Anda di halaman 1dari 14

PENDEKATAN KUANTITATIF FISIOLOGI TUMBUHAN (BE3101)

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI


TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN
Tanggal Pengumpulan : 26 November 2014

Disusun Oleh:
Kelompok 11
Afaf Setia Ashari

(11212008)

Linea Alfa Arina

(11212011)

Grace Hutahaean

(11212021)

Elice Aldora Djamu

(11212034)

Dosen:
Dr. Elvi Restiawaty

PROGRAM STUDI REKAYASA HAYATI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2014

Ringkasan
Dalam menunjang usia hidup dan keseimbangan regulasi metabolisme, tumbuhan
mengalami beberapa proses penting, meliputi fotosintesis, respirasi, transpirasi,
evaporasi, serta transpor air dan mineral. Fotosintesis dan respirasi berkaitan
dengan asimilasi karbon, sedangkan transpirasi, evaporasi, dan transpor airmineral merupakan proses yang bertujuan menjaga keseimbangan metabolisme.
Proses transpirasi penting dalam menjaga keseimbangan jumlah air yang masuk
keluar dari dan ke dalam tumbuhan dengan cara penguapan cairan (air) yang
terkandung pada jaringan tanaman dan pemindahan uap ke atmosfer. Akar dan
stomata daun berperan penting dalam proses ini karena jalur masuk-keluarnya air
tidak lepas dari 2 gerbang tersebut.
Efektivitas dan efisiensi proses transpirasi memiliki peran penting dalam metabolisme
tumbuhan. Oleh karena itu, para peneliti banyak fokus terhadap kuantifikasi laju
transpirasi dari berbagai macam tumbuhan dengan tujuan mendapatkan laju
transpirasi paling efisien bagi tumbuhan yang diteliti. Perbedaan struktur, habitat, cara
hidup dari tumbuhan juga mengindikasikan perbedaan proses transpirasi yang terjadi.
Akan tetapi, secara umum, faktor-faktor yang memengaruhi laju transpirasi antar
jenis tumbuhan tidak banyak berbeda. Faktor-faktor transpirasi yang akan diulas pada
tulisan ini meliputi: konsentrasi uap air dan potensial air melalui contoh tanaman
pinus, suhu melalui contoh tanaman kaktus, dan konduktansi stomata dengan contoh
tanaman jagung. Tujuan penulisan resume ini adalah untuk membahas fenomenafenomena yang tejadi pada berbagai jenis tumbuhan dan pengaruhnya terhadap
laju transpirasi serta keterkaitannya dengan model matematis laju transpirasi
tumbuhan.
Kata kunci: konduktansi, konsentrasi uap air, laju transpirasi, model matematis,
potensial air, suhu

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Untuk

aktivitas

hidupnya,

tumbuhan

mengambil berbagai materi

dari

lingkungannya. Sebaliknya, tumbuhan mengeluarkan zat-zat tertentu ke


lingkungannya. Zat-zat tertentu tersebut di samping merupakan sisa metabolisme

2. yang memang harus keluar dari jaringan, juga beberaapa jenis zat yang lain
dengan kepentingan tertentu. Dengan kata lain, tumbuhan melakukan pertukaran
zat. Seperti halnya pada semua organisme, tumbuhan memiliki atau
mengembangkan alat khusus untuk melakukan pertukaran zat. Alat ini dapat
berupa unit organela sel tertentu, sel tertentu yang mengalami modifikasi,
jaringan tertentu yang terspesialisasi mendukung fungsi pengeluaran zat atau
bahkan merupakan organisasi tingkat organ. Daun merupakan organ paling
penting untuk pertukaran gas. Pelepasan uap air melalui stomata disebut
transpirasi. Bentuk pelepasan air transpirasi bersama-sama dengan air yang
menempel pada permukaan daun dan batang, secara keseluruhan disebut
evapotranspirasi. Evaporasi merupakan pelepasan uap air dari benda-benda tak
hidup, seperti dari bebatuan, tanah, permukaan luar batang, dsb. Transpirasi
merupakan satu mekanisme untuk membuah kelebihan air atau air sisa
metabolisme. Laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor internal tumbuhan yang
bersangkutan, maupun berbagai faktor klimatik lingkungannya. Secara internal,
transpirasi dikontrol dengan pengaturan konduktivitas stomata, daya hisap daun,
dan tekanan akar, laju fotosintesis dan respirasi, serta jenis dan umur tanamannya.
Sedang faktor eksternal yang penting adalah suhu, kelembaban udara, kecepatan
angin dan beda potensial air antara tanah jaringan - atmosfer. Oleh bermacammacam tenaga penggerak dan daya kohesi, maka dalam tubuh tumbuhan
terbentuk aliran air atau benang air yang tak terputus. Di sisi lain, transpirasi
dapat dipandang sebagai salah satu mekanisme pelepasan kelebihan panas tubuh
tumbuhan, serta mendorong aliran air tanah masuk ke jaringan untuk
mendapatkan berbagai nutrisi yang dibutuhkan. Transpirasi juga merupakan
mekanisme kontrol keseimbangan dan stabilitas cairan tubuh. Stabilitas cairan

tubuh terjaga apabila volume penyerapan air sebanding dengan volume kebutuhan
air untuk mempertahankan turgiditas jaringan (tekanan hidrostatik) dan air untuk
mendukung metabolisme serta stabilisasi suhu jaringannya. Bila transpirasi
berlebihan atau tidak seimbang dengan aliran air yang masuk, maka jaringan akan
kehilangan turgiditasnya. Tumbuhan menjadi layu atau bahkan mengering dan
mati.
3. Proses hilangnya air akibat transpirasi merupakan salah satu komponen penting
dalam hidrologi karena proses tersebut dapat mengurangi simpanan air dalam badanbadan air, tanah, dan tanaman. Untuk kepentingan sumber daya air, data ini untuk
menghitung kesetimbangan air dan lebih khusus untuk keperluan penentuan
kebutuhan air bagi tanaman (pertanian) dalam periode pertumbuhan atau periode
produksi. Oleh karena itu data transpirasi sangat dibutuhkan untuk tujuan irigasi atau
pemberian air, perencanaan irigasi atau untuk konservasi air.
Secara umum, proses transpirasi yang terjadi di daun merupakan fungsi dari variabel
seperti konduktansi stomata, radiasi yang diterima tanaman, defisit jenuh udara, suhu
dan kecepatan angin. Laju transpirasi dapat diukur berdasarkan beberapa persamaan/
model matematika.

3.1. Rumusan Masalah


Apa saja yang menjadi faktor laju transpirasi tumbuhan?
Bagaimana cara menghitung laju transpirasi tumbuhan?
3.2. Tujuan
Menentukan korelasi fenomena hidup tumbuhan terhadap faktor

faktor laju transpirasi


Menentukan model untuk kuantifikasi laju transpirasi tumbuhan

4.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Transpirasi
Proses transpirasi meliputi penguapan cairan (air) yang terkandung pada jaringan
tanaman dan pemindahan uap ke atmosfir. Tanaman umumnya kehilangan air
melalui stomata. Stomata merupakan saluran terbuka pada permukaan daun
tanaman melalui proses penguapan dan perubahan wujud menjadi gas seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.1. Air bersama beberapa nutrisi lain diserap oleh akar
dan ditransportasikan ke seluruh tanaman. Proses penguapan terjadi dalam daun,
yang disebut ruang intercellular, dan pertukaran uap ke atmossfir dikontrol oleh
celah stomata (stomatal aperture). Hampir semua air yang diserap oleh akar
keluar melalui proses transpirasi dan hanya sebagian kecil saja yang digunakan
oleh tanaman.
5.

6.
7. Gambar 2.1 Skema stomata pada daun tanaman
8.
Transpirasi seperti evaporasi langsung tergantung pada suplai energi, tekan uap air
dan angin. Kandungan lengas tanah dan kemampuan tanah melewatkan air ke akar
juga menentukan laju transpirasi, termasuk genangan air dan salinitas air tanah.
Laju transprasi juga dipengaruhi oleh karakteristik tanaman, aspek lingkungan dan
praktek pengolahan dan pengelolaan lahan. Perbedaan jenis tanaman akan
memberikan laju transpirasi yang berbeda. Bukan hanya tipe tanaman saja, tetapi
juga pertumbuhan tanaman, lingkungan dan manajemen harus dipertimbangkan
dalam penentuan transpirasi.

Transpirasi pada dasarnya merupakan proses dimana air menguap dari tanaman
melalui daun ke atmosfer. Sistem perakaran tanaman mengadopsi air dalam jumlah
yang berbeda-beda dan ditransmisikan melalui tumbuhan dan melalui mulut daun
(Viesman dkk., 1972).
Menurut Sri Harto (1993), ada dua bentuk transpirasi yaitu :

Transpirasi stomata, dimana air lepas melalui pori-pori pada stomata daun
Transpirasi kutikular, dimana air menguap dari permukaan daun ke atmosfer
melalui kutikula.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses transpirasi adalah suhu, kecepatan angin,


kelembaban tanah, sinar matahari, gradien tekanan uap. Juga dipengaruhi oleh faktor
karakteristik tanaman dan kerapatan tanaman (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1994).

2.2 Transpirasi pada Berbagai Jenis Tumbuhan


2.2.1 Pinus sylvestris
Pinus sylvestris merupakan salah satu jenis tumbuhan yang tumbuh di
hutan temperata. Hutan ini umumnya ditumbuhi oleh konifer dan
broadleaves. Tumbuhan yang tumbuh di dalam hutan temperata umumnya
memiliki laju transpirasi yang rendah dan seragam. Hal ini disebabkan
oleh rendahnya kelembaban dan aktivitas stomata. Ketika kebutuhan
evaporasi tinggi, stomata cenderung tertutup dan ketika kebutuhan
evaporasi rendah stomata akan terbuka. Akibatnya, laju transpirasi bernilai
lebih kecil dari 4 mm hari -1 dan bernilai seragam setiap hari. Laju
transpirasi pada Pinus sylvestris adalah 355 mm tahun-1. (Baird dan Wilby,
1999)

2.2.2

Kaktus
Kaktus merupakan tanaman yang tumbuh pada habitat asli suhu tinggi atau
dengan kata lain gurun pasir. Daerah dengan kelembaban udara yang

tinggi tidak cocok dengan pertumbuhan kaktus. Adaptasi morfologi


tumbuhan kaktus sesuai dengan daerah dengan tingkat evaporasi dan
transpirasi

yang

tinggi.

Karakteristik

utama

dari

kaktus

dalam

mempertahankan hidupnya di habitat yang kering adalah morfologi kaktus


dengan sedikit stomata sehingga mereduksi terjadinya transpirasi. Karena
pada habitat dengan suhu tinggi, secara spontan laju transpirasi akan
meningkat dengan signifikan. Oleh karena kaktus harus mempertahankan
jumlah air di dalam tubuhnya, morfologi dan struktur stomata dari kaktus
berperan dalam proses adaptasi (Roberts, dkk., 2000).
2.3.3 Zea mays
Tanaman Zea mays atau tanaman jagung merupakan tanaman yang tumbuh
pada habitat dengan kondisi air yang sedang. Tidak terlalu banyak
pengairan, tidak juga kekurangan air seperti ada habitat kering. Komposisi
nutrisi yang diberikan selama pertumbuhan jagung berperan penting
terhadap hasil produksi. Dilihat dari morfologi tumbuhan jagung, jumlah
stomata yang dimiliki lebih sedikit dibandingkan dengan tumbuhan lain
yang berhabitat sama, yaitu sekitar 10.000 stomata, dengan rata-rata
tumbuhan lain memliki 58.000 stomata. Jumlah stomata ini akan
memengaruhi laju transpirasi tumbuhan jagung dan perubahan morfologi
karena pengaruh lingkungan juga akan mengubah laju transpirasi pada
tumbuhan jagung. Akibat sedikitnya jumlah stomata, laju transpirasi
jagung tergolong rendah dibandingkan dengan tumbuhan lain yang
memiliki jumlah stomata lebih banyak (Saxena, 2010).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Eksperimental
Dalam sebuah jurnal, dilakukan penelitian terhadap 3 spesies tumbuhan
Echinocereus yang tumbuh di Arizona bagian Tenggara; Echinocereus fendleri
(1120-1365 m), E. ledingii (1515-1970 m), dan E. triglochidiatus (2180-2880 m)
(Dinger & Patten, 1974). Setelah dilakukan penelitian ketiga spesies tersebut
terhadap laju transpirasi, didapat bahwa spesies Echinocereus fendleri mengalami
laju transpirasi paling efisien dan cepat, sedangkan hasil terendah dialami oleh
spesies E. triglochidiatus. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor penting dalam
laju transpirasi tumbuhan adalah suhu. Perbedaan ketinggian daerah tanaman itu
tumbuh menunjukkan pula perbedaan suhu daerah tersebut. Semakin tinggi
daerah, semakin rendah suhu, sehingga terbukti bahwa suhu yang tinggi akan
mempercepat laju transpirasi.
Sebuah jurnal penelitian oleh Gao, dkk. (2006) melakukan penelitian tentang
pengaruh Silikon terhadap laju transpirasi tanaman jagung. Penambahan Silikon
(Si) pada larutan nutrien tanaman jagung menurunkan laju transpirasi dan
konduktasi pada permukaan daun adaksial dan abaksial, sedangkan laju transpirasi
dan konduktansi pada kutikula tidak terpengaruh. Artinya, silikon berpengaruh
pada konduktansi stomata, tetapi tidak pada konduktansi kutikula. Silikon
mengubah struktur stomata, deposisi elemen, dan densitas stomata sehingga
resistansi berubah dan laju transpirasi menurun. Hal ini sesuai dengan pendekatan
kuantitatif pada model persamaan 3.2.5.
Pengukuran transpirasi dilakukan dengan penyusunan aliran air tanah-tumbuhan
dengan konduktansi tumbuhan dan potensial air daun minimal setiap harinya
konstan dan konduktansi dari tanah ke akar bervariasi. Pengukuran eksperimental
dilakukan dengan automatic shoot chamber dan pengukuran aliran getah. Hasil
yang didapat dari eksperimen dibandingkan dengan pengukuran secara matematis
melalui model pada persamaan 3.2.4.
3.2 Metode Numerik

3.2.1 Faktor konsentrasi uap air antar ruang udara luar-dalam daun
Laju transpirasi diprediksi berdasarkan perbedaan konsentrasi uap air antara ruang
udara dalam daun dan ruang udara di luar lapisan batas daun
Persamaan laju transpirasi (fluks air)
E=

W i W a
rw

Dengan :
E = laju transpirasi daun
W i = konsentrasi uap air dalam ruang udara daun ( mol m3
W a = konsentrasi uap air diluar lapisan batas daun ( mol m3 )
rw

= resistansi total terhadap fluks air yang melewati lapisan batas daun dan
1

permukaan daun ( s m

3.2.2 Laju transpirasi berdasarkan persamaan van Honerts


Persamaan van Honerts menyatakan laju transpirasi sebanding dengan perbedaan
potensial air di akar dan daun

Dengan :
ET =

laju

R = potensial air pada akar


L= potensial air pada daun
r p= resistansi
g = percepatan gtravitasi

transpirasi

3.2.3 Persamaan Penman-Monteith


Laju transpirasi juga bergantung pada resistansi kanopi dan faktor-faktor eksternal
berdasarkan persamaan Penman Monteith

Dengan :
ET

= laju transpirasi

L= kalor laten penguapan air


= suhu derivatif pada tekanan uap air jenuh
r 1 = resistansi boundary
r c = resistansi kanopi
Rv

= radiasi bersih di atas kanopi

c p = panas spesifik udara pada tekanan konstan


D = defisit jenuh udara
= konstanta psikrometrik

3.2.4 Model Soil-Plant Atmosphere Continuum: Hukum Darcy


Laju transpirasi daun berdasarkan model Soil- Plant-Atmosphere Continuum
(SPAC)

Dengan :
E = Laju transpirasi area daun
K s1 = konduktansi spesifik hidraulik daun melalui jalur tanah- akar- daun
s

- 1 = perbedaan potensial air antara tanah dan air

3.2.5 Faktor Konduktansi Stomata


Laju transpirasi dikaitkan dengan konduktansi stomata

Dengan :
Ep =laju/ fluks air melalui pori stomata
g p = konduktansi stomata
e* = tekanan uap air jenuh dalam udara
e t = tekanan parsial uap air dalam udara
P = tekanan atmosfer

BAB IV
KESIMPULAN

Ketinggian

traanspirasi salah satunya dari faktor suhu dan kelembaban.


Pengaruh penambahan zat yang dapat mengubah faktor konduktansi dan

morfologi stomata daun akan memengaruhi laju transpirasi


Jumlah air yang ditransportasikan dari tanah-akar

daerah

(altitude)

habitat

tumbuhan

memengaruhi

menuju

laju

daun

memengaruhi laju transpirasi pada stomata berdasarkan faktor perbedaan

potensial air
Model kuantifikasi laju transpirasi yang dapat digunakan secara general
adalah Penman Monteith, Darcy, dan model konduktansi stomata

DAFTAR PUSTAKA
Baird, A.J., dan Wilby, R.L. 1999. Eco-hydrology: Plants and water ini terrestrial
and aquatic environments. New York: Routledge

Dinger, B. E. Dan Patten, D.T. 1974. Carbon Dioxide Exhange and Transpiration
in Species of Echinocereus (Cactaceae) as Related to Their Distribution
within the Pinaleno Mountains, Arizona. Oecologia (Berl.) 14,389-411
Duursma, R. A., Kolari, P., Permki, M., Nikinmaa, E., Hari, P., Delzon, S.,
Loustau, D., Ilvesniemi, H., Pumpanen, J., & Mkel, A. 2008. Predicting
the decline in daily maximum transpiration rate of two pine stands during
drought based on constant minimum leaf water potential and plant
hydraulic conductance. Tree physiology, 28(2), 265-276.
Friend, A. D. (1995). PGEN: an integrated model of leaf photosynthesis,
transpiration, and conductance. Ecological Modelling, 77(2), 233-255.
Gao, X., Zou, C., Wang, L., dan Zhang, F. 2006. Silicon Decreases Transpiration
rate and Counctance from Stomata of Maize Plants. Journal of Plant
Nutrition, Vol. 29 Issues 9 page 1637-1647
Jarvis, P.G & Mcnaughton, K.G (1986). Stomatal Control of Transpiration :
Scaling Up from leaf to region. Academic Press, Inc : London
Matejka, F., Strelcova, K., Hurtalova, T., & Gomoryova, E. (2007). Modelling
transpiration and soil water potential in a spruce primeval forest during dry
period. Bioclimatology and Natural Hazards, Strelcova et al.(eds) ISBN,
978-80.
Roberts,

M.,

Reiss,

M.,

dan

Monger,

G.

2000.Advanced

Biology.

Cheltenham:Nelson
Saito, T., Tanaka, T., Tanabe, H., Matsumoto, Y., & Morikawa, Y. (2003).
Variations in transpiration rate and leaf cell turgor maintenance in saplings
of deciduous broad-leaved tree species common in cool temperate forests
in Japan. Tree physiology, 23(1), 59-66
Saxena, N.P. 2010. Objective Botany for All Medical Entrance Examinations.
Meerut Delhi: Khrishna Prakashan Media