Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

TANAMAN (PNA3109)

ACARA II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN DENGAN PENGGUNAAN
SUNGKUP

Disusun oleh:
Nama : Rivandi Pranandita Putra
NIM : 10/ 304773/ PN/ 12175
Golongan/Kelompok : C5/ 11 (Sebelas)
Nama Rekan : 1. Jayeng Syahputra (12178)
2. Dian Alice Widara (12180)
3. Fitrah Deri Saputra (12182)
Nama Co-Asisten : 1. Sary Prihatini
2. Nurmasari Fitrisiana
3. Fitriana Solikhatun
4. Rianni Capriyati

LABORATORIUM ILMU TANAMAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
ACARA II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN DENGAN PENGGUNAAN
SUNGKUP

I. TUJUAN
Mengetahui pengaruh penggunaan sungkup dan warna sungkup terhadap pertumbuhan dan
hasil tanaman.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Budidaya sayuran daun mempunyai permasalahan saat musim hujan. Daun busuk
bahkan hancur saat air hujan menerjang. Oleh sebab itu, diperlukan pelindung yang dapat
menghindari tanaman dari air hujan. Salah satu pelindungnya bisa dengan membangun
greenhouse. Namun karena greenhouse mahal, maka diperlukan alternatif lain yang dapat
melindungi tanaman secara ekonomis. Alternatifnya adalah membuat greenhouse mini berupa
sungkup plastik. Dalam membuat sungkup plastik tersebut, bisa digunakan rangka bambu
atau rangka besi (Anonim, 2011).
Sejauh ini, petani tradisional menanam caisin di lingkungan terbuka. Akibatnya saat
musim hujan banyak tanaman yang rusak terpukul air hujan dan terserang penyakit,
sedangkan pada saat musim kemarau kualitasnya turun karena daun caisin dimakan serangga.
Bagi pengusaha yang mampu, masalah ini diminimalkan dengan penanaman caisin dalam
rumah tanam (greenhouse) yang berupa rumah kaca, rumah plastik, atau rumah kassa. Selain
mampu menahan pukulan air hujan dan serangan hama, bangunan ini juga dapat
mengoptimalkan penggunaan pupuk daun, pestisida, mengawetkan lengas tanah, dan
menaikkan suhu di malam hari. Pada rumah tanam modern, kondisi mikroklimat seperti
cahaya, suhu, dan CO2 bahkan dapat dimanipulasi agar optimal bagi tanaman
(Sulistyaningsih et al., 2005).
Salah satu jenis rumah tanam adalah sungkup plastik. Sungkup plastik merupakan
rumah plastik berbentuk terowongan. Selain biaya pembuatannya lebih hemat dibandingkan
bentuk konvensional, lingkungan atap sungkup menyebabkan pantulan sinar matahari menjadi
relatif lebih sempurna (Hapsari, 2003).
Sekitar 50-75% intensitas radiasi surya berpengaruh baik terhadap pertumbuhan
tanaman lada var. Belantung. Selain intensitas radiasi, diduga kualitas radiasi (panjang
gelombang) juga berperan terhadap pertumbuhan tanaman lada. Radiasi surya berpengaruh
dan mengatur secara efektif laju pertumbuhan tanaman. Radiasi tampak (visible light) terdiri
atas campuran warna merah, kuning, hijau, dan biru. Apabila radiasi tampak melalui suatu
lembar plastik transparan maka radiasi yang diloloskan akan mempunyai warna yang sama
seperti warna plastik. Jadi tanaman di bawah sungkup plastik akan menerima radiasi surya
sesuai dengan warna sungkup (Zaubin, 2008).
Dalam beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan budidaya sayuran di bawah proteksi
(perlindungan) di Mesir meluas secara cepat. Kebanyakan tipe budidaya terproteksi di Mesir
adalah terowongan plastik dan rumah plastik single panjang. Jumlah rumha kaca single
semacam itu diperkirakan mencapai 20 ribu, dimana sekitar 12 ribu (60%) dipakai untuk
memproduksi mentimun. Temperatur udara yang tinggi pada musim panas di bawah plastik
dapat menyebabkan luka/ kerusakan tanaman mentimun dan tanaman tomat di Mesir (El-Aidy
et al., 2007).
Rumah kaca atau greenhouse adalah struktur besar dimana dimungkinkan untuk
berdiri dan bekerja dengan ventilasi otomatis. Salah satunya adalah penutup tanaman kecil
berbentuk terowongan atau seperti sungkup yang memiliki film polietilen tipis dengan ukuran
yang lebih kecil. Penggunaan sungkup plastik ini masih kurang populer diterapkan petani
dibanding dengan pengaplikasian rumah kaca tetapi lebih murah dan praktis (Anonim, 2012).
Pada dasarnya, pemberian sungkup plastik pada sistem budidaya tanaman sayuran
dapat merubah kondisi mikroklimat tempat sayuran itu dibudidayakan. Anasir yang
dipengaruhi antara lain intensitas cahaya matahari, suhu udara dan lengas tanah, serta
kelembaban udara. Penggunaan sungkup plastik mampu menurunkan intensitas cahaya
matahari yang diteruskan ke dalam sungkup hingga 50 persen daripada intensitas cahaya
matahari tanpa sungkup, sehingga dapat diketahui bahwa penggunaan sungkup plastik ini
akan menurunkan suhu udara dan meningkatkan kelembaban udara. Selain itu, adanya
sungkup juga menyebabkan kadar lengas tanah awet sehingga ketersediaan air bagi tanaman
sayuran juga lebih maksimal sehingga pertumbuhan sayuran juga lebih baik (Miles et al.,
2005).
Perlindungan tanaman sayur dengan sungkup plastik dimaksudkan terutama untuk
mempertahankan tingkat kelembaban udara yang tinggi (RH 70%). Hal ini juga sering
dimanfaatkan untuk melindungi tanaman sayuran dari musim kering (kekeringan), karena laju
transpirasi tanaman pada saat musim kering biasanya tinggi. Terkadang, sungkup yang
digunakan berwarna-warni sesuai kebutuhan dengan maksud tertentu, misalnya untuk
merangsang pertumbuhan optimal tanaman. Berdasarkan beberapa penelitian, tanaman di
bawah sungkup tidak berwarna menerima campuran dari radiasi warna merah, biru, kuning,
dan hijau, dan tampak bahwa peranan radiasi merah masih dominan terhadap warna radiasi
lainnya (James dan Benoita, 2007).


















III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Acara II yang berjudul
Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman dengan Penggunaan Sungkup dilaksanakan pada
hari Jumat, tanggal 5 Oktober 2012 di kebun percobaan dan pendidikan Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Dalam melaksanakan
praktikum ini, digunakan beberapa bahan dan alat. Bahan-bahan yang digunakan dalam
praktikum ini, antara lain bibit sawi hijau (Brassica rapa), kangkung (Ipomoea reptans L.),
bayam cabut (Amaranthus tricolor L.), selada hijau (Lactuca sativa var. Crispa L.), selada
merah (Lactuca sativa L.), pak choi (Brassica chinensis) pupuk kandang, pupuk urea, SP36,
KCl, polibag berdiameter 30 cm, sungkup warna bening, dan sungkup warna merah. Alat-alat
yang digunakan, antara lain timbangan, penggaris, cetok, cangkul, oven, SPAD 502, label,
gunting, cutter, dan alat tulis.
Cara kerja dalam praktikum ini dimulai dengan melakukan persemaian bibit sawi,
bayam cabut, bayam merah, caisim, selada, dan kangung. Pada umur 3 minggu setelah tanam
(3 MST), dilakukan pindah tanam dengan setiap polibag diisi 3 tanaman. Dilakukan pula
seleksi bibit yang baik untuk perlakuan. Polibag berdiameter 30 cm disiapkan, kemudian diisi
dengan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk kandang (tanah : pupuk kandang = 6 : 1)
sampai ketinggian 5 cm dari permukaan polibag. Setiap kelompok menanam 1 komoditas
dengan 4 ulangan. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dua faktor,
dengan kelompok sebagai ulangan. Perlakuan yang akan diuji adalah perlakuan sungkup
dengan 3 level, yaitu tanpa sungkup, sungkup bening, dan sungkup warna merah; sedangkan
untuk faktor kedua yaitu jenis tanaman sayur (sawi, kangkung, bayam cabut, caisim, selada,
dan bayam merah). Selanjutnya, bibit sayuran (sawi, bayam cabut, selada, caisim, dan bayam
merah) ditanam pada masing-masing polibag sejumlah 3 bibit per polibag. Setelah masing-
masing polibag ditanami, selanjutnya ditempatkan di bawah sungkup sesuai dengan
perlakuan. Jumlah polibag setiap kelompok untuk setiap perlakuan sungkup adalah 6
perlakuan polibag. Dari 6 polibag untuk setiap tanaman tersebut, 3 polibag berfungsi sebagai
tanaman sampel dan akan dipanen akhir (korban 2), 3 polibag sebagai tanaman korban 1.
Setelah itu, dilakukan pemeliharaan tanaman secara rutin terutama penyiraman. Pengamatan
rutin mingguan dilakukan terhadap tanaman sampel untuk variabel tinggi tanaman, jumlah
daun, dan kehijauan daun. Pengamatan dimulai sejak minggu pertama setelah penanaman
sampai dengan panen akhir. Pengamatan rutin lingkungan juga diamati, dimana variabel yang
diamati adalah intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban udara. Pemanenan tanaman korban
dilakukan dua kali yaitu pada umur 3 MST dan 6 MST. Variabel yang diamati pada saat
panen tanaman korban adalah luas daun (gravimetri), bobot segar dan bobot kering (akar,
daun, dan batang), jumlah akar, dan panjang akar. Dari hasil pengamatan pada tanaman
korban, dihitung LAB (Laju Asimilasi Bersih), LPN (Laju Pertumbuhan Nisbi), BDK (Bobot
Daun Khas), serta IP (Indeks Panen). Setiap variabel yang diperoleh dianalisis varian dengan
taraf kepercayaan 5% dan apabila ada beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji
DMRT. Adapun rumus matematis untuk mencari nilai LAB, LPN, BDK, LDK, dan IP adalah
sebagai berikut.
1. Net Assimilation Rate (NAR) = Laju Asimilasi Bersih (LAB)
NAR = W2 - W1 x ln La2 ln La1 g/cm2/minggu
T2 - T1 La2 La1
2. Relative Growth Rate (RGR) = Laju Pertumbuhan Nisbi (LPN)
RGR = ln W2 ln W1 g/g/minggu
T2 - T1
3. Specific Leaf Weight (SLW) = Bobot Daun Khas (BDK)
SLW = Lw cm2/g
La
4. Specific Leaf Area (SLA) = Luas Daun Khas (LDK)
SLA = La cm2/g
Lw
5. Harvest Index (HI) = Indeks Panen (IP)
HI = We
W



*Keterangan:
La = Luas daun
Lw = Bobot daun
T = Waktu
W = Bobot kering total
We = Berat kering hasil (ekonomis)

















IV. HASIL PENGAMATAN PRAKTIKUM
A. Tabel Hasil Pengamatan
1. Tanaman Selada Hijau (Lactuca sativa var. Crispa L.)
No.
Perlakuan
Parameter
Tinggi
Tanaman
(cm)
Jumlah
Daun
Kehijauan
Daun
1.
Kontrol 11,57 5,33 6,13
2.
Bening 14,97 8,00 6,78
3.
Merah 17,80 7,33 9,03

No.
Perlakuan
Parameter
LAB LPN BDK LDK IP
1. Kontrol 0,003 0,762 0,0045 222,222 0,871
2. Bening 0,002 0,697 0,0045 222,222 0,927
3. Merah 0,001 0,636 0,0045 222,222 0,922

*Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
beda nyata berdasarkan uji DMRT 5%.

2. Tanaman Sawi (Brassica rapa L.)
No.
Perlakuan
Parameter
Tinggi
Tanaman
(cm)
Jumlah
Daun
Kehijauan
Daun
1.
Kontrol 22,667a 9a 46,370a
2.
Bening 19a 7,333a 51,327a
3.
Merah 21,933a 8,667a 51,217a

No.
Perlakuan
Parameter
LAB LPN BDK LDK IP
1.
Kontrol 2,307a 0,592a 0,803a 1,331a 0,235a
2.
Bening 1,117b 0,304b 0,655a 1,530a 0,195a
3.
Merah 0,621b 0,120c 0,856a 1,184a 0,161a

*Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
beda nyata berdasarkan uji DMRT 5%.

3. Tanaman Selada Merah (Lactuca sativa L.)
No.
Perlakuan
Parameter
Tinggi
Tanaman
(cm)
Jumlah
Daun
Kehijauan
Daun
1.
Kontrol 7.03b 5.33a 18.17b
2.
Bening 13.77a 5a 22.07ab
3.
Merah 12.4a 6.33a 25.63a

No.
Perlakuan
Parameter
LAB LPN BDK LDK IP
1.
Kontrol 0.0059a 0.376a 0.024a 50.933a 0.643a
2.
Bening 0.0048a 0.3278a 0.012a 95.727a 0.734a
3.
Merah 0.0045a 0.4067a 0.009a 121.095a 0.736a

*Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
beda nyata berdasarkan uji DMRT 5%.
4. Tanaman Pak Choi (Brassica chinensis)
Perlakuan
Parameter
TT JD
Hijau
Daun
Kontrol 11.3 a 9.0 a 34.5 a
Bening 9.3 a 8.0 a 35.5 a
Merah 9.53 a 8.3 a 37.83 a
CV 15.55 7.89 11.86

Perlakuan
Parameter
LAB LPN BDK LDK IP
Kontrol
0.0076
ab 0.613 a 0.0099 a 101.79 b 0.312 b
Bening 0.0027 b 0.438 a 0.0040 a 254.49 a 0.714 a
Merah 0.0116 a 0.592 a 0.0109 a 118.54 b 0.342 b
CV 47.09 18.75 41.81 34.28 33.45
*Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
beda nyata berdasarkan uji DMRT 5%.




5. Tanaman Kangkung (I pomoea reptans)
Perlakuan Parameter

TT JD
Hijau
Daun
Kontrol 42,00a 15,00b 30,50a
Bening 58,00a 34,33a 34,17a
Merah 57,67a 43,67a 34,23a
CV 15.19 29.57 11.93

Perlakuan
Parameter
LAB LPN BDK LDK IP
Kontrol 0,0039a 0,51a 0,0020a 580,3a 1,53a
Bening 0,0104a 0,86a 0,0050a 544,9a 0.92ab
Merah 0,0092a 0,94a 0,0020a 248,6a 0,62b
CV 47.23 33.09 74.47 49.44 40.18
*Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
beda nyata berdasarkan uji DMRT 5%.

6. Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor)
Perlakuan
Parameter
TT JD HijauDaun
Kontrol 55a 20.33a 40.1a
Bening 33.33a 8.33a 38a
Merah 44.67a 12a 41.3a
CV 45.394 56.306 15.846

Perlakuan
Parameter
LAB LPN BDK LDK IP
Kontrol 0.00352a 0.588a 0.0136a 74.086a 0.791a
Bening 0.0095a 0.782a 0.0231a 54.687a 0.712a
Merah 0.00501a 0.821a 0.0184a 61.058a 0.811a
CV 74.987 46.538 56.433 34.207 8.999
*Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
beda nyata berdasarkan uji DMRT 5%.

B. Contoh Perhitungan Analisis Pertumbuhan Tanaman (APT)
(Analisis Pertumbuhan Tanaman Pada Tanaman Selada Hijau (Lactuca sativa L.)
Perlakuan Kontrol Ulangan 1)
Net Assimilation Rate (NAR) = Laju Asimilasi Bersih (LAB)
NAR = W2 - W1 x ln La2 ln La1
T2 - T1 La2 La1
= 0,51 0,043 x (ln (98,45) - ln (22,96))
6 3 98,45 22,96
= 0,467 x (4,590 3,134)
3 75,49
= 0,156 x 0,019
= 0,0029
= 0,03 g/cm2/minggu
Relative Growth Rate (RGR) = Laju Pertumbuhan Nisbi (LPN)
RGR = ln W2 ln W1 g/g/minggu
T2 - T1
= ln (0,51) ln (0,043)
6-3
= - (0,673) (-3,147)
3
= 0,824 g/g/minggu


Specific Leaf Weight (SLW) = Bobot Daun Khas (BDK)
SLW = Lw cm2/g
La
= 0,273
60,705
= 0,0045 cm2/g
Specific Leaf Area (SLA) = Luas Daun Khas (LDK)
SLA = La cm2/g
Lw
= 60,705
0,273
= 222,222 cm2/g
Harvest Index (HI) = Indeks Panen (IP)
HI = We
W
= 0,248 gram
0,2765 gram
= 0,897





V. PEMBAHASAN
Penggunaan sungkup plastik dalam budidaya tanaman sayuran merupakan alternatif
lain untuk melindungi tanaman secara ekonomis selain rumah kaca. Budidaya sayuran daun
mempunyai permasalahan saat musim hujan, misalnya daun busuk atau bahkan hancur saat air
hujan melanda. Oleh karena itu diperlukan pelindung yang dapat menghindari tanaman dari
air hujan. Sungkup plastik adalah salah satu jenis rumah tanam yang berupa rumah plastik
berbentuk terowongan. Pada rumah tanam modern kondisi mikroklimat seperti cahaya, suhu
dan CO2 bahkan dapat dimanipulasi agar optimal bagi pertumbuhan tanaman budidaya.
Pengaruh pemberian sungkup terlihat pada peningkatan tinggi tanaman, luas daun, indeks luas
daun, rasio tajuk-akar, indeks panen, dan berat segar tajuk tanaman. Sungkup merah
berpengaruh baik pada tinggi tanaman, luas daun, laju asimilasi bersih, ILD dan berat segar
tajuk.
Dalam praktikum ini, di samping melakukan pengujian perbedaan pertumbuhan
tanaman sayuran tanpa dan dengan sungkup, juga dilakukan pengujian pertumbuhan tanaman
sayuran di bawah sungkup merah dan bening. Pada dasarnya, selain faktor intensitas cahaya
matahari, panjang gelombang cahaya juga berperan terhadap pertumbuhan dan perkembangan
suatu tanaman. Radiasi surya mengatur secara efektif laju pertumbuhan tanaman. Radiasi
yang tampak (visible light) terdiri atas campuran warna merah, kuning, hijau, dan biru.
Aplikasi radiasi tampak melalui sungkup yaitu suatu lembar plastik transparan maka radiasi
yang diloloskan akan mempunyai warna sama dengan warna plastik. Jadi tanaman dibawah
sungkup plastik akan menerima radiasi surya sesuai dengan warna sungkup. Sampai saat ini
informasi mengenai peranan kualitas radiasi matahari terhadap pertumbuhan tanaman sayuran
masih terbatas. Pada tanaman, klorofil dan pigmen lainnya lebih efektif dalam menyerap
energi sinar merah dibandingkan sinar biru. Hal ini dikarenakan setelah eksitasi dengan foton
biru, elektron dalam klorofil selalu hancur dengan sangat cepat dengan cara melepaskan
bahang.
Penyungkupan biasanya dilakukan pada saat tanaman masih berupa bibit, namun tidak
menutup kemungkinan untuk melakukan kegiatan penyungkupan seumur hidup tanaman.
Pemeliharaan bibit yang berasal dari cabutan/stump harus terlebih dahulu dikondisikan
dengan penyungkupan. Penggunaan sungkup dimaksudkan untuk memberikan kestabilan
kelembaban, Pemeliharaan bibit tanpa penyungkupan beresiko kegagalan walaupun bedeng
pemeliharaan telah diletakkan di bawah naungan sekalipun.
Selain berfungsi untuk melindungi tanaman dari pukulan air hujan dan memperkecil
terkena serangan hama penyakit tanaman, penyungkupan juga berguna dalam mengatur
serapan cahaya oleh tanaman, yaitu pengaturan kuantitas cahaya (intensitas cahaya) dan
kualitas cahaya (warna cahaya, panjang gelombang). Kuantitas cahaya terkait dengan
intensitas cahaya matahari yang diserap tanaman. Pengaruh intensitas cahaya terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman sejauh mana berhubungan erat dengan proses
fotosintesis. Dalam proses ini energi cahaya diperlukan untuk berlangsungnya penyatuan CO
dan air untuk membentuk karbohidrat. Semakin besar jumlah energi yang tersedia akan
memperbesar jumlah hasil fotosintesis sampai dengan optimum (maksimum). Untuk
menghasilkan berat kering yang maksimal, tanaman memerlukan intensitas cahaya penuh.
Namun demikian intensitas cahaya yang sampai pada permukaan kanopi tanaman sangat
bervariasi, hal ini merupakan salah satu sebab potensi produksi tanaman aktual belum
diketahui. Besarnya kuat cahaya yang mengenai bidang sasaran ada yang menyatakan dengan
satuan foot candle (ft-c) dari Inggris. Ft-c menggambarkan kuat penyinaran yang dipancarkan
oleh satu lilin standar yang mengenai permukaan bidang sasaran seluas 1 square foot (=
928,088 cm2) pada radius penyinaran 12 inchi (= 30,48 cm). Dalam praktik sehari-hari
cahaya bulan diperkirakan mempunyai kuat cahaya 0,05 ft-c, sinar untuk membaca besarnya
20 ft-c, sedangkan untuk proses fotosintesis minimal antara 100-200 ft-c.
Tumbuhan menyerap cahaya yang terdiri dari beberapa macam warna cahaya. Warna cahaya
itu sendiri mempengaruhi laju fotosintesis dari tumbuhan. Hal ini dapat terjadi karena energi
yang dihasilkan setiap jenis spektrum berbeda. Di samping adanya perbedaan energi tersebut,
di dalam daun juga terdapat faktor pembeda yang memungkinkan penyerapan terhadap
berbagai spektrum tersebut berbeda. Faktor pembeda tersebut adalah jenis pigmen yang
terkandung di dalam jaringan daun. Perbedaan jenis pigmen tersebut dapat berasal dari faktor
genetik dari tanaman tersebut.
Sementara itu, pengaruh kualitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman telah banyak diselidiki, dimana diketahui bahwa spektrum yang nampak (visible)
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman ditumbuhkan pada cahaya biru saja
daunnya akan berkembang secara normal, namun batangnya akan menunjukkan tanda-tanda
terhambat pertumbuhannya. Apabila tanaman ditumbuhkan pada cahaya kuning saja, cabang-
cabangnya akan berkembang tinggi dan kurus dengan buku (internode) yang panjang dan
daunnya kecil-kecil. Dari penelitian tersebut telah membuktikan bahwa cahaya biru dan
merah memegang peranan penting untuk berlangsungnya proses fotosintesis. Pengertian
cahaya berkaitan dengan radiasi yang terlihat (visible) oleh mata, dan hanya sebagian kecil
saja yang diterima dari radiasi total matahari. Radiasi matahari terbagi dua, yaitu yang
bergelombang panjang (long wave radiation) dan yang bergelombang pendek (short wave
radiation). Batas terakhir dari radiasi gelombang pendek adalah radiasi ultraviolet, sedangkan
batas akhir radiasi gelombang panjang adalah sinar inframerah. Radiasi dengan panjang
gelombang antara 400 hingga 700 um adalah yang digunakan untuk proses fotosintesis.
Pemakaian sungkup juga mempengaruhi keadaan suhu udara di sekitar pertanaman
sayuran. Temperatur dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari hasil panen
dalam proses yang dikontrol oleh enzim dan membran. Penambahan karbon, secara khas pada
proses fotosintesis memiliki temperatur yang mendekati optimum terhadap pertumbuhan
normal yang diberikan kepada hasil panen, dimana pengurangan karbon melalui respirasi
meningkat dengan temperatur. Oleh karena itu, pertumbuhan hasil panen secara tidak
langsung dikendalikan oleh temperatur diantara keseimbangan antara fotosintesis dan
respirasi.
Dalam praktikum acara II ini dilakukan tiga perlakuan sungkup plastik yaitu sungkup
warna merah, sungkup bening dan kontrol atau tanpa pemberian warna sungkup. Pemberian
sungkup yang berwarna akan mempengaruhi kualitas cahaya matahari yang nantinya dipakai
tanaman untuk fotosintesis, sekaligus dapat mengurangi intensitas cahaya yang mengenai
tanaman. Pemberian sungkup juga akan berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban sekitar
pertanaman yang nantinya juga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan
hasil tanaman. Sungkup plastik yang digunakan dalam praktikum ini merupakan salah satu
jenis modifikasi rumah plastik yang berbentuk seperti terowongan. Keuntungan penggunaan
sungkup plastik ini yakni biaya yang hemat dan atap sungkup yang berbentuk lengkungan
dapat menyebabkan pantulan terhadap datangnya sinar matahari menjadi lebih sempurna.
Percobaan acara I ini dilakukan unruk mengetahui pengaruh penggunaan sungkup dan
warna sungkup (merah dan bening) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sayuran sawi
(Brassica rapa), kangkung (Ipomoea reptans), bayam cabut (Amaranthus tricolor), pak choy
(Brassica chinensis), selada keriting (Lactuca sativa var. crispa L.), selada merah (Lactuca
sativa). Berikut ini adalah hasil pengamatan yang diperoleh dalam percobaan dan telah
digambarkan dalam bentuk grafik dan histogram:


1. Tanaman Selada Hijau (Lactuca sativa var. Crispa L.)

Gambar 1.1. Grafik Tinggi Tanaman (TT) Selada Hijau pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Berdasarkan grafik tinggi tanaman (TT) di atas, dapat diketahui bahwa tanaman selada yang
memiliki tinggi tanaman tertinggi adalah pada tanaman perlakuan sungkup merah (sebesar
17,80 cm pada minggu pengamatan ke-6), diikuti dengan tanaman perlakuan sungkup bening
(sebesar 14,97 cm pada minggu pengamatan ke-6), dan tanaman perlakuan kontrol
menunjukkan tinggi tanaman paling rendah (hanya sebesar 11,57 cm pada minggu
pengamatan ke-6). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa penggunaan sungkup berwarna
merah baik untuk pertumbuhan tanaman selada karena menunjukkan tinggi tanaman terbesar
dibandingkan tanaman perlakuan sungkup putih dan tanaman kontrol. . Setelah dilakukan
analisis ternyata ada beda nyata pada perlakuan sungkup. Di antara perlakuan warna
sungkup, intensitas cahaya dalam sungkup merah lebih tinggi dikarenakan memiliki panjang
gelombang yang besar . Itulah mengapa sungkup merah memiliki tinggi tanaman yang lebih
tinggi bila dibandingkan perlakuan lain.
Tanaman perlakuan sungkup warna merah memiliki tinggi tanaman yang paling
maksimal dibandingkan perlakuan sungkup putih dan tanpa sungkup. Hal ini terjadi karena
sinar merah dengan panjang gelombang paling besar merupakan yang paling baik untuk
fotosintesis, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman selada hijau. Pigmen klorofil
0.00
2.00
4.00
6.00
8.00
10.00
12.00
14.00
16.00
18.00
20.00
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

T
a
n
a
m
a
n

(
c
m
)

Waktu Pengamatan (MST)
Tinggi Tanaman Selada
Kontrol
Bening
Merah
untuk fotosintesis yang digunakan oleh tanaman secara umum, menangkap hampir semua
cahaya biru dan merah, walaupun akan lebih efisien menangkap cahaya merah di 650-670 nm.
Cahaya biru digunakan hampir sebanyak cahaya merah karena lebih mudah mendapatkannya,
lebih kuat di cahaya matahari.
Cahaya merah pada dasarnya merupakan cahaya yang juga penting untuk
perkembangan dan reproduksi tanaman. Pigmen fitokrom menyerap bagian merah dan merah
jauh dari spektrum cahaya dan mengatur perkecambahan biji, perkembangan akar, umbi dan
umbi formasi, dormansi, berbunga dan produksi buah. Oleh karena itu, cahaya merah penting
untuk stimulasi pembungaan dan pembuahan. Tinggi tanaman yang terbesar nilainya juga
ditunjukkan oleh tanaman perlakuan warna sungkup bening. Pertumbuhan tanaman tidak
hanya dipengaruhi oleh cahaya, namun oleh warna cahaya juga. Cahaya yang berasal dari
matahari tampak putih atau kuning, tapi sebenarnya merupakan spektrum penuh warna. Jika
kita mengambil prisma dan meletakkannya ke cahaya, akan membagi cahaya menjadi tujuh
warna yang berbeda yaitu: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.














Gambar 1.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Selada Hijau pada Berbagai Perlakuan
Warna Sungkup
Grafik di atas menunjukkan perkembangan jumlah daun tanaman selada hijau yang
diamati seminggu sekali selama 6 minggu pada berbagai perlakuan penyungkupan.
Berdasarkan grafik jumlah daun (JD) selada di atas, dapat diketahui bahwa pada minggu
pengamatan terakhir (6 MST), jumlah daun dari yang terbesar hingga yang terkecil secara
berturut-turut diperlihatkan oleh tanaman selada perlakuan sungkup bening (sebanyak 8),
tanaman selada perlakuan sungkup merah (sebanyak 7,33), dan tanaman selada perlakuan
kontrol (sebanyak 5,33).
Setelah dilakukan analisis data, didapatkan ada pengaruh beda nyata antara perlakuan
tanpa sungkup dan perlakuan dengan sungkup. Peningkatan intensitas cahaya (hingga tingkat
optimum) meningkatkan laju asimilasi bersih total tanaman sehingga fotosintat yang
terbentuk pun meningkat. Pembentukan fotosintat yang tinggi ini mendorong kecepatan
pembentukan organ-organ tanaman seperti daun.





0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

D
a
u
n

Waktu Pengamatan (MST)
Jumlah Daun Selada
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 1.3. Histogram Panjang Akar Tanaman Selada Hijau pada Berbagai Perlakuan
Warna Sungkup
Histogram di atas memperlihatkan panjang akar tanaman selada hijau pada berbagai
perlakuan penyungkupan saat tanaman berusia 3 MST dan 6 MST. Dari histogram panjang
akar selada di atas, diketahui bahwa pada saat tanaman berumur 3 MST, tanaman perlakuan
merah memiliki panjang akar terpanjang (sebesar 4,86 cm), diikuti dengan tanaman perlakuan
kontrol (sebesar 3,15 cm), dan yang memiliki panjang akar terpendek adalah pada tanaman
perlakuan sungkup bening (sebesar 1,73 cm). Sementara itu pada saat tanaman berumur 6
MST, tanaman yang menunjukkan panjang akar terpanjang adalah tanaman perlakuan
sungkup bening (sebesar 4,73 cm), diikuti oleh tanaman perlakuan sungkup merah (sebesar
4,46 cm), dan panjang akar paling pendek namun tak jauh berbeda nilainya diperlihatkan oleh
tanaman perlakuan kontrol (sebesar 4,58 cm).
Hal ini sesuai dengan teori, karena pertumbuhan akar lebih tinggi apabila lengas tanah
tinggi hal ini dikarenakan pemberian sungkup menyebabkan kadar lengas tanah menjadi lebih
tinggi sehingga pertumbuhan akar pada perlakuan penggunaan sungkup dapat berakibat
pertumbuhan akar yang lebih tinggi bila dibandingkan perlakuan lain.




0
1
2
3
4
5
6
3 mst 6 mst
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

(
c
m
)

Umur Tanaman
Panjang Akar Selada
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 1.4. Histogram Jumlah Akar Selada Hijau pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Histogram di atas menunjukkan jumlah akar tanaman selada hijau pada berbagai
perlakuan penyungkupan pada saat tanaman berumur 3 MST dan 6 MST. Berdasarkan
histogram jumlah akar selada tersebut, dapat dilihat bahwa pada umur 3 MST, tanaman
perlakuan kontrol menunjukkan jumlah akar terbanyak (sebanyak 10), diikuti dengan tanaman
perlakuan sungkup merah (sebanyak 8,67), dan tanaman perlakuan sungkup bening
menunjukkan jumlah akar paling sedikit (sebanyak 5). Pada umur tanaman 6 MST pun
demikian. Jumlah akar terbanyak ditunjukkan oleh tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 11),
diikuti tanaman perlakuan sungkup merah (sebanyak 9,67), dan tanaman perlakuan sungkup
bening menunjukkan jumlah akar paling sedikit (sebanyak 6).







0
2
4
6
8
10
12
3 mst 6 mst
J
u
m
l
a
h

A
k
a
r

Umur Tanaman
Jumlah Akar Selada
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 1.5. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Selada Hijau pada
Berbagai Perlakuan Warna Sungkup
Histogram di atas menunjukkan besarnya berat segar dan berat kering tanaman selada
hijau berbagai perlakuan penyungkupan pada saat tanaman berumur 6 MST. Berdasarkan
histogram BS (berat segar) dan BK (berat kering) di atas, dapat diketahui bahwa pada saat
selada berumur 6 MST, berat segar tertinggi dimiliki oleh tanaman perlakuan sungkup warna
merah (sebesar 4,34 gram), diikuti dengan tanaman perlakuan sungkup warna bening (sebesar
3,197 gram), dan berat segar terendah diperlihatkan oleh tanaman kontrol (sebesar 3,036
gram). Sementara itu, setelah dikeringkan dan ditimbang berat keringnya, diketahui bahwa
hasil urutan beratnya tidak sama dengan penimbangan berat basah. Tanaman perlakuan
sungkup bening justru memiliki berat kering terbesar (0,72 gram), diikuti oleh tanaman
perlakuan sungkup warna merah (0,516 gram), dan yang terkecil adalah tanaman yang
diperlakukan kontrol (0,516 gram).





0.000
0.500
1.000
1.500
2.000
2.500
3.000
3.500
4.000
4.500
5.000
Kontrol Bening Merah
B
e
r
a
t

(
g
r
a
m
)

Perlakuan 6 mst
BS-BK Selada Umur 6 MST
BS
BK

Gambar 1.6. Histogram Panjang Akar Selada Hijau pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Berdasarkan histogram di atas, panjang akar tertinggi ada pada tanaman selada hijau
dengan perlakuan penggunaan sungkup merah pada saat 3 mst. Kemudian panjang akar paling
sedikit ada pada tanaman selada hijau dengan perlakuan penggunaan sungkup bening pada
saat 3 mst. Hal ini sesuai dengan teori, karena pertumbuhan akar lebih tinggi apabila lengas
tanah tinggi hal ini dikarenakan pemberian sungkup menyebabkan kadar lengas tanah menjadi
lebih tinggi sehingga pertumbuhan akar pada perlakuan penggunaan sungkup dapat berakibat
pertumbuhan akar yang lebih tinggi bila dibandingkan perlakuan lain.








0
1
2
3
4
5
6
3 mst 6 mst
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

(
c
m
)

Umur Tanaman
Panjang Akar Selada
Kontrol
Bening
Merah
2. Tanaman Sawi (Brassica rapa L.)

Gambar 2.1. Grafik Tinggi Tanaman (TT) Sawi pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Grafik di atas menunjukkan perkembangan tinggi tanaman sawi pada berbagai
perlakuan penyungkupan yang diamati seminggu sekali selama 6 minggu. Berdasarkan grafik
tinggi tanaman sawi tersebut, dapat diketahui bahwa tanaman yang memiliki tinggi paling
besar pada minggu ke-6 (panen) adalah tanaman perlakuan kontrol yaitu sebesar 22,67 cm,
disusul dengan tanaman perlakuan sungkup merah yang nilainya tidak berbeda jauh yaitu
setinggi 21,93 cm, dan tanaman sawi yang memiliki tinggi paling rendah adalah pada
perlakuan sungkup bening, yaitu setinggi 19 cm.
Setelah dilakukan analisis CRD, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat beda nyata antar
perlakuan sungkup dalam praktikum ini terhadap tinggi tanaman (TT). Tidak adanya beda
nyata ini terjadi karena nilai tinggi tanaman yang tidak begitu jauh/signifikan perbedaannya
antar perlakuan.






Gambar 2.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Sawi pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Grafik tersebut memperlihatkan perkembangan jumlah daun sawi pada berbagai
perlakuan sungkup yang diamati seminggu sekali selama 6 minggu lamanya. Dari grafik di
atas, dapat dilihat bahwa jumlah daun sawi terbanyak pada umur 6 MST ditunjukkan oleh
tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 9), selanjutnya tanaman perlakuan sungkup merah
(sebanyak 8,67), dan jumlah daun paling sedikit adalah pada tanaman perlakuan sungkup
bening (sebanyak 7,33).
Setelah dilakukan analisis varian (anova), diperoleh hasil bahwa tidak terdapat beda
nyata antar perlakuan sungkup terhadap jumlah daun tanaman sawi dalam praktikum ini. Hal
ini terjadi karena besarnya jumlah daun antar perlakuan yang tidak jauh berbeda.









Gambar 2.3. Grafik Kehijauan Daun Tanaman Sawi pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Grafik di atas menunjukkan perkembangan tingkat kehijauan daun tanaman sawi
berbagai perlakuan penyungkupan yang diamati seminggu sekali hingga umur 6 MST.
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa tanaman sawi yang memiliki tingkat
kehijauan daun paling tinggi adalah tanaman perlakuan sungkup bening (sebesar 51,327 pada
umur 6 MST), kemudian tanaman perlakuan sungkup merah yang nilainya tidak berbeda jauh
(sebesar 51,217 pada umur 6 MST), dan tanaman dengan tingkat kehijauan daun terendah
namun tak berbeda jauh nilainya adalah tanaman perlakuan kontrol (sebesar 46,370 pada
umur 6 MST).
Berdasarkan hasil analisis varian (anova) yang dilakukan, diketahui bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan sungkup terhadap tingkat kehijauan daun tanaman sawi. Tidak
adanya beda nyata antar perlakuan ini terjadi karena nilai kehijauan daun yang tidak berbeda
jauh angkanya antar perlakuan.






Gambar 2.4. Histogram Panjang Akar Tanaman Sawi pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Histogram di atas menunjukkan panjang akar tanaman sawi pada berbagai perlakuan
penyungkupan saat tanaman berusia 3 MST dan 6 MST. Berdasarkan histogram tersebut,
dapat diketahui bahwa pada umur 3 MST, panjang akar terbesar diperlihatkan pada tanaman
perlakuan sungkup merah, kemudian tanaman perlakuan kontrol, dan yang paling pendek
adalah pada tanaman sawi perlakuan sungkup bening. Sementara itu pada saat umur 6 MST,
tanaman perlakuan sungkup merah mempunyai panjang akar terbesar, kemudian tanaman
perlakuan sungkup bening, dan tanaman kontrol menunjukkan panjang akar yang paling
pendek.









Gambar 2.5. Histogram Jumlah Akar Tanaman Sawi pada Berbagai Perlakuan Warna
Sungkup
Histogram di atas menunjukkan jumlah akar tanaman sawi pada berbagai perlakuan
penyungkupan saat tanaman berumur 3 MST dan 6 MST. Dari histogram tersebut, dapat
diketahui bahwa pada saat sawi berumur 3 MST, jumlah akar terbanyak dimiliki oleh tanaman
perlakuan sungkup merah, lalu tanaman perlakuan sungkup bening, dan yang paling sedikit
dimiliki tanaman perlakuan kontrol. Pada saat tanaman sawi berumur 6 MST, jumlah akar
dari yang paling banyak hingga yang paling sedikit secara berturut-turut dimiliki oleh
tanaman perlakuan sungkup merah, tanaman perlakuan kontrol, dan tanaman perlakuan
sungkup bening.









Gambar 2.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Sawi pada
Berbagai Perlakuan Warna Sungkup
Histogram tersebut menunjukkan besarnya berat segar dan berat kering tanaman sawi
saat umur 6 MST pada berbagai perlakuan penyungkupan. Berdasarkan histogram di atas,
dapat diketahui bahwa berat segar (BS) tertinggi saat tanaman sawi berumur 6 MST dimiliki
oleh tanaman perlakuan sungkup bening, kemudian tanaman perlakuan sungkup merah, dan
tanaman perlakuan kontrol menunjukkan berat segar paling rendah. Sementara itu, untuk
pengukuran berat kering (BK) urutannya tidak sama dengan hasil penimbangan berat basah,
dimana secara berturut-turut tanaman yang memiliki BK tertinggi hingga BK terendah adalah
tanaman perlakuan sungkup merah, tanaman perlakuan sungkup bening, dan tanaman
perlakuan kontrol.






3. Tanaman Selada Merah (Lactuca sativa)


Gambar 3.1. Grafik Tinggi Tanaman (TT) Tanaman Selada Merah pada
Berbagai Perlakuan Warna Sungkup
Grafik di atas menunjukkan perkembangan tinggi tanaman selada merah yang diamati
selama seminggu sekali hingga umur 6 MST pada berbagai perlakuan penyungkupan. Dari
grafik tersebut, dapat diketahui bahwa urutan tanaman dengan tinggi tanaman (TT) paling
tinggi ke paling rendah secara berturut-turut adalah tanaman perlakuan sungkup bening
(sebesar 13,77 cm pada umur 6 MST), tanaman perlakuan sungkup merah (sebesar 12,40 cm
pada umur 6 MST), dan tanaman perlakuan kontrol (sebesar 7,03 cm pada umur 6 MST).
Berdasarkan hasil analisis varians (anova), didapatkan hasil bahwa ada beda nyata
antar perlakuan, sehingga perlu dilakukan analisis lanjutan dengan menggunakan DMRT 5 %
dan diperoleh hasil bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan. Dengan demikian, berarti
diketahui bahwa perlakuan sungkup bening memberikan tinggi tanaman selada merah terbaik
karena bernilai paling besar. Sebaliknya, perlakuan kontrol memberikan tinggi tanaman
selada merah yang kurang baik karena bernilai paling rendah.





0.00
2.00
4.00
6.00
8.00
10.00
12.00
14.00
16.00
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

T
a
n
a
m
a
n

Pengamatan Ke-
Grafik Tinggi Tanaman Selada Merah
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 3.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Selada Merah pada Berbagai Perlakuan
Warna Sungkup
Grafik tersebut memperlihatkan jumlah daun tanaman selada merah pada berbagai
perlakuan penyungkupan yang diamati seminggu sekali hingga umur 6 minggu setelah tanam.
Berdasarkan grafik jumlah daun di atas, dapat diketahui bahwa jumlah daun tertinggi
diperlihatkan oleh tanaman perlakuan sungkup merah (sebanyak 6,33 pada umur 6 MST),
selanjutnya tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 5,33 pada umur 6 MST), dan tanaman
perlakuan sungkup bening (sebanyak 5 pada umur 6 MST).
Dari hasil analisis varians (anova) yang dilakukan, diketahui bahwa tidak terdapat
beda nyata antar perlakuan sungkup terhadap banyaknya jumlah daun selada merah dalam
praktikum ini. Tidak adanya beda nyata antar perlakuan ini disebabkan karena besarnya
jumlah daun yang tidak berbeda secara signifikan antar perlakuan.





0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

d
a
u
n

Pengamatan ke-
Grafik Jumlah Daun Tanaman Selada
Merah
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 3.3. Grafik Kehijauan Daun Tanaman Selada Merah pada Berbagai
Perlakuan Warna Sungkup
Grafik di atas menunjukkan tingkat kehijauan daun selada merah yang diamati selama
enam minggu pada berbagai perlakuan penyungkupan. Berdasarkan grafik tersebut, dapat
diketahui bahwa tingkat kehijauan daun selada merah tertinggi dimiliki oleh tanaman
perlakuan sungkup merah (sebesar 25,63 pada umur 6 MST), kemudian tanaman perlakuan
sungkup bening (sebesar 22,07 pada umur 6 MST), dan tingkat kehijauan daun terendah
dimiliki tanaman perlakuan kontrol (sebesar 18,17 pada umur 6 MST).
Berdasarkan hasil analisis varians (anova) yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa
terdapat beda nyata antar perlakuan sungkup terhadap tingkat kehijauan daun tanaman selada
merah sehingga perlu dilanjutkan dengan uji DMRT 5%. Berdasarkan hasil analisis
menggunakan DMRT 5%, diketahui bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan. Kehijauan
daun tanaman perlakuan kontrol berbeda nyata dengan kehijauan daun perlakuan sungkup
merah, namun tidak berbeda nyata dengan kehijauan daun tanaman perlakuan sungkup
bening, serta kehijauan daun tanaman perlakuan merah tidak berbeda nyata dengan kehijauan
daun tanaman perlakuan sungkup bening. Dengan demikian, tingkat kehijauan selada
perlakuan sungkup bening tidak berbeda nyata terhadap tanaman selada kontrol dan tanaman
selada perlakuan sungkup merah.

0.00
5.00
10.00
15.00
20.00
25.00
30.00
1 2 3 4 5 6
K
e
h
i
j
a
u
a
n

D
a
u
n

Pengamatan Ke-
Grafik Kehijauan Daun Tanaman Selada Merah
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 3.4. Histogram Panjang Akar Tanaman Selada Merah pada Berbagai
Perlakuan Warna Sungkup
Histogram di atas menunjukkan panjang akar tanaman selada merah berbagai
perlakuan penyungkupan pada umur 3 MST dan 6 MST. Berdasarkan histogram panjang akar
di atas, dapat diketahui bahwa pada saat selada merah berumur 3 MST, panjang akar
terpanjang dimiliki tanaman perlakuan sungkup bening, kemudian tanaman sungkup merah,
dan tanaman perlakuan kontrol memiliki panjang akar paling pendek. Sementara itu pada saat
tanaman selada merah berumur 6 MST, tanaman yang memiliki panjang akar terpanjang
adalah tanaman perlakuan sungkup merah, diikuti tanaman perlakuan sungkup bening, dan
yang panjang akarnya paling pendek adalah tanaman perlakuan kontrol.
Antara panjang akar perlakuan sungkup merah dan bening tidak berbeda jauh. Hasil
ini dapat disebabkan karena kualitas sungkup yang bagus sehingga tidak teramati secara jelas
pengaruh masing-masing warna sungkup terhadap pertumbuhan tanaman yang diamati.
Terlepas dari kualitas sungkup plastik yang digunakan, dapat dikatakan bahwa pada perlakuan
kontrol, tanaman selada membentuk akar yang banyak namun tidak terlalu panjang, pada
perlakuan sungkup bening akar relative sedikit namun panjang, dan pada perlakuan sungkup
merah jumlah dan ukuran akar ideal.




0
1
2
3
4
5
6
7
Kontrol Bening Merah
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

Perlakuan
Histogram Panjang Akar
3 MST
6 MST

Gambar 3.5. Histogram Jumlah Akar Tanaman Selada Merah pada Berbagai
Perlakuan Warna Sungkup
Histogram di atas menunjukkan besarnya jumlah akar selada merah tiap-tiap
perlakuan penyungkupan pada saat tanaman tersebut berumur 3 MST dan 6 MST. Dari
histogram tersebut, dapat dilihat jumlah akar tanaman selada merah pada masing-masing
perlakuan sungkup pada umur 3 MST dan 6 MST. Pada umur 3 MST, jumlah akar paling
banyak diperlihatkan pada tanaman perlakuan sungkup merah, diikuti tanaman perlakuan
sungkup bening, dan yang paling sedikit adalah tanaman perlakuan kontrol. Sementara itu
pada saat tanaman berumur 6 MST, jumlah akar dari yang paling banyak hingga yang paling
sedikit secara berurutan ditunjukkan oleh tanaman perlakuan sungkup merah, tanaman
perlakuan kontrol, dan tanaman perlakuan sungkup bening.
Dari hasil yang terlihat pada Gambar 3.5. tersebut, dapat diketahui bahwa pengaruh
perlakuan sungkup warna merah lebih baik daripada sungkup bening terhadap pertumbuhan
jumlah akartanaman selada. Jumlah akar yang lebih banyak ini kemudin juga dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan proses fisiologis tanaman karena berkaitan dengan
penyerapan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk kelangsungan hidupnya
yang berasal dari dalam tanah. Dengan akar yang lebih banyak, penyerapan hara lebih efektif,
pertumbuhan optimal, dan berpengaruh pada hasil yang maksimal.


0
5
10
15
20
25
30
Kontrol Bening Merah
J
u
m
l
a
h

A
k
a
r

Perlakuan
Histogram Jumlah Akar
3 MST
6 MST

Gambar 3.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman
Selada Merah pada Berbagai Perlakuan Warna Sungkup
Histogram di atas memperlihatkan berat segar (BS) dan berat kering (BK) tanaman
selada merah pada berbagai perlakuan sungkup pada umur 6 MST. Berdasarkan histogram
tersebut, dapat dilihat bahwa berat segar tertinggi dimiliki oleh tanaman perlakuan sungkup
bening, kemudian tanaman perlakuan kontrol, dan yang terendah adalah tanaman perlakuan
sungkup merah. Sementara itu, bobot kering paling tinggi dimiliki tanaman perlakuan
sungkup merah, selanjutnya tanaman perlakuan sungkup bening, dan bobot kering terendah
dimiliki oleh tanaman perlakuan kontrol.











0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Kontrol Bening Merah
B
o
b
o
t

S
e
g
a
r

d
a
n

K
e
r
i
n
g

Perlakuan
Histogram Bobot Segar dan Bobot Kering Selada
Merah
Bobot Segar
Bobot Kering
4. Tanaman Pok Choi (Brassica chinensis)

Gambar 4.1. Grafik Tinggi Tanaman Pak Choi pada berbagai Perlakuan Sungkup
Pertanian pada dasarnya merupakan sistem pemanfaatan energi cahaya matahari
melalui proses fotosintesis. Apabila faktor genetik seragam, maka proses fotosintesis
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perbedaan kondisi mikroklimat antara perlakuan tanpa
sungkup dan dengan sungkup plastik berwarna di atas memungkinkan terjadinya perbedaan
fotosintesis pak choi. Berdasarkan grafik di atas, tinggi tanaman tertinggi terdapat pada
perlakuan kontrol yaitu 11,3 cm sedangkan tinggi tanaman pak choi terendah terdapat pada
perlakuan kontrol yaitu 9,3 cm. Tinggi tanaman dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Intensitas
cahaya yang tinggi menyebabkan tanaman pendek. Hal ini disebabkan auksin yang
mempengaruhi pemanjangan sel bekerja lebih aktif dalam kondisi gelap. Tinggi tanaman
merupakan usaha tanaman memperoleh cahaya. Setelah dilakukan analisis, ternyata tidak ada
beda nyata antar perlakuan yang diberikan.
0
2
4
6
8
10
12
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

t
a
n
a
m
a

(
c
m
)

Pengamatan ke-
Tinggi tanaman Pak Choi
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 4.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Pak Choi pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Dari grafik di atas, jumlah daun tertinggi ada pada tanaman pak choi dengan perlakuan
kontrol yaitu 9 sedangkan jumlah daun terendah terdapat pada perlakuan penggunaan sungkup
bening yaitu 8. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena seharusnya pemberian sungkup plastic
merah menyebabkan pertumbuhan dan hasil pak choi yang lebih baik dibandingkan perlakuan
tanpa sungkup. Tanaman yang memiliki banyak daun akan mengalami cekaman naiknya laju
transpirasi sehingga tanaman yang kekurangan unsur hara maupun air tidak akan membentuk
banyak daun. Banyaknya daun pada suatu tanaman juga merupakan indikator dari lanjutnya
perkembangan tanaman. Tanaman yang perkembangannya telah lanjut akan memiliki jumlah
daun yang lebih banyak untuk mengimbangi kebutuhan asimilat serta metabolisme tubuhnya.
Setelah dilakukan analisis data, ternyata tidak ada pengaruh beda nyata perlakuan yang
diaplikasikan terhadap jumlah daun yang didapatkan.
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

d
a
u
n

Axis Title
Jumlah daun Pak Choi
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 4.3. Grafik Kehijauan Daun Tanaman Pak Choi pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Daun merupakan organ fotosintetik utama dalam tubuh tanaman, tempat terjadinya
proses perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dan mengakumulasikan dalam bentuk
bahan kering. Setelah dilakukan analisis data, ternyata tidak adanya beda nyata perlakuan
yang diberikan terhadap kehijauan daun tanaman pak choi yang didapatkan. Salah satu
pendekatan untuk mengetahui jumlah klorofil daun adalah dengan mengukur tingkat
kehijauan daun. Daun yang lebih hijau diduga memiliki kandungan klorofil yang tinggi.
Berdasarkan grafik di atas, kehijauan daun tertinggi tanaman pak choi ada pada perlakuan
penggunaan sungkup merah yaitu 37,83. Kehijauan daun terendah ada pada tanaman pak choi
dengan perlakuan kontrol yaitu 34,5. Hal ini sesuai dengan teori bahwa penggunaan sungkup
merah memiliki kehijauan daun tertinggi dibandingkan perlakuan lain. Respon terhadap
intensitas cahaya tinggi dapat menguntungkan atau merugikan. Hal ini disebabkan tanaman
memiliki ambang batas terhadap intensitas cahaya yang harus diterima. Intensitas cahaya
yang tinggi menyebabkan rusaknya struktur kloroplas yang membantu proses metabolisme
tanaman sehingga menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Setelah dilakukan analisis
data ternyata perlakuan tanpa sungkup dan sungkup dengan berbagai warna tidak
mempengaruhi tingkat kehijauan daun yang ada.

0.00
5.00
10.00
15.00
20.00
25.00
30.00
35.00
40.00
1 2 3 4 5 6
K
e
h
i
j
a
u
a
n

d
a
u
n

Pengamatan ke-
Grafik Kehijauan daun Pak Choi
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 4.4. Histogram Jumlah Akar Tanaman Pak Choi pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan histogram di atas,hasil yang didapat pada umur 3 mst dan 6 mst memiliki
hasil yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa pada semua perlakuan memiliki pertumbuhan
akar lebih tinggi karena lengas tanah tinggi.






0.00
0.20
0.40
0.60
0.80
1.00
1.20
1.40
1.60
1.80
Kontrol Bening Merah
J
u
m
l
a
h

a
k
a
r

Perlakuan
Jumlah Akar Pak Choi
Jumlah akar 3 mst
Jumlah akar 6 mst

Gambar 4.5. Histogram Panjang Akar Tanamn Pak Choi pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan histogram di atas dapat diketahui bahwa pada umur 3 mst, panjang akar
tertinggi terdapat pada perlakuan sungkup bening sedangkan panjang akar terendah terdapat
pada perlakuan kontrol. Pada umur 6 mst, perlakuan sungkup bening memberikan hasil yang
lebih tinggi sedangkan perlakuan sungkup merah memberikan hasil yang terendah.
Pertumbuhan akar lebih tinggi apabila lengas tanah tinggi. Pemberian sungkup menyebabkan
kadar lengas tanah menjadi lebih tinggi sehingga perlakuan sungkup bening pada saat umur 3
mst dan 6 mst memberikan hasil yang optimal.




0
5
10
15
20
25
Kontrol Bening Merah
P
a
n
j
a
n
g

a
k
a
r

(
c
m
)

Perlakuan
Panjang akar Pak Choi
3 mst
6 mst

Gambar 4.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Pak Choi
pada Berbagai Perlakuan Sungkup
Berdasarkan histogram di atas, bobot segar pak choi tertinggi ada pada perlakuan
penggunaan sungkup bening, pada saat 6 mst, dan bobot segar terendah ada pada pak choi
dengan perlakuan penggunaan sungkup merah pada saat 3 mst. Bobot kering tertinggi
tanaman pak choi ada pada perlakuan dengan penggunaan sungkup merah pada saat 6 mst,
dan bobot kering terendah ada pada tanaman pak choi dengan perlakuan kontrol. Proses
fotosintesis juga dapat dipengaruhi sinar matahari. Jika cahaya optimum, maka daun dapat
melakukan fotosintesis secara maksimal. Luas daun yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan
mutual shading. Hal ini mengakibatkan adanya kompetisi terhadap daun yang ternaungi untuk
memperebutkan cahaya matahari. Sehingga proses fotosintesis pun tidak dapat terjadi dengan
maksimal.







0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5
3 mst 6 mst 3 mst 6 mst
BS BK
B
e
r
a
t

(
g
r
a
m
)

Pengamatan
Histogram BS-BK Pak Choi
Kontrol
Bening
Merah
5. Tanaman Kangkung (I pomoea reptans)

Gambar 5.1. Grafik Tinggi Tanaman Kangkung pada Berbagai Perlakuan Sungkup
Berdasarkan grafik di atas, tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan
penggunaan sungkup bening yaitu 58 cm, kemudian tinggi tanaman kangkung terendah ada
pada perlakuan kontrol yaitu 42 cm. Intensitas cahaya berpengaruh terhadap auksin yang
dapat mempengaruhi pemanjangan sel bekerja lebih aktif dalam kondisi gelap. Tinggi
tanaman merupakan usaha tanaman memperoleh cahaya. Pertanian pada dasarnya merupakan
sistem pemanfaatan energi cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Apabila faktor genetik
seragam, maka proses fotosintesis dipengaruhi oleh faktor lingkungan.




0
10
20
30
40
50
60
70
1 2 3 4 5 6
t
i
n
g
g
i

t
a
n
a
m
a
n

(
c
m
)

hari pengamatan
Tinggi Tanaman Kangkung
kontrol
bening
merah

Gambar 5.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Kangkung pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa jumlah daun terbanyak ada pada
kangkung dengan perlakuan penggunaan sungkup merah yaitu 43,67. Jumlah daun terendah
ada pada tanaman kangkung dengan perlakuan kontrol yaitu 15. Jumlah daun kangkung pada
perlakuan tanpa sungkup dan dengan sungkup ada beda nyata. Hal ini terjadi karena
peningkatan intensitas cahaya (hingga tingkat optimum) pada perlakuan penggunaan sungkup
meningkatkan laju asimilasi bersih total tanaman sehingga fotosintat yang terbentuk pun
meningkat. Pembentukan fotosintat yang tinggi ini mendorong kecepatan pembentukan
organ-organ tanaman seperti daun. Di antara perlakuan warna sungkup, sungkup merah
memiliki jumlah daun lebih banyak karena intensitas cahaya dalam sungkup merah lebih
tinggi sehingga proses pembentukan asimilat menjadi lebih besar sehingga pembentukan daun
menjadi lebih banyak.



0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
1 2 3 4 5 6
j
u
m
l
a
h

d
a
u
n

pengamatan ke-
Jumlah Daun Kangkung
kontrol
bening
merah

Gambar 5.3. Grafik Kehijauan Daun Tanaman Kangkung pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan grafik kehijauan daun diatas, dapat diketahui bahwa kehijauan daun
tertinggi ada pada kangkung dengan perlakuan penggunaan sungkup merah yaitu 34,23.
Kehijauan daun terendah ada pada tanaman kangkung dengan perlakuan kontrol yaitu 30,50.
Salah satu pendekatan untuk mengetahui jumlah klorofil daun adalah dengan mengukur
tingkat kehijauan daun. Daun yang lebih hijau diduga memiliki kandungan klorofil yang
tinggi. Perlakuan penyungkupan dan warna sungkup ternyata tidak mempengaruhi tingkat
kehijauan daun.
.



0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
1 2 3 4
k
e
h
i
j
a
u
a
n

d
a
u
n

pengamatan ke-
Kehijauan Daun Kangkung
kontrol
bening
merah

Gambar 5.4. Histogram Jumlah Akar Tanamn Kangkung pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan histogram di atas, jumlah akar terbanyak ada pada tanaman kangkung
dengan perlakuan penggunaan sungkup bening baik itu tanaman pada saat 3 mst dan 6 mst.
Kemudian jumlah akar paling sedikit ada pada tanaman sawi dengan perlakuan penggunaan
sungkup merah baik itu umur 3 mst dan 6 mst. Pemberian sungkup menyebabkan kadar
lengas tanah menjadi lebih tinggi sehingga pertumbuhan akar pada perlakuan penggunaan
sungkup menyebabkan pertumbuhan akar yang tinggi.




0
2
4
6
8
10
12
kontrol bening merah
j
u
m
l
a
h

a
k
a
r

Jumlah Akar Kangkung
3 mst
6 mst

Gambar 5.5. Histogram Panjang Akar Tanaman Kangkung pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan histogram di atas, panjang akar tertinggi pada umur 3 mst dan 6 mst
terdapat ada pada tanaman kangkung dengan perlakuan sungkup merah. Kemudian jumlah
akar paling sedikit ada pada tanaman kangkung dengan perlakuan penggunaan sungkup
bening. Adanya pemberian sungkup menyebabkan kadar lengas tanah menjadi lebih tinggi
sehingga pertumbuhan akar pada perlakuan penggunaan sungkup menyebabkan pertumbuhan
akar yang tinggi.




10.5
11
11.5
12
12.5
13
13.5
14
kontrol bening merah
p
a
n
j
a
n
g

a
k
a
r

(
c
m
)

Panjang Akar Kangkung
3 mst
6 mst

Gambar 5.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Kangkung
pada Berbagai Perlakuan Sungkup
Kemampuan daun untuk menghasilkan produk fotosintat ditentukan oleh produktivitas
per satuan luas daun dan total luas daun. Berdasarkan histogram di atas, bobot segar
kangkung tertinggi terdapat pada perlakuan sungkup merah, dan bobot segar terendah
terdapat pada perlakuan kontrol. Bobot kering tertinggi tanaman kangkung terdapat pada
perlakuan sungkup bening, dan bobot kering terendah terdapat pada perlakuan kontrol. Sinar
matahari jugadapat mempengaruhi proses fotosintesis. Jika cahaya optimum, maka daun dapat
melakukan fotosintesis secara maksimal. Luas daun yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan
mutual shading karena adanya daun yang ternaungi oleh daun lain dan menyebabkan
kompetisi untuk memperebutkan cahaya matahari sehingga proses fotosintesis pun tidak dapat
terjadi dengan maksimal.










0
20
40
60
80
100
120
140
6 mst
BK 3 mst
6 mst
BS 3 mst
b
o
b
o
t

(
g
r
a
m
)

BS-BK Tanaman Kangkung
kontrol
bening
merah
6. Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor)


Gambar 6.1. Grafik Tinggi Tanaman Bayam pada Berbagai Perlakuan Sungkup
Tinggi tanaman merupakan parameter yang dapat dilihat secara langsung. Perubahan
tersebut meliputi perubahan tinggi tanaman. Semakin besar pertambahan volume akan
mempengaruhi tinggi tanaman karena adanya penimbunan fotosintat. Tanaman juga
melakukan fotosintesis untuk pembelahan sel dimana dapat menambah tinggi tanaman.
Berdasarkan grafik di atas, tinggi tanaman bayam tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol
yaitu 55 cm. Untuk tinggi terendah ada pada tanaman bayam dengan perlakuan penggunaan
sungkup bening yaitu 33,33 cm. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena seharusnya
pemberian sungkup plastik menyebabkan pertumbuhan dan hasil bayam yang lebih baik
dibandingkan perlakuan tanpa sungkup. Setelah dilakukan analisis data, didapatkan hasil
bahwa tidak terdapat beda nyata pada perlakuan sungkup. Hal ini karena perlakuan kontrol
(tanpa sungkup), menghasilkan tinggi tanaman bayam tertinggi sehingga berpengaruh
terhadap hasil analisis.
0
10
20
30
40
50
60
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

T
a
n
a
m
a
n

(
c
m
)

Pengamatan ke-
Tinggi Tanaman Bayam
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 6.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Bayam pada Berbagai Perlakuan Sungkup
Kemampuan daun untuk menghasilkan produk fotosintat ditentukan oleh produktivitas
per satuan luas daun dan total luas daun. Daun merupakan tempat terjadinya fotosintesis
sehingga dengan luas daun yang optimum akan didapat hasil fotosintesis yang maksimum
juga. Selain luas daun, proses fotosintesis juga dipengaruhi sinar matahari. Jika cahaya
optimum, maka daun dapat melakukan fotosintesis secara maksimal. Luas daun yang terlalu
tinggi dapat mengakibatkan mutual shading. Hal ini mengakibatkan ada daun yang ternaungi
oleh daun lain dan menyebabkan kompetisi untuk memperebutkan cahaya matahari dan
proses fotosintesis pun tidak akan maksimal. Berdasarkan grafik di atas, jumlah daun
terbanyak ada pada bayam dengan perlakuan kontrol yaitu 20,33. Jumlah daun terendah ada
pada tanaman bayam dengan perlakuan penggunaan sungkup bening yaitu 8,33.



0
5
10
15
20
25
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

D
a
u
n

Pengamatan ke-
Jumlah Daun Bayam
Kontrol
Bening
Merah

Gambar 6.3. Grafik Kehijauan Daun Tanaman Bayam pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Daun merupakan organ fotosintetik utama dalam tubuh tanaman, tempat terjadinya
proses perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dan mengakumulasikan dalam bentuk
bahan kering Berdasarkan grafik di atas, kehijauan daun tertinggi tanaman bayam ada pada
perlakuan penggunaan sungkup merah yaitu 41,3. Kehijauan daun terendah ada pada tanaman
bayam dengan perlakuan penggunaan sungkup bening yaitu 38. Intensitas cahaya yang tinggi
menyebabkan rusaknya struktur kloroplas yang membantu proses metabolisme tanaman
sehingga menyebabkan produktivitas tanaman menurun.. Setelah dilakukan analisis data,
ternyata tidak adanya beda nyata perlakuan yang diberikan terhadap kehijauan daun tanaman
bayam yang didapatkan. Daun yang lebih hijau diduga memiliki kandungan klorofil yang
tinggi. Perlakuan sungkup dengan berbeagai warna ternyata tidak mempengaruhi tingkat
kehijauan daun.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
1 2 3 4 5 6
K
e
h
i
j
a
u
a
n

D
a
u
n

Pengamatan ke-
Kehiijauan Daun Bayam
Kontrol
Bening
Merah

Gamabr 6.4. Histogram Jumlah Akar Tanaman Bayam pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan histogram di atas, dapat diketahui bahwa pada saat umur 3 mst jumlah
akar terbanyak terdapat pada perlakuan sungkup merah dan jumlah akar terendah terdapat
pada perlakuan sungkup bening. Pada umur 6 mst, jumlah akar terbanyak terdapat pada
perlakuan sungkup bening sedangkan jumlah akar terendah terdapat pada perlakuan sungkup
merah. Pertumbuhan akar lebih tinggi apabila lengas tanah tinggi. Pemberian sungkup
menyebabkan kadar lengas tanah menjadi lebih tinggi sehingga pertumbuhan akar pada
perlakuan penggunaan sungkup pada saat 6 mst menyebabkan pertumbuhan akar yang tinggi.


0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
Kontrol Bening Merah
J
u
m
l
a
h

A
k
a
r

Perlakuan
Jumlah Akar Bayam
3 mst
6 mst

Gambar 6.5. Histogram Panjang Akar Tanaman Bayam pada Berbagai Perlakuan
Sungkup
Berdasarkan histogram di atas dapat diketahui bahwa pada umur 3 mst, panjang akar
tertinggi terdapat pada perlakuan sungkup merah sedangkan panjang akar terendah terdapat
pada perlakuan kontrol. Pada umur 6 mst, panjang akar tertinggi terdapat pada perlakuan
kontrol sedangkan panjang akar terendah terdapat pada sungkup bening. Hal ini tidak sesuai
dengan teori, karena pertumbuhan akar lebih tinggi apabila lengas tanah tinggi. Pemberian
sungkup menyebabkan kadar lengas tanah menjadi lebih tinggi sehingga pertumbuhan akar
pada perlakuan penggunaan sungkup menyebabkan pertumbuhan akar yang tinggi. Namun
berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, tanaman bayam dengan perlakuan penggunaan
sungkup merah justru memiliki jumlah akar terendah, hal ini dimungkinkan karena kurang
intensifnya perlakuan yang dilakukan terhadap setiap tanaman yang disungkup.
0
1
2
3
4
5
6
7
8
Kontrol Bening Merah
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

(
c
m
)

Perlakuan
Panjang Akar Bayam
3 mst
6 mst

Gambar 6.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) pada Berbagai
Perlakuan Sungkup
Berdasarkan histogram di atas, bobot segar bayam tertinggi ada pada perlakuan
penggunaan sungkup bening pada saat 6 mst, dan bobot segar terendah ada pada bayam
dengan perlakuan penggunaan sungkup merah pada saat 3 mst. Bobot kering tertinggi
tanaman bayam ada pada perlakuan kontrol, dan bobot kering terendah ada pada tanaman
bayam dengan perlakuan penggunaan sungkup merah. Luas daun yang terlalu tinggi dapat
mengakibatkan mutual shading. Hal ini mengakibatkan ada daun yang ternaungi oleh daun
lain dan menyebabkan kompetisi untuk memperebutkan cahaya matahari dan proses
fotosintesis pun tidak akan maksimal.
Hasil ini sesuai dengan teori bahwa pertumbuhan tanaman optimal pada peggunaan
sungkup warna merah. Hasil pertumbuhan yang optimal tersebut tercermin dari tingginya
bobot kering tanaman yang mengindikasikan banyaaknya asimilat yang tertimbun sebagai
hasil proses fotosisntesis tanaman.






0
5
10
15
20
25
30
35
3 mst 6 mst 3 mst 6 mst
BS BK
B
e
r
a
t

(
g
r
a
m
)

Berat Segar dan Berat Kering Bayam
Kontrol
Bening
Merah
V. KESIMPULAN
1. Penggunaan sungkup (penyungkupan) dalam kegiatan budidaya tanaman sayuran daun
bertujuan untuk mencegah pukulan air hujan, meminimalkan serangan OPT, dan mengatur
keadaan mikroklimat di sekitar tanaman (kelembaban, radiasi matahari, suhu).
2. Pertumbuhan dan hasil tanaman sawi, kangkung, bayam, pak choi, selada hijau, dan
selada merah dalam sungkup lebih baik dibandingkan dengan yang tidak disungkup.
3. Perlakuan sungkup merah bagi pertumbuhan dan hasil tanaman sawi, kangkung, bayam,
pak choi, selada hijau, dan selada merah dapat memberikan hasil yang terbaik.
4. Tanaman mampu menyerap warna merah secara optimal sehingga pertumbuhannya lebih
baik.
5. Penggunaan sungkup berpengaruh nyata pada tinggi tanaman setiap komoditas kecuali
Pak Choy














DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Mini Green House dengan Sungkup Plastik.
<http://www.pasarpetani.com/2012.01/ mini-green-house-dengan-sungkup-
plastik.html>. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2012.
Anonim. 2012. Plasticulture. <http://en.wikipedia.org/wiki/Plasticulture>. Diakses pada
tanggal 1 Oktober 2012.
El-Aidy, F., A. El-Zawely, N. Hassan, dan M. El-Sowy. 2007. Effect of plastic tunnel size on
production of cucumber in Delta of Egypt. Journal of Applied Ecology and
Environmental Research 5 : 11 - 24.
Hapsari, B. 2003. Sayuran Bermutu dari Bawah Terowongan. Majalah Ibid 34 : 80.
James, D.K. dam Benoito F.K. 2007. Basic Physiology of Vegetables. McHill Book
Publishers, London.
Miles, C., Kolker K., Reed J., dan Becker J. 2005. Alternative to Plastic Mulch for Organic
Vegetable Production. Washington State University Press, USA.
Sulistyaningsih, E., B. Kurniasih, dan E. Kurniasih. 2005. Pertumbuhan dan hasil caisim pda
berbagai warna sungkup plastik. Jurnal Ilmu Pertanian 12 : 65 76.
Zaubin, R., Supardiyono, dan Dani P. 2008. Pengaruh warna sungkup plastik dan konsentrasi
perangsang tumbuh atonik terhadap pertumbuhan tanaman lada (Piper nigrum var.
Belantung) di persemaian. Jurnal Littro 2 : 115 120.







































LAMPIRAN I : TABEL ANOVA

1. Tanaman Sawi (Brassica rapa L.)

Tinggi Tanaman (TT)
Sum of
Source Df Squares Mean Square
F
Value Pr>f
Model 2 22.586 11.293 3.34 0.1058
Eror 6 20.273 3.378
Corrected Total 8 42.86

Jumlah Daun (JD)
Sum of
Source Df Squares Mean Square F Value Pr>f
Model 2 4.667 2.333 10.5 0.011
Eror 6 1.333 0.333
Corrected Total 8 6

Kehijauan Daun (KD)
Sum of
Source Df Squares Mean Square
F
Value Pr>f
Model 2 48.07 24.035 1.99 0.2171
Eror 6 72.407 12.067
Corrected Total 8 120.478

Laju Asimilasi Bersih (LAB)
Sum of
Source Df Squares Mean Square
F
Value Pr>f
Model 2 4,513 2.256 7.11 0.0261
Eror 6 1.902 0.3171
Corrected Total 8 6.416



Laju Pertumbuhan Nisbi (LPN)
Sum of
Source Df Squares Mean Square
F
Value Pr>f
Model 2 0.3391 0.1695 21.17 0.0019
Eror 6 0.048 0.008
Corrected Total 8 0.387
Bobot Daun Khas (BDK)
Sum of
Source Df Squares Mean Square
F
Value Pr>f
Model 2 0.0652 0.3264 1.23 0.3575
Eror 6 0.1596 0.0266
Corrected Total 8 0.2248

Luas Daun Khas (LDK)
Sum of
Source Df Squares Mean Square
F
Value Pr>f
Model 2 0.1082 0.0901 1.26 0.3489
Eror 6 0.4286 0.7143
Corrected Total 8 0.6088

Indeks Panen (IP)
Sum of
Source Df Squares
Mean
Square
F
Value Pr>f
Model 2 0.00837 0.0041 1.92 0.226
Eror 6 0.01306 0.0021
Corrected
Total 8 0.0214







2. Tanaman Selada Merah (Lactuca sativa L.)
Tinggi Tanaman (TT)
Sumber
Ragam db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2 76.00667 38.00333 54.37679 5.143253
Sesatan 6 4.193333 0.698889
Total 8 80.2

Jumlah Daun (JD)
Sumber
Ragam db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2 2.888889 1.444444 1.625 5.143253
Sesatan 6 5.333333 0.888889
Total 8 8.222222

Kehijauan Daun (KD)
Sumber
Ragam db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2 83.68222 41.84111 3.434291 5.1432528
Sesatan 6 73.1 12.18333
Total 8 156.7822

Laju Asimilasi Bersih (LAB)
Sumber
Ragam Df JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
3.16E-
06
1.58E-
06 0.170827 5.1432528
Sesatan 6
5.55E-
05
9.25E-
06
Total 8
5.87E-
05

Laju Pertumbuhan Nisbi (LPN)
Sumber
Ragam Db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2 0.009497 0.004748 0.21294 5.143253
Sesatan 6 0.133797 0.0223
Total 8 0.143294

Bobot Daun Khas (BDK)
Sumber
Ragam db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2 0.000365 0.000183 2.306248 5.1432528
Sesatan 6 0.000475 7.91E-05
Total 8 0.00084


Luas Daun Khas (LDK)
Sumber
Ragam db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2 7572.893 3786.447 2.175381 5.143253
Sesatan 6 10443.54 1740.59
Total 8 18016.43

Indeks Panen (IP)
Sumber
Ragam db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2 0.01697 0.008485 2.180592 5.1432528
Sesatan 6 0.023347 0.003891
Total 8 0.040317












3. Tanaman Kangkung (I pomoea reptans L.)

Tinggi Tanaman
Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 501.55556
2
250.77778
0.631715 0.811 3.93
Within
Groups 382.66667
6
63.777778


Total
884.22222
8

Jumlah Daun
Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 1250.8889
2
625.44444
0.631715 0.0241
7.39
Within
Groups
508 6 84.666667

Total 1758.8889 8

Kehijauan Daun
Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 27.386667
2
13.693333
0.631715 0.4607
0.88
Within
Groups 307690.1
6 15.485556

Total 506826.57 8

LAB
Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0.00007178
2
3.589E-
05
0.631715 0.152
2.62
Within
Groups 0.00008214
6
1.369E-
05


Total
0.00015392
8









LPN
4.

BDK
Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0.00002404
2
1.202E-
05
0.631715 0.1947
2.18
Within
Groups 0.00003314
6 5.52E-06

Total
0.00005718
8

LDK
Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 199136.47
2
99568.237
0.631715
0.2237 1.94
Within
Groups
0.000158 6
51281.683


Total 0.000191 8

IP
Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 1.25788684
2
0.6289434
0.631715 0.09
3.69
Within
Groups 1.02132368
6 0.1702206

Total 2.27921052 8






Source of
Variation
SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0.31889702
2
0.1594485
0.631715 0.1653
2.47
Within
Groups 0.38797532
6
0.0646626


Total
0.70687234
8
4. Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor L.)
TinggiTanaman
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 704.6667 2 352.3333 1.172274 0.371745 5.143253
Sesatan 1803.333 6 300.5556
Total 2508 8

JumlahDaun
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 226.8889 2 113.4444 2.385514 0.172855 5.143253
Sesatan 285.3333 6 47.55556
Total 512.2222 8

KehijauanDaun
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 16.74 2 8.37 0.283441 0.76274 5.143253
Sesatan 177.18 6 29.53
Total 193.92 8

LAB
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 5.41E-05 2
2.7E-
05 0.930646 0.444602 5.143253
Sesatan 0.000174 6
2.9E-
05
Total 0.000228 8




LPN
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 0.093564 2 0.046782 0.30545 0.747605 5.143253
Sesatan 0.918942 6 0.153157
Total 1.012506 8

BDK
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 0.000135 2
6.75E-
05 0.734688 0.518323 5.143253
Sesatan 0.000552 6
9.19E-
05
Total 0.000687 8

LDK

Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 586.6774 2 293.3387 0.606993 0.575344 5.143253
Sesatan 2899.593 6 483.2656
Total 3486.271 8

IP
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 0.01653 2 0.008265 0.935602 0.442925 5.143253
Sesatan 0.053003 6 0.008834
Total 0.069533 8


5. Tanaman Pak Choi (Brassica chinensis)
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 6.962222 2 3.481111 1.417006 0.313314 5.143253
Within Groups 14.74 6 2.456667

Total 21.70222 8

Jumlah Daun
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0.222222 2 0.111111 0.166667 0.85027 5.143253
Within Groups 4 6 0.666667

Total 4.222222 8

Kehijauan Daun
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 79.04222 2 39.52111 1.863813 0.234657 5.143253
Within Groups 127.2267 6 21.20444

Total 206.2689 8

LAB
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 3.32E-05 2 1.66E-05 0.631715 0.563675 5.143253
Within Groups 0.000158 6 2.63E-05

Total 0.000191 8

LPN
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0.031087 2 0.015544 1.072131 0.399851 5.143253
Within Groups 0.086988 6 0.014498

Total 0.118075 8

BDK
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 3.95E-05 2 1.97E-05 1.028894 0.412863 5.143253
Within Groups 0.000115 6 1.92E-05

Total 0.000155 8

LDK
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 11372.84 2 5686.419 0.705444 0.530693 5.143253
Within Groups 48364.63 6 8060.772

Total 59737.47 8

IP
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0.062852 2 0.031426 0.498491 0.630553 5.143253
Within Groups 0.378252 6 0.063042

Total 0.441104 8













6. Tanaman Selada Hijau (Lactuca sativa var. Crispa L.)
Tinggi Tanaman
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 58.44222 2 29.22111 5.795284 0.039684 5.143253
Sesatan 30.25333 6 5.042222
Total 88.69556 8

Jumlah Daun
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 11.55556 2 5.777778 10.4 0.011221 5.143253
Sesatan 3.333333 6 0.555556
Total 14.88889 8

Kehijauan Daun
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 13.91642 2 6.958211 7.562177 0.022914 5.143253
Sesatan 5.5208 6 0.920133
Total 19.43722 8

LAB
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 4.09E-06 2 2.04E-06 30.95091 0.00069 5.143253
Sesatan 3.96E-07 6 6.6E-08
Total 4.48E-06 8

LPN
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 0.023922 2 0.011961 4.143906 0.074055 5.143253
Sesatan 0.017318 6 0.002886
Total 0.04124 8

BDK
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 1.5E-36 2 7.52E-37 3 0.125 5.143253
Sesatan 1.5E-36 6 2.51E-37
Total 3.01E-36 8

LDK
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan -3.2E-27 2 -1.6E-27 -1.2 #NUM! 5.143253
Sesatan 8.08E-27 6 1.35E-27
Total 4.85E-27 8

IP
Sumber Ragam SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 0.005502 2 0.002751 0.940948 0.441125 5.143253
Sesatan 0.01754 6 0.002923
Total 0.023042 8