Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PRAKTIKUM PERTANIAN BERLANJUT

EKSTERNALITAS SUB-DAS BRANTAS DESA KEKEP KECAMATAN BUMIAJI


KABUPATEN MALANG

Disusun Oleh :

Kelompok 5
Muhamad Nur Arrahman

125040200111008

Rere Erlambang

125040200111125

Khairul Muttaqien

125040201111071

Moch. Habibi Mahfud

125040201111108

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
MALANG
2014

1.

Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas bagian hulu telah banyak terjadi alih
fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian perkebunan apel dan tanaman
semusim.
Dari pengamatan yang telah dilakukan pada Sub-DAS Brantas bagian hulu di

Desa Kekep Kecamatan Bumiaji Kabupaten Malang, dapat diketahui bahwa telah
banyak terjadi alih fungsi lahan hutan menjadi lahan tanaman pertanian perkebunan
apel dan tanaman semusim (kubis dan wortel). Berdasarkan penuturan petani, alih
fungsi lahan ini terjadi pada lahan milik rakyat saja. Sedangkan lahan milik perhutani
tetap berupa lahan hutan.
Penduduk yang terus meningkat menjadi penyebab dari tingginya tekanan
penduduk terhadap daya dukung lahan. Oleh karena itu, masyarakat memanfaatkan
sumber daya alam untuk kepentingan mereka. Pemanfaatan sumber daya alam dan
lahan yang tidak mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan dapat menimbulkan
eksternalitas negatif, yaitu terjadi gangguan lingkungan daerah aliran sungai (DAS)
hulu. Berkurangnya keseimbangan lingkungan diindikasikan melalui adanya banjir,
erosi, longsor, dan degradasi lahan.
Degradasi kawasan hutan di DAS Brantas terjadi karena lahan hutan yang
seharusnya tetap dijaga kelestariannya tidak dikelola dengan pengambilan keputusan
bersama antara para pihak yang berkepentingan dengan keberadaan hutan, dalam hal
ini adalah masyarakat dan pemerintah. Tidak adanya pemanfaatan hutan, pemantauan,
dan rencana pemeliharaan yang disepakati bersama oleh masyarakat dan pemerintah,
menyebabkan terjadinya pengurangan hutan secara liar, dan terbatasnya kapasitas
pemerintah dalam pengelolaan hutan serta lemahnya penegakan peraturan membuat
hutan mendapat tekanan yang lebih berat dan degradasi meluas.
2.

Salah satu penyebabnya adalah karena tuntutan ekonomi masyarakat.


Terjadinya kerusakan lahan akibat alih fungsi lahan hutan ini salah satu

penyebabnya adalah tuntutan ekonomi masyarakat yang semakin tinggi. Adanya lahan
hutan dianggap belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pada jangka panjang
karena hasil yang didapat dari hutan kurang memiliki nilai ekonomi. Untuk itu, alih

fungsi lahan ini dianggap masyarakat lebih memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari
hasil yang didapatkan sehingga masyarakat mampu memperoleh pendapatan yang
lebih tinggi pula.

3.

Berikan penjelasan saudara, bagaimana untuk mengatasi persoalan


tersebut, dengan dikaitkan dengan mekanisme insentif dan disinsentif
(eksternalitas positif dan negatif).
Eksternalitas adalah dampak (positif atau negatif), atau dalam bahasa formal

ekonomi sebagai biaya (net cost) dan manfaat (benefit), dari tindakan satu pihak
terhadap pihak lain. Atau dengan kata lain eksternalitas terjadi jika kegiatan produksi
atau konsumsi dari satu pihak mempengaruhi utilitas (kegunaan) dari pihak lain secara
tidak diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas tidak menyediakan kompensasi
terhadap pihak yang terkena dampak. Eksternalitas ada dua yaitu eksternalitas positif
dan eksternalitas negatif.
Berdasarkan hasil pengamatan yang didapatkan dan juga hasil wawancara
dengan petani, eksternalitas negatif yang ditimbulkan yaitu adanya pencemaran akibat
kegiatan budidaya yang intensif, sehingga menyebabkan tanah maupun air menjadi
terkontaminasi bahan kimia. Hal ini mampu menurunkan produktivitas lahan secara
perlahan. Selain itu, akibat alih fungsi lahan ini juga mampu meningkatkan potensi erosi
sehingga lahan menjadi kurang subur dan kemampuan lahan dalam mendukung
pertumbuhan tanaman menjadi kurang optimal.
Dalam hal eksternalitas positif (intensif), diketahui bahwa pengaplikasian konservasi
mekanik yang berupa terasering dapat meminimalisir terjadinya erosi. Penerapan
konservasi mekanik terasering ini diaplikasikan pada seluruh daerah hulu, Dengan
adanya terasering ini maka intensitas erosi yang mungkin terjadi dapat diminimalisir, hal
ini secara tidak langsung akan berdampak bagi masyarakat daerah hilir yang tidak akan
mengalami resiko dari erosi tersebut. Pembangunan DAM yang digunakan sebagai
penampung air, dapat menekan volume air yang mengalir kebawah dan sebagai
cadangan persediaan air pada musim kemarau. Masyarakat hilir juga akan mendapat
dampak positif tidak langsung dari tindakan itu. Penerapan system agroforestry pada

lahan pengamatan juga terdapat sisi positif yaitu dari segi ekonomis maupun ekologis
bagi pemilik, pengelola lahan dan masyarakat sekitar lahan agroforestry. Dari segi
ekonomis, dapat menguntungkan dari sisi penambahan pendapaatn masyarakat; dari
segi ekologis dapat meningkatkan kemampuan dan kesehatan tanah dari segi fisik,
biologis dan kimia tanah, selain itu juga dapat berfungsi sebagai pengendalian erosi.
Sebagai upaya terhadap eksternalitas negatif maka pencegahan atau pengurangan
eksternalitas dilakukan dengan prinsip pencemar membayar kepada pihak yang
menderita (Payment for environmental services, PES). Sedangkan untuk eskternalitas
positif, diterapkan prinsip pengguna (pihak yang menikmati ) manfaat diharuskan
membayar kepada penyedia manfaat melalui pengalokasian sejumlah dana untuk
pengelolaannya ataupun dengan pemberlakuan pajak. Dengan demikian, maka alokasi
sumberdaya yang tidak efisien akan dapat dialokasikan dengan lebih efisien karena
adanya rasa saling berkepentingan antara pihak yang satu dengan yang lain. Selain itu,
kebijakan pemerintah harus benar-benar diterapkan secara tegas. Aturan hukum yang
lemah saat ini menjadikan masyarakat kurang memiliki perhatian terhadap kelestarian
hutan, sehingga untuk mebhindari akibat degradasi lahan yang lebih parah lagi,
pemerintah harus berperan aktif dengan mengikutsertakan masyarakat dalam kegiatan
pelestarian lingkungan dan memberikan ketegasan hukum.
Dalam menangani lahan-lahan kritis dan terdegradasi pada kawasan lindung
pada DAS Brantas maka harus direhabilitasi, sedangkan yang masih baik tutupan
vegetasi permanennya harus dilindungi dan dikonservasi untukmencapai kondisi
hidrologis dan kinerja DAS yang baik. Untuk mengatasi kendala terbatasnya dana
konservasi serta untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan yang
marjinal, maka dilakukan pengembangan pembayaran jasa hidrologis hutan (air) pada
DAS Brantas pada lokasi yang memungkinkan. sedangkan pada lokasi yang tidak bisa
dikembangkan skema pembayaran terhadap jasa lingkungan PES diberikan insentif
dari dana non PES, seperti diuraikan pada. Dengan demikian bentuk pengelolaan hutan
yang dikembangkan atau model PES yang dikembangkan, selain menjadi insentif
dalam pelaksanaan konservasi,
meningkatkan.

Selain itu juga merupakan instrument untuk

Agar pengelolaan hutan lestari, memberi manfaat (ekonomi) bagi masyarakat


sekitar dan fungsinya sebagai pengatur tata air berjalan baik, sehingga ada jaminan
ketersediaan sumberdaya air secara berkelanjutan sebagai persyaratan untuk
terlaksananya PES, maka masalah tidak adanya pengecualian pemanfaat (non
excludability) dalam pengelolaan kawasan hutan harus segera diatasi.