Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

HUKUM ADAT MELAYU

Dosen Pengampu : M. Rohiq S.S, M.A

DISUSUN OLEH :

SEPTIYANI PUTRI FAHLEFI


NIM. I1D115012

PRODI SENI DRAMA TARI DAN MUSIK


FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2017
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam
selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan
dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas
makalah ini guna memenuhi tugas mata Kuliah Hukum Adat
Melayu.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit
hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa
kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-
kendala yang penulis hadapi teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih
luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya
meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah
saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca.

Jambi, Mei 2017


Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................ ii


Daftar Isi ................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Manusia, Kebudayaan dan Hukum ................... 2
B. Hubungan Manusia dengan Kebudayaan ........................... 3
C. Hubungan Manusia dengan Hukum ................................... 4
D. Hubungan Kebudayaan dan Hukum .................................. 5

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................ 11
B. Saran .................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia terkenal dengan keragaman budayanya. Manusia
dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak bisa di pisahkan
karena di mana manusia itu hidup dan menetap pasti manusia
akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang
di tinggalinya.
Manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu
sama lain dan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan yang terus
mereka kembangkan dan kebiasaan-kebiasaan tersebut akan
menjadi kebudayaan. Setiap manusia juga memiliki kebudayaan
yang berbeda-beda, itu disebabkan mereka memiliki pergaulan
sendiri di wilayahnya sehingga manusia di manapun memiliki
kebudayaan yang berbeda masing-masing. Perbedaan
kebudayaan disebabkan karna perbedaan yang dimiliki seperti
faktor Lingkungan, faktor alam, manusia itu sendiri dan berbagai
faktor lainnya yang menimbulkan Keberagaman budaya tersebut
Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan
komunikasi yang masuk ke Indonesia diharapkan dapat
memberikan pengaruh yang positif terhadap kebudayaan
masing-masing daerah, karena kebudayaan merupakan
jembatan yang menghubungkan dengan manusia yang lain.
Dari latar belakang di atas, maka dalam makalah ini penulis
ingin memaparkan tentang pengertian manusia, hukum dan
kebudayaan, serta hubungan antara ketiganya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian manusia, kebudayaan dan hukum?
2. Bagaimana hubungan manusia dengan kebudayaan?
3. Bagaimana hubungan manusia dengan hukum?
4. Bagaimana hubungan kebudayaan dengan hukum?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia berasal dari kata manu
(Sansekerta), mens (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi
atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk
lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau
sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok
(genus) atau seorang individu.
Manusia adalah makhluk yang luar biasa kompleks. Kita
merupakan paduan antara makhluk material dan makhluk
spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia
sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi manusia menurut
beberapa ahli:
1. Nicolaus D. & A. Sudiarja
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia
adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani
dan rohani merupakan satu barang.
2. Abineno J. I
Manusia adalah tubuh yang berjiwa dan bukan jiwa abadi
yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana.
3. Upanisads
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa,
pikiran, dan prana atau badan fisik.
4. Sokrates
Manusia adalah makhluk hidup berkaki dua yang tidak
berbulu dengan kuku datar dan lebar.
5. Kees Bertens
Manusia adalah suatu makhluk yang terdiri dari 2 unsur yang
kesatuannya tidak dinyatakan.

2
6. I Wayan Watra
Manusia adalah makhluk yang dinamis dengan trias
dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa.

7. Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany


Manusia adalah makhluk yang paling mulia, manusia adalah
makhluk yang berfikir, dan manusia adalah makhluk yang
memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam
pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan
lingkungan.
8. Erbe Sentanu
Manusia adalah makhluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan
bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling
sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain.
9. Paula J. C & Janet W. K
Manusia adalah makhluk terbuka, bebas memilih makna
dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan
yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola
berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai
kemungkinan.

B. Pengertian Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari kata budh> budhi>
budhaya dalam bahasa sansekerta yang berarti akal, sehingga
kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebudayaan yang
berasal dari kata budi dan daya. Budi adalah akal yang
merupakan unsure rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya
berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai unsure jasmani, sehingga
kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar manusia
(Supartono, 2001; Prasetya, 1998).
Dari definisi-definisi kebudayaan dapat dinyatakan bahwa
inti pengertian kebudayaan mengandung beberapa ciri pokok,
yaitu sebagai berikut :
a. Kebudayaan itu beraneka ragam.

3
b. Kebudayaan itu diteruskan melalui proses belajar.
c. Kebudayaan itu terjabarkan dari komponen biologi, psikologi,
sosiologi, dan eksistensi manusia.
d. Kebudayaan itu berstruktur.
e. Kebudayaan itu terbagi dalam aspek-aspek.
f. Kebudayaan itu dinamis.
g. Nilai-nilai dalam kebudayaan itu relatif
C. Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan
kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan
kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia.
Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya?
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai
dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda
tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia
menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta
maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai
dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu
kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah
hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan
kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh
manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang
membuatnya harus patuh kepada peraturan yang dibuatnya
sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia
tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu
merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang
tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang
dari kemauan manusia yang membuatnya.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini
dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia
dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya
saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui
tiga tahap yaitu :

4
1. Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan
dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi
ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas
obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia
dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian
masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan
mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3. Intemalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap
kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia
mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat
hidup dengan .baik, sehingga manusia menjadi kenyataan
yang dibentuk oleh masyarakat.

Apabila manusia melupakan bahwa masyarakat adalah


ciptaan manusia, dia akan menjadi terasing atau teralinasi
(Berger, dalam terjemahan M.Sastrapratedja, 1991; hal : xv)
Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat,
oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu
sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi
membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau
kebudayaan. Analisa terhadap keberadaan keduanya harus
menyertakan pembatasan masalah dan waktu agar
penganalisaan dapat dilakukan dengan lebih cermat.

D. Hubungan Manusia dengan Hukum


Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa
dipisahkan. Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang
terkenal yang berbunyi: Ubi societas ibi jus (di mana ada
masyarakat di situ ada hukumnya). Artinya bahwa dalam setiap
pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama
masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat

5
sebagai semen perekat atas berbagai komponen pembentuk
dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai semen
perekat tersebut adalah hukum.
Manusia, disamping bersifat sebagai makhluk individu, juga
berhakekat dasar sebagai makhluk sosial, mengingat manusia
tidak dilahirkan dalam keadaan yang sama (baik fisik, psikologis,
hingga lingkungan geografis, sosiologis, maupun ekonomis)
sehingga dari perbedaan itulah muncul interdependensi yang
mendorong manusia untuk berhubungan dengan sesamanya.
Berdasar dari usaha pewujudan hakekat sosialnya di atas,
manusia membentuk hubungan sosio-ekonomis di antara
sesamanya, yakni hubungan di antara manusia atas landasan
motif eksistensial yaitu usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya
(baik fisik maupun psikis).
Untuk mewujudkan keteraturan, maka mula-mula manusia
membentuk suatu struktur tatanan (organisasi) di antara dirinya
yang dikenal dengan istilah tatanan sosial ( social order ) yang
bernama: m a s y a r a k a t. Guna membangun dan
mempertahankan tatanan sosial masyarakat yang teratur ini,
maka manusia membutuhkan pranata pengatur yang terdiri dari
dua hal: aturan (hukum) dan si pengatur(kekuasaan). Dari sinilah
hukum tercipta.
Untuk menciptakan keteraturan maka dibuatlah hukum
sebagai alat pengatur, dan agar hukum tersebut dapat memiliki
kekuatan untuk mengatur maka perlu suatu entitas lembaga
kekuasaan yang dapat memaksakan keberlakuan hukum
tersebut sehingga dapat bersifat imperatif. Sebaliknya, adanya
entitas kekuasaan ini perlu diatur pula dengan hukum untuk
menghindari terjadinya penindasan melalui kesewenang-
wenangan ataupun dengan penyalah gunaan wewenang.
Mengenai hubungan hukum dan kekuasaan ini, terdapat adagium

6
yang populer: Hukum tanpa kekuasaan hanyalah angan-angan,
dan kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman.
Komponen hukum yang pertama adalah substansi atau isi
hukum yang bersangkutan. Suatu hukum agar benar-benar
mampu menciptakan keadilan bagi masyarakat, maka isi dari
hukum itu sendiri harus benar-benar berfungsi sebagai
manifestasi nilai-nilai dan rasa keadilan serta nilai-nilai normatif
yang diidealkan masyarakat. Disamping itu, agar hukum tersebut
dapat berjalan, substansi hukum tersebut juga tidak boleh
bertentangan dengan substansi hukum lain yang telah ada.
Sehingga suatu hukum agar dapat bekerja, maka ia harus
bersifat koheren dengan keseluruhan sistem norma sosial yang
ada dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan.
Komponen yang kedua adalah struktur, yaitu lembaga yang
memiliki kewenangan untuk menegakkan hukum. Sebuah
hukum, sebaik apapun substansi yang dikandungnya tidak akan
mampu berjalan jika tidak ada lembaga yang memiliki kekuasaan
untuk menjalankan hukum tersebut. Lembaga yang memiliki
kekuasaan untuk menjalankan hukum ini terdiri dari setiap
subyek yang memiliki kewenangan untuk itu, mulai dari instansi
penyidik seperti aparat kepolisian, instansi penuntut umum
seperti kejaksaan, dan pengadilan.
Komponen yang ketiga sekaligus yang terakhir adalah
komponen kultur atau budaya dari masyarakat hukum yang
bersangkutan. Suatu hukum yang ideal adalah hukum yang
merupakan produk langsung dari budaya masyarakat yang
bersangkutan, sehingga sistem nilai yang diusung oleh produk
hukum tersebut akan sesuai (karena merupakan manifestasi)
dengan kesadaran nilai ( value consciousness ) yang dimiliki
masyarakat.
Dari penjabaran ini, maka diketahui bahwa kerja hukum
sebagai alat pengaturan masyarakat adalah bersifat sistemis.

7
Yakni kerja sinergis yang sempurna antara komponen- komponen
yang dibutuhkan agar tujuan hukum dapat terlaksana dan
mencapai sasarannya (memberikan keadilan bagi individu-
individu dalam masyarakat) yang satu sama lain tidak dapat
dipisah-pisahkan, yaitu: substansi hukum yang baik, struktur
hukum yang kokoh (memiliki kekuatan dan berintegritas), serta
kultur yang kondusif (kesesuaian ideologi hukum dengan budaya
masyarakat yang bersangkutan) untuk penegakan hukum
tersebut.
Pada akhirnya, bagaimana hukum itu dibuat dan untuk apa
hukum itu ditujukan berpulang sepenuhnya pada kesadaran
(kehendak) manusia yang bersangkutan itu sendiri. Hukum dapat
bersifat membebaskan umat manusia dari ketertindasan, namun
sebaliknya hukum juga dapat juga digunakan sebagai sarana
penindasan. Karena hukum hanyalah berfungsi sebagai alat ( tool
), yaitu alat manusia untuk menciptakan keteraturan dengan
pewujudan keadilan atas interaksi antar manusia tersebut, dan di
atas dunia ini tidak ada satu alat pun yang tidak dapat disalah
gunakan. Begitu pula dengan hukum.
Kemudian masyarakat membentuk suatu system yang
disebut dengan masyarakat hukum. Kemudian membentuk
budaya hukum. Maksud disini yaitu untuk menunjuk tradisi
hukum yang digunakan untuk mengatur kehidupan didalam
suatu masyarakat. Dengan masyarakat yang sadar akan
hukum,persamaan dan kesadaran akan tinggi guna menjunjung
tinggi rasa keadilan dan menghargai orang lain.
Kesatuan hukum yang membentuk masyarakat hukum itu
dapat berupa individu, kelompok, organisasi atau badan hukum
Negara, serta kesatuan-kesatuan lainnya sedangkan alat yang
dipergunakan untuk mengatur hubungan antar kesatuan hukum
tersebut itu disebut hukum, yaiut suatu kesatuan system hukum

8
yang tersusun atas berbagai komponen serta diakui oleh suatu
Negara sebagai pengesahannya tersebut.

E. Hubungan Kebudayaan Dengan Hukum


Manusia ketika terlahir didunia telah lebih dulu bergaul
dengan manusia-manusia lainnya, pada awalnya dia
berhubungan dengan orang tua dan keluarganya, semakin
bertambah dan bertambah usianya semakin luas pula daya
cakup pergaulannya dengan manusia lainnya, dengan begitu
secara perlahan-lahan ia mulai sadar bahwa kebudayaan dan
perilaku yang dialaminya merupakan hasil pengalaman masa-
masa lampau, semakin bertambahnya usia manusia tersebut
mulai mengetahui bahwa dalam hubungannya dengan orang lain
dari masyarakat dia bebas namun dia tidak boleh berbuat
semaunya, sehingga dalam hal ini untuk membatasi perbuatan
manusia yang cenderung semaunya tersebut adalah dengan
adanya pembentukan aturan atau yang lebih kita kenal dengan
sebutan hukum.
Bila kita berbicara tentang hukum tentu semuanya sudah
mengetahui bahwa hukum tersebut dibuat untuk keperluan
mengatur tingkah laku manusia, karena memang pada dasarnya
perilaku ataupun tingkah laku manusia memiliki sifat yang
beragam, untuk sekedar mengikat tingkah laku manusia
dibentuklah apa yang dinamakan hukum, dengan adanya hukum
tersebut maka pada konsepnya tingkah laku manusia dapat
dikontrol dan dapat dikendalikan, perilaku manusia ini pada
dasarnya memang tidak terlepas dari pola pikir dan wujud
budaya manusia itu sendiri, dalam arti bahwa segala yang
dilakukannya adalah berdasarkan budaya yang ada dalam
masyarakat itu sendiri.
Hukum positif yang ada di Indonesia saat ini memang
mengakui adanya hukum adat, dimana hukum adat tersebut

9
merupakan kelanjutan atau dapat diartikan muncul karena suatu
kebudayaan, misalnya dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr.
Soerjono soekanto, S.H, M.A yang berjudul pokok-pokok sosiologi
hukum, ada suatu kebudayaan yang berkaitan dengan
perkawinan bahwa seorang laki-laki yang telah beristri tidak
boleh memiliki istri lagi, misalnya seperti itu, kemudian misalnya
lagi tentang pembagian warisan didaerah Tapanuli mengatakan
bahwa seorang janda bukanlah merupakan ahli waris bagi
suaminya, karena janda dianggap orang luar (keluarga
suaminya), garis yang semacam ini merupakan pencerminan dari
nilai-nilai budaya masyarakat setempat, ada lagi yang juga
tentang perkawinan, bahwa disebutkan di kalangan orang-orang
Kapauku Irian Barat, melarang seorang laki-laki untuk mengawini
seorang wanita dari klan yang sama, dan statusnya termasuk
satu generasi dengan laki-laki yang bersangkutan, peraturan
semacam ini juga merupakan pencerminan dari nilai-nilai sosial-
budaya suatu masyarakat. Nah lama kelamaan kebudayaan
tersebut dalam perkembangannya dapat berubah menjadi suatu
kepatuhan yang melekat pada setiap masyarakat tersebut, dan
bisa berkembang lagi menjadi suatu aturan dan dinamakan
hukum adat.
Fredrich Karl Von Savigny seorang tokoh hukum terkemuka
penganut madzab sejarah dan kebudayaan mengatakan bahwa
hukum hanya dapat dimengerti dengan menelaah kerangka
sejarah dan kebudayaan dimana hukum tersebut timbul, hukum
merupakan perwujudan dari kesadaran hukum masyarakat dan
semua hukum tersebut berasal dari adat istiadat dan
kepercayaan. Dari sini memang membenarkan bahwa
kebudayaan atau yang lebih dikenal dengan hukum adat
merupakan cikal bakal terjadinya hukum, karena memang hukum
tersebut timbul dengan menyesuaikan keadaan masyarakat
setempat, perilaku masyarakatnya seperti apa, kebiasaannya

10
seperti apa dan pada akhirnya hukum yang menyesuaikannya,
sehingga hukum yang dibentuk sesuai dan tidak bersebarangan
dengan kebudayaan dan kebiasaan masyarakat setempat.
Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya budaya
yang berkembang dalam masyarakat yang sekiranya
bertentangan dengan norma kesopanan dan asusila misalnya,
dengan demikian bila tadi kita berbicara bahwa budaya atau
hukum adat adalah salah satu cikal bakal hukum positif di
indonesia maka dalam hal ini hukum tersebut ada kalanya
melihat atau dalam arti memilah milah, mana yang sesuai
dengan norma yang berlaku mana yang berseberangan. Dalam
hal ini kedudukan hukum adat di Indonesia secara resmi diakui
keberadaaanya namun dibatasi dalam peranannya.
Sehingga secara umum hubungan yang terjadi antara
hukum dengan sosial-budaya atau kebudayaan adalah bahwa
budaya lahir dari kebiasaan masyarakat yang memiliki interaksi
antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya,
dan menimbulkan adanya kepatuhan dan menjadi aturan (hukum
adat) dan pada perkembangannya hukum adat tersebut menjadi
salah satu referensi bagi hukum positif Indonesia.
Sir Henry maine seorang tokoh hukum terkemuka
mengatakan bahwa hubungan-hubungan hukum yang didasarkan
pada status warga masyarakat yang masih sederhana,
berangsur-angsur akan hilang apabila masyarakat tadi
berkembang menjadi masyarakat modern dan kompleks.
Sehingga dari pemikiran Maine tersebut dapat dikatakan dengan
semakin berkembangnya jaman, pola pikir masyarakat, maka
hukum yang mengendalikannya pun pada konsepnya memang
harus menyesuaikan, masyarakat sudah mulai berubah dari
masyarakat sederhana menjadi masyarakat yang modern dan
kompleks, sehingga tidak mungkin hukum yang sederhana atau
dapat dikatakan untuk masyarakat sederhana diberlakukan

11
terhadap masyarakat yang lebih modern dan kompleks, malah
bisa-bisa hukum yang dikendalikan oleh individu bukan individu
yang dikendalikan oleh hukum.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Untuk menciptakan keteraturan maka dibuatlah hukum
sebagai alat pengatur, dan agar hukum tersebut dapat memiliki
kekuatan untuk mengatur maka perlu suatu entitas lembaga
kekuasaan yang dapat memaksakan keberlakuan hukum
tersebut sehingga dapat bersifat imperatif.
Manusia pastinya harus memiliki suatu hukum yang
mengatur manusia itu sendiri, bisa bersifat memaksa dan tegas,
lalu hukum tersebut pastinya mengatur moral manusia itu sendiri
karena pada dasarnya hukum dibuat untuk mendidik manusia
agar berprilaku adil terhadap semua.
Secara sederhana hubungan manusia dan kebudayaan
adalah sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan
obyek yang dilaksanakan manusia. Dalam ilmu sosiologi manusia
dan kebudayaan dinilai sebagai dwi tunggal yang berarti
walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu
kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan setelah kebudayaan
tercipta maka kebudayaan mengatur kehidupan manusia yang
sesuai dengannya.
Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu
kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala
manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya.
Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak
mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap
hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan
kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.

B. Saran

13
Sebaiknya dalam membuat suatu hukum diperhatikan
berbagai aspek, kemudian tidak membuat masyarakat bingung
akibat hukum tersebut, sehingga masyarakat bisa menerapkan
hukum tersebut tanpa adanya tafsir ganda atau ada seseorang
yang mempermainkan hukum tersebut.

14
DAFTAR PUSTAKA

Djahir, Yulia dkk.2010.Ilmu Sosial Dan Budaya


Dasar.Indralaya.Universitas Sriwijaya.

Rasjidi,Lili dkk. 2003. Hukum Sebagai Suatu Sistem.


BandungMandar Maju.

http://joeniarianto.files.wordpress.com/2008/07/manusia-dan-
hukum1.pdf

15