Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KUNJUNGAN PERUSAHAAN ASPEK ERGONOMI DAN KESEHATAN KERJA DI PT.

BINTANG TOEDJOE
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik Bagian HIPERKES dan Keselamatan Kerja

Oleh: Aryani Yuliavanti Feby Rianggie D.B. Dwi Rianasari Lihanri Sepsesa Agnes Sri Wulandari Dwi Kartika P. Lina Maulida Nur Ainun Simerdip Kaur Tri Hadi Susanto

(030.01.027) (030.01.290) (030.02.065) (030.02.136) (030.03.005) (030.03.066) (030.03.138) (030.03.180) (030.03.232) (030.03.245)

KEPANITERAAN KLINIK HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA PERIODE 18 AGUSTUS 2009 28 AGUSTUS 2009 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya, sehingga peralatan sudah menjadi kebutuhan pokok pada berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan dan teknologi merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu sisi lain akan terjadi dampak negatifnya,bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul. Hal ini tidak akan terjadi jika dapat diantisipasi berbagai resiko yang mempengaruhi kehidupan para pekerja terutama kesehatan kerja. Berbagai resiko tersebut adalah kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian. Antisipasi ini harus dilakukanoleh semua pihak dengan cara penyesuain antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomic dalam upaya kesehatan kerja. Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat disekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal ( UU Kesehatan 1992 Pasal 23). Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomic ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomic ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan manusia. Salah satu perusahaan yang kami kunjungi mengenai masalah ergonomic dan kesehatan kerja adalah PT. BINTANG TOEDJOE.

I.2. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui ergonomic dan kesehatan kerja pada PT. BINTANG TOEDJOE. 2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui beberapa hal yang menyangkut ergonomic dan kesehatan kerja meliputi : a. Sikap kerja b. Cara kerja c. Beban kerja d. Gizi kerja e. Kantin f. Top ten disease I.3. Waktu dan Tempat kegiatan 1. Waktu Kegiatan ini dilakukan pada hari Kamis, 27 Agustus 2009 ( 09.00 12.00 WIB) 2. Tempat Kegiatan ini dilakukan di PT. BINTANG TOEDJOE, Jl. Jend. A. Yani No 2, Pulomas, Jakarta.

BAB II TINJAUAN TEORITIS


Dalam pembahasan,Kami akan membagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu ergonomic dan kesehatan kerja.

II.1. ERGONOMI Ergonomi yaitu ilmu keserasian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerjanya. Sasaran penelitian ergonomic ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomic ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia yakni untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan manusia. Ruang lingkup ergonomic sangat luas aspeknya antara lain meliputi : Teknik Fisik Pengalaman fisik Anatomi (kekuatan, gerakan otot dan persendian) Antropometri Sosiologi Fisiologi (suhu tubuh, oksigen uptake, pulse, dan aktivitas) Desain Dan lain-lain

Secara sederhana ergonomic dapat disebut ilmu yang dapat mengatur pekerjaan sesuai dengan kemampuan orang yang mengerjakannya. Namun dalam hal ini manusia mempunyai keterbatasan fisik, mental dan social dalam melakukan proses interaksi, sehingga selayaknya pekerjaanlah yang harus disesuaikan dengan kemampuan manusia. Menurut ILO, Ergonomic adalah penerapan ilmu manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai penyesuian bersana antara pekerjaan manusia secara optimum, dengan tujuan agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan. Masalah umum dalam ergonomic adalah: 1. Penyesuaian pekerjaan dengan kondisi fisik 2. Penyesuaian pekerjan dengan perilaku pekerjaan 3. Penyesuaian interaksi antara pekerjaan dengan alat , mesn dan fasilitas kerja 4. Peyesuaian interaksi angtara pekerjaan dengan lingkungan Aplikasi / penerapan ergonomic: 1. Posisi kerja Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri , posisi duduk di mana kaki tidak terbebani dengan brat tubuh dan posisi stabil selama berkerja. Sedangkan posisi berdiri dimanaposisi tulangbelakang vertical dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki. 2. Proses Kerja Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran antrophometrinya. 3. Tata Letak Tempat Kerja Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan symbol yang berlaku secara internasional lebih banyak di gunakan daripada kata-kata. 4. Mengangkat Beban

Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban,yakni dengan kepala , bahu, tangan , punggung , jaringan otot , dan persendiaan akibat gerakan yang berlebihan. a. Menjinjing beban Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang di tetapkan ILO sbb: Laki-laki dewasa 40 kg Wanita dewasa 15-20 kg

Laki-laki (16s/d18 th) 15-20kg Wanita (16 s/d 18th) 12-15 kg b. Organisasi Kerja

Pekerjaan harus diatur dengan berbagai cara : - Alat bantu mekanik kapanpun diperlukan - Frekuensi pergerakn diminimalisasi - Jarak mengankat beban dikurangi - Bidang membawa beban tidak licin dan mengangkat tidak terlalu tinggi Penerapan prinsip ergonomi yang relevan c. Metode mengangkat beban Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip : - Otot lengan lebih banyak digunakan daripada otot punggung - Untuk memulai gerakan horizontal, maka digunakan momentum berat badan. Metode ini termasuk lima faktor dasar : Posisi kaki yang benar Punggung yang kuat dan kekar Posisi lengan dejat dengan tubuh Mengangkat dengan benar Menggunakan berat badan 6

d. Supervisi medis Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis secara teratur. - Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya - Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan - Nasehat tentang hygiene dan kesehatan harus diberikan Dalam sistem desain manusia-mesin harus ditentukan sejak dini apakah pekerjaan tersebut sebaiknya dikerjakan oleh manusia atau mesin. Manusia memiliki keterbatasan (biological limitation) 1. Fisiologi : kekuatan, rentang waktu, ketahanan fisik, kapasitas 2. Psikologi : kemampuan intelektual, performa, toleransi dan komunikasi 3. Antropometri : bentuk tubuh, struktur otot, panjang lengan dan tungkai bawah. Ukuran-ukuran antropometri yang dapat dijadikan dasar untuk penempatan alat-alat kerja adalah sebagai berikut : a. Berdiri : tinggi badan, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul depan, panjang lengan. b. Duduk : tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah dan tangan, jarak lekuk lutut c. Pada pekerjaan tangan yang dilakukan berdiri, tinggi kerja sebaiknya 5-10 cm dibawah siku. d. Dari segi otot sikap duduk yang baik adalah sedikit membungkuk, sedangkan dari segi tulang dianjurkan duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. e. Tempat duduk yang baik adalah : - Tinggi dataran duduk dapat diatur dengan papan kaki yang sesuai tinggi lutut, sedangkan paha dalam keadaan datar. - Lebar papan duduk tidak kurang dari 35 cm. - Papan tolak punggung tingginya dapat diatur dan menekan pada punggung. f. Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37 derajat kebawah,sedangkan untuk pekerjaan duduk arah penglihatan 23-44 derajat kebawah. Arah penglihatan ini sesuai dengan sikap kepala yang istirahat. 7

g. Kemampuan beban fisik maksimal ditentukan sebesar 50 kg (ILO) h. Kemampuan seseorang bekerja adalah 8-10 jam per hari, dimana jika lebih akan menurunkan efisiensi dan kualitas kerja. 4. Nutrisi : pengambilan kalori dan status gizi 5. Klinik : kepribadian dan status kesehatan Menciptakan hubungan yang serasi antara manusia, alat dan lingkungan kerjanya untuk menghasilkan kondisi yang optimal bagi pekerja dengan memulihkan kondisi kerja agar: Mengurangi beban fisik Memperbaiki sistem kerja Menyediakan sarana psiko sensorial pada pemakaian instrument Mencegah pekerja uuntuk mengingat instrument yang tidak diperlukan Melakukan penempatan pekerjaan pada pekerja.

II.2. KESEHATAN KERJA Kesehatan kerja adalah merupakan aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu tempat kerja (perusahaan, pabrik, kantor, dan sebagainya) dan yang menjadi pasien dari kesehatan kerja adalah masyarakat pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Apabila di dalam kesehatan masyarakat ciri pokoknya ialah upaya promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan penyakit) maka dalam kesehatan kerja, kedua hal tersebut juga menjadi ciri pokok. Kesehatan kerja ini diartikan sebagai lapangan kesehatan yang mengurusi masalah-masalah kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat pekerja. Menyeluruh dalam arti usaha-usaha preventif, promotif, kuratif, rehabilitative, hygiene, penyesuaian factor manusia terhadap pekerjaannya, dan sebagainya. Secara implicit rumusan atau batasan ini bahwa hakikat kesehatan kerja mencakup dua hal, yakni pertama untuk mencapai derrajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya. Tenaga kerja di sini mencakup antara lain buruh atau karyawan, petani, nelayan, pekerja sector nonformal, pegawai negeri dan sebagainya. 8

Kedua, yaitu sebagai alat untuk meningkatkan produksi, yang berlandaskan kepada meningkatnya efisiensi dan produktifitas. (Sumakmur, 1991). Kesehatan kerja bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggitingginya, baik fisik, mental dan social bagi masyarakat pekerja dan untuk masyarakat lingkungan perusahaan tersebut, melalui usaha-usaha promotif, preventif,dan kuratif terhadap penyakit-penyakit atau gangguan kesehatan akibat kerja atau lingkungan kerja. Sehingga dapat dijabarkan ke dalam bentuk operasional, tujuan utama kesehatan kerja adalah sebagai berikut: a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaankecelakaan akibat kerja. b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja. c. Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktifitas tenaga kerja. d. Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan kerja. e. Perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan agar terhindar dari bahaya-bahaya pencemaran yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut. f. Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan. Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja sehat dan produktif. Lingkungan kerja yang mendukung terciptanya tenaga kerja yang sehat dan produktif antara lain suhu ruangan yang nyaman, penerangan/pencahayaan yang cukup, bebas dari debu, sikap badan yang baik, alat-alat kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh (ergonomis), dan sebagainya. Salah satu bahasan yang terkait dengan kesehatankerja adalah tersedianya gizi kerja yang baik. Gizi kerja adalah gizi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerjanya dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap produktifitas perusahaan. Pada umumnya di negara berkembang terjadi kekurangan protein, kalori, vitamin pada tenaga kerja. Hal ini disebabkan oleh: Faktor ekonomi

Ketidaktahuan Kebiasaan makan kurang baik Tingginya penyakit parasit dan infeksi dan alat pencernaan. Sehingga perlu juga untuk mengobservasi angka kesakitan kerja yang dialami oleh para karyawan.

BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Pada tugas kunjungan perusahaan ini, kami diberikan kesempatan melakukan pengamatan pada bagian Quality control, ruang pengemasan, klinik, dan kantin. Hasil pengamatan kami sebagai berikut: III.1. Aspek Ergonomis 1. Sikap Kerja Hasil yang kami dapat selama di lapangan, mengenai sikap kerja tenaga kerja banyak yang sudah sesuai dengan aspek ergonomis. Terbukti dengan tidak adanya pekerja yang mengangkat barang atau beban yang berat dengan posisi membungkuk, dan memperhatikan kenyamanan kerja, posisi duduk karyawan dengan meja setinggi siku. Kami juga mendapati bahwa seluruh tenaga kerja sudah menggunakan alat

10

pelindung diri yang sesuai dengan potensial hazard di tempat kerjanya masingmasing.. 2. Cara Kerja Kami mengamati cara kerja dari 2 sisi, yaitu posisi kerja dan proses kerja. a. Posisi kerja karyawan sebagian besar sudah sesuai dengan aspek ergonomi. Karyawan di Control Room duduk sesuai dengan aspek ergonomis, yaitu untuk posisi duduk di depan pekerjaan punggung tegak dan bahu rileks dan posisi siku sejajar dengan tinggi meja. Namun penggunaan kursi beroda di lantai tidak tampaknya kurang tepat karena beresiko membuat karyawan tergelincir. Pada unit produksi/packaging, karyawan packer bekerja dalam posisi duduk dan karyawan operator bekerja dalam posisi berdiri. Tidak ada rolling baku yang memungkinkan karyawan untuk berpindah posisi dari berdiri ke duduk. Cara karyawan mengangkat barang sudah sesuai de.ngan norma ergonomis. b. Proses kerja karyawan menggunakan trolly kemas untuk angkut barang. Proses kerja para karyawan secara keseluruhan sudah baik karena para pekerja meletakkan peralatan yang digunakan dalam standar jangkauan. berkarpet

3. Beban Kerja Dalam topik ini juga terbagi dalam 2 pembahasan yakni beban saat bekerja dan lamanya jam kerja: a. Beban kerja yang kami jumpai dalam pelaksanaannya di lapangan sudah sesuai. Terbukti dengan tidak adanya proses mengangkat barang oleh pekerja. b. Jam kerja yang berlaku di lapangan terbagi dalam 3 shift,yaitu: - Shift pagi mulai pukul 07.00 s/d 15.00 - Shift siang mulai pukul 15.00 s/d 23.00 - Shift malam mulai pukul 23.00s/d 07.00 Waktu istirahat masing-masing 1 jam (60 menit) dalam setiap shift, sehingga para pekerja dapat bekerja efektif sehingga proses produksi tidak terganggu. 11

III.2. Aspek Kesehatan Kerja 1. Gizi dan Kantin Temuan kami di lapangan menunjukkan bahwa pemenuhan gizi pekerja sudah sangat baik disediakan, walaupun belum berdasarkan kebutuhan gizi perorangan. Makanan yang disediakan oleh perusahaan disamaratakan untuk semua pekerja baik jenis maupun jumlah dari makanan tersebut. Dalam hal ini perusahaan tidak mengelompokkan pemenuhan gizi makanan berdasarkan kebutuhan perorangan dimana sebaiknya kebutuhan perorangan harus diperhatikan karena tiap pekerja mempunyai tingkat aktivitas yang berbeda. Manajemen perusahaan tidak menyediakan uang makan, melainkan tersedia kantin yang dikelola oleh pihak luar untuk memenuhi kebutuhan gizi pekerja. Kantin tersebut telah memenuhi persyaratan administrasi maupun kesehatan dalam penyelenggaraan.Pengawasan dilakukan secara rutin oleh petugas medis dan GA, sehingga makanan yang dikonsumsi pekerja higienis dan cukup gizi. Pada saat kami melakukan survey ke dapur kantin, kami temukan dapur dalam keadaan bersih. Semua makanan didatangkan oleh pihak luar dalam bentuk makanan jadi ke perusahaan, sehingga tidak ada proses memasak dan penyimpanan bahan mentah, baik basah maupun kering di dapur kantin. Keadaan kantin bersih dan teratur, dimulai dari tempat mencuci tangan, letak peralatan makan yang bersih, sampai tempat meletakkan peralatan makan yang telah selesai digunakan.Air minum yang digunakan adalah air minum mineral yang sudah memenuhi standar nasional dan gelas digunakan berulang kali untuk masing-masing pekerja. 2. Top Ten Disease PT. BINTANG TOEDJOE mempunyai klinik perusahaan yang bergerak di bidang occupational helath. Kegiatan utama berupa upaya-upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitatif. Megenai kunjungan ke klinim perusahaan semuanya dicatat dan dilaporkan ke Departemen tenaga kerja dan Dinas Kesehatan. Berikut daftar top ten disease pada perusahaan PT. BINTANG TOEDJOEH :

12

NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Jenis Penyakit ISPA Penyakit jantung &Tekanan darah Penyakit saluran cerna Penyakit Mata Penyakit Muskuloskletal Penyakit kulit Penyakit gigi dan mulut Penyakit telinga dan mastoid Penyakit susunan saraf Lain-lain

Jumlah Penderita 8 orang 6 orang 3 orang 2 orang 1 orang 2 orang

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


IV.1. Kesimpulan Hal-hal penting yang dapat kami simpulkan mengenai aspek ergonomis dan kesehatan kerja di PT. BINTANG TOEDJOE adalah : Sudah terpenuhinya aspek ergonomic dalam sikap kerja, cara kerja, posisi kerja dan beban kerja. Kesehatan kerja juga berjalan baik, mulai dari penyadiaan gizi karyawan sampai tersedianya klinik perusahaan yang berorientasi pada kesehatan kerja tanpa mengabaikan pelayanan kesehatan secara promotif, preventif, kuratif , dan rehabilitatif. IV.2. Saran Pada sektor pelayanan gizi kami menyarankan agar pihak perusahaan melakukan inspeksi yang rutin dan mendadak pada ruang kantin untuk melihat kadar kecukupan kalori untuk para perkerja mereka, sehingga para perkerja selalu mendapat gizi yang cukup dan akan meningkatkan produktifitas kerja mereka.

13

Kami juga menyarankan agar perusahan dalam memenuhi kebutuhan gizi makanan pekerja lebih memperhatikan kebutuhan gizi perorangan. Dimana kecukupan gizi perorangan ditentukan oleh beberapa faktor yaitu ukuran tubuh (BB & TB), usia ,kegiatan sehari-hari, kondisi tubuh tertentu, lingkungan kerja. Harus diperhatikan pula mengenai faktor aktivitas yang dikelompokkan dalam aktivitas ringan, sedang, dan berat. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari pemenuhan kebutuhan gizi yang salah sehingga penyakit gizi salah seperti obesitas, hipertensi dapat dihindarkan. Demikian saran yang dapat kami berikan, semoga dapat berkenan dan memberikan dampak positif bagi produktivitas tenaga kerja PT. BINTANG TOEDJOE. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini dikarenakan waktu yang diberikan dalam pengamatan cukup singkat Jika terdapat banyak kekurangan dalam pelaporan ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

14