Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Inkontinensia urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya urin.
Keadaan ini dapat menimbulkan berbagai masalah, antara lain masalah medik, sosial, dan
ekonomi kerena morbitidas dan penurunan kualitas hidup yang diakibatkan (De Maagd et al,
2012; Purnomo, 200!.
Pre"alensi ke#adian ini $ukup tinggi yaitu mengenai lebih dari 200 #uta orang di
seluruh dunia. Di Indonesia pre"alensinya sekitar 10%&0' pada (anita dan &%)' diantaranya
sudah dalam keadaan $ukup parah pada saat datang berobat. Pada pria, pre"alensinya lebih
rendah yaitu kurang lebih separuhnya. Pada manula pre"alensinya lebih tinggi daripada usia
reproduksi, yaitu sekitar )' pada (anita dan 1*' pada pria. +ngka ini belum
menggambarkan seluruh ke#adian inkontinensia urin karena keadaan ini masih dianggap
sebagai bagian normal dari penuaan (Purnomo, 200; ,anagho, 200)!.
Inkontinensia urin dikarakteristikkan oleh lower urinary tract symptoms (LUTS).
Pemahaman mengenai anatomi dan -isiologi sistem urinaria bagian ba(ah akan membantu
dalam pemahaman keadaan ini. .istem urianaria bagian ba(ah terdiri dari buli%buli dan
uretra. Keduanya harus beker#a se$ara sinergis untuk dapat men#alankan -ungsinya dalam
menyimpan (storage! dan mengeluarkan (voiding! urin (De Maagd et al, 2012; Purnomo,
200!.
Kelainan pada unit "esiko%uretra dapat ter#adi pada -ase pengisian atau pada -ase
miksi. Kegagalan pengisian dan penyimpanan urin, baik karena -aktor buli%buli maupun
uretra menyebabkan inkontinensia urin. .edangkan kelainan pada -ase pengeluaran urin
menyebabkan retensi urin (Purnomo, 200!.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Struktur Anatomi dan Fisioloi Sist!m Urinaria "aian Ba#a$
.istem urinaria bagian ba(ah terdiri atas buli%buli dan uretra. Keduanya harus beker#a
se$ara sinergis untuk dapat men#alankan -ungsinya dalam menyimpan (storage! dan
mengeluarkan (voiding! urin (Purnomo, 200!.
/uli%buli adalah organ otot berongga sebagai tempat penyimpanan urin. /uli%buli
yang terisi akan naik ke superior dan bahkan hingga setinggi umbilikus pada buli%buli yang
penuh (Moore and +gur, 2000!. Kapasitas normal buli%buli orang de(asa adalah &00%100 m2
(,anagho, 200)!.
/uli%buli terdiri dari apeks, korpus, -undus, kolum, dan u"ula. +peks merupakan
u#ung anterior buli%buli mengarah ke tepi superior sism-isis pubis. Korpus terletak antara
apeks dan -undus. 3undus dibentuk oleh dinding posterior dan berbentuk kon"eks. Pada
(anita, -undus berbatasan dengan dinding anterior "agina. .edangkan pada laki%laki
berbatasan dengan rektum. Kolum buli%buli adalah pertemuan antara -undus dan permukaan
in-erolateral buli%buli. 4"ula merupakan penon#olan ke$il pada trigonum buli%buli yang
terletak di belakang ori-i$ium uretra (Moore and +gur, 2000!.
5ambar 1. /uli%buli tampak lateral (Moore and +gur, 2000!
Dinding buli%buli tersusun oleh muskulus detrusor. Ke arah kolum atau leher buli%
buli, pada perbatasan antara buli%buli dan uretra, terdapat s-ingter uretra interna yang terdiri
atas #alinan otot polos. .-ingter ini selalu tertutup pada -ase pengisian (filling! dan
penyimpanan, dan terbuka pada saat isi buli%buli penuh dan saat miksi atau pengeluaran
2
(evacuating!. Di sebelah distal uretra posterior terdapat s-ingter uretra eksterna yang terdiri
atas otot lurik dari otot dasar panggul. Pada (anitaa s-ingter ini terletak di sepertiga medial
uretra. .-ingter ini membuka saat miksi sesuai dengan perintah korteks serebri (Purnomo,
200!.
.e$ara anatomis uretra dibagi men#adi uretra posterior dan uretra anterior. 4retra
posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika dan uretra pars membranasea. 4retra
anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum peni, dan dibagi
men#adi pars bulbosa, pars pendularis, pars na"ikularis, dan meatus uretra eksterna
(Purnomo, 200!.
5ambar 2. Potongan -rontal buli%buli dan uretra pria (a! dan (anita (b!.
3
Pada -ase pengisian, ter#adi relaksasi otot detrusor dan pada -ase pengeluaran ter#adi
kontraksi otot detrusor. .elama pengisian urin, buli%buli mampu meningkatkan "olumenya
untuk mempertahankan tekanan di ba(ah 11 mm627. .i-at ini disebut komplians buli%buli.
8ika ter#adi kerusakan dinding buli%buli sehingga "iskoelastisitasnya terganggu, komplians
buli%buli menurun, yang berarti bah(a pengisian urin pada "olume tertentu akan
menyebabkan kenaikan tekanan intra"esika yang $ukup besar (Purnomo, 200!.
2.2 N!uro%isioloi Buli&"uli dan Ur!tra
.aluran kemih bagian ba(ah mendapat iner"asi dari serabut sara- a-eren yang berasal
dari buli%buli dan uretra serta serabut sara- e-eren berupa sistem simpatis, parasimpatis, dan
somatik. .erabut a-eren dari buli%buli menerima impuls regangan dari dinding buli%buli yang
diba(a ner"us pel"ikus ke korda spinalis .2%& dan diteruskan hingga ke otak melalui traktus
spinotalamikus. 7tak menerima in-ormasi mengenai "olume urin di dalam buli%buli. 8alur
a-eren dari s-ingter uretra eksterna dan uretra mengenal sensasi suhu, nyeri, dan adanya aliran
urin di dalam uretra yang diba(a ner"us pudendus menu#u korda spinalis .2%& (Purnomo,
200!.
5ambar . .truktur anatomi dan sistem sara- sistem urinaria bagian ba(ah (De Maagd et al, 2012!
.erabut e-eren parasimpatik dari korda spinalis .2%& diba(a oleh ner"us pel"ikus dan
menginer"asi otot detrusor. Peran sistem parasimpatis pada proses miksi berupa kontraksi
otot detrusor dan terbukanya s-ingter uretra. .erabut e-eren simpatis berasal dari korda
spinalis ,10%22 yang diba(a oleh ner"us hipogastrikus menu#u buli%buli dan uretra. ,erdapat
4
dua reseptor adrenergik di dalam buli%buli dan uretra yaitu reseptor yang banyak terdapat
di leher buli%buli (s-ingter interna! dan uretra posterior, dan reseptro yang banyak terdapat
pada -undus buli%buli. 9angsangan pada reseptor adrenergik menyebabkan kontraksi
sedangkan pada menyebabkan relaksasi. 8adi, sistem simpatis berperan pada proses
pengisian yaitu relaksasi otot detrusor karena stimulasi adrenergik dan kontraksi s-ingter
interna serta uretra posterior karena stimulasi adrenergik (Purnomo, 200!.
.erabut sara- somatik berasal dari nukleus 7nu- di kornu anterior korda spinalis .2%&
yang diba(a oleh ner"us pudendus dan menginer"asi otok s-ingter uretra eksterna dan otot%
otot dasar panggul. Perintah dari korteks serebri menyebabkan terbukanya s-ingter eksterna
pada saat miksi (Purnomo, 200!.
2.' Pros!s (iksi
Miksi adalah proses pengosongan buli%buli. .aat buli%buli terisi urin, "olumenya
bertambah dan mengalami peregangan. 9egangan menstimulasi reseptor regang sensorik
pada dinding buli%buli yang dihantarkan ke segmen sakral medula spinalis melalui ner"us
pel"ikus dan memberikan sinyal ke otak tentang #umlah urin yang mengisi buli%buli (5uyton
dan 6all, 1**:; Purnomo, 200!.
Pada saat buli%buli sedang terisi, ter#adi stimulasi sistem simpatik yang
mengakibatkan kontraksi s-ingter uretra interna dan inhibisi sistem parasimpatis berupa
relaksasi otot detrusor. Kemudian saat buli%buli terisi penuh timbul stimulasi sistem
parasimpatis dan menyebabkan kontraksi otot detrusor, serta inhibisi sistem simpatis yang
menyebabkan relaksasi s-ingter interna. Miksi kemudian ter#adi #ika s-ingter uretra eksterna
berelaksasi yang diatur oleh pusat yang lebih tinggi (korteks serebri! dan tekanan intra"esikal
melebihi tekanan uretra (5uyton dan 6all, 1**:; Purnomo, 200!.
Kelainan pada unit "esiko%uretra dapat ter#adi pada -ase pengisian atau pada -ase
miksi. Kegagalan pengisian dan penyimpanan urin, baik karena -aktor buli%buli, uretra,
maupun sistem neuromuskular menyebabkan inkontinensia urin (Purnomo, 200!.
Kontinensia #uga dipengaruhi oleh kemampuan kognisi indi"idu untuk menginterpretasikan
dan merespon sensasi miksi, serta moti"asi kebutuhan untuk menghambat keluarnya urin
hingga men$apai toilet (;ap and ,an, 200:!.
2.) Inkontin!nsia Urin
2.).1 D!%inisi
5
Inkontinensia urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya urin
(Purnomo, 200!. .edangkan menurut International Incontinence Society (I<.! inkontinensia
urin adalah keluarnya urin se$ara in"olunter, dapat ditun#ukkan se$ara ob#ekti- dan
menimbulkan masalah sosial atau higienitas (;ap and ,an, 200:!.
2.).2 E*id!mioloi
Pre"alensi ke#adian ini $ukup tinggi yaitu mengenai lebih dari 200 #uta orang di
seluruh dunia. Di Indonesia pre"alensinya sekitar 10%&0' pada (anita dan &%)' diantaranya
sudah dalam keadaan $ukup parah pada saat datang berobat. Pada pria, pre"alensinya lebih
rendah yaitu kurang lebih separuhnya. Pada manula pre"alensinya lebih tinggi daripada usia
reproduksi, yaitu sekitar )' pada (anita dan 1*' pada pria. +ngka ini belum
menggambarkan seluruh ke#adian inkontinensia urin karena keadaan ini masih dianggap
sebagai bagian normal dari penuaan (Purnomo, 200; ,anagho, 200)!.
2.).' Klasi%ikasi
Inkontinensia urin dapat disebabkan oleh kelainan pada buli%buli atau pada uretra
(s-ingter! (Purnomo, 200!. Inkontinensia urin dapat diklasi-ikasikan sebagai berikut
(,anagho, et al,200)!=
Inkontinensia urge
Inkontinensia stress
Inkontinensia overflow (paradoksal!
Inkontinensia kontinua>true
Inkontin!nsia Urge
Inkontinensia urge adalah keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan segera setelah
timbul keinginan miksi. Pasien inkontinensia urge mengeluh tidak dapat menahan ken$ing
segera setelah timbul sensasi ingin ken$ing. Keadaan ini disebabkan oleh otot detrusor sudah
mulai mengadakan kontraksi saat kapasitas buli%buli belum terpenuhi. 3rekuensi miksi
men#adi lebih sering dan disertai perasaan urgensi (Purnomo, 200!.
Inkontinensia urge meliputi 22' dari semua inkontinensia pada (anita (Purnomo,
200!.
Penyebab inkontinensia urge adalah kelainan yang berasal dari buli%buli, diantaranya
adalah o"ereakti"itas detrusor dan menurunnya komplians buli%buli. 7"ereakti"itas otot
detrusor disebabkan oleh kelainan neurologik (hiper%re-leksi detrusor!, kelainan non%
neurologis (instabilitas detrusor!, atau kelainan lain yang belum diketahui (o"er%reakti"itas
detrusor!. Penyebab hiper%re-leksia detrusor diantaranya adalah stroke, penyakit Parkinson,
$edera korda spinalis, sklerosis multipel, spina bi-ida atau mielitis trans"ersa. Instabilitas
6
detrusor seringkali disebabkan oleh obstruksi in-ra"esika, paska bedah intra"esika, batu buli%
buli, tumor buli%buli, dan sistitis (Purnomo, 200!.
Penurunan komplians buli%buli dapat disebabkan oleh kandungan kolagen pada
matriks detrusor bertambah atau adanya kelainan neurologis. Penambahan kandungan
kolagen terdapat pada sistitis tuberkulosa, sistitis paska radiasi, pemakaian kateter menetap
dalam #angka (aktu lama, atau obstruksi in-ra"esika karena hiperplasia prostat (Purnomo,
200!.
Inkontin!nsia Stress
Inkontinensia stress adalah keluarnya urin dari uretra saat ter#adi peningkatan tekanan
intraabdominal. 6al ini ter#adi karena s-ingter uretra tidak mampu mempertahankan tekanan
intrauretra pada saat tekanan intra"esika meningkat. Peningkatan tekanan intraabdomen
dipa$u oleh batuk, bersin, terta(a, ber#alan, berdiri, atau mengangkat benda berat (Purnomo,
200!. Inkontinensia stress #uga disebabkan oleh kelemahan otot panggul (,anagho, 200)!.
Inkontinensia stress banyak di#umpai pada (anita, merupakan #enis inkontinensia urin
yang paling banyak pre"alensinya, yakni kurang lebih )%'.
Penyebab inkontinensia urin pada pria yaitu kerusakan s-ingter uretra eksterna paska
prostatektomi, sedangkan pada (anita yaitu hipermobilitas uretra dan de-isiensi kolagen
intrinsik uretra. 6ipermobilitas uretra disebabkan karena kelemahan otot%otot dasar panggul
yang ber-ungsi sebagai penyangga uretra dan buli%buli. Kelemahan otot ini menyebabkan
penurunan (herniasi! dan angulasi leher buli%buli ? uretra saat ter#adi peningkatan tekanan
intraabdomen. 6erniasi dan angulasi tersebut terlihat sebagai terbukanya leher buli%buli ?
uretra sehingga menyebabkan bo$ornya urin dari buli%buli meskipun tidak ada peningkatan
tekanan intra"esika. Penyebab kelemahan otot ini adalah trauma persalinan, histerektomi,
perubahan hormonal (menopause!, atau kelainan neurologi. +kibat de-isiensi estrogen, pada
masa menopause, ter#adi atro-i #aringan genitourinaria (Purnomo, 200!.
/lai"as dan 7lsson mengklasi-ikasikan inkontinensia stress berdasarkan penurunan
letak leher buli%buli dan uretra setelah pasien diminta melakukan manu"er @alsa"a. Penilaian
dilakukan berdasarkan pengamatan klinis keluarnya urin dan dengan "ideo%urodinamik.
Klasi-ikasinya yaitu sebagai berikut=
,ipe 0= pasien mengeluh inkontinensia urin stress, tetapi tidak ditemukan kebo$oran
urin pada pemeriksaan dan pada "ideo%urodinamik tampak leher buli%buli dan uretra
terbuka setelah manu"er @alsa"a.
,ipe I= terdapat penurunan A2 $m dan kadang%kadang disertai sistokel yang masih
ke$il.
7
,ipe II= penurunan B2 $m dan seringkali disertai sistokel; sistokel mungkin berada di
dalam "agina (tipe II+! atau di luar "agina (tipe II/!.
,ipe III= leher buli%buli dan uretra tetap terbuka meskipun tanpa adanya kontraksi otot
detrusor maupun manu"er @alsa"a, sehingga urin selalu keluar karena -aktor gra"itasi
atau penambahan tekanan intra"asika (gerakan! yang minimal. ,ipe ini disebabkan
oleh de-isiensi s-ingter intrinsik.
Inkontin!nsia Paradoksal
Inkontinensia paradoksal (overflow! adalah keluarnya urin tanpa dapat dikontrol pada
keadaan "olume urin di buli%buli melebihi kapasitasnya. Detrusor mengalami kelemahan
sehingga ter#adi atonia atau are-leksia. Keadaan ini ditandai dengan o"erdistensi buli%buli
(retensi urin!, tetapi karena buli%buli tidak mampu lagi mengosongkan isinya, tampak urin
selalu menetes dari meatus uretra. Kelemahan otot detrusor ini dapat disebabkan karena
obstruksi uretra, neuropati diabetikum, $edera spinal, de-isiensi "itamin /12, atau paska
bedah pada daerah pel"ik (Purnomo, 200!.
Inkontin!nsia Kontinua
Inkontinensia urin kontinua adalah urin yang selalu keluar setiap saat dan dalam
berbagai posisi. Keadaan ini paling sering disebabkan oleh -istula sistem urinaria yang
menyebabkan urin tidak mele(ati s-ingter uretra. 3istula "esiko"agina seringkali disebabkan
oleh operasi ginekologi, trauma obstetri, atau paska radiasi di daerah pel"ik. 3istula sistem
urinaria yang lain adalah -istula uretero"agina. Keadaan ini disebabkan karena $edera ureter
paska operasi daerah pel"ik. Penyebab lain inkontinesia kontinua adalah muara ureter
ektopik. 4rin yang disalurkan melalui ureter ektopik langsung keluar tanpa melalui hambatan
s-ingter uretra eksterna sehingga selalu bo$or, tetapi pasien masih bisa melakukan miksi
seperti orang normal (Purnomo, 200!.
Inkontin!nsia Funsional
.ebenarnya pasien ini kontinen, tetapi karena adanya hambatan tertentu, pasien tidak
mampu men#angkau toilet pada saat keinginan miksi timbul sehingga ken$ingnya keluar
tanpa dapat ditahan. 6ambatan itu dapat berupa gangguan -isis misalnya artritis, paraplegia
in-erior, dan stroke; gangguan kogniti- seperti demensia; maupun pasien yang sedang
mengkonsumsi obat%obatan seperti diuretik, antikolinergik, narkotik, dan antagonis adrenegik
al-a (Purnomo, 200!.
Pada pasien tua seringkali mengeluh inkontinensia urin sementara yang dipa$u
beberapa keadaan yang disingkat dengan DI+PPC9., yakni Delirium, Infection (in-eksi
8
saluran kemih!, Atrophic vaginitisurethtritis, !harmaceutical, !sycological, "#cess urine
output, $estricted mo%ility, dan Stool impaction (Purnomo, 200!&
2.).) E+aluasi Pasi!n Inkontin!nsia Urin
2.).).1 Anamn!sis
/eberapa hal yang perlu ditanyakan kepada pasien inkontinensia urin antara lain=
7nset keluhan dan progresi"itasnya.
.eberapa #auh inkontinensia ini mengganggu kehidupan pasien.
8umlah urin yang dikeluarkan saat inkontinensia.
Keluarnya tetesan%tetesan urin yang tidak mampu di$egah dapat di#umpai pada
inkontinensia paradoksal atau inkompetensi uretra, sedangkan keluarnya urin dalam
#umlah sedang di#umpai pada o"erakti"itas detrusor. 8umlah urin yang banyak
di#umpai pada inkontinensia kontinua.
+pakah pasien selalu memakai pempers dan seberapa sering gantiD
Pada malam hari seberapa sering miksi atau mengganti pempersD
+da atau tidak -aktor pen$etus seperti batuk, bersin, atau akti"itas lain yang
mendahului inkontinensia, merupakan tanda dari inkontinensia stress. Kontraksi
detrusor dini seperti pada inkontinensia urge kadang dapat di$etuskan oleh -aktor%
-aktor tersebut.
+danya keluhan urgensi dan -rekuensi, pertanda o"erreakti"itas detrusor.
Diare, konstipasi, dan inkontinensia al"i mengarah pada kelainan neurologis.
+da ri(ayat penyakit yang lalu harus di$ari. 6al ini berkaitan dengan -aktor
predisposisi ter#adinya inkontinesia seperti diabetes melitus, kelainan neurologi,
in-eksi saluran kemih berulang, dan atro-i genitourinaria pada menopause serta
ri(ayat operasi maupun radiasi di daerah pel"is. 9i(ayat melahirkan #uga perlu
diperhatikan yaitu apakah multipara, partus kasep, dan bayi besar yang kesemuanya
dapat menyebabkan inkompetensi s-ingter dan kelemahan otot panggul. 9i(ayat obat%
obatan yang dikonsumsi #uga dapat mempengaruhi seperti diuretik (,anagho et al,
2**); Purnomo, 200!.
2.).).2 P!m!riksaan Fisik
.e$ara umum harus dilakukan pemeriksaan -isik menyeluruh. Pemeriksaan -isik
khusus yang dilakukan meliputi pemeriksaan abdomen, urogenital, dan neurologis (Purnomo,
200!.
Pada pemeriksaan abdomen di$ari kemungkinan distensi buli%buli yang merupakan
tanda inkontinensia paradoks; atau adanya massa di pinggang dari hidrone-rosis. 8aringan
parut bekas operasi pel"is atau abdomen #uga di$ari. Pada pemeriksaan urogenital, perhatikan
ori-isium uretra dan "agina. 8ika terdapat penon#olan ori-isium eksternum mungkin
9
merupakan suatu proses in-lamasi atau di"ertikulum. Minta pasien melakukan manu"er
@alsa"a; #ika terdapat penurunan leher buli%buli ? uretra dan terdapat urin yang keluar,
kemungkinan pasien menderita inkontinensia stress& Dengan menggunakan spekulum,
perhatikan perubahan dan penebalan mukosa "agina yang merupakan tanda "aginitis
atro-ikas akibat de-isiensi estrogen, yang dapat terlihat pada inkontinensia urge& Perhatikan
adanya sistokel, enterokel, prolapsus uteri, atau rektokel yang menyertai inkontinensia stress&
Palpasi bimanual untuk men$ari adanya massa pada uterus atau adneksa (Purnomo, 200!.
Pemeriksaan status mental diperlukan untuk men$ari tanda demensia. Pemeriksaan
neurologis dermatom dilakukan terhadap sara- yang menginer"asi "esikouretra, yaitu ner"us
pudendus dan ner"us pel"ikus berasal dari korda spinalis .2%&, dapat diperiksa dengan $ara=
ang'le (er' refle's (.1 dan .2!, fle'si toe dan arch the feet (.2 dan .!, dan tonus s-ingter ani
atau re-leks bulboka"ernosa (.2%&!. .-ingter ani yang -laksid menun#ukkan adanya
kelemahan otot detrusor (Purnomo, 200!.
2.).).' P!m!riksaan P!nun,an
Pemeriksaan laboratorium yakni urinalisis dan kultur urin digunakan untuk
menyingkirkan kemungkinan adanya proses in-lamasi>in-eksi.
Pemeriksaan urodinamik digunakan untuk membantu menentukan #enis dan dera#at
inkontinensia, serta untuk e"aluasi sebelum dan sesudah terapi. ,ermasuk pemeriksaan
urodinamik adalah pemeriksaan uro-lometri, pengukuran pro-il tekanan uretra, sistometri,
valsava lea' point pressure, serta "ideo urodinamika (Purnomo, 200!.
Pemeriksaan urodinamik yang paling sederhana adalah mengukur tekanan intra"esika
dengan urodinamik eye%all& Dalam posisi dorsolitotomi pasien dipasang kateter. .etelah sisa
urin dikeluarkan, u#ung kateter dihubungkan dengan semprit 10 m2 tanpa pendorongnya, dan
diletakkan setinggi buli%buli (sim-isis pubis!. Kateter diisi air steril dengan perlahan%lahan
melalui semprit se$ara gra"itasi. 2alu minta pasien mengatakan #ika ada perasaan penuh di
buli%buli. <atat dan perhatikan "olume air yang dimasukkan dan ketinggian air pada
meniskus (Purnomo, 200!.
/uli%buli normal= meniskus konstan selama pengisian buli%buli hingga ter$apai
"olume kapasitas buli%buli. Meniskus akan naik perlahan pada pengisian berikutnya.
Komplians buli%buli menurun= meniskus naik sebanding dengan "olume air yang
dimasukkan.
Instabilitas buli%buli= meniskus tiba%tiba naik saat pengisian.
4ninhibited $ontra$tion= ada rembesan air di sela%sela kateter.
Pemeriksaan pen$itraan yang meliputi pielogra-i intra"ena dan sistogra-i diperlukan
untuk men$ari kemungkinan adanya -istula uretero"agina, muara ureter ektopik, dan
10
penurunan leher buli%buli ? uretra (Purnomo, 200!. .istourethroskopi dapat melihat keadaan
patologi seperti -istula, ureter ektopik maupun di"ertikulum.
Pemeriksaan residu urin dengan katerisasi atau ultrasonogra-i post miksi dilakukan
untuk mengetahui adanya obstruksi in-ra"esika atau kelemahan otot detrusor.
2.).- Tatalaksana
Inkontinensia urin merupakan ge#ala, untuk itu terapi ditu#ukan pada penyakit
penyebab serta mengatasi permsalahan sosial yang timbul. Pada inkontinensia stress atau
urge, pilihan terapi tergantung dari dera#at keparahan inkontinensia.
11
,abel 1. Pilihan terapai pada inkontinensia urin
J!nis
inkontin!nsia
Lati$an (!dikam!ntosa Tindakan in+asi%
Urge )ehavioral
)iofeed%ac'
)ladder drill
2ihat tabel 2. +ugmentasi buli%buli
Eeuromodulasi
9hiFolisis
Stress !elvic floor
e#ercise
+gonis adrenergik al-a
+ntidepresan trisiklik
6ormonal
Kolposuspensi
,@,
In#eksi kolagen
Paradoksal % Desobstruksi
Total % .-ingter arti-isial
2.).-.1 Lati$an.r!$a"ilitasi
Prinsip terapi inkontinensia strees adalah memposisikan segmen "esikouretra di
tempat yang tepat. +lasannya adalah karena s-ingter normal namun kurang e-isien karena
hipermobilitas pada posisi yang abnormal (,anagho et al, 200)!. !elvic floor e#ercise atau
Kegel e#ercise bertu#uan untuk meningkatkan resistensi uretra dengan $ara memperkuat otot%
otot dasar panggul dan otot periuretra. Pasien dilatih $ara melakukan atau mengenal kontraksi
otot dasar panggul dengan $ara men$oba menghentikan aliran urin (mengkontraksikan otot%
otot pel"is! kemudian mengeluarkan kembali urin melalui relaksasi otot s-ingter. 2alu pasien
diinstruksikan untuk melakukan kontraksi otot dasar panggul (seolah%olah menahan urin!
selama 10 detik sebanyak 10%20 kali kontraksi dan dilakukan dalam kali>hari. 4ntuk
mendapatkan e-ek yang diharapkan latihan dilakukan selama :%) minggu. 2atihan ini
menyebabkan hipertro-i otot dasar panggul. .ehingga dapat meningkatkan tekanan mekanik
pada uretra dan memperbaiki -ungsi s-ingter uretra. 2atihan ini dapat digunakan sebagai
pre"ensi ter#adinya inkontinensia urin pada (anita sebelum melahirkan (Purnomo, 200!.
Pada terapi beha"ioral pasien diberi pengetahuan tentang -isiologi sistem urinaria
sebelah ba(ah dan mengikuti #ad(al miksi seperti yang telah ditentukan. Pasien dilatih untuk
mengenal timbulnya sensasi urgensi, kemudian men$oba menghambatnya, dan selan#utnya
menunda saat miksi. 8ika sudah terbiasa, inter"al antara miksi men#adi lebih lama dan "olume
miksi lebih banyak (Purnomo, 200!.
12
2.).-.2 (!dikam!ntosa
Inkontin!nsia urge
,u#uan terapi pada inkontinensia urge adalah meningkatkan kapasitas buli%buli,
meningkatkan "olume urin yang pertama kali memberi sensasi miksi, dan menurunkan
-rekuensi ken$ing. Dipilih obat%obatan yang menghambat kontraksi otot detrusor atau yang
menghambat impuls a-eren dari buli%buli.
,abel 2. 7bat pilihan pada inkontinensia urge
.istemik ,opikal
+ntikolinergik (oksibutinin,
propantelin bromid, tolterodin tartrat!
Pelemas otot polos (disiklomin,
-la"oGat!
+ntidepresan trisiklik (imipramin!
+ntiprostaglandin
Penghambat kanal kalsium
Penghambat #alur e-eren=
o 7ksibutinin
o +tro-in
Penghambat #alur a-eren=
o +nestesi lokal
o Kapsaisin
o 9asini-eratoksin
+ntikolonergik. Ikatan obat ini pada reseptor muskarinik lebih kuat daripada ikatan
asetilkolin sehingga menghambat transmisi impuls yang men$etuskan kontraksi detrusor.
7bat ini meningkatkan kapasitas buli%buli dan mengobati o"erreakti"itas buli%buli. C-ek
samping yang dapat ter#adi yaitu mulut kering, konstipasi, pandangan kabur, takikardia,
dro(siness, dan meningkatkan tekanan intraokuli (Purnomo, 200!. Dikontraindikasikan
pada pasien dengan retensi urin.
Pelemas otot polos. 7bat ini berguna pada hiperre-leksia otot spasmodik.
+ntidepresan trisiklik. 7bat ini dapat digunakan sebagai pelemas otot, memberikan anestesi
lokal pada buli%buli, dan bere-ek antikolinergik. C-ek samping yang dapat ter#adi yaitu
kelemahan, mudah lelah, hipotensi postural, pusing, dan sedasi. Pemakaian pada usia lan#ut
sebaiknya dibatasi.
Penghambat kanal kalsium. C-ek yang diharapkan yaitu menurunnya kontraksi otot detrusor
pada instabilitas buli%buli. C-ek sampingnya yaitu -lushing, pusing, palpitasi, hipotensi, dan
re-leks takikardi.
Prostaglandin berperan pada eksitasi neurotransmisi pada saluran kemih bagian ba(ah.
Inkontin!nsia stress
,u#uan terapinya yaitu meningkatkan tonus s-ingter uretra dan resistensi bladder
outlet.
+gonis al-a adrenergik. 7bat ini menstimulasi reseptor al-a adrenergik yang menyebabkan
kontraksi otot polos pada leher buli%buli dan uretra posterior. 8enis obatnya yaitu e-edrin,
pseudoe-edrin, dan -enilpropanolamin. C-ekti- pada inkontinensia stress dera#at ringan dan
13
sedang. C-ek samping obat ini yaitu anoreksia, nausea, insomnia, kon-usi, peningkatan
tekanan darah, dan ansietas.
Cstrogen. Pemakaiannya pada inkontinensia stress masih diperdebatkan. Pemakaian
kombinasi dengan adrenergik al-a mempunyai e-ek sinergis. Pemberian estrogen pada
menopause dapat meningkatkan #umlah reseptor adrenergik al-a pada uretra.
In#eksi agen %ul'ing& ,erapi ini merupakan terapi terbaru untuk inkontinensia stress, yaitu
in#eksi lokal, dekat s-ingter uretra interna, agen %ul'ing seperti asam hialuronat dan kolagen.
,u#uannya adalah menebalkan dan menutup #aringan uretra"esikal.
2.).-.' P!m"!da$an
Inkontinensia yang disebabkan oleh -istula atau kelainan ba(aan ektopik ureter
tindakan yang paling tepat adalah pembedahan, berupa penutupan -istula atau neoimplantasi
ureter ke buli%buli. Pada inkontinensia urge dan stress pembedahan dilakukan #ika terapi
konser"ati- tidak memberikan hasil maksimal. Pada inkontinensia urge untuk mengurangi
e"ereakti"itas buli%buli dilakukan dengan rhiFolisis, sedangkan penurunan komplians buli%
buli dilakukan dengan augmentasi buli%buli. 6ipermobilitas uretra dikoreksi dengan suspensi
leher buli%buli dengan berbagai tekhnik antara lain Marshall%Mar$hetti%KranFt, /ur$h,
.tamey, tension*free vaginal tape (,@,!, atau tekhnik yang lain (purnomo, 200!. ,ekhnik
Marshall%Mar$hetti%KranFt melengketkan #aringan periuretra ke bagian posterior sim-isis
pubis. /ur$h memodi-ikasi tekhnik tersebut dimana dinding anterior "agina diikat dengan
ligamen <ooper (,anagho et al, 200)!.
14
5ambar 2. ,ekhnik /ur$h (,anagho et al, 200)!
15
BAB III
KESI(PULAN
Inkontinensia urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya urin.
Pre"alensi ke#adian ini $ukup tinggi yaitu mengenai lebih dari 200 #uta orang di seluruh
dunia. 2ebih sering ditemukan pada (anita dan usia tua.
Inkontinensia urin disebabkan oleh kegagalan pengisian dan penyimpanan urin, baik
karena -aktor buli%buli maupun uretra. Inkontinensia urin dapat diklasi-ikasikan men#adi
Inkontinensia true, inkontinensia urge, inkontinensia stress, inkontinensia overflow
(paradoksal!, inkontinensia kontinua, inkontinensia kongenital, dan inkontinensia iatrogenik
atau posttraumatik.
Inkontinensia merupakan ge#ala bagian dari suatu kelainan. C"aluasi pasien dengan
keluhan inkontinensia meliputi anamnesis, pemeriksaan -isik, pemeriksaan laboratorium,
pemeriksaan urodinamik, pemeriksaan radiologi, serta pemeriksaan residu urin. ,erapi
inkontinensia urin tergantung tipe dan dera#at keparahannya, terdiri dari rehabilitasi,
medikamentosan, dan pembedahan
16
DAFTA/ PUSTAKA
DeMaagd, 5.+., et al. 2012. +anagement of Urinary Incontinence& Pharma$y and
,erapeuti$s 8ournal "ol. no.: p &1%:16. +$$essed -rom
http=>>(((.n$bi.nlm.nih.go">pm$>arti$les>PM<&1120&>pd->pt#00:&1.pd-
5uyton +.< dan 6all, 8.C. 1**:. )u'u A(ar ,isiologi -edo'teran& C5<= 8akarta. hal 100%10)
Eational Kidney and 4rologi$ Disease In-ormation <learinghouse. Urinary Incontinence in
+en& 2000. 4.. Departement o- 6ealth and 6uman .er"i$es. +$$essed -rom
http=>>kidney.niddk.nih.go">kudiseases>pubs>uimen>uimenH10).pd-
Moore, K.2 dan +gur, +.M.9. 2000. "ssential .linical Anatomy, /rd ed& 2ippin$ott Iilliams
J Iilkins= ,eGas.
Purnomo, /./. 200. Dasar*dasar Urologi, edisi kedua. .agung .eto= 8akarta. hal 101%11*
,anagho, C.+., et al. 200). Urinary Incontinence. Dalam= .mithKs 5eneral 4rology, 10th
edition. M$5ra(%6ill= Ee( ;ork. p &0%&)*
17