Anda di halaman 1dari 5

http://intisariherbal.

net/tag/manfaat-ikan-gabus/

Kandungan Vitamin Ikan Gabus Ternyata Lebih


Tinggi dari Ikan Salmon
October 16th, 2011

Ikan gabus sangat kaya albumin, jenis protein yang mempercepat


penyembuhan pascaoperasi dan melahirkan. Zat ini juga membantu pertumbuhan anak dan
menambah berat badan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Keluar dari rumah sakit pascaoperasi, seperti sehabis persalinan, merupakan fase yang cukup
kritis karena pasien harus berjuang untuk kesembuhannya. Kita sering mendengar larangan
mengonsumsi makanan tertentu. Informasi itu kadang masuk akal, tetapi sering membuat
bingung karena bertolak belakang satu sama lain.
Secara umum sebenarnya tidak ada pantangan makan bagi pasien pascaoperasi, kecuali bila
menderita alergi atau mendapat pesan khusus dari dokter. Sehabis menjalani operasi usus
misalnya, tentu kita tidak boleh mengonsumsi makanan yang sulit dicerna. Sebaliknya,
pascaoperasi persalinan, makan banyak merupakan solusi untuk mempercepat proses
penyembuhan, terutama makanan kaya protein, vitamin, dan mineral.
Zat gizi sangat diperlukan untuk membantu tubuh melakukan proses penyembuhan pascaoperasi, yaitu
memperbaiki sel dan jaringan. Zat gizi berkualitas juga diperlukan untuk memperkuat imunitas (sistem
kekebalan) tubuh agar tidak mudah terserang penyakit.
Salah satu bahan pangan yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi pascaoperasi adalah ikan gabus.
Ikan gabus banyak dijual di pasar tradisional dan modern, umumnya dalam bentuk kering asin. Karena
itu, ikan gabus lebih dikenal sebagai ikan asin yang bergengsi.
Jenis ikan gabus
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar dan rawa. Sering dijuluki ikan buruk rupa
karena kepalanya menyerupai kepala ular. Di negara Barat, ikan ini disebut snakehead, ditakuti karena
merupakan pemakan daging dan sangat agresif.
Di Indonesia, ikan ini dikenal dengan berbagai nama, yaitu kutuk (Jawa), haruan atau bogo (Sunda), dan
kocolan (Betawi). Ikan gabus jenisnya beragam, di antaranya gabus biasa (haruan), kehung, kerandang,
toman, dan gabus unggui.
Ikan gabus biasa atau haruan (Ophiocephalus striatus) paling sering ditemukan di pasar. Bentuknya
mendekati lonjong (bulat memanjang) dengan bagian pangkal ekor pipih. Tubuh bagian punggung
berwarna cokelat kehitaman dan bagian perut putih kecokelatan. Mudah ditemukan di perairan umum
seperti danau, rawa, sungai, juga bisa hidup di perairan payau di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan
Sulawesi.

Ikan gabus jenis toman (Ophiocephalus micropeltes), populer kedua setelah ikan gabus biasa. Bentuk
badannya memanjang dan bulat. Mulut berukuran lebar terletak di ujung hidung.
Jenis toman muda warna tubuhnya merah, setelah dewasa menjadi hijau kebiruan ke arah ungu.
Panjangnya dapat mencapai 65 cm. Hidupnya di rawa dan sungai, khususnya daerah banjir. Banyak
dikonsumsi di daerah Jawa, Sumatera Selatan, dan Kalimantan.
Dilihat dari kandungan gizinya, ikan gabus tidak kalah dari ikan air tawar lain yang cukup populer, seperti
ikan mas dan ikan bandeng. Kandungan gizi berbagai ikan air tawar dapat dilihat pada tabel.
Komposisi gizi per 100 gram beberapa ikan tawar dan payau
Jenis ikan
Mas
Bandeng
Tawes
Gabus
Betok
Lele

Protein (g)
16
20
9,7
20
17,5
17,7

Lemak (g)
2,0
1,3
5,1
1,5
5,0
4,8

Karbohidrat (g)
1,0
1,5
1,7
0,2
0,5
0,3

Mineral (g)
1,0
1,2
1,5
1,3
2,0
1,2

Air (g)
80
76
82
77
75
76

Seperti ikan lain, keunggulan ikan gabus adalah kandungan proteinnya yang cukup tinggi. Kadar protein
per 100 gram ikan gabus setara ikan bandeng, tetapi lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan lele
maupun ikan mas yang sering kita konsumsi.
Kandungan protein ikan gabus juga lebih tinggi daripada bahan pangan yang selama ini dikenal sebagai
sumber protein seperti telur, daging ayam, maupun daging sapi. Kadar protein per 100 gram telur 12,8
gram; daging ayam 18,2 gram; dan daging sapi 18,8 gram. Nilai cerna protein ikan juga sangat baik, yaitu
mencapai lebih dari 90 persen.
Selain itu, protein kolagen ikan gabus juga lebih rendah dibandingkan dengan daging ternak, yaitu
berkisar 3-5 persen dari total protein. Hal tersebut yang menyebabkan tekstur daging ikan gabus lebih
empuk daripada daging ayam ataupun daging sapi.
Rendahnya kolagen menyebabkan daging ikan gabus menjadi lebih mudah dicerna bayi, kelompok
lanjutt usia, dan juga orang yang baru sembuh dari sakit. Bayi memerlukan asupan protein tinggi, tetapi
belum memiliki saluran pencernaan yang sempurna.
Albumin pembentuk sel
Keunggulan protein ikan gabus lainnya adalah kaya akan albumin, jenis protein terbanyak (60 persen) di
dalam plasma darah manusia. Peran utama albumin di dalam tubuh sangat penting, yaitu membantu
pembentukan jaringan sel baru.
Tanpa albumin; sel-sel di dalam tubuh akan sulit melakukan regenerasi, sehingga cepat mati dan tidak
berkembang. Albumin inilah yang juga berperan penting dalam proses penyembuhan luka.
Di dalam ilmu kedokteran, albumin biasa dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh
yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan. Itulah sebabnya pasien pascaoperasi sangat
dianjurkan mengonsumsi ikan gabus, dengan harapan dapat membantu proses penyembuhan di dalam
tubuh.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Dr. Nurpudji A. Taslim dari Universitas Hasanudin,
Makassar, menunjukkan kadar albumin pasien di RS Wahidin Sudiro Husodo Makassar, Sulawesi
Selatan, meningkat tajam setelah beberapa kali mengonsumsi ikan gabus. Hal tersebut mempercepat
kesehatan pasien.
Penelitian serupa juga pernah dilakukan pada bagian bedah RS Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Hasil uji
coba tersebut menunjukkan pemberian 2 kg ikan gabus masak setiap hari kepada pasien pascaoperasi
dapat meningkatkan albumin dari kadar yang rendah (1,8 g/dl) menjadi normal.
Penelitian yang dilakukan di Universitas Hasanudin juga menunjukkan pemberian ekstrak ikan gabus
selama 10-14 hari dapat meningkatkan kadar albumin darah 0,6-0,8 g/dl. Para ODHA (orang dengan
HIV/AIDS) yang diberi ekstrak ikan gabus secara teratur, dapat meningkatkan kadar albumin di dalam
darah, sehingga berat badannya akan naik secara perlahan.
Selain membantu pembentukan jaringan baru, albumin yang berada di dalam darah juga berfungsi untuk
mengatur keseimbangan air di dalam sel, memberikan gizi di dalam sel, dan membantu mengeluarkan
produk buangan. Albumin juga berfungsi mempertahankan pengaturan cairan di dalam tubuh.
Konsumsi Sejak Balita
Konsumsi ikan gabus sebaiknya mulai dibiasakan sejak balita. Pemberian makanan yang kaya albumin
ini bukan hanya dilakukan ketika anak menunjukkan gejala sakit, tetapi juga ketika sehat. Hal tersebut
berkaitan dengan fungsi albumin yang sangat penting.
Sebuah penelitian yang dilakukan Ida Samidah dari Balitbangda Sulawesi Selatan menunjukkan, balita
yang mengonsumsi ikan gabus secara teratur memiliki kadar albumin jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan balita yang tidak mengonsumsinya. Selain itu, balita yang mengonsumsi ikan gabus secara
teratur juga mengalami peningkatan berat badan dan kadar hemoglobin darah secara nyata.
Di pasaran, ikan gabus lebih banyak dijual dalam keadaan kering dan sudah diasinkan. Namun, tidak
sedikit pula ikan gabus dijual dalam keadaan segar. Ikan gabus kering atau dalam keadaan masih segar
mempunyai khasiat yang sama bagi kesehatan.
Hal yang perlu dicermati pada ikan gabus kering asin adalah kadar natriumnya yang tinggi. Natrium
tersebut berasal dari garam dapur (natrium klorida) yang digunakan untuk mengasinkan ikan. Konsumsi
natrium tinggi akan menyebabkan seseorang mudah mengalami hipertensi. Karena itu, penderita tekanan
darah tinggi disarankan untuk mengonsumsi ikan gabus segar.
Upaya sederhana untuk mengurangi kadar natrium pada ikan gabus kering asin adalah dengan cara
merendamnya dalam larutan garam encer, selama beberapa jam sebelum diolah lebih lanjut. Dengan
perendaman tersebut, garam dari konsentrasi tinggi (pada ikan asin) akan mengalir menuju konsentrasi
rendah (larutan garam encer), sehingga kadar garam pada ikan turun.
Mendukung Pertumbuhan Anak
Albumin bukan hanya dibutuhkan pasien yang sedang menjalani operasi, tetapi juga anak-anak yang
sedang dalam tahap pertumbuhan. Bila kadar albumin rendah, protein yang dikonsumsi anak akan
pecah. Protein yang seharusnya dikirim untuk pertumbuhan sel menjadi tidak maksimal.

Pada anak yang kekurangan albumin, seperti penderita tuberkulosis (TBC atau TB), daya kerja obat yang
diminum menjadi kurang maksimal. Sementara pada anak yang sedang berada di fase periode emas
pertumbuhan (golden age), yaitu usia 1-5 tahun, kekurangan albumin akan sangat mengganggu
pertumbuhan otaknya. Semakin sedikit albumin, pertumbuhan sel di otak akan semakin lambat. Sel otak
yang sedikit menyebabkan anak menjadi kurang cerdas.
Kadar albumin normal di dalam tubuh antara 3,5-4,5 g/dl. Kadar albumin yang kurang dari 2,2 g/dl
menunjukkan masalah pada tubuh. Umumnya masalah gizi yang diderita anak-anak bukan hanya
disebabkan oleh asupan yang kurang, tetapi juga karena zat gizi yang berhasil dibawa oleh darah sangat
sedikit, sehingga tidak bisa memberi gizi pada sel. Kasus seperti ini sering ditemukan pada anak-anak
yang mempunyai kebiasaan makan banyak dan cukup bergizi, tetapi pertumbuhannya sangat lambat.
Banyak orangtua yang kemudian mengaitkan lambatnya pertumbuhan anak dengan gejala cacingan.
Padahal, penyebab utama adalah karena kekurangan albumin. Kekurangan albumin menyebabkan zat
gizi di dalam darah tidak dapat disalurkan dengan baik ke sel-sel tubuh yang memerlukan.
Kekurangan gizi seperti ini pun berdampak terhadap penurunan daya kekebalan tubuh, sehingga anak
mudah sakit. Sementara pada anak yang menderita penyakit tertentu, semisal TBC, akan menjadi lebih
lama untuk disembuhkan.
Sebenarnya tubuh memiliki cadangan albumin yang bisa digunakan bila asupan albumin sangat kurang.
Cadangan albumin berada di dalam otot. Namun, bila albumin cadangan ini diambil terus-menerus, anak
akan mengalami gangguan pertumbuhan. Anak tersebut akan terlihat sangat kurus dan tubuhnya tidak
bugar.
Itulah sebabnya, bila anak kita sulit sekali tumbuh, sebaiknya bukan hanya diberi obat anticacing. Yang
paling penting, perhatikan asupan makanannya, apakah cukup bergizi atau tidak. Usahakan untuk selalu
menyajikan makanan yang kaya protein albumin, seperti ikan gabus.
Mudah Membuat Ekstrak Albumin
Tingginya kandungan albumin dari ikan gabus membuat ekstrak ikan ini mulai dilirik pihak rumah sakit
untuk diberikan kepada pasien pascaoperasi, yaitu sebagai pengganti serum albumin impor, yang sangat
mahal harganya.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Eddy Suprayitno, MS, dari Universitas Brawijaya,
Malang, telah membuktikan kemampuan ekstrak albumin dari ikan gabus untuk menggantikan serum
albumin impor.
Harga serum albumin impor mencapai jutaan rupiah per 10 milimeter. Padahal, dalam satu kali operasi
paling tidak dibutuhkan 30 milimeter. Penggunaan ekstrak ikan gabus ini diharapkan dapat mengurangi
biaya operasi pembedahan yang selama ini dikenal sangat mahal.
Membuat ekstrak ikan gabus dengan cara sederhana, dapat dilakukan sendiri di rumah tangga. Bagi
mereka yang belum bisa mengonsumsi makanan berat, dapat merebus ikan gabus hingga seluruh
sarinya keluar. Sari ikan tersebut kemudian disaring dan dikonsumsi seperti minum air. Agar tidak berbau
amis, sari kaldu ikan gabus dapat juga dicampur jeruk nipis.

Ikan gabus dapat diolah dengan berbagai cara. Masyarakat Sulawesi Selatan dan Papua biasa mengolah
ikan gabus menjadi sup asam pedas, sedangkan masyarakat jawa dan Sunda mengolahnya dengan cara
digoreng. Masyarakat Banjarmasin biasa menggunakan ikan gabus untuk membuat kerupuk. Variasi lain
yang dapat dilakukan adalah dalam bentuk abon atau disantan seperti ikan kakap. Untuk bayi, ikan
gabus dapat dipipil dan disajikan seperti nasi tim.
Ikan gabus sebaiknya disajikan dengan cara direbus, dikukus, ataupun dibuat sup. Ikan gabus goreng
atau bakar memang lebih nikmat, tetapi nilai gizinya turun. Selain itu, menggoreng biasanya dilakukan
dengan minyak berlebih, sehingga dapat meningkatkan kadar lemak pada ikan.
Padahal, ikan gabus termasuk bahan makanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi karena kadar
lemak dan kolesterolnya masih di bawah rata-rata. Bahaya lain yang mengintai dari ikan bakar dan
goreng adalah racun karsinogenik yang dapat mengganggu kesehatan tubuh.
Seperti ikan air tawar lainnya, salah satu kelemahan ikan gabus adalah memiliki bau lumpur. Namun, hal
tersebut bukanlah alasan untuk tidak mengonsumsinya mengingat manfaatnya sangat luar biasa. Untuk
menyiasatinya, ikan gabus dapat dicuci dengan air kapur. Bisa juga direbus lebih dulu dengan berbagai
rempah, seperti kunyit ataupun jeruk nipis, baru kemudian diolah sesuai selera.