Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seorang pelajar bahasa akan menemui unsur-unsur dalam bahasa kedua atau asing mudah, dan unsur-unsur yang lain sangat sukar. Agar para pengajar dapat meramalkan kesalahan yang dibuat oleh seorang pelajar, mereka haruslah mengadakan suatu analisis konstrastif antara bahasa yang dipelajari dan bahasa yang digunakan pelajar sehari-hari, khususnya dalam komponen-komponen fonologi, morfologi, kosakata dan sintaksis. Pengertian analisis konstrastif dapat ditelusuri dengan melihat dua kata yang menjadikannya satu frasa. Kedua kata tersebut adalah kata analisis (analisys) dan kata konstrastif (contrast) yang berasal dari kata kontras. Secara harfiah, kamus Oxford menyebutkan bahwa analyisys adalah penyelidikan terhadap sesuatu dengan cara menguji bagian-bagiannya. Contrast dipaparkan memperbandingkan dua hal agar perbedaan diantara keduanya tampak jelas. Menurut Musthofa (2008), analisis kontrastif adalah atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut. Menurut Fisiak (1981) bahwa analisis konstrastif adalah suatu cabang ilmu linguistik yang mengkaji perbandingan dua bahasa atau lebih, tau sub-sistem bahasa, dengan tujuan untuk menentukan perbedaan-perbedaan dan persamaanpersamaan bahasa-bahasa tersebut. James (1980) berpendapat bahwa analisis konstrastif ialah suatu aktivitas linguistic yang bertujuan menghasilkan tipologi dua bahasa yang kontrastif, yang berdasarkan asumsi bahwa bahasa-bahasa itu dapat dibandingkan. Selanjutnya James mengatakan, analisis konstrastif ditinjau dari tiga sudut pandang, yakni (1) sebagai suatu studi antarbahasa (interlanguage). Yang dimaksud James dalam
20

hal ini adalah studi bagaimana seseorang yang mempelajari Bahasa Target (BT) secara bertahap berubah dari seorang monolingual menjadi seorang bilingual, dan disebut sebagai studi diakronik antarbahasa. Sudut pandang (2) adalah analisi konstrastif sebagai studi yang murni dan terapan. Sudut pandang (3) ialah analisis konstrastif dan kedwibahasaan. Kedwibahsaan (bilingual) mengacu pada penguasaan dua bahasa oleh seorang individu atau suatu masyarakat. Yang mejadi perhatian James ialah bagaiman seorang yang monolingual menjadi bilingual. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa analisis kontrastif adalah pemahaman antardua bahasa, yaitu bahasa pertama (Bahasa Sumber) dengan bahasa kedua (Bahasa Target), dengan cara membandingkannya, mencari persamaan, kemiripan, dan perbedaan guna memberikan peta konsep kepada pembelajar agar lebih mudah dalam mempelajari B2. B. Dasar Utama Analisis konstrastif Dasar utama analisis konstrastif adalah behaviorisme. Behaviorisme adalah ilmu jiwa tingkah laku. Kaitannya dengan pemerolehan bahasa, behaviorisme adalah aliran yang mempercayai bahwa seorang telah memiliki dasar kebahasaan sebelum dirinya mempelajari bahasa lainnya. Terdapat dua hal yang menjadi titik tolak dari behaviorisme ini, yaitu kebiasaan dan kesalahan. Kaitannya dengan bahasa, kebiasaan dan kesalahan yang dimaksudkan adalah kebiasaan berbahsa dan kesalahan berbahasa. Aliran psikologi tingkah laku menjelaskan pengertian tingkah laku melalui aksi dan reaksi, atau rangsangan yang menghasikan tanggapan (respon). Rangsangan yang berbeda menghasilkan tanggapan yang berbeda pula. Hubungan antara rangsangan tertentu dengan tanggapan tertentu menghasilkan kebiasaan. Kebiasaan ini dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan. Ada dua karakteristik kebiasaan. Pertama kebiasaan yang dapat diamati. Kebiasaan ini berupa kegiatan atau aktivitas yang dapat dilihat atau diraba. Kedua, kebiasaan yang bersifat mekanis atau otomatis. Kebiasaan ini terjadi secara spontan, tanpa disadari dan sukar dihilangkan.
20

Di dalam pemerolehan B1 (bahasa sumber), anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Peniruan ini biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui kegiatan menirukan, anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur dan pola bahasa ibunya. Peristiwa semacam ini terjadi pula dalam pemerolehan B2 (bahasa target). Melalui peniruan dan penguatan para siswa mengidentifikasi hubungan antara rangsangan dan tanggapan yang merupakan kebiasaan dalam ber-B2. C. Hipotesis Analisis Konstrastif Perbandingan antara struktur B1 dengan B2 yang akan dipelajari oleh para siswa menghasilkan identifikasi perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Perbedaan itu merupakan dasar untuk memperkirakan butir-butir yang menimbulkan kesulitan belajar bahasa dan kesalahan berbahasa yang dihadapi oleh para siswa. Berpijak dari timbulnya kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa inilah muncul hipotesis analisis konstrastif. Ada dua jenis hipotesis analisis konstrastif (Mustafa, 2008). Pertama, hipotesis bentuk lemah. Hipotesis ini menyatakan bahwa analisis kontrastif hanyalah bersifat diagnostik Karena itu analisis kontrastif dan analisis kesalahan harus saling melengkapi. Analisis kontrastif menetapkan kesalahan mana termasuk ke dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan Bl dan B2. Analisis kesalahan berbahasa mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa siswa. Kedua, hipotesis bentuk kuat. Hipotesis ini menyatakan bahwa semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara Bl dengan B2 yang dipelajari oleh siswa. Hipotesis ini didasarkan pada asumsi-asumsi berikut. 1. 2. 3. Penyebab utama kesulitan belajar dan kesalahan dalam pengajaran Kesulitan belajar itu sebagai atau seluruhannya disebabkan oleh Semakin besar perbedaan antara bahasa target dan bahasa sumber
20

bahasa target adalah interferensi bahasa sumber. perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa target. semakin besar pula kesulitan belajat yang timbul.

4.

Hasil perbandingan antara bahasa sumber dan bahasa target

diperlukan untuk meramalkan kesulitan dan kesalahan yang akan terjadi dalam belajar bahsa target. 5. 6. Unsur-unsur yang serupa antara bahasa target dan bahsa sumber Bahan pengajaran dapat disusun secara tepat dengan akan menimbulkan kesukaran bagi siswa. membandingkan kedua bahasa itu, sehingga apa yang harus dipelajari siswa merupakan sejumlah perbedaan yang disusun berdasarkan analisis konstrastif. Dalam Studi AKON perlu dijajaki secara sistematis persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa target. Ini dapat dikaji dalam dua tataran yang luas, yakni (1) tataran mikrolinguistik dan (2) tataran makrolinguistik. Komponen-komponen mikrolinguistik ialah fonologi (sistem fonem), kemudian morfologi (pembentukan kata dan kosakata), sintaksis (sistem pembentukan kalimat), dan semantik (perubahan makna). D. Pembatasan Masalah Permasalahan yang terkait dengan judul di atas sangat luas, sehingga tidak mungkin permasalahan yang ada itu dapat terjangkau dan terselesaikan semua. Oleh karena itu, perlu adanya pembatasan masalah sehingga persoalan yang akan diteliti menjadi jelas. Dalam makalah ini perlu membatasi ruang lingkup dan pemfokusan masalah, sehingga persoalan yang diteliti menjadi jelas dan kesalahpahaman dapat dihindari. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Analisis Konstrastif, mengenai hakikat, dasar utama, dan hipotesis penelitian. 2. Pengkajian AKON secara sistematis persamaan-persamaan dan perbedaanperbedaan antara bahasa sumber dan bahasa target dalam tataran fonetik. 3. Meramalkan kesulitan belajar siswa dalam kajian AKON fonetik.

20

E. Maksud dan Tujuan Maksud dari penyusuan makalah ini adalah :


1. 2.

Untuk mengetahui hakikat AKON. Untuk mengatahui perbedaan dan persamaan fonetik antara Bahasa Untuk meramalkan tingkat kesulitan.

Arab dan Bahasa Indonesia.


3.

Adapun tujuannya yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Kontrastif dan Analisis kesalahan.

20

BAB II Konsep Dasar Bahasa Indonesia Dan Bahasa Arab


A. Pengertian Fonologi Fonologi secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dam logi yaitu ilmu. Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan binyi-bunyi bahasa. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. 1. Pengertian Fonetik Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.1 AKON fonologi antara bahasa sumber dan bahasa target yang dibandingkan adalah fonem-fonem dalam bahasa sumber dan bahasa target untuk melihat bunyi-bunyi manakah yang mudah dikuasai oleh pelajar bahasa target, dan manakah yang berbeda atau tidak ada dalam bahasa sumber. Fonem-fonem tersebut terbagi Fonem segmental (bunyi konsonan, vokal dan diftong) dan Fonem suprasegmental (jeda, tekanan, dan nada). Fonem segmental Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan Bahasa, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi: b-a-h-a-s-a. a. Klasifikasi vokal Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

20

Abdul Chaer, Linguistik Umum. ( Jakarta: Rineka Cipta,2007) h. 113

Bahasa Arab memiliki tiga vokal pendek atau vokal utama ( ), yaitu /a/ atau ( ), /i/ atau ( ) dan /u/ ( ). Dan vokal panjang ) )yaitu alif, Waw, dan Ya.2 Bahasa Indonesia memiliki enam vokal, yaitu /i/, /a/, /u/, /e/, /o/, //. b. Klasifikasi konsonan Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Konsonan dalam bahasa Arab baku ada 28 fonem / / atau / k /, / / atau /m/, / / atau /b/, / / atau /n/, / / atau /s/ dan seterusnya. Konsonan dalam bahasa Indonesia ada 22 konsonan, yaitu /b/, /d/, /g/, /h/, dan seterusnya. c. Klasifikasi diftong Mengapa disebut diftong atau vokal rangkap? karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturnya. Namun yang dihasilkan bukan dua bunyi melainkan satu bunyi karena berada dalam satu silabel. Contoh diftong dalam bahasa Indonesia adalah [au] dalam kata kerbau. Diftong dalam bahasa Indonesia ada 3, yaitu [au], [ai], dan [oi]. Sedangkan dalam bahasa arab secara tulisan tidak mempunyai diftong atau vokal rangkap, akan tetapi ketika diucapkan ada. Contoh : ketika diucapkan dengan lambang bunyi ba-i-un. Contoh lainnya, ,dengan lambing bunyi da-u-ra. Fonem suprasegmental Dalam arus ujaran bunyi ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental. Unsur suprasegmental akan dibicarakan di bawah ini a. Fonem Tekanan
20
2

Syafrudin Tajudin, Lc., MA, Ilmu Dalalah ( Jakarta : Maninjau ) h. 61

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudinya melebar, pasti dibarengi denan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya tidak kua sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak. Contoh : Dia tidak mau makan Tekanan pada suku kata <ma> berarti bahwa orang itu, meskipun dipaksa tetap pada tempatnya. Dia tidak mau makan Tekanan pada suku kata < dia > berarti orang itu saja yang tidak mau makan, sedang orang-orang lain sudah kenyang b. Nada Nada itu bervariasi dari penutur satu ke penutur yang lain. Secara umum, nada yang normal yang digunakan oleh seorang pembicara adalah nada /2/. Ini dapat dianggap suatu tolak ukur untuk digunakan sebagai alat pemabanding dengan nada-nada yang lain. Nada /1/ disebut rendah, sedang nada /3/ disebut tinggi. Yang terakhir ini bertumpah tindih dengan apa yang disebur Tekanan Utama. Nada /4/ yang disebut sangat tinggi, jarang digunakan seorang penutur, kecuali jika penutur menggungkapkan perasaan atau emosi, seperti terkejut, kesakitan, marah, kesal dan sebagainya. Contoh : ketika seseorang mengucapkan nomina, Ibu, secara datar tanpa diiringi oleh intonasi dan getaran-getaran tertentu, maka fonem yang mengandung nomina Ibu tersebut hanya dapat dipahami maknanya sebagai Ibu saja, tidak lebih. Tetapi kalau ia diucapkan dengan intonasi yang kasar misalkan dan dengan getaran-getaran yang tidak biasa, maka kita bisa tahu bahwa orang yang mengucapkannya itu adalah orang yang kasar terhadap ibunya dan dari situ lantas kita bisa
20

menyimpulkan bahwa orang tersebut adalah anak yang durhaka, yang tak berbakti kepada orangtua.

c. Jeda Jeda berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena adanya hentian itu. Jeda ini dapat bersifat penuh dan dapat pula bersifat sementara. Jeda antar kata dalam frase diberi tanda berupa garis miring tunggal (/) Jeda antarfrase dalam klausa diberi tanda berupa garis miring ganda ( // ) Jeda antarkalimat dalam wacana diberi tanda berupa garis silang ganda (#) Contoh : # buku // matematika / baru # # buku / matematika // baru # 2. Distribusi Fonem Distribusi fonem adalah bagian yang membahas posisi fonem apakah fonem tersebut terletak pada bagian awal,tengah atau akhir dalam sebuah kata.
Distribusi Vokal

Distribusi vokal lebih lanjut dijelaskan melalui tabel di bawah ini. Tabel Posisi Vokal Dalam Fonem Fonem /i/ /e/ // /a /u/ /o/ Awal /itik/ itik /ekor/ ekor /mas/ emas /anak/ anak /uler/ uler /obat/ obat Posisi Tengah /pizza/ pizza /nenek/ nenek /ruwt/ ruwet /sakit/ sakit /masuk/ masuk /balon/ balon Akhir /pagi/ pagi /sore/ sore /tipe/ tipe /pita/ pita /bau/ bau /baso/ baso
20

Distribusi Konsonan Distribusi konsonan lebih lanjut dijelaskan melalui tabel di bawah ini. Tabel Posisi Konsonan Dalam Fonem Fonem /p/ /b/ /t/ /d/ /c/ /j/ /k/ /g/ /f/ /v/ /s/ /z/ // /h/ /m/ /n/ // // /r/ /l/ /w/ /y/ Awal /pawang/ /bapak/ /tikar/ /dua/ /cantik/ /jajan/ /kita/ /gagah/ /fakir/ /varia/ /suku/ /zeni/ /syarat/ /hari/ /maka/ /nama/ /nyata/ /ngidam/ /raih/ /lekas/ /wanita/ /yakin/ Posisi Tengah /apa/ /sabuk/ /kata/ /ada/ /beca/ /manja/ /paksa/ /tiga/ /kafan/ /lava/ /asli/ /lazim/ /isyarat/ /lihat /kamu/ /anak/ /hanya/ /angin/ /juara/ /alas/ /hawa/ /gayung/ Akhir /siap/ /adab/ /rapat/ /abad/ /miraj/ /politik/ /gudeg/ /maaf/ /lemas/ /hafidz/ /arasy/ /basah/ /diam/ /daun/ /bening/ /putar/ /kesal/ 20

Distribusi fonem dalam bahasa arab


02

3. Tulisan Fonetik Tulisan yang dibuat untuk studi fonetik biasanya menggunakan aksara latin dengan menambahkan tanda diakritik dan modifikasi pada huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam tulisan fonetik setiap bunyi dilambangkan secara akurat artinya mempunyai lambang sendiri, sedangkan dalam tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang signitif saja yakni membedakan makna, lambangnya pun berbeda. Dan tulisan ortografi adalah tulisan yang umum ada dalam masyarakat. Tulisan fonetik dalam bahasa Indonesia Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan, diantaranya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis, dan system aksara tertentu untuk ejaan ortografis. Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf huruf dari aksara latin, yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambing hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Atau, kalau dibalik, setiap bunyi bahasa, sekecil apapun bedanya dengan bunyi yang lain, akan juga dilambangkan hanya dengan satu huruf lambing. Berikut contoh tulisan fonetik dalam bahasa Indonesia.
20

[riatu eliizabEt-

mrEsmiikan pmbiuka?An p1Esta

olAh1r1aga sd1uniia,

ollmpii1ad kd1uapulus1atu, di mOntr1eal s1Aptu l1alu?. Suuas1ana mriiAh di stadiiOn-: : br1atAp- y mgAh 1itu, 1AmpAk- p1da g1AmbAr k1irii1 atAs, kt1ika sm1uua 1Atlit- , , sm1uua y h1adIr dist1adyOn-: 1itu mmbr1ikAnphOrm1atAn- p1da bnd1eRa y t1a diiud1arakAn-. kOnti1En Indon1Esya k1anAn 1atAs t1AmpAk- mmas1uki st1adiion d1alAm d1efile p1ara psrt1A? .Pt1iju sAmsUl? Anwr har1ahAp- t1Amp-Ak p1ali dp1An mmb1awa S m1erAhp1uti. Tulisan Ortografis: Ratu Elizabeth meresmikan pembukaan Pesta Olahraga sedunia, Olympiade 21, di Montreal sabtu lalu. Suasana meriah di stadion beratap yang megah itu tampak pada gambar kiri atas, ketika semua atlit, semua yang hadir di stadion itu memberikan penghormatan pada bendera yang telah diudarakan. Kontingen Indonesia ( kanan atas ) tampak memasuki stadion dalam defile para peserta.Petinju Syamsul Anwar harahap tampak paling depan membawa Sang Merah Putih. Tulisan Fonetik dalam bahasa Arab : : +: + :+:: +:

20

]:,[ ]:[ ]:_[ ][ ][ ][

02

BAB III Persamaan dan Perbedaan Vokal dan Konsonan Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia
A. Vokal Dari latihan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa antara vokal bahasa Arab dan bahasa Indonesia terdapat kepersisan, aspek persamaan dan perbedaan, yaitu:
1. Kepersisan antar kasroh qosiroh : / i / dalam bahasa Indonesia, demikian

pula antara dhommah qosiroh : / U / dengan / u / , dan antara fathah qosiroh : / / dengan / /.
2. Aspek persamaan antara fathah tawilah / / dengan / a /, yaitu sama sama

vokal terbuka tidak bulat, dan sekaligus berbeda karena / / vokal depan dan panjang sedangkan / a / vokal tengah dan pendek. 3. Perbedaannya adalah: a. Didalam bahasa Indonesia terdapat vocal panjang seperti pada bahasa arab : / i / , /u: /, dan / /. b. Didalam bahasa Arab tidak terdapat vocal / e / dan / o /, dan tidak terdapat diftong. Sedangkan didalam bahasa Indonesia dua hal ini terdapat. B. Konsonan Adapun di dalam konsonan ditemukan persamaan, perbedaan, dan kemiripan yaitu sebagai berikut :
1. Persaamaan antara / / dengan / b /, / / dengan / m /, / / dengan / f /, /

/ dengan / z /, / / dengan / s /, / / dengan / r /, / / dengan / d /, / / dengan / t /, / / dengan / l /, / / dengan / n /, / / dengan / sy /, / / dengan / y /, / / dengan / k /, / / dengan / h /, / / dengan / w / 2. Perbedaan yaitu , bahwa di dalam bahasa Indonesia tidak terdapat :
20

a) Bunyi konsonan Mufakhkhom yaitu, / ,/ /, / /, / /, / /, / /, /

/ /
b) Bunyi konsonan yang bermakhroj root-pha-ryngeal, yaitu : / / dan /

/ yang bermakhroj inter-dental / / /, / /, / 3. Kemiripan yaitu , a) Karena berdekatan tempat artikulasi atau makhroj yaitu terdiri dari
i.

/ / dengan / z /, dan / / dengan / s / / / indental ( antar gigi ) geseran bersuara muroqqoq / z /ap-alveolar (gusi) geseran bersuara muraqqoq / / In-dental ( antar gigi ) geseran tak bersuara muroq / s / ap-alveolar (gusi) geseran tak bersuara muroqqoq

ii.

/ / dengan / z /

/ / in-dental (antargigi) geserab bersuara muroqqoq / z / ap-alveolar (gusi ) geseran bersuara muroqqoq
iii.

/ / dengan / k /

/ / dorso-uvular ( anak tekak ) letup tak bersuara mufakhkhom / k /dorso-ulvular (langit-langit lunak ) letup tak bersuara muroqqoq
b) Karena bersaman tempat artikulasi/makhraj tetapi berbeda pada salah

satu sifatnya, yaitu :


i.

/ / Dengan / s / / / Ap-alveolar geseran tak bersuara mufakhkhom / s / Ap-alveolar geseran tak bersuara muraqqaq

ii.

/ / Dengan / d / / / Ap-alveoral letup bersuara mufakhkhom / d / Ap-alveolar letup bersuara muraqqaq

iii.

/ / Dengan / t / / / Ap.den.alveolar letup tak bersuara mufakhkhom / t / Ap.den.alveolar letup tak bersuara muroqqoq

iv.

/ / Dengan / kh / / / Dorsovelor geseran tak bersuara mufakhkhom


20

/ kh / Dorsovelar geseran tak bersuara muroqqoq


c) Karena bersamaan tempat artikulasi atau makhroj dan salah satu dari

sifat sifatnya, yaitu:


i.

/ / dengan / g /

/ / dorso-velar geseran bersuara mufakhkhom / g / dorso-velar letup bersuara muraqqaq ii. / / dengan / j / / / fronto-palatal tengah-tengah paduan suara / j / fronto-palatal letup besuara muroqqoq C. Prediksi mengenai kesalahan atau kesulitan. Dalam hal bunyi- bunyi bahasa , baik vokal maupun konsonan bahasa Arab yang persis sama dengan vokal dan konsonan bahasa Indonesia sebagaimana tersebut diatas, maka bagi orang-orang Indonesia tidak akan mendapat kesulitan di dalam pengucapannya. Dalam hal bunyi-bunyi bahasa Arab yang memiliki kemiripan dengan bunyi-bunyi bahasa Indonesia sebagaimana telah diuraikan di atas, maka oranorang Indonesia kemungkinanmengalami kesalahan di dalam mengucapkannya. Bisa saja pengucapannya tertukar dengan bunyi bahasa-bahasa Indonesia yang mirip tersebut, misalnya pengucapan / / dengan / d / , / / dengan / g /, / / dengan / z /, / / dengan / s / dan seterusnya. Dalam hal bunyi bahasa- bahasa Arab yang bermakhroj dan bercara ucap yang tidak dimiliki kebiasaan lidah orang orang Indonesia, maka orang Indonesia akan mengalami kesulitan di dalam mengucapkannya, misalnya bunyi-bunyi yang makhroj interdental dan root pharyngeal, dan bunyi bunyi yang diucapkan dengan tafkhim. Khususnya dalam hal bunyi bunyi vokal bahasa Arab, karena semuanya memiliki dasar persamaan prinsipal, maka pengucapannya akan sangat mudah bagi orang Indonesia.

20

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Analisis kontrastif adalah atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut. Ada dua jenis hipotesis analisis konstrastif (Mustafa, 2008). Pertama, hipotesis bentuk lemah. Hipotesis ini menyatakan bahwa analisis kontrastif hanyalah bersifat diagnostik Karena itu analisis kontrastif dan analisis kesalahan harus saling melengkapi. Analisis kontrastif menetapkan kesalahan mana termasuk ke dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan Bl dan B2. Analisis kesalahan berbahasa mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa siswa. Kedua, hipotesis bentuk kuat, menyatakan bahwa semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara Bl dengan B2 yang dipelajari oleh siswa. Dalam Studi AKON mejajaki secara sistematis persamaan dan perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa target. Ini dapat dikaji dalam (1) tataran mikrolinguistik (2) tataran makrolinguistik. Komponen-komponen mikrolinguistik ialah fonologi (sistem fonem), kemudian morfologi (pembentukan kata dan kosakata), sintaksis (sistem pembentukan kalimat), dan semantik (perubahan makna). Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan binyi-bunyi bahasa. Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar adalah dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental, ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.
20

Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat, bagaimana memenggal suku kata, bagaimana menuliskan singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan sebagainya. Perlambangan unsure suprasegmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada, durasi, jedah dan intonasi. Perlambangan unsure suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau pungtuasi. Tata cara penulisan bunyi ujar ini bias memanfaatkan hasil kajian fonologi,terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian fonemik terhahadap ejaan suatu bahasa disebut ejaan fonemis. B. Kritik dan Saran Dalam penyusunan makalah ini tentunya masih banyak kekuranganya, dimulai dari segi bahasa, tekhnik penulisan dan kesalahan redaksional. Oleh karena itu kami sebagai penyusun sangat mengharapkan keritik dan saran yang tentunya bersifat membangun dan mampu memperbaiki penyusunan karya tulis berikutnya.

20

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul . Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.2007 Muin, M. A. , Drs. Abdul . Analisis Konstrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Alhusna Baru. 2004 Nababan, Prof. Dr. Sri Utari Subyakto. Analisis Konstrastif dan Kesalahan Suatu Kajian dari Sudut Pandang Guru Bahasa. Jakarta: IKIP Jakarta. 1994 Tajudin, Lc., MA, Shafrudin. Ilmu Dalalah. Jakarta : Maninjau

20