Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan dapat diartikan dari berbagai sudut pandang, yaitu: pendidikan berwuj
ud sebagai suatu sistem, artinya pendidikan dipandang sebagai keseluruhan gagasa
n terpadu yang mengatur saha-usaha sadar untuk membina seseorang mencapai harkat
kemanusiaannya secara utuh, pendidikan berwujud sebagai suatu proses, artinya p
endidikan dipandang sebagai pelaksanaan usaha-usaha untuk mencapai tujuan terten
tu dalam rangka mencapai harkat kemanusiaan seseorang secara utuh, dan pendidika
n berwujud sebagai hasil, artinya pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang tela
h dicapai atau dimiliki seseorang setelah proses pendidikan berlangsung.
Kegiatan pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan yang setua dengan u
sia manusia. Artinya sejak adanya manusia telah ada usaha-usaha pendidikan, dala
m rangka memberi kemampuan kepada peserta didik untuk dapat hidup secara mandiri
di dalam masyarakat. Sistem pendidikan yang dianut oleh setiap negara akan mewa
rnai operasionalisasi pendidikannya, baik menyangkut isi, bentuk, struktur kurik
ulum, maupun komponen pokok pendidikan yang lain. Tampaknya terdapat adanya kore
lasi antara sistem pendidikan dengan tingkat kemajuan dan kebudayaan suatu kelom
pok manusia atau suatu bangsa. Makin tinggi kebudayaan suatu bangsa, makin tingg
i dan makin kompleks, proses pendidikan yang terdapat pada bangsa yang bersangku
tan.
Upaya pendidikan sebagai suatu sistem, dengan demikian akan selalu relevan (gayu
t) pada landasan yang digunakan dalam proses pendidikan. Landasan pendidikan pad
a hakikatnya adalah dasar-dasar, titik pijak yang melandasi operasionalisasi sis
tem pendidikan. Landasan pendidikan secara umum menyangkut: (1) landasan filosof
is, (2) landasan sosiologis, (3) landasan kultural, (4) landasan psikologis, dan
(5) landasan ilmiah dan teknologis.
tahankan hidupnya, mengembangkan dirinya, dan secara bersama-sama membangun masy
arakatnya. Melalui sistem pendidikan nasional, setiap rakyat Indonesia pada dasa
rnya harus mampu menghayati nilai-nilai budaya Indonesia dan bertindak sesuai de
ngan nilai-nilai itu secara kreatif serta dapat meningkatkan kemampuan memperole
h dan menciptakan pekerjaan melalui bermacam-macam kemungkinan.
Asas-asas pelaksanaan pendidikan nasional pada hakikatnya adalah fundamen (dasar
) yang menjiwai dan mewarnai pelaksanaan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan.
Dari kesebelas asas-asas pelaksanaan pendidikan nasional menurut rumusan KPPN te
rsebut di atas, yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan pendidikan yang dibahas s
ecara khusus di sini, adalah: 1) asas tut wuri handayani, dan 2) asas pendidikan
seumur hidup yang berintikan belajar seumur hidup. Uraian untuk masing-masing a
sas akan dipaparkan di bawah ini:
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis membatasi diri dengan hanya mengkaji
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Landasan Pendidikan?
2. Bagaimana Asas-asas Pendidikan?
3. Bagaimana Penerapan Asas-asas Pendidikan disekolah dan diluar sekolah?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat tujuan masalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan Landasan Pendidikan
2. Menjelaskan Asas-asas Pendidikan
3. Menjelaskan Penenrapan Asas-asas Pendidikan disekolah dan diluar sekolah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Pendidikan (Dhatu Aryantika)
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dariseju
mlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas t
ersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkemb
angan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan terse
but adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang pe
ranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah da
n teknologi akan mendorong pendidikan untuk menjemput masa depan.
1. Landasan Filosofik Pendidikan
Upaya pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemikiran-pemikiran filsafati yang
terjadi di belakang peristiwa pendidikan. Filsaf;at sebagai ilmu dan semua ilmu,
berperan untuk mempersoalkan dan mengHcaji segala sesuatu yang berada "di belak
ang" peristiwa pendidikan. Peran filsafat ini yang meletakkan dasar pikiran kepa
da landasan pendidikam.
Landasan filosofik sebagai salah satu fondasi dalam pelaksanaan pendidikan berga
yut dengan sistem nilai. Sistem nilai merupakan pandangan seseorang tentang "ses
uatu" terutama berkaitan dengan arti kehidupan (pandangan hidup).
Pandangan hidup sebagai sistem nilai yang dipegang bukan semata-mata terdapat pa
da individu, melainkanjuga pada sekelompok ma.syarakat suatu bangsa. Bagi bangsa
Indonesia, pandangan h'dup bangsa adalah Pancasila. Oleh karena itu kaidah dan
norma sosial maupun sistem nilai yang dianut secara nasional mengacu kepada Panc
asila. Berkenaan dengan landasan filosofik pepdidikan, maka operasionalisasi pen
didikan baik secara makro maupun mikro haruslah berlandaskan Pancasila dan diara
hkan untuk membentuk marusia Indonesia yang ber-Pancasila. Pendidikan nasional y
ang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undan
g-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan mar
tabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan ber
taqwa terhadap Tuhan Yang Maha bsa, berkualitas, mandirf sehing^a mampu membangu
n dirinya dan masyarakat seklilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan
nasional dan bertanggungjawab atas pembangunan bangsa (Tap MPR No. II/MPR) Panc
asila sebagai landasan filosofik pendididikan, berarti bahwa:
a. Dalam merumuskan tujuan, metode, materi dan pengelolaan belajar-mengajar diji
wai dan didasarkan kepada Pancasila.
b. Sistem penyelenggaraan, pembinaan dan pengembangan pendidikan nasionai harus
berlandaskan Pancasila.
c. Hakikat manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk religiu
s haruslah diwujudkan melalui upaya pendidikan, sehmgga akan tercipta integritas
kepribadian manusia Indonesia sesuai dengan yang dicita-citakan Pancasila.
Filsafat mencakup nilai yang dijunjung tingg1 dan dijadikan pedoman perbuatan, d
engan demikian dalam keseluruhan proses pendidikan, pendidik harus mempunyai tol
ehan rnengenai gambaran masyarakat yang dicita-citakan dan bagaimanakah individu
yang harus dibentuknya. Di sampmg itu landasan filosofiknya menjadi acuan dalam
menentukan tujuan, corak, metode dan alat pendidikap. Selanjutnya arah pendidik
an hendaknya bermuara pada aspek mtegralistik (individu dan sosial), aspek etik
(taat pada norma-norrna Pancasila), dan aspek religius (kebebasan agama).
2. Landasan Sosiologik Pendidikan
Pendidikan tidak berlangsung dalarti keadaan vakum sosial. Dua isu yang akan dib
ahas yaitu: a) pendidikan dan masyarakat; dan b) pendidikan dan perubahan sosial
.
a) Pendidikan dan Masyarakat
Dilihat dari sudut masyarakat secara keseluruhan, fungsi pendidikan untuk memeii
hara kebudayaan. Kebudayaan berliubungan dengan nilai-nilai, kepercayaan, norma-
norma yang turun-temurun dari generasi ke generasi dan mengalami perubahan.
1. Keluarga dan sekolah
Keluarga merupakan salah satu pelaksanaan sosiahsasi di masyarakat. Faktci terpe
iiting dalam hubungan antara keluarga dan sekolah adalah bahwa keluarga tetap me
mpunyai tanggung jawab utama dilam proses sosialisasi, meskipun sekolah dalam so
sialisasi mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan informasi, keterampilan da
n nilai-nilai serta norma-norma untuk membekali anak agar dapat berpartisipasi l
ebih tepat guna.
2. Pemerintah dan sekolah
Tugas utama pemerintah adalah mengupayakan agar sekolah dapat membentuk masyarak
at baru yang bertanggung jawab dan ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan m
asyarakat sesuai dengan garis kebijaksanaan pemerintah. Dengan demikian akan ter
cipta suatu sistem pemerintahan dan pendidikan yang mantap.
3. Ekonomi dan sekolah
Pertumbuhan ekonomi masyarakat tergantung pada tersedianya tenaga ahli yang terd
idik dan terlatih yang dihasilkan oleh sekolah. Sebaliknys keberadaan dan perkem
bangan lembaga sekolah tergantung pada dana yang disediakan oleh masyarakat.
4. Agama dan sekolah
Budaya masyarakat banyak dipengaruhi oleh nilai dan norma agama yang dianut masy
arakat. Karena sekolah merupakan salah satu lembaga sosialisasi masyarakat yang
bertujuan membekali peserta didik agar dapat hidup di masyarakat, maka pendidika
n agama menjadi pelajaran sekolah.
5. Masyarakat dan sekolah
Sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan masyarakat dan tidak bisa lepas
dari pengaruh kondisi masyarakat. Sistem persekolahan harus memperhatikan aspira
si masyarakat, sebaliknya masyarakat hams terlibat langsung dalam memelihara keb
eradaan dan 'kelangsungan sekolah. Peran sekolah terhadap masyarakat adalah:
a) Sebagai pewaris, artinya mentransformasikan pengetahuan, keterampilan, sik
ap dan nilai-nilai kepada siswa melalui proses belajai mengajar di dalam kelas m
aupun kegiatan di luar kelas.
b) Sebagai pemelihara, artinya melalui sekolah dapat diupayakan kelestarian nila
i-nilai budaya yang sudah inapan.
c) Sebagai agen pembaharuan, yang melipuii reproduksi brdaya, difusi
kebudayaan, dan peningkatan kemampuan peserta didik bsrpikir kritis.
b. Pendidikan dan Perubahan Sosial
Sekolah dan masyarakat saling mempengaruhi dalam berbagai cara. Beberapa di anta
ra pembahan tersebut adalah:
1) Perubahan teknologi "
Dilihat dari sudut pandang sekolah, perubahan teknologi mempunyai tiga dampak pe
nting yaitu:
(a) Perubahan teknologi dapat menciptakan suatu tuntutan bagi individu untuk mem
iliki keterampilan baru. Efeknya bagi sekolah adalah terjadinya perubahan kuriku
lum pada bidang-bidang yang dapat memenuhi tuntutan tersebut.
(b) Perubahan teknologi menuntut agar sekolah dapat mempersiapkan lulusannya unt
uk dapat menyesuaikan din terhadap perkembangan yang terjadi.
(c) Pengaruh teknologi terhadap sekolah yang terutama adalah pada penggunaan med
ia pembelajaran, komunikasi, transformasi, dan revolusi biologik.
2) Perubahan demografi
Perubahan penting yang terjadi berhubungan dengan ukuran, penyaluran dan komposi
si penduduk. Pengaruhnya terhadap pendidikan antara lain:
(a) Pengembangan kebijaksanaan pendidikan
(b) Pembatasan secara ketat penerimaan siswa baru
(c) Ketidakseimbangan antara pertambahan penduduk dengan fasilitas pendidikan.
3) Urbanisasi dan sub-urbanisasi
Meningkatnya urbanisasi dan sub-urbanisasi sebagai dampak perubahan demografi me
nimbulkan permasalahan yang harus dihadapi oleh sekolah. Beberapa di antaranya y
aitu:
(a) Tanggung jawab sekolah membantu penyesuaian diri dari berbagai macam kelompo
k yang sebagian besar merupakan penduduk perkotaan.
(b) Sekolah mempunyai peranan yang penting dalam merr'bantu mekanisme kontrol so
sial di masyarakat.
(c) Sekoiah menentukan pengalaman pendidikan khususnya dalam mempersiapkan peser
ta didik secara tepat untuk hidup di perkotaan.
4) Perubahan politik masyarakat, bangsa dan negara
Dua perubahan utama telah dan akan terns berlangsung, yang
memiliki efek terhadap pendidikan, terjadi di dalam struktur pemerintahan di dal
am masyarakat, yaitu:
(a) Meningkatnya keterlibatan pemerintah di dalam kegiatan-kegiatan anggota masy
arakat. Akibat perubahan itu pada pendidikan dapat dilihat antara lain dalam ben
tuk finansial (bantuan finansial negara bagian atau provinsi pada pendidikan dan
perundang-undangan/
peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan dan kebijaksanaan sekolah.
(b) Berkembangnya saling ketergantungan antara pemerintah dengan pemerintah lain
, tidak hanya di dalam lingkungan masyarakatnya tetapi juga antar bangsa. Peruba
han ini mengakibatkan meningkat¬nya secara dramatis ruang lingkup dari fungsi se
kolah untuk
memasukkan sosialisasi anggota masyarakat dunia seperti juga masyarakat kita sen
diri.
3. Landasan Kultural Pendidikan
Sebagai salah satu faktor yang ikut menentukan kelangsungan hidup suatu masyarak
at adalah kesanggupan dan kemampuan anggotanya untuk mendukung nilai-nilai buday
a yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Pendidikan sebagai sub-sistem masyaraka
t mempunyai peranan mewaris-kan, memelihara dan sekaligus sebagai agen pembaharu
an kebudayaan.
Pendidikan dapat dikonsepkan sebagai proses budaya manusia. Kegiatanya dapat ber
wujad sebagai upaya yang dipikirkan, dirasakan dan dikehendaki manusia. Pada das
arnya pendidikan merupakan unsur dan peristiwa budaya. Pendidikan melibatkan sek
aligus kiat dan disiplin pengetahuan mempengaruhi manusai belajar. Pendidikan me
rupakan proses budaya, yakni generasi manusia berturut-turut metigambil peran se
hingga menghasilkan peradaban masa lampau dan mengambi) peranan di masa kini dan
mampu menciptakan peradaban di masa depan. Dengan kata lain pendidikan memiliki
tiga peran, sebagai pewarisan, sebagai pemegang peran dan sebagai pemberi kortr
ibusi. Dengan demikian dapat" dipahami pendidikan sebagai aset untuk pemeliharaa
n masa lampau, penguatan individu dan masyarakat yang sekarang serta sebagai pen
y'apan manusia berperan di masa datang.
Pendidikan sebagai proses upaya pemeliharaan dan peran dalam membangun peradaban
dan pendidikan tidak terbatas pada benda-benda yang tampak Stperti bangunan fis
ik, melainkan meliputi: gagasan, nerasaan dan kebiasaan, peran dan alam kehidupa
n sekarang juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masa yang akan datang, kar
ena pemeliharaan peradaban manusia merupakan tugas tanpa akhir. .
Analisis antropologi budaya dapat membantu mengatasi problema-problema pendidika
n yang dimunculkan oleh kelompok-kelompak minoritas dan budaya- yang lain. Sudut
tujuan antropologi sosial, menjelaskan pendidikan dapat merupakan bentuk bimbin
gan formal terhadap perilaku anggota masyarakat yang relatif baru ke dalam tradi
si nenek moyang mereka melalui berbagai moel indoktrinasi yang berbeda antara ma
syarakat satu dengan yang lainnya. Melalui proses indoktrinasi yang berlangsung
terus-menerus timbul kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki budaya tertentu
yang pada gilirannya pula menampilkan bentuk pendidikan yang berbeda- beda.
Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk budaya dapat menyesuaikan diri dengan ke
budayaan setempat. Salah satu cara untuk memelihara kebudayaan adalah melalui pe
ngajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat berfungsi sebag
ai penyampai,-pelestan dan sekaligus pengembangan kebudayaan.
a. Kebudayaan dan sekolah
Tradisi kebudayan menghambat perkembangan dalam berkompetisi dengan kelompok lai
n. Sejalan dengan penelitian Otto Klinerberg (1954) bahwa kegagalan kelompok min
oritas umumnya bukan disebabkan semata-mata oleh ras, atau suku namun disebabkan
oleh tradisi budaya
mereka.
b. Prasangka dan pertenfangan di berbagai kelompok budaya
Pertentangan yang disebabkan adanya berbagai kelompok budaya dari ras dapat beru
pa prasangka negatif di antara sesama kelompok dan hal ini berpengaruh terhadap
pendidikan.
c. Stereotipe
Keefektifan dalam pengajaran timbul dan siswa akan lebih terbimbing, serta keseg
aran dan rasa takut berkurang jika guru menunjukkan s'tereotipe yang menyenangka
n.
d. Faktor budaya dalam proses pengajaran (cvlture factors in teaching)
Mengajar merupakan upaya mengkomunikasikan secara jelas tentang nilai-nilai peng
ajaran. Dalam hal ini banyak hal yang mempengaruhi, sperti: niiai-nilai budaya o
rang tua, penggunaan bahasa, keadaan social yang dibawa anak dari lingkungan (tr
adisi) dan pengaruh kelompok dominan. Keadaan ini mensyaratkan perhauaii, pemaha
man dan penyesuaian guru agar peranserta orang tua dalam kegiatan sekolah dapat
tercipta.
e. Pelatihan budaya untuk pendidikan
Perlu dikembangkan kondisi sekolah yang didalamnya terdapat pertentangan antara
kelompok mayoritas dan minoritas yang sering menghadapi konfhk budaya antara gur
u, siswa dan orang tua. Kenyataan ini menuntut adanya kepelatihan budaya bagi pe
ndidik agar ia mampu
menghubungkan nilai-nilai budaya dengan pengajaran dan proses pengajaran.
f. Masalah kewibawaan merupakan ubahan (variabel) yang tidak dapat diabaikan
Penguasaan terbadap kewibawaan guru lebih membantu siswa dalam penguasaan bahan-
bahan pengajaran.
g. Sub-kebudayaan (sub-culture)
Perbedaan warna kulit dan kemiskinan menjadi penghambat dalam pelaksanaan pendid
ikan. Karena kelompok-kelompok tersebut saling menolak terhadap pelayanan sekola
h. Hambatan ini dapat diatasi melalui pendidikan orang tua, memadukan sub-cultur
e di sekolah, mengadakan penyesuaian tingkah laku di sekolah dan kurikulum sekol
ah wajib memperhatikan latar belakang budaya siswa.
h. Dinamika kelompok sosialisasi
Sekolah hams mampu menghilangkan adanya kelompok-kslompok minoritas dan membawan
ya ke arah perubahan melalui proses sosialisasi.
4. Landasan Psikologik Pendidikan
Pendidikan dapat diamati sebagai proses berlangsungnya belajar. Belajar merupaka
n realitas temyata telah melahirkan teori-teori psikologik, beberapa di antarany
a: teori psikologi daya, teori psikologi appersepsi, teori psikologi assosiasi,
teori psikologi conditioning, dan teori psikologi gestalt.
Para pendukung psikologi daya rnenyatakan bahwa jiwa terdiri dari beberapa bagia
n yang berdiri sendiri, dan seiiap bagiannya memiliki daya, yang dapat dilaiih d
engan bentuk manipuiasi intelektual tertentu. Herbart deogan teori belajar apper
sepsi -menolak tentang daya, dengan mengemukakan: belajar adalah proses evolusi
progresif mulai dari tingkat pengalaman yang paling bawah hingga yang paling tin
ggi dari pihak para pendukung ilmu jiwa assosiasi menyatakan jiwa terdiri (iari
beberapa bagian yang saling berhubungan, sehingga belajar merupa¬kan assosiasi a
ntara stimulus dan respons. Teori tersebut melahirkan teori "conditioning"
Di sisi lain teori belajar persepsi yang dikembangkan oleh Arthur Comb menyataka
n bahwa belajar dipengaruhi oleh cara-cara individu inenerima dinnya sendiri den
gan lingkungannya. Penafsiran ini dalam pendidikan dapat disimpulkan bahwa pendi
dik harus menciptakan suasana yang dapat diterima oleh seluruh siswa. Pendidik h
arus menyadari latar belakang pengalaman yang mewamai persepsi aktual seseorang
di dalam kelas. Pendidik dengan perencana kurikulum pada semuajenjang sekolah ha
rus menjaga pemikiran bahwa kurikulum sekolah merupakan perwujudan bukan dari ap
a yang mereka rencanakan untuk diajarkan, tetapi apa yang diterima oleh siswa se
ndiri.
Berbeda dengan pandangan tersebut, teori belajar struktur yang dikemukakan oleh
Jerome Bruner bahwa elemen paling penting ialah menyusun apa yang dipelajari. Ka
lau teori belajar persepsi memfokuskan pada siswa dan persepsinya, namun teori b
elajar struktur memfokuskan pada apa vang diterima oleh siswa. Dengan demikian d
apat dinyatakan bahwa belajar rnerupakan perubahan perilaku. Perilaku memperoleh
dan mengolah informasi dan pengetahuan, dipengaruhi oleh faktor-faktor ingatan,
pengalaman dan latihan, pemahaman, latar yang dipolakan, nilai serta inteligens
i. Melalui belajar terjadi proses transformasi, ruangan rampatan, peningkatan ga
gasan dan kajian pendalaman.
Psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi utama, yang terdiri dari impli
kasi teknik psikologi pendidikan. Fungsinya untuk mengembangkan suatu pengertian
yang berarti dan teoretis yang lebih unik terhadap proses pendidikan yang didas
arkan pada penemuan empirik. Keahlian paedagogik sangat tergantung pada sekumpul
an pengetahuan yang tersusun dalam sistematika tsntang mekanisme proses belajar-
mengajar, presets ini bersifat psikologik. Perhatian utama dalam psikologi pendi
dikan adalah: (a) sifat dan karakteristik siswa; (b) sifat proses belajar; (c) c
ara guru membuat proses belajar siswa; (d) penetapan prinsip-prinsip ilmiah.
Psikologi sebagai ilmu bantu yang mendasari pelaksanaan pendidikan berorientasi
pada tiga hal yaitu: hakikat siswa, proses belajar, dan peranan guru. Di antara
ketiga hal tersebut kedudukan guru sebagai sentral pengendalian proses belajar-m
engajar. Sehubungan dengan kedudukan yang sentral ini, maka dalam penyampaian pe
san guru perlu mendasarkan pada: (a) perbedaan individu siswa, seperti sifat, mi
nat, sikap, bakat,
-karakteristik, keniampuan, temperatem, dan sebagainya; dan (b) belajar (prinsip
-prinsip belajar).
Dalam kehidupannya manusia selalu terlibat dalam kegiatan belajar.
Pada dasarnya teori-teori belajar dapat diketagorikan menjadi 3 (tiga) bagian ya
itu:
a. Teori disiplin mental, yang meliputi:
1) Disiplin mental yang mengartikan belajar sebagai usaha melatih atau mendisipl
inkan daya pikir.
2) Pemekaran secara alami (aktualisasi), memberikan peluang pada subjek didik ag
ar berkembang sesuai kehendak Sang Pencipta.
3) Apersepsi merupakan proses asosiasi ide-ide baru dengan ide-ide lama yang tel
ah terdapat dalam jiwa kita.
b. Rumpun behaviorisme
1) Conditioning S-R merupakan perubahan dalam tingkah laku yang dapat diamati da
n yang dapat terjadi melalui stimulus dan respons yang dihubungkan dengan prinsi
p mekanis.
2) Conditioning tanpa reinforcement
3) Conditioning melalui reinforcement
c. Rumpun gestalt-medan
1) Teori insight, tokohnya M Wertheimer dan Koffka. Aliran ini berpendiri?n bahw
a keseluruhan lebili bermakna daripada bagian-bagian, manusia berusaha aktif men
capai tujuan dan individu bertindak atas berbagai pengaruh di dalam dan di luar
individu.
2) Goal-insight (pemahaman bertujuan)
3) Medan kognitif
Menurut Rogers ada cita-cita pokok dan kepribadian manusia yaitu:
a. realita adalah bersifat fenomcnologis
b. tingkah laku seseorang terjadi di dalam konteks realitas pribadi
c. tingkah laku seseorang dimotivasi oleh kebutuhan untuk aktualisasi diri
d. jati diri tersusun oleh masing-masing individu. tingkah laku kita adalah konf
orm dengan artian kita tentang diri kita sendiri.
Pada saat ini ada 3 model pandangan guru dalam hal menentukan sikap terhadap teo
ri-teori belajar yang ada yaitu:
1) mengikuti satu teori tertentu
2) bersifat ekietik, secara selektif meminjam berbagai teori yang tidak bertenta
ngan. '
3) menyintesiskan bagian-bagian dari teori belajar tertentu sesuai idenya sendir
i.
Dalam setiap situasi belajar, setidak-tidaknya terdapat empat bal yang harus dip
erhatikan demi berhasilnya kegiatan belajar. Keempat hal yang merupakan kondisi
umum belajar tersebut adalah:
a. Stimulus belajar
Dalam setiap situasi belajar, bahah yang dipelajari harus disajikan kepada siswa
secara mudah, dalam arti informasi yang disampaikan dapat diterima dan dimenger
ti oleh siswa. Informasi yang dipelajari oleh siswa diterima dalam bentuk stimul
i tersebut dapat benar-benar mengkomunikasikan informasi atau pesan yang ingin d
isampaikan oleh guru kepada siswa.
b. Kegiatan belajar tidak dapat terjadi tanpa adanya perhatian dan motivasi sisw
a terhadap stimuli belajar. Guru hendaknya menimbulkan dan mempertahankan perhat
ian siswa dalam kegiatan, belajar.
c. Bekjar adalah suatu proses aktif, untuk itu siswa hendaknya dilibatkan kepada
bahan yang dipelajari. Pelibatan itu meliputi perhatian, proses internal terhad
ap informasi dan tindakan yang
nyaia.
d. Penguatan dan umpan balik
Melalui psnguatan, sisa mendapatkan informasi mengenai keberhasilannya dalam mel
aksanakan tugas. melalui penguatan ini, dia mengetahui bagaimana memperbaiki res
ponsnya, dan seberapa besar perubahan yang harus dilakukan untuk memperbaiki res
ponsnya.'Dalam'belajar haruslah diciptakan sedemikian rupa sehingga siswa dapat
raempcroleh umpan balik secara langsung. la harus mensrima umpan-balik segera (i
mmediate feed back) tentang derajat sukses pelaksanaan tugas yang diberikan kepa
danva.
5. Landasan Ilmiah dan Teknolugik Pendidikan
Salah satu nilai pendidikan adalah membekali peserta didik agar dapat mengembang
kan iptek. Kemampuan dalam bidang iptek menyangkut kemampuan dalam ilmu pengetah
uan (science), rekayasa (engineering) dan teknologi. Kegiatan ilmu pengetahuan y
ang menyangkut proses meuyelidiki suatu fenomena yang menghasilkan teori, model
dan cara-cara untuk mempengaruhi fenomena tersebut. Kegiatan teknologi adalah pr
oses memproduksi barang dan jasa, yang juga menghasilkan sejumlah konsep dan met
ode mengenai proses produksi tersebut. Kegiatan rekayasa menghubungkan kegiatan
ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu mencari bagaimana caranya menyelesaikan su
atu masalah.
Dengan spektrum kegiatan iptek tersebut, kontribusi pendidikan terhadap kemajuan
iptek dapat berupa mulai dari kegiatan hafalan meneliti suatu fenomena, menyele
saikan masalah dan sampai produksi barang. Hubungan antara pendidikan dan iptek
saling bergantung dan timbal balik, artinya kemajuan pendidikan diarahkan untuk
kemajuan iptek, sebaliknya perkembangan iptek akan berpengaruh terhadap perkemba
ngan pendidikan. Ini berarti bahwa operasionalisasi pendidikan harus pula berlan
daskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar pendidikan tidak k
etinggalan dengan pesatnya kemajuan iptek.
Asumsi-asumsi apakah yang kiranya dapat berjaian beriringan dengan kemajuan ipte
k. Asumsi-asumsi tersebut menurut Tosten Husen (1988: 212), adalah:
a. Pendidikan akan menjadi pross seumur hidup.
b. Pendidikan tidak akan lagi terputus-putus, pendidikan akan lebih banyak merup
akan proses terus menerus dipandang dari perjalanan waktu maupun dari segi keter
paduannya di dalam fungsi-fungsi lain di dalam kehidupan.
c. Pendidikan formal yang biasa beriangsung di gedung sekolah konvensional akan
lebih mempunyai arti dan lebih relevan dalam hal penerapannya, karena dapat dija
ngkau oleh semakin banyaknya perorangan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebul, maka agar pendidikan selalu bergayut dengan
perkembangan iptek, diperlukan adanya reorientasi mengenai arah dan tujuan pendi
dikan di sekolah yaitu tidak lagi mengutamakan alih pengetahuan, melainkan penin
gkatan keniampuan belajar (learning capacity) siswa dan belajar seumur hidup tan
pa akhir. Hal ini berarti perlu kita tanggalkan selekas-lekasnya sistem pengajar
an secara hafalan di luar kepala, secara memorisasi, pada semua tingkat sistem p
endidikan. Cara mendidik harus mengakui dan menerima individualitas setiap siswa
, dan mencoba merangsangnya untuk berpikir sendiri secara kritis dan krearif.
B. Asas-asas Pendidikan (Dyah Widyastuti & Tri Yuniati)
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran untuk menjadi dasar atu tumpuan berf
ikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Telah dikemukak
an berbagai asas tersebut dengan p[engkajian berbagai dimensi hakikat menusia ke
individualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman). Pandangan tentang hakika
t manusia merupakan tumpuan berfikir utama yang sangat penting dalam pendidikan.
Salah satu dasar utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat dididik dan da
pat mendidik diri sendiri (Umar Tirtarahardja, 2008:117).
Pendidikan di Indonesia terdapat sejumlah asas yang member arah dalam merancang
dalam melaksanakan pendidikan. Asas –asas itu bersumber baik dari kecenderungan
umum pendidikan didunia meupun yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepa
njang sejarah upaya pendidikan di Indonesia. Asas-asas tersebut adalah Asas Tut
Wuri Handayani, Asas belajar sepanjang hayat, dan asas kemanidirian dalam belaja
r. Uraian dari masing-masing asas yaitu sebagai berikut.
1. Asas Tut Wuri Handayani
Asas Tut Wuri Handayani ini termasuk salah satu asas dari system among yang dike
mbangkan oleh Ki hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional) telah merumuskan pe
ngelolaan situasi belajar dan mengajar dengan asas pengendalian yang terkenal de
ngan ajarannya Tut Wuri Handayani. Ajaran ini secara lengkap berbunyi :
Ing ngarso sung tulodo
Ing madyo mangun karso
Tut wuri handayani
Artinya:
Jika didepan menjadi teladan
Jika ditengah membangkitkan hasrat untuk belajar
Jika dibelakang member dorongan dan pengawasan
Seperti diketahui Perguruan Nasional taman siswa yang lahir pada tanggal 3 Juli
1922 berdiri diatas tujuh asas yang merupakan asas perjuangan untuk menghadapi P
emerintah Kolonial belanda serta sekaligus untuk mempertahankan kelangsungan hid
up dan sifat yang nasional dan demokrasi. Ketujuh asa tersebut yang secara singk
at disebut “Asas 1922” yaitu sebagai berikut :
a) Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan m
engingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum.
b) Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah, yang dalam ar
ti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.
c) Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
d) Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada selu
ruh rakyat
e) Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir maupu
n batin hendaknya diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apapun
dan dari siapapun yang mengikat baik berupa ikatan lahir maupun ikatan batin.
f) Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak haru
s membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.
g) Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin u
ntuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan an
ak-anak.
Maksud tut wuri handayani adalah sebagai pendidik hendaknya mampu menyalurkan da
n mengarahkan perilaku dan segala tindakan sisiwa untuk mencapai tujuan pendidik
an yang dirancang. Implikasi dari penerapan asas ini dalam pendidikan adalah seb
agai berikut :
a. Seorang pendidik diharapkan memberikan kesempatan kepada siswa untuk men
gemukakan ide dan prakarsa yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan.
b. Seorang pendidik berusaha melibatkan mental siswa yang maksimal didalam
mengaktualisasikan pengalaman belajar, upaya melibatkan siswa seperti ini yang s
ering dikenal dengan cara belajar siswa aktif (CBSA)
c. Peranan pendidik hanyalah bertugas mengarahkan siswa, sebagai fisilitato
r, moitivator dan pembimbing dalam rangka mencapai tujuan belajar.
d. Dalam proses belajar mengajar dilakukan secara bebas tetapi terkendali,
interaksi pendidik dan siswa mencerminkan hubungan manusiawi serta merangsang be
rfikir siswa, memanfaatkan bermacam-macam sumber, kegiatan belajar yang dilakuka
n siswa bervariasi, tetapi tetap dibawah bimbingan guri.
Asas Tut Wuri handayani merupakan inti dari asas pertama yang menegaskan bahwa s
etiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sndiri dengan mengingat tertibnyanper
satuan dalam perikehidupan umum. Dari asasnya yang pertama ini jelas bahwa tujua
n yang hendak dicapi oleh Taman Siswa adalah kehidupan yang tertib dan damai.
2. Asas Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan seumur hidup adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang mener
angkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsun
g dalam keserutuhan kehidupan manusia. Pokok pikiran dalam pendidikan seumur hid
up ialah bahwa setiap individu harus memperoleh kesempatan yang tersusun baik da
n sistematis untuk mendapatkan pengajaran, studi dan belajar kapan pun selama hi
dupnya.
Prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep pendidikan seumur hidup diant
aranya adalah :
a. Asas belajar sepanjang hayat artinya peranan manusia untuk mendidik dan
mengembangkan diri sendiri secara wajar melalui proses belajar tanpa akhir merup
akan kewajiban kodrati.
b. Lingkungan pendidikan meliputi :
1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan sekolah
3) Lingkungan masyarakat
c. Lembaga penanggung jawab pendidikan terdiri dari :
a) Lembaga pendidikan keluarga
b) Lembaga pendidikan sekolah
c) Lembaga pendidikan masyarakat
Beberapa alasan yang mendukung perlunya pendidikan seumur hidup, yaitu :
1) Pendidikan seumur hidup akan meningkatkan pemerataan dalam layanan pendi
dikan, sekaligus dianggap penting untuk menghadapi structural social yang mengal
ami perubahan dan dapat memperbaiki kualitas hidup.
2) Alasan berdasarkan pertimbangan ekonomi, artinya pendidikan perkembangan
ekonomi dsan perbaikan kualitas kehidupan berkaitan sangat erat.
3) Factor social dan perubahan peranan keluarga
4) Perubahan teknologi, perkembangan teknologi menyebabkan meningkatnya inf
ormasi, berubahnya sifat pekerjaan, makin menonjolnya nilai-nilai keduniawian da
n materialism serta makin menurunnya nilai-nilai spiritual dan kebudayaan.
5) Factor pekerjaan, artinya lapangan pekerjaan pada masa mnendatang secara
otomatis akan akan berbeda dengan apa yang ada sekarang.
6) Kebutuhan orang dewasa, orang dewasa sekarang telah mempunyai pengalaman
mengenai akibat perubahan yang cepat dalam kehidupan pekerjaan.
7) Kebutuhan kanak-kanak, makin meningkatnya perhatian orang tua terhadap p
erlunya pendidikan bagianak-anak usia pra sekolah.
Ada beberapa istilah lainyang dipakai untuk menunjuk konsep pendidikan seumur hi
dup yang perlu diketahui. Istilah-istilah tersebut tidak selalu cocok untuk menu
njuk pada pengertian pendidikan seumur hidup, istilah-istilah tersebut antara la
in :
a. Adult education suatu istilah yang menunjuk suatu bentuk program pendidi
kan bagi orang dewasa yang bersifat terminaldan remendial, terutama bagi yang bu
ta huruf dan kurang mendapatkan kesempatan pendidikan.
b. Out of school education suatu istilah yang menunjuk suatu bentuk progra
m pendidikan diluar pendidikan formal (sekolah) yang coraknya vocasional dan dip
eruntukkan bagi para pemuda.
c. Recurrent education menunjuk keseluruhan proses pendidikan yang terjadi
setelah seorang mengakhiri pendidikannnya disekolah
d. Continuing education istilah ini menunjuk program-program pendidikan yan
g pada hakikatnyabersifat vokasional dan secara formal accredited.
3. Pendidikan Bagi Semua (Education for All)
Penerapan deklarasi dunia tentang pendidikan bagi semua, dilakukan dengan memper
hatikan cakupan-cakupan yang menmjadi pusat sasaran yaitu
a. Perluasan pendidikan anak dan bernagai kegiatan pengembangannya termasuk
upaya mengikutsertakan keluarga masyarakat terutama untuk anak-anak miskin yang
tidak beruntung dan yang menyandang kelainan fisik atau mental.
b. Pendidikan dasar semesta diupayakan melalui program-program pendidikan d
asar Sembilan tahun (jalur pendidikan sekolah) atau program kejar paket A dan B
(jalur pendidikan luar sekolah)
c. Memberantas buta huruf dengan penekanansasaran pada kaum wanita, sehingg
a menguranghiu perbedaan yang ada sekarang ini antara tingkat buta huruf pria da
n wanita.
d. Peningkatan mutu pendidikan dasar dan latihan ketrampilan yang diarahkan
pada peningkatan kesejahteraan kesempatan mendapatkan lapangan kerja dan mening
katkan produktifitas kerja bagi semua kelomp[ok sasaran warga belajar.
e. Peningkatan minat baca bagi seluruh lapisan masyarakat dalam kaitannya d
engan upaya mencerdaskan kehidupn bangsa dan meningkatkan peran serta didalam k
egiatan pembangunan.
4. Asas Kemandirian dalam Belajar
Baik asas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat
kaitannya dengan asas kemandirian dalam belajar. Asas tut wuri handayani pada p
rinsipnya bertolak dari asumsi kemampuan siswa untuk mandiri, termasuk mandiri d
alam belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar, sedini mungkin dikembangkan keman
dirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selal
u siap untuk ulur tangan apabila diperlukan. Selanjutnya, asas belajar sepanjang
hayat hanya dapat diwujudkan apabila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik
mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena adalah tidak mungkin seseorang bela
jar sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari bantuan guru ataupun orang
lain. ii ' i
Perwujudan asas kemandirian dalafhj fcelajar akan menempatkan guru dalam peran u
tama sebagai fasilitator tian motivator, di samping peran-peran lain: Informator
, organisatof,,(Jajt&ebagainya. Sebagai fasilitator, guru diharapkan menyediakan
dan manJMfyr berbagai sumber belajar sedemikian sehingga memudahkan peserta did
ik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sedang sebagai motivator, guru me
ngupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar it
u. Pengembangan kemandirian dalam belajar ini seyogianya dimulai dalam kegiatan
intrakurikuler, yang dikembangkan dan dimantapkan selanjutnya dalam kegiatan kok
urikuler dan ekstra-kurikuler. Atau, untuk latar perguruan tinggi: Dimulai dalam
kegiatan tatap muka, dan dikembangkan dan dimantapkan dalam kegiatan terstruktu
r dan kegiatan mandiri.
Kegiatan tatap muka atau intrakurikuler terutama berfungsi membentuk konsep-kons
ep dasar dan cara-cara pemanfaatan berbagai sumber belajar, yang akan menjadi da
sar pengembangan kemandirian dalam belajar di dalam bentuk-bentuk kegiatan terst
ruktur dan mandiri, atau kegiatan ko-dan ekstrakurikuler itu.
Terdapat beberapa strategi belajar-mengajar dan atau kegiatan belajar-mengajar y
ang dapat memberi peluang pengembangan»kemandirian dalam belajar. Cara belajar s
iswa aktif (CBSA) merupakan salah satu pendekatan yang memberi peluang itu, kare
na siswa dituntut mengambil prakarsa dan atau memikul tanggung jawab tertentu da
lam belajar-mengajar di sekolah, umpamanya melalui lembaga kerja. Di samping itu
, beberapa jenis kegiatan belajar mandiri akan sangat bermanfaat dalam mengemban
gkan kemandirian dalam belajar itu, seperti belajar melalui modul, paket belajar
, pengajaran berprogram, dan sebagainya.
Keseluruhan upaya itu akan dapat terlaksana dengan semestinya apabila setiap le
mbaga pendidikan, utamanya sekolah, didukung oleh suatu pusat sumber belajar (PS
B) yang memadai. Seperti diketahuv, PSB itu memberi peluang tersedianya berbagai
jenis sumber belajar, di samping bahan pustaka di perpustakaan, seperti rekaman
elektronik, ruang-ruang belajar (tutorial) sebagai mitra kelas, dan sebagainya.
Dengan dukungan PSB itu asas kemandirian dalam belajar akan lebih dimantapkan d
an dikembangkan.
C. Penerapan Asas-asas Pendidikan (Edy Kuswoyo & Tri Wahyu B.S)
1. Asas Tut Wuri Handayani
Ajaran ini secara lengkap berbunyi ing ngarso sung tidodho, ing madyo manguti ka
rso, dan tut wuri handayani. Artinya, jika di depan menjadi teladan, jika di ten
gah membangkitkan hasrat untuk belajar, dan jika di belakang memberi dorongan da
n pengawasan.
Maksud asas tut wuri handayani adalah sebagai pendidik hendaknya mampu menyalurk
an dan mengarahkan perilaku dan segala tindakan siswa untuk mencapai tujuan pend
idikan yang dirancang. Implikasi dari penerapan asas ini dalam pendidikan antara
lain:
1) Seorang pendidik diharapkan mampu memberikan kesempatan kepada siswa unt
uk mengemukakan ide dan prakarsa yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diaja
rkan.
2) Seorang pendidik berusaha melibatkan fisik, mental, intelektual, dan emo
sional siswa secara maksimal dan optimal di dalam mengaktualisasikan pengalaman
belajar, upaya melibatkan siswa seperti ini yang sering dikenal dengan cara bela
jar siswa aktif (CBSA).
3) Peranan pendidik hanyalah bertugas mengarahkan siswa sebagai fasilitator
, motivator, dan pembimbing dalam rangka mencapai tujuan belajar.
4) Dalam rangka proses belajar dan mengajar dilakukan secara bebas tetapi t
erkendali, interaksi pendidik dan siswa mencerminkan hubungan manusiawi serta me
rangsang berpikir siswa, memanfaatkan bermacam-macam sumber, kegiatan belajar ya
ng dilakukan siswa bervariasi, tetapi tetap di bawah bimbingan guru.
Dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang, yakni
(1) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan y
ang diminatinya di sema jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan ole
h pemerintah sesuai peran dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik bertang
gung jawab atas pendidikannya sendiri,
(2) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan kejuruan yang dimi
natinya agar dapat mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan kerja bidang terte
ntu yang diinginkannya,
(3) peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk
memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belaja
rnya,
(4) peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik atau mental memperoleh
kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat yang di
sandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri,
(5) peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh pendi
dikan dan ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang memiliki kemamp
uan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang beragam dari potensi d
ibawah normal sampai jauh diatas normal (Jurnal Pendidikan,1989).
Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan.
Kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak harus dipertimbangkan dengan kebijak
sanaan pemerataan pendidikan. Karena peningkatan kualitas pendidikan harus diimb
angi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan bertujuan membangun sumb
er daya manusia yang mutunya sejajar dengan mutu sumber daya manusia negara lain
.
Pemerintah mengusahakan berbagai cara dalam upaya peningkatan mutu pendidikan,
antara lain:
(1) Pembinaan guru dan tenaga pendidikan di semua jalur, jenis, dan jenjang pend
idikan yang menyelenggarakan pendidikan,
(2) Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknol
ogi,
(3) Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan perkembangan ilmu da
n teknologi serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa,
(4) Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta perkembangan budaya bangsa.
Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam menghadapi m
asalah peningkatan sumber daya manusia sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pemerintah telah dan sedang mengupayakan peningkatan: mutu guru dan te
naga kependidikan, mutu sarana dan prasarana pendidikan, mutu kurikulum dan isi
kurikulum sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan
nilai-nilai budaya bangsa.
Masalah Peningkatan Relevansi Pendidikan
Kebijaksanaan peningkatan relevansi pendidikan mengacu pada keterkaitann
ya dengan: ke-bhineka tunggal ika-an masyarakat, letak geografi Indonesia yang l
uas, dan pembangunan manusia Indonesia yang multidimensional.
Pemerintah telah dan sedang mengusahakan peningkatan relevansi penyelenggaraan
pendidikan yang efektif dan efisien
(1) meningkatkan kemudahan dalam komunikasi informasi antara pusat–daerah, daera
h–daerah, agar arus komunikasi informasi pembaharuan pendidikan berjalan lancar,
(2) desiminasi–inovasi pendidikan: kelembagaan’ sumber daya manusia, sarana dan
prasarana, proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara terpadu, dan
(3) peningkatan kegiatan penelitian untuk memberi masukan dalam upaya meningkatk
an relevansi pendidikan.
Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam upaya mening
katkan relevansi pendidikan, pemerintah melakukan berbagai upaya
(1) usaha menemukan cara baru dan pemanfaatan teknologi pendidikan untuk memenuh
i kebutuhan peserta didik yang beragam,
(2) usaha pemanfaatan hasil penelitian pendidikan bagi peningkatan kualitas kegi
atan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan
(3) usaha pengadaan ruang belajar, ruang khusus (bengkel kerja, konseling, pert
emuan, dan sebagainya) yang menunjang kegiatan pembelajaran.
2. Asas Belajar Sepanjang Hayat
Dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang:
a) Usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkat
an. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dap
at ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal; ber
bagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai perguruan
tinggi,
b) Usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidi
kan pada semua jalur, jenis, dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugsnya
secara proporsional. Dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pendi
dikan di seluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik did
alam negeri maupun diluar negeri ,
c) Usaha pembaharuan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi pendidika
n agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang ber
kualitas melalui pendidikan,
d) Usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin menin
gkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana pelat
ihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani,
e) Upengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi berbagai program pendidikan
masyarakat yang bertujuan untuk: (a) meningkatkan sumber penghasilan keluarga se
cara layak dan hidup bermasyarakat secara berbudaya melalui berbagai cara belaja
r, (b) menunjang tercapainya tujuan pendidikan manusia seutuhnya,
f) Usaha pengadaan berbagai program pembinaan generasi muda: kepemimpinan d
an ketrampilan, kesegaran jasmani dan daya kreasi, sikap patriotisme dan idealis
me, kesadaran berbangsa dan bernegara, kepribadian dan budi luhur,
g) Usaha pengadaan berbagai program pembinaan keolahragaan dengan memberika
n kesempatan yang seluas-luasnya kepada anggota masyarakat untuk melakukan berba
gai macam kegiatanolahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran serta pres
tasi di bidang olahraga,
h) Usaha pengadaan berbagai program peningkatan peran wanita dengan memberi
kan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan keluarga sehat, sejahtera d
an bahagia; peningkatan ilmu pngetahuan dan teknologi, ketrampilan serta ketahan
an mental.
Sesuai dengan uraian di atas, maka secara singkat pemerintah secara lintas sek
toral telah mengupayakan usaha-usaha untuk menjawab tantangan asas pendidikan se
panjang hayat dengan cara pengadaan sarana dan prasarana, kesempatan serta sumbe
r daya manusia yang menunjang.
Prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep pendidikan seumur hidup di an
taranya adalah:
1) Asas belajar sepanjang hayat, artinya peranan manusia untuk mendidik dan
mengembangkan diri sendiri secara wajar melalui proses belajar tanpa akhir meru
pakan kewajiban kodrati.
2) Lingkungan pendidikan meliputi: (a) lingkungan keluarga, (b) lingkungan
sekolah, dan (c) lingkungan masyarakat.
3) Lembaga penanggung jawab pendidikan terdiri atas: (a) lembaga pendidikan
keluarga, (b) lembaga pendidikan sekolah, dan (c) lembaga pendidikan masyarakat
.
Beberapa alasan yang mendukung perlunya pendidikan seumur hidup, yaitu:
a) Pendidikan seumur hidup akan meningkatkan pemerataan dalam layanan pendi
dikan, sekaligus dianggap penting untuk menghadapi struktur sosial yang mengalam
i perubahan dan dapat memperbaiki kualitas hidup.
b) Alasan berdasarkan pertimbangan ekonomi, artinya pendidikan, perkembanga
n ekonomi, dan perbaikan kualitas kehidupan berkaitan sangat erat.
c) Faktor sosial dan perubahan peranan keluarga.
d) Perubahan teknologi, perkembangan teknologi menyebabkan meningkatnya inf
ormasi, berubahnya sifat pekerjaan, makin menonjolnya nilai-nilai keduniawian, m
aterialisme, dan hedonisme, serta makin menurunnya nilai-nilai spriritual dan ke
budayaan.
e) Faktor pekerjaan, artinya lapangan pekerjaan pada masa mendatang rupanya
secara otomatis akan berbeda dengan apa yang ada sekarang.
f) Kebutuhan orang dewasa. Orang dewasa sekarang telah mempunyai pengalaman
mengenai akibat perubahan yang cepat dalam kehidupan pekerjaan mereka.
Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi, termasu
k yang formal, non-formal dan informal (Cropley, 1970: 2-3; Sulo Lipu La Sulo, 1
990: 25-26). Istilah pendidikan seumur hidup erat kaitannya dan kadang-kadang
digunakan saling bergantian dengan makna yang sama dengan istilah belajar sepan
jang hayat . Kedua istilah ini memang tak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedak
an. Seperti diketahui, penekanan istilah belajar adalah pembahan perilaku (kog
rutif/afektif/psikomotor) yang relatif tetap karena pengaruh pengalaman, sedang
isrilah pendidikan menekankan pada usaha sadar dan sistematis untuk penciptaan
suatu lingkungan yang memungkinkan pengaruh pengalaman tersebut lebih efisien d
an efektif, dengan kata lain, lingkungan yang membelajarkan subjek didik (Crople
y, 1979: 10; Hameyer, 1979: 11; Sulo Lipu La Sulo, 1987: 26-27).
Kurikulum sekolah merefleksi kehidupan di luar sekolah; kehidupan di lua
r sekolah menjadi objek refleksi teoretis di dalam bahan ajaran di sekolah, sehi
ngga peserta didik lebih memahami persoalan-persoalan pokok yang terdapat di lua
r sekolah.
Memperluas kegiatan belajar ke luar sekolah: kehidupan di luar sekolah d
ijadikan tempat kajian empiris, sehingga kegiatan belajar-mengajar terjadi di da
lam d<yi di luar sekolah.
Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan belajar-mengajar, bai
k sebagai narasumber dalam kegiatan belajar di sekolah maupun dalam kegiatan bel
ajar di luar sekolah.
Perancangan dan implementasi kurikulum yang memperhatikan kedua dimensi itu akan
mengakrabkan peserta didik dengan berfeagai sumber belajar yang ada di sekitarn
ya. Kemampuan dan kemauan menggunakan sumber-sumber belajar yang tersedia itu ak
an memberi peluang terwujudnya belajar sepanjang hayat. Dan masyarakat yang memp
unyai warga yang belajar sepanjang hayat akan menjadi suatu masyarakat yang gema
r belajar (learning society). Dengan kata lain, akan terwujudlah gagasan pendidi
kan seumur hidup seperti yang tercermin di dalam sistem pendidikan nasional Indo
nesia.

3. Asas Kemandirian Belajar dan Pendidikan Bagi Semua


a) Asas Kemandirian Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam b
elajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk
ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama
sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluan
g dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belaja
r Siwa Aktif).
Baik asas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat
kaitannya dengan asas kemandirian dalam belajar. Asas tut wuri handayani pada p
rinsipnya bertolak dari asumsi kemampuan siswa untuk mandiri, termasuk mandiri d
alam belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar, sedini mungkin dikembangkan keman
dirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selal
u siap untuk ulur tangan apabila diperlukan. Selanjutnya, asas belajar sepanjang
hayat hanya dapat diwujudkan apabila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik
mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena adalah tidak mungkin seseorang bela
jar sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari bantuan guru ataupun orang
lain.
Perwujudan asas kemandirian dalafhj fcelajar akan menempatkan guru dalam peran u
tama sebagai fasilitator tian motivator, di samping peran-peran lain: Informator
, organisator. Sebagai fasilitator, guru diharapkan menyediakan berbagai sumber
belajar sedemikian sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-
sumber tersebut. Sedang sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa
peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu. Pengembangan kemandirian da
lam belajar ini seyogianya dimulai dalam kegiatan intrakurikuler, yang dikembang
kan dan dimantapkan selanjutnya dalam kegiatan kokurikuler dan ekstra-kurikuler.
Atau, untuk latar perguruan tinggi: Dimulai dalam kegiatan tatap muka, dan dike
mbangkan dan dimantapkan dalam kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri. Kegiat
an tatap muka atau intrakurikuler terutama berfungsi membentuk konsep-konsep das
ar dan cara-cara pemanfaatan berbagai sumber belajar, yang akan menjadi dasar pe
ngembangan kemandirian dalam belajar di dalam bentuk-bentuk kegiatan terstruktur
dan mandiri, atau kegiatan ko-dan ekstrakurikuler itu.
Terdapat beberapa strategi belajar-mengajar dan atau kegiatan belajar-mengajar y
ang dapat memberi peluang pengembangan»kemandirian dalam belajar. Cara belajar s
iswa aktif (CBSA) merupakan salah satu pendekatan yang memberi peluang itu, kare
na siswa dituntut mengambil prakarsa dan atau memikul tanggung jawab tertentu da
lam belajar-mengajar di sekolah, umpamanya melalui lembaga kerja. Di samping itu
, beberapa jenis kegiatan belajar mandiri akan sangat bermanfaat dalam mengemban
gkan kemandirian dalam belajar itu, seperti belajar melalui modul, paket belajar
, pengajaran berprogram, dan sebagainya. Keseluruhan upaya itu akan dapat terlak
sana dengan semestinya apabila setiap lembaga pendidikan, utamanya sekolah, didu
kung oleh suatu pusat sumber belajar (PSB) yang memadai. Seperti diketahuv, PSB
itu memberi peluang tersedianya berbagai jenis sumber belajar, di samping bahan
pustaka di perpustakaan, seperti rekaman elektronik, ruang-ruang belajar (tutori
al) sebagai mitra kelas, dan sebagainya. Dengan dukungan PSB itu asas kemandiria
n dalam belajar akan lebih dimantapkan dan dikembangkan.

b) Pendidikan Bagi Semua (Education for All)


Penerappn deklarasi .dunia tentang peadidikan bagi semua, dilakukan dengan merri
perhatikan cak ipan yang menjadi pusai sasaran yaitu:
a) Perluasan pendidikan anak dan b^rbagai kegiatan pengembangannya
termasuk upaya mengikutsertakan keluarga dan masyarakat terutama
untuk ar-ak-anak miskin tak beruntung dan yang menyandang
kelainan fisik dan/atau mental
b) Pendidikan dasar semesta diupayakan melalui program-program • pendidikan dasa
r 9 tahun (jalur pendidikan sekolah) atau program kejar paket A dan B (jalur pen
didikan luar sekolah).
c) Memberantas buta huruf (tiga buta) dengan pcnekanan sasaran pada kaum wanita,
sehingga benar-benar mengurangi perbedaan yang ada sekarang ini antara tingkat
buta huruf pria dan wanita
d) Peningkatan mutu pendidikan dasar dan latihan ketrampilan yang diarahkan pada
peningkatan kesejahteraan kesempatan mendapatkan lapangan kerja dan meningkatka
n produktivitas kerja bagi semua kelompok sasaran warga belajar.
e) Peningkatan minat baca bagi seluruh lapisan masyarakat dalam kaitannya dengan
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan peran setarnya di dalam ke
giatan pembangunan. "