Anda di halaman 1dari 50

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terlaksananya keinginan kami dalam menyusun paper tentang penyakit Ca Mammae ini. Dengan waktu yang memadai kami mempersiapkan segalanya untuk menyiapkan paper ini.Walaupun dengan berbagai rintangan dan hambatan, akhirnya kami merasa lega karena dapat menyelesaikannya sesuai rencana dan waktu yang telah ditentukan. Penyusunan paper ini didasari karena keingintahuan kami terhadap salah satu penyakit dalam ruang lingkup Special Sense dan untuk memenuhi tugas praktikum laboratorium patologi anatomi yang diberikan kepada kami. Paper ini berisi tentang penyakit Ca mammae penjelasan mengenai penyakit tersebut. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada sumber-sumber yang telah membantu kami dalam menyelesaikan paper ini.Kami berharap paper kami ini dapat berguna bagi yang membutuhkan dan dapat menambah wawasan bagi siapapun yang ingin mengetahui tentang penyakit Ca Mammae.. Akhirnya kami mengharapkan segala masukkan baik berupa kritik maupun saran-saran demi perbaikan paper ini dan dengan suatu harapan yang tinggi agar paper yang sederhana ini dapat memberikan sumbangan pikiran demi pembangunan bangsa dan negara, terutama dalam bidang kedokteran.

Medan, Januar 2014

Penulis

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 1

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 BAB 2. ISI 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10 2.11 2.12 2.13 2.14 2.15 2.16 ANATOMI PAYUDARA FISIOLOGI PAYUDARA DEFENISI KANKER MAMMAE EPIDEMIOLOGI KANKER PAYUDARA ETIOLOGI KANKER PAYUDARA KLASIFIKASI KANKER PAYUDARA FAKTOR RESIKO KANKER PAYUDARA PATOFISIOLOGI KANKER PAYUDARA MANIFESTASI KLINIK DIAGNOSA KANKER PAYUDARA STAGING KANKER PAYUDARA (6) (8) (9) (9) (10) (11) (15) (17) (18) (19) (22) LATAR BELAKANG MASALAH (4) (1) (2)

PEMERIKSAAN PENUNJANG KANKER PAYUDARA (31) GAMBARAN HISTOPATOLOGI DIAGNOSA BANDING KANKER PAYUDARA PENATALAKSANAAN KANKER PAYUDARA PROGNOSIS KOMPLIKASI (32) (33) (34) (42)

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 2

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

2.17 2.18 BAB 3.

PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA KOMPLIKASI

(42) (47)

PENUTUP 3.1 3.2 KESIMPULAN SARAN (48) (48)


(49)

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 3

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

BABI PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Karsinogenesis adalah suatu proses multi langkah yang berlangsung lama melibatkan akumulasi gen yang mengalami kelainan sampai timbulnya lesi kanker pada tubuh. Deteksi tumor fase awal merupakan masalah yang penting bagi oncologist oleh karena pada fase inilah terapi diharapkan memberikan hasil maksimal. Seperti diketahui penyebab primer dan factor yang mengawali proses karsinogenesis adalah adanya defek pada protoonkogen, gen supresor dan beberapa gen esensial lainnya. Defek tersebut tidak saja dianggap sebagai factor patogenetik tapi juga sebagai penanda tumor oleh karena biologis tubuh merupakan petunjuk adanya pertumbuhan tumor. Penanda tumor adalah suatu molekul atau proses ataupun substansi yang dapat diukur dengan suatu pemeriksaan (assay) baik secara kualitatif maupun kuantitatif pada kondisi prakanker dan kanker. Perubahan kadar tersebut dapat diakibatkan oleh tumor maupun oleh jaringan normal sebagai respon terhadap tumor. Definisi yang lebih umum dari penanda tumor adalah suatu tumor adalah suatu alat yang dapat membantu para klinisi untuk menjawab pertanyaan sekitar masalah kanker dan istilah penanda tumor sering digunakan secara umum sekali (Made, suega.2009). Kanker payudara memperlihatkan proliferasi keganasan sel epitel yang membatasi duktus atau lobus payudara. Pada awalnya hanya terdapat hyperplasia sel dengan perkembangan sel sel yang atipikal. Sel sel ini kemudian berlanjut menjadi karsinoma insitu dan menginvasi stroma. Kanker

membutuhkan waktu 7 tahun untuk tumbuh dari satu ke sel menjadi masa yang cukup besar untuk dapat dipalpasi. Kanker payudara adalah kanker yang paling sering pada perempuan (diluar kanker kulit), walaupun kanker ini sangat jarang pada laki laki. Kanker payudara

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 4

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

adalah kanker penyebab kematian kedua pada perempuan di amerika serikat. Dari tahun 1973 hingga 1992, insiden kanker payudara invasive di amerika serikat meningkat 25,8%, pada kaukasian dan 30,3% pada keturunan amerika afrika, atau secara kasar adalah 2% per tahun (price.2005).

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 5

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

B A B II ISI

2.1 Anatomi Payudara

Perkembangan dan struktur dari glandula mamaria berkaitan dengan kulit. Fungsi utamanya adalah menyekresi susu untuk bayi. Payudara terdiri dari jaringan kelenjar, fibrosa, dan lemak. Jaringan ikat memisahkan payudara dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan seratus anterior. Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat putting (papilla mamaria), tonjolan yang berpigmen dikelilingi oleh areola. Putting mempunyai perforasi pada ujungnya dengan beberapa lubang kecil, yaitu aperture duktus laktiferosa. Tuberkel-tuberkel Mantgomery adalah kelenjar sebasea pada permukaan areola (Price, et.al., 2006). Kelenjar mammae dewasa adalah kelenjar tubuloalveolar kompleks yang terdiri atas kurang lebih 20 lobi. Semua lobi berhubungan dengan duktus laktiferus yang bermuara di putting susu. Lobi dipisahkan oleh sekat-sekat jaringan ikat dan jaringan lemak (Eroschenko, 2003).

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 6

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Kelenjar payudara terletak di dalam fasia superfisialis di daerah pektoral antara sternum dan aksila dan melebar dari kira-kira iga kedua atau ketiga sampai ke iga keenam atau ketujuh. Bentuk kelenjar payudara cembung ke depan dengan puting di tengahnya yang terdiri atas kulit dan jaringan erektil dan berwarna tua. Puting ini dilingkari daerah berwarna coklat yang disebut areola. Dekat dasar puting terdapat kelenjar sebaseus yaitu kelenjar Montgomery, yang mengeluarkan zat lemak supaya puting tetap lemas. (Pearce, 2006) Setiap mammae merupakan elevasi dari jaringan dada. Mammae terletak di atas otot pektoralis mayor dan melekat pada otot tersebut melalui selapis jaringan ikat. Variasi ukuran mammae bergantung pada variasi jumlah jaringan lemak dan jaringan ikat bukan pada jumlah jaringan glandular aktual. a. Jaringan glandular terdiri dari 15 sampai 20 lobus mayor, setiap lobus dialiri duktus laktiferusnya sendiri yang membesar menjadi sinus laktiferus (ampula) sebelum muncul untuk memperforasi putting dengan 5 sampai 20 mulut (opening). b. Lobus-lobus dikelilingi jaringan adiposa dan dipisahkan oleh ligament suspensorium Cooper (berkas jaringan ikat fibrosa). Ligamen suspensorium ini merentang dari fasia dalam pada otot pektoralis sampai fasia superficial tepat dibawah kulit. c. Lobus mayor bersubdivisi menjadi 20 sampai 40 lobulus, setiap lobulus kemudian bercabang menjadi duktus-duktus kecil yang berakhir di alveolia sekretori. Sel-sel alveolar, di bawah pengaruh hormonal saat kehamilan dan setelah kelahiran merupakan unit glandular yang menyintesis dan mesekresi susu (Sloane,2003). Puting memiliki kulit berpigmen dan berkerut yang membentang keluar sekitar 1 cm sampai 2 cm untuk membentuk areola. Areola mengandung kelenjar sebasea dan kelenjar keringat yang besar, beberapa diantaranya berhubungan dengan folikel rambut dan serabut otot polos yang meyebabkan ereksi puting saat berkontraksi. Tidak ada otot di mammae. Persarafan kelenjar mamae dipersyarafi oleh nervi interkostal ke 2-6 dan 3-4 rami dari pleksus servikalis. Sedangkan saraf yang berkaitan erat dengan terapi bedah adalah (1) nervus torakalis lateralis. Kira kira di tepi medial m. pektoralis lateralis

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 7

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

minor melintasi anterior vena aksilaris berjalan ke bawah masuk ke permukaan dalam m. pektoralis mayor. (2) nervus torakalis medialis. Kira kira 1 cm lateral dari nervus torakalis lateralis, tidak melintasi vena aksilaris berjalan ke bawah masuk ke m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor. (3) nervus torakalis longus dari pleksus servikalis berjalan kebawah, mempersarafi m. seratus anterior. (4) nervus torakalis dorsalis dari pleksus brakialis. Berjalan bersama pembuluh darah subskapsularis, mensarafi m. subskapsularis, m. teres mayor (Desen,2011)

2.2 Fisiologi Payudara


Mammae mulai berkembang saat pubertas, yang distimulasi oleh estrogen yang berasal dari siklus seksual wanita bulanan; estrogen merangsang pertumbuhan kelenjar mammaria payudara ditambah dengan deposit lemak untuk memberi massa payudara. Pertumbuhan yang lebih besar terjadi selama kehamilan. Selama kehamilan, sejumlah besar estrogen disekresikan oleh plasenta sehingga sistem duktus payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan, stroma payudara juga bertambah besar dan sejumlah besar lemak terdapat di dalam stroma. Empat hormon lain yang juga penting untuk pertumbuhan sistem duktus: hormon pertumbuhan, prolaktin, glukokortikoid adrenal, dan insulin. Perkembangan akhir mammae menjadi organ yang menyekresi air susu juga memerlukan progesteron. Sekali sistem duktus telah berkembang, progesteronbekerja secara sinergistik dengan estrogen, juga dengan semua hormon-hormon lain yang beru disebutkan di atasmenyebabkan pertumbuhan lobulus payudara, dengan pertunasan alveolus, dan perkembangan sifat-sifat sekresi dari sel-sel alveoli (Guyton, et.al., 2007). Penurunan mendadak estrogen dan progesteron yang terjadi seiring dengan keluarnya plasenta pada persalinan memicu laktasi. Setelah persalinan, laktasi dipertahankan oleh dua hormon penting: (1) prolaktin, yang bekerja pada epitel alveolus untuk meningkatkan sekresi susu, dan (2) oksitosin, yang menyebabkan penyemprotan susu (Sheerwood, 2001).

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 8

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

2.3 Defenisi Kanker Payudara


Tumor adalah jaringan baru (neoplasma_ yang timbul dalam tubuh akibat pengaruh berbagai factor penyebab tumor yang menyebabkan jaringan setempat pada tingkat gen kehilangan kendali normal atas pertumbuhannya (Desen.2011) Kanker payudara adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrative dan destruktif, serta dapat bermetastase. Tumor ini tumbuh progresif, dan relative cepat membesar. Pada stadium awal tidak terdapat keluhan sama sekali, hanya berupa fibroadenoma atau fibrokistik yang kecil saja, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, permukaan tidak rata, dan konsistensi padat dan keras (Ramli, 1994)

2.4 Epidemiologi Kanker Payudara

Jumlah penderita kanker payudara di seluruh dunia terus mengalami peningkatan, baik pada daerah dengan insiden tinggi di Negara-negara barat, maupun pada

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 9

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

insiden rendah seperti di banyak daerah di asia. Satu laporan penelitian pada tahun 1993 memperkirakan bahwa jumlah kasus baru di seluruh dunia pada tahun 1985 mencapai 720.000 orang, terdiri atas : 422.000 di Negara maju dan 298.000 di Negara berkembang. Angka insiden tertinggi dapat ditemukan pada beberapa daerah di amerika serikat (mencapai di atas 100 /100.000 orang). Kemudian diikuti dengan beberapa Negara eropa barat (tertinggi swiss, 73,5/100.000). untuk asia masih berkisar antara 1020/100.000 (contoh pada daerah tertentu di jepang 17,6/100.000; Kuwait 17,2/100.000; dan cina 9,5/100.000). Di Indonesia, kanker payudara merupakan kanker ke dua paling banyak diderita kaum wanita, setelah kanker mulut/leher rahim. Kanker payudara umumnya menyerang wanita yang telah berumur lebih dari 40 tahun. Namun demikian, wanita muda pun bisa terserang kanker ini ( Purwoastuti, 2008)

2.5 Etiologi Kanker Payudara


Etiologi kanker mammae masih belum jelas dan menunjukkan terdapat kaitan erat dengan faktor berikut : 1. Riwayat keluarga dan gen terkait karsinoma mammae Penelitian menemukan pada wanita dengan saudara primer menderita karsinoma mammae,probabilitas terkena karsinoma mammae lebih tinggi 23 kali dibanding wanita tanpa riwayat keluarga.Penelitian dewasa ini menunjukkan gen utama yang terkait dengan timbulnya karsinoma mammae adalah BRCA-1 dan BRCA-2. 2. Reproduksi Usia menarke kecil,henti haid lanjut dan siklus haid pendek merupakan faktor resiko tinggi karsinoma mammae,selain itu yang seumur hidup tidak menikah atau belum menikah,partus pertama berusia lebih dari 30 tahun dan setelah partus belum menyusui,berinsiden relatif tinggi. 3. Kelainan kelenjar mammae Penderita kistadenoma mammae hiperplastik berat berinsiden lebih tinggi.Jika satu mammae sudah terkena kanker mammae kontralateral resikonya meningkat.

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 10

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

4. Penggunaan obat di masa lalu Penggunaan jangka panjang hormon insidennya lebih tinggi.Terdapat laporan penggunaan jangka panjang reserpin,metildopa,analgesik trisiklik,dll dapat menyebabkan kadar prolaktin meninggi,beresiko karsinogenik bagi mammae. 5. Radiasi pengion Kelenjar mammae relatif peka terhadap radiasi pengion,paparan berlebih menyebabkan peluang kanker lebih tinggi. 6. Diet dan gizi Diet tinggi lemak dan kalori berkaitan langsung dengan timbulnya karsinoma mammae.Terdapat data menunjukkan orang yang gemuk sesudah usia 50 tahun berpeluang lebih besar terkena kanker mammae.Terdapat laporan bahwa minum bir dapat meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh,wanita yang setiap hari minum bir 3 kali ke atas beresiko karsinoma mammae meningkat 50-70%.Penelitian lain menunjukkan diet tinggi selulosa,vitamin A dan protein kedele dapat menurunkan insiden karsinoma mammae (Desen, 2011).

2.6 Klasifikasi Kanker Payudara


Tabel 2.6.1. Perbandingan Klasifikasi Patologik karsinoma mamae Klasifikasi China 2000 1. Karsinoma non invasive. a. karsinoma in situ duktal b. karsinoma in situ lobular c. penyakit paget papilla mamae 2. Karsinoma invasive dini a. karsinoma duktal invasive dini b. karsinoma lobular invasive dini 3. Karsinoma tipe spesifik invasive a. karsinoma papilar b. karsinoma medular dengan sebukan Klasifikasi WHO tahun 2003 1. Karsinoma noninvasive a. karsinoma in situ dukta b. karsinoma in situ lobular c. karsinoma papiliform intraduktal d. karsinoma papiliform intrakistik 2. Karsinoma mikroinvasif 3. Karsinoma invasive a. karsinoma lobular invasive b. karsinoma duktal invasive 4. Karsinoma tubular

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 11

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

limfosif massif c. karsinoma duktuli d. karsinoma adenoid kistik e. adenokarsinoma musinos karsinoma sel skuamosa 4. Karsinoma nonspesifik invasive a. karsinoma lobuli invasive b. karsinoma duktuli invasive c. karsinoma skirus d. karsinoma medular e. karsinoma sederhana f. adenokarsinoma g. siringokarsinoma 5. Karsinoma yang jarang di temukan a. karsinoma sekretorik b. karsinoma limfoid c. karsinoma sel signet ring d. fibroadenoma transformasi ganas e. papilomatosis transformasi ganas 6. Karsinoma dengan metaplasia a. varian sel skuamosa b. varian sel spindle c. varian tulang dan kartilago d. varian campuran

5. Karsinoma kribriform invasive 6. Karsinoma medular 7. Karsinoma musinosa dan karsinoma kaya mucus lainnya a. karsinoma musinosa b. karsinoma adenoid kistik dan mukokarsinoma sel torak c. karsinoma sel signet 8. Karsinoma neuroendokrin a. karsinoma neuroendokrin padat b. atipikal c. karsinoma sel kecil d. karsinoma neuroendokrin sel besar 9. Karsinoma papilla invasive 10. Karsinoma mikrokapilar invasive 11. Karsinoma apokrin 12. Karsinoma dengan metaplasia a. karsinoma metaplasia epitel b. karsinoma metaplasia sel skuamosa c. adeno karsinoma dengan metaplasia sel spindle d. karsinoma adenoskuamos e. karsinoma mukoepidermoid f. karsinoma mesenkimal epitelal campuran 13. Karsinoma lipoid 14. Karsinoma sekretorik 15. Karsinoma onkositik 16. Karsinoma kistik adenoid 17. Karsinoma asinar 18. Karsinoma sel jernih kaya glikogen 19. Karsinoma seborea

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 12

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

20. Karsinoma mamae inflamatorik Penyakit paget papilla mamae

Berdasarkan gambaran histologist, WHO membuat klasifikasi kanker payudara sebagai berikut : a. Kanker Payudara Non Invasif 1. Karsinoma intraduktus non invasive Karsinoma intraduktus adalah karsinoma yang mengenai duktus disertai infiltrasi jaringan stroma sekitar. Terdapat 5 subtipe dari karsinoma intraduktus, yaitu : komedokarsinoma, solid, kribfiromis, papiler, dan mikrokapiler. Komedokarsinoma ditandai dengan sel sel yang berpoliferasi cepat dan memiliki derajat keganasan tinggi. Karsinoma jenis ini dapat meluas ke duktus ekskretorius utama, kemudian menginfiltrasi papilla dan aerola, sehingga dapat menyebabkan penyakit paget pada payudara. 2. Karsinoma Lobural Insitu Karsinoma ini ditandai dengan pelebaran satu atau lebih duktus terminal dan atau tubulus, tanpa disertai infiltrasi ke dalam stroma. Sel sel berukuran lebih besar dari normal, inti bulat kecil dan jarang disertai mitosis. b. Kanker Payudara Invasif 1. Kanker Duktus Invasif Karsinoma jenis ini merupakan bentuk paling umum dari kanker payudara. Karsinoma duktus infiltrative merupakan 65-80% dari karsinoma payudara. Secara histologist, jaringan ikat padat tersebar berbentuk sarang. Sel berbentuk bulat sampai polygonal, bentuk inti kecil dengan sedikit gambaran mitosis. Pada tepi tumor, tampak sel kanker mengadakan infiltrasi ke jaringan sekitar seperti sarang, kawat atau seperti kelenjar. Jenis ini disebut juga sebagai infiltrating ductus carcinoma not otherrwiser spercifierd (NOS), schirrhous carcinoma, infiltrating carcinoma, atau carcinoma simplex. 2. Kanker karsinoma Lobular Invasive

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 13

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Jenis ini merupakan karsinoma infiltrative yang tersusun atas sel sel berukuran kecil dan seragam dengan sedikit pleimorfisme. Karsinoma lobular invasive biasanya memiliki tingkat mitosis rendah. Sel infiltrative biasanya tersusun konentris disekitar duktus berbentuk seperti target. Sel tumor dapat berbentuk signet-ring, tubuloalveolar,atau solid. 3. Karsinoma musinosum Pada karsinoma musinosum ini di dapat sejumlah besar mucus intra dan ekstraseluler yang dapat dilihat secara makroskopis maupun mikroskopis. Secara histologist, terdapat 3 bentuk sel kanker. Bentuk pertama, sel tampak seperti pulau-pulau kecil yang mengambang dalam cairan musin basofilik. Bentuk kedua, sel tumbuh dalam susunan kelenjar berbatas jelas dan lumennya mengandung musin. Bentuk ketiga terdiri dari susunan jaringan yang tidak teratur berisi sel tumor tanpa diferensiasi, sebagian besar sel berbentuk signet-ring. 4. Karsinoma medular Sel berukuran besar berbentuk polygonal/lonjong dengan batas sitoplasma tidak jelas. Diferensiasi dari jenis ini buruk, tetapi memiliki prognosis lebih baik daripada karsinoma duktus infiltrative. Biasanya terdapat infiltrasi limfosit yang nyata dalam jumlah sedang diantara sel kanker, terutama dibagian tepi jaringan kanker. 5. Karsinoma papiler invasive Komponen invasive dari jenis karsinoma ini berbentuk papiler. 6. Karsinoma tubuler Pada karsinoma tubuler, bentuk sel teratur dan tersusun secara tubuler selapis, dikelilingi oleh stroma fibrous. Jenis ini merupakan karsinoma dengan diferensiasi tinggi. 7. Karsinoma adenokistik Jenis ini merupakan karsinoma invasive dengan karakteristik sel yang berbentuk kribriformis. Sangat jarang ditemukan pada payudara. 8. Karsinoma apokrin Karsinoma ini didominasi dengan sel yang memiliki sitoplasma eosinofilik, sehingga menyerupai sel apokrin yang mengalami metaplasia. Bentuk

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 14

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

karsinoma apokrin dapat ditemukan juga pada jenis karsinoma payudara yang lain.

2.7 Faktor Resiko Kanker Payudara


a) Usia Resiko terkena kanker mammae meningkat seiring bertambahnya

usia.Sebagian besar wanita penderita kanker mammae berusia 50 tahun ke atas.Jika anda mengalami menopause terlambat (setelah umur 55),resiko anda lebih besar lagi.Secara umum,resiko mencapai puncaknya pada usia lebih dari 60 tahun. b) Riwayat Kanker Mammae Jika anda pernah memiliki kanker di salah satu mammae,anda beresiko lebih tinggi bahwa mammae lainnya juga akan terkena. Kalkulator Resiko Kanker Mammae Bila anda adalah wanita berusia 35 tahun atau lebih,silahkan menilai resiko anda terkena kanker mammae dengan Kalkulator Resiko Kanker

Mammae.Bila anda diketahui memiliki resiko sedang atau tinggi,mulailah menerapkan langkah-langkah pencegahan dan disiplin melakukan skrining berkala dengan SADARI dan mamografi. c) Riwayat Keluarga dengan Kanker Mammae Jika ibu,saudara perempuan atau anak perempuan memiliki kanker mammae (terutama sebelum usia 40 tahun) resiko lebih tinggi.Resiko berlipat dua bila ada lebih dari satu anggota keluarga inti yang terkena kanker

mammae.Memiliki kerabat non-inti dengan kanker mammae (misalnya tante,nenek atau sepupu) juga meningkatkan resiko d) Usia Saat Melahirkan Anak Pertama Semakin tua ketika memiliki anak pertama,semakin besar resiko terkena kanker mammae.Resiko juga meningkat jika sudah berusia 30 tahun atau lebih dan belum pernah melahirkan anak. e) Perubahan Mammae Perubahan mammae sering terjadi pada hampir semua wanita.Sebagian besar perubahan itu bukan kanker.Namun,beberapa perubahan mungkin adalah

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 15

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

tanda-tanda kanker.Jika memiliki perubahan jaringan mammae yang dikenal sebagai hiperplasia atipikal (sesuai hasil biopsi),memiliki peningkatan resiko kanker mammae. f) Usia Saat Menstruasi Pertama Jika mulai menstruasi di usia dini (sebelum 12 tahun),memiliki peningkatan resiko kanker mammae. g) Terapi Radiasi di Dada Jika harus menjalani terapi radiasi di dada sebelum usia 30 tahun,memiliki kenaikan resiko.Semakin muda ketika menerima pengobatan radiasi,semakin tinggi resiko terkena kanker mammae di kemudian hari h) Kepadatan Tisu Mammae Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita usia 45 tahun atau lebih yang memiliki minimal 75% jaringan padat pada mammogram memiliki peningkatan resiko mengembangkan kanker mammae.Para ilmuwan belum tahu mengapa demikian. i) Penggunaan Hormon Estrogen dan Progestin Jika mendapatkan terapi penggantian hormon estrogen saja atau estrogen plus progestin selama 5 tahun atau lebih setelah menopause,memiliki peningkatan resiko mengembankan kanker mammae.Selain resiko kanker

mammae,estrogen plus progestin juga meningkatkan resiko penyakit jantung,stroke,demensia dan pembekuan darah. j) Obesitas Setelah Menopause Jika mengalami obesitas setelah menopause,beresiko 1,5 kali lebih besar untuk mengembangkan kanker mammae dibandingkan dengan wanita berberat badan normal. k) Aktivitas Fisik Sebuah penelitian terbaru dari Womens Health Intiative menemukan bahwa aktivitas fisik pada wanita menopause yang berjalan sekitar 30 menit/hari dikaitkan dengan penurunan 20% resiko kanker

mammae.Namun,pengurangan resiko terbesar diantara wanita yang berberat badan normal.Dampak aktivitas fisik tidak ditemukan dikalangan wanita yang kelebihan berat badan atau obesitas.Aktivitas fisik yang dikombinasi dengan

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 16

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

diet dapat menurunkan berat badan sehingga pada akhirnya menurunkan berat badan sehingga pada akhirnya menurunkan resiko kanker mammae dan berbagai penyakit lainnya.

2.8 Patofisiologi Kanker Payudara

Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi. Tahap Inisiasi Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 17

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi atau sinar matahari, tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap karsinogen. Kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahun pun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.

Tahap Promosi Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi, oleh karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan yaitu sel-sel yang peka dan karsinogen.

2.9 Manifestasi Klinik

a) Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kwadran atas bagian dalam, dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan terfiksasi.

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 18

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

b) Nyeri di daerah massa (mammae) c) Perubahan bentuk dan besar mammae d) Adanya lekukan ke dalam, tarikan dan refraksi pada areola mammae e) Kemerahan atau penebalan pada kulit puting atau mammae f) Pengelupasan papilla mammae g) Adanya kerusakan dan retraksi pada area puting, h) Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah, darah, cairan encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui. i) Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi j) Pembengkakan pada seluruh atau sebagian mammae, terasa panas, memerah. k) Iritasi pada kulit mammae yang sulit sembuh, terasa sangat gatal. l) Ada benjolan yang keras di mammae m) Apabila benjolan itu kanker, awalnya biasanya hanya pada 1 mammae n) Benjolan yang keras itu tidak bergerak ( terfiksasi ). dan biasanya pada awalawalnya tidak terasa sakit

2.10 Diagnosa Kanker Payudara


2.10.1 Anamnesis Benjolan di mammae biasanya mendorong penderita untuk ke dokter. Pada umumnya keluhan waktu datang : tumor mammae tidak nyeri (66%), tumor mammae nyeri (11%), perdarahan/ cairan dari puting susu (9%), edema lokal (4%), retraksi puting susu (3%). Konsistensi kelainan ganas biasanya keras. Pengeluaran cairan dari puting biasanya mengarah ke papiloma atau karsinoma intraduktal, sedangkan nyeri lebih mengarah ke kelainan fibriokistik. 2.10.2 Pemeriksaan Klinis Sebaiknya pemeriksaan mammae dilakukan di saat pengaruh hormonal seminimal mungkin (setelah 1 minggu dari hari terakhir menstruasi). Untuk inspeksi, pasien dapat diminta duduk tegak atau berbaring atau kedua-duanya. Kemudian perhatikan bentuk kedua mammae, warna kulit, tonjolan, lekukan, retraksi, adanya kulit berbintik seperti kulit

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 19

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

jeruk, ulkus dan benjolan. Dengan lengan terangkat lurus ke atas, kelaianan terlihat lebih jelas. Palpasi lebih baik dilakukan pada pasien yang berbaring dengan bantal tipis di punggung, sehingga mammae terbentang rata. Palpasi dilakukan dengan telapak jari tangan yang digerakkan perlahan tanpa tekanan pada setiap kuadran mammae. Yang diperhatikan pada dasarnya sama dengan penilaian tumor di tempat lain. Pada sikap duduk, benjolan yang tidak teraba ketika penderita berbaring, kadang lebih mudah ditemukan. Perubahan aksila pun lebih mudah pada posisi duduk.Pemeriksaan kelenjar getah bening regional dilakukan dengan palpasi kelompok kelenjar getah bening sekitar mammae. Tabel 2.10.2.1 Gejala dan Penyebab Gejala yang Dirasakan Nyeri: - Berubah sesuai siklus menstruasi - Rasa nyeri menetap, tidak tergantung Nyeri lebih khas pada infeksi daripada tumor Penyebab fisiologis, seperti pada tegangan pramenstruasi atau penyakit fibrokistik Bisa disebabkan oleh infeksi, kadang tumor jinak atau tumor ganas Penyebab yang Mungkin

siklus menstruasi Benjolan di Mammae - Keras Permukaan licin pada fibroadenoma atau kista Permukaan kasar, berbenjol, atau melekat pada kanker atau inflamasi non-infektif - Kenyal Kelainan Fibrokistik

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 20

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

- Lunak Perubahan Kulit

Lipoma Penarikan kulit/dinding dada lebih khas pada tumor daripada penyakit jinak

Bercawak Benjolan kelihatan

Sangat mencurigakan karsinoma Kista, karsinoma, fibroadenoma membesar Di atas benjolan: kanker (tanda khas) Infeksi (jika ada tanda panas) Kanker lama (biasa pada usia lanjut)

Kulit jeruk Kemerahan Tukak

Kelainan Puting/Areola Retraksi Inversi Baru Fibrosis karena kanker Retraksi fibrosis karena kanker (kadang fibrosis karena pelebaran duktus) Unilateral: penyakit Paget (tanda khas kanker) Eksema Keluarnya Cairan Seperti susu Jernih Hijau Kehamilan atau laktasi Normal - (Peri) menapouse - Pelebaran duktus - Kelainan fibrokistik Hemoragik Karsinoma Papiloma intraduktus

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 21

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

2.11 Staging Kanker Payudara


Menurut AJCC VI (Desen, 2011): Tx To Tis : tumor primer tidak dapat ditetapkan : tumor primer tidak dapat ditemukan : Ca in situ (intraduktal Ca, Lobular Ca in situ, penyakit Paget pada Papilla) T1 T1a T1b T1c T2 T3 T4a T4b T4c T4d Nx No N1 N2a : tumor berdiameter < 2 cm : diameter < 0,5cm : diameter 0,5-1cm : diameter 1-2cm : diameter 2-5cm : diameter > 5cm : infiltrasi pada dinding dada (fascia pektoralis) : infiltrasi pada kulit (edem,ulserasi,lesi satelit) : infiltrasi pada dinding dada dan kulit : Ca inflammatory : metastase lnn tidak dapat ditetapkan : metastase lnn tidak dapat ditemukan : metastase lnn axilla ipsilateral : metastase lnn axilla ipsilateral terfiksir satu sama lain atau perlekatan dengan struktur sekitarnya N2b : metastase lnn mamaria interna tanpa metastase ke lnn axilla

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 22

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

N3a N3b N3c Mx Mo M1

: metastase lnn infraklavikula dengan atau tanpa metastasis ke lnn axilla : metastasis lnn mamaria interna dengan metastasis lnn axilla : metastasis lnn supraklavikula dengan atau tanpa metastasis ke lnn axilla : metastasis jauh tidak dapat ditetapkan : metastasis jauh tudak dapat ditemukan : terdapat metastasis jauh

Gambaran TNM secara terstruktur

Klasifikasi Stadium PORTMAN yang disesuaikan dengan aplikasi klinik :

Stadium I

Tumor

terbatas dalam mammae, bebas dari jaringan sekitarnya,tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan yang dibawahnya (otot). Besar tumor 1-2cm.KGB regional belum teraba. Stadium II : Stadium I,besar

tumor 2,5-5 cm dan sudah ada satu atau beberapa KGB axilla yang masih bebas < 2cm

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 23

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Stadium IIIA : Tumor sudah meluas dalam mammae (5-10 cm) tapi masih bebas di jaringan sekitarnya,KGB axilla masih bebas satu sama lain Stadium IIIB : Local advanced. Tumor sudah meluas dalam mammae (510cm),fiksasi pada kulit atau dinding dada,kulit merah dan ada edema (lebih dari 1/3 payudara kiri),ulserasi,nodul satelit,KGB axilla melekat satu sama lain atau terhadap jaringan sekitarnya lebih dari 2 cm, belum ada metastase jauh

Stadium IV Disertai dengan KGB aksia supra-klavikula dan metastase jauh lainnya.

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 24

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Tabel 2.11.1. Klasifikasi cTNM klinis

T TX T0 Tis

Kanker Primer Tumor primer tak dapat dinilai (misal telah direseki) Tak ada bukti lesi primer Karsinoma in situ. Mencakup karsinoma in situ duktal atau karsinoma in situ lobular, penyakit paget papila mammae tanpa nodul (penyakit paget dengan nodul diklasifikasikan menurut ukuran nodul )

T1

Diameter tumor sebesar <= 2cm

Tmic Infiltrasi mikro <= 0,1 cm T1a Diameter terbesar > 0,1 cm, tapi <= 5cm

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 25

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

T1c T2 T3 T4

Diameter terbesar > 1 cm, tapi < 2c Diameter tumor terbesar > 2cm, tapi <= 5cm Diameter tumor terbesar > 5 cm Berapapun ukuran tumor, menyebar langsung ke dinding toraks atau kulit (dinding toraks termasuk tulang iga, m. interkostales dan m. seratus anterior, tak termasuk m. pektoralis)

T4a T4b

Menyebar ke dinding toraks Udem kulit mammae (termasuk peau dorange) atau ulserasi atau nodul satelit di mammae ipsilateral

T4c T4d

Terdapat 4a dan 4b sekaligus Karsinoma mammae inflamatorik

Catatan : 1) Lesi mikroinvasif multiple, diklasifikasi berdasarkan massa terbesar, tidak atas dasar total massa lesi multiple tersebut 2) Terhadap karsinoma mammae inflamatorik (T4d), jika biopsy kulit negatif dan tak ada tumor primer yang dapat diukur, klasifikasi patologik adalah pTx

N NX N0 N1 N2

Kelenjar limfe regional Kelenjar limfe regional tak dapat dinilai (misal sudah diangkat sebelumnya) Tak ada metastasis kelenjar limfe regional Di fosa aksilar ipsilateral terdapat metastasis kelenjar limfe limfe mobil Kelenjar limfe metastatic fosa aksilar ipsilateral saling konfluen dan terfiksasi dengan jaringan lain atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe mamaria interna namun tanpa metastasis kelenjar limfe aksilar

N2a

Kelenjar limfe aksilar ipsilateral saling konfluen dan terfiksasi dengan jaringan lain

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 26

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

N2b

Bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe mamaria interna namun tanpa metastasis kelenjar limfe aksilar

N3

Metastasis

kelenjar

limfe

infraklavikular

ipsilateral

atau

bukti

klinis

menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe mamaria interna dan metastasis kelenjar limfe aksilar atau metastasis kelenjar limfe supraklavikular ipslilateral N3a N3b Metastasis kelenjar limfe infraklavikular Bukti klinis menunjukan terdapat metastasis kelenjar limfe mamaria interna dan metastasis kelenjar limfe aksilar N3c Metastasis kelenjar limfe supraklavikular

Catatan : 1) Kelenjar limfe regional adalah kelenjar limfe aksilar dan kelenjar limfe mamaria interna. Kelenjar limfe mamaria interna secara klinis dibagi menjadi kelompok infra-aksilar atau level I, kelompok intra-aksilar atau level II dan kelompok supraaksilar atau level III. Kelompok infra-aksilar adalah kelenjar limfe lateral dari margo lateral otot pektoralis minor, kelompok infra-aksilar adalah kelenjar limfe di antara margo medial dan lateral otot pectoralis minor (termasuk kelenjar limfe di antara otot pektoralis mayor dan minor), kelompok supra-aksilar adalah kelenjar limfe di medial dari margo medial otot pektoralis minor. 2) Bukti klinis : menunjukkan bukti yang ditemukan dari pemeriksaan klinis, pemeriksaan pencitraan ( tak termasuk pencitraan sintigrafi kelenjar limfe), atau bukti dari pemeriksaan makroskopik patologik M MX M0 M1 Metastasis jauh Metastasis jauh tak dapat dinilai Tak ada metastasis jauh Ada metastasis jauh

Tabel 2.11.2 Klasifikasi Patologik pTNM pT N pNx pN0 Kelenjar limfe regional Kelenjar limfe regional tak dapat dinilai (misal sudah diangkat sebelumnya) Secara histologist tak ada metastasis kelenjar limfe, tapi tidak dilakukan

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 27

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

pemeriksaan lebih lanjut untuk kelompok sel tumor terisolasi ( ITC) pN0 (i- Histologist tak ada metastasis kelenjar limfe, imunohistologis ITC negative ) pN0 (i+) pN0 (mol-) pN0 (mol+) pN1mi Diaksila ipsilateral terdapat 1-3 kelenjar limfe metastatic atau dari diseksi kelenjar limfe sentinel secara mikroskopik ditemukan metastasis kelenjar limfe mamaria interna ipsilateral, tapi tanpa bukti klinis pN1 Di aksila ipsilateral terdapat 1-3 kelenjar limfe metastatis atau dari diseksi kelenjar limfe sentinel secara makroskopik ditemukan metastasis kelenjar limfe mamaria interna ipsilateral, tapi tanpa bukti klinis pN1a Diaksila ipsilateral terdapat 1-3 kelenjar limfe metastatis dan minimal 1 kelenjar limfe metastatis berdiameter maksimal > 2 mm pN1b Dari diseksi kelenjar limfe sentinel secara mikroskopik ditemukan metastasis kelenjar limfe mamaria interna ipsilateral, tapi tanpa bukti klinis pN1c pN2 pN1a disertai pN1b Diaksila ipsilateral terdapat 4-9 kelenjar limfe metastatis atau bukti klinis menunjukkan metastasis kelenjar limfe mamaria interna ipsilateral tapi tanpa metastatsis kelenjar limfe aksilar pN2a Diaksila terdapat 4-9 kelenjar limfe metastatis dan minimal 1 kelenjar limfe metastatis berdiameter maksimal > 2mm pN2b Bukti klinis menunjukkan metastatis kelenjar limfe mamaria interna ipsilateral tapi tanpa metastass kelenjar limfe aksilar pN3 Di aksila ipsilateral terdapat 10 atau lebih kelenjar limfe metastatis kelenjar limfe infraklavikular ipsilateral atau bukti klinis menunjukkan metastasis kelenjar limfe mamaria interna disertai metastatsis kelenjar limfe aksilar ipsilateral atau secara klinis negative, dari diseksi kelenjar limfe sentinel secara mikroskopik ditemukan metastasis kelenjar limfe mamaria interna ipsilateral, Histologist tak ada metastasis kelenjar limed, pemeriksaan molecular ITC negative (RT-PCR) Mikrometastasis (diameter terbesar > 0,2 mm, tapi < 2mm) Histologist tak ada metastasis kelenjar limfe, imunohistologis ITC positif

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 28

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

tapi tanpa bukti klinis, namun terdapat lebih dari 3 kelenjar limfe aksilar metastatis atau metastasis kelenjar limfe supraklavikular ipsilateral pN3a Di aksila terdapat 10 atau lebih kelenjar limfe metastatis dan minimal satu kelenjar limfe metastatis berdiameter terbesar > 2mm atau metastasis kelenjar limfe infraklavikular pN3b Bukti klinis menunjukkan metastasis kelenjar limfe mamaria interna disertai metastasis kelenjar limfe aksilar ipslateral atau secara klinis negatif, dari sentinel secara mikroskopik ditemukan metastasis

diseksi kelenjar limfe

kelenjar limfe mamaria interna ipsilateral, tapi tanpa bukti klinis, namun terdapat lebih dari 3 kelenjar limfe aksilar metastatis pN3c Bukti klinis menunjukkan metastasis kelenjar limfe mamaria interna disertai metastasis kelenjar limfe aksilar ipsilateral, atau secara klinis negative, dari diseksi kelenjar limfe sentinel secara mikroskopik ditemukan metastasis kelenjar limfe mamria interna ipsilateral, tapi tanpa bukti klinis, namun terdapat lebih dari 3 kelenjar limfe aksilar metastatis M Metastasi kelenjar limfe supra-klavikular

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 29

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

KLASIFIKASI STADIUM KLINIS : Stadium 0 Stadium I Stadium II : TisN0M0 : T1N0M0 : T0N1M0 T1N1M0 T2N0M0 Stadium IIB : T2N1M0 T3N0M0 Stadium IIIA : T0N2M0 T1N2M0 T3N1-2M0

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 30

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Stadium IIIB : T4, N apapun, M0 Stadium IIIC : T apapun, N3M0 Stadium IV : T apapun, N apapun, M1

2.12 Pemeriksaan Penunjang


2.12.1 Pemeriksaan Sitologi Pemeriksaan sitologi antara lain : fine needle aspiration, needle core biopsy dengan jarum silverman, exicional biopsy dan pemeriksaan frozen section saat operasi. Pada umumnya fungsi dengan jarum halus (FNAB/Fine Needle Aspiration Biopsy) sering dipakai. Pemeriksaan ini juga dapat menentukan perlu tidaknya segera pembedahan dengan sediaan beku atau dilanjutkan dengan pemeriksaan lain ataupun langsung dilakukan ekstirpasi. Penentuan derajat diferensial histologis : 1. G1 : derajat keganasan rendah 2. G2 : derajat keganasan sedang 3. G3 : derajat keganasan tinggi Jenis histologis : 1. Duktal (timbul dari epitelium duktus) : non invasive/invasive 2. Lobular (timbul dari epithelium lobular) : non invasive/invasive Hasil positif pada pemeriksaan sitologi bukan indikasi untuk bedah radikal, sebab hasil negatif palsu sering terjadi, sedangkan hasil

pemeriksaan positif palsu selalu dapat terjadi. 2.12.2 Pemeriksaan Radiologi Pemerisaan dengan mammografi dapat ditemukan benjolan yang kecil sekalipun. Tanda berupa mikrokalsifikasi tidak khas untuk kanker. Bila secara klinis dicurigai ada tumor dan pada mammografi tidak ditemukan apa pun, maka pemeriksaan harus dilanjutkan dengan biopsi, sebab sering karsinoma tidak tampak pada mammogram. Sebaliknya jika

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 31

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

mammografi positif dan secara klinis tidak teraba tumor, maka pemeriksaan harus dilanjutkan pada fungsi atau biopsi pada tempat yang ditunjukkan pada foto tersebut.Mammogram pada masa pramenopause kurang bermanfaat karena gambaran kanker di antara jaringan kelenjar kurang tampak. USG berguna terutama untuk menentukan kista; kadang tampak kista 1-2 cm. Pada mammografi, gambaran karsinoma mammae adalah ireguler, berspikula, massa radioopak dengan mikrokalsifikasi. 2.12.3 Diagnosis Pasti Penilaian untuk karsinoma mammae melalui 3 langkah (triple diagnostic), yaitu: Pemeriksaan klinis, radiologis dan sitologis

(Machsoos, 2006).

2.13 Gambaran Histopatologik


Sediaan ini diambil dari mastektomi radikal dan pengangkatan kelenjar limfe aksila yang dilakukan pada pasien kanker payudara. 1. Mikrokopik tampak jaringan limfoid normal pada bagian luar jaringan limfoid 2. Sedangkan dibawahnya jaringan limfoid sudah diinfiltrasi dan digantikan oleh kelompok sel tumor ganas dengan struktur khas dan sangat mirip tumor primernya di payudara

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 32

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Pembesaran 4 x.

Pembesaran 10x.

2.14 Diagnosa Banding


Diagnosa banding kanker payudara, antara lain : 1. Fibroadenoma mamae (FAM), FAM merupakan tumor jinak payudara yang biasanya terdapat pada usia muda (15-30) dengan konsistensi padat kenyal, batas tegas, tidak nyeri dan mobil. 2. Kelainan fibrokistik. Kelainan fibrokistik merupakan tumor jinak payudara dengan konsistensi padat kenyal/kistik, tidak berbatas tegas, terdapat nyeri

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 33

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

terutama menjelang haid, ukurannya membesar, biasanya bilateral/multiple. Terapinya dengan medikamentosa simptomatik. 3. Tumor phylodes baik ganas dan jinak, seperti kistosarkoma filoides. Kistosarkoma filoides menyerupai fibroadenoma mamae(FAM) yang besar, berbentuk bulat lonjong, berbatas tegas, dan mobil. Ukurannya bisa mencapai 20-30 cm. 4. Galaktokel. Merupakan massa tumor kistik akibat tersumbatnya saluran/ duktus laktiferus. Tumor ini terdapat pada ibu yang baru/ sedang menyusui 5. Mastitis yang luas. Mastitis merupakan infeksi payudara dengan tanda radang lengkap. Mastitis dapat berkembang mejadi abses. Mastitis biasanya terdapat pada ibu yang menyusui. Mastitis yang luas terutama pada mastitis tuberkulosa 6. Keganasan lainnya dari payudara (sarcoma-limfoma dll)

2.15 Penatalaksanaan
a. Terapi Bedah

Pasien yang pada awal terapi termasuk stadium 0,I,II dan sebagian stadium III disebut kanker mammae operable. Pola operasi yang sering dipakai adalah :

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 34

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Mastektomi Radika Lingkup reseksinya mencakup kulit berjarak minimal 3 cm dari tumor,seluruh kelenjar mammae,m.pektoralis mayor,m.pektoralis minor dan jaringan limfatik dan lemak subkapular,aksilar secara kontinu enblok direseksi.

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 35

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Mastektomi Radikal Modifikasi Lingkup reseksi sama dengan tekhnik radikal,tapi mempertahankan m.pektoralis mayor dan minor (model Auchincloss) atau

mempertahankan m.pektoralis mayor,mereseksi m.pektoralis minor (model Patey).Pola operasi memiliki kelebihan antara lain memacu pemulihan fungsi pasca operasi,tapi sulit membersihkan kelenjar limfe aksilar superior.Mastektomi radikal modifikasi disebut sebagai

mastektomi radikal standar luas digunakan secara klinis. Mastektomi Total Hanya membuang seluruh kelenjar mammae tanpa membersihkan kelenjar limfe.Model operasi ini terutama untuk karsinoma in situ atau pasien lanjut usia. Mastektomi Segmental Plus Diseksi Kelenjar Limfe Aksilar Secara umum disebut dibuat dengan 2 insisi operasi terpisah konservasi di mammae dan

(BCT).Biasanya

mammae

aksila.Mastektomi segmental bertujuan mereseksi sebagian jaringan kelenjar mammae normal di tepi tumor,dibawah mikroskop tak ada invasi tumor di tempat irisan.Lingkup diseksi kelenjar limfe aksilar kelompok tengah. Mastektomi Segmental Plus Biopsy kelenjar Limfe Sentinel Metode reseksi segmental sama dengan diatas.Kelenjar limfe sentinel adalah terminal pertama metastasis limfogen dari karsinoma

mammae,saat operasi dilakukan insisi kecil di aksila dan secara tepat mengangkat kelenjar limfe sentinel,di biopsy,bila patologik negatif maka operasi dihentikan,bila positif maka dilakukan diseksi kelnjar limfe aksilar. Untuk terapi kanker mammae terdapat banyak pilihan pola operasi yang mana yang terbaik masih controversial.Secara umum dikatakan harus berdasarkan stadium penyakit dengan syarat dapat mereseksi tuntas tumor,kemudian baru memikirkan sedapat mungkin konservasi fungsi dan kontur mammae.Secara umum,terhadap lesi < 3 cm dan kelenjar limfe aksilar tidak jelas membesar,harus lebih mempertimbangkan terapi

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 36

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

kombinasi konservasi mammae,kalau tidak lebih mempertimbangkan operasi radikal. b. Radioterapi Radioterapi terutama mempunyai 3 tujuan : Radioterapi Murni Kuratif Radioterapi murni terhadap kanker mammae hasilnya kurang ideal,survival 5 tahun 10-37%.Terutama digunakan untuk pasien dengan kontra indikasi atau menolak operasi. Radioterapi Adjuvant Menjadi bagian integral penting dari terapi kombinasi.Menurut pengaturan waktu radioterapi dapat dibagi menjadi radioterapi praoperasi dan pasca operasi. Radioterapi pra-operasi terutama untuk pasien stadium lanjut lokalisasi dapat membuat sebagian kanker non-operabel menjadi kanker mammae operable. Radioterapi pasca operasi adalah radioterapi seluruh mammae (bila perlu ditambah radioterapi kelenjar limfe regional) pasca operasi konservasi mammae (operasi segmental plus diseksi kelenjar aksilar atau biopsy) dan radioterapi adjuvant pasca mastektomi. Indikasi radioterapi pasca mastektomi adalah diameter tumor primer >5 cm,fasia perktoral terinvasi,jumlah kelenjar limfe aksilar matastasik lebih dari 4 buah dan tepi irisan positif. a. Radioterapi Paliatif Terutama untuk terapi paliatif kasus stadium lanjut dengan

rekurensi,metastasis.Dalam hal meredakan nyeri efeknya sangat baik.Selain itu,kadang kala digunakan radiasi terhadap ovarium bilateral untuk menghambat fungsi ovarium sehingga dicapai efek kastrasi. b. Kemoterapi Kemoterapi Pra-Operasi Terutama kemoterapi sistemik,bila perlu dapat dilakukan kemoterapi intra-anterial,mungkin dapat membuat sebagian kanker mammae lanjut non-operabel menjadi kanker mammae operable. Kemoterapi Adjuvant Pasca Operasi

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 37

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Indikasi kemoterapi ini relatif luas terhadap semua pasien karsinoma invasive dengan diameter terbesar tumor lebih besar atau sama dengan 1 cm kemoterapi adjuvant.Hanya terhadap pasien lanjut usia dengan ER,PR positif dapat dipertimbangkan hanya member terapi hormonal. Kemoterapi Terhadap Kanker Mammae Stadium Lanjut atau Rekuren dan Metastatic Kemoterapi adjuvant karsinoma mammae selain bagian kecil masih memakai regimen CMF semakin banyak yang memakai kemoterapi kombinasi berbasis golongan antrasiklin.Terhadap pasien dengan kelenjar limfe positif,reseptor hormon negatif masih dapat

dipertimbangkan memakai golongan taksan. Tabel 2.15.1 Regimen Kemoterapi Adjuvant yang sering dipakai : Regimen CMF Obat C : CTX Dosis 600mg/m2 40mg/m2 600mg/m2 600mg/m2 30-40mg/m2.d 400600mg/m2.d CAF C : CTX 600mg/m2 50mg/m2 600mg/m2 100mg/m2 (po) 30mg/m2 500mg/m2.d 60mg/m2 600mg/m2 500mg/m2 D1 D1 D1 D1 14 D1,d8 D1,d8 D1 D1 D1 21hari/ x 6 28hari/siklus x 6 21hari/siklus x 6 Hari D1 D1 D1 D1 D1,d8 D1,d8 28hari/siklus x 6 21hari/siklus x 6 Siklus

(Regimen 3 M : MTX minggu) CMF Fb : 5FU C : CTX

(Regimen 4 M : MTX minggu) F : 5FU

(Regimen 3 A : ADR minggu) CAF F : 5FU C : CTX

(Regimen 4 A : ADR minggu) AC F : 5FU A : ADR F : 5FU FEC F : 5FU

: 75mg/m2

D1

21hari/siklus x 6

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 38

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Epirubisin C : CTX TAC T Taksotere A : ADR C : CTX AC- T A : ADR C : CTX T : Taksol

500mg/m2

D1

: 75mg/m2 50mg/m2 500mg/m2

D1 D1 D1 21hari/siklus x 6

60mg/m2 600mg/m2 175mg/m2

D1 D1 D1

21hari/ x 4;selesai AC 21hari/siklus x 4

Hormonal terapi 30-40 % Ca mammae adalah hormone dependen. Pada kanker mammae dengan reseptor estrogen positif stadium awal, terapi hormonal berperan penting dalam terapi adjuvant, sebagai terapi tunggal maupun kombinasi dengan kemoterapi. Pada kanker mammae dengan estrogen dan progesterone reseptor, sekitar 77% memberikan respon yang positif terhadap terapi hormonal. Untuk wanita premenopause,terapi hormonal berupa terapi ablasi yaitu bilateral oophorectomy. Untuk post menopause terapinya berupa pemberian obat anti esterogen dan untuk 15 tahun menopause jenis terapi tergantung dari aktivitas efek esterogen. Efek esterogen positif dilakukan terapi ablasi, efek esterogen negative dilakukan pemberian obat-obatan anti esterogen.Indikasi pemberian terapi hormonal adalah bila penyakit menjadi sistemik akibat metastasis jauh. Biasanya bersifat paliatif dan diberikan sebelum kemoterapi..Terapi hormonal berfungsi menrunkan kemampuan estrogen untuk merangsang mikrometastasis atau sel kanker dorman. a. Tamoxifen Tamoxifen merupakan selective estrogen receptor modulator (SERM), yang mengikat dan menghambat reseptor estrogen di mammae. Sebagaian tagonis reseptor, tamoxifen efektif untuk wanita premenopause dan postmenopause. Tamoxifen memiliki efek stimulasi reseptor estrogen di jaringan lain, seperti tulang dan endometrium. Efek samping yang dapat dijumpai pada penggunaan tamoxifen adalah flushing, perdarahan vagina, discharge, dispareunia, gejala frekuensi dan urgensi dalam berkemih, dan gangguan mood atau depresi.
Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014 Page 39

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

b. Aromatase Inhibitor (AI) AI berfungsi menghambat aromatase, suatu enzim yang berperan dalam mengubah hormon-hormon steroid menjadi estrogen. Aromatase ditemukan di lemak tubuh, kelenjar adrenal, dan jaringan payudara, termasuk sel tumornya. Aromatase merupakan sumber estrogen penting pada wanita postmenopause dan mungkin dapat menjadi alasan obesitas meningkatkan risiko kanker mammae pada wanita postmenopause. AI tidak memengaruhi produksi estrogen ovarium, sehingga hanya efektif pada wanita postmenopause.

Ada dua jenis aromatase inhibitor yaitu irreversible steroidal activators dan reversible nonsteroidal imidazole-based inhibitors, walaupun kedua jenis AI ini berfungsi untuk mengganggu langkah terakhir pada biosintesis esterogen, kedua AI tersebut melakukannya dengan mekanisme yang berbeda. irreversible steroidal activators, sepertiexemestane, memiliki struktur androgen dan bersaing dengan androstenedion yang merupakan substrat aromatase alami, mereka berikatan secara irreversible pada daerah katalitik aromatase yang menyebabkan aktivitas enzim tersebut berhenti sehingga lebih banyak enzim aromatase yang harus diproduksi untuk melanjutkan biosintesis yang berhenti. Oleh karena itu, irreversible steroidal activators sering disebut sebagai inhibitor bunuh diri. Karena struktur steroid mereka, metabolitexemestanedan 17-hydroexemestane memiliki potensi untuk menyebakan efek androgenic. reversiblenonsteroidal imidazole-based inhibitors berinteraksi dengan bagian sitokrom P450 dari enzim aromatase dan mengganggu biosintesis estrogen tergantung pada keberadaan lanjutan dari agen nonsteroidini. Agen nonsteroidini termasuk generasi kedua agenaminoglutethimide dan generasi ketiga agenanastrozole dan letrozole.

Tujuan dari terapi hormonal adalah untuk menginduksi pengurangan kadar estrogen pada tumor. Hal ini bisa dicapai dengan :

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 40

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Blockade reseptor dengan menggunakan satu dari selective estrogen receptor modulators sepertit amoxifen dan toremifene.

Supresi estrogen sintesis dengan aromatase inhibitor (anastrozole, letrozole, exemestane) pada wanita post menopause atau dengan (goserelin) pada wanita pre menopause. LH-RH analog

Ablasiovarium dengan oophorectomy pada wanita pre menopause.

Penggunaan Tamoxifen memperlihatkan 50% penurunan resiko rekurensi kanker mammae dan 28% penurunan angka kematian pada kanker mammae. Ada juga teknologi terbaru untuk pengobatan kanker mammae menggunakan antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal adalah zat yang di produksi oleh sel gabungan tipe tunggal yang memiliki kekhususan tambahan, ini merupakan kompenen penting dari sistem kekebalan tubuh, mereka dapat mengenali dan mengikat antigen yang spesifik. Pada teknologi antibodi monoklonal, sel tumor yang dapat mereplikasi tanpa henti digabungkan dengan sel mamalia yang memproduksi antibodi, hasil dari gabungan tersebut menciptakan antibodi monoklonal yang mana mengenali setiap determinan yang antigen (bagian dari makro molekul yang dikenali oleh epitope/ sistem kekebalan tubuh). Mereka menyerang molekul targetnya dan mereka bisa memilah antara epitope yang sama, selain sangat spesifik mereka juga memberikan landasan untuk perlindungan melawan patogen. Pada ca mammae salah satu antibodi monoklonal yang digunakan adalah trastuzumab yang bekerja melawan protein HER-2, protein yang bertanggung jawab atas pertumbuhan sel kanker mammae pada 15-25% kasus. Penambahan trastuzumab pada kemoterapi terbukti menurunkan tumbuh

kembalinya kanker dan mengurangi angka kematian pada penderita kanker mammae yang memiliki protein tersebut (Manuaba) Terapi antibodi anti-HER2/neu Penentuan ekspresi HER-2/neu pada semua karsinoma mammae yang baru didiagnosis, saat ini direkomendasikan. Hal ini digunakan untuk tujuan prognistik pada pasien tanpa pembesarann KGB untuk membantu pemilihan kemoterapi adjuvan karena dengan regimen adriamycin memberikan respon yang lebih baik pada karsinoma mammae dengan overekspresi HER-2/neu. Pasien dengan

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 41

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

overekspresi Her-2/neu mungkin dapat diobati dengan trastuzumab yang ditambahkan pada kemoterapi adjuvant (Tjindarbumi,2000).

2.16 Prognosis
Prognosis kanker payudara tergantung pada tingkat pertumbuhannya. Dari hasil pengamatan, umumnya penderita kanker payudara sudah tidak dapat ditolong karena terlambat diketahui dan pemberian terapinya. Hasil penelitian di rumah sakit cipto mangunkusumo, Jakarta yang dilakukan dalam tahun 1988-1991 menunjukkan bahwa 80% penderita kanker payudara datang memeriksa diri atau berobat ketika penyakit sudah pada stadium lanjut (Purwoastuti, 2008). Prognosis kanker ini sangat bergantung pada ukuran tumornya,jumlah kelenjar limfe yang terlibat dan ada tidaknya invasi limfovaskuler.

Kanker ini dapat tumbuh di mana saja pada kelenjar mammae.Tumor ini dikelompokkan berdasarkan asal selnya,lobular atau duktal.karsinoma duktal mencakup 85% kanker mammae dan dapat bersifat noninvasif maupun infiltratif. Karsinoma duktal yang secara histologi di temukan pada membran basal ductus diperkirakan merupakan lesi prekursos untuk terjadinya karsinoma invasive,setidaknya 33% lesi ini akan berlanjut menjadi kanker yang invasif dalam 5 tahun.

2.17 Pencegahan
Pada prinsipnya, strategi pencegahan dikelompokkan dalam 3 kelompok besar, yaitu pencegahan pada lingkungan pada pejamu dan milestone. Hampir setiap epidemiolog sepakat bahwa pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah promosi kesehatan dan deteksi dini.Begitu pula pada kanker mammae, pencegahan yang dilakukan antara lain berupa: 1) Pencegahan primer Pencegahan primer pada kanker mammae merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang "sehat"melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat. Pencegahan primer ini juga bisa berupa pemeriksaan SADARI

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 42

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

(pemeriksaan mammae sendiri) yang dilakukan secara rutin sehingga bisa memperkecil faktor risiko terkena kanker mammae ini.

2) Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker mammae. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal merupakan populasi at risk dari kanker

mammae.Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini terus mengalami perkembangan. Skrining melalui mammografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker mammae, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker mammae. Karena itu, skrining dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain: Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk assessement survey Pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan mammografi setiap tahun. Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampaimencapai usia 50 tahun. Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker mammae lebih sedikit pada wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Mammae Sendiri) dibandingkan yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker mammae hanya 26%, bila dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75%.

3) Pencegahan tertier Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah

positif menderita kanker mammae. Penanganan yang tepat penderita kanker mammae sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini penting

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 43

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan yang diberikan hanya berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari pengobatan alternatif. Berikut cara mencegah kanker payudara secara umum : Kesadaran akan mammae itu sendiri Lebih dari 90% tumor mammae dideteksi oleh wanita itu sendiri. Perhatikan setiap perubahan pada mammae menjadi bagian penting perawatan kesehatan wanita. Saat ini, wanita disarankan untuk breast aware? Ini berarti wanita harus tahu seperti apa mammae mereka di depan cermin dan rasakan saat mandi atau terlentang pada periode berbeda setiap bulan sehingga jika ada perubahan yang tidak normal dapat diketahui segera.

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 44

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Berikan ASI pada bayi Beberapa penelitin menunjukkan ada hubungan antara pemberian ASI dan menurunnya resiko berkembangnya kanker mammae meskipun belum ada kesepakatan yang jelas akan hal ini. Para peneliti mengklaim bahwa lebih muda dan lebih lama seorang ibu memberikan ASI pada bayinya adalah semakin baik. Hal ini didasari pada teori bahwa kanker mammae berkaitan dengan hormon estrogen. Pemberian ASI secara berkala akan mengurangi tingkat hormon tersebut.

Jika menemukan gumpalan, segera ke dokter Penelitian menunjukkan banyak wanita menunda untuk ke dokter jika mereka menemukan gumpalan pada mammaenya, mereka takut memiliki kanker. Ini adalah hal terburuk yang mereka lakukan. Jika menemukan gumpalan, segera konsultasi ke dokter karena ini akan membantu menenangkan pikiran. Jika gumpalan tersebut adalah kanker, segera lakukan pengobatan yang tepat untuk menyelamatkan jiwa.

Cari tahu apakah ada sejarah kanker mammae pada keluarga Masih perlu banyak penelitian untuk memahami secara menyeluruh semua penyebab kanker mammae. Tetapi satu hal yang perlu untuk diyakini adalah faktor gen. Faktor ini setidaknya sebanyak 10% dari semua kasus kanker mammae. Hal ini dianggap satu dalam 500 orang membawa gen yang dapat membuat mereka diduga memiliki penyakit tersebut.

Perhatikan konsumsi alcohol Dalam sejumlah penelitian, alkohol memiliki kaitan dengan kanker. Ha ini didasari pada kenyataan bahwa alkohol meningkatkan estrogen.

Perhatikan berat badan


Page 45

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Obesitas nampaknya dapat meningkatkan resiko kanker mammae. Para peneliti menemukan wanita dengan berat 44 sampai 55 pound setelah umur 18 sebanyak 40% memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker dibanding mereka yang berubah-ubah hanya 4 atau 5 pound semasa remajanya. Olahraga secara teratur Beberapa penelitian menyarankan bahwa olahraga dapat menurunkan resiko kanker mammae. Hal ini karena penelitian menunjukkan bahwa semakin kurang berolahraga, semakin tinggi tingkat esrogen dalam tubuh. Kurangi makanan berlemak Ada banyak perdebatan tentang hubungan kanker mammae dengan diet.Tetapi ada bukti bahwa gaya hidup barat tertentu nampaknya dapat meningkatkan resiko penyakit. Pertahankan asupan makanan rendah lemak,tidak melebihi 30 gram lemak per hari. Hal ini akan membantu mempertahankan diet seimbang yang juga membantu menjaga berat badan.Kita menyimpan estrogen di lemak tubuh, jadi lebih sedikit lemak yang kita bawa, lebih baik. Setelah usia 50 tahun, lakukan screening mammae secara teratur. Meskipun masih diperlukan banyak penelitian untuk menentukan penyebab kanker mammae, satu dari faktor utama penyebab adalah faktorusia. 80% kanker mammae terjadi pada wanita berumur diatas 50 tahun. Belajar relaks Banyak tercatat bahwa stres dapat menyebabkan semua jenis masalah kesehatan. Meskipun masih banyak perdebatan atas temuan ini, menurunkan tingkat stres akan menguntungkan untuk kesehatan secara menyeluruh,termasuk resiko kanker mammae. Masukkan brokoli ke dalam menu harian anda. Kira-kira dalam sehari Anda hanya membutuhkan secangkir

brokoli.Tahukah Anda, brokoli mengandung senyawa sulfuraphane yang secara ilmiah terbukti mengurangi risiko kanker. Jangan lupakan buah dan sayur dalam menu harian.

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 46

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

Pilihlah sayuran berwarna hijau dan oranye. Makanlah tomat yang kaya dengan likopen. Konon likopen juga agen yang berfungsi memerangi kanker. Minumlah teh hijau yang kaya antioksidan. Disamping minum teh hijau, kudaplah dark chocolate sesekali, karena secara ilmiah terbukti cokelat sebagai agen yang memerangi kanker. Namun ingat jangan cokelat manis, karena Anda tidak akan mendapat manfaatnya. Konsumsi kedelai dan olahannya. Di dalam kedelai terkandung 40% protein yang terdiri dari asam lemak esensial dengan daya cerna yang sangat baik, 15 % oligosakarida dan monosakarida, 15 % serat, 20 % lemak yang sebagian besar terdiri dari asam lemak tak jenuh dan 10 % adalah bahan lainnya. Selain itu senyawa fitokimia pada kedelai memiliki aktiviats biologis, salah satunya adalah isoflavon yang tetap stabil pada suhu panas sehingga tidak berubah struktur oleh suhu masak dan fermentasi, yang dapat mencegah kanker (Underwood,2000).

2.18 Komplikasi
Menurut Sjamsuhidayat (2004), komplikasi kanker payudara adalah : 1. Gangguan neurovaskuler 2. Metastasis : orak, paru, tulang tengkorak, vertebra, iga, tulang panjang 3. Fraktur patologi 4. Fibrosis payudara 5. kematian

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 47

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Kanker payudara merupakan penyakit yang mematikan, Kanker payudara adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar payudara. Termasuk saluran kelenjar air susu dan jaringan penunjangnya 2. Etiologi kanker payudara tidak diketahui tetapi ada faktor predisposisi yang menyertainya yaitu keturunan, usia yang makin bertambah, tidak memiliki anak, kehamilan pertama pada usia di atas 30 tahun, periode menstruasi yang lebih lama dan faktor hormonal. 3. Tahapan patofisiologi kanker payudara yaitu transformasi, fase inisiasi, fase promosi, dan fase metastasis 4. Pengobatannya tidak hanya 1 modalitas terapi saja tetapi memerlukan modalitas terapi lain, Pengobatan dan pengawasan penderita kanker payudara sangat panjang, 5 sampai dengan 10 tahun 5. Penanganan kanker payudara diantaranya adalah mastektomi, radiasi,

kemoterapi, dan lintasan metabolisme

3.2 Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dari paper ini, diharapkan agar semua orang melakukan tindakan pencegahan yaitu pemeriksaan payudara sendiri sebagai langkah proteksi dini.
ika ditemukan kelainan pra kanker ikutilah pesan petugas/dokter. Apabila perlu pengobatan, jangan ditunda. Karena pada tahap ini tingkat kesembuhannya hampir 100%

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 48

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC. 2. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC. 3. Corwin, Elisabeth J. 2000.Patofisiologi. Jakarta: EGC 4. Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit Volume 2 Edisi 6. Jakarta : EGC. 5. Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama

6. Suega, Ketut, Bakta I Made. 2009. Penanda Tumor dan Aplikasi Klinik dalam Sudoyo,
Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing.

7. Ramli, M., et al. 1994. Ilmu Bedah. Jakarta : bagian bedah staf pengajar fakultas
kedokteran indonesia

8. Desen, W.2011.Buku Ajar Onkologi Klinis, edisi2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 9. Purwoastuti, E. 2008. Kesehatan Masyarakat Kanker Payudara. Yogyakarta : Kanius 10. Sloane, ethel. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula.2003. Jakarta : EGC 11. Underwood, J.C.E. 2000. Patologi Umum dan Sistematik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 12. Machsoos, B. D. 2006. Pendekatan Diagnostik Tumor Padat. Buku Ajar Penyakit Dalam, Edisi 4, Jilid 2. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 13. Tjindarbumi, 2000. DeteksiDiniKankerPayudaradanPenanggulangannya,

Dalam: DeteksiDiniKanker. FakultsKedokteranUniversitas Indonesia. Jakarta 14. Manuaba,TjakraW.KankerPayudaraEdisikedua.EGC:Jakarta 15. http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/07/kanker-payudara-diagnosadan-penanganan_11.html 16. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jtptunimus-gdl-zesinovita-5422-2babii.pdf 17. http://eprints.undip.ac.id/29134/3/Bab_2.pdf

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 49

Grup 1 Laboratorium Patologi Anatomi Kanker Payudara

18. http://dokteryes.blogspot.com/2012/04/blok-11-praktikum-patologianatomi.html

Fakultas Kedokteran UMI 2013-2014

Page 50