Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KELOMPOK

Akuntansi Keuangan Menengah

Resume Chapter 11 :
“Depreciation, Impairments, and Depletion”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 1, DENGAN ANGGOTA:

No. Urut
No Nama Mahasiswa NPM Paraf
Daftar Hadir

1 Adetya Candra Yuwana Putra 1401180093 1


2 Adi Surya Kusuma 1401180094 2
3 Alif Setyo Pambudi 1401180095 3
4 Andika Wahyu Permadi 1401180096 4
5 Arief Tirtana 1401180097 5

KELAS 7 - 2

PRODI D-IV AKUNTANSI (ALIH PROGRAM)

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN


Depresiasi, Penurunan dan Deplesi

1. Depresiasi – Metode Alokasi Biaya

Depresiasi bukan masalah penilaian. Sebaliknya, depresiasi adalah suatu alokasi


biaya. Depresiasi adalah proses akuntansi dalam pengalokasian biaya aset berwujud ke
beban secara sistematis dan rasional untuk periode-periode yang diharapkan akan
memperoleh manfaat dari penggunaan aset tersebut.

Pendekatan ini digunakan karena nilai aset dapat berfluktuasi diantara waktu aset
dibeli dan waktu aset dijual. Perusahaan menggunakan pendekatan alokasi biaya karena
sesuai antara biaya dan pendapatan dan fluktuasi nilai wajar (fair value) yang tidak pasti
dan sulit untuk diukur.

Alokasi biaya dari aset jangka panjang :


 Aset tetap (seperti bangunan atau peralatan) = Penyusutan (Depreciation)
 Aset tak berwujud (seperti paten atau hak cipta) = Amortisasi (Amortization)
 Sumber daya mineral (seperti minyak, gas dan batu bara) = Deplesi (Depletion)

Faktor-faktor dalam proses penyusutan :


a. Dasar Penyusutan Aset
Dasar untuk penyusutan adalah fungsi dari dua faktor yaitu : biaya awal (the original
cost) dan nilai residu (residual value). Nilai residu adalah estimasi jumlah yang akan
diterima perusahaan ketika aset tersebut dijual atau dihapuskan. Nilai residu
merupakan jumlah dimana aset diturunkan nilainya atau disusutkan selama masa
manfaatnya.

b. Estimasi Umur Pelayanan atau Jasa


Umur layanan dari suatu aset berbeda dari umur fisiknya. Misalnya, suatu mesin
secara fisik mampu menghasilkan produk tertentu selama bertahun-tahun mampu di
luar umur layanannya. Namun, perusahaan tidak boleh menggunakan mesin tersebut
di sepanjang umur fisiknya karena biayanya di tahun-tahun mendatang mungkin akan
terlalu tinggi.
Perusahaan menentukan umur manfaat dari aset berdasarkan dua faktor :
 Faktor Fisik (physical factors) seperti karena bencana atau telah habis umur
fisiknya.
 Faktor ekonomi atau faktor fungsi (economic factors) seperti karena
ketidakmampuan (inadequacy) dalam proses produksi, penggantian aset
(supersession) dan keusangan (obsolence).
2. Metode penyusutan
a. Metode Aktivitas (Activity Method)
Metode aktivitas juga dikenal sebagai pendekatan beban variabel atau unit
produksi. Metode ini mengasumsikan bahwa penyusutan merupakan fungsi dari
penggunaan atau produktivitas, bukan dari berlalunya waktu. Perusahaan
menghitung biaya depresiasi berdasarkan output yaitu berapa jumlah produk yang
dihasilkan atau input yaitu jumlah jam asset tersebut digunakan. Rumus dari
metode ini adalah :

(𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 − 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑖𝑠𝑎) 𝑥 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐽𝑎𝑚


𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝐽𝑎𝑚

Kelebihan penggunaan metode aktivitas adalah apabila hilangnya pelayanan


merupakan hasil dari aktivitas atau produktivitas, maka metode ini tepat dipilih
untuk menandingkan biaya dan pendapatan. Namun, keterbatasan dari metode ini
adalah penggunaan metode ini tidak tepat apabila digunakan pada situasi
penyusutan merupakan fungsi dari waktu dan bukan aktivitas. Selain itu, estimasi
unit yang diproduksi dan jam penggunaan seringkali sulit untuk ditentukan.
b. Metode Garis Lurus (Straight-line Method)
Metode garis lurus mengestimasikan biaya depresiasi berdasarkan fungsi waktu,
bukan fungsi dari penggunaan. Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan
karena penggunaannya yang mudah. Rumus yang digunakan dalam metode ini
adalah sebagai berikut :

(𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 − 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑖𝑠𝑎)


𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 =
𝐸𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑈𝑚𝑢𝑟 𝑀𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡

Kelemahan dari penggunaan metode garis lurus adalah metode ini didasarkan
pada dua asumsi yang tidak realistis, yaitu kegunaan ekonomis aktiva sama setiap
tahun, dan beban pemeliharaan dan perbaikan diasumsikan sama setiap periode.
Kelemahan lainnya adalah penggunaan metode ini menyebabkan distorsi pada
tingkat pengembalian (rate of return).
c. Metode Beban Menurun (Diminishing-charge Method)
Metode ini memberikan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal
dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang. Metode ini dibagi menjadi
dua, yaitu :
1) Metode Jumlah Angka Tahun (Sum-of-the-years-digits Method)
Metode ini menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan
pecahan yang menurun dari biaya yang disusutkan yaitu biaya awal dikurangi
dengan nilai residual aset sehingga pada akhir masa manfaat, saldo yang
tersisa sama dengan nila residual. Contoh perhitungan dengan menggunakan
metode jumlah angka tahun adalah sebagai berikut :
Data for Stanley Coal Mines
Alternate sum-of-the-years’ calculation :

2) Metode Saldo Menurun (Declining-balance Method)


Tidak seperti metode lainnya, nilai sisa pada metode saldo menurun tidak
dikurangkan dalam menghitung dasar penyusutan. Tarif saldo menurun
dikalikan dengan nilai buku (book value) aktiva pada awal setiap periode.
Karena nilai buku aktiva dikurangi setiap periode dengan beban penyusutan,
maka tariff saldo menurun yang menghasilkan beban penyusutan yang
semakin rendah setiap tahunnya. Proses ini terus belangsung hingga nilai buku
aktiva berkurang mencapai estimasi nilai sisanya, dimana pada saat tersebut.
penyusutan dihentikan.

3. Komponen Depresiasi (Component Depreciation)


IFRS mensyaratkat bahwa setiap item Properti, Pabrik dan Peralatan yang signifikan
terhadap total harga perolehan harus didepresiasi secara terpisah.

4. Masalah Penyusutan Khusus (Special Depreciation Issues)


a. Penyusutan dan Periode Parsial
Dalam menghitung beban penyusutan periode parsial, perusahaan harus menentukan
beban penyusutan untuk setahun penuh dan kemudian merata-ratakan beban
penyusutan ini pada dua periode yang terlibat. Proses ini harus berlangsung selama
masa manfaat aktiva.
b. Penyusutan dan Penggantian Property, Plant and Equipment
Penyusutan sama dengan beban lainnya mengurangi laba bersih. Perbedaannya
adalah penyusutan tidak melibatkan arus kas keluar pada periode berjalan.
Penyusutan tidak menyediakan dana bagi penggantian aktiva. Dana untuk
penggantian aktiva berasal dari pendapatan yang dihasilkan melalui penggunaan
aktiva. Tanpa adanya pendapatan, tidak akan ada laba yang diwujudkan dan tidak aka
nada arus kas masuk yang dihasilkan selama periode berjalan.
c. Revisi Tarif Penyusutan
Ketika aktiva tetap diakuisisi, tarif penyusutan ditentukan dengan hati-hati berdasarkan
pengalaman masa lalu dengan aktiva sejenis dan informasi lainnya yang berkaitan.
Akan tetapi, provisi untuk penyusutan hanya merupakan estimasi dan mungkin perlu
untuk merevisinya selama umur aktiva kemunduran fisik yang tidak diharapkan atau
keusangan yang tidak terduga dapat membuat masa manfaat aktiva lebih pendek
daripada yang diestimasikan semula. Tidak ada perubahan yang harus dibuat atas
hasil-hasil yang dilaporkan sebelumnya. Saldo awal tidak disesuaikan sehingga tidak
ada ayat jurnal yang dibuat pada saat perubahan estimasi terjadi. Beban penyusutan
periode selanjutnya didasarkan pada pembagian nilai buku yang tersisa, dikurangi
dengan nilai sisa dengan estimasi umur yang tersisa.

5. Penurunan Nilai (Impairment)

Aset jangka panjang yang berwujud diturnkan nilainya ketika perusahaan tidak dapat
dipulihkan nilai tercatatnya baik melalui penggunaan atau dengan menjualnya. Untuk
menentukan apakah aset diturunkan nilainya, dalam dasar tahunan, perusahaan meninjau
kembali asset sebagai indikator dari impairment, yaitu penurunan pada kemampuan aset
untuk menghasilkan kas dengan digunakan atau dijual. Peninjauang ulang ini harus
mempertimbangkan informasi dari sumber internal (contohnya : perubahan kerugian
dalam kinerja) dan sumber eksternal (contohnya : perubahan kerugian dalam bisnis atau
lingkungan pemerintahan). Jika indikasi penurunan nilai ada, maka harus dilakukan tes
impairment. Tes ini membandingkan jumlah aset yang dipulihkan kembali (recoverable
amount) dengan nilai yang terbawa (carrying amount). Jika carrying amount lebih besar
dari jumlah yang dapat dipulihkan kembali, maka selisihnya disebut loss on impairment.
Jika recoverable amount lebih besar daripada carrying amount, maka impairment tidak
dicatat.
Recoverable amount didefinisikan sebagai nilai mana yang lebih tinggi antara nilai
wajar dikurangi biaya untuk menjual (fair value less costs to sell) atau nilai penggunaan
(value-in-use). Nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual berarti bahwa aset dapat dijual
setelah mengurangkan biaya penghapusan. Nilai kegunaan adalah nilai sekarang dari
aliran kas yang diharapkan dari penggunaan masa depan dan akhirnya dijual pada akhir
umur manfaat. Berikut ilustrasi dari tes impairment :
Contoh : Tidak terjadi impairment
Asumsikan bahwa Perusahaan Cruz mengadakan tes impairment untuk peralatannya.
Nilai terbawa dari peralatan tersebut adalah $200.000, nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjualnya adalah $180.000 dan nilai kegunaannya adalah $205.000. Dalam kasus ini,
nilai kegunaan dari peralatan Cruz lebih besar dari nilai terbawanya. Sebagai hasilnya,
tidak terjadi impairment.
Contoh : Terjadi impairment
Asumsikan bahwa informasi sama dengan Perusahaan Cruz di atas kecuali nilai
kegunaan dari peralatan Cruz yaitu $175.000 bukan $205.000. Cruz mengukur kerugian
impairment sebagai perbedaan nilai terbawa dan nilai wajar dikurangi dengan biaya
penjualan atau nilai kegunaan mana yang lebih tinggi. Jadi, Cruz mencatat kerugian
impairment sebesar $20.000 ($200.000-$180.000). Kemudian, Cruz akan membuat jurnal
untuk mencatat kerugian impairment :

Loss on impairment $20.000


Accumulated depreciation- Equipment $20.000

Loss on impairment dilaporkan pada laporan laba rugi (income statement) di bagian “other
income and expenses”. Perusahaan kemudian mengkredit akun peralatan atau
akumukasi depresiasi- peralatan untuk mengurangi nilai terbawa dari peralatan untuk
impairment.

6. Ilustrasi Impairment
Kasus 1
Pada 31 Desember 2016, Hanoi mempunyai peralatan dengan harga perolehan VND
26.000.000 dan akumulasi penyusutan sebesar VND 12.000.000. Peralatan tersebut
mempunyai masa manfaat 4 tahun dengan nilai sisa VND 2.000.000. Berikut informasi
yang relevan terkait perlatan tersebut :
1) Nilai terbawa per 31 Desember 2016 adalah VND 14.000.000
2) Hanoi menggunakan metode garis lurus untuk penyusutannnya. Penyusutan Hanoi
adalah VND 6.000.000 untuk tahun 2016 dan telah dicatat
3) Hanoi memutuskan bahwa nilai recoverable pada 31 Desember 2016 adalah VND
11.000.000
4) Sisa masa manfaat setelah 31 Desember 2016 adalah 2 tahun.
Maka, Hanoi mencatat impairment pada peralatannya pada 31 Desember 2016 sebagai
berikut :

Loss on impairment (14.000.000-11.000.000) 3.000.000


Accumulated depreciation – Equipment 3.000.000

Dengan impairment tersebut , maka nilai terbawa peralatan tersebut adalah VND
11.000.000. Pada tahun 2017, perusahaan memutuskan bahwa masa manfaat tidak
berubah, tetapi nilai sisanya diperkirakan sebesar 0. Perusahaan tetap menggunakan
metode garis lurus dan mencatat jurnal berikut untuk penyusutan di tahun 2017 :

Depreciation expense (11.000.000/2) 3.000.000


Accumulated depreciation – Equipment 3.000.000

Kasus 2
Pada akhir tahun 2015, Verna menguji impairment atas mesin dengan nilai terbawa
$200.000 dan masa manfaat 5 tahun. Mesin tersebut unik sehingga informasi untuk nilai
recoverable didasarkan pada nilai wajar karena sedikitnya informasi mengenai nilai pasar.
Oleh karena itu, Verna memutuskan bahwa nilai recoverable mesin tersebut didasarkan
pada nilai penggunaan. Untuk menentukan nilai penggunaan, Verna mengembangkan
sebuah perkiraan arus kas masa depan didasarkan pada anggaran kas internal
perusahaan. Verna menggunakan tingkat diskonto 8%. Analis Verna memperkirakan
bahwa arus kas masa depan adalah $40.000 tiap tahun selama 5 tahun dan akan
mempunyai nilai sisa sebesar $10.000 pada akhir tahun ke-5. Semua arus kas
diasumsikan diterima pada akhir tahun. Berikut adalah perhitungan nilai penggunaan
mesin tersebut.

PV dari arus kas tahunan ($40.000 x PVIFA 8%,5) 159.708,40


PV dari nilai sisa ($10.000 x PVIF 8%,5) 6.085,80
Nilai Penggunaan 166.514,20

Perhitungan kerugianimpairment pada tahun 2015 adalah sebagai berikut

Nilai terbawa mesin sebelum kerugian impairment 200.000,00


Nilai recoverable mesin 166.514,20
Kerugian impairment 33.485,80

Perusahaan mencatat jurnal sebagai berikut :

Loss on impairment 33.485,8


Accumulated depreciation – Equipment 33.485,88

Nilai terbawa setelah jurnal tersebut adalah $ 166.514,2.

7. Pembalikan dari Kerugiaan Penurunan Nilai


Setelah kerugian penurunan nilai dicatat, maka recoverable amount menjadi dasar
nilai dari aset yang mengalami penurunan nilai. Akibatnya, recoverable amount ini tidak
berubah kecuali untuk penyusutan atau amortisasi pada periode masa depan atau
penurunan nilai tambahan. Kerugian penurunan nilai tidak dapat direstorasi atas aktiva
yang ditahan untuk digunakan. Jika di masa mendatang ditemukan bahwa aset tersebut
tidak lagi mengalami penurunan nilai karena recoverable amount dari asset tersebut lebih
tinggi daripada carrying amount, maka kerugian atas penurunan nilai harus dikembalikan.
Contoh :
Tan Company membeli peralatan pada 1 Januari 2015, seharga HK$300.000, dengan
nilai manfaat 3 tahun tanpa nilai residu. Depresiasi dan carrying amount selama 3 tahun
sebagai berikut :

Pada 31 Desember 2015, Tan mengakui adanya penurunan nilai sebesar HK$20.000,
sehingga Tan membuat jurnal sebagai berikut :

Loss on impairment 20.000


Accumulated depreciation – Equipment 20.000

Depreciation expense dan carrying amount setelah penurunan nilai :

Pada akhir tahun 2016, Tan mengakui bahwa jumlah recoverable amount dari peralatan
sebesar HK$96.000, dimana jumlahnya lebih besar dari carrying amount yaitu HK$90.000.
Dalam hal ini, Tan membalik penurunan nilai yang sebelumnya telah diakui melalui jurnal
sebagai berikut :

Accumulated depreciation – Equipment 20.000


Recovery of Impairment Loss 20.000

Recovery atas penurunan nilai dilaporkan pada bagian “other income and expenses” pada
Income Statement.

8. Cash-Generating Units
Dalam beberapa kasus, seringkali sulit untuk menilai penurunan nilai suatu asset karena
satu asset dapat menghasilkan cashflow hanya bila berkolaborasi dengan aset-aset yang
lain. Jika hal seperti ini terjadi, perusahaan harus mengidentifikasi kumpulan terkecil aset-
aset yang dapat menghasilkan cash flow secara independen. Kumpulan terkecil tersebut
disebut cash-generating unit (CGU).

9. Impairment of Assets to Be Disposed Of


Saat perusahaan memilih untuk melepas asetnya yang mengalami penurunan nilai
dibandingkan untuk mempertahankannya, maka perusahaan harus melaporkan aset
tersebut pada lower-of-cost-or-net-realizable-value (nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual). Jika perusahaan bermaksud untuk melepas asetnya dalam jangka waktu
pendek, maka aset tersebut dinilai menggunakan net realizable value agar dapat
memberikan ukuran yang lebih baik tentang aliran kas bersih yang akan diterima dari
pelepasan aset tersebut.
Untuk aset yang ditahan untuk dilepaskan tidak akan disusutkan atau diamortisasi selama
periode aset itu dimiliki. Dasar pertimbangannya adalah bahwa terjadi inkonsistensi antara
penyusutan dengan gagasan tentang aset yang akan dilepaskan dan penggunaan mana
yang terendah antara biaya atau nilai realisasi bersih (LCNRV). Dengan kata lain, aset
yang ditahan untuk dilepaskan adalah seperti persediaan, dimana perusahaan harus
melaporkan aset tersebut pada mana yang lebih rendah antara biaya atau nilai realisasi
bersih (LCNRV). Suatu asset yang ditahan untuk dilepaskan dapat dicatat pada periode
mendatang, selama pencatatan tersebut tidak pernah lebih besar dari nilai tercatat aktiva
sebelum penurunan nilai. Kerugian atau keuntungan yang berhubungan dengan aset yang
mengalami penurunan nilai ini harus dilaporkan sebagai bagian dari laba operasi berlanjut.
Ringkasan mengenai konsep penurunan nilai pada akuntansi :

10. Deplesi (Depletion)


Pengertian deplesi adalah berkurangnya harga perolehan (cost) yang disebabkan oleh
pengelolaan sumber daya alam menjadi persediaan. Deplesi adalah penyusutan yang
terjadi pada benda yang bersifat alami atau tidak dapat diperbarui. Sumber daya alam
(natural resources), sering disebut wasting assets, diantaranya adalah minyak bumi,
bahan galian dan tanah hutan. Sumber daya alam dapat dibagi menjadi dua kategori :
a. Aset biologis/hidup (biological assets), misalnya tanah hutan dimana pelaporan
akuntansinya menggunakan pendekatan fair value.
b. Sumber daya mineral/galian (mineral resources), misalnya minyak bumi, gas bumi dan
bahan galian mineral.
 Penggunaan sepenuhnya oleh aktiva tersebut;
 Penggantian aktiva hanya dapat dilakukan secara alami oleh alam.
Sumber daya alam dikonsumsi secara fisik selama periode penggunaan dan tidak
mempertahankan karateristik fisiknya.
Menentukan Dasar dari Deplesi
Perusahaan seringkali mengalami jarak rentang waktu yang cukup lama antara
waktu saat terjadinya biaya atas deplesi dengan waktu saat memperoleh manfaat dari
sumber daya alam tersebut. Oleh karena itu, seringkali industri pertambangan
mengadopsi kebijakan konservatif dalam akuntansi untuk pengakuan pengeluarannya
sehubungan dengan kegiatan pertambangan sumber daya mineral.
Perhitungan dasar deplesi melibatkan tida factor, yaitu :
1) Biaya akuisisi deposit/ pra explorasi (Pre-exploratory costs)
2) Biaya eksplorasi dan evaluation (Exploratory and evaluation costs)
3) Biaya pengembangan (development costs)

Pengeluaran pra eksplorasi adalah harga yang dibayrakan perusahaan untuk


memperoleh hak properti untuk mencari dan menemukan sumber daya alam yang belum
pernah ditemukan sebelumnya atau harga yang dibayar untuk sumber daya yang telah
ditentukan. Biaya ini sering disebut biaya prospeksi, dan biasanya bersifat spekulatif dan
dibiayakan saat terjadi.
Biaya eksplorasi dan evaluasi (E & E Costs) adalah sebagai berikut :
 Biaya perolehan atas hak untuk melakukan eksplorasi.
 Biaya untuk studi topografi, geologis, geokimia dan geofisika.
 Biaya atas ekplorasi pengeboran.
 Biaya sampling.
 Biaya yang terjadi berkaitan dengan aktivitas-aktivitas untuk mengevaluasi studi
kelayakan teknis dan viabilitas komersialnya atas pertambangan sumber daya
mineral.
Perusahaan dapat memilih untuk membebankan biaya E & E ini secara langsung
saat setelah terjadi atau mengkapitalisasinya.
Biaya pengembangan dapat berupa biaya peralatan berwujud (tangible equipment)
dan biaya pengembangan tak berwujud (intangible development costs). Biaya peralatan
berwujud termasuk semua transportasi dan alat berat lainnya yang diperlukan untuk
mengembangkan sumber daya alam serta menyiapkannya. Biaya ini tidak diperhitungkan
dalam dasar deplesi karena aktiva tersebut dapat berpindah lokasi ke lokasi lain.
Sementara biaya pengembangan tak berwujud meliputi biaya pengeboran dan lain-lain.
Biaya ini tidak berwujud, tetapi dianggap sebagai bagian dari dasar deplesi. Sedangkan
biaya restorasi adalah biaya yang terkadang keluar untuk merestorasi kembali properti
seperti kondisi semula setelah dilakukan pengembangan.
Biaya Penghapusan Sumber Daya
Deplesi dihitung berdasarkan metode unit produksi yang berarti bahwa deplesi
merupakan fungsi dari jumlah unit yang ditambang selama periode berjalan. Dalam
pendekatan ini, total biaya sumber daya alam dikurangi dengan nilai sisa dibagi dengan
estimasi unit yang berada dalam deposit sumber daya alam untuk memperoleh biaya per
unit produk. Biaya per unit ini kemudian dikalikan dengan jumlah unit yang ditambang
untuk menghitung deplesi.

Perhitungan menggunakan rumus di bawah ini :


Untuk lebih memahami, berikut contoh soal terkait deplesi :
MaClede Co. memperoleh hak untuk menggunakan 1.000 are tanah di Afrika Selatan
untuk menambang perak. Biaya kontrak $50.000 dan biaya eksplorasi berkaitan dengan
properti adalah $100.000. Biaya pengembangan tidak berwujud terjadi pada saat
pembukaan wilayah tambang adalah $850.000. Budi mengestimasikan bahwa tambang
tersebut akan terus menghasilkan 100.000 ton perak. Jika MaClede Co. menambang
25.000 ton pada tahun pertama, maka deplesi pada tahun tersebut adalah $250.000
(25.000 x $10).

Inventory 250.000
Accumulated Depreciation 250.000

Laporan Keuangan MaClede Co.

Biaya deplesi yang berhubungan dengan inventori yang terjual adalah bagian dari COGS.

Mengestimasi cadangan yang dapat dipulihkan


Masalah ini sama dengan akuntansi untuk perubahan estimasi umur manfaat pabrik
dan peralatan. Prosedurnya adalah merevisi tingkat deplesi atas dasar prospektif dengan
membagi biaya yang tersisa dengan estimasi baru cadangan yang dapat dipulihkan.

Dividen likuidasi
Dividen likuidasi dibayarkan kepada pemegang saham apabila perusahaan tidak
membeli properti tambahan sehingga perusahaan harus mendistribusikan investasi
modalnya secara bertahap kepada para shareholder yang lebih besar dari jumlah
akumulasi laba bersih. Masalahnya adalah membedakan antara dividen yang merupakan
pengembalian modal atau bukan. Perusahaan yang menerbitkan dividen likuidasi harus
mendebit agio saham untuk bagian yang berhubungan dengan investasi awal dan bukan
ke laba ditahan, karena dividen tersebut adalah pengembalian sebagian dari kontribusi
awal investor.
Contoh Soal :
Budi Mining memiliki saldo retained earning £1.650.000, accumulated depletion pada
properti mineral £2.100.000 dan saham premium £5.435.493. Direksi Budi Mining
mengumumkan dividen sebesar £3 terhadap 1.000.000 saham yang beredar, yang berarti
kas dividen adalah sebesar £3.000.000. Jurnal yang dicatat adalah :
Retained Earnings 1.650.000
Share Premium – Ordinary 1.350.000
Cash 3.000.000
Presentasi Laporan Keuangan
Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut berkaitan dengan pengeluaran
E&E :
1) Kebijakan akuntansi untuk pengeluaran explorasi dan evaluasi, termasuk pengakuan
aset-aset E&E.
2) Jumlah aset, liabilitas, pendapatan dan beban, dan arus kas operasi yang timbul dari
kegiatan ekplorasi dan evaluasi sumber daya mineral

11. Revaluasi
Pengakuan Revaluasi
Ketika perusahaan memilih untuk menilai wajar aset berwujud berumur panjang,
mereka menghitung penggantian nilai wajarnya dengan menyesuaikan akun aset tersebut
dan mengakui unrealized gain pada aset yang direvaluasi, keuntungan ini biasa disebut
surplus revaluasi.

Revaluasi Tanah
Untuk menggambarkan revaluasi tanah, asumsikan bahwa Siemens membeli tanah
seharga 1.000.000 pada tahun 2015. Perusahaan melakukan revaluasi pada tanah di
periode yang sama. Pada Desember 2015, nilai wajar tanah adalah 1.200.000. Untuk
mencatat nilai tanah pada nilai wajar maka dibuat jurnal berikut :

Land 200.000
Unrealized Gain on Revaluation – Land 200.000

Tanah dilaporkan pada laporan posisi keuangan pada 1.200.000 dan unrealized gain on
revaluation – land menaikkan pendapatan komprehensif lain pada laporan pendapatan
komprehensif.

Revaluasi aset depresiasi


Dalam mengilustrasikan akuntansi untuk revaluasi menggunakan aset
depresiasi,asumsikan bahwa Lenovo membeli peralatan senilai ¥500.000 pada 2 Januari
2015. Peralatan mempunyai umur ekonomis selama 5 tahun, didepresiasikan
menggunakan metode garis lurus, dan nilai sisanya nol. Nokia memilih untuk menilai ulang
peralatannya pada fair value selama umur peralatan. Nokia mencatat beban depresiasi
¥100.000 (500.000 : 5) sebagai berikut.
31 Desember 2015
Depreciation Expense 100.000
Accumulated Depreciation-Equipment 100.000
(untuk mencatat beban depresiasi pada 31 Desember 2015)

Setelah jurnal ini, peralatan Lenovo memiliki nilai buku ¥400.000(¥500.000-€100.000).


Lenovo mempekerjakan penilai independen, yang menentukan fair value peralatan pada
31 Desember 2015 adalah ¥460.000. Untuk melaporkan peralatan ini pada fair value,
Lenovo melakukan hal-hal berikut.
1. Mengurangi akumulasi depresiasi- akun peralatan menjadi nol.
2. Mengurangi akun peralatan sejumlah ¥40.000 - ini sekarang dilaporkan pada fair
value senilai ¥460.000.
3. Mencatat Unrealized Gain on Revaluation –Equipment untuk membedakan fair value
dan nilai buku peralatan, atau ¥60.000(¥460.000-¥400.000). Jurnal untuk mencatat
revaluasi pada 31 Desember 2015, adalah sebagai berikut.

Accumulated Depreciation – Equipment 100.000


Equipment 40.000
Unrealized Gain on Revaluation – Equipment 60.000

Peralatan tersebut sekarang dilaporkan pada nilai wajarnya sebesar ¥460.000.


Kenaikan ¥60.000 dilaporkan pada laporan pendapatan komprehensif sebagai
pendapatan komprehensif lain.

12. Presentation and Analysis


Sebuah perusahaan harus mengungkapkan dasar penilaian (biasanya
historical cost) untuk Property, Plant, Equipment, dan Sumber Daya Mineral bersamaan
dengan komitmen – komitmen mengenai aset tersebut. Perusahaan tidak boleh
mengurangkan kewajiban apapun yang diperoleh dari PPE dan Sumber Daya Mineral
kepada aset tersebut. Kewajiban tersebut mesti dilaporkan pada bagian kewajiban.
Perusahaan harus mengeluarkan PPE yang tidak dipakai dalam proses produksi
(seperti fasilitas idle atau tanah yang dibeli untuk investasi) dari aset yang dipakai pada
operasi.
Ketika menyusutkan aset, perusahaan mengkreditkan akun penilaian yang biasanya
disebut Accumulated Depreciation. Menggunakan akun Accumulated Depreciation
mengijinkan pemakai untuk melihat harga asli aset dan nilai depresiasi yang dikenakan
perusahaan ke biaya di tahun – tahun yang telah lalu.
Ketika mendeplesi sumber daya mineral, beberapa perusahaan menggunakan
akun Accumulated Depletion. Tetapi, kebanyakan perusahaan langsung mengkreditkan
akun sumber daya alam secara langsung. Alasannya adalah sumber daya alam itu
secara fisik berkurang sehingga pengurangan langsung terhadap harga sumberdaya
alam masuk akal.

13. Analisis dari Property, Plant, dan Equipment


Asset Turnover
Turnover ini mengukur seberapa efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya
untuk menghasilkan pendapatan. Rasio ini membagi penjualan bersih oleh rata – rata
total aset pada satu periode.

Profit Margin on Sales


Rasio ini mengukur seberapa untung perusahaan dalam menggunakan asetnya. Rasio
ini diperoleh dari perhitungan net income dibagi net sales. Dengan menghubungkan
antara rasio ini dengan asset turnover kita dapat melihat seberapa untung perusahaan
dalam menggunakan aset dalam ukuran return on asset.

Return on Asset
Return on asset adalah tingkat pengembalian yang diperoleh perusahaan melalui
penggunaan asetnya. Rasio ini diperoleh dari perhitungan net income dibagi rata – rata
total aset pada satu periode. Rasio ini mengukur keuntungan secara baik karena
menggabungkan efek dari profit margin dan asset turnover.
APPENDIX 11A

Revaluasi Property, Plant and Equipment


Jika perusahaan memilih untuk menilai secara wajar aset berwujud berumur panjang
yang dimiliki setelah akuisisi, perubahan pada nilai wajar juga harus diperhitungkan
pada akun aset yang sesuai dan mencatat keuntungan yang belum terealisasi atas aset
berwujud berumur panjang yang telah dinilai kembali (direvaluasi). Keuntungan yang
belum terealisasi ini sering disebut sebagai surplus revaluasi.
Adapun aturan umum untuk perhitungan revaluasi adalah sebagai berikut.
1) Ketika perusahaan menilai kembali aset berwujud berumur panjang di atas biaya
historis, perusahaan melaporkan keuntungan yang belum terealisasi tersebut
sebagai penambah pendapatan komprehensif lainnya (OCI). Dengan demikian,
keuntungan yang belum terealisasi meningkatkan pendapatan komprehensif
lainnya, dan meningkatkan akumulasi pendapatan komprehensif lainnya.
2) Jika perusahaan mengalami kerugian atas penurunan nilai (lebih rendah dari biaya
historis), kerugian tersebut mengurangi laba bersih dan laba ditahan. Dengan
demikian, keuntungan atas revaluasi meningkatkan ekuitas bukan laba bersih,
sedangkan kerugian menurunkan laba bersih dan laba ditahan.
3) Jika kenaikan revaluasi membalikkan penurunan yang sebelumnya dilaporkan
sebagai kerugian penurunan nilai, perusahaan mengkredit selisih penilaian kembali
tersebut menjadi pendapatan dengan menggunakan akun Pemulihan Kerugian
Penurunan Nilai (Recovery of Impairment Loss) sejumlah kerugian yang terjadi
sebelumnya. Setiap kenaikan penilaian tambahan di atas biaya historis
meningkatkan pendapatan komprehensif lainnya dan dikreditkan ke Keuntungan
Revaluasi yang Belum Terealisasi (Unrealized Gain on Revaluation).
4) Jika penurunan revaluasi membalikkan kenaikan yang dilaporkan sebagai
keuntungan yang belum terealisasi, perusahaan terlebih dahulu mengurangi
pendapatan komprehensif lainnya dengan mengurangi keuntungan yang belum
terealisasi. Tambahan pada penurunan penilaian mengurangi laba bersih dan
dilaporkan sebagai Kerugian Penurunan Nilai (Loss on Impairment).

Revaluasi Tanah
Contoh:
Revaluasi – 2015: Valuasi Meningkat
Grup Perusahaan Unilever (GBR dan NLD) membeli tanah pada 1 Januari 2015 dengan
harga €400.000. Unilever memutuskan untuk melaporkan tanah berdasarkan nilai wajar
pada periode tersebut. Pada tanggal 31 Desember 2015, penilai memprediksi nilai wajar
tanah adalah €520.000. Unilever membuat jurnal untuk mencatat peningkatan pada nilai
wajar sebagai berikut :

31 Desember 2015
Land 120.000
Unrealized Gain on Revaluation – Land (€520.000-€400.000) 120.000
(untuk mengakui kenaikan nilai tanah)
Penyesuaian revaluasi Unilever pada 2015.

Saat ini tanah dilaporkan pada nilai wajar sebesar €520.000 dan peningkatan sebesar
€120.000 dilaporkan pada laporan pendapatan komprehensif sebagai pendapatan
komprehensif lainnya. Sebagai tambahan, saldo akhir Unrealized Gain on Revaluation-
Land dilaporkan sebagai akumulasi pendapatan komprehensif lainnya pada laporan
perubahan posisi keuangan pada bagian ekuitas.

Revaluasi-2016: Turun Lebih Rendah Dari Biaya Historis


Bagaimana jika nilai wajar tanah pada tanggal 31 Desember 2016 adalah €380.000,
berkurang sebesar €140.000 (€520.000 - €380.000) ? Pada kasus ini, nilai wajar lebih
rendah daripada biaya historis sehingga Unilever mendebit Unrealized Gain on
Revaluation-Land sebesar €120.000 untuk mengeliminasi saldonya dan mencatat Loss
on Impairment sebesar €20.000 (€400.000 - €380.000), mengurangi laba bersih.
Adapun jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut.

31 Desember 2016
Unrealized Gain on Revaluation-Land 120.000
Loss on Impairment 20.000
Land (€520.000 - €380.000) 140.000
(untuk mencatat pengurangan nilai dari tanah dibawah biaya historis)

Ringkasan penyesuaian revaluasi Unilever pada tahun 2016.

Penurunan pada Unrealized Gain on Revaluation-Land sebesar $120.000 mengurangi


pendapatan komprehensif lainnya, yang kemudian mengurangi saldo akumulasi
pendapatan lainnya. Loss on Impairment sebesar $20.000 mengurangi laba bersih dan
laba ditahan. Dalam keadaan apapun, penurunan revaluasi dapat mengurangi
akumulasi pendapatan komprehensif lainnya di bawah nol.
Revaluasi-2017: Pemulihan Kerugian Penurunan Nilai (Impairment Loss)
Pada tanggal 31 Desember 2017, nilai tanah Unilever meningkat menjadi €35.000
(€415.000-€380.000). Pada kasus seperti ini, Kerugian karena penurunan nilai sebesar
€20.000 dibalik dan sisa kenaikan sebesar €15.000 dilaporkan sebagai pendapatan
komprehensif lainnya. Adapun jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut.

31 Desember 2017
Land 35.000
Unrealized Gain on Revaluation-Land 15.000
Recovery Impairment Loss 20.000
(revaluasi atas tanah, pemulihan impairment loss)

Ringkasan penyesuaian revaluasi Unilever pada tahun 2017.

Pemulihan Impairment Loss sebesar €20.000 meningkatkan laba bersih (dan laba
ditahan) hanya sampai batas seberapa besar pemulihan mengembalikan Impairment
Loss yang telah dicatat sebelumnya.
Pada 2 Januari 2018, Unilever menjual tanah seharga €415.000. Unilever membuat
jurnal sebagai berikut.

2 Januari 2018
Cash 415.000
Land 415.000
(untuk mencatat penjualan tanah)

Unilever tidak mencatat keuntungan atau kerugian karena jumlah yang dibawa tanah
adalah sama dengan nilai wajar. Karena tanah sudah terjual, Unilever memiliki opsi
untuk mentransfer Akumulasi Pendapatan Komprehensif Lainnya (AOCI) pada laba
ditahan. Tujuannya adalah untuk mengeliminasi unrealized gain pada tanah yang telah
dijual. Namun patut diingat transfer ini tidak meningkatkan laba bersih. Adapun jurnal
yang harus dibuat adalah sebagai berikut.
2 Januari 2018
Accumulated Other Comprehensive Income 15.000
Retained Earnings 15.000
(untuk mengeliminasi sisa saldo AOCI)

Revaluasi Aset Yang Dapat Didepresiasi


Contoh:
Nokia membeli peralatan seharga €1.000.000 pada tanggal 2 Januari 2015. Peralatan
memiliki masa manfaat 5 tahun yang didepresiasi dengan metode garis lurus dan nilai
sisanya nol.

Revaluasi-2015: Valuasi Meningkat


Nokia memilih merevaluasi peralatannya dengan nilai wajar sepanjang masa
manfaatnya. Nokia mencatat beban depresiasi sebesar €200.000 setiap tahunnya
(€1.000.000 : 5) sebagai berikut.

31 Desember 2015
Depreciation Expense 200.000
Accumulated Depreciation – Equipment 200.000
(untuk mencatat Depreciation Expense pada 31 Desember 2015 )

Saat ini, peralatan nokia senilai €800.000. Nokia mempekerjakan penilai independen
yang menentukan nilai wajar peralatan pada tanggal 31 Desember 2015 adalah sebesar
€950.000. Untuk mencatat peralatan pada nilai wajar, Nokia harus melakukan hal-hal
berikut ini.
1) Mengurangi nilai akun Akumulasi Depresiasi-Peralatan menjadi nol.
2) Mengurangi nilai akun peralatan sebesar €50.000 (jumlah ini yang kemudian dicatat
sebagai nilai wajar sebesar €950.000)
3) Mencatat Unrealized Gain on Revaluation-Equipment sebesar selisih antara nilai
wajar dan nilai peralatan yang tercatat, €150.000 (€950.000-€800.000). Adapun
jurnal yang dibuat untuk mencatat revaluasi ini adalah sebagai berikut.

31 Desember 2015
Accumulated Depreciation-Equipment 200.000
Equipment 50.000
Unrealized Gain on Revaluation-Equipment 150.000
(untuk mencatat pengurangan nilai dari tanah dibawah biaya historis)

Ringkasan penyesuaian revaluasi Nokia pada tahun 2015.


Nokia melaporkan beban depresiasi sebesar €200.000 pada lapora laba rugi dan
Unrealized Gain on Revaluation-Equipment sebesar €150.000 pada pendapatan
komprehensif lainnya yang juga meningkatkan akumulasi pendapatan komprehensif
lainnya.

Revaluasi-2016: Penurunan Nilai di bawah Biaya Historis


Depresiasi pada tahun 2016 adalah sebesar €237.500 (€950.000:4) dan jurnal untuk
mencatat beban depresiasi adalah sebagai berikut.

31 Desember 2016
Depreciation Expense 237.500
Accumulated Depreciation – Equipment 237.500
(untuk mencatat Depreciation Expense pada 31 Desember 2016)

Dalam IFRS, Nokia boleh mentransfer selisih antara depresiasi berdasarkan nilai
peralatan tercatat yang telah direvaluasi dengan depresiasi berdasarkan biaya awal
semula dari AOCI ke laba ditahan, yakni sebesar €37.500 (€237.500-€200.000) yang
dijurnal sebagai berikut.

31 Desember 2016
Accumulated Other Comprehensive Income 37.500
Retained Earnings 37.500
(untuk mencatat transfer dari AOCI ke Laba ditahan)

Sebelum revaluasi pada tahun 2016, Nokia memiliki nilai peralatan sebagai berikut.

Bedasarkan penilaian, peralatan saat ini bernilai wajar €570.000. Untuk melaporkan
pada nilai wajar, Nokia harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Mengurangi nilai akun Akumulasi Depresiasi-Peralatan sebesar €237.500 menjadi
nol.
2) Mengurangi nilai akun peralatan sebesar €380.000 (€950.000-€570.000), jumlah ini
yang kemudian dicatat sebagai nilai wajar sebesar €570.000
3) Mengurangi Unrealized Gain on Revaluation-Equipment sebesar €112.500, untuk
meng-offset saldo pada akun Unrealized Gain (terkait revaluasi pada tahun 2015)
4) Mencatat Loss on impairment sebesar €30.000

Adapun jurnal yang dicatat sebagai berikut :


Accumulated Depreciation-Equipment 237.500
Loss on impairment 30.000
Unrealized Gain on Revaluation-Equipment 112.500
Equipment 380.000
(untuk mencatat pengurangan nilai dari tanah dibawah biaya historis)
Ringkasan penyesuaian revaluasi Nokia pada tahun 2016

Berdasarkan jurnal revaluasi, jumlah nilai peralatan yang tercatat saat ini adalah
€570.000. Nokia melaporkan beban depresiasi sebesar €237.500 dan impairment loss
(kerugian penurunan nilai) sebesar €30.000 pada laporan laba rugi (yang mengurangi
laba ditahan).

Revaluasi-2017: Pemulihan Kerugian Akibat Penurunan Nilai


Beban depresiasi Nokia pada tahun 2017 adalah sebesar €190.000 (€570.000:3) dan
jurnal yang dibuat untuk mencatat beban depresiasi adalah sebagai berikut.

31 Desember 2017
Depreciation Expense 190.000
Accumulated Depreciation – Equipment 190.000
(untuk mencatat Depreciation Expense)

Nokia mentransfer selisih sebesar €10.000 antara depresiasi berdasarkan nilai


peralatan yang tercatat (€190.000) dan depresiasi berdasarkan biaya awal aset dari
AOCI (€200.000) ke laba ditahan. Adapun jurnal yang dibuat untuk mencatat transfer ini
adalah sebagai berikut.

31 Desember 2017
Retained Earnings 10.000
Accumulated Other Comprehensive Income 10.000
(untuk mencatat transfer dari AOCI ke Laba ditahan)

Sebelum revaluasi pada tahun 2017, nilai yang tercatat untuk peralatan adalah sebagai
berikut.

Nokia menentukan nilai wajar dari peralatan melalui nilai wajar dan untuk mencatatnya
pada fair value yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Mengurangi nilai akun Akumulasi Depresiasi-Peralatan sebesar €190.000 menjadi
nol.
2) Mengurangi nilai akun peralatan sebesar €120.000 (€570.000-€450.000), jumlah ini
yang kemudian dicatat sebagai nilai wajar sebesar €450.000
3) Mencatat Unrealized Gain on Revaluation-Equipment sebesar €40.000.
4) Mencatat Pemulihan Loss on impairment sebesar €30.000.

Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut.


Accumulated Depreciation-Equipment 190.000
Unrealized Gain on Revaluation-Equipment 40.000
Equipment 120.000
Recovery of Loss on Impairment 30.000
(untuk mencatat pengurangan nilai dari tanah dibawah biaya historis)

Ringkasan penyesuaian revaluasi Nokia pada tahun 2017

Berdasarkan jurnal revaluasi, nilai yang tercatat pada perlatan saat ini adalah €450.000.
Nokia mencatat beban depresiasi sebesar €190.000 dan pemulihan kerugian akibat
penurunan nilai sebesar €30.000 pada laporan laba rugi. Nokia mencatat €40.000 pada
Unrealized Gain on Revaluation-Equipment, yang meningkatkan AOCI sebesar
€50.000.
Pada 2 Januari 2018, Nokia menjual peralatannya seharga €450.000 dan membuat
jurnal sebagai berikut.

2 Januari 2018
Cash 450.000
Equipment 450.000
(untuk mencatat penjualan peralatan)

Nokia tidak mencatat keuntungan atau kerugian karena nilai peralatan yang tercatat
adalah sama dengan nilai wajarnya. Nokia mentransfer sisa saldo Akumulasi
Pendapatan Komprehensif Lainnya (AOCI) pada laba ditahan karena peralatan telah
dijual. Namun patut diingat transfer ini tidak meningkatkan laba bersih meskipun
terdapat peningkatan nilai sebesar €50.000, perusahaan tidak mengakui keuntungan
tersebut pada laba bersih pada periode Nokia menguasai peralatan tersebut. Adapun
jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut.

2 Januari 2018
Accumulated Other Comprehensive Income 50.000
Retained Earnings 50.000
(untuk mengeliminasi sisa saldo AOCI)