Anda di halaman 1dari 2

CEDERA ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT (ACL)

Oleh: Menik Andromeda, Vita Wahyuningtias, Rika N. Istiana Banyak orang awan pastinya akan bertanya apakah itu Cedera ACL atau Anterior Cruciate Ligament. Cedera Anterior Cruciate Ligament adalah robeknya ligamentum cruciatum anterior oleh karena keadaan ketika sedang lari mendadak berhenti kemudian berputar arah sehingga menyebabkan lutut terpuntir atau lompat dan mendarat dengan posisi lutut terpuntir.

Cedera pada saat melakukan olah raga memang kerap terjadi ketika seseorang tidak melakukan tahapan olah raga yang benar. Sering terjadi pula karena melakukan olah raga yang memang mengandung resiko, seperti bela diri, panjat tebing, dan lain-lain. Paling sering terjadi juga lantaran tidak menggunakan peralatan keamanan yang lengkap atau setting peralatan olah raga yang tidak benar. Cedera olah raga yang kerapkali terjadi adalah pada anterior cruciate ligament (ACL). Apakah ACL itu? Ini adalah jaringan pada sendi lutut yang menghubungkan tulang tibia (tungkai bawah) dengan tulang femur (paha). Mencegah terjadinya pergeseran tulang tibia sewaktu kita beraktivitas. Ligamen ini sangat kuat dan terletak pada bagian tengah sendi lutut dan menyilang di bagian depan. Fungsinya untuk menstabilkan sendi lutut pada gerakan translasi (gerakan depan dan belakang) dan rotasi (gerakan berputar). Anterior cruciate ligament (ACL) sering mengalami cedera pada olahraga lari, lompat dengan gerakan berputar (pivot) dan berbelok yang tiba-tiba pada lutut, seperti sepakbola, voli, atau basket. Anterior cruciate ligament (ACL) juga dapat mengalami cedera pada waktu jatuh dengan tungkai bawah (tibia) terdorong ke belakang terhadap tulang paha (femur), seperti pada waktu jatuh akibat tackle pada sepak bola dan kecelakaan lalu lintas. Sebab lain adalah lompatan dengan lutut lurus yang berlebihan (hiperekstensi). Derajat kerusakan ACL ini tergantung posisi lutut, arah dan besar kekuatan benturan pada lutut waktu cedera. Cedera pada ACL sering terjadi pada usia antara 15-25, terutama yang aktif berolah raga dan lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria. Mengapa wanita lebih rentan? Hal ini dikaitkan dengan perbedaan antara kedua jenis kelamin dalam anatomi, kekuatan otot umum, waktu reaksi kontraksi otot dan koordinasi, dan teknik pelatihan. Penyebab hormonal juga telah diselidiki meskipun masih belum jelas apa peran yang mereka dapat bermain dalam air mata ACL jika ada. Terakhir, wanita memiliki panggul yang relatif lebih luas, membutuhkan femur ke sudut ke arah lutut (lutut ketukan) yang juga dapat menjadi faktor predisposisi menuju ACL robek. Bagaimana cara mengetahui jika memiliki ACL robek? Pasien yang menderita cedera ACL sering melaporkan mendengar pop terdengar diikuti dengan pembengkakan yang signifikan. Setelah itu, pasien akan mungkin mengeluh ketidakstabilan lutut (yaitu, perasaan goyah) terutama ketika mencoba untuk mengubah arah kegiatan selama olahraga. Kegiatan atletik terus lutut dengan ACL yang robek dapat memiliki konsekuensi yang menghancurkan, yang mengakibatkan kerusakan tulang rawan besar, yang menyebabkan peningkatan risiko mengembangkan osteoartritis di kemudian hari. Bagaimana dokter akan menentukan apakah pasien memiliki ACL robek? Beberapa manuver diagnostik membantu dokter mendiagnosa ACL robek. Pada uji laci anterior, pemeriksa memberikan kekuatan anterior pada 0 tibia proksimal dengan lutut di 90 fleksi. Tes Lachman adalah serupa, tetapi dilakukan dengan lutut hanya 0 sekitar 20 fleksi, sedangkan uji poros-pergeseran menambahkan kekuatan valgus (luar-dalam) untuk lutut ketika sedang dipindahkan dari fleksi ke ekstensi. Para Lachman dan laci anterior asess murni untuk penerjemahan, sedangkan tes pergeseran poros menilai ketidakstabilan rotasi. Setiap gerak yang abnormal dalam manuver menunjukkan air mata.

Diagnosis dikonfirmasi oleh MRI (magnetic resonance imaging) yang juga digunakan untuk menilai ligamen lain, meniskus, dan tulang rawan patologi. Bagaimana terapinya? Metode pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah metode RICE. Pertama, Rest, lutut diistirahatkan dengan tidak digunakan untuk berjalan dahulu sampai bengkak hilang. Kedua, Ice. Lakukan kompres dengan es atau air dingin untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Berikutnya, Compression. Lakukan balutan dengan compression bandage (elastic verband) untuk mengurangi bengkak. Terakhir, Elevation, yaitu berbaring dengan tungkai ditinggikan untuk mengurangi bengkak . Tujuan pengobatan awal adalah untuk mengurangi nyeri dan bengkak yang terjadi. Selanjutnya, kembali menguatkan gerakan lutut dan kekuatan otot lutut. Walaupun tindakan operasi nantinya akan dilakukan, pengobatan awal ini sangat penting untuk mengurangi komplikasi yang mungkin timbul setelah operasi. Kerusakan ACL hanya dapat diperbaiki dengan menggantinya, yaitu menggunakan tendon yang berasal dari bagian lain tubuh. Akan dilakukan rekonstruksi dengan operasi terbuka atau dengan minimal invasif. Operasi minimal invasif lebih baik dari operasi terbuka karena tidak perlu waktu lama, mengurangi resiko infeksi, waktu penyembuhan cepat, dan hasilnya maksimal. Proses pemulihan minimal invasif dari cedera otot, memakan waktu hanya 3-6 bulan. Jika dilakukan dengan operasi terbuka, bisa lebih dari 6 bulan. Dari perspektif fungsional, banyak atlet yang pernah cedera ACL dan telah dilakukan operasi rekonstruksi serta rehabilitasi, telah mampu beraktivitas normal seperti biasa. Atlet amatir sekalipun dapat kembali melakukan olah raga seperti sedia kala. Namun, untuk menghindari terjadinya cedera ketika berolah raga, sebaiknya pilihlah olah raga yang sesuai dengan kondisi tubuh, baik dari sisi umur atau penyakit yang diderita. Lantas, persiapkan diri dengan peralatan olah raga yang benar dan lengkap serta lakukanlah fase-fase aktivitas olah raga dengan benar, mulai dari pemanasan, olah raga inti, sampai cooling down.

Gambar Anatomi Lutut

Cidera ACL

Tampilan Arthoscopy

Hasil MRI Cedera ACL Posisi Saat Jatuh

Cidera Pada Pemain Bola

Teknik Operasi