Anda di halaman 1dari 17

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA (UKRIDA)

KANDIDIASIS Nama: Fairuz Nurliyana Bt Mahalil Pembimbing: Dr Dedy Maizal, SpKK

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmatnya

akhirnya referat yang berjudul Kandidiasis ini dapat diselesaikan. Referat ini dibuat dengan tujuan sebagai tugas kepaniteraan ilmu penyakit kulit dan kelamin dan didasarkan atas tingginya insiden penyakit kulit di Indonesia yang disebabkan oleh infeksi Candida albicans. Infeksi jamur intermediat merupakan suatu kelainan kulit yang banyak menyerang masyarakat dan tidak dapat didiagnosa dengan tepat dengan hanya melihat kelainan. Oleh karena itu, didalam referat ini dicantumkan semua perbahasan tentang tinea pedis mulai dari definisi, epidemiologi, etiologi, gejala klinis, pemeriksaan, diagnosis banding, penatalaksanaan hingga prognosisnya. Namun menyadari bahwa referat ini masih banyak kekurangan bahkan jauh dari sempurna maka dengan hormat penulis memohon kritik dan saran sebagai masukan untuk perbaikan referat yang selanjutnya. Dikesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada dr.Dedi Maizal Sp.KK selaku pembimbing dan teman-teman serta semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga referat ini dapat diselesaikan. Sekian, terima kasih.

DAFTAR ISI

PERKARA PENDAHULUAN DEFINISI EPIDEMIOLOGI ETIOLOGI KLASIFIKASI PATOGENESIS GEJALA KLINIK PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSIS BANDING PENATALAKSANAAN PROGNOSIS DAFTAR PUSTAKA

HALAMAN 4 5 5 5 6 6 7 12 13 13 16 17

PENDAHULUAN Infeksi jamur dewasa ini semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya penggunaan antibiotika berspektrum luas, steroid, obat-obat sitostatika, penyakit kronik, keganasan, bayi- bayi dengan berat badan lahir rendah dan penderita-penderita dengan penurunan daya tahan tubuh. Antara tahun 1980-1990 dari data rumah sakit di Amerika Serikat yang melakukan surveillance terhadap patogen nosokomial didapati 7,9% (22,200 kasus) disebabkan oleh infeksi jamur, sekitar 79% infeksi jamur ini disebabkan oleh spesies kandida. Sekitar 8,8% bayi prematur (berat kurang dari 1500 gram) yang dirawat di NICU, Universitas Gottingen, dan pemeriksaan mukokutaneus didapati adanya kotoni jamur kandida. Spesies jamur yang paling sering dijumpai pada penderita immunokompromi yaitu infeksi kandida. Jamur kandida merupakan flora mikrobial normal rongga mulut, saluran pencernaan dan vagina, bersifat invasif/patogen bila daya tahan host (pejamu) terganggu. Infeksi jamur ini umumnya terjadi di daerah mukokutaneus, tetapi dapat pula terjadi pada organ- organ lain di dalam tubuh seperti esofagus, ginjal, hati, jantung, mata, otak dan paru Kandidiasis adalah penyakit jamur yang sangat umum. Jamur ini biasa hidup dalam tubuh. Kandidiasis juga merupakan infeksi oportunistik yang sangat umum pada orang terinfeksi HIV. Jamur ini, semacam ragi, ditemukan di tubuh kebanyakan orang. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Cara terbaik untuk menghindari jangkitan kandidiasis adalah dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh melalaui penggunaan terapi antiretroviral. Sebagian besar penyakit kandidiasis dapat diobati secara mudah dengan terapi lokal. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyakit ini menjadi lebih menetap.

I. DEFINISI Kandidiasis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh jamur intermediate Candida sp., biasanya oleh spesies Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki atau paru, dengan berbagai manifestasi klinisnya yang bisa berlangsung akut, kronis atau episodik, kadang-kadang dapat menyebabkan septicemia, endokarditis atau meningitis. II. EPIDEMIOLOGI Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak diketahui data-data penyebarannya dengan tepat. III. ETIOLOGI Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab endokarditis kandidiasis ialah C. parapsilosis dan penyebab kandidiasis septicemia adalah C. tropikalis. Candida sp adalah jamur sel tunggal, berbentuk bulat sampai oval. Jumlahnya sekitar 80 spesies dan 17 diantaranya ditemukan pada manusia. Dari semua spesies yang ditemukan pada manusia, C.albicans lah yang paling pathogen. Candida sp. memperbanyak diri dengan membentuk blastospora (budding cell). Blastospora akan saling bersambung dan bertambah panjang sehingga membentuk pseudohifa. Bentuk pseudohifa lebih virulen dan invasif daripada spora. Hal itu dikarenakan pseudohifa berukuran lebih besar sehingga lebih sulit difagositosis oleh makrofag. Selain itu, pseudohifa mempunyai titiktitik blastokonidia multipel pada satu filamennya sehingga jumlah elemen infeksius yang ada lebih besar. Sel jamur kandida berbentuk bulat, lonjong, dengan ukuran 25 x 36 hingga 25 x 528,5 Spesies-spesies kandida dapat dibedakan berdasarkan kemampuan fermentasi dan asimilasi terhadap larutan glukosa, maltosa, sakarosa, galaktosa dan laktosa. Jamur kandida dapat hidup sebagai saprofit tanpa menyebabkan kelainan apapun di dalam berbagai alat tubuh baik manusia maupun hewan. C. albicans merupakan spesies jamur kandida yang paling sering menyebabkan kandidiasis pada manusia, baik kandidiasis superfisialis maupun sistemik. Pada media agar khusus akan terlihat struktur hyphae, pseudohyphae dan ragi.

Candida albicans IV. KLASIFIKASI Berdasarkan tempat yang terkena CONANT dkk. (1971), mambaginya sebagai berikut: Kandidiasis selaput lendir: 1. Kandidiasis oral (thrush) 2. Perleche 3. Vulvovaginitis 4. Balanitis atau balanopostitis 5. Kandidiasis mukokutan kronik 6. Kandidiasis bronkopulmonar dan paru Kandidiasis kutis: 1. Lokalisata: a. daerah intertriginosa b. daerah perianal

2. Generalisata 3. Paronikia dan onikomikosis 4. Kandidiasis kutis granulomatosa Kandidiasis sistemik: 1. Endokarditis 2. Meningitis 3. Pielonefritis 4. Septikemia Reaksi id. (kandidid) V. PATOGENESIS Kandida di dalam tubuh manusia dapat bersifat 2 macam. Kandida sebagai saprofit terdapat dalam tubuh manusia tanpa menimbulkan gejala apapun, baik subyektif maupun

obyektif. Dapat dijumpai di kulit, selaput lendir mulut, saluran pencernaan, saluran pernafasan, vagina dan kuku. Kandida sebagai jamur dapat menimbulkan infeksi primer maupun sekunder dari kelainan yang telah ada. Beberapa faktor predisposisi dapat mengubah sifat saprofit kandida menjadi patogen. Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen. Faktor endogen: 1. Perubahan fisiologik: Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina Kondisi vagina selama masa kehamilan menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap infeksi kandida, hal ini tampak dengan ditemukannya kolonisasi candida spp yang tinggi pada masa ini sejalan dengan tingginya simtomatik vaginitis. Keluhan ini paling sering timbul pada usia kehamilan trimester ketiga. Bagaimana mekanisme hormon-hormon reproduksi dapat meningkatkan kepekaan vagina terhadap infeksi kandida masih belum jelas. Kegemukan, karena banyak keringat Debilitas Iatrogenik Endokrinopati, gangguan gula darah pada kulit Pada penderita diabetes mellitus juga ditemukan kolonisasi candida spp dalam vagina mungkin karena peningkatan kadar glukosa dalam darah, jaringan dan urin. Akan tetapi mekanismenya juga tidak diketahui. Penyakit kronik: tuberkulosis, lupus eritematosus dengan keadaan umum yang buruk. 2. Umur: orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna. 3. Imunologik: penyakit genetik. Faktor eksogen: 1. Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat. 2. Kebersihan kulit 3. Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur. 4. Kontak dengan penderita, misalnya pada thrush, balanopostitis. VI. GEJALA KLINIS Kandidiasis selaput lendir i. Thrush

Biasanya mengenai bayi, tampak pseudomembran putih coklat muda kelabu yang menutup lidah, palatum mole, pipi bagian dalam, dan permukaan rongga mulut yang lain. Lesi dapat terpisah-pisah, dan tampak seperti kepala susu pada rongga mulut. Bila pseudomembran terlepas dari dasarnya tampak daerah yang basah dan merah. Pada glositis kronik, lidah tampak halus dengan papila yang atrofik atau lesi berwarna putih di tepi atau di bawah permukaan lidah. Bercak putih tidak tampak jelas bila penderita sering merokok.

Thrush ii. Perleche Lesi berupa fisur pada sudut mulut; lesi ini mengalami maserasi, erosi, basah, dan dasarnya eritematosa. Faktor predisposisnya ialah defisiensi riboflavin.

Perleche iii. Vulvovaginitis Biasanya sering terdapat pada penderita diabetes mellitus karena kadar gula darah dan urin yang tinggi dan pada wanita hamil karena penimbunan glikogen dalam epitel vagina. Keluhan yang paling sering adalah rasa gatal pada daerah vulva dan adanya duh tubuh. Sifat duh tubuh bervariasi dari yang cair seperti air sampai tebal dan

homogen dengan noda seperti keju. Kadang-kadang sekret tampak seperti susu yang disertai gumpalan-gumpalan putih sehingga tampak seperti susu basi/pecah dan tidak berbau. Akan tetapi lebih sering sekret hanya minimal saja. Pada yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri sesudah miksi, dan dispaneuria. Pada pemeriksaan fisik ditemukan eritema dan pembengkakan pada labia dan vulva, juga dapat ditemukan lesi papulopustular di sekitarnya. Pada pemeriksaan yang ringan tampak hiperemia di labia menora, introitus vagina, dan vagina terutamanya 1/3 bagian bawah. Servik tampak normal sedangkan mukosa vagina tampak kemerahan. Sering pula terdapat kelainan yang khas bercak-bercak putih kekuningan. Bila ditemukan keluhan dan tanda-tanda vaginitis serta pH vagina < 4,5 dapat diduga adanya infeksi kandida. Pada kelainan yang berat juga terdapat edema pada labia menora dan ulkus-ulkus yang dangkal pada labia menora dan sekitar introitus vaginal. Fluor albus pada kandidosis vagina bewarna kekuningan. Tanda yang khas ialah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu bewarna putih kekuningan. Gumpalan tersebut berasal dari massa yang terlepas dari dinding vulva atau vagina terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel epitel, dan jamur.

vulvovaginitis iv. Balanitis atau balanopostitis Penderita mendapat infeksi karena kontak seksual dengan wanitanya yang menderita vulvovaginitis, lesi berupa erosi, pustula dengan dindingnya yang tipis, terdapat pada glans penis dan sulkus koronarius glandis.

Balanitis v. Kandidiasis mukokutan kronik Penyakit ini timbul karena adanya kekurangan fungsi leukosit atau sistem hormonal, biasanya terdapat pada penderita dengan bermacam-macam defisiensi yang bersifat genetik, umumnya terdapat pada anak-anak. Gambaran klinisnya mirip penderita dengan defek poliendokrin.

Kandidiasis kutis i. Kandidiasis intertriginosa Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glans penis, dan umbilikus, berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.

Kandidiasis intertriginosa ii. Kandidiasis perianal Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit ini menimbulkan pruritus ani. 10

Kandidiasis perianal iii. Kandidiasis kutis generalisata Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga di lipat payudara, intergluteal, dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis, dan paronikia. Lesi berupa ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan pustul-pustul. Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena ibunya menderita kandidosis vagina atau mungkin karena gangguan imunologik. iv. Paronikia dan Onikomikosis Sering diderita oleh orang-orang yang pekerjaanya berhubungan dengan air, bentuk ini tersering didapat. Lesi berupa kemerahan, pembengkakan yang tidak bernanah, kuku menjadi tebal, mengeras dan berlekuk-lekuk, kadang-kadang bewarna kecoklatan, tidak rapuh, tetap berkilat dan tidak terdapat sisa jaringan di bawah kuku seperti pada tinea unguium. Diaper-rash Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti yang dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga sering diderita neonatus sebagai gejala sisa dermatisis oral dan perianal.

v.

Diaper-rash 11

vi.

Kandidiasis granulomatosa HOUSER dan ROTHMAN melaporkan bahawa penyakit ini sering menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta tebal bewarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya. Krusta ini dapat menimbul seperti tanduk sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat di muka, kepala, kuku, badan, tungkai dan farings.

Kandidiasis sistemik i. Endokarditis Sering terdapat pada penderita morfinis sebagai akibat komplikasi penyuntikan yang dilakukan sendiri, juga dapat diderita oleh penderita sesudah operasi jantung. Meningitis Terjadi karena penyebaran hematogen jamur, gejalanya sama dengan meningitis tuberkulosis atau karena bakteri lain.

ii.

Reaksi id (kandidid) Reaksi terjadi karena adanya metabolit kandida, klinisnya berupa vesikel-vesikel yang bergerombol, terdapat pada sela jari tangan atau bagian badan yang lain, mirip dermatofitid. Di tempat tersebut tidak ada elemen jamur. Bila lesi kandidosis diobati, kandidid akan menyembuh. Jika dilakukan uji kulit dengan kandidin (antigen kandida) memberi hasil positif. VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosis klinis kandidiasis dibuat berdasarkan keluhan penderita, pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium berupa sediaan basah maupun gram dan pemeriksaan biakan jamur, selain itu juga pemeriksaan pH cairan vagina untuk kandidiasis vulvovaginalis. 1. Pemeriksaan langsung Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan Gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu. 2. Pemeriksaan biakan Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah

12

pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar. 3. Pemeriksaan pH vagina Pada kandidiasis vulvovaginalis pH vagina normal berkisar antara 4,0-4,5 bila ditemukan pH vagina lebih tinggi dari 4,5 menunjukkan adanya bakterial vaginosis, trikhomoniasis atau adanya infeksi campuran.

VII. DIAGNOSIS BANDING Kandidiasis kutis lokalisata dengan: a. Eritrasma : lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak ada satelit, pemeriksaan dengan sinar Wood positif bewarna merah bata. b. Dermatitis intertriginosa c. Dermatofitosis (tinea) Kandidiasis kuku dengan tinea unguium Kandidiasis vulvovaginitis dengan : a. Trikomonas vaginalis b. Gonore akut c. Leukoplakia d. Liken planus IX. PENATALAKSANAAN Saat ini telah banyak tersedia obat-obat antimikosis untuk pemakaian secara topikal maupun oral sistemik untuk terapi kandidiasis akut maupun kronik. Kecenderungan saat ini adalah pemakaian regimen antimikosis oral maupun lokal jangka pendek dengan dosis tinggi. Antimikosis untuk pemakaian lokal/topikal tersedia dalam berbagai bentuk, misalnya krim, lotion, vaginal tablet dan suppositoria. Tidak ada indikasi khusus dalam pemilihan bentuk obat topikal. Untuk itu perlu ditawarkan dan dibicarakan dengan penderita sebelum memilih bentuk yang lebih nyaman untuk pasien. Untuk keradangan pada vulva yang ekstensi mungkin lebih baik dipilih aplikasi lokal bentuk krim. Hendaklah mengingatkan pasien untuk menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi. Pengobatan:

13

1. Topikal: Larutan ungu gentian - 1 % untuk selaput lendir, 1-2 % untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari. Nistatin: berupa krim, salap, emulsi Amfoterisin B Grup azol antara lain: i. Mikonazol 2% berupa krim atau bedak ii. Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim iii. Tiokonazol, bufonazol, isokonazol iv. Siklopiroksolamin 1% larutan, krim v. Antimikotik yang lain yang berspektrum luas 2. Sistemik Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obat ini tidak diserap usus. Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidosis sistemik Untuk kandidosis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500 mg per vaginam dosis tunggal, sistemik dapat diberikan ketokonazol 2 x 200 mg selama 5 hari atau dengan itrakonazol 2 x 200 mg dosis tunggal atau dengan flukonazol 150 mg dosis tunggal. Itrakonazol: bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis dosis untuk orang dewasa 2 x 100 mg sehari, selama 3 hari. Penggolongan obat antimikotik Polyenes Antimikotik golongan polyenes ditemukan pada awal tahun 1950-an. Golongan polyenes efektif untuk melawan semua spesies ragi karena berikatan dengan membran sel jamur. Efek pengrusakan membran sel tergantung kuatnya ikatan antara polyenes dengan sterol khususnya ergosterol yang banyak dikandung oleh dinding sel jamur, sedangkan dinding sel manusia banyak mengandung kolesterol. Golongan polyenes yang paling banyak dipakai adalah nystatin. Obat ini juga aman diberikan pada wanita hamil. Pemberian peroral tidak dapat diserap oleh usus dan hanya diberikan peroral untuk mengobati kandidiasis gastrointestinal saja. Golongan polyenes yang lain adalah amphoterisin B. Golongan polyenes bekerja dengan cara merusak membran sel eukariota dan menimbulkan efek toksik pada membran jamur. Efek kerusakan membran tersebut karena polyenes mempunyai daya ikat yang tinggi dengan ergosterol yang membentuk membran sel jamur. Azol Golongan azol dikembangkan sekitar akhir tahun 1960-an dan tersedia dalam bentuk sediaan topikal dan sistemik. 14

Imidazol Imidazol merupakan generasi pertama kelompok azol. Mikonazol adalah imidazol yang pertama di pasaran, yang lainnya adalah: klotrimazol, ekonazol, ketokonazol, isokonazol, omokonazol, oksikonazol, fentikonazol dan tiokonazol. Dari semua imidazol hanya ketokonazol yang mempunyai bentuk oral dan sistemik. Cara kerja azol termasuk di sini derivat imidazol maupun triazol adalah melakukan penghambatan 14a-demethylase, suatu enzim dependent cytochrom p 450 yang sangat diperlukan untuk sintesa ergosterol. Golongan imidazol mempunyai efek penyembuhan klinis dan mikologis sebesar 85-95%. Pemakaian yang hanya satu kali perhari dan lama pemakaian hanya 1 sampai 7 hari yang dirasakan lebih nyaman untuk penderita maka banyak dipakai sehingga menggeser pemakaian nystatin. Berbagai macam derivat imidazol digunakan secara topikal, berbagai penelitian yang telah dilakukan tidak membuktikan bahwa obat yang satu lebih superior dari yang lainnya. Semuanya menunjukkan efektifitas yang sama bila diberikan secara topikal, serta bebas dari efek samping sistemik. Sejak imidazol topikal pertama diperkenalkan, klotrimazol 100 mg selama 6 hari, merupakan terapi jangka panjang. Selanjutnya kecenderungan terapi diarahkan menjadi jangka pendek, klotrimazol 200 mg diberikan selama 3 hari. Akhir-akhir ini dosis tinggi lokal yang diberikan hanya 1 kali menjadi lebih disukai (klotrimazol 500 mg) dibandingkan dengan dosis tunggal peroral dari azol generasi yang berikutnya. Ketokonazol adalah satu-satunya imidazol yang dapat diberikan peroral dan sekarang mulai digeser pemakaiannya dengan azol yang lainnya.

Triazol Azol generasi ketiga adalah goongan triazol yang dikembangkan pada tahun 1980. Derivat triazol yang pertama adalah itrakonazol, dan yang lainnya adalah flukonazol dan terkonazol. Efek terapi itrakonazol dosis tunggal yang diteliti pada tikus percobaan menunjukkan dalam waktu 24 jam obat telah mempengaruhi perubahan ultrastruktur dinding sel dan dalam waktu 3 hari jamur tereradikasi sempurna dari epitel vagina. Penelitian lanjutan terhadap jaringan vagina manusia menunjukkan 200 mg dosis tunggal itrakonazol peroral memberikan efek penghambatan dalam waktu 3 hari. Pemanjangan efek itrakonazol diakibatkan karena adanya kemampuan lipofilik obat tersebut. Akhirnya angka penyembuhan klinis dan mikologis tidak berbeda untuk terapi jangka pendek peroral dari itrakonazol dengan pemakaian topikal golongan imidazol.

15

Efek samping pemberian obat antimikotik golongan azol umumnya adalah rasa tidak nyaman pada daerah gastrointestinal, dapat terjadi gejala hepatotoksis pada pemberian ketokonazol (jarang), sedangkan reaksi anafilaksis sangat jarang terjadi. Flukonazol secara umum dapat ditoleransi dengan baik walaupun mempunyai efek gastro intestinal (mual, muntah). Triazol yang ketiga adalah terkonazol. Terkonazol adalah satu-satunya triazol yang tersedia dalam bentuk topikal, dengan efektifitas yang sama dengan triazol bentuk oral. Di Amerika, terkonazol tersedia dalam bentuk krim 0,4 untuk regimen 7 hari dan 0,8% untuk regimen 3 hari, selain itu tersedia juga bentuk supossitoria vagina 80 mg untuk regimen 3 hari. Derivat triazol ini mempunyai spektrum aktivitas yang luas, awal kerja yang lebih cepat, lebih efektif dan lebih kecil efek sampingnya. Pada saat ini terkonazol belum tersedia di Indonesia. X. PROGNOSIS Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya faktor predisposisi.

16

Daftar pustaka 1. Unandar B. Kandidosis. dalam Djuanda, A., Hamzah, M. dan Aisah, S. (eds), Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 5th ed, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.2007: 106-9. 2. Siregar, R.S. Kandidiasis. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2005 : 31 4. 3. Madani, F. Infeksi Jamur Kulit, dalam Harahap, M. (ed), Ilmu Penyakit Kulit, Penerbit Hipokrates, Jakarta.2000: 73 87. 4. Kandidiasis 2010. 5. Setiabudy R, Bahry B. Obat jamur. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007: 571-83. vulvovaginal. Edisi 2010. Diunduh 03 dari Agustus http://www.scribd.com/doc/34699247/Kandidiasis-Vulvovagina-,

17