Anda di halaman 1dari 20

DARAH

LAPORAN PRAKTIKUM
Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah
Anatomi Fisiologi Manusia
yang dibina oleh Drs. Soewolo, M. Pd, Nuning Wulandari S.pd, M. Pd

Oleh:
Kelompok 2/ Offering G
Arif Lailatul F.
(120342422474)
Hestin atas Asih
(120342422468)
Kharirrotun Nafiah (120342422503)
Nina Mufida
(120342422469)
Novia hylsandy
(120342422485)
Pramesti Dwi R.
(120342422485)
Yuniar
(120342422488)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2014

A.
1.
2.
3.
4.

TUJUAN
Menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih.
Menguji kecepatan pembekuan darah.
Menguji golongan darah.
Memperkirakan kadar hemoglobin dalam darah.

B. DASAR TEORI
Darah merupakan cairan kental, empat sampai lima kali lebih kental dari
air sehingga cenderung mengalir lebih lamban daripada air. darah sedikit lebih
berat daripada air, didalam tubuh suhunya dipertahankan pada 38 0C, memiliki pH
antara 7,35-7,45, dan isotonik pada 0,85% NaCl. Darah merupakan 8% berat total
tubuh. Volume darah pada pria seberat 70kg kira-kira 5,6 liter (Soewolo.dkk,
2003).
Secara mikroskopik, darah tersusun atas dua bagian yaitu bagian yang
berbentuk elemen atau sel-sel darah dan bagian cair atau plasma tempat sel-sel
darah berada. Bagian berbentuk elemen meliputi eritrosit atau sel darah merah,
leukosit atau sel darah putih, dan trombosit atau keping darah (Soewolo.dkk,
2003).

Sumber: Sherwood, 2010


1. Eritrosit
Secara mikroskopik, eritrosit atau sel darah merah Nampak sebagai
lempengan bikonkaf dengan rata-rata diameter 8,1 m, ketebalan maksimum
2,7 m dan ketebalan minimum bagian tengah lempangan kira-kira 1,0 m.
sel darah merah tidak berinti dan tidak bereproduksi atau melakukan
metabolisme ekstensif. Air yang terkandung 70% dari volume sel, dan
hemoglobin (Hb) menempati 25% volume, sedangkan kandungan lain seperti

protein dan lipid, termasuk kolesterol menempati sisa volume (5%). Eritrosit
berfungsi mengangkut oksigen yang terikat pada hemoglobin. Selain itu,
eritrosit juga berfungsi sebagai pengatur keseimbangan asam-basa dalam
tubuh (Soewolo.dkk, 2003).
Konsentrasi eritrosit selalu mendekati normal, setiap perubahan dari
nilai normal digunakan sebagai indikator bagi beberapa gangguan. Nilai
normal konsentrasi eritrosit menggambarkan kenyataan bahwa laju produksi
dan destruksi sel benar-benar seimbang. Pada pria sehat mempunyai kira-kira
5 juta eritrosit dalam 1 mm3 darah. Wanita sehat mempunyai kira-kira 4,5 juta
eritrosit dalam setiap mm3 darah (Soewolo.dkk, 2003).
Untuk menjaga jumlah normal eritrosit, tubuh harus menghasilkan sle
dewasa baru pada kecepatan 2 juta setiap detik. Pada orang dewasa, produksi
eritrosit mengambil tempat di jaringan myeloid yang terletak pada sumsum
tulang dari tulang kranial, rusuk, dada, corpus vertebrae, epifisis proksimal
humerus dan femur. Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoesis.
Eritropoesis dimulai dari transformasi hemositoblas menjadi rubriblas.
Selanjutnya sel intermediet lain terbentuk sampai tahap akhir pembentukan
eritrosit berhasil (Soewolo.dkk, 2003).
Anemia memiliki beberapa sebab. Umumnya timbul karena defisiensi
besi, asam folat, asam amino tertentu, atau vitamin B12. Anemia pernicious
merupakan ketidakmampuan menghasilkan faktor intrinsic karena kerusakan.
Anemia nutrisional merupakan anemia yang disebabkan oleh ketidakcukupan
diet (Soewolo.dkk, 2003).
2. Leukosit
Leukosit memiliki inti, tidak mengandung Hb, lebih sedikit
dibanding dengan eritrosit yaitu antara 5000-9000 sel/mm 3 darah. Leukosit
dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu leukosit bergranula (granulosit)
merupakan perkembangan dari sel-sel sumsum tulang merah. Granulosit ada
3 macam yaitu: neutrofil, basofil, dan eosinofil. Sedangkan leukosit tidak
bergranula (agranulosit) merupakan leukosit yang berkembang dari jaringan
limfoid dan myeloid. Agranulosit ada 2 macam yaitu: limfosit dan monosit.
Secara umum leukosit berfungsi untuk melawan peradangan dan infeksi.
Beberapa leukosit secara aktif melakukan fagositosis, mencerna bakteri dan
sisa bahan mati (Soewolo.dkk, 2003).

Darah seorang yangs sehat normal akan memberikan gambaran


perhitungan sebagai berikut: neutrofil 60%-70%; eosinofil 2%-4%; basofil
0,5%-1%; limfosit 20%-25%; monosit 3%-8%. Jumlah neutrofil yang besar,
menunjukkan kerusakan disebabkan oleh oleh serbuan bakteri juga besar.
Meningkatnya jumlah monosit umumnya menunjukkan infeksi kronis (lama)
seperti tuberculosis. Jumlah eosinofil yang banyak menunjukkan kondisi
alergi atau akibat parasit karena eosinofil bertugas melawan allergen (agen
penyebab alergi). Istilah leukositosis mengacu pada peningkatan jumlah
leukosit. Bila peningkatan melebihi 10.000, biasanya terjadi kondisi patologik
sedangkan jumlah rendah dibawah normal leukosit disebut dengan leukopenia
(Soewolo.dkk, 2003).
Pembekuan darah adalah bagian berguna dari respon hemostatik
untuk mencegah kehilangan darah dalam jumlah besar. Pembekuan darah
tergantung pada baiknya kesetimbangan antara sejumlah faktor yang
berkaitan. Terganggunya keseimbangan dapat berakibat fatal. Misalnya: bila
darah membeku dengan mudah dapat berakibat thrombosis yaitu pembekuan
darah dalam pembuluh darah yang tidak rusak. Atau bila darah memerlukan
waktu terlalu lama untuk membeku dapat berakibat hemorrhage kehilangan
banyak darah (Soewolo.dkk, 2003).
Sistem pembekuan darah

dalam

hemostatik

adalah

untuk

memperkuat penutupan keeping darah dengan pembentukan jaring benangbenang fibrin tak larut yang diperjalin pada tempat luka. Proses pelekatan dan
agregasi keeping darah merupakan proses awal, kemudian diikuti
pembentukan jaringan fibrin. Dua peristiwa ini dikendalikan sehingga
berlangsung pada waktu yang tepat dalam urutan dan lokasi yang benar.
Pembekuan darah terdiri dari reaksi biokimia khusus. Setiap hasil reaksi
merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi berikutnya. Enzim akhir yang
dihasilkan adalah trombin. (Soewolo.dkk, 2003).
Penggolongan darah merupakan suatu sistem klasifikasi darah yang
berdasar pada keberadaan protein sel khusus pada permukaan luar plasma
membrane sel darah merah. Protein semacam ini adalah antigen dan
aglutinogen yang bersifat genetik (Basoeki, 1999). Penggolongan darah ABO
didasarkan pada dua aglutinogen yang disimbulkan dengan huruf A dan B.

Seseorang yang eritrositnya membuat aglutinogen A saja dimasukkan sebagai


golongan darah A. yang eritrositnya hanya membuat aglutinogen B,
dimasukkan sebagai golongan darah B. Seseorang yang eritrositnya membuat
aglutinogen A dan B adalah golongan darah AB sedangkan yang eritrositnya
tidak membuat aglutinogen adalah golongan darah O.

Sumber: Sherwood, 2010


Sel darah manusia mengandung pigmen darah yang disebut hemoglobin,
yang berfungsi mengikat dan mengangkut oksigen. Untuk mengukur kapasitas
oksigen yang diangkut darah, maka perlu ditentukan kandungan oksigen didalam
darah. Oksigen mampu berkombinasi secara reversibel dengan heme dari molekul
hemoglobin, ditangkap oleh darah dalam paru-paru dan kemudian dibebaskan
kedalam jaringan. Jadi, semakin banyak kandungan hemoglobin dalam sel darah
merah maka semakin banyak pula oksigen yang dapat diangkut. Secara normal,
darah mengandung 12-16gr hemoglobin per 100ml darah. Pria memiliki
kandungan hemoglobin sedikit lebih tinggi (14-18gr) daripada wanita (12-16gr)
(Basoeki, 1999).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Menghitung sel darah merah dan sel darah putih:
Hemasitometer, larutan Hayem untuk sel darah merah, 1% asetat untuk sel
darah putih, pipet sel darah merah, pipet sel darah putih, mikroskop cahaya,
blood lancet, alkohol 70% dan kapas.

2. Menguji kecepatan pembekuan darah:


Kaca benda, stopwatch, jarum pentul, blood lancet.
3. Menguji golongan darah:
Serum anti A, serum anti B, kaca benda, tusuk gigi.
4. Memperkirakan kadar hemoglobin:
Hb meter scale Tallquist, blood lancet (lanset), alkohol 70%, kapas bersih dan
kain lap yang bersih.

E. DATA PENNGMATAN
Tabel 1. Menghitung Sel Darah Putih
Perlakuan
Menghitung sel darah putih

Hasil
W1=11, W2= 13, W3=15, W4=20
W = W1+W2+W3+W4
=11+13+15+20
=59
Jumlah/mm3= 25x59
= 1.475 butir/mm3

Tabel 2. Menghitung Sel Darah Merah


Perlakuan
Menghitung sel darah merah

Hasil
X = X1+X2+X3
Tanpa pengenceran
= (1/5)x(1/5)x(1/10)x5xX= 1/50X
Dengan pengenceran
= 50x200= 10.000X
= 10.000x730
= 7.300.000 butir/mm3

Tabel 3. Menguji Kecepatan Pembekuan Darah


Perlakuan
Menguji

Waktu
Dengan Na Oksalat
kecepatan 37.79 detik

Tanpa Na Oksalat
4 menit 15 detik

pembekuan darah

Tabel 4. Menguji Golongan Darah


Perlakuan
Menguji
darah

Presentase
Laki-laki
golongan B

Perempuan
A

-serum A tidak

-serum A menggumpal

menggumpal

-serum B tidak

-serum B menggumpal

menggumpal

Tabel 5. Memperkirakan Kadar Hemoglobin


Perlakuan
Memperkirakan kadar Hb

Hasil
60%
9,4 gms -> Actual Anemia
Subjek : Laki-laki

Memperkirakan kadar Hb

Hasil pencocokan
sample darah
dengan skala Hb
yang
menunjukkan
kadar 60%

F. ANALISIS DATA
1. Menghitung Sel darah putih
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dari 5 sisi kotak
hemasitometer diketahui jumlah sel darah putih yang berada pada kotak pertama
terdapat 11 butir, di kotak kedua 13 butir, di kotak ketiga 15 butir, dan dikotak
kelima terdapat 20 butir sel darah putih. Jumlah dari seluruhnya adalah 59 butir
sel darah putih. Dari hasil yang didapat kemudian dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut.

Pengenceran:
Volume darah (1ml) x as. Asetat (10) ml = 10 ml
Volume darah
Volume sel darah putih (1 mm2) x 4 daerah (4mm2) x tinggi cairan dibawah
kaca penutp (0,1 mm) = 0,4 mm3
Jumlah sel darah putih
X.10=4/10 mm3
1mm3 = 100X/4
X =25x59

X =1.475butir
Jadi dari hasil penghitungan, diketahui bahwa terdapat 1.475 butir sel
darah putih yang ditemukan pada darah.

2. Menghitung sel darah merah


Pada percobaan yang kedua, yakni di mana praktikan diminta untuk
menghitung sel darah merah yang ada pada bidang pandang sel darah merah pada
hemasitometer. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh total sel darah merah yang
merupakan akumulasi dari 5 bidang padang yakni 730 sel darah merah. Pada
kotak/ bidang pandang pertama didapat jumlah sel darah merah 104, bidang kedua
didapat jumlah sel darah merah sebanyak 108 sel, bidang ketiga 93 sel, bidang
keempat 93 sel dan bidang yang terakhir sebanyak 91 sel darah merah. Dan dari
data tersebut dicari jumlah sel darah merah dalam 1 mm3 (cc) dengan rumus:
1 mm3 = 50X x 200
dengan X merupakan total sel darah merah dari kelima bidang tadi yakni 489 sel,
maka:
1 mm3 = 50X x 200
1 mm3 = 50 (489) x 200
1 mm3 = 4.800.000 sel/mm3
3. Menguji golongan darah
Dari hasil percobaan yang kami lakukan untuk mengetahui penggolongan
darah, kami mendapatkan data pada subjek perempuan bahwa terjadi
penggumpalan pada darah yang ditetesi serum A dan tidak terjadi penggumpalan
pada darah yang ditetesi serum B. Dari data tersebut dapat disimpulkan darah
tesebut golongannya adalah A. Sedangkan pada laki-laki terjadi penggumpalan
darah pada saat ditetesi dengan serum B, pada darah yang ditetesi serum A tidak
terjadi penggumpalan, sehingga dapat disimpulkan bahwa golongan darahnya
adalah B.

4. Kecepatan pembekuan darah

Pada percobaan kali ini kami menguji kecepatan pembekuan darah. Kami
membandingkan kecepatan pembekuan darah yang telah diberi anti koagulan dan
darah tanpa anti koagulan. Dari percobaan kami mendapatkan data bahwa darah
yang diberi anti koagulan membeku setelah diaduk-aduk setelah 37,79 detik,
sedangkan darah tanpa anti koagulan beku setelah diaduk selama 4 menit 15 detik.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa darah yang diberi anti koagulan akan
membeku lebih cepat daripada darah tidak yang diberi anti koagulan.
5. Memperkirakan kadar Hb
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan terhadap kadar Hb dari salah
satu anggota kelompok kami, kemudian dicocokkan dengan skala Hb, terlihat
bahwa warna darah anggota kelompok tadi cocok dengan warna merah yang
menunjukkan kadar Hb dalam darah 60%, dengan 9.40 gms yaitu actual anemia.
G. PEMBAHASAN
1.
Menghitung Sel Darah Putih
Darah terdiri dari 2 bagian, yaitu sel-sel darah (butir-butir darah) dan
cairan darah (plasma darah). Sel-sel darah merupakan bagian darah yang
empunyai bentuk. Ada 3 macam sel darah yaitu sel drah merah (eritrosit), sel
darah putih (lekosit) dan keping darah (trombosit). Leukosit mempunyai
peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat
asingan. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses
diapedesis lekosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara selsel endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung. (Effendi, 2003).
Tidak seperti eritosit, leukosit mempunyai inti dan tidak mengandung Hb.
Jumla eritrosit lebih sedikit daripada eritrosit, yaitu antara 5000-9000
permilimeterkubik darah. Ada lima jenis leukosit yang dipisahkan menjadi
dua kelompok. Kellompok pertama adalah kelompok leukosit yang
sitoplasmanya bergranula disebut granulosit. Grnulosit ini merupakan
perkembangan dari sel-sel sumsum tulang merah. Ada tiga macam leukosit
bergranula, yaitu neutrofil, basofil, dan eosinofil. Kelompok kedua adalah
kelompok leukosityang sitoplasmanya tidak bergranula, disebut agranulosit.

Agranulosit berkembang dari jaringan limfoid dan meiloid. Intinya lebih


kurang bulat. Dua jenis leukosit agranula adalah limfosit dan monosit.
(Soewolo, 2005)
Leukosit diproduksi dalam simpul limfa (lymph nodes), limfa dan sumsum
tulang merah. Lama hidup leukosit sangat bervariasi, ada yang hany
berbilangan jam (eosinofil, basofil, neutrofil) beberapa sampai berpuluh jam,
beberapa hari (limfosit), dan beratus hari (monosit), limfosit yang diproduksi
dengan lambat berusia panjang (100-300 hari). (Susilowati, 1999)
Pada praktikum yang dilakukan hasil dari perhitungan sel darah putih pada
daerah bidang pandang adalah 1475 butir/mm3, dengan jumlah sel darah yang
ditemukan pada setiap kotak pada bidang pandangnya adalah: pada kotak I
sebanyak 11, kotak II sebanyak 13, kotak III sebanyak 15 dan kotak IV
sebanyak 20. Jumlah total secara keseluruhan sel darah putih satu bidang
pandang tersebut merupakan hasil kali dari 4/10 mm dari kotak pada satu
bidang pandang dengan jumlah sel darah putih pada tiap kotak dikalikan 20,
sehingga jumlah sel darah darah putih pada suatu satu bidang pandang
tersebut adalah sebanyak 1475 butir/ mm3. Padahal menurut Soewolo jumlah
leukosit lebih sedikit daripada eritrosit yaitu antara 5000-9000 sel
permilimeterkubik darah. Sedangkan pada percobaan yang kami lakukan
terhitung 1475 butir/mm3, di mana jumlah ini berada di bawah jumlah
minimum yang dinyatakan oleh Soewolo (2005). Hal ini dapat disebabkan
karena adanya kesalahan perhitungan sel darah pada setiap kotaknya, atau
bisa saja ketika kita mengambil darah dengan dihisap masih terdapat
gelembung yang tidak terlihat oleh pengamat. Adanya gelembung ini dapat
menyebabkan ketidak sempurnaan ketika dikocok dengan asam asetat,
sehingga hal ini mempengaruhi terdapat jumlah sel darah putih.
2. Menghitung Sel Darah Merah
Darah terdiri dari 2 bagian, yaitu sel-sel darah (butir-butir darah) dan
cairan darah (plasma darah). Sel-sel darah merupakan bagian darah yang
empunyai bentuk. Ada 3 macam sel darah yaitu sel drah merah (eritrosit),
sel darah putih (lekosit) dan keping darah (trombosit) (Wulangi, 1993).

Eritrosit berfungsi mengangkut oksigen yang terikat pada hemoglobin.


Walaupun fungsi Hb yang utama adalah membawa oksigen dan
karbondioksida, ia juga berperan dalam pengaturan keseimbangan asambasa dalam tubuh (Soewolo, 2003).
Secara mikroskopik, eritrosit atau sel darah merah nampak sebagai
lempengan bikonkaf dengan rata-rata diameternya 8,1 m, ketebalan
maksimum 2,7 m dan ketebalan minimum di bagian tengah lempengan
kira-kira 1,0 m. Sel darah merah tidak berinti dan tidak dapat bereproduksi
atau melakukan metabolisme ekstensif. Air menempati 70% dari volume sel
dan Hb menempati 25%, sementara kandungan lain seperti pprotein dan
lipid, termasuk kolesterol menempati sisa volume 5% (Soewolo, 2003).
Penghitungan sel darah merah dilakukan dengan menggunakan
hemasitometer dan larutan Hayem. Larutan Hayem berfungsi untuk
mengencerkan darah agar sel-sel darah merah tidak terlalu berdesakan
sehingga memudahkan dalam penghitungan, larutan Hayem juga bersifat
isotonik terhadap cairan di dalam sel darah merah dan dapat menghancurkan
sel-sel darah yang lainnya, yaitu sel darah putih dan keping darah (Wulangi,
1993).
Pada hemasitometer terdapat dua pipet yaitu pipet untuk sel darah
putih dan pipet sel darah merah. Penghitungan sel darah merah pada
praktikum kali ini menggunakan pipet sel darah merah untuk menghisap
darah dari ujung jari yang sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol lalu
ditusuk menggunakan blood lancet. Darah yang keluar dari dari ujung jari
yang telah ditusuk dengan blood lancet dihisap sampai batas 0,5 pada pipet
sel darah merah. Selanjutnya sel darah merah diencerkan 200 kali dengan
larutan Hayem sampai batas 101 pada pipet. Setelah diencerkan, campuran
darah dengan Hayem dalam pipet dikocok dengan arah horizontal agar
darah dan larutan pengencer benar-benar menjadi homogen. Setelah itu
beberapa tetes larutan darah dibuang dan tetes berikutnya diteteskan di
ruang hitung hemasitometer yang telah ditutup dengan kaca penutup.
Penghitungan dilakukan pada 5 daerah penghitungan darah merah. Pada
praktikum menghitung sel darah merah yang telah dilakukan, jumlah sel
darah merah yang dihitung sebanyak 7.300.000 butir/mm3.

Konsentrasi eritrosit selalu mendekati normal, setiap perubahan nilai


normal digunakan sebagai indikator, nilai normal konstan konsentrasi
eritrosit menggaambarkan kenyataan bahwa laju produksi dan destruksi
benar-benar seimbang. Pria sehat mempunyai kira-kira 5 juta eritrosit dalam
setiap mm3 darah. Wanita sehat mempunyai kira-kira 4,5 juta eritrosit dalam
setiap mm3 darah. Lama hidup eritrosit mengikuti distribusi normal dengan
rata-rata lama hidup kira-kira 127 hari (Soewolo, 2003).
3. Menguji Kecepatan Pembekuan Darah
Menurut Soewolo (2003) darah manusia secara normal berisi 150.000
400.000 keping darah setiap milimeter kubik. Dalam sirkulasi nampak sebagai
lempeng tak berinti dengan diameter 2,5 mikrometer. Bila darah dikumpulkan
dalam sebuah tabung reaksi, darah akan berubah menjadi masa merah seperti
jeli dalam waktu kira kira 10 menit. Setelah itu terlihat cairan jernih kuning
dari bekuan darah yang menyusut. Hal ini terjadi karena protein plasma
fibrinogen oleh kerja trombin telah diubah menjadi benang benang fibrin
tidak larut yang berjalin dan kusut membentuk jaring jaring. Selanjutnya
benang benang menangkap sel sel dan keping darah. Trombin juga
merangsang keping darah yang ditangkap untuk menyusut, sehingga benang
benang fibrin ditarik bersama lebih erat.
Jika seseorang luka, keping darah mengalir bersama darah luka, pada
waktu menyentuh permukaan luka akan pecah dan terbentuk trombokinase,
dengan bantuan ion kalsium akan mengubah protrombin (dalam plasma darah)
menjadi trombin. Trombin yang terbentuk akan mengubah fibrinogen menjadi
fibrin (benang-benang halus) yang akan menutup luka sehingga perdarahan
berhenti (Anonim, 2009).
Pada pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa
kecepatan pembekuan darah dengan ditambahkannya Natrium oksalat adalah
37, 79 detik. Sedangkan Pada perlakuan tanpa pemberian Natrium Oksalat
adalah 4 menit 15 detik. Di dalam plasma darah terdapat trombosit yang akan
pecah apabila menyentuh permukaan yang kasar. Jika trombosit pecah, enzim
tromboplastin yang dikandungnya akan keluar bercampur dengan plasma
darah. Selain trombosit, di plasma darah terdapat protombin. Protombin akan

diubah menjadi trombin oleh enzim tromboplastin. Perubahan protombin


menjadi trombin dipicu oleh ion kalsium (Ca2+). Protombin adalah suatu
protein plasma yang pembentukannya memerlukan vitamin K. Trombin akan
berfungsi sebagai enzim yang dapat mengubah fibrinogen menjadi fibrin.
Fibrinogen adalah suatu protein yang terdapat dalam plasma. Adapun fibrin
adalah protein berupa benang-benang yang tidak larut dalam plasma. Benangbenang fibrin yang terbentuk akan saling bertautan sehingga sel-sel darah
(Anonim, 2009).
Anonim (2009) menyatakan pemberian garam natrium oksalat dapat
mengendapkan ion Ca, sehingga pengubahan protrombin menjadi trombin
terhambat. Dari teori di atas dapat diketahui bahwa data yang didapatkan dari
praktikum tidak sesuai dengan teori. Seharusnya darah yang telah ditambahkan
Natrium Oksalat mempunyai rentang waktu pembekuan yang lebih lama
dibandingkan dengan perlakuan yang tidak diberikan Natrium Oksalat. Proses
pembekuan darah dapat dilihat pada skema di bawah ini:
Trombosit pecah

mengeluarkan

Trombokinase

Antihemofilia

Protombin

Vit K

Trombin

Ca 2+ (ion kalsium)

Fibrinogen

Fibrin

Ketidak sesuaian data pengamatan dan teori yang sudah didapatkan dapat
diakibatkan oleh ketidak cermatan praktikan pada saat pengamatan. Praktikan
berasumsi ketika darah yang terdapat pada keca benda ditaburi sedikit padatan
Natrium Oksalat dan kemudian diaduk maka darah dan kalsium oksalat akan
membentuk suatu gumpalan. Gumpalan ini disebabkan terlalu banyaknya taburan
Natrium Oksalat yang diberikan dan terlalu sedikitnya tetesan darah, sehingga
menyebabkan waktu yang diperlukan untuk menggumpalnya darah dan Natrium
Oksalat sangat singkat. Di sini praktikan kurang memahami dengan yang
dimaksud pembekuan darah. Padahal indikator yang diberikan pada pembekuan
darah adalah sampai keluarnya benang fibrin setelah selang beberapa menit.

4. Menguji Golongan Darah


Untuk menentukan golongan darah manusia itu bisa dengan sistem ABO
yang terdiri dari 4 golongan darah yaitu A, B, AB, dan O dan sistem yang lainnya
yaitu sistem rhesus yaitu ada 2 rhesus positif dan rhesus negatif. Soewolo (2003)
menyatakan golongan darah ABO didasarkan pada dua aglutinogen, yang
disimbolkan dengan huruf A dan B. Seseorang yang eritrositnya hanya membuat
aglutinogen A saja, dimasukkan sebagai golongan darah A. Sedangkan yang
eritrositnya membuat aglutinogen B saja dimasukkan dalam golongan darah B.
Seseorang yang eritrositnya membuat aglutinogen A dan B adalah golongan darah
AB. Individu yang eritrositnya tidak membuat aglutinogen adalah golongan darah
O. Plasma darah orang bergolongan darah A,B, dan O berisi antibodi tertentu
disebut aglutinin. Antibodi a (anti A), yang mengikat aglitinogen A, dan antibodi b
(anti B) yang mengikat aglutinogen B.
Dari analisis data yang dilakukan, pengujian golongan darah pada laki
laki didapatkan golongan darah B sedangkan pada perempuan didapatkan
golongan darah A. Individu yang memiliki golongan darah A dapat diketahui
setelah tes golongan darah menggunakan serum A dan serum B. Praktikan yang
memiliki golongan darah B, serum yang telah disediakan yaitu serum A dan B
yang kemudian ditetesi darah di atasnya maka setelah diaduk akan terlihat pada
daerah yang terdapat serum A tidak terlihat adanya penggumpalan sedangkan pada
daerah yang terdapat serum B terlihat adanya penggumpalan. Sedangkan
praktikan yang memiliki golongan darah A dengan cara sama seperti praktikan
yang memiliki darah B, pada daerah yang terdapat serum A terlihat adanya
penggumpalan sedangkan pada daerah yang terdapat serum B tidak terlihat
adanya penggumpalan.
5. Memperkirakan kadar Hb
Pada keadaan normal, darah mengandung 12 sampai 16 gr hemoglobin per
100ml darah. Pria memiliki kandungan hemoglobin 14-18 gr per 100ml darah.
Oleh karena itu, kadar hemoglobin pada laki-laki 60% (9,4gr/ml per 100ml
darah), termasuk dalam actual anemia. Menurut Dacie (1996) dalam Unsoed

(Tanpa Tahun) nilai normal kadar hemoglobin yaitu: dewasa laki-laki 13,5-18,0 gr
%; dewasa wanita 11,5-16,5 gr%; bayi (<3 bln) 13,6-19,6 gr%; umur 1 tahun
11,0-13,0 gr%; umur 12 tahun 11,5-14,8 gr%.

H.KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum Darah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Pada perhitungan sel darah putih pada percobaan yang kami lakukan terhitung
1475 butir/mm3, di mana jumlah ini berada di bawah jumlah minimum yang
dinyatakan oleh Soewollo. Menurut Soewolo (2005) jumlah leukosit lebih
sedikit daripada eritrosit yaitu antara 5000-9000 sel permilimeterkubik darah.
2. Pada perhitungan sel darah merah dapat dilakukan dengan menggunakan
hemasitometer dan larutan Hayem. Pada pria sehat jumlah eritrosit kurang
lebih sebanyak 5 juta eritrosit/mm 3 darah sedangkan pada wanita sehat jumlah
eritrosit kurang lebih sebanyak 4,5 juta eritrosit/mm3 darah.
3. Kecepatan pembekuan darah rata rata pada manusia adalah 5 10 menit. Ada
hal hal yang menyebabkan pembekuan darah berlangsung lebih lambat
misalnya dengan penambahan Natrium Oksalat. Penambahan Natrium Oksalat
ini akan dapat mengendapkan ion Ca

2+

, sehingga pengubahan protrombin

menjadi trombin terhambat, jika tanpa penambahan Natrium Oksalat, trombin


yang terbentuk akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin (benang-benang
halus) yang kemudian akan menutup luka sehingga perdarahan berhenti.
4. Untuk menentukan golongan darah manusia itu bisa dengan sistem ABO yang
terdiri dari 4 golongan darah yaitu A, B, AB, dan O. Faktor yang menentukan
golongan darah manusia berupa antigen yang terdapat pada permukaan luar sel
darah merah disebut Aglutinogen. Zat anti terhadap antigen tersebut disebut zat
anti atau antibodi yang disebut Aglutinin. Pada praktikum ini dari 2 sampel
diperoleh, golongan darah A pada perempuan dan B pada laki laki.
5. Pada memperkirakan kadar hemoglobin praktikan memakai objek laki-laki
yakni diperoleh hasil , kadar hemoglobin pada laki-laki 60% (9,4gr/ml per
100ml darah), termasuk dalam actual anemia. Pada keadaan normal, darah
mengandung 12 sampai 16 gr hemoglobin per 100ml darah. Pria memiliki
kandungan hemoglobin 14-18 gr per 100ml darah.

I.DISKUSI
Berdasarkan praktikum kali ini dapat diperoleh sebagai berikut:
1.
Pada perhitungan sel darah putih pada percobaan yang kami
lakukan terhitung 1475 butir/mm3, di mana jumlah ini berada di bawah
jumlah minimum yang dinyatakan oleh Soewollo. Menurut Soewolo
(2005) jumlah leukosit lebih sedikit daripada eritrosit yaitu antara 50009000 sel permilimeterkubik darah.
2.
Pada perhitungan sel darah merah dapat dilakukan dengan
menggunakan hemasitometer dan larutan Hayem. Pada pria sehat jumlah
eritrosit kurang lebih sebanyak 5 juta eritrosit/mm3 darah sedangkan pada
wanita sehat jumlah eritrosit kurang lebih sebanyak 4,5 juta eritrosit/mm3
darah.
3.
Kecepatan pembekuan darah rata rata pada manusia adalah 5
10 menit. Ada hal hal yang menyebabkan pembekuan darah berlangsung
lebih lambat misalnya dengan penambahan Natrium Oksalat. Penambahan
Natrium Oksalat ini akan dapat mengendapkan ion Ca 2+, sehingga
pengubahan

protrombin

menjadi

trombin

terhambat,

jika

tanpa

penambahan Natrium Oksalat, trombin yang terbentuk akan mengubah


fibrinogen menjadi fibrin (benang-benang halus) yang kemudian akan
menutup luka sehingga perdarahan berhenti.
4.
Untuk menentukan golongan darah manusia itu bisa dengan sistem
ABO yang terdiri dari 4 golongan darah yaitu A, B, AB, dan O. Faktor
yang menentukan golongan darah manusia berupa antigen yang terdapat
pada permukaan luar sel darah merah disebut Aglutinogen. Zat anti
terhadap antigen tersebut disebut zat anti atau antibodi yang disebut
Aglutinin. Pada praktikum ini dari 2 sampel diperoleh, golongan darah A
pada perempuan dan B pada laki laki.
5.
Pada memperkirakan kadar hemoglobin praktikan memakai objek
laki-laki yakni diperoleh hasil , kadar hemoglobin pada laki-laki 60%
(9,4gr/ml per 100ml darah), termasuk dalam actual anemia. Pada keadaan
normal, darah mengandung 12 sampai 16 gr hemoglobin per 100ml darah.
Pria memiliki kandungan hemoglobin 14-18 gr per 100ml darah.

Tingkat ketelitiannya sedang karena yang diteliti sel darah yang


harus dilihat dengan mikroskop, serta beda mata beda pula fokusnya,
namun praktikum ini cukup teliti karena objek hanya satu orang dan
praktikan lebih dari satu sehngga dapat berdiskusi terlebih dahulu dan ada
pula pembimbing yang mendampingi. Kesulitan dalam praktikum ini saat
mengambil darah dengan pipet yang tidak boleh putus-putus karena
mempengaruhi volumenya dan saat menghitung sel darah di mikroskop
butuh ketelitian yang tinggi. Data yang kami peroleh sebagian sesuai
dengan teori dan ada yang tidak sesuai dengan teori seperti menguji
kecepatan pembekuan darah yang harusnya yang diberi Na oksalat lebih
lama pembekuannya dibanding yang tanpa diberi Na oksalat, karena
menurut teori Na oksalat ini menghambat pembekuan darah. Hal ini dapat
terjadi dikarena human error yang kurang teliti saat mengamati dan
menghitung waktunya.

DAFTAR RUJUKAN
Anonim. 2009. Darah. Balai Informasi Teknologi LIPI
http://www.bit.lipi.go.id diakses tanggal 2 Oktober 2014

(Online),

Basoeki, M. Soedjono. 1999. Anatomi dan Fisiologi Manusia (Buku Penuntun


Kegiatan Laboratorium). Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang
Effendi, Zukesti. 2003. Peranan Leukosit Sebagai Anti Inflamasi Alergik Dalam
Tubuh. USU digital librarySoewolo.dkk. 2003. Fisiologi Manusia. Jakarta:
JICA IMSTEP
Sherwood, Lauralee. 2010. Fundamentals of Human Physiology 4E. Cengage
Learning
Soewolo. 2003. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang
Soewolo, Soedjono B., dan Titi Y. 1999. Common Textbook (Edisi Revisi)
Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.
Unsoed. Tanpa Tahun. Hemoglobin.(online)
http://keperawatan.unsoed.ac.id/sites/default/files/BAB%202_p26-p54.pdf
diakses pada tanggal 3 Oktober 2014
Wulangi, Kartolo S. 1993. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. Bandung: Depdikbud
Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Tinggi.

LAMPIRAN

Gambar : Menguji Golongan darah

Gambar : Menguji Kecepatan Pembekuan Darah

Gambar : Pengambilan darah pada objek