Anda di halaman 1dari 4

FUNGSIONALISME STRUKTURAL 1. Perspektif I (Talcott Parsons) 1.

1 Teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons Fungsionalisme Struktural dalam perspektif Talcott Parsons lebih memandang suatu sistem sebagai sebuah keteraturan yang berpegang pada nilai dan norma dalam suatu masyarakat. Teori ini menjelaskan bahwa kekacauan merupakan suatu hal yang harus dihindarkan karena akan mengancam keteraturan struktur di dalam sebuah sistem. Parsons juga berpendapat bahwa para anggota di dalam sistem haruslah dapat memberikan partisipasinya kepada sistem dimana mereka berada. Selain itu partisipasi dari sistem yang lain juga dibutuhkan karena sebuah sistem tidak dapat eksis tanpa mendapatkan dukungan dari sistem yang lain. Teori yang sangat populer dalam bidang keilmuan sosiologi ini memiliki empat fungsi yang digunakan dalam pemenuhan kebutuhan sistem. Empat fungsi tersebut adalah A G I L, adaptation, goal attainment, integration, dan latency. Fungsi adaptation menjelaskan bahwa sebuah sistem haruslah menyesuakan diri dengan lingkungan dimana sistem tersebut berada. Goal attainment memiliki fungsi agar suatu sistem dapat mencapai tujuan yang dicita citakan. Integration memiliki fungsi menyatukan dan mengatur hubungan antara komponen dan fungsi yang dimiliki oleh sistem. Fungsi yang terakhir yaitu latency, lebih menekankan pada pemeliharaan dan perbaikan suatu sistem agar dapat bertahan lama dan terhindar dari kekacauan. 1.2 Masyarakat dalam Pandangan Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons Masyarakat digambarkan sebagai sebuah sistem yang anggotanya mampu memenuhi seluruh kebutuhan, baik itu secara komunal atau individual. Masyarakat merupakan sistem

sosiokultural yang dianggap penting untuk dibahas dalam teori sosiologi modern. Parson menggambarkan subsistem dalam masyarakat memiliki fungsi A G I L. Terdapat empat subsistem di dalam entitas masyarakat, yaitu subsistem ekonomi (adaptation), pemerintahan (goal attainment), komunitas kemasyarakatan (integration), dan sistem fiduciari (latency). Subsistem ekonomi memiliki fungsi untuk membantu masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kebutuhan dan realitas eksternal. Sedangkan subsistem pemerintahan memiliki fungsi goal attainment untuk mencapai tujuan kemasyarakatan, fungsi ini juga dibutuhkan untuk menggerakkan aktor agar mampu mencapai tujuan dari sistem. Selain itu terdapat subsistem komunitas kemasyarakatan Subsistem ini memiliki fungsi integration sebagai pengatur komponen komponen masyarakat. Terakhir subsistem fiduciari sebagai fungsi latency yang bertugas dalam

menginternalisasikan norma dan nilai kepada aktor di dalam masyarakat. 1.3 Evolusi Menurut Talcott Parsons Evolusi menurut Talcott Parsons berhubungan dengan proses penyesuaian diri sebuah sistem terhadap sistem yang baru. Perbedaan dan perkembangan merupakan akibat dari proses evolusi sebuah sistem yang nantinya akan membentuk sistem yang baru. Menurut Parsons, suatu proses evolusi dalam sebuah masyarakat akan berjalan secara bertahap, bukan terus menerus. Ia menjelaskan proses evolusi dengan tiga tahap besar, antara lain primitif, lanjutan, dan modern. Perkembangan dari tahap primitif ke lanjutan ditandai dengan berkembangnya pemakaian bahasa terutama tulisan. Sedangkan perkembangan dari tahap lanjutan ke modern ditandai dengan semakin melembaganya norma dan nilai dalam masyarakat. Parsons juga menganalisa masyarakat yang mengalami evolusi dari tahap primitif hingga tahap modern. Dalam analisanya ia bukan memperhatikan kepada proses dari perubahan yang terjadi, tetapi lebih mengarah kepada perbandingan dan penghubungan struktur dalam sebuah sistem masyarakat yang berevolusi.

2. Perspektif II (Niklas Luhmann) 2.1 Teori Sistem Umum Niklas Luhmann Luhmann memiliki pandangan yang berbeda dengan Parsons mengenai fungsionalisme struktural. Ia memandang bahwa teori Parsons sangat kompleks dan memiliki beberapa kelemahan. Teori sistem umum lebih menekankan kepada kontingensi dan kemungkinan dimana setiap fakta yang ada tidaklah mutlak dan memiliki peluang untuk menjadi berbeda. Pertama teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons tidak memiliki referensi diri. Masyarakat lebih diarahkan untuk melihat subsistem eksternal sedangkan tidak memiliki tempat untuk memahami dirinya sendiri yang Luhmann anggap merupakan suatu hal penting bagi sebuah sistem. Kedua teori Talcott Parsons terlihat kaku karena tidak memiliki kontingensi atau kemungkinan. Luhmann berpendapat bahwa skema A G I L ciptaan parsons tidak dapat dilihat sebagai sebuah fakta, tetapi sebuah skema kemungkinan. 2.2 Sistem Autopoietic Luhmann menggunakan istilah autopoietic untuk menggambarkan sistem ekonomi, politik, hukum, saintifik, dan birokrasi. Terdapat empat karakteristik dalam sistem. Pertama, sebuah sistem autopoietic menciptakan elemen dasar yang menyusun sistem itu sendiri. Sebagai contoh dalam sistem ekonomi uang merupakan sebuah elemen dasar dan sistem ekonomi tanpa adanya uang

tidak akan dapat berjalan. Karakteristik yang kedua adalah, sistem autopoietic mengorganisasikan pada batas batasnya sendiri dan mengorganisasikan sistem internalnya. Misalnya sistem ekonomi memiliki batasan bahwa sesuatu yang dapat disebut dalam sistem ekonomi adalah sesuatu yang langka dan berharga. Karakteristik yang ketiga dalam sebuah sistem adalah self referential. Sistem ekonomi memiliki harga untuk menggambarkan dirinya sendiri. Dalam sebuah pasar saham, harga ditentukan oleh sistem ekonomi. Pasar saham dapat disebut sebagai referensi diri dari sebuah sistem ekonomi. Ciri terakhir dalam sistem autopoietic adalah tertutup. Sistem ekonomi lebih berpihak kepada pemenuhan kebutuhan si kaya, namun tertutup pada pemenuhan kebutuhan si miskin.

2.3 Masyarakat dan Sistem Psikis Terdapat empat karakteristik masyarakat yang dijelaskan oleh Luhmann, yaitu membangun struktur dan batas batasnya sendiri, self-referential, dan tertutup. Menurutnya elemen dasar dari masyarakat adalah komunikasi. Masyarakat yang menciptakan komunikasi, dan komunikasi lah yang membentuk masyarakat. Sesuatu yang individu miliki dan tidak pernah dikomunikasikan kepada individu lain bukanlah bagian dari masyarakat. Sistem psikis masyarakat yang dijelaskan selanjutnya oleh Luhmann dapat disebut sebagai kesadaran. Kesadaran yang dimaksud dalam hal ini adalah kesadaran terhadap makna yang terbentuk dalam sebuah sistem. Dalam sistem psikis, segala sesuatu yang tidak bermakna berada di luar sistem, yang menjadi penyebab tindakan kita. Sedangkan segala sesuatu yang bermakna di dalam sistem berfungsi sebagai motivasi bagi tindakan kita. 2.4 Evolusi menurut Niklas Luhmann Luhmann berpendapat bahwa evolusi tidak bersifat teleologis. Evolusi merupakan sebuah perubahan yang deontologis dan perkembangan bukanlah tujuan yang ditetapkan sebelumnya oleh sebuah sistem. Evolusi merupakan seperangkat proses yang menjalankan fungsi variasi, seleksi dan stabilitas karakteristik yang dapat diproduksi. Variasi dianggap sebagai berbagai macam cara yang digunakan untuk menghadapi segala masalah yang timbul dari gangguan lingkungan. Dalam memilih variasi tersebut maka dibutuhkanlah seleksi untuk memilih solusi yang dianggap mudah untuk diterapkan. Terakhir, stabilisasi dibutuhkan bagi sistem untuk menyesuaikan diri dengan diferensiasi atau sistem baru yang muncul akibat dari evolusi.

3. Analisis Komparatif Teori Sistem Luhmann memberikan kritik kepada fungsionalisme parsons bahwa suatu sistem haruslah memiliki kontingensi. Teori parsons terlihat sangat kaku karena tidak melihat adanya suatu kemungkinan lain dan memandang skema A G I L sebagai sebuah fakta. Sebaliknya dalam teori sistem umum, Luhmann berfokus kepada kontingensi dan meyakinkan bahwa segala sesuatu mungkin dapat berubah. Referensi diri juga menjadi salah satu yang faktor membedakan antara teori Parsons dan Luhmann. Dalam fungsionalisme struktural milik Parsons, masyarakat tidak memiliki tempat untuk dapat memahami diri dan mereka lebih banyak membahas mengenai unsur eksternal dari sebuah sistem. Sedangkan dalam sistem autopoietic milik Luhmann terdapat karakteristik yang menggambarkan self-referential, dimana sebuah sistem memiliki elemen yang dapat menggambarkan sistem asalnya. Seperti pasar saham yang menjadi referensi diri dalam sistem ekonomi. Dalam memandang sistem masyarakat, Fungsionalisme Strukturalnya berpendapat bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang anggotanya mampu memenuhi seluruh kebutuhan, baik itu secara komunal atau individual. Parsons melihat suatu masyarakat melalui sudut pandang ekonomi sedangkan Luhmann melihat suatu masyarakat melalui sudut pandang sosiokultural, dengan memandang komunikasi sebagai elemen dasar. Luhmann berpendapat bahwa masyarakatlah yang membentuk komunikasi dan begitu juga sebaliknya. Segala sesuatu yang dimiliki oleh anggota masyarakat dan tidak pernah dikomunikasikan dengan anggota lainnya tidak dapat disebut sebagai bagian dari masyarakat. Fungsionalisme Struktural berpandangan bahwa evolusi merupakan sebuah proses teleologis. Parsons mengasumsikan satu jalan dari perkembangan kemasyarakatan adalah teleologis dan tidak menganggap variasi jalan lain untuk menghadapi sebuah problem. Hal ini berbeda dengan pendapat Luhmann mengenai evolusi yang memandang bahwa evolusi bersifat deontologis. Ide kemajuan yang menjadi akibat dari evolusi di dalam fungsionalisme struktural tidak akan ada artinya melalui sudut pandang Luhmann. Luhmann memandang

bahwa Evolusi merupakan sebuah perubahan yang deontologis dan perkembangan bukanlah tujuan yang ditetapkan sebelumnya oleh sebuah sistem.

Alfan Tiara Hilmi 10/296365/SP/23831