Anda di halaman 1dari 26

Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah tugas laporan akhir ini tepat pada waktunya. Laporan ini merupakan tugas dari praktikum yang telah kami laksanakan sebelumnya. Dalam penyusunan Laporan Akhir Praktikum ini, kami banyak mendapat tantangan dan

hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Akhir Praktikum ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami menyadari, bahwa penulis masih banyak kekurangan dalam membuat Tugas Laporan Praktikum ini. Oleh sebab itu, kami meminta saran kepada pembaca, bila penulis ada kesalahan. Semoga Laporan Praktikum Farmasi Fisisk ini dapat bermanfaat bagi pembaca, walaupun masih banyak kekurangan. Semoga makalah ini akan bermanfaat bagi kita semua agar dapat mengetahui tentang sifat dari bahan zat padat, terutama paracetamol yang akan kami bahas pada makalah ini. Terima kasih atas bimbingan dan waktunya sampai percobaan dan makalah ini diselesaikan.

Jakarta, 2 September 2012

Penulis

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

Daftar Isi

Kata Pengantar Daftar Isi Pendahuluan Tinjauan Pustaka Metode Kerja dan Hasil Pengamatan Pembahasan Penutup Daftar Pustaka

1 2 3 5 11 16 24 25

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat kebanyakan berukuran kecil

dan jarang yang berada dalam keadaan optimum. Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting dalam bidang farmasi sebab merupakan penentu bagi sifat-sifat, baik sifat fisika, kimia dan farmakologik dari bahan obat tersebut. Mikromeritik merupakan ilmu yang mempelajari tentang ilmu dan teknologi partikel kecil. Pengetahuan dan pengendalian ukuran, serta kisaran ukuran partikel sangat penting dalam bidang farmasi. Secara klinik, ukuran partikel suatu obat dapat mempengaruhi penglepasannya dari bentuk-bentuk sediaan yang diberikan secara oral, parenteral, rectal, dan tropical. Formulasi yang berhasil dari suspensi, emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fisik , dan respon farmakologis , juga bergantung pada ukuran partikel yang dicapai dari produk itu. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel sangat penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk.

Pada percobaan kali ini, kita akan mengenal dan mengamati karekteristik serbuk, distribusi ukuran partikel, kompresibilitas, rasio housner, dan luas permukaan dari serbuk paracetamol dengan menggunakan metode ayakan, metode ini merupakan metode yang paling
sederhana, tetapi relatif lama dari penentuan ukuran partikel adalah analisis ayakan.

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

I.2

Tujuan Percobaan

I.2.1

Tujuan Percobaan Mengenal karakteristik serbuk, distribusi ukuran partikel, kompresibilitas, rasio housner,

dan luas permukaan dari paracetamol. I.2.2 Alat dan Bahan - Paracetamol - Sreving analyzer - Gelas ukur - Alat ukur sudut henti I.3 Prinsip Percobaan Pengukuran pertikel dari serbuk berdasarkan atas penimbangan residu yang tertinggal pada tiap ayakan yaitu dengan melewatkan serbuk pada ayakan dari nomor mesh rendah ke nomor mesh tinggi yang digerakkan oleh mesin penggetar dengan waktu dan kecepatan tertentu.

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I.1

Teori Umum Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel yang kecil.

Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pengertian ukuran partikel adalah ukuran diameter rata-rata. (1) Untuk memulai setiap analisis ukuran partikel harus diambil dari umunya jumlah bahan besar (ditandai dengan junlah dasar) suatu contoh yang representatif. Karenanya suatu pemisahan bahan awal dihindari oleh karena dari suatu pemisahan, contoh yang diambil berupa bahan halus atau bahan kasar. Untuk pembagian contoh pada jumlah awal dari 10-1000 g digunakan apa yang disebut Pembagi Contoh piring berputar. Pada jumlah dasar yang amat besar harus ditarik beberapa contoh dimana tempat pengambilan contoh sebaiknya dipilih menurut program acak (2). Ilmu dan teknologi partikel kecil diberi nama mikromiretik oleh Dalla Valle. Dispersi koloid dicirikan oleh partikel yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop biasa, sedang partikel emulsi dan suspensi farmasi serta serbuk halus berada dalam jangkauan mikroskop optik. Partikel yang mempunyai ukuran serbuk lebih kasar, granul tablet, dan garam granular berada dalam kisaran ayakan(3).

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

Setiap kumpulan partikel biasanya disebut polidispersi. Karenanya perlu untuk mengetahui tidak hanya ukuran dari suatu partikel tertentu, tapi juga berapa banyak partikelpartikel dengan ukuran yang sama ada dalam sampel. Jadi kita perlu sutau perkiraan kisaran ukuran tertentu yang ada dan banyaknya atau berat fraksi dari tiap-tiap ukuran partikel, dari sini kita bisa menghitung ukuran partikel rata-rata untuk sampel tersebut (3). Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting dalam farmasi, sebab ukuran partikel mempunyai peranan besar dalam pembuatan sediaan obat dan juga terhadap efek fisiologisnya (4). Pentingnya mempelajari mikromiretik, yaitu (5): 1. 2. 3. Menghitung luas permukaan Sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat Secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara per oral, suntikan dan topikal 4. 5. Pembuatan obat bentuk emulsi, suspensi dan duspensi Stabilitas obat (tergantung dari ukuran partikel).

Metode paling sederhana dalam penentuan nilai ukuran partikel adalah menggunakan pengayak standar. Pengayak terbuta dari kawat dengan ukuran lubang tertentu. Istilah ini (mesh) digunakan untuk menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear (5). Ukuran dari suatu bulatan dengan segera dinyatakan dengan garis tengahnya. Tetapi, begitu derajat ketidaksimestrisan dari partikel naik, bertambah sulit pula menyatakan ukuran dalam garis tengah yang berarti. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada garis tengah yang unik. Makanya harus dicari jalan untuk menggunakan suatu garis tengah bulatan yang ekuivalen, yang

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

menghubungkan ukuran partikel dan garis tengah bulatan yang mempunyai luas permukaan, volume, dan garis tengah yang sama. Jadi, garis tengah permukaan ds, adalah garis tengah suatu bulatan yang mempunyai luas permukaan yang sama seperti partikel yang diperiksa (3).

Metode-metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel: Mikroskopi Optik Menurut metode mikroskopis, suatu emulsi atau suspensi, diencerkan atau tidak diencerkan, dinaikkan pada suatu slide dan ditempatkan pada pentas mekanik. Di bawah mikroskop tersebut, pada tempat di mana partikel terlihat, diletakkan mikrometer untuk memperlihatkan ukuran partikel tersebut. Pemandangan dalam mikroskop dapat diproyeksikan ke sebuah layar di mana partikel-partikel tersebut lebih mudah diukur, atau pemotretan bisa dilakukan dari slide yang sudah disiapkan dan diproyeksikan ke layar untuk diukur (3). Kerugian dari metode ini adalah bahwa garis tengah yang diperoleh hanya dari dua dimensi dari partikel tersebut, yaitu dimensi panjang dan lebar. Tidak ada perkiraan yang bisa diperoleh untuk mengetahui ketebalan dari partikel dengan memakai metode ini. Tambahan lagi, jumlah partikel yang harus dihitung (sekitar 300-500) agar mendapatkan suatu perkiraan yang baik dari

distribusi , menjadikan metode tersebut memakan waktu dan jelimet. Namun demikian pengujian mikroskopis dari suatu sampel harus selalu dilaksanakan, bahkan jika digunakan metode analisis ukuran partikel lainnya, karena adanya gumpalan dan partikel-partikel lebih dari satu komponen seringkali bisa di deteksi dengan metode ini (3).

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

Pengayakan Suatu metode yang paling sederhana, tetapi relatif lama dari penentuan ukuran partikel

adalah metode analisis ayakan. Di sini penentunya adalah pengukuran geometrik partikel. Sampel diayak melalui sebuah susunan menurut meningginya lebarnya jala ayakan penguji yang disusun ke atas. Bahan yang akan diayak dibawa pada ayakan teratas dengan lebar jala paling besar. Partikel, yang ukurannya lebih kecil daripada lebar jala yang dijumpai, berjatuhan melewatinya. Mereka membentuk bahan halus (lolos). Partikel yang tinggal kembali pada

ayakan, membentuk bahan kasar. Setelah suatu waktu ayakan tertentu (pada penimbangan 40150 g setelah kira-kira 9 menit) ditentukan melalui penimbangan, persentase mana dari jumlah yang telah ditimbang ditahan kembali pada setiap ayakan (3). Dengan cara sedimentasi Cara ini pada prinsipnya menggunakan rumus sedimentasi Stocks. Dasar untuk metode ini adalah Aturan Stokes: d=
h t

18 (- o)g

Metode yang digunakan dalam penentuan partikel cara sedimentasi ini adalah metode pipet, metode hidrometer dan metode malance.(1). Partikel dari serbuk obat mungkin berbentuk sangat kasar dengan ukuran kurang lebih 10.000 mikron atau 10 milimikron atau mungkin juga sangat halus mencapai ukuran koloidal, 1 mikron atau lebih kecil. Agar ukuran partikel serbuk ini mempunyai standar, maka USP menggunakan suatu batasan dengan istilah very coarse, coarse, moderately coarse, fine and very

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

fine, yang dihubungkan dengan bagian serbuk yang mempu melalui lubang-lubang ayakan yang telah distandarisasi yang berbeda-beda ukurannya, pada suatu periode waktu tertentu ketika diadakan pengadukan dan biasanya pada alat pengaduk ayakan secara mekanis (2).

I.2 Uraian Bahan


Parasetamol 1. Warna 2. Rasa 3. Bau 4. Pemerian : Putih : Pahit : Tidak berbau : serbuk hablur

5. Kadar 6. Kelarutan

: 98 100 % : Larut dalam 70 bagian air, larut dalam 7 bagian etanol (95%)P,

larut dalam 13 bagian aseton, larut dalam 40 bagian gliserol, larut dalam sebagian propilen glikol, larut dalam alkali hidroksida. 7. Titik lebur 8. Masa molekular 9. PH larutan 10. Stabilitas : 111o C : 272,4 g/mol : 5-7oC : Pada suhu > 40oC akan lebih mudah 11. Khasiat 12. Kegunaan terdegradasi, lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar dan adanya cahaya, pH jauh dari rentang pH optimum akan menyebabkan zat terdegradasi karena terjadi hidrolisis.

: antipiretik : sebagai sampel

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

II.3 Prosedur Kerja


Cara Ayakan (1) : 1. Ayakan bersihkan dahulu dengan menyikat ayakan secara perlahan-lahan menggunakan kuas bersih dan kering. Pasang set ayakan secara teratur nomor mesh besar di bawah, yang kecil di atas. 2. Timbang kurang lebih 25 g zat yang akan diukur partikelnya, tempatkan di atas ayakan paling atas. Tutup dan jalankan mesin dengan kecepatan separuh dari kecepatan maksimum. Biarkan bekerja selama setengah jam. 3. Matikan mesin dan ayakan dibuka serta masing-masing frkasi ditimbang teliti menggunakan neraca analitik. 4. Catat data yang diperoleh.

10

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

BAB III Metode Kerja dan Hasil Pengamatan

III.1 Alat dan bahan


III.1.1 Alat yang digunakan

o Sieving analyzer o Gelas ukur o Alat ukur henti

III.1.2

Bahan yang digunakan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah serbuk paracetamol.

III.2 Cara Kerja


III.2.1 Pengamatan Distribusi Ukuran partikel 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Ditimbang granul dengan seksama sebanyak 100 gram 3. Setiap ayakan lebih dahulu dibersihkan dengan sikat tabung kemudian dilap dengan tissue untuk memastikan keringnya pengayak maupun tidak terdapatnya partikel tertingggal lagi yang dapat menghalangi proses pengayakan.

11

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

4. Ayakan kemudian diset pemasangnya pada sieving analyzer dengan nomor mesh 22 berada paling bawah disusul secara berurutan ke atas : 12, 14, 16, 18, dan 20. 5. Granul yang telah ditimbang 100 g ditempatkan pada pengayak nomor mesh 12, ditutup rapat mesin fibrator, kemudian mesin dijalankan dengan kecepatan 5 rpm (rotasi per minutes) dan diset waktu pengayakan selama 4 menit. 6. Setelah 4 menit, mesin fibrator akan berhenti secara otomatis. Ayakan kemudian masing-masing dibuka/diambil dari mesin fibrator. 7. Fraksi serbuk yang tertinggal pada masing-masing pengayak dengan nomor mesh berbeda ditimbang menggunakan timbangan miligram. 8. Dicatat data yang diperoleh dan dihitung nilai % tertahan serta ukuran diameter partikel.

Data yang telah diperoleh

Mesh

Jumlah gram

Serbuk % 21,49 9,82 5,86 3,80 1,90 57,13 100

12 14 16 18 20 Wadah Total

21,49 9,82 5,86 3,80 1,90 57,13 100

12

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

Tabel Distribusi Pada Serbuk Paracetamol Mesh Jumlah gram 12 14 16 18 20 Wadah Total 0 0 0 0 0 100 100 Serbuk % 0 0 0 0 0 100 100

Grafik distribusi ukuran partikel

mesh mesh mesh mesh 12 14 16 18

mest wadah 20

13

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

III.2.2 Pengukuran Rasio Housner dan Kompresibilitas serbuk a. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Timbang dengan seksama 40 50 gram serbuk paracetamol c. Masukan ke dalam gelas ukur, ratakan permukaannya ( tanpa penekanan ) d. Catat volume yang ada pada gelas ukur dan timabng volume serbuk yang tidak masuk ke dalam gelas ukur e. Ketuk gelas ukur sebanyak 300 kali atau sampai serbuk penuh mengendap f. Catat kembali volume serbuk g. Hitung berat jenis : Tab Density dan Bulk Density h. Hitung Rasio Housner i. Hitung Kompresibilitas

Berat serbuk yg ditimbang = 45 gram Volume serbuk awal = 100 ml Berat serbuk yg tertinggal = 5,32 gram Volume serbuk 2 = 60 ml Berat serbuk sisa (akhir) = 39, 60 gram Maka,,, Berat jenis Tap Density = Berat jenis Bulk Density = Rasio Housner = Kompresibilitas = = = = 1,667 x 100 % = 40 % = = = 0,66 = 0,396

14

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

III. 2.3 Perhitungan Luas Permukaan


Mesh Diameter (mm) Volume 1 partikel Bobot Gram Volume serbuk Jumlah Partikel

Luas Permukaan 1 Partikel

Luas Permukaan serbuk 92,20 47,95 32,46 23,62 13,54 2.583,525

12 14 16 18 20 Wadah Total

2.12 1.81 1.59 1.41 1.27 0.21

4.99 3.16 2.15 1.50 1.10 4.19x10

21.49 9.82 5.86 3.80 1.90 57.13

32.6 14.9 8.9 5.8 2.9 86.6

6,53 4,71 4,14 3,86 2,63 20.668,2

14,12 10,18 7,84 6,12 5,15 0,125

Perhitungan Luas Permukaan pada Serbuk Paracetamol


Mesh Diameter (mm) Volume 1 partikel Bobot Gram Volume serbuk Jumlah Partikel

Luas Permukaan 1 Partikel

Luas Permukaan serbuk 0 0 0 0 0 0,0226

12 14 16 18 20 Wadah Total

0 0 0 0 0 0,212

0 0 0 0 0 4,999 x 10-3

0 0 0 0 0 100

0 0 0 0 0 8,014x10-4

0 0 0 0 0 0,160312

0 0 0 0 0 0,1412

15

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

III. 2. 4 Pengukuran Sifat Aliran Melalui Sudut Henti a. Timbang serbuk dengan seksama 40 60 gram b. Masukkan kedalam corong dengan bagian bawah tertutup c. Ikuti cara pengukuran sudut henti sesuai petunjuk yang ada d. Amati, catat, dan hitung : Tinggi tumpukan granul dan Jari-jari granul e. Hitung sudut hentinya.

Berat granul yang ditimbang = 50 gram Tinggi tumpukan granul = 7,2 cm Jari-jari tumpukan granul = 6,5 cm Maka sudut hentinya yaitu : = = 1.11

16

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

BAB IV PEMBAHASAN

Mikromiretik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel kecil. Pengertian ini sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa farmasi khususnya dalam membahas obat sediaan padat seperti kapsul ,tablet, granul, sirup kering. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pada umumnya pengertian ukuran partikel disini adalah ukuran diameter rata-rata. Ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel, bentuk partikel, luas permukaan partikel, maupun ukuran pori. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan. A. METODE UNTUK MENENTUKAN UKURAN PARTIKEL Banyak metode yang tersedia untuk menentukan ukuran partikel. Yang diutarakan disini hanyalah metode yang digunakan secara luas dalam praktek di bidang farmasi serta metode yang merupakan ciri dari suatu prinsip khusus. Pada bagian ini akan dibicarakan metode pengukuran seperti mikroskopi, pengayakan, sedimentasi, dan penentuan jumlah volume. Namun, tidak ada satu pun cara pengukuran yang benar-benar merupakan metode langsung. Walaupun dengan mikroskop kita dapat melihat gambaran partikel yang sesungguhnya, hasil yang didapat

17

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

kemungkinan besar tidak lebih langsung dari pada menggunakan metode lain, karena hanya dua dari tiga dimensi partikel yang bisa terlihat. Mikroskopi Optik, adalah mungkin untuk menggunakan mikroskop biasa untuk pengukuran ukuran partikel yang berkisar dari 0,2 m sampai kira-kira 100 m. Menurut metode mikroskopik, suatu emulsi atau suspensi, diencerkan atau tidak diencerkan, dinaikkan pada suatu slide dan ditempatkan pada pentas mekanik. Kerugian dari metode mikroskopis adalah bahwa garis tengah yang diperoleh hanya dari dua dimensi dari partikel tersebut, yaitu dimensi panjang dan lebar. Tidak ada perkiraan yang bisa diperoleh untuk mengetahui ketebalan dari partikel dengan menggunakan metode ini. Namun demikian, pengujian mikroskopik dari suatu sampel harus selalu dilaksanakan, bahkan jika digunakan metode analisis ukuran partikel lainnya, karena adanya gumpalan dan partikel-partikel lebih dari satu komponen seringkali bisa dideteksi dengan metode ini. Pengayakan, pada metode ini digunakan suatu seri ayakan standar yang dikalibrasi oleh The National Bureau of Standard. Ayakan umumnya digunakan untuk memilih partikel-partikel yang lebih kasar; tetapi jika digunakan dengan sangat hati-hati, ayakan-ayakan tersebut bisa digunakan untuk mengayak bahan sampai sehalus 44 mikrometer (ayakan no.325). menurut metode U. S. P untuk menguji kehalusan serbuk suatu massa sampel tertentu ditaruh suatu ayakan yang cocok dan digoyangkan secara mekanik. Serbuk tersebut digoyang-goyangkan selama waktu tertentu, dan bahan yang melalui satu ayakan ditahan oleh ayakan berikutnya yang lebih halus serta dikumpulkan, kemudian ditimbang. Jika diinginkan analisis yang lebih rinci, ayakan bisa disusun lima berturut-turut mulai dari yang kasar di atas, sampai dengan yang terhalus di bawah. Satu sampel serbuk yang ditimbang teliti ditempatkan pada ayakan paling atas, dan setelah ayakan tersebut digoyangkan untuk satu periode waktu tertentu, serbuk yang

18

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

tertinggal di atas tiap saringan ditimbang. Kesalahan pengayakan akan timbul dari sejumlah variabel termasuk beban ayakan dan lama serta intensitas penggoyangan. Sedimentasi (pengayakan). Penggunaan ultra sentrifugasi untuk penentuan berat molekul dari polimer tinggi. Penggunaan ultra sentrifugasi dapat menghasil suatu kekuatan sejuta kali gaya gravitasi. Beberapa metode sedimentasi yang digunakan adalah metode pipet, metode timbangan, dan metode hidrometer namun hanya metode pipet yang akan dibicarakan karena teknik tersebut mengkombinasikan kemudahan analisis, ketelitian/ketepatan, dan ekonomisme alat tersebut. Cara analisisnya adalah : suspensi 1 atau 2% dari partikel-partikel dalam suatu medium yang mengandung zat pendeflokulasi yang sesuai dimasukkan ke dalam bejana selinder sampai tanda 550 ml. Bejana bertutup itu dikocok untuk mendistribusikan partikel-partikel secara merata keseluruh suspensi dan alat tersebut, dengan pipet di tempatnya, dijepit dengan kuat dalam suatu bak yang bertemperatur konstan. Pada berbagai interval waktu, diambil 10 ml sampel dan dikeluarkan melalui penutupnya. Sampel tersebut diuapkan, ditimbang atau dianalisis dengan cara lain yang cocok untuk mengoreksi zat pendeflokulasi yang telah ditambahkan. Pengukuran Volume Partikel. Suatu alat yang mengukur volume partikel adalah Coulter counter. Alat khusus ini bekerja berdasarkan prinsip bahwa jika suatu partikel disuspensikan dalam suatu cairan yang mengkonduksi melalui suatu lubang kecil, yang pada kedua sisinya ada elektroda, akan terjadi suatu perubahan tahan listrik. Dalam pengerjaan, suatu volume suspensi encer dipompakan melalui lubang tersebut. Karena suspensi tersebut encer, partikel-partikel dapat melewatinya satu per satu pada suatu waktu. Digunakan suatu tegangan listrik yang konstan melewati elektroda-elektroda tersebut, sehingga menghasilkan suatu aliran. Ketika partikel tersebut berjalan melewati lubang, partikel itu akan menggantikan volume elektrolitnya, dan hal ini mengakibatkan kenaikan tahanan di antara kedua elektroda tersebut. Alat tersebut

19

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

mencatat secara elektronik semua patikel-partikel yang menghasilakan pulsa yang ada dalam dua nilai ambang dari penganalisis. Dengan memvariasi nilai ambang secara sistematik dan menghitung jumlah partikel dalam suatu ukuran sampel yang konstan, maka memungkinkan untuk memperoleh suatu distribusi ukuran partikel. Alat ini sanggup menghitung partikel pada laju kira-kira 4000 per detik, dan dengan demikian baik penghitungan keseluruhan maupun distribusi ukuran partikel diperoleh dalam waktu yang relatif singkat. Coulter counter telah berguna dalam ilmu farmasi untuk menyelidiki pertumbuhan partikel dan disolusi serta efek zat antibakteri terhadap pertumbuhan mikroorganisme. B. BENTUK PARTIKEL Pengetahuan mengenai bentuk dan luas suatu partikel dikehendaki. Bentuk partikel mempengaruhi aliran dan sifat-sifat pengemasan dari suatu serbuk, juga mempunyai beberapa pengaruh terhadap luas permukaan. Luas permukaan persatuan berat atau volume merupakan suatu karakteristik serbuk yang penting jika seseorang mempelajari adsorpsi permukaan dan laju disolusi. Bentuk Partikel. Suatu bola mempunyai luas permukaan minimum per satuan volume. Makin tidak simetris suatu partikel, makin besar luas permukaan per satuan volumenya. Seperti telah dibicarakan sebelumnya, suatu partikel berbentuk bola diberi ciri sempurna dengan garis tengahnya. Jika partikel menjadi lebih tidak simetris, makin sulit untuk menetapkan garis tengan yang berarti bagi partikel tersebut. Untuk mendapatkan suatu pekiraan dari permukaan atau volume dari suatu partikel yang mempunyai bentuk tidak bulat, seseorang harus memilih suatu garis tengah yang merupakan karakteristik dari partikel tersebut dan menghubungkan garis tengah ini dengan luas permukaan atau volumenya dengan menggunakan suatu faktor koreksi.

20

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

C. METODE UNTUK MENENTUKAN LUAS PERMUKAAN Luas permukaan dari suatu sampel serbuk dapat dihitung dari pengetahuan distribusi ukuran partikel yang diperoleh dengan menggunakan salah satu metode yang telah diterangkan secara singkat sebelumnya. Ada dua metode yang biasa digunakan : pertama, jumlah dari suatu zat terlarut gas atau cairan yang adsorbsikan di atas sampel serbuk tersebut agar membentuk suatu lapisan tunggal (monolayer) adalah suatu fungsi langsung dari luas permukaan sampel. Metode kedua bergantung pada kenyataan bahwa laju suatu garis atau cairan mempermeasi (menembus) suatu bentangan serbuk berhubungan dengan luas permukaan yang mengadakan kontak dengan permean (zat yang menembus). Metode Adsorpsi. Partikel-partikel dengan luas permukaan spesifik besar merupakan adsorben yang baik untuk adsorpsi. Dalam menentukan permukaan adsorben, volume dari gas yang teradsorpdi dalam cm3 per gram adsorben bisa diplot terhadap tekanan gas tersebut pada temperatur konstan untuk memberikan bentuk lapisan tunggal yang diikuti oleh pembentukan lapisan rangkap. Alat yang digunakan untuk memperoleh data yang dibutuhkan untuk

menghitung luas permukaan dan struktur pori dari serbuk-serbuk farmasetik ialah Quantasorb. Alat ini sedemikian sensitifnya sehingga sampel serbuk yang sangat sedikit dapat dianalisis. Pengembangan alat ini dapat digunakan untuk sejumlah gas tunggal atau campuran gas sebagai adsorban dalam suatu jarak temperatur. Metode Permeabilitas Udara. Prinsip tahanan terhadap aliran dari suatu cairan, melalui suatu sumbat dari serbuk kompak adalah luas permukaan dari serbuk tersebut. Makin besar luas permukaan per gram serbuk makin besar pula tahanan aliran. Alat yang digunakan pada metode ini yaitu Fisher Subsieve Sizer. Oleh karena alatnya sederhana dan penetapan dapat dilakukan

21

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

dengan cepat, maka metode permeabilitas ini banyak digunakan secara luas dalam bidang farmasi untuk penentuan permukaan spesifik, terutama bila tujuannya adalah untuk mengontrol variasi dari suatu batch ke batch lainnya. D. UKURAN PORI Bahan-bahan yang mempunyai luas spesifik tinggi bisa mempunyai retakan-retakan dan pori-pori yang adsorbsi gas dan uap, seperti air, ke dalam sela-selanya. Serbuk obat yang relatif tidak larut dalam air bisa melarut lebih atau kurang cepat dalam medium air bergantung pada adsorpsinya terhadap kelembapan atau udara. Sifat-sifat lain yang penting secara farmasetis, seperti laju disolusi obat dari tablet bisa juga bergantung pada karakteristik adsorpsi dari serbuk obat. Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan atau pengaruh besar dalam pembuatan sediaan obat dan juga terhadap efek fisiologisnya. Pada percobaan kali ini dilakukan pengukuran diameter partikel serbuk Paracetamol dengan mneggunakan metode ayakan. Keuntungan dari metode ini adalah alat yang digunakan sangat sederhana, penggunaannya mudah dan cepat, serta pengontrolan kecepatan dan waktu pengayakan yang konstan. Tetapi, jika dibandingkan dengan metode mikroskopik, metode ayakan memberikan hasil pengukuran yang kurang teliti dan kurang akurat serta memerlukan kuantitas bahan yang cukup banyak. Dalam pengukuran partikel dengan menggunakan metode ayakan, pengayak yang digunakan terlebih dahulu harus dibersihkan untuk menghindari kesalahan penghitungan hasil ayakan yang disebabkan karena tertutupnya lubang-lubang ayakan dengan zat atau benda lain Ayakan di susun dari atas ke bawah (mesh terkecil ke nomor mesh tertinggi), lalu bahan disimpan di ayakan teratas. Adapun caranya sejumlah zat ( Paracetamol ) ditimbang 25 gram dan

22

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

dimasukkan dalam ayakan yang telah disusun dengan urutan dari nomor mesh yang besar di atas dan yang paling kecil di bawah. Setelah partikel menerobos ayakan barulah ditimbang masingmasing zat tersebut yang tertinggal di atas ayakan. Keuntungan dari metode ini adalah alat yang digunakan sangat sederhana, penggunaannya mudah dan cepat, serta pengontrolan kecepatan dan waktu pengayakan yang konstan. Dari hasil percobaan diperoleh diameter rata-rata dari Paracetamol. Berdasarkan literatur, jika derajat halus serbuk dinyatakan dengan no.1, dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat melewati pengayak dengan nomor tersebut. Jika derajat serbuk dinyatakan dengan no.2, dimaksudkan bahwa serbuk tersebut dapat melewati pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40 % dapat melalui pengayak dengan nomor tertinggi. Derajat halus serbuk tidak dapat diabaikan pada formulasi sediaan farmasi, karena sifat ini berkaitan dengan kehomogenitasan bentuk sediaan dan kandungannya, dimana persyaratan tersebut termasuk salah satu rangkian dari evaluasi yang dilakukan terhadap produk jadi (segera setelah produk dihasilkan) yang menyatakan layak atau tidaknya produk tersebut dipasarkan di masyarakat, yang sangat berkaitan erat kembali pada memenuhi syarat atau tidaknya sediaan tersebut mencapai efek terapi. Pengukuran derajat halsu serbuk menurut USP, diprosedurkan bahwa suatu massa sampel tertentu ditaruh pada suatu ayakan yang cocok dan digoyangkan secara mekanik. Serbuk tersebut digoyangkan selama waktu tertentu, dan bahan yang melalui satu ayakan ditahan oleh ayakan berikutnya yang lebih halus serta dikumpulkan, kemudian ditimbang. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka dapat dikatakan bahwa ZnO termasuk serbuk halus dan talk termasuk serbuk agak halus.

23

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

Hasil yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : Kesalahan penimbangan hasil ayakan. Ayakan yang tidak bersih sehingga mempengaruhi hasil. Hasil ayakan yang berkurang karena terbang oleh angin

24

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

BAB V PENUTUP

V.1

Kesimpulan Dari hasil percobaan maka disimpulkan bahwa, paracetamol memiliki : Berat jenis tap density rata-rata 0,66 Berat jenis bulk density rata-rata 0,396 Rasio Housner rata-rata 1,667 Kompresibilitas rata-rata 40% Sudut henti rata-rata 1,11

V. 2 Saran Sebaiknya percobaan ini dilakukan dengan metode lain agar diperoleh perbandingan yang lebih jelas antara metode satu dengan lainnya.

25

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik

DAFTAR PUSTAKA

1. Tim asisten., (2008) Penuntun Praktikum Farmasi Fisika, Jurusan Farmasi, UNHAS, Makassar. 2. Voigt, R., (1994), Buku Pelajaran teknologi Farmasi, edisi V, Cetakan I, UGM Press, Yogyakarta, 45, 47, 51. 3. Martin, A., (1990), Farmasi Fisika, Buku II, UI Press, Jakarta, 1022-1023, 1036-1038. 4. Moechtar., (1990), Farmasi Fisika, UGM Press, Yogyakarta, 169. 5. Parrot, L,E., (1970), Pharmaceutical Technologi, Burgess Publishing Company, Mineapolish, 11, 12 6. Ditjen POM., (1979), Farmakope Indonesia, edisi III, Jakarta, 591, 635. 7. Berbagai sumber di internet.

26

Laporan Akhir Praktikum Farmasi Fisik