Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL

HUBUNGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN


BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT
UMUM TAHUN 2017

DOSEN PEMBIMBING : NS. RAHMAWATI, S.Kep, M. Biomed

DI SUSUN OLEH :
NAMA : ARTHARIA CEMPAKA SARI
NIM : 1510069401011

AKADEMI KEPERAWATAN JAMBI


YAYASAN TELANAI BHAKTI
TAHUN 2016/2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu keadaan fisaologis yang
menjad. dambaan setiap pasangan suami istri. Dari setiap
kehamilan yang diharapkan adalah lahirnya bayi yang sehat
dan sempurna secara jasmaniah dengan berat badan yang
cukup. Masa kehamilan adalah salah satu fase penting dalam
pertumbuhan anak karena calon bu dan bayi yang
dikandungnya membutuhkan gizi yang cukup banyak (Depkes
RI, 2004).
Kekurangan gizi pada pertumbuhan janin akan
mengakibatkan beberapa keadaan seperti kekurangan energi
protein (KEP^ anemia gizi, defisiensi yodium, defisiensi
vitamin A dan defisiensi kalsium. Salah satu yang
dikhawatirkan adalah kekurangan energi protein (KEP) karena
dapat menyebabkan kerusakan pada susunan saraf pusat.
Hal ini disebabkan karena kerusakan susunan saraf pusat
juga dapat mengakibatkan gangguan pada otak janin yaitu
pada tahap pertumbuhan otak dimana lebih sedikit sel-sel
otak yang berukuran normal terbentuk (Depkes RI, 2004).
Walaupun berat badan ibu kecil pada trimester I
kehamilan tetapi sangat membutuhkan gizi yang tinggi
karena pada trimester pertama ini plasenta terbentuk.
Kegagalan kenaikan berat badan ibu pada trimester I
dan II akan meningkatkan kemungkinan lahirnya bayi dengan
berat lahir rendah (BBLR). Hal ini terjadi karena plasenta
mengecil sehingga mengakibatkan berkurangnya zat-zat
makanan ke janin. Bayi dengan berat badan lahir rendah

2
mempunyai risiko kematian lebih tinggi disbanding dengan
bayi yang lahir dengan berat badan normal (Saimin, 2008).
Tingginya angka anemia pada ibu hamil memDunya;
'<ontribusi terhadap tingginya angka bayi lahir dengan bay.
berat laLr rendah di Indonesia yang diperkirakan mencapai
350.000 bay. setiap tahunnya. Oleh karena mi
penanggulangan anemia gizi menjadi salah satu program
potensial untuk meningkatkan kuakas sumber daya manusia
yang telah Jilaksanakan pemerintah sejak pembangunan
jangka panjang I (Sohimah, 2006).
Salah satu sasaran yang ditetapkan pada Indonesia
Sehat 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal
menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka
kematian neonatal menjau 16 per 1000 kelahiran hidup
(Sarwono, 2002). Masalah yang dihadapi oleh pemerintah
Indone. :a adalah tingginya prevalensi anemia ibu ham 1
yaitu 50,9% dan sebagian besar penyebabnya adalah
kekurangan zat bes:i yang diperlukan untuk pembentukan
hemoglobin, sehingga yang ditimbulkan disebut anemia
kekurangan besi (Depkes RI, 2003b).
Distribusi kematian neonatal sebagian besar di wilayah
Jawa dan Bali (66,7%) dan di daerah pedesaan (58,6%).
Menurut umur kematian yaitu 79,4% adalah angka kematian
neonatal yaitu pada usia 0-7 hari dan 20,6% terjadi pada usia
8-28 hari. Penyebab kematian menunjukkan bahwa proporsi
penyebab kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari
tertinggi adalah prematur dan berat badan lahir rendah
(35%), kemudian asfiksia lahir (33,6%) (Depkes RI, 2003a).
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2002-2003, pada skala nasional juga masih terjadi

3
kesenjangan kematian bayi antar propinsi dengan variasi
yang sangat besar yaitu propinsi Nusa Tenggara Barat
mencapai 103 per 1.000 kelahiran hidup (tertinggi) dan
propinsi D.I Yogyakarta mencapai 23 per 1.000 kelahiran
hidup (terendah). Sekitar 57% kematian bayi tersebut terjadi
pada bayi umur dibawah 1 bulan dan utamanya disebabkan
oleh gangguan perinatal dan bayi berat lahir rendah (BBLR)
(Depkes RI, 2003a).
Pemantauan kesehatan dan status gizi ibu hamii baiK
pada awal kehamilan dan selama masa kehamilan
merupakan upaya pendekatan yang potensial dalam
kaitannya dengan peningkatan kesehhteraan ibu dan anak.
Situasi pelayanan obstetrik di Indonesia dimana sebagian
besar persalinan masih ditolong oleh dukun, (>60%).
Sementara lebih dari 60% bidan di desa-desa masih
memerlukan peningkatan keterampilan dan pengetahuan
terutama keterlambatan dalam mendeteksi kehamilan dapat
teratasi apalagi terhadap kehamilan yang berisiko tinggi
sehingga angka morbidnas dan mortalitas ibu dan perinatal dapat
berkurang (Saimin, 2008).
Di Rumah Sakit pematang Siantar d emukan 300
kelahiran h<dup dengan 66 (22%) kasus bayi lahir dengan
berat lah> rendah dengan ibu hamil yang menderita
anemial80 orang (55%) dan 327 orang ibu hamil (Selvia,
1999).
Demikian juga di daerah Kabupaten Labuhan Batu pada
tahun 2006 dari 18.782 kelahiran hidup ditemukan bayi yang
BBLR sebanyak 2956 orang (15%) dengan ibu hamil yang
menderita anemia sebanyak 8884 orang (47,04%) dari
18.883 orang ibu hamil dan pada tahun 2007 dari 18.927

4
kelahiran hidup ditemukan sebanyak 3477 orang (18,37%)
bayi yang BBLR dan jumlah ibu hamil yang anemia sebanyak
9120 orang (47,71%) dari 19.112 orang ibu hamil. Terjadi
peningkatan jumlah bayi yang lahir dengan BBLR dan ibu
hamil yang mengalami anemia pada tahun 2007 dari tahun
sebelumnya (Dinkes Lab. Batu 2006-2007).
Di Rumah Sakit Umum (RSU) Rantauprapat di
Kabupaten Labuhan Batu pada tahun 2007 dari 412 ibu yang
melahirkan didapati sebanyak 30 orang (7,28%) kasus ibu
yang melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR). Berdasarkan
data-data tersebut di atas yang menyebabkan peneliti ingin
melakukan penelitian tentang hubungan anemia pada ibu
hamil dengan BBLR di Rumah Sakit Umum (RSU) Tahun 2017.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di
atas, maka yang menjadi permasalahannya adalah
tingginya/banyaknya kejadian anemia pada ibu hamil dengan
kejadian BBLR di Rumah Sakit Umum (RSU) Tahun 2017.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)


Bayi berat lahir rendah (BBLR talah bayi baru lahir yang
berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. Bayi berat
lahir rendah (BBLR) tiibedakan dalam dua kategori, berat lahir
rendah karena premature kandungan kurang dari 37 minggu)
atau bayi berat lahir rendah karena intraute ine growth
retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi ; berat badan
kurang untuk usianya (Depkes RI, 2003). Klasifikasi berat

5
badan bayi baru lahir dapat dibedakan atas (Prawirohardjo,
2002):
1. Bayi dengan berat badan normal, yaitu ^2500 gram.
2. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu antara
1500 gram 2500 gram.
3. Bayi dengan berat badan sangat rendah (BBLSR), dimana
berat lahirnya adalah < 1500 gram.
4. Bayi dengan berat lahir ekstrem rendah (BBLER), dimana
berat lahirnya adalah < 1000 gram.
Ada beberapa faktor - faktor yang dapat menyebabkan
bayi berat lahir rendah yaitu :
1. Faktor ibu
a. Gizi saat hamil yang kurang (anemia).
Kurang gizi pada saat hamil apabila tidak
mendapatkan penanganan dengan baik secara intensif
akan mengakibatkan anemia. Kebanyakan ibu hamil
mengalami anemia gizi. Oleh sebab itu pada saat hamil
ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi tablet zat besi
(Depkes RI, 2003b).
b. Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun.
Usia reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah
antara umur 20-35 tahun, dibawah atau atas usia
tersebut akan meningkatkan resiko kehamilan dan
persalinannya (Depkes RI, 2003b).
Umur kurang dari 20 tahun meunjukkan rahirn dan
panggul ibu belum berkembang secara sempurna
karena pada usia ini masih dalam masa pertumbuhan
sebingga panggul dan rahim masih kecil. Disamping itu,
usia diatas 35 tahun cenderung mengakibatkan
timbulnya masalah-masalah kesehatan seperti

6
hipertensi, DM, anemia, TB paru dan dapat
menimbulkan persalinan lama dan perdarahan pada
saat persalinan serta risiko terjadinya cacat bawaan
pada janin (Hartanto, 2004).
c. Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat.
Banyaknya anak yang dilahirkan seorang ibu akan
mempengaruhi kesehatan ibu dan merupakan faktor
risiko terjadinya BBLR, tumbuh kembang bayi lebih
lambat, pendidikan anak lebih rendah dan nutrisi
kurang (Depkes RI, 2003b).
d. Penyakit menahun ibu seperti gangguan pembuluh
darah, perokok, penyakit kronis (TBC, malaria).
Faktor risiko lain pada ibu hamil adalah riwayat
penyakit yang diderita ibu. Adapun penyakit yang
diderita ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan dan
persalinannya adalah penyak.i yang bersifat kronis
seperti hipertensi, cacat congenital, .antung dan asma,
anemia, TB paru dan malaria (Rochjati, 2003).
e. Faktor pekerjaan.
Pekerjaan terkait pada status sosial ekonomi dan
aktifitas fisik ibu hamil. Dengan keterbatasan status
sos.al ekonomi akan berpengaruh terhadap
keterbatasan dalam mendapatkan pelayanan antenatal
yang adekuat, pemenuhan gizi, sementara rtiS .bu
hamil yang bekerja cenderung cepat lelah sebab
aktifitas fisiknya meningkat karena mer liki tambahan
pekerjaan/kegiatan diluar rumah (Depkes RI, 2003b).
2. Faktor kehamilan
a. Hamil dengan hidramnion, yaitu keadaan dimana cairan
ketuban melebihi dari normal.

7
b. Hamil ganda, yaitu kehamilan dimana jumlah janin yang
dikandung lebih dari satu.
c. Perdarahan ante partum, yaitu perdarahan yang terjadi
pada masa hamil.
d. Komplikasi hamil : pre-eklampsia/eklampsia, ketuban
pecah dini, pre- eklampsia/eklampsia yaitu kondisi ibu
hamil dengan tekanan darah meningkat keadaan ini
sangat mengancam jiwa ibu dan bayi yang dikandung.
Ketuban pecah dini adalah kondisi dimana air ketuban
keluar sebelum waktunya dan biasanya faktor
penyebab paling sering adalah terjainya benturan pada
kandungan.
3. Faktor janin
a. Cacat bawaan, yaitu keadaan janin yang cacat sabagai
al - bat pertumbuhan janin didalam kandungan tidak
sempurna.
b. Infeksi dalam rahim, yaitu janin mengalami infeksi
sebagai ak'bat penyakit yang diderita bu. Seperti ibu
yang mendenta HIV/AIDS sangat rentan mengakibatkan
infeksi dalam rahim.
4. Faktor yang belum diketahu'.
5. Faktor obat-obatan seperti ;bu ham4 yang keracunan obat
(Manuaba, 1998).

B. Anemia pada Ibu Hamil


1. Pengertian Anemia pada Ibu Hamil
Menurut World Health Organization (WHO) anemia
pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar
hemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 11,0 g%.
Sedangkan menurut Saifuddin anemia dalam kehamilan

8
adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11,0
g% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 g% pada
trimester II (Depkes RI, 2003b).
Dalam kehamilan jumlah darah bertambah banyak
(hiperemia/hipervolumia) sehingga terjadi pengenceran
darah karena jumlah sel-sel darah tidak sebanding dengan
pertambahan plasma darah. Bertambahnya darah dalam
kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan
mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36
minggu. Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk
membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat
dengan adanya kehamilan (Wiknjosastro, 2002).
2. Penyebab Anemia
Kebanyakan an em. i dalam k eh ami'an cL jebabkan
oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak
^arang keduanya saling bennteraks1 Kebutuhan ibu selama
kehamilan ialah 800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk
jani i dan 500 mg untuk pertambahan eritrosii ibu. Dengan
demikian bu membutuhkan tambahan sekitar 2-3 mg
besi/hari (Saifuddin, 2002).
Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada
umumnya adalah kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi
dalam diit, malabsorpsr, kebilangan darah banyak pada
persalinan yang lalu, dan haid yang terlalu berletihan,
penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus dan
malaria.
Secara umum, faktor utama penyebab anemia gizi
adalah: (Wirahadikusuma, 1999)

9
a. Banyaknya kehilangan darah karena pendarahan, haid
terlalu banyak, gangguan pencernaan (keganasan dan
infeksi cacing tambang, kerusakan/kelainan lambung).
b. Rusaknya sel darah merah, seperti penyakit malaria
dan thalasemia yang merusak asam folat yang berada
di dalam sel darah merah.
c. Kurangnya produksi sel darah merah karena kurang
mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat
gizi terutama zat besi, asam folat, vitamin B12, protein,
vitamin C dan zat gizi penting lainnya.
3. Gejala Anemia pada Ibu Hamil
Gejala anemia pada kehamilan yai u ibu mengeiuh
cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang,
malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksiaj,
konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan
keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda
(Sohtmah, 2006).
Keluhan anemia yang paling sering d-umpai
dimasyarakat adalah yang lebih dikenal dengan 5L, yaitu
lesu, lemah, let.n, lelah dan lalai. Disamp'ng tu penderita
kekurangan zat besi akan menurunkan daya tahan tubuh
yang mengakibatkan mudah terkena infeksi (Depkes RI,
2003b).
Rasa cepat lelah disebabkan karena pada penderita
anemia gizi besi, pengolahan (metabolisma) energy oleh
otot tidak berjalan secara sempurna karena kurang
oksigen. Anemia gizi besi dengan keluhan dampak yang
paling Was adalah cepat lelah, rasa ngantuk, malaise dan
mempunya: wajah yang pucat (Sukirman, 1999).

10
4. Klasifikasi Anemia pada Ibu Hamil.
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar
(1998), adalah sebagai berikut:
a. Anemia Defisiensi Besi
Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi
dalam darah.
b. Anemia Megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh karena
kekurangan asam folat.
c. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi
sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru.
d. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau
pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dart
pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan
kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan,
kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan
pada organ-organ vital.
5. Diagnosis Anemia pada Kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia pada ibu hamil
dapat dilakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan
didapatkan keluhan cepat lelah, ser.ig pusing, mata
berkunang-kunang, dan keluhan mual-muntah lebih hebat
pada harm: muda. Pemeriksaan dan pengawasan
hemoglobin dapat dilakukan dengan menggunakan alat
sahli. Hasil pemeriksaan hemoglobin dengan sahli dapat
digolongkan sebagai berikut (Manuaba,1998):
a. Hb >11,0 g% disebut tidak anemia.
b. Hb 9,0 g%-10,9 g% disebut anemia ringan.

11
c. Hb 7,0 g%-8,9 g% disebut anemia sedang.
d. Hb < 7,0 g% disebut anemia berat.
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama
kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester III. Dengan
pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami
anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak
90 tablet pada ibu- ibu hamil di puskesmas.
Sedangkan menurut Depkes RI tahun 2005, bahwa
anemia berdasarkan hasil pemeriksaan digolongkan
menjadi:
a. Hb > 11,0 g% disebut tidak anemia.
b. Hb 9,0 g%-10,9 g% diebut anemia sedang.
c. Hb < 8,0 g% disebut anemia berat.
6. Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Ibu
Hamil
Pencegahan dan penanggulangan anemin pada ibu
hamil, antara lain : (Wirahadikusuma, 1999)
a. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan, seper^
mengkonsumsi pangan hewani (daging, ikan, hat: dan
telur), mengkonsumsi pangan nabati (sayuran hijau,
buah-buahan, kacang-kacangan dan padi-padian) buah-
buahan yang segar dan sayuran yang merupakan
sumber utama vitamin C yang diperlukan untuk
penyerapan zat besi didalam tubuh. Hindari
mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat
inhibitor saat bersamaan dengan makan nasi seperti
teh karena mengandung tannin yang akan mengurangi
penyerapan zat besi.
b. Supplemen zat besi yang berfungsi dapat memperbaiki
Hb dalam waktu singkat.

12
c. Fortifikasi zat besi yaitu penambahan suatu jenis zat
gizi ke dalam bahan pangan untuk meningkatkan
kualitas pangan.
Suatu penelitian di Asia 22,6% kematian ibu
melahirkan dikarenakan anemia, artinya apabila ibu hamil
dapat dicegah dari anemia maka 20-30 % kematian ibu
karena melahirkan dapat dicegah (Sukirman, 1999).

C. Bahan Makanan Sumber Zat Besi


Zat gizi yang paling berperan dalam proses terjadinya
anemia gizi adalah besi. Defisiensi besi merupakan penyebab
utama anemia gizi dibancLig defisiensi zat gizi lain, seperti
asam folat, vii.an._n B12, protein, vitamin dan elemen
lainnya.
Pembuatan sel darah merah akan terganggu apabila zat
gizi yang diperlukan tidak mencukupi. Selaii itu dapat
disebabkan karena tidak berfungsmya pencernaan dengan
baik atau kelainan lambung sehingga zat-zat gi.;i penting
tidak dapat diserap dengan baik dan terbuang bersama
kotoran. Apabila ni berlangsung lama maka tubuh akan
mengalami anenra (Wirahadikusuma, 1999).
Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak
terdapat c: dalam tubuh manusia dan hewan yaitu 3-5 gr di
dalam tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai beberapa
fungs' essens'il a", dalam tubuh y^itu sebagai alat angkut
oksigen dari paru- paru ke jaringan tubuh, sebagai alat
angkut elektron di dalam sel, sebagai bagian terpadu
berbagai reaksi em' n d dalam jaringan (Almasier, 2001).
Zat besi yang terdapat dalam bahan makanan dapat
berasal dari hewan maupun dari tumbuhan. Zat besi yang

13
berasal dar tumbuh-tumbuhan memiliki daya serap antara 1-
6 % lebih rendah dibandmg zat besi yang berasal dari hewan
yang mempunyai daya serap 7-22 % (Almasier, 2001).
Ada 2 bentuk zat besi dalam makanan, yaitu hem dan
non hem. Zat besi hem berasal dari hewan seperti daging dan
ikan yang mengandung zat besi 5-10 % dengan penyerapan
25 %. Zat besi non hem terdapat pada pangan nabati seperti
sayuran, biji- bijian, kacang-kacangan dan buah-buahan
dengan penyerapan zat besi hanya 5%. Vitamin C dapat
meningkatkan penyerapan zat besi non hem sampai empat
kali lipat (Wirahadikusuma, 1999).
Protein hewani, walaupun tidak semua juga dapat
mendorong penyerapan zat besi non hem. Protein selular
yang berasal dari daging sapi, kambing, domba, hati, ayam,
menunjang penyerapan zat besi non hem. Namun protein
yang berasal dari susu sapi, keju dan telur tidak dapat
meningkatkan penyerapan zat besi non hem
(Wirahadikusuma, 1999).

D. Hubungan Anemia dengan kejadian BBLR


Anemia pada saat hamil dapat mengakibatkan efek
buruk baik pada ibu maupun kepada bayi yang akan
dilahirkannya. Anemia dapat mengurangi suplai oksigen pada
metabolisme ibu karena kekurangan kadar hemoglobin untuk
mengikat oksigen yang dapat mengakibatkan efek tidak
langsung pada ibu dan bayi antara lain kematian bayi,
bertambahnya kerentanan ibu terhadap infeksi dan
kemungkinan bayi lahir prematur (Setyawan, 1996).
Pada anemia ringan mengakibatkan teriaainya kelal ;ran
prematur dan BBLR. Sedangkan pada anem i berat selama

14
masa hamil dapat mengakibatkan risiko morbiditas dan
mortalitas pada ibu maupun bayi yang dilahirkan. Selaiv itu
anemia juga dapat mengakibatkan hambatan tumbuh
kembang janin dalam rahim, ketuban pecah dini (KPD)
(Manuaba, 1998).

E. Kerangka Konsep
Variabel Bebas
Anemia
Faktor kesehatan Variabel terkait :
ibu : Kejadian BBLR :
Umur ibu Berat badan lahir
Paritas normal (BBLN)
Penyakit yang Berat badan lahir
diderita ibu rendah (BBLR)
Pekerjaan
Faktor kehamilan :
Hamil hidramnion
Hamil ganda
Komplikasi hamil

F. Definisi Operasional
1. Ibu anemia adalah kadar Hb ibu yang tercantum dalam
berkas rekam medis pasien < 11,0 g%.
2. Umur ibu adalah usia ibu pada saat melahirkan yang
tercantum dalam berkas rekam medis.
3. Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami ibu,
termasuk juga jarak hamil dan bersalin.

15
L
4. Penyakit yang dider ta ibu adalah r.wayat penyak yang
pernah diderita ibu hamil yang bersifat kronis (menahun)
seperti hipertensi, asma, malaria, TB paru, jantung,
hipertensi.
5. Pekerjaan adalah dibagi menadi dua yakni bekerja apabila
jnu bekerja dan mendapatkan upah atau gaji dan tidak
beker a apabila i dak mendapatkan upah atau gaji.
6. Hamil h. dramnion adalah keadaan air ketuban pu pada
saat melahirkan yang tercantum dalam berkas rekam
medis.
:
7. Hamil ganda adalah keadaan kehamilan bu dimana
jumlah janin yang dikandung lebih dari 1 yang tercantum
dalam berkas rekam medis.
8. Komplikasi hamil adalah pre-eklampsia/eklampsia,
ketuban pecah dini dan pendarahan antepartum. Pada
kondisi pre-eklampsia/eklampsia adalah kondisi ibu pada
saat hamil mengalami peningkatan tekanan darah yang
tercantum dalam rekam medis.
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan ketuban
sebelum waktunya yang disebabkan oleh banyak hal
salah satunya adalah terjadinya benturan pada
kandungan. Perdarahan ante partum adalah kondisi ibu
saat hamil mengalami perdarahan yang hebat dan
tercantum dalam berkas rekam medis.
9. Berat badan lahir adalah berat badan bayi pada saat
dilahirkan, dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu jika berat
bayi pada saat lahir < 2500 gr.
b. Bayi berat badan lahir normal (BBLN) yaitu jika berat
badan bayi pada saat lahir > 2500 gr.

16
G. Aspek Pengukuran
Ukuran variabel yang digunakan yaitu dalam bentuk
kategori dan mentransformas'kan setiap variabel menjadi
variabel satu-nol (1-0)
Kategori variabel adalah sebagai berikut:
a. Variabel terikat
Berat lahir dibagi dalam 2 kategori yaitu BBLR dan
BBLN dinyatakan sebagL variabel BL.
BL : 1 jika BBLR (< 2500 gr)
0 Jika BBLN (>2500 gr)
b. Variabel bebas
1) Anemia
Kadar Hb ibu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu <l 1,0 g
% dan>l 1,0 g% yang dinyatakan dalam variabel Hb.
Hb = 1 jika kadar Hb kurang dari 11,0g%
0 jika kadar Hb lebih atau sama dengan 11,0 g%.

2) Umur ibu
Umur ibu dibagi dalam 3 kelompok umur yaitu umur <
20 tahun, 20-35 tahun dan umur > 35 tahun yang
dinyatakan sebagai variabel Ui.
Ui= 1 jika umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun.
0 jika umur ibu 20-35 tahun.
c. Paritas
Paritas dibagi dalam 3 kelompok yaitu paritas 1, paritas 2-
4 dan paritas >4 yang dinyatakan dalam variabel P.
P= 1 jika paritas 1 dan > 4.
0 jika paritas 2-4.

17
d. Penyakit yang diderita ibu
Penyakit yang diderita ibu dibagi menjadi 2
kelompok yaitu mempunyai riwayat penyakit seperti
asma, malaria, TB paru, jantung. Dimana data diperoleh
berdasarkan data dari rekam medis. Dan yang tidak
mempunyai riwayat penyakit yang dinyatakan dalam
variabel Pi.
Pi = 1 jika memiliki riwayat penyakit tertentu.
0 = jika tidak memiliki riwayat penyakit tertentu.
e. Pekerjaan
Pekerjaan dibagi dalam 2 kelompok yaitu bekei a
dan tidak bekerja yang dinyatakan dalam vanabel PK.
PK= 1 jika ibu han 1 bekerja.
0 = Jika ibu hamil tidak bekerja
f. Hamil dengan hidramnion
Hamil dengan hidramnion dibagi dalam 2 kelompok
yaitu hamil h dramnion dan hamil ticlak hidramnion yang
dinyatakan dalam variabel HH.
HH= 1 ka ibu hamil hidramnion.
0 = Jika bu hamil tidak hidramnion.

g. Hamil ganda
Hamil ganda dibagi dalam 2 kolompok yaitu harm,
ganda dan tidak hamil ganda yang dinyatakan dalam
variabel HG.
HG=1 jika ibu mengalami hamil ganda
0 jika ibu tidak mengalami hamil ganda.
h. Komplikasi hamil

18
Komplikasi hamil dibagi dalam 2 kelompok yaitu ibu
yang mengalami komplikasi hamil dan ibu yang tidak
mengalami komplikasi hamil yang dinyatakan dalam
variabel KH.
KH= 1 jika ibu mengalami komplikasi.
0 jika ibu tidak mengalami komplikasi.

H. Hipotesis Penelitian
1. Ada hubungan antara anemia dengan kejadian BBLR
2. Ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian BBLR
3. Ada hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR
4. Ada hubungan antara penyakit yang diderita ibu dengan
kejadian BBLR
5. Ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian BBLR
6. Ada hubungan antara kehamilan hidramnion dengan
kejadian BBLR
7. Ada hubungan antara kehamilan ganda dengan kejadian
BBLR.
8. Ada hubungan antara komplikasi hair 'i dengan kejadian
BBLR.

19
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat
deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross
sectional untuk melihat hubungan anemia pada ibu hamil
dengan kejadian bayi BBLR.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum (RSU)
Tahun 2017.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang
melahirkan di Rumah Sakit Umum (RSU) Tahun 2017
sebanyak 478 orang.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang
melahirkan di Rumah Sakit Umum (RSU) tahun 2017 yang
tercatat kadar hemoglobinnya dan semua ibu hamil yang
melahirkan yang tercatat kadar hemoglobinnya dijadikan
sampel penelitian (Total Sampling). Dimana 'bu hamil
yang melahirkan yang dak tercatat kadar hemoglobinnya
termasuk dalam kriteria eklusi yattu tidak termasuk dalam
pengelolaan data.

20
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Jenis data yang dkumpulkan adalah data sekunder yang
diambil dari laporan rawatan pasien dan rekam medis pada
ruang bersalin di Rumah Sakit Umum (RSU) tahun 2017.

E. Analisis data
Analisis data dilakukan secara bertahap, yaitu dengan
analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat.
Analisis univariat dimaksudkan untuk menggambarkan
masing-masing variabel bebas dan variabel terikat dengan
menggunakan tabel distribusi frekuensi. Sedangkan analisis
bivariat dimaksud untuk melihat hubungan kedua variabel
yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Analisis data yang
dilakukan untuk melihat hubungan antar kedua variabel ini
yakni menggunakan uji Chi Square dengan tingkat
kepercayaan 95%. Analisis multivariat dilakukan dengan
menggunakan regresi logistik ganda yakni untuk melakukan
prediksi seberapa jauh nilai variabel dependen bila nilai
variabel independen berubah. Regresi logistik berganda
digunakan jika parameter dari suatu hubungan fungsional
antara satu variabel dependen dengan lebih dari satu
variabel independen ingin diestimasikan sehingga diperoleh
persamaan regresi logistik berganda sebagai berikut :

21
DAFTAR PUSTAKA

22