan lengkap dengan aerasinya.
Proses dekapsulasi berlangsung selama 10-15 menit. Proses dekapsulasi
ditandai dengan terjadinya perubahan warna siste dari coklat menjadi abu-abu
dan akhirnya berwarna jingga serta air didalam wadah mengandung buih atau
busa.
Setelah proses dekapsulasi selesai siste yang sudah tidak bercangkang diambil
dengan alat penyedot dan disaring dengan menggunakan alat penyaring dari
kasa kawat baja tahan karat (stainless steel) dengan ukuran mata 120-150
mikron. Proses pencucian dilakukan dengan menggunakan air tawar atau air laut
sampai bau chlorine hilang. Siste yang sudah tidak bercangkang tersebut masih
berupa siste yang telanjang belum menetas karena masih diselimuti oleh selaput
embrio yang tipis. Oleh karena itu masih harus dilakukan penetasan dengan
menggunakan air laut yang bersalinitas 5-35 permil.
Proses penetasan cyst artemia dengan metoda dekapsulasi selanjutnya adalah
melarutkan siste tersebut dengan larutan garam bersalinitas antara 5 permil
sampai dengan 35 permil. Waktu yang dibutuhkan sampai siste tersebut
menetas menjadi nauplius dibutuhkan waktu sekitar 24 - 48 jam.
Proses penetasan cyst/siste artemia dengan metoda tanpa dekapsulasi
dilakukan dengan cara siste yang akan ditetaskan ditimbang sesuai dengan
dosis yang digunakan misalnya 5 gram siste per liter air media penetasan.
Kemudian wadah dan media penetasan disiapkan sesuai persyaratan teknis
yang telah ditentukan, siste artemia dimasukkan kedalam media penetasan yang
diberi aerasi dengan kecepatan 10 – 20 liter udara/menit, suhu dipertahankan 25
– 30 oC dan pH sekitar 8 – 9. Media penetasan diberi sinar yang berasal dari
lampu TL dengan intensitas cahaya minimal 1.000 lux . Intensitas cahaya
tersebut dapat diperoleh dari lampu TL /neon 60 watt sebanyak dua buah
dengan jarak penyinaran dari lampu kewadah penetasan adalah 20 cm.
Penetasan cyst artemia akan berlangsung selama 24 – 48 jam kemudian.
Pakan alami artemia yang telah ditetaskankan di media penetasan bertujuan
untuk diberikan kepada larva/benih yang dipelihara. Kebutuhan larva/benih ikan
akan pakan alami Artemia selama pemeliharaan adalah setiap hari. Oleh karena
itu waktu pemanenan pakan alami itu sangat bergantung kepada kebutuhan
larva/benih akan pakan alami Artemia. Pemanenan pakan alami Artemia ini
dapat dilakukan setiap hari atau seminggu sekali atau dua minggu sekali. Hal
tersebut bergantung kepada kebutuhan suatu usaha terhadap ketersediaan
pakan alami Artemia.
Pemanenan pakan alami Artemia yang dilakukan setiap hari biasanya jumlah yang
dipanen adalah kurang dari 20%. Pemanenan Artemia dapat juga dilakukan
seminggu sekali atau dua minggu sekali sangat bergantung kepada ukuran
Artemia yang akan diberikan kepada larva/benih ikan. Cyst artemia yang baru
menetas mempunyai ukuran antara 200 – 350 mikrometer (0,2 – 0,35 mm) dan
disebut nauplius. Duapuluh empat jam setelah menetas nauplius artemia ini akan
mulai tumbuh organ pencernaannya, oleh karena itu pada masa tersebut artemia
sudah mulai makan dengan adanya makanan didalam media penetasan artemia
akan tumbuh dan berkembang. Artemia menjadi dewasa pada umur empatbelas
hari dan akan beranak setiap empat sampai lima hari sekali. Jadi waktu panen
artemia sangat ditentukan oleh ukuran besar mulut larva yang akan
mengkonsumsinya dengan ukuran artemia yang akan ditetaskan. Jika didalam
media penetasan tidak terdapat sumber makanan bagi artemia maka artemia tidak
akan tumbuh dan berkembang melainkan akan mati secara perlahan-lahan karena
kekurangan energi. Pada beberapa usaha pembenihan biasanya hanya dilakukan
penetasan cyst artemia tanpa melakukan pemeliharaan terhadap cyst yang telah
ditetaskan.
Setelah cyst artemia menetas 24 – 48 jam setelah ditetaskan maka akan
dilakukan pemanenan cyst artemia dengan cara sebagai berikut :
1. Lepaskan aerasi yang ada didalam wadah penetasan.
2. Lakukan penutupan wadah penetasan pada bagian atas dengan
menggunakan plastik hitam agar artemia yang menetas akan berkumpul
pada bagian bawah wadah penetasan. Artemia mempunyai sifat fototaksis
positif yang akan bergerak menuju sumber cahaya.
3. Diamkan beberapa lama (kurang lebih 15 – 30 menit) sampai seluruh cyst
yang telah menetas berkumpul didasar wadah.
4. Lakukan penyedotan dengan selang untuk mengambil artemia yang telah
menetas dan ditampung dengan kain saringan yang diletakkan didalam
wadah penampungan.
5. Bersihkan artemia yang telah dipanen dengan menggunakan air tawar yang
bersih dan siap untuk diberikan kepada larva/benih ikan konsumsi/ikan hias.
Untuk menghitung kepadatan Artemia pada saat akan dilakukan pemanenan,
dapat dilakukan tanpa menggunakan alat pembesar atau mikroskop. Artemia
diambil dari dalam wadah, yang telah diaerasi agak besar sehingga Artemia
merata berada di seluruh kolom air, dengan memakai gelas piala volume 100 ml.
Artemia dan air di dalam gelas piala selanjutnya dituangkan secara perlahan-
lahan sambil dihitung jumlah Artemia yang keluar bersama air.

Apabila jumlah Artemia yang ada sangat banyak, maka dari gelas piala 100 ml
dapat diencerkan, caranya adalah dengan menuangkan kedalam gelas piala
1000 ml dan ditambah air hingga volumenya 1000 ml.Dari gelas 1000 ml, lalu
diambil sebanyak 100 ml. Artemia yang ada dihitung seperti cara diatas, lalu
kepadatan di dalam wadah budidaya dapat diketahui dengan cara mengalikan 10
kali jumlah didalam gelas 100 ml. Sebagai contoh, apabila di dalam gelas piala
100 ml terdapat 200 ekor Artemia, maka kepadatan Artemia diwadah budidaya
adalah 10 X 200 ekor = 2000 individu per 100 ml.
Artemia yang sudah dipanen tersebut dapat tidak secara langsung diberikan
pada larva dan benih ikan hias yang dibudidayakan tetapi dilakukan
penyimpanan. Cara penyimpanan Artemia yang dipanen berlebih dapat
dilakukan pengolahan Artemia segar menjadi beku. Proses tersebut dilakukan
dengan menyaring Artemia dengan air dan Artemianya saja yang dimasukkan
dalam wadah plastic dan disimpan didalam lemari pembeku (Freezer).
Salah satu masalah yang sering dijumpai dalam pemeliharaan ikan di kolam
adalah adanya serangan hama penyakit. Pengendalian hama dan penyakit
merupakan salah satu cara untuk memperkecil kerugian yang diakibatkan oleh
adanya serangan tersebut.
Dalam pengendalian hama dan penyakit ikan harus dilakukan secara hati-hati
dalam penggunaan bahan kimia beracun. Hal ini akan berakibat fatal baik bagi
ikan itu sendiri maupun bagi yang mengkonsumsinya. Untuk itu dalam
melakukan identifikasi terhadap kelainan perilaku ikan maupun anatominya
harus tepat. Informasi ini sebagai data awal dalam melakukan pengendalian
maupun pencegahan terhadap hama penyakit yang dapat menyerang ikan,
sehingga penggunaan bahan kimia dan obat dapat dilakukan secara efektif dan
berdampak kecil bagi konsumen.
Selain itu kesalahan dalam pengendalian hama dan penyakit dapat menimbulkan
kerugian bagi pengelola usaha budidaya ikan. Hal ini dikarenakan tidak tepatnya
dalam penggunaan bahan kimia dan obat yang berakibat stress bagi ikan sampai
pada kematian ikan.
C. Tugas-Tugas
1). Penguasaan Konsep
• Anda akan melakukan memberi pakan benih ikan. Anda akan menghitung
kepadatan larva, menghitung daya dukung wadah, ciri-ciri larva yang baik,
jelaskan alasannya
• Apakah yang akan anda lakukan bila dalam memberi pakan, benih tidak
mau makan?
• Prosedur apa yang yang harus diikuti dalam melaksanakan pemberian
pakan?
• Apakah yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemberian pakan,
jelaskan
• Pakan jenis apakah yang baik digunakan dalam pemberian pakan,
jelaskan.
• Bagaimana cara anda memberi pakan benih, jelaskan alasannya.
2). Mengenal Fakta
• Melakukan observasi, peserta melakukan observasi dikoordinir oleh guru
kegiatan observasi ke masyarakat ( pengusaha perikanan / industri
perikanan) dalam pemberian pakan benih.
• Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat berbeda
• Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana masyarakat
melakukan pemeliharaan larva ikan bak / fiberglass. Dari hasil observasi ini
selanjutnya merumuskan kegiatan apa yang dilakukan masyarakat dan
mampu memberi kontribusi secara positif tapi belum ada pada konsep dasar,
mengidentiikasi apa yang ada pada konsep dasar tapi belum dilakukan oleh
masyarakat, dan bila dilakukan akan mampu memberikan kontribusi dalam
meningkatkan efisiensi dan produktifitas pemberian pakan benih ikan. Saran
apa yang bisa diberikan untuk memperbaiki pemberian pakan benih ikan.
• Kegiatan mengenal fakta ini dapat dilakukan sekaligus untuk sub
kompetensi/kompetensi persiapan wadah pendederan, penetasan telur,
pemeliharaan larva bak/fiberglas, pemberian pakan larva, panen dan pasca
panen benih ikan
3. Mereleksikan, setelah peserta diklat melakukan penguasaan konsep dan
mengenal fakta, selanjutnya peserta diklat melakukan refleksi bagaimana
anda akan melakukan pemberian pakan benih berdasarkan konsep dasar
dan hasil observasi pemberian pakan di masyarakat di masyarakat.
4. Melakuka analisis dan sintesis
• Analisis daya dukung peserta diklat melakukan kegiatan analisis
terhadap daya dukung yang tersedia di tempat praktik untuk mengetahui
tingkat kesesuaian dalam kegiatan pemberian pakan benih di masyarakat
(lahan, iklim mikro, alat dan bahan). Kegiatan ini dilakukan secara
berkelompok.
• Sintesis, peserta diklat melakukan kegiatan sintesis terhadap hasil
refleksi pemberian pakan benih dan hasil analisis terhadap tingkat
kesesuaian daya dukung, peserta diklat melakukan rekonstruksi/modifikasi
terhadap hasil refleksi dalam kegiatan pemberian pakan benih ikan di
masyarakat. Kegiatan rekonstruksi ini tetap memperhatikan parameter
pemberian pakan benih ikan di masyarakat
5. Menyusun dan melaksanakan rencana kerja
• Peserta diklat secara berkelompok menyusun / membuat alternatif
rencana pemberian pakan benih ikan , rencana kerja / proposal memuat
metode pemberian pakan benih ikan yang akan dilaksanakan, waktu
pencapaian dan jadwal kegiatan serta pembagian tugas kelompok
• Pengambilan keputusan / menetapkan rencana kerja
Secara berkelompok peserta diklat mengambil keputusan/menetapkan
alternatif rencana pemberian pakan benih ikan yang akan dilaksanakan,
dengan memperhatikan daya dukung dan persyaratan teknis dalam
pemberian pakan benih ikan. Apabila ada kesulitan peserta dapat
mendiskusikan dengan fasilitator.
• Penetapan peran masing-masing individu dalam kelompok
Kelompok menyusun pembagian tugas dan menentukan peran setiap
anggota kelompok
• Melaksanakan rencana kerja, peserta diklat melakukan kegiatan
pemberian pakan benih ikan, mengacu pada rencana kerja pemberian pakan
benih ikan yang telah disepakati
• Proses pengamatan dan pencatatan, peserta diklat melakukan
pengamatan dan pencatatan data kegiatan pemberian pakan ikan yang
dilaksanakan. Lembar pengamatan disiapkan peserta diklat setelah
mendapat persetujuan fasilitator
• Evaluasi dan diskusi terhadap hasil kegiatan
Peserta diklat melaksnakan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dan
pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam perencanaan
• Peserta dilat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan hasilnya
dibandingkan dengan rancangan kerja dan konsep-konsep yang telah
dirumuskan sebelumnya
• Proses penyusunan kesimpulan dan memberikan umpan balik
Peserta secara berkelompok menyusun umpan balik / rekomendasi terhadap
metode pemberian pakan benih ikan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Perumusan umpan balik ini juga harus mempertimbangkan dasar teori, fakta
dan kondisi hasil kerja.

D. Tes
E. Daftar evidence of learning yang harus dikumpulkan
• Hasil perumusan penguasaan konsep dan tugas-tugas diskusi, presentasi
dan hasil perumusan tentang jenis pakan, jumlah pakan, cara pemberian
pakan, sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan dan perlakuan
khusus terhadap larva ikan.
• Hasil observasi mengenal fakta di masyarakat perikanan tentang jenis
pakan, jumlah pakan, cara pemberian pakan, sifat dan kebiasaan larva,
teknik penyediaan pakan dan perlakuan khusus terhadap larva ikan.
• Hasil refleksi tentang jenis pakan, jumlah pakan, cara pemberian pakan,
sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan dan perlakuan khusus
terhadap larva ikan.
• Hasil analisis tentang jenis pakan, jumlah pakan, cara pemberian pakan,
sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan dan perlakuan khusus
terhadap larva ikan.
• Hasil sintesis tentang jenis pakan, jumlah pakan, cara pemberian pakan,
sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan dan perlakuan khusus
terhadap larva ikan.
• Hasil penyusunan rencana kegiatan (berupa rencana / proposal
implementasi) tentang jenis pakan, jumlah pakan, cara pemberian pakan,
sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan dan perlakuan khusus
terhadap larva ikan.
• Hasil pengamatan/recording kegiatan tentang jenis pakan, jumlah pakan,
cara pemberian pakan, sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan
dan perlakuan khusus terhadap larva ikan.
• Hasil evaluasi ketercapaian tentang jenis pakan, jumlah pakan, cara
pemberian pakan, sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan dan
perlakuan khusus terhadap larva ikan.
• Hasil evaluasi ketercapaian tentang jenis pakan, jumlah pakan, cara
pemberian pakan, sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan pakan dan
perlakuan khusus terhadap larva ikan.
• Kesimpulan dan rekomendasi / umpan balik tentang jenis pakan, jumlah
pakan, cara pemberian pakan, sifat dan kebiasaan larva, teknik penyediaan
pakan dan perlakuan khusus terhadap larva ikan.