Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

COXITIS TUBERCULOSIS

Disusun oleh :
MAYANG PADMASARI S, S.Ked
07700085
Dokter Pembimbing :
Dr. TRIYUNI A. Sp. A
Dr. PUTU YUPINDRA

SMF ILMU KEDESEHATAN ANAK


RSUD BANGIL
JAWA TIMUR

2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadiratan Tuhan YME, yang telah
memberikan rahmat serta karuniaNya kepada saya sehingga saya bisa
menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Coxitis Tuberculosa dengan baik.
Makalah ini berisiskan mengenai contoh kasus, pengertian dan penjelasaan
lebih terperinci mengenai coxitis TB. Diharapkan makalah ini bisa memberikan
informasi kepada kita semua tentang apa itu coxitis TB.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan berperan serta dalam penyususnan makalah ini dari awal sampai
akhir. Semoga Tuhan YME senantiasa memberkati segala usaha kita, Amin.

Bangil, 1 November 2012

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................ii
BAB I Laporan kasus Coxitis TB...................................................................1
BAB II Pendahuluan .....................................................................................6
BAB III Tinjauan Pustaka..............................................................................7
BAB IV Kesimpulan......................................................................................15
Daftar Pustaka ...............................................................................................16

ii

BAB I
COXITIS TUBERCULOSIS

Identitas Pasien
Nama

: An. Mashudi

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 2 th

Berat badan

: 9,5 kg

Alamat

: Jl. Klampis selatan 13/04 Klampisrejo Kraton Pasuruan

Agama

: Islam

MRS

: 27 Oktober 2012

Tanggal Pemeriksaan : 30 Oktober 2012

Anamnesa (Heteroanamnesa dari Ibu kandung pasien)


Keluhan Utama : Tidak bisa jalan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUD Bangil dengan keluhan tidak bisa jalan sejak 2 minggu
sebelum MRS. Pasien tiba-tiba tidak bisa berjalan, kedua kaki lemas saat di buat
berdiri namun masih bisa di gerakkan. Trauma (-), Panas (+) sejak 2 minggu
sebelum MRS , batuk (+) ,Ibu pasien juga mengatakan perut anaknya sempat
kembung 2 hari, muntah (-), flatus (+), BAB/BAK (+) biasa, makan /minum (+)
Tetangga pasien ada yang sakit TBC dan sedang dalam masa pengobatan selama 2
bulan. Selama sakit BB pasien sempat turun.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang sakit seperti pasien

Riwayat Persalinan
Bayi lahir spontan di bidan, Apgar score 7-8, G1P0000Ab000, BB = 3600 gr,
jenis kelamin
Riwayat Imunisasi
BCG (+)
Hepatitis B (+)
Polio (+)
DPT (+)
Campak (+)

Pemeriksaan Fisik
Vital sign
Nadi

: 120 x/menit

Suhu

: 37,2 oC

Respiratory rate

: 52 x/menit

bentuk badan

: tidak ada deformitas

Status gizi

: cukup

Keadaan umum
Kepala

: a/i/c/d -/-/-/-, mata cowong (-), edema palpebral (-)

Leher

: PKGB (-), JPV (-)

Thorax

: Bentuk dada simetris (+), gerak pernapasan simetris (+)


Cor : S1S2 tunggal, m (-), g (-)
Pulmo : ves/ves, RH (-), Wh (-)

Abdomen

: Supel, BU (+) normal, hepatomegaly (-), met (-)

Genetalia

: Anus (+)

Ekstremitas

: akral hangat, edema (-),

Pemeriksaan Laboratorium
DL => 27 Oktober 2012 ( 05:22:19 AM )
WBC
LYM
NEU
MONO
EOS
BASO

19.2
8.91
7.76
2.00
330
199

RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDW
PLT
MPV

4.45
10.5
33.7
75.8
23.6
31.2
15.0
538
5.02

(3.6-11.0)
(1.0-4.4)
(0.0-1.5)
(1.8-7.7)
(25.0-40.0)
(0.0-14.0)
(50.0-70.0)
(3.80-5.20)
(11.7-15.5)
(35.0-47.0)
(84.0-96.0)
(28.0-34.0)
(32.0-36.0)
(11.5-14.5)
(150-440)
(0.0-9.0)

Foto Rontgen :

Diagnosis Kerja : Koksistis TB


Planning
1. Diagnosa :
a. Pemeriksaan radiologis :
Foto thorax PA dan lateral
Foto polos pelvis AP
b. Pemeriksaan mikrobiologi : pemeriksaan langsung BTA
(mikroskopik) dan kultur sputum
c. Tuberkulin tes
2. Terapi :
1. Inf. D5 NS 10 tpm makro
2. Inj. Viccilin 4 x 250 mg
3. Inj. Piracetam 3 x 100 mg
4. Inj. Vit K 1 mg
PO:
o 2 bulan pertama : Isoniazid 100 mg / Rifampicin 150 mg /
Pirazinamid 200 mg
o Meloxicam 3 x 5 mg
3. Monitoring : Vital sign, keluhan
4. Edukasi : Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang penyakit,
prognosa dan pengobatan
Prognosis : dubia at bonam

BAB II
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi
yang begitu pesat sehingga berpengaruh terhadap lingkungan dan gaya
hidup manusia yang tidak teratur. Perubahan ini juga dapat berpengaruh
pada kesehatan seseorang. Banyak masyarakat yang masih belum tahu
akan pentingnya kesehatan serta pentingnya menjaga kebersihan
lingkungan sehingga banyak sekali penyakit yang dapat ditimbulkan
akibat hal yang demikian. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh
lingkungan yang tidak sehat adalah tuberculosis tulang.
TB tulang merupakan penyakit infeksi akut atau kronik yang
disebabkan oleh Microbakterium tuberkulosis. Yang menjadi masalah
utama baik di Indonesia maupun di dunia pada TB tulang adalah bahwa
penyakit infeksi ini menyerang tulang dan dapat menyebar hampir
kesetiap bagian tubuh termasuk ginjal, tulang dan nodus limfe. Menurut
WHO prevalensi tuberkulosis yang menular di Indonesia adalah 715.000
kasus/tahun. Jumlah penderita TB tulang dari tahun ke tahun terus
meningkat, kenyataan menangani TB Paru begitu mengkhawatirkan
sehingga kita harus waspada sejak dini agar tidak terjadi komplikasi
komplikasi yang dapat timbul akibat TB tulang.
.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tubeculosis yaitu suatu bakteri tahan asam, atau
Tuberculossis (TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium
tuberculosis sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh,
dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi
primer.
Tuberkulosis sistem skeletal merupakan suatu bentuk penyakit TB
ekstrapulmonal yang mengenai tulang dan / atau sendi. Umumnya TB
sistem skeletal mengenai satu tulang atau sendi. Tuberkulosis pada tulang
belakang dikenal sebagai spondilitis TB, TB pada panggul disebut koksitis
TB, sedangkan pada sendi lutut disebut gonitis TB.
B. Insiden
Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena
kuman Mikobacterium tuberkulosia telah menginfeksi sepertiga penduduk
dunia. Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun
1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse
chemoterapy), meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan
global penyakit tuberkulosis. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta
bahwa pada sebagian besar negara di dunia, penyakit tuberkulosis tidak
terkendali, hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil
disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif).
Di Indonesia pada tahun 1995, hasil survey kesehatan rumah tangga
(SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab
kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran
pernapasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu dari golongan
penyakit infeksi. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583.000 kasus
baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140.000. secara kasar

diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru


tuberkulosis dengan BTA positif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
melaporkan juga terdapat lebih dari 250.000 anak menderita TB dan
100.000 di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia, TB merupakan
masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia
merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah
pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Diperkirakan pada
tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000
orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk.
Insidens TB sendi berkisar 1-7% dari seluruh TB, yang mana TB
sendi tulang belakang merupakan kejadian tertinggi, di ikuti dengan TB
sendi panggul dan sendi lutut.
C. Etiologi Dan Penularan
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis dan Micobacterium bovis (sangat jarang
disebabkan oleh Micobacterium avium). Mycobacterium tuberculosis
ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Basil tuberkulosis dapat
hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi
dalam cairan mati pada suhu 60C dalam 15-20 menit. Fraksi protein basil
tuberculosis

menyebabkan

nekrosis

jaringan

sedangkan

lemaknya

menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab terjadinya


fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel. Basil Mycobacterium
tuberculosis tidak membentuk toksin (baik endotoksin maupun eksotoksin).
Penularan Mycobacterium tuberculosis biasanya melalui udara
hingga sebagian besar fokus primer tuberculosis terdapat dalam paru. Selain
melalui udara penularan dapat peroral misalnya minum susu yang
mengandung basil tuberculosis, biasanya Mycobacterium bovis. Dapat juga
terjadi dengan kontak langsung misalnya melalui luka atau lecet di kulit.
Tuberculosis kongenital sangat jarang dijumpai. Selain Mycobacterium
tuberculosis perlu juga dikenal golongan Mycobacterium lain yang dapat

menyebabkan kelainan yang menyerupai tuberculosis. Golongan ini disebut


Mycobacterium atipic atau disebut juga unclassified Mycobacterium.
D. Faktor Resiko
Resiko Infeksi TBC
Anak yang memiliki kontak dengan orang dewasa dengan TBC aktif,
daerah endemis, penggunaan obat-obat intravena, kemiskinan serta
lingkungan yang tidak sehat. Pajanan terhadap orang dewasa yang infeksius.
Resiko timbulnya transmisi kuman dari orang dewasa ke anak akan lebih
tinggi jika pasien dewasa tersebut mempunyai BTA sputum yang positif,
terdapat infiltrat luas pada lobus atas atau kavitas produksi sputum banyak
dan encer, batuk produktif dan kuat serta terdapat faktor lingkungan yang
kurang sehat, terutama sirkulasi udara yang tidak baik. Pasien TBC anak
jarang menularkan kuman pada anak lain atau orang dewasa disekitarnya,
karena TBC pada anak jarang infeksius, hal ini disebabkan karena kuman
TBC sangat jarang ditemukan pada sekret endotracheal, dan jarang terdapat
batuk. Walaupun terdapat batuk tetapi jarang menghasilkan sputum. Bahkan
jika ada sputum pun, kuman TBC jarang sebab hanya terdapat dalam
konsentrasi yang rendah pada sektret endobrokial anak .
Resiko Penyakit TBC
Anak 5 tahun mempunyai resiko lebih besar mengalami progresi
infeksi menjadi sakit TBC, mungkin karena imunitas selulernya belum
berkembang sempurna (imatur). Namun, resiko sakit TBC ini akan
berkurang secara bertahap seiring pertambahan usia. Pada bayi < 1 tahun
yang terinfeksi TBC, 43% nya akan menjadi sakit TBC, sedangkan pada
anak usia 1-5 tahun, yang menjadi sakit hanya 24%, pada usia remaja 15%
dan pada dewasa 5-10%. Anak < 5 tahun memiliki resiko lebih tinggi
mengalami TBC diseminata dengan angka kesakitan dan kematian yang
tinggi. Konversi tes tuberkulin dalam 1- 2 tahun terakhir, malnutrisi,
keadaan imunokompromis, diabetes melitus, gagal ginjal kronik dan

silikosis.

Status

sosial

ekonomi

yang

rendah,

penghasilan

yang

kurang,kepadatan hunian, pengangguran, dan pendidikan yang rendah2.


E. Patofisiologi
Masuknya basil tuberculosis dalam tubuh tidak selalu menimbulkan
penyakit. Terjadinya infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil
tuberculosis serta daya tahan tubuh manusia. Infeksi primer biasanya terjadi
dalam paru. Hal ini disebabkan penularan sebagian besar melalui udara dan
mungkin juga karena jaringan paru mudah kena infeksi tuberkulosis
(susceptible). Setelah menghirup basil tuberkulosis hidup di dalam paruparu, maka terjadi eksudasi dan konsolidasi yang terbatas disebut fokus
primer. Basil tuberkulosis akan menyebar, histosit mulai mengangkut
organisme tersebut ke kelenjar limfe regional melalui saluran getah bening
menuju kelenjar regional sehingga terbentuk kompleks primer dan
mengadakan reaksi eksudasi terjadi sekitar 2 sampai 10 minggu (6-8
minggu) pasca infeksi.
Pada anak yang mengalami lesi, dalam paru dapat terjadi dimanapun
terutama di perifer dekat pleura, tetapi lebih banyak terjadi di lapangan
bawah paru dibanding dengan lapangan atas. Juga terdapat pembesaran
kelenjar regional serta penyembuhannya mengarah ke klasifikasi dan
penyebarannya lebih banyak terjadi melalui hematogen. Pada reaksi radang
dimana leukosit polimorfonukleat tampak pada alveoli dan memfagosit
bakteri namun tidak membunuhnya. Kemudian basil menyebar ke limfe dan
sirkulasi. Dalam beberapa minggu limfosit T menjadi sensitif terhadap
organisme TBC dan membebaskan limfokim yang merubah makrofag atau
mengaktifkan

makrofag.

Alveoli

yang

terserang

akan

mengalami

konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat
sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa nekrosis yang tertinggal,
atau proses dapat berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang
biak dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang
dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang
dikelilingi oleh limfosit. Nekrosis pada bagian sentral memberikan

10

gambaran yang relatif padat pada tubuh, yang disebut nekrosis kasiosa.
Terdapat tiga macam penyebaran secara patogen pada tuberkulosis anak :
penyebaran Hematogen tersembunyi yang kemudian mungkin menimbulkan
gejala atau tanpa gejala klinis, penyebaran milier, biasanya terjadi sekaligus
dan

menimbulkan

gejala

akut,

kadang-kadang

kronis,

penyebaran

hematogen berulang.
Penyebaran hematogen yang paling sering terjad adalah dalam
bentuk penyebaran hematogenk tersamar (occult hematogellc spread).
Melalui cara ini, kuman TB menyebar secara sporadik dan sedikit demi
sedikit sehingga tdak menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudan
akan rnencapa berbagai organ di seluruh tubuh. Organ yang biasanya dituju
adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik, misalnya otak, tulang,
ginjal, dan paru sendir, terutama apeks paru atau lobus atas paru. Di
berbaga lokasi tersebut, kuman TB akan bereplikasi dan membentuk koloni
kuman sebelum terbentuk munitas seluler yang akan membatasi
pertumbuhannya.
Beberapa penderita tuberkulosis Osteoarticular merupakan hasil
penyebaran secara hematogen dari suatu infeksi primer fokus jauh. Fokus
primer mungkin terjadi di paru-paru atau di lymphonode mediastinum,
mesentry, daerah cervical dan ginjal. Infeksi menjangkau sistem tulang
melalui saluran vaskuler, yang biasanya arteri sebagai hasil bacillemia atau
kadang-kadang di dalam tulang belakang (axial skeleton) melalui vena
plexus batsons . Tuberculosis tulang & sendi dikatakan akan berkembang 2
sampai 3 tahun setelah fokus primer.
Basil Tuberkulosis biasanya menyangkut dalam spongiosa tulang.
Pada tempat infeksi timbul osteitis, kaseasi dan likuifaksi dengan
pembentukan pus yang kemudian dapat mengalami kalsifikasi. Berbeda
dengan osteomielitis piogenik, maka pembentukan tulang baru pada
tuberkulosis tulang sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Disamping itu
periostitis dan sekwester hampir tidak ada. Pada tuberkulosis tulang ada
kecenderungan terjadi perusakan tulang rawan sendi atau discus
intervertebra.

11

F. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik yang ditimbulkan bersifat lambat dan tidak khas,
sehingga umumnya didiagnosis sudah dalam keadaan lanjut. Selain
dijumpai gejala umum TB pada anak, dapat pula dijumpai gejala spesifik
berupa bengkak, kaku, kemerahan, dan nyeri pada pergerakan.
Tanda dan gejala umum/nonspesifik tuberkulosis pada anak dapat
disebutkan sebagai berikut :
1. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan
dengan penanganan gizi
2. Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara
adekuat (failure to thrive)
3. Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria,
atau infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat malam
4. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya
multipel
5. Batuk lama lebih dari 30 hari
6. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare
Gejala spesifik sesuai organ terkena : TB kulit/skrofuloderma; TB
tulang dan sendi (gibbus, pincang); TB otak dan saraf/meningitis dengan
gejala iritabel, kuduk kaku, muntah, dan kesadaran menurun; TB mata
(konjungtivitis fliktenularis, tuberkel koroid), dll. Oleh karena gejala TB
pada anak sangat bervariasi dan tidak saja melibatkan organ pernafasan
melainkan banyak organ tubuh lain, maka ada yang menyebut TB sebagai
the great immitator. Perhatikan bila gerak anak kurang aktif jika
dibandingkan dengan anak sebayanya.
Kelenjar limfe superfisialis sering dijumpai, kelenjar yang sering
terkena adalah kelenjar limfe kolli anterior atau posterior, juga dapat terjadi
aksila, inguinal, submandibula dan supra klavikula. Secara klinis kelenjar
yang terkena biasanya multipel, unilateral, tidak nyeri tekan, tidak panas
pada perabaan dan dapat saling melekat satu sama lain. Perlekatan ini terjadi
akibat

adanya

inflamasi

pada

kapsul

kelenjar

limfe.

TBC

12

kulit/skrofuloderma. TBC tulang dan sendi : Gejala umum yang sering


ditemukan adalah adanya nyeri, bengkak disendi yang terkena dan
gangguan atau keterbatasan gerak. Pada bayi dan anak yang sedang tumbuh
epifisis tulang merupakan daerah dengan vaskularisasi tinggi yang disukai
oleh kuman TBC. Tulang punggung (spondilitis) : gibbus, tulang panggul
(koksitis) : pincang, pembengkakan di pinggul, tulang lutut: pincang
dan/atau bengkak, tulang kaki dan tangan. TBC otak dan saraf: Meningitis
TBC, Merupakan penyakit yang berat dengan mortalitas dan kecacatan yang
tinggi, terjadi akibat penyebaran langsung kuman TBC ke jaringan selaput
saraf (meningens). Dengan gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah dan
kesadaran menurun. TBC mata: Conjunctivitis phlyctenularis. Tuberkel
koroid (hanya terlihat dengan funduskopi) dan Lain-lain.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Radiologis. TB tulang pada anak secara umum
dilakukan pemeriksaan radiologis pada lokasi yang dicurigai seperti
tulang belakang, sendi panggul, dan sendi lutut. Pada tahap awal
biasanya terdapat gambaran osteoporosis regional periartikuler dan
pembengkakan jaringan lunak sekitar sendi, sedangkan pada tahap
lanjut terdapat penyempitan celah sendi, destruksi tulang rawan
sendi, dan lesi osteolitik, pada daerah epifisis. Untuk infeksi TB
sendi, gambaran yang khas adalah osteoporosis periartikuler,
destruksi tulang rawan sekitar sendi, dan penyempitan celah.
2. Aspirasi cairan sendi. Gambaran yang terlihat berupa peningkatan
sel, penurunan glukosa, dan peningkatan protein atau bahkan dapat
ditemukan BTA positif.
3. Kultur / biakan kuman. Pada pemeriksaan histopatologis dapat
dijumpai gambaran perkijuan (granuloma TB)
H. Penatalaksanaan Terapeutik
Pengobatan terdiri atas :
Terapi konservatif berupa :

13

1. Tirah baring
2. memperbaiki keadaan umum penderita
3. pemberian obat anti tuberkulosa
Obat obatan yang diberikan terdiri atas :
1. Isoniazid ( INH ) dengan dosis oral 10 mg / kg BB.
2. Etambutol. Dosis oral 15- 25 mg /kg BB per hari
3. Rifampisin. Dosis oral 10 mg / kg BB
Pada TBC berat dan ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan
kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan (ditambah Etambutol dan Streptomisin),
dilanjutkan dengan INH dan Rifampicin selama 4-10 bulan sesuai
perkembangan klinis.

14

BAB IV
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.

TB tulang merupakan penyakit infeksi akut atau kronik yang disebabkan


oleh Microbakterium tuberkulosis.

2.

TBC pada anak masih merupakan penyakit mayor yang menyebabkan


kesakitan.

3.

TBC tulang dan sendi menimbulkan gejala nyeri, bengkak disendi yang
terkena dan gangguan atau keterbatasan gerak. Pada bayi dan anak yang
sedang tumbuh epifisis tulang merupakan daerah dengan vaskularisasi
tinggi yang disukai oleh kuman TBC

4.

Diagnosis TBC tidak dapat ditegakkan hanya dari anamnesis, pemeriksaan


fisik atau pemeriksaan penunjang tunggal. Selain alur diagnostik, terdapat
pedoman diagnosis dengan menggunakan sistem skoring.

5.

Uji tuberkulin positif bila indurasi > 10 mm (pada gizi baik), atau > 5 mm
pada gizi buruk. Uji tuberkulin positif menunjukkan TBC.

6.

Tatalaksana TBC pada anak merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan antara pemberian medikamentosa, penataaan gizi dan
lingkungan sekitarnya

7.

Obat TBC yang digunakan yaitu Obat TBC utama (first line) rifampisin,
INH, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin.

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Rahajoe, Nastiti N., dkk, Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. UKK
Pulmonologi PP IDAI, Juni, 2005.
2. Setiawati dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Kesehatan
Anak. 2008. Surabaya

16