Anda di halaman 1dari 12

Tugas Mata Kuliah Kultur Jaringan

KULTUR ANTHER

Disusun Oleh : 1. 2. 3. 4. 5. Ratna Mayamurti D Sefty Indah K Tri Pangestisari Usman Avandy Yudha Prawira H0709094 H0709108 H0709119 H0709120 H0709129

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

PENDAHULUAN
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Beberapa gambaran dan potensi yang bisa dimunculkan dalam kultur jaringan diantaranya adalah : Kultur meristem, dapat menghasilkan anggrek yang bebas virus, sehingga sangat tepat digunakan pada tanaman anggrek spesies langka yang telah terinfeksi oleh hama penyakit, termasuk virus. Kultur anther, bisa menghasilkan anggrek dengan genetik haploid (1n), sehingga bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan anggrek diploid (2n). Dengan demikian sangat dimungkinkan untuk menghasilkan tanaman anggrek mini, selain itu dengan kultur anther berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada kondisi normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan.

Dengan tekhnik poliploid dimungkinkan untuk mendapatkan tanaman anggrek besar. Tekhnik ini salah satunya dengan memberikan induksi bahan kimia yang bersifat menghambat (cholchicine). Kloning, tekhnik ini memungkinkan untuk dihasilkan anggrek dengan jumlah banyak dan seragam, khususnya untuk jenis anggrek bunga potong. Sebagian penganggrek telah mampu melakukan tekhnik ini. Mutasi, secara alami mutasi sangat sulit terjadi. Beberapa literatur peluangnya 1 : 100 000 000. Dengan memberikan induksi tertentu melalui kultur jaringan hal tersebut lebih mudah untuk diatur. Tanaman yang mengalami mutasi permanen biasanya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Bank plasma, dengan meminimalkan pertumbuhan secara in vitro kita bisa mengoleksi tanaman anggrek langka tanpa harus memiliki lahan yang luas dan perawatan intensif. Baik untuk spesies langka Indonesia maupun dari luar negeri untuk menjaga keaslian genetis yang sangat penting dalam proses pemuliaan anggrek. Dalam program pemuliaan tanaman suatu tanaman umumnya memerlukan beberapa tahun untuk merakit tanaman baru. Prosesbya di mulai dengan penyerbukan silang untuk mengkombinasikan sifat-sifat tetua yang di inginkan. keturunan dari generasi pertama (F1) bersifat heterozigot tetapi secara genetis seragam. secara konvensional cara ini tergolong sangat lama di lakukan sehingga untuk mempercepat perakitan tanaman baru tersebut dapat di lakukan dengan kultur anther.

KULTUR ANTHER
I. Pengertian Kultur Anther Dalam kultur jaringan, terdapat teori yang biasa disebut totipotensi (total genetik potensi). Teori tersebut menyatakan bahwa setiap sel mengandung rangkaian genetik yang lengkap untuk dapat tumbuh menjadi tanaman yang lengkap. Berarti setiap sel apapun dapat tumbuh menjadi tanaman yang lengkap dan sempurna. Berdasarkan hal tersebut maka sel gamet dapat juga dikulturkan dan dapat tumbuh menjadi tanaman yang lengkap. Hanya bedanya karena sel gamet merupakan sel dengan genetik 1n maka tanaman yang tumbuh merupakan tanaman yang mempunyai genetik 1n. Seperti diketahui bahwa sel pada mahluk hidup dibagi menjadi dua macam yaitu sel vegetatif dan sel generatif (sel gamet jantan dan sel gamet betina). Pada sel somatik mempunyai genetik 2n (diploid) sedangkan sel generatif mempunyai genetik n (haploid). Secara normal sel generatif apabila disatukan dalam proses perkawinan maka akan menghasilkan embrio yang merupakan sel gamet jantan dan sel gamet betina (1n + 1n = 2n). Anther adalah kepala sari. Anther mengandung serbuk sari (polen), sehingga kultur anther berarti mengikutsertakan polen di dalamnya. Polen yang masih muda (immature) atau mikrospora yang terkandung dalam anther dapat secara langsung beregenerasi membentuk embrio, disebut androgenesis, atau membentuk jaringan kalus yang selanjutnya dapat diinduksi untuk bergenerasi menjadi tanaman di bawah pengaruh zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam media tanam. Polen bersifat haploid, dan tentunya sel-sel yang diproduksi oleh polen selama dikultur adalah haploid pula.
Kultur anther merupakan teknik yang paling efisien untuk menghasilkan tanaman haploid. Haploid pada tanaman digolongkan dalam dua kategori, yaitu monoploid (dengan jumlah kromosom setengah dari spesies diploid), dan polihaploid (dengan jumlah kromosom setengah dari kromosom spesies poliploidi).

Kultur antera merupakan salah satu metode perbanyakan tanaman dengan teknik in-vitro dengan tujuan untuk mendapatkan tanaman haploid yang unggul yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan kultivar-kultivar baru atau hibrida F1. Tanaman haploid adalah tanaman yang mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan kromosom gamet (N). Tanaman haploid yang diperoleh dari kultur anther dapat digunakan untuk mendeteksi mutasi rekombinan yang unik, karena mutasi yang resesif tidak muncul dalam keadaan diploid, dan pada penggandaan jumlah kromosom akan diperoleh tanaman yang homozygot. Tanaman yang homozigot sangat penting untuk menghasilkan hibrida terkendali. Kegunaan kultur anter dapat menghasilkan tanaman monohaploid, yang bisa dikombinasikan dengan mutagen kimiawi atau mutagen fisik dapat menghasilkan mutan mutan yang tahan terhadap penyakit rebah, toleran terhadap kadar garam tinggi di tanah, toleran terhadap kekeringan, tanaman cepat berbunga dan lain-lain. Kultur anther mempunyai kelebihan, yaitu dapat mempersingkat waktu dalam memperoleh homozigositas. Namun demikian, terdapat kelemahan, antara lain produksinya regeneran albino dan tidak semua genotipe responsif terhadap kultur anther. Pada kultur anther yang dikulturkan adalah anther tanaman yang sedang dalam keadaan kuncup. Ketidakberhasilan dalam kultur anther ini disebabkan karena penyimpanan yang terlalu lama (pra perlakuan sebelum inisiasi). Kultur anther berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada kondisi normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan. Beberapa kelemahan kultur anther adalah kecilnya persentase regenerasi, albino, dan tidak semua genotipe responsif terhadap kultur anter. Aplikasi kultur anther dan pollen antara lain: 1. Produksi tanaman haploid. 2. Produksi galur diploid homozygote melalui penggandaan untuk kromosom, 3. sehingga mengurangi waktu yang dibutuhkan

menghasilkan galur inbred. Menemukan mutasi atau fenotip resesif.

Kunci keberhasilan kultur anter adalah memacu tahap pertama untuk terjadi pembentukkan kalus, setelah itu dilanjutkan pada tahap untuk menumbuhkan plantet diantaranya yaitu dengan beberapa metode. Metode One Step Method adalah metode dimana media tersebut sanggup menumbuhkan eksplan melalui kalus terus menjadi plantula, contohnya pada medium VW untuk kultur jaringan anggrek. Metode Two Steps Method adalah metode yang digunakan untuk menumbuhkan plantet menjadi plantula dengan pindah media , karena pada media pertama hanya terbentuk kalus, kemudian mogok tidak berkembang menjadi tunas atau akar. Setelah terbentuk kalus, kalus dipindahkan ke media baru dengan tujuan agar tejadi pertumbuhan yang sempurna. II. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Kultur Anther 1. Genotip Pemilihan bahan awal atau sumber eksplan untuk kultur anther merupakan bagian yang sangat penting. Genotip dari sumber bahan anther memegang peranan penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya kultur anther. Tidak terlalu banyak jenis tanaman yang mempunyai kemampuan untuk memproduksi tanaman haploid melalui kultur anther, bahkan di dalam spesies yang samapun kemampuannya dapat berbeda. Sebagai contoh, beberapa kultivar tanaman jagung (Zea mays L.) sama sekali tidak responsif dalam kultur antera, sementara pada beberapa kultivar lain dapat dihasilkan (Wan dan Wildholm, 1993). Bahkan untuk spesies tanaman yang model, seperti tembakau, beberapa genotip menghasilkan penting untuk tanaman haploid dengan laju genetik yang lebih tinggi apabila dibandingkan genotip yang lain. Karena pengaruh genotia tersebut maka diperhatikan diversitas tanaman mengembangkan protokol untuk memproduksi tanaman haploid melalui kultur antera. 2. Komposisi media kultur Androgenesis dapat diinduksi pada media sederhana seperti yang dikembangkan oleh Nitsch dan Nitsch (1969) untuk polen tanaman

tembakau dan beberpa spesies lainnya. Akan tetapi untuk sebagian besar spesies, media yang umum digunakan adalah MS (Murashige dan Skoog, 1962) dan N6 (Chu, 1978) atau variasi kedua media tersebut. Dalam beberapa hal media perlu diperkaya dengan senyawa organik komplek seperti ekstrak kentang, air kelapa dan casein hidrolisat. Pada sebagian besar spesies, sukrosa yang digunakan dalam media antara 2-3% sementara untuk beberapa spesies lain khususnya tanaman serealia responnya lebih baik apabila konsentrasi gulanya lebih tinggi (hingga 15%). Pada beberapa spesies lain, penggunaan sumber karbohidrat seperti ribosa, maltosa dan glukosa mempunyai pengaruh yang lebih baik dibanding dengan sukrosa. Pada beberapa spesies. seperti tembakau, penambahan zat pengatur tumbuh pada media kultur antera tidak diperlukan. Akan tetapi untuk sebagian besar spesies diperlukan auksin dalam media dengan konsentrasi rendah. Sitokinin yang dikombinasikan dengan auksin kadang-kadang diperlukan terutama untuk spesies yang memerlukan fase kalus sebelum dihasilkan tanaman haploid. Kultur antera umumnya memerlukan bahan pemadat berupa agar. Akan tetapi karena agar mengandung senyawa yang dapat menghambat proses androgenesis, maka diperlukan bahan pemadat alternatif. Agarose merupakan bahan pemadat yang paling baik untuk kultur antera dari spesies serealia. Alternatif lain adalah dengan menggunakan media cair dengan cara menaruh antera di atas permukaan media yang disebut kultur mengapung atau float culture. 3. Kondisi tanaman donor Umur dan kondisi fisiologis tanaman donor sering mempengaruhi keberhasilan kultur antera. Pada sebagian besar spesies, respon yang paling baik berasal dari bunga (atau kelompok bunga) pertama yang dihasilkan oleh tanaman. Sebagaimana umumnya antera yang dikulturkan harus berasal dari bunga yang masih kuncup.

Berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman donor juga mempengaruhi tanaman haploid yang dihasilkan. Pada beberapa spesies, intensitas cahaya, lama penyinaran dan suhu diketahui mempengaruhi jumlah tanaman haploid yang dihasilkan. Kondisi pertumbuhan optimum yang spesifik berbeda antara tanaman yang satu dengan yang lainnya. Secara umum hasil terbaik akan diperoleh dari tanaman yang pertumbuhannya sehat dan vigor. 4. Tahap perkembangan polen Faktor yang sangat kritis yang mempengaruhi produksi tanaman haploid dari kultur antera adalah tahap perkembangan mikrospora. Pada sebagian besar jenis tanaman, antera hanya responsif selama fase uninukleat dari perkembangan polen. Sebaliknya, pada tanaman tembakau respon optimum ditemukan pada beberapa saat sebelum, selama dan sesudah fase mitosis pertama dari polen (akhir fase uninukleat hingga awal binukleat dari mikrospora). 5. Pra perlakuan Pada beberapa spesies tanaman, produktivitas kultur anteranya dipengaruhi oleh perlakuan pemberian suhu pada kuncup bunga sebelum proses sterilisasi dan isolasi antera. Produktivitas tanaman haploid tembakau yang dihasilkan sering meningkat dengan perlakuan penyimpanan kuncup bungan pada suhu 7-80C selama 12 hari (Sunderland dan Robert, 1979). Untuk jenis tanaman lain, penyimpanan dapat dilakukan pada suhu antara 4-100C selama 3 hari sampai dengan 3 minggu. Umumnya penyimpanan pada suhu yang lebih rendah memerlukan waktu yang lebih pendek dan sebaliknya. Perlakuan suhu pra inkubasi pada tanaman tertentu, seperti Brassica campestris L., dengan cara menyimpan biakan pada suhu 350C selama 1-3 hari sebelum diinkubasi pada suhu 250C, diketahui dapat meningkatkan keberhasilan kultur antera (Keller dan Amstrong, 1979).

III. Penerapan Kultur Anther Contoh penerapan kultur anther yang kita ambil adalah kultur anther pada tanaman pepaya untuk menghasilkan tanaman haploid. Anther pepaya berasal dari kuncup bunga jantan tanaman pepaya dengan 3 macam ukuran, yaitu besar (bunga tua), sedang (setengah tua), dan kecil (muda). Ukuran bunga tersebut berkolerasi dengan umur bunga. Semakin tua bunga jantan maka semakin besar ukuran bunga, semakin berwarna kuning pekat, dan semakin banyak jumlah anther yang terkandung di dalamnya. Bahan dan alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah satu botol bahan tanaman berupa kuncup bunga pepaya jantan pada beberapa umur fisiologi (muda, setengah tua, tua), media N6 (dari komposisi Nitsch), alkohol 70%, botol kaca kecil, cawan petri, pinset, gunting, scalpel, pembakar Bunsen. Prosedur kerja pada percobaan yang dilakukan adalah: 1. Persiapan alat, bahan, dan tempat kerja (Laminar Air Flow). 2. Memisahkan kuncup bunga jantan dari tanaman pepaya sesuai dengan ukurannya menjadi 3 macam, yaitu besar (bunga tua), sedang (setengah tua), dan kecil (muda). Ukuran bunga tersebut berkolerasi dengan umur bunga. 3. Mensterilkan kuncup bunga tersebut dengan cara mencelupkan bunga kedalam alkohol 70%, kemudian melewatkan bunga tersebut di atas api bunsen, lalu mendiamkan bunga tersebut hingga apinya padam. Mengulangi langkah tersebut sebanyak dua kali lagi. 4. Meletakan kuncup bunga pada cawan petri, kemudian membuka kuncup bunga dengan pinset dan membuang korolanya secara hati-hati agar antheranya tidak rusak. 5. Melepaskan anthera dari tangkai bunga kemudian menanam anthera tersebut pada media N6. Untuk anthera pepaya tua ditanam pada sebuah botol media N6, sedangkan untuk anthera pepaya setengah tua dan muda, masing-masing ditanam pada dua buah botol media N6. 6. Menyimpan kultur anthera tersebut dalam gelap untuk menginduksi pertumbuhan kalus.

7. Dilakukan pengamatan jumlah anthera perbunga dan warna anthera saat anthera tersebut ditanam, kemudian dilakukan pengamatan jumlah anthera yang tetap kuning dan jumlah yang coklat; jumlah kultur yang mengalami kontaminasi; saat terbentuk kalus dan jumlah anthera yang membentuk kalus pada 1 MST, 2 MST, dan 3 MST.

Kesimpulan

Kultur anther merupakan suatu metode kultur jaringan yang memiliki peran yang cukup besar dalam bidang pertanian, khususnya dalam menyediakan tanaman haploid yang secara alamiah sangat sulit terbentuk dan jarang dijumpai di alam. Tanaman haploid dapat dibentuk melalui partenogenesis secara alami, androgenesis, dan dibentuk secara artifisial diinduksi melalui kultur anther, ovari mikrospora dan hibridisasi seksual. Kultur anther merupkan teknik yang paling efisien untuk menghasilkan tanaman haploid. Kultur anther memiliki kelebihan dan kekurangan. Penerapan kultur anther perlu dioptimalkan dengan perpaduan teknologi sehingga dapat mendukung terwujudnya pertanian yang berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Kultur Anthera. http://1.bp.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 11 april 2011. Iswari et all. 2010. Galur Padi Beras Hitam Hasil Kultur Antera. http://pustaka.litbang.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 11 april 2011. Hanarida et all. 2002. Induksi Kalus dan Regenerasi Tanaman Melalui Kultur Anterapada Silangan Padi Tipe Baru. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertani Volume/Nomor : PP21/02