Anda di halaman 1dari 7

TEORI KEBENARAN

Teori-teori kebenaran itu antara lain adalah:


1. Teori Kebenaran Korespondensi
2. Teori Kebenaran Koherensi
3. Teori Kebenaran Pragmatis
4. Teori Kebenaran Sintaksis
5. Teori Kebenaran Semantic
6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi
7. Teori Kebenaran Logis yang Berlebihan

1. Teori Kebenaran Korespondensi


Teori ini dikenal dengan teori kebenaran tradisional atau teori kebenaran
yang paling tua, hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Hornie dalam
bukunya Studies in Philosophy menyatakan “The correspondendence theory
is an old one”. Teori ini menyatakan bahwa
“that is true that p if only if p”
“kebenaran bahwa p jika dan hanya jika p”
Hal ini seungguhnya mengacu pada pendapat Aristoteles yang menyatakan
“to say of what is that is or of what is not that it is not, is true”
“ untuk mengatakan apakah benar itu adalah itu atau apa yang bukan
adalah bukan, itu benar”
Kattsoff menyatakan bahwa “kebenaran atau keadaan benar berupa
kesesuaian (correspondence) antara makna yang dimaksudkan oleh suatu
pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau apa
yang merupakan fakta-faktanya.
Dari uraian di atas, maka disimpulkan bahwa teori kebenaran yang
paling awal yang berangkat dari teori pengetahuan Aristoteles yang
menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang
dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek. Atau dengan

133
kata lain adalah suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila
pengetahuan itu mempunyai saling kesesuaian dengan kenyataan yang
diketahuinya.

2. Teori Kebenaran Koherensi


Teori koherensi dibangun oleh para pemikir rationalis seperti Leibniz,
Spinoza, Hegel, dan Bradley.
Teori koherensi sebagaimana dikemukakan oleh White (1978) yaitu:
“ to say that what is said (usually called a judgment, belief, or proposition) is
true or false is to say that it coheres or fails to cohere with system of other
things which are said; that it is a member of a system whose elements are
related to each other by ties of logical implications as the elements in a
system of pure mathemathics are related”
Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya Elements of Phylosophy
“… suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan
saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lain yang benar, atau jika
makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan
pengalaman kita”.
Dari penjelasan di atas maka dapat diungkapkan bahwa teori koherensi atau
teori saling berhubungan, adalah makna pernyataan dari suatu kebenaran
adalah bernilai benar bila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide
dari proposisi terdahulu yang juga bernilai benar. Pembuktian proposisi itu
melalui hubungan logis jika pernyataan yang hendak dibuktikan
kebenarannya berkaitan dengan pernyataan-pernyataan logis atau
matematis.

3. Teori Kebenaran Pragmatis


Paham pragmatis sebenarnya merupakan pandangan filsafat kontemporer
karena paham ini baru berkembang pada akhir abad XIX dan awal abad XX
oleh tiga filsuf Amerika, yaitu C.S. Pierce, William James, dan John Dewey.

134
Menurut paham ini
“ …an idea (a term used loosely by these philosophers to cover any ‘opinion,
belief, statement, or what not’) is an instrument with a particular function. A
true ideas is one which fulfills its function, which works; a false ideas is one
does not”
Kattsoff menguraikan bahwa penganut pragmatism meletakkan ukuran
kebenaran dalam salah satu macam konsekuensi. Atau, proposisi itu dapat
membantu untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang memuaskan
terhadap pengalaman-pengalaman, pernyataan itu adalah benar.
Jadi menurut pandangan teori ini bahwa suatu proposisi bernilai benar bila
proposisi itu mempunyai konsekuensi praktis seperti yang terdapat sacara
inheren dalam pernyataan itu sendiri, karena setiap pernyataan selalu terikat
pada hal-hal yang berifat praktis, maka tiada kebenaran yang bersifat
mutlak. Hal itu karena dalam prakteknya apa yang benar dapat dikoreksi
oleh pengalaman berikutnya, atau dengan kata lain bahwa suatu pengertian
itu tak pernah benar melainkan hanya dapat menjadi benar kalau saja dapat
dimanfaatkan secara praktis.

4. Teori Kebenaran Sintaksis


Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan
sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata
bahasa yang melekatnya. Dengan demikian suatu pernyataan memiliki nilai
benar bila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku, atau
dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari
hal yang diisyaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti. Teori ini
berkembang diantara filsuf analisa bahasa, terutama yang begitu ketat
terhadap pemakaian gramatika seperti Friederich Schelelermarcher (1768-
1834)

135
Menurut Scheleleimarcher sebagaimana dikutip oleh Poespoprojo (1987),
pemahaman adalah suatu rekonstruksi, bertolak dari ekspresi yang selesai
diungkapkan menjurus kembali ke suasana kejiwaan dimana ekspresi
tersebut diungkapkan. Di sini terdapat dua momen yang saling terjalin dan
berinteraksi, yakni momen tata bahasa dan momen kejiwaan.

5. Teori Kebenaran Semantic


Teori kebenaran semantic dianut oleh faham filsafat analitika bahasa yang
dikembangkan paska filsafat Bertrantd Russel sebagai tokoh pemula dari
filsafat Analitika Bahasa. Menurut teori kebenaran semantik suatu proposisi
memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Apakah proposisi yang
merupakan pangkal tumpunya itu mempunyai pengacu (referent) yang jelas
Dengan demikian, teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proposisi
itu mempunyai arti. Arti ini dengan menunjukkan makna yang sesungguhnya
dengan menunjukkan pada referensi itu atau kenyataan, juga arti yang
dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat definitive (arti yang jelas dengan
menunjuk ciri yang khas dari sesuatu yang ada).
Dalam teori kebenaran semantic ada beberapa sikap antara lain.
a. sikap epistemologis skeptic
maksudnya ialah suatu sikap kebimbangan taktis atau sikap keragu-
raguan untuk menghilangkan rasa ragu dalam memperoleh
pengetahuan. Dengan sikap yang demikian dimaksudkan untuk
mencapai suatu makna yang esoteric yaitu makna yang benar-benar
pasti yang dikandung oleh suatu pernyataan
b. sikap epistemologik yakin dan ideologik
artinya adalah bahwa proposisi itu memiliki arti namun arti itu bersifat
arbitrer (sewenang-wenang) atau kabur, dan tidak memiliki sifat pasti.
Jika mencapai kepastian, maka kepastiannya itu hanyalah berdasar
pada kepercayaan yang ada pada dirinya sendiri
c. sikap epistemologik pragmatic

136
yaitu makna dari suatu pernyataan yang amat tergantung pada dan
berdasarkan pada nilai guna dan nilai praktis dari pemakai proposisi.
Akibat semantisnya adalah kepastian yang terletak pada subjek yang
menggunakan proposisi itu

6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi


Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat
fungsionalisme. Karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan itu
akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung peran dan fungsi
pernyataan itu. Pengetahuan akan memiliki nilai benar sejauh pernyataan itu
memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan
itu juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan secara
praktis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu white (1978) lebih
lanjut menjelaskan: “the theory non descriptive gives us an important insight
into function of the use of “true” and “false”, but not an analysis of their
meaning”

7. Teori Kebenaran Logis yang Berlebihan


Teori ini dikembangkan oleh kaum positivistic yang diawali oleh Ater. Pada
dasarnya menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problema kebenaran
hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan hal ini akibatnya merupakan
suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa - - pernyataan - - yang
hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logic yang sama yang
masing-masing saling melingkupinya.
Sesungguhnya setiap proposisi yang bersifat logic dengan menunjukkan
bahwa proposisi itu mempunyai isi yang sama, memberikan informasi yang
sama dan semua orang sepakat, maka apabila kita membuktikannya lagi
hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang berlebihan. Hal
ini sesungguhnya karena suatu pernyataan yang hendak dibuktikan nilai
kebenarannya sesungguhnya telah merupakan fakta atau data yang telah

137
memiliki evidensi, artinya bahwa objek pengetahuan itu sendiri telah
menunjukkan kejelasan dalam dirinya sendiri.

138