Anda di halaman 1dari 5

RANGKUMAN BAB 12

INTANGIBLE ASSETS (ASET TIDAK BERWUJUD)

Karakteristik asset tidak berwujud:


1. Dapat diidentifikasi Untuk dapat diidentifikasi, sebuah asset tidak berwujud harus terpisah dari perusahaan (dapat dijual/dipindahtangankan), atau muncul dari sebuah kontrak atau hak legal dari manfaat ekonomi bagi perusahaan. 2. Tidak memiliki bentuk fisik Aset berwujud seperti property, pabrik dan peralatan memiliki bentuk fisik. Sebaliknya dengan asset tidak berwujud, asset tidak berwujud memperole nilai dari hak perusahaan untuk memanfaatkannya. 3. Bukan asset moneter Asset seperti tabungan di bank, piutang usaha, dan investasi jangka panjang dalam obligasi ataupun saham juga tidak memiliki bentuk fisik. Namun, asset moneter memperoleh nilai dari hak untuk menerima kas atau setara kas dimasa depan. Asset moneter tersebut tidak dapat diklasifikasikan sebagai asset tidak berwujud.

Penilaian:
1. Membeli asset tidak berwujud Perusahaan mencatat asset tidak berwujud yang dibeli dari pihak lain sebesar biaya yang dikeluarkan (at cost). Yang termasuk sebagai biaya adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk mengakusisi ditambah dengan beban-beban untuk membuat asset tidak berwujud tersebut siap untuk dimanfaatkan. Biaya tersebut seperti biaya pembelian, biaya legal (pengesahan) dan biaya lainnya. Kadang-kadang perusahaan memperoleh asset tidak berwujud dengan menukarkan saham atau asset lainnya. Untuk kasus seperti itu maka cost dari asset tidak berwujud harus mempertimbangkan nilai wajar (fair value) dari asset tidak berwujud yang diberikan atau diterima sehingga menjadi lebih jelas.

2. Perusahaan menciptakan asset tidak berwujud Bisnis terkadang mengeluarkan biaya untuk bermacammacam sumber daya yang tidak berwujud, seperti pengetahuan , teknologi, riset pasar , merk dan lain-lain. Maka untuk mencatat nilai dari asset tidak berwujud tersebut perusahaan membagi aktivitas menjadi dua yaitu fase riset dan fase pengembangan. Perusahaan membebankan semua biaya yang dikeluarkan pada saat fase riset dan mengkapitalisasi semua biaya pada fase pengembangan, jika pada saat fase pengembangan tersebut perusahaan sudah dapat melihat adanya manfaat ekonomi.

Amortisasi asset tidak berwujud:


1. Memiliki masa manfaat yang terbatas Perusahaan mengamortisasi asset tidak berwujud dengan membebankan biaya (beban amortisasi) sesuai dengan masa manfaatnya. 2. Tidak memiliki masa manfaat (masa manfaat tidak terbatas) Perusahaan tidak mengamortisasi asset tidak berwujud yang tidak memiliki masa manfaat (masa manfaat tidak terbatas). Perusahaan juga harus melakukan tes impairment untuk asset tidak berwujud setiap tahunnya untuk menilai kembali nilai buku dari asset tidak berwujud tersebut.

Jenis-jenis asset tidak berwujud:


1. Asset tidak berwujud yang berhubungan dengan Pemasaran Ex: Merk Dagang (Trademark) 2. Asset tidak berwujud yang berhubungan dengan Pelanggan Ex: Daftar pelanggan 3. Asset tidak berwujud yang berhubungan dengan Seni Ex: Hak Cipta (Copy Right) 4. Asset tidak berwujud yang berhubungan dengan Kontrak Ex: Franchise 5. Asset tidak berwujud yang berhubungan dengan Teknologi Ex: Hak Paten 6. Goodwill* *Goodwill: Kelebihan atas biaya yang dikeluarkan dengan nilai wajar perusahaan saat membeli perusahaan. Ex: perusahaan A membeli perusahaan B sebesar $ 105.000 pada saat nilai wajar perusahaan B memiliki nilai wajar sebesar $ 100.000. Maka goodwill dari transaksi tersebut adalah $ 5.000.

Impairment asset tidak berwujud


Impairment adalah penurunan nilai suatu asset. Impairment dilakukan baik pada asset berwujud (Tangible asset) maupun asset tidak berwujud (Intangible asset) setelah dilakukan penilaian kembali terhadap nilai suatu asset. Contoh: Perusahaan A memiliki patent dengan nilai buku sebesar $ 5.000 pada 2010. Namun pada akhir tahun 2010 patent tersebut mengalami penurunan nilai karena hal-hal tertentu menjadi sebesar $ 2.000 dan masa manfaat untuk patent tersebut masih tersisa 5 tahun. Untuk itu perusahaan harus mencatat atas penurunan nilai dari patent tersebut sebagai impairment. Nilai buku Patent $ 5.000 Nilai patent setelah dilakukan penilaian $ 2.000 _ Kerugian Impairment $ 3.000 Maka jurnal yang harus dicatat adalah Kerugian impairment Patent Skedul amortisasi patent Tahun Nilai Buku Awal Tahun 2011 $ 2.000 2012 1.600 2013 1.200 2014 800 2015 400 $ 3.000 $ 3.000

Amortisasi $ 400 400 400 400 400

Nilai Buku Akhir Tahun $ 1.600 1.200 800 400 0

Pada akhir 2011 perusahaan harus mencatat beban amortisasi: Beban Amortisasi Patent $ 400 $ 400

Pada awal tahun 2012 perusahaan A melakukan penilaian kembali terhadap patent tersebut dan didapati nilai patent tersebut naik menjadi $ 1.800 dari nilai buku $ 1.600 (setelah amortisasi tahun 2011). Untuk itu perusahaan harus melakukan pencatatan untuk menaikkan kembali nilai patennya. Maka jurnal yang harus dicatat adalah:

Patent Pemulihan kerugian impairment

$ 200 $ 200

Untuk amortisasi selanjutnya perusahaan harus membuat skedul amortisasi yang baru dengan masa manfaat yang masih tersisa yaitu 4 tahun: Tahun 2012 2013 2014 2015 Nilai Buku Awal Tahun $ 1.800 1.350 900 450 Amortisasi $ 450 450 450 450 Nilai Buku Akhir Tahun $ 1.350 900 450 0

Amortisasi pada akhir 2012 Beban Amortisasi Patent $ 450 $ 450

Biaya Riset dan Pengembangan (R&D)


Mengidentifikasi Aktivitas R&D 1. Aktivitas Riset Pencarian ide dan perencanaan investigasi yang dilakukan dengan tujuan untuk meperoleh pengetahuan dan pemahaman baru. 2. Aktivitas Pengembangan Penerapan dari penemuan riset atau pengetahuan lain untuk merencanakan atau mendesain produksi dari hal-hal baru seperti bahan baku, peralatan, produk, proses, system atau jasa yang lebih baik sebelum mulai digunakan atau dijual.

Penyajian asset tidak berwujud


Aset tidak berwujud disajikan dalam laporan posisi keuangan keuangan sebagai asset (aktiva). Untuk hal-hal yang berhubungan dengan asset tidak berwujud seperti beban amortisasi dan kerugian impairment disajikan dalam laporan laba rugi.