Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM IRIGASI DAN DRAINASE SISTEM AUDIT IRIGASI

Oleh : Ahadin Sholeh Eko andreas Ganestya indinasari Kiki Waskito Kisman Topani Masfupah Nurul Umayatul Wildan Abid 105040213111015 105040213111028 105040213111019 1050402131110 105040213111043 105040213111052 105040213111032 105040213111048

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG


2012

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semua tanaman membutuhkan air, tanah, udara dan sinar matahari untuk pertumbuhannya. Tanpa air, tanaman tidak dapat tumbuh, tetapi jika terlalu banyak air juga tidak baik untuk pertumbuhan tanaman. Pada umumnya tanaman untuk memenuhi kebutuhan airnya diperoleh dari hujan. Tetapi jika terlalu banyak hujan, maka tanah akan penuh dengan air sehingga kelebihan air ini harus dibuang dengan pembuatan saluran drainase. Jika tidak ada hujan atau hujan terlalu sedikit maka diperlukan sumber air lain atau melalui air irigasi. Jumlah air yang diperlukan melalui air irigasi tidak saja tergantung kepada air yang tersedia dari curah hujan, tetapi juga tergantung pada total air yang dibutuhkan oleh berbagai jenis tanaman yang kita tanam. Ada dua faktor utama dalam perhitungan kebutuhan air irigasi, yaitu total kebutuhan air dari berbagai jenis tanaman dan jumlah air dari curah hujan yang tersedia untuk tanaman. Jadi jumlah air yang dibutuhkan tanaman dikurangi dengan air yang tersedia dari curah hujan sama dengan air irigasi yang dibutuhkan tanaman yang kita tanam. Untuk dapat mencukupi kebutuhan air pada fase pertumbuhan tanaman, sehingga dapat menyesuaikan antara waktu panen dan permintaan pasar, maka pelaksanaan pengelolaan air melalui irigasi sangat dibutuhkan khususnya untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau. Dalam implementasinya dilapangan, oleh karena air irigasi yang bersumber dari air tanah memerlukan biaya investasi relatif mahal, maka pendayagunaan air yang dihasilkan dari pompa perlu diarahkan kepada Tanaman Bernilai Ekonomi Tinggi (TBET). Sehubungan dengan jumlah air yang relatif terbatas, sementara permintan air terus meningkat, maka secara alamiah akan terjadi kompetisi penggunaan air antar sektor (pertanian,air minum, domestik dan industri), antar wilayah dan antar waktu. Untuk mengantisipasi kompetisi dalam distribusi dan alokasi air antar sektor, maka pemanfaatan air yang efisien mutlak diperlukan. Salah satu cara adalah dengan penerapan sistem irigasi bertekanan, yaitu irigasi tetes. Meskipun awalnya membutuhkan investasi yang relatif tinggi namun dengan perhitungan dan penentuan desain yang akurat, operasional

dan pemeliharaan yang tepat maka pemanfaatan air untuk sektor pertanian dapat ditingkatkan daya saingnya terhadap sektor kompetitornya. Sumber air yang tak terbatas untuk pertanian menjadi berkurang disebabkan oleh musim kemarau, tekanan populasi dan penduduk. Usaha untuk mengatasi permasalahan lahan di atas adalah dengan mengoptimalkan pemakaian air dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian air irigasi pada setiap jenis kegiatan produksi pertanian. Pemanfaatan sumber daya air yang terbatas mendorong berkembangnya teknologi irigasi bertekanan. Hal ini dimungkinkan mengingat jenis irigasi ini mampu memanfaatkan air yang tebatas secara optimal. Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan praktikum Teknik irigasi sprinkler untuk mempelajari pengelolaan air yang efisien dan efektif melalui penerapan teknik irigasi tetes 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan diadakannya praktikum irigasi bertekanan : irigasi sprinkler adalah untuk mengetahui karakteristik dari beberapa jenis emiter (dripper) serta mengetahui debit aplikasi setiap emiter (dripper) pada irigasi tetes untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kegunaan dari praktikum irigasi bertekanan : irigasi sprinkler adalah agar mahasiswa mampu mengaplikasikan penggunaan dan pemanfaatan air secara optimal melalui sistem irigasi sprinkler.

BAB 2 TINJAUHAN PUSTAKA 2.1 Definisi sistem irigasi dan drainase Menurut Azwaruddin, 2008 menyebutkan bahwa Irigasi merupakan suatu ilmu yang memanfaatkan air untuk tanaan mulai dari tumbuh sampai masa panen. Air tersebut diambil dari sumbernya, dibawa melalui saluran, dibagikan kepada tanaman yang memerlukan secara teratur, dan setelah air tersebut terpakai, kemudian dibuang melalui saluran pembuang menuju sungai kembali. Menurut Evana, 2010 mengatakan bahwa Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi air bawahtanah, irigasi pompa dan irigasi rawa. Menurut Rahmad 2008 menyebutkan bahwa Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Sistem irigasi pada dasarnya adalah merupakan sistem yang bersifat sosio-teknis (Huppert dan Walker, l989; dan Pusposutardjo, l997b). Pernyataan bahwa sistem irigasi adalah bersifat sosio-teknis dipertegas dalam (PP) No, 20 tahun 2006. Di dalam peraturan pemerintah (PP) No, 20 tahun 2006 disebutkan bahwa pengertian dari irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Menurut Brian Dendiatama, 2011 mengatakan bahwa sistem drainase merupakan salah satu cara pembuangan air yang berlebihan pada suatu tempat atau kawasan. Secara umum, sistem drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga dapat difungsikan secara optimal. Menurut Azwaruddin, 2008 menyebutkan bahwa merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari daerah pemukiman, industri, pertanian, badan jalan dan permukaan perkerasan lainnya, serta berupa penyaluran kelebihan air pada umumnya, baik berupa air hujan, air limbah maupun air kotor lainnya yang keluar dari kawasan yang bersangkutan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah ke badan air atau ke bangunan resapan buatan. Sedangkan sistem drainase secara umum dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air ( banjir ) dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal, jadi sistem drainase adalah rekayasa infrastruktur di suatu

kawasan untuk menanggulangi adanya genangan banjir ( Suripin, 2004 ). Sistem jaringan

drainase merupakan bagian dari infrastruktur pada suatu kawasan, drainase masuk pada kelompok infrastruktur air pada pengelompokan infrastruktur wilayah, selain itu ada kelompok jalan, kelompok sarana transportasi, kelompok pengelolaan limbah, kelompok bangunan kota, kelompok energi dan kelompok telekomunikasi ( Grigg 1988, dalam Suripin, 2004 ). 2.1. Macam-macam metode irigasi dan drainase Menurut Brian, 2011 mengatakan bahwa Macam-macam irigasi dibagi menjadi lima yaitu: a. Irigasi Permukaan Irigasi Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung di sungai melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan pengambilan bebas (free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran primer, sekunder, dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan dengan pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan mendapat air lebih dulu. b. Irigasi Lokal Sistem ini air distribusikan dengan cara pipanisasi. Di sini juga berlaku gravitasi, di mana lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air yang disebar hanya terbatas sekali atau secara lokal. c. Irigasi dengan Penyemprotan Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkle. Air yang disemprot akan seperti kabut, sehingga tanaman mendapat air dari atas, daun akan basah lebih dahulu, kemudian menetes ke akar. d. Irigasi Tradisional dengan Ember Di sini diperlukan tenaga kerja secara perorangan yang banyak sekali. Di samping itu juga pemborosan tenaga kerja yang harus menenteng ember. e. Irigasi Pompa Air

Air diambil dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudian dialirkan dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada musim kemarau irigasi ini dapat terus mengairi sawah. Menurut Dr. Ir. Suripin, M. Eng. Mengatakan bahwa Sistem jaringan drainase umumnya dibagi atas 2 bagian, yaitu : 1. Sistem Drainase Makro Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/ badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase makro ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini. 2. Sistem Drainase Mikro Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/

selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro. Bila ditinjau deri segi fisik (hirarki susunan saluran) sistem drainase diklassifikasikan atas saluran primer, sekunder, tersier dan Kwarter. 1. Saluran Primer Saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai. Saluran primer adalah saluran utama yang menerima aliran dari saluran sekunder. 2. Saluran Sekunder Saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan saluran primer (dibangun dengan beton/ plesteran semen). 3. Saluran Tersier

Saluran untuk mengalirkan limbah rumah plesteran, pipa dan tanah. 4. Saluran Kwarter Saluran kolektor jaringan drainase lokal.

tangga ke saluran sekunder, berupa

2.3.Keunggulan dan Kekurangan masing-masing Metode a. Irigasi permukaan Adapun keuntungan menggunakan sistem irigasi permukaan ini ialah: - Besarnya air yang mengalir dalam lahan akan meresap ke dalam tanah untuk dipergunakan oleh tanaman secara efektif - Untuk jenis irigasi furrow keuntungannya sesuai untuk semua kondisi lahan Adapun kelemahan menggunakan sistem irigasi permukaan ialah: - Lebih boros air karena tingkat penguapan tinggi sehingga banyak terjadi kehilangan air b. Irigasi tetes Adapun keuntungan menggunakan irigasi tetes ini ialah: - Dapat menghemat penggunaan air tanaman - Mengurangi kehilangan air yang begitu cepat akibat penguapan dan infiltrasi - Membantu memenuhi kebutuhan air tanaman pada awal penanaman sehingga juga akan meningkatkan pemanfaatan unsur hara tanah oleh tanaman. - Mengurangi stresing atau mempercepat adaptabilitas bibit sehingga

meningkatkan keberhasilan tumbuh tanaman. - Melakukan pemanenan air hujan lewat wadah irigasi tetes secara terbatas sehingga dapat digunakan tanaman (Hansen, 1986). - Luas pembasahan yang sempit dapat meminimumkan pertumbuhan gulma - air yang diberikan mendekati kesetimbangan dengan kebutuhan air tanaman, meminimumkan air larian, dan perkolasi - Meningkatkan efisiensi dan pemberian pupuk dan bahan kimia yakni dicampur dengan air irigasi, sehingga pupuk atau bahan kimia yang digunakan menjadi lebih sedikit, fekuensi pemberian dan distribusinya hanya di sekitar daerah perakaran

- Pemberian air secara terus-menerus akan melarutkan dan menjauhkan garam dari daerah perakaran, sehingga dapat menekan penumpukan garam (Anonymous,2012). Adapun kelemahan menggunakan sistem irigasi tetes ialah: - Sangat rawan terhadap penyumbatan pada pipa-pipa akibat penumpukan garam-garam ataupun kotoran-kotoran. - Memerlukan biaya yang cukup besar untuk pembelian peralatan

c. Irigasi curah Adapun keuntungan dari penggunaan irigasi curah antara lain : - Efisiensi pemakaian air cukup tinggi - Dapat digunakan untuk lahan dengan topografi bergelombang dan kedalaman tanah (solum) yang dangkal, tanpa diperlukan peralatan lahan (land grading) - Cocok untuk tanah berpasir dimana laju infiltrasi biasanya cukup tinggi - Aliran permukaan dapat dihindari untuk memperkecil kemungkinan terjadinya erosi - Biaya tenaga kerja untuk operasi biasanya lebih kecil dari pada irigasi permukaan - Tidak mengganggu operasi alat dan mesin pertanian - sesuai untuk lahan berlereng tampa menimbulkan masalah erosi yang dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah - tidak memerlukan jaringan saluran sehingga secara tidak langsung akan menambah luas lahan produktif serta terhindar dari gulma air (Bustomi, 1999). Adapun kelemahan dari metode irigasi curah ialah: - memerlukan biaya investasi dan operasional yang cukup tinggi, antara lain untuk operasi pompa air dan tenaga pelaksana yang terampil - banyak air yang menguap dan terbawa angin sehingga hanya sedikit yang terserap oleh tanaman - memerlukan rancangan dan tata letak yang cukup teliti untuk memperoleh tingkat efisiensi yang tinggi (Bustomi, 1999). 2.4.Audit Sistem Irigasi

Audit pengelolaan irigasi adalah kegiatan pemeriksaan kinerja pengelolaan irigasi yang meliputi aspek organisasi, teknis, dan keuangan, sebagai bahan evaluasi manajemen aset irigasi (PP No 77 tahun 2001).

III. METODOLOGI Waktu dan tempat Waktu pelaksanaan : Sabtu, 13 Mei 2012/ 10.00 WIB Tempat: Lapangan Sepak Bola Landung Sari Malang Langkah Kerja Siapkan alat dan bahan Ukur lebar dan panjang lapangan sepanjang 30 meter dan bagi menjadi 4 titik dengan jarak masing-masing 7,5 meter Tandai ke 4 titik tersebut dengan menggunakan bambu dan tali rapia Pada setiap titik bagi lebar titik menjadi 16 bagian, tandai masing-masing titik kemudian letakkan wadah penampung air pada setiap titik Nyalakan Sprinkle sebagai sumber air irigasi Amati kerja sprinkle sampai pancaran air tidak mengenai wadah Ukur volume air yang tertampung Mencatat hasil pengukuran volume dari masing-masing titik penampung

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN 4.1.Data pengamatan


Petakan No A 1 Ml 1 4 13 9 0 5,4 2 ml 4 5 15 9 0,5 6,7 3 ml 3 10 15 10 1 7,8 4 ml 2 13 19 13 0,3 9,46 1 ml 2 12 16 11 2,5 8,7 2 ml 1 19 19 12 5 B 3 ml 2 20 15 15 6 4 ml 1 19,5 21 15 7 1 ml 0,5 19 22,5 13 8 12,6 2 ml 0,5 23 23 14 10 C 3 ml 0,5 26 26 15 9 4 ml 0,7 26 26 15 14 1 ml 10 27 26 18 14 19 2 ml 11 27 28 20 13 D 3 ml 13 28 28 22 15 4 ml 15 33 28 22 20

1 2 3 4 5 Rata - rata

11,2 11,6 12,7

14,1 15,3 16,34

19,8 21,2 23,6

4.2.Tingkat rata rata curahan air dalam sisten irigasi Untuk tingkat rataan curahan air irigasi dapat dinyatakan masih belum bisa merata keseluruh lahan pertanian. Dapat dilihat dari hasil rata rata debit yang dikumpulkan pada setiap mangkok pada tabel diatas. Rata rata debit yang didapatkan pada setiap petakan menunjukkan bahwa tingkat pemerataan air pada lahan masih kurang merata, dimana pada petakan A didapatkan nilai rerataan debit yang terendah dan kemudian meningkat pada petakan petakan selanjutnya. Dan yang terdekat dengan sprinklelah yang paling tinggi mendapatkan asupan air. Apabila diterapakan pada suatu lahan pertanian maka akan mengakibatkan kekurangan asupan air pada lahan petakan A, kemudian juga akan menyebabkan kelebihan asupan air pada petakan terakhir yang terdekat dengan sprinkle. Penyebab dari kurang meratanya curahan air dalam sistem irigasi ini diakibatkan adanya faktor lingkungan (kecepatan angin), operator alat, penempatan alat dan laju alat pada saat pemberian air dilahan pertanian serta debit air yang digunakan untuk proses irigasi. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa penggunaan sistem irigasi curah yang dilakukan di landungsari masih kurang efektif dalam pengadaannya. Apabila dilakukan pada lahan pertanian maka pengairan atau pemberian irigasi tidak akan optimal ke tanaman budidaya pada lahan tersebut. 4.3 Uji Keseragaman Irigasi 4.3.1 Koefisiensi Distribusi Keseragaman

Distribution Uniformity (keseragaman distribusi) adalah rata-rata volume dari nilai terendah air irigasi yang ditampung dibagi rata-rata volume air tampungan yang dinyatakan dalam persen. Du= 6,7/23,6x 100% = 28,38 % 4.3.2 Koefisiensi Keseragaman Christiansen Keseragaman aplikasi air merupakan salah satu faktor penentu efisiensi irigasi yang dihitung dengan persamaan koefisiensi keseragaman irigasi (CU/Coefficient Uniformity) dengan menggunakan persamaan Christiansen : Cu=1-rata-rata (volume air pada wadah nilai rata-rata volume air pada wadah)/rata-rata volume semua air = 1-{ rata-rata(132-26,4)/21,786}x100% = 1- {52,8/21,786}x100% = 1 2,424x100% = 142,4% 4.4 Indeks Irigasi Diameter penampang=11,5 cm Luas penampang = r2 = 3,14 x 5,75 x 5,75 = 103,82 cm2 CH=Irigasi=Volume rata-rata/Luas penampang = 348,576/103,82 = 3,357 cm3cm-2 Indeks irigasi = CH/CWR = 3,357/43,4 = 0,08 ml = 80 mm Indeks irigasi/kebutuhan air tanaman pada tanggal 20(40,1 data dari cropwat) = 80mm/40,1 = 1.99 mm (hasil menunjukkan kebutuhan air tanaman >1, jadi dapat disimpulkan bahwa kebutuhan air lebih besar dari pada kebutuhan tanaman sehingga dapat dilakukan drainase) 4.5 Pembahasan Dari hasil perhitungan data yang diperoleh, maka diperoleh Koefisiensi Keseragaman Distribusi (Du) sebesar 5,11%, Koefisiensi Keseragaman Christiansen (Cu) sebesar 142,4% dan Indeks Irigasi sebesar 0,08. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan nilai Cu sebesar 142,4% dapat dinyatakan seragam atau layak sehingga kehilangan air melalui perkolasi sangat rendah (Anonymousb, 20012). keseragaman pemberian air ditentukan berdasarkan variasi debit yang dihasilkan emiter. Karena debit merupakan fungsi dari tekanan operasi, maka variasi tekanan operasi merupakan faktor keseragaman aliran. Oleh karena tekanan berpengaruh pada debit emiter maka semakin besar tinggi air tangki penampungan akan semakin tinggi pula tekanan. Sehingga debit akan semakin besar. Pemberian air dalam jumlah yang kecil kemungkinan tidak akan dapat terserap oleh tanah dan tanaman, namun pemberian air dalam jumlah yang besar akan menimbulkan genangan dan aliran permukaan (Anonymousb, 2012).

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa irigasi merupakan suatu ilmu yang memanfaatkan air untuk tanaan mulai dari tumbuh sampai masa panen. Irigasi dapat dilakukan dengan beberapa macam metode. Pada setiap metode terdapat kekurangan dan kelebihan masingmasing yang dapat dijadikan acuan untuk memilih metode mana yang tepat digunakan pada tanaman. Sedangkan drainase merupakan salah satu cara pembuangan air yang berlebihan pada suatu tempat atau kawasan. Terdapat dua jaringan dalam system drainase, yaitu system drainase makro dan mikro.

Audit pengelolaan irigasi adalah kegiatan pemeriksaan kinerja pengelolaan irigasi yang meliputi aspek organisasi, teknis, dan keuangan, sebagai bahan evaluasi manajemen aset irigasi. Pada praktikum diperoleh data yang menjelaskan kurang meratanya curah air irigasi. bahwa terdapat kurang meratanya curahPenyebab dari kurang meratanya curahan air dalam sistem irigasi ini diakibatkan adanya faktor lingkungan (kecepatan angin), operator alat, penempatan alat dan laju alat pada saat pemberian air dilahan pertanian serta debit air yang digunakan untuk proses irigasi. 5.2 Saran Praktikum pengukuran debit air dalam perhitungan sanagt kurang jelas, dan perlu bimbingan ekstra dari asisten. Mohon asisten mau menerangkan secara jelas perhitungan pada praktikum ini.

DAFTAR PUSTAKA Ariyanto, D.P. 2007. Pengaruh Aspek Sosial-Kultural Masyarakat Terhadap Sistem Jaringan Irigasi. FP Jurusan Tanah UNS: Surakarta. Aziz, R. 2008. Pengantar Irigasi. (online). (http://wismpimrijabar.wordpress.com/2008/07/08/15/). Diakses tanggal 28 mei 2012. Azwarudin, 2008. Pemahaman Umum Drainase. (online). (http://azwaruddin.blogspot.com/2008/ 05/pemahaman-umum-drainase.html). Diakses tanggal 28 mei 2012. Azwarudin, 2008. Teknik Irigasi Ke-2. (online). (http://azwaruddin.blogspot.com/2008/02/teknikirigasi-ke-2.html). Diakses tanggal 28 mei 2012. Brian, 2011. Jenis-Jenis Irigasi. (online). (http://brainbeautyuchy.wordpress.com/2011/01/28/jenisjenis-irigasi/). Diakses tanggal 28 mei 2012. Brian Dendiatama, 2011. SISTEM DRAINASE OTOMATIS BERBASIS MIKROKONTROLER. (online). (http://smilewithismail.blogspot.com/2011/08/pengertian-operasi-sistem-drainase.html). Diakses tanggal 28 mei 2012. Evana. 2010. Pengertian Irigasi. (online). http://blog.ub.ac.id/evananp/2010/05/14/pengertianirigasi/). Diakses tanggal 28 mei 2012. Pusposutardjo, S. l996. Konsep Konservasi Tanah dan Air Untuk Keberlanjutan Irigasi, pidato pengukuhan gurubesar U.G.M: Yogyakarta. Suripin. (2004). Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Penerbit Andi: Jogyakarta.