Anda di halaman 1dari 184

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Energi listrik memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan

manusia. Dimana, manusia tidak pernah terpisahkan dari energi listrik dalam setiap kegiatannya sehari-hari. Sebelum sampai ke konsumen, energi listrik mengalami beberapa tahapan penting mulai dari tahap pembangkitan, tahap transmisi hingga tahap distribusi energi listrik. Pada tahap pembangkitan, terjadi proses perubahan bentuk energi dari energi mekanis (gerak) menjadi energi listrik. Dimana, umumnya energi listrik dibangkitkan oleh generator listrik yang diputar oleh penggerak mula (prime mover). Prime mover dapat berupa turbin atau mesin diesel. Pada pembangkit PLTG unit IV prime mover berupa mesin disel Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, jenis jenis pembangkit listrik semakin bertambah. Misalnya, pembangkit energi listrik tenaga surya (matahari). Dimana, pada jenis pembangkit ini digunakan sel surya untuk mengkonversikan energi sinar matahari menjadi energi listrik. Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara memiliki visi: menghasilkan lulusan yang profesional dan mampu berkompetisi dengan lulusan program studi yang sama dari institusi lain pada tingkat nasional, regional, dan internasional, serta melakukan penelitian dan menyediakan layanan untuk sektor industri dan publik. Oleh karena itu, Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara mewajibkan setiap mahasiswanya untuk menjalani Kerja Praktek. Hal ini diwajibkan untuk menambah pengetahuan praktis mahasiswa sehingga mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan secara teori saja, melainkan juga memiliki pengalaman secara praktis.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Kami memilih PT PLN (PERSERO) SEKTOR PEMBANGKITAN SUMBAGUT SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN di PLTG Paya Pasir sebagai tempat Kerja Praktek. Dimana, fokus utama kami adalah sistem proteksi Unit 4 PLTG Paya Pasir secara keseluruhan.

1.2

Tujuan Kerja Praktek Kami melakukan Kerja Praktek ini untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mahasiswa pada Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Selain itu, Kerja Praktek ini juga bertujuan untuk : 1. Mengetahui keseluruhan sistem-sistem yang terpasang pada pembangkit listrik (profil) di PLTG Paya Pasir secara umum. 2. Mengetahui dan memperdalam sistem kerja unit 4 PLTG Paya Pasir secara khusus. 3. Mengetahui sistem kerja proteksi dan prinsip kerja setiap rele yang terpasang pada unit 4 PLTG Paya Pasir. 4. Mengetahui cara penyetelan/penyetingan setiap rele proteksi unit 4 PLTG Paya Pasir secara praktis. Sehingga kami dapat membandingkan cara penyetelan rele proteksi di Laboratorium Sistem Tenaga Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara dengan cara penyetelan rele proteksi di Unit 4 PLTG Paya Pasir.

1.3

Waktu dan Tempat Kerja Praktek ini kami laksanakan mulai tanggal 1 November 2010 hingga 30 November 2010 berlokasi di PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan yang beralamat di Jalan Pembangkit Listrik No. 1 Paya Pasir Medan-Marelan 20255; Telepon: (061) 6850064, 6851958, 6841096; Facsimile: (061) 6853842.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1.4

Batasan Masalah Sektor pembangkit di PLTG Paya Pasir telah memiliki 7 unit pembangkit. Dalam laporan ini, kami membatasi fokus utama bahasan kami pada pembangkit unit 6. Adapun batasan masalah yang kami buat sebagai berikut : 1. Profil ketujuh unit pembangkit PLTG Paya Pasir berupa database dan wiring diagram dari sistem sistem yang terpasang secara garis besarnya saja. 2. Jenis jenis , prinsip kerja eksiter hanya pada unit 4 PLTG Paya pasir. Dimana, bahasan bahasan tersebut kami sajikan dalam bentuk : penjelasan singkat, data data berupa tabel, gambar, dan wiring diagram. 3. Menganalisis data data (record) hasil pengujian proteksi unit 4 PLTG Paya Pasir yang pernah dilakukan sebelumnya.

1.5

Metodologi Kerja Praktek Selama pelaksanaan Kerja Praktek dan penulisan laporan Kerja Praktek, kami mengumpulkan seluruh informasi dan data yang kami perlukan dalam menyelesaikan laporan ini dengan cara : 1. Studi Literatur yang diperoleh dengan cara mempelajari berbagai buku yang berhubungan dengan topik bahasan kami dan tidak kami peroleh dari tempat Kerja Praktek, melainkan kami peroleh dari berbagai media baik cetak maupun elektronik seperti internet. 2. Mengumpulkan berbagai informasi dari tempat Kerja Praktek dengan cara : a. Wawancara dengan asisten pembimbing Kerja Praktek b. Observasi lapangan (khususnya unit 4 PLTG Paya Pasir) c. Membaca beberapa Manual Book dan buku buku pedoman lain yang diberikan oleh asisten pembimbing Kerja Praktek

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1.6

Sistematika Penulisan Laporan Adapun sistematika penulisan laporan Kerja Praktek yang kami buat adalah

sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini terdapat latar belakang, tujuan kerja praktek, manfaat kerja praktek, waktu dan tempat kerja praktek, ruang lingkup kerja praktek, metodologi kerja praktek, dan sistematika penulisan laporan. BAB II TINJAUAN UMUM PT PLN (PERSERO) PEMBANGKITAN SUMATERA BAGIAN UTARA SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN DAN DASAR SISTEM TENAGA LISTRIK Bagian ini memberikan gambaran umum mengenai PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan, sistem tenaga listrik yang meliputi: sistem pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik secara garis besarnya.

BAB III

SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS PT.PLN (Persero) SEKTOR PEMBANGKITAN SUMBAGUT SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN PAYA PASIR Pada bab ini terdapat uraian secara umum mengenai profil seluruh unit pembangkit yang terdapat di PT. PLN (Persero) SEKTOR PEMBANGKITAN SUMBAGUT SEKTOR

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

PEMBANGKITAN MEDAN PAYA PASIR, seluruh komponen yang terdapat pada setiap unit pembangkit serta prinsip kerja masing masing komponen, baik elektris maupun mekanis.

BAB IV

SISTEM PROTEKSI ELEKTRIS GENERATOR PEMBANGKIT UNIT IV PLTG PAYA PASIR Pada bab ini terdapat penjelasan secara umum mengenai betapa pentingya peranan peralatan pengaman pada sistem pembangkit energi listrik. Dalam hal ini focus utama kami adalah peralatan pengaman yang bersifat elektris pada generator. Selain itu, bab ini juga membahas klasifikasi gangguan pada generator, klasifikasi rele elektris pada generator secara umum dan pada generator pembangkit unit IV PLTG Paya Pasir secara khusus. Uraian mengenai rele elektris yang terdapat pada generator secara umum mencakup prinsip kerja dan wiring diagram. Sedangkan pada generator pembangkit unit IV PLTG Paya Pasir secara khusus mencakup cara melakukan setting rele yang terdapat pada Generator PLTG Unit IV.

BAB V

PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang kami peroleh selama Kerja Praktek.

BAB II

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

TINJAUAN UMUM PT PLN (PERSERO) PEMBANGKITAN SUMATERA BAGIAN UTARA SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN DAN DASAR SISTEM TENAGA LISTRIK

2.1 Sejarah Berdirinya PT PLN (Persero)

Sejarah Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Pengusahaan tenaga listrik tersebut berkembang menjadi untuk kepentingan umum, diawali dengan perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGM yang memperluas usahanya dari hanya di bidang gas ke bidang tenaga listrik. Selama Perang Dunia II berlangsung, perusahaan-perusahaan listrik tersebut dikuasai oleh Jepang dan setelah kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, perusahaan-perusahaan listrik tersebut direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia pada bulan September 1945 dan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas, dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik hanya sebesar 157,5 MW. Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas. Tanggal 1 Januari 1965, BPU-PLN dibubarkan dan dibentuk 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengelola tenaga listrik dan Perusahaan Gas Negara (PGN) yang mengelola gas. pembangkit tenaga listrik PLN sebesar 300 MW. Tahun 1972, Pemerintah Indonesia menetapkan status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN). Tahun 1990 melalui Peraturan Pemerintah No. 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan. Tahun 1992, pemerintah memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik. Sejalan dengan kebijakan di atas, pada bulan Juni 1994 status PLN dialihkan dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

Saat itu kapasitas

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.2 Nilai-nilai Perusahaan dan Dasar Hukum Perusahaan 2.2.1 Nilai-Nilai Perusahaan

Saling percaya, Integritas, Peduli dan Pembelajar a. Peka-tanggap terhadap kebutuhan pelanggan Senantiasa berusaha untuk tetap memberikan pelayanan yang dapat memuaskan kebutuhan pelanggan secara cepat, tepat dan sesuai.
b. Penghargaan pada harkat dan martabat manusia

Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya serta mengakui dan melindungi hak-hak asasi dalam menjalankan bisnis. c. Integritas Menjunjung tinggi nilai kejujuran, integritas, dan obyektifitas dalam pengelolaan bisnis. d. Kualitas produk Meningkatkan kualitas dan keandalan produk secara terus-menerus dan terukur serta menjaga kualitas lingkungan dalam menjalankan perusahaan.
e. Peluang untuk maju

Memberikan peluang yang sama dan seluas-luasnya kepada setiap anggota perusahaan untuk berprestasi dan menduduki posisi sesuai dengan kriteria dan kompetensi jabatan yang ditentukan. f. Inovatif Bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan sesama anggota perusahaan, menumbuhkan rasa ingin tahu serta menghargai ide dan karya inovatif.
g. Mengutamakan kepentingan perusahaan

Konsisten untuk mencegah terjadinya benturan kepentingan dan menjamin di dalam setiap keputusan yang diambil ditujukan demi kepentingan perusahaan. h. Pemegang saham Dalam pengambilan keputusan bisnis akan berorientasi pada upaya meningkatkan nilai investasi pemegang saham. 2.2.1 Dasar Hukum Perusahaan
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dalam menjalankan kegiatannya PT PLN (Persero) memiliki beberapa dasar hukum yang dijadikan acuan, yaitu: a. Anggaran Dasar PLN tahun 1998.
b. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk

Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).


c. Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan

(Persero).
d. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 1998 tentang Pengalihan Kedudukan,

Tugas.
e. Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1998 tentang Pengalihan Pembinaan terhadap

Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perseroan Terbatas yang sebagian sahamnya dimiliki Negara Republik Indonesia kepada Menteri Negara Pendayagunaan BUMN.
2.1 Sejarah Berdirinya PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor

Pembangkitan Medan PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan yang didirikan pada tanggal 20 Maret 2007 adalah salah satu pusat pembangkit tenaga listrik yang ada di Provinsi Sumut, terletak 17 km sebelah utara kota Medan dengan 3 unit kerja yaitu, PLTG Paya Pasir, PLTG Glugur dan PLTD Titi Kuning. PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan dan PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan ini membawahi Pembangkit Listrik sebagai berikut: 1. Pusat Listrik Paya Pasir yang memiliki 7 (tujuh) unit PLTG dengan rinciannya pada Tabel 2.1, yang terdiri dari: 3 (tiga) unit Alsthom 21,5 MW, 2 (dua) unit Westing House 14,2 MW, 1 (satu) unit General Electric 21,46 MW dan 1 (satu) unit Nanjing 34,1 MW. Saat ini daya mampu dari PLTG Paya Pasir hanya sekitar 85 MW dari total 153,74 MW daya terpasang. Hal ini disebabkan adanya beberapa unit dari PLTG sedang dalam tahap pemeliharaan. Tabel 2.1 No. Unit Kerja PLTG Paya Pasir Merek Daya Daya Keterangan

Nama

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Unit 1 2 3 4 5 6 7 Unit 1 Unit 2 Unit 3 Unit 4 Unit 5 Unit 6 Unit 7 WESTCAN WESTCAN ALSTHOM ALSTHOM ALSTHOM TM2500 NTC

Terpasang 14,46 MW 14,46 MW 21,65 MW 21,65 MW 25,92 MW 21,46 MW 34,10 MW

Mampu 17 MW 16 MW 18 MW 34 MW Pemulihan Pemulihan Relokasi Turbin Operasi Operasi Operasi Operasi

2. Pusat Listrik Glugur yang memiliki 3 (tiga) unit PLTG dengan total daya terpasang 44,45 MW; 3. Pusat Listrik Titi Kuning yang memiliki 6 (enam) unit PLTD dengan total daya terpasang 24,8 MW. Untuk memenuhi segala kebutuhan akan energi listrik di kota Medan dan sekitarnya yang semakin meningkat, dibangun suatu pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Adapun lokasi pembangunannya dipilih sebelah Utara kota Medan tepatnya di Medan Marelan dengan luas areal lebih kurang 33 ha. PT PLN (Persero) Wilayah II Sumatera Utara pada waktu memilih daerah tersebut sebagai lokasi PLTG adalah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang baik pada masa kini maupun yang akan datang. Pertimbangan-pertimbangan itu antara lain: 1. Mengingat PLTG Glugur dan PLTD Titi Kuning tidak mungkin lagi membangun pembangkit yang baru karena arealnya tidak memungkinkan lagi dan semakin banyaknya pemukiman penduduk di sekitarnya; 2. Lancarnya sarana lalu lintas ke PLTG sehingga memungkinkan transportasi berjalan dengan baik; 3. Lokasi PLTG Paya Pasir dekat dengan sungai yang bermuara ke Belawan, sehingga terjadinya banjir sangat kecil karena aliran air parit dari lokasi dapat dialirkan ke sungai;

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4. Untuk membantu daya listrik daerah Kecamatan Medan Marelan, Medan Labuhan dan sekitarnya mengingat di daerah ini banyak didirikan pabrikpabrik industri dan perumahan penduduk; 5. Lokasi PLTG Paya Pasir yang dekat dengan Pertamina Labuhan-Belawan sehingga memungkinkan penyaluran bahan bakar untuk unit pembangkit listrik melalui pipa bawah tanah. Komponen utama dari PLTG Paya Pasir ini terdiri dari 7 (unit) mesin pembangkit yang pembangunannya terbagi dalam 4 tahap, yaitu: 1. Tahap Pertama Pembangunan dimulai tahun 1974, yaitu dengan membangun sarana jalan ke lokasi PLTG, serta pembangunan pondasi. Tahun 1975 1976 pemasangan mesin pembangkit listrik Unit 1 dan Unit 2 serta alat bantu yang dilakukan oleh teknisi dari Kanada. Unit 1 dan Unit 2 mulai beroperasi tahun 1976. 2. Tahap Kedua Tahun 1976 membangun Unit 3 dan Unit 4 yang dilakukan oleh Alsthom Atlantique dari Perancis. Unit 3 dan Unit 4 mulai beroperasi pada tahun 1978. 3. Tahap Ketiga Tahun 1983 membangun satu unit pembangkit, yaitu Unit 5 dengan kapasitas 21,350 MW yang dilakukan oleh Alsthom dari Perancis. 4. Tahap Keempat Januari 2008 dioperasikan satu unit General Electric dengan kapasitas 21,46 MW dan Nanjing dengan kapasitas 34,1 MW pada Maret 2009.
2.1 Visi, Misi, dan Motto PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera

Bagian Utara 2.4.1 Visi Diakui Sebagai Perusahaan Kelas Dunia Yang Bertumbuh Kembang, Unggul Dan Terpercaya Dengan Bertumpu Pada Potensi Insani. 2.4.2 Misi
a. Menjalankan bisnis kelistrikan pembangkitan di Sumatera Bagian Utara yang

berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham;


Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas

kehidupan masyarakat di Sumatera Bagian Utara;


c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi di

Sumatera Bagian Utara;


d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

2.4.1 Motto Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik (Electricity for a better life)
2.1 Lokasi

PT

PLN

(Persero)

Pembangkitan

Sumbagut

Sektor

Pembangkitan Medan Kantor PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan beralamat di Jalan Pembangkit Listrik No. 1 Paya Pasir Medan-Marelan 20255; Telepon: (061) 6850064, 6851958, 6841096; Facsimile: (061) 6853842.
2.2 Struktur Organisasi PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut

Sektor Pembangkitan Medan Suatu perusahaan melakukan produksi sesuai dengan organisasi perusahaan tersebut. Struktur perusahaan yang baik akan memajukan perusahaan tersebut. PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan mempunyai struktur organisasi tersendiri agar sistem manajemen kerja dapat diterapkan dan pembagian tugas-tugas kerja dapat diketahui dengan jelas. Pada dasarnya Manajer Sektor PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan membawahi langsung Asisten Manajer Enjiniring, Asisten Manajer Operasi, Asisten Manajer Pemeliharaan, Asisten Manajer SDM & Keuangan, Manajer PLTD Titi Kuning, Manajer PLTG Glugur. Struktur organisasi PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan yang lengkap dan terperinci sesuai dengan Keputusan General Manager PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian Utara Nomor: 254.K/GMKITSBU/2008 dapat dilihat pada LAMPIRAN I. Adapun Tugas Pokok, Wewenang dan Tanggung Jawab dari masing-masing pemegang jabatan sesuai Keputusan General Manager PT PLN (Persero)

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pembangkitan Sumatera Bagian Utara Nomor: 254.K/GMKITSBU/2008 adalah sebagai berikut: MANAJER SEKTOR Tugas pokok Manajer Sektor adalah bertanggung jawab atas pencapaian produksi tenaga listrik secara efisien dengan mutu dan keandalan yang baik dengan berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pelanggan serta bertanggung jawab atas pengelolaan dan pemeliharaan seluruh aset perusahaan yang menjadi tanggung jawab unitnya. Dalam melaksanakan tugas pokoknya Manajer Sektor dibantu oleh : A. Asisten Manajer Enjiniring Tugas pokok Asisten Manajer Enjiniring adalah merencanakan dan mengevaluasi pengoperasian dan pemeliharaan sesuai dengan target kinerja dan kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan, mengevaluasi pelaksanaan keselamatan ketenagalistrikan dan pengelolaan lingkungan di sekitar sektor pembangkitan, mengusulkan pengembangan teknologi informasi serta pengelolaannya, serta membina Sumberdaya Manusia di bagian Enjiniring. Untuk melaksanakan tugas pokoknya Asisten Manajer Enjiniring dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Funngsional. B. Asisten Manajer Operasi Tugas pokok Asisten Manajer Operasi adalah bertanggung jawab terhadap pengoperasian dan sistem pembangkitan tenaga listrik, pengelolaan dan pemakain bahan bakar dan pelumas, mengawasi pengelolaan serta membina sumber daya manusia di Bagian Operasi. Untuk melaksanakan tugas pokoknya Asisten Manajer Operasi dibantu oleh staf yang terdiri dari: 1. Supervisor Operasi Tugas pokok Supervisor Operasi adalah melaksanakan, mengevaluasi dan mengkoordinasikan kegiatan pengoperasian unit pembangkit serta

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

gangguan-gangguan yang terjadi pada mesin-mesin pembangkit dan melakukan penormalan unit-unit pembangkit pasca gangguan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Operasi dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional. 2. Supervisor Pengusahaan Pembangkit Tugas pokok Supervisor Pengusahaan Pembangkit adalah mengelola dan mengevaluasi persediaan dan pemakaian bahan bakar serta sistem produksi air, merencanakan dan monitoring kebutuhan bahan kimia dan peralatan laboratorium serta mengecek kualitas bahan bakar. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Pengusahaan Pembangkit dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional. A. Asisten Manajer Pemeliharaan Tugas pokok Asisten Manajer Pemeliharaan adalah bertanggung jawab terhadap pemelihraan sistem pembangkitan serta keandalan tenaga listrik dan menyusun Rancangan Anggaran Biaya pemeliharaan pembangkit serta membina sumber daya manusia di Bagian Pemeliharaan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Asisten Manajer Pemeliharaan dibantu oleh staf yang terdiri dari : 1. Supervisor Pemeliharaan Listrik Tugas pokok Supervisor Pemelihraan Listrik adalah mengevaluasi dan merancang teknik pemecahan masalah-masalah pemeliharaan listrik, mengusahakan agar pelaksanaan rencana pemeliharaan benar-benar sesuai dengan anggaran pemeliharaan listrik yang diusulkan dari jadwal yang telah ditentukan, serta mengawasi pekerjaan pemeliharaan listrik pembangkit. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Pemeliharaan Listrik dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional.
2. Supervisor Pemeliharaan Kontrol dan Instrumen

Tugas pokok Supervisor Pemeliharaan Kontrol dan Intrumen adalah mengevaluasi dan merancang teknik pemecahaan masalah-masalah pemeliharaan kontrol intrumen, mengusahakan agar pelaksanaan rencana
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

pemeliharaan benar-benar sesuai dengan anggaran pemeliharaan kontrol instrumen yang diusulkan dari jadwal yang telah ditentukan, serta mengawasi pekerjaan kontrol instrumen serta membuat laporan secara periodik. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Pemeliharaan Kontrol dan Instrumen dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional.
3. Supervisor Pemeliharaan PLTG/D dan Alat Bantu

Tugas pokok Supervisor Pemeliharaan

PLTG/D dan Alat Bantu

adalah mengawasi dan melaksanakan pemeliharaan mesin bulanan dan tahunan serta membuat laporan pemeliharaan secara periodik, mengawasi dan melaksanakan pemeliharaan overhaul, membuat Rencana Anggaran Biaya usulan pekerjaan pemeliharaan mesin, membuat berita acara kerusakan peralatan serta mengupayakan perbaikannya dan membuat laporan periodik. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Pemeliharaan PLTG/D dan Alat Bantu dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional. D. Asisten Manajer SDM & Keuangan Tugas pokok Asisten Manajer SDM & Keuangan adalah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan pembinaan kegiatan kesekretariatan dan rumah tangga kantor, pelaksanaan pembinaan dan administrasi Sumber Daya Manusia, pengelolaan sistem Manajemen Unjuk Kerja pegawai, merencanakan Pendidikan & Pelatihan pegawai, mengendalikan anggaran dan pendanaan serta analisis penyerapannya, analisis neraca/laporan laba rugi, mengelola perbekalan dan pergudangan. Dalam melaksanakan tugas pokoknya Asisten Manajer SDM & Keuangan dibantu oleh :
1. Supervisor Sekretariat dan Umum

Tugas pokok Supervisor Sekretariat dan Umum adalah melaksanakan kegiatan kesekretariatan dan rumah tangga kantor, pemeliharaan kendaraan
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dinas dan pengadaan fasilitas atau sarana kantor serta pemeliharaannya dan pelaksanaan kehumasan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Sekretariat dan Umum dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional.
2. Supervisor K3 dan Keamanan

Tugas pokok Supervisor K3 dan Keamanan adalah mengelola dan mengawasi pelakasanaan administrasi K3 dan keamanan, serta pembinaan tentang K3 dan Keamanan di lingkungkan karyawan, mitra kerja sesuai dengan target yang telah ditetapkan, merumuskan sistem/pola tentang K3 dan keamanan yang optimal dan kebutuhan peralatan K3 sesuai ketentuan, menyusun SOP tentang K3 dan Keamanan untuk pedoman pelaksanaan serta melaksanakan sosialisasi K3 secara periodik untuk ketaatan pelaksanaan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor K3 dan Keamanan dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional.
3. Supervisor Kepegawaian dan Diklat

Tugas pokok Supervisor Kepegawaian dan Diklat adalah mengelola SDM dan kesejahteraan pegawai serta pengelolaan emolumen pegawai, termasuk membantu penyusunan anggaran biayanya, mengidentifikasi potensi pengembangan pegawai di Unit, merencanakan kebutuhan diklat bagi pegawai untuk menunjang kinerja Perusahaan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Kepegawaian dan Diklat dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional.

4. Supervisor Anggaran & Keuangan Tugas pokok Supervisor Anggaran & Keuangan adalah mengelola dan mengendalikan kas serta pengelolaan admninstrasi perpajakan (memungut, menyetor dan melaporkan pajak-pajak) dan menganalisis arus kas serta membuat laporan keuangan secara periodik.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Anggaran & Keuangan dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional. 5. Supervisor Akuntansi Tugas pokok Supervisor Akuntansi adalah melaksanakan akuntansi umum, akuntansi biaya dan persediaan serta AT/PDP, mengelola akuntansi aktiva tetap serta menganalisis neraca laba rugi serta membuat laporan akuntansi secara periodik. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Akuntansi dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional. 6. Supervisor Logistik Tugas pokok Supervisor Logistik adalah mengelola permintaan pengadaan barang, memonitor rencana anggaran biaya dan harga pokok satuan yang telah disahkan oleh Manajer Sektor, memeriksa kontrakkontrak pengadaan barang, mengelola admninistrasi pergudangan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Supervisor Logistik dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Fungsional. D. Manajer Pusat Listrik Tugas pokok Manajer Pusat Listrik adalah bertanggung jawab atas pengoperasian dan pemeliharaan unit pembangkit agar sesuai dengan target kinerja perusahaan, membantu pencapaian produksi tenaga listrik secara efisien dengan mutu dan keandalan yang baik serta menjaga seluruh asset perusahaan yang menjadi tanggung jawab unitnya. Untuk melaksanakan tugas pokoknya, Manajer Pusat Listrik dibantu oleh staf yang terdiri dari Jabatan Struktural dan Fungsional. 2.1 Sistem Kelistrikan Sumatera Bagian Utara Tenaga Listrik adalah suatu bentuk energi sekunder yang dibangkitkan, ditransmisikan dan didistribusikan untuk digunakan dalam berbagai macam kegiatan dan keperluan. Sistem Tenaga Listrik adalah rangkaian instalasi tenaga listrik yang terdiri dari pembangkitan, transmisi dan distribusi yang dioperasikan secara bersamaan dalam rangka menyediakan tenaga listrik bagi konsumen.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 2.2

Kapasitas daya Sistem Pembangkitan Sumatera Bagian Utara Berdasarkan Unit-Unit Pembangkit Mulai Beroperasi Umur ( Tahun ) Kapasitas Daya (MW) 40.0 40.0 50.0 50.0 100.0 113.0 120.0 115.0 121.0 130.0 15.0 0.0 3.0 3.0 0.0 0.0 0.0 3.0 8.0 2.0 0.0 19.5 12.0 17.0 33.0 5.8 41.0

No.

Pembangkitan

Unit

1 U.1 1984 22 2 U.2 1984 22 3 U.3 1989 17 4 U.4 1989 17 5 GT.11 1988 18 Belawan 6 GT.12 1992 14 7 ST.10 1993 13 8 GT.21 1994 12 9 GT.22 1994 12 10 ST.20 1995 11 11 Paya Pasir(*) 16 G.1 1976 30 Glugur 17 G.2 1967 39 18 D.1 1976 30 19 D.2 1976 30 20 D.3 1976 30 Titi Kuning 21 D.4 1976 30 22 D.5 1976 30 23 D.6 1976 30 24 Cot Trueng D 25 P.Pisang D 26 Apung D 27 L. Bata D 1978 28 28 Sewa D 29 A.1 2002 4 Sipansihaporas 30 A.2 2004 2 31 HMPEG A 32 Renun A.2 2005 1 (*): Lihat Tabel 2.1 untuk data yang lebih detail dan terbaru Sumber : Sumatera, 2006

PT.PLN ( Persero ) Pusat Pengatur Beban dan Penyaluran

Secara umum, sistem kelistrikan Sumbagut dapat digambarkan seperti pada Gambar 2.1. Pada Gambar 2.1, diperlihatkan pula proses pembangkitan energi listrik pada Pusat Pembangkit Listrik sampai akhirnya disalurkan ke konsumen melalui saluran transmisi dan distribusi.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Transformator Daya (Step Up)

Transformator Daya (Step Down)

Pusat Pembangkit Listrik : PLTA PLTU PLTG PLTGU PLN KIT SUMBAGUT

Saluran Transmisi SUTT 150 kV SKTT 150 kV PLN P3B SUMATERA

Saluran Distribusi SUTM 20 kV SKTM 20 kV

Konsumen Konsumen TR Konsumen TM Konsumen TT

PLN WILAYAH SUMUT

Gambar 2.1

Sistem Kelistrikan Sumatera Bagian Utara

2.7.1 Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Pembangkitan tenaga listrik sebagian besar dilakukan dengan cara memutar generator sinkron sehingga dihasilkan tenaga listrik dengan tegangan bolak-balik 3 fasa. Energi mekanis yang diperlukan untuk memutar generator sinkron diperoleh dari mesin penggerak generator yang dikenal dengan istilah prime mover. Prime mover yang banyak digunakan dalam aplikasi secara komersial, yaitu: mesin diesel, turbin uap, turbin air, dan turbin gas. 2.7.1.1 Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Dalam PLTA, energi potensial yang dimiliki air yang memiliki ketinggian tertentu dikonversikan menjadi tenaga listrik. Mula-mula energi potensial yang dimiliki air dikonversikan menjadi tenaga mekanik dengan menggunakan turbin air. Kemudian turbin air memutar poros generator untuk membangkitkan tenaga listrik.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.2

Proses Konversi Energi Pada PLTA

Pada Gambar 2.2 digambarkan secara skematis bagaimana potensi tenaga air, yaitu sejumlah air yang terletak pada ketinggian tertentu diubah menjadi tenaga mekanis dalam bentuk putaran pada turbin air.

Gambar 2.3

Bendungan Waduk PLTA Lau Renun 2 x 14,8 MW

Daya yang dibangkitkan generator yang diputar oleh turbin air dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 2.1. P = k..H.Q dimana: P k = = daya [kW] konstanta = efisiensi turbin bersama generator ... 2.1

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

tinggi terjun air [meter]

debit air [m3/ detik]

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Konstanta k dihitung berdasarkan pengertian bahwa 1 HP = 75 kgm/detik dan 1 HP = 0.736 kW sehingga apabila P ingin dinyatakan dalam kW, sedangkan tinggi terjun H dinyatakan dalam meter dan debit air dinayatkan dalam m3/ detik, maka, konstanta k =
m3 det

x
1000kg m3

xmx

x 0,736

= 9,813 9,8
kW dk

1dk kgm 75 det

a. Macam-macam Turbin Air Ditinjau dari teknik mengkonversikan energi potensial air menjadi energi mekanik pada roda air turbin, ada tiga macam turbin air yaitu : 1. Turbin Kaplan Turbin Kaplan digunakan untuk tinggi terjun yang rendah, yaitu di bawah 20 meter. Teknik mengkonversikan energy potensial air menjadi energi mekanik roda air turbin dilakukan melalui pemanfaatan kecepatan air. Roda air turbin Kaplan menyerupai baling-baling dari kipas angin.

Gambar 2.4 2. Turbin Francis

Turbin Kaplan

Turbin Francis digunakan untuk tinggi terjun sedang, yaitu 20-400 meter. Teknik mengkonversikan energi potensial air menjadi energi mekanik pada roda air turbin dilakukan melalui proses reaksi sehingga turbin Francis juga disebut sebagai turbin reaksi.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

10

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.5 3. Turbin Pleton

Turbin Francis

Turbin Pleton adalah turbin untuk tinggi terjun yang tinggi, yaitu di atas 300 meter. Teknik mengkonversikan energi potensial air menjadi energi mekanik pada roda air turbin dilakukan melalui proses impuls sehingga turbin Pleton juga disebut sebagai turbin impuls.

Gambar 2.6

Turbin Pelton

Untuk semua macam turbin air tersebut di atas, ada katub pengatur yang mengatur banyaknya air yang akan dialirkan ke roda air. Dengan pengaturan air ini, daya turbin dapat diatur. Di depan katub pengatur terdapat katub utama yang harus ditutup apabila turbin air dihentikan untuk melaksanakan pekerjaan pemeliharaan atau perbaikan pada turbin. Apabila terjadi gangguan listrik yang menyebabkan PMT generator trip, maka untuk mencegah turbin berputar terlalu cepat karena hilangnya beban generator yang diputar oleh turbin, katub pengatur air yang menuju ke turbin harus ditutup. Penutupan katup pengatur ini akan menimbulkan gelombang air membalik yang dalam bahasa Inggris disebut water hammer (palu air). Water hammer
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

11

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ini menimbulkan pukulan mekanis kepada pipa pesat ke arah atas (hulu) yang akhirnya diredam dalam tabung peredam (surge tank). Kecepatan spesifik (specific speed) turbin air didefenisikan sebagai jumlah putaran per menit [ppm] (rotation per minute [rpm]) dari turbin untuk menghasilkan satu daya kuda pada tinggi terjun H = 1 meter. Dari percobaan didapat:
NS=NPH54

... 2.2

di mana: NS = N rpm] H P = = tinggi terjun [feet] daya keluar rotor [Horse Power biasa disingkat HP] Persamaan 2.2 merupakan Rumus empiris. a. Operasi dan Pemeliharaan Dibandingkan dengan pusat listrik lainnya dengan daya yang sama, biaya operasi PLTA paling rendah. Tetapi biaya pembangunannya paling mahal. Salah satu faktor yang menyebabkan biaya pembangunan PLTA menjadi mahal, yaitu karena umumnya terletak di daerah pegunungan, jauh dari pusat konsumsi tenaga listrik (kota) sehingga memerlukan saluran transmisi yang panjang dan daerah genangan air yang luas. Kedua hal tersebut memerlukan biaya pembangunan yang tidak sedikit. Dalam sistem interkoneksi dimana terdapat PLTA yang diinterkoneksikan dengan pusat-pusat listrik termis yang menggunakan bahan bakar, ada kalanya dibangun PLTA pompa yang dapat memompa air ke atas. Hal ini baru ekonomis apabila biaya pembangkitan dalam sistem interkoneksi bersangkutan mempunyai variasi yang besar. Pemompaan air dilakukan sewaktu biaya pembangkitan rendah, kemudian air hasil pemompaan ini digunakan untuk membangkitkan tanaga listrik sewaktu biaya pembangkitan sistem interkoneksi mahal sehingga pembangkitan tenaga listrik dengan biaya yang mahal dapat dikurangi jumlahnya. Keuntungan teknik operasional PLTA adalah:
1. mudah (cepat) distart dan distop;
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

kecepatan spesifik [ppm atau rpm] = putaran per menit pada keadaan katub terbuka penuh [ppm atau

12

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. bebannya mudah dirubah;


3. potensi gangguannya rendah dan pemeliharaannya juga mudah; 4. umumnya dapat distart tanpa daya dari luar (black start).

Masalah utama yang timbul pada operasi PLTA adalah timbulnya kavitasi pada turbin air. Kavitasi adalah peristiwa terjadinya letusan kecil dari gelembung uap air yang sebelumnya terbentuk di daerah aliran yang tekanannya lebih rendah daripada tekanan uap air ditempat tersebut; kemudian gelembung uap air ini akan menciut secara cepat (meletus) ketika uap air ini melewati daerah aliran yang tekanannya lebih besar daripada tekanan uap air tersebut, karena jumlahnya sangat banyak sekali (ribuan per detik) dan 1 letusan itu sangat cepat maka permukaan turbin yang dikenai oleh letusan ini akan terangkat sehingga terjadi burik yang menyebabkan bagian-bagian turbin air (setelah waktu tertentu, kira-kira 40.000 jam) menjadi keropos dan perlu diganti. Kavitasi terjadi di bagian-bagian turbin yang mengalami perubahan tekanan air secara mendadak, misalnya pada pipa buangan air turbin. Kavitasi menjadi lebih besar apabila beban turbin makin kecil. Oleh Karena itu, ada pembatasan beban minimum turbin air (kira-kira 25 %). Bagian terbesar dari biaya pemeliharaan PLTA adalah biaya perbaikan atau penggantian bagian-bagian turbin air yang menjadi keropos akibat kavitasi. PLTA yang menggunakan pompa untuk memperoleh energi potensial air disebut Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM). PLTM banyak terdapat di Sumatera Utara, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.3. Sementara itu PLTA kecil dengan daya terpasang di bawah 100 kW, biasanya disebut sebagai Pusat Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). PLTMH banyak dibangun, terutama di pedesaan. PLTMH secara ekonomis bisa menguntungkan apabila didapat tempat (site) air yang baik, dalam arti bangunan sipilnya bisa sederhana dan murah, kemudian bagian elektromekaniknya dibuat otomatis sehingga biaya personilnya murah. Tabel 2.3 No. 1. 2. 3. 4. 5. Jenis PLTM di Sumbagut Nama PLTM PLTM Tonduhan PLTM Batang Gadis PLTM A. Raisan I dan II PLTM A. Sibundong PLTM A. Silag Kapasitas (kW) 750 750 2 x 750 750 750

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

13

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

6. 7.

PLTM Boho PLTM Kombih

200 750

Efisiensi turbin bersama generator unit PLTA dapat mencapai nilai sekitar 95%. Efisiensi keseluruhan dari PLTA dan instalasi listriknya, termasuk energi untuk pemakaian sendiri, angkanya berkisar antara 85-92%. Lancarnya aliran air dalam instalasi air PLTA sangat mempengaruhi efisiensinya. Oleh karena itu, harus diusahakan agar aliran bersifat laminar (tidak ada turbulensi). Untuk itu harus dihindari tikungan yang tajam dalam instalasi air PLTA. 2.7.1.1 Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pada PLTU, energi mekanis dikonversikan menjadi tenaga listrik dengan menggunakan mesin penggerak berupa turbin uap. a. Proses Konversi Energi Pada PLTU, energi primer yang terkandung dalam bahan bakar dikonversikan menjadi tenaga listrik melalui beberapa tahapan konversi energi. Bahan bakar yang digunakan dapat berupa batubara (padat), minyak (cair), atau gas. PLTU ada kalanya menggunakan kombinasi beberapa macam bahan bakar.

Gambar 2.7

PLTU Sicanang milik PLN di Sumatera Utara

Konversi energi tingkat pertama yang berlangsung dalam PLTU adalah konversi energi primer menjadi energi panas (kalor). Hal ini dilakukan dalam ruang bakar dari ketel uap PLTU. Energi panas ini kemudian dipindahkan ke dalam air yang ada dalam pipa ketel untuk menghasilkan uap yang dikumpulkan drum dari ketel. Uap dari drum ketel dialirkan ke turbin uap. Dalam turbin uap, energi (enthalpy) uap dikonversikan menjadi energi mekanis penggerak generator, dan akhirnya energi mekanik dari turbin uap ini dikonversikan menjadi tenaga listrik oleh generator.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

14

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.8 b. Siklus Uap dan Air

Prinsip Kerja PLTU

Air dipompakan ke dalam drum dan selanjutnya mengalir ke pipa-pipa air yang merupakan dinding yang mengelilingi ruang bakar ketel. Ke dalam ruang bakar ketel disemprotkan bahan bakar dan udara pembakaran. Bahan bakar yang dicampur udara ini dinyalakan dalam ruang bakar sehingga terjadi pembakaran dalam ruang bakar. Pembakaran bahan bakar dalam ruang bakar mengubah energi kimia yang terkandung dalam bahan bakar menjadi energi panas (kalori). Energi panas hasil pembakaran ini dipindahkan ke air yang ada dalam pipa air ketel melalui proses radiasi, konduksi, dan konveksi. Gas hasil pembakaran dalam ruang bakar setelah diberi kesempatan memindahkan energi panasnya ke air yang ada di dalam pipa air ketel, dialirkan melalui saluran pembuangan gas buang untuk selanjutnya dibuang ke udara melalui cerobong. Gas buang sisa pembakaran ini masih mengandung banyak energi panas karena tidak semua energi panasnya dapat dipindahkan ke air yang ada dalam pipa air ketel. Energi panas yang timbul dalam ruang pembakaran sebagai hasil pembakaran, setelah dipindahkan ke dalam air yang ada dalam pipa air ketel, akan menaikkan suhu air dan menghasilkan uap. Uap ini dikumpulkan dalam drum ketel. Uap yang terkumpul dalam drum ketel mempunyai tekanan dan suhu yang tinggi di mana bisa mencapai sekitar 100 kg/cm2 dan 530oC. Uap dari drum ketel dialirkan ke turbin uap, dan dalam turbin uap, energi (enthalpy) dari uap dikonversikan menjadi energi mekanis penggerak generator. Turbin pada PLTU
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

15

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

besar, di atas 150 MW, umumnya terdiri dari 3 kelompok, yaitu turbin tekanan tinggi, turbin tekanan menengah, dan turbin tekanan rendah. c. Masalah Operasi Apabila turbin sedang berbeban penuh kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan pemutus tenaga (PMT) generator yang digerakkan turbin trip, maka turbin kehilangan beban secara mendadak. Hal ini menyebabkan putaran turbin akan naik secara mendadak dan apabila hal ini tidak dihentikan, maka akan merusak bagian-bagian yang berputar pada turbin maupun pada generator, seperti: bantalan, sudu jalan turbin, dan kumparan arus searah yang ada pada rotor generator. Untuk mencegah hal ini, aliran uap ke turbin harus dihentikan, yaitu dengan cara menutup katup uap turbin. Efisiensi PLTU banyak dipengaruhi ukuran PLTU, karena ukuran PLTU menentukan ekonomis tidaknya penggunaan pemanas ulang dan pemanas awal. Efisiensi termis dari PLTU berkisar pada angka 35-38%. d. Pemeliharaan Bagian-bagian PLTU yang memerlukan pemeliharaan secara periodik adalah bagian-bagian yang berhubungan dengan gas buang dan dengan air pendingin, yaitu pipapipa air ketel uap dan pipa-pipa air pendingin termasuk pipa-pipa kondensor. Pipa-pipa ini semua memerlukan pembersihan secara periodik. Bagian-bagian PLTU lain yang rawan kerusakan dan perlu perhatian/pengecekan periodik adalah:
1. Bagian-bagian yang bergesek satu sama lain, seperti bantalan dan roda gigi. 2. Bagian yang mempertemukan dua zat yang suhunya berbeda, misalnya kondensor dan

penukar panas (heat exchanger).


3. Kotak-kotak saluran listrik dan sakelar-sakelar.

Karena sebagian besar dari pekerjaan pemeliharaan tersebut di atas memerlukan penghentian operasi unit yang bersangkutan apabila dilaksanakan, maka pekerjaanpekerjaan tersebut dilakukan sekaligus sewaktu unit menjalani overhaul yang dilakukan secara periodik yaknik sekali dalam 10.000 jam operasi untuk waktu kira-kira 3 minggu. Dibandingkan dengan ketel uap, turbin uap tidak banyak memerlukan pemeliharaan asal saja kualitas uap terjaga dengan baik. Oleh karena itu pemeriksaan turbin uap dapat dilakukan dlam setiap 20.000 jam operasi.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

16

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a. Masalah Lingkungan Gas buang yang keluar dari cerobong PLTU mempunyai potensi mencemari lingkungan. Oleh karena itu, ada penangkap abu agar pencemaran lingkungan dapat dibuat minimal. Selain abu halus yang ditangkap di cerobong, ada bagian-bagian abu yang relatif besar, jatuh dan di tangkap di bagian bawah ruang bakar. Walaupun abunya telah di tangkap, gas buang yang keluar dari cerbong masih mengandung gas-gas yang kurang baik bagi kesehatan manusia, seperti SO2, NOx, dan CO2. Bila perlu harus di pasang alat penyaring gas-gas ini agar kadarnya yang masuk ke udara tidak melampui batas yang di izinkan oleh pemerintah. 2.7.1.1 Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pada PLTG, energi mekanis dikonversikan menjadi tenaga listrik dengan menggunakan mesin penggerak berupa turbin gas. Untuk pembahasan yang lebih lanjut dan terperinci, akan dilanjutkan pada BAB III. 2.7.1.2 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) PLTGU merupakan kombinasi PLTG dengan PLTU. Gas buang dari PLTG yang umumnya mempunyai suhu di atas 4000C, dimamfaatkan (dialirkan) ke dalam ketel uap PLTU untuk menghasilkan uap penggerak turbin uap. Dengan cara ini, umumnya didapat PLTU dengan daya sebesar 50% daya PLTG. Ketel uap yang digunakan untuk memanfaatkan gas buang PLTG mempunyai desain khusus untuk memanfaatkan gas buang di mana dalam bahasa Inggris disebut Heat Recovery Steam Generator (HRSG).

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

17

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.9

Heat-Recovery Steam Generator PLTGU Tambak Lorok Semarang dari Unit PLTG 115 MW

Dalam operasinya, unit turbin gas dapat dioperasikan terlebih dahulu untuk menghasilkan daya listrik, sementara gas buangnya berproses untuk menghasilkan uap dalam ketel pemanfaat gas buang. Kira-kira 6 jam kemudian, setelah uap dalam ketel uap cukup banyak, uap dialirkan ke turbin uap untuk menghasilkan daya listrik. Karena daya yang dihasilkan turbin uap tergantung kepada banyaknya gas buang yang dihasilkan unit PLTG, yaitu kira-kira menghasilkan 50% daya unit PLTG, maka dalam mengoperasikan PLTGU ini, pengaturan daya PLTGU dilakukan dengan mengatur daya unit PLTG, sedangkn unit PLTU mengikuti saja, menyesuaikan dengan gas buang yang diterima dari unit PLTG-nya.

Gambar 2.10

Prinsip Kerja PLTGU yang terdiri dari 3 unit PLTG dan 1 unit PLTU

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

18

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.11

PLTGU Grati di Jawa Timur (Pasuruan)

Selang waktu untuk pemeliharaan unit PLTG lebih pendek daripada unit PLTU sehingga perlu koordinasi pemeliharran yang baik dalam suatu blok PLTGU agar daya keluar dari blok tisak terlalu banyak berubah sepanjang waktu. Ditinjau dari segi efisiensi pemakaian bahan bakar, PLTGU tergolong sebagai unit yang paling efisien di antara unit-unit termal (bisa mencapai angka di atas 45%). 2.7.1.3 Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) PLTP sesungguhnya adalah sebuah PLTU, hanya saja uapnya didapat dari perut bumi. Oleh karena itu , PLTP umumnya terletak di pegunungan dan di dekat dengan gunung berapi. Uap masuk di bagian tengah kemudian mengalir ke kiri dan ke kanan (aliran ganda). Uap didapat dari suatu kantong uap dari perut bumi. Kantong uap ini terbentuk dalam tanah di atas suatu lapisan batuan yang keras dan ada di atas magma. Di atas lapisan batuan yang keras ini, terdapat rongga yang mendapat air dari lapisan humus di bawah hutan yang menahan air hujan. Dalam rongga ini air menjadi uap sehingga rongga ini menjadi rongga berisi uap (menyerupai ketel uap). Dari atas tanah dilakukan pengeboran kearah rongga yang berisi uap ini sehingga uap menyembur ke atas permukaan bumi. Semburan uap ini kemudian diarahkan (dialirkan) ke turbin uap penggerak generator. Setelah menggerakkan turbin uap, diembunkan dalam kondensor, dan setelah mengembun menjadi air, disuntikkan kembali ke perut bumi menuju rongga uap tersebut di atas sehingga didapat siklus uap dan air yang tertutup.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

19

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.12

Prinsip Kerja PLTP Beserta Skema Sirkuit Air dan Uap

Tekanan uap yang didapat dari perut bumi umumnya hanya berkisar pada 20 kg/cm 2, sedangkan tekanan uap pada PLTU konvensional dapat mencapai 100 kg/ cm2. Hal ini menyebabkan turbin uap PLTP mempunyai dimensi yang relatif besar dibandingkan turbin uap PLTU konvensional. Selain itu, uap dari perut bumi kebanyakan mempunyai kandungan belerang yang relatif tinggi segingga hal ini perlu diperhitungkan pada material turbin. Operasi PLTP lebih sederhana daripada operasi PLTU karena pada PLTP tidak ada ketel uap. Biaya operasinya lebih kecil disbanding biaya operasi PLTU karena tidak ada pembelian bahan bakar. Tetapi biaya investasinya lebih tinggi karena penemuan kantong uap dalam perut bumi memerlukan biaya eksplorasi dan pengeboran tanah yang tidak kecil. Masalah lingkungan PLTP yang memerlukan perhatian adalah masalah kebisingan dan masalah uap yang mengandung belerang yang dalam udara dapat menghasilkan gas H2S yang baunya busuk. Bahan ikutan pada uap yang berasal dari perut bumi ini dapat juga diproses untuk dipisahkan sehingga PLTP dapat mempunyai produk sampingan seperti belerang. 2.7.1.4 Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Umumnya semua unit pembangkit Diesel dapat distart tanpa memerlukan sumber tenaga listrikdari luar (dapat melakukan black start). Menstart mesin Diesel dengan daya di bawah 50 kW dapat dilakukan dengan tangan melalui engkol. Untuk daya di atas 50 kW

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

20

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

sampai kira-kira 100 kW, umumnya distart dengan menggunakan baterai aki. Sedangkan untuk mesin diesel dengan daya di atas 100 kW, umumnya digunakan udara tekan. Dari segi pemeliharaan dan perbaikan, unit pembangkit Diesel tergolong unit yang banyak menimbulkan masalah, khususnya yang menyangkut mesin Dieselnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya bagian-bagian yang bergerak dan bergesek satu sama lain sehingga menjadi aus dan memerlukan penggantian secara periodik. Untuk itu, diperlukan manajemen pemeliharaan beserta penyediaan suku cadang yang teratur. Pendinginan mesin Diesel meliputi pendinginan silinder dan pendinginan minyak pelumas. Keduanya menggunakan penukar panas (heat exchanger) yang menggunakan air atau udara (radiator). Minyak pelumas untuk mesin diesel mempunyai syarat lain dibandingkan yang untuk turbin. Hal ini disebabkan pada mesin diesel, minyak pelumas selain melumasi bantalan, juga melumasi cincin torak (piston ring) dan membersihkan dinding silinder terhadap sisa pembakaran. Jadi, harus mempunyai sifat detergen. Bagian-bagian mesin Diesel yang sering memerlukan penggantian adalah bantalan, cincin torak, katub (setelah mengalami pemeliharaan berkali kali), elemen saringan meniyak pelumas, perapat (seal) dan pengabut. Dari segi lingkungan, unit pembangkit Diesel perlu mendapat perhatian mengenai kebisingan, gas buang (kandungan CO2), dan masalah minyak pelumas bekas yang sebaiknya dibakar, jangan dibuang karena dapat mengotori lingkungan. Ditinjau dari segi efisiensi pemakaian bahan bakar, unit pembangkit diesel dapat mencapai 40%. 2.7.2 Gardu Induk Gardu induk merupakan suatu instalasi listrik yang berfungsi untuk menerima dan menyalurkan tenaga listrik melalui sistem Tegangan Ekstra Tinggi (TET), Tegangan Tinggi (TT) dan Tegangan Menengah (TM). Tenaga listrik yang diterima / disalurkan bisa berasal dari pusat-pusat pembangkit tenaga listrik ataupun dari gardu induk lain.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

21

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.13

Transmisi dan Gardu Induk Paya Pasir

Tegangan transmisi berkisar dalam puluhan sampai ratusan kilovolt sedangkan konsumen membutuhkan tegangan ratusan volt sampai dua puluhan kilovolt, sehingga di antara transmisi dan konsumen dibutuhkan trafo daya step down. Semua perlengkapan yang terpasang di sisi primer trafo ini juga harus mampu memikul tegangan tinggi. Instalasi listrik berupa Trafo daya bersama perlengkapan-perlengkapan lainnya merupakan komponen penyusun suatu Gardu Induk. Gardu Induk yang terdapat di Sumatera Utara adalah sebagai berikut :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Gardu Induk Paya Pasir Gardu Induk Paya Geli Gardu Induk Sei Rotan Gardu Induk KIM Gardu Induk Tebing Tinggi Gardu Induk Tanjung Morawa Gardu Induk Perbaungan Gardu Induk Denai Gardu Induk Titi Kuning

15. Gardu Induk kisaran 16. Gardu Induk Kuala Tanjung 17. Gardu Induk Rantau Parapat 18. Gardu Induk Sibolga 19. Gardu Induk P. Sidempuan 20. Gardu Induk Tarutung 21. Gardu Induk Tele 22. Gardu Induk Sidikalang 23. Gardu Induk Berastagi 24. Gardu Induk Namorambe 25. Gardu Induk Glugur 26. Gardu Induk Mabar
22

10. Gardu Induk Porsea 11. Gardu Induk Pematang Siantar 12. Gardu Induk Binjai

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

13. Gardu Induk P. Brandan

27. Gardu Induk Tarutung

14.

Gardu Induk Labuhan Gardu Induk dapat diklasifikasikan menurut tegangan, penempatan peralatan, dan jenis

isolasi yang digunakan: 1. Menurut Tegangan: a. GI Transmisi b. GI Distribusi


1. Menrut Penempatan Peralatan: a. GI Pasangan Dalam (In Door Substation) b. GI Pasangan Luar (Out Door Substation) c. GI Sebagian Pasangan Luar (Combined Out Door Substation) d. GI Pasangan Bawah Tanah (Under Ground Substation) e. GI Sebagian Pasangan Bawah Tanah (Semi Under Ground Substation) f. GI Mobil (Mobile Substation) 1. Menurut Isolasi yang dipakai:

a. GI Isolasi Udara b. GI Isolasi Gas (GIS)


2.7.1.1 Konfigurasi Rel Daya di Gardu Induk

Konfigurasi rel daya pada suatu gardu induk merupakan salah satu hal yang menentukan keandalan gardu induk tersebut. Kendati demikian, masalah biaya juga harus dipertimbangkan karena untuk merencanakan suatu gardu induk yang memiliki keandalan tinggi, diperlukan pula investasi dana yang mahal. a. Rel Tunggal Gardu induk dengan konfigurasi rel daya tunggal memiliki beberapa sifat sebagai berikut:
1. Konstruksinya paling sederhana dan paling murah; 2. Fleksibilitas dan keandalan rendah; 3. Jika terjadi kerusakan pada rel, maka kelompok yang terganggu harus dipadamkan.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

23

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.14

Konfigurasi GI dengan Rel Tunggal

Untuk meningkatkan keandalan rel tunggal, PMS seksi dapat dipasang sehingga membagi rel menjadi dua bagian. Unit pembangkit dan sebagian beban dihubungkan ke kelompok kiri dan sebagian lagi bisa dihubungkan ke kelompok kanan dari rel. karena keandalannya tergolong rendah, sebaiknya rel tunggal digunakan pada pembangkit listrik yang tidak memiliki peran penting pada suatu sistem. a. Rel Ganda PMT Tunggal Pada konfigurasi ini, gardu induk mempunyai dua rel daya (double bus bar). Sistem ini sangat umum, hampir semua gardu induk menggunakan sistem ini karena sangat efektif untuk mengurangi pemadaman beban pada saat melakukan perubahan beban. Sebagai contoh, Gardu Induk di Paya Pasir juga menerapkan konfigurasi rel ganda PMT tunggal.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

24

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.15

Konfigurasi GI dengan Rel Ganda PMT Tunggal

Rel ganda pada umumnya dilengkapi dengan PMT beserta PMS-nya yang berfungsi untuk menghubungkan rel 1 dan rel 2 seperti ditunjukkan pada Gambar 2.15. PMT ini disebut PMT kopel. Dengan rel ganda, sebagian instalasi dapat dihubungkan ke rel 1 dan sebagian lagi ke rel 2. Kedua rel tersebut dapat dihubungkan paralel atau terpisah dengan cara menutup atau membuka PMT kopel. Dengan cara ini maka fleksibilitas operasi akan bertambah terutama saat menghadapi gangguan yang terjadi dalam sistem. b. Rel Ganda PMT Ganda Rel ganda PMT ganda ini serupa seperti rel ganda PMT tunggal, hanya saja di sini semua unsur dapat dihubungkan ke rel 1 atau rel 2 atau kedua-duanya melalui PMT sehingga fleksibilitas manuver menjadi lebih baik.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

25

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.16

Konfigurasi GI dengan Rel Ganda PMT Ganda

Pemindahan beban dari rel 1 ke rel 2 dapat dilakukan tanpa pemadaman, tidak seperti halnya pada rel ganda PMT tunggal seperti diuraikan sebelumnya pada butir b. hal ini dapat terjadi karena adanya 2 buah PMT (masing-masing satu PMT untuk setiap rel). Pemindahan beban dilakukan dengan menutup terlebih dahulu PMT rel yang dituju, kemudian membuka PMT rel yang ditinggalkan. Hal yang perlu diingat dan dijadikan catatan sebelum melakukan manuver ini adalah harus diyakini dulu bahwa tegangan (magnitudo dan fasa) pada rel 1 dan rel 2 sama.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

26

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

c. Rel Ganda PMT 1,5 Pada konfigurasi ini, gardu induk mempunyai dua rel daya juga tetapi dengan menggunakan 3 buah PMT yang terpasang secara seri seperti tampak pada Gambar 2.17.

Gambar 2.17

Konfigurasi GI dengan Rel Ganda PMT 1,5

Konfigurasi rel daya jenis ini memiliki fleksibilitas dan keandalan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan konfigursi lainnya, seperti yang sudah dibahas pada butir a, b, dan c. hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Apabila rel A mengalami gangguan maka dengan membuka semua PMT bernomor A beserta PMS-nya, daya tetap bisa disalurkan secara penuh; 2. Apabila rel B mengalami gangguan maka dengan membuka semua PMT bernomor B beserta PMS-nya, daya tetap bisa disalurkan secara penuh; 3. Apabila rel A dan rel B mengalami gangguan maka dengan membuka semua PMT bernomor A dan B beserta PMS-nya, daya tetap bisa disalurkan meskipun dengan fleksibilitas pembebanan yang berkuran. 2.7.1.1 Komponen Gardu Induk Selain rel daya, pada suatu gardu induk dapat dijumpai pula berbagai peralatan tegangan tinggi, relai proteksi, serta perangkat komunikasi. Adapun peralatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

27

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a. Pelindung terhadap Tegangan Lebih (LA)


b. Pembagi tegangan kapasitif (CC) dan trafo tegangan induktif (PT)

c. Penapis frekuensi tinggi


d. Saklar pemisah (DS) dan Saklar pembumian (Earthing Switch) e. Trafo arus (CT) f. Pemutus Tenaga (CB)

g. Trafo daya (TD)


h. Transformator Bantu (Auxiliary Transformer) i. Konduktor

j. Isolator k. Kompensator l. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi


m.Relai Proteksi a. Pelindung Tegangan Lebih

Biasa disebut dengan Lightning Arrester (LA) atau Arester saja dan berfungsi sebagai proteksi instalasi (peralatan listrik pada instalasi Gardu Induk) dari gangguan tegangan lebih akibat sambaran petir (ligthning Surge) maupun oleh surja hubung (Switching Surge). Sambaran petir pada jaringan hantaran udara merupakan suntikan muatan listrik. Suntikan muatan ini menimbulkan kenaikan tegangan pada jaringan, sehingga pada jaringan timbul tegangan lebih berbentuk gelombang impuls dan merambat ke ujung-ujng jaringan. Tegangan lebih akibat sambaran petir sering disebut surja petir.

Gambar 2.18

Konstruksi sebuah lightning arrester buatan Westinghouse yang menggunakan celah udara (air gap)

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

28

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Jika tegangan lebih surja petir tiba di suatu gardu induk, maka tegangan lebih tersebut akan merusak isolasi peralatan gardu. Oleh karena itu, perlu dibuat alat pelindung agar tegangan surja yang tiba di gardu induk tidak melebihi kekuatan isolasi peralatan di gardu induk. Pada keadaan tegangan jaringan normal, LA berperan sebagai isolasi. Tetapi jika ada surja petir tiba pada terminal pelindung, maka LA berubah menjadi penghantar dan mengalirkan muatan surja petir tersebut ke tanah.

Gambar 2.19

Arester pada Jaringan Distribusi

Ada dua jenis pelindung sistem tenaga listrik, yaitu sela batang dan Arester. Arester terdiri atas dua jenis, yaitu jenis tabung pelindung atau arester ekspulsi dan arester jenis katub. Arester jenis katub terdiri atas empat jenis, yaitu: 1. Jenis gardu
2. Jenis saluran(15 69 kV) 3. Jenis gardu untuk mesin-mesin(2,4 15 kV)

4. Jenis distribusi untuk mesin-mesin (120 -750 V)

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

29

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a. Trafo Tegangan (PT) Trafo tegangan adalah trafo satu fasa step-down yang mentransformasikan tegangan sistem ke suatu tegangan rendah yang layak untuk perlengkapan indikator, alat ukur, rele, dan alat sinkronisasi. Hal ini dilakukan atas pertimbangan harga dan bahaya yang dapat ditimbulkan tegangan tinggi bagi operator. Tegangan perlengkapan seperti indikator, meter, dan rele dirancang sama dengan tegangan terminal sekunder trafo tegangan. Ada dua jenis trafo tegangan yang biasanya digunakan pada gardu induk, yaitu: 1. Trafo Tegangan Magnetik (TTM) Prinsip kerja trafo ini sama dengan trafo daya. Meskipun demikian, rancangannya berbeda dalam beberapa hal, yaitu: Kapasitasnya kecil (10 150 VA), karena bebannya hanya alat-alat ukur, rele, dan indicator yang konsumsi dayanya kecil. Galat faktor transformasi dan sudut fasa tegangan primer dengan tegangan sekunder dirancang lebih kecil untuk mengurangi kesalahan pengukuran. Salah satu terminal tegangan tingginya selalu dibumikan.
Tegangan pengenal sekunder trafotegangan biasanya adalah 100 V atau 1003 V.

Gambar 2.20 1. Trafo Tegangan Kapasitif (TTK)

Trafo Tegangan Magnetik

Pada tegangan pengenal yang lebih besar dari 110 kV, karena alasan ekonomis biasanya digunakan trafo pembagi tegangan kapasitif sebagai pengganti trafo tegangan induktif. Trafo ini akan lebih ekonomis lagi jika digunakan sekaligus untuk keperluan pengukuran tegangan tinggi, sebagai pembawa sinyal komonikasi (power line carrier)
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

30

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dan kendali jarak jauh (remote control). Trafo tegangan kapasitif dapat ditunujukkan pada Gambar 2.21, dengan catatan: jika peralatan komunikasi tidak ada, saklar S harus ditutup.

Gambar 2.21 a. Penapis frekuensi tinggi

Trafo Tegangan Kapasitif

Penapis frekuensi tinggi pada dasarnya merupakan suatu rangkaian yang menahan frekuensi tinggi selain frekuensi sistem (50 Hz). Peralatan ini tidak dibahas secara mendetail pada laporan ini karena peralatan ini merupakan perangkat komunikasi radio yang lebih banyak dibicarakan dalam bidang teknik telekomunikasi radio.
b. Saklar Pemisah (DS) dan Saklar Pembumian (ES)

Untuk menjaga kontinuitas pelayanan, maka perlu dilaksanakan pemeliharaan peralatan secara teratur. Saat pemeliharaan tersebut dilaksanakan, maka bagian yang tersebut harus dipisahkan dari sistem, sehingga bebas dari tegangan. Dengan demikian petugas dapat melaksanakan pemeliharaan dengan aman. Untuk mencegah terjadinya bahaya, maka peralatan yang dipelihara harus benar-benar terlihat oleh petugas bahwa peralatan sudah terpisah dari rangkaian sistem. Hal ini dapat dilakukan dengan alat yang disebut saklar pemisah. Saklar pemisah adalah peralatan yang dapat memutus dan menutup rangkaian yang arusnya rendah ( 5 ampere) atau pada rangkaian di mana pada saat saklar terbuka tidak terjadi perbedaan tegangan yang besar pada kutub saklarnya. Saklar pemisah berfungsi untuk mengisolasi peralatan listrik dari peralatan lain atau instalasi lain yang bertegangan. PMS ini boleh dibuka atau ditutup hanya pada rangkaian yang tidak berbeban.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

31

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.22

Lokasi Penempatan Saklar Pemisah

Lokasi saklar pemisah dalam gardu induk ditunjukkan pada Gambar 2.22. Banyaknya saklar pemisah yang digunakan pada suatu gardu tergantung pada jenis gardu induk tersebut. Berdasarkan fungsinya, saklar pemisah dibagi atas tiga jenis, yaitu: saklar pemisah jaringan (DS1), saklar pemisah bus (DS2), dan saklar pemisah trafo (DS3).

Gambar 2.23

Saklar Pemisah, Dua Isolator, Pimisah Tunggal

Dilihat dari jumlah kutubnya, saklar pemisah dibagi atas dua jenis, yaitu saklar pemisah kutub tunggal dan saklar pemisah 3 kutub. Berdasarkan pemasangannya dibagi atas pasangan dalam dan pasangan luar. Sedang ditinjau dari konstruksinya dibagi atas 2 jenis: (a) tiga isolator pendukung, pendukung tengah berputar, pemisah ganda; dan (b) dua isolator pendukung, pemisah tunggal. Gambar kedua jenis saklar pemisah tersebut ditunjukkan pada Gambar 2.23 dan Gambar 2.24.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

32

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.24

Saklar Pemisah, Tiga Isolator, Pimisah Ganda

Saklar pemisah tersebut mempunyai dua saklar, yaitu saklar utama dan saklar pembumian. Dalam prakteknya, setelah saklar utama dibuka, saklar pembumian ditutup. Kedua saklar ini mempunyai hubungan interlok, sehingga saklar pembumian dapat ditutup setelah saklar utama terbuka dan saklar utama tidak dapat ditutup sebelum saklar pembumian dibuka. Pengoperasian saklar dapat dilakukan denagn manual atau dengan peralatan elektro-mekanik. Jika dioperasikan dengan elektro-mekanik maka pengoperasian dapat dilakukan di lokasi pemasangannya atau dari ruang kontrol. c. Trafo Arus (CT) Trafo arus digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya ratusan ampere dan arus yang mengalir dalam jaringan tegangan tinggi. Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga dibutuhkan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh dan rele proteksi. Kumparam primer trafo arus dihubungkan seri dengan jaringan atau peralatan yang akan diukur arusnya, sedang kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau rele proteksi. Pada umumnya peralatan ukur dan rele membutuhkan arus 1 atau 5 A. Trafo arus bekerja sebagai trafo yang terhubung singkat. Kawasan kerja trafo arus yang digunakan untuk pengukuran biasanya 0,05 sampai 1,2 kali arus yang akan diukur. Trafo arus untuk tujuan proteksi biasanya harus mampu bekerja lebih dari 10 kali arus pengenalnya.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

33

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.25 Jenis-Jenis Trafo Arus

Konstruksi dan Rangkaian Ekivalen Trafo Arus

1. Jenis Menurut Jumlah Kumparan Primer Jenis trafo arus ditinjau dari kontruksi belitan primernya terdiri atas jenis kumparan (wound type) dan jenis bar (bar type). Jenis kumparan digunakan untuk pengukuran arus rendah atau burden yang besar atau pengukuran yang memerlukan ketelitian tinggi. Jenis bar digunakan untuk pengukuran arus besar (ribuan ampere). Konstruksinya sangat sederhana dan kokoh sehingga trafo ini mampu menahan arus hubung singkat yang besar. Keburukannya bahwa efisiensi pengukuran yang lebih tinggi, yakni ukuran inti yang ekonomis, didapat hanya pada arus pengenal yang besar, yakni kira-kira 1000A. 2. Jenis Menurut Jumlah Rasio Supaya trafo arus dapat digunakan untuk mengukur arus yang besar, maka belitan primer biasanya dibagi ke dalam beberapa kelompok yang dapat dihubungkan seri atau paralel. Dengan demikian perbandingan transformasi pengenal trafo dapat bervariasi. Jenis trafo arus dilihat dari banyaknya rasio yang disediakan terdiri atas trafo arus rasio tunggal dan trafo arus rasio ganda. Pada trafo arus jenis bar, rasio ganda diperoleh dengan membuat sadapan di koumparan sekundernya. Rasio ganda pada trafo arus jenis kumparan diperoleh dengan memodifikasi rangkaian kumparan primernya. 3. Jenis Menurut Jumlah Inti Trafo arus sering dibuat dengan beberapa inti, dimana masing-masing inti dibeliti dengan sebuah belitan sekunder, dan bersama-sama dieksitasi oleh satu belitan primer.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

34

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dengan cara ini, sifat-sifat inti dapat dioptimalkan supaya cocok dengan keperluan pengukuran atau proteksi. Berdasarkan jumlah intinya, trafo arus dapat juga dibagi atas dua jenis, yaitu trafo arus inti tunggal dan trafo arus inti ganda. Trafo arus inti ganda digunakan jika sistem membutuhkan arus untuk pengukuran dan proteksi. 4. Jenis Menurut Konstruksi Isolasi Konstruksi trafo arus dengan isolasi epoksi-resin sering dipakai untuk pasangan luar sampai tegangan 110 kV. Pada tegangan menengah, umumnya digunakan trafo arus epoksi-resin karena trafo ini memiliki kekuatan hubung singkat belitan yang lebih tinggi, sebab semua belitannya tertanam dalam bahan isolasi. Gambar 2.26 menunjukkan trafo arus epoksi-resin jenis pendukung dan jenis bushing.

Gambar 2.26

Trafo Arus Jenis Pendukung dan Jenis Bushing

Trafo arus bertegangan tinggi untuk gardu induk pasangan luar dibuat dengan islosi minyak-kertas dan ditempatkan dalam kerangka porselen. Jenis konstruksi trafo ini dibedakan atas susunan bagian-bagian aktifnya (inti, belitan), yaitu jenis tangki logam, jenis kerangka isolasi dan jenis gardu (Gambar 2.27). Trafo arus jenis gardu memiliki kelebihan di mana penyulang pada rangkaian primernya lebih pendek, digunakan untuk arus pengenal dan arus hubung singkat yang besar.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

35

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.27
a. Pemutus daya (CB)

Trafo Arus Tegangan Tinggi

Setiap sistem tenaga listrik dilengkapi dengan sistem proteksi untuk mencegah terjadinya kerusakan pada peralatan sistem dan mempertahankan kestabilan sistem ketika terjadi gangguan, sehingga kontinuitas pelayanan dapat dipertahankan. Salah satu komponen sistem proteksi adalah pemutus tenaga (circuit breaker). Pemutus tenaga (PMT) atau circuit breaker (CB) merupakan istilah yang sama. Jadi penggunaan istilah ini boleh saling dipertukarkan. CB merupakan suatu piranti saklar mekanik yang secara otomatis akan membuka atau memutuskan rangkaian listrik apabila terjadi ketidaknormalan pada sistem tanpa mengalami kerusakan pada CB itu sendiri. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu pemutus daya adalah sebagai berikut: 1. Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu. 2. Mampu memutuskan dan menutup jaringan dalam keadaan berbeban maupun terhubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus daya itu sendiri. 3. Dapat memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi agar arus hubung singkat tidak sampai merusak peralatan sistem, membuat sistem kehilangan kestabilan, dan merusak pemutus daya itu sendiri. Jenis-jenis pemutus daya yang sering ditemui saat ini adalah:
1. Pemutus daya udara (Air Circuit Breaker)
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

36

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. Pemutus daya minyak (Oil Circuit Breaker) 3. Pemutus daya Gas SF6 (Gas Circuit Breaker) 4. Pemutus daya udara tekan (Air-Blast Circuit Breker) 5. Pemutus daya vakum (Vacuum Circuit Breaker)

Pemutus tenaga merupakan salah satu piranti pengaman yang sangat penting. Hal ini dikarenakan hampir semua sinyal keluaran dari relai proteksi ditujukan pada CB. CB terdiri atas kontak-kontak yang dialiri arus listrik atau lebih dikenal dengan elektroda. Pada kondisi normal, elektroda-elektroda tersebut dalam kondisi terhubung. Sebaliknya pada kondisi abnormal maka elektroda-elektroda akan terpisah dan memutuskan hubungan listrik dari satu sisi ke sisi lainnya. Pada saat pemutusan, pada pemutus tenaga akan terjadi busur api yang cukup besar. Busur api yang cukup besar ini apabila dibiarkan saja akan mengakibatkan kerusakan, baik pada CB itu sendiri maupun pada sistem secara keseluruhan. Masalah penting dalam CB adalah bagaimana cara menghilangkan busur api dengan segera sebelum busur api mencapai suatu harga yang membahayakan.

Gambar 2.28

Pemutus Tenaga Minyak Banyak

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

37

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.29

Pemutus Tenaga Minyak Sedikit 70 kV Buatan Alstom di PLN Utragi Pulomas

Gambar 2.30

Pemutus Tenaga SF6 500 kV buatan BBC di PLN Sektor TET 500 kV Gandul

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

38

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.31

Pemutus Tenaga Udara Tekan 500 kV Tanpa Resistor di GI Ungaran

Gambar 2.32 Pemutus Tenaga Vakum Buatan ABB tipe VD4 a. Trafo daya Tegangan transmisi sistim tenaga listrik harus berteganagn tinggi agar rugi-rugi daya pada transmisi sedikit. Oleh karena itu dibutuhkan trafo daya untuk: menyalurkan tenaga listrik dari generator bertegangan menengah ke transmisi bertegangan tinggi; dan untuk menyalurkan daya dari transmisi bertegangan tinggi ke jaringan distribusi bertegangan rendah.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

39

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.33

Konstruksi Trafo

Pada Gambar 2.33 ditunjukkan konstruksi umum dari suatu trafo. Bagian utama dari suatu trafo adalah adalah inti, dua set atau lebih kumparan dan isolasi. Inti trafo yang terbuat dari lembaran-lembaran baja silikon yang satu dengan lainnya diisolasi dengan pernis. Kumparam terbuat dari bahan tembaga, yang dihubungkan ke sumber energi disebut kumparan primer, sedang yang dihubungkan ke beban disebut kumparan sekunder. Bahan isolasi adalah kombinasi bahan cair dengan dielektrik padat.

Gambar 2.34

Trafo Daya Jenis Step Up (11/150 kV) Berkapasitas 27 MVA pada Gardu Induk Pembangkitan Paya Pasir

b. Transformator Bantu (Auxiliary Transformator)

Transformator

Bantu merupakan trafo yang

digunakan untuk

membantu

beroperasinya secara keseluruhan gardu induk tersebut. Trafo ini menjadi pasokan utama untuk alat-alat bantu seperti motor-motor listrik 3 fasa yang digunakan pada motor pompa sirkulasi minyak trafo beserta motor motor kipas pendingin. Yang paling penting adalah sebagai pemasok utama untuk mengisi ulang (recharge) sumber tenaga cadangan seperti
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

40

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

sumber DC, dimana sumber DC ini merupakan sumber utama jika terjadi gangguan dan sebagai pasokan untuk mensuplai peralatan proteksi sehingga proteksi tetap bekerja walaupun sudah tidak ada lagi pasokan arus AC. Transformator bantu sering disebut sebagai trafo pemakaian sendiri sebab selain fungsi utama diatas, juga digunakan untuk memsok energi listrik untuk keperluan:
1. Penerangan; 2. Sistim sirkulasi pada ruang baterai; 3. Sumber pengggerak mesin pendingin (Air Conditioner) karena beberapa proteksi yang

menggunakan piranti elektronika/digital sehingga diperlukan temperatur ruangan dengan temperatur antara 20 oC 28oC. Untuk mengopimalkan pembagian sumber tenaga dari transformator bantu adalah pembagian beban yang masing-masing mempunyai proteksi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Juga diperlukan pembagi sumber DC untuk kesetiap fungsi dan bay yang menggunakan sumber DC sebagai penggerak utamanya. Untuk itu disetiap gardu induk tersedia panel distribusi AC dan DC. a. Konduktor Konduktor adalah salah satu komponen utama peralatan dan instalasi listrik, yang berperan untuk menyalurkan arus dari satu bagian ke bagian lain dan juga untuk menghubungkan bagian-bagian yang dirancang bertegangan sama. Bahan konduktor yang paling umum digunakan adalah tembaga dan aluminium. Dilihat dari jenis isolasi yang digunakan, konduktor terdiri dari dua jenis, yaitu konduktor atau kawat telanjang dan konduktor berisolasi atau kabel. Pada sistem tenaga listrik, konduktor bertegangan tinggi dijumpai pada transmisi, gardu induk, jaringan distribusi dan panel daya. Konduktor atau kawat telanjang digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik; dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya; dan dari gardu induk ke trafo distribusi. Konduktor telanjang digunakan juga pada gardu induk dan panel sebagai rel pembagi daya. Kabel tegangan tinggi digunakan sebagai jaringan distribusi, terutama pada perkotaan yang penduduknya sangat rapat. Kabel tegangan tinggi digunakan juga untuk menyalurkan tenaga listrik dari generator ke trafo daya, dari trafo daya ke panel kontrol pada gardu induk dan dari panel kontrol ke jaringan distribusi hantaran udara. b. Isolator
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

41

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada instalasi tenaga listrik dan peralatan elektrik dijumpai konduktor-konduktor yang berbeda potensialnya. Dalam pengisolasian instalasi dan peralatan tersebut, hal pertama yang dilakukan adalah memisahkan masing-masing konduktor dengan jarak tertentu sehingga udara yang mengantarai suatu konduktor dengan konduktor lain berperan sebagai medium isolasi utama. Kemudian, konduktor-konduktor diikat pada penyangga denagan bantuan isolator. Isolator tegangan tinggi dijumpai pada jaringan transmisi, jaringan distribusi hantaran udara, gardu induk, panel pembagi daya, terminal ujung kabel dan peralatan tegangan tinggi. Pada jaringan hantaran udara digunakan sebagai penggantung dan penopang konduktor. Di gardu induk digunakan sebagai pendukung peralatan tegangan tinggi seperti saklar pemisah, pendukung konduktor penghubung dan penggantung rel daya. Pada panel distribusi digunakan untuk menopang rel daya. Pada peralatan tegangan tinggi digunakan sebagai mantel peralatan uji (trafo uji, pembagi tegangan, kapasitor, resistor) dan bushing. Bushing adalah isolator yang digunakan untuk mengisolir badan suatu peralatan dengan konduktor terminal tegangan tinggi yang menerobos badan peralatan tersebut.

c. Kompensator Kompensator di dalam transmisi tenaga listrik disebut pula sebagai alat pengubah fasa yang dipakai untuk mengatur jatuh tegangan pada saluran transmisi atau transformator, dengan mengatur daya reaktif atau dapat pula dipakai untuk menurunkan rugi daya dengan memperbaiki faktor daya. Alat ini ada yang berputar dan ada yang stationer. Yang berputar adalah kondensator sinkron dan kondensator asinkron, sedangkan yang stationer adalah kondensator statis atau kapasitor shunt dan reaktor shunt. d. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi Data yang diterima SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) interface dari berbagai masukan (sensor, alat ukur, relay, dan lain lain) baik berupa data digital dan data analog dan dirubah dalam bentuk data frekuensi tinggi (50 kHz sampai dengan 500 kHz) yang kemudian ditransmisikan bersama tenaga listrik tegangan tinggi. Data berfrekuensi tinggi yang dikirimkan tidak bersifat kontinyu tetapi secara paket per satuan waktu. Dengan kata lain berfungsi sebagai sarana komunikasi suara dan
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

42

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

komunikasi data serta tele-proteksi dengan memanfaatkan penghantarnya dan bukan tegangan yang terdapat pada penghantar tersebut. Oleh sebab itu bila penghantar tak bertegangan maka Power Line Carrier (PLC) akan tetap berfungsi asalkan penghantar tersebut tidak terputus. Dengan demikian diperlukan peralatan yang berfungsi memasukkan dan mengeluarkan sinyal informasi dari energi listrik di ujung-ujung penghantar. e. Relai Proteksi dan Papan Alarm (Annunciator) Rele proteksi yaitu alat yang bekerja secara otomatis untuk mengamankan suatu peralatan listrik saat terjadi gangguan, menghindari atau mengurangi terjadinya kerusakan peralatan akibat gangguan dan membatasi daerah yang terganggu sekecil mungkin. Semua manfaat tersebut akan memberikan pelayanan penyaluran tenaga listrik dengan mutu dan keandalan yang tinggi. Sedangkan papan alarm atau annunciator adalah sederetan nama-nama jenis gangguan yang dilengkapi dengan lampu dan suara sirine pada saat terjadi gangguan, sehingga memudahkan petugas untuk mengetahui rele proteksi yang bekerja dan jenis gangguan yang terjadi. 2.7.1 Transmisi Tenaga Listrik Transmisi adalah sub-sistem tenaga listrik yang berperan menyalurkan tenaga listrik dari pusat pembangkit tenaga listrik ke gardu induk (GI). Saat sistem beroperasi, pada subsistem transmisi terjadi rugi-rugi daya. Jika transmisi tenaga listrik menggunakan tegangan bolak-balik tiga fasa, maka besarnya rugi-rugi daya yang terjadi sepanjang transmisi tenaga listrik adalah sebagai berikut:
PT=P2RVr2Cos2 ... 2.3

dimana : P Vr Cos R = = = = daya beban pada ujung penerima transmisi (Watt) tegangan fasa ke fasa ujung penerima transimisi (Volt) faktor daya beban tahanan kawat transmisi per fasa (Ohm)

Dari Persamaan 2.3, terlihat bahwa rugi-rugi transmisi berbanding lurus dengan besar tahanan konduktor dan berbanding terbalik dengan kuadrat tegangan transmisi, sehingga pengurangan rugi-rugi yang diperoleh karena peningkatan tegangan transmisi jauh lebih lebih besar dari pengurangan rugi-rugi karena pengurangan tahanan konduktor.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

43

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 2.4 Jenis Tegangan

Level Tegangan Kerja di Indonesia Besar Tengan Kerja (V) 380/220 20000 70000, 150000 275000, 500000

Tegangan Rendah (TR) Tegangan Menengah (TM) Tegangan Tinggi (TT) Tegangan Ekstra Tinggi (TET)

Sistem transmisi daya listrik PLN di Medan mempergunakan tegangan kerja 150 kV sehingga pada setiap pembangkit tenaga listrik selalu dilengkapi dengan gardu induk pembangkit jenis step-up yang berfungsi menaikkan tegangan yang dibangkitkan generator ke tegangan transmisi yakni 150 kV. Khusus PLTA Sigura-gura mempergunakan tegangan transmisi sebesar 275 kV, sehingga untuk keperluan interkoneksi diperlukan gardu hubung. Adapun level tegangan kerja yang berlaku di Indonesia ditunjukkan pada Tabel 2.4. Dalam usaha penyediaan energi listrik pada konsumen dalam bentuk yang berguna, sistem transmisi dan distribusi harus memenuhi beberapa persyaratan dasar, yaitu sistem harus: 1. Menyediakan daya yang konsumen butuhkan setiap saat; 2. Mempertahankan tegangan nominal yang stabil, dimana variasinya tidak melebihi 10%; 3. Mempertahankan frekuensi yang stabil, dimana variasinya tidak melebihi 0,1 Hz; 4. Menyuplai energi listrik dengan biaya yang terjangkau; 5. Memenuhi standar keselamatan; 6. Menaruh perhatian pada standar lingkungan.

2.7.1 Distribusi Tenaga Listrik Dalam arti yang luas, sistem distribusi adalah bagian dari sistem tenaga listrik di antara sumber tenaga yang besar dan beban listrik (konsumen). Sistem distribusi diklasifikasikan menjadi 2 bagian, yaitu: a. Jaringan Distribusi Primer
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

44

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pasokan daya dari Gardu Induk sampai dengan Gardu Induk Distribusi Tegangan Menengah (TM) sebesar 20 kV Sistem 3 Fasa 3 Penghantar a. Jaringan Distribusi Sekunder Pasokan daya dari Gardu Distribusi sampai dengan Konsumen TR Tegangan Rendah (TR) sebesar 380/220 V Sistem 3 Fasa 4 Penghantar Jadi secara umum, Jaringan Distribusi meliputi: Jaringan Tegangan Menengah (JTM), Trafo Distribusi, Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dan akhirnya sampai pada konsumen. JTM yang bertegangan 20 kV, yang keluar dari Gardu Induk Distribusi akan disalurkan dengan menggunakan sistem 3 Fasa 3 Penghantar untuk selanjutnya sampai pada trafo distribusi yang terdapat pada tiang-tiang distribusi.

Gambar 2.35

Jaringan

Tegangan

Menengah

milik

PLN

pada

saat

dilakukan

perbaikan/perawatan

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

45

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.36

Trafo Distribusi dari TM ke TR dan peralatan bantu lainnya milik PLN untuk menyuplai konsumen rumahan

Melalui perantaraan Trafo Distribusi ini, TM akan diturunkan menjadi Tegangan Rendah (TR) yang memiliki sistem 3 Fasa 4 Penghantar. Pada akhirnya, TR akan dihubungkan ke Sambungan Rumah (SR) para konsumen PLN. Untuk konsumen dari kalangan industri ataupun instansi yang menggunakan tenaga listrik dalam jumlah yang besar, sistem 3 fasa biasanya dipilih karena alasan efisiensi. 2.7.1 Karakteristik Beban Sistem tenaga listrik dirancang untuk mengirim tenaga listrik dengan cara yang efisien dan aman kepada para pelanggan. Karakteristik dari permintaan tenaga listrik kadangkala membuat usaha tersebut sulit untuk dipenuhi. Meramalkan pertumbuhan beban dan usaha untuk memenuhi siklus beban harian dan beban tahunan secara memuaskan merupakan dua kesulitan yang harus diatasi. Pusat-pusat pembangkit yang tersedia harus selalu dapat memenuhi kebutuhan beban yang terus berubah-ubah. Meskipun pusat pembangkit dengan ukuran besar biasanya dianggap lebih ekonomis, namun jika tambahan daya yang diperlukan hanya sekedar untuk memenuhi beban puncak yang berlangsung beberapa jam, pembangkit ukuran kecil sudah cukup untuk memadai untuk melayaninya. Karakteristik perubahan besarnya daya yang diterima oleh beban sistem tenaga setiap saat dalam suatu interval hari tertentu dikenal sebagai kurva beban harian. Penggambaran kurva ini dilakukan dengan mencatat besarnya beban setiap jam melalui pencatatan Mega
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

46

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Watt-meter yang dipasang di Gardu Induk. Karakteristik ini kemudian dimonitor untuk mengetahui perubahan beban yang terjadi. Bila kurva beban harian memberi informasi tentang besarnya beban dari waktu ke waktu selama interval waktu satu hari, maka kurva kelangsungan beban (load duration curve) memberikan informasi tentang lama berlangsungnya daya dengan besar tertentu. Kurva kelangsungan beban ini diturunkan dari kurva beban yang dipotong-potong dengan selang waktu yang kecil, kemudian disusun dari kiri ke kanan secara berurutan, menurut tingkatan besarnya daya; luas bidang gambar kurva menyatakan besarnya tenaga listrik yang diperoleh dalan selang waktu tertentu. Sebagaimana perubahan beban setiap jam dalam sehari, beban puncak harian pun tidak tetap dalam setahun. Namum umumnya beban puncak terjadi pada malam hari. Hal ini dikarenakan pada malam hari perangkat penerangan dari hampir semua konsumen akan diaktifkan. Ada kalanya beban puncak tinggi pada bulan-bulan tertentu dan rendah pada bulan-bulan lainnya. Saat dimana beban puncak rendah dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan sistem maupun peralatan listrik dalam suatu sistem tenaga listrik. 2.7.2 Pemeliharaan Instalasi Listrik Pada suatu pusat listrik, terdapat divisi khusus dalam bagian pemeliharaan yang dikelola oleh suatu manajemen pemeliharaan. Adapun tujuan pemeliharaan suatu peralatan atau mesin adalah sebagai berikut: a. Mempertahankan efisiensi; b. Mempertahankan keandalan; c. Mempertahankan umur ekonomis. 2.7.1.1 Cara Pemeliharaan Pemeliharaan bertujuan mempertahankan efisiensi, keandalan, dan umur ekonomis peralatan. Dalam perkembangannya, pemeliharaan dilaksanakan dengan beberapa metode sebagai berikut: a. Pemeliharaan bila ada gangguan atau kerusakan Metode ini masih dapat diterapkan pada peralatan yang peranannya dalam operasi tidak penting. b. Pemeliharaan periodik Metode ini dilakukan berdasarkan jangka waktu tertentu berdasarkan manual book pabrik atau data statistik kerusakan atau data statistik gangguan.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

47

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

c. Pemeliharaan prediktif Metode ini sedang dikembangkan baru-baru in. metode ini dilakukan berdasarkan pengamatan beberapa data kemudian dilakukan analisis atas data ini untuk menentukan waktu pemeriksaan atau pemeliharaan suatu peralatan. Beberapa data yang digunakan untuk analisis pemeliharaan prediktif adalah: 1. Tahanan isolasi; 2. Vibrasi poros; 3. Suhu kumparan dan suhu bantalan;
4. Kandungan kotoran (impurities) pada minyak isolasi (minyak transformator, minyak

PMT); 5. Hasil pengamatan dengan sinar inframerah;


6. Hasil pengamatan dengan sinar ultraviolet yang dapat mendeteksi adanya korona dan

peluahan parsial (partial discharge); Sekarang ini sedang dikembangkan berbagai program self-diagnostic. 2.7.1.1 Bagian Instalasi yang Harus dipelihara Bagian-bagian instalasi yang harus dipelihara agar kontinuitas suplai listrik terjaga, yaitu: generator, motor listrik, transformator, pemutus tenaga, baterai aki, titik pentanahan, dan sistem proteksi. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pemeliharaan bagian-bagian instalasi tersebut secara garis besarnya. a. Generator Generator yang tidak mempunyai sistem pendinginan tertutup banyak mendapat debu yang menempel pada isolasi stator maupun rotor. Apalagi bila lingkungannya basah, tahanan isolasinya dapat cepat turun, terutama bila generator tersebut sering berhenti sehingga tidak terjadi pemanasan. Untuk itu, isolasi stator dan rotor perlu diukur dan jika hasilnya terlalu rendah, maka perlu dilakukan pembersihan isolasi. Generator yang pendinginannya dengan udara atau gas Hidrogen tetapi tertutup melalui penukar panas, maka selain isolasi stator dan rotor diukur tahanannya, juga suhu udara atau suhu gas Hidrogen serta tingkat kemurnian gas Hidrogen perlu diukur dan penukar panasnya perlu dibersihkan. b. Motor Listrik Pendinginnya menggunakan udara yang lewat pada sirip sirip motor tersebut. c. Transformator
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

48

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Selain isolasi kumparan juga kandungan kotoran (impurities) minyak perlu dilaksanakan pemeriksaan untuk mengetahui kandungan air dan kandungan asamnya. d. Pemutus Tenaga dan saklar-saklar Kualitas media isolasinya perlu diperiksa. Bila perlu, media isolasinya ditambah atau diganti. Selain itu, gerakan kontaknya perlu diperiksa apakah masih serempak atau sudah mengalami kerusakan maupun gangguan. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Pemutus Tenaga merupakan salah satu peralatan proteksi pada sistem tenaga listrik sehingga kondisinya harus benar-benar dipastikan dalam keadaan yang baik. e. Baterai (Aki) Tegangan setiap sel perlu diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya sel yang rusak. Jika perlu, dilakukan penggantian. Kualitas elektrolitnya juga perlu diperiksa. Bila perlu, dilakukan penambahan atau penggantian. f. Semua Kotak Sambungan Kontak sambungan dari semua bagian instalasi listrik perlu diperiksa termasuk dari peralatan tersebut di atas karena kontak sambungan merupakan kelemahan instalasi listrik. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan sinar inframerah. g. Titik Pentanahan Semua titik pentanahan dalam instalasi listrik perlu dijaga agar tahanannya tidak melebihi 4 ohm. Hal ini diperlukan demi keselamatan manusia yang ada di sekitar instalasi listrik tersebut. h. Sistem Proteksi Sistem proteksi, khususnya relai-relai perlu diperiksa dan dijaga agar berfungsi secara benar dan sesuai. Pengujian relai proteksi juga perlu dilaksanakan guna memastikan kondisi dan kinerjanya.

BAB III SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS PT.PLN (Persero) SEKTOR PEMBANGKITAN SUMBAGUT SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN PAYA PASIR
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

49

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3.1.UMUM Pada dasarnya semua sistem pembangkit energi listrik sama, perbedaannya hanya terletak pada sumber daya energi primernya saja. Sumber daya energi primer tersebut antara lain berupa bahan bahan bakar fosil (minyak, gas alam, batu bara), hidro, panas bumi, surya, dan nuklir. One line diagram sistem tenaga listrik dapat dilihat pada gambar 2.1.

G
GARDU INDUK PEMBANGKIT JARINGAN TRANSMISI TEGANGAN TINGGI JARINGAN TRANSMISI TEGANGAN MENENGAH

INDUSTRI BESAR

PEMBANGKIT

GARDU INDUK TRANSMISI

GARDU INDUK DISTRIBISI

BEBAN RUMAH TANGGA

Gambar 3.1. One Line Diagram Sistem Tenaga Listrik Pada gambar 3.1 diatas terlihat langkah-langkah sistem tenaga listrik yang dimulai dengan turbin yang menghasilkan energi mekanis untuk memutar generator, generator menghasilkan energi listrik yang kemudian tegangannya dinaikkan oleh trafo step-up untuk ditransmisikan. Setelah energi listrik sampai ke gardu distribusi, trafo step-down bekerja menurunkan tegangan untuk didistribusikan ke konsumen. 3.2. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS PAYA PASIR Pembangkit listrik Paya Pasir menggunakan solar sebagai bahan bakar dan turbin gas dan mesin desel sebagai prime movernya. PLTG Paya Pasir memiliki 7 unit pembangkit. Pada dasarnya, semua sistem pembangkit di setiap unit sama. Saat ini, daya mampu dari PLTG Paya Pasir 85 MW dari total daya terpasang 153,74 MW. Hal ini disebabkan beberapa unit dari PLTG sedang dalam pemeliharaan.

Berikut kami sajikan data-data dari tiap unit pembangkit. Unit 1. Prime Mover : Mesin Diesel

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

50

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

General

Pabrikan Merk Serial Motor Model Kapasitas Puncak Putaran

Harvel Illionis USA ALLis Chalmer 25-04968 25.000 MK 6000HP 2500 rpm

Unit 2. Prime Mover : Mesin Diesel General Pabrikan Merk Serial Motor Model Kapasitas Puncak Putaran Harvel Illionis USA ALLis Chalmer 25-05214 25.000 MK 6000HP 2500 rpm

Unit 3. Prime Mover : Mesin Diesel General Pabrikan Merk Serial Motor Model Kapasitas Puncak Putaran Belford Detroit Diesel Allison General Motor 5400967 12V71N 6000HP 2450 rpm
51

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Nama

Unit 4. Prime Mover : Mesin Diesel General Pabrikan Merk Serial Motor Model Kapasitas Puncak Putaran Belford Detroit Diesel Allison General Motor 5101329 12V71N 6000HP 2450 rpm

Bberikut ini kami sajikan foto unit 6 PLTG Paya Pasir secara keseluruhan, dimana komponen-komponen pembangkit yang kami sajikan pada data unit 6 di atas terletak di dalam box tertutup dalam gambar 3.2.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

52

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.2. PLTG Paya Pasir Unit 4

Unit 5. Prime Mover : Mesin Diesel General Pabrikan Merk Serial Motor Model Kapasitas Puncak Putaran Langkah Belford Detroit Diesel Allison General Motor 5400967 12V-75609 6000HP 2200 rpm (load) ; 2500 rpm (no load) 4 tak

Nama

Unit 6. Unit : PLTG Lot 2.2 Paya Pasir (GPP 6)

Prime Mover : Turbin Gas

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

53

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1.Turbin Gas

Pabrikan Model No. Seri Tipe Daya Terpasang Bahan Bakar Tara Kalor Start Sistem Putaran Normal Turbin Putaran Generator Gas

General Electric (GE) 7LM2500-PE-MLG07 481-877 Aero Derivative Gas Turbine 21,46 MW Dual (Destillate & Gas) 9401 Btu/kWH Hydraulic, variable speed 3000 rpm 9500 rpm

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

54

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.Generator Pabrikan Buatan Customer Standar nasional yang digunakan Tipe Serial Number Mesin Ukuran Bingkai Frekuensi Output Nominal Daya Faktor Daya Tegangan Arus Unsaturated Synchronous Reactance Xd(i) Saturated Transient Reactance X'd(v) Saturated Subtransient Reactance X''d(v) Unsaturated Negative Sequence Reactance X2(i) Unsaturated Zero Sequence Reactance X0 Short Circuit Ratio Putaran Tegangan Operasi Temperatur Udara nominal yang diizinkan Hubungan belitan stator Efisiensi pada Kapasitas Rata-rata Arus Hubung Singkat Kelas Isolasi / Kenaikan Suhu

Brush Inggris G.E. PACKAGED POWER, LP ANSI C50.14 Turbo Generator 903680.010 903689.010 BDAX 62-170 ER 50 Hz 27.4/32.235 MW/MVA 32235 kVA 0,8 11,5 kV 1349 A 257% 24,8 % 17,2 % 20,5 % 10,5 % 0,44 3000 rpm 11 KV 5% 15o C Star 98% 7700 A X In untuk 10 detik F/B
55

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3.Trafo Utama

Pabrikan Buatan No. Seri Tahun Pembuatan Phasa Impedansi Frekuensi Daya Rasio Elektrik Vektor Grup Pendingin Tap

Pauwels Trafo Asia Indonesia 3011070006 2008 3 11,66% 50 30 MVA 150 kV/11,5 kV Dyn 5 ONAF (Oil Natural Air Force) 5

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

56

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.Trafo Pembantu

Pabrikan Buatan No. Seri Tahun Pembuatan Phasa Frekuensi Daya Rasio Elektrik Arus Vektor Grup Pendingin

TRAFINDO Indonesia 07234399 2007 3 50 750 kVA 11,5 kV/400 V 37,65 A/1002,53 A Dyn 11 ONAN (Oil Natural Air Natural)

5.Generator Switchgear

Tegangan Rata-rata Kapasitas Gangguan Sistematis Pada Tegangan Rata-rata Rata-rata Arus Kontiniu (rms) Pada 50 Hz Kemampuan bertahan Arus Hubung Singkat dalam 1 Detik Arus pemutus Simetris dalam 3 Detik Level Dasar Isolasi Tegangan Kontrol

11 kV rms 77 kA 2000 A 48 kA 48 kA 95 kV kA 125 VDC

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

57

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

6.Proteksi

Pabrikan Buatan Merek/Tipe Ratio CT Ratio PT Terpasang Lokasi

BECKWITH ELECTRIC CO, INC Amerika Beckwith / M-3420 65500/1 6550/1 Generator Brush ( Unit 6 ) PLTG Paya Pasir

Unit 7. Unit 1.Turbin : PLTG Lot 2.2 Paya Pasir (GPP 7) Nanjing Turbine & Electric Machinery (Group) CO.,LDT PG6581B 200801 34,1 MW Dual (Destillate & Gas) 11790 kJ/kWH 5163 rpm 2008 531,1 0C Nanjing Turbine fin-fan Radiator Cooling water & & Electric Speedtronic(Group) CO.,LDT Machinery Mark VI 3 China QFR-42-2 200801005 42MW ( 52,5 MVA) 0,8 10,5 kV 2887 A 3000 rpm

Prime Mover : Turbin Gas Pabrikan Model No. Seri Daya Bahan Bakar Tara Kalor Putaran Turbin Tahun Pembuatan Suhu Keluaran Pendinginan Pabrikan Sistem Kontrol Tingkat Buatan Tipe No. Seri Daya Faktor Daya Tegangan Arus Putaran

2.Generator

3.Motor Stater Tegangan Kelas Insulasi Putaran Daya

50Hz, 3 F 2970 rpm 600HP

4.Compressor

Tipe

Axial Flow
58

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tingkat

17

5.Combustor

Tipe Jumlah Ruang Bakar Jumlah Nozzel Penyala Mula

Turbular Multican 10 10 2 buah Spark Plug

6.Gear Box

Pabrikan Buatan Tipe No.Seri Daya Tahun Pembuatan Reduction Ratio Efisiensi

Fender Graffenstaden Perancis TRL65CV 9048 54 MW 2007 5163-3000 99%

Dari data-data diatas dapat dilihat peralatan-peralatan yang digunakan pada pembangkit listrik di Paya Pasir dan keterangan-keterangan mengenai peralatan tersebut. Proses pada pembangkit listrik tenaga gas secara umum dapat dilihat pada gambar 3.4 yang menunjukkan gambar blok diagram pembangkit listrik tenaga gas.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

59

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Ga mbar3.4. Blok Diagram Pembangkit Listrik Tenaga Gas 3.3. PERALATAN PERALATAN PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK PLTG PAYA PASIR Pembangkit energi listrik memiliki peralatan peralatan utama, yaitu turbin gas dan generator. 3.3.1. Turbin Gas Turbin gas atau gas turbine banyak digunakan pada pembangkit listrik ( power plant ) dengan bahan bakar batu bara, gas alam, minyak atau reaktor nuklir untuk memproduksi uap / steam. Untuk PLTG Paya Pasir menggunakan bahan bakar minyak untuk memproduksi uap. Uap tersebut akan dialirkan melalui turbin bertingkat untuk memutar poros output turbin dan poros inilah yang digunakan untuk memutar generator pembangkit. Secara teori, prinsip kerja turbin gas dapat dijelaskan dengan sederhana. Turbin gas memiliki 3 komponen utama, yaitu : Kompresor Kompresor digunakan untuk menaikkan tekanan udara yang masuk. Area Kombustor Di area kombustor terjadi pembakaran bahan bakar yang masuk, menghasilkan tekanan dan kecepatan yang sangat tinggi Turbin
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

60

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Turbin mengkonversi energi dari gas dengan tekanan dan kecepatan tinggi dari kombustor menjadi energi mekanik berupa putaran poros turbin. Gambaran struktur mesin turbin gas dapat dilihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5.Stuktur Mesin Turbin Gas Pada gambar 3.5 stuktur dari rangka memberi dukungan untuk rotor kompresor bertekanan tinggi atau high-pressure compressor (HPC), bearing, stator kompresor, rotor turbin bertekanan tingi atau high-pressure turbine (HPT), dan rotor power turbine (PT). Komponen yang terpasang pada rangka depan kompresor atau compressor front frame (CFF) adalah inlet duct (sambungan dalam) dan centre body (pusat mesin). 3.3.1.a.Kompresor Udara dengan tekanan normal masuk dan di hisap oleh kompresor yang biasanya berbentuk silinder kerucut dengan beberapa fan blade yang terpasang berbaris. Kemudian udara tersebut mengalami kompresi bertingkat. Ada 2 macam kompresor yang digunakan yaitu kompresor aliran axial atau axial flow dan kompresor aliran radial atau radial flow.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

61

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Kompresor aliran aksial dapat di ilustrasikan pada gambar 3.6.

Gambar 3.6. Gambar Kompresor Aliran Aksial Kompresor aliran aksial dari gambar 3.6 menunjukkan besarnya volume udara bertekanan dan kecepatan rendah menuju ke volume kecil dan kecepatan tinggi. Pada kompresor aliran radial, percepatan yang ditimbulkan berasal dari ruangan ke ruangan berikutnya secara radial. Pada lubang masukan pertama udara dilemparkan keluar menjauhi sumbu dan oleh dinding ruangan dipantulkan kembali mendekati sumbu. Dari tingkat pertama masuk lagi ketingkat berikutnya sampai beberapa tingkat yang dibutuhkan. Kompresor di mesin turbin gas menggunakan sambungan konvergen dan divergen untuk menghasilkan tekanan tinggi yang diperlukan untuk : Menyediakan tekanan dinding mencegah meluasnya gas panas dari luar melalui inlet mesin dan exhaust. Menyediakan rasio besar dari udara ke bahan bakar untuk pembakaran yang efisien dan mendiginkan ruang pembakaran.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

62

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambaran dari konvergen dan divergen duct dapat dilihat pada gambar 3.7.

Gambar 3.7. Konvergen dan Divergen Duct Dari gambar 3.7 pada saluran konvergen menghasilkan tekanan yang lebih rendah dan volume yang lebih kecil. Perluasan melalui saluran divegen kemudin menambah tekanan dan volume udara. 3.3.1b. Area Kombustor Kombustor adalah cincin berbentuk gelang yang sambung menyambung. Logam penutup kombustor sebagai diffuser dan distributor untuk pengeluaran udara kompresor. Berikut ini kami sajikan gambar 2.8 yang merupakan gambar area kombustor.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

63

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.8. Area Kombustor Gambar 3.8 merupakan gambar bentuk area kombustor dimana udara yang bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh kompresor masuk ke area kombustor pada sebuah ring bahan bakar dengan aliran konstan. Udara yang masuk ke daerah kombustor adalah udara yang bertekanan tinggi dan mempunyai kecepatan hampir 100 mil per jam. Rangkaian kombustor adalah satu rangkaian yang saling tumpang tindih digabungkan dengan sambungan yang resistant dan joint yang dipatri. Mereka dilindungi dari panas tinggi pembakaran dengan lapisan tipis udara pendingin circumferential. Pembakaran utama dan pendinginan udara masuk melalui lubang-lubang yang berjarak dekat pada setiap cincincincin yang saling tumpang tindih. Lubang-lubang ini membantu kepusat api yang menciptakan keseimbangan pada pembakaran udara. Sistem pembakaran menghasilkan bunga api berenergi tinggi yang membakar campuran bahan bakar atau campuran udara di pembakaran selama awal pembakaran. Sistem tersebut terdiri dari pelepasan pengapian kapasitor berenergi tinggi dan pembangkit tenaga listrik, kabel yang saling berhubungan dan igniter plug berenergi tinggi. Selama rangkaian awal, bahan bakar dinyalakan, diberi energi oleh pembangkit tenaga listrik. Pembakaran segera menyala dengan sendirinya, penyalaan dienergikan.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

64

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.9. Bagian Kombustor Gambar 3.9 adalah gambar dari bagian kombustor, dari gambar 3.9 dapat dilihat kombustor yang berbentuk gelang. Kombustor ini terletak pada bagian belakang dari kompresor atau compressor rear frame (CRF). Tiga puluh penyokong vortex, swirl cup atau cangkir putaran axial pada lengkungan besar pada setiap ujung pipa bahan bakar menstabilkan campuran udara bahan bakar dan bentuk api. Permukaan interior dari lengkung tersebut dilindungi dari suhu tinggi pembakaran dengan lapisan tipis pendingin udara. Akumulasi karbon atau coking diujung mulut pipa bahan bakar dicegah oleh kumparan berbentuk venture yang menempel pada cangkir pusaran.

3.3.1c.Turbin Turbin mengkonversi energi dari gas dengan tekanan dan kecepatan tinggi dari kombustor menjadi energi mekanik berupa putaran poros turbin. Di mesin turbin gas terjadi empat proses yang digambarkan oleh George Brayton, dan keempat proses tersebut di kenal dengan lingkaran brayton (brayton cycle). Lingkaran brayton atau brayton cycle dapat di jelaskan melalui gambar 3.10.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

65

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.10. Gambar Lingkaran Brayton Langkah-langkah bryton yaitu : 1. Penekanan terjadi diantara yang diterima dan yang keluar dari kompresor (garis A-B). Selama proses ini, tekanan dan suhu udara bertambah. 2. Pembakaran terjadi di ruang pembakaran dimana bahan bakar dan udara bercampur meledak dan menyala. Tambahan panas tersebut menyebabkan kenaikan tajam volumenya (garis B-C). 3. Perluasan terjadi sebagai gas panas yang mempercepat dari ruang pembakaran. Gas tersebut pada tekanan tetap dan meningkatkan volume yang masuk keturbin dan memperluas melalui pembakaran ini. Penurunan tajam pada tekanan dan suhu (garis C-D). 4. Exhaust terjadi pada penumpukan exhaust mesin dengan penurunan volume yang besar dan pada tekanan yang tetap (garis D-A). Rotor turbin bertekanan tinggi (high pressure turbine), tahap 1 dan tahap 2 nozzle turbine dapat di lihat pada gambar 3.11.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

66

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.11. Gambar Rotor Turbin Tekanan Tinggi Merujuk pada gambar 3.11. mulut pipa turbin bertekanan tinggi langsung ke gas panas dari pembakaran ke baling-baling rotor turbin bertekanan tinggi (High Pressure Turbine Rotor) pada sudut dan kecepatan optimum. Rotor turbin bertekanan tinggi menyaring energi dari uap gas exhaust menuju rotor kompresor bertekanan tinggi (High Pressure Compressor Rotor). Turbin bertekanan tinggi memiliki pendingin bertingkat. Pendingin turbin dapat dilihat pada gambar 3.12.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

67

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.12. Gambar Pendingin Turbin Tekanan Tinggi

Seperti yang terlihat pada gambar 3.12., high pressure turbin rotor didinginkan oleh aliran yang berkesinambungan dari udara yang dilepas kompresor yang melewati lubanglubang di shaft turbin depan. Udara tersebut mendinginkan rotor dibagian dalam dan kedua disk nya sebelum melewati diantara sambungan-sambungan tersebut dan baling-baling luar. 3.3.2. GENERATOR Generator adalah adalah alat yang memproduksi energi listrik dari sumber mekanis. Sumber energi mekanis berupa putaran poros turbin mesin uap. Pada generator ac atau generator sinkron bertegangan rendah yang kecil, lilitan medan diletakkan pada bagian rotor, dan lilitan jangkar diletakkan pada bagian stator pada mesin. Konstruksi medan yang berputar dan jangkar yang diam menyederhanakan masalah isolasi generator. Tegangan tinggi yang dihasilkan generator tidak perlu dikeluarkan melalui cicin slip (slip ring) dan kontak geser tetapi dapat dikeluarkan langsung ke switchgear melalui kawat berisolasi dari jangkar diam. Switchgear merupakan alat penghubung dan pembagi tegangan. Selain keuntungan elektris tersebut, konstruksi ini juga mempunyai keuntungan mekanis, yaitu getaran lilitan jangkar berkurang dan gaya sentrifugal menjadi lebih baik.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

68

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Generator umumnya diberi name plat untuk menjelaskan tentang spesifikasi dari generator. Berikut kami sajikan gambar 3.13. contoh name plat dari generator gas PLTG Paya Pasir unit 4.

Gambar 3.13. Gambar Name Plate Generator Gas Pada generator terdapat bearing atau bantalan untuk shaft rotor generator.Bearing generator dapat dilihat pada gambar 3.14. Sistem pelumasan pada generator merupakan pelumasan bertekanan melumasi bearing-bearing generator. Komponen utama dari sistem pelumasan ini adalah : Tangki cadangan / penyimpanan pelumas Generator-driven pompa pelumas DC motor driven pompa pendukung Generator pelumas heat exchanger Filter pelumas assembly

Tujuan dari pelumasan generator ini adalah untuk menghindari kerusakan generator. Bearing-bearing generator harus diberi pelumas apabila shaft rotor generator berputar.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

69

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Generator juga membutuhkan pendingin. Generator selama beroperasi menghasilkan sejumlah panas yang kemudian dibuang oleh kipas-kipas fan rotor generator. Kegiatan tersebut menghasilkan aliran udara dingin yang mengalir melalui bagian atau celah-celah bagian ke dalam generator dan keseluruhan bagian-bagiannya sebelum udara panas ini dikeluarkan ke atmosfer. Pada gambar 3.14. dapat dilihat tipical dari generator brush yang menunjukkan bagian-bagian dari generator secara keseluruhan yang dilalui aliran udara pendingin.

Gambar 3.14. tipical generator brush Pembangkit dipasang ditempat tertutup untuk meredan suara yang ditimbulkan oleh generator. Pembangkit juga memberikan pendingin udara dengan filter yang dipasang. Unit tersebut dibautkan pada gas turbine-generator package main skid, sehingga rotor diluruskan secara aksial dengan engine drive shaft. Kopling fleksibel yang melalui pembuangan mesin menghubungkan rotor pembangkit ke engine drive shaft. Berikut adalah gambar generator unit 4 PLTG Paya Pasir :

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

70

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.15. Generator unit 4 PLTG Paya Pasir

Sistem exitasi dari pembangkit memberikan daya yang diperlukan untuk menigkatkan voltase hasil pembangkit pada tingkat rata-rata selama start-up dan mempertahankan output ini selama kondisi beban flukstuasi ada pada unit. Bentuk dari exiter dapat dilihat pada gambar 3.16.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

71

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 3.16.exiter diode whell Sistem exitasi pembangkit terdiri dari komponen-komponen : 1. Brushless rotary exiter yang dipasang pada pembangkit 2. Rotaring rectifier perakitan yang dipasang pada rotor pembangkit 3. Permanen magnet generator (PMG) yang dipasang pada pembangkit 4. Modulator automatic voltage regulator (MAVR) 5. Exiter mode switch Bagian-bagian dari exiter diode whell dapat di lihat pada gambar 3.17.

Gambar 3.17. bagian-bagian exiter diode whell


Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

72

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Exiter armature dipasang pada ujung tanpa kemudi generator rotor shaft dan dipasang dengan stationary exciter field winding. Exciter housing dibautkan ke kerangka ujung pembangkit, menopang stationary exciter field windings dan PMG stator windings. Rotary exciter beroperasi sbb : Arus langsung (DC) dari pengatur voltase menghasilkan medan magnet yang kuat pada exciter field windings. Rotating rectifier perakitan mengkonversikan arus 3 phasa dari exciter armature ke DC yang akan mempolarisasi rotating main field windings pembangkit. Rectifier terdiri dari enam diode silicon masing-masing menghubungkan kesalah satu dari tiga exciter armature menuju ke sekering pelindung. Dioda memberikan rektifikasi gelombang penuh untuk setiap fase arus exciter. Wiring diagram dari exiter diode whell dapat dilihat pada gambar 3.18.

Gambar 3.18. wiring diagram exiter diode whell Dari gambar 3.17, rectifier adalah bridge rectifier tiga phasa dengan gelombang penuh dengan diode sekering parallel yang dipasang secara individu. Sekering dipasang pada sisi sebaliknya diode. Banyaknya konfigurasi diode telah membuat exciter membawa output generator penuh dengan setengah diode diluar layanan. Karena diode hanya memiliki dua mode kerusakan yaitu diperpendek atau terbuka, sekering memberikan perlindungan arus
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

73

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

lebih dan mengijinkan operasi normal, kecuali sekering membuka pada salah satu dari enam kaki rectifier. Radio transmitter yang diperkuat oleh output voltase rectifier DC, berhenti melakukan pengiriman bila terjadi kerusakan rotor ground. Penerima radio akan membunyikan alarm apabila sinyal transmitter berakhir. Pendeteksian diode dihasilkan dengan menimbulkan suara pada exiter field yabg disebabkan oleh beban yang tidak sama.

BAB IV
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

74

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

SISTEM PROTEKSI ELEKTRIS GENERATOR PEMBANGKIT UNIT IV PLTG PAYA PASIR 4.1 Umum Dalam proses pembangkitan,transmisi hingga distribusi energi listrik ke konsumen sering terjadi berbagai macam gangguan. Oleh karena itu, diperlukanlah pemasangan peralatan pengaman pada unit pembangkit, transmisi dan distribusi. Akan tetapi, dalam laporan kami ini hanya memfokuskan pada pembahasan jenis gangguan dan proteksi pada unit pembangkit saja, serta cara mengatasi gangguan tersebut. Pada saat terjadi gangguan atau ketidaknormalan pada bagian tertentu dari sistem tenaga listrik, maka peralatan proteksi yang terpasang pada bagian tersebut akan bekerja mengatasi gangguan yang terjadi sehingga gangguan tersebut tidak meluas ke bagian yang lain dari sistem. Jika gangguan tersebut tidak diatasi secepat mungkin, maka gangguan itu akan meluas dan dapat merusak bagian bagian sistem yang lain. Alat proteksi yang bekerja sesuai dengan jenis gangguan yang terjadi, misalnya jika gangguan yang terjadi adalah gangguan arus lebih, maka alat proteksi yang bekerja adalah Rele Arus Lebih (OCR). Untuk menjaga kontinuitas kerja generator dalam melayani kebutuhan konsumen akan energi listrik, maka seluruh bagian dari sistem pembangkit energi listrik harus terus bekerja dengan baik. Dengan kata lain, PMT/CB tidak boleh trip agar rangkaian sistem tidak terputus sehingga suplai daya ke beban (konsumen) tetap berlangsung. Jadi, setiap kali terjadi gangguan harus dapat dideteksi dan diatasi sedini mungkin sehingga gangguan tersebut tidak mengganggu kelangsungan kerja sistem pembangkit dan sistem dapat terus bekerja melayani beban (konsumen). Dalam hal ini, peran peralatan proteksi sangatlah penting. Peralatan proteksi berperan dalam mendeteksi dan mengatasi gangguan yang tejadi. Maka, peralatan proteksi harus dipasang pada generator agar ketika terjadi gangguan dapat langsung diatasi sehingga generator tidak mengalami kerusakan. Selain itu, mesin penggeraknya (prime mover) juga harus dilengkapi dengan peralatan proteksi karena mesin penggerak berfungsi untuk menggerakkan generator. Namun, pembahasan peralatan proteksi hanya dibatasi pada bagian proteksi yang bersifat elektris saja. 4.2 Klasifikasi Gangguan pada Generator
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

75

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Beberapa

macam

gangguan

yang

terjadi

pada

generator

unit

pembangkit

diklasifikasikan sebagai berikut : 4.2.1 Gangguan Elektris ( electrical fault ) 4.2.1a. Stator Hubung Singkat Tiga Fasa Salah satu penyebab fatal kerusakan pada bagian stator generator adalah arus lebih. Terjadinya arus lebih pada stator yang dimaksud adalah arus lebih yang timbul akibat terjadinya hubung singkat tiga fasa. Gangguan ini dapat mengakibatkan overheat yang akan merusak isolasi belitan, bahkan hingga dapat merusak belitan itu sendiri. Arus lebih yang ditimbulkan dapat mencapai 5% arus nominal.

Gambar 4.1 Gangguan Stator Hubung Singkat 3 Fasa 4.2.1b. Stator Hubung Singkat Dua Fasa

Gangguan hubung singkat dua fasa lebih berbahaya daripada gangguan hubung singkat tiga fasa, karena disamping akan menimbulkan kerusakan pada belitan maka akan timbul pula vibrasi pada kumparan stator. Kerusaksan lain yang timbul adalah pada poros dan kopling turbin akibat adanya momen putar yang besar. Arus lebih yang ditimbulkan dapat mencapai 25% arus nominal. Gangguan hubung singkat dua fasa juga ada yang disertai hubung singkat ke tanah, namun arus gangguan yang dihasilkan memiliki nilai yang hampir sama dengan hubung singkat dua fasa tanpa hubung singkat ke tanah.

Gambar 4.2 Gangguan Stator Hubung Singkat 2 Fasa 4.2.1c. Stator Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Kerusakan akibat gangguan hubung singkat dua fasa masih dapat diperbaiki dengan menyambung atau mengganti sebagian konduktor, tetapi kerusakan laminasi besi (iron lamination) akibat gangguan satu fasa ke tanah yang menimbulkan overheat akan merusak
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

76

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

isolasi dan inti besi yang sangat serius. Arus lebih yang ditimbulkan dapat mencapai 70% arus nominal.

Gambar 4.3 Gangguan Stator Hubung Singkat 1 Fasa ke Tanah 4.2.1d. Rotor Hubung Tanah Pada rotor yang ungrounded, apabila salah satu sisi terhubung dengan tanah, maka belum akan menimbulkan masalah. Tetapi apabila sisi lain juga terhubung ke tanah, sementara sisi lainnya tetap terhubung ke tanah, maka akan terjadi kehilangan arus pada belitan yang terhubung singkat melalui tanah. Akibat ketidakseimbangan fluksi yang terjadi, timbul vibrasi yang berlebihan dan dapat merusak rotor secara fatal. 4.2.1e. Kehilangan Medan Penguat Hilangnya medan penguat akan membuat putaran mesin naik dan berfungsinya generator sebagai generator induksi karena kehilangan kecepatan sinkronnya. Kondisi ini akan berakibat overheat pada rotor dan pasak (slot wedger) akibat induksi yang bersirkulasi pada rotor. Adapun kehilangan medan penguat dapat disebabkan oleh : a. Jatuhnya (trip) saklar penguat. b. Hubung singkat pada belitan penguat. c. Kerusakan kontak sikat arang pada penguat. d. Kerusakan sistem Automatic Voltage Regulator (AVR).

4.2.1f. Tegangan Tembus Tegangan lebih yang melampaui batas maksimum yang diijinkan dapat berakibat tembusnya (breakdown) desain isolasi yang akhirnya akan menimbulkan hubung singkat

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

77

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

antar belitan. Tegangan lebih dapat dimungkinkan oleh putaran lebih atau kerusakan pada pengaturan AVR dan juga sambaran kilat.

4.2.2 Gangguan Mekanis ( mechanical fault ) 4.2.2a. Generator Berfungsi Sebagai Motor Generator berfungsi sebagai motor atau motoring adalah peristiwa berubahnya fungsi generator menjadi motor akibat dari adanya daya balik (reverse power). Daya balik terjadi disebabkan oleh turunnya daya masukan dari prime mover. Dampak kerusakan akibat motoring adalah lebih kepada penggerak itu sendiri. Pada turbin uap peristiwa motoring akan mengakibatkan overheat pada sudu-sudunya dan ketidakstabilan pada turbin gas. 4.2.2b. Pemanasan Lebih Setempat Pemanasan lebih setempat pada bagian stator dapat dimungkinkan oleh : a. Kerusakan paralel. b. Kerusakan bagian tertentu di dalam generator seperti pasak stator (stator wedges), terminal ujung belitan, dll. 4.2.2c. Kesalahan Paralel Kesalahan dalam memparalel generator karena syarat sinkron tidak terpenuhi dapat mengakibatkan kerusakan pada bagian poros dan kopling generator dan penggerak utamanya karena terjadi momen putar. Kemungkinan kerusakan lain yang timbul adalah kerusakan PMT dan kerusakan kumparan stator akibat adanya kenaikan tegangan sesaat. 4.2.2d. Gangguan Pendingin Stator Gangguan pada pendingin stator akan menyebabkan overheat pada stator. Apabila suhu belitan melebihi batasan ratingnya, akan terjadi kerusakan belitan yang mengakibatkan kegagalan isolasi dan kebakaran.

4.2.3 Gangguan Sistem ( system fault ) 4.2.3a. Frekuensi Operasi Tidak Normal (Abnormal Frequency Operation) Perubahan frekuensi keluar dari batas normal di sistem akan berakibat pada ketidakstabilan turbin generator. Perubahan frekuensi sistem dapat dimungkinkan oleh
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

78

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

hilangnya daya masukan dari unit pembangkit lain dalam sistem sehingga terjadi kekurangan pasokan daya pada sistem. 4.2.3b. Lepas Sinkron (Out of Synchronous) Adanya gangguan pada sistem akibat perubahan beban secara mendadak, switching, hubung singkat, dan peristiwa lain yang cukup besar serta menimbulkan ketidakstabilan pada sistem. Apabila peristiwa itu cukup dan melampaui batas kestabilan, maka generator akan kehilangan kondisi pararel. Keadaan ini akan menghasilkan arus puncak yang tinggi dan penyimpangan frekuensi operasi keluar dari yang seharusnya sehingga akan menimbulkan terjadinya stress pada belitan generator, gaya putar berfluktuasi dan resonansi yang akan merusak turbin generator. Pada kondisi ini generator harus dilepas dari sistem. 4.2.3c. Pengaman Cadangan (Backup Protection) Kegagalan fungsi di depan generator pada saat terjadi gangguan di sistem akan menyebabkan gangguan masuk dan dirasakan oleh generator, untuk itu diperlukan pemasangan pengaman cadangan. 4.2.3d. Arus Beban Kumparan Tidak Seimbang (Unbalanced Armature Curent) Pembebanan yang tidak seimbang pada sistem atau adanya gangguan satu fasa pada sistem yang menyebabkan beban pada generator tidak seimbang dan menyebabkan arus urutan negatif. Arus urutan negatif yang melebihi rating akan menginduksi arus medan berfrekuensi rangkap dengan arah berlawanan putaran rotor dan akan menginduksikan arus pada rotor yang akan menyebabkan adanya pemanasan lebih dan kerusakan pada rotor. Sistem pengaman Elektris Generator merupakan suatu alat yang digunakan untuk melindungi generator dari gangguan elektris, baik yang ditimbulkan dari luar generator (sebagai contoh, gangguan hubungan singkat pada jaringan transmisi, gangguan pada main transformers, dan pembebanan berlebih) maupun dari internal generator (sebagai contoh, rotor hubungan ketanah, hilangnya eksitasi generator, kenaikan suhu secara berlebih pada stator, dan fluks magnetik berlebih pada stator). Gangguan ini dapat dikenali dengan menggunakan suatu perangkat bernama rele. Rele ini berperan sebagai sensing element, comparison element, dan control element. Peran rele ini adalah berfungsi untuk : Membunyikan alarm dan menutup rangkaian trip dari pemutus rangkaian untuk membebaskan peralatan dari gangguan yang terjadi. Melokalisir akibat dari gangguan untuk mengurangi potensi kerusakan.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

79

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Membebaskan peralatan yang tidak bekerja normal untuk mencegah kerusakan peralatan. Segera membaskan bagian yang terganggu. Memberikan petunjuk atau indikasi dari lokasi serta jenis gangguan Penggunaan rele merupakan penghematan 0.5% himgga 2% harga peralatan yang diamankan.

4.3

Klasifikasi Rele Elektris pada Generator

4.3.1 Skema Penempatan Peralatan Pengaman Elektris pada Generator pembangkit unit VI dengan menggunakan M -3420 Generator pembangkit unit VI PLTG Paya Pasir menggunakan Generator Protection M3420 buatan Beckwith Electric Co.Inc sebagai management relay nya. Dimana, M 3420 ini digunakan oleh operator untuk memonitor apakah terjadi gangguan atau tidak pada generator. Jika terjadi gangguan pada generator, kita dapat mengetahui jenis gangguan apa yang terjadi dengan melihat M 3420 tersebut.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

80

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.4. Skema Penempatan Peralatan Pengaman Elektris pada Generator Unit IV

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

81

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Overexcitation Undervoltage 24 27 Protection

Keterangan :

Directional Power 32 40Loss of Field Protection

46Negative Sequence 50Instantaneous Phase

Overcurrent Protection

Inadvertent 27 50

Energizing Protection

50BF Breaker

Failure Protection 50N 51N Instantaneous Neutral Inverse Time Neutral Overcurrent Protection Overcurrent Protection
51V Inverse

Time Phase Overcurrent Protection Overvoltage 3 Phase 59 Protection

60FL 59NFuse Loss Overvoltage

Neutral Protection Protection

81 Phase Differential 87Frequency

Overcurrent Protection Protection


Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

82

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

External Protection 27 40

87GD Ground

Differential Protection

Jenis rele proteksi yang digunakan pada sistem pengaman elektris generator pembangkit unit IV antara lain : 4.3.1a. Proteksi Eksitasi Lebih ( Overexcitation Protection ) Eksitasi lebih terjadi ketika rasio tegangan per frekuensi (volt/hertz) lebih dari 1,5 pu untuk suatu generator, dampaknya yaitu beberapa pemanasan lebih (overheat) dapat terjadi. Eksitasi lebih dapat terjadi karena selama saturasi inti magnetik generator dan penginduksian fluks yang hilang yang terus berlangsung di dalam komponen komponen yang tidak didesain untuk membawa fluks. Overeksitasi seperti ini paling sering terjadi selama start up dan berhenti ketika unit sedang beroperasi pada frekuensi berkurang atau selama pelepasan beban selesai yang membiarkan kawat transmisi terhubung dengan pusat pembangkit. Kegagalan sistem eksitasi juga dapat menyebabkan overeksitasi. Rele volt/hertz (24) dengan karakteristik waktu berbanding terbalik yang sesuai dengan kemampuan peralatan yang diproteksi dan dengan seting waktu tertentu digunakan untuk memproteksi generator dari overeksitasi. Fungsi suatu rele tegangan lebih dapat memberikan proteksi cadangan sebagian tetapi tidak efektif pada frekuensi operasi yang berkurang. Karakteristik dari rele eksitasi lebih dapat dilihat pada gambar 3.5.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

83

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.5. Karakteristik V/Hz Proteksi Karakteristik V/Hz proteksi pada gambar 4.5 merupakan karakteristik yang digambarkan dari perhitungan definite time delay, definite time pickup dan inverse time pickup dari rele inadvertent energize ini. Fungsi dari rele eksitasi lebih adalah untuk mencegah kerusakan insulasi winding trafo atau generator dari eksitasi lebih yang memperlemah isolasi winding. Selama kondisi eksitasi lebih, terjadi kejenuhan inti magnetik dari generator, karena hal itu akan timbul fluks yang akan diinduksikan ke komponen non-laminasi yang tidak dirancang untuk membawa fluks. Kerusakan dapat terjadi dalam beberapa detik. Dasar penyetelan rele eksitasi lebih adalah tegangan dan frekuensi. Apabila tegangan/frekuensi telah melebihi setting tegangan/frekuensinya maka rele akan bekerja. Overexitacion pada generator biasanya akan terjadi ketika V/Hz melebihi 1,5pu pada dasar generator. Jika kenaikan tegangan diikuti oleh kenaikan frekuensi maka rele tidak akan bekerja karena peralatan tidak mengalami overeksitasi. Rele over eksitasi lebih tepat untuk memproteksi trafo sebab rele tidak hanya memperhitungkan besar tegangan saja tapi juga besar frekuensi. Pada gambar 3.6 menunjukkan wiring diagram dari rele eksitasi lebih.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

84

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.6 Wiring Diagram Rele Overexcitation

Setelan Rele Eksitasi Lebih a.) Untuk setelan Definite Time (24DT) : Tingkatan Pickup : 100 200% tahapan 1% , akurasi -1% Waktu tunda : 30 8160 siklus tahapan 1 siklus , akurasi +25 siklus Indikator : trip dan alarm b.) Untuk setelan Inverse Time (24IT) : Tingkatan Pickup : 100 200% tahapan 1% , akurasi -1% Tingkatan Time Dial (k) : Kurva 1 : 1 100 tahapan 1 Kurva 2, 4 : 0 9 tahapan 0,1 Reset Rate : 1 999 s (dari threshold) tahapan 1 s , akurasi -3 siklus atau 1% Prinsip Dasar Penyetelan Rele Eksitasi Lebih :
t(s)=0,18xK(x-1)2

Dimana

K adalah konstanta setting dari 1 - 10.


85

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

X adalah overexitation acc. Dengan rumus :


X=UfUf set value

4.3.1b. Proteksi Tegangan Kurang ( RMS Undervoltage 3 Protection ) Kondisi tegangan kurang dapat terjadi karena penurunan putaran generator yang dapat disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain kelebihan beban atau kegagalan AVR. Dalam beberapa kasus, kerja sistem bantu generator yang menyuplai via satu unit transformator dari terminal terminal generator dapat diberi pengaruh negatif oleh tegangan kurang yang terjadi dalam waktu yang lama. Rele tegangan kurang berfungsi untuk mencegah jatuh tegangan sistem. Dimana proteksi tegangan kurang dibutuhkan, itu seharusnya terdiri suatu elemen tegangan rendah dan suatu tundaan waktu (time delay) yang terhubung. Setting harus dilakukan untuk mencegah operasi terlarang atau kesalahan operasi selama tegangan yang tidak dapat dihindari menurun selama pemutusan gangguan sistem energi atau terhubung dengan starting motor. Penurunan sementara tegangan ke 80% atau kurang dapat terjadi selama starting motor. Setelan Rele Tegangan Kurang : a.) Tingkatan setting : 5 200 V tahapan 1 V b.) Akurasi pickup : 0,5 V atau 0,5% c.) Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus d.) Akurasi waktu : +20 siklus atau 1% Prinsip Dasar Penyetelan Rele Tegangan Kurang Rele ini akan mendeteksi adanya penurunan tegangan sampai 80% dari tegangan normal generator. Rele ini bekerja dengan sendiri tanpa ada rele cadangan (back up) yang melengkapinya. Pada rele ini diamankan dengan transformator tegangan (PT) sebesar
11000100V. Untuk setting dari rele ini akan digunakan range tegangan kurang mencapai

80% dari tegangan sistem yang ada di generator maka hasil perhitungannya dengan menggunakan rumus : Vminimum = 80% x kVbase
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

86

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

= 0,8 x 11000 V = 8800 V Rekomendasi setting pada rele tegangan kurang ini, kami adaptasi dari cara setting rele tegangan kurang pada PLTG Gresik tipe TMV 311. Sehingga ketika tegangan pada generator berkurang hingga 8800 Volt maka rele tegangan kurang akan segera mendeteksi. Untuk setting tap tegangan yang digunakan pada rele yang terbaca pada sisi sekunder PT dengan rumus : Tap = Vminimum x PT (sisi sekunder) = Vminimum x VsekunderVprimer V = 8800 V x 10011000 V = 80 V Dasar Penyetelan Rele Tegangan Kurang Dasar penyetelan rele tegangan kurang yang kami gunakan adalah dengan mengadaptasi cara penyetelan rele tegangan kurang pada PLTG Gresik tipe TMV 311. Dimana, rele tegangan kurang disetel dengan menggunakan rumus : Vminimum = 80% x kVbase Dan setting tap dilakukan dengan menggunakan rumus : Tap = Vminimum x PT (sisi sekunder) Dengan demikian, ketika terjadi penurunan tegangan generator hingga 80% dari tegangan normal generator maka rele tegangan kurang akan mendeteksi dan memerintahkan CB untuk bekerja (trip) dan rangkaian sistem akan terputus. 4.3.1c. Proteksi Daya Balik (Reverse Power Protection) Relai Daya Balik Dimanfaatkan untuk alat-alat 1. turbin gas dan uap dengan kapasitas 30 MVA atau lebih; 2. hidroturbin kaplan atau francis; 3. mesin-mesin diesel.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

87

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Fungsi dari rele daya balik adalah untuk mendeteksi aliran daya balik aktif yang masuk pada generator. Berubahnya aliran daya aktif pada arah generator akan membuat generator menjadi motor, dikenal sebagai peristiwa motoring. Peristiwa motoring ini disebabkan oleh pengaruh rendahnya input daya dari prime mover. Bila daya input tidak dapat mengatasi rugi-rugi daya yang ada maka kekurangan daya dapat diperoleh dengan menyerap daya aktif dari jaringan. Selama penguatan masih ada maka aliran daya aktif generator sama halnya dengan saat generator bekerja sebagai motor, sehingga daya aktif masuk ke generator dan daya reaktif dapat masuk atau keluar dari generator. Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya antara generator dan motor memiliki konstruksi yang sama dan jika: 1. 2. generator dihubungkan paralel atau bergabung dalam suatu jaringan dengan generator lain. torsi yang dihasilkan oleh prime mover lebih kecil dari torsi yang dibutuhkan untuk menjaga agar kecepatan rotornya berada pada kecepatan proporsionalnya (dengan referensi frekuensi sistem). 3. terjadi kehilangan torsi dari prime mover (dengan kata lain prime mover seperti turbin atau mesin diesel "TRIP" atau mengalami kegagalan operasi) dan generator masih terhubung dengan jaringan. Karena masih ada kecepatan sisa pada rotornya, sedangkan disisi statornya ada tegangan dari jaringan, sehingga tegangan di stator menginduksi ke lilitan rotor yang berputar. Prinsip kerja dari relai daya balik adalah : Relai daya balik bekerja dengan mengukur arus komponen aktif arus beban, I cos . Ketika generator beroperasi dan menghasilkan daya listrik, maka komponen arus beban I cos bernilai positif. Pada saat terjadi kondisi reverse power atau daya balik maka komponen beban aktif I cos akan berubah bernilai negatif. Dan jika nilai negatif ini melampaui set point relai, maka maka relai daya alik akan bekerja dan beberapa saat kemudian memerintahkan cb untuk membuka.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

88

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.7 Wiring Diagram Rele Daya Balik Pada gambar 4.7. apabila terjadi gangguan pada F1, maka rele akan men-trip CB2, apabila gangguan terjadi pada F2, maka rele tidak akan men-trip CB2 karena arah aliran arus yng terbalik dari kanan ke kiri. Akibat dari peristiwa motoring adalah timbulkan kerusakan pada turbin ketika aliran uap berhenti. Temperatur sudu-sudu akan naik akibat rugi gesekan turbin dengan udara. Untuk itu di dalam turbin gas dan uap dilengkapi sensor aliran dan temperatur yang dapat memberikan pesan pada rele untuk trip. Akan tetapi pada generator juga dipasang rele daya balik yang berfungsi sebagai cadangan bila pengaman di turbin gagal bekerja. Setelan Rele Daya Balik a.) Tingkatan Pickup : -3 3 pu tingkatan 0,001 pu , akurasi 0,002 pu atau 2% b.) Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus , akurasi +16 siklus atau 1% Prinsip Dasar Penyetelan Rele Daya Balik 1. Rele diset untuk daya balik 3% Daya aktif generator = ( PGEN ) = 185 KVA x 0,8 = 1500 KW Arus Nominal Rele ( IN ) = 5A Tegangan Nominal ( VN ) = 100 V Rasio CT = 150/5 A Rasio PT = 10 KV / 100 V

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

89

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Daya Referensi Rele ( PR ) = 3 x UN x IN x CTR x PTR = 3 x 5 x 100 x 30 x 100 = 2598 KW Jika rele harus bekerja pada suatu daya balik yang lebih besar dari 3% (ditujukan pada daya aktif generator ) nilai settingan pada rele dapat dihitung : % Nilai Setting = PGENPRx %P=1500KW2598KW x 3%=2% Oleh karena itu rele harus diset pada 2% 2. Rele diset pada daya balik 1% Daya aktif generator = ( PGEN ) = 210 KW Arus Nominal Rele ( IN ) = 5A Tegangan Nominal ( VN ) = 100 V Rasio CT = 10000/5 A Rasio PT = 15,75 KV / 110 V Daya Referensi Rele ( PR ) = 3 x UN x IN x CTR x PTR = 3 x 100 x 5 x 2000 x 143,18 = 248 MW % Nilai Setting = PGENPRx %P=210MW248MW x 1%=0,846% Karena rele disuplai dari transformator tegangan 110V, setting nyata dari daya balik 1% adalah UUN x 0,846=0,93 1%

3. Rele diset pada daya balik 5% Daya aktif generator = ( PGEN ) = 500 KW ; 400V ; 50Hz Arus Nominal Rele ( IN ) = 5A
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

90

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tegangan Nominal ( VN ) = 230 V Rasio CT = 1000/5 A Dalam hubungan fasa tunggal, PT tidak diperlukan. Daya Referensi Rele ( PR ) = UN x IN x CTR x PTR = 230 x 5 x 200 x 1 = 230 KW PG / phase = 500/3 = 166,66 KW Jadi, % Nilai Setting = PGENPRx %P=166,66KW230KW x 5%=3,62%

4.3.1d. Proteksi Kehilangan Medan ( Loss of Field Protection ) Kehilangan medan penguatan pada suatu mesin sinkron dapat disebabkan oleh kesalahan operator, kegagalan sistem eksitasi, kecelakaan pemutusan (accidental tripping) dari pemutus medan, atau percikan (flashover) dari komutator penguat. Ketika mesin kehilangan penguatan, rotor meningkat dan mesin sinkron bekerja sebagai generator induksi. Akibatnya, mesin mengambil daya reaktif induktif dari sistem dari pada memberikan ke sistem. Selain itu, arus arus yang besar juga terinduksi di dalam gerigi dan piring - piring rotor dan dapat menyebabkan kerusakan termal bagi mesin jika mesin terus bekerja. Dengan demikian rele kehilangan medan ini berfungsi untuk mendeteksi kehilangan medan penguat rotor. Rele kehilangan medan dengan kode 40 ini digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan eksitasi yang diakibatkan oleh gangguan pada AVR (Automatic Voltage Regulator), gangguan penguat medan, hubung singkat pada belitan medan. Hilangnya penguatan pada generator akan mengakibatkan pemanasan yang berlebihan pada kumparan stator serta menyebabkan generator keluar dari sinkronisasi sistem. Pengaman kehilangan penguatan (Loss of Field Relay) bekerja memutuskan pemutus tenaga generator dengan terlebih dahulu membuka alarm agar operator dapat melakukan langkah langkah pengamanan.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

91

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada gambar 4.8 dapat merupakan gambar wiring diagram dari rele kehilangan medan. Berdasarkan gambar 4.8 dapat dijelaskan hilangnya medan penguat rotor dapat dideteksi dengan kumparan yang dipasang paralel dengan main exciter dan kumparan rotor generator. Pada kumparan ini akan mengalir arus yang apabila nilainya kurang dari arus settingan yang diinginkan, maka akan membuat rele mengeluarkan sinyal alarm atau trip.

Gambar 4.8. Wiring Diagram Rele Kehilangan Medan Prinsip kerja dari rele kehilangan medan adalah : Jika circuit breaker medan terbuka, maka beban penuh generator akan hilang dalam waktu 1 detik, tetapi generator akan tetap berputar sebagai induction generator, yang menarik daya reaktif dari bus. Untuk menghindari ini generator dirancang harus trip apabila circuit medan terbuka. Jika generator paralel dengan generator lain, mesin akan terus berjalan sebagai generator induksi. Menarik arus eksitasi (arus pemagnetan ) dari busbar, damper winding beraksi sebagai sangkar tupai. Arus pemagnetan yang disuplai dari unit lain akan mempengaruhi stabilitas unit-unit itu.Hal ini akan menyebabkan overheating belitan stator dan rotor. Medan (field) harus di pulihkan atau mesin harus dimatikan sebelum kestabilan sistem hilang. Output daya ini harus di kurangi sambil berjalan sebagai generator induksi. Arus stator mungkin bertambah sampai di atas arus rating normal selama beraksi sebagai generator induksi. Arus yang tinggi ini dapat menyebabkan tegangan jatuh dan overheating belitan stator.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

92

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Proteksi kehilangan eksitasi dapat dideteksi kondisi kehilangan eksitasinya tanpa respon pada swing beban, gangguan sistem dan transient lain, yang tidak menyebabkan mesin menjadi tidak stabil. Metode aplikasi secara luas untuk mendeteksi kehilangan medan pada generator digunakan rele mho dengan impedansi yang bervariasi seperti yang terlihat pada terminal-terminal generator. Secara umum, proteksi ini disediakan oleh offset zona tunggal (offset satu zona)rele mho elektromagnetik atau rele statis. Offset diset pada satu bagian sumbu reaktansi transien (Xd), dan diameter diset pada sumbu pada sumbu reaktansi sinkron Xd. Ketika impedansi mesin lebih dari 1PU (pada beberapa kasus diatas 2PU), diameter lingkaran menjadi sangat luas. Mungkin ini adalah hasil dari kegagalan operasi selama ayunan daya stabil. Rele digital multi fungsi menyertakan offset dua zona karakteristik mho. Zona satu dapat diset dengan diameter 1PU dan waktu tunda yang singkat dengan perlindungan yang cepat ketika terjadi kondisi kehilangan medan selama banyak beban. Zona kedua diset dengan diameter Xd dan waktu tunda yang lebih lama untuk proteksi selama kondisi beban sedikit pada saat terjadi kegagalan operasi selama ayunan daya. Kedua karakteristik seting rele multifungsi ditunjukkan pada gambar 3.9a. dan 3.9b.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

93

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.9a. Proteksi Kehilangan Medan Offset Satu Zona

Gambar 4.9b. Proteksi Kehilangan Medan Offset Dua Zona Rele kehilangan medan juga memiliki kontrol tegangan sebagai keamanan tambahan. Setelan Rele Kehilangan Medan a.) Setelan Circle Diameter : 0,1 100 tahapan 0,1 , akurasi 0,1 atau 5% 0,5 500 tahapan 0,1 akurasi 0,5 atau 5% b.) Setelan offset : -50 50 tahapan 0,1 , akurasi 0,1 atau 5% -250 250 tahapan 0,1 , akurasi 0,5 atau 5% c.) d.) e.) Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus, akurasi -1 - +3 siklus atau 1% Kontrol Tegangan (urutan positif) : 5 200 V tahapan 1 V, akurasi 0,5 V atau 0,5% Directional Element : tetap pada - 13

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

94

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Prinsip Dasar Penyetelan Rele Kehilangan Medan

Diameter lingkaran : Set point : satu zona dua zona Kenaikan : 1 Akurasi : satu zona Dua zona

: 0,1 - 100,0 : 0,5 - 500,0 . : 0,1 atau 5 % : 0,5 atau 5 %

1. Setting Rele Loss of Field secara umum : Untuk setting dari relai ini dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Menentukan Zsekunder pada sistem : Z base sekunder = Zbase x NCT / NPT (Ohm) Keterangan : NCT = rasio dari transformator arus (CT ) NPT = rasio dari transformator tegangan (PT)

Reaktansi sinkron sekunder sebagai berikut : Xd2 = Z base sekunder x (% Xd)

Reaktansi transient sekunder sebagai berikut : Xd2 = Z base sekunder x (% Xd)

Reaktansi offset sekunder untuk nilai setting tap relai : Xm = Xd2 /2 (Ohm) Setting tap (forward ) sebagai setting diameter dari relai : = Xd2 - Xm

2. Setting Rele Loss of Field pada Rele Tipe P343

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

95

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.10 Diagram Loss of Field Relay Setting sebelumnya : Xa1 = 2 ohm Xa1 + Xb1 = 42.5 ohm Maka, Xb1 = 40.5 ohm delay 2 sec Setting : Xa1 = 0.5 x Xd x CTR/PTR Xd = 30.5% = 0.305 pu reaktansi sub-transient generator Xa1 = 0.5 x Xd x (10000/5) x (110/15750) Xd (ohm) = Xd (pu) x kv x kv/MVA = 0.305 x 15,75 x 15,75/247 = 0,306311993 ohm Xa1 = 2.139 ohm Pembulatan = 2,099 ohms Xb1 = Xd x CTR/PTR Xd (ohm) = Xd(pu) x kv x kv/MVA Xb1 = 2.22 x (15.75 x 15.75/247) x (10000/5) x (110/15750) = 31.14 ohm Pembulatan = 31.2 ohms Waktu tunda = 2 sec untuk trip Sudut Alarm Field Failure = 25 degrees Waktu tunda alarm = 1 sec 4.3.1e. Proteksi Arus Lebih Urutan Negatif ( Negative Sequence Overcurrent Protection ) Gangguan ketidakseimbangan (Unbalanced Faults) dan kondisi kondisi sistem lain dapat mengakibatkan arus 3 fasa tidak seimbang dalam generator. Arus yang tidak seimbang pada stator akan menimbulkan arus urutan negatif dalam stator. Arus urutan negatif ini akan
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

96

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

menimbulkan medan magnet yang berlawanan arah terhadap rotor dan menghasilkan arus putar eddy. Pada permukaan rotor, arus pusar ini akan menimbulkan panas yang pada akhirnya dapat menyebabkan overheat. Efek pemanasan yang ditimbulkan dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur bagian-bagian rotor yang juga dapat menimbulkan getaran pada rotor. Komponen komponen urutan negatif dari arus arus ini mengakibatkan arus arus frekuensi ganda dalam rotor. Fungsi rele arus lebih urutan negatif (46) disediakan untuk memproteksi unit sebelum batas yang telah ditentukan sebelumnya pada mesin dicapai. Seperti yang telah ditentukan oleh standar ANSI, batas batas yang yang digunakan adalah I22 t = K dimana : I2 adalah arus urutan negatif dikalikan dengan tap setting t adalah waktu kerja komponen rele urutan negatif K (Time Dial Setting) adalah konstanta yang telah ditentukan oleh pabrikan mesin Rumus tersebut menunjukkan hubungan antara arus negatif dan batas waktu yang diijinkan mengalir pada generator. Rele arus urutan negatif berfungsi untuk mendeteksi dengan karakteristik invers. Rele multifungsi menyediakan fungsi rele arus lebih urutan negatif dengan suatu variabel tap setting dari 1A 5A dan variabel setting pickup dari 5% 100%. Serta variasi nilai K dari 1 95 yang membuat fungsi rele ini cocok untuk setiap ukuran generator.

Berdasarkan table standart ANSI C50.13 [2] berdasarkan kemampuan dari generator kami sajikan pada table .

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

97

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dari table dapat dilihat kontinuitas kemampuan arus urutan negative dari generator terletak pada rating 5% - 10%. Selama konduktor terbuka atau breaker generator terbuka, arus urutan negative dari generator dapat mencapai rating 10% - 30%. Rele proteksi lainnya pada generator atau pada system tidak akan dapat mendeteksi kondisi ini dan hanya proteksi rele aruslebih urutan negative yang dapat mendeteksi. Ketika generator diproteksi oleh rele elektromekanik, rele ini dapat diset dengan arus pickup minimum 60% dari rating generator. Untuk mencegah kerusakan generator, harus digunakan rele digital dan rele statis dngan arus pickup iset dibawah 3%. Pada gambar 4.11 ditunjukan karakteristik dari rele arus lebih urutan negative.

Gambar 4.11. Karakteristik Rele Arus Lebih Urutan Negatif

Suatu tundaan minimum untuk fungsi rele ini yang diset pada 12 cycle digunakan untuk menghindari pemutusan gangguan. Rele rele juga dapat memberikan tundaan maksimum yang dapat diset oleh user untuk seringnya pemutusan atas ketidakseimbangan yang tidak dapat diperkirakan. Suatu fitur penting yang membantu proteksi generator dari kerusakan akibat ketidakseimbangan yang sering terjadi adalah suatu karakter reset yang linear, yaitu
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

98

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ketika I2 menurun sampai di bawah nilai pickup, pencatat waktu trip (Trip Timer) kembali/reset ke nol secara linear untuk mengikuti karakteristik pendinginan dari mesin. Pemasangan rele arus lebih urutan negative pada generator digunakan untuk mendeteksi arus-arus tidak seimbang pada stator generator. Tempat pemasangan rele arus lebih urutan negative pada stator generator dapat dilihat pada gambar 4.12.

Gambar 4.12 Pemasangan Rele Arus Lebih Fasa Urutan Negatif untuk Arus arus Stator Tidak Seimbang Blok diagram rele arus lebih urutan negative kami sajikan dalam gambar 4.13. Dari blok diagram ini dapat dilihat letak dari rele arus lebih urutan negative dipasang pada system.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

99

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.13 Block Diagram dari Rele Urutan Negatif Jaringan urutan negatif menerima arus fasa generator sebagai masukkan dan menimbulkan suatu tegangan fasa tunggal yang sesuai dengan komponen urutan negatif masukkan. Tap selector transformator arus diatur untuk menyesuaikan dengan arus sekunder beban penuh transformator arus. Sehingga terjadi kalibrasi rele ke harga yang sama dengan nilai dasar per unit generator. Kemudian diikuti oleh suatu Bandpass Filter dengan frekuensi tengah 60 Hz yang diperlukan untuk mencegah harmonik yang terjadi. Function Generator (K set) adalah suatu rangkaian non linear yang mengkuadratkan sinyal masukkan karena dibatasi oleh pengaturan potensiometer K set. Karena kehadiran arus arus yang tidak seimbang, integrator difungsikan oleh detektor tingkat pemutusan, dan hal ini akan mengakibatkan pemutusan jika ketidakseimbangan tidak dihilangkan. Ketika detektor tingkat pemutusan bekerja, detektor juga menyalakan lampu indikator untuk menunjukkan kepada operator atau penguji bahwa batas telah dilewati. Ada 2 kondisi waktu yand dikendalikan oleh detektor tingkat pemutusan. Yang pertama adalah suatu kondisi pengaman yang diperlukan untuk memastikan bahwa pemutusan tidak dapat terjadi untuk sekurang kurangnya 0,2 detik setelah pickup. Kondisi waktu yang kedua menyediakan suatu batasan waktu pada integrasi yang mengakibatkan pemutusan tidak lebih dari 250 detik setelah pickup detektor tingkat trip.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

100

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Satu kondisi tambahan adalah suatu meteran eksternal yang dapat diletakkan jauh dan dikalibrasikan secara langsung dalam nilai arus urutan negatif per unit. Ini sangat penting dalam pembatasan ketidakseimbangan secara langsung setelah alarm berbunyi. Setelan Rele Urutan Negatif a.) Untuk Definite Time Tingkatan Pickup : 3 100% tingkatan 1% , akurasi 0,5% dari 5 A Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus , akurasi -1 - +3 siklus atau 1% b.) Untuk Inverse Time Tingkatan Pickup : 3 100% tingkatan 1% , akurasi 0,5% dari 5 A akurasi 0,5% dari 1 A Time dial setting (k) : 1 95 tahapan 1 , akurasi 3% atau 3 siklus c.) Untuk Definite Time Maksimum Tingkatan waktu trip : 600 65500 siklus tahapan 1 siklus, akurasi -1 - +3 siklus atau 1% Waktu reset : 4 menit dari threshold

Prinsip Dasar Penyetelan Rele Urutan Negatif Arus fasa urutan negatif dalam stator generator karena pembebanan yang tidak seimbang atau gangguan menginduksikan arus arus eddy frekuensi ganda dalam rotor. Arus ini jika dibiarkan berlanjut dapat menyebabkan pemanasan berlebih dan fungsi rele arus fasa urutan negatif memutuskan mesin sebelum suhu yang berlebihan terjadi. Karakteristik waktu dari mesin untuk mencegah pemutusan. Prinsip dasar penyetelan : Untuk setting relay ini apabila relay terhubung pada sisi sekunder dari transformator arus (CT) maka rumus yang digunakan : Irelay = Ibase x CT (sisi sekunder) = Ibase x IsekunderIprimer
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

101

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Untuk rumus-rumus yang digunakan untuk menentukan nilai I2 pada relay ini (GEC ALSTHOM,p 312.)yaitu : (I2)2t = K Keterangan : I2 = Arus urutan negatif saat generator berbeban K = Konstanta dari generator dengan T = waktu kerja relay Dimana nilai K pada masing-masing tipe generator berbeda beda. Beberapa contoh penyetelan rele arus urutan negatif : 1. Rating kemampuan menahan arus urutan negatif I2S generator = 10% I22t generator = 7,5

Karakteristik rele urutan negatif (CTN31 of English Electric Co) I2S K3 7,5% 1 10% 1,78 15% 4 20% 7,1 30% 16

I22t = K1 x K3 K1 dapat dipilih antara 1 10 Setting : Pilih salah satu setting I2S dari tabel yang mendekati rating kemampuan menahan arus fasa urutan negatif generator yang berlanjutan, mis : I2S = 10% Pilih nilai K3 dari tabel karakteristik rele, mis : K3 = 1,78 Pilih setting pengali waktu K1 dari rumus : I22t = K = K1 x K3 Mis : K1 x K3 = 7,5
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

102

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

K1 = 7,5/1,8 = 4,21 Pilih nilai tap yang lebih rendah dari K1 yang paling mendekati yang tersedia, mis : K1 = 3,9 Perbandingan dari waktu bekerja rele dengan waktu kemampuan menahan arus gangguan dari generator pada 5 x arus setting rele : Waktu generator mampu bertahan terhadap arus gangguan : tm = K/ I22t = 7,55 x 0,12=30 sec Waktu kerja rele dari grafik karakteristik rele ketika K1 adalah 1 dan pada 5 x arus setting adalah 7 sec. Jadi waktu bekerja rele tr = K1 x (bekerja ketika K1 = 1) Mis : tr = 3,9 x 7 = 27,3 sec

2. Rating kemampuan menahan arus tidak seimbang I2S generator = 40% Parameter parameter generator : Arus nominal : 800 A Rasio CT : 1000/5 A Arus tidak seimbang yang masih diizinkan berlanjut I2S = 40% ; I22t generator = 60 s Ketentuan rele : Arus nominal In = 5A Range setting I2t = 0,02 0,5 x In I2w = 0,02 0,5 x In Waktu yang dapat dipilih T (DEF) = 1 200 sec
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

(trip) (warning)

103

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

T(INV) = 300 3600 sec Karakteristik pemutusan (inverse) t = TI2I2s2 - 1 dimana : t = waktu tripping T = konstanta thermal time Arus normal sekunder CT = 800 x (5 / 1000) = 4 A Arus urutan negatif berhubungan dengan sisi sekunder CT yang masih dapat diizinkan berlanjut I2S = 4 x (40 / 400) = 1,6 A Setting I2S = I2S sekunder In = 1,6 / 5 = 0,32 Konstanta waktu T untuk pemilihan karakteristik pemutusan : T = I22t / I2s = 60 / (40)2 = 375 atau 360 sec Untuk peringatan I2w dapat diset pada suatu nilai yang lebih rendah yaitu 35%. Setting I2w = 35% x IN.GCTR x IN=0,35 x 80010005 x 5=0,28 tW dapat diset pada suatu waktu yang tetap yaitu 5 sec.

Rating kemampuan menahan arus tidak seimbang I2S generator = 5% Parameter parameter generator : Arus nominal : 9060 A Rasio CT : 10000/5 A Arus tidak seimbang yang masih diizinkan berlanjut I2S = 5% ; I22t generator = 8 s Ketentuan rele : Arus nominal In = 5A (type RARIB of ASEA)
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

104

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Karakteristik kerja t = InI22x K ; dimana : K = I22t adalah konstanta generator Arus setting rele = I2S = 9060 x (5 / 10000) = 4,53 A atau (4,53 / 5) x In = 0,906In K = 8 pada rele Karakteristik kemampuan menahan arus urutan negatif secara berlanjutan 5% berarti bahwa perbedaan maksimum antara arus fasa adalah sekitar 10%. Jadi, trip rele diset pada 8% dan alarm rele diset pada 4%.

4.3.1f. Proteksi Arus Lebih (Overcurrent Protection ) Gangguan arus lebih pada generator seringkali terjadi akibat adanya hubung singkat atau beban lebih. Pada saat ini, generator telah dibuat sedemikian rupa sehingga mampu bertahan terhadap adanya arus lebih, meskipun tidak terlalu lama. Namun demikian proteksi terhadap arus lebih sangat diperlukan agar generator terhindar dari kerusakan akibat arus lebih yang berkepanjangan. Relai arus lebih digunakan sebagai proteksi generator terutama terhadap gangguan- gangguan di depan pemutus tenaga generator, baik antarfase maupun gangguan fase tanah. Untuk pengamanan terhadap hubung singkat pada generator, relai dipasang pada dua fase. Sedangkan untuk pentanahan langsung, diperlukan relai arus lebih untuk ketiga fase. Relai arus lebih merupakan suatu relai yang bekerjanya berdasarkan adanya kenaikan arus yang melebihi suatu nilai pengaman tertentu dan dalam jangka waktu. tertentu. Relai arus lebih dikategorikan menjadi 3, yaitu relai arus lebih seketika (instantaneous over current relay), relai arus lebih dengan karakteristik tunda waktu (definite time over curent relay), dan relai arus lebih dengan karakteristik tunda waktu terbalik (inverse time over current relay). Relai arus dengan karakteristik tunda waktu tertentu, yaitu suatu relai yang jangka waktu mulai relai arus pickup sampai selesainya kerja relai diperpanjang dengan nilai atau waktu tertentu. Dengan demikian apabila arus yang mengalir telah melebihi besarnya arus seting maka relai akan bekerja sesuai waktu penundaan yang telah ditetapkan.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

105

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

A B C

51

rele arus lebih

52

52

52

52C 52TC

baterai

Gambar 4.14 Wiring Diagram Rele Overcurrent Secara Umum Prinsip kerja rele arus lebih secara umum : Ketika terjadi gangguan, arus yang mengalir melalui CT, yaitu I akan mengalami peningkatan dan yang terbaca oleh CT dan menuju ke rele arus lebih C, yaitu Ir akan meningkat. Jika Ir melebihi nilai arus pickup yang telah diset pada rele arus lebih C, rele akan aktif dan mengenergize tripping coil TC yang kemudian akan membuka kontak pemutus CB sehingga gangguan terputus dari sistem. Setelan rele arus lebih Penentuan setting relay arus lebih terbagi 2 yaitu : 1. Pada gangguan fasa Gangguan fasa yang dimaksud adalah gangguan hubung singkat 2 fasa dan 3 fasa. Lokasi transformator arus untuk relay gangguan fasa adalah di masing- masing kawat fasa sehingga dibutuhkan 3 elemen relay arus lebih untuk sistem 3 fasa. Pada dasarnya relay gangguan fasa
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

106

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

tidak boleh bekerja pada beban maksimum, namun diusahakan relay gangguan fasa dapat berfungsi sebagai pengaman beban lebih. Arus pick up sinonim dengan arus setting relay yang berarti nilai arus minimum relay yang mengakibatkan terbukanya kontak pemutus tenaga. Sehingga penyetelan arus pick up minimum adalah : I set = (1,1 s/d 1,3 ) * Ibeban I ( arus beban) biasanya ditentukan oleh kapasitas arus penghantar (current carrying

beban

capacity) atau harga pengenal arus transformator arus. Selain relay gangguan fasa berfungsi sebagai relay pengaman utama juga berfungsi sebagai pengaman cadangan untuk seksi berikutnya pada arus gngguan minimum. Dalam hal ini diambil gangguan 2 fasa pada saat pembangkitan minimum sehingga : I setmax = Kf * Ihs2fasa Dimana : I setmax = penyetelan arus kerja maksimum Kf Ihs2fasa = faktor keamanan dalam hal ini bernilai 0,8 = arus gangguan 2 fasa pada pembangkitan minimum di seksi berikutnya

1. Pada gangguan tanah Pengaman relay arus lebih gangguan tanah hanya dapat diterapkan pada sistem yang ditanahkan. Hal ini disebabkan pada sistem dengan pentanahan mengambang,besarnya impedansi urutan nol tak terhingga sehingga tidak ada arus gangguan satu fasa ke tanah yang dapat mengalir. Pada dasarnya relay gangguan tanah mendeteksi arus sisa (residual current ) pada saluran. Karena relay gangguan tanah hanya bekerja jika terjadi gangguan tanah,maka penyetelan arusnya dapat serendah mungkin, namun untuk sistem 3 fasa 4 kawat harus dipertimbangkan adanya arus ketidakseimbangan yang mungkin timbul. Pada umumnya penyetelan arus pick up minimum adalah : I set = (0,3 0,5) * Ibeban I
beban

(arus beban ) biasanya ditentukan oleh kapasitas arus penghantar ( current

carrying capacity) atau harga pengenal transformator arus.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

107

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Penentuan setting waktu kerja relay arus lebih baik relay arus gangguan fasa maupun relay gangguan tanah yang letaknya paling ujung atau level tegangan terendah adalah secepat mungkin. Adapun untuk penyetelannya untuk arus lebih waktu tertentu adalah 0,2 sampai 0,3 detik, sedangkan relay arus lebih dengan waktu terbalik (inverse time) dipilih TMS ( Time Multiplier Setting) terkecil atau terendah. Penentuan setting waktu kerja di seksi hulunya didasarkan bahwa relay yang berdekatan harus selektif. Dengan demikian harus ada beda waktu kerja atau grading time untuk relay yang berdekatan. Pada umumnya t diambil 0,4 sampai 0,5 detik didasarkan adanya : Kesalahan relay waktu pada kedua relay waktu yang berurutan 0,2 sampai 0,3 detik Overshoot 0,05 detik Waktu pembukaan pemutus tenaga maksimum 0,1 detik Faktor keamanan 0,05 detik

Penyetelan waktu berdasarkan pada pembangkitan maksimum dan kemudian diperiksa pada pembangkitan minimum apakah semua relay masih dapat berfungsi sebagai pengaman cadangan seksi berikutnya. Bila ternyata untuk pembangkitan minimum tidak dapat sebagai pengaman cadangan seksi berikutnya, maka perlu ditinjau kembali penyetelan arusnya. Kalau penyetelan arusnya tidak dapat diturunkan karena relay akan salah kerja dengan adanya arus beban maksimum, maka harus dipilih relay jenis lain, misalnnya relay arus lebih yang dikontrol tegangan. Pada generator pembangkit unit VI digunakan rele arus lebih netral sesaat (Instantaneous Neutral Overcurrent Relay), arus lebih fasa sesaat (Instantaneous Phase Overcurrent Relay), arus lebih netral inverse (Inverse Neutral Overcurrent Relay) dan arus lebih fasa inverse (Inverse Phase Overcurrent Relay).

Instantaneous Phase Overcurrent Relay Instantaneous Overcurrent Relay (50N) digunakan pada netral generator untuk

mendeteksi arus tidak seimbang urutan nol yang mengalir selama gangguan tanah. Rele instantaneous phasa overcurrent tidak memiliki tudaan waktu atau jangka waktu mulai saat rele arusnya pickup sampai selesai sangat singkat (sekitar 20-100 ms). Prinsip kerja dari rele instantaneous phasa overcurrent adalah arus masukan dari system yang diamankan diubah ketegangan searah dengan menggunakan trafo atau transaktor dan
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

108

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

penyearah. Keluaran penyearah kemudian mengalir kebasis transistor T1. Keluaran tadi diatur melalui resistor R2 dan diratakan dengan kapasitor C2. Pada kondisi normal transistor T1(NPN) dan transistor T2(PNP) dalam kondisi off. Pada saat tegangan basis T1 melebihi nilai pickup yang telah ditentukan melalui potensiometer (pe), maka T1 akan bekerja sehingga menyebabkan T2 juga bekerja yang selanjutnya ada arus yang mengalir yang menyebabkan relay Tr bekerja. Termistor (Th) dikolektor T1 dimasukkan sebagai kompensasi suhu, sedangkan diode D sebagai pengaman rele. Besarnya arus kerja dapat diatur melalui tap-tap trafo bantu dan potensiometer Pe. Pada rele arus lebih seketika tidak diperlukan waktu reset yang cepat, sebab nilai setting jauh lebih besar dari pada arus yang mengalir. Gambar wiring diagram rele instantaneous phasa overcurrent rele pada gambar 4.15.

Gambar 4.15 Wiring Diagram Instantaneous Phase Overcurrent Relay Koordinasi dengan Rele rele External Arus pickup diset pada 1.0 240.0 A, kenaikan 0.1 A, Akurasi 0.1 A atau 3% (0.02 atau 3%). Respon waktu trip diset pada 2 cycle. Akurasi 2 cycle

Inverse Time Neutral Overcurrent Relay

Relay dengan kode peralatan 51N juga biasa disebut gangguan hubung tanah. Relay ini dipasang pada sirkuit stator yang biasa terkena gangguan hubung tanah. Prinsip kerja dari relay ini yaitu mendeteksi adanya kebocoran tahanan isolasi antar belitan stator dengan frame generator dan juga mendeteksi gangguan hubung tanah yang
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

109

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

terjadi pada sirkuit yang berhubung dengan sirkuit stator dari generator sehingga menghasilkan arus urutan nol. Setelah karena setiap gangguan hubung tanah menghasilkan arus urutan nol. Setelah itu relai hubung tanah pada sirkuit 3 fasa ini dengan menjumlahkan melalui transformator arus ke 3 fasa yang ada. Apabila tidak terjadi gangguan hubung tanah maka jumlahnya tidak sama dengan nol sehingga relay akan bekerja. Adanya gangguan hubung tanah pada stator harus segera diatasi, sebab gangguan ini dapat menimbulkan panas yang berlebihan, kerusakan laminasi alur generator bahkan kebakaran sehingga diperlukan relay pengaman yang baik. Untuk setting dari relay ini yaitu menghitung terlebih dahulu gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah. Dan pada umumnya pengaman ini hanya bisa mengamankan hingga 95% dari winding stator sehingga hanya 5 % saja yang biasa diproteksi. Gambar 4.16 merupakan gambar wiring diagram rele inverse time neutral overcurrent relay.

Gambar 4.16 Wiring Diagram Rele Inverse Time Neutral Overcurrent Relay dengan Pembumian Low impedance Syarat untuk setting wakktu ( TD / Time dial atau TMS/ Time Multiple setting ) dari relay arus lebih jenis ini, harus diketahui data-data sebagai berikut : - Besarnya arus hubung singkat pada setiap bus - Penyetelan / setting arusnya (IS) - Kurve karakteristik relay yang dipakai Kerja relay secara keseluruhan harus cepat bereaksi dan selektif, sehingga waktu kerja relay untuk dua bus yang berurutan pada lokasi gangguan yang sama harus mempunyai beda waktu t minimum 0,4 s/d 0,5 detik.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

110

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Penyetelan arus untuk relay invers Kd = 1,0 Kfk= 1,1 Tap setting diset pada 0.5 12.00 A (0.1 2.4), tahapan 0.01 A Setting waktu tunda 0.5 11 detik, tahapan 0.1, akurasi 3 cycle atau 3 %

Inverse Time Phase Overcurrent Relay

Gambar 4.17 Wiring Diagram Inverse Time Phase Overcurrent Relay Prinsip dasar perhitungan penyetelan arus Batas penyetelan minimum relay arus lebih dinyatakan bahwa relay arus lebih tidak boleh bekerja pada saat terjadi beban maksimum, sehingga dapat ditulis suatu persamaan sebagai berikut:
Is=kfkkdImaks

Dengan : Is : penyetelan arus Kfk : faktor keamanan, antara 1,1 1,2 Kd : faktor arus kembali Imaks : arus maksimum yang diijinkan pada peralatan yang diamankan (diambil nilai plus nominalnya). Batas penyetelan maksimum relay arus lebih
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

111

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Yang dimaksud batas penyetelan maksimum relay arus lebih adalah relay harus bekerja bila terjadi gangguan hubung singkat pada rel berikutnya

Gambar 4.18 Jaringan listrik yang terbagi dalam 3 zona Berdasarkan gambar 4.18, relay yang terdapat di A merupakan pengaman utama zona AB, sebagai pengaman cadangan untuk zone berikutnya AB dan C. Batas penyetelan maksimum : Is = His 2 fase pada pembangkit minimum 1. Relay arus lebih definite Penyetelan arus Is : Is=kIn Dengan : k : konstanta perbandingan, besarnya tergantung dari pabrik pembuatnya, (umumnya 0,6 1,4 atau 1,0 2,0) In : arus nominal, dapat merupakan dua nilai yang merupakan kelipatannya. (misal 2,5 A atau 5,0 A; 1,0 atau 2,0 A dan seterusnya. Tap setting diset pada 0.5 12 A (0.1 2.4), tahapan 0.01A Setting waktu tunda 0.1 11 detik, tahapan 0.1 detik, akurasi 3 cycle atau 3 % Control tegangan 5 200 volt, tahapan 1 volt, akurasi 0.5 volt atau 0.5 % 4.3.1g. Proteksi Kecelakaan Energize (Inadvertent Energizing Protection) Kecelakaan energize generator ketika tidak berputar dapat menyebabkan kerusakan yang hebat bagi generator. Penyebab kecelakaan energize adalah dengan generator pada keadaan tidak berputar, penutupan circuit breaker mengakibatkan generator bekerja sebagai suatu motor induksi; belitan medan (jika tertutup) dan rangkaian rangkaian pembatas/besi
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

112

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

padat rotor bekerja sebagai rangkaian rotor. Arus arus yang sangat tinggi diinduksikan dalam komponen komponen rotor ini, juga terjadi dalam stator, dengan kelebihan panas (overheating) yang sangat cepat dan kerusakan. Oleh karena itu proteksi kecelakaan energize diperlukan untuk mencegah kelebihan panas (overheating). Kombinasi rele tegangan rendah stator dan rele arus lebih stator dapat mendeteksi kondisi ini. Suatu elemen arus lebih sesaat digunakan, dan digerbangkan dengan suatu elemen tegangan rendah 3 fasa (disuplai dari suatu VT pada sisi generator dari circuit breaker) untuk memberikan perlindungan. Elemen arus lebih dapat memiliki suatu setting yang rendah, karena operasi diblok ketika generator sedang bekerja secara normal. Tegangan setting harus cukup rendah untuk memastikan bahwa operasi tidak dapat terjadi selama gangguan gangguan sementara. Setting sebenarnya adalah sekitar 50% dari tegangan nominal. Kegagalan VT dapat menyebabkan kegagalan operasi. Oleh karena itu, elemen ini harus dicegah pada kondisi tersebut. Dalam rangkaian logika rele kecelakaan energize menggunakan overcurrent dan under voltage rele sebagai komponen utama dari rele ini. Elemen undervoltage dan rele overcurrent dengan waktu tunda disetting. Detektor otomatis undervoltage dan rele overcurrent akan trip saat generator dimatikan. Undervoltage dan overcurrent rele tidak bekerja saat generator bekerja. Rangkaian logika rele kecelakaan energize dapat dilihat pada gambar 4.19.

50 overcurrent I>PU

AND

Program output contact

27 undervoltage V<PU

Pickup Delay Dropout Delay

Gambar 4.19. Inadvertent Energizing Protection Logic Dari gambar 4.19 dapat dilihat program logika dari rele kecelakaan energize menggunakan rele arus lebih dan rele tegangan kurang sebagai elemen pendukungnya. Rele
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

113

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

tegangan kurang menggunakan setting pickup delay dan drop out delay. Kemudian rele arus lebih dan rele tegangan kurang digabungkan dalam suatu rangkaian logika AND dan dihasilkan kontak program keluaran. Sedangkan wiring diagram dari rele kecelakaan energize dapat dilihat pada gambar 4.20.

Gambar 4.20 Wiring Diagram Inadvertent Energizing Relay

Prinsip dasar penyetelan rele inadvertent energizing


a) Tidak diperlukan hubungan dengan rele lain karena rele bekerja ketika generator

offline. Tipical setting pickup 0.5A. Rumus yang digunakan adalah : Irele = Iprimer/CTratio b) Kegunaan detector tegangan kurang adalah untuk menentukan apakah unit trhubung ke system. Level tegangan selama accidental energizing tergantung pada kekuatan system. Tipical setting adalah 50% 70 % dari tegangan nominal. Rumus yang digunakan Vrele = Vprimer/VTratio c) Setelan waktu tunda adalah waktu bagi unit untuk mengoperasikan rele. Ini harus dikoordinasikan dengan proteksi lain dalam kondisi yang disebabkan oleh tegangan rendah. d) Drop-out time delay adalah waktu yang diperlukan oleh unit untuk membuka kontak rele proteksi (rele tidak bekerja) ketika tegangan meningkat diyas nilai setelan atau generator one line.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

114

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.21 Internal Wiring Diagram Rele Proteksi Inadvertent Energizing Tipe RAGUA

Dari gambar 4.21. internal wiring diagram dari rele kecelakaan energize. Tiga unit arus lebih tipe RXIB 2 dengan waktu kerja sekitar 4 ms memerintahkan pemutusan jika tegangan terminal generator di bawah nilai setelan tegangan dari dua unit tegangan lebih tipe RXEG 2. Timer (pos 143) mencegah pemblokiran fungsi sesaat oleh pulsa tegangan transien yang akan muncul pada terminal terminal mesin ketika breaker secara tidak sengaja tertutup. Timer (pos 343) aktif ketika generator bekerja dan tundaan waktu setelan mencegah kegagalan operasi dari rele yang terdekat dengan gangguan. Rele RXSF 1 (pos 331) bekerja jika tegangan salah satu unit undervoltage RXEG 2 hilang (turun).

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

115

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Setelan Rele Inadvertent Energizing a.) Untuk Rele Arus Lebih Tingkatan Pickup : 0,5 15 A tahapan 0,01 A , akurasi 0,1 A atau 2% 0,1 3 A tahapan 0,01 A , akurasi 0,02 A atau 2% b.) Untuk Rele Tegangan Kurang Tingkatan Pickup : 40 130 V tahapan 1 V akurasi 0,5 V Tingkatan waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus -1 - +3 siklus atau 1% Drop-out Time Delay : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus -1 - +3 siklus atau 1%

4.3.1h. Proteksi Kegagalan Pemutus ( Breaker Failure Protection) Rele proteksi kegagalan breaker (pemutus) digunakan untuk mendeteksi apakah arus masih terus mengalir pada rangkaian yang terganggu. Oleh karena itu menggunakan suatu rele pengamat arus yang menggunakan setelan waktu tunda. Dimana, jika arus tetap mengalir pada rangkaian yang terganggu dengan besar yang mencapai pickup dan setting waktu tunda maka dinyatakan breaker gagal bekerja dan rele kegagalan breaker akan memerintahkan pemutus cadangan (backup breakers) untuk trip (terbuka). Sehingga gangguan dilepaskan dari sistem. Kondisi kegagalan pemutus (breaker) bekerja dapat ditunjukkan dengan bentuk bentuk sebagai : Kegagalan untuk memutus Proteksi cadangan diperlukan untuk kasus dimana breaker gagal bekerja ketika diperlukan untuk trip. Proteksi ini terdiri dari suatu detektor arus yang dihubungkan dengan suatu timer yang diinstruksi oleh setiap rele proteksi dalam zona generator. Ketika detektor ini menunjukkan bahwa breaker belum bekerja pada saat waktu tunda telah lewat, rele kegagalan breaker akan memerintahkan pemutusan dari breaker breaker cadangan.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

116

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Percikan Breaker Percikan breaker adalah suatu bentuk kegagalan breaker yang dapat menyebabkan kerusakan tertentu pada generator karena energize yang tidak direncanakan (kecelakaan energize). Resiko dari flashover yang paling besar adalah sesaat sebelum sinkronisasi atau sesaat setelah generator dilepas dari sistem. Kondisi percikan breaker dapat dideteksi rele urutan negatif atau rele arus lebih pembumian, tetapi tundaan waktu yang dihubungkan dengan ketiga rele ini sangat panjang. Suatu rele arus lebih sesaat yang dihubungkan pada netral transformator step up generator dapat melakukan pendeteksian yang cepat terhadap percikan breaker dan dapat digunakan untuk memberikan sinyal penanda kegagalan breaker pada rele kegagalan breaker (Breaker Failure Protection). Gambar 3.22 menunjukkan blok diagram dari proteksi breaker failure.

Gambar 4.22 Blok Diagram dari Proteksi Breaker Failure Kerja dari suatu proteksi kegagalan breaker diakibatkan oleh gabungan sinyal sinyal pemicu dari rele rele proteksi generator, rele arus lebih dan sakelar sakelar bantu breaker melalui suatu timer. Beberapa kondisi proteksi yang telah dimodifikasi juga diperlukan dalam rangkaian pemicu sinyal pemutus dari netral rele arus lebih transformator step up utama. Perubahan ini diperlukan untuk perlindungan terhadap flashover pada breaker. Dimana,
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

117

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ketika pembusuran terjadi sepanjang kontak kontak breaker karena tegangan tinggi. Proteksi didesain untuk beroperasi terhadap flashover dari dua kutub. Setelan Rele Kegagalan Breaker a.) Tingkatan Pickup : Arus Fasa (50BF Ph) : 0,1 10 A tahapan 0,01 A, akurasi -0,1 A atau -2% 0,02 2 A tahapan 0,01 A, akurasi -0,02 A atau -2% Arus Netral (50BF N) : 0,1 10 A tahapan 0,01 A, akurasi -0,1 A atau -2% 0,02 2 A tahapan 0,01 A, akurasi -0,02 A atau -2% b.) Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus c.) Akurasi waktu : -1 - +3 siklus atau 1%

Prinsip Dasar Penyetelan Rele Kegagalan Breaker Untuk Pickup 50BF Ph digunakan rumus : Ipickup = IprimerNetral CTratio Untuk Pickup 50BF N digunakan rumus : Ipickup = IprimerPhase CTratio

4.3.1i.

Proteksi Tegangan Lebih (Overvoltage Protection )

Gangguan tegangan lebih terjadi karena tegangan yang dihasilkan generator melebihi batas nominalnya. Misalnya, disebabkan oleh ketidak beresan penguat magnit (exciter) atau pengaturan penguat magnit yang terlalu besar sehingga mengakibatkan tegangan yang dihasilkan generator melebihi batas nominalnya. Gangguan ini juga bisa disebabkan oleh putaran lebih akibat pelepasan beban yang mendadak. Di dalam generator biasanya sudah dilengkapi dengan pengatur tegangan otomatis atau automatic voltage regulator (AVR) yang akan mengatur kestabilan tegangan keluarannya. Governor pada generator mengatur kecepatan putaran agar putarannya tetap normal. Namun, rentang waktu yang diperlukan cukup lama sehingga pada saat itu terjadi tegangan lebih yang sangat membahayakan piranti piranti listrik lainnya. Tegangan lebih ini akan merusak isolasi kumparan generator termasuk kabel kabel penghubungnya akibat panas yang berlebihan.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

118

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Maka, digunakan rele tegangan lebih (Over voltage Relay) untuk mendeteksi adanya tegangan lebih tersebut. Rele tegangan lebih yang digunakan dilengkapi dengan piranti waktu tunda (time delay) agar diperoleh selektivitas yang memadai. Wiring diagram Overvoltage Relay ditunjukkan oleh gambar 4. 23 di bawah ini.

Gambar 4.23 Wiring Diagram Pengawatan Overvoltage Relay Secara umum, gambar blok diagram rele tegangan lebih ditunjukkan oleh gambar 4.24.

Power Unit RLY 1 Rectifier Setting Level L evel Detector Time Delay Output Element RL Y RLY 2

surge overter

Gambar 4.24 Blok Diagram Rele Tegangan Lebih Berdasarkan gambar 4.24, tegangan output generator diberikan ke rele sebagai masukkan dengan menggunakan suatu PT. Jika tegangan keluaran generator melebihi nilai setting, rele akan bekerja.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

119

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Keluaran rectifier dihubungkan dengan suatu rangkaian yang terdiri dari suatu resistor dan suatu diode zener.Tegangan sepanjang resistor berubah sesuai dengan input dan disuplai melalui suatu potensiometer setting tegangan sebagai sinyal untuk mengukur : RLY1 untuk Alarm RLY2 untuk trip Detektor membandingkan sinyal ini dengan tegangan yang diset. Jika nilai yang diset dilalui, kapasitor waktu memulai pengisisan pada suatu rata rata yang telah dibatasi oleh tahanan dari suatu potensiometer setting waktu. Pengisian ini berlanjut hingga tegangan melewati tingkat yang ada, dimana waktu suatu penggerak dipicu. Suatu pengaturan umpan balik positif memastikan suatu rangkaian cepat untuk mengoperasikan elemen output. Elemen output ini mengoperasikan kontak kontak untuk trip dan alarm eksternal untuk berfungsi sama baiknya dengan indikator yang sedang bekerja. Ketika tegangan dikembalikan ke normal, suatu rangkaian pelepasan yang cepat memastikan jeda yang sangat singkat dan waktu waktu yang lewat. Overvoltage dapat terjadi karena : 1. Overvoltage eksternal karena sambaran kilat 2. Overvoltage internal karena operasi switching Setelan Rele Tegangan Lebih 1.) Rele Tegangan Lebih 3 Fasa a.) Tingkatan setting : 5 200 V tahapan 1 V b.) Akurasi pickup : 0,5 V atau 0,5% c.) Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus d.) Akurasi waktu : +20 siklus atau 1% e.) Typical Pickup : 105% x rated voltage; dimana : Vnom = VgenVTratio 2.) Rele Tegangan Lebih Netral a.) Tingkatan setting : 5 200 V tahapan 0,1 V b.) Akurasi pickup : 0,5 V atau 0,5% c.) Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus d.) Akurasi waktu : -1 - +3 siklus atau 1% e.) Typical Pickup : 5 V (mampu mendeteksi gangguan sekitar 95% belitan stator generator dari ujung terminal.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

120

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Prinsip Dasar Penyetelan Rele Tegangan Lebih Pada rele ini akan dideteksi adanya kenaikkan tegangan sampai 120% dari tegangan normal generator. Kami mengadaptasi cara penyetelan rele tegangan lebih pada PLTG Gresik tipe TMV 311 yang diamankan dengan transformator tegangan (PT) sebesar 11000100 V. Rumus yang digunakan adalah : Vmaksimum = 120% x kVbase = 1,2 x 11000 V = 13200 V Sehingga ketika tegangan pada generator meningkat hingga 13200 Volt maka rele tegangan lebih akan segera mendeteksi. Untuk setting tap tegangan yang digunakan pada rele yang terbaca pada sisi sekunder PT dengan rumus : Tap = Vminimum x PT (sisi sekunder) = Vminimum x VsekunderVprimer V = 13200 V x 10011000 V = 120 V Cara Penyetelan Rele Tegangan Lebih Dasar penyetelan rele tegangan lebih yang kami gunakan adalah dengan mengadaptasi cara penyetelan rele tegangan lebih pada PLTG Gresik tipe TMV 311. Dimana, rele tegangan lebih disetel dengan menggunakan rumus : Vmaksimum = 120% x kVbase Dan setting tap dilakukan dengan menggunakan rumus : Tap = Vminimum x PT (sisi sekunder) Dengan demikian, ketika terjadi peningkatan tegangan generator hingga 120% dari tegangan normal generator maka rele tegangan lebih akan mendeteksi dan memerintahkan CB untuk bekerja (trip) dan rangkaian sistem akan terputus.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

121

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.3.1j. Proteksi Pendeteksian Rugi rugi Fuse VT ( VT Fuse Loss Detection Protection) Kehilangan sinyal VT dapat terjadi karena beberapa sebab, yang paling utama adalah karena kegagalan fuse. Sebab lain adalah mungkin karena kegagalan pengawatan (wiring) atau VT nyata (actual VT), suatu pemasangan perpanjangan yang terbuka, pembukaan karena korosi,atau meledaknya fuse karena hubung singkat obeng selama perawatan on-line. Rugi rugi sinyal VT ini dapat menyebabkan rele proteksi salah bekerja atau pengatur tegangan generator tidak bekerja, mengarah pada kondisi overeksitasi. Beberapa metode pendeteksian diperlukan sehingga pemutusan rele yang terpengaruh dapat dihentikan dan pengatur tegangan dipindahkan ke kerja normal. Secara umum,fungsi fungsi rele proteksi seperti 32, 40, 51V terpengaruh dan dihentikan secara normal ketika rugi rugi tegangan terdeteksi. Fuse loss relay bekerja berdasarkan setting tegangan. Fungsi dari fuse loss relay ini adalah mendeteksi tegangan urutan negative. Jika terjadi tegangan urutan negative, walaupun tidak terjadi arus urutan negative maka rele akan bekerja (trip). Pada generator yang lebih besar, yang paling sering dilakukan adalah menggunakan dua set VT dalam zona proteksi generator seperti diperlihatkan pada gambar (a), VT yang biasanya terhubung Y(ditanahkan) Y (ditanahkan), biasanya memiliki fuse sekunder dan kemungkinan memiliki fuse primer. VT ini digunakan untuk memberikan tegangan pada sejumlah rele proteksi dan regulator tegangan. Jika sebuah fuse meledak di dalam rangkaian VT, tegangan sekunder yang disuplai ke rele rele dan regulator tegangan akan berkurang magnitudenya dan berubah sudut fasanya. Perubahan sinyal tegangan ini dapat menyebabkan kegagalan operasi dari rele rele tegangan dengan waktu tertentu generator dan menyebabkan regulator tegangan berhenti dan overeksitasi pada generator.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

122

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.25 (a.) Aplikasi Proteksi Rele Keseimbangan Tegangan (b.) Pendeteksian Rugi rugi Fuse VT modern dengan Rele Digital

Pada sebagian besar generator ukuran industri, umumnya hanya satu set VT yang tersedia. Tidak mungkin untuk menggunakan rele keseimbangan tegangan jika satu set VT yang kedua tidak ditambahkan. Oleh karena itu, banyak generator tidak memiliki rele proteksi rugi rugi fuse VT. Suatu metode digital modern yang digunakan dalam pendeteksian kegagalan VT (gambar (b)) menciptakan fungsi hubungan dari tegangan tegangan dan arus arus urutan negatif untuk mendeteksi rugi rugi tegangan. Ketika satu sinyal VT hilang, tegangan tiga fasa menjadi tidak seimbang. Karena ketidakseimbangan ini, timbullah tegangan urutan negatif. Untuk menghindarkan kondisi ini dari suatu gangguan, arus arus urutan negatif diperiksa. Kehadiran tegangan urutan negatif dalam ketidakhadiran arus urutan nol menunjukkan kondisi fasa terbuka VT, sebelum gangguan.

Setelan Proteksi VT-Fuse Loss Detection


Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

123

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Kondisi VT-fuse loss dideteksi dengan menggunakan komponen komponen arus dan tegangan urutan negatif dan positif. Dengan waktu tunda 1 8160 siklus tahapan 1 siklus dan akurasi -1 - +3 siklus atau 1%

Prinsip Dasar Penyetelan VT-Fuse Loss Detection a.) Masukkan pengenal adalah rancangan user. Penutupan setiap kontak yang terhubung secara eksternal akan mengoperasikan waktu tunda yang terhubung rele VT-Fuse Loss (60FL) b.) Waktu tunda harus disetel untuk mengatur kondisi kondisi yang mungkin timbul sebagai rugi rugi fuse dan kemudian akan diperbaiki oleh alat proteksi lain. Misalnya, gangguan rangkaian sekunder PT yang akan diamankan oleh rangkaian tegangan rendah local.

4.3.1k. Proteksi Frekuensi Lebih ( Overfrequency Protection ) Rele frekuensi digunakan untuk mendeteksi ketika terjadi penyimpangan dari frekuensi nominal system yang digunakan. Penyimpangan frekuensi dapat menyebabkan kerusakan pada objek yang terhubung ke sistem, seperti generator dan motor, atau ketika frekuensi abnormal terjadi kesulitan untuk daya yang digunakan dan mungkin menyebabkan kerusakan pada peralatan listrik. Rele frekuensi juga digunakan untuk mendeteksi tinggi atau rendahnya frekuensi sistem yang abnormal, seperti gangguan pada unit speed regulation atau sistem yang overload. Rele frekuensi lebih pada umumnya digunakan untuk proteksi pada mesin ac dari kerusakan yang mungkin terjadi saat kondisi overspeed. Kondisi ini bisa saja terjadi, sebagai contoh, pada mesin yang tidak memiliki governor mekanik atau pada mesin dengan mesin shaft yang terhubung ke prime mover atau mesin lain, salah satunya akan mempercepat kombinasi kondisi overspeed. Frekuensi lebih terjadi dapat terjadi akibat beberapa hal :

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

124

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a.)

Jika ditinjau dari segi mesin penggerak generator, frekuensi lebih dapat terjadi akibat pengaturan pemberian bahan bakar yang berlebihan oleh governor pada unit untuk mengatur putaran generator.

b.)

Jika ditinjau dari segi beban sistem, frekuensi lebih dapat terjadi akibat daya aktif yang melebihi kebutuhan beban. Hal ini bisa juga disebabkan oleh pelepasan beban secara mendadak. Dimana, kelebihan frekuensi ini dapat menyebabkan kerusakan pada piranti listrik lain

jika terjadi dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, rele frekuensi lebih digunakan untuk mendeteksi ketika terjadi peningkatan frekuensi lebih dari frekuensi nominal sistem yang digunakan (Indonesia biasanya 50 Hz). Rele frekuensi lebih juga dapat digunakan untuk proteksi pada mesin ac dari kerusakan yang mungkin terjadi saat kondisi overspeed. Kami mengambil satu contoh gambar terminal diagram dari rele frekuensi tipe RAGUA yang ditunjukkan pada gambar 4.26 berikut.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

125

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.26 Wiring Diagram Under/Over Frequency Rele Tabel 1. Adopsi Setting Frekuensi No. Unit 1 2 3 4 5 Kapasitas 30 MW 30 MW 210 MW 210 MW 210 MW 47 Hz ; 0,5 sec delay Setting Trip Underfrequency Setting Trip Overfrequency 54,5 Hz; 21,15 sec delay 54,5 Hz; 21,15 sec delay 52,5 Hz; 1 sec delay 52,0 Hz; 2 sec delay 52,0 Hz; 2 sec delay

Setelan Rele a.) Tingkatan setting : 50 67 Hz tahapan 0,01 Hz 40 57 Hz tahapan 0,01 Hz b.) Akurasi pickup : 0,02 Hz c.) Waktu tunda : 2 65500 siklus tahapan 1 siklus d.) Akurasi waktu : -2 - +3 siklus atau 1%

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

126

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Prinsip Dasar Penyetelan Rele Frekuensi

Gambar 4.27 Karakteristik Pemutusan Rele Frekuensi

a.)

Penyetelan

magnitude

dan

waktu

tunda

(ditunjukkan

pada

gambar

4.27)

menggambarkan suatu kurva yang dikoordinasikan dengan kurva yang menunjukkan kemampuan turbin dan generator berimbang dengan pembagian beban (load-shedding) pada sistem dengan frekuensi kurang (underfrequency). Kemampuan ini ditunjukkan pada daerah di luar operasi, waktu operasi yang dilarang dan operasi berlanjut yang masih diperbolehkan. b.) Rele frekuensi kurang biasanya dihubungkan pada trip sedangkan rele frekuensi lebih umumnya dihubungkan pada alarm. c.) Untuk mencegah kesalahan operasi selama switching transients, waktu tunda harus disetel lebih besar dari 5 siklus.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

127

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.3.1l. Proteksi Frekuensi Kurang (Underfrequency Protection) Kelebihan beban pada suatu generator, mungkin karena kehilangan pembangkitan sistem dan penyuplaian daya pada beban yang tidak mencukupi, dapat menyebabkan operasi generator yang sangat lambat pada frekuensi kurang. Hal ini dapat mengakibatkan masalahmasalah tertentu pada generator turbin gas atau uap yang sanggup merusak jika berada di luar daerah frekuensi normalnya. Turbin biasanya dianggap lebih dilarang daripada generator pada frekuensi kurang karena kemungkinan resonansi mekanis pada banyak bagian dari pisau pisau turbin. Jika kecepatan generator mendekati kecepatan sebenarnya dari pisau turbin, getaran akan meningkat. Penambahan kerusakan terhadap pisau pisau selama getaran berlangsung dapat mengarah kepada keretakkan struktur pisau. Walaupun pelayanan beban (Load-shedding) adalah proteksi utama mengatasi kelebihan beban generator, underfrequency relay (81U) sebaiknya digunakan untuk menyediakan proteksi tambahan. Rele frekuensi rendah harus dapat bekerja dengan baik pada aplikasi untuk mendeteksi kondisi under-speed dari motor sinkron saat digunakan. Manfaatnya pada saat reclosing dari source breaker, kerusakan yang besar pada motor sinkron dapat dihindari dengan memutus hubungan motor dari system. Frekuensi kurang terjadi dapat terjadi akibat beberapa hal : a.) Jika ditinjau dari segi mesin penggerak generator, frekuensi kurang dapat terjadi akibat pengaturan pemberian bahan bakar yang kurang oleh governor pada unit untuk mengatur putaran generator. b.) Jika ditinjau dari segi beban sistem, frekuensi kurang dapat terjadi akibat daya aktif yang tidak memenuhi kebutuhan beban. Hal ini bisa juga disebabkan oleh penambahan beban secara mendadak. Dimana, kekurangan frekuensi ini selain dapat menyebabkan sistem tidak dapat bekerja dengan baik, juga dapat menyebabkan kerusakan pada piranti listrik lain jika terjadi dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, rele frekuensi kurang digunakan untuk mendeteksi ketika terjadi penurunan frekuensi lebih dari frekuensi nominal sistem yang digunakan (Indonesia biasanya 50 Hz). Rele frekuensi kurang juga dapat digunakan untuk proteksi pada mesin ac dari kerusakan yang mungkin terjadi saat kondisi underspeed. Kami mengambil satu contoh gambar terminal diagram dari rele frekuensi tipe RAGUA yang ditunjukkan pada gambar 4.28 berikut.
Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

128

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4.28 Terminal Diagram Rele Frekuensi Rendah Setelan Rele a.) Tingkatan setting : 50 67 Hz tahapan 0,01 Hz 40 57 Hz tahapan 0,01 Hz b.) Akurasi pickup : 0,02 Hz c.) Waktu tunda : 2 65500 siklus tahapan 1 siklus d.) Akurasi waktu : -2 - +3 siklus atau 1%

Prinsip Dasar Penyetelan Rele Frekuensi


Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

129

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a.)

Penyetelan

magnitude

dan

waktu

tunda

(ditunjukkan

pada

gambar

4.28)

menggambarkan suatu kurva yang dikoordinasikan dengan kurva yang menunjukkan kemampuan turbin dan generator berimbang dengan pembagian beban (load-shedding) pada sistem dengan frekuensi kurang (underfrequency). Kemampuan ini ditunjukkan pada daerah di luar operasi, waktu operasi yang dilarang dan operasi berlanjut yang masih diperbolehkan. b.) Rele frekuensi kurang biasanya dihubungkan pada trip sedangkan rele frekuensi lebih umumnya dihubungkan pada alarm. c.) Untuk mencegah kesalahan operasi selama switching transients, waktu tunda harus disetel lebih besar dari 5 siklus.

4.3.1m.Proteksi Diferensial (Differential Protection ) Rele diferensial digunakan untuk mengamankan generator dari kerusakan akibat adanya gangguan internal pada kumparan stator. Dua unit transformator arus (CT) masing-masing dipasang pada kedua sisi kumparan generator, Sekunder CT terhubung bintang yang ujungujungnya dihubungkan melalui kawat-kawat pilot. Pada kondisi normal dan tidak ada gangguan internal, besarnya arus kedua sisi kumparan sama, sehingga arus yang mengalir pada sisi-sisi sekunder CT juga sama. Hal ini menyebabkan tidak ada arus yang mengalir pada rele. Pada saat terjadi gangguan pada kumparan generator, mungkin fase dengan fase atau fase dengan ground, maka arus yang mengalir pada kedua sisi kumparan akan berbeda, sehingga ada arus yang mengalir pada rele. Rele bekerja menarik kontak sehingga kumparan triping mendapat tenaga dari catu daya searah yang selanjutnya akan menarik kontak pemutus tenaga untuk memutuskan hubungan generator dengan sistem. Relai diferensial merupakan suatu relai yang prinsip kerjanya berdasarkan keseimbangan (balance), yang membandingkan arus - arus sekunder transformator arus terpasang pada terminal-terminal peralatan atau instalasi listrik yang diamankan. Single line diagram rele dapat dilihat pada gambar 4.29.

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

130

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 4 .29 Single Line Diagram Rele Diferensial

Berdasarkan gambar 3.28, rele ini memiliki prinsip kerja sebagai berikut : Dalam kondisi normal, tidak ada arus yang mengalir melewati rele diferensial ( Ir = I2 - I2 = 0; rele tidak kerja ). Jika terjadi gangguan di luar peralatan listrik yang diamankan (external fault), maka arus yang mengalir akan bertambah besar, akan tetapi sirkulasinya akan tetap sama dengan pada kondisi normal, sehingga relai pengaman tidak akan bekerja untuk gangguan luar tersebut ( Ir = I2 - I2 = 0; rele tidak kerja ).

Departemen Teknik Elektro M. Habibi Lubis, Ahmad Muhajir Hsb, dan M. Ardiansyah

131

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Jika gangguan terjadi di dalam (internal fault), maka arah sirkulasi arus di salah satu sisi akan terbalik, menyebabkan keseimbangan pada kondisi normal terganggu, akibatnya terdapat arus yang mengalir melalui rele diferensial ( Ir = I2 + I2 0; rele kerja ). Bila arus tersebut lebih besar daripada pickup setting relai pengaman, maka relai pengaman akan bekerja dan memberikan perintah putus (tripping) kepada circuit breaker (CB) sehingga peralatan yang terganggu dapat diputuskan dari sistem tenaga listrik.

Setelan Rele Diferensial a.) Tingkatan setting : 0,2 3 A tahapan 0,01 A 0,04 0,6 A tahapan 0,01 A b.) Akurasi pickup : 0,1 A atau 5% 0,02 A atau 5% c.) Range Persen slope : 1 100% tahapan 1% d.) Akurasi slope : 2% e.) Waktu tunda : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus f.) Akurasi waktu : -1 - +3 siklus atau 1% g.) Typical Pickup : 0,3 A h.) Typical Slope : 10% i.) Typical Waktu Tunda : 1 siklus Prinsip Dasar Penyetelan Rele Diferensial Untuk menjadi rekomendasi kami dalam menyetel rele diferensial, kami mengadaptasi cara penyetelan rele diferensial pada PLTG Gresik tipe TMAD. Dimana, rele ini merupakan rele utama sehingga setelan waktu yang digunakan untuk rele ini adalah sesaat (instantaneous). Rele ini bekerja untuk mendeteksi adanya perbedaan arus yang masuk dan keluar pada generator. Daerah pengamanan kerja dari rele ini dibatasi oleh sepasang transformator arus (CT). Langkah pertama untuk melakukan setting rele yaitu menghitung arus yang masuk ke dalam relai dari arus full load generator sehingga didapatkan nilai sebagai berikut : Irelay = Ibase x CT (sisi sekunder) = Ibase x Isekunder Iprimer
132

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

= 1318,72 X 5/2000 = 3,297 A 3,3 A. Arus yang masuk pada rele sebesar 3,3 A maka rating pada rele yang digunakan di PLTG Gresik ini menggunakan tegangan 110 Vdc dan arus 5 A (In), sehingga rele yang digunakan sudah cukup memadai. Range setting tap arus rele ini memberikan nilai antara 0,2 3,0 A (berdasarkan lampiran). Untuk setting pada relai ini menggunakan persentase slope dan persentase minimum threshold. 1.) Setting Slope Maksud dari setting yaitu nilai toleransi setting rele dari error atau kesalahan pada trafo CT yang berada di sisi sekunder terhubung pada rele karena pada kedua CT ini pasti tidak mungkin memberikan nilai arus yang sama persis pada rele sehingga selisih sedikit arus bisa ditoleransi dengan menyetel slope agar rele tidak terlalu sensitif. Apabila tidak diberi setelan slope maka rele diferensial akan bekerja secara tiba- tiba meskipun tidak ada gangguan melainkan karena error dari CT. Hal seperti ini menyebabkan circuit breaker 52G akan trip sehingga merugikan pembangkit karena tidak bisa menghasilkan listrik secara optimal dan sistem harus diulang lagi dari awal. Pada setting rele ini dengan setelan slope sebesar 10% maka sebagai perhitungannya untuk setting slope sebesar 10 % dari nilai In sehingga didapatkan nilai : In 10% = 0,1 x 5 A = 0,5 A. Untuk toleransi error dari kerja ini sebesar 0,5 A sehingga apabila ada arus gangguan yang masuk ke dalam rele dengan selisih antara arus I1 dan I2 sebesar 0,5 A maka relai akan bekerja. Dari nilai arus sebesar dari I1 dan I2 sebesar 3,3 A maka dari gambar 4.30 berikut pada saat tidak ada gangguan terlihat arus dari I1 dan I2 saling meniadakan sehinggan rele tidak bekerja. Dengan perhitungan sebagai berikut : Irele = I1 I2
133

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

= (3,3 3,3) A =0A

Gambar 4.30 Jika tidak ada arus gangguan masuk rele Akan tetapi pada praktiknya untuk mendapatkan kedua nilai arus I1 dan I2 yang sama tidak akan mungkin, pasti ada beda selisih meskipun sedikit. Hal ini dapat ditunjukkan oleh gambar 3.31 berikut. Bila salah satu nilai arus I1 atau I2 tidak sama maka dari setelan slope yang telah ditentukan untuk memberikan nilai dimana rele akan bekerja bila salah satu nilai I1 atau I2 mengalami arus sebesar = 3,3 A + 0,5 A = 3,8 A atau pick up mulai 3,8 A.

Gambar 4.31 Gambar arus bekerja bila arus melebihi setelan slope 2.) Setelan threshold minimum Merupakan ambang minimum rele untuk bekerja (pick up). Pada rele diferensial ini harus disetel di atas nilai 0 karena bila diset tepat pada nilai 0 maka rele akan terlalu sensitif sehinggan terlalu mudah untuk bekerja. Untuk perhitungan pertama yang harus dilakukan yaitu menentukan nilai ambang ketidakpekaan (insensitivity threshold). Pada insensitivity threshold telah ditentukan oleh pabrikan ini sebesar 50% dari nilai In. Maka, perhitungannya sebagai berikut : Threshold = % insensitivity threshold x % slope (a) x In
134

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

= 0,5 x 0,1 x 5 A = 0,25 A

Gambar 4.32 Grafik Kerja Rele Diferensial Dari gambar 3.3 di atas terlihat arus selisih pada threshold 0,25 A dan setting slope yang ada 10% sehingga telah sesuai dengan pick up rele yang sebesar 0,5 A dari selisih antara arus I1 dan I2.

4.3.1n. Proteksi Eksternal ( External Protection ) [EXT] Rele eksternal (external protection) digunakan untuk melindungi generator dari gangguan gangguan eksternal dengan cara menyediakan dua fungsi eksternal (tambahan) agar peralatan eksternal (tambahan) dapat terhubung ke trip melalui M-3420. Dimana, gangguan - gangguan eksternal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain hubung singkat, beban lebih dan surja petir. Adanya hubung singkat, mechanical stress pada gulungan stator. Jika mechanical stress sudah terdapat pada gulungan stator maka operasi selanjutnya akan memperparah kondisi gulungan, kenaikan temperature walaupun perlahan- lahan selama 10 detik akan menaikkan temperature ke kondisi yang membahayakan. Gangguan ini dapat menimbulkan asimetri, vibrasi besar dan rotor menjadi overheating. Untuk proteksi generator akibat gangguan ini di gunakan Overcurrent dan Earth Fault Protection sebagai back up protection. Relay differensial digunakan untuk mendeteksi perbedaan arus pada gulungan generator. Generator harus memiliki alat perlindungan yang terhadap berlanjutnya suplai arus short - circuit pada suatu gangguan dalam elemen elemen sistem yang berdekatan karena kegagalan rele proteksi primer. Rele arus lebih dengan waktu berbanding terbalik yang sederhana cocok untuk gangguan gangguan fasa tunggal ke tanah. Untuk gangguan

135

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

gangguan fasa, suatu rele arus lebih waktu berbanding terbalik dengan tegangan terkendali atau rele jarak tipe single step dengan waktu tertentu lebih disukai. Tipe rele yang digunakan dari kedua tipe umum rele fasa tergantung kepada tipe rele rele yang dengan mana rele back up harus selektif. Maka, jika rangkaian rangkaian yang berdekatan memiliki rele arus lebih dengan waktu berbanding terbalik, rele arus lebih waktu berbanding terbalik dengan tegangan terkendali harus digunakan. Akan tetapi, jika rangkaian rangkaian yang berdekatan memiliki rele jarak atau rele pilot kecepatan tinggi, tipe rele jarak harus digunakan. Rele arus lebih dengan waktu berbanding terbalik untuk back up proteksi gangguan fasa secara pasti dianggap lebih rendah; karena penurunan arus hubung singkat yang dikeluarkan oleh generator, margin antara arus beban maksimum dan arus hubung singkat sesaat setelah arus gangguan mulai mengalir adalah sangat sempit bagi proteksi yang dapat diandalkan. Dimana generator kompon silang diikutsertakan, peralatan rele back up gangguan eksternal perlu digunakan hanya pada satu unit. Peralatan rele arus lebih fasa urutan negatif untuk mencegah kelebihan pemanasan dari rotor generator arus arus stator tidak seimbang yang berkepanjangan dianggap bukan bentuk proteksi back up gangguan eksternal. Sebaliknya, rele tersebut dianggap rele utama dan diperlakukan seperti di tempat yang lain. Suatu rele cadangan harus memiliki karakteristik yang sama dengan rele yang sedang dilindungi, dan suatu rele arus lebih fasa urutan negatif bukanlah yang terbaik untuk keperluan ini, jauh dari kenyataan rele ini tidak akan bekerja pada gangguan - gangguan tiga fasa. Ketika suatu susunan unit generator transformator diikutsertakan, rele cadangan gangguan eksternal ini umumnya ter-energize oleh sumber tegangan dan arus pada sisi tegangan rendah transformator daya. Kemudian hubungan hubungannya harus seperti unit unit rele tipe jarak yang menghitung jarak untuk gangguan tiga fasa dengan baik. nakan blirkan arus gangguan di

Setelan Rele External a.) Tingkatan Time Delay : 1 8160 siklus tahapan 1 siklus b.) Akurasi Waktu : -1 - +3 atau 1%
136

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Prinsip Dasar Penyetelan Proteksi Eksternal a.) Sinyal - sinyal masukkan masukkan merupakan rancangan user untuk setiap rele eksternal yang diaktifkan (enabled). Bekerjanya setiap kontak yang terhubung secara eksternal (melalui masukkan masukkan M-3420) akan memulai bekerjanya timer rele eksternal. b.) Setiap rele eksternal yang diaktifkan (enabled) membutuhkan setelan waktu tunda.

4.3.2 Daftar Tabel Setting Rele Proteksi Generator Pembangkit Unit IV Rele proteksi pada generator pembangkit unit IV PLTG Paya Pasir menggunakan Generator Protection M 3420. Dimana, memiliki profil dan setelan sebagai berikut : Pengaturan Rele Frekuensi nominal Rotasi Phasa Tegangan Nominal C.T Secondary Ratting 27/59 Magnitude Select Arus Nominal Konfigurasi V.T Transformer Waktu Kerja Rele Rasio Phasa V.T Rasio Netral V.T Rasio Phasa C.T Rasio Netral C.T Pabrikan Buatan Merek/Tipe Terpasang Lokasi 50 Hz ABC 115 V 5A RMS 4,02 A Line Line Disable 25 Cycles 100,0 : 1 31,7 300 10 :1 :1 :1

BECKWITH ELECTRIC CO, INC Amerika Beckwith / M-3420 Generator Brush ( Unit 6 ) PLTG Paya Pasir

137

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

kondisi Kondisi Input Aktif open close

Generator Protection M - 3420 memiliki setting rele proteksi sebagai berikut : Tabel 2. Rele [24] Volt Per Hertz Definite Time #1 Definite Time #2 Inverse Time Overexcitation Protection [24] Pickup Time Dial Reset Rate Time Delay Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 x

120 % 109 % 110 % 1 300 Sec

210 x Cycles 500 x Cycles x

Tabel 3.

RMS Under Voltage 3Phasa [27] Rele Pickup #1 #2 104 V Time Delay 100 Cycles Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 x Disable x x

[27] RMS Under Voltage 3Phasa

Tabel 4. Rele [32] Directional Power

Directional Power [32] Pickup #1 #2 -0,02 pu Time Delay 500 Cycles Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 x Disable x x x

138

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 5. Rele [40] Loss Of Field #1 #2

Loss Of Field [40] Circle Diameter 16,5 37,9 Voltage Control Disable Disable Offset -1,8 -1,8 Time Delay 4 Cycles 25 Cycles Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 x x x x x x

Tabel 6. Rele [46] Negativ e Squence Over current Tabel 7.

Negative Sequence Overcurrent [46] Pick up Def. Time Inv. Time Time Dial Maximum Time Outputs Blocking Inputs Time Delay 8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 Disable

15%

30

6000 Cycles

Instantaneous Phase Over Current [50] Rele Pick up Trip Time Response 2 cycles max Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 Disable

[50] Instantaneous Phase Over Current

Tabel 8. Rele [50/27]

Inadvertent Energizing [50/27] Pickup Pickup Drop-Out Outputs Blocking Inputs Time Time (A) 8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 Delay Delay 6,00

[50] Over Current

139

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Inadverte nt Energizin g

50/27 [27] Under Voltage 50/27 80 200 Cycles 300 Cycles x x

Tabel 9.

Breaker Failure [50BF] Current (A) Phas e Neutr al Tim e Dela y Output Initiate 8 7 6 5 4 3 2 1 Outputs Blocking Inputs F 6 5 4 3 2 1 L

Rele

Pickup Selecti on

x x 8 7 6 5 4 3 2 1 Input Initiate

[50B F] Break er Failur e 9 Phase 0,4 0,4 cycl es

6 5 4 3 2 1 x

Tabel 10. Rele [50N]

Instantaneous Neutral Overcurrent [50N] Pickup Trip Time Response Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1

Instantaneous Neutral Overcurrent

2 cycles max

Disable

Tabel 11. Rele

Inverse Time Neutral Overcurrent [51N] Tap Setting (A) Time Dial Curve Selection Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1

140

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

[51N] Inverse Time Neutral Overcurrent Disable

Tabel 12. Tap Setti ng (A)

Inverse Time Phase Overcurrent [51V] Ti me Di al Outputs Voltage Control Voltage Curve Selection Blocking Inputs

Rele

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1

[51V] Inverse Time Phase Overcu rrent 6,02 0,7 Enabled 81V Inverse x x

Tabel 13.

RMS Over Voltage 3Phasa [59] Rele Pickup #1 #2 127V Time Delay 50Cycles Disable Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 x

[59] RMS Over Voltage 3Phasa

Tabel 14.

RMS Over Voltage Neutral [59N] Rele Pick up #1 #2 20V 20V Time Delay 250 Cycles 250 Cycles x Outputs Blocking Inputs

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 x

[59N] RMS Over Voltage Neutral

141

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 15. Rele [60FL] VT Fuse-Loss Detection

VT Fuse-Loss Detection [60FL] Time Delay 1500 Cycles Input Initiate Outputs Blocking Inputs

FL 6 5 4 3 2 1 8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1

Tabel 16.

Frequency [81] Pickup (Hz) #1 #2 #3 #4 52,00 250 x 48,00 250 x Disable x Time Delay (Cycle) Outputs Blocking Inputs

Rele

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1 Disable x x

[81] Frequency

Tabel 17.

Phasa Differential Current [87] Minimum Pickup (A) Percent Slope (%) Time Delay (Cycle) Outputs Blocking Inputs

Rele

8 7 6 5 4 3 2 1 FL 6 5 4 3 2 1

[87] Phasa Differential Current 0,30 10 1 x

Tabel 18. Rele

Ground (Zero Sequence) Differential [87GD] Pickup Time CT Outputs Blocking Inputs
142

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(A) [87GD] Ground (Zero Sequence) Differential

Delay (Cycle)

Ratio

8 7 6 5 4 3 2 1 FL

5 4 3 2 1

Disable

Tabel 19.

External [EXT] Time Delay (Cycle) 6 Input Initiate 5 4 3 2 Outputs 1 8 7 6 5 4 3 2 1 FL Disable Disable Blocking Inputs 6 5 4 3 2 1

Rele

[EXT] External

#1 #2

4.4. 4.4.1

Data dan Analisis Data Self Test oleh PLN JASER pada Generator Protection Pembangkit Unit IV

4.4.1.a Data Pengujian No. 1. 2. 3. Pengaman Differensial (Differential) Arus Lebih (Over Current) Frekuensi Lebih
143

Hasil Uji Mesin Trip PMT Trip

Indikasi Alarm Anunsiator

Keterangan

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(Over Frequency) 4. 5. 6. 7. 8. 9. Frekuensi Kurang (Under Frequeny) Tegangan Lebih (Over Voltage) Tegangan Kurang (Under Voltage) Gangguan Tanah (Earth Fault) Daya Balik (Reverse Power) Beban lebih (Over Load) Arus Urutan Negatif (Negative Sequence) Gangguan Tanah Rotor (Rotor Ground Fault) Gangguan Tanah Stator (Stator Ground Fault) Fluksi Lebih (Volt/Hertz) Kehilangan Eksitasi (Loss of Excitation) Eksitasi Lebih (Over Excitation) Eksitasi Kurang (Under Excitation) Stop Darurat (Emergency Stop) Kegagalan Sadapan (Tap Changer

10.

11.

12.

13.

14.

15. 16. 17. 18.

144

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Fault) 19. Suhu Minyak Tinggi (High Oil Temperature) Suhu Belitan Tinggi (High Winding Temperature) Bucholz Tekanan Lebih Tangki (Pressure Relief) Duga Minyak (Oil Level)

20.

21. 22.

23.

4.4.1b Analisa Data Dari data diatas dapat dilihat saat dilakukan self test, tejadi trip pada rele dan indikato mampu bekerja dengan baik. Self test ini menunjukkan bahwa rele masih dalam kondisi baik. 4.4.2 Hasil Pengujian Rele Diferensial Fasa Lokasi Terpasang Merk/Tipe No. Seri Rating In Ratio CT sisi Primer : PLTG Paya Pasir : Trafo Mesin (Unit 5) : GE/DTP : : 5A : 1600/5 A

Ratio CT sisi Sekunder : 125/5 A Ratio CT sisi Tersier : -

4.4.2.a Tabel Hasil Pengujian Rele Diferensial Fasa

145

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

I1 (A) I2 (A) R IOP (A) I* (A)

1 0,2 5 0,5 5 0,3 0 0,4 0 0,2 5 0,5 5 0,3 0 0,4 0 0,2 5 0,5 5 0,3 0 0,4 0

2 0,5 0 0,8 0 0,3 0 0,6 5 0,5 0 0,8 0 0,3 0 0,6 5 0,5 0 0,8 0 0,3 0 0,6 5

3 0,7 5 1,0 5 0,3 0 0,9 0 0,7 5 1,0 5 0,3 0 0,9 0 0,7 5 1,0 5 0,3 0 0,9 0

4 1,0 0 1,3 0 0,3 0 1,1 5 1,0 0 1,3 0 0,3 0 1,1 5 1,0 0 1,3 0 0,3 0 1,1 5

5 1,2 5 1,5 5 0,3 0 1,4 0 1,2 5 1,5 5 0,3 0 1,4 0 1,2 5 1,5 5 0,3 0 1,4 0

6 1,5 0 1,8 0 0,3 0 1,6 5 1,5 0 1,8 0 0,3 0 1,6 5 1,5 0 1,8 0 0,3 0 1,6 5

7 1,7 5 2,0 5 0,3 0 1,9 0 1,7 5 2,1 0 0,3 5 1,9 3 1,7 5 2,0 5 0,3 0 1,9 0

8 2,0 0 2,3 0 0,3 0 2,1 5 2,0 0 2,4 0 0,4 0 2,2 0 2,0 0 2,3 0 0,3 0 2,1 5

9 2,2 5 2,5 5 0,3 0 2,4 0 2,2 5 2,5 5 0,3 0 2,4 0 2,2 5 2,5 5 0,3 0 2,4 0

10 2,5 0 2,8 0 0,3 0 2,6 5 2,5 0 2,8 5 0,3 5 2,6 8 2,5 0 2,8 5 0,3 5 2,6 8

I1 (A) I2 (A) S IOP (A) I* (A)

I1 (A) I2 (A) T IOP (A) I* (A)

4.4.2.b Tabel Hasil Pengujian Waktu Pemutusan Rele Diferensial Fasa Fas a R Waktu Kerja (s) IOP = 200% 0,0466 IOP = 300% 0,0303 IOP = 400% 0,0401
146

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

S T

0,0425 0,0207

0,0409 0,0305

0,0382 0,0407

4.4.2c Analisis Data a.) Menguji apakah IOP>kIrestraint, dimana k = 10%. Jika ternyata didapatkan
IOP>kIrestraint benar, maka relai bekerja.

Data 1 Fasa R : 0,30>0,1(0,40)0,30>0,040 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,30>0,1(0,40)0,30>0,040 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(0,40)0,30>0,040 Benar (relai bekerja) Data 2 Fasa R : 0,30>0,1(0,65)0,30>0,065 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,30>0,1(0,65)0,30>0,065 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(0,65)0,30>0,065 Benar (relai bekerja) Data 3 Fasa R : 0,30>0,1(0,90)0,30>0,090 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,30>0,1(0,90)0,30>0,090 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(0,90)0,30>0,090 Benar (relai bekerja) Data 4 Fasa R : 0,30>0,1(1,15)0,30>0,115 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,30>0,1(1,15)0,30>0,115 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(1,15)0,30>0,115 Benar (relai bekerja) Data 5 Fasa R : 0,30>0,1(1,40)0,30>0,140 Benar (relai bekerja)
147

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Fasa S : 0,30>0,1(1,40)0,30>0,140 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(1,40)0,30>0,140 Benar (relai bekerja) Data 6 Fasa R : 0,30>0,1(1,65)0,30>0,165 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,30>0,11,650,30>0,165 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(1,65)0,30>0,165 Benar (relai bekerja) Data 7 Fasa R : 0,30>0,1(1,90)0,30>0,190 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,35>0,1(1,93)0,35>0,193 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(1,90)0,30>0,190 Benar (relai bekerja) Data 8 Fasa R : 0,30>0,1(2,15)0,30>0,215 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,40>0,1(2,20)0,40>0,220 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(2,15)0,30>0,215 Benar (relai bekerja) Data 9 Fasa R : 0,30>0,1(2,40)0,30>0,240 Benar (relai bekerja) Fasa S : 0,30>0,1(2,40)0,30>0,240 Benar (relai bekerja) Fasa T : 0,30>0,1(2,40)0,30>0,240 Benar (relai bekerja) Data 10 Fasa R : 0,30>0,1(2,65)0,30>0,265 Fasa S : 0,35>0,1(2,68)0,35>0,268 Benar (relai bekerja) Benar (relai bekerja)

Fasa T : 0,35>0,1(2,68)0,35>0,268 Benar (relai bekerja) b.) Menghitung waktu kerja rata-rata untuk masing-masing IOP
IOP = 200% tOP=0,0466+0,0425+0,02073=0,0366 IOP = 300% tOP=0,0303+0,0409+0,03053=0,0339

148

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

IOP = 400% tOP=0,0401+0,0382+0,04073=0,0397

4.4.3

Hasil Pengujian Rele Gangguan Tanah Lokasi Bay Merk/Type No. Seri Rasio CT Inom : PLTG Paya Pasir : Trafo Mesin Unit 5 : Alsthom/TMAH : : : 5A

Penyetelan Standbye Eart Fauth (SEF) Arus setting Waktu ( t ) EF Inst. Karakteristik 0,25 ampere 0,6 sec Definite

4.4.3a. Tabel Hasil Pengujian Rele Gangguan Tanah Rele Setting Pick up Reset Deviasi ( %) Karakteristik Waktu ( Sec ) 200% 0,590 300% 0,581 400% 0,580

(ampere) (ampere) (ampere) GF 0,25 0,264 0,238

4.4.3b Analisis Data

149

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a.) Jika arus injeksi 200% atau 2 x Iset, maka relai akan trip dalam waktu 0,590 detik b.) Jika arus injeksi 300% atau 3 x Iset, maka relai akan trip dalam waktu 0,581 detik c.) Jika arus injeksi 400% atau 4 x Iset, maka relai akan trip dalam waktu 0,580 detik

4.4.4

Hasil Pengujian Rele Arus Lebih Lokasi Bay Merk/Type No. Seri Rasio CT Inom : PLTG Paya Pasir : Trafo Mesin Unit 5 : Alsthom/TMA 311 : : 125/5 : 5A

Penyetelan Penyetelan Over Current Relay Arus setting td / t Inst. karakteristik 6,3 A 0,6 sec Definite

4.4.4a Tabel Hasil Pengujian Rele Arus Lebih No Fasa Setting (ampere) 1 2 3 R S T 6,3 6,3 6,3 Pick up (ampere) 6,6 6,6 6,59 Drop Out (ampere) 6,31 6,31 6,22 Deviasi (%) Karakteristik Waktu ( sec ) 2 x I set 0,590 0,590 0,589 3 x I set 0,587 0,587 0.587 5 x I set -

4.4.4b Analisis Data

150

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

a.) Untuk fasa R Saat arus injeksi 2 x Iset, rele trip dalam waktu 0,590 detik Saat arus injeksi 3 x Iset, rele trip dalam waktu 0,587 detik

b.) Untuk fasa S Saat arus injeksi 2 x Iset, rele trip dalam waktu 0,590 detik Saat arus injeksi 3 x Iset, rele trip dalam waktu 0,587 detik

c.) Untuk fasa T Saat arus injeksi 2 x Iset, rele trip dalam waktu 0,589 detik Saat arus injeksi 3 x Iset, rele trip dalam waktu 0,587 detik

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Kesimpulan yang dapat kami peroleh dari laporan ini antara lain :

1. Pada dasarnya setiap pembangkit di PLTG Paya Pasir memiliki prinsip kerja yang sama, perbedaannya terletak pada kapasitas setiap pembangkit. 2. Setiap pembangkit di PLTG Paya Pasir memiliki kapasitas mampu yang berbeda dengan kapasitas terpasangnya, kecuali pada pembangkit unit VI dan VII yang belum lama beroperasi. Hal ini disebabkan karena umur pemakaian yang sudah lama dan perawatan yang kurang.
3. Sistem proteksi yang digunakan pada generator pembangkit unit IV PLTG Paya Pasir

menggunakan Generator Protection M 3420 merk Beckwith dinyatakan dalam kondisi yang baik. 4.2 Saran Saran yang dapat kami berikan antara lain :

151

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1. Jumlah sumber literatur yang digunakan untuk menambah pengetahuan yang lebih detail mengenai sistem yang terpasang pada setiap unit pembangkit di PLTG Paya Pasir sebaiknya ditambah demi memperdalam teori yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja setiap staf perusahaan. 2. Kerjasama tim dalam pengecekan dan pemeliharaan setiap unit pembangkit sebaiknya lebih ditingkatkan demi memperlancar kegiatan pemeliharaan. Khususnya, pemeliharaan sistem proteksi pada setiap unit pembangkit PLTG Paya Pasir. 3. Studi literatur mengenai dasar dasar setting pada rele rele proteksi yang digunakan pada setiap unit pembangkit secara manual sebaiknya lebih diperbanyak.

DAFTAR PUSTAKA

Generator Protection M 3420. Integrated Protection System for Generator of All Sizes.ISO 9001 : 1994. Beckwith Electric CO.,INC.USA L.G. Hewitson, Mark Brown, Ramesh Balakrishnan. Practical Power Systems

Protection.2004. Typeset by Integra Software Services Pvt. Ltd, Pondicherry, India. Printed and bound in The Netherlands. P.A. Amilkanthwar (Assistant Engineer (Gen)). Generator Protection System Test - II. J.Sharkey (EPRI Project Manager). 2004. Protective Relays : Numercial Protective Relays. Protective Relays : Numercial Protective Relays,EPRI,Palo Alto,CA : 2004.1009704. George Rockefeller. 2001.Generator Protection Aplication Guide.Basler Electric Company Employees.

152

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Leonard L. Grigsby.Electric Power Engineering Handbook (Second Edition) : Electric Power Generation, Transmission, and Distribution.2006.CRC Press,Taylor and Francis Group,Boca Raton,London,New York.

Lampiran 1

Sejarah PT PLN (Persero) Sejarah Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Pengusahaan tenaga listrik tersebut berkembang menjadi untuk kepentingan umum, diawali dengan perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGM yang memperluas usahanya dari hanya di bidang gas ke bidang tenaga listrik. Selama Perang Dunia II berlangsung, perusahaanperusahaan listrik tersebut dikuasai oleh Jepang dan setelah kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, perusahaan-perusahaan listrik tersebut direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia pada bulan September 1945 dan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas, dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik hanya sebesar 157,5 MW. Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas. Tanggal 1 Januari 1965, BPU-PLN dibubarkan dan dibentuk 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengelola tenaga listrik dan Perusahaan Gas Negara

153

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(PGN) yang mengelola gas. Saat itu kapasitas pembangkit tenaga listrik PLN sebesar 300 MW. Tahun 1972, Pemerintah Indonesia menetapkan status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN). Tahun 1990 melalui Peraturan Pemerintah No. 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan. Tahun 1992, pemerintah memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik. Sejalan dengan kebijakan di atas, pada bulan Juni 1994 status PLN dialihkan dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).

2.1 Nilai-nilai Perusahaan

Saling percaya, Integritas, Peduli dan Pembelajar a. Peka-tanggap terhadap kebutuhan pelanggan Senantiasa berusaha untuk tetap memberikan pelayanan yang dapat memuaskan kebutuhan pelanggan secara cepat, tepat dan sesuai. b. Penghargaan pada harkat dan martabat manusia Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya serta mengakui dan melindungi hak-hak asasi dalam menjalankan bisnis. c. Integritas Menjunjung tinggi nilai kejujuran, integritas, dan obyektifitas dalam pengelolaan bisnis. d. Kualitas produk Meningkatkan kualitas dan keandalan produk secara terus-menerus dan terukur serta menjaga kualitas lingkungan dalam menjalankan perusahaan. e. Peluang untuk maju Memberikan peluang yang sama dan seluas-luasnya kepada setiap anggota perusahaan untuk berprestasi dan menduduki posisi sesuai dengan kriteria dan kompetensi jabatan yang ditentukan. f. Inovatif
154

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan sesama anggota perusahaan, menumbuhkan rasa ingin tahu serta menghargai ide dan karya inovatif. g. Mengutamakan kepentingan perusahaan Konsisten untuk mencegah terjadinya benturan kepentingan dan menjamin di dalam setiap keputusan yang diambil ditujukan demi kepentingan perusahaan. h. Pemegang saham Dalam pengambilan keputusan bisnis akan berorientasi pada upaya meningkatkan nilai investasi pemegang saham.

2.3 Dasar Hukum Perusahaan Dalam menjalankan kegiatannya PT PLN (Persero) memiliki beberapa dasar hukum yang dijadikan acuan, yaitu: 1. Anggaran Dasar PLN tahun 1998. 2. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). 3. Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero).
4. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 1998 tentang Pengalihan Kedudukan, Tugas.

5. Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1998 tentang Pengalihan Pembinaan terhadap Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perseroan Terbatas yang sebagian sahamnya dimiliki Negara Republik Indonesia kepada Menteri Negara Pendayagunaan BUMN. 2.1 Sejarah Berdirinya PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan yang didirikan pada tanggal 20 Maret 2007 adalah salah satu pusat pembangkit tenaga listrik yang ada di Provinsi Sumut, terletak 17 km sebelah utara kota Medan dengan 3 unit kerja yaitu, PLTG Paya Pasir, PLTG Glugur dan PLTD Titi Kuning. PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan

155

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Medan dan PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan ini membawahi Pembangkit Listrik sebagai berikut: 1. Pusat Listrik Paya Pasir yang memiliki 7 (tujuh) unit PLTG dengan rinciannya pada Tabel 2.1, yang terdiri dari: 3 (tiga) unit Alsthom 21,5 MW, 2 (dua) unit Westing House 14,2 MW, 1 (satu) unit General Electric 21,46 MW dan 1 (satu) unit Nanjing 34,1 MW. Saat ini daya mampu dari PLTG Paya Pasir hanya sekitar 85 MW dari total 153,74 MW daya terpasang. Hal ini disebabkan adanya beberapa unit dari PLTG sedang dalam tahap pemeliharaan.

Tabel 2.1 No. 1 2 3 4 5 6 7 Unit

Unit Kerja PLTG Paya Pasir Merek WESTCAN WESTCAN ALSTHOM ALSTHOM ALSTHOM TM2500 NTC Daya Terpasang 14,46 MW 14,46 MW 21,65 MW 21,65 MW 25,92 MW 21,46 MW 34,10 MW Daya Mampu 17 MW 16 MW 18 MW 34 MW Keterangan Pemulihan Pemulihan Relokasi Turbin Operasi Operasi Operasi Operasi

Nama

Unit 1 Unit 2 Unit 3 Unit 4 Unit 5 Unit 6 Unit 7

2. Pusat Listrik Glugur yang memiliki 3 (tiga) unit PLTG dengan total daya terpasang 44,45 MW; 3. Pusat Listrik Titi Kuning yang memiliki 6 (enam) unit PLTD dengan total daya terpasang 24,8 MW. Untuk memenuhi segala kebutuhan akan energi listrik di kota Medan dan sekitarnya yang semakin meningkat, dibangun suatu pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Adapun lokasi
156

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

pembangunannya dipilih sebelah Utara kota Medan tepatnya di Medan Marelan dengan luas areal lebih kurang 33 ha. PT PLN (Persero) Wilayah II Sumatera Utara pada waktu memilih daerah tersebut sebagai lokasi PLTG adalah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang baik pada masa kini maupun yang akan datang. Pertimbangan-pertimbangan itu antara lain: 1. Mengingat PLTG Glugur dan PLTD Titi Kuning tidak mungkin lagi membangun pembangkit yang baru karena arealnya tidak memungkinkan lagi dan semakin banyaknya pemukiman penduduk di sekitarnya; 2. Lancarnya sarana lalu lintas ke PLTG sehingga memungkinkan transportasi berjalan dengan baik; 3. Lokasi PLTG Paya Pasir dekat dengan sungai yang bermuara ke Belawan, sehingga terjadinya banjir sangat kecil karena aliran air parit dari lokasi dapat dialirkan ke sungai; 4. Untuk membantu daya listrik daerah Kecamatan Medan Marelan, Medan Labuhan dan sekitarnya mengingat di daerah ini banyak didirikan pabrik-pabrik industri dan perumahan penduduk; 5. Lokasi PLTG Paya Pasir yang dekat dengan Pertamina Labuhan-Belawan sehingga memungkinkan penyaluran bahan bakar untuk unit pembangkit listrik melalui pipa bawah tanah. Komponen utama dari PLTG Paya Pasir ini terdiri dari 7 (unit) mesin pembangkit yang pembangunannya terbagi dalam 4 tahap, yaitu: 1. Tahap Pertama Pembangunan dimulai tahun 1974, yaitu dengan membangun sarana jalan ke lokasi PLTG, serta pembangunan pondasi. Tahun 1975 1976 pemasangan mesin pembangkit listrik Unit 1 dan Unit 2 serta alat bantu yang dilakukan oleh teknisi dari Kanada. Unit 1 dan Unit 2 mulai beroperasi tahun 1976. 2. Tahap Kedua Tahun 1976 membangun Unit 3 dan Unit 4 yang dilakukan oleh Alsthom Atlantique dari Perancis. Unit 3 dan Unit 4 mulai beroperasi pada tahun 1978. 3. Tahap Ketiga Tahun 1983 membangun satu unit pembangkit, yaitu Unit 5 dengan kapasitas 21,350 MW yang dilakukan oleh Alsthom dari Perancis. 4. Tahap Keempat
157

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Januari 2008 dioperasikan satu unit General Electric dengan kapasitas 21,46 MW dan Nanjing dengan kapasitas 34,1 MW pada Maret 2009. Mesin pembangkit yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik pada PLTD Titi Kuning adalah mesin Interpress sebanyak 6 unit dengan kapasitas masing masing unit 5,2 MW. Pemeliharaan di PLTD dilaksanakan sesuai dengan manual book, yaitu pemeliharaan rutin yang bersifat pemeriksaan dan pemeliharaan secara periodik, disamping mengatasi gangguan ganguan yang terjadi. Pemeliharaan periodik ini dilaksanakan secara berkala dan terencana yakni 6000 jam dan 12000 jam operasi. Pemeliharaan periodik (overhaul) ini meliputi pekerjaan pembongkaran bagian bagian utama dari mesin tersebut, seperti cylinder head, exhaust valve cage, rocker gear, piston dan connecting rod, dan lain lain, serta pembersihan, pemeriksaan, pengukuran, penggantian parts dan pengujian pembebanan. Pada saat pembongkaran exhaust valve cage inilah sering sekali ditemukan kendala, dimana seatingnya cenderung mengalami keausan, sementara untuk penggantinya tidak tersedia. Hal ini kalau tidak dilakukan perbaikan (repairing) terhadap seatingnya maka pekerjaan overhaul akan terhambat.

2.1

Visi, Misi, dan Motto PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian Utara

2.4.1 Visi Diakui Sebagai Perusahaan Kelas Dunia Yang Bertumbuh Kembang, Unggul Dan Terpercaya Dengan Bertumpu Pada Potensi Insani.

2.4.2 Misi a. Menjalankan bisnis kelistrikan pembangkitan di Sumatera Bagian Utara yang berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham; b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di Sumatera Bagian Utara; c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi di Sumatera Bagian Utara; d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan. 2.4.1 Motto
158

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik (Electricity for a better life)

2.1

Lokasi PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan Lokasi PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan beralamat di Jalan Pembangkit

Listrik No. 1 Paya Pasir Medan-Marelan 20255; Telepon: (061) 6850064, 6851958, 6841096; Facsimile: (061) 6853842.

Gambar 1.

Layout

PT

PLN

(Persero)

Pembangkitan

Sumbagut

Sektor

Pembangkitan Medan Unit Kerja PLTG Paya Pasir

2.2

Struktur Organisasi PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan Suatu perusahaan melakukan produksi sesuai dengan organisasi perusahaan tersebut.

Struktur perusahaan yang baik akan memajukan perusahaan tersebut. PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan mempunyai struktur organisasi garis agar sistem manajemen kerja dapat diterapkan dan pembagian tugas-tugas kerja dapat diketahui dengan jelas. Pada dasarnya Manajer Sektor PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan membawahi langsung Asisten Manajer Enjineering,
159

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Asisten Manajer Operarsi, Asisten Manajer Pemeliharaan, Asisten Manajer SDM dan Keuangan, Manajer PLTD Titi Kuning, Manajer Glugur.

Sejak dikeluarkan SK Direksi tanggal 20 Desember 2006 dan SK General Manager No:087.K/GMKITSU/2007 tanggal 13 Maret 2007, maka PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan memiliki :
a. Manajer Sektor sebanyak 1 orang. b. Asisten Manajer sebanyak 4 orang. c. staff ahli Enginering sebanyak 9 orang. d. Supervisor sebanyak 15 orang. e. Manajer Pusat Listrik sebanyak 2 orang. f. Karyawan sebanyak 43 orang.

Gambar 2.1 menggaambarkan strukur organisasi yang lebih rinci yang digunakan oleh PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan.
MANAJER SEKTOR ANALYST /ASSISTANT ANALYST MANAJEMEN RESIKO

ASISTEN MANAJER ENJINIRING

ASISTEN MANAJER OPERASI

ASISTEN MANAJER PEMELIHARAAN

ASISTEN MANAJER SDM & KEUANGAN

Engineer/Assistant Engineer

SUPERVISOR OPERASI

SUPERVISOR PEMELIHARAAN MESIN PLTG/D & ALAT BANTU SUPERVISOR PEMELIHARAAN LISTRIK SUPERVISOR PEMELIHARAAN KONTROL & INSTRUMEN

SUPERVISOR SEKRETARIAT& UMUM SUPERVISOR K3 & KEAMANAN SUPERVISOR KEPEGAWAIAN & DIKLAT SUPERVISOR ANGGARAN & KEUANGAN SUPERVISOR AKUNTANSI SUPERVISOR LOGISTIK

SUPERVISOR PENGUSAHAAN PEMBANGKITAN

MANAJER PLTD TITI KUNING

MANAJER PLTG GLUGUR

160

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar 2.

Struktur Organisasi PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut Sektor Pembangkitan Medan

ASISTEN MANAJER ENJINIRING

Engineer/Assistant Engineer Perencanaan & Evaluasi Operasi Engineer/Assistant Engineer Perencanaan & Evaluasi Pemeliharaan Analyst/Assistant Analyst Kinerja Engineer/Assistant Engineer/Junior Engineer Lingkungan & Keselamatan Ketenagalistrikan Analyst/Assistant Analyst/Junior Analyst Teknologi Informasi Assistant Engineer /Junior Engineer Pembangkit

Gambar 3. Rincian Asisten Manajer Engineering

161

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ASISTEN MANAJER OPERASI

SUPERVISOR OPERASI

SUPERVISOR PENGUSAHAAN PEMBANGKITAN

Operator/Assistant Operator/Junior Operator Control Room Assistant Operator/Junior Operator Alat Bantu

Assistant Engineer/Junior Engineer Energi Primer Assistant Officer/Junior Officer Administrasi Teknik

Gambar 4. Rincian Asisten Manajer Operasi


A S IS T E N M A N A J E R P E M E L IH A R A A N

S U P E R V IS O R P E M E L IH A R A A N M E S IN S U P E R V IS O R PLTG & A LA T BA N TU /D P E M E L IH A R A A N L IS T R IK

S U P E R V IS O R P E M E L IH A R A A N K O N T R O LIN S T R U M E N &

A ssista n t E n g in e erio r E n g in e er /Ju n H a .r T u rb in P L T GA la t B a n tu & A ssista n t E n g in e erio r E n g in e er /Ju n H a .r T u rb in P L T DA la t B a n tu &

A ss istan t E n g in e erio r E n g in e er /Ju n P em e lih ara an T ra fo en e rato r &G A ss istan t E n g in e erio r E n g in e er /Ju n P em e lih ara an M o to r L istrik A ss istan t E n g in e erio r E n g in e er /Ju n P em e lih ara an R e layro tek si P L T G &P

A ssis tan t E n g in e erio r E n g in eer /Ju n P em e lih ara an K o n tro lstru m e n P L T G & In A ssis tan t E n g in e erio r E n g in eer /Ju n P em e lih ara an K o n tro lstru m e n P L T D & In

Gambar 6. Rincian Asisten Manajer Pemeliharaan

162

PT PLN (Persero)
ASISTEN MANAJER SDM & KEUANGAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

SUPERVISOR SEKRETARIAT& UMUM

SUPERVISOR KEPEGAWAIAN& DIKLAT

SUPERVISOR AKUNTANSI

Assistant Officer/Junior Officer Sekretariat & Umum Assistant Officer/Junior Officer Kemitraan & Bina Lingkungan Assistant Officer/Junior Officer Transportasi

Assistant Analyst/Junior Analyst Kepegawaian & Diklat Assistant Officer/Junior Officer Gaji & Emolumen

Assistant Analyst/Junior Analyst Akuntansi Umum Assistant Analyst/Junior Analyst Akuntansi AT, PDP & Persediaan

SUPERVISOR K3 & KEAMANAN

SUPERVISOR ANGGARAN& KEUANGAN

SUPERVISOR LOGISTIK

Assistant Officer/Junior Officer Administrasi K3 Assistant Officer/Junior Officer Keamanan

Assistant Analyst/Junior Analyst Anggaran & Keuangan Assistant Officer/Junior Officer Pengelola Kas Assistant Analyst/Junior Analyst Asuransi & Pajak

Assistant Officer/Junior Officer Administrasi BBM & Pelumas Assistant Officer/Junior Officer Administrasi Gudang Assistant Officer/Junior Officer Administrasi Logistik

Gambar 7. Rincian Asisten Manajer SDM & KEUANGAN


M A N A JE R P L T D T IT I K U N IN G E N G IN E E R S SIST A N T E N G IN E E R /A PE N G U S A H A A N P E M B A N G K IT E N G IN E E R S SIST A N T E N G IN E E R /A L IN G K U N G A N & K2

S U P E R V ISO R O P E R A SI

S U P E R V IS O R P E M E L IH A R A A N M E S IN & A LA T BA NTU A ssistant E ng ineer /Junior E ng ineer Pem eliharaan M esin A ssistant E ng ineer /Junior E ng ineer Pem eliharaan A lat B an tu

S U P E R V IS O R P E M E L IH A R A A N L IST R IK , K O N T R O& IN S T R U M E N L A ssistant E ng ineer /Junior E ng ineer Pem elih araan L istrik A ssistant E ng ineer /Junior E ng ineer Pem elih araan K o ntroIn strum en &l

S U P E R V IS O R A D M IN IST R A SI E U A N G A N &K

A ssistant O perator ior O perator /Jun C ontrol R oo m A ssistant O perator ior O perator /Jun A lat B an tu

A ssistant O fficer /Junior O fficer S ekretariat U m umK epegaw aian & A ssistant O fficer /Junior O fficer K eam anan A ssistant O fficer /Junior O fficer L og istik

Gambar 8. Rincian Manajer PLTD TITI KUNING

163

PT PLN (Persero)
M A N A JE R PLTG GLU GU R

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

A S S IS T A N T E N G IN E E R R E N G IN E E R /JU N IO P E N G U S A H A A N P E M B A N G K IT JU N IO R E N G IN E E R L IN G K U N G & N A K2

S U P E R V IS O R O PE R A SI

S U P E R V IS O R P E M E L IH A R A A N M& S IN E ALAT BANTU A ssistan t E ng in eer io r E ng in eer /Jun P em elih araan M esin A ssistan t E ng in eer io r E ng in eer /Jun P em elih araan A lat B an tu

S U P E R V IS O R P E M E L IH A R A A N L IS T R IK , K O N T R O& IN S T R U M E N L A ssistan t E n g in eer io r E n g in eer /Jun P em elih araan L istrik A ssistan t E n g in eer io r E n g in eer /Jun P em elih araan K o n& Inl stru m en tro

S U P E R V IS O R A D M IN IS T R A S I E U A N G A N &K

A ssistant O p erato r ior O p erato r /Jun C o ntro l R o o m A ssistant O p erato r ior O p erato r /Jun A lat B an tu

A ssistan t O fficer io r O fficer /Jun S ek retariat U m & K epeg aw aian um A ssistan t O fficer io r O fficer /Jun K eam an an A ssistan t O fficer io r O fficer /Jun L o g istik

Gambar 9. Rincian Manajer PLTG GLUGUR

Lampiran 2

164

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lampiran 3
165

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Setting Rele

166

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

167

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

168

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

169

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

170

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

171

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lampiran 4

Berikut adalah beberapa gambar kegiatan selama melaksanakan Kerja Praktek di PLTG Paya Pasir :

Gambar Pada Ssaat Perbaikan PLTG Unti 4 Paya pasir

172

PT PLN (Persero)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar Perbaikan Control Pada Unit 7 PLTG Paya Pasir

Gambar Pada Saat Perawatan Rutin Ke Setiap PLTG Paya Pasir

173