Anda di halaman 1dari 2

Pengertian Hukum Moral

Hukum adalah cara yang tetap dalam beraksi atau bereaksi atau pedoman bagi
tindakan dan perilaku. Teologi moral berpautan dengan hukum yang merupakan hasil
kewajiban manusia untuk mengarahkan segala perilakunya dengan tujuan akhir. Hukum
tidak berfungsi atas dasar kebutuhan fisik, melainkan suatu kewajiban ideal moral. Tiap
hukum moral pada dasarnya harus baik dan kudus. Artinya, hkum itu harus menuntun
kegiatan manusiawi dalam rangka mendukung perwujudan tujuan akhir sejarah manusia
dan penciptaan.
a) Hukum moral dalam arti luas adalah petunjuk yang mengarahkan perbuatan
manusia ke tujuan akhir. Definisi ini mencakup aturan-aturan yang mewajibkan,
juga nasihat-nasihat, anjuran-anjuran atau izin-izin.
b) Hukum moral dalam arti sempit adalah petunjuk yang mengandung cirri
mewajibkan, bersifat umum dan bertahan lama, yang mengarahkan tindakan
manusia kepada tujuan akhir. Hanya dalam arti ini hukum moral menjadi objek
teologi moral, karena norma yang bersifat umum dan dapat bertahan lama dapat
dirumuskan oleh ilmu normatif.
Teologi moral tidak berurusan secara eksklusif dengan apa yang mewajibkan, tetapi juga
dengan apa yang dianjurkan dan diperbolehkan.
Fungsi perumusan hukum moral :
1. Mewariskan himpunan kebikjasanaan moral kepada enerasi sekarang dan
yang akan dating
2. Mengusahakan keamanan secara psikologis dan sosial
3. Membantu manusia dalam pengambilan keputusan dan mencegah
terjadinya paralsis moral
4. Membantu manusia untuk mengenal kekurangan-kekurangan dan
kegagalan-kegagalan sehingga manusia dapat memperbaiki diri.
5. Membagikan pengalaman supaya bias tercipta tingkah laku personal dan
sosial.
Hukum sebagai norma moral perilaku manusia dibedakan atas hukum moral
kodrati, hukum yang diwahyukan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta
hukum manusiawi.
Hukum moral kodrati adalah tata moral yang muncul dari kodrat manusia dan
ciptaan dan dapat dikenal oleh akal manusia. Norma-norma yang tertuang dalam Kitab
Suci Perjanjian Baru dan Lama dipandang sebagai hukum yang diwahyukan Allah.
Rumusannya dapat berupa kewajiban menurut hukum kodrati, untuk
menggarisbawahinya, seperti sepuluh perintah Allah.
Hukum manusiawi harus dibedakan dari hukum ilahi, baik itu hukum kodrati ilahi
ataupun hukum yang terwahyukan. Sumber langsung hukum manusiawi adalah otoritas
manusia.