Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah Nya kepada penulis, sehingga makalah
Strategi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendidikan Nonformal dapat
terselesaikan dengan baik guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu
Pendidikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masihlah jauh dari kata sempurna.
Untuk itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi tercapainya
makalah yang lebih baik. Atas kritik dan sarannya penulis ucapkan terima kasih.
Ucapan terima kasih juga penulis tujukan kepada semua pihak yang telah ikut
berkontribusi demi tersusunnya makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan dapat menjadi bahan referensi.


Semarang, 16 Mei 2013

Penulis


DAFTAR ISI
JUDUL ..... i
KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI......... iii
BAB I PENDAHULUAN..... 1
A. LatarBelakang 1
B. RumusanMasalah . 6
C. Tujuan Penulisan 6
D. Manfaat.. 6
BAB II PEMBAHASAN . . 7
A. Pengertian Pendidikan Nonformal ... 7
B. Tujuan Pendidikan Nonformal .... 14
C. Objek atau Sasaran Pendidikan Nonformal .... 15
D. Peranan Pendidikan Nonformal .. 17
E. Konsep Pemberdayaan Masyarakat . 24
BAB III PENUTUP... . 28
A. Simpulan ... 28
B. Saran ..... 29
DAFTAR PUSTAKA .. 30




BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Carut-marut dunia pendidikan Indonesia, sesungguhnya merupakan
sebuah realitas yang sangat memprihatinkan. Mahalnya biaya pendidikan
yang tidak serta merta dibarengi dengan peningkatan kualitas secara
signifikan, tentu menimbulkan tanda tanya besar mengenai orientasi
pendidikan yang sebenarnya sedang ingin dicapai. Ironisnya, disaat
beberapa negara tetangga terus berupaya keras melakukan peningkatan
kualitas pada sektor pendidikan, banyak pihak di negara ini justru
menempatkan pendidikan sebagai suatu komoditas yang memiliki nilai jual
yang tinggi. Tak mengherankan bahwa ketika banyak pihak mengejar
pendidikan dari sisi kuantitas, tentu menimbulkan berbagai macam
konsekuensi logis seperti terabaikannya faktor kualitas pendidikan.
Parahnya lagi, belakangan kita juga telah disadarkan bahwa banyak
lulusan pendidikan formal tidak memiliki spesifikasi keahlian yang
dibutuhkan oleh dunia kerja. Menanggapi kondisi yang seperti ini, Paulus
Wisnu Anggoro, Direktur UAJY - Delcam Traning Center, menuturkan
bahwa banyak dari kalangan industri yang menjadi kliennya mengeluhkan
keterbatasan skill yang dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi, sehingga
mau tidak mau seorang fresh graduate harus dilatih dari awal lagi. Ini
pemborosan untuk pihak perusahaan sebagai user lulusan perguruan tinggi.
Indonesia mengalami krisis SDM sebenarnya berpangkal pada
buruknya kualitas pendidikan yang dilaksanakan. Untuk menghadapi krisis,
sistem pendidikan memerlukan bantuan dari semua sektor kehidupan
domestik dan pada beberapa kasus, juga memerlukan sumber-sumber di luar
batas nasional. Pendidikan memerlukan dana, namun anggaran pendidikan
sulit bertambah. Pendidikan memerlukan sumber daya, khususnya sumber
daya insani nasional yang terbaik untuk meningkatkan kualitas, efisiensi,
dan produktivitas. Pendidikan memerlukan prasarana dan sarana, materi
pengajaran yang baik dan lebih baik. Di pelbagai tempat, pendidikan
memerlukan pula makanan bagi murid yang lapar agar mereka dalam
kondisi siap belajar. Di atas semua itu pendidikan memerlukan hal-hal yang
tidak dapat dibeli dengan uang, yakni gagasan dan keberanian, keputusan,
keinginan baru untuk mengetahui kemampuan diri yang diperkuat oleh
suatu keinginan untuk berubah dan bereksperimen.
Berkaitan dengan frasa sistem pendidikan, lebih lanjut
diungkapkan bahwa sistem pendidikan tidak hanya mengacu pada tingkat
dan tipe pendidikan formal seperti sekolah kejuruan, umum dan spesialisasi,
tetapi juga seluruh program dan proses sistematik pendidikan di luar
pendidikan formal yaitu yang dikenal dengan pendidikan nonformal. Sistem
pendidikan yang di dalamnya terdapat kegiatan pendidikan formal maupun
nonformal memiliki sejumlah input, yang diproses untuk memperoleh
output untuk memenuhi tujuan tertentu. Mengacu pada sistem pendidikan
selanjutnya diungkapkan bahwa pendidikan dengan demikian merupakan
suatu proses yang berinteraksi dengan lingkungannya. Output yang ingin
dihasilkan dari suatu sistem pendidikan ditentukan oleh tujuan yang
dikehendaki oleh lingkungan atau masyarakat. Manusia yang terdidik
hendaknya diperlengkapi untuk melayani masyarakat dan mengurus dirinya
sendiri sebagai individu dan anggota masyarakat, pekerja ekonomi,
pemimpin dan inovator, warga negara dan warga dunia dan penyumbang
kebudayaan. Untuk itu, pendidikan harus mampu meningkatkan basic
knowledge (pengetahuan dasar) intellectual and manual skills (keterampilan
manual dan intelektual ),power of reason critism ( daya nalar / kritik
),values, attitudes and motivation (nilai-nilai, sikap dan motivasi ),power of
creativity and innovation (daya kreatif dan inovasi ),cultural appreciation
(apresiasi kebudayaan ),sense of social responsibillity ( tanggung jawab
sosial ), dan understanding of the modern world (memahami dunia modern).
Pendidikan nonformal menjadi bagian dari pembicaraan internasional
terutama berkaitan dengan berbagai kebijakan tentang pendidikan pada era
sebelum tahun 1960 dan akhir tahun 1970-an. Hal tersebut dapat dilihat
bagaimana kaitan antara konsep pendidikan berkelanjutan dengan konsep
pendidikan sepanjang hayat. Tight ( 1996 ) mengajukan konsep tentang
penyatuan pendidikan extention dan belajar sepanjang hayat secara utuh dan
menyeluruh, sehingga untuk menyatukan itu pendidikan nonformal
dianggap memiliki peran dalam 'acknowledging the importance ofeducation,
learning and training which takes place outside recognized
educationalinstitutions'. Begitu bula dengan yang diungkapkan Fordham
(1993), menyatakan bahwa sejak tahun 1970-an, ada empat karakteristik
dasar yang berkaitan dengan peran pendidikan nonformal di masyarakat:
a) relevan dengan kebutuhan kelompok masyarakat (orang-orang ) yang
tidak beruntung,
b) ditujukan dan memiliki perhatian khusus pada kategori sasaran-
sasaran tertentu,
c) terfokus pada program yang sesuai dengan kebutuhan,
d) fleksibel dalam pengorganisasian dan dalam metoda pembelajaran.
Dalam banyak negarapun pembicaraan masalah pendidikan nonformal
menjadi topik-topik khusus, serta dianggap sebagai pendidikan yang mampu
memberikan jalan serta pemecahan bagi persoalan-persoalan layanan
pendidikan masyarakat, terutama masyarakat yang tidak terlayani
pendidikan formal. Alan Rogers dalam satu bukunya menyatakan bahwa:
There is a renewed interest in non-formal education (NFE)today. And
it is significant that this interest comes not so much from the so-called'Third
World' (I use this term to refer to poor countries in receipt of aid from
richcountries, because many other persons use it as a short-hand). The
assemblyrecognizes that formal educational systems alone cannot respond
to chalange ofmodern society and therefore welcomes to reinforcement by
nonformal education.( Alan Rogers, 2004 ).
Namun demikian dalam membahas pendidikan nonformal selayaknya
tidak terlepas dari konsep yang mendasari bagaimana pendidikan nonformal
berkembang dengan utuh sesuai dengan prinsip-prinsip dasarnya, oleh
karena itu keterkaitan analisis antara pendidikan nonformal dengan
community,learning, informal education, dan social pedagogi merupakan
sesuatu hal yang tetap harus manjadi acuan. Pembahasan secara original
tentang konsep pendidikan nonformal muncul pada tahun 1968 (Coombs
1968), perkembangan pendidikan nonforml begitu pesat terutama ketika
pendidikan dirasakan masih banyak kekurangan (Illich 1973), hal tersebut
dirasakan tidak hanya di Negara-negara berkembang tetapi merambah
sampai ke belahan dunia barat (western) juga sampai ke belahan dunia utara
(northern). (Bowles dan Gintis 1976 dan kawan-kawan). Di belahan dunia
barat reformasi pendidikan bergerak melalui berbagai perbedaan format,
akan tetapi dalam semua perencanaan dan kebijakan-kebijakan yang diambil
sangat berkaitan erat dengan pendidikan yang diperlukan bagi negara-
negara berkembang mulai tahun 1968 sampai tahun 1986, pada saat itu
pendidikan nonformal dirasakan sebagai obat mujarab untuk semua
penyakit pendidikan yang dirasakan di tengah-tengah masyarakat (Freire
1972 dan kawan - kawan).
Pendidikan nonformal sebuah layanan pendidikan yang tidak dibatasi
dengan waktu, usia, jenis kelamin, ras (suku, keturunan), kondisi sosial
budaya, ekonomi, agama dan lain - lain. Meskipun pendidikan formal
merupakan komponen penting dalam pendidikan sepanjang hayat. Akan
tetapi, peran pendidikan nonformal dan informal dalam rangka pelayanan
pendidikan sepanjang hayat bagi masyarakat sangat dibutuhkan saat ini dan
kedepan.
Oleh karena itu, pada pembahasan ini akan dibahas lebih mendasar
tentang bagaimana peran pendidikan nonformal dalam membangun dan
memberdayakan masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian pendidikan nonformal ?
2. Apa saja tujuan pendidikan nonformal ?
3. Apa obyek atau sasaran pendidikan nonformal ?
4. Bagaimana peranan pendidikan nonformal ?
5. Bagaimana konsep pemberdayaan masyarakat ?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Memahami pengertian pendidikan nonformal.
2. Mengetahui tujuan pendidikan nonformal.
3. Mengetahui objek atau sasaran pendidikan nonformal.
4. Memahami peranan pendidikan nonformal.
5. Memahami konsep pemberdayaan masyarakat.
D. MANFAAT PENULISAN
1. Dapat memahami pengertian pendidikan nonformal.
2. Dapat mengetahui tujuan pendidikan nonformal.
3. Dapat mengetahui obyek atau sasaran pendidikan nonformal.
4. Dapat memahami peranan pendidikan nonformal.
5. Dapat memahami konsep pemberdayaan masyarakat.


BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN NONFORMAL
Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan
semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetauannya, nilai
serta sikapnya dan ketrampilannya. ( Achmad Munib, 2010 )
Pendidikan nonformal dengan berbagai atribut dan nama atau istilah
lainnya, baik disebut dengan, mass education, adult education, lifelong
education, learning society,out-of-school education, social education dll,
merupakan kegiatan yang terorganisir dan sistematis yang diselenggarakan
di luar subsistem pendidikan formal. ( Sudjana, 1994. R.A. Santoso, 1955 ).
Meskipun kesemua istilah tersebut memiliki perbedaan dan kesamaan
dengan pendidikan nonformal, akan tetapi sangat sulit untuk merumuskan
pengertian yang konprehensif dan berlaku umum, mengingat titik pandang
yang berbeda. Berikut ini diuraikan berbagai definisi tentang pendidikan
nonformal yang dikemukakan oleh para ahli:
1. Pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis
dan kontinyu di luar sistem persekolahan, melalui hubungan sosial
untuk membimbing individu, kelompok dan masyarakat agar memiliki
sikap dan cita-cita sosial ( yang efektif ) guna meningkatkan taraf
hidup dibidang materil, sosial dan mental dalam rangka usaha
mewujudkan kesejahteraan sosial. ( Hamojoyo, 1973 )

2. Secara luas Coombs ( 1973 ) memberikan rumusan tentang
pendidikan nonformal adalah: setiap kegiatan pendidikan yang
terorganisasi, diselenggarakan di luar pendidikan persekolahan,
diselenggarakan secara tersendiri atau merupakan bagian penting dari
suatu kegiatan yang lebih luas dengan maksud memberikan layanan
khusus kepada warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar.
3. Niehoff ( 1977 ), merumuskan pendidikan nonformal secara terperinci
yakni:
Nonformal education is defined for our purpose as the method of
assessing theneeds end interests of adults and out-of school youth in
developing countries-ofcommunicating with them, motivating them to
patterns, and related activities whichwill increase their productivity
and improve their living standard.
4. Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan sosial dalam hal ini
adalah Semua kegiatan pendidikan termasuk di dalamnya pendidikan
olah raga dan rekreasi yang diselenggarakan di luar sekolah bagi
pemuda dan orang dewasa, tidak termasuk kegiatan-kegiatan
pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan kurikulum
sekolah.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan, bahwa
pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya memiliki suatu
sistem yang terlembagakan, yang di dalamnya terkandung makna bahwa
setiap pengembangan pendidikan nonformal perlu perencanaan program
yang matang, melalui kurikulum, isi program, sarana, prasarana, sasaran
didik, sumber belajar, serta faktor-faktor yang satu sama lain tak dapat
dipisahkan dalam pendidikan nonformal.
Pada definisi lain Coombs menjelaskan tentang pendekatan
pembelajaran yang dianggap cocok dengan penyelenggaraan pembelajaran
pada pendidikan nonformal terutama mengenai sistem pembelajaran
individual dan sistem pembelajaran kelompok.
Pada definisi tersebut Coombs menjelaskan, bahwa pendekatan
kelompok dalam penyelenggaraan pembelajaran pendidikan nonformal
lebih dominan ketimbang pendekatan individual. Kenapa demikian karena
dengan kelompok proses pembelajaran atau transfer pengetahuan,
keterampilan akan lebih efektif. Pada konteks lain pendidikan nonformal
sering disebut dengan istilah pendidikan luar sekolah (outof-school
education). Istilah ini mengacu pada penyelenggaraan pendidikan di luar
sistem sekolah atau di luar kurikulum yang diprogram secara nasional untuk
sekolah.
Istilah pendidikan luar sekolah sebenarnya lebih popular di Indonesia
ketimbang di negara-negara lain (baik negara maju maupun negara dunia ke
tiga). Pengungkapan istilah pendidikan nonformal memberikan informasi
bahwa pada hakikatnya pendidikan tidak hanya diselenggarakan di
pendidikan formal saja, tetapi juga di pendidikan nonformal. Hal ini sesuai
dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat (10) Satuan pendidikan adalah
kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada
jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis
pendidikan; ayat (11) Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang
terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi; ayat (12) Pendidikan nonformal adalah
jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara
terstruktur dan berjenjang; ayat (13) Pendidikan informal adalah jalur
pendidikan keluarga dan lingkungan.
Berdasarkan pada pernyataan di atas, maka pendidikan nonformal
merupakan salah satu jalur dari penyelenggaraan sistem pendidikan di
Indonesia. Pendidikan nonformal diselenggarakan melalui tahapan-tahapan
pengembangan bahan belajar, pengorganisasian kegiatan belajar,
pelaksanaan belajar mengajar dan penilaian. Hal ini sejalan dengan
pendapat Knowles, bahwa langkah-langkah pengelolaan kegiatan belajar
meliputi:
1. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar
2. Menetapkan struktur organisasi pengelola program belajar
3. Mengidentifikasi kebutuhan belajar
4. Merumuskan arah dan tujuan belajar
5. Menyusun pengembangan bahan belajar
6. Melaksanakan kegiatan belajar
7. Melakukan penilaian.
Bahan belajar yang disediakan pada pendidikan nonformal mencakup
keseluruhan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan aspek
kehidupan. Hal ini ditujukan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan
belajar yang timbul dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan belajar terasa
dan prioritas program nasional. Yang dimaksud kebutuhan belajar terasa
adalah kebutuhan belajar yang dirasakan oleh setiap anggota masyarakat,
sedangkan prioritas program nasional berhubungan dengan tuntutan
pengetahuan dan keterampilan yang perlu dimiliki setiap anggota
masyarakat berdasarkan pertimbangan kepentingan nasional. Oleh karena
itu keberadaan pendidikan nonformal saat ini semakin dibutuhkan oleh
masyarakat karena berbagai alasan meliputi:
1. Kemajuan teknologi
2. Kebutuhan pendidikan keterampilan yang tidak bisa dijawab oleh
pendidikan formal
3. Keterbatasan akses pendidikan formal untuk menjangkau masyarakat
suku terasing, masyarakat nelayan, pedalaman, serta masyarakat
miskin yang termarjinalkan
4. Persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kehidupan dan
perkembangan masyarakat terutama berkaitan dengan :
a) pertambahan penduduk dan pencemaran lingkungan,
b) keinginan untuk maju,
c) perkembangan alat komunikasi dan,
d) terbentuknya bermacam-macam organisasi sosial.
Berdasar kepada kriteria tersebut, kebutuhan pendidikan nonformal
semakin nyata dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di
tengah-tengah masyarakat, baik yang menyangkut persoalan pendidikan
maupun persoalan sosial lainnya.
Pentingnya peran pendidikan nonformal di masyarakat bisa di analisis
dari jenis kebutuhan belajar yang beragam, hal ini sejalan dengan pendapat
para ahli di bidang pendidikan nonformal. Lebih jauh Coombs
mengungkapkan bahwa program belajar bagi masyarakat perdesaan di dunia
ketiga dapat dikelompokan kedalam:
1. Pendidikan umum atau dasar, meliputi program literasi, pengertian
dasar mengenai ilmu pengetahuan dan lingkungan, dan sebagainya;
2. Pendidikan kesejahteraan keluarga,terutama dirancang untuk
menyebarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang bermanfaat
untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
3. Pendidikan kemasyarakatan.
4. Pendidikan kejuruan.
Sedangkan, Herbinson yang dikutip Simkins mengajukan
pengelompokan program belajar pendidikan nonformal berdasar atas
peningkatan produktivitas kerja yaitu:
1. Program peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat
yang telah bekerja
2. Program penyiapan angkatan kerja, terutama bagi masyarakat yang
belum bekerja.
3. Program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan
pemahaman di luar dunia kerja.
Berdasar kepada kondisi-kondisi tersebut program pendidikan
nonformal dapat dikelompokan ke dalam dua hal, yakni:
1. Program pendidikan dasar, yang memberikan pelayanan belajar
kepada masyarakat yang belum memiliki kemampuan-kemampuan
dasar, seperti program literasi.
2. Program pendidikan lanjutan, yang memberikan pelayanan pendidikan
untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti; pendidikan untuk
peningkatan produktivitas kerja.
Pada sasaran pengembangan kelompok pertama pendidikan nonformal
memiliki peran mendasar dalam rangka membangun kemampuan dasar
masyarakat (sasaran didiknya), terutama dalam implementasi belajar
sepanjang hayat. Maka pendidikan nonformal memiliki tugas khusus bukan
hanya sekedar tuntutan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun akan tetapi
yang paling penting mencerdaskan masyarakat pada level literasi
(pembebasan buta huruf) berarti membuka wawasan dan cakrawala
masyarakat ke arah kemajuan dan perubahan hidup dan kehidupan yang
baru. Program pendidikan dasar melalui pendidikan nonformal jangan hanya
dikategorikan sekedar menyelesaikan masalah tingginya angka drop out
pendidikan dasar dan menjadi sorotan dunia internasional yang berpengaruh
terhadap HDI ( human developmentindex ), akan tetapi tugas ini harus
dianggap sebagai suatu kewajiban dalam menata lifelong education pada
tingkat awal.
A. TUJUAN PENDIDIKAN NONFORMAL
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 49
Tahun 2007 Tanggal 7 Desember 2007, tujuan pendidikan nonformal
adalah :
1. Menggambarkan pencapaian tingkat mutu yang seharusnya dicapai
dalam program pembelajaran.
2. Mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan
dengan kebutuhan pemberdayaan masyarakat.
3. Diputuskan oleh pengelola dan/atau penyelenggara pendidikan
nonformal dengan memperhatikan masukan dari berbagai pihak.
4. Disosialisasikan kepada segenap pihak yang berkepentingan.
Sedangkan Visinya adalah sebagai berikut :
1. Dijadikan sebagai cita-cita bersama oleh segenap pihak yang
berkepentingan pada masa yang akan datang.
2. Mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada warga
satuan pendidikan nonformal dan segenap pihak yang berkepentingan.
3. Dirumuskan berdasarkan masukan dari warga satuan pendidikan
nonformal dan pihak yang berkepentingan, selaras dengan visi
pendidikan nasional.
4. Diputuskan oleh pengelola dan/atau penyelenggara pendidikan
nonformal dengan memperhatikan masukan dari berbagai pihak.
5. Disosialisasikan kepada segenap pihak yang berkepentingan.
6. Ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan
perkembangan masyarakat.
Dan untuk Misinya adalah sebagai berikut :
1. Menekankan pada mutu layanan peserta didik dan mutu lulusan yang
diharapkan oleh satuan pendidikan nonformal.
2. Memuat pernyataan umum dan khusus yang berkaitan dengan
program satuan pendidikan nonformal.
3. Memberikan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatan
pada penyelenggara satuan pendidikan nonformal.
4. Diputuskan oleh pengelola dan/atau penyelenggara pendidikan
nonformal dengan memperhatikan masukan dari berbagai pihak.
5. Disosialisasikan kepada segenap pihak yang berkepentingan.
6. Ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan
masyarakat.
B. OBJEK ATAU SASARAN PENDIDIKAN NON FORMAL
Sasaran pendidikan nonformal dapat ditinjau dari beberapa segi,
yakni pelayanan, sasaran khusus, pranata sistem pengajaran dan
pelembagaan program. Ditilik dari segi pelayanan, sasaran pendidikan
nonformal adalah melayani anak usia sekolah (0-6 tahun), anak usia
sekolah dasar (7-12 tahun), anak usia pendidikan menengah (13-18 tahun),
anak usia perguruan tinggi (19-24 tahun). Ditinjau dari segi sasaran khusus,
pendidikan nonformal mendidik anak terlantar, anak yatim piatu, korban
narkoba, perempuan penghibur, anak cacat mentau maupun cacat tubuh.
Dari segi pranata, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dilakukan
dilingkungan keluarga, pendidikan perluasan wawasan desa dan pendidikan
keterampilan. Di segi layanan masyarakat, sasaran pendidikan nonformal
antara lain membantu masyarakat melalui program PKK, KB, perawatan
bayi, peningkatan gizi keluarga, pengetahuan rumah tangga dan penjagaan
lingkungan sehat. Dilihat dari segi pengajaran, sasaran pendidikan
nonformalsebagai penyelenggara dan pelaksana program kelompok,
organisasi dan lembaga pendidikan, program kesenian tradisional ataupun
kesenian modern lainnya yaitu menjadi fasilitator bahkan turut serta dalam
program keagamaan, seperti mengisi pengajaran di majelis taklim, di
pondok pesantren, dan bahkan di beberapa tempat kursus. Sedangkan
sasaran pendidikan nonformal ditinjau dari segi pelembagaan, yakni
kemitraan atau bermitra dengan berbagai pihak penyelenggara program
pemberdayaan masyarakat berkoordinasi dengan desa atau pelaksana
program pembangunan.
Bagaimana dengan karakteristik pendidikan nonformal? Secara
khusus pendidikan nonformal memiliki spesifikasi yang unik dibanding
pendidikan sekolah, terutama dari berbagai aspek yang dicakupinya. Ini
terlihat dari tujuan pendidikan nonformal , yakni memenuhi kebutuhan
belajar tertentu yang fungsional bagi kehidupan masa kini dan masa depan,
dimana dalam pelaksanananya tidak terlalu menekankan pada ijazah. Dalam
waktu pelaksanannya, pendidikan nonformal terbilang relatif singkat,
menekankan pada kebutuhan di masa sekarang dan masa yang akan datang
serta tidak penuh dalam menggunakan waktu alias tidak terus menerus.
Isi dari program pendidikan nonformal ini berpedolam pada
kurikulum pusat pada kepentingan peserta didik (warga belajar),
mengutamakan aplikasi dimana menekanannya terletak pada keterampilan
yang bernilai guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya. Soal
persyaratan masuk pendidikan nonformal, hal itu ditetapkan berdasarkan
hasil kesepakatan bersama antara sesama peserta didik. Proses belajar
mengajar dalam pendidikan nonformal pun relative lebih fleksibel, artinya
diselenggarakan di lingkungan masyarakat dan keluarga.
C. PERANAN PENDIDIKAN NONFORMAL
Lingkungan yang berfungsi melahirkan individu individu terdidik (
educationa lindividuals ) bukan hanya lingkungan keluarga yang disebut
juga lingkungan pertama, lingkungan sekolah yang disebut juga lingkungan
kedua, tetapi juga lingkungan masyarakat yangdisebut juga lingkungan
ketiga ( Purwanto, 1986 ). Peranan penting pendidikan pada lingkungan
ketiga yang dikenal dengan lingkungan masyarakat atau pendidikan non
formal dikarenakan manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk social
manusia menjadi bagian dari pelbagai golongan dalam masyarakat, baik
dengan sendirinya maupun dengan sengaja. Manusia dengan sendirinya
adalah bagian dari keluarga, kota, negara dan kelompok agama. Tapi ada
juga golongan yang dengan sengaja dimasuki seperti perkumpulan olah
raga, serikat pekerja, koperasi, organisasi politik, perkumpulan kesenian dan
lain-lain. Melalui kelompok kelompok inilah pendidikan nonformal
dilakukan. Pendidikan nonformal dapat menjadi pelengkap dari pendidikan
formal, terlebih jika dikaitkan dengan keterbatasan - keterbatasan yang
diakibatkan karena adanya krisis.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Sejalan dengan itu, sistema pendidikan
nacional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan,
peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajamen pendidikan
sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global
sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah
dan berkesinambungan.
Penyelenggaraan pendidikan nonformal (PNF) merupakan upaya
dalam rangka mendukung perluasan akses dan peningkatan mutu layanan
pendidikan bagi masyarakat. Jenis layanan dan satuan pembelajaran PNF
sangat beragam, yaitu meliputi:
1. Pendidikan kecakapan hidup.
2. Pendidikan anak usia dini.
3. Pendidikan kesetaraan seperti Paket A, B, dan C.
4. Pendidikan keaksaraan pendidikan pemberdayaan perempuan.
5. Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja ( kursus, magang,
kelompok belajar usaha ).
6. Pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik.
Dalam situasi demikian, makna dibalik fenomena bermunculannya
lembaga pendidikan nonformal sebenarnya lebih ingin memberikan ruang
kesadaran baru pada masyarakat, bahwa upaya pendidikan bukan sekedar
kegiatan untuk meraih sertifikasi atau legalitas semata. Lebih daripada itu,
upaya pendidikan sejatinya merupakan kegiatan penyerapan dan
internalisasi ilmu, yang pada akhirnya diharapkan mampu membawa
peningkatan taraf kehidupan bagi individu maupun masyarakat dalam
berbagai aspek.
Keunggulan lain yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan non
formal sebenarnya ada pada fleksibilitas waktu yang dimiliki. Selain bisa
dijalankan secara manunggal, pendidikan nonformal bisa dijalankan pula
secara berdampingan dengan pendidikan formal. Tak mengherankan apabila
belakangan lembaga pendidikan nonformal tumbuh dengan pesat,
berbanding lurus dengan tingginya minat masyarakat terhadap jenis
pendidikan tersebut. Tidak hanya itu, lembaga pendidikan non formal juga
berpeluang untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai. Hal ini
terbukti dari banyaknya lembaga pendidikan nonformal seperti ADTC dan
Macel lEducation Center (MEC) yang siap menyalurkan lulusan terbaiknya
keberbagai perusahaan rekanan. Ini merupakan tawaran yang patut
dipertimbangkan ditengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan seperti
sekarang ini.
Antonius Sumarno (2001), juga menuturkan bahwa kemunculan
lembaga pendidikan nonformal seperti lembaga pelatihan bahasa misalnya,
sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk menyiapkan diri dalam menghadapi
persaingan di era globalisasi. Setidaknya dengan penguasaan bahasa asing,
individu akan dimudahkan dalam melakukan penyerapan berbagai ilmu
pengetahuan yang saat ini hampir semua referensi terbarunya hanya tersedia
dalam bahasa asing. Selanjutnya keunggulan tersebut dapat pula
memperluas peluang individu dalam menangkap berbagai kesempatan.
Hebatnya lagi, tersedia pula lembaga pendidikan nonformal yang tidak
hanya membekali lulusannya dengan ilmu, namun juga membekali sikap
kemandirian yang mendorong terciptanya kesempatan untuk berwirausaha.
Ini merupakan bukti nyata upaya memperkuat struktur riil perekonomian
masyarakat yang belakangan makin terpuruk. Di saat banyak orang
kebingungan mencari pekerjaan, banyak lulusan lembaga pendidikan non
formal yang menciptakan lapangan pekerjaan. Namun dibalik semua
keunggulan dan variasi lembaga pendidikan nonformal yang tersedia
kejelian masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan non formal sebagai
wahana untuk mengasah keterampilan dan menyiapkan diri dalam
menghadapi persaingan penting untuk dipertahankan. Indikator yang paling
sederhana adalah seberapa besar kesesuian bidang pelatihan yang
ditawarkan oleh lembaga pendidikan nonformal dengan minat maupun
bidang yang saat ini kita geluti.
Tujuannya, tentu tidak lain supaya keahlian yang didapatkan dari
pelatihan lembaga pendidikan non formal dapat berjalan beriringan dan
saling melengkapi minat dan dunia yang kita geluti, serta meningkatkan
keunggulan kompetitif yang kita miliki. Lebih lanjut, kejelian dalam
memilih juga berfungsi pula agar investasi finansial yang telah ditanamkan
tidak terbuang percuma karena program yang sedang dijalani " terhenti di
tengah jalan".
Pendidikan nonformal diharapkan dapat mengatasi pelbagai
problematika kehidupan. Seperti diungkapkan Buchari (1994) :
Apa yang harus kita lakukan, agar kegiatan kegiatan pendidikan non
formal yang kita selenggarakan benar benar membawa kemajuan yang
berarti, yaitu kemajuan yang lebih besar daripada pembengkakan berbagai
problematika yang dihadapi, dan tidak kalah pula pesatnya dibandingkan
dengan laju kemajuan yang dicapai oleh negara-negara lain.

Pendidikan melalui lingkungan masyarakat atau pendidikan non
formal memiliki berbagai nama, seperti adult education ( pendidikan
orang dewasa ), continuing education ( pendidikan lanjutan ), on-the-job
training ( latihan kerja ), accelerated training ( latihan dipercepat ),
farmer or worker training ( latihan pekerja atau petani ), dan extensin
service ( pelayanan pendidikan tambahan ) dan dianggap sebagai sistema
bayangan ( shadow system ).
Pelaksanaan pendidikan nonformal dapat dilihat perbedaannya pada
kasus negara industri dan negara berkembang. Pada negara maju seperti di
Eropa dan Amerika Utara pendidikan nonformal dipandang sebagai
pendidikan lanjutan bagi kehidupan seseorang. Pendidikan seumur hidup
sangat berarti dalam memajukan dan mengubah masyarakat karena tiga
alasan :
1) untuk memperoleh pekerjaan,
2) menjaga ketersediaan tenaga kerja terlatih dengan teknologi dan
pengetahuan baru yang diperlukan untuk melanjutkan produktivitas,
3) memperbaiki kualitas dan kenyamanan hidup individu melalui
pengayaan kebudayaan dengan memanfaatkan waktu luang. Dalam
perspektif ini, maka pendidikan lanjutan bagi guru memiliki arti
strategis, jika gagal memberikan mereka pengetahuan yang mutakhir,
maka mereka akan memberikan pendidikan kemarin bagi generasi
esok.
Pada negara yang sedang berkembang, pendidikan non formal
berperan untuk mendidik begitu banyak petani, pekerja, usahawan kecil dan
lainnya yang tidak sempat bersekolah dan mungkin tidak memiliki
keterampilan maupun pengetahuan yang dapat diamalkan bagi dirinya
sendiri maupun bagi pembangunan bangsanya. Peran lainnya adalah untuk
meningkatkan kemampuan dari orang-orang yang memiliki kualifikasi
seperti contohnya guru dan lainnya untuk bekerja di sektor swasta dan
pemerintah, agar mereka bekerja lebih efektif. Di Tanzania non formal
berperan untuk menyelamatkan investasi pendidikan dari mereka yang
tamat sekolah maupun drop out dari sekolah menengah, namun tidak
memperoleh pekerjaan, dengan memberikan kepada mereka pelatihan-
pelatihan khusus (Coombs, 1968). Di Indonesia pendidikan non fornal
mencakup pendidikan orang dewasa yang bertujuan agar bangsa Indonesia
kenal huruf; dapat memenuhi kewajibannya sebagai orang dewasa;
mempergunakan segala sumber penghidupan yang ada; berkembang secara
dinamis dan kuat; serta tumbuh atas dasar kebudayaan nasional . Tujuan
yang sudah digariskan pada peta pendidikan sejak 27 Desember 1945 oleh
BPKNIP ini (Poerbakawatja dan Harahap, 1981) masih memiliki relevansi
hingga kini apalagi dalam menghadapi menghadapi globalisasi.
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 26 ayat 1 dijelaskan bahwa
Pendidikan Non Formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang
memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti,
penambah dan/atau pelengkap PF dalam rangka mendukung pendidikan
sepanjang hayat. Lebih lanjut dalam ayat 2 dijelaskan Pendidikan Non
Formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik (warga belajar)
dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan
fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional.
Sementara di ayat 3, disana disebutkan bahwa pendidikan nonformal
meliputi pendidikan kecakapan hidup (life skills); pendidikan anak usia dini;
pendidikan kepemudaan; pendidikan pemberdayaan perempuan; pendidikan
keaksaraan; pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja; pendidikan
kesetaraan; serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan
kemampuan peserta didik.
Ditilik dari satuan pendidikannya, pelaksanaan pendidikan nonformal
terdiri dari kursus; lembaga pelatihan; kelompok belajar; Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM); majelis taklim; serta satuan pendidikan yang
sejenis (pasal 26 ayat 4). Disamping itu, dalam pasal 26 ayat 5, disana
dijelaskan bahwa kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat
yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan
sikap untuk mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri dan/atau
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hasil pendidikan
keaksaraan dapat dihargai setara dengan hasil program PF setelah melalui
proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah
atau pemda dengan mengacu pada SPN (pasal 26 ayat 6).
D. KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pengembangan masyarakat ( community development ) merupakan
konsep pembangunan masyarakat yang dikembangkan dan diterapkan sejak
dasawarsa 1960-an, yaitu dalam rencana pembangunan lima tahun 1956-
1960 atau dikenal dengan nama Rencana Juanda yang disusun oleh Biro
Perancang Negara ( Zamhariri, 2008 ).Perserikatan Bangsa - Bangsa ( PBB )
bahkan sejak tahun 1954 telah menggunakan istilah community
development sebagai suatu penggunaan berbagai pendekatan dan teknik
dalam suatu program tertentu pada masyarakat setempat sebagai kesatuan
tindakan dan mengutamakan perpaduan antara bantuan yang berasal dari
luar dengan keputusan dan upaya masyarakat yang terorganisasi. Program-
program tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mendorong prakarsa
dan kepemimpinan setempat sebagai sarana perubahan sesungguhnya. Di
negara-negara berkembang, program ini memberikan perhatian utama pada
kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan
warga masyarakat, termasuk di dalamnya pemenuhan kebutuhan non-
material ( Mohd. Shukri Abdullah, 1994 ).
James Christenson dan Jerry Robinson tahun 1980 seperti dikutip oleh
Lyon ( 1987 ) dalam Saharudin ( 2000 ) menyatakan bahwa dalam konsep
pembangunan masyarakat, komunitas digambarkan sebagai elemen-elemen
pokok masyarakat yang ada dalam batas geografis tertentu dimana mereka
dapat mengembangkan interaksi sosial dengan ikatan-ikatan psikologi satu
sama lain dan dengan tempat tinggal mereka. Selanjutnya James
Christensen mengidentifikasi tiga pendekatan dalam pengembangan
masyarakat, yaitu menolong diri sendiri ( self-help ), pendekatan konflik,
dan pendampingan teknik ( technical assistance ).
Dalam kajian-kajian tentang pemberdayaan masyarakat, para pakar
ilmu sosial lebih suka menggunakan istilah pengembangan masyarakat yang
sifatnya bottom updaripada pembangunan masyarakat yang cenderung
bersifat top down untuk menerjemahkan kata community development.
Pengembangan masyarakat dengan demikian merupakan suatu
aktivitas pembangunan yang berorientasi pada kerakyatan. Syarat
pembangunan kerakyatan menurut Corten ( 1990 ) adalah tersentuhnya
aspek-aspek keadilan, keseimbangan sumberdaya alam dan adanya
partisipasi masyarakat. Dalam konteks seperti itu maka pembangunan
merupakan gerakan masyarakat, seluruh masyarakat, bukan proyek
pemerintah yang dipersembahkan kepada rakyat di bawah. Pembangunan
adalah proses di mana anggota-anggota suatu masyarakat meningkatkan
kapasitas perorangan dan institusional mereka dalam memobilisasi dan
mengelola sumberdaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang
berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai aspirasi mereka
sendiri.
Dalam konsep pembangunan masyarakat juga dikenal istilah
pemberdayaanyang berasal dari kata empowerment. Konsep ini digunakan
sebagai alternatif dari konsep-konsep pembangunan yang selama ini
dianggap tidak berhasil memberikanjawaban yang memuaskan terhadap
masalah-masalah besar, khususnya masalahkekuasaan (power) dan
ketimpangan (inequity) ( Kartasasmita, Ginandjar 1996 ).
Pemberdayaan adalah suatu proses menolong individu dan kelompok
masyarakat yang kurang beruntung agar dapat berkompetisi secara efektif
dengan kelompok kepentingan lainnya dengan cara menolong mereka untuk
belajar menggunakan pendekatan lobi, menggunakan media, terlibat dalam
aksi politik, memberikan pemahaman kepada mereka agar dapat bekerja
secara sistematik, dan lain-lain ( Ife, 1995 ). Sedangkan Friedman ( 1992 )
mengatakan bahwa pemberdayaan adalah sebuah politik pembangunan
alternatif yang menekankan keutamaan politik sebagai sarana pengambilan
keputusan untuk melindungi kepentingan masyarakat yang berlandaskan
pada sumberdaya pribadi, langsung melalui partisipasi, demokrasi, dan
pembelajaran sosial melalui pengamatan langsung.
Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep
pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini
mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat people
centred, participatory, empowering, and sustainable ( Chambers, 1995 ).
Konsep ini lebih luas dari hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar ( basic
needs ) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan
lebih lanjut. Konsep ini berkembang dari upaya banyak ahli dan praktisi
untuk mencari apa yang antara lain oleh Friedman ( 1992 ) disebut
sebagai alternative development, yang menghendaki inclusive democracy,
appropriate economic growth, gender equality and intergenerational
equaty ( Kartasasmita, Ginanjar 1996 ).
Kaitan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat diuraikan
dengan sangat baik oleh Adi Fahrudin yang mengatakan bahwa
pengembangan masyarakat harus didasarkan pada asumsi, nilai, dan prinsip-
prinsip agar dalam pelaksanaannya dapat memberdayakan masyarakat
berdasarkan inisiatif, kemampuan, dan partisipasi mereka sendiri. Dengan
demikian, konsep pengembangan masyarakat yang di dalamnya terkandung
makna partisipatif harus benar-benar dapat memberdayakan masyarakat
yang ditunjukkan oleh kemampuan mereka menolong diri mereka sendiri (
self-help ) dan dapat bersaing secara efektif dengan kelompok masyarakat
lainnya.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis
dan kontinyu di luar sistem persekolahan, melalui hubungan sosial
untuk membimbing individu, kelompok dan masyarakat agar memiliki
sikap dan cita-cita sosial ( yang efektif ) guna meningkatkan taraf
hidup dibidang materil, sosial dan mental dalam rangka usaha
mewujudkan kesejahteraan sosial.
2. Tujuan pendidikan nonformal adalah :
a) Menggambarkan pencapaian tingkat mutu yang seharusnya
dicapai dalam program pembelajaran.
b) Mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta
relevan dengan kebutuhan pemberdayaan masyarakat.
c) Diputuskan oleh pengelola dan/atau penyelenggara pendidikan
nonformal dengan memperhatikan masukan dari berbagai pihak.
d) Disosialisasikan kepada segenap pihak yang berkepentingan.
3. Obyek atau sasaran pendidikan nonformal dilihat dari segi pelayanan,
segi sasaran khusus, segi pranata, segi layanan masyarakat, segi
pelembagaan, dan segi pengajaran.
4. Peran pendidikan nonformal untuk mendidik begitu banyak petani,
pekerja, usahawan kecil dan lainnya yang tidak sempat bersekolah dan
mungkin tidak memiliki keterampilan maupun pengetahuan yang
5. dapat diamalkan bagi dirinya sendiri maupun bagi pembangunan
bangsanya
6. Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan
ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini
mencerminkan paradigma baru pembangunan, yang bersifat people
centred, participatory, empowering, and sustainable.
B. SARAN
Keterlibatan sumberdaya manusia yang berkualitas tinggi sungguh
sangat menentukan, utamanya dalam mengejar ketertinggalan negara ini
dari negara- negara lain. Keberhasilan pembangunan itu snagat ditentukan
oleh faktor manusia, dan manusia ynag menentukan keberhsilan
pembangunann itu haruslah manusia yang mempunyai kemampuan
membangun. Dan kemampuan membangun hanya dapat dicapai melalui
pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya mengupayakan tidak
hanya tercapainya pendidikan formal, namun juga pendidikan non formal
agar terciptanya dan berkembangnya sumber daya yang religius, penuh
kesadaran, berkepribadian, cerdas, berperilaku serta memiliki kreativitas
tinggi sehingga siap untuk mengisi pembangunan.




DAFTAR PUSTAKA
Hilal, Syamsu.2010.Pendidikan Non Formal.(Online).
(http://syamsuhilal.blogspot.com, diakses 5 Mei 2013)
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 49 tentang
Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Non
Formal.2007.Jakarta:Mendiknas.
Sudarsana, I Ketut.2006.Peranan Pendidikan Anak Usia Dini Sebagai
Satuan.Pendidikan Non Formal Dalam Membentuk Karakter Anak.(Online).
(http://www.paudni.kemdikbud.go.id, diakses 5 Mei 2013).
Suharsaputra, Uhar.2006.Peran Pendidikan Non Formal.(Online).
(http://www.paudni.kemdikbud.go.id, diakses 5 Mei 2013).