Anda di halaman 1dari 278

NABI ISA MENURUT PENDETA KRISTEN

Dibahas oleh : Rahmanhadiq

KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum Wr. Wbr.

Kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa atas kasih karunia dan berkatNya bangsa
Indonesia dapat melenyapkan penjajahan dari muka bumi Nusantara ini dan
menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Masehi.

Entah kenapa misionaris Kristen ini mencoba-coba mengucapkan salam dengan


menggunakan kata kunci (Password) Allah SWT, padahal kata itu bermakna tidak
ada tuhan selain Allah. Jauh bertolak belakang dengan pengertian Allah menurut
ajaran Kristen, yang katanya tuhan itu gabungan dari 3 pribadi. Misionaris kristen
ini tidak bisa dipegang ucapannya , keyakinannya bebelok-belok dan berliku-liku.
Dia bisa berada dimana saja dengan kepalsuan aqidahnya, sehingga pembaca
islam akan mengira dia adalah bagian dari saudara seiman umat islam. Misionaris
Kristen ini sedang menjalankan misinya untuk untuk menarik simpatik umat Islam
, kemudian dia merentangkan perangkap untuk menjerat domba-domba dari
kalangan umat Islam yang terpisah dan tersesat agar dapat masuk dalam
perangkap imannya.

Pada waktu teks Proklamasi Kemerdekaan dibuat dan dibacakan, tahun yg


dicantumkan dalam teks asli Proklamasi tsb bukan mencantumkan tahun Masehi,
tapi mencantumkan tahun almanak Jepang, yaitu 05. Namun dengan mengingat
bahwa tahun almanak yg dianut oleh sebagian besar bangsa-bangsa di dunia
adalah tahun Masehi, maka walaupun teks aslinya menyebutkan tahun Jepang,
tetapi penyampaiannya ke seluruh dunia mempergunakan tahun Masehi, yaitu
tahun 1945. Kata Masehi sendiri berasal dari kata Almasih Isa Putra Maryam,
yaitu yg disamakan dengan Mesias atau Juruselamat.
Penggunaan tahun Masehi dimulai dan dihitung sejak Isa AS dilahirkan di dunia
ini.

Pada paragraph diatas, misonaris Kristen tersebut, sudah mulai menebar jaring
untuk mempengaruhi jalan pikiran umat Islam. Dengan pengetahuan yang
seadanya dan mengada-ada, dia mulai mendakwahkan opininya untuk menuntun
jalan pikiran orang-orang awan dari kalangan umat Islam, sehingga para pembaca
akan mengikuti jalan pikirannya. Misionaris Kristen yang tidak mau menyebutkan
identitasnya ini sudah mulai masuk ke materi dakwahnya. Dia mulai menebarkan
isu yang menyesatkan untuk menyampaikan kepalsuannya. Dia mendakwahi
umat islam yang masih belum mengerti dengan senjata ampuhnya yaitu
pemutarbalikan fakta. Misionaris ini merasa sangat bangga dengan penamaan
Tahun Masehi yang dia kira dianugrahkan sebagai pujian bagi sembahannya yaitu
tuhan Yesus. Padahal kalau misonaris ini mengerti dan memahaminya, maka
penamaan tahun Masehi itu, tidak menempatkan Yesus setara ataupun melebihi
dari nama dewa-dewa dari bulan Masehi , tidak satupun nama bulan di dalam
kalender Masehi itu dinamakan dengan Nama Yesus. Justru yang ada dalam
kalender tahun masehi itu adalah nama-nama yang diambil dari nama dewa-dewa
bangsa Romawi. Nama masehi memang telah dicangkokkan kepada kalender
masehi, tetapi umat nasrani merasa tidak pantas menggandengkan nama Tuhan
Yesus dengan dewa Janus , dewa Maia Majesta atau dewa Mars.

Banyak kejanggalan yang dapat kita temukan pada sistim penanggalan Masehi
yang sama sekali tidak berhubungan dengan Yesus. Pertama adalah, kalau
kalender Masehi dianggap sebagai penghormatan atas kelahiran Yesus, maka
seharusnya 1 januari merupakan tanggal kelahiran Yesus. Tetapi ternyata setelah
mereka hitung-hitung, maka tanggal kelahiran Yesus jatuh pada tanggal 25
Desember. Bukankah seharusnya kalender masehi tidak harus menyesuaikan diri
dengan kalender ciptaan bangsa Romawi itu?

Berbeda dengan tahun hijriah yang didasarkan kepada tanggal hijrahnya Nabi
Muhammad ke Medinnah.

Kedua adalah , yang menetapkan 1 januari sebagai system kalender dunia adalah
Kaisar Romawi “Julius Caesar” yang pada waktu itu Kaisar ini tidak menganut
agama Kristen karena di Romawi masih menganut ajaran Pagan. Sistem kalender
ini sudah ditetapkan jauh sebelum ditetapkannya tanggal kelahiran Yesus (baca
disini). Maka inilah penyebabnya , kenapa terdapat selisih penentuan tanggal
kelahiran Yesus berdasarkan system kalender “Julius Caesar” itu, sehingga
terpaksa tanggal kelahiran Yesus bergeser menjadi 25 Desember, bukan 1 Januari.
Padahal yang sebenarnya, penetapan tanggal 25 Desember itu bukanlah saat
kelahiran Yesus yang tepat, karena sampai sekarang tidak satupun orang yang
tahu dengan pasti kapan waktunya/tanggal Yesus lahir. Tanggal 25 Desember
hanya perkiraan saja yang tidak didukung oleh bukti-bukti yang nyata, baik yang
ada di dalam catatan Bible maupun bukti-bukti sejarah. Bahkan tanggal 25
Desember dianggap sebagai penodaan terhadap kelahiran Yesus yang
sesungguhnya, karena tanggal 25 Desember itu sebenarnya merupakan tradisi
yang selalu dirayakan oleh bangsa Romawi dan bangsa Mesir zaman pagan untuk
memuja dewa-dewa sesembahan mereka.

Ketiga adalah bahwa nama-nama bulan yang terdapat di dalam sistim kalender
Masehi tidak mempunyai hubungan apapun dengan ajaran Yesus yang terdapat di
dalam agama Kristen. Nama Bulan Januari diambil dari dewa bangsa Romawi
“Janus” yang berwajah ganda saling membelakang yang kemudian berubah
menjadi kata “ JANUARI”.

Lambang dewa Janus


Bulan February berasal dari kata “ Febua” (hari pemujaan yang dirayakan setiap
tgl 15 oleh bangsa Romawi), bulan Maret berasal dari kata “Mars” (dewa perang
bangsa Romawi), bulan April berasal dari kata “aperire” yang berarti
berkembangnya bunga-bunga di musim ini, bulan Mei barasal dari kata Maia
Majesta (dewa musim Semi), bulan Juni berasal dari kata “Juno” ( nama Dewi
Feminin bangsa Romawi), bulan Juli pada awalnya diambil dari kata “Quintilis”,
tetapi kemudian diubah menjadi “Juli” untuk menghormati nama Kaisar “ Julius
Caesar”, bulan Agustus berasal dari nama kaisar Romawi “ Agustus” ,bulan
September berasal dari kata “Septa (artinya bilangan ke tujuh yang dulunya
adalah bulan ke tujuh dari sistim sistim 10 bulan yang berlaku sebelum adanya
sistim 12 bulan ini) ”, bulan Oktober berasal dari kata “Okto” (urutan ke 8
sebelum sistim 12 bulan berlaku sekarang ini), bulan November berasal dari kata
“novem “ yang berarti bilangan Sembilan dari sistim kalender 10 bulan
sebelumnya, sedangkan bulan Desember berasal dari kata “ Decem” yang berarti
angka urutan ke 10 dari sistim 10 bulan yang berlaku sebelumnya (Baca disini).

Jadi jelaslah bahwa system kalender masehi tidak ada hubungannya dengan
Masehi atau Mesias atau terhadap kelahiran Yesus. Kalau sistim kalender Julius
Caesar dianggap sebagai kalender Masehi, bukankah lebih baik mengambil nama
salah satu bulan itu sebagai nama Yesus ? seperti bulan Desember atau bulan
Januari dirubah menjadi bulan “Yesus”. Ternyata Kaisar “Julius Caesar” dan kaisar
“Agustinus” lebih dihormati dan dipuja dari pada Yesus, sehingga nama Yesus
tidak mungkin lagi digandengkan dengan nama Kaisar atau nama dea-dewa
lainnya.

Tahun Masehi hanya dicangkok untuk Yesus, namun orang-orang nasrani juga
merasa malu untuk memasukkan nama Yesus pada salah satu nama bulan di
kalender tersebut.

Bangsa Indonesia mempergunakan penanggalan almanak dengan tahun Masehi


ini jika ditinjau dari sudut pangdangan agama sungguh beralasan karena bangsa
Indonesia adalah penganut agama tauhid yg percaya kepada Tuhan Yang Maha
Esa dan bahkan salah satu ayat Al Qur'an (Surat 3 Aali Imraan ayat 45)
menyebutkan bahwa Isa Putra Maryam adalah seorang yg terkemuka di dunia dan
di akhirat. Terkemuka di dunia dan di akhirat bagi Isa AS berarti mempunyai
kedudukan yg paling tinggi dan paling berkuasa di dunia dan akhirat. (Ingat,
bahasa Indonesia ter- berarti adalah paling ).

Oleh sebab itu hampir seluruh bangsa di dunia menggunakan almanak tahun
Masehi sejak bangsa-bangsa di dunia mengakui keberadaan Isa AS sampai
sekarang. Demikian pula halnya dengan bangsa Indonesia yg telah mengakui dan
menerima keberadaan Isa AS tsb sehingga juga menggunakan almanac tahun
Masehi sejak bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal
17 Agustus 1945. Walaupun secara resmi keberadaan Isa AS diakui oleh bangsa
Indonesia dengan cara menggunakan sepenuhnya penanggalan almanak tahun
Masehi, tetapi mungkin masih banyak diantara mereka yg belum mengetahui
secara tepat siapa sebenarnya Isa AS dari sudut pandang Islam yg terdapat di
dalam kitab Al Qur'an dan Hadits Shahih yg ada antara lain Kitab Hadits Shahih
Bukhari.

Pada paragraph diatas , misionaris ini sudah masuk lebih jauh mengarahkan
pemikiran umat islam kedalam kesimpulannya. Seolah dia sedang mengajarkan
tentang kebesaran dan kebenaran Ajaran Kristen yang telah berhasil menciptakan
kalender yang diakui dan dianut oleh bangsa-bangsa di dunia sebagai
penghormatan terhadap kelahiran Yesus. Ini merupakan salah satu strategi
misionaris mendakwahkan ajarannya kepada bangsa-bangsa di dunia. Padahal
kelahiran Yesus tidak ada hubungannya dengan sistim kalender Masehi seperti
yang sudah dijelaskan diatas.

Lebih hebatnya lagi, misionaris ini mulai menyinggung ayat-ayat Al Qur’an untuk
menyampaikan opini dan kesimpulannya kepada umat Islam awam. Misonaris ini
mengambil keterangan surat Ali Imran ayat 45 yang menurut pemikirannya ,
bahwa agama Islam membenarkan Keilahian Yesus sebagai Tuhan yang Maha Esa.
Misionaris ini mengambil kesimpulan itu dari kata “terkemuka” yang berarti Isa
As sebagai penguasa tertinggi di akhirat. Begitulah strategi yang terus dilancarkan
oleh pendakwah Kristen untuk membelokan iman orang Islam. Padahal maksud
ayat al qur’an tersebut bertentangan dengan hasil kesimpulan dan opini
misionaris tersebut , bahkan ayat tersebut mengkritik ajaran Trinitas yang
diusungnya. Jadi tidak sepantasnya misionaris Kristin ini berbicara tentang
Ketuhanan Yang Maha Esa, kerena dalam ajaran Trinitas terdapat banyak unsur
Tuhan yang merupakan kepalsuan dari ajaran Pancasila.

Untuk melengkapi penyusunan penulisan ini dan untuk mendapat kebenaran yg


hakiki mengenai siapa sebenarnya Isa AS tersebut, maka kami hanya mengambil
bahan-bahan dari Kitab Al Qur'an dan Kitab Hadits Shahih Bukhari dengan selalu
memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Ia memberkati setiap amal perbuatan
yg baik mengingat tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjadikan pelita bagi
yg belum mengenal Isa AS dari sudut pandangan Islam, walaupun setiap harinya
hidup berkecimpung dengan menggunakan almanak tahun Masehi.

Apakah yang hendak disampaikan oleh misionaris ini pada paragraph berikutnya?
Marilah kita simak dan kita bahas penjelasan dan uraiannya. Pada paragraph ini,
misionaris ini sudah mengarahkan langkahnya ke tujuan yang sebenarnya untuk
menuntun jalan orang-orang beriman menuju jalan kekafiran akidah.

Semoga penulisan ini bermanfaat bagi yg membacanya dan kepada Allah SWT
pulalah segala sesuatunya kami kembalikan.

Mamfaat apakah yang akan diberikan oleh misionaris ini kepada orang-orang
islam yang beriman? Marilah kita baca dan kita pelajari lebih lanjut.

Penyusun
BAB I

AL QUR'AN, KITAB SUCI AGAMA ISLAM

Kitab suci agama Islam adalah kitab Al Qur'an, yg sering disebut Al Qur'anul Karim.
Isi dari Al Qur'an menguraikan masalah pokok secara garis besar dan tidak
mencakup semua masalah yg timbul kemudian, karena masalah2 tsb selalu akan
timbul selama ada kehidupan dan setiap masalah yg timbul sering berlainan
dengan masalah sebelumnya sesuai dengan tingkat kemajuan dalam segala
lapangan kehidupan. Tentu saja akan selalu ada masalah baru yg akan timbul yg
belum pernah terjadi pada zaman Muhammad SAW. Maka untuk masalah baru
ini, adalah tugas bagi setiap ulama Islam untuk menentukan suatu hukum yg baru
dengan tetap berpegang pada Al Qur'an dan Hadits-hadits Shahih yg ada.

Pada paragraf ini dia menyampaikan bahwa Al Qur’an itu adalah buku pedoman
yang tidak falid yang hanya berlaku pada zaman nabi Muhammad saja. Untuk itu
aturan-aturan yang ada di dalam al qur’an harus ditinggalkan karena tidak sesuai
lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman modern ini. Dengan hukum baru
yang bagaimanakah Al Qur’an harus diganti? Untuk itu marilah kita simak
penuturan dari misionaris yang ingin mendakwahi umat islam dengan opini-
opininya.

Pada waktu nabi Muhammad SAW masih hidup (tahun 571-632 Masehi), maka Al
Qur'an masih terdiri atas ayat-ayat hafalan yg diingat oleh pengikut2 Muhammad
SAW, disamping ayat2 yg berupa wahyu yg ditulis di pelbagai bahan-bahan yg
tersebar di mana-mana seperti tulisan pada pelepah kurma, batu-batu, tanah liat,
tulang unta, kulit kambing dan bahan-bahan lainnya yg dapat ditulis.

Pada paragraph ini, misonaris ini mengakui bahwa ayat-ayat di dalam al qur’an itu
sebelumnya sudah ditulis atau dicatat oleh sahabat atau pengkikut nabi
Muhammad yang setia pada lembaran-lembaran kuno seperti bahan-bahan purba
tersebut diatas. Artinya sumber dari ayat-ayat al qur’an itu sudah ada namun
belum terkumpulkan. Hal ini menunjukkan bahwa ayat-ayat Al Qur’an berasal dari
sumber yang jelas, yang bertolak belakang dengan ayat-ayat Bible yang diambil
dari banyak sumber.

Setelah Muhammad SAW wafat pada tanggal 8 Juni 632 Masehi bertepatan
dengan tanggal 12 Rabiul Awal tahun 12 Hijrah, maka para sahabat nabi baik dari
kaum Anshar maupun dari kaum Muhajirin sepakat mengangkat Abu Bakar
menjadi khalifah.

Terpilihnya Abu Bakar , bukan karena dia yang mencalonkan diri atau dicalonkan ,
justru sebaliknya yaitu ketika dia hendak menjatuhkan pilihan kepada Abu
Ubaidah ( dari kaum anshar) dan Umar bin khatab (dari kaum Muhajirin). Ketika
itu semua hadirin menolak kedua calon yang diajukan oleh Abu Bakar, dan ketika
itu mereka serentak mengatakan ;

“tidak, tidak. Demi Allah, kami tidak akan menyetujui pekerjaan besar ini selama
engkau masih ada hai Abu Bakar, engkaulah orang Muhajirin yang lebih pantas
menerimanya, hanya engkau berdua dengan junjungan kami (Muhammad) di dalam
gua ketika terusir, engkau juga yang dipilihnya menjadi imam shalat ketika beliau
sakit, ingatlah bahwa shalat adalah tiang agama Islam yang paling utama! Siapakah
yang akan berani melangkahimu dan memegang pekerjaan ini…? Angkatlah kedua
tanganmu, kami hendak membaiatkan engkau!

Segera setelah itu Umar bin khatab tampil kedepan membawa Abu Bakar dan
mengangkat tanganya untuk membaiatnya, lalu diikuti pula oleh pengikut Abu
Ubaidah yaitu Basyir bin Saad dari kelompok kaum anshar , setelah itu maju pula
kelompok anshar dari suku Aus yaitu Saad bin Ubadah.

Setelah Abu Bakar dibaiat oleh kedua kelompok besar dari muhajirin yang diwakili
oleh Umar dan dari kelompok kaum anshar yang diwakili oleh Basyir bin Saad,
maka berduyun-duyunlah seluruh sahabat untuk ikut memberikan ucapan
persetujuan dan membaiat Abu Bakar secara bersama-sama. Bahkan Abu Ubaidah
yang masih duduk tersandar karena sakit demam , hampir-hampir terlupakan oleh
para hadirin ketika itu. Sedangkan Ali bin Abu Thalib tidak hadir karena sedang
menjaga jenazah Rasullullah. (baca disini)

Mereka semua menyadari bahwa jabatan khalifah itu bukan berarti sebuah
pangkat kenabian, bukan urusan kekeluargan dan kesukuan, tetapi adalah urusan
siapakah yang paling mulia disisi Nabi. Abu Bakar pantas dipercaya untuk
menduduki dan menerima kepercayaan umat islam ketika itu.

Sifat-sifat yang dimiliki oleh Abu Bakar antara lain adalah ; Abu Bakar pernah
diangkat sebagai panglima perang tertinggi di dalam pasukan muslimin yang
ditunjuk oleh nabi Muhammad, Abu bakar seorang yang penyabar dan ramah
tetapi mempunyai keteguhan hati yang kuat dalam menjalankan prinsip-prinsip
ajaran yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad, Abu Bakar merupakan
seorang yang paling dekat dan sangat dipercaya oleh nabi Muhammad sehingga
gelar Sidiq (dipercaya) diberikan kepadanya, Abu Bakar memiliki ilmu
pengetahuan yang paling tinggi dan pengalaman yang sangat matang
dibandingkan diantara para sahabat nabi yang lain, Abu Bakar seorang yang paling
bijaksana dan cemerlang dalam menyampaikan ide-idenya dalam
bermusyawarah, Abu Bakar juga seorang yang paling dermawan dan suka
memberi kepada seluruh rakyat yang hidupnya menderita serta menyerahkan
seluruh hartanya untuk perjuangan ajaran nabi Muhammad. Inilah dasarnya
kenapa Abu Bakar dipercaya sebagai imam atau khalifah pengganti nabi. Bahkan
dari isyarat dan petunjuk yang sudah diberikan oleh Muhammad sebelum beliau
wafat, maka Abu Bakar memiliki semua Kriteria tersebut . Sebelum nabi wafat,
hanya Abu Bakar yang pernah ditunjuk oleh Muhammad sebagai imam untuk
memimpin shalat, yang sebelumnya tidak pernah diserahkan kepada yang lain
seperti Umar bin khatab, Ustman atau Ali. Bahkan nabi Muhammad ikut menjadi
makmum atau pengikut shalat pada saat Abu Bakar menjadi imam tersebut.

Setelah selesai orang membaiat , maka Abu Bakar pun berpidato, sebagai
sambutan atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya itu:

“Wahai orang-orang yang beriman, sekarang aku telah kalian angkat untuk
melaksanakan pekerjaan ini, tetapi aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian.
Maka kemudian, jika aku telah berbuat baik dalam kepemimpinanku, dukunglah aku.
Tetapi kalau aku berlaku salah, tegurlah aku . Kejujuran adalah suatu amanat,
kedustaan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, di sisiku adalah
orang yang lemah, sehingga hak si lemah akan ku kembalikan kepadanya. Orang yang
lemah di sisimu, di sisiku adalah kuat, maka akan ku ambilkan haknya dari yang kuat ,
Insya Allah. Janganlah kamu suka menghentikan perjuangan ini, sehingga tidak akan
ditimpa kehinaan. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya.
Tetapi kalau aku langgar perintahNya, tak usahlah aku kamu taat dan ikut lagi.
Dirikanlah shalat, moga- moga rahmat Allah meliputi kalian”.

Pada awal kepemimpinan Abu Bakar banyak orang-orang yg tidak lagi patuh pada
ajaran-ajaran yg disiarkan oleh Muhammad SAW bahkan sebagian lagi
melepaskan diri sebagai muslim dan seolah-olah mendirikan agama baru. Dalam
menghadapi situasi ini Abu Bakar bertindak tegas terhadap orang-orang yg
menyeleweng tsb, sehingga terjadilah peperangan yg hebat untuk menumpas
mereka dan pengikut orang-orang mengaku dirinya sebagai nabi. Diantara
peperangan itu yg terkenal adalah 'Perang Jamamah'. Tentara muslim yg ikut
dalam peperangan ini kebanyakan terdiri dari para sahabat nabi dan penghafal-
penghafal ayat-ayat Al Qur'an. Dalam peperangan itu telah gugur sekitar 70 orang
penghafal ayat Al Qur'an. Bahkan sebelum itu pada masa Muhammad SAW telah
gugur sekitar 70 orang lebih dalam suatu pertempuran di sumur Ma'unah dekat
kota Madinah. Dengan makin banyaknya penghafal-penghafal ayat Al Qur'an yg
telah gugur dalam peperangan, maka Umar bin Khattab menjadi sangat kuatir
karena penghafal ayat Al Qur'an jumlahnya makin sedikit dan yg hidup juga
tinggal sedikit.

Pada waktu kekhaliafahan pertama tersebut, belum ada pembagian dari sistim
pemerintahan seperti yang sekarang ini yaitu ; legislative, yudikatif maupun
eksekutif, sehingga seluruh kegiatan pemerintahan tersebut dilaksanakan oleh
Khalifahnya yaitu Abu Bakar. Sistim pemerintah ini masih bersifat central di
tangan Abu Bakar. Namun sosok Abu Bakar bukanlah seorang penguasa diktator
yang mengutamakan kekuasaan. Beliau sangat arif dan bijaksana dalam
menetapkan suatu putusan sesuai dengan ajaran yang sudah disampaikan oleh
Rasullullah seperti dalam pidatonya diatas. Adapun sendi-sendi pemerintahan
yang ditegakkan oleh beliau adalah berdasarkan musyawarah dan muakat yaitu
apabila suatu persoalan tidak terdapat di dalam penjelasan Al Qur’an maka
dilakukan secara mufakat dan musyawarah. Hal ini menunjukan bahwa undang-
undang dan hukum Negara ketika itu adalah berdasarkan ketentuan yang tertulis
di dalam Al Qur’an. Artinya Abu Bakar merupakan pemimpin pertama setelah
Nabi yang berhasil meletakkan dasar-dasar negara berdasarkan hukum-hukum
Islam yang terdapat di dalam Al Qur’an, petunjuk Rasullullah, dan hasil keputusan
di dalam musyawarah atau ijtihad.

Adapun orang-orang yang membenci islam terus berusaha untuk menghancurkan


kekuatan khalifah Abu Bakar ini, baik secara tersembunyi maupun dengan
perperangan. Pihak yang menentang islam waktu itu banyak sekali terutama dari
kalangan bangsa quraisy yang secara sembunyi membenci Muhammad beserta
seluruh pengikutnya, orang-orang umat nasrani yang beragama Kristen yang tidak
menyuikai adanya agama baru yang dianut oleh pengikut-pengikut Muhammad,
begitu juga dari kalangan umat bangsa Yahudi yang telah melakukan berbagai
taktik untuk melemahkan kekuatan agama islam yang dibangun oleh khalifah ini.
Orang-orang yang tidak menyenangi kejayaan ajaran Islam terus menggalang
kekuatan untuk melemahkan persatuan dan kesatuan kaum muslimin, mereka
saling bahu membahu untuk mencari cara yang tepat untuk menghancurkan umat
islam dengan peran dan taktik masing-masing. Orang-orang quraisy yang masih
merasa tidak puas dengan keberhasilan umat Muhammad merebut kota Mekah
ini , telah dapat di hasut oleh umat nasrani dan Yahudi agar melakukan
perlawanan terhadap kepemimpinan Abu Bakar ini. Orang-orang Yahudi dan
Nasrani ini tidak melakukan perlawanan fisik secara langsung tetapi mereka
seperti bergerak dibawah tanah untuk melakukan perang urat syaraf. Mereka
mencari-cari kelemahan-kelemahan ajaran islam yang disampaikan oleh
Muhammad, kemudian menghasut orang-orang islam awam dari kalangan bangsa
quraisy yang masih trauma dengan kekalahannya di kota Mekah. Adapun ajaran
islam yang dapat mereka mamfaatkan untuk menghasut orang-orang islam awan
adalah ; - adanya ketentuan zakat yang diwajibkan kepada seluruh umat islam.
Orang yahudi dan nasrani menghasut dengan mengatakan bahwa zakat hanyalah
kedok yang akan digunakan oleh pemerintah Abu Bakar untuk memperkaya diri
dan membiayai perperangannya. Dengan hasutan ini, maka banyaklah orang-
orang yang sudah tidak senang, terpancing untuk menentang ketentuan zakat itu.
Bahkan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menetap di daerah Medinah dan
Mekah pun menentang ketentuan yang mewajibkan mereka membayar pajak
kepada pemerintahan Abu Bakar ini. Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah
berhasil menarik simpatik kalangan yang tidak suka kepada ajaran islam, sehingga
banyaklah dari orang-orang islam awam ini, menentang Abu Bakar lalu
menyatakan diri keluar dari ajaran islam. Akibat keberhasilan strategi kaum
Yahudi dan nasrani menghasut bangsa quraisy, maka muncullah ajaran-ajaran
baru untuk menentang ajaran islam, bahkan mereka mengangkat dan
menobatkan pemimpin mereka sebagai Nabi Baru pengganti Muhammad, untuk
menggalang kekuatan melawan pemerintah Abu Bakar.

Namun secara total yang keluar dari ajaran islam hanya segelintir orang saja,
karena ketika Muhammad berhasil menduduki kota mekah, jumlah penduduk
Mekkah dan Madinah yang sudah menyatakan diri sebagai umat islam sudah lebih
dari 30 ribu dan 10% diataranya sebagai penghafal Al Qur’an.

Orang Yahudi dan Nasrani bersama-sama dengan orang quraisy kafir lainnya
benar-benar memamfaatkan suasana berkabungnya umat islam atas kematian
Rasullullah, apalagi ketika itu Abu Bakar baru saja diangkat dan belum
melaksanakan pemerintahan secara maksimal. Mereka mendekati orang-orang
yang baru masuk islam yang disebabkan ketakutan atau orang –orang yang masuk
islam yang hanya ikut-ikutan. Orang-orang yang didekati adalah kalangan umat
islam yang masih lemah kesadaran imannya, jadi sangat mudah diasut dan
dipengaruhi karena kebodohan dan ketidak mengertiannya.

Pada awal pemerintahan khaliafah pertama ini, Abu Bakar sudah mengetahui
bahwa beberapa orang islam ada yang tidak bersedia menyalurkan zakat dan
mereka itu adalah orang-orang munafik yang akan memamfaatkan peluang dalam
kesempitan. Mereka mengaku sebagai umat islam yang masih Shalat sehingga
Abu Bakar tidak akan menyerang mereka, mereka berpura-pura menjalankan
syariat islam, tetapi mereka sebenarnya menunggu kesempatan untuk melawan
pemerintah Abu Bakar. Namun pada waktu itu, Abu Bakar masih belum
mengambil tindakan tegas kepada orang-orang islam munafik yang tidak bersedia
mengeluarkan zakat itu, karena adanya misi besar yang akan segara dilaksanakan
oleh panglima muda yang baru saja terpilih oleh Rasullullah sebelum beliau wafat,
yaitu Usamah bin Zaid yang masih berusia 17 tahun, untuk merebut negeri
Qudhaah. Hampir saja misi perebutan negri Qudhaah itu tidak terlaksana kalau
tidak ada keteguhan hati Abu Bakar untuk tetap melanjutkan wasiat nabi, karena
sebelumnya Umar bin Khatab mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menunda
keberangkatan Usamah dengan alasan agar Abu Bakar terfokus pada urusan
dalam negri yang masih rumit akibat beberapa diantara orang yang baru masuk
islam kemudian keluar dan berusaha untuk merusak aqidah dan ajaran rasullullah.
Tetapi jawab Abu Bakar adalah ; “Celaka engkau, wahai anak si Khattab,
Rasulullah sendiri yang mengangkat dia, belum lagi lama dia terkubur, engkau
sudah menyuruh aku untuk mengubah perintahnya !

Pemberangkatan Usamah ke medan perperangan itu segera dilangsungkan. Abu


Bakar berjalan kaki menuju barisan prajurit Usamah untuk segera melepaskan
kepergian mereka. Ketika Abu Bakar hendak memberikan amanatnya kepada
Usamah, Usamah masih berada di atas kenderaannya. Berkata Usamah ; “Biarlah
hamba turun ke bawah dan paduka naik ke atas kenderaan ini “. Tidak, jawab Abu
Bakar, “ Belumlah seberapa jika kakiku kena debu saat ini untuk menegakkan
perintah Rasullullah. Setelah itu dimintanya Usamah agar mengizinkan Umar bin
Khatab untuk tetap tinggal di Madinah, dan tidak pergi berperang, karena Umar
perlu benar baginya sebagai teman untuk mengatur pemerintahan di dalam
negeri. Maka permintaan itupun dikabulkan oleh Usamah. Abu Bakar tidak
memerintahkan Usamah untuk membebastugaskan Umar bin Khatab, tetapi
beliau mengusulkan pendapatnya dan meminta persetujuan Usammah sebagai
panglima perang.

Adapun amanat yang disampaikan Abu Bakar ketika hendak melepas kepergian
Musamah ke medan perang adalah ;

“ Wahai kalian yang berperang dijalan Allah ; “Jangan khianat, janganlah memungkiri
janji, jangan menganiaya mayat musuh yang telah mati, jangan membunuh anak-anak,
orang-orang tua dan perempuan. Jangan dipotong pohon kurma, jangan dibakar dan
jangan di-tumbangkan pohon-pohon yang sedang berbuah, jangan disembelih
kambing, sapi dan unta, kecuali sekadar untuk dimakan. Kalau kalian bertemu dengan
suatu kaum yang telah mengungsi kedalam gereja-gereja atau tempat peribatan
Yahudi hendaklah dibiarkan saja, jangalah diserang mereka. Hai Usamah , Jika
engkau bertemu dengan suatu kaum yang bercukur tengah-tengah kepalanya dan
tinggal tepinya sebagai lingkaran, hendaklah perangi mereka, itulah musuh kalian!
Kalau diberi orang makanan orang atau kaum yang hendak membantu kalian, maka
hendaklah bacakan nama Allah seketika memakannya. Hai Usamah, berbuatlah apa
yang diperintahkan Nabi kepadamu di negeri Qudhaah itu, dan jangan engkau
lalaikan sedikit pun perintah-perintah Rasulullah”.

Setelah melepaskan prajurit itu di Jaraf, Abu Bakar dan Umar pun kembali ke
Madinah.

Usamah pun berangkat ke negeri Qudhaah itu, lalu mengepung negri itu selama
empat puluh hari untuk memotong suplai makanan dan perdagangan yang
masuk ke daerah itu, hingga mereka mengalami kelemahan. Maka setelah itu,
terjadilah pertempuran hebat. Dalam pertempuran itu Musamah dan bala
tenteranya memperoleh kemenangan yang gemilang tanpa banyak jatuhnya
korban, karena waktu itu musuh banyak menyerah akibat kekurangan suplai
makanan. Kemenangan Pasukan Usammah ini membawa dampak yang sangat
besar terhadap pemerintahan Abu Bakar yang dikira sudah mengalami
kemunduran sepeninggalnya Rasullullah.

Musuh-musuh diluar Madinah dan Mekah semakin gentar mendengar


kemenangan pasukan Usamah tersebut, sedangkan lawan-lawan politik Abu
Bakar merasa kehilangan nyali untuk melakukan pemberontakan dan perlawanan
fisik dari dalam.

Namun dalam masa 40 hari selama keberangkatan pasukan Usamah ke medan


juang , situasi politik yang masih belum mapan di dalam negri tersebut
dimamfaatkan oleh orang-orang yang ingin melemahkan kekuatan islam
terutama ajaran-ajaran Muhammad. Dalam hal ini orang-orang munafik dan
orang-orang yang berhasil dihasut oleh kaum Nasrani dan Yahudi , sudah
menampakkan identitasnya untuk merong-rong kewibawaan pemerintah Abu
Bakar. Mereka yang sudah termakan hasutan, langsung menyatakan dirinya
keluar dari Islam sedangkan yang bersifat munafik melakukan gerakan bawah
tanah atau spionase untuk mempengaruhi orang beriman lainnya, bahkan
diantara mereka ada yang sudah menyatakan dirinya sebagai Nabi pengganti
ajaran Mahammad untuk melemahkan iman orang Muslim dan ajaran-ajarannya.
Kalau gerakan ini dibiarkan terus dengan cara-cara licik yang mereka lakukan ,
maka tentu saja membahayakan terhadap keutuhan Negara dan pemerintahan
Abu Bakar. Abu Bakar sebagai khalifah, memahami gejala yang akan berdampak
luas tersebut. Maka sekembalinya Musammah membawa kemenangan dari
peretampuran Qudhaah, lalu beliau memerintahkan pasukan Usamah untuk
beristirahat beberapa hari, sedangkan Abu Bakar memimpin sendiri dan
mengatur strategi untuk melumpuhkan para pemberontak yang hendak
menghancurkan sendi-sendi Negara. Abu Bakar tentu saja berprinsip bahwa
persatuan dan kesatuan Umat islam harus lebih diutamakan, terutama dalam
menjalankan ajaran-ajaran islam sebagaimana yang sudah diterapkan oleh
Rasullullah dan menjalankannya secara murni. Khusus bagi umat islam yang
menentang atau meninggalkan ajaran agama, dianggap sebagai orang yang tidak
konsisten, orang munafik , dan orang yang tidak mau menegakan agama Allah
dan tidak mau berjuang, maka mereka termasuk orang-orang harus beri
peringatan. Apabila mereka tidak mau disadarkan atas kekeliruannya, maka
dianggap mereka berada dipihak musuh yang harus ditentang oleh pemerintah
Abu Bakar.

Usaha untuk membersihkan gerakan para pemberontak tersebut hanya


merupakan bagian kecil dari usaha besar yang sudah direncanakan oleh Abu
Bakar yaitu menaklukan seluruh jazirah Arab dibawah panji-panji pemerintahan
Islam yang sedang di dibangunnya saat itu.

Tersebutlah Musailamah seorang yang mengaku sebagai nabi pengganti nabi


Muhammad. Musailamah ini berasal dari suku Bani Hanifah di Arabia Tengah , dia
mempunyai seorang istri yang beragama Kristen yang berasal dari suku Bani
Yarbu. Musailamah bersama istrinya yang Kristen ini , secara bersama-sama
bersekongkol untuk melemahkan keimanan orang-orang muslim agar keluar dari
agama islam. Caranya adalah dengan menobatkan dirinya sebagai nabi pemimpin
umat islam yang sebenarnya, yang sudah ditunjuk oleh Tuhan untuk
menggantikan Muhammad. Dia menyampaikan kejelekan ajaran islam yang
mewajibkan zakat dan membayar upeti kepada orang-orang bukan islam, dia
mengatakan bahwa hukum qisas di dalam islam tidak berperikemanusiaan, dia
mengambarkan bahwa poligami yang dilakukan oleh rasullullah merupakan sifat
yang sangat tercela. Musalamah ini menyampaikan ajaran barunya yang
menurutnya lebih manusiawi dan penuh kasih sebagaimana orang-orang
penganut agama Kristen yaitu istrinya telah melaksanakannya. Musailamah
menyampaikan bahwa Agama baru yang dia ajarkan itu lebih baik dan lebih cocok
untuk dijalankan kepada semua manusia dari pada agama Islam yang diajarkan
oleh rasullullah.

Adapun ajaran dari Musailamah ini antara lain adalah ; zakat itu tidak wajib tetapi
hanya merupakan sumbangan sukarela, shalat itu tidak wajib atau dapat dikurangi
sesuai dengan kemampuan atau hanya cukup dengan rasa keimanan dan
keyakinan saja, berjudi boleh-boleh saja karena banyak mamfaatnya, meminum
khamar boleh-boleh saja karena disorga nanti minuman khamar akan dihalalkan
lagi, tidak boleh melakukan poligami , perkawinan antar agama yang berbeda
boleh-boleh saja sebagaimana yang telah dia lakukan dengan istrinya yang Kristen
, begtiu juga dengan puasa yang tidak perlu dilakukan sebagaimana orang-orang
nasrani telah melaksanakannya.

Jadi terlihat jelas bahwa ajaran Musailamah ini sebenarnya merupakan misi dari
kristenisasi di zaman khalifah Abu Bakar , hal ini menunjukkan bahwa gerakan
kristenisasi ini sudah ada jauh semenjak ajaran Islam dilahirkan dengan kedok
kepalsuan iman. Cara-cara tersebut merupakan metode kristenisasi yang sudah
ada dari zaman dahulu hingga berlanjut sampai pada zaman abad XXI ini. Seperti
yang sedang dilakukan oleh misionaris Kristen yang menulis buku ini, untuk
disebarkannya kepada umat islam yang awam sebagaimana Musailamah telah
melakukannya. Maka pantas sekali misonaris Kristen ini sangat kecewa dengan
kegagalan Musalamah sehingga dia melanjutkan misi yang sama di abad Modern
ini. Misionaris ini bagaikan serigala berbulu domba , dimana seolah-olah dia
adalah seorang sejarawan yang memahami betul perjuangan umat islam
kemudian menghasut orang islam yang tidak mengerti agar berbalik arah untuk
mengusung ajaran trinitas yang ada di dalam ajaran Kristen.
Selain Musalamah ini , ada 2 orang lagi yang mengaku sebagai nabi yaitu Thulaiha
seorang kepala suku Bani Asad dan yang lain adalah Aswad Al-Insa. Gerakan para
pengikut nabi palsu ini berusaha menguasai dan mempengaruhi masyarakat
Islam, lalu mengerahkan pasukan untuk masuk ke daerah-daerah diluar Madinnah
seperti Bahreain, Oman dan Hadramaut. Akan tetapi Khalifah Abu Bakar tidak
tinggal diam, beliau berusaha untuk memadamkan dan menumpas gerakan kaum
munafiq atau dikenal juga dengan kaum riddat. Dengan sigap Khalifah Abu Bakar
membentuk sebelas pasukan dan menyerahkan al-liwak (panji /bendera) kepada
masing-masing pasukan. Dua dari pasukan yang dibentuk ini akan melumpuhkan
gerakan pemberontakan yang picu oleh para nabi palsu tersebut, yaitu pasukan
Kholid bin Walid dan pasukan Syurahbil bin Hasanah . Kedua pasukan ini
dilengkapi dengan lembaran pengumuman ( al-mansyurat) yang harus
disampaikan kepada suku-suku Arab yang terlibat dalam gerakan riddat. Isi
maklumat tesebut berupa seruan untuk mengajak mereka kembali ke jalan ajaran
islam yang sebenarnya. Jika mereka tetap keras kepala dan menentangnya, maka
barulah dihadapi dengan kekerasan. Sedangkan Sembilan pasukan lainnya akan
dipersiapkan untuk menaklukkan berbagai negri lainnya seperti Syria, Yaman,
Bahrain, negri bani sulaiman (Israel dan yarusalem), dan daerah syam.
Abu Bakar memandang gerakan pemurtadan itu sebagai sebuah bahaya besar
terhadap keutuhan ajaran islam yang hendak diselewengkan oleh orang-orang
yang ingin merusak ajaran Rasullullah.
Ketika pasukan yang dipimpin oleh Kholid bin Walid mendatangi nabi palsu
Thulaiha dan Aswad Al-Insa , dilakukanlah perundingan namun mengalami jalan
buntu, sehingga perperanganpun tidak terelakkan. Perperangan ini dikenal
dengan perang Buzuka, dimana pemimpin dari nabi palsu dan pengikutnya ini
dapat ditumpas , kemudian mereka dengan kesadaran kembali kepada ajaran
islam yang sejati. Sedangkan Musailamah belum bersedia tunduk dan masih
melakukan perlawanan. Untuk itu , Abu Bakar mengutus Ikrima putra Abu Jahl
dan Shurahbil untuk mengatasi Musailama di Yamamah. Ikrima pada mulanya
diutus mengatasinya namun karena kemampuan yang terbatas ia dikirim ke
wilayah lain . Shurahbil, yang ditugaskan membantu 'Ikrima, diberitahukan agar
menunggu kehadiran komandan baru yaitu Khalid bin al-Walid.
Pada saat itu Musailamah menyatakan bahwa pengikut ajarannya sudah melebih
40 ribu orang yang berada diluar Madinah berpusat di Yamamah. Mereka siap
untuk melakukan penyerangan terhadap pemerintahan Abu Bakar. Ternyata dari
40 ribu yang diakui sebagai pengikut Musailamah , yang ikut mengangkat senjata
melawan pasukan Kholid bin Walid tidak lebih dari satu batalion atau sekitar 1000
orang saja, sehingga Khalid bin Walid berhasil menumpas habis para pengikut
Musalamah yang melawan, sedangkan Musalamah sendiri mati diujung tombak
Kholid bin Walid di dalam perkelahian di sebuah taman yang disebut dengan
“Taman Maut”.
Setelah pemberontak itu ditumpas dan sisanya kembali kepada ajaran islam serta
tunduk dibawah kepemimpinan Abu Bakar, maka kekuatan islam dibawah
Khalifah ini semakin kuat dan semakin banyak pula orang yang kembali memeluk
islam dan bergabung dengan kepemimpinan Abu Bakar.
Walaupun beberapa prajurut Islam gugur didalam pertempuran tersebut diatas,
tetapi yang masuk kedalam agama islam lebih banyak lagi dan mereka patuh
kepada pemimpin khalifah Abu Bakar ini, maka berbondong-bondonglah
penduduk di semenanjung Arab masuk kedalam agama islam.
Setelah para pemberontak sudah dapat diredakan, Abu Bakr kembali
menugaskan Khalid bin al-Walid menuju Irak. Di sana Khalid bin al-Walid mampu
mengalahkan tentara Persia di daerah Ubulla, Mazar dan Ullais (pada bulan Safar
tahun ke-12 Hijrah/bulan Mei tahun 633 Masehi). Waliyah perperangan tersebut
bagaikan bermandikan darah sehingga sungai-sungai di daerah ini merubah
menjadi merah . Kemudian Khalid bin al-Walid mendirikan benteng pertahanan di
daerah Amghisia dan Hira . Setelah itu Khalid bin al-Walid berangkat menuju ke
Anbar (tahun 12 Hijrah/di musim semi tahun 633 Masehi) dan disana dia
menemukan sistim pertahanan kota yang dilindungi oleh parit-parit, tetapi
pertahanan kota itu dapat ditembus oleh pasukannya. Setelah dilakukan
perjanjian damai, lalu pasulkan Khalid bi al-Walid melanjutkan perjalanan ke 'Ain
at-Tamr melintasi padang pasir selama tiga hari ke arah barat Anbar. Di sana
terdapat musuh yang terdiri dari campuran bangsa Persia dan orang-orang Kristen
Arabia yang sebagian dari mereka menjadi pengikut dari seorang wanita yang
mengaku menjadi nabi, bernama Sajah. Dalam pertempuran tersebut, pasukan
Kristen berperang lebih ganas dibanding tentara Persia, namun kedua bangsa itu
dapat dikalahkan oleh pasukan Khalid bin Al _walid, maka jatuhlah kota itu jatuh
ke tangan kekuasaan umat Islam.
Jadi selama masa kekalifahan Abu Bakar banyak sekali terjadi perperangan baik
yang terjadi karena pemberontakan di dalam negri maupun dalam melaksanakan
misi merebut wilayah lain di luar semenanjung Arab. Namun pada masa Khalifah
Abu Bakar ini pula kegemilangan Negara Islam yang dibangunnya bertambah
luas dengan cepat. Khalifah Abu Bakar merupakan seorang pemimpin yang sangat
ditakuti oleh musuh-musuhnya, disegani oleh lawan politiknya dan disanjung oleh
rakyat dan bangsa arab umat Islam ketika itu.
Tetapi sebaliknya , tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pula suhada islam yang
gugur pada pertempuran tersebut, termasuk diantaranya para penghafal Al
Qur’an.

Sementara itu, kaum Muslimin yg kedudukannya terpencar-pencar memiliki


naskah ayat-ayat Al Qur'an yg susunan surat-suratnya masing-masing berlainan
dan susunan ayat-ayat dan surat-suratnya tidak sama. Bahkan terdapat pula
perbedaan-perbedaan ejaan diantara mereka. Adanya perbedaan-perbedaan ini
menimbulkan perselisihan dan perpecahan diantara kaum muslim karena masing-
masing menganggap naskah miliknya yg benar.

Pada paragraph diatas, misionaris tersebut sudah masuk kepada bentuk


penyerangan dengan menyampaikan berita- berita bohong dengan cara
memutarbalikan fakta yang didasari oleh rasa kebenciannya terhadap kebenaran
ayat-ayat al Qur’an yang sudah ada dihadapan umat islam saat ini. Dalam
pemikiran nya, misionaris ini menyampaikan bahwa ayat-ayat Al Qur’an yang ada
saat ini merupakan ayat-ayat yang tidak jelas lagi sumbernya, sudah mengalami
perubahan penulisan yang dilakukan oleh sahabat-sahabat nabi yang masing-
masing menyimpannya . Secara halus dia menyampaikan , seolah-olah Al Qur’an
yang ada sekarang ini bukanlah kadungan Al Qur’an asli sebagaimana yang
disampaikan oleh Rasullullah ketika dia masih hidup. Sehingga umat muslim yang
membaca tulisan misionaris berbulu domba ini akan meragukan keaslian ayat-
ayat di dalam Al Qur’an yang ada sekarang. Misionaris ini bukan lagi
menyampaikan ide cerita tetapi sudah menjurus kepada memasukkan opini
untuk menyesatkan pemikiran orang-orang muslim awam. Sebagaimana ahli kitab
umat nasrani dan Yahudi zaman dulu yang sudah berhasil merubah kitab Allah
yang pernah diberikan kepada nabi Isa A.S atau nabi-nabi sebelumnya di dalam
catatan Bible yang mereka klaim sebagai kitab dari Allah. Dia beranggapan bahwa
umat muslim pada zaman Khalifah Abu Bakar dan Utsman bin Affan telah
melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh ahli kitab umat
Yahudi dan Nasrani zaman dahulu. Pemikiran misionaris ini akan berujung kepada
penyamarataan antar kitab Bible dengan Al Qur’an yang sama-sama sudah tidak
asli lagi.

Untuk menjelaskan bahwa ayat-ayat Al Qur’an yang ada sekarang ini merupakan
sumber yang sama dengan apa yang diwahyukan Allah melalui Jibril kepada
nabi pilihanNYA Nabi Muhammad SAW, maka sudah saatnya kaum muslimin
memutar jarum jam berkali-kali ke arah belakang, agar kita mengenal lebih dekat
bagaimana sejarah penulisan Al Qur’an yang ada dihadapan kita ( Baca disini).

Sejumlah kalangan yang ingin mengubah pandang orang-orang islam tentang


keaslian ayat-ayat al Qura’n terutama dari kaum Orientalis Kristen dan Yahudi,
menuduh bahwa telah terjadi kesalahan dalam penulisan Teks-teks Al Qur’an
yang dilakukan oleh pemerintahan khalifah Abu Bakr, khalifah Umar bin Khatab
dan khalifah Ustman bin Affan. Mereka menyimpulkan bahwa hal ini terjadi
karena pada massa kekalifahan itu sudah banyak para penghafal al Qur’an yang
gugur dan lembaran-lembaran Al Qur’an itu bercerai berai pada tempat-tempat
yang tidak jelas, sehingga berkemungkinan besar telah dilakukan pemalsuan
dengan merubah ayat-ayat tersebut dari yang aslinya. Namun mereka sama sekali
mengenyampingkan dan menutupi mata dari kenyataan bahwa Al Qur’an sudah
disusun langsung oleh Nabi Muhammad dibawah bimbingan Malaikat jibril
melalui catatan yang ditulis oleh sahabat-sahabatnya terutama sekretris
terpercaya beliau yaitu Zain bin Thabit. Bahkan banyaksekali sahabat Rasullullah
mampu menghafal ayat tersebut tanpa kesalahan sedikitnya sehingga sama
otentiknya dengan catatan AL Qur’an. AL Qur’an yang sudah terhafal oleh
sahabat-sahabat rasullullah tersebut kemudian disimpan dengan baik di rumah
Istri rasullullah yang “ Aisah”. Kemudian 2 tahun setelah wafatnya Rasullullah,
dibawah kepemimpnan Abu Bakar, kembali Zaid bin Thabit ditunjuk sebagai ketua
pelaksanan untuk merapikan dan mengumpulkan al Qur’an di dalam satu mushaf
seperti yang ada sekarang. Zain bin Thabit adalah seorang penghafal Al Qur’an
yang setara kemampuannya dengan apa yang telah dihafal oleh Muhammad,
sehingga Rasullullah tidak meragukan lagi kemampuannya. Namun bukan hanya
Zaid bin Thabit saja yang mampu menghafal al Qur’an yang disampaikan oleh
Rasullullah, diantara sahabat-sahabat dekat dan teruji kemampuannya menghafal
AL Qur’an antara lain adalah ; Abu Bakr as-Siddiq , 'Uthman bin, 'Umar bin al-
Khattab, 'Affan, Khalid bin al-Walid , 'All bin Abi Talib, Abban bin Sa'id, Abu
Umama, Abu Ayyub al-Ansari, , Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu
'Abbas, Ubayy bin Ka'b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Thabit
bin Qais, Ja` far bin Abi Talib, Jahm bin Sa'd, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain,
Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa'id, , az-Zubair bin al-`Awwam, Zubair bin Arqam,
Sa'd bin ar-Rabi`, Sa'd bin `Ubada, Sa'id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talha,
`Amir bin Fuhaira, `Abbas, `Abdullah bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakr,
`Abdullah bin Rawaha, `Abdullah bin Zaid, `Abdullah bin Sa'd, 'Abdullah bin
'Abdullah, 'Abdullah bin 'Amr, Uqba, al'Ala bin 'Uqba, 'Amr bin al-'As, Muhammad
bin Maslama, Mu'adh bin Jabal, Mu'awiya, Ma'n bin 'Adi, Mu'aqib bin Mughira,
Mundhir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan (baca buku Kuttab an-Nab karangan
“M.M, A'zami )’.

Melalui Sahabat-sahabat inilah, Rasullullah menugaskan mereka untuk


mencatat semua wahyu yang diturunkan oleh Allah. Periode penulisan wahyu
awal ini merupakan periode penulisan wahyu yang dikenal dengan Periode
Madinah, sementara wahyu yang turun waktu di Mekah dulu semuanya menjadi
hafalan yang tidak terpisahkan dengan keaslian ayat-ayat al qur’an yang terdapat
dalam setiap diri sahabat-sahabat Nabi yang bertaqwa kepada Allah.

Antusias dan semangat para pengikut nabi untuk melahap habis ayat-ayat
yang mereka tunggu-tunggu benar-benar sangat menggebu-gebu. Diantara
mereka sering saling bertanya ; apakah Rasullullah sudah menerima dan
menyampaikan ayat terbaru?. Pada zaman itu, kesenian sastra bangsa arab sudah
lagi ngetop-ngetopnya di bidang seni baca sajak dan puisi, sehingga mereka
sangat suka mengadakan perlombaan seni baca sajak, puisi dan prosa. Namun
ayat-ayat al Qur’an yang disampaikan oleh Rasullullah sungguh sangat memukau
dan indah sekali tatabahasanya, bunyi pantunnya sangat menarik, susunan kata-
katanya sangat tepat dan mengandung arti yang sangat mendalam di dalam
falsafah hidup mereka, sehingga mereka antusias sekali untuk menghafalnya. Dan
apabila sajak yang dihafal oleh para penghafal Al Qur’an itu disampaikan
dihadapan pembuat sajak bangsa quraisy lainnya, maka bergetarlah hati mereka ,
seolah-olah ada kekuatan yang mempengaruhi jiwa dan nalar mereka ketika itu.
Bahkan Umar bin Khatab yang pada awalnya hendak membunuh Rasullullah ,
menjadi luluh hatinya setelah mendengar lantunan ayat-ayat awal surah Thaha
yang dibacakan oleh keponakannya “ Fatimah “, lalu dia langsung masuk islam
hanya karena hatinya luluh lantak mendengarkan mukjizat dari kemasgulan
ayat-ayat dari langit itu. Kalau dibandingkan dengan zaman sekarang, sama saja
dengan harapan masyarakat untuk menghafal syair-syair lagu-lagu tervaforit yang
menduduki nomor tangga-nada urutan tertinggi yang di request pendengar
siaran infotainment baik melalui Radio maupun Televisi. Ada kebanggaan
tersendiri bagi yang telah berhasil menghafal ayat-ayat yang disampaikan
Rasullullah tersebut sebanyak-banyaknya.

Khusus untuk Zaid bin Thabit, Rasullullah menugaskan kepadanya untuk


menulis dengan rapi dan tersusun sesuai dengan arahan Rasullullah. Seperti
ketika Rasullullah menyuruh Zaid bin Thabit menempatkan satu ayat atau surat
yang baru turun pada urutan surat yang sudah turun sebelumnya. Saat tugas
penulisan selesai, Zaid membacakan ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin
tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks. Begitu juga Rasullullah
memberi arahan kepada sahabat penghafal Al Qur’an yang lainnya. Surat-surat Al
Qur’an yang sudah tersusun pada saat Rasullullah masih hidup itu ditulis di atas
lembaran kulit kayu, kulit domba, kulit onta, kemudian dikumpulkan dirumah
Nabi Muhammad. Sedangkan sahabat-sahabat yang lainnya saling mencatat ayat-
ayat baru turun tersebut pada lembaran yang sudah dibawa masing-masing oleh
mereka kehadapan Rasullullah atau menerima catatan dari Zaid bin Thabit.
Kemudian mereka saling menghafalnya.

Jadi kompilasi Al Qur’an tesebut sudah tersusun pada saat Rasullullah masih
hidup baik dari urutan ayat-ayatnya, maupun urutan surat-suratnya begitu juga
dengan nama dari surat yang diturunkan. Beberapa hadist dan alasan yang
menceritakan bahwa kompilasi al Qur’an sudah jadi pada saat Rasullah masih
hidup antara lain adalah ;

1. ’Uthman bin AM al-‘As melaporkan bahwa saat sedang duduk bersama


Nabi Muhammad ketika beliau memalingkan padangan pada satu titik dan
kemudian berkata, "Malaikat Jibril menemuiku dan meminta agar
menempatkan ayat dibawah ini pada ayat 22 pada bagian surah tertentu.

2. AI-Kalbi melaporkan dari Abu Sufyan tentang Ibn ‘Abbas tentang ayat
dibawah ini,

Ia menjelaskan, "Ini adalah ayat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi


Muhammad. Malaikat Jibril turun dan minta meletakannya setelah ayat ke
dua ratus delapan puluh dalam Surah al-Baqarah."

3. Ubbay bin Ka'b menjelaskan, "Kadang-kadang permulaan surah itu


diwahyukan pada Nabi Muhammad, kemudian saya menuliskannya, dan
wahyu yang lain turun pada beliau lalu berkata, "Ubbay! Tulislah ini dalam
surah yang menyebut ini dan itu.' Dalam kesempatan lain wahyu
diturunkan pada beliau dan saya menunggu perintah yang hendak diberi-
kan sehingga beliau memberi tahu tempat yang sesuai dari suatu ayat.

4. Zaid bin Thabit memberi penjelasan, "Sewaktu kami bersama Nabi


Muhammad mengumpulkan Al-Qur'an kertas kulit beliau berkata,
"Mudah-mudahan Sham mendapat berkah" Kemudian beliau ditanya,
'Mengapa demikian wahai Nabi Allah?' Beliau menjawab, 'Karena para
Malaikat yang Maha Rahman telah melebarkan sayap mereka
kepadanya." Dalam hadith ini kita catat Nabi Muharnmad selalu
melakukan pengawasan dalam pengumpulan dan susunan ayat-ayat
Qur'an

5. Nabi Muhammad memberi komentar kepada ‘Umar, "Akhir ayat-ayat dari


Surah an-Nisa' akan dianggap cukup buatmu (dalam menyelesaikan
masalah warisan). " (hadis sahih Muslim)

6. Abu Mas'ud al-Badri memberi laporan bahwa Nabi Muhammad bersabda,


'Ayat terakhir dari Surah al-Baqarah dapat mencukupi bagi siapa saja yang
membaca di waktu malam."(hadis sahih Al-Bukhari

7. Ketika menjadi Imam diwaktu shalat, Rasullullah sering membacakan satu


surat sampai habis, bahkan sering juga membacakan 2 surat yang
berurutan dalam satu kali shalat. Hal ini menunjukkan bahwa surat dan
ayat-ayat Al Qur’an tersebut sudah terkompilasi sebelumnya dan diajarkan
kepada seluruh sahabat yang menjadi makmum di dalam shalat berjamaah
tersebut.

8. Menurut `Uthman bin Abi al-'As, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad
memberi perintah akan penempatan ayat tertentu

9. Zaid bin Thabit menegaskan, "Kami akan kumpulkan Al-Qur'an di depan


Nabi Muhammad."

10. Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya dan berkata, "Letakkan


ayat-ayat tersebut ke dalam surah seperti yang beliau sebut.

11. Ibn ‘Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad berjumpa dengan


Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir
bulan, masing-masing membaca Al-Qur'an silih berganti.

12. Nabi Muhammad, Zaid bin Thabit, dan Ubayy bin Ka'b membaca
secara bergiliran setelah sesi terakhir dengan Malaikat Jibril. Nabi
Muhammad juga membaca di depan Ubbay dua kali dalam tahun
kematiannya.
13. Malaikat Jibril memberikan arahan tentang penempatan ayat-ayat di
dalam Al Qur’an kepada Rasullullah. Hal ini menunjukan bahwa kompilasi
susunan ayat-ayat Al Qur’an tersebut berasal dari Allah yang disampaikan
oleh Malaikat Jibril.

14. Rasulullah SAW melarang membawa tulisan Al Quran ke wilayah musuh.


Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah kalian membawa catatan Al Quran
ke wilayah musuh, karena aku merasa tidak aman (khawatir) apabila
catatan Al Quran tersebut jatuh ke tangan mereka “. Hal ini menunjukkan
bahwa orang-orang selain Islam tidak mengetahui tentang penulisan ayat-
ayat Al Qur’an yang disampaikan oleh Rasullullah kepada para sahabat.

Memang diakui bahwa secara umum, susunan ayat-ayat dan surat-surat di


dalam Al-Qur'an memiliki keunikan tersendiri, dimana susunannya tidak
berurutan baik sebagai sebuah topik bahasan maupun dari urutan cerita dan
urutan waktu. Tidak seorangpun yang mempu menjelaskan keunikan susunan
ayat-ayat Al Qur’an ini, “ rahasianya hanya pada Allah Yang Mahatahu “, karena
Dia sebagai pemilik kitab tersebut. justru ketidak teraturan itulah yang membuat
AL Qur’an membentuk bangunan yang sangat kokoh dan tidak tergoyahkan.
Antara satu ayat terkait dengan ayat yang lainnya, sehingga membentuk mata
rantai yang tidak putus-putusnya. Apabila seseorang melakukan editing untuk
menyusun kembali , baik dari susunan kata-katanya maupun penempatannya,
hasil akhirnya adalah sebuah karya lain yang akan berubah arti dan maknanya.
Dimana susunan tersebut , secara keseluruhan akan mengubah semua isinya.
Jadi benarlah dengan apa yang tercantum di dalam sebuah ayat yang terdapat di
dalam Al Qur’an yang berbunyi ;

“ Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan


(membuatmu pandai) membacanya 17. Apabila Kami telah selesai membacakannya
maka ikutilah bacaannya itu 18. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah
penjelasannya. (QS 75:17-19)”
Hanya nabi Muhammad yang diberi hak istimewa untuk menerima dan
menyampaikan ketetapan Allah dari ayat-ayatNYA tersebut. Tidak ada hak
seseorangpun atau suatu kaum pun untuk mengedit dan merubah ayat-ayat
tersebut. Sebagaimana yang diabadikan di dalam surat An Nahl ayat 44 yang
berbunyi ;

“ Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada


umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan,(Qs 16:44)”.

Para sahabat nabi menghafal ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan arahan dan
tuntunan Rasullullah seperti ; membacanya secara berurutan mulai dari awal
bulan Ramadhan sampai berakhirnya bulan Ramadhan. Yang pada gilirannnya ,
sahabat-ahabat Rasullullah membagi seluruh ayat-ayat Al Qur’an itu menjadi 30
Juzz agar terurut membacanya dari awal sampai akhir Ramadhan. Disamping itu,
mereka juga terus membaca ayat-ayat tersebut setiap dalam shalat, membacanya
lalu menghafalnya pada waktu menjelang sahalat subuh atau lohor. Sehingga
seluruh umat Nabi yang taat melaksanakan Shalat tersebut benar-benar
menghafal dan mengerti setiap kata-kata dan susunan ayat-ayat tersebut
termasuk bagaimana cara membacanya yang benar. Bahkan diantara sahabat
dapat mendendangkannya dengan irama dan alunan suara yang sangat merdu
dan indah seperti yang dilakukan oleh Bilal, seorang bekas budak yang sangat
merdu suaranya.

Hafalan ayat-ayat al Qur’an tersebut sama kuatnya dan otentik dengan


catatan yang telah mereka buat dan bahkan kemampuan hafalan mereka
merupakan duplikat dari keabsahan tulisan Al Qur’an. Demikianlah cara Allah
menjamin kemurnian untuk menjaga ayat-ayatNYA sebagaimana yang diabadikan
di dalam surat Al Hajr ayat 9 yang berbunyi ;
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya.” ( Qs Al Haje 15:9)”.

Sepeninggal Rasulullah SAW, lembaran ayat-ayat yang sudah terkumpul


tersebut , selanjutnya disimpan oleh istrinya “Aisyah”. Dua tahun setelah
Rasullullah wafat, Khalifah Abu Bakar memerintahkan untuk mengumpulkan
seluruh manuskrip catatan ayat ayat al qur’an untuk disatukan dalam satu bundle
yang disebut dengan mushaf.
Ide pengumpulan ayat-ayat al Qur’an berasal dari Umar bin Khatab setelah
setahun Abu Bakar menjadi khalifah bertepatan dengan berakhirnya perang di
Yamamah. Umar bin Khatab merasa kuatir apabila para penghafal al qur’an
bertambah banyak yang gugur di dalam perjuangan nanti, sehingga akan
terlambat membukukan ayat-ayat tersebut di dalam satu buku. Lalu Umar bin
Khatab mengusulkan ide tersebut kepada Abu Bakar. Usulan dari Umar bin
Khatab tersebut tidak langsung diterima oleh Abu Bakar karena beliau merasa
kwuatir sekiranya dia melakukan sesuatu perbuatan yang tidak diperintahkan
oleh Rasullullah. Dan lagi kekuatiran Umar tersebut terlalu berlebihan , karena
semua sahabat dan Abu Bakar sendiri berkeyakinan bahwa kedepan Islam akan
lebih maju dan penghafal Al Qur’an akan bertambah banyak. Namun setelah
memikirkan semua kebaikan dan maksud mulia dari rencana Umar bin khatab
tersebut, maka Abu Bakar menudukung maksud baik dari Umar bin Khatab.
Kemudian mereka memanggil orang pertama yang paling dekat dan sangat
dipercaya oleh Rasullullah yaitu Zaid bin Thabit. Mereka percaya sekali atas
kemampuan Zaid bin Thabit untuk melaksanakan tugas mulai tersebut. Umar bin
Khatab berkata kepada Zaid bin Thabit ;

“ Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan
hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah s. a. w., maka
sekarang periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf ”.
Kemudian Zaid bin Thabit menjawab ; “Demi Allah, andaikata kalian memerintahkan
aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat bagiku dari pada
memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al Quran “.
Jawaban Zaid bin Thabit ini mencerminkan bahwa dia merasa mendapat
tanggungjawab yang sangat berat untuk menunaikan tugas mulai itu, sehingga dia
siap mencurahkan seluruh kemampuan dan kejujurannya untuk menyelesaikan
pekerjaan besar tersebut. Namun Zaid bin Thabit tidak bekerja sendirian karena
seluruh sahabat-sahabat Rasullullah , para penghafal Al Qur’an, sudah siap
membantu pekerjaan Zaid bin Thabit, begitu juga dengan dorongan dan bantuan
dari pemerintahan khalifah Abu Bakar. Jadi Zaid bib Thabit tidak mengalami
kesulitan yang berarti dalam melaksanakan tugas itu, kerena dia juga pernah
melakukan hal yang sama semasa Rasullullah masih hidup.
Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Thabit untuk mengumpulkan
catatan-catatan ayat al qur’an yang masih ada di tangan para sahabat yang
pernah mencatatnya dari Rasullullah kemudian mencocokannya dengan catatan
Al Qur’an yang tesimpan di tempat Aisyah.
Setelah seluruh catatan-catatan ayat-ayat al qur’an yang diterima langsung
oleh para sahabat melalui Rasullullah terkumpulkan sebagai bukti tertulis,
didukung pula oleh hafalan-hafalan yang kuat dan jelas dari beberapa penghafal
Al Qur’an, kemudian mencocokkannya dengan catatan di tempat Aisyah, maka
terkumpulah satu bundle buku catatan yang utuh menurut urutan atau susunan
yang sudah pernah diajarkan oleh Rasullullah. Kumpulan naskah tersebut
kemudian diperiksa kembali oleh panitia yang dibentuk oleh Abu Bakar yaitu dari
tim yang terdiri dari para sahabat nabi penghafal al qur’an, termasuk dirinya dan
Umar bin Khatab. Setelah rangkuman Mushaf ini dianggap rampung dan utuh di
dalam satu bundel , kemudian dilakukan penulisan ulang yang diketuai oleh Zaid
bin Thabit . Mushaf ini disimpan di rumah istri nabi yang lain yaitu “Hafsa”. Hafsa
juga anak dari Umar bin Khatab

Pada zaman khalifah kedua yaitu Umar bin Khatab, beliau mengutus
beberapa penghafal al qur’an ke berbagai negeri dan berbagai bangsa diluar
semenanjung Arab yang sudah takluk dibawa kepemimpinannya untuk
memberikan pendidikan tentang bacaan al qur’an kepada orang-orang yang
sudah masuk islam. Beliau mengutus lebih kurang sepuluh sahabat ke Basra guna
mengajarkan Al-Qur'an dan mengutus Ibn Mas'ud ke Kufa. Namun ketika ‘Umar
mendengar adanya orang lain di Kufa yang mendiktekan penulisan Al-Qur'an
pada masyarakat melalui hafalan, ‘Umar naik pitam seperti kegilaan. Kemudian
dia menemui orang itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ibnu Mas’ud
sendiri, maka senanglah hati beliau karena dia yakin akan kemampuan Ibnu
Mas’ud untuk mentranfer bacaan al qur’an tersebut dan redalah emosinya.

Kemudian Umar bin Khatab mengutus juga beberapa orang sabahat lainnya
yang hafal Al Qur’an seperti Mu'adh, ‘Ubada, dan Abu Darda , masing-masing ke
daerah Hams. Damaskus dan Palestina. Dari mereka inilah berhasil didirikan
sebuah perguruan tentang pendidikan bacaan al qur’an yang berhasil dengan
jumlah murid melebhi dari 2500 orang siswa di luar senanjung arab. Dimana
ketiga utusan tersebut membentuk sistim pendidikan berkelompok dan
bertingkat, masing-masing kelompok dan tingkatan terdiri dari 10 orang,
kemudian dari kelompok ini akan membentuk kelompok-kelompok baru untuk
menyebarkan pengetahuannya sebagai metode dakwah tentang ajaran dan
hafalan ayat-ayat al qur’an, sehingga ajaran Rasullullah cepat sekali menyebar dan
banyak orang-orang yang masuk agama Islam. Bagi mereka yang telah lulus
tingkat dasar, dapat mengikuti bimbingan langsung dari beliau ini, agar murid
yang lebih tinggi tingkatnya merasa lebih terhormat belajar bersama Abu ad-
Darda' dan berfungsi sebagai guru tingkat menengah. Metode yang sama
dipraktikkan di tempat lain, Abu Raja' al-Ataradi menyatakan bahwa Abu Musa al-
Ash'ari membagikan murid-murid ke beberapa kelompok di dalam Masjid Basra,
dalam bimbingannya yang hampir mencapai 300 orang.

Di kota Makkah sendiri, `Umar mengangkat Yazid bin ‘Abdullah bin Qusait
untuk mengajar AI-Qur'an di kalangan orang Badui, dan melantik Abu Sufyan
sebagai pengawas untuk suku mereka , agar mengetahui sejauh mana
kemampuan belajar mereka. Khalifah Umar bin Khatab juga menunjuk tiga
sahabat yang lainnya di Madinah untuk mengajar anak-anak dengan setiap
orangnya digaji lima belas dirham per bulan, dan setiap murid (termasuk orang
dewasa) disarankan untuk menghafal sekurang-kurangnya lima ayat-ayat Al
Qur’an yang mudah.

Setelah Umar bin Khatab sakit-sakitan akibat ditikam oleh seorang hamba
sahaya beragama kristen yang berkhianat yang bernama “Abu Lu'lua”, beliau
tidak menunjuk seorang pengganti tetapi menyerahkan kepada sistim demokrasi
dan atas pilihan rakyat. Sementara beliau mengamanahkan mushaf Al Qur’an
kepada anaknya yang juga mantan istri Nabi Muhammada SAW yaitu “Hafsa”.

Pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, daerah kekuasaan Islam sudah
sangat luas hingga mencapai Armenia dan Azerbaijan, sebagian mesir, istambul
dan lain-lain. Hal ini menyebabkan pendidikan dalam tata cara pembacaan teks-
teks al qur’an akan mengalami perbedaan sesuai dengan dialek yang mereka
miliki, walaupun makna dan arti ayat-ayat al qur’an itu sendiri tidak akan
mengalami perubahan. Namun perbedaan dalam bacaan menurut lidah masing-
masing umat akan berdampak terhadap keseragaman konsonan bacaan itu
sendiri. Sehingga Uthman bi affan merasa prihatin sekali atas terjadinya
perbedaan bacaan yang disebabkan oleh perbedaan dialek dari masing-masing
bangsa.

Adanya perbedaan dalam bacaan Al-Qur'an sebenarnya sudah terjadi pada


pemerintahan Umar bin Khatab, sehingga Umar melakukan antisipasi dengan
mengirim beberapa orang penghafal Al Qur’an keberbagai daerah untuk
mengajarkan secara langsung. Seperti ; Ibnu Mas’ud yang dikirim ke Irak, namun
orang-orang Irak mengucapkannya dengan dialek mereka, sehingga Umar
memerintahkan Ibnu Mas’ud agar mengajarkan ayat-ayat Al Qur’an dengan
dialek Qurisy, sebagaimana bunyi perintah Umar ;

Pada tahun 25 H , Hudhaifa bin al-Yaman mengingatkan khalifah 'Uthman


untuk menyelesaikan masalah perbedaan dialek bacaan al Qur’an tersebut.
Selanjutnya khalifah Uthman mengumpulkan umat Islam lalu menerangkan
tentang adanya perbedaan dalam dialek membaca AI-Qur'an sekaligus meminta
pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek. Dalam pidatonya
Uthman menyatakan bahwa ;
“Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu
Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan
perselisihan" dan kami menyatakan "sebagai usulan yang sangat baik)." (sebagaimana
diceritakan oleh 'Ali bin Abi Talib)”.

Waktu itu telah disepakati tentang bacaan Al Qur’an tersebut dengan


menggunakan dialek Quraisy. Selanjutnya khalifah Uthman membentuk
kepanitiaan yang terdiri dari 12 orang untuk menyusun kembali mushaf Al Qur’an
sesuai dengan dialek bacaan orang Quraisy. Lagi-lagi Zaid bin Thabit yang masih
hidup, dilibatkan untuk menyusun AL Qur’an tanpa merubah arti dan makna
ayat-ayat suci Al Qur’an tersebut. Beberapa orang yang ditunjuk oleh khalifah
Uthman untuk menyusun mushaf Al Qur’an tersebut antara lain adalah ; (1) Zaid
bin Thabit , (2) Nafi' bin Zubair bin `Amr bin Naufal (3), Sa'id bin al-'As bin Sa'id bin
al-'As (4) Ubayy bin Ka'b, (5) 'Abdullah bin az-Zubair, (6) 'Abrur-Rahman bin
Hisham, dan (7) Kathir bin Aflah, (8) Anas bin Malik, (9) ' Abdullah bin 'Abbas, (10)
Malik bin Abi 'Amir, (11) 'Abdullah bin `Umar, dan (12) `Abdullah bin 'Amr bin al-
'As.
Selanjutnya Khalifah Uthman meminjam mushaf AL Qur’an terdahulu yang
disimpan oleh anak Umar bin Khatab sekaligus mantan istri Rasullulah yaitu “
Hafsa”, sebagai rujukan untuk menyiapkan Mushaf yang akan dipersiapkan oleh
panitia 12.
Setelah seluruh tugas panitia 12 ini rampung, hasil mushaf tersebut
dibacakan bersama-sama di depan khalifah Uthman dan sekaligus
membandingkannya dengan mushaf yang dipinjam dari “Hafsa”. Dari Mushaf
yang sudah rampung ini, dibuatlah sejumlah duplikat untuk dikirimkan
kebeberapa Negara taklukan Islam lainnya. Dalam satu laporan, disampaikan
bahwa sudah disiapkan 4 mushaf yang ditempatkan di Kufah, Basra, Suriah dan di
Madinah. Tetapi kemudian bertambah beberapa duplikat lagi yang ditempatkan
di Mekah, Yaman , Bahrain , AlJazirah dan Mesir. Jadi ada sekitar 9 duplikat
Mushaf sudah dibuat . Uthman sendiri menyimpannya sendiri yaitu mushaf yang
terdapat di Madinah. Kemudian Khaliafah Uthman bin Affan memerintahkan
untuk mengumpulkan dan memusnahkan fragmentasi ayat-ayat al Qur’an yang
disimpan oleh seluruh kaum muslimin serta para sahabat agar menggunakan satu
mushaf yang sudah dirampungkan oleh tim 12 tersebut, sehingga tidak ada lagi
perbedaan dan tidak ada lagi cara penulisan serta bentuk dialek yang berbeda.
Dengan berakhirnya tugas ini dan telah dikirimnya duplikat naskah mushaf Al
Qur’an ke berbagai daerah, maka dirasa tidak diperlukan lagi adanya fragmen-
fragmen tulisan Al-Qur'an tersebar di tangan umat muslim. Oleh karena itu,
semua pecahan tulisan (fragmentai) Al-Qur'an telah dibakar.
Mus'ab bin Sa'd menyatakan bahwa masyarakat dapat menerima keputusan
'Uthman; setidaknya tak terdengar kata-kata keberatan. Dalam suatu informasi,
Ali bin Abi Talib mengatakan :

“Demi Allah, dia (Uthman) tidak melakukan apa-apa dengan pecahan-pecahan


(Mushaf) kecuali dengan persetujuan kami semua (tidak ada seorang pun di antara
kami yang membantah)”.

Naskah Mushaf `Uthmani yang pertama hanya mengandung huruf-huruf


konsonan (karakter), tidak ada huruf vokal (baris) dan titik, seperti pada gambar
berikut ;

Tentu saja para sahabat penghafal Al Qur’an sanggup membaca tulisan ayat-
ayat gundul tersebut sesuai dengan dialek Quraisy. Dalam hal ini Uthman
mengirim para ahli Al Qur’an berdialek Quraisy untuk mengajar bacaan Al Qur’an
ke berbagai Negara islam lainnya.
Selanjutnya, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan cara penulisan
bahasa arab, beberapa tahun kemudian mushaf Uthman ini mengalami
penyempurnaan dengan bantuan berbagai teknik tanda baca , sehingga semua
orang dari berbagai bangsa dapat dengan mudah membaca dengan benar ayat-
ayat al Qur’an tersebut. Adapun alat bantu bacaan untuk menyempurnakan seni
baca dan memudahkan bacaan Ayat-ayat al qur’an antara lain adalah ; tanda titik
untuk pemisah ayat, tanda baca untuk memisahkan surat, tanda baris untuk
membaca huruf konsonan dan huruf mati, dan banyak lagi tanda baca seperti
pada al qur’an yang kita temukan pada zaman sekang ini. Jadi Al Qur’an yang ada
sekarang ini merupakan hasil dari penyempurnaan dari Mushaf Uthman yang
makin lama makin mudah dan indah untuk dibaca dan dipelajari oleh siapa saja
yang ingin mencari kebanaran dari ayat-ayat Allah SAW tersebut.

Keadaan ini semakin membahayakan karena timbulnya pertikaian-pertikaian


diantara mereka sendiri justru pada waktu mereka berada dalam pertempuran
menghadapi musuh-musuh Islam. Keadaan ini disadari oleh Khalifah Utsman bin
Affan (tahun 644-656 Masehi) sehingga dibentuk lagi suatu panitia yg terdiri dari
Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dan anggota lainnya adalah Abdullah bin Zubair,
Za'id bin Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hasyam. Tugas panitia ini adalah
menghimpun dan membukukan ayat-ayat Al Qur'an yg tersebar di mana-mana.

Pada paragraph ini , misionaris ini menggambarkan suasana pertikaian umat


yang sudah sangat meruncing dalam hal menyingkapi perbedaan ayat-ayat Al
Qur’an, sehingga dia memberitakan suasana yang gawat dan berbahya dari
keabsahan ayat-ayat al Qur’an. Sebuah suasana yang sangat memprihatinkan
dimana barbagai pertempuran masih berkecamuk di masa khalifah Uthman itu.
Sehingga misonaris ini menduga bahwa Uthman berniat hendak merevisi kembali
ayat-ayat al qur’an untuk meredakan perpecahan yang terjadi di dalam kalangan
umat islam. Misonaris berbulu domba ini menyampaikan opininya, bahwa
Uthman melakukan pengumpulan kembali ayat-ayat al qur’an yang sudah robek-
robek dan berserakan dimana-mana, sehingga tidak jelas lagi yang mana yang asli
dan yang mana lagi yang palsu. Misionaris ini sudah mulai memasukan racun urat
syaraf kedalam pemikiran orang-orang islam agar meragukan tentang keaslian
ayat-ayat al qur’an yang sudah beberapa kali diubah-ubah terutama oleh
kehendak Uthman bin Affan ini.

Padahal tidak ada pengumpulan kembali dan menyatukan ayat-ayat al qur’an


yang dia kira sudah bercerai berai itu. Yang ada hanyalah menyempurnakan
pembacaan al qur’an di dalam satu macam bahasa asli al Qur’an di dalam satu
mushaf yang telah distandarkan menurut mushaf yang sudah dirangkum oleh
khalifah sebelumnya “ Abu Bakar Sidiq”, kemudian memusnahkan seluruh tulisan
ayat-ayat yang disimpan oleh kaum muslimin lainnya yang tidak cocok dengan
rangkuman yang sudah disiapkan oleh panitia 12 sebagaimana yang sudah
dijelaskan pada paragraph sebelumnya.

Di dalam pelaksanaan tugas panitia ini, Khalifah Utsman bin Affan


menasehatkan agar mengambil pedoman pada kaum Quraisy. Mereka dikerjakan
oleh panitia sebagaimana yg ditugaskan kepada mereka dan setelah tugas itu
selesai maka Al Qur'an yg telah dibukukan itu dinamai dengan Al Mushhaf yg oleh
panitia dituliskan sebanyak lima buah "Al Mushhaf", empat buah diantaranya
dikirim ke Mekkah, Syria, Bsrah dan Kufah agar di tempat itu disalin pula dari
masing-masing Mushhaf itu, dan satu buah ditinggalkan di Madinah untuk
Utsman bin Affan dan itulah yg dinamakan Mushhaf Al Iman.

Dari Mushhaf yg ditulis dari Utsman bin Affan inilah kaum muslimin di
seluruh pelosok menyalin Al Qur'an ini. Demikianlah adanya setelah lebih dari
lima belas tahun wafatnya Muhammad SAW barulah dapat diwujudkan kitab Al
Qur'an yg menjadi pedoman bagi kaum muslimin sehingga tidak akan ada lagi
timbul pertentangan-pertentangan dalam susunan ayat-ayatnya dan ejaannya.

Kembali misionaris berbulu domba ini membius otak kaum muslim , sehingga
akan mempercayai bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah hasil dari
pengumpulan ayat-ayat yang dilakukan oleh kolompok Uthman setelah 15 tahun
wafatnya Nabi Muhammad SAW. Sehingga akan timbul sebuah opini bahwa ayat-
ayat al qur’an yang ada sekarang ini sangat diragukan keasliannya sebagaimana
ayat-ayat yang ada di dalam kitab suci Bible yang menjadi pegangan umat
Kristen. Misionaris munafik ini mencoba meracuni pemikiran umat islam dengan
menyampaikan berita bahwa pengumpulan ayat-ayat al qur’an tersebut
berpedoman kepada pemikiran dan pemahaman orang-orang quraisy semata,
sehingga khalifah Uthman bin Affan mengerjakan orang-orang quraisy ini sebagai
kaum orang bodoh-bodoh dan terkebelakang untuk merevisi dan membuat ulang
mushaf baru yang diatur dan diarahkan oleh tim 12 yang dibentuk oleh Uthman.
Kemudian pembagian-pembagian Al Qur'an disempurnakan lagi dan pada
tahun 1337 Hijrah, atas dasar pembagian yg disempurnakan tersebut Al Qur'an
dicetak oleh percetakan Amiriyah milik pemerintah Mesir di bawah pengawasan
para guru besar Al Azhar. Sejak tahun tsb Al Qur'an tidak diubah-ubah lagi yaitu Al
Qur'an terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat. Untuk selanjutnya maka Al Qur'an ini
merupakan pegangan bagi kehidupan pemilik agama Islam.

Pada paragraph diatas, misionaris ini menyampaikan opininya tentang


ayat-ayat yang ada di dalam al qur’an , telah mengalami pengeditan dengan cara
membagi-bagi dan mengelompokkan sesuai dengan nama surat di dalam al
qur’an yang ada sekarang ini. Dimana proses pengeditan ini terus berlanjut hingga
sempurna sampai akhir tahun 1337 H. Setelah al qur’an ini dianggap sempurna,
kemudian dicetak dipercetakan Amiriyah milik pemerintah Mesir. Misonaris ini
licik sekali menggiring jalan pikiran orang-orang muslim awam yang belum
mengetahui sejarah penulisan al qur’an sehingga dia akan menghalau orang-
orang islam awam yang menjadi targetnya, kedalam sebuah parangkap
kebodohan lalu menjebloskan mereka kedalam kekafiran. Selanjutnya orang-
orang ini akan dicuci otaknya untuk menerima ajaran trinitas yang mereka agung-
agungkan. Kita akan terus mengikut jalan pikiran misonaris licik ini pada
pemaparannya berikut ini.

I.1 ARTI KATA QUR’AN

Qur’an berarti ‘bacaan’, berasal dari kata Arab ‘Qaraa’. Kata ‘Qaraa’ ini kemudian
berkembang menjadi Qur’an dan dipakai untuk ‘Al Qur’an’ yg dikenal sekarang.

Misionaris ini mulai mengarahkan jalan pikiran umat muslim bahwa nama Al
Qur’an tersebut merupakan sebuah nama yang diciptakan oleh manusia yang
tentu saja akan berujung kepada hasil ciptaan atau karangan manusia. Artinya
misionaris ini akan membawa pikiran orang muslim bahwa Al Qur’an tersebut
adalah karangan Muhammad, karangan Usthman dan hasil karya sahabat-sahabat
rasullullah lainnya. Bagi orang-orang yang tidak mengerti tentang asal-usul nama
kitab suci umat Islam “ Al Qur’an”, maka tentu saja informasi yang disampaikan
oleh misonaris ini dapat diterima begitu saja , walaupun tidak berpengaruh pada
keimanan seorang penganut agama islam. Tetapi bagi orang-orang yang mengerti
tentang sejarah penulisan Al Quran mulai dari diturunkannya Wahyu kepada
Rasullullah sampai dicetaknya kumpulan ayat-ayat di dalam wahyu itu oleh
penerus risalah Rasullullah ( Abu Bakar, Umar lalu Uthman ), maka informasi yang
disampaikan oleh misonaris hanya merupakan strategi dia untuk melakukan
penyesatan.

Kata “ Qur’an ” bukan berasal dari sebuah kata atau akar kata yang berkembang
dari proses pertumbuhan bahasa bangsa arab dan tidak pula berasal dari bahasa
bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Sesungguhnya kata “ Qur’an ” disebutkan
langsung dari Allah melalui Wahyu yang disampaikan oleh Malaikat jibril kepada
nabi besar Muhammad yang diabadikan di dalam kitab suci Al Qur’an. Tidak
pernah ada sebuah kitab ataupun bacaan yang diberi nama dengan “ Qur’an “
sebelumnya oleh bangsa arab maupun bangsa lainnya diluar semenanjung arab,
bahkan kitab-kitab agama dari keturunan Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad
pun belum pernah dianugrahkan oleh Allah SWT dengan nama “ Qur’an “. Nama
Al Qur’an hanya ada di dalam kitab suci yag disampaikan oleh Muhammad dan
merupakan kitab wahyu dari Allah SWT. Al Qur’an bukanlah penamaan sebuah
kitab yang berasal dari perubahan kata Qara’a ( kata kerja yang berarti membaca)
kemudian berubah menjadi kata Qur’an. Lebih dari 50 ayat di dalam Al Qur’an
tertulis kata Qur’an dalam konteks firman Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kata
Qur’an merupakan penamaan yang tertulis dan langsung disampaikan oleh Allah
SWT melalui malaikat Jibril kepada rasullullah.

Untuk pembuktiannya, kita dapat melihat beberapa ayat tentang kata


yang ada di dalam kitab suci umat islam ;
‫أ‬
“ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia
( Surat 2. AL BAQARAH - Ayat 185)”

“ Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an?


( Surat 4. AN NISAA' - Ayat 82)”.

“..dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu sedang diturunkan, “


( Surat 5. AL MAA-IDAH - Ayat 101)

“ Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik,( Surat 7. AL


A'RAAF - Ayat 204)”.

“ ..(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan
Al Qur'an.. (Surat 9. AT TAUBAH - Ayat 111)”.
‫ال‬
“ Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang
yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah
Al Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia"(Surat 10. YUNUS - Ayat 15).

“..Tidaklah mungkin Al Qur'an ini dibuat oleh selain Allah (Surat 10. YUNUS - Ayat
37)..:”

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan bahwa Al Qura’n itu adalah
sebuah nama kitab yang diberikan oleh Allah dalam konteks firmannya.

Pengertian Al Qur’an adalah Kalam Allah SWT yg merupakan kumpulan dari


seluruh wahyu yg diterima oleh Muhammad SAW.

Entah bagaimana, misonaris ini mampu membuat suatu kesimpulan yang


bagus pada paragraph diatas. Kata “ kalam ” berarti kalimat atau perkataan.

Jadi Kalam Allah, berarti kalimat atau perkataan dari Allah, sehingga Al
Qur’an merupakan kumpulan perkataan atau Wahyu yang disampaikan oleh Allah
melalui malaikat JIbril kepada Muhammad. Dalam hal ini misionaris ini sudah
mampu menggunakan jalan pikiran dan hatinuraninya ke jalan yang benar.

I.2 MAKSUD DARI AL QUR’AN

Pada waktu Muhammad dilahirkan di Mekkah pada 20 April 571 Masehi, atau 12
Rabiulawal tahun Gajah, maka sebagian besar bangsa Arab masih menyembah
patung-patung dan batu-batu berhala dan menyembelih hewan-hewan korban
dihadapan patung-patung itu untuk dimuliakannya. Mereka pada umumnya
tenggelam dalam kemusyrikan dan dalam kehidupan yg terpecah-belah serta
saling bermusuhan.

Secara geografis , lokasi peradaban bangsa quraisy ketika itu dapat disebut
sebagai bangsa yang masih terisolir dari kebesaran kerajaan bangsa Syria
disebelah Timur dan bangsa Romawi di sebalah Barat, yang pada kala itu saling
berebut pengaruh untuk mengusai daerah jajahan mereka. Kekuatan Barat yang
didominasi oleh umat nasrani berhadapan dengan kekuatan Timur yang dikuasai
oleh bangsa Majusi . Pemuka agama dari kedua kekuatan itu saling berebut untuk
menyebarkan ajaran mereka masing masing disamping hasrat untuk ekpansi dan
penjajahan.
Namun daerah pendudukan kaum quraisy yang terletak menjorok jauh ke daerah
padang pasir yang luas, gersang dan hanya ditumbuhi oleh sedikit pohon korma
diantara kolam-kolam kecil Oasis, menyebabkan daerah Mekah dan sekitarnya
hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan dari para pedagang yang membawa
barang bawaannya dari daerah Timur (Syam, Yaman atau India) ke daerah Barat (
Yarusalem dan Mesir).
Daerah kaum quraisy di Mekah dan sekitarnya ini tidak sampai terjamah oleh
perperangan dan penyebaran agama-agama Nasrani dan Majusi, kecuali hanya
sebagian kecil saja pada beberapa Kabillah. Seperti di tempat peribadatan Ka’bah
yang dijadikan sebagai tempat pertemuan, persinggahan dan ritual pemujaan dari
kafilah yang mampir untuk berdo’a meminta keselamatan dalam perjalanannya.
Akan tetapi bukan rintangan itu saja yang telah melindungi bangsa quraisy dari
serangan dan penyerbuan penjajahan dan penyebaran agama, melainkan juga
karena jaraknya yang berjauh-jauhan antara satu tempat persinggahan (Oasis) ke
tempat persinggahan berikutnya. Sehingga kedua kekuatan besar tersebut
merasa enggan untuk menduduki daerah yang secara ekonomis tidak
menguntungkan ini. Bahkan dalam daerah yang cukup luas dan gersang itu,
sebuah sungaipun tak ada. Musim hujan yang akan dapat dijadikan pegangan
dalam mengatur sesuatu usaha juga tidak menentu. Kehidupan di padang pasir
yang luas itu, sama sekali tidak menarik kecuali bagi para pengembara atau para
kurir bagi expedisi zaman jahiliah. Meraka membawa barang dagangan dengan
mengendarai onta bagaikan sebuah kapal yang belayar ditengah padang pasir tak
berujung. Hanya orang-orang Badui dari bangsa Quraysi yang menetap di daerah
padang pasir itu yang dapat menguasai jalur-jalur rahasia jalan pintas sebagai
penunjuk jalan bagi kafilah yang melewati jalan-jalan berliku tersebut.
Lingkungan jazirah Arabia ini penuh dengan jalan kafilah yang berliku. Yang
terpenting di antaranya ada dua. Satu merupakan Jalan Timur yaitu jalur-jalur
yang dapat menembus daerah Teluk Persia, Sungai Dijal yang akhirnya bertemu
dengan padang pasir Syam dan Plestina, dan yang kedua adalah Jalur Barat yang
merupakan jalur-jalur yang menghubungkan jazirah arab dengan Laut Merah.
Melalui dua jalan inilah hasil Bumi dan barang-barang dagangan dari Barat
diangkut ke Timur atau sebaliknya. Dengan adanya jalur-jalur perjalanan ini, maka
orang-orang Badui dan kaum Quraisy memperoleh kehidupan dan
kemakmurannya.
Pada zaman itu para penguasa Barat dan Timur tidak mengenal dan tidak tertarik
untuk menguasai tanah semenanjung arab yang gersang itu, dibanding dengan
daerah tetangganya seperti Yaman yang lebih subur dengan musim hujan yang
teratur dan banyak pula sungai-sungai sehingga daerah Yaman merupakan pusat
peradapan yang jauh lebih maju , begitu juga dengan daerah lainnya di teluk
Persia seperti Palestina, Syria, dan Mesir.
Pada waktu negeri Yaman yang subur dan makmur itu, tersebutlah sebuah kisah
dari seorang yang bernama Phemion , pengikut ajaran nabi Isa As yang taat dan
beriman kepada Allah yang maha Esa. Penganut Kirsten seperti Phemion sudah
tidak adalagi pada zaman abad Millenium ini. Dia bermigrasi dari Romawi ke
Yaman. Sesampainya dia di Yaman, dia berhasil mendapatkan banyak pengikut.
Tetapi kemudian penguasa Yaman memaksa Phemion dan seluruh pengikutnya
untuk memeluk agama Yahudi. Namun Phemion dan pengikutnya menolaknya,
sehingga pihak penguasa Yaman menggali parit-parit dan terowongan kemudian
menghalau dan memenjarakan seluruh pengikut Phemion kedalam parit dan
terowongan itu. Setelah itu mereka semuanya dibakar hidup-hidup di dalamnya
sambil disaksikan oleh para penguasa setempat. Kejadian ini diabadikan oleh al
Qur’an pada surat Al Burruj ayat 4-8 ;
"Binasalah orang-orang yang telah membuat parit. Api yang penuh bahan bakar.
Ketika mereka duduk di tempat itu. Dan apa yang dilakukan orang-orang beriman itu
mereka menyaksikan. Mereka menyiksa orang-orang itu hanya karena mereka
beriman kepada Allah Yang Maha Mulia dan Terpuji." (Qur'an 85:4-8)

Namun salah seorang dari korban bakaran itu dapat meloloskan diri, kemudian
dia melarikan diri ke Romawi dan melaporkan kejadian itu kepada Kaisar Romawi
Yustinianus. Selanjutnya Kaisar mengirim surat kepada kerajaan Abisinia yang
dipimpin oleh Najasyi, dimana kerajaan ini merupakan Negara taklukan Romawi
yang sedang berada dipuncak kejayaan, untuk melakukan penyerangan ke Yaman.
Berangkatlah pasukan kerajaan Abasinia yang dipimpin oleh panglima Aryat
beserta prajurit tangguhnya yang bernama Abraha al-Asyram. Panglima Aryat
dapat menguasai Yaman dan memerintah disana, namun Aryat kemudian
dibunuh oleh prajurutnya sendiri “Abraha al-Asyram”. Abraha inilah yang
memimpin pasukan gajah, dan dia yang kemudian menyerbu Mekah dengan
tujuan menguasai dan menghacurkan bangunan Ka'bah tetapi gagal. Kematian
Abraha ini mengakibatkan kerajaan Yaman diteruskan oleh keturunannya yang
memerintah Yaman dengan tangan besi dan kekerasan

Disamping adanya penyembahan patung-patung berhala, ternyata banyak pula


bangsa Arab yg telah menjadi pemeluk agama Kristen atau condong ke arah
agama Kristen. Pemeluk agama Kristen bukan saja terdapat di tingkat lapisan
masyarakat bawah, tetapi juga terdapat di tingkat lapisan masyarakat menengah
maupun atas, seperti Waraqah bin Naufal yg satu keturunan dengan
Muhammad SAW.

Pada kalimat yang digaris bawahi diatas, misonaris tersebut membuat sebuah
opini bahwa Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib dari umat nasrani yang
juga merupakan keluarga dari Muhammad. Misionaris ini menyampaikan
bualannya dan melemparkan gosip yang mengada-ada. Sebenarnya Waraqah bin
Naufal adalah paman dari siti Khadijah, bukan keluarga dekat dari keturunan
nabi Muhammad. Sengaja misonaris berbulu domba ini menyodorkan nama
Waraqah bin Naufal, supaya di dalam pemikiran orang muslim tertanam sebuah
pertanyaan besar dan sebuah keragu-raguan bahwa seseorang yang beragama
Kristen sudah ada di lingkaran terdekat keluarga Nabi Muhammad, sehingga
seorang muslim awam akan berpikir bahwa Muhammad tentu telah tercemar
dengan pengaruh agama Kristen.

Selain daripada itu, adapula orang-orang Arab yg telah menjadi pemeluk agama
Yahudi yg sebagian besar tinggal di daerah Yastrib (Madinah) dengan kepala
sukunya yg bernama Ka’ab bin Asyraf.

Walaupun diantara bangsa Arab telah ada yg memeluk agama Kristen dan Yahudi,
yaitu agama yg tauhid yg percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tapi banyak
pula diantara mereka yg tetap melakukan penyembahan berhala pada patung-
patung karena terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Keadaan bangsa Arab
pada masa ini disebut sebagai zaman Jahiliyah.

Pada paragraph diatas , misionaris ini memberitakan bahwa agama kriten adalah
agama tauhid yaitu ajaran yang hanya percaya dan beriman kepada Allah yang
maha Esa sebagaimana dengan agama umat muslim. Sepertinya misionaris
berbulu domba ini ingin mengelabui orang-orang muslim awam agar percaya
kepada informasi penuh resiko itu. Mereka mengklaim bahwa agama Kristen
adalah agama Tauhid yang diredhai oleh Allah. Misionaris berbulu domba ini
sengaja tidak menyebutkan paham ajaran Trinitas yang menjadi sendi pokok
dalam aqidah mereka. Beginilah cara orang-orang nasrani mengajak orang-orang
muslim agar berpindah dari agamanya dengan memberitakan kabar-kabar
bohong dengan cara kepalsuan. Umat nasrani mengaku-ngaku menganut paham
monotheisme, namun dalam kenyataanya mereka adalah polyteisme, yang
merupakan konsep aqidah mereka yang dikenal dengan Trinitas atau Tritheis.

Untuk membawa bangsa Arab keluar dari zaman Jahiliyah inilah maka Nabi
Muhammad SAW terpanggil untuk memberi peringatan kepada orang-orang Arab
yg melakukan penyembahan-penyembahan berhala, kepada orang-orang Arab yg
sudah memeluk agama Tauhid (Kristen dan Yahudi) tetapi masih melakukan
penyembahan berhala pula.

Tentu saja target utama kerasulan nabi Muhammad adalah mencegah dan
menghilangkan kebodohan bangsa beliau sendiri yaitu kaum Quraisy dari ritual
penyembahan berhala-berhala. Untuk menyampaikan dakwahnya, beliau tidak
bersedia melakukan sikap kompromi dengan kaum quraisy yang menyembah
berhala , seperti ketika kaumnya mengajak beliau untuk sama-sama beribadah di
Ka’bah. Sedangkan terhadap penganut agama nasrani dan Yahudi , beliau
berdakwah dengan memberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menerangkan
tentang prinsip-prinsip keTuhanan dan aqidah. Hal ini berkaitan erat dengan
prinsip bahwa “ tidak ada paksaan dalam beragama”, sudah jelas mana jalan yang
benar dan mana jalan yang salah. Hanya Islam lah jalan kebenaran itu bagi
mereka yang ingin mencari agama yang benar. Begitulah prinsip agama Islam
yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW.

Tugas panggilan Nabi Muhammad ini tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

I.2.1 Muhammad SAW, seorang pemberi peringatan dan pembawa berita.

Surat 11 Huud ayat 12 (dikutip sebagian):

“ Sesungguhnya, engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan Allah


pemelihara segala sesuatu”.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 19 (dikutip sebagian):

“Sesungguhnya telah datang kepadamu, pembawa berita gembira dan pemberi


peringatan”.

Surat 7 Al Araaf ayat 63 :

“Dan apakah kamu merasa heran karena datang kepadamu peringatan dari
Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia
memberi peringatan kepadamu dan supaya kamu bertaqwa dan supaya kamu
mendapat rahmat.

Surat 7 Al A’raaf ayat 188 :

“ Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi
kaum yg beriman”.
Surat 35 Faathir ayat 23 :

“ Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan”

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya di dalam Al Qur’an yg menjelaskan hal ini
(antara lain Surat 10 Yunus ayat2, Surat 33 Al Ahzaab ayat 45, Surat 67 Al Mulk
ayat 26, dll ).

Dari argumentasi-argumentasi yang diajukan dengan ayat-ayat diatas, misionaris


ini ingin menyampaikan bahwa dakwah Nabi Muhammad hanyalah berupa
ceramah atau ajakan untuk berbuat kebaikan dan nasehat-nasehat rohani saja.
Tetapi apakah maksud dari misionaris tersebut menyampaikan dalil-dalil dari ayat
al qur’an diatas? Untuk itu marilah kita ikuti penjabaran dari misionaris berbulu
domba berikut ini ;

I.2.2 Tugas Muhammad SAW ialah menyampaikan risalah.

Surat 13 Ar Rad, du ayat 40 :

“ Dan jika Kami tunjukkan kepada engkau sebagian dari yang Kami janjikan kepada
mereka, atau Kami matikan engkau, maka hanya sesungguhnya kewajibanmu
menyampaikan, dan kewajiban Kami menghitungnya”.

Sepertinya ayat ini sudah diedit oleh misionaris berbulu domba ini. Untuk itu mari
ditampilkan lagi ayat tersebut ;

“ Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan
kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena
sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab
amalan mereka (QS Ar Rad’du 13:40)”.

Terlihat jelas bahwa Misionaris ini telah mengedit ayat diatas menjadi sebuah
kalimat yang bermakna melecehkan arti dan maksud ayat diatas. Tujuannya jelas
untuk merusak keagungan ayat tesebut menjadi kalimat yang diplintir untuk
tujuan kristenisasi. Memang begitulah metode dakwah umat kristiani dalam
berdakwah. Mereka melakukan segala cara. Tidak perlu benar atau salah, baik
atau buruk , terpuji atau secara hina. Mereka mehalalkan segala cara. Kenapa
misionaris Kristen melakukan penyebaran agamanya dengan cara kepalsuan
tersebut? Apakah kitab Bible nya mengajarkan cara-cara begitu? Tentu umat
kristiani lebih memahaminya.

Surat 42 Asy Syu’araa ayat 48 (dikutip sebagian):

“ Tidak ada kewajiban atas engkau melainkan menyampaikan (Risalah)”.

Dari kedua pokok penjelasan di atas, jelas bahwa Muhammad SAW terpanggil
untuk memberi peringatan kepada orang-orang Arab agar mereka tidak
menyembah berhala kecuali hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, karena
hanya Allah SWT yg harus disembah dan dianggap sebagai penolong dan
pelindung bagi orang-orang saleh sebagaimana tertulis di dalam kita Taurat dan
Injil yg telah dimiliki oleh sebagian orang-orang Arab yg memeluk agama Tauhid
(Kristen dan Yahudi) tetapi tidak bisa meninggalkan kebiasaan lamanya untuk
menyembah berhala. Hal ini tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an yg menjadi saksi

Pada awal kalimat diatas, misionaris ini menunjukkan kesopanannya dengan


menyampaikan bahwa dia mengutip sebagaian dari ayat 48 surat Asy Syu’araa.
Kalau begini tentu kita bisa memahami karena dia telah berterus terang dengan
perkataan sopan sehingga kita bersikap segan padanya. Tetapi kalau dia merasa
telah melakukan perusakan atau pengeditan suatu ayat tertentu, maka dia sama
sekali tidak mengatakan apa-apa , seolah-olah dia berkata benar dengan ayat itu.
Mungkin dia tidak menyadari bahwa umat muslim pasti akan mengetahui ayat-
ayat Al Qur’an yang sudah dirusak oleh siapapun. Perusakan yang dilakukan oleh
Misionaris ini jelas bertujuan untuk misi kristenisasi. Yang disampaikan oleh
Muhammad kepada orang qurasy adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang
disampaikan oleh Muhammad merupakan nilai yang logis yang tidak
bertentangan dengan sifat-sifat dasar manusia. Seperti menyembah patung
adalah suatu kebodohan pikiran, meminta dan berdoa kepada batu merupakan
sesuatu yang mustahil, membunuh anak perempuan karena alasan malu juga
merupakan subuah kebodohan dan pembunuhan yang tidak adil. Jadi nilai-nilai
yang ditanamkan dan diajarkan oleh Muhammad kepada orang arab merupakan
nilai-nilai dasar kebaikan yang dimiliki oleh seluruh manusia. Ajaran Muhammad
tidak bertentangan dengan nilai kemanusiaan dimanapun beliau berada.
Kebetulan pada saat Muhamad dilahirkan , beliau sebagai bangsa Arab, maka
tentu saja beliau menyampaikan kepada kaumnya sendira. Ternyata sekarang ini,
kebenaran yang disampaikan oleh Muhammad tersebut dapat dipahami dan
dimengerti oleh seluruh umat manusia di dunia, sehingga pemeluk agama islam
bertambah terus tanpa dapat dicegah oleh siapapun juga. Jadi sia-sialah usaha
kepalsuan yang dilakukan oleh misionaris licik ini untuk membendung kebenaran
ajar Rasullullah yang sudah mendunia tersebut. Kepalsuan pasti runtuh dan
kebenaran pasti tegak. Penyembahan manusia kepada penciptanya merupakan
sifat dasar manusia. Hal ini karena manusia mempunyai kelemahan yang tidak
dapat dihilangkannya seperti; tidak mampu menentukan apa yang akan terjadi
pada waktu yang akan datang termasuk nasibnya, manuisa tidak mampu menolak
kematian dimanapun dia berada, manusia merasa takut dan cemas apabila
mendapat musibah atau bencana, manusia tidak mampu meramalkan bencana
alam dan mengatasinya. Banyak sekali kelemahan manusia yang tidak biasa
diatasinya sehingga manusia mencari perlindungan diluar dirinya. Ketika manusia
tidak memperoleh petunjuk dari sang Pencipta , maka dia akan mencari
perlindungan itu dengan menggunakan naluri , pikiran dan firasatnya. Maka
wajar saja bila manusia mengekpresikan kreasi pikirannya dengan memohon
perlindungan melalui patung, berhala untuk menjembatani keinginannya sampai
kepada sang Pencipta dan pelindungnya. Tetapi bagi mereka yang berpikiran
singkat , maka objek tersebut dbenar-benar dijadikan sebagai tujuan
penyembahan, sehingga orang-orang yang meminta kepada objek pikirannya
(behala) dapat diangap sebagai orang bodoh. Orang-orang inilah yang akan
disadarkan dan menjadi target misi ajaran Muhammad. Karena orang-orang yang
singkat pemikiran ini nanti akan mudah sekali dipengeruhi oleh manusia lain
untuk berbuat diluar nalarnya sendiri. Seperti membunuh bayi wanita sebagai
penyembahan kepada dewa atau menolak bala, menganiaya diri sendiri dengan
cara bermabuk-mabukan dalam sebuah ritual sesat dan lain sebagainya. Jadi
orang yang menyembah sesuatu yang tidak logis , bukannya membawa kebaikan
pada dirinya dan masyarakat, justru dapat menyebabkan menghancurkan nilai-
nilai kebenaran dan merusak tatanilai yang bermamfaat bagi manusia itu sendiri.
Jadi ajaran tauhid atau menyembah Allah sang pencipta merupakan nilai yang
seharusnya dilaksanakan karena memberikan kebenaran yang hakiki sehingga
keselamatan yang diharapkannya tersebut adalah hasil dari pemikiran dan
pekerjaan yang benar. Allah tidak memaksa seseorang untuk menyembahNYA.
Bahkan Muhammad tidak boleh memaksa, beliau diperintahkan untuk
menyampaikan kebenaran dari sebuah harapan manusia kepada penciptanya.
Bagi manusia yang tidak mau mengikuti jalan kebenaran , maka tentu Allah akan
membiarkan orang tersebut mengikuti jalan pikirannya sendiri sampai dia tersesat
atau dia menyadari kekeliruannya. Jadi adalah salah, kalau kita mengatakan
bahwa Allah hanya melindungi orang saleh yang menyembah Dia saja, sebaliknya
akan menghancurkan orang-orang yang tidak saleh. Pemikiran dan kesimpulan
bahwa Allah menyelamatkan orang yang hanya menyembah DIA sebaliknya
menghukum orang yang tidak menyembahNYA, tentu menyalahi dari tujuan
kebenaran itu sendiri. Sebenarnya orang saleh mendapatkan nilai kebenaran yang
telah dia lakukan sedangkan orang kafir memperoleh juga nilai keburukan dari
yang mereka lakukan. Jadi kita sendirilah yang menentukan apakah kita mau yang
baik atau buruk. Pilihan ada pada diri manusia. Petunjuk itu sudah datang dari
Allah, tinggal kemauan manusia mau atau tidak untuk melaksanakannya. Jadi
merugi atau tidak merugi tergantung kepada manusia itu sendiri. Allah itu maha
adil, maha bijaksana dan maha pengasih dan penyayang sehingga tidak mungkin
Allah memusuhi orang-orang yang tidak bersediaa diberi petunjuk. Masuk syorga
atau masuk neraka seseorang bukan karena Allah membenci seseorang tetapi
semata-mata akibat hasil perbuatan mereka sendiri. Di akhirat Allah
memperhitungkannya dengan seadil-adilnya. Sedangkan kitab yang disampaikan
oleh utusanNYA hanya merupakan petunjuk dan peraturan yang sudah
distandarkan untuk sifat-sifat manusia. Tentu saja Allah mengetahui karakter
makhlik ciptaanNYA sehingga manusia harus mengatur dirinya dengan aturan
yang sudah disiapkan manualnya dari Sang Pembuat manusia itu. Kitab yang
pernah diturunkan tersebut adalah kitab Zabur, kitab Taurat , kitab Injil dan kitab
Al Qur’an. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah kenapa Allah berkali-kali
menyampaikan kitab yang kandungannya hampir bersamaan satu sama lain.
Sekarang ini baik kitab Bible, kitab Thalmud maupun AL Qur’an menceritakan
tokoh yang sama dengan cara yang berbeda. Nah perbedaan itulah yang harus
dibahas agar manusia dapat menemukan nilai kebenaran. Tidak ada salahnya kita
membongkar seluruh kita-kitab tersebut untuk mencari kebenaran lalu
menyimpulkan kitab mana yang paling benar saat ini, apakah Bible , Talmud atau
Al Qur’an.

Tentu saja bukan dengan merusak ayat dan mengacak-acak kitab pengangan
agama umat lain, kemudian mengambil pembenaran dari hasil yang dirusak itu.
Cara tersebut bukanlah cara yang benar. Itu adalah cara kepalsuan dan licikan.

Nilai sebuah Kebenaran harus diuji dengan nilai-nilai kebenaran yang lainnya yaitu
dengan cara yang benar dan fair. Begitu juga nilai sebuah kepalsuan , hanya
dapat dipertahankan dengan kepalsuan juga. Kalau nilai kepalsuan itu ditegakkan
dengan kebenaran maka terbongkarlah kepalsuan tersebut, sehingga hancurlah
kepalsuan itu.

Sesungguhnya , pada prinsipnya manusia sudah memiliki sifat-sifat dasar yang


telah ditanamkan oleh sang Pencipta ke dalam jiwanya yang paling dalam untuk
mempertimbangkan sebuah nilai kebaikan dan nilai keburukan. Seorang Bapak
yang suka maling , menipu, merampok tentu tidak akan menginginkan anak-
anaknya menjadi penipu, pembohong, maling atau perampok. Seorang Bapak
yang suka menipu atau suka mencuri, tetapi bapaknya akan memarahi anaknya
yang berkata bohong atau mencuri milik Bapaknya sendiri. Ini adalah sifat dasar
manusia. Namun sifat-sifat dasar kebaikan manusia dapat dikalahkan oleh
nalarnya atau pemberitaan yang tidak benar atau oleh hasutan-hasutan negative,
sehingga pikiran jernihnya akan tertutup oleh perasaan negatifnya tersebut. jadi
seseorang harus selalu membiasakan diri untuk selalu melatih dan
membangkitkan kebersihan jiwanya dengan cara selalu berbuat kebaikan dan rasa
kasihnya kepada semua makluk. Begitu juga dengan otaknya, dia harus selalu
berpikir yang logis dan analistis kemudian menyeimbangkannya dan hati
nuraninya untuk mengambil sebuah kesimpulan. Tetapi karena pada dasarnya
manusia mempunyai banyak kelemahan yang mendasar yang tidak dapat
dihilangkannya, sehingga manusia membutuhkan petunjuk atau manual yang
cocok untuk dirinya sendiri. Manual itu tidak mungkin hasil ciptaan manusia
sendiri, tetapi harus berasal dari yang menciptakan Manusia. Sehingga manusia
tidak lagi salah dalam mengikuti petunjuk Akal dan bathinnya semata.
I.2.3 Al Qur’an membenarkan berlakunya Taurat dan Injil.

Surat 3 Aali Imraan ayat 81 :

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian para Nabi, “Sesungguhnya apa
saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang
kepada kamu seorang rasul yang membenarkan apaapa yang ada pada kamu
(Taurat dan Injil), (hendaknya) kamu sungguh-sungguh beriman kepadanya dan
menolongnya”.

Sepertinya ayat diatas sudah dirubah dan diplintir untuk misi kristenisasi. Marilah
kita lihat lagi ayat tersebut ;

“ Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa
saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang
kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan
sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah
kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka
menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para
nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu"( QS Ali Imran 3:81)”.

Misonaris bagai serigala berbulu domba ini menambahkan kata Taurat dan Injil
kedalam ayat tersebut sehingga ayat tersebut berubah tujuan. Tujuan Misionaris
palsu ini adalah agar siapa saja yang membaca ayatnya ini akan terbayang bahwa
yang dimaskud oleh ayat ini adalah kitab Bible ( yang mengandung kitab
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Tetapi Karena maksud yang sesungguhnya
dari ayat tersebut bukanlah Taurat dan injil maka Misionaris ini mencoba
memaksakan idenya dengan coba-coba memasukkannya ke dalam tanda kurung.
Kemudian untuk memaksakan kata itu dapat bercokol di dalam ayat itu, maka dia
terpaksa merubah kalimat setelahnya. Tujuannya adalah membelokkan ayat
teresebut untuk misi kristenisasi. Padahal kalau dibahas dan dianalisa maksud dan
tujuan ayat tersebut yang sebenarnya, maka terbongkarlah kebobrokan orang-
orang nasrani zaman dulu yang berhasil merusak kitab Taurat dan Injil yang sudah
disampaikan oleh Nabi Musa dan nabi Isa. Maksud ayat teresebut sesungguhnya
mengatakan bahwa ahli kitab Nasrani telah merubah kitab Taurat menjadi kitab
perjanjian Lama yang isi sudah jauh melenceng dari kebenaran, begitu juga ahli
kitab orang nasrani telah berhasil merusak kitab Injil yang dibawakan oleh Nabi
Isa As menjadi kitab perjanjian Baru. Padahal ayat diatas menyatakan, Nabi Isa
dan Nabi Musa memberikan kesaksian bahwa mereka mempercayakan kitab
mereka diperbaharui oleh rasul datang kemudian (Muhammad) yaitu berupa Al
Qur’an. Jadi yang dimaksud oleh ayat tersebut diatas adaah kitab Al Qur’an yang
membawakan keterangan untuk memperbaiki kitab Taurat dan Injil yang dirusak
oleh kaum nasrani.

Surat 4 An Nisaa ayat 136:

“Hai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan
(beriman kepada) Kitab (Injil) yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan Kitab
(Taurat) yang diturunkan sebelumnya. Dan barangsiapa yang ingkar kepada Allah,
malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka
sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yg jauh.

Kembali misionaris laknatullah itu, merusak ayat-ayat Al Qur’an untuk tujuan


kristensasi. Untuk itu marilah kita lihat lagi arti yang sesungguhnya ;

“ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah
turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu
telah sesat sejauh-jauhnya (QS An Nisaa’ 4:136)”.

Untuk membahas ayat tersebut, maka pertanyaan yang harus dijawab dulu
adalah “ apakah kitab Taurat dan Injil masih ada sekarang?”. Tentu saja
jawabnya tidak ada lagi. Jadi yang dimaksud oleh ayat diatas adalah kitab yang
pernah diturunkan oleh Allah kepada utusanNYA. KItab Bible adalah kitab palsu
dari kitab Taurat dan kitab Bible. KItab Bible bukannya menyampaikan kebenaran
kitab dari Taurat dan Injil tetapi telah merusaknya menjadi ajaran Politeisme yang
tidak diredhoi oleh yang mengutus nabi tersebut dan banyak lagi keterangan di
dalam PL dan PB yang justru melecehkan Allah, Nabi dan rasul-rasulNYA. Karena
kitab Taurat dan Injil sudah tidak ada, maka di akhir ayat diatas, Allah
memperingati orang-orang kafir yang telah merusaknya. Kerusakan apa yang
telah dilakukan oleh orang tersebut ? Ternyatalah mereka melecehkan,
menghina, menyepelekan dan merendahkan Allah, Malaikat dan rasullullah serta
membohongan tentang hari kiamat.

Surat 46 Al Ahqaaf ayat 30:

“ Mereka berkata “Hai kaum kami”. Sesungguhnya kami telah mendengar (Injil)
yang diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab sebelumnya (Taurat),
yang memberikan petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Kembali misionaris ini merekayasa tujuan ayat tersebut untuk misi kristenisasi.
Sesungguhnya ayat tersebut masih berhubungan dengan ayat sebelumnya
membentuk satu pengertian yang tidak terpisahkan , tetapi misionaris berbulu
domba ini tidak menampilkan ayat tersebut. Marilah kita tampilkan seluruh ayat
agar ketahuan maksud yang sebenarnya ;

“ Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang


mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu
mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah
selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan 29. Mereka
berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur'an)
yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang
sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus (QS Al
Ahqaaf 46:29-30)”.

Jadi ayat ini membicarakan tentang makhluk Jin,bukan manusia. Tetapi kenapa
misonaris ini memelintirnya seolah-olah ayat ini ditujukan kepada manusia. Jadi
sebenarnya msionaris ini tidak mengerti membaca dan memahaminya. Tetapi
mungkin juga misonaris ini adalah makluk jin sehingga ayat ini ditujukan buat
bangsanya. Dari keterangan ayat diatas , ternyata bangsa jin saja sudah tahu
bahwa ahli ktab nasrani zaman dahlu telah merubah kitab Taurat dan Injil,
sehingga ketika Al Qur’an dibacakan didepan mereka maka mereka
menyampaikan kepada teman-temanya yang lain. Para kaum jin tersebut
tercengang kalau Al Qur’an tersebut adalah kitab Allah terbitan terbaru yang
merevisi kitab-kitab sebelumnya.

Terbuktilah bahwa ayat-ayat Al Qura’n tidak dapat dipalsukan tanpa merusak


ayat-ayat lainnya. Susunan ayat-ayat di dalam kitab Al Qur’an memang sangat
kokoh untuk dapat dimasuki oleh penyusup yang tidak diundang. Ini merupakan
mukjizat Al Qur’an yang tidak terbantahkan.

]I.2.4 Al Qur’an membenarkan dan menjadi saksi atas Alkitab.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 48 (dikutip sebagian):

“ Dan Kami telah menurunkan kitab dengan kebenaran apa yang sebelumnya dari
Alkitab dan menjadi kesaksian atasnya “.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Al Qur’an diturunkan untuk memberi kabar


gembira dan peringatan kepada semua orang agar kembali kepada jalan Allah
yang tauhid, dengan mempelajari isi dari Alkitab (Taurat dan Injil) tersebut.

Pada awal paragraph , misionaris ini menyampaikan suatu kebenaran, yaitu dia
menyatakan bahwa tujuan Al Qur’an adalah untuk memberi kabar gembira bagi
semua umat agar kembali kejalan kebenaran sesuai dengan ketentuan yang
tercantum di dalam Al Qur’an. Tetapi diakhir paragraph nya, terdapat sebuah
kalimat yang keluar dari jalur kebenaran, dimana dia menyampaikan bahwa kitab
Injil dan Taurat yang ada ditangan umat nasrani lah yang harus dibaca untuk
mencapai kebenaran itu. Sepertinya misionaris munafik ini mencampur adukan
kebenaran dengan kebatilan. Mungkin dia beranggapan bahwa kitab bible yang
dia pegang merupakan paduan antara Taurat (perjanjian lama) dan Injil
(perjanjian Baru) yang sama keabsahannya dengan ayat-ayat Al Qur’an. Padahal
kedatangan ayat-ayat Al Qur’an justru untuk memperbaiki kekeliruan yang telah
dilakukan oleh ahli kitab bangsa Yahudi dan Nasrani yaitu merubah ayat-ayat
Allah yang pernah datang kepada mereka sebelumnya, baik pada Kitab Taurat
yang diberikan kepada Nabi Musa maupun kitab Injil yang diberikan kepada Nabi
Isa as. Kedatangan Al Qur’an adalah untuk memperbaiki kesalahan yang tertulis di
dalam kitab Bible tersebut.
Dengan demikian, adalah kewajiban bagi setiap muslim dan semua orang yang
beriman kepada Allah untuk membaca dan mempelajari Alkitab (Taurat dan Injil),
agar supaya mereka tidak menjadi ingkar kepada Allah, malaikat-malaikatNya,
kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, dan akhirnya menjadi sesat
dengan kesesatan yg jauh.

Pada paragraph ini , misionaris palsu ini sudah mulai mendakwahi umat muslim
dengan mewajibkan setiap orang muslim membaca kitab Taurat dan Injil. Tentu
saja yang dimasuk dengan Taurat dan injil oleh misionaris ini adalah kitab Bible
mereka, karena kitab Taurat dan injil yang asli sudah tidak ada lagi dizaman abad
ini. Kaum nasrani abad ini mengklaim bahwa kitab Bible adalah kumpulan asli dari
Taurat dan Injil. Beginilah salah satu strategi dan misi umat Kristen menyesatkan
iman umat muslim yang belum mengerti dengan keislamannya. Maka pantaslah
kita menyebutnya misionaris ini sebagai serigala berbulu domba. Terbuktilah
bahwa selama umat muslim masih ada , maka kaum orientalis Kristen dan Yahudi
akan terus berusaha dengan cara apapun untuk mengkafirkan orang-orang
beriman. Mereka bagaikan sepasukan iblis yang dipersiapkan untuk menghalang-
halangi orang-orang beriman agar kembali kejalan kefasikan, sebagaimana
mereka telah tersesat dalam memaknai agamanya.

I.3 AL QUR’AN ADALAH BAGIAN DARI ALKITAB

Di dalam Al Qur’an banyak dikemukakan mengenai nabi-nabi dimulai dengan nabi


pertama, yaitu nabi Adam, dan Siti Hawa sampai kepada nabi-nabi penting lainnya
seperti nabi Nuh AS, nabi Isa AS, dan banyak lagi nabi-nabi lainnya.

Mengapa kisah Nabi-nabi yg disebut di dalam Al Qur’an disebutkan kembali


padahal kisah-kisah tersebut juga telah disebutkan sebelumnya di dalam Alkitab
???

Pada paragraph diatas, dapat dipahami jalan pikiran misionaris palsu ini yang
beranggapan bahwa Al Qur’an telah menciplak atau Muhammad telah menyalin
kisah-kisah yang terdapat di dalam Bible. Artinya kitab Bible lah yang merupakan
kitab aslinya, sementara Al Qur’an merupakan salinan atau duplikat dari Bible.
Dia mengambil kesimpulan ini dari contoh beberapa nama nabi yang sama yang
tertulis di antara Al Qur’an dengan Bible. Misionaris berbulu domba ini
mengambil mamfaat dari kesamaan nama nabi-nabi tersebut untuk memasukkan
jalan pikiran liciknya lalu menyesatkan jalan pikiran kaum muslimin. Misionaris
palsu ini hanya menurutkan hawa nafsunya untuk menghasut, memfitnah dan
memutarbalikan fakta . Dia sudah tidak lagi memamfaatkan akal budinya untuk
berpikir lebih realistis. Kalau misionaris palsu ini menggunakan hatinuraninya
dengan baik dan benar, maka seharusnya dia dapat mengambil mamfaat dan
hikmah, kenapa di dalam kitab Taurat, Injil dan Al Qur’an terdapat sejumlah nabi-
nabi dengan nama yang sama dengan kisah yang sama pula? Kalau misionaris
palsu ini mau mengambil hikmah dari perjalanan sejarah ajaran nabi-nabi, maka
seharusnya dia dapat menyimpulkan bahwa ajaran yang disampaikan kepada nabi
Ibrahim, nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Isa dan nabi Muhammad berasal dari satu
sumber yaitu “DARI ALLAH SWT”. Seharusnya misionaris ini dapat berpikir lebih
realistis bukan hanya menuduh bahwa Al Qur’an telah mejiplak ayat-ayat Bible.
Padahal dia mengetahui bahwa kitab Bible itu sendiri mengadung 2 kelompok
catatan yang ditulis dari sumber yang dikumpulkan dari kitab-kitab agama orang
Yahudi yaitu ajaran Nabi-nabi seperti Musa, Daud dan Sulaiman lalu dirangkum
menjadi Perjanjian Lama sedangkan sesudah Nabi Isa tiada, mereka merangkum
kembali berbagai sumber untuk menulis kitab perjanjian Baru. Seharusnya
timbul sebuah pertanyaan ; kenapa kisah-kisah yang tercatat di dalam Bible
tersebut kembali diulang oleh Allah di dalam Al Qur’an? Kalau misionaris ini
mampu berpikir logis tentunya akan timbul suatu pertanyaan , kenapa Allah
mewahyu ulang tentang kisah-kisah nabi yang sama kepada Muhammad di dalam
Al Qur’an? Adakah sesuatu yang salah di dalam catatan Bible sehingga Allah
mengulang kembali kisah-kisah tersebut di dalam Al Qur’an? Pertanyaan itulah
yang seharusnya diteliti untuk dijawab dengan benar, bukan menyebar fitnah
atau menyebarkan gossip negative tanpa dasar sama sekali.

Jawabannya adalah dikarenakan bahwa Al Qur’an adalah bagian dari Alkitab,


seperti tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Jawaban misionaris pada paragraph diatas ini jelas akan berujung kepada
opininya bahwa AL Qur’an adalah bagian dari Bible, kerena sebelumnya dia sudah
menuntun jalan pikiran orang muslim awan agar masuk kedalam perangkap yang
sudah dia tebarkan sebelumnya. Misonaris palsu ini benar-benar melakukan
taktik “MENANGKAP IMAN DENGAN MEMBERI UMPAN”

I.3.1 Al Qur’an adalah bagian dari Alkitab yang berada dalam induk Alkitab yang
memberi penjelasan.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 4 :

“ Dan sesungguhnya Al Qur’an dalam induk Alkitab yang disisi Kami adalah tinggi
dan penuh hikmat”.

Surat 26 Asy Syu’ahaa ayat 196 :

“ Dan sesungguhnya Al Qur’an tersebut di dalam kitab-kitab yang terdahulu


(Taurat, Injil).

Misionaris berbulu domba ini memang licik melakukan penyamaran dengan


melemparkan umpan yang paling disukai dan ditakuti oleh orang Islam yang
fanatik yaitu berupa ayat-ayat Al Qur’an. Apabila orang-orang fanatik dikalangan
umat islam mendengar ayat diatas, maka dia akan mudah dituntun kedalam
perangkap iman dari pendeta palsu ini. Padahal misionaris berbulu domba ini
telah menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an yang sudah diputar balikan arti dan
maknanya sesuai dengan selera sipenjahat ini. Begitulah cara-cara licik yang
sering dilakukan oleh kaum orientalis dari kalangan Kristen atau Yahudi yaitu
dengan cara merusak ayat-ayat Allah menurut seleranya sendiri kemudian
menyampaikan kepada orang-orang bodoh untuk mengikuti jalan pikirannya yang
sesat itu. Cara licik itu hanya sukses mereka lakukan terhadap kitab Taurat dan
Injil yang telah mereka sulap menjadi kitab Bible sebagaimana yang telah mereka
klaim sebagi kitab suci dari Allah. Mereka tidak akan sanggup merubah dan
merusak ayat-ayat Al Qur’an karena Allah SWT sudah menjamin akan menjaga
kesucian ayat-ayatNYA.
Misonaris palsu ini memaksakan opininya sendiri kepada orang muslim bahwa
ayat-ayat di dalam Al Qur’an tersebut merupakan bagian dari kitab induk yang
sudah tercatat di dalam kitab Bible karena kitab Bible sudah merangkum kitab
Taurat dan Zabur (Perjanjian Lama) dan kitab injil (Perjanjian Baru). Sehingga
misionaris palsu ini merasa bangga dan merasa benar sendiri tentang kitab
sucinya , kemudian mengwajibkan kepada orang muslim untuk mengamalkan
dan mengimanan kitab bible mereka. Untuk memperkuat argumentasinya,
misionaris palsu ini mengambil ayat-ayat Al Qur’an untuk memperkuat opininya
dengan cara memutar balikan arti dan makna Al Qur’an, sehingga kaum muslim
yang sudah temakan umpan beracunnya akan manjadi buta dan berhasil dituntun
kejalan yang sudah dipersiapkannya menuju kekafiran, sebagaimana jalan yang
sudah ditempuh oleh mereka selama ini.

Padalah maksud yang sebenarnya dari ayat tersebut bertolak belakang dengan
apa yang di dalam niat jahat misionaris tersebut. Justru yang dimaksud dari surat
Az Zukuruff ayat 4 itu adalah bahwa Al Qur’an merupakan kitab Induk yang
sudah merangkum seluruh ayat-ayat yang pernah diturunkan oleh Allah kepada
nabi – nabi sebelumnya baik yang pernah diturunkan kepada nabi Musa As, nabi
Daud dan Nabi Isa AS . Artinya kitab Al Qur’an sudah menyempurnakan seluruh
kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah kepada semua Rasullullah
sebelumnya.

= dan sesungguhnya

= padanya (kata ganti miliknya) yaitu al qur’an

= kitab induk

= pada sisi Kami

= mengandung ilmu pengetahuan dan hikmah yang maha tinggi

Yang dimaksud kitab induk pada ayat diatas adalah kitab Al Qur’an sendiri , yang
mengandung petunjuk ilmu pengetahuan yang maha tinggi nilai hikmahnya disisi
Allah.
Sedangkan didalam surat Asu Syu’araa’ ayat 196 bermakna bahwa ayat-ayat di
dalam al qur’an tersebut sudah pernah disebutkan (diceritakan) oleh sang
penciptaNYA yaitu Allah SWT di dalam kitab kitab sebelumnya baik didalam kitab
Taurat, Zabur maupun Injil yang asli yang disampaikan oleh Rasul utusan Allah.

“ Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar (disebut) dalam Kitab-kitab orang


yang dahulu. (QS Asy Syua’raa’ 26:196)”.

Namun misionaris palsu ini sengaja memelintir pengertian ayat qur’an diatas
dengan makna yang aneh ditangkap oleh telinga orang muslim. Tentu saja orang
muslim yang mengerti akan menertawakan terjemahan misionaris berbulu domba
ini.

Arti dan makna dari surat Asy Syua’raa’ ayat 196 ini memberikan petunjuk bahwa
pengulangan ayat yang sama yang tercantum di dalam Taurat dan injil untuk
dimasukkan kembali ke dalam ayat-ayat Al Qur’an, berarti semua ayat-ayat yang
ditulis di dalam catatan Bible harus dirujuk ke dalam catatan Al Qur’an. Apabila
terdapat ketidak cocokan dengan kebenaran ayat AL Qur’an, maka ayat-ayat Bible
yang palsu tersebut harus dibuang atau dimusnahkan. Karena ayat itu bukan
berasal dari Allah tetapi dari buah pikir atau opini para pengarang Bible yang
dibuat untuk maksud-maksud tertentu dengan tujuan membengkokkan iman
genersi atau anak cucunya.

AL Qur’an harus dijadikan standar baku untuk memperbaiki kitab-kitab agama


Allah sebelumnya.

Maha Benar Allah dengan segala FirmanNYa, dan tidak ada seorang muklukpun
yang mampu merusak ayat-ayat suci Al Qur’an karena ayat itu dipelihara sendiri
kecusiannya oleh Allah SWT. Subhanallah.

Surat 28 Al Qashash ayat 2 :

“ Inilah ayat-ayat Alkitab yang terang. Karena Al Qur’an berada di dalam Alkitab
yang merupakan bagian dari Alkitab, maka orang-orang yang ingin mempelajari
dan memahami Al Qur’an dengan benar harus membaca dan memahami Alkitab,
agar diperoleh pengetahuan dari ayat-ayat Al Qur’an dengan pengertian yang
benar “.

Kembali misionaris berbulu domba ini mengeluarkan jurus-jurus liciknya untuk


mengelabui pemikiran umat islam. Terjemahan surat Al Qashash ayat 2
disampaikannya hanya terdiri dari dari 5 kata saja, tetapi dengan kecurangannya ,
misionaris jahat ini merangkai tafsir ayat tersebut menjadi kalimat yang panjang .
seolah-olah semua kalimat yang tercantum pada paragraph diatas menjadi
sebuah terjemah dari surat Al Qashas ayat 2 yang tidak terpisahkan. Hal ini
ditandainya dengan memberi tanda kutip (titik dua) di dalam satu paragraph
dengan susunan kata-kata yang panjang . Tentu saja misonaris berbulu domba ini
ingin mempengaruhi pikiran orang muslim awam seolah-olah terjemahan surat
Al Qashas ayat 2 itu sangat panjang, padahal misionaris ini sudah memasukan
opini dengan kalimat tambahan untuk mengelabui pikiran orang islam fanatik dan
awam. Betapa liciknya Misionaris berbulu domba ini, dia menyebarkan keimanan
dengan cara kepalsuan yang nyata.

“ Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an) yang nyata (dari Allah)
( QS Al Qasshas 28:2)”.

Seharusnya kalimat itu saja yang ditulis, bukan cerita tambahan yang dibuat-buat
seperti kalimat misionaris berhati iblis ini. Jelas sekali dia berkeinginan untuk
nerusak kesucian ayat-ayat Allah.

Dengan demikian, orang-orang yang ingin memahami kebenaran ayat-ayat Al


Qur’an tersebut dengan membaca Alkitab termasuk orang-orang yang mengikuti
petunjuk dan orang-orang tersebut tidak termasuk orang-orang yang sesat dan
merugi sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sebagai berikut :

Pada paragraph diatas, misionaris ini menyampaikan opininya, bahwa orang-


orang islam yang tidak mau mengamalkan dan mengikuti petunjuk yang terdapat
di dalam kitab Bible, maka dia termasuk orang sesat dan merugi. Untuk itu dia
menguatkan pendapatnya dengan menggunakan ayat Al Qur’an dibawah ini.
Bagaimana jalan pikiran serigala berbulau domba ini? Marilah kita ikuti ;

Surat 4 An Nisaa ayat 136 :

“ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya,
dan kitab Injil yang diturunkan kepada Rasulnya, dan kitab Taurat yang diturunkan
sebelumnya. Dan barangsiapa yang ingkar kepada Allah, malaikat-malaikatNya,
Kitab-KitabNya, Rasul-rasulNya,, dan hari kemudian, maka sungguh dia telah sesat
dengan kesesatan yang jauh”.

Kembali misionaris Kristen dari domba tersesat ini menyampaikan ayat-ayat Al


Qur’an yang sudah direkayasa menurut jalan pikirannya sendiri. Sehingga bagi
orang islam yang termakan umpan beracun ini akan masuk ke dalam perangkap
iman kristen.

Kalau kita baca terjemahan yang benar dari surat An Nisaa’ ayat 136 adalah ;

“ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah
turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu
telah sesat sejauh-jauhnya (QS An Nisaa’ 4:136)”.

Misionaris jahat ini memelintir lagi pengertian (Kitab yang


diturunkan sebelumnya) menjadi kitab Bible yang sudah lengkap mengandung
kitab Injil dan kitab Taurat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada orang-orang
Kristen. Misionaris ini ingin mengelabui orang-orang muslim agar percaya kepada
kitab Bible yang merupakan kumpulan kitab Taurat dan Injil asli. Padahal Bible itu
bukanlah kitab yang diturunkan dari Allah SWT, tetapi adalah sebuah catatan yang
dikumpulkan dari sejumlah pengarang yang tidak jelas orang-orangnya dan
sumber beritanya. Banyak sekali kepalsuan di dalamnya, banyak sekali
kejanggalan di dalamnya, banyak sekali kontradiksi di dalamnya, banyak sekali
opini-opini pengarang di dalamnya, banyak sekali cerita aneh dan lucu di
dalamnya, banyak sekali cerita-cerita porno di dalamnya, banyak sekali pelecehan
terhadap Allah di dalamnya.

Allah tidak meridhai kitab Bible itu, sehingga Allah SWT menurunkan kembali
kitab yang lebih lengkap dan benar, agar generasi anak cucu nabi Ibrahim
seterusnya tidak lagi dibohong-bohongi oleh orang-orang yang ingin merusak
Ayat-ayat Allah SWT.

Surat 2 Al Baqarah ayat 121 :

“ Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab kepadanya, mereka membaca


dengan bacaan yang sebenarnya mereka beriman kepadaNya. Dan barangsiapa
yang mengingkarinya maka mereka itulah orang-orang yang merugi “.

Sebenarnya ayat diatas ditujukan kepada sifat-sifat ahli kitab dari kalangan
pemuka (Rahib) umat nasrani dan Yahudi yang sudah merusak ayat ayat yang
pernah diturunkan oleh Allah SWT kepada mereka. Ahli kitab dari kaum Nasrani
dan Yahudi telah melakukan editing ulang terhadap keaslian kitab Allah SWT
sesuai dengan keinginan mereka sendiri, sehingga mereka telah melakukan
pembodohan terhadap generasi penerusnya . Ahli kitab Nasrani dan Yahudi
bukan hanya telah merubah bacaan ayat-ayat Allah SWT untuk mendapatkan
keuntungan sesaat, tetapi mereka telah merusak perjalanan umat generasi
selanjutnya.

Bahkan di dalam surat Al Maa-idah dinyatakan lebih tegas lagi bahwa jika kita
tidak menurut Taurat dan Injil, maka tidak dipandang beragama.

Surat. 5 Al Maa-idah ayat 68


"Katakanlah: "Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga
kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan apa-apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu."

(Qul yaa ahlal kitaabi lastum 'alaa syai-in hattaa tukimut tauraata wal injiila wa ma
unzila ilaikum mir rabbkum.)

Kembali misionaris berbulu domba ini berbuat kecurang dengan memotong-


motong dan merusak ayat-ayat Allah SWT sesuai dengan keinginan dan seleranya
sendiri. Dengan memotong dan merusak ayat itu, misionaris ini seolah-olah
memaksakan kehendaknya kepada umat islam supaya sesegara mungkin
melaksanakan dan tunduk kepada kitab Bible umat nasrani yang dia klaim sebagai
wahyu dari Allah SWT.

Untuk itu marilah kita baca kembali ayat dari surat Al Maa-idah ayat 68 ;

“ Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga
kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur'an yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu
(Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada
kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang
yang kafir itu. (Qs Al Maa-idah 5 : 68)”.

Sesungguhnya kontek ayat diatas memerintahkan kepada seluruh umat yang


pernah diturunkan kitab oleh Allah SWT baik dari umat Nabi Musa dengan kitab
Taurat, umat nabi Isa dengan injil dan umat nabi Muhammad dengan kitab Al
Qur’an, yaitu harus menjalankan perintah yang telah digariskan oleh ayat-ayat di
dalam kitab itu. Allah SWT tidak akan memandang sedikitpun orang-orang yang
tidak menegakan hukum dengan menganggap mereka sebagai orang yang tidak
beragama , apabila mereka tidak menjalankan syariat agamanya sesuai dengan
ketentuan yang sudah ditetapkan Allah SWT di dalam Kitab itu. Artinya Allah akan
mengutuki orang-orang yang sudah merusak dan merubah hukum-hukum yang
telah diberikan NYA di dalam kitab-kitab itu, tidak terkecuali kepada umat Yahudi,
Nasrani atau orang Islam sendiri. Sebagaimana kita ketahui bahwa umat nasrani
sudah membuang jauh-jauh hukum taurat yang tertulis di dalam Perjanjian Lama,
padahal nabi Isa menyampaikan kitab Injil yang tidak menghilangkan satupun
hukum-hukum taurat, tetapi mengapa umat nasrani tidak melaksanakan hukum
taurat lagi (seperti tidak bersunat, tidak menghormati hari sabat, tidak
mengEsakan Allah SWT, menghalalkan Babi dan lain-lain). Kemudian pada akhir
ayat diatas dijelaskan bahwa keterangan yang disampaikan oleh nabi
Muhammad kepada orang-orang nasrani dan Yahudi , tidak menyebabkan mereka
sadar tetapi bertambahlah kekafiran mereka, sehingga Allah SWT menenangkan
perasaan Muhammad agar tidak bersedih terhadap olok-olokan dan cacian orang-
orang kafir tersebut.

BAB II

ISA AS DI DALAM AL QUR'AN

Di dalam Al Qur’an, Isa AS ditempatkan pada kedudukan yang khusus, terhormat,


dan agung, yang berbeda dengan kedudukan nabi-nabi lainnya.

Disebutkan pula di dalam Al Qur’an bahwa Isa AS dilahirkan ke bumi bukan dari
hasil perkawinan biologis diantara Maryam dengan seorang laki-laki, tetapi
dilahirkan ke bumi dari Ruh Allah SWT sendiri, yang ditiupkan ke dalam rahim
badan Maryam, seperti yang tertulis di dalam Al Qur’an sbb :

Dari tulisan misoinaris diatas, dapatlah ditangkap jalan pikirannya yang picik
dengan nalar yang kekanak-kanakan. Dia membayangkan bahwa Allah SWT
merupakan suatu sosok atau suatu zat yang menghasilkan keturunan
sebagaimana manusia menghasilkan keturunan. Dia mempunyai opini bahwa
Allah beranak dengan cara yang berbeda dengan cara manusia bereproduksi.
Allah SWT berreproduksi dengan cara mentransformasikan rohnya kedalam rahim
seorang wanita perawan yang bernama Maryam. Dengan roh itu lahirlah seorang
anak tuhan dibumi ini. Dia beropini bahwa Roh itu merupakan bagian dari tubuh
Allah SWT yang dapat berpindah-pindah seperti yang banyak tertulis di dalam
keterangan Bible. Untuk memperkuat alibinya, misionaris picisan ini
memamerkan ayat-ayat al Qur’an yang disajikan khusus untuk kaum muslim agar
mempercayainya. Mungkin dia mengira bahwa keimanan orang islam dapat
dibohonginya dengan menyampaikan ayat yang sudah direkayasanya itu , seperti
ayat berikut ini ;

Surat 21 Al Anbiyaa ayat 21 :

“ Dan (ingatlah berita Maryam) yang memelihara kehormatan, maka Kami tiupkan
kepadanya dari ruh Kami, dan Kami jadikan dia bersama putranya sebagai bukti
(kekuasaan Allah) bagi semesta alam”.

Yang dimaksud oleh misionaris tersebut sebenarnya adalah surat Al Anbiyaa’ ayat
91, bukan ayat 21, yang berbunyi ;

“ Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami
tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda
(kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam (QS Al Anbiyaa’ 21:91)”.

Untuk itu marilah kita analisa ayat tersebut dengan cara berpikir yang lebih adil
dan benar, bukan berdasarkan opini-opini dan naluri yang dipaksakan.

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, kalimat ini
memberi penjelasan tentang Maryam seorang perawan suci yang selalu menjaga
harga dirinya sebagai wanita dari perbuatan tercela. , lalu Kami tiupkan ke dalam
(tubuh) nya ruh dari Kami ; kalimat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud
dengan ruh disini bukanlah ruh yang merupakan bagian dari unsur zat atau
bagaian dari anatomi tubuh Allah, tetapi ruh yang dimaksud disini adalah sosok
Malaikat Jibril yang mengirimkan berita dari Allah SWT kepada Maryam yang
akan memberikan bayi kepada Maryam dengan Ruh ciptaan Allah. Dalam hal ini
Allah menggunakan kata-kata yang berarti ruh ciptaanKU. dan Kami
jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam ;
kalimat ini memberi pengertian bagi orang-orang beriman bahwa kejadian Isa As
tanpa Bapak merupakan salah satu kuasa Allah yang telah menciptakan apa saja
yang dia kehendaki termasuk seorang anak manusia yang akan dilahirkan nanti
oleh Maryam.

Tidak akan pernah terlintas di dalam pemikiran Orang beriman muslimin bahwa
Allah telah melahirkan seorang anaknya yang tunggal walaupun dengan cara
transfer roh sekalipun, karena Allah SWT bukanlah zat yang dapat disamakan
dengan Ruh. Ruh adalah ciptaan Allah SWT , Ruh bukanlah bagian dari tubuh
Allah SWT, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada yang
menyerupainya dan Dia berkuasa diatas segala sesuatu.

Misionaris ini sedang berusaha menjalankan misi pengkafirannya untuk


menjerumuskan orang-orang beriman kedalam hal –hal yang dikutuk oleh Allah
SWT. Keberhasilan mereka merubah kitab bible dari ajaran Monotheisme
menjadi agama politheisme , tidak akan berhasil mereka lakukan terhadap ayat-
ayat Al Qur’an karena Allah SWT menjamin kekuatan ayat-ayatNYA.

Surat 66 At Tahrim ayat 12 :

“ Dan Maryam putri Imran, yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami
tiupkan kedalam rahimnya sebagian daripada Ruh Kami, dan ia telah
membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia
termasuk orang-orang yang taat “.

Begitu juga dengan keterangan ayat diatas ( At Tahrim ayat 12 ) yang berbunyi ;

“ Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke
dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-
kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang
taat ( QS At Tahrim 66:12)”.
Sebenarnya ayat ini masih berhubungan dengan 2 ayat sebelumnya yang
menyampaikan tentang perumpamaan bagi wanita-wanita pilihan yang diberi
karunia oleh Allah ( Maryam dan Istri Fir’un) dan wanita yang direndahkan oleh
Allah ( istri nabi Lut). Pada ayat diatas kembali kita temukan kata yang
berarti Ruh Ciptaan Allah, bukan Ruh yang merupakan bagian tubuhNYA. Ruh
merupakan bagian dari zat yang diciptakan oleh Allah SWT yang dapat
menyebabkan daging menjadi hidup dan beraktifitas, apabila ruh dicabut atau
terangkat dari tubuh maka jasad itu disebut dengan mayat yang tidak bernyawa
lagi. Bukan hanya Isa as saja yang diberi oleh Allah SWT roh, bahkan seluruh
manusia yang hidup dimuka bumi ini dilengkapi dengan roh, sebagaimana bunyi
ayat berikut ini ;

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani) 8.
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh -Nya dan
Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur (QS 32:5-9)”

Dari ayat diatas jelaslah bahwa setiap tubuh manusia yang hidup terdiri dari unsur
jasad dan Ruh ciptaan Allah .

Mengenai ujud dari Ruh itu sendiri Allah sudah membatasi kemampuan manusia
untuk mengenalnya seperti yang tercantum pada keterangan ayat dibawah ini ;

“ Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit
(QS 17:85) ".

Jadi Al Qur’an sudah membatasi tentang hakikat Roh sehingga orang beriman
tidak boleh seenaknya mendefinisikan ruh menurut logika dan opini pribadi
semata. Karena sampai sekarang tidak seorangpun yang mampu membuktikan
wajud dari sebuah Roh. Bahkan tidak satupun sarjana ataupun seorang professor
terhebat sekalipun yang tertarik atau mampu membuktikan secara ilmiah
bagaimana wujud dari Roh yang ada di dalam tubuh orang-orang hidup dan
kenapa pula mayat tidak memiliki kemampuan beraktivitas padahal dia beberapa
saat sebelumnya sehat-sehat saja.

Dari ayat-ayat di atas, berarti bahwa Isa AS bukanlah anak duniawi dari hasil
perkawinan biologis antara maryam dengan seorang laki-laki, akan tetapi Isa AS
adalah anak rohani yang dilahirkan dari Ruh Allah SWT sendiri. Seperti kita
ketahui bersama bahwa semua manusia adalah terdiri dari tubuh jasmani dan
rohani, tetapi Allah SWT adalah Allah rohani yang berupa Ruh.

Sepertinya misionaris ini tetap ngotot menyampaikan opinya tentang wujud Allah
yang terdiri dari unsur roh. Sepertinya dia terus membayangkan bahwa Allah SWT
juga menghasilkan keturunan atau bereproduksi sesuai dengan metode yang ada
di dalam pemikirannya. Menurutnya Allah itu beranak bukan dengan cara
perkawinan atau hubungan biologis sebagaimana manusia beranak, tetapi dengan
cara perpindahan (transformasi) Roh dengan caca meniupkan ruhNYA kepada
jasad Isa As.

Memang begitulah tabiat orang-orang Kristiani dari zaman dulu hingga saat ini,
terutama ahli kitabnya yang telah berhasil memasukan jalan pikirannya di dalam
ayat-ayat Bible sehingga Hakikat Allah SWT sudah menjelma menjadi 3 unsur
pribadi yaitu ; Yesus , Roh dan tuhan Bapa. Padahal di dalam kitab Bible tersebut
tidak ada kata-kata langsung atau pernyataan langsung dari Yesus yang
menegaskan bahwa dia adalah Allah SWT yang harus disembah dan tidak ada juga
kalimat dari Yesus yang menyatakan bahwa Yesus dapat menghapuskan dosa-
dosa manusia apabila orang menyembahnya. Semuanya itu adalah hasil karya
para penulis Bible yang berhasil memasukan opini dan kesimpulannya sehingga
wujud Allah menjelma menjadi 3 pribadi atau tiga sosok. Sekarang misonaris
berbulu domba ini mencoba pula hendak memasukkan ide-idenya kedalam ayat-
ayat Al Qur’an dan memaksa orang Islam setuju degan hasil opininya itu.
Jika kemudian Isa AS lahir, maka dapat dipastikan bahwa ibu dari Isa AS adalah
Maryam. Tetapi yang perlu diketahui kemudian adalah, “SIAPAKAH BAPA DARI ISA
AS ???? “ Dengan sendirinya sesuai dengan penjelasan dari Al Qur’an, maka Bapa
dari Isa AS adalah Allah SWT sendiri, yang telah meniupkan Ruh- Nya sendiri ke
dalam rahim Maryam.

Pada paragraph diatas, jelas sekali misionaris palsu ini telah membuat lelucon
yang tidak lucu. Dia telah membuat satu kesimpulan yang salah dari cara
berpikirnya yang salah. Kemudian dia mempengaruhi jalan pikiran orang islam
awam sambil berharap ada saja yang tertarik dengan kesimpulannya. Di dalam
pikirannya dia membayangkan bahwa Yesus adalah anak biologis dari Ibunya
Maryam, maka siapa lagi Bapaknya kalau bukan Allah SWT ? Kalau kesimpulan
misionaris ini dipaksakan untuk masuk kedalam salah satu surat saja di dalam Al
Qur’an , maka lebih dari 3000 ayat yang ada di dalamnya akan bangkit untuk
menolak kesimpulannya itu.

Kemudian timbul pertanyaan, bukankah hal ini bertentangan dengan ayat Al


Qur’an yang menyatakan bahwa “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan
???? seperti dikutip di bawah ini :

Nah sekarang misionaris ini mengetahui bahwa beberapa ayat-ayat di dalam al


Qur’an akan menentang kesimpulan pikiran culasnya. Bagaimanakah caranya dia
membuat dan menyampaikan opini barunya? Untuk itu marilah kita ikuti kuliah
dari serigala berbulu domba ini ;

Surat 112 Al Ikhlash ayat 3 :

“ Dia tidak beranak dan tidak (pula) diperanakkan “.

Ternyata dia mengambil sepotong ayat dari surat Al Ikhlas yaitu ayat 3 saja,
sementara ayat ke 4 dia simpan supaya ayat tersebut tidak menjungkir-balikkan
kesimpulannya. Padahal ayat ke 4 ini mempunyai makna yang dapat membantah
opininya. Untuk itu marilah kita lihat secara lengkap terjemahan surat Al Ikhlas ini
;
4 3 2 1

“ Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa 1, Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu 2. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan 3, dan
tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia ( Qs Al Ikhlas 112: 1-4)"

“ Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa 1 ; ayat ini mempunyai makna yang
sangat dalam yang menyatakan bahwa Allah itu maha Esa tidak ada yang lainnya,
ayat ini dengan tegas membantah paham ajaran Trinitas yang dianut oleh umat
Kristen. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu 2 ;
sedangkan ayat ini bermakna bahwa Dia tidak membutuhkan dan tidak
tergantung kepada sesuatu apapun (dia tidak butuh anak , dia tidak butuh istri)
semua alam bergantung kepadaNYA bukan sebaliknya. Dia tiada beranak dan tiada
pula diperanakkan 3 ; ayat ini mempunyai arti dan makna yang tegas bahwa Dia
tidak mempunyai keturunan dan tidak pula mempunyai nenek moyang
sebagaimana halnya manusia dan makluk lainnya di dunia ini. Ayat ini membantah
segala teori dan opini yang akan ditawarkan oleh misionaris ini untuk
menyimpulkan bahwa Allah itu mempunyai keturunan atau mempunyai nenek
moyang. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia 4 ; ayat ini mempunyai
makna bahwa Dia tidak dapat dibanding-bandingkan dengan sesuatu apapun juga
baik ujudNYA atau zatNYA, karena tidak ada sesuatupun yang dapat
diumpamakan dengan dia. Ayat ini juga mengandung makna bahwa Dia
bukanlah bagian dari usur Roh yang telah dia berikan kepada seluruh makluk
ciptaannya. Dia bukanlah zat , bukan pula Unsur, bukan pula materi, dan bukan
pula sejenis Roh.

Jadi apapun alasannya, misionaris ini telah salah dalam menyimpulkan tentang
Allah SWT . Satu surat saja, sudah membantah habis opini misonaris berbulu
doma ini dan masih ada ribuan ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang akan
menentang opini misionaris picisan ini.
Ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa secara biologis Allah tidak beranak dan
tidak diperanakkan. Kelahiran Isa AS seperti dikutip pada Surat 21 Al Anbiyaa ayat
21 di atas adalah sebagai “BUKTI KEKUASAAN ALLAH” bagi semesta alam.

Sepertinya Misionaris ini tidak sanggup menghadapi tantangan yang datang dari
surat Al Ikhlas tersebut diatas, sehingga dia mencari ayat-ayat lainnya yaitu ayat
91 dari surat AL Anbiyaa yang telah dipaparkannya diatas. Rupanya dia
mengambil kata-kata “Kekuasaan Allah” dari terjemah surat itu , dengan asumsi
bahwa Allah dapat berbuat segala sesuatu termasuk menjadikan Isa sebagai
anaknya yang tunggal. Artinya dia berpikir bahwa pasti Allah dapat melahirkan
anak karena manusia saja dapat melahirkan anak, lalu kenapa Allah tidak sanggup
membuat anaknya di bumi ini? Bukankah Allah itu Maha Kuasa ? tentu saja Allah
dapat menghasilkan anaknya sebagaimana manusia. Begitulah jalan pikiran
misionaris licik ini , dia berpikir sekehendak hati dan nalarnya.

Surat 21 Al Anbiyaa ayat 21 :

“ Dan (ingatlah berita Maryam) yang memelihara kehormatan, maka Kami tiupkan
kepadanya dari ruh Kami, dan Kami jadikan dia bersama putranya sebagai bukti
(kekuasaan Allah) bagi semesta alam “.

Hal ini lebih diperjelas lagi dengan ayat Al Qur’an berikut yang menjelaskan
adanya kemungkinan bahwa Allah dapat mempunyai anak tanpa ada hubungan
biologis sbb :

Rupanya misionaris ini ingin mengambil ayat lain untuk menmperkuat analisanya
lalu mengambil kesimpulan dari ayat berikut ini. Bagaimanakah kesimpulannya ?

Surat 39 Az Zumar ayat 4 :

“ Sekiranya Allah hendak mengambil anak, niscaya Dia memilih diantara apa yang
Dia ciptakan mana yang Dia kehendaki, Mahasuci Dia, Dialah Allah yang Maha Esa
lagi Maha Perkasa “.
Dari ayat ini dapat diketahui bahwa jika Allah mengambil anak, maka caranya
tidak sama dengan cara manusia memperoleh anak, yaitu secara biologis. Allah
dapat mengambil anak dengan cara-Nya sendiri sesuai dengan keberadaanNya
sebagai Allah semesta alam, dan Allah telah melakukannya dengan cara
meniupkan Ruh-Nya ke dalam rahim Maryam, di dalam Isa AS.

Ternyata misionaris laknatullah ini telah salah mengambil satu ayat di dalam al
qur’an untuk memperkuat nubuatnya, bahkan dia juga melakukan kesalahan
besar karena telah melakukan analisa secara sembrawut dan menurut
sekehendak perutnya saja. Dia tidak dapat menganalisa dengan cara baik-baik
terhadap ayat yang dia paparkan itu , dia hanya mengambil satu kalimat “
Sekiranya Allah hendak mengambil anak” , lalu membuang kalimat selanjutnya
dari ayat tersebut, kemudian membuat jalan baru untuk menyesatkan jalan
pikiran orang beriman. Untuk itu marilah kita lihat dan kita pahami secara
menyeluruh ayat tersebut ;

“ Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang
dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci
Allah. Dia-lah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan (QS AzZumar 39:4) “.

Konteks ayat diatas sebenarnya adalah sebuah kalimat peng-andai-an “ Kalau


sekiranya”. Bagi manusia yang berpikir, ajakan dengan menggunakan kalimat
pengandaian merupakan sebuah kompromi pada tingkat yang paling rendah
dalam berpikir agar orang-orang tersebut dapat menggunakan pemikiran yang
paling sederhana. Dalam kontek ayat diatas, Allah mengajak orang-orang kafir
untuk berpikir, bagaimana sekiranya kalau Allah mengangkat atau memiliki anak?
Kalau Dia mengangkat seoang anak atau mempunyai seorang anak, mengapa Dia
harus memilih seorang manusia? Bukankah malaikat jauh lebih unggul dari pada
seorang manusia? Bukankah anak manusia tidak ada apa-apanya sewaktu dalam
rahim ibunya? Bukankah manusia hidup di dunia dalam jangka yang sangat
pendek? Bukankah manusia setelah menjadi mayat , tidak bisa berbuat apa-apa
lagi? Bukankah Yesus yang dianggap sebagai anak Tuhan dan sebagai Tuhan , juga
menemui ajalnya dan tidak kembali lagi hingga sekarang ini? Kenapa umat Kristen
masih mempetahankan kesimpulan pikirannya bahwa Yesus adalah anak tuhan
kemudian menjelma menjadi tuhan? Bagaimana kalian menggunakan pemikiran
kalian sehingga kalian terpengaruh oleh opini-opini orang lain yang sengaja
menyesatkan kalian ? Bagaimana jalan pikiran kalian, sehingga kalian mau
mengikuti jalan pikiran orang-orang yang jelas-jelas tidaklogis itu? Kenapa Allah
harus memilih manusia menjadi anaknya? Kenapa kalian berpikir begitu egois?
Bukankah yang kalian pikirkan itu hanyalah khayalan dan angan-angan kalian
semata? Begitulah makna dari keterangan ayat Al Qur’an pada surat Az Zumaar
ayat 4.
Tetapi misionaris picisan ini berkesimpulan aneh dengan caranya yang buta, dia
mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat, dia mempunyai otak tetapi tidak
digunakan untuk berpikir bijak, dia punya hati nurani tetapi sudah tertutup oleh
keengkaran dan kepicikannya. Dia sudah tidak mampu mengunakan nalarnya
dengan cara yang sewajarnya. Sehingga dia berpikir hanya berdasarkan
katahatinya yang buta dan sudah tertutup rapat.
Padahal ayat diatas tidak ada hubungannya dengan cara Allah SWT mengambil
anak atau beranak pinak, tetapi misionaris berhati iblis ini telah mengambil
kesimpulan sendiri bahwa Allah itu beranak dengan caranya sendiri. Tetapi
caraNYA itu sendiri berada dialam otaknya. Beginilah cara-cara iblis menyesatkan
orang-orang muslim agar menjadi kafir lagi. Misonaris ini telah bersekutu dengan
iblis untuk menyesatkan orang-orang beriman, sebagaimana yang sudah
diabadikan oleh keterangan Al Qur’an pada surat Al A’raaf ayat 202 yang
berbunyi ;

‫ال‬
“ Dan kawan-kawan mereka (orang-orang yang bersekutu dengan setan)
membantu setan-setan untuk menjalankan misi penyesatan itu dan seterusnya
mereka tidak henti-hentinya melakukan penyesatan ( qs Al A’raaf 7:202)”.
Jadi dalam hal ini, Allah dapat berbuat apa saja yang Dia kehendaki karena Dia
adalah Allah Maha segalanya, Allah semesta alam, yang tindakannya tidak akan
mungkin dapat dimengerti oleh manusia sebagai ciptaanNya, sebagaimana
tertuang di dalam Al Qur’an sbb :

Seperti yang sudah kita duga sebelumnya bahwa misionaris berbulu domba ini
akan mengambil kesimpulan dari sifat-sifat Allah SWT yang ada di dalam otaknya,
kemudian memaksakan isi otaknya itu agar Allah SWT berkehendak menciptakan
anaknya yang tunggal di atas bumi ini yaitu Yesus yang dia klaim sebagai hasil
kehendak Allah tersebut. Untuk menyenangkan hati kaum muslimin, dia
mencocokan hasil kesimpulannya dengan ayat Al Qur’an berikut ini;

Surat 6 Al An Aam ayat 102 :

“ Itulah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu,
maka sembahlah Dia dan Dialah pemelihara segala sesuatu “.

Emang licik sekali misionaris ini mengambil kesimpulan dengan hanya


menggunakan sebuah kata “ Sesuatu” yang terdapat dari terjemahan surat An
Aa’m ayat 102 diatas. Kemudian kata “ Sesuatu “ itu menjelma menjadi anak
Allah yang berujud manusia yang bernama Yesus. Begitulah kira-kira arti ayat
diatas menurut kehendak hati dan keinginan misionaris berbulu domba ini.
Setelah itu dilanjutkannya dengan kata-kata “ sembahlah Dia”. Tentu saja yang
dimaksud dengan yang disembah tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah “
sesuatu ” yang sudah menjelma manjadi anak manusia itu. Sepertinya misionaris
iblis ini, bukan lagi hendak merusak ayat-ayat Allah, tetapi sudah bermaksud
menghina , mengolok-olokan dan melecehkannya.

Padahal misinaris buta ini melakukan penjegalan ayat, dimana ayat tersebut
masih berhubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Untuk itu perlu
disampaikan secara keseluruhan yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah yang
dapat dipahami oleh manusia pada surat An Aa’m ayat 100-103 ;
“ Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal
Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan
mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa
(berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang
mereka berikan 100. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak
padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia
mengetahui segala sesuatu 101. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah
Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta
segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu 102.
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala
penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui
(QS Al An’am 6: 100-103)”.

Kalau dibaca dengan hati yang jernih dan dengan pikiran yang logis, maka pada
awal ayat pertama saja, sudah kelihatan bahwa ayat tersebut dapat
mematahkan jalan pikiran orang-orang kafir yang bersekutu dengan setan (
seperti misionaris ini). Jangankan Yesus yang terdiri dari unsur daging yang dapat
dianalisa oleh sain, setan sendiri yang jahat dan tidak diketahui keberadaannya
oleh manusia, ternyata juga tercipta oleh kehendak Allah. Ayat ini sudah
membantah habis dan memperingatkan misonaris iblis ini bahwa dia telah
berkata bohong dan beropini tanpa ilmu pengetahuan , dia hanya mengada-ada.
Ternyata Allah telah menyiapkan ayat-ayat yang berdekatan dengan ayat yang
diperolok-olokan oleh misionaris tersebut, sehingga tidak ada celah bagi iblis
untuk menyerang ayat-ayat Allah SWT. Begitulah Allah meletakkan ayat-ayat NYA
secara akurat dan dengan posisi yang kokoh sehingga tidak dapat diserang oleh
iblis yang berkeinginan untuk menghancurkannya. Dimana saja ayat Al Qur’an itu
diserang, maka ayat lainnya akan bangkit untuk membela dan anehnya lagi
ternyata sudah tersedia ayat yang berdekatan siap mematahkan argumentasi
para setan itu. Ternyata ayat-ayat di dalam Al Qur’an memang hebat , baik dalam
hal penempatan ayat-ayatnya maupun dalam hal menyampaikan argumentasi
yang masuk diakal serta memberikan solusi serangbalik (seperti sudah
dipersiapkan) untuk membentengi tujuan iblis untuk merusaknya. Orang Muslim
yang mengimani Al Qur’an, mengakui bahwa semuanya itu merupakan mukjizat
dari Allah SWT yang terdapat dalam sebuah mushaf yang tidak duanya di dunia
ini. Allahuakbar, Subhanallah.

Pada keterangan ayat 101 dari surat Al An’am diatas , lebih menjurus lagi untuk
menhancurkan buah pikiran yang sesat dari misionaris ini. Di dalam ayat ini Allah
mengajak orang-orang kafir untuk berfikir lebih realistis , dimana Allah
menggunakan kalimat peng-andai-an “bagaimana” atau “sekiranya” atau
“semisalnya”. Kalimat peng-andai-an “bagaimana” merupakan sebuah ajakan
yang bersifat kompriomis terhadap orang-orang supaya menggunakan jalan
pikiran yang paling rendah dan paling sederhana untuk memikirkan tentang
kekuasaan Allah SWT. “Bagaimana” mungkin Allah itu mempunyai anak
sementara Dia tidak mempunyai Istri, bagaimana mungkin Allah mempunyai Istri
sementara segala sesuatunya telah Dia ciptakan diseluruh alam semesta ini
bahkan Dia mengetahui sesuatu apapun terhadap seluruh ciptaannya itu. Maka
dari itu jangalah mengada-ada terhadap Allah janganlah menyamakan Allah
dengan keinginan dan sifat-sifat manusia dan janganlah berkata bohong dan
membohongi orang lain.

Sedangkan ayat 102 menjelaskaan bahwa hanya Allah yang berhak untuk
dijadikan sembahan, hanya Allah SWT tempat kita memohon dan meminta
pertolongan. Tidak ada ciptaan Allah, termasuk manusia (Yesus) , yang berhak
untuk disembah. Artinya bahwa orang yang menyembah apapun ciptaan Allah
SWT, maka orang tersebut dinyatakan kafir.

Pada ayat selanjutnya ( ayat 103) memperkuat keterangan ayat sebelumnya.


Keterangan ayat ini memberikan suatu kesimpulan bahwa semua materi yang
dapat dilihat oleh mata atau yang dapat dirasakan oleh pancaindra manusia,
maka itu bukanlah Allah SWT. Siapapun tidak akan mampu melihat Allah SWT dan
memang Allah itu tidak terlihat. Jadi suatu kebohongan apabila misionaris ini
menyimpulkan bahwa Yesus adalah anak Allah SWT kemudian menjelma menjadi
Allah SWT, lalu misionaris ini menyembah Yesus sebagai Allah SWT. Dan lebih
celaka lagi kalau dia mengajak orang muslim untuk mengikuti jejaknya yang sesat
itu.
Surat 59 Al Hasyr ayat 23 :

“ Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Penguasa, Maha Suci, Maha
Sejahtera, Maha Pemberi Keamanan, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha
Kuasa, yang memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah daripada apa yang
mereka persekutukan “.

Untuk itu mari kita pahami masud dan makna ayat dari surat Al Hasyr ayat 23 ;

‫ال‬

“ Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang
Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha
Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan,
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (QS Al Hasyr 59:23)”.

Ayat diatas menggambar tentang sifat-sifat Allah yang tidak akan dapat dimiliki
oleh manusia sehebat apapun dan jaga oleh makhluk lainnya di jagad raya ini.
Yang mempuyai kekuatan dan cirri-ciri itulah yang pantas menjadikan tempat kita
berdo’a, berlindung dan berserah diri padaNYA. Artinya Dia memang ada , dan
manusia memang lemah, lalu kepada siapa lagi manusia menyerakan dirinya atau
memohon petunjuk dan perlindungan?

Setelah memahami ayat-ayat Al Qur’an tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan


bahwa ayah dari Isa AS adalah Allah SWT sendiri yang telah memberikan Ruh- Nya
ke dalam rahim Maryam. Seperti kita ketahui bahwa Allah SWT itu adalah
berbentuk Ruh, dan jika Ruh Allah menjelma menjadi manusia di dalam Isa AS,
maka dapat dikatakan bahwa Allah SWT sendiri yang menjelma menjadi manusia.
Sebutan Allah dan Anak Allah adalah untuk menggambarkan hubungan antara Isa
AS sebagai manusia dengan Allah SWT sebagai Allah Ruh.

Seharusnya misionaris ini mengambil kesimpulan setelah menganalisa dengan


benar ayat diatas, kemudian baru menarik kesimpulan yang sepadan dengan apa
yang disampaikan oleh keterangan ayat diatas. Tetapi misionaris ini hanya
mengikuti jalan pikirannya sendiri yang tidak ada hubungannya sama sekali
dengan maksud ayat diatas. Sepertinya dia mengambil kesimpulan dari arahan
iblis yang ada di dalam hatinya sehingga dia tidak mengerti dengan apa yang dia
baca dalam ayat diatas. Pengertian ayat diatas kemana ? tetapi kesimpulan nya
kemana-mana. Ngak nyambung bahkan bertentangan dengan maksud ayat diatas.
Dia tidak mengerti dengan teks al qur’an, padahal dia tinggal membaca dengan
benar ayat tersebut. Sebenarnya dia tidak membaca ayat itu, dia menyampaikan
ayat tersebut bukan untuk dirinya, dia tidak mengerti dan tidak mau mengerti
dengan keterangan ayat itu. Dia menyampaikan kesimpulannya sendiri yang tidak
ada kaitannya dengan ayat itu, bahkan kesimpulannya itu bertentangan dengan
ayat Al Qur’an yang dia sodorkan. Dia sudah membabi buta dengan
kesimpulannya , dia tidak menggunakan akal sehatnya lagi, dia hanya menurutkan
hawa nafsunya yang sudah bersekutu dengan iblis untuk menyesatkan orang-
orang beriman, dia sengaja menghalang-halangi orang-orang beriman untuk
beribadat kepada Allah SWT, dia tidak mau tersesat sendirian sehingga dia
mengajak orang beriman untuk mengikuti langkah-langkahnya bersama iblis.

Untuk itu marilah kita bahas dan kita renungkan arti dan makna ayat diatas
dengan seksama dan dengan penuh kebersihan hati ;

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha
Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan …. dst ; kata-kata ini
bermakna bahwa adalah suatu kesalahan besar jika ada seseorang yang
mengatakan bahwa ada manusia yang disembah selain Allah, suatu kesalahan
besar jika seseorang mengatakan bahwa manusia menjelma menjadi Tuhan.
Kekuasaan , keagungan ataupun kebesaran Allah jauh berada diatas apa yang
dapat manusia bandingkan dengan segala ciptaanNYA. Allah SWT memiliki segala
keagungan melebihi dari manusia dan makluk ciptaaNYA yang lain. Allah SWT
memiliki segala keagungan itu seperti ; Dial ah Raja dari segala Raja, Dial ah yang
suci dari segala yang Suci, Dia lah yang berkuasa dari segala yang berkuasa, Dia
lah yang dapat memberikan Kesejahteraan dari apapun yang lebih sejahtera.

Kemudian diakhir ayat itu , Allah menyampaikan kaliamat “Maha Suci Allah dari
apa yang mereka persekutukan; ayat ini bermakna bahwa jalan pikiran misionaris
yang menyamakan Allah dengan hasil ciptan NYA yaitu Yesus , kemudian Yesus
merupakan bagian dari Ruh Allah SWT, lalu ruh itu adalah Allah itu sendiri,
sehingga Yesus sama dengan Allah, maka misonaris ini telah melakukan tindakan
mempersekutukan Allah dengan makhluknya. Jelas sekali bahwa kesimpulan
misionaris ini bertentangan dengan maksud dari ayat diatas.

Kembali terbukti bahwa ayat-ayat Allah tidak dapat diputar-balikkan oleh


pemikiran jahat dari utusan Iblis. Misionaris iblis ini tidak mampu menggunakan
akal sehatnya, tetapi dia hanya menggunakan nafsu setannya untuk mengelabui
orang-orang bodoh.

II.1 ISA AS ADALAH PERTANDA BAGI MANUSIA

Keberadaan Isa AS di dunia dalam pandangan Islam yang dituangkan dalam Al


Qur’an ialah bahwa Allah ingin menunjukkan kepada ummat manusia bahwa Isa
AS adalah pusat perhatian dan pusat panutan dengan mendapat rahmat dari Allah
yang menjadi pertanda bagi manusia sebagaimana dituangkan dalam ayat-ayat
berikut ini :

Surat 19 Maryam ayat 21 :

“ (Jibril) berkata “ Demikianlah Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagiKu”, Kami
hendak menjadikanNya (Isa AS) sebagai tanda bagi manusia dan sebagai rahmat
dari Kami, dan adalah urusan itu telah ditetapkan.

Misonaris ini mengambil ayat ini untuk memperkuat dakwahnya kepada umat
islam agar dengan ayat ini orang-orang muslim mengimani Yesus sebagai Tuhan
yang berwajud manusia di bumi ini. Di dalam pemikiran misionaris ini , dia
beranggapan bahwa yang berbicara atau yang berkata-kata di dalam ayat
tersebut adalah Allah , kerena menurut pemahamannya bahwa Jibril yang
dimaksud dari ayat tersebut merupakan salah satu pesonil di dalam ajaran
trinitas yaitu Firman. Padahal menurut keterangan ayat-ayat AL Qur’an tersebut
adalah Jibril . Malaikat Jibril mempunyai yang kedudukan tinggi disisi Allah. Di
dalam ayat diatas Malaikat Jibril berdialog dengan Maryam pada saat hendak
menyampaikan berita bahwa Allah SWT berkehendak memberi Maryam seorang
anak. Sebenarnya ayat tersebut masih berhubungan dengan ayat-ayat
sebelumnya yang mengabadikan tentang kisah, drama atau dialog antara
Maryam yang kedatangan seorang tamu berbentuk seorang laki-laki yang
ternyata dia adalah Malaikat Jibril. Berita yang disampaikan malaikat Jibril kepada
Maryam tersebut membuat kecurigaan dan ketakutan Maryam terhadap
tamunnya itu.

Beginilah ceritanya ;

Pada suatu ketika, Maryam kedatangan seorang tamu laki-laki (di mihrabnya)
dimana Maryam sangat kuatir dengan kedatangan laki-laki itu,

“… lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam
bentuk) manusia yang sempurna. “ (Qs Maryam 19:17) “.

Namun dengan ketabahan dan kekuatan imannya, Maryam berlindung kepada


Allah SWT terhadap tamu tersebut dan mengingatkan tamu tersebut agar
takutlah pada Alah SWT .

“ Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang
Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa (yang takut kepada Allah)" (qs
Maryam 19:18) “.

Malaikat Jibril segera menenangkan perasaan dan pikiran Maryam ,kemudian


menyampaikan maksud kedatangannya.

“ Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk
memberimu seorang anak laki-laki yang suci" (19:19) “.

Mendengar jawaban malaikat Jibril tersebut, maka Maryampun merasa tenang


dan tidak takut lagi, namun setelah mendengar maksud kedatangan Jibril tersebut
tentu saja Maryam merasa heran dan kaget, lalu balik bertanya kepada malaikat
Jibril tersebut;
“ Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak
pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina (qs
Maryam 19:20)!"
Namun Malaikat Jibril itu kembali meyakinkan pikiran Maryam agar tidak
berprasangka jelek;

“ Jibril berkata: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku
(Allah); dan agar dapat Kami (Allah) menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan
sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan
(19:21) “.

Setelah Jibril menyampaikan Firman dan ketetapan Allah SWT tersebut, maka
Maryampun bertambah tenang hatinya dan bertambah yakinlah dia bahwa yang
datang itu benar-benar utusan Allah yang hendak menyampaikan perintah Allah
kepada dirinya. Tetapi sebelumnya Maryam tidak percaya begitu saja atas
keterangan tamu yang mengaku sebagai JIbril itu, beberapa kali Jibril berusaha
meyakinkan Maryam dengan keterangan seperti yang tercantum pada surat Ali
Imran ayat 42 dan ayat 46;

“ Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah
telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di
dunia ( qs Ali „Imran 3:42) “.

“ (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah


menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan
kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang
terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan
(kepada Allah) )( qs Ali ‟Imran3:45) “.

Malaikat Jibril juga menyampaikan tentang ketetapan Allah yang telah memilih
Maryam yang akan melahirkan seorang Nabi sebagai rahmat dan petunjuk dari
Allah kepada umat Bani Israel dalam surat Maryam ayat 21;

" Jibril berkata: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku;
dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat
dari Kami; dan hal itu adalah suatu ketetapan yang sudah diputuskan (19:21)”.
Setelah Maryam merasa sudah yakin dengan apa yang disampaikan oleh Jibril ,
dengan penuh keihlasan dan ketakwaanya , dia menerima ketetapan Allah SWT .
Maka Allah SWT dengan kalimatnya “KUNFAYAKUN (JADILAH)”
menciptakan Al Masih putra Maryam dengan Ruh Nya, lalu hamillah Maryam.

“ .. Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah


berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya:
"Jadilah", lalu jadilah dia ..”(qs AliI ‟IMran3:47) “.

Allah juga mengulangi tentang penciptaan Isa pada surat An Nisa’ ayat 172.

“..Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang
diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan
tiupan) roh dari-Nya . (Qs An Nisa‟ 4:172) “.

II.2 ISA AS MEMPUNYAI KEDUDUKAN YANG PALING TINGGI

Di dalam Al Qur’an, Isa AS tidak saja ditempatkan pada kedudukan khusus dan
terhormat, tetapi juga secara tegas dijelaskan bahwa Isa AS, adalah orang yang
dekat dengan Allah, dan seorang yg terkemuka di seluruh dunia dan di akhirat.

Surat 3 Ali Imran ayat 45 :

“ Ketika malaikat berkata : “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan


kamu dengan Kalimah dari padaNya, namanya Almasih Putra Maryam, terkemuka
di dunia dan di akhirat dan adalah orang yang paling dekat dengan Allah. (Idz
qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim minhus muhul
masihu ‘isabnu Maryama wajihan fiddun-yaa wal akhirati wa minal muqarrabiin)

Orang yang terkemuka di dunia artinya adalah orang yang paling tinggi
kedudukannya di dunia, dapat pula disamakan dengan pemimpin seluruh dunia
atau raja dunia. (Bandingkan dengan kata orang terkaya di dunia, maka ia adalah
orang yang paling kaya di dunia !!!). Isa AS tidak saja terkemuka di dunia, tetapi
juga terkemuka di akhirat atau yang paling tinggi kedudukannya di akhirat.
Selain itu juga Isa adalah orang yang paling dekat dengan Allah, karena Isa AS
tidak lain dan tidak bukan adalah Allah sendiri melalui RuhNya yang menjelma
menjadi manusia.

Tidak ada keterangan di dalam Al Qur;an yang menyatakan bahwa Isa merupakan
bagian dari Ruh Allah , kemudian melalui RuhNYA dia menjelma menjadi manusia.
Kemudian manusia ciptaaNYA tersebut sama dengan ALLAH. Misionaris
laknatullah ini terus menggunakan jalan pikirannya yang sudah diracuni oleh ahli
kitabnya zaman dulu yang bersekutu dengan iblis, lalu dia diperintahkan oleh
para sekutunya untuk menyampaikan pengkabaran yang ganjil terdengar oleh
kuping orang islam.

Menurut yg diketahui Al Qur’an, akhirat adalah sesuatu gaib dan tidak dapat
ditangkap oleh panca indra. Yang dimaksud dengan akhirat di sini adalah
kehidupan sesudah kehidupan dunia berakhir. Untuk urusan akhirat hanya Allah
SWT yg mengetahui dan hanya Allah SWT yang menguasainya. Tidak ada yang lain
sebagai penguasa dunia dan akhirat ini selain daripada Allah SWT sendiri.

Dalam mukadimah di awal paragraf diatas, misionaris yang berlagak pintar ini
menyatakan bahwa seolah-olah informasi tentang adanya hari akhirat tersebut
merupakan cerita fiktif dari al quran (katanya “yang diketahui Al Qur’an” ). Namun
misonaris berbulu domba ini mengambil juga informasi hari akhirat yang ada di
dalam AL Qur’an tersebut untuk menjalankan misinya, yaitu dengan mencocokan
kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada nabi isa As, baik di dunia maupun
diakhirat. Dalam hal ini misionatis munafik ini berkesimpulan bahwa tidak ada
kemunginan lain kecuali bahwa Isa as dan Allah merupakan wujud yang sama
diakhirat. Menurut opini misionaris kemasukan setan ini, bahwa yang menguasai
akhirat adalah Allah SWT yang merupakan perujudan dari Isa. Karena kekuasaan
Allah di akhirat tidak dapat dibagi, maka Isa dan Allah merupakan satu kesatuan
yang tidak terpisahkan. Misionaris yang rada gila ini mencangkok isi kepalanya
dengan dugaan yang sudah dia baca dari sepotong ayat di dalam Al Qur’an.
Misionaris ini bukannya sembuh setelah membaca ayat-ayat Al Qur’an, tetapi
kegilaannya bertambah menjadi-jadi. Dia tidak mendapat petunjuk apapun
setelah membaca ayat-ayat Allah, tetapi Allah sudah menutup mata, hati dan
telinganya, sehingga dia menjadi buta, bisu dan tuli dan tidak mampu
menyampaikan kebenaran yang sesuai dengan logika sehatnya. Dia bermaksud
merusak dan memperolok-olokan ayat-ayat Allah SWT, tetapi sebenarnya dia
tidak menyadari kalau dia telah merusak dan memperolok-olokan dirinya sendiri.

Dengan menyatakan bahwa Isa AS adalah terkemuka di dunia dan akhirat, jelas
sekali terlihat bahwa Al Qur’an menempatkan kedudukan Isa AS sangat istimewa,
bersamaan dengan keberadaan Allah SWT sebagai penguasa dunia dan akhirat.

Pada paragraph diatas, misionaris ini menyampaikan bahwa Al Qur’an


memperlakukan Isa As bukan hanya teristimewa, tetapi mempunyai kesamaan
sebagai penguasa diakhirat. Sepertinya dia menterjemahkan dan memaknai ayat-
ayat Al Qur’an seenak perutnya saja. Dia tidak memahami maksud ayat tersebut
sama sekali , kemudian berlagak pintar pula untuk mengajari orang-orang muslim
dengan ayat Al Qur’an tersebut. Maka tentu saja semua orang muslim yang
mendengar dan membaca buku tulisan misionaris ini akan tertawa. Bukan
tertawa karena kelucuannya, tetapi karena mentertawakan karena kegilaannya.

Apakah dengan demikian Allah membagi kekuasaannya dengan Isa AS.

Jawabannya sekali-kali tidak. Sebab Allah SWT sebagai Allah yang berkuasa, yang
adalah Allah yang berbentuk Ruh, dan Isa AS itu adalah Ruh Allah SWT sendiri.

Benar-benar gendeng misionaris ini, pada paragraph sebelumnya dia mengatakan


bahwa sosok Allah dan Isa As telah menyatukan kekuatan diakhirat, tetapi pada
paragraph setelah itu dia menyangkal lagi keterangnya sendiri bahwa tidak
mungkin Isa As dan Allah membagi kekuasaanya diakhirat. Alasannya adalah ruh
Isa sudah kembali ke asalnya yaitu telah berubah menjadi wujud Allah lagi.
Misonaris ini tentu berpikir bahwa dia lebih mengetahui tentang Ujud Allah dari
pada Allah sendiri, sehingga dia ingin mendakwahi orang-orang islam yang
dikiranya telah mengalami kegagalan dalam mendefinisikan hakikat Allah SWT.
Jadi tidak ada pembagian kekuasaan Allah di dunia dan akhirat, Hanya ada SATU
ALLAH YANG MAHA ESA di dunia dan akhirat ini. Jadi Isa AS adalah Allah SWT
sendiri yang menjelma menjadi manusia, seperti dijelaskan dalam ayat Al Qur’an
berikut ini :

Kalau ada paragraph sebelumnya misionaris gendeng ini menyimpulkan bahwa Isa
As diakhirat menjelma menjadi Allah , tetapi pada paragraph ini, dia
menyimpulkan bahwa Allah SWT sendiri juga menjelma menjadi manusia. Dan
untuk memperkuat analisanya , misionaris yang sudah kerasukan setan ini
menggunakan ayat-ayat berikut. Untuk itu marilah kita ikuti jalan pikiran
misionaris sudah rada gila ini.

Surat 19 Maryam ayat 17 :

...Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka Ia menjelma dihadapanNYA


menjadi manusia yang sempurna." (...arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala
lahaa basyaran sawiyya.)

Ternyata misionaris ini mengambil bagian awal dari ayat 17 surat Maryam,
kemudian merubah keterangan ayat-ayat berikutnya. Misionaris laknatullah ini
telah merusak ayat-ayat Al Qur’an .

Untuk itu marilah kita analisa ayat al Qur’an yang sudah diacak-acak oleh
misionaris gila ini ;

“ maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus
roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang
sempurna ( QS Maryam 19:17)”.

Ayat ini sebenarnya masih berhubungan dengan keterangan ayat sebelumnya


yaitu ;
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan
diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur ( QS Maryam 19:16)”,

Pada ayat 16 surat Maryam ini, diceritakanlah tentang kisah Kelahiran Nabi Isa di
dalam Al Qur’an kepada nabi Muhammad. Kalimat “ ceritakanlah (kisah) “
bermakna bahwa Allah memerintahkan kepada Malaikat JIbril untuk
menyampaikan kisah tentang kelahiran Isa kepada Muhammad . Pada ayat 16 ini
, diceritakan bahwa Maryam sudah berada di bait Allah di daerah palestina
(sebagian besar ulama mengatakan di Baitulmaqdis) yaitu ketika dia masih belajar
dibawah pendidikan nabi Zakaria. Kemudian terjadilah suatu peristiwa yang
diterangkan pada ayat 17 berikutnya.

Ketika Maryam sedang berada didalam mihrab (tempat shalat yang tertutup
tabir atau terhalang dari pandangan mata), maka datanglah malaikat utusan
Allah SWT . untuk itu marilah kita perhatikan setiap kata dari surat Maryam ayat
17 tersebut;

“ maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka “ ; kalimat teks ini
mengatakan bahwa Maryam ketika itu masih berada di dalam mihrab terlindung
pandangan mata laki-laki yang suka usil.

“ Lalu Kami” ; kata “Kami” disini bukan berarti sosok Malaikat, tetapi adalah kata
pengganti dari sebutan nama “Allah “ yang mengutus seseorang makhluk
kehadapan Maryam.

“mengutus roh Kami kepadanya “; roh yang dimaksud disini adalah sosok Malaikat
Jibril. Sedangkan kata “Kami” disini adalah kata pengganti sebutan nama “Allah
SWT” yang telah mengutus JIbril kehadapan Maryam.

“ kepadanya”; yang dimaksud disini adalah diri Maryam ( “ Allah mengutus


Malaikat JIbril kepada Maryam). Jadi kalimat “ lalu Kami mengutus roh Kami
kepadanya” bermakna bahwa Allah mengutus utusannya berupa Malaikat
kepada Maryam.
“maka ia menjelma di hadapannya” ; yang dimaksud menjelma disini adalah sosok
Malaikat Jibril yang menampakkan dirinya secara sempurna dihadapan Maryam
(sebagai sosok seorang laki-laki yang utuh dan dapat berkumunikasi dengan
maryam).

Jadi di dalam cerita ayat 17 tersebut terdapat 3 pelaku utama yaitu ; “1.
Roh=malaikat “, 2. Kami = (Allah) dan yang ke tiga “ 3. kepadanya = Maryam”.

Kemudian marilah kita bandingkan dengan ayat yang sudah dipelintir oleh
misionaris iblis ini ;

pada kalimat ini terdapat 3 unsur yaitu 1. Kami


Kami mengutus Roh Kami kepadanya ;
2. Roh dan 3.Kepadanya. Pertanyaannya adalah siapakah Kami? Siapakah Roh dan
siapakah kepadanya. Untuk menjelaskannya, misionaris ini merubah keterangan
ayat selanjutnya menjadi ;

“maka Ia menjelma dihadapanNYA menjadi manusia yang sempurna : Sepertinya


kalimat yang sudah dia rekayasa ini, tidak nyambung dengan kalimat yang dia
sampaikan sebelumnya. Apakah yang dimaksud dengan kalimat “ Ia menjelma
dihadapanNYA “ ? siapakah “ Ia ” dan siapa pulakah yang dimaksud dangan kata “
NYA” itu? Yang jelas misionaris iblis ini berasumsi bahwa

“ Ia = Isa “ dan

“ NYA = Allah “ ,

artinya Isa telah menjelma menjadi Allah, atau ;

“ Ia = Isa = Allah “.

Kemudian akan muncul lagi pertanyaan berikutnya yaitu dari kalimat “ menjadi
manusia yang sempurna” siapakah yang dimaksud dengan manusia yang sempurna
itu? Padahal pada keterangan ayat diatas Isa belum lahir dan Maryam pun belum
Hamil, justru ayat ini baru berupa pengkabaran akan kelahiran Isa As. Jadi siapa
yang dimaksud dengan manusia yang sempurna pada ayat yang sudah plintiran
oleh misionaris iblis ini ? Kemudian unsur ketiga “ kepadanya” yang disebutkan
pada kalimat awal seperti lenyap ditelan nalarnya sendiri.
Jelas sekali bahwa misionaris gendeng ini hanya berlagak pintar , dia
menggunakan analisa seperti professor yang hidup di abad milllenium, tetapi
pola pikiranya sama saja dengan orang yang hidup pada zaman primitive yang
dipengaruhi oleh pemikiran agama Animisme di zaman purba.

Kembali Al Qur’an membuktikan kekokohan ayat-ayatnya. Al Qur’an tidak akan


dapat dirusak oleh tangan-tangan iblis atau siapapun , kerena kata-kata yang
tersusun di dalam ayat-ayat tersebut benar-benar kokoh saling berkaitan dan
saling menyeimbangkan. Maha benar Allah dengan segala FirmanNYA.

Jadi bahasa apakah yang disampaikan oleh misionaris gendeng ini pada ayatnya
diatas ? Sepertinya misionaris ini sedang tidak menggunakan bahasa Bible dan
tidak pula menggunakan bahasa Al Qur’an. Berkemungkinan besar dia sedang
mengunakan mantra-mantra yang dia peroleh dari bisikan setan. Dia sedang
berkomat-kamit dengan jampi-jampinya untuk mempengaruhi jalan pikiran orang
–orang sehat supaya segera menjadi sakit. Dengan mantra-mantra itu jangan
diharap ada orang keserupan akan sadar tetapi sebaliknya akan menjadi gila lalu
menyerang dukun yang sedang membacakan ayat-ayat setan itu.

II.3 ISA AS ADALAH MUSLIM / ISLAM.

Semua agama yang dibawa oleh nabi-nabi atau rasul-rasul terdahulu adalah
agama tauhid, yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebutan atau istilah yang diberikan
kepada pemeluk agama tauhid ini adalah Muslim atau Islam.

Demikian pula halnya dengan agama yg dibawakan oleh nabi Ibrahim AS, nabi
Musa AS, nabi Isa AS, nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi lainnya adalah agama
Islam. Istilah Muslim atau Islam atau Aslim berarti penyerahan sepenuhnya
kepada Allah SWT sebagai mana yang tertuang di dalam ayat-ayat

Al Qur’an sbb :

Surat 2 Al Baqarah ayat 128 (dikutip sebagian):


“ Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua ini (Ibrahim dan Ismail) seorang Muslim
kepadaMu, dan diantara anak cucu kami umat yang Muslim kepadaMu”.

Surat 2 Al Baqarah ayat 131 :

“ (Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya “Islamlah”. Ibrahim menjawab


“Saya telah Islam kepada Tuhan semesta alam”.

Misoinaris ini melakukan perombakan dan merubah arti dan makna ayat-ayat AL
Qur’an sesuai dengan tujuan misinya untuk membengkokkan cara berpikir orang-
orang sehat. Dia mendapat wangsit dan bisikan dari iblis untuk menyesatkan
umat islam. Sepertinya misonaris ini berlagak pintar untuk memberi kuliah
tentang tafsir ayat-ayat AL Qur’an kepada orang-orang islam yang menurut
dugaannya masih belum mengerti tentang al Qur’annya.

“ Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab:


"Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam (QS Al Baqaraah 2:131)".

= ketika berkata padanya


= Tuhannya
= kata kerja aktif/perintah; berserah dirilah/takutlah/tuduklah

= berkata/menjawab (Ibrahim)
= kata kerja intrasitif/pasiv; menjadi berserah diri/takut/tunduk
= kepada/kepunyaan/milik Tuhannya
= sekalian alam/alam semesta
Apakah tujuan misonaris iblis ini merubah makna ayat diatas? Lalu
menyampaikannya kepada seluruh umat islam yang bisa dipengaruhinya.

Untuk itu marilah kita ikuti langkah-langkahnya berikut ini ;

Surat 27 An Naml ayat 91 :

“ Sesungguhnya aku hanya diperintahkan menyembah Tuhan (yang mempunyai )


negeri ini yang Dia telah mensucikan dan kepunyaanNyalah segala sesuatu. Dan
aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim)
“.

Ayat diatas sudah diplintirnya, untuk itu marilah kita lihat ayat yang sebanarnya ;

“ Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah
menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan
supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)
(QS Am Naml 27:91)”.

Ayat ini menceritakan tentang isi dakwah atau pidato nabi Ibrahim ketika selesai
merenovasi bangunan baitullah di Mekah. Dalam pidatonya itu nabi Ibrahim
berpesan kepada anaknya Ismael dan seluruh penduduk di negri Mekah bahwa
renovasi pembangunan tempat beribadah tersebut dilakukannya atas Perintah
Allah SWT, yaitu Allah yang menguasai segala sesuatu termasuk negri Mekah itu.
Ayat ini masih berhubungan dengan surat Al Baqaraah ayat 131 tadi ,
sebagaimana yang sudah disampaikan oleh misionaris di atas, yaitu tentang
perintah Allah agar Ibrahim termasuk orang yang berserah diri atau yang takut
kepada kebesaran Allah SWT. Sedangkan kata-kata pada ayat di atas
berarti “ agar dia menjadi orang muslim yang berserah diri ”. sedangkan
pada ayat 113 dari surat Al Baqaraah menggunakan kata “ = aslamta” yang
berarti tunduklah dan “ = aslamtu “ yang berarti aku menjadi tunduk.

Jadi didalam ayat-ayat tersebut diatas , Allah telah memasangkan kata-kata yang
mempunyai arti dan makna yang berbeda sesuai dengan maksud penyampaian
dari masing-masing ayat di dalam surat yang berbeda tersebut, padahal letak
ayat tersebut berjauhan sekali (dari surat nomor 2 ke surat nomor 27). Tentu saja
Allah sudah memperhitungkan kata-katanya yang ditanamkan pada masing-
masing ayat-ayat tersebut, sehingga tidak dapat diserang oleh tangan-tangn iblis
yang berniat untuk merusaknya. Maha benar Allah dengan segala FirmanNYA,
Subhanallah, Allahuakbar.

Sekarang kita mencoba menganalisa ayat-ayat baru yang disampaikan oleh


misionaris gendeng di atas ;

“ Sesungguhnya aku hanya diperintahkan menyembah Tuhan (yang mempunyai )


negeri ini “ ; kalimat ini menunjukkan bahwa Ibrahim hanya diperintahkan oleh
penguasa setempat atau Allah yang ada dinegri Mekah saja. Artinya masih ada
Allah di negri lain yang tidak memerintahkan sesuatu kepada Ibrahim.

“yang Dia telah mensucikan dan kepunyaanNyalah segala sesuatu” ; sepertinya


kalimat ini tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya. Kalimat ini benar-benar
amburadul , tidak jelas ujung pangkalnya dan tidak memenuhi ketentuan tata
bahasa yang benar , bahkan saling bertolak belakang dengan keterangan kalimat
sebelumnya. Pada kalimat pertama terdapat suatu maksud bahwa ada perintah
kepada Ibrahim untuk menyembah Tuhan atau penguasa di negeri setempat,
tetapi kalimat ini dibantahnya lagi dengan kalimat “ KepunyaNyalah segala sesuatu”.
Lalu siapakah yang dimaksud dengan kata “ Dia yang telah mensucikan” itu ? benar-
benar kacau dan membingungkan susunan kata-kata misionaris gila ini.

Maka terbuktilah kebenaran ayat Allah yang diabadikanNYA di dalam surat Al


Baqaraah ayat 9 yang berbunyi ;
“ Mereka hendak menipu Allah beserta orang-orang yang beriman, pada hal mereka
hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar ( QS Al Baqaraah 2:9)”.

Misionaris setan ini sudah merasa bangga dengan kemampuannya merubah ayat-
ayat Allah SWT, kemudian menyampaikan penipuannya kepada Allah dan orang-
orang beriman , tetapi ternyata dia telah menipu dirinya sendiri. Ini merupakan
kerugian yang tidak ternilai bagi dirinya sendiri , tetapi dia tetap tidak
menyadarinya. Begitulah maksud ayat diatas.

II.4 ISA AS DIBEDAKAN DARI NABI-NABI LAINNYA.

II.4.1 Hanya Isa AS yang lahir atas firman Allah

Nabi-nabi lainnya dilahirkan ke dunia dari hasil perkawinan biologis antara ayah
dan ibunya yang melahirkannya ke dunia. Sedangkan Isa AS adalah satusatunya
nabi yang dilahirkan atas Kalimah / Firman Allah yang disampaikan kepada
Maryam dengan Ruh Allah SWT sendiri.

Sepertinya misionaris ini hanya berpikiran dan berkesimpulan bahwa anak hanya
dapat dihasilkan dari sebuah perkawinan biologis antara pasangan bapak dan
ibunya. Artinya reproduksi manusia hanya dapat dihasilkan oleh karena adanya
proses perkawinan biologis antara laki-laki dan perempuan. Dia sedang
membayangkan , kalau ada manusia atau anak manusia yang lahir dengan cara
tanpa perkawinan yang tidak wajar , maka anak yang lahir itu bukanlah manusia
yang lumrah. Karena Isa dilahirkan tanpa proses pekawinan, sehingga dia tidak
mempunyai Bapak, lalu dalam pikirannya terlintas bahwa pastilah anak itu ,
adalah anak Tuhan. Dia sedang menganalisa hubungan antara anak yang tidak
mempunyai Bapak tersebut dengan Allah sang pencipta. Dia mempunyai
kesimpulan sendiri sesuai dengan arahan pimpinan gerejanya atau dari bisikan
iblis yang berseru dari dalam dadanya. Kesimpulannya adalah “ tidak ada anak
tanpa Bapak kecuali dia adalah Tuhan itu sendiri. Kesimpulannya itu akan
ditransferkan kedalam iman orang-orang muslim. Dengan cara apakah dia
mentrasfer ilmu magic itu? Ternyata caranya dengan merusak kebenaran ayat-
ayat Allah SWT yang ada di dalam Al Qur’an.

Sepertinya misionaris rada gila ini, terbelenggu oleh pikiran primitifnya sesuai
dengan ajaran agama anismisme yang dianut oleh pemimpin Gerejanya saat itu.
Padahal kalau hatinuraninya serta pola berpikirnya sedikit lebih terbuka, maka dia
akan tercengang untuk menganalisa kejadian makluk ciptaan Allah yang lainnya
seperti ;

- Nabi Adam diciptakan oleh Allah tanpa melalui proses kelahiran.


Sementara Isa As terlahir kedunia melalui proses persalinan dari seorang
ibu/wanita yang bernama Maryam. Menurut logika akal yang sehat,
seharusnya penciptaan Adam lebih Sulit dari pada penciptaan Isa.
Penciptaan Adam tanpa adanya ibu dan tanpa ada bapaknya. Bahkan konon
kabarnya, Istri Adam tercipta dari tulang rusuk Adam sendiri sehingga
beranakpinak dan beranakcuculah mereka, dari anakcucunya terlahirlah
seorang wanita yang bernama Maryam. Tanpa Adam tidak mungkin ada
Maryam. Maryam inilah yang kemudian menjadi ibu Nabi Isa As. Jadi kalau
misionaris in berpikir bijaksana, arif dan logis, maka Adam AS lebih berhak
menyandang anak Allah SWT. Adam lebih pantas menyandang anak Tuhan
yang tunggal dari pada Isa AS, karena kelahiran Isa As kedunia ini masih
tergantung kepada keberadaan Adam. Tanpa keberadaan Adam maka tidak
mungkin Maryam lahir keduia ini. Jadi kenapa misionaris picik ini lebih
mengagung-agungkan Isa sebagai anak Allah yang tunggal dari pada Adam
As. Nabi Adam AS lebih berhak menerima anugrah sebagai anak Allah yang
tunggal dari pada Isa As. Jadi terbuktilah bahwa penciptaan Adam AS yang
tercantum di dalam surat Ali Imran ayat 59 (Sesungguhnya semisal
(penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah
menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:
"Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.) merupakan sanggahan yang
disampaikan Allah di dalam Al Qur’an untuk meruntuhkan logika picik
misionaris palsu ini.

- Bukan hanya Isa As saja yang lahir tanpa ada Bapaknya. Masih banyak lagi
makhluk ciptaan Allah SWT yang terlahir dibumi ini tanpa memiliki Bapak
atau ibunya. Lihat saja makhluk hewan kecil yang bernama cacing tanah,
dia dapat menghasilkan keturunannya tanpa melibatkan pasangannya.
Walaupun cacing tanah ini merupakan hewan, tetapi dia termasuk makhluk
ciptaan Allah yang mempunyai nyawa, sama dengan manusia yang juga
mempunyai nyawa. Jika nyawa itu hilang dari badan maka dia hanyalah
seonggok daging yang disebut mayat. Begitu juga dengan hewan kecil
lainnya seperti amueba atau sejenis bakteri yang dapat menghasilkan
anaknya tanpa proses perkawinan, yaitu dengan cara membelah dirinya
sendiri, sehingga dalam waktu beberapa jam saja hewan kecil ini akan
berlipat ganda dengan jumlah yang sangat mengagumkan. Jadi menurut
logika sehat, kelahiran hewan-hewan kecil ini sangat menakjub
dibandingkan dengan kelahiran Isa As sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Namun Misionaris primitive yang hidup dizaman Millenium ini masih terikat
dengan pemikiran ajaran animism di zaman purba.

- Pengkabaran tentang kelahiran Isa As yang tidak lumrah dan aneh itu,
kemudian disimpulkan bahwa Isa As benar-benar anak langsung dari Tuhan,
berita ini hanya dapat dipercaya oleh orang-orang yang hidup dizaman
purbakala yaitu pada zaman ketika Isa As terlahir dan sebelum Al Qur’an
turun. Namun pada zaman abad Millenium ini , dimana ilmu pengetahui
sudah begitu tingginya dibandingkan dengan zaman itu, maka berita
tersebut sudah tidak relevan lagi dan sudah tidak sesuai lagi dengan
perkembangan ilmu pengetahuan yang dicapai di abad modern ini. Pada
saat ini , ilmu dan teknologi dibidang Genetika dan ilmu kedokteran di
bidang Embriology sudah begitu canggih, sehingga kelahiran anak tanpa
melibatkan seorang Bapak bukan lagi sebuah omong kosong, bukan lagi
sebuah khayalan, bukan lagi sebuah ilusi, bukan lagi sebuah opini, bukan
lagi isapan jempol belaka.
-

Foto domba Dolly bersama Tuhannya Ian


Willnut 1996. Kelahiran Dolly mirip
kelahiran Tuhan Yesus yakni tanpa bapak
domba sama sekali. Dolly terlahir
dari organ tubuh ibunya sendiri
tanpa pembuahan sperma dan
tanpa perkawinan.

- Kesimpulan bahwa anak manusia yang terlahir tanpa Bapak kemudian


disimpulkan sebagai anak langsung dari Allah, merupakan pendapat yang
tidak dapat diterima oleh bukti ilmiah dan hasil penemuan yang diperoleh
oleh para pakar Genetika dan ahli Kedokteran. Sekarang ini saja , dengan
teknik rekayasa gen pada hewan ataupun gen Manusia, sudah berhasil
dikembangkan makhluk hidup baru yang disebut dengan HEWAN KLONING
ATAU MANUSIA KLONING. Sebagai bukti yang tidak terbantahkan adalah
domba yang bernama DOLLY yang tercipta dari teknologi rekayasa gen
domba betina yang dapat melahirkan anaknya sendiri tanpa peran domba
jantan sama sekali. Domba Dolly terlahir dari induknya sendiri tanpa
perkawinan atau tanpa pembuahan dari sperma domba jantan. Domba
yang bernama Dolly ini terlahir dari bagian organ tubuh (daging) induknya
sendiri. Kemudian induk Dolly inipun hamil, kemudian melahirkan anaknya
sendiri yang merupakan dirinya sendiri. Persis seperti kejadian Yesus.

Kalau zaman bisa diputar mundur, maka apabila kelahiran domba Dolly ini
diperlihatkan kepada orang-orang primitive yang hidup dizaman Yesus,
tentu manusia purba itu akan menganggap sipembuat Domba Dolly itu
adalah Tuhannya Domba. Atau kalau hasil Kloning manusia diperlihatkan
kepada manusia zaman purba, maka professor yang menciptakan manusia
Kloning itu tentu akan dijadikan tuhannya Manusia lalu akan disembah oleh
mereka, termasuk oleh misonaris tadi.

Jadi kelahiran Isa As sebagai anak tanpa Bapak, pada zaman serba canggih
ini, dianggap bukan sebagai sesuatu keanehan yang berlebihan. Para pakar
ilmu Genetika dan ahli kedokteran dibidang Embryology tentu tidak dapat
menerima pendapat bahwa Kelahiran manusia tanpa Bapak dianggap
sebagai anak langsung Allah SWT, sebagaimana opini misonaris ketinggalan
zaman ini. Tentu saja, apabila dihubungkan dengan penemuan teknologi
Kloning manusia, maka Kelahiran Isa As sebagai anak tanpa Bapak
merupakan proses cloning alamiah yang merupakan rencana dari Allah
untuk menguji orang-orang yang beriman, siapakah diantara mereka yang
masih beriman kepada “Allah SWT” sebagai pencipta seluruh
makhlukNYA.

Jadi logika yang disampaikan di dalam ayat-ayat Al Qur’an masih relevan


dengan bukti sain dan teknologi yang berhasil dicapai oleh manusia abad
Millenium ini. Sementara opini dan kesimpulan yang disampaikan oleh
misionaris iblis ini sudah ketinggalan zaman dan akan ditinggalkan oleh
orang-orang yang mampu menggunakan akal sehatnya. Pada akhir zaman
nanti kitab Bible hanya merupakan lembaran kertas yang sudah tidak
berguna lagi.

Akhirnya kebatilan itu akan lenyap dimusnahkan oleh kebenaran yang


bersumber dari Allah SWT.

Surat 4 An Nisaa ayat 171 :

“ Hanya sesungguhnya Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, dan
dengan KalimahNya yang disampaikan kepada Maryam, dan Ruh daripadaNya.”
(Inamal Masihu 'isabnu Maryama rasulullahi wa kalimatuhu)

Kembali misionaris ini memotong-motong ayat al Qur’an kemudian membuang


bagian yang dipotongnya itu untuk maksud memperkuat dugaanya tentang Isa
sebagai bagaian dari ujud Allah. Padahal kalau ayat tersebut dipaparkan secara
keseluruhan, maka tenyata ayat tersebut justru menentang tabiat orang-orang
yang mempersekutukan manusia sebagai anak Allah . untuk itu marilah kita
paparkan secara keseluruhan ayat 4 daru surat An Nisa’ diatas ;

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah
kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa
putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya
yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka
berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan:
"(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu.
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak,
segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai
Pemelihara ( QS An Nisa’ 4:171)”.

Marilah kita jabarkan satu persatu kalimat diatas agar kita sebagai orang muslim
tidak bohong-bohongi oleh manusia berhati iblis ini ;

“ Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah
kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar “ ; Mukadimah ayat ini
sebenarnya ditujukan kepada ahli kitab zaman baheula dimana Allah
memperingati orang-orang yang sebenarnya memahami kitab suci mereka
kemudian melakukan kajian-kajian yang justru keluar dari inti yang disampaikan
oleh Allah di dalam kitabnya terdahulu. Mereka telah menyampaikan kejian yang
tidak benar kepada umatnya sendiri yang menyimpang dari yang sampaikan
kepada utusanNYA untuk mereka. Pertanyaan adalah ; pernyataan yang tidak
benar apakah yang telah dilakukan oleh ahli kitab itu? Jawababanya ada dalam
keterangan selanjutnya dari ayat ini .

“Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang
diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan
tiupan) roh dari-Nya” ; kalimat dari ayat ini menjawab pertanyaan diatas dimana
ahli kitab itu telah mengatakan sesuatu yang tidak benar kepada umatnya sendiri
yaitu dengan mengatakan bahwa Isa anak Maryam adalah anak Tuhan yang
menjelma menjadi Tuhan, sama dengan pencipta Isa itu sendiri. Jadi keterangan
ayat ini sebenarnya adalah sebuah pernyataan yang mengkritik opini ahli kitab
yang telah mendustai umatnya sendiri. Namun misionaris gila ini justru
menggunakan ayat ini untuk menghasilkan kesimpulan yang bertentangan dengan
maksud yang sebenarnya. Dia sudah tidak mampu mengunakan akalbudi nya , dia
hanya menggunakan nafsu setannya untuk mencari pembenaran sendiri. dia
bermaksud memperbodohi Allah dan orang muslim tetapi yang sebenarnya dia
hanya mendustai dirinya sediri.

“ Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu
mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik
bagimu. “ ; Ayat ini sebenarnya sebuah kalimat harapan dan nasehat agar ahli
kitab tersebut mempercayai (beriman) kepada hakikat Allah SWT sebagaimana
yang telah disampaikan oleh RasulNYA (utusanNYA) bukan membuat opini yang
menyesatkan umat. Ayat ini juga menentang kesimpulan ahli kitab tersebut yang
berasumsi bahwa Allah itu terdiri dari tiga unsur sebagaimana ajaran trinatas
yang ada di dalam opini ahli kitab yang telah mereka masukkan kedalam kitab
Bible yang ada sekarang ini. Sebenarnya ayat ini mengkritik ajaran trinitas yang
dianut oleh kaum nasrani.

“ Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak,
segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai
Pemelihara”. ; Kalimat ayat ini untuk memberi penjelasan yang sebenarnya
tentang hakikat Allah SWT yang tidak dapat disamakan dengan segala makluk
ciptaanNYA. Allah tidak membutuhkan anak, Allah itu Esa dalam arti yang
sesungguhnya, Allah itu memiliki, memelihara dan mengawasi seluruh
ciptaanNYA termasuk Isa As dan seluruh manusia.

Ternyata misionaris bermuka iblis ini ingin mendustakan ayat-ayat Allah di dalam
Al Qur’an untuk mengelabui umat islam yang belum beriman dengan cara
memutilasi ayat tersebut, kemudian menggiring orang muslim kedalam
perangkap iman misionaris ini.

Hadits Anas bin Malik hal 72 :


Isa As. adalah Roh Allah dan kalimatNya. (Isa faa innahu Rohullah wa kalimatuhu)
Kelahiran nabi lainnya dianggap sebagai kelahiran manusia biasa pada umumnya.
Kelahiran Isa AS kejadiannya diperumpamakan sama dengan kejadian nabi Adam
AS. Hal ini disebabkan karena kedua-duanya dilahirkan bukan dari hasil
perkawinan biologis antara laki-laki dan perempuan. Isa AS lahir sebagai anak
rohani yang merupakan Ruh Allah SWT sendiri, sedangkan nabi Adam AS
diciptakan oleh Allah SWT dari tanah menjadi manusia pertama di dunia. Hal ini
dapat dilihat pada ayat Al Qur’an berikut ini :

Pada paragraph diatas, misionaris keji ini menjelaskan sebuah hadis tetapi tidak
memperlihatkan hadis itu secara utuh, namun sudah dipolesnya sedemikian rupa
menurut nalarnya sendiri. Seolah-olah hadis itu memperkuat opininya
sebagaimana dia memelintir al qur’an untuk keperluan pribadinya.

Kemudian dia mengambil sebuah perumpamaan tentang kelahiran Adam dengan


kelahiran Isa As , dimana kedua Nabi ini sama-sama terlahir tanpa kehamilan
(hubungan biologis) namun berbeda dalam prosesnya. Adam terlahir dari tanah
sementara Isa telahir dari Roh. Jelas tujuannya adalah untuk mengarahkan jalan
pikiran orang muslim bahwa kelahiran dengan roh lebih tinggi nilainya dari pada
kelahiran yang berasal dari tanah. Artinya Isa As lebih mulia dari pada Adam
karena Isa berasal dari roh sedangkan Adam berasal dari tanah. Sehingga
misionaris ini merasa pantas sujud kepada Isa dari pada kepada Adam. Hal ini
sama saja ketika iblis yang tidak bersedia sujud kepada Adam karena Iblis merasa
lebih mulia karena tercipta dari api sementara Adam dari tanah. Artinya
misionaris ini merupakan iblis-iblis yang melanjutkan misinya kepada manusia
yang ada di atas permuakaan bumi. Misonaris ini mendapat bisikan temannya
untuk bermusuhan dengan orang-orang beriman.

Untuk memperdaya umat muslim, misionaris ini mencangkok surat Ali Imran
yang sudah direkayasanya sebagai berikut;

Surat 3 Aali Imran ayat 59 :


“ Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Isa di sisi Allah adalah seperti (kejadian)
Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya
“Jadilah”, maka jadilah dia “.

Untuk itu marilah kita lihat terjemah ayat di atas sebagaimana yang sudah
diterjemahkan oleh ahli-ahli tafsir yang berasal dari kaum muslimin sendiri.
Bagaimana mungkin kita harus mengikuti penjelasan misionaris iblis ini ,
sementara dia terus berusaha merusak keimanan kita ;

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah"
(seorang manusia), maka jadilah dia (QS Ali Imran 3:59)”.

Kata (masala) = semisal/seperti/seumpama. Tetapi misionaris licik ini


menterjemahkannya menjadi “perbandingan” , dengan tujuan untuk
membanding-bandingkan antara penciptaan Adam dengan penciptaan Isa.
Selanjutnya dia berkesimpulan bahwa penciptaan Isa lebih mulia dari pada Adam,
sehingga misionaris iblis ini sujud dan menyembah Isa As. Begitulah hasil rekayasa
misionaris yang bersekutu dengan setan untuk membohongi Allah dan orang-
orang beriman. Padahal misionaris ini membohongi dirinya sendiri.

II.4.2 Hanya Isa AS yang langsung berfirman.

Nabi-nabi lainnya menerima wahyu dari malaikat setelah mereka dewasa, melalui
malaikat Jibril. Sedangkan Isa AS tidak menerima wahyu, tetapi Isa AS langsung
berbicara mengucapkan perintah / firman Allah sejak dari bayi, sebagaimana
tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 19 Maryam ayat 29-32 :

“ Maka Maryam mengisyaratkan kepada anaknya. Mereka berkata “Bagaimana


kami berbicara dengan bayi yang masih dalam buaian ?? (Bayi) berkata
“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Allah memberiku Kitab dan dia
menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati
dimana saja aku berada. Dan dia memerintahkan aku salat dan zakat selama aku
hidup dan berbuat baik kepada ibuku dan dia tidak akan menjadikan aku seorang
yang sombong lagi celaka”.

Jelas sekali bahwa misionaris ini tidak dapat menggunakan akalbudinya dengan
baik dan benar, sehingga dia hanya memperturutkan hawa nafsunya yang telah
mempertuhankan opininya berdasarkan bisikan teman, sehingga dia tidak melihat
lagi kata-kata lain di dalam ayat itu yang justru membantah kesimpulan iblis ini.

Perhatikanlah lagi tafsir ayat diatas sebagai berikut;

“Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil)
dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” ; kata (a’bdu llahi) =
menghamba/mengabdikan diri kepada Allah. Kalimat ini berarti bahwa “ Isa
bukanlah Firman Allah atau bukan Allah pula yang berbicara”. Kemudian
dilanjutkan dengan “ ia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku
seorang nabi ” kalimat ini menerangkan bahwa Nabi Isa menerima KIitab dari
Allah dan Allah telah mengangkat Isa sebagai utusan atas seorang nabi untuk
manusia . Kalimat tersebut menunjukan bahwa “ yang memberikan kitab
kepada Isa adalah Allah dan Isa hanya sebagai penyampai apa yang disuruh oleh
Allah bukan sebagai Allah”.

Namun misionaris iblis ini memberikan kesimpulan yang bertentangan dengan


maksud kalimat ayat tersebut. Dia berkata bahwa Isa tidak membawa Wahyu
tetapi Isa adalah wahyu itu sendiri dan seterusnya Wahyu (isa As) itu adalah Allah
SWT. Karena tidak mungkin seorang bayi (anak manusia) dapat berbicara
sebagaimana layaknya seorang nabi.

Benar-benar sudah gila misionaris ini. Terbukti bahwa Misionaris ini adalah Iblis
yang menyamar menjadi seorang manusia.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 110 :


“ (Ingatlah) ketika Allah berfirman “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmatKu
kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan engkau dengan Ruhul
Kudus, engkau dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan
sesudah dewasa, dan ingat pula ketika Aku mengajar engkau Kitab, Hikmah,
Taurat dan Injil “.

Coba kita bahas keterangan ayat yang disampaikan oleh misionaris ini ;

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku
kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus” ;
Kalimat ini menunjukan bahwa Allah bersabda kepada Isa putra maryam, artinya
Allah memberikan petunjuk berupa Wahyu kepada Isa. Jadi di dalam kalimat
tersebut Allah merupakan pihak yang berkuasa sedangkan Isa sebagai pihak yang
diperintahkan, Isa sebagai makhluk yang menuruti perintah Allah . Pada kalimat
selanjutnya dinyatakan bahwa Allah menyuruh Maryam dan anaknya Isa As agar
mengingat-ingat tentang karunia, hadiah atau nikmat yang pernah diberikan
Allah kepada mereka. Hal ini berarti bahwa isa bukanlah Nikmat itu sendiri dan Isa
bukan Allah. Sedangkan Ruhul Qudus yang dimaksud disini adalah Malaikat Jibril
yang selalu memberi semangat dan nasehat kepada Maryam agar tetap sabar dan
tabah ketika menghadapi masa kehamilannya. Begitu juga ketika menghadapi
saat-saat menanti persalinan atau kelahiran bayinya Isa As, dimana Malaikat
jibril atau Rohul Qudus tersebut mendampingi Maryam membantu dukungan
moril kepada Maryam dalam menghadapi masa kelahiran anaknya dan juga
sesudah kelahiran anaknya tesebut. Baca keterangan ayat selanjutnya dari surat
Maryam dari ayat 21 – 27. Jadi Ruhul Kudus yang dimaksud pada kalimat di ayat
diatas bukanlah Allah SWT dan bukan pula Roh Allah sebagaimana yang ada di
dalam pikiran dan opini misionaris sok pintar ini. Misionaris ini sudah mengada-
ada dan tidak mengerti tentang ayat-ayat Al Qur’an lalu berlagak pintar mengajari
orang-orang islam dengan ayat-ayat Al Qur’an menurut ilmu yang dia miliki.

II.4.3 Hanya Isa AS yang diperkuat dengan Ruhul Kudus.

Surat 2 Al Baqarah ayat 87 :


“ Dan sungguh Kami telah mendatangkan Alkitab (Taurat) pada Musa dan Kami
susulkan sesudahnya dengan rasul-rasul dan Kami berikan bukti-bukti kebenaran
(mukjijat) kepada Isa putra Maryam, dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul
Kudus “.

Sebenarnya ayat diatas menjelaskan dan memperkuat keterangan dari surat Al


Maidaah ayat 110 diatas. Untuk itu marilah kita uraikan kalimat per kalimat dari
ayat diatas untuk menguji apakah ayat diatas dapat mengikuti jalan pikiran dari
misionaris iblis ini;

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan
Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, ” ;
kalimat dari ayat ini menjelaskan bahwa Allah juga yang memberikan Al KItab
Taurat kepada utusaNYA yaitu Musa, kemudian setelelah itu Allah mengirimkan
nabi-nabi sesudah Musa yaitu Isa As. Artinya bahwa yang diutusan oleh Allah
sesudah Musa tersebut juga merupakan seorang Nabi , bukan Allah sendiri yang
turun menjelma menjadi manusia. Yang perlu dipertanyakan dari ayat ini
sebenarnya adalah kenapa Allah mengirimkan lagi rasul-rasul sesudah itu? Ada
apa dengan umat nabi Musa sehingga Allah menurunkan lagi rasul-rasulNYA?

“ dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada `Isa putra
Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus .” ; keterangan dari kalimat
ini menyatakan bahwa Isa As memiliki bukti mukzijat yang tidak terbantahkan .
tetapi bukti mukjizat tersebut diberikan oleh Allah SWT ( maksud kata “Kami”)
kepada anak manusia yang dilahirkan oleh seseorang yang bernama Maryam.
Kemudian Allah mengirimkan Malaikat JIbril untuk memberikan dukungan moril
dan kekuatan agar Maryam tegar menjalankan perintah Allah selama
mangandung anaknya dan begitu juga saat melahirkan anaknya tanpa adanya
suami dan menghadapi hinaan dan fitnah yang akan dituduhkan kepadanya nanti.
Tentu Maryam takut sekali hamil dan melahirkan anaknya tanpa seorang
pendamping yang dapat menenangkan perasaannya. Tidak terbayangkan
bagaimana seorang gadis sholeh yang sehari-hari berada di rumah Allah (
mushala/baitullah), tiba-tiba hamil dan melahirkan anaknya. Benar-benar berat
beban mental yang idalami oleh si gadis lugu dan jujur tersebut.

“ Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang
tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh ;” ; kalimat ini menunjukan
bahwa setelah Maryam membawa anaknya ke kekampung halamannya,
kemudian kaumnya dan para rahib Yahudi menghina dan memfitnah Maryam
dengan tuduhan perzinahan. Kemudian setelah Isa As sudah dewasa dan
menyampaikan dakwah kerasulannya , kaum Yahudi dan para Rahibnya tidak
menerima ajaran nabi Isa kerena keangkuhan mereka untuk menerima
pengajaran dari seorang anak kotor yang tidak punya Bapak. Dan juga apa yang
disampaikan oleh nabi Isa As tidak sesuai dengan keinginan mereka . Begitulah
maksud dari kalimat diatas.

“ maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang
lain) kamu bunuh?”; Kalimat ini memberikan sebuah kesimpulan dari tabiat rahib-
rahib Yahudi yang tidak bersedia menerima ajaran yang disampaikan oleh Nabi Isa
yang banyak mengkritik kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Rahib-rahib Yahudi
itu menentang dan mendustakan dakwah nabi Isa yang akhirnya berujung
rencana dan siasat untuk membunuh nabi Isa As.

Jadi jelaslah bahwa susunan dari kalimat per kalimat di dalam ayat diatas sangat
kokoh, tersusun rapi, sistimatis, saling berkaitan, dan seimbang sehingga tidak
ada peluang atau celah sedikitpun bagi iblis untuk merusak ayat tersebut
sebagaimana yang sedang dilakukan oleh misionaris berotak iblis ini.

Surat 2 Al Baqarah ayat 253 :

“ Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari yang lain diantara mereka
ada yang Allah berkata-kata (kepadaNya) dan dia ditinggikan derajat sebagian
daripada mereka. Dan Kami berikan Isa putra Maryam beberapa keterangan
(mukjizat) serta Kami perkuat dengan Ruhul Kudus “.
Kembali kita harus menganalisa keterangan ayat ini, kalimat per kalimat untuk
menguji kebenaran ayat ini ;

“ Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain “; kalimat ini
menerangkan bahwa banyak rasul-rasul yang sudah diutus oleh Allah SWT untuk
memperbaiki sikap hidup manusia dari generadsi ke generasi mulai dari Adam
sampai Muhammad. Seluruh Rasul-rasul itu adalah utusan Allah yang
menyampaikan nilai-nilai kebenaran demi keadilan dan kebenaran pesan-pesan
Allah untuk kemakmuran hidupmya di bumi.

“Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan
sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.”; kalimat ini menunjukan
bahwa nabi-nabi utusan Allah tersebut memiliki kelebihannya masing-masing.
Kepada Musa Allah menyampaikan Firmannya dengan berkata-kata langsung
disamping mukjizat lainnya seperti membelah laut, kepada nabi Sulaiman yang
dapat menguasai segala setan dan makluk Jin serta mampu berbicara dengan
semua jenis hewan, Nabi Isa diberi kemampuan untuk menyembuhkan orang
sakit dan menghidupkan orang mati atas Izin Allah dan sebagiannya lagi
ditinggikan derajatnya , Nabi Muhammad dengan Al Qur’an sebagai tuntunan
hidup dan sumber dasar ilmu pengetahuan dan lain-lain sesuai dengan
kebudayaan negri setempat pada saat nabi itu berada ditengah umatnya. Artinya
kelebihan itu merupakan anugrah dan kuasa Allah kepada utusanNYa.

“ Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami
perkuat dia dengan Ruhul Qudus .“ ; kalimat ini menjelaskan bahwa Allah ( kata
Kami) memberikan Isa beberapa mukjizat dan Allah mengutus Malaikat JIbril
(Ruhul Qudus) guna memperkokoh dan memperkuat semangat mereka (ibu dan
anak) tersebut untuk menghadapi tantangan, penghinaan dan pelecehan yang
akan dihadapi mereka dalam kehidupan kelak dikemudian hari. Kalimat ini tidak
menjelaskan/bermaksud tentang/mengenai tubuh Isa yang diperkuat Roh Allah
kemudian menjelama menjadi Allah. Hanya Misionaris tersesat ini saja yang
mengarang-ngrang cerita seenak jidatnya.

II.4.4 Hanya Isa AS yang dapat menciptakan makluk hidup dan menghidupkan
orang mati.
Nabi-nabi lainnya diberkati mukjizat ala khadarnya oleh Allah SWT, tetapi Isa AS
diberikati mukjizat secara luar biasa yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lainnya,
misalnya menyembuhkan orang sakit, memelekkan orang buta, menghidupkan
kembali orang yang sudah meninggal, dan bahkan menciptakan makluk hidup.

Surat 3 Aali Imraan ayat 49 :

“ Sesungguhnya aku (Isa AS) datang kepadamu dengan membawa suatu tanda
(mukjizat) dari Tuhanmu bahwa aku membuat untukmu dari tanah berbentuk
burung, lalu aku meniupnya maka ia menjadi burung dengan izin Allah, dan aku
menyembuhkan orang yang buta dan berpenyakit lepra, dan aku menghidupkan
orang mati, dengan izin Allah dan aku mengabarkan kepadamu apa yang kamu
makan dan apa yang kamu simpan di rumah-rumah kamu “.

Sebenarnya ayat yang disodorkan oleh misionaris diatas, masih berhubungan


dengan ayat sebelumnya. Untuk itu marilah kita membahas ayat tersebut
berdasarkan hasil terjemahan umat muslimin yang beriman dan mengerti ;

“ Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil 48. Dan
(sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya
aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari
Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian
aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku
menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit
sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan
kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku)
bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman (QS Ali Imran 3:48-49) ".

Ayat ini
“ Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil 48 ” ;
mempertegas keterangan pada ayat-ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa
Isa As adalah sosok anak manusia yang belum mengerti sama sekali tentang Al
Kitab Taurat sehingga Allah akan mengajarkan kitab tersebut padanya ( tentu saja
melalui malaikat Jibril atau ruhul qudus). Sekiranya Isa As itu adalah Allah sendiri
seperti yang disimpulkan oleh misionaris gila ini, maka mustahil Isa As harus
belajar lagi tentang Taurat karena kitab Taurat itu bersumber dari Allah.
Selanjutnya Allah juga memberikan Isa As sebuah kitab pegangan lainnya yang
bernama injil dimana di dalam injil tersebut terdapat banyak sekali hikmah dari
ayat-ayat Allah yang sudah terkandung di dalam Taurat sebelumnya, namun
sayang sekali kitab Taurat yang asli sudah dirusak oleh bani Israel sementara kitab
Injil yang asli juga sudah lenyap ditelan bumi sebagaimana lenyapnya Isa As
setelah peristiwa penyaliban itu.

; Kalimat ini
“ Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka) :“
menjelaskan bahwa Isa As merupakan sosok manusia yang diutus oleh Allah
khusus kepada umat Bani Israel. Artinya ayat ini menjelaskan bahwa Isa As tidak
diutus kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia tetapi khusus kepada bangsa umat
bani Israel saja.

“"Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari
Tuhanmu “ ; kalimat ini merupakan sebuah kalimat dakwah Isa As kepada umatnya
kaum Bani Israel yang menyatakan bahwa mukjizat yang dia miliki tersebut adalah
pemberian dari Allah nya Bani Israel ( makna dari Tuhanmu). Namun misionaris
gendeng ini mencerna kata “tanda” berarti sebuah pertanda kemudian berubah
menjadi ciri-ciri kemudian berubah lagi petunjuk kemudian berubah lagi menjadi
opini dan akhirnya menjelama menjadi kesimpulan yaitu “ Isa adalah Allah “.
Misionaris ini sedang mempertontonkan kebodohannya atau kegilaannya, dia
sedang menggunakan ilmu katak terbang menurut angan-angannya tanpa
menggunakan logika manusia yang normal.

“ yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya,
Kalimat ini merupakan isi Pidato
maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah” ;
nabi Isa As ketika menyampaikan dakwah di depan umatnya . Beliau
menyampaikan bahwa kemampuannya menghidupkan seekor burung dari tanah
liat adalah atas Izin Allah. Kalimat ini merupakan sebuah pengakuan dari seorang
Nabi bahwa mukjizat tersebut bukan dia yang punya tetapi pemberian dari
sesuatu yang lebih berkuasa dari dirinya yaitu Allah SWT. Artinya tanpa izin ,
tanpa pertolongan dan tanpa kehendak yang berkuasa dari dia, maka Isa As tidak
ada apa-apanya. Artinya lagi , dalam hal ini Isa As tidak menciptakan makluk
seperti burung itu, itu terjadi karena kehendak Allah yang lebih berkuasa dari
pada Isa As. Namun misionaris buta ini seperti mendengar berita dari pendetanya
di gereja bahwa Isa adalah tuhan kita yang telah menciptakan makluk hidup.
Misionaris ini telah membaca kalimat itu dan menyampaikannya di dalam buku
ini, tetapi dia tidak melihat, tidak memahami dan tidak mengerti dengan apa yang
tertulis di dalam ayat tesebut. Masuk akalkah orang buta seperti misonaris ini
berbicara tentang terang sementara dia tidak melihat dan tuli. Yang terjadi
baginya adalah meraba-raba dan menulis sembarangan.. inilah yang namanya
penyesatan yang nyata.

“ Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit
sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah “; Kalimat ini juga
merupakan kelanjutan dari isi pidato nabi Isa As setelah kalimat diatas. Di dalam
pidatonya itu, beliau member kesaksian/pengakuan yang sama bahwa
kemampuannya menyembuhkan orang buta , penyakit sampak dan
menghidupkan orang mati adalah atas Izin yang lebih berkuasa dari pada beliau
yaitu Allah SWT. Kalimat ini juga menunjukan bahwa seorang nabi yang sangat
mulia disisi Allah SWT ini, selalu menghambakan dirinya hanya kepada Allah
SWT. Tetapi entah bagaimana jalan pikiran misionaris ini membuat sebuah
kesimpulan yang bertolak belakang dari kalimat diatas sehingga menghasilkan
kata-kata yang sangat kontradisi dengan keterangan dari kalimat ayat tersebut.
Jelaslah bahwa misioris ini merupakan pasukan iblis yang diutus oleh pemimpin
gerejanya untuk menggoda manusia dan menjerumaskan manusia beriman ke
dalam neraka jahanam.

“ Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu,
Kalimat ini juga mendukung dan searah dengan
jika kamu sungguh-sungguh beriman “;
keterangan sebelumnya bahwa mukjizat yang ada pada diri beliau merupakan
sebuah pertanda kerasulan yang diberikan oleh Allah agar umat Bani Israel
percaya dan mengikuti ajaran yang disampaikan beliau. Hanya orang-orang yang
berimanlah yang dapat mengambil hikmat dari tanda-tanda kerasulan Nabi Isa
tersebut.
Sementara orang-orang yang berteman dengan iblis yang kafir akan membuat
kesimpulan tersendiri yang jauh menyimpang dari kebenaran sehingga mereka
mengadakan tuhan lagi selain dari pada Allah yaitu Allah mempunyai anak sebagai
Isa As. Kemudian arah pemikirannya terus berkembang lalu membuat kesimpulan
lanjutan “anak Allah itu adalah Firman “ , masih belum cukup juga akhirnya
berkembang lagi “ Firman itu adalah Allah “. Kenapa misionaris Kristen ini
mengubah-ubah, mendefinisikan dan berkesimplan tentang Allah se enak
perutnya saja? Karena Al Kitabnya tidak berasal dari Allah sehingga mereka tidak
mendapat petunjuk yang benar tentang Allah SWT. Mereka bebas berpikir
tentang hakikat Tuhan menurut jalan pikirannya masing-masing karena tidak ada
batasan tegas terhadap wujud Allah di dalam Al Kitabnya. Sekarang mereka ingin
mengembangkan jalan pikiran mereka tersebut kedalam ayat ayat Al Qur’an.
Tetapi mereka tidak mampu karena tidak ada ruang dan celah sedikitpun untuk
merubahnya, maka untuk hal tersebut mereka melakukan cara dengan merusak
dan merubah arti dan makna ayat-ayat Al Qur’an. Misionaris gila ini sangat
bernafsu sekali untuk memasukkan dan mencangkokkan kesimpulannya kedalam
ayat-ayat al qur’an . Tetapi ternyata ayat-ayat Al Qur’an itu benar-benar sangat
kokoh sehingga tidak dapat direkayasa sama sekali dengan cara apapun juga.
Itulah mukjizat Al Qur’an yang dituduh oleh mereka yang kafir itu sebagai kitab
yang dipalsukan oleh Uthman bin Affan. Ternyata , apabila ayat Allah itu diserang
maka ayat tersebut akan berbalik arah menyerang logika jahat si penyerang dan
menjungkirbalikan maskud jahat sipenyerang itu. Allahuakbar- Subhnallah. Maha
suci Allah dengan segala FirmanNYA

Surat 5 Al Maa’idah ayat 110 :

“ Dan (ingat pula) ketika engkau (Isa AS) membuat bentuk burung dari tanah
dengan izinKu, kemudian engkau meniup kepadanya, lalu dia menjadi burung
dengan izinKu, dan engkau sembuhkan orang-orang buta dan orang-orang
berpenyakit lepra dengan izinKu, dan di waktu engkau mengeluarkan orang mati
(menjadi hidup) dengan izinKu “.
Kemudian Misionaris ini mencoba mengambil ayat yang lain lagi , yaitu surat Al
Maidah ayat 110, dengan harapan surat ini akan mendukung kesimpulannya,
dengan harapan kalau ayat sebelumnya tidak mendukung opininya maka ayat ini
akan menghasilkan sebuah pertentangan. Misionaris ini ingin mengadudomba
satu ayat dengan ayat lainya untuk menguji kebenaran Al Qur’an. Untuk itu
marilah kita bahas kalimat ayat ini dan membandingkannya dengan ayat
sebelumnya apakah didalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat yang bertentangan ;

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku
kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus.
Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah
dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan
Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang
berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu
menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu
menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang
berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan
orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku
menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu
mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang
kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.( QS Al
Maaidah 5:110)".

Pada kalimat ;

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku
kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus” ;
Ternyata kalimat ini memperkuat keterangan ayat yang kita bahas tadi , yaitu
kembali Allah mengikatkan Mayam dan anaknya Isa supaya mengenang masa-
masa dimana Malaikat Jibril atau Rihul qudus telah memberikan kekuatan moril
dan phisikis kepada ibu-anak ini untuk dapat menghadang tantangan yang berasal
dari mentalnya sendiri maupun terhadap ejekan, fitnah dan tuduhan dari orang-
orang kampungnya. Jelaslah bahwa ayat ini saling berkaitan dengan ayat
sebelumnya walaupun letaknya berlainan surat.
“Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah
dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan
Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang
berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu
menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku ; Kalimat ini ternyata juga
memperkuat keterangan ayat sebelumnya. Kalimat ini memberikan penyampaian
yang berbeda dari pada cara penyampaian ayat surat Al Imran ayat 49 diatas.
Kalau pada ayat 40 surat Al Imran merupakan kalimat pengakuan dan kesaksian
dari Isa As terhadap mukjizat yang didapatnya dari Allah SWT, tetapi pada kalimat
dalam ayat AL Maidaah 110, Allah SWT sendiri yang menyampaikan informasi
bahwa kemampuan Isa As dengan mukjizat tersebut adalah atas izin ALLAH
(Seizin-Ku). Pada ayat 110 dari surat Al Maidaah diatas terdapat kata-kata Se Izin-
Ku (atas Izin Allah) sebanyak 4 kali untuk memperkuat keterangan bahwa
Mukjizat dari Isa As berasal dari izin Allah. Jadi kedua ayat ini saling terkait dan
saling menguatkan dan tidak ada celah bagi iblis untuk merusaknya walaupun
letaknya berlainan surat. Begitulah Allah SWT menempatkan ayat-ayat yang
bersamaan maksudnya tetapi pada surat-surat yang berlainan. Keunikan ayat-ayat
Allah yang terusun secara acak tersebut di dalam Mushaf Al Qur’an yang disimpan
Uthman bin Affan ini , ternyata mempunyai kekuatan yang sangat kokoh. Antara
satu ayat dengan ayat lainnya saling terkait. Ibarat benang kusut, kita tidak
mengetahui dimana ujung dan dimana pangkal sebuah ayat di dalam al Qur’an.
Terbukti bahwa Al Qur’an adalah mukjizat , Al Qur’an adalah kitab yang sangat
hebat dari kitab apapun di dunia ini. Mahasuci Allah dengan segala FirmanNYA.

“ dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka
membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-
keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak
lain melainkan sihir yang nyata.: ; Kalimat ini juga menyuruh kaum bani Israel agar
ingat akan sejarah ketika mereka selalu menghalang-halangi dahwah utusanNYA
(Isa As) begitu juga ketika kaumnya berencana hendak membunuhnya. Hal ini
menunjukan bahwa Allah menyuruh kaum bani Israel berpikir ulang atas
kekeliruan mereka membunuh orang yang tidak berdosa bahkan bebuat baik
untuk menyampaikan kebenaran. Namun mereka melakukan fitnah yang keji
untuk menangkap dan membunuhnya. Dan ketika Isa As memperlihatkan tanda-
tanda kerasulannya dengan mukjizat yang diberikan oleh allah, kaum bani Israel
ini menuduh Isa sebagi tukang sihir dan dukun santet yang harus dilenyapkan.
Begitulah tabiat orang-orang Yahudi pada saat itu dan sampai sekarang sifat
mereka tidak juga berubah. Tetapi para misionaris dan umat Kristen mengambil
mamfaat lain dari mukjizat Isa As yang tidak lumrah manusia itu, mereka tidak
menuduh Isa sebagai tukang sihir tetapi lebih tinggi dari seorang tukang sihir
dimana mereka menobatkan Isa As sebagai Allah yang menjelma menjadi
manusia. Terbuktilah bahwa baik umat Yahudi dan umat kristiani sema-sama
memfitnah dan melecehkan. Kaum yahudi menfitnah dan melecehkan nabi Isa
As, sementara kaum Nasrani memfitnah dan melecehkan Allah SWT. Kedua kaum
ini sama-sama yang tidak mau menerima kebenaran karena mereka tidak
mempunyai pegangan yang benar.

II.4.5 Hanya Isa AS yang dibangkitkan kembali dan diangkat ke dalam diri Allah.

Nabi-nabi yang lain setelah wafat dikuburkan dan sebagian besar makam kuburan
dari nabi-nabi tersebut masih ada. Sedangkan Isa AS setelah wafat dibangkitkan
kembali dan langsung diangkat ke dalam diri Allah. Oleh sebab itu Isa AS adalah
satu-satunya nabi yang tidak mempunyai kuburan karena dia langsung berada di
dalam diri Allah sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Karena tidak menemukan bukti kematian Isa As pada peristiwa penyalibannya,


maka umat nasrani melalui pemimpin gerejanya menyimpulkan bahwa Isa As
sudah menjelama menjadi Allah karena dia diangkat kedalam diri Allah.
Sepertinya umat nasrani dan Yahudi ketika itu ragu-ragu dan tidak merasa yakin
sepenuhnya dengan orang yang disalib tersebut. Maka karena tidak menemukan
bukti apapun , sampai sekarang mereka membuat sebuah kesimpulan bahwa
tidak mungkin orang mati tidak ada kuburannya , maka orang yang mati itu
pastilah Tuhan. Aneh bin ajaib .. mereka meyakini adanya peristiwa penyaliban
yang menjadikan Isa sebagai orang yang tersalib, namun mereka tidak mampu
membuktikan manusia yang tersalin itu adalah Isa As, maka dengan kelelahan dan
kebingungan merekapun menyimpulkan sendiri bahwa Isa adalah Alah yang
diangkat kedalam diri Allah. Mereka menganggap bahwa dengan kesimpulan itu,
tidak akan ada lagi perdebatan mengenai kematian Isa As sebab Isa sudah
diangkat menjadi Allah SWT untuk disembah. Mereka tidak mencari lagi penyebab
ataupun bukti-bukti kematian Isa ditiang salib, mereka sudahi saja dengan
membuat sebuah keputusan bahwa Yesus adalah Allah SWt. Maka hanya orang-
orang yang percaya kepada tuhan Yesus yang akan mendapat keselamatan dan
penghapusan dosa. Begitulah keputusan mereka yang ditetapkan dalam acara
Konsili (seminary) di Nicea yang dihadiri oleh lebih dari duaribu Uskup gereja-
gereja pada tanggal 20 Mei 325 Masehi. Naskah kesepakatan itu mereka sebut
"the Creed of Nicea" , dimana naskah kesepakatan tersebut melahirkan Surat
Keputusan (SK) yang dibacakan dan disyahkan oleh Kaisar Agung Romawi yang
berkuasa di kala itu yaitu , “ Kaisar Constantine”. Kongres itu sebenarnya
bertujuan untuk menetapkan apakah kristen menganut ajaran Tauhid atau
Trinitas.

Sekarang misionaris ini mencoba mencangkokan kesimpulannya itu kedalam ayat-


ayat al qur’an ;

Surat 19 Maryam ayat 33 :

“ Dan keselamatan atasKU pada hari AKU dilahirkan dan pada hari AKU mati
dan pada hari AKU dibangkitkan hidup kembali “.

Kembali misionaris kemasukan iblis ini memelintir ayat Al Qur’an untuk tujuan
pengkafirannya. Marilah kita coba membahas ayat tersebut ;

“ Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku
meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali (QS Maryam 19:33)".
= dan kesejahteraan/keselamatan semoga dilimpahkan
kepadaku pada saat aku dilahirkan. Kalimat ini menunjukan bahwa Isa benar-benar
seorang anak yang dilahirkan, isa seorang anak manusia yang mengharapkan
keselamatan dari penciptanNYa, pada suatu saat nanti dia akan meninggal dan
menjadi mayat sebagaimana wajarnya manusia ciptaan Tuhan yang lainnya,
setelah kematian itu Isa As juga akan dibangkitkan sebagaimana manusia
dibangkitkan dihari kiamat nanti. Jadi kalimat ini secara keseluruhan menunjukan
bahwa Isa tidak berkuasa terhadap dirinya sendiri karena dia hanya mengikuti
alur kehidupan yang sudah digariskan oleh sang pencipta kepadanya. Tetapi
misionaris gila ini mempunyai kesimpulan yang bertentangan dengan ayat diatas ,
dimana dia berkesimpulan bahwa Isa As setelah mati kemudian masuk kedalam
tubuh Allah dan menjelma menjadi Allah. Benar-benar gendeng misionaris iblis
ini.

Sementara misionaris ini membuat kalimat lain ; “ Dan keselamatan atasKU pada
hari AKU dilahirkan “. Kalimat ini kalau dibahas akan menimbulkan pengertian lain
diantaranya; pertama keselamatan itu adalah milik Isa ( atasKu) tanpa campur
tangan sang pencipta artinya dia berkuasa terhadap dirinya sendiri. Kedua kata
“atasKu” akan menimbulkan pertanyaan besar bahkan sebuah alur yang
kontradiksi dengan kalimat berikutnya dimana Isa As (atasKu) bukan lagi yang
berkuasa terhadap dirinya sendiri karena ada kalimat “ pada hari AKU dilahirkan”.
Pertanyaannya adalah siapakah AKU ? apakah AKU adalah Allah atau AKU adaIah
Isa As? Kalau AKU adalah ALLAH SWT , kenapa ALLAH SWT dilahirkan dan apa
maksud dari kalimat “keselamatan atas diriKu” , ini sebuah kalimat yang
kontradiktif. Kalau AKU adalah Isa As kenapa Isa As lahir dari seorang wanita?,
bukankah dia tidak perlu mengucapkan kata-kata keselamatan segala tentang
kelahirannya?. Jadi terbuktilah bahwa ayat-ayat al Qur’an tidak dapat dipermain-
mainkan dan direkayasa menurut mantra misionaris kemasukan ini.

Kemudian dia melanjutkan sebuah kalimat “dan pada hari AKU dibangkitkan hidup
kembali” kalimat ini justru menunjukan sebuah pertanyaan besar. Kalau “AKU”
yang dimaksud adalah Allah, bagaimana mungkin terdapat kata “dibangkitkan” .
pertanyaannya adalah siapa yang “dibangkitkan” ? bukankah kata ini merupakan
kata kerja pasif yang berarti bahwa Aku tidak mempunyai kuasa untuk
membangkitkan diriku. Dan siapa pula yang mematikannya? Jadi terbukti bahwa
kalimat yang direkayasa oleh iblis ini benar-benar amburadul, kacau, kontradiktif
dan seenaknya saja.

Surat 4 An Nisaa ayat 158 :

“ Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah adalah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana “.

“ Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS An NIsaa’ 4:159)”.

Ayat yang disampaikan oleh misionaris ini sebenarnya memperkuat keterangan


ayat 33 dari surat Maryam di atas. Misionaris iblis ini mengharapkan bahwa
dengan ayat ini , dia memperoleh sebuah keuntungan untuk memperkuat
kesimpilan piciknya itu dengan membiarkan pembaca muslim mengikuti alur
pikirannya sendiri . Untuk itu marilah kita bahas kalimat dari ayat tersebut
dengan pemikiran yang sebenarnya dan jernih;

“ Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepadaNya “ ; tata bahasa dari kalimat ini
sangat tepat dan lengkap dimana ada subjek, ada kata kerja, ada objek dan ada
juga keterangan tujuan. Yang menjadi subjek disini adalah “Allah“ yaitu yang
berkuasa melakukan pekerjaan untuk mengangkat objeknya (Isa). Isa ditempatkan
sebagai objek pasif karena dia tidak berkuasa terhadap dirinya dan kepada subjek
(Allah) sehingga dia tunduk kepada perintah dari subjek yang memerintahkannya.
Kemudian ada keterangan tujuan “kepadaNya” dimana subjek tidak lagi berfungsi
sebagai tujuan atau keterangan arah dimana objek ditempatkan. Entah apa yang
ada di dalam pikiran misionaris ini, dia menyampaikan ayat ini tanpa perubahan
yang berarti , mungkin dia mengira bahwa orang yang sudah termakan racun yang
sudah ditebarkannya tadi akan menjadi buta dengan kebenaran sehingga orang
muslim akan menterjemahan ayat ini menuurt logika misionaris iblis ini. Bagi
orang-orang yang sudah teracuni oleh pikiran misionaris iblis ini , tentu akan
mengira bahwa ; subjek sama dengan keterangan tujuan, subjek juga sama
dengan objek { artinya Allah (subjek) = Isa (objek) = KepadaNYa (tujuan) }
sementara kata kerja “mengangkat” tidak berarti apa-apa dalam kalimat
tersebut. Bagi mereka yang terbawa oleh pikiran misionaris sebelumnya maka
secara otomatis ayat yang benar diatas akan diartikan sesuai dengan arahan
pikiran iblis ( Allah = Isa = KepadaNYa). Ternyata bisikan setan kepada misionaris
ini benar-benar hebat untuk menjerumuskan orang-orang beriman, sehingga
dapat membutakan mata sekalipun membaca ayat yang benar.

Kemudian dia masih memasukan kalimat yang benar yaitu “Dan Allah adalah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “; entah apa tujuan misionaris ini dengan
memakai kalimat ini. Mungkin dia mempunyai tujuan, dengan memasukan
kalimat ini maka segala sesuatunya dapat dilakukan oleh Allah SWT termasuk
menempatkan subjek sebagai Objek dan Subjek sebagai keterang tempat (artinya
Allah = Isa = Allah lagi). Ternyata misionaris benar-benar sedang menjalankan misi
iblisnya.

Surat 3 Aali Imraan ayat 55 :

“ (Ingatlah) tatkala Allah berfirman : “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan


mematikanMu, dan mengangkatMu kepadaKU, dan akan mensucikanMu dari
orang-orang yang kafir “.

“ (Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan


menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta
membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang
mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya
kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang
selalu kamu berselisih padanya (QS Al Imran 3:55)".

Walaupun ada sedikit perbedaan pemakaian kata antara yang disampaikan oleh
minionaris ini “ mensucikan” dengan kata “ membersihkan”, namun hal ini dapat
disimpulkan mempunyai arti dan maksud yang sama. Pada kalimat “(Ingatlah),
ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu
kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu
dari orang-orang yang kafir,” dimana kalimat ini merupakan satu kesatuan dengan
ayat 33 dari surat Maryam yang sudah kita bicarakan diatas, namun pada kalimat
ini, yang menyampaikan atau yang memberikan kesaksian yang sama adalah
Allah SWT sementara pada surat Maryam 33 yang mengakui atau yang
memberikan kesaksian adalah Isa As. Jadi ayat ini sama dan saling memperkuat.
Yang perlu dipahami pada kalimat ini adalah “ membersihkan kamu dari orang-
orang kafir”. Pertanyaannya adalah; siapakah orang kafir yang dimaksud oleh ayat
ini? Apakah orang-orang Yahudi yang menyalib Isa As ataukah orang orang Kristen
yang yang telah menduakan tuhan, atau orang yang tidak beriman kepada ajaran
Isa As? Tentu saja yang dimaksud dengan orang-orang kafir disini adalah orang-
orang yang tidak mengikuti ajaran Isa As yang sebenarnya sebagaimana yang
sudah diajarkan oleh Allah di dalam Al Kitab baik di dalam kitan Taurat maupun
kitab Injil yang asli dari Allah, bukan injil yang ditulis oleh orang-orang yang tidak
jelas seperti yang ada di dalam kitab Bible sekarang ini. Jadi dapat disimpulkan
disini bahwa yang dimaksud dengan kata “ dibersihkan” atau “disucikan” pada
kalimat ayat di atas adalah bahwa Allah tidak membiarkan rusulnya dihina,
difitnah, dicaci maki, disalib dibunuh oleh orang Yahudi. Selanjutnya Allah
membebaskan Rasulnya dari opini yang menyesatkan dari kesimpulan pendeta
nasrani yang telah menobatkan utasanNYA menjadi Allah SWT.

Jadi jelaslah bahwa kalimat “membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir”
bermaksud mensucikan RasulNya dari pemikiran yang orang-orang syirik dan dari
orang-orang yang memfitnah dan berbuat makar kepada beliau. Artinya yang
dimaksud oleh ayat ini adalah oknum-oknum dari kalangan ahli kitab Yahudi dan
ahli kitab Nasrani yang telah memperlakukan Rasulllullah dengan pemikiran yang
salah. Sedangkan misionaris yang masih terikat dengan ajaran yang salah ini,
merupakan sepasukan iblis yang menyamar untuk merusak iman orang-orang
beriman. Misionaris dan seluruh umat nasani yang mempertuhankan Isa As
adalah orang-orang kafir sesuai dengan apa yang dimaksud oleh ayat ini.
Sedangkan kalimat “dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-
orang yang kafir hingga hari kiamat” kalimat ini menunjukan bahwa orang-orang
yang mengkuti ajaran Nabi Isa As seperti menyembah Allah SWT, tidak melakukan
perbuatan syirik , mengakui tidak ada tuhan selain Allah SWT, tidak
mempertuhankan Isa As, maka orang-orang inilah yang akan berada diatas orang-
orang kafir. Maksud kalimat “ diatas orang-orang kafir hingga hari kiamat”
adalah bahwa selama hidup di dunia, bagi orang yang beriman sepenuhnya
kepada ajaran Isa sebagaimana yang disampaikan oleh Allah SWT di dalam Al
Qur’an maka orang-orang itu akan berada diatas orang-orang yang kafir dan
selanjutnya di akhirat nanti orang-orang yang beriman kepada ajaran Isa As juga
akan berada diatas (di dalam syorga). Sebaliknya orang kafir dihinakan oleh Allah
di dalam kerajaan syorgaNya nanti setelah hari kiamat , mereka akan dijebloskan
kedalam api neraka jahanam dan mereka akan kekal di dalamnya terutama
misionaris yang menulis buku pengkafiran ini, karena dia ikut menyebarkan dan
terlibat langsung dalam menyesatkan orang-orang beriman.

II.5 ALLAH SWT DAN ISA AS YANG MENJADI SAKSI PADA HARI KIAMAT

Hanya Allah SWT dan Isa AS yang dapat menyelamatkan manusia pada waktu hari
kiamat. Di dalam hal ini Isa AS dalam Al Qur’an ditempatkan pada kedudukan
yang sama dengan Allah SWT, karena hanya Allah SWT dan Isa AS yang dapat
menjadi saksi pada hari kiamat.

Sepertinya misionaris ini mengelabui orang-orang muslim dengan Al Qur’an umat


muslim sendiri. padahal setiap orang muslim mengetahui kalau di dalam Al Qur’an
telah diterangkan bahwa setiap nabi-nabi akan memimpin umatnya untuk
menghadapi pengadilan yang Agung diakhirat, dimana Allah bertindak sebagai
hakim Agungnya. Jadi Nabi Isa akan menjadi saksi terhadap umatnya, apa-apa saja
yang sudah diajarkannya kepada umat. Diakhirat tersebut Nabi Isa As akan
memberikan kesaksian pada umatnya, apakah dia penah mengatakan bahwa dia
adalah Allah seperti yang disangkakan oleh umat nasrani sekarang atau tidak.
Apabila Nabi Isa As bersaksi tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah anak
Allah atau menjelama manjadi Allah maka celakalah seluruh umat Kristen yang
pernah hudup di dunia. Mereka semuanya akan dimasukan kedalam neraka dan
mereka kekal di dalamnya. Maka janganlah kamu wahai misionaris utusan iblis
berkata bohong kepada umatmu karena kamu juga akan menjadi saksi terhadap
apa yang pernah kamu sampaikan dan kamu ucapkan kepada manusia. Sadarlah
sebelum kamu menghadapi maut kerena ketika kamu berada pada keadaan
sakratul maut maka tidak ada lagi kesempatan bagimu untuk bertobat dan kamu
akan kekal dineraka selama-lamanya. Sadarlah.

Dengan demikian, semua orang yang ingin selamat harus bertaqwa kepada Allah
dan taat kepada Isa AS, karena pada hari kiamat hanya mereka berdualah yang
menjadi saksi atas diri semua orang.

Misionaris ini rupanya tidak ingat lagi dengan apa yang diucapkannya pada
keterangan sebelumnya. Sebelumnya dia mengatakan bahwa diakhirat nanti Allah
dan Isa sudah menyatu menjelma menjadi Allah, tetapi pada keterangan ini,
misionaris palsu ini mengatakan bahwa Allah dan Isa adalah dua sosok yang
terpisah yang akan menjadi saksi di akhirat nanti. Orang Gila !

Sebagaimana tertulis dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 22 Al Hajj ayat 17 :

“ Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang


Shabiin, Nasrani, Majusi, dan orang-orang yang mempersekutukan Allah,
sesungguhnya allah akan memberi keputusan antara mereka pada hari kiamat.
Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu “.

Kenapakah misionaris ini memasukan ayat ini tanpa direkayasa? Padahal ayat ini
sebenarnya ditujukan untuk orang-orang yang mempersekutukan Allah ( seperti
orang Yahudi yang mengira tuhan beranak, orang Nasrani yang mempertuhankan
Yesus, orang Shabiin yang mempunyai banyak dewa dan orang majusi yang juga
mempuyai dewa-dewa) , dimana dihari kiamat nanti mereka akan dituntut
didepan pengadilan di dalam kerajaan Allah terhadap apa-apa yang mereka
sembah. Mereka tidak akan dapat mendustakan rasul-rasulnya , mereka tidak
akan mampu mendustakan umatnya dan mereka tidak akan dapat berkata
bohong. Mereka akan bersaksi secara jujur dan terbuka. Maka disanalah mereka
akan menyesal atas perkataan dan opini mereka yang sesat tersebut.
Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa-apa yang mereka perbuat.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 61 :

“ Dan sesungguhnya dia (Isa) adalah suatu tanda bagi khiamat, maka janganlah
kamu ragu-ragu tentang kiamat itu, dan ikutilah AKU, inilah JALAN YANG LURUS
“. (Wa innahu la’ilmul lis saa’ati fa laa tamtarunna bihaas wa tabi’uuni haadzaa
shiraathum mustaqiim)

Ketahuan bahwa iblis ini sudah mempermak surat Az Zukhuruf ayat 61 untuk
memasukkan ajaran sesatnya dan membisikkan kepada orang-orang muslim
tentang Isa As yang berkuasa diakhirat nantinya, tentang Isa As yang sudah
menjelma menjadi Allah pada hari kiamat. Untuk itu marilah kita bahas penjelas
misionaris suruhan iblis ini ;

“ Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat.
Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang
lurus ( QS Az Zukhuruf 43:61).

= dan sesungguhnya/sejujurnya/sebenar-benarnya,
pengetahuannya Isa , tentang sesuatu/yang berhubungan, pada hari
kiamat/pembalasan/pengadilan.

Pada kalimat ini ;

“ Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat
”; kalimat ini mempunyai makna bahwa Isa As memberikan informasi yang
sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya tentang adanya hari kiamat kepada
umatnya dan apa yang akan terjadi diakhiran nanti.

Namun misionaris setan ini menghilangkan kata “ = pengetahuan dari Isa


As” sehingga menjadi kalimat “Dan sesungguhnya dia (Isa) adalah suatu tanda bagi
khiamat “ ; kalimat ini bisa berarti bahwa Isa AS menjadikan dirinya sebuah tanda-
tanda hari kiamat. Yang berujung pada Isa As itulah yang dimaksud dengan hari
kiamat. Tujuan misionaris ini adalah menanamkan kedalam pikiran orang muslim
bahwa apabila tidak percaya bahwa Isa As adalah ujud hari kiamat, maka orang
itu disebut tidak beriman kepada Isa sebagai sosok hari kiamat. Dan apabila
orang muslim memahami maksud kalimat yang disampaikan oleh misionaris yang
bekerjasama dengan iblis diatas, maka orang muslim itu akan mudah dituntunnya
kedalam perangkap kekafiran, tinggal selangkah lagi untuk medorong orang
tersebut masuk jurang tidak berdasar. Satu langkah yang dimaksud disini adalah
dengan menyodorkan kalimat lanjutan dari ayat tersebut diatas. Dimana pada
kalimat ini misionaris iblis ini tidak perlu merubah kata-kata dari keterangan ayat
tersebut tetapi cukup melengkapi dengan tanda baca dan huruf tebal saja seperti
kalimat berikut ; “maka janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu, dan
ikutilah AKU, inilah JALAN YANG LURUS” . Sengaja iblis ini memberikan huruf
tebal pada kalimat diatas tanpa merubah maknanya untuk menekankan dan
memperkuat kalimat sebelumnya. Namun dia salah megerti tantang makna
“JALAN YANG LURUS” tersebut. Jalan yang lurus artinya adalah jalan yang tidak
berbelok-belok, tidak berliku-liku, tidak menuju satu arah seperti ketika menarik
dua titik ( dari manusia ke Allah secara langsung) yang dihubungkan dengan
sebuah tali yang lurus. Jadi jalan yang lurus adalah berpikir secara focus kepada
satu titik dan mengimaninya dengan keyakinan yang lurus ke arah tujuan itu.
Sedangkan di dalam ajaran Kristen saat ini, arah tujuan ke satu titik tersebut
sudah berliku-liku, sudah dibelokkan dulu kelain arah, berputar-putar dulu,
kemudian baru diarahkan ke titik yang dituju. Artinya umat Kristen
mendefinisikan Allah dengan jalan yang berliku-liku, berputar-putar, berbelok-
belik dan sudah bengkok. Mereka mendefinisikan Allah SWT begitu sulit dan rumit
sekali. Ajaran ini mereka sebut dengan ajaran Trinitas. Di dalam ajaran ini , setiap
iman Kristen tidak dapat memfokuskan pikiran kepada satu titik, tetapi ada 3 titik
lain yang harus menyatu menjadi satu titik, ibarat sebuah segitiga yang
mempunyai 3 titik tetapi tetap disebut sebuah segitiga. Ke tiga titik itu ditempati
oleh sosok seorang manusia, sosok Roh Qudus dan sosok Tuhan Bapa. Ketiga
unsur itu adalah satu kesatuan dari tiga pribadi yang berbeda. Bagaimanakah
caranya memfokuskan jalan pikiran kepada satu titik, sementara titik itu terpisah
pada tempat yang berbeda? Bagaimana kita menuju ke satu titik sementara 2 titik
lainnya tidak segaris dan tidak boleh dipisahkan? Jadi ajaran Trinitas bukanlah
sebuah jalan yang lurus, tetapi jalan yang berliku-liku , berbelok dan melingkar.
Ajaran trinitas bukanlah jalan yang lurus seperti jalan yang diajarkan oleh Isa As.

Begitulah cara-cara iblis menyesatkan jalan pikiran orang-orang beriman. Hanya


dengan tidak memasukan satu kata saja kedalam dari ayat-ayat al Qur’an , maka
akan menghasilkan perubahan yang mendasar dan melenceng dari maksud yang
sesungguhnya. Beginilah metode yang berhasil dilakukan oleh para ahli kitab
nasrani terhadap keterangan ayat-ayat yang disampaikan oleh Isa As sebelumnya.
Apalagi kitab Injil yang asli sudah tidak ada lagi sehingga dari generasi ke generasi
berikutnya akan terjadi lagi perubahan-perubahan redaksi. Begitu seterusnya
dimana tidak pernah tercatat kapan dilakukan editing dan siapa yang melakukan
editing dari kitab Injil. Atau mungkin juga kitab Injil sama sekali tidak pernah turun
ketangan umat nasrani sehingga mereka hanya mampu mereka-reka dan menulis
sendiri ayat-ayat yang diklaim mereka dari Allah atau roh kudus kata mereka .
Tetapi umat Kristen pada generasi berikutnya tidak menyadari karena mereka
tidak pernah mampu menghafal kitabnya sendiri disamping kitab Injil yang asli
sudah musnah ditelan bumi dan umat Kristen tidak peduli dengan keaslian
kitabnya. Para pemimpin gereja , paus, pastor dan lain-liannya berusaha untuk
menutup-nutupi kebenaran kepada umatnya yang bertanya. Para pemimpin
gereja menyuruh jemaatnya menelan kalimat ayat-ayat Bible itu tanpa boleh
membantah. Bagi umat yang membantah diangap tidak mendapat karunia dari
roh kudus. Begitulah para peminpin gereja membohongi umatnya sendiri.

Namun orang muslim tidak perlu terlalu kuatir karena Allah di dalam ayat-
ayatNYa telah membentengi maksud jahat iblis yang hendak mencoba-coba
membelokkan iman. Allah telah menempatkan sebuah ayat untuk berhati-hati
terhadap rencana jahat dan bisikan setan. Ayat ini terletak pada ayat berikutnya
yang berbunyi ;
“ Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu
musuh yang nyata bagimu ( QS Az Zukurh 43:62)”.

Jadi bergembiralah kaum muslimin, bahwa Allah telah membentengi ayat-


ayatNYa dari gangguan setan-setan yang terkutuk seperti yang tercantum pada
keterangan ayat diatas “ Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan”.
Setan yang dimaksud disini adalah setan yang berujud seperti manusia yang
benar-benar menjadi musuh manusia beriman. Setan ini akan menghancurkan
iman seseorang.

Ternyata misionaris ini menghindar untuk mencantumkan ayat no 62 dari surat Az


Zukurf ini, karena dia tidak ingin disebut sebagai setan oleh ayat tersebut.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 63 :

“ Dan ketika Isa datang membawa keterangan-keterangan, Dia berkata “


Sungguh AKU datang kepada kamu dengan hikmah dan supaya AKU terangkan
kepada kamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan kepadaNYA”. Maka
taqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKU”.

Dengan cara menghindar dari keterangan ayat sebelum ini, misonaris ini kembali
melakukan manuver dengan memplintir lagi ayat yang lain dari surat Az Zukurf ini.
Untuk itu marilah kita bahas lagi ayat suci Al Qur’an yang sudah dirusak oleh
orang gila ini ;

“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku
datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu
sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah
dan taatlah (kepada) ku".

Di dalam kalimat diatas terdapat sebuah kata “ = dengan membawa


hikmah” yang sengaja dihilangkan oleh setan ini. Sehingga kalimat ; "Sesungguhnya
aku datang kepadamu dengan membawa hikmat” berubah menjadi ; “Sungguh AKU
datang kepada kamu dengan hikmah”. Dua kalimat yang berbeda ini kalau
digandengan maka akan menghasilkan sebuah pengertian yang berbeda jauh dari
sasaran. Kalimat “ membawa Hikmat” berarti bahwa Isa As datang dengan
membawa sesuatu ilmu pengetahuan dan filsafat hidup yang sangat bernilai di
dalam kehidupan manusia. Tentu saja yang dibawa beliau tersebut adalah hikmah
dari petunjuk-petunjuk yang ada di dalam Taurat dan Injil sebagaimana yang telah
diajarkan oleh Allah SWT kepada nya. Tetapi kalau kata “ membawa” dihilangkan
kemudian berubah menjadi ; “Sungguh AKU datang kepada kamu dengan hikmah” ,
maka kalimat ini berubah makna yaitu menjadikan ujud Isa sebagai Hikmah itu
sendiri. Artinya Isa adalah sosok dari Hikmah itu dan Isa tidak membawa unsur
hikmah karena hikmah itu adalah diri Isa sendiri. Kalau kalimat iblis ini
dimasukkan kedalam ayat tersebut, maka kalimat ini tentu akan ditolak keras oleh
ayat ayat lain yang terdapat di dalam Al Qur’an. Artinya jika terdapat satu saja
yang aneh dimasukkan kedalam al Qur’an, maka ayat-ayat yang lainnya akan
bangkit untuk menolaknya . jadi tidak ada ruang dan celah sedikitpun bagi iblis
untuk merusak ayat-ayat AL Qur’an yang tersusun kokoh dan saling terkait .

Ternyata beginilah metode yang dilakukan oleh ahli Kitab zaman dulu untuk
merusakan kitab suci Taurat dan Injil yang berasal dari Allah menjadi kitab Bible
yang ada sekarang ini. Kitab Bible yang sekarang ini merupakan contoh dari hasil
pengeditan berkali-kali yang dilakukan oleh pemimpin gereja orang-orang Nasrani
terdahulu sebagaimana yang sedang dilakukan oleh misionaris ini terhadap Al
Qur’an. Tetapi Allah yang maha Kuasa telah menjamin bahwa tidak seorangpun
yang mampu merusak ayat-ayatNYa.

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur`an dan sesungguhnya Kami pula yang
Memelihara (Qs 15 Al Hijr 9) ”.

Tentu saja yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang muslim beriman yang
ditunjuk oleh Allah SWT untuk memperlihatkan dan mempertahankan kesucian
ayat-ayat Allah di dalam Al Quran. Orang muslim yang mendapat kehormatan itu
adalah orang muslim penghafal Al Qur’an , mengamalkan ayat-ayatNYA dan
bersedia berjihad/berjuang dalam menegakkan kebenaran disisi Allah SWT. Untuk
itu setiap muslimin harus terus-menerus mempelajari ayat-ayat al qur’an secara
keseluruhan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Surat 4 An Nisaa ayat 159 :

Dan tidak seorangpun dari Ahli Kitab melainkan akan beriman kepada Isa sebelum
matiNYA, dan pada hari kiamat DIA menjadi saksi terhadap mereka.

Kembali misionaris ini memelintir ayat diatas, walaupun hanya dengan sebuah
kata tetapi berdampak sangat mendasar bagi kehidupan orang beriman.
Walaupun satu kata dimasukkan tetapi akan ketahuan , walaupun iblis akan selalu
berusaha untuk menyesatkan orang-orang beriman. Untuk itu marilahkita lihat
bagaimana caranya iblis ini kembali merusak ayat-ayat Allah SWT

“ Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa)
sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap
mereka (Qs An Nisaa’ 4:159) “.

Iblis ini merubah kaliamat “beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya” menjadi
“beriman kepada Isa sebelum matiNYA,” . Kalau kedua kalimat ini digandeng ,
dibandingkan dan dianalisa, maka mutu kalimat ini sangat jauh sekali
perbedaannya. Susunan kalimat dari Al Qur’an memperlihatkan keunggulannya
dimana tata bahasanya indah dan tepat, serta maksud dan tujuannya jelas ,
terbuka dan jujur. Sedangkan kalimat yang dimasukkan oleh iblis ini tidak benar
secara tatabahasa dan tidak jelas maksud dan tujuannya. Misionaris ini mengada-
ada dan berbuat lelucon yang tidak lucu. Jelas sekali iblis tidak sanggup merubah
ayat ini untuk menghasilkan kalimat yang jelas dan dimengerti, tetapi dia hanya
menawarkan sebuah kalimat yang masih samar-samar dan tidak begitu jelas
maksud dan tujuannya. Apabila ada seseorang yang termakan umpannya dan
mulai ragu-ragu dengan kebenaran ayat al qur’an diatas, kemudian menanyakan
keragu-raguannya kepada setan ini, maka setan ini akan menyampaikan
perubahan ayat tersebut lebih jelas lagi. Kalimat yang ditawarkan oleh misionaris
ini masih berupa umpan untuk memancing orang-orang muslim yang masih
belum kuat imannya dan ilmu pengetahuannya. Kalimat “beriman kepada Isa
sebelum matiNYA,” mengandung arti yang kabur dan remang-remang. Banyak
pertanyaan yang muncul dari pernyataan kalimat tesebut diantaranya ;

- Kalau kita harus beriman kepada Isa lalu apa yang dimaksud dengan
sebelum matiNYA? apakah maksudnya Isa akan mati?

- Apa hubungan antara Isa dengan makhluk yang mati itu (matiNYA)

- Kalau Isa dan yang matiNYA dalam kalimat ini adalah sesuatu yang sama,
lalu kenapa Isa mengalami kematian?

- Kenapa kita harus beriman kepada orang yang akan mati, bukankah dia
tidak berkuasa tehadap dirinya sendiri? ataukah ada makna lain dari kata
“beriman” tersebut ?

- Kalau kata “beriman” itu dimaknai “percaya “ terhadap kematian beliau


sebagaimana manusia biasa, lalu kenapa harus tertulis dengan huruf kapital
dari kata “matiNYA?

Sebenarnya iblis ingin membisikkan kepada orang beriman sebuah kalimat


pengkafiran dengan memasukan kalimat berikutnya yaitu “dan pada hari kiamat
DIA menjadi saksi terhadap mereka “. Dalam kalimat penutup ini, dia hanya
mengganti sebuah kata “Isa” dengan kata “DIA”, tanpa merubah ayat tersebut.
Yang berarti Isa tersebut akan menjadi saksi terhadap orang-orang yang tidak
mempercayai Isa sebagai Allah dihari Kiamat karena Isa telah bangkit dari
kematiannya menjelma menjadi Allah. Tetapi dia tidak dapat langsung
mengatakan secara “to the point “ , karena ayat Al Qur’an tersebut tidak
mengukung opininya, sehingga dia baru masuk ketahap awal yaitu suasana
remang-remang. Nanti kalau ada yang ragu-ragu, maka dia akan menjelaskan
maksud yang sebenarnya , bila perlu merubah kalimat Al Qur’an tersebut dengan
arti sesuai dengan bisikan teman-temannya.

BAB III

ISA AS DI DALAM KITAB HADITS

SHAHIH BUKHARI

Sebagaimana yang tertuang di dalam kitab Al Qur’an, maka di dalam kitab-kitab


Hadits Shahih pun Isa AS ditempatkan pada kedudukan yang khusus yang
menakjubkan. Antara lain di dalam kitab Hadits Shahih Bukhari. Isa AS,
kedudukannya tidak disamakan dengan nabi-nabi lainnya, karena Isa AS adalah
nabi yang paling kudus yg sama sekali tidak sama dengan manusia lainnya.

Kedudukan Isa AS yg sedemikian kudus tidak dapat dimiliki oleh siapapun di alam
semesta ini kecuali oleh Allah SWT sendiri, bahkan dikatakan di dalam Al Qur’an
bahwa Isa tidak dapat disentuh oleh setan atau iblis sekalipun.

Bahkan nabi besar Muhammad SAW pun menyatakan diri bahwa beliau adalah
orang yang paling dekat dengan Isa AS, bahkan menganut agama yang sama
dengan Isa AS.

Semenjak nabi Muhammad SAW hidup sampai sekarang ini, umat islam diajarkan
agar menghormati seluruh nabi-nabi, termasuk Nabi Isa As. Tidak ada satupun
para perawi hadis yang melecehkan nabi Isa AS dan sebaliknya tidak ada juga
hadis-hadis yang mengatakan bahwa Nabi Isa As adalah anak Allah yang
menjelma menjadi Allah.

Namun kekuatan dari keterangan suatu hadis tidaklah sekuat ketentuan yang
tercantum didalam Al Qur’an. Hadis merupakan ucapan nabi Muhammad yang
dihimpun oleh para perawi hadis dengan berbagai cara seperti ; wawancara yang
diurut berdasarkan sumber berita yang dapat dipercaya, catatan-catatan yang
masih tertinggal sebagai kata mutiara dari nabi, dan lain sebagainya. Hadis-hadis
ini dicatat dan dikumpulkan oleh di perawi ( yang terkenal adalah hadis dari
Bukhari, Muslim , Hanafi dan syafe’i). Hadis-hadis ini dikumpulkan dalam sebuah
kitab jauh setelah nabi Muhammad meninggal , sekitar 100 – 200 tahun setelah
rasullullah wafat.

Pada waktu rasullullah masih hidup, beliau melarang keras untuk membukukan
dan mencatat perkataan-perkataan beliau , karena beliau tidak menginginkan
akan terjadi pencampuran antara ayat-ayat Allah dengan perkataannya. Sehingga
sahabat hanya mencatat ayat-ayat Al Qur’an saja. Nabi Muhammad akan
melaksanakan dan memberikan contoh-contoh dalam pelaksanaan ketentuan
ayat-ayat tersebut. Jadi selama Rasullullah masih hidup dan pada masa dimana Al
Qur’an di dalam tahap pengumpulan menjadi Mushaf (pada masa Abu Bakar,
Umar dan Uhtman ), maka seluruh sahabat hanya terfokus kepada catatan ayat-
ayat Al Qur’an.

Karena hadis-hadis itu merupakan catatan yang diperoleh melalui wawancara,


atau orang-orang yang sempat mengingat perkataan nabi melalui koleksinya, dan
karena pengumpulan itu terjadi 100 – 200 tahun setelah Rasullalluah wafat, maka
seluruh hadis-hadis yang teratat ini harus ditinjau ulang. Makanya ada hadis yang
sahih dan ada yang tidak sahih. Atinya ada hadis yang mempunyai dalil-dalil yang
kuat untuk dinyatakan benar sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan dan
ada juga hadis-hadis palsu yang sengaja disusupkan untuk merusak keimanan
umat muslim.

Orang-orang dari kalangan umat nasrani dan Yahudi tidak akan senang dengan
perkembangan agama Isalam, maka mereka melakukan berbagai cara untuk
merusak hadis-hadis tersebut. Jangankan terhadap Hadis yng mudah sekali untuk
dibelokkan untuk maksud-maksud tertentu, AL Qur’an saja yang jelas-jelas
langsung dari Allah SWT , telah dicoba dirusak oleh mereka sebagaimana yang
sedang dilakukan oleh misionaris yang bekerjasama dengan iblis ini. Hal itu karena
mereka merasa iri dan dengki terhadap datangnya kebenaran tersebut. Mereka
menginginkan ayat-ayat Al Qur’an itu hanya untuk mereka saja dan dari mereka
saja , tetapi Allah tidak percaya lagi pada mereka dan Allah tahu akan isi hati
mereka yang selalu ingin merubah ayat-ayat Allah.
Misionaris ini ingin menyampaikan hadis-hadis yang dapat memperkuat opininya
bahwa Isa adalah anak Allah dan kemudian menjelama menjadi Allah. Namun
tidak satupun hadis yang mendukung opini misionaris ini, karena semua perawi
hadis dan seluruh umat Islam sudah beriman kepada Isa As sebagai utusan Allah,
bukan sebagai anak Allah dan bukan pula sebagai Allah.

Umat muslim seluruh dunia memuliakan nabi Isa sebagaimana nabi-nabi lainnya.
Umat muslim tidak akan pernah menghina nabi Isa As sebagaimana umat Yahudi
telah melecehkannya sedangkan umat Nasrani menjadi kafir dengan menyembah
Isa As sebagai Tuhan. Begitu juga mereka umat Yahudi dan Nasrani terus
melakukan penghinaan, pelecehan dan memfitnah nabi Muhammad SAW dari
zaman dahulu sampai saat ini. Sebenarnya ayat-ayat Al Qur’an yang disampaikan
oleh nabi Muhammad adalah untuk mensucikan nabi Isa dari hujatan umat Yahudi
dan membersihkan beliau dari kesesatan umat Nasrani yang terlalu berlebih
menghina Allah SWT.

Misionaris ini tidak akan mampu mencari hadis-hadis yang dapat mendukung
opininya bahwa Isa As adalah anak Allah dan Isa As menjelma menjadi Allah.
Semua Hadis hadis yang disodorkan oleh Misonaris diatas ternyata memuliakan
Isa sebagaimana Allah memuliakan beliau sebagai utusanNYA . Bukan sebagai
Anak Allah yang menjelma menjadi Allah.

III.1 ISA AS ADALAH ORANG YANG PALING KUDUS (SUCI) & LANGSUNG MASUK
SURGA

Menurut Muhammad SAW, di dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1493, bahwa
semua orang itu sejak lahirnya disentuh oleh setan (TELAH BERDOSA), kecuali Isa
AS.

Mengenai kelahiran Isa As yang tidak lumrah manusia , serta mukjizatnya yang
mampu berbicara ketika masih bayi, juga tentang beliau yang mampu mengusir
setan yang menyantet orang hingga sakit , maka bagi umat islam mempercayai itu
sebagai Karunai Allah yang diberikanNya kepada Isa AS. Masih banyak lagi nabi
dan rasullullah yang lain yang dianugrahi oleh Allah dengan mukjizat yang lebih
hebat dan berbeda dengan Isa AS. Semuanya itu akan menambah ketaqwaan
umat muslim bahwa Allah memuliakan UtusanNYa agar umat nabi Itu meyakini
dan mempercayai tanda tanda yang diberikan Oleh Allah kepada utusanNYA.
Namun mukjizat itu tidak menyebabkan orang muslim berkesimpulan bahwa Isa
adalah anak Allah dan menjelma menjadi Allah.

Sebagaimana dimaklumi bahwa setan / iblis selalu erat hubungannya dengan dosa
manusia, dan hadits ini ingin mengemukakan bahwa semua orang telah berdosa,
kecuali Isa AS. Hadits ini menggambarkan bahwa Isa AS adalah makluk paling
kudus dan yang kesucianNya murni dan terkudus dari antara manusia.
KesucianNya yang semurni ini hanya dapat dimiliki oleh Allah SWT.

Oleh sebab itu, baik Allah SWT maupun Isa AS tidak bisa disentuh oleh setan
ataupun iblis.

Misonaris ini ingin sekali memasukan pemikiran dan opininya tentang kalimat
didalam hadis ini dengan sebuah kalimat dugaan “ Hadis ini ingin”. Jelas bahwa
misionaris akan melakukan penyetiran dari hadis itu sesuai dengan jalan
pikirannya sendiri, tetapi dia tidak akan dapat mempengaruhi keimanan orang
islam sesuai dengan yang ada di dalam pikrannya. Sebenarnya misionaris ini
terlihat masih ragu-ragu dengan dugaannya untuk langsung ke tujuan akhirnya,
seperti yang tercantum pada kalimatnya “bahwa Isa AS adalah makluk paling
kudus”. Kenapa dia masih memasukan kata “makluk” didalam kalimat tersebut”?
Bukankah ini berarti bahwa Isa As merupakan makhluk ciptaan Allah SWT?
Kemudian ditambah lagi dengan kalimat selanjutnya “ yang kesucianNya murni
dan terkudus dari antara manusia”; bukanlah kalimat ini menunjukkan bahwa
Isa As termasuk sejenis manusia walaupun yang membedakannya dengan
manusia lainnya hanyalah dalam hal kemulian semata. Seluruh umat islam akan
menempatkan Isa sebagai manusia pilihan terbaik diantara manusia biasa , tetapi
tidak lantas menempatkan Isa sebagai anak Allah ataupun sebagai ujud Allah itu
sendiri.
Sedangkan terhadap manusia lainnya tanpa terkecuali, apakah ia seorang
manusia biasa atau seorang nabi sekalipun, maka setan dapat menyentuhnya.

Hal ini dapat kita lihat dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1493 sebagai berikut :

“Dari Abu Hurairah RA. Katanya “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Setiap anak Adam yang baru lahir, disentuh oleh setan ketika lahirnya, lalu ia
memekik menangis karenanya, selain Maryam dan anaknya.

Sedemikian sucinya Isa AS sehingga Al Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa


hanya Isa AS yg langsung masuk surga.

Misionaris ini terus mencari hadis yang dapat memperkuat dugaanya tentang Isa
adalah anak Allah, tetapi dia tidak menemukan satupun hadis yang mendukung
opini dan kesimpulannya tersebut. Untuk itu dia mencoba mencari hadis-hadis
yang berdekat sehingga , paling tidak hadis yang dia sodorkan tersebut dapat
membuat orang muslim ragu-ragu , dia bikin suasana jadi remang-remang.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa mukjizat Isa tersebut tentu saja
menyebabkan beliau terhindar dari godaan dan gangguan iblis yang mencoba-
coba mengganggunya karena semanjak sebelum lahir dan masih dalam
gendongan bayi dia sudah diperkuat oleh Ruhul Qudus sebagaimana keterangan
ayat Al Qur’an yang sudah dibahas sebelumnya. Jadi hadis tersebut sejalan
dengan keterangan al Quran, tetapi bukan berarti bahwa Isa tersebut anak Allah
dan menjelma menjadi Allah. Hanya orang-orang kafirlah yang membuat dugaan-
dugaan seperti itu.

Surat 19 Maryam 19 :

"Hanya Isa anak Maryam yang langsung masuk surga karena Dia suci"

Kembali misionaris ini membuat kebohongan yang nyata. Dia mengarang sebuah
ayat yang tidak pernah ada di dalam Al Qur’an. Ayat yang dia sodorkan tersebut
diatas merupakan karangan dia saja , dia hanya mengada-ada dan dia telah
melakukan kekejian dan kepalsuan yang tidak terampuni. Semoga Allah SWT tidak
akan mengampuni kesalahan yang sudah dia perbuat dengan sengaja ini.

Cobalah lihat bagaimana bunyi ayat dari surat 19 Maryam 19 ;

“ Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu,


untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci" (QS Maryam 19:19)”.

Cobalah bandingkan antara ayat baru yang disampaikan oleh misionaris ini
dengan ayat al Qur’an yang sebenarnya “"Hanya Isa anak Maryam yang langsung
masuk surga karena Dia suci". Jelas bahwa misionaris ini melakukan sebuah
kepalsuan besar.

Apakah begini caranya pendeta nasrani menyampaikan pengkabaran imannya


kepada umatnya dan kepada orang lain yang dia anggap sebagai domba yang
tersesat? Siapakah domba tersesat yang dia maksud? Sebenarnya cara begini
merupakan cara untuk menyesatkan seseorang manusia? Kalau umat Kristen
tetap mempercayai Isa sebagai anak Tuhan dan Isa adalah Allah SWT, maka
janganlah anda memaksakan kepercayaan anda tersebut kepada umat muslim.
Apalagi kalian telah merusak, menghina dan memfitnah ayat-ayat suci kami.
Mengapa kalian menyebarkan iman kalian dengan cara kepalsuan? Keuntungan
apa yang dapat kalian ambil dengan cara kepalsuan itu? Apakah kalian sudah
terbiasa melakukan cara-cara kepalsuan tersebut sebelumnya? Apakah dengan
cara begitu kalian menyatakan, bahwa agama kalianlah yang paling benar?
Berhentilah kalian melakukan cara-cara yang tidak terpuji tersebut.

Kejahatan iman yang telah kalian lakukan kepada kitab suci kami lebih keji dari
pada hasutan dan pengkabaran iman yang kalian sampaikan kepada kami selama
ini. Kalau kalian mengira bahwa agama kalian adalah agama yang benar, maka
lakukanlah dengan cara yang terpuji, lakukanlah dengan metode ajaran Kasih
sebagaimana kalian percaya kepada ajaran Kristus yang penuh dengan cinta kasih.
Sepertinya kalian tidak melaksanakan ajaran kristus dan kalian sepertinya bukan
berasal dari dari pengikut ajaran Isa Almasih (Kristus), tidak mungkin Yesus kalian
mengajarkan cara-cara begitu, ataukah kalian berasal dari sepasukan iblis yang
diutus oleh rajanya kepada umat islam? Kalau kalian berasal dari umat Yesus
Kristus yang mempunyai kitab Bible , apakah begitu caranya kitabsuci kalian
mengajarkan cara kepalsuan tersebut? Kalau kalian Ingin menyebarkan ajaran
kalian, maka lakukanlah dengan cara yang baik, bukan dengan cara kepalsuan
begitu. Janganlah kalian menyebarkan fitnah dan kebohongan-kebohongan.
Ketahuilah bahwa orang islam tidak akan menyembah apa yang kalian sembah,
dan kalianpun tidak mungkin menyembah apa yang kami sembah, agama Kristen
untuk orang Kristen dan agama islam untuk orang islam. Kalau kalian yakin
dengan ajaran kalian benar maka berimanlah kalian dengan ajaran agama kalian
dengan cara yang benar untuk kalian, itu lebih baik kalau kalian mengetahuinya.
Dari pada kalian menyebarkan ajaran kalian dengan kekejian dan kepalsuan
seperti itu.

Sebenarnya ayat Maryam ayat 19 diatas masih berhubungan dengan beberapa


ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat tersebut tidak berdiri sendiri. Ayat tersebut
sebenarnya menceritakan tentang dialog antara malaikat Jibril dengan Maryam.
Cerita ini sudah dibahas pada keterangan sebelumnya, namun ada baiknya
diulangi lagi. Pada ayat diatas malaikat Jibril menyampaikan berita tentang
rencana Allah akan memberinya seorang anak yang bernama Isa Al Masih yaitu
seorang anak yang suci (artinya bukan anak haram dan bukan pula anak hasil
hubungan biologis antara Jibril dengan Maryam). Tetapi seorang anak yang
secara lahir adalah anak kandung dari Maryam tetapi dengan nyawa (roh) yang
ditiupkan Allah melalui Malaikat JIbril. Didalam cerita itu terdapat 4 tokoh yang
terlibat antara lain ; Allah sebagai yang berkuasa, Malaikat(Ruhul Qudus) sebagai
utusan Allah, Maryam sebagai Ibu yang mempunyai rahim dan Isa sebagai
manusia(calon bayi) yang akan dilahirkan. Tidak satupun dari ke 4 tokoh itu, ada
yang sama atau disamakan, di dalam ayat tersebut. Jadi orang muslim sudah
mempunyai gambaran tetap di dalam pikirannya yaitu ; Maryam tidak sama
dengan Isa, tidak sama dengan Malaikat Jibril (Rohul QUdus) dan tidak sama pula
dengan Allah SWT. Berhentilah kalian menyerukan kebohongan-kebohongan
kalian kepada Umat islam. Allah telah memberikan informasi yang jujur dan benar
kepada kami tentang Isa As di dalam Al Qur’an kami, jadi janganlah kalian
mencoba mempengruhi kami lagi dengan berita bohong itu.

Bahkan Nabi besar Muhammad SAW pun sebelum wafatnya memintakan kepada
seluruh umat Islam agar membacakan doa ‘shalawat nabi’ pada setiap kali selesai
melaksanakan sholat untuk mendoakan keselamatan kepada diri nabi
Muhammad SAW sendiri, agar tidak disentuh dan ditarik oleh setan ke dalam
neraka dalam kehidupan akhiratnya kelak.

Bunyi Shalawat Nabi tsb adalah :

“Ya – Allah, karuniakanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad keselamatan,


kemuliaan, dan tempat serta derajat yang tinggi seperti yang telah Engkau
janjikan “.

Dari manalagi pendeta ini mendapat gossip dan membuat berita bohong bahwa
sebelum kematiannya , nabi Muhammad menyuruh umat islam untuk
mendo’akan beliau agar tidak masuk neraka. Kenapa pendeta ini tidak
menyampaikan gossip itu dari sumber yang jelas atau bukti yang bisa meyakinkan
sebagaimana dia telah menyodorkan ayat –ayat Qur’an untuk memperkuat
opininya. Bukankah itu sebuah fitnah belaka? Pendeta ini hanya mampu
memfitnah dan menyebarkan berita bohong. Kenapa pendeta Kristen ini selalu
mencari masalah dalam menyampaikan berita bohong dengan cara kepalsuan?

Sesungguhnya Rasullullah tidak pernah menyuruh dan memerintahkan umat


islam mendo’akan beliau agar beliau selamat dari sisksaan neraka. Ketahuilah
bahwa Allah SWT telah menyampaikan perintahnya kepada kaum muslimin agar
selalu menyampaikan dan mengirimkan ucapan kemuliaan dan kesejahteraan
kepada Muhammad .

“ Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi (Muhammad) dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya ( QS Al Ahzab 33:56)”.
Bukan hanya nabi Muhammad yang harus dikirimkan ucapan kemuliaan dan
kesejahteraan namun juga kepada Nabi Ibrahim, sebagaimana yang telah
dijanjikan oleh Allah kepada Ibrahim dan anak cucunya yang shaleh-shaleh. Dalam
hal ini ucapan kemuliaan (shalawat) kepada Ibrahim diwajibkan oleh Allah kepada
yang mengaku sebagai keturunan Ibrahim. Ujud ucapan kemuliaan tersebut
tercermin didalam setiap ritual bacaan ibadah umat kepada Allah.

Sesungguhnya Janji Allah memberikan kemuliaan kepada nabi Ibrahim As , sudah


ada di dalam kitab perjanjian lama , di dalam BIble yang berbunyi ;

Di dalam perjanjian lama ada tertulis ;

And I will make of thee a great nation, and I will bless thee, and make thy
name great; and thou shalt be a blessing (Genesis 12:2)

“ Dan Aku akan membuat engkau (Abraham) menjadi bangsa yang besar, dan
memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi
berkat (kitab Kejadian 12:2)”

Begitu juga Al Qur’an meng-abadi-kannya ;

107

109 108 .
“ Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang
datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah
Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
(QS As Shafaat 37:107-108) “.

Dari ketentuan tersebut , seharusnya bukan hanya umat islam saja yang harus
mengucapkan kemuliaan kepada Ibrahim, tetapi umat Kristen juga diwajibkan
mememuliakan Ibrahim dalam setiap ucapan ibadahnya bersama Yesus, sesuai
dengan yang tertulis di dalam Bible. Tetapi kenapa Umat Kristen tidak
melaksanakan perjanjian Allah tersebut? Justru umat Islamlah yang menjalankan
ketentuan tersebut sebagaimana yang sudah diwajibkan oleh Allah baik di dalam
kitab Bible maupun di dalam Al Qur’an.

Dalam setiap shalat, kaum muslim harus mengucapkan kemuliaan dan


penghormatan kepada Ibrahim ( “ = salamun a’la Ibrahim
(kesejahteraan/kemulaian atas Ibrahim) .

Bukankah ini berarti bahwa hanya umat Muhammad lah yang berhasil
menegakkan dan membuktikan janji-janji Allah tersebut. Karena umat Kristen
tidak mau melaksanakan janji Allah tersebut, maka umat muslim dengan ikhlas
dan suka rela melaksanakannya.

Karena Keberhasilan nabi Muhammad menegakan janji Allah kepada Ibrahim dan
dilaksanakan oleh umat beliau, maka Allahpun memenuhi janji untuk menyuruh
umat islam memberikan ucapan kemuliaan kepada Muhammad (salamun a’la
Muhammad = kesejahteraan/kemuliaan bagi Muahmmad) , kerena beliau telah
menengakkan agama Ibrahaim yang lurus.

Kaum muslimin diwajibkan sekurang-kurangnya membaca kalimat kemuliaan


tersebut sebanyak 20 kali dalam sehari kepada kedua Rasullullah tersebut. Umat
muslim mengucapkannya dengan kepatuhan dan ketulusan sebagai bukti rasa
hormat dan rasa terimakasih kepada Rasul-Rasul Allah yang telah menunjukan
jalan kebenaran , jalan keimanan dan jalan yang lurus.

Tampak dari bunyi Shalawat Nabi ini bahwa nabi Muhammad sendiripun tidak
yakin akan dapat dan mampu menerima keselamatan, kemuliaan, dan tempat
dan derajat kenabian yang akan diterimanya sebagai nabi, sehingga ia meminta
kepada umatnya untuk selalu mendoakannya setiap habis melaksanakan sholat 5
waktu setiap hari agar Allah tidak lupa untuk menepati janjiNya.

Dalam hal ini, jelas sekali menunjukkan ketidakpercayaan Nabi Muhammad


kepada Allah SWT akan keselamatan dirinya di akhirat kelak, apakah beliau nanti
masuk surga atau neraka, sehingga Beliau sangat menekankan kepada seluruh
umat Islam di dunia untuk senantiasa mendoakannya lima kali sehari untuk masa
waktu yang tidak terbatas (selama sholat masih didirikan ?? )

Hal ini dapat dilihat pula di dalam Doa Nabi Muhammad SAW. sebelum beliau
wafat:

Hadits Shahih Bukhari 1573 :

"Wahai Tuhan! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah dengan


Teman Yang Maha Tinggi"

Hadits Shahih Bukhari 1574

Lalu beliau mengangkat tangannya sambil mengucapkan: "Teman Yang Maha


Tinggi" Lalu beliau wafat dan rebahlah tangan beliau.

Kembali pendeta ini berasumsi dan berpikiran sesuai dengan bisikan iblis
padanya bahwa “tampaknya “ bunyi shalawat ini menunjukan Muhammad tidak
mampu mendapat keselamatan. Hal ini karena dia berasumsi bahwa shalat
tersebut hanya untuk mendo’akan Nabi Muhammad saja. Sebenarnya kalau
dipaparkan disini tentang bacaan di dalam shalat, maka seluruh bacaan itu adalah
do’a-do’a mohon keselamat dan ampunan untuk diri sendiri (50%) , puji-pujian
kepada Allah (30%) dan ucapan kemuliaan (shalawat) kepada Ibrahim dan
Muhammad (5%).

Ucapan shalawat itu adalah mengucapkan sebuah kalimat

, sebuah kalimat yang mengandung arti yaitu; mengirimkan ucapan kemuliaan


dan memohon agar Allah berkenan memberikan gelar kehormatan yang paling
tinggi disisiNYA terhadap Ibrahim dan Muhammad beserta segenap keturunan
dan anak cucu merekanya. Tentu saja hal ini sebagai bukti akan keberhasilan
Ibrahim menjalankan perintah Allah dan kepada Muhammad yang telah
menggenapi seluruh nabi-nabi yang pernah diutusNYA kepada umat manusia.
Begitulah Allah menggenapi janji-janjinya dan orang muslimlah yang
melaksanakan perjanjian Allah dengan Ibrahim tersebut dengan penuh keikhlasan
dan kepatuhan yang nyata.

Untuk itu marilah kita lihat sebagian bacaan shalat yang mengirimkan ucapan
keselamatan atau kemuliaan kepada Ibrahim dan Muhammad tersebut ;

“ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA


SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAAHUMMA
BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BARAKTA ‘ALAA
AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.”

artinya: “Ya Allah berikanlah Shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibarahim,
sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah berkahilah
Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati
keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Kalau kita baca dengan seksama pada ucapan shalawat tersebut diatas, maka
terlihatlah , bahwa ucapan shalawat tersebut bukanlah sebuah kalimat untuk
memohon ampunan atau memohon agar Allah tidak menghukum Ibrahim dan
Muhammad di akhirat nanti. Dugaan itu adalah fitnah yang disebarkan oleh
misionaris palsu yang tidak mau menerima dan merasa iri atas kehendak Allah
yang menunjuk umat Muhammad menggenapi janji-janji Allah kepada Ibrahim
tersebut.
Bahkan didalam keterangan Al Qur’an, bukan hanya orang-orang beriman saja
yang diwajibkan memberikan ucapan kemuliaan dan kehormatan kepada para
Nabi-nabi, bahkan Malaikat-malaikat dan Allah SWT juga membalas dan
memberikan ucapan kemuliaan kepada para nabi-nabi tersebut. Seperti yang
diabadikan di dalam surat Al Ahzaab ayat 56 yang berbunyi ;

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-


orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya( QS Al Ahzab 33:56)”.

Kalau umat beriman diwajibkan melantunkan kalimat shalawat (penghormatan


dan kemuliaan) kepada pada nabi-nabi, apakah nabi Muhammad mengucapkan
shalawat juga untuk dirinya?. Untuk itu marilah kita amati sebuah hadis yang
menceritakan bagaimana ucapan shalawat nabi Muhammad ketika shalat. Artinya
shalat itu adalah kewajiban setiap diri termasuk juga kepada nabi Muhammad
sebagaimana yang telah diwajibkan oleh Allah kepada nabi-nabi sebelumnya. Jadi
nabi Isa, nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi yang lainnya juga melaksanakan
shalat kepada Allah.

Sebuah hadis dari Bukhari meriwayatkan tentang bacaan nabi Muhammad ketika
mengucapkan kalimat shalawat sebagai berikut ;

Berkata Abdullah : “Kami apabila shalat di belakang nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
keselamatan atas jibril dan mikail keselamatan atas si fulan dan si fulan maka
rasulullah berpaling kepada kami. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :
sesungguhnya Allah itu As-salam maka apabila shalat hendaklah kalian itu
mengucapkan: “AT-TAHIYYAATU LILLAHI WAS SHOLAWATU WAT
THAYYIBAAT, AS-SALAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIY WA RAHMATULLAHI
WA BARAKATUHU, AS-SALAAMU ‘ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHIS
SHALIHIN. ASYHADU ALLAA ILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA
MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUHU” yang artinya; “segala kehormaatan,
shalawat dann kebaikan kepunyaan Allah, semoga keselamatan terlimpah atasmu
wahai Nabi dan juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Kiranya keselamatan tetap atas
kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih; -karena sesungguhnya apabila kalian
mengucapkan sudah mengenai semua hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi-
Aku bersaksi bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan aku bersaksi
bahwasanya Muhammmad itu hamba daan utusan-Nya. (Hadits dikeluarkan oleh Al
Imam Al Bukhari).

Dari keterangan hadis tersebut , teryata nabi Muhammad juga mengucapkan


shalawat kepada para Nabi-nabi , tetapi dia mengabaikan dirinya sendiri untuk
memohon kemuliaan. Bahkan beliau lebih mengutamakan dan menyampaikan
ucapan shalawatnya kepada seluruh umat beliau sendiri. Nabi Muhammad juga
mengucapkan shalawat kepada Allah dan para malaikat.

Jadi jelaslah bahwa ucapaan shalawat yang dikirimkan kepada seseorang


merupakan sebuah ungkapan penghargaan dan kemuliaan sehingga dengan
memberikan ucapan penghargan tersebut maka dia akan dibalas dengan
penghargaan yang sama oleh seseorang yang dihormatinya. Begitulah salah satu
ajaran yang ditanamkan didalam shalat. Sebuah ucapan kemuliaan kepada
siapapun yang dihormati tanpa meminta balasan karena ucapan tersebut
diberikan dengan bisikan dan itupun belum tentu terdengar oleh orang yang
dituju.

Sama halnya dengan seorang yang sedang berpidato, maka di awal pidotonya itu
dia akan menyampaikan ucapan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada
seluruh hadirin seperti ; saudara hadirin yang terhormat, yang dimuliakan, ucapan
damai sejahtera untuk kalian semua, terimakasih atas kehadiran saudara-
saudara. Dengan ucapan kemuliaan dan kesejahteraan tersebut, maka yang
berpidato akan dihargai dan disegani oleh seluruh hadirin dan diapun akan
mendapat sambutan yang hangat dari seluruh hadirin.

Siapakah "Teman Yang Maha Tinggi" itu?


Menurut catatan kaki Hadits Shahih Bukhari ialah "Malaikat dan nabi-nabi".
Malaikat tidak disebut yang Maha Tinggi, jadi "teman" beliau bukan malaikat
tetapi nabi-nabi. Lalu siapakah diantara para nabi yang layak disebut: "Yang Maha
Tinggi".

Adapun nama-nama yang telah diberikan Allah kepada Nabi-nabi lain yaitu:

"Adam Shafiyulah" = Adam disucikan Allah

"Nuh najiyullah" = Nuh diselamatkan Allah

"Ibrahim khalilullah" = Ibrohim dikasihi Allah

"Isma'il dzabiihullah" = Ismail dikurbankan Allah

"Musa kaliimullah" = Musa difirmankan Allah

"Dawud khalifatullah" = Dawud dipimpin Allah

Pemberian nama-nama kepada para nabi-nabi tersebut diatas merupakan sebuah


pemberian gelar kehormatan yang ditujukan oleh perawi hadis kepada nabi-nabi.
Hal ini menunjukan bahwa seluruh perawi hadis dan seluruh umat muslim
menghargai dan menghormati semua nabi-nabi yang pernah dikirim Allah sebagai
utusanNYa termasuk Isa As dan lain-lain. Jadi tidak ada ajaran yang ditemukan
baik di dalam Al Qur’an maupun di dalam hadis-hadis yang bertujuan menghina,
melecehkan atau merendahkan para nabi, bahkan sebaliknya ajaran islam
memuliakan mereka semuanya. Jadi jelaslah bahwa Islam adalah agama
rahmatanlillahirabilalamin ( kemuliaan dan kesehjahteraan bagi seluruh
manusia).

Tetapi di dalam ajaran Kristen yaitu di dalam catatan Bible itu sendiri, banyak
sekali nabi-nabi yang dihinakan dan dilecehkan seperti ;

- Nabi Luth berbuat zinah dengan kedua anak gadisnya , seperti yang
tercantum pada kitab kejadian 19:36

“ Thus were both the daughters of Lot with child by their father (genesis
19:36)”.
“36Lalu mengandunglah kedua anak gadis Lot itu dari ayah mereka (kej
19:36)”.

Bagaimana mungkin seorang nabi yang termashur karena menentang keras


umatnya yang melakukan perbuatan sex menyimpang (homosex) sehingga
terjadilah peristiwa mengerikan di kota Sodom (telah diabadikan oleh kitab
Taurat, Bible dan Al qur’an), kemudian nabi ini melakukan perbuatan sex
yang lebih menyimpang lagi dari pada kaum Sodom itu. Tidak mungkin nabi
ini menyetubuhi anak kandungnya sendiri. ini adalah salah satu bentuk
penghinaan kepada seorang nabi yang suci yang diabadikan dan tertulis di
dalam kitab Bible.

- Nabi Nuh tertulis mabuk-mabukan lalu bertelanjang di dalam kemahnya


dan terlihat oleh anak dan menantunya, seperti yang tercantum pada kitab
kejadian 9 : 20-21 yang berbunyi ;

“20And Noah began to be an husbandman, and he planted a vineyard:21 And he


drank of the wine, and was drunken; and he was uncovered within his tent(Genesis
9:20-21).

“ 20Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur.


21Dan Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam
kemahnya (kej 9:20-21)”.

- Bukan hanya nabi-nabi yang telah dihina di dalam catatan Bible bahkan ada
tertulis di dalam Bible bahwa Yakub berkelahi dengan Allah SWT. Dan di
dalam perkelahian itu Yakub dapat mengalahkan Allah SWT. Keterangan di
dalam bible ini berbunyi ;

24And Jacob was left alone; and there wrestled a man with him until the breaking
of the day. 28And he said, Thy name shall be called no more Jacob, but Israel: for
as a prince hast thou power with God and with men, and hast prevailed.(genesis
32:24 and 28)
24Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan
dia sampai fajar menyingsing. 28Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan
disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan
Allah dan manusia, dan engkau menang."( Kejadian 32:24 dan 28).

Bagaimana jalan pikiran kita membaca catatan Bible yang menyatakan


bahwa nabi Yakub berkelahi dengan seseorang yang katanya seseorang itu
adalah Allah SWT ?. Kemudian seseorang itu mengakui kekalahannya dan
ternyata seseorang itu adalah Allah SWT, sehingga orang ini menobatkan
dan memberkati Yakub menyandang nama barunya “Israel”.

Dan masih banyak lagi nabi-nabi yang dihina, dilecehkan dan diftnah dimana tidak
mungkin nabi-nabi tersebut melakukan hal sekeji itu. Ini tertulis di dalam Bible.

Jadi jelaslah bahwa pelecehan terhadap sendi-sendi agama telah berhasil


dilakukan oleh ahli kitab nasrani dan Yahudi dari zaman dulu. Sekarang misionaris
ini melanjutkan usahanya terhadap ayat-ayat Al Qur’an. Benar-benar telah datang
ujian kepada keimanan umat muslim dari Iblis yang menyamar sebagai seorang
manusia.

Namun beliau telah bersabda:

Hadits Shahih Bukhari 1501

"Saya yang lebih dekat Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat. Semua nabi itu
bersaudara karena seketurunan. Ibunya berlainan sedang agamanya satu." (Anaa
aulan naasi bi 'iisabni maryama fid dun-yaa al aakhiraati wal anbiyaau ikhwaatul li
'allaatin ummahaatuhum syattaa wa diinuhum waahid)

Hadits Shahih Muslim 127

"Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya telah dekat masanya 'Isa
anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang
adil. (Wa ladzii nafsii bi yadihi layusyikanna ayyanzila fii kumubnu maryama
hakaman muqsithan)

Maka "Teman Yang Maha Tinggi" itu adalah Isa Almasih anak Maryam.
Walaupun misionaris ini tidak mencantumkan seluruh isi kalimat hadis yang
disodorkannya tersebut, tetapi inti yang dia tangkap dari hadis tersebut
menunjukkan bahwa hadis itu juga memuliakan Nabi Isa . Tidak satupun kata-kata
dari hadis tersebut diatas yang menjelaskan tentang isa adalah anak Allah dan isa
menjelma menjadi Allah sehingga misionaris ini berharap agar umat muslim wajib
untuk memohon ampunan dan keselaman kepada Isa As.

Dan kita disarankan untuk mengikut Dia bila ingin memperoleh keselamatan itu,
karena hidup kita semua berada di tanganNya.

Kalimat diatas ini hanya merupakan imaginasi dan opini yang dibuat-buat oleh
misionaris ini karena dia ingin/mengharapkan umat islam memohon doa
keselamatan kepada Isa As.

Kalau hanya ingin memperoleh keselamatan , umat islam bukan hanya mengikuti
salah satu ajaran nabi Isa tetapi masih banyak lagi nabi lain yang mempunyai
ajaran yang sama sesuai dengan apa yang beliau terima dari Allah SWT. Padahal
nabi Isa As hanya berdo’a dan memohon kepada Allah bukan kepada dirinya
sendiri. tetapi entah kenapa misionaris mengharapkan umat islam memohon
keselamatan kepada Yesus yang dia duga telah menjelma menjadi tuhan. Sia-sia
saja misionaris ini mengharapkan umat muslim berdoa kepada Isa As. Bahkan
didalam Shalat orang muslimpun tidak pernah ada kalimat shalawat yang
ditujukan khusus kepada Yesus.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 61

"...ikutilah Aku, inilah jalan yang lurus." (..wattabi'uuni haadzaa shiraathum


mustaqiim.)

Kembali misionaris ini mengambil sepotong kalimat di dalam surat Az Zukhruf


ayat 61. Seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan ayat ini sebelumnya, arti
dari kaliamat “ jalan yang lurus” adalah menjalankan petunjuk dan ketentuan
yang benar yang telah diajarkan oleh Isa kepada umatnya. Diantara ajaran yang
lurus itu adalah tidak menduakan Tuhan, percaya akan hari kiamat dimana setiap
umatnya akan diminta pertanggung jawaban, tidak meninggalkan hukum taurat
tetapi harus melaksanakan dengan konsekwen. Itulah yang dimaksud dengan
jalan yang lurus tersebut. Sedangkan jalan yang ditempuh oleh umat Kristen
sekarang ini sudah tidak lurus lagi, bahkan bertentangan dengan ajaran Isa yang
pernah dijelaskan beliau kepada umatnya.

Diantara ajaran isa As yang lurus tetapi sudah dibengkokkan oleh umat nasrani
saat ini adalah ;

- Pada mulanya ada tertulis “tidak ada tuhan selain Allah”

2I am the LORD thy God, which have brought thee out of the land of Egypt, out of
the house of bondage. 3Thou shalt have no other gods before me. (Exodus 20:2-3)”

2"Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari
tempat perbudakan. 3Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:2-3)

- Yesus bukan Tuhan tetapi utusan dari Allah. Yesus hanya diperintah oleh
Allah . Yesus tidak berkehendak atas dirinya sendiri , seperti keterangan
ayat dibawah ini

49For I have not spoken of myself; but the Father which sent me, he gave
me a commandment, what I should say, and what I should speak. 50And I
know that his commandment is life everlasting: whatsoever I speak
therefore, even as the Father said unto me, so I speak (John 12:49-50).

49Sebab Aku berkata-kata bukan atas diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang
mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang
harus Aku katakan dan Aku sampaikan. 50Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya
itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku
menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.
(Yohanes 12:49-50)"
- Pengikut Yesus yang melakukan dosa seperti menduakan Allah
(menyembah Yesus sebagai Allah) dan tidak melaksanakan hukum taurat,
dan tidak mengkikuti petunjuk jalan yang lurus sebagaimana yang telah
diajari oleh Yesus, maka dia akan dicampakkan kedalam api yang
bergejolak dan sangat panas membara di dalam neraka kelak (di hari
kiamat). Keterangan ini diabadikan di dalam catatan Bible berikut ;

- 49So shall it be at the end of the world: the angels shall come forth, and
sever the wicked from among the just, 50And shall cast them into the
furnace of fire: there shall be wailing and gnashing of teeth (Mathew 13:49-
50)”.

49Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang


memisahkan orang jahat dari orang benar, 50lalu mencampakkan orang jahat
ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
51Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti
(Matius 13:49-50)”.

- Yesus diutus oleh Allah, tidak untuk menghilangkan dan melenyapkan


hukum-hukum taurat sedikitpun, bahkan Yesus mengancam mereka yang
melanggarnya akan ditempatkan di dalam kerajaan Allah yang paling
rendah diakhirat (neraka) dan tentu saja dia akan dibakar sebagaimana
keterangan ayat diatas. Keterangan ini tertulis di dalam Bible seperti
berikut ini ;

- 18For verily I say unto you, Till heaven and earth pass, one jot or one tittle
shall in no wise pass from the law, till all be fulfilled. 19For I say unto you,
That except your righteousness shall exceed the righteousness of the
scribes and Pharisees, ye shall in no case enter into the kingdom of heaven
(Matthew 5:18-19)”.

18Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit


dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum
Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19Karena itu siapa yang meniadakan salah
satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya
demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di
dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala
perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di
dalam Kerajaan Sorga (matius 5:18-19)”.

- Kemampuan Yesus mengusir setan, bukanlah sebuah kemampuan dirinya


sendiri, bukan pula karena Yesus raja dari setan. Tetapi Yesus mampu
mengusir setan karena KUASA DARI ALLAH. Hal ini menunjukan sebuah
pengakuan atau kesaksian dari Yesus sendiri bahwa mukjizat itu berasal
dari Allah, sehingga kesimpulannya adalah bahwa Yesus bukanlah Allah.

- 15Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan
kuasa Beelzebul, penghulu setan." 16Ada pula yang meminta suatu tanda dari
sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. 17Tetapi Yesus mengetahui pikiran
mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan
setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. 18Jikalau Iblis itu
juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya
dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan
kuasa Beelzebul. 19Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul,
dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah
yang akan menjadi hakimmu. 20Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa
Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu (Lukas 15-
19)”.

Keterangan catatan Bible ini menunjukkan bahwa tuduhan yang


dilemparkan oleh tetua atau imam yahudi terhadapnya yang telah
mengusir Setan atas nama raja setan atau anggapan mereka bahwa Yesus
adalah raja setan , dibantah keras oleh Yesus dengan menyampaikan
sebuah kaliamat pengandaian. Yaitu jika Yesus mengusir setan atas nama
Raja setan , maka setan-setan itu sudah terbagi dua kekuasaannya (setan-
setan yang pro dan kontra manusia) sehingga runtuhlah kerajaan setan itu.
Tetapi apabila Yesus mengusir setan dengan kekuasaan (seizin) Allah, maka
berarti mereka percaya kepada kekuasaan (kerajaan) Allah yang memberi
mereka petunjuk yang benar. Itulah pengertian ayat diatas, dimana Yesus
mengusir setan atas kuasa Allah. Hal ini berarti bahwa mukjizat Yesus
bukan atas kuasa dirinya sendiri tetapi izin dari Allah sebagaimana
keterangan ayat sebelumnya.

- Bahkan di dalam kitab bible lainnya ada tertulis ;

- “ 3And this is life eternal, that they might know thee the only true God, and
Jesus Christ, whom thou hast sent.4 have glorified thee on the earth: I have
finished the work which thou gavest me to do (John 17:3-4)”.

3Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-
satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau
utus. 4Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan
pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya (Yohanes
17:3)”.

Bahkan didalam ayat diatas tertulis bahwa Yesus memberikan kesaksiannya


sendiri bahwa dia hanyalah seorang utusan, kemuliaan yang dia peroleh
adalah hasil karunia Allah dan ajaran (pekerjaan) yang telah dia sampaikan
tersebut adalah atas perintah dari Allah. Jadi Bible sendiri dengan tegas
mengatakn bahwa Yesus bukan Tuhan, lalu kenapa Misionaris ini
mencangkokkan opininya yang salah tersebut kedalam ayat-ayat al Qur’an.
Bukankah ini berarti bahwa misionaris ini sebenarnya bukan Kristen sejati.
Ternyata dia adalah Pendeta palsu yang menyamar dan dia adalah
penjelmaan dari iblis yang akan mengkafirkan umat Islam.

Sebenarnya masih banyak lagi ayat-ayat di dalam Bible yang masih tertulis
tentang ketentuan “ Tidak ada tuhan selain Allah” dan “Yesus bukan Allah”.
Namun misionaris ini menutup matanya dengan kenyataan itu padahal tulisan ini
masih terdapat dalam kitab Biblenya. Namun mengapa Misionarsi ini masih
berusaha menipu orang orang muslim. Sekiranya keterangan bible yang
menyatakan “tidak ada tuhan selain Allah” adalah sebuah kesalahan atau mereka
bantah dengan keterangan lain yang ada di dalam catatan Bible juga, maka hal ini
akan menjadi sebuah kotradiksi. Jadi lebih baik misionaris ini tidak mengajarkan
sesuatu yang menyalahi keterangan Kitab Bible dan bahkan dia kemudian
merusak ayat-ayat Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam. Jadi sebenarnya
Misonaris ini bukanlah dari kalangan umat nasrani yang mengerti dengan
kitabnya, tetapi dia adalah utusan setan (Beelzebul) yang sengaja disusupkan
ketengah – tengah umat islam untuk menguji keimanan seorang muslim.

III.2 ISA AS ADALAH RUH ALLAH DAN FIRMAN/KALIMAHNYA

Menurut Muhammad SAW, di dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1496, Isa AS
adalah penjelmaan makluk Allah di bumi ini. Bahwa Allah turun menjadi manusia
melalui diri Isa AS.

“Siapa yang mengaku bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, esa dan tiada
bersekutu, Muhammad hambaNya dan rasulNya, Isa hamba Allah, rasulNya dan
kalimahNya (MakhlukNya) (Yaitu Isa AS), yang disampaikan kepada Maryam dan
Ruh daripadaNya dan bahwa surga dan neraka itu sebenarnya, maka orang-orang
itu akan dimasukkan Tuhan ke dalam surga menurut amalnya.

Untuk menguatkan kesimpulan dan opininya, yaitu Allah turun ke bumi menjadi
manusia, misionaris ini mengambil sebuah hadist yang dikiranya mendukung
pendapatnya itu. Padahal hadis tersebut tidak ada kata-kata atau kalimat yang
menunjukan dengan tegas bahwa Allah turun ke bumi sebagai anak manusia.
Bahkan ayat tersebut mengatakan bahwa “tidak ada tuhan selain Allah” dan
disini juga dinyatakan bahwa isa adalah “hamba” mempunyai status yang sama
dengan nabi-nabi lainnya ( manusia juga) yaitu hamba yang mengabdikan kepada
Allah. Ditambah lagi ada kalimat RasulNYa yang berarti bahwa Isa adalah utusan
Allah , isa bukan Allah. Bagaimana kekacauan pikiran misionaris ini telah
menyimpulkan bahwa isa menjelma sebagai ujud allah di dalam hadis tersebut.
Dengan modal kengawuran tersebut bagaimapun caranya dia berkesimpulan,
maka kesimpulannya itu hanya cocok untuk nalarnya saja. Sementara isa yang
mempunyai ruh, juga tidak menjadikan dia sebagaa bagian dari Ujud Allah. Semua
manusia yang hidup di bumi ini juga mempunyai ruh (nyawa) yang merupakan
ciptaan dari Allah. Kalau ruh Isa dianggap sebagai ruh dari Allah yang menjelma
menjadi Allah , maka seluruh manusia juga berhak menjadi Allah. Memang sudah
tertulis di dalan Bible bahwa seluruh anak-anak manusia adalah anak Allah dan
tentu saja ini termasuk juga isa.

“1And it came to pass, when men began to multiply on the face of the earth, and
daughters were born unto them, 2That the sons of God saw the daughters of men
that they were fair; and they took them wives of all which they chose.
(Genesis 6:1-2)”

“1Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi
mereka lahir anak-anak perempuan, 2maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-
anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara
perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. (kej 6:2-3)”.

Jadi menurut yang tetulis di dalam Bible, bahwa semua anak manusia merupakan
anak-anak Allah di bumi ini. Tetapi sekarang misionaris ini membantah lagi
keterangan kitab sucinya itu bahwa hanya Yesus saja yang diangap sebagai anak
Allah. Jadi misionaris ini menggunakan standar ganda dalam mengambil sebuah
kesimpulan. Dia mengharapkan umat islam mengakui Isa sebagai anak Allah,
tetapi di dalam kitab sucinya sendiri tidak mendukung opinya. Artinya orang
lainpun disuruh terombang-ambing dengan kesimpulannya sendiri. jadi
bagaimana mungkin dia menyimpulkan bahwa kitab Bible adalah kumpulan kitab
Taurat dan Injil, kalau keterangan yang disampaikan oleh misionaris tersebut
berstandar ganda?

Jelas sekali bahwa misionaris ini menggunakan nalar yang sangat ngawur dan
menyalahi tulisan kitab BIble nya sendiri. Sangat diragukan bahwa misionaris ini
seorang penganut kristiani sejati yang mengerti dengan ajaran Bible, tetapi
misionaris ini adalah raja iblis yang menyamar sebagai ujud manusia yang ingin
mencelakakan iman umat beriman.

III.3 ISA AS ADALAH HAKIM YANG ADIL PADA AKHIR ZAMAN

Menurut Muhammad SAW, di dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1090, Isa AS
adalah hakim pada akhir zaman yang akan datang. Bahwa Isa AS akan mengadili
semua umat manusia, tidak terkecuali diri Nabi Muhammad sendiri :
“Demi Allah yang diriku dalam genggamanNya ! Sesungguhnya akan turun
kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil.

Hadits Ibnu Majah

“Tidak ada Imam Mahdi selain Isa putra Maryam." (Laa mahdia illa isabnu
Maryama)

Hadits ini mengungkapkan bahwa pada akhir zaman atau pada hari kiamat, Isa AS
akan menjadi hakim yang akan menghakimi seluruh umat manusia.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kedudukan hadis tidak sekuat
keterangan Al Qur’an sebagai pegangan umat muslim, karena Hadis ditulis
berdasarkan hasil wawancara dan merupakan sumber berita yang didapat dari
seseorang yang mengaku menerima cerita itu dari Rasullullah kemudian
menyampaikan lagi ke orang-orang setelah itu. Jadi keterangan suatu hadis harus
diuji dengan kriteria yang sudah ditetapkan diantaranya ; sumber beritanya harus
jelas dari orang yang jujur dan beriman, kronologisnya harus jelas dan berurutan,
catatan di dalam tulisan hadis tersebut tidak boleh bertentangan dengan yang
terdapat di dalam ayat-ayat al Qur’an.

Banyak sekali hadis palsu beredar, dimana si fulan tersebut mengaku-ngaku


menerima cerita dari perkataan Muhammad. Jadi harus diuji terlebih dahulu
dengan ayat-ayat Al Qur’an. Kalau keterangan hadis tersebut bertentangan
dengan al Qur’an, maka umat islam tidak akan menerima hadis tersebut karena
tidak sesuai dengan penjelasan Al Qur’an. Mungkin saja kalimat di dalam hadis
tersebut sudah di rekayasa oleh seseorang yang menyusup untuk merusak
ajaran rasullulah dan ini sering terjadi dan dilakukan oleh orang-orang munafik
dan orang-orang diluar kalangan umat islam yang tidak senang dengan ajaran
rasulullah. Apalagi misionaris ini dari sejak awal sudah banyak melakukan
penipuan dan merusak ayat-ayat Al Qur’an. Maka kalau dia merusak kalimat
hadis, itu sudah merupakan fakta yang tidak mengherankan lagi.
Jadi kalau hadis yang disodor oleh misionaris tersebut , katanya berasal dari
rasulullah , maka keterangnya itu harus diuji terlebih dahulu. Baik bunyi
kalimatnya maupun keterangan yang tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat
Al Qur’an. Apabila keterangannya itu tidak logis dan tidak benar serta
bertentangan dengan ayat-ayat Al Qur’an maka hadis yang disodorkan oleh
misionaris tersebut adalah hadis siluman, hadis yang dibuat-buat , palsu dan
fitnah yang nyata. Untuk itu mari kita coba meninjau kalimat hadis yang
disodorkan oleh misionaris ini.

Dalam hadis terebut terdapat sebuah kata “Sesungguhnya akan turun kepadamu
Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil”. Pertanyannya adalah apakah hakim
agung yang turun tersebut (anak Maryam) terjadi sebelum hari kiamat atau
setelah kemusnahan masaal (kiamat). Sekiranya hakim ( anak maryam) tersebut
turun sebelum hari kiamat atau menjalang akhir zaman, maka isa Anak Maryam
itu tentu akan memberikan keputusan tentang hal yang selama ini diperselisihkan
antara manusia tentang dirinya. Apakah benar Isa Putra Maryam itu anak
Maryam(anak manusia) atau isa adalah penjelmaan dari Allah? Hadis ini tidak
menjelaskan kapan tepatnya kedatangan Isa sebelum hari kiamat atau sesudah
hari kiamat.

Kalau kedatangan Isa pada akhir zaman (sebelum hari kiamat) maka
kedatangannya itu tentu kepada seluruh manusia yang masih hidup pada saat itu
dan bukan kepada orang-orang yang sudah mati. Jadi bagaimana mungkin Isa
turun di akhir zaman kemudian menghakimi nabi Muhammad yang masih belum
dibangkitkan oleh Allah. Jadi jelas bahwa keterangan misionaris ini hanya
mengada-ada. Kalaupun Isa turun diakhir zaman (seperti turunnya dajjal) , maka
bagaimana mungkin dia bertindak sebagai hakim agung yang memberikan
hukuman kepada manusia, padahal hukuman berupa siksan itu baru terjadi
setelah hari kiamat. Maka kalau kedatangan Isa itu memungkinkan, maka dia
bukan sebagai Hakim, tetapi dia akan memberikan kesaksian dan penjelmaan
siapa sebenarnya beliau. Tentu saja beliau akan mengatakan kapada manusia
yang hidup di akhir zaman itu bahwa beliau bukanlah Allah , tetapi beliau adalah
utusan Allah dan bagi siapa yang menyembahnya sebagai Allah maka orang-orang
tersebut termasuk orang-orang kafir yang nantinya akan dihukum dan
dimasukkan kedalam neraka.

Hal ini tentu saja bersesuaian apa yang tertlis di dalam Bible ;

“22And then will I profess unto them, I never knew you: depart from me, ye that
work iniquity. 23And then will I profess unto them, I never knew you: depart from
me, ye that work iniquity.(Matthew 7:22-23)”

“22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan,
bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan
mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan
berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (matius 7:2-23) “

Jadi jelaslah bahwa keterangan tentang turunnya Yesus di akhir zaman (hari
terakhir) benar-benar tertulis didalam Bible. Namun orang yang mengaku-ngaku
sebagai umat Yesus dan selalu mengucapkan kata-kata Tuhan kepada Yesus lalu
memuja Yesus sebagai Tuhan, ternyata mereka telah melakukan kesalahan
besar, sehingga Yesus sendiri tidak mengenali mereka. Yesus bersaksi bahwa
beliau tidak mengenal mereka dan bahkan mereka diusir oleh Yesus karena
mereka telah melakukan kejahatan iman selama ini.

Tetapi kalau yang dimaksud oleh misionaris tersebut adalah Isa yang menjadi
hakim di ahirat terhadap seluruh manusia, maka tentu saja ini berarti bahwa Isa
As adalah Allah itu sendiri. Apa benar Isa As adalah hakim agung diakhirat? untuk
itu kita harus pengujian-ulangi (krosscek) hadis tersebut dengan ayat-ayat al
qur’an. Untuk itu perhatikanlah ayat-ayat berikut ;

“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa)
sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap
mereka (QS An Nisaa’ 4:149)”.

Ayat al qur’an ini menerangkan bahwa Isa As bukanlah menjadi Hakim di akhirat
nanti, tetapi sebagai saksi atau memberikan kesaksian. Kesaksian apakah yang
akan disampaikan Isa nanti diakhirat? Tentu saja tentang kebenaran atau
pengkabaran ynag sejujurnya tentang diri Beliau. Bagaimanakah al Qur’an
menjelaskan tentang isi kesaksian tersebut ?

Beginilah bunyi kesaksian Isa dihadapan Allah dikahirat nanti , sebagaimana yang
tertulis di dalam Al Qur’an ;

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain
Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah
Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku
tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui perkara yang gaib-gaib".Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka
kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah
Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka,
selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku,
Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas
segala sesuatu (QS 5:116-117).

Jadi kesaksian Isa As di dalam al Qur’an sesuai dengan kesaksian Yesus yang
tertulis di dalam kitab Bible. Bahkan di dalam kitab Bible, Yesus bukan hanya
bersaksi, tetapi mengusir orang-orang yang mengaku-ngaku sebagi pengikutnya
dan mereka dibiarkan dibakar di dalam neraka nanti. Ayat ini diperkuat kembali di
dalam surat Al Maaidah ayat 117 yang berbunyi ;

“ Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan
kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan
adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.
Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka.
Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.( QSAl Maaidaah 5:117)”.

Jadi jelaslah bahwa Isa As akan hadir dihari akhirat sebagi Saksi , bukan sebagai
Hakim. Kesaksian Isa As adalah menyatakan bahwa beliau hanyalah sebagai
utusan Allah, bukan Allah yang menjadi sesembahan orang-orang yang mengaku-
ngaku sebagai umatnya. Di akhir ayat tersebut, Isa As menyerahkan keputusan
tersebut kepada Allah, karena dia tidak berkuasa terhadap umatnya sendiri atau
orang yang mengaku sebagai umatnya. Keputusan akhirnya berada di tangan
Allah. Artinya Isa As bukanlah sebagai Hakim diakhirat nanti.

Tetapi pada ayat-ayat lain di dalam al Qur’an menerangkan bahwa, bukan hanya
Isa As saja yang dipanggil oleh Allah sebagai saksi, bahkan setiap nabi akan
dipanggil satu persatu untuk memberikan keterangan.

Seperti yang di abadikan oleh al Qur’an berikut ini ;

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang
saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad)
menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al
Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar
gembira bagi orang-orang yang berserah diri (QS An Nahl 16:89)”.

Di dalam keterangan ayat tersebut diatas, ternyata nabi Muhammad dipanggil


untuk menyampaikan kesaksiannya untuk seluruh manusia tentang apa-apa saja
yang pernah ajarkan kepada manusia juga kepada nabi lainnya yang pernah beliau
ketahui dan beliau ajarkan pada manusia. Hal ini disebabkan karena nabi
Muhammad merupakan Nabi yang diutus oleh Allah untuk sekalian manusia
hingga akhir zaman.

Keterangan ini diperkuat lagi oleh keterangan ayat berikut ini ;

“Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi
(rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela
diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf (QS An Nahl 16:48)”.

Ayat ini menerangkan bahwa rasul-rasul Allah tersebut akan dibangkit (dipanggil)
untuk menjadi saksi dihadapan umatnya masing-masing kelak di akhirat. Bahkan
di akhir kalimat ayat tersebut diatas, dinyatakan bahwa bagi mereka yang telah
melakukan perbuatan keji dan menobatkan diantara nabi-nabi itu sebagai
sesembahan, maka nabi Tersebut tidak akan dapat menerima permohonan maaf
dari umatnya sendiri.
Kemudian bagaimana keputusan yang akan diambil, siapakah yang akan menjadi
Hakim di hari Akhirat tersebut. Untuk itu marilah kita ikuti keterangan ayat-ayat
berikut ini ;

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) (QS
Ar Rahman 55:7)”.

Ternyata ayat diatas menerangkakan bahwa yang bertindak sebagai Hakim adalah
Allah. Karena Allah telah meletakkan timbangan yang seadil-adilnya di dalam hari
pengadilan tersebut.

Kemudian di ayat lainnya dijeaskan pula bahwa Allah yang akan menjatuhkan
keputusan dengan keadilanNYA. Artinya setiap perbuatan akan dibalasi sesuai
dengan hasil dari perbuatan tersebut. Yang berbuat baik akan ditempatkan di
suatu tempat yang penuh kenikmatan, sedangkan yang melakukan kejahatan
akan ditempatkan di suatu tempat yang penuh kehinaan. Seperti keterangan ayat
berikut itni ;

“Dan Allah menghukum dengan keadilan. Dan sembahan-sembahan yang mereka


sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan sesuatu apa pun. Sesungguhnya
Allah, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Al mukminin 40:20)”.

Keterangan ayat diatas menunjukkan bahwa seluruh manusia yang dikira sebagai
Tuhan lalu mereka menyembahnya sebagai Tuhan, ternyata tidak dapat
menolong mereka sama sekali di akhirat nanti.

Pertanyaannya adalah ; apakah nabi-nabi sebelum Muhammad mengakui


keterangan yang disampaikan oleh Al Qur’an tersebut ?. Bagaimana kesaksian
para nabi sebelum Muhammad terhadap kebenaran al Qur’am? Keterangan itu
diabadikan di dalam Al Qur’an yang berbunyi ;

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja
yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu
seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-
sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu
mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka
menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para
nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu "(QS Ali Imran 3:81).”

Keterangan ayat ini menunjukan bahwa seluruh nabi-nabi yang diturunkan Allah
sebelum Muhammad, seperti nabi Isa dan nabi Musa , memberikan kesaksian
mereka dihadapan Allah bahwa mereka menerima perjanjian tersebut yaitu
mengakui dan mengkuti kebenaran ayat-ayat yang disampaikan Allah kepada
nabi setelah mereka , yaitu berupa Al Qur’an yang disampaikan oleh Allah kepada
Muhammad. Dan diakhir kalimat dinyatakan bahwa Perjanjian itu diperkuat atau
di syahkan oleh Allah terhadap mereka semuanya.

III.4 MUHAMMAD SAW PALING DEKAT DAN SATU KETURUNAN DENGAN ISA AS

Dalam hadits ini begitu penting dan tingginya kedudukan Isa AS sampai-sampai
nabi Muhammad SAW sendiri perlu menyatakan dirinya adalah orang yang dekat
sekali bahkan paling dekat dengan Isa AS, dan satu keturunan dengan Isa AS, dan
juga memeluk agama yang sama.

Hal ini dapat dilihat pada Hadits Shahih Bukhari No 1500 :

Saya mendengar rasululah bersabda “Sayalah orang yang paling dekat kepada
anak Maryam (Isa). Semua nabi-nabi itu seketurunan. Tiada seorangpun nabi
dalam masa antara saya dengan Dia”.

Hadits Shahih Bukhari No 1501 :

Rasululah SAW bersabda “Saya lebih dekat dengan Isa anak Maryam di dunia dan
akhirat. Semua nabi-nabi itu bersaudara karena seketurunan. Ibunya berlainan
sedangkan agamanya satu.

Keterangan tentang hubungan kedekatan Muhammad dengan Isa As bukan serta


merta menjadikan Isa adalah sebagai anak tuhan atau tuhan yang menjelma
menjadi manusia. Kedekatan itu bisa saja sebagai kedekatan hubungan bathin dan
emosi , bukan hubungan biologis atau kekerabatan, karena waktu itu Isa sudah
meninggal sedangkan Muhammad masih hidup. Tentu saja maksudnya adalah
kedekatan hubungan bathin atau spriritual. Mereka adalah sama-sama utusan
Allah yang mengajarkan ajaran yang sama dari Allah yaitu agama tauhid “ tidak
ada tuhan selain Allah”.

Hubungan kedekatan antara nabi Isa dengan Muhammad juga sudah terjalin jauh
sebelum Muhammad lahir. Karena Isa telah mengetahui bahwa akan ada
seseorang yang namanya Ahmad yang akan melanjutkan ajaran Isa As. Tentu saja
Isa mengetahui bahwa akan ada satu umat yang akan menyelewengkan ajaran
Tauhidnya. Jadi kedekatan antara Isa dan Muhammad sudah terjalain secara
bathin dan spiritual diantara mereka. Begitu juga Muhammad mengenal Isa As
dari keterangan ayat-ayat Al Qur’an yang disampaikan oleh malaikat Jibril.

Beginilah sebenarnya kesaksian Isa As kepada murid-muridnya waktu itu ;

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya
akuadalah utusan Allah kepadamu, membenarkan (memperbaiki) kitab (yang turun)
sebelumku , yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang
Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala
rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka
berkata: "Ini adalah sihir yang nyata" (qs Ash Shaff 61:6).

Jadi menurut keterangan ayat tersebut diatas, bahwa nabi Isa As telah mengenal
Muhammad jauh sebelum kelahirannya. Dengan ayat yang di sampaikan oleh
Malaikat ibril tersebut , tentu saja terjadi kedekatan hubungan bathin diantara
mereka berdua walaupun pada waktu yang berbeda jauh.

Bukan hanya antara Muhammad dan Isa As saja sudah terjalin hubungan spiritual
yang erat diantara mereka, bahkan para ahli kitab yang membaca kitab Taurat
dan Injil ketika Itu, merasa sudah mengenali Muhammad sebagai keluarga atau
anak cucu mereka sendiri. Artinya hubungan kekerabatan secara bathin antar
dua zaman yang berbeda tersebut sudah terjalin erat baik antara Isa , Musa dan
murid-murid beliau dengan Muhammad dan begitu pula sebaliknya. Hal ini
diabadikan oleh Al Qur’an pada ayat berikut ;

“ Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil)
mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan
sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal
mereka mengetahui (QS al Baqaarah 2:146)”.

Tetapi hubungan itu bukan berarti bahwa Muhammad menganggap isa adalah
anak Allah sebagaimana yang diduga oleh para misonaris. Bahkan ketika seorang
misionaris menyampaikan bahwa Isa adalah Anak Allah kepada beliau, maka
Muhammad dengan serta merta menjawab akan memuliakan anak itu sebagai
anaknya sendiri. Sesuai dengan arahan Allah di dalam Al Qur’an ketika menjawab
kesimpulan yang salah dari misonaris tersebut.

Hal ini diabadikan oleh al Qur’an pada ayat berikut ;

“Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah
(Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu) (Q S Az Zukhruf 43:81)”.

Jadi jelaslah bahwa antara Muhammad dan Isa sudah terjalin hubungan secara
bathin dan spiritual yang erat diantara mereka. Pada keterangan ayat di atas
menunjukan bahwa Muhammad dengan tulus hati akan memuliakan anak
tersebut tetapi tentu saja bukan sebagai anak Allah seperti yang disangkakan oleh
misionaris di zaman itu.

Bahkan masih tertulis di dalam Bible bahwa Yesus mengetahui akan kedatangan
seorang yang akan menyampaikan kabar kegembiraan setelah kematiannya ;

“6But because I have said these things unto you, sorrow hath filled your heart.
7Nevertheless I tell you the truth; It is expedient for you that I go away: for if I
go not away, the Comforter will not come unto you; but if I depart, I will send him
unto you.8And when he is come, he will reprove the world of sin, and of
righteousness, and of judgment:9Of sin, because they believe not on me; 10Of
righteousness, because I go to my Father, and ye see me no more; (John 16:6-10)”.

6Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita.
7Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika
Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang
kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. 8Dan kalau
Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;
9akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; 10akan kebenaran,
karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;(Yohanes 16:6-10)”.

Keterangan yang tertulis di dalam Bible ini menunjukkan bahwa Yesus sedang
memberikan wejangan dan wasiat kepada murid-murinya bahwa setelah
kepergiannya nanti , akan datang seseorang yang akan menginsafi manusia akan
dosa dan menyampaikan tentang kebenaran serta tentang hari pengadilan
diakhirat nanti. Apabila Yesus tidak meninggalkan dunia maka seseorang itu tentu
tidak akan datang karena setelah itu kalian tidak akan menyaksikan aku lagi.
Begitulah nasehat Yesus kepada murid-muridnya yang masih setia. Tentu saja
ayat ini tidak ditujukan kepada dirinya , sebab ada tertulis “karena Aku pergi
kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi”. Artinya Yesus akan pergi selama-
lamanya dan tidak akan kembali lagi. Jadi keterangan ini sebenarnya ditujukan
kepada seorang nabi yang akan menyampaikan ajaran tauhid kepada mereka
setelah kematian Yesus. Dan nabi tersebut adalah Muhammad karena Yesus
sudah mengenal Muhammad secara spiritual.

BAB IV

PENGIKUT ISA AS

Telah kita bahwa kedudukan Isa AS sangat tinggi martabatnya sebagaimana


dituangkan dalam kitab Al Qur’an. Selain itu, dapat pula kita lihat dari Al Qur’an
bahwa pengikut-pengikut Isa AS, ayng disebut orang-orang Nasrani (Kristen) juga
mempunyai kedudukan yang khusus yang berbeda dengan ummat manusia
lainnya. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayat Al Qur’an sbb :

IV.1 UMAT NASRANI (KRISTEN) LANGSUNG MASUK SURGA

Menurut ajaran agama Islam yg berdasarkan Al Qur’an, maka setiap orang yang
mati akan masuk neraka terlebih dahulu dan kemudian Allah akan
menyelamatkan orang yang tidak berdosa untuk dipindahkan ke surga, sedangkan
orang-orang yang berdosa tetap tinggal di neraka untuk selamalamanya.

Surat Maryam ayat 71-72 :


“ Dan tidak ada seorangpun dari padamu melainkan mendatangi neraka itu. Hal
itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian
Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-
orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut “.

Misonaris ini sengaja mengambil ayat ini saja, padahal ayat tersebut masih
berhubungan dengan beberapa ayat sebelumnya, sehingga seolah-olah ayat
tersebut ditujukan kepada seluruh orang muslim. Sebenarnya ayat tersebut
ditujukan kepada orang-orang pada zaman-zaman tertentu yang paling engkar ,
berbuat zalim semasa hidupnya walaupun dia mengakui Allah yang Esa dan tidak
pernah menyembah Allah. Mereka ini adalah orang-orang yang lalai dan tidak
pernah melaksanakan perintah Allah dan selalu berbuat zalim karena ketidak
tahuan mereka . Untuk itu marilah kita baca bebera ayat sebelumnya ;

67Dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-
sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?" 68Demi Tuhanmu, sesungguhnya
akan Kami bangkitkan mereka bersama setan, kemudian akan Kami datangkan
mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut. 69Kemudian pasti akan Kami tarik
dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah. 70Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang
yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. 71Dan tidak ada seorang pun dari
padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu
kemestian yang sudah ditetapkan. 71Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-
orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang lalim di dalam neraka dalam
keadaan berlutut (QS Maryam 19:67-72)”.

Jadi ayat tersebut tidak ditujukan kepada seluruh umat manusia atau seluruh
umat Muslim saja, tetapi kepada manusia yang selalu berbuat kejahatan ,
walaupun dia menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT dan tidak bebuat
syrik. Pada awal ayat diatas menceritakan tentang orang-orang yang tidak
mempercayai hari kebangkitan dan hari pembalasan, yaitu orang-orang kafir yang
tidak mempercayai Allah dan orang-orang yang ikut-ikutan karena ketidaktahuan
mereka. Mereka sebelumnya memperolok-olokan tentang berita adanya hari
kebangkitan dari kubur dan hari pembalasan. Maka orang-orang kafir dan orang-
orang yang terbohongi ini akan dibangkit bersama setan-setan yang telah
menjerumuskan mereka tersebut yaitu dalam keadaan berserah diri sambil
menunggu nasib mereka begitu juga dengan setan atau iblis yang telah
membohongi mereka. Kemudian diantara orang-orang durhaka tesebut akan
dipilih diantara mereka oleh Allah yang paling bejad atau fasik sesuai dengan
zaman-zaman dimana mereka berada, lalu mereka ditarik dan dijebloskan
kedalam neraka karena perbuatan mereka yang telah menzalimi rakyatnya dan
membohongi umatnya. Allah menegaskan bahwa ini adalah ketentuan bagi
mereka semuanya, untuk memasuki hukuman yang telah ditentukan bagi
mereka. Namun bagai mereka yang dulunya masih percaya (beriman) atau yakin
(takwa) pada Allah tetapi terhukum karena kezalimannya, bukan karena
kekafiran yang ikut-ikutan , dia beriman kepada Allah tetapi banyak berbuat
kefasikan, maka pada akhirnya Allah akan membebaskan hukuman mereka,
sementara orang-orang yang kafir kepada Allah karena ilmunya dan tidak mau
diperingati, maka mereka tetap berada di dalam api neraka selama-lamanya. Jadi
sebenarnya ayat ini ditujukan kepada orang yang selalu berbuat engkar (berjudi,
mabuk-2, menganiaya orang, raja atau pemimpin diktator dan lain sebagainya)
namun dia masih mengakui keEsaan Allah , beriman dan bertaqwa sebatas pikiran
di dalam hatinya, atau karena ketidak tahuan mereka melakukan perbuatan dosa
itu. Sebaliknya yang benar-benar kafir kepada Allah, baik karena ilmunya atau
kesadarannya kemudian menyuruh dan menghasut orang lain berbuat kafir dan
sebelumnya dia tidak mau diperingati , maka tempat adalah neraka dan mereka
kekal selamanya di neraka itu.

Hal tersebut di atas ternyata tidak berlaku bagi orang-orang Nasrani (yang juga
sering disebut ahli kitab), karena menurut Al Qur’an, dosa-dosa mereka sudah
dihapus sehingga jika mereka mati maka mereka akan langsung masuk surga.

Ternyata memang misionaris ini berasal dari pengikut umat nasrani yang
beragama kristen dan dia membangga-banggakan dirinya akan masuk surga.
Tentu misionaris ini bukan sebagai umat nasrani biasa, tentu misionaris ini adalah
seorang pengkotbah dan dia ini adalah seorang Pendeta. Pendeta yang
bekerjasama dengan Iblis.
Begitu pendapat Pendeta ini setelah membaca keterangan ayat diatas. Padahal
ayat tersebut diatas menjelaskan tentang orang-orang kafir akan kekal di neraka .
Apalagi misionaris ini telah menghasut orang berbuat kafir, dia menyebarkan ilmu
kekafirannya kepada orang-orang yang tidak mengetahui sehingga nanti dosa
orang tersebut akan ditanggung olehnya. Banyak ayat-ayat al Quran yang sudah
dijelaskan sebelumnya yang menyatakan bahwa orang-orang kafir yang
menduakan Allah dengan sadar dan keras kepala akan dimasukan kedalam
neraka dan mereka kekal didalammnya. Namun pendeta ini sangat merasa yakin
akan masuk syorga. Tetapi yakinlah bahwa pendeta ini tidak pernah berdo’a
supaya dia cepat-cepat dicabut nyawanya oleh Allah. Perpanjang hidupnya
didunia akan menambah dosa-dosanya karena dia selalu mengajak orang lain
untuk berbuat kafir seperti dirinya. Keberadaannya hidup lebih lama didunia
hanyalah berupa penanggguhan dari Allah agar dia memperbanyak dosa-dosanya.

Pengikut Isa AS ternyata mendapatkan suatu jalan langsung masuk ke surge


seperti halnya Isa AS sendiri.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 65 :

“ Dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertaqwa, tentulah Kami tutup
(hapuskan) kejahatan-kejahatan mereka dan tentulah Kami masukkan ke dalam
surga-surga yang penuh kenikmatan “.

Sebenarnya ayat ini masih ada kelanjutannya, tetapi pendeta ini tidak
memasukkannya karena ayat setelah itu menyatakan tentang syarat bagaimana
keampunan dosa yang diberikan oleh Allah . Untuk itu marilah kita baca ayat
tesebut secara keseluruhan ;

“ Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus)
kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga
yang penuh kenikmatan 65. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan
(hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur'an) yang diturunkan kepada mereka dari
Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah
kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah
buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (QS Al Maidaah 5:65)”.
Kalau kita bahas keterangan ayat diatas, maka kesimpulan Pendeta ini jauh sekali
antara keinginannya dengan maksud ayat tersebut.

Pada ayat pertama , Allah SWT mengajak para Ahli Kitab untuk berpikir ulang.
Disini Allah menyampaikannya dengan sebuah kalimat pengandaian “ Sekiranya”.
Yaitu sebuah ajakan kepada mereka agar berpikir lebih logis , agar mereka
mengingat akan kekeliruan yang telah mereka lakukan selama ini. Artinya kalau
mereka mengerti dengan apa yang telah mereka kerjakan selama ini seperti
membodohi umatnya, membohongi umatnya, menukar-ayat-ayat Allah untuk
maksud memegang kekuasaan, menghina dan memfitnah nabi-nabi, maka
sebaiknya mereka menyadarinya lalu kembalilah kejalan yang benar. Begitu juga
terhadap ahli kitab umat nasrani yang merubah keterangan Allah tentang isa As
utusan Allah berubah menjadi Ia anak Allah lalu menjelma menjadi Allah, tentu
saja ini adalah sebuah pembelokan dari ajaran Isa AS yang sebenarnya. Padahal
Isa tidak pernah mengajarkan ajaran Trinitas, Tritheis atau Tritunggal tersebut.
Mereka telah membohongi umatnya sendri dan mereka telah mematikan cahaya
Allah untuk menerangi generasi berikutnya.

Begitulah maksud yang sebenarnya dari ketetrangan ayat al Maidaah 65 diatas.


“Kalau” mereka sudah menyadari itu dan mereka kembali kepada kebenaran lalu
memohon keampunan Allah SWT , maka Allah SWT akan menghapuskan
kesalahan mereka sehingga mereka akan dimasukkan kedalam syorga.

Artinya , bahwa Allah SWT itu Maha Pengampun dan Allah masih membuka pintu
tobat bagi mereka agar mereka sadar akan kekeliruan mereka , lalu
mengembalikan ayat-ayat Allah SWT ke tempat yang seharusnya dan
membuang kalimat-kalimat yang sudah disisipkan ke dalam Bible, memohon
ampunan Allah. Maka Allah akan menyerahkan kunci Syorga kepada mereka.

Kemudian pada ayat berikutnya kembali Allah mengunakan kalimat pengandaian


“ Sekiranya” . Sekiranya mereka sungguh-sungguh melaksanakan ketentuan yang
terdapat di dalam Taurat dan Injil sebagaimana yang pernah diturunkan oleh Allah
bagi mereka sebagaimana yang pertama kali mereka terima dari Musa atau dari
Isa As, maka mereka tidak perlu merasa kuatir dan Allah akan mendatangkan
kenikmatan dan kemakmuran hidup bagi mereka semuanya dimuka bumi ini.

Sebenarnya maksud ayat tersebut diatas adalah menyindir dan menegur ahli kitab
zaman dulu atau ahli sejarah peganut agama Yahudi dan Nasrani yang masih
mengetahui kejadian yang sebenarnya dan hendaklah berkata jujur tentang apa-
apa saja yang sudah diselewengkan seperti keterangan al Kitab Bible mengadung
ketidak benaran, terutama tentang ajaran Tauhid yang sudah dibelokkan menjadi
ajaran Trinitas. Dengan kejujuran tersebut tidak akan ada lagi perselisihan pada
generasi umat berikutnya dan mereka akan diampuni oleh Allah SWT yang
akhirnya mereka akan masuk kedalam Syorga yang dijanjikan itu.

IV.2 PENGIKUT ISA AS BERADA DI ATAS UMAT MANUSIA LAINNYA

Karena Allah SWT mensucikan Isa AS dari orang-orang kafir, maka pengikut Isa AS
juga diberi tempat yang lebih tinggi di atas umat manusia lainnya, terutama di
atas orang-orang kafir sampai hari kiamat.

Surat 3 Aali Imraan ayat 55 :

Ingatlah tatkala Allah berfirman “Hai Isa, sesungguhnya AKU akan mematikanMU,
dan mengangkatMU kepadaKU, dan akan mensucikanMU dari orang-orang kafir
dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMU di atas mereka yang kafir hingga
hari kiamat.

Kembali Pendeta ini menyodorkan ayat diatas untuk meyakinkan kesimpulannya


tentang Alllah mensucikan Isa dari orang kafir sehingga umat kristiani menjadi
orang yang kedudukannya lebih tinggi dari pada umat muslim. Pendeta ini tidak
memahami keterangan ayat tersebut dengan pemahaman akal budi dan
kejernihannya budi pekertinya. Sebenarnya ayat ini sudah dibahas dengan
panjang lebar pada bab sebelumnya, tetapi ada baiknya diulang kembali.

“ (Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan


menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta
membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang
mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya
kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang
selalu kamu berselisih padanya".( QS Ali Imran 3:55)”

Di dalam kotek ayat di atas ada yang bertindak sebagai pelaku (subjek) yaitu Allah
dan ada yang bersifat sebagi objek yaitu Isa As. Disini objek tidak berkuasa
terhadap dirinya sendiri sehingga dia (Isa As) menyerahkan dirinya terhadap
keputusan dari subjek (Allah) seperti ; diwafatkan, dibangkitkan setelah wafat dan
kemudian objek itu di tempatkan pada tempat yang diinginkan oleh yang
berkuasa. Pada keterangan kalimat tersebut diatas, Subjek tidak berubah menjadi
objek. Jadi Isa As tetap sebagai objek, walaupun dia ditempatkan/ditarik
kesisinya. Kata ” KepadaKU” tidak berarti bahwa Isa tertarik kedalam Tubuh Allah
atau Isa menjelma menjadi Allah. Kata tersebut bisa berarti memanggil Isa
kehadapan Allah atau di tempatkan disisi Allah. Kalau pemahaman Pendeta ini
adalah Isa As menjelma menjadi Allah lalu dimasukkan kedalam ayat Al Qur’an,
maka keterangan itu akan berbenturan dengan ayat-ayat yang lainnya sehingga
menimbulkan kontradiksi. Kalau sebuah kata yang kontradiksi dimasukkan
kedalam satu ayat Al Qur’an saja, maka ratusan ayat bahkan ribuan ayat-ayat
yang lainnya akan mementang ayat tersebut. Jadi al Qur’an tidak dapat menerima
masukan kata-kata yang ditujukan untuk maksud-maksud tertentu apalagi
keterangan yang berlawanan dengan KeEsaan Allah SWT. Lebih dari 3000 ayat di
dalam al Qur’an menempatkan Allah sebagai sosok yang berkuasa dan
KeEsaannya tidak dapat diruntuhkan dengan pemikiran yang menyalahi hokum-
hukumNYA. Jadi berhentilah mencoba untuk memasukkan pemikiran untuk
merusak aqidah umat islam ke dalam ayat-ayat Al Qur’an. Ahli kitab Nasrani
tentu saja berhasil menjadikan Bible sebagai target buah pemikiran mereka,
tetapi jangan mengharapkan hal tersebut dapat dilakukan terhadap ayat-ayat Al
Quran. Karena Allah sudah menjamin kekuatan ayat-ayatnya dan Dia pulah yang
akan menjaganya.

Pada kalimat “kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat” ; yang
dimaksud “kamu” disini adalah mereka yang menerima ajaran Tahud yang pernah
disampaikan Isa As dan mereka yang melaksanakan hukum-hukum taurat dan injil
yang telah diberikan kepada mereka pertama kali. Sedangkan orang kafir yang
dimaksud oleh kalimat ini adalah orang-orang yang tidak mengakui Allah itu Esa
dalam arti yang sesungguhnya atau orang-orang yang mernyembah tuhan selain
Allah. Jadi pengertian “kamu” pada ayat ini adalah siapa saja termasuk yahudi,
nasrani, islam, atau majusi atau seluruh manusia yang didalam pikirannya sudah
tertanam bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Tuhan tidak beranak dan tidak
dipernakan, tidak ada yang menyerupai Dia dan seluruh alam berada dibawah
kendaliNYA. Jadi seharusnya pendeta ini berpikir lebih realistis dengan akal budi
yang benar. Tetapi sayang sekali Pendeta ini sudah kemasukkan bisikan Iblis
sehingga hati nuraninya sudah tertutup rapat menerima kebenaran, dia
memepunyai mata tetapi tidak melihat, mempunyai telinga tetapi tidak
mendengar, mempunyai pikiran tetapi tidak selaras dengan hati nuraninya. Dia
telah dibutakan oleh ajaran ahli kitab zaman dulunya sehingga dia menelan
mentah-mentah ajaran tersebut tanpa mengolahnya lebih dahulu. Pemikarannya
sudah terbelenggu oleh dogma-dogma yang telah membutakannya. Sekarang dia
ingi pula membutakan hati-nurani kaum muslimin dengan cara merusak ayat-ayat
al Qur’an.

IV.3 UMAT NASRANI (KRISTEN) AKAN MENERIMA PAHALA DAN SELALU


BERSUKACITA

Allah SWT menempatkan kedudukan umat Kristen yg beriman pada kedudukan


yang lebih tinggi di atas orang-orang kafir dan memperoleh pahala serta
bersukacita, sebagaimana dituangkan dalam ayat-ayat Al Qur’an :

Surat 2 Al Baqarah ayat 62 :

“ Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani


dan orang-orang Shabiin, barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari
kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan
mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak (pula) mereka berduka cita
“.

Kembali pendeta ini mengurangi sebuah kata di dalam ayat diatas, sehingga
merubah makna dan maksud dari ayat tersebut.
“ Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan
orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman
kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari
Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka
bersedih hati (QS Al Baqaraah 2:62).

Kembali ayat diatas menggunakan kalimat “mereka yang benar-benar beriman


kepada Allah”; maksudnya adalah bagi mereka yang sungguh-sungguh , serius,
tulus, tuduk-patuh dan beriman dengan cara yang benar sesuai dengan ajaran
tauhid. Siapapun manusia yang menegakkan agama tauhid dengan benar , maka
bagi mereka adalah kepuasan bathin, ketulusan iman, berserah diri dengan ikhlas
kepada Allah, mereka bahagia dengan petunjuk itu, mereka tidak tidak ragu-ragu
lagi dengan keimanannya. Kemudian mereka melaksanakan perbuatan baik-baik
yaitu saling tolong menolong sesama manusia , maka mereka itulah yang
dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan kebahagian di dunia dan diakhirat dan
mereka adalah orang yang ditinggikan derajatnya di sisi Allah. Ayat tersebut
diatas juga menunjukan tetang persamaan Hak yang diberikan oleh Allah kepada
semua golongan, artinya Allah tidak memandang suatu kaum dan tidak
membeda-bedakannya tetapi Dia memandang dari ketaqwaan dan perbuatan
kasihnya kepada manusia lainnya.

Surat 3 Ali Imraan ayat 199 :

“ Dan sesungguhnya diantara orang-orang ahli kitab ada yang beriman kepada
Allah, dan apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan
kepada mereka, sedang mereka merendah diri kepada Allah, mereka tidak
menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala
di sisi Tuhan. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya “.

Sebenarnya ayat ini memperkuat keterangan surat Al Baqaraah ayat 62 diatas,


yaitu Allah memberikan persamaan Hak kepada siapapun termasuk ahli kitab
yang bertaqwa atau beriman kepada Allah. Artinya bahwa masih terdapat ahli
kitab zaman dulu yang beriman kepada Allah, bahkan diantara mereka ada yang
membaca dan mengamalkan kitab Taurat dan Injil sebagaimana mestinya seperti
pada kalimat diatas “apa yang telah diturunkan kepada mereka”.
Pertanyaannya adalah apakah yang dimaksud dengan kalimat “yang telah
diturunkan kepada mereka? Secara tersamar kalimat ini menunjukan bahwa
diantara mereka telah melakukan sesuatu terhadap apa yang diturunkan Allah
tersebut. Ternyata jawabannya terdapat pada kalimat berikutnya “mereka tidak
menjual/menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit”. Apabila kedua
kalimat diatas dihubungkan maka akan muncul sebuah pengertian bahwa sesuatu
yang diturunkan oleh Allah kepada mereka, ternyata telah ditukar dengan sesuatu
yang tidak bernilai disisi Allah SWT. Pertanyaannya adalah apakah mungkin ayat-
ayat tersebut dapat ditukar atau diperjual belikan? Keuntungan apa yang didapat
dari pertukaran tersebut dan bagaimana caranya?

Banyak cara yang telah dilakukan oleh pemuka agama (Yahudi, Nasrani)
melakukan kecurangan dalam melakukan dakwahya, bahkan mereka tidak segan
segan membohongi umatnya untuk mendapatkan harta yang mereka inginkan .

Seperti ;

- Menakuti-nakuti umatnya tentang bencana atau kutukan dari Allah kalau


tidak menyerahkan korban atau harta dalam jumlah yang sudah ditentukan
kepada rumah ibadah, tetapi setelah harta tersebut terkumpul, mereka
gunakan untuk keperluan pribadi dan berfoya-foya sementara umatnya
tetap saja hidup di dalam kemiskinan.

- Dosa-dosa yang sudah dilakukan dapat dibayar dengan sejumlah uang atau
harta kepada gereja untuk tujuan penghapuan dosa. Padahal Allah tidak
butuh uang dari orang yang tobat tersebuyt, yang dibutuhkan oleh Allah
adalah sejauh mana orang tersebut membuktikan dan melaksanakan
pertobatannya.

- Menghilangkan sebagian hukum tertentu atau melenyapkannya sama


sekali, padahal tidak ada perintah dari Allah untuk merubahnya. Seperti
menghalalkan semua jenis makanan sehingga perdagangan jenis makanan
dan minuman tersebut tetap menguntungkan ( misalnya menghalalkan
bangkai, babi, darah segar, alkohol) padahal sebelumnya hal itu dilarang
bagi mereka.
- Menyebarkan opini dan informasi yang salah kepada umatnya tentang
ajaran Tauhid atau ketuhanan sehingga mereka membutakan umatnya
sendiri. Ketika bangsa Romawi dan kaisarnya “Contstantine” bersedia
memeluk ajaran kaum nasrani (Yesus) tetapi kaisar itu tidak bersedia
meninggalkan kepercayaan dan upacara ritual agama mereka yang memuja
dewa-dewa, maka pemuka agama kristen waktu itu melakukan kompromi
dengan kaisar dan para pemimpin kerajaan Romawi. Peristiwa ini dikenal
dengan hasil konsili yang disebut dengan "the Creed of Nicea” pada
tanggal 20 Mei 325 Masehi. Hasilnya adalah Kaisar memuluk agama Kristen
tetapi konsep agama Kristen berubah menjadi konsep ajaran Trinitas sesuai
dengan konsep ajaran agama bangsa Romawi dan Kaisarnya. Semenjak itu
agama Kristen menjadi agama resmi di kerajaan Romawi. Upacara-upacara
keagamaan dijalankan secara agama Kristen dengan azas ketuhanan
Trinitas. Dalam hal ini pemuka agama Kristen tersebut itu telah menukar
dan menjual agamanya dengan kedudukan, jabatan, kebanggaan ,
kemewahan dan bertambah banyak bangsa Romawi memeluk agama
Kristen. Tetapi waktu itu banyak juga umat Kristen yang tidak bersedia
menukar keimanan mereka dengan ajaran Trinitas tersebut , mereka ini
dikejar-kejar dan dibasmi karena dianggap musuh Negara. Waktu itu Kaisar
Agung “ Constantine” memutuskan bahwa hanya ajaran Trinitas yang
diterima sebagai agama resmi pemerintahannya. Bagi pengikut Yesus yang
setia dan beriman dengan ajaran tauhid, mereka tidak mau menukar
keimanannya dengan harga murah, mereka tetap beriman dan mereka
menjalankan ibadahnya secara sembunyi-sembunyi supaya tidak ditangkap
dan dibunuh oleh penguasa setempat. Orang-orang inilah yang disebut
sebagai ahli kitab yang beriman sesuai dengan keterangan surat Ali Imran
ayat 199 diatas.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 69 :

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang


Shabiin, dan orang-orang Nasrani, barangsiapa beriman kepada Allah, kepada
hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati “.

Kembali ayat Ini memperkuat dan memperjelas keterangan ayat sebelumnya.


Yaitu kepada siapa saja ( “barang siapa”) beriman kepada Allah sesuai dengan
ajaran yang telah disampaikan oleh para nabi atau Utusan Allah dengan cara yang
benar, kemudian mereka berbuat kasih sayang kepada manusia lainnya, maka
Allah menjamin semua mereka mendapat kebahagian, kemudahan, ketenangan,
ditinggikan derajatnya dan dihormati oleh siapapun. Inilah maksud dari ayat
tersebut. Jadi Allah tidak membeda-bedakan siapapun dari bangsa atau kaum
yang telah beriman, semuanya sama di sisi Allah. Yang dinilai oleh Allah adalah
perbuatan baiknya dan ketaqwaan atau keimanan seseorang dihadapan Allah
SWT. Namun Pendeta ini hanya mengambil sebuah kalimat “dan orang-orang
Nasrani” saja, sementara kaum lain yang tertulis di dalam ayat tersebut tidak
dilihatnya. Apakah dia buta atau membutakan matanya?

Jadi terbuktilah bahwa ajaran Al Qur’an tersebut merupakan ajaran


“Rahmatanlilalamin”.

Surat 4 An Nisaa ayat 162 :

“ Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-


orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
apa yang diturunkan sebelumnya (Taurat dan Injil), dan orang-orang yang
mendirikan salat, menunaikan zakat dan beriman kepada Allah dan hari
kemudian, akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar “.

Sebenarnya keterangan ayat ini selaras dengan keterangan ayat sebelumnya,


yaitu tentang keadilan, persamaan hak, dan juga merupakan nasehat dari Allah
kepada orang-orang yang mukmin (beriman). Pada awal ayat di atas terdapat
sebuah kalimat “orang-orang yang mendalam ilmunya” ; artinya , ayat ini khusus
ditujukan kepada orang-orang beriman yang mempunyai ilmu pengetahuan dan
menghambil hikmah dari ajaran kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah
kepada Rasul-RasulNYA. Orang yang mempelajari kitab-kitab Allah itu secara baik
dan benar, kemudian mengambil hikmah (mamfaatnya, filsafatnya , nilai
kebenarannya, kejujurannya), dia mengimani ilmu pengetahuannya itu demi
Allah, selanjutnya orang ini juga beribadah dengan cara yang benar sesuai
dengan ajaran Allah, kemudian dia menyebarkan ilmunya itu untuk kebenaran
dan saling menasehati dan berbuat kasih sayang diantara manusia, maka orang
tersebut berhak mendapat pahala yang besar disisi Allah.

Namum pada kalimat selajutnya “dan orang-orang mukmin”; artinya, kalimat ini
juga memberikan hak yang sama kepada orang yang beriman lainnya untuk
mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Artinya Allah tidak membeda-bedakan
nilai amal, antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Yang
dinilai oleh Allah adalah nilai kerelaannya dalam beriman, bertaqwa dan berbuat
kasih kepada siapapaun tanpa pamrih.

Ayat ini juga memberikan sebuah pandangan bahwa janganlah orang-orang yang
berilmu pengetahuan tentang al kitab itu melakukan penghinaan , merendahkan,
menyalahkan dan menuduh yang bukan-bukan terhadap orang beriman lain yang
mungkin saja dia belum mengerti, atau mungkin saja orang yang dikira tidak
mengerti itu ternyata lebih memehami dari orang yang sok pintar. Tetapi
hendaklah orang yang berilmu pengetahuan tersebut menyampaikannya dengan
cara yang baik dan benar sehingga tidak terjadi kesalah pahaman dan hendaklah
saling nasehat menasehati untuk kebenaran dan kebaikan dengan cara yang
santun.

Begitulah hikmah dan falsafah yang dapat kita ambil dari keterangan surat An
Nisaa’ ayat 162 tersebut.

IV.4 UMAT KRISTEN YANG PALING DEKAT DAN PALING MENGASIHI UMAT ISLAM

Pada waktu Muhammad SAW masih hidup, maka Allah SWT memerintahkan
kepada Muhammad SAW agar jika Muhammad ragu-ragu terhadap wahyu yang
diturunkan kepadanya, maka Muhammad SAW harus bertanya kepada orang-
orang Kristen (yang juga sering disebut Ahli Kitab) sebagaimana dituangkan dalam
ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 10 Yuunus ayat 94 :

“ Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami
turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca
Kitab sebelum engkau (Taurat dan Injil). Sungguh telah datang kebenaran
kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang
yang ragu-ragu “.

Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa Allah SWT berkehendak agar Muhammad SAW
menghilangkan keragu-raguannya dengan cara menghubungi orang Kristen (yang
juga sering disebut Ahli Kitab) untuk menanyakan jawaban atas keragu-
raguannya. Bahkan di surat Assajdah berikut ini, Allah SWT sendiri menganjurkan
agar Muhammad menemui dan membaca Alkitab (Taurat) sendiri agar tidak ragu-
ragu lagi akan kebenarannya :

Kalau kita perhatikan kalimat awal dari ayat tersebut diatas, terdapat sebuah
kalimat pengandaian “ Maka Jika engkau”; artinya Allah memberikan sebuah
pilihan kepada Muhammad apakah beliau ragu-ragu atau yakin dengan
keterangan yang sudah disampaikan oleh JIbril tentang ayat-ayat tersebut. “Jika”
beliau ragu-ragu atau tidak yakin dengan penjelasan Jibril tersebut, maka beliau
dipersilahkan oleh Allah untuk menanyakan keterangan Jibril tersebut kepada
ahli kitab (taurat dan Injil) yang pernah membaca keterangan itu. Jadi konteks
ayat tersebut adalah menyampaikan sebuah pilihan , bukan sebuah perintah yang
harus dilakukan oleh Muhammad. Tetapi Misionaris berpikiran degil ini, langsung
mengambil sebuah peluang untuk melancarkan tuduhan yang membabibuta
tanpa menggunakan hatinurani dan nalarnya. Memang begitulah tabiat iblis.
Tidak ada perintah dari kontek ayat tersebut yang mengharuskan Muhammad
bertanya dan meminta petunjukan kepada orang-orang nasrani dan Yahudi
mengenai ayat tersebut. Bahkan pada kalimat selanjutnya berbunyi “Sungguh
telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu “; artinya, Allah meyakinkan
Muhammad bahwa ayat-ayat yang disampaikan oleh Jibril tersebut merupakan
berita kebenaran yang berasal dari Allah, setelah itu baru keluar perintah yang
sesungguhnya dalam kalimat ”sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk
orang yang ragu-ragu”; artinya, Allah meyakinkan Muhammad supaya tidak ragu-
ragu dan memerintahkan kepada Muhamad supaya janganlah menjadi orang yang
ragu-ragu sebagaimana para ahli kitab Yahudi dan Nasrani yang meragukan kitab
yang diturunkan Olah Allah kepada mereka sehingga mereka merubah keterangan
ayat ayat tersebut dengan tangan mereka sendiri.

Jadi yang diperintahkan kepada Muhammad pada ayat tersebut adalah supaya
tidak mencontoh sifat-sifat orang Yahudi dan Nasrani yang dengan keraguannya
tersebut telah memasukkan opininya didalam kitab Taurat dan Bible sehingga
merusak keimanan generasi berikutnya.

Sesungguhnya yang perlu dipertanyakan dari maksud ayat tersebut ; Apakah yang
telah disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW sehingga
tertulis kalimat “ Maka Jika engka” tersebut?. Ternyata ayat ini berhubungan
dengan beberapa ayat sebelumnya yaitu tentang berita Nabi Musa yang mampu
membelah air laut dan membawa umatnya menyeberang laut dengan
membelahnya dan selamat sampai keseberang sedangkan Fir’un dan
balatenteranya yang mengerjar, tenggelam sebelum dapat menyusul rombongan
Musa. Dan memang keterangan tentang Nabi Musa membelah Laut tersebut
benar-benar terdapat di dalam Taurat. Artinya kitab taurat tersebut dulunya
adalah berasal dari Allah, tetapi setelah nabi Musa tiada, ahli kitab Yahudi
merusak ayat-ayat itu, walaupun sebagian masih tertulis dengan benar.

Kemudian mayat Fir’un tersebut ditemukan dan dibawa oleh bangsa Mesir untuk
dimakamkan di dalam kuburan kebanggaan mereka ( Pyramid);

“Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun
dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila
Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada
Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-
orang yang berserah diri (kepada Allah)" 90. Apakah sekarang (baru kamu percaya),
padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-
orang yang berbuat kerusakan 91. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu
supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan
sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami
(QS Yunus 90-92)”.

Jadi kontek surat Yunus ayat 94 diatas tersebut menyampaikan tentang


kebenaran ayat-ayat Al Qur’an yangboleh dicek ulang dengan yang tertulis pada
kitab Taurat yang pernah disampaikan oleh Allah kepada Musa. Kontek ayat
tersebut bukan memerintahkan kepada Muhammad untuk belajar kitab Taurat
sehingga beliau menjadi ragu-ragu tentang Al Qur’an. Logikanya, kenapa
Muhammad harus belajar lagi tentang kitab Taurat , bukankah Taurat itu juga
berasal dari Allah, sehingga kalau untuk belajar tentu lebih baik Malaikat JIbril saja
yang menerangkannya karena bersumber dari pengarang yang sama. Jadi tidak
logis kalau Muhammad harus belajar Taurat ke Ahli Kitab Yahudi, karena yang
membuat kitab itu lebih mengetahui dari orang yahudi itu. Ternyata Pendeta ini
tidak memahami dan tidak mengambil hikmah dari ayat tersebut sama sekali.
Kalau pendeta ini mampu berpikir lebih rasioal maka dapat diambil sebuah garis
penghubung bahwa kitab Taurat, Injil dan kitab Al Qur’an tersebut sama-sama
berasal dari Allah. AL Qur’an bukan karangan nabi Muhammad tetapi kitab yang
juga berasal dari Allah SWT.

Sebuah pertanyaan besar yang harus dikemukakan disini adalah “ Mengapa Allah
menurunkan lagi Kitab Al Qur’an kepada utusanNYa Muhammad? Bukankah
Kitab Taurat dan Injil sudah ada sebelumnya? Apakah yang terjadi dengan kitab
Taurat dan Injil sekarang ini, sehingga Allah kembali memberikan keterangan yang
sama bahkan melengkapi keterangan yang ada pada Kitab-kitab sebelumnya?

Tetapi karena Pendeta ini sudah tertutup mata hatinya, pikirannya sudah tidak
selaras dengan hatinuraninya, dia hanya membabi buta membenarkan kitab Bible
nya dan menyalahkan kitab Al Qur’an.

Suatu ketentuan yang berlaku adalah bahwa buku edisi terbaru yang diterbitkan
oleh seorang pengarang yang sama bertujuan untuk memperbaiki dan
menyempurnakan edisi buku sebelumnya. Hal ini juga berlaku pada sistim
perundang-undangan , dimana undang-undang terbaru akan menggantikan
peraturan perundang-undangan yang lama . Sebaliknya undang-undang yang
lama tidak bisa membatalkan undang-undang yang baru. Begitulah yang
seharusnya dipahami oleh Pendeta ini. Bukan mengarang cerita-cerita yang tidak
masuk akal dan menyampaikan berita bohong lalu merusak keterangan yang
benar yang terdapat di dalam ayat Allah dengan pemikiran yang tidak logis
kemudian menyebarkan hasutan dan berita bohong. Jadi Pendeta ini hanya
mampu menyampaikan berita gossip lalu menyebarkan pengkabaran imannya
dengan cara kepalsuan.

Surat 32 Assajdah ayat 23 :

“ Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat), maka janganlah
engkau di dalam keraguan menemuinya, dan Kami menjadikan (Taurat) sebagai
petunjuk bagi bani Israel “.

Oleh sebab itu Muhammad SAW melarang untuk membantah terhadap orang-
orang Kristen (yang juga sering disebut Ahli Kitab) karena Tuhan dari Muhammad
SAW dan Tuhannya orang-orang Kristen adalah Tuhan yang sama sebagaimana
tertuang dalam :

Kembali Pendeta keji ini merusak ayat-ayat Al Qur’an. Kelihatan sekali bahwa
Pedeta ini ingin memaksakan keinginannya untuk memasukkan opininya kepada
ayat-ayat Al Qur’an. Tetapi Karena kalimat Al Qur’an tersebut terlalu kokoh dan
kuat untuk dimasuki pikirannya yang yang jahat , maka dia melakukan cara-cara
yang tidak terpuji yaitu dengan membuat kalimat baru sehingga berubahlah
maksud dan makna ayat tersebut sesuai dengan jalan pikirannya.

Kenapa orang-orang Kristen selalu menyampaikan keimanannya dengan cara


kepalsuan? bukankah cara yang dilakukan oleh Pendeta Kristen ini sungguh
sangat memalukan dan tidak terpuji? Bukankah cara ini sama dengan pekerjaan
iblis-iblis? Apakah ajaran Kristen mengajarkan cara-cara berdakwah seperti itu?
Bukankah Yesus tidak pernah melakukan kebohongan dan penghinaan pada umat
lainnya? Bukahkah Yeus mengajarkan cinta kasih yang perlu sicontoh oleh
misionaris kristen ini beserta seluruh umatnya?

Marilah kita perhatikan bunyi ayat nomor 23 dari surat As Sajdah tersebut ;
‫ال‬
“ Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat), maka
janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima (Al Qur'an itu) dan Kami jadikan
Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israel (QS Ad Sajdah 32:23)”.

Kalau kita perhatikan konteks ayat ini, sebenarnya keterangan ayat ini
memperkuat dan melengkapi ayat yang telah dibicarakan pada pembahasan
sebelumnya. Disini kembali Allah menegaskan bahwa kitab Taurat dan Kitab Al
Qur’an sama-sama berasal dari Allah dan Muhammad dinasehatkan agar
janganlah menjadi ragu-ragu terhadap al Qur’an. Tidak ada penjelasan di dalam
ayat ini yang menunjukan bahwa Muhammad telah menjadi ragu-ragu tentang
keterangan Al qur’an sehingga beliau diharuskan meminta petunjuk kapada ahli
kitab Taurat untuk menghilangkan keragu-raguan tersebut. Tetapi pendeta ini
menyebarkan fitnah dan kebohongan dengan mengambil kata-kata “ ragu-ragu”
yang tercantum pada ayat tersebut. kemudian Pendeta ini memasukan sebuah
kata baru “menemuinya “ kedalam ayat tersebut untuk menggantikan kata
“menerima” , sehingga menghasilkan pengertian baru yaitu bahwa Muhammad
harus menemui ahli Kitab Taurat untuk bertanya atau memohon petunjuk.

Pada kalimat selanjutnya “dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi
Bani Israel” ; hal ini menunjukan bahwa kitab Taurat yang diturunkan oleh Allah
kepada nabi Musa tersebut hanya ditujukan kepada umat bani Israel. Artinya ,
kitab Taurat tersebut tidak dimaksudkan untuk umat Nasrani dan tidak
diturunkan untuk seluruh umat manusia. Artinya Allah sudah membatasi
penyebaran kitab Taurat hanya bagi keturunan umat Israel. Tetapi entah kenapa
ahli kitab Nasrani mengambil dan memasukkan kitab Taurat tersebut kedalam
Bible yang mereka beri nama “Perjanjian Lama (The old statement)”. Tega-
teganya ahli kitab nasrani mengadopsi ayat-ayat Kitab Taurat ke dalam Bible,
padahal bagi mereka sudah ada Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa. Kenapa ahli
kitab nasrani melakukan hal yang tidak terpuji itu tanpa meminta izin kepada nabi
Isa dan tanpa perintah dari Allah ? Bukankah ini dapat dikatakan sebagai
mengambil hak cipta dan pembajakan kitab suci milik umat Israel? Apa
sebenarnya tujuan ahli kitab Nasrani memasukkan kitab Perjanjian Lama (taurat)
kedalam Bible? Tetapi setalah dimasukkannya, kemudian mereka tidak
melaksanakan hukum Taurat tersebut sama sekali bahkan mencampakkannya
begitu saja tanpa petunjuk dari Yesus. Banyak ketentuan Taurat yang sudah tidak
berlaku lagi bagi umat nasrani seperti; halal memakan daging babi, sunat bagi
laki-laki tidak wajib, berpuasa sudah tidak berlaku lagi, hari sabat bukan hari yang
dimuliakan lagi dan diganti dengan hari minggu dan masih banyak lagi hukum
taurat diadopsi tetapi tidak lagi dijalankan. Apa maksudnya?

Kembali kita akan bahas ayat al Sajdah ayat 23 diatas. pertnyaan yang perlu
diajukan pada ayt tersbut sebaiknya adalah; kenapa harus tertulis kalimat
“janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima (Al Qur'an itu)” ? kenapa
Allah menyampaikan kalimat tersbut di dalam ayat tersebut? apa yang menjadi
permasaalahan sehingga Allah mengingatkan Muhammad jangan sampai ragu-
ragu? Tentunya ada sesuatu pertanda sehingga Allah mengingatkan Muhammad
dengan kaliamt tersebut. jadi jangan menduga-duga menurut perasaan
sentiment, kemudian menyebarkan isu negative. Untuk itu, sebaiknya cobalah
carilah jawabannya pada ayat sebelumnya agar dapat dijadikan petunjuk kenapa
muncul kata “ragu-ragu” itu ;

“Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-
ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan
memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa (Qs As Sajdah 32:22)”.

Ternyata jawaban dari persoalannya terletak dari keterangan ayat ini. Konteks
ayat ini menjelaskan tentang tabiat orang-orang yang pernah diberi peringatan
oleh Allah melalui RasulNYA. Kalimat “ kemudian ia berpaling dari padanya” ;
menununjukan, bahwa orang tersebut pada awalnya menerima peringatan dan
beriman atas petunjuk Rasul itu. Tetapi setelah Rasul itu pergi atau setelah Rasul
itu sudah wafat, maka mereka kembali melakukan perbuatan lalim seperti dulu.
Tentu saja mereka melakukan perbuatan yang sama karena pikiran mereka
dipengaruhi oleh pola pikiran yang baru untuk mendapatkan suatu keuntungan
duniawi. Karena ingi memperoleh keuntungan yang sedikit dan termakan isu-isu
yang menggiurkan, maka mereka menjadi ragu-ragu lagi dengan seseuatu yang
sudah disampaikan oleh nabi sebelumnya, sehingga mereka kembali kejalan kafir.
Selanjutnya pada ayat berikutnya Allah memberi pengarahan kepada
Muhammad agar mengambil hikmah dari sifat yang tidak terpuji tersebut.
Muhammad harus mempunyai keyakinan dan keteguhan hati terhadap apa yang
disampaikan oleh Allah melalui Malaikat JIbril. Dengan keteguhan serta
keyakinan yang kuat diharapkan Muahammad dapat memperkuat keimanan dan
ketaqwaan bagi umat beliau. Dan ternyata nabi Muhammad berhasil mengikuti
petunjuk Allah tersebut. Muhammad dapat menanamkan keteguhan hati dan
kepercayaan yang kuat kepada sahabat-sahabatnya. Semua sahabat beliau benar-
benar yakin pada semua petunjuk beliau, tidak ada satupun sahabat-sahabat
beliau yang memiliki sikap ragu-ragu dalam menjalankan perintah Allah dan
rasulnya. Bahkan jiwa raga serta harta benda mereka, mereka korbankan dengan
ihklas demi menegakkan dan membela kebenaran. Nabi Muhammad benar-
benar berhasil menghilangkan sifat keragu-raguan pada umatnya , padahal nabi
Muhammad tidak memilki mujizat luar biasa dibandingkan dengan nabi-nabi yang
lain yang pernah diberi mukjizat oleh Allah , seperti nabi Isa AS, nabi Musa As
atau nabi Sulaiman AS.

Surat 29 Al Ankabut ayat 46 :

“ Dan janganlah kamu berbantah dengan Ahli Kitab, melainkan dengan yang lebih
baik, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka dan katakanlah “Kami telah
beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami (Al Qur’an) dan apa yang
diturunkan kepada kamu (Taurat dan Injil). Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah
satu dan kepadaNya kamu berserah diri “.

Sesungguhnya ayat ini mempunyai makna yang dalam dengan filsafat hidup yang
sangat tinggi nilainya untuk diterapkan kepada seluruh umat beragama. Kalau
ayat ini dipahami dan dilakukan oleh seluruh umat beragama dengan cara yang
baik dan santun, maka tidak akan ada lagi pertikaian dan perselisihan diantara
manusia. Jadi ayat-ayat Al Qur’an telah memberikan subuah prinsip hak
beragama tanpa harus merusak agama orang lain. Jelaslah bahwa ayat terebut
menerapakan sebuah sikap pluralisme untuk seluruh manusia beragama.
Ketentuan ayat ini, bukan hanya berlaku bagi umat islam, tetapi bagi semua umat
yang merasa dirinya memiliki agama. Supaya manusia dapat hidup dengan damai
, saling harga menghargai, tidak menyerang agama dengan cara yang tidak terpuji
dan tidak melalukan perdebatan yang nantinya akan menghasilkan caci maki dan
berujung saling menghina. Ayat tersebut sebenarnya diabadikan untuk
mencegah, supaya hal tersebut jangan sampai terjadi.

Khusus buat kaum muslimin, ayat ini menganjurkan agar umat muslim tidak
terbawa dan melibatkan diri kedalam perdebatan yang akhirnya mereka
menghina dan merendahkan Allah dan Rasulllahh. Kalaupun mau berdebat
lakukanlah dengan cara yang baik, sopan, tidak saling mengejek, tidak saling
memfitnah, tidak saling menghina , hilangkanlah dahulu rasa kebencian, buang
rasa permusuhan, dan jangan ada dendam di dalam hati. Perdebatan hanya
diperuntukkan mencari nilai-nilai kebenaran, bukan mencari pembenaran dan
bukan pula mau menang sendiri. Kalau diskusi tersebut sudah keluar dari jalur
yang sudah digariskan oleh petunjuk ayat tersebut diatas, maka sebaiknya
tinggalkanlah perdepatan itu. Tegaskan kepada mereka bahwa umat muslim
hanya beriman dan bertaqwa kepada Al Qur’an yang telah disampaikan oleh
Muhammad dan sampaikan juga bahwa umat Islam mempercayai adanya kitab
Taurat dan Injil yang terlah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad
SAW. Dan hanya kepada Allah umat muslim menyerahkan semua urusannya.
Sesuai dengan arahan dan bunyi ayat tersebut. Begitulah Allah membei tuntunan
yang benar kepada umat Muhammad.

Sedangkan terhadap orang yang sudah menzalimi umat Islam dan merusak ayat-
ayat Allah, maka di dalam ayat tersebut, Allah mewajibkan kepada umat muslim
untuk melakukan pembelaan dan menegakan kebenaran agama Islam.

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan atau mencari-cari


permasalaah dengan ayat-ayat Allah , mereka adalah orang yang belum sampai
kebenaran kedada mereka. Mereka hanya meperturutkan hawa nafsu mereka
yaitu kesombongan dan keangkuhan mereka semata. Padahal ayat-ayat Allah
tersebut lebih agung dari apa yang mereka sangkakan dan mereka tidak akan
dapat mencapai apa yang mereka inginkan tersebut .

Nasehat ini di abadikan oleh Allah di dalam surat Al Mu’minin ayat 56 ;

“ Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa


alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah
(keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka
mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat (QS Al MU’minin 40:56)”.

Begitu juga dengan orang-orang yang menentang (mendebad) ayat-ayat Allah


dengan alasan yang dibuat-dibuat padahal mereka mengetahui nilai kebenaran
itu, maka mereka akan mendapat murka dari Allah dan begitu juga dari orang-
orang beriman. Seperti yang disampaikan oleh Ayat berikut ini ;

“(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang


sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan
di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang
yang sombong dan sewenang-wenang ( QS Al Mu’minim 40:35)”.

Menurut keterangan ayat diatas , bagi orang yang menentang atau mendebat
aya-ayat Al Qur’an, khususnya yang telah dilakukan oleh pendeta ini, yaitu tanpa
mengetahui, tanpa mempelajari dan tidak memahaminya dengan benar,
kemudian mereka melakukan penyerangan iman dengan cara yang keji seperti
memotarbalikkan kebenaran, merusak kebenaran ayat-ayat Al Qur’an kemudian
menyebarkan informasi yang salah tersebut serta menghasut orang islam lainnya,
maka bukan hanya Allah saja yang akan mengutuk perbuatan itu, tetapi orang-
orang beriman akan maju untuk menentang kekejian tersebut. orang muslim
wajib menyampaikan kebenaran dan menentang kebathilan.
Selain daripada ayat-ayat tsb dapat pula dilihat bahwa Allah SWT menghendaki
hubungan yang erat dan saling mengasihi antara umat Islam dan Kristen
sebagaimana tertuang di dalam :

Surat 5 Al Maa’idah ayat 82 :

“ Sungguh akan engkau dapati orang-orang yang paling keras permusuhan


terhadap orang-orang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang
Musrik, dan sesungguhnya akan engkau dapati (pula) orang-orang yang paling
dekat kasih sayangnya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang
yang berkata “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani (Kristen)”.

Yang demikian itu disebabkan diantara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-
rahib dan sesungguhnya mereka itu tidak menyombongkan diri.

Sungguh munafik dan licik sekali Pendeta ini memainkan sandiwaranya, dia
menyampaikan seolah-olah orang Kristen seperti dirinya sangat berlaku santun
dan ingin menjalin hubungan yang bersahabat dengan umat muslim sesuai
dengan ayat Al qur’an yang disodorkannya untuk mencegah umat muslim tidak
menghalangi keinginannya merusak ayat-ayat Al Qur’an. Seolah-olah dia telah
berbuat baik dengan menyampaikan ayat-ayat al Qur’an seperti yang dia inginkan
di dalam bukunya ini. Mungkin Pendeta ini sudah merasa bangga dengan strategi
penghasutan yang licik ini, sehingga dia merasa yakin sudah berhasil mengelabui
umat muslim dengan ayat-ayat setannya itu.

Pendeta ini mengira, dengan menyampaikan ayat di atas, maka umat muslim akan
menerima dia sebagai seorang muslim atau sebagai sahabat sejati. Tetapi
sebenarnya dia telah menipu dirinya sendiri. Ternyata pendeta ini
memperlihatkan sifat yang lebih keji dari pada sifat permusuhan orang –orang
Yahudi terhadap islam sebagaimana yang dinyatakan oleh ayat tersebut. Pendeta
ini telah melakukan perbuatan yang dapat merusak sendi-sendi beragama umat
muslim, pendeta ini telah melakukan cara kepalsuan , kelicikkan dan
membohongi umat islam. Padahal Pendeta ini sudah mempelajari ayat-ayat Al
Qur’an tersebut dengan benar terlebih dahulu, tetapi kemudian dia merubahnya
untuk tujuan misi dakwah agama Kristen.
Beginilah caranya Pendeta Kristen ini menyampaikan kepada umat islam bahwa
dia adalah umat nasrani yang paling baik dan berbuat kasih kepada umat islam.
Terbukti bahwa Pendeta ini benar-benar bagaikan seekor serigala berbulu domba.
Pendeta ini termasuk golongan orang yang paling munafik dimuka bumi ini.
Pendeta ini lebih keji daripada orang Yahudi sekalipun. Bahkan bangsa-bangsa
beradab yang hidup bernegara dan berdaulat sekalipun tidak akan memberikan
peluang bagi orang-orang yang berbuat sekeji pendeta munafik ini.

Ayat yang disodorkan untuk meyakinkan umat islam bahwa dia adalah seorang
sahabat sejati, tenyata adalah sebuah strategi kelicikan lagi. Pendeta ini telah
salah mengambil ayat Al Qur’an untuk meyakin umat islam bahwa dialah yang
dimaksud oleh ayat tersebut.

BAB V

KESIMPULAN

Pandangan Islam yang tertuang dalam Kitab Al Qur’an dan Kitab Hadits Shahih
Bukhari tentang Isa AS sungguh menakjubkan. Kita dapat menarik dua kesimpulan
dari Kitab Al Qur’an , yaitu :

Pertama

Tentang bagaimana caranya Al Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam dapat
dipahami secara benar.

Kedua

Tentang bagaimana Al Qur’an menonjolkan kedudukan Isa AS yang selalu


dikaitkan dengan Allah SWT.
Bagaimanakah jalan yang akan dibentangkan oleh Pendeta ini agar umat islam
berjalan beriring-iringan menuju tempat yang dia inginkan? Kebenaran ajaran
islam yang bagaimanakah yang diinginkan oleh Pendeta ini supaya dilaksanakan
oleh umat Islam? Kedudukan Isa As sebagai apakah yang diharuskan oleh
Pendeta ini kepada umat islam untuk diikuti? Untuk itu marilah kita iringi
perjalanan kepanduan yang sudah dirintis oleh pemimpin gereja ini untuk umat
Islam berikut ini;

V.1 KESIMPULAN PERTAMA

Untuk memahami Al Qur’an secara benar kita harus mengikuti petunjuk yang
dituangkan dalam ayat-ayat Al Qur’an dengan menggunakan akal dan pikiran
sehat agar kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang sesat.

Siapakah yang dimaksud oleh pendeta ini “ belajar secara benar” terhadap ayat-
ayat Al Qur’an? Apakah pendeta ini mengira bahwa dialah yang seharusnya
mengajari tentang kebenaran ayat-ayat AL Qur’an kepada umat muslim?
Kebenaran apakah yang dimaksud oleh pendeta ini? Apakah pendeta ini mengerti
tentang nilai-nilai kebenaran dan sesuatu perbuatan yang salah? Kalau pendeta
ini tidak mengerti dengan nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai kesalahan , lalu
kemanakah di akan membawa umatnya? Dia ingin membawa umat ke suatu
tempat, tetapi dia sendiri tidak mengetahui sama sekali tempat apa yang dia tuju.
Dia ingin membawa umat islam kejalan yang benar , tetapi dia sendiri telah
melakukan penghancuran dari nilai-nilai kebenaran ayat-ayat Al Qur’an
seeanaknya saja, kesalahannya benar-benar sudah tidak terampuni lagi, lalu
sekarang di hendak membodohi lagi orang-orang yang dia kira telah tersesat.
Padahal dia sendiri lah sosok yang sesat itu.

Bagaimana dia berbicara tentang suatu kebenaran dengan ”akal dan pikiran
sehat”, sementara dia sendiri tidak menggunakan akalnya (nalarnya) secara baik
dan benar, dia hanya mampu menghasut, membohongi, memfitnah dan merusak
sendi-sendi ayat ayat al Qur’an tanpa menggunakan nalarnya secara benar.
Sementara dia tidak mampu menggunakan pemikirannya dengan baik untuk
membedakan sebuah nilai kebenaran itu. Otak yang dia miliki hanya digunakan
untuk melakukan kerusakan , membuat berita bohong, menjungkirbalikan nilai
kebenaran al Qur’an, memfitnah kemudian dia menghasut orang-orang untuk
mengikuti jalan pikirannya yang tersesat itu. Kebenaran apa lagi yang hendak dia
katakan dari perbuatannya yang sesat itu? Dia mengira bahwa hanya dirinya yang
mempunyai akal dan pikiran yang sehat, tetapi sebenarnya dia adalah orang yang
sakit dan banyak sekali penyakit bersarang di dalam tubuh , ada penyakit didalam
nalarnya dan ada juga penyakit di dalam pikirannya. Pendeta ini tidak
menunjukan ciri-ciri seorang manusia yang dapat memberikan kebaikan kepada
orang lain, dia tidak lebih dari sosok manusia berhati iblis yang suka dengan
kebohongan, suka berita gossip, suka menghasut orang, suka memfitnah, suka
dengan kemunafikan, suka berteman dengan iblis dan dialah raja iblis itu.

Untuk mendapatkan pikiran yang benar itu maka perlu membaca dan mendalami
Al Qur’an dengan cara membaca Alkitab, karena menurut surat 43 Az Zukhruf
ayat 4 menyebutkan bahwa Al Qur’an itu berada dalam induk Alkitab. Oleh sebab
itu, untuk dapat memahami Al Qur’an secara benar haruslah Alkitab ini dibaca
karena Alkitab memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus
sebagaimana yang dituangkan dalam surat 46 Al Ahqaaf 30.

Bertambah lagi kebohongan baru yang disampaikan oleh Pendeta ini, padahal apa
yang dia sampaikan tersebut, dia tidak mengerti. Marilah kita analisa pernyataan
dari kalimat pendeta diatas, “Untuk mendapatkan pikiran yang benar itu maka
perlu membaca dan mendalami Al Qur’an dengan cara membaca Alkitab,” ; mana
mungkin membaca Al Qur’an dapat dilakukan dengan cara membaca Al Kitab ( al
KItab =Bible), sesuatu yang mustahil. Al qur’an dengan tulisan asli berbahasa
Arab, sedangkan Bible berbahasa dan bertulisan tidak asli lagi , yaitu bahasa
Yunani dan Inggris. Apakah kitab Taurat dan Injil aslinya berbahasa Yunani dan
Inggris? Tidak bukan? Kalau begitu dimana kitab Taurat yang berbahasa Ibrani
yang aslinya?.
Sebaliknya kalau Allah menurunkan Al Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab,
maka tentu saja orang-orang Yahudi dan Nasrani akan mempersoalkan ayat-ayat
Allah tersebut, karena ayat-ayat Al Qur’an banyak mengandung kritik terhadap
kitab Talmud dan Bible yang mereka miliki , sehingga akan timbul lagi perdebatan-
perdepatan , akan muncul pertikaian dan perpecahan baru di dalam umatnya
yang menjurus kepada penistaan babak baru dari terhadap Al Qur’an tersebut.
Sementara itu juga tidak logis, bagi seorang Rasul yang berasal dari bangsa arab
diharus mengajarkan Al Qur’an kepada umatnya dengan bahasa Yunani dan
bahasa Inggris, padahal Muhammad dan bangsanya berbahasa arab.

Berita bohong dan gossip yang ditebar oleh pendeta ini sebenarnya sudah
diantisipasi oleh Allah di dalam Al Qur’an. Sehingga tebuktilah bahwa ayat-ayat
Allah tersebut benar-benar sangat kokoh untuk diputar balikkan ;

Dan jika Kami jadikan Al Qur'an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab
tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?". Apakah
(patut Al Qur'an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab?
Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang
beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada
sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah
(seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh" (QSAs Fushilat 41:44).

Jadi jelaslah bahwa pendeta ini hanya mengada-ada dan membuat berita bohong
yang tidak bisa diterima dangan akal sehat. Membacanya Al Qur’an dengan cara
membaca kitab bible saja sudah mustahil, apalagi untuk memahaminya, tentu
lebih tidak masuk akal lagi. Akal-budinya sudah tertutup oleh hasutan iblis yang
mengerogoti jalan pikiranya, sehingga dia tidak mengerti dengan apa yang dia
sampaikan. Sepertinya dia sedang mengucapkan mantra-mantra berbahasa setan.

Selanjutnya pendeta ini menambahkan kesimpuan baru yang belum pernah dia
sampaikan pada keterangan sebelumnya, yaitu bahwa Al Qur’an adalah bagian
dari kitab induk , dimana kitab induk yang dimaksud adalah Kitab (bible). Artinya
AL Qur’an adalah kitab kecil sedangkan Al kitab (bible) kitab besarnya. Kesimpulan
ini dia ambil setelah membaca sebuah ayat di dalam al qur’an ( Az Zukhruf ayat 4).
Untuk itu marilah kita lihat kembali surat tersebut ;

Dan sesungguhnya Al Qur'an itu dalam induk Al Kitab (Lohmahfuz) di sisi Kami,
adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah (QS Az
Zukhruf 43:4)”.

Pendeta busuk ini sudah merasa GR( gederasa) duluan membaca ayat diatas,
kemudian dia mengambil kesimpulannya sendiri bahwa yang dimaksud dengan
kitab induk (Lohmahfuz) itu adalah Kitab Bible.

Pendeta ini bagaikan anak kecil yang sedang memamerkan baju barunya, tetapi
ketika dia melihat temannya memakai baju yang kelihatan lebih bagus, maka dia
merengek-rengek meminta dibelikan baju baru yang persis sama dengan milik
temannya, padahal baju temannya bukan baju baru, itu karena dia pandai
merawatnya dan bahannyapun lebih awet. Sekiranya anak ini tidak menemukan
baju yang sama bagusnya dengan milik temannya, maka dia akan mengatakan
bahwa baju temannya itu adalah kepunyaan dia yang sudah dicuri oleh temannya
atau dia katakan baju temannya jelek. Seperti itulah perumpamaan untuk
pendeta ini, dia hanya memperlihatkan perasaan iri dan dengkinya saja, tidak mau
menerima kenyataan bahwa dia sebenarnya sedang menutup-nutupi nilai-nilai
kebenaran Al Qur’an kepada dunia.

Pendeta ini menggunakan logika anak kecil dimana yang dimaksud oleh ayat
tersebut benar-benar kitab Bible, karena menurut asumsinya, bible mengadung 2
jenis kitab , yaitu kitab Perjanjian (PL) Lama dan kitab Perjanjian Baru. Karena
kitab bible terdiri dari 2 kitab utama , maka kitab bible lebih banyak dan lengkap
jenis kitabnya, sehingga kitab Bible itulah yang dimaskud oleh ayat diatas.
Pendeta ini tidak berpikir lebih jauh untuk memahami pengertian dan maksud
dari Lohmahfus tersebut, karena dia memang tidak mengerti. Pikiran sehatnya
sudah tertutup untuk berpikir lebih jauh, bisikan setan semakin keras terdengar di
dalam kupingnya dan memekakakkan telinganya, sehingga dia langsung
menebarkan berita bohong itu tanpa dia pelajari terlebih dahulu. Kembali
pendeta ini menyebarkan kebohongan dan sengaja membelokkan ayat tersebut
untuk kepentingan iblis. Kalau dia mengerti dengan ayat tersebut, tentunya dia
akan menjelaskan dengan logika berpikir selayaknya manusia yaitu dengan
metode ilmiah dan bukti-bukti yang masuk akal. Bukan dengan menyebar isu dan
gossip kemudian lari dari dari pembuktian dan tanggungjawannya. Bukan begitu
caranya mengambil kesimpulan yang logis dan benar. Hal itu sama saja dengan
mengutamakan perasaan dan sifat egois semata. Kebanggan apa yang dia
tunjukan dengan cara kepalsuan tersebut, padahal seorang pendeta haruslah
menjadikan dia sebagai panutan untuk kebenaran. Bukan lempar batu kemudian
sembunyi tangan. Bagaimana pendeta ini menyampaikan bahwa dialah yang
paling benar , tetapi dia sendiri tidak mampu menunjukan kebenaran itu. Dia
menyatakan bahwa belajarlah dengan cara pemahaman yang benar terhadap al
kitab, tetapi dia sendiri tidak mampu memberikan contah serta panutan yang
benar bagaimana menunjukan nilai kebenaran itu.

Sekiranya Pendeta ini ingin menyimpulkan bahwa Lohmahfus adalah Bible. Maka
sekurang-kurangnya, Pendeta ini harus memberikan sebuah penjelasan di dalam
Bible yang tertulis tentang keterangan tersebut. jangan mengatakan bahwa
lohmahfuz yang dimaksud tersebut adalah Bible, tetapi tidak menjelasan bahwa
Bible sama sengan Lohmhfuz , minimal ada keterangan didalam Bible tentang
lohmahfuz tersebut. Belum lagi kalau diminta bukti-bukti tentang kebenaran ayat-
ayat Bible yang menunjukan bahwa keterangan Bible lebih benar dibandingkan
dengan keterangan Ayat Al Qur’an.

Sebaiknya pendeta ini menjelaskannya lebih anilisis , sisitimatis, koronologis dan


logis untuk menjelaskan kesimpulannya yang benar. Kalau Pendeta ini tidak
menjelaskannya, tetapi hanya menyimpulkannya begitu saja , lempar batu
sembunyi tangan, maka sama saja menyebarkan berita gossip dan
menyampaikan kebohongan belaka. Apakah semua pendeta umat nasrani
mempunyai tabiat seperti Pendeta ini? Mudah-mudahan saja tidak. Anggap saja
pendeta ini merupakan penjelmaan dari Iblis yang menggoda umat islam untuk
menjadi temannya di neraka kelak.

Adapun maksud diturunkannya Al Qur’an melalui Muhammad SAW ialah untuk :

Untuk memberi peringatan kepada bangsa Arab agar mereka kembali ke agama
Tauhid yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa dengan mengukuhkan Taurat dan
Injil.

Kembali pendeta ini menggunakan pikiran ngawurnya. Kalau Muhammad datang


untuk memperingati orang-orang kafir menyembah berhala di Ka’bah pada saat
itu, maka itu dapat dikatakan benar. Tetapi kalau Muhammad hanya memberikan
peringatan kepada orang-orang arab saja , maka ini merupakan sebuah penipuan
dan penghasutan lagi. Seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan
sebelumnya, bahwa Ka’bah pada zaman sebelum kelahiran Muhammad
merupakan tempat persinggahan para kafilah yang membawa barang
dagangannya dari Syryia atau Bagdad dan India menuju Palestina, Mesir dan
sebagian Eropa. Para kafila ini berkumpul dan beristirahat di Mekah , kemudian
melakukan ritual agamanya masing-masing sebelum melanjutkan perjalanan.
Sebagian besar dari mereka adalah para penyembah berhala dan menganut
agama anismisme. Jadi bukan bangsa arab saja yang mampir ke Mekah untuk
melakukan ritual agamanya di ka’bah. Sejarah membuktikan bahwa Ka’bah
(masjidilharam) tersebut dibangun oleh Ibrahim dan anaknya Ismael yang
dimaksudkan untuk menyembah dan beribadat hanya untuk Allah SWT. Namun
menjelang kelahiran Muhammad, ritual yang dijalankan oleh orang yang
beribadah di Ka’bah tersebut sudah melenceng dari ajaran tauhid Ibrahim. Maka
wajarlah rumah milik Allah tersebut perlu diselamatkan dari ritual yang sesat itu.
Yang hendak menyelamatkan, tentu saja Allah , melalui Rasulnya nabi
Muhammad SAW.

Jadi sebaiknya Pendeta ini jangan mengada-ada dan meberitakan gossip yang
tidak beralasan sama sekali.

Setelah dikira berhasil melakukan penipuan dan berita kebohongan, maka


selanjutnya Pendeta ini melanjutkan misi pengkabaran imannya sesuai dengan
kalimat selanjutnya “yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa dengan
mengukuhkan Taurat dan Injil”; kalau yang dimaksud disini adalah Kitab Taurat
dan Inji yang asli yang disampaikan kepada Muda dan Isa, maka pernyataan itu
adalah benar. Tetapi perlu diketahui bahwa kitab taurat dan njil yang asli sudah
tidak ada lagi saaat ini, sehingga hanya Al Qur’an yang dapat dipakai sebagai
rujukan untuk melengkapi dan menyempurnakan kitab Allah yang sudah hancur
tersebut.

Nabi Isapun diturunkan oleh Allah untuk memperbaiki kitabTaurat yang udah
rusak itu ;

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk
menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang
kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku (QS Ali IMran 3:50)”.

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku
adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan (memperbaiki) kitab (yang turun)
sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang
Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala
rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka
berkata: "Ini adalah sihir yang nyata" (qs As Shaff 61:6)”.

Kalau benar kitab Bible berasal dari Isa As, lalu kenapa di dalamnya ada tertulis
bahwa Isa tidak akan merubah satu titikpun di dalam kitab Taurat seperti yang
sudah disampaikan pada penjelasan sebelumnya. Bahkan umat nasrani saat ini
sudah menghapus dan tidak lagi melakukan hukum-hukum Taurat. Sesuatu yang
bertentangan dengan yang tertulis dan yang seharusnya dilakukan sesuai dengan
perintah Yesus di dalam Bible.

Sementara ayat Al Qur’an menjelaskan bahwa Isa As datang untuk memperbaiki


dan bukan menghilangakan hukum Taurat. Artinya Isa ditugaskan melaksanakan
perkerjaannya untuk memperbaiki ayat-ayat di dalam Taurat yang sudah dirusak
oleh umat Israel sebelumnya. Apakah sewaktu Yesus masih hidup , beliau
mengintruksikan kapada umat Kristen bahwa hukum Taurat harus dilenyapkan?
Lalu kenapa setelah Yesus tiada, ahli kitab Nasrani mencari-cari opini untuk
melenyapkan peraturan di dalam hukum Taurat. Bahkan membuat kesimpulan
yang tidak masuk akal, bahwa perubahan itu berasal dari Yesus sendiri yang sudah
menjelma menjadi Tuhan. Menurut catatan Bible (perjanjian Baru) , tuhan Yesus
sendirilah yang mengatakannya kepada Rasulnya yang bernama Paulus.
Sepertinya berita ini mengada-ada yang tidak masuk akal. Apa iya .. Yesus turun
lagi menemui Paulus dengan tujuan untuk meralat ucapan-icapan Yesus sendiri
seperti yang sudah tertulis pada Matius 5:18. Hal ini menunjukan bahwa Yesus
ragu-ragu dengan apa yang sudah disampakannya sendiri sehinga dia mengutus
lagi seorang penyambung lidah atau seorang konsultan yang bernama Paulus
yang dulunya bernaman Saulus, untuk meralat kalimat yang sudah tertulis itu,
atau mungkin saja Paulus sendiri yang mengaku-ngaku bahwa dia sudah
mendapat titah atau wangsit untuk meralat tulisan itu. Jadi jelaslah bahwa tulisan
dan ketentuan yang tertulis di dalam Bible benar-benar kacau dan tidak memiliku
aturan baku (konsisten).

Jadi apa yang diharapkan sekiranya umat muslim mengimani atau membaca
keterangan Bible yang menganut nilai ketidakkebenaran seperti itu? Mau dibawa
kemana umat islam oleh Pendeta ini ? Kebenaran apa yang dimaksud oleh
Pendeta ini terhadap Bible yang merupakan gabungan kitab Taurat dan Injil
tersebut. jadi sebaiknya Pendeta ini bertapa dulu di dalam laut selama 40 hari
untuk menunggu wangsit dari raja iblis penunggu samudra agar menemukan
kitab baru yang lebih baik dari pada Bible dan dari pada Al Qur’an, kemudian baru
menyampaikan bahwa kitab barunya itulah yang lebih baik dari kitab-kitab yang
ada saat ini.

Di dalam Al Qur’an tidah pernah ditemukan kalimat yang menyatakan bahwa


Mahammad hanya diutus untuk membenarkan (memperbaiki) kitab Taurat saja,
atau al Qur’an hanya untuk memperbaiki kitab Injil saja. Tetapi yang tertulis selalu
memperbaiki kitab-kitab sebelumnya. Hal ini berarti bahwa Al Qur;an
dimaksudkan untuk memperbaiki seluruh kitab-kitab Allah sebelumnya.
“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur'an) itulah yang
benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya
(QS Fatir 35:31)”.

“ Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi;
membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi
peringatan kepada (penduduk) Umulkura (Mekah) dan orang-orang yang di luar
lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu
beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya (QS
Al An’aam 6:92)”.

Untuk mengukuhkan keberadaan Al Qur’an dalam induk Alkitab oleh sebab itu
untuk memperoleh kebenaran dan keselamatan sudah seharusnya berpegang
kepada Alkitab sebagaimana yang disabdakan oleh Muhammad SAW sebelum
beliau wafat “Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka), tidaklah kamu akan
tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegan pada keduanya, yaitu
Alkitab dan Sunnah RasulNya.

Yang dimaksud dengan Alkitab tidak lain adalah Taurat dan Injil, yaitu Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru, sedangkan yang dimaksud dengan sunnah RasulNya
ialah segala tindakan dan perintah dari Isa AS sebagai RasulNya (Rasul dari
Alkitab) tersebut.

Dalam hubungan ini perlu diketahui bahwa kitab Al Qur’an belum terwujud pada
waktu Muhammad SAW wafat, tetapi baru sesudah kurang lebih 15 tahun beliau
wafat.

Pendeta ini sudah sangat yakin sekali dengan kebenaran Bile yang menurut
opininya adalah kitab Taurat dan kitab Injil yang asli, sehingga dia mengira yang
dimaksud oleh keterangan hadis nabi Muhammad diatas adalah kitab Bible.
Tetapi baiklah, kita ikuti saja saran dari Pendeta ini. Pendeta ini menginginkan
umat islam membaca kitab Biblenya. Manatahu dia berkata benar.

Pendeta ini menginginkan orang muslim belajar Al Qur’an dengan cara membaca
kitab Bible. Untuk itu kita akan membuktikan sendiri apakah Pendeta ini berkata
benar atau berkata bohong.

Kita akan mulai dengan membaca kitab Perjanjian Lama yang diyakini oleh
Pendeta ini sebagai kitab Taurat yang pernah diturunkan kepada Musa oleh Allah.
Untuk itu kita akan mengambil sebuah cerita yang sama-sama terdapat di didalam
Al Qur’an , yaitu kisah Abraham. Abraham adalah seorang yang dianggap telah
melahirkan 3 agama besar dari keturunannya. Ketiga agama ini sama-sama
mengklaim bahwa agama mereka yang diturunkan langsung dari Allah dengan
bukti kitab yang mereka miliki. Apakah kitab PL dapat dijadikan bukti sebagai
Taurat asli dari Allah SWT ?

Kita akan fokus pada kisah Abraham. Marilah kita buka hatinurani kita, kita buka
pemikiran kita yang terbaik dan sejujurnya untuk menilai kebenaran kisah
Abraham yang tertulis di dalam kitab Taurat versi Bible. Disini kita hanya
menggunakan hatinurani dan akal budi yang terdapat di dalam diri seorang
manusia yang paling dalam untuk membedakan nilai kebenaran dan kepalsuan.
Tentu saja kita tidak mungkin menerangkan secara historis, karena hal ini
mustahil untuk dilacak dan kita tidak mungkin kembali ke zaman purba.

Kita mulai dari awal kisah perjalanan Abraham kenegeri yang dijanjikan oleh Allah
sendiri.

1Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak
saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu
( Kej 12:1)

Allah menjanjikan negri (tanah) yang lebih baik bagi Abraham agar dapat
melanjutkan kehidupan bagi anak keturunannya yang akan berkembang biak
seperti banyaknya bintang-2 dilangit yaitu di tanah Kanaan itu ;
7Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan
memberikan negeri ini kepada keturunanmu. (kej 12:7)

17Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah
akan Kuberikan negeri itu (Kej 13:17)."

Kalau Ayat ini dari Allah, tentunya Allah tidak akan mengingkari janjinya, yaitu
sebuah tanah yang lebih subur untuk menghidupi anakcucunya kelak. Tetapi apa
yang terjadi ? Belum berapa lama Abraham menetap disana, masih belum
melahirkan Istrinya Sarai, belum ada Ismael dan belum ada juga Ishaq, tenyata
tanah yang dijanjikan oleh Allah tersebut mengalami bencana kekeringan dan
kelaparan? Bukankah Allah sendiri yang menyampaikan perjanjiannya, bukankah
tidak tertulis bahwa Abraham tidak berdo’a sebelumnya pada Allah, lalu kenapa
Allah melanggar janjinya sendiri? Seorang manusia masih bisa memegang
janjinya, tetapi Allah tidak konsisten dengan janjinya. Kenapa Allah
memerintahkan Abraham meninggalkan tanah Leluhurnya yang lebih subur
dibandingkan negeri Kanaan ini?

10Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di
situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu (kej 12 :10)”

Menurut logika dan akal budi yang baik dan benar , tidak mungkin Allah lebih
rendah dari sifat manusia yaitu tidak dapat dipegang jinji-janjinya. Padahal
Abraham sebelumnya tidak meminta Allah berjanji. Keterangan ayat ini seperti
sebuah propaganda bagi umat Yahudi bahwa keturunan Abraham yang sudah
dijanjikan tanah di daerah Kanaan itu.

Dari kitab kejadian ayat 10 diatas , maka wajar saja Abraham pergi meninggalkan
tanah yang dijanjikan tersebut, karena tanah itu tidak ada harapan untuk anak
cucunya. Bahkan Abraham berangkat meninggalkan negri itu, tanpa
menanyakannya pada Allah, tanpa meminta izin pada allah, tanpa memohon
dihilangkan bencana itu. Sepertinya Abraham pergi tanpa pesan kepada Allah.
Kemudian apa yang dialami oleh Abraham di negeri Mesir yang ternyata lebih
kaya dan lebih makmur daripada tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham ?
Menurut yang tertulis di dalam kitab Perjanjian lama yang dikira Taurat oleh
Pendeta ini, ternyata Abraham melakukan sebuah tindakan yang sangat
memalukan untuk ukuran seorang nabi yang akan menjadi contoh bapak dari
seluruh bangsa dibumi ini.

Karena takut dibunuh oleh Fir’un, maka Abraham membuat siasat besar. Abraham
menyuruh istrinya berbohong kepada Fir’un ;

12Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi
mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13Katakanlah, bahwa
engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku
dibiarkan hidup oleh sebab engkau."( Kej 12:12-13)

Sepertinya Abraham sudah tidak punya pegangan hidup lagi sehingga dia tidak
percaya lagi kepada Allah, dia ragu-ragu pada janji-janji Allah, dia
menggantungkan nasibnya pada hasil siasat yang sudah direncanakannya dengan
istrinya Sarai. Sepertinya Abraham lebih mementingkan jatah makanan daripada
mati kelaparan. Sepertinya perjanjian lama menempatkan karakter Abraham lebih
rendah dari seorang peminta-minta. Bahkan seorang pengemispun tidak akan
sudi menggadaikan istrinya kepada orang lain. Apakah ini sebuah kitab suci yang
menghormati seorang nabi. Apakah yang tertulis di dalam kitab perjanjian lama
itu merupakan keterangan asli dari kitab Taurat?

Apakah yang dialami oleh Abraham selama di negri Mesir itu? Ternyata siasat
yang dibuat oleh Abraham berjalan dengan mulus, bahkan Abraham dihadiahkan
banyak hewan peliharaan , harta benda dan budak-2 laki dan perempuan.

16Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu,


dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan
perempuan, keledai betina dan unta. (kej 12:16)”

Namun apa yang terjadi kemudian ? ternyata kebohongan besar Abraham sudah
bocor ke tangan Fir’un, sehingga Abraham dipanggil untuk dinterograsi oleh
Fir’un.

18Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini
terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? (Kej 12:18)
Kenapa Abraham baru mengaku setelah terdesak, bukankah seharusnya seorang
calon bapak bangsa-bangsa tidak akan melakukan kehinaan yang memalukan
tersebut? Kalau begini , apakah benar perjanjian Lama itu adalah kitab Taurat?
Lalu mengakulah Abraham , tetapi Abraham merasa tidak berdosa dan tidak
melakukan penipuan. Abraham membela dirinya dengan mengatakan bahwa dia
berkata benar, karena Sarai adalah adik tirinya ;

19Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi


isteriku? )kej 12:10)

Abraham tetap tidak bergeming untuk mengakui kebohongannya. Bagaimana


seorang bapak banga-bangsa bisa bemain kata-kata serendah itu? Bukankah
niatnya sebelumnya adalah untuk menghindari kematian demi mendapatkan
jatah makanan dari raja manusia yang lebih ditakutinya dari pada Allah?
Bagaimana keterangan ini bisa masuk kedalam Perjanjian Lama yang katanya
adalah Taurat. Sepertinya perjanjian lama telah menempatkan seorang nabi
sebagai karakter yang lebih rendah dari seorang pengemis, bahkan seorang
perampok sendiripun tidak akan melakukan kelicikan seperti Abraham tersebut.

Tetapi ternyata raja manusia lebih baik dari pribadi seorang bapak bangsa-bangsa.
Fir’un membebaskan Abraham tanpa syarat , serta menyerahkan semua barang ,
harta dan budak yang pernah diberikan pada Abraham. Cerita ini menempatkan
Abraham sebagai manusia biasa , bukan sebagai bapak bangsa-bangsa. Kenapa
kitab perjanjian lama menempatkan Abraham pada kondisi yang begitu buruk ?
Jelaslah bahwa kitab perjajian lama bukan kitab taurat yang diturunkan oleh Allah
kepada Musa. Tidak mungkin Allah memilih Abraham sebagai nabi yang dijanjikan
untuk mendapatkan kemualiaan itu, tetapi dihinakan di dalam catatan kitab PL.

Apa yang terjadi setelah Abraham tidak diterima lagi di Mesir yaitu setelah
Abraham dideportasi oleh pemerintah Mesir dengan cara yang halus.

Setelah Abraham sudah kaya raya dari hasil peternakannya hadiah Fir’un, lalu
Abraham bertanya kepada Tuhan kenapa dia belum juga diberi anak seorangpun
;
2Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku,
karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi
rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." 3Lagi kata Abram: "Engkau tidak
memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli
warisku." (Kej 15:2)

Keterangan ayat diatas menunjukan bahwa Abraham kuatir , apabila tidak punya
anak maka hartanya yang banyak itu akan dinikmati oleh pembantu dan budak-
budaknya. Abraham tidak tulus berdo’a kepada Allah, beliau hanya merasa
ketakutan dan cemas kalau hartanya jatuh pada orang lain. Kemudian Allah
menjawab permohonan Abraham ;

4Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan
menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli
warismu.(Kej 15:4)”

Didalam keterangan ayat diatas, sudah ada ketentuan dari Allah kepada Abraham
bahwa dia akan mendapatkan seorang anak, tetapi anak yang akan lahir tersebut
tidak akan mempunyai hak-hak sebagai anak terhadap Bapaknya, artinya anaknya
itu akan kehilangannya hak sebagai anak. Anak yang dimaksud oleh ayat ini
adalah anak bibologis saja. Seorang anak tidak mempunyai hak terhadap
bapaknya, sehingga kelak anak ini boleh dibuang tanpa diberikan haknya ,
begitulah ketentuan Allah yang berlaku untuk bapak segala bangsa ini. Sebuah
ketentuan ayat yang aneh. Bagaimana mungkin Allah sendiri yang menciptakan
perbedaan dalam hirarki sebuah keluarga. Artinya yang menciptakan perbedaan
kasta dan perlakuan tidak adil di dalam keluarga bersumber dari Allah.
Sepertinya Allah bukan merupakan sosok yang mampu berbuat adil dan
memberikan contoh persamaan hak kepada umat manusia, khususnya kepada
Abraham yang akan ditunjuk sebagai panutan bagi seluruh manusia. Ayat ini
benar-benar ngawur. Tidak sejalan dengan pemikiran hatinurani manusia yang
menyababkan perbedaan kasta di dalam kebudayaan manuia. Tentu saja umat
Kristen tidak mampu membantah ayat ini, karena tertulis atas firman Allah.
Padahal kontek ayat ini adalah untuk menghalangi perdebatan dari umatnya.
Hanya orang yang punya keberanian dan logika yang jernih mampu menentang
ayat ini. Bukankah peradaban manusia sepanjang sejarah terus berusaha
memperjuangan persamaan Hak azazi? Tetapi keterangn PL ini bertentangan
dengan perjuangan manusia beradab. Bagaimana Abraham memberikan contoh
yang baik sebagai bapak bangsa-bangsa kalau dia sendiri tidak dapat berbuat adil
di dalam keluarganya sesuai dengan perintah Allah ? jadi ketentuan ayat ini
benar-benar cacat secara akal budi. Jelas bahwa ayat tersebut bukan buatan Allah
, tetapi sebuah propaganda untuk membangga-banggakan sesuatu kaum.

Singkat cerita, Abraham pun mengawini seorang budak yang dibawanya sebagai
hadiah dari Frir’un yang bernama Hagar. Pada masa kehamilnya , Hagar
mendapat tekanan dari Sarai, istri tua Abaraham, karena tabiat hagar yang
dipandang tidak menunjukan kesopanan sebagai pembantu dimata Sarai,
sehingga Hagar sempat diusir. Hagar dipandang sebagai pembantu yang tidak lagi
hormat kepada bekas majikannya sehingga membuat Sarai Iri dan tersinggung.
Lalu Hagarpun diusir oleh Sarai ;

“4Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu,
bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. ( kej 16:4)

PL tidak menjelaskan bentuk ungkapan memandang rendah yang diperlihatkan


oleh Hagar kepada majikannya itu. Ketika Abraham menerima laporan dari istri
tuanya Sarai, Abraham pun menyerahkan Hagar kepada keputusan Sarai ;

6Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah


kepadanya apa yang kaupandang baik. (kej 16:6)

Setelah mendapat izin dari Abraham, maka Sarai langsung menindas bekas
pembantunya itu ;

“6Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah


kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari
meninggalkannya. (kej 16:6)

Pertanyaannya adalah ; perkataan dan penghinaan apakah yang dilontarkan oleh


Sarai kepada Hagar sehingga Hagar memilih lebih baik pergi meninggalkan rumah
suaminya dari pada tetap berada di tempat itu. Bukankah selama menjadi
pembantu pada keluarga terhormat itu, Hagar masih mampu hidup bersama
mereka? namun setelah dia dijadikan istri, Hagar justru memilih minggat dari
rumah bekas manjikan tersebut. Tentu saja penindasan yang dialami Hagar lebih
berat dirasakannya dibandingkan ketika dia masih menjadi budak, sehingga dia
memilih lebih baik keluar saja. Bukankah seharusnya mereka memperlakukan
Hagar lebih baik dari pada sebelumnya? Tetapi Abraham sebagai suami dari
Hagar tidak menunjukan sifat keadilan dan kasih sayangnya sama sekali. Hal ini
menunjukan bahwa Abraham dan istrinya Sarai tidak lebih baik dari manusia
kebanyakan yang tidak pantas menyandang gelar Bapak dari segala Bangsa.
Bagaimana kitab perjanjian lama menceritakan kemelut rumah tangga dari
seorang nabi yang tidak dapat mencerminkan penghargaan terhadap nilai-nilai
kemanusiaan. Sekurang-kurangnya memberikan suri teladan bagaimana
sebaiknya memperlakuan seorang istri yang berasal dari kasta yang lebih rendah.
Hal ini sama saja dengan penghinaan dan perbedaaan derajat dalam rumah
tangga yang mulai dicetuskan oleh seorang Nabi dengan izin Allah. Begitulah yang
diceritakan oleh Kitab Perjanjian Lama, sebuah kisah dongeng yang tidak
menyentuh harkat keadilan dan kemanusiaan.

Ketika Hagar sudah jauh meninggalkan rumah tangisan itu, lalu datanglah
malaikat Tuhan yang merasa kasihan kepada Hagar;

“9Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu,


biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya (kej 16:9) “

Ternyata kedatangan Malaikat Tuhan tersebut bukan untuk menghibur kesedihan


Hagar, tetap menyuruh Hagar kembali kerumah majikannya. Kedatangan Malaikat
Tuhan itu bukan untuk mencarikan jalan keluar seperti mencarikan penginapan
atau tempat lain yang lebih baik. Tetapi justru menginginkan Hagar tersiksa lagi
dan membiarkan saja tindakan tidak adil, dia dipaksa menerima nasibnya dengan
pasrah tanpa boleh menunjukan sikap penentangan. Nasibnya sudah ditentukan
sebagai budak yang harus menerima nasib sebagi budak. Semua pihak telah
merampas hak-hak seorang istri yang berasal dari kasta yang rendah. Bukan
hanya Sarai saja yang memperlakukan Hagar sedemikian hina, tetapi Abraham
juga, ditambah lagi Malaikat Tuhan yang tentunya sengaja dikirim oleh Tuhan
untuk mencegah kepergian bekas Budak tersebut, dan ada lagi yang paling
berkuasa untuk meniadakan hak-hak Sarah dan anaknya sebagai orang yang
tertindas yaitu Allah, sebagaima yang telah disampaikan pada ayat di atas (kej
15:4). Bagaimana mungkin ayat-ayat yang tidak menunjukan nilai moral yang
dapat dicontoh tersebut berada di dalam Kitab Perjanjian Lama? benarkan Kitab
perjanjian lama ini merupakan kitab Taurat yang asli. Sepertinya cerita ini tidak
lebih dari sebuah dongeng yang tidak pantas diceritakan kepada anak didik karena
akan merusak budipekerti mereka nantinya. Bahkan Malaikat Tuhan telah
memberi gelar kepada calon anak Hagar itu dengan gelar “keledai liar” ;

12Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu;
tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan
dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya. (kej 16:12)”

Artinya anak Hagar nantinya menjadi seorang yang suka berperang dan
melakukan pertumpahdarahan, termasuk kepada saudara-saudaranya sendiri.
Kitab Perjanjian lama ini menempatkan keturunan Abraham, dari Ismael sebagai
keturunan bangsa penyamun yang dipandang rendah dan hina. Beginilah
pandangan Kitab Suci Bibel yang sudah menanamkan bibit penghinaan dan
merendahkan keturunan Abraham. Bagaimana mungkin sebuah kitab yang
seharusnya tidak memberitakan sebuah bibit perbedaan ras dan bibit penghinaan
kepada keturunan Abraham, ternyata benar-benar ada. Sepertinya kitab
Perjanjian Lama ini merupakan sebuah propaganda untuk membangga-banggakan
keturunan Abraham dari anaknya yang lain yaitu ishak. Jadi siapa sebenarnya
yang menulis Kitab PL ini, kaum Yahudi atau Kaum Nasrani?

Akhirnya Hagarpun melahirkan anaknya dan diberi nama Ismael. Ketika Ismael
Lahir umur Abraham sudah 86 tahun ;

15Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai
anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. 16Abram berumur delapan puluh enam
tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.(kej 16:15-17)”
Ketika ismael berusia 13 tahun, atau ketika Abraham berusia 99 tahun, Allah
datang menemui Abraham untuk mengadakan perjanjian ;

1Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN


menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang
Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. (kej 17:1)”

Adapun isi perjanjian yang terpenting adalah ; seluruh keturunan Abraham yang
laki-laki harus disunat pada umur 8 hari. Abrahampun menyunat anaknya Ismael
pada usia 13 tahun, ketika perjanjian itu disepakati.

“13Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus
disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
14Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya,
maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah
mengingkari perjanjian-Ku." (kej 7:13) “

Ayat ini menampilkan sebuah perjanjian yang teguh dan kekal antara Abraham
dengan Allah, yaitu perjanjian tentang disunat untuk seluruh keturunan Abraham
yang laki-laki. Keterangan ayat dapat diterima sesuai dengan bukti-bukti yang ada.
Bahkan Yeus pun disunat pada umur 8 hari. Tetapi ketentuan disunat ini sudah
tidak berlaku lagi untuk selama-lamanya bagi penganut agama Kristen sekarang
ini, padahal umat kristen masih mengaku sebagai keturunan Abraham.

2Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu,


Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. 3Sekali lagi aku katakan kepada
setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum
Taurat. 4Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum
Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (Galatia 5:2)”
Ternyata Paulus menghapus hukum sunatan yang ada di dalam Taurat tersebut.
Bahkan dia melarang hukum sunat itu dengan mengulanginya kalimatnya untuk
memberikan tekanan dan ancaman sebanyak 2 kali; jika orang kristen yang
bersunat maka dia wajib melaksanakan seluruh hukum Taurat sedangkan bagi
yang tidak bersunat cukup Yesus menanggungnya. Begitu juga sebaliknya, jika
umat Kristen mengharapkan kebenaran dengan menjalankan hukum Taurat,
maka tidak ada harapan baginya untuk kembali pada kasih karunia Yesus.

Kalau umat nasrani tidak bersunat, lalu kenapa Yesus yang harus menanggung?
Bukankah Yesus sendiri disunat ? bahkan Yesus menyatakan tidak melenyapkan
satu titikpun hukum didalam kitab Taurat. Yesus disunat karena dia menghargai
dan menghormati perjanjian Abraham dengan Allah tersebut, walaupun secara
biologis Yesus bukanlah keturunan Abraham. Tetapi, Paulus yang tidak pernah
disebutkan namanya di didalam Taurat, tiba-tiba membatalkan seluruh hukum-
hukum Taurat. Sepertinya kitab pejanjian Lama dan Kitab perjajian Baru tidak
dapat dipegang ketentuan-ketentuannya. Hal ini menunjukan bahwa kitab
perjanjian Lama bukan Taurat dan kitab perjanjian Baru bukan pula kitab Injil.

Pada saat perjanjian sunatan itu, diwajibkan kepada Abraham beserta seluruh
keturunannya, maka Allah menobatkan nama baru Abraham yang sebelumnya
bernama Abram. Abraham berarti bapak sekalian bangsa. Begitu juga dengan
Sarai sudah diganti namanya oleh Allah dengan Sara;

4"Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa
sejumlah besar bangsa. 5Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham,
karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa (kej 17:4).

“15Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai,


janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya (kej 17:15).

Artinya Abraham dan Sara juga akan memiliki keturunan yang banyak . Pada saat
penobatan itu, pasangan dari Abraham dan Sarai masih belum memperoleh anak
sama sekali. Tetapi penobatan itu sudah dilaksanakan oleh Allah. Sebuah
pertanyaan yang menggelitik; kenapa Abaraham dan Sarah sudah dinobatkan
sebagai bapak sekalian Bangsa padahal pada saat yang bersamaan, mereka belum
punya anak sama sekali. Sebaliknya selama 13 tahun Abraham sudah menjadi
Bapak dari istrinya Hagar, selama itu pula Allah tidak mengakui Abraham sebagai
seorang Bapak. Sebuah perbedaan yang aneh sekali.

Sepertinya ayat ini sengaja dimasukkan dengan tujuan propaganda yang


menunjukkan pengakuan yang syah dari sang pencipta. Jelas sekali ayat ini hanya
menonjolkan sebuah perbedaan kasta dalam sebuah keluarga. Seolah-olah
penulis kitab PL ini berlindung dibalik pengakuan Allah. Seolah-olah Tuhan sendiri
yang mengakui “hanya Ishak yang belum lahir itulah anak Abraham”, sementara
Ismael harus dibuang. Kenapa kitab PL banyak mengandung bibit perbedaan
kasta. Apa mungkin Allah berada dibalik perbedaan kasta itu? Mustahil bukan ?
Tentu saja umat Kristen tidak mampu mebantah keterangan ini karena konteks
ayat tersebut adalah Firman Allah.

Menjelang kehamilan Sara, Tuhan datang bertamu bersama 2 orang malaikat


ketenda Abraham. Abraham menyuruh Sara dan beberapa pembantunya untuk
menyiapkan hidangan yang terbaik yaitu berupa daging bakar dan roti;

“6Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata:


"Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti
bundar!" 7Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak
lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang
bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. (kej 18:6-7)”

Setelah hidangan itu telah disajikan Abraham dihadapan tamunya, maka


makanlah tamu-tamunya itu ;

“8Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu
dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah
pohon itu, sedang mereka makan. (kej 18:8)’

Bagaimana mungkin Malaikat dan Tuhan, sama-sama menikmati hidangan yang


disuguhkan oleh manusia, sementara tuan rumah hanya berdiri saja memandang
tamunya sedang makan. Keterangan ini sangat sulit diterima dengan akal sehat.
Apa mungkin Malakat dan Tuhan membutuhkan makanan yang dihidangkan oleh
Abraham itu. Apa mungkin Malaikat dan Tuhan perlu makan agar tenaganya pulih
dan segar lagi setelah makan untuk melanjutkan perjalanannya. Cerita yang
tertulis di dalam Kitab perjajian Lama ini seperti sebuah cerita dongeng saja.
Seperti cerita dongeng manusia zaman animisme dan primitif.

Tentu saja Al Qur’an membantah cerita khayalan ini ;

“ (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap
mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut," dan mereka memberi kabar
gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).(QS
51:28)”
Al qur’an memperbaiki cerita dongeng yang disampaikan oleh Perjanjian Lama
itu. Dan menegaskan bahwa Abraham ketakutan ketika melihat gelagat dari
tamunya tidak mau menjamah makanan yang disuguhkan oleh Abraham.
keterangan dari Al Qur’an ini lebih masuk akal . keterangan Bible seperti dibuat-
buat.
Bahkan keterangan bible yang mengatakan yang datang itu adalah Allah diantara
Malaikat, diperbaiki oleh keterangan Al Qur’an. Sebenarnya yang datang itu
hanyalah para malaikat saja;

" Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-


malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu
mengucapkan: "Salaaman", Ibrahim menjawab: "Salaamun" (kamu) adalah
orang-orang yang tidak dikenal (Qs Adz Dzaariyaat 51:24-25)".

Masih banyak lagi yang tertulis di dalam Kitab perjanjian lama yang tidak realistis
dan tidak bisa diterima logika berpikir sehat. Sepertinya Kitab perjanjian Lama ini
merupakan catatan yang dikumpulkan dari cerita legenda yang digabung dengan
cerita keagamaan.

Kita lanjutkan cerita kisah Abraham , dan kita akan temukan banyak lagi
keterangan yang tidak masuk akal . Pada saat menyantap jamuan dan hidangan
bersama itu, Allah menanyakan tentang istri Abraham . Allah memberikan khabar
bahwa istrinya akan hamil dan akan memperoleh anak tahun depan. Berita itu
didengar oleh sarah di dalam tenda, lalu Sara tertawa merasa tidak percaya ;
“12Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku
sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua? (kej 18:12)"

Rupanya tertawa Sara terdengar oleh Allah, sehingga Allah balik bertanya pada
Sara ;

“13Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa?


(kej 18:13)

Tetapi sara membantah bahwa dia tertawa ;

5Lalu Sara menyangkal, katanya: "Aku tidak tertawa," sebab ia takut; tetapi
TUHAN berfirman: "Tidak, memang engkau tertawa!"(kej 18:5)

Kenapa Sara menipu dirinya sendiri? bukankah Allah lebih tahu kalau Sara tertawa
walau didalam hati sekalipun. Tetapi Sara menyangkalnya juga . Ini menunjukan
bahwa Sara tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Tertawanya Sara bukan karena
dia senang atau terkejut dengan berita kehamilan itu, tetapi Sara tidak
mempercayai berita itu dan Sara mentertawakan berita dai Allah itu. Apakah
karena ketidak jujuran Sara itu, maka anaknya diberi nama Ishaq (Ishaq =
tertawa)? Cerita lelocon apa lagi yang dimasukkan kedalam kitab Perjanjian Lama
ini. Tidak ada yang lucu ! Tetapi kenapa Sara ketawa?. Sepertinya pembaca
diarahkan untuk mempercayai bahwa kata “Ishaq” artinya tertawa.

Ada-ada saja ide penulis Bible ini.

Pada acara perjamuan itu, Allah berpikir-pikir untuk menyampaikan sesuatu


rencana kepada Abraham, yaitu rencana penghancuran negri Sodom dimana
keponakan Abraham , “Lot” , tinggal disana.

“ 17Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa


yang hendak Kulakukan ini?( kej 18:17)”.

Rupanya Allah bingung , seperti layaknya pikiran manusia. Tetapi anehnya lagi,
kebingungan Allah ditulis didalam kitab PL. jadi siapakah yang megatakan Allah
bingung ini? Atau siapakah yang menceritakan perasaan Allah di dalam kitab PL
ini? Keterangan ini menempatkan Allah pada kemampuan dan tabiat yang sama
dengan manusia, keterangan ini sama saja dengan melecehkan keputusan Allah.
Sepertinya Allah mengalami keragu-raguan dalam mengambil sebuah keputusan.
Apakah mungkin Allah bertanya dan meminta persetujuan dulu kepada Abraham?
jelas cerita kitab PL merupakan hasil khayalan manusia bukan Tuhan yang
membuat cerita ini.

Kemudian Allah memutuskan untuk memberitahu Abraham ;

“ 18Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta


berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19Sebab
Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada
keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan
melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham
apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."(kej 18:18-19)”.

Kalau dibaca Konteks ayat diatas secara keseluruhan, maka kalimat diatas tidak
menunjukan bahwa kata-kata itu berasal dari petunjuk Allah. Kelihatan kalimat
tersebut merupakan pemahaman , pesan atau opini dari si penulis kitab. Kalimat
“sebab Aku telah memilih dia,” ; kalimat ini ibarat katahati Allah yaitu Allah
berkata-kata didalam pikirannya atau didalam hatinya sendiri. Padahal pada ayat
sebelumnya, Allah belum menyampaikan pikirannya kepada Abraham, tetapi
pembaca sudah mengetahui jalan pikiran Allah. Pembaca lebih dulu mengetahui
jalan pikiran Allah dari pada Abraham. Cerita ini mirip sebuah skenario cerita
detektif karangan SherlockHomes atau Nick Carter saja. Kenapa Allah harus
menyampaikan sesuatu yang sudah ditetapkan sebelumnya kepada para
pembaca, bukankah pembaca sudah mengetahui bahwa Allah sudah menetapkan
Abraham sebagai bapak banga-bangsa dan janji-janji yang lainnya pada ayat
sebelumnya?

Ini merupakan sebuah pembuktian kisah Abraham bukanlah Firman dari Allah
SWT, tetapi merupakan skenario cerita yang dirancang untuk tujuan tertentu
demi kebangga bangsa si penulis.

Seorang bapak bangsa-bangsa tentu saja harus memiliki sifat yang baik-baik
seperti yang disampaikan oleh Allah didalam hatinya itu, seperti ; kebenaran,
kejujuran, keadilan dan rasa kasih sayang. Tetapi keterangan ayat ini justru
bertolak belakang dengan sifat Abraham yang kita ketahui pada ayat sebelumnya
(pembohong, tidak adil pada istrinya Hagar , tidak mempunyai rasabelas kasihan
pada istrinya Hagar yang lagi hamil sehingga dibiarkannya minggat, tidak
melaksanakan sunatan pada orang lain selain daripada keluarga dan budak
dirumahnya).

Apa yang akan disampaikan oleh Allah kepada Abraham?

20Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang


tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21Baiklah Aku
turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh
kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."

Ternyata Allah menyampaikan berita tentang rencana untuk menghancurkan


kota Sodom dan Gomora. Kenapa Allah hendak menghancurkan kota itu?
Jawabannya terdapat pada tulisan ayat itu sendiri yaitu tentang gossip yang
diterima Allah “banyak keluh kesah orang tentang Sodom”, sehingga Allah ingin
membuktikannya sendiri “Baiklah Aku turun untuk melihat”. Apa benar Allah
tidak mengetahuinya sama sekali, apa benar Allah harus turun untuk melihat
langsung ke kota itu? Sepertinya keterangan ayat ini merendahkan kebesaran
Allah , penulis kitab ini mengira kemampuan Allah sama saja dengan manusia.
Jelas bahwa cerita ini merupakan pelecehan terhadap kebesaran Allah. Kitab
perjanjian Lama tidak menghargai dan tidak menjunjung tinggi kebesaran dan
keagungan Allah.

Ketika Abraham mendengar penjelasan Allah itu, maka tersentuhah hati nurani
Abraham untuk menasehati Allah ;

23Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang
benar bersama-sama dengan orang fasik? 25Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk
berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik,
sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang
demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?
(kej 18:23, 25)
Ternyata ayat ini menjelaskan tentang sifat welas asih Abraham yang lebih baik
dari pada Allah. Ternyata Abraham mempunyai pandangan lebih kasih dan lebih
adil dari pada Allah, sehingga Abraham langsung menasehati Allah. Kenapa ayat
ini mampu memperlihatkan kemampuan Abraham yang mempunyai belas
kasihan kepada umat manusia? Bukankah terhadap istri dan calon anaknya sendiri
dia abaikan sebelumnya? Bukankah PL menggambarkan sifat Abraham
sebelumnya tidak sehebat ini? Bukankah seharusnya Allah yang lebih mengerti
dengan keputusannya? Tetapi pada ayat ini Abraham lebih mulia dan adil
daripada Allah. Kitab perjanjian lama ternyata tidak konsisten menggambarkan
tentang karakter manusia dan kebesaran Allah. Benar-benar amburadul cerita di
dalamnya.

Untuk mengurangi kemungkinan banyaknya orang baik yang ikut mati dikota itu,
maka Abraham menawarkan sebuah solusi kepada Allah. Maka terjadilah
peristiwa tawar menawar antara Abraham dengan Allah. Pada penawaran
pertama, Allah menyatakan kalau kurtang dari 50 orang di kota itu yang berbuat
baik, maka Allah akan tetap menghancurkan kota itu ;

26TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom,
Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (kej 18:26)

Tetapi angka itu terlau tinggi buat Abraham, maka Abraham mengajukan
penawaran. Dalam hal ini Abraham berpikir keras bagaimana cara menurunkan
angka hingga mencapai angka paling rendah ;

28Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau
akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?" Firman-Nya: "Aku tidak
memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana."( Kej 18:28)”

29Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: "Sekiranya empat puluh didapati di


sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu."
30Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga
puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga
puluh di sana." 31Katanya: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada
Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan
memusnahkannya karena yang dua puluh itu." 32Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka,
kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku
tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu. (Kej 18:29-32)”

Dari kontek ayat diatas, terlihat bahwa Abraham lebih pintar melakukan negosiasi
perundingan dengan Allah. Abraham mengajukan penurunan secara bertingkat
mulai dari 50 orang , dikurangi 5 menjadi 45, lalu dikurangi 10 menjadi 30,
dikurangi lagi 10 menjadi 20 dan dikurangi lagi 10 hingga menjai 10. Maka
perundingan itu menyepakati angka 10 sebagai keputusan akhir ;

32Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja.
Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya
karena yang sepuluh itu (kej 18:32)

Ternyata Abraham sangat pintar mengakali jalan pikiran Allah. Abraham tidak
langsung meminta penurunan angka dari 50 orang langsung menjadi angka 10
orang, tetapi Abraham mengajak Allah berdialoag sambil mengurangi angka itu
sedikit demi sedikit. Kalau Abraham meminta langsung menjadi angka 10 tentu
Allah akan menolaknya. Terlihat jelas bahwa kitab perjanjian lama ini,
menempatkan karakter Allah seperti seorang kakek tua jompo yang tidak pandai
berhitung. Seorang kakek yang sudah pikun. Sehingga Abraham mengakali jalan
pikiran kakeknya dengan cara menguranginya sedikit demi sedikit.

Rasanya cerita picisan ini tidak pantas tertulis didalam sebuah kitab suci. Jelas
sekali bahwa cerita ini bukan sebuah fakta, tetapi kisah dongeng dari pemikiran
bangsa primitive.

Kemudian para Malaikat Tuhan sudah lebih dahulu sampai di kota Sodom.
Mereka menemui keponakan Abraham disana yang bernama Lot. Ketika para
malaikat berwajah elok rupa itu berjalan ditengah kota itu, kaum laki-laki yang
mengidap penyakit kelainan sex (homosex) mengikutinya. Ternyata rumah Lot
yang dituju. Maka berbondong-bondonglah kaum pria kota itu hendak mengambil
dan berbuat senonoh pada tamu Lot. Tentu saja Lot mengetahui rencana mereka
yang hendak melecehkan tamunya. Lalu Lot menawarkan cara lain agar mereka
tidak mempermalukan Lot dihadapan tamu-tamunya ;
7dan ia berkata: "Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. 8Kamu tahu,
aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki,
baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang
kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka
memang datang untuk berlindung di dalam rumahku." (kej 19:7)

Dari diaolog cerita diatas, ternyata Lot memilih untuk menyerahkan 2 orang anak
gadisnya kepada orang banyak yang ada didepan rumahnya dengan cara begitu
saja. Di dalam ayat diatas tidak dijelaskan , apakah Lot mengajukan sebuah
persyarat sebelum memberikan anak gadisnya kepada orang banyak itu. Kalau lot
menyerahkan anak gadisnya tanpa persyaratan, berarti Lot memberikan kedua
anaknya kepada segerombolan serigala yang akan melumat anak gadisnya.
Rasanya tidak mungkin Lot menyerahkan kedua anaknya tanpa meyakini
keselamatan anaknya terlebih dahulu. Padahal Lot mengetahui bahwa niat
kaumnya adalah untuk berzina dengan tamunya. Kalau anaknya dilepas tanpa
sebuah persyaratan , maka dapat dibayangkan anak Lot pun akan diperkosa
secara beramai-ramai. Ini tidak masuk diakal. Artinya sama saja mencegah
perbuatan maksiat dengan cara menawarkan maksiat baru, walaupun anak
gadisnya rela menerima cara tersebut secara baik-baik. Tetapi mustahil anak gadis
itu mau diserahkan kepada segerombol serigala rakus itu.

Singkat cerita, para malaikat pun menyelamatkan Lot dan keluarganya kecuali
istrinya yang ikut mati pada bencana itu;

26Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi
tiang garam (kej 19:26)

Ayat ini menyatakan bahwa Istri Lot mati gara-gara dia menoleh kebelakang
sehingga dia mati seperti tiang garam. Kalau istri Lot mati seperti tiang garam,
bisa saja karena kedinginan atau bisa juga karena hembusan api yang sangat
kencang dan panas. Tidak mungkin karena ditimpa bebatuan atau terlempar
bergulingan. Besar kemungkinan kematian istri lot bukan karena dia menoleh
kebelakang sehingga tidak sempat mengelak dari bencana itu. Kalau dia menoleh
lalu kena lemparan batu maka dia tidak akan seperti tiang garam, tetapi tubuhnya
akan hancur dan berdarah-darah. Jadi tidak bisa diterima akal sehat kalau istri Lut
mati seperti tiang garam gara-gara menoleh kebelakang. Yang jelas Istri Lot tidak
sempat lagi mengelak dan lari dari terpaan hujan debu panas atau api panas. Jadi
bukan gara-gara terlambat mengelak karena menoleh kebelakang. Alasan ini
seperti sebuah alasan yang dicari-cari untuk pembenarannya. Kalau membaca
cerita sebelumnya, penyebab kematian istri Lot tidak sesuai dengan hasil
kesepakatan Abraham dengan Allah. Sebelumnya Allah telah berjanji akan
menghancurkan kota sodom apabila hanya ada 10 orang saja yang baik-baik.
Ternyata yang baik-baik hanyalah Lot dan 2 orang putrinya saja. Karena itu, dialah
yang diselamatkan, sedangkan istri Lot tidak diselamatkan , kerana dia tidak
termasuk orang yang baik-baik. Jadi jelaslah bahwa cerita Abraham didalam kitab
perjanjian lama (PL) bukan merupakan kisah nyata , tetapi merupakan cerita
karangan manusia yang hanya mampu mengira-ngira sesuai dengan cerita dan
legenda pada masa itu. Ini dapat dibuktikan dari penjelasan di dalam cerita itu
sendiri dimana satu nilai kebenaran dipatahkan oleh ketidak benaran yang
lainnya, sebuah ilusi dibantah lagi oleh kebenaran yang lainnya. Jadi jelaslah
bahwa kisah Abraham di dalam kitab perjanjian lama hanya rekaan pengarang
atau penulisnya sesuai dengan tujuannya dan kebanggannya bangsanya semata.

Selanjutnya pergilah Lot bersama 2 orang anak gadisnya kesebuah Goa dan
tinggallah mereka di dalam Goa itu.

30Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya
perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia
dalam suatu gua beserta kedua anaknya. (kej 19:30)

Alasan Lot tidak berani keluar dari goa karena dia dianggap trauma terhadap
bencana yang mengerikan itu , begitu juga dengan kedua anaknya.

Tetapi kedua anak gadisnya itu mempunyai sebuah rencana masa depan yang
sangat cemerlang. Dia ingin medapatkan anak, tetapi kaum laki-laki di kota
Sodom sudah musnah. Anak gadis Lot juga tidak berminat lagi pada pria kota
Sodom yang memiliki kelainan sex (homosex). Maka mereka berencana
menggarap Bapaknya sendiri. Mereka yakin bahwa Bapaknya adalah lelaki jantan
dan perkasa dibanding kaum homo di Sodom..
31Kata kakaknya kepada adiknya: "Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di
negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.(kej 19:31)

Anak gadis Lot yang tertua mempunyai alasan yang cukup realistis untuk
mendapatkan anak dari Bapaknya sendiri, sekaligus melanjutkan keturunan
mereka juga.

Maka kedua anak perempuan itu berhasil mewujudkan impiannya untuk tidur
dengan Bapaknya secara bergiliran dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika
anaknya itu tidur dan ketika ia bangun;

“34Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: "Tadi malam aku telah
tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah
engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah
kita." 35Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum
anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu
tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun (kej 19:33-35)”.

Kemudian kedua anak perempuan Lot tersebut hamil dan melahirkan anak-anak
bagi keduanya ;

“36Lalu mengandunglah kedua ana;k Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”.

Kalau kita baca cerita kitab perjanjian lama ini, banyak sekali kejanggalan dan
keanehan yang semuanya itu seolah-olah sudah dirancang untuk menghina dan
memojokkan keturunan nabi Lot untuk kepentingan propaganda kebanggaan
suatu kaum dan menghina kaum yang lainnya. Diantara hal-hal yang janggal
tersebut antara lain adalah;
- Lot dan keluarganya merupakan manusia-manusia terpilih yang diselamatkan
oleh Allah dari bencana penghacuran kota Sodom akibat perbuatan sek
menyimpang (homoseksual). Bahkan Lot bersedia menyerahkan putri-putrinya
yang masih perawan dengan resiko apapun. Tetapi Bible mengatakan bahwa Lot
dan putrinya sendiri telah melakukan perbuatan sek yang lebih menyimpang lagi
dari pada kaumnya di Sodom yaitu melakukan hubungan sek dengan anak
kandungnya sendiri. Keterangan Bible tersebut merupakan sebuah peghinaan
terhadap nabi yang tidak mungkin melakukan hal tersebut. Sekiranya Lot
melakukannya secara tidak sadar, karena mabuk habis meminum anggur, maka
tentu Allah akan memberinya peringatan dan menyelamatkannya dari bencana
tersebut karena Allah sudah pernah menyelamatkan Lot dari bencana yang lebih
besar lagi dari itu yaitu dengan mendatangkan malaikat ke rumahnya.
- Tidak mungkin seorang pria yang sedang tertidur nyenyak sanggup melakukan
hubungan sek dengan seorang wanita walau bagaimanapun seksinya wanita itu,
karena setiap laki-laki terlebih dahulu harus membangkitkan hasratnya agar
terjadi ereksi untuk sanggup melakukan penetrasi, apalagi bagi orang setua Lot
tentu membutuhkan tenaga ektra untuk melakukannya. Lagipula menurut
keterangan Bible pada kej 19:33 , Lot tidak mengetahui kalau anaknya tidur
dekatnya;
“dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun
(kej 19:33) ”.

Namun selanjutnya, Bible menerangkan bahwa kedua anak gadisnya itu menjadi
hamil dan melahirkan anak dan sekaligus cucu dari Lot ;
“36Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka (kej 19:36)”.
Hal ini merupakan suatu keterangan yang tidak dapat diterima dengan akal sehat
dan akal budi manusia yang baik-baik.
- Lot tidak mungkin sudi bermabuk-mabukan bersama anaknya. Setelah anaknya
memberi Bapaknya minuman anggur, tidak ada keterangan dalam Bible yang
menjelaskan bahwa Lot menjadi mabuk dengan minuman anggur yang diberikan
oleh anaknya itu, yang terjadi kemudian adalah dia tertidur dan tidak mengetahui
kalau anaknya tidur bersamanya;
“ dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia
bangun (kej 19:33)”.
Tetapi kenapa Bible mengatakan bahwa ; ““36Lalu mengandunglah kedua anak Lot
itu dari ayah mereka (kej 19:36)”. Ini merupakan skenario yang tidak dapat
diterima oleh akal-budi , tetapi bisa saja ini merupakan sekedar cerita iseng dari
penulis kitab PL dari penulis bangsa Yahudi, sehingga menambah urutan daftar
kepalsuan Bible.

Apakah yang terjadi pada Abraham dan istrinya, ketika terjadi bencana di sosom
dan gomora itu? Pada saat bencana Sodom dan Gomora itu, terpakasa Abraham
mengungsi ke tanah Negeb sebagai pengungsi .
Kembali Abraham mengulangi siasat penipuan yang sama. Mungkin Abraham
tidak mempunyai siasat yang lainnya yang lebih jitu, sehingga dia menggunakan
jurus lamanya untuk menaklukkan hati raja-raja.

“2Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: "Dia saudaraku,"
maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara. (Kej 20:2)”.

Kedatangannya ke negri Negeb bersama Istrinya yang cantik jelita menyebabkan


raja dinegri negeb itu hendak mengambil Sarai sebagai istrinya. Tetapi kembali
kebohongan Abraham terbogkar, seperti biasa, raja Abimelekh meminta
pengakuan Abraham. tetapi sebelumnya Abraham sudah diamankan oleh Allah.
Allah menakuti-takui Abimelekh di dalam mimpinya supaya tidak mengawini istri
seorang nabi.

“Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta
berfirman kepadanya: "Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah
kauambil itu; sebab ia sudah bersuami." (kej 20:3)

Sebuah pertaanyaan yang menggelitik, kenapa Allah membela Abraham mati-


matian padahal Abraham telah memberikan keterangan palsu karena takut
kepada manusia dari pada Allah. Keterangan ayat ini tidak dapat diterima dengan
logika akal budi. Bahkan Abimelekh merasa tertipu oleh Abraham sehingga
Abimelekh membela dirinya kepada Allah padahal sebenarnya niat Abimemilekh
lebih baik dari niat Abraham . Abimelekh ingin memeristri Sarai bukan
menjadikannya Gundik;

“5Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan
itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang
tulus dan dengan tangan yang suci.(Kej 20:5)"

Pada cerita diatas, istri Abraham berusia 85 tahun sementara Abraham 99 tahun.
Secara akal budi dan logika , apa mungkin seorang raja yang terkenal dinegri
Gerar yang besar, tergila-gila kepada seorang nenek-nenek. Apakah di Negeb itu
tidak ada lagi wanita muda yang lebih cantik. Bukankah setelah rakyatnya
mengetahui bahwa raja yang dibaggakan, ternyata kecantol pada istri seorang
pengungsi. Apakah raja Abimelekh tidak merasa jatuh martabatnya setelah
ketahuan jatuh hati pada istri seorang pengungsi? Secara akal budi, cerita ini
bukan sebuah cerita kebenaran, tetapi sebuah cerita dongeng. Jadi tidak mungkin
perjanjian lama adalah perkataan Allah yang tertuang di dalam Taurat.

Kemudian Abimelekh memanggil Abraham untuk diinterograsi.

9Kemudian Abimelekh memanggil Abraham dan berkata kepadanya: "Perbuatan


apakah yang kau lakukan ini terhadap kami, dan kesalahan apakah yang kulakukan
terhadap engkau, sehingga engkau mendatangkan dosa besar atas diriku dan
kerajaanku? Engkau telah berbuat hal-hal yang tidak patut kepadaku (Kej 20:9)."

Dari dialog ayat tersebut diatas, dapat dinilai bahwa Abimelekh lebih menjunjung
tinggi nilai-nilai kejujuran, ternyata Abimelekh tidak menunjukan ciri-ciri seorang
raja yang jahat dan menakutkan. Tetapi Abraham lebih takut duluan kepada
Abimelekh dari pada Allah sehingga dia lebih baik berbohong daripada terbunuh
karena kelaparan. Bahkan dia seperti sengaja menyerahkan istrinya yang cantik
sebagai umpan untuk mendapatkan hadiah sebagaimana sukses di mesir dulu.
Secara logika , tidak mungkin Abraham sehina itu sehinggga tidak berharga
dimata raja Abimelekh. Ini bukan cerita yang sebenarnya sesuai dengan realita
berpikir yang benar. Ini merupakan penghinaan dan fitnah kepada karakter
seorang yang menjadi junjungan bagi semua umat beragama. Tentu saja orang
muslim akan menentang penghinaan kepada Nabi yang dimuliakan Allah ini.
Orang musllim selalu mengucapkan shalawat kepada Abraham, tetapi kitab
perjanjian lama malahan menghina Abraham. Penghinaan yang sangat biadab
terhadap pribadi seorang nabi.

Selanjutnya Abimelekh meminta kejujuran Abraham dengan menyudutkan


sebuah pertanyaan yang menohok kepribadiannya ;

“ 10Lagi kata Abimelekh kepada Abraham: "Apakah maksudmu, maka engkau


melakukan hal ini?" (Kej20:10)

Kemudian Abraham menjawab ;

“ 11Lalu Abraham berkata: "Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini;
tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. (kej 20:11)”
Dari dialog ayat tersebut, ternyata Abraham sebelumnya hanya menduga gossip
tentang kefasikan raja Gerar itu, sehingga Abraham kuatir kalau istrinya terbunuh
karena istrinya yang cantik. Sepertinya alasan Abraham tidak masuk akal, tidak
mungkin seorang nabi menjawab begitu. Sepertinya Abraham bukan seorang
bapak bangsa-bangsa, tetapi seorang suami yang tidak bertanggung jawab, dia
lebih mengutamakan keselamatan dirinya, sebaliknya dia menduga istrinya akan
selamat karena kecantikannya. Kemudian apa selanjutnya jawaban Abraham ?

12Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi
kemudian ia menjadi isteriku. (kej 20:12)”

Dari dialog di dalam cerita tersebut, Abraham tidak mengakui bahwa dia
berbohong, karena istrinya tersebut adalah adik tirinya. Apakah Abraham sebagai
seorang nabi yang dimuliakan tidak memahami arti sebuah kejujuran?
Ketidakjujuran adalah tidak sesuai antara niat dengan perbuatan. Walaupun Sarai
adalah adik tirinya sekaligus istrinya, tetapi Abraham telah melakukan niat utama
agar selamat dari dugaan yang menakutkannya. Kenapa seorang nabi harus
bertindak berdasarkan dugaan-dugan yang belum tentu kebenarannya? Cerita
kitab perjanjian lama tidak bisa diterima akal sehat. Cerita ini tidak lebih dari
cerita dongeng belaka.

Tetapi yang lebih tidak masuk akal adalah keterangan Abraham selanjutnya dalam
menyampaikan pembelaannya ;

“13Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah
aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku
di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku (Kej 20:13)”.

Ternyata yang menyuruh Abraham berkata demikian adalah Allah. Bagaimana


mungkin Allah yang maha perkasa, yang semua makluknya tunduk kepadanya,
seluruh alam tunduk kepada kekuasannya, ternyata didalam kisah ini, Allah
memerintahkan Abraham berkata munafik kepada seorang raja. Rasa ketakutan
Abraham tersebut sepertinya diperankan oleh Allah sendiri. Hal itu ini tentu tidak
sesuai dengan keterangan sebelumnya yang menulis bahwa Allah juga yang
datang kedalam mimpi Abimelekh supaya dia membatalkan perkawinanya
dengan Sara. Kenapa yang dituduh sebagai sutradara di dalam lakon cerita ini
adalah Allah? Bukankah ini menunjukan bahwa Allah mengajarkan Abraham boleh
berbuat tidak jujur dan berbuat munafik. Tentu saja ini sebuah pelajaran yang
tidak baik bagi manusia untuk mencontohnya. ini benar--benar sebuah cerita fiktif
yang tidak dapat diterima oleh akal sehat.

Kemudian Sarai dikembalikan kepada Abraham dan mereka Abimelehk melepas


kepergian mereka dengan memberi Abraham sejumlah harta berupa hewan
ternak dan beberapa orang pembantu laki-laki dan perempuan ;

“4Kemudian Abimelekh mengambil kambing domba dan lembu sapi, hamba laki-laki
dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham; Sara, isteri
Abraham, juga dikembalikannya kepadanya (Kej 20:14)”.

Sebenarnya keinginan Abimelek memperistrikan Sarai adalah untuk mendapatkan


keturunan, kerena sebelumnya raja Abimelehk tidak memperoleh satupun anak-
anak dari istrinya . Maka setelah Araham dibebaskan, beliau memanjatkan do’a
untuk kesembuhan rahim istri Abimelehk sehingga subur dan mempunyai anak-
anak begitu juga dengan para budak-budaknya ;

“ 17Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan
isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak
(Kej 20:17)”.

Sebuah pertanyaan yang menggelitik ; apakah masuk akal seorang Raja yang tidak
mempunyai anak, kemudian menginginkan anak dari seorang wanita tua (nenek-
nenek) yang suduh berumur 85 yang ternyata juga belum punya anak , walaupun
Abimelehk tidak mengetahui Sara adalah istri Abraham? jelas sekali bahwa cerita
ini merupakan dongeng yang ditujukan untuk anak-anak sebelum mereka tidur.
Lagi pula kepergian Abraham dan istrinya Sara ke negri Negeb tersebut terjadi
setelah peristiwa kehancuran Sodom, sehingga mereka sudah yakin akan
mempunyai anak karena sudah menerima kabar dari Allah keteka bertamu di
bahwah pohon terbantine di depan kemahnya. Tetapi mengapa Abraham begitu
tega menyia-nyiakan kepercayaan Allah untuk memelihara kandungan istrinya?
Betapa teganya Abraham menggadaikan istrinya kepada Abimelehk demi
mendapat jatah makan? Padahal istrinya Sara sedang hamil.

Kenapa Abraham dan istrinya masih bersandiwara sebagai kakak adik? Cerita ini
benar-benar tidak masuk akal. Cerita dongeng. Apa begini kitab PL yang diklaim
sebagai kitab Taurat yang dibangga-banggakan itu?

Setahun setelah bencana Sodom itu, Sara melahirkan anaknya yang diberi nama
Ishaq. Ketika itu Abraham sudah berusia 100 tahun;

“5Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir


baginya. 6Berkatalah Sara: "Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang
mendengarnya akan tertawa karena aku." (kej 21:5)”

Menurut keterangan ayat diatas, jelaslah bahwa Sara menamakan anaknya


dengan Ishaq yang berarti “ketawa” sebagai sebuah peristiwa yang tidak pernah
lupa dari ingatan Sara ketika mendapat berita dari Allah dulu. Tentu saja ketika
Ishaq lahir, ismael sudah berumur 14 tahun.

Ketika Ishaq sudah selesai disapih ( tidak netek lagi), maka Abraham mengadakan
perjamuan dan mengundang tetangga dan orang-orang terpandang di daerah
tersebut. Tentu saja acara seperti ini tidak akan pernah dinikmati oleh ismael
sewaktu dia masih bayi dulu. Namun sayang sekali, ismael bukannya menjauh dari
acara agung tersebut , tetapi ismael justru mendekati ishaq dan bermain-main
dengannya. Ismael dan ibunya Hagar tentu saja tidak pantas ikut bersama-sama
dengan Ishaq di dalam pesta kebesaran keluarga terhormat itu. Akibat tindakan
Ismael yang tidak menyadari kedudukannya, maka Sara merasa dipermalukan di
depan tamu-tamunya ;

“8Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan
besar pada hari Ishak disapih itu. 9Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang
dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak,
anaknya sendiri.” (kej 21:8)

Tentu saja Sara naik pitam menyaksikan anaknya Ishaq bermain-main di depan
orang ramai bersama Ismael yang tidak berharga itu, lalu Sara menyuruh
Abraham mengusir Hagar bersama anaknya yang dianggap sudah
mempermalukan dia sebagai nyonya besar dirumahnya;

“10Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta


anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan
anakku Ishak." (kej 21:10)

Apabila ditanyakan kebenaran cerita itu kepada Pendeta Kriten, maka akan keluar
sebuah jawaban dimulutnya bahwa “ itu adalah ketentuan yang sudah
digariskan” sesuai dengan ramala-ramalan yang sudah di Firmankan Allah pada
ayat-ayat sebelumnya. Ini adalah ramalan yang tepat dari kitab perjanjian Lama.
Dan ramalan itu terbukti. Para ahli kitab nasranai dan yahudi serta para Pendeta
Kristen sudah membungkam pertanyaan umatnya dengan jawaban “ramalan”
dan “ketentuan Firman Allah”. Tidak seorangpun umat Kristen yang sanggup
mempermasaalahkan ketentuan perbedaan kasta itu di dalam kitab PL.

Bagaimana mungkin kisah ketidakadilan itu lebih ditonjolkan di dalam sebuah


kitab Suci. Jelas ini adalah sebuah propaganda untuk kemuliaan umat Yahudi dan
Nasrani lalu mendiskriditkan keturunan Ismael. Tidak mungkin ayat itu berasal
dari Allah yang maha pemurah , maha adil dan Maha bijaksana kepada umat
manusia. Allah tentu tidak akan membeda-bedakan manusia berdasarkan
kedudukannya dalam masyarakat atau berdasarkan kekayaannya , tentu Allah
hanya memandang nilai-nilai kebaikan seseorang. Seharusnya PL harus
menceritakan dan menulis apa kesalahan ibu dan anak itu sehingga mereka
terusir, apa yang sudah diperbuat oleh ibu dan anak ini sehingga Sara dan
Abraham tega memperlakukan keluarga sendiri sedemikian buruknya. Kalau tidak
dijelaskan apa yang terjadi , maka ini sama dengan berbuat zalim kepada orang
yang tertindas atau mengabarkan sebuah fitnah. Apakah Abraham dan Sarah
mempunyai sifat begitu? Jawabannya tentu saja tidak! Jadi kenapa cerita
mengharukan itu tertulis di dalam kitab suci? Jawabannya adalah karena ada
tangan jahil yang mengerjakannya.

Bukan hanya Sara saja yang kesal dengan kelancangan Ismael, Abraham pun sebal
;
“11Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.(kej 21:11)

Bukan hanya Abraham dan Sara saja merasa malu akibat perbuatan anaknya,
bahkan Allah setuju dengan keinginan Sara mengusir Hagar dan Ismael dari rumah
mereka ;
“And God said unto Abraham, Let it not be grievous in thy sight because of the lad,
and because of thy bondwoman; in all that Sarah hath said unto thee, hearken unto
her voice; for in Isaac shall thy seed be called (Genesis 21:12)”.

“12Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal
anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau
mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari
Ishak. (kej 21:12)”.

Ayat ini menunjukan bahwa Allah merestui kehendak Sara untuk membuang
Ismael dan ibunya Hagar. Bahkan sekali lagi disampaikan oleh Allah bahwa anak
Abraham yang sebenarnya adalah Ishaq, bukan Ismael. Kontek ayat tersebut
adalah firman Allah yang menggunakan kata-kata “budakmu itu”; yang
menunjukan bahwa status Hagar masih seorang budak walaupun sudah menjadi
istri Abraham. Memang menyedihkan dan memprihatinkan sekali nasib ibu dan
anak bekas budak itu. Mereka sudah ditakdirkan sebagai pembantu dari keluarga
orang terhormat Abraham dan Sara. Benar-benar keji sekali keterangan ayat-ayat
PL ini yang menempatkan cerita yang tidak dapat dicontoh untuk kebenaran dan
budipekerti yang baik.

Apabila kisah ini diceritakan kepada anak-anak yang masih polos tentu mereka
mengira bahwa Hagar dan Ismael adalah keluarga yang terbuang dan tidak
berharga di depan Allah. Dan sampai dewasa anak yang membaca kisah itu akan
mencap keturunan Ismael sebagai keturunan orang-orang yang tidak berguna

Keesokan harinya Hagar terpaksa berangkat dari tempat terhormat itu ;

“14Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan
memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu
Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan
mengembara di padang gurun Bersyeba. (Kej 21:14)”
Ternyata Abraham benar-benar mengusir istri beserta anaknya sendiri. Betapa
teganya Abraham melepas kepergian Hagar dan anaknya dengan harga yang
sebegitu murah? , Bahkan kemudian mereka terdampar hingga ketengah gurun
pasir. Apakah pantas Abraham dinobatkan sebagai bapak bangsa-bangsa? Tentu
saja Allah terlibat dalam perlakuan yang tidak adil ini. Benar-benar sebuah cerita
yang tidak dapat diterima oleh bangsa yang beradab.

Kemudian , menurut yang tertulis pada ayat diatas, Abraham melepas kepergian
keturunannya hanya dengan sekantong roti dan sebotol air. Padahal Abraham
adalah orang kaya raya yang terhormat. Jangankan dengan bekal semurah itu,
bahkan dengan sepasukan kuda dan sejumlah kafilahpun dapat dibiayai oleh
Bapak bangsa-bangsa ini. Padahal ketika mendengar keponakannya “Lot” ditahan
oleh perampok dan dirampas hartanya, Abraham langsung menyerang penjahat
itu dengan mengerahkan 318 orang pasukannya untuk membebaskan Lot ;

14Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka


dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di
rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke
Dan. 16Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu,
serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan
orang-orangnya (Kej 14: 14,16)”.

Tetapi kenapa kepada anak dan istri sendiri diusirnya, tanpa pengawalan sama
sekali, apalagi ketempat yang tandus dan gersang?

Setelah mencium anaknya, lalu Abraham meletakkan anak dan bekal itu diatas
bahu Hagar. Ada tertulis “Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar “ ;
Mungkin Abraham mengira anaknya masih kecil sehingga meletakkan anaknya di
bahu Hagar.

Benar-benar tega Abraham melepas keluarganya pergi hanya dengan sebotol air
dan sekantong roti. Tentu saja persediaan air dan bekal itu tidak cukup sehingga
terpaksa Hagar membuang bayinya kedalam semak-semak;

“15Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-
semak, 16dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya:
"Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia
dengan suara nyaring. (kej 21:15-16)”

Ayat ini menunjukan bahwa Hagar benar-benar berangkat hanya berdua dengan
anaknya. Lalu perhatikanlah kalimat “dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-
semak “ dan “menangislah ia dengan suara nyaring “ pada ayat diatas. Ini
menunjukan bahwa Ismael masih balita atau mungkin juga masih bayi.

Tetapi malaikat melarang Hagar membuang anaknya ;

“17Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada
Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah
takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
(kej 21:17) “

Perhatikan juga , ada tertulis “dari tempat ia terbaring “. Bahkan malaikat sendiri
tahu anak itu masih balita. Lalu malaikat Tuhan menyuruh Hagar mengangat
anaknya tersebut dari semak-semak itu ;

“18Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia
menjadi bangsa yang besar."(kej 21:18)

Perhatikan kalimat “angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia”. Ini berarti Ismael
memang masih balita sehingga Hagar harus mengangkat dan membimbing
anaknya untuk bisa berjalan lagi.

Menurut keterangan yang tertulis di dalam PL , seperti yang sudah disampaikan


sebelumnya, pada saat Ishaq lahir, umur Ismael ketika itu sudah 14 tahun.
Apabila umur Ishaq pada saat disapih adalah 2 tahun, maka pada saat diusir
Bapaknya, Ismael sudah berumur 16 tahun. Apakah anak yang berumur 16 harus
digendong oleh Hagar ketika dilepas oleh Abraham ? apakah anak yang berusia 16
tahun harus dibuang ke semak-semak ? apakah Hagar harus mengangkat anak
yang sudah dia buangnya tadi dari semak-semak? Apakah anak berisia 16 tahun
harus dibimbing oleh ibunya untuk dapat berjalan lagi?.
Apa bukan sebaliknya, justru ismael yang masih kuat dan muda , membimbing
ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan akibat perasaannya tertekan lahir dan
bathin?

Jadi terbuktilah bahwa keterangan PL ini tidak dapat diterima dengan akal sehat,
ceritanya ngawur, cerita PL tentang kisah Abraham hanya dapat disampaikan
kepada anak kecil sebelum tidur, cerita PL tentang Abraham merupakan kisah
dongeng yang tidak bermutu tetapi cerita jahat. Penulis Bible hanya mengarang-
ngarang cerita yang tidak jelas sumbernya lalu dimasukkan secara sembarangan,
sehingga manimbulkan banyak masaalah.

Sekarang kita kembali pada kisah tentang Ishaq yang sudah mulai besar , namun
tiba-tiba Abraham mendapatkan perintah Allah agar dia mengobankan anaknya
sebagai korban bakaran ;

“2Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak,
pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran
pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.(kej 22:2)”

Kalau kita perhatikan ayat tersebut diatas, maka konteks ayat tersebut
merupakan Firman Allah yang tidak dapat lagi digugat oleh umat nasrani dan
Yahudi. Namun sebuah kalimat “anakmu yang tunggal”; tentu tidak dapat
diterima dengan akal sehat. Apakah Allah lupa bahwa Abraham mempunyai 2
orang anak? Kalau manusia yang mengatakan Abraham hanya punya seorang
anak saja, tentu hal ini dapat dimaklumi, namun kalau Allah yang berFirman ,
maka ayat ini sangat janggal sekali. Kalau Allah yang mengatakan bahwa Ishaq
adalah anak Abraham yang tunggal , maka dugaan ayat (kej 18:32) tentang daya
pikir Allah yang sudah pikun, tentu saja cocok dengan keterangan ayat ini. Artinya
ayat ini mengira bahwa Allah itu seperti seorang kakek yang sudah sangat tua dan
pikun sehingga dia lupa kalau Abraham sudah mempunyai anak sebelumnya.
Artinya ayat ini tidak menghargai Allah yang maha kuasa, dan maha mengetahui
segala sesuatu. Ayat ini benar-beanr menghina Allah sebagai sosok yang tidak
tertandingi di seluruh jagat raya.

Kemudian terdapat pula kalimat “ yang engkau kasihi, yakni Ishak,”; sekali lagi
hal ini membuktikan bahwa hanya Ishaq yang disayangi oleh Abraham , hanya
Ishaq yang dianggap sebagai anak oleh Abraham dan Allah. Ismael benar-benar
tidak berharga dimata Abraham dan Allah. Benar-benar ngawaur cerita PL
tentang kisah Abraham ini. Ini bukan cerita fakta tetapi sebuah karangan untuk
maksud membanggakan satu keturuan suatu kaum sedangkan yang lainnya
dihina dan dilecehkan. Keterangan ini jelas bukan dari Allah SWT.

Kemudian berangkatlah Abraham bersama anaknya ishak kesebuah bukit/gunung


bersama 2 orang pembantunya ;

“3Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya


dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu
untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan
Allah kepadanya. (kej 22:3)”

Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari sampailah mereka dikaki sebuah


bukit yang bernama Moria, disanalah mereka menambatkan kudanya. Abraham
memerintahkan kepada pembantunya untuk menunggu di bawah bukit dengan
alasan mau beribadah di atas bukit tersebut ?

“5Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan
keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah
itu kami kembali kepadamu."( kej22:5)

Pertanyaannya kenapa Abraham tidak berkata jujur kepada pembantunya bahwa


dia akan mengobankan anaknya? Apakah Abraham takut kalau pembantunya itu
akan mengatakan kepada istrinya Sara bahwa Abraham akan membunuh anaknya
sendiri? kalau Abraham itu seorang nabi kenapa Abraham tidak mengajak
pembantunya beribadah bersama-sama? Sepertinya Abraham tidak membawa
agama apapun kepada umat Yahudi dan umat Kristen. Lalu kenapa Pendeta ini
mengaku-ngaku sebagai umat nabi Abraham , apa tidak memalukan?

Apa yang ada di dalam pikiran Ishaq setelah itu? Apakah Abraham akan
memberitahu anaknya, kalau dia akan menyembelih dan membakar anaknya ?
ikuti dan perhatikanlah dialog dibawah ini ;
“Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7Lalu berkatalah Ishak kepada
Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini
sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu
(kej 22:6-7)

Menurut keterangan ayat diatas, ternyata Ishaq belum mengetahui juga kalau
Bapaknya akan mengorbankannya. Kenapa Abraham tidak berterus terang kepada
anaknya, padahal mereka sudah berjalan beriringan selama 3 hari dan 1 hari
menaiki gunung itu. Jadi masih ada kesempatan Abraham untuk mendikusikan
dengan anaknya. Sekiranya Abraham tidak tega mengatakan itu pada anaknya,
lalu apa yang terjadi ketika Abraham akan menyembelih anaknya?

Saat-saat menjelang akan disembelih, Apakah ishaq dipaksa oleh Abraham?


apakah ishaq tidak memberontak ketika Abraham akan mengikatnya? Bukankah
ketika itu Ishaq bukan balita lagi, karena dia sanggup membawa kayu bakar keatas
bukit dan sanggup mengendarai keledai selama 3 hari. Bisa saja Ishaq melakukan
perlawanan karena dia tidak mengerti dan tidak mengetahui sebelumnya bahwa
Abraham hendak menyembelihnya. Banyak sekali pertanyaan yang dapat
diajukan apabila tidak terdapat kompromi sebelum pengorbanan itu terlaksana.
Apakah pelaksanaan perintah Allah itu harus dilakukan dengan paksaan dan
kekerasan?

Apakah jawaban Abraham ketika ditanya oleh anaknya ?

“8Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran
bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.”(kej 22:8)”

Kembali Abraham berkelit untuk tidak bererus terang, bahkan menyampaikan


informasi yang salah. Pada ayat diatas Abraham mengatakan kepada Ishaq bahwa
korban yang akan disembelih itu sudah disediakan oleh Allah. Tentu saja Ishaq
senang mendengar jawaban Bapaknya. Tetapi didalam kontek ayat ini, Abraham
telah melakukan sebuah penipuan lagi. Abraham bukan tipe seorang Bapak yang
dapat berterus terang dan berkata jujur kepada anaknya sendiri. Kalau sekiranya
jawaban Abraham kepada ishaq bukan sebuah penipuan tetapi dia
menyampaikan “apa adanya” kepada anaknya (korban itu sudah disediakan),
maka itupun tidak dapat diterima dengan akal sehat. Artinya Abraham sudah
mengetahui bahwa Allah hanya mencoba Abraham, Allah hanya ingin melihat
kesetiaan dan kepatuhan Albraham kepada Allah. Tetapi Abraham sudah
mengetahui maksud Allah itu. Abraham tidak perlu serius menghadapinya. Tidak
mungkin Allah tega membunuh anak yang dijanjikanNYA sendiri. Sebaliknya Allah
tidak mengetahui jalan pikiran Abraham.

Maka Abraham mengatakan kepada anaknya bahwa Allah yang akan


menyediakan korban bakaran untukNYA. Hal ini berarti bahwa uji kesetiaan itu
tidak berpengaruh terhadap pemikiran Abraham karena dia sudah menebak hasil
akhirnya. Akibatnya Abraham akan melakukannya dengan kepura-puraan. Tetapi
sebaliknya Allah tidak tahu kepura-puraan Abraham tersebut karena memang
Abraham lebih pintar dari Allah. Atau setidaknya Allah tidak tahu pemikiran
Abraham yang mampu menebak hasilnya.

Jadi terbuktilah bahwa kisah Abraham tentang mengorbankan anaknya Ishak,


seperti sebuah cerita detektif karya Nick carter. Satu kebohongan ditutup oleh
kebohongan yang lainnya. Seperti ; ketika Abraham tidak mau berterus terang
kepada anaknya, maka dia terpaksa membohongi Allah dengan mengatakan
bahwa Allah yang akan menyediakan domba itu untukNYA. Artinya Abraham
sudah melakukan kejahatan dosa sebanyak 6 kali berturut-turut ; pertama
membohongi anaknya, kedua membohongi Allah, ketiga membohongi diri sendiri,
keempat membohongi dua orang pembantunya , kelima menganggap ujian itu
seperti main-main, keenam menganggap rendah kemampuan Allah. Maka
janganlah berbuat bohong karena kebohongan itu akan menambah kebohongan
yang lainnya.

Selanjutnya bagaimana keadaan saat-saat penyeblihan itu? Perhatikan dialog Al


Kitab Bible berikut ini ;
9Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham
mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan
diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10Sesudah itu Abraham mengulurkan
tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.(kej 22:9)”

Kalau kita analisa ayat diatas, maka banyak sekali muncul pertanyaan yang
menggelitik. Pada saat Abraham dan Ishaq membuat tempat bakaran dan
Mesbah, tentu masih ada waktu beberapa jam, jadi masih ada kesempatan bagi
mereka untuk berdialog. Tetapi tahu-tahu Ishaq sudah diikat oleh Abraham. Apa
yang terjadi antara Abraham dengan Ishaq sebelumnya?. Apakah Abraham
memaksa anaknya? Dengan cara apa Abraham mengikat anaknya? Apakah
dipukul hingga pingsan sehingga mudah mengikatnya? Kalau anaknya pasrah
begitu saja , tentunya tidak mungkin, karena dia akan bertanya “ Bapak mau
apa?” , dan tidak mungkin pula Abraham menjawabnya “ aku akan mengikat dan
menyembelihmu” kerena Abraham sudah menjelaskan bahwa akan ada
dombaNYA nanti. Kalau sekiranya Abraham membohongi Ishaq dengan
menyuruhnya berpura-pura diikat dan berkata “ kamu saya ikat dulu ya nak..
nanti Allah akan memberikan dombaNYA” ; maka Abraham kembali
membohongi anaknya dan membohongi Allah. Pasti ketahuan Abraham dan
anaknya main sandiwara dihadapan Allah. Atau mungkin juga sebaliknya dimana
Bapak dan anak ini Cuma berpura-pura hendak melakukan pengorbanan itu
kepada Allah. Tentu akan bertambah kejahatan dosa Abraham, minimal 12 dosa
lagi. Kalau ini dilakukannya maka memang benar, bahwa Abraham adalah seorang
penipu dan pembohong sehingga wajar PL menulisnya begitu.

Kemudian Abraham menyembelih anaknya dengan pisau dalam keadaan terikat.


Kenyataan ini menimbulkan permasalahan baru lagi. Kalau Ishaq tidak pingsan
tetapi pura-pura pingsan, maka tentu Allah akan mengetahuinya. Atau mungkin
juga Allah dapat dibohongi oleh kepura-puraan Ishaq dan Abraham. Sebaliknya
jika Ishaq tidak tahu kalau dia akan disembelih dengan pisau, maka artinya Ishaq
dalam keadaan pingsan dimana hal ini menunjukan bahwa Abraham telah
melakukan kekerasan sebelumnya pada Ishaq.
Apa yang terjadi setelah itu ? bacalah ayat berikutnya ;

11Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham."


Sahutnya: "Ya, Tuhan." 12Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan
kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah,
dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-
Ku."(Kej 22:11)”

Ternyata Abraham lulus juga dari test uji kesetiaan itu. Allah tidak mengetahui
apa terjadi pada pemikiran Abraham sebelumnya. Allah juga tidak menerangkan
kenapa Abraham dinyatakan lulus. Apa yang menjadi penilaian bagi Allah
sehingga Abraham dan anaknya dinyatakan lulus ujian besar.

Jadi jelaslah bahwa cerita PL tentang kisah Abraham bukanlah kisah nyata, tetapi
cerita fiksi. Sepertinya cerita ini dibuat-buat untuk maksud yang terselubung.
Tentu saja Pendeta Kristen ini akan memberikan opini dan kesimpulan bahwa
yang simaksud dengan “ DombaNYA” bukanlah domba yang sebenarnya tetapi
“Anak ALLAH yang dikorbankanNYA” . Anak Allah itu adalah Yesus yang nantinya
akan mati ditiang salib sebagai pengorbanan Allah sebagai anakNYA.

Perbedaanya peristiwa pengorbanan antara DombaNYA dangan pengorbanan


anakNYA hanya terletak pada perbedan waktu dan perbedaan cara
pengorbannya saja . Kalau DombaNYA dikobankan untuk Abraham, sedangkan
anakNYA dikorbankan untuk orang-orang fasik yang hendak membunuhnya.
Begitulah Pemikiran Pendeta Kristen ini beropini dan berkesimpulan. Logiskah
kesimpulan itu? Tentu saja tidak. Ini kesimpulan yang dibuat-buat dan dipaksakan,
sehingga tidak mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan hatinurani.

Setelah kita membaca kitab Taurat versi Perjanjian lama, maka terbukalah
kebohongan-kebohongan yang selama ini ditutup-tutupi oleh Pendeta Kristen ini.
Jadi benar bawa kepalsuan itu hanya bisa ditegakkan dengan kepalsuan juga. Baru
sebuah kisah yang kitab baca, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Pendeta
ini, tetapi kita sudah dapat menyaksikan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan,
pelecehan terhadap Umat manusia, pelecehan terhadap Nabi Besar umat Islam
Ibrahim, merendahkan Allah, melecehkan Allah, kisah Abraham seperti dongeng
saja, cerita yang dibuat-buat untuk tujuan kebesaran suatu kaum tetapi menghina
kaum yang lainnya.

Jadi kita tidak perlu lagi membahas keterangan kisah yang lainnya, karena akan
bertambah banyak ditemukan kejanggalan dan kepalsuan. Kita tidak perlu
mempersoalkan kejanggalan itu, biarlah umat Kristen yang memikirkan dan
menyimpulkannya sendiri.

Jadi kesimpulannya adalah kitab Perjanjian Lama bukanlah kitab Taurat seperti
yang pernah diturunkan Allah kepada ustusanNYA yang Mulia Nabi Musa AS,
tetapi sebaliknya Kitab Perjanjian Lama adalah kitab yang justru melecehkan
Allah, RasulNYA dan tidak mengandung pelajaran yang baik.

Terbukti bahwa Pendeta Kristen ini hanya membuat kebohongan dan menyebar
berita palsu. Pendeta Kristen ini tidak berbicara dengan otaknya tetapi dengan
dengkulnya.

Rasanya tidak akan adil kalau hanya menilai PL saja . Untuk itu marilah kita
membahas kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al qur’an agar adil. Artinya kita
tidak mempunyai niat untuk menjelak-jelekkan PL, tetapi hanya menyampaikan
kebenaran semeta. Kita tidak mencari pembenaran tetapi berusaha mendapatkan
kebenaran. Memang al qur’an tidak menulis kisah Abraham sedetail PL. Perjanjian
Lama menceritakan kisah Abraham sangat mendetail sehingga mirip dengan
sebuah buku novel, tetapi didalam cerita itu banyak sekali kejanggalan dengan
segala ketidak benarannya. Untuk itu kita tidak perlu mengisahkan kembali cerita
Ibrahim itu sebagaimana detailnya kisah didalam PL. Kita akan mengambil
beberapa keterangan apakah ada keterangan di dalam Al Qur’an yang dapat
membenarkan atau membuat lebih benar atau memperbaiki keterangan PL yang
tidak semestinya itu.

Seperti yang sudah kita baca didalam PL, bahwa kisah Abraham banyak
mengandung unsur ketidakadilan seperti membeda-bedakan keturunan Ibrahim
yang berasal dari Ishaq dan keturunan Ibrahim yang berasal dari Ismael.
Ternyata al Qur’an tidak membeda-bedakan satupun diantara anak keturuan
Ibrahim tersebut, semuanya sama dihadapan Allah . Hal ini diabadikan didalam
surat Ali Imran ayat 84 ;

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada
kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya,
dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami
tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah
kami menyerahkan diri."(QS Ali Imran 3:184)”

Konteks ayat diatas adalah sebuah perintah yang disampaikan oleh Allah kepada
seluruh umat Ibrahim melalui Muhammad bahwa hendaklah mengikuti semua
ajaran Ibrhim yang diteruskan oleh anak cucu beliau. Artinya keturuan Ibrahim
tersebut diperlakukan sama dihadapan Allah dan semua keturunan Ibrahim
adalah pembawa petunjuk dari Allah. Bahkan pada kalimat di akhir ayat , Allah
menganjurkan umat Ibrahim agar mengucapkan kalimat pengakuan sendiri
supaya tidak akan membeda-bedakan atau memperlakukan keturunannya secara
tidak adil. Jadi ayat ini menekankan kepada manusia agar menjunjung tinggi nilai-
nilai kemanusiaan, nilai-nilai persamaan hak-hak manusia. Akhirnya ayat ini
ditutup dengan pernyatan agar berserah diri pada Allah. Berserah diri mempunyai
cakupan yang sangat luas dan dalam. Seperti kesabaran dan keihklasan dalam
menerima apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Memang ada orang
yang lebih kaya, lebih makmur , lebih tinggi kedudukannya, lebih tinggi ilmunya,
lebih tingi kemampuannya dan lain-lain sebagainya, tetapi itu semua tidak
menjadikan kita harus iri, dengki, merendahkan seseorang atau terlalu tinggi
menyanjung orang lain, tetapi serahkan semua urusan itu kepada Allah.
Hormatilah segala bangsa, suku, agama, pribadi sesuai dengan karakter masing-
masing. Hanya Allah yang mengetahui siapa diantara orang-orang itu yang lebih
baik disisiNYA. Bisa saja orang yang dipandang rendah oleh Manusia, tetapi disisi
Allah mereka lebih tinggi, begitu juga sebaliknya. Ayat diatas mempunyai filsafat
hidup yang tinggi nilainya kepada manusia yang beradab dan sebagai makluk yang
berserah diri pada Allah.
Kembali al Qur’an menyampaikan sebuah Ayat yang menghargai keturunan nabi-
nabi terpilih kerutunan nabi Nuh, keturunan Ibrahim ( Ismael dan Ishaq) serta
kepada keturunan Imran ( Maryam dan anaknya Isa As) ;

“ Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga
Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu
keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui. (QS Ali Imran 3:33-34)”

Ayat diatas memperluas arti dari sebuah persamaan hak dan penghargaan kepada
seluruh keturunan Nabi-nabi terpilih. Bukan hanya keturunan Ibrahim saja yang
harus diperlakukan dengan adil, tetapi juga keturunan Imran yaitu Maryam yang
akan melahirkan seorang Nabi yaitu Isa As. Jadi ketentuan persamaan dan
penghormatan kepada semua nabi-nabi sudah diajaran di dalam Al Quran dan
harus ditunaikan oleh umat islam sesuai dengan anjuran yang luhur dari ayat-
ayat Allah didalam Al Qur’an.

Al Qur’an tidak pernah menceritakan tentang gossip, aib ataupun mencampuri


urusan dalam rumah rumah tangga Ibrahim. Al Qur’an tidak pernah menceritakan
tentang konflik yang terjadi di dalam rumah tangga Ibrahim yaitu hubungan yang
tidak harmonis antara Sara dengan Hagar yang menyebabkan Hagar dan Ismail
terusir dari tempat Ibrahim, seperti yang disampaikan oleh PL . Al Qur’an
menggambarkan sosok Ibrahim sebagai seorang manusia sangat peka
perasaannya, dia sangat penyantun dan suka memberi apa yang dia miliki karena
sifat pengiba dan rasa kasih sayang yang tulus kepada siapapun termasuk anak-
anaknya bahkan Ibrahim akan selalu berdoa dan kembali ke jalan Allah ;

“ Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan
suka kembali kepada Allah (QS 11:75) “.

Al qur’an juga menjelaskan bahwa Ibrahim adalah seorang yang dapat dijadikan
panutan dan suri teladan bagi orang-orang yang bersamanya dan yang berada
disekitarnya.
“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-
orang yang bersama dengan dia ( QS Al Mumtahanah 60:4)”.

Al Qur’an juga menjelaskan bahwa Ibrahim bukanlah tipe orang yang suka
berputus asa, tidak sabar , suka menyerah pada nasib ;

“ Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar,


maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa"55. Ibrahim
berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-
orang yang sesat" (QS Al Hijr 15:55-56)”.

Ayat diatas merupakan dialog antara Ibrahim dengan Malaikat yang akan
menyampaikan kabar gembira tentang anak yang akan lahir dari istrinya yang
pertama yaitu Ishaq . Ketika Ibrahim dinasehati oleh Malaikat supaya jangan
termasuk orang yang putus asa, maka secara spontan Ibrahim mengatakan bahwa
orang yang tidak sabar itu adalah orang yang tersesat. Hal ini menunjukan bahwa
Ibrahim bukanlah tipe seorang yang gampang menyerahkan nasibnya pada
siapapun, dia temasuk orang yang sabar, setia sama istrinya dan seluruh
keluarganya.

Ibrahim tidak takut kepada siapapun, Ibrahim mempunyai pendirian dan sikap
yang tegas dalam mempertahankan keyakinan. Ibrahim hanya takut kepada Allah.
Bahkan kepada Bapaknya, Ibrahim rela berpisah karena berbeda keyakinan ;

“ Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim
berlepas diri dari padanya. (QS At Taubah 9:114) “

Ayat ini menunjukan bahwa Ibrahim bukanlah tipe seorang yang ragu-ragu pada
keyakinannya dan dia rela berpisah dengan Bapaknya karena perbedaan prisip
hidup. Ayat ini juga memperbaiki keterangan PL yang mengatakan bahwa Ibrahim
berangkat bersama Bapaknya Terah. Sedangkan menurut Al Qur’an Ibrahim
berpisah untuk selama-lamanya dengan bapaknya Aazar.

Bahkan Ibrahim tidak takut kepada seorang raja yang sangat berkuasa di dalam
sebuah kerajaan ;
“ Mereka berkata: "Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah
dia ke dalam api yang menyala-nyala itu".( QS As Shafaat 37:97)”.

Ketika lidah api menjilati tubuhnya , Ibrahim tidak bergerming dan merasa takut
sedikitpun juga. Menurut keterangan Al Qur’an, Ibrahim tidak takut kepada
siapapun dalam hal mempertahankan kebenaran dan keyakinannya. Ibrahim
hanya takut kepada kekuasaan dan hukuman Allah.

Bukan Allah yang mencari Ibrahim, tetapi Ibrahimlah yang menemukan Allah
dengan Ilmu pengetahuannya. Ibrahim meyakini adanya sang pencipta alam
semesta ini setelah melakukan survey yang cukup lama. Pada awalnya Ibrahim
tidak percaya kalau berhala-berhala dan symbol-symbol ritual pemujaan di
negrinya sebagai Tuhan yang diyakin oleh penduduk. Kemudian Ibrahim mencari
sesuatu yang lebih berkuasa dari pada Berhala. Bahkan pada awalnya Ibrahim
menduga matahari, bintang-bintang dan rembulan lebih berkuasa dan sekaligus
menciptakan alam semesta ini. Tetapi hasil penemuannya itupun tidak
memberikan sebuah kesimpulan yang meyakinkan bagi Ibrahim. Akhirnya
Ibrahim memperoleh kesimpulan yang tidak dapat dia bantah, bahwa seluruh
alam semesta itu ada pemiliknya , ada penciptanya dan ada penguasanya yaitu
Allah. Dan Ibrahim meyakini bahwa tidak ada lagi patung-patung, tidak ada lagi
symbol-symbol ritual penyembahan, tidak ada kekuasaan Raja dan tidak ada
sesuatu apapun didunia ini yang lebih berkuasa dari sang pencipta seluruh alam
beserta isinya. Dan sang pencipta itu adalah satu tidak ada lainnya, yaitu Allah
SWT.

“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini
yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai
kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan 78.
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan
bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ((QS Al Ana’am 6:78-79)”

Keterangan ayat diatas adalah hasil akhir dari sebuah pencarian Ibrahim atas
keyakinannya terhadap sang Pencipta seluruh Alam. Setelah keyakinannya
mantap di dalam dadanya, maka dia menyampaikan jalan pikirannya itu kepada
penduduk sekitarnya. Tetapi jalan pikiran Ibrahim tidak dapat diterima oleh
seluruh warganya yang masih terkebelakang dan bodoh, mereka lebih percaya
kepada Tahyul dan cerita bohong. Begitu juga dengan Bapak Ibrahim Aazar yang
tidak bisa menerima keterangan Ibrahim. Sehingga Ibrahim harus memutar
otaknya , bagaimana cara menyadarkan penduduk yang sudah sangat bodoh itu.
Beberapa kali Ibrahim membuat lelucon seperti ; mengajak patung-patung itu
berbicara dan disaksikan oleh orang banyak lalu dia menampar dan memukul
tubuh patung yang tidak mau mendengar perkataannya hingga Ibrahim
kesakitan. Walaupun penduduk mengira Ibrahim melawak dan ada juga yang
mengira dia gila, tetapi penduduk tetap saja menyembah patung-patung itu.
Ketika Ibrahim menyampaikan kebodohan mereka , merekapun marah dan
menjawab bahwa mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh petua-petua
mereka. Dan akhirnya Ibrahim mendapat ide akan menghancurkan patung-
patung yang tidak berguna itu, dia ingin menyaksikan bagaimana reaksi para
pemuja berhala itu apakah mereka sadar?. Maka pada saat rumah pemujaan
sedang kosong , Ibrahim masuk kedalam ruangan. Disana terdapat banyak sekali
patung dan ada satu yang paling besar. Kemudian Ibrahim berdiri didepan
patung-patung kecil lalu bertanya ;

“ Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia


berkata: "Apakah kamu tidak makan? (QS As Shafaat 37:91)”

Karena patung-patung itu tidak juga menjawab maka selanjutnya Ibrahim


menghancurkan patung-patung itu ;

“ Kenapa kamu tidak menjawab?" Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil


memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat)(QS As. Shafaat 37:93)”

Kemudian Ibrahim menyisakan satu patung yang paling besar dan meletakkan
palu dibahunya. Ibrahim ingin menguji kecerdasan penduduk. Kalau penduduk
benar-benar bodoh maka mereka akan menuduh Dewa besar itulah yag
memarahi dan menghancurkan dewa-dewa kecil-kecil karena ia tidak ingin
disaingi. Tetapi kalau mereka mampu berpikir maka tentu mereka sadar bahwa
tidak mungkin patung itu melakukannya. Atinya Ibrahim ingin memberi sebuah
pelajaran dengan cara yang lain. Kenapa tuhan-tuhan dapat dihancurkan orang?
Bukankah ini berarti manusia lebih berkuasa dari pada patung?. Tetapi apa yang
diharapkan Ibrahim, tidak dipahami oleh orang yang merasa lebih pintar dari
patung. Kepintaran mereka tidak berguna bagi mereka, mereka tetap saja
menyembah patung itu. Jadi siapakah yang lebih bodoh Patung atau manusia ?

Pada zaman millennium ini tidak ada lagi orang yang menyembah patung, kecuali
orang gila. Tetapi model penyembahan berhala itu tetap saja terjadi hingga
sekarang . Pada abad millennium ini, orang tidak menuhankan berhala, tetapi
menuhankan pikiran, opini dan kesimpulan yang dibuat-buat. Seperti pendeta ini
yang memaksakan dugaan dan opininya lalu menyimpulkan dengan seenaknya
otaknya. Didalam pikirannya , Pendeta ini membayangkan Tuhan berubah
menjadi Manusia, kemudian manusia itu menjema lagi menjadi Tuhan. Berarti
tuhan itu tidak mungkin satu kerena sewaktu Tuhan membelah dirinya menjadi
dua , maka terdapat dua tuhan yaitu Tuhan Bapak dan Tuhan anak, sehingga
tuhan ini mempunyai 2 pribadi. 2 pribadipun belum cukup sebab tuhan bapak
tidak berbicara yang berbicara adalah anaknya, maka ada satu tuhan lagi yaitu
Firman. Selanjutnya Pendeta menyimpulkan tuhan itu ada 3 unsur yaitu Bapak,
anak dan Firman. Ketiga itu adalah satu tetapi tidak sama , dia memiliki 3 pribadi
yang berbeda. Jadi kalau ada orang-orang yang mempercayai , meyakini dan
mengikuti pendapat Pendeta ini , maka sama saja mereka telah menyembah
berhala. Berhala itu bukan patung yang dapat dilihat tetapi pemikiran dan opini
Pendeta kafir ini. Jadi sebenarnya umat nasrani saat ini sama saja dengan
penduduk di zaman Abraham yang menyembah berhala dengan nalarnya. Patung-
patung itu tidak kelihatan tetapi ada di dalam pikirannya.

Orang-orang di zaman Abraham bukannya menyadari kebodohan mereka ,


sebaliknya mereka membela patung-patung itu dan menghukum mati Ibrahim
dengan membakar Ibrahim yang dianggap sebagai musuh berhala. Mereka
merasa terhina sebab Ibrahim sudah melecehkan dan merusak sesembahan
mereka. Sama saja dengan Pendeta ini, dia meresa terhina oleh keterangan Al
Qur’an yang mengkritik pikirannya yang menyembah berhala itu, sehingga dia
merusak ayat-ayat yang tidak disukainya. Dia menilai bahwa Al Qur’an sama saja
dengan Ibrahim yang menghina sesembahannya.
Dengan keyakinan dan keimanan yang teguh itulah Ibrahim diselamatkan oleh
Allah dari kezaliman yang dilakukan oleh Raja dan penduduk disana. Karena
mukjizat itu, akhirnya Ibrahim meninggalkan kampung halamannya dengan aman
tanpa gangguan. Jadi kepergian Ibrahim meninggalkan kampungnya disebabkan
karena merasa bahwa beliau tidak perlu lagi berdiaolog dengan mereka. Maka
sebenarnya ayat-ayat AL Qur’an memperbaiki keterangan PL yang mengatakan
bahwa kepergian Abraham karena mendapat perintah untuk mendapatkan
hadiah tanah yang dijanjikan.

Ibrahimpun berpisah dengan Bapaknya yang tidak mau ikut dengannya. Bapaknya
memilih tetap bersama rakyat yang bodoh itu. Tetapi Ibrahim tidak pernah
membenci Bapaknya, beliau sayang pada Bapaknya, kerena itulah dia menasehati
orang tuanya. Tidak terdapat sebuah katapun yang tertulis di dalan Al Qur’an
kalau Ibrahim pernah melecehkan dan menghina Bapaknya sendiri. bahkan
Ibrahim memohon ampunan kepada Allah agar tidak menghukum Bapaknya ;

"Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat
menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah (QS 60:4)".

“ Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain
hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka
tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim
berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat
lembut hatinya lagi penyantun (QS 9:114) “.

Keterangan Ayat didatas menunjukan bahwa Ibrahim tetap mendo’akan


Bapaknya karena dia telah bejanji, tidak akan berbuat durhaka. Tetapi setelah
Ibrahim tidak mampu lagi meluruskan jalan pikiran Bapaknya, maka kata
perpisahanpun tidak terelakkan. Di akhir kalimat, ayat ini menyatakan bahwa
Ibrahim merupakan seorang yang mempunyai pribadi sangat peka , seorang yang
penyantun, hatinya lembut dan sangat sayang kepada keluarganya. Jadi Al Qur’an
melukiskan Ibrahim dengan pribadi yang sangat baik. Kepada Bapaknya saja dia
sangat hormat dan santun apalagi terhadap anak istrinya. Keterangan al Qur’an
ini bertolak belakang dengan penggambaran PL. Kembali al Qur’an mengoreksi
keterangan PL yang mengatakan bahwa Abraham berangkat bersama Bapaknya
Terah.

Akhirnya berangkatlah Ibrahim besama pengikutnya dan berjanji untuk berpisah


selama-lamanya penduduk dan Bapaknya ;

“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-
orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain
Allah, kami menolak (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu karena
permusuhan dan kebencianmu buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada
Allah saja.. (QS Al Mumtahanah 60:4)”.

Diawal ayat diatas , Allah memberikan arahan kepada Muhammad ( dan umat
sesudah itu) bahwa kepribadian Ibrahim dapat dijadikan suri tauladan bagi orang-
orang yang mau mengikutinya. Tentu saja suri teladan yang baik-baik , bukan
seperti yang tertulis di dalam kitab Perjanjian Lama yang sudah dibahahas diatas.
Namun di dalam prinsip ketuhanan, Ibrahim tetap teguh berkeyakinan. Beliau
tidak mau menjual imannya dengan jatah makanan walaupun mati kelaparan.
Ibrahim tidak perlu harus mengungsi ke Mesir , atau berpura-pura sebagai adik-
kakak dengan istrinya demi takut dibunuh Fir’un dan Abimelehk.

Kemana tujuan Ibrahim selanjutnya?

“ Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan
Dia akan memberi petunjuk kepadaku (Qs Ash Shaaffaat 37:99)”.

Dari keterangan ayat diatas, kita mendapat sebuah petunjuk bahwa Ibrahim
mempunyai keyakinan yang kuat, bahwa Allah akan menolongnya di dalam
Perjalananan nanti. Ditempat yang aman itulah Ibrahim akan menghadap
(beribadah) Allah dengan membuat tempat beribadah. Jadi Al Qur’an
menerangkan bahwa kepergian Ibrahim dari kampong halamanya bukan karena
diperintahkan oleh Allah kesuatu tempat yang dijanjikan. Kepergian Ibrahim
terjadi akibat perbedaan prinsip dengan kebiasaan orang di kampungnya,
sementara Ibrahim berada pada pihak yang mengalah sehingga dia memilih
untuk mengungsi. Kalaupun Allah memberikan suatu tempat yang aman bagi
Ibrahim untuk beribadah, itu bukan sebuah perjanjian yang disampaikan oleh
Allah sebelum keberangkatannya. Lain halnya dengan PL yang memerintahkan
Abraham berangkat ketanah yang dijanjikanya untuk beranak cucu. PL tidak
menjelaskan kenapa Abraham harus berangkat ketanah yang dijanjikan Allah
tersebut. Penyebab berangkatnya Abraham tidak jelas dan tujuannya pun tidak
tepat karena harus mengungsi lagi ke Mesir. Jadi sepertinya tujuan dari
perjalanan Abraham yang tertulis didalam PL bernuasa kepemilikan tanah janjian
yang dilatarbelakangi dengan perjanjian Allah. Kenapa Allah harus menjanjikan
Abraham tanah ke Kanan saja, bukankah bumi Allah masih cukup luas dan pada
waktu itu manusia belum banyak sehingga masih banyak pilihan bagi Ibrahim
mencari tempat yang baik dan aman.

Al Qur’an hanya menjelaskan bahwa Ibrahim sudah memasuki daerah yang aman
dan diberkahi oleh Allah yaitu di Baitullah ;

“ Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat


Baitullah (Qs Al Hajj 22:26) ”.

Kemudian diperkuat lagi oleh ayat berikut ;

Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah
memberkahinya untuk sekalian manusia(Surat 21. AL ANBYAA' - Ayat 71)”.

Ayat ini menjelaskan bahwa Ibrahim dan nabi Lut berangkat bersam-sama ke
Baitullah tersebut. Mereka diarahkan oleh Allah menuju sebuah tempat yang
aman di suatu tempat beribadah (baitullah) di Mekkah. Ketika Ibrahim sampai
disana, tempat itu masih merupakan semak belukar dan disana terdapat sebuah
batu sebagai patokan untuk tempat beribadah ;

Disanalah Ibrahim mendirikan rumah ibadah (= Mezbah). Ibrahim meninggikan


letak Batu tersebut sebagai tanda dari tempat ibadah tersebut. Batu itu dikenal
dengan nama Asjar Aswad . Al Qur’an menyatakan bahwa disanalah rumah
beribadah yang pertama kali dibangun oleh Manusia ;
“ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia,
ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi
semua manusia (QS Ali IMran 3:96)”.

Sebagai bukti bahwa Ibrahim pernah membangun tempat beribadah, di dalam Al


Qur’an terdapat keterangan ;

“ Padanya (Baitullah) terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam


Ibrahim (berupa telapak kaki); barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi
amanlah dia (QS 3:97);”

Sampai sekarang bukti telapak kaki Ibrahim itu masih tersimpan dengan baik. Ini
adalah bukti yang tidak terbantahkan tentang kebenaran ayat-ayat Al Qur’an.
Sementara PL tidak pernah ada tertulis bahwa Abraham pernah datang ke
Mekah atau membangun Mezbah disana, bahkan tidak disertai bukti tentang
mezbah yang pernah dibangun Ibrahim pertama kali sampai di negri Kanaan
tersebut.

Bekas telapak kaki itu berukuran panjang 22 cm, lebar 11 cm dan dalamnya 10cm.
makam itu merupakan bukti sejarah dari keberadaan Ibrahim di Baitullah Mekah ;

Jejak Telapak kaki Nabi Ibrahim di Masjidil Haram Mekah


Batu Asjar Aswad

Setelah selasai membangun rumah Ibadah tersebut dan membersihkanya, lalu


Ibrahim dan rombongannya meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan
Perjalanan dalam menyampaikan dakwahnya. Sementara Istrinya yang sedang
hamil tidak ikut berangkat, dan Ibrahim berdoa kepada Allah semoga Allah
melindungi Istrinya . adapun do’a Ibrahim ketika meninggalkan tempat Baitullah
diabadikan pada sutar Ibrahim ayat 37 ;

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di


lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah)
yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah
mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS 14:37) “.

Ternyata doa Ibrahim dikabulkan Allah. Inipun telah menjadi bukti yang tidak
terbatahkan hingga sekarang. Kota Mekah benar-benar menjadi pusat
peribadatan untuk umat Islam seluruh dunia. Puluhan Juta umat islam datang
menunaikan ibadah Haji per tahunnya. Mekah menjadi kota besar yang tidak
pernah sepi dari ritual ibadah dan semua persediaan makanan melimpah ruah di
sana. Begitupun keturunan Ibrahim yang lahir di dekat Baitullah itu yaitu Ismael
melanjutkan keturunan yang menjadi Nabi penutup untuk seluruh umat manusia
“Muhammad SAW”.

Kalau kita lihat kontek ayat diatas , al Qur’an memberi petunjuk “sebahagian
keturunanku di lembah “ ; artinya ketika itu Ismael masih belum Lahir karena
Ibrahim meningalkannya Istrinya dalam keadaan hamil dan menetap di dekat
Baitullah, yang masih banyak semak belukarnya. Kemudian Ibrahim memanjatkan
doa kepada Allah supaya Allah melingdungi Istri dan calon anaknya. Tentunya
Ibrahim meyakini bahwa Allah akan menolong dan melindungi keluarganya.
Keyakinan Ibrahim tentu beralasan kuat , kerena beliau bersama rombongannya
telah menyelesaikan pembangunan Baitullah tahap pertama untuk dijadikan
tempat beribadah bagi pengikutnya, sehingga nantinya tentu ada musafir dan
pengikut ajaran beliau yang datang mampir ketempat itu untuk beribadah.
Sedangkan Ibrahim dan rombongan akan pergi mendatangi negri-negri yang
berdekatan untuk menyampaikan dakwah dan mengabarkan bahwa tempat
beribadah tersebut sudah ada di Mekkah. Dan memang sejarah membuktikan
bahwa tempat tersebut (Baitullah) tersebut selalu dikunjungi oleh banyak
musafir, kabilah, dan orang-orang yang beribadah di tempat itu. Ayat ini
memberikan petunjuk bahwa tidak ada unsur diskriminasi yang dilakukan oleh
Ibrahim kepada anak istrinya dan tidak ada juga keterangan tentang kemelut
rumah tangga beliau. Kisah ini berjalan seperti apa adanya dan tidak bisa
direkayasa untuk maksud-maksud tertentu. Sepertinya kontek ayat ini
membatasi manusia untuk merubah ayat itu sehingga ayat ini sangat kokoh untuk
dimasuki cerita sisipan seperti yang tertulis di dalam PL.

Beberapa tahun kemudian Ibrahim kedatangan tamu yang ternyata adalah para
malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan sesuatu ;

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat)


yang dimuliakan?24 (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu
mengucapkan: "Salaaman", Ibrahim menjawab: "Salaamun" (kamu) adalah orang-
orang yang tidak dikenal. 25 Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya,
kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), 26 lalu dihidangkannya
kepada mereka. Ibrahim berkata: "Silakan kamu makan. (Tetapi mereka tidak mau
makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata:
"Janganlah kamu takut," dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan
(kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). (QS 51:24-28) “.

Kalau kita baca keterangan ayat ini, ternyata sangat mirip dengan keterangan
dalam kitab Perjanjian Lama. Hal itu menunjukkan bahwa Allah sudah
menceritakannya kepada nabi sebelum Muhammad SAW. Namun kalau kita
dalami terdapat beberapa perbedaan yang sangat prinsip.

- Pertama menurut Al Qur’an diantara tamunya itu tidak ada Allah , yang
datang adalah untusan Allah yaitu para Malaikat sedangkan menurut PL
ada Tuhan diantara tamu itu.

- Kedua Al Qur’an tidak menyebutkan jumlah malaikat sedangkan PL


menyebutkan 2 orang Malaikat dan 1 Allah.

- Ketiga Al Qur’an menjelaskan tamu itu langsung menemui Ibrahim


kerumahya sambil mengucapkan salam lalu dijawab oleh Ibrahim sambil
mengatakan bahwa beliau tidak kenal dengan mereka , sedangkan menurut
PL Abraham Tuhan dan Malaikat menampakan dirinya dari bawah pohon
Terbantine lalu Abraham lari menyongsong penampakkan itu lalu meminta
tamunya berkunjung ketendanya.

- Keempat menurut Al Qur’an tempat pejamuan itu di dalam rumah Ibrahim,


sedangkan menurut PL pejamuan itu bertempat dibawah pohon didepan
tenda tempat Abraham tinggal.

- Kelima Al Qur’an menjelaskan bahwa Ibrahim diam-diam menemui


keluarganya (istrinya) supaya menyiapkan hidangan, sedangkan menurut PL
Abraham meminta para tamunya makan dulu supaya segar kembali setelah
itu baru boleh berangkat. Lalu disetujui oleh Tuhan dan malaikat untuk
mempersilahkan Abraham menyiapkan hidangan tersebut.

- Keenam Al Qur’an mengatakan bahwa Ibrahim hanya menghidangkan


anak daging sapi gemuk yang dibakar, sedangkan menurut PL Abraham
menghidangkan banyak jenis makanan sebagai hidangan yaitu roti yang
diolah lengkap dengan prosedur pengolahannya (apakah dizaman itu sudah
ditemukan prosedur pembuatan roti?) , dadih dan susu serta daging sapi.

- Ketujuh menurut Al qur’an Ibrahim mempersilahkan para tamumnya itu


makan tetapi mereka tidak mau makan, sedangkan menurut PL hanya
tamu-tamunya saja yang makan termasuk Allah sementara Abraham
menyaksikan sambil berdiri.

- Ke delapan menurut Al Qur’an Ibrahim ketakutan dan merasa kuatir


menyaksikan para tamunya tidak mau menyentuh makanan, sedangkan
menurut PL Abraham tidak merasa apa-apa.

- Kesembilan Menurut Al Qur’an malaikat menenangkan perasaan Ibrahim


supaya tidak takut karena Malaikat itu akan menyampaikan sebuah berita
gembira untuk Ibrahim, sedangkan PL tidak menceritakan ketakutan
Abraham pada tamunya.

- Kesepuluh Menurut Al Qur’an malaikat yang memberitakan bahwa


Abraham akan medapatkan anak lagi, sedangkan menurut PL Tuhan
langsung yang menyampaikannya pada Abraham.

Ternyata istri Ibrahim ikut menguping dan mendengar berita itu dari balik tirai ;

“ Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan
kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir
putranya) Yakub.(QS 11:71)”.

“ Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri


seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul ( QS 51: 29) ”.

“ Istrinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku
adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh (QS 11:72) ”.

Kalau kita baca keterangan Al Qur’an ini mirip dengan yang disampaikan pada PL.
untuk membandingkannya , marilah kita baca keterangan di dalam PL ;

" Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. 12Jadi tertawalah Sara
dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku
sudah tua?" 13Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan
berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? 15Lalu Sara
menyangkal, katanya: "Aku tidak tertawa," sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: "Tidak,
memang engkau tertawa!" (kej 18 :10,12,13,15)”
Kalau kita terliti lebih jauh ,maka banyak terdapat perbedan-perbedaan
diantaranya ;

1. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim mendengarnya dari balik tirai di dalam


rumahnya, sedangkan menurut PL dari pintu belakang tenda.

2. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim tersenyum dari balik tirai, sedangkan


menurut PL istri Abraham tertawa di dalam hatinya.

3. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim datang menemui tamunya sambil berteriak


dan menepuk mukanya , sedangkan menurut PL istri Ibrahim tidak datang
menemui tamunya.

4. Menurut al Qur’an istri Ibrahim menemui tamu itu sambil mengatakan


bahwa dirinya sudah tua begitu juga dengan suaminya dan dia juga mandul,
tetapi menurut PL Tuhan yang bertanya langsung pada Sara kenapa dia
tertawa .

5. Menurut Al Qur’an istri Ibrahim menyatakan dirinya sendiri mandul dan


sudah tua, sedangkan menurut PL Sara tidak mengakui bahwa dia tertawa
mendengar berita tetapi Tuhan tahu bahwa dia tertawa, ketika ditanya
baru dia mengatakan bahwa dia merasa tidak mungkin hamil tetapi dia
tidak tertawa.

Setelah dibandingkan kedua ayat-ayat di atas antara Al Qur’an dengan kitab


perhanjian Lama tentang dialog antara Ibrahim dan istrinya dengan tamu-tamu
ita, maka kita dapat mengambil sebuah penilaian ;

1. Cerita di dalam Al Qur’an mengandung unsur kebenaran dibandingan


dengan cerita di dalam kitab Pejanjian Lama.

2. Keterangan PL yang menulis adanya Allah diantara tamu itu, diperbaiki oleh
Al Qur’an yang menyatakan bahwa tamu yang datang itu hanya malaikat
utusan Allah kepada Ibrahim. Secara logika , tidak mungkin Tuhan harus
datang untuk menyampaikan kelahiran anak Ibrahim dan tidak mungkin
pula Tuhan atau Malaikat menikmati hidangan Manusia
3. Keterangan PL yang menulis bahwa istri Ibrahim tidak mengakui bahwa Dia
tertawa, diperbaiki oleh Al Qur’an bahwa Istri Ibrahim tidak tertawa atau
mentertawakan berita itu. Yang sebenarnya Istri Ibrahim merasa kurang
yakin lalu menyatakannya kepada tamu yang datang itu. Menurut logika
dan hatinurani, tidak mungkin Istri Ibrahim menipu Allah karena persoalan
sekecil itu.

Setelah Ibrahim menerima berita gembira tersebut, lalu Ibrahim mempertanya-


kan urusan lain yang lebih penting dari tamunya ;

“ Berkata (pula) Ibrahim: "Apakah urusanmu yang penting (selain itu), hai para
utusan? (15:57)"

“ Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum
Lut), 32 agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), 33
yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui
batas (QS Az Zhaziraat 51:31-33)".

Ayat diatas menunjukan bahwa para malaikat itulah yang ditugaskanoleh Allah
untuk melaksanakan ketentuan yang sudah ditetap bagi mereka yang sudah
melampaui batas ( perbuatan homosex ). Dan tidak ada ditemukan satu ayatpun
di dalam Al Qur’an yang menyatakan telah tejadi perundingan atau proses tawar
menawar antara Ibrahim dan Allah sebelum menghancurkan negeri itu.
Keterangan al Qur’an lebih logis dari pada keterangan PL.

Allah (“ kata Kami”) menerangkan bahwa Dia sudah menetapkan keputusan


menimpakan kehancuran pada kaum Lut ;

“34 Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut
itu. 35 Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-
orang yang berserah diri. 36 Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi
orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (QS Adz Dzaariyaat 51: 34-37)”.
Allah mengatakan bahwa tidak satupun di negri itu yang beriman kecuali dalam
sebuah rumah dan Allah menyelamatkan orang-orang bertawakal yang ada di
dalam rumah tersebut.

Kalau kita membaca ayat ini saja seolah-olah kalimat “Dan Kami tidak mendapati
di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. “ ;
seeolah-oleh bermakna bahwa Tuhan dan Malaikat baru tahu setelah menyelidiki
langsung ke tempat tersebut. Bagi orang yang tidak pernah membaca ayat-ayat Al
Qur’an tentang kisah Nabi Lut sebelumnya , maka tentu pikiran orang itu mengira
bahwa ayat diatas menunjukkan bahwa Allah baru tahu setelah datang langsung
kota itu. Padahal keterangan ayat diatas adalah sebuah pernyataan pada saat-
saat akhir dimana Allah memutuskan perkara hendak menghancurkan kota
maksiat itu. Untuk itu marilah kita lihat keadaan kota maskiat itu sebelum
kehancuran yang diterangkan oleh ayat-ayat Al Qur’an .

Kita mulai dari doa nabi Lut ;

“ (Lut berdoa): "Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat)
perbuatan yang mereka kerjakan' (QS Asy Sy’araa’ 26:169)”.

Perbuatan apakah yang dilakukan oleh penduduk ditempat nabi Lut ? Bahkan nabi
Lut sering menasehati mereka ;

“ Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu
mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat (nya)?"
(Qs An Naml 27: 54)”

Perbuatan fahisyah (sejenis perbuatan maksiat) apakah yang telah mereka


lakukan. Bahkan mereka melakukannya saling menyaksikan dan membiarkan?

Ternyata perbuatan Fahisyah itu belum pernah dilakukan oleh umat manusia
sebelumnya ;

“ Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia
berkata kepada kaumnya: "mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu ,
yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?"
(QS Al A’raaf 7:80)”
Keterangan ayat diatas diperkuat lagi oleh ;

“ Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-
benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh
seorang pun dari umat-umat sebelum kamu".( QS Al ‘Ankabiit 29: 28)”

Mengapa Lut berdoa kepada Allah agar keluarganya selamat dari perbuatan itu?
Karena Lut tidak sanggup lagi memperingati mereka dan sebaliknya mereka
mengancam Lut yang suka usil dan sok suci itu ;

“ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka),


bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab
kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Lut dan pengikut-
pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
berpura-pura menyucikan diri." ( QS Al A’raaf 7:81-82)”

Apa yang disampaikan oleh Lut kepada mereka sehingga mereka melecehkan
nasehat Lut bahkan menuduh balik beliau dan pengikut beliau sebagai orang
yang pura-pura suci? Ternyata Lut memberi peringatan akan azab Allah kepada
mereka ;

“ Dan sesungguhnya dia (Lut) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami,
maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.(Surat 54. AL QAMAR - Ayat 36)”

“ Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu)


menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa
kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh
(tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah
kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih
(QS Hud 11:89-90)”.

Apakah Lut tidak pernah menasehati mereka sebelumnya? Ternyata nabi Lut
sering memberi nasehat-nasehat kepada mereka. Tetapi mereka benar-benar
menolak dengan keras.
Ikutilah dialog dibawah ini yang mengisahkan tentang usaha Nabi Lut
menyadarkan penduduk dikotanya ;

“Kaum Lut telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Lut, berkata
kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?" Sesungguhnya aku adalah seorang
rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan
taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu;
upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi
jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh
Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas( QS Asy
Syu’araa’ 26:160-166)".

“ Mereka menjawab: "Hai Lut, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-
benar kamu termasuk orang-orang yang diusir (QS Asy Syu’araa’ 26:167)"

“ Lut berkata: "Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu ((QS Asy
Syu’araa’ 26:168)".

Tentu saja Lut tidak mungkin lagi menesahati mereka , maka Lut memanjatkan
doa kepada Allah sebagaimana disampaikan pada surat Asy Sy’araa’ ayat 16 diatas
tadi. Berkali-kali Lut menyampaikan dakwahnya untuk memperbaiki
penyimpangan yang dialami oleh penduduk, tetapi mereka berbalik menyerang
Lut.

Namun Lut yang masih sabar, menyampaikan pesannya yang terkahir tentang
kedatangan azab yang akan ditimpakan kepada mereka apabila mereka masih
begitu ;

Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu)


menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa
kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh
(tempatnya) dari kamu (QS Hud 11:89)”.

Ayat ini menunjukan sebuah ungkapan kesabaran Lut yang sudah sampai batas,
dia menyampaikan pesan , sekiranya mereka membenci dirinya lantaran
pesannya itu, beliau dapat menerimanya. Tetapi kalau Tuhan yang mengutuk
kelakuan mereka itu maka semuanya akan ditimpa azab oleh Allah, sebagaimana
yang pernah dialami oleh umat nabi Saleh dan umat nabi Hud.

Tetapi ancaman nabi Lut itu tidak didengar oleh mereka , bahkan mereka
menantang nabi Lut supaya memperlihatkan azab Allah tersebut ;

“ Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami
azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar ( QS Al An
Kabuut29:29)”.

Tentu saja nabi Lut sangat sedih mendengar jawaban mereka , maka Lut
memohon kepada Allah untuk disegerakan permintaan tersebut ;

“ Lut berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang
berbuat kerusakan itu (QS Al An’kabuut 29:30)".

Tidak beberapa lama setelah permohonan Lut itu, datanglah beberapa orang
Malaikat yang menyamar sebagai laki-laki berbadan bagus dan elok rupa.
Mereka memasuki kota menuju rumah Lut . Benar saja ! disepanjang jalan
banyak sekali mata laki-laki memandang penuh hasrat kepada serombongan
malaikat yang berwajah tampan ini. Tentu saja bukan hanya laki-laki saja yang
mengikuti langkah pria-pria tampan itu , jelas para wanita dikampung itu sangat
ngiler untuk memiliki mereka. Lalu mereka berbondong-bondong mengikutinya
menuju rumah Lut.

Begitu para malaikat itu sampai di rumah nabi Lut, beliau langsung merasa kuatir.
Apakah yang dikuatirkan oleh nabi Lut ? Apakah nabi Lut mengetahui bahwa tamu
yang datang tersebut adalah para malaikat? Ataukah beliau sudah berfirasat kalau
para tamunya itu adalah malaikat yang akan mengabulkan doa beliau untuk
menghukum orang-orang fashihah tersebut? Ternyata jawabannya ada pada ayat
berikut ;

“ Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Lut, dia merasa
susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: "Ini
adalah hari yang amat sulit."(QS HUd 11:80)”
Menurut keterangan kedua ayat tersebut , berarti nabi Lut tidak mengenal para
tamunya itu, yang dikuatirkan oleh beliau adalah kedatangan para tamunya yang
berwajah elok rupa dan ganteng-genteng itu. Beliau kuatir kalau penduduk akan
datang kerumahnya untuk mencelakakan tamu-tamunya itu.

Apa yang dikuatirkan oleh nabi Lut ternyata terjadi juga, suara derap langkah
sudah mulai terdengar mendekati rumah beliau , suara langkah itu makin
mendekat , suara ribut-ribut diluar rumahnya sudah jelas sekali bunyinya. Pasti
mereka menginginkan tamu-tamu beliau ini. Beberapa saat kemudian pintu
rumah beliau diketok . mereka ingin segera masuk . Tentu saja Lut tidak mau
membuka pintunya. Maka terjadilah dialog dari rumah ke halaman;

“ Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena)
kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, (QS 15:67-69) ” .

Keterangan diatas diperkuat lagi oleh surat Hud ayat 78 ;

“ Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu


mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (QS Hud 11:78)”.

Tentu saja Lut sudah mengerti kehendak mereka yang menginginkan tamu yang
ada dirumahnya . Lut bertambah cemas, tetapi beliau tetap sabar. Beliau
memperingati para serigala yang sudah kelaparan tersebut dan menjelaskan
bahwa para pendatang itu adalah tamunya. Beliau memohon agar mereka
menghormati beliau dan tamunya. Bahkan beliau masih sempat memberikan
nasehat ;

“ Lut berkata: "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi
malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku
terhina (QS Al Hijr 15:68-69) ".

Tentu saja para serigala itu tidak memandang lagi terhadap Lut, mereka hanya
menginginkan tamunya itu, mereka sudah kebelet bahkan mereka
memperingatkan dan mengancam Lut ;
“ Mereka berkata: "Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi)
manusia?" (QS Al Hijr15:70) “.

Akhirnya Lut mengajukan permohon dengan sebuah persyaratan. Lut


menawarkan Anak Gadisnya untuk dikawini secara baik-baik.

“Lut berkata: "Inilah putri-putri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu
hendak berbuat (secara yang halal) ( QS Al Hijr 15:71)".

Tetapi dasar manusia serigala yang mengalami kelainan sex, mereka sudah tidak
mampu lagi membedakan yang baik dan yang salah, yang manis dengan yang
pahit, yang putih dengan yang hitam. Mereka sudah tidak dapat disadari lagi.
Semua laki-laki kaum homosex itu sudah berkumpul di depan rumah beliau ;

“ Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai
keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa
yang sebenarnya kami kehendaki (QS 11:79) ”.

Jadi jelaslah bahwa mereka hanya menginginkan tamu itu. Padahal tamu yang
datang itu bukanlah manusia, yang datang itu adalah roh yang berujud manusia.
Tamu itu hanyalah bayangan berupa sosok manusia terindah yang belum pernah
ada didunia. Sekiranya kaum homo itu mengetahui yang sebenarnya, tentu
mereka akan ketakutan lalu lari berhamburan , terbirit-birit dan terkencing-
kencing.

Lut merasa tidak mampu melawan orang-orang banyak tersebut dan lagi beliau
merasakan kalau dirinya telah dikucilkan selama ini.

“ Lut berkata: "Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau
kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)
(QS Hud 15:80)."

Bahasa yang digunakan oleh ayat ini sangat santun dan sopan sekali. Hal ini
menunjukkan bahwa nabi Lut seorang yang sangat sabar dan sopan dalam
berbicara. Sekiranya orang yang tidak sabar dan sering emosional, tentu kalimat
tersebut tidak cocok baginya. Tentu orang itu akan mengeluarkan kata-kata kesal
atau mengumpat seperti; “kalian jangan begitu ya ! Mentang-mentang kalian
banyak, jangan berlaku seenak ya! Ntar aku lapor sama polisi ya ! “. Atau “ awas
ya ! , nanti aku lapor sama Raja , rasain kalian nanti !”. Tetapi Al Qur’an
menyampaikannya dengan cara tata bahasa yang sopan, santun dan ada kesan
kesabaran dan kerendahanhatian serta ketegasan.

Maka pada saat yang genting itulah Malaikat menyampaikan sesuatu berita
kepada nabi Lut ;

“ ..dan mereka (Malaikat) berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah.
Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali
istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)
(QS Hud 11:31)."

Mendengar pengakuan Malaikat itu, legalah perasaan beliau. Namun beliau


sangat sedih mendengar penuturan tamunya, bahwa istrinya tidak akan
diselamatkan. Ada apa dengan istri beliau ? Kesalahan apakah yang diperbuat
oleh istrinya ?. Kenapa istrinya belum juga kembali? Mengapa malaikat ini akan
meninggalkan istri tercintanya? Mengapa Malaikat ini tidak mau menyelamatkan
istrinya?

Ternyata jawabannya terdapat pada surat At Tahrim ayat 10 ;

“ Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir.
Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara
hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka
kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan
dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang
masuk (neraka) (QS At Tahrim 66:10)".

Ayat diatas dapat digunakan sebagai petunjuk tentang karakter istri nabi Lut
begitu juga istri nabi Nuh. Al Qur’an menyampaikannya dengan sebuah
perumpamaan. Perumpamaan ini memberikan gambaran bagaimana sifat
khianat seorang istri yang tidak diketahui oleh suaminya. Sesaleh apapun
seorang suami belum tentu mampu merubah karakter istrinya , begitu juga
sebaliknya. Seorang suami atau istri mungkin tidak tahu sama sekali bahwa
pasangannya telah mengkianatinya. Dalam hal ini, Istri Lut digambarkan sebagai
istri yang berkhianat kepada suaminya untuk berbuat maksiat, begitu juga
dengan istri nabi Nuh. Artinya mereka hanya mampu menipu pasangannya tetapi
tidak kepada Allah dan Allah yang menentukan balasan yang setimpal baginya.
Dan kepadaNYa manusia berserah diri.

Surat Hud ayat 31 dan 80 memberi petunjuk bahwa pada waktu kedatangan
Malaikat, istri Lut tidak berada dirumah untuk urusan yang tidak direhdhai Allah.
Dan kalau dihubungkan dengan surat At Tahrim ayat 10, ternyata istri Lut
termasuk kelompok pembuat dosa sebagaimana penduduk kota yang lainnya.
Dan kalau dihubungkan lagi dengan surat AL A’raaf ayat 82 diatas, maka pantas
saja orang-orang dikota itu menuduh Lut dan pengikut beliau sebagai orang-orang
yang sok suci, karena ternyata istri beliau termasuk anggota kelompok mereka
juga.

Setelah itu, malaikat menyuruh beliau segera meninggalkan rumahnya untuk


pergi menyelamatkan diri besama pengikutnya dan keluarganya malam itu juga ;

Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan
Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah
dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah
ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan
ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada
mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? (QS Hud 11:81)".

Dari keterangan ayat di atas, memberikan petunjuk bahwa selagi nabi Lut
menyelamatkan diri mencari tempat yang aman, para Malaikat itu menghadang
dan mengusir para serigala kehausan darah itu, sehingga mereka lari terbirit-birit
kembali tempat masing-masing. Tentu saja manusia tidak mampu melawan
Malaikat. Jangankan untuk melawan secara fisik, kalau malaikat tersebut berubah
menjadi ular atau makluk lain yang menyeramkan, maka mau tak mau semua
orang akan ketakutan dan lari terbirit-birit. Akhirnya nabi Lut pergi jauh keluar
kota berjarak sekitar semalam perjalanan , lebih kurang 30 - 40 Km.
Bencana itu terjadi pada saat subuh;

“Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Lut) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas
habis di waktu subuh (Surat 15. AL HIJR - Ayat 66)”.

Tentu saja Nabi Lut tidak membawa istrinya yang malam itu entah dimana berada
dan lagi nasib istrinya sudah ditentukan mati dalam bencana itu.

kembali kita ke surat Adz Dazaariyaat ayat 35 diatas ;

“34 Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut
itu. 35 Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-
orang yang berserah diri. 36 Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi
orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (QS Adz Dzaariyaat 51: 34-37)”.

Hal ini menunjukan bahwa Lut dan pengikutnya selamat dari bencana besar itu.
Pertanyaan dasar yang perlu diajukan adalah ; kenapa Allah harus memusnahkan
manusia seluruh kota tersebut? jawabannya adalah karena semua orang-orang
beriman sudah diselamatkan oleh Allah melalui utusanNYA yaitu Malaikat seperti
pada kalimat di ayat tersebut ” Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali
sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri”. Pada malam terakhir itu ,
yang tinggal hanyalah orang-orang yang mengalami penyakit menular yang
berbahaya bagi generasi berikutnya. Apabila orang-orang ini dibiarkan hidup lebih
lama maka mereka akan menularkan sifat dan karakter mereka pada generasi
berikutnya. Sehingga akan lahir generasi yang akan rusak lahir dan bathin. Pada
zaman Milenium ini, penyakit yang paling ditakuti dan berbahaya adalah penyakit
menular yang disebut AIDS , penyakit ini ditularkan akibat prilaku homosex dan
hubungan sex bebas. Penyakit menular ini dapat menghancurkan sistim
kekebalan tubuh sehingga si penderita mudah terserang berbagai jenis penyakit
lainnya dan akhirnya dia mati dalam keadaan sekarat. Artinya; hukuman ini
merupakan bentuk kasih Sayang Allah kepada umat generasi berikutnya dan
supaya mereka tidak menularkan penyakit tersebut ke negeri-negeri lainnya.
Tentu kita dapat membayangkan bagaimana suasana di zaman purba itu, tentu
saja ilmu kedokteran belum ada seperti sekarang ini. Apabila waktu itu
berkembang wabah penyakit AIDS, spilis, Gonoore dan penyakit kelamin lainnya,
maka ini benar-benar sebuah bencana yang belum ada obatnya dizaman itu.
Bukankah belum ada umat lain di dunia ini yang melakukan perbuatan terkutuk
seperti itu sebelumnya ? Bukankah nanti wabah itu berasal dari kota terkutuk
itu?. Kalau akibat perbuatan penduduk dikota itu sempat menghasilkan penyakit
kelamin yang menular dan menyebar kebelahan negeri lainnya, maka siapakah
yang akan mengobati mereka, apakah dukun-dukun zaman purba sanggup
mengobati penyakit infeksi yang menular ? Bukankah pada zaman nabi Isa AS ,
berabad-abad setelah umat nabi Lut, wabah penyakit sampar saja tidak ada yang
mampu mengobatinya, kecuali mukjizat Isa atas Izin Allah? Bukankah dalam
proses sterilisasi kuman-kuman penyakit menular (flu babi, flu burung, penyakit
sapi gila dan lain-lain) , maka hewan inangnya juga harus dimusnahkan dengan
cara dibakar lalu dikubur di dalam tanah? Mungkin saja sudah mulai ada
penduduk yang sakit , minimal sakit mental yaitu cinta sesama jenis yang akhirnya
mereka akan punah, atau mungkin juga saat itu penyakit kelamin dan AIDS sudah
menunjukkan gejala akan terjadi, kalau bukan yang berkuasa yang dapat
mengatasinya lalu siapa lagi ? Mungkin jiwa Ibrahim dan kita sekalian sedih
mendengar seluruh manusia didalam kota itu akan dimusnahkan, tetapi akan
lebih gawat lagi apabila wabah kelainan mental dan penyakit menular
berkembang dan mematikan penduduk dalam jumlah yang lebih banyak dan
mengerikan.

Akhirnya penduduk yang tidak berguna itu terpaksa harus di sterilisasi secara
alamiah dengan kehendak sang pencipta ;

“ Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah
(Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan
bertubi-tubi, (QS Hud 11:82)”

Al Qur’an membantah keras pernyataan Kitab PL yang menulis bahwa Lut adalah
seorang yang bejat yang telah berbuat zina dengan anaknya sendiri sehingga
melahirkan anak sekaligus cucunya. Keterangan kitab PL ini benar-benar sebuah
penghinaan, Fitnah dan gossip yang nyata. Nabi Lut telah mencegah dan
menentang habis perbuatan maksiat, lalu kenapa kitab PL menuduh beliau telah
melakukan perbuatan yang lebih keji lagi. Benar-benar biadab tuduhan tersebut.
Al Qur’an menulis bahwa Lut adalah seorang Nabi dan utusan yang sangat
disayangi Allah;

“ Maka Lut membenarkan (kenabian) nya (QS AL Ankabuut 29:26)”.

Bahkan Allah mengabadikan Lut sebagai seorang Rasullullah ;

“Sesungguhnya Lut benar-benar salah seorang rasul”


(QS Ash Shaaffaat 37:133).

Bahkan nabi Lut termasuk orang yang dilebihkan derajatnya diantara umatnya ;

dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di
atas umat (di masanya) (Qs Al An’aam 6:86)”,

Jadi banyak sekali ayat-ayat yang terdapat di al Qur’an yang dituduh mencontek
kitab PL oleh Pendeta munafik tadi, ternyata justru memperbaiki dan
membetulkan keterangan dari kesalahan yang sudah diperbuat oleh PL. Hal ini
menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah hasil karya dari pegarang aslinya yang telah
datang untuk merevisi keterangan-keterangan yang sudah dirusak oleh orang-
orang yang tidak bertanggung jawab.

Kita kembali kepada kisah Ibrahim. Kita akan baca bagaimana keterangan Al
Qur’an ketika Ibrahim melaksanakan perintah Allah yaitu mengobankan anaknya.
Al Qur’an tidak menyebutkan secara tegas nama anak Ibrahim yang di kurbankan.
Hal ini memberikan kesan bahwa Al Qur’an tidak mengutamakan dan tidak
mementingkan nama orang yang dikurbankan, tetapi lebih mengedepankan nilai
dari pengorbanan Ibrahim kepada Allah. Kita tidak dapat membayangkan
bagaimana perasaan Ibrahim ketika dia diperintahkan untuk menyembelih
anaknya sendiri, apakah ini benar-benar perintah dari Tuhan? Apakah ini suara
iblis? Apakah Tuhan tidak main-main dengan perintahnya? Kenapa ujian itu harus
dengan membunuh anaknya yang dia peroleh ketika dia sudah tua? Bukankah
selama ini dia sering memberikan kurban yang sangat banyak dari domba, unta
serta keledainya kapada Tuhan? Apakah kurban yang dia berikan selama ini masih
belum cukup bagi Tuhan? Bagaimana kalau sekiranya anaknya tidak bersedia
dikurbankan? Bagaimana dengan Istrinya, apakah dia percaya? Dan masih banyak
lagi pertanyaan yang berkecamuk di dalam dada apabila kita membayangkan diri
kita sebagai Ibrahim.
Al Qur’an menjelaskan bahwa, bukankah ujian yang diberikan Tuhan itu
merupakan konsekwensi dari ucapan Ibrahim yang dulu pernah diikrarkannya
kepada Tuhan ;

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab:


"Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam (QS Al Baqaraah 2:131)".

Kemudian Allah menagih janji Ibrahim untuk melaksanakan satu perintah Tuhan ;

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu
Ibrahim menunaikannya (QS Al Baqaraah 2:124)”.

Dan ketika perintah itu disampaikan Allah kepada Ibrahim melalui mimpinya,
Ibrahim tidak lantas membawa anaknya untuk disembelih, namun
mendiskusikannya terlebih dahulu ;

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS 37:102)".

Al qur’an menerangkan bahwa ujian yang dilaksanakan oleh Ibrahim benar-benar


sebuah ujian yang sungguhan, bukan sebuah pembohongan seperti yang
disampaikan di dalam kitab PL. Al Qur’an menjelaskannya dengan sangat serius
bahwa Ibrahim benar-benar melaksanakannya dengan penuh keyakinan serta
penyerahan diri yang tulus untuk melaksanakan perintah Allah ;

“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami


memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Ash Shaffaat
37:105)”.

“ Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (QS Ash Shaffaat 37:106)”.
Al Qur’an tidak menunjuk siapa anak Ibrahim yang dia kurbankan. Berbeda
dengan keterangan PL yang sangat detail menguraikannya, tetapi jelas-jelas
mengandung unsur kesalahan yang sangat fatal untuk diterima dengan akalbudi
manusia. Keterangan kitab PL seperti sebuah propaganda menyanjung tinggi
anak Abraham yang bernama ishaq, tetapi mengabaikan penalaran dan hati
nurani. Al Qur’an juga tidak memberikan data umur anaknya yang dikurbankan
itu, tetapi Al Qur’an memberikan sebuah petunjuk bahwa umur anak itu sekitar
dia mampu membantu Bapaknya bekerja seperti; mengangkat kayu, mengambil
air dan suruhan ringan lainnya. Walaupun Al Qur’an tidak memberikan data-data
pengorban anak Ibrahim dengan lengkap, tetapi keterangan Al Qur’an ini
mengandung hikmah bahwa Al Qur’an tidak memberikan peluang kepada
manusia untuk melakukan perdebatan atau mempersoalkannya. Al Qur’an hanya
memberikan tanda-tanda terhadap siapa yang dikurbankan Ibrahim, tugas
manusialah untuk menyelidikinya. Al Qur’an tidak melarang dan tidak pula
menganjurkan kepada siapapun untuk menyelidiki kejadian tersebut karena
makna utama dari pelaksanaan kurban itu adalah unsur ketaqwaan Ibrahim.
Mengenai siapa yang dikurbankan oleh Ibrahim, Al Qur’an hanya memberikan
sedikit petunjuk penting yaitu, ketika itu anaknya sudah sanggup bekerja atau
dapat membantu pekerjaan Bapaknya ;

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim,(QS Ash Shaffaat 37:102)”.

Seseorang boleh memprediksikan kalau seorang anak laki-laki dapat membantu


Bapaknya bekerja setelah berumur 8 hingga 14 tahun. Artinya anak itu belum
cukup umur untuk dikawinkan atau beristri dan dia masih dibawah pendidikan
dan pengawasan Bapaknya. Kemudian Al Qur’an memberi petunjuk tambahan
bahwa anaknya itu sudah dapat diajak berdiskusi.

"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa
yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-
orang yang sabar (QS Ash Shaffaat 37:102)”.
Artinya anak tersebut sudah akil baliq (pubertas) dan anak yang berumur akil
baliq adalah sekitar 12-15 tahun dimana anak ini sudah mulai dewasa dan mampu
menggunakan nalarnya untuk menilai sebuah kebenaran akalbudinya. Kalau anak
seumur ini, biasanya dapat diajak bertukar pikiran yang ringan-ringan lalu dia
dapat mengambil sebuah keputusan berdasarkan logikanya dan kebersihan
hatinuraninya.
Sekiranya Ishak sudah lahir ketika itu, maka tentu saja Ishak harus sudah berumur
sekitar 12 sampai 15 tahun, sedangkan Ismael akan berumur lebih tua lagi dari
Ishak atau mungkin juga Ismael sudah mempunyai istri. Sekiranya waktu Itu
Ismael sudah matang, dewasa atau sudah beristri, maka keterangan ayat 37:102
tersebut tidak beraku bagi Ismael.
Persoalan akan muncul apabila umur Ismael dan Ishak tidak berbeda jauh
(misalnya 2-3 tahun), karena akan muncul masaalah bagi Ibrahim bagaimana
menjatuhkan pilihan diantara kedua putranya itu. Sebaliknya jika selisih umur
Ismail dengan Ishak terpaut 10 hingga 13 tahun atau Ishak belum lahir , maka
keterangan ayat 37:102 tersebut tidak berlaku kepada Ishak karena ketika itu
umur Ishak berkisar antara 1-2 tahun dimana dia masih belum bisa diajak
berdiskusi oleh bapaknya dalam mengambil keputusan yang sangat rumit
tersebut.
Kalau kita menilai kepribadian Ibrahim yang digambarkan oleh Al Qur’an diatas,
maka kita sangat berkeyakinan bahwa Ibrahim adalah seorang Bapak yang
berbudi luhur, seorang yang sangat bijaksana, seorang bapak yang penuh kasih
sayang kepada keluarganya, seorang yang adil dan teguh dalam mempertahankan
keyakinannya. Jadi seandainya Ibrahim sudah mempunyai 2 orang anak,
kemudian datang perintah untuk mengorbankan anaknya. Maka Abrahim akan
mengalami goncangan bathin yang sangat hebat. Bagaimana dia harus memilih
anaknya yang akan dikorbankan , karena di dalam keterangan ayat Al Qur’an tidak
ada perintah untuk memilih salah seorang anaknya. Dan tentu Ibrahim akan
bertanya lagi kepada Allah, siapa anak yang harus dikurbankan? Kalau sekiranya
anak Ibrahim sudah 2 orang waktu perintah itu diturunkan maka beliau akan
bertanya kepada salah seorang anaknya. Itupun tidak mungkin dilakukan kepada
anak-anaknya , karena salah seorang anaknya masih sangat kecil untuk diajak
bicara. Sekiranya kedua anak itu berusia hampir sama , misalkan selisih 1-2 tahun,
maka dengan rasa keadilan yang dimiliki oleh Ibrahim maka tentu dia akan
mengorbankan kedua anaknya tersebut. Bahkan kalau selisih umur anaknya 10-
13 tahun sekalipun, beliau dengan keadilan dan ketegasannya akan
mengorbankan keduanya. Ibrahim tidak akan memilih-milih diantara anaknya,
karena yang penting dan paling utama bagi Ibrahim adalah menjalankan perintah
Allah.
Jadi kalau kita hubungan dengan keterangan yang ada di dalam Al Qur’an dan kita
hubungan dengan kecerdasan kita berpikir serta akalbudi yang kita miliki, maka
ketika perintah itu turun, Ibrahim baru mempunyai anak satu orang yaitu Ismael.
Karena itu lebih memudahkan Ibrahim dalam melaksanakan perintah itu dan
tentu tidak akan menimbulkan pertentang dan pertanyaan-pertanyaan yang aneh
aneh kalau anaknya sudah 2 orang pada persitiwa itu.
Dan sekiranya kita hubungkan dengan keterangan kitab PL, anggap saja
keterangan PL tentang data-data umur Ibrahim dan kelahiran anak-anaknya
benar. Maka seharusnya yang dikurbankan oleh Abraham di bukit Moria itu
bukanlah Ishaq tetapi itu adalah Ismael. Sebelumnya kitab PL telah banyak
melakukan kebohongan-kebohongan tentang anak yang dikorbankan itu,
diataranya tentang kalimat “anaknya yang tunggal” yang tidak dapat diterima
akalbudi (kecuali kalau Ishaq belum lahir), keterangan tentang ketidakadilan
Abraham kepada anak-anaknya, tentang kebohongan Abraham menyampakan
kalimat “korban bakaran bagi-Nya “ dan lain-lain yang menimbulkan banyak
kejanggalan dan keanehan. Dimana kitab PL menutupi sebuah kebenaran dengan
kebohongan dan terus melakukan kebohongan-kebohongan lagi, sehingga
keterangan Bible tidak bisa diterima akal sehat. Keterangan yang ada di dalam
kitab PL sangat berbelit-belit, seperti seorang terdakwa yang menceritakan
alibinya di dalam sebuah “laporan berita acara penyelidikan (BAP)” yang
disampaikannya pada acara pengadilan yang tidak adil.

Jadi setelah kita membahas sebuah cerita saja di dalam Kitab PL, maka kita sudah
dapat mengambil sebuah kesimpulan yang kuat bahwa kitab PL bukanlah kitab
Taurat yang asli tetapi sudah banyak diedit dan direkayasa untuk tujuan tertentu.
Kalau kita bahas lagi tentang keterangan kitab Bile yang lainnya, maka akan
ditemukan ratusan bahkan ribuan kejanggalan dan keanehan yang ahirnya juga
akan berujung kepada kesimpulan bahwa kitab itu adalah karangan manusia yang
copot sana ,copot sini lalu digabungkan menjadi Bible. Ternyata di dalam kisah
Abraham saja kita sudah dapat menilai bahwa banyak sekali keterangan ayat-ayat
Al Qur’an yang lebih logis dan benar, sehingga banyak sekali keterangan yang
tertulis di dalam kitab PL ditujukan supaya diberbaiki dan direvisi oleh sang
pencipta. Sang pecipta kitab Taurat dan Injil adalah Allah. Sedangkan kitab Al
Qur’an adalah kitab terbaru yang diterbitkan oleh penciptanya untuk melengkapi
dan menyempurnakan kita-kitab sebelumnya. AL Qur’an adalah kitab terlengkap
dan sudah di update dan merevisi kitab-kitab sebelumnya , yaitu kitab Zabur,
kitab Taurat, dan kitab Injil .

Jadi jelaslah bahwa Pendeta tadi tidak mengerti sama sekali dengan kitabnya,
dia hanya menduga-duga, dia tidak pernah membahas kitabnya secara benar dan
mungkin dia tidak pernah membaca kitab Bible sampai tamat untuk mengambil
kesimpulan yang benar. Pendeta ini merupakan iblis yang menyamar untuk
menghasut orang-orang beriman.

Perumpamaan yang tepat bagi pendeta ini adalah , ada selumbar sebesar balok
dimatanya hingga dia melihat tidak dengan matanya tetapi dengan nafsunya.

V.1 KESIMPULAN KEDUA

Ada delapan hal yang menonjol dari pandangan Islam berdasarkan Al Qur’an
dalam mengemukakan pribadi Isa AS yang selalu dikaitkan dengan Allah SWT,
yaitu :

Bahwa Isa AS adalah seorang yang paling terkemuka kedudukannya di dunia dan
akhirat (Surat 3 Alli Imraan 45). Seorang yang terkemuka di dunia adalah seorang
yang tertinggi kedudukannya di dunia yg dapat diumpamakan sbg raja dunia.
Sedangkan seorang yg terkemuka di akhirat mempunyai kedudukan yang sama
kedudukannya dengan Allah SWT. Mengapa ??? Sebab hanya Allah SWT saja yang
boleh menjadi yg tertinggi dan terkemuka di akhirat. Karena Allah SWT
menyaksikan segala sesuatu.
Pendeta ini berkesimpulan bahwa kedudukan yang tertinggi di dunia adalah Raja.
Begitulah pandangan pendeta ini tentang kemuliaan dunia yang diagung-
agungkannya. Raja dunia adalah hasil buah pikirannya terhadap keagunggan itu.
Pendeta ini memandang tinggi sebuah kedudukan atau pangkat di dunia.
Kedudukan yang paling tinggi disisi pendeta ini adalah raja.

Tetapi kedudukan yang paling tinggi disisi Allah untuk dunia, bukanlah raja. Kalau
raja dunia yang dimasud oleh Pendeta ini pada ayat AL Qur’an tersebut adalah
raja dunia yang bernama Yesus , maka kenapa Yesus tidak pernah memimpin
sebuah Negara pada waktu itu?. Bukankah ketika Yesus hendak disalib, dia bukan
sebagai Raja karena ada raja yang berkuasa yang bernama Herodes di Yarusalem
ketika itu. Dan masih ada lagi kaisar Romawi diatas raja Herodes yang lebih
berkuasa. Dimana kedudukan Yesus ketika akan disalib itu? Tidak lebih dari
seorang pesakitan yang hendak dijatuhi hukuman atas izin raja Herodes. Jadi
jelaslah Pendeta ini kembali mengada-ada. Padahal menurut Al Qur’an, seorang
raja tidak berarti apa-apa di sisi Allah. Para raja dan kaisar sehebat apapun akan
hancur oleh kehendak Allah ;

“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan


kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Ali Imran 3:26)”.

Pada keterangan ayat diatas, Allah memberikan arahan kepada utusannya


Muhammad agar menyampaikan maklumat kepada sekalian Raja dunia ataupun
seorang Kaisar yang berkuasa disuatu negeri bahwa sewaktu-waktu gelarnya itu
akan dicopot dan kerajaannya dapat saja dihancurkan kalau Allah berkehendak.
Jadi disisi ALLah tidak ada sesuatupun yang mempunyai kedudukan yang tinggi,
kecuali keimanan dan ketaqwaannya. Jadi pendeta ini telah memaksakan alibinya
tentang ayat yang disodorkannya. Pendeta ini hanya mengada-ada saja.

Selanjutnya pedeta kolot ini menyampaikan pemikirannya bahwa ketinggian dari


kedudukan Isa di akhirat menyebabkan dia sama dengan Allah. Sepertinya
pendeta ini membayang Tuhan sebagai dua orang Raja kembar sedang duduk
berdua diatas singasananya sambil tersenyum memandang rakyatnya. Ada-ada
saja pikiran Pedeta yang baru datang dari negeri khayangan ini.

Bahwa Isa AS dapat menciptakan makluk hidup yaitu burung dari tanah dan
menghidupkan orang mati. Sedangkan kemampuan yang sebagaimana dimiliki Isa
AS hanyalah dapat dimiliki oleh Allah SWT, karena Allah SWT adalah yang berhak
menghidupkan dan mematikan segala makluk di alam semesta ini.

Kesimpulan Pendeta ini benar-benar tidak realistis, Cuma dapat menghidupkan


seekor burung , itupun atas izin Allah, kemudian Pendeta ini menyimpulkan
bahwa Yesus telah menciptakan segala makluk hidup. Apakah ada keterangan di
dalam AL Qur’an atau Bible sekalipun kalau Yesus dapat menciptakan makhluk
hidup selain burung? Lantas burung yang diciptakan Yesus itu kemana perginya?
Apa beda burung yang diciptakan Yesus dengan burung yang lainnya? apakah
semua jenis burung yang dihidupkan oleh Yesus? Ada-ada saja pikiran Pendeta
gendeng ini. Kemudian menghidupkan orang mati saja, seizin Allah, sudah
disimpulkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Apakah Lazarus (orang mati yang
dibangunkan) ketika lahir , dia diciptakan juga oleh Yesus , apakah Yesus kenal
dengan Lazarus sebelumnya?. Benar-benar ngaco pikiran pendeta ini.

Bahwa Isa AS tidak menerima wahyu seperti nabi-nabi lainnya tetapi langsung
berbicara firman Tuhan bahkan sejak dari bayi sampai dewasa menunjukkan
bahwa Allah SWT ada di dalam Isa AS dan berbicara langsung melalui mulut Isa
AS.

Jelas bahwa pendeta ini tidak membaca dan memahami dengan seksama
pengertian ayat al Qur’an tersebut dengan benar. Dia membutakan matanya ,
menutup telinganya dan mematikan pikiran sehatnya untuk mampu menganalisa
keterangan ayat tersebut lebih realistis. Sehingga dia berbicara seperti orang yang
kesurupan , seperti orang yang sedang membacakan mantra-mantra bisikan Iblis.

Bahwa Isa AS adalah satu-satunya makluk manusia di dunia yang tidak bisa
disentuh setan atau iblis sekalipun, berarti bahwa Isa AS adalah satu-satunya
makluk yg paling murni kesucianNya. Kesucian yang paling murni hanyalah dimiliki
oleh Allah SWT.
Memang Isa AS tidak dapat digoda dan digunggu oleh setan atau Iblis. Tetapi
sebaliknya pendeta ini sering bersentuhan dengan setan, dia bersahabat baik
dengan setan-setan sehingga kata-katanya sudah tidak terkontrol lagi, dia
berbicara atas nama setan dan pendeta ini adalah setan, mungkin rajanya setan.

Allah SWT telah mengingatkan kepada kita melalui ayat-ayat Al Qur’an bahwa
Taurat dan Injil yg disiarkan oleh Isa AS memberi petunjuk kepada kebenaran dan
jalan yang lurus. (Surat 46 Al Ahqaaf ayat 30).

Kitab Injil yang disampaikan oleh Nabi Isa untuk memperbaiki kitab Taurat adalah
benar. Tetapi kitab Perjanjian Lama yang ada di dalam Bible bukanlah kitab Taurat
dan kitab Perjanjian Baru bukan pula kitab Injil yang pernah diturunkan Isa As.
Kita sudah bongkar kepalsuan ayat-ayat PL diatas dan akan banyak lagi kepalsuan
di dalam kitab Perjanjian Baru kalau kita bongkar satu persatu untuk
membandingkan dengan Al Qur’an. Jadi pendeta ini sebaiknya bicara sesuai fakta
sajalah. Janganlah menyampaikan kebohongan-kebohongan lagi kepada umat
Islam. Umat islam sudah tahu apa yang sebenarnya. Al Qur’an sudah
menginformasikannya kepada Umat muslim! Jadi berhentilah menghasut umat
islam. Sia-sia saja usaha Pendeta ini.

Bahwa hanya Isa AS dan Allah SWT yang menjadi saksi pada hari kiamat di mana
Isa AS adalah hakim yang adil dan yang menentukan siapa yang masuk surga atau
neraka. Hal ini berarti bahwa Isa AS memiliki wewenang yg sama dengan
wewenang Allah SWT dalam menentukan seseorang masuk surga atau neraka.

Sekarang kesimpulan Pendeta gendeng ini sudah berubah lagi. Sebelumnya dia
mengatakan bahwa Tuhan dan Isa As diakhirat adalah dua sosok yang menyatu
menjadi Allah. Tetapi sekarang dia berkesimpulan bahwa Isa menjadi saksi
sekaligus menjadi Hakim. Sebuah kesimpulan yang dibuat-buat, tidak logis. Benar-
benar gendeng Pendeta ini. Kalau Isa As sebagai saksi dan sekaligus menjadi
Hakim, lalu kesaksian apa saja yang dapat dia berikan ? Bukankah Isa As hanya
hidup beberapa tahun saja di negri Yarusalem? Bagaimana dengan sesaksian
umat-umat sebelumnya? Apakah Yesus juga hadir pada zaman Abraham? atau
zaman Musa? Lantas bagaimana dengan umat Musa atau umat Ibrahim waktu
itu? Kalau sekarang ini Yesus sedang hadir dimana? Di inggris, Amerika , Israel
atau sedang di pulau Kalimantan? Apakah Yesus juga sebagai saksinya? Masakan
seorang saksi dapat bertindak sebagai hakim. Tentu tidak adil keputusannya
bukan? Benar-benar gendeng pendeta pengikut iblis ini.

Bahwa Isa AS adalah satu-satunya nabi yang tidak mempunyai makam


kuburannya karena setelah Dia mati, Dia hidup kembali dan diangkat kembali
kepada diri Allah SWT. Dengan demikian, maka Isa AS akan hidup terus karena IA
berada di dalam diri Allah SWT dan menyatu denganNya.

Benar-benar aneh kesimpulan Pendeta ini. Ketika para pemimpin agama Nasrani
tidak berhasil membuktikan bahwa Yesus benar-benar disalib dan Yesus benar-
benar mati dan tidak ada kuburannya, maka hanya satu kesimpulannya Yesus
pasti Tuhan. Sekarang kesimpulannya hendak ditularkan kepada umat islam
dengan cara memutarbailkan ayat-ayat Al Qur’an. Bukankah sebaiknya dibahas
dulu kitab Bible yang tidak memperkuat Yesus sebagai Tuhan atau opini-opini
yang menyimpulkan Yesus anak Tuhan?. Jangan mencari pembenaran dengan
cara merusak ayat suci agama orang lain. Apakah Bible benar-benar mengatakan
bahwa Yesus adalah Tuhan. Apakah ada keterangan langsung dari Yesus atau dari
Tuhan sendiri bahwa yang disalib itu adalah Yesus. Bukankah yang mengatakan
bahwa Yesus adalah Tuhan berasal dari opini umatnya dan kesimpulan yang
dipaksakan oleh pendeta? Jadi berhentilah mengajari umat islam tentang
kebohongan-kebohongan itu, semua orang muslim sudah mengetahuinya.

Karena pengikut-pengikut Isa AS yg disebut orang Kristen (yang juga sering


disebut Ahli Kitab) percaya bahwa Isa AS adalah Allah SWT, maka mereka
langsung masuk surga, sedangkan ummat di luar pengikut Isa AS harus masuk
neraka terlebih dahulu.

Sepertinya Pendeta ini ingin membohongi sejarah dan menyampaikan


kebohongan itu kepada umat islam. Janganlah melakukan kebohongan lagi,
cukuplah kitab Bible dan ahli kitab nasrani zaman dulu yang bohong, tetapi
orang-orang yang mengerti jangan dibohongi. Janganlah merusak kitab suci umat
islam kemudian mengajari umat islam dengan bahan yang sudah dirusak itu. Ayat-
ayat Al Qur’an sangat kokoh dan sangat suci untuk dikotori oleh tangan orang-
orang najis Pendeta Kristen. Hanya orang Kristen saja yang menganggap Yesus
adalah Tuhan. Kalau pendeta ini mengira Isa As yang ada di dalam Ayat Al Qur’an,
adalah tuhan, maka itu adalah daya nalar pendeta itu sendiri. Sekarang pendeta
ini ingin meracuni pikiran orang muslim dengan pil kematiannya itu. Begitulah
tabiat Iblis yang benar-benar jadi musuh orang beriman.

Dengan melihat kesemua point di atas, jelas sekali bahwa Al Qur’an sebenarnya
adalah firman Allah yang mengungkapkan bahwa Isa AS adalah Allah SWT sendiri
yang turun menjadi manusia, yang patut disembah dan kita harus bertaqwa serta
taat kepadaNya agar kita dapat menerima surga keselamatan yang dijanjikan
tersebut.

Benar-benar plin-plan kesimpulan Pendeta palsu ini. Kalau Pendeta ini percaya
dan meyakini Al Qur’an adalah Firman Allah, lalu bagaimana dengan kitab Bible
tentu bukan firman Allah ya?. Tidak mungkin Allah menyampaikan dua kitab yang
bertentangan untuk menyampaikan tentang siapa DIA. Di dalam Al Qur’an tidak
satupun ketentuan yang menyatakan bahwa Tuhan itu banyak, tuhan itu
beranak, tuhan itu diperanakkan. Allah itu satu yaitu Allah SWT. Sedangkan
menurut keterangan Bible, tuhan itu macam-macam. Ada tuhan anak, ada tuhan
firman , ada tuhan bapak dan ada juga tuhan yang merupakan gabungan dari 3
unsur itu. Jadi kalau pendeta ini percaya bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah,
maka jangan setengah-setengah. Tidak ada satupun keterangan ayat al Qur’an
yang menyatakan bahwa Isa As adalah Allah yang patut disembah dan bertaqwa.
Artinya pendeta ini telah merusak sendi-sendi beragama umat islam. Janganlah
bermain kata-kata untuk melakukan penyamaran dan menyampaikan
kebohongan dengan cara kemunafikan. Apakah memang demikan cara yang
diajarakan di dalam setiap kotbah yang disampaikan pada pidato Pendeta di
gereja-gereja?

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa Allah harus sampai turun ke dunia dan
menjelma menjadi manusia ??? Apakah agama-agama yang telah ada tidak dapat
mengantarkan manusia ke dalam keselamatan surga ???

Sekarang Pendeta ini memberikan sebuah pertanyaan. Apakah maksud pendeta


ini mengajukan pertanyaan tersebut?. Apakah pendeta ini mampu menjawabnya
secara benar dan logis?
Agama dengan syariat-syariatnya yang harus ditaati dan dilaksanakan sepenuhnya
sepanjang umur hidup manusia. Apakah selama hidup kita (dengan kekuatan
manusia sendiri) mampu untuk melaksanakan kesemua hal tersebut ??

Seberapa tekunkah kita mampu untuk selalu menjalankan syariat-syariat


tersebut, dan adakah tolak ukur yang pasti dalam menjalankannya agar kita dapat
menerima surga keselamatan tersebut ??

Jawabannya adalah “TIDAK ADA TOLAK UKUR YANG PASTI”.

Ternyata Pendeta ini sudah frustasi dengan ketentuan atau syariat agama yang
pernah ada sebelumnnya seperti yang ada di dalam kitab Taurat termasuk syariat
yang ada di dalam kitab Injil dan kitab Al Qur’an. Menurut pendeta ini, semua
syariat itu tidak menjamin manusia untuk syorga. Sehingga ketentuan-ketentuan
di dalam seluruh kitab-kitab itu tidak perlu lagi dijalankan karena tidak akan
membawa jalan menunju syorga. Padahal sebelumnya Pendeta ini menganjurkan
umat islam belajar membaca Al Kitab Bible untuk mendapatkan keselamatan.
Pertanyaan balik yang seharusnya dijawab oleh pendeta “apakah Pendeta ini
mengerti tentang syariat yang terdapat banyak di dalam Bible? Apakah dia kira di
dalam Bible itu tidak terdapat satupun ketentuan Syariat? Jadi kenapa
sebelumnya pendeta ini menganjurkan umat islam belajar membaca kitab Bible
sementara dia sendiri tidak akan menjalankan syariat yang ada di dalam kitab
sucinya. Jadi mau dibawa kemanakah umat yang telah disesatkanya itu?
Bukankah ini sebuah kemunafikan yang nyata?

Dengan tidak adanya tolak ukur yang pasti tersebut, maka hampir seluruh agama
yang ada dalam doanya selalu memanjatkan permohonan agar ditunjukkan
‘SUATU JALAN YANG LURUS’ yang dapat mengantarkan manusia kepada surga
keselamatan tersebut. (Tidak terkecuali umat Islam saat ini).

Tolak ukur yang pasti bagaimanakah yang dimaksud oleh Pendeta ini? Apakah
kepastian itu hanya ada di dalam pikirannya? Bagaimana dia mampu berbicara
tentang kepastian kehidupan disyorga sementara dia sendiri belum pernah
kembali dari Syorga? Sepertinya pendeta ini yakin sekali akan masuk syorga
dengan jalan pikirannya. Dia sangat berkeinginan untuk dimasuk kedalam syorga
yang bukan miliknya. Kemudian dia mengajarkan kepada Manusia bagaimana cara
memasuki syorga itu. Sepertinya pendeta ini adalah pemilik syorga itu atau yang
punya syorga itu adalah Bapaknya. Pendeta ini tidak membutuhkan doa-doa
untuk memasuki syorga diakhirat kelak, kerena syorga itu kepunyaan Bapaknya
dan Bapaknya telah memberikan password kepadanya. Tidak perlu berdoa, tidak
perlu mengerjakan perintah Bapak, katakan saja kalau kita anak Bapak, tunjukkan
kata sandinya, maka Bapak menyediakan rumahNYA untuk siapa saja yang
mengaku sebagai anaknya. Tidak perlu repot-repot menjalankan syariat yang
sudah ditentukan Bapak, bikin saja akte kelahiran yang diparaf oleh Pendeta ini,
maka semua manusia tinggal masuk kerumah Bapak dengan selamat. Begitulah
nalar dan jalan pikiran pendeta purba yang hudup dizaman Millleium ini. Kalau
Pendeta ini yakin masuk syorga kenapa dia tidak langsung membunuh dirinya
atau berdo’a kepada Bapaknya untuk segera dimatikan, atau minta tolong kepada
orang banyak untuk disalib lalu digantung ditiang salib. Tentu saja Pendeta ini
tidak akan mau, kerena dia takut mati. Itulah ciri-ciri orang yang munafik.

Allah SWT juga menyadari hal tsb, sehingga Dia sendiri perlu turun ke dunia untuk
menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan neraka abadi, untuk membawa
manusia ke dalam surga keselamatan tersebut.

Bagaimana pendeta ini mengetahui bahwa Allah benar-benar sudah sadar?


Apakah Pendeta ini pernah berbisik-bisik dengan Allah lalu Allah
menyampaikannya kepada pendeta ini? Kebohongan apa lagi yang hendak
disampaikan oleh pendeta tengik itu? Pendeta ini menganggap dirinya lebih tahu
dan lebih mengerti terhadap jalan pikiran Allah sehingga dia dapat meramalkan
prilaku Allah menurut opini-opinya sendiri. Jalan pikiran Pendeta ini mirip sekali
dengan jalan pikiran Abraham ketika hendak mengorbankan ishaq didalam
keterangan PL. Pendeta ini sudah belajar dari kisah pengorbanan Abraham
sehingga tidak perlu lagi melakukan pengorbanan dengan cara melaksanakan
syariat Bapaknya. Pendeta ini tahu bahwa Bapaknya akan memberikan kurban
yang baru, bahkan lebih menakjubkan daripada hewan kurban yang pernah
diterima Abraham. Abraham Cuma dapat domba, tetapi pendeta ini dapat kurban
manusia yaitu Yesus. Kumidian kurban itu langsung dinobatkan jadi Tuhan. Hebat
sekali jalan pikiran Pendeta yang sudah kemasukan setan ini.
Sebagai seorang muslim yg saleh sudah seharusnya percaya kepada ayat-ayat Al
Qur’an sebagaimana telah dijelaskan di atas, sebab bagi orang-orang yang tidak
percaya dan ingkar terhadap ayat-ayat Al Qur’an tersebut, orang tersebut
dianggap sebagai orang kafir terhadap Isa AS dan hatinya akan dikunci Allah dan
menerima siksaan, sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 4 An Nisaa ayat 155-156 :

Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekafiran mereka,
maka mereka tidak beriman kecuali sedikit. Dan karena kekafiran mereka
(terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar
(zinah).

Perumpamaan bagi pendeta ini adalah seperti “ ikan tongkol yang dijual
dipasar”. Ikan tongkol yang dijual dipasar itu mempunyai mata besar dan lebar
serta indah sekali. Tetapi untuk apa mata yang besar kalau tidak dapat digunakan
untuk melihat. Ikan tongkol itu sudah mati tetapi matanya seperti memelototi
siapa saja yang melihatnya. Begitulah perumpamaan untuk pendeta ini. Pendeta
ini tidak mengerti sama sekali dengan ayat tersebut. Matanya terbuka lebar
tetapi dia tidak melihat, telinganya terpasang tetapi tidak mendengar, otaknya
ada tetapi pikun. Padahal ayat itu benar-benar ditujukan kepada dirinya sendiri
tetapi dia tidak menyadarinya.

Surat 4 An Nisaa ayat 150-151 :

“ Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Allah dan rasulNya, dan mereka


menghendaki untuk memisahkan antara Allah dan rasulNya, dan mereka berkata:
“Kami beriman kepada sebahagian dan ingkar kepada sebahagian”, dan mereka
menghendaki untuk mengambil suatu jalan diantara yang demikian itu, mereka
itulah orang yang benar-benar kafir, dan Kami telah menyediakan bagi orang-
orang kafir azab yang menghinakan “.
Sepertinya ayat yang disampaikan diatas sudah diplintir oleh Pendeta serigala
berbulu domba ini. Untuk itu marilah kita baca sekali lagi ayat yang disampaikan
oleh Pendeta rada gila ini.

“ Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan


bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap
sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan
(tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang
kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu
siksaan yang menghinakan (QS An Nisa’ 4:150-151)”.

Kalau pendeta ini mempunyai penalaran yang benar , maka maksud ayat ini
sebenarnya ditujukan kepada orang-orang kafir seperti pendeta itu. Ayat ini
mempertegas tentang tidak ada kompromi dalam beraqidah atau beriman kepada
Allah sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh utusanNYA. Pendeta ini
mengajak umat muslim bertaqwa dengan cara setengah-setengah dan dengan
cara kompromi yaitu dengan mebayangkan Tuhan itu Esa tetapi merupakan
penjelmaan dari 3 kepribadian. Ayat ini menentang pendapat seperti itu. Jadi
tidak ada kompromi terhadap orang-orang yang mempersekutukan Allah,
begitulah pernyataan ayat tersebut diatas. Tetapi dasar pendeta ini sudah
kerasukan setan , dia benar-benar tidak mengerti ayat tesebut, bahkan dia
menuduh balik kepada umat islam.

Sedangkan bagi orang-orang yg tidak percaya dan ingkar kepada Al Qur’an, maka
Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka :

Surat 2 Al Baqarah ayat 39 :

“ Dan orang-orang yg ingkar dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah
penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya “.

Kembali Ayat ini tertuju kepada Pendeta ini, tetapi dia tetap saja tidak
menyadarinya. Siapakah yang dimaksud “orang-orang yg ingkar dan
mendustakan ayat-ayat Kami “ pada kalimat ayat tersebut. Pendeta ini telah
banyak medustakan dan membohongi ayat-ayat Allah dan pendeta ini telah
banyak menentang ayat-ayat Allah , maka pendeta inilah yang dimaksud oleh
ayat ini. Dia kekal di dalamnya. Amien!

Surat 3 Aali Imraan ayat 4 :

“ Sesungguhnya orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Kami, bagi mereka


azab yang berat. Dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa) “.

Kembali pendeta ini memelintir ayat diatas dan tidak bersedia menyampaikan
ayat sebelumnya. Sebaiknya kita baca lagi ayat di atas dengan benar ;

“ Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan


kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. Sebelum
(Al Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh
siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa) ( QS Ali
Imran 3:3-4)”.

Ayat tersebut diatas dengan tegas mengatakan bahwa kitab Taurat dan kitab injil
yang sudah dirusak oleh ahli kitab sebelumnya , telah diperbaiki oleh Al Qur’an.
Al Qur’an telah membenarkan (memperbaiki) kitab-kitab Allah sebelumnya.
Sehingga hanya Al Qur’an yang diakui oleh Allah sebagai pegangan hidup bagi
seluruh umat yang mengakui umat nabi Ibrahim agar menuju jalan yang lurus
tersebut. Dan pada ayat terakhir menyatakan bahwa bagi yang tidak bersedia
mengikuti Al Qur’an dan menentangnya, membohonginya dan merusak ayat-ayat,
maka yakinlah Allah akan memberi ganjaran dengan siksaan yang amat berat.
Amien !

Surat 4 An Nisaa ayat 56 :

“ Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat Kami, akan Kami masukkan


mereka ke dalam neraka, setiap kulit mereka hangus, Kami gantikan dengan kulit
yg lain agar mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah adalah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana “.
Kalau pendeta ini mengerti maksud ayat ini, tentunya dia merinding membaca
maksud ayat ini. Apakah Pendeta ini belum juga menyadari bahwa yang dimaksud
denga kata “ kafir” tersebut adalah orang yang menduakan Allah sebagaimana
ajaran trinitas yang dia bangga-banggakan itu? Apakah Pendeta ini tidak dapat
membayangkan bagaimana kalau kulitnya dimakan Api, kemudian tumbuh
kembali , dibakar lagi . begitu berulang-ulang. Dia akan mengalmi rasa sakit yang
tidak habis-habisnya. Amien !

Oleh sebab itu bagi orang-orang Muslim, sebaiknya kita hidup berkenan kepada
Allah SWT dan seyogyanya kita menjadi muslim yg soleh yang beriman kepada
Allah SWT dan percaya kepada ayat-ayat Al Qur’an yg diturunkanNya dan berjanji
kepada Allah.

Bahwa di dalam melakukan ibada shalat 5 kali sehari dengan jumlah raka’at 17
raka’at, pada setiap raka’at kita selalu mengucapkan Alfaatihah dengan antara
lain ayatnya yg ke-6 yg berbunyi :

“Ihdinas Shiraathal Mustaqiim”, yang berarti “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Apakah maksud pendeta ini memberikan wejangan kepada umat muslin dengan
nasehat-nasehatnya? Dia menyuruh orang muslim mempercayai ayat-ayat Allah
yang terdapat di dalam Al Qur’an. Tidak disuruhpun , orang muslim pasti
mulakukannya dengan tuduk dan patuh sesuai dengan yang disampaikan oleh
Rasullullah. Tidak seperti pendeta ini yang sudah tidak percaya lagi kepada
hukum syariat di dalam kitabnya sendiri sehingga dia bangga meninggalnya
ketentuan itu. Kenapa pula Pendeta ini menganjurkan umat muslim taat
melakukan shalat? Pendeta ini Benar-benar seperti seriga berbulu domba. Di
dalam bacaan shalat orang muslim tentu ada kaliamat “Ihdinas Shiraathal
Mustaqiim” yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia “ tunjuki lah
kami jalan yang lurus”. Tetapi ayat itu belum berheti sampai disitu, masih ada
sambungan ayat setelah itu yang menerangkan tentang jalan yang lurus itu.
Maka sebaiknya kita baca saja secara keseluruhan bacaan shalat tersebut ;

“ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 1. Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam 2. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 3, Yang
menguasai hari pembalasan 4. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya
kepada Engkaulah kami mohon pertolongan 5 . Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka,
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat 6 (QS
Al fatihah 1:1-6)”.

Apakah maksud jalan yang lurus tersebut? Ternyata keterangannya ada pada ayat
sesudahnya. Jalan yang lurus itu bukanlah jalan yang dilaknati oleh Allah, bukan
pula jalan orang-orang sesat. Siapakah orang yang dilaknati Allah dan siapakah
orang yang telah sesat yang dimaksud oleh ayat ini? Tentu saja yang dimaksud
oleh bacaan shalat ini, tidak lain dan tidak bukan adalah Pendeta ini. Pendeta ini
adalah contoh yang paling tepat untuk orang sesat dan orang yang paling dilaknati
oleh Allah . Amien!

Dengan demikian, hampir setiap hari minimal 17 kali kita meminta kepada Allah
SWT agar ditunjukkan jalan yang lurus selama umur hidup kita.

Sebenarnya, permohonan kita tersebut sudah dijawab oleh Allah SWT dalam Al
Qur’an surat Az Zukhruf ayat 61 dan 63 yang menyatakan bahwa jalan yang lurus
itu sesungguhnya ada pada Isa AS yang akan menjadi tanda bagi kiamat dan tidak
boleh diragukan. Oleh karena itu, kita harus percaya kepada Allah SWT dan taat
kepada Isa AS, sebab inilah jalan yang lurus.

Kalau yang dimaksud jalan yang lurus itu adalah Isa AS, sesuai dengan nalar
Pendeta ini, maka seluruh umat islam yang membaca surat al fatihah itu telah
telah melaknati dirinya sendiri dan melaknati Isa AS karena yang dimaksud oleh
ayat tersebut bukanlah Isa AS tetapi orang-orang kafir seperti pendeta ini. Benar-
benar sebuah kebodohan yang nyata! benar-benar gila pendeta ini. Kalau tidak
mengerti sebaiknya janganlah menyampaikan kebodohan dan pembohongan
seperti itu. Perumpamaan bagi Pendeta ini adalah seperti orang sipil sedang
melatih prajurit baris-berbaris supaya lurus barisannya.
Surat 43 Az Zukhruf ayat 61 :

“ Dan sesungguhnya dia (Isa) adalah suatu tanda bagi khiamat, maka janganlah
kamu ragu-ragu tentang kiamat itu, dan ikutilah AKU, inilah JALAN YANG LURUS “.
(Wa innahu la’ilmul lis saa’ati fa laa tamtarunna bihaas wa tabi’uuni haadzaa
shiraathum mustaqiim)

Kita sudah membahas ayat ini sebelumnya , jadi tidak perlu diulangi lagi
pembahasannya. Yang perlu dipahami adalah ayat Al Qur’an tidak dapat
disimpulkan dari keterangan satu ayat saja karena banyak sekali ayat-ayat
didalam al Qur’an yang terkait satu sama lainnya. Kalau ingin memasukan satu
ayat saja yang berlawanan maka ratusan bahkan ribuan ayat yang lainnya akan
bangkit untuk menentang kejanggalan itu. Jadi janganlah mencoba-coba
memasukan sebuah opini yang tidak benar kedalam ayat Al Qur’an. Pasti akan
ketahuan. Karena Allah yang menjaminnya. Ayat-ayat di dalam Al Qur’an memang
tersusun secara tidak teratur. Artinya , ayat-ayat Al Qur’an tersusun tidak
berdasarkan urutan kronologi sebuah cerita sebagaimana penulisan kitab Bible.
Justru di dalam ketidak teraturan itu terdapat sebuah kekuatan yang tidak dapat
di dobrak oleh orang-orang yang bemaksud merubahnya. Setiap ayat yang
disampaikan oleh Al Qur’an selalu mengandung sebuah keseimbangan, hubungan
sebab akibat, hubungan keselarasan, hukum-hukum yang logis dan mengandung
unsur keadilan dan rasa kasih sayang, hukum yang melindungi seluruh manusia
dari kejahatan. Susunan ayat-ayat di dalam AL Qur’an seperti benang kusut,
dimana kita tidak dapat mengetahui dimana unjungnya dan dimana pula
pangkalnya. Antara satu ayat dengan ayat lainnya saling terkait dan saling
menguatkan sehingga membentuk mata-rantai yang tidak putus-putusnya. Tidak
ada kitab lain yang sehebat Al Qura’n dengan tata bahwa yang sangat kokoh,
indah , mengandung filsafat yang tinggi nilainya, menenangkan jiwa kalau dibaca,
meresap langsung ke dalam sanubari bagi yang menginginkan petunjuk. Begitu
indah tata bahasanya menyebabkan orang sangat suka menghafalnya. Ribuan
atau mungkin jutaan orang di bumi itu mampu menghafal seluruh ayat-ayat Al
Qur’an tesebut tanpa salah sedikitpun bahkan letak titik komanyapun dapat
diingat. Sekiranya Al Qur’an ini dimusnahkan oleh orang-orang kafir, maka
seketika itu akan terbit Al Qur’an baru yang persis sama dengan Al Qur’an
sebelumnya. Bayangkan kalau sekiranya kitab Bible dihancurkan oleh Allah
dimuka bumi ini. Maka kitab Bible itu akan musnah selama-lamanya. Karena tidak
satupun umat nasrani yang sanggup menghafal seluruh kitab Bible. Karena banyak
sekali versi dan terjemahan yang berbeda. Susunan ayat-ayat di dalam Al Qur’an
seperti sudah dirancang untuk membendung serangan yang dibangun oleh orang
yang mempunyai niat tidak baik.

Apabila orang kafir mencoba-coba merusak ayat-ayat tersebut dengan opini yang
sesat, maka ternyata keterangan yang ada dialam ayat tersebut akan menyerang
balik kepada logika yang janggal itu. Atau ayat-ayat yang berdekatan akan
menolak kejanggalan itu. Al Qur’an benar-benar Mukjazat yang tidak
terbantahkan, baik kebenarannya, keselarasannya, keagungannya, fakta-fakta
yang disampaikannya, keagungan Allah dan banyak lagi yang tidak mungkin
diuraikan satu persatu dalam kesempatan ini. Maka berhentilah menyerang Al
Qur’an, karena Al Qur’an tidak akan dapat diserang oleh kebatilan, kepalsuan,
kebohongan karena pasti ketahuan niat jahatnya oleh Al Qur’an.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 63 :

“ Dan ketika Isa datang membawa keterangan-keterangan, Dia berkata “ Sungguh


AKU datang kepada kamu dengan hikmah dan supaya AKU terangkan kepada
kamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan kepadaNYA”. Maka taqwalah
kepada Allah dan taatlah kepadaKU “.

Disamping surat Az Zukhruf tersebut, maka jalan yang lurus telah dituangkan oleh
Allah SWT di dalam surat Al Ahqaaf ayat 30 yang menyatakan bahwa kitab Taurat
dan Injil memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Kesimpulan Pendeta tentang yang dimaksud oleh surat Az Zukhruf adalah Bible ,
sudah dibahas sebelumnya. Kitab Taurat yang disamakan sebagai Kitab perjanjian
Lama , ternyata banyak sekali mengandung kekeliruan yang tidak pantas
dimasukkan sebagai ayat sebuah kitab suci. Ternyata Pendeta ini asal bicara saja
tanpa menunjukan kemampuannya yang benar. Bahkan dia tidak meyakini
hukum-hukum didalam Taurat itu karena hukum taurat tidak menjamin dan tidak
menunjukan jalan ke syorga. Begitulah opini pendeta ini. Jadi jelaslah bahwa
pendeta ini bukan manusia , diragukan apakah pendeta ini penganut Kristen sejati
atau iblis yang menyamar sebagai manusia. Entahlah. Mungkin dia sendiri yang
dapat menjawabnya.

Surat 46 Al Ahqaaf ayat 30:

“ Mereka berkata “Hai kaum kami”. Sesungguhnya kami telah mendengar (Injil)
yang diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab sebelumnya (Taurat),
yang memberikan petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus “.

Sepertinya Pendeta ini kembali memelintir ayat-ayat Al Qur’an untuk tujuan


penyesatannya. Dia sengaja tidak menyampaikan satu ayat sebelumnya karena
dia takut menyampaikan kebenaran yang ditutup-tutupinya. Pendeta ini
menyampaikan kebohongan dengan cara menutup kebenaran ;

“ Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang


mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu
mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah
selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan 30. Mereka
berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur'an)
yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang
sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
( QS Al Ahqaaf 46:30-31)”.

Pada ayat yang pertama yang dimaksud adalah al Qur’an yang ternyata dapat
dipahami oleh oleh kaum Jin. Bahkan kaum jin menjadi sadar setelah mendengar
bacaan Al Qur’an tersebut lalu mereka kembali kepada golongan jin lainnya untuk
memberikan peringatan. Pertanyaannya adalah peringatan apakah yang
disampaikan oleh jin tersebut kepada teman-temannya yang lain. Ternyata
jawabannya ada pada kelanjutan ayat sesudahnya. Sebagaimana yang sudah kita
ketahui bahwa para Jin itu mempunyai umur yang sangat panjang sampai ribuan
tahun, sehingga mereka menyaksikan sendiri orang-orang yang pernah membaca
kitab-kitab sebelum Al Qur’an. Ternyata para Jin itu mengetahui bahwa Al Qur’an
tersebut menyampaikan kebenaran ayat-ayat Taurat yang diturunkan kepada
Musa . Artinya , para makluk Jin itu mengerahui bahwa kitab Taurat tersebut
pernah dijahili oleh ahli Kitab Nasrani dan Yahudi, tetapi sekarang sudah ada kitab
Al Qur’an yang datang untuk memperbaikinya.

Tetapi pendeta yang sudah kebablasan ini menyatakan bahwa yang dimasud oleh
ayat tersebut adalah Injil. Jadi jelas bahwa Pendeta ini lebih bodoh dari pengikut
Jin. Pendeta ini adalah kawanan setan yang tidak dapat menerima kalau AL
Qur’an itu datang untuk memperbaiki kitab Taurat. Pendeta ini adalah titisan roh
Ahli kitab zaman dulu yang sudah berhasil merusak kitab Taurat. Seperti yang
sudah kita buktikan pada pembahasan kitab perjanjian Lama diatas. Sebagai
orang yang mampu menggunakan akal, kita dapat menilai bahwa yang dimaksud
oleh pembicaraan Jin itu adalah kitab Perjanjian Lama yang sudah berubah dari
kitab Taurat yang asli. Kemudian para jin itu memberitakan kepada teman-
temannya, “dengarlah sudah ada kitab yang namanya AL Qur’an yang baru
terbit untuk merevisi kitab Taurat yang diubuah oleh Ahli Kitab Nasrani yang
terdapat di dalam kitab perjanjian lama ! “. Begitulah kata Jin kepada teman-
temannya.

Memohon terus menerus dengan permohonan yang sama kepada Allah SWT
sejak kita belajar beribadah shalat sampai kepada akhir hayat kita member kesan
seolah-olah Allah SWT tidak menjawab doa permohonan kita, padahal
sesungguhnya Allah SWT sudah langsung menjawab permohonan doa kita.

Masalahnya sekarang adalah apakah kita akan mengikuti perintah Allah SWT atau
tidak ???

Sudahkah kita menerima DIA ???

Surga dan Neraka tergantung pada jawaban anda sekarang ….

“DIA” siapakah yang dimaksud oleh Pendeta ini?. Kalau kata “DIA” bermaksud
ALLah SWT , penerimaan sebagai apa ? Kalau yang dimaksud dengan DIA adalah
Allah SWT, maka bagi umat Islam tidak ada kalimat Menerima DIA. Bagi iman
orang muslim “ bukan manusia yang menerima DIA” tetapi “ DIA yang berhak
menentukan apakah manusia itu diterima atau ditolak disisiNYA”. Bertolak
belakang dengan iman orang nasrani yang dapat menentukan bahwa manusialah
yang menentukan apakah menerima atau menolak DIA.
Kemudian, sepertinya pendeta ini melecehkan orang-orang yang shalat. Padahal
shalat itu bukan hanya menyembah dan berdoa, tetapi ada nilai-nilai kedekatan
dan penghubung antara manusia dengan penciptanya. Berbeda dengan umat
nasrani yang tidak pernah mengenal shalat atau menyembah Allah. Padahal
Yesus sendiri shalat dan menyembah Allah. Tetapi kenapa umat kristen hanya
bernyanyi puduan suara saja digereja. Tidak seperti Yesus menyembah Allah pada
saat dia mengetahui bahwa beliau dikhianati oleh muridnya sendiri, sebelum
peristiwa penyaliban itu.

Kemudian kalau yang dimaksud DIA itu adalah Yesus, apa hubungannya dengan
jaminan masuk syorga atau neraka. Apakah dengan mengakui Yesus sebagai
tuhan, lalu umat nasrani begitu yakin akan masuk syorga? Apakah semasa Yesus
masih HIdup beliau pernah berkata bahwa dengan mengakui aku sebagai DIA
maka kalian aku jamin masuk syorga? Apa benar ada tertulis begitu? Tentu saja
tidak ada dan tidak pernah. Yang ada hanyalah tulisan opini dan kesimpulan
penulis Bible semata. Sehingga ajaran Yesus yang sebenarnya sudah dihilangkan.
Yang ada hanyalah opini dan kesimpulan dari para ahli Kitab umat nasrani yang
sudah merubah ayat-ayat injil.

KATA PENUTUP

Alhamdulilaahi Rabbil aalamin.

Dengan rahmat Allah dan taufikNya, kami bersyukur bahwa penyusunan tulisan
mengenai Isa AS, yang bahan-bahan penulisannya sepenuhnya diambil dari sudut
pandangan Islam (Al Qur’an dan kitab Hadits) telah dapat diselesaikan.

Pendeta ini benar-benar serigala berbulu domba, seenaknya saja dia mengadopsi
kalimat-kalaimat tauhid yang ada di dalam AL Qur’an untuk menjalankan misi
penyesatannya. Dia sama sekali tidak memahami arti dan makna kalimat tersebut
sehingga Pendeta ini asal mengucapkan kata-kata yang tidak dipahaminya. Kalau
dia memahami tentu dia akan malu mengucapkannya. Karena kalimat itu sangat
bertentangan dengan ajaran yang sudah disampaikannya sebelumnya, yaitu
ajaran kafir Trinitas. Jadi sebaiknya mengacalah terlebih dahulu sebelum terlihat
oleh orang banyak. Pendeta ini merasa bersyukur telah menyampaikan
penyesatannya kepada umat islam, bukannya seharusnya bertobat. Dia
mengatakan bahwa dia telah menyampaikan opininya berdasarkan pandangan
umat islam. Atas dasar apa Pendeta ini mengatakan bahwa dia telah
menyampaikan alibinya berdasarkan sudut pandang islam. Ini benar-benar
sebuah pembohongan besar. Jelas bahwa Pendeta ini telah menginjak-injak ayat-
ayat Al Qur’an untuk misi pengkafiran dengan metode pemutarbalikan fakta lalu
menyampaikan kebohongan itu dengan cara yang batil. Semoga siapa saja yang
menulis atau bersekongkol melakukan penghinaan dan memfitnah ayat-ayat suci
al Qur’an di dalam bukunya ini, sesegera mungkin diberi petunjuk oleh ALLah
kejalan yang benar. Apabila mereka tidak mau menyadari dengan keterangan
yang sudah diberian ini , semoga Allah menunjukkan kebenaran ayat-ayatNYA
untuk ditimpakan kepada mereka. Amien !

Dengan demikian, setidak-tidaknya kita mengerti sekarang apa dan siapa


sebenarnya Isa AS.

Terpulang kembali kepada kita apakah kita termasuk orang-orang yg mengingkari


ayat-ayat Al Qur’an yg diyakini diturunkan malaikat Jibril sehingga menjadi orang-
orang yg sesat ataukah kita menjadi orang-orang yang patuh kepada perintah
Allah SWT.

Pengertian apa dan siapa Isa AS didalam AL Qur’an sudah jelas dan tidak akan
berubah lagi. Umat islam meyakini bahwa Tidak ada tuhan selain Allah SWT dan
Isa As adalah utusanNYA. Pendeta inilah yang sebenar telah mengikari ayat-ayat
Al Qur’an dan merusaknya untuk misi kristenisasi dan misi penyebaran agama
Kristen dengan cara kepalsuan dan kekejian.

Demikian sekedar apa yg dapat kami ungkapkan mengenai Isa AS ditinjau dari
sudut pandang Islam, dan buku ini dipersembahkan bagi mereka yg ingin
mambaca dan mengetahui secara benar tentang Isa AS. Bagi mereka yg sekarang
sadar dan akhirnya mengetahui bahwa Isa AS sebenarnya adalah Allah SWT,
hendaknya segera bertobat dan segera mempelajari Alkitab, agar memperoleh
kedamaian dan sejahtera dalam hidup karena Alkitab member petunjuk kepada
kebenaran dan kepada jalan yang lurus sebagaimana dituangkan di dalam surat Al
Ahqaaf ayat 30, sehingga surga pasti menanti di akhir hayat mereka (Surat 5 Al
Maa’idah ayat 65).

Surat 5 Al Maa’idah ayat 65 :

“ Dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertaqwa, tentulah Kami tutup
(hapuskan) kejahatan-kejahatan mereka dan tentulah Kami masukkan ke dalam

surga-surga yang penuh kenikmatan “.

Ditinjau dari sudut pandang Islam? Dari sudut pandang Kristen saja sudah banyak
salahnya, nabrak sana nabrak sini! Apalagi dari sudut pandang islam ! Kotbah
Pendeta ini benar-benar ngawur. Ya maklumlah.. orang gila lagi bicara.. dia tidak
mengerti apa yang diomonginnya. Ini ngak perlu lagi kita tanggapi, kalau kita
tanggapi lagi , bisa bisa kita jadi rada gila juga.. kayak dia.

Anggap saja Pendeta gila ini sedang bermimpi di siang bolong. Pendeta ini baru
saja mendapat wangsit dari raja iblis, kemudian menyampaikan mantra-
mantranya ditengah orang ramai. Maka dari itu wahai orang yang hendak
menentang kebenaran ! Janganlah kalian mencoba merusak ayat-ayat Allah,
karena akan merusak jalan pikiran sendiri. Contohnya Pendeta ini, dia telah salah
langkah menurutkan hawa nafsu bisikan iblis, dia sudah tidak sadar dengan apa
yang telah dia perbuat, sehingga dia menjadi kesurupan. Dia tidak sadar dengan
apa yang dia ucapkan. Benar-benar PENDETA GILA !

==== 0 ====

Anda mungkin juga menyukai